...

STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA GENETIK UNTUK

by user

on
Category: Documents
7

views

Report

Comments

Transcript

STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA GENETIK UNTUK
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA GENETIK
UNTUK PERBAIKAN PRODUKTIVITAS TERNAK
JAFENDI H. PURBA SIDADOLOG
Bagian Produksi Ternak, Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada
Jl. Agro Karangmalang, Yogyakarta 55281
ABSTRAK
Keanekaragaman ternak lokal di Indonesia merupakan kekayaan sumberdaya genetik yang seharusnya
dapat digunakan untuk meningkatkan produksi dalam berbagai kondisi lingkungan tropis, terutama perbaikan
genetik dengan memanfaatkan kecepatan adaptasi terhadap lingkungan untuk tujuan breeding yang
berkelanjutan. Efisiensi produksi dari berbagai spesies ternak yang ada sangat erat kaitannya dengan
keanekaragaman tipe genetik yang dimiliki, tetapi uniformitas genetik yang besar dibutuhkan dalam
pengembangan setiap spesies ternak secara intensif. Keberadaan Indonesia sebagai bagian tempat asal usul
ayam piaraan memiliki keanekaragaman genetik yang sangat besar dan telah banyak dimanfaatkan negara
maju untuk tujuan breeding ternak komersil penghasil daging dan telur. Di Indonesia sendiri keberadaannya
masih tetap sebagai ayam kampung yang sebagian besar belum terjamah program breeding yang terarah dan
berkelanjutan. Ternak sapi, kerbau, kambing, domba dan ternak lainnya banyak diandalkan sebagai ternak
kerja dan potong, tetapi masih dipelihara secara tradisional dan belum mendapatkan perhatian untuk
dikembangkan melalui program breeding berkelanjutan. Dampaknya sangat nyata, sejalan dengan kebutuhan
daging, terjadi kecenderungan penurunan populasi, bahkan apabila impor ternak tidak dilakukan untuk
mengimbangi peningkatan kebutuhan ini dapat dibayangkan bagaimana keberadaan ternak lokal dimasa yang
akan datang. Oleh sebab itu sekarang ini diperlukan penanganan yang tepat dan terarah terutama melalui
program breeding berkelanjutan, agar keanekaragaman genetik ternak lokal dapat dimanfaatkan secara
optimal.
Kata kunci: Sumberdaya genetik, program breeding, perbaikan mutu genetik
PENDAHULUAN
Sumberdaya
genetik
ternak
adalah
kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan
kepada manusia sebagai dasar sumber
keamanan dan ketahanan pangan protein
hewani. Ternak lokal di Indonesia dari sejak
jaman dahulu kala sudah dinyatakan sebagai
”raja kaya” yang berarti dapat meningkatkan
status seseorang karena kepemilikannya akan
ternak. Simbol ini menjadi hilang sejalan
dengan status seseorang yang memiliki ternak
adalah petani, yang kehidupannya sangat
tergantung dari lahan yang semakin lama
semakin terbatas.
Kondisi ternak lokal sebagai sumberdaya
genetik di Indonesia pada saat ini sangat
mengkhawatirkan. Berbagai rumpun (bangsa)
ternak lokal spesifik lokasi yang sudah dikenal
umum maupun yang belum dikenal dapat
ditemukan di setiap daerah atau propinsi
dengan jumlah serta potensi yang belum
diketahui. Sebenarnya banyak ternak lokal
yang memiliki keunggulan komparatif
dibandingkan dengan ternak impor, antara lain
daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan
tropis dan sifat reproduksi yang baik sebagai
akibat seleksi alam yang dialami.
Ternak impor yang dinyatakan sebagai
ternak unggul di negara asalnya merupakan
hasil perakitan dari bahan plasma nutfah
melalui program pemuliaan dengan mengkombinasikan genotipe beberapa rumpun atau galur
unggul melalui sistem breeding. Daya produksi
ternak eksotik yang sangat baik ini mampu
menjadi daya tarik sehingga banyak diimpor
dan menyebar hampir disemua negara. Ternak
unggul ini akan memenangkan persaingan dan
mendominasi serta menekan populasi ternak
lokal yang kurang memiliki nilai ekonomis.
Kegunaan sumberdaya genetik dari ternak
lokal sampai saat ini sulit dipahami apabila
dikaitkan dengan usaha pembibitan. Akibatnya
banyak ternak lokal yang dipersilangkan secara
145
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
liar dengan ternak produktif bangsa eksotik
tanpa memperhitungkan dampak yang terjadi
terhadap ternak lokal itu sendiri. Akibatnya
terjadi pencemaran gen-gen ternak lokal yang
dengan nyata menurunkan populasi ternak
lokal dan akhirnya dapat mencapai kepunahan.
KETAHANAN PANGAN DAN POPULASI
TERNAK LOKAL
Menurut RAO (2004) pada tahun 2020
jumlah penduduk dunia diperkirakan akan
mencapai 8 millyard dan kebutuhan pangan
berasal dari produksi biji-bijian diharapkan
dapat mencapai dua kali lipat dari produksi
sekarang sebesar lima milyard ton per tahun.
Agar ketahanan dan keamanan pangan dapat
berlangsung secara berkelanjutan maka
kebutuhan ini juga harus ditunjang oleh
produksi ternak yang cukup banyak, dan salah
satu jalan yang dapat dilakukan adalah dengan
meningkatkan pemanfaatan keanekaragaman
genetik ternak. Termasuk di dalamnya adalah
keanekaragaman ternak lokal yang mungkin
selama ini masih jauh tertinggal. Pemanfaatan
dengan penggunaan tehnologi modern dan
bioteknologi seharusnya dapat dilakukan
meningkatkan produksi dan efisiensi produksi
ternak lokal.
Kenyataan yang dihadapi, menurut ASTUTI
et al. (2006a) adalah semakin banyak sumber
daya genetik dari populasi ternak lokal yang
semakin menurun dan bahkan beberapa
diantaranya telah menghadapi jumlah populasi
tidak aman (jumlah betina dewasa kurang dari
10.000 ekor).
Tabel 1. Status populasi pada berbagai spesies ternak
Status populasi
Populasi terancam
Populasi menurun apabila
Jumlah betina dewasa
Jumlah jantan dewasa
Sapi (ekor) Kambing/Domba (ekor) Babi (ekor)
1000 – 5000
500 – 1000
200 – 500
< 1000
< 20
< 500
< 20
< 200
< 20
Sumber: ASTUTI et al. (2006a)
Secara alami pada populasi yang besar
dapat juga terjadi penurunan populasi karena
terjadi kekeringan, wabah penyakit dan isolasi
geografis. Disamping itu perlu dicermati
pengaruh yang dapat merubah komposisi
genetik dari populasi tersebut, seperti
persilangan dengan inseminasi buatan, transfer
embrio dan seleksi. Berdasarkan besarnya
risiko penurunan populasi maka oleh Board on
Agriculture National Research Council, 1993
dinyatakan bahwa ukuran populasi 5000 –
10.000 ekor dikatagorikan dalam status
populasi rentan (vulnerable), ukuran populasi
1000 – 5000 ekor dikatagorikan dalam status
populasi terancam (endangered) dan populasi
dengan ukuran 100 – 1000 ekor dikatagorikan
sebagai populasi kritis (critical).
Berdasarkan data survai peta potensi
plasma nutfah ternak nasional yang
dilaksanakan oleh ASTUTI et al. (2006b), ada
beberapa rumpun atau bangsa ternak lokal
yang menunjukkan status populasi tidak aman.
Dari bangsa sapi adalah sapi Hissar di
146
Sumbawa dan Sumatera Utara, sapi Sahiwal
Cross di Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan
dan Aceh.
Bangsa sapi perah yang tidak aman adalah
sapi perah Grati di Jawa Timur (Pasuruan)
yang memiliki keunggulan daya adaptasi
terhadap lingkungan tropis dan lembab, pakan
yang rendah mutunya, pengelolaan tradisional,
reproduksi lebih baik dari sapi perah LH, tetapi
produksi susu lebih rendah.
Pada bangsa kerbau walaupun belum
banyak ditangani secara baik, namun karena
masyarakat secara tradisionil memelihara
dengan ikatan budaya, populasinya masih
dinyatakan status aman. Namun demikian
belum banyak diketahui tentang perbedaan
genetik yang unik diantara kerbau lokal yang
ada. Kerbau Tedong di Sulawesi Selatan ada
yang memiliki pola warna belang tubuh
sebagai ciri-ciri yang unik, tetapi belum
banyak
diketahui
arti
dan
manfaat
keunikannya. Hal ini memerlukan perhatian
dan penelitian bagi pemuliaan pewarisan pola
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
warna serta keunikan genetik yang dimiliki
dibandingkan dengan kerbau rawa lainnya.
Ternak kambing yang berstatus tidak aman
adalah kambing Gembrong di Bali, kambing
Kosta dan kambing Saanen di Jawa Barat, serta
kambing Angora di Pulau Jawa. Kambing
Gembrong memiliki sifat genetik yang unik,
terutama pada kelebatan bulunya yang sering
digunakan untuk umpan pancing. Ternak
domba dan rusa (sebagai ternak harapan),
berdasarkan survai masih banyak belum dapat
datanya. Ternak lokal ini juga perlu menjadi
perhatian untuk penelitian sabagai sumberdaya
genetik ternak di masa yang akan datang.
Ternak unggas terutama ayam ternyata juga
memiliki jenis dan rumpun yang cukup
banyak. Ada beberapa jenis rumpun ayam yang
pada saat ini termasuk pada status ukuran
populasi tidak aman, yaitu ayam Nunukan di
Kalimantan Timur, ayam Tukong di
Kalimantan Barat dan ayam Ayunai di Papua.
Ayam tersebut memiliki ciri-ciri dan keunikan
tersendiri, sehingga oleh masyarakat dibedakan
dengan ayam kampung lainnya. Keunikan
tersebut dapat terjadi akibat seleksi alam,
persilangan dengan bangsa ayam lain dimasa
lalu atau karena seleksi yang dilakukan oleh
masyarakat setempat yang ditujukan untuk
pemenuhan fungsi sosial budaya.
PEMANFAATAN SUMBERDAYA
GENETIK TERNAK
Pembicaraan tentang kebutuhan dan
keuntungan memperbaiki manajemen nasional
dan global sumberdaya genetik ternak dimulai
di Amerika Serikat pada tahun 1984 (CAST,
1984; OTA, 1987 dan NRC, 1993). Diskusi
pada umumnya difokuskan terhadap strategi
perlindungan pada bangsa atau rumpun yang
jarang ditemukan. Pembicaraan ini semakin
berkembang dan berlanjut untuk memikirkan
masa depan dan pelestarian dan penyebaran
dari keanekaragaman bangsa ternak (NOTTER,
1999).
Pemanfaatan dan pengembangan sumber
daya genetik ternak lokal, pada awalnya
kebanyakan ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan pokok dasar ketahanan pangan yang
berkelanjutan untuk mengintensifkan produksi
pangan. Tujuan utama adalah untuk
meningkatkan produksi pangan dan memper-
baiki produktivitas dan efisensi ternak secara
ekonomi dan berkelanjutan dalam sistem
produksi pangan.
Sistem produksi tradisional menunjukkan
bahwa pemanfaatan sumberdaya genetik ternak
dilakukan secara luas oleh para petani/
peternak. Adaptasi bangsa ternak lokal di satu
daerah dan sistem perkawinannya sangat
ditentukan oleh para petani dan kelompok
ternak itu sendiri, sehingga dapat mempengaruhi keanekaragaman dalam bangsa dan
rumpun (NOTTER, 2004). Breeding dan
kegiatan pengembangan ternak lokal tersebut
merupakan kegiatan parsipatory (FAO, 1998)
yang berarti bahwa keputusan pemilihan ternak
breeding dilakukan oleh petani/peternak dan
bukan oleh breeder profesional. Namun
demikian secara nyata intensifikasi pertanian
sangat banyak didukung oleh perubahan dalam
penggunaan
sumberdaya
genetik
dan
perkembangannya. Menurut NOTTER, (2004)
bahwa intensifikasi produksi ternak secara
umum baru terjadi apabila secara intensif
produksi pertanian telah mantap, dan
kebutuhan perkembangannya mulai berkurang.
Akan tetapi produksi telah memenuhi
persyaratan
untuk
berkembang
secara
ekonomi. Dengan demikian ternak sebagai
pengguna pakan biji-bijian dan hasil ikutannya
secara otamatis mendapat dukungan untuk
berkembang. Keikutsertaan petani dalam
menghasilkan dan menggunakan biji-bijian
sebagai pakan ternak adalah mutlak, dan
penggunaan sumberdaya genetik ternak akan
ikut berkembang dengan pesat.
PERBAIKAN GENETIK TERNAK
UNGGAS
Proses perbaikan genetik ternak pada sektor
komersial digambarkan oleh NOTTER, (2004)
dalam bentuk piramida. Dengan mengenal
perbaikan genetik bentuk piramida ini
ditujukan untuk menekankan kelompok yang
berbeda di dalam proses. Ternak elit pada
puncak piramida dan ternak perbanyakan
(multiplier) diletakkan langsung dibawahnya,
digambarkan analoginya sebagai sektor
penghasil bibit ”seedstock sector” pada
tanaman pertanian, tetapi kurang terkonsolidasi
dibandingkan dengan seed sector pada
pertanian. Kebutuhan multiplier dalam
147
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
pengembangan sumberdaya genetik ternak
adalah karena kecepatan reproduksi pada
ternak jauh lebih rendah, sedangkan ternak elit
yang dinyatakan sebagai sumberdaya genetik
yang dikembangkan oleh institusi atau
perusahaan adalah dalam jumlah terbatas. Oleh
karena itu kelompok multiplier dibutuhkan
untuk memperbanyak ternak yang sudah
mengalami perbaikan dan perkembangan mutu
genetik, agar jumlah ternak komersial yang
akan dipelihara oleh petani komersial dapat
mencukupi.
Model
seperti
ini
telah
berkembang pada usaha peternakan unggas
secara intensif dan bahkan juga pada usaha
peternakan semi intensif. Para peternak
komersil tidak dipusingkan lagi dengan
program pemanfaatan sumberdaya genetik dan
perbaikan mutu genetik ternak, karena bibit
ayam telah disediakan oleh multipliernya.
PERBAIKAN GENETIK TERNAK
RUMINANSIA
Pada ternak ruminansia besar penggunaan
sumberdaya genetik dilakukan bersamaan
dengan program pemeliharaan ternak betina,
yang
perkawinannya
diatur
melalui
sumberdaya genetik dari ternak breeding
jantan (biasanya melalui IB), sebagai agen
perbaikan mutu genetik. Semua keturunannya
biasanya setelah besar dapat dijual sebagai
bakalan, dan sebagian dari keturunan betina
dipertahankan untuk pengganti ternak breeding
betina yang sudah tua dan tidak produktif lagi.
Ternak breeding betina dan keturunannya yang
akan dijual dipelihara bersama dalam satu unit
farm paling tidak sebagian dari siklus produksi,
sehingga perhitungan biaya dan pendapatan
usaha, keduanya mempengaruhi keuntungan
perusahaan. Ternak breeding betina pada
umumnya
dipertahankan
dalam
usaha
peternakan selama beberapa tahun, yaitu
selama potensinya sebagai sumberdaya genetik
dalam perbaikan mutu masih diperlukan.
Penggantian ternak breeding betina sekaligus
tidak lazim dilakukan, sehingga pengaturan
dan replacement ternak breeding harus
diprogramkan dengan baik.
148
NILAI EKONOMI PERBAIKAN
SUMBERDAYA GENETIK
Menurut laporan dari Jerman untuk FAO
(ANONIMUS, 2004), nilai ekonomi sumberdaya
genetik didefinisikan sebagai nilai nyata dan
nilai potensi yang dimiliki. Nilai ekonomi
sumberdaya genetik yang sesungguhnya
diperoleh dari nilai sebelum (misalnya program
breeding) dan nilai sesudah (processing,
dagang) sektor pemasaran. Pada rumpun yang
kecil dan terancam (endangered), biasanya
mempunyai nilai langsung apabila rumpun
tersebut memiliki sumberdaya genetik spesifik
unik terhadap program breeding yang
membutuhkan. Khususnya di Jerman terhadap
sifat
genetik
unik
untuk
resistensi
(trypanotolerance in African N’Dama cattle),
perbaikan kedudukan kaki dan resistensi
terhadap endoparasit pada bangsa domba lokal
(Landschaf), kualitas daging (kandungan
lemak intramuskular pada babi Duroc) atau
untuk persilangan yang menguntungkan (antara
babi Hampshire dengan babi Petrain untuk
menghasilkan babi jantan fertil).
APA YANG DAPAT DILAKUKAN DI
INDONESIA
Indonesia memiliki sumberdaya genetik
ternak lokal yang cukup banyak, dan oleh
masyarakat telah dimulai pemeliharaannya
melalui tradisi dan budaya daerah, sehingga
pemberian nama untuk setiap sumberdaya
genetik
lokal
dapat
terjadi. Dengan
perkembangan
ilmu
pengetahuan
dan
teknologi, masyarakat terbawa arus terhadap
pemenuhan kebutuhan yang cepat dan mudah
didapatkan, maka beberapa ternak warisan
tersebut tertinggal dan sebagian berada pada
kondisi status populasi tidak aman dan kritis.
Bahkan kemungkinan besar sudah banyak yang
hilang dan tinggal nama saja, misalnya ayam
Kinantan di Sumatera Utara, sapi Jawa di
Pulau Jawa dan mungkin masih banyak lagi
yang lain.
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
SISTEM PEMANFAATAN
SUMBERDAYA GENETIK TERNAK
Bertitik tolak dengan telaah pemanfaatan
sumberdaya genetik ternak yang telah
dilakukan di berbagai negara maju, maka
tentunya di Indonesia juga hal yang sama harus
segera dapat dirintis perencanaan dan
pelaksanaannya. Beberapa pemikiran yang
berkaitan dengan aspek pemanfaatan dan
pengembangan sumberdaya genetik yang
berkelanjutan dari ternak lokal dan ternak pada
umumnya adalah:
1. Adanya peraturan perundang-undangan
yang mengatur pemeliharaan dan
perkembangbiakan (breeding) ternak
untuk tujuan perbaikan dan peningkatan
produksi ternak
2. Pemberdayaan
lembaga,
balai
pembibitan dan penelitian untuk
melakukan fungsinya secara terarah
terhadap
pemberdayaan
dan
pengembangan sumberdaya genetik
ternak.
3. Penataan organisasi peternak dan
pemuliabiakan ternak yang benar-benar
mendukung
dan
memperhatikan
konservasi dan pendayagunaan potensi
sumberdaya genetik ternak yang ada.
4. Mengembangkan Rencana Manajemen
Nasional (National Management Plan)
untuk Pelestarian dan Pemanfaatan
Sumberdaya Genetik Ternak yang
berkelanjutan dengan tujuan yang jelas
dan terarah.
5. Memanfaatkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan bioteknologi dengan
tetap
memanfaatkan
pendekatan
tradisional (pencatatan dan persilngan)
untuk mendukung tercapainya tujuan
program breeding yaitu pelestarian dan
pengembangan sumberdaya genetik
ternak.
Salah
satu
kelemahan
penanganan
sumberdaya genetik di Indonesia terletak pada
ketidak adaan buku ternak yang menjelaskan
tentang keberadaan asal-usul setiap ternak
yang ada. Hampir boleh dikatakan bahwa
setiap ternak tidak mengenal bapak-ibu apalagi
nenek moyangnya. Akibatnya potensi genetik
individu ternak tidak dapat diramalkan
sebelumnya, sehingga dapat merugikan
peternak sendiri. Pengenalan ternak melalui
silsilah sangat mendukung untuk mengetahui
peramalan potensi ternak tersebut secara
genetik. Sangat disayangkan apabila seorang
peternak yang memiliki seekor sapi betina
yang dikawinkan secara IB tidak mengenal
asal-usul sperma yang diinseminasi, sehingga
setelah anaknya lahir tidak jelas asal-usulnya.
Apabila situasi seperti ini berlangsung secara
terus menerus, maka secara tidak langsung
yang terjadi adalah pencemaran sumberdaya
genetik ternak dalam populasi tersebut
(terjadinya persilangan atau peningkatan
koefisien inbreeding). Kelemahan seperti ini
harus segera diatasi dengan pencatatan dalam
buku ternak (herdbook) yang diatur secara
lokal maupun nasional, sehingga potensi
genetik yang dimiliki populasi sumberdaya
genetik tersebut dapat diketahui dengan pasti
dan berkelanjutan. Penanganan seperti ini
dapat terlaksana dengan baik apabila semua
instansi yang terkait, seperti Balai Inseminasi
Buatan (yang memproduksi sperma) pelaksana
IB di lapang dan Dinas Peternakan serta
kelompok peternak breeding dapat bekerjasama mendukung program pengembangan
pendayagunaan sumberdaya genetik ternak.
Kerjasama di antara peternak breeding dan
peternak komersial perlu dijalin untuk saling
percaya dalam pemeliharaan ternak, sehingga
peternak breeding dapat meningkatkan mutu
genetik ternak yang dihasilkan. Perlu juga
dijelaskan bahwa nilai ekonomi peternak
breeding adalah lebih tinggi dibanding dengan
peternak komersial (pendapatannya berdasarkan ADG dan lama pemeliharaan), apabila
perhitungan usaha dilakukan berdasarkan
perhitungan tahunan dengan penggunaan
ternak breeding betina lebih dari 4 tahun
(diperkirakan 3 kali beranak). Pengetahuan
tentang manajemen usaha peternakan breeding
perlu menjadi perhatian agar penjualan sapi
betina produktif dapat dicegah.
Dari beberapa pemikiran dan contoh diatas
kiranya strategi pemanfaatan sumberdaya
genetik ternak lokal di Indonesia dapat ditata
ulang, baik secara institusi, kelompok peternak
dan peneliti, sehingga wajah peternakan
Indonesia pada masa yang akan datang
semakin cerah. Menghasilkan ternak untuk
memenuhi kebutuhan dan keamanan pangan
adalah lebih baik dibanding dengan
pemenuhan kebutuhan melalui impor.
149
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
KESIMPULAN
Keanekaragaman ternak lokal perlu segera
ditangani secara terpadu agar pemanfaatan
sumberdaya genetik dapat dilakukan secara
optimal dalam mendukung keamanan dan
ketahanan pangan di Indonesia. Kebijakan
pemerintah melalui peraturan perundangundangan terutama mengenai penanganan
sumberdaya genetik melalui pemeliharaan dan
perkembangbiakan (breeding) sangat dibutuhkan agar perencanaan dan penanganan-nya
dapat dilakukan secara sinergis dan terpadu.
Nilai ekonomi usaha peternkan breeding akan
lebih tinggi dibandingkan dengan pemeliharaan
ternak komersil apabila diperhitungkan dalam
jangka waktu yang lebih lama sesuai dengan
siklus pemeliharaan ternak breeding betina.
DAFTAR PUSTAKA
ANONIMUS. 2004. Germany: National Report, A
Contributing Paper to FAO. Report on the
State of the World’s Animal Genetic
Resources and National Management Plan for
the Conservation and Sustainable Use of
Animal Genetic Resources in Germany.
http://www.genres.de/tgr/national-programme
/pdf_version/nfp-tgr-gesamttext_english.pdf.
ASTUTI, M.J., A. AGUS, G.S.B. SATRIA, L.M.
YUSIATI, B. ARYADI dan M. ANGGRIANI.
2006a. Pedoman Pelestarian dan Pemanfaatan
Plasma Nutfah Ternak. Laporan Kerjasama
Direktur Perbibitan, Dit-Jen. Peternakan,
Deptan. dengan Fakultas Peternakan UGM,
Yogyakarta.
150
ASTUTI, M.J., A. AGUS, G.S.B. SATRIA, L.M.
YUSIATI, B. ARYADI dan M. ANGGRIANI.
2006b. Peta Potensi Plasma Nutfah Ternak
Nasional. Laporan Kerjasama Direktur
Perbibitan, Dit-Jen. Peternakan, Deptan.
dengan Fak. Peternakan UGM, Yogyakarta.
BOARD on AGRICULTURE NATIONAL RESEARCH
COUNCIL. 1993. Managing Global Genetic
Resources.
Livestock
Committee
on
Managing Global
Genetic
Resources:
Agicultural Imperatives. National academic
Press. Washington, D.C., USA.
CAST. 1984. Animal Germplasma Preservation and
Utilization in Agriculture. Rep. No. 101.
Council for Agricultural Science and
Technology, Ames. IA.
FAO. 1998. The State of the World’s Plant Genetic
Resources for Food and Agriculture. Rome.
NOTTER, D. R. 1999. The Importance of Genetic
Diversity in Livestock Population of the
Future. J. Anim. Sci., 77 : 61 – 69.
NOTTER, D. R. 2004. Conservation Strategies for
Animal Genetic Resources. Background Study
Paper No. 22, Oktober 2004. FAO, Rome.
NRC. 1993. Managing Global Genetic Resources:
Livestock.
National
Academy
Press,
Washington, DC.
OTA. 1987. Technologies to Maintain Biological
Diversity. U.S. Congress Office of Technology Assessment. Washington, DC.
RAO, N. K. 2004. Plant Genetic Resources:
Advancing Conservation and use Through
Biotechnology. African J. Biotech. Vol. 3 (2),
136 – 145. Online at http://www. Academic
journals.org/AJB.
Fly UP