...

Pergulatan Pemikiran islam Di ruang Publik maya (analisis terhadap

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Pergulatan Pemikiran islam Di ruang Publik maya (analisis terhadap
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam
Di Ruang Publik Maya
(Analisis terhadap Tiga Website Organisasi Islam
di Indonesia)
Muhamad Mustaqim
STAIN Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
[email protected]
Abstract
THE ISLAMIC THINKING IN THE CYBERSPACE
(AN ANALYSIS OF THREE WEBSITE ISLAMIC
ORGANIZATIONS IN INDONESIA). The shift from
physical public space in the virtual public space becomes a contestation
for social organizations, including Islamic organizations. This paper
intends to analyze the tendency of the struggle of Islamic thought to
public spaces through official website of each organization Islam. As a
representation of Islamic organizations, this study selected three Islamic
organizations representing certain trends and typologies. Namely, Hizb
ut-Tahrir Indonesia (HTI) representing transnational fundamentalist
group, the Liberal Islam Network (JIL), which is a representation of
the liberal group, and the Nahdlatul Ulama (NU), which represents
the middle and moderate currents. This paper examines the trends and
the existing contents of the three websites, does not highlight a deeper
understanding of religious activity in the area of empirical Islamic
organizations.
Keywords: Public Space, Website, the Islamic Organization.
251
Muhamad Mustaqim
Abstrak
Pergeseran dari ruang publik yang bersifat fisik pada ruang
publik maya menjadi kontestasi bagi organisasi-organisasi
sosial, termasuk di dalamnya organisasi Islam. Tulisan
ini bermaksud menganalisis kecenderungan pergulatan
pemikiran Islam pada ruang publik maya melalui website
resmi masing-masing organisasi Islam. Sebagai representasi
dari organisasi-organisasi Islam, dalam kajian ini dipilih tiga
organisasi Islam yang mewakili kecenderungan dan tipologi
tertentu. Yaitu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mewakili
kelompok fundamentalis-transnasional, Jaringan Islam
Liberal (JIL) yang merupakan representasi dari kelompok
liberal, dan Nahdlatul Ulama (NU) yang mewakili arus tengah
dan moderat. Tulisan ini hanya mengkaji kecenderungan dan
konten yang ada dalam tiga website tersebut, tidak menyoroti
lebih mendalam tentang aktivitas keberagamaan organisi
Islam di wilayah empiris.
Kata Kunci: Ruang Publik, Website, Organisasi Islam.
A.Pendahuluan
Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia,
Indonesia mempunyai ragam aliran Islam yang variatif. Berbagai
organisasi Islam, dengan kecenderungan ideologi dan mazhab
tersebar di seluruh nusantara. Kecenderungan ini sangat variatif,
mulai yang berhaluan garis keras istilah untuk Islam radikal yang
sering digunakan sampai pada Islam garis lunak dengan berbagai
ideologi yang mengitarinya.
Dalam sejarah pergerakan bangsa, organisasi Islam ini
sangat berperan dalam berjuangan pergerakan kemerdekaan.
Melalui organisasi inilah, proses ideologisasi, pendidikan, dan
perlawanan terhadap kolonialisme menemui titik relevansinya.
Sekedar menyebut contoh, Muhammadiyyah, Persis, Nahdlatul
Ulama sampai pada Masyumi merupakan sederet organisasi
Islam yang pernah menorehkan tinta sejarah bagi perjuangan
kemerdekaan.
252
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
Ketika era kemerdekaan, organisasi ini masih berperan
penting dalam proses pembangunan bangsa. Bahkan tak jarang
dari organisasi Islam ini berkiprah dalam perjuangan politik,
dari yang menjadi partai politik sampai pada pembentukan
lembaga politik. Meskipun pada masa orde lama dan orde baru,
tidak sedikit organisasi Islam ini yang harus dibubarkan, karena
dianggap membahayakan kepentingan kekuasaan. Sehingga pada
masa ini organisasi Islam dengan ideologi tertentu lebih memilih
tiarap, dari rapat pada harus berkonfrontasi dan menuai risiko
yang besar.
Ketika kran reformasi terbuka, euforia kebebasan
berpendapat dan berkumpul mencapai titik didihnya, hal ini
juga berpengaruh pada perkembangan organisasi Islam. Bak
jamur di musim penghujan, banyak bermunculan organisasiorganisasi Islam dengan berbagai ideologi. Mulai dari yang lokal
sampai yang trans-nasional, dari yang fundamental sampai yang
liberal, menghiasi wajah reformasi di Indonesia. Sampai sini,
demokratisasi kemudian menjadi era baru perkembangan Islam
di wilayah publik.
Peran agama sebagai media dakwah mengalami
perkembangan yang signifikan. Munculnya internet sebagai
wahana komunikasi non-fisik semakin memberi angin segar
terhadap penyebaran ideologisasi Islam ini. Sehingga peran
agama ketika harus bersentuhan dengan ruang publik, tidak hanya
terimplikasi pada pengertian fisik, yaitu ranah masyarakat umum,
namun juga pada pengertian maya. Dan, internet sebagai media
komunikasi dunia maya, juga merupakan ruang publik maya
dimana perkemuan ide, komunikasi, permintaan, dan penawaran
bertemu. Sehingga terjadi pergeseran paradigma ruang publik
itu sendiri.
Istilah ruang publik, pertama kali diperkenalkan oleh Habermas, salah satu tokoh madzhab kritis generasi kedua.1 Dalam
Dalam bukunya, Transformasi Struktural Ranah Publik (1989)
Habermas mengembangkan konsepnya yang berpengaruh, tentang ranah publik.
1
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
253
Muhamad Mustaqim
penafsiran Habermas, adalah berfungsi untuk memperantarai keprihatinan privat individu dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan
keluarga, yang dihadapkan dengan tuntutan-tuntutan dan keprihatinan dari kehidupan sosial dan publik. Dalam hal ini, ruang
publik dibayangkan sebagai jembatan yang menghubungkan kepentingan ruang privat dengan kepentingan ruang publik.2
Konsep ranah publik yang diangkat Habermas ini
adalah ruang bagi diskusi kritis, terbuka bagi semua orang. Pada
ranah publik ini, warga privat (private people) berkumpul untuk
membentuk sebuah publik, di mana “nalar publik” tersebut akan
bekerja sebagai pengawas terhadap kekuasaan negara. Pertukaran
opini dan partisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan
publik menjadi ciri makna baru dari ”publik” dalm pengertian
modern.3 Meskipun Habermas tidak menyebut secara spesifik
internet sebagai bagian dari dunia maya, namun melihat konsep
dan prinsip ruang publik yang dirumuskannya, bisa disimpulkan
bahwa internet termasuk bagian dari ruang publik tersebut.
Habermas tidak menyebutnya karena pada saat itu, perkembangan
teknologi internet belum pesat seperti saat ini. Internet baru
berkembang pesat pada awal mellinium ketiga.
Sampai sini, tak heran jika kemudian banyak organisasi,
termasuk organisasi Islam yang memanfaatkan dunia maya
sebagai bagian dari media informasi dan komunikasi kepada
masyarakat. Sehingga hampir semua organisasi Islam saat ini
mempunyai alamat domain di dunia maya, baik itu berupa website,
blog, jejaring sosial, maupun lainnya. Keberadaan website sebagai
media publik sangat efektif dalam rangka menjalankan peran dan
fungsi organisasi.
Tulisan ini akan menganalisis website beberapa organisasi
Islam yang ada di Indonesia. Perbedaan ideologi dan misi antar
Ranah publik borjuis, yang mulai muncul pada sekitar tahun 1700.
2
Reza Wattimena, Melampaui Negara Hukum Klasik (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), hlm. 126.
3
Budi Hardiman, Ruang Publik.(Yogyakarta: Kanisius, 2010), hlm. 7.
254
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
organisasi tersebut akan menjadi perdebatan dan komunikasi publik, sehingga akan benar-benar menjadi ”ruang publik” sebagaimana yang dikehendaki oleh Habermas. Analisis difokuskan pada
3 website oragnisasi Islam di Indonesia yang mewakili ideologi
dan kecenderungan tertentu. Pertama, kelompok fundamentalistransnasional. Kelompok ini mempyunyai jaringan secara internasional, keberadaannya di Indonesia adalah bagian dari organisasi besar tersebut. Disebut fundamentalis, karena kelompok ini
selalu mewacanakan Islam secara murni, seperti konsep khilafah,
Daulah Islmaiyyah, dan anti orang kafir. Kelompok ini diwakili
oleh organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)
Kedua, kelompok yang secara visi mengobarkan semangat
kebebasan. Kelompok ini merupakan poros lainnya dari yang
pertama, yakni liberal. Prinsip liberal dan liberation (pembebasan)
menjadi agenda kelompok ini. Bahkan pendapatnya yang sering
kali dianggap keluar dari koridor ”syariat” mainstream menjadikan
target takfir (pengkafiran) dari berbagai pihak. Kelompok ini
direpresantisikan oleh organisasi yang bernama Jaringan Islam
Liberal (JIL).
Kelompok ketiga, merupakan kelompok yang mencoba
berada di arus tengah. Tidak terlalu fundamental, tapi juga
tidak liberal. Prinsip kemaslahatan ummat menjadi paradigma
keberagamaan kelompok ini. Selain itu sikap toleran, moderat,
tawashut (selalu berada di tengah) menjadi bagian dari arah
gerakan organisasi. Dalam hal ini kelompok ketiga diwakili oleh
organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, yakni
Nahdlatul Ulama (NU),
Tulisan ini tidak akan menganalisis tentang berbagai
praktik keberagamaan secara faktual di lapangan. Namun hanya
akan menekankan pada pemikiran, komunikasi, interaksi, dakwah
dan gerakan politik yang disampaikan pada website resmi masingmasing. Ruang publik maya akan mampu terbaca dari pergulatan
pemikiran pada portal virtual masing-masing kelompok.
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
255
Muhamad Mustaqim
B.Pembahasan
1. Wajah Baru Ruang Publik
Berbicara tentang ruang publik (public sphere), tidak bisa
lepas dari sosok Jurgen Habermas. Habermas adalah seorang
pemikir neo-Marxian, yang merupakan generasi kedua dari
Mazhab Kritis atau yang lebih dikenal dengan Mazhab Frankfurt
(Frankfurt School). Mazhab kritis ini didirikan di Jerman oleh
tokoh-tokoh aliran neo-Marxian seperti Adorno, Hokreimer, dan
Marcuse. Mereka ini kemudian dikenal dengan generasi pertama
Mazhab Frankfurt.
Konsep tentang ruang publik digambarkan secara jelas
oleh Habermas dalam bukunya Strukturwandel der Offentlichkeit;
Untersuchungen zu einer Kategorie der Burgerlichen Gesellschaft
(Transformasi Struktural Ranah Publik: Suatu Penyelidikan ke
dalam Kategori Masyarakat Borjuis), yang terjemahan Inggrisnya
terbit pada 1989. Melalui buku tersebut, Habermas memaparkan
bagaimana sejarah dan sosiologis ruang publik. Menurutnya,
ruang publik di Inggris dan Prancis sudah tercipta sejak abad ke18. Pada zaman tersebut di Inggris orang biasa berkumpul untuk
berdiskusi secara tidak formal di warung-warung kopi (coffee
houses). Mereka di sana biasa mendiskusikan persoalan-persoalan
karya seni dan tradisi baca tulis. Melalui tempat seperti inilah
kepentingan individu dapat tersalurkan. Sehingga, ruang publik
berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kepentingan
ruang privat dengan kepentingan ruang publik.4
Pertukaran opini dan partisipasi aktif dalam proses
pengambilan keputusan publik menjadi ciri makna baru
dari ”publik” dalam pengertian modern.5 Ketika individuindividu mampu mempengaruhi pendapat dan keputusan
untuk kepentingan publik inilah, ruang publik mulai bekerja.
Reza Wattimena, Melampaui Negara Hukum Klasik (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), hlm. 26
5
Hardiman, Ruang Publik. Hlm. 7
4
256
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
Selanjutnya Jurgen Habermas menjelaskan bahwa ruang publik
merupakan media untuk mengomunikasikan informasi dan juga
pandangan. Sebagaimana yang tergambarkan di Inggris dan
Prancis, masyarakat bertemu, ngobrol, berdiskusi tentang buku
baru yang terbit atau karya seni yang baru diciptakan. Dalam
keadaan masyarakat bertemu dan berdebat akan sesuatu secara
kritis maka akan terbentuk apa yang disebut dengan masyarakat
madani. Secara sederhana masyarakat Madani bisa dipahami
sebagai masyarakat yang berbagi minat, tujuan, dan nilai tanpa
paksaan yang dalam teori dipertentangkan dengan konsep negara
yang bersifat memaksa.
Selanjutnya ruang publik mampu menjadi panggung bagi
gerakan-gerakan partisipasi politis dalam negara demokratis,
sementara aktor gerakan tersebut tidak lain adalah para
anggota masyarakat. Mereka bukan lagi orang perorang atau
individu-individu, mereka adalah warga negara.6 Individu dan
kelompok dapat membentuk opini publik, memberikan ekspresi
langsung terhadap kebutuhan dan kepentingan mereka, seraya
memengaruhi praktik politik.
Untuk mewujudkan ruang publik yang sehat, setidaknya
ada 2 prasyarat yang harus dipenuhi, yakni bebas dan kritis. Bebas
artinya setiap pihak bisa berbicara di mana pun, berkumpul dan
berpartisipasi dalam debat politis. Kritis artinya siap dan mampu
secara adil dan bertanggaung jawab menyoroti proses pengambilan
keputusan yang bersifat publik.7 Selain itu, harus terjamin adanya
kesetaraan serta argumen yang kritis dan rasional.8 Para partisipan
dalam wacana publik tidak terhambat oleh ketidaksetaraan dalam
kuasa atau uang. Sehingga, setiap warga negara bisa memengaruhi
negara tanpa adanya tekanan dan koersi oleh negara.
Hardiman, Ruang Publik, hlm. 10.
Wattimena, Melampaui Negara, hlm. 127.
8
Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Geneologi Intelegensia
Muslum Indonesia Abad Ke-20 (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 61.
6
7
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
257
Muhamad Mustaqim
Pada perkembangan selanjutnya ruang publik juga
menyangkut ruang yang tidak saja bersifat fisik, seperti lapangan,
warung-warung kopi dan salon, tetapi juga ruang di mana
proses komunikasi bisa berlangsung. Misal dari ruang publik
yang tidak bersifat fisik ini adalah media massa. Di media
massa itu masyarakat membicarakan kasus-kasus yang terjadi di
lingkungannya. Penguasa yang tidak menerima dikritik dan media
massa yang menolak memuat sebuah artikel karena takut kepada
penguasa juga sebagai tanda bahwa sebuah ruang publik belum
tercipta. Di sisi lain, ruang publik menjadi wilayah konflik antar
organisasi-organisasi yang berkepentingan.9 Setiap kelompok
atau organisasi mengambil peran informatif kepada publik,
dengan agenda dan misi tertentu. Secara simultan, masyarakat
mengimbanginya dengan masukan, kritik, dan opini.
Internet atau dunia maya dalam hal ini adalah wajah baru
dari ruang publik yang modern. Di internet, semua prasyarat yang
diusulkan oleh Habermas untuk membentuk ruang pablik ideal
terpenuhi. Di dunia maya, individu berkomunikasi, berafiliasi,
memberikan kritik, memengaruhi, dan berpolitik untuk
membangun dimensi sosial publik. Sehingga, internet dalam hal
ini adalah metamorfosis dari ruang publik, dengan bentuk maya.
Kaitannya dengan pemikiran Islam, dalam dunia maya terjadi
proses informasi, komunikasi, debat, dan diskusi antara seseorang
atau komunitas dengan masyarakat secara umum. Komuniksi dua
arah ini tidak hanya dibatasi pada individu yang berafiliasi pada
komunitas tertentu saja, namun semua dishare secara umum
kepada siapapun. Sehingga komunikasi akan berjalan secara
simultan dan multi komunikator.
Dunia maya adalah wujud dari kebebasan publik untuk
mengakses dan mempengaruhi publik lain. Demokratisasi
tanpa batas ini memungkinkan berdebatan-perdebatan akibat
perbedaan pemikiran dan kepentingan antar pihak. Sebuah
website dalam hal ini bebas untuk mempengaruhi, melakukan
9
258
Ibid., hlm. 61..
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
hegemoni, memberikan informasi subjektif kepada publik,
sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Organisasi Islam,
sebagai wadah komunikasi kolektif, tidak ketinggalan memainkan
peran ”komunikatif ” dalam rangka mewujudkan tujuan masingmasing. Perbedaan ideologi, paradigma dan cara pandang masingmasing organisasi akan menjadi media perdebatan yang menarik,
dalam rangka mewujudkan peran publik yang sesungguhnya,
sebagaimana konsepsi Habermas, mewujudkan partisipasi publik
dalam mewujudkan masyarakat Madani.
2. Tipologi Tiga Organisasi Islam
a. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)
1) Profil
Secara etimologis (bahasa) hizbut tahrir berasal
dari kata hizb yang berarti partai dan tahrir yang berarti
pembebas. Partai ini didirikan oleh Syeh Taqiyyuddin
an-Nabani pada tahun 1953 di al-Quds (Baitul Maqdis)
Palestina. Oleh pendirinya, organisasi ini diakui sebagai
partai politik, bukan organisasi sosial keagamaan. Gerakan
yang menitik beratkan perjuangan membangkitkan umat
di seluruh dunia untuk mengembalikan kehidupan Islam
melalui tegaknya kembali khilafah Islamiyah.
Dalam gerakannya, organisasi ini memakai sistem
dakwah yang terdiri dari 3 tahab (marhalah). Pertama, tahap
pembinaan dan perkaderan, yaitu pembentukan kader pada
partai. Kedua, tahap interaksi dengan masyarakat. Pada
tahap ini para kader diturunkan di tengah masyarakat. Dan
ketiga, tahap pengambil alihan kekuasaan. Pada tahap inilah
pendirian negara Islamn dan sistem khilafah mencoba
dilaksanakan.
Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada tahun
1980-an dengan merintis dakwah di kampus-kampus besar
di seluruh Indonesia. Pada era 1990-an ide-ide dakwah
Hizbut Tahrir merambah ke masyarakat, melalui berbagai
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
259
Muhamad Mustaqim
aktivitas dakwah di masjid, perkantoran, perusahaan, dan
perumahan. Tujuan HT adalah melanjutkan kehidupan
Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh
penjuru dunia. Di samping itu Hizbut Tahrir bertujuan
membangkitkan kembali umat Islam dengan kebangkitan
yang benar, melalui pola pikir yang cemerlang. HT berusaha
untuk mengembalikan posisi umat ke masa kejayaan dan
keemasannya seperti dulu, di mana umat akan mengambil
alih kendali negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia ini.
2) Website
Di dunia maya, HTI dapat dilihat pada domain
http://hizbut-tahrir.or.id. Website ini memuat tentang
berbagai informasi yang berkaitan dengan HTI. Website
ini di launching pada sekitar awal tahun 2007, sebagaimana
arsip editorialnya yang tertulis April 2007. Secara tampilan,
website ini didominasi oleh warna orange, dengan berbagai
fitur-fitur yang memudahkan pembaca untuk memilih
menu yang diinginkan. Pada tampilan menu yang terletak
pada pojok kanan atas, terdapat 4 menu, yakni ‘Beranda’,
‘Tentang Kami’, ‘Kontak’, dan ‘FAQ’. Menu ’Beranda’ berisi
tentang informasi terbaru yang disajikan untuk pembaca.
Sehingga, ketika orang mengeklik menu tersebut akan
tampak beberapa informasi terbaru atau yang dianggap
penting dari beberapa menu.
Menu ’Tentang Kami’ berisi tentang informasi
umum tentang Hizbut Tahrir, seperti latar belakang berdiri,
tujuan, kegiatan, metode dakwah, dan keanggotaan. Menu
’Kontak’ merupakan menu yang digunakan pembaca untuk
dapat berkomunikasi dan mengirimkan pesan kepada
website. Sedangkan menu ’FAQ’ berisi penjelasan sekitar
HTI dengan format tanya jawab. Keempat menu tersebut
merupakan menu profil HTI yang disediakan untuk
mengetahui, berkomunikasi kepada pengelola website.
260
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
Di samping keempat menu tersebut, pada bagian
headline ada berbagai menu yang ditampilakan sebagai
media informasi kepada pembaca. Adapun menu-menu
tersebut adalah sebagai berikut:
a) Headline
Berisi tentang berita-berita utama tentang peristiwa
yang terkait dengan Islam. Peristiwa tersebut tidak hanya di
wilayah Indonesia saja, namun di seluruh dunia.
b) Editorial
Merupakan opini dari editor tentang berbagai hal
yang relevan dengan berbagai peristiwa aktual. Misalnya
salah satu editorial yang berjudul ”Ramadan yang berkualitas
dan berpengaruh”. Editorial ini berisi tentang opini editor
dalam menyikapi bulan Ramadan, dengan menawarkan
buasa yang berkualitas.
c) Kantor Jubir
Berisi tentang pernyataan sikap Pengurus HTI
tentang fenomena keagamaan yang ada di dunia, khusunya
yang berkeaan dengan sistem Islam dan khilafah.
d) Analisis
Merupakan artikel penulis, yang berisi analisis terhadap
berbagai hal, khususnya yang berkenaan dengan sistem syariat
Islam.
e) Muslimah
Fitur ini berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan
dunia wanita (muslimah) dan anak-anak. Isi dari fitur ini
bisa berupa berita, tips, pernyataan sikap, dan lainnya.
f) Al-Islam
Berisi tentang berbagai artikel tentang permasalahan
yang ada di Indonesia. Artikel ini biasanya diakhiiri
dengan opini al Islam, yang merupakan solusi terhadap
permasalahan tersebut
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
261
Muhamad Mustaqim
g) Al-Wa’ie
Al wa’ie merupakan nama salah satu terbitan resmi
HTI. Menu al-Wa’ie pada website ini merupakan cuplikan
dari majalah atau terbitan tersebut. Majalah al-Wa’ie
bernuansa provokatif terhadap kebijakan pemerintah.
h) News
Menu ini berisi berita-berita aktual tentang dunia
Islam. Seperti pada kecenderungan menu lainnya, menu
news ini juga punya agenda sistem khilafah.
Selain fitur-fitur tersebut, pada website ini juga ada
running news (berita berjalan) yang terletak di bawah menu
utama tersebut. Pada halaman bawah, memuat link-link
yang terkai dengan HTI, seperti al-Aqsho Baitul Maqdis,
Hizbut Tahrir (pusat), HT Palestina, Australia, Belanda,
Denmark, dan lainnya.
b. Jaringan Islam Liberal (JIL)
1) Profil
Istilah “Islam liberal” merupakan sebuah asosiai
terhadap aliran Islam yang lebih menekankan pada
kebebasan berpikir.10 Melalui buku ’Islam Liberal’, Kurzman
melacak akar, membuat peta, dan menyusun alat ukur
Islam liberal. Sedangkan maksud Islam Liberal dalam nama
JIL merujuk pada kecenderungan pemikiran Islam modern
yang kritis, progresif, dan dinamis.
Jaringan Islam liberal dideklarasikan pada tanggal 8
Maret 2001. Organisasi yang dimotori oleh kaum muda yang
kebanyakan berlatar belakang pesantren ini pada awalnya
memusatkan pada tiga aspek. Pertama, membendung
munculnya fundamentalisme Islam. Kedua, mencegah
munculnya kekerasan yang mengatas-namakan agama.
Ketiga, mengembangkan demokrasi, mempromosikan
10
262
Ibid., hlm. 21.
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
penghargaan HAM, dan mengembangkan paham Islam
liberal yang toleran, pluralis, dan emansipatif.11
Menurut JIL, Islam liberal adalah suatu bentuk
penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai
berikut:
a) Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.
b) Mengutamakan semangat religio-etik, bukan makna
literal teks.
c) Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka, dan
plural.
d) Memihak pada yang minoritas dan tertindas.
e) Meyakini kebebasan beragama.
f) Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas
keagamaan dan politik.
2) Website
Jaringan Islam Liberal (JIL) dapat diakses melalui
alamat http://Islamlib.com. Website ini sudah ada sejak
awal didekrarasikan pertama kali pada tanggal 8 Maret 2001.
Secara umum, website ini berisi tulisan, artikel, opini yang
berpola pikir Islam secara liberal. Website yang didominasi
warna merah dan putih ini memperkenalkan pada publik
tentang gagasan-gagasan Islam liberal. Tampilan website
ini bergaya sederhana, minimalis akan gambar dan simbolsimbol. Pada bagian atas terdapat beberapa menu utama,
yaitu ’Arsip’, ’Tentang JIL’, ’Program’, ’Kontak’ dan
’Donasi’.
Menu arsip merupakan kumpulan tulisan-tulisan
yang dipublikasikan mulai awal (2001) sampai sekarang.
Sehingga pembaca bisa mengakses berbagai artikel yang
ada mulai dari tahun 2001 secara bebas (free). Pada menu
11
hlm. 40
Maksun, Islam Sekularisme dan JIL. (Semarang: Walisongo Press, 2009).,
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
263
Muhamad Mustaqim
’Tentang JIL’ berisi keterangan tentang JIL, dengan
tampilan gaya tanya jawab. Misalnya pada poin pertama
ada pertanyaan ”apa itu Islam Liberal”, maka di bawahnya
akan dijelaskan tentang Islam liberal beserta landasanlandasannya yang terdiri dari 6 item.
Pada menu program, dipaparkan tentang berbagai
program yang telah dilakukan oleh JIL, seperti sindikasi
penulis, talk show, penerbitan buku, website, iklan layanan
masyarakat, dan diskusi keislaman. Pada menu kontak
berisi tentang alamat kontak JIL. Dalam hal ini berupa
alamat kantor, kontak person editor, alamat email, alamat
website, telephone, dan faks. Sedangkan pada menu donasi,
berisi tentang tawaran donasi dari berbagai pihak, dengan
menyediakan no. rekening atas nama Yayasan Kajian Islam
Utan kayu (YKIUK).
Menu lainnya terdapat pada samping sebelah
kanan membentuk kolom. Menu ini berisi 11 item sebagai
berikut.
a) Agenda
Berisi agenda terdekat yang akan dilakukan oleh
JIL. Sebagai contoh pada tanggal 11 agustus 2011 agenda
teraktual berjudul ”Tadarus Ramadan 1432 H/2011 Mengaji
Fakhr al-Din al-Razi”, kegiatan ini dilaksanakan selama bulan
Ramadan.
b) Buku
Menu ini berisi resensi-resensi buku yang sejalan
dengan kecenderungan Islam liberal.
c) Diskusi
Berisi pengumuman dan agenda diskusi yang
akan dilaksanakan. Diskusi ini mengundang beberapa
narasumber yang terkait dengan tema, baik berasal dari luar
JIL maupun dari dalam.
d) Editorial
264
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
Editorial dalam website JIL ini berisi pernyataan
sikap dan opini terhadap peristiwa dan fenomena aktual
yang terjadi. Editorial ditulis oleh para editor yang telah
ditentukan oleh redaksi.
e) Gagasan
Menu Gagasan merupakan mimbar ekspresi yang
disediakan kepada para pemikir JIL. Menu ini merupakan
tawaran gagasan yang dilontarkan kepada publik terkait
tema-tema tertentu.
f) Kliping
Menu Kliping memuat berbagai tulisan yang pernah
diterbitkan pada media cetak seperti koran, majalah,
maupun jurnal atau media elektronik, baik itu media lokal
maupun nasional. Adapun penulis adalah mereka yang
tulisannya bersedia dimuat di website JIL ini.
g) Kolom
Menu Kolom merupakan kumpulan tulisan bebas
yang dimuat di website JIL.
h) Pernyataan Pers
Merupakan pernyataan resmi organisasi tentang
berbagai fenomena aktual yang terjadi. Misalnya menyikapi
kasus bom di masjid mapolres Cirebon, maka JIL
mengeluarkan pernyataan sikap resmi tentang teror bom
di Cirebon.
i) Suara Mahasiswa
Berisi tentang gagasan dan tulisan mahasiswa yang
dikirimkan ke alamat website JIL. Tulisan yang dimuat
pada menu ini biasanya yang berkecenderungan liberal dan
pembebasan.
j) Tokoh
Menu tokoh merupakan ulasan tentang biografi
tokoh tertentu yang dianggap sesuai dengan misi JIL.
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
265
Muhamad Mustaqim
Beberapa tokoh yang masuk daftar menu ini di antaranya
Nasr Hamid Abu Zaid, Al Jabiri, Ihwanus Shafa, Ahmad
Wahib, Ibnu Waraq, Muhammad Imarah dan sebaginya.
k) Wawancara
Merupakan ringkasan ataupun transkip wawancara
kepada sosok tertentu, tentang tema tertentu.
Selain tersedia dalam edisi bahasa Indonesia,
website ini juga tersedia dalam edisi bahasa Inggris. Ketika
awal membuka alamat website ini, maka akan langsung
ditawarkan edisi bahasa yang akan dipilih dalam edisi
bahasa Inggris ada beberapa menu yang tidak tersedia,
seperti menu tokoh dan wawancara.
c. Nahdlatul Ulama (NU)
1) Profil
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi sosial keagamaan di Indonesia yang pembentukannya
merupakan kelanjutan perjuangan kalangan pesantren dalam melawan kolonialisme di Indonesia. NU didirikan pada
tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya oleh sejumlah ulama
tradisional yang diprakarsai oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Organisasi ini berakidah Islam menurut paham Ahlussunah
wal Jama’ah.12
Komite Hijaz yang merupakan cikal bakal berdirinya
NU, dibentuk sebagai respons atas merebaknya paham
Wahabi di Timur Tengah. Komite Hijaz ini dibentuk di
rumah Kiai Wahab Chasbullah di Surabaya pada 31 Januari
1926, ia merupakan juru bicara kalangan tradisi yang paling
vokal pada Kongres al Islam. Untuk lebih memperkuat
kesan pihak luar, komite ini memutuskan megubah diri
menjadi sebuah organisasi dan menggunakan nama
Nahdlatoel ‘Oelama. Pada tahun-tahun awal berdirinya,
12
9.
266
Andre Feillard, NU Vis a Vis Negara (Yogyakarta: LKIS, 1999) hlm.
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
pertimbangan mengenai status Hijaz nampaknya tetap
merupakan alasan tunggal kehadirannya.13
Basis gerakan yang menjadi orientasi adalah sosial
keagamaan. Meskipun dalam perjalanan sejarahnya, NU
pernah juga menjadi organisasi politik (partai), yakni mulai
tahun 1952 sampai tahun 1983.14 Namun, dalam muktamar
tahun 1983 di Situbondo, NU menyatakan kembali ke
khittah 1926, artinya NU kembali pada orientasi awal
organisasi, yakni organisasi sosial keagamaan.15
2) Website
Website resmi Nahdlatul Ulama dapat diakses pada
domain http://www.nu.or.id/. Tampilan website NU ini ini
lebih ”rame”, karena banyak fitur, warna, gambar dan juga
iklan. Warna hijau yang selama ini sering dianggap ”warna
keramat” banyak mendominasi tampilan website ini. Pada
sisi kiri atas, terdapat lambang NU dengan bola dunia yang
selalu berputar, menjadikan tampilan ini lebih dinamis.
Pada beberapa menu, mempunyai sub MWNU yang
akan tampil ketika di klik. Meskipun juga ada sub menu
yang ditampilkan di sebelah kanan, yakni menu ’Populer’,
’Halaqoh’, ’Buku’, dan ’Warta’.
Ada 12 menu utama yang terdapat pada baris cébela
atas, yaitu:
a) Beranda
Berisi cuplikan beberapa menu yang dianggap
penting atau aktual.
b) Warta
Martin Van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana
Baru. (Yogyakarta: LKIS, 1994)., hlm. 34.
14
Ridwan, Paradigma Politik NU:Relasi Sunni-NU dalam Pemikiran politik,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 186.
15
Ibid., hlm. 263.
13
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
267
Muhamad Mustaqim
Berisi beritaa-berita ter-update yang disajikan dari
beberapa jurnalis di lapangan, yang biasanya disebut dengan
NU online.
c) Warta Daerah
Merupakan laporan berita dari korespondensi di
daerah-daerah. Biasanya beritanya seputar kegiatan NU
atau yang berkaitan dengan NU
d) Analisa Berita
Berisi tentang analisis terhadap berita dan fenomena
sosial oleh para editor maupun kader NU.
e) Kolom
Merupakan tulisan atau opini yang di posting dari
berbagai kader NU. Bentuk tulisan pada menu kolom ini
bebas, artinya tentang masalah yang tidak terbatas.
f) Halaqoh
Merupakan ringkasan atau transkip wawancara
kepada tokoh tertentu tentang tema yang telah ditentukan
oleh redaksi.
g) Fragmen
Merupakan kumpulan cerita atau kisah inspiratif,
dan biasanya tentang sosok yang dianggap menarik.
h) Humor
Berisi tentang kumpulan cerita humor yang berkaitan
dengan praktik keagamaan.
i) Teknologi
Merupakan kumpulan beberapa artikel yang
berhubungan dengan teknologi. Biasanya yang masih terkait
dengan persoalan keagamaan dan kemasyarakatan.
j) Tentang NU
Menu ini memuat profil organisasi. Pada menu
ini terdapat beberapa sub-menu, yaitu Sejarah NU,
268
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
Organisasi, Pengurus dan Kantor. Pada sub-menu Sejarah
NU, mempunyai sub-menu lagi, yaitu: Sejarah, Paham
Keagamaan, Sikap Kemasyarakatan, Basis Pendukung,
Dinamika, Tujuan Organisasi, Struktur dan Jaringan. Submenu organisasi terdiri dari sub-sub menu: Lembaga, Lajnah,
dan Badan Otonom. Pada sub-menu Organisasi terdiri dari:
Musytasyar, Syuriah, dan Tanfindiyah. Sedangkan pada submenu Kantor terdiri dari Redaksi dan Link.
k) Buku Tamu
Merupakan media komunikasi antara pembaca
dengan redaksi. Pembaca bisa mengirimkan komentar
mapun opininya pada menu ini.
l) Index
Merupakan menu untuk memudahkan pembaca
ketika mengakses website ini. Index didasarkan pada
tanggal bulan dan tahun.16
3. Pergulatan Pemikiran Islam
Perbedaan ideologi dan kepentingan pada masing-masing
organisasi Islam, membuka ruang perdebatan secara tidak langsung.
Perdebatan ini bisa disebut sebagai perang pemikiran (gazwu
al-fikr), di mana setiap pihak melancarkan serangan ideloginya
di dunia maya. Bentuk serangan ini biasanya memberikan
pembenaran pada dirinya (truth claim) disertai menganggap ”tidak
benar” pihak lain yang tidak sehaluan dengannya.
Dalam analisis ini, perang pemikiran tersebut akan
dikategorikan ke dalam beberapa kategori yang sekiranya menjadi
ajang pergulatan pada masing-masing organisasi Islam tersebut.
Selain ke dua belas menu tersebut, ada juga menu-menu tambahan
seperti Khotbah, yang merupakan kumpulan Khotbah Jumat, Taushiah: berisi
nasihat atau tausiah dari tokoh, Ubudiyah: merupakan pendapat atau fatwa
tentang praktik ibadah dan keberagamaan. Website ini juga ditengkapi dengan
fitur pencarian, sehingga memudahkan pembaca untuk mencari bacaan yang
diinginkan.
16
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
269
Muhamad Mustaqim
a. Ideologi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ideologi didefinisikan
sebagai kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat
yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup.
Di sini ideolgi meupakan ’payung’ yang menjadi panduan dalam
menjalankan roda organisasi. Ketika menganalisis tiga organisasi
Islam ini, ideologi kita pahami sebagai kerangka besar dimana
organisasi itu bersandar didalamnya.
Dalam hal ini, ideologi HTI menurut penulis lebih
cenderung fundamentalis-utopis. Fundamentalis karena ide-ide
dan sistem Islam pada masa permulaan (Rasulullah, al khulafa’ arRasyidin dan khilafah) menjadi dasar untuk diterapkan pada masa
kekinian. Sehingga ada upaya mengalihkan sistem Islam pada
masa permulaan ke masa modern sekarang ini. Berbagai atribut
yang kental pada masa Nabi di Arab diterapkan secara apa adanya
pada saat kini di Indonesia. Utopis karena berupaya memimpikan
kejayaan Islam yang pernah terwujud mada masa lalu. Dan,
kejayaan itu hanya bisa diwujudkan melalui sistem khilafah
islamiyyah. Kecenderungan ini bisa kita dapatkan hampir pada
semua tulisan, opini, editorial, berita yang ada di website HTI.
Lain halnya dengan JIL yang lebih cenderung liberalrasional. Liberal karena mereka bebas dalam berpikir dan
menafsirkan otoritas keagamaan. Rasional karena hampir dalam
setiap hasil pemikirannya, peran rasio lebih didahulukan, bahkan
terkadang mengesampingkan otoritas teks suci. Pemikiran liberal
ini menjadi paradigma dalam beragama. Hal ini bisa ditunjukkan
melalui berbagai artikel dan diskusi yang lebih bernuansa kritis
dan terkadang kontroversial.
Sedangkan NU lebih berideologi tradisional-moderat.
Nuansa tradisional muncul karena penghargaan yang tinggi
atas teks-teks klasik dan tradisi lokal. Hal ini terlihat melalui
kajian-kajian kitab klasik, halaqah maupun tulisan yang banyak
bersumber dari kitab-kitab kuning. Kecenderungan moderat
karena bersikap lunak terhadap berbagai hal yang dianggap
berseberangan. Selain itu permisif terhadap berbagai tradisi lokal
270
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
yang sinkretik tetap dipertahankan, meskipun juga tidak apriori
terhadap modernitas. Prinsipnya al-muha>az}ah ‘ala> qadi>m as} s}alih, wa
al-akhzu bi al-jadid al-aslah.
b. Agenda
Secara umum, agenda besar HTI adalah terwujudnya
sistem khilafah secara internasional. Menurut HTI, sistem
demokrasi yang hampir rata diberlakukan di negara-negara
di dunia terbukti tidak mampu menyejahterakan masyarakat.
Sehingga harus digeser dan diubah menjadi sistem khilafah Islam
(http://hizbut-tahrir.or.id/tentang-kami/).
Sementara JIL mempunyai agenda besar untuk
membangun pemikiran agama yang liberal, ruang dialog, dan
sistem sosial yang adil. Mereka menganggap Islam mainstream
lebih mengekang pemikiran dan membatasi peran rasio. Selain itu
ruang dialog terhadap otoritas agama relatif tertutup. Di tambah
politisasi agama menjadikan sistem yang menindas dan tidak
manusiawi (http://islamlib.com/id/halaman/tentang-jil).
Di sisi lain agenda NU lebih bernuansa sosial
kemasyarakatan, yakni menegakkan ajaran ahlussunnah waljamaah
di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara
Kesatuan Republik Indonesia (http://www.nu.or.id/page/id/
static/14/Tujuan_ Organisasi.html).
c. Konsepsi Negara
HTI memandang bahwa sistem negara yang dianut di
Indonesia, yakni demokrasi mempunyai banyak kelemahan. Dan
menurut mereka sistem ini terbukti tidak mampu mewujudkan
kemakmuran dan kesejahteraan warganya. Dan sistem khilafah
adalah solusi terhadap sistem demokrasi yang dianggap gagal.
Pandangan JIL lebih liberal, dimana agama menurut mereka
berada pada ranah privat, sedangkan negara pada ranah publik.
Negara tidak bisa mengintervensi kepentingan privat, termasuk
agama.
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
271
Muhamad Mustaqim
NU menyikapi konsep negara lebih moderat. Negara
merupakan entitas sosial yang tidak bisa dipisahkan dari individu.
NU menerima sistem Demokrasi Pancasila sebagai sistem
kenegaraan yang diberlakukan di Indonesia.
d. Syariat Islam
HTI merupakan salah satu organisasi Islam yang
mendukung keras pemberlakuan syariat Islam di Indonesia.
Melalui sistem khilafah, khalifah akan dapat melaksanakan syariat
Islam secara tegas. Syariat islam adalah solusi tunggal untuk
membangun moralitas dan peradaban manusia.
Sedangkan JIL melalui salah satu artikel yang ada
di websitenya menolak tegas pemberlakukan syariat Islam.
Menurutnya, syariat Islam itu universal, tidak bisa diformalisasikan,
apalagi arabisme. Mereka menolak hukum pancung, potong
tangan, cambuk, yang semuanya lebih beraroma Arab daripada
Islam.
NU menanggapi penerapan syariat Islam ini secara lunak.
Artinya, syariat Islam yang relevan dengan kultur dan aspek
sosial masyarakat Indonesia bisa diterapkan. Sedangkan yang
bertentangan dengan karakteristik Islam Nusantara, maka harus
dipertimbangkan terlebih dahulu. Prinsipnya ”apa yang belum bisa
dilakukan sepenuhnya, maka jangan ditinggalkan sepenuhnya”.
C.Simpulan
Ruang publik merupakan ruang di mana antar individu
mampu berinteraksi, berkomunikasi, dan berpendapat secara
bebas dan kritis tentang persoalan bersama. Internet dalam
hal ini adalah konsepsi ruang publik modern yang mampu
mempertemukan individu-individu dalam membangun masyarakat
madani. Internet sebagai ruang publik maya dimanfaatkan oleh
berberapa organisasi Islam dalam mempromosikan kepentingan
organisasi masing-masing. Perbedaan ideologi dan kepentingan
antar organisasi ini terkadang melahirkan pertarungan pemikiran
272
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Pergulatan Pemikiran Islam di Ruang Publik Maya
secara tidak langsung, atau apa yang sering disebut dengan perang
pemikiran (ghozw al-fikr)
Tiga organisasi Islam di Indonesia, yang masing-masing
mewakil poros tertentu, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),
Jaringan Islam Liberal (JIL), dan Nahdlatul Ulama (NU)
memainkan peran ruang publik maya dalam melangsungkan
tujuan organisasi. Website menyimpan berbagai agenda,
hegemoni, dan ruang interaksi untuk mewujudkan visi masingmasing organisasi. Pergulatan pemikiran ini dapat dinikmati oleh
publik, dan publik bisa memilih mana yang relevan, cocok, dan
terbaik menurut mereka.
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
273
Muhamad Mustaqim
DAFTAR PUSTAKA
Afadlal, dkk., Islam dan Radikalisme di Indonesia, Jakarta: LIPI Press,
2005.
Feillard, Andre, NU Vis a Vis Negara, Yogyakarta: LKIS, 1999.
Hardiman, Budi, Ruang Publik, Yogyakarta: Kanisius, 2010.
Kurzman, Charles, Islam Liberal, Jakarta: Paramadina, 2001.
Rahmat, Imdadun, Arus Baru Radikal Islam, Jakarta: Erlangga,
2006.
Maksun, Islam Sekularisme dan JIL, Semarang: Walisongo Press,
2009.
Bruinessen, Martin Van, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian
Wacana Baru, Yogyakarta: LKIS, 1994.
Wattimena, Reza, Melampaui Negara Hukum Klasik. Yogyakarta:
Kanisius, 2007.
Ridwan, Paradigma Politik NU: Relasi Sunni-NU dalam Pemikiran
Politik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
www.hizbut-tahrir.or.id.
www.Islamlib.com.
www.nu.or.id.
Latif, Yudi, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Geneologi
Intelegensia Muslum Indonesia Abad Ke-20, Bandung:
Mizan, 2005.
274
Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 2, Agustus 2013
Fly UP