...

- Universitas Muhammadiyah Ponorogo

by user

on
Category: Documents
5

views

Report

Comments

Transcript

- Universitas Muhammadiyah Ponorogo
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu media informasi yang dianggap dekat dengan masyarakat
yakni media elektronik radio. Radio dianggap sebagai media komunikasi yang
vital bagi kehidupan sosial, politik, maupun budaya di negara-negara
berkembang. Pada awalnya radio hanyalah sebuah teknologi biasa dan baru
bisa memperoleh fungsi sebagai satu sarana pelayanan ketika ia berkembang
menjadi satu media komunikasi yang ampuh, lengkap dengan struktur dan
sistem organisasinya.( Lukas Batmomolin,2003:64)
Radio Gema Surya FM adalah salah satu radio yang masih menyiarkan
program acara jawa, yang meliputi: wayang kulit, campursai, ketoprak, dan
gending-gending jawa.
Salah satu dampak modernisasi dan globalisasi di Ponorogo adalah
mulai lunturnya kebudayaan jawa dan lebih memilih budaya barat yang tidak
sesuai dengan norma masyarakat Ponorogo, saat ini banyak generasi muda
yang meninggalkan Seni Instrumental Jawa seperti wayang kulit, tembangtembang jawa, campursari dan lain sebagainya.
Upaya Radio Gema Surya FM dalam melestarikan Seni Instrumental
Jawa yaitu memiliki program Seni Instrumental Jawa : campursari, wayang
kulit, mocopat, gending jawa dan langgam. Sehingga yang menarik dari radio
Gema Surya FM
untuk diteliti adalah stasiun radio ini lebih banyak
1
mengangkat lokalitas budaya Jawa yang tidak banyak diangkat oleh sekian
radio yang ada di Ponorogo . Selain itu mampu bersaing dengan keberadaan
radio lain di Ponorogo.
Berdasarkan uraian di atas menjadi suatu hal yang menarik untuk dikaji
dan diteliti dalam mengetahui strategi apa yang dijalankan oleh Radio Gema
Surya
FM Ponorogo dalam melestarikan Seni Instrumental Jawa , sehingga
penulis merasa perlu untuk mengkaji lebih jauh mengenai strategi tersebut
dalam sebuah penelitian yang berjudul : “Strategi Radio Gema Surya FM
Ponorogo Dalam Melestarikan Seni Instrumental Jawa ”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah
dalam skripsi ini adalah:
1. Bagaimana radio Gema Surya FM
berupaya melestarikan Seni
Instrumental Jawa di Ponorogo?
2. Apa hambatan yang dihadapi oleh radio Gema Surya FM dalam upaya
melestarikan Seni Instrumental Jawa di Ponorogo ?
C. Tujuan Penelitian
1. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menjelaskan upaya-upaya yang
dilakukan Radio Gema Surya FM dalam melestraikan Seni Instrumental
Jawa di Ponorogo.
2. Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi oleh Radio Gema Surya FM
dalam melestarikan Seni Instrumental Jawa di Ponorogo.
2
D. Manfaat Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam
pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Ilmu Komunikasi
dan diharapkan dapat menjadi referensi dalam pembelajaran Ilmu
Komunikasi, khususnya berkaitan dengan pelestarian budaya di Ponorogo.
2.
Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih
masukan, evaluasi, pemikiran, dan pertimbangan memperkuat strategi
pengembangan budaya radio Gema Surya
FM Ponorogo yang telah
diterapkan sebelumnya.
E. Penegasan Istilah/Kerangka Konseptual
1. Strategi adalah suatu proses penentuan rencana yang disusun sedemikian
rupa oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya. (dalam Gerald
A.Michaelson, 2004:289
2. Seni Instrumental adalah nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan
mengembangkan perwujudan yang bersifat dinamis, serta menyesuaikan
dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang.
3. Pelestarian adalah sebuah upaya yang berdasar, dan dasar ini disebut juga
faktor-faktor yang mendukungnya baik itu dari dalam maupun dari luar
dari hal yang dilestarikan( Chaedar, 2006: 18)
4. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi ataupun pesan
3
yang terjadi antara komunikator dan komunikan. (Schramm; 1982 dalam
Cangara, 2009:2)
5. Program siaran adalah program acara yang disiarkan oleh radio. Radio
Gema Surya FM menawarkan berbagai program kreatif dan edukatif agar
pemasang iklan tertarik untuk memasang iklan. (Sutarno Priono direktur
RGS FM, wawancara 03 September 2014)
6. Radio Gema Surya FM Ponorogo adalah salah satu radio yang berada di
Ponorogo bagian dari industri media pemimpin pasar Kawasan Timur
Indonesia dengan kekuatan pancar 10 kilowatt terbesar di Ponorogo dan
KTI. (Sutarno Priono direktur RGS FM, wawancara 03 September 2014)
F. Landasan Teori
1. Tinjauan Tentang Ilmu Komunikasi
a.
Definisi Komunikasi
Dalam mendefinisikan komunikasi banyak sekali aneka
ragam definisi dari komunikasi, salah satu
dari Perhimpunan
Komunikasi Internasional ataupun Himpunan Komunikasi Ujaran,
yang semuanya terdiri dari para ahli komunikasi dan ketika memberi
keterangan mengenai mendefinisikan komunikasi semua definisi
berbeda-beda, orang dapat menarik unsure-unsur tertentu dari
komunikasi yang tampaknya mendapatkan penekanan yang terbesar
dalam definisi-definisi tipikal. Salah satunya :
4
Definisi
komunikasi
menurut
Barelson
dan
Steiner
sebagaimana dikutip oleh Jalaludin Rakhmat adalah :
“Penyampaian informasi, ide, emosi, keterampilan, dan seterusnya,
melalui penggunaan symbol, kata, gambar, angka, grafik, dan lainlain” (Rakhmat,1986:11)
Unsur penyampaian barangkali merupakan unsur komunikasi
yang paling tersebar luas dalam definisi-definisi tentang komunikasi
yang lazimnya dijumpai. Begitu pulalah dengan penggunaan symbol
dalam proses penyampain tadi.
Tim yang terkenal yang terdiri dari Shannon dan Weaver juga
menerima unsur penyampaian ini akan tetapi mereka menambahkan
unsur inheren lainnya pada waktu mereka mendefinisikan komunikasi.
Definisi
komunikasi
menurut
Shannon
dan
Weaver
sebagaimana dikutip oleh Jalaludin Rakhmat adalah :
“Mencakup semua prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat
memepengaruhi orang lainnya”. (Rakhmat,1986:11)
Definisi
menurut
Shannon
dan
Weaver,
Shachter
menempatkan komunikasi sebagai unsure kontrol sosial dimana
sesorang mempengaruhi atau berusaha mempengaruhi perilaku,
keyakinan, sikap, dan seterusnya dari orang lain dalam suatu suasana
sosial.
Definisi komunikasi menurut Dance , sebagaimana dikutip
oleh Jalaludin Rakhmat adalah :
“Pengungkapan respon melalui simbol-simbol verbal, dimana simbolsimbol verbal itu bertindak sebagai perangsang (stimuli)”.
(Rakhmat,1986:11)
5
Definisi komunikasi menurut Gray dan Wise , sama hal nya
dengan Dance sependapat
dengan konsepsi komunikasi menurut
aliran behaviorist sebagaimana dikutip oleh Jalaludin Rakhmat
adalah:
“Penyajian stimuli maupun sebagai suatu respon apakah itu yang
sebenarnya ataupun yang dikhayalkannya, sebagaimanan ia timbul
dalam kesadaran si pengambil inisiatif dari proses ini”.
(Rakhmat,1986:11)
Dari pengertian komunikasi yang telah dikemukakan, maka
jelas bahwa komunikasi antar manusia hanya bisa terjadi, jika ada
seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan
tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalau didukung oleh
adanya sumber, pesan, media, penerima, dan efek. Unsur-unsur ini
bisa juga disebut komponen atau elemen komunikasi.
b.
Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass
communication, sebagai kependekan dari mass media communication.
Artinya,
komunikasi
komunikasi
yang
menggunakan
yang mass
communication atau communications diartikan
media
massa
atau
mediated. Istilah mass
sebagai
salurannya,
yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of
mass communication. Massa mengandung pengertian orang banyak,
mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat
tersebar atau terpencar di berbagai lokasi, yang dalam waktu yang
sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan
6
komunikasi
yang
sama.
Berlo
(dalam
Wiryanto,
2005)
mengartikan massasebagai meliputi semua orang yang menjadi
sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain
dari saluran.
Harold
D.
Lasswell
(dalam
Wiryanto,
2005)
memformulasikan unsur-unsur komunikasi dalam bentuk pertanyaan
sebagai berikut ”Who Says What in Which Channelto Whom With
What Effect?”
1) Unsur who (sumber atau komunikator). Sumber utama dalam
komunikasi massa adalah lembaga atau organisasi atau orang
yang
bekerja
dengan
fasilitas
lembaga
atau
organisasi
(institutionalized person). Yang dimaksud dimaksud dengan
lembaga dalam hal ini adalah perusahaan surat kabar, stasiun
radio, televisi, majalah, dan sebagainya. Sedangkan yang
dimaksud institutionalized person adalah redaktur surat kabar
(sebagai contoh). Melalui tajuk rencana menyatakan pendapatnya
dengan fasilitas lembaga. Oleh karena itu, ia memiliki kelebihan
dalam suara atau wibawa dibandingkan berbicara tanpa fasilitas
lembaga.
2) Unsur says what (pesan). Pesan-pesan komunikasi massa dapat
diproduksi dalam jumlah yang sangat besar dan dapat
menjangkau audienyang sangat banyak. Pesan-pesan itu berupa
berita, pendapat, lagu, iklan, dan sebagainya. Charles Wright
7
(1977) memberikan karakteristik pesan-pesan komunikasi massa
sebagai berikut:
a) Publicly. Pesan-pesan komunikasi massa pada umumnya
tidak ditujukan kepada orang perorang secara eksklusif,
melainkan bersifat terbuka, untuk umum atau publik.
b) Rapid. Pesan-pesan komunikasi massa dirancang untuk
mencapai audien yang luas dalam waktu yang singkat serta
simultan.
c) Transient. Pesan-pesan komunikasi massa untuk memenuhi
kebutuhan segera, dikonsumsi sekali pakai dan bukan untuk
tujuan yang bersifat permanen. Pada umumnya, pesan-pesan
komunikasi
massa
cenderung
dirancang
secara timely,
supervisial, dan kadang-kadang bersifat sensasional.
3) Unsur in which channel (saluran atau media). Unsur ini
menyangkut
semua
peralatan yang
digunakan
untuk
menyebarluaskan pesan-pesan komunikasi massa. Media yang
mempunyai kemampuan tersebut adalah surat kabar, majalah,
radio, televisi, internet, dan sebagainya.
4) Unsur to whom (penerima; khalayak; audien). Penerima pesanpesan komunikasi massa biasa disebut audien atau khalayak.
Orang
yang
membaca surat kabar,
mendengarkan
radio,
menonton televisi, browsing internet merupakan beberapa contoh
dari audien.
8
5) Unsur with what effect (dampak). Dampak dalam hal ini adalah
perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri audien sebagai
akibat dari keterpaan pesan-pesan media. David Berlo (dalam
Wiryanto, 2005) mengklasifikasikan dampak atau perubahan ini
ke
dalam
tiga
kategori,
yaitu:
perubahan
dalam
ranah
pengetahuan; sikap; dan perilaku nyata. Perubahan ini biasanya
berlangsung secara berurutan.
Sedangkan ciri-ciri komunikasi massa, menurut Elizabeth
Noelle Neumann (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994) adalah sebagai
berikut:
a)
Bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis;
b) Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara pesertapeserta komunikasi;
c)
Bersifat terbuka, artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas
dan anonim;
d) Mempunyai publik yang secara tersebar.
2. Pelestarian Budaya
a. Pengertian
Pelestarian, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI
offline, QT Media , 2014) berasal dari kata dasar lestari, yang artinya
adalah tetap selama-lamanya tidak berubah. Kemudian, dalam kaidah
penggunaan Bahasa Indonesia, pengunaan awalan pe- dan akhiran –an
9
artinya digunakan untuk menggambarkan sebuah proses atau upaya
(kata kerja).
Jadi berdasarkan kata kunci lestari ditambah awalan pe- dan
akhiran –an, maka yang dimaksud pelestarian adalah upaya atau proses
untuk membuat sesuatu tetap selama-lamanya tidak berubah. Bisa pula
didefinisikan sebagai upaya untuk mempertahankan sesuatu supaya
tetap sebagaimana adanya.
Merujuk pada definisi pelestarian dalam Kamus Bahasa
Indonesia diatas, maka saya mendefinisikan bahwa yang dimaksud
pelestarian budaya (ataupun budaya lokal) adalah upaya untuk
mempertahankan agar/supaya budaya tetap sebagaimana adanya.
Pelestarian adalah sebuah upaya yang berdasar, dan dasar ini
disebut juga faktor-faktor yang mendukungnya baik itu dari dalam
maupun dari luar dari hal yang dilestarikan. Maka dari itu, sebuah
proses atau tindakan pelestarian mengenal strategi atapun teknik yang
didasarkan pada kebutuhan dan kondisinya masing-masing ( Chaedar,
2006: 18)
Lebih rinci A.W. Widjaja (1986) mengartikan pelestarian
sebagai kegiatan atau yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan
terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan adanya
sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat dinamis, luwes, dan selektif
(Jacobus, 2006:115).
10
Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia
untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat
namun memiliki arti penting bagi generasi selanjutnya. Namun
demikian tindakan pelestarian makin menjadi
kompleks
jika
dihadapkan pada kenyataan sebenarnya. Tindakan pelestarian yang
dimaksudkan guna menjaga karya seni sebagai kesaksian sejarah,
kerap kali berbenturan dengan kepentingan lain, khususnya dalam
kegiatan pembangunan. James Mastron (1982) mengungkapkan bahwa
hal ini menggambarkan begitu kompleksnya masalah yang ada dalam
aktivitas pelestarian.
Lewat kajian historis terhadap peristiwa-peristiwa penting di
masa lampau, kita yang hidup sekarang bisa mempelajari pola tingkah
laku (behavioral patterns) manusia dan menganalisisnya demi
kepentingan hidup kita sekarang dan masa-masa selanjutnya. Sejarah
eksistensi sebuah peradaban tidak hanya dapat ditelusuri lewat
historiografi ataupun catatan aktivitas pejuangan masyarakatnya.
Selain misalnya memerinci kajian geologis, masih banyak saksi bisu
lainnya yang bisa menceritakan perjalanan masa lalu sebuah kota,
terutama ketika kota tersebut mengalami masa kejayaan. Salah satu
dari saksi bisu itu adalah bangunan-bangunan tua, yang banyak di
antaranya menyimpan catatan sejarah autentik.
Mengenai
pelestarian
budaya
lokal,
Jacobus
Ranjabar
(2006:114) mengemukakan bahwa pelestarian norma lama bangsa
11
(budaya lokal) adalah mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai
tradisional dengan mengembangkan perwujudan yang bersifat dinamis,
serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah
dan berkembang.
Salah satu tujuan diadakannya pelestarian budaya adalah juga
untuk
melakukan
revitalisasi
budaya
(penguatan).
Mengenai
revitalisasi budaya Prof. A.Chaedar Alwasilah mengatakan adanya tiga
langkah, yaitu : (1) pemahaman untuk menimbulkan kesadaran, (2)
perencanaan secara kolektif, dan (2) pembangkitan kreatifitas
kebudayaan. ( Chaedar, 2006: 18)
Kelestarian tidak mungkin berdiri sendiri, oleh karena
senantiasa berpasangan dengan perkembangan, dalam hal ini
kelangsungan
hidup.
Kelestarian
merupakan
aspek
stabilisasi
kehidupan manusia, sedangkan kelangsungan hidup merupakan
percerminan dinamika. (Soekanto, 2003: 432)
Menjadi sebuah ketentuan dalam pelestarian budaya akan
adanya wujud budaya, dimana artinya bahwa budaya yang dilestarikan
memang masih ada dan diketahui, walaupun pada perkembangannya
semakin terkisis atau dilupakan. Pelestarian itu hanya bisa dilakukan
secara efektif manakala benda yang dilestarikan itu tetap digunakan
dan tetap ada dijalankan. Kapan budaya itu tak lagi digunakan maka
budaya itu akan hilang. Kapan alat-alat itu tak lagi digunakan oleh
12
masyarakat, alat-alat itu dengan sendirinya akan hilang (Prof. Dr. I
Gede Pitana, Bali Post, 2003)
Mengenai proses kebudayaan dan strategi atau pola yang
digunakannya, perlu untuk merujuk pada pengertian kebudayaan yang
diajukan oleh Prof. Dr. C.A. van Peursen (1988:233), berikut ini :
Kebudayaan sebetulnya bukan suatu kata benda, melainkan suatu kata
kerja. Atau dengan lain perkataan, kebudayaan adalah karya kita
sendiri, tanggung jawab kita sendiri. Demikian kebudayaan dilukiskan
secara fungsionil, yaitu sebagai suatu relasi terhadap rencana hidup
kita sendiri. Kebudayaan lalu nampak sebagai suatu proses belajar
raksasa yang sedang dijalankan oleh umat manusia. Kebudayaan tidak
terlaksana diluar kita sendiri, maka kita (manusia) sendirilah yang
harus menemukan suatu strategi kebudayaan. Termasuk dalam proses
melestarikan kebudayaan. Karena, proses melestarikan kebudayaan itu
adalah pada hakekatnya akan mengarah kepada perilaku kebudayaan
dengan sendirinya, jika dilakukan secara terus menerus dan dalam
kurun waktu tertentu.
b. Manfaat Pelestarian
Sebagaimana telah digariskan dalam Undang Undang Republik
Indonesia No. 5 Tahun 1992, perlindungan terhadap benda cagar
budaya dan situs, bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk
memajukan kebudayaan nasional Indonesia, mengingat bahwa benda
cagar
budaya
memiliki
arti
13
penting
bagi
pemahaman
dan
pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pelestarian
bangunan bersejarah juga merupakan suatu pendekatan yang strategis
dalam
pembangunan
kota,
karena
pelestarian
menjamin
kesinambungan nilai-nilai kehidupan dalam proses pembangunan yang
dilakukan manusia.
Menurut (Gufron, 1994:21), manfaat pelestarian diantaranya :
-
Warisan sejarah yang mengganbarkan kebesaran atau peristiwa
yang terjadi di zamannya.
-
Memperkaya seni budaya setempat dan nasional, yang dapat
menggambarkan jati diri bangsa.
-
Sebagai bukti kelengkapan sejarah perkembangan arsitektur di kota
tersebut.
-
Merupakan hasil prestasi sejarah arsitektur di kota tersebut.
-
Sebagai bahan kajian yang sangat bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan, terutama yang menyangkut masalah perkotaan.
-
Merupakan bukti hasil prestasi sejarah penataan kota di kota
tersebut.
-
Adanya bangunan bersejarah dengan bentuk arsitektur yang unik
dan menarik dapat dijadikan studi perbandingan oleh para arsitek
dan perencana kota dalam mendesain bangunan dan menata
lingkungannya.
-
Tetap terjaganya keutuhan elemen pembentuk citra dan estetika
kota tersebut.
14
-
Sebagai orientasi lokasi yang jelas bagi masyarakat sehingga
mereka mengetahui di bagian mana mereka berada.
-
Pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah dapat dijadikan paket
wisata bagi turis asing dan lokal yang ingin mengenang peristiwa
masa lalu.
3. Kesenian Jawa
a. Pengertian Seni Instrumental Jawa
Menurut Keontjoroningrat, kesenian adalah salah satu unsur
kebudayaan yang bersifat universal (Koentjoroningrat,2004:204). Seni
adalah ekspresi estetika manusia yang merupakan refleksi dari
pandang hidup, cita-cita dan lain sebagainya. Menurut Taylor, seni
dipandang sebagai sebuah proses yang melatih ketrampilan, aktivitas
manusia untuk menyatakan atau mengkomunikasikan perasaan atau
nilai yang dimiliki (Alo Liliweri, 2003:125).
Kesenian tradisional adalah suatu bentuk kesenian yang lahir,
tumbuh dan berakar di masyarakat sebagai pendukung dan pemiliknya,
kesenian
ini
menggambarkan
pendukungnya.
15
arti
kehidupan
masyarakat
Adapun ruang lingkup kesenian, yaitu:
Seni Bangunan
Seni Patung
Seni Lukis
Seni Tari Seni Drama
Seni Rias
(pedalangan)
Seni Rupa
Seni Kerajinan
Seni Olah Raga
Seni Vokal
Seni Suara
Seni Instrumental
Seni Sastra
(Koentjoroningrat,2004:115).
Seni tradisi dalam kehidupan kesenian adalah segala bentuk
seni yang secara kuat dirasakan sebagai terusan atau kelanjutan dari
bentuk yang lalu. Secara luas, seni tradisi meliputi jenis kesenian
rakyat dan kesenian kraton yang disebut juga seni kota. Seni kraton
adalah semua jenis seni yang pada mulanya tumbuh dan berkembang
di dalam tembok kraton. Seni ini wujudnya seperti karawitan, tari,
pedalangan dan lain-lain, yang lazim disebut tradisi dalam arti sempit.
Kemudian yang disebut seni rakyat adalah jenis-jenis seni yang
tumbuh dan berakar di alam pedesaan (Johanes Mardimin, 2002:145).
16
Menurut Djoko Suryo, seni pertunjukan Jawa dibagi menjadi
empat yaitu: (1) tari rakyat, (2) musik rakyat, (3) drama rakyat, dan (4)
seni resitasi (Sujarno, dkk, 2002:45).
Pelestarian seni tradisi tidak mempunyai keharusan untuk
mempertahankan seperti semula. Perubahan sebagai arahan tidak
berarti merombak, melainkan membenahi salah satu atau beberapa
bagian yang dirasa tidak memenuhi masa kini (Johanes Mardimin,
2002:146).
b. Jenis Seni Instrumental Jawa
1) Wayang
Wayang adalah tiruan orang, benda bernyawa, dan benda
lainnya yang terbuat dari pahatan kulit binatang, kayu, kertas dan
bendanya
lainnya.
Tiruan
itu
dapat
dimanfaatkan
untuk
memerankan tokoh dalam pertunjukkan drama tradisional yang di
perankan oleh dhalang. (Marsono dan Waridi Hendrosaputro,
1999:340).
Menurut Andreson wayang merupakan unsur terpenting
dalam kebudayaan Jawa, yaitu sebagai compelling religius
mythology, yang menyatukan masyarakat Jawa secara menyeluruh,
secara horisontal meliputi seluruh daerah geografi Jawa, dan secara
vertikal meliputi semua lapisan sosial masyarakat Jawa. (Woro
Aryandini S, 2000:46)
17
Sama halnya dengan program acara kesenian tradisional
wayangan yang masuk kategori ‘produk lama’, program acara ini
dirasa membutuhkan formula baru agar tetap bisa mengudara dan
menjadi program yang langgeng disiarkan di stasiun penyiaran.
Pada hakikatnya, meracik program acara kesenian tradisional sama
dengan
program
acara
lainnya
seperti
merencanakan,
memproduksi, hingga melakukan pengawasan dan evaluasi. Tidak
ada yang berbeda. Hanya saja program ini perlu mendapat
perlakuan khusus dalam membentuk image dalam program acara
kesenian tradisional supaya tidak terkesan ‘jadul’ atau kuno.
2) Dagelan Mataram
Dagelan Mataram adalah suatu jenis Seni Instrumental
Jawa , yang dilahirkan oleh masyarakat Jawa di Yogyakarta.
Dagelan ini lahir di lingkungan Kraton Yogyakarta, ketika GP
Hangabehi, putra Sultan Hamnengkubuwono VIII, pada tiap-tiap
hari kelahirnnya memanggil para abdi dalem oceh-ocehan ke
rumah kediamannya untuk membuat tertawa orang yang melihat
dan mendengar ocehan mereka. (Soepomo Prodjosoedarmo dan
Soeprapto Budi Santoso, 2000:2017).
3) Macapat
Macapat adalah bentuk puisi tradisional, setiap baitnya
mempunyai baris kalimat (gatra), setiap gatra mempunyai jumlah
18
suku kata (guru wilangan) tertentu, berakhir pada bunyi sajak akhir
(guru lagu: guru suara tertentu), misalnya: Dhandhang gula,
Kinanti, Mas Kumbang (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1990:694).
4) Gending Jawa
Adalah alunan musik atau irama yang disajikan dalam
bahasa Jawa. Gending Jawa bisa berupa gendinggiro, macapat,
karawitan, campusari, maupun uyon-uyon. ((Woro Aryandini S,
2000:47)
5) Campursari
Campursari ialah salah satu kesenian ciptaan baru dari
musik gending Jawa. Musik ini merupakan hasil pemikiran dan
karya ulang para pekerja seni, terutama nan menggeluti kesenian
gending jawa. Mereka bukan keluar dari pakem nan sudah ada,
melainkan ini merupakan hasil ciptaan terhadap musik nan
menurut kita sangat menarik hati. (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1990:695)
Untuk bisa menciptakan irama yang rancak, maka pekerja
seni gending jawa mengatur, mengaransemen sedemikian rupa
sehingga semakin bagus tampilan musiknya. Lagu-lagu nan
langgam dan biasanya sulit dipahami dan diikuti, maka setelah
dijadikan sebagai lagu campursari, maka semua orang lebih
menyukainya.
19
4. Strategi Pelestarian Kesenian
Strategi Radio
Strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan
manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Dalam
kegiatan komunikasi massa, strategi komunikasi penting sekali, tanpa
strategi komunikasi komunikasi, media massa yang semakin modern,
yang kini banyak dipergunakan di negara-negara yang sedang
berkembang karena mudahnya diperoleh dan relatif mudahnya
dioperasionalkan, bukan tidak mungkin akan menimbulkan pengaruh
negatif. Strategi harus dilakukan secara profesional dan serius serta
penuh
konsentrasi
agar
dapat
mencapai
tujuan
atau
sasaran
sebagaimana yang direncanakan.
Pada kondisi dan tujuan yang sama, setiap perusahaan memiliki
strategi yang berbeda-beda dalam usaha mencapainya. Menurut kamus
kontemporer, strategi diambil dari istilah operasi militer, yakni rencana
atau aksi yang tergantung pada keahlian, me-manage atau merencanakan
dengan menggunakan trik atau menipu lawan (Collin Pocket Dictionary).
Strategi bisa diartikan sebagai suatu rencana untuk pembagian dan
penggunaan kekuatan militer dan material pada daerah-daerah tertentu
untuk mencapa tujuan. Strategi militer didasarkan pada pemahaman akan
kekuatan dan penempatan posisi lawan, karakteristik fisik medan perang,
kekuatan dan karakter sumber daya yang tersedia, sikap orang-orang yang
20
menempati tutorial tertentu, serta antisipasi terhadap setiap perubahan
yang mungkin terjadi.
Strategi juga mempunyai pengertian. Strategi adalah keputusan
yang akan berakibat pada detail-detail taktik yang akan dilancarkan.
Singkatnya, strategi ada sebelum taktik atau pengendalian taktik. Bahkan
dengan ekstrem ada yang menyebutkan bahwa strategi adalah permainan
rencana dua arah atau bagaimana mencapai tujuan yang diinginkan.
Strategi merupakan simpulan taktik dalam keperluan bagaimana
tujuan yang diinginkan dapat diperoleh. Oleh sebab itu, strategi biasanya
terdiri atas dua atau lebih taktik, dengan anggapan yang satu lebih bagus
dari yang lain. Dengan demikian, strategi merupakan kumpulan taktik
dengan maksud mencapai tujuan dan sasaran dari perusahaan, institusi,
atau badan.Bila strateginya sudah benar, maka pertempuran sudah separuh
dimenangkan.
Sebaliknya,
bila
pelaksanaannya
kurang
baik,
pertempurannya lebih dari separuh dinyatakan kalah, seperti menurut Sun
Tzu (dalam Gerald A.Michaelson, 2004:289).
Scott M. Cultip dan AllenH.Center (Prentice-Hall.inc 1982 :193)
dalam Abdurrachman (1993 : 32) komunikasi efektif haruslah
dilaksanakan melalui empat tahapan yaitu :
1) Fact-Finding, adalah mencari ataumengumpulkan fakta-fakta atau
data sebelum, seseorang atau instansi
kegiatan atau tindakan (tim pencari fakta).
21
melakukan suatu
2) Planning, berdasarkan fakta-fakta atau data-data terdebut dibuat
rencana apa yang akan dilakukan dalam menghadapi masalahmasalah itu. Perencanaannya meliputi :
-
Komunikator (sender)
Komunikator
dapat
berupa
seorang
individu
yangmewakili suatu badan atau instansi atauperseorangan dan
biasanya sudah dikenalmasyarakat
-
Pesan (message)
Pesan yang disampaikan apakah dapat diterimaoleh
khalayak dan apa maksud dan tujuan yangingin disampaikan.
-
Media
Media apa yang tepat untuk menyampaikan pesandan
kapan waktunya.
-
Komunikan
Kepada siapa pesan itu ditujukan (seorang individu,
kelompok,
massa),
bagaimana
pengetahuan
komunikan
tentang masalah yang ada hubungannya dengan pesan
tersebut.
3) Communicating, setelah rencana itu disusun dengan sebaik-baiknya
sebagai hasil pemikiran yang mantap atau matang berdasarkan
fakta-fakta atau data-data yang telah dikumpulkan kemudian
melakukan operasi sehingga mampu menimbulkan kesan-kesan
22
yang secara efektif dapat mempengaruhi pihak-pihak yang dianggap
penting dan berpotensi untuk memberi dukungan.
4) Evaluating. Mengadakan evaluasi terhadap suatu kegiatan untuk
menilai apakah tujuan itu sudah tercapai, apakah operasi itu perlu
diadakan lagi
atau perlumenggunakan cara-cara lain untuk
menciptakan hasil yang lebih baik.
Setiap program siaran harus mengacu pada pilihan format
siaran tertentu seiring semakin banyaknya stasiun penyiaran. Strategi
program ditinjau dari aspek manajemen strategis, program siaran
terdiri dari:
a. Perencanaan Program
Dalam industri penyiaran, perencanaan merupakan unsur
terpenting, karena siaran memiliki pengaruh, dampak kuat dan
besar. Maka dari itu memerlukan perencanaan matang dalam
menggunakan data dan fakta selengkap-lengkapnya. Perencanaan
meliputi: perencanaan produksi, dan pengadaan materi siaran yang
disusun menjadi rangkaian mata acara harian, mingguan, dan juga
bulanan, perencanaan saran dan pra sarana, serta perencanaan
masalah administrasi (Triartanto, 2010: 96).
Pengelola program siaran harus mempertimbangkan empat
hal ketika merencanakan program siaran yang terkait dengan:
product artinya materi program yang disukai pendengar, price
artinya biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi atau
23
membeli program, place artinya kapan waktu siar acara yang tepat,
promotion artinya bagaimana memperkenalkan dan menjual acara
sehingga mendapat iklan dan sponsor (Morrisan, 2008: 201-202).
Perencanaan merupakan bagian dari standar operasional
prosedur (SOP) produksi siaran yang harus dipatuhi setiap
broadcaster. SOP meliputi:
1) Planning. Perencanaan produksi paket siaran melalui diskusi
kelompok oleh tim kreatif bersama para pelaksana siaran
lainnya. Hasil planning berupa proposal yang memuat nama
acara, target pendengar, tujuan dan target pendengar,
penempatan siar, sumber materi kata-kata, musik, durasi, biaya
produksi, promosi serta crew yang akan terlibat dalam produksi
seperti produser, presenter, operator dan penulis naskah.
2) Collecting. Pencarian, pengumpulan materi musik dan data
yang
akan
dibutuhkan,
termasuk
menghubungi
calon
narasumber. Hasil collecting berupa materi siaran yang
memadai dan siap olah untuk produksi acara.
3) Writing.
Seluruh
materi
yang
diperoleh
kemudian
diklasifikasikan untuk selanjutnya ditulis secara utuh dalam
kalimat yang siap baca atau disusun sedemikian rupa yang
dirangkai dengan naskah pembuka-penutup atau naskah
selingan.
24
4) Vocal
Recording.
Perekaman
suara
presenter
yang
membacakan naskah di ruang rekaman.
5) Mixing. Penggabungan materi vocal presenter dengan berbagai
jenis musik pendukung dan lagu oleh operator atau mixermen
dengan perangkat teknologi analog atau digital sehingga
menghasilkan paket acara yang siap siar. Proses ini dilakukan
dengan memperhatikan standar kemasan setiap acara.
6) On air. Penayangan acara sesuai jadwalnya yang telah
direncanakan. Khusus untuk produksi siaran yang bersifat
langsung (live), tidak perlu vocal recorded terlebih dahulu.
7) Evaluation. Seusai siaran atau penyiaran paket acara dilakukan
evaluasi bersama oleh tim produksi untuk pengembangan lebih
lanjut. Evaluasi meliputi apa saja kelemahan materi, teknis,
koordinasi tim dan sebagainya (Masduki, 2005: 46).
b. Produksi dan Pembelian Program
Produksi siaran merupakan keterampilan memadukan
wawasan, kreatifitas, dan kemampuan mengoperasikan peralatan
produksi. Program dapat diperoleh dengan cara membeli atau
memproduksinya sendiri (in-house production). Membeli program
dilakukan apabila stasiun penyiaran tidak memiliki peralatan
produksi memadai namun memiliki ide untuk dikembangkan.
Program siaran di radio sangat banyak dan beragam
kemasannya lima diantaranya adalah, produksi siaran berita dan
25
informasi, iklan, jinggel, talk show, interaktif, info-hiburan
(Masduki, 2005: 69).
Memproduksi suatu program siaran membutuhkan unsurunsur daya tarik.
Radio memiliki tiga unsur daya tarik yang
melekat padanya, yakni:
1) Kata-kata lisan (spoken words),
2) Musik (music)
3) Efek suara (sound effect).
Dengan dihiasi musik dan didukung efek suara, seperti
suara binatang, hujan atau badai, mobil atau pesawat terbang, dan
lain-lain, suatu acara yang membuat radio menjadi hidup.
(Effendy,2004:107–108).
c. Eksekusi Program
Eksekusi mencakup kegiatan menayangkan program sesuai
dengan rencana yang sudah ditetapkan. Strategi penayangan
program sangat ditentukan oleh bagaimana menata atau menyusun
berbagai program yang akan ditayangkan.
Menentukan jadwal penayangan suatu acara ditentukan atas
dasar perilaku audien, yaitu rotasi kegiatan mereka dalam satu hari
dan juga kebiasaan menonton televisi atau mendengarkan radio
pada jam tertentu. Pada prinsipnya siaran radio dan televisi harus
dapat menemani aktivitas apa pun.
26
Suatu program dapat disusun dengan runtut, rinci, dan
terarah karena adanya panduan dalam operasionalisasi siaran yang
disebut sebagai format clock, yaitu pola atau pedoman terhadap isi
acara berbentuk diagram yang terdiri dari unsur-unsur isi/item
materi siaran (station call), keterangan durasi ucapan penyiar,
jumlah lagu, jumlah iklan, bentuk-bentuk insert, serta keterangan
lainnya.
d. Pengawasan dan Evaluasi Program
Proses pengawasan dan evaluasi menentukan seberapa jauh
suatu rencana dan tujuan sudah dapat diwujudkan oleh stasiun
penyiaran. Menurut Peter Pringle yang dikutip Morrisan dalam hal
pengawasan program, manajer program harus melakukan hal-hal
sebagai berikut:
-
Mempersiapkan standar program stasiun penyiaran
-
Mengawasi seluruh isi program agar sesuai dengan standar
stasiun dan peraturan perundangan yang berlaku
-
Memelihara catatan (records) program yang disiarkan ·
Mengarahkan dan mengawasi kegiatan staf departemen
program
-
Memastikan bahwa biaya program tidak melebihi jumlah yang
sudah dianggarkan (Morissan, 2009: 315).
27
5. Manajemen Penyiaran
a. Pengertian Manajemen Penyiaran
Manajemen dan penyiaran mempunyai arti yang berbeda,
manajemen mencakup kerja seseorang atau kelompok melalui
tindakan tertentu tentang apa yang harus mereka lakukan, metode
serta hal-hal penunjangnya demi pencapaian tujuan tertentu,
sedangkan penyiaran merupakan pembuatan dan menyiarkan suatu
pesan melalui udara. Akan tetapi antar keduanya perlu di padukan
dan disesuaikan dengan landasan tujuan yang hendak dicapai. Jadi
manajemen
penyiaran
dapat
diartikan
sebagai
kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi, memanfaatkan kepandaian atau
keterampilan orang lain untuk merencanakan, memproduksi dan
menyiarkan
suatu
program,
dalam
usaha mencapai tujuan
bersama. (J.B. Wahyudi, 1994:39)
Dalam pencapaian tujuan tersebut organisasi penyiaran
harus mampu mengelola stasiun penyiarannya dengan profesional
sesuai prinsip- prinsip manajemen serta menerapkan ke dalam
organisasi penyiarannya
b. Prinsip-prinsip Manajemen
Prinsi-prinsip manajemen adalah prinsip-prinsip yang
harus di terapkan dalam manajemen penyiaran untuk mendapatkan
output yang menarik bagi pendengar. G.R Terry yang mengatakan
bahwa
prinsip-prinsip
manajemen
28
terdiri
dari:
Planning
(Perencanaan),
Organizing
(Pengorganisasian),
Actuating
(Penggerakan), Controlling (Pengawasan). (Malayu S.P. Hasibuan,
1986:39).
c. Planning (Perencanaan)
Perencanaan merupakan unsur yang sangat penting dan
merupakan fungsi fundamental manajemen, karena organizing,
actuating dan controlling harus terlebih dahulu direncanakan.
Louis Allen (dalam Wahyudi, 1994:144)
mengemukakan
bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam fungsi perencanaan
adalah sebagai berikut:
a)
Forecasting (Peramalan)
Perencanaan
harus
dapat
meramalkan,
memperkirakan waktu yang akan datang tentang keadaan pasar,
perkembangan situasi audiens, kemajuan teknik kebijaksanaan
pemerintah dan lain- lain. Ramalan-ramalan itu disusun secara
sistematis dan berkesinambungan serta berusaha mendahului
kondisi-kondisi pada waktu yang akan datang. (Masduki,
2004:46)
b)
Objectives (Sasaran)
Aspek lain yang harus dipertimbangkan ketika
merencanakan acara adalah visi dan misi radio. Setiap stasiun
radio pasti memiliki visi dan misi karena akan memandu
dalam perencanaannya agar lebih fokus dan sesuai target,
29
yaitu tersampaikannya pesan pada audiens baik itu informasi,
hiburan, berita atau iklan dengan baik. (Masduki, 2004:46)
c)
Programming (Pemograman)
Pemograman merupakan sebuah proses mengatur
program demi program termasuk penjadualannya sehingga
terbentuklah stasiun
format dengan
tujuan menciptakan
image stasiun penyiaran radio. (Harley Prayudha, 2004:43)
Prayudha
(2005:46)
yang
menyatakan
bahwa
programming bisa diibaratkan hal yang tidak dapat dijelaskan
dengan kata-kata (indenfinable) dan aspek yang tidak dapat
menyentuh (intangible) daya tarik pendengar.
d)
Scheduling (Penjadualan)
Perencanaan juga menentukan waktu yang tepat,
karena ini merupakan suatu ciri yang penting dari suatu
tindakan yang baik, penyusunan jadual kapan harus dimulai
dan berapa lama setiap
Hal
ini
aktifitas
penyiaran
dikerjakan.
akan mempengaruhi penentuan jatah waktu
penyiaran acara, penugasan crew, penyusunan strategi, alokasi
dan pencarian dana (iklan). (Masduki, 2004:69)
e)
Budgeting (Penganggaran)
Dalam dunia penyiaran khususnya radio income dapat
diperoleh dari pengiklan. Jika program yang disajikan tidak
menarik bagi audiens tentu saja akan sedikit pengiklan yang
30
berminat, akibatnya semakin sedikit pemasukan yang diterima
oleh stasiun penyiaran, sedangkan tanpa uang yang memadai
sebuah stasiun radio tidak akan bisa mengudara sebab
dalam
memproduksi sebuah program stasiun radio membutuhkan biaya
produksi. (Harley Prayudha, 2004:47)
f)
Organizing (Pengorganisasian)
Proses penyiaran sebuah program radio merupakan
serangkaian pekerjaan yang melibatkan banyak orang untuk
menempati unit-unit tertentu, seperti kerja-kerja managerial,
teknis,
pemograman
dan
lain
sebagainya.
Unsur-unsur
pengorganisasian penyiaran:
a)
Pengenalan dan pengelompokan kerja
Secara struktur pengelompokkan pekerjaan dalam
penyiaran adalah: General manager, yang membawahi
beberapa
tingkatan
manager
yaitu sales
manager,
program director, news director dan chief engineer. Dan
masing-masing manager membawahi bidang tertentu.
Departemen program membawahi DJ’s, copywriters,
production
membawahi
dan
music
library.
Departemen
reporters,
writers,
dan
news
newscasters.
Departemen teknik membawahi chief engineer, staff
engineer, maintenance. Sedangkan departemen sales
hanya manager danstaff. (Harley Prayudha, 2004:77)
31
b)
Penentuan dan pelimpahan tanggung jawab dan wewenang
Dalam
mengerjakan serangkaian pekerjaan harus
jelas pembagian tanggung jawab dan wewenangnya pada
masing- masing tingkatan serta pelimpahannya. Secara
struktur
tingkat
perencanaan
penyiaran
manager
dan
radio,
komunitas,
serta
pendengar,
dan
bertanggung
jawab
atas
pelaksanaan
kebijakan
stasiun
pemeliharaan
hubungan
dengan
monitoring
informasi
isi
program,
penjualan.
jumlah
Departemen
program bertanggung jawab untuk suara stasiun dan
menyupervisi
musik
atau
materi
acara
untuk
kelangsungan penyiaran dan juga bertanggung jawab
performa penyiar atau DJ. Departemen sales bertanggung
jawab akan penjualan air time. Departemen news
bertanggung jawab untuk mengumpulkan, menulis dan
menyiarkan berita-berita atau informasi baik lokal,
nasional maupun
internasional. Departemen teknik
bertanggung jawab untuk menjaga stasiun penyiaran
radio mengudara dan memelihara keseluruhan peralatan
penyiaran yang dimiliki oleh stasiun. (Harley Prayudha,
2004:78)
32
d. Actuating (Penggerakan)
Tahap
manajemen
penyiaran
selanjutnya
adalah
penggerakan (actuating). Ini merupakan tahapan direalisasikannya
perencanaan dan pengorganisasian baik SDM maupun alat ke
dalam serangkaian antivitas yang nyata. Pada tahap ini peran
manajer sangat penting untuk dapat menggerakkan semua elemenelemen yang ada sesuai dengan fungsi dan tugasnya.
Efektivitas mengudaranya sebuah program ditentukan oleh
orientasi manajer yang memimpin, memotivasi, mengkoordinasi
serta adanya komunikasi pada staff-staffnya untuk bekerja sama
dalam mencapai tujuan.( Winardi, 1986:313)
e. Controlling (Pengendalian)
Salah satu aktivitas yang tidak boleh terlewatkan dari sebuah
manajemen
penyiaran
adalah
controlling
(Pengendalian).
Sebagaimana diungkapkan Harold Koontz,
“Pengendalian adalah pengukuran dan perbaikan terhadap
pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat
untuk
mencapai
tujuan-tujuan
perusahaan
dapat
terselenggara” (Malayu S.P. Hasibuan, 1986:223)
Pada aktivitas ini juga dilakukan penilaian terhadap hasilhasil produksi dibandingkan dengan input yang ada dan output yang
dihasilkan. Dalam dunia penyiaran, ada dua langkah melakukan
pengendalian yaitu sebelum materi disiarkan (feedforward system)
dan setelah materi disiarkan (feedback system). Feedforward system
33
digunakan untuk melakukan koreksi baik pada perencanaan maupun
proses pelaksanaan sebelum program mengudara, sedangkan
feedback system digunakan untuk lebih menyempurnakan langkahlangkah berikutnya agar siaran dapat lebih baik dan kesalahan yang
terjadi tidak terulang lagi.( J.B. Wahyudi, 1994:94-95).
G. Penelitian Terdahulu
Eli Purwati,S.Sos, Peran Media Dalam Melestarikan Budaya Lokal
(Studi Fenomenologi Pada Masyarakat Kabupaten Ponorogo Dalam Program
Acara Dangdut Ponoragan Di Radio Duta Nusantara), Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 2013
Hasil dari penelitian ini adalah: melalui program acara dangdut
ponoragan maka media local yaitu duta nusantara dapat melestarikan budaya
lokal, dan dapa tmelestarikan identitas warok dengan menggunakan bahasa
dialeg ponorogoan atau bahasa warok yang identik bernada tinggi, dan kental
dengan bahasa jawanya. Selain itu jug amateri yang dibawakan saa tacara
berlangsung juga terkait kesenian reog, sapaan pendengar dan penyiar juga
sangat khas dengan nama-nama jawa misalnya saja laki-laki disebut kang suro
sedangkan perempuan disebut mbok suro, atau bias juga thole dan gen-duk.
Sehingga acara dangdut ponoragan ini adalah acara untuk melestarikan bahasa
daerah “karakteristik warok Ponorogo” menumbuhkan rasa cinta kesenian
Reog Ponorogo mulai anak-anak ,mengembangkan musik tradisional yang
merangsang munculnya lagu-lagu ala ponorogoan, dengan karakteristik musik
34
yang khas menjadi acara radio yang khas, memberikan tempat dan ruang bagi
pelaku seni di daerah untuk terus berkarya tempat untuk berbincang soal
kesenian tradisional Reog Ponorogo.
H. Metode Penelitian
1. Waktu dan Objek Penelitian
Waktu penelitian berlangsung sekitar dua bulan yakni pada bulan
Juni sampai dengan Agustus 2015. Penelitian ini dilakukan di kantor Radio
Gema Surya FM Ponorogo di Jl. Merbabu Ponorogo.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.
Deskriptif kualitatif merupakan tipe penelitian yang menggambarkan atau
menjabarkan mengenai suatu objek penelitian berdasarkan karakteristik
yang dimiliki. Disini peneliti akan
turun
langsung
pada lokasi
penelitiannya. Berdasarkan judul penelitian yang telah dipilih, maka
penelitian ini akan berusaha memaparkan mengenai strategi pelestarian
budaya jawa radio Gema Surya FM Ponorogo dalam meningkatkan
jumlah pemasang iklan di kota Ponorogo .
3. Teknik Pengumpulan Data
Menurut
Kriyantono
(2006:93),
teknik
pengumpulan
data
didefinisikansebagai teknik atau cara- cara yang dapat digunakan periset
untuk mengumpulkan data-datanya. Dimana terdapat beberapa teknik atau
metode pengumpulan data yang dapat dilakukan.Sedangkan menurut
35
Ruslan (2008:27), pengumpulan data (input) diartikan sebagai :“ Suatu
langkah dalam metode ilmiah melalui prosedur sistematik, logis dan proses
pencarian data yang valid, baik diperoleh secara langsung (primer) atau
tidak
langsung
(seconder)
untuk
keperluan
analisis
dan
pelaksanaan pembahasan (process) suatu riset secara benar untuk menemuk
an kesimpulan, memperoleh jawaban (output) dan sebagai upaya untuk
memecahkan suatu persoalan yang dihadapi oleh peneliti”.
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
a. Data primer, menurut Ruslan (2008:138), pengertiannya yaitu sebagai
data yang dihimpun secara langsung dari sumbernya, dan diolah sendiri
oleh penulis yang bersangkutan untuk dimanfaatkan. Data primer dapat
berbentuk opini subjek secara individual ataupun kelompok, dan hasil
observasi terhadap karakteristik benda (fisik), kejadian, kegiatan,
danhasil pengujian tertentu.Untuk mendapatkan data primer, peneliti
menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1) Observasi
Menurut
Kriyantono
(2008:108)
yaitu
:“Metode
pengumpulan data yang digunakan pada riset kualitatif. Yang mana
observasi adalah interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadi
diantara
subjek
yang
metode ini adalah bentuk
diriset.
Sehingga
keunggulan
interkasi dan percakapan.
Artinya selain perilaku nonverbal juga mencakup perilaku verbal
dari orang orang yang diamati.”
36
2) Indepth Interview (Wawancara Mendalam)
Menurut Kriyantono (2008:100), dijelaskan pengertian
wawancara mendalam adalah: suatu cara mengumpulkan data atau
informasi
dengan
cara
langsung bertatap dengan
informan
agar mendapatkandata lengkap dan mendalam.
Wawancara ini dilakukan dengan
frekuensi tinggi ( berulang-
ulang) secara intensif. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan antara
responden (orang yangakan diwawancarai sekali) dengan informan
(orang ingin periset ketahui/pahami dan yang akan diwawancarai
beberapa kali).
Penulis melakukan wawancara
yang
mendalam secara
langsung dengan pihak yang dianggap dapat memberikan
(informan) dan berkompeten sesuai dengan permasalahan dalam
penelitian.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi pustaka dengan
membaca literatur, buku-buku bacaan,
berkaitan
dan
relevan
dengan
objek
dan tulisan ilmiah yang
penelitian
yang
akan
diteliti (Moleong,2007;330).
4. Informan
Penulis
menetapkan narasumber atau informan yang dianggap
memahami permasalahan untuk dipaparkan kepada penulis untuk lebih
mengetahui sejauh mana strategi pelestarian budaya jawa yang dilakukan
oleh Radio Gema Surya
FM Ponorogo . Informan yang ditetapkan
37
adalah sebagai berikut :
Tabel 01
No
Informan
Jumlah
1
Direktur Utama
1
2
Penjab. Admin. RGS
1
3
Programer
1
4
Penyiar
2
5. Teknik Analisis Data
Tahapan dalam analisis data memegang peranan penting dalam
risetkualitatif, yaitu sebagai daktor utama penilaian kualitatif tidaknya riset.
Artinya, kemampuan periset memberi makna kepada data merupakan kunci
apakah data yang diperolehnya memenuhi unsur reliabilitas dan validitas
atau tidak. Reliabilitas dan validitas data kualitatif terletak pada diri periset
sebagai instrumen riset (Kriyantono,2008;194)
Data
yang
akan
kualitatif,yaitu dengan
maupun primer
dianalisis
melalui
pendekatan
deskriptif
menuturkan dan menafsirkan data
sekunder
yang berkenaan dengan situasi yang terjadiuntuk
mengangkat fakta, keadaan, variabel, dan fenomena-fenomena yang terjadi
ketika penelitian berlangsung dan menyajikannya menggunakan bahasa
yang mudah dimengerti dan dipahami
kemudian data yang diperoleh
diuraikan serta dikembangankan berdasarkan teori yang ada.
38
Fly UP