...

Gambaran Kontrol dan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Gambaran Kontrol dan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes
Jurnal Jurusan Keperawatan, Volume 01, Nomor 01
Tahun 2015, Halaman 1-8
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/
Gambaran Kontrol dan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes
Melitus di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo
Magelang
Nita Rachmawati 1), Niken Safitri Dyan K 2)
1) Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas
Diponegoro (email: [email protected])
2) Staf Pengajar Departemen Keperawatan Dewasa Jurusan Keperawatan,
Fakultas
Kedokteran,
Universitas
Diponegoro
(email:
[email protected])
ABSTRACT
Glycaemic control is an effort to control blood glucose in Diabetes Mellitus (DM) patients.
This control routinely done one time in three month which includes examination of fasting
blood glucose and postprandial glucose, and examination of HbA 1c. The aims of this
study was to describe the glycaemic control of DM patient in Polyclinic Internal of RSJ
Prof. Dr. Soerojo Magelang. This study was descriptive involved 195 medical records.
The results showed that the average patient age is early elderly(32.8%), female sex
(61.5%), senior high school education (31.8%), and most patients do not regularly in
glycaemic control (65.5%). The patients do not regularly control fasting blood sugar and
control postprandial glucose by 54.4% and 62.1%. The average of control fasting blood
sugar and average postprandial glucose is bad(75.3% and 90.5%). All patients conduct
HbA1c examination irregularly. Nurses as educator is very important to educate patients
about blood glucose control. Monitoring glycaemic control will avoid the risk of
complications.
Keywords: Glycaemic Control,Blood Glucose,Diabetes Mellitus
ABSTRAK
Kontrol kadar gula darah merupakan suatu pengendalian glukosa pasien Diabetes
Melitus (DM). Kontrol ini dilakukan setiap 3 bulan sekali yang meliputi pemeriksaan
kontrol kadar gula darah puasa, kadar gula postprandial, serta kadar HbA1c. Apabila
tidak diakukan secara teratur, dapat menyebabkan komplikasi sehingga penting
dilakukan. Tujuan penelitian ini mengetahui gambaran kontrol kadar gula darah pasien
DM di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. Penelitian ini adalah
deskriptif dengan sampel sejumlah 195 rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan
mayoritas pasien berusia lansia awal (32.8%), sebagian besar perempuan (61.5%),
berpendidikan SMA (31.8%), mayoritas pasien tidak teratur melakukan kontrol kadar gula
darah (65.5%). Pasien yang tidak teratur melakukan kontrol kadar gula darah puasa dan
kontrol kadar gula postprandial sebesar 54.4% dan 62.1%. Rata-rata nilai kadar gula
darah puasa dan kontrol kadar gula postprandial buruk (75.3% dan 90.5%). Seluruh
pasien tidak teratur melakukan pemeriksaan kadar HbA 1c. Tugas perawat sebagai
educator adalah memberikan pendidikan pada pasien mengenai pentingnya melakukan
kontrol agar terhindar dari resiko komplikasi.
Kata Kunci: Kadar, Gula Darah, Diabetes Melitus
Pendahuluan
Diabetes melitus (DM) merupakan gejala yang timbul pada seseorang
karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah secara terus menerus
(kronis) akibat dari kekurangan insulin secara kuantitatif maupun kualitatif
(Tapam, 2005). Menurut International Diabetes Federation (IDF) tahun 2012
angka kejadian DM sudah lebih dari 371 juta orang dengan angka kejadian
setiap tahunnya naik 3% atau bertambah 7 juta orang (Utami, 2012). Selain itu
American Diabetes Association (ADA) melaporkan bahwa setiap 21 detik ada 1
orang yang terkena diabetes dan Indonesia adalah kasus DM terbanyak
peringkat ke-5 (Tandra, 2013). Selain itu, menurut Perkeni (Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia) memperkirakan pada tahun 2020 akan terdapat 178
juta orang terkena DM di Indonesia (Pangkalan, 2007). Studi pendahuluan yang
dilakukan di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ. Prof. Dr. Soerojo Magelang,
menunjukkan terdapat kecenderungan terjadi peningkatan jumlah pasien DM
sebesar 5,8% dari 286 pasien di tahun 2013 menjadi 321 pasien di tahun 2014.
Melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur merupakan upaya
pencegahan terjadinya komplikasi yang dilakukan oleh pasien DM. (Kurniawan,
2010). Standar pemeriksaan kadar gula darah idealnya dilakukan minimal 3
bulan sekali setelah kunjungan pertama (Depkes RI, 2008). Standar pemeriksaan
kadar gula darah di pelayanan kesehatan idealnya dilakukan minimal tiga bulan
sekali setelah kunjungan pertama, yang meliputi pemeriksaan kadar gula darah
puasa, kadar gula darah 2 jam setelah makan, dan pemeriksaan HbA1C
(Mahendra, 2008).
Peran perawat sebagai edukator sangat penting dalam memberikan
informasi kepada pasien mengenai pentingnya melakukan kontrol gula darah.
Melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur harus lebih ditekankan.
Dengan melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur, kadar glukosa darah
juga akan lebih mudah dikendalikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
gambaran kontrol gula darah pasien DM di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Prof.
Dr Soerojo Magelang. Manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi
tentang pentingnya melakukan kontrol gula darah agar terhindar dari komplikasi.
Metode
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian deskriptif cross sectional. Teknik pengambilan data menggunakan
teknik purposive sampling dengan sampel 195 rekam medis pasien DM yang
tercatat sejak bulan Januari-Desember 2014. Lembar pencatatan digunakan
sebagai instrumen penelitian ini.
Hasil penelitian
Berikut ini merupakan gambaran karakteristik demografi pasien DM di
Poliklinik Penyakit Dalam RSJ Soerojo Magelang yang digolongkan berdasarkan
usia, jenis kelamin dan pendidikan.
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien DM
Tahun 2014
(n=195)
Karekteristik Responden
Frekuensi
Persentase (%)
Usia
Dewasa awal (26-35 tahun)
Dewasa akhir (36-45 tahun)
Lansia awal (46-55 tahun)
Lansia akhir (56-65 tahun)
Manula (>65 tahun)
4
30
64
60
37
2.1
15.4
32.8
30.8
19.0
Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki
120
75
61.5
38.5
Pendidikan
Tidak tamat SD
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
Total Responden
15
58
25
62
35
195
7.7
29.7
12.8
31.8
17.9
100.0
Hasil karakteristik demografi menunjukkan lebih banyak pasien berusia lansia
awal sebanyak 64 pasien (32.8%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan
sebanyak 120 pasien (61.5%), dan mayoritas merupakan tamatan SMA
sebanyak 62 pasien (31.8%).
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM Tahun 2014
(n=195)
Kontrol Kadar Gula Darah
Frekuensi
Persentase (%)
Teratur
67
34.4%
Tidak teratur
128
65.6%
Total Responden
195
100.0 %
Hasil penelitian menunjukkan lebih banyak pasien tidak teratur melakukan kontrol
kadar gula darah secara umum yaitu sebesar 128 pasien (65.6%).
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Domain Kontrol Kadar Gula Darah Pasien DM Tahun 2014
(n=195)
Kontrol Kadar Gula Darah
Frekuensi
Persentase (%)
Puasa
Teratur
89
45.6%
Tidak teratur
106
54.4%
2 Jam Setelah Makan
Teratur
74
37.9%
Tidak Teratur
121
62.1%
HbA1c
Teratur
0
0%
Tidak teratur
195
100.0%
Total Responden
195
100.0 %
Pada domain kontrol kadar gula darah pasien DM, menunjukkan sebagian besar
pasien tidak teratur dalam melakukan kontrol kadar gula darah puasa yaitu
sebanyak 106 pasien (54.4%). Pada kontrol kadar gula darah 2 jam setelah
makan juga sebagian besar pasien tidak teratur dalam melakukan kontrol yaitu
sebanyak 121 pasien (62.1%). Pada pemeriksaan kadar HbA1c menunjukkan
seluruh pasien sebanyak 195 pasien DM tidak teratur dalam melakukan kontrol.
Dari 195 pasien hanya terdapat 30 pasien yang melakukan kontrol kadar HbA1c
sebanyak satu sampai dua kali pemeriksaan dalam setahun.
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Nilai Rata – Rata Kadar Gula Darah Puasa dan
Kadar Gula Darah 2 Jam Setelah Makan
Pasien DM Tahun 2014
Kadar Gula Darah Puasa
Frekuensi
Prosentase (%)
Kadar Normal (80-109 mg/dl)
5
5.6
Kadar Sedang (110-125 mg/dl)
17
19.1
Kadar Buruk (>126 mg/dl)
67
75.3
Total Responden
89
100.0
Kadar Gula Darah 2 Jam
Frekuensi
Prosentase (%)
Setelah Makan
Kadar Normal (80-144 mg/dl)
0
0
Kadar Sedang (145-179 mg/dl)
7
9.5
Kadar Buruk (>180 mg/dl)
67
90.5
Total Responden
74
100.0
Pada nilai rata-rata kadar gula darah puasa menunjukkan sebanyak 89 dari 195
pasien yang teratur melakukan kontrol kadar gula darah puasa, lebih banyak
pasien memiliki nilai rata-rata kadar gula darah buruk yaitu sebanyak 67 pasien
(75.3%). Pada nilai rata-rata kadar gula darah 2 jam setelah makan menunjukkan
sebanyak 74 dari 195 pasien yang teratur melakukan kontrol, mayoritas pasien
juga memiliki nilai rata-rata kadar gula darah buruk yaitu sebanyak 67 pasien
(90.5%).
Tabel 5
Distribusi Frekuensi Nilai Kadar Gula Darah Puasa dan
Kadar Gula Darah 2 Jam Setelah Makan Pasien DM
Tahun 2014
Pemeriksaan 1
Pemeriksaan 2
Pemeriksaan 3
KGD Puasa
f
%
f
%
f
%
Kadar Normal (80-109 mg/dl)
Kadar Sedang (110-125 mg/dl)
Kadar Buruk (>126 mg/dl)
Total Responden
KGD 2 Jam Setelah Makan
Kadar Normal (80-144 mg/dl)
Kadar Sedang (145-179 mg/dl)
Kadar Buruk (>180 mg/dl)
Total Responden
4
4.5
12
13.5
73
82.0
89
100.0
Pemeriksaan 1
f
%
1
1.4
7
9.5
66
89.2
74
100.0
12
13.5
25
28.1
52
58.4
89
100.0
Pemeriksaan 2
f
%
1
1.4
13
17.6
60
81.1
74
100.0
32
36.0
20
22.5
37
41.5
89
100.0
Pemeriksaan 3
f
%
13
17.6
22
49.7
39
52.7
74
100.0
Hasil pemeriksaan kadar gula darah puasa pada setiap kontrol rutin yang
dilakukan menunjukkan lebih banyak pasien memiliki nilai kadar buruk pada
setiap pemeriksaan, namun namun jumlahnya menurun pada pemeriksaan ke-2
dan ke-3 (58.4% menjadi 41.5%%). Hasil serupa juga terlihat pada nilai kadar
gula darah 2 jam setelah makan pada setiap pemeriksaan. Hasil menunjukkan
lebih banyak pasien memiliki nilai kadar gula darah buruk pada setiap
pemeriksaan, namun jumlahnya menurun pada pemeriksaan ke-2 dan ke-3
(81.1% menjadi 52.7%)
Pembahasan
Gambaran karakteristik demografi pasien DM di Poliklinik Penyakit Dalam
RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang lebih banyak pasien berusia lansia awal.
Semakin bertambahnya usia individu semakin mengalami penurunan fungsi
tubuh (degeneratif) terutama pankreas yang menghasilkan insulin (Sudoyo,
2009). Maka pasien dengan usia lebih dari 45 tahun akan lebih sering datang ke
fasilitas kesehatan melakukan kontrol gula darah (Park P,2002). Hasil penelitian
juga terlihat sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan. Gender bukan
merupakan faktor penyebab DM, namun pada dasarnya perempuan cenderung
lebih memiliki sikap lebih patuh dari pada laki-laki (patuh kontrol kadar gula darah
teratur) (Mary B, 2009). Selain itu penelitian menunjukkan lebih banyak pasien
yang tidak teratur melakukan kontrol kadar gula darah adalah tamatan SMA. Hal
ini dapat dipengaruhi oleh kurangnya pendidikan aktif yang dilakukan (membaca
buku atau penyuluhan) (Zahatmal, 2007).
Hasil penelitian menunjukkan secara umum lebih banyak pasien tidak
teratur melakukan kontrol kadar gula darah. Banyak faktor penyebab pasien tidak
teratur melakukan kontrol, salah satunya adalah locus of control internal (sebuah
penguatan diri pada pasien). Jika tingkat locus of control internal pasien DM
rendah, maka tingkat kesadaran dalam memperhatikan kesehatannya
(melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur) juga akan menurun.
Penelitian sebelumnya menunjukkan sebesar 40% pasien yang kurang
memperhatikan kesehatannya disebabkan oleh tingkat locus of control intenal
yang rendah (Safitri Inda, 2013). Selain itu, menurut penelitian di Korea terdapat
faktor lain yang menyebabkan pasien tidak teratur melakukan kontrol kadar gula
darah seperti faktor ekonomi, jarak tempat tinggal dengan fasilitas kesehatan,
dan dukungan keluarga. Tinggi rendahnya tingkat ekonomi dapat mempengaruhi
pasien dalam meningkatkan self management. Hasil penelitian sebelumnya
menyebutkan sebesar 70% pasien yang tidak mempunyai pekerjaan
(pengangguran) lebih cenderung jarang melakukan kontrol kadar gula darah
secara teratur. Jarak tempat tinggal dengan fasilitas kesehatan juga dapat
mempengaruhi keteraturan kontrol yang dilakukan. Pasien yang mempunyai
jarak tempat tinggal yang lebih dekat dengan fasilitas kesehatan akan lebih
mudah mengakses pelayanan kesehatan. Selain itu, terdapat faktor dukungan
keluarga yang mempengaruhi keteraturan pasien dalam melakukan kontrol kadar
gula darah secara rutin. Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan sebesar 89%
pasien yang telah menikah memiliki dukungan keluarga yang lebih besar dalam
meningkatkan keteraturan pasien melakukan kontrol kadar gula darah (Lee H,
2009).
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pasien DM yang teratur
melakukan kontrol kadar gula darah puasa setiap 3 bulan sekali lebih banyak
mempunyai nilai kadar gula darah buruk tercatat hampir setengah jumlah
responden. Penelitian yang dilakukan oleh Soegiarto pada tahun 2013
menyatakan peningkatan kadar gula darah puasa terjadi bukan semata-mata
hanya karena keteraturan terhadap jadwal kontrol saja, melainkan masih
terdapat faktor lain seperti faktor usia yang menyebabkan kadar gula darah
meningkat (Soegiarto, tahun 2013 ). Faktor lain seperti penggunaan insulin yang
tidak teratur, makanan tinggi karbohidrat, tingkat stres yang berlebihan, dan
aktivitas yang kurang dapat menjadikan kadar gula darah tidak terkendali
(Ekawati, 2012). Walaupun hasil penelitian menunjukkan lebih banyak pasien
yang mempunyai nilai kadar gula darah buruk (>126 mg/dl), namun terlihat terjadi
penurunan jumlah pasien dengan kadar gula darah buruk di setiap pemeriksaan.
Hasil ini menggambarkan dengan melakukan kontrol kadar gula darah puasa
secara teratur dapat mengurangi jumlah pasien yang mempunyai nilai kadar gula
darah buruk. Penelitian yang dilakukan Lafata tahun 2013 juga menyebutkan
bahwa dengan melakukan kontrol kadar gula darah puasa secara teratur memiliki
hubungan yang signifikan terhadap tingkat kadar gula darah pasien DM. Semakin
rutin pasien melakukan kontrol kadar gula darah puasa dan sesuai jadwal maka
nilai kadar gula darahnya akan semakin baik (Lafata, 2014).
Hasil serupa juga terlihat dari hasil kontrol kadar gula darah 2 jam setelah
makan. Lebih dari setengah jumlah respoden menunjukkan pasien memiliki nilai
kadar gula darah buruk (>180 mg/dl). Selama satu sampai dua jam setelah
makan glukosa darah akan mencapai angka paling tinggi, di mana makanan
ditimbun di hati dalam bentuk glikogen. Peningkatan kadar gula darah
(hiperglikemia) terjadi akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh,
karena organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai
kebutuhan tubuh. Saat zat makanan yang ditimbun di hati dalam bentuk glikogen
menyebabkan glukosa dalam darah akan mencapai angka paling tinggi.
(Imamauel, 2009). Dalam penelitian ini juga menunjukkan nilai kadar gula darah
2 jam setelah makan pada setiap pemeriksaan terlihat lebih banyak pasien
mempunyai nilai kadar gula darah buruk, namun jumlah pasien dengan kadar
gula darah buruk mengalami penurunan pada setiap pemeriksaan. Penurunan
jumlah pasien DM dengan nilai kadar gula darah buruk terlihat signifikan pada
pemeriksaan ke-2 dan ke-3. Selain itu, hasil yang didapatkan juga terlihat pasien
dengan nilai kadar gula darah sedang jumlahnya terus meningkat. Hal ini
menunjukkan dengan melakukan kontrol kadar gula darah 2 jam setelah makan
secara teratur, maka nilai kadar gula darah akan menjadi lebih terkendali. Lebih
lanjut lagi dengan melakukan pemantauan kadar gula darah 2 jam setelah makan
secara teratur dapat menjadi warning alarm pasien DM sehingga pasien akan
lebih waspada pada pemeriksaan berikutnya apabila kadar gula darahnya buruk.
Selain itu, pemeriksaan kadar HbA1C di Poliklinik Penyakit Dalam RSJ
Prof. Dr. Soerojo Magelang seluruhnya tidak melakukan kontrol HbA1C secara
teratur. Kontrol kadar HbA1C hanya dilakukan hanya satu sampai dua kali saja
oleh 30 dari 195 pasien dalam setahun. Menurut penelitian di Korea tahun 2014
menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan ketidakteraturan pasien DM
dalam melakukan pemeriksaan kadar HbA1c salah satunya adalah faktor
pendapatan (ekonomi). Sebagian besar pasien merupakan anggota Bantuan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan sehingga tidak memungkinkan dalam
pelaksanaan kontrol kadar HbA1c secara teratur (3 bulan sekali). Menurut
Soewondo tahun 2005 menyebutkan bahwa kendala pemeriksaan kadar HbA1c
secara berkala (3 bulan sekali) dikarenakan karena harganya yang relative mahal
sehingga pelaksanaannya masih jarang dilakukan di Negara berkembang seperti
Indonesia. Menurut penelitian di Negara maju seperti Jordan dan Spanyol
menyebutkan bahwa semakin teratur pasien melakukan kontrol kadar HbA1C
maka kadar gula pasien DM juga akan menjadi terkendali. Pada penelitian
tersebut digambarkan sebanyak 337 pasien yang teratur melakukan kontrol
HbA1C sebesar 56.1% pasien memiliki nilai kadar HbA1C yang baik.
Melakukan kontrol kadar HbA1C lebih penting daripada pemeriksaan gula
darah yang lain (WHO, 2011). Hal ini dikarenakan pemeriksaan HbA1C dapat
menunjukkan jaminan tes yang berkualitas dan sesuai dengan standar kriteria
nilai rujukan internasional. Pemeriksaan HbA1c merupakan gold standard dalam
pengukuran kadar glikemik sehingga untuk mencapai gold standard tersebut
maka peran perawat sebagai edukator adalah selalu mengingatkan pasien dan
keluarganya mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan HbA1C secara
teratur.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan dari penelitian ini adalah lebih dari setengah jumlah
responden secara umum tidak teratur melakukan kontrol kadar gula darah yang
meliputi kontrol kadar gula darah puasa dan kontrol kadar gula darah 2 jam
setelah makan, ataupun kontrol kadar HbA1C. Pelaksanaan kontrol kadar gula
darah pasien DM penting dilakukan secara teratur agar kadar gula darah menjadi
terkendali.
Dengan melihat hasil penelitian ini, maka perlu penelitian lebih lanjut
mengenai analisis perbandingan antara nilai kadar gula darah puasa dengan
nilai kadar gula darah 2 jam setelah makan. Selain itu, peneliti menghimbau
rumah sakit untuk mengingatkan kembali kepada pasien mengenai pentingnya
melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur. Misalnya dengan
memberikan buku catatan jadwal kontrol dan hasil pemeriksaan kadar gula darah
pasien selalu dapat memantau kadar gula darahnya.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang yang telah
memberikan tempat izin penelitian dan semua pihak yang telah membantu
proses penelitian ini dari awal sampai akhir.
Daftar Pustaka
Al Omari M, Khader Y, Dauod a S, Al-Akour N, Khassawneh a H, Al-Ashker E, et
al. Glycaemic control among patients with type 2 diabetes mellitus treated
in primary care setting in Jordan. Prim Care Diabetes [Internet]. 2009 Aug
[cited
2014
Oct
11];3(3):173–9.
Available
from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19733521
Departemen Kesehatan RI. Pedoman teknis penemuan dan tata laksana
penyakit diabetes melitus. Jakarta: Direktorat jendral PP & PL; 2008.
Ekawati ER. Hubungan kadar glukosa darah terhadap hypertriglyceridemia pada
penderita diabetes mellitus. Seminar Nasional Kimia Unesea 2012;978–9.
Immanuel S. Hipoglikemia postprandial. Kedokteran Indonesia. 2009;59(7):333–
Kuniawan I. Diabetes melitus tipe 2 pada usia lanjut. Public Health. 2010
Lafata JE, Morris HL, Dobie E, Heisler M, Werner RM, Dumenci L. Patientreported use of collaborative goal setting and glycemic control among
patients with diabetes. Patient Educ Couns [Internet]. Elsevier Ireland Ltd;
2013 Jul [cited 2014 Oct 15];92(1):94–9. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23433777
Lee H, Ahn S, Kim Y. Self-care, self-efficacy, and glycemic control of Koreans
with diabetes mellitus. Asian Nurs Res (Korean Soc Nurs Sci) [Internet].
Korean Society of Nursing Science; 2009 Sep [cited 2014 Oct
7];3(3):139–46.
Available
from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25030472
Organization WH. Use of glycated haemoglobin (HbA1c) in the diagnosis of
diabetes mellitus:report of a WHO consultation. World Heal Organ. 2011
Pangkalan I. Diet korektif-diet south beach. Jakarta: Elex Media Komputindo;
2007.
Pérez a., Mediavilla JJ, Miñambres I, González-Segura D. Glycemic control in
patients with type 2 diabetes mellitus in Spain. Rev Clínica Española
(English Ed [Internet]. 2014 Sep [cited 2014 Oct 15];(xx). Available from:
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S225488741400109X
Safitri IN. Kepatuhan penderita diabetes melitus tipe II ditinjau dari lokus of
control. J Ilm Psikol Terap. 2013;1:18.
Soegiarto RB. Kepatuhan kontrol dengan tingkat kadar gula darah pasien
diabetes melitus di Rumah Sakit Baptis Kediri. Stikes. 2012;5(2):213–22.
Soewondo P. Pemantauan pengendalian diabetes melitus. Dalam Soegondo S
dkk (eds), Pemantauan Diabetes Melitus Terpadu. Penerbit FKUI.
Jakarta. 2005.
Tapam E. Kesehatan keluarga penyakit degeneratif. Jakarta: Elex Media
Komputindo; 2005.
Tandra H. Life healty with diabetes-diabetes mengapa & bagaimana?
Yogyakarta: Rapha Publishing; 2013.
Utami DT, Karim D, Studi P, Keperawatan I, Riau U. Diabetes melitus dengan
ulkus diabetikum. 2012;1–7.
Fly UP