...

Kasus Pengadilan CHC: Perkembangan Kasus Sejauh Ini

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Kasus Pengadilan CHC: Perkembangan Kasus Sejauh Ini
Dokumen Khusus
Audit 2003
Dimusnahkan
Pemandangan
di Pengadilan
Jalannya Sidang
Pengadilan
halaman 6
halaman 10
halaman 9
N e w s Fr o m A C h r i s t i a n Pe r s p e c t i v e
A publication of City News, Singapore
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
1
www.citynews.sg
SPECIA
L ED
ITIO
N
MCI (P) 146/12/2013
CN FILE PHOTO
Para terdakwa dengan pengacara mereka: (dari kiri) Senior counsel N. Sreenivasan, pengacara Edwin Tong, Kong Hee dan Tan Ye Peng.
Kasus Pengadilan CHC: Perkembangan Kasus Sejauh Ini
Setelah menampilkan 14 saksi di persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pun mengakhiri pemaparan tuduhan mereka pada
tanggal 10 Februari. Apa yang telah diperlihatkan dan diperdengarkan di sidang pengadilan selama sembilan bulan ini? Berikut
kilas balik City News.
Oleh TIM CITY NEWS
Permulaan awal tahun ini – 13 Jan sampai
10 Feb – ditandai dengan jalannya persidangan tahap ketiga kasus yang melibatkan Gembala Senior Gereja City Harvest
Pastor Kong Hee, Pastor Tan Ye Peng, mantan anggota dewan gereja John Lam, personalia bagian akuntansi Serina Wee dan
Sharon Tan dan Chew Eng Han, pendiri
AMAC Capital Partners, manajer investasi
CHC. JPU menduga keras bahwa keenam
terdakwa telah menyalahgunakan dana
gereja lebih dari $50 juta dollar dan telah
melakukan tindak pidana penyalahgunaan
kepercayaan.
PEMAPARAN PERKARA OLEH JPU
Sebagian besar jalannya pengadilan selama empat minggu ini habis diisi oleh
kesaksian Baker Tilly TFW - staf yang
bertanggung-jawab untuk melakukan audit bagi CHC dan Xtron Productions Pte
Ltd untuk laporan tutup buku di tahun
2008 dan 2009. Ini adalah masa dimana CHC menandatangani kontrak yang
dikeluarkan oleh Xtron dan PT First National Glassware (dikenal sebagai Firna).
Beberapa transaksi lain yang masih berhubungan, termasuk di dalamnya penandatanganan perjanjian sewa di muka dan
pembelian The Riverwalk, juga dibuat di
periode yang sama.
Penandatanganan kontrak CHC
dengan Xtron dan Firna merupakan pokok isi dakwaan yang pertama. JPU memperkarakan bahwa kontrak dengan Xtron
dan Firna adalah investasi “palsu” yang digunakan untuk menyalurkan dana gereja
untuk kepentingan karir Sun Ho.
Dakwaan yang kedua menuduhkan
bahwa terdakwa merancangkan beberapa
transaksi untuk memperlihatkan bahwa
kontrak Xtron dan Firna yang sedang dipertanyakan dapat dipertanggungjawabkan. Menurut penjabaran JPU transaksi
ini ada untuk “menipu para auditor” yang
mempertanyakan dan memprihatikan masalah audit. Rangkaian transaksi ini termasuk dana yang ditransfer dari CHC kepada
AMAC sebagai investasi untuk Special
Opportunies Fund (Dana Kesempatan Istimewa) dan biaya sewa di muka dari CHC
yang dibayarkan kepada Xtron di bawah
Perjanjian Lisensi Sewa di Muka (Advance
Rental Licensing Agreement - juga dikenal sebagai ARLA); transaksi ini diduga
sebagai catatan palsu dalam pembukuan
CHC.
JPU melontarkan pertanyaan kepada
tiga staf Baker Tilly yang berpusat kepada
keaslian catatan di dalam pembukuan CHC
dan apakah staf audit memiliki informasi
tertentu dan apakah pengetahuan mereka
akan informasi tersebut akan mempengaruhi audit. “Informasi” ini termasuk diskusi internal melalui email di antara para
terdakwa dan dokumen-dokumen seperti
Cash Flow Spreadsheet dan catatan notulensi, yang digunakan JPU dalam usahanya untuk menunjukkan bahwa ada diskusi
yang terjadi di belakang para auditor.
Tim Pembela (TP) menyangkal tuduhan ini dengan email dan berkas audit
untuk menunjukkan bahwa para auditor,
pada kenyataannya, telah diberikan informasi yang relevan sehubungan dengan
kontrak Xtron. Bukti juga menunjukkan
bahwa tim audit yang bertanggung jawab
terhadap audit lapangan berada dalam
diskusi yang erat dengan para akuntan
CHC dan Xtron. Mitra pelaksana, Tiang
Yii, dan manajer audit Foong Ai Fang
mengkonfirmasi bahwa terdakwa memberikan informasi.
PARA AUDITOR BERSAKSI
Auditor kedua yang bersaksi setelah miBersambung ke Halaman 4
For Advertising enquiries, e-mail • [email protected] | For Editorial enquiries, e-mail • [email protected] | If you see, hear or know of anything newsworthy, e-mail • [email protected]
2
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
SPECIAL EDITION
Para Auditor di Kursi Panas
Di persidangan CHC, empat saksi dari Baker Tilly dipanggil
untuk tampil dan bersaksi mengenai seberapa jauh pengetahuan dan keterlibatan mereka perihal investasi gereja yang
diduga “palsu”.
Oleh TIM CITY NEWS
Apakah keenam terdakwa berniat membohongi para auditor CHC mengenai kontrak
investasi Xtron dan Firna yang konon diduga sebagai kontrak palsu?
Itu pertanyaan yang berusaha dijawab
oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan
memajukan empat saksi Baker Tilly. JPU
berusaha menunjukkan bahwa terdakwa
telah menebus kembali uang dari kontrak
melalui penggunaan uang CHC sendiri,
dan menyembunyikan hal itu dari para
auditor melalui pemalsuan dalam laporan keuangannya dan berbagai transaksi
“round-tripping”.
Mengutip email dan korespondensi internal antara terdakwa yang tak diketahui
saksi, JPU berusaha menunjukkan info
yang disembunyikan dari auditor. Diantara
barang bukti, ditampilkan email dimana
beberapa terdakwa mengadakan rapat
“off-the-record” dengan manajer pengelola Baker Tilly pada saat itu, Foong Daw
Ching tanpa kehadiran mitra pelaksana,
Sim Guan Seng, selaku penanggungjawab
penandatangan laporan akuntansi saat itu.
Transaksi yang berada di bawah
pengawasan ketat, selain perjanjian
penandatanganan kontrak, termasuk didalamnya perjanjian lisensi sewa di depan (Advance Rental License Agreement - ARLA) dan investasi gereja ke dalam
AMAC’s Dana Kesempatan Istimewa
(Special Opportunities Fund). Menurut
JPU, transaksi ini merupakan bagian usaha “round-tripping” yang dirancangkan
terdakwa untuk menutupi jejak mereka.
Banyaknya ketidakkonsistensian dari
barang bukti yang didapatkan melalui penyelidikan silang dari keempat saksi oleh
Tim Pembela (TP), menunjukkan bahwa
Membangun gereja dengan atmosfer
rohani yang kuat penuh iman dan murni,
dimana setiap anggota dilepas kedalam
pelayanan, dimuridkan dalam Amanat
Agung untuk memenuhi Perintah Agung
dan Mandat Budaya
chc.org.sg
twitter.com/chcsg
instagram @chcsg
Unduh CHC apps di
iTunes dan Google Play
facebook.com/cityharvestchurch
ada kemungkinan terdapat lebih lagi kisah
di balik apa yang terlihat oleh mata. Berikut ini adalah beberapa permasalahan
yang sempat dipertanyakan:
PERAN FOONG DAW CHING SEBAGAI “MITRA KONSULTAN” GRUP
AKUNTAN CHC
Banyaknya email yang dipaparkan di sidang pengadilan menunjukkan bahwa terdakwa bergantung dan mengikuti nasihatnya mengenai berbagai aspek dari investasi
kontrak “palsu”
Sejak CHC menjadi klien Baker Tilly di
awal tahun 1990-an, para pemimpin meminta nasihat Foong mengenai hal yang
berkaitan dengan peraturan dan audit gereja. Bahkan ketika Foong berhenti menjadi mitra pelaksana gereja (auditor yang
menandatangani pengesahan pada laporan
akuntansi klien) – peran tersebut dialihkan
kepada Tiang Yii dan Sim Guan Seng – dia
mempresentasikan dirinya sebagai “mitra
konsultan” untuk grup akuntansi CHC. Sehingga pemimpin CHC melihat Foong sebagai orang yang harus ditemui setiap kali
mereka membutuhkan saran mengenai
masalah audit termasuk laporan keuangan
untuk kontrak investasi kuotasi, demikian
barang bukti menunjukkan.
Dalam kesaksiannya di depan mimbar pengadilan selama delapan hari, Foong
menyatakan bahwa dia tidak tahu mengenai kontrak Xtron, tidak dapat mengingat
email dari kliennya dan dokumen penting
seperti perjanjian kontrak yang dikirimkan
kepada dia oleh beberapa terdakwa. Dia
mengatakan bahwa dia tidak suka membaca perjanjian, dan “sangat, sangat lemah”
dengan aspek teknik di bidang auditing. TP
n FOONG DAW CHING
Mantan Mitra Pengelola Baker Tilly “Penatua gereja yang dihormati” yang telah mengenal Kong Hee dan tim CHC sejak tahun 1990
an. Pada tahun 2003, sesudah kejadian Roland
Poon, dia tampil di dalam sebuah video yang
diperuntukkan kepada anggota eksekutif gereja
untuk menyatakan bahwa menurut “opini professional” nya tidak ada dana gereja yang digunakan untuk kepentingan karir musik Sun Ho.
Terhadap kliennya, dia menampilkan dirinya
sebagai “mitra konsultan” dan “mitra utama”
dalam akuntasi CHC, namun di pengadilan, dia menyangkal tahu-menahu
ataupun dapat mengingat bahwa dia telah memberikan masukan kepada gereja
perihal kontrak Xtron.
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
3
SPECIAL EDITION
mengajukan pendapat bahwa dia berusaha untuk menjauhkan dirinya dari saran yang dia berikan kepada CHC, dan
telah salah merepresentasikan dirinya pada terdakwa; dia
tidak setuju.
Ketiga saksi Baker Tilly lainnya menyangkal bahwa
mereka mengetahui Foong lah yang memberikan anjuran
mengenai perihal audit dan kontrak, mereka tidak mengetahui apapun mengenai jabatan sebagai “mitra konsultan”
dan bersikukuh bahwa dia tidak terlibat dalam auditing
CHC. Namun, barang bukti menunjukkan hal sebaliknya,
dengan adanya tembusan yang dikirim kepada Foong
dalam email antara manajer audit yang lama – Foong Ai
Fang - dengan klien.
HUBUNGAN KERJA ANTARA CHC DAN BAKER
TILLY, DARI TAHUN 2003
Dalam rangka membuktikan bahwa para auditor tidak
diperdaya, TP menunjukkan melalui eksibit bahwa Baker
Tilly telah mengetahui pengeluaran untuk Proyek Crossover dan mempertimbangkan hal tersebut sejak audit
laporan Tutup Buku CHC Tahun 2002. Para auditor juga
mengetahui mengenai hubungan antara CHC, Xtron dan
manajer pendanaan AMAC Capital Partners.
Bahwa ada audit khusus di tahun 2003 yang menunjukkan para auditor menyadari betapa sensitifnya penggunaan dana gereja, namun tidak menyatakan keberatan
akan hal itu ketika terkait disusun melalui kontrak Xtron.
Baker Tilly mengetahui bahwa sumber uang kontrak tersebut berasal dari dana pembangunan gereja berupa investasi yang dilakukan melalui AMAC. Para auditor memastikan investasi tersebut sejalan dengan konstitusi CHC.
Melalui email yang ada, penasihat hukum mengajukan
pembelaannya bahwa Tiang, telah melakukan “investasi
skala penuh” mengenai kontrak Xtron, menanyai klien
dengan informasi yang sangat spesifik dan komprehensif –
bertentangan dengan pernyataannya bahwa dia hanyalah
berusaha mencari fakta belaka. Sedemikian rupa, sehingga
kontrak tersebut haruslah memenuhi daftar periksa persyaratan sebelum dia memberikan tanda-tangan persetujuan pada laporan keuangan Xtron.
Tak dapat disangkal bahwa ada kekuatiran dan keraguan dari pihak auditor, sebagian besar berkaitan dengan
pengungkapan permasalahan, transaksi oleh pihak terkait,
dan penurunan nilai dalam kontrak, yang mana poin yang
terakhir diselesaikan dengan form valuasi dari kantor valuasi independen. TP berusaha menunjukkan bahwa dalam
prosesnya dikarenakan ketekunan tim audit, maka pihak
terdakwa selalu datang dan bersedia memberikan penjelasan dan dokumen kepada auditor. Foong Ai Fang menyetujui hal tersebut.
PEMENUHAN TERHADAP STANDAR AKUNTASI
YANG BENAR YANG DIBUTUHKAN OLEH STANDAR LAPORAN KEUANGAN
Para saksi dari Baker Tilly setuju dengan pihak TP bahwa
n TIANG YII
Mitra pelaksana bagi laporan
Tutup Buku CHC Tahun Finansial 2006 dan Tahun Finansial
2006 dan 2007 bagi Xtron. Menyatakan bahwa keterlibatannya
dengan kontrak Xtron hanyalah
pada awal-awalnya saja, tahapan
“pencarian fakta” yang dia lakukan
sesungguhnya, menginstruksikan
manajer auditnya, Foong Ai Fang untuk mendapatkan
informasi yang komprehensif dari CHC perihal transaksi
kontrak dan kemudian menyelenggarakan pertemuan
dengan anggota komisi manajemen risiko Baker Tilly untuk menilai faktor risikonya.
mereka tidak pernah memandang kontrak Xtron sebagai
kontrak “palsu”. Ada faktor beresiko perihal penggunaan
dana pembangunan CHC; kekuatiran ini telah mencapai
pemeriksaan ketat tingkat tinggi sampai-sampai pertemuan komisi risiko diselenggarakan oleh perusahaan
untuk menilai permasalahan tersebut, demikan diberitahukan kepada sidang pengadilan. Pada akhirnya, berkas
audit nya ditanda-tangani berdasarkan istilah wajar tanpa
pengecualian setelah faktor-faktor yang berisiko telah diselesaikan melalui penanganan akuntansi yang akurat. Sehubungan dengan ARLA, JPU menuduh bahwa
itu juga merupakan sesuatu yang “palsu” dan “tidak lebih
dari kertas coretan yang dirancangkan oleh terdakwa untuk membebaskan kontrak Xtron dari laporan akuntansi
CHC, dan menghindari adanya pemeriksaan ketat yang
janggal dan lebih mendalam oleh pihak auditor CHC.”
Namun, dalam jalannya persidangan diketahui bahwa
Sim telah diberikan informasi sebelum menandatangani
ARLA bahwa penandatanganan tersebut akan berdampak pada penebusan kontrak Xtron. Terlebih lagi, barang
bukti dalam bentuk rencana memorandum audit (selembar dokumen yang berisi ringkasan masalah-masalah
pokok yang dipertanyakan selama proses audit untuk
pertimbangan di masa mendatang) yang ditanda-tangani
oleh Sim menunjukkan adanya kekuatiran tingkat tinggi
untuk memastikan bahwa penebusan kontrak Xtron melalui ARLA adalah sejalan dengan Standard Pelaporan
Keuangan.
TP juga menunjukkan bahwa Baker Tilly menyadari
adanya masalah dalam aliran kas Xtron, namun tidak
menunjukkan gelagat mengenai tanda-tanda bahaya
karena mereka tahu adanya pihak ketiga yang didukung
oleh para direktur. Sim setuju dengan dewan penasihat
hukum N Sreenivasan bahwa setiap entri pembukuan mengenai kontrak-kontrak dalam laporan keuangan CHC
adalah “pembukuan yang benar, jujur dan akurat”
CN FILE PHOTOS
Saudara Foong Daw Ching (kiri) dan Foong Ai Fang keduanya tampil sebagai saksi dalam perkara CHC.
Para saksi dari Baker Tilly setuju dengan TP bahwa mereka tidak pernah
memandang kontrak Xtron sebagai kontrak “palsu”. Ada faktor-faktor
beresiko perihal penggunaan dana pembangunan CHC; kekuatiran ini
telah mencapai pemeriksaan ketat tingkat tinggi sampai-sampai pertemuan komisi risiko diselenggarakan oleh perusahaan untuk menilai permasalahan tersebut, demikan diberitahukan kepada sidang pengadilan.
Pada akhirnya, berkas audit nya ditanda-tangani berdasarkan istilah wajar
tanpa pengecualian setelah faktor-faktor yang berisiko telah diselesaikan
melalui penanganan akuntansi yang akurat.
n SIM GUAN SENG
Mitra Pelaksana bagi laporan
Tutup Buku CHC Tahun Finansial 2007 sampai dengan
2010 dan Xtron untuk tahun
Finansial 2008 sampai dengan
2009. Bersaksi atas kekuatirannya mengenai ARLA karena
CHC menaruh sejumlah besar uang di Xtron, pihak ketiga
yang dalam keadaan finansial kurang sehat. Dijabarkan
di sidang pengadilan bahwa kekuatirannya diselesaikan
setelah CHC menjelaskan kepada Foong Daw Ching bahwa akan ada dukungan dari pihak ketiga yang akan memastikan kemampuan Xtron untuk menebus kontraknya.
n FOONG AI FANG
Manajer Audit bagi laporan Tutup Buku CHC Tahun Finansial
2010 dan Xtron Tahun Finansial
2003 sampai 2009. Pekerja Baker Tilly selama 25 tahun, bersaksi
bahwa tidak ada jabatan seperti
“mitra konsultan” di perusahaan
tersebut. Dia menyangkal bahwa
dia telah berkonsultasi dengan
saudaranya Foong Daw Ching perihal saran bagi permasalahan audit CHC namun sidang pengadilan telah
diperlihatkan barang bukti yang menunjukkan bahwa
dia telah mengirimkan tembusan kepada saudaranya
tersebut di banyak email berkenaan masalah audit CHC.
4
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
SPECIAL EDITION
Kasus CHC: Perkembangan Kasus Sejauh Ini
(sambungan dari halaman 1).
tra pengelola pendahulu Foong Daw Ching adalah Tiang Yii, mitra pelaksana bagi
CHC dan Xtron untuk laporan tutup buku
kas di tahun 2006/2007. Dia menerang-
tanggung jawab akan audit CHC.
Tiang, Sim dan Foong Ai Fang telah
memberitahukan bahwa tidak ada jabatan
sebagai “mitra konsultan” di Baker Tilly.
Mdm Foong, adiknya, memberitahukan
sidang pengadilan bahwa dia tidak menge-
ARSIP KERJA XTRON TAHUN 2009
TIDAK DISITA NAMUN JELAS BERHUBUNGAN DENGAN PERKARA
YANG ADA
Di tengah-tengah bukti yang dipaparkan
oleh Foong Ai Fang, TP Kong Hee, Ed-
CN FILE PHOTOS
Sharon Tan, John Lam dan Serina Wee.
kan bukti-bukti yang ada dalam audit,
penulisan laporan ini dipimpin oleh mitra
pelaksana dan manajer audit, dan dikerjakan oleh tim senior dan rekannya.
Saksi berikutnya adalah Sim Guan
Seng, mitra pelaksana yang bertanggung
jawab akan keuangan CHC untuk laporan tutup buku tahun 2008 sampai 2010,
dan audit Xtron untuk laporan tutup buku
tahun 2008 sampai 2009. Kesaksiannya
dipertimbangkan sebagai bukti utama,
karena dia telah menjadi mitra pelaksana
yang bertanggung jawab atas keuangan
CHC dan Xtron dan telah menandatangani kontrak Xtron dan Firna, dan transaksi lainnya yang terhubung.
Staf audit terakhir yang bersaksi
adalah Foong Ai Fang, manajer audit CHC
dan Xtron sejak 2002. Dia telah melapor
kepada tiga mitra pelaksana yang berbeda termasuk Tiang dan Sim. Selama
penyelidikan silang dengan Mdm Foong,
TP mempresentasikan berkas audit dan
dokumen dari arsip audit permanen untuk memperlihatkan bahwa tim senior
dan rekan sejawatnya telah memiliki akses
sehubungan dengan informasi mengenai
transaksi bond.
Selama empat minggu, TP juga mengklarifikasi lebih mendetail mengenai
peranan Foong Daw Ching sehubungan
dengan laporan pembukuan CHC dan
Xtron. Ketika Mr Foong, mitra pengelola
dan pendiri Baker Tilly bersaksi tahun
lalu, TP telah menyarankan agar Foong
mengajukan dirinya sebagai pihak utama
yang mengawasi laporan pembukuan CHC
dan Xtron. Para auditor telah menyebut
dirinya sebagai “mitra konsultan” di email
yang ditujukan kepada Serina Wee, dan
di sebuah video yang ditujukan kepada
anggota eksekutif gereja, dia memanggil
dirinya sendiri “mitra utama” yang ber-
tahui apa yang dimaksud olehnya dengan
“mitra utama”.
Sementara ketiga staf audit menyangkal keterlibatan Foong Daw Ching dalam
audit CHC dan Xtron, TP menunjukkan
beberapa bukti bahwa Mdm Foong menyertakan tembusan kepada Mr Foong di
banyak email sehubungan dengan audit
CHC. Hal ini terlepas dari kesaksian tersumpahnya bahwa dia tidak pernah berunding dengan Mr Foong mengenai audit
berkenaan dengan CHC.
Ketika kasus CHC dimulai di 2010 dan
CAD merazia kantor Baker Tilly, Mdm
Foong mempersiapkan daftar rangkaian
peristiwa yang berhubungan dengan audit
CHC dan Xtron bagi Mr Foong. Dia tidak
menyiapkan dokumen yang serupa bagi
auditor yang lain, dengan alasan bahwa
mitra pelaksana yang lain memiliki akses
ke arsipnya kecuali dia (Mr Foong).
Ketika dia maju sebagai saksi tahun
yang lalu, Mr Foong sering memberikan
pernyataan bahwa saran yang diberikan
kepada tim CHC lebih berupa saran umum
dan tidak spesifik merujuk kepada isu yang
sedang terjadi. TP, menunjukkan email
yang memperlihatkan bahwa Foong telah
berdiskusi sebelumnya dengan pihak terdakwa mengenai isu yang sangat spesifik.
TP juga menunjukkan bahwa terdakwa
telah memberikan informasi kepada Foong
mengenai hubungan antara Xtron, CHC
dan investor CHC AMAC Capital, dan
semua transaksi termasuk Firna bonds,
pembelian The Riverwalk dan transaksi
Xtron dengan perusahaan manajemen Ho
di US, Justin Herz Management.
Ketiga staf audit menyatakan bahwa
Foong Daw Ching tidak pernah memberikan informasi tersebut kepada mereka dan
tidak tahu menahu mengenai adanya pertemuan dengan klien tersebut.
win Tong, mengajukan permohonan untuk menyita berkas audit laporan tutup
buku Xtron tahun 2009. Dia menjelaskan bahwa dokumen tersebut “jelas
berhubungan” karena dapat menunjukkan seberapa banyak informasi dan
dokumentasi yang telah diberikan secara terus-terang dan sukarela oleh
terdakwa kepada pihak auditor, berkebalikan dengan apa yang dikemukakan oleh JPU. Pengadilan juga melihat
hal tersebut sebelum sidang dimulai, ketika TP meminta JPU untuk menyita dari
Baker Tilly, berkas audit laporan tutup
buku Xtron tahun 2009 dan laporan tutup buku tahun 2010, mereka diberitahu
oleh JPU bahwa tidak ada”dasar hukum”
untuk menyita berkas tersebut. Setelah itu,
bagaimanapun juga, CAD menyita berkasberkas laporan tutup buku tahun 2010 milik Xtron.
Permohonan Tong dikabulkan oleh
pihak pengadilan. TP Serina Wee, Andre
Maniam, menelusuri berkas audit bersama Foong dan mendemostrasikan kepada
sidang pengadilan bahwa pihak auditor
tidak hanya menyadari adanya berbagai
transaksi yang melibatkan CHC, Xtron
dan Firna, mereka juga telah mengerjakan
berbagai entri dalam pembukuan baik di
pihak CHC maupun Xtron.
Petugas investigasi Commercial Affair
Department (CAD) Kevin Han juga telah
maju bersaksi pada tanggal 28 Jan. Di sidang pengadilan dipaparkan bahwa penyitaan catatan Baker Tilly tidak komplit
sehingga mengakibatkan adanya penggerebekan berikutnya di tengah-tengah
jalannya sidang tahap kedua dan ketiga.
(baca cerita lengkapnya di halaman 6)
MASALAH LAIN YANG DILONTARKAN
Pada 2 tahap persidangan di tahun 2013,
JPU telah memajukan direktur Xtron dan
Komisaris CHC untuk bersaksi.
Menurut pemaparan JPU, Xtron
adalah perusahaan fiktif yang dipakai
untuk menyalurkan dana menyokong
karir Ho melalui bonds yang diterbitkan
kepada CHC. Mereka telah mengajukan
pertanyaan kepada direktur Xtron
mengenai keterlibatan pimpinan CHC
dalam transaksi yang terjadi di Xtron dan
proyeksi perencanaan cashflow, mengesankan bahwa Xtron berada di bawah kendali CHC. Namun demikian, para direktur,
Koh Siow Ngea, Choong Kar Weng dan
Wahju Hanafi mempertahankan kesaksian mereka bahwa pada akhirnya tergantung mereka untuk memberikan persetujuan ataupun membuat keputusan akhir.
Pengadilan juga mendengar bahwa
penandatanganan bond pertama antara CHC dan Xtron menyatakan tujuan
dari pelaksanaan bonds: untuk mendanai produksi dan pemasaran album music. Staf audit menegaskan bahwa mereka
mengetahui tujuan daripada bond yang
dibuat. Mereka juga mengetahui bahwa
uang yang digunakan untuk menandatangani bonds berasal dari dana pembangunan gereja. Kekhawatiran yang mereka
pertanyakan adalah apakah dana pembangunan gereja dapat digunakan untuk
investasi semacam itu.
JPU juga menduga bahwa komisaris
gereja menyerahkan semuanya kepada
Wee dan Chew, dan secara umum menandatangani dokumen tanpa memahami
isinya secara sepenuhnya. Para komisaris,
Jeffrey Cheong dan Susan Ong telah memberitahukan ke sidang pengadilan bahwa
mereka telah bertindak sesuai dengan
peranan mereka sebagai pengawas aset tak
bergerak CHC dan sepenuhnya memahami dokumen yang mereka tandatangani.
Ketika komisaris ketiga, Tan Yew
Meng, bersaksi di bulan Januari, JPU
menanyai dia akan pengetahuannya
berkenaan dengan dokumen yang ditandatanganinya. Tan tetap menegaskan bahwa dia selalu memastikan dia memahami
dokumen yang dia tandatangani dan menambahkan bahwa ada beberapa kejadian
dimana dia memanggil komisaris Cheong
untuk berdiskusi mengenai isi dokumen
yang bersangkutan.
JPU menanyai Tan mengenai pertemuan yang melibatkan wakil presiden
Dewan Manajemen CHC, Bobby Chaw,
John Lam dan sesama komisaris Jeffrey
Cheong. Apa yang dituduhkan sebagai
“pertemuan” ini terjadi setelah kasus muncul dan JPU Tan Kiat Pheng bertanya kepada Tan kenapa dia pergi ke pertemuan
tersebut terlepas bahwa dia telah diberitahukan untuk tidak mendiskusikan kasus
ini dengan siapapun.
Tan mengklarifikasi bahwa itu merupakan sesi minum kopi biasa yang diadakan sebelum ibadah gereja dimulai, berlangsung selama 30-40 menit. Tujuan
Chaw adalah untuk bertemu dengan
para komisaris / pengurus gereja untuk
menerangan singkat mengenai investasi
yang dilakukan oleh gereja saat itu. Tan
mengkonfirmasi bahwa tidak ada doku-
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
5
SPECIAL EDITION
men yang dihasilkan ataupun didiskusikan pada saat itu dan bahwa Lam telah
berkata bahwa mereka dapat meminta
kantor gereja untuk mengajukan permohonan untuk dapat melihat ke doku-
men-dokumen yang telah mereka tandatangani. Lam juga memberitahukan
para komisaris/pengurus gereja untuk
memberitahukan kebenaran dan tidak
berbohong.
Perkara yang dipaparkan JPU berakhir pada tanggal 10 Februari. Batas akhir
bagi TP untuk menyerahkan pengajuan
tertulis mereka untuk “no case to answer”
(tidak ada kasus untuk dijawab) adalah 10
Maret, dan batas akhir JPU untuk merespon adalah pada tanggal 28 Maret. Jika
hakim menilai bahwa ini ada kasus prima
facie, pengajuan lisan akan diadakan di sidang pengadilan mulai tanggal 8 April.
KEENAM TERDAKWA DAN DAKWAAN YANG MEREKA HADAPI
Kong Hee dan John Lam
Tan Ye Peng, Serina Wee dan Chew Eng Han
Sharon Tan
(Masing-masing tiga dakwaan)
(Masing-masing 10 dakwaan)
(Tujuh dakwaan)
Didakwa berkonspirasi untuk melakukan tindak
pidana penyalahgunaan kepercayaan (Criminal
Breach of Trust – disingkat sebagai CBT) dengan
menaruh uang dana pembangunan CHC ke dalam
investasi “palsu” di Xtron dan Firna.
Didakwa melakukan CBT dan tuduhan akan roundtripping (memanipulasi keuangan).
Didakwa merancangkan rangkaian transaksi
“round-tripping” untuk membuat laporan palsu
bahwa seakan-akan investasi telah didapatkan
kembali.
TIM PEMBELA
Edwin Tong dari Allen & Gledhill LLP bagi Kong Hee
KE-14 SAKSI DAN KEJADIAN SEWAKTU MEREKA BERSAKSI
Empat Auditor: Foong Daw Ching, Tiang Yii, Sim Guan Seng dan Foong Ai Fang
•
•
•
Jaksa Penuntut Umum (JPU) berusaha menunjukkan bahwa ada hal yang ditutup-tutupi dari para auditor Baker Tilly.
Tim Pembela (TP) mengungkapkan pendapat mereka bahwa staf Baker Tilly bukan hanya menyadari aspek utama dan
masalah dalam audit CHC dan Xtron, mereka juga memberi saran bagaimana melakukan catatan pembukuan untuk
transaksi seperti penandatanganan kontrak
TP menunjukkan bahwa mantan mitra pengelola (managing partner) Foong Daw Ching telah membantu CHC sejak tahun
90-an dan sangat dipercaya oleh terdakwa dalam berbagai aspek di bidang auditing.
•
•
•
•
JPU menunjukkan bahwa Xtron adalah perusahan “palsu” melalui kesaksian dari
Mereka berusaha menunjukkan bahwa Firna bukanlah investasi yang dapat berjalan terus.
TP membuktikan bahwa Xtron memiliki klien lain seperti Youth Olympic Games Council (Dewan Olimpiade Pemuda)
dan penyanyi asal Taiwan Milk, dengan demikian menunjukkan bahwa Xtron adalah perusahaan yang masih aktif bukan
perusahaan “palsu”
Mereka berusaha membuktikan bahwa Wahju Hanafi adalah multi-jutawan yang menanggung biaya Proyek Crossover;
bahwa Firna adalah usaha yang sangat menguntungkan dan bukan perusahaan “palsu”
Penasihat Hukum Senior N. Sreenivasan dari Straits
Law Practice LLC bagi Tan Ye Peng
Three Xtron Directors: Koh Siow Ngea, Choong Kar Weng and Wahju Hanafi
Penasihat Hukum Senior Kannan Ramesh dari Tan
Kok Quan Partnership LLP bagi Sharon Tan
Tiga Komisaris Gereja: Jeffrey Cheong, Susan Ong dan Tan Yew Meng
Penasihat Hukum Senior Andre Maniam dari Wong
Partnership LLP bagi Serina Wee
• JPU berusaha menunjukkan bahwa para komisaris, yakni Jeffrey Cheong, Susan Ong dan Tan Yew Meng hanyalah “boneka”.
Mereka menyatakan bahwa para komisaris menyerahkan segalanya pada Wee dan Chew, sambil lalu menandatangani
dokumen tanpa mengerti isinya secara menyeluruh.
• TP memperlihatkan bahwa para komisaris, sesuai dengan Konstitusi Gereja tidak bertanggung-jawab untuk mengambil
keputusan dalam hal investasi namun dipercayakan untuk menjaga/melindungi aset tak bergerak milik gereja, seperti
bangunan Jurong West dan properti The Riverwalk.
Akuntan CHC dan Xtron: Lai Bao Ting dan Angie Koh
Penasihat Hukum Senior Kenneth Tan dari Kenneth
Tan Partnership bagi John Lam
Penasihat Hukum Senior Michael Khoo dari Michael
Khoo & Partners bagi Chew Eng Han
• JPU berusaha menunjukkan bahwa para akuntan Lai Bao Ting dan Angie Koh menuruti Sharon Tan dan Serina Wee tanpa
berpikir panjang.
• TP mengemukakan pendapat bahwa para akuntan mengetahui secara pribadi perihal penggunaan dana pembangunan
gereja untuk investasi dan bahwa dalam prosesnya akan masuk ke dalam dana Proyek Crossover karena keduanya adalah
anggota eksekutif gereja dan telah menghadiri Rapat Umum Tahunan dimana berita terbaru mengenai investasi gereja diberikan.
• TP juga menunjukkan bahwa para akuntan tidak memiliki masalah dengan kebenaran transaksi yang harus mereka catat.
Chiew Meng Lay, petugas senior Kantor Imigrasi (Immigration and Checkpoints Authority – ICA)
Kevin Han, petugas penyelidik utama dari Departemen Perkara Komersil (Commercial Affairs Department)
6
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
SPECIAL EDITION
Menyelidiki Jalannya Penyelidikan
Ketika petugas Departemen Penyelidik Perkara Komersil (Commercial Affairs Department / CAD) Kevin Han bersaksi pada tanggal 28 dan 29 Januari, kesaksiannya menimbulkan serangkaian pertanyaan, yang beberapa diantaranya masih menjadi misteri.
Oleh TIM CITY NEWS
Kevin Han bersaksi bahwa dia sudah
puas dengan jalannya investigasi dan
rekomendasinya kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengenai tuntutan
yang diajukan terhadap terdakwa. Dia
setuju dengan Tong bahwa CAD telah
menyita dokumen demi “memastikan
kebenaran” mengenai apa yang telah
terjadi, dan semua dokumen yang terkait sudah seharusnya disita.
Namun, pengadilan melihat bahwa tidak semua dokumen yang terkait telah
disita. Jawaban Han di pengadilan
menimbulkan pertanyaan mengenai
bagaimana sebenarnya investigasi terkait kasus CHC telah dijalankan.
1. Pengadilan mendengar ketika
CAD menggerebek CHC, mereka
menyita arsip-arsip, beberapa kotak
dokumen, dan alat-alat digital terdakwa, termasuk laptop dan handphone. Pengadilan juga mendengar
ketika CAD menggerebek Baker Tilly,
perusahaan auditor yang mengecek
CN FILE PHOTO
transaksi CHC dan Xtron, mereka
Petugas Investigasi Kevin Han.
hanya mengambil sebagian dokumen
fisik mereka.
2. Pada penggerebekan yang pertama,
Sesuai kredo CAD tentang profesionalCAD tidak menyita sebagian kertas arisme, staff CAD bersumpah untuk “melaksanakan hukum secara profesional, adil,
sip audit dari Baker Tilly, seperti CHC
dan seimbang terhadap semua pihak
FY2003 dan FY2004 Audit Working
tanpa rasa takut atau bermurah hati” dan
Papers (AWP) dan AWP untuk Xtron
“menjalankan investigasi dan tugas kami
FY2003, 2004, dan 2009. Han mengisecara efisien dengan pendirian dan keyayakan bahwa CAD tidak menyita dokukinan”, di atas segala hal.
men dalam bentuk soft copy atau dalam
Sebagai respon untuk penyelidikan
data elektronik dari auditor CHC dan dia
silang yang dilakukan oleh Tim Pembela
tidak pernah tahu bahwa ada AWP dalam
(TP) Edwin Tong, petugas penyelidik
bentuk soft copy. Dia mengaku tidak per-
AUDIT KHUSUS 2003 YANG DIPERTANYAKAN
Pada tanggal 6 Februari, penasihat hukum Edwin Tong menanyai Manajer
Audit Baker Tilly - Foong Ai Fang - mengenai audit khusus 2003 terhadap
pembukuan CHC, yang mana Foong
Daw Ching mengaku sebagai ‘mitra
utama’, dalam video pengumuman kepada anggota-anggota eksekutif gereja.
Mdm Foong menyatakan kepada
pengadilan bahwa ia tidak ingat.
Untuk membantu ‘menyentakkan’
ingatannya, Tong meminta penyitaan
laporan audit khusus tersebut. Setelah
berunding dengan para pengacara
Baker Tilly, JPU menginformasikan
pengadilan bahwa dokumen audit khusus tersebut telah dimusnahkan. Tidak
ada alasan substantial yang diberikan.
Tong melanjutkan pertanyaan berapa
lama Baker Tilly menyimpan dokumen
sebelum memusnahkannya, dan Foong
menjawab, ‘Enam atau tujuh tahun.’
Akan tetapi, Tong menunjukkan kepada pengadilan dokumen audit tahun
2002 dan 2003 yang diperoleh oleh penasihat hukum Sharon Tan dari Baker
Tilly pada tahun 2011. Foong tidak
mengetahui mengapa dokumen audit
khusus dimusnahkan sedangkan dokumen lain yang bertanggal periode yang
sama tidak dimusnahkan.
Jika tidak dimusnahkan, dokumen
audit khusus tahun 2003 mungkin dapat
berguna bagi pengadilan di tengah-tengah bukti yang terlihat tidak konsisten
dari keempat personil audit Baker Tilly.
Apakah FIR, CDSA, dan STR?
n FIR (First Information Report)
FIR adalah laporan informasi sebuah pelanggaran yang pertama
kali diterima. Ketika laporan pertama kali diterima di kantor polisi,
harus dicatat dalam bentuk tulisan
oleh petugas kepolisian atau yang
berwenang. FIR menentukan dimulainya investigasi tetapi tindakan
tidak harus dilaksanakan. Terdakwa berhak meminta salinan resmi
FIR agar dia berada di posisi untuk
membela dirinya. Tidak diterbitkannya FIR tidak menjadi dasar ditiadakannya sebuah kasus, namun
pada umumnya ketiadaan FIR menimbulkan kecurigaan dan cenderung melemahkan kasus tuntutan.
Selain itu, kegagalan menerbitkan
FIR yang ada dapat memberikan
dasar dibuatnya permintaan dalam
pasal 116(g) Evidence Act, mengundang Pengadilan untuk menarik
kesimpulan yang merugikan pihak
pendakwa. (Tan Cheng Kooi v PP)
nah bertanya mengenai dokumen soft
copy.
3. Waktu Foong Daw Ching bersaksi
tanggal Sep 12 bahwa dia telah memeriksa email dari dan untuk terdakwa
yang telah dicetak oleh Foong Ai Fang,
manajer auditor, dengan atas namanya.
Barulah CAD melakukan sitaan kedua
pada Sep 13, 2013, mengambil dokumen tersebut. Foong Ai Fang menjelaskan pada pengadilan bahwa dia masih
memiliki akses ke laptopnya setelah penggerebekan Baker Tilly di 2010 oleh CAD,
dia mencetak semua dokumen dan email
tentang kasus CHC dan menjadikannya
dua arsip biru.
4. Ketika ditanya siapa yang memutuskan untuk memilih dokumen mana
yang harus disita, Han mengungkapkan
bahwa September lalu dia diberikan
instruksi dari Mahkamah Agung untuk
menyita, khususnya, dua arsip biru.
5. Penasehat hukum senior Michael
Khoo menanyai Han mengenai Laporan Informasi Pertama (First Information Report, FIR) dalam kasus CHC.
FIR adalah laporan yang diarsip oleh Singapore Police Force, biasanya adalah titik
pangkal sebuah investigasi. Perdebatan
dimulai ketika Han menberitahu pengadilan bahwa FIR tertanggal pada tahun
(Sumber: Singapore Institute of Legal Education)
n CDSA (Corruption, Drug Traf-
ficking and Other Serious Crimes
Act) and STR (Suspicious Transaction Report)
CDSA adalah undang-undang dasar
yang memberantas pencucian uang
di Singapura. CDSA mengkriminalisasi pencucian pendapatan dari
lebih dari 360 perdagangan obatan
terlarang dan pelanggaran berat
lainnya dan juga memperkenankan
penyitaan pendapatan tersebut. Pasal 39(1) CDSA mengharuskan seseorang, yang berada di dalam bisnis
atau pengerjaan, untuk melaporkan STR apabila mengetahui atau
memiliki alasan untuk mencurigai
kepemilikan yang terhubung dengan tindakan kriminal. Kelalaian
pelaporan dapat menjadi pelanggaran kriminal. (Sumber: Commercial
Affairs Department ww.cad.gov.sg)
2005 (dia baru melaporkan terdakwa di
tahun 2010). JPU menjelaskan bahwa
dokumen yang Han maksudkan bukanlah
FIR, tetapi STR (Suspicious Transaction
Report). STR tidak dapat dijadikan bukti
karena ada hukum yang dapat menjaga
pelapor (lihat di kotak cerita). JPU menyatakan bahwa STR tahun 2005 tidak
dapat dipertanyakan sehubungan dengan
tuntutan yang ada.
6. Penasehat hukum senior N. Sreenivasan meminta FIR tahun 2012 dari
CAD dan menerima salinan dari dokumen, NP299. Kemudian, barulah diketahui bahwa NP299 tidak dianggap FIR
oleh Han. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah sebenarnya FIR itu. (Lihat di
kotak cerita)
Penyelidikan silang yang dilakukan
Khoo membongkar bahwa Criminal Affairs Officer yang menginterogasi Chew
Eng Han, memberitahu Chew bahwa dia
di-investigasi mengenai pemalsuan transaksi. Chew tidak pernah diberi tahu bahwa dia tengah di-investigasi atau telah terjadi pelanggaran kriminal dalam bentuk
pemberitahuan formal tentang tindakan
kriminal pelanggaran kepercayaan (criminal breach of trust), tindakan mendukung
konspirasi untuk menjalankan CBT – tuntutan yang sekarang dia hadapi.
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
7
SPECIAL EDITION
Makna dari “Tidak Ada Kasus untuk Dijawab”
Setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) usai memaparkan perkaranya, Tim Pembela (TP) enam terdakwa dalam kasus CHC mempersiapkan argumen “no case to answer (tidak ada kasus untuk dijawab)”. City News mencoba mendalami makna tersebut.
Oleh TIM CITY NEWS
Di kebanyakan kasus hukum, JPU diharuskan untuk menunjukkan bukti prima facie
untuk semua elemen tindak pidana yang dituduhkan kepada terdakwa.
Prima facie dipakai dalam hukum Inggris modern untuk menunjukkan bahwa
pada pemaparan pertama, suatu perkara
muncul menjadi bukti dari fakta yang ada.
Prima facie tidak perlu berupa bukti yang
pasti ataupun tidak terbantahkan. Dalam tahap ini, bukti untuk membantah kasus tidak
dipertimbangkan, hanya jika perkara yang
diajukan oleh salah satu pihak memiliki kelayakan untuk dilanjutkan ke persidangan
pengadilan sepenuhnya.
Berdasarkan pengkajian yang dilakukan oleh City News, diketahui bahwa dalam
pengadilan hukum pidana, jika JPU telah
menyelesaikan argumennya terhadap terdakwa, TP diperbolehkan mengajukan bahwa
JPU – ketika mengajukan bukti-buktinya - belum cukup membuktikan satu atau semua
aspek yang dituduhkan kepada terdakwa.
Oleh karena itu, terdakwa harus dibebaskan.
hingga dewan juri tidak dapat
jika JPU telah menyelesaikan argumen- menyatakan para terdakwa bernya terhadap terdakwa, TP diperbole- salah sesuai yang dituduhkan,
pengajuan “tidak ada kasus
hkan mengajukan bahwa JPU – ketika maka
untuk dijawab” juga harus diterimengajukan bukti-buktinya - belum ma. (Sumber: Galbraith [1981] 1
cukup membuktikan satu atau semua WLR 1039)
aspek yang dituduhkan kepada terdak- Tugas JPU adalah memwa. Oleh karena itu, terdakwa harus di- perdebatkan bahwa bukti
bebaskan. Inilah yang dimaksud dengan yang ditunjukkannya cukup
“tidak ada kasus untuk dijawab”.
kuat untuk menyatakan kesalahan para terdakwa sesuai
Inilah yang dimaksud dengan “tidak ada ka- yang dituduhkan.
Hakim akan mempertimbangkan
sus untuk dijawab”.
Dua cara untuk menguji apakah ini apakah bukti tersebut berbobot dan
merupakan “tidak ada kasus untuk dijawab”: dapat diandalkan, juga mempertim Pertama, jika tidak ada fakta yang bangkan pengajuan dari kedua belah pimembuktikan elemen penting suatu tindak hak, baik JPU maupun TP.
pidana yang dituduhkan kepada terdakwa, Jika pengadilan menerima pengajuan
maka pengajuan “tidak ada kasus untuk TP “tidak ada kasus untuk dijawab”, maka
dijawab” harus diterima. Biasanya, karena terdakwa dibebaskan dari semua tuduhan.
para saksi JPU tidak dapat diandalkan atau Namun, jika pengadilan menyimpulkan
bukti JPU kurang meyakinkan.
bahwa ini merupakan “kasus yang harus di Kedua, jika bukti JPU sangat lemah se- jawab”, pengacara akan membuka kasus itu
dan memanggil para saksi.
Dalam kasus persidangan terhadap
enam terdakwa, JPU menuduh terdakwa
telah melakukan tindak pidana menyalahgunakan kepercayaan dan/atau pemalsuan
catatan keuangan. JPU - dipimpin oleh
Jaksa Mavis Chionh - telah menyelesaikan
argumennya pada 10 Februari lalu, setelah
memanggil 14 saksi selama jangka waktu
sembilan bulan.
City News melaporkan bahwa sebagian
dari TP berniat untuk mengajukan “tidak
ada kasus untuk dijawab”. Mereka dapat
mengajukan argumen tertulis kepada pengadilan selambatnya tanggal 10 Maret.
JPU dapat menyerahkan bantahan tertulisnya paling lambat tanggal 28 Maret.
Hakim See Kee Oon akan mempertimbangkan kedua argumen dan mendengar
argumen lisan mereka pada tanggal 8 April.
Jika menurut hakim, JPU telah menunjukkan bahwa ini adalah kasus prima facie,
TP akan dipanggil untuk mengajukan kasus
tersebut dan para saksi mulai tanggal 14 Juli.
Mens Rea: Ada atau Tidak Ada?
Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuduh keinginan untuk melakukan tindak pidana oleh enam orang terdakwa, namun Tim
Pembela (TP) menunjukan bukti mengatakan sebaliknya
Oleh TIM CITY NEWS
Dalam bahasa Latin, arti dari kata mensrea adalah
“pikiran yang salah” atau keinginan untuk melakukan
tindak kriminal. Menurut Universitas Sekolah Hukum Cornell, setiap kriminal yang diadili di pengadilan memiliki 2 faktor: actusreus, tindak kriminal yang
sebenarnya dan mensrea, keinginan untuk melakukan
tindak kriminal.
Untuk benar-benar memidana terdakwa yang
melakukan tindak kriminal, JPU harus membuktikan bahwa kedua kondisi tersebut dipenuhi – berbeda
halnya dengan kriminal dengan pertanggungjawaban
mutlak (strict liability) dimana tidak dibutuhkannya
pembuktian keinginan untuk melanggar hukum seperti pelanggaran lalu lintas dan hukum pemerkosaan.
Dengan kata lain untuk menjadi terpidana, seseorang harus mempunyai keinginan untuk melakukan
tindak kriminal seperti berkeinginan untuk melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu dengan tidak
hati-hati dan sembarangan walaupun dia tahu bahwa
aksinya dapat menimbulkan kehilangan maupun
kerusakan.
Dalam kasus pengadilan CHC – dimana isu utama
adalah tindakan penyelewengan uang dana pembangunan gereja untuk digunakan secara illegal – pertanyaannya adalah apakah enam terdakwa benar-benar
melakukannya dengan keinginan jahat untuk menyebabkan kerugian terhadap gereja.
JPU berupaya untuk membuktikan hal tersebut
dengan menunjukan bahwa para terdakwa bersekongkol untuk mengalirkan dana ke saham palsu di dua
perusahaan, Xtron dan Firna, yang dimana “keti-
adaannya pertimbangan yang tulus tentang kemungkinan
pengembalian yang dijanjikan, atau kemampuan untuk
mengembalikan dana yang telah digunakan,” seperti yang
diungkapkan oleh ketua JPU Mavis Chionh. JPU juga
menuntut persekongkolan terdakwa di transaksi-transaksi lain yang terkait “yang didesain sedemikian rupa untuk
menyamarkan investasi palsu dari auditor CHC.”
Sampai sejauh ini, TP telah memaparkan bukti-bukti
yang menunjukan pertimbangan dan langkah-langkah
yang dilakukan terdakwa untuk melindungi kepentingan
CHC. Selain itu, ada juga aliran pemasukan yang dijelaskan secara mendetail dan konservatif dari Crossover Project, kekuatan finansial Firna dan juga jaminan dari pemilik Firna yang juga pebisnis, Wahju Hanafi.
Baker Tilly sudah diberikan informasi tentang hal
yang berkaitan dengan saham investasi seperti asal dana,
tujuan dan juga detil dari transaksi-transaksi terkait. Para
auditor tahu kepekaan yang berkisar mengenai penggunaan dana gereja untuk Crossover Project sejak tahun
2003 dan karena itu mereka sangat berhati-hati untuk
memastikan kebenaran pembukuan CHC maupun Xtron
sepanjang tahun.
Khususnya, dokumen audit Xtron tahun 2009 dikemukakan oleh TP di hari terakhir penuntutan oleh JPU
memaparkan “keadaan para auditor… apa yang dilihat
dari sudut pandang mereka setelah mereka mengerti dan
sadar akan audit dari tahun-tahun sebelumnya… dan juga
respon dari klien… menunjukan secara kritikal informasi-informasi apa saja yang diberikan kepada Baker Tilly
sesuai dengan waktunya, “ ungkap pengacara Kong Hee,
Edwin Tong.
CN FILE PHOTOS
Pengacara bagi Kong Hee, Edwin Tong berusaha
menunjukkan pemikiran tim auditor.
Perbincangan antara ketua JPU Mavis Chionh dan
penasihat hukum N. Sreenivasan pada tanggal 16
Januari 2014
Chionh: Dalil dari TP mengungkapkan bahwa para
auditor tidak mengatakan adanya penyelewengan
yang berarti ketiadaan penyelewengan. Ini seperti apa
yang diungkapkan Bart Simpson, “Saya tidak melakukannya. Tidak ada orang yang melihat saya melakukannya. Kamu tidak bisa membuktikan apa-apa.”
Sreenivasan: Semoga itu bisa membuat anda puas,
yang terhormat. TP kita bukanlah Bart Simpson. Saya
pikir hal ini lebih berkaitan dengan mensrea, namun
kita akan mengurusi hal tersebut di pengajuan. Hal
ini sangatlah jelas ketika Foong Daw Ching memberikan kesaksian. Jadi sebelum saya tutup, teman, tolong
jangan menginterupsi.
8
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
SPECIAL EDITION
Kabar Kilat!
Straits Times (15 Januari)
Mantan manager keuangan memasuki
bisnis fashion.
Bulan Januari tahun ini, media massa yang
meliputi kasus CHC terlihat makin hening.
Namun ada beberapa laporan berita yang
menarik perhatian kami.
The New Paper (15 Januari)
Ketertarikan pada fashionista City Harvest: Style-nya dijual…dari toko rekannya
Media massa memasukkan cerita Missy
Stella pada hari yang sama: fashion web
store milik Serina Wee dan Sharon Tan
menjadi pembicaraan banyak orang. Koran bahkan mencatat pakaian Missy Stella
mana yang dipakai Wee di pengadilan. Sekalipun hanya berita tambahan dari pengadilan utama, namun dituliskan dengan bagus
dan menyajikan sudut pandang berita baru.
Oleh TIM CITY NEWS
The New Paper (14 Januari)
Para wanita yang menjadi pusat perhatian kembali
dalam sidang pengadilan City Harvest
Terlepas dari foto sampul depan yang menarik perhatian, kami pikir focus The New Paper pada tiga wanita
– co-founder CHC Sun Ho, terdakwa Serina Wee dan
auditor Tiang Yii – sangat dihargai. Menunjukkan tiga
sudut pandang yang berbeda pada hari itu di pengadilan, sesuatu yang belum pernah
kami temukan di surat kabar lain
selama ini.
AsiaOne Crime (9 Februari)
Pengadilan CHC: Auditor Teddy Tilly “mengetahui
masalah kesepakatan palsu”
Seorang pembaca yang bermata tajam melihat
judul ini dan mengirimnya kepada City News. Kami
bertanya apa yang dipikirkan oleh editor atau penulis ketika dia mengetik “Teddy Tilly”. Salah satu teori
adalah dia sedang melihat website Ted Baker pada
saat dia mengetik judulnya. Ted Baker + Baker Tilly =
Teddy Tilly.
KESABARAN
MAR 1-2, 2014
www.citynews.sg
9
SPECIAL EDITION
Jalannya Sidang Pengadilan
Pertukaran aura panas, interupsi tanpa akhir dan sejumlah
tokoh imajiner termasuk Sinterklas dan Bart Simpson muncul
di ruang pengadilan selama bulan Januari dan Februari. City
News menyoroti beberapa penggalan pembicaraan menarik.
Oleh TIM CITY NEWS
Bagaimana, jika
untuk dapat mendapatkan
kembali investasi yang telah diberikan
AMAC kepada Sinterklas, gereja ataupun
personil dalam gereja mengatur untuk menyalurkan uang gereja kepada Kelinci Paskah melalui
investasi yang seharusnya, dengan niat bahwa
Kelinci Paskah akan memberikan uangnya
kepada Sinterklas untuk mengembalikan
investasi awal kepada gereja?
Namun ini
bukanlah merupakan klarifikasi
akan sebuah jawaban,
melainkan scenario yang
baru. Apabila yang Mulia
mengijinkannya maka aku
mungkin harus meminta ijin
untuk bertanya lebih lanjut
mengenai Kelinci Paskah
dan mungkin Peri
Gigi.
TIM AUDIT MEMILIKI POLA BERPIKIR YANG SAMA SEJAK TAHUN
2003
Melalui penyelidikan silang yang dilakukan terhadap Foong Ai Fang, TP
Edwin Tong memohon untuk dapat
menunjukkan bahwa sejak tahun
2003, tim audit telah bekerja dengan
tim CHC dan menganut pola pikir tertentu, dan tetap melakukannya sampai dengan jangka waktu terdakwa
digugat.
“Hal ini yang saya ajukan pada akhir
perkara ini, semua informasi yang telah
kami berikan kepada para auditor akan
disimpan di dalam berkas mereka,
seperti yang telah ditegaskan oleh para
saksi. Itulah yang akan saya ajukan untuk mens rea. Rasanya, saya telah membuat posisinya sangat jelas sekarang.”
Merujuk kepada dugaan adanya investasi “palsu”, TP SC N. Sreenivasan
bertanya kepada Sim Guan Seng kemana larinya uang yang digunakan
untuk investasi ini.
Sreenivasan: Jadi, uang yang diberikan kepada Xtron sebagai biaya sewa
di muka akhirnya kembali, benarkah?
Sim: Ya.
Sreenivasan: Uang yang dipakai untuk investasi SOF telah kembali juga
sebelumnya, apakah saya benar?
Sim: Ya.
Sreenivasan: Uang yang telah digunakan untuk kontrak Firna juga telah
didapatkan kembali; apakah saya
benar?
Sim: Ya.
Sreenivasan: kontrak Xtron, yang
telah didapatkan kembali dengan
melawan biaya sewa di muka, telah
dibayarkan kembali secara efektif
saat biaya sewa di muka itu telah
dibayarkan kembali?
Sim: Ya.
Sreenivasan: Semuanya ini dibayarkan kembali dengan bunga?
Sim: Ya.
Email yang berlangsung antara mitra
pelaksana Tiang Yii dan manajer audit
Foong Ai Fang menunjukkan bahwa mereka melakukan penyelidikan menyeluruh
pada perjanjian penandatanganan kontrak
Xtron. Foong berargumen dengan SC Kannan Ramesh akan apa yang mendasari sebuah “investigasi” menjadi BSA
Ramesh: Nn Tiang Yii meminta saudara untuk mencari semua detail yang berhubungan,
termasuk mendapatkan semua dokumen pendukung berkenaan dengan transaksi kontrak
di XPL (Xtron) dan pembukuan CHC dari Serina, dan kemudian datang untuk berdiskusi
dengan dia. Benar?
Foong: Benar.
Ramesh:Itu merupakan investigasi, benar?
Foong: Itu merupakan proses mencari tahu,
bukan investigasi.
Teman belajar
saya bisa memasang muka kesakitan. Saya merasa
aneh.
NILAI JIWA-JIWA
TIDAK ADA UANG YANG TERHILANG
SEMANTIK DARI “INVESTIGASI”
Tim Pembela (TP) SC Michael Khoo mengajukan pertanyaan kepada komisaris
gereja Tan Yew Meng berkenaan dengan
nilai Proyek Crossover.
Khoo: Dapatkan engkau mengukur keselamatan jiwa dalam bentuk dolar dan sen?
Tan: Tidak.
Khoo: Apakah itu tak ternilai?
Tan: Ya. Bagi saya, jika seluruh uang yang
telah kami keluarkan, sekalipun hanya
ada satu orang saja dalam pandangan saya
datang mengenal Tuhan, maka itu sudah
sangatlah sepadan nilainya.
Sakit
bagi
saya.
Tidak
menyakitkan, maaf.
Menderita.
DALAM PROSES TIM AUDIT
SC Andre Maniam membuktikan melalui kesaksian Foong Ai Fang bahwa staf audit sadar
dan mengetahui adanya transaksi bagi kontrak Xtrong baik di pihak Xtron maupun pihak
CHC.
Maniam: Terlihat bahwa staff Anda sedang mencari figur yang tepat untuk kepentingan akuntansi yang sepantasnya. Sebagai sebuah preposisi umum hal ini seharusnya benar, betul?
Foong Ai Fang: Ya
Maniam: Sebagai bagian dalam proses, mereka tidak hanya melihat dari laporan keuangan
Xtron saja, juga melakukan penyelidikan silang dengan laporan keuangan City Harvest untuk
pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan audit CHC, betul?
Foong: Ya
CARA YANG SALAH UNTUK MELAKUKAN INTERUPSI
JPU Tan Kiat Pheng telah menyangkal pernyataan Sreenivasan bahwa Tiang telah mengatakan dia telah menjauhkan dirinya dari
kesaksian Foong Daw Ching. Sreenivasan melanjutkan untuk membaca sebagian daripada transkrip yang mencatat bahwa Tiang
berkata bahwa mereka menjauhkan diri dan pengadilan mengijinkan Sreenivasan untuk melanjutkan. JPU mengangkat tangannya
dan suaranya untuk menghentikan TP ketika dia mencoba untuk meneruskan.
Pengadilan: Saya akan mengijinkan keberatan apabila sah. Saya mengijinkan saudara untuk meneruskan sejauh mungkin selama tidak
mengganggu proses penyelidikan silang.
Sreenivasan: Sudah kewajiban saya, yang Mulia. Ms Foong Tan: Tunggu.
Pengadilan: Mr Tan.
Tan: Saya masih belum selesai. Yang Mulia, dia salah mengutip Pengadilan: Mr Tan, saya sarankan saudara tidak meng-interupsi proses persidangan dengan cara seperti ini dengan bertanya kepada Tn
Sreeni hanya untuk berkata “tunggu”.
10 www.citynews.sg
MAR 1-2, 2014
SPECIAL EDITION
Pemandangan di Pengadilan
Keenam terdakwa dalam persidangan (dari kiri
atas): John Lam, Kong Hee, Sharon Tan, Chew
Eng Han, Tan Ye Peng dan Serina Wee.
Tim Pembela (berlawanan
arah jarum jam dari atas) :
Kenneth Tan, Edwin Tong,
Kannan Ramesh, Michael
Khoo, N. Sreenivasan dan Andre Maniam.
Tim media dan operasional
memberikan banyak sekali
bantuan selama jalannya
persidangan
Jaksa Penuntut Umum (dari
kiri): Christopher Ong, Mavis
Chionh dan Tan Kiat Pheng.
Memberikan
dukungan
dan
senyuman:
(paling kiri) John Lee, gembala dari CHC Sydney bersama Bobby Chaw, direktur misi dari CHC; (kiri) Sun
Ho, co-founder CHC bersama suaminya Kong Hee.
Fly UP