...

perbanyakan nematoda entomopatogen (nep) pada berbagai media

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

perbanyakan nematoda entomopatogen (nep) pada berbagai media
PERBANYAKAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN
(NEP) PADA BERBAGAI MEDIA BUATAN
ENTOMOPATHOGENIC NEMATODES (ENPS) REARING
ON VARIOUS ARTIFICIAL CULTURE MEDIA
Dyah Rini Indriyanti, Nurul Fitria Awalliyah, Priyantini Widiyaningrum
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil perkembangbiakan
nematoda entomopatogen pada berbagai media buatan. Desain penelitian
menggunakan rancangan acak lengkap, tujuh perlakuan dan lima ulangan. Tujuh
perlakuan media yaitu media A(tepung kedelai), B (hati ayam), C (dog food), D
(campuran hati ayam dan tepung kedelai 1:1), E (campuran tepung kedelai dan
dog food 1:1), F (hati ayam dan dog food 1:1) dan G (campuran tepung kedelai,
hati ayam dan dog food 1:0,5:0,5). Sebanyak 1,2 x 103 JI/ml di biakkan pada setiap
media rearing selama empat minggu. Populasi NEP diamati setiap minggu. Hasil
menunjukkan media terbaik untuk perbanyakan NEP adalah media E (campuran
tepung kedelai dan dog food) dengan populasi tertinggi 3,5 x 104 JI/ml. media E
mengandung karbohidrat 1,27%, protein 1,52% dan lipid 1,09%.
Kata kunci: nematoda entomopatogen, perbanyakan, media buatan
PENDAHULUAN
Pengendalian hama yang ramah lingkungan sudah saatnya digalakkan mengingat
pengendalian dengan pestisida pada produk pertanian menyebabkan berbagai dampak negatif.
Salah satu pengendalian yang ramah lingkungan yaitu pengendalian hayati dengan menggunakan
Nematoda Entomopatogen (NEP). NEP terbukti dapat mengendalikan berbagai larva serangga
hama.Menurut Chaerani (2011) dan Wagiman etal. (2003), peranan NEP dalam pengendalian
hayati sangat penting karena NEP mempunyai kemampuan mencari inang yang tinggi,
menginfeksi dan membunuh serangga sasaran dalam waktu singkat hanya 24-48 jam.
Pengendalian NEP pada larva Coleoptera banyak diteliti dari berbagai aspek (Mahar et
al.2005; dan Nderitu et al. 2009), juga pada larva Lepidoptera (Nyasani at al. 2008; Subagiya
2005). Nematoda ini tidak berbahaya bagi mamalia dan vertebrata, tidak meracuni lingkungan,
kompatibel dengan sebagian besar pestisida kimia (Chaerani, 2000 dalam Wagiman et al. 2003;
Malik 2012).
Dyah Rini Indriyanti, Nurul Fitria Awalliyah, Priyantini Widiyaningrum
9
Namun demikian aplikasi NEP di lapangan terkendala dengan penyediaan NEP yang siap
pakai.NEP dapat diperoleh melalui isolasi dari tanah, namun memerlukan waktu dan ketrampilan
khusus (Indriyanti et al. 2014). NEP dapat diperoleh dengan cara membeli sebagai biopestisida,
namun Biopestisida NEP ternyata tidak tahan lama, banyak yang mati setelah dua minggu jika
tidak diberi media pakan.
Selama ini pembiakan NEP masih terbatas menggunakan carain vivoyaitu pembiakan
dengan menggunakan larva serangga, diantaranya ulat hongkong (Tenebrio molitor) atau ulat
bambu (Galeria melonella) dan ulat jagung (H. armigera) (Kamariah et al. 2013; Wagiman et al.
2003). Kendala menggunakan cara pembiakan secara in vivo adalah ketergantungan pada stok
serangga inang. Oleh sebab itu perlu dicarimedia pengembangbiakan NEP secara in vitro yang
murah dan mudah digunakan petani.Tujuan penelitian ini yaitu untukmendapatkan media yang
cocok untuk perbanyakan NEP secarain vitro.
METODE
Penelitiandilakukan di Laboratorium Biologi Universitas Negeri Semarang, Mei sampai
Juli 2014. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan
danlima kali ulangan. NEP yang digunakan diperoleh dari isolasi dari tanah dengan menggunakan
serangga umpan Tenebrio molitorlalu diperbanyak dengan metode White Trap.
Media perbanyakan yang disiapkan untuk perlakuan terdiri dari: media A (tepung kedelai),
media B (hati ayam), media C (dog food), media D (campuran tepung kedelai dan hati ayam
1:1), media E (campuran tepung kedelai dan dog food1:1), media F (campuran hati ayam dan
dog food1:1), media G (campuran tepung kedelai, hati ayam dan dog food1:0,5:0,5). Komposisi
lengkap media tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Media Pakan NEP
Komposisi media
Tepung
kedelai (g)
Tepung kedelai (A)
Bubuk hati ayam (B)
Bubuk dog food (C)
Media D (A+B)
Media E (A+C)
Media F ( B+C)
Media G ( A+B+C)
2
1
1
1
Bubuk Hati
ayam
(g)
2
1
1
0,5
Bubuk Dog
food
(g)
2
1
1
0,5
Agaragar (g)
Aquadest
(ml)
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
30
30
30
30
30
30
30
Bahan baku media yang berbentuk padat dioven (suhu 70oC) sampai kering kemudian
dihaluskan. Masing-masing media dicampur dengan agar-agar bubuk sebanyak 0,2 gram dan
ditambah aquades 30 ml, diaduk lalu dimasukkan ke dalam botol kaca ukuran tinggi 11 cm,
dan diameter 6,5 cm. Di bagian bawah botol diberi spon ukuran diameter 6 cm, tebal 1 cm.
10
Vol. 13 No.1 Juli 2015
Media dimasukkan dalam botol ditutup dengan plastik, lalu disterilkan dengan autoklaf selama
30 menit pada suhu 1210 C (1,5 Atm).Setelah botol dan media dingin, masing-masing media
diinokulasi dengan NEP awal sebanyak 1 ml yang berisi 1,2x 103 ekor.Populasi NEP dihitung
setiap minggu selama empat minggu. Penghitungan dilakukan dengan bantuan mikroskop dan
hand counter. Penghitungan kelimpahan NEP dilakukan dengan cara mengambil cairan sampel
yang mengandung nematoda dari masing - masing media sebanyak 0,05 ml. Cairan diteteskan
pada gelas benda yang telah diberi garis bantu.Perhitungan dilakukan minimal tiga kali supaya
valid lalu dirata-rata.
Populasi NEP JI / m
l =
sampel air dalam media (m
l )
x Jumlah NEP
sub contoh volume air (m
l )
Data yang diamati adalah kelimpahan NEP pada tiap media perbanyakan.Data dianalisis
secara statistik menggunakan bantuan sofware SPSS versi 16. Mediaterbaik untuk pertumbuhan
NEP dianalisis kandungan nutrisi karbohidrat, protein dan lemak di Balai Besar Teknologi
Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI), Semarang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rata-rata kelimpahan NEP pada berbagai media pakan selama empat minggu pembiakan
tercantum pada Gambar 1.
Gambar 1. Kelimpahan NEP pada berbagai media buatan selama empat Minggu. media
A (tepung kedelai); B (hati ayam); C (dog food); D (campuran A+B); E
(campuran A+C); F (campuran B+C); G (campuran A+B+C)
Data kelimpahaan NEP pada Gambar 1, secara umum tampak populasi NEP tertinggi
terjadi pada minggu pertama.Oleh sebab itu analisis data difokuskan pada minggu pertama.
Dyah Rini Indriyanti, Nurul Fitria Awalliyah, Priyantini Widiyaningrum
11
Uji normalitas data kelimpahan NEP minggu pertamaberdistribusi normal (P > 0,05). Hasil uji
ANOVA satu arah dengan taraf 5% menunjukan nilai P = 0.00. Nilai P yang diperoleh < 0.05,
berarti terdapat perbedaan rata-rata jumlah NEP antara media pakan. Hasil analisis uji Tukey
dapat diringkas pada Tabel 2.
Hasil analisis uji Tukey seperti tersaji di Tabel 2 menunjukkan bahwa kelimpahan NEP
minggu pertama terjadi pada media E, media yang terdiri dari campuran tepung kedelai dan
dog food. Media E termasuk kategori media terbaik untuk perkembangbiakan NEP.Sebaliknya
kelimpahan NEP terendah terjadi pada media B (hati ayam).Media F, D, dan A secara statistik
tidak berbeda nyata, artinya NEP yang dibiakkan pada ketiga media ini tidak berbeda nyata
kelimpahannya. Ketiga media termasuk kategori sedang untuk media NEP. Begitu pula
kelimpahan NEP pada media C,G dan F tidak berbeda nyata menurut statistik, ketiga media ini
termasuk kategori rendah untuk media perbanyakan NEP, artinya ketiga media tersebut kurang
cocok untuk perkembangbiakan NEP. Hasil pembiakan NEP pada ketujuh media, menunjukkan
bahwa NEP dapat berkembangbiak pada media selain larva serangga. Kelimpahan NEP yang
berbeda-beda pada masing masing media disebabkan karena komposisi nutrisi pada tiap media
yang berbeda.
Tabel 2. Analisis uji Tukey data kelimpahan NEP pada berbagai media pada minggu pertama
Perlakuan
N
Media B
Media C
Media G
Media F
Media D
Media A
Media E
Sig.
5
5
5
5
5
5
5
1
9552.00
1.46E4
1.89E4
.078
Subset for alpha = 0.05
2
3
1.46E4
1.89E4
2.27E4
.169
2.27E4
2.94E4
3.07E4
.188
4
4.40E4
1.000
Keterangan : Angka yang terdapat dalam “kolom subset” yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf
5%, dan berbeda nyata pada kolom subset yang berbeda.
Kelimpahan NEP secara umum pada minggu pertama - kedua meningkat dibanding populasi
awal.Hal ini disebabkan karena nutrisi yang terkandung pada masing-masing media masih
mencukupi kebutuhan NEP untuk berkembang biak. Menurut Wagiman et al. 2003 siklus hidup
nematoda dari telur sampai dewasa memerlukan waktu kurang lebih 14 hari, jika nutrisinya
melimpah maka siklus hidupnya cepat.Hal ini terlihat pada minggu kedua rata-rata kelimpahan
NEP meningkat (Gambar 1), berarti terjadi perkembangbiakan NEP.
Kelimpahan tertinggi NEP terjadi pada media E campuran tepung kedelai dan dog food1:1
(NEP = 3,5 x104 ekor/ml). Pada media tepung kedelai (A) saja populasi NEP pada minggu pertama
12
Vol. 13 No.1 Juli 2015
hanya (2,2x 104 ekor/ml), NEP pada media dog food (9,7x 103 ekor/ml) tetapi jika kedua media
dicampur dengan perbandingan 1:1, maka populasi NEP meningkat menjadi (3,5 x104 ekor/ml).
Hal ini berarti campuran media tersebut sinergis atau cocok untuk pertumbuhan NEP.Hal tersebut
disebabkan karena pada campuran media E terdapat berbagai nutrisi seperti karbohidrat, protein,
lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan bagi perkembangbiakan NEP.Tepung kedelai
mengandung protein tinggi. Dog food merupakan bahan makanan bagi anjing yang dijual dalam
bentuk kemasan dengan berbagai merk dagang.Kandungan nutrisi dari dog food yang digunakan
pada penelitian ini tertulis pada kemasan mengandung karbohidrat 30,8 %, protein 29,4 % dan
lemak 29,1 %.Menurut Uhan (2008) komponen utama dari dog food adalah campuran daging
ayam, sapi, minyak sayur, serat sayuran, agar-agar, vitamin dan mineral. Menurut Somwong dan
Petchara (2012) makanan anjing atau dog food yang mengandung banyak lemak berperan dalam
peningkatan produksi JI nematoda entomopatogen dibandingkan bubuk ikan.Wagiman et al.
(2001) melaporkan bahwa media dog food secara nyata menghasilkan produksi juvenil infektif
yang paling tinggi bila dibandingkan dengan kotoran kambing, kompos, ulat kubis, dan air.
Oleh sebab itu mengapa tepung kedelai dan dog food baik untuk NEP karena kedua media
campuran tersebut mengandung nutrisi yang dibutuhkan NEP.Hal tersebut didukung dengan
adanya hasil analisis kandungan nutrisi pada media E yang dilakukan di BBTPPI Semarang
menunjukan bahwa media campuran tepung kedelai dan dog foodhasil uji mengandungkarbohidrat
1.27 %, protein 1.52 % dan lemak 1.09 %.
Kelimpahan NEP pada berbagai media perbanyakanberturut-turut pada minggu pertama
adalah sebagai berikut. Pada media E (campuran kedelai dan dog food) dengan jumlah NEP
sebesar 3,5 x104 ekor/ml, media D (campuran kedelai dan hati ayam) (NEP = 2,7 x 104 ekor/ml),
media A (kedelai) (NEP= 2,2x 104 ekor/ml), media F (campuran hati ayam dan dog food) (NE=
1,8 x 104 ekor/ml, media G (campuran kedelai, hati ayam dan dog food) (NEP= 9,9 x 103 ekor/
ml, media C (dog food) (NEP= 9,7 x 103 ekor/ml, dan media B (hati ayam) (NEP = 6,5 x 103
ekor/ml).
Selain media E, ada kecenderungan media yang ditambah tepung kedelai menghasilkan
kelimpahan NEP yang cukup tinggi terlihat pada media D. Menurut Chaerani et al (2012) minyak
kedelai yang merupakan protein nabati dengan kandungan asam-asam amino yang sedikit berbeda
dari protein hewani berperan dalam peningkatan produksi JI nematoda entomopatogen. Populasi
JI H. indicus terus meningkat pada media Han yang mengandung tepung kedelai, produksi JI
tertinggi 1.6 x 105 ekor/g media yang terjadi dalam 2 minggu.
Media yang kurang cocok untuk perbanyakan NEP adalah media B (hati ayam). Menurut
Nio (2008) kandungan nutrisi hati ayam meliputi Karbohidrat 6 %, Protein 19,7 % dan Lemak
3,2 %.Pada media yang mengandung protein tinggi, selama perlakuan perbanyakan NEP terjadi
degradasi senyawa protein menjadi gasamonia.Semakin tinggi kandungan protein maka semakin
Dyah Rini Indriyanti, Nurul Fitria Awalliyah, Priyantini Widiyaningrum
13
banyak amonia yang terbentuk di dalam botol, sehingga menjadi racun bagi perkembangbiakan
NEP.Hal ini nampak pada media hati ayam yang banyak mengandung protein dengan kelimpahan
NEP terendah.Hal ini sesuai yang dilaporkan Sutrisno dan Suciastuti (2002), menyatakan bahwa
amonia dapat terbentuk dari dekomposisi bahan-bahan organik yang mengandung nitrogen yang
berasal dari feses.
Hasil pengamatan pH pada masing-masing media perbanyakan nematoda entomopatogen
yaitu pH awal sebesar 5-5,5 dan pH akhir sebesar 5,5-8,5. Pengukuran pH pada awal pengamatan
menunjukan bahwa pH pada semua media dalam suasana asam, sedangkan pengukuran pH
pada akhir pengamatan (minggu keempat) menunjukan bahwa pH pada semua media dalam
suasana basa.Hal ini menunjukkan adanya aktivitas NEP selama penelitian berlangsung.Hal
tersebut kemungkinan disebabkan adanya aktivitas NEP di dalam botol media pakan tertutup
yang menyebabkan peningkatan kadar konsentrasi karbondioksida (CO2) yang mengakibatkan
peningkatan nilai pH pada akhir pengamatan. Peningkatan nilai pH pada media pakan juga dapat
disebabkan terjadinya penguraian protein dan adanya senyawa nitrogen berupa amonia. Menurut
Prihantini et al. 2005, menjelaskan bahwa gas amonia yang menimbulkan bau menyengat dan
bersifat racun dapat ditemukan pada pH tinggi (basa).
Cahaya sangat berpengaruh terhadap perkembangbiakan NEP. Selama masa inkubasi, botol
yang digunakan disimpan pada tempat yang tidak terkena matahari langsung, karena NEP lebih
sensitif dengan sinar matahari langsung terutama UV. Sinar UV dapat menurunkan aktivitas NEP
bahkan dapat menimbulkan kematian (Novizan 2002). Pengukuran intensitas cahaya dilakukan
pada setiap minggunya dengan mengukur setiap pagi, siang dan sore. Intensitas cahaya di ruang
penelitian berkisar antara 4.8 Lux – 34 Lux.
Kelembaban adalah salah faktor yang mempengaruhi aktivitas nematoda entomopatogen.
Nematoda entomopatogen memerlukan kelembaban yang cukup untuk kelangsungan hidup
dan pergerakannya (Afifah 2013). Menurut Ariana (2002) kelembaban yang rendah akan
menyebabkan NEP tidak mampu untuk bergerak karena kelembaban yang teramat kering dapat
menimbulkan kematian bagi NEP.Kelembaban di ruang penelitian berkisar antara 65-85%.
Untuk mendukung adanya kelangsungan hidup nematoda di luar habitat alaminya, nematoda
sangat bergantung pada air dan cadangan makanan sebagai sumber energinya (Chen & Glazer
2004). Menurut Nugrohorini (2010), nematoda dapat melakukan aktivitas dengan kelembaban
kadar air ± 60-70% untuk mempermudah pergerakan nematoda. Berbagai media buatan yang
telah dimodifikasi untuk pembiakkan nematoda pada dasarnya mengandung bahan-bahan
yang kaya akan nutrisi yang dapat mempercepat perkembangbiakannya dengan kadar air yang
disesuaikan kelembabannya.
14
Vol. 13 No.1 Juli 2015
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Sebanyak tujuh media yang digunakan dalam penelitian ini, media terbaik untuk
perkembangbiakan NEP adalah media E yang terdiri dari campuran tepung kedelai dan dog food
1:1.Media E menghasilkan kelimpahan NEP tertinggi pada minggu pertama pembiakan sebesar
3,5 x104 ekor/ml. Analisis nutrisi media E mengandung karbohidrat 1,27 %, protein 1,52 % dan
lemak 1,09 %.
Saran
Berdasarkan hasil pengamatan selama 4 minggu, disarankan apabila akan membiakkan
NEP pada media, sebaiknya NEP dipanen pada minggu pertama atau minggu kedua, saatnya
populasi NEP dalam jumlah banyak.
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, L, Bambang TR & Hagus T. 2013. Eksplorasi Nematoda Entomopatogen Pada Lahan
Tanaman Jagung, Kedelai dan Kubis Di Malang Serta Virukensinnya Terhadap Spodoptera
litura Fabricius. Jurnal HPT 1:2.
Ariana. 2002. Keefektifan Nematoda Entomopatogen Steinernema spp dan Heterorhabditis
indica Sebagai Agen Hayati Pengendali Rayap Tanah Coptotermes curvighantus Holmgren
(Isoptera: Rhinotermitidae). Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Chen S and I Glazer. 2004. A novel method for longterm storage of the entomopathogenic
nematode Steinernema feltiae at room temperature. Biological Control. 32: 104-110.
Chaerani. 2011. Pembiakan Nematoda Patogen Serangga (Rhabditida: Heterorhabditis dan
Steinernema) Pada Media Semi Padat. J. HPT 11(1): 69-77.
_____, M. Ace Suhendar & J. Harjosudarmo. 2012. Perbanyakan Nematoda Patogenik Serangga
(Rhabditida: Steinernema dan Heterorhabditis) pada Media In vitro Cair Statik. Agro
Biogen 8 (1): 19-26.
Indriyanti DR &Widiyaningrum P. 2014. Eksplorasi Nematoda Entomopatogen dati Tanah untuk
Agensi Pengendalian Hayati Serangga.Prosiding.Seminar Nasional Profesi HPTI, PEI,
PFI.Surabaya 19 Maret 2014.Fakultas Pertanian UPN “ Veteran” Jawa Timur.
Mahar AN, Darban DA, Lanjar AG, Munir M. 2005. Influence of temperature on the production
and infectivity of entomophatogenic nematodes agains larvae and pupae of Otiorhynchus
syleatus (Coleoptera: Curculionidae). Journal of Entomology 2(1):92-96, 2005.
Nugrohorini. 2010. Eksplorasi Nematoda Entomopatogen Pada Beberapa Wilayah di Jawa
Timur. J. Pertanian MAPETA XII (2): 72-144.
Novizan. 2002. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. Agro Media
Pustaka. Jakarta: 50-60 pp.
Dyah Rini Indriyanti, Nurul Fitria Awalliyah, Priyantini Widiyaningrum
15
Nderitu J, Sila M, Nyamasyo G and Kasina M. 2009. Effectiveness of entomophatogenic
nematodes against sweet potato Cylas puncticollis (Coleoptera: Apionidae) under semifield condition in Kenya. Journal of Entomology, 6(3): 145-154.
Nio OK. 2008. Daftar Analisis Bahan Makanan. Balai Penerbit FK-UI. Jakarta.
Nyasani JO, Kimenyu JW, Olubayo FM, Shibairo SI. 2008. Occurrence of entomopathogenic
nematodes and their potential in the management of Diamondback moth in Kale. Asian
Journal of Plant Science 7(3): 314-318.
Kamariah, Burhanuddin N & Johanis P. 2013. Efektivitas Berbagai Konsentrasi Nematoda
Entomopatogen (Steinernema sp) Terhadap Mortalitas Larva Spodoptera exigua Hubner.
Agrotekbis 1 (1) : 17-22
Prihantini NB, Putri B & Yuniati R. 2005. Pertumbuhan Chlorella spp. dalam medium ekstrak
tauge (Met) dengan Variasi pH Awal. Makara Sains 9(1): 1-6.
Subagiya. 2005. Pengendalian hayati dengan nematoda entomogenus Steinernema carpocapsae
strain lokal terhadap hamaCrocidolomia binotalis di Tawangmangu. Agrosain 7(1):34-39.
Somwong, P & J Petcharat. 2012 Culture Of The Entomopathogenic Nematode Steinernema
carpocapsae (Weiser) On Artificial Media. Journal of Agricultural and Biological Science.
7:4
Wagiman, FX, B Triman, TS Uhan & TK Moekasan. 2001. Evaluasi Penggunaan Nematoda
Steinernema carpocapsae dalam Pengendalian Hayati Hama Spodoptera spp. Pada
Tanman Bawang. Laporan Hasil Penelitian. Universitas Gadjah Mada. 40 Hlm.
16
Vol. 13 No.1 Juli 2015
Fly UP