...

this PDF file - Jurnal FMIPA Unila

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - Jurnal FMIPA Unila
Amir Supriyanto…Pengukuran Radioaktivitas dan Radiasi-Gamma
PENGUKURAN RADIOAKTIVITAS DAN RADIASI-GAMMA
LINGKUNGAN DI PROVINSI LAMPUNG
Amir Supriyanto
Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Lampung
Jl. S. Brojonegoro 1 Bandar Lampung 35145
Diterima 1 September 2005, perbaikan 29 November 2005, disetujui untuk diterbitkan 6 Desember 2005
ABSTRACT
The activity made in every place, either involving nuclear energy or not, it naturally has the potential of
radioactivity. The measurement of radioactivity should be taken in both resident area and in the centre of
food production, including the Lampung Province. The radioactivity data at the Lampung Province were
needed to know the level of the radiation, so it would give comfortable living and safety to the residents of
Lampung Province. The researches were carried out on various substances including foods, water, air, grass,
and soil. Before the radioactivity measurement is taken, each of the samples was prepared as a concentrate.
The results showed that the level of radiation both radioactivity and gamma in every place taken at Lampung
Province in general were normal.
Keywords: radioactivity, gamma radiation
1. PENDAHULUAN
Disadari atau tidak bahwa penduduk di dunia
selalu mendapat radiasi yang berasal dari berbagai
sumber radiasi, baik yang berasal dari alam
maupun sumber radiasi buatan. Sumber radiasi
alam dapat berasal dari dalam bumi dan ruang
angkasa (kosmik), radiasi buatan berasal dari
kegiatan manusia dalam bidang medik, industri,
dan percobaan-percobaan nuklir.
Menurut Lubis1, tujuan utama pemantauan radioaktivitas lingkungan adalah untuk memberikan
jaminan/pembuktian kepada Badan Pengawas dan
masyarakat bahwa dampak radiologi yang
ditimbulkan dalam batasan yang diizinkan/
diperkenankan. Di samping itu juga sebagai sarana
ilmiah dalam mempelajari pola penyebaran, faktor
perpindahan/pemekatan dan migrasi radionuklida
di berbagai komponen lingkungan hidup.
Menurut United Nations Scientific Committee on
Effect of Radiation (UNCEAR)2, penyinaran
radiasi yang diterima penduduk dunia sebagian
besar dari sumber radiasi alam sekitar 87%, yang
terdiri atas radiasi radon (51%), radiasi sinar
kosmik (10%), radiasi interna (12%), radiasi
eksterna-gamma (14%). Radiasi buatan sekitar
13% terdiri atas kegiatan medik (12%) dan lainlain adalah 1% (0,4% berasal dari jatuhan
radioaktif, 0,2% kerja radiasi, kurang dari 0,1%
kegiatan instalasi nuklir, dan kurang dari 0,4%
kegiatan lain). Total dosis radiasi yang diterima
penduduk dunia yang berasal dari sumber radiasi
194
sekitar 2,4 mSv/tahun yang terdiri atas 2,0
mSv/tahun berasal dari dalam bumi dan 0,4
mSv/tahun berasal dari sinar kosmik, sementara
yang berasal dari sumber radiasi buatan sekitar 0,7
mSv/tahun.
Daerah yang tidak terdapat aktivitas menggunakan
energi nuklir juga terdapat radiasi-gamma
lingkungan secara alami.
Provinsi Lampung
sebagai daerah agroindustri yang banyak
menghasilkan bahan makanan (diantaranya ada
yang dipasarkan di daerah lain), perlu diukur
radiasi-gamma lingkungannya agar dapat diketahui
bahwa hasil agroindustri di daerah ini terbebas dari
radiasi.
Untuk
mendapatkan
data
dasar
radioaktivitas dan radiasi-gamma lingkungan di
Provinsi Lampung perlu dilakukan pengukuran
tingkat radioaktivitas di beberapa daerah
kabupaten dan kota. Pengukuran tersebut perlu
dilakukan karena belum ada pengukuran tingkat
radiasi lingkungan yang dilakukan di provinsi
tersebut, terutama di daerah penghasil bahan
makanan kebutuhan pokok.
2. METODE PENELITIAN
2.1. Persiapan Sampel
Pengukuran radioaktivitas dan radiasi-gamma
lingkungan dilakukan pada 8 lokasi, yaitu: Desa
Tarahan
(Lampung
Selatan),
Kelurahan
Gedongmeneng
(Bandar
Lampung),
Desa
Wonoharjo dan Tanjung Jati (Tanggamus), Desa
Purwosari (Metro, Lampung Tengah, Lampung
 2005 FMIPA Universitas Lampung
J. Sains Tek., Desember 2005, Vol. 11, No. 3
Timur), Desa Menggala (Tulang Bawang), Desa
Hanakau (Lampung Barat), dan Desa Bandar Putih
(Lampung Utara, Waykanan). Contoh sampel
yang dikumpulkan adalah air, tanah, rumput, dan
bahan makanan.
Pengumpulan dan analisis
dilakukan menggunakan prosedur baku yang
ditetapkan oleh BATAN3.
2.2. Tanah
Pengambilan tanah dilakukan menggunakan bor
tanah pada kedalaman 0—5 cm dan
5—20 cm sebanyak 2—5 kg.. Sampel tanah
dikumpulkan ke dalam kantong plastik yang telah
diberi label (memuat lokasi dan tanggal
pengambilan sampel).
Tempat pengambilan
sampel dipilih jauh dari pepohonan dan gedung
(tempat terbuka) serta bukan tanah urugan. Tanah
dibersihkan dari akar-akar dan batu-batuan,
kemudian dijemur atau dimasukkan ke dalam oven
pada suhu 110 oC selama 2 jam agar terbebas dari
uap air. Sampel tanah yang telah kering digerus
dengan grinder dan diayak sehingga diperoleh
butiran berukuran ± 2 mm. Kemudian sampel
diambil sekitar 1 liter secara statistik dan ditutup
rapat dengan lem araldite serta disimpan selama
satu bulan. Selanjutnya sampel tanah siap dicacah
untuk menentukan konsentrasi 137Cs, 228Th, 226Ra,
dan 40K dalam tanah.
2.3. Air
Sampel air diambil dari sumur atau sumber air
minum sebanyak75—100 liter, ditambah dengan
pengemban Asam Nitrat berasap, Strontium, dan
Casium pengemban secukupnya di dalam jerigen
(yang telah diberi kode sampel). Setiap 1 liter
sampel diutambahkan 1 liter asam nitrat berasap.
Sampel air diendapkan dengan resin penukar
kation Dowex 50 W X 8, 50—100 mesh.
Selanjutnya endapan air dalam resin diproses
untuk menentukan konsentrasi 90Sr (dalam bentuk
endapan Yitrium Oksalat) dan 137Cs (dalam
bentuk larutan Cesium Nitrat) menggunakan
metode isolasi (pemisahan secara radiokimia)
Penentuan konsentrasi radionuklida alam 228Th,
Ra, dan 40K hanya diperlukan contoh air
sebanyak 20 liter. Air diuapkan sehingga tinggal
± 1 liter kemudian dituang ke dalam beker (diberi
label), ditutup rapat dengan lem araldite, dan
disimpan sekitar satu bulan. Selanjutnya sampel air
siap untuk diukur kandungan radionuklida 228Th,
226
Ra, dan 40K dalam air.
226
2.3. Udara
Pengumpulan sampel udara (airborn dust)
dilakukan dengan menggunakan penghisap udara
 2005 FMIPA Universitas Lampung
(air sampler) pada ketinggian sekitar 1,5 m dari
permukaan tanah, dengan laju hisap 120 liter
permenit selama 60 menit. Lokasi pengambilan
sampel di tempat terbuka, jauh dari pohon-pohon
dan gedung yang tinggi. Udara tersebut dialirkan
melalui kertas penapis (glass microfiber filter)
GF/F Whatman berdiameter 47 mm.
Untuk
menentukan konsentrasi alfa dan beta total, sampel
disimpan selama 3 hati atau lebih sebelum dicacah.
2.4. Rumput dan Bahan Makanan
Sampel rumput dikumpulkan sebanyak 1—2 kg
basah yang diambil sekitar 2 cm di atas permukaan
tanah, kemudian dimasukkan ke dalam kantong
plastik (diberi label). Selanjutnya dijemur atau
dikeringkan menggunakan oven pada suhu 110 oC
selama 24 jam sampai uap air yang terkandung
dalam sampel menguap. Sampel rumput yang
sudah kering dipotong-potong, digerus dan diayak
(seperti sampel tanah). Sampel diabukan ke dalam
tungku pada suhu kurang dari 450 oC (sampai
putih, hilang kandungan karbonnya). Sampel
rumput yang berbentuk abu putih tersebut
dimasukkan ke dalam tabung plastik (diberi label),
kemudian ditutup rapat dengan lem araldite dan
disimpan selama satu bulan. Setelah itu sampel
siap dicacah untuk menentukan konsentrasi 137Cs,
228
Th, 226Ra, dan 40K .
Sampel bahan makanan dikumpulkan dari pasar
atau ladang sebanyak 2—10 kg, bergantung dari
jenis sampel yang mengandung air biasanya
diperlukan sampel relatif banyak. Sampel bahan
makanan yang dikumpulkan dari beberapa lokasi
di Provinsi Lampung terdiri atas beras, jagung,
pisang, dan sayur-sayuran(wortel, terong, buncis,
kacang panjang, labusiam, kol, bayam, dan cabe).
Persiapan sampel bahan makanan selanjutnya
diproses sama dengan perlakuan pada sampel
rumput.
2.5. Pengukuran Sampel
2.5.1. Konsentrasi 137Cs
Penentuan konsentrasi 137Cs di dalam sample dilakukan dengan Spektrometer- gamma, menggunakan detector semikonduktor Germanium berkemurnian tinggi (HP-Ge), selama 17 jam.
Menurut IAEA4 perhitungan konsentrasi
137
Cs dalam sampel adalah seperti pada Persamaan
1-6 berikut:
( C t − C b ) ± S d ….…………… (1)
EPγ F k W
dengan: Ct = laju cacah total (cps)
Cb = laju cacah latar belakang (background)
E = Efisiensi pencacahan (%)
K 137 Cs =
195
Amir Supriyanto…Pengukuran Radioaktivitas dan Radiasi-Gamma
Pγ = intensitas sinar gamma (%) , Pγ dari
137
Cs = 85 %
W = berat sampel atau volume sampel
Fk = faktor koreksi serapan diri
Sd = simpangan baku
E =
C st
100 % …………………….. (2)
Ast Pγ
dengan: Cst = cacah sumber standar radioaktif dan
Ast = aktivitas sumber standar.
Fk =
µt
1 − e−µ t
………………………. (3)
µ m = faktor serapan massa yang
harganya bergantung pada energi sinar-γ, yaitu
µ m = 1,287 e − 0.435 …………………….. (5)
dan ρ adalah kerapatan sampel.
Standar deviasi atau simpangan baku mengikuti
distribusi Poisson
Sd =
Ct − Cb
………………………… (6)
T
dengan: T = waktu cacah (sekon)
2.5.2. Konsentrasi 90Sr
Penentuan konsentrasi 90Sr di dalam sampel
menggunakan pencacah berlatar belakang sistem
alfa/beta dengan detektor proporsional atau P-10
(Gas alir campuran 90% Argon dan air 10%),
selama 18 jam. Perhitungan konsentrasi dalam
sampel (Bq/kg atau Bq/l), menurut IAEA3
menggunakan rumus pada Persamaan 7:
K 137Sr =
(C t − C b ) ± S d
……………..… (7)
EF k W
2.5.3. Konsentrasi
228
Th,
226
Ra, dan
40
K
Penentuan konsentrasi 228Th, 226Ra, dan 40K di
dalam sampel dilakukan dengan spectrometer
gamma menggunakan detektor semikonduktor
Germanium berkemurnian tinggi (HP-Ge), selama
18 jam. Perhitungan 228Th ditentukan menggunakan
energi puncak 241,98 eV dengan Pγ = 40,4 %,
konsentrasi 226Ra ditentukan menggunakan energi
puncak 609,31 eV dengan Pγ = 44,6 %, dan
konsentrasi 40K ditentukan menggunakan energi
puncak 1.460,75 eV dengan
Pγ = 10,6 %
196
Penentuan konsentrasi alfa total dan beta total di
dalam sampel dilakukan pencacahan dengan
pencacah berlatar belakang rendah sistem alfa/beta
dengan detector proporsional gas alir selama 3
jam. Perhitungan konsentrasi alfa atau beta dalam
sampel (Bq/kg atau Bq/l) menurut IAEA4
menggunakan rumus pada Persamaan 8:
Konsentrasi α/β =
dengan: t = tebal sampel (cm) dan
µ = faktor serapan linear (cm-1)
Harga µ diperoleh dari:
µ = µ m ρ ………… ………………………(4)
dengan:
2.5.4 Konsentrasi alfa dan beta total
(C t − C b ) ± S d
…………(8)
EW
2.5.5. Pengukuran Laju Dosis Serap
Pengukuran
radiasi-gamma
lingkungan
menggunakan perangkat mini-instrumen radiasigamma lingkungan model 6-80.
Alat ini
dilengkapi dengan
tabung GM tipe MC-71
sebagai detector dan beberapa alat elektronik
pendukung,
yaitu: tegangan tinggi (HV),
ratemeter, penyekala otomatik dengan preset time,
daya dari baterei, layar peraga berdiameter 70 mm,
pen skala logaritmik dengan rentang 0,05—75
µGy/jam. Alat tersebut portable (m = 1,2 kg) dan
batas maksimum skala adalah enam digit.
2.6. Analisis Data
Hasil pengukuran konsentrasi radionuklida di
dalam sampel tersebut harus dibandingkan dengan
batas terendah pendeteksian (lower limit of
detection = LLD) alat yang digunakan atau juga
dapat dibandingkan dengan batas konsentrasi
deteksi
minimum
(minimum
detectable
concentration = MDC). LLD dan MDC menurut
IAEA4 ditentukan dengan Persamaan 9 dan 10:
LLD =
2,33 Cb / Tb
dan MDC =
EPγ
…… ……………. (9)
2,33 C b / Tb
.……… (10)
EPγ Fk W
dengan selang kepercayaan 68 %.
Jika konsentrasi radionuklida dalam sampel lebih
kecil dari atau sama dengan MDC dikatakan
bahwa konsentrasi radionuklida dalam sampel
yang diukur tidak terdeteksi, sebaliknya jika lebih
besar dari pada MDC radionuklida yang
terkandung sampel terdeteksi.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengukuran radioaktivitas dan radiasi
lingkungan di beberapa lokasi Provinsi Lampung
disajikan pada Tabel 1 - 5.
 2005 FMIPA Universitas Lampung
J. Sains Tek., Desember 2005, Vol. 11, No. 3
Tabel 1, memperlihatkan bahwa konsentrasi 137Cs,
Th, 226Ra, dan 40K di dalam tanah pada
kedalaman 0—5 cm dan 5—20 cm bervariasi
bergantung dari lokasi pengambilan sampel.
Konsentrasi 137Cs umumnya relatif tinggi pada
kedalaman 0—5 cm, karena 137Cs merupakan hasil
belahan inti sebagai jatuhan debu radioaktif hasil
percobaan/ ledakan bom nuklir. Sehingga
kemungkinan
besar
radionuklida
tersebut
terakumulasi di bagian tanah permukaan (top soil).
Adapun konsentrasi radionuklida alam seperti
228
Th, 226Ra, dan 40K relatif tinggi di bagian tanah
berkedalaman 5—20 cm, karena radionuklida
tersebut merupakan alam berasal dari kerak bumi,
yang disebut radionuklida primordial.
Tabel 2, memperlihatkan bahwa konsentrasi
radionuklida 137Cs, 228Th, 226Ra, dan 40K di dalam
air bervariasi. Konsentrasi radionuklida alam lebih
tinggi dari pada radionuklida hasil belahan inti.
Sehingga
diperkirakan
bahwa
tingkat
radioaktivitas yang terkandung di dalam air sumur
penduduk di Provinsi Lampung umumnya berasal
dari radionuklida alam yang berasal dari dalam
tanah. Sedangkan konsentrasi radionuklida jatuhan radioaktif (137Cs dan 90Sr) sangat rendah
(dalam orde mBq/l). Data tersebut masih jauh di
bawah konsentrasi tertinggi yang diizinkan berdasarkan Keputusan Dirjen BATAN, No: 293/DJ/
VII/1995. Batas konsentrasi radionuklida tertinggi
yang diizinkan di dalam air adalah 7 x 102 Bq/l untuk 137Cs; 4,0 Bq/l untuk 90Sr; 3x 103 Bq/l untuk
228
Th; 4,0 Bq/l untuk 226Ra; dan 104 untuk 40K5.
228
Konsentrasi radionuklida 137Cs di dalam tanah
yang paling tinggi di daerah Bandar Putih
(Lampung Utara) baik pada kedalaman 0—5 cm
maupun 5—20 cm, tetapi perbedaan tersebut
masih dalam rentang radioaktivitas latar belakang
(background).
Tabel 3, memperlihatkan bahwa konsentrasi
radionuklida 137Cs, 90Sr, 228Th, 226Ra, dan 40K di
dalam
rumput
bervariasi.
Konsentrasi
radionuklida di dalam rumput paling tinggi adalah
40
K di daerah Bandar Putih Lampung Utara, kerana
tanahnya banyak mengandung kapur, sedangkan
konsentrasi radionuklida yang lain relatif rendah.
Konsentrasi radionuklida alam yang paling tinggi
di daerah lampung bagian utara yaitu di desa
Menggala dan Bandar Putih. Hal ini disebabkan
kemungkinan ada kaitannya dengan struktur geologi dengan daerah Bangka. Tanah di daerah
Bangka umumnya sebagian besar mengandung
batuan monasit, yang banyak mengandung
radionuklida alam terutama 228Th beserta anak
luruhnya.
Tabel 4, memperlihatkan bahwa konsentrasi
radionuklida 137Cs, dan 90Sr di dalam bahan
makanan (sayur-sayuran) sangat rendah, dalam
orde mBq/kg.
Paling tinggi terkandung dalam bayam untuk 90Sr
137
dan pisang untuk
Cs di daerah Gisting
Tabel 1. Konsentrasi radionuklida di dalam tanah (Bq/kg) di Provinsi Lampung
Lokasi
Kode
Lokasi
Tarahan
(Lamsel)
Gedongmeneng
(B. Lampung)
Purwosari
(Lamteng)
Wonoharjo
(Tanggamus)
Tanjung Jati
(Tanggamus)
Hanakau
(Lambar)
Menggala
(Tlg.Bawang)
Bandar Putih
(Lampura)
Rata-rata
Keterangan: MDC
Bq/kg
137
228
Cs
226
Th
40
Ra
K
0—5 cm
5—20 cm
0—5 cm
5—20 cm
0—5 cm
5—20 cm
0—5 cm
5—20 cm
01
1,36 ± 0,12
0,71 ± 0,04
44,75 ± 0,57
55,32 ± 0,57
12,65 ± 0,57
15,75 ± 0,14
217,81 ± 2,57
235,27 ± 2,35
02
1,98 ± 0,13
0,94 ± 0,07
35,5 ± 0,26
123,15 ± 1,25
2,50 ± 0,67
20,71 ± 0,15
246,25 ± 2,66
271,85 ± 2,40
03
1,53 ± 0,12
0,79 ± 0,06
58,72 ± 0,42
47,21 ± 0,35
29,63 ± 0,65
31,07 ± 0,21
185,15 ± 2,80
113,71 ± 1,76
04
1,90 ± 0,21
0,91 ± 0,07
42,57 ± 0,55
82,71 ± 0,76
9,45 ± 0,36
17,81 ± 0,16
250,18 ± 2,85
179,69 ± 1,84
05
1,58 ± 0,12
0,75 ± 0,05
48,67 ± 0,56
119,01 ± 1,24
48,60 ± 0,82
50,07 ± 0,54
254,56 ± 3,00
437,01 ± 3,90
06
1,53 ± 0,22
0,73 ± 0,05
65,32 ± 0,63
149,89 ± 1,44
52,63 ± 1,82
57,71 ± 0,67
320,94 ± 3,95
341,71 ± 3,04
07
1,55 ± 0,11
0,67 ± 0,07
36,50 ± 0,61
137,36 ± 1,04
65,12 ± 1,67
61,91 ± 0,64
08
2,21 ± 0,13
1,01 ± 0,12
48,25 ± 1,72
171,45 ± 1,56
64,47 ± 1,68
70,71 ± 0,04
424,68 ± 4,68
413,89 ± 4,82
1,87 ± 0,17
0,89 ± 0,07
47,25 ± 0,38
110,76 ± 0,38
38,44 ± 1,36
40,71 ± 0,17
289,18 ± 1,35
137
Cs = 0,65 Bq/kg ; MDC
 2005 FMIPA Universitas Lampung
228
Th = 0,70 Bq/kg; MDC
226
Ra = 1,15 Bq/kg; dan MDC
40
K = 3,80
197
425,11 ± 3,98
438,61 ± 4,87
305,37 ± 0,95
Amir Supriyanto…Pengukuran Radioaktivitas dan Radiasi-Gamma
Tabel 2. Konsentrasi radionuklida di dalam air (10-3 Bq/l) di Provinsi Lampung
Lokasi
Tarahan (Lamsel)
Gedongmeneng
(B. Lampung)
Purwosari
(Lamteng)
Wonoharjo
(Tanggamus)
Tanjung Jati
(Tanggamus)
Hanakau
(Lambar)
Menggala
(Tlg.Bawang)
Bandar Putih
(Lampura)
Kode
Lokasi
01
137
90
Cs
228
Sr
Th
226
40
Ra
K
< 0,96
< 0,85
< 19,10
1,65 ± 0,01
201,29 ± 5,20
02
1,65 ± 0,01
< 0,85
1,65 ± 0,01
< 45,07
< 128,96
03
< 0,96
< 0,85
< 19,10
< 45,07
154,84 ± 5,19
04
< 0,96
1,21 ± 0,48
1,65 ± 0,01
1,65 ± 0,01
289,02 ± 5,21
05
< 0,96
< 0,85
< 19,10
< 45,07
< 128,96
06
< 0,96
< 0,85
< 19,10
< 45,07
< 128,96
07
< 0,96
< 0,85
< 19,10
< 45,07
< 128,96
08
< 0,96
< 0,85
< 19,10
< 45,07
< 128,96
1,65 ± 0,01
1,21 ± 0,48
1,65 ± 0,01
1,65 ± 0,01
215,05 ± 3,00
Rata-rata
Keterangan: MDC 137Cs = 0,96 mBq/l ; MDC 228Th = 0,85 mBq/l; MDC
mBq/l; dan tanda ( < ) lebih kecil dari MDC
226
Ra = 19,10 mBq/l; MDC
40
K = 128,96
Tabel 3. Konsentrasi radionuklida di dalam rumput ( Bq/kg basah) di Provinsi Lampung
Lokasi
Tarahan (Lamsel)
Gedongmeneng
(B. Lampung)
Purwosari
(Lamteng)
Wonoharjo
(Tanggamus)
Tanjung Jati
(Tanggamus)
Hanakau
(Lambar)
Menggala
(Tlg.Bawang)
Bandar Putih
(Lampura)
Rata-rata
Kode
Lokasi
01
02
137
90
Cs
228
Sr
226
40
Ra
K
< 0,30
< 0,30
< 0,18
0,45 ± 0,12
< 0,07
< 0,07
0,40 ± 0,01
0,60 ± 0,01
< 1,39
< 1,39
03
0,69 ± 0,19
< 0,18
< 0,07
0,68 ± 0,01
< 1,39
04
0,43 ± 0,30
< 0,18
< 0,07
0,41 ± 0,01
< 1,39
05
< 0,30
0,39 ± 0,07
< 0,07
0,65 ± 0,01
< 1,39
06
< 0,30
< 0,18
< 0,07
0,33 ± 0,01
< 1,39
07
< 0,30
< 0,18
< 0,07
0,52 ± 0,01
7,34 ± 0,01
08
< 0,30
< 0,18
< 0,07
< 0,28
13,69 ± 0,01
0,56 ± 0,17
0,42 ± 0,07
-
0,51 ± 0,003
10,52 ± 0,002
Keterangan: MDC 137Cs = 0,30 Bq/kg ; MDC 90Sr = 0,18 Bq/kg; MDC
Bq/kg; dan MDC 40K = 1,39 Bq/kg
(Tanggamus). Data tersebut masih dalam kondisi
normal, karena masih disekitar harga batas deteksi
alat cacah untuk tingkat radioaktivitas lingkungan.
Tabel 5, memperlihatkan bahwa konsentrasi alfa
total dan beta total di udara serta laju dosis radiasigamma bervariasi dan umumnya masih rendah jika
198
Th
228
Th = 0,07 Bq/kg; MDC
226
Ra = 0,28
dibandingkan dengan batas terttinggi yang
diizinkan Batas konsentrasi baik alfa total maupun
beta total (dengan anggapan tidak mengandung
radionuklida 233Pa, 239Pu, 240Pu, 242Pu, dan 249Pf)
adalah 3x 10-6 Bq/l, karena udara di daerah
Lampung tidak ada fasilitas nuklir.
 2005 FMIPA Universitas Lampung
J. Sains Tek., Desember 2005, Vol. 11, No. 3
Tabel 4. Konsentrasi radionuklida di dalam bahan makanan (Bq/kg basah) di Provinsi Lampung
Lokasi
Jenis contoh
Massa
contoh (kg)
Konsentrasi
137
(Bq/kg)
90
Wortel
10,00
Cs
< 0,006
Teronmg
Sawi
Buncis
Kacang panjang
9,54
9,45
2,36
3,43
< 0,007
< 0,006
< 0,028
0,021 ± 0,013
< 0,004
< 0,004
0,027 ± 0,024
< 0,011
Liwa, Lambar (06)
Labusiam
Kol
Jagung
Beras
3,53
9,89
1,57
5,00
< 0,019
< 0,007
< 0,042
0,025 ± 0,016
<
<
<
<
Gisting, Tanggamus (05)
Bayam
Cabe
Pisang
1,61
4,76
5,24
0,023 ± 0,014
< 0,006
0,031 ± 0,011
0,025 ± 0,007
0,035 ± 0,027
< 0,008
< 0,007
0,031 ± 0,002
Wonoharjo,
Tanggamus (04)
Rata-rata
Sr
< 0,004
0,011
0,004
0,025
0,008
Keterangan: tanda ( < ) berarti lebih kecil dari MDC
Tabel 5. Konsentrasi alfa total, beta total laju di udara dan laju dosis radiasi-gamma
Lokasi
Kode
lokasi
Tarahan (Lamsel)
Gedongmeneng (B. Lampung)
Purwosari (Lamteng)
Wonoharjo (Tanggamus)
Tanjung Jati (Tanggamus)
Hanakau (Lambar)
Menggala (Tlg.Bawang)
Bandar Putih (Lampura)
Rata-rata
01
02
03
04
05
06
07
08
Konsentrasi
Alfa total
2,50 ± 1,48
< 2,20
2,50 ± 1,48
2,78 ± 1,48
< 2,20
< 2,20
< 2,20
< 2,20
2,59 ± 0,85
(x 10-7
Bq/l)
Beta total
8,40 ± 1,24
2,87 ± 0,12
8,64 ± 1,58
10,45 ± 2,76
< 0,05
< 0,05
4,76 ± 1,85
5,67 ± 1,34
6,80 ± 0,68
Laju dosis
(nGy/jam)
79
80
86
80
68
80
72
98
80 ± 10
Keterangan: Tanda ( < ) berarti lebih kecil dari MDC
Dalam kasus ini MDC alfa total = 2,20 x 10-7 Bq/l dan MDC beta total = 0,05 x 10-7 Bq/l
Laju dosis serap radiasi-gamma untuk setiap
daerah penyeledikan hampir sama yaitu berkisar
68—98 nGy/jam, dengan rata-rata adalah (80
± 10) nGy/jam. Data tersebut masih dalam
keadaan normal untuk daerah Sumatera, karena
data ini lebih rendah dibandingkan pemantauan
radiasi-gamma lingkungan beberapa daerah di
Jawa, yaitu berkisar dari 45-102 nGy/jam, dengan
rata-ratanya (56 ± 5)nGy/jam6.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
pengukuran
tingkat
radioaktivitas dan radiasi-gamma lingkungan
memperlihatkan bahwa keadaan lingkungan di
 2005 FMIPA Universitas Lampung
Provinsi Lampung dalam kondisi normal. Tidak
diperoleh data anomali tingkat radioaktivitas dan
radiasi-gamma baik yang berasal dari jatuhan
radioaktif maupun radionuklida alam di beberapa
daerah penyelidikan. Walaupun demikian perlu
dilakukan pengukuran tingkat radioaktivitas dan
radiasi-gamma lingkungan secara periodik untuk
kepentingan keselamatanm radiasi, terutama
daerah-daerah
yang
dianggap
berpotensi
melepaskan radiasi, misalnya daerah tambang
bawah tanah dan daerah pemanfaatan sumber air
panas untuk kesehatan dan rekreasi.
4.2 Saran
Penelitian seperti ini perlu dikembangkan ke
beberapa daerah Indonesia lainnya, agar segera
diperoleh data dasar tingkat radioaktivitas dan
199
Amir Supriyanto…Pengukuran Radioaktivitas dan Radiasi-Gamma
radiasi-gamma lingkungan secara lengkap. Dalam
penelitian ini perlu melibatkan perguruan tinggi
(peneliti) setempat, sehingga pemasyarakatan
nuklir dapat dikembangkan di seluruh wilayah
Indonesia, terutama yang berkaitan dengan
pemanfaatan Iptek nuklir untuk kesejahteraan
masyarakat dan pembangunan nasional yang
berwawasan lingkungan.
2.
United Nations Scientific Committee on
Effect of Radiation (UNCEAR). 1993.
Sources and Effect of Ionizing Radiation.
UNCEAR Report to the General Assembly.
UN, New York.
3.
Keselamatan Kerja dan Kesehatan. PPNYBATAN, 20—24 Desember 1993,Yogyakarta.
Hal 61-72
Pemantauan lingkungan merupakan ketentuan
yang diberlakukan, sehingga bila terjadi
kecenderungan peningkatan penerimaan dosis oleh
penduduk di sekitar fasilitas nuklir atau daerah
penghasil bahan radioaktif dapat secara dini
diketahui. Sehingga kegiatan nuklir dapat
dihentikan segera, dengan demikian kerugian
terhadap masyarakat dan lingkungan dapat
diminimalisis
serendah-rendahnya.
Kegiatan
pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan iptek
nuklir di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas
Tenaga Nuklir atau Bapeten7.
4.
IAEA. 1988. Measurement of Radionucllide
in Food and Environment. A Guidebook
Teachnology Report Serial. No.295 IAEA,
Vienna.
5.
Aminjoyo, S. 1993. Ketentuan Keselamatan
Kerja Terhadap Radiasi. Makalah Pada
Penyegaran Proteksi Radiasi Tingkat Teknisi,
Bidang
6.
Sutarman. 1996. Pemanfaatan Program
Komputer SR-245 Untuk Perkiraan Dosis
Terikat Dari Masukan 137Cs, 90Sr, dan 245Ra
Pada Bahan Pangan dan Air Minum di Pulau
Jawa. Proseding Komputasi dalam Sains dan
Teknologi Nuklir III BATAN, 23—25 April
1996. Jakarta. Hal: 71—79.
7.
Lubis, E.. 2003. Keselamatan Radiasi
Lingkungan dalam Pengelolalaan Limbah
Radioaktif di Indonesia. J. Tek. Pengolahan
Limbah., 6 (2): 11-20.
DAFTAR PUSTAKA
1.
200
Lubis, E. dan Sucipta. 1999. Features, Events
and Processes (FEP's) dalam Pengkajian
Keselamatan Penyimpanan Limbah Tanah
Dangkal di S. Muria. J. Tek. Pengolahan
Limbah., 2 (2): 1-18.
 2005 FMIPA Universitas Lampung
Fly UP