...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
http://ejournal.iain-surakarta.ac.id/index.php/al-araf
PERGESERAN PEMAKNAAN RITUAL ‘MERTI DUSUN’;
STUDI ATAS RITUAL WARGA DUSUN CELENGAN,
TUNTANG, SEMARANG
M. Aly Haedar
Pengasuh Pesantren Luhur, Universitas Wahid Hasyim, Semarang
Abstrak
Keywords:
Merti Dusun,
Shifting of
Meaning, Ritual.
‘Merti dusun’ merupakan ritual yang sudah ada jauh sebelum Islam
menjadi bagian dari kehidupan warga dusun Celengan. Ketika
Islam datang ke tanah Jawa, ritual ini pun mengalami akulturasi
dengan budaya Islam. Ritual yang pada awalnya dimaksudkan untuk
menolak bala dan meminta berkah pada Sang Pencipta, dengan
cara memberi sesaji pada tempat tertentu serta meminta izin
pada para nabi dan danyang yang menguasai tempat tertentu, mulai
mengalami pergeseran maknanya. Melalui studi ini terlihat bahwa
ritual ini mengalami pergeseran makna, baik secara individual
maupun komunal. Ada yang mengubah pemaknaan: dari penyebutan
danyang kepada para wali, ada yang menganggapnya tidak sesuai
dengan ajaran agama, ada pula yang sekedar memaknainya sebagai
sebuah kewajiban sosial.
Abstract
Ritual ‘Merti Dusun’ has been practiced by people of Celengan, far
before Islam becomes the part of their daily lives. After the coming of
Islam to Java Island, this ritual experienced acculturation with Islamic
culture. The ritual which initially was meant to refuse disaster and ask
of benediction to The Creator (God), by giving offerings to certain place
and request permit to the Prophet, and Danyang of certain place, has
shifted in the term of its meaning. This study found out that this ‘merti
dusun’ ritual has experienced meaning shift, either individually or
communally. There are altering meanings: from addressing the ritual
and prayer to danyang shifted to all of Islamic missionaries; to an
assumption that the ritual has deviated from the religious teaching; and
there is also person who simply assumed it just as social obligation.
Alamat korespondensi:
[email protected]
© 2016 IAIN Surakarta
ISSN: 1693-9867 (p); 2527-5119 (e)
2
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
Pendahuluan
Dialog budaya, antara Islam dengan keyakinan lokal terjadi hampir
di seantero Nusantara. Islam datang ke Nusantara sebagai sebuah entitas
budaya yang berbeda dengan budaya setempat. Perbedaan budaya
melahirkan akomodasi dan resistensi yang berbeda-beda di antara
masyarakat. Situasi itu pada akhirnya melahirkan apresiasi yang beragam
terhadap Islam. Maka tidak heran jika muncul ekspresi Islam yang beraneka
warna setelah bertemu dengan unsur-unsur lokalitas. Di berbagai wilayah,
termasuk di Jawa, Islam tidak saja dipandang sebagai agama universal,
namun juga akomodatif terhadap budaya lokal. Maka tidak heran jika
dikemudian lahir corak ‘Islam lokal’, yang berbeda dengan Islam di tanah
kelahirannya.
Di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogjakarta, juga terdapat varian
Islam yang bercorak khas lokal. Varian Islam di Jawa biasa disebut dengan
Islam Kejawen atau Agama Jawi. Menurut Koentjaraningrat, Islam Kejawen
adalah paham keagamaan perpaduan antara adat keagamaan asli Jawa
(animisme-dinamisme) dengan agama Hindu-Budha zaman Majapahit dan
pengaruh agama Islam pada era kerajaan Demak1.
Agami Jawi mengalami kristalisasi bersamaan dengan lahirnya berbagai
karya satstra pujangga jawa yang berisi jawanisasi ajaran Islam. Dalam
karya-karya tersebut banyak pujangga yang tidak mengindahkan aspekaspek ajaran syariat Islam, bahkan tidak sedikit yang mencampuradukkan
ajaran berbagai agama. Istilah yang sering digunakan dalam kepustakaan
Islam kejawen untuk karya satra tersebut adalah wirid, serat, suluk, dan
primbon2. Wirid, serat, dan suluk memuat ajaran-ajaran tentang mistik Islam.
Sementara primbon adalah karya sastra yang berisi ramalan, doa-doa,
mantra, berbagai tradisi ritual orang jawa, dan sebagian kecil ajaran syariat
1
2
1988),3.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984), 312
Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsito (Jakarta: UI Press,
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
3
Islam. Tradisi penulisan karya satra ini terus berkembang hingga pada
masa keraton Surakarta abad ke-19, dengan pujangga terbesarnya Raden
Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873).
Meski terjadi percamparuan berbagai ajaran agama, namun
bagi orang Jawa, karya sastra tersebut diyakini sebagai sebuah sumber
kebenaran warisan leluhur. Bagi sebagian orang Jawa yang merasa
memiliki budaya adhiluhung, mengamalkan ajaran para leluhur sebagaimana
yang tertulis dalam berbagai karya sastra adalah sebuah keniscayaan
untuk melestarikan budaya tersebut. Meski demikian, orang Jawa pada
umumnya tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan mengamalkan
ajaran Islam sebagaimana umumnya. Syariat Islam, khusunya ibadah
sholat, puasa, dan haji tetap diyakini sebagai sebuah kewajiban meski
terkadang mereka memiliki makna dan intrepretasi yang berbeda. Bagi
orang Jawa, menjalankan kewajiban agama, khususnya sholat, tidak hanya
sebatas menjalankan rukun Islam namun juga sebagai sarana mencapai
manunggaling kawulo gusti3.
Perkembangan sastra Jawa yang islami, tidak dapat dipisahkan dari
Panembahan Senopati, raja Mataram Islam yang pertama (1588-1601 M).
Dialah orang yang pertama kali menggagas dan meletakkan dasar-dasar
Islam Kejawen4. Islam Kejawen ini terus berkembang seiring kepercayaan
masyarakat Jawa, bahwa agama adalah ageming aji. Agama yang dianut
raja adalah agama yang akan menjadi panutan masyarakat. Agama-agama
seperti Hindu, Budha, dan Islam menjadi besar di Jawa karena agama
tersebut pernah menjadi agama para raja di tanah Jawa.
Sepeninggal Panembahan Senopati, keberlangsungan Islam
Kejawen mencapai kebesarannya pada masa Sultan Agung, yang bergelar
Panembahan Agung Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrahman (1613-1645).
Selain dikenal dekat dengan kaum “putihan”; santri dan ulama, Sulatan
Agung juga dikenal alim. Kedekatannya denga kaum “putihan” ini tidak
3
4
M. Hariwijaya, Islam Kejawen (Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2004), 228.
Hilman Hadikusumo, Antropologi Agama (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), 68
4
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
serta-merta menghalangi rasionalitasnya sebagai seorang raja. Bagi seorang
raja yang sedang berkuasa dan dekat dengan kebudayaan Jawa, kekuasaan
politik dan mempertahankan kebudayaan di atas segala-galanya. Sementara
agama dijadikan sebagai alat dukung terhadap pelanggengan kekuasaan5.
Setelah sukses menaklukan kesultanan di sekitar pesisir Jawa yang
didukung oleh kelompok santri, Sultan Agung segera menetapkan strategi
budaya untuk memadukan dua buadaya—pesisir dan pedalaman—demi
memantapkan kekuasaannya. Budaya pesisiran yang berbasis pada sastra
budaya agama Islam yang berbahasa Arab, dipadukan dengan budaya
kejawen berbasis sastra budaya Jawa yang berpusat di kerajaan. Sebagai
langkah awal, strategi budaya yang diterapkan adalah memadukan kalender
saka dan kalender Islam. Kalender saka adalah sistem penanggalan Jawa
yang didasarkan pada peredaran matahari. Sementara kalender Islam
adalah sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaraan rembulan.
Tidak hanya sampai di situ, Sultan Agung pun mengubah nama-nama
bulan Jawa dengan yang biasa dipakai dalam kalender Islam. Seperti bulan
Besar, Suro, Sapar, Mulud dan seterusnya. Di sinilah pertama kalinya terjadi
persentuhan dan akulturasi budaya pesisiran dan budaya pedalaman6.
Akulturasi budaya lokal dan Islam dalam sastra Jawa mengalami
puncaknya di tangan Raden Ngabehi Ronggowarsito. Selepas masa
Ronggowarsito, karya satra Jawa mengalami kemandegan seiring dengan
memudarnya kajayaan Mataram. Para pujangga yang pada masa kejayaan
Mataram mendapat keistimewaan, mulai tidak mendapatkan perhatian.
Situasi itu turut menyurutkan produktifitas para pujangga dalam
menghasilkan karya-karya bermutu. Selain itu, ditambah lagi dengan
bergabungnya kesultanan Ngayogjakarta ke Negara Republik Indonesia
pun semakin menambah redupnya sinar sastra Jawa yang berpusat di
kerajaan.
5
Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsito (Jakarta: UI Press, 1988),
6
Hilman Hadikusumo, Antropologi Agama (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), 69.
1.
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
5
Kemunduran sastra Jawa yang dibarengi dengan runtuhnya kerajaan
Jawa Islam, berdampak pada longgarnya ikatan emosional dan ketaatan
masyarakat terhadap pakem (pedoman) ajaran kejawen. Ketaatan terhadap
pakem semakin terlihat longgar pada masyarakat yang tempat tinggalnya
jauh dari pusat kerajaan. Pasalnya, semakin jauh letak (secara geografis)
penerapan sebuah ajaran dari tempat (pusat) kelahiran ajaran tersebut,
akan semakin besar peluangnya untuk mengalami reduksi dan penyesuaian.
Hal itu terjadi pula pada Islam Kejawen. Maka tidak heran jika penerapan
ajaran di satu tempat, akan berbeda dengan tempat yang lain.
Bersamaan dengan memudarnya kejayaan Islam kejawen, Islam
pesantren berkembang semakin kuat di Jawa, khususnya di daerah
pesisir Utara. Perkembangan Islam pesantren ditandai dengan berdirinya
berbagai organisasi keagamaan yang didirikan oleh para alumni Timur
Tengah. Di Yogjakarta, lahir organisasi Muhammadiyah yang mengusung
jargon “kembali pada Alqur’an dan Hadith”. Secara tegas, Muhammadiyah
menganggap bid’ah terhadap berbagai praktik ajaran Islam Kejawen.
Konsekuensinya adalah ajaran tersebut ditinggalkan, atau pelakunya
dianggap telah menjadi kufur, karena melakukan praktik ibadah yang
bernuansa syirik. Sementara di Surabaya, lahir organisasi Nahdlatul Ulama
(NU) yang dimotori oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Meski tidak setegas
Muhammadiyah dalam menilai praktik keagamaan para pengikut Islam
kejawen, namun NU berusaha meluruskan praktik ajaran Islam kejawen
yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Cara yang ditempuh
adalah dengan membiarkan bentuk praktek sebagaimana aslinya, namun
mengubah isi yang dianggap menyeleweng dari ajaran agama. Sehingga
pada akhirnya, perkembangan dan penguatan Islam Pesantren semakin
mengikis praktik-praktik ajaran Islam Kejawen yang dianggap tidak sesuai
dengan ajaran Islam. Bahkan di beberapa daerah, praktik ritual ala agami
jawi telah mengalami kepunahan.
6
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
Praktik ritual di Desa Lopait, Kecamatan Tuntang, Kabupaten
Semarang7 juga mengalami hal serupa. Praktil ritual agami jawi di sana
pun hampir mengalami kepunahan. Dari empat dusun yang ada, hanya
tinggal satu dusun yang masih nguri-uri (melestarikan) praktik budaya
tersebut, khususnya ritual merti dusun dan tambak dusun. Menurut Mbah
Rahim8, hingga pertengahan tahun 80-an, seluruh dusun di Desa Lopait
masih memprakikan ritual agami jawi. Namun setelah itu, satu persatu dari
dusun yang ada mulai meninggalkan praktil ritual agami jawi yang ada.
Hingga hari ini, tinggal Dusun Celengan yang masih melaksanakan praktik
merti dusun dan tambak dusun. Itu pun, tidak semua warga Dusun Celengan
memaknai praktik ritual merti dusun secara seragam. Dengan kata lain,
warga memiliki beragam pemahaman atas praktek dari ritual tersebut.
Melihat keragaman pemahaman, praktek, dan pemaknaan ajaran
Islam Kejawen di bergai daerah, maka tidak mustahil praktik dan
orientasi ajaran Islam Kejawen di Dusun Celengan pun telah mengalami
pergeseran. Di sinilah urgensi dari tulisan ini. Hendak melihat adanya
kemungkinan pergeseran pemaknaan dan praktik ajaran Islam Kejawen
di dusun Celengan, serta berbagai faktor yang mempengaruhi pergeseran
tersebut. Dengan pendekatan etnografis dan menganalisis data dengan
teori antropologi, khususnya teori evolusi kebudayaan, sehingga didapatlah
deskripsi tentang pergeseran makna sebuah ritual yang dilaksanakan oleh
masyarakat Dusun Celengan.
Makna Ritual
Bagi masyarakat Dusun Celengan, membawa nasi dalam bakul yang
dilengkapi dengan ayam panggang untuk dibawa ke suatu tempat yang telah
ditentukan pada hari tertentu dalam Bulan Sapar menurut penanggalan
Jawa, tidak hanya berarti pesta makan bersama, tapi juga memiliki makna
Desa Lopait terletak di jalan raya Semarang-Solo, 40 Km dari arah Semarang,
dan 60 km ke arah Solo
8
Wawancara Mbah Rahim, 30 Desember 2012.
7
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
7
ritual. Mereka yakin bahwa ritual tersebut akan lebih memberikan daya guna
jika disertai dengan sesajian. Semakin banyak orang yang tergabung dalam
ritual itu, maka diyakini akan semakin besar kemungkinan diterimanya
permohonan (doa) mereka.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ritual diartikan sebagai halhal yang berkenaan dengan tata cara dalam upacara keagamaan. Bryan
Turner memberikan definisi ritual sebagai tindakan formal tertentu dalam
sebuah upacara yang berkaitan dengan adanya kepercayaan terhadap wujud
dan kekuatan yang Supra9. Ritual senantiasa terkait dengan kekuatan dan
kepercayaan terhadap Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan pertolongan.
Ritual menjadi bagian yang penting dalam kehidupan tiap-tiap masyarakat.
Sedangkan menurut Winnick, ritual adalah seperangkat tindakan yang
senantiasa melibatkan agama atau magi, yang dimantapkan melalui tradisi10.
Dalam ranah antropologi, ritual telah lama menjadi lapangan
penelitian tersendiri bagi antropolog. Mereka meneliti ritual dari berbagai
sudut pandang. Robertson Smith mengemukakan, bahwa sebuah ritual
seringkali mengalami perubahan. Dia menemukan bahwa dalam banyak
agama, ritual dilakukan dalam bentuk kegiatan yang tetap namun latar
belakang, keyakinan, maksud atau doktrinya bisa jadi telah mengalami
perubahan. Dalam agama Rum klasik, orang Romawi memiliki tradisi
melakukan upacara untuk menghormati Dewa Rumulus yang diyakini
dapat menyembuhkan penyakit anak-anak. Upacara ini masih tetap
berlangsung sesudah orang Romawi memeluk agama Katolik. Namun
upacara yang sama, di tempat sama, tidak lagi memiliki kesamaan orientasi.
Mereka tidak lagi berorientasi pada dewa Rumulus, tetapi kepada tokoh
Santa Theodorus11.
9
Victor W Turner, The forest of symbols: Aspects of Ndembu ritual (Ithaca: Cornell
University Press, 1967), 19.
10
Nur Syam, Islam Pesisir (Jogjakarta: LKIS, 2005), 18.
11
Koenjtaraningrat, Sejarah Teori Antropologi (Jakarta: UI Press, 1987), 67.
8
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
Pengamatan Smith terhadap ritual tidak berhenti sampai di situ.
Menurutnya, ritual juga memiliki fungsi sosial, yakni untuk mengefektifkan
solidaritas masyarakat. Dalam sebuah ritual, tidak semua orang yang
ikut serta dalam ritual tersebut melaksanakannya dengan sungguhsungguh sebagai pelaksanaan kewajiban, namun tidak sedikit pula yang
melakukannya secara asal-asalan. Motivasi mereka dalam ritual tidaklah
semata-mata menunjukan bakti pada Tuhan, atau untuk menemukan
kepauasan keagamaan, tetapi menganggap ritual hanyalah sebagai
kewajiban sosial.
Di samping itu, masih menurut Smith, ritual juga dijadikan sebagai
sarana untuk memperkokoh solidaritas dengan dewa. Dewa dianggap
sebagai komunitas yang memilki derajat istimewa12. Dalam diri manusia
terdapat kesadaran bahwa ada keinginan-keinginan yang tidak dapat
dipenuhi tanpa bantuan para dewa. Agar dewa berkehendak membantu
mewujudkan keinginannya, maka manusia harus dapat membangun
solidaritas dan kedekatan dengan para dewa. Oleh sebab itu banyak
ditemukan ritual yang dilakukan dengan meriah, tetapi tetap khidmat.
Van Gennep melihat ritual dari sisi yang berbeda. Menurutnya, ritus
pada dasarnya berfungsi sebagai aktivitas untuk menumbuhkan kembali
semangat kehidupan sosial di antara warga masyarakat. Dalam tahap-tahap
pertumbuhannya sebagai individu, manusia mengalami perubahan biologis
dan lingkungan sosialnya dapat mempengaruhi jiwa dan menimbulkan
krisis mental. Untuk menghadapi perubahan–perubahan tersebut manusia
memerlukan regenerasi semangat kehidupan. Hal itu disebabkan karena
selalu ada saat-saat di mana semangat kehidupan sosial mengalami
kelesuan. Pada titik itulah ritual dilakukan untuk menumbuhkan kembali
semangat kehidupan13.
12
13
Koenjtaraningrat, Sejarah Teori Antropologi, 68
Koenjtaraningrat, Sejarah Teori Antropologi, 74-75
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
9
Dusun Celengan
Dusun Celengan merupakan bagian dari Desa Lopait, Kecamatan
Tuntang, Kabupaten Semarang. Desa lopait sendiri terdiri dari empat
dusun: yakni Dusun Lopait, Dusun Celengan, Dusun Gudang, dan Dusun
Colombo. Secara geografis, Lopait terletak di perlintasan jalan SoloSemarang, kurang lebih 45 Km dari arah Semarang, dan 60 Km menuju
kota Solo. Sebagai daerah perbukitan, Lopait berada di posisi 1500 meter
di atas permukaan laut. 85 persen wilayahnya terdiri dari perbukitan, dan
sisanya berupa dataran yang berada di pinggir Danau Rawa Pening. Dusun
Celengan sendiri berada pada bagian bukit yang paling atas. Dusun ini
rumpun dari Rukun Warga 02, yang terdiri dari 10 Rukun Tetangga.
Jumlah penduduk Dusun Celengan adalah 1593 jiwa, terdiri dari
810 laki-laki dan 783 perempuan. Mereka tergabung ke dalam 285 kepala
keluarga. Dari jumlah itu, 179 orang diantaranya adalah pemeluk agama
Kristen, empat orang beragama Katolik, dan sisanya memeluk agama
Islam. Orang Kristen tinggal menyebar di hampir seluruh RT. Mereka
hidup membaur dengan warga lainnya yang beragama Islam. Hanya di RT
05 dan 09 yang tidak ada orang Kristen.
Berdasarka mata pencaharian, pekerjaan sebagian besar penduduk
Dusun Celengan adalah swasta dan wiraswasta. Kebanyakan dari mereka
berprofesi sebagai buruh. Ada buruh pabrik, buruh tani, buruh bangunan,
dan buruh rumah tangga. Ada juga masyarakat Dusun Celengan yang
berprofesi sebagai pedagang. Hanya sedikit dari mereka yang berstatus
sebagai petani (48 orang), mengingat Dusun ini tidak memiliki areal
persawahan yang luas.
Tingkat pendidikan masyarakat dusun Celengan berkategori rendah.
Sebagian besar warganya hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP)
atau yang sederajat (369 orang). Bahkan tidak sedikit di antara mereka
yang hanya lulus Sekolah Dasar (SD) (128 orang). Ada 15 orang yang
menyelesaikan D IV/S1, dan 2 orang lulusan S2. Sisanya adalah lulusan
Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sedang menyelesaikan studi. Di luar
10
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
itu, ada dua warga yang pernah mengenyam pendidikan pesantren. Di
dusun tersebut juga terdapat dua lembaga pendidikan formal, yakni TK
Aisyiah (Islam) dan TK Piniel (Kristen)14.
Dilihat dari sisi sosio-relijius, kehidupan keagamaan tidak terlalu
menonjol di warga dusun Celengan. Dibandingkan dengan dusun-dusun
lain di lingkungan Desa Lopait, kehidupan keagamaan di Dusun Celengan
termasuk dalam kategori jauh tertinggal. Di Dusun tersebut ada dua masjid,
dua musholla, dan satu gereja. Masing-masing masjid digunakan untuk 5
Rukun tetangga (RT). Warga RT 01-05 memanfaatkan Masjid Al-Iman.
Di masjid ini, hingga pertengahan tahun 2000, pelaksanaan sholat Jumat
jamaahnya pun tergolong sedikit (tidak mencapai empat puluh orang).
Sementara di masjid Darut Taqwa yang dipimpin oleh Bapak Sutono
S.Pd.I., tokoh muda Muhammadiyah, relatif lebih tertib dalam pelaksanaan
peribadatannya. Di lingkungan masjid ini, selain ada Taman Kanak-kanak
Aisyah juga adat Taman Pendidikan Alqur’an (TPA). Namun begitu, dua
tahun belakangan ini, kegiatan pengajian (majlis taklim) mulai menggeliat.
Bahkan pengajian ibu-ibu yang dipimpin oleh pengurus Muslimat NU
Kecamatan Tuntang pun mulai berjalan rutin setiap malam Jumat, sejak
satu tahun terahir. Di luar itu, ada sekelompok kecil masyarakat dusun
Celengan yang mengikuti Tarekat Shiddiqiyh. Mereka rajin mengadakan
pengajian kelompok yang dilakukan setiap malam Minggu. Sayangnya,
kelompok ini mulai menurun aktifitasnya karena sebagian anggotanya
pergi merantau ke luar kota. Sementara kegiatan gereja tidak terlalu nampak
menonjol. Gereja tersebut tampak ramai di hari Minggu dan di hari-hari
besar keagamaan mereka, khusunya Hari Natal.
Ritual Merti Dusun
Rangkaian kegiatan merti dusun berlangsung melalui beberapa
tahap. Secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua tahap: persiapan dan
pelaksanaan. Tahap persiapan dimulai dengan kegiatan menabung. Seluruh
14
Data disarikan dari data statistic penduduk desa Lopait tahun 2011
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
11
kebutuhan finansial merti dusun diperoleh dari iuran warga. Dalam beberapa
tahun terahir, iuran berkisar antara Rp. 50.000 hingga Rp 60.000 per
kepala keluarga, tergantung jenis hiburan dan kualitas pemain yang akan
dipentaskan dalam perhelatan tersebut. Untuk meringankan beban warga,
tiap-tiap RT (Rukun Tetangga) memberlakukan kebijakan menabung
setiap kali diadakan pertemuan tingkat RT, atau yang biasa mereka sebut
dengan nama RT-an (baca: ertenan). Pertemuan ini diadakan selapan15 sekali,
dan diikutu oleh seluruh kepala keluarga yang dalam RT tersebut.
Kegiatan RT-an diadakan di rumah-rumah warga. Bergiliran dari
satu rumah ke rumah yang lain. Bagi Mereka, mengikuti kegiatan RT-an
merupakan rutinitas yang harus diikuti, tidak hanya menyerahkan uang
tabungan, tapi juga dijadikan sebagai sarana sosialisai program pemerintah
Kabupaten maupun Desa, serta rencana-rencana program Dusun maupun
RT. Selain itu, kegiatan RT-an juga menjadi ajang bersosialisai antar warga.
Selain RT-an, di Dusun tersebut juga ada kegiatan yang rutin diadakan
selapan sekali yang diikuti oleh pengurus RW, pengurus RT, Kepala
Dusun, dan tokoh masyarakat. Kegiatan ini biasa disebut dengan RW-an
(baca: erwenan). Selain sebagai sarana sosialisasi, kegiatan ini juga dijadikan
sebagai tempat untuk menyerap aspirasi warga.
Tahap selanjutnya adalah pembentukan panitia. Pembentukan
panitia dilakukan dalam rapat RW sekitar dua bulan sebelum pelaksaan
ritual merti dusun. Ketua dan bendahara dijabat secara ex officio oleh Kepala
Dusun dan Ketua RW. Selain membentuk panitia, rapat juga merancang
rencana kegiatan, jenis hiburan yang akan ditampilkan, iuran yang harus
dibayar oleh tiap kepala keluarga, pembagian tugas kerja, serta anggaran
pendapatan dan belanja. Di luar rapat RW, biasanya masih diperlukan
sekali lagi rapat untuk memantau perkembangan rencana kegiatan. Rapatrapat tersebut diadakan dalam suasana yang sederhana, tanpa perdebatan
Selapan atau satu lapan adalah siklus waktu yang didasarkan pada perputaran hari
dan pasaran menurut penanggalan Jawa. Misalnya, Senin Pon. Waktu dari satu Senin Pon
ke Senin Pon berikutnya disebut dengan selapan. Satu lapan berdurasi tetap yakni 35 hari,
sama seperti durasi satu minggu yang berjumlah tujuh hari secara tetap. Bedakan dengan
durasi satu bulan yang bisa berdurasi 28, 29,30, atau 31 hari.
15
12
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
panjang, sebagaimana kesederhanaan yang mereka tunjukan dalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam rapat RW yang terahir, sebelum pelaksanaan kegiatan merti
dusun, panita telah memiliki rancangan kegiatan yang siap dilaksanakan.
Dalam rapat tersebut panitia mengumumkan iuran yang harus dibayar
masing-masing kepala keluarga, jenis hiburan, pemain yang akan
dipentaskan, dan tahapan kegiatan merti dusun.
Pada tahun 2013, jenis hiburan yang akan dipentaskan adalah
Ringgit Purwo (wayang kulit) dengan dalang Ki Kuat dari Pakis, Tegalrejo,
Kabupaten Magelang. Dalang ini dipilih karena menawarkan harga yang
terjangkau namun memiliki kualitas yang bagus. Ringgit purwo dipilih
menjadi jenis hiburan yang akan ditampilkan karena ringgit purwo tidak
hanya menampilkan hiburan namun juga diyakini memilki kekuatan magis.
Dalam rapat tersebut juga diumumkan tahapan pelaksanaan merti
dusun yang dimulai pada hari Jumat Pon, tanggal 4 Januari 2013 dengan
agenda bersih dusun. Hari Kamis Pahing, 10 Januari 2013 ditentukan untuk
kerja bakti membuat panggung hiburan, dan hari Jumat Kliwon, 11 Januari
2013 ditetapkan sebagai puncak kegiatan merti dusun.
Setelah hari yang ditetapkan tiba, Jumat Pon, pada pagi harinya semua
warga: tua, muda, laki-laki, dan perempuan pun keluar rumah menuju
tempat yang telah ditentukan. Sebagian menuju pemakaman, sebagian
menuju sumur bor, dan sebagian yang lain membersihkan lingkungan.
Mereka membawa beraneka macam peralatan. Ada yang membawa sabit,
bendo, sapu, dan cangkul. Di masing-masing sektor ada seorang pengarah
yang bertugas mengarahkan pekerjaan yang harus dilakukan. Menurt Pak
Kusnadi16, keberadaan pengarah tidak ditentukan dalam rapat. Mereka
tampil menjadi pengarah karena merasa sebagai orang yang patut dituakan,
dan memahami hal-hal yang harus dikerjakan dalam kegiatan tersebut.
Tidak ada penolakan dari peserta kegiatan dalam hal tersbut. Semua
mengikuti arahan dari pengarah. Jika ada satu atau dua orang yang tidak
setuju, mereka hanya menyimpannya dalam hati.
16
Kusnadi, Ketua Rukun Warga setempat, wawancara 4 Januari 2013
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
13
Sebelum kegiatan bersih dusun dilakukan, sebagian orang yang telah
berkumpul di pemakaman untuk melakukan ritual doa keselamatan dengan
dipimpin seorang tetua adat. Doa dimulai dengan bacaan Alfatihah yang
dihadiahkan pada Nabi Muhammad, para sahabat, para orang sholeh, dan
seluruh danyang dusun. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan doa dan
mantra. Sayang, penulis tidak secara jelas mendengar mantra dan doa yang
dibaca tetua adat. Menurut Mbah Karno17, tetua adat yang memimpin doa
tersebut, pemakaman merupakan tempat yang paling wingit (keramat dan
angker), karena di tempat itulah berkumpul semua jenis mahluk gaib. Setiap
jengkal tanah di dusun tersebut ada yang menguasai dan menjaganya. Para
penguasa ini tunduk pada penguasa pemakaman. Para penguasa inilah
yang disebut dengan para danyang18. Itulah sebabnya pemakaman menjadi
pusat kegiatan meminta keselamatan.
Usai membersihkan pemakaman dan lingkungan, semua warga
diarahkan menuju pancuran air yang ada di ujung Dusun19. Warga setempat
menyebutnya dengan sebutan kali. Sementara itu, para wanita pulang ke
rumah masing-masing untuk mengambil ubo rampe (kelengkapan) yang
akan digunakan dalam puncak acara bersih dusun. Sesampainya di area
pancuran, sambil menunggu para wanita mengambil ubo rampe, mereka
pun membersihkan pancuran dan sekelilingnya.
Setelah itu, tibalah para wanita dengan membawa beberapa buah
ketupat, satu mangkuk sayur, dan lauk-pauk pelengkap secukupnya.
Ada satu orang yang membawa bubur nasi berwarna putih dan merah.
Mereka menyebutnya jenang/bubur abang-putih. Kepala Dusun setempat
pun datang membawa buncu (tumpeng) yang sekelilingnya ditaburi sayur
17
18
penjaga.
Karno, Wawancara 4 Januari 2013
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, danyang diartikan sebagai hantu
Pancuran adalah air yang dialirkan ke bilik tempat pemandian umum dari
suumber air melalui pipa berdiameter 2 Inchi. Bilik tersebut disekat menjadi dua bagian,
untuk putra dan putri. Sebelum pemerintah Kabupaten membuatkan sumur bor melalui
program pansimas, pancuran tersebut menjadi tujuan utama warga dalam mendapatkan
sumber air, terutama pada musim kemarau.
19
14
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
dicampur dengan parutan kelapa, dan lauk-pauk serta ingkung ayam.
Mereka menyebutnya sebagai sego (nasi) rasul. Setelah semua ubo rampe siap,
maka ditaruhlah di atas tikar yang digelar di samping pancuran. Semua
yang hadir pun mengelilingi ubo rampe tersebut. Ada yang duduk, ada pula
yang berjongkok karena tidak kebagian tempat di atas tikar.
Setelah semua siap, acara ritual bersih dusun pun segera dmulai dengan
dipimpin oleh Mbah Karno. Ritual dimulai dengan menyebutkan ubo rampe
yang telah disiapkan dan ujub (persembahan untuk mohonan izin) dari
masing-masing ubo rampe. Jenang putih dipersembahkan untuk bopo (Nabi
Adam) dan jenang abang dipersembahkan untuk biyung (Ibu Hawa). Dengan
persembahan tersebut diharapkan bopo dan biyung memberikan restunya
terhadap pelaksanan acara. Setelah itu, sego rasul pun dipersembahkan
untuk Nabi Muhammad, para keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang
salih lainnya. Persembahan ini dimaksudkan agar senantiasa mendapatkan
syafa’at dari mereka. Sementara ketupat kelengkapannya dipersembahkan
untuk Nabi Hidir dan Danyang kali (air) agar mereka tetap menjaga
kelancaran sumber air. Setelah membacakan ujub, ritual pun dilanjutkan
dengan membaca surah Alfatihah, dan ditutup dengan doa.
Selasainya do’a menandai usainya ritual bersih dusun yang menjadi
rangkaian dari ritual merti dusun. Setelah itu semua ubo rampe pun dimakan
bersama-sama. Mereka tampak senang dan bergembira. Namun
kegembiraan itu tidak berasal dari sumber yang sama. Menurut Pak
Ngadiyo20, dia senang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut, karena
sebagai seorang hamba dia merasa telah melaksanakan kewajiban
memohon kepada Sang Pencipta dengan cara memberikan persembahan.
Dia meyakini, bahwa dengan persembahan tersebut danyang kali (air) tidak
akan marah yang dapat menyebabkan kekeringan di masa mendatang.
Sedangkan menurut Pak Sholikin,21 keikutsertaanya dalam acara tersebut
bukan karena ada rasa takut terhadap danyang kali, tapi sebagi salah satu
20
21
Ngadiyo, wawancara 4 januari 2013.
Sholikin, wawancara 4 januari 2013
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
15
cara guyube22 tetangga. Menjelang sholat Jumat, acara makan bersama pun
berakhir. Sebelum masing-masing warga pulang ke rumah, sebagian warga
mengingatkan yang lain bahwa hari Kamis depan ada kerja bakti membuat
panggung untuk pementasan wayang kulit.
Pada Kamis malam, 10 Januari 2013, panggung hiburan telah
berdiri kokoh. Peralatan pentas wayang kulit pun telah tertata rapi di
atas panggung. Banyak orang hilir mudik di seputar panggung. Ada yang
duduk-duduk di depan peralatan musik gamelan sambil membunyikannya
dengan lirih. Mereka sengaja datang untuk mengikuti acara tirakatan
yang dimulai pukul 23.30. Mereka yang hadir di situ bukan hanya berasal
dari kelompok masyarakat yang percaya terhadap kesakralan ritual, tapi
juga orang yang hanya memandang ritual merti dusun sebagai sarana
menumbuhkan solidaritas sosial. Bahkan orang yang menganggap ritual
tersebut bertentangan dengan ajaran agama pun terlihat hadir. Menurut
Pak Sholikin23, orang tersebut hadir karena menyukai kesenian tradisional
seperti wayang kulit. Biasanya saat ritual dimulai, dia akan menjauh dan
akan kembali bergabung dengan yang liannya bila ritual telah selesai.
Saat waktu yang ditentukan telah tiba, maka nasi rasul, bubur abangputih, wajik, pisang, nasi, dan kuluban24 pun disiapkan di atas panggung.
Kepala Dusun mengajak para tokoh masyarakat untuk naik ke atas
panggung. Setelah semua siap di atas panggung, Pak Kepala Dusun pun
mempersilahkan Mbah Karno untuk memimpin acara selamatan. Acara
dimulai dengan ucapan salam, mengucap Alhamdulillah, dan memanjatkan
sholawat serta salam kepaba Baginda Nabi Muhammad, keluarga, dan para
sahabatnya dalam Bahasa Arab (dengan dialek Jawa). Kemudian Mbah
Karno menjelaskan bahwa maksud dari acara malam tersebut adalah
meminta keselamatan agar seluruh rangkaian puncak acara merti dusun,
22
Guyubi, berasal dari kata guyub yang berarti rukun. Guyubi berarti menciptakan
kerukunan
23
Sholikin, wawancara 10 Januari 2013
24
Kuluban adalah sayur mayor yang dicampur dengan parutan kelapa yang telah
diberi bumbu. Sebagian orang menyebutnya dengan nama urab.
16
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
khususnya pagelaran wayang kulit yang akan dimulai besok pagi dijauhkan
dari segala mara bahaya. Setelah itu, seluruh peserta selamatan diajak
membaca surat Alfatihah yang dihadiahkan untuk Nabi Muhammad,
keluarga, para sahabatnya, serta para orang shalih. Surat Alfatihah kedua
ditujukan para nyai danyang dusun. Fatihah ketiga dihaturkan untuk Bopo
Adam, Biyung Hawa, dan arwah orang-orang yang telah berpulang
kehadirat Allah. Selamatan ditutup dengan doa dalam bahasa arab dialek
Jawa.
Doa yang dibaca memang berbahasa Arab. Namun menurut, jika
ditilik dari sudut tata bahasa Arab, susunan bahasanya rancu dan terkadang
terdengar ada lafal aneh yang terselip diantara doa-doa tersebut. Bukan
Bahasa Arab, bukan pula bahasa Jawa. Ketika hal tersebut ditanyakan
kepada Mbah Karno, beliau mengatakan bahwa do’a tersebut dia terima
dari gurunya sebagaimana yang dia baca tadi. Beliau juga tidak bersedia
mengulang do’a tersebut, karena menganggap tabu membaca doa tidak pada
tempatnya. Kemudian dia bercerita, bahwa setiap ritual memiliki doanya
sendiri-sendiri. Bahkan dia mengaku ada do’a yang hanya bisa diingatnya
saat diperlukan saja. Di luar itu, dia pun susah untuk mengingatnya. Do’a
itu diterima dalam suasana magis, antara sadar dan tidak sadar, dari sang
guru yang gaib.
Seusai pembacaan do’a, semua makanan disantap bersama-sama
dalam suasana riang gembira. Ada yang hanya makan kue atau buahbuahan, ada yang hanya minum teh atau kopi, namun ada juga yang
menyantap nasi dan ayam yang telah disiapkan. Selesai makan ada yang
langsung pulang, ada pula yang begadang hingga fajar menjelang.
Keesokan harinya, Jumat 11 januari 2013, pagi hari pukul 07.00
terlihat ramai orang membawa rantang hilir mudik keluar masuk kampung.
Mereka munjung (mengirimkan makanan) ke rumah sanak kerabat. Tidak
hanya sanak kerabat yang mendapat punjungan, tapi Kepala Desa
dan Carik (sekretaris desa) pun menjadi alamat yang ramai dituju para
pembawa punjungan, sebagai perwujudan rasa hormat terhadap sesepuh
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
17
desa. Menurut Pak Buang25, pada hari puncak pelaksanaan ritual merti dusun
hampir semua orang masak besar (memasak makanan istimewa). Bagi
orang desa, pantang makan enak tanpa berbagi dengan sanak kerabat,
meski sanak kerabat juga sedang makan enak. Sehingga yang terjadi adalah
saling mengirimkan makanan. Bahkan pada jaman dahulu, masyarakat
juga membuat penganan untuk dijadikan suguhan para tamu. Suasananya
pun persis seperti Lebaran atau Natal.
Sementara itu, di sekitar panggung pengunjung belum terlihat ramai.
Namun para pedagang telah banyak yang menggelar dagangannya di
sekitar panggung hiburan. Ada penjual makanan, penjual mainan, arena
mandi bola, dan permainan anak-anak lainnya. Di malam hari, suasananya
bertambah semarak dengan hadirnya permainan ketangkasan yang
berbau judi. Bahkan ada juga yang menggelar permainan judi dadu yang
dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Suasananya pesrsis seperti pasar
malam. Pergelaran wayang kulitnya sendiri baru dimulai pukul sembilan
pagi. Pukul sebelas, pergelaran wayang kulit dihentikan untuk pelaksanaan
sholat Jum’at.
Puncak acara merti dusun berlangsung usai sholat Jum’at. Masyarakat
berduyun-duyun mendatangi rumah di depan panggung hiburan dengan
membawa satu bakul nasi, ancak26 yang berisi buah-buahan dan makanan
ringan, serta satu ekor ayam panggang. Namun tidak semua warga dusun
berpartisipasi dalam puncak acara ritual tersbut. Menurut Mbah Rahim27,
warga dusun yang memeluk agama Katolik tidak berpartisipasi dalam
puncak acara ritual, karena ritual semacam itu tidak terdapat dalam
ajaran agamanya, bahkan bertentangan. Sebagai gantinya, untuk tetap
menjaga persatuan, mereka menyumbang beras lima Kilogram per kepala
keluarga. Beras tersebut dimanfaatkan oleh panitia untuk memberi makan
Buang, Ketua RT 05, wawancara, 11 januari 2013
Anyaman bamboo yang berbentuk persegi empat dengan ukuran antara 50-60
cm persegi.
27
Rahim, Tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama Kristen yang telah berusia 91
tahun. Wawancara 30 Desember 2012.
25
26
18
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
rombongan wayang kulit dan tamu undangan. Mbah Rahim mengakui,
bahwa dirinya dan beberapa orang lainya sebelum memeluk Kristen, juga
memiliki keyakinan seperti masyarakat pada umumnya: ritual merti dusun
dilaksanakan untuk memohon berkah dan menghindari kemurkaan para
danyang. Namun setelah memeluk Agama Kristen, keyakinan tersebut
dibuangya jauh-jauh karena dianggapnya bertentangan dengan ajaran
agama.
Tepat pukul 13.00, prosesi puncak ritual merti dusun pun dimulai.
Seluruh personel wayang kulit telah bersiap di tempatnya masing-masing.
Kepala dusun memberi sambutan pengantar. Selain melaporkan rangkaian
pelaksanaan ritual merti dusun, ia juga memberikan informasi lain terkait
dengan aktifitas yang ada di desa tersebut. Misalnya, karena kebetulan
saat itu menjelang pemilihan Kepala Desa, maka diumumkanlah bahwa
tanggal 20 Januari, Desa Lopait akan mengadakan pemilihan Kepala Desa.
Ia berpesan agar warga tetap bisa menjaga persatuan dan kesatuan.
Selanjutnya, acara pun dilanjutkan dengan ritual merti dusun. Semua
hadirin khusuk menyimak kata demi kata yang diucapkan pimpinan
pelaksaan ritual. Sebelum memimpin ritual, Mbah Karno menjelaskan
maksud dan tujuan ritual merti dusun. Merti dusun tidak hanya dimaksudkan
sebagai peringatan ulang tahun desa, namun juga sebagai ungkapan
rasa terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan berkah dan
keselamatan pada dusun tersebut. Tidak hanya itu, dalam ritual merti dusun
juga dipanjatkan do’a agar dusun dan seluruh warganya dijauhkan dari
segala mara bahaya, dan diberikan rizki yang melimpah. Tidak ketinggalan,
dipanjatkan pula permohonan kepada para wali, para nabi, dan para
danyang agar memberikan idinya (izin) kepada semua warga.
Do’a dimulai dengan membaca surat Alfatihah yang ditujukan
kepada para nabi dan nyai danyang-nyai yang menguasai dusun. Setelah itu,
Mbah Karno mulai memanjatkan do’a yang tidak semua isinya mudah
dipahami. Beberapa lafal do’a yang bisa difahami adalah bacaan hamdalah,
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
19
solawat nabi, dan doa sapu jagad28. Lainnya adalah do’a yang terasa asing
ditelinga bagi mereka yang bukan penduduk setempat (seperti yang dialami
penulis). Usai berdo’a semua hadirin bertepuk tangan sambil meneriakan
“ladrang Kebo Giro”. Bersamaan dengan itu, para pemain musik wayang
kulit pun menabuh peralatannya masing-masing, sebagai tanda dimulainya
pergelaran wayang kulit.
Tanpa dikomando, semua orang membagi dua bawaannya masingmasing. Sebagian dibawa pulang, setengah sisanya ditinggal untuk
disuguhkan pada tamu undangan dan para pedagang yang ada. Bersamaan
dengan itu, Mbah Karno dibantu oleh beberapa orang mempersiapkan
sesaji yang akan diletakkan di beberapa tempat tertentu. Sesaji berisi buncu
(tumpeng) mini, daun papa yang ditaruh di atas bunga melati, bunga
kantil, dan bunga mawar (biasa disebut dengan istilah kembang telon),
bumbu dapur, ikan asin yang telah dibakar, jenang, uang logam lima ratus
rupiah, rokok, lepet,29 dan kapur sirih. Semua sesajen tersebut ditaruh di
atas ancak. Ada dua jenis ancak yang telah dipersiapkan. Satu ancak besar
yang berukuran 60 Cm persegi, dan beberapa ancak kecil yang berukuran
25 Cm persegi. Ancak besar diletakan di bawah panggung. Sedangkan
ancak kecil diletakkan di dapur yang digunakan untuk memasak berbagai
keperluan acara. Ada pula sesajen yang ditaruh di atas genting tempat
pelaksanaan puncak acara ritual, perempatan, pertigaan, pemakaman, dan
tempat sumber air atau pancuran. Khusus untuk daerah bawah panggung,
sesajen ditambah dengan ketela bakar atas permintaan sang dalang. Mbah
Karno menjelaskan, bahwa isi sesajen harus seperti itu karena merupakan
kesukaan danyang dusun. Bisa jadi isi sesajen berbeda dengan dusun lain.
Seperti halnya manusia, para danyang pun memiliki makanan favorit yang
berbeda-beda.
Doa sapu jagad adalah bacaan doa “robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti
hasanah wa qina adzaabannar.”
29
Beras ketan dicampur dengan parutan kelapa yang dibungkus dalam daun
kelapa yang masih muda, kemudian di kukus.
28
20
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
Evolusi Orientasi Ritual Merti Dusun
Rangkaian pelaksanaan ritual merti dusun selalu meriah. Banyak orang
dari berbagai latar belakang keyakinan terlibat dalam kegiatan tersebut.
Mereka sangat antusias mengikuti tahapan dan rangkaian ritual merti dusun.
Yang membedakan di antara mereka adalah orientasinya.
Bagi pak Ngadiyo30, ritual dapat menjadi penawar rasa putus asa
akibat kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Menurutnya, ritual itu dapat
memberikan manfaat bagi kehidupannya. Baginya, danyang itu mahluk
yang tidak dapat dilihat namun keberadaannya dapat dirasakan. Musibah
yang menimpa warga dusun, atau kesialan yang dialami, salah satunya
disebabkan oleh kemarahan para danyang. Untuk menghindarinya maka
perlu diadakan selamatan. Selamatan diyakini dapat menghadirkan energi
positif yang akan menjadi benteng dari pengaruh buruk para danyang.
Di samping itu, ritual pun diharapkan mampu menumbuhkan kembali
semangat hidup.
Ritual merti dusun pun dianggap sebagai kegiatan yang baik untuk
dilakukan. Bagi Musthofa31, ritual merupakan sesuatu yang lazim ada
dalam setiap agama, termasuk Islam. Agama mengajarkan agar manusia
senantiasa memohon kepada Allah. Agar do’a tersebut dapat dikabulkan,
manusia harus menyertainya dengan kebaikan. Bersedekah adalah salah
satu perbuatan baik yang dianjurkan oleh agama. Bahkan Nabi Muhammad
mengajarkan, bahwa bersedekah itu dapat menolak mara bahaya. Dalam
ritual merti dusun ada banyak kebaikan yang dilakukan. Hanya saja, dia
berbeda keyakinan dengan kebayakan masyarakat yang memaknai danyang
sebagai mahluk halus yang menguasai suatu tempat tertentu. Baginya,
danyang dusun adalah orang-orang soleh yang memperjuangkan agama
di dusun tersebut yang telah terlebih dahulu meninggal dunia. Mereka
adalah para wali Allah. Orang-orang tersebut, meskipun telah meninggal
sesungghnya masih hidup di sisi Allah. “Memang meminta itu ya hanya
30
31
Ngadiyo, wawancara pada tanggal 11 Januari 2013
Musthofa, wawancara 10 Januari 2013
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
21
kepada Allah. Namun danyang dapat dijadikan sebagai wasilah menuju
kepada Allah,” katanya.
Pak Sholihin memiliki pandangan yang berbeda terhadap pelaksanaan
ritual merti dusun. Menurutnya32, merti dusun hanyalah salah satu dari sekian
banyak kegiatan kemasyarakatan yang berfungsi menciptakan solidaritas
sosial. Kegiatan itu tidak ada bedanya dengan kumpulan RT (ertenan).
Tidak ada unsur magis atau ritual sama sekali. Kesialan atau mara bahaya
yang terjadi bukan karena orang tidak mau melaksanakan ritual merti dusun,
tetapi semata-mata karena kehendak Allah. Keikutsertaanya dalam ritual
itu lebih karena malaksanakan kewajiban sosial.
Apa yang diperlihatkan oleh Musthofa dan Solihin, mengindikasikan
adanya evolusi orientasi sebuah kegiatan ritual. Musthofa dan Sholihin
adalah generasi muda dengan tingkat pendidikan agama yang lebih baik
dibanding dengan generasi sebelumnya. Musthafa pernah mengenyam
pendidikan pesantren di Magelang. Model keagamaan yang diajarkan
di pesantren berbeda dengan model keagamaan Agami Jawi. Sedangkan
Sholihin, hingga hari ini masih aktif menjadi anggota pengajian dan
tarekat Shiddiqiyah yang diikutinya sejak tahun 2002. Faham keagamaan
di Shiddiqiyah, menurut Sholihin, menekankan pentingnya menjaga diri
dari kemusyrikan. Sampai saat ini, sebagian besar keluarga keduanya masih
setia dengan keyakinannya terhadap nilai sakral ritual merti dusun.
Pergeseran pemaknaa terhadap ritual merti dusun lebih tampak
jelas dari pengakuan Mbah Rahim. Menurutnya, ritual itu bertentangan
dengan ajaran agama. Itulah sebabnya, sudah sejak lama dirinya tidak
mengikuti ritual itu. Tepatnya sejak memeluk agama Kristen. Dia hanya
berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan yang tidak terkait dengan ritual.
Dulunya Mbah Rahim adalah pelaku dan pengiat ritual itu. Apa yang
dilakukannya saat ini, sama dengan apa yang dipahami oleh Pak Tono,
tokoh muda Muhammadiyah dusun Celengan.
32
Sholihin, wawancara 29 Desember 2012
22
| M. Aly Haedar – Pergeseran Pemaknaan Ritual ‘Merti Dusun’;
Penutup
Merti dusun merupakan ritual yang sudah ada sejak lama, jauh sebelum
Islam menjadi bagian dari kehidupan orang Jawa. Ketika Islam masuk ke
tanah Jawa, ritual ini mengalami akulturasi dengan budaya Islam. Ritual
yang dimaksudkan untuk menolak bala atau mara bahaya dan meminta
berkah pada Sang Pencipta dengan cara memberi sesaji pada tempattempat tertentu, meminta izin pada para nabi dan danyang-danyang yang
menguasai tempat tertentu ini, pada prakteknya memperlihatkan adanya
percampuran antara budaya Jawa dan budaya Islam. Budaya Islam tampak
dalam penyebutan para nabi dalam setiap do’a yang dipanjatkan, sementara
budaya Jawa yang animistik tampak dalam penyebutan para danyang dan
pemberian sesaji.
Dalam perjalanannya, ritual merti dusun pun mengalami pergeseran
makna, baik secara individual maupun komunal. Sebagian orang yang
telah mengalami perubahan cara pandang keagamaa, menganggap danyang
tidak dapat memberikan kemudlaratan apa pun bagi kehidupan manusia,
dan tidak dapat menjadi perantara menuju Tuhan. Oleh sabab itu mereka
mengubah orientasi makna dari danyang kepada para wali. Sebagian yang
lain menganggap ritual merti dusun tidak sesuai dengan ajaran agama. Oleh
sebab itu mereka mengubah keyakinannya dari merti dusun yang bermakna
ritus, menjadi bermakna solidaritas sosial. Keikutsertannya pun dimaknai
sebagai kewajiban sosial.
Perubahan orientasi makna merti dusun ini banyak dipengaruhi oleh
perkembangan pengetahuan keagamaan. Pendidikan keagamaan yang
diterima generasi muda lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Jika
hal semacam ini terus terjadi pada generasi berikutnya, tidak tertutup
kemungkinan tradisi ritual merti dusun ini akan punah, sebagaimana ritual
yang terjadi pada dusun sekitarnya.
Kegiatan ritual merti dusun ternyata tidak berwajah tunggal. Selain
memperlihatkan wajah relijius, ritual ini juga menampakkan wajah
sosial. Hal ini dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkannya. Ritual
– Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016 |
23
ini mengahadirkan kebahagaiaan bagi semua lapisan masyarakat. Dari
anak-anak hingga orang tua, laki-laki maupun perempuan hadir ikut
menyemarakkan prosesinya. Sekat agama dan status sosial lebur ke dalam
kesatuan menikmati rekreasi yang jarang dirasakan oleh warga masyarakat.
Referensi
Al-Kumayi, Sulaiman. Islam Bubuhan Kumai. Jakarta: Kementerian Republik
Indonesia, 2011.
Geertz, Clifford. Santri, Priyayi, Abangan dalam Masyarakat Jawa. Jakarta:
Pustaka Jaya, 1981.
Khalim, Samidi. Salat Islam Kejawen. Semarang: Prima Media Press, 2010.
Syam, Nur. Islam Pesisir. Jogjakarta: LKIS, 2005.
Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984.
Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsito. Jakarta: UI Press,
1988.
M. Hariwijaya. Islam Kejawen. Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2004.
Hadikusumo, Hilman. Antropologi Agama. Bandung: Citra Aditya Bakti,
1993.
Turner, Victor W. The forest of symbols: Aspects of Ndembu ritual. Ithaca:
Cornell University Press, 1967
Koenjtaraningrat. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: UI Press, 1987
Data statistic Desa Lopait tahun 2011
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Fly UP