...

PARTISIPASI MASYARAKAT SEKITAS SUNGAI KAPUAS DALAM

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

PARTISIPASI MASYARAKAT SEKITAS SUNGAI KAPUAS DALAM
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
PARTISIPASI MASYARAKAT SEKITAS SUNGAI KAPUAS DALAM
MENJAGA KEBERSIHAN LINGKUNGAN DI KELURAHAN ILIR
KOTA KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU
By:
FIRMANSYAH
NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Tanjungpura Pontianak, 2015.
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Jurnal ini dimaksud untuk menggambarkan “Partisipasi Masyarakat disekitar tepian Sungai Kapuas Dalam
Menjaga Kebersihan Lingkungan Sungai Kapuas Di Kelurahan Hilir Kota Kabupaten Sanggau”. Adapun metode
penelitian yang penulis gunakan yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasi penelitian menunjukan bahwa
partisipasi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai kapuas di kelurahan hilir kota masih rendah, hal ini
dipengaruhi oleh kebiasaan yang dilakukan sejak lama dan indikator yang mempengaruhi hal tersebut
diantaranya yaitu masyarakat masih beranggapan membuang sampah kesungai sangatlah mudah dan praktis,
serta sarana prasarananya seperti tempat pembungan sampah masih kurang sehingga masyarakat dengan
mudahnya membungan sampah ke sungai. Berdasarkan pengamatan, diperoleh informasi bahwa karakteristik
sungai kapuas sebagai bagian dari ruang lingkup pemukiman ini memicu perilaku warga utuk memusnahkan
atau membuang sampahnya di sungai. Keadaan sungai yang sangat lebar, dan arus air sungai yang cenderung
deras, menjadikan sampah-sampah yang dibuang ke sungai solah-olah tidak berarti dalam pencemaran sungai.
Untuk mengurangi hal tersebut sebaiknya diberikan sarana tempat-tempat sampah yang lebih terjangkau dengan
pemukiman warga sehingga warga yang dapat dengan mudah membuang sampahnya ke tempat yangsudah
disediakan tanpa membuang sampahnya lagi ke sungai dan pengadaan kegiatan gotong royong warga untuk
membersihkan lingkungan sekitar sungai serta memberikan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan
lingkungan dan dampak dari membuang sampah sembarangan dengan demikian akan membangkitkan tingkat
kesadaran masyarakat dalam hal menjaga kebersihan lingkungan.
Kata-kata kunci : Pertisipasi Masyarakat, Kebersihan Lingkungan dan Sungai Kapuas
1
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
PUBLIC PARTICIPATION SEKITAS KAPOEAS IN
ENVIRONMENTAL HEALTH KEEPING IN ILIR SUB DISTRICT CITY
DISTRICT KAPUAS SANGGAU
By:
FIRMANSYAH
NIM. E11107032
Science Program Sosiatri Faculty Of Social Science And Political Science Tanjungpura
University. Pontianak 2015
E-mail: [email protected]
ABSTRACT
The journal is intended to describe the "Public Participation around the banks of the Kapuas In Keeping
Environmental Health On the Kapuas River Village Downstream Sanggau City". The research method I use is
descriptive qualitative research method. Hasi research shows that the participation of people living in villages
around the Kapuas river in the downstream city is still low, it is influenced by the custom for a long time and
indicators that affect it such that people still assume throw garbage into the river is easy and practical, as well as
infrastructure facilities such a waste dumps still less so that people easily membungan garbage into the river.
Based on the observations, obtained information that the characteristics of the Kapuas river as part of the scope
of this settlement triggers the behavior of citizens weeks to destroy or dispose of their garbage in the river. The
state of the river was very wide, and the flow of river water tends to heavy, making the garbage being dumped
into the river as if to does not mean the river pollution. To reduce these should be given the means waste places
that are more affordable with the residents so that residents can easily dispose of their garbage into place that are
already provided at no longer dispose of their garbage into rivers and procurement activities of mutual
cooperation of citizens to clean up the environment around the river and provide the socialization of the
importance of keeping the environment and the effects of littering will thus raise the level of awareness in terms
of keeping the environment clean.
Keywords: Public participation, Environmental Health and Kapuas River
2
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
sarana
A. Pendahuluan
Kebersihan sebuah cerminan bagi
setiap individu dalam menjaga kesehatan
komunikasi
membentuk
dalam
suatu
rangka
himpunan
kemasyarakatan.
yang begitu penting dalam kehidupan
Lingkungan
merupakan
tempat
sehari-hari, kebersihan merupakan suatu
hidup manusia. Oleh karena itu sudah
keadaan yang bebas dari segala kotoran,
sepatutnya jika menjadikan lingkungan
penyakit, dan lain lain, yang dapat
tempat
merugikan segala aspek yang menyangkut
mungkin, sehingga dapat menimbulkan
setiap kegiatan dan perilaku lingkungan
suatu keselarasan bagi individu yang
masyarakat. Dan sebagaimana diketahui
mendiaminya. Salah satu cara untuk
bahwa kehidupan manusia sendiri tidak
menjaga kenyamanan lingkungan yaitu
bisa dipisahkan baik lingkungan alam
dengan
maupun lingkungan sosial. Maka sebagai
memprioritaskan
individu harusnya segala aspek yang ada
kebersihan individu maupun kebersihan
dalam masyarakat harus dapat menjaga
lingkungan tempat tinggal. Kebersihan
kebersihan lingkungan.
lingkungan merupakan salah satu hal yang
Lingkungan
cara
menjadi
senyaman
mencanangkan
kebersihan,
dan
baik
itu
tempat
penting dalam masyarakat. Salah satunya
mana
yaitu kebersihan lingkungan masyarakat
merupakan salah satu elemen kehidupan.
yang tinggal di sekitar sungai. Sungai
Lingkungan merupakan salah satu faktor
biasanya menjadi tempat yang paling
yang
mudah bagi sebagian masyarakat untuk
dimana
manusia
dapat
merupakan
tinggal
hidup,
yang
mempengaruhi
kehidupan
manusia. Lingkungan dapat mewarnai
membuang
segala aktifitas kehidupan manusia, mulai
masyarakat yang tinggal di sekitar sungai.
dari gaya hidup, cara berprilaku, pola pikir,
Pada akhirnya sungai menjadi kotor dan
bahkan kepribadian. Di dalam lingkungan
tercemar sehingga tidak baik digunakan
dimana manusia hidup terdiri dari berbagai
untuk keperluan sehari-hari, bahkan dapat
elemen, yang merupakan faktor pembentuk
menimbulkan berbagai macam penyakit
lingkungan
seperti diare.
masyarakat.
Lingkungan
masyarakat merupakan kumpulan dari
sampah,
Kebiasaan
terlebih
masyarakat
lagi
dalam
berbagai individu manusia yang saling
membuang sampah sembarangan di sungai
berinteraksi dan mempunyai suatu tujuan
sering dijumpai pada beberapa masyarakat
tertentu. Interaksi antar individu tersebut
yang hidup di sekitar sungai, seperti pada
mengakibatkan
masyarakat
suatu
hubungan
kekerabatan yang dapat dijadikan suatu
di
Kelurahan
Hilir
Kota
Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau.
3
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
Penelitian ini dilakukan pada masyarakat
Berkaitan
dengan
perilaku
yang tinggal di sekitar sungai kapuas
masyarakat dalam menjaga lingkungan,
Kelurahan Hilir Kota Kecamatan Kapuas
kebiasaan membuang sampah di sungai
Kabupaten
Berdasarkan
telah dilakukan sejak lama yaitu sejak
pengamatan di lapangan, dapat dilihat
turun temurun oleh masyarakat tersebut.
bahwa masyarakat yang tinggal di tepian
Terlebih lagi di daerah tepian sungai
sungai kapuas tersebut selalu membuang
kapuas tersebut terdapat pasar tradisional
sampah-sampah rumah tangga baik yang
tempat dimana orang-orang berbelanja
organik maupun non organik seperti sisa
setiap harinya untuk membeli kebutuhan
makanan yaitu sayuran, buah-buahan, sisal
sehari-hari.
auk pauk dan non organik seperti plastik
sampah-sampah hasil kegiatan di pasar
wadah
kertas,
tersebut juga kerap dibuang masyarakat ke
plastik mainan, botol dan gelas minuman,
sungai kapuas yang letaknya tepat di tepian
kaleng, kayu, dan sebagainya.
Hal ini
sungai kapuas. Berhubung pasar tersebut
menjadi
peneliti
terletak di tepi sungai, maka dengan
merasa perlu untuk membahasnya dalam
mudahnya masyarakat selalu membuang
penelitian ini.
sampah ke sungai sehingga semakin
Sanggau.
pembungkus
makanan,
permasalahan
Upaya
yang
peningkatan
kualitas
lingkungan permukiman, saat ini juga
sedang
intensif
Pemerintah
Pembinaan
dalam
dilaksanakan
strategi
adalah
membuat kesan kumuh pada lingkungan
sekitar sungai.
oleh
Kurangnya kesadaran masyarakat
Sanggau.
untuk menjaga kebersihan lingkungan
peran
masyarakat
sekitar sungai kapuas dalam hal ini
sampah
merupakan
membuang sampah ke sungai, menjadi
Kabupaten
kepada
mengelola
Permasalahannya
pengelolaan
yang
kebiasaan yang selalu dilakukan sehari-
dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten
hari. Padahal pihak pemerintah daerah
Sanggau.
peran
telah menyediakan tempat pembuangan
masyarakat dalam pengelolaan sampah
sementara di kawasan sekitar pasar yang
perkotaan
jaraknya
Penguatan
seperti
sampah
pada
tersebut
di
atas
tidak
terlalu
jauh.
Namun
dilatarbelakangi oleh kondisi penambahan
sebagian besar masyarakat masih saja tidak
jumlah penduduk Kabupaten Sanggau
mau
yang meningkat secara signifikan dewasa
pembuangan
ini yang berdampak kepada peningkatan
disediakan. Setiap hari petugas dari dinas
volume sampah domestik.
kebersihan selalu mengangkut sampah-
membuang
sampah
pada
sampah
sementara
tempat
di
yang
tempat
telah
pembuangan
4
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
sementara yang telah disediakan, sehingga
keberhasilan (keterpaduan) yang teratur
sampah-sampah tersebut tidak sempat
untuk menanggapi kondisi lingkungan
menumpuk
terlalu
sehingga
masyarakat
tetap
banyak.
saja
Namun
tidak
mau
masyarakat
tersebut
dapat
bertindak sesuai dengan logika dari yang
membuang sampah pada tempat yang telah
dikandung
disediakan.
tersebut (Adjid 1985:78). Menurut Ach.
Apalagi para pedagang di pasar
oleh
kondisi
lingkungan
Wazir Ws., et al. (1999: 29) partisipasi
tersebut juga jarang membuang sampah ke
bisa
tempat pembuangan sementara. Hanya
seseorang secara sadar ke dalam interaksi
pedagang yang lapaknya terletak sangat
sosial dalam situasi tertentu. Dengan
dekat
pengertian
dengan
tempat
pembuangan
diartikan
sebagai
itu,
keterlibatan
seseorang
bisa
sementara yang membuang sampah pada
berpartisipasi bila ia menemukan dirinya
tempat sampah yang telah disediakan.
dengan atau dalam kelompok, melalui
Sedangkan
sebagian
berbagai proses berbagi dengan orang lain
membuang
sampah
besarnya
hasil
selalu
kegiatan
dalam
hal
nilai,
tradisi,
perasaan,
berjualan ke sungai yang dekat lapak-lapak
kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab
para pedagang, sehingga sangat mudah
bersama.
bagi mereka untuk membuang sampah ke
sungai.
Kemudian
masyarakat
yang
Partisipasi
masyarakat
menurut
Isbandi (2007:27) adalah keikutsertaan
rumahnya berada di pinggiran sungai juga
masyarakat
mempunyai kebiasaan seperti itu. Mereka
pengidentifikasian masalah dan potensi
lebih memilih membuang sampah rumah
yang ada di masyarakat, pemilihan dan
tangga
pengambilan keputusan tentang alternatif
ke
sungai
dibanding
harus
dalam
membuang sampah ke tempat pembuangan
solusi
sementara dikarenakan lebih praktis. Hal
pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan
ini lah yang menjadi kebiasan yang terus
keterlibatan
menurus
mengevaluasi
dilakukan
masyarakat
yang
tinggal di sekitar Sungai Kapuas tersebut.
untuk
proses
menangani
masyarakat
masalah,
dalam
perubahan
proses
yang terjadi.
Partisipasi adalah proses aktif dan inisiatif
yang muncul dari masyarakat serta akan
terwujud sebagai suatu kegiatan nyata
B. TINJAUAN LITERATUR
apabila
terpenuhi
oleh
3
faktor
pendukungnya yaitu : adanya kemauan ,
Partisipasi merupakan kemampuan
dari masyarakat untuk bertindak dalam
kemampuan
dan
kesempatan
untuk
berpartisipasi (Slamet : 1992). Sutrisno
5
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
(2005:207)
adalah
mendifinisikan
“kerjasama
pemerintah
antra
dalam
melaksanakan,
partisipasi
rakyat
dan
dan
mengembangkan hasil pembangunan.
diartikan
yang
dikerjakan
dimasyarakat lokal.
merencanakan,
melestarikan
Partisipasi
pembangunan
Penelitian ini menggunakan jenis
penelitian kualitatif dan metode yang
digunakan adalah penelitian deskriptif
sebagai
yaitu
bermaksud
untuk
keikutsertaan seseorang secara sukarela
gambaran
tanpa dipaksa sebagaimana yang dijelaskan
sistematis dan akurat dari objek yang
Sastropoetro (1988) dalam Lugiarti (2004)
diteliti. Objek yang diteliti di sini yaitu
bahwa
tentang partisipasi masyarakat yang tinggal
partisipasi
adalah
keterlibatan
dengan
menjelaskan
di
tanggung jawab terhadap kepentingan
kebersihan
kelompok untuk mencapai tujuan. Menurut
kelurahan Hilir kota, Kecamatan Kapuas
Mubyarto (1985) dalam Lugiarti (2004),
Kabupaten Sanggau.
sebagai
kesadaran
untuk
sungai
dalam
secara
secara spontan dengan kesadaran disertai
partisipasi
sekitar
menganalisa
lingkungan
Penelitian
sungai,
deskriptif
ini
di
juga
membantu berhasilnya setiap program
bertujuan
sesuai dengan kemampuan setiap orang
menggambarkan
tanpa berarti mengorbankan kepentingan
adanya.
diri sendiri. Partisipasi sangat penting
permasalahannya
dalam pembangunan, karena pembangunan
sehingga peneliti ingin menggali lebih
merupakan
banyak
kegiatan
yang
untuk
menjaga
mengklarifikasi
suatu
masalah
Informasi
sudah
informasi
dan
apa
tentang
ada
sedikit,
untuk
dapat
berkesinambungan. Dalam pembangunan
menggambarkan permaslahan secara jelas
seperti itu sangat dibutuhkan pelibatan
dan sistematis. Di samping itu, untuk
orang sebanyak mungkin. Sehingga tanpa
memperoleh
partisipasi
masyarakat
permasalahan yang diteliti, maka diambil
pembangunan sukar dapat berjalan dengan
langkah penelitian yaitu dengan melakukan
baik.Partisipasi masyarkat dapat diartikan
penelitian lapangan yang artinya suatu
sebagai
sertaan
penelitian yang dilakukan pada obyek dan
Adisasmita
subyek yang melalui pengamatan secara
(2006:38) menyatakan bahwa partisipasi
langsung maupun tidak langsung guna
adalah keterlibatan dan pelibatan anggota
memperoleh data primer dan skunder.
dari
sleuruh
keikut
masyarakat.selanjutnya
masyarakat dalam pembangunan meliputi
kegiatan
pelaksanaan
dalam
perencanaan
program
atau
informasi
sesuai
dengan
Data primer merupakan data yang
dan
didapat dari sumber pertama, baik dari
proyek
individu seperti hasil wawancara yang
6
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
biasa
dilakukan
peneliti.
mengarah pada penyusunan abstraksi yang
Sedangkan data skunder merupakan data
berdasarkan data dan informasi maupun
primer yang diperoleh oleh pihak lain atau
pengamatan yang telah di kumpulkan dan
data primer yang telah diolah lebih lanjut
di kelompokan. Seluruh data kualitatif
dan disajikan baik oleh pengumpulan data
yang telah terkumpul dari hasil penelitian
primer atau oleh pihak lain yang pada
di lapangan ditelaah,reduksi kemudian
umumnya disajikan dalam bentuk tabel-
diabstraksikan sehingga terbentuk satuan
tabel
untuk
informasi. Satuan informasi ini ditafsirkan
tambahan,
dan di olah menjadi kesimpulan. Analisi
atau
seorang
diagram.
memberikan
Gunanya
gambaran
gambaran pelengkap ataupun untuk proses
data
lebih lanjut.
penyederhanaan data ke dalam bentuk
Analisis
data
adalah
ini
bertujuan
untuk
proses
proses
yang lebih mudah dibaca. Analisis data
penyusunan data agar dapat ditafsirkan
memiliki 3 komponen yang secara rinci
yang berarti menggolongkan kedalam satu
dapat dijabarkan sebagai berikut :
pola tertentu kemudian diinterpretasikan
atau memberi makna, mencari hubungan
1. Reduksi Data
antara data dengan berbagai konsep data
Reduksi
data
sebagai
proses
dan dipilih sesuai dengan masalah yang
pemilihan penyederhanaan pengelompokan
diteliti, sehingga dapat mudah dipahami,
dan tranformasi data kasar yang terdapat
dan
pada cacatan-catatan tertulis di lapangan.
temuannya
dapat
diinformasikan
kepada orang lain.
Reduksi data dilakukan peneliti dengan
Analisis data dilakukan dengan
cara
menajamkan,
menggolongkan,
mengorganisasikan data, menjabarkannya
mengarah, membuang yang tidak perlu dan
kedalam unit-unit, menyusun kedalam
mengorganisasikan
pola, memilih mana yang penting dan yang
sedemikian rupa sehingga kesimpulan-
akan dipelajari dan membuat kesimpulan.
kesimpulan akhirnya dapat ditarik oleh
Lebih lanjut di ungkapkan oleh Moleong
peneliti.
(2005:289)
kualitatif
mendefinisikan
adalah
mendeskripsikannya,
dan
data
dengan
cara
analisis
dengan
2. Penyajian Data
melihat
Dalam
penyajian
data,
peneliti
bagaimana konsep-konsep yang muncul
mengumpulkan informasi yang disusun
satu dengan yang lainnya saling berkaitan.
sebagai dasar pijakan kepada peneliti
Analisis data kualitatif ini tidak
menguji
hipotesis,
melainkan
lebih
untuk melakukan suatu pembahasan dan
pengambilan kesimpulan. Penyajian ini,
7
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
kemudian
untuk
menggabungkan
Pengelolaan sanitasi lingkungan ini
informasi yang disusun dalam bentuk yang
merupakan hasil dari perpaduan antara
terpadu sehingga mudah diamati apa yang
nilai-nilai individu, budaya organisasi dan
sedang
masyarakat. pengelolaan prasarana sanitasi
terjadi
kemudian
menentukan
penarikan kesimpulan secara benar.
lingkungan karena adanya hubungan baik
antara
kelompok-kelompok
masyarakat
terutama kualitas masyarakat dan kapasitas
3. Verifikasi Data
Verifikasi data dimaksudkan untuk
mereka untuk menjadi lebih berkelanjutan
meninjau ulang pada catatan lapangan atau
terletak dalam hubungan baik yang sama-
pemikiran kembali yang melintas dalam
sama ingin mewujudkan dan mengelola
pikiran peneliti selama menulis.
lingkungan.
Sanitasi lingkungan adalah sikap
pembiasaan
pola
hidup
bersih
yang
mencegah diri sendiri dan lingkungannya
C. Pembahasan
baik itu dari bersentuhan langsung dengan
1. Pengelolaan
Lingkungan
pada
Aspek
Sanitasi
Lingkungan
Masyarakat di Lingkungan Sungai
Kapuas
Kurangnya kepedulian masyarakat
terhadap lingkungan, dapat
menimbulkan dan menjadi sarang bibit
penyakit. Kebiasaan seperti membuang
sampah sembarangan adalah salah satu
ketidak
terhadap
pengelolaan
pedulian
lingkungannya.
lingkungan
masyarakat
Dalam
masyarakat
memiliki peranan yang sangat penting
sehingga dalam pengelolaan lingkungan
yang beraspek pada sanitasi lingkungan
masyarakat terlibat langsung dalam peran
tersebut.
bertujuan
untuk
menjaga
dan
meningkatkan kesehatan manusia dan
lingkungannya.
Sanitasi ini mencakup perumahan,
membuat
lingkungan menjadi kotor dan dapat
contoh
kotoran atau buangan bahaya lainnya yang
pembuangan
kotoran,
penyediaan
air
bersih, dan lain sebagainya. Lingkungan
yang sanitasinya buruk akan membawa
dampak
buruk
pula
bagi
kesehatan
manusia
yang
tinggal
di
lingkungan
tersebut. Untuk itu, lingkungannya harus
tetap dijaga sanitasinya, menjaga sanitasi
bisa
dimulai
dari
rumah
kemudian
lingkungan sekitar.
Dalam
lingkungan
upaya
tidaklah
menjaga
susah
sanitasi
melainkan
banyak faktor-faktor yang membuat kita
sering mengabaikan hal tersebut seperti
contohnya kurangnya kesadaran kita dalam
8
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
menjaga kebersiahan lingkungan yaitu
penyakit-penyakit
membuang sampah sembarangan.
pengelolaan air minum dan sanitasi yang
Banyak cara untuk menciptakan
lingkungan
bersih
dengan
lainnya.
Sebaliknya,
baik akan berdampak pada peningkatan
sanitasi
ekonomi, mengurangi prevalensi penyakit,
lingkungannya yang baik, misalnya saja
meningkatkan produktivitas Masyarakat,
dengan
serta mengurangi polusi dari sumber air.
membuang
sampah
pada
tempatnya atau mengolah sampah yang
Kondisi
kesehatan
masyarakat
masih bias didaur ulang kembali menjadi
Kabupaten Sanggau dapat terlihat dari
menjadi sesuatu yang berguna sehingga
jumlah
sampah yang bertumpuk dan berserakan
penyakit menular akibat sanitasi buruk dan
tidak mengotori lingkungan dan menbuat
kondisi polah hidup masyarakat yang
sanitasinya menjadi buruk.
menyangkut sanitasi. Dari data Profil
Selain
tempatnya,
dilakukan
membuang
sanitasi
dengan
sampah
penyakit,
terutama
pada
Kesehatan Kabupaten Sanggau tahun 2011
dapat
diperoleh bahwa jumlah rumah tangga
saluran
yang telah menerapkan perilaku hidup
lingkungan
mengontrol
timbulan
pembuangan air dari rumah yang menuju
bersih
pada saluran air(selokan). Pengecekan ini
60,01%. Angka tersebut cukup tinggi dan
harus dilakukan agar saluran air dari rumah
menunjukkan bahwa masyarakat Sanggau
itu dapat mengalir dengan baik ke selokan
telah menerapkan pola hidup sehat di
sehingga tidak menbuat genangan pada
keluarganya masing-masing. Sedangkan
lingkungan sekitar, apabila ada genangan
jumlah kasus penyakit menular yang
air
diakibatkan sanitasi buruk seperti diare
pada
lingkungan
maka
dapat
menimbulkan bibit penyakit. Kita semua
dan
sehat
(PHBS)
sebanyak
ditemukan sebanyak 8.874.
tahu bahwa air adalah sumber kehidupan
semua makhluk hidup yang ada dibumi ini
dan air bersih sangat kita perlukan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,
2. Pengelolaan
Lingkungan
Aspek Penanganan Sampah
Peraturan
Daerah
pada
Kabupaten
seperti untuk air minum, memasak, mandi,
Sanggau No. 2 Tahun 2009 tentang
mencuci, dan lain sebagainya.
Ketertiban Umum pada bab III Pasal 17
Ketidak
akan
ayat (1) menjelaskan : Setiap orang atau
memiliki
badan hukum dilarang membuang sampah
Dampak yang buruk dan berpengaruh
atau menumpuk sampah di jalan-jalan,
langsung terhadap kesehatan
jalur hijau, taman, sungai, parit, selokan,
pentingnya
ancaman
pedulian
sanitasi
diare,
warga
maka
penyakit
seperti
kulit,
dan
salurangan pembuangan air dan tempat9
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
tempat umum lainnya, kecuali di tempat-
“Sudah ada sosialisasi di kelurahan tentang
tempat sampah yang telah ditetapkan oleh
persampahan
Bupati.
diharapkan bisa mengelola sampahnya
Program Badan Lingkungan Hidup,
Kebersihan
dan
mana
masyarakat
sendiri mulai dari hal kecil saja yaitu
Kebakaran
penanganan sampah dengan memisahkan
Kabupaten Sanggau merupakan penjabaran
sampah basah dan sampah kering serta
langkah-langkah
bagaimana mengolah sampah tersebut.
menjabarkan
Pemadam
di
yang
diambil
untuk
yang
telah
kebijakan
ditetapkan.
Agar
tercapai
Dan
juga
ada
sosialisasi
tentang
sasaran
pencanangan motor sampah yang akan
meningkatnya pengelolaan persampahan di
beroperasi setiap minggu di lingkungan
Kabupaten Sanggau, ditetapkan program
rumah” (wawancara pada tanggal 22 Maret
peningkatan
2014)
kinerja
pengelolaan
persampahan. Kemudian untuk mencapai
Menurut Budi Aji juga menyatakan
sasaran dalam meningkatkan kualitas kota,
bahwa :
ditetapkan program sebagai berikut:
“Kalau sosialisasi tentang pengelolaan
a. Penyediaan
lahan
terbuka
(open
space) untuk TPA
sampah sudah pernah ada. Yang dibahas
itu masyarakat juga punya tanggung jawab
b. Pengadaan
tempat-tempat
terhadap pengelolaan sampah sehingga
pembuangan sampah di lingkungan
diperlukan
kota, seperti pasar, pinggiran sungai
masyarakat agar bisa mengolah sampahnya
dan sekitar rumah padat penduduk.
sendiri dan mengubahnya menjadi lebih
c. Peningkatan
partisipasi
masyarakat
terhadap kebersihan kota. Diantaranya
dengan memberikan penyuluhan dan
larangan
partisipasi
langsung
dari
bermanfaat” (wawancara pada tanggal 22
Mei 2014).
Kemudian pernyataan masyarakat
membuang
smapah
berdasarkan pertanyaan peneliti mengapa
terutama
membuang
masyarakat masih membuang sampah ke
sembarangan,
sampah di aliran sungai kapuas.
Sungai, dan mengapa masyarakat masih
Kemudian
pernyataan
enggan membuang sampah pada tempat
pertanyaan
yang telah disediakan oleh Pemerintah ?
masyarakat
peneliti
sosialisasi
yang
pada
berdasarkan
apakah
dan
sudah
program
pernah
ada
pengelolaan
Berdasarkan
informan
yaitu
menurut
Januardi menyatakan bahwa :
sampah oleh Pemerintah menurut beberapa
“Karena membuang sampah kesungai
informan
sangatlah praktis dan mudah, dank arena
yaitu
:
Menurut
menyatakan bahwa :
Kartini
rumah saya tidak jauh dari sungai jadi
10
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
membuang sampah tinggal saya lemparkan
dan lain sebagainya yang sebenarnya yang
saja ke sungai dan kalau saya membuang
harus dilakukan masyarakat tersebut.
sampah ke tempat yang sudah disediakan
Pengelolaan sampah yang sederhana
pemerintah agak sedikit jauh dari rumah,
sebenarnya dapat dilakukan dengan cara
jadi membuang sampah lebih dekat ya
memisahkan sampah yang basah dan
buang ke sungai.”
sampah yang kering. Pengelolaan sampah
Menurut
Syabransyah
juga
yang
kering
bisa
terlebih
dahulu
menyatakan :
dikumpulkan atau dipisahkan kemudian
“Karena membuang sampah ke sungai
dimasukan kedalam kantong plastic atau
merupakan hal yang sederhana dilakukan.
tempat khusus untuk sampah yang kering
Kemudian,
tempat-tempat
bisa juga dengan cara dibakar pada tempat
pembuangan sampah (tong sampah umum)
yang sudah tersedia atau tempat yang biasa
pengadaannya masih sedikit dan jarak
untuk membakar sampah sehingga pada
antara rumah penduduk cukup jauh dari
saat membakar sampah tersebut tidak
tempat-tempat pembuangan sampah yang
menimbulkan
ada.”
lingkungan sekitar.
karena
Masyarakat
sebagai
sehingga
tidak
terhadapa
objek
pembinaan tidak mengerti arahan-arahan
pembinaan
bahaya
tanggap
terhadap permasalahan persampahan di
3. Program
Gerakan
Menuju
Masyarakat
Kabupaten
Sangau
Ramah Lingkungan, Bersih, Indah
dan Aman 2014
wilayahnya. Di sisi lain pelaksanaan suatu
kegiatan program biasanya terdapat proses
monitoring dan evaluasi untuk mengetahui
perkembangan program.pada pengelolaan
sampah di kelurahan ilir kota terutama
masyarakat yang tinggal di dekat pinggiran
sungai bahkan yang mendiami tepat di atas
bibir sungai Kapuas tersebut dalam hal
pengelolaan sampah pada umumnya tidak
juga masyarakat tersebut tidak mengetahui
bagaimana pengelolaan sampah baik itu
sampah yang berasal dari rumah tangga,
pasar, perkantoran maupun tempat hiburan
Masyarakat yang tinggal didekat
aliran sungai Kapuas dan masyarakat yang
tinggal
tepat
diatas
bibir
sungai
di
lingkungan sungai Sungai Kapuas di
kelurahan Ilir Kota pada kenyataannya
masyarakat
tersebut
tidak
seluruhnya
mengetahui tentang Program Gerakan
Menuju Masyarakat Kabupaten Sangau
Ramah Lingkungan, Bersih Indah dan
Aman 2014. Hal ini dikarena masyarakat
tersebut memiliki aktifitasnya
masing-
masing yang sangat beragam,lain halnya
pada kalangan masyarakat yang tingkat
11
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
kesadaran
dalam
hal
menjaga
(Tempat Pembuangan Akhir). Untuk Kota
kebersihannya sudah baik mungkin tanpa
Sanggau, TPA yang ada sekarang terdapat
mengetahui
di
program
pemerintah
Dusun
Sungai
Kosak
Kecamatan
masyarakat tersebut sudah mengerti arti
Kapuas. Sedangkan Tempat Pembuangan
menjaga
dan
Sementara (TPS) tersebar di 68 lokasi
mamfaat dalam menjaga lingkungan. Dari
dengan kondisi yang relatif masih baik.
berbagai
masyarakat
Berikut ini adalah data TPS dalam Kota
tersebut maka masyarakat mungkin ada
Sanggau dan Ibu Kota Kecamatan di
yang mengetahui dan ada yang belum
Kabupaten Sanggau.
kebersihan
ragam
mengetahui
umumnya
lingkungan
aktifitas
program
tersebut,
masyarakat
yang
pada
tinggal
Perilaku
memanfaatkan
warga
sungai
yang
kadang
sebagai
tempat
disepanjang sungai Kapuas di kelurahan
pembuangan sampah sampai saat ini,
ilir kota sebenarnya dalam hal menjaga
masih sering terjadi. Untuk mengurangi
lingkungan pasti sudah mengerti mungkin
kebiasaan masyarakat tersebut, tentunya
pada prakteknya saja yang belum semua
tidak terlepas dari pembinaan oleh pihak-
masyarakat tersebut melakukannya dengan
pihak terkait yang ada dikelurahan maupun
baik
pada pemerintah daerah.
Pengelolaan
sampah
yang
Pola pembinaan yang dimaksud,
dilakukan masyarakat masih kurang efektif
yaitu dengan mengundang perwakilan dari
sehingga dampaknya sering menimbulkan
Ketua RT dan Ketua RW maupun pemuka
bau yang kurang sedap dan mengganggu
masyarakat untuk memberikan sosialisasi
kesehatan serta kenyamanan lingkungan.
atau pembinaan mengenai penanganan
Hal ini disebabkan semakin bertambahnya
serta pengelolaan sampah yang baik, Pola
peningkatan timbunan sampah khususnya
pembinaan
di TPS-TPS yang ada seperti cintoh TPS
masyarakat atau warga sebagai obyek
yang didekat pasar senggol dan pinggiran
pembinaan secara langsung menyebabkan
sungai pasar senggol.
masyarakat
Dampak yang ditimbulkan adalah
pencemaran
lingkungan
yang
selalu
yang
tidak
belum
menjadikan
mengetahui
arah
program pembinaan yang dilaksanakan.
Dan
dari
aparatur
atau
perangkat
meningkat dari tahun ke tahun, tidak
pemerintah desa maupun tokoh-tokoh di
terkecuali di Kabupaten Sanggau. Dengan
lingkungan Sungai Kapuas di kelurahan
selalu mengandalkan
pola kumpul –
Ilir Kota seharusnya selalu memberikan
angkut – buang, maka beban pencemaran
contoh ,dorongan dan memonitoring hasil
akan selalu menumpuk di lokasi TPA
pembinaan dalam pengelolaan sampah
12
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
serta juga memberikan kontribusi terhadap
air sungai yang secara kontinu terjadi
stagnansi
pengelolaan
akan membersihkan sampah-sampah
sampah di wilayah ini sehingga program-
yang hanyut dan tertambat dilingkungan
program atau usaha yang dilakukan dapat
permukiman ini ataupun sampah akibat
memberikan hasil yang optimal.
perilaku pembuangan secara spontan di
perkembangan
Pada
kondisi
sampah
yang
menumpuk,
baik
volume
dan
2. Selain itu faktor sungai yang cukup
persebarannya
merupakan
satu
lebar, debit air yang cenderung stabil
indikator ada atau tidaknya pengelolaan
dan arus yang relatif deras, menjadikan
sampah yang dilakukan oleh warga atau
sampah
masyarakat
permukiman.
cenderung tampak tidak berarti dalam
Sebagian besar warga sekitar Sungai
mengotori sungai. Sehingga kondisi
Kapuas di kelurahan Ilir Kota, baik yang
tersebut
bermukim di tepian sungai maupun yang
anggapan masyarakat di sekitar sungai
bermukim
kelurahan
di
di
sebuah
sekitar
salah
jalan
masih
kolong rumah.
yang
dihanyutkan
membentuk
ilir
kota
warga
persepsi
bahwa
atau
sungai
melakukan pembuangan sampah dengan
sebagai tempat pemusnahan sampah
melempar sampah buangannya ke sungai.
yang tidak menimbulkan masalah.
3. Pola pembinaan pengelolaan sampah
permukiman dengan peran masyarakat
D. Kesimpulan dan saran
sebagai
objek
secara
mandiri,
pelaku
pengelolaan
memerlukan
suatu
pelaksanaan pembinaan atau himbauan
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan di atas,
yang
guna
membentuk
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa,
mengkondisikan
1. Karakteristik fisik Sungai Kapuas di
melaksanakan pengelolaan sampah dan
wilayah kelurahan Ilir Kota membentuk
persepsi kepada masyarakat di wilayah
masyarakat
atau
untuk
menjaga lingkungan.
4. Pembinaan pengelolaan sampah yang
ini untuk menjadikan sungai sebagai
telah
bagian dari fasilitas atau bagian yang
Kabupaten Sanggau kepada warga di
memfasilitasi
kelurahan Ilir Kota sampai saat ini
dalam
pengelolaan
diadakan
oleh
belum
Pemerintah
sampah permukiman. Faktor tersebut
cenderung
diatas didasarkan atas fakta yang terjadi
keberhasilannya.
di masyarakat kelurahan Ilir Kota
pembinaan yang tidak rutin dan pola
tentang anggapan bahwa pasang surut
pembinaan
yang
menampakkan
Pelaksanaan
tidak
menyentuh
13
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
langsung kepada masyarakat melainkan
dengan permukiman atau terjangkau
hanya dilakukan dengan perwakilan
oleh warga, sehingga warga dapat
oleh
tokoh
warga,
menjadikan
termotivasi untuk mengalihkan pola
perkembangan
upaya
pengelolaan
pemusnahan
sampahnya
sampah oleh warga di wilayah ini
pemusnahan
sampah
cenderung
dilakukan
stagnan.
Selain
itu
di
dari
yang
sungai
pola
biasa
menjadi
pelaksanaan program pembinaan yang
pemusnahan sampah yang dilakukan di
tidak disertai dengan monitoring dan
tempat sampah komunal.
evaluasi
menjadikan
program
3. Jika penyediaan sarana tempat sampah
pembinaan yang telah dilaksanakan
komunal
tidak diketahui perkembangannya oleh
selanjutnya
pemangku
pelarangan
program
pembinaan,
telah
dilaksanakan,
adalah
tahap
memberlakukan
pembuangan
atau
sehingga tidak terjadi intraksi dengan
pemusnahan sampah di sungai kepada
masyarakat
warga, selain memusnahakan sampah di
dalam
mengupayakan
keberhasilan program pembinaan.
tempat-tempat
pembuangan
sampah
komunal yang telah disediakan.
4. Pengadaan
B. Saran
sarana
pengangkutan
Di sini penulis ingin memberikan
sampah yang dilakukan secara swadaya
saran bagi diri sendiri, keluarga dan
oleh masyarakat, baik pola operasional
pemerintah
dan
khususnya
untuk
dinas
pembiayaannya.
sarana
Dengan
Kebersihan beserta dinas yang terkait juga
diadakannya
agar bisa lebih memperhatikan kondisi
tersebut diharapkan masyarakat akan
bagi para masyarakat di kelurahan Ilir Kota
terkondisikan untuk selalu mewadahi
sebagai berikut :
sampahnya
1. Upaya pembinaan pengelolaan sampah
petugas pengangkutan sampah.
sebelum
pengangkutan
diangkut
oleh
yang simultan dan kontinu kepada
5. Pengadaan kegiatan gotong royong
masyarakat, dengan diikuti upaya-upaya
warga atau pembentukan kelompok
nyata seperti pemberian tempat sampah
kerja
kepada setiap rumah tangga, guna
membersihkan timbulan sampah yang
membangkitkan motivasi warga untuk
hanyut dan tersangkut di sekitar tepian
melakukan pewadahan terhadap sampah
sungai, sehingga diharapakan dapat
yang dihasilkannya.
menjadi stimulus kepada warga untuk
2. Penyediaan
sarana
tempat-tempat
sampah komunal yang cenderung dekat
yang
difungsikan
untuk
menjaga kebersihan wilayah tepian
sungai dari timbulan sampah.
14
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Sociodev, Jurnal S-1 Ilmu Sosiatri Volume 4 Nomor 2 Edisi Juni 2015
http://jurmafis.untan.ac.id
REFERENSI
Moleong, Lexi, J . 2005. Penelitian
Kualitatif. Bandung : PT . Remaja
Rosdakarya.
Ach. Wazir Ws., et al., ed. (1999).
Panduan Penguatan Manajemen
Lembaga
SwadayaMasyarakat.
Jakarta: Sekretariat Bina Desa
dengan dukungan AusAID melalui
Indonesia HIV/AIDS and STD
Prevention and Care Project.
Slamet,
Y.
(1992).
Pembangunan
Masyarakat
Berwawasan
Partisipasi. Yogyakarta: Sebelas
Maret University Press.
Adjid, D. A. 1985. Pola Partisipasi
Masyarakat
Desa
dalam
Pembangunan
Pertanian
Berencana. Bandung: Orbit Sakti.
Tata Pemerintahan Kab. Sanggau. (2009).
Perda Nomor 2 Tahun 2009 Tentang
Ketertiban Umum.
Adisasmita, Raharjo, 2006. Pembangunan
Pedesaan dan Perkantoran, Graha
Ilmu Yogyakarta.
Isbandi
Rukminto
Adi.
(2007).
Perencanaan Partisipatoris Berbasis
Aset Komunitas: dari Pemikiran
Menuju Penerapan. Depok: FISIP UI
Press.
Lugiarti, Eppy. 2004. Peningkatan
Partisipasi Masyarakat dalam Proses
Perencanaan
Program
Pengembangan
Masyarakat
di
Komunitas Desa Cijayanti. Tesis.
Pascasarjana, IPB
Soetrisno, Loekman. 1995. Menuju
Masyarakat Partisipatif. Yogyakarta:
Kanisius.
Undang-Undang
Republik
Indonesia
Nomor 18 Tahun 2008, Tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Kementerian Negara Lingkungan
Hidup Republik Indonesia.
Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan
Pemadam Kebakaran Kabupaten
Sanggau.
Sumber:
http://ppsp.nawasis.info/dokumen/perenca
naan/sanitasi/pokja/bp/kab.sanggau/
BAB%20III%20PROFIL%20SANITA
SI%20KOTA_OKE.doc ( diakses
tanggal 18 oktober 2014 )
15
FIRMANSYAH, NIM. E11107032
Program Studi Ilmu Sosiatri Fisip UNTAN
Fly UP