...

Kajian Dinamika dan Tekanan Penduduk Terhadap Beban

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Kajian Dinamika dan Tekanan Penduduk Terhadap Beban
Kajian Dinamika dan Tekanan Penduduk
Terhadap Beban Cemaran Air
dan Kelangkaan Air Bersih
Direktorat Analisis Dampak Kependudukan
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Jakarta, 2013
Buku Lingkungan
Kajian Dinamika dan Tekanan Penduduk terhadap Beban Cemaran Air
dan Kelangkaan Air Bersih
Penanggung Jawab
Drs. SuyonoHadinoto, MSc
Pengarah
Drs. Iswandi, MM
Penulis
Ir. M. Solichin, PhD
Tim Penulis dari Universitas Brawijaya
Tim Penulis Direktorat Analisis Dampak Kependudukan, BKKBN Pusat
Kontributor
Irmiyanti Kusumastuti, SE, MA
Retno Dewi Puspita Sari, S.Sos, M. Sc
Aliyah Faiqoh Zain, S.Si
Diterbitkan oleh
Direktorat Analisis Dampak Kependudukan
Badan Kependudukan danK eluarga Berencana Nasional
2013
ISBN
Kajian
Dampak
Laju
Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
AirAir
Dan
Kelangkaan
Kajian
Dampak
Laju
Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Dan
Kelangkaan
AirAir
Bersih
Pembahasan
Propinsi
Dan
Sulawesi
Bersih
Pembahasan
ProvinsiBanten
Banten
Dan
SulawesiSelatan
Selatan
KATA
KATAPENGANTAR
PENGANTAR
Pujisyukur
Pujisyukurkami
kamipanjatkan
panjatkankehadirat
kehadiratAllah
AllahSWT,
SWT,Tuhan
TuhanYang
YangMaha
MahaEsa,
Esa,
berkat
rahmat
dan
taufik-Nya.
Buku
Kajian
Dinamika
dan
Tekanan
Penduduk
berkat rahmat dan taufik-Nya. Buku Kajian Dinamika dan Tekanan Penduduk
terhadap
terhadapBeban
BebanCemaran
CemaranAir
Airdan
danKelangkaan
KelangkaanAir
AirBersih
Bersihtelah
telahselesai
selesaidisusun.
disusun.
Buku
Bukuiniinimemaparkan
memaparkanilustrasi
ilustrasihubungan
hubunganantara
antaravariabel
variabelkependudukan
kependudukan
terhadap
terhadapkelangsungan
kelangsunganhidup
hidupmanusia
manusiadan
danpenyediaan
penyediaanairairbersih.
bersih.Buku
Bukuiniini
memberikan
memberikangambaranan
gambarananalisis
alisisdan
danprediksi
prediksidampak
dampakkependudukan
kependudukanterhadap
terhadap
kondisi
pencemaran
dan
ketersediaan
air
bersih.
Diharapkan
buku
ini
kondisi pencemaran dan ketersediaan air bersih. Diharapkan buku inidapat
dapat
menjadi
bahan
referensi
dan
informasi
bagi
para
perumus
dan
penentuan
kebijakan
menjadi
bahan
referensi
dan
informasi
bagi
para
perumus
dan
penentuan
kebijakan
tentang
tentangdampak
dampakkependudukan
kependudukanterhadap
terhadappenyediaan
penyediaanairairbersih
bersihdidiIndonesia.
Indonesia.
Kami
menyadari
bahwa
buku
iniini
masih
jauh
dari
sempurna.
Oleh
karena
itu,
Kami
menyadari
bahwa
buku
masih
jauh
dari
sempurna.
Oleh
karena
itu,
masukan
dan
saran
dari
semua
pihak
selalu
kami
harapkan
dalam
penyempurnaan
masukan dan saran dari semua pihak selalu kami harapkan dalam penyempurnaan
buku
bukuini.
ini.
Akhir
Akhirkata,
kata,kami
kamisampaikan
sampaikanterima
terimakasih
kasihkepada
kepadasemua
semuapihak
pihakyang
yang
telah
telahberperan
berperanserta,
serta,sehingga
sehinggadapat
dapatdisusun
disusundan
danditerbitkannya
diterbitkannyabuku
bukuini.
ini.Kami
Kami
harapakan
harapakanbuku
bukuiniinidapat
dapatdimanfaatkan
dimanfaatkansebaik-baiknya.
sebaik-baiknya.
Jakarta,
Jakarta,Desember
Desember2013
2013
Direktur
DirekturAnalisis
AnalisisDampak
DampakKependudukan
Kependudukan
Drs.
Drs.Suyono
SuyonoHadinoto,
Hadinoto,MSc.
MSc.
LAPORAN
FAKTA
ANALISA
LAPORAN
FAKTA
ANALISA iii iii
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
…………………………………………………....................................
Daftar Isi
………………………………………………………….......................................
iii
v
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang...........................................................................
1.2. Perumusan Masalah..................................................................
1.3. Tujuan. ......................................................................................
1.4. Manfaat.....................................................................................
1
2
2
3
BAB II LANDASAN KONSEPTUAL DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Landasan Konseptual.................................................................
2.2. Definisi Operasional...................................................................
2.3. Kerangka Pemikiran...................................................................
2.4. Pertanyaan Penelitian................................................................
5
5
6
7
BAB III METODOLOGI
3.1. Rancangan Penelitian................................................................
3.2. Metode .....................................................................................
3.2.1. Proposal dan Sampel......................................................
3.2.2. Penentuan Lokasi dan Pengumpulan Data.....................
3.3. Metode Analisis Kebutuhan Air.................................................
3.4. Rencana Analisis........................................................................
9
9
9
10
14
18
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI BANTEN
DAN PROVINSI SULAWESI SELATAN
4.1. Potensi Sumber Daya Air di Indonesia.......................................
4.2. Kebijakan Pemerintah Terkait Sumber Daya Air........................
4.3. Provinsi Banten
4.1.1. Kondisi Fisik Provinsi Banten..........................................
4.1.2. Kebijakan Pemerintah Terkait Sumber Daya Air
Provinsi Banten...............................................................
4.4. Provinsi Sulawesi Selatan
4.4.1. Keadaan Geografis dan Iklim Provinsi Sulawesi Selatan.
LAPORAN FAKTA ANALISA
21
24
26
29
37
v
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
4.4.2.
4.4.3.
BAB V Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Provinsi Sulawesi Selatan...............................................
Kondisi Petanian dan Peternakan
Provinsi Sulawesi Selatan...............................................
39
41
KEBUTUHAN AIR, POTENSI AIR, DAN STATUS MUTU AIR
5.1. Kebutuhan Air Bersih Sektor Domestik . ...................................
5.2. Kebutuhan Air Bersih Sektor Pertanian ....................................
5.3. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan...................................
5.4. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam dan Tambak .....................
5.5. Potensi Sumber Daya Air ..........................................................
5.6. Mutu Kualitas Air Sungai . .........................................................
5.7. Neraca Air Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Banten........
45
48
51
61
67
79
83
BAB VI KESIMPULAN
6.1. Kesimpulan................................................................................
6.2. Rekomendasi.............................................................................
89
89
DAFTAR PUSTAKA
91
vi
. ......................................................................................
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Macam Data dan Sumber Data........................................................... Tabel 3.2. Kebutuhan dan Perolehan Data.......................................................... Tabel 3.3. Kebutuhan Air Berdasarkan Kategori Kota ......................................... Tabel 3.4. Kebutuhan Air Berdasarkan Jenis Ternak ........................................... Tabel 4.1. Penggunaan Lahan Eksisting Provinsi Banten Tahun 2012................. .
Tabel 4.2. Komposisi Penduduk Provinsi Banten Tahun 2010-2011.................... Tabel 4.3. Jumlah Akseptor Keluarga Berencana Menurut Kabupaten dan
Kota dan Alat Kontrasepsi yang Digunakan di Provinsi Banten 2011.. Tabel 4.4. Beberapa Contoh Rencana Penegmbangan SDA Provinsi Banten....... Tabel 4.5. Luas Wilayah Kabupaten dan Kota di Provinsi Sulawesi Selatan ........ Tabel 4.6. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Provinsi Sulawesi Selatan.................................................................... Tabel 4.7. Proyeksi Penduduk menurut Kabupaten dan
Kota Proinsi Sulawesi Selatan.............................................................. Tabel 4.8. Luas Sawah menurut Kabupaten dan Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan................................................................ Tabel 4.9. Luas Kebun menurut Kabupaten dan Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan................................................................ Tabel 4.10. Jumlah Ternak menurut Kabupaten dan Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan................................................................ Tabel 4.11. Produksi Perikanan menurut Kabupaten dan Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan................................................................ Tabel 5.1. Kebutuhan Air Sektor Domestik Provinsi Banten................................ Tabel 5.2. Kebutuhan Air Sektor Pertanian Provinsi Banten................................ Tabel 5.3. Kebutuhan Air Berdasarkan Jenis Ternak Provinsi Banten.................. Tabel 5.4. Kebutuhan Air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Besar
Provinsi Banten.................................................................................... Tabel 5.5. Kebutuhan Air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Kecil
Provinsi Banten.................................................................................... Tabel 5.6. Kebutuhan Air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Unggas.............. Tabel 5.7. Kebutuhan Air Sektor Tambak............................................................. Tabel 5.8. Kebutuhan Air Sektor Kolam............................................................... Tabel 5.9. Debit Sungai Masing-masing DAS di Provinsi Banten.......................... LAPORAN FAKTA ANALISA
9
11
16
17
30
33
34
36
38
40
41
43
43
44
44
46
49
52
53
56
59
63
66
69
vii
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 5.10. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kota Serang................ Tabel 5.11. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Serang...... Tabel 5.12. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibantan Kabupaten Pandeglang
Tabel 5.13. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibantan Kabupaten Lebak........ Tabel 5.14. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibantan Kabupaten Tangerang.
Tabel 5.15. Jumlah Setu, Bendungan dan Waduk di Banten.................................. Tabel 5.16. Rekapitulasi Debit Air Permukaan Provinsi Banten............................. Tabel 5.17. Rekapitulasi dan Proyeksi Kebutuhan Air Tahun 2008-2030............... Tabel 5.18.
viii
LAPORAN FAKTA ANALISA
70
72
73
75
76
77
78
79
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1. Grafik Evaluasi Neraca Air dan Ketersediaan SDA...........................
Gambar 4.1. Batas Adminstratif Provinsi Banten . .............................................. Gambar 4.2. Pembagian Wilayah Sungai Provinsi Banten .................................. Gambar 4.3. Batas Administratif Provinsi Sulawesi Selatan . .............................. Gambar 4.4. Jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan . ................................ Gambar 5.1. Kebutuhan Air Sektor Domestik Provinsi Banten ...........................
Gambar 5.2. Kebutuhan Air Bersih Sektor Domestik Provinsi Banten Tahun 2012... Gambar 5.3. Kebutuhan Air Sektor Pertanian Provinsi Banten 2007-2010.........
Gambar 5.4. Kebutuhan Air Sektor Pertanian Provinsi Banten 2011...................
Gambar 5.5. Kebutuhan Air Sektor Terbak Besar Provinsi Banten 2007.............
Gambar 5.6. Kebutuhan Air Sektor Terbak Besar Provinsi Banten 2008.............
Gambar 5.7. Kebutuhan Air Sektor Terbak Besar Provinsi Banten 2009.............
Gambar 5.8. Kebutuhan Air Sektor Terbak Besar Provinsi Banten 2011.............
Gambar 5.9. Kebutuhan Air Sektor Terbak Kecil Provinsi Banten 2007...............
Gambar 5.10. Kebutuhan Air Sektor Terbak Kecil Provinsi Banten 2008...............
Gambar 5.11. Kebutuhan Air Sektor Terbak Kecil Provinsi Banten 2009...............
Gambar 5.12. Kebutuhan Air Sektor Terbak Kecil Provinsi Banten 2011...............
Gambar 5.13. Kebutuhan Air Ternak Unggas 2007................................................ Gambar 5.14. Kebutuhan Air Ternak Unggas 2008................................................ Gambar 5.15. Kebutuhan Air Ternak Unggas 2009................................................ Gambar 5.16. Kebutuhan Air Ternak Unggas 2011................................................ Gambar 5.17. Kebutuhan Air Tambak 2007........................................................... Gambar 5.18. Kebutuhan Air Tambak 2008........................................................... Gambar 5.19. Kebutuhan Air Tambak 2009........................................................... Gambar 5.20. Kebutuhan Air Tambak 2010........................................................... Gambar 5.21. Kebutuhan Air Tambak 2011........................................................... Gambar 5.22. Kebutuhan Air Kolam 2007............................................................. Gambar 5.23. Kebutuhan Air Kolam 2008............................................................. Gambar 5.24. Kebutuhan Air Kolam 2009............................................................. Gambar 5.25. Kebutuhan Air Kolam 2010............................................................. Gambar 5.26. Kebutuhan Air Kolam 2011............................................................. Gambar 5.27. Debit Rerata Sungai Cibanten Kota Serang...................................... Gambar 5.28. Debit Rerata Sungai Cibanten Kabupaten Serang............................
LAPORAN FAKTA ANALISA
19
28
35
38
39
47
48
50
51
54
54
54
55
57
57
57
58
60
60
60
61
64
64
64
65
65
67
67
67
68
68
71
73
ix
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar 5.29. Debit Rerata Sungai Cibanten Kabupaten Pandeglang....................
Gambar 5.30. Debit Rerata Sungai Cibanten Kabupaten Lebak............................. Gambar 5.31. Debit Rerata Sungai Cibanten Kabupaten Tangerang......................
Gambar 5.32. Kondisi Kualitas Air Sungai Cibanten................................................ Gambar 5.33. Kondisi Kualitas Air Sungai Cidanau................................................. Gambar 5.34. Kondisi Kualitas Air Sungai Ciliman.................................................. Gambar 5.34. Kondisi Kualitas Air Sungai Cisadane............................................... Gambar 5.35. Neraca Air Terhadap Ketersediaan SDA Provinsi Banten Tahun 2008...
Gambar 5.36. Neraca Air Terhadap Ketersediaan SDA Provinsi Banten Tahun 2009...
Gambar 5.37. Neraca Air Terhadap Ketersediaan SDA Provinsi Banten Tahun 2010...
Gambar 5.38. Neraca Air Terhadap Ketersediaan SDA Provinsi Banten Tahun 2011...
Gambar 5.39. Neraca Air Terhadap Ketersediaan SDA Provinsi Banten Tahun 2015...
Gambar 5.40. Neraca Air Terhadap Ketersediaan SDA Provinsi Banten Tahun 2030... x
LAPORAN FAKTA ANALISA
74
75
77
79
80
81
82
84
84
85
85
86
86
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki sumber daya air yang cukup namun distribusi
ketersediaan air pada beberapa pulau dan kawasan tidak terjadi secara
merata. Iklim Indonesia pada dasarnya memungkinkan penyediaan air
secara kuantitas lebih dari cukup, namun demikian penyediaan air bersih
yang ditunjang sarana dan prasarana yang memadahi masih jauh dari yang
diharapkan. Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat harus harus
diimbangi dengan peningkatan pengadaan sarana dan prasarana infrastruktur
jalan yang memadai, peningkatan pelayanan kesehatan, peningkatan mutu
pendidikan, peningkatan penyediaan kebutuhan sembako masyarakat dan
lain sebagainya. Jika tidak maka peningkatan dan pertumbuhan penduduk
dapat menjadi ancaman yang serius dimasa mendatang.
Di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta,
Surabaya, Medan, Banjarmasin dan Makasar kepadatan penduduk perkapita
sudah cukup tinggi. Penyediaan sarana dan prasarana air bersih masih
memerlukan perhatian yang serius dari pemerintah pusat, daerah serta dari
pihak swasta. Kurangnya sarana dan prasarana air bersih dan minimnya
jaringan sanitasi dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan
masyarakat khususnya masyarakat dengan pendapatan rendah yang
sebagian besar masih tinggal di daerah pinggiran kota.
Peningkatan jumlah penduduk mendorong terjadinya peningkatan
jumlah industri baik berskala kecil, menengah hingga industri besar. Kualitas
limbah industri yang masih melebihi ambang batas yang disyaratkan masih
menjadi sumber utama terjadinya pencemaran pada sungai disekitar lokasi
industri berada. Limbah domestik yang berasal dari limbah rumah tangga
dimana sebagian besar tidak melalui instalasi pengolahan limbah namun
langsung terbuang melalui saluran drainase kota yang selanjutnya masuk
disungai juga menambah beratnya beban pencemaran aliran sungai.
Dampak lonjakan penduduk di Indonesia terhadap lingkungan hidup,
sudah dapat kita lihat sejak tahun 2001, laporan Bank Dunia menyebutkan,
LAPORAN FAKTA ANALISA
1
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
bahwa luas hutan mangrove di Indonesia mengalami penurunan yang sangat
signifikan, dari 4,25 juta hektar pada tahun 1982, menjadi 3,24 juta hektar
pada tahun 1987 dan menjadi hanya 2,06 juta hektar pada tahun 1995. Di
sektor kehutanan telah terjadi deforestasi yang meningkat dalam dekade
ini. Bank Dunia (2003) dan Departemen Kehutanan melaporkan tingkat
deforestasi di Indonesia telah mencapai lebih dari dua juta hektar per tahun.
Apabila tingkat kehilangan hutan ini tetap 2 juta hektar per tahun, maka 48
tahun ke depan, seluruh wilayah Indonesia akan menjadi gurun pasir yang
gundul dan panas. Beberapa kawasan juga mengalami pencemaran. Ini
terjadi di kawasan-kawasan yang sibuk dengan kegiatan pelayaran, atau
perairan yang bersinggungan dengan kota-kota besar, seperti perairan teluk
Jakarta dan Surabaya.
Berdasarkan fakta-fakta yang ada bahwa lonjakan penduduk memiliki
dampak yang sangat signifikan terhadap kelangsungan perikehidupan dan
penyediaan airbersih, maka menekan laju pertumbuhan penduduk sudah
seharusnya dilakukan. Tanpa strategi yang tepat dan akurat, maka menjelang
2035 Indonesia bakal menghadapi beban yang sangat berat.
1.2. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan fakta Indonesia saat ini dengan laju pertumbuhan
penduduk yang cukup tinggi namun kemampuan penyediaan air bersih yang
masih rendah, maka dirasa perlu dilakukan analisis dan prediksi dampak
kependudukan terhadap kondisi ketersediaan air bersih dan pencemaran
air menjelang tahun 2030
1.3. TUJUAN
Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh hubungan laju kependudukan terhadap ketersediaan
air bersih bagi penduduk Indonesia menjelang tahun 2030.
Tujuan Khusus
1.
2
Menganalisis tingkat, proyeksi kebutuhan air bersih di masing-masing
wilayah penelitian
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
2.
Menganalisis Ketersediaan dan Potensi Sumber Daya Air (SDA) di
masing-masing wilayah penelitian
3.
Menganalisis pengaruh laju kependudukan terhadap ketersediaan air
bersih dengan satuan skala kajian neraca Air
1.4. MANFAAT
1.
Menyajikan bahan advokasi untuk para perumus dan penentu kebijakan
dalam rangka penataan kawasan seiring dengan peningkatan laju
pertumbuhan penduduk di Indonesia.
2.
Menyajikan bahan advokasi untuk para perumus dan penentuan
kebijakan dalam rangka penataan sistem monitoring pencemaran air.
3.
Bahan referensi dan informasi tentang dampak kependudukan terhadap
ketersediaan air bersih di Indonesia.
LAPORAN FAKTA ANALISA
3
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
BAB II
LANDASAN KONSEPTUAL DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Landasan Konseptual
Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam studi ini adalah jenis
penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha menggambarkan atau
melukiskan hubungan antar fenomena yang diteliti dengan sistematis,
faktual dan akurat. Tujuan penelitian deskriptif ini sebagai upaya melakukan
pencandraan mengenai keadaan di lapangan dalam pengumpulan informasi
yang terkini dan mendetail. Selain itu dilakukan pula identifikasi berbagai
masalah dilanjutkan dengan evaluasi melalui pendekatan penelitian
kuantitatif. Pendekatan ini menggali berbagai teori yang digunakan sebagai
kerangka penentu variable penelitian. Pendekatan penelitian ini
menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif maupun kualitatif.
2.2. Definisi Operasional
Penelitian ini mencakup skala nasional yaitu 33 provinsi seluruh
Indonesia, namun sebagai tahap kedua ini ditentukan landasan dasar
pemilihan wilayah studi sebagai daerah percontohan (pilot project) yaitu
terpilih adalah Provinsi Banten dan Provinsi Sulawesi Selatan. Kajian ini
selain daripada tentang kajian parameter kependudukan, indikator lainnya
adalah tentang kajian analisa tentang ketersediaan air bersih yaitu yang
diambil dari data jumlah layanan air berdasarkan data jumlah pelangan
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yaitu bersumber dari data PDAM
dan Biro Pusat Statistik (BPS). Sebagaimana hasil analisanya adalah
identifikasi wilayah yang mengalami kekurangan layanan air bersih adalah
diwakili oleh analisa perbandingan jumlah penduduk masing masing wilayah
terhadap jumlah penduduk yang terlayani
Data-Data Yang Dikumpulkan
1.
Data Kependudukan Wilayah Kajian.
2.
Data Rencana Pembangunan Wilayah, Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Propinsi.
LAPORAN FAKTA ANALISA
5
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
3.
4.
Data Ketersediaan atau Potensi Sumber Daya Air Wilayah Kajian.
Data Hidrologi dan Klimatologi Wilayah Kajian.
5.
Data Geografi Wilayah Kajian, Topografi, dan Tataguna Lahan.
6.
Data Kondisi keruangan, isian fungsi kawasan, dan kepadatan
wilayah.
Kegiatan Analisa
1.
Analisa Kependudukan, Laju Pertumbuhan, Kepadatan, dan Proyeksi
Penduduk hingga Tahun 2030
2.
Analisa Kebutuhan Air Bersih Domestik
3.
Analisa Potensi Ketesediaan Sumber Daya Air (SDA)
4.
Analisa Resiko Pencemaran Kualitas Air
5.
Analisa Neraca Air, Perbandingan Potensi dan Ketersediaan SDA
terhadap Kebutuhan air bersih Tahun kajian dan prediksinya.
2.3. Konseptual Framework
Konsep dasar landasan berfikir dari penelitian ini adalah melakukan
kajian dan analisa tentang dampak dari laju pertumbuhan penduduk
terhadap besar kebutuhan air bersih di masing-masing wilayah propinsi
yang disebutkan diatas. Berdasarkan keilmuan hidrologi dan bidang Sumber
Daya Air (SDA), jumlah volume air dipermukaan bumi ini adalah terbatas
karena ditentukan oleh kejadian respon hidrologi yang terjadi (siklus
hidrologi). Kejadian berbagai respon hidrologi tersebut terakumulasi jumlah
volume air-nya pada batas wilayah Hidrologi bukan wilayah batas
administrasi.
Berdasarkan konsep batas diatas sudah dapat memberikan gambaran
resiko kelangkaan penyediaan air bersih di beberapa wilayah secara
administrasi yang diakibatkan adanya ketidakseimbangan tingkat
pertumbuhan penduduk dan tingkat kebutuhan air bersih dengan jumlah
volume air yang tersimpan dalam luasan batas hidrologi. Berdasarkan
konsep kesetimbangan volume, maka dalam penelitian ini adalah mengkaji
perbandingan antara jumlah volume kebutuhan air bersih terhadap jumlah
volume air bersih
6
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
(SDA → Baik ketersediaan SDA maupun yang masih menjadi Potensi SDA).
(NOTE : Ketersediaan SDA adalah jumlah volume air yang tersimpan oleh
adanya pembangunan sarana prasarana SDA atau bangunan air untuk
melayani tingkat kebutuhan air. Potensi SDA adalah jumlah volume air
sebagai hasil respon hidrologi yang tersimpan di seluruh permukaan bumi
ini.)
Namun juga terdapat faktor lainnya yang menjadikan angka kekritisan
penyediaan dan potensi SDA yaitu adanya resiko pencemaran air yang
diakibatkan juga oleh dampak pertumbuhan penduduk yang mempengarui
sektor pertanian, persampahan, industri, dan sektor lainnya. Hal hal tersebut
diatas adalah yang menjadi landasan ide dirasa pentingnya dilakukan
penelitian ini
2.4. Pertanyaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini adalah berusaha untuk menjawab permasalahan
tentang laju pertumbuhan penduduk yang masih tinggi dan ketersediaan air
bersih yang masih rendah bagi penduduk Indonesia saat ini, maka sangat
perlu dilakukan analisis dan prediksi dampak kependudukan terhadap
kondisi ketersediaan air bersih dan pencemaran air menjelang tahun
2030.
Juga diperlukan untuk mendapatkan informasi secara mendalam guna
memperoleh data-data penting tentang isu-isu strategis yang berkaitan
dengan dampak kependudukan dan ketersediaan air bersih, sehingga dapat
memberikan saran-saran serta rekomendasi bagi instansi terkait untuk
melakukan kebijakan-kebijakan yang tepat tentang permasalahan
kependudukan dimasa mendatang. Berikut ini beberapa pertanyaan yang
harus dijawab dengan hasil penelitian ini :
1.
Bagaimana pengaruh laju kependudukan terhadap ketersediaan air
bersih?
2.
Bagaimana pengaruh laju kependudukan terhadap peningkatan
pencemaran air sungai?
LAPORAN FAKTA ANALISA
7
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
3.
8
Usulan rekomendasi apa yang tepat diterapkan menghadapi
permasalahan yang ada kedepan berkaitan dengan laju pertumbuhan
penduduk?
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
BAB III
METODOLOGI
3.1. Rancangan Penelitian
Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam studi ini adalah jenis
penelitian deskriptif yang dapat diartikan sebagai penelitian yang berusaha
mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena atau hubungan antar
fenomena yang diteliti dengan sistematis, faktual dan akurat. Tujuan dari
penelitian deskriptif adalah untuk melakukan pencandraan mengenai
keadaan di lapangan untuk mencari informasi yang faktual, mendetail,
mengidentifikasi masalah-masalah dan melakukan evaluasi dengan
pendekatan penelitian kuantitatif yaitu menggunakan teori sebagai kerangka
penentu variabel penelitian. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah
pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif.
3.2. Metode
3.2.1. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini yaitu kabupaten dan kota yang ada di
Provinsi Sulawesi Selatan.
Metode pengumpulan data serta instansi terkait sebagai sumber data
dapat disarikan sebagai berikut:
Tabel 3.1. Macam Data dan Sumber Data
No
Macam Data
Jenis /Bentuk data
Sumber data
1.
Peta GIS tata guna Wilayah Digital/Softcopy/shp
Provinsi Sulawesi Selatan
Bakosurtanal
2.
Data RTRW (Rencana Tata
Ruang Wilayah) Provinsi
Sulawesi Selatan
Pem Prov. Sulawesi
Selatan
Digital/Softcopy/shp/ atau
Hard copy
LAPORAN FAKTA ANALISA
9
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
No
Macam Data
Jenis /Bentuk data
Sumber data
3.
Data debit sungai yang
melalui wilayah Provinsi
Sulawesi Selatan
• Debit bulanan minimal,
• Debit rata-rata bulanan
• Debit bulanan maximum
Direktorat PU
Pengairan/Dinas PU
Pengairan
4.
Data potensi air tanah dan
sumur Bor
Direktorat PU
Pengairan
5.
Data kualitas air pada
sungai-sungai yang
melewati wilayah Provinsi
Sulawesi Selatan. Data
Pencemaran air dan mutu
kelas sungai.
Data Kapasitas pelayanan
PDAM tingkat kabupaten
• Data potensi air tanah
dan debit sumur bor, data
penggunaan air tanah untuk
air minum
• Data kualitas air sungai,
meliputi, DO, BOD, COD ,
dll. Data tercatat selama 10
tahun terakhir perstatsiun
pengamatan
• Data cakupan pelayanan air
bersih (%)
• Data debit pelayanan
PDAM
• Kebutuhan air bersih untuk
penduduk
• Kebutuhan air bersih untuk
industri
Data jumlah penduduk, laju
pertumbuhan dan kepadatan
penduduk Provinsi Sulawesi
Selatan /Per kota
Provinsi Sulawesi Selatan
dalam angka thn 2012
PDAM Kota dan
Kabupaten
6.
7.
Data Penduduk Provinsi
Sulawesi Selatan per kota
8.
Provinsi Sulawesi Selatan
dalam angka tahun 2012
Direktorat PU
Pengairan
BKKBK, BPS,
Bapenas
BPS
3.2.2. Penentuan Lokasi dan Pengumpulan Data
Pada studi ini lokasi penelitian pada Penyusunan Studi Dampak
Pertumbuhan Penduduk terhadap Pencemaran Air dan Ketersediaan
Air Bersih adalah Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari 14
Kecamatan dan 143 Kelurahan.
Dalam penelitian ini data-data yang digunakan adalah data sekunder
yang akan didapatkan dari berbagai sumber instansi terkait, metode
pelaksanaannya adalah dengan melakukan survey data sekunder secara
langsung dari pemberi data maupun lewat media elektronik website
10
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
yang tersedia. Berikut ini adalah tabel kebutuhan dan perolehan
data.
Tabel 3.2. Kebutuhan dan perolehan data
Tahapan Studi yang
Dianalisa
No
Sumber
1
Kajian Jumlah Penduduk
Wilayah Studi
Data kependudukan
2
Proyeksi Jumlah Penduduk
Data kependudukan,
BPS, Analisa
Perhitungan proyeksi penduduk perhitungan
3
Analisa kebutuhan Air
Bersih
Badan Pusat
Statistik
SNI Kebutuhan Air Bersih,
Hasil analisa jumlah dan
proyeksi penduduk
Analisa Ketersediaan
Data Sekunder :
Sumber Daya Air wilayah
- Data Potensi Sumber Daya
studi
Air
- Data Hidrologi
- Data Klimatologi
- Data Geografi dan Topografi
- Data Tata Guna Lahan
Analisa Resiko Pencemaran Data volume timbulan sampah,
Kualitas Air
data pengolahan sampah
4
5
Data yang Dibutuhkan
6
Neraca Air
7
Kesimpulan
Dirjen SDA, PU
Cipta Karya
Balai Sungai Besar
Dirjen SDA
Kementerian SDA
Dinas Pengairan
Provinsi
BPS, Dinas
Kebersihan
Data Hasil Analisa ketersediaan Hasil Analisa
Sumber daya Air (SDA)
Data Hasil Analisa Resiko
Pencemaran Kualitas Air
Data Hasil dampak
Hasil Analisa
kependudukan terhadap
ketersediaan air bersih
3.2.3. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
deskriptif-evaluatif, dimana pada penelitian deskriptif lebih
menggambarkan kondisi dan realita yang terjadi di lapangan. Pada
tahap ini dilakukan analisis mengenai laju pertumbuhan jumlah
penduduk, identifikasi kebutuhan air untuk berbagai keperluan dan
identifikasi faktor pencemar air, dalam hal ini yang ditimbulkan dari
LAPORAN FAKTA ANALISA
11
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
adanya limbah padat (sampah) dan limbah cair. Pada tahap analisis
evaluatif akan dilakukan evaluasi terhadap kebutuhan dan ketersediaan
air, sehingga akan diketahui pada tahun proyeksi apakah terdapat
kelangkaan air (dalam hal ini kebutuhan air akan melebihi ketersediaan
air).
Proyeksi Penduduk
Pertumbuhan jumlah penduduk merupakan salah satu faktor penting dalam
perencanaan kebutuhan air baku. Dalam kajian ini, proyeksi jumlah
penduduk digunakan untuk menghitung tingkat kebutuhan air baku pada
masa mendatang. Proyeksi jumlah penduduk di suatu daerah dan pada
tahun tertentu dapat dilakukan apabila diketahui tingkat pertumbuhan
penduduknya. Proyeksi jumlah penduduk di masa mendatang dapat
dilakukan dengan tiga metode yaitu :
1.
2.
3.
Metode Aritmatik
Jumlah perkembangan penduduk dirumuskan sebagai berikut
Pn = Po (1+rn)
Dengan :
Pn = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
Po = jumlah penduduk pada tahun yang ditinjau (jiwa)
r = angka pertambahan penduduk per tahun (%)
n = jumlah tahun proyeksi (tahun)
Metode Geometrik
Dengan menggunakan geometrik, maka perkembangan penduduk suatu
daerah dapat dihitung dengan formula sebagai berikut. Metode ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Pn = Po (1+r)n
Dengan :
Pn = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
Po = jumlah penduduk pada tahun yang ditinjau (jiwa)
12
Metode Aritmatik
Metode Geometrik
Metode Eksponensial
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
r
n
= angka pertambahan penduduk per tahun (%)
= jumlah tahun proyeksi (tahun)
Metode Eksponensial
Perkiraan jumlah penduduk dengan metode eksponensial dapat didekati
dengan persamaan berikut:
Pn = Po.e. r.n Dengan :
Pn = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
Po = jumlah penduduk pada tahun yang ditinjau (jiwa)
r = angka pertambahan penduduk per tahun (%)
n = jumlah tahun proyeksi (tahun)
e = bilangan logaritma natural (2,7182818)
Pemilihan Metode
Untuk menentukan pilihan rumus proyeksi jumlah penduduk yang akan
digunakan harus dilakukan analisa dengan menghitung standar deviasi atau
koefisien korelasi. Berikut adalah persamaan yang digunakan untuk
perhitungan standar deviasi dan koefisien korelasi:
__
∑( X i − X ) 2
s=
n
Dengan:
S : standar deviasi
Xi
: jumlah penduduk tahun ke i
__
X : rata-rata X
n : jumlah data
Analisa Proyeksi Penduduk
Perhitungan proyeksi penduduk merupakan dasar dari analisa kebutuhan
air baku. Hal tersebut dikarenakan untuk perhitungan kebutuhan air baku
menggunakan dasar kebutuhan air baku per orang.
__
∑( X i − X ) 2
s=
n
LAPORAN FAKTA ANALISA
13
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Metode proyeksi penduduk yang paling tepat adalah metoda yang
memberikan nilai standar deviasi terkecil.
Metode proyeksi penduduk yang paling tepat adalah metoda yang
memberikan nilai koefisien korelasi mendekati 1.
3.3. Metode Analisis Kebutuhan Air
Kebutuhan air adalah jumlah air yang dipergunakan secara wajar untuk
keperluan pokok manusia (domestik) dan kegiatan-kegiatan lainnya yang
memerlukan air. Pada umumnya banyak diperlukan oleh masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan sehari-sehari.
Besarnya pemakaian oleh masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor,
seperti tingkat hidup, pendidikan, tingkat ekonomi, dan kondisi sosial.
Dengan demikian, dalam perencanaan suatu sistem penyediaan air,
kemungkinan penggunaan air dan variasinya haruslah diperhitungkan
secermat mungkin. Dalam penelitian ini, kebutuhan air yang diidentifikasi
yaitu kebutuhan untuk Rumah Tangga, Perkotaan dan Industri (RKI),
kebutuhan irigasi pertanian, perikanan dan peternakan. Berikut
elaborasinya.
●
Kebutuhan Air Domestik
Berikut adalah faktor yang mempengaruhi kebutuhan air untuk RKI,
diantaranya:
1.
Luas Wilayah
Semakin luas wilayah sebuah daerah, maka semakin besar pula
kebutuhan air bersih yang dibutuhkan, secara konkrit kota-kota
besar seperti Jakarta kebutuhan akan air bersih jauh lebih besar
daripada kota-kota kecil semacam Tangerang.
2.
Tingkat Pendapatan Penduduk
Daerah-daerah yang sebagian besar penduduknya memiliki tingkat
pendapatan rendah pemakaian air bersihnya jauh lebih sedikit
daripada penduduk yang tingkat pendapatannya tinggi.
14
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
3.
Kemajuan Industri dan Perdagangan
Semakin maju tingkat industri dan tingkat perdagangan yang ada
pada suatu daerah maka daerah tersebut akan lebih banyak
membutuhkan air daripada daerah yang tingkat industri dan
perdagangan lebih rendah.
4.
Pertumbuhan penduduk
Pada daerah yang tingkat pertumbuhan penduduknya tinggi maka
kebutuhan akan air bersih akan semakin bertambah. Kebutuhan
akan air pada suatu kota atau kawasan didasarkan pada :
1.) Kebutuhan Air Domestik = Jumlah Penduduk X Kebutuhan
Air Perkapita.
Sesuai standart kebutuhan air perkapita adalah sebesar
170 lt per orang per hari.
Kebutuhan Non Domestik
● Fasilitas umum= 15% x kebutuhan domestik
● Kantor
= 15% x kebutuhan domestik
● Komersial
= 20% x kebutuhan domestik
● Industri
= 10% x kebutuhan domestik
2.) Kehilangan Air/Kebocoran Air, ada dua macam :
● Kehilangan Teknis, hal ini terjadi karena adanya
perbedaan angka pemakaian air (volume) yang diukur
dari meter air pelanggan atau terjadi karena kebocoran
pipa-pipa.
● Kehilangan Non Teknis, hal ini terjadi karena
kesalahan pembacaan meter air, ada kerjasama antara
petugas dan konsumen, maupun karena penyambungan
air yang ilegal.
3.) Hidrant = 10% x (Kebutuhan Domestik + Kebutuhan Non
Domestik)
4.) Kehilangan Air = 10% x (Kebutuhan Domestik + Kebutuhan
Non Domestik)
5.) Kebutuhan Rata-rata Harian = Kebutuhan Domestik +
Kebutuhan Non Domestik + Hidran + Kehilangan Air
6.) Kebutuhan hari maksimum = 1,15 x Kebutuhan Rata-rata
Harian.
LAPORAN FAKTA ANALISA
15
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 3.3. Kebutuhan air berdasarkan kategori kota
●
No
Kategori
1
Kota Metropolitan
2
Kota Besar
3
Kota Sedang
4
Kota Kecil
5
Kota Kecamatan
Jumlah
Penduduk
Tingkat Pemakaian
>1.000.000
500.000 –
1.000.000
100.000 –
120 ltr/org/hari
Air
100 ltr/org/hari
500.000–
20.000
100.000
90 ltr/org/hari
3.000 - 20.000
45 ltr/org/hari
60 ltr/org/hari
Kebutuhan air untuk pertanian
Penggunaan air untuk irigasi padi diperhitungkan berdasar luas sawah
irigasi teknis, semi teknis dan sederhana yang terdapat dalam D.P.S.
yang bersangkutan. Standar kebutuhan air rata-rata Irigasi teknis 1 liter
per detik hektar.
Penggunaan air untuk irigasi yang dipergunakan dalam waktu satu
tahun sehingga pengaruh lama tanaman dan prosentase (%) intensitas
tanaman harus diperhitungkan.
Rumusan perhitungan penggunaan air untuk padi per tahun sebagai
berikut :
A=LxItxa
Dimana :
A = Pengunaan air irigasi dalam
L = Luas daerah irigasi (ha)
It = Intensitas tanaman dalam prosen (%) musim/ tahun
a = Standar penggunaan air ( 1 L/det/ha)
atau A = 0,001 m/de/ha x 3600 x 24 x 120 hari / musim
Kebutuhan air untuk peternakan
●
Kebutuhan air :
Q(L) = 365 x {q(c/b)xP(c/b)+ q(s/g)xP(s/g)+ q(pi)xP(pi)+ q(po)xP(po)}
16
dimana :
Q(L) = Kebutuhan air untuk ternak (m³/tahun)
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
q(c/b) q(s/g) q(pi) q(po) P(c/b) P(s/g) P(pi) P(po) = Kebutuhan air untuk sapi/kerbau (liter/ekor/hari)
= Kebutuhan air untuk Domba/Kambing (liter/ekor/hari)
= Kebutuhan air untuk babi (liter/ekor/hari)
= Kebutuhan air untuk unggas (liter/ekor/hari)
= Jumlah sapi/kerbau
= Jumlah domba/kambing
= Jumlah babi
= Jumlah unggas
Tabel 3.4. Kebutuhan air berdasarkan jenis ternak
No.
1
2
3
4
●
Ternak
Kebutuhan air (liter)
Sapi/Kerbau
Domba/Kambing
Babi
Unggas
40
5
6
0,6
Kebutuhan air untuk perikanan/tambak
Penggunaan air untuk perikanan diperhitungkan hanya untuk tambak.
Tambak memerlukan salinitas air antara 15 s/d 25 ppt. Salinitas air laut
rata-rata berkisar 35 ppt, untuk itu diperlukan pengenceran dengan
menggunakan air tawar.
Perhitungan air tawar untuk tambak berdasarkan tambak intensif,
setengah intensif dan tambak sederhana yang terdapat pada DAS atau
WS sebagai berikut.
Standar kebutuhan air tawar rata-rata adalah :
a. Tambak sederhana 0,8 L/det/ha
b. Tambak semi intensif 3,9 L/det/ha
c. Tambak intensif 5,9 L/det/ha
Penggunaan air diperhitungkan dalam 1 tahun terdiri atas 2 musim.
Rumus penggunaan air tawar untuk tambak
A=LxIxa
dimana:
LAPORAN FAKTA ANALISA
17
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
A = Penggunaan air tawar dalam L/det/ha
L = Luas tambak dalam ha
I = Intensitas pertambakan per tahun = ..... musim/ tahun
a = Standar kebutuhan air L/det/ha
a = 0,0050 m/det/ha x 3600 det/jam x 24 jam/hari x 150 hari/musim
a = 0,0039 m/det/ha x 3600 det/jam x 24 jam/hari x 150 hari/musim
a = 0,0008 m/det/ha x 3600 det/jam x 24 jam/hari x 150 hari/musim
Asumsi konsumsi air untuk tambak 7 mm/hari
Kebutuhan air : Q(FP) = 365 x (g(t)/1000 ) xq(f)xA(FP)x1000
dimana :
Q(FP) adalah kebutuhan air untuk tambak (m³/tahun)
q(f) adalah kebutuhan air flushy (7 mm/tahun)
A(FP) adalah luas Tambak (ha)
3.4. Rencana Analisis
Rencana analisis yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu perhitungan
neraca air pada wilayah studi pada masing-masing kabupaten dan kota. Dari
neraca air ini akan dapat diketahui berapa potensi air, ketersediaan air
maupun kebutuhan air bersih yang sudah dikonversikan dalam satuan yang
sama. Dengan demikian akan dapat diketahui kejadian-kejadian seperti
surplus air hingga kelangkaan air. Berikut adalah metode perhitungan neraca
air.
Untuk mengetahui tingkat jumlah kebutuhan dan jumlah Sumber Daya Air
maka dibuat neraca air. Sehingga kekurangan dan kelebihan air dapat
dipantau dan dievaluasi pada perencanaan selanjutnya. Perhitungan neraca
air dilakukan untuk mengecek apakah air yang tersedia cukup memadai
untuk memenuhi kebutuhan air di daerah yang bersangkutan. Dalam
perhitungan neraca air (water balance) ada beberapa unsur pokok sebagai
dasar perhitungan yaitu :
1)
Tersedianya air
2)
Kebutuhan air
3)
Neraca air (water balance)
18
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Dalam perhitungan neraca air/water ballance, tingkat pemakaian Sumber
Daya Air Bawah Tanah yang didapatkan dari pengolahan data primer dan
sekunder akan dibandingkan dengan potensi debit ketersediaan Ai Bawah
Tanah dalam periode Tahunan. Berikut adalah contoh bentuk analisa Water
Ballance yang akan dilakukan:
Gambar 3.1. Grafik Evaluasi Neraca Air dan Ketersediaan SDA
Disamping menyajikan analisa dalam bentuk water balance, juga akan
dilakukan evaluasi terhadap kebutuhan air dan ketersediaan air di masa
yang akan datang yang disajikan dalam bentuk grafik. Adapun pada
pekembangannya, rencana analisis ini dapat diperluas lagi dengan analisis
“with and without” dalam penyediaan infrastruktur guna meningkatkan
jumlah ketersediaan air. Dalam hal ini, jika tanpa dilakukan tindakan apapun
(without), maka ketersediaan air akan dianggap konstan. Namun jika
dilakukan suatu tindakan (with), maka ketersediaan air dapat meningkat
dari tahun ke tahun. Berikut adalah grafik yang dapat menggambarkan
model analisis diatas.
Pada grafik diatas dapat diketahui adanya perbedaan yang signifikan, dimana
pada grafik ke dua menggambarkan bahwa diperlukan tindakan untuk
mengantisipasi adanya lonjakan kebutuhan air pada masa yang akan datang,
yang dapat berpotensi menyebabkan kelangkaan air apabila tidak dilakukan
pengelolaan kebutuhan maupun peningkatan ketersediaan air. Hal ini yang
nantinya akan menjadi rekomendasi dari penelitian ini.
LAPORAN FAKTA ANALISA
19
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
BAB IV
GAMBARAN UMUM PROPINSI BANTEN DAN PROVINSI SULAWESI SELATAN
4.1. Potensi Sumber Daya Air Di Indonesia
Secara nasional, ketersediaan air di Indonesia mencapai 694 milyar meter
kubik per tahun. Jumlah ini pada dasarnya adalah potensi yang dapat
dimanfaatkan, namun faktanya saat ini baru sekitar 23 persen yang sudah
termanfaatkan, dimana hanya sekitar 20 persen yang dimanfaatkan tersebut
digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku rumah tangga, kota dan
industri, 80 persen lainnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan irigasi
(Hartoyo, 2010).
Sebagian air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan masuk ke dalam
cekungan-cekungan air tanah yang potensinya mencapai lebih dari 308
miliar meter kubik. Potensi volume cekungan air tanah terbesar berada di
Sumatera yaitu sebesar 110 miliar meter kubik
Indonesia memiliki lebih dari 5.590 sungai yang sebagian besar di antaranya
memiliki kapasitas tampung yang kurang memadai sehingga tidak bisa
terhindar dari bencana alam banjir, kecuali sungai-sungai di Pulau Kalimantan
dan beberapa sungai di Jawa. Secara umum sungai-sungai yang berasal dari
gunung berapi (volcanic) mempunyai perbedaan slope dasar sungai yang
besar antara daerah hulu (upstream), tengah (middlestream) dan hilir
(downstream) sehingga curah hujan yang tinggi dan erosi di bagian hulu
akan menyebabkan jumlah sedimen yang masuk ke sungai sangat tinggi.
Tingginya sedimen yang masuk akhirnya menimbulkan masalah pendangkalan
sungai terutama di daerah hilir yang relatif lebih landai dan rata, sehingga
sering terjadi banjir di dataran rendah (Kementerian PPN dan Bappenas,
Infrastruktur Indonesia, 2003).
Sungai-sungai tersebut dikelompokkan menjadi 133 Wilayah Sungai (WS)
yang terdiri dari 13 WS kewenangan kabupaten, 51 WS kewenangan propinsi,
dan 69 WS pusat yang berlokasi di lintas propinsi, lintas negara, dan sungai
strategis nasional (Hartoyo, 2010). Jika dilihat lebih dalam dari aspek
hidrologisnya, kondisi sungai-sungai induk sangat bervariasi dari kondisi
LAPORAN FAKTA ANALISA
21
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
baik, sedang, hingga buruk sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup.
Untuk meningkatkan manfaat dan ketersediaan air, telah dibangun
bendungan yang hingga saat ini telah mencapai 235 buah. Berdasarkan
klasifikasi menurut ketinggian dan volume tampungan, bendungan
dibedakan menjadi: (a) bendungan dengan ketinggian lebih dari atau sama
dengan 15meter dengan volume lebih besar dari atau sama dengan 100.000
m3 (sebanyak 100 buah) dan (b) bendungan dengan ketinggian kurang dari
15meter dengan volume lebih besar dari atau sama dengan 500.000 m3
(sebanyak 135 buah). (Kementerian PPN dan Bappenas, Infrastruktur
Indonesia, 2003)
Kualitas Air Sungai
Selain isu kuantitas, penurunan kualitas air sungai merupakan isu yang tidak
kalah pentingnya dalam rangka pemanfaatan air secara optimal. Hasil
pemantauan yang dilakukan pada tahun 2008 oleh Bapedalda Provinsi
terhadap 35 sungai di Indonesia menunjukkan bahwa status mutu air pada
umumnya sudah tercemar berat jika dibandingkan dengan criteria mutu
baku air kelas II.
Pengertian Air Bersih
Dalam UU RI No.7 Tahun 2004 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
907 Tahun 2002, disebutkan beberapa pengertian terkait dengan air, yaitu
sebagai berikut : Sumber daya air adalah air, dan daya air yang terkandung
didalamnya. Air adalah semua air yang terdapat pada diatas, ataupun di
bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan. Air
Bersih (clean water) adalah air yang digunakan untuk keperluan seharihariyang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum
apabila telah dimasak Air Minum (drinking water) adalah air yang melalui
proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat
kesehatan dan dapat langsung diminum Air permukaan adalah semua air
yang terdapat pada permukaan tanah. Air tanah adalah air yang terdapat
dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Sumber air
adalah tempat atau wadah air alami dan atau buatan yang terdapat pada,
diatas, ataupun di bawah permukaan tanah. Dalam referensi lain disebutkan
bahwa air adalah adalah zat kimia yang penting bagi semua bentuk
22
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain.
Air menutupi hampir 71% permukaan bumi.
Saat ini kualitas air minum di kota-kota besar di Indonesia masih
memprihatinkan. Kepadatan penduduk, tata ruang yang salah dan tingginya
eksploitasi sumber daya air sangat berpengaruh pada kualitas air. Pemerintah
telah mengeluarkan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat
dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Syarat air minum sesuai Permenkes
yaitu harus bebas dari bahan-bahan anorganik dan organik. Dengan kata
lain kualitas air minum harus bebas bakteri, zat kimia, racun, limbah
berbahaya dan lain sebagainya. Parameter kualitas air minum yang
berhubungan langsung dengan kesehatan sesuai Permenkes tersebut adalah
berhubungan dengan mikrobiologi, seperti bakteri E.Coli dan total koliform.
Yang berhubungan dengan kimia organik berupa arsenik, flourida, kromium,
kadmium, nitrit, sianida dan selenium. Sedangkan parameter yang tidak
langsung berhubungan dengan kesehatan, antara lain berupa bau, warna,
jumlah zat padat terlarut (TDS), kekeruhan, rasa, dan suhu. Untuk parameter
kimiawi berupa aluminium, besi, khlorida, mangan, pH, seng, sulfat,
tembaga, sisa khlor dan ammonia.
Pencemaran Air
Pencemaran air adalah masuknya atau di masukannya makhluk hidup, zat,
energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga
kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak
berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkanya. Pencemaran air dapat
dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu: Sumber Sumber Langsung Tidak
Langsung Pencemaaran Air
1.
Sumber – sumber langsung
adalah buangan (effluent) yang berasal dari sumber pencemarnya yaitu
limbah hasil pabrik atau suatu kegiatan dan limbah domestik berupa
buangan tinja dan buangan air bekas cucian,serta sampah. Pencemaran
terjadi karena buangan ini langsung di buang ke dalam badan air,
(system) seperti sungai , kanal, parit atau selokan.
2. Sumber Tidak Langsung
adalah kontaminan yang masuk melalui air tanah akibat adanya
pencemaran pada air permukaan baik dari limbah industri maupun dari
limbah domestik.
LAPORAN FAKTA ANALISA
23
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
3. Sumber Limbah Cair
• Limbah cair domestik terdiri dari air limbah yang berasal dari
perumahan dan pusat perdagangan maupun perkantoran, hotel,
rumah sakit, tempat umum, lalu lintas, dan lain-lain berupa BOD5
(biological oxygen demand)
• Limbah Cair Industri adalah limbah yang berasal dari industri. Sifatsifat air limbah industri relative bervariasi tergantung dari bahan
baku yang di gunakan, pemakaian air dalam proses, dan bahan
aditif yang digunakan selama proses produksi.
• Limbah cair Pertanian berasal dari buangan air irigasi yg disalurkan
kembali ke saluran drainase atau meresap ke dalam tanah. Limbah
ini akan mempengruhi tingkat kekeruhan BOD5, COD, pH. tetapi
juga kadar unsure N, P, dan pestisida, insektisida
• Limbah cair Pertambangan berasal dari buangan pemrosesan yang
terjadi diarea pertambangan misalnya tambang emas. Limbah ini
akan mempengaruhi tingkat kekeruhan BOD5, COD, pH, tetapi juga
kadar kimia yg digunakan dalam proses penambangan
4.2. Kebijakan Pemerintah Terkait Sumber Daya Air
Sumber daya air merupakan kebutuhan mutlak setiap individu yang
harus dipenuhi untuk kelangsungan hidupnya. Apabila terjadi pengurangan
kuantitas maupun kualitas sumber daya air maka akan mempengaruhi
kehidupan manusia secara bermakna. Untuk menjamin ketersediaan dan
pengelolaan sumber daya air ini, maka pemerintah sebagai pemangku
tanggung jawab kesejahteraan warga negaranya, berkewajiban menetapkan
suatu kebijakan atau Undang-Undang untuk mengatur sumber daya air.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 merupakan salah
satu Undang-Undang yang dibuat untuk mengaturnya. Secara umum
Undang-Undang tersebut terdiri atas delapan belas bab, yang sebagian
besar membahas tentang Ketentuan Umum, Wewenang dan Tanggung
Jawab, Konservasi Sumber Daya Air, Pendayagunaan Sumber Daya Air, dan
Pengendalian Daya Rusak Air.
Sejalan dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33, undang-undang
ini menyatakan bahwa sumber daya air, dimana menyangkut hajat hidup
24
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
orang bayak, dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat secara adil. Oleh karenanya, Pemerintah melakukan
pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (PAM) baik di tingkat
pemerintah atau pemerintah daerah, salah satu contohnya ialah Perusahaan
Daerah Air Minum atau PAM JAYA. Pengembangan SPAM ini juga diatur
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Bab IV
Pasal 40 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 16 Tahun
2005 tentang Pengembangan Sumber Daya Air Minum. Badan Usaha Milik
Negara dan atau Badan Usaha Milik Daerah merupakan penyelenggara
pengembangan sistem penyediaan air minum.
Namun dalam undang-undang yang sama pasal 45 ayat 3 disebutkan
pula bahwa pengusahaan sumber daya air dapat dilakukan oleh perseorangan,
badan usaha atau kerjasama antara badan usaha berdasarkan izin
pengusahaan dari pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya. Penggunaan sumber daya air ditujukan untuk
memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dan mengutamakan
pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Namun
penggunaan sumber daya air pada akhir-akhir tahun ini tidak terjadinya
keseimbangan antara peningkatan kuantitas air yang diinginkan dengan
realitas kualitas air yang terjadi. Kejadian krisis air bersih yang melanda
sebagian besar kota-kota di bangsa ini merupakan pekerjaan rumah
pemerintah untuk mengatasinya. Upaya menangani kasus tersebut tercermin
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Bab II
pasal 21 tentang konservasi sumber daya air yang ditujukan untuk menjaga
kelangsungan keberdayaan daya dukung, daya tampung dan fungsi sumber
daya air.
Kegiatan konservasi atau perlindungan dan pelestarian sumber daya air,
sebagai berikut:
• Pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan
air
• Pengendalian pemanfaat sumber air
• Pengisian air pada sumber
• Pengaturan prasarana dan sarana sanitasi
• Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan
pembangunan
LAPORAN FAKTA ANALISA
25
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
•
•
•
•
pemanfaatan lahan pada sumber air
Pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu
Pengaturan daerah sempadan sumber air
Rehabilitasi hutan dan lahan, dan atau
4.3. Gambaran Umum Provinsi Banten
Ruang menurut definisinya adalah wadah yang meliputi daratan, lautan
dan udara yang termasuk di dalamnya benda dan daya keadaan (sumber
daya alam dan sumber daya buatan) sebagai satu kesatuan wilayah tempat
manusia dengan makhluk hidup lainnya untuk melakukan kegiatan dan
memelihara kelangsungan hidupnya. Sedangkan tata ruang adalah wujud
pola pemanfaatan ruang wilayah yang mencakup wilayah perkotaan dan
pedesaan, baik dengan direncanakan maupun tidak
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada dasarnya merupakan arahan
kebijakan pembangunan daerah berwawasan tata ruang wilayah yang
digunakan untuk pedoman pemanfaatan dan pengendalian ruang. Berbagai
program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah, swasta maupun
masyarakat harus mengacu pada arahan pemanfaatan ruang, sehingga
ruang yang terbatas dapat dimanfaatkan secara optimum. Berdasarkan UU
No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang, disebutkan RTRW disusun
dengan hirarki atau urutan: RTRW Nasional, RTRW Provinsi dan RTRW
Kabupaten dan Kota. RTRW provinsi merupakan:
1.
Perumusan kebijakan pokok pemanfaatan ruang di wilayah provinsi.
2.
Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan
perkembangan antar wilayah propvinsi serta keserasian antar sektor.
3.
Pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan pemerintah dan atau
masyarakat.
4.
Pengarah dalam penataan ruang wilayah kabupaten dan kota yang
merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perijinan lokasi
pembangunan.
RTRW provinsi mempunyai fungsi sebagai pengendali pemanfaatan
ruang wilayah kabupaten dan kota dan menyelaraskan keseimbangan
perkembangan antar wilayah, sehingga pertumbuhan wilayah di provinsi
26
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Banten bisa tumbuh bersama-sama antar wilayah sesuai dengan potensi
sumber daya yang dimilikinya.
Secara geografis, Provinsi Banten terletak di ujung barat Pulau Jawa
dan berjarak sekitar 90 km dari DKI Jakarta serta memiliki luas sebesar
9.662,92 km2 atau sekitar 0,51 persen dari luas wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak
pada 507’50” - 701’1” Lintang Selatan dan 10501’11” - 10607’12” Bujur
Timur.
Secara administrasi, Provinsi Banten dibagi menjadi 8 (delapan), dengan
4 Kabupaten dan 4 kota, yaitu:
Kabupaten : Pandeglang, Lebak, Serang, Tangerang,
Kota
Batas Propinsi Banten secara administratif adalah sebagai berikut:
a.
Di sebelah utara berbatasan Laut Jawa.
b.
Di sebelah timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa
Barat.
c.
Di sebelah selatan Samudra Hindia
d.
Di sebelah barat berbatasan Selat Sunda.
:
Cilegon, Serang, Tangerang, Tangerang Selatan (lihat Peta
Administrasi– Gambar II-1).
.
LAPORAN FAKTA ANALISA
27
Gambar 4.1. Batas Administratif Provinsi Banten
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
28
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
4.3.1. Kondisi Fisik Provinsi Banten
Secara umum Provinsi Banten dengan wilayah seluas 9.662,92 km2
dibagi menjadi 8 (delapan), yaitu 4 Kabupaten, diantaranya: Pandeglang,
Lebak, Tangerang, serang dengan prosentase luas wilayah provinsi
berturut-turut sebesar 28,43%, 35,46%, 10,47% dan 17,95%. Sedangkan
4 kota diantaranya: Tangerang, Cilegon, Serang dan Tangerang Selatan
dengan prosentase luas wilayah provinsi berturut-turut sebesar 1,59%,
1,82%, 2,76% dan 1,52%.
Wilayah Banten pada umumnya merupakan dataran rendah dengan
ketinggian antara 0 – 200 m dpl yang terletak di daerah Kota Cilegon,
Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan,
Kabupaten Pandeglang dan sebagian besar wilayah Kabupaten Serang.
Adapun daerah Lebak Tengah, Sebagian kecil Kabupaten Serang dan
Kabupaten Pandeglang memiliki ketinggian berkisar 201 – 2000 m dpl.
Sedangkan daerah Lebak Timur memiliki ketinggian 501 – 2000 m dpl
yang terdapat di Puncak Gunung Sanggabuana dan Gunung Halimun.
•
Topografi
Secara garis besar, Provinsi Banten memiliki topografi dataran yang
berbukit-bukit sampai dataran. Klasifikasi kemiringan lahan di
Provinsi Banten dapat dikemukakan sebagai berikut:
• Wilayah dengan kemiringan antara 0 - 8 % meliputi
luasan 477.200,52 Ha.
• Wilayah dengan kemiringan antara 8 % - 15 % meliputi
luasan 257.754,72 Ha
• Wilayah dengan kemiringan 15 % - 25 % meliputi luasan
84.584,66 Ha
• Wilayah dengan kemiringan 25 % - 40 % mencapai
42.784,30 Ha, dan
• Wilayah dengan kemiringan di atas 40 % mencapai
2.795,80 Ha
Berdasarkan kelas kelerengan wilayah Provinsi Banten maka dapat
dikemukakan bahwa sebagian besar 94,73 % luas wilayah daratan
Provinsi Banten dapat dikembangkan untuk kawasan budi daya.
Lahan dengan kemiringan 0 – 8 % dapat dikembangkan untuk
kawasan permukiman dan pertanian, lahan dengan kemiringan
LAPORAN FAKTA ANALISA
29
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
8 % - 15 % untuk lahan pertanian, dan lahan dengan kemiringan
15 % - 25 % untuk perkebunan. Sedangkan lahan dengan kemiringan
di atas 25 % seluas 45.580,10 Ha untuk kawasan lindung dan
hutan.
•
PENGGUNAAN LAHAN
Propinsi Banten mempunyai kondisi topografinya sangat bervariasi.
Hal ini menyebabkan lahan yang tersedia tidak seluruhnya dapat
dibudidayakan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,
karena harus terdapat kawasan lindung yang harus dijaga dan
dilestarikan keberadaannya untuk menjaga keseimbangan
lingkungan dan mencegah berulangnya kerusakan lingkungan,
khususnya tanah longsor dan banjir akibat berkurangnya tutupan
lahan (Lihat Tabel 4.1).
Tabel 4.1. Penggunaan Lahan Eksisting Provinsi Banten Tahun 2011
No
A
A1
1
2
3
4
5
A2
1
2
3
4
5
6
7
8
9
B
1
2
3
4
Kawasan Lindung
Kawasan Lindung Nasional
CA Rawa Danau
CA Gunung Tukung Gede
TWA Pulang Sangiang
TN Ujung Kulon (TNUK)
TN Gunung Halimun-Salak
Kawasan Lindung Provinsi
CA Pulau Dua
TWA Carita
Hutan Lindung
Sempadan Danau/Situ
Sempadan Pantai
Kawasan rawan bencana alam
Kawasan lindung sekitar sumber mata air
Kawasan konservasi cagar budaya
Kawasan sempadan sungai
Kawasan Budidaya
Kawasan peruntukan hutan produksi
Kawasan peruntukan pertanian
Kawasan peruntukan perkebunan
Kawasan industri, pariwisata, dan permukiman
Total
Sumber : RTRW Propinsi Banten 2011
30
Eksisting
Uraian
LAPORAN FAKTA ANALISA
(ha)
%
2500
1700
528.15
78619
42925.15
0.29
0.2
0.06
9.09
4.96
30
95
9471.39
3798.09
5174.2
44785.03
787.43
5136.58
7876.79
0.003
0.011
1.09
0.44
0.6
5.18
0.09
0.59
0.91
72292.58
197845.11
291025.73
100529.78
865120.01
8.36
22.87
33.64
11.62
100.00
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
•
Kawasan Lindung
Kawasan lindung di propinsi Banten terdiri dari: kawasan lindung
nasional dan kawasan lindung provinsi. Luas kawasan lindung
mencapai 203.426,80 Ha atau 23,51 % dari luas wilayah Provinsi
Banten, dengan rincian berikut.
1.
Kawasan Lindung Nasional
- CA Rawa Danau
- CA Gunung Tukung Gede
- TWA Pulang Sangiang
- TN Ujung Kulon (TNUK)
- TN Gunung Halimun-Salak
2.
Kawasan Lindung Provinsi
- CA Pulau Dua
= 30,00 Ha ( 0,003 % )
- TWA Carita
= 95,00 Ha ( 0,011 % )
- Hutan Lindung
= 9.471,39 Ha ( 1,09 % )
- Sempadan Danau/Situ
= 3.798,09 Ha ( 0,44 % )
- Sempadan Pantai
= 5.174,2 Ha ( 0,60 % )
- Kawasan rawan bencana alam = 44.785,03 Ha (5,18 %)
- Kawasan lindung sekitar sumber mata air = 787,43 Ha (0,09 %)
- Kawasan konservasi cagar budaya = 5.136,58 Ha ( 0,59 % )
- Kawasan sempadan sungai = 7.876,79 Ha ( 0,91 % )
•
= 2.500,00 Ha = 1.700,00 Ha = 528,15 Ha = 78.619,00 Ha
= 42.925,15 Ha
( 0,29 % )
( 0,20 % )
( 0,06 % )
( 9,09 % )
( 4,96 % )
Kawasan Budidaya
Kawasan budidaya yang ada di Provinsi Banten seluas
661.693,20 Ha (76,49 %), dengan rincian sebagai berikut:
- Kawasan peruntukan hutan produksi = 72.292,58 Ha ( 8,36 % )
- Kawasan peruntukan pertanian = 197.845,11 Ha ( 22,87 % )
- Kawasan peruntukan perkebunan = 291.025,73 Ha ( 33,64 % )
- Kawasan industri, pariwisata, dan permukiman = 100.529,78 Ha ( 11,62 % )
•
Kawasan Hutan Produksi
Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi
pokok memproduksi hasil hutan. Kawasan ini merupakan kawasan
hutan yang diperuntukkan guna produksi hasil hutan untuk
memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya
LAPORAN FAKTA ANALISA
31
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
pembangunan, mendukung pengembangan industri dan ekspor.
Kawasan hutan produksi meskipun merupakan kawasan budidaya
tetapi juga memiliki fungsi perlindungan sebagai daerah resapan
air. Kawasan ini tidak boleh dialihfungsikan untuk kegiatan lain,
dan harus dikendalikan secara ketat. Hutan produksi terdiri dari
Hutan Produksi Tetap (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT), dan
Hutan Produksi yang dapat dikonversi. Di Banten, hutan produksi
diarahkan pada Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan
Kabupaten Lebak dengan luas lahan 8,36% dari luas Provinsi
Banten. Produksi kehutanan diantaranya adalah kayu jati yang
mempunyai nilai jual yang sangat tinggi.
•
Kawasan Pertanian
Propinsi Banten memiliki luas kawasan pertanian sebesar
197.845,11 ha atau sebesar 22,87 % dari total luas provinsi dengan
14 Daerah Irigasi. Produk pertanian Provinsi Banten ada berbagai
macam yaitu: padi, palawija, tanaman sayur-sayuran, buah-buahan,
tanaman biofarmaka. Banten merupakan produsen padi terbesar
nomor sebelas di Indonesia, padi menjadi tanaman yang ditanam
di seluruh kabupaten dan Kota di Banten. Selain padi, Provinsi
Banten juga memiliki komoditas tanaman unggulan lain, diantaranya
adalah tanaman anggrek dengan tingkat produksi tertinggi ketiga
di Indonesia. Sentra produksi tanaman anggrek terdapat di Kota
Tangerang Selatan dan menjadi salah satu obyek wisata di Banten.
Luas kawasan pertanian banyak tersebar merata di setiap wilayah
kabupaten/kota, maka pada wilayah dengan penghasil komoditi
potensial harus dikembangkan.
• Kawasan Perikanan
Perikanan di Provinsi Banten dibedakan menjadi dua yaitu,
perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Perikanan tangkap
diklasifikasikan atas penangkapan ikan di laut dan di perairan
umum. Sedangkan perikanan budidaya diklasifikasikan atas
budidaya laut, tambak, kolam, karamba, jaring apung dan sawah.
Jumlah produksi perikanan budidaya laut tahun 2011 adalah 20667
ton dengan luas areal budidaya sebesar 489 ha.
32
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
•
Kependudukan
Jumlah penduduk Provinsi Banten pada tahun 2011 adalah
11.005.518 jiwa. Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk
terbanyak adalah Kabupaten Tangerang, sedang kota dengan
jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Tangerang. Laju
pertumbuhan penduduk adalah 2,23% tahun (2010-2011). Berikut
adalah komposisi Penduduk di wilayah Provinsi Banten Tahun
(2010-2011).
Tabel 4.2 Komposisi Penduduk Provinsi Banten Tahun 2010-2011
Kabupaten/Kota
Laki-laki
Kabupaten
Pandeglang
Lebak
Tangerang
Serang
Kota
Tangerang
Cilegon
Serang
Tangerang Selatan
Total
2010
Perempuan
Jumlah
Laki-laki
2011
Perempuan
Jumlah
589056
619052
1454956
713694
560554
585043
1379420
689124
1149610
1204095
2834376
1402818
599,506
630,629
1,516,873
728,265
572673
630629
1516873
728265
1172179
1228884
2960474
1434137
921043
191879
297187
652281
5439148
877558 1798601
182680
374559
280598
577785
638041 1290322
5193018 10632166
955,722
197,230
307,226
684,155
5619606
955722
197230
307226
684155
5592773
1869791
385720
598407
1355926
11005518
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten
•
Kesehatan Banten
Untuk mengetahui gambaran derajat kesehatan masyarakat dapat
diukur dari indikator-indikator yang digunakan antara lain angka
kematian, Umur Harapan Hidup, angka kesakitan serta status gizi.
Indikator tersebut dapat diperoleh melalui laporan dari fasilitas
kesehatan (fasility based) dan data yang dikumpulkan dari
masyarakat (community based).
MORTALITAS (Angka Kematian)
Kejadian kematian dalam masyarakat seringkali digunakan sebagai
indikator dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan program
pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya
dapat dihitung dengan melakukan berbagai survei dan penelitian.
LAPORAN FAKTA ANALISA
33
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
1. Angka kematian bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR)
merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan
derajat kesehatan masyarakat, sehingga program-program
kesehatan banyak yang menitikberatkan pada upaya penurunan
AKB, dimana AKB merujuk pada jumlah bayi yang meninggal antara
fase kelahiran hingga bayi umur < 1 tahun per 1.000 kelahiran
hidup. Angka kematian bayi (AKB)pada periode yang sama menurun
drastis menjadi 34 kematian per 1000 kelahiran penduduk.
Akibatnya, angka harapan hidup (AHH) meningkat hingga mencapai
64,90 tahun pada tahun 2010.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Masa subur seorang wanita memiliki peran penting bagi terjadinya
kehamilan sehingga peluang wanita melahirkan menjadi cukup
tinggi, menurut hasil penelitian bahwa usia subur wanita antara
usia 15-49 tahun. Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran,
maka wanita atau pasangan usia subur (PUS) diprioritaskan untuk
menggunakan KB. Pada tahun 2011 jenis metode kontrasepsi yang
paling banyak diminati adalah Metode Jangka Panjang (MJP) Suntik
Injection. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Jumlah Akseptor Keluarga Berencana Menurut Kabupaten dan Kota
dan Alat atau Cara Kontrasepsi yang Digunakan di Provinsi Banten, 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten
•
Pengairan Provinsi Banten
Terdapat 3 wilayah Sungai yang mengaliri di wilayah Adminsitrasi
Propinsi Banten, yaitu :
34
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
1.
2.
3.
Wilayah Sungai Ciliman - Cibungur
Wilayah Sungai Cibaliung - Cisawarna
Wilayah Sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian – Cisadane –
Ciliwung – Citarum (Lintas Povinsi)
Gambar 4.2. Pembagian Wilayah Sungai Provinsi Banten
Di dalam pengolahannya di masing-masing wilayah kerja, maka sangat
banyak sekali Rencana Pengembangan Sumber Daya Air di Propinsi
Banten yang akan dikembangkan guna melayani kebutuhan layanan air
yang semakin meningkat, seperti :
LAPORAN FAKTA ANALISA
35
Selatan
36
LAPORAN FAKTA ANALISA
Tabel 4.4. Beberapa Contoh Rencana Pengembangan SDA Propinsi Banten
IV-16
Tabel 4.4. Beberapa Contoh Rencana Pengembangan SDA Propinsi Banten
Pembahasan Provinsi Banten dan Provinsi Sulawesi
Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air Bersih
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
4.4. Gambaran Umum Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di Makassar terletak antara
o
0 12’ - 8o Lintang Selatan dan 116o 48’ – 122o 36’ Bujur Timur, yang berbatasan
dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah Utara dan Teluk Bone serta
Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah Timur. Batas sebelah Barat dan Timur
masing-masing adalah Selat Makassar dan Laut Flores. Luas wilayah Provinsi
Sulawesi Selatan tercatat 45 764,53 km persegi yang meliputi 21 Kabupaten
dan 3 Kota. Kabupaten Luwu Utara kabupaten terluas dengan luas 7 502,68
km persegi atau luas kabupaten tersebut merupakan 16,46 persen dari
seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.
Kota Makassar dan pada umumnya daerah di Indonesia mempunyai
dua musim yaitu musim kemarau yang terjadi pada bulan Juni sampai
September dan musim penghujan yang terjadi pada bulan Desember sampai
dengan Maret. Berdasarkan pengamatan di tiga Stasiun Klimatologi (Maros,
Hasanuddin dan Maritim Paotere) selama tahun 2009 rata-rata suhu udara
27,3 oC di Kota Makassar dan sekitarnya tidak menunjukkan perbedaan
yang nyata. Suhu udara maksimum di stasiun klimatologi Hasanuddin 33,1
0
C dan suhu minimum 23,2 0C .
Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Selatan tercatat sekitar
67 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di Kabupaten Luwu, yakni
25 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada satu sungai yakni Sungai
Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tator, Enrekang dan, Pinrang.
Panjang sungai tersebut masing-masing 150 km. Di Sulawesi Selatan terdapat
empat danau yakni Danau Tempe dan Sidenreng yang berada di Kabupaten
Wajo, serta danau Matana dan Towuti yang berlokasi di Kabupaten Luwu
Timur. Adapun jumlah gunung tercatat sebanyak 7 gunung, dengan gunung
tertinggi adalah Gunung Rantemario dengan ketinggian 3.470 m diatas
permukaan air laut. Gunung ini berdiri tegak di perbatasan Kabupaten
Enrekang dan Luwu. Luas Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan adalah 45.764,53
Km², secara Administrasi Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan terbagi
menjadi 21 Kabupaten dan 3 Kota, yang terdiri dari 304 Kecamatan. Tabel
4.5. dan Tabel 4.6
LAPORAN FAKTA ANALISA
37
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar 4.3. Batas Administrative Provinsi Sulawesi Selatan
Tabel 4.5. Nama Kabupaten dan Kota, Luas wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan
38
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
4.4.1. Kependudukan dan Ketenagakerjan Provinsi Sulawesi Selatan
Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan DAU Tahun 2011
berjumlah 8.115.638 jiwa yang tersebar di 24 kabupaten/kota, dengan
jumlah penduduk terbesar yakni 1.352.136 mendiami Kota Makassar.
Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang berjenis kelamin
perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin Lakilaki,
hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari
100. Hanya di daerah Kabupaten Enrekang, Tator, Luwu Utara, Luwu
Timur, dan Toraja Utara yang menunjukkan angka rasio jenis kelamin
lebih besar dari 100, yang berarti penduduk Laki-laki di dua daerah
tersebut lebih besar dari jumlah penduduk perempuan. Gambar 4.4
adalah data jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Selatan dari tahun
2017 hingga 2011.
Gambar 4.4. Jumlah Penduduk Sulawesi Selatan tahun 2007 – 2011
Sedangkan laju pertumbuhan penduduk pertahun dari tahun 1990
hingga 2010 dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut ini.
LAPORAN FAKTA ANALISA
39
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 4.6. Jumlah Penduduk dan laju Pertumbuhan Penduduk
Provinsi Sulawesi Selatan
40
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 4.7. Proyeksi Penduduk menurut kabupaten dan kota
4.4.2. Kondisi Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan
a. Tanaman Pangan
Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil tanaman pangan
terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Predikat sebagai lumbung padi
nasional mengukuhkan posisi Provinsi Sulawesi Selatan sebagai
produsen tanaman pangan yang cukup potensial. Selain padi sebagai
komoditas tanaman pangan andalan, tanaman pangan lainnya yang
dihasilkan Provinsi Sulawesi Selatan adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar
dan kacang-kacangan. Produksi padi Provinsi Sulawesi Selatan tahun
2011 sebesar 4.511.707 ton yang dipanen dari areal seluas 889.232
hektar atau rata-rata 5,07 ton per hektar yang berarti naik sekitar 2,95
persen dibandingkan dengan tahun 2010, yang menghasilkan 4 382.442
ton padi dengan luas panen 886 354 hektar dengan rata-rata produksi
LAPORAN FAKTA ANALISA
41
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
4,94 ton per hektar. Sebagian besar produksi padi di Sulawesi Selatan
dihasilkan oleh jenis padi sawah. Jenis padi ini menyumbang 99,27
persen dari seluruh produksi padi atau sebesar 4,478,915 ton.
Sedangkan sisanya dihasilkan oleh padi ladang. Produksi jagung
Sulawesi Selatan pada tahun 2011 sebesar 1.420.154 ton dengan luas
panen 297.126 ha atau menghasilkan rata-rata 4,78 ton per ha.
b. Tanaman Perkebunan
Hasil tanaman perkebunan yang cukup dominan di Sulawesi Selatan
pada tahun 2011 adalah tanaman Kakao dan Kelapa yang masingmasing
berproduksi sebesar 196,695 ton dan 82.045 ton. Sebagian besar hasil
perkebunan tersebut dihasilkan oleh perkebunan rakyat dan dapat
dikatakan peran perkebunan besar swasta relative sangat kecil. Data
rinci menyangkut produksi dan luas panen berbagai komoditas
perkebunan untuk setiap kabupaten dan kota dapat dilihat pada
Tabel 4.9.
c.
Peranan sub sektor peternakan dalam bidang pertanian cukup besar
menempati posisi kedua terbesar setelah tanaman bahan makanan.
Salah satu tujuan di sub sektor ini adalah meningkatkan populasi dan
produksi ternak dalam usaha memperbaiki gizi masyarakat. Hal yang
pokok tentu saja adalah untuk menghasilkan pendapatan peternak
terutama yang berdomisili di pedesaan. Jenis ternak yang diusahakan
di Sulawesi Selatan berupa ternak besar, kecil dan unggas. Pada tahun
2011 jumlah ternak sapi sebesar 850.893 ekor, kerbau 130.097 ekor,
kuda 133.430 ekor, kambing 477.068 ekor, domba 468 ekor dan babi
608.335 ekor.
d.
42
Peternakan
Perikanan
Di Sulawesi Selatan prospek perikanan tiap tahunnya hamper
memperlihatkan angka yang cukup menjanjikan. Pada tahun 2011,
total produksi ikan hasil penangkapan dan budidaya sebesar 2.036.254
ton.
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 4.8. Luas Sawah menurut Kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Selatan
Tabel 4.9. Luas Kebun menurut Kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
43
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 4.10. Jumlah Ternak menurut Kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Selatan
Tabel 4.11. Produksi Perikanan menurut Kabupaten dan kota Provisi Selatan
44
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
BAB V
KEBUTUHAN AIR, POTENSI AIR DAN
STATUS MUTU AIR PROPINSI BANTEN DAN
Pada bab ini adalah memaparkan hasil pendekatan jumlah kebutuhan air
bersih dari masing-masing wilayah Adminstrasi Kabupaten dan Kota Provinsi
Banten dan Provinsi Sulawesi Selatan, berdasarkan masing-masing sektor yaitu :
1. Kependudukan (sektor domestik)
2.
3.
4.
5.
Pertanian
Kolam, Tambak dan Sawah
Peternakan
Industri
Sehingga didapatkan nilai total kebutuhan air bersih di masing-masing wilayah
Administrasi Kabupaten Kota Propinsi Banten.
5.1. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kependudukan (Domestik) :
Berdasarkan data dan hasil analisa jumlah penduduk di Provinsi Banten pada
Bab 4 maka berikut ini berdasarkan SNI besar kebutuhan air yaitu 150 lt per
hari untuk Kota Besar, besar kebutuhan air bersih masing-masing Kabupaten
dan Kota adalah sebagai berikut :
LAPORAN FAKTA ANALISA
45
46
Tabel 5.1. Kebutuhan air Sektor Domestik Provinsi Banten
Gambar 5.2.
LAPORAN FAKTA ANALISA
Sumber:
Sumber:Hasil
HasilPerhitungan
Perhitungan
Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-2
Tabel 5.1. Kebutuhan air Sektor Domestik Provinsi Banten
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
4.0
5.0
6.0
4.0
6.0
7.0
7.0
Kebutuhan Air Domestik 2009
Selatan
Kebutuhan Air m³/detik
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Kebutuhan Air m³/detik
0.0
0.0
1.0
5.0
6.0
1.0
2.0
3.0
2.0
3.0
5.0
Kebutuhan Air Domestik 2011
LAPORAN FAKTA ANALISA
Gambar 5.1. Kebutuhan Air Bersih Sektor Domestik
Tahun 2008-2011
LAPORProvinsi
AN FAKTA ABanten
NALISA V-3
Gambar 5.1. Kebutuhan Air Bersih Sektor Domestik Provinsi Banten Tahun 2008-2011
0.0
1.0
2.0
3.0
4.0
Kebutuhan Air m³/detik
Kebutuhan Air Domestik 2008
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
47
KajianKajian
Dampak
Laju Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air Dan Kelangkaan
Air
Dampak
Laju Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air Dan Kelangkaan
Air BersihProvinsi
Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan Sulawesi
Selatan
Bersih Pembahasan
Banten
Dan ProvinsI
Sulawesi
Selatan
Kebutuhan Air Domestik 2012
6.0
Kebutuhan Air m³/detik
5.0
4.0
3.0
2.0
1.0
0.0
Gambar
5.2. Kebutuhan
Air BersihSektor
Sektor Domestik
Provinsi
BantenBanten
Tahun 2012
Gambar 5.2.
Kebutuhan
Air Bersih
Domestik
Provinsi
Tahun 2012
5.2.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Pertanian
5.2. Kebutuhan
Air Bersih Sektor Pertanian
Penggunaan air untuk irigasi padi diperhitungkan berdasar luas sawah irigasi teknis, semi
teknis dan air
sederhana
terdapat
D.P.S. yang bersangkutan.
Penggunaan
untukyang
irigasi
padidalam
diperhitungkan
berdasarStandar
luas kebutuhan
sawah irigasi
air rata-rata
digunakan
berikut : yang terdapat dalam D.P.S. yang
teknis,
semi yang
teknis
dansebagai
sederhana
a. Irigasi teknis Standar
1.2 L/det/hakebutuhan air rata-rata yang digunakan sebagai
bersangkutan.
b. Irigasi
berikut
: semi teknis 1.2 L/det/ha
a.
air untuk irigasi yang dipergunakan
b. Penggunaan
Irigasi semi
teknis 1.2 L/det/ha
c. Irigasi sederhana 1.2 L/det/ha
Penggunaan
A = L x I t x aair untuk irigasi yang dipergunakan dalam waktu satu tahun
sehingga
lama tanaman dan prosentase (%) intensitas tanaman
Dimanapengaruh
:
harusA =diperhitungkan.
Pengunaan air irigasi dalam
Rumusan perhitungan penggunaan air untuk padi per tahun sebagai berikut:
A = Lax= IStandar
t x a penggunaan air ( 1 L/det/ha )
Dimana
atau :A = 0,001 m/de/ha x 3600 x 24 x 120 hari / musim
Maka berikut ini
hasil perhitungan besar kebutuhan air bersih untuk kegiatan
A = Pengunaan
airmerupakan
irigasi dalam
Pertanian
Di Propinsi
L = Luas
daerah
irigasiBanten
( Ha: )
It = Intensitas tanaman dalam prosen (%) musim/ tahun
a = Standar penggunaan air ( 1 L/det/ha )
atau A = 0,001 m/de/ha x 3600 x 24 x 120 hari / musim
Maka berikut ini merupakan hasil perhitungan besar kebutuhan air bersih
untuk kegiatan Pertanian Di Propinsi Banten :
c.Irigasi
Irigasi sederhana
1.2 L/det/ha
L/det/ha
teknis 1.2
dalam waktu satu tahun sehingga
pengaruh lama tanaman dan prosentase (%) intensitas tanaman harus diperhitungkan.
Rumusan perhitungan penggunaan air untuk padi per tahun sebagai berikut :
L = Luas daerah irigasi ( Ha )
It = Intensitas tanaman dalam prosen (%) musim/ tahun
48
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-4
Tabel 5.2. Kebutuhan air Sektor Pertanian Provinsi Banten
Sumber:
Sumber:Hasil
Hasil Perhitungan
Perhitungan
Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-5
Tabel 5.2. Kebutuhan air Sektor Pertanian Provinsi Banten
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
49
LAPORAN FAKTA ANALISA
120.0
140.0
0.0
20.0
40.0
60.0
80.0
100.0
120.0
Kebutuhan Air m³/detik
0.0
20.0
40.0
60.0
80.0
100.0
Kebutuhan Air m³/detik
50
180.0
160.0
140.0
120.0
100.0
80.0
60.0
40.0
20.0
0.0
160.0
140.0
120.0
100.0
80.0
60.0
40.0
20.0
0.0
Kebutuhan Air Pertanian 2010
Kebutuhan Air Pertanian 2008
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-6
Gambar 5.3. Kebutuhan
Bersih Sektor
Pertanian
Provinsi Provinsi
BantenBanten
TahunTahun
20072007
- 2010
Gambar 5.3.AirKebutuhan
Air Bersih
Sektor Pertanian
- 2010
Kebutuhan Air Pertanian 2009
Kebutuhan Air Pertanian 2007
Selatan
Kebutuhan Air m³/detik
Kebutuhan Air m³/detik
140.0
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Kajian
Dampak
Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
AirKelangkaan
Dan Kelangkaan
Kajian
Dampak
LajuLaju
Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air Dan
Air
Air
Bersih
Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan
Sulawesi
Selatan
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
Kebutuhan Air Pertanian 2011
Kebutuhan Air m³/detik
160.0
140.0
120.0
100.0
80.0
60.0
40.0
20.0
0.0
Gambar 5.4. Kebutuhan Air Bersih Sektor Pertanian Provinsi Banten Tahun 2011
Gambar 5.4.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Pertanian Provinsi Banten Tahun 2011
5.3.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan
5.3. Kebutuhan
Air
Sektor Peternakan
Kebutuhan
air Bersih
:
Q(L) = 365 x {q(c/b)xP(c/b)+ q(s/g)xP(s/g)+ q(pi)xP(pi)+ q(po)xP(po)}
Kebutuhan air :
Kebutuhan air untuk ternak
(m³/tahun) q(pi)xP(pi)+ q(po)xP(po)}
Q(L) Q(L)
= 365 x= {q(c/b)xP(c/b)+
q(s/g)xP(s/g)+
dimana
:
q(s/g)
Q(L) q(pi)
q(c/b) q(s/g)P(s/g)
==Kebutuhan
air untuk Domba/Kambing (liter/ekor/hari)
Jumlah domba/kambing
Jumlah babi air untuk babi (liter/ekor/hari)
q(pi)P(pi)
==Kebutuhan
Jumlah unggas
q(po)P(po)
==Kebutuhan
air untuk unggas (liter/ekor/hari)
P(c/b) = Jumlah sapi/kerbau
P(s/g) = Jumlah
domba/kambing
1
Sapi/Kerbau
40
P(pi) 2
Domba/Kambing
= Jumlah
babi
5
P(po) = Jumlah unggas
dimana :
q(c/b)
q(po)
P(c/b)
= Kebutuhan air untuk sapi/kerbau (liter/ekor/hari)
= Kebutuhan air untuk Domba/Kambing (liter/ekor/hari)
Kebutuhan air air
untuk
babi (liter/ekor/hari)
==Kebutuhan
untuk
ternak (m³/tahun)
= Kebutuhan air untuk unggas (liter/ekor/hari)
= Kebutuhan air untuk sapi/kerbau (liter/ekor/hari)
= Jumlah sapi/kerbau
Tabel 5.3. Kebutuhan air berdasarkan jenis ternak Provinsi Banten
No. Ternak
3
Babi
4
Unggas
Kebutuhan air (liter)
6
0,6
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
51
V-7
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 5.3. Kebutuhan air berdasarkan jenis ternak Provinsi Banten
No.
1
2
3
4
Ternak
Sapi/Kerbau
Domba/Kambing
Babi
Unggas
Kebutuhan air (liter)
40
5
6
0,6
Dimana data peternakan di Wilayah Propinsi Banten di bagi menjadi
Golongan yaitu :
1. Ternak Besar
2. Ternak Kecil
3. Dan Ternak Unggas dan Aneka
Berikut ini adalah perhitungan masing masing jumlah kebutuhan air untuk
kegiatan peternakan tersebut di atas diwilayah Provinsi Banten :
52
LAPORAN FAKTA ANALISA
Sumber: Hasil Perhitungan
Tabel 5.4. Kebutuhan air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Besar
Sumber: Hasil Perhitungan
Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-9
Tabel 5.4. Kebutuhan air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Besar
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
53
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak
Laju Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air Dan
Air
Kajian Dampak
Laju Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air Kelangkaan
Dan Kelangkaan
Bersih
Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan ProvinsI
Sulawesi
Selatan
Kajian
Dampak
Laju
Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air
Dan
Kelangkaan
Air
Bersih
Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan
Sulawesi
Selatan
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan Air
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Selatan
Gambar 5.5. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar 5.5. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar 5.5. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar 5.5. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar
5.6.Kebutuhan
Kebutuhan
BersihSektor
Sektor Peternakan Besar
2008
Gambar
5.6.
AirAir
Bersih
Besar Provinsi
ProvinsiBanten
BantenTahun
Tahun
2008
Gambar
5.6. Kebutuhan
Air
Bersih SektorPeternakan
Peternakan Besar
Provinsi
Banten
Tahun
2008
Gambar 5.6. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2008
Gambar 5.7. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2009
Gambar 5.7. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2009
Gambar
5.7. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2009
Gambar 5.7. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2009
54
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-10
V-10
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-10
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Selatan
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar
5.8.
AirAirBersih
Besar Provinsi
ProvinsiBanten
Banten
Tahun
2011
Gambar
5.8.Kebutuhan
Kebutuhan
BersihSektor
SektorPeternakan
Peternakan Besar
Tahun
2011
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
55
V-11
Selatan
56
LAPORAN FAKTA ANALISA
Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Tabel 5.5. Kebutuhan air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Kecil
V-12
Tabel 5.5. Kebutuhan air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Kecil
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Bersih
Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan ProvinsI
Sulawesi
Kajian Dampak
Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air Dan Selatan
Kelangkaan
AirLaju
Bersih
Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan Sulawesi
Selatan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
Gambar 5.9.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Kecil Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar
5.9. Kebutuhan
Air Bersih Sektor Peternakan Besar Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar 5.9.
Gambar 5.9.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Kecil Provinsi Banten Tahun 2007
Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Kecil Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar 5.10.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Kecil Provinsi Banten Tahun 2008
Gambar5.10.
5.10.Kebutuhan
Kebutuhan
BersihSektor
SektorPeternakan
Peternakan Kecil
Kecil Provinsi
Gambar
AirAirBersih
ProvinsiBanten
BantenTahun
Tahun2008
2008
Gambar 5.10.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Kecil Provinsi Banten Tahun 2008
Gambar 5.11.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Kecil Provinsi Banten Tahun 2009
Gambar5.11.
5.11.Kebutuhan
Kebutuhan
BersihSektor
SektorPeternakan
Peternakan Kecil Provinsi
Gambar
AirAirBersih
ProvinsiBanten
BantenTahun
Tahun2009
2009
Gambar 5.11.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Kecil Provinsi Banten Tahun 2009
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-14
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-14
LAPORAN FAKTA
LAPORAANALISA
N FAKTA ANA57
LISA V-14
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Bersih Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan ProvinsI
Selatan
Air Bersih
Pembahasan
Provinsi
BantenSulawesi
Dan Sulawesi
Selatan
Gambar5.12.
5.12.Kebutuhan
Kebutuhan
BersihSektor
SektorPeternakan
Peternakan Kecil Provinsi
Gambar
AirAirBersih
ProvinsiBanten
BantenTahun
Tahun2011
2011
LAPORAN FAKTA ANALISA
58
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-15
Selatan
Sumber: Hasil
Perhitungan
Sumber:
Hasil Perhitungan
LAPORAN FAKTA ANALISA
Tabel 5.6. Kebutuhan air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Unggas/Aneka
V-16
Tabel 5.6. Kebutuhan air Sektor Peternakan Kelas Peternakan Unggas/Aneka
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
59
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Bersih Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan ProvinsI
Sulawesi
Selatan
Kajian
Dampak
Laju Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
AirKelangkaan
Dan Kelangkaan
Kajian Dampak
Laju Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air Dan
Air
Kajian Dampak
Kependudukan
Terhadap Banten
Pencemaran
Air Dan Kelangkaan
AirLaju
Bersih
Pembahasan Provinsi
Dan Sulawesi
Selatan Air
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
Gambar
5.13. Kebutuhan
Air Bersih
Unggas Provinsi
2007
Gambar
5.13. Kebutuhan
AirSektor
BersihPeternakan
Sektor Peternakan
UnggasBanten
ProvinsiTahun
Banten
Tahun 2007
Gambar 5.13. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar 5.13. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2007
Gambar 5.14. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2008
Gambar 5.14. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2008
Gambar 5.14. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2008
Gambar 5.14. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2008
Gambar 5.15. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2009
Gambar5.15.
5.15.Kebutuhan
Kebutuhan Air
Air Bersih
Bersih Sektor Peternakan
2009
Gambar
PeternakanUnggas
UnggasProvinsi
ProvinsiBanten
BantenTahun
Tahun
2009
Gambar 5.15. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2009
LAPORAN FAKTA ANALISA
60
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-17
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-17
V-17
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Selatan
Gambar
5.16. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2011
Gambar 5.16. Kebutuhan Air Bersih Sektor Peternakan Unggas Provinsi Banten Tahun 2011
5.4. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam dan Tambak
5.4.
Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam dan Tambak
Penggunaan
air untuk
untukperikanan
perikanan
diperhitungkan
Penggunaan air
diperhitungkan
hanya hanya
untuk untuk
tambak.tambak.
Tambak
Tambak
memerlukan
salinitas
air
antara
15
sampai
dengan
25
ppt.
Salinitas
memerlukan salinitas air antara 15 sampai dengan 25 ppt. Salinitas air laut rata-rata
air laut rata-rata berkisar 35 ppt, untuk itu diperlukan pengenceran dengan
berkisar 35 ppt, untuk itu diperlukan pengenceran dengan menggunakan air tawar.
menggunakan air tawar.
Perhitungan air tawar untuk tambak berdasarkan tambak intensif, setengah intensif dan
Perhitungan
air tawar
untuk tambak
tambak
tambak sederhana
yang terdapat
pada DASberdasarkan
atau WS sebagai
berikut.intensif, setengah
intensif
dan tambak
sederhana
pada DAS atau WS sebagai
Standar kebutuhan
air tawar
rata-rata yang
adalahterdapat
:
berikut.
a. Tambak sederhana 0,8 L/det/ha
b. Tambak
semi intensifair
3,9tawar
L/det/ha
Standar
kebutuhan
rata-rata adalah :
c.
Tambak
intensif
5,9
L/det/ha
a. Tambak sederhana 0,8 L/det/ha
air diperhitungkan
1 tahun terdiri atas 2 musim.
b.Penggunaan
Tambak semi
intensif 3,9dalam
L/det/ha
penggunaan
tawar
untuk tambak
c.Rumus
Tambak
intensifair
5,9
L/det/ha
Penggunaan air diperhitungkan dalam 1 tahun terdiri atas 2 musim.
Rumus
penggunaan
air tawar untuk tambak
A
= Penggunaan air tawar dalam L/det/ha
AL= L x I =x Luas
a tambak dalam ha
dimana:
A
= Penggunaan air tawar dalam L/det/ha
L
= Luas tambak dalam ha
I
= Intensitas pertambakan per tahun = ..... musim/ tahun
a
= Standar kebutuhan air L/det/ha
A=LxIxa
dimana:
I
a
a
a
= Intensitas pertambakan per tahun = ..... musim/ tahun
= Standar kebutuhan air L/det/ha
= 0,0050 m/det/ha x 3600 det/jam x 24 jam/hari x 150 hari/musim
= 0,0039 m/det/ha x 3600 det/jam x 24 jam/hari x 150 hari/musim
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
61
V-18
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
a
a
a
Asumsi konsumsi air untuk tambak 7 mm/hari
Kebutuhan air : Q(FP) = 365 x (g(t)/1000 ) xq(f)xA(FP)x1000
dimana :
Q(FP) adalah kebutuhan air untuk tambak (m³/tahun)
q(f) adalah kebutuhan air flushy (7 mm/tahun)
A(FP) adalah luas Tambak (ha)
Berikut ini adalah perhitungan air bersih untuk bersih untuk kolam dan
tambak
62
= 0,0050 m/det/ha x 3600 det/jam x 24 jam/hari x 150 hari/musim
= 0,0039 m/det/ha x 3600 det/jam x 24 jam/hari x 150 hari/musim
= 0,0008 m/det/ha x 3600 det/jam x 24 jam/hari x 150 hari/musim
LAPORAN FAKTA ANALISA
Sumber: Hasil Perhitungan
Tabel 5.7. Kebutuhan air Sektor Tambak
Tabel 5.7. Kebutuhan air Sektor Tambak
Berikut ini adalah perhitungan air bersih untuk bersih untuk kolam dan tambak
A(FP) adalah luas Tambak (ha)
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
63
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak
Laju Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Dan Kelangkaan
Kajian Dampak
Laju Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Air DanAir
Kelangkaan
Air
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Selatan
Gambar
5.17.
Kebutuhan Air
Air Bersih
Sektor
Tambak
Tahun Tahun
2007 2007
Gambar
5.17.
Kebutuhan
Bersih
Sektor
Tambak
Gambar 5.17. Kebutuhan Air Bersih Sektor Tambak Tahun 2007
Gambar 5.17. Kebutuhan Air Bersih Sektor Tambak Tahun 2007
Gambar 5.18. Kebutuhan Air Bersih Sektor Tambak Tahun 2008
Gambar
5.18.
Kebutuhan Air
Air Bersih
Sektor
Tambak
Tahun Tahun
2008 2008
Gambar
5.18.
Kebutuhan
Bersih
Sektor
Tambak
Gambar 5.18. Kebutuhan Air Bersih Sektor Tambak Tahun 2008
Gambar 5.19. Kebutuhan Air Bersih Sektor Tambak Tahun 2009
Gambar 5.19. Kebutuhan Air Bersih Sektor Tambak Tahun 2009
Gambar
5.19.
Kebutuhan Air
Air Bersih
Sektor
Tambak
Tahun Tahun
2009
LAPORAN2009
FAKTA ANALISA
Gambar
5.19.
Kebutuhan
Bersih
Sektor
Tambak
64
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-20
V-20
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-20
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Kajian Dampak
LajuBanten
Kependudukan
Pencemaran Air
Dan Kelangkaan
Bersih Pembahasan
Provinsi
Dan Terhadap
ProvinsI Sulawesi
Selatan
Bersih Pembahasan
Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar 5.20. Kebutuhan Air Bersih Sektor Tambak Tahun 2010
Gambar
5.20.
Kebutuhan Air
Sektor
Tambak
Tahun 2010
Gambar
5.20.
Kebutuhan
AirBersih
Bersih
Sektor
Tambak
Tahun 2010
Gambar
5.21.Kebutuhan
Kebutuhan Air
Sektor
Tambak
Tahun Tahun
2011
Gambar
5.21.
AirBersih
Bersih
Sektor
Tambak
Gambar
5.21. Kebutuhan Air
Bersih
Sektor
Tambak
Tahun 2011 2011
Tabel 5.8. Kebutuhan air Sektor Kolam
Tabel 5.8. Kebutuhan air Sektor Kolam
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
65
V-21
V-21
66
LAPORAN FAKTA ANALISA
Sumber: Hasil Perhitungan
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Selatan
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Tabel 5.8. Kebutuhan air Sektor Kolam
Tabel 5.8. Kebutuhan air Sektor Kolam
Gambar 5.21. Kebutuhan Air Bersih Sektor Tambak Tahun 2011
V-21
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Sumber: Hasil Perhitungan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Sumber: Hasil Perhitungan
Gambar
5.22.
KebutuhanAir
Air Bersih
Bersih Sektor
Tahun
20072007
Gambar
5.22.
Kebutuhan
SektorKolam
Kolam
Tahun
Gambar 5.22. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2007
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan Air
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi
Selatan
Gambar 5.23. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2008
Gambar
5.23. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2008
Gambar 5.23. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2008
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
Gambar
5.24.
Kebutuhan Air
Air Bersih
Kolam
Tahun
20092009
Gambar
5.24.
Kebutuhan
BersihSektor
Sektor
Kolam
Tahun
LAPORAN FAKTA ANALISA
67
V-22
V-22
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar 5.24. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2009
Gambar 5.24. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2009
Gambar 5.25. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2010
Gambar
5.25. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2010
Gambar 5.25. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2010
Gambar 5.26. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2011
Gambar
5.26. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2011
Gambar 5.26. Kebutuhan Air Bersih Sektor Kolam Tahun 2011
5.5. Potensi Sumber Daya Air Provinsi Banten
LAPORAN FAKTA ANALISA
V-23
LAPORAN FAMerak,
KTA ANALISA
Labuhan
V-23
Pada Provinsi Banten terdapat 3 wilayah sungai yakni WS
WS Ciujung dan WS Cisadeg-Cikuning, serta 1 WS lintas Provinsi dengan
Jawa Barat yaitu WS Cisadane. DAS Labuhan Merak ini meliputi Kota Cilegon
dan Kabupaten Padeglang. Ada 3 sungai yang mencakup dalam Das ini, yaitu
dari yang paling selatan Sungai Ciliman, Cibungur dan yang paling Utara
sungai Cidano. Ketiga sungai tersebut bermuara di selat sunda. Meskipun
potensi airnya tidak beitu tinggi, namun keberadaan ketiga sungai tersebut
sangat penting dalam mendukung ketersediaan air di daerah banten Barat.
Das Ciujung terdapat di Ibu Kota Provinsi Banten, Yakni Serang. Ada tiga
68
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
sungai yang tercakup di DAS ini yakni Cibanten, Ciujung dan Cidurian. Das
Cisadane-Cikuning terdapat di Provinsi Banten bagian Selatan. Diantara DAS
lainnya, DAS ini mempunyai wilayah yang paling luas. Ada tiga sungai yang
masuk dalam DAS ini, yaitu sungai Cisadea, Cibuni dan Cikaso. Selengkapnya
dapat di lihat pada Tabel 5.9
Tabel 5.9. Debit Sungai masing masing DAS di Provinsi Banten
Daerah aliran sungai (DAS)
Cisadane
Labuhan Merak
DAS Ciujung
Cisadeg-Cikuningan
Sungai
Cisadane
Cibungur
Cidano
Cibanten
Ciujung
Cidurian
Cisadea
Cibuni
Cikaso
Max
109.35
7.25
16.23
3.37
144.98
43.14
18.83
176.96
31.13
Debit (m3/dt)
Min
Rata-rata
59.81
88.86
1.03
2.87
4.36
8.66
1.17
2.05
29.55
78.04
9.49
24.06
12.48
15.55
36.61
112.98
5.13
15.38
Sumber : PSDA Provinsi Banten
Gambar 5.28. Debit Rerata Sungai Cibanten Kota Serang
Tabel 5.11.
LAPORAN FAKTA ANALISA
69
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 5.10. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kota Serang
Tabel 5.10. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kota Serang
KABUPATEN
:
Kota Serang
KODE POS DUGA AIR
114
NAMA POS DUGA AIR
CIBANTEN-KASEMEN
DAERAH ALIRAN SUNGAI
LOKASI GEOGRAFI
Cibaten
Ds. Kasemen, Kec. Kasemen, Kota Serang
WILAYAH SUNGAI
Cidanau-Ciujung-Cidurian
SUNGAI
CIBANTEN
DIBANGUN OLEH
BPSDA
TGL. DIBANGUN
35431
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
TAHUN
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
70
KET
JAN
FEB
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
AGS
SEP
OKT
NOV
DES
Jumlah
Hari Ukur
26.4
31
15.7
29
6.2
31
3.6
30
3.9
31
2.7
30
3.1
31
2.2
31
1.5
30
2.0
31
2.8
30
2.6
31
Rata-Rata
0.9
0.5
0.2
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.1
0.1
0.1
Maksimum
7.2
4.9
1.1
0.3
0.3
0.1
0.2
0.1
0.1
0.3
0.2
0.2
Minimum
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
0.1
Jumlah
Hari Ukur
5.8
31
20.7
28
6.7
31
3.6
30
3.1
31
2.2
30
3.9
31
2.4
31
3.7
30
4.0
31
3.4
30
1.9
31
Rata-Rata
0.2
0.7
0.2
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
Maksimum
1.1
7.7
0.5
0.2
0.2
0.1
0.7
0.2
0.4
0.6
0.3
0.2
Minimum
0.1
0.0
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.1
0.0
Jumlah
Hari Ukur
17.7
31
23.4
28
9.9
31
10.9
30
7.8
31
7.5
30
9.5
31
4.8
31
3.0
30
2.0
31
3.9
30
5.0
31
Rata-Rata
0.6
0.8
0.3
0.4
0.3
0.3
0.3
0.2
0.1
0.1
0.1
0.2
Maksimum
2.9
2.9
2.0
1.9
0.5
0.6
1.3
0.2
0.1
0.1
0.4
0.3
Minimum
0.2
0.3
0.2
0.2
0.2
0.2
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
Jumlah
Hari Ukur
5.4
31
3.3
28
2.3
31
1.7
30
1.8
31
1.6
30
1.6
31
1.4
31
1.2
30
2.4
31
1.8
30
35.7
31
Rata-Rata
0.2
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.1
0.1
1.2
Maksimum
0.5
0.5
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.3
0.2
0.1
7.1
Minimum
0.0
0.0
0.1
0.0
0.1
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
Jumlah
Hari Ukur
22.2
31
23.4
29
17.6
31
8.6
30
6.4
31
2.8
30
1.7
31
0.6
31
1.0
30
1.1
31
4.8
30
7.5
31
Rata-Rata
0.7
0.8
0.6
0.3
0.2
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
0.2
0.2
Maksimum
3.1
8.6
9.6
3.6
0.5
0.2
0.2
0.0
0.1
0.1
1.4
0.9
Minimum
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
Jumlah
Hari Ukur
20.3
31
4.9
28
6.9
31
5.6
30
3.2
31
4.3
30
4.7
31
2.1
31
1.5
30
8.6
31
3.0
30
4.6
31
Rata-Rata
0.7
0.2
0.2
0.2
0.1
0.1
0.2
0.1
0.0
0.3
0.1
0.1
Maksimum
3.4
0.7
2.1
1.1
0.6
1.0
1.1
0.1
0.1
0.5
0.5
0.5
Minimum
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
Jumlah
Hari Ukur
14.4
31
11.5
28
11.3
31
4.4
30
5.6
31
2.5
30
2.1
31
2.0
31
1.8
30
1.7
31
2.3
30
6.1
31
Rata-Rata
0.5
0.4
0.4
0.1
0.2
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.2
Maksimum
6.8
4.4
2.2
1.1
1.1
0.2
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
1.1
Minimum
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.1
0.1
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian
Dampak
Laju
Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
AirAir
Dan
Kelangkaan
Kajian
Dampak
Laju
Kependudukan
Terhadap
Pencemaran
Dan
Kelangkaan Air
Air
Bersih
Pembahasan
Provinsi
Banten
Dan
Sulawesi
Selatan
Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan ProvinsI Sulawesi Selatan
KABUPATEN
:
Kota
Serang
KABUPATEN
Kota Serang
KODE POS DUGA :AIR
114
114
NAMA POS DUGAKODE
AIR POS DUGA AIR CIBANTEN-KASEMEN
NAMA POS DUGA AIR
CIBANTEN-KASEMEN
DAERAH ALIRAN SUNGAI
Cibaten
DAERAH ALIRAN SUNGAI
Ds. Kasemen, Kec.Cibaten
Kasemen, Kota Serang
LOKASI GEOGRAFI
Ds. Kasemen, Kec. Kasemen, Kota Serang
LOKASI GEOGRAFI
WILAYAH SUNGAI
Cidanau-Ciujung-Cidurian
WILAYAH SUNGAI
Cidanau-Ciujung-Cidurian
SUNGAI
CIBANTEN
SUNGAI
CIBANTEN
DIBANGUN OLEH
BPSDA
DIBANGUN OLEH
BPSDA
TGL. DIBANGUN
35431
TGL. DIBANGUN
35431
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
2007
Jumlah
8.9
11.1
3.1
2.1
2.5
2.3
2.5
3.4
7.3
2007
Jumlah
8.9
11.1
3.1
2.1
2.5
2.3
2.5
31
28
31
30
31
30
31
31
30
Hari Ukur
31
28
31
30
31
30
31
Hari Ukur
0.3
0.4
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.2
Rata-Rata
0.3
0.4
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
Rata-Rata
1.4
5.8
0.3
0.1
0.4
0.4
0.3
0.6
0.6
Maksimum
1.4
5.8
0.3
0.1
0.4
0.4
0.3
Maksimum
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
0.0
Minimum
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
Minimum
2008
Jumlah
19.4
12.0
6.9
2.7
2.1
1.6
1.3
1.0
1.2
2008
Jumlah
19.4
12.0
6.9
2.7
2.1
1.6
1.3
31
29
31
30
31
30
31
31
30
Hari Ukur
31
29
31
30
31
30
31
Hari Ukur
0.6
0.4
0.2
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
Rata-Rata
0.6
0.4
0.2
0.1
0.1
0.1
0.0
Rata-Rata
7.2
2.1
1.3
0.3
0.1
0.1
0.2
0.1
0.1
Maksimum
7.2
2.1
1.3
0.3
0.1
0.1
0.2
Maksimum
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
Minimum
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
Minimum
2009
Jumlah
246.8
445.8
111.6
123.3
129.7
124.8
72.3
62.7
118.0
2009
Jumlah
246.8 445.8 111.6 123.3 129.7 124.8 72.3
31
28
31
30
31
30
31
31
30
Hari Ukur
31
28
31
30
31
30
31
Hari Ukur
8.0
15.9
3.6
4.1
4.2
4.2
2.3
2.0
3.9
Rata-Rata
8.0
15.9
3.6
4.1
4.2
4.2
2.3
Rata-Rata
23.3
41.9
8.2
17.1
6.8
5.7
4.0
3.8
6.9
Maksimum
23.3
41.9
8.2
17.1
6.8
5.7
4.0
Maksimum
Minimum
4.0
4.4
Minimum
2.2
4.0
2.1
4.4
3.0
2.2
3.5
2.1
1.9
3.0
1.6
3.5
2.9
1.9
3.4
31
0.1
0.6
0.0
1.0
31
0.0
0.1
5.1
7.3
31
30
0.2
0.2
0.5
0.6
0.0
0.0
0.8
1.2
31
30
0.0
0.0
0.0 0.1
2.3
30
0.1
0.3
0.0
9.2
30
0.3
5.5
5.9
5.1
31
31
0.2
0.2
0.5
0.5
0.0
0.0
4.8
0.8
31
31
0.0
0.2
0.0 0.6
0.0 0.1
2.3
30
5.9
31
0.1
0.2
0.3
0.5
0.0
0.0
9.2
30
4.8
31
0.3
0.2
5.5
0.6
0.0 0.0 0.0
0.0
106.2
108.1 172.7
62.7
118.0 172.7 106.2
30 31 31
31 31 30
30
2.0 3.4 3.9 5.8 3.4 3.5
5.8
0.0
3.8
1.6
6.9 6.9
2.1 2.9
16.9 6.9 5.9
1.6 2.1 2.4
0.1
108.1
31
3.5
16.9
5.9
1.6
2.4
Gambar
5.27. Debit
Rerata
Sungai
Cibanten
Kota Serang
5.27. Debit
Rerata
Sungai
Cibanten
Gambar 5.27.Gambar
Debit Rerata
Sungai
Cibanten
Kota
Serang Kota Serang
LAPORAN FAKTA ANALISA
LAPORAN FAKTA ANALISA
71
V-26
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 5.11. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Serang
Tabel 5.11. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Serang
KODE POS DUGA AIR
NAMA POS DUGA AIR
DAERAH ALIRAN SUNGAI
LOKASI GEOGRAFI
WILAYAH SUNGAI
SUNGAI
DIBANGUN OLEH
TGL. DIBANGUN
TAHUN
KET
2000
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
2003
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
2004
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
2005
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
2006
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
2007
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
2008
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
2009
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
72
JAN
81.8
31
2.6
6.3
1.4
18.1
31
0.6
0.9
0.5
34.6
31
1.1
1.5
0.8
89.5
31
2.9
5.6
0.9
73.0
31
2.4
10.7
1.0
35.4
31
1.1
6.9
0.5
37.0
31
1.2
4.0
0.5
FEB
87.4
28
3.1
10.7
1.4
27.0
28
1.0
1.7
0.6
42.6
29
1.5
4.1
0.7
97.6
28
3.5
5.4
2.0
69.8
28
2.5
4.7
1.2
63.2
28
2.3
15.2
0.4
76.0
29
2.6
4.1
1.0
113
CIBANTEN-KP. SERUT
Cibako
Ds. Sindangheula, Kec. Pabuaran, Kab. Serang
Cidanau-Ciujung-Cidurian
CIBANTEN
Puslitbang Air
28856
MAR APR MEI JUN
JUL
AGS
54.4
33.8 39.1 36.4
27.2 19.2
31
30
31
30
31
31
1.8
1.1
1.3
1.2
0.9
0.6
3.4
1.8
1.7
3.4
1.8
1.1
1.2
0.8
0.9
0.8
0.6
0.5
24.2
20.8 17.9 22.9
17.5 18.9
31
30
31
30
31
31
0.8
0.7
0.6
0.8
0.6
0.6
1.2
0.9
0.8
5.1
0.8
4.6
0.6
0.6
0.5
0.5
0.5
0.4
136.3 32.2 37.9 36.5
28.9 19.7
31
30
31
30
31
31
4.4
1.1
1.2
1.2
0.9
0.6
57.7
1.5
1.9
2.4
1.8
0.7
0.9
0.8
0.9
0.8
0.6
0.6
91.5
37.7 57.8 46.2
41.3 31.6
31
30
31
30
31
31
3.0
1.3
1.9
1.5
1.3
1.0
7.2
1.8
3.5
3.3
3.8
1.9
1.6
0.8
1.1
0.9
0.7
0.6
75.3
57.3 42.1 29.3
30.6 18.1
31
30
31
30
31
31
2.4
1.9
1.4
1.0
1.0
0.6
5.4
4.0
2.6
1.4
1.8
0.8
1.2
1.1
0.9
0.6
0.6
0.4
59.9
41.8 43.6 41.5
46.2 33.7
31
30
31
30
31
31
1.9
1.4
1.4
1.4
1.5
1.1
9.7
2.5
2.8
2.6
2.2
1.5
0.5
0.9
0.8
0.9
1.0
0.8
73.9
47.1 28.5 20.7
16.7 21.0
31
30
31
30
31
31
2.4
1.6
0.9
0.7
0.5
0.7
4.6
3.0
1.3
1.0
0.7
1.1
0.7
0.6
0.7
0.5
0.5
0.5
155.8
31
5.0
6.3
3.5
137.4
28
4.9
6.8
2.8
89.0
31
2.9
5.8
1.2
LAPORAN FAKTA ANALISA
74.3
30
2.5
3.9
1.5
82.8
31
2.7
3.7
1.8
83.3
30
2.8
4.0
1.5
70.5
31
2.3
3.6
1.4
82.9
31
2.7
4.0
1.4
SEP
27.3
30
0.9
6.0
0.5
22.9
30
0.8
3.8
0.5
18.8
30
0.6
0.9
0.5
31.6
30
1.1
1.9
0.6
16.4
30
0.5
0.7
0.5
19.6
30
0.7
0.9
0.5
49.5
30
1.6
4.4
0.9
OKT
25.1
31
0.8
2.3
0.5
17.9
31
0.6
0.9
0.5
21.2
31
0.7
0.9
0.5
29.6
31
1.0
1.8
0.6
14.7
31
0.5
0.5
0.4
89.0
31
2.9
25.7
0.6
30.5
31
1.0
2.0
0.6
NOV
25.5
30
0.8
1.7
0.5
16.9
30
0.6
0.8
0.4
22.6
30
0.8
1.0
0.6
26.3
30
0.9
1.4
0.6
18.9
30
0.6
0.9
0.5
28.9
30
1.0
1.9
0.5
54.0
30
1.8
3.3
0.9
77.1
30
2.6
3.7
1.8
81.1
31
2.6
4.7
1.3
101.4
30
3.4
6.8
1.9
DES
19.9
31
0.6
0.9
0.5
31.3
31
1.0
2.4
0.5
30.8
31
1.0
2.0
0.6
39.2
31
1.3
2.1
0.7
24.3
31
0.8
1.3
0.6
34.4
31
1.1
1.4
0.6
67.6
31
2.2
3.3
1.1
178.
9
31
5.8
9.7
1.0
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar
5.28.Rerata
Debit Rerata
Sungai
Cibanten
Kabupaten Serang
Serang
Gambar 5.28.
Debit
Sungai
Cibanten
Kabupaten
Gambar 5.28. Debit Rerata Sungai Cibanten Kabupaten Serang
TabelDebit
5.12. Debit
Sungai
Rerata
BulananSungai
Sungai Cibanten
Kabupaten
Pandeglang
Tabel 5.12.
Sungai
Rerata
Bulanan
Cibanten
Kabupaten
Pandeglang
Tabel
KODE POS DUGA
AIR
NAMA POS DUGA AIR
KODE
POS
DUGA
DAERAH ALIRAN AIR
NAMA
SUNGAIPOS DUGA AIR
DAERAH
ALIRAN
LOKASI GEOGRAFI
SUNGAI
WILAYAH SUNGAI
LOKASI
SUNGAIGEOGRAFI
WILAYAH SUNGAI
DIBANGUN OLEH
SUNGAI
TGL. DIBANGUN
DIBANGUN OLEH
TGL. DIBANGUN
TAHUN
KET
2000
Jumlah
TAHUN HariKET
Ukur
2000
Jumlah
Rata-Rata
Hari
Ukur
Maksimum
Rata-Rata
Minimum
Maksimum
2001
Jumlah
Minimum
Hari Ukur
2001
Jumlah
Rata-Rata
Hari Ukur
Maksimum
Rata-Rata
Minimum
Maksimum
2002
Jumlah
Minimum
Hari Ukur
2002
Jumlah
Rata-Rata
Hari
Ukur
Maksimum
Rata-Rata
Minimum
Maksimum
2003
Minimum
Jumlah
2003
Hari Ukur
Jumlah
Rata-Rata
Hari Ukur
Maksimum
Rata-Rata
Minimum
Maksimum
2004
Jumlah
Minimum
2004
Jumlah
5.12.
116 Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Pandeglang
CIBAMA-KADUPARASI
116
CIBAMA-KADUPARASI
Cibama
Ds. Margasana, Kec. Pagelaran, Kab. Pandeglang
Cibama
Ciliman-Cibungur
Ds. Margasana, Kec. Pagelaran, Kab. Pandeglang
CIBAMA
Ciliman-Cibungur
DPUP Pandeglang
CIBAMA
36526
DPUP Pandeglang
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
36526
JAN
FEB
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
TAHUNAN
106.5 128.1 107.9 TABEL
150.9 DEBIT
55.8
51.2(M3/DET)
48.3
JAN
FEB
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
31
28
31
28
31
30
31
106.5
128.1
107.9
150.9
55.8
51.2
48.3
3.4
4.6
3.5
5.4
1.8
1.7
1.6
31
28
31
28
31
30
31
12.0
18.0
12.3
60.3
4.6
1.9
2.0
3.4
4.6
3.5
5.4
1.8
1.7
1.6
1.7
1.8
2.0
1.6
1.4
1.4
1.1
12.0
18.0
12.3
60.3
4.6
1.9
2.0
244.6 255.7
99.7
81.7
60.6
65.3
80.4
1.7
1.8
2.0
1.6
1.4
1.4
1.1
31
28
31
30
31
30
31
244.6
255.7
99.7
81.7
60.6
65.3
80.4
7.9
9.1
3.2
2.7
2.0
2.2
2.6
31
28
31
30
31
30
31
57.6
28.5
6.0
8.5
4.7
4.6
8.6
7.9
9.1
3.2
2.7
2.0
2.2
2.6
2.1
2.4
2.2
1.5
1.5
1.4
2.0
57.6
28.5
6.0
8.5
4.7
4.6
8.6
38.9
49.9
44.6
43.3
40.1
38.2
38.1
2.1
2.4
2.2
1.5
1.5
1.4
2.0
31
28
31
30
31
30
31
38.9
49.9
44.6
43.3
40.1
38.2
38.1
1.3
1.8
1.4
1.4
1.3
1.3
1.2
31
28
31
30
31
30
31
2.2
4.1
2.7
2.4
1.4
1.7
1.6
1.3
1.8
1.4
1.4
1.3
1.3
1.2
1.0
1.2
1.2
1.3
1.3
1.2
1.2
2.2
4.1
2.7
2.4
1.4
1.7
1.6
1.0
1.2
1.2
1.3
1.3
1.2
1.2
62.7
88.1
67.4
75.7
66.5
63.5
54.2
AGS
35.1
AGS
31
35.1
1.1
31
1.5
1.1
1.0
1.5
53.5
1.0
31
53.5
1.7
31
3.0
1.7
1.5
3.0
35.7
1.5
31
35.7
1.2
31
1.2
1.2
1.0
1.2
1.0
45.9
SEP
33.7
SEP
30
33.7
1.1
30
1.5
1.1
1.0
1.5
68.4
1.0
30
68.4
2.3
30
4.4
2.3
1.4
4.4
27.7
1.4
30
27.7
0.9
30
1.0
0.9
0.9
1.0
0.9
46.6
OKT
72.2
OKT
31
72.2
2.3
31
8.7
2.3
1.4
8.7
160.0
1.4
31
160.0
5.2
31
39.0
5.2
2.0
39.0
30.8
2.0
31
30.8
1.0
31
1.1
1.0
0.9
1.1
0.9
55.7
NOV
128.8
NOV
30
128.8
4.3
30
64.4
4.3
1.4
64.4
93.5
1.4
30
93.5
3.1
30
6.3
3.1
2.4
6.3
36.0
2.4
30
36.0
1.2
30
2.1
1.2
1.0
2.1
1.0
73.1
31
62.7
2.0
31
7.0
2.0
1.5
7.0
60.9
1.5
60.9
31
45.9
1.5
31
1.7
1.5
1.3
1.7
38.7
1.3
38.7
30
46.6
1.6
30
1.9
1.6
1.0
1.9
37.4
1.0
37.4
31
55.7
1.8
31
4.2
1.8
0.8
4.2
33.6
0.8
33.6
30
73.1
2.4
30
5.3
2.4
1.8
5.3
34.8
1.8
34.8
28
88.1
3.1
28
19.2
3.1
1.6
19.2
296.7
1.6
296.7
31
67.4
2.2
31
3.8
2.2
1.7
3.8
363.5
1.7
363.5
30
75.7
2.5
30
7.6
2.5
1.9
7.6
91.7
1.9
91.7
31
66.5
2.1
31
3.0
2.1
1.9
3.0
106.5
1.9
106.5
30
63.5
2.1
30
2.4
2.1
1.9
2.4
54.8
1.9
54.8
31
54.2
1.7
31
2.0
1.7
1.4
2.0
52.2
1.4
52.2
LAPORAN FAKTA ANALISA
DES
89.9
DES
31
89.9
2.9
31
12.6
2.9
1.6
12.6
83.5
1.6
31
83.5
2.7
31
5.4
2.7
1.7
5.4
39.6
1.7
31
39.6
1.3
31
4.2
1.3
1.0
4.2
233.
1.0
6
233.
31
6
7.5
31
55.9
7.5
1.5
55.9
52.7
1.5
52.7
73
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
KODE POS DUGA AIR
116
NAMA
POS
AIR
CIBAMA-KADUPARASI
KODE POS
DUGA
AIRDUGA 116
DAERAH ALIRAN
NAMA POS DUGA AIR
CIBAMA-KADUPARASI
SUNGAI
Cibama
DAERAH ALIRAN
Ds. Margasana, Kec. Pagelaran, Kab. Pandeglang
SUNGAILOKASI GEOGRAFICibama
WILAYAH SUNGAI Ds. Margasana,
Ciliman-Cibungur
Kec. Pagelaran, Kab. Pandeglang
LOKASI GEOGRAFI
SUNGAI
CIBAMA
WILAYAH
SUNGAI
Ciliman-Cibungur
DIBANGUN
OLEH
DPUP
Pandeglang
SUNGAI
CIBAMA
TGL. DIBANGUN
36526
DIBANGUN OLEH
DPUP Pandeglang
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
TGL. DIBANGUN
36526
31
29
31
30
31
30
31
Hari Ukur
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
Rata-Rata31
2.0
10.2
11.7
3.1
3.4
1.8
1.731
29
31
30
31
30
31
Hari Ukur
2.7
50.7
43.3
6.2
20.4
2.9
3.0
Maksimum
Rata-Rata
2.0
10.2
11.7
3.1
3.4
1.8
1.7
1.2
1.7
2.0
1.4
1.3
1.4
1.4
1.21.6
Minimum
2.7
50.7
43.3
6.2
20.4
2.9
3.0
Maksimum
2005
1.7
2.0
1.4
1.3
1.4
1.4
1.2
1.0
Minimum
Jumlah
80.3
46.0
54.7
65.9
45.8
45.5
39.0
2005
Hari
Ukur
31
28
31
30
31
30
31
Jumlah
80.3
46.0
54.7
65.9
45.8
45.5
39.0
28.8
2.6
1.6
1.8
2.2
1.5
1.5
1.3
Rata-Rata31
Hari Ukur
28
31
30
31
30
31
31
Maksimum
5.5
3.7
5.7
14.3
2.7
3.4
1.7
2.6
1.6
1.8
2.2
1.5
1.5
1.3
0.9
Rata-Rata
Minimum
1.2
1.1
1.1
1.0
1.0
1.1
1.0
Maksimum
5.5
3.7
5.7
14.3
2.7
3.4
1.7
1.3
2006
Jumlah 1.2
80.3
47.7
89.4
42.7
64.0
50.1
50.6
Minimum
1.1
1.1
1.0
1.0
1.1
1.0
0.7
Hari
Ukur
31
28
31
30
30
30
31
2006
Jumlah
80.3
47.7
89.4
42.7
64.0
50.1
50.6
39.8
Rata-Rata
2.6
1.7
2.9
1.4
2.1
1.7
1.6
Hari Ukur
31
28
31
30
30
30
31
31
8.5
3.9
18.3
2.9
3.4
2.2
2.7
Maksimum
Rata-Rata
2.6
1.7
2.9
1.4
2.1
1.7
1.6
1.3
Minimum
1.4
0.6
1.0
1.0
1.5
1.1
1.22.1
8.5
3.9
18.3
2.9
3.4
2.2
2.7
Maksimum
2007
Jumlah 1.4
74.4
67.5
58.3
46.5
53.1
Minimum
0.6
1.0 183.2
1.0 102.2
1.5
1.1
1.2
0.9
31
28
31
30
30
30
31
2007
Jumlah Hari Ukur
74.4
67.5
183.2 102.2
58.3
46.5
53.1
43.5
Rata-Rata31
2.4
2.4
5.9
3.4
1.9
1.6
1.731
28
31
30
30
30
31
Hari Ukur
Maksimum
9.2
9.2
23.9
16.6
5.7
2.1
2.41.4
Rata-Rata
2.4
2.4
5.9
3.4
1.9
1.6
1.7
1.0
1.4
1.9
1.7
1.0
0.5
1.3
Minimum
Maksimum
9.2
9.2
23.9
16.6
5.7
2.1
2.4
2.1
2008
1.0
1.4
1.9
1.7
1.0
0.5
1.3
1.1
Minimum
Jumlah
80.9
151.7 142.3
89.3
69.9
60.8
53.3
2008
Hari Ukur
31
28
31
30
31
30
31
Jumlah
80.9
151.7 142.3
89.3
69.9
60.8
53.3
60.2
2.6
5.4
4.6
3.0
2.3
2.0
1.7
Rata-Rata31
Hari Ukur
28
31
30
31
30
31
31
4.4
13.2
15.3
6.2
3.0
4.1
2.6
Maksimum
2.6
5.4
4.6
3.0
2.3
2.0
1.7
1.9
Rata-Rata
Minimum
0.3
2.3
2.3
1.6
1.7
1.3
1.2
4.4
13.2
15.3
6.2
3.0
4.1
2.6
2.9
Maksimum
Minimum
0.3
2.3
2.3
1.6
1.7
1.3
1.2
1.6
31
1.2 30
1.6
1.2
1.0 1.6
30
1.231
1.6
1.1
1.01.8
31
1.130
1.8
1.2
1.01.4
30
1.231
1.4
1.7
0.9
5.1
1.0
28.8
3130.8
0.9
30
1.3 1.0
0.7 1.4
39.80.7
31
31.4
1.3 30
2.1
1.0
0.9 1.3
43.50.8
31
40.1
1.4 30
2.1 1.3
1.1
1.6
0.6
60.2
31
52.7
1.9
30
2.9 1.8
1.6 2.3
1.0
30.8
3041.1
1.0
31
1.41.3
0.71.6
31.41.1
30
34.3
1.031
1.3
1.1
0.81.7
40.10.9
30
41.6
1.331
1.61.3
0.6
2.1
1.0
52.7
30
60.6
1.8
31
2.32.0
1.32.6
0.9
41.1
3149.2
1.3
30
1.61.6
1.12.1
34.3
1.1
31
40.3
1.130
1.7
1.3
0.91.7
41.6
1.0
31
47.1
1.330
2.11.6
1.0
2.2
1.3
60.6
31
80.2
2.0
30
2.62.7
1.59.8
1.3
1.5
1.6
0.8
49.2
108.
307
1.6
31
2.1
3.5
1.1
18.9
40.3
1.3
30
59.9
1.331
1.7
1.9
1.0
9.6
47.1
0.8
30
99.6
1.631
2.2
3.2
1.3
7.9
1.3
80.2
121.
30
5
2.7
31
9.8
3.9
1.6
16.2
1.6
Gambar 5.29. Debit Rerata Sungai Cibanten Kabupaten Pandeglang
Gambar
5.29.
Debit
Rerata
Cibanten
Kabupaten
Pandeglang
Gambar
5.29.
Debit
RerataSungai
Sungai Cibanten
Kabupaten
Pandeglang
74
LAPORAN FAKTA ANALISA
31
1.7
5.1
0.8
108.
7
31
3.5
18.9
1.3
59.9
31
1.9
9.6
0.8
99.6
31
3.2
7.9
1.3
121.
5
31
3.9
16.2
1.6
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 5.13. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Lebak
Tabel 5.13. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Lebak
KODE POS DUGA AIR
NAMA POS DUGA AIR
DAERAH ALIRAN SUNGAI
LOKASI GEOGRAFI
WILAYAH SUNGAI
SUNGAI
DIBANGUN OLEH
TGL. DIBANGUN
TAHUN
2004
2005
2006
2007
2008
CLMR
BENDUNG CILEMER
Cilemer/Cibunggur
Ds. Bendung, Kec. Banjarsari, Kab. Lebak
Ciliman-Cibungur
CILEMER
BBWSC3
KET
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
JAN
401.5
31
13.0
26.6
4.1
455.9
31
14.7
59.6
8.2
928.0
31
29.9
65.4
10.3
1114.8
31
36.0
93.5
7.5
510.3
31
16.5
57.9
6.2
FEB
416.3
29
14.4
34.3
6.6
356.6
28
12.7
21.1
5.8
454.5
28
16.2
57.2
7.3
224.9
28
8.0
18.9
2.4
690.4
29
23.8
93.7
6.5
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
829.0
373.1
395.0 293.7 145.1
31
30
31
30
31
26.7
12.4
12.7
9.8
4.7
111.1
24.3
61.1
18.2
10.5
10.1
4.6
7.3
5.0
1.6
342.1
168.1 394.5 157.9
31
31
30
31
11.0
5.4
13.2
5.1
36.7
15.6
75.1
9.4
3.4
2.7
5.0
1.7
704.1
23.9
256.3
80.0
47.0
31
30
31
30
31
22.7
0.8
8.3
2.7
1.5
89.4
0.8
15.3
10.4
1.8
3.1
0.8
3.3
1.5
1.5
958.2
1003.9 836.6 587.8
65.7
31
30
31
30
31
30.9
33.5
27.0
19.6
2.1
65.5
88.4
88.5
88.5
3.5
15.0
12.0
2.0
2.0
2.0
553.9
509.2
60.0
198.6 145.1
31
30
31
30
31
17.9
17.0
1.9
6.6
4.7
65.5
47.7
3.0
14.8
10.5
10.1
9.9
1.5
1.9
1.6
AGS
40.4
31
1.3
1.6
1.1
41.6
31
1.3
1.5
1.3
15.8
31
0.5
0.9
0.3
27.5
31
0.9
0.9
0.9
40.4
31
1.3
4.7
0.7
SEP
46.2
30
1.5
8.4
1.1
49.1
30
1.6
6.1
0.5
14.4
30
0.5
0.5
0.5
26.7
30
0.9
0.9
0.9
27.1
30
0.9
1.7
0.2
OKT
111.5
31
3.6
10.0
1.0
62.8
31
2.0
7.5
1.3
23.3
31
0.8
0.8
0.8
30.2
31
1.0
1.7
0.9
115.8
31
3.7
14.8
0.4
NOV
316.2
30
10.5
52.2
2.9
68.7
30
2.3
6.2
1.6
26.1
30
0.9
1.0
0.8
25.2
30
0.8
8.7
0.0
316.2
30
10.5
52.2
2.9
DES
248.7
31
8.0
21.3
2.2
50.9
31
1.6
2.0
0.6
29.7
31
1.0
1.1
0.9
270.3
31
8.7
58.0
0.1
480.6
31
15.5
57.7
5.0
5.30. Debit
RerataCibanten
Sungai Cibanten
Kabupaten
Lebak
Gambar 5.30. Gambar
Debit Rerata
Sungai
Kabupaten
Lebak
Tabel 5.14. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Tangerang
KODE POS DUGA AIR
NAMA POS DUGA AIR
DAERAH ALIRAN SUNGAI
LOKASI GEOGRAFI
WILAYAH SUNGAI
SUNGAI
DIBANGUN OLEH
TGL. DIBANGUN
TAHUN
KET
012
CIDURIAN-BD. RANCASUMUR
Cidurian
Ds.Racasumur, Kec. Kopi, Kab. Tangerang
Cidanau-Ciujung-Cidurian
LAPORAN
CIDURIAN
DPUP
JAN
FEB
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
AGS
FAKTA ANALISA
SEP
OKT
NOV
75
DES
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar 5.30. Debit Rerata Sungai Cibanten Kabupaten Lebak
Tabel 5.14. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Tangerang
Tabel 5.14. Debit Sungai Rerata Bulanan Sungai Cibanten Kabupaten Tangerang
KODE POS DUGA AIR
NAMA POS DUGA AIR
DAERAH ALIRAN SUNGAI
LOKASI GEOGRAFI
WILAYAH SUNGAI
SUNGAI
DIBANGUN OLEH
TGL. DIBANGUN
TAHUN
1999
2000
2001
2002
2003
76
KET
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
012
CIDURIAN-BD. RANCASUMUR
Cidurian
Ds.Racasumur, Kec. Kopi, Kab. Tangerang
Cidanau-Ciujung-Cidurian
CIDURIAN
DPUP
JAN
1222.8
31
39.4
166.6
10.7
737.1
31
23.8
55.9
10.4
602.0
31
19.4
45.5
4.5
615.4
31
19.9
74.2
4.8
338.7
31
10.9
FEB
794.7
28
28.4
65.0
13.8
827.0
29
28.5
108.2
8.8
1622.6
28
57.9
231.2
13.6
1213.5
28
43.3
151.5
10.8
930.9
28
33.2
LAPORAN FAKTA ANALISA
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
343.7 268.3 420.3 316.7
494.5
31
30
31
30
31
11.1
8.9
13.6
10.6
16.0
29.8
25.5
42.2
77.6
56.4
3.5
2.0
5.0
3.6
3.5
330.4 297.2 767.7 315.9
294.5
31
30
31
30
31
10.7
9.9
24.8
10.5
9.5
29.8
30.1
90.5
58.9
32.5
3.5
3.5
7.9
3.5
2.7
392.0 620.5 901.1 497.1
321.5
31
30
31
30
31
12.6
20.7
29.1
16.6
10.4
41.9
33.9
57.5
51.7
33.2
4.7
7.2
11.8
1.6
2.7
589.5 932.5 542.6 442.9
553.7
31
30
31
30
31
19.0
31.1
17.5
14.8
17.9
47.5
68.3
53.4
56.4
86.3
8.3
11.3
5.6
5.0
3.5
710.3 833.3 813.5 569.0
117.6
31
30
31
30
31
22.9
27.8
26.2
19.0
3.8
AGS
227.8
31
7.3
44.9
1.6
201.0
31
6.5
12.8
2.7
351.1
31
11.3
26.2
4.1
135.4
26
5.2
18.7
0.8
51.7
31
1.7
SEP
180.3
15
12.0
44.1
1.2
366.2
30
12.2
41.4
2.5
OKT
402.6
28
14.4
29.1
0.1
190.1
15
12.7
32.1
3.7
NOV
383.9
30
12.8
27.0
3.5
887.4
30
29.6
133.7
3.7
DES
276.9
14
19.8
75.0
10.5
209.0
31
6.7
14.1
4.2
55.9
23
2.4
13.4
1.0
156.4
30
5.2
231.2
29
8.0
32.2
0.6
406.3
31
13.1
705.7
30
23.5
57.9
1.6
457.1
30
15.2
670.5
31
21.6
110.5
9.8
502.6
31
16.2
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Tabel 5.15. Jumlah Setu, Bendungan dan Waduk di Banten
KODE POS DUGA AIR
NAMA POS DUGA AIR
DAERAH ALIRAN SUNGAI
LOKASI GEOGRAFI
WILAYAH SUNGAI
SUNGAI
DIBANGUN OLEH
TGL. DIBANGUN
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
Jumlah
Hari Ukur
Rata-Rata
Maksimum
Minimum
012
CIDURIAN-BD. RANCASUMUR
Cidurian
Ds.Racasumur, Kec. Kopi, Kab. Tangerang
Cidanau-Ciujung-Cidurian
CIDURIAN
DPUP
70.5
1.6
606.6
31
19.6
47.0
6.6
929.4
31
30.0
136.6
9.5
2003.7
25
80.1
236.9
15.1
638.5
31
20.6
48.2
13.2
675.3
31
21.8
49.1
13.4
783.1
31
25.3
39.0
18.0
66.2
14.6
600.4
29
20.7
158.7
3.0
754.1
28
26.9
55.3
10.1
942.4
28
33.7
85.6
15.7
737.8
28
26.3
37.0
22.2
803.4
29
27.7
37.1
23.1
875.2
28
31.3
39.0
24.7
TABEL DEBIT TAHUNAN (M3/DET)
62.6
66.4
70.1
38.2
20.3
9.5
9.5
7.6
9.6
2.0
363.7 880.1 913.0 416.4
199.0
31
30
31
30
30
11.7
29.3
29.5
13.9
6.6
41.0
116.3 146.5
44.8
20.3
3.5
7.8
6.6
3.5
3.5
363.7 512.2 675.3 888.6
555.7
31
30
31
30
31
11.7
17.1
21.8
29.6
17.9
41.0
58.5
52.9
88.1
46.5
3.5
4.6
5.4
11.2
8.3
866.2 557.8 417.7 228.8
107.7
30
30
31
30
30
28.9
18.6
13.5
7.6
3.6
38.0
64.6
24.7
19.4
12.6
8.0
6.6
5.0
3.0
0.6
708.6 701.5 685.1 668.6
681.9
30
30
31
30
31
23.6
23.4
22.1
22.3
22.0
35.4
33.3
27.5
27.8
28.2
14.2
14.2
18.7
14.8
14.8
815.6 748.7 709.2 560.7
490.2
31
30
31
30
31
26.3
25.0
22.9
18.7
15.8
32.6
42.1
32.9
22.0
22.6
20.7
18.2
10.9
15.2
13.2
731.1 637.5 709.6 645.4
669.1
31
30
31
30
31
23.6
21.3
22.9
21.5
21.6
32.5
49.1
31.9
27.6
28.0
13.0
13.0
17.4
18.0
17.6
10.4
0.3
44.6
31
1.4
8.5
0.6
414.3
31
13.4
50.3
3.5
99.7
30
3.3
7.0
0.4
364.3
31
11.8
18.0
2.4
522.4
31
16.9
28.2
13.1
497.5
31
16.0
21.7
13.2
10.5
1.4
309.1
30
10.3
40.8
0.6
582.6
30
19.4
50.3
3.7
35.0
30
1.2
6.6
0.6
368.5
30
12.3
13.2
9.3
705.5
30
23.5
33.9
16.7
523.1
30
17.4
22.2
13.6
41.1
1.4
189.4
19
10.0
36.6
0.4
600.1
31
19.4
67.6
5.1
89.0
31
2.9
11.9
0.4
536.3
31
17.3
22.2
12.2
540.5
31
17.4
22.3
12.2
752.0
31
24.3
37.6
13.8
36.0
6.6
422.3
30
14.1
31.0
6.7
862.0
30
28.7
65.4
8.8
1134.4
30
37.8
95.1
1.5
518.0
30
17.3
21.8
12.2
693.8
30
23.1
30.0
18.0
761.5
30
25.4
36.6
20.1
38.0
6.6
732.7
31
23.6
53.7
5.0
375.5
31
12.1
20.8
7.2
825.5
31
26.6
49.1
10.5
818.7
31
26.4
32.8
18.4
558.9
31
18.0
23.3
10.5
670.7
31
21.6
28.2
14.0
Gambar
5.31.Rerata
Debit Rerata
SungaiCibanten
Cibanten Kabupaten
Tangerang
Gambar 5.31.
Debit
Sungai
Kabupaten
Tangerang
Air Tanah Propinsi Banten
Cekungan Air Tanah
CAT Rawadanau Kota Serang
LAPORAN FAKTA ANALISA
10^6Debit Debit m3
m3/tahun /det
13 0.412227
77
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Air Tanah Propinsi Banten
Cekungan Air Tanah
CAT Rawadanau Kota Serang
CAT Serang-Tangerang
10^6Debit m3/tahun Debit m3 /det
13
0.412227
18
0.570776
Tabel 5.16. Jumlah Situ, Bendung dan Waduk di Provinsi Banten
No
Nama Situ
Desa
Kecamatan
Pemanfatan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Situ Palayangan
Situ Cileumbur
Situ Cijoro
Situ Ciboean
Situ Citinggar
Situ Cibangreng
Situ Cibolegar
Situ Cimalur
Situ Ciceurem
Waduk Cicinta
Bendung Cisela
Bendung Cimalur
Bendung Cibeurang
Situ Cikamun
Situ Cimaesta
Situ Sinar Galih
Situ Gede Citeupusan
Situ Gunung Buleud
Situ Ciburial
Situ Lebak Larang
Rawa Lebakeusik
Rawa Gunggurung
Rawa Bageudur
Waduk Cikoncang
marga jaya
Selaraja
Rangkas BitungTimur
Sukarame
Sajira
Muara Dua
Cisimeut
Cibatu Keusik
Kumpay
Majasari
Giri Jaya
Malang Sari
Nanggala
Cikamunding
Cijengkol
Bayah
Sindangratu
Sindangratu
Cibeuber
Mekarsari
Sukatani
Sukatani
Sukamanah
Cikoncang
Cimarga
Warung Gunung
Rangkasbitung
Sajira
Sajira
Cikulur
Leuwi Damar
Banjar Sari
Banjar Sari
Maja
Cipanas
Cipanas
Cipanas
Cilonggrang
Cilonggrang
Bayah
Panggarangan
Panggarangan
Panggarangan
Cibeber
Wanasalam
Wanasalam
Malingping
Malingping
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Tandon Air
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Resevoir/ Irigasi
Kirai
Kirai
Kirai
Tandon Air
Tandon Air
Tandon Air
Tandon Air
78
LAPORAN FAKTA ANALISA
Luas
(Ha)
7
4.50
10
2
5
0.50
2
35
12.30
3.50
5
3
3.50
2
1.50
3
5
10
110
-
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Rekapitulasi Potensi Sumber Daya Air Propinsi Banten
Tabel 5.17. Rekapitulasi Debit Air Permukaan Provinsi Banten
Wilayah Kota Kabupaten
Kab.Pandeglang
Kab.Lebak
Kab.Tangerang
Kab.Serang
Kota Cilegon
Kota Serang
Kota Tangerang
Kota Tangerang Selatan
Debit Ketersediaan Debit Sungai Debit Air
Waduk Embung
Terukur
Tanah
2.52
9.72
19.52
359.0068261
1.39
207.6297886
0.69
0.41
0.57
Debit Total
392.58
208.89
5.6.
Kualitas
5.6. Mutu
Mutu
KualitasAir
AirSungai
Sungai
Gambar
5.32. Kondisi
Kualitas
air sungai
Cibanten
Gambar
5.32. Kondisi
Kualitas
air sungai
Cibanten
LAPORAN FAKTA ANALISA
79
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar5.33.
5. 33.Kondisi
Kondisi Kualitas
Kualitas air
Cidanau
Gambar
airsungai
sungai
Cidanau
80
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Gambar
5.34. Kondisi Kualitas air sungai Ciliman
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar 5.34. Kondisi Kualitas air sungai Ciliman
Gambar 5.34. Kondisi Kualitas air sungai Ciliman
Gambar 5.34. Kondisi Kualitas air sungai Ciliman
LAPORAN FAKTA ANALISA
81
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar
airsungai
sungaiCisadane
Cisadane
Gambar5.35.
5. 35.Kondisi
KondisiKualitas
Kualitas air
82
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
5.7 Neraca Air Propinsi Banten dan Provinsi Sulawesi Selatan
Untuk mengetahui tingkat jumlah Pemakaian Sumber Daya Air Di Provinsi
Banten Barat dan ketersediaan dan Potensi Sumber Daya Air maka dibuat
neraca air untuk masing-masing Kabupaten dan Kota di Propinsi Banten.
Sehingga kekurangan dan kelebihan air dapat dipantau dan dievaluasi pada
perencanaan selanjutnya. Perhitungan neraca air dilakukan untuk mengecek
apakah air yang tersedia cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan air di
daerah yang bersangkutan. Dalam perhitungan neraca air (water balance)
ada beberapa unsur pokok sebagai dasar perhitungan yaitu :
1. Tersedianya air dan Potensi air
2. Kebutuhan air
3. Neraca air (water balance)
Berikut ini merupakan hasil perhitungan Neraca Air untuk masing-masing
Proyeksi Kebutuhan terhadap Potensi dan Ketersediaan SDA :
Tabel 5.18. Rekapitulasi dan proyeksi Kebutuhan Air Tiap Tahun 2008 -2030
KEBUTUHAN m3/det
Wilayah
Tahun
Rerata
Pertumbuhan
2008
2009
2010
2011
Kab.Pandeglang
140.79
135.01
152.92
153.58
Kab.Lebak
105.49
112.12
123.76
125.22
Kab.Tangerang
116.31
109.51
96.25
98.60
-5.87
92.82
87.38
Kab.Serang
130.80
123.41
113.29
99.78
-9.48
90.32
81.75
1.78
4.73
5.60
4.97
21.72
6.05
7.36
Kota Tangerang
2015
2030
2.62 157.60
161.73
5.50 132.10
139.36
Kota Cilegon
2.97
3.28
3.80
3.82
7.88
4.12
4.45
Kota Serang
0.40
17.16
21.93
19.27
35.20
26.05
35.22
Kota Tangerang Selatan
0.58
2.40
2.59
2.82
30.54
3.68
4.81
LAPORAN FAKTA ANALISA
83
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar 5.35.
Neraca
AirNeraca
Terhadap
Ketersediaan
SDA Provinsi
Banten
TahunBanten
2008
Gambar
5.35.
Neraca
Air
Terhadap
Ketersediaan
SDA Provinsi
Tahun 2008
Gambar
5.35.
Air Terhadap
Ketersediaan
SDA Provinsi
Banten
Tahun 2008
Gambar
5.36. Neraca
Air Terhadap
Ketersediaan
Provinsi
Banten
Tahun
2009
Gambar
5.36. Neraca
Air Terhadap
Ketersediaan
SDA SDA
Provinsi
Banten
Tahun
2009
Gambar 5.36. Neraca Air Terhadap Ketersediaan SDA Provinsi Banten Tahun 2009
84
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
GambarGambar
5.37. Neraca
Air Terhadap
Ketersediaan
SDA SDA
Provinsi
Banten
Tahun
2010
Gambar
5.37. Neraca
Neraca
Air Terhadap
Terhadap
Ketersediaan
SDA
Provinsi
Banten
Tahun
2010
5.37.
Air
Ketersediaan
Provinsi
Banten
Tahun
2010
Gambar
3.38. Neraca
Neraca
Air Terhadap
Terhadap
Ketersediaan
SDA
Provinsi
Banten
Tahun
2011
3.38.
Air
Ketersediaan
Provinsi
Banten
Tahun
2011
GambarGambar
5.38. Neraca
Air Terhadap
Ketersediaan
SDA SDA
Provinsi
Banten
Tahun
2011
LAPORAN FAKTA ANALISA
85
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Gambar
5. 39.
39. Neraca
Neraca
Air Terhadap
Terhadap
Ketersediaan
SDA
Provinsi
Banten
Tahun
2015
GambarGambar
5.39. Neraca
Air Terhadap
Ketersediaan
SDA SDA
Provinsi
Banten
Tahun
2015
5.
Air
Ketersediaan
Provinsi
Banten
Tahun
2015
Gambar 5.40. Neraca Air Terhadap Ketersediaan SDA Provinsi Banten Tahun 2030
5.40. Neraca
Air Terhadap
Ketersediaan
Provinsi
Banten
Tahun
2030
GambarGambar
5.40. Neraca
Air Terhadap
Ketersediaan
SDASDA
Provinsi
Banten
Tahun
2030
86
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Hasil evaluasi neraca air tersebut diatas memberikan gambaran Informasi
terkait oleh peningkatan pembangunan , kependudukan memberikan
dampak adanya peningkatan kebutuhan Sumber Daya air di Provinsi
Banten:
1.
Beberapa Kabupaten seperti : Padeglang, Lebak, Tangerang, Kabupaten
Serang dan Kota Serang adalah membutuhkan ketersediaan Sumber
Daya Air yang besar agar cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
2.
Sehingga dibutuhkan interkoneksi pemanfaatan dan Sumber Air dari
masing masing Kabupaten dan Wilayah Sungai untuk mengurangi
tingkat kelangkaan air di Kabupaten dan Kota Provinsi Banten.
3.
Adanya sinkronisasi rencana pembangunan dan rencana penataaan
ruang serta kependudukan dengan rencana Pola Pengelolaan SDA 6
Wilayah Sungai Ci ( Cidanau-Ciunjung-Cidurian-Cisadane-CiliwungCitarum) oleh pejabat dan Instansi yang berkaitan.
4.
Pengelolaan Sumber Daya Air peserta Kelestarian konservasi dan
Kualitas Air Perlu ditingkatkan lagi, menghadapi resiko pertumbuhan
penduduk yang semakin cepat.
LAPORAN FAKTA ANALISA
87
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
88
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
BAB VI
KESIMPULAN
6.1. KESIMPULAN
Di dalam Kajian Studi ini memberikan hasil kesimpulan sebagai berikut :
1.
Beberapa Kabupaten di Provinsi Banten seperti: Padeglang, Lebak,
Tangerang, Kabupaten Serang dan Kota Serang adalah membutuhkan
ketersediaan Sumber Daya Air yang besar agar cukuyp untuk memenuhi
kebutuhannya.
2.
Beberapa Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan seperti : Pangkep,
Wajo, Pinrang, Luwu adalah membutuhkan ketersediaan Sumber Daya
Air yang besar agar cukuyp untuk memenuhi kebutuhannya.
3.
Dibutuhkan interkoneksi pemanfaatan dan Sumber Air dari masing
masing Kabupaten dan Wilayah Sungai untuk mengurangi tingkat
kelangkaan air di Kabupaten dan Kota Propinsi Banten dan Propinsi
Sulawesi Selatan
4.
Diperlukan sinkronisasi rencana pembangunan dan rencana penataaan
ruang serta kependudukan dengan rencana Pola Pengelolaan SDA pada
6 Wilayah Sungai yakni ( Cidanau-Ciunjung-Cidurian-Cisadane-CiliwungCitarum) oleh pejabat dan Instansi yang berkaitan.
5.
Diperlukan adanya sinkronisasi rencana pembangunan dan rencana
penataaan ruang serta kependudukan dengan rencana Pola Pengelolaan
SDA 5 Wilayah Sungai Larona, Saddang, Pompengan Jeneberang, Kaluku
Karama, Walanae Cenranae oleh pejabat dan Instansi yang berkaitan.
6.
Pengelolaan Sumber Daya Air peserta Kelestarian konservasi dan
Kualitas Air Perlu ditingkatkan lagi, menghadapi resiko pertumbuhan
penduduk yang semakin cepat.
6.2. Rekomendasi
Hasil Studi kajian ini menawarkan rekomendasi sebagai berikut :
1.
Pengendalian penduduk menjadi penting seiring semakin terbatasnya
keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak tergantikan dan
LAPORAN FAKTA ANALISA
89
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
semakin menurunnya kualitas lingkungan alam. Pertumbuhan
penduduk yang tidak terkendali memberikan kontribusi terhadap
semakin meningkatnya beban cemaran terhadap lingkungan, termasuk
tingginya tingkat pencemaran air yang akan membawa dampak pada
menurunnya volume air bersih dan tingginya biaya pengolahan untuk
penyediaan air bersih.
2.
Meningkatkan kualitas penduduk untuk memahami pentingnya
pelestarian lingkungan terutama pemahaman dalam pemanfaatan dan
pengelolaan SDA.
3.
Mengarahkan mobilitas penduduk serta penguatan kebijakan
pengembangan dan pembangunan wilayah sesuai RTRW, sehingga
penduduk tidak terkonsentrasi di suatu wilayah yang strategis dan kaya
sumber daya alam. Pentingnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
dan serta kawasan lindung dalam penataan suatu wilayah menjadi
bagian dalam perencanaan pembangunan kependudukan
berkelanjutan.
4.
Mengoptimalikan pemanfaatan dana (Corporate Social Responsibility)
CSR Perusahaan untuk membantu wilayah sekitar dalam menunjang
pelesatrian lingkungan alam dan meningkatkan pemahaman penduduk
dalam rangka pemanfaatan SDA secara effisien.
90
LAPORAN FAKTA ANALISA
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Peraturan Menteri Negara lingkungan Hidup Nomor 01
tahun 2010 Tentang Tata Laksana Pengendalian Pendemaran Air.
Anonim. 2002. Standar nasional Indonesia No. 19-6728.1-2002 Tentang
Penyusunan Neraca Sumber Daya Air.
Anonim. 2008. Laporan Akhir Kajian Perhitungan Daya Tampung Pencemaran.
Surabaya: Badan Lingkungan Hidup Provinsi Banten.
Anonim. 2008. Laporan Akhir Kajian Perhitungan Daya Tampung Pencemaran.
Surabaya: Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan.
Anonim. 2001. Peraturan Pemeintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001
Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Anonim. 2004. Tata Cara Pengambilan Contoh dalam Rangka Pemantauan
Kualitas Air Pada Suatu daerah Pengaliran Sungai, SNI 03-7016-2004, Badan
Standar Nasional Indonesia.
Alaerts, G. dan Santika, S.S. 1987. Metode Penelitian Air. Penerbit usaha Nasional
Surabaya.
Aris Sasongko Lutfi. 2006. Kontribusi air limbah domestik penduduk di sekitar
sungai terhadap kualitas air sungai Kaligarang serta upaya penanganannya
(studi kasusu kelurahan sampangan dan bendan ngisor Kecamatan gajah
Mungkur Kota Semarang). Tesis tidak diterbitkan. Semarang: Jurusan Ilmu
Lingkungan Universitas Diponogoro.
BPS Bantaen. 2011. Jawa Timur dalam Angka. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi
Banten.
BPS Sulawesi Selatan. 2011. Jawa Barat dalam Angka. Badan Pusat Statistik (BPS)
Provinsi Sulawesi Selatan.
Departemen Kimpraswil. 2001. Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana
Wilayah Nomor: 534/KPTS/M/2001 tanggal 18 desember 2001 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan
Pemukiman, dan Pekerjaan Umum. Departemen Kimpraswil, Jakarta.
LAPORAN FAKTA ANALISA
91
Kajian Dampak Laju Kependudukan Terhadap Pencemaran Air Dan Kelangkaan
Air Bersih Pembahasan Provinsi Banten Dan Sulawesi Selatan
Hadi, Anwar. 2005. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama
Linsley, R. dan Ranzini. 1991. Teknik Sumber Daya Air Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Nemerow, N. L. 1974. Scientific Stream Pollution Analysis. Washington DC: Scripta
Book Company.
Riyadi, S. 1984. Pencemaran Air. Karya Anda, Surabaya.
Sugiarto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.
Sastrawijaya, T. 2000. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta Bandung.
Soewarno, 1991. Hidrologi, Pengukuran dan Pengelolaan Data Aliran Sungai
(Hidrometri). Nova. Bandung.
Suripin. 2002. Pelestarian Sumberdaya Tanah dan Air. Penerbit Andi.
Yogyakarta.
92
LAPORAN FAKTA ANALISA
Fly UP