...

Jangan Sepelekan Penyakit Asma

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Jangan Sepelekan Penyakit Asma
I N F O K E S E H ATA N
Jangan Sepelekan
Penyakit Asma
Kenali Gejalanya untuk
Tingkatkan Kualitas Hidup
SEKITAR 4–10 persen masyarakat Indonesia men­
derita penyakit pernapasan berupa asma. Data terbaru
dari Kementerian Ke­sehatan menyebutkan, penderita
tertinggi berada di Aceh (13,6 persen), disusul Nusa
Tenggara Timur (11,5 persen). Di Jakarta, setidaknya
satu di antara 10 anak-anak berusia 11 hingga 13
tahun memiliki masa­lah pernapasan.
Data tersebut naik tajam jika dibandingkan dengan
tiga dekade lalu, yang hanya sekitar 1 persen penduduk
Indonesia menderita asma atau penyakit kronis
saluran udara yang meradang dan menyempit.
Menurut Prof Dr Hadiarto Mangunnegoro SpP(K)
FCCP, penyakit pernapasan di Indonesia tidak lagi
menular seperti tuberkulosis. Tingkat penderita
tuberkulosis memang menurun, namun jumlah
penderita penyakit tidak menular seperti asma
malah mening­kat.
’’Masih belum diketahui penyebab pe­nyakit asma.
Tetapi, faktor risiko dan pe­micunya sudah diidentifikasi.
Yakni, polusi perkotaan, asap rokok, hingga asap,’’
kata pulmonologists, dokter ahli paru-paru kenamaan
di tanah air itu.
Asma merupakan salah sa­tu gang­guan pernapasan
akibat hipe­­rak­tivitas bronkus dan obs­truk­si jalan
napas. Penderita asma akan batuk berkelan­jutan
saat malam atau menjelang pagi, semen­tara sore
batuk mulai mereda.
Mitos Salah tentang Asma
Asma merupakan penyakit yang cukup umum.
Itu dilihat dari banyaknya penderita asma di dunia
yang mencapai 300 juta orang. Meski demikian,
masih banyak pemahaman yang salah mengenai
cara pe­ngobatan penyakit tersebut.
Guru besar ilmu pulmonologi dan ilmu kedokteran
respirasi FKUI itu menuturkan, masih banyak
penderita asma yang hanya pergi ke dokter atau
rumah sakit ketika serangan asmanya sudah parah.
Padahal, asma meru­pakan penyakit yang tidak
bisa disembuhkan, namun dapat dikontrol.
Selain itu, masih banyak penderita asma yang
takut menghirup inhaler karena merasa mem­
bahayakan kesehatan. Inhaler adalah hand-held
devices yang mengantarkan obat langsung ke
paru-paru penderita. ’’Padahal, terhitung lebih
murah menggu­nakan inhaler setiap hari selama
setahun untuk mencegah asma kambuh daripada
membayar biaya satu kali ke rumah sakit,’’ jelas
dokter yang juga merupakan salah seorang founder
Asia Pacific Society of Respirology tersebut.
Pemahaman lain yang salah, sekitar 80 persen
penderita asma hanya menggunakan bronkodilator,
zat yang mengurangi gejala asma dengan cepat.
Namun, bronkodilator tidak mengurangi peradangan
saluran udara, malah membuat seseorang lebih
sensitif terhadap pemicu asma. Ironisnya, obat-obatan
anti peradangan untuk mengon­trol asma malah
jarang digu­nakan.
Tak mengherankan jika data dari Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, penanganan
dan diagnosis penyakit asma masih minim.
Akibatnya, penderita dibatasi dalam melakukan
aktivitas tertentu sepan­jang hidupnya.
Hal yang sama terjadi di Indonesia. Ke­majuan
medis memang telah mengurangi risiko kematian
penderita asma. Namun, tidak semua penderita
asma bisa memiliki kualitas hidup yang baik.
’’Sebagian besar perawatan yang ada di bawah
Masih belum diketahui
penyebab pe­nyakit asma.
Tetapi, faktor risiko dan
pe­m icunya sudah diidentifikasi. Yakni, polusi
perkotaan, asap rokok,
hingga asap.’’
Prof Dr Hadiarto Mangunnegoro SpP(K) FCCP
Pulmonologists
standar,’’ ucap Hadiarto. ’’Tidak ada diagnosis
akurat atau gradasi keparahan asma yang
meng­­akibatkan pera­watan yang tidak cocok,’’
tambah­nya.
Diagnosis asma yang benar seharusnya
menggunakan X-ray dan tes fungsi paruparu dengan peak flow meter, perangkat
sederhana yang mengukur kecepatan
bernapas. Sementara itu, diagnosis akurat
menggu­nakan spirometer untuk menen­
tukan apakah saluran udara terhambat
dan seberapa parah hambatan itu. ’’As­
ma tidak dapat disem­­buhkan, tetapi
kita mencoba untuk mengontrol serta
menge­lola gejala dan yang pasti
mening­katkan kualitas hidup,’’ kata
Hadiarto. (tih/nuq/c7/aan)
Pusat Pernapasan Siloam Hospitals Asri
Prof Dr Hadiarto Mangunnegoro SpP(K) FCCP me­ngem­­­
bangkan pusat pernapasan di Siloam Hospitals Asri,
Jakarta Selatan.
Didirikan pada Januari 2015, pusat pernapasan terse­
but selain menangani penyakit asma, juga penyakit
pernapasan lain seperti chronic obstructive pulmonary
disease (COPD).
Dikelola bersama empat pulmonologists berpengala­
man, termasuk Hadiarto.
Para ahli tersebut terdiri atas dokter spesialis alergen
khusus anak, dokter THT, ahli radiologi khusus sistem
pernapasan, dan ahli bedah toraks.
Pusat pernapasan itu dilengkapi teknologi terbaru
untuk diagnosis yang akurat. Termasuk mesin X-ray,
Pusat Pelayanan Ambulans 24 jam: 1 – 500 – 911
perangkat untuk mengukur jumlah oksida nitrat
dalam napas (uji FeNO), a bronchial provocation test dan bronchodilator test, a carbon
dioxide detection test, perlengkapan endoskopi,
CT scan, serta fasilitas laboratorium untuk tes
darah guna mendeteksi alergen secara spesifik.
(tih/nuq/c7/aan)
Pusat Pendaftaran Rawat Jalan: 1 – 500 – 181
Fly UP