...

aktivitas fisik dan rasio kolesterol (hdl) pada penderita penyakit

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

aktivitas fisik dan rasio kolesterol (hdl) pada penderita penyakit
AKTIVITAS FISIK DAN RASIO KOLESTEROL (HDL) PADA
PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER DI POLIKLINIK
JANTUNG RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA
Ayu Candra Rahmawati, Siti Zulaekah dan Setyaningrum Rahmawaty
Prodi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Abstract
Coronary Heart Disease (CHD) is the cause of death which raises every year. And lack of physical
activity are included as the risk of CHD and lack of high fat intake. Cause aterosklerosis and become
factors that can raise ratio level between total cholesterol and HDL of the sufferer of CHD. This
research is conducted in RSUD DR. Moewardi Surakarta because of high amount CHD in that
policlynic.This research is aimed to describe and expalin the relationship between physical activity and
the ratio level betwen total cholesterol and HDL of the CHD sufferer of RSUD DR. Moewardi Surakarta.
This research is included in the observational research with crossectional approach of this research are
30 suffrers of CHD in RSUD DR. Moewardi Surakarta on April May 2008.The result of his study that
there is relationship between physical activity and the ratio between total cholesterol and HDL of the
CHD sufferers. Physical activity are factors that influence ratio between total cholesterol and HDL of
the suffers of CHD.
Keywords: Physical activity, ratio between total cholesterol and HDL, the suffers of CHD
PENDAHULUAN
Penyakit Jantung Koroner (PJK)
adalah penyakit jantung yang timbul
akibat adanya penyempitan pada arteri
koronaria, sehingga mengganggu aliran
darah ke otot jantung. Penyebab
terbanyak dari penyempitan tersebut
adalah arterosklerosis (Lubis, 2007).
Penyakit Kardiovaskular (PKV) yang di
dalamnya termasuk PJK menempati
urutan pertama penyebab kematian
yaitu 16% pada Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) 1992. Pada
SKRT 1995 meningkat menjadi 18,9%.
Hasil Sensus Kesehatan Masyarakat
2001 menunjukan angka kejadian PJK
meningkat menjadi 26,4% (Yahya, 2007).
Peningkatan
prevalensi
tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain asupan lemak yang tinggi dan
kurangnya tubuh dalam melakukan
aktivitas fisik.
Proses PJK didahului oleh proses
arterosklerosis,
berawal
dari
penumpukan kolesterol terutama Low
Density Lipoprotein (LDL) di dinding
arteri (Kusmana, 2007). Hal tersebut
mengakibatkan
pembuluh
darah
koroner menyempit, sehingga pasokan
oksigen dan darah berkurang yang
menyebabkan kinerja jantung terganggu
dan menimbulkan nyeri dada (Maulana,
2007).
Faktor risiko terjadinya PJK
antara lain asupan lemak yang tinggi
dan kurangnya tubuh dalam melakukan
aktivitas fisik. Menurut Diet-Heart
Hipotesis
asupan
tinggi
lemak,
kolesterol, dan asupan rendah lemak
tidak jenuh akan meningkatkan kadar
total kolesterol (Willett, 1998). Kadar
kolesterol darah tinggi dipengaruhi oleh
seringnya mengkonsumsi makanan
yang tinggi kolesterol. Semakin banyak
konsumsi makanan berlemak, akan
semakin besar peluangnya untuk
menaikkan kadar kolesterol total dan
menurunkan kadar
High Density
Lipoprotein (HDL). Kadar HDL darah
yang rendah akan berpengaruh pada
Aktivitas fisik dan rasio kolesterol / HDL pada penderita... (Ayu Chandra Rahmawati dkk)
11
rasio total kolesterol dan HDL, yang
dapat digunakan untuk memprediksi
risiko PJK. Semakin tinggi angka rasio
total kolesterol dan HDL akan semakin
tinggi pula risiko kejadian PJK (Bronchu
et al., 2000).
Aktivitas fisik berupa olahraga
dan kegiatan harian yang dilakukan
secara rutin dapat meningkatkan
konsentrasi
HDL
kolesterol
dan
bermanfaat untuk mencegah timbunan
lemak di dinding pembuluh darah
(arterosklerosis). Suatu study kasuskelola, melaporkan bahwa risiko PJK
menjadi dua kali lipat pada wanita yang
kurang aktivitas fisiknya. Pada orangorang
yang
terbiasa
melakukan
aktivitas fisik secara rutin umumnya
meningkatkan daya kontraksi jantung,
memperlebar pembuluh darah jantung
yang mempengaruhi pada peningkatan
suplai darah dan oksigen. Keadaan ini
akan meningkatkan stabilitas kerja
sistem jantung (Soeharto, 2004).
Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui aktivitas fisik
dan rasio kolesterol atau HDL pada
penderita PJK di Poliklinik Kardiologi
RSUD DR. Moewardi Surakarta.
Penelitian
ini
diharapkan
dapat
memberikan informasi bagi rumah sakit
mengenai hubungan aktivitas fisik
dengan rasio total kolesterol /HDL dan
sebagai bahan untuk menentukan
strategi yang lebih baik yang akan
digunakan bagi instalasi gizi di rumah
sakit dalam pemberian informasi
mengenai asupan lemak yang sebaiknya
dikonsumsi bagi penderita PJK. Selain
itu dapat digunakan sebagai bahan
evaluasi
untuk
meningkatkan
pelayanan gizi dan memberikan
informasi mengenai hubungan aktivitas
fisik dengan kadar rasio antara total
kolesterol dan HDL .
12
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian adalah observasi
dengan pendekatan cross sectional.
Sampel penelitian adalah pasien PJK
yang melakukan rawat jalan di poli
penyakit
Kardiologi
RSUD
Dr
Moewardi Surakarta sebanyak 30 orang
dengan
kriteria
sebagai
berikut:
mempunyai data laboraturium profil
lipid yang lengkap, bertempat tinggal di
karisidenan
Surakarta,
dapat
berkomunikasi dengan baik dan tidak
mempunyai komplikasi penyakit yang
mempengaruhi total kolesterol atau
HDL, seperti penyakit Diabetes melitus,
penyakit
ginjal,
hipertiroid,
dan
hipotiroid.
Data yang dikumpulkan pada
penelitian ini meliputi: data aktifitas
fisik dan data rasio antara total
kolesterol dan HDL. Aktivitas fisik
adalah gerakan yang dilakukan oleh
otot tubuh dan sistem penunjangnya,
diperoleh melalui recall aktivitas fisik
kegiatan yang biasa dilakukan dalam
sehari.
Aktivitas
fisik
dihitung
berdasarkan
nilai
perkiraan
pengeluaran energi pada kegiatan
tertentu,
kemudian
dibandingkan
dengan
total
kebutuhan
energi
penderita PJK. Data aktivitas fisik yang
diperoleh melalui form recall aktivitas
fisik kegiatan harian yang biasa
dilakukan. Rasio total kolesterol/HDL
adalah nilai perbandingan antara kadar
total kolesterol darah dengan kadar
HDL darah pada penderita PJK. Data
kadar kolesterol dan HDL diperoleh
melalui pencatatan data rekam medik.
Menurut Soeharto (2004) data rasio
total kolesterol/HDL diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu : Baik bila kurang
dari 4 dan Tinggi bila lebih atau sama
dengan 4,1.
Analisis data dilakukan dengan
menggunakan dua analisis yaitu
Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, VOL. 2, NO. 1, JUNI 2009 Hal 11-18
analisis univariat dan analisis bivariat.
Analisis univariat dilakukan untuk
mengetahui frekuensi dari data-data
yang diolah antara lain jenis kelamin,
umur, tingkat pendidikan dan jenis
pekerjaan, aktivitas fisik dan rasio total
kolesterol subjek penelitian. Analisis
data dilakukan dengan analisis bivariat
yaitu analisis yang dilakukan untuk
mengetahui hubungan dua variabel
yang meliputi variabel bebas dan
variabel terikat dengan uji Person
Product Moment data berdistribusi
normal
dan
menggunakan
Rank
Spearman data berdistribusi tidak
normal dengan
program SPSS for
windows 13.0.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karateristik Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat 30
penderita Penyakit Jantung Koroner
yang menjadi subjek penelitian. Subjek
pada penelitian ini adalah pasien di
Poliklinik Jantung RSUD Dr. Moewardi
Surakarta.
Karakteristik penderita
Penyakit Jantung Koroner (PJK) dilihat
dari usia, jenis kelamin, status gizi,
tingkat pendidikan dan pekerjaan dapat
dilihat pada tabel 1
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa usia subjek penelitian berkisar
antara 49-78 tahun dengan frekuensi
terbesar adalah usia di atas 61 tahun.
Hal ini membuktikan kejadian PJK
meningkat
seiring
dengan
bertambahnya usia seseorang. Pada
laki-laki usia 45 tahun merupakan
faktor risiko terjadinya PJK jika
kebiasaan hidupnya tidak baik, antara
lain merokok, jarang berolahraga,
hipertensi
dan
kebiasaan
mengkonsumsi
makanan
tinggi
kolesterol. Wanita pada saat memasuki
usia 55 tahun atau mengalami
menopouse merupakan faktor risiko
terjadinya PJK. Sebelum memasuki
menoupouse
kaum
perempuan
memiliki pelindung alami terhadap
penyakit jantung yaitu estrogen.
Estrogen berperan dalam menjaga
tingkat HDL agar tetap tinggi dan LDL
tetap rendah (Maulana, 2007).
Jenis kelamin laki-laki lebih
banyak daripada perempuan dengan
distribusi 53,33% untuk laki-laki
sedangkan
sisanya
perempuan.
Penelitian membuktikan bahwa lakilaki mempunyai risiko lebih besar
menderita penyakit jantung koroner
dibandingkan
dengan
perempuan.
Risiko kejadian PJK secara bermakna
lebih tinggi pada laki-laki dibanding
wanita sampai usia 75 tahun. Pada
wanita didapatkan risiko absolut PJK
meningkat secara subtansial pada usia
pertengahan oleh karena setelah
menopouse
terjadi
perubahan
metabolisme lemak (Matthews et
al.,2001).
Aktivitas fisik dan rasio kolesterol / HDL pada penderita... (Ayu Chandra Rahmawati dkk)
13
Tabel 1. Karateristik Subjek Penelitian
Variabel
N
%
3
12
15
10%
40%
50%
16
14
53,33%
46,66%
12
4
1
9
8
40%
13,3%
3,3%
30%
13,3%
5
16
9
16,66%
53,33%
30%
3
6
5
2
1
13
10%
20%
16,6%
6,6%
3,33%
43,33%
Usia
40-49 tahun
50-60 tahun
> 61 tahun
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Status Gizi
Normal
Lebih
Kurang
Obes I
Obes II
Tingkat Pendidikan
SD
SMP
SMA
Pekerjaan
Buruh tani
Karyawan Swasta
Pedagang
Pensiunan
Tukang Pijat
Tidak Bekerja
Status gizi subjek penelitian
dihitung berdasarkan Indeks Massa
Tubuh (IMT).
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa status gizi subjek
penelitian terbesar adalah status gizi
normal sebanyak 40% dan status gizi
terkecil adalah status gizi kurang 3,3%.
subjek penelitian yang mengalami
obesitas tingkat I sebesar 30%. Tingkat
sosial ekonomi yang tinggi dapat
mengakibatkan masalah berat badan
lebih bahkan obesitas merupakan
faktor risiko terjadinya PJK. Obesitas
adalah kelebihan jumlah lemak dalam
tubuh >19% pada laki-laki dan 21%
pada perempuan. Obesitas juga dapat
meningkatkan kadar kolesterol total
dan LDL kolesterol. Risiko PJK jelas
meningkat jika BB mulai melebihi 20%
dari BB ideal (Anwar, 2004).
14
Kelompok masyarakat yang
mempunyai tingkat pendidikan lebih
rendah mempunyai faktor risiko PJK
yang lebih tinggi (Chandola,1998 dan
Wamala et al., 1999). Pendidikan
subjek penelitian sebagian besar adalah
SMP sebesar 53,33%, pendidikan
paling rendah yaitu SD sebesar 16,66%.
Tingkat pendidikan bukan satusatunya faktor yang menentukan
kemampuan
seseorang
dalam
menyusun dan menyiapkan hidangan
yang bergizi namun faktor pendidikan
dapat mempengaruhi kemampuan
menyerap pengetahuan gizi yang
diperoleh.
Pekerjaan subjek penelitian
antara lain buruh tani, karyawan
swasta, pedagang, pensiunan, tukang
pijat dan ada yang tidak bekerja.
Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, VOL. 2, NO. 1, JUNI 2009 Hal 11-18
Sebagian besar subyek penelitian tidak
bekeja sebesar 43,33% dan paling
rendah sebagai pensiunan sebesar
6,6%.
Jenis
pekerjaan
bukan
merupakan faktor risiko terjadinya
PJK, melainkan merupakan faktor
pendukung. Di negara berkembang
hubungan yang erat selalu ditemukan
antara tingkat sosial ekonomi yang
tinggi yang ditandai dengan jenis
pekerjaannya dengan kejadian PJK.
Kelompok
masyarakat
yang
mempunyai tingkat sosial ekonomi
tinggi tinggal di daerah perkotaan
mempunyai
masalah
obesitas,
hipertensi
dan
tingginya
kadar
kolesterol darah merupakan faktor
risiko terjadinya PJK (Singh et al., 1999).
Tabel 2. Deskripsi Umur, BB, TB, IMT pada Subyek Penelitian
Variabel
Umur (tahun)
Berat Badan (Kg)
Tinggi Badan (m)
IMT
Minimal
49
42
1,50
18
Maksimal
78
74
1,76
28
Hasil
pengolahan
data
diperoleh hasil rata-rata umur subyek
penelitian adalah 60,27 tahun ± 8,317.
Berat badan subyek penelitian rata-rata
adalah 58 kg ± 9,297. Tinggi badan
subyek penelitian rata-rata tinggi
badan subyek penelitian adalah 1,60 m
± 0,067. Indeks Massa Tubuh (IMT)
rata-rata adalah 22,92kg/m2 ± 2,186.
Aktivitas fisik dan Rasio Total
Kolesterol/HDL Subyek Penelitian
Penyakit
Jantung
Koroner
merupakan problem kesehatan utama
di negara maju. Banyak faktor yang
Rata-rata
60,27
58,33
1,60
22,92
Standart Devisiasi
8,317
9,297
0,067
2,186
mempengaruhi
terjadinya
PJK,
pencegahan harus diusahakan sedapat
mungkin dengan cara mengendalikan
faktor-faktor risiko PJK. Berdasarkan
hasil beberapa penelitian membuktikan
faktor yang dapat mempengaruhi
terjadinya PJK antara lain umur, jenis
kelamin, keadaan sosial ekonomi,
tingginya kandungan kadar kolesterol
dalam darah, hipertensi, merokok,
diabetes melitus, obesitas, aktivitas
fisik, diet, perilaku, kebiasaan, stress
dan keturunan (Anwar, 2004).
Tabel 3. Deskripsi Aktifitas Fisik dan Rasio Total Kolesterol/HDL pada Subyek
Penelitian
Variabel
Aktivitas Fisik(kcal)
RasioTotal Kolesterol/HDL
Minimal
1177
2,80
Penilaian aktivitas fisik dalam
penelitian ini
meliputi
kegiatan
harian, mingguan, dua mingguan dan
bulanan. Data aktivitas fisik kemudian
dinilai berdasarkan angka perkiraan
pengeluaran energi dan dibandingkan
Maksimal
2760
6,20
Rata-rata
1702
4,30
Standar Deviasi
380,99
0,90
dengan Bassal Metabolisme Rate (BMR).
Kriteria aktifitas fisik dibedakan
menjadi 3 yaitu rendah, sedang dan
tinggi. Pada awalnya aktifitas fisik
dikategorikan menjadi 3 kategori,
setelah dilakukan pengolahan dari data
Aktivitas fisik dan rasio kolesterol / HDL pada penderita... (Ayu Chandra Rahmawati dkk)
15
yang diperoleh hanya terdapat 2
kategori yaitu aktifitas fisik sedang
sebanyak 50% dan subjek penelitian
dengan aktivitas fisik tinggi sebanyak
50%.
Rasio antara total kolesterol
dan HDL diperoleh dari data rekam
medis pasien.
Kriteria data rasio
antara total kolesterol dan HDL
dibedakan menjadi 2 yaitu baik dan
tinggi. Rasio total kolesterol baik jika
≤4 dan tinggi jika lebih dari ≥4,1. Rasio
antara total kolesterol dan HDL subjek
penelitian sebagian besar tinggi yaitu
56,7%.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa rata-rata aktivitas fisik subjek
penelitian adalah 1702 kcal ± 380,99
dengan nilai minimal 1177 kcal dan
maksimal 2702 kcal. Sedangkan ratarata rasio total kolesterol/HDL subjek
penelitian adalah 4,30 ± 0,90 dengan
nilai minimal 2,80 dan maksimal 6,20.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Aktivitas Fisik dan Rasio Total
Kolesterol/HDL Subyek Penelitian
Variabel
Aktifitas Fisik
Sedang
Tinggi
Rasio total kolesterol/HDL
Baik
Tinggi
Hubungan Aktivitas Fisik dengan
Rasio Total Kolesterol/HDL Penderita
Penyakit Jantung Koroner
Aktivitas fisik berupa kegiatan
harian ataupun olahraga dengan
intensitas yang tepat dan teratur
merupakan pola hidup yang sehat
mempunyai pengaruh pada penyakit
jantung koroner. Aktivitas fisik yang
N
Frekuensi(%)
15
15
50%
50%
13
17
43,3%
56,7%
tinggi dapat menghidarkan dari proses
arterosklerosis, yaitu penumpukan
kolesterol terutama LDL pada dindingdinding arteri (Sumosardjuno, 2007).
Deskripsi aktivitas fisik dan rasio total
kolesterol/HDL penderita penyakit
jantung koroner dapat dilihat pada
tabel 5.
Tabel 5. Deskripsi Aktifitas Fisik dan Rasio Total Kolesterol/HDL
NO
1
2
b
Aktivitas
Fisik
Sedang
Tinggi
Rasio total kolesterol/HDL
Baik
Tinggi
N
%
N
%
3
23,07
2
28,57
10
76,92
5
71,42
N
15
15
p
%
50
50
0,045b
: Uji Rank Spearman
Hasil penelitian menunjukkan
subyek penelitian yang memiliki
aktivitas fisik tinggi sebanyak 50%.
Berdasarkan hasil uji hubungan bivariat
16
Total
dengan
menggunakan
uji
Rank
Spearman didapatkan nilai p value
0,045 maka Ho ditolak karena nilai P
value <0,05 berarti ada hubungan
Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, VOL. 2, NO. 1, JUNI 2009 Hal 11-18
antara aktivitas fisik dengan rasio total
kolesterol/HDL.
Tabel 5 di atas, menunjukkan
subyek penelitian yang memiliki
aktifitas fisik tinggi dengan rasio total
kolesterol/HDL baik yaitu 76,92%.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Sumosardjuno (2007) bahwa
orang yang banyak menggunakan
aktifitas fisik dalam kegiatan sehariharinya dibandingkan dengan orang
yang hanya sedikit melakukan aktifitas
fisik memiliki risiko menderita PJK
60%
lebih
besar.
Penelitian
membuktikan bahwa aktivitas fisik
yang tinggi dapat meningkatkan kadar
HDL dalam darah.
Demikian pula
dengan hasil penelitian Anwar (2004)
aktivitas fisik dapat meningkatkan
kadar HDL dalam darah dan
memperbaiki
kolateral
koroner
sehingga risiko PJK dapat dikurangi.
Selain itu aktivitas fisik dapat
menurunkan berat badan sehingga
lemak yang berlebihan berkurang
bersama-sama dengan menurunnya
LDL kolesterol.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan uraian sebelumnya
dapat disimpulkan bahwa : subyek
penelitian terdiridari 53,33% jenis
kelamin laki-laki, umur berkisar antara
49-78 tahun, status gizi 3,3% kurang,
40% normal, 13,3% lebih, 30% obesitas
tingkat I, 13,3% obesitas tingkat II.
Tingkat pendidikan sebagian besar
SMP 53,33%, dan 43,33% subyek
penelitian
tidak
bekerja.
Ada
hubungan antara aktivitas fisik dengan
rasio antara total kolesterol dan HDL
pada penderita Penyakit Jantung
Koroner.
UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih kepada
Rektor UMS dan Ketua LPPM UMS
yang telah memfasilitasi penelitian ini.
Selanjutnya kepada Direktur RSUD Dr
Moewardi yang telah memberikan ijin
sebagai lokasi penelitian. Ucapan
terimakasih juga disampaikan kepada
dokter dan ahli gizi yang telah banyak
membantu dalam proses pengambilan
data serta kepada penderita PJK telah
bersedia menjadi responden penelitian.
Yang terakhir kepada semua pihak
terkait yang tidak dapat disebutkan
satu per satu.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar. TB, 2004. Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner. Bagian Ilmu Gizi Fakultas kedokteran
Universitas Sumatera Utara. Digitized by USU digital library
Bronchu, M., et al. Coronary risk profiles in men with coronary disease: effects of body composition,
fat distribution, age and fitnes. Coronary Artery Diseases. 2000. Dalam: Lipoeto I, Dr.,
MMedsci, PHD. 2006. Zat Gizi dan Makanan pada Penyakit Kordiovaskuler.Andalas:
University Press.
Chandola T. 1998. Social inequality in coronary heart disease: a comparison of occupational
claaifications. Sosial Science&Medice 1998; 47:525-33. Dalam: Lipoeto I, Dr., MMedsci,
PHD. 2006. Zat Gizi dan Makanan pada Penyakit Kordiovaskuler. Andalas: University
Press.
Aktivitas fisik dan rasio kolesterol / HDL pada penderita... (Ayu Chandra Rahmawati dkk)
17
Kusmana D. 2007. Aktifitas Fisik Membantu Mencegah Aterosklerosis. Diakses tanggal 12
Agustus 2007. http:www.kompas.com/kompas-cetak/0306/19/iptek/ 378701.htm
Lubis. EN. 2007. Penyakit Jantung Koroner pada anak dan pencegahannya. Bagian ilmu kesehatan
anak fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ RSUP H. Adam malik
Medan. Diakses tanggal 28 September 2007. http: www.gizinet.com.
Maulana, M. 2007. Penyakit Jantung Pengertian, Penanganan, dan Pengobatan. Jogjakarta:
Penerbit Kota Hati
Matthews, KA., et al. 2001. Changes in cardiovascular risk factors during the perimenopause
and postmenopause and carotid atherosclerosis in healthy women. Dalam: Lipoeto
I, Dr., MMedsci, PHD. 2006. Zat Gizi dan Makanan pada Penyakit Kordiovaskuler.
Andalas: University Press.Mensink RP. Dietary monounsaturated fatty acids and
serum lipoprotein levels in healty subjects. Atherosklerosis 1994; 110 Suppl: S65-S68.
Sigh, RB, et al. 1999. Body fat percent by bioelectrical impedance analysis and risk of coronary
artery disease among urban men with low rates of obesity: the Indian paradok.
Dalam: Lipoeto I, Dr., MMedsci, PHD. 2006. Zat Gizi dan Makanan pada Penyakit
Kordiovaskuler. Andalas: University Press.
Soeharto, I, 2004. Serangan Jantung dan Stroke Hubungannya Dengan Lemak dan Kolestrol.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sumosardjuno. S. 2007. Aktif Bergerak Kurangi Risiko PJK.. Diakses tanggal 26 Agustus 2008.
http ;www.idi.or.id
Wamala, SP., Lynch , J., Kaplan, GA. 1999. Women’s exposure to early and later life
socioeconomic disadvantage and coronary heart disease risk: the Stockholm Female
Coronary Risk Study of Swedish women. Dalam: Lipoeto I, Dr., MMedsci, PHD.
2006. Zat Gizi dan Makanan pada Penyakit Kordiovaskuler. Andalas: University Press.
Willet, WC. 1998. Is dietary fat amajor determinant of body fat. Dalam: Lipoeto I, Dr., MMedsci,
PHD. 2006. Zat Gizi dan Makanan pada Penyakit Kordiovaskuler. Andalas: University
Press.
Yahya, FA. Pilihan Terapi Penyakit Jantung Koroner. http://www.idi.or.id (12 Agustus 2007).
18
Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, VOL. 2, NO. 1, JUNI 2009 Hal 11-18
Fly UP