...

Akar Kerusuhan Inggris

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Akar Kerusuhan Inggris
Akar Kerusuhan Inggris
Written by Azyumardi Azra
Tuesday, 16 August 2011 18:08 - Last Updated Monday, 26 September 2011 16:55
Sejak akhir pekan lalu, Inggris membara dilanda kerusuhan paling serius sejak 1985. Massa
yang tidak terkendali, sejak Sabtu (6/8) malam, mengamuk di jalanan kota London,
Birmingham, Liverpool, Bristol, Nottingham, dan Manchester. Mereka menjarah toko dan
membakar gedung serta mobil. Banyak kalangan masyarakat dunia terkejut dan heran.
Tidak hanya karena skala kekerasan yang terjadi, tetapi juga karena kerusuhan itu berlangsung
di Inggris, negara Dunia Pertama yang terkenal dengan prinsip multikulturalismenya. Jika
kejadian semacam itu terjadi di negara Dunia Ketiga, agaknya tidak lagi mengagetkan
masyarakat internasional.
Kerusuhan di Inggris sekarang menambah daftar kekerasan yang cenderung meningkat di
Eropa belakangan ini. Masih segar dalam ingatan, pada 22 Juli lalu Anders Behring Breivik
dengan semangat anti-imigran dan rasisme melakukan penembakan membabi buta di Oslo,
Norwegia, menewaskan 86 orang. Seperti kasus di Norwegia, kerusuhan di Inggris juga berbau
rasisme yang laten dalam masyarakat Inggris dan sewaktu-waktu siap meledak saat muncul
faktor pemicunya.
Dalam kasus Inggris, faktor pemicunya adalah tewasnya Mark Duggan (29), warga keturunan
Afro-Karibia, karena tembakan unit khusus polisi—umumnya kulit putih—yang melakukan razia
senjata ilegal di kawasan Tottenham, London, Kamis pekan lalu.
Krisis ekonomi-sosial
Kenyataan bahwa kerusuhan mulai meledak di kawasan Tottenham memberikan indikasi
penting tentang akar-akar ekonomi, sosial, dan politik kasus ini. Kawasan ini—meski terkenal
dengan tim sepak bola Tottenham Hotspur yang cukup menanjak dalam dua musim terakhir di
Liga Primer Inggris—merupakan salah satu konsentrasi terbesar komunitas migran kulit hitam
Afro-Karibia di London. Tottenham adalah wilayah inner city (baca: daerah kumuh dan miskin)
dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Wilayah ini juga mengandung banyak masalah sosial
lain yang sewaktu-waktu meletup menjadi kerusuhan massal tidak terkendali.
1/3
Akar Kerusuhan Inggris
Written by Azyumardi Azra
Tuesday, 16 August 2011 18:08 - Last Updated Monday, 26 September 2011 16:55
Faktor ekonomi terlihat jelas ada di balik kerusuhan Tottenham, yang terbukti amat cepat
menjalar ke beberapa kota lain di Inggris. Ini mengindikasikan meluasnya kejengkelan sosial
(social resentment) terkait kenyataan banyak warga migran kulit berwarna di Tottenham dan
tempat-tempat lain di Inggris menghadapi kehidupan kian sulit.
Sejak terjadinya kerusuhan besar berbau rasial di Tottenham pada 1985, sampai kini hampir
tidak ada perbaikan kehidupan kaum migran. Bahkan sebaliknya, warga inner city menghadapi
realitas hidup kian pahit.
Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa sejak 2009 menimbulkan dampak
yang sangat parah terhadap banyak kaum migran. Lingkungan hidup mereka menampilkan
citra kemerosotan wilayah perkotaan (urban decay). Karena industri Inggris kian tidak
kompetitif, timbullah deindustrialisasi yang mengakibatkan banyak migran pekerja kasar (blue
collar) mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Mereka meningkatkan jumlah
penganggur di Tottenham dan inner city di kota-kota lain. Karena menganggur, kemiskinan pun
kian merajalela.
Di tengah berbagai kesulitan ekonomi dan sosial itu, pemerintahan PM David Cameron juga
melakukan pemotongan anggaran secara drastis dalam bidang kesejahteraan rakyat, seperti
tunjangan penganggur, bantuan dana perumahan, atau insentif untuk anak usia balita.
Berkurangnya subsidi pemerintah seperti ini kian menambah kesengsaraan warga kelas
bawah, termasuk komunitas migran.
Kesulitan-kesulitan ekonomi ini segera menimbulkan banyak masalah sosial. Tingkat putus
sekolah menjadi hal lazim, yang kemudian diikuti alkoholisme dan penggunaan narkoba.
Kondisi seperti ini menjadikan kawasan seperti Tottenham dan inner city lainnya selalu menjadi
target pengawasan dan razia polisi, yang tidak jarang melibatkan tindakan brutal oknum
kepolisian. Hasilnya, antipati warga inner city terhadap polisi terus meningkat dan tinggal
menunggu waktu saja sebelum meledak menjadi kerusuhan sosial yang lebih masif.
Multikulturalisme gagal?
2/3
Akar Kerusuhan Inggris
Written by Azyumardi Azra
Tuesday, 16 August 2011 18:08 - Last Updated Monday, 26 September 2011 16:55
Kerajaan Inggris Raya (United Kingdom) selalu bangga dengan multikulturalismenya. Inggris
Raya merupakan salah satu negara paling multietnis, multikultural, dan multiagama. Tidak
hanya di Eropa, tetapi agaknya juga di seluruh dunia. Adalah kebijakan resmi Pemerintah
Inggris untuk mengakui keragaman ras, kultur, dan agama dengan memberikan kebebasan
seluas-luasnya kepada entitas ras, kultur, serta agama untuk mengekspresikan diri.
Tak kurang pentingnya, Inggris juga merupakan tempat perlindungan yang aman (safe haven)
bagi tokoh dan aktivis politik migran yang meninggalkan negara masing-masing karena
kesulitan dan penindasan politik di tanah air mereka. Tidak jarang mereka menjadikan London
sebagai pusat perlawanan menumbangkan rezim di negara masing-masing. Bukan tidak lazim
pula jika para aktivis politik migran ini menimbulkan masalah politik dan keamanan bagi Inggris
sendiri.
Meski berhadapan dengan kenyataan seperti itu, yang kemudian berganda dengan kesulitan
ekonomi dan politik yang dihadapi Pemerintah Inggris, banyak pemimpin dan politikus negara
ini masih percaya pada multikulturalisme. Padahal, Kanselir Jerman Angela Merkel pada
Oktober 2010 mengeluarkan pernyataan mengagetkan pemerintah negara-negara Uni Eropa.
Merkel mengungkapkan bahwa multikulturalisme telah gagal total di Jerman. Gejala serupa kini
juga terlihat di Inggris dan berbagai tempat Eropa lainnya.
Atas munculnya kerusuhan berbau ekonomi, sosial, dan rasial ini, pemerintah dan warga
Inggris boleh jadi berpikir ulang tentang prinsip multikulturalisme mereka. Sebenarnya tak ada
yang salah dengan multikulturalisme; bahkan ia tetap paling relevan bagi negara-bangsa
majemuk seperti Inggris. Akan tetapi, ia tidak bisa terwujud baik jika tidak ditopang kebijakan
ekonomi, sosial, dan politik yang memberdayakan sekaligus mengangkat harkat warga
minoritas.
Azyumardi Azra CBE Guru Besar Sejarah, Direktur SPS UIN Jakarta, dan Co-Chair United
Kingdom-Indonesia
Islamic Advisory Group.
Source : Kompas, 11 Agustus 2011 3/3
Fly UP