...

SUBJECTIVE WELL BEING MAHASISWA YANG MENGGUNAKAN

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

SUBJECTIVE WELL BEING MAHASISWA YANG MENGGUNAKAN
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
SUBJECTIVE WELL BEING MAHASISWA YANG MENGGUNAKAN
INTERNET SECARA BERLEBIHAN
Novrita Ade Putri
Fakultas Psikologi
[email protected]
Abstrak – Pada saat ini internet merupakan media yang hampir digunakan oleh
semua orang dari berbagai kalangan usia. Terdapat dampak positif dan negatif
yang dihasilkan dari penggunaan internet. Salah satu dampak negatifnya adalah
penggunaan internet yang berlebihan membuat individu menjadi ketergantungan
pada internet. Individu yang mengalami problematic internet use akan cenderung
menunjukkan emosi yang negatif di dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga
diduga akan berkaitan dengan subjective well being. Penelitian ini dilakukan
kepada 70 mahasiswa semester 7 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya yang
tergolong pengguna internet berlebihan.Penelitian ini bersifat deskriptif dan
bertujuan untuk mengetahui subjective well being pada mahasiswa yang
menggunakan internet secara berlebihan. Teknik analisis yang digunakan adalah
teknik analisis cluster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjective well being
tidak berkaitan dengan problematic internet use. Motif penggunaan internet
karena tuntutan akademis dan level of problematic internet use masing-masing
simptom pada seluruh kelompok yang tidak tergolong tinggi merupakan faktor
pendukung yang dapat menjelaskan penggunaan internet berlebihan subjek tidak
berkaitan dengan subjective well being.
Kata kunci: Subjective well being, problematic internet use, emerging adult,
mahasiswa
Abstract – Nowadays, internet is a common media used by most people from
various ages. There are positive and negative effects of internet use, one of the
negative effect is excessive internet use makes people become dependent on the
internet. It is known that people with problematic internet use will possibly
showing negative emotions in their daily life, which related to subjective well
being. This research was conducted by 70 college students (7th semester) Faculty
of Psychology in University of Surabaya that has problematic internet use. This
research is descriptive and has purposed to describe subjective well being of
college students that has problematic internet use. Data analysis technique used in
this research was cluster analytical technique. The results showed that subjective
well being is not related with problematic internet use. Using internet because of
educational reasons and level of problematic internet use on each groups that not
classified as high were the underlying factors that could describe problematic
internet use is not related with subjective well being.
Keywords: Subjective well being, problematic internet use, emerging adult,
college students
1
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
PENDAHULUAN
Jumlah pengguna internet meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia, pada tahun 2005 pengguna
internet di Indonesia mencapai 1.2 juta dan pada tahun 2006 meningkat hingga
mencapai hampir 2.4 juta (dalam Saputra, 2008). Pada tahun 2011, Indonesia
menduduki peringkat ke-8 pengguna internet terbanyak di dunia dan pengguna
internet di Indonesia mencapai 39 juta orang (Edutechnolife, 2011). Internet
memberikan dampak yang positif maupun negatif bagi penggunanya. Dampak
positif dari internet digolongkan menjadi empat kategori antara lain sebagai media
komunikasi, media pertukaran data, media mencari informasi atau data, dan untuk
manfaat komunitas (Herring, 1996). Dampak negatif dari internet salah satunya
adalah membuat tidak sedikit individu menjadi sangat bergantung pada internet
sehingga menjadi kecanduan terhadap internet.
Menurut Young (2007), internet addiction dapat disebut juga dengan
compulsive internet use atau pathological internet use. Internet addiction adalah
ketidakmampuan individu untuk mengontrol penggunaan internetnya, yang dapat
menyebabkan terjadinya masalah psikologis, sosial, dan pekerjaan pada
kehidupan individu (Young, 2005). Individu dapat menggunakan internet lebih
dari 20 jam dalam satu minggunya (Childnet, 2009). Faktor-faktor yang
memengaruhi internet addiction digolongkan menjadi 2 yaitu faktor eksternal dan
internal (sitat dalam Budiwan, 2011). Faktor eksternal meliputi lingkungan
keluarga, lingkungan sosial dan budaya. Faktor internal adalah kepribadian,
kontrol diri, minat, motif, pengetahuan dan usia. Menurut Young (2007), faktor
psikologis merupakan penyebab individu mengalami internet addiction.
Hasil survei awal secara online yang dilakukan oleh peneliti (N=69) pada
mahasiswa semester 4 hingga semester 7 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya
menunjukkan bahwa sebagian besar subjek yang menggunakan internet di atas 5
jam tiap harinya adalah mahasiswa semester 7. Sebanyak 64.7% menggunakan
internet 5 hingga 6 jam tiap harinya dan sebanyak 23.53% menggunakan internet
lebih dari 6 jam tiap harinya. Hal ini mengindikasikan adanya problematic
internet use.
2
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
Tabel 1. Lama Penggunaan Internet dalam Satu hari
Semester
4
5
6
7
1-2 jam
50%
29.41%
23.53%
5.88%
3-4 jam
37.5%
41.18%
52.94%
5.88%
5-6 jam
12.5%
23.53%
17.65%
64.7%
>6 jam
0
5.88%
5.88%
23.53%
Hasil survei awal peneliti juga menunjukkan bahwa terdapat dampak
positif dan negatif dari penggunaan internet. Sebanyak 52% menyebutkan bahwa
internet mempermudah subjek dalam mencari informasi dan sebanyak 30%
menyebutkan internet memudahkan subjek dalam bersosialisasi dan menjalin
komunikasi. Sebanyak 44% menyebutkan internet membuat subjek menjadi lupa
waktu sehingga aktivitas penting yang seharusnya dilakukan menjadi tidak
dikerjakan dan sebanyak 26% menyebutkan internet menyebabkan subjek menjadi
acuh terhadap lingkungan sosial di dunia nyata.
Tabel 2. Dampak Positif dan Negatif dari Internet
Dampak Positif
Prosentase
Dampak Negatif
Prosentase
Untuk
hiburan
dan
mengurangi kesepian
Bisnis
3%
Mudah mengakses situs porno
1%
4%
Menjadi boros
4%
Memudahkan tugas kuliah
atau pekerjaan
10%
7%
Memudahkan
bersosialisasi
komunikasi
Memudahkan
mencari informasi
dalam
dan
30%
Berdampak pada fisik (mata
lelah, pusing, sering ngantuk,
dan lain-lain)
Menjadi addict
dalam
52%
Acuh terhadap lingkungan
sosial di dunia nyata
Menjadi lupa waktu sehingga
tugas kuliah tidak dikerjakan
26%
17%
44%
Menurut Young (2005) dampak yang dihasilkan dari penggunaan internet
yang berlebihan antara lain kehilangan pekerjaan atau kesempatan dalam meraih
karir serta pendidikan yang lebih baik, kehilangan kesempatan untuk menjalin
relasi dengan lingkungan sekitar, tidak menjalin hubungan yang tidak baik dengan
keluarga, dan menggunakan internet sebagai media untuk menghindari masalah
yang mungkin sedang dihadapi. Apabila dikaitkan dengan dampak-dampak
tersebut, individu yang mengalami internet addiction cenderung seringkali
menunjukkan emosi yang negatif seperti cemas, sedih, depresi, dan lain-lain
3
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
(Spada et al, 2008). Individu menggunakan internet untuk mengurangi intensitas
dari emosi yang negatif dan stres yang sedang dirasakan (LaRose et al, 2003).
Hasil penelitian Kraut et al (1998) menunjukkan bahwa individu yang
lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menggunakan internet merupakan
individu yang seringkali merasakan depresi dan kesepian. Hasil penelitian
Stepanikova et al (2010) menunjukkan bahwa semakin lama individu
menggunakan internet, semakin besar kemungkinan individu tidak puas akan
kehidupannya. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Caplan (2002) individu
yang menggunakan internet secara berlebihan menganggap internet adalah cara
untuk menghindar dari psychological problems yang sedang dialaminya seperti
masalah dengan teman, keluarga, relasi sosial, dan lain-lain.
Hasil penelitian Ceyhan dan Gurcan (2008) menunjukkan bahwa individu
yang paling banyak mengalami internet addiction adalah individu dewasa dan
penggunaan internet tersebut berdampak pada psychological well being. Individu
dewasa masih memiliki tanggungjawab pada studinya yang berada pada jenjang
perguruan tinggi. Kandell (1998) menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan
kelompok usia lainnya, internet addiction adalah masalah terbesar bagi
mahasiswa. Jauh dari keluarga, menghabiskan waktu luang, dan menggunakan
internet dengan educational reason adalah beberapa alasan meningkatnya resiko
internet addiction pada mahasiswa. Salah satu faktor terpenting yang dapat
menjelaskan mahasiswa menggunakan internet secara berlebihan adalah dinamika
psikologis dan perkembangan mahasiswa itu sendiri yang sedang berada pada
transisi dari tahap remaja akhir menuju dewasa awal (Kandell, 1998). Masa
emerging adulthood adalah masa transisi dari masa remaja akhir menuju dewasa
awal yang memiliki karakteristik antara lain eksplorasi jati diri, ketidakstabilan,
fokus pada diri sendiri, ambiguitas, serta terdapat berbagai kemungkinan untuk
melakukan eksplorasi dan eksperimen (Arnettt, 2000).
Ketika individu berada pada masa emerging adulthood, individu berada
pada kondisi tidak stabil karena banyak mengadopsi pengalaman dan pengetahuan
dari lingkungannya, misalnya dalam penggunaan internet yang hampir dilakukan
oleh semua orang. Individu kemudian melakukan eksplorasi jati diri dan
eksperimen, yaitu mencoba hal-hal baru untuk memperluas pengalaman pribadi
4
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
mereka dengan ikut serta menggunakan internet sebagai media untuk
berkomunikasi. Individu yang pada masa ini juga sangat terfokus dengan dirinya
sendiri bisa menjadi sangat terserap dengan aktivitasnya dalam menggunakan
internet serta sensasi-sensasi yang dirasakan ketika sedang menggunakan internet,
sehingga dapat memunculkan dorongan atau ketertarikan yang kuat untuk tetap
menggunakan internet, bahkan sampai berlebihan.
Penelitian ini menggunakan mahasiswa semester 7 Fakultas Psikologi
Universitas Surabaya yang berusia antara 18 hingga 25 tahun dan tergolong
pengguna internet berlebihan yaitu menggunakan internet minimal 3 jam setiap
harinya. Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin menperoleh gambaran mengenai
penggunaan internet yang berlebihan pada mahasiswa serta untuk mengetahui
subjective well being mahasiswa yang menggunakan internet secara berlebihan.
METODE PENELITIAN
Fokus penelitian ini adalah subjective well being mahasiswa yang
menggunakan internet secara berlebihan. Subjective well being mahasiswa yang
menggunakan internet secara berlebihan dalam penelitian ini adalah bagaimana
mahasiswa akan mengevaluasi kehidupannya, baik secara kognitif yaitu dalam
bentuk kepuasan hidup dan secara afektif yaitu dalam bentuk reaksi emosi dan
suasana hati yang positif maupun negatif. Subjective well being mahasiswa juga
terkait dengan bagaimana domain satisfaction terhadap berbagai area dalam
kehidupan mahasiswa. Individu dapat dikatakan mengalami problematic internet
use ketika individu menggunakan internet minimal 3 jam setiap harinya dan
menunjukkan simptom-simptom problematic internet use pada kognisi dan
perilaku individu yaitu mood alteration, perceived social benefits, perceived
social control, withdrawal, compulsivity, excessive internet use, dan negative
outcomes.
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester 7 Fakultas Psikologi
Universitas Surabaya yang berusia antara 18-25 tahun, berjenis kelamin laki-laki
atau perempuan, pengguna internet berlebihan dengan lama penggunaan internet
minimal 3 jam/hari, dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini
5
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
Instrumen pengambilan data dalam penelitian ini adalah angket. Angket
terbuka digunakan untuk mengetahui status demografis subjek dan informasi lain
yang dibutuhkan terkait indeks prestasi kumulatif, jumlah SKS yang diambil tiap
semester, lama penggunaan internet, alasan menggunakan internet, media yang
digunakan dalam menggunakan internet, dan fitur internet yang seringkali
digunakan. Angket tertutup yang digunakan adalah Satisfaction with Life Scale
dari Diener et al (1985), Positive and Negative Affect Scale dari Watson et al
(1988), dan General Problematic Internet Use Scale dari Caplan (2002). Data
yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan visual binning pada
program SPSS for Windows Version 16, untuk menentukan kategori atau norming
dari hasil data yang diperoleh pada angket tertutup. Kategori yang ditentukan
peneliti berada pada rentang 1 hingga 3, yaitu 1 untuk kategori rendah, 2 untuk
kategori sedang, dan 3 untuk kategori tinggi.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan teknik
analisis cluster. Analisis cluster merupakan teknik analisis data yang
mengelompokkan
objek
ke
dalam
kelompok-kelompok
yang
memiliki
karakteristik yang sama (Hair et al, 1998). Prinsip yang digunakan dalam teknik
analisis cluster adalah memaksimalkan homogenitas atau kesamaan dalam satu
kelompok (within) dan juga memaksimalkan heterogenitas atau ketidaksamaan
antar kelompok (between). Jadi pada analisis cluster, objek yang memiliki banyak
kesamaan akan dikelompokkan pada suatu kelompok berdasarkan suatu kriteria
yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada penelitian ini, subjek penelitian dibagi
menjadi 4 kelompok cluster yang dikelompokkan berdasarkan well being pada
masing-masing kelompok, yaitu kelompok well being sangat tinggi, well being
tinggi, well being sedang, dan well being rendah. Analisis data tidak dilakukan
dari satu per satu subjek, melainkan analisis dilakukan dalam kelompok.
Profilling cluster dilakukan dengan menggunakan metode tabulasi silang atau
crosstab. Tabulasi silang akan dilakukan dengan menggunakan data-data yang
tidak termasuk dalam prosedur cluster untuk memprofilkan karakteristik masingmasing kelompok yaitu data-data yang diperoleh dari angket terbuka. Selain
dilakukan pada angket terbuka, tabulasi silang juga dilakukan pada angket
tertutup.
6
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis cluster, diperoleh empat kelompok yang
memiliki karakteristik yang sama pada tiap kelompoknya. Kelompok-kelompok
tersebut telah diberi nama untuk membedakan satu kelompok dengan kelompok
lainnya. Nama kelompok tersebut dibuat berdasarkan bagaimana subjective well
being pada masing-masing kelompok, yang diketahui berdasarkan komponen dari
subjective well being. Menurut Diener (1999) tiga komponen utama dari
subjective well being adalah life satisfaction, presence of frequent positive affect,
dan relative absence of negative affect. Nama keempat kelompok tersebut adalah
kelompok well being sangat tinggi, well being tinggi, well being sedang, dan
well being rendah. Berikut adalah hasil analisis cluster yang telah dilakukan:
Tabel 3. Hasil analisis cluster
Norma
Positive Affect
Negative Affect
Life Satisfaction
Problematic Internet Use
Kelompok Cluster
Well Being
Sangat
Tinggi
(N = 27)
2.78
2.26
3.00
2.00
Well Being
Sedang
(N=8)
2.75
2.25
2.00
1.88
Well Being
Tinggi
(N=19)
2.79
2.05
2.84
3.00
Well Being
Rendah
(N=16)
2.06
2.75
2.00
2.81
Pada tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa kelompok well being sangat
tinggi berjumlah 27 orang. Subjek dalam kelompok ini dapat dikatakan memiliki
subjective well being yang sangat tinggi karena dilihat dari komponen-komponen
subjective well being, kelompok ini memiliki positive affect yang tinggi, negative
affect yang sedang, dan juga memiliki life satisfaction yang tinggi. Jika
dibandingkan dengan ketiga kelompok lainnya, kelompok ini memiliki life
satisfaction yang paling tinggi, hal ini yang menyebabkan kelompok ini memiliki
well being yang sangat tinggi. Kelompok well being tinggi berjumlah 19 orang.
Tidak berbeda jauh dengan kelompok well being sangat tinggi, kelompok ini juga
menunjukkan positive affect yang tinggi, negative affect yang sedang, dan life
satisfaction yang tinggi, sehingga well being pada kelompok ini dapat dikatakan
tinggi. Hanya saja skor life satisfaction pada kelompok ini lebih kecil jika
dibandingkan dengan kelompok well being sangat tinggi. Kelompok well being
7
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
sedang berjumlah 8 orang. Subjek dalam kelompok ini juga memiliki positive
affect yang tinggi dan negative affect yang sedang, sama halnya dengan kedua
kelompok sebelumnya. Komponen yang membedakan adalah life satisfaction
pada kelompok ini yang tergolong sedang. Kelompok well being rendah
berjumlah 16 orang. Subjek dalam kelompok ini memiliki positive affect yang
sedang, negative affect yang tinggi, dan life satisfaction yang sedang. Negative
affect yang tergolong lebih tinggi daripada positive affect membuat kelompok ini
memiliki well being yang paling rendah dibandingkan ketiga kelompok lainnya.
Ditinjau dari problematic internet use, kelompok well being tinggi dan
well being rendah merupakan dua kelompok yang jika dibandingkan dengan
kedua kelompok lainnya memiliki problematic internet use yang lebih tinggi,
sedangkan problematic internet use pada kelompok well being sangat tinggi dan
well being sedang tergolong cukup.
Tabel 4. Hasil Tabulasi Silang Penggunaan Internet Setiap Kelompok
Aspek
Kelompok Cluster
Alasan
menggunakan
internet
Lama
penggunaan
dalam satu hari
Situs
yang
sering
digunakan
Well Being
Sangat Tinggi
Well Being
Sedang
Well Being
Tinggi
Untuk
mempermudah
dalam
mencari
informasi
terkait
tugas perkuliahan
(96.3%)
3-4 jam
(55.6%)
Untuk
mempermudah
dalam
mencari
informasi terkait
tugas perkuliahan
(100%)
3-4 jam dan >
5jam
(50%)
Browsing
(100%)
Untuk
mempermudah
dalam
mencari
informasi terkait
tugas perkuliahan
(94.7%)
>5jam
(63.2%)
Untuk
mempermudah
dalam
mencari
informasi terkait
tugas perkuliahan
(100%)
> 5 jam
(93.8%)
Jejaring
Sosial
dan Browsing
(94.7%)
Browsing
(100%)
Browsing
(85.2%)
Well Being
Rendah
Pada tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek dari seluruh
kelompok menggunakan internet untuk mempermudah mencari informasi terkait
tugas perkuliahan. Oleh karena itu, situs yang sering digunakan pada seluruh
kelompok adalah situs browsing, yang pada problematic internet use tergolong
pada information searching. Hal ini dapat dijelaskan dengan salah satu faktor
yang memengaruhi munculnya problematic internet use yaitu motif. Menurut
Welman et al (dalam Budiwan, 2011) motif merupakan suatu hal yang membuat
individu menggunakan internet secara berlebihan. Motif yang memengaruhi
8
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
munculnya problematic internet use pada seluruh kelompok adalah karena adanya
tuntutan akademis.
Tabel 5. Hasil Tabulasi Silang Persepsi Subjek terkait Penggunaan Internet dengan Setiap
Kelompok
Aspek
Kelompok Cluster
Penggunaan
internet
sesuai dengan kebutuhan
Keinginan
untuk
menambah
intensitas
penggunaan internet
Well Being
Sangat
Tinggi
Ya
(100%)
Tidak
(63%)
Well Being
Sedang
Well Being
Tinggi
Well Being
Rendah
Ya
(100%)
Tidak
(87.5%)
Ya
(94.7%)
Tidak
(84.2%)
Ya
(100%)
Ya
(56.2%)
Berdasarkan tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek dari
seluruh kelompok menganggap bahwa penggunaan internetnya selama ini sesuai
dengan kebutuhannya, yaitu sebagai media komunikasi, sarana jual beli, dan lainlain. Ditinjau dari alasan seluruh kelompok dalam menggunakan fitur-fitur
internet seperti menggunakan fitur relationship karena untuk mempermudah
komunikasi dan menjaga relasi dengan orang lain, menggunakan fitur gaming
karena untuk refreshing, dan menggunakan fitur information searching karena
untuk mempermudah pencarian informasi terkait tugas perkuliahan, hal ini
mengindikasikan adanya irrational belief pada subjek terkait dengan penggunaan
internetnya selama ini, karena selalu bergantung pada internet dalam melakukan
berbagai aktivitas. Menurut Caplan (2002) ketika individu selalu mengandalkan
internet dalam melakukan berbagai aktivitas, maka hal ini yang mengindikasikan
problematic internet use dan memiliki irrational belief yang menganggap bahwa
dirinya tidak bisa lepas dari internet.
9
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
Tabel 6. Hasil Tabulasi Silang Aspek-Aspek Problematic Internet Use dengan Setiap Kelompok
Aspek
Kelompok Cluster
Well Being
Sangat Tinggi
Mood Alteration
Perceived Social Benefit
Perceived Social Control
Withdrawal
Compulsivity
Excessive Internet Use
Negative Outcomes
Sedang
(88.9%)
Rendah
(77.8%)
Sedang
(77.8%)
Rendah
Sedang
(43.1%)
Sedang
(51.9%)
dan
Well Being
Sedang
Sedang
(75%)
Rendah
(62.5%)
Rendah
Sedang
(50%)
Rendah
(75%)
Rendah
Sedang
(50%)
Sedang
(87.5%)
Rendah
(75%)
Sedang
(74.1%)
Rendah
(85.2%)
dan
dan
Well Being
Tinggi
Well Being
Rendah
Sedang
(63.2%)
Sedang
(73.7%)
Sedang
(89.5%)
Sedang
(93.8%)
Sedang
(62.5%)
Sedang
(93.8%)
Sedang
(89.5%)
Sedang
(87.5%)
Rendah
(63.2%)
Rendah
(56.2%)
Sedang
(52.6%)
Rendah
(50%)
Sedang
(75%)
Rendah
(56.2%)
Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa subjek pada seluruh kelompok tidak ada
yang
menunjukkan
keseriusan
atau
keparahan
pada
simptom-simptom
problematic internet use, hal ini dibuktikan pada seluruh simptom, seluruh
kelompok berada pada kategori sedang dan rendah. Hanya saja, kelompok well
being tinggi dan well being rendah merupakan dua kelompok yang jika
dibandingkan dengan kedua kelompok lainnya memiliki problematic internet use
yang lebih tinggi. Hal ini didukung dengan simptom-simptom problematic
internet use pada kedua kelompok ini yang mayoritas tergolong sedang,
sedangkan hanya dua simptom yang tergolong rendah. Menurut Caplan (2002)
ketika problematic internet use individu berada pada level of problematic internet
use yang tinggi nantinya akan menimbulkan dampak negatif yaitu berkaitan
dengan munculnya negative outcomes pada kehidupan individu. Negative
outcomes bisa berkaitan dengan kognisi dan perilaku individu, seperti
psychosocial health, well being, prestasi, relasi sosial, pekerjaan, dan sebagainya
(Caplan, 2002). Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Caplan (2002)
dikarenakan level of problematic internet use seluruh kelompok pada penelitian
ini tidak tergolong tinggi, maka negative outcomes subjek pada seluruh kelompok
tergolong rendah.
10
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
Motif dari penggunaan internet terkait dengan tuntutan akademis, level of
problematic internet use seluruh kelompok yang tergolong sedang, dan negative
outcomes seluruh kelompok yang tergolong rendah ini dapat menjelaskan bahwa
pada seluruh kelompok tidak menunjukkan negative outcomes yang terkait
dengan kognisi, khususnya subjective well being. Hal ini ditunjukkan dengan
subjek pada penelitian ini memiliki subjective well being sangat tinggi hingga well
being rendah, kelompok yang level of problematic internet usenya lebih tinggi
dibandingkan kelompok yang lain adalah kelompok well being tinggi dan well
being rendah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa subjective well being
subjek tidak berkaitan dengan problematic internet use, melainkan lebih dapat
dijelaskan dengan domain satisfaction subjek pada area-area kehidupan. Berikut
adalah domain satisfaction pada masing-masing kelompok:
Tabel 7. Hasil Tabulasi Silang Domain Satisfaction dengan Setiap Kelompok
Domain Satisfaction
Kelompok Cluster
Kehidupan saat ini
Relasi dengan keluarga
Relasi dengan teman
Hal-hal atau kegiatan yang
disukai (hobi)
Relasi dengan pacar
Prestasi yang sudah tercapai
Well Being
Sangat Tinggi
Well Being
Sedang
Well Being
Tinggi
Well Being
Rendah
Puas
(92.6%)
Agak puas dan
puas (33.3%)
Puas
(77.8%)
Puas
(48.1%)
Puas (48.1%)
Agak Puas
(50%)
Puas
(37.5%)
Agak puas
(50%)
Agak puas dan
puas (37.5%)
Tidak puas dan
netral (12.5%)
Puas
(63.2%)
Puas (42.1%)
Agak puas
(40.7%)
Tidak puas,
netral, dan
puas
(25%)
Netral (62.5%)
Agak puas dan
puas (26.3%)
Netral
(31.2%)
Agak puas
(37.5%)
Agak puas
(43.8%)
Agak puas
(37.5%)
Sangat tidak
puas, agak
tidak puas,
dan netral
(18.8%)
Tidak puas
(37.5%)
Agak tidak
puas dan netral
(37.5%)
Agak tidak
puas, agak
puas, dan puas
(25%)
Puas
(50%)
Agak puas
(36.8%)
Relasi dengan Tuhan
Puas (48.1%)
Tercapainya cita-cita
Puas (29.6%)
Kegiatan
diikuti
Kesehatan
keagamaan
yang
Puas
(44.4%)
Puas
(44.4%)
11
Puas
(63.2%)
Puas (57.9%)
Puas (26.3%)
Puas (31.6%)
Netral
(43.8%)
Netral
(37.5%)
Puas (36.8%)
Netral
(56.2%)
Puas
(31.6%)
Netral
(37.5%)
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
Untuk dapat menjelaskan subjective well being pada masing-masing
kelompok, dapat dilihat dengan mengacu pada komponen dari subjective well
being yaitu life satisfaction, presence of frequent positive affect, dan relative
absence of negative affect (Diener, 1999). Dibandingkan ketiga kelompok lainnya,
life satisfaction pada kelompok well being sangat tinggi tergolong paling tinggi,
oleh karena itu dapat diartikan bahwa subjek puas terhadap kehidupannya. Hal ini
sejalan dengan domain satisfaction yang menunjukkan kelompok ini puas
terhadap 8 aspek kehidupan yaitu kehidupannya saat ini, relasi dengan keluarga,
relasi dengan teman, hal-hal atau kegiatan yang disukai, relasi dengan pacar, relasi
dengan Tuhan, tercapainya cita-cita, kegiatan keagamaan yang diikuti, dan
kesehatan.
Kepuasan
subjek
terhadap
area-area
kehidupan
ini
dapat
mengindikasikan bahwa individu lebih sering merasakan emosi positif daripada
emosi yang negatif. Hal ini dapat dilihat dari negative affect yang tergolong
sedang dan positive affect yang tergolong tinggi.
Sama halnya dengan kelompok well being sangat tinggi, kelompok well
being tinggi juga menunjukkan life satisfaction yang tergolong tinggi. Hal ini
dapat dijelaskan dari bagaimana kepuasan subjek pada area-area kehidupan yaitu
berdasarkan domain satisfaction. Sebagian besar subjek pada kelompok ini puas
terhadap 8 aspek kehidupan yaitu akan kehidupannya saat ini, relasi dengan
keluarga, relasi dengan teman, hal-hal atau kegiatan yang disukai, relasi dengan
pacar, prestasi yang sudah tercapai, relasi dengan Tuhan, kegiatan keagamaan
yang diikuti, dan kesehatan. Kepuasan subjek terhadap hampir keseluruhan area
kehidupan ini yang menyebabkan subjek lebih sering merasakan emosi yang
positif dibandingkan emosi yang negatif. Hal ini dapat dilihat dari negative affect
yang tergolong sedang dan positive affect yang tergolong tinggi.
Pada kelompok well being sedang, life satisfaction subjek tergolong
sedang, oleh karena itu dapat diartikan bahwa subjek cukup puas terhadap
kehidupannya. Ditinjau dari kepuasan subjek terhadap area-area kehidupannya,
sebagian besar subjek tergolong puas terhadap 5 area kehidupan yaitu relasi
dengan keluarga, hal-hal atau kegiatan yang disukai, prestasi yang sudah tercapai,
kegiatan keagamaan yang diikuti, dan kesehatan. Hal ini dapat menjelaskan
bahwa dalam kehidupan sehari-hari subjek, emosi positif lebih sering muncul
12
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
dibandingkan emosi negatif. Hal ini dibuktikan dengan negative affect yang
tergolong sedang dan positve affect yang tergolong tinggi.
Life satisfaction subjek pada kelompok well being rendah juga tergolong
sedang, sehingga dapat diartikan subjek cukup puas terhadap kehidupannya.
Perbedaannya dengan ketiga kelompok lainnya adalah subjek pada kelompok ini
lebih sering merasakan emosi negatif daripada emosi positif, hal ini dapat dilihat
dengan negative affect yang tergolong tinggi dan positive affect yang tergolong
sedang. Frekuensi munculnya negative affect ini sejalan dengan bagaimana
kepuasan subjek terhadap area-area kehidupannya yang dapat dilihat pada domain
satisfaction. Mayoritas subjek pada kelompok ini tidak tergolong puas terhadap
seluruh domain, namun tergolong cukup puas terhadap 3 aspek kehidupan yaitu
relasi dengan keluarga, relasi dengan teman, dan hal-hal atau kegiatan yang
disukai.
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjective well being tidak berkaitan
dengan problematic internet use. Motif dari penggunaan internet terkait dengan
tuntutan akademis, level of problematic internet use seluruh kelompok yang tidak
tergolong tinggi, dan negative outcomes seluruh kelompok yang tergolong rendah
ini dapat menjelaskan problematic internet use subjek tidak berkaitan dengan
subjective well being, akan tetapi lebih berkaitan pada domain satisfaction subjek
pada area-area kehidupan.
Kelompok well being sangat tinggi menunjukkan positive affect yang
tinggi dan negative affect yang sedang, dapat diartikan dalam kehidupan sehariharinya subjek lebih sering merasakan emosi yang positif daripada yang negatif.
Secara kognitif, subjek dapat dikatakan puas terhadap kehidupannya, hal ini dapat
dilihat dari life satifaction subjek yang tergolong tinggi. Life satisfaction subjek
juga didukung dari domain satisfaction kelompok ini yang tergolong puas
terhadap 8 area kehidupan.
Sama halnya dengan kelompok well being sangat tinggi, kelompok well
being tinggi juga menunjukkan positive affect yang tinggi, negative affect yang
sedang, dan life satisfaction yang tergolong tinggi. Hanya saja skor life
13
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
satisfaction pada kelompok ini lebih rendah daripada kelompok well being sangat
tinggi. Domain satisfaction juga dapat menjelaskan kepuasan subjek terhadap area
kehidupannya yang tergolong puas terhadap 8 area kehidupan.
Kelompok well being sedang menunjukkan positive affect yang tergolong
tinggi dan negative affect yang tergolong sedang, hal ini menunjukkan bahwa
secara afektif, emosi positif lebih sering muncul dibandingkan dengan emosi
negatif. Kelompok ini tergolong puas terhadap 5 area kehidupan sedangkan
kelompok well being sangat tinggi dan well being tinggi tergolong puas terhadap 8
area kehidupan. Hal ini merupakan salah satu hal yang dapat menjelaskan life
satisfaction kelompok ini tergolong sedang.
Kelompok well being rendah menunjukkan life satisfaction yang
tergolong sedang, positive affect yang tergolong sedang, dan negative affect yang
tergolong tinggi. Frekuensi munculnya emosi negatif yang tergolong tinggi ini
berpengaruh pada evaluasi subjek terhadap kehidupannya. Hal ini dapat dilihat
dari sebagian besar subjek yang hanya cukup puas terhadap 3 area kehidupan dan
tidak menunjukkan bahwa dirinya puas terhadap keseluruhan area kehidupan.
Saran bagi subjek penelitian adalah subjek diharapkan mampu untuk
mengontrol penggunaan internetnya sehingga tidak selalu bergantung pada
internet, yaitu dengan mengurangi intensitas penggunaan internet dalam
melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Seperti halnya mengurangi intensitas
penggunaan instant messaging dalam berkomunikasi dengan teman, keluarga, dan
sebagainya, serta lebih mengutamakan komunikasi face to face dalam menjalin
relasi dengan orang lain. Selain itu, saran bagi orangtua subjek adalah orangtua
diharapkan mampu mengoptimalkan peran orangtua dalam mengawasi dan
mengurangi intensitas penggunaan internet yang dilakukan oleh anak. Hal ini
dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas komunikasi intrapersonal antara
orangtua dengan anak tanpa menggunakan media internet. seperti halnya dalam
aktivitas sehari-hari sebaiknya orangtua meningkatkan frekuensi komunikasi
dengan anak secara langsung, apabila komunikasi face to face tidak dapat
dilakukan setiap saat, orangtua dapat melakukan mediated communication dengan
anak melalui telepon atau handphone. Saran yang diberikan penulis untuk
penelitian selanjutnya antara lain dalam menyusun angket terbuka sebaiknya lebih
14
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
menggali mengenai data-data terkait dengan subjective well being, sehingga akan
mempermudah peneliti ketika membahas hasil penelitian dan sebaiknya tidak
hanya dibatasi dengan karakteristik subjek tertentu seperti halnya dalam penelitian
ini yaitu mahasiswa, sehingga dapat memperoleh gambaran yang lebih umum dan
representatif.
DAFTAR PUSTAKA
Arnettt, J. J. (2000). Emerging adulthood. Diunduh dari http://www.jeffreyarnettt.
com/articles/ARNETTT_Emerging_Adulthood_theory.pdf.
Budiwan, C. R (2011). Analisis faktor distorsi kognitif pada kecanduan internet.
Skripsi. Sarjana Strata I. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas
Surabaya, tidak diterbitkan.
Caplan, S. (2002). Problematic internet use and psychosocial well being.
Development of a theory based cognitive-behavioral measurement
instrument. Computers in Human Behavior, 18, 553-575.
Ceyhan, E. & Gurcan, A. (2008). Validity and realitibility studies of Problematic
Internet Usage Scale. Educational Sciences. Theory & Practice, 7(1), 387416
Diener, E., Emmons, R. A., Larsen, R. J., & Griffin, S. (1985). The satisfaction
with life scale. Journal of Personality Assessment, 49, 71-75
Diener, E., Suh, E. M., Lucas, R. E., & Smith, H. L. (1999). Subjective well
being: Three decades of progress. Psychological Bulletin, 2, 276-302
Edutechnolife. (2011). Pengguna internet di Indonesia mayoritas menggunakan
ponsel (Internet mobile). Diunduh dari http://edutechnolife.com/penggunainternet-di-indonesia-mayoritas-menggunakan-ponsel-internet-mobile/
Hair, J. F., Anderson, R. E., Tatham, R. L., & Black, W. C. (1998). Multivariate
data analysis (5th ed). New Jersey: Prentice Hall
Herring, S. C. (1996). Computer-mediated communication: Linguistic, social, and
cross-cultural perspectives, 81-106.
Kandell, J. J. (1998). Internet addiction on campus: the vulnerability of college
students. Cyberpsychology and behavior, 1, 11-17
Kraut, R., Patterson, M., Lundmark, V., Kiesler, S., Mukopadhyay, T., & Scherlis,
W. (1998). Internet Paradox: a social technology that reduces social
involvement and psychological well being. American Psychologist, 53(9),
1017-1031
LaRose, R., Eastin, M. S., & Gregg, J. (2003). Reformulating the Internet
Paradox: Social cognitive explanations of internet use and depression.
Diunduh dari http://www.behavior.net/JOB/v1n1/paradox.html
Saputra, W. R (2008). Hidup dalam Dunia Game; Perbedaan Intensitas Bermain
Game Online Ditinjau dari Gaya Hidup. Skripsi. Sarjana Strata 1.
Surabaya; Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, tidak diterbitkan
Spada, M. M., Langston, B., Nikcevic, A. V., & Moneta, G. B. (2008). The role of
metacognitions in problematic internet use. Computers in Human
Behavior, 24, 2325-2335
15
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013)
Stepanikova, I., Nie, N. H., & He, X. (2010). Time on the Internet at home,
loneliness, and life satisfaction: Evidence from panel time-diary data.
Computers in Human Behavior, 26(3), 329-338
Watson, D., Clark, L. A., & Tellegen, A. (1988). Development and validation of
brief measures of positive and negative affects: The PANAS scales.
Journal of Personality and Social Psychology, 54, 1063-1070
Young, K. S. (2005). Internet Addiction: The emergence of a new clinical
disorder. CyberPsychology & Behavior, 3, 237-244.
Young, K. S (2007). Cognitive behavior therapy with internet addicts. Treatment
outcomes and Implications. Journal of CyberPsychology & Behavior,
Volume 10, 5, 2007.
16
Fly UP