...

Dari Tempat Wisata ke Perkampungan Pengungsi

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Dari Tempat Wisata ke Perkampungan Pengungsi
Dari Tempat Wisata ke Perkampungan
Pengungsi: Perubahan Sosial di Puncak
Andria Katrina Dale
Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS)
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Katolik Parahyangan
Bandung
Juni 2014
1
Dari Tempat Wisata ke Perkampungan
Pengungsi: Perubahan Sosial di Puncak
Andria Katrina Dale
Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS)
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Katolik Parahyangan
Bandung
June 2014
2
HALAMAN PENGESAHAN
Dari tempat Wisata ke Perkampungan Pengungsi;
Perubahan Sosial di Puncak.
Oleh
Andria Katrina Dale
18 Juni 2014
-–––––––––––––
Date
––––––––––––––––––
Andria Dale
Penulis
––––––––––––––––––
––––––––––––––––––––
Elena Williams
Resident Directors
ACICIS
Dr. Mangadar Situmorang PDH
Dean
FISIP (UNPAR)
3
ABSTRACT
Asylum seekers in Indonesia right now are a much debated topic. Many of
these asylum seekers fled persection and conflict in their countries of origin. In the
past few years there has been a spike in the arrive of asylum seekers coming to
Indonesia. This is because from Indonesia there are many routes by boat that can be
taken to Australia. Therefore Indonesia in turn became a country of transit for these
asylum seekers. The route by boat to Australia is one that is very dangerous, many
boats have sank causing lives to be lost at sea. This is a very dangeous measure taken
by the asylum seekers to arive at their final destination.
This short paper illustrates that more research has to be done with regards to
asylum seekers living in a transit country. This thesis looks at the area Cianjur,
Puncak, Bogor, West Java an area which has had a large influx of asylum seekers. In
looking at this area, this thesis will look at the social and economical change in the
area. In doing this, research will be carried out in order to examine these changes over
the past ten years. This number of asylum seekers living in Indonesia increases every
year and with Indonesia as a place of transit it is predicted that these asylum seekers
will be in Indonesia for a lengthy amount of time.
The first chapter looks at the history and the literature surround Asylum
seekers and theories of ghettoization.
The second chapter looks at the area Puncak from the perspective of
Indonesians. The main purpose of this chapter is to gain an understanding of how
Puncak used to be before the arrival of asylum seekers.
4
The third chapter looks at Puncak transforming into a ghetto. This chapter
talks about different ghettos around the world and compares them with the ghetto
developing in Puncak.
The fourth chapter looks at the social change in Puncak. This chapter is based
of the field study I conducted in Cianjur.
The fifth and final chapter looks again towards the asylum seekers in order to
find out who is responsible for them.
This thesis will argue that the arrival of asylum seekers to Indonesia is
creating new forms of ghettos. By doing this, areas Puncak such as these ghettos are
undergoing social and economical changes. In the final chapter of this thesis I will
argue that Indonesia and Australia both have a moral responsibility to look after the
asylum seekers in Indonesia.
Due to this both countries should come to some
arrangement so they are able to cooperate when dealing with problems concerning
this issue.
5
ABSTRAK
Pencari suaka di indonesia sekarang adalah sebuah topik yang banyak
diperdebatkan. Banyak pencari suaka ini melarikan diri karena konflik di masingmasing negara asalnya. Indonesia memiliki banyak rute perahu menuju australia.
Karena itu indonesia pada gilirannya adalah negara transit bagi para pencari suaka.
Rute kapal menuju australia adalah salah satu yang sangat berbahaya, banyak kapal
telah tenggelam menyebabkan kematian di laut. Ini sangat berbahaya mengukur
diambil oleh pencari suaka ke arive pada tujuan akhir mereka.
Kertas pendek ini menggambarkan bahwa lebih banyak penelitian telah
dilakukan dengan regards untuk pencari suaka yang tinggal di negara transit. Skripsi
ini terlihat di cianjur, terutama di wilayah yang disebut puncak, bogor, jawa barat
adalah daerah yang mempunyai populasi pencari suaka yang paling besar.Dalam
pencarian di kawasan puncak, skripsi ini akan terlihat mengubah bidang sosial dan
ekonomi dikawasan tersebut. Dalam melakukan hal ini, penelitian itu akan dilakukan
dalam rangka untuk memeriksa perubahan selama sepuluh tahun. Jumlah pencari
suaka yang tinggal di indonesia meningkat setiap tahun dan dengan indonesia sebagai
tempat transit diperkirakan, pencari suaka ini akan berada di indonesia untuk jangka
waktu yang panjang.
Bab pertama terlihat pada sejarah dan literatur mengelilingi pencari suaka dan
teori ghettoization.
Bab kedua tampak di kawasan puncak dari sudut pandang masyarakat
indonesia.Tujuan utama dari bab ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang
bagaimana puncak digunakan sebelum kedatangan pencari suaka.
Bab ketiga terlihat transformasi puncak ke dalam ghetto. Bab ini berbicara
6
tentang dari sangkar yang berbeda di seluruh dunia dan membandingkan mereka
dengan ghetto yang berkembang di puncak.
Bab keempat terlihat perubahan sosial di puncak. Bab ini didasarkan dari
bidang studi yang dilakukan di cianjur.
Kelima dan bab terakhir terlihat lagi ke arah pencari suaka dalam rangka
untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab untuk mereka.
Skripsi ini akan berpendapat bahwa kedatangan pencari suaka ke indonesia
menciptakan bentuk-bentuk baru dari ghettoisation. Dengan ini, kawasan puncak
seperti ghetto yang kemudian mengalami perubahan sosial dan ekonomi.
Di bab trakhir skripsi ini saya akan berpendapat bahwa Indonesia dan
Australia keduanya memiliki sebuah tanggung jawab moral untuk mengambil langkah
selanjutya setelah pencari suaka datang ke indonesia. Karena untuk hal ini kedua
negara harus mengadakan pertemuan, jadi mereka mampu bekerja sama ketika
berurusan dengan masalah mengenai isu ini.
7
KATA PENGANTAR
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang dan institusi yang
sudah membantu saya dengan penulisan skripsi ini.
Pertama-tama, saya ingin berterimakasih kepada Universitas Katolik
Parahyangan, khususnya pembimbing saya Bapak Mangadar Situmorang yang sangat
membantu saya dalam pembuatan skripsi ini.
Saya juga ingin berterimakasih kepada Staf International Office, pendamping
saya Linda, ACICIS, Resident Director Elena Williams dan Jakarta dan Bandung
Program Officer, Mita yang membantu saya.
Tidak lupa saya berterimakasih kepada pihak Universitas Katolik Parahyangan
yang telah memberikan perpanjangan waktu dalam pengerjaan skrisi ini.
Juga saya ingin berterimakasih kepada SOAS, University of London yang
telah memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar di Indonesia.
Akhirnya saya ingin berterimkasih kepada Taka Gani yang telah membantu
saya dalam penelitian lapangan di Puncak untuk skripsi ini.
8
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN .................................................................................................11
1.1 LATAR BELAKANG ..........................................................................................11
1.2 IDENTIFIKASI MASALAH.................................................................................13
1.2.1 BATASAN MASALAH.........................................................................14
1.2.2 RUMUSAN MASALAH........................................................................16
1.3TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN.......................................................16
1.3.1 TUJUAN PENELITIAN.........................................................................17
1.3.2 KEGUNAAN PENELITIAN..................................................................17
1.4 METODOLOGI ....................................................................................................17
1.5 TINJUAN PUSTAKA...........................................................................................19
II. DAERAH PUNCAK MENURUT PANDANG ORANG INDONESIA...........24
III. PUNCAK SAAT INI SEBAGAI GHETTO BAGI PARA PENCARI
SUAKA………………………………………………………………………….......28
3.1 VARIETAS YANG BERBEDA DARI GHETTO....................................28
3.2 INDONESIA SEBAGAI NEGARA TRANSIT........................................33
3.3 KAWIN KONTRAK.................................................................................35
IV. PEMERIKSAAN TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL-EKONOMI DI
PUNCAK.....................................................................................................................38
4.1 APAKAH KEDATANGAN PENCARI SUAKA BERDAMPAK PADA
EKONOMI PUNCAK.....................................................................................39
9
4.2 APA YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN?....................................43
4.3 APA YANG TELAH MENDORONG PERUBAHAN?...........................44
4.4
SIAPA
YANG
HARUS
BERTANGGUNG
JAWAB
ATAS
PERUBAHAN?................................................................................................46
V. SIAPA YANG SECARA MORAL BERTANGGUNG JAWAB ATAS
PENCARI SUAKA? ..................................................................................................49
VI. KESIMPULAN....................................................................................................51
VII. DAFTAR PUSTAKA........................................................................................55
10
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia dengan lebih dari 18.000 pulau yang sebagaian besar tanpa patroli laut
menjadi wilayah transit para pencari suaka asal Iran, Pakistan dan negara- negara
Timur Tengah lainnya. Sebagian besar pencari suaka berasal dari negara konflik
dengan berharap untuk memulai hidup di sebuah negara yang aman. Sampai dengan
akhir Februari 2014, sebanyak 7,241 pencari suaka terdaftar di United Nations High
Commisioner for Refugees (UNHCR) Jakarta. 1 Pencari suaka ini secara kumulatif
dari Afganistan (41%), Iran (14%) dan Pakistan (9%).2
Hampir semua pencari suaka yang tiba ke Indonesia tidak mempunyai rencana
untuk mencari suaka di Indonesia, dimana Indonesia menjadi negara transit bagi
orang yang ingin tinggal di Australia. Pencari suaka ingin mencari suaka di Australia
karena mereka percaya bahwa kehidupan di sana lebih baik. Pada umumnya orangorang masuk Indonesia secara sah kemudian mancari metode perjalanan ke tempat
tujuan. Metode yang paling populer untuk berangkat dari Indonesia ke Australi adalah
menyeberangi lautan dengan perahu. Ratusan pencari suaka membayar ribuan dolar
kepada penyelundup. Metode ini adalah berbahaya dan ilegal tetapi pencari suaka
merasa mereka tidak memiliki pilihan lain. Banyak yang gagal dan berakhir di rumah
detensi atau negara ‘transit’ seperti Indonesia di mana mereka menunggu nasib
mereka diputuskan.
1
2
Convention Relating to the Status of Refugees, 19 U.S.T. 6259, 189 U.N.T.S. 150
http://www.unhcr.or.id/id/siapa-yang-kami-bantu/pencari-suaka
11
Penelitian ini dilakukan pada waktu yang penting karena hubungan antara
Indonesia dan Australia terus berubah, khususnya di bidang imigrasi karena negara
Australia baru-baru ini mengumumkan kebijakan baru mengenai pencari suaka tiba ke
Australia dengan menaiki kapal. Perdana menteri Australia Tony Abbott menerapkan
kebijakan yang akan mengirim kembali perahu yang tiba ke perairan Australia dari
Indonesia yang membawa pencari suaka.
Kebijakan ini telah menghasilkan
penurunan yang signifikan dalam jumlah kapal yang berangkat dari Indonesia. Oleh
karena itu, semakin banyak pencari suaka yang tertahan di Indonesia untuk waktu
yang lama.
Australia saat ini mengakui hak dan merupakan suatu untuk suaka peserta
konvensi berkaitan dengan status pengungsi. Kebijakan pemerintah saat ini adalah
untuk menahan seseorang memasuki australia tanpa berlaku visa. Australia adalah
satu-satunya negara di dunia untuk mandat strict pelaksanaan penahanan asylumseekers. Hak suaka adalah sebuah perdebatan wedge masalah di australia politik.
Kedua partai-partai politik utama di australia berpendapat masalah pengawasan
perbatasan adalah sebuah masalah dan satu tentang keselamatan mereka yang
mencoba datang ke australia dengan perahu. Australia dan beberapa organisasi ham
internasional telah menyebutkan bahwa kebijakan Australia yang menarik rasa takut
dan rasisme. Secara historis, paling pencari suaka telah dan masih melakukan tiba
dengan pesawat, namun mitos seperti mayoritas pencari suaka datang dengan perahu,
memiliki menjadi terlalu umum dalam masyarakat australia. Ribuan pengungsi yang
mencari suaka di australia selama satu dasawarsa terakhir3 pasukan utama mengemudi
3
http://www.nytimes.com/2013/07/20/world/asia/australia-adopts-tough-measures-to-curbasylum-seekers.html?pagewanted=all&_r=1&
12
imigrasi telah perang, kerusuhan sipil dan penganiayaan 4 banyak yang sudah tiba
melalui kapal meninggalkan dari indonesia dalam perjalanan untuk natal pulau,
australia wilayah dekat dengan indonesia perahu yang sering penuh sesak dan tidak
aman.5
Karena jumlah orang yang tertahan sangat besar, Indonesia meminta
International Orginisation for Migration (IOM) membantu memberikan dana untuk
kebutuhan migran itu. Salah satu metode untuk berurusan dengan masuknya pencari
suaka adalah dengan menyediakan tempat penampungan sementara di luar ibukota
Jakarta terutama di daerah Cisaura, Puncak Kabapaten Bogor, Jawa Barat. Beberapa
dari mereka sudah menetap dan tinggal di Cisarua Puncak selama empat bahkan lima
tahun dan ada pula yang baru beberapa bulan tinggal, karena tidak tahan meminta
dikembalikan ke negara asal. Akan tetapi keadaan yang dibahas diatas dapat
menyebabkan masalah untuk masyarakat setempat yang tinggal di daerah tempat
penampungan sementara. Masuknya pencari suaka ke wilayah Indonesia dapat
menimbulkan gangguan sosial, daerah berpenduduk padat, keamanan dan ketertiban
masyarakat. Salah satu kritik utama yang timbul dari kedatangan pencari suaka ke
Bogor adalah penurunan pariwisata warga Jakarta yang mengunjungi Bogor untuk
retret akhir pekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana dan
mengapa Puncak telah berubah dari tempat retret akhir pekan untuk warga Jakarta
menjadi tempat pemukiman pencari suaka.
4
http://cpd.org.au/2012/03/john-menadue-the-pacific-solution-didnt-work-before-and-itwont-work-now /
5
http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-19595573
13
1.2 Identifikasi Masalah
Masalah - Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak sosial-ekonomi dari
kehadiran pencari suaka di Puncak. Masuknya pencari suaka tersebut ke puncak telah
menyebabkan perubahan lingkungan. Saya tertarik untuk menemukan apa perubahanperubahan ini dan apakah lingkungan tersebut berubah secara drastis. Para pencari
suaka yang datang ke indonesia biasanya berasal dari afghanistan, iran dan pakistan.
Meskipun negara-negara tersebut masih jauh dari satu sama lain mereka semua
bergabung bersama melalui agama. Saya ingin menyelidiki apakah agama cukup kuat
untuk mempersatukan orang dan budaya yang berbeda. Selain itu saya ingin
memahami apakah masuknya pencari suaka membawa perubahan ekonomi ke daerah
tersebut dan jika hal itu sudah terjadi apakah perubahan ini adalah suatu perubahan
yang positif atau perubahan yang negatif .
Skripsi ini akan berpendapat bahwa kedatangan pencari suaka ke indonesia
menciptakan bentuk-bentuk baru dari ghettoisation. Dengan ini, kawasan puncak
seperti ghetto yang kemudian mengalami perubahan sosial dan ekonomi.
Di bab trakhir skripsi ini saya akan berpendapat bahwa Indonesia dan Australia
keduanya memiliki sebuah tanggung jawab moral untuk mengambil langkah
selanjutya setelah pencari suaka datang ke indonesia. Karena untuk hal ini kedua
negara harus mengadakan pertemuan, jadi mereka mampu bekerja sama ketika
berurusan dengan masalah mengenai isu ini.
14
1.2.1 Batasan Masalah
Pembatasan Masalah penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu, kerangka
waktu, aktor-aktor dan batasan geografis.
Kerangka waktu
Sejak tahun 1999, Indonesia dijadikan tempat transit untuk pencari suaka. Meskipun
masuknya pencari suaka ke Indonesia yang terjadi sebelum 1999, analisis ini akan
fokus pada tahun-tahun antara tahun 2004 – 2014. Alasan utama untuk penelitian ini
adalah berkonsentrasi pada pengembangan atau perubahan tempat dalam waktu satu
dekade.
Aktor
Para pencari suaka akan menjadi aktor sentral di seluruh penelitian ini. Akan
tetapi, dalam membahas aktor utama penting untuk menyoroti apakah kedatangan
pencari suaka ke Puncak telah mempengaruhi wilayah ekonomi. Untuk menganalisis
pertumbuhan atau penurunan ekonomi diperlukan kegiatan wawancara mengenai
bisnis-bisnis di daerah itu misalnya pemilik warung, pemilik villa maupun Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) dan orang dari International Organisation for Migration
(IOM).
Pembatasan Geografis
Meskipun penelitian ini relevan di berbagai daerah yang berbeda di Indonesia,
namun penelitian ini akan fokus pada daerah Puncak di Bogor Jawa Barat. Hal ini
karena selama bertahun-tahun semakin banyak pencari suaka memilih untuk tinggal
15
di Puncak. Alasan dari munculnya situasi ini contohnya adalah karena pemerintah
Indonesia mencoba mengkarantina masalah dengan merelokasi pencari suaka ke luar
Jakarta. Dengan melakukan ini, pencari suaka miliki kemampuan untuk berintergrasi
dengan masyarakat desa dan memiliki standar hidup yang lebih baik dan lebih murah
daripada tinggal di Jakarta.
1.2.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah penelitian ini berasal dari ide pencari suaka yang tinggal
di negara transit. Pada umumnya, pencari suaka dianggap ganguan untuk pemerintah
khususnya ketika mereka terjebak di negera transit. Saya mulai berpikir tentang
kesejahteraan pencari suaka ini dan siapa yang bertanggung jawab untuk mereka.
Apakah itu negara dimana mereka saat ini berada, misalnya Indonesia sebagai negara
transit, atau apakah itu negara tujuan akhir mereka, misalnya Australia sebagai tujuan
akhir bagi kebanyakan pencari suaka yang datangan ke Indonesia? Ini merumuskan
gagasan bahwa apakah pencari suaka harus berada di suatu tempat di negara transit
sehingga kedatangan pencari suaka berdampak pada masyarakat lokal? Setelah
melihat melalui berbagai jurnal dan sumber daya online saya menyadari daerah
Puncak adalah daerah yang mapan untuk pencari suaka. Sebelumnya Puncak adalah
daerah wisata terkenal untuk warga Jakarta, namun dengan masuknya pencari suaka
ke Puncak, saya berpikir hal ini akan berdampak bagi pariwisata daerah Puncak.
Akibatnya rumusan masalah penelitian ini bisa diterangkan dengan beberapa
pertanyaan utama.
1.
Bagaimana dan mengapa Puncak telah berubah dari yang dahulu dikenal
sebagai wisata akhir pekan warga Jakarta menjadi pemukiman pencari suaka.
16
a.
Apakah perubahan ini berdampak pada ekonomi daerah?
b.
Apa yang telah mendorong perubahan?
i. Siapa yang secara moral bertanggung jawab atas pencari suaka?
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti dampak sosio-ekonomi dari
keberadaan pencari suaka di Puncak. Penelitian ini bertujuan untuk menjelasan situasi
di Puncak dan menjelaskan tiga pertanyaan mendasar.
1.
Apakah kedatangan pencari suaka berdampak pada ekonomi Puncak?
2.
Apa yang menyebabkan perubahan?
3.
Siapa yang harus bertanggung jawab atas perubahan ?
1.3.2 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini akan berguna bagi lembaga-lembaga yang berhubungan dengan
hubungan internasional.Ada sejumlah publikasi mengenai pencari suaka berusaha
untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan. Namun, ada kurangnya literatur tentang
pencari suaka yang tinggal di sebuah negara transit. Oleh karena itu, penelitian ini
akan berguna untuk badan riset mengenai pengungsi, pencari suaka dan hal-hal lain
yang berkaitan dengan bidang tersebut. Penelitian ini akan dapat membantu badan
pemerintah, Non-Government Organisations dan badan akademik untuk memahami
masalah mengelilingi pencari suaka.
17
1.4 Metodologi
Laporan penelitian ini akan mengunakan beberapa jenis metodologi, namun
sesudah dipikiran dengan serius fokusnya adalah metodologi kualitatif, yaitu tujuan
penelitian ini dengan metodologi baik dari pustaka dan penelitian langsung ke
lapangan agak dapat meneliti dampak sosio-ekonomi dari keberadaan pencari suaka
di Puncak. Pertama-tama riset ini akan melihat penelitian pustaka untuk mencari
informasi akademik tentang teori ghettoisation dan teori geopolitical dalam rangka
memahami konteks masalah penelitian. Kedua, fokus penelitian lapangan dengan
melakukan wawancara di Puncak. Sehingga penelitian ini mampu menyelidiki
dampak ekonomi dari kedatangan pencari suaka di samping memahami apa yang
menyebabkan perubahan.
Wawancara-wawancara/ Survei:
Dalam metode Interview pelaku penting akan diwawancarai agar komentarnya
tentang peristiwa dan hal-hal lain dapat dikumpulkan dan dibandingkan. Pelaku
penting ini mungkin akan menyediakan wawasan unik mengenai peristiwa dan
keterjadian di Puncak. Orang-orang yang diwawancarai dapat membenarkan
informasi atau bukti dari sumber lain yang belum tentu. Metode ini akan berguna
untuk mewawancarai pelaku seperti misalnya, masyarakat setempat, pemilik bisnis
dan pemilik villa akan diwawancarai tentang ekonomi di Puncak. Dalam rangka untuk
melindungi identitas orang peserta, tidak ada nama akan digunakan sepanjang studi
itu.
18
Direct Observation:
Menurut Tellis, direct observation dapat berguna untuk mengukur dan
mencatatkan kelakuan dan juga untuk mendapatkan informasi tambahan yang tidak
dapat diakses melalui pustaka.6 Ini akan berguna untuk penelitian ini karena bagian
dari risetku menyelidiki hubungan antara orang dan ini adalah yang terbaik dilakukan
melalui pengamatan langsung.
1.4 Tinjauan Pustaka
Menurut pendapat Jupp, kontroversi publik panjang tentang penahanan pencari
suaka secara bertahap memberikan cara untuk perdebatan tentang topik lain.7 Selama
bertahun-tahun pencari suaka telah datang ke Indonesia untuk mencari cara-cara
ilegal untuk sampai ke Australia. Namun, karena undang-undang baru dan kebijakan
Tony Abbott untuk mengembalikan perahu yang membawa pencari suaka telah
mempersulit mereka untuk sampai ke Australia. Oleh karena itu, terus terjadi
peningkatan jumlah pencari suaka di Indonesia, negara yang sedang berjuang untuk
mengatasi masuknya pencari suaka. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti
dampak sosio-economik kehadiran pencari suaka di Puncak. Dalam memeriksa
masalah ini penting untuk melihat literatur sebelumnya untuk memperoleh
pemahaman tentang konteks masalah. Tinjauan literatur ini akan dibagi menjadi tiga
bagian;
6
7
1.
Apakah kedatangan pencari suaka berdampak pada ekonomi di Puncak?
2.
Apa yang menyebabkan perubahan?
Winston Tellis, 'Introduction to Case Study', 1997, 3(2) The Qualitative Report, 9.
Jupp, J. (1994) Exile or Refuge?, AGPS, Canberra
19
3.
Siapa yang harus bertanggung jawab atas perubahan?
Apakah kedatangan pencari suaka berdampak pada ekonomi Puncak?
Menurut artikel dari Merdeka.com ada daerah di Puncak yang terkenal untuk
pencari suaka, karena ini banyak masuk warga negara Arab. Daerah di Puncak
tersebut telah menjadi terkenal sebagai daerah pengungsian atau kampung
Arab.8 Namun pertanyaan penting yang perlu dipertimbangkan adalah apakah daerah
mendapat manfaat dari orang-orang ini. Sebelumnya Puncak dianggap sebagai wisata
akhir pekan retret untuk orang Jakarta. Tetapi, sebagai akibat dari masuknya orang
Arab, semakin sedikit warga Jakarta yang memilih untuk berlibur di Puncak. Dilihat
baik buruknya karena meskipun pariwisata yang berkurang di Puncak, para pencari
suaka terus berkontribusi untuk menyewa villa atau hotel. Dari segi lain, situasi ini
menjadi lebih baik karena penduduk setempat bisa mendapatkan keuntungan finansial
jika ada aliran pencari suaka ke daerah. Ini didukung oleh koran the Jakarta Post yang
mengatakan ‘Pengungsi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, perumahan dan
telekomunikasi telah menjadi bisnis besar bagi penduduk lokal’. 9 Sosiolog Ganda
Upaya dari Universitas Indonesia memandang ini sebagai proses penerimaan sosial
oleh penduduk setempat kepada pengunjung sebagai akibat dari hubungan ekonomi
mereka.10 Meskipun para pencari suaka memiliki tempat tinggal sementara di Puncak,
integrasi mereka ke dalam masyarakat setempat sering absen. Menurut Jupp, karena
beberapa pencari suaka berpengalaman pra-migrasi, pengungsi di sebagian besar
masyarakat tidak semudah imigran biasa. Mereka biasanya bertahan lebih lama
8
http://www.merdeka.com/peristiwa/di-puncak-selain-kawin-kontrak-banyak-imigran-gelapcari-suaka.htm
9
http://www.thejakartapost.com/news/2010/06/24/displaced-people-big-spenderspuncak.html
10
Ibid.
20
sebagai pengangguran dan miskin serta memiliki tingkat yang lebih besar untuk pulih
dari kerusakan psikologis.11 Meskipun, penduduk setempat harus ingat para pencari
suaka tidak memiliki pekerjaan, oleh karena itu menarik untuk melihat apakah
hubungan dengan masyarakat setempat perlu dipertahankan dalam kesulitan keuangan
yang dihadapi.
Apa yang menyebabkan perubahan?
Ada banyak faktor untuk dipertimbangkan ketika membahas penyebab
perubahan ini, tetapi adalah penting untuk menyoroti beberapa daerah khusus.
Contohnya pemerintah Indonesia mungkin telah memindahkan pencari suaka ke
Puncak untuk mengendalikan masalah dalam mengurangi jumlah pencari suaka
kumuh yang hidup di Jakarta. Untuk tujuan penelitian ini sangat penting untuk
memperoleh pemahaman tentang konteks, oleh karena itu geo-politik penalaran
disertakan. Menurut Huyck, ‘penyebab yang mendasari pergerakan pengungsi
beragam’.12 Pencari suaka atau pengungsi meninggalkan negara untuk menghindari
kontak fisik, penganiayaan, atau situasi lain yang mengancam kehidupan.
Menurut Ford, teori Ghettoisation adalah faktor eksternal lain yang
menyebabkan suatu daerah untuk berubah. Masuknya kelompok etnis atau kelompok
agama ke suatu daerah memberikan kontribusi terhadap ghettoisation suatu daerah.
Dalam penulisan Stone bernama ‘Ghettoized and Marginalized: The Coverage of
Racial and Ethnic Groups in Introductory Sociology Texts’ temuan ini menunjukkan
11
Jupp, J 2003, There has to be a better way: a long-term refugee strategy, Arena, no 65, Blue
book no. 5, pp.BB1–BB12.
12
Huyck E and Bouvier Leon F; 1983: The Demography of Refugee
Beverly Hills
21
bahwa hampir tiga perempat dari ghetto diciptakan karena ras orang. 13 Ide ini dapat
diterapkan ke Puncak dan Ford mengatakan, Kata "ghetto," dari pulau Geto di Venice,
pertama kali diterapkan pada rakyat Yahudi di Eropa selama periode akhir Abad
Pertengahan. 14 Dalam ghetto ini, orang-orang Yahudi dipisahkan dari masyarakat
lokal dengan kegiatan ekonomi dan sosial. Meskipun Puncak belum mengalami
ghettoisation ketat sebagaimana dinyatakan di atas, hubungan dapat dilihat antara
pemisahan pencari suaka dan orang-orang lokal. Oleh karena itu, perlu untuk
melakukan studi lapangan tentang pemisahan ini karena adanya keterbatasan literatur
mengenai kondisi di Puncak.
Aspek lain yang berkontribusi terhadap perubahan di Puncak adalah kawin
kontrak. Kawin kontrak marak terjadi di kawasan Bogor. Mayoritas pelaku kawin
kontrak adalah warga negara asing.
15
Ide kawin kontrak berkontribusi untuk
pengembangan ‘ghetto’. Kontrak semacam ini sering dianggap sebagai jenis baru
prositusi, sesuatu yang jelas dalam ghetto di seluruh dunia.
Siapa yang harus bertanggung jawab atas perubahan?
Untuk Pencari suaka di negara transit sulit untuk menemukan siapa yang
bertanggung jawab untuk mereka. Seperti Australia, Indonesia bukan penandatangan
1951 UN Refugee Convention dan tidak memiliki prosedur suaka untuk menangani
pencari suaka.16 Oleh karena itu seharusnya adalah menjadi tanggung jawab Australia
Stone, Pamela. 1996. “Ghettoized and Marginalized: The Coverage of Racial and Ethnic
Groups in Introductory Sociology”.
American Sociological pp141
14
Ibid.
15
http://www.merdeka.com/peristiwa/para-suami-di-puncak-rela-istri-kawin-kontrak-denganorang-arab.html
16
http://www.unhcr.org/cgibin/texis/vtx/search?page=search&docid=3fb119524&query=indo
nesia%20a%20signatory
13
22
membantu orang-orang ini?17 Sedangkan, Australia tidak memegang tanggung jawab
seperti yang bisa dilihat dalam undang-undang baru dari Perdana Menteri Tony
Abbott. Oleh sebab itu, pertanyaan yang lebih baik untuk ditanyakan adalah; siapakah
yang secara moral bertanggung jawab atas pencari suaka?
Tanggung Jawab Moral
Kerangka PBB telah
digunakan sebagai
referensi
untuk
intervensi
kemanusiaan. 18 Intervensi kemanusiaan adalah salah satu pendekatan yang dapat
membantu menyelesaikan masalah ini karena ‘tampak pada tanggapan masyarakat
internasional terhadap krisis kemanusiaan.’19 Indonesia tidak memiliki fasilitas untuk
menangani masuknya pencari suaka, oleh karena itu, pencari suaka ingin masyarakat
internasional untuk mendukung mereka.
17
http://www.abc.net.au/news/2014-02-27/who-is-responsible-for-asylum-seekers-detainedon-manus/5275598
18
Situmorang M. (2009) International Humanitarian Intervention in Intrastate Conflicts Die
Deutsche Bibliothek p21.
19
Ibid:20
23
II. Daerah Puncak Menurut Sudut Pandang Orang Indonesia
Puncak merupakan salah satu tempat wisata di Bogor yang wajib di kunjungi
ketika berwisata di Jawa Barat dan sekitarnya, karena wisata Puncak Bogor ini
memiliki keindahan panorama alam yang sagat cantik sekali. Banyak orang DKI
Jakarta atau Kota Bandung menyukai berwisata di Puncak yang sudah sangat terkenal
memiliki pesona yang memukau. Perkebunan teh yang ada di kawasan wisata ini
dulunya dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, dan sekarang perkebunan teh ini
sudah menjadi milik PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas. Di kawasan
Puncak juga terdapat tempat rekreasi dan agrowisata yang sangat indah seperti
perkebunan teh Gunung Mas dan Gantole atau Paralayang. Selain itu di daerah
Puncak ini juga terdapat berbagai macam tempat wisata menarik lainnya seperti
Kebun Bunga, Taman Safari, dan sebuah Masjid. Wisata Puncak juga terdapat banyak
sekali villa-villa dan hotel yang dibangun oleh warga sekitar sebagai salah satu
fasilitas untuk para pengunjung beristirahat. Daya tarik yang dimiliki wisata Puncak
di Bogor memang sangat memikat. Sejak awalnya Puncak selalu dikenal karena
keindahan dan kedamaiannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa setiap
akhir pekan ada masuknya wisatawan dari jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia.
Dengan tujuan mendapatkan pemahaman tentang Puncak sebelum menjadi
ghetto para pencari suaka, saya membuat sebuah survei. Survei ini diciptakan untuk
pemilik usaha lokal di kebupaten Cianjur. Kabupaten Cianjur, adalah sebuah
kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Menurut hasil survei saya, hal ini jelas telah terjadi
penurunan signifikan dalam jumlah orang yang berkunjung ke Cianjur. Sepuluh
survei didistribusikan ke warung dan pemilik toko kecil dan tiga lainnya diberikan
24
kepada pemilik hotel dan dua diberikan kepada pemilik villa di daerah. Meskipun
masih ada aliran wisatawan ke daerah itu pemilik bisnis lokal merasa bahwa salah
satu alasan utama bagi wisatawan bepergian di tempat lain adalah karena masuknya
pencari suaka dari jakarta.
Berikut pertanyaan dan jawaban diciptakan untuk memberikan rasa konteks
untuk memungkinkan kita untuk memahami puncak sebelum kedatangan pencari
suaka. Pertanyaan ini terjawab oleh 15 peserta yang berasal dari daerah Cianjur.
1.
a.
Apa yang anda lihat mengenai Puncak 5 sampai 10 tahun yang lalu?
Mayoritas responses menyatakan puncak adalah lebih ramai 5 sampai 10 tahun
yang lalu. Komentar lainnya telah dibuat seperti para peserta suka Puncak karena
tempat sepi dan indah.
2.
a.
Perubahan apa yang akan anda ingin lihat di Puncak?
3 perempuan dan 2 orang dalam survei, mengatakan pihaknya ingin melihat
Puncak bersih.Tidak seperti sebelum ada lebih banyak polusi di daerah.
b.
Satu peserta mengatakan saat ini masjid sangat ramai, membangun sebuah
masjid yang lebih besar akan bermanfaat untuk daerah.
3.
Apakah anda lebih suka tinggal di Puncak sekarang atau puncak 5
sampai 10 tahun yang lalu? Kalau ya kenapa?
a.
10 dari 15 peserta mengatakan mereka akan lebih memilih untuk tinggal di
Puncak 5 sampai 10 tahun yang lalu.
b.
Alasan untuk ingin tinggal di puncak 5 sampai 10 tahun yang lalu bervariasi.
Tetapi alasan utama adalah karena Puncak lebih bagus sebelum didatangi pencari
25
suaka, Lebih aman untuk perempuan, ada sedikit hotel besar jadi pemilik hotel lebih
kecil akan membuat lebih banyak uang dan ada rasa komunitas yang kuat.
4.
a.
Apa perubahan terbesar di puncak beberapa tahun terakhir ini?
Pertanyaan ini telah dijawab dengan suara bulat Seluruh peserta mencatat bahwa
influx pencari suaka seperti perubahan terbesar selama beberapa tahun terakhir dan
telah terjadi penurunan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Puncak.
Dari hasil survei-survei ini adalah jelas bahwa dalam waktu 5 sampai 10
tahun, tingkat kunjungan wisatawan ke Cianjur terus berkurang. Karena dari hasil ini
muncul anggapan bahwa bisnis setempat di kawasan Cianjur akan menderita kerugian
secara finansial. Namun Ini adalah anggapan palsu. Pemilik warung dan pemiluk toko
kecil sebenarnya telah ada peningkatan penghasilan dalam 5 tahun terakhir. Ini adalah
bukti bahwa pencari suaka menghabiskan uang seperti para wisatawan itu. oleh
karena itu, jelas bahwa meskipun ada penurunan jumlah wisatawan ke daerah itu
bisnis lokal masih mampu membuat uang tanpa bergantung pada pariwisata.
Menurut suatu survei responden, Puncak lebih indah sebelum masuknya
pencari suaka. Ini karena sebelumnya hanya ada sedikit orang yang mengotori jalan,
sekarang, di setiap sudut jalan ada sekelompok laki-laki yang berkumpul duduk di
jalan. Mereka berkumpul disana karena mereka tidak punya apapun yang lebih baik
untuk mereka lakukan, kata responden.
Bab ini telah menjelaskan daerah Puncak sebelum itu dikenal sebagai tempat
bagi pencari suaka. Bab berikutnya akan menjelaskan lebih lanjut tentang Puncak
26
sebagai ‘ghetto’ pencari suaka.
3. Puncak saat ini sebagai ‘Ghetto’ bagi para pencari suaka.
Menurut Ford dan Griffin kata ‘ghetto’ mewakili berbagai gambaran yang
negatif contohnya mobil dan rumah yang tidak terpakai, lingkungan yang kosong,
bangunan bertingkat, kemacetan, polusi, kemiskinan, kejahatan dan umumnya
lingkungan kelas lebih rendah. 20 Untuk memahami transformasi Puncak menjadi
ghetto hal ini penting untuk melihat sejarah ghettoisation. Menurut Parker di dalam
tulisnya ‘Urban Theory and he Urban Experience; Encountering the city’ munculnya
ghetto dalam kota-kota Amerika di paruh kedua abad duapuluh ditandai berubah dari
permukiman etnis dari periode pra perang dunia kedua ke dalam sebuah metropolis
yang jauh lebih dipisahkan.21 Ini sangat relevan untuk Indonesia karena kedatangan
orang dengan berbagai etnis menetap di sebuah wilayah yang berbeda di luar kota.
Di journal ‘ The Ghettoization of Paradise’ gambar dalam surat kabar, berita laporan,
dokumentasi televisi dan film-film biasanya mencirikan Ghetto dalam cara yang
sangat negatif. Karena itu pencitraan negatif orang yang tinggal di ghetto sering
digambarkan sebagai orang jahat. Persepsi ini adalah salah satu yang ini juga
tercermin dalam sebuah ghetto indonesia.
3.1 Varietas yang Berbeda dari Ghetto
Namun, ghetto Amerika yang khas adalah yang berbeda dari sebuah ghetto
Indonesia. Ghetto ini berbeda karena orang-orang yang tinggal di dalamnya. Menurut
Ford L, Griffin E, 1979. “The Ghettoization of Paradise Geographical”. American
Geographical Society 141
21
Parker, Simon. 2003. Urban Theory and the Urban Experience. Routledge p89
20
27
Ford dan Griffin Ghetto hitam telah terbentuk selama bertahun-tahun dengan berbagai
teknik dan prosedur yang diciptakan oleh budaya mayoritas untuk menjaga kulit
hitam terpisah dan terisolasi.22 Sebagian besar metode ini dikembangkan pada awal
I900 sebagai "Migrasi Besar" membawa jumlah besar kulit hitam ke kota-kota utara
untuk pertama kalinya.23 Di ghetto di Amerika jelas ada bentrokan etnis contohnya
divisi dapat dilihat antara orang Amerika putih dan Amerika hitam. Bahkan sampai
hari ini, ada kesenjangan besar antara budaya orang Amerika putih dan Amerika
hitam.
Satu penjelasan untuk ini dapat ditemukan dalam karya Ernest dan Hugh yang
menyediakan kompilasi artikel geografis pada pola perumahan hitam dan masalah.24
Hal ini jelas dari bacaan tersebut yang meskipun geografi dan lain-lain telah
mengakui variasi yang signifikan dalam jenis ghetto, konotasi negatif dan inferior
tetap konstan. Menurut Ford dan Griffin Sebagai prasangka terhadap orang kulit
hitam sebagai kelompok telah rusak, diskriminasi terhadap lingkungan hitam telah
meningkat.25 Karena itu orang yang tidak akan memimpikan menolak untuk bekerja
atau makan dengan orang kulit hitam yang sengaja menghindari semua kontak dengan
'ghetto', yang jahat dan tempat berbahaya.26 Ini adalah akibat langsung dari liputan
media massa negatif pada ghetto.
Menurut Wirth untuk masa lalu 500 tahun pemukiman yahudi di barat telah
diketahui sebagai tempat Ghetto. Oleh karena itu, untuk memahami masyarakat
22
Griffin 1979:141
Ibid.
24
Ernst Robert T, Hugh Lawrence. 1976. Black America: Geographic Perspectives. Anchor
Books New York.
25
Griffin 1979:140
26
Ibid.
23
28
ghetto pertama-tama kita harus memahami ghetto Yahudi. Wirth menyatakan bahwa
konsentrasi Yahudi ke daerah lokal di kota-kota abad pertengahan dipisahkan tidak
berasal dari gereja atau negara. Ghetto ini tidak diciptakan oleh otoritas yang
dirancang untuk berurusan dengan 'orang asing'.27 Akan tetapi, ghetto ini diciptakan
oleh komunitas Yahudi pada kemauan sendiri. Di tahun-tahun berikutnya segregasi
ini menjadi pergantian. Ini adalah segregasi yang terbaik gerbang terkunci disimpan
satu kelompok dan kelompok lain di luar, sehingga komunikasi dan interaksi yang
hampir tidak ada. Orang Yahudi harus hidup dalam ghetto dan tetap ada untuk hampir
semua kegiatan ekonomi dan sosial mereka. Bagi orang-orang Yahudi pemisahan itu
adalah kesempatan terbaik untuk mengikuti mereka ‘agama, ritual dan diet’. 28 Ide
kesamaan membawa komunitas Yahudi ini bersama-sama, kesamaan mengenai
bahasa dan budaya dalam suatu komunitas yang berbagi minat yang sama. Dalam
Kasus paling tempat ghetto dalam solidaritas dari ghetto itu masyarakat selalu terletak
pada hubungan dari kehidupan keluarga. Ini adalah sebuah konsep yang dapat dilihat
di seluruh dunia.
Meskipun ghetto digambarkan berbeda di seluruh dunia ada satu kesamaan
yang bisa dilihat di semua ghettos. Kesamaan ini adalah bahwa semua ghetto terdiri
dari etnis minoritas. Kamus bahasa Inggris Oxford mendefinisikan etnis minoritas
sebagai “Sebuah kelompok dalam masyarakat yang memiliki tradisi nasional atau
budaya yang berbeda dari populasi utama.”29 Dengan berlalunya waktu, makna dari
istilah "minoritas" telah mengalami perubahan. Di masa lalu kata minoritas dikaitkan
dengan kelas sosial tetapi sekarang kata minoritas merupakan minoritas agama,
Wirth L, 1927. “The Ghetto”. American Journal of Sociology, Vol. 33, No. 1
Univeristy of Chicago Stable. 59
28
Ibid.
29
http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/ethnic-minority
27
29
The
minoritas ras, minoritas seksual seterusnya dan sebagainya. Di dunia di mana ada
banyak balapan, budaya, tradisi, agama dan lain-lain konflik tidak terelakkan yang
sering menyebabkan diskriminasi dan marjinalisasi dari kelompok minoritas. Namun
minoritas tidak didasarkan pada perbedaan agama saja. Mereka didasarkan pada
kerugian sosial dan kekurangan. Kata ‘ghettoisation’ mengacu pada proses di mana
orang yang termasuk kelompok minoritas yang dibuat untuk tinggal di daerah tertentu
kota-kota karena faktor yang berkaitan dengan latar belakang agama, etnis atau ras
mereka.
Persoalannya adalah, pencari suaka ini datang ke Indonesia tidak membawa
paspor, apalagi visa. Tidak sedikit yang tidak memiliki KTP. Sementara UNHCR
membantu memfasilitasi mereka, mereka tetap tinggal di kamp tahanan. Bapak, ibu,
anak kecil, tinggal bersama di kamp tahanan. Di sini letak persoalannya, permainan
menunggu. Persoalan menunggu ini bisa jadi ladang korupsi. Imigran yang menunggu
di penjara kamp tahanan, bisa berada di tempat itu hingga 10 tahun. Sementara
imigran yang sudah bisa keluar dari kamp tahanan, dan menunggu interview dari
UNHCR menunggu di penampungan bisa sampai 4 tahun. Indonesia tidak
memberikan ijin tinggal dan bekerja kepada pencari suaka atau pengungsi, sehingga
jika mereka bekerja, maka mereka terancam deportasi ke negaranya. Ini yang ditakuti
oleh pencari suaka. Kebanyakan pencari suaka keluar dari negaranya karena
negaranya berada di area konflik. Kembali ke negaranya bisa mati ditembak karena
dianggap penghianat. Pencari suaka terancam disodomi dengan kayu atau popor
senapan sampai mati jika dipulangkan ke negaranya. Jadi mati di pengungsian atau
tenggelam di perairan Christmas Island masih lebih tidak menyakitkan daripada mati
di negaranya sendiri. Karena proses memiliki kasus Anda ditinjau membutuhkan
waktu yang lama, ini, membuat para pencari suaka memilih ikut ajakan para
30
penyelundup manusia. Disewakan kapal nelayan, lalu menyeberang sendiri ke
Australia. Jadi, seluruh pencari suaka yang tertangkap dengan kapal ikan oleh
Australia adalah produk perdagangan manusia yang dilakukan oleh pihak Indonesia.
Itu adalah alasan daerah-daerah seperti Puncak sedang ghetto terkenal untuk
pencari suaka. Pertanyaan penting untuk bertanya mengapa pencari suaka
memutuskan untuk pindah ke Puncak? Pertanyaan ini dapat dijawab dalam berbagai
cara. Pertama-tama, biaya untuk tinggal di Jakarta sangat mahal. Terutama untuk
keluarga besar yang tinggal bersama-sama di Jakarta. Karena kebanyakan pencari
suaka tiba ke Indonesia tanpa uang, mereka harus mengandalkan menerima uang dari
UNHCR. Sedikit uang mereka menerima akan jauh lebih baik menghabiskan di
kawasan yang lebih murah. Alasan kedua untuk memilih tinggal si Puncak adaah
geografis. Menurut detik.com ‘dalam kurun waktu lima tahun terakhir, permerintah
memang mencatat kawasan itu selalu ramai dijadikan lokasi ‘idaman’ para imigran
gelap’.30
Selanjutnya Detik.com kemudian menyatakan ‘dalam diskusi tentang imigran
gelap, Bambang memaparkan ada banyak hal yang bisa mereka lakukan di Cianjur.
Salah satunya menyusun rencana untuk mengarungi lautan bebas menuju Christmas
Island. Dari Cianjur, hanya butuh lima jam untuk bisa mencapai Christmas Island’.31
Alasan lain untuk pencari suaka lebih memilih untuk tinggal di Puncak adalah
keluarga yang mampu mengintegrasi dengan masyarakat dengan menyewa rumah
atau vila yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Ini sangat baik untuk keluarga –
30
http://news.detik.com/read/2013/12/05/140133/2433411/10/kisah-wilayah-cisarua-yangjadi-tempat-favorit-imigran-gelap?nd771104bcj
31
Ibid.
31
keluarga sehingga mereka tidak menjadi terpencil dari kehidupan normal. Setidaknya
dengan hidup sebuah desa atau kota anak – anak yang mampu mengintegrasikan
dengan anak-anak daerah lainnya.
3.2 Indonesia Sebagai Negara Transit
Indonesia dianggap menjadi negara transit para imigran gelap yang berencana
ke Australia. Ide bahwa Puncak adalah menjadi lebih dan lebih seperti ghetto berasal
dari Indonesia adalah tempat transit. Pertanyaan penting yang harus tanyakan adalah
mengapa pencari suaka ini memilih untuk transit di Indonesia? Dari studi lapangan
yang saya lakukan ada beberapa cara di mana pertanyaan ini dapat dijawab. Jawaban
yang bisa dirumuskan utama adalah Indonesia adalah sebuah negara yang mudah
untuk dimasuki dibandingkan dengan negara-negara lain. Ada banyak pelabuhan
perikanan yang mudah untuk diakses yang berati ada kesempatan untuk menemukan
sebuah perahu yang mengambil pencari suaka ke Australia. 32 Itu akan muncul bahwa
Indonesia memiliki pemerintahan yang lemah mengenai isu seputar pencari suaka
karena setiap tahun semakin banyak pencari suaka yang datang ke Indonesia dengan
harapan untuk pergi ke negara ketiga. Sebenarnya diperlukan pertanyaan apa peran
yang dilakukan pemerintah dalam pencegahan pencari suaka datang ke Indonesia?
Indonesia Counter-Trafficking Project yang dimulai pada bulan Februari 2000
bertujuan untuk membantu pemerintah Indonesia mengambil ‘langkah yang konkrit
dan efektif untuk memecahkan jaringan penyelundupan orang yang sedang transit di
Indonesia di antar beberapa negara asal Timor tengah dan Asia dengan negara
32
IOM in the ASEAN, Indonesia IOM
32
tujuannya Australia.’ 33 Sasaran dari proyek ini ada tiga: a) mengikat insentif dan
kapasitas pegawai setempat Indonesia untuk melaksanakan secara lebih efektif hukum
Keimigrasian Indonesia. Yaitu, untuk memenuhi kekurangan sumber penghasilan
yang jadi alasan utama untuk tindakan pasif mengenai penyelundupan orang; b)
dengan sistem ‘effective action’menjamin semua asylum seekers dibawa kepada
UNHCR; dan c) menawarkan voluntary return assistance (pengungsi secara sukarela)
kepada irregular migrants yang tidak dapat status pengungsi dari UNCHR.34 Imigrasi
dan polisi Indonesia dan Australia keduanya adalah mitra dalam pelaksanakan IOM
untuk memperkuat Regional Cooperative Model mengenai orang perdagangan
Indonesia. Pada akhirnya hasil yang diharapkan oleh setiap segi dan untuk alasan
masing masing adalah berkurangnya jumlah irreguar migrants yang ditrafiked lewat
negara Indonesia. Akan tetapi, kebijakan ini terbukti gagal karena setiap tahun lebih
banyak pencari suaka datang ke Indonesia.
Alasan kedua yang paling populer untuk pencari suaka untuk datang ke
Indonesia adalah agama bersama. Seperti kebanyakan para pencari suaka berasal dari
negara-negara yang berlatih Islam tampaknya logis bahwa mereka akan memilih
sebuah negara yang beragama Islam juga. Indonesia adalah negara yang paling
banyak memiliki penduduk muslim di dunia. Menurut kepada pancasila (dasar
filosofis negara Indonesia) ada 6 agama yang dapat diikuti yang merupakan Islam,
Protestan, Katolik, Budha, Hindu dan Khonghucu. Pancasila adalah lima prinsip yang
mendifinsikan bangsa Indonesia. ‘Pemerintah Indonesia telah secara konsisten
berusaha untuk mengikuti ajaran-ajaran kemanusiaan dan hak asasi manusia dan
kebebasan-kebebasan yang terkandung dalam filosofi nasional Pancasila UUD 1945,
33
Ibid.
http://www.indonesianembassy.org.uk/human_right-2.htm
34
33
dan hukum nasional dan peraturan. Memang ajaran ini, hak dan kebebasan,
sebagaimana yang diwujudkan dalam sistem konstitusional dan hukum berasal dari
tradisi kuno, adat istiadat dan filsafat hidup masyarakat Indonesia.’35 Karena mereka
berbagi agama masyarakat setempat menampakkan diri untuk menjadi lebih ramah.36
Setelah kejadian 11 September identitas muslim diperoeleh arti baru. Menurut
pendapat Peisker, ‘banyak orang barat, termasuk orang Australia melihat Islam dan
identitas muslim seperti bermasalah dan berpotensi berbahaya.’[38] Akibatnya,
identitas muslim didorong lebih dalam ke dalam dunia yang asing dan tidak
diuntungkan. Sebuah contoh dari hal ini dapat dilihat di pencari suaka Bosnia di
Australia. Muslim dari Bosnia sering disebut sebagai muslim tidak terlihat. Yakni,
karena mereka memiliki kulit putih dan Eropa gaya hidup. Tidak seperti muslim dari
timor tengah dan Asia yang tidak campuran seperti yah ke dalam masyarakat
kaukasia. Ini adalah masalah para pencari suaka akan menghadapi jika mereka pergi
ke Australia.
3.3 Kawin Kontrak
Masuknya
pencari
suaka
dan
pengungsi
ke
daerah
Puncak
telah
mengakibatkan peningkatan angka pernikahan. Menurut pendapat Merdeka.com
‘Kawin kontrak marak terjadi di kawasan Cisarua and Cianjur Bogor, Jawa Barat.
Mayoritas pelaku kawin kontrak adalah warga negara asing.’ 37 Namun parahnya
‘kebanyakan perempuan yang rela dinikahi secara kontrak itu telah bersuami.
Peisker V, 2003. “Bosnian refugees in Australia: identity, community and labour market
intergration. UNHCR The UN Refugee Agency p6
36
http://www.merdeka.com/peristiwa/para-suami-di-puncak-rela-istri-kawin-kontrak-denganorang-arab.html
37
Ibid.
35
34
Sebelum dinikahi, pelaku harus terlebih dulu meminta izin kepada suami dari
perempuan itu.’ Di daerah Puncak, laki-laki Arab menikahi prempuan itu harus izin
suaminya dulu. Kalau suami setuju, nanti tanda tangan kontrak pakai materai. Tetapi,
Kalau suaminya tidak setuju mereka tidak diperbolehkan untuk menikah.
Merdeka.com kemudian mengatakan setidaknya ada 20 rumah di sejumlah desa di
Cisarua yang memiliki klien kawin kontrak. Kebanyakan warga asing yang
melakukan kawin kontrak di kawasan ini berasal dari Afghanistan dan Pakistan. Tarif
yang ditawarkan mereka bisa sampai puluhan juta perbulan-nya untuk kawin kontrak.
Saya sudah mencoba untuk mewawancarai perempuan yang terlibat dalam
kawin kontrak namun selama waktu di Puncak ini sangat sulit untuk menemukan
wanita yang terlibat. Oleh karena itu, saya mecari wawancara secara online untuk
tentang hal itu. Dari pencarian online saya, jelas bahwa sebagian kontrak pernikahan
memiliki formalitas yang sama. Tergantung pada wanita sperti apa yang anda
inginkan harga bervariasi. ‘Harga kawin kontrak dengan perawan di Puncak Rp 50
juta seperti pernikahan umumnya ada juga mahar atau mas kawin pelaku kawin
kontrak. Makin cantik maharya makin mahal.’ Apalagi, jika perempuan masih
perawan, harga yang dikeluarkan bisa puluhan juta. Sistem ini kawin kontrak
membawa pendapatan ke Puncak. Hal ini karena itu meningkatkan ekonomi di
Puncak. Namun pertanyaannya moral harus disikapi, haruskah jenis perkawinan ini
diizinkan di masyarakat Indonesia? Terutama karena agama memainkan peran yang
besar di komunitasnya. Pada dasarnya, perkawinan siri jika sudah memenuhi unsur
syarat dan rukun nikah, maka hukumnya sah dalam Isam. Syarat-syarat pernikahan
dalam Islam itu adalah meliputi calon pengantin, wali dari perempuan yang akan
dinikahankan, mas kawin dan dua orang saksi.
35
IV. Pemeriksaan Terhadap Perubahan Sosial-Ekonomi di Puncak
Bukti saat ini sungguh-sungguh menunjukkan bahwa Puncak mengalami
perubahan sosial dan ekonomi sejak kedatangan pencari suaka. Republika.co.id
mengatakan jumlah pengungsi dan pencari suaka ke Indonesia tiap tahun terus naik
atau mencapai hampir 11,000 orang hingga Maret 2014. 38 ‘Meski tidak menjadi
negara pilihan utama dan termasuk bukan sebagai negara yang meratifikasi soal suaka
itu, nyata jumlah kedatangan pencari suaka dan pengungsi ke Indonesia tiap tahun
terus meningkat’39 kata Public Information Officer UNCHR Indonesia. Dia memberi
contoh, pada 2008, pencari suaka ke Indonesia masih 385 orang sedangkan 2013
sudah 8.332 orang. Pada Posisi Maret 2014, dari 10.623 orang terdiri dari 7.218 orang
pencari suaka dan sisanya 3.405. Indonesia tidak memiliki kewajiban menangani
pengungsi atau pencari suaka, maka UNHCR yang menangni kasus itu sehingga
penempatan staf berupaya diperluas ke beberapa daerah. Makanya, Indonesia
dijadikan salah satu tempat tujuan pencari suaka dengan perhitungan letak yang
strategis untuk menjangkau ke negara lain yang dituju warga dari berbagai negara itu.
Lingkup dari bab ini akan berdasarkan wawancara dan survei yang dilakukan
di Cianjur Bogor. Saya melakukan penelitian dengan tujuan menjawab pertanyaan
berikut;
1.
Apakah kedatangan pencari suaka berdampak pada ekonomi Puncak?
2.
Apa yang menyebabkan perubahan?
3.
Apa yang telah mendorong perubahan?
38
http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/14/05/08/n59jek-jumlah-pencari-suakadi-indonesia-naik
39
Ibid.
36
4.
Siapa yang harus bertanggung jawab atas perubahan ?
5.
Siapa yang secara moral bertanggung jawab atas pencari suaka?
Pertama empat pertanyaan akan dijawab dalam bab ini dan pertanyaan terakhir akan
dijawab di bab selanjutnya.
4.1 Apakah kedatangan pencari suaka berdampak pada ekonomi Puncak?
Seperti bisa dilihat dalam bab sebelumnya kedatangan pencari suaka ke
puncak telah pasti telah berdampak pada tingkat ekonomi daerah tersebut. Saya
memberi survei-survei untuk pemilik warung dan pemilik toko di daerah Cianjur
dalam rangka untuk mengetahui apakah keuntungan mereka meningkat atau menurun
setelah kedatangan pencari suaka. Dalam survei ini saya bertanya pada pemilik
apakah
mereka melihat kenaikan atau penurunan jumlah wisatawan yang
mengunjungi daerah itu. Semua koresponden menjawab dalam cara yang sama.
Mereka semua melihat penurunan yang cukup signifikan dalam jumlah kunjungan
wisatawan mancanegara ke puncak dalam 10 tahun terakhir. Informasi ini akan
menunjukkan bahwa sebagai akibat kedatangan pencari suaka maka bisnis lokal
menderita. Namun anggapan ini palsu. Sepuluh pemilik mengatakan bahwa meskipun
mereka melihat semakin berkurangnya wisatawan yang datang namun keuntungan
mereka masih baik. Ini karena beberapa tahun terakhir ini seperti jumlah kunjungan
meningkat dalam wilayah jumlah pencari suaka meningkat. Para pencari suaka akan
menghabiskan banyak uang membeli kartu telepon internasional dibandingkan
dengan para wisatawan yang hanya membeli makanan dan minuman. Sebab itu jelas
bahwa pencari suaka memberikan kontribusi positif untuk ekonomi berkenaan dengan
37
pemilik warung dan toko.
Dalam survei saya juga menanyakan apakah pemilik peduli darimana uang
tersebut datang, apakah mereka memilih menerima uang dari masyarakat Indonesia
dari daripada pencari suaka. Hasil dari pertanyaan ini dibagi. Keluar dari sepuluh
peserta empat dari mereka adalah wanita dan enam dari mereka adalah pria. Tiga
perempuan yang memiliki tempat prefered warung untuk menerima uang dari rakyat
indonesia bukannya para pencari suaka. Sisa satu wanita dan enam pria tidak peduli
dimana uang tersebut berasal. Salah satu alasan perempuan pemilik warung yang
lebih memilih pembeli dari masyarakat Indonesia daripada pencari suaka karena dia
merasa diintimidasi oleh para pencari suaka. Mayoritas pencari suaka yang pergi ke
Puncak adalah laki-laki sebagai akibat dari ini wanita merasa kurang aman. Ketakutan
akan orang asing tersebut tidak hanya di Indonesia tapi juga di daerah lain yang telah
didatangi sejumlah besar orang asing. Ini adalah kesamaan puncak saham dengan
tempat ghetto lain di seluruh dunia.
Untuk tujuan menyelidiki apakah pencari suaka berdampak atau tidak pada
perekonomian di puncak saya juga memberikan survei-survei untuk pemilik hotel dan
pemilik vila di Cianjur. Awalnya saya membuat 15 survei untuk tugas ini, lima untuk
pemilik villa, lima Hotel besar dan lima untuk hotel kecil sehingga saya bisa
mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap dari situasi ekonomi. Sayangnya saya
hanya menerima lima tanggapan dari para peserta. Tiga dari pemilik hotel kecil dan
dua dari pemilik villa, ini berarti bahwa hotel besar yang tidak termasuk dalam
sampel yang berarti temuan saya adalah terbatas untuk vila-vila dan hotel kecil.
Dalam survei ini saya mengajukan pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan saya
bertanya pada pemilik warung dan toko.
38
Dalam sepuluh tahun terakhir adakah peningkatan atau penurunan jumlah
wisatawan yang berkunjung ke Cianjur? Hasil ini terbagi lagi. Dua dari kecil hotel
telah melihat sedikit penurunan jumlah wisatawan tinggal di hotel mereka dalam
waktu lima sampai sepuluh tahun. Alasan untuk ini mungkin tidak selalu menjadi dari
masuknya pencari suaka variabel lain harus dibawa ke pertimbangan seperti usia
hotel, lokasi dan kebersihan hotel. Hotel kecil yang lain tidak menyadarinya
perbedaan dalam jumlah pengunjung ke hotel namun di daftar pertanyaan hotel staf
menyampaikan bahwa ada beberapa orang asing tinggal untuk periode waktu. Staf
gagal menyebutkan apakah para tamu yang barat atau dari afrika atau dari timur
tengah. Namun, karena untuk durasi tetap di hotel itu akan menunjukkan bahwa para
tamu sedang pencari suaka. Menurut Merdeka.com para pencari suaka yang pergi ke
puncak dalam rangka untuk mencari cara untuk mendapatkan ke australia dengan
perahu.40 Ini akan menyediakan penjelasan seperti untuk apa pencari suaka tinggal di
hotel dalam waktu yang lama sampai mereka menemukan sebuah metode untuk
mendapatkan cara menuju Australia. Pertanyaan yang sama ketika diminta kepada
pemilik villa jawaban mereka sangat berbeda dengan jawaban dari pemilik hotel.
Kedua pemilik vila mengatakan mereka harus membayar uang sewa sebesar Rp 4-6
juta per bulan atau untuk sewa per malam sebesar Rp300.000 - Rp600.000. Kedua
pemilik vila menyatakan bahwa pencari suaka ke Puncak mempunyai sebuah efek
positif dalam perekonomian untuk mereka. Salah satu pemilik villa bahkan
menyatakan, villa belum pernah kosong selama dua tahun. Membuktikan bahwa
pencari suaka yang berkontribusi untuk penguatan ekonomi di daerah tersebut.
Meskipun orang asing menyewa vila secara teratur, salah satu pemilik
40
http://www.merdeka.com/peristiwa/antar-pencari-suaka-ke-australia-nahkoda-dibayar-rp25-juta.html
39
mengatakan selalu ada masalah dengan para penyewa. Masalah tersebut adalah
masalah tentang pembayaran sewa vila, pemilik vila biasanya meminta para tamu
membayar uang sewa satu minggu di muka tergantung pada berapa lama mereka
tinggal di vila tersebut. Masalah yang muncul adalah ketika penyewa tidak dapat
membayar vila tepat waktu. Pencari suaka sering harus menunggu uang yang akan
ditransfer dari anggota keluarga di negara asal mereka. Pemilik salah satu villa
mengatakan bahwa dia sulit untuk mengusir, membatalkan sewa para pencari suaka
karena mereka memiliki keluarga dan anak-anak yang sangat muda. Jadi sebagai
konsekuensi pemilik akan memungkinkan penggarap-penggarap itu untuk tinggal di
rumah sampai mereka memiliki uang untuk membayar sewa. Kadang-kadang
penggarap-penggarap itu akan sangat bersyukur untuk kebaikan ini dan dilain waktu
penggarap-penggarap itu akan meninggalkan rumah tanpa membayar sewa. Ini adalah
masalah yang muncul dari menyewa villa untuk anda pencari suaka. Ini situasi yang
sulit bagi pemilik vila apabila seolah-olah tidak membagi vila mereka untuk pencari
suaka, vila mereka bisa kosong untuk waktu yang lama.
Ada masalah lain yang muncul dari menyewa untuk pencari suaka. Misalnya
prostitusi adalah masalah besar sekarang di puncak dan ini vila-vila sering dihuni oleh
laki-laki muda. Masalah berikut ini adalah permasalahan seputar kawin kontrak.
Kedua pemilik vila mengatakan pihaknya telah melihat pelacur meninggalkan vila
mereka di banyak kesempatan. Jika diberi kesempatan kedua pemilik mengatakan
mereka lebih suka menyewakan vila mereka pada wisatawan indonesia. Masalahnya
sekarang adalah bahwa arus wisatawan untuk puncak tidak siap cukup untuk
menghasilkan pendapatan yang baik.
40
Selain menyewa rumah dan membeli makanan di daerah setempat pencari
suaka juga bisa berkontribusi terhadap perekonomian dengan bekerja. Para pencari
suaka dan pengungsi yang tidak diizinkan untuk bekerja selama mereka tinggal di
indonesia. Tetapi akan beberapa orang yang dapat bekerja di daerah setempat sebagai
pembangun dan buruh. Hal ini sangat sulit untuk pencari suaka untuk mencari kerja di
indonesia sebagian besar majikan memilih untuk memberikan pekerjaan untuk
indonesia setempat. Tetapi terlepas dari ini, menurut pemilik vila, banyak pencari
suaka muda
melakukan pekerjaan di kawasan acak melakukan pekerjaan bagi
masyarakat setempat. Ini bagus sebagai pencari suaka yang menghabiskan lebih
banyak uang yang berarti menempatkan lebih banyak uang kembali ke ekonomi lokal.
Meskipun pekerjaan yang sangat jarang terjadi di kawasan ini hal ini masih
diperlukan untuk menyebutkan sebagai faktor yang berkontribusi pada penguatan
ekonomi. Hal ini jelas bahwa dari survei yang saya lakukan, pencari suaka itu apakah
berkontribusi untuk memperkuat ekonomi puncak.
4.2 Apa yang menyebabkan perubahan?
Pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab adalah apa yang menyebabkan
perubahan. Pertanyaan ini dapat dijawab di beberapa cara. Pertama, saya akan
menjawab pertanyaan ini dari mengenai orang-orang lokal, maka saya akan menjawab
pertanyaan ini dari perspektif pemerintah.
Jelaslah bahwa kawasan puncak telah berubah dalam kurun waktu lima
sampai sepuluh tahun tapi apa yang telah menyebabkan perubahan ini? Salah satu
aspek yang menyebabkan perubahan ini adalah keuntungan ekonomi para pencari
41
suaka dibawa ke daerah. Dari studi laporan saya belajar hal ini jelas bahwa pencari
suaka yang menghasilkan semacam keuntungan untuk orang lokal di Cianjur. Satu
argumen yang dapat menyatakan kita bahwa tanpa pencari suaka ini Cianjur akan
berjuang untuk menghasilkan pendapatan misalnya akan ada pengurangan jumlah
orang menyewa villa dan berbelanja di tempat-tempat lokal. Karena itu dukungan dari
masyarakat setempat ke arah pencari suaka adalah satu hal yang menyebabkan
perubahan. Hal lain yang menyebabkan cianjur untuk berubah adalah biaya hidup di
jakarta, ini adalah sebuah penyebab geografis. Karena mahalnya biaya hidup di
jakarta pencari suaka tidak punya pilihan kecuali untuk mencari tempat yang lebih
murah untuk hidup. Indonesia adalah bukan signatory untuk para konvensi pengungsi
karena itu pemerintah indonesia tidak punya kewajiban dan peduli kepada para
pencari suaka. UNHCR bekerjasama dengan IOM dalam menemukan solusi untuk
masuknya pencari suaka. Namun, organisasi tidak mempekerjakan staf cukup
terutama di Jakarta. Ini adalah alasan lain pencari suaka di Jakarta bergerak ke
Puncak, dengan harapan profil mereka mendapatkan ditinjau lebih cepat. Ini
penyebab internal di indonesia tapi ada beberapa penyebab external yang penting. Ini
akan diterangkan dalam ayat yang berikut.
4.3 Apa yang telah mendorong perubahan?
Ketika menjawab pertanyaan apa yang mendorong perubahan hal ini
diperlukan untuk melihat faktor-faktor eksternal. Kebanyakan pencari suaka yang tiba
di Indonesia telah melarikan diri dari zona perang atau tidak dapat hidup dengan aman
di negara mereka. Karena itu salah satu hal yang mendorong perubahan dalam Puncak
adalah ketidakstabilan politik dari para pencari suaka negara asal.
42
Saat ini sulit untuk dapat pergi ke Australia dan karena pencari suaka tiba di
Indonesia tanpa salah satu dokumen hukum satu-satunya cara bagi mereka untuk
pergi ke australia adalah dengan perahu. Salah satu aspek yang jelas mendorong
perubahan dalam Puncak adalah ekonomi yang mengelilingi pencari suaka. Bisnis
pencari suaka di Indonesia adalah industri besar sekarang dengan banyak orang di
gaji. Orang-orang ini berkisar dari orang penyelundup, nelayan, pejabat polisi dan
militer. Karena begitu banyak orang yang di atas gaji dari mulut ke mulut menyebar
dengan cepat. Dengan segala macam cara para nelayan menjanjikan pencari suaka
mencapai tujuan mereka. Karena itu salah satu alasan mengapa banyak pencari suaka
datang ke indonesia karena sudah didirikan jaringan penyelundupan di indonesia.
Sebelumnya perahu dari indonesia telah datang itu ke Australia karena itu para
pencari suaka mengandalkan informasi ini dan menggunakannya sebagai bukti bahwa
kapal dari Indonesia dapat membuatnya pergi Australia.
Liputan media di aspek lain yang telah mendorong perubahan di Puncak.
Baru-baru ini isu tentang pencari suaka telah banyak muncul di media, Sebagai akibat
dari ini, para pencari suaka di indonesia telah dibawa ke tingkat internasional. Saluran
berita dan Surat Kabar di seluruh dunia telah melaporkan masalah ini, Kesadaran ini
membawa mengenai masalah ini. Kesadaran baru ini telah mengakibatkan lebih dan
lebih pencari suaka yang ingin pergi ke indonesia. Pencari suaka tersebut tahu mereka
bisa dengan mudah memasuki indonesia dan tinggal di sana sampai mereka
menemukan sebuah tujuan yang lebih baik yang diakses dan karena kebanyakan
pencari suaka takut untuk hidupnya, tinggal di indonesia lebih baik daripada tinggal di
negara asal mereka bahkan jika pemerintah Indonesia tidak memberikan bantuan atau
43
mendukung. Ide hidup di Puncak jauh lebih menarik daripada tinggal di kamp tahanan
untuk menunggu nasib mereka. Hal itu jelas bahwa ada tiga hal yang mendorong
perubahan dalam puncak. Perubahan yang saya telah nyatakan di bagian terakhir ini
adalah internal dan faktor eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa ada berbagai faktor
internal dan eksternal yang telah memberikan kontribusi terhadap perubahan di
Puncak.
4.4 Siapa yang harus bertanggung jawab atas perubahan?
Transformasi puncak ke dalam ghetto terjadi karena beberapa alasan. Pertama
dari semua ketika memeriksa yang bertanggung jawab untuk perubahan hal ini
penting untuk lihat ini mengubah dari perspektif indonesia. Ini berarti saya akan
menyelidiki siapa yang bertanggung jawab untuk perubahan dengan hanya melihat
variabel internal.
Pemerintah indonesia tidak banyak membantu mengenai pencari suaka.
Sebagai akibatnya, semua tekanan yang telah diletakkan di UNHCR dan IOM. Dalam
menentukan yang bertanggung jawab untuk perubahan di puncak, pemerintah adalah
tersangka. Pemerintah Indonesia tidak pernah banyak peduli tentang kesejahteraan
pencari suaka. Ketika Jakarta menjadi penuh sesak mereka itu dipindahkan ke
Puncak. Namun, ini bisa menjadi rencana pemerintah dari awal.Oleh merelokasi para
pencari suaka di puncak mereka mampu karantina masalahnya dan menyimpannya di
bawah kontrol. Namun, dalam melakukan ini pencari suaka telah menciptakan sebuah
daerah yang menyerupai ghetto. Untuk alasan ini banyak orang berhenti mengunjungi
puncak dan sebagai hasil puncak telah menjadi terkenal sebagai seorang pencari suaka
44
surga. Mungkin pemerintah tidak meramalkan ini akan terjadi tapi karena memang
terjadi pemerintah harus bertanggung jawab untuk transformasi Puncak. Tidak hanya
pemerintah kita bertanggung jawab untuk perubahan pada Puncak tetapi penduduk
setempat bertanggung jawab juga. Puncak yang sekarang dikenal sebagai suatu daerah
penuh pencari suaka, prostitusi dan orang-orang penyelundup. Jika orang lokal
berbicara tentang perubahan ini dengan cara yang negatif dan mengeluh kepada
pemerintah mungkin solusi bisa telah dilakukan dalam rangka untuk menghentikan
seluruh bisnis ilegal dari tumbuh lebih besar. Karena masyarakat setempat di Puncak
mengabaikan semua perubahan di sekitar mereka mereka juga akan membantu
bertanggung jawab atas perubahan puncak.
Pertanyaan penting yang harus ditanyakan adalah apa yang masyarakat
setempat piker mengenai perubahan di Puncak? Dari tanggapan yang dikumpulkan
dalam survei saya tentang ekonomi sebagian besar orang tidak keberatan perubahan.
Ini karena masyarakat setempat masih berhasil mendapatkan pendapatan yang baik
berdasarkan sisi pengeluaran dari pencari suaka. Namun, hanya karena perekonomian
di puncak itu baik bukan berarti Puncak adalah tempat yang bagus untuk hidup. 80
persen responden mengatakan mereka tidak bercampur dengan pencari suaka di
daerah terutama orang-orang seperti mereka mengambil bagian dalam kegiatan yang
tidak baik. Tiga dari empat wanita dalam survei mengatakan bahwa mereka tidak
merasa aman di area yang dihuni oleh pencari suaka. Menurut salah satu survei
diselesaikan oleh perempuan, setiap beberapa bulan sebuah kelompok baru yang
pencari suaka tiba di daerah Cianjur dan membuat suasana lebih padat dan tidak
ramah. Ini adalah salah satu alasan mengapa orang lokal muncul bermusuhan
terhadap para pencari suaka. Yang berarti pencari suaka tidak bisa berintegrasikan ke
45
masyarakat dengan baik.Hal itu jelas bahwa meskipun masyarakat setempat dan para
pencari suaka memiliki agama yang sama itu belum cukup untuk membangun
persahabatan antara mereka. Menurut survei, hampir semua responden mengatakan
bahwa mereka tidak tertarik menjadi teman pencari suaka. Ini terjadi karena banyak
gambaran negatif yang digambarkan tentang pencari suaka. Gambar-gambar ini sudah
digambarkan dari surat kabar artikel dan media massa Gambar ini di kemudian
diperkuat oleh para pencari suaka diri dengan mengaitkan diri dengan pelacur dan
memfasilitasi dengan kawin kontrak yang yang salah secara moral.
46
V. Siapa yang Secara Moral Bertanggung Jawab atas Pencari
Suaka?
Artikel 31, 1951 Refugee Convention ‘pengungsi bisa masuk ke suatu negara
secara ilegal dan kemudian mencari suaka yang disediakan karena hidupnya berada
dalam bahaya di negara dia berasal.’ 41 namun ini tidak demikian halnya dengan
pencari suaka yang ingin mencari suaka di Australia. Jika seorang pencari suaka tiba
di australia tanpa dokumen resmi mereka kemudian dikirim ke kamp penahanan lepas
pantai. Hal ini umum pengetahuan yang di kamp penahanan ini dasar masyarakat
yang melanggar hak asasi manusia. Ini sering menjadi perbincangan ramai menyusul
kematian seorang pencari suaka di manus island pada februari tahun 2014. 42Menurut
wsws.org 77 orang tahanan lainnya luka-luka dua kritis, dalam tindakan kekerasan
oleh polisi dan penjaga keamanan terhadap pengungsi di dalam pemerintah Australia,
penahanan di manus pulau di Papua New Guinea. ‘Kejadian yang mengerikan
menggarisbawahi kriminalitas dan barbarisme perbatasan rezim perlindungan yang
dipertahankan oleh seluruh politik di Australia.’ 43 Dengan mengingat itu, akan
muncul bahwa pencari suaka terjebak di indonesia jauh lebih aman daripada mereka
yang tinggal di kamp penahanan. Para pencari suaka di indonesia bisa berada disana
hingga sepuluh tahun sebelum kasus mereka adalah ditinjau. Sementara itu mereka
harus menemukan cara hidup tanpa banyak uang dan pemerintah yang tidak
mendukung mereka.
Pertanyaan yang harus tanyakan adalah siapa yang bertanggung jawab
Noorani G.A. 1991. “Duty to Asylum” Economic and political Weekely 402
http://www.wsws.org/en/articles/2014/02/19/refu-f19.html
43
Ibid.
41
42
47
terhadap para pencari suaka? Ini pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab, terutama
di dalam situasi seperti ini ketika negara transit, itu tidak menjadi peserta untuk para
konvensi pengungsi. Menurut berita terbaru, hal ini jelas bahwa Australia, negara
tujuan, tersebut adalah tidak bersedia untuk mengambil tanggung jawab untuk para
pencari suaka, tanggung jawab yang tersisa dengan UNHCR. Namun, UNHCR tidak
mengambil tanggung jawab untuk para pencari suaka sementara mereka menunggu
untuk ditinjau. Kebingungan dari tanggung jawab merupakan salah satu yang
konsisten di Indonesia. Mungkin sebuah pertanyaan yang lebih baik untuk meminta
adalah siapa yang secara moral bertanggung jawab atas pencari suaka?
Sulit membahas tanggung jawab moral seperti ide ini, selalu ada perdebatan.
Ide dari tanggung jawab moral dapat dilihat sebagai seorang idealis perspektif.
Karena idealisme menekankan bagaimana ide-ide manusia terutama keyakinan dan
nilai-nilai bentuk masyarakat. Memang sulit untuk menemukan asal atau moral
pembenaran sebab itu relevan untuk melihat di tempat kerja mengenai intervensi
kemanusiaan dalam rangka untuk menjelaskan makna moral. Menurut buku
International Humanitarian Intervention in Intrastate Conflicts oleh Mangadar
Situmorang ‘moral pembenaran intervensi kemanusiaan memiliki akar dalam literatur
abad pertengahan dan nilai-nilai kristen’. 44 Konsep ide ini untuk berperang untuk
menghukum bangsa kesalahan. Situmorang berkata ‘dalam berurusan dengan situasi
dimana tidak ada hukum internasional melegalkan intervensi kemanusiaan pada saat
yang sama ada besar pelanggaran ham, yang etika masyarakat internasional yang
benar ditujukan’. 45 Ini akan menunjukkan bahwa langkah masyarakat internasional
dalam situasi mengenai pencari suaka di indonesia melanggar hak asasi manusia. Ide
44
45
Situmorang 2009:29
Ibid.
48
ini adalah dijabarkan lebih oleh Terry Nardin yang mengklaim bahwa ‘common
morality’ adalah dasar moral untuk campur tangan manusia.46 Prinsip ‘common moral
world’ manusia memiliki hak sebagai anggota komunitas manusia dan bukan sebagai
suatu komunitas tertentu, ini berarti bahwa hak asasi dasar manusia yang universal
hak-hak moral.47 Ini adalah bukti bahwa dengan menggunakan definisi moralitas ini
masyarakat internasional akan moral yang bertanggung jawab untuk kesejahteraan
orang pencari suaka.
Australia juga harus memiliki moral peduli dengan kesejahteraan pencari
suaka tersebut. Australia memiliki tanggung jawab moral untuk membantu nasib
buruk mereka pengungsi yang harus melarikan diri tanah air mereka untuk tempat lain
untuk tinggal. Mereka harus membuat upaya lebih untuk membantu mereka mencapai
tujuan mereka. Sebagai sebuah negara yang dibutuhkan untuk mengambil tanggung
jawab lebih pencari suaka mencoba untuk sampai ke sana. Kapal patroli Australia
yang sekarang ada di perbatasan untuk mencegah perahu penyelundup orang
memasuki perairan mereka. Mereka mengklaim dengan mengirimkan perahu kembali
ke indonesia mereka mengisi tanggung jawab moral sebagai ini dapat menyelamatkan
nyawa orang yang hendak menyeberang laut bebahaya menuju Australia. Ini bukan
merupakan sebagai pemenuhan tanggung jawab moral mereka kepada para pencari
suaka.
Indonesia juga harus menjadi tanggung jawab moral untuk para pencari suaka
di negara mereka. Pemerintah indonesia perlu mengambil kendali dari situasi sebelum
itu menjadi terlalu besar untuk ditangani. Pemerintah harus bertindak berdasarkan
46
47
Ibid:30
Ibid.
49
kenyataan tentang apa yang terjadi. Gagal untuk melakukan hal tersebut akan
menhasilkan situasi seperti ada pada saat ini. Wilayah-wilayah menjadi padat
penduduk dengan pencari suaka seperti Puncak. Selain itu, sedangkan para pencari
suaka yang di indonesia mereka masih mencari metode lain untuk pergi ke Australia.
Indonesia tidak hanya harus mengambil tanggung jawab moral untuk para pencari
suaka. Indonesia memiliki tanggung jawab untuk dirinya dalam menjaga lingkungan
secara damai untuk para pencari suaka dan untuk mencegah pembentukan tempat
ghetto pencari suaka.
Australia dan indonesia harus datang ke sebuah perjanjian dan berurusan
dengan pencari suaka ini. Dalam melakukan hal ini kedua negara dapat bekerja sama
dan menangani masalah.
50
VI. Kesimpulan
Isu mengenai pencari suaka di indonesia merupakan salah satu yang akan
dibahas untuk waktu yang lama. Skripsi ini menggambarkan beberapa persoalan
pencari suaka yang dihadapkan dengan beberapa masalah ketika mereka masuk ke
indonesia. Skripsi ini menegaskan bahwa kedatangan pencari suaka ke Puncak
memang berkontribusi untuk penciptaan ‘ghetto’. Kedatangan kelompok etnis tertentu
disuatu daerah menyebabkan masyarakat yang lebih kecil yang akan terbentuk, ini
terlihat jelas dengan kedatangan para pencari suaka dari afghanistan, pakistan dan iran
ke Puncak. Puncak sebagai ghetto dapat dibandingkan dengan ghetto-ghetto lain di
dunia sebagaimana ditentukan dalam penetapan paragraf di atas. Hal ini jelas dari
perbandingan wilayah puncak yang telah memiliki kesamaan dengan tempat ghettoghetto lainnya di dunia. Kesamaan ini memperkuat gagasan bahwa puncak adalah
menyerupai ghetto.
Formulasi persoalan-persoalan ghetto menyebabkan perubahan sosial dan
ekonomi. Ini jelas dalam kasus Puncak. Para pencari suaka menyewa vila - vila dan
belanja secara lokal, ini memberikan kontribusi untuk peningkatan ekonomi di
Puncak. Peningkatan kawin kontrak dan prostitusi di daerah tersebut juga
menunjukkan bahwa perubahan sosial serta ekonomi terjadi di daerah tersebut. Ini
memperkuat gagasan bahwa Puncak telah menjadi ghetto.
Seperti yang disebutkan di atas, para pencari suaka di indonesia mungkin
terdampar di indonesia untuk waktu yang lama. Karena hal itu adalah penting untuk
mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab untuk
51
kesejahteraan mereka.
Indonesia dan Australia tidak ingin bertanggung jawab atas pencari suaka, Namun
satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini adalah jika kedua negara bekerja sama.
untuk itu alasan tanggung jawab moral merupakan kewajiban Australia dan Indonesia.
Skripsi ini hanya membahas aspek kecil tentang pencari suaka di Indonesia
yaitu di daerah Puncak . Walaupun skripsi ini tidak menyediakan portret lengkap dari
dampak pencari suaka pada suatu daerah, namun skripsi ini pasti memberikan sebuah
ide mengenai hal-hal yang harus diatasi.
52
VII. Daftar Pustaka
Buku-Buku
Ernst Robert T, Hugh Lawrence. 1976. Black America: Geographic Perspectives.
Anchor Books New York.
Harriss J. (1995) The Politics of Humanitarian Intervention. London
Huyck E and Bouvier Leon F; 1983: The Demography of Refugee
Beverly Hills
Iredale, R. et al. 1996. Ambivalent Welcome: The settlement experiences of
humanitarian entrant families in Australia. Canberra
Jupp, J. 1994. Exile or Refuge?. Canberra
Jupp, J. 2002. From White Australia to Woomera, Cambridge University Press,
Melbourne
Parker, S. 2003. Urban Theory and the Urban Experience. Routledge
Situmorang M. (2009) International Humanitarian Intervention in Intrastate Conflicts
Die Deutsche Bibliothek
Jurnal-Jurnal
Ford L, Griffin E, 1979. “The Ghettoization of Paradise Geographical”. American
Geographical Society 140-158
Noorani G.A. 1991. “Duty to Asylum” Economic and political Weekly 402
Peisker V, 2003. “Bosnian refugees in Australia: identity, community and labour
market intergration”. UNHCR The UN Refugee Agency
Stone, Pamela. 1996. “Ghettoized and Marginalized: The Coverage of Racial and
Ethnic Groups in Introductory Sociology”.
American Sociological 356-363
Winston Tellis, 'Introduction to Case Study', 1997, 3(2) The Qualitative Report, 9.
Wirth L, 1927. “The Ghetto”. American Journal of Sociology, Vol. 33, No. 1
Univeristy of Chicago Stable. 57-71.
53
The
Websites
http://www.abc.net.au/news/2014-02-27/who-is-responsible-for-asylum-seekersdetained-on-manus/5275598
http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-19595573
http://cpd.org.au/2012/03/john-menadue-the-pacific-solution-didnt-work-before-andit-wont-work-now
http://www.indonesianembassy.org.uk/human_right-2.htm
http://www.merdeka.com/peristiwa/para-suami-di-puncak-rela-istri-kawin-kontrakdengan-orang-arab.html
http://www.merdeka.com/peristiwa/antar-pencari-suaka-ke-australia-nahkodadibayar-rp-25-juta.html
http://www.merdeka.com/peristiwa/di-puncak-selain-kawin-kontrak-banyak-imigrangelap-cari-suaka.html
http://news.detik.com/read/2013/12/05/140133/2433411/10/kisah-wilayah-cisaruayang-jadi-tempat-favorit-imigran-gelap?nd771104bcj
http://www.nytimes.com/2013/07/20/world/asia/australia-adopts-tough-measures-tocurb-asylum-seekers.html?pagewanted=all&_r=1&
http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/ethnic-minority
http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/14/05/08/n59jek-jumlah-pencarisuaka-di-indonesia-naik
http://www.thejakartapost.com/news/2010/06/24/displaced-people-big-spenderspuncak.html
http://www.unhcr.org/cgibin/texis/vtx/search?page=search&docid=3fb119524&query
=indonesia%20a%20signatory
http://www.unhcr.or.id/id/siapa-yang-kami-bantu/pencari-suaka
http://www.wsws.org/en/articles/2014/02/19/refu-f19.html
Other
Convention Relating to the Status of Refugees, 19 U.S.T. 6259, 189 U.N.T.S. 150
IOM in the ASEAN, Indonesia IOM
54
55
Fly UP