...

PERBANDINGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI SALIVA PADA ANAK

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

PERBANDINGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI SALIVA PADA ANAK
Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri
Salivaa
Indonesian Journal of Dentistry 2008;15 (1 ): 65-70
http//www.fkg.ui.edu
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia
ISSN 1693-9697
PERBANDINGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI SALIVA PADA
ANAK-ANAK KARIES DAN NON KARIES SETELAH
MENGKONSUMSI MINUMAN BERKARBONASI
Rendra Chriestedy Prasetya
Bagian Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember
Jl. Kalimantan 37 Kampus Bumi Tegal Boto. Jember 68121. Tlp. (0331) 333536
Keywords :
Carbonated drink;
Colony bacteria;
Caries.
Abstract
Dental caries and periodontal disease are well established and
common in Indonesia, and both of these diseases are major
concerns for the oral and dental health. The objective of this study
was to compare the differences in children with and without caries
in terms of colony bacteria in the saliva, and the changes before
and after consumption of carbonated drink. The study was
conducted on Al-Qodiri elementary school students who were 1012 years old. Saliva was collected before and after consumption
(for 2 min) of a carbonated drink. T-test was used to analyze the
results. The results of the study showed that there was a
significant difference (p<0.05) between the caries and non-caries
groups.
Pendahuluan
Karies gigi dan penyakit periodontal
merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling
sering dijumpai di Indonesia. Kedua penyakit
ini dapat menyerang semua lapisan masyarakat
termasuk yang rawan terhadap penyakit gigi dan
mulut. Karies gigi adalah penyakit yang
multifaktorial sehingga untuk terjadinya karies
gigi harus ada faktor-faktor permukaan gigi itu
sendiri, substrat, mikroorganisme dan waktu.1
Rasa manis merupakan rasa yang paling
disukai kebanyakan orang terutama anak-anak.
Sumber rasa manis ini dapat diperoleh dari
sukrosa yang dikonsumsi dalam bentuk gula dan
permen karet. Sukrosa yang sering disebut gula
tebu sering digunakan untuk makanan dan
minuman. Sukrosa juga mempunyai kelebihan
dibanding dengan fruktosa yaitu lebih
mengandung nutrisi dan lebih murah. Substrat
yang menempel pada permukaan gigi
mempunyai sifat lebih lengket sehingga harus
cepat dibersihkan dengan penyikatan. Apabila
Alamat Korespondensi: Jl. Kalimantan 37 Kampus Bumi Tegal Boto. Jember 68121. Tlp. (0331) 333536
Rendra Chriestedy Prasetya
penyikatan kurang bersih akan merangsang
pertumbuhan
streptokokus.
Streptokokus
berperan dalam tahap awal terjadinya karies
dengan cara merusak bagian luar email,
selanjutnya Laktobasilus akan meng
ambil alih peran pada karies yang telah dalam
dan akan lebih merusak.2
Pada usia 10 – 12 tahun, anak memasuki
awal dari fase gigi geligi tetap. Perawatan gigi
pada anak usia ini penting karena frekuensi
makan makanan kariogenik sangat besar. Hal
ini yang menyebabkan pentingnya untuk
memilih makanan yang tepat untuk dikonsumsi
oleh seorang anak.3
Di dalam mulut, saliva merupakan cairan
protektif. Rendahnya sekresi saliva dan
kapasitas buffer menyebabkan berkurangnya
kemampuan membersihkan sisa makanan dan
mematikan
mikroorganisme,
kemampuan
menetralisasi asam,
serta
kemampuan
menimbulkan demineralisasi
email.
Suatu
penurunan kecepatan sekresi saliva bisa diikuti
oleh peningkatan jumlah streptokokus mutans
dan lactobacillus.4 Minuman berkarbonasi yang
beberapa diantaranya bersifat asam, seolah
menjadi trend masyarakat modern dan konsumsi
minuman jenis ini terus meningkat. Di negaranegara maju hal ini sudah lama terjadi, dengan
rata-rata konsumsi 12 kaleng per orang tiap
minggunya pada tahun 1997.5
Minuman
berkarbonasi
mengandung
karbohidrat dengan proporsi pemanis berkalori
tinggi, yaitu sukrosa dengan nilai sekitar 7,8 10,3 % dan bahan-bahan karbonasi yaitu asam
fosfat dan asam sitrat, dimana asam-asam ini
bersifat non self-limiting yaitu adanya dua
proses yang terjadi yaitu larutnya email gigi
yang membentuk garam kalsium sitrat, maleat
atau tartrat dan kemudian terjadinya kembali
pengambilan kalsium dari larutan dan
membentuk kompleks kalsium yang larut dalam
air. Asam sitrat mengerosi gigi lebih cepat
terutama pada pH rendah. Hal ini disebabkan
afinitas asam sitrat yang besar terhadap kalsium
(asam sitrat mempunyai 3 gugus COOH pada
setiap molekul) dan tipe reaksi yang non self
limiting.5
Menurut Brobler dkk (1985) dan Ireland
dkk (1995) dalam Sabaruddin dan Widijanto
(1996) berbagai jenis minuman ringan yang
diproduksi, dipasarkan Berbagai jenis minuman
ringan yang diproduksi, dipasarkan dan
dikonsumsi secara global diketahui secara pasti
dapat menyebabkan demineralisasi email adalah
minuman yang mengandung karbohidrat yang
mudah difermentasi, yang mempunyai aksi
termodinamik yang sangat tinggi sehingga
minuman ini tidak mudah dihilangkan oleh
saliva.6
Adanya berbagai faktor yang menyebabkan
ketidakseimbangan lingkungan rongga mulut
dapat menyebabkan reaksi yang mengarah pada
terjadinya perubahan email, yang dapat menjadi
awal kerusakan gigi. Berdasarkan uraian di atas,
maka mendorong penulis untuk mengetahui
pengaruh minuman berkarbonasi terhadap
perubahan jumlah koloni bakteri saliva pada
anak usia 10 – 12 tahun yang karies dan non
karies.
Bahan dan Cara
Subyek penelitian ini adalah santriwan dan
santriwati
pondok
pesantren
Al-Qodiri
kabupaten Jember yang berusia 10 – 12 tahun
terdiri dari pria dan wanita karies dan non
karies. Subyek penelitian sebanyak 20 anak
diambil dengan metode purposive sampling
yaitu anak non karies dan karies media dengan
indeks DMF-t maksimal 1
dan telah
menyatakan kesediannya dengan mengisi
informed consent menjadi sampel penelitian. Ke
– 20 sampel tersebut diberikan dua kali
perlakuan yaitu minum air mineral dan minum
minuman berkarbonasi.
Sebelum diberi perlakuan, sampel diminta
menggosok gigi dan diinstruksikan untuk tidak
makan dan minum selama 1 jam sebelum
penelitian dengan tujuan menghomogenkan
sampel penelitian. Sebelum penelitian sampel
diinstruksikan kumur-kumur air mineral steril
selama 1 menit. Setelah itu diinstruksikan
minum air mineral sebanyak 150 ml dengan
menggunakan sedotan.7 Ditunggu selama 1
menit selanjutnya sampel diminta meludahkan
salivanya selama 2 menit dan ditampung dalam
pot obat,8 kemudian saliva dilakukan penipisan
Indonesian Journal of Dentistry 2008; 15(1): 65-70
66
Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri
Salivaa
seri 10 -3 dan ditanam pada media agar dengan
pour plate technique, selanjutnya media tersebut
diinokulasi selama 24 jam pada suhu 37 C lalu
dilakukan perhitungan jumlah koloni bakteri
dalam tiap Colony Forming Unit (CFU) dengan
menggunakan Colony Counter.9
Tahap berikutnya sampel diinstruksikan
kumur air mineral selama 1 menit, kemudian
sampel diinstruksikan minum minuman
berkarbonasi merek fanta sebanyak 150 ml
dengan menggunakan sedotan ditunggu selama
1 menit selanjutnya sampel diminta meludahkan
salivanya selama 2 menit dan ditampung dalam
pot obat, kemudian dilakukan penipisan seri 10
-3
dan ditanam pada media agar dengan pour
plate technique, selanjutnya media tersebut
diinokulasi selama 24 jam pada suhu 37 C
kemudian dilakukan juga perhitungan jumlah
koloni bakteri saliva.
Untuk mengetahui apakah ada perubahan
jumlah koloni bakteri saliva sebelum dan
sesudah mengkonsumsi minuman berkarbonasi
pada anak-anak karies dan non karies dipakai
uji t dengan tingkat kemaknaan 0,05.
Hasil
Penelitian yang telah dilakukan mengenai
perbandingan jumlah koloni bakteri saliva pada
anak-anak karies dan non karies (usia 10-12
tahun) dilakukan di Pondok Pesantren AlQodiri dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember. Dari hasil
pengumpulan saliva pada anak-anak karies dan
non karies selama 2 menit didapatkan rata-rata
jumlah koloni bakteri saliva yang tercantum
pada tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan rata-rata jumlah koloni
bakteri pada anak-anak karies dan non karies.
N

Karies
10
sebelum
perlakuan
167,30 cfu
Non karies
10
44,10 cfu
Ket :
sesudah
perlakuan
232,20 cfu
89,50 cfu
Tabel 2. Hasil uji t jumlah koloni bakteri saliva
sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman berkarbonasi pada kelompok karies
Pre
Post
N

SD
P
10
10
167,3 cfu
232,2 cfu
10,65
7,67
0,000
0,000
Tabel 3. Hasil uji t jumlah koloni bakteri saliva
sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman
berkarbonasi pada kelompok non karies.
N

SD
P
Sebelum
10
44,10 cfu
7,67
0,00
Sesudah
10
89,50 cfu
9,38
0,00
N : jumlah sampel

: Rerata
cfu : colony forming unit
67

Pada tabel 1 terlihat adanya peningkatan
jumlah koloni bakteri saliva antara sebelum dan
sesudah mengkonsumsi minuman baking soda
pada kelompok karies yaitu sebesar 167,30 cfu
dan sesudah perlakuan sebesar 232,20 cfu.
Sedangkan pada kelompok non karies sebelum
perlakuan sebesar 44,10 cfu dan sesudah
perlakuan 89,50 cfu. Peningkatan jumlah koloni
bakteri saliva lebih banyak pada kelompok
karies sebesar 64,9 cfu sedangkan pada
kelompok non karies sebesar 45,4 cfu.
Kemudian hasil pengumpulan saliva
dilakukan uji homogenitas dimana hasilnya
menunjukkan data homogen pada kelompok
non karies (p = 0,393 ; p >0,05) dan pada
kelompok karies media (p = 0,155 ; p>0,05)..
Selanjutnya
dilakukan
uji
normalitas
Kolmogorov Smirnov test.
Hasil
uji
menunjukkan distribusi normal jumlah koloni
bakteri saliva pada kelompok non karies setelah
mengkonsumsi minuman berkarbonasi (p =
0,984 ; p >0,05) dan jumlah koloni bakteri
saliva pada kelompok karies media setelah
mengkonsumsi minuman berkarbonasi (p =
0,848 ; p>0,05). Oleh karena data menunjukkan
berdistribusi normal dan homogen maka dapat
dilakukan uji indenpendent t-test.
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa hasil
uji Indenpendent t-test jumlah koloni baketri
saliva sebelum dan sesudah mengkonsumsi
minuman berkarbonasi didapatkan p< 0,05 yang
berarti terdapat perbedaan yang signifikan pada
kelompok karies sebelum dan sesudah
mengkonsumsi minuman berkarbonasi.
Indonesian Journal of Dentistry 2008; 15(1): 65-70
Rendra Chriestedy Prasetya
Data hasil uji Indenpendent t-test jumlah
koloni bakteri saliva pada kelompok non karies
menunjukkan p<0,05 yang berarti terdapat
perbedaan yang signifikan pada kelompok non
karies sebelum dan sesudah mengkonsumsi
minuman berkarbonasi..
Tabel 4. Hasil uji t peningkatan jumlah koloni
bakteri saliva antara kelompok karies dan non
karies
N

SD
P
Karies
10
232,2 cfu
7,67
0,000
Non
Karies
10
89,5 cfu
9,38
0,000
Pada Tabel 4 didapatkan nilai p<0,05 yang
berarti bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan jumlah koloni bakteri saliva setelah
mengkonsumsi minuman berkarbonasi antara
kelompok karies dan non karies.
Pembahasan
Penelitian Perbandingan jumlah koloni
bakteri saliva setelah mengkonsumsi minuman
berkarbonasi pada anak-anak karies dan non
karies (usia 10-12 tahun). 20 anak dibagi 2
kelompok masing-masing 10 anak kelompok
karies dan 10 anak kelompok non karies. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan yang bermakna antara jumlah koloni
bakteri saliva pada anak-anak yang karies
sebesar 199,75 cfu dan non karies sebesar 66,80
cfu. Hal ini karena pada minuman berkarbonasi
mengandung karbohidrat dan gula yang
dimetabolisme
menjadi
asam
oleh
mikrooganisme dalam rongga mulut, yang mana
akan menyebabkan menurunnya pH saliva yang
selanjutnya akan memudahkan pertumbuhan
mikroorganisme dalam rongga mulut. 2 Dalam
hal ini mikroorganisme yang biasa berkembang
adalah golongan streptokokus dan laktobasillus.
Proses yang terjadi adalah ketika pH saliva
turun sampai 5,5
setelah mengkonsumsi
minuman berkarbonasi, maka yang terjadi
selanjutnya adalah proses demineralisasi enamel
yang selanjutnya menjadi karies gigi. Bakteri
yang berperan dalam demineralisasi ini adalah
S. Mutans. Kemudian disusul berkembangnya
Lactobacillus dan actinomyces. Bakteri ini
berkembang di sekitar permukaan enamel,
membentuk dental plak dan memulai
metabolisme karbohidrat dalam hal ini sukrosa
dan fruktosa yang akhirnya menyebabkan pH
saliva menjadi rendah yang berlanjut pada
demineralisasi enamel.4
Selain
itu,
minuman
berkarbonasi
mengandung bahan-bahan karbonasi seperti
asam fosfat dan asam sitrat. Kedua bahan ini
terdiri atas campuran dari asam-asam organik
seperti maleat dan tartrat. Asam organik ini
menghambat kapasitas buffer dan menurunkan
pH saliva Penurunan pH saliva ini apabila
mengenai permukaan gigi akan menyebabkan
demineralisasi enamel. Kekuatan suatu asam
ditentukan oleh Kasam(tetapan dissosiasi); makin
kecil tetapan asam ini makin lemah sifat asam
dan makin mudah asam tersebut terurai dan
membentuk persenyawaan asam yang tidak
berdissosiasi. Untuk asam-asam utama yang
terdapat dalam minuman, seperti asam fosfat
(K1=7,5 x10-3), asam sitrat ( K1=7,2 x10-4),
asam tartrat ( K1=1,05 x10-3), asam maleat (
K1=1,05 x10-3)1. Selain tetapan asam
demineralisasi oleh asam-asam minuman
berbeda, tergantung jenis asamnya. Untuk
asam-asam mineral seperti HCl, HNO 3, H3PO4
reaksinya bersifat self limiting karena produk
yang dihasilkan berupa hasil yang tidak larut,
sedangkan reaksi kalsium dengan asam-asam
organik seperti asam sitrat, maleat atau tartrat
bersifat non self-limiting karena ada dua proses
reaksi yang terjadi yaitu larutnya email gigi
yang membentuk garam kalsium sitrat/ maleat/
tartrat dan kemudian terjadinya kembali
pengambilan kalsium dari larutan dan
membentuk persenyawaan kompleks kalsium
yang larut dalam air. Akibatnya pada asamasam yang terakhir ini sulit terwujud larutan
jenuh dengan kalsium, karena proses penarikan
kalsium dari email terus berlanjut.4,5
D a l a m m i n u ma n b er k a r b o n a s i i n i
ter kandung karbohidr at dengan pr oporsi
pemanis berkalori tinggi seperti glukosa,
fruktosa dan sukrosa bervariasi antara 7-8 dan
10,3 %. Minuman berkarbonasi mempunyai
aksi termodinamika lebih tinggi dari adesi
Indonesian Journal of Dentistry 2008; 15(1): 65-70
68
Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri
Salivaa
termodinamika saliva. Larutan dengan aksi
t er mo d i na mi ka leb ih t i n gg i da r i a des i
termodinamika saliva akan sulit digantikan oleh
saliva. Pengu kur an aksi t er modina mika
diperlukan untuk mengetahui bagaimana suatu
larutan melekat pada permukaan enamel dan
juga menentuka n kec epa ta n sa liva
menggantikan larutan tersebut untuk mencegah
demineralisasi.5,6
Streptokokkus dan laktobasillus merupakan
kuman yang kariogenik karena mampu segera
membuat asam dari karbohidrat yang dapat
diragikan. Kuman-kuman tersebut dapat tumbuh
dalam suasana asam dan dapat menempel pada
permukaan gigi karena kemampuannya
membuat polisakarida ekstra sel yang sangat
lengket dari karbohidrat makanan. Polisakarida
ini, yang terutama terdiri dari polimer glukosa,
menyebabkan matriks plak gigi mempunyai
konsistensi seperti gelatin. Akibatnya, bakteribakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta
saling melekat satu sama lain, dan karena plak
makin tebal maka hal ini akan menghambat
fungsi saliva dalam menetralkan plak.10
Untuk dapat tumbuh dan berkembang biak,
bakteri membutuhkan lingkungan yang sesuai
dan tersedianya nutrien yang cukup. Bakteri ini
membutuhkan karbon, nitrogen, air dan mineral.
lingkungan yang sesuai adalah temperatur, pH,
tekanan osmotik, karbon dioksida dan oksigen
.11
Terdapat perbedaan bermakna jumlah
koloni bakteri saliva sebelum dan sesudah
mengkonsumsi minuman berkarbonasi pada
kelompok non karies rata-rata jumlah koloni
sebelum perlakuan sebesar 44,1 cfu dan
sesudah perlakuan sebesar 89,5 cfu. Sedangkan
pada kelompok karies rata-rata jumlah koloni
sebelum perlakuan sebesar 167,3 cfu dan
sesudah perlakuan sebesar 232,2 cfu. Perbedaan
jumlah koloni bakteri saliva antara kelompok
non karies dan kelompok karies sebelum
perlakuan disebabkan karena derajat kebersihan
rongga mulut pada kelompok karies lebih
rendah dari pada kelompok non karies. Pada
kelompok karies media mempunyai derajat
keasaman saliva yang tinggi ( angka pH saliva
makin rendah ) maka makin banyak karies dan
makin rendah kebersihan mulut anak, yang
69
merupakan tempat yang baik untuk tumbuh dan
berkembang biak bakteri rongga mulut.
memperlihatkan bahwa penurunan pH plak
lebih besar pada individu karies dibandingkan
individu yang bebas karies.12
Menurut Kidd dan Bechal (1992), pada
anak-anak yang karies dalam mulutnya jumlah
bakteri S. mutans dan laktobasilus lebih banyak
daripada dalam mulut anak-anak non karies,
dimana pada anak-anak yang karies tingkat
kolonisasi S. mutans dan laktobasillus dalam
plak
meningkat
setelah
mengkonsumsi
kandungan karbohidrat dan gula dalam
minuman berkarbonasi. Bakteri tersebut
memproduksi asam dari karbohidrat sederhana,
termasuk sukrosa dan bertahan pada pH
rendah.12
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian perbandingan
jumlah
koloni
bakteri
saliva
setelah
mengkonsumsi minuman berkarbonasi pada
anak-anak yang karies dan non karies (usia 6-12
tahun) dapat disimpulkan
bahwa terdapat
perbedaan yang bermakna jumlah koloni bakteri
saliva antara anak - anak yang karies dan non
karies setelah mengkonsumsi minuman
berkarbonasi yaitu sebesar 199,75 cfu dibanding
66,80 cfu dan juga terdapat perbedaan yang
signifikan pada kelompok karies maupun non
karies setelah mengkonsumsi minuman
berkarbonasi.
Dalam
kaitannya
dalam
mencegah karies gigi diharapkan dalam
mengkonsumsi
minuman
berkarbonasi
hendaknya frekuensinya untuk dikurangi karena
terbukti dapat meningkatkan jumlah koloni
bakteri saliva yang nantinya dapat mencegah
terjadinya karies gigi.
Daftar Acuan
1.
2.
Carranza, FA, Newman, MG. Clinical
Periodontology. 9 th Ed. Philadelphia: Wb
Saunders.2002.
A Tarigan, R. Kesehatan Gigi dan Mulut.
Jakarta. EGC. 1994 : 14 – 18.
Indonesian Journal of Dentistry 2008; 15(1): 65-70
Rendra Chriestedy Prasetya
3. Amerongen, AVN. Ludah dan Kelenjar Ludah
arti Bagi Kesehatan gigi. Gajah Mada university
press.1992 : 30 - 35
4. A Liesan, EH Sundoro, W. Werdaningsih.
Perbandingan Kekasaran Permukaan Email
Akibat Beberapa Jenis Minuman Siap Saji.
Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi Universitas
Trisakti. Edisi Khusus Foril VI Vol 2. Jakarta.
1999 : 88.
5. J Karjaelani, SM dan Forensten. Physiological
Variation of Sucrose Activity and Children.
Jurnal Dental Surabaya FKG UNAIR.1992 : 88.
6. Sabaruddin, SA dan J. Widianto. Peran
Berbagai Sifat dan Kandungan Minuman
Ringan
Terhadap
Potensinya
dalam
Mendemineralisasikan Email Gigi.Foril V Vol
2. Jakarta. FKG Universitas Trisakti. 1966 : 613
– 19.
7.
Afiyati, E. Pengaruh Minum Kopi Instan Jenis
Robusta terhadap Perbandingan Tekanan
Darah pada Laki-Laki Dewasa Muda.(skripsi)
PSPD Universitas Jember.2004 : 31-32.
8. Jaya.Dasar-Dasar
Metode
Penelitian
Laboratoris. Surabaya. Fakultas kedokteran
Gigi Universitas Airlangga.1992 : 128
9. Alcamo, E. Laboratory fundamentals of
microbiology. Canada:Addison Wesbey Publishi
ng Company Inc.1983 : 83.
10. Suwelo, IS. Karies Gigi pada Anak dengan
Pelbagai Faktor Etiologi. Jakarta. EGC. 1992 :
16 – 21.
11. Nolte. Basic microbiology. New York. CV
Mosby Company. 1982.
12 Kidd EAM, dan S.J. Bechal. 1992. Dasar-Dasar
Karies Penyakit dan Penanggulangannya. Terj
Sumawinata. Jakarta : penerbit EGC. 1992.
Indonesian Journal of Dentistry 2008; 15(1): 65-70
70
Fly UP