...

Keanekaragaman Gastropoda Air Tawar di Berbagai Macam Habitat

by user

on
Category: Documents
13

views

Report

Comments

Transcript

Keanekaragaman Gastropoda Air Tawar di Berbagai Macam Habitat
e-Jipbiol Vol. 2 : 13-19, Desember 2013
ISSN : 2338-1795
Keanekaragaman Gastropoda Air Tawar di Berbagai Macam Habitat di Kecamatan
Tanambulava Kabupaten Sigi
Diversity of Freshwater Gastropoda in a Variety of Habitats in the District Tanambulava
Kabupaten Sigi
Nur Fadhilah1, Hj. Masrianih2, Hj. Sutrisnawati2
¹Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Tadulako
2
Dosen Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan P.MIPA, FKIP Universitas Tadulako
Alamat : Jalan Sungai Manonda Kel. Duyu Kec. Palu Barat (94226),
E-mail : [email protected]
Abstract
This study aims to determine the diversity of gastropods on a wide range of habitats in the
district tanamabulava Kabupaten Sigi. The method used in this research is descriptive
quantitative sampling techniques namely quadratic/plot's puzzle by placing squares
systematically according to the transect line. transect length of 10 meters with a size of 1m
x 1m squares at three locations on every kind of habitat is rice fields, irrigation ditches,
and ponds. population in this study is that there are all kinds of gastropods in various
habitats in the three study sites. Data from identification is later analyzed using Shannonwiener of diversity. From the results, 7 species of gastropod in the three study sites are
Sibowi, Sibalaya Sibalaya north and south in a variety of habitats that Bellamnya javanica,
Lymnaea rubiginosa, Melanoides tuberculata, Pomacea caniculata, Thiara scabra,
Indoplanorbis exustus, and Gyraulus convexiusculus. Gastropoda diversity in rice fields in
the village of habitat diversity index is obtained Sibowi sebesar1, 214, in the village of
North Sibalaya diversity index of 1.275 is obtained, in the village of North Sibalaya
obtained diversity index of 1.235. On irrigation in the village habitat Sibowi obtained
keanekaragaaman index of 0.376 gastropods, in the village of North Sibalaya get the
diversity index of 1.116, in the village of Sibalaya Sealatan diversity index of 1.114 is
obtained. At the village pond habitat diversity index gastropods Sibowi obtained by 1, 279,
in the village of North Sibalaya diversity index obtained for 1,121 and in the Village
Sibalaya obtained Sealatan diversity index of 1, 525. Almost in all the study sites were
classified in the category of diversity indices were, only the habitat Sibowi irrigation in the
village which is classified in the low category.
Keywords: Diversity and freshwater gastropods
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan jenis-jenis gastropoda
pada berbagai macam habitat di kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan tehnik
pengambilan sampel yaitu kuadrat/plot berpetak dengan menempatkan kuadrat secara
sistematis menurut garis transek. Panjang transek 10 meter dengan ukuran kuadrat 1 m x
1 m di tiga lokasi pada setiap macam habitat yaitu sawah, irigasi dan kolam. Populasi
dalam penelitian ini adalah semua jenis gastropoda yang ada diberbagai habitat di tiga
lokasi penelitian. Keanekaragaman gastropoda dianalisis dengan menggunakan indeks
keanekaragaman Shannon-Wienner. Dari hasil penelitian didapatkan 7 jenis gastropoda
pada tiga lokasi penelitian yaitu Sibowi, Sibalaya utara dan Sibalaya selatan di berbagai
macam habitatnya yaitu Bellamnya javanica, Lymnaea rubiginosa, Melanoides tuberculata,
Pomacea caniculata, Thiara scabra, Indoplanorbis exustus, dan Gyraulus convexiusculus.
Keanekaragaman gastropoda pada habitat sawah di Desa Sibowi diperoleh indeks
keanekaragaman yaitu sebesar 1,214, di Desa Sibalaya Utara diperoleh indek
keanekaragaman sebesar 1,275, di Desa Sibalaya Utara diperoleh
indeks
keanekaragaman sebesar 1,235. Pada habitat irigasi di Desa Sibowi diperoleh indeks
keanekaragaaman gastropoda sebesar 0,376, di Desa Sibalaya Utara di dapatkan indeks
keanekaragaman sebesar 1,116, di Desa Sibalaya Sealatan diperoleh indek
Fadhilah et al.,
keanekaragaman sebesar 1,114. Pada habitat kolam di Desa Sibowi diperoleh indeks
keanekaragaman gastropoda sebesar 1, 279, di Desa Sibalaya Utara diperoleh indeks
keanekaragaman sebesar 1,121 dan di Desa Sibalaya Sealatan diperoleh indeks
keanekaragaman sebesar 1, 525. Hampir di semua lokasi penelitian indeks
keanekaragaman digolongkan dalam kategori sedang, hanya pada habitat irigasi di Desa
Sibowi yang digolongkan dalam kategori rendah.
Kata Kunci : Keanekaragaman, dan Gastropoda Air tawar
PENDAHULUAN
Provinsi Sulawesi Tengah merupakan
salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki
beragam flora dan fauna, di antaranya ada yang
spesifik, bahkan ada yang bersifat endemik
yang tidak di jumpai di daerah-daerah lain di
Indonesia. Beberapa penelitian yang telah
dilakukan para peneliti ternyata Sulawesi
secara makro mempunyai keanekaragaman
hayati yang tinggi (Interim Report dalam
Sutrisnawati 2001).
Provinsi Sulawesi Tengah memiliki
banyak
sumberdaya
alam
diantaranya
sumberdaya
perairan,
Royce
(1984)
mengemukakan bahwa sumberdaya perairan
merupakan salah satu sumberdaya alam yang
bersifat dapat diperbaharui seperti halnya
tumbuh-tumbuhan dan sumberdaya perairan.
Sungai merupakan sumberdaya perairan yang
mengalir secara terus-menerus pada arah
tertentu, sumber air tersebut berasal dari tanah,
air hujan dan air permukaan yang menjadi
semakin besar, bergabung dan akhirnya
bermuara ke laut atau ke perairan terbuka yang
luas. Sungai juga merupakan habitat lotik,
tempat aneka jenis ikan, mollusca, termasuk
gastropoda dan pelecypoda dan sebagian
vermes (cacing) yang hidup mencari makan,
bereproduksi atau berkembangbiak di perairan
tersebut.
Organisme pada ekosistem sungai
tergantung pada kecepatan arus sebagai faktor
pembatas. Kecepatan arus ditentukan oleh
kecuraman sungai, yang disebabkan oleh tinggi
rendah dan halus kasar dasar sungai dan
kedalaman serta luas badan air. Sebagian besar
organisme akuatik sungai hidup sebagai bentos
dan makrobentos. Makrobentos merupakan
salah satu kelompok terpenting dalam
ekosistem perairan sehubungan dengan
perannya sebagai organisme kunci dalam jaring
makanan. Selain itu tingkat keanekaragaman
yang terdapat di lingkungan perairan dapat
digunakan sebagai indikator pencemaran
(Probosuno dalam Zulaikha, 2012).
14
Organisme makrobentos terdiri dari
mollusca dan crustacea. Mollusca yang banyak
ditemukan di ekosistem sungai adalah
gastropoda. Gastropoda adalah hewan bertubuh
lunak, berjalan dengan perut (gaster). Gerakan
gastropoda disebabkan oleh adanya kontraksikontraksi otot seperti gelombang dimulai dari
belakang menjalar ke depan dan sebagian besar
bercangkang, meskipun ada juga yang tidak
bercangkang (Anonim dalam Zulaikha, 2012).
Pada penelitian terdahulu telah
ditemukan berbagai gastropoda air tawar di
Sulawesi Tengah seperti Oncomelani huensis
lindoensis, Anisus sarasinorum, Gyraulus
convexiuculus, Bulinus sumatranus, Lymnae
rubiginosa, Melanoides tuberculata, Plotia
scabra, Melania granifera celebensis, Brotia
testudinaria perconica, Brotia asperata
celebicola, Pilla ampulacea, Viviparus
javanicus dan Bulinus sarasinarum (Bonne dan
Sandground dalam Hadidjaja, 1974).
Beberapa daerah di Indonesia seperti
daerah Jawa Barat, ditemukan beberapa jenis
siput (Gastropoda) seperti Bellamnya javanica,
Brotia testudinaria, Contradens contradens,
Lymnaea rubiginosa, Melanoides tuberculata,
Pila scutata, dan Pila ampulacea. Jenis-jenis
ini tersebar dan berkembang di berbagai macam
habitat seperti sawah, kolam, irigasi, sungai dan
danau (Jutting, 1956).
Kabupaten Sigi merupakan salah satu
Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah.
Kabupaten ini terbentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 27 Tahun 2008 dan merupakan
pemekaran dari Kabupaten Donggala.
Umumnya di daerah Sigi banyak
terdapat perairan air tawar mulai saluran irigasi,
sawah, sungai, rawa, danau dan kolam-kolam
ikan buatan warga. semuanya ini merupakan
habitat dari Gastropoda air tawar. Umumnya
Gastropoda bersifat herbivora, namun beberapa
juga karnivora, sebagian besar adalah pemakan
detritus, lumut dan aneka ganggang. Beberapa
jenis Gastropoda air tawar juga biasa
dikonsumsi oleh manusia juga sebagai pakan
e-Jipbiol Vol 2, Desember 2013
Keanekaragaman Gastropoda Air Tawar di Berbagai Macam Habitat di Kecamatan Tanambulava Kabupaten
Sigi
ternak itik dan hewan, seperti keong tutut
(Filopaludina sp.), keong gondang (Pila sp.)
dan keong mas (Pomacea canaliculata) (Meria,
2010).
Selain itu, beberapa jenis Gastropoda
air tawar dapat menjadi hospes perantara inang
parasit cacing trermatoda seperti Fasciolopsis
buski
yang
menyebabkan
penyakit
fasciolopsiasis, fasciola hepatica yang dapat
menyebabkan
penyakit
fascioliasis,
Paramphistomum sp yang menyebabkan
penyakit paramphistomiasis, Trichobilharzia
brevis
penyebab
penyakit
dermatitis
schistosoma pada manusia dan Echinostoma
revolutum yang menyebabkan penyakit
echinostomiasis (Murad dkk, 1993)
Melihat banyaknya habitat Gastropoda
air tawar tersebut di daerah Sigi khususnya di
Kecamatan Tanambulava dan potensinya
sebagai hospes perantara cacing trematoda serta
masih kurangnya penelitian tentang jenis-jenis
gastropoda air tawar di daerah tersebut, maka
masalah
yang
timbul
adalah
belum
diketahuinya tingkat keanekaragaman jenis
gastropoda air tawar di berbagai macam habitat
di Kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi,
Dengan demikian, maka perlu adanya
penelitian untuk mengkaji mengenai tingkat
keanekaragaman gastropoda air tawar pada
berbagai macam habitat di Kecamatan
Tanambulava Kabupaten Sigi.
Ttujuan dari penelitian ini yaitu untuk
mendapatkan gambaran mengenai tingkat
keanekaragaman gastropoda air tawar pada
berbagai macam habitat di Kecamatan
Tanambulava Kabupaten Sigi.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
masukan kepada pihak pemerintah dalam hal
ini instansi yang terkait untuk dijadikan sebagai
pengembangan dan pengelolaan daerah serta
untuk menambah wawasan peneliti mengenai
cara membuat karya ilmiah dan mengenai
keanekaragaman gastropoda air tawar. Sebagai
masukan
kepada
Universitas Tadulako
khususnya Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (FKIP) sebagai bahan ajar dalam
mata kuliah Zoologi invertebrata dan Ekologi
hewan.
METODE PENELITIAN
Adapun metode penelitian ini yaitu
metode deskriptif kuantitatif. Yakni metode
penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan
menginterpretasikan suatu masalah tanpa
15
adanya perlakuan serta tidak ada uji hipotesis
sebagaimana yang terdapat pada penelitian
eksperimen (Ardahna, 2008).
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa
Sibalaya Utara, Desa Sibalaya Selatan, dan
Desa Sibowi di Kecamatan Tanambulava
Kabupaten Sigi yang berada di daerah Provinsi
Sulawesi
Tengah.
Waktu
pelaksanaan
penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari
sampai dengan bulan Februari 2013.
Populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini yaitu
semua jenis-jenis gastropoda yang ada
diberbagai habitat di Desa Sibalaya Utara, Desa
Sibalaya Selatan dan Desa Sibowi di
Kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi
daerah Provinsi Sulawesi Tengah sedangkan
menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu
semua jenis-jenis gastropoda yang diperoleh
pada setiap transek di Desa Sibalaya Utara,
Desa Sibalaya Selatan dan Desa Sibowi di
Kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi
daerah Provinsi Sulawesi Tengah.
Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan
dalam pengambilan sampel yaitu Termometer,
DO meter, Higrometer, pH meter, Ayakan
kawat, Sarung tangan, Sepatu bot, Plastik
bening yang besar, Patok transek, Meteran,
Alat tulis, Kamera, label dan alkohol
Prosedur dan tekhnik penelitian
Penentuan Lokasi penelitian
Sebelum penelitian maka terlebih dahulu
dilakukan pembuatan peta topografi pada saat
observasi pendahuluan serta penentuan letak
garis-garis transek (metode line intercept = line
transek) yang biasa digunakan para ahli ekologi
untuk mempelajari suatu komunitas dengan
cara menentukan terlebih dahulu dua titik
sebagai pusat garis transek (Soegianto, 1994).
Untuk menentukan lokasi penelitian, dilakukan
pengamatan di tiga desa yaitu Desa Sibalaya
Utara, Desa Sibalaya Selatan, dan Desa Sibowi
sebagai lokasi penelitian di Kecamatan
Tanambulava, yang memiliki tiga macam
habitat air tawar yaitu sawah, saluran irigasi
dan kolam. Lokasi ini diambil sebagai daerah
penelitian berdasarakan pertimbangan bahwa
didaerah tersebut terdapat habitat dari
e-Jipbiol Vol 2, Desember 2013
Fadhilah et al.,
gastropoda air tawar tersebut yang menjadi
sampel penelitian.
a.
Tekhnik Pengumpulan data
Tekhnik Pengolahan data dalam penelitian
ini, dilakukan dengan pendeskripsian dan
pengidentifikasian pada setiap sampel atau
jenis-jenis gastropoda air tawar
yang
ditemukan di lapangan. Dimana pengambilan
sampel gastropoda dilakukan dengan metode
kuadrat/plot berpetak (Michael, 1984), dengan
menempatkan kuadrat secara sistematis
menurut garis transek. Panjangn transek adalah
10 meter dengan ukuran kuadrat 1 m x 1 m.
Banyaknya plot yang digunakan pada setiap
transek adalah 3 plot. Jarak dari 1 plot ke plot
yang lain ialah 3 meter. Jumlah transek dalam
satu habitat adalah 3 transek, sehingga jumlah
keseluruhan plot dalam satu lokasi adalah 9
plot. Penentuan garis transek pada setiap
habitat berbeda. Dan pengumpulan data
dilakukan sebanyak 2 kali pengulangan yaitu
pada pagi hari dan sore hari.
b.
Identifikasi dan Pendeskripsian gastropoda
Pengidentifikasian dan pendeskripsian
gastropoda dilakukan di Laboratorium Biologi
FKIP UNTAD dengan mengacu pada buku
petunjuk identifikasi dari Van Benthem Jutting
(1956) dan Pennak (1989) serta Jurnal-jurnal
penelitian sebelumnya mengenai gastropoda air
tawar.
Nilai H’ > 3 menunjukkan
keanekaragaman
spesies
melimpah tinggi.
Nilai 1≤ H’ ≤ 3 menunjukkan
keanekaragaman spesies adalah
melimpah.
Nilai H’ < 1 menunjukkan
keanekaragaman spesies adalah
atau rendah.
c.
bahwa
adalah
bahwa
sedang
bahwa
sedikit
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hasil
penelitian
mengenai
keanekaragaman gastropoda air tawar di
berbagai macam habitat di kecamatan
tanambulava secara keseluruhan di wilayah
tersebut ditemukan 7 spesies gastropoda yaitu
Bellamnya javanica, Lymnaea rubiginosa,
Melanoides
tuberculata,
Pomacea
canaliculata, Thiara scabra, Indoplanorbis
exustus, dan Gyraulus convexiusculus.
Berdasarkan analisis data di dapatkan
indeks keanekaragaman (H’) pada tiga desa
dengan habitat berbeda-beda masing-masing
dapat dilihat berturut-turut pada Gambar 4.1,
4.2 dan 4.3.
1.5
1
0.5
0
1.279
1.214
Keanekaragaman
Gastropoda
0.376
Sawah Irigasi Kolam
Tekhnik analisis data
Keanekaragaman suatu biota air dapat
ditentukan
dengan
menggunakan
teori
informasi Shanon-Wiener (H’). Perhitungan
indeks keanekaragaman dilakukan dengan
menggunakan rumus Shanon-Wiener (Ludwing
and Reynolds dalam Meria 2010), yaitu:
Gambar 4.1. Indeks
Keanekaragaman
Gastropoda di berbagai macam habitat di Desa
Sibowi. Pada sawah didapatkan indeks
keanekaragaman gastropoda sebesar 1,214,
irigasi sebesar 0,376, dan kolam sebesar 1,279.
1.3
′
H =−
Pi ln Pi
Dimana: Pi = ni/N
Keterangan :
H’
: Indeks keragaman
Ni
: Jumlah individu setiap jenis
N
: Total individu semua jenis
Besarnya indeks keanekaragaman jenis
menurut
Shannon-Wienner
didefinisikan
sebagai berikut:
16
1.2
1.1
1.275
1.116
1.121
Keanekaragaman
Gastropoda
1
Sawah Irigasi Kolam
Gambar
4.2.
Indeks
Keanekaragaman
Gastropoda di berbagai macam habitat di Desa
Sibalaya Utara. Pada sawah didapatkan indeks
e-Jipbiol Vol 2, Desember 2013
Keanekaragaman Gastropoda Air Tawar di Berbagai Macam Habitat di Kecamatan Tanambulava Kabupaten
Sigi
keanekaragaman gastropoda sebesar 1,275,
irigasi sebesar 1,116, dan kolam sebesar 1,121.
2
1.5
1
0.5
0
1.235
1.525
1.114
Keanekaragaman
Gastropoda
Sawah Irigasi Kolam
Gambar 4.3. Indeks
Keanekaragaman
Gastropoda di berbagai macam habitat di Desa
Sibalaya Selatan. Pada sawah didapatkan
indeks keanekaragaman gastropoda sebesar
1,235, irigasi sebesar 1,114, dan kolam sebesar
1,525.
Pembahasan
Gastopoda termasuk hewan yang sangat
berhasil menyesuaikan diri untuk hidup di
beberapa tempat dan cuaca. Gatropoda air
tawar umumnya ditemukan tersebar dan
berkembang pada berbagai macam habitat,
seperti sawah, saluran irigasi, sungai, selokan
dan danau/telaga. Sigi merupakan daerah yang
memiliki banyak lahan pertanian, hampir
sebagian masyarakat Sigi bekerja sebagai
petani, tidak hanya bertani, masyarakat sigi
juga banyak memanfaatkan lahan mereka untuk
dijadikan kolam-kolam ikan. Saat ini, Sigi
sedang giat-giatnya melakukan pembangunan
khususnya di bidang pertanian. Dimana telah
banyak dibuka wisata memancing di Sigi. Dari
banyaknya wisata memancing, maka dengan
sendirinya banyak pula habitat dari gastropoda
air tawar. Oleh karena itu penelitian mengenai
keanekaragaman gastropoda air tawar di
berbagai macam habitat dipusatkan di
Kabupaten Sigi Khususnya di Kecamatan
Tanambulava. Penelitian ini dilakukan di 3
desa dengan habitat yang berbeda-beda.
Diantaranya di Desa Sibowi, Desa Sibalaya
Utara dan Desa Sibalaya Selatan. Dan
dilakukan di habitat yang berbeda-beda pula
yaitu sawah, Saluran irigasi, dan kolam.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di
3 desa tersebut, dengan masing-masing habitat,
yaitu sawah, Saluran irigasi dan kolam di
dapatkan 7 spesies Gastropoda. Adapun jenisjenis yang didapatkan pada penelitian ini yaitu
Bellamya javanica, Lymnaea rubiginosa,
Melanoides
tuberculata,
Pomacea
canaliculata, Thiara scabra, Indoplanorbis
17
exustus dan Gyraulus convexiusculus. Jenisjenis gastropoda air tawar yang ditemukan
tersebar pada beberapa lokasi dan macam
habitat. Penyebaran jenis-jenis gastropoda air
tawar pada habitat yang berbeda tersebut
tergantung dari kemampuan adaptasi setiap
jenis terhadap kondisi lingkungan habitatnya.
Menurut
Jutting
(1956),
kebanyakan
gastropoda ditemukan pada perairan dangkal
dan beraliran tenang seperti sawah, rawa, serta
kolam. Lain halnya dengan Melanoides
tuberculata menyukai habitat air beraliran agak
deras serta bagian dasar yang berlumpur,
sehingga pada siput ini hampir semua habitat
dapat dihuninya.
Perhitungan
keanekaragaman
Gastropoda pada desa yang berbeda dan habitat
yang berbeda pula. Didapatkan jumlah
keanekaragaman Gastropoda yang berbeda.
Pada perhitungan indeks keanekaragaman
gastropoda di Desa Sibowi di dapatkan indeks
keanekaragaman tertinggi pada habitat kolam
yaitu 1,279 dan indeks keanekaragaman
terendah pada habitat saluran irigasi yaitu
0,376.
Perhitungaan gastropoda di Desa
Sibalaya
utara
didapatkan
indeks
keanekaragaman tertinggi pada habitat sawah
yaitu 1,275 dan indeks keanekaragaman
terendah pada habitat irigasi yaitu 1,116
sedangkan pada Desa Sibalaya selatan indeks
keanekaragaman tertinggi didapatkan pada
habitat kolam yaitu 1,525 dan indeks
keanekaragaman terendah didapatkan juga pada
habitat irigasi yaitu 1,114. Hal ini menunjukkan
bahwa di kecamatan Tanambulava indeks
keanekaragaman gastropoda air tawar rata-rata
memiliki kategori sedang, dan kategori rendah
didapatkan di Desa Sibowi pada habitat irigasi.
Pada 3 desa yang memiliki indeks
keanekaragaman yang tinggi pada habitat
sawah dan kolam. Hal ini dapat dipahami
karena habitat sawah dan kolam merupakan
tempat
efektif
berkembangnya
jenis
gastropoda, karena habitat ini mampu
menyokong kebutuhan bagi beberapa jenis
gastropoda air tawar yang berupa makanan.
Menurut Budiman (1991) bahwa kekayaan
jenis Mollusca disuatu habitat sangat
bergantung pada kemampuan jenis untuk
beradaptasi terhadap kondisi lokal dan jumlah
tipe habitat didalam ekosistem yang dapat
mengakomodasi jenis untuk hidup baik.
Hal lain yang mempengaruhi tingginya
indeks keanekaragaman adalah keadaan
e-Jipbiol Vol 2, Desember 2013
Fadhilah et al.,
komunitas yang stabil. Odum (1993)
mengemukakan bahwa suatu komunitas yang
stabil
diversitasnya
(keanekaan)
jenis
hewannya lebih tinggi dibandingkan dengan
komunitas yang telah mengalami gangguan.
Rendahnya keanekaragaman jenis di saluran
irigasi oleh adanya spesies yang mendominasi.
Spesies yang mendominasi tersebut adalah
Melanoides tuberculata. Spesies ini memiliki
jumlah individu hasil tangkapan tertinggi. Hal
ini menunjukkan bahwa suatu komunitas
memiliki kompleksitas tinggi, karena dalam
komunitas itu terjadi interaksi spesies yang
tinggi pula (Begon dkk, 1986).
Indoplanorbis exustus dan Gyraulus
convexiusculus pada 3 lokasi penelitian hanya
ditemukan dihabitat kolam dan tidak ditemukan
pada habitat lain. Hal ini disebabkan karena ke
2 siput tersebut hanya bisa berkembang di
habitat yang memiliki banyak tumbuhan air
sebagaimana yang dikemukakan oleh Jutting
(1956) bahwa siput Indoplanorbis exustus dan
Gyraulus convexiusculus sering dijumpai pada
habitat-habitat yang banyak ditumbuhi oleh
tumbuhan air, sebab jenis ini memanfaatkan
tumbuhan air untuk meletakkan telur-telurnya.
Pada
penelitian
terdahulu,
yang
dilakukan di lembah Napu oleh Sutrisnawati
(2001) tingkat keanekaragaman Gastropoda air
tawar dalam Kategori sedang dan rendah
dengan jenis spesies yang ditemukan antara lain
Belamya javanica, Lymnaea rubiginosa ,
Melanoides
tuberculata,
Thiara.
sp,
Oncomelani Lindoensis, Indoplanorbis exustus
dan Rehderiella. sp. Tingkat keaneakaragaman
pada penelitian tersebut tidak mencapai tingkat
keanekaragaman jenis yang tinggi, hal ini juga
dikarenakan faktor adanya jenis yang lebih
dominan dalam suatu habitat.
Tingkat keanekaragaman gastropoda di
Kecamatan Tanambulava tergolong dalam
kategori rendah dan sedang. Karena menurut
Odum (1993), jika nilai H’ kurang dari 1 maka
tergolong kategori rendah sedangkan jika nilai
H’ antara 1 sampai 3 menunjukkan kategori
sedang.
Pada penelitian ini diukur faktor fisik
dan kimia pada setiap habitat dimana faktor ini
sangat
mempengaruhi
dari
kehidupan
gastropoda itu sendiri. Pada tabel 4.2 terlihat
suhu lingkungan pada masing-masing habitat
rata-rata 25-340C. Menurut Edward (1988)
Gastropoda
dapat
melakukan
proses
metabolisme secara optimal pada kisaran suhu
antara 25-320C. Ini menyatakan bahwa pada
18
suhu diatas 320C proses metabolisme pada
gastropoda itu akan terganggu. Ternyata untuk
toleransi suhu pada setiap gastropoda berbedabeda, untuk Melanoides tuberculata
dan
Bellamnya
javanica
Jutting
(1956)
mengemukakan bahwa kedua siput ini dapat
hidup di kisaran suhu 350C, bahkan kedua siput
ini bisa hidup diperairan yang telah terpolusi.
Hal ini menyatakan bahwa ada beberapa
gastropoda yang memiliki batas toleransi yang
tinggi terhadap suhu. Untuk pH perairan Hynes
(1987) mengemukakan hewan gastropoda air
tawar umumnya dapat hidup secara optimal
pada lingkungan dengan kisaran pH 5,0-9,0,
dan dari pernyataan diatas jika kita melihat pH
yang didapatkan pada masing-masing habitat
yaitu berkisar antara 7-8, maka habitat-habitat
ini masih sangat baik untuk menjadi tempat
perkembangbiakan dari gastropoda itu sendiri.
Pada penelitian ini DO (Oksigen terlarut)
juga ikut di ukur karena oksigen terlarut
merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan
hewan maupun tumbuhan didalam air, untuk
gastropoda memiliki kisaran toleransi lebar
terhadap oksigen sehingga penyebaran dari
gastropoda ini sangat luas. Kelarutan oksigen
dipengaruhi oleh faktor suhu. Pada suhu tinggi
kelarutan oksigen rendah dan pada suhu rendah
kelarutan oksigen tinggi (Lee & Kuo, 1987).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Terdapat perbedaan keanekaragaman
gastropoda pada masing-masing desa dengan
habitat yang berbeda-beda. Pada Desa Sibowi,
indeks keanekaragaman tertinggi pada habitat
kolam yaitu sebesar 1,279 dan indeks
keanekaragaman terendah pada habitat irigasi
yaitu sebesar 0,367. Pada Desa Sibalaya Utara,
indeks keanekaragaman tertinggi pada habitat
sawah yaitu sebesar 1,275 dan indeks
keanekaragaman terendah pada habitat irigasi
yaitu sebesar 1,116. Sedangkan pada Dsa
Sibalaya Selatan, indeks keanekaragaman
tertinggi pada habitat kolam yaitu sebesar 1,525
dan indeks keanekaragaman terendah pada
irigasi yaitu sebesar 1,114. Hampir di semua
habitat indeks keanekaragaman gastropoda
digolongkan dalam kategori sedang, hanya
pada Desa Sibowi habitat irigasi indeks
keanekaragaman digolongkan dalam kategori
rendah.
e-Jipbiol Vol 2, Desember 2013
Keanekaragaman Gastropoda Air Tawar di Berbagai Macam Habitat di Kecamatan Tanambulava Kabupaten
Sigi
Australian Archipelago. V. Critical
Revision on The javanese Fresh Water
Gastropods. Treubia.
Saran
Perlu adanya penelitian lebih lanjut
mengenai keanekaragaman gastropoda di
Kabupaten Sigi selain di Kecamatan
Tanambulava
dan
perlu
digalakkan
pemanfaatan siput air tawar sebagai makanan
tambahan yang berprotein tinggi pada
masyarakat setempat dengan syarat dimasak
dengan benar.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terimah kasih diucapkan kepada Ibu Dra. Hj.
Masrianih M.P dan ibu Dra. H.j Sutrisnawati
M.Kes selaku pembimbing I dan pembimbing
II yang telah banyak memberikan saran dalam
penulisan karya Ilmiah ini. Tim penyunting
Jurnal Ilmiah Biologi UNTAD yang telah
membantu dalam penerbitan Jurnal ilmiah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ardahna. (2008). Penelitian Deskriptif. [Online].
Tersedia
http//ardhana12.
wordpres.com/category/penelitiandeskriptif/. [11 November 2012].
Begon, M., Haper, J.L., dan Towsend, C.R. (1986).
Ecology; Individuals Population and
Communities.
Blackwell
Scientific
Publications Oxford. New York.
Budiman, A.(1991). Penelaahan Beberapa Gatra
Ekologi Molusca Bakau di Indonesia.
Disertasi. Fakultas Pascasarjana UI.
Jakarta.
Edward. (1988). Kualitas Perairan Waisarisa dan
Sumberdaya Perikanan. Biosmart.
Hadidjaja, P. (1974). Clinical Study of Indonesia
Schistosomiasis at Lindu Lake Area,
Central Sulawesi. The Southeast Asisan
Journal of Tropical Medicine and Public
Healt.
Hynes, H.B.N. (1978). The biology of polluted
waters. Liverpool University press.
London.
Jutting, W.S.S. (1956). Systematic Studies on The
Non Marine Mollusca of the Indo
19
Lee & Kuo. (1978). Benthic Makroinvertebrates
and Fish as Biological Indicators Of Water
Quality, With Reference to Community
Diversity Index. Thanh Asian Institudte Of
Technology. Bangkok.
Meria. (2010). Kerapatan, keanekaragaman, dan
pola penyebaran gastropoda air tawar
diperairan danau poso. Litbang Sulteng.
Palu
Michael, P. (1984). Ecological Methods for Field
and Laboratory Investigation. Tata
McGraw-Hill
Publishing
Company
Limited, New Dehli.
Murad, S., Nurhayati, J., Rosanto, R., dan Kasmara,
H. (1993). Beberapa Aspek Ekologi
Mollusca Air Tawar Terutama jenisjenisnya yang dapat di makan dan yang
Berperan Sebagai Inang Perantara Cacing
Trematoda di Daerah Saguling dan Cirata,
Jawa Barat. Laporan Penelitian. Fakultas
MIPA. Univ. Padjajaran. Bandung.
Odum,
E.P. (1993). Dasar-Dasar Ekologi.
Penerjemahan: Samingan, T dan B.
Srigandono. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.
Royce, W.F. (1984). Introduction To The Practice
Of Fishery Science. Acad Press Inc. New
York.
Soegianto, A. (1994). Ekologi Kuantitatif, metode
Analisis Populasi dan Komunitas. Penerbit
Usaha Nasional. Surabaya.
Sutrisnawati. (2001). Beberapa Aspek Biologi
Gastropoda Air Tawar Serta Potensinya
Sebagai Inang Perantara Parasit Cacing
Thrematoda Pada Manusia Didaerah
Lembah Napu Sulawesi Tengah. UNPAD
Press. Bandung.
Zulaikha. (2012). Estimas Populasi Gastropoda.
[Online]. Tersedia http://yasintazulaikha.
blogspot.com/2012/06/jurnal-pertamasaya.html. [11 November 2012].
e-Jipbiol Vol 2, Desember 2013
Fly UP