...

- Journal

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Description

Transcript

- Journal
GAMBARAN LAMA PENGGUNAAN KB SUNTIK PROGESTIN DENGAN
KEJADIAN AMENORRHEA SEKUNDER DI DUSUN KARANGLO
DESA DRIYOREJO GRESIK
Titin Eka Nuriyanah, Windi Suryaning Rejeki*)
*) Program Studi D III Kebidanan FIK Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Korespondensi : [email protected]
ABSTRACT
Injectable contraceptive is a contraceptive method with many side effects, hormonal
injectables have away of working systemically in the body, causing systemic side effects on
the body as well. Based on the results of the BKKBN and PLKB(Field Extension Family
Planning) Driyorejo’s village injectables users is quite high compared to other
contraceptives. The purpose of this studyw as to determine the old picture with the use of
progestin injectables incidence of secondary amenorrhea.
The design of this research is descriptive method. The study population was all
acceptors progestin’s injection in the hamlet of Karanglo Driyorejo’s village-Gresik of 18
acceptors.The entire population can be the subject of research. Data were collected byi
nterview using the interview guidelines.
The results of this study indicate that the majority of acceptors progestin injectables
using progestin injectables for > 1 year by 80 %. The majority of acceptors progestin
injectables contraception experiencing secondary amenorrhea by 75 %. Most of the
acceptors were using progestin injectables ≤ 1 year of amenorrhea is not having by 100 %
Conclusion research that most acceptors progestin injectables > 1 year experience
secondary amenorrhea. It is recommended that the ministry, in particular midwives
improve counseling and information to each acceptor progestin injectables especially
about the possible side effects so there is no misunderstanding between service providers
and service recipients.
Keywords: Progestin injectable contraceptive, duration of use, secondary amenorrhea
ABSTRAK
Kontrasepsi suntik merupakan metode kontrasepsi dengan banyak efek samping, KB
suntik hormonal mempunyai cara kerja sistemik dalam tubuh, sehingga menimbulkan efek
samping yang sistemik pula pada tubuh. Berdasarkan hasil dari BKKBN dan PLKB
(Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana) desa Driyorejo pengguna KB suntik cukup
tinggi dibanding alat kontrasepsi lain.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran
lama penggunaan KB suntik progestin dengan kejadian amenorrhea sekunder.
Desain penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah
semua akseptor KB suntik progestin di Dusun Karanglo Desa Driyorejo-Gresik sebanyak
18 akseptor. Seluruh populasi dijadikan subjek penelitian. Data dikumpulkan dengan
wawancara mengunakan pedoman wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor KB suntik progestin
menggunakan KB suntik progestin selama > 1 tahun sebanyak 80%. Sebagian besar
akseptor KB Suntik Progestin mengalami amenorrhea sekunder sebanyak 75%.Sebagian
besar akseptor yang menggunakan KB suntik progestin ≤ 1 tahun tidak mengalami
amenorrhea sebanyak 100%.
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
7
Simpulan penelitian bahwa sebagian besar akseptor KB suntik progestin > 1 tahun
mengalami amenorrhea sekunder. Untuk itu disarankan agar tempat pelayanan, khususnya
bidan lebih meningkatkan konseling dan informasi kepada setiap akseptor KB suntik
progestin terutama tentang kemugkinan efek samping yang ditimbulkan sehingga tidak ada
kesalah fahaman antara pemberi layanan dan penerima layanan.
Kata Kunci: KB suntik progestin, lama penggunaan, amenorrhea sekunder
PENDAHULUAN
Program keluarga berencana salah
satu kebijakan kependudukan yang sangat
popular
dalam
bidang
kelahiran
(fertilitas).Program ini telah dimulai sejak
awal tahun 1970 an. Tujuan utama
program KB ada dua macam yaitu
demografis dan non demografis.Tujuan
demografis KB adalah terjadinya
penurunan fertilitas dan terbentuknya
pola budaya small family size, sedangkan
tujuan
non
demografis
adalah
meningkatkan kesejahteraan penduduk
yang merata dan berkeadilan. Keluarga
berencana merupakan contoh kebijakan
lansung dibidang fertilitas dan migrasi
(BKKBN, 2013).
Menurut
Sulistyawati
(2012)
program KB bertujuan untuk memenuhi
permintaan
pelayanan
KB
dan
menyelenggarakan pelayanan kesehatan
reproduksi yang berkualitas serta
mengendalikan angka kelahiran yang
pada akhirnya akan meningkatkan
kualitas penduduk dan mewujudkan
keluarga kecil berkualitas.
Target
cakupan layanan KB yang ditetapkan
pemerintah Indonesia yang terangkum
dalam indikasi keberhasilan program
Millenium Development Goals (MDG’s)
yaitu sebesar 70% (Uliyah, 2010).
Sasaran utama kinerja program KB
adalah menurunnya pasangan usia subur
(PUS) yang ingin melaksanakan KB
namun pelayanan KB tidak terlayani
(unmet need) menjadi sekitar 6,5%,
meningkatnya partisipasi laki-laki dalam
melaksanakan KB menjadi sekitar 8%,
menurunnya angka kelahiran total (TFR)
menjadi 2,4% per perempuan.
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
Kontrasepsi ialah usaha–usaha
untuk mencegah terjadinya kehamilan.
Usaha–usaha itu dapat bersifat sementara,
dapat juga permanen (Prawirohardjo,
2010).Ada 2 pembagian cara kontrasepsi
yaitu metode sederhana dan moderen.
Adapun metode sederhana meliputi KB
alamiah, kalender, suhu basal, lendir
serviks, simpto termal, coitus interuptus,
kondom, barrier intra–vaginal dan
spermisid.Sedangkan
untuk
metode
modern terdiri dari kontrasepsi pil.Suntik,
implan, IUD (Intra Uterine Device), dan
kontap (MOW/MOP) (Hartanto, 2004).
Efek
samping
yang
dapat
ditimbulkan kontrasepsi hormonal antara
lain gangguan siklus haid, nyeri tekan
pada payudara, rasa penuh pada
abdomen, perubahan berat badan, pusing,
dan depresi (Varney, 2006). Gangguan
siklus haid efek samping yang paling
sering
terjadi
dan
paling
menganggu.Perdarahan inter-menstruil
dan perdarahan bercak berkurangnya
dengan jalannya waktu, sedangkan
kejadian amenorrhea bertambah besar
yang diduga berhubungan dengan atrofi
endometrium akibat adanya hormon
progesteron yang menekan FSH dan LH
(Hartanto, 2004). Perubahan mentruasi
yang dialami wanita menggunakan KB
suntik progestin dimulai dalam bentuk
perdarahan bercak darah berlangsung
selama 7 hari atau lebih atau perdarahan
hebat selama beberapa bulan pertama
penggunaan
KB
suntik
progestin.Kejadian ini bertahap sampai
menjadi lebih jarang dengan durasi lebih
pendek
sampai
klien
mengalami
amenorrhea (Varney, 2006).
8
Amenorrhea ialah keadaan tidak
adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan
berturut-turut.Lazim diadakan pembagian
antara
amenorrhea
primer
dan
amenorrhea
sekunder.
Amenorrhea
primer apabila seorang wanita berumur
18 tahun ke atas tidak pernah dapat haid,
sedang pada amenorrhea sekunder
pernah mendapat haid, tetapi kemudian
tidak dapat lagi (Sarwono, 2010).
Amenorrhea sekunder adalah tidak
datangnya haid pada setiap bulan selama
3 bulan berturut-turut. Amenorrhea
sekunder disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain : faktor internal yang terdiri
dari gangguan reproduksi, hormonal,
gangguan
metabolisme,
gangguan
psikologis dan faktor eksternal yang
terdiri dari status gizi, gaya hidup, lama
penggunaan KB suntik progestin.
Sebagian besar wanita indonesia
memilih alat kontrasepsi berdasarkan
pengaruh dan pengalaman orang yang
sudah
memakainya.
Setelah
mendapatkan penyuntikkan ada sebagian
akseptor
KB
suntik
menyadari
ketidaknormalan siklus haidnya, yaitu ibu
tidak mendapatkan haid tiap bulannya
setelah
penyuntikkan
KB
suntik
progestin.
Menurut Speroff (2005),
insiden kejadian amenorrhea sebesar
50% pada pemakai kontrasepsi suntik
progestin ≥ 1 tahun. Upaya yang sudah
dilakukan di lapangan pada akseptor yang
mengalami amenorrhea adalah dengan
pemberian informasi bahwa efek samping
amenorrhea
masih
normal
pada
pemakaian kontrasepsi suntik. Namun di
lapangan masih banyak orang yang tidak
bisa menerima efek samping amenorrhea
ini dan ada juga yang malah senang tidak
haid lagi.
Menurut sumber dari BKKBN pada
tahun 2009 pengunaan alat kontrasepsi
hormonal adalah sebagai berikut : suntik
di Indonesia sebanyak 35,2%, pil KB
sebanyak 28,1%, implant sebanyak
14,2% dan 22,5% alat kontrasepsi lain.
Efek samping yang sering terjadi adalah
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
gangguan pola haid, hampir 59% wanita
pengguna kontrasepsi suntik mengalami
fase menstruasi memanjang, memendek,
dan bahkan yang paling sering tidak
mengalami haid sama sekali atau
amenorrhea, berbeda dengan kontrasepsi
pil oral 49% dari penggunanya
mengalami perdarahan bercak (spotting),
35% mengalami perubahan berat badan,
10% sakit kepala, 4% mengalami mual
muntah dan 2% mengalami keluhan lain.
Dan dari keseluruhan jumlah penggunaan
implan,
76%
dari
penggunanya
mengalami peningkatan berat badan, 20%
mengalami penurunan berat badan dan
4% tidak mengalami perubahan berat
badan. Dari data diatas bahwa peminat
kontrasepsi suntik di Indonesia masih
sangat banyak dan efek samping yang
sering
sekali
ditimbulkan
adalah
gangguan haid khususnya amenorrhea.
Berdasarkan data dari PLKB
(Penyuluh
Lapangan
Keluarga
Berencana) kecamatan Driyorejo yang
terdiri dari 16 desa tahun 2012
penggunaan alat kontrasepsi semua
metode sebagai berikut : IUD/spiral 919
akseptor (5,36%), pil 2852 akseptor
(16,64%), suntik 11.503 akseptor
(67,11%), susuk 918 akseptor (5,35%),
kondom 37 akseptor (0,22%), MOP 12
akseptor (0,07%), dan MOW 900
akseptor (5,25%).
Dari data di atas dapat disimpulkan
bahwa penggunaan KB suntik cukup
banyak. KB suntik hormonal mempunyai
cara kerja sistemik dalam tubuh, sehingga
menimbulkan efek samping yang
sistemik pula pada tubuh. Sehingga perlu
dilakukan penelitian tentang hal–hal yang
berkaitan dengan efek samping KB
suntik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggambarkan lama
penggunaan KB suntik progestin dengan
kejadian amenorrhea sekunder sejelas
mungkin tanpa dianalisis.
Populasi
9
dalam penelitian ini adalah ibu yang
memakai kontrasepsi suntik progestin di
Dusun Karanglo Desa Driyorejo–Gresik,
dengankriteria sudah menikah, bersedia
menjadi responden, memakai kontrasepsi
suntik progestin. Jumlah akseptor 18
orang dan seluruh populasi dijadikan
subjek penelitian.Pengumpulkan data
penelitian adalah data primer yang
dilakukan
dengan
wawancara.Data
primer dikumpulkan dengan wawancara
kepada setiap akseptor KB suntik
progestin.Data
yang
terkumpul
direkapitulasi dahulu dalam tabel
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan data primer yang telah
diperoleh di Dusun Karanglo Desa
Driyorejo-Gresik pada tanggal 13-20
Agustus
2014.Subyek
penelitian
sebanyak 18 Akseptor KB suntik
progestin.Data dikelompokkan menjadi 2
yaitu data umum dan data khusus.
1. Data Umum
Tabel 3 Tabel Distribusi Frekuensi
Kejadian Amenorrhea Sekunder di Dusun
Karanglo Desa Driyorejo-Gresik
Berdasarkan tabel 4.3 sebagian
besar akseptor KB suntik progestin
mengalami amenorea sebanyak 83,3%
Tabel 4 Tabel Distribusi Silang
Gambaran Lama Penggunaan KB Suntik
Progestin dengan Kejadian Amenorea
Sekunder Di Dusun Karanglo Desa
Driyorejo-Gresik
Berdasarkan tabel 4.4 Sebagian
besar akseptor yang menggunakan KB
suntik progestin ≤ 1 tahun tidak
mengalami amenorrhea sebanyak 100%,
sedangkan sebagian akseptor yang
menggunakan KB suntik progestin > 1
tahun sebanyak 93,8% mengalami
amenorrhea.
Tabel 1 : Distribusi Frekuensi Umur,
Pendidikan, Pekerjaan Responden
Karakteristik Jumlah
Tabel 1 Tabel Distribusi Frekuensi
Umur, Pendidikan, Pekerjaan pada
Akseptor KB Suntik Progestin di Dusun
Karanglo Desa Driyorejo-Gresik.
Umur
<20
20-35
>35
Umur >35 tahun sebanyak 72,2%
dan merupakan kelompok pendidikan
menengah sebanyak 83,3%, kelompok
Akseptor yang bekerja sebanyak 61,1%.
Jumlah
Pendidikan
Dasar
Menengah
Atas
2. Data Khusus
Tabel 2 Tabel Distribusi Frekuensi Lama
Penggunaan KB Suntik Progestin di
Dusun Karanglo Desa Driyorejo-Gresik
Berdasarkan tabel 2 Sebagian besar
akseptor
KB
suntik
progestin
menggunakan KB suntik progestin
selama > 1 tahun sebanyak 88,9%.
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
Persentase
(%)
0
5
13
0
27,8
72,2
18
100
3
15
0
18
16,7
83,3
0
Jumlah
Pekerjaan
Bekerja
Tidak Bekerja
100
11
7
61,1
38,9
Jumlah
18
100
10
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Lama
Penggunan KB Suntik Progestin
Paritas
Jumlah
≤ 1 tahun
>1 tahun
Jumlah
2
16
18
Persentase
(%)
11,1
88,9
100,00
Tabel 3. Distribusi FrekuensiKejadian
Amenorea Sekunder
Paritas
Jumlah Persentase
(%)
Amenorea
15
83,3
Tidak Amenorea
3
16,7
Jumlah
18
100
Tabel 4. Tabel Distribusi Silang Gambaran Lama Penggunaan KB Suntik Progestin
dengan Kejadian Amenorea Sekunder
Lama
Penggunaan
≤ 1 tahun
>1 tahun
Total
Kejadian Amenorea
Amenora
Tidak
Amenorea
0 (0%)
2 (100%)
15(93,8%)
1(6,2%)
15
3
PEMBAHASAN
Gambaran Lama Penggunaan KB
Suntik Progestin di Dusun Karanglo
Desa Driyorejo-Gresik
Berdasarkan table 2 diperoleh
bahwa sebagian besar akseptor yang
menggunakan KB suntik progestin lebih
dari 1 tahun sebanyak 88,9%. Hal ini
karena akseptor menyatakan bahwa
dalam penggunaan kontrasepsi KB suntik
progestin itu sangatlah mudah dan terasa
nyaman, sehingga mereka tidak merasa
kesulitan dalam ber KB. Alasan lain dari
akseptor lebih suka menggunakan
kontrasepsiKB suntik itu diantaranya
karena tidak merasa kesulitan dalam hal
biaya, karena KB suntik progestin dengan
harga murah atau terjangkau, serta mudah
dihentikan setiap saat,serta bisa teratur
dalam penggunaannya. Hal ini sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh
Hartanto (2005) bahwa salah satu jenis
kontrasepsi yang menjadi pilihan kaum
ibu adalah KB suntik, ini disebabkan
karena aman, efektif, sederhana, murah.
Cara ini mulai disukai masyarakat kita
karena dapat diperkirakan setengah juta
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
Total
Presentase
(%)
2
16
18
100
100
100
pasangan memakai kontrasepsi suntikan
untuk mencegah kehamilan sehingga
akseptor yang pemakaian >1 tahun lebih
banyak dibandingkan pemakaian yang <1
tahun.
Rata-rata penggunaan KB suntik
progestin yang >1 tahun yaitu
penggunaannya antara 3-4 tahun dengan
usia akseptor paling banyak >35 tahun
dan kebanyakan akseptor memiliki 2
anak, hal ini merupakan salah satu alasan
yang mempengaruhi seseorang dalam
memilih KB yang cocok untuk wanita
yang seusianya, alasan yang lain karena
mereka sudah tidak menginginkan anak
lagi
dan
mereka
masih
takut
menggunakan alat kontrasepsi jangka
panjang seperti IUD ataupun MOW, oleh
karena itu akseptor memilih KB suntik
progestin yang termasuk KB jangka
panjang juga karena penggunaan KB
suntik progestin dalam waktu yang lama
dapat menyebabkan kesuburan sulit
kembali.
Menurut Hartanto (2004),
untuk membatasi kehamilan, biasanya
usia istri diatas 30 tahun setelah
mempunyai 2 orang anak. Selain itu pada
11
usia tersebut dianjurkan untuk tidak
hamil karena alasan medis dan alasan
lainnya, jadi tepat memilih KB suntik
progestin karena KB suntik progestin
apabila digunakan secara terus menerus
akan memperlambat pengembaliaan
kesuburan, sehingga tepat digunakan
untuk akseptor KB yang berusia > 35
tahun, hal ini juga sesuai dengan teori
bahwa perempuan yang berusia lebih dari
35 tahun memerlukan alat kontrasepsi
yang aman dan efektif karena kelompok
ini
akan
mengalami
peningkatan
morbiditas dan mortalitas jika mereka
hamil, maka untuk mencegah hal ini
akseptor dengan usia tersebut dapat
memakai alat kontrasepsi khususnya alat
kontrasepsi suntik.
Selain dari usianya yang > 35 tahun
dari hasil penelitian KB suntik progestin
ini sebagian besar akseptor berpendidikan
menengah sehingga mereka tahu efek
samping dari KB suntik progestin yaitu
dapat menyebabkan tidak haid, berat
badan bertambah, dan flek-flek pada
wajah. Namun mereka masih dapat
menerima efek samping yang akan
mereka rasakan saat menggunakan KB
suntik progestin. Pernyataan akseptor
diatas sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa tingkat pendidikan
seseorang
berpengaruh
dalam
memberikan respon terhadap sesuatu
yang datang dari luar. Seseorang yang
mempunyai tingkat pendidikan tinggi
akan memberikan respon lebih rasional
daripada mereka yang berpendidikan
lebih rendah (Notoatmodjo, 2005).
Selain berpendidikan menengah
hasil penelitian yang lain menunjukkan
bahwa akseptor KB suntik progestin
mayoritas bekerja, dimana wanita
yangbekerja cenderung menganggap
menggunakan KB suntik progestin tidak
menganggu pekerjaan mereka karena
mereka bisa bekerja lebih nyaman tanpa
perlu khawatir haid lagi, jangka waktunya
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
panjang dan biaya yang dikeluarkan
untuk mendapatkan KB suntik progestin
tidak terlalu mahal, serta menurut
pernyataan akseptor bahwa KB suntik
juga bisa didapatkan di klinik mereka
bekerja dan mereka mendapatkan secara
gratis di tempat kerja sehingga akseptor
tidak perlu jauh-jauh untuk melakukan
suntik KB progestin.
Gambaran Kejadian Amenorrhea di
Dusun Karanglo Desa DriyorejoGresik
Berdasarkan tabel 3 menunjukkan
bahwa sebagian besar akseptor KB suntik
progestin
mengalami
amenorrhea
sebanyak 83,3%, dari hasil penelitian
selain amenorrhea banyak efek samping
lain yang ditimbulkan oleh KB suntik
progestin diantaranya berat badan
meningkat, jerawat atau flek-flek pada
wajah, dan pusing namun paling banyak
efek samping yang dirasakan oleh
akseptor adalah
amenorrhea
dan
peningkatan berat badan, hal ini sesuai
dengan teori bahwa efek samping yang
utama dan sering dirasakan oleh wanita
adalah amenorrhea dan peningkatan berat
badan (Sarwono,2006).
Rata-rata pengguna KB suntik
progestin tidak mengalami menstruasi
lagi pada penyuntikkan lebih dari 2 kali
penyuntikkan. Awalnya akseptor KB
suntik progestin kebanyakan mengalami
gangguan pola haid yang tidak normal,
pada bulan pertama penggunaan akseptor
masih mengalami haid walaupun tidak
teratur lama kelamaan hanya flek-flek 1-2
hari
dan
akhirnya
mengalami
amenorrhea. Perubahan menstruasi yang
dialami wanita yang menggunakan
progestin
dimulai
dalam
bentuk
perdarahan tidak teratur yang tidak dapat
diprediksi dan bercak darah yang
berlangsung selama tujuh hari atau lebih
atau perdarahan hebat selama beberapa
bulan pertama penggunaan progestin.
Semua kejadian ini secara bertahap
12
menjadi lebih jarang dengan durasi lebih
pendek sampai akseptor mengalami
amenorrhea.
Setelah mengalami penyuntikkan
dengan progestin, ada sebagian akseptor
KB menyadari ketidaknormalan pada
siklus haidnya, yaitu akseptor tidak
mendapatkan haid pada tiap bulannya.
Setiap bulannya seorang wanita (normal)
pasti akan mengalami perdarahan (30-40
cc) yang berlangsung selama 3-5 hari.
Kejadian seperti ini dinamakan haid atau
menstruasi.Haid terjadi karena adanya
fase
poliferasi
(pertumbuhan
endometrium) dan berubah menjadi fase
sekresi yang merupakan persiapan untuk
menerima hasil konsepsi bila terjadi
pembuahan
(Follicle
Stimulating
Hormone
(FSH)
dan
Luteinizing
Hormone (LH) meningkat). Bila terjadi
pembuahan, fase sekresi akan berubah
lagi menjadi fase desiduanisasi, yang
merupakan kelanjutan fase sekresi
dengan lebih gembur dan siap menerima
hasil konsepsi.Bila terjadi konsepsi,
korpus luteum yang memelihara fase
sekresi. Akan tetapi,apabila tidak ada
konsepsi maka umur korpus luteum
hanya 8 hari sehingga endometrium
mengalami
kemunduran
dan
deskuamisasi,yang
artinya
hormon
estrogen
dan
progesteron
yang
dikeluarkan makin menurun. Penurunan
pengeluaran estrogen dan progesteron
korpus luteum yang menyebabkan
endometrium
tidak
dapat
mempertahankan diri sehingga terjadi
menstruasi (Manuaba, 2008).
Pada akseptor KB suntik progestin
dengan
gangguan
haid
berupa
amenorrhea disebabkan oleh progesteron
dalam komponen progestin menekan
Luteinizing Hormone (LH).Meningkatnya
progestin dalam darah akan menghambat
LH, perkembangan folikel dan ovulasi
selama beberapa bulan. Selain itu,
progestin
juga
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
mempengaruhipenurunanGonadotropin
Releasing Hormone (GnRH) dari
hipotalamus
yang
menyebabkan
pelepasan Follicle Stimulating Hormone
(FSH) dan Luteinizing Hormone (LH)
dari
hipofisis
anterior
berkurang.Penurunan
FSH
akan
menghambat
perkembangan
folikel
sehingga tidak terjadinya ovulasi atau
pembuahan. Pada pemakaian KB
suntikprogestin
menyebabkan
endometrium menjadi lebih dangkal dan
atropis dengan kelenjar-kelenjar yang
tidak
aktif
sehingga
membuat
endometrium menjadi kurang baik atau
layak untuk implantasi dari ovum yang
telah dibuahi (Hartanto, 2004).
Gambaran Lama Penggunaan KB
Suntik Progestin Dengan Kejadian
Amenorrhea Sekunder di Dusun
Karanglo Desa Driyorejo-Gresik
Berdasarkan tabel 4 menunjukkan
bahwa sebagian besar akseptor yang lama
penggunaan KB suntik progestin >1
tahunmengalamiamenorrhea sekunder,
dimana semakin lama penggunaan
progestin maka kejadian lama menstruasi
akseptor KB suntik progestin semakin
memendek bahkan sampai mengalami
amenorrhea. Dari penelitian yang telah
dilakukan, hanya beberapa orang yang
penggunaannya >1 tahun tapi masih
mengalami menstruasi walaupun tidak
lancar. Pada akseptor KB suntik progestin
dengan
gangguan
haid
berupa
amenorrhea disebabkan oleh progesteron
dalam komponen progestin menekan
Luteinizing
Hormone
(LH).
Meningkatnya progestin dalam darah
akan menghambat LH,perkembangan
folikel dan ovulasi selama beberapa
bulan. Selain itu, progestin juga
mempengaruhi penurunan Gonadotropin
Releasing Hormone (GnRH) dari
hipotalamus
yang
menyebabkan
pelepasan Follicle Stimulating Hormone
(FSH) dan Luteinizing Hormone (LH)
13
dari hipofisis anterior berkurang.
Penurunan FSH akan menghambat
perkembangan folikel sehingga tidak
terjadinya ovulasi atau pembuahan. Pada
pemakaian
KB
suntikprogestin
menyebabkan endometrium menjadi
lebih dangkal dan atropis dengan
kelenjar-kelenjar yang tidak aktif
sehingga membuat endometrium menjadi
kurang baik atau layak untuk implantasi
dari
ovum
yang
telah
dibuahi
(Hartanto,2004).
Amenorrhea
berkepanjangan
pada
pemberian
progesteron
tidak
diketahui
membahayakan, dan banyak wanita dapat
menerima dengan baik (Glasier, 2006).
Hal ini sesuai dengan teori bahwa
lima puluh persen akseptor mengalami
amenorrhea
setelah
satu
tahun
menggunakan KB suntik progestin. Pada
penggunaan lebih dari satu tahun, tiga
perempat pengguna progestin mengalami
amenorrhea
(Sarwono,2006).
Amenorrhea sekunder yang dialami
akseptor KB suntik progestin dapat
memberikan dampak positif dan negatif.
Dampak positif yaitu memberikan
keuntungan bagi akseptor tidak merasa
repot dengan datangnya haid. Dampak
negatif terhadap psikologi akseptor sering
merasa
takut
apabila
suntikan
menyebabkanketidaksuburan permanen.
Kebanyakan ibu dapat menerima dampak
negatif karena menurut dari pernyataan
beberapa akseptor KB suntik progestin
banyak dampak positifnya.
SIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah
diuraikan, sebagian besar akseptor KB
suntik progestin di Dusun Karanglo Desa
Driyorejo-Gresik lama penggunaan KB
suntik progestin>1 tahun sebanyak
(88,9%). Sebagian besar akseptor KB
suntik progestin di Dusun Karanglo Desa
Driyorejo-Gresik mengalami amenorrhea
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
sekunder sebanyak (83,3%). Sebagian
besar akseptor KB suntik progestin di
Dusun Karanglo Desa Driyorejo-Gresik
yang menggunakan KB suntik progestin
>1 tahun mengalami amenorrhea
sekunder sebanyak (93,8%).
DAFTAR PUSTAKA
Hanafi H. 2002. Keluarga Berencana dan
Kontrasepsi.Jakarta : Pustaka
SinarHarapan.
Hanafi. 2004. Macam-Macam Metode
KB. Jakarta : EGC.
Notoatmodjo,
S.
2007.
Promosi
Kesehatan
dan
Ilmu
Perilaku.Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo,
S.
2010.
Promosi
Kesehatan
Teori
dan
Aplikasinya.Jakarta : Rineka
Cipta.
Soekir S, Baharudin M, Affandi B,
Saifuddin B.A. 2006. Buku
Panduan
Praktis
Pelayanan
Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan
Bina
Pustaka
Sarwono
Prawirohardjo.
Sulistyawati. 2012. Tujuan KB. Jakarta :
EGC
Manuaba, I.A.C. 2004.Ilmu penyakit
kandungan dan KB untuk
pendidikan bidan.Jakarta : EGC
Notoatmodjo.
2005.
Metodologi
penelitian kesehatan. Jakarta : PT
Rineka Citra.
Nursalam. 2008. Konsep dan penerapan
metodologi ilmu keperawatan.
Jakarta : Medika Salemba.
Faktor-Faktor
yang
Mempengaruhi
Penggunaan
Kontrasepsi.
Bersumber
dari
:http://www.BKKBN.go.id.
[ diakses2 Juni 2014 ]
14
Saifuddin, A.B. 2006. Buku acuan
nasional pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal.Jakarta :
Depkes RI Pusat Pendidikan
Tenaga Kesehatan.
Wiknjosastro H., Saifuddin A.B.,
Rachimhad T. (eds). 2005. Ilmu
Kandungan. Edisi 2. Cetakan 4.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Speroff L.,Glass R.H., Kase N.G., 2007.
Clinic gynecologic endocrinology
and
Infertility.
6th
ed.
Philadelphia: Lippincott williams
and wilkins.
Pendit.
Wiknjosastro H., Saifuddin A.B.,
Rachimhad T. (eds). 2006. Ilmu
Kebidanan. Edisi 3. Cetakan 8.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Glasier, et al. 2005. Keluarga Berencana
& Kesehatan Reproduksi. Jakarta
: EGC
Midwiferia / Vol. 1 ; No.1 / April 2015
2007.
Ragam
Metode
Kontrasepsi. Jakarta : EGC.
Uliyah, M. 2010. Panduan Aman dan
Sehat
Memilih
Alat
KB.
Yogyakarta : BiPA
15
Fly UP