...

Unduh file PDF ini - E

by user

on
Category: Documents
13

views

Report

Comments

Transcript

Unduh file PDF ini - E
Jurnal Ultima Humaniora, September 2014, hal 217-231
ISSN 2302-5719
Vol II, Nomor 2
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
DEDE HASANUDIN
D o s e n P a r u h Wa k t u P e n g a m p u M K B a h a s a I n d o n e s i a
Universitas Multimedia Nusantara
S e r p o n g , Ta n g e r a n g
Surel: [email protected]
Diterima: 16 Maret 2015
Disetujui: 26 Maret 2015
ABSTRACT
This study aims to: (1) Observing direct use of language in cyberspace, especially social networking facebook. (2) Knowing Bahasa Indonesia rules used in the world of facebook. (3) Describing
the use of language in the world of facebook. (4) Classifying the data used in the facebook. (5)
Interpreting the data in order to understand the pattern and meaning. The data is then analyzed
and then linked to the culture and character of the nation. The method used in this research is
descriptive method, which aims to describe direct communication between communities who do
social networking in facebook, twitter, and blackberry. The result of the current research is to highlight and to clarify these following assumptions: (1) There is a variation of language that is always
expressed in the world of facebook, (2) A lot of comments made on facebook world are using satire
or sarcasm, especially when addressing the subject matter being discussed, like using the word
‘stupid,’ ‘idiots’, etc, (3) The usage of the words or dictions showing how the characters of the users
found on facebook are not in accordance with the valuable culture and character of Indonesian nation, (4) Low politeness language displayed in facebook’s comments is because almost all users do
not pay attention to the use of language’s politeness when making critiques, (5) Low level of obeying Bahasa Indonesia’s grammatical rule when making critiques or judging others in facebook.
Keywords: Communication, cyberspace, culture, character
Pendahuluan
Bahasa menunjukkan bangsa. Seharusnya
pepatah ini masih terpatri dalam setiap
sanubari insan Indonesia. Pepatah ini mengandung makna yang sangat dalam yaitu,
dari bahasa saja, orang sudah dapat melihat jati diri kita sebagai suatu bangsa. Baik
buruknya sifat dan tabiat orang yang diwadahi oleh bangsa, dapat diduga dari tutur
kata atau bahasanya, apakah santun, atau
kasar.
07-Dede.indd 217
Bahasa digunakan sebagai alat komu­
nikasi oleh manusia untuk menjalin hu­
bung­an, baik secara lisan maupun secara
tertulis. Dalam kegiatan berbahasa, terutama berbahasa secara tertulis, kaidah yang
berlaku dalam bahasa tersebut akan lebih
kompleks. Kita mengenal dalam bahasa
Indonesia bahwa sebuah kalimat minimal
harus memiliki unsur subjek dan predikat.
Itulah sebabnya dalam bahasa tulis, orang
harus menggunakan bahasa yang baik dan
4/16/2015 6:21:00 AM
218
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
benar agar mudah dipahami oleh orang
lain. Hal ini cukup beralasan, karena dalam bahasa tulis, antara penulis dan pembaca tidak berhadapan langsung, sehingga
kesepahaman ide, pendapat, ataupun maksud yang diinginkan dapat diterima oleh
kedua belah pihak. Kesalahan interpretasi
antara kedua belah pihak akan menyebabkan informasi jadi tidak berguna. Intinya
adalah baik berkomunikasi lisan maupun
tertulis harus terjadi kesepahaman antara
pembicara dengan lawan bicara, antara
penulis dengan pembaca, agar komunikasi dapat terjalin baik.
Dewasa ini, bentuk komunikasi dalam
bahasa tulis, semakin marak terjadi dalam
jejaring sosial seperti facebook, yang dianggap sebagai salah satu alternatif yang populer. Hal ini cukup beralasan, karena di
samping mudah melakukannya, juga tidak
repot dan terjangkau. Kita memafhumi
bahwa dewasa ini masyarakat Indonesia,
khususnya mereka yang tinggal di perkotaan, dalam kegiatan sehari-hari tidak pernah lepas dari alat komunikasi, mulai dari
yang paling sederhana sampai kepada alat
yang paling canggih. Telepon genggam,
ipod, tablet, laptop, blackberry merupakan
piranti yang mudah dibawa ke mana-mana, dan pastinya juga dilengkapi dengan
koneksi internet untuk mengoptimalkan
fungsinya.
Komunikasi dalam jejaring sosial tampak berjalan sangat akrab, kekeluargaan,
santai, sehingga menggunakan bahasa
yang tidak formal. Komunikasi biasanya
diawali dengan perkenalan awal sampai
berkelanjutan, dan lebih jauh lagi, sampai
membentuk sebuah komunitas. Setelah terbentuk, komunitas tersebut melanjutkan
komunikasi di alam nyata. Tidak jarang di
antara mereka ada yang menjalin hubungan
serius, baik dalam bidang bisnis, kerjasama, bahkan sampai ke jenjang pernikahan.
Namun, tidak jarang pula komunikasi da-
07-Dede.indd 218
Vol II, 2014
lam jejaring sosial bisa menimbulkan perpecahan, perseteruan, bahkan perkelahian
antar sesama komunitas, manakala komunikasi yang terjadi sudah menyinggung
perasaan, keyakinan, ataupun agama. Intinya adalah bahwa bahasa yang digunakan sudah tidak lagi menjunjung tinggi
norma-norma umum yang berlaku dalam
hidup berbangsa dan bernegara. Contoh
konkretnya adalah berkata-kata kasar,
mendiskreditkan seseorang, menghina
pribadi seseorang, ataupun sudah menyentuh pada ranah menghina SARA (Suku,
Agama, Ras dan Antar Golongan).
Inilah pengamatan awal yang menjadi ketertarikan penulis untuk melakukan
riset kecil ini, yaitu untuk melihat seberapa
jauh dampak dari penggunaan bahasa dalam jejaring sosial di dunia maya terhadap
pembentukan karakter bangsa. Di satu
sisi, bisa saja berdampak positif, tetapi di
sisi lain berdampak negatif, bahkan sampai menjalar ke dunia nyata, sehingga para
pelakunya lupa akan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Timbul pertanyaan
penulis, apakah kata-kata yang digunakan
ketika berkomunikasi dalam jejaring sosial
di dunia maya ini masih dalam batas-batas
yang wajar dan pantas, atau memang sudah masuk kategori tidak wajar dan tidak
pantas?
A. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat Komunikasi
Salah satu aktivitas dasar manusia dalam berhubungan satu dengan yang lainnya adalah berkomunikasi. Demikian
pula halnya dalam berinteraksi sosial, manusia selalu melakukan komunikasi. Pada
dasarnya komunikasi merupakan proses pertukaran informasi antara manusia
yang satu dengan manusia lainnya. Kehidupan manusia ditandai oleh dinamika
komunikasi, seperti dinyatakan oleh Lili-
4/16/2015 6:21:00 AM
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
weri (2003:2), yaitu bahwa seluruh umat
manusia di dunia benar-benar menyadari
bahwa semua kebutuhan hidupnya hanya
dapat dipenuhi jika ia berkomunikasi dengan orang lain. Keberhasilan berkomunikasi secara efektif akan mempengaruhi
tercapainya seluruh kebutuhannya. Keberhasilan komunikasi akan terjadi apabila
tercapai kesepahaman antara pembicara
dan pendengar, serta antara penulis dan
pembaca.
Kata ‘komunikasi’ dalam bahasa Inggris yaitu ‘communication’, yang berasal dari
kata Latin ‘communicatio’, yang bersumber
dari kata ‘communis’, yang berarti ‘sama’
(Effendy, l984:9). ‘Sama’ di sini dalam hal
‘sama makna’. Komunikasi akan terus berlangsung selama ada kesamaan makna menyangkut hal yang dikomunikasikan. Kesamaan makna tidak berarti sama bahasa.
Ada beberapa definisi tentang komunikasi yang dikemukakan para ahli dengan sudut pandang yang berbeda-beda.
William J. Seller (dalam Muhammad, 2009:
4) mengatakan bahwa komunikasi adalah
proses simbol verbal dan nonverbal yang
dikirimkan, diterima dan diberi arti. Menurut Hoben (dalam Mulyana, 2007: 55), komunikasi adalah pertukaran pikiran atau
gagasan secara verbal maupun nonverbal.
Secara implisit, definisi ini mengasumsikan bahwa komunikasi harus berhasil
dalam pertukaran pesan atau gagasan sehingga dapat dipahami oleh kedua belah
pihak. Dalam buku yang sama, Brent D.
Ruben (2009: 3) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses yang di dalamnya individu, dalam hubungannya, dalam kelompok, organisasi dan masyarakat,
menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengordinasikan
lingkungan dan orang lain.
Pada dasarnya, ada banyak konteks dalam komunikasi, tetapi yang umumnya terjadi dalam setiap interaksi antara dua orang
07-Dede.indd 219
dede hasanudin 219
individu adalah komunikasi interpersonal
(komunikasi antarpribadi). Konteks dari
komunikasi jenis ini, hampir selalu pada
setiap kesempatan terjadi, baik dalam kelompok maupun organisasi. Dalam lingkup
organisasi (perusahaan, sekolah atau lembaga lain), komunikasi interpersonal menjadi faktor penting untuk dapat mencapai
tujuan dari organisasi tersebut.
2. Hakikat Kalimat Efektif
Mulyono (2012: 73) mengatakan bahwa
kalimat efektif adalah jenis kalimat yang
menyatakan informasi secara tajam dengan bentuk pengungkapan yang menarik.
Secara tajam, artinya informasi tersampaikan tidak hanya dengan jelas, melainkan
lebih dari itu. Kalimat efektif juga me­
ngandung unsur keindahan.
Terkait kalimat efektif, Putrayasa (2009:
47) menjelaskan bahwa kalimat efektif itu
merupakan kalimat yang mencakup kalimat umum, kalimat paralel, dan kalimat
periodik. Kalimat umum pada dasarnya
dibentuk melalui unsur wajib dan unsur
tidak wajib. Unsur wajib meliputi unsurunsur yang harus ada dalam sebuah kalimat, yaitu unsur subjek (S) dan predikat
(P). Sementara itu, unsur tidak wajib adalah unsur yang boleh ada dan boleh tidak
ada, seperti kata kerja bantu harus atau
boleh.
3. Diksi
Keraf (2007: 87) berpendapat bahwa
“Diksi adalah kemampuan membedakan
secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai
dengan gagasan-gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan kata yang sesuai dengan situasi
dan nilai rasa yang dimiliki kelompok
masyarakat pendengar.” Memiliki kemampuan dalam memilih kata-kata yang tepat
pada petuturan akan membantu penyampaian gagasan dengan baik. Terlebih lagi,
4/16/2015 6:21:00 AM
220
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
bila ditambah kesadaran bahwa penulis
berada dalam suatu kelompok masyarakat
pembaca atau pendengar. Dengan demikian, penulis dapat memberikan kepuasan
batin bagi pembaca atau pendengar dalam menikmati petuturan.
Akhadiah, dkk (2003: 83) menambahkan bahwasanya “Persoalan memilih kata
yakni ketepatan dan kesesuaian. Ketepatan menyangkut makna, aspek logika
kata; kata­kata yang dipilih harus secara
tepat mengungkapkan apa yang mau diungkapkan. Sedangkan kesesuaian menyangkut kecocokan kata yang dipakai
pada situasi dan keadaan pembaca.” Jadi,
diksi itu penting sekali dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar. Manusia tidak akan lepas dari diksi ketika
mereka bertutur, baik dalam bahasa lisan
maupun dalam bahasa tulis.
Widjono (2005: 87) mengatakan bahwa “Diksi adalah ketepatan pilihan kata.”
Ketepatan memilih kata ini tentunya
dipengaruhi oleh pengguna bahasa yang
terkait dengan kemampuan mengetahui,
memahami, menguasai, dan menggunakan
sejumlah kosakata secara aktif yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat,
sehingga mampu mengomunikasikannya
secara efektif kepada pembaca atau pendengar.
Parera (1991: 66) menambahkan bahwa
“Diksi adalah pilihan kata atau penggunaan kata. Pilihan atau penggunaan kata
yang dimaksudkan adalah kemampuan
memilih dan menentukan kata yang tepat dalam menyampaikan gagasan.” Jadi,
diksi erat hubungannya dengan kemampuan menulis atau berbicara, dalam hal
menyampaikan gagasan kepada pembaca
atau pendengar.
Vol II, 2014
na bahwa gagasan yang diekspresikan dapat mengembangkan suasana yang baik,
hubungan yang harmonis dan keakraban.”
Kalimat yang baik dan santun ditandai sifat-sifat berikut ini: singkat, jelas, lugas dan
tidak berbelit-belit.
Pranowo (2009: 67-68) mengatakan
bahwa aspek penentu kesantunan dalam
bahasa verbal lisan, antara lain: aspek
intonasi (keras lembutnya intonasi ketika
seseorang berbicara), aspek nada bicara
(berkaitan dengan suasana emosi penutur:
nada resmi, nada bercanda atau bergurau,
nada mengejek, nada menyindir), faktor
pilihan kata, dan faktor struktur kalimat.
Abdul Chaer (2010: 6-8) mengatakan
bahwa di dalam tindak laku berbahasa haruslah disertai norma-norma yang berlaku
di dalam budaya itu yaitu etika berbahasa.
Etika berbahasa ini erat berkaitan dengan
norma-norma sosial dan sistem budaya
yang berlaku dalam suatu masyarakat.
Dalam nada berbicara, terkadang
sebuah perkataan terasa menyindir dan
bahkan terasa kasar saat dibaca. Berdasarkan hal tersebut, sering dikenal istilah gaya
bahasa sindiran.
5. Hakikat Budaya
Koentjaraningrat (1990: 179) menyatakan bahwa budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, “buddhayah”,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi
(budi atau akal), yang diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan
akal manusia. Dengan kata lain, sesuatu
yang terkait atau dihasilkan dari budi dan
daya manusia adalah sebuah budaya atau
kebudayaan.
Koentjaraningrat memandang bahwa
kebudayaan adalah sebuah sistem pikiran,
4. Hakikat Kesantunan
kegiatan, dan wujud dari kegiatan, misalWidjono (2007:164) mengatakan bahwa nya, dalam pemikiran manusia dirumus“Kesantunan kalimat mengandung mak- kan tentang kejujuran, lalu ia mencoba
07-Dede.indd 220
4/16/2015 6:21:01 AM
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
merumuskan konsep kejujuran itu, kemudian konsep kejujuran tersebut diwujudnyatakan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai budaya berfungsi sebagai
identitas bangsa Indonesia yang harus
dilestarikan. Kekuatan dan kesinambungan identitas bangsa serta eksistensinya
terletak pada kekuatan mempertahankan
nilai-nilai budaya. Tidak dapat dihindari,
era globalisasi yang kita masuki saat ini
akan mempengaruhi bidang kehidupan,
dan kita tidak mungkin pula mengelak
dari dampak yang diakibatkannya. Kondisi yang secara tidak langsung melahirkan budaya baru dan memengaruhi tatanan budaya masyarakat Indonesia inilah
yang harus kita hadapi. Oleh karena itu,
pelestarian nilai-nilai budaya sangat penting dilakukan demi menjaga nilai-nilai leluhur sebagai identitas bangsa.
Nilai-nilai budaya juga merupakan aspek dalam sistem ideologi yang terdiri dari
aspek kosmologi, aspek pola sikap, dan
aspek sistem nilai. Suatu sistem nilai pada
dasarnya merupakan suatu rangkaian dari
konsep yang luas, dan sistem nilai budaya
itu berfungsi sebagai suatu pedoman orientasi bagi manusia dalam hidupnya.
Dengan demikian, kemajuan suatu
bangsa ditentukan oleh sejumlah nilai
yang hidup dalam keseharian suatu bangsa. Penerapan dari nilai-nilai kehidupan ini
harus memiliki konsistensi sejak tingkat individu hingga tingkat kolektivitas bangsa.
Jika terjadi ketimpangan maka akan terjadi
sejumlah distorsi dalam kehidupan bangsa.
Misalnya, nilai budaya bekerja keras
berhasil diaplikasikan oleh seseorang dalam hidupnya, tetapi pada saat yang sama
ia tidak memunyai budaya empati dan
rasa malu. Dengan demikian, ia dapat saja
menerabas norma-norma wajar kemajuan
dengan melakukan berbagai penyelewengan dalam masyarakat.
07-Dede.indd 221
dede hasanudin 221
Selanjutnya, Kluckhohn (dalam Koentjaraningrat, 1990: 191), menyatakan bahwa
nilai-nilai budaya dari tiap-tiap kebudayaan
tidak terlepas dari lima masalah dasar dalam kehidupan manusia. Atas dasar itu, ia
membuat suatu kerangka teori yang dapat dipakai para ahli antropologi untuk
menganalisis secara universal setiap variasi dalam sistem nilai budaya yang didapati
dalam semua macam kebudayaan di dunia. Menurut Kluckhohn, kelima masalah
dasar dalam kehidupan manusia yang
menjadi landasan bagi kerangka variasi
sistem nilai budaya adalah:
a. Masalah mengenai hakikat dari hidup
manusia,
b. Masalah mengenai hakikat dari karya
manusia,
c. Masalah mengenai hakikat dari ke­
duduk­an manusia dalam ruang waktu,
d. Masalah mengenai hakikat hubungan
dari manusia dengan alam sekitarnya,
dan
e. Masalah mengenai hakikat dari hu­
bung­an manusia dengan sesamanya.
6. Hakikat Karakter
Thomas Lickona (2012: 81) menjelaskan
bahwa, ‘’Karakter adalah campuran kompatibel dari seluruh kebaikan yang diidentifikasikan oleh tradisi religius, cerita sastra, kaum bijaksana, dan kumpulan orang
berakal sehat yang ada dalam sejarah.”
Meskipun disadari bahwa tidak ada satu
orang pun yang memiliki semua kebaikan itu, dan bahwa setiap orang memiliki
beberapa kelemahan, tetapi orang-orang
dengan karakter yang sering dipuji, bisa
jadi sangat berbeda antara satu dengan
yang lainnya.
Terkait dengan pengertian karakter,
Narwanti (2011: 2) mengidentifikasi bahwa
“Karakter adalah gabungan segala sifat
kejiwaan yang membedakan seseorang
4/16/2015 6:21:01 AM
222
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
dengan orang lain. Secara psikologis pun
karakter dipandang sebagai kesatuan
seluruh ciri atau sifat yang menunjukkan
hakikat seseorang.” Melalui karakter inilah, seseorang dapat diidentifikasi segala
sikap dan ciri khasnya, dalam setiap tindak dan perilaku kehidupannya.
Selain memperlihatkan sifat dan watak seseorang, karakter dapat juga memperlihatkan sifat dan watak yang khas dari
suatu komunitas dalam suatu bangsa. Kita
mengenal di Indonesia banyak suku bangsa. Masing-masing suku bangsa memiliki
karakter yang menunjukkan ciri khas suku
bangsa tersebut. Dua pakem yang sampai
sekarang ini masih bisa kita terima adalah,
jika suku itu berada di daerah pesisir pantai, maka karakter suku itu keras, berjiwa
besar, senang berpetualang, dan mandiri.
Sementara, suku-suku yang mendiami
daerah pegunungan lebih cenderung sopan
santun dalam berbahasa. Namun, tentunya
dua pakem itu tidak serta merta melekat
pada setiap orang yang tinggal di kedua
daerah tersebut.
Karakter adalah istilah yang diambil
dari bahasa Yunani yang berarti “to mark”
(menandai), yaitu menandai tindakan
atau tingkah laku seseorang. Kemudian istilah ini banyak digunakan dalam
bahasa Perancis, menjadi “caratere” pada
abad ke-14, dan kemudian masuk dalam
bahasa Inggris menjadi “character”, yang
lalu diadopsi menjadi bahasa Indonesia,
“karakter”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
karakter diartikan sebagai sifat-sifat akhlak
atau budi pekerti yang menjadi ciri khas
seseorang. Fenichel (2014: 467) dalam The
Psychoanalytic Theory of Neurosis, mendefinisikan karakter sebagai “ the habitual mode
of bringing into harmony the tasks presented
by internal demands and by the external world,
is necessarily a function of the constant, organized, and integrating part of the personality
07-Dede.indd 222
Vol II, 2014
which is the ego.” Sedangkan menurut Hernowo (2004: 175), karakter adalah watak,
sifat, atau hal-hal sangat mendasar yang
ada pada diri seseorang. Selanjutnya, Hernowo juga mendefinisikan karakter sebagai tabiat dan akhlak atau budi pekerti
yang membedakan seseorang dengan yang
lainnya.
Masih menurut Lickona, dimensidimensi karakter yang baik yang dapat
menunjang karakter siswa atau bangsa
meliputi pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling),
dan tindakan atau tingkah laku moral (moral
action). Pengetahuan tentang moral (moral
knowing) sendiri meliputi kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang
nilai moral (knowing value), berpikir moral
(moral thinking), penalaran moral (moral reasoning), membuat keputusan (decision making), dan pengetahuan diri (self-knowledge).
Perasaan moral (moral feeling) meliputi hati
nurani (conscience), harga diri (self esteem),
empati (empathy), mencintai kebaikan (loving the good), kontrol diri (self control), dan
kerendahan hati (humility). Sedangkan,
tindakan atau tingkah laku moral (moral
action) meliputi kompetensi (competence),
kemauan (will), dan kebiasaan (habit).
B. Pembahasan
1. Berkomunikasi dalam dunia maya
Dalam mencari data dan informasi
mengenai bagaimana masyarakat atau
pengguna jejaring sosial khususnya Facebook, peneliti harus terjun mulai dari memantau status Facebook secara up to date,
hingga wawancara kepada para pengguna
Facebook dari berbagai kalangan.
Berdasarkan informasi yang diberikan oleh para responden pengguna dunia
maya dan media sosial Facebook, secara
keseluruhan hampir semuanya merujuk
pada opini argumentasi yang sama. Rata-
4/16/2015 6:21:01 AM
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
rata responden menggunakan alat komunikasi handphone yang sekaligus menyediakan fitur browser untuk menjelajah di
dunia maya dan media sosial, khususnya
media sosial yang sudah teraplikasi pada
telepon genggam, seperti Facebook, Twitter, Line, Path, dan sebagainya. Bermacammacam kegiatan yang digunakan para responden dalam memanfaatkan Facebook,
misalnya mengobrol (dalam istilah dunia
maya disebut “chat” atau “chatting’) dengan teman-teman lama, berbelanja daring, game, mengunggah foto, dan posting
serta membaca berita.
Dari keterangan responden dapat
diketahui bahwa para pengguna Facebook
rata-rata mendapatkan berita maupun
informasi yang aktual tentang peristiwa
serta kejadian yang tengah terjadi di dunia
internasional, contohnya Konflik di jalur
Gaza, ISIS, perang saudara di Suriah, Libia,
Mesir, bahkan sampai kegiatan pemilihan
presiden dan wakil presiden. Tentang pelbagai kejadian ini, para pengguna Facebook
mendapat kesempatan untuk saling berkomentar. Banyak sekali ragam bahasa yang
digunakan. Secara umum, bahasa yang
digunakan dalam Facebook adalah bahasa percakapan sehari-hari. Para responden tersebut tidak menampik jika dalam
komentar-komentarnya, mereka kerap
menggunakan bahasa yang kurang sopan
bahkan menjurus ke kasar, jika berita atau
informasi yang dipublikasikan tidak sesuai dengan harapannya. Responden
menerangkan bahwa beberapa komentar
memang ada yang kasar, tetapi tetap ada
komentar yang sopan dan tidak menyakitkan pembacanya.
Kelebihan Facebook atau media sosial
secara umum adalah dapat mengeratkan
silaturahmi kerabat-kerabat yang jauh,
menggali informasi secara cepat dan lebih efisien dalam berkomunikasi. Sedangkan kekurangannya yaitu tidak ada filter
07-Dede.indd 223
dede hasanudin 223
dari Facebook itu sendiri untuk menyaring
kata-kata kasar. Bahkan, Facebook sangat
rentan untuk diretas (hack). Kekurangan
ini cukup disepakati oleh para pengguna
dunia maya. Suatu kelemahan yang tentunya tidak bisa dipungkiri adalah tidak
adanya batasan usia bagi pengguna Facebook. Oleh karena itu, mulai dari anak­
anak, remaja, hingga orang dewasa bisa
saja berada dalam satu forum umum
tanpa ada filterisasi pembahasan suatu
topik masalah. Tentunya hal ini begitu
ironis mengingat pasti banyak anak yang
terbawa arus perbincangan orang-orang
dewasa. Terlebih lagi, tidak dipungkiri
oleh para responden bahwa para pengguna Facebook bebas berkomentar sesuai
dengan kehendaknya. Apakah pengguna ingin menggunakan bahasa yang
baik, atau ingin menggunakan bahasa
yang kasar, tidak ada sedikitpun sensor
dari pihak Facebook. Hal inilah yang ditakutkan akan terlihat dan dicontoh oleh
anak-anak.
2. Kebahasaan dan Kesantunan dalam
Dunia Maya
Dalam pembahasan ini, penulis mengutip satu buah posting berita dari Facebook
tentang Kementrian Perhubungan RI yang
merilis nama-nama warga negara Indonesia yang menjadi korban dalam jatuhnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH
17 di Zona perang Ukraina, pada 17 Juli
2014. Berita yang dirilis viva.co.id terkait
jatuhnya pesawat MAS MH 17 melalui lamannya
http://nasional.news.viva.co.id/
news/read/522630-ini-12-penumpang-wnikorban-tragedi-pesawat-mh-17, diposkan
pada akun Facebook-nya pada Jumat, 18 Juli
2014 sekitar pukul 14.00. Pesawat komersial itu diduga ditembak roket dalam perjalanan dari Amsterdam Belanda menuju
Kuala Lumpur Malaysia. Seluruh penumpangnya tewas.
4/16/2015 6:21:01 AM
224
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
3. Analisis Data
a. Analisis Kebahasaan
Dari sisi berita, tidaklah terdapat
m asalah mengenai aspek kebahasaan
yang dituangkan dalam berita. Hal tersebut karena para administrator Fanpage
Facebook tentunya sangat memerhatikan
aspek kebahasaan sebagaimana ketentuan dalam membuat berita pada umumnya. Akan tetapi, aspek kebahasaan
sepertinya kurang diperhatikan oleh para
komentator berita yang memberikan komentarnya pada kolom yang tersedia
di bawah berita tersebut. Dalam berita
di atas, penulis membagi dua aspek kebahasaan, yaitu (1) kalimat efektif, dan (2)
diksi.
1) Keefektifan Kalimat
Berdasarkan berita yang diposkan
oleh VIVAnews.com melalui akun Facebook-nya, banyak masyarakat pengguna
Facebook yang memberikan komentar beragam. Dari komentar-komentar tersebut,
penulis mengambil beberapa komentar untuk dijadikan bahan analisis, sebagai berikut:
Komentar Iwar Guiteirez: “Sekalian ata tUh
Negara Malaysia di bOmbArdir biar ancur.
Buat penumpang WNI biar mampus lu rasain jadi
penghianat. Siapa suruh gak naik garuda.”
Vol II, 2014
“mudah mudahan Pesawat tu Jatuh KE air
dan para penumpangnya tidak dapat ditemukan
terima kasih”
Komentar Roy Mohade di atas memiliki bahasa yang lugas dan tegas, tetapi juga
memiliki sifat sarkas. Apabila dijadikan
kalimat efektif, akan berbunyi sebagai berikut: “Anda cacat!”
Komentar Dina Rizky: “Pilot nya aja Oon !! Ud
tau di kawasan sana lagi tempur, ngpain terbang
melintas di atas sana.”
Komentar di atas belum memiliki
struktur kalimat yang efektif. Penulisan
kata juga masih ada yang salah. Agar kalimat di atas efektif, maka seharusnya: “Pilotnya yang bodoh! Sudah tahu di sana sedang tempur, kenapa melintas di sana?”
Komentar Dozzy Paradise: “kok ora wong Malaysia wae seng modharr..crott”
Komentar di atas berbahasa Jawa.
Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan kalimat efektif, menjadi
sebagai berikut: “Kok tidak orang Malaysia
saja yang meninggal. Crott!”
Dulas Anuraga: “mampus tuh Malaysia”
Komentar di atas merupakan sumpah serapah. Secara tegas Dulas Anuraga
Kalimat pada komentar di atas belum menyampaikan umpatannya, yang dalam
efektif karena masih ada beberapa kata ragam kalimat efektif menjadi, “Mampus
yang kurang tepat penggunaannya dan itu Malaysia!”
masih ada kata yang tidak baku. Maka kalimat efektif dari komentar tersebut adalah:
Komentar Gue Yeexcarr Cenang: “wong edan
“Sekalian saja Negara Malaysia dibombardir
ikie”
biar hancur. Untuk penumpang WNI biar
mampus, kalian rasakan akibat jadi penghiKomentar di atas berbahasa Jawa.
anat. Siapa suruh tidak naik Garuda.”
Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan kalimat efektif, menjadi
Komentar Roy Mohade: “CACADLO!!”
sebagai berikut: “Ini orang gila!”
Komentar Roy Mohade ini mengomentari komentar dari Van Putra Sihite C’lalu, yaitu:
07-Dede.indd 224
Komentar Santo Kurniawan: “BEGO!!!”
4/16/2015 6:21:01 AM
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
Umpatan tersebut secara lugas diberikan Santo Kurniawan. Namun, penggunaan tanda seru dalam umpatan tersebut
terlalu banyak sehingga tidak menjadi kalimat yang efektif. Seharusnya: “Bego!”
Komentar Cahstress: “goblok”
Umpatan Cahstress tersebut tidak
diberi intonasi final “tanda seru” sebagai
bentuk luapan emosi. Seharusnya: “Goblok!”
dede hasanudin 225
analisis sebagai berikut.
Komentar Rio Rinaldi: “Mati aja kau, Org strezz”
Diksi “mati” dan “strezz”, pada komentar Rio Rinaldi, menunjukkan kekesalannya atas komentar seseorang dalam ruang
komentar.
Komentar Serdadumancunianpemuja Reddevilgariskeras: “Bangsat lu gk ada rs kemanusiaan
skali lu”
Komentar Dian Silviana: “stress Joe”
Komentar di atas merupakan teguran;
diksi “bangsat” ditujukan pada seseorang
Umpatan Dian Silviana tersebut tidak
yang dianggapnya tidak memiliki rasa kediberi intonasi final “tanda seru” sebagai
manusiaan dalam komentarnya.
bentuk luapan emosi kepada seseorang
yang ditujunya. Seharusnya: “Anda stres!”
Komentar Dani Firmansyah Jr. “Btut”
Komentar Andry Raka Shinobi: “klo keluarga
L oe yang jadi salah satu korban nya apa loe
masih mau bilang kaya gitu ???????? #dongo”
Sindiran dari komentar Dani Firmansyah Jr. ditujukan pada pesawat MH17
yang dianggapnya sudah “butut”.
Andry Raka Shinobi dalam komenKomentar Princess Jazira: “Kalian orang duntarnya, memberikan pertanyaan balik kegu!! Dulas anuraga.. lwar guiteirez!!! Kalian mapada beberapa orang dalam ruang komenkan tai saja biar bisa mikir”
tar. Jika diubah ke dalam kalimat efektif,
yakni sebagai berikut: “Kalau keluarga Anda
Komentar Princess Jazira merupakan
yang jadi salah satu korbannya, apa Anda
teguran yang tertuju langsung pada dua
masih mau bilang begitu? #dongo.”
orang yang disebutnya. Dalam komentar
tersebut ada diksi “dungu” dan “tai’” seKomentar Uciim Jamaica Uyea: “DASAR
bagai umpatan kekesalannya yang ditujuORANG GOBBLOG,.,·>”
kan kepada kedua orang tersebut.
Komentar di atas merupakan sebuah
umpatan untuk menyatakan emosi. Na- b. Analisis Kesantunan Berbahasa
Dalam ruang komentar, tidaklah damun, jika diubah ke dalam kalimat yang
efektif, akan menjadi seperti: “Orang gob- pat dipungkiri jika masyarakat pengguna
Facebook seringkali melontarkan kata-kalok!”
ta atau bahasa yang tampak melanggar
nilai-nilai kesantunan. Berbagai macam
2) Diksi
Berdasarkan analisis keefektifan ka- pengungkapan emosi di dalam komentar
limat di atas, terdapat beberapa diksi (pi- dapat tertuang melalui cara apa pun, mislihan kata) yang terdapat pada komentar- alnya melalui sindiran, celetukan, emosi
komentar tersebut untuk dijadikan bahan yang tinggi, hingga kata-kata sarkas yang
07-Dede.indd 225
4/16/2015 6:21:01 AM
226
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
Vol II, 2014
nadanya sangat kasar dan tidak layak diungkapkan.
Pada bagian ini, penulis membagi analisis kesantunan berbahasa pada komentarkomentar di atas menjadi dua macam,
yaitu: (1) sindiran, dan (2) sarkasme.
Berikut adalah contoh sindiran dan umpatan kasar yang diambil dari komentarkomentar yang dipublikasikan pada 6 Juli
pukul 14.46 di Fanpage Facebook berjudul
“Puisi Perjanjian dengan Jokowi-JK.”
Tautan
berita:
https://www.fac e b o o k . c o m / D e n n y J AWo r l d / p o s t s /
617091061720380.
Puisi tersebut menginformasikan tentang aksi para relawan dari pendukung
calon presiden dan calon wakil presiden
nomor urut dua yaitu Ir. Joko Widodo
dan Drs. Mumammad Jusuf Kalla.
Dalam berita tersebut, disampaikan pembacaan sebuah puisi oleh salah
seorang pendukung kedua pasangan
capres-cawapres pada saat kampanye
tanggal 5 Juli 2014 di Stadion Gelora
Bung Karno, Senayan, Jakarta. Uniknya,
komentar yang dituliskan atau diargumentasikan oleh para pembaca Facebook
terkadang tidak sinkron dengan apa yang
diberitakan. Komentar-komentar tersebut
pada akhirnya berujung pada debat, saling
ejek, dan saling sindir. Komentar-komentar
tersebut dilontarkan begitu saja, terkadang
tanpa memikirkan dampaknya. Banyak di
antara komentar yang keluar, jika dilihat
dari sudut pandang bahasa, akan menghasilkan kalimat atau gagasan yang tidak
efektif. Selain itu, gagasan yang dilontarkan pun memicu kontroversi dan konflik.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa dalam dunia maya pun sangat rentan terjadi konflik yang bersifat horizontal antar
sesama pengguna dunia maya.
mentar, yang penulis kategorikan sebagai
sindiran
Komentar : Sultan Cilik Kondang “alasan saya memilih Jokowi :
(1) Tidak suka dan tidak pernah melanggar sumpah jabatan atas nama Tuhan
dan kitab suci baik di solo maupun di
jakarta
(2) Suka blusuan dan pencitraan dengan membawa puluhan wartawan agar segera diliput
(3) Tidak Suka pamer prestasi baik itu di sesi
debat sekalipun karena tidak Berambisi
menang.
(4) Berasal dari keluarga miskin dan aset kekayaannya sekarang cuma Puluhan Milyar
belum Triliyunan
(5) Tampang lugu tapi hati mulya suka melecehkan lawannya sekali-sekali gk sering
(6) Menguasai 10 bahasa termasuk bahasa
basi
(7) Tidak merupakan capres Boneka yang sering dikatakan orang tapi capres ajudan
Mega Sumpah adalah amanah baginya,
jadi haram hukumnya melanggar sumpah
(8) Pintar merebut hati rakyat dengan berlagak ndeso dan dengan segala upaya biar
banyak yang suka
(9) Lahir dari keluarga yang terhormat dan
tidak terkenal jadi tidak perlu diperkenalkan segala
(10) Sukses memimpin Solo dengan segala
prestasi yang tentu diketahui semua
orang. Karena selalu diliput di media
masa, gk kaya yang lain prestasinya gk
pernah diliput jadi orang gk tahu
(11) Yakin menang 100% kalau Pemilu tidak
main curang tidak boleh tidak. Kalau
yg lain malah ngomong, menerima saja
keputusan Rakyat apapun hasilnya
1) Sindiran
(12) Sederhana dalam penampilan agar diharDari wacana di atas, muncul beberapa
gai oleh Pemimpin­Pemimpin Dunia dan
sindiran, dan berikut adalah beberapa koagar rakyat simpati.
07-Dede.indd 226
4/16/2015 6:21:01 AM
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
(13) Jujur, Bertanggung jawab dgn segala tugas yang diberikan Rakyat, karena sekali
berbohong merupakan hal yang tidak
biasa ia lakukan
(14) Belum pernah didemo masa dan belum
pernah tersandung kasus apapun
(15) Pintar
berpolitik termasuk berpolitik
dengan membuka rekening gotong royong
agar tidak ada yang dirugikan bila kalah
nanti
(16) Taat dalam beribadah, rajin sholad dan
puasa. Kalau tidak percaya lihat saja
gambrnya banyak beredar di media masa
(17) Jago berdebat semua lawannya kalah dan
selalu memahami materi debat tidak pernah salah
(18) Segala tindakannya selalu benar tidak
pernah salah dan tidak mau disalahkan
(19) Figur pemimpin yang tegas dan berwibawah, cocok jika disejajarkan dengan
tokoh2 dunia yang tegas dan pintar
(20) Setiap Ucapannya tegas dan akurat tidak
mencla mencle, pagi tempe sore dele
(21) Rela berkorban demi kepentingan Rakyat
meski harta kekayaannya ludes dia rela
asalkan demi Rakyat
(22) Tidak pernah mencalonkan diri tapi dicalonkan oleh partai berhubung popularitasnya lagi naik maka dicalonkan agar
PDIP tetap diatas
(23) Disiplin dalam tugas karena sudah biasa
dilatih kedisiplinan, tidak pernah molor
janji dan molor waktu
(24) Mengerti segala seluk beluk Negara dan
segala akar permasalahan bangsa serta
menguasai segala bidang termasuk urusan pertahanan dan keamanan Negara.
Jadi tunggu apa lagi?
Komentar tersebut terkesan sebagai
pujian atau dukungan terhadap salah
satu calon presiden Republik Indonesia.
Akan tetapi, jika kita melihat dan membaca secara kritis, kita dapat mengetahui
bahwa komentar dari pengomentar meru-
07-Dede.indd 227
dede hasanudin 227
pakan sebuah sindiran. Sindiran tersebut
bermacam-macam, mulai dari yang terasa
halus, hingga sindiran yang terasa sangat
frontal dan kasar. Berikut contoh sindiran
yang halus,
(1) Tidak suka dan tidak pernah melanggar
sumpah jabatan atas nama Tuhan dan
kitab suci baik di solo maupun dijakarta
(2) Suka blusuan dan pencitraan dengan
membawa puluhan wartawan agar segera
diliput
(3) Tidak Suka pamer prestasi baik itu disesi
debat sekalipun karena tidak berambisi menang.
(4) Berasal dari keluarga miskin dan aset kekayaannya sekarang cuma Puluhan Milyar
belum Triliyunan
Pada komentar yang pertama, pengomentar menyebutkan bahwa salah satu
capres tidak suka dan tidak pernah melanggar sumpah jabatan atas nama Tuhan dan Kitab Suci baik di Solo maupun
di Jakarta. Mungkin jika masyarakat atau
pembaca yang belum memahami situasi
di Indonesia, akan melihat ini sebagai pujian. Akan tetapi, rata-rata masyarakat memahami bahwa ada isu dan berita yang
menyebar bahwa salah satu capres yang
dimaksud justru berada pada situasi sebaliknya. lni mengindikasikan bahwa pengomentar memberikan sebuah sindiran halus
kepada salah satu capres yang dimaksud
olehnya.
Secara keseluruhan, beberapa per­
nyataan dari pengomentar sebenarnya
menggunakan
kesantunan yang baik.
Akan tetapi, kesantunan tersebut terasa hilang pada beberapa pernyataan sindiran
yang dapat dikatakan cukup keras.
Pada komentar yang kedua, pengomentar menuliskan atau mengargumentasikan bahwa beliau yang dimaksud
tersebut suka blusukan dan pencitraan
4/16/2015 6:21:01 AM
228
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
dengan membawa puluhan wartawan agar
segera diliput. Pernyataan ini jelas merupakan sindiran. Sindiran sangat terasa pada
pernyataan ‘’membawa puluhan wartawan agar segera diliput”.
Pada komentar yang ketiga, pengomentar menuliskan tidak suka pamer
prestasi baik itu di sesi debat sekalipun
karena tidak berambisi menang. Sama
seperti kalimat sebelumnya, dalam hal
ini terdapat sindiran yang halus, karena
sebenarnya pengomentar mengritik bahwa orang/calon presiden yang dimaksud
tersebut mungkin menurut pengomentar
berada pada situasi yang sebaliknya yaitu
suka memamerkan prestasi, dan berambisi untuk menang.
Pada komentar yang keempat, selanjutnya dia menuliskan bahwa salah satu
capres berasal dari keluarga miskin dan
aset kekayaannya sekarang cuma Puluhan
Milyar belum Trilyunan. Pernyataan tersebut jelas sebuah sindiran yang cukup
dalam. Sindiran sangat terasa ketika pada
pernyataan, “kekayaannya cuma puluhan miliar”. Padahal, uang puluhan miliar tersebut jumlahnya sangatlah banyak
dan orang yang memiliki uang sebanyak
itu tentulah bukan orang miskin.
Selain itu, ada juga komentar sindiran
yang agak sedikit kasar, misalnya,
(1) Tampang lugu tapi hati mulya suka melecehkan lawannya sekali-sekali gk sering.
(2) Menguasai 10 bahasa termasuk bahasa
basi
Pada komentar yang pertama, pengomentar menyatakan bahwa “Tampang lugu
tapi hati mulya suka melecehkan lawannya sekali-sekali gak sering”. Pernyataan
ini merupakan sindiran yang cukup kasar,
karena ada istilah “hatinya mulia suka melecehkan”. Kita memahami bahwa hati
mulia dengan suka melecehkan merupakan ungkapan yang bertentangan. Ketika
seseorang berhati mulia, mana mungkin
07-Dede.indd 228
Vol II, 2014
orang tersebut melecehkan orang lain.
Maka dari itu, jelas pernyataan dari pengomentar sangat menyindir dan sangat
kasar. Selanjutnya, pada pernyataan,
“menguasai 10 bahasa termasuk bahasa
basi”, pun jelas sebuah sindiran yang
cukup kasar. Kasarnya tingkat sindiran
tersebut terjelaskan pada ungkapan “bahasa basi”. Ada dua kemungkinan yang
dimaksud dari “bahasa basi” tersebut,
yaitu 1) bahasa yang mengungkapkan
“basa-basi”, atau 2) bahasa atau pembahasan yang dianggap sudah basi atau
sudah lawas dan tidak berguna lagi diungkapkan.
2) Sarkasme
Komentar atas nama Rediya Nehru,
yang menuliskan, “Culas fitnah bohong
hoak gelembuk solo adu domba curiga marah
HAPUSkan sekarang”.
Pengomentar dengan nama Rediya
Nehru di atas tampak berbeda dengan
pengomentar sebelumnya. Jika sebelumnya didapati berbagai macam sindiran,
maka komentar yang ini lebih to the point
dalam mengemukakan pendapat, bahkan
mengeluarkan kata-kata yang cukup kasar
seperti “culas, fitnah, bohong, hoak, adu
domba”.
Selain itu, ada kata yang penulisannya menggunakan huruf kapital secara
keseluruhan dalam kata ‘”HAPUSkan”.
Penggunaan huruf kapital tersebut merupakan sebuah penekanan atau menandakan emosi yang sudah memuncak dari
pembuat komentar.
Komentar atas nama Irfan Susanto:
Klo manusia waras pilih no’2.. peace......Klo
yg pilih 2 itu dr fikiran turun k’hati, krna
orang yg milih 2 punya pendtrian &komitmen, yg ga asal ikut2an:
1. Partai
2. Keluarga
4/16/2015 6:21:01 AM
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
dede hasanudin 229
3. Teman
4. Golongan
atau mungkin sudah sangat tinggi. Penggunaan huruf kapital juga merupakan
tanda bahwa si pengomentar sedang daKomentar atas nama lrfan Susanto lam keadaan marah.
memang terkesan sederhana. Akan tetapi,
ada hal yang terasa begitu kasar jika kita 4. Budaya dan Karakter dalam Dunia
lihat dengan lebih teliti. Pengomentar
Maya
mengungkapkan bahwa “klo manusia a. Budaya
waras pilih no 2” atau lebih jelasnya “KaBerdasarkan analisis kesantunan berlau manusia waras akan memilih nomor bahasa di atas dapat disimpulkan bahwa
2”. Maksudnya adalah bahwa menurut komentar terhadap berita 12 Penumpang
pengomentar yang memilih calon presi- WNI Korban Tragedi Pesawat MHI 7 lebih
den nomor urut dua merupakan orang banyak menekankan kepada sarkasme.
yang waras, begitupun sebaliknya. Pe­ Banyak para komentar menggunakan bangomentar menyiratkan bahwa yang hasa sarkasme dalam memberikan masuk­
tidak sependapat atau tidak memilih no- an maupun komentar terhadap komentar
mor 2, maka akan kembali ke premis awal yang tiap kali muncul. Hal ini menandayaitu, hanya pemilih nomor 2 yang waras, kan bahwa nilai kesantunan berbahasa
sehingga pemilih nomor 1 diindikasikan masyarakat pada umumnya dalam ranah
tidak waras oleh pengomentar. Hal ini komunikasi maya ini mulai menghilangmerupakan sebuah bahasa yang sangat kan nilai kesantunan yang semestinya berkasar dan tidak santun, mengingat hampir laku dalam situasi apapun. Dengan bahasetengah penduduk di Indonesia tidak sa-bahasa kasar yang dilontarkan tersebut
memilih capres nomor 2. Simpulannya, menandakan bahwa komunikasi dalam
berarti hampir setengah penduduk In- dunia maya tidaklah memperhatikan kesdonesia tidak waras, menurut kriteria si antunan bahasa.
pengomentar.
Jejaring sosial Facebook sendiri sejatinya
Dari berita tersebut, dapat disimpul- bukanlah asli dari budaya Indonesia. Facekan bahwa kesantunan para pengomen- book diciptakan oleh seorang pemuda asal
tar bermacam ragamnya. Ada pengo- Amerika Serikat bernama Mark Zuckermentar yang menggunakan sindiran yang berg, pada awal tahun 2000-an. Facebook
mulai dari sindiran halus hingga sindiran masuk ke Indonesia dengan sangat cepat
yang terkesan frontal dan kasar. Selain itu, dan pesat karena melalui media Interada juga komentar yang membela dengan net. Perkembangan Facebook di Indonesia
kasar: pembelaannya menggunakan ba- kemudian terintegrasi dengan kegiatan
hasa yang kasar. Selain melakukan pem- masyarak:at di Indonesia, mulai dari kabelaan, ada juga yang menggunakan kata langan anak-anak, remaja, hingga orang
kasar dalam mencibir atau mengejek pihak dewasa.
yang berlainan pendapat dengannya.
Kendati Facebook sendiri bukan berasal
Ada hal yang menarik dari komentar dari bangsa dan budaya Indonesia, akan
para pembaca berita, yaitu penggunaan tetapi penggunaannya yang mudah dan
huruf kapital pada seluruh kata yang di- dapat dipakai oleh siapapun membuat
gunakan. Hal tersebut menunjukkan Facebook dengan mudah terintegrasi denpenekanan yang kuat dan mengindikasi- gan masyarakat Indonesia beserta budaya
kan tingkat emosional yang mulai tinggi ketimurannya. Dengan adanya Facebook,
07-Dede.indd 229
4/16/2015 6:21:02 AM
230
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
bangsa Indonesia dengan mudah melihat
bagaimana wujud konkret dari budaya
luar. Sehingga, banyak anak muda dan
remaja mencontoh dan meniru apa yang
mereka lihat dan mereka baca di Facebook
dalam kehidupan sehari-hari.
b. Karakter
Berikut kutipan komentar pengguna
dalam sebuah posting berita di Facebook.
“Lu lu pade emang lebih baik daripada aa
gym hah.? Mulut lu. doank berkoar, tapi otak
ma moral kaga ada...gw tampol bego beneran
lo lo pade ah elah....makan tuh kemunafikanmu
dan kefanatikanmu; Nama ustad kondang pun
difitnah, dasar syaitan kamu....”
Berbagai macam cacian, makian, perdebatan yang terjadi di dunia maya antar
pengomentar bukanlah hal yang dapat
dipungkiri lagi. Identitas bangsa Indonesia
yang ramah dan santun tampak bertolak
belakang dengan apa yang dapat kita lihat setiap saat di Facebook terutama jika
terjadi pro-kontra akan suatu kasus dan
permasalahan. Tentunya hal-hal seperti
itu bukanlah identitas asli bangsa Indonesia. Hal tersebut tentunya mengakibatkan terbentuknya karakter yang negatif
dan dapat mengakibatkan disharmonisasi
antar golongan yang berbeda pendapat.
Dapat dibayangkan betapa buruknya suasana jika setiap individu atau kelompok
yang berbeda pendapat selalu berakhir dan
berujung pada cacian dan makian kepada
sesama masyarakat. Tentunya hal tersebut
bukan hal yang baik dan benar jika dibiarkan saja.
Penggunaan ungkapan cacian yang
menjurus kepada cacian kasar yang tidak
pantas diungkapkan merupakan sebuah
cerminan karakter yang jauh dari akhlak
yang mulia. Karakter negatif tersebut
terlihat dari penggunaan bahasa yang
kasar yang ditujukan kepada orangorang tertentu yang tidak sesuai dengan
07-Dede.indd 230
Vol II, 2014
pendapatnya. Permasalahan seperti itu
tentunya merupakan masalah bersama
dan harus diselesaikan mulai dari diri
sendiri. Tanpa adanya kesadaran dari setiap individu, maka permasalahan tetap
akan berlarut dan tetap akan kita saksikan seperti itu.
Kesimpulan
Penulis menyimpulkan bahwa terdapat
ragam variasi bahasa yang selalu diungkapkan di dunia Facebook. Selain itu, banyak
sekali komentator di dunia Facebook yang
menggunakan bahasa-bahasa sindiran atau
bahkan bahasa yang berada pada kategori
sarkasme, ketika mengomentari sesuatu
hal pokok yang dibicarakan.
Dalam penelitian, dapat ditemukan
rendahnya kesantunan berbahasa yang
ditampilkan dalam komentar di dunia Facebook karena hampir seluruh pengguna
tidak memerhatikan kesantunan bahasa
ketika mengkritik subjek dalam Facebook.
Rendahnya kaidah bahasa Indonesia yang
ditampilkan ketika mengkritik atau menilai
subjek di dalam Facebook menunjukkan
pola pikir dan karakter yang tidak sesuai
dengan budaya dan karakteristik bangsa
Indonesia yang dikenal ramah dan sopan.
Dari hasil penelitian dan pengamatan
yang dilakukan peneliti, kebanyakan dari
masyarakat pengguna facebook tidak memungkiri bahwa memang perdebatan katakata dengan menggunakan diksi yang buruk, tidak dapat dihindari di dunia maya.
Hal tersebut terjadi lantaran tidak adanya
aturan baku mengenai penggunaan bahasa dalam berkomunikasi di dunia maya.
Untuk mengurangi hal tersebut tentunya
hanya kesadaran dari setiap individu
pengguna dunia maya yang dapat meng­
ubah semua hal negatif yang terjadi menjadi lebih positif.
4/16/2015 6:21:02 AM
Telaah Budaya dan Karakter dalam Pola-pola Komunikasi di Dunia Maya
dede hasanudin 231
Lickona, Thomas. (2012). Educating for
Character (Mendidik Untuk Membentuk
Amirulloh. (2012). Buku Pintar Pendidikan
Karakter). Jakarta: Bumi Aksara.
Karakter. Jakarta: Prima Pustaka.
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. (2004). Liliweri, Alo. (2003). Makna Budaya dalam
Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta:
Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.
LKiS.
Effendi, Onong Uchyana. (1980). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT _____. (1995). Perspektif Teoritis Komunikasi
Antarpribadi. Bandung: PT Citra Aditya
Remaja
Rosdakarya.
Bakti.
Fajri, EM Zul dan Ratu Aprilia Senja. (2008).
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Edisi Muhammad, Arni. (2009). Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Revisi, Cet. 3, Semarang: Difa PublishMulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi,
ers.
Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja
Faruqi, Ismail R. (1989). Islam dan KebuRosdakarya.
dayaan. Jakarta: Mizan.
Fenichel, Otto. ([1945] 2014). The Psychoana- Narwanti, Sri. (2011). Pendidikan Karakter:
Pengintegrasian 18 Nilai Pembentuk Karalytic Theory of Neurosis, revised edition.
kter dalam Mata Pelajaran. Yogyakarta:
London: Routledge
Familia.
Hernowo. (2004). Self Digesting: Alat Menjelajahi dan Mengurai Diri. Bandung: Mi- Nurhajarini, Dwi Ratna. (1999). Kajian Mitos dan Nilai Budaya dalam Tantu Pangzan Learning Center.
gelaran. Jakarta: Putra Sejati Raya.
Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu
Rakhmat, Jalaluddin. (1988). Psikologi KoAntropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
munikasi. Bandung: Remaja Karya.
Daftar Pustaka
07-Dede.indd 231
4/16/2015 6:21:02 AM
Fly UP