...

Kemitraan Multi Pihak: Program Air Bersih dan Penyehatan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Kemitraan Multi Pihak: Program Air Bersih dan Penyehatan
Kemitraan Multi Pihak: Program Air Bersih dan Penyehatan
Lingkungan Berbasis Masyarakat
Kemitraan antara Danone AQUA dan Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia
Air bersih dan sanitasi dalam Millennium Development Goals
Data terakhir menunjukkan bahwa proporsi rumah tangga dengan akses air minum layak mengalami peningkatan dari sekitar 38%
pada tahun 1993 menjadi sekitar 48% pada tahun 2009. Sementara itu, proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi aman juga meningkat dari 25% (1993) menjadi 51% (2009).1 Namun demikian peningkatan hasil tersebut masih jauh dari target MDGs tahun 2015
yaitu 69% untuk akses air minum dan 62% untuk sanitasi yang aman. Pemerintah terus berupaya untuk mempercepat pencapaian
target melalui investasi penyediaan air minum dan sanitasi, terutama untuk melayani jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat. Sedangkan untuk daerah pedesaan, pemerintah mendorong upaya pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan air minum dan
sanitasi agar memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan dan pembangunan sarana. Upaya perbaikan akses air bersih dan sanitasi
tersebut terkait dengan penurunan jumlah kasus penyakit pada anak seperti diare, demam berdarah, sakit kulit dan kecacingan.
RINGKASAN Program Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan Berbasis
Masyarakat (Mitra Phast) adalah program kemitraan antara
Danone AQUA dengan Yayasan Pembangunan Citra Insan
Indonesia (YPCII) yang dimulai sejak Juli 2010 hingga Juni
2012.
Lokasi program (Desa Nanggerang) berada di
Kecamatan Cicurug (Kabupaten Sukabumi), kecamatan yang
sama dengan lokasi kedua Pabrik AQUA (Mekarsari dan
Babakan Pari) berada. Program bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih dan fasilitas
sanitasi yang berkesinambungan serta meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya
menerapkan lima perilaku higiene dan sanitasi. AQUA
menyediakan 600 unit kelengkapan Meter Air dan dana untuk
YPCII dalam menjalankan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, AQUA juga memfasilitasi komunikasi antara YPCII
dan Kementrian Pekerjaan Umum (PU), serta melakukan
monitoring pelaksanaan program secara aktif melalui
pelibatan tim Corporate Social Responsibility/CSR. YPCII
melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan
memberikan kontribusi dalam pendanaan operasional staf
program. Masyarakat secara gotong-royong memberikan
kontribusi dalam bentuk sarana, dana dan tenaga yang
nilainya kurang lebih setara dengan 600 juta rupiah untuk
penyambungan pipa, perbaikan bangunan sipil dan unit
sambungan rumah. Program ini juga berhasil mendapatkan
bantuan dari pemerintah kecamatan berupa sebuah mobil dan
bantuan dari Gugah Nurani Indonesia (GNI), sebuah organisasi
Air bersih dari jaringan perpipaan sudah mengalir ke rumah-rumah di
Desa Nanggerang. © AQUA 2012.
masyarakat, berupa 560 unit kelengkapan Meter Air dan biaya
transportasi pengangkutan pipa ke sumber air. Kementerian
PU menyediakan 47 kilometer pipa dan alat Meter Air untuk
menyalurkan air bersih.
Dampaknya adalah 92% masyarakat telah menggunakan
jamban keluarga, 20 dari 28 Rukun Tetangga (RT) telah
terbebas dari buang air besar (BAB) di sembarang tempat;
akses terhadap air bersih mengalami peningkatan dari 17%
menjadi 74%; yang diiringi oleh penurunan angka kesakitan
karena diare dari 20% menjadi 11% khususnya di kalangan
anak balita.
1
PARA MITRA Danone AQUA (www.aqua.com).
AQUA
adalah perusahaan air minum dalam kemasan
(AMDK) pertama di Indonesia dan Asia
Tenggara yang didirikan pada tahun 1973.
AQUA saat ini sedang merintis program akses
air bersih dan penyehatan lingkungan di 15 pabrik AQUA di
Indonesia. Program tanggungjawab sosial AQUA berjalan
seiring dengan bisnis mengingat setiap kegiatan bisnis yang
dilakukan selalu mempunyai dampak terhadap lingkungan dan
masyarakat sekitar. Karenanya AQUA mempunyai komitmen
ganda yaitu pencapaian target bisnis yang diiringi dengan
komitmen untuk menjalankan program sosial yang inovatif.
AQUA mengembangkan strategi AQUA Lestari, yaitu visi dan
komitmen perusahaan dalam mengelola kegiatan operasional
secara bertanggung jawab demi keberlanjutan bisnis dan
lingkungan,
serta
kesejahteraan
para
pemangku
kepentingannya. AQUA Lestari dilaksanakan dengan berbagai
program sosial dan lingkungan yang terintegrasi, mencakup
wilayah sub daerah aliran sungai (hulu, tengah, dan hilir) di
lokasi AQUA beroperasi yang disesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat. Berbagai program tersebut berada di bawah empat
pilar, yaitu: pelestarian air dan lingkungan, praktik perusahaan
ramah lingkungan, pengelolaan distribusi produk, serta
pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. Strategi AQUA
Lestari dikelola oleh Departemen Sustainable Development dan
diimplementasikan di sekitar wilayah operasional AQUA.
Program akses air bersih dan penyehatan lingkungan (Water
Access, Sanitation and Hygiene/WASH) AQUA dimulai sejak
tahun 2007 yang memfasilitasi masyarakat untuk memperoleh
akses air bersih dan fasilitas sanitasi yang aman diiringi dengan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). WASH hingga saat ini
telah bermitra dengan lebih dari 12 organisasi dari LSM dan
universitas di seluruh Indonesia dan telah berhasil memberikan
manfaat bagi lebih dari 70.000 anggota masyarakat. Lokasi
program WASH berada di Sumatera Utara, Lampung, Banten,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara
Timur.
Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia
(YPCII) (http://ypcii.wordpress.com). YPCII
yang didirikan pada tahun 2008 merupakan
organisasi
nirlaba
independen
yang
mendorong dan memandu masyarakat untuk
menggali potensi diri dan sumber daya dalam upaya untuk
membebaskan diri dari kondisi kesehatan yang tidak memadai,
kemiskinan, kebodohan dan ketidak adilan. Beberapa program
utama YPCII di antaranya adalah pengembangan kapasitas
masyarakat untuk mencapai kemandirian, kesehatan ibu dan
anak/Pengembangan Anak Usia Dini, pendidikan dan perbaikan
gizi berbasis masyarakat, pendidikan higiene dan sanitasi
berbasis sekolah, air minum dan penyehatan lingkungan
berbasis masyarakat, dan pelatihan di bidang kesehatan, air
bersih, kebersihan diri dan sanitasi. Program kemitraan yang
pernah dan sedang berlangsung adalah kemitraan dengan LSM
2
international (Project Concern International dan Americares) di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dengan AQUA di Provinsi
Jawa Barat dan dengan Lembaga Pengembangan Masyarakat
Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang didanai oleh PT Freeport
Indonesia, di Provinsi Papua.
MEMPRAKARSAI KEMITRAAN Kemitraan multi pihak di Sukabumi dimulai oleh AQUA,
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan pemerintah daerah
Sukabumi di awal tahun 2010. Masing-masing pihak bersepakat
untuk bekerjasama dengan tanggungjawab yang berbeda.
Kementerian PU bertanggungjawab untuk penyediaan pipa,
dan Pemerintah Daerah Sukabumi untuk sarana bangunan sipil
seperti bak penampung dan bak pembagi air di desa. AQUA
menyediakan kelengkapan Meter Air dan program
pemberdayaan masyarakat.
Dalam rangka memenuhi program pemberdayaan masyarakat,
AQUA mencari mitra yang bersedia bekerjasama melalui
komunikasi dengan berbagai organisasi. AQUA mengundang
YPCII menjadi mitra berdasarkan pertimbangan bahwa YPCII
mempunyai pengalaman dalam melakukan kegiatan
pengembangan masyarakat, pernah bekerjasama dengan
perusahaan dan atau lembaga donor lain, dan menguasai isu
terkait air bersih dan penyehatan lingkungan. Sedangkan YPCII
bersedia bermitra berdasarkan pandangan bahwa persoalan air
dan sanitasi tidak dapat diatasi oleh satu sektor atau satu pelaku
saja, tetapi harus didukung oleh semua pihak termasuk
pemerintah, perusahaan dan masyarakat. Pada bulan Juni 2010
keduanya menandatangani kerjasama untuk melaksanakan
Program Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan Berbasis
Masyarakat (Mitra Phast).
MENGIMPLEMENTASIKAN KEMITRAAN Lokasi program Mitra Phast berada di Desa Nanggerang,
Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi dengan penduduk
sekitar 6.000 jiwa. Program bertujuan agar masyarakat memiliki
sumber air bersih yang mudah diakses, dan dapat mencukupi
kebutuhan seluruh warganya baik pada musim hujan maupun
kemarau, serta sarana sanitasi yang aman terhadap lingkungan.
Sumber air berasal dari sungai yang terletak sekitar 12 km dari
pusat desa.
Untuk pelaksanaan program, YPCII menempatkan staf di lokasi
program. Staf YPCII memulai program dengan kegiatan
asesmen yang mengidentifikasi masalah dan kebutuhan
terhadap akses air bersih dan sanitasi yang dilakukan secara
partisipatori bersama masyarakat. Kegiatan asesmen dilakukan
untuk mengetahui perilaku dan pengetahuan masyarakat
terkait air bersih dan penyehatan lingkungan. Hasil asesmen
dijadikan data dasar dalam membuat rencana kegiatan
pembangunan sarana air bersih dan sanitasi; dan data dasar
dalam mengukur capaian program dan dampak positif saat
kegiatan berakhir. YPCII juga mengembangkan tools dan
melakukan pengumpulan data dan analisa terhadap hasil
asesmen tersebut.
Dalam membangun akses air bersih, YPCII berperan sebagai
fasilitator sekaligus kordinator kegiatan pemasangan pipa dari
sungai hingga sambungan rumah. YPCII memfasilitasi masyarakat untuk membentuk Tim Kerja Masyarakat (TKM) yang terdiri
dari 1 orang perwakilan dari 28 Rukun Tetangga (RT). TKM
bertugas untuk mengoordinir anggota masyarakat bekerja secara gotong royong memasang pipa transmisi dan pipa distribusi.
Pipa transmisi dan pipa distribusi merupakan kontribusi dari
Kementrian PU sepanjang 47 kilometer. Pemerintah Daerah
Sukabumi memberikan bantuan berupa bangunan sipil (seperti
bak penangkap air, pembagi, dan penampung) dan
penyambungan pipa. Untuk memastikan air bersih digunakan
oleh setiap rumah tangga, AQUA memberikan 600 unit
kelengkapan Meter Air yang berfungsi untuk menghitung
volume air yang dipakai oleh konsumen. Melihat banyaknya
kontribusi dari berbagai pihak, pihak Kecamatan Cicurug turut
memberikan kontribusi tambahan berupa sebuah kendaraan
operasional dan LSM Gugah Nurani Indonesia memberikan
kelengkapan Meter Air sebanyak 560 unit dan biaya transportasi
pengangkutan pipa menuju sumber air.i
Setelah seluruh rangkaian pipa dan bangunan sipil terpasang,
YPCII memfasilitasi proses pembentukan badan Pengelola
Sarana Air Bersih dan Sanitasi Nanggerang (PSABSN) sebagai
bagian dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). PSABSN dikelola
oleh perwakilan masyarakat yang dipilih melalui musyawarah
desa. YPCII melatih anggota PSABSN tentang cara membangun
sarana air bersih, sanitasi dan administrasi pembukuan. Di
antara tugas dan fungsi PSABSN adalah membangun,
memelihara dan mengelola sarana air bersih dan sanitasi rumah
tangga.
Sebagai tindak lanjut pembentukan PSABSN tersebut, staf YPCII
memfasilitasi proses pembuatan hingga lahirnya peraturan desa
tentang iuran rumah tangga untuk menggantikan biaya
operasional dan pemeliharaan sarana yang telah dibangun
tersebut. Biaya iuran ditetapkan secara progresif berdasarkan
volume pemakaian yaitu antara 500 rupiah hingga 750 rupiah
per meter kubik untuk setiap saluran air rumah tangga dan
biaya pemasangan saluran air baru sebesar 400 ribu rupiah
setiap titik. Peraturan desa ini menjadi dasar bagi PSABSN
secara legal menjalankan bisnis pengelolaan air bersih dan
sanitasi di desa.
Pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
diterapkan untuk memicu terjadinya perubahan perilaku
higiene dan sanitasi masyarakat.ii Lima perilaku utama yang
hendak diubah melalui pendekatan STBM atau yang dikenal
dengan istilah lima pilar STBM adalah (1) tidak membuang air
besar sembarangan, (2) cuci tangan pakai sabun, (3) mengelola
air minum/makanan secara aman, (4) mengelola limbah padat,
dan (5) mengelola limbah cair dengan benar. Berbagai kegiatan
yang dilakukan antara lain adalah pelatihan tentang 5 pilar
STBM bagi 38 kader Posyandu; edukasi oleh kader terlatih
kepada orangtua balita melalui kegiatan Posyandu; penyediaan
tempat cuci tangan portable di 8 Posyandu; edukasi untuk
Tim Kerja Masyarakat (TKM) secara bergotong royong sedang melakukan
pengangkutan pipa menuju sumber air bersih. ©YPCII 2010
perubahan perilaku di 24 RT; pelatihan pengelolaan sampah
mandiri kepada pengurus PSABSN, kader dan masyarakat; dan
pembentukan Bank Sampah yang dikelola oleh PSABSN.
Kegiatan pelatihan bagi kader dan tokoh masyarakat dilakukan
dengan melibatkan secara aktif petugas Puskesmas sebagai
nara sumber. Sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas
lembaga, YPCII selalu melibatkan secara aktif kader dan
Pengurus PSABSN terlatih sebagai pengelola dan fasilitator
dalam berbagai pelatihan di tingkat masyarakat.
Di tingkat sekolah, upaya untuk mengubah perilaku higiene dan
sanitasi dilakukan melalui edukasi kepada murid dan guru untuk
ditularkan kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Berbagai kegiatan yang dilakukan antara lain adalah pelatihan
tentang pendidikan higiene dan sanitasi berbasis sekolah
kepada 14 guru dari 11 sekolah; pelatihan tentang higiene dan
sanitasi bagi 122 murid sekolah (peer educators); pelatihan
pengelolaan sampah mandiri bagi 9 guru dan 93 murid;
penyediaan jamban untuk 4 sekolah; penyediaan tempat cuci
tangan di 6 sekolah dan penyediaan sambungan air bersih di 8
sekolah.
Selama program berjalan, tim CSR AQUA melakukan monitoring
secara kontinyu atas kualitas dan kemajuan program melalui
pertemuan bersama YPCII dan seluruh pihak, kunjungan
lapangan saat kegiatan berlangsung, melakukan review atas
laporan kegiatan, dan memberikan bimbingan teknis terkait
pembangunan sarana air bersih yang merupakan keahlian
teknis AQUA.
PELAJARAN BERHARGA Pembelajaran bagi AQUA dan YPCII dalam mengembangkan
kemitraan multi pihak adalah bagaimana mendapatkan
dukungan sebelum program dimulai baik dari pemerintah
pusat, daerah dan masyarakat di lokasi. Kedua organisasi juga
menyadari bahwa kemitraan sebaiknya (1) mempertimbangkan
unsur kepentingan para mitra, (2) merupakan prioritas masalah
yang harus segera diatasi, dan (3) bersifat tanggap terhadap
kebutuhan masyarakat.
3
Sedangkan pembelajaran saat program berjalan, AQUA dan
YPCII mencatat bahwa kordinasi antara pemerintah pusat,
pemerintah daerah, LSM dan masyarakat sangat penting untuk
mengurangi risiko duplikasi sumber daya, mempercepat
pencapaian tujuan program, dan meningkatkan besaran
manfaat yang dihasilkan oleh suatu program.
Mengenai masalah keberlanjutan, AQUA dan YPCII melihat
pentingnya memberikan pemahaman kepada masyarakat
bahwa program ini adalah milik masyarakat dan bukan milik
organisasi atau perusahaan tertentu. Pembentukan PSABSN
sebagai badan usaha di desa merupakan salah satu strategi
kesinambungan program yang dilandaskan pada kegiatan
bisnis sehingga masyarakat mendapatkan manfaat ekonomis
dalam jangka panjang.
Keberhasilan kemitraan antara YPCII dan AQUA disebabkan oleh
beberapa hal yaitu (1) para mitra saling memahami kekuatan
masing-masing, (2) kejelasan pembagian tugas dan wewenang,
yang dijalankan secara profesional, (3) komunikasi dan kordinasi
yang baik dalam mencari solusi bersama atas masalah-masalah
yang timbul di lapangan.
RENCANA DAN HARAPAN AQUA dan YPCII berniat merangkum praktik terbaik dan
pembelajaran berharga dari program pengelolaan akses air
bersih dan sanitasi agar dapat menjadi rujukan bagi
pengembangan program serupa di tempat lain. Harapan bagi
AQUA dan YPCII adalah agar model kemitraan multi pihak ini
diadopsi oleh organisasi dan pemerintah daerah lain untuk
mengatasi masalah akses air bersih dan penyehatan lingkungan.
HASIL DAN DAMPAK Sejak dimulainya program (2010) hingga Juni 2012 telah terjadi
dampak positif yang signifikan, yaitu 92% masyarakat telah
menggunakan jamban keluarga, 20 dari 28 RT telah terbebas
dari buang air besar (BAB) di sembarang tempat; akses terhadap
air bersih mengalami peningkatan dari 17% menjadi 74%; yang
diiringi oleh penurunan angka kesakitan karena diare dari 20%
menjadi 11% khususnya di kalangan anak balita.
Hasil lain yang dicatat adalah kontribusi masyarakat yang
nilainya setara dengan 600 juta rupiah untuk pemasangan 47
kilometer pipa, perbaikan bangunan sipil dan pembangunan
157 jamban keluarga. Hasil lainnya adalah 1.180 rumah tangga
mendapatkan akses air bersih; 38 kader terlatih mengedukasi
1.250 keluarga (93% populasi) dalam higiene dan sanitasi; 14
guru dan 122 murid sekolah dasar mendapat pelatihan tentang
lima pilar STBM; 9 guru dan 93 murid mendapatkan pelatihan
pengolahan sampah; penyediaan jamban untuk 4 sekolah;
penyediaan tempat cuci tangan di 6 sekolah; dan penyediaan
sambungan air bersih di 8 sekolah.
Catatan Kaki
i.
Gugah Nurani Indonesia merupakan organisasi non profit yang berafiliasi dengan Good Neighbors International, yang bergerak dalam bidang kesehatan
anak, kemanusiaan, kesehatan, dan sanitasi.
ii.
STBM adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat melalui metode pemicuan. Metode
pemicuan merupakan upaya untuk mendorong perubahan perilaku (higiene dan sanitasi) dalam diri seseorang atau kelompok menjadi sebuah mata
rantai gerakan perubahan perilaku seluruh komunitas.
Referensi
1.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Laporan Pencapaian Tujuan
Pembangunan Milenium Indonesia 2010.
Mengenai Studi Kasus Ini
Studi kasus ini merupakan satu dari rangkaian studi kasus yang didasarkan dari presentasi para mitra pada sesi Health and Business Round Table Indonesia
(HBRI). HBRI adalah suatu kegiatan Company-Community Partnerships for Health in Indonesia (CCPHI), sebuah program yang didanai oleh Ford Foundation.
Studi kasus dibuat berdasarkan presentasi oleh Ratih Anggraeni (WASH Program Manager, Sustainable Development Department - AQUA) dan Otriramayani
Dwiputri (Project Coordinator Mitra PHAST - YPCII) pada sesi HBRI ke-18. Dian Rosdiana (Communication Officer - CCPHI) mempersiapkan studi ini berdasarkan
konsultasi dengan AQUA dan YPCII.
Untuk informasi lainnya mengenai Proyek CCPHI dan Health & Business Roundtable Indonesia
Silakan hubungi Kemal Soeriawidjaja, CCPHI Direktur Eksekutif, di [email protected]
atau Dian Rosdiana, CCPHI Communication Officer, di [email protected],
atau kunjungi kami di www.ccphi.org
© CCPHI, November 2012
4
Fly UP