...

perbedaan kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara model

by user

on
Category: Documents
5

views

Report

Comments

Transcript

perbedaan kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara model
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015, yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang, tema: “Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Menyiapkan Generasi Unggul dan Berdaya Saing
Global”, Malang, 21 Maret 2015.
PERBEDAAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA ANTARA MODEL
PROBLEM-BASED LEARNING DENGAN MODEL EKSPOSITORI PADA
MATAKULIAH EVOLUSI
The Difference of Critical Thinking Ability’s Student among Problem-Based Learning
Model with Expository Model On Evolution Subject
Rizkia Suciati
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka
[email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kemampuan berpikir kritis mahasiswa
antara model Problem-Based Learning dengan model ekspositori pada mata kuliah Evolusi.
Metode penelitian ini adalah kuasi-eksperimen, dengan menggunakan Pretest-Posttest
Control Group Design, dan teknik pengambilan sampel yang digunakan Nonprobability
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes uraian untuk mengukur
kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji perbedaan
dua rata-rata (Independent sample t-Test), dan dideskripsikan per komponen berpikir kritis.
Analisis statistik dibantu dengan software IBM SPPS Statistic 19.0 for Windows dan
Microsoft Excell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Komponen kemampuan berpikir
kritis yang paling tinggi pada mahasiswa kelas eksperimen adalah kemampuan dalam
memberikan argumen, pada mahasiswa kelas kontrol adalah kemampuan dalam melakukan
induksi. (2) Komponen kemampuan berpikir kritis yang paling rendah dari kedua kelas
tersebut adalah kemampuan dalam melakukan deduksi. (3) Tidak terdapat perbedaan
signifikan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara yang memperoleh model PBL
dengan model ekspositori.
Kata kunci : kemampuan berpikir kritis, PBL, ekspositori, evolusi
Abstract
This research aims to see the difference in critical thinking ability of students among
Problem-Based Learning Model with expository model on Evolution subject. This research is
a quasi-experimental research method, with Pretest-Posttest Control Group Design, and
Nonprobability sampling technique. The data was collected using an essay test to measure
student critical thinking ability. Data were analyzed with the test results of two average
difference (Independent samples t-Test), and described by the components of critical
thinking. Assisted statistical analysis with software IBM Statistic SPPS 19.0 for Windows and
Microsoft Excel. The results showed that: (1) The higest component of critical thinking
ability’s students in experiment class is ability of giving argument, while at control class is
ability of doing induction. (2) Both of class have lowest component critical thinking ability in
deduction. (3) There was no significant difference in the ability of critical thinking among
student that learning using PBL or expository model.
Keywords: critical thinking, PBL, expository, evolution
351
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015, yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang, tema: “Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Menyiapkan Generasi Unggul dan Berdaya Saing
Global”, Malang, 21 Maret 2015.
PENDAHULUAN
Pembelajaran evolusi di Indonesia saat ini masih banyak menemui kendala, baik dari
hasil belajar yang dicapai oleh siswa maupun kesulitan yang dialami guru. Hasil penelitian
terhadap sejumlah guru biologi membuktikan bahwa terdapat beberapa kendala dalam
pembelajaran Evolusi, diantaranya: (1) masih banyaknya guru yang kurang menguasai
konsep Teori Evolusi, (2) miskonsepsi terhadap Teori Evolusi, (3) standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang termuat dalam standar isi dan SKL yang belum dapat mengakomodasi
konsep Teori Evolusi yang diharapkan, (4) materi yang diajarkan masih belum menggunakan
pendekatan-pendekatan keilmuan yang dapat mendukung pemahaman Teori Evolusi yang
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini[1].
Mata kuliah Evolusi ini membahas perkembangan Teori Evolusi, hukum-hukum yang
melatarbelakangi perkembangan evolusi makhluk hidup, evolusi dari tujuan multi disiplin,
evolusi dan kajian interaksi makhluk hidup dengan lingkungan, memuji manusia modern,
manusia pertama. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa memperoleh dasar untuk pembentukan
nilai konsep dalam rangka pengembangan sikap menuju terbentuknya kepribadian dengan
wawasan evolusi yang komphensif dan islami/beragama[2]. Dan untuk mewujudkan hal
tersebut, diperlukan strategi dan metode yang tepat agar timbul gairah belajar, penalaran, dan
pemahaman yang mendalam serta kemampuan berpikir kritis yang tajam. Sayangnya,
perkuliahan evolusi seringkali berlangsung tidak sebagaimana mestinya. Berdasarkan
pengalaman dan observasi penulis, perkuliahan Evolusi selama ini masih menggunakan
model pembelajaran ekspositori yang cenderung konvensional dan kurang melibatkan
keaktifan dari peserta didik dalam proses belajar mengajar, mereka merasa materi evolusi
sangat sulit dipahami sehingga mereka malas untuk mencari tahu akan kebenaran dan
perkembangan dari teori evolusi. Keengganan mereka untuk mencari informasi berdampak
minimnya kemampuan berpikir kritis mereka dalam menganggapi masalah nyata seputar
fakta dan perkembangandari teori evolusi tersebut, sehingga hasil belajar mahasiswa kurang
maksimal dan sikap mahasiswa cenderung netral (acuh) terhadap perkuliahan evolusi dengan
metode konvensional[3].
Dalam upaya menyikapi perkembangan teori evolusi di masa sekarang dan melatih
kemampuan berpikir kritis adalah dengan membelajarkan teori evolusi melalui pendekatanpendekatan yang bersifat konstruktivistik. Adanya temuan bahwa pendekatan pembelajaran
konstruktivisme dengan model FC2P (fenomena, constructivism, critical thinking, and
positive thinking) dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis, pemahaman konsep, dan
sikap siswa terhadap teori evolusi berbasis molekuler[1]. Pelibatan peserta didik dalam proses
pembelajaran telah terbukti mampu memberikan hasil belajar, aktivitas belajar, pemahaman
konsep, sikap, serta kemampuan berpikir kritis siswa menjadi lebih baik dibandingkan
dengan penggunaan metode belajar konvensional.
Di sisi lain, Ennis (1995) menyatakan bahwa berpikir kritis adalah berpikir secara
beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang
harus dipercayai atau dilakukan.Kemampuan berpikir seseorang dapat dikembangkan, Ennis
(1995) mengungkapkan bahwa ada 6 elemen dasar yang harus ada dalam berpikir kritis, yaitu
Focus, Reason, Inference, Situation, Clarity, dan Overview yang dikenal dengan pendekatan
FRISCO[4]. Berdasarkan kurikulum berpikir kritis yang dikembangkan oleh Ennis (Costa,
1985) bahwa ada dua kelompok berpikir kritis, yaitu: disposisi berpikir kritis; dan
352
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015, yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang, tema: “Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Menyiapkan Generasi Unggul dan Berdaya Saing
Global”, Malang, 21 Maret 2015.
kemampuan berpikir kritis[5]. Kemampuan berpikir kritis memiliki cakupan indikator
kemampuan berpikir kritis yang terbagi terbagi dalam: (1) merumuskan masalah, (2)
memberikan argumen, (3) melakukan deduksi, (4) melakukan induksi, (5) melakukan
evaluasi, serta (6) mengambil keputusan dan tindakan[6].
Pembelajaran berbasis masalah (PBL) tentunya memiliki karakteristik tersendiri yang
diduga sesuai untuk mempelajari perkembangan teori Evolui serta melatih kemampuan
berpikir kritis. Tan (2003) menerangkan bahwa dalam PBL, masalah digunakan sebagai awal
pembelajaran; masalah yang digunakan adalah masalah dunia nyata yang disajikan secara
mengambang (ill-structured); masalah tersebut biasanya menuntut perspektif majemuk
(multiple perspective); melatih pemelajar tertantang untuk mempelajari pembelajaran yang
baru; mengutamakan kemandirian belajar; sumber pengetahuan yang bervariasi; dan
tergolong dalam pembelajaran kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif[7]. Penerapan PBL
seperti yang diungkapkan Arends (2004) diharapkan mampu memberikan outcomesyang
diperoleh oleh siswa/mahasiswa, yaitu untuk dapat mengembangkan kemampuan
berpikir,ber-inkuiri, mempelajari adult role behaviors, dan ketrampilan intelektual, serta
keterampilan belajar mandiri[8]. Lain hal nya dengan PBL, model pembelajaran ekspositori
merupakan model mengajar klasikal yang mengkombinasikan metode ceramah, tanya jawab,
dan pemberian tugas, sehingga model ini menekankan pada proses ceramah, dan dikenal
dengan model chalk and talk[9].
Dengan demikian, PBL diharapkan mampu membuka pemahaman dan pemikiran yang
terbuka (kritis) pada mahasiswa untuk menjawab rasa penasarannya tentang kebenaran teori
evolusi (teori Darwin) ketika mereka dilibatkan dalam menemukan bukti-bukti untuk
memecahkan masalah perkembangan teori evolusi tersebut.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimen, dengan Pretest-Posttest Control
Group Design. Sampel adalah mahasiswa yang berada di semester VII sejumlah 65 orang
yang terbagi dalam 2 kelas, kelas eksperimen (model PBL) dan kelas kontrol (ekspositori).
Teknik pengambilan sampel menggunakan Nonprobability sampling, yaitu semua anggota
populasi digunakan sebagai sampel karena jumlahnya relatif sedikit[10]. Instrumen penelitian
yang digunakan berupa tes tertulis berbentuk Open-ended Essayyang menghendaki jawaban
uraian, perumusan kembali dengan kata-kata sendiri, dan diikuti dengan contoh[11],
soaldisusun oleh peneliti berdasarkan komponen dan indikator kemampuan berpikir kritis,
serta materi perkuliahan yang diajarkan. Instrumen kemampuan berpikir kritis evolusi ini
sebelumnya divalidasi isi (judgement) oleh pakar, dan selanjutnya diujicobakan pada 30
sampel untuk mengukur validitas, reabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda soal.
Data hasil penelitian dianalisis dengan uji perbedaan dua rata-rata (uji Independent
sample t-Test) terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol, selanjutnya dideskripsikan per
komponen berpikir kritis. Analisis statistik dibantu dengan software IBM SPPS Statistic 19.0
for Windows dan Microsoft Excell.Sebelum uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji
prasyarat, yaitu uji normalitas dan homogenitas.
353
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015, yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang, tema: “Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Menyiapkan Generasi Unggul dan Berdaya Saing
Global”, Malang, 21 Maret 2015.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Data yang diperoleh dan dianalisis dalam penelitian ini berupa skor hasil pretes dan
postes kemampuan berpikir kritis (KB Kritis) mahasiswa terhadap materi evolusi. Berikut
tersaji dalam Tabel 1 dan Tabel 2 :
Tabel 1. Deskripsi Hasil Skor Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan Berpikir Kritis
Kelas PBL
Skor
ideal
24
Pretes
Kelas Ekspositori
Postes
Pretes
Postes
Min.
Max.
x
Min.
Max.
x
Min.
Max.
x
Min.
Max.
x
3
9
7.63
5
20
11.49
2
13
6.97
3
18
10.3
Tabel 2. Deskripsi Hasil Uji Perbedaan Rata-Rata Skor Pretes-Postes KB Kritis
Skor KB Kritis
t-test for Equality of Means
Uji hipotesis
Keterangan
t
df
Sig. (2-tailed)
(H0)
GABUNGAN_PRETES
1.14
63
0.259
diterima
Tidak ada beda
GABUNGAN_POSTES
1.262
63
0.212
diterima
Tidak ada beda
Berdasarkan Tabel 1, hasil skor kemampuan berpikir kritis dari kedua kelas terlihat
adanya perbedaan. Kelas PBL memiliki skor postest yang lebih tinggi dibandingkan dengan
kelas kontrol (ekspositori). Untuk melihat adanya perbedaan KB Kritis evolusi mahasiswa
antara kelas PBL dengan kelas ekspositori dapat dilihat dari menganalisis skor pretes dan
skor postes dengan menggunakan uji perbedaan rat-rata skor KB Kritis seperti yang tersaji
dalam Tabel 2 di atas.
Hasil uji perbedaan rata-rata skor pretes KB Kritis mahasiswa kelas PBL dan
ekspositori memili nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.259, itu berarti bahwa H0 pada hipotesis
statistik diterima, karena Sig. (2-tailed) lebih dari α = 0.05. Dengan demikian, skor pretes KB
Kritis evolusi mahasiswa pada kelas PBL dan kelas ekspositori tidak memiliki perbedaan
yang signifikan, dengan kata lain mahasiswa dari kedua kelas tersebut memiliki kemampuan
awal yang sama dalam memahami soal tes KB Kritis evolusi. Sementara itu, hasil uji
perbedaan rata-rata skor postes KB Kritis mahasiswa kelas PBL dan ekspositori memiliki
nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.212, itu berarti bahwa H0 pada hipotesis statistik diterima,
karena Sig. (2-tailed) lebih besar dari α = 0.05. Dengan demikian, skor postes KB Kritis
evolusi mahasiswa pada kelas PBL dan kelas ekspositori tidak memiliki perbedaan yang
signifikan.
Selain dilihat dari perbedaan secara keseluruhan, KB Kritis mahasiswa dapat juga
dilihat berdasarkan perolehan rerata skor dari masing-masing komponen KB Kritis sesuai
dengan kemampuan mahasiswa dalam menjawab pertanyaan. Berikut diagram rerata
perbedaan komponen KB Kritis dari kedua kelas seperti yang tersaji dalam Gambar 1.
354
Series1; 3;
Series1; 1;
Series1; 4; Series1; 5;
1.73 Series1; 2; 1.93
1.67
1.67
1.57
Series1; 4;
Series1; 1;
Series1; 3; 2.14 Series1; 5;
2.07 Series1; 2;
1.83
1.77
1.60
Rata-rata
Rata-rata
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015, yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang, tema: “Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Menyiapkan Generasi Unggul dan Berdaya Saing
Global”, Malang, 21 Maret 2015.
Komponen KB Kritis
Komponen KB Kritis
a. kelas PBL
b. kelas Ekspositori
Gambar 1. Diagram Rata-rata Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Kelas PBL dan Ekspositori
Keterangan: (1). Merumuskan masalah (2). Melakukan deduksi (3). Melakukan induksi
(4). Memberikan argumen (5). Melakukan evaluasi
Pada kelas PBL, komponen KB Kritis yang paling tinggi skornya adalah kemampuan
memberikan argumen dengan perolehan rerata skor sebesar 2,14.Sementara pada kelas
kontrol dengan menggunakan model ekspositori, komponen KB Kritis yang paling menonjol
adalah kemampuan dalam melakukan induksi dengan perolehan rerata sebesar 1,93. Dan
komponen KB Kritis yang terendah dari kedua kelas tersebut adalah kemampuan dalam
melakukan deduksi, yaitu dalam menginterpretasi soal/masalah dengan benar dan kurang
mampu berpikir secara rinci/khusus.
Pembahasan
Berdasarkan skor hasil postes KB Kritis mahasiswa yang dianalisis dengan uji T, tidak
ada perbedaan yang signifikan. Hal ini disebabkan pembelajaran berbasis masalah atau PBL
yang diterapkan pada kelas eksperimen termasuk pengalaman belajar yang tergolong baru
dikenalkan pada mahasiswa khususnya dalam perkuliahan evolusi, sehingga mahasiswa
masih memerlukan adaptasi atau pembiasaan agar dapat memahami langkah-langkah PBL
dengan baik dan dihasilkan nilai belajar yang memuaskan. Namun demikian, bila dilihat dari
data primer skor postes KB Kritis mahasiswa pada kelas eksperimen (PBL) memang lebih
baik daripada kelas kontrol. KB kritis mahasiswa pada kelas PBL memperoleh rata-rata skor
11,49 dengan skor maksimal 20 dan skor minimal 5, sementara mahasiswa pada kelas kontrol
(ekspositori) memperoleh rata-rata 10,3 dengan skor maksimal 18 dan skor minimal 3. Hal
tersebut dikarenakan pembelajaran berbasis masalah menggunakan masalah dunia nyata
sebagai konteks untuk belajar berpikir kritis, dan evolusi adalah permasalahan nyata yang
merupakan bagian dari Biologi.
Pada materi “Perkembangan Teori Evolusi” dengan menerapkan model PBL,
mahasiswa tidak lagi dijejalkan dengan konsep teori yang miskonsepsi, akan tetapi lebih
menekankan pada keaktifan mahasiswa dalam mencari bukti-bukti terkait perkembangan
teori evolusi, melalui permasalahan yang nyata yang memang belum terjawab. Sehingga
mahasiswa tertantang untuk mencari dan mengkaji hasil temuannya melalui sebuah rumusan
masalah.Proulx (2004) juga menyatakan bahwa tahapan dalam berpikir kritis sama dengan
355
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015, yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang, tema: “Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Menyiapkan Generasi Unggul dan Berdaya Saing
Global”, Malang, 21 Maret 2015.
tahapan dalam metode ilmiah, dimana tahapan tersebut merupakan inti kegiatan dari model
PBL, sehingga penerapan model PBL dapat melatih kemampuan berpikir kritis peserta
didik[12].
Dari lima komponen KB Kritis, mahasiswa pada kelas eksperimen memiliki
kemampuan memberikan argumen yang lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Ini
berarti sesuai dengan karakteristik PBL yang mendorong siswa/mahasiswa memiliki inisiatif
mandiri[8]. Dan mahasiswa dari kedua kelas tersebut sama-sama memiliki kemampuan
terendah dalam melakukan deduksi, yaitu dalam menginterpretasi soal/masalah dengan benar
dan kurang mampu berpikir secara rinci/khusus. Ketidakmampuan mereka dalam
menginterpretasi soal/masalah dengan benar dapat disebabkan oleh kemungkinan kuatnya
persepsi dan pola berpikir dari tiap individu dalam memahami dan menyikapi permasalahan
yang diberikan. Akan tetapi, hal itu tetap sesuai dengan elemen dasar dari KB kritis yaitu
focus, reason, inference, situation, clarity, dan overview.
Sulitnya melatih kemampuan berpikir kritis juga diungkapkan oleh Giancarlo &
Facione (2001) “Prior research on critical thinking indicates that student’s behavioral
dispositions do not change in the short term”, yang berarti bahwa salah satu keterbatasan
dalam mengembangkan disposisi berpikir kritis adalah memerlukan waktu yang cukup
lama[13]. Selain faktor (eksternal) waktu, Syukriyah (2010) mengungkapkan bahwa
kemampuan berpikir kritis seseorang dapat dilihat dari faktor jenis kelamin, keadaan
lingkungan keluarga terutama penghasilan orangtua, serta nilai akademiknya. Faktor internal
dari mahasiswa yang meliputi fisiologis dan psikologis juga dapat mempengaruhi tinggi
rendahnya kemampuan berpikir kritis mereka[14].
PENUTUP
Kesimpulan
1. Komponen kemampuan berpikir kritis yang paling tinggi pada mahasiswa kelas
eksperimen adalah kemampuan dalam memberikan argumen, sedangkan pada mahasiswa
kelas kontrol adalah kemampuan dalam melakukan induksi.
2. Komponen kemampuan berpikir kritis yang paling rendah dari kedua kelas tersebut adalah
kemampuan mahasiswa dalam melakukan deduksi.
3. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara
yang memperoleh model PBL dengan model ekspositori.
Saran
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, penulis ingin memberikan rekomendasi sebagai
berikut:
1. Pada saat PBL berlangsung, manajemen waktu yang baik diperlukan agar diperoleh hasil
yang lebih baik, serta melakukan suatu pembiasaan (kontinuitas) pada mahasiswa ketika
menerapkan model pembelajaran inovatif lainnya dalam upaya peningkatan kemampuan
berpikir kritis terutama pada komponen deduksi, yaitu mencoba menginterpretasi materi
secara tepat.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, untuk melihat apakah yang melatarbelakangi atau
hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Serta
356
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015, yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang, tema: “Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Menyiapkan Generasi Unggul dan Berdaya Saing
Global”, Malang, 21 Maret 2015.
menyarankan untuk mengkaji mengenai model pembelajaran lain yang dapat
mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa/siswa pada mata pelajaran/mata
kuliah yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistiarini, D. 2010. Pengaruh Pengembangan Bahan Ajar Teori Evolusi Berbasis
Molukuler Melalui Pendekatan Pembelajaran Konstruktivsme Model FC2P
terhadap kemampuan Berpikir Kritis, Pemahaman Konsep dan Sikap Siswa SMA
Negeri 3 Malang. Tesis. Tidak diterbitkan.Malang: Universitas Negeri Malang.
FKIP Biologi UHAMKA. 2005. Silabus FKIP Pendidikan Biologi UHAMKA-RMP
(Rancangan Materi Perkuliahan). Silabus tidak diterbitkan. Jakarta: UHAMKA.
Amirullah, G. 2009. Peningkatan Aktivitas Belajar Mahasiswa Melalui LMS (Learning
Mangement System) Pada Mata Kuliah Evolusi di Program Studi Pendidikan
Biologi FKIP UHAMKA. Laporan penelitian tidak diterbitkan. Jakarta: UHAMKA
Ennis, R. H. 1995. Critical Thinking. New York: University of Illinois.
Liliasari. 2010. Berpikir kritis dalam Pembelajaran Sains Kimia Menuju Profesionalitas
Guru.
Online.
(http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN%20IPA/19490927197803
2%20-%20LILIASARI/BERPIKIR%20KRITIS%20Dlm%20Pembel%2009.pdf,
diakses 25 Januari 2011).
Suprapto. 2008. Menggunakan Kemampuan Berpikir Kritis dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan.
Online.
(http://supraptojielwongsolo.wordpress.com/2008/06/13/menggunakan-ketrampilanberpikir-untuk-meningkatkan-mutu-pembelajaran, diakses tanggal 20 Februari
2011).
Amir, M. T. 2009. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning (Bagaimana
Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan). Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Dasna, I W. & Sutrisno. 2010. Pembelajaran berbasis Masalah (Problem-Based Learnig).
Online.
(http://file.upi.edu/Direktori/B%20%20FPIPS/JUR.%20PEND.%20SEJARAH/195704081984031%20%20DADANG%20SUPARDAN/Pembelajaran%20Berbasis%20Masalah.pdf,
diakses tanggal 23 Januari 2011).
Depdiknas.
2008.
Strategi
Pembelajarannya
dan
Pemilihannya.
Online.(http://teguhsasmitosdp1.files.wordpress.com/2010/06/14-kode-03-b5strategi-pembelajaran-dan-pemilihannya.pdf, diakses tanggal 2 Desember 2011).
[10] Sugiyono. 2001. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
[11] Arikunto, S. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Revisi IV. Jakarta: Rineka
Cipta.
[12] Arnyana, I.B.P. 2004. Pengaruh Penerapan Model PBL dipandu Strategi Kooperatif
Terhadap Kecakapan Berpikir Kritis Siswa SMA Pada Mata Pelajaran Biologi.
Online. (http://www.undiksha.ac.id/images/img_item/724.doc, diakses tanggal 23
Juni 2011).
357
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015, yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang, tema: “Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Menyiapkan Generasi Unggul dan Berdaya Saing
Global”, Malang, 21 Maret 2015.
Giancarlo, C.A. & Facione, P.A. (2001). A Look Across Four Years at The Disposition
Toward Critical Thinking among Undergraduate Students. J. Gen. Educ. Vol. 50 (I).
Syukriyah. 2010. Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMAN 12 Tangerang dalam
Belajar Biologi pada Pokok Bahasan Fungi (Jamur). Skripsi tidak diterbitkan.
Jakarta: FKIP UHAMKA.
358
Fly UP