...

139 PEMULSAAN ORGANIK TERHADAP INTENSITAS SERANGAN

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

139 PEMULSAAN ORGANIK TERHADAP INTENSITAS SERANGAN
PEMULSAAN ORGANIK TERHADAP INTENSITAS SERANGAN BERCAK UNGU
SERTA PRODUKSI BAWANG PUTIH VARIETAS LUMBU PUTIH DAN LUMBU
HIJAU
MULCHING ORGANIC OF INTENSITY ATTACK SPOTTING PURPLE AND
GARLIC PRODUCTION OF VARIETY LUMBU WHITE AND LUMBU GREEN
Muhammad Amidhan Siknun1, Gode Fridus ghunu1, Zainul Al Amin1, Untung Sugiarti2
1)
Mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Widyagama Malang
2)
Dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Widyagama Malang
ABSTRAK
Penggunaan mulsa umumnya dilakukan di daerah-daerah yang sering mengalami
kekeringan dan rentan terhadap pertumbuhan gulma. Gutomo et al, 1998 menyatakan bahwa
mulsa daun cengkeh selain memiliki peran dalam menekan kehilangan air tanah yang
mempertahankan kelembaban, menjaga suhu tanah, erosi menekan pukulan melalui reduksi
langsung dari air hujan ke tanah juga dapat menekan intensitas jamur yang merupakan salah
satu kendala dalam mencapai hasil yang optimal bawang putih dataran tinggi. Penelitian ini
dilakukan kampus Universitas Widya Gama Malang III dengan menggunakan desain,
percobaan faktorial dilakukan dalam rancangan acak yang terdiri dari dua faktor dan diulang
3 kali antara faktor-faktor lain saya Mo: tidak ada mulsa; M1: cengkeh mulsa daun: M2:
kubis limbah daun mulsa sedangkan faktor kedua V1: kultivar Lumbu putih dan V2: Lumbu
kultivar hijau. Variabel pengamatan adalah jumlah daun, diameter umbi, berat segar dan berat
kering umbi-umbian dan tingkat serangan dengan menggunakan skor 0-6.
Hasil analisis varians ternyata memiliki jumlah umbi M1V1 12,5 cengkeh / tanaman.
Sementara itu, berat kering 9,82 g / tanaman. Kemudian pengamatan bercak ungu pada
tingkat serangan pengobatan M2V1 (daun limbah mulsa kubis menggunakan Lumbu kultivar
putih) ada serangan yang 2.67%.
Key word : bawang putih, daun cengkeh dan kubis
ABSTRACK
The use of mulch is generally done in areas that frequently experience drought and
susceptible to weed growth. Gutomo et al, 1998 stated that the clove leaf mulch in addition to
having a role in suppressing soil water loss that retain moisture, keep the soil temperature,
erosion pressing punch through direct reduction of rain water to the ground also can suppress
the intensity of fungus which is one of the obstacles in achieving optimum results garlic
plateau. This study was conducted campus University of Widya Gama Malang III by using
design, factorial experiments were carried out in a randomized block design consisting of two
factors and repeated 3 times among other factors I Mo: no mulch; M1: clove leaf mulch: M2:
cabbage leaf mulch waste while the second factor V1: Lumbu white cultivars and V2: Lumbu
green cultivars. Observation variables are the number of leaves, bulb diameter, fresh weight
and dry weight of tubers and attack rate by using the score 0-6.
Results of analysis of variance turns out to have a number of tubers M1V1 12.5 clove /
plant. Meanwhile, 9.82 g dry weight / plant. Later observations purple blotches on the attack
rate M2V1 treatment (mulch waste cabbage leaves using Lumbu white cultivars) there is an
attack that is 2.67%.
Key word : garlic, clove leaf and cabbage
139
itu dengan adanya mulsa daun cengkeh
PENDAHULUAN
Tanaman
Lumbu putih
bawang
putih
seperti
dan limbah kubis ( Mulsa Organik) dapat
dan Lumbu hijau dapat
menentukan cara pengendalian yang tepat
ditanam di daerah rendah. Jenis ini cocok
terhadap
penyakit
becak
ditanam di budidayakan di daerah terletak
tanaman
bawang
putih
antara
Sedangkan
pertumbuhan
didataran tinggi antara 600-1200 m dpl.
ditingkatkan.
200-250
m
dpl.
dan
daun
pada
sehingga
produksinya
dapat
Kemudian untuk daerah pertanamannya
Pemanfaatan sisa organ tanaman
bersuhu antara 15-200C. Bila suhu udara di
sebagai mulsa juga dapat berperan ganda
bawah
0
15 C
Pertumbuhan
terhambat
yaitu
meminimalkan kerugian sebagai
ditandai dengan pertumbuhan daun lambat,
akibat
sedangkan di daerah yang bersuhu di atas
pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air
270C,
khususnya
dan pengendalian erosi (prinsip LEISA ke-
tanaman bawang putih dataran tinggi
3). karena humus yang berasal dari mulsa
terganggu. Sebaliknya jenis dataran rendah
merupakan bahan organik yang memiliki
dapat dibudidayakan di daerah yang
retensi air yang cukup tinggi, air terserap
memiliki temperatur udara antara 27-300C
ke
( Anonymous, 1998). kultivar Lumbu
menghanyutkan
putih mempunyai sifat morphologi yang
Kemudian oleh Gutomo dkk, 1998 melalui
berbeda dengan kulivar Lumbu Hijau.
penelitiannya menyatakan bahwa mulsa
Diantaranya pada lebar daun maupun
daun
habitat dari tanaman. Kultivar Lumbu
peran dalam menekan kehilangan air tanah
Hijau mempunyai daun yang lebih besar
sehingga mempertahankan kelembaban,
dibandingkan dengan kultivar Lumbu
menjaga
putih. Pertumbuhan daun kultivar Lumbu
melalui pengurangan langsung pukulan air
putih bersifat tegak, sedangkan untuk
hujan terhadap tanah juga dapat menekan
Kultivar Lumbu Hijau bersifat roset.
intensitas
pembentukan
umbi
radiasi
dalam
matahari
tanah
cengkeh
suhu
dan
dengan
tidak
permukaan
disamping
tanah,
serangan
dapat
tanah.
mempunyai
menekan
cendawan
erosi
yang
Dari beberapa sifat tersebut masing-
merupakan salah satu hambatan dalam
masing kultivar mempunyai respon yang
mencapai hasil optimum bawangputih
berbeda akibat pemberian mulsa terhadap
dataran tinggi . Hasil maksimum dicapai
hasil dan intensitas serangan penyakit.
pada pemberian mulsa dengan dosis 10
cenderung terjadi pergeseran populasi
t/ha. Pemberian mulsa daun cengkeh dapat
Alternaria sp.,sehingga dapat mengetahui
meningkatkan bobot umbi bawangputih
intensitas serangan penyakit. Oleh karena
sebesar 6,494 t/ha pada kultivar Lumbu
140
Kayu, dan 4,040 t/ha pada kultivar Lumbu
a. Pengamatan
terhadap
hasil
umbi
Hijau, dan menurunkan intensitas serangan
bawang putih
A. Porri pada kultivar Lumbu Hijau
tanaman Berat kering umbi bawang
sebesar
putih (gram / tanaman).
10,63
%,
tetapi
menaikkan
yaitu Jumlah siung/
intensitas serangan sebesar 17,81 % pada
b. Pengamatan tanaman yang diamati
kultivar Lumbu Kayu. Begitu pula hasil
hanya tanaman bawang putih saja
penelitian Asandhi dkk, 1989 menyatakan
dengan metode secara acak dan diberi
bahwa hasil yang didapat dari perlakuan
tanda dengan ajir bambu. Penentuan
tanpa dan dengan mulsa limbah kubis
sampel pertama agak ketengah paling
masing-masing adalah 4,13 g dan 4,87 g
tidak baris kedua dari tepi bedengan.
umbi kering bawang putih per tanaman.
Jumlah
sedangkan diameter umbi 2,1 cm dan 2,2
rumpun. Pengamatan dilakukan pada
cm, dan jumlah siungnya 7,5 dan 8,6 buah
umur 28, 40, 52, 64, 76, 86 hari setelah
umbi bawang putih.
tanam (HST).
Oleh karenanya
penggunaan mulsa daun cengkeh dan
rumpun
yang
diamati
10
c. Intensitas serangan penyakit Alternaria
limbah kubis diharapkan selain dapat
sp.
meningkatkan produktivitas lahan juga
Metode yang digunakan adalah non
dapat menekan perkembangan penyakit
destruktif (tidak merusak tanaman).
bercak ungu( Alternaria porri).
Pengamatan dilakukan dengan skor 0-6
(Sujono dan Sudarmadi, 1994) :
METODE PENELITIAN
Skor 1 adalah 1 s/d 10% bagian daun
Metode Percobaan
terserang
Percobaan Faktorial dilaksanakan
Skor 2 adalah > 10 s/d 20% bagian
dalam Rancangan Acak Kelompok yang
daun terserang
terdiri dari dua faktor dan diulang 3 kali.
Skor 3 adalah > 20 s/d 30% bagian
Faktor-faktor tersebut ialah :
daun terserang
Faktor I : mulsa daun cengkeh dan limbah
Skor 4 adalah > 30 s/d 40% bagian
kubis
daun terserang
M0 : Tanpa pemberian mulsa
Skor 5 adalah > 40 s/d 50% bagian
M1 : Mulsa daun cengkeh
daun terserang
M2 : Mulsa limbah kubis
Skor 6 adalah > 50% bagian daun
Faktor II : Kultivar bawangputih yang
terserang
terdiri dari dua macam kultivar, yaitu :
V1 : Kultivar
141
Tingkat serangan (%) pada rumpun
pemanfaatan mulsa terhadap jumlah siung
contoh dihitung berdasarkan persamaan
bawang putih menunjukkan ada berbedaan
sebagai berikut :
nyata. Dapat lihat pada Tabel 1 yang
menyatakan
bahwa
perlakuan
M1V1
(menggunakan mulsa daun cengkeh dan
Keterangan :
varietas
P adalah persentase serangan (intensitas
lumbu
putih)
menunjukkan
pengaruh yang nyata dengan perlakuan-
serangan)
perlakuan
n adalah jumlah rumpun dari setiap
lainnya.
merupakan
katagori serangan
Kualitas
penentu
hasil
bibit
tanaman.
Tanaman yang dipergunakan sebagai bibit
v adalah nilai skala dari setiap katagori
harus cukup tua. Yaitu berkisar antara 70-
serangan
80 hari setelah tanam. Bibit kualitas baik
Z adalah nilai serangan dari katagori
adalah berukuran sedang, sehat, keras dan
tertinggi
permukaan kulit luarnya licin / mengkilap.
N adalah jumlah seluruh rumpun yang
Selain
diamati
bibit
penentu
kuantitas
dan
kualitas,142musim pun juga menjadi salah
satu penentu pula untuk keberhasilan
Analisis Data
jumlah 142 umbi. Walaupun musim hujan
Untuk pengujian statistik dilakukan
tetap tidak berpengaruh terhadap jumlah
dengan pengujian analisis ragam (uji F)
siung bawang putih, Karena dalam hal ini
pada taraf p = 0,005. Hal ini digunakan
untuk
mengetahui
keberadaan
adanya
Alternaria
sp
dilakukan perawatan yang rutin antara lain
pengaruh
yaitu pembumbunan sambil meninggikan
terhadap
guludan,
pertumbuhan dan hasil bawang putih
agar
normal kembali.
terdapat perbedaan yang nyata , perlakuan
drainase
Pembubunan
menjadi
juga
berfungsi memperbaiki struktur tanah dan
yang dicoba dapat dilanjutkan dengan uji
akar yang keluar di permukaan tanah
BNT dengan tingkat ketelitian p = 0,005.
ditutup kembali sehingga tanaman bias
berdiri kuat dan ukuran umbi pun yang
HASIL DAN PEMBAHASAN
dihasilkan dapat lebih besar-besar begitu
Pemulsaan Organik Terhadap Jumlah
juga jumlah siung bawang putih.
Siung Umbi Bawang Putih (Allium
Sativum ).
Berdasarkan
ragam
hasil
menyatakan
analisis
bahwa
sidik
perlakuan
142
Tabel 1. Rerata-rata Pemulsaan Organik terhadap Jumlah siung Bawang Putih.
Perlakuan
Jumlah Siung Bawang Putih
M0V1
6.17 b
M0V2
5.00 a
M1V1
12.50 e
M1V2
11.18 f
M2V1
8.92 c
M2V2
9.71 d
BNT 5%
0.37
Keterangan : Angka yang diikuti pada huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada
uji BNT 5%.
Pemulsaan Organik Terhadap Berat Kering Umbi Bawang Putih (Allium Sativum ).
Tabel 2. Rerata-rata Pemulsaan Organik terhadap Berat Kering Umbi bawang Putih.
Perlakuan
Berat Kering Umbi Bawang Putih ( g )
M0V1
4.87 b
M0V2
4.85 b
M1V1
9.44 c
M1V2
9.82 d
M2V1
3.72 a
M2V2
4.98 b
BNT 5%
0.37
Keterangan : Angka yang diikuti pada huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak
pada uji BNT 5%.
Dari hasil analisis sidik ragam
berbeda nyata
memberikan pengaruh yang lebih baik
menunjukkan bahwa penggunaan mulsa
terhadap
berpengaruh nyata terhadap peningkatan
macam mulsa yang digunakan perlakuan
hasil panen maupun berat kering bawang
MIVI yaitu menggunakan mulsa daun
putih , dengan perlakuan lain yaitu yang
cengkeh menunjukkan perlakuan yang
tidak menggunakan mulsa, Hal ini terjadi
baik.
karena dengan penggunaan mulsa akan
hasil
panen.
Dari
berbagai
Pemulsaan Organik Terhadap Tingkat
mengurangi varieasi suhu tanah. Suhu
Serangan Bercak Ungu Pada Bawang
tanah di bawah mulsa dapat bervariasi 3-50
Putih (Allium sativum ).
C, sedangkan tanpa mulsa pada kedalaman
5 cm dapat bervariasi 120C, selama sehari
Pengamatan dilakukan dengan skor
(Aliudin,1986). Sedangkan bawang putih
0-6 menunjukkan bahwa tingkat serangan
untuk pembentukan umbi di perlukan suhu
(%) pada rumpun contoh pada tanaman
rendah,
bawang putih perlakuan M2V1 terdapat
jadi
penggunaan
mulsa
143
serangan yaitu 2,67 % hal ini karena mulsa
budidaya bawang putih. Namun untuk
limbah
dan
produksi berat kering umbi bawang putih
dibanding
tidak mempengaruhi nya dapat di lihat
perlakuan lain, varietas lumbu putih
pada Tabel 6 menunjukkan beda nyata
kurang suka dengan kelembaban tinggi
dengan kontrol yaitu M0V2 hal ini
walaupun penanaman
yang dilakukan
didukung dengan ketersediaan unsur hara
sesuai dengan keadaan setempat, begitu
didalam tanah dan perlakuan pemeliharaan
pula pemeliharaannya sesuai dengan cara
sudah optimal.
kubis
kelembaban
mudah
tanah
lapuk
tinggi
Tabel 6. Rerata-rata Pemulsaan Organik terhadap tingkat serangan bercak ungu (%) pada
tanaman Bawang Putih.
Pengamatan Ke-
Perlakuan
28 HST
40 HST
52 HST
64 HST
76 HST
86 HST
MoV1
0,67c
1,17 b
1,39 d
1,17 b
1,56 b
2,78 b
MoV2
0,28 a
1,28 c
1,28 d
1,17 b
1,56b
2,78 b
M1V1
0,50 b
1,00 b
1,06 c
0,61 a
0,94a
2,44 b
M1V2
0,44 b
0,67 a
0,45 a
0,33 a
1,06a
2,34a
M2V1
0,56 bc
0,78 a
0,72 b
0,45 a
1,22a
2,67b
M2V2
0,50 b
0,67 a
0,50 a
0,5 a
1,33b
2,39a
BNT 5%
0,15
0,28
0,21
0,26
0,33
0,36
Keterangan : Angka yang diikuti pada huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata
pada uji BNT 5%.
(c) Penggunaan mulsa daun cengkeh dapat
SIMPULAN DAN SARAN
menekan pertumbuhan
Simpulan
(a) Perlakuan
berpengaruh
menggunakan
baik
mulsa
gulma dan
serangan bercak ungu yang menyerang
terhadap
tanaman bawang putih.
pertumbuhan dan meningkatkan hasil
Saran
bawang putih hasil panen bawang
Dari hasil penelitian ini perlu di
putih.
lakukan penelitian kembali tentang faktor-
(b) Penggunaan mulsa daun cengkeh pada
faktor
lingkungan
dan
dapat
tanaman bawang putih memberikan
meningkatkan
pengaruh lebih baik terhadap tumbuh
bawang putih yang dapat tumbuh di
kembang serta hasil panen dibanding
daratan medium, sehingga penelitian dapat
dengan menggunakan limbah daun
memberikan suatu informasi sehingga
kubis tanaman bawang putih.
membantu dalam menentukan kebijakan.
144
kualitas
yang
kuantitas
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 1998. Pedoman Bertanan
Bawang. Kanisius. Yogyakarta.
Anonymous. 1999. Penggunaan Beberapa
macam mulsa dan limbah kubis
Pada Tanaman Bawang Putih.
Agus, 1999. Pemanfaatan Bahan organik
berdasarkan
jenisnya
http://www.worldagroforestry.org
Aliudin, 1986. Pengaruh pengerjaan Tanah
dan Penggunaan Mulsa terhadap
Hasil panen Bawang putih. bull.
penel. Hort. Vol. XIV (i). pp. 6975.
Fahrurrozi, Bandi Hermawan, dan Latifah,
2005. Pertumbuhan dan Hasil
Kedelai pada berbagai Dosis
Mulsa Alang-alang dan Pengolahan
Tanah . Jurnal Akta Agrosia Vol. 8
No. 1 . hal 21-24 Jan -Jun 2005
Ithriad,
Riri,
2008.
Pengelolaan
Sumberdaya Lahan Kering di
Indonesia; Kumpulan Informasi.
pp. 80 -81. Pusat Penyuluhan
Kehutanan. Jakarta.
Gutomo Hardjono Sri.1998. Penggunaan
Dosis Mulsa Daun Cengkeh
Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil
Pada Dua Kultivar Tanaman
Bawang
Putih
(Allium
sativumL.) Pasca
Sarjana
Universitas Brawijaya Malang.
Rukmana. 1994. Budidaya Bawang Putih.
Penebar Swadaya. Jakarta.
145
Fly UP