...

Membangun dan Mempertahankan

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Membangun dan Mempertahankan
The Power of Partnerships:
Partnerships: Membangun dan Mempertahankan
Kemitraan dalam Mengelola Kemasan Karton Bekas di Bali
Kemitraan antara Tetra Pak dan ecoBali
Sampah dan Millenium Development Goals
Riset Kesehatan Dasar1 menunjukkan bahwa penanganan sampah oleh rumah tangga secara nasional dilakukan dengan
cara dibakar (52,1%) dan diangkut oleh petugas (23,4%). Menurut tempat tinggal, di perkotaan cara penanganan
sampah yang menonjol adalah dengan cara diangkut oleh petugas (42,9%), sedangkan di pedesaan yang paling umum
adalah dengan cara dibakar (64,1%). Hanya 0,5% rumah tangga di perkotaan dan 1,7% di pedesaan yang mengolah
sampah sebagai pupuk kompos.
Dalam laporan Pemerintah Indonesia tahun 2010 untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)2 tidak
memberikan rekomendasi khusus untuk penyelesaian masalah sampah, namun menempatkan sampah sebagai bagian
penting dari sanitasi. Laporan menyebutkan data rumah tangga yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi
mengalami perkembangan yang lebih baik, dari 25% pada tahun 1993 ke 51% pada tahun 2009, namun masih belum
mencapai target yang diinginkan yaitu sebesar 62%. Sanitasi dan sampah yang tidak dikelola dengan baik memiliki
dampak yang serius pada kesehatan manusia dan lingkungan. Beberapa penyakit yang ditimbulkan sampah seperti
diare, demam berdarah dan kecacingan yang merupakan beberapa penyebab kematian anak-anak di Indonesia.
ini sesuai dengan misi utama mereka yaitu menuju Bali bebas
limbah (zero waste).
ecoBali membangun dan memperluas jaringan pengumpulan
sampah melalui kolaborasi langsung dengan Lapak/Bandar,
menerapkan standar pengumpulan dan pemadatan sampah
kemasan, dan mengangkut sampah kemasan yang sudah
dipadatkan ke pabrik daur ulang di Surabaya, Jawa Timur. Selain
itu, ecoBali juga menjalankan kegiatan edukasi lingkungan untuk
sekolah dan hotel serta melakukan koordinasi dengan pemerintah
Bali agar dapat memberikan dukungan dalam menjalankan
kegiatan lapangan. Sedangkan Tetra Pak memfasilitasi kegiatan
ecoBali melalui komunikasi dengan pihak pabrik daur ulang,
memberikan bantuan teknis dalam proses daur ulang serta
mempromosikan program lingkungan dan daur ulang ke
masyarakat luas, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Pembagian peran ini menjadi kunci sukses kemitraan keduanya.
Fasilitator dari ecoBali sedang memberikan pelatihan mengenai cara
memilah sampah bagi murid SD di Kerobokan, Bali. © ecoBali, 2013
RINGKASAN
Kemitraan antara Tetra Pak Indonesia dan ecoBali dimulai sejak
2007 dan masih berlangsung hingga 2013 dengan kemungkinan
untuk melanjutkan kerja sama. Kesepakatan untuk bekerja sama
dilandasi pada kesamaan minat pada bidang penurunan sampah
kemasan.
Bagi Tetra Pak, penurunan sampah merupakan
komitmen pendiri perusahaan sedangkan bagi ecoBali kerja sama
Hingga Juni 2013, hasil yang dicapai di antaranya adalah
memberikan pelatihan pemilahan sampah kepada lebih dari 800
guru, 7.000 murid (15 sekolah negeri dan 7 sekolah internasional),
lebih dari 100 karyawan, serta membangun jaringan kerja dengan
lebih dari 50 Bandar dan Lapak.
Kemitraan ini juga telah berhasil mengajak 30 hotel untuk
melakukan tata cara pengelolaan sampah sesuai kriteria program
eco-rating yang diterbitkan oleh berbagai lembaga internasional
dan nasional sepeti Earth Check, Tri Hita Karana dan Green Globe.
Total sampah terkumpul adalah 600 ton.
1
PARA MITRA
Tetra Pak Indonesia (www.tetrapak.com)
adalah anak perusahaan Tetra Laval yang
berkantor pusat di Swiss.
Tetra Pak
Indonesia yang didirikan sejak tahun 1975,
adalah perusahaan yang mengemas dan
memproses makanan dan minuman. Visi
pendiri Tetra Pak “sebuah kemasan harus
menghemat lebih dari biayanya”
mempunyai arti bahwa setiap produk kemasan bukan hanya
memperhatikan aspek biaya saja tetapi juga memperhatikan
kebutuhan konsumen terhadap keamanan makanan, terhindarnya
makanan yang terbuang, dan penggunaan kemasan yang ramah
lingkungan. Visi ini menjadi landasan bagi lahirnya berbagai
program kemitraan berbasis lingkungan di Tetra Pak secara global
dan lokal.
Program lingkungan hidup Tetra Pak yang dimulai sejak tahun
2004, bertujuan untuk menurunkan sampah kemasan melalui
kegiatan pendidikan lingkungan dan mendaur ulang kemasan
kertas. Bagi Tetra Pak, menurunkan sampah kemasan berarti
berinvestasi di bidang teknologi dan mempererat kemitraan
dengan masyarakat luas. Karenanya dalam menjalankan program,
Tetra Pak bekerja sama dengan berbagai organisasi dari kalangan
pemerintahan, industri, lembaga swadaya masyarakat, komunitas
lingkungan, pelajar, pelanggan, jaringan pengumpul sampah dan
masyarakat luas. Program lingkungan hidup tersebut berpusat di
empat wilayah yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Jakarta.
Untuk wilayah Bali, Tetra Pak bermitra dengan sebuah organisasi
lingkungan ecoBali. Untuk wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Jawa
Timur, Tetra Pak bermitra dengan lembaga swadaya masyarakat
(LSM) terkait dengan lokasi keberadaan perusahaan/pabrik daur
ulang yang ada. Kebanyakan kemitraan antara Tetra Pak dengan
LSM tersebut dimulai dengan kerja sama dalam bidang nutrisi/
kesehatan bagi murid SD, dan kemudian berkembang menjadi
kemitraan dalam bidang pemilahan sampah dan produk daur
ulang. Tetra Pak menyediakan mesin pemadatan sampah (baling
machine) bagi mitranya karena membuat transportasi sampah jauh
lebih efisien.
ecoBali (www.eco-bali.com)adalah
perusahaan yang didirikan pada tahun 2005
sebagai upaya untuk menjawab
permasalahan pengelolaan sampah di Bali.
Visi pendiri ecoBali adalah “bebas
limbah” (zero waste) melalui pemilahan
sampah sejak awal (sebelum dibuang ke
tempat pembuangan akhir/TPA);
mengurangi volume sampah yang dibuang
ke TPA dengan meningkatkan recovery sampah yang bisa didaur
ulang; serta mengelola sampah organik melalui pemrosesan pupuk
kompos (composting). Kegiatan yang dilakukan di antaranya adalah
pelayanan pengumpulan sampah dan pemisahan sampah di
sumbernya; mendaur ulang kertas, plastik, metal, kaca, kemasan
makanan/minuman karton; menyediakan pelatihan dan pembinaan
bagi organisasi lain dalam bidang pengelolaan sampah; edukasi
dan instalasi sistem kompos di lingkungan perusahaan dan rumah
tangga; dan meningkatkan kesadaran individu, masyarakat dan
kalangan usaha tentang praktik reduce, reuse dan recycle (3Rs).
Wilayah kerja ecoBali mencakup provinsi Bali bagian selatan
termasuk Badung, Gianyar, Denpasar dan Klungkung.
Selain bermitra dengan Tetra Pak, ecoBali juga telah menjalankan
kemitraan dengan perusahaan lain di bidang pariwisata, daur ulang
kertas, makanan dan usaha ritel di Bali. ecoBali mempunyai 20 staff
dengan latar belakang keahlian di bidang lingkungan dan
2
pendidikan, serta mempunyai
pemadatan sampah sendiri.
fasilitas/alat
pemilahan
dan
MEMULAI KEMITRAAN
Awal kemitraan dimulai ketika kedua mitra bertemu di sebuah
acara lokakarya di Jakarta mengenai daur ulang yang disponsori
oleh pemerintah Swedia pada pertengahan tahun 2006. ecoBali
kemudian membuka komunikasi dengan Tetra Pak untuk menjajaki
kemungkinan kerja sama di Bali. Pada saat yang bersamaan, Tetra
Pak juga sedang mencari mitra kerja sebagai upaya perluasan
program pengumpulan sampah di luar Jawa.
Setelah pertemuan tersebut, pada bulan September 2007, Tetra Pak
dan ecoBali memulai kerja sama dalam sebuah proyek berupa
rangkaian kegiatan yang bertujuan mengenalkan olah raga cricket
kepada murid sekolah menengah pertama (SMP) di Bali. Selain
kegiatan pertandingan kompetisi cricket, diadakan juga kegiatan
minum susu, dan mengumpulkan serta mendaur ulang kemasan
bekas Tetra Pak. Proyek tersebut mendapat penghargaan berupa
piala “the Best Junior Cricket Initiative Award” dari International
Cricket Council (ICC) Development Program – East Asia Pacific,
karena telah berhasil menggabungkan antara olah raga, kesehatan
dan kepedulian terhadap lingkungan. Proyek ini melibatkan mitra
dari organisasi lain yaitu Ultrajaya Milk Industry dan Indonesian
Cricket Association dan mengedukasi lebih dari seribu murid.3
Selanjutnya di bulan Desember 2007, kedua mitra bekerja sama
kembali dalam kegiatan pameran di UN Climate Change Conference
(Bali). Keduanya membuka stand dengan topik “recycling clinic”
yang bertujuan untuk mengenalkan berbagai program lingkungan
dan daur ulang kepada masyarakat internasional. Kegiatan ini juga
melibatkan mitra dari pemerintah yaitu Kementerian Negara
Lingkungan Hidup dan Kementerian Perindustrian dan
Perdagangan (Balai Besar Pulp & Kertas).
MENJALANKAN KEMITRAAN
Setelah kedua kegiatan tersebut, pada tahun 2008, Tetra Pak dan
ecoBali sepakat untuk meningkatkan hubungan kemitraan secara
lebih terukur dan berkesinambungan. Kedua mitra sepakat untuk
bekerja sama dengan pertimbangan (1) bagi Tetra Pak, penurunan
sampah merupakan komitmen pendiri perusahaan; (2) sedangkan
ecoBali melihat kerja sama ini sesuai dengan misi utama mereka
yaitu menuju Bali bebas limbah (zero waste).
Berdasarkan kesepakatan tersebut, kedua mitra lalu
mengembangkan sebuah program “Tetra Pak Recycling” dengan
tujuan memaksimalkan proses daur ulang sampah kemasan karton
dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pemilahan sampah
melalui 3Rs (reduce, reuse, recycle) atau mengurangi, menggunakan
kembali dan daur ulang. Kegiatan berfokus pada pengelolaan
sampah kemasan karton Tetra Pak dari sumbernya (sebelum
sampah dibuang ke TPA). Alasannya adalah untuk mendapatkan
kualitas kemasan karton bekas yang lebih baik sehingga
menghasilkan produk daur ulang yang lebih baik pula. Program
tersebut memberikan manfaat bagi Pengumpul (Pemulung/Lapak/
Bandar)i, hotel dan sekolah di wilayah Badung, Gianyar, Denpasar
dan Klungkung Bali.
Tetra Pak dan ecoBali menjalankan kemitraan dengan membangun
sistem bisnis yang berkelanjutan.
Sistem tersebut adalah
membangun jaringan Pengumpul yang bertugas mengumpulkan
dan memilah sampah kemasan karton. Dari jaringan pengumpul
ini, sampah kemasan karton kemudian dikirim ke ecoBali. Pihak
ecoBali melakukan pemilahan final dan baling process (pemadatan
sampah dengan mesin) untuk membuat sampah menjadi efisien
dalam transportasi.
Sebagai daerah kunjungan wisata yang terkenal, Bali memiliki
persoalan dengan sampah seiring dengan meningkatnya
kunjungan wisatawan ke daerah tersebut. ecoBali melihat bahwa
industri hotel merupakan salah satu mitra strategis untuk mengurai
masalah sampah. ecoBali membangun kerja sama dengan Bali
Hotel Association (BHA) and Ubud Hotel Association (UHA)
melaksanakan pelatihan bagi lebih dari seratus karyawan hotel
mengenai pengelolaan sampah seperti pemilahan, daur ulang dan
wadah pengumpulan sampah karton bekas di setiap hotel.
Bagan 1: Sistim bisnis yang berkesinambungan dalam mengelola sampah.
dalam transportasi. Tahapan berikutnya adalah pengiriman ke
pabrik daur ulang yang akan mengolah sampah menjadi kertas
yang siap dijual kepada konsumen (lihat bagan 1). Ada kalanya
produk kertas daur ulang ini juga dijual melalui mitra kerja Tetra
Pak.
Peran Tetra Pak di antaranya memfasilitasi kegiatan ecoBali melalui
komunikasi dengan pihak pabrik daur ulang, memberikan bantuan
teknis kepada ecoBali dalam proses daur ulang serta
mempromosikan program lingkungan dan daur ulang ke
masyarakat luas, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Tetra Pak
juga menyediakan mesin pemadatan (baling machine) bagi mitra
untuk membantu kesinambungan program. Untuk pabrik, Tetra
Pak memberikan bantuan teknis dan peralatan kepada dua pabrik
daur ulang di Indonesia (Bekasi dan Surabaya) agar bisa
menghasilkan produk daur ulang secara mandiri. Peralatan
tersebut berfungsi untuk memisahkan sampah kemasan kertas/
karton, alumunium dan plastik sehingga pabrik lebih efisien dalam
proses produksi.
ecoBali berperan dalam membangun jaringan pengumpulan
sampah melalui kerja sama langsung dengan dua organisasi
pengelola sampah yaitu Temesi di desa Gianyar dan Jimbaran
Lestari di Jimbaran. Selain dengan kedua organisasi tersebut,
ecoBali juga membangun dan memperluas jaringan pengumpulan
melalui kolaborasi langsung dengan Pemulung/Lapak/Bandar, dan
melatih mereka untuk melakukan pemilahan dan pengumpulan
sampah karton sesuai dengan standar, untuk memastikan
pencapaian target. Untuk kegiatan ini, ecoBali telah melatih dan
membangun jaringan dengan lebih dari 50 Bandar dan Lapak yang
tersebar di keempat wilayah program.
Bersamaan dengan pengembangan sistem bisnis tersebut, ecoBali
melakukan kegiatan edukasi bagi murid sekolah dasar (SD), sekolah
menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).
Sekolah dipilih berdasarkan kriteria yaitu sekolah tersebut belum
mempunyai program pemilahan sampah, mempunyai komitmen
untuk terlibat dalam kegiatan jangka panjang dan berada dalam
jangkauan wilayah kerja ecoBali.
ecoBali memberikan pelatihan bagi murid mengenai cara memilah
sampah, prinsip 3Rs, dan bagaimana memahami sampah sebagai
sumber daya yang bisa digunakan kembali dan memberikan
keuntungan ekonomis bagi masyarakat. Sebagai tindak lanjutnya,
ecoBali menyediakan satu fasilitas pengumpulan sampah di setiap
sekolah tersebut. Hingga Juni 2013, ecoBali telah melatih 800 guru
dan 7.000 murid dari 15 sekolah negeri dan 7 sekolah internasional
di wilayah Badung (kelurahan Canggu dan Kerobokan).
Selain membangun kemitraan dengan organisasi tersebut, Tetra
Pak dan ecoBali juga berkoordinasi dengan instansi pemerintah
seperti Kementerian Lingkungan Hidup (Pusat Pengelolaan
Ecoregion), Badan Lingkungan Hidup tingkat provinsi dan
kabupaten, Dinas Kebersihan dan Pertamanan tingkat kabupaten,
dan Dinas Pendidikan tingkat provinsi.
Koordinasi dengan
pemerintah ini untuk mendapatkan dukungan bagi kelancaran
kegiatan.
HASIL DAN DAMPAK
Keberhasilan kemitraan terletak pada sistim bisnis yang dibangun
sejak awal program dijalankan. Kedua mitra menjalankan peran
dan tanggung jawabnya sesuai dengan kapasitasnya masingmasing sehingga program bisa berjalan selaras dan
berkesinambungan.
Hingga Juni 2013, hasil yang dicapai di antaranya adalah mendidik
lebih dari 800 guru dan 7.000 murid yang berasal dari 15 sekolah
negeri (SD,SMP dan SMA) dan 7 sekolah internasional mengenai
pemilahan sampah dan kebersihan lingkungan; melatih lebih dari
100 karyawan hotel dengan topik yang sama; dan melatih serta
membangun jaringan kerja dengan lebih dari 50 Bandar dan Lapak.
Kemitraan ini juga telah mengajak 30 hotel untuk mematuhi
persyaratan tentang pengelolaan sampah sesuai kriteria program
eco-rating yang diterbitkan oleh berbagai lembaga baik
internasional maupun nasional sepeti Earth Check, Tri Hita Karana
dan Green Globe. Total sampah yang berhasil dikumpulkan adalah
600 ton.
TANTANGAN/PELAJARAN BERHARGA
Walau hasil pengumpulan sampah sudah mengalami peningkatan
setiap tahunnya, yaitu dari 1,8 ton di tahun 2007 hingga 600 ton
untuk tahun 2013, kedua mitra mengakui bahwa hasil tersebut
hanya menjangkau sekitar 10% dari total produksi sampah.
Tantangan sekaligus peluangnya adalah menumbuhkan kesadaran
masyarakat akan nilai ekonomis daur ulang kemasan bekas, terus
memperkuat kemitraan dengan sektor informal (Pengumpul)
berdasarkan komitmen jangka panjang, dan meningkatkan
kesadaran masyarakat untuk bertanggung jawab atas sampah yang
dibuangnya pada tingkat rumah tangga.
Masih adanya kesenjangan yang besar antara penyediaan sampah
kemasan dengan kebutuhan pabrik daur ulang (kertas) membuat
nilai bisnis/economic viable program ini menjadi rendah. Tetra Pak
menyiasatinya dengan membangun kemitraan bersama pabrik
daur ulang skala medium yang diiringi dengan pemberian bantuan
teknologi re-pulping.
Bantuan ini untuk mendorong pabrik
meningkatkan produksi kertas daur ulang, sejalan dengan
komitmen Tetra Pak yang mengukur keberhasilan program
berdasarkan tingkat/daya serap sampah kemasan yang dilaporkan
ke kantor pusat secara berkala (setiap bulan).
Tetra Pak masih mempelajari lebih dalam mengenai dampak dan
manfaat dari program Bank Sampahii sebagai salah satu solusi
keberlanjutan program. Pada kebanyakan kasus, Bank Sampah
3
RENCANA DAN HARAPAN
Untuk rencana masa depan, Tetra Pak akan meneruskan upaya
mencari mitra baru (baik LSM, perusahaan ataupun perguruan
tinggi) di daerah lain dan menjadikannya sebagai perwakilan Tetra
Pak di masing-masing daerah untuk program sampah kemasan
karton. Para mitra nantinya diharapkan bisa saling berkomunikasi,
berbagi pelajaran dan praktik terbaik, baik dengan pemerintah atau
organisasi lain maupun dengan para penerima manfaat (Lapak/
Bandar dan Pemulung). Sedangkan ecoBali berencana untuk
membuat produk daur ulang berupa atap gelombang dari lembar
alumunium kemasan dan wadah composting untuk dijual kembali
ke konsumen.
Murid SDN 4 Kerobokan sedang memadatkan dan mengumpulkan sampah
kemasan karton di sekolahnya. © ecoBali, 2013
Tetra Pak dan ecoBali juga akan melebarkan jangkauan tidak hanya
menargetkan murid sekolah dan hotel tetapi juga rumah tangga. Di
tahun 2013, Tetra Pak sudah mengembangkan kerja sama dengan
perusahaan ritel Hypermart Jakarta dan kompleks perumahan
Bintaro Tangerang untuk mengembangkan titik pengumpulan
sampah kemasan bagi masyarakat sekitar.
tidak bisa bertahan lama dan kurang memberikan keuntungan bagi
para Pemulung dan Lapak atau Bandar, yang merupakan penerima
manfaat utama (end beneficiary) Tetra Pak.
Catatan Kaki
i.
Pemulung adalah orang yang memungut barang bekas atau sampah dari rumah ke rumah. Lapak adalah orang yang mengumpulkan sampah atau barang
bekas dari Pemulung untuk dijual kembali sebagai barang bekas. Sedangkan Bandar adalah sama dengan Lapak namun mempunyai skala bisnis yang
lebih besar.
ii.
Bank sampah adalah wadah atau tempat pengumpulansampah anorganik, dimana dalam proses pelaksanaannya membutuhkan pengelola yang berasal
dari warga yang akhirnya akan terjadi penjualan antara pengelola bank sampah dengan pengumpul.
Referensi
1.
Riset kesehatan dasar (riskesdas). Badan penelitian dan pengembangan kesehatan kementerian kesehatan RI, tahun 2010.
2.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, 2011. Laporan Pencapaian Tujuan
Pembangunan Milenium Indonesia 2010. Jakarta, Indonesia.
3.
http://www.cricketindonesia.com/generic/index.php?mid=40 (diakses pada tanggal 14 November 2013)
Tentang Studi Kasus Ini
Studi kasus ini merupakan satu dari rangkaian studi kasus yang didasarkan pada presentasi dari para mitra pada sesi Health and Business Roundtable Indonesia
(HBRI). HBRI adalah suatu kegiatan Company-Community Partnerships for Health in Indonesia (CCPHI), sebuah program yang didanai oleh Ford Foundation.
Studi kasus ini dibuat berdasarkan presentasi dari Mignonne Maramis Akiyama, Direktur Komunikasi dan Lingkungan – Tetra Pak Indonesia, dan Paola Cannucciari,
Direktur dan co-founder ecoBali, di sesi ke-22 Health and Business Roundtable Indonesia (HBRI). Dian Rosdiana mempersiapkan studi ini berdasarkan konsultasi
dengan Tetra Pak Indonesia dan ecoBali.
Untuk informasi lainnya mengenai Proyek CCPHI dan Health & Business Roundtable Indonesia
Silakan hubungi Kemal Soeriawidjaja, CCPHI Executive Director, di [email protected]
atau Dian Rosdiana, CCPHI Communication Officer, di [email protected],
atau kunjungi kami di www.ccphi.org
© CCPHI, Desember 2013.
4
Fly UP