...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
ISSN 2086 - 3403
PERILAKU KOROSI TITANIUM DALAM LARUTAN MODIFIKASI SALIVA
BUATAN UNTUK APLIKASI ORTODONTIK
Sanny Ardhy, Gunawarman, Jon Affi
Jurusan Teknik Mesin Universitas Andalas, Padang, 25137, Indonesia
E-mail: [email protected], [email protected], [email protected]
Abstract: Behaviour of Titanium Corrosion in Artificial Saliva Modified Solution For
Orthodontic Applications. This paper discusses about the corrosion behavior of titanium in
artificial saliva modification solution for orthodontic applications. There are seven types of titanium
selected in this test. Namely Ti-12 Cr Solution Treatment (ST), Ti 12 Cr Aging Treatment (AT) 30
Ks, Ti-12 Cr (AT 60 Ks), TNTZ (ST), TNTZ (AT), Ti64 ELI (Extra Low interstitial) and Commercial
Pure Titanium (CpTi). The specimens were stored in a glass vessel containing artificial saliva pH
5.0. Tests conducted in four variations of the time; 1 hour, 10 hours, 100 hours and 1000 hours.
This test compares the rate of corrosion and hardness of seven samples of the specimen. These
test results are useful to reference the patient and the dentist in choosing orthodontic materials
better. The results showed Ti-12 Cr (AT 60 Ks) has a corrosion rate that is lower than the other
specimens, 0, 00,000,034 mm / y (1000 hours). Also great hardness value, under the HVN 296 ELI
Ti-64, 313 HVN.
Keywords: artificial saliva, corrosion rate and hardness
Abstrak: Perilaku Korosi Titanium Dalam Larutan Modifikasi Saliva Buatan Untuk
Aplikasi Ortodontik. Penelitian ini membahas perilaku korosi titanium dalam larutan modifikasi
saliva buatan untuk aplikasi ortodontik. Ada tujuh jenis titanium yang dipilih dalam pengujian ini.
Yakni Ti-12 Cr Solution Treatment (ST), Ti- 12 Cr Aging Treatment (AT) 30 Ks, Ti-12 Cr (AT 60
Ks), TNTZ (ST), TNTZ (AT), Ti64 ELI (Extra Low Intertitial) dan Commercial Pure Titanium (CpTi).
Spesimen direndam dalam gelas bejana berisi saliva buatan pH 5,0. Pengujian dilakukan dalam
empat variasi waktu; 1 jam, 10 jam, 100 jam dan 1000 jam. Pengujian ini membandingkan laju
korosi dan kekerasan dari tujuh sampel spesimen. Hasil pengujian ini berguna untuk referensi
pasien dan dokter gigi dalam memilih bahan material ortodontik yang lebih baik. Hasil penelitian
menunjukkan Ti-12 Cr (AT 60 Ks) memiliki laju korosi yang lebih rendah dibanding spesimen
lainnya, 0, 00000034 mm/y (1000 jam). Nilai kekerasannya juga bagus, 296 HVN dibawah Ti-64
ELI, 313 HVN.
Kata kunci: pH asam, saliva buatan, titanium, laju korosi, kekerasan
PENDAHULUAN
Selama ini, masyarakat cenderung
memilih material kawat gigi dari baja
tahan karat (stainless steel). Material ini
memiliki kekuatan, keuletan dan tahan
korosi yang baik. Namun seiring
perkembangan
zaman,
muncullah
material titanium dan titanium alloy
untuk aplikasi ortodontik, yang memiliki
sifat tahan korosi dan sifat mekanik jauh
lebih baik dibanding stainless steel.
Keunggulan
titanium dibandingkan
logam lain, antara lain kekuatan tinggi,
ringan (hanya 60 persen dari berat
stainless steel). Titanium kuat, dapat
menyelaraskan gigi dengan cepat.
Titanium juga memiliki kemampuan
untuk menahan beban-beban mekanis
saat menguyah dengan baik. Memiliki
stabilitas kimiawi yang sangat baik,
menghasilkan lapisan oksida (TiO2)
sangat protektif pada permukaannya.
Tabel 1. Kekuatan Material Implan dan
Aplikasi Ortodontik [5].
585
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
Metals
YS
(MPa)
UTS
(MPa)
Stainless steel:
316L
190
490
310
860
241
793
485
550
795
860
150
210
150
250
CoCr alloys:
CoCrWNi (F90)
CoNiCrMo (F562)
Ti and its alloys:
Pure Ti grade 4
(F67) (ASTM, 2006)
Ti6Al4V (F136)
(ASTM, 2008)
Degradable metals:
Pure iron (Goodfellow,
2007)
WE43 magnesium alloy
(ASTM, 2001)
Selain itu, titanium juga memiliki
sifat biokompatibilitas yang lebih baik
dibanding logam lainnya. Kemampuan
titanium untuk berinteraksi dengan sel
atau jaringan hidup sangat baik, tanpa
menimbulkan reaksi toksik [14]. Sifat
osseointegrasi
(kemampuan
untuk
melekat pada jaringan di sekitarnya,
dalam hal ini tulang) yang dimiliki
titanium menjadikan tulang berkontak
langsung dengan permukaan dental
implan sehingga terjadi pertumbuhan
tulang di sekitar implan. Meskipun
titanium tahan terhadap korosi, namun
saat
lapisan
oksida
stabil
di
permukaannya hilang atau tidak mampu
untuk
terbentuk
kembali
pada
permukaannya, maka titanium dapat
terserang korosi [7]. Rongga mulut
termasuk area yang basah karena selalu
terbasahi oleh produksi air liur (saliva).
Disintegrasi logam dapat terjadi akibat
kelembaban, atmosfir, larutan asam atau
basa, dan bahan kimia tertentu [12].
Dalam pengujian ini, digunakan
empat jenis material titanium. Mulai dari
titanium yang sudah banyak digunakan
hingga titanium yang belum banyak
digunakan atau dikembangkan secara
luas. Yakni CPTi (Commercial Pure
ISSN 2086 - 3403
Titanium), Ti-64 ELI (Extra Low
Intertitial), TNTZ dan Ti-12 Cr. Pengujian
ini nantinya akan meneliti pengaruh
saliva buatan (pH asam) terhadap
perilaku
korosi
titanium.
Meski
mempunyai sifat tahan korosi yang lebih
baik, namun ketahanan korosi Ti dapat
berkurang di lingkungan pH asam [8].
Seperti diketahui, masyarakat Indonesia
suka mengkonsumsi makanan dan
minuman mengandung zat asam. Seperti
empek-empek, goreng-gorengan, serta
minuman bersoda dan energy drink.
Dalam minuman bersoda dan energy
drink, ada pelarutan karbonsioksida yang
menghasilkan asam karbonat yang
bersifat asam [9]. Beda dengan
masyarakat luar negeri. Mereka cendrung
suka mengkonsumsi makanan mentah
(tak
digoreng,
tak
mengandung
santan/gulai), vegetarian (salad) dan
buah-buahan.
Korosi
diartikan
dengan
terlepasnya ion dari alloy karena
kecenderungan unsur-unsurnya untuk
kembali pada bentuk aslinya di alam
[10]. Ada dua reaksi yang menyebabkan
terjadinya korosi, yaitu reaksi oksidasi
dan reduksi. Pada reaksi oksidasi, akan
terjadi pelepasan elektron oleh material
yang lebih bersifat anodik. Sedangkan
reaksi reduksi adalah pemakaian elektron
oleh material yang lebih bersifat katodik.
Jika bereaksi dengan air, titanium akan
membentuk titanium dioksida dan
hidrogen [10].
Ti(s) + 2H2O(g)
TiO2(s) + 2H2(g)
Perubahan-perubahan biologis seperti
temperatur dan pH, serta gesekan baik
antara
satu
komponen
dengan
komponen lainnya ataupun dengan gigi
geligi selama perawatan yang terjadi di
dalam rongga mulut, dimana terdapat
saliva sebagai suatu lingkungan elektrolit
juga turut mempengaruhi kecepatan
pelepasan elemen logam.
Eliades
saat kawat gigi
dimasukkan ke
terjadi pelepasan
(2012) menjelaskan,
NiTi, braket dan tube
dalam saliva buatan,
dari unsur logam nikel.
586
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
Ini disebabkan adanya arus galvanis
yang timbul akibat adanya interaksi
dalam suatu larutan elektrolit antara dua
atau lebih logam yang berbeda. Korosi
akan memperlemah kekuatan kawat gigi
dan memicu kekasaran permukaan.
Selain itu, unsur Ni yang terlepas dapat
menimbulkan efek buruk dalam tubuh,
baik itu berupa reaksi hipersensitivitas,
pemicu kanker, dan tentunya bersifat
toksik. Menurut
Rey
Kristianingsih
(2014), pelepasan ion Ni dan Cr
(stainless steel dan titanium paduan)
yang berlebihan atau korosi yang terjadi
dalam jangka waktu lama, akan
memberikan dampak negatif pada
implan dan kawat gigi. Ni dan Cr
merupakan kelompok logam berat yang
dapat bersifat alergi dan karsinogenik
bagi tubuh. Unsur Ni memberikan sifat
baik pada kawat gigi untuk formabilitas,
kekerasan dan tahan panas. Unsur Cr
berguna untuk menambah ketahanan
implan dan kawat gigi terhadap korosi.
Namun, kelemahan unsur Ni dan Cr
adalah dapat menyebabkan alergi
apabila terlepas dalam rongga mulut.
Ion Cr dapat membentuk protective
surface oksida akibat aktivitas oksigen
pada
permukaan
logam
[10].
Terlepasnya ion Cr yang bereaksi dengan
oksigen dari media elektrolit akan
terdeposit di permukaan logam sebagai
oksida kromium (Cr2O3). Sementara ion
Ni memiliki efek penyebab kanker [11].
Untuk titanium bersifat tidak langsung,
tetapi Ni lebih memainkan peran
fisiologis di dalam sel. Telah diketahui,
lebih 50 tahun Ni terimplikasi dalam
beberapa bentuk kanker, bisa beroksidasi
dengan H2O2, merusak protein dan DNA.
Gejala alergi pada implan dan kawat gigi
antara lain sariawan pada bibir bagian
dalam, peradangan (iritasi, bengkak)
pada gusi dan gatal-gatal pada tubuh
[12]. Titanium murni dan paduan
titanium seperti Ti-64 ELI, TNTZ dapat
dijadikan alternatif untuk permasalahan
di atas. Kedua jenis titanium ini tidak
mengandung unsur logam berat. Tujuan
penelitian ini sebagai acuan bagi pasien
ISSN 2086 - 3403
dan dokter gigi dalam memilih bahan
material ortodontik yang lebih baik.
Khususnya material kawat gigi dan
implan gigi yang kuat, ringan, lebih tahan
korosi,
serta
biocompatible, tidak
menimbulkan alergi dan membawa racun
(toksin) dalam tubuh. Batasan masalah
penelitian ini, tidak membahas berapa
banyak kandungan ion Cr yang terlepas
saat terjadi korosi pada sampel spesimen
Ti-12 Cr. Pengujian hanya dilakukan
untuk membandingan laju korosi dan
kekerasan spesimen.
Saliva
buatan
atau
larutan
McDougall berperan sebagai larutan
penyangga atau buffer dalam medium
atau sebagai pengganti fungsi saliva.
Penggunaan saliva
buatan penting
untuk mempertahankan pH supaya tetap
berada dalam kisaran normal. Ion logam
sebagai anoda dan ion H+ dari media
elektrolit sebagai katoda [15]. Reaksi
elektrokimia ini menyebabkan pelepasan
ion Ni dan Cr dari kawat gigi stainless
steel sebagai tanda terjadinya korosi.
Pada kelompok yang direndam dalam
minuman berkarbonasi, terjadi pelepasan
ion Ni dan Cr lebih banyak karena
adanya penambahan konsentrasi ion H+
dari asam karbonat (H2CO3) [10]. Asam
karbonat dapat meningkatkan potensi
terjadinya
korosi.
Semakin
tinggi
konsentrasi asam, maka semakin banyak
ion H+ dari asam yang ikut bereaksi dan
mengalami reduksi. Akibatnya, semakin
banyak pula ion logam yang mengalami
oksidasi sehingga mempercepat proses
korosi.
METODE PENELITIAN
Tahap awal penelitian dimulai
dengan
studi
literatur.
Kemudian
dilanjutkan penyiapan spesimen Ti-12 Cr
(ST), Ti-12 Cr (AT 30 Ks), Ti-12 Cr (AT
60 Ks), TNTZ (ST), TNTZ (AT), Ti64 ELI
dan CPTi.
587
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
ISSN 2086 - 3403
akibat korosi yang terjadi. Awalnya,
masing-masing spesimen akan ditimbang
berat awalnya. Usai spesimen direndam,
ditimbang kembali berat akhirnya.
Sehingga nanti akan didapat berat hilang
(W). Barulah nanti didapat laju korosi
dengan perhitungan rumus:
Gambar 1. Dimensi spesimen
Pengujian dilakukan dalam empat (4)
variasi waktu (t); 1 jam, 10 jam, 100 jam
dan 1000 jam.
CR
Ket: CR = Corrosion Rate (mpy)
W = Weight loss (mg)
K= Konstanta factor (534)
D= Densitas specimen (g/cm3)
As= Surface area (in2)
T= Exposure time (jam)
3. Menghitung kekerasan
Gambar 2. Spesimen dimasukkan ke dalam
larutan saliva buatan (pH asam)
Seluruh spesimen direndam dalam
larutan modifikasi saliva buatan (pH
asam) menggunakan gelas bejana 50 ml.
Tabel 2.
Larutan modifikasi saliva
buatan (pH asam/5.0)
Larutan
Jumlah
(gr/ltr)
9,8
1.
NaHCO3
2.
3,71
3.
Na2HPO4 + 2
H2O
KCl
4.
NaCl + NaF
0,47
5.
MgSO4 + 7 H2O
0,12
6.
CaCl2
0,05
7.
H2O
balance
Menggunakan
peralatan
uji
Micro
Hardness Vicker Tester, bertujuan untuk
membandingkan kekerasan benda uji
sebelum dan sesudah korosi, untuk
mengetahui sifat mekanik (kekerasan)
benda uji. Masing-masing spesimen
diambil tiga titik untuk uji keras,
kemudian diambil nilai rata-rata.
0,57
Prosedur pengujian
1.
Metode immersion test (uji
rendam), empat variasi waktu; 1 jam, 10
jam, 100 jam dan 1000 jam.
2.
Menghitung laju korosi
Menggunakan metode kehilangan berat
(weight loss). Perhitungan laju korosi
dengan mengukur kekurangan berat
Gambar 3. Alat uji kekerasan merk HMV
Shimadzu, Japan
588
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
ISSN 2086 - 3403
Pengamatan struktur mikro
Menggunakan mikroskop optik dan
SEM untuk melihat struktur mikro, jenis
korosi yang terjadi dan dalamnya
penetrasi korosi. Benda uji dibersihkan,
kemudian dipoles dengan metal polish.
Bertujuan untuk mendapat permukaan
yang rata dan halus. Kemudian spesimen
dicelupkan dalam larutan etsa dengan
posisi
permukaan
yang
dietsa
menghadap
ke
atas.
Selanjutnya
spesimen dicuci, dikeringkan, dilihat di
mikroskop optik dan SEM.
Gambar 4. Mikroskop optik untuk
pengamatan struktur mikro, M hingga
100x
Pengujian komposisi kimia
Spesimen diletakkan dalam ruang
vakum alat uji SEM, kemudian dilakukan
tahapan pengujian. Yakni mengaktifkan
alat EDX pada SEM yang berfungsi
sebagai pendeteksi komposisi kimia,
gambar benda uji ditampilkan pada layar
monitor. Kemudian menandai area pada
gambar (spektrum) yang ingin diukur
komposisi kimianya. EDX melakukan
proses penghitungan komposisi kimia
dan hasil ditampilkan pada layar monitor.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Laju Korosi
Tabel 3 memperlihatkan laju korosi
(CR) tujuh spesimen titanium berbanding
lurus dengan pertambahan waktu (t)
pengujian.
Semakin bertambah t,
semakin meningkat CR. Namun dalam
pengujian yang menggunakan empat
variasi waktu (1 jam, 10 jam, 100 jam
dan 1000 jam) ini, laju korosi tidak
meningkat secara signifikan. Pada
gambar 6, dapat dilihat laju korosi
tertinggi terjadi pada CpTi, yakni
0,00000252 mm/y (waktu pengujian
1000 jam). Sedangkan laju korosi
terendah terjadi pada Ti-12 Cr (AT 60
Ks), yakni 0,00000004 mm/y (waktu
pengujian 10 jam).
Dari hasil pengujian, laju korosi
titanium paduan lebih rendah dibanding
titanium murni (CpTi). Ini artinya,
titanium paduan memiliki umur laju
korosi yang lebih lama. Dalam arti kata,
titanium paduan memiliki sifat tahan
korosi yang lebih baik dibanding CpTi.
Untuk titanium paduan, Ti-12 Cr (AT 60
Ks) memiliki laju korosi yang lebih
rendah dibanding dua titanium paduan
lainnya; TNTZ dan Ti-64 ELI. Perlakuan
panas Solution Treatment (ST) dan
Aging
Temperature
(AT)
juga
berpengaruh terhadap laju koros. Ti-12
Cr (AT) memiliki nilai laju korosi yang
lebih rendah dibanding Ti-12 Cr (ST).
Begitupula halnya dengan TNTZ.
Tabel 3. Laju korosi spesimen uji (mm/y)
No
1
2
3
4
5
Gambar 5. SEM untuk pengamatan struktur
mikro, M hingga 5000x
6
7
t (jam)
log t
CPTi
Ti-64 ELI
TNTZ-ST
TNTZ-AT
Ti-12 Cr
(ST)
Ti-12 Cr (AT
30 KS)
Ti-12 Cr (AT
60 KS)
Laju Korosi
(mm/y)
1
10
0
1
0 0,00000086
0 0,00000087
0 0,00000025
0 0,00000017
100
2
0,00000121
0,00000087
0,00000050
0,00000033
1000
3
0,00000252
0,00000180
0,00000104
0,00000062
0
0,00000013
0,00000026
0,00000051
0
0,00000012
0,00000020
0,00000040
0
0,00000004
0,00000009
0,00000034
589
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
ISSN 2086 - 3403
0,0000030
Tabel 4. Weight loss spesimen (gram)
setelah pengujian
0,0000025
No
1
2
3
4
5
6
7
Spesimen
CPTi
Ti-64 ELI
TNTZ-ST
TNTZ-AT
Ti-12 Cr
(ST)
Ti-12 Cr
(AT 30 KS)
Ti-12 Cr
(AT 60 KS)
1
jam
0
0
0
0
10 jam
0,0017
0,0017
0,0006
0,0004
100
jam
0,024
0,017
0,012
0,008
1000
jam
0,50
0,35
0,25
0,15
0
0,0003
0,006
0,12
0
0,0003
0,005
0,10
0
0,0001
0,002
0,10
corrosion rate (mm/y)
0,0000020
0,0000015
0,0000010
0,0000005
0,0000000
0
Lamanya waktu penahanan AT, juga
berpengaruh terhadap laju korosi. Ti-12
Cr (AT 60 Ks) memiliki nilai laju korosi
yang lebih rendah dibanding Ti-12 Cr (AT
30 Ks). Khusus untuk TNTZ sendiri,
memiliki nilai laju korosi yang lebih
rendah dibanding Ti-64 ELI. Perhitungan
laju korosi ini menggunakan metode
kehilangan berat (weight loss). Dalam
pengujian ini, laju korosi belum terlihat
saat waktu immersion test 1 jam. Ini
dikarenakan, tak adanya weight loss dari
seluruh spesimen. Berat awal dan berat
akhir dari seluruh spesimen, bernilai
sama. Laju korosi baru terlihat saat
pengujian 10 jam, 100 jam hingga 1000
jam. Sama halnya dengan laju korosi,
weight loss juga berbanding lurus
dengan
pertambahan
waktu
(t)
pengujian. Namun nilai weight loss yang
didapatkan, juga tidak cukup signifikan.
1
CPTi
TNTZ-ST
Ti-12 Cr (ST)
2
3
4
log t (hour)
Ti-64 ELI
TNTZ-AT
Ti-12 Cr (AT 30 KS)
Gambar 6. Kurva laju korosi
Kekerasan
Beda halnya dengan laju korosi,
nilai kekerasan berbanding terbalik
dengan
penambahan
waktu
(t)
pengujian. Pada tabel 5 dan gambar 7,
dapat dilihat semakin bertambah waktu
pengujian, nilai kekerasan semakin
turun. Nilai kekerasan turun seiring
bertambahnya
laju
korosi.
Dalam
pengujian ini, nilai kekerasan turun tidak
begitu signifikan. CpTi yang memiliki
laju korosi yang tinggi, memiliki nilai
kekerasan terendah, 139 HVN (waktu
1000 jam). Nilai kekerasan tertinggi, Ti
64 ELI, 313 HVN.
Tabel
(HVN)
5.
Perbandingan
t (jam)
nilai
kekerasan
0
1
10
100
1000
1.
CPTi
162
162
153
149
139
2.
TNTZ (ST)
231
226
162
150
147
3.
236
231
211
198
194
305
295
291
289
261
309
305
301
295
273
6.
TNTZ (AT)
Ti-12 Cr
(ST)
Ti-12 Cr (AT
30 Ks)
Ti-12 Cr (AT
60 Ks)
321
312
308
302
296
7.
Ti-64 ELI
362
342
338
325
313
4.
5.
590
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
ISSN 2086 - 3403
Kekerasan (HVN)
500
0
Ti-64
Ti-12
Ti-12
Ti-12
TNT
TNT
CPT
00
11
21
31
t (jam)
14
5
CPTi
TNTZ (ST)
Gambar 7. Kurva nilai kekerasan spesimen
uji.
Pemeriksaan struktur mikro
Seperti yang dilihat pada gambar 8, dari
hasil gambar pengujian 1 jam, 10 jam,
100 jam hingga 1000 jam, belum
ditemukan korosi pada material uji.
Pemeriksaan
inidilakukan
dengan
Scanning Electron Microscope (SEM)
hingga
perbesaran
100x.
Yang
ditemukan
hanyalah
inklusi
(zat
pengotor). Inklusi dapat dilihat berupa
titik. Inklusi ini disebabkan media
elektrolit (Cl, ion H, Fluoride/F)
menyerang lapisan pasif titanium oksida.
Bentuk inklusi ini juga diperlihatkan oleh
gambar lapisan-lapisan yang menumpuk
dengan indikasi warna tua yang cukup
kuat.
Pemeriksaan
SEM-Energy
Dispersive
X-ray
(EDX),
juga
menunjukkan adanya unsur-unsur Ca, P,
O, Cl, Mg, Na, K yang menyerang lapisan
pasif-titanium-oksida.
Gambar 8. Struktur mikro Cp Ti; 0 jam, 1
jam, 10 ja, 100 jam, 1000 jam.
Gambar 9. Komposisi kimia CpTi (EDX)
591
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
Seperti yang dilihat dalam tabel
6, hasil pengujian SEM-EDX untuk
sampel CpTi, tampak unsur-unsur media
elektrolit seperti Ca, P, O, Cl, Na, C, S, K
sebagai inklusi (gambar 8). Unsur-unsur
ini nantinya yang akan menyerang
lapisan pasif titanium oksida. Reaksi
anodik dimulai pada permukaan logam
terkena elektrolit. Partikel dari kedua
fase
(non-logam
inklusi,
inklusi
intermetalik, partikel logam) muncul
pada permukaan logam.
Tabel 6. Komposisi kimia CpTi (EDX)
Elemen
t
Weight
%
Atomic
%
CK
32.47
46.58
OK
39.30
42.32
Na K
0.44
0.33
Al K
0.97
0.62
Si K
0.52
0.32
PK
0.34
0.19
SK
0.38
0.20
Cl K
0.48
0.23
Ca K
4.02
1.73
Ti K
19.66
7.07
Fe K
0.67
0.21
Cu L
0.75
0.20
Totals
100.00
Partikel-partikel ini nantinya berfungsi
sebagai
anoda
lokal
yang
bisa
menyebabkan korosi galvanik lokal dan
pembentukan lubang awal. Dengan
semakin tingginya ketebalan oksida pada
paduan titanium, akan mengakibatkan
korosi.
ISSN 2086 - 3403
Gambar 10. Spektrum struktur mikro CpTi
(SEM-EDX)
SIMPULAN
Laju korosi titanium paduan lebih baik
dibanding titanium murni (CpTi). Ti-12 Cr
mempunyai laju korosi yang rendah
dibanding CpTi, Ti-64 Eli dan TNTZ. Ti12 Cr (AT) mempunyai laju korosi yang
rendah dibanding Ti-12 Cr (ST). Hasil
pengujian kekerasan, Ti-12 Cr (AT) lebih
keras dibanding Ti-12 Cr (ST). Nilai
kekerasan berbanding terbalik dibanding
penambahan waktu (t) pengujian.
Setelah pengujian korosi, kekerasan
masing-masing spesimen mengalami
penurunan, namun tidak signifikan. Ti-64
ELI memiliki kekerasan paling tinggi.
CpTi memiliki kekerasan paling rendah.
Dari hasil pengujian 1 jam, 10 jam, 100
jam hingga 1000 jam, belum ditemukan
korosi pada material uji. Yang ditemukan
hanyalah inklusi (zat pengotor).
DAFTAR RUJUKAN
Abdel-Hady Gepreel, Mohamed, Mitsuo
Niinomi, 2013, Biocompatibility of TiAlloys for Long-Term Implantation,
Journal of the Mechanical Behavior
of Biomedical Materials.
Özcan, Mutlu and Christoph Hämmerle,
2012, Titanium as a Reconstruction
and Implant Material in Dentistry:
Advantages and Pitfalls, Materials. 5,
1528-1545.
Hermawan, Hendra, Dadan Ramdan and
592
Jurnal Mekanikal, Vol. 6 No. 2: Juli 2015: 585-593
Joy R. P. Djuansjah, 2011, Metals for
Biomedical Applications, Biomedical
Engineering - From
Theory to
Applications, Prof. Reza Fazel (Ed.),
ISBN: 978-953-307-637-9, InTech.
Lutjering, G.
and J. C. Williams,
2003, Titanium,
(Springer-Verlag
Berlin Heidelberg New York.
Donachie, Matthew J, 2000, Titanium: A
Technical Guide. ISBN-13: 9780871706867. Edition: 2nd.
Lusiana, 2010, Analisis Laju Korosi
Titanium, Laporan Tugas Akhir,
Jurusan Teknik Mesin, Universitas
Indonesia, Jakarta.
Gregory, J Lowe, S Bates, CJ Prentice,
Smithers G, Clarke PC, 2000, .
National Diet and Nutrition Survey:
Young People Aged 4-18 Years.
London.
Tahmassebi JF, Duggal MS, Malik-Kotru
G, Curzon ME, 2006. Softdrinks and
Dental Health : A review of current
literature. J Dent. 24(1):2-11.
Rey
Kristianingsih,
2014,
Analisis
Pelepasan Ion Ni dan Cr Kawat
Ortodontik Stainless Steel dan
Titanium yang Direndam dalam
Minuman Berkarbonasi, Laporan
Tugas
Akhir,
Jurusan
Ilmu
ISSN 2086 - 3403
Sciences
and
Technology.
Beni
Mellal. Morocco.
RE Smallman, RJ Bishop, 2000, Metalurgi
Fisik Modern & Rekayasa Material.
Erlangga:335.
Muhammad Yazdi Ali, 2007, Studi Korosi
Titanium (ASTM B 337 Gr-2) dalam
Larutan Artificial Blood Plasma (ABP)
pada Kondisi Dinamis dengan Teknik
Polarisasi
Potensiodinamik
dan
Exposure, Laporan Tugas Akhir,
Jurusan
Teknik
Mesin,
ITS,
Surabaya.
Tapany Udomphol, 2007, Titanium and
its alloys. University of Technology
Suranaree, India.
Mimura and Miyagawa, 2000, Corrosion
Behavior of Orthodontic Alloys,
Galvanic Corrosion Behavior of
Orthodontic Archwire Alloys Coupled
to Bracket Alloys The Angle
Orthodontist. Vol. 76, No. 4, pp.
705–711.
Ade Utami Hapsari, 2008, Studi Pengaruh
Tegangan Korosi SCC, Laporan
Tugas Akhir, Jurusan Teknik Mesin,
Universitas Indonesia, Jakarta.
Kedokteran Gigi, Universitas Jember.
Sfondrini,
Cacciafesta,
V
Maffia,
Massironi, Scribante, Alberti G, Bie
Klersy, 2009, Chromium Release
from New Stainless Steel, Recycled
and
Nickel
Free
Orthodontic
Bracket”.
Angle
Orthodhontist.
UK:792.
Eliades T, Athanasiou, 2002, In Vivo
Aging
of
Orthodontic
Alloys:
Implications for Corrosion Potential,
Nickel Release, and Biocompatibility
Angle Orthodontics. London. 72(3):
222–237.
Callister, William
Materials
Science
and
Engineering-An
Introduction, 7th Edition. Jhon Willey
D,
2000,
& Sons: 38.
Latifa Kinani, 2003, Corrosion Inhibition
of Titanium in Artificial Saliva
Containing Fluoride, Faculty of
593
Fly UP