...

pertimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

pertimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan
1. Pengembangan kelapa sawit di Thailand:
pertimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan
Jonas Dallinger
Pengantar
Minyak sawit telah menjadi minyak nabati terkemuka di dunia
dalam hal konsumsi dan produksi dengan 45.3 juta ton dihasilkan di
seluruh dunia pada tahun 2009. Produsen terbesar, dengan pangsa
produksi sebesar 47,6% tahun 2009, adalah Indonesia, diikuti oleh
Malaysia (38,8%) dan Thailand (2,9%).1 Produksi global minyak
sawit dan, dengan demikian, perkebunan kelapa sawit telah
meningkat pesat dalam dekade terakhir dengan rata-rata tingkat
pertumbuhan tahunan sebesar 9,7% antara tahun 1998 dan 2008.2
Minyak sawit adalah komoditas yang serbaguna dalam industri
makanan serta kimia dan pengunaannya semakin meningkat sebagai
bahan baku untuk bahan bakar nabati (biofuel), yang merupakan
alasan lain atas peningkatan popularitas kelapa sawit. Faktor-faktor
lainnya mencakup peningkatan permintaan untuk minyak nabati
pada umumnya dan harga minyak sawit yang cukup rendah.
Dalam berbagai kampanye yang dipimpin oleh organisasi nonpemerintah (NGO) lingkungan dan sosial, ekspansi yang cepat dari
perkebunan kelapa sawit disebut bertanggung jawab atas rusaknya
hutan hujan, titik-titik penting keragaman hayati, dan kemunduran
atau risiko kepunahan spesies langka. Khususnya, orangutan telah
diberi status simbolis sebagai korban dari ekspansi kelapa sawit dan
berbagai kampanye anti minyak sawit secara langsung menentang
ancaman kepunahan spesies ini. Kritik utama lainnya terhadap
minyak sawit adalah pelanggaran hak-hak asasi masyarakat adat
yang terkena dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung,
oleh perkebunan kelapa sawit, kondisi kerja yang tidak manusiawi
di perkebunan kelapa sawit dan, meningkatnya kontribusi negatif
kelapa sawit terhadap perubahan iklim karena kerusakan hutan
primer dan lahan gambut untuk pengembangan perkebunan, kedua
wilayah ini diketahui memiliki cadangan karbon sangat tinggi.
Semua ini telah memberi citra buruk kepada minyak sawit, terutama
di Eropa dan Amerika Serikat. Akibatnya, perusahaan-perusahan
pengolahan minyak sawit dan pengecer terkemuka semakin
berkomitmen untuk membeli hanya minyak sawit yang diproduksi
dengan cara yang sesuai dengan standar keberlanjutan yang berlaku.
Yang lainnya bahkan melakukan hal yang lebih jauh lagi dan
melarang minyak sawit dari produk mereka sama sekali.3
Di Thailand juga, laju produksi minyak sawit semakin cepat dalam
beberapa tahun terakhir ini. Namun, struktur dari industri minyak
sawit Thailand mengungkapkan gambaran yang berbeda dengan
yang ada pada negara-negara penghasil minyak sawit utama, yang
mengarah kepada kesimpulan bahwa dampak produksi minyak
sawit, baik positif atau negatif, tidak dapat digeneralisasi dan
sebaliknya harus diteliti dan dikaji sebagai hasil-hasil yang spesifik
lokal.
Kencenderungan nasional perkembangan kelapa sawit di
Thailand
Saat ini, ada empat belas pabrik bio-diesel, dua belas kilang kelapa
sawit dan lebih dari enam puluh pabrik minyak sawit yang
beroperasi di Thailand. Pada tahun 2010 produksi minyak sawit
mentah (CPO) mencapai 1.287.509 ton, di mana 65.942 ton di
antaranya diekspor. Ekspor mencakup 5,1% dari total produksi
tahun 2010. Ini adalah jumlah yang biasa untuk minyak sawit yang
diekspor dari Thailand karena ekspor tahunan rata-rata minyak sawit
tetap pada kisaran angka 6% selama dua puluh tahun terakhir dan
hanya mencapai puncaknya sekitar 20% dari total produksi dalam
tahun-tahun tertentu saja. Gambar 1 menunjukkan produksi tahunan
CPO di Thailand selama dua puluh tahun terakhir serta jumlah yang
digunakan untuk produksi biodiesel. Pada tahun 2010, 380.000 ton
CPO, sekitar 29% dari keseluruhan produksi, digunakan sebagai
bahan baku untuk biodiesel.
Gambar 1: Produksi CPO di Thailand dan Konsumsi untuk
Biodiesel. (sumber: OAE 2010)
Trend Perkebunan
Lahan yang ditanami kelapa sawit di Thailand terus mengalami
peningkatan, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar
11% dari tahun 1981 hingga 2000 dan 9% dari tahun 2001 hingga
2010. Hal ini sangat sejalan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata
tahunan 9,7% antara tahun 1998 dan 2008.
Gambar 2: Perkembangan luas lahan yang ditanami dan dipanen di
Thailand (sumber: OAE 2010)
Sekitar 90% dari total lahan yang ditanami dengan kelapa sawit di
Thailand terkonsentrasi di provinsi-provinsi bagian selatan
Thailand. Provinsi-provinsi di bagian timur dan timur laut adalah
daerah ekspansi yang menonjol, terutama saat ini di Chon Buri dan
Trat di Pantai Timur. Tiga provinsi penghasil tandan buah segar
(TBS) utama adalah Krabi, Surat Thani dan Chumphorn, yang
menyumbang 72,1% dari total lahan perkebunan pada tahun 2008.
Tabel 1 memberikan gambaran provinsi-provinsi terpenting untuk
perkebunan kelapa sawit serta hasil tahunan rata-rata per hektar.4
Lahan yang
Lahan yang
Hasil (per
ditanami
dipanen
hektar)
(hektar)
(hektar)
Trad
10.735
6.540
20,3
Cholburi
13.096
11.844
19,5
Prachuabkirikhan
26.912
12.741
18,6
Chumpom
117.179
102.820
21,1
Ranong
11.724
7.687
18,3
Suratthani
146.441
120.440
20,2
Phangnga
16.345
13.078
17,8
Krabi
154.529
129.075
21,3
Trang
17.444
14.993
17,9
Nakhorns rithamarat 23.866
14.455
18,4
Satun
16.726
14.093
16,0
Lainnya
25.277
12.438
Total
580.275
459.704
Tabel 1: Luas lahan yang ditanami dan lahan yang dipanen dan
hasil TBS per hektar di Thailand. (sumber: OAE 2008: 27)
Di Thailand, lebih dari 120.000 petani terlibat dalam budidaya
kelapa sawit, sebagian besar mengelola lahan ukuran kecil hingga
menengah. Petani kecil yang memiliki lahan kurang dari lima puluh
hektar mengelola sekitar 70% dari total lahan yang ditanami dengan
kelapa sawit dan mereka memiliki total produksi TBS yang kurang
lebih sama. Skema kemitraan seperti Inti-Plasma (Nucleus Estate
Schemes / NES) di Indonesia atau FELDA di Malaysia tidak ada di
Thailand. Dalam banyak kasus, para petani bertindak secara
independen dari pabrik penggilingan kelapa sawit dan tidak terikat
kontrak atau perjanjian formal apa pun dengan pabrik pengolahan.
Dalam beberapa kasus, koperasi petani bahkan telah berhasil
membangun pabrik pengolahannya sendiri dengan dukungan
pemerintah. Gambar 3 memberikan perkiraan kasar tentang
distribusi produksi, luas dan rumah tangga yang terlibat di antara
berbagai skala perkebunan. Perlu dicatat bahwa "jumlah rumah
tangga yang terlibat" mengacu kepada keluarga petani dan tidak
termasuk pekerja pertanian yang bekerja di perusahaan perkebunan.
44.1%
45.0%
41.8%
38.4%
40.0%
36.1%
35.0%
30.0%
26.9% 26.4%
23.2%
22.0%
19.3%
25.0%
number of households
planted area (ha)
20.0%
FFB production (t)
15.0%
10.0%
7.7%
5.8%
3.7% 4.0%
5.0%
0.3%
0.2%
0.0%
<1.6 ha
1.6 - <8 ha
8 - <48 ha
48 - <160 ha
≥ 160 ha
Gambar 3: Perkiraan porsi produksi TBS, jumlah rumah tangga
dan lahan penanaman berdasarkan luas lahan di perkebunan
kelapa sawit (data tidak terkonfirmasi)
Rata-rata luas lahan yang dimiliki perusahaan kelapa sawit
dibandingkan dengan ukuran lahan petani mandiri adalah 796 hektar
untuk perusahaan dan 3,89 hektar untuk petani (termasuk koperasi
dan perkebunan pribadi) pada tahun 2007.5 Statistik ini
menunjukkan bahwa perkebunan yang sangat besar agak langka di
Thailand. Perkebunan kelapa sawit terbesar yang dimiliki sebuah
perusahaan di Thailand terdiri dari gabungan seluas 7.120 hektar
lahan.6 Dibandingkan dengan pemain utama global dalam industri
kelapa sawit yang memiliki banyak perkebunan kelapa sawit di
Malaysia dan Indonesia yang totalnya mencapai lebih dari 500.000
hektar, angka ini tampaknya amat kecil.7 Sulit bagi perusahaan
untuk memperluas lahan perkebunan mereka di Thailand karena
hanya sedikit bidang tanah untuk mendirikan perkebunan skala
besar yang efisien yang tersedia untuk dibeli dan harga tanah telah
meroket selama sepuluh tahun terakhir.8
Peraturan pertanahan dan penguasaan tanah
Kepemilikan tanah dan sertifikat tanah adalah isu-isu yang sangat
rumit di Thailand. Dari tahun 1970 dan seterusnya, pemerintah
Thailand telah melakukan banyak upaya legislatif dan programatik
sebagai bagian dari Program Sertifikasi 20 Tahun (20-Year Land
Titling Program / LTP) untuk menyelesaikan isu-isu tingginya
tingkat ketidakpastian hunian (tenant), ketidakpunyaan tanah, dan
kepemilikan tanah. Pemerintah menerapkan plafon yang tinggi
untuk kepemilikan pribadi dan melaksanakan program alokasi lahan.
LTP juga merampingkan sistem administrasi negara tentang
pertanahan, yang terkenal akan efisiensi dan transparansinya.9
Namun, upaya untuk membatasi luas kepemilikan pribadi dan
mendistribusikan kembali kelebihan lahan (ceiling-surplus land)
untuk keluarga tanpa tanah kurang didukung kemauan politik atau
pendanaan. Pada periode 1975-2003, hanya sekitar 74.000 hektar
lahan swasta yang telah didistribusikan kembali.10 Selain itu,
program ini tidak menjawab hak-hak penghuni hutan di negara ini,
yaitu wilayah luas besar yang telah dihuni dan dibudidayakan oleh
masyarakat lokal selama beberapa generasi.11
Meskipun demikian, pemerintah berhasil mengidentifikasi lahan
publik untuk distribusi dan mengatur bidang-bidang tanah publik
yang telah dirambah. Dalam periode yang sama, pemerintah
Thailand telah mengalokasikan 3,7 juta hektar lahan publik untuk
1,5 juta penerima, yang menerima bukti kepemilikan legal atau hak
guna yang diakui oleh hukum formal.12 Dengan demikian, LTP
diakui telah memberikan kontribusi positif terhadap kepastian
kepemilikan.13 Ini juga mendorong perkembangan pasar tanah.14
Hukum Thailand mendefinisikan tanah sebagai lahan privat atau
lahan publik. Lahan privat dimiliki oleh individu, kelompok, atau
badan hukum. Sekitar 40% tanah berada di bawah kepemilikan
privat pada tahun 1994.15 Lahan publik meliputi: tanah yang
digunakan oleh negara; lahan yang terbuka untuk publik; lahan yang
diidentifikasi untuk alokasi di bawah rencana reformasi tanah (juga
dikenal sebagai lahan pemukiman publik), dan kawasan hutan.
Seluruh tanah yang tidak berada di bawah kepemilikan privat
dianggap tanah negara.16 Jenis lain dari penguasaan lahan termasuk
okupansi dan pemanfaatan, dan sewa.
Lima legislasi utama yang membentuk dasar kerangka peraturan dan
tata kelola pertanahan Thailand adalah:
1) Konstitusi Thailand menyatakan bahwa negara harus mengadopsi
kebijakan pertanahan, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan
penggunaan lahan, distribusi tanah, perencanaan kota dan pedesaan,
dan perlindungan berkelanjutan atas tanah dan sumber daya alam
lainnya. Konstitusi secara khusus menyatakan bahwa distribusi
tanah harus adil dan memberikan petani hak atas tanah untuk
bertani.17
2) UU Pertanahan (Land Code) tahun 1954 (yang telah
diamandemen) adalah legislasi pertanahan Thailand yang paling
utama. UU Pertanahan mengidentifikasi berbagai jenis penguasaan,
termasuk hak kepemilikan dan hak penggunaan. Sebuah Komite
Alokasi Tanah bertugas mengidentifikasi lahan untuk alokasi dan
realokasi dan melaksanakan rencana realokasi lahan untuk tanah
negara dan privat.18
3) UU Reformasi Lahan Pertanian tahun 1975 (Agricultural Land
Reform Act of 1975) bertujuan untuk mengatasi tingginya tingkat
hunian (tenant) di daerah-daerah tertentu, banyaknya rumah tangga
tanpa tanah, dan perambahan lahan publik untuk membuka ladang.
UU ini menegaskan kembali dukungan negara untuk alokasi tanah
negara dan tanah privat untuk rumah tangga tanpa tanah atau rumah
tangga yang nyaris tidak memiliki tanah. UU ini juga memberikan
kesempatan bagi pemukim untuk menyewa atau membeli tanah
yang mereka garap dan memungkinkan penghuni liar dan siapa saja
yang telah melanggar tanah negara untuk mendapatkan hak mereka
secara hukum.19
4) UU Pengembangan Tanah tahun 1983 (Land Development Act of
1983) membentuk sebuah Komite Pembangunan Tanah nasional
untuk meningkatkan pemanfaatan lahan dan produktivitas lahan
pertanian negara. UU ini memberi kewenangan kepada komite ini
untuk: melakukan perencanaan pemanfaatan lahan, mengembangkan
program untuk mendukung petani, melakukan survey, dan membuat
rencana untuk meningkatkan kualitas.20
5) UU Penyesuaian Tanah tahun 2004 (Land Readjustment Act of
2004 )mengatur proses untuk pengukuran kembali (re-plotting) dan
pengembangan lahan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan. UU
ini membentuk sebuah Komite Penyesuaian Tanah nasional yang
bertugas jawab untuk mengembangkan kebijakan dan
mengidentifikasi daerah untuk penyesuaian kembali. UU ini juga
menetapkan serangkaian ketentuan untuk pembentukan Asosiasi
Pertanahan yang beranggotakan pemilik tanah di daerah di mana
penyesuaian kembali dilaksanakan dan Komite-Komite Provinsi
untuk mengatur proses ini.21
Tabel 2: Akta-akta hak-hak atas tanah di Thailand (sumber GTZ
2008:9)
Tabel 2 menunjukkan berbagai jenis status tanah dengan berbagai
jenis hak atas tanah yang ada. Tabel 3 menunjukkan distribusi status
tanah (dalam jumlah bidang tanah dan persentase dari jumlah total
bidang tanah yang dinilai) dalam sebuah survei sampel dari 1.012
bidang tanah ("Chanod" pada Tabel 3 sama dengan "sepenuhnya
dimiliki" di tabel 2). Perbedaan dalam penulisan dan jenis status
tanah yang dinilai dalam dua tabel merupakan indikasi dari
kompleknya sistem tenurial Thailand.
Hak tanah
(n=1,012 bidang
tanah)
14,1
Chanod
143
2,9
Nor Sor 3 Kor
29
30,9
Nor Sor 3
313
24,2
Sor Por Kor
245
14,9
Por Bor Tor 5
3,6
Kor Sor Nor 5/Kor Sor 151
36
1,4
Nor 3
14
8,0
- Lainnya
81
- Tidak ada status
Tabel 3: Status hak bidang-bidang tanah dalam survei (sumber:
Thongrak et al 2001:13)
-
Karena 8% bidang tanah dalam studi oleh Thongrak et al 2011 tidak
memiliki hak tanah sama sekali, penyelidikan lebih lanjut akan
diperlukan untuk mengungkapkan setiap konflik lahan dan
penentangan masyarakat lokal.
Secara umum, kerangka hukum formal diakui sebagai yang
mengatur hak-hak tanah di seluruh Thailand. 22 Hukum adat masih
digunakan di beberapa daerah dan untuk masalah-masalah tertentu –
khususnya yang menyangkut lahan perkebunan keluarga dan
perselisihan - di daerah pedesaan, khususnya di kalangan suku-suku
asli yang banyak menghuni dataran tinggi dan pengunungan di
daerah utara. Seringkali, suku-suku ini telah menduduki tanah yang
sama selama turun-temurun, dan di kalangan mereka dan suku-suku
tetangga, hukum adat menentukan hak akses dan penggunaan tanah.
Bagaimanapun, tanah tunduk pada kerangka hukum formal yang
mengatur hak atas tanah. Sebidang tanah luas yang diduduki oleh
masyarakat adat diklasifikasikan sebagai kawasan hutan negara, dan
sementara hukum saat ini tidak otomatis memberikan hak-hak
kepada masyarakat adat di bawah hukum formal, beberapa politisi
telah menyerukan regularisasi hak-hak kolektif, dan RUU Hutan
Kemasyarakatan yang sedang mengalami penundaan menyediakan
sebuah kerangka kontrak untuk pengelolaan hutan partisipatif dan
hak-hak akses dan hak pemanfaatan kawasan hutan terkait.23
Sistem administrasi tanah Thailand dianggap sebagai model untuk
negara Asia Tenggara lain. Sistem ini memiliki standar kinerja wajib
agar transaksi dapat diselesaikan dalam satu hari, dan beberapa
dapat selesai dalam waktu dua jam. Rata-rata, prosedur registrasi
tanah memerlukan waktu kurang dari satu hari dan biaya sekitar 1%
dari nilai properti.24 Hak tanah yang terdaftar umumnya dipandang
pasti. Namun, hak rumah tangga menempati tanah yang
diklasifikasikan sebagai kawasan hutan dianggap tidak begitu pasti,
tanpa memandang apakah mereka memiliki atau tidak memiliki
sertifikat yang memberi mereka hak untuk menempati dan
menggunakan tanah tersebut. Dengan atau tanpa sertifikat izin, hak
atas tanah seringkali hanya bersifat sementara dan penghuninya bisa
mengalami penggusuran.25
Pengelolaan pertanian dan pemasaran
Karena produksi CPO di Thailand jauh di bawah kapasitas tahunan
sebesar 2,5 juta ton dan karena jarangnya kepemilikan perkebunan
besar, pabrik pengolahan minyak Thailand sangat tergantung pada
pembelian TBS dari petani kelapa sawit mandiri, yang sebagian
besar adalah petani kecil. Ini membuat petani-petani tersebut dan
terutama para perantara berada dalam posisi tawar-menawar yang
baik untuk mencapai harga setinggi mungkin karena mereka bebas
untuk memutuskan kemana dan kepada siapa mereka akan menjual
produk mereka. Oleh karena itu, pembentukan harga terjadi di
tempat dan harga bervariasi dari hari ke hari atau bahkan dapat
berubah dalam hari yang sama. Hal ini juga disertai dengan fakta
bahwa pasokan TBS hanya menyumbang sekitar setengah dari
kapasitas penggilingan TBS, yang menyebabkan pabrik pengolahan
kadang harus membayar lebih tinggi dari harga kliring pasar (market
clearing price).26 Harga yang dibayar sering kali tidak berhubungan
dengan kualitas TBS karena pabrik-pabrik pengolahan tidak mampu
menolak atau menindak pengiriman TBS yang kualitasnya buruk,
karena mereka bergantung pada pasokan tetap.
Pada kebanyakan kasus, pengiriman TBS dari perkebunan ke pabrik
pengolahan ini diatur oleh para perantara yang memiliki fasilitas
kendaraan angkut atau ramp (sejenis bantalan untuk memudahkan
memindahkan barang ke tempat tinggi). Para perantara ini
mengumpulkan dan menggabungkan panen dari berbagai petani
untuk mendapatkan muatan truk yang lebih besar. Hal ini pada
gilirannya akan mengurangi biaya transportasi dan memungkinkan
mereka untuk menikmati harga istimewa untuk pengiriman dengan
volume yang lebih tinggi. Harga yang lebih tinggi dibayarkan untuk
buah yang lepas dari tandan karena kandungan minyak mereka ini
jauh lebih tinggi daripada buah pada tandan penuh. Sayangnya, hal
ini mendorong para perantara dan operator ramp untuk mencopoti
buah dari tandan. Bentuk malpraktek lain yang umum dilakukan
adalah membasahi TBS atau menambahkan pasir atau tanah untuk
menambah berat TBS. Praktek ini semakin merendahkan kualitas
TBS.
Harga TBS bervariasi sepanjang tahun dan sangat berhubungan
dengan harga pasar CPO dunia yang berubah-ubah. Gambar 4
menunjukkan harga TBS bulanan dalam Thai Baht (THB) per
kilogram dalam tiga tahun terakhir.
Monthly FFB price in THB from 2008 to 2010
8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
FFB price THB
2.00
1.00
0.00
1Q 2008 2Q 2008 3Q 2008 4Q 2008 1Q 2009 2Q 2009 3Q 2009 4Q 2009 1Q 2010 2Q 2010 3Q 2010 4Q 2010
Gambar 4: Harga bulanan TBS sepanjang 2008 - 2010 (sumber:
data yang tidak dipublikasikan, OAE 2010)
Di perkebunan kecil, biasanya TBS dipanen kurang lebih setiap dua
puluh hari. Panen sering dilakukan oleh tim pemanen dari luar yang
dibayar berdasarkan berat buah yang dipanen dan yang mengirim
TBS ke ramp dengan mobil pick-up. Upah mereka tergantung pada
panen tapi biasanya lebih tinggi dari upah minimum pekerja industri
di Thailand. Musim panen yang tinggi berlangsung dari bulan Maret
sampai bulan Juni. Agrisource 2005 menyatakan bahwa hanya 10%
dari petani kelapa sawit Thailand yang mengelola pertanian mereka
sepenuhnya dengan tenaga sendiri.27 Dalam sebuah survei lapangan
oleh Thongrak et al. pada tahun 2011, 80,5% dari semua petani yang
diwawancarai mempekerjakan tenaga kerja tambahan. Tim pemanen
umumnya diatur oleh para perantara atau operator ramp, dan
layanan mereka meliputi kegiatan pengelolaan perkebunan
tambahan seperti pemangkasan atau penyiangan. Kontrak untuk
buruh pada perkebunan petani kecil tampaknya tidak ada. Dalam
banyak kasus, buruh adalah para pendatang dari kawasan miskin di
Thailand (biasanya dari provinsi-provinsi di daerah timur laut) atau
dari negara-negara tetangga termasuk Myanmar dan Kamboja.
Sebuah survei lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar petani
kecil kebanyakan menyadari potensi cedera kerja di perkebunan
(96%, n = 503) dan melakukan tindakan-tindakan pencegahan
(96,5%, n = 483). Namun, informasi tentang hak-hak pekerja nyaris
tidak ada di kalangan petani kecil. Upah minimum hanya diketahui
oleh sekitar setengah dari petani yang diwawancarai.28
Hasil TBS dan OER di Thailand
Sementara hasil TBS per hektar dan per tahun telah meningkat
secara signifikan meskipun mengalami fluktuasi dalam dua puluh
tahun terakhir (lihat Gambar 5), tingkat ekstraksi minyak (OER)
keseluruhan di Thailand menurun lebih 2% dari periode 1990-1994
sampai periode 2005-2009.
21.00
22.0%
19.00
20.0%
17.00
18.0%
15.00
FFB production t / ha
13.00
16.0%
11.00
14.0%
9.00
OER %
Linear (FFB production t / ha)
Linear (OER %)
12.0%
7.00
10.0%
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
5.00
Gambar 5: Produksi TBS dan OER dari 1990 - 2010, (sumber:
data yang tidak dipublikasikan, OAE 2010)
Rata-rata produksi TBS tahunan Thailand sebesar 16,8 ton / hektar
selama 2005-2009 jauh di bawah yang dapat dicapai oleh
perkebunan komersial di negara-negara penghasil minyak sawit
utama. Selain itu, karena 16,8 ton/hektar adalah rata-rata industri
Thailand, ini mengimplikasikan bahwa produksi rata-rata petani
kecil bahkan lebih rendah.
Donough menyatakan bahwa pada satu blok tunggal di Malaysia
dan Indonesia bisa dicapai hasil TBS tahunan di atas 40 ton / hektar,
sedangkan hasil TBS tahunan rata-rata keseluruhan sebuah produsen
internasional besar adalah 27 ton / hektar pada tahun 2006.29 Petani
kecil umumnya dilaporkan mendapatkan hasil yang jauh lebih
rendah. Sebuah operasi besar di West New Britain, Papua Nugini
(PNG) melaporkan hasil TBS tahunan rata-rata dari perkebunannya
adalah 26-28 ton / hektar dibandingkan dengan 18 ton / hektar ratarata hasil petani kecil pemasok. Oil Palm Industry Cooperation
(OPIC) melaporkan bahwa hasil TBS rata-rata petani dalam proyek
Hoskins (West New Britain, PNG) adalah 17,3 ton / hektar. Namun,
beberapa dari mereka pernah menghasilkan hampir 30 ton / hektar.30
Ada banyak variabel yang menjelaskan tingkat produksi yang
berbeda ini, misalnya tanah, iklim, curah hujan, kelebatan rumpun,
umur tanaman, input pupuk, serangan hama, intensitas pengelolaan
dan kedekatan lokasi dengan pasar.
Di Thailand, petani yang mengelola perkebunan mereka dengan
baik dapat mencapai hasil TBS tahunan antara 20 sampai 30 ton /
hektar. Fairhurst memperkirakan bahwa hasil panen di propinsi
Krabi dapat ditingkatkan sebesar 2,5 ton / hektar melalui praktekpraktek pengelolaan pertanian yang lebih baik. Ini termasuk:
mengoptimalkan penggunaan pupuk mineral untuk memaksimalkan
panen dengan biaya serendah mungkin; mengintegrasikan
penggunaan pupuk mineral dan residu tanaman; pengelompokkan
berdasarkan kontur (front stacking around contour lines); kanopi
dan pengelolaan tutupan tanah yang tepat. Dihitung atas seluruh
wilayah produksi di Thailand pada tahun 2009, peningkatan ini
dapat menghasilkan tambahan produksi TBS sebanyak 1,276 ton
dan produksi CPO sebesar 217.016 ton. Angka ini sesuai dengan
hilangnya pendapatan 4.972 juta USD atau 151 juta USD di sektor
kelapa sawit Thailand (OER dari 17%, harga CPO Malaysia tahun
2009 adalah 22.910 THB / ton; nilai tukar pada 33 THB / USD).
Selain itu, dengan peningkatan kinerja (yaitu hasil meningkat
sebesar 2,5 ton / hektar) ke-1.387.604 ton CPO yang diproduksi di
Thailand pada 2009 bisa dicapai dengan menghemat 69.004 hektar
lahan (13,5% dari total area panen tahun 2009).
OER di Thailand telah menurun selama dua puluh tahun terakhir.
OER rata-rata pada periode 1990-1994 adalah 18,8%, sedangkan
dari tahun 2005-2009 OER rata-rata hanya 16,6%, menunjukkan
penurunan lebih dari 2%. Jika OER rata-rata 18,8% dapat dicapai
pada tahun 2009, tambahan 146.923 ton CPO, setara 10,6% dari
total hasil CPO pada 2009, dapat dihasilkan. Dikalikan dengan
harga rata-rata CPO Malaysia untuk tahun 2009 (22.910 THB / ton),
angkanya akan setara dengan 3.366 juta USD (sekitar 102 juta USD
pada nilai tukar 33 THB / USD.31 Pendapatan tambahan ini
sebenarnya dapat dihasilkan oleh sektor kelapa sawit Thailand
seandainya bisa mencapai OER yang sama seperti lima belas tahun
lalu. Dengan asumsi bahwa penghasilan tambahan ini sepenuhnya
ditransfer ke harga TBS, harga akan meningkat 0,41 THB / kg, atau
11,3% dari harga TBS rata-rata di tahun 2009.
OER potensial yang bisa dicapai di bawah praktek pengelolaan
yang baik bahkan lebih tinggi dari 18,8% yang dicapai selama 19901994 di Thailand. Perkebunan di Indonesia dan Malaysia mencapai
OER hingga 25% di bawah kondisi optimum.32 Contoh dari salah
satu pemain utama di PNG di West New Britain menunjukkan
bahwa OER sebesar 23% dapat dicapai, bahkan dengan
mengandalkan pengiriman TBS petani kecil untuk hanya sepertiga
dari jumlah total TBS yang diproses (data dari kunjungan lapangan
tahun 2010 yang dilakukan penulis).
OER sebesar itu di operasi pabrik pegolahan minyak bergantung
pada berbagai faktor dan perbaikan jangka pendek tidak mudah
dicapai. Faktor-faktor penghambat di Thailand adalah kemarau dan
tegakan kelapa sawit yang cenderung tinggi (yaitu jumlah kelapa
sawit yang tumbuh di daerah tertentu) dari bahan tanam yang
kualitasnya relatif rendah. Sawit dari penanaman bahan tanam
(benih) berkualitas rendah akan memiliki kandungan minyak lebih
rendah dibandingkan kelapa sawit dari bibit unggul bersertifikat.
Semakin tinggi proporsi kelapa sawit dari benih yang buruk di
Thailand, semakin rendah OER yang potensial dicapai.
Namun, beberapa perusahaan Thailand melaporkan rata-rata OER
sebesar 26% di perkebunan mereka sendiri dan potensi bisa
meningkat hingga 29% (data dari kunjungan lapangan tahun 2010
yang dilakukan penulis). Peningkatan praktek-praktek petani kecil
untuk mengatasi OER sawit yang rendah di Thailand tidak hanya
akan menghasilkan manfaat ekonomi bagi industri dan petanian;
luas lahan yang signifikan di bawah budidaya kelapa sawit juga bisa
dihemat. Ada potensi besar untuk efisiensi yang lebih tinggi di
sektor ini dengan memperbaiki praktek pertanian di perkebunan
petani kecil.
Situasi ekonomi petani kecil
Hasil dari survei sampel menunjukkan bahwa kebanyakan petani
kelapa sawit kecil memiliki hutang dan mengambil pinjaman dari
Bank Pertanian dan Koperasi (Bank of Agriculture and Cooperatives
/BAAC) untuk membiayai pengelolaan pertanian mereka serta
kegiatan atau aset lainnya.33 Namun, karena pinjaman hutangnya
adalah pada BAAC, bank tersebut tidak membatasi atau
mensyaratkan para petani mengenai praktek pertanian atau
keputusan pemasaran mereka. Keuntungan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tanaman lain dipandang sebagai alasan utama
untuk mengembangkan pertanian kelapa sawit. Selain itu, kelapa
sawit menawarkan pendapatan yang stabil dan tetap sepanjang tahun
dan tenaga kerja pertanian yang dibutuhkan relatif rendah. Dalam
kebanyakan kasus, petani Thailand bebas memilih tanaman apa
yang ingin mereka tanam. Sebuah pengecualian adalah skema
pemukiman dimana petani diberikan hak atas tanah yang terbatas di
bawah prasyarat penanaman kelapa sawit untuk jangka waktu
tertentu.
Ekspansi terus menerus perkebunan kelapa sawit dan peralihan
penggunaan lahan oleh petani mandiri dari tanaman pertanian lain
ke kelapa sawit menegaskan daya tarik ekonomi dari komoditas
kelapa sawit ini. Dinas Ekonomi Pertanian (Office of Agricultural
Economics / OAE) melaporkan bahwa pendapatan bersih dari setiap
ton TBS kelapa sawit yang dihasilkan adalah 1.067 THB pada tahun
2010 (917 THB dan 2.107 THB untuk masing-masing tahun 2009
dan 2008).34 Variasi dalam laba bersih terutama terjadi dalam
kaitannya dengan harga TBS dan harga pupuk. Dengan hasil ratarata 3.225 ton/rai/tahun35 dan luas lahan rata-rata 19,32 rai per
rumah tangga petani kelapa sawit yang memiliki kurang dari 300
rai (48 hektar) (bandingkan Gambar 3), pendapatan bersih untuk
median rata-rata petani kecil Thailand untuk tahun 2008 adalah
131.281 THB atau USD 4007 per tahun (kurs 32,76 THB/USD).36
Perhitungan yang didasarkan pada data statistik ini harus
dipertimbangkan dengan hati-hati ketika menilai situasi ekonomi
petani kecil. Dalam sebuah survei lapangan oleh Thongrak et al.,
hanya 22,5% dari petani yang diwawancarai bergantung pada
pertanian kelapa sawit sebagai satu-satunya sumber pendapatan,
sehingga kebanyakan petani kelapa sawit diperkirakan memiliki
sumber pendapatan tambahan.37 Penelitian yang sama
mengungkapkan bahwa hanya 24,4% dari petani dalam studi itu
memiliki pendapatan rumah tangga kurang dari 200.000 USD dan
mean aritmatika pendapatan rumah tangga adalah 470.650 THB atau
USD 14.377 per tahun, di mana 60,2% di antaranya berasal dari
pertanian kelapa sawit.38
Kebijakan dan rencana
Rencana Pengembangan Industri Kelapa Sawit dan Minyak Sawit
Thailand untuk tahun 2008-2011 dikembangkan oleh Kementerian
Pertanian dan Koperasi yang bekerja sama dengan Kementerian
Energi. Rencana ini mempunyai visi pembangunan industri minyak
sawit yang berkelanjutan dan peningkatan produksi produk dengan
nilai-tambah. Rencana ini menargetkan pengembangan penanaman
baru seluas 80.000 hektar dan penanaman kembali tahunan seluas
16.000 hektar sampai tahun 2011. OER rata-rata ditargetkan
meningkat sampai 18,5% dan hasil rata-rata hasil TBS mencapai 21
ton/hektar menjelang 2011. Kebijakan Energi Terbarukan Thailand
adalah alat penting untuk mendukung harga pasar bahan baku
industri ini dengan memanfaatkan surplus TBS yang mungkin
dihasilkan untuk produksi biodiesel, melalui promosi biodiesel yang
berasal dari kelapa sawit. Pasar Thailand dilindungi dari persaingan
asing karena mengimpor minyak sawit memerlukan persetujuan
khusus dan hanya terbatas pada Organisasi Gudang Publik Thailand
(Thai Public Warehouse Organisation / PWO), sebuah organisasi
yang dikendalikan pemerintah. Pada saat harga rendah, pemerintah
cenderung mendukung harga pasar dengan intervensi melalui PWO
seperti yang terjadi pada akhir 2008 ketika PWO membeli sejumlah
besar CPO untuk menaikkan harga TBS menjadi 3,5 THB/kg.39
Kementerian Energi Thailand memperkenalkan Rencana
Pengembangan Biodiesel dengan sebuah campuran wajib 2% (B2)
biodiesel (B100) dari tahun 2008 dan seterusnya, ketika kebijakan
tersebut diberlakukan. Produksi B100 didasarkan pada produk sawit
seperti CPO, stearin sawit serta minyak sawit suling tanpa bau
(refined bleached deodorised palm oil / RBD). Campuran 5% (B5)
biodiesel telah diperkenalkan atas dasar sukarela sejak tahun 2008
dan potongan serta pembebasan pajak dari pembayaran kepada dana
minyak untuk B100 secara tidak langsung digunakan untuk
mensubsidi B5. Pada tahun 2010, B3 wajib (campuran 3%)
dikenalkan. Namun, rencana pengenalan B5 wajib pada tahun 2011
telah dikesampingkan karena kekurangan kelapa sawit yang parah di
Thailand selama kuartal keempat tahun 2010 dan awal 2011. Untuk
menghindari kekurangan pada saat pasokan berkurang, pemerintah
Thailand kini mengikuti sebuah pendekatan yang fleksibel terhadap
campuran biodiesel, dan menetapkan kuota campuran berdasarkan
situasi pasokan di pasar. Pendekatan ini tampaknya masuk akal
karena impor bahan baku untuk biodiesel tidak dapat diprediksi, dan
proyeksi pasokan domestik Thailand tidak dapat mengakomodasi
permintaan tambahan yang dihasilkan dari Rencana Pengembangan
Biodiesel.40
Sesuai dengan perencanaan penggunaan lahan Thailand, ekspansi
budidaya kelapa sawit dimaksudkan untuk dilaksanakan terutama di
lahan tak terpakai, lahan rusak/terdegradasi, tanah asam serta lahan
bekas budidaya karet dan padi. Pemerintah telah menyiapkan sebuah
paket pinjaman lunak untuk mendukung kebijakan ini dan
mempromosikan konversi dari karet ke kelapa sawit di provinsiprovinsi di wilayah selatan.41 Saat ini pemerintah merencanakan
regulasi lebih lanjut mengenai industri minyak sawit melalui
pengembangan sebuah kerangka regulasi. Dampak dari inisiatif
pemerintah ini belum dapat diramalkan namun diharapkan kerangka
ini juga memasukkan keberlanjutan dalam isu-isu yang hendak
ditangani.
Isu-isu keberlanjutan dalam sektor minyak sawit Thailand
Gambaran ikonik terkait perkebunan monokultur minyak sawit yang
luas, penebangan kayu berskala besar, pembakaran lahan gambut
dan ancaman kepunahan orangutan, tidak ditemukan di Thailand.
Thailand telah melarang penebangan hutan sejak tahun 1989 dan
hutan yang tersisa dinyatakan sebagai taman nasional atau cagar
alam. Wildlife Conservation Society menjelaskan "jaringan kawasan
lindung Thailand (...) [sebagai] salah satu sistem terkuat di Asia
Tenggara.42
Ekspansi perkebunan kelapa sawit secara eksplisit ditujukan pada
tanah "tak terpakai" (waste land) seperti sawah yang terbengkalai,
lahan terdegradasi, perkebunan buah-buahan yang terbengkalai,
lahan dengan tanah bersifat asam dan lahan bekas budidaya karet.43
Hal ini didukung oleh survei sampel yang meneliti penggunaan
lahan sebelum pertanian kelapa sawit seperti yang diuraikan dalam
Tabel 4. Penelitian telah menunjukkan bahwa ekspansi sebenarnya
dari perkebunan kelapa sawit di provinsi-provinsi selatan terutama
berlangsung di atas lahan sawah dan kebun karet, dan di provinsi
Chonburi, di atas tanah yang dulunya digunakan untuk budidaya
singkong dan nenas.44 Ekspansi besar baru-baru ini dlaksanakan di
atas lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertambangan di
provinsi Trat.
Hampir 30% lahan di Thailand diklasifikasikan sebagai hutan dan
telah menjadi subyek perebutan hak selama beberapa dekade45
karena kelompok-kelompok konservasi, penghuni hutan dan
perusahaan pertambangan bersaing untuk menguasai lahan hutan
dan sumber daya. Dalam mengantisipasi bagian dari UU Kehutanan
Masyarakat dan program-program pemberian beberapa hak jangka
panjang resmi untuk penghuni hutan. Departemen Kehutanan telah
meningkatkan upayanya untuk membawa tanah ke dalam status
dilindungi. Pemerintah mengakui peran positif hak kehutanan
partisipatif dalam pengelolaan dan pelestarian sumber daya hutan
yang berkelanjutan.46
Namun, pengembangan legislasi lebih lanjut terhenti dan dampak
dari program hutan masyarakat terhambat oleh kurangnya kerangka
hukum.47 Selain itu, intrusi ke dalam hutan dan kawasan lindung
untuk produksi pertanian juga telah dilaporkan, khususnya di
provinsi-provinsi selatan juga. Pada tahun 2008, total intrusi di
provinsi-provinsi selatan dan timur Thailand seperti yang dilaporkan
oleh Departemen Kehutanan Kerajaan (RFD) mencapai 2.786
hektar.48 Meskipun begitu, intrusi-intrusi ini tidak dapat secara
langsung dikaitkan dengan ekspansi kelapa sawit yang tidak
terkendali, karena dokumentasi menyeluruh dan terpilah dalam hal
ini belum ada. Membangun dan melindungi zona penyangga antara
lahan yang digunakan untuk pertanian dan kawasan lindung dapat
membantu untuk memastikan perlindungan efektif daerah-daerah
ini.
Dampak lingkungan negatif yang diklaim diakibatkan oleh
pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dilaporkan di provinsi
Sri Thammarat Nakhorn pada tahun 2010, di mana pembakaran
rawa gambut dilakukan di Kuan Phru Kreng Wetland. Informasi
tentang luas sebenarnya yang terkena dampak bervariasi di antara
media lokal.49 Sebuah laporan pers akhir-akhir ini menyalahkan
perambahan perkebunan kelapa sawit dan karet ke dalam kawasan
lindung sebagai salah satu penyebab badai off-season hebat di
Thailand bagian selatan pada bulan Maret 2011, yang menewaskan
sedikitnya empat puluh orang.50
Ini hanya gambaran-gambaran sisi negatif dari pembangunan
perkebunan kelapa sawit tetapi kasus-kasus seperti ini menunjukkan
bahwa pemantauan yang ketat terhadap ekspansi perkebunan kelapa
sawit sangat diperlukan untuk menghindari dampak lingkungan
yang merugikan dan pelanggaran regulasi Thailand.
Penggunaan
lahan
sebelum kelapa sawit
Perkebunan karet
Tanah tidak terpakai
Tanah pertanian lain
No. (n=1,012 plots)
%
269
401
172
26,6
39,6
17,0
Perkebunan
kelapa 15
1,5
sawit
Sawah
134
13,2
Tidak tersedia
21
2,1
Tabel 4: Penggunaan tanah sebelum kelapa sawit (sumber:
Thongrak et al 2011: 13)
Dampak lingkungan dari praktek pengelolaan pertanian telah diteliti
selama kunjungan lapangan ke Kabupaten Aoluek, Provinsi Krabi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun praktek pertanian
sangat bervariasi di antara para petani, ada potensi untuk
mengurangi dampak lingkungan yang negatif. Isu-isu utama yang
diidentifikasi adalah pemeliharaan terhadap zona penyangga di
pingiran sungai, langkah-langkah pencecegahan erosi, pengukuran
kemiringan tanah dan efisiensi penggunaan pupuk.51 Survei lebih
lanjut dan pengamatan umum menunjukkan bahwa langkah-langkah
tentang perlindungan dasar terhadap erosi serta tentang kesuburan
tanah diikuti oleh sebagian besar petani kecil. Penggunaan bahan
kimia dibatasi, dan sebagian besar petani tidak menggunakan bahan
kimia selain pupuk. Dalam hal aplikasi kimia, peralatan pelindung
dasar seperti masker, sarung tangan dan sepatu bot digunakan di
sebagian besar perkebunan.52 Sehubungan dengan dampak sosial,
sebuah studi sektor yang dilaksanakan Thailand Environment
Institute (TEI) mengidentifikasi bahwa tidak ada alasan untuk
mengkhawatirkan perkebunan kelapa sawit Thailand.53 Meskipun
tampaknya tidak ada perbedaan signifikan yang diperkirakan antara
situasi pertanian kelapa sawit dan situasi pertanian tanaman lainnya
di Thailand, dianjurkan adanya pemeriksaan lebih lanjut atas isu ini.
Dampak lingkungan dari pabrik pengolahan kelapa sawit terutama
adalah dari limbah padat dan air limbah. Namun, dalam industri
Thailand, limbah padat sering dijual kepada industri lain atau
digunakan sebagai bahan bakar dalam proses penggilingan atau
untuk menghasilkan energi untuk jaringan listrik. Praktek yang
umum ini membuat sebagian besar pabrik mampu memasok
energinya sendiri. Dalam banyak kasus, air limbah dari proses
penggilingan juga digunakan, yaitu, dengan membangun fasilitas
biogas yang menangkap gas metana dari air limbah dan
menghasilkan listrik. Praktek ini merupakan kontribusi besar
terhadap pengurangan gas rumah kaca (GRK) dalam proses
produksi minyak sawit (hampir semua emisi dalam proses pabrik
penggilingan kelapa sawit berasal dari air limbah) dan memenuhi
syarat untuk didaftarkan sebagai sebuah proyek Mekanisme
Pembangunan Bersih (CDM). Jumlah proyek CDM yang disetujui
di Thailand masih terbatas karena banyaknya prosedur birokratis
yang memberatkan. Namun demikian, teknologi biogas digunakan
atau sedang mulai digunakan di banyak operasi pabrik penggilingan
kelapa sawit, karena manfaat ekonominya tidak hanya berasal dari
pendaftaran proyek CDM dan penjualan kredit karbon, tetapi juga
dari langkah-langkah kebijakan Thailand yang mengijinkan
penjualan listrik yang dihasilkan dengan harga istimewa. Sampai
tahun 2008, dua puluh satu proyek CDM di sektor kelapa sawit telah
terdaftar di Organisasi Pengelolaan Gas Rumah Kaca Thailand
(TGO).54
Standar dalam budidaya kelapa sawit
Sebuah standar Praktek Perkebunan yang Baik (Thai GAP) untuk
perkebunan kelapa sawit Thailand disusun pada tahun 2010 dan
pelaksanaannya berdasarkan pada azas sukarela. Standar GAP ini
jangan dirancukan dengan standar GAP global meskipun sama-sama
menangani isu-isu yang sama. GAP Thailand untuk minyak sawit
adalah inisiatif nasional dari Kementerian Pertanian dan Koperasi.
Kepatuhan petani dikontrol oleh Departemen Pertanian. Isu-isu yang
ditangani meliputi penggunaan yang aman dari pestisida, air dan
pupuk. Selama proses penyusunan standar, Prinsip dan Kriteria
RSPO digunakan sebagai digunakan sebagai referensi (lihat di
bawah).
Inisiatif pemerintah lainnya terdiri dari standar untuk kualitas TBS,
juga dikenalkan oleh Kementerian Pertanian dan Koperasi. Standar
ini untuk menangani isu hilangnya minyak dalam industri Thailand
yang terjadi akibat panen buah yang belum masak dan praktek
penanganan yang buruk. Isu-isu yang dibahas dalam standar TBS
termasuk malpraktek penambahan air dan pasir untuk menambah
berat TBS, dan isu-isu yang berkaitan dengan kematangan dan
kesegaran TBS.
RSPO di Thailand
RSPO merupakan inisiatif multi-stakeholder yang didedikasikan
untuk mempromosikan produksi minyak sawit berkelanjutan di
seluruh dunia. RSPO memiliki lebih dari 500 anggota biasa dan
anggota afiliasi dari berbagai stakeholder misalnya mereka yang
terlibat dalam produksi, pengolahan dan pembiayaan minyak sawit,
dan berbagai NGO. Selama proses negosiasi pemegang multistakeholder, anggota RSPO mengembangkan delapan prinsip dan
tiga puluh sembilan kriteria yang mendefinisikan produksi minyak
sawit yang berkelanjutan. Hampir sepuluh tahun telah berlalu
pendiriannya dan RSPO telah menjadi referensi global untuk
produksi minyak sawit
berkelanjutan. Namun, RSPO juga
mendapat kritik dari berbagai sisi dan dituding telah menutupi aspek
buruk lingkungan dari industri kelapa sawit (greenwash).
Saat ini, ada sembilan belas perusahaan penghasil atau pengolah
kelapa sawit Thailand yang menjadi anggota RSPO.55 Di Thailand,
sebuah kelompok kerja beranggotakan stakeholder dari berbagai
kelompok
kepentingan
berkumpul
tahun
2009
untuk
mengembangkan interpretasi nasional dari Prinsip dan Kriteria
RSPO yang telah disetujui oleh Dewan Eksekutif RSPO (EB)
tanggal 9 Juli 2010. Meskipun sebelumnya telah disetujui oleh EB,
persetujuan akhir masih belum diberikan karena ada beberapa isu
yang dianggap memerlukan penyelidikan lebih lanjut menurut
sekretariat RSPO dan para konsultannya. Sebagaimana diuraikan
dalam laporan ini, petani kelapa sawit kecil mandiri merupakan
mayoritas petani di Thailand. Untuk mengakomodasi mereka dalam
RSPO, sebuah proses dimulai di Thailand bulan September 2010
untuk mengembangkan pedoman dan indikator bagi petani kecil
mandiri.
Tantangan bagi sertifikasi petani kecil
Ketika melihat sektor pertanian secara keseluruhan, terlihat jelas
adanya proliferasi standar-standar swasta. Dalam kata-kata
Giovannucci dan Purcell, "standar-standar swasta menjadi
persyaratan entri dasar de facto untuk melakukan perdagangan
dengan banyak operator skala besar dan rantai-rantai nilai
terkemuka".56 Efek negatif pada petani kecil dan petani yang
dirugikan telah dipelajari untuk berbagai komoditas tanaman.57
Prospek untuk sektor minyak sawit menunjukkan komitmen yang
jelas dari pelaku rantai nilai utama terhadap sertifikat minyak sawit
yang berkelanjutan. Salah satu contoh dapat dilihat di newsletter
RSPO baru-baru ini yang menyatakan bahwa "Belanda
berkomitmen terhadap 100% minyak sawit berkelanjutan di tahun
2015".58 Persyaratan-persyaratan pasar baru seperti itu untuk
sertifikasi minyak sawit berkelanjutan dapat secara efektif
"menghilangkan petani kecil dan miskin dari rantai nilai”59 seperti
diuraikan dalam arti yang lebih luas untuk kelas (grade) dan standar
standar swasta oleh Giovannucci dan Purcell.
Salah satu tantangan utama bagi sektor kelapa sawit Thailand dalam
mencapai sertifikasi RSPO adalah penyertaan banyak petani
kecilnya. Berbeda dengan perkebunan perusahaan besar, petani kecil
tidak mampu secara mandiri memenuhi persyaratan pengelolaan
yang digariskan Prinsip dan Kriteria RSPO. Selain itu, petani kecil
tidak mampu menanggung berbagai biaya yang berasal dari
keanggotaan, kepatuhan dan verifikasi. Selain itu, insentif yang jelas
bagi para petani kecil ini untuk mencapai sertifikasi masih kurang.
Di dalam kerangka RSPO baru-baru ini, petani kecil harus
membentuk kelompok untuk tetap independen dari perusahaan
pengolahan sementara pada saat yang sama harus mampu
memperoleh sertifikasi RSPO. Kelompok-kelompok petani kelapa
sawit kecil mandiri harus tunduk pada Standar RSPO untuk
Sertifikasi Kelompok serta Prinsip dan Kriteria RSPO agar TBS
mereka dapat disertifikasi. Namun, sampai Maret 2011, belum ada
sistem pemasaran yang memungkinkan penjualan TBS bersertifikat
ke pasar untuk minyak sawit bersertifikat.60
Untuk menerima insentif harga untuk TBS bersertifikat di masa
depan, ada dua pilihan yang mungkin, yaitu: menjual TBS
bersertifikat ke pabrik pengolahan bersertifikat yang bergantung
pada produksi TBS dari petani kecil atau menjual sertifikat untuk
TBS berkelanjutan lewat sistem perdagangan sertifikat Sawit
Hijau.61 Namun, harga premium yang mungkin untuk minyak sawit
bersertifikat sering kali didiskusikan namun sulit diramalkan. Jika
melihat harga saat ini untuk sertifikat minyak sawit RSPO,
diragukan bahwa akan ada insentif harga sertifikasi yang
menjanjikan bagi petani kecil. Sebagai contoh, harga sertifikat
minyak sawit berkelanjutan sebesar USD 3,79/ton CPO dan USD
5,00/ton minyak biji sawit (PKO)62 dapat dialihkan menjadi harga
sertifikat TBS hanya dengan menggunakan OER rata-rata 20% dan
tingkat ekstraksi minyak biji 2,5% (bagian PKO yang diekstraksi per
unit TBS). Berdasarkan anggapan ini, harga sertifikat akan
ditransfer ke harga premium untuk TBS yang dihasilkan secara
berkelanjutan sebesar 0,022 THB/kg TBS (dari sertifikat CPO) dan
sebesar 0,003 THB/kg TBS (dari sertifikat PKO)63 hingga totalnya
adalah 0,025 USD/kg TBS. Sangat diragukan apakah ini bisa
menutupi biaya sertifikasi yang diantisipasi bahkan ketika
mengandaikan bahwa sistem RSPO akan menutupi biaya verifikasi
oleh badan sertifikasi dan memberikan dukungan untuk peningkatan
kapasitas. Di sisi lain, dapat dibayangkan bahwa sertifikat CPO dan
PKO dari kelompok petani kecil bisa mencapai harga lebih tinggi
dari harga sertifikat produsen besar yang saat ini diperdagangkan di
GreenPalm.
Beberapa kemungkinan biaya yang diantisipasi untuk pencapaian
sertifikasi kelompok terhadap persyaratan RSPO mencakup hal-hal
sebagai berikut:










pengadaan informasi
pembentukan kelompok
pengelolaan kelompok
perubahan yang diperlukan dalam praktek pengelolaan
perkebunan (mungkin manfaat bersih)
alat / fasilitas yang diperlukan (misalnya peralatan
keselamatan, penyimpanan pestisida)
dokumen yang diperlukan tentang persyaratan RSPO dan
sertifikasi kelompok
pelatihan yang diperlukan (tentang berbagai topik)
analisa HCV
pengelolaan HCV
produksi dan daerah yang hilang (terkait dengan persyaratan
HCV atau GAP)




pemeliharaan sistem pengelolaan kelompok (pertemuan yang
diperlukan, sistem pendokumentasian, dll.)
kajian internal
audit eksternal (biaya internal dan eksternal)
biaya kesempatan
Karena kurangnya pengalaman dalam sertifikasi petani kecil milik
RSPO, sulit untuk memperkirakan biaya sertifikasi dan laporan ini
tidak akan mencoba untuk memperkirakannya. Namun, dengan
mempertimbangkan harga premium minimal saat ini dan lambatnya
tindakan dari RSPO, tampak jelas bahwa insentif inovatif untuk
sertifikasi harus diupayakan jika petani tidak ingin dikecualikan.
Ini berarti bahwa sertifikasi RSPO kemungkinan tidak akan
menawarkan insentif dalam bentuk akses ke pasar-pasar nilai yang
lebih tinggi tetapi menjadi sebuah persyaratan untuk masuk ke
dalam rantai-rantai nilai utama. Agar petani tidak dikecualikan,
struktur kelembagaan untuk mendukung petani kelapa sawit kecil
untuk memenuhi persyaratan keberlanjutan dan sertifikasi sangat
penting. Saat ini, ada pembahasan dan rencana dalam RSPO untuk
pembentukan mekanisme dukungan bagi petani kecil. Namun, tidak
ada garis waktu yang jelas. Sejauh ini, masih belum jelas kapan
dukungan mekanisme bagi petani akan tersedia dan apakah mereka
dapat secara efektif menciptakan peluang-peluang dari keterlibatan
dalam produksi dan sertifikasi berkelanjutan.
Standar-standar swasta seperti RSPO secara efektif menyerahkan
tanggung jawab untuk berkelanjutan (termasuk isu-isu perlindungan
lingkungan dan hak asasi manusia) kepada sektor swasta di mana
tanggung jawab ini dialirkan ke hulu di sepanjang rantai nilai. Ini
membebaskan pemerintah, lembaga-lembaga terkemuka dan
komunitas internasional dari tanggung jawab mereka mengenai
pembangunan berkesinambungan dan menempatkan beban pada
produsen sendiri karena mereka adalah pihak yang harus mematuhi
standar. Dalam banyak kasus, ini dapat menjadi sarana yang efektif
untuk menghilangkan malpraktek oleh perusahaan-perusahaan yang
eksploitatif dalam tahapan-tahapan utama produksi. Namun ketika
petani kecil harus mengambil alih tanggung jawab dan tugas-tugas
terkait, seperti dalam sektor minyak sawit Thailand, patut
dipertanyakan apakah perkembangan ini adalah semangat dari
inisiatif keberlanjutan.
Peluang-peluang sertifikasi petani kecil
Seperti diuraikan di atas, selain mengurangi kerentanan produsen
minyak sawit dengan menghindari pengecualian mereka dari pasar
internasional dan rantai nilai perusahaan pengolahan utama,
tampaknya sertifikasi menawarkan sedikit manfaat pasar. Namun,
telah ditunjukkan bahwa upaya meningkatkan praktek pertanian dan
pengelolaan memiliki potensi besar untuk mencapai produktivitas
dan efisiensi yang lebih tinggi. Hal ini selanjutnya akan berarti
keuntungan yang lebih tinggi bagi petani kecil. Selain aspek-aspek
ekonomi ini, manfaat lingkungan dan sosial juga dapat diharapkan
akan terjadi. Contoh-contoh dari standar-standar lain menunjukkan
bahwa keuntungan jangka panjang petani dapat ditingkatkan sebagai
hasil dari praktek pengelolaan pertanian yang lebih baik yang
mengiringi penerapan standar.64 Praktek-praktek yang baik dan
perbaikan terus menerus adalah elemen integral dari Prinsip dan
Kriteria RSPO. Namun referensi yang jelas untuk menghasilkan
intensifikasi dan hasil yang lebih tinggi sulit ditemui. Juga sulit
untuk meyakinkan petani untuk terlibat dalam sertifikasi ketika
potensi manfaatnya sangat bisa dicapai lewat praktek yang
berkelanjutan semata dan tanpa perlu mendapatkan sertifikasi untuk
produksi.
Manfaat langsung lainnya bagi petani kecil yang dapat dicapai
adalah peningkatan kondisi keamanan dan kesehatan di tempat
kerja, peningkatan jangka panjang dalam kualitas tanah, pengelolaan
air serta lingkungan fisik keseluruhan melalui perlindungan
lingkungan. Menerapkan Prinsip dan Kriteria RSPO juga dapat
membantu mengurangi terjadinya ketegangan dan konflik yang
mengikutinya di daerah perkebunan kelapa sawit antara petani
kelapa sawit dan anggota masyarakat lainnya.
Rekomendasi
Produksi minyak sawit dan daerah perkebunan kelapa sawit di
Thailand terus meningkat dengan tetap selama dua puluh tahun
terakhir dan diperkirakan akan terus meningkat di masa depan
karena meningkatnya permintaan dan promosi penggunaan minyak
sawit untuk biodiesel. Kasus Thailand menunjukkan bahwa minyak
sawit memiliki potensi untuk mendorong pembangunan ekonomi
yang menguntungkan banyak orang yang terlibat di sektor ini.
Karakter skala kecil dari industri minyak sawit dan kelapa sawit
Thailand memungkinkan distribusi sewa yang lebih luas
dibandingkan yang mungkin terjadi di negara-negara di mana
beberapa perusahaan besar mendominasi industri ini dan
kepemilikan tanah individu dibatasi. Aspek-aspek penting lainnya
termasuk kelebihan kapasitas di pabrik pengolahan kelapa sawit dan
tidak adanya mekanisme harga yang dikendalikan pemerintah. Ini
berujung pada situasi di mana pasar untuk TBS adalah pasar penjual
dan bukannya pasar pembeli. Di sisi lain, struktur sektor minyak
sawit di Thailand membawa berbagai tantangan terkait efisiensi dan
akses ke sertifikasi untuk petani kecil.
Meskipun tidak ada keraguan bahwa industri kelapa sawit di
Thailand memiliki dampak lingkungan negatif tertentu, seperti
perambahan perkebunan ke dalam taman nasional sampai batas
tertentu dan ke beberapa tempat lainnya, ini tidak dapat
dibandingkan dengan penebangan skala besar yang terkait dengan
industri minyak sawit di negara-negara lain. Selain itu, masalahmasalah ini tercakup oleh hukum nasional dan tidak spesifik untuk
budidaya kelapa sawit saja. Salah satu pendekatan untuk mengatasi
isu ini adalah meningkatkan kesadaran petani dan masyarakat
Thailand tentang pentingnya perlindungan lingkungan dan risiko
yang terkait dengan degradasi lingkungan. Langkah lain yang dapat
membantu adalah memperbaiki sistem registri tanah Thailand dan
kualitas dan akurasi peta tanah di Thailand yang dikombinasikan
dengan peningkatan kapasitas lembaga-lembaga yang bertanggung
jawab untuk perlindungan lingkungan. Hal ini akan memungkinkan
pemantauan lebih baik terhadap keberlanjutan pembangunan
pertanian di Thailand. Jumlah konkrit emisi gas rumah kaca dari
industri minyak sawit di Thailand sedang dalam proses perhitungan,
namun hasil positif dalam hal ini dapat diperkirakan karena konversi
ke kelapa sawit sebagian besar terjadi pada lahan pertanian. Selain
itu, penangkapan gas metana sedang menjadi praktek umum di
pabrik pengolahan kelapa sawit Thailand.
Sedikit sekali informasi yang telah dikaji untuk laporan ini
mengenai isu penguasaan lahan dan hak-hak rakyat atas tanah.
Penyelidikan lebih lanjut tentang topik ini amat dianjurkan, namun
tidak perlu dibatasi pada sektor minyak sawit karena tidak ada
tanda-tanda akan masalah yang spesifik tanaman dalam hal ini dan
sebagian besar kelompok masyarakat adat berdiam di luar daerahdaerah pengembangan kelapa sawit utama.
Untuk memastikan mata pencaharian yang berkelanjutan petani
kecil dari penanaman kelapa sawit dan pada saat yang sama
mengurangi tekanan untuk memperluas perkebunan kelapa sawit,
masalah efisiensi yang rendah dari sektor kelapa sawit Thailand
perlu ditangani. Hal ini membutuhkan langkah-langkah yang harus
diambil pada tingkat kebijakan serta meningkatkan kesadaran dan
kapasitas petani kecil. Menyusun standar-standar untuk praktek
pertanian dan pemanenan juga dapat menjadi alat untuk
meningkatkan efisiensi di tingkat pertanian. Namun, untuk
mengefektifkan alat ini, manfaat ekonomi yang jelas bagi petani
yang mematuhi standar-standar tersebut harus diciptakan. Selain itu,
petani membutuhkan dukungan dalam memenuhi persyaratanpersyaratan pasar mendatang untuk keberlanjutan seperti RSPO dan,
kemungkinan besar, standar-standar keberlanjutan lainnya yang
berkaitan dengan produksi bioenergi. Jika tidak, begitu standarstandar ini sudah terlaksana menjadi persyaratan masuk yang efektif
untuk pasar TBS utama di Thailand, petani kecil akan dirugikan.
RSPO mempromosikan potensi dari standar-standarnya untuk
meningkatkan praktek-praktek pengelolaan petani kecil dan di saat
yang sama meningkatkan produktivitas dan mengurangi kebutuhan
untuk ekspansi wilayah lebih lanjut. Pendekatan ini dapat
meningkatkan mata pencaharian jutaan petani di seluruh dunia,
menurut RSPO.65 Namun, sampai sekarang masih belum jelas siapa
yang akan mengambil tugas mendukung petani untuk mendapatkan
sertifikat. Mekanisme pembiayaan yang ditetapkan untuk sertifikasi
petani juga sulit untuk diidentifikasi. Oleh karena itu, dianjurkan
agar hak-hak petani kecil di Thailand diperlakukan sebagai prioritas
dan mekanisme penetapan standar mendatang segera disusun untuk
menciptakan mekanisme dukungan bagi para petani kecil ini.
Catatan akhir
1
ISTA Mielke GmbH 2010
ISTA Mielke GmbH 2009: 2
3
Reuters 2010
4
OAE 2009: 27
5
OAE cited in TEI 2009: 3-11
6
UPOIC 2011
7
Dy 2009: 151
8
Preechajarn 2010a: 3
9
Childress 2004; Glenn dan Johnson 2005; UNESCAP n.d.
10
USAID 2011:4
11
ibid.:3
12
Suehiro 2007; Giné 2004; Childress 2004
13
USAID 2011:1
14
USAID 2011:1
15
USAID 2011:6
16
KOT 1954; KOT 2006
17
KOT 2007
2
18
19
KOT 1954
KOT 1975.
KOT 1983
21
KOT 2004
22
USAID 2011:6
23
Vejjajiva 2008; Childress 2004; USDOS 2006; USDOS 2008; Liddle
2008
24
World Bank 2008; Childress 2004; Giné 2004; Burns 2004
25
USAID 2011:7
26
ibid.2f
27
Agrisource 2005: 9
28
Thongrak et al 2011: 19ff.
29
Donough et al 2010: 2
30
(interview with a farmer 16.6.2010)
31
x-rates.com; accessed in August 2010
32
Donough et al 2010: 2
33
Thongrak et al.2011: 10
34
OAE 2010a: 31
20
35
OAE 2008: 27
www.oanda.com
37
ibid. 8
38
ibid. 9
39
TEI 2009: 4-16
40
Preechajarn 2010: 1
41
Jongskul 2010
42
wcs.org/where-we-work/asia/thailand.aspx
43
Jongskul 2010
44
TEI 2009: 3-20
45
USAID 2011:1
46
USAID 2011:2
47
ibid.:2
48
TEI 2009: 3-31 f.
49
manager.co.th/Local/ViewNews.aspx?NewsID=9530000081519;
terakhir diakses tanggal 18 Maret 2011
50
Sarnsamak P & J Pongrai 2011
51
Proforest 2008: 4
52
Thongrak et al 2011: 22ff.
53
TEI 2009: 2
54
ibid. 2 ff.
55
rspo.org/?q=countrystat/Thailand; terakhir diakses tanggal 18 Maret
2011
56
Giovannucci dan Purcell 2008: 9
57
ibid: 6
58
RSPO 2010b
59
Giovannucci dan Purcell 2008: 21
60
BioCert Indonesia and Proforest 2010: 7 ff.
61
More information available at greenpalm.org
62
greenpalm.org, terakhir diakses tanggal 11 Nopember 2010
63
exchange rate: 29.59 THB/USD; x-rates.com/calculator.html, terakhir
diakses tanggal 11 Nopember 2010
64
Giovanucci dan Purcell 2008: 19
65
RSPO 2010a
36
Fly UP