...

Document

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Description

Transcript

Document
BAB I
PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Al-Qur'an yang secara harfiah berarti "bacaan" yang merupakan
suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat dan tidak ada satupun
bacaan yang dapat menandinginya. Dan tidak ada pula kitab suci umat
beragama di dunia ini yang dihafal manusia selain al-Qur‟an.
Dalam pengertian yang lebih luas, di dalam Muqaddimah AlQur‟an dan Terjemahnya dinyatakan:
“Al-Qur‟an adalah Kitab Suci yang merupakan sumber utama dan
pertama ajaran Islam, menjadi petunjuk kehidupan umat manusia,
diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, sebagai salah satu
rahmat yang tak ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya
terkumpul wahyu Illahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan
pelajaran bagi siapa yang mempercayainya dan mengamalkannya.
Al-Qur‟an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan Allah, yang
isinya mencakup segala pokok-pokok syari‟at yang terdapat
dalam Kitab-kitab Suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu,
setiap orang yang mempercayai Al-Qur‟an, akan bertambah cinta
kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan
memahaminya serta pula mengamalkan dan mengajarkannya
sampai merata rahmatnya, dirasai dan dikecap oleh penghuni
alam semesta.” 1
Sebagai pedoman hidup manusia al-Qur‟an diturunkan oleh
Allah SWT dengan gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi
siapapun untuk membaca, menghafal, dan memahami serta mudah pula
untuk diamalkannya. Di dalam Surat al-Qomar Allah SWT berfirman dan
mengulang sampai empat ayat:
1
Departemen Agama RI, Al-Qur’an danTerjemahnya, (Jakarta: 1984), hal 108
1
2
‫َو اَو َو ْد ا َو َّس ْد َو ا ْدا ُق ْد َوآااِل ِّذل ْد ِلا َو َو ْد ا ِل ْد ا ُق َّس ِل ٍرا‬
“Sungguh Kami memudahkan Qur’an (bagi manusia) untuk peringatan
dan
pengajaran.
Adakah
orang
yang
mengambil
pengajaran
daripadanya?” (Q.S. Al-Qamar:22) 2
Di dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menyatakan bahwa
Allah
SWT mempermudah pemahaman al-Qur'an dengan cara
menurunkannya sedikit demi sedikit, mengulang-ulangi uraiannya,
memberikan serangkaian contoh dan perumpamaan menyangkut hal-hal
yang abstrak dengan sesuatu yang kasat indrawi melalui pemilihan
bahasa yang paling kaya kosakatanya serta mudah diucapkan dan
dipahami, populer, terasa indah oleh kalbu yang mendengarnya lagi
sesuai dengan nalar fitrah manusia agar tidak timbul kerancuan dalam
memahami pesannya. 3
Al-Qur'an dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan
kosakatanya, tapi juga kandungannya baik yang tersurat maupun yang
tersirat, bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua hasil
kajian yang telah dituangkan dalam jutaan jilid buku, dari generasi ke
generasi dengan berbagai perbedaan pendekatan sesuai dengan perbedaan
kemampuan dan kecendrungan para ilmuwan. Namun demikian fakta
menunjukkan bahwa semua
kajian dari berbagai sudut disiplin ilmu
mengandung kebenaran.
2
3
Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 2002), hal 788
Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol. 13, hlm. 463.
3
Belajar al-Qur‟an dapat dibagi pada beberapa tingkatan, yaitu (i)
belajar membaca sampai lancar dan baik, sesuai kaidah-kaidah yang
berlaku dalam qira‟at dan tajwid, (ii) berlajar arti dan maksud ayat sampai
mengerti apa yang terkandung di dalamnya, dan (iii) belajar menghafal di
luar kepala sebagaimana dikerjakan oleh para sahabat pada masa
Rasulullah, pada masa tabi‟in hingga saat ini. 4
Menghafalkan seluruh isi Kitab Al-Qur‟an merupakan fardu
khifayah. Tetapi menghafalkan sebagian ayat-ayat al-Qur‟an merupakan
fardu „ain, yaitu merupakan bagian dari kewajiban setiap muslim terutama
sebagai syarat untuk melaksanakan perintah shalat.
Sejak Rasulullah Muhammad saw masih hidup, menghafal alQur‟an merupakan salah satu model yang dikembangkan di dalam
mengajarkan al-Qur‟an dan menstimulus (merangsang) tumbuhnya
motivasi amaliyah sesuai dengan ayat-ayat yang telah diturunkan. Karena
itu menghafal Al-Qur‟an sudah dikembangkan sejak awal turunnya ayat.
Rasulullah Muhammad saw menyuruh
menghafal
dan
para
sahabat
untuk
menulis ayat-ayat al-Qur‟an. Rasulullah juga
menerangkan bagaimana ayat tersebut disusun dalam suatu surat, yakni
mana ayat yang dahulu dan mana ayat yang berikutnya. Hingga perintah
ini dijadikan sebagai peraturan yaitu al-Qur‟an sajalah yang ditulis.
Larangan ini dengan tujuan agar al-Qur‟an itu tetap terpelihara
4
Departemen Agama RI, Al-Qur’an danTerjemahnya, (Jakarta: 1984), hal 115
4
kebutuhannya. Disamping menulis Nabi juga menganjurkan supaya alQur‟an itu tetap dibaca dan dihafal juga diwajibkan dalam shalat. 5
Tradisi menghafal al-Qur‟an juga dilakukan oleh para ulama atau
cendekiawan muslim di zaman keemasan Islam, seperti Imam Syafi‟i,
Ibnu Sina, dan para ilmuwan Muslim lainnya. Para cendekiawan muslim
saat itu, apapun bidang keahliannya tetap berpijak di atas pondasi taḥfīdz
al-Qur‟an yang kuat. Imam Syafi‟i telah hafal al-Qur‟an sejak usia tujuh
tahun. Begitu juga dengan Ibnu Sina, seorang pakar kedokteran, sudah
hafal al-Qur‟an sejak usia sembilan tahun. 6
Banyak keutamaan maupun manfaat yang dapat diperoleh dari
sang penghafal, baik itu keutamaan yang diperolehnya di dunia maupun di
akhirat kelak. “Orang-orang yang tidak mengkaji rahasia-rahasia yang
diwahyukan dalam al-Qur‟an hidup dalam keadaan menderita dan berada
dalam kesulitan. Ironisnya mereka tidak pernah mengetahui penyebab
penderitaan mereka. Dalam pada itu orang-orang yang mempelajari
rahasia-rahasia dalam al-Qur‟an menjalani kehidupannya dengan mudah
dan gembira. Sebabnya adalah karena al-Qur‟an itu jelas, mudah dan
cukup sederhana untuk dipahami oleh setiap orang”7
Disamping memiliki manfaat di dalam menjaga kebahagiaan hidup
bagi dirinya sendiri, penghafal al- Qur‟an memegang peranan yang sangat
5
M. Sonhadji, dkk., al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid V, (Yogyakarta: Dana Bhakti
Wakaf, 1990), hal 246
6
Masagus A. Fauzan dan Farid Wajdi, Quantum Tahfiz (Siapa Bilang Menghafal AlQur‟an Susah?), (Bandung: YKM Press, 2010), hal 49
7
Harun Yahya, Beberapa Rahasia dala al-Qur’an, (Surabaya: Risalah Gusti,
2003), hal 2-3
5
penting dalam menjaga kemurnian dan keaslian Al- Qur‟an hingga akhir
zaman.
8
Dengan adanya para penghafal al-Qur‟an itulah akan adanya
koreksi bilamana dalam pencetakan mushap al-Qur‟an terdapat salah
cetak.
Di dalam pewarisan nilai-nilai ajaran Islam, kegiatan menghafal alQur‟an merupakan suatu keniscayaan. Karena itulah kegiatan menghafal
al-Qur‟an diterapkan melalui lembaga-lembaga pendidikan baik pesantren,
madrasah diniyah, taman pendidikan al-Qur‟an, pendidikan formal di
bawah lembaga-lembaga pendidikan Islam maupun lembaga pendidikan
formal di bawah Kementerian Agama terutama pada jenjang Madrasah
Ibtidaiyah.
Madrasah Ibtidaiyah adalah satuan pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam yang
terdiri dari 6 enam tingkat pada jenjang pendidikan dasar. 9 Dengan
demikian, Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan jenjang pendidikan dasar
pada
pendidikan
formal
setara
dengan
Sekolah
Dasar,
yang
pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Kurikulum Madrasah
Ibtidaiyah sama dengan kulrikulum sekolah dasar dengan porsi lebih pada
Pendidikan Agama Islam. Kurikulum tersebut mencakup mata pelajaran (i)
8
Ilham Agus Sugianto. Kiat Praktis Menghafal Al-Qur'an. ( Bandung: Mujahid Press,
2004), h. 31
9
Kementerian Agama RI, Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 90 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah, (Jakarta, 2013)
6
Al-Qur‟an dan Hadits, (ii) Aqidah dan Akhlak, (iii) Fiqih, (iv) Sejarah
Kebudayaan Islam, dan (v) Bahasa Arab. 10
Sesuai dengan Kurikulum 2013 Standar Kompetensi Lulusan SKL
Mata Pelajaran Al-Qur‟an Hadits adalah (a) Membaca, menghafal,
menulis, dan memahami surat-surat pendek dalam al- Qur‟an, yakni surat
al-Fatihah, an-Nas sampai surat ad-Duha (b) Menghafal, memahami arti,
dan mengamalkan hadits-hadits pilihan tentang akhlak dan amal shaleh.
Kemampuan-kemampuan
tersebut
meliputi:
melafalkan,
membaca,
menulis, menghafal, mengartikan, memahami, dan mengamalkan. Yakni
dengan maksud agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) Memahami
cara melafalkan huruf–huruf hijaiyah dan tanda bacanya, (2) Menyusun
kata–kata dengan huruf–huruf hijaiyah baik secara terpisah maupun
bersambung, (3) Memahami cara melafalkan dan menghafal surat–surat
tertentu dalam Juz‟ Amma, (4) Memahami arti surat tertentu dalam
Juz‟Amma, (5) Menerapkan kaidah - kaidah ilmu tajwid dalam bacaan alQur‟an, (6) Menghafal, memahami arti, dan mengamalkan hadits tertentu
tentang persaudaraan, kebersihan, niat, hormat kepada orang tua,
silaturahmi, menyayangi anak yatim, taqwa, shalat berjamaah, ciri-ciri
orang munafiq, keutamaan memberi dan amal shalih. 11
Di dalam fenomena kultural, di samping melalui jenjang
pendidikan formal di bawah Kementerian Agama, sejak akhir tahun 80-an
10
http://id.m.wikimedia.org/wiki/Madrasah_ibtidaiyah
Dirjen Pendidikan Islam, Modul Kajian Kurikulun Al-Qur’an dan Hadits
Madrasah Ibtidaiyah, (Jakarta, 2013)
11
7
telah muncul Lembaga Pendidikan yang menggunakan kurikulum
Kementerian Pendidikan Nasional dan ditambah dengan pembinaan Islam
yang cukup intensif, yang dikenal dengan Lembaga Pendidikan Islam
Terpadu (LPIT), terutama pada jenjang pendidikan dasar yaitu Sekolah
Dasar Islam Terpadu (SDIT).
Kurikulum Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dirancang
berdasarkan kurikulum nasional dan diperkaya dengan pendekatan
filosofis pada visi dan misi Islam. Dengan demikian tambahan muatan
agama akan sangat dominan dalam kegiatan pembelajarannya. Kompetensi
yang harus dicapai siswa meliputi kompetensi aqidah, kemampuan
membaca, menulis dan menghafal al-Qur‟an, kemampuan akademik,
keterampilan, kepekaan terhadap lingkungan, semangat bekerjasama, dan
etos kerja yang tinggi.
Dengan demikian terlihat bahwa Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah
Dasar Islam Terpadu merupakan lembaga pendidikan yang membawa misi
dakwah dalam rangka mewujudkan nilai-nilai Islam bagi lulusannya.
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam
Terpadu Al-Azhaar Sukorejo Gandusari Trenggalek, merupakan dua
lembaga pendidikan yang secara konsisten memberikan perhatian khusus
di dalam mewujudkan lulusan yang memiliki kualitas hafalan al-Qur‟an.
Perbedaanya pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sukorejo materi
hafalan al-Qur‟an menggunakan kurikulum yang telah ditetapkan oleh
Kementerian Agama sedangkan pada Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-
8
Azhaar Sukorejo menggunakan kurikulum yang ditetapkan oleh lembaga
pendidikan sendiri.
Kegiatan belajar mengajar menghafal al-Qur‟an sebagai bagian
dari proses pendidikan memerlukan pendekatan, strategi, metode, teknik,
dan taktik agar dapat mencapai tujuan yang digariskan.
Banyak metode menghafal al-Qur‟an telah dikembangkan oleh
para ulama dan ummat Islam. Ahsin W. Al-Hafidz di dalam buku
Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur‟an yang diterbitkan oleh PT. Bumi
Aksara Jakarta Tahun 2005 mengemukakan bahwa metode menghafal alQur‟an tersebut antara lain adalah metode tahfidz, metode wahdah, metode
kitabah, metode gabungan wahdah dan kitabah, metode jama‟, metode
talaqqi, metode jibril, metode isyarat, dan metode takrir. 12
Sebuah metode dirancang sebagai alat untuk mencapai tujuan
tertentu. Karena itu untuk mewujudkan kualitas hafalan al-Qur‟an tidak
cukup hanya menggunakan satu metode, tetapi menggabungkan beberapa
metode sekaligus. Penerapan gabungan beberapa metode tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perbedaan usia anak, perbedaan
tingkat kecerdasan anak, perbedaan kecenderungan anak, perbedaan
kendisi fisik anak, perbedaan latar belakang kehidupan keluarga, dan
perbedaan keadaan komunitas sosial.
Di dalam proses belajar mengajar materi hafalan al-Qur‟an,
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu
12
Ahsin W Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2005)
9
Sukorejo Gandusari Tenggalek, menerapan beberapa metode menghafal alQur‟an sekaligus antara lain metode tahfidz, metode wahdah dan metode
sorogan dalam mengantarkan lulusan yang memilki kompentesi hafalan alQur‟an.
Fenomena ini menarik untuk diteliti karena dengan upaya
penerapan gebungan metode manghafal al-Qur‟an, keduanya sama-sama
memiliki lulusan dengan kompetensi hafalan al-Qur‟an yang cukup baik.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah penerapan gabungan metode tahfidz,
wahdah dan sorogan dalam meningkatkan kualitas menghafal al-Qur‟an
siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) dan Sekolah
Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Azhaar Sukorejo Gandusari Trenggalek.
Alasan pemilihan fokus penelitian penerapan gabungan metode
tahfidz, wahdah dan sorogan dalam meningkatkan kualitas menghafal alQur‟an pada siswa kelas IV adalah:
1. Siswa kelas IV rata-rata menginjak usis 10 tahun. Secara prikologis
pada usia tersebut terjadi perubahan pada kemampuan menghafal dan
kemampuan analitis. Perubahan tersebut diakibatkan oleh semakin
adanya keterbukaan anak pada dunia sekelilingnya terutama kelompok
sosial, perhatian anak pada pengamatan dan pencarian makna terhadap
obyek yang diamati.
10
2. Dalam pendekatan psikologi agama anak-anak usia 10 tahun telah
masuk pada usia baligh, dimana dengan memasuki usia tersebut anakanak secara sunatullah menghadapi berbagai persoalan yang antara lain
dapat mengurangi konsentrasi di dalam menghafal.
Dengan
mengambil makna dari penegasan Rasulullah saw, bahwa ketika anak
menginjak 10 tahun belum melaksanakan shalat dengan tertib harus
diberlakukan metode khusus dengan pemaksaan, maka demikian juga
halnya dengan pelaksanaan tugas menghafal ayat-ayat al-Qur‟an.
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka
dapat diambil sebuah gambaran fokus penelitian dalam tesis ini, adalah:
1.
Bagaimanakah penerapan metode gabungan tahfidz, wahdah dan
sorogan dalam menghafal al-Qur‟an pada siswa kelas IV Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu AlAzhaar Sukorejo Gandusari Trenggalek ?
2.
Bagaimana keunggulan penerapan metode gabungan tahfidz, wahdah
dan sorogan dalam menghafal al-Qur‟an pada siswa kelas IV
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam
Terpadu Al-Azhaar Sukorejo Gandusari Trenggalek ?
3.
Bagaimana kelemahan penerapan metode gabungan tahfidz, wahdah
dan sorogan dalam menghafal al-Qur‟an pada siswa kelas IV
11
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam
Terpadu Al-Azhaar Sukorejo Gandusari Trenggalek ?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1.
Menjelaskan penerapan metode gabungan tahfidz, wahdah dan
sorogan dalam menghafal al-Qur‟an pada siswa kelas IV Madrasah
Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Azhaar
Sukorejo Gandusari Trenggalek
2.
Menjelaskan keunggulan penerapan metode gabungan tahfidz,
wahdah dan sorogan dalam menghafal al-Qur‟an pada siswa kelas IV
Madrasah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu AlAzhaar Sukorejo Gandusari Trenggalek
3.
Menjelaskan kelemahan penerapan metode gabungan tahfidz, wahdah
dan sorogan dalam menghafal al-Qur‟an pada siswa kelas IV
Madrasah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu AlAzhaar Sukorejo Gandusari Trenggalek
E. Kegunaan Penelitian
1.
Secara Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
kajian dalam penerapan motode menghafal al-Qur‟an yang tepat
sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat.
12
2.
Secara Praktis
a.
Bagi para guru khususnya guru kelas IV Madrasah Ibtidaiyah
Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Azhaar
Sukorejo Gandusari Trenggalek hasil penelitian ini akan dapat
dijadikan sebagai sharing pengalaman untuk dijadikan salah satu
input dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar hafalan al-Qur‟an
dengan menerapkan metode
gabungan Tahfidz, Wahdah dan Sorogan.
b.
Bagi para siswa khususnya siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah
Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Azhaar
Sukorejo Gandusari Trenggalek hasil penelitian ini akan mampu
memberikan pendorong tumbuhnya semangat untuk berusaha
meningkatkan kemampuan menghafal al-Qur‟an.
c.
Bagi Peneliti yang akan datang, hasil penelitian ini dapat
dijadikan salah satu referensi untuk mengembangkan penelitian
selanjutunya.
F. Penegasan Istilah
1.
Secara Konseptual
Penegasan istilah secara konseptual dimaksudkan
untuk
memperjelas dan mempertegas kata kunci yang terdapat pada judul
13
penelitian. Beberapa istilah yang perlu memdapat penegasan di dalam
penelitian ini adalah:
a. Penerapan metode gabungan tahfidz, wahdah dan sorogan
Penerapan metode gabungan tahfidz, wahdah dan sorogan
yang dimaksud adalah memadukan antara motode tahfidz, metode
wahdah, dan metode sorogan untuk membimbing siswa di dalam
proses belajar mengajar materi hafalan al-Qur‟an. Di dalam hal ini
dari ketiga metode tersebut masing-masing diambil kelebihannya,
kemudian digabungkan untuk digunakan dalam proses kegiatan
belajar mengajar sehingga kualitas hafalan yang ingin dicapai
dapat terpenuhi secara optimal.
b. Kualitas menghafal al-Qur‟an
Kualitas mengahafal al-Qur‟an yang dimaksudkan adalah
memampuan siswa untuk menyelesaikan materi hafalan yang telah
dibebankan dengan kreteria, :
1) Bacaan benar sesuai kaidah tajwid
2) Hafalan lancar
2.
Secara Operasional
Secara operasional tesis dengan judul “Penerapan Metode
Gabungan Tahfidz, Wahdah dan Sorogan dalam Meningkatkan
Kualitas Hafalan Siswa Kelas IV, Studi Multi Kasus di Madrasah
14
Ibtisaiyah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu AlAzhaar Sukorejo Gandusari Trenggalek” merupakan pengertian yang
komprehensip menyangkut kebijakan lembaga dalam memajukan
pembelajaran al-Qur‟an, pemilihan dan penggabungan beberapa
metode menghafal al-Qur‟an dalam proses kegiatan belajar mengajar,
dan standar kualitas menghafal al-Qur‟an.
G. Sistematika Pembahasan
Pembahasan di dalam tesis yang berjudul “Penerapan Metode
Gabungan Tahfidz, Wahdah dan Sorogan dalam Meningkatkan Kualitas
Menghafal al-Qur‟an Siswa Kelas IV, Studi Multi Kasus di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah dan Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Azhaar
Sukorejo Gandusari Trenggalek” ini dibagi ke dalam 6 (enam) bab.
Bab I Pendahuluan, di mana dalam bab ini akan diuraikan tentang
konteks penelitian, fokus penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, dan penegasan istilah.
Bab II membahas tentang kajian pustaka, di mana dalam hal ini
dibahas tentang teori menghafal, metode menghafal al-Qur‟an, kualitas
menghafal al-Qur‟an, paradigma penelitian, pagadigma dan penelitian
terdahulu tentang tentang metode menghafal al-Qur‟an.
Bab III membahas tentang metode penelitian, yang terdiri dari
pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian,
15
sumber data, teknik pengumpulan data, analisa data yang digunakan, dan
pengecekan keabsahan data temuan.
Bab IV membahas tentang paparan data dan temuan penelitian,
yang di dalamnya akan dibahas tentang profil Madrasah Ibtidaiyah
Muhammadiyah (MIM) Sukorejo, profil Sekolah Dasar Islam Terpadu
(SDIT) Al-Azhaar Sukorejo, temuan-temuan dalam penelitian, dan analisis
terhadap data hasil penelitian.
Bab V merupakan bab pembahasan dan analisa data, di mana
dalam hal ini akan disajikan analisa kasus tunggal dan analisa multi kasus
terhadap temuan penelitian.
Bab VI merupakan penutup, yang akan memaparkan kesimpulan
hasil penelitian, implikasi hasil penelitian, dan saran-saran.
Fly UP