...

PENGARUH TINDAKAN SUPERVISI, MOTIVASI DAN KERJASAMA

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PENGARUH TINDAKAN SUPERVISI, MOTIVASI DAN KERJASAMA
PENGARUH TINDAKAN SUPERVISI, MOTIVASI DAN
KERJASAMA TERHADAP KINERJA AUDITOR PT. BANK
NEGARA INDONESIA Tbk PALEMBANG
Poppy Indriani1
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bina Darma Palembang
[email protected]
Jaka Darmawan2
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bina Darma Palembang
[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tindakan supervisi, motivasi
dan kerjasama terhadap kinerja auditor PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang
dan untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja auditor
PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh Auditor Internal di bagian Satuan Pengendalian Intern pada Divisi
Kepatuhan PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang. Jumlah auditor yang
terdapat pada Divisi Kepatuhan adalah 13 orang. Karena sedikit jumlah
populasinya,maka peneliti menggunakan metode sensus yaitu seluruh auditor
dijadikan sampel dalam penelitian. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis
regresi berganda dengan menggunakan software SPPS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama – sama variabel tindakan
supervisi, motivasi dan kerjasama berpengaruh terhadap kinerja auditor PT Bank
Negara Indonesia Tbk Palembang dimana besarnya pengaruh ketiga variabel
independent tersebut sebesar 93,6%. Namun secara parsial (sendiri – sendiri) hanya
variabel supervisi yang berpengaruh terhadap kinerja auditor PT Bank Negara
Indonesia Tbk Palembang. Sehingga variabel independent yang paling berpengaruh
terhadap kinerja auditor PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang adalah variabel
tindakan supervisi yaitu sebesar 98%.
Kata Kunci: Tindakan Supervisi, Motivasi, Kerjasama dan Kinerja Auditor
ABSTRACT
This paper describes the influence of supervision measures, motivation and
cooperation on auditor performance at PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang
and to find out the most influential variables on the performance of the auditors at
PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang. The population in this research is the
1
Internal Auditors at the internal control unit of Compliance Division at PT Bank
Negara Indonesia Tbk Palembang. The number of auditors in this unit is 13 people.
Due to the size of the population is small enough, the researchers used census
methods in which all auditors were included ini the data collection process.The
technique used for analysis is multiple regression analysis using SPPS software. The
results showed that together –supervision measures, motivation and cooperation of
auditors performance at PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang with 93,6%.
However, partially only supervision hasinfluence on the performance of the Auditors
at PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang. It can be concluded that the most
influential independent variables on the performance auditors at PT Bank Negara
Indonesia Tbk Palembang is a supervision which equal to 98%.
Keywords: Supervision, motivation, cooperation and performance Auditors.
PENDAHULUAN
Terselenggaranya Sistem Pengendalian Intern bank yang handal dan efektif
menjadi tanggung jawab dari pengurus dan para pejabat bank. Bank Indonesia
sebagai lembaga otoritas moneter mewajibkan setiap bank umum untuk memiliki
system pengendalian yang intern yang baik. Sejalan dengan hal itu Bank Indonesia
mengeluarkan peraturan No.8/4/PBI/1999 tanggal 20 September 1999 tentang
Penerapan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank Umum, bahwa bank wajib
menerapkan fungsi audit intern bank sebagaimana ditetapkan dalam Standar
Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank (SPFAIB). Bank wajib menyusun Piagam
Audit Intern (Internal Audit Charter), membentuk Satuan Kerja Audit Intern (SKAI)
dan menyusun panduan audit intern. Pada tahun 2006 Bank Indonesia kembali
mengeluarkan peraturan No.8/4/PBI/2006 tanggal 30 September 2006 yang
mewajibkan setiap bank untuk menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate
Gorvernance. Yang dimaksud dengan Good Corporate Governance adalah suatu
tata kelola Bank yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency),
akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), independensi
(independency), dan kewajaran (fairness) (Ferdinand, 17:2006).
Agar setiap internal auditor di PT. Bank Negara Indonesia Tbk Tbk dapat
melaksanakan tugas utamanya dengan baik diperlukan peranan supervisi dari lini
pimpinan SPI. PT. Bank Negara Indonesia Tbk Tbk sebagai salah satu bank
2
pemerintah, telah memiliki SKAI yang dikenal dengan Satuan Pengawasan Intern
(SPI). Ketentuan umum mengenai pelaksanaan audit internal di PT. Bank Negara
Indonesia Tbk Tbk telah disempurnakan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No
8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan Good Coorporate Governance bagi Bank Umum
dalam pasal 50 yang berisikan :
1. Dalam rangka memastikan kepatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49,
Bank wajib menunjuk seorang Direktur Kepatuhan dengan berpedoman pada
persyaratan dan tata cara sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia
tentang Penugasan Direktur Kepatuhan (Compliance Director) dan Penerapan
Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank Umum.
2. Dalam rangka membantu pelaksanaan fungsi Direktur Kepatuhan secara efektif,
Bank membentuk satuan kerja kepatuhan (compliance unit) yang independen
terhadap satuan kerja operasional.
3. Satuan kerja kepatuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib menyusun
dan mengkinikan pedoman kerja, sistem dan prosedur visi, misi, motto, tujuan
dan ruang lingkup kegiatan dari SPI.
Selain tindakan supervisi, hal lain yang perlu diperhatikan dalam
meningkatkan kinerja adalah tindakan motivasi dan kerjasama. Motivasi dan kerja
sama merupakan proses atau faktor yang mendorong orang untuk bertindak atau
berperilaku dengan cara tertentu. Proses motivasi mencakup tiga hal, yaitu:
pengenalan dan penilaian kebutuhan yang belum terpuaskan, penentuan tujuan yang
akan menentukan kepuasan serta penentuan tindakan yang diperlukan untuk
memuaskan kebutuhan (Moekijat, 1992). Motivasi penting karena dengan motivasi
diharapkan setiap individu bekerja keras dan antusias untuk mencapai hasil kerja
yang tinggi. Kerjasama dalam organisasi merupakan salah satu kunci keberhasilan
dalam sebuah hubungan. Kerjasama juga dapat memaksimalkan kinerja antara
supervisi dan auditor intern, dengan cara melakukan koordinasi yang efektif,
meningkatkan pengetahuan bagi setiap anggota dan pemecahan masalah secara
bersama-sama.
Perumusan Masalah
Pokok permasalahan yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah:
3
1. Apakah tindakan supervisi, motivasi dan kerjasama secara bersama berpengaruh
terhadap kinerja auditor PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang?
2. Seberapa besar pengaruh tindakan supervisi, motivasi dan kerjasama terhadap
kinerja auditor PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang?
3. Variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap kinerja auditor PT Bank
Negara Indonesia Tbk Palembang?
LANDASAN TEORI
Pengertian Audit
Menurut Arens, Elder dan Beasley dalam Wibowo (2006), “Auditing adalah
pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan
melaporkan derajat kesesuaian antara informasi itu dan kriteria yang telah ditetapkan
dan dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen”.
Tunggal (2008:9) menyatakan audit dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:
1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)
Audit laporan keuangan adalah penilaian apakah laporan keuangan yang disusun
dengan kriteria yang ditetapkan, seperti prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum.
2. Audit Operasional (Operational Audit)
Audit operasional adalah audit yang dilakukan terhadap kegiatan operasi
perusahaan untuk menilai efisiensi, efektifitas dan ekonomis operasi perusahaan.
Hasil audit operasional akan digunakan oleh pihak manajemen perusahaan.
3. Audit Ketaatan (Compliance Audit)
Audit ketaatan adalah audit yang dimaksudkan untuk menilai apakah prosedur
tertentu, aturan, regulasi yang ditetapkan oleh otorisasi lebih tinggi ditaati dan
diikuti.
Berdasarkan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank/SPFAIB (Bank
Indonesia, 1999), tugas auditor internal adalah membantu Direktur Utama dan
Dewan Komisaris dengan menjabarkan secara operasional perencanaan, pelaksanaan
dan pemantauan atas hasil audit. Dalam melaksanakan hal ini mewakili pandangan
dan kepentingan profesinya dengan membuat analisis dan penelitian di bidang
4
keuangan, akuntansi, operasional dan kegiatan lainnya melalui pemeriksaan secara
on site dan pemantauan secara off site, serta memberikan saran perbaikan dan
informasi yang obyektif tentang kegiatan yang direview kepada semua tingkatan
manajemen.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.1/6/PBI/1999 tanggal 20
September 1999 tentang Penugasan Direktur Kepatuhan (Compliance Director) dan
Penerapan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank Umum, bahwa bank wajib
menerapkan fungsi audit intern bank sebagaimana ditetapkan dalam Standar
Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank (SPFAIB). Hal ini bertujuan untuk dapat
terciptanya kesamaan landasan semua bank umum di Indonesia mengenai tingkat
pemeliharaan kepentingan dari semua pihak yang terkait dengan bank.
Tindakan Supervisi
Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh
atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila
ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung
guna mengatasinya (Azwar, 1996).
Apabila supervisi dapat dilakukan dengan baik, akan diperoleh banyak
manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut (Suarli & Bachtiar,
2009) :
1. Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja.
2. Supervisi dapat lebih meningkatkan efesiensi kerja.
Apabila kedua peningkatan ini dapat diwujudkan, sama artinya dengan telah
tercapainya tujuan suatu organisasi. Tujuan pokok dari supervisi ialah menjamin
pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah direncanakan secara benar dan tepat,
dalam arti lebih efektif dan efesien, sehingga tujuan yang telah ditetapkan organisasi
dapat dicapai dengan memuaskan (Suarli & Bachtiar, 2008).
Menurut Bactiar dan Suarly, (2009) yang bertanggung jawab dalam
melaksanakan supervisi adalah atasan yang memiliki kelebihan dalam organisasi.
Idealnya kelebihan tersebut tidak hanya aspek status dan kedudukan, tetapi juga
pengetahuan dan keterampilan. Berdasarkan hal tersebut serta prinsip-prinsip pokok
5
supervisi maka untuk dapat melaksanakan supervisi dengan baik ada beberapa syarat
atau karasteristik yang harus dimilki oleh pelaksana supervisi (supervisor).
Motivasi
Handoko (2003:252) mengatakan bahwa pengertian motivasi adalah keadaan
dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan
kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Sedangkan Rivai (2008:457),
mengatakan bahwa Motivasi adalah sebagai “Suatu keahlian dalam mengarahkan
karyawan dan perusahaan agar mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan
karyawan dan tujuan perusahaan sekaligus tercapai.”
Motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi
pada tingkat
komitmen seseorang.
Hal
ini
termasuk faktor-faktor
yang
menyebabkan, menyalurkan, dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah
tekad tertentu (Nursalam, 2008).
Menurut Maslow, jika ingin memotivasi seseorang kita perlu memahami
ditingkat mana keberadaan orang itu dalam hierarki dan perlu berfokus pada
pemuasan kebutuhan pada atau diatas tingkat itu (Robbins & Coulter, 2007).
Faktor-faktor yang merupakan penggerak motivasi (faktor- faktor intrinsik)
ialah:
1. Pengakuan (cognition), artinya karyawan memperoleh pengakuan dari pihak
perusahaan bahwa ia adalah orang, berprestasi, baik, diberi penghargaan, pujian,
dimanusiakan, dan sebagainya.
2. Tanggung jawab (responsibility), artinya karyawan diserahi tanggung jawab
dalam pekerjaan yang dilaksanakannya, tidak hanya semata-mata melaksanakan
pekerjaan.
3. Prestasi (achievement), artinya karyawan memperoleh kesempatan untuk
mencapai hasil yang baik atau berprestasi.
4. Pertumbuhan dan perkembangan (growth and development), artinya dalam setiap
pekerjaan itu ada kesempatan bagi karyawan untuk tumbuh dan berkembang.
5. Pekerjaan itu sendiri (job it self), artinya memang pekerjaan yang dilakukan itu
sesuai dan menyenangkan bagi karyawan.
Adapun faktor-faktor pemelihara motivasi (faktor-faktor ekstrinsik) ialah:
1. Gaji (salary) yang diterima karyawan
6
2. Kedudukan (status) karyawan
3. Hubungan antar pribadi dengan teman sederajat, atasan atau bawahan
4. Penyeliaan (supervisi) terhadap karyawan
5. Kondisi tempat kerja (working condition)
6. Keselamatan kerja (job safety)
7. Kebijakan dan administrasi perusahaan, khususnya dalam bidang personalia
Kerjasama
Kerjasama dalam tim menjadi sebuah kebutuhan dalam mewujudkan
keberhasilan kerja. Kerjasama dalam tim akan menjadi suatu daya dorong yang
memiliki energi dan sinergisitas bagi individu-individu yang tergabung dalam
kerjasama tim. Tanpa kerjasama yang baik tidak akan memunculkan ide-ide
cemerlang. Sebagaimana yang dinyatakan Bachtiar (2004) bahwa ”Kerja sama
merupakan sinergisitas kekuatan dari beberapa orang dalam mencapai satu tujuan
yang diinginkan. Kerjasama akan menyatukan kekuatan ide-ide yang akan
mengantarkan pada kesuksesan”.
Kontribusi tiap-tiap individu dapat menjadi sebuah kekuatan yang
terintegrasi. Individu dikatakan bekerja sama jika upaya-upaya dari setiap individu
tersebut secara sistematis terintegrasi untuk mencapai tujuan bersama. Semakin
besar integrasinya semakin besar tingkat kerja samanya.
West (2002) menetapkan indikator-indikator kerja sama sebagai alat ukurnya
sebagai berikut :
1. Tanggung jawab secara bersama-sama menyelesaikan pekerjaan, yaitu dengan
pemberian tanggung jawab dapat tercipta kerja sama yang baik.
2. Saling berkontribusi, yaitu dengan saling berkontribusi baik tenaga maupun
pikiran akan terciptanya kerja sama.
3. Pengerahan
kemampuan
secara
maksimal,
yaitu
dengan
mengerahkan
kemampuan masing-masing anggota tim secara maksimal, kerja sama akan lebih
kuat dan berkualitas.
Kinerja Auditor
7
Pengertian Audit Kinerja menurut Indra Bastian (2007:47) adalah sebagai
berikut : “Audit kinerja adalah pemeriksaan secara objektif dan sistematik terhadap
berbagai macam bukti untuk dapat melakukan penilaian secara independen atas
kinerja entitas atau program atau kegiatan pemerintah yang diaudit.”
Menurut Abdul Halim dan Theresia Damayanti (2007:71) pengertian Audit
Kinerja adalah sebagai berikut : “Audit kinerja merupakan proses yang sistematis
untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif agar dapat melakukan
penilaian secara independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektivitas dalam
pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan
hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah dicapai
dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan
hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut.”
Selanjutnya, pengertian Audit Kinerja menurut UU No.15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara Pasal 4
ayat 3 adalah : “Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan dan pengelolaan keuangan
negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan
aspek efektivitas.”
Kerangka Berpikir
Untuk menggambarkan secara jelas mengenai penelitian ini dapat di lihat
pada gambar kerangka berpikir di bawah ini:
TINDAKAN
SUPERVISI
KINERJA
AUDITOR
MOTIVASI
KERJASAMA
8
Gambar 1: Menyajikan kerangka pemikiran mengenai pengaruh tindakan supervisi,
motivasi dan kerjasama terhadap kinerja auditor internal pada PT Bank
Negara Indonesia Tbk Palembang
Hipotesis
Ho
: Tindakan supervisi, motivasi dan kerjasama tidak berpengaruh terhadap
kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang
H1
: Tindakan supervisi, motivasi dan kerjasama tidak berpengaruh terhadap
kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang
METODE
Desain Penelitian
Sifat
dari
penelitian
ini
dikategorikan
penelitian
penjelasan
atau
eksplanatory, dimana menjelaskan pengaruh tindakan supervisi, motivasi dan
kerjasama terhadap kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk
Palembang melalui pengujian hipotesis.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Auditor Internal di bagian
Satuan Pengendalian Intern pada Divisi Kepatuhan. Jumlah auditor yang terdapat
pada Divisi Kepatuhan adalah 13 orang. Karena sedikit jumlah populasinya,maka
peneliti menggunakan metode sensus yaitu seluruh auditor dijadikan data dalam
penelitian.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah Divisi Audit Intern PT. Bank Negara
Indonesia Tbk. Untuk auditor internal yang berada pada sub Divisi Audit Kepatuhan
yang berada di Palembang. Waktu penelitian yang dilakukan oleh penulis selama 6
bulan pada tahun 2013.
Teknik Analisis
9
Untuk menganalisis masalah penelitian ini
akan menggunakan metode
regresi berganda dengan bantuan program software SPSS versi 17.0. dengan
ketentuan pengujian sebagai berikut:
Ho diterima bila sig F > α = 0,05
Ho ditolak bila sig F < α = 0,05
atau
Ho diterima bila F hitung < F tabel
Ho ditolak bila F hitung > F tabel
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Statistik Deskriptif
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh distribusi frekuensi masing –
masing variabel sebagai berikut:
Tabel 1
Descriptif Statistics
N
Minimum Maximum
Tindakan Supervisi
13
3.36
Motivasi Kerja
13
3.40
Kerjasama
13
3.00
Kinerja Auditor Internal
13
3.38
Valid N (listwise)
13
Sumber: penelitian lapangan data di olah
5.00
5.00
5.00
5.00
Mean
4.0946
4.1385
4.1692
4.0015
Std. Deviation
.49154
.53157
.57065
.49435
1. Variabel Tindakan Supervisi
Data variabel Tindakan Supervisi dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner
kepada responden. Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa
distribusi nilai jawaban responden sebagai berikut: interval nilai (range) sebesar
1,64 yang diperoleh dari selisih nilai tertinggi jawaban responden sebesar 5
dengan nilai terendah jawaban responden sebesar 3,36. Kemudian diperoleh nilai
rata-rata jawaban responden sebesar 4,09 dengan simpangan baku (standar
deviasi) sebesar 0,49.
2. Variabel Motivasi Kerja
10
Data variabel Motivasi Kerja dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner kepada
responden. Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa distribusi nilai
jawaban responden sebagai berikut: interval nilai (range) sebesar 1,60 yang
diperoleh dari selisih nilai tertinggi jawaban responden sebesar 5 dengan nilai
terendah jawaban responden sebesar 3,40. Kemudian diperoleh nilai rata-rata
jawaban responden sebesar 4,14 dengan simpangan baku (standar deviasi)
sebesar 0,53.
3. Variabel Kerjasama
Data variabel Kerjasama dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner kepada
responden. Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa distribusi nilai
jawaban responden sebagai berikut: interval nilai (range) sebesar 2 yang
diperoleh dari selisih nilai tertinggi jawaban responden sebesar 5 dengan nilai
terendah jawaban responden sebesar 3. Kemudian diperoleh nilai rata-rata
jawaban responden sebesar 4,17 dengan simpangan baku (standar deviasi)
sebesar 0,57.
4. Variabel Kinerja Audit Internal
Data variabel Tindakan Supervisi dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner
kepada responden. Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa
distribusi nilai jawaban responden sebagai berikut: interval nilai (range) sebesar
1,62 yang diperoleh dari selisih nilai tertinggi jawaban responden sebesar 5
dengan nilai terendah jawaban responden sebesar 3,38. Kemudian diperoleh nilai
rata-rata jawaban responden sebesar 4 dengan simpangan baku (standar deviasi)
sebesar 0,49.
Hasil Uji Hipotesis
Berdasarkan perhitungan menggunakan program SPSS diperoleh hasil
sebagai berikut:
Tabel 2
Hasil Pengujian Hipotesis
Variabel Independen
Constanta
Tindakan Supervisi
Motivasi
B
0,112
0,986
0,039
Beta
R2
Sig F
F Hitung
0,980
0,042
0,936
0,000
43,774
11
F Tabel
Kerjasama
0,074
0,085
Variabel dependent: Kinerja Auditor
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa persamaan garis regresinya adalah:
Y = 0,112 + 0,986 X1 + 0,039 X2 + 0,074 X3
Hal ini berarti bahwa:
1. Nilai Konstanta sebesar 0,112 berarti tanpa adanya tindakan supervisi, motivasi
dan kerjasama, maka nilai kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia
Tbk Palembang hanya sebesar 0,112 dalam kata lain tidak berkinerja dengan
baik.
2. Nilai koefisien regresi tindakan supervisi sebesar 0,986, motivasi sebesar 0,039
dan kerjasama sebesar 0,074 semua bertanda positif berarti bila tindakan
supervisi, motivasi dan kerjasama lebih tingkatkan, maka kinerja auditor internal
PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang akan meningkat.
Lebih lanjut dari tabel tersebut diketahui bahwa nilai sig F sebesar 0,000 atau
lebih kecil dari α = 5% yang berarti bahwa Ho ditolak dan H1 diterima sehingga
diketahui bahwa tindakan supervisi, motivasi dan kerjasama secara bersama – sama
berpengaruh terhadap kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk
Palembang.
Selanjutnya diketahui nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,936 yang
berarti bahwa variabel tindakan supervisi, motivasi dan kerjasama mempengaruhi
variabel kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk sebesar 93,6%
sedangkan sisanya sebesar 6,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini
seperti kepemimpinan, imbalan, kepuasan kerja, budaya organisasi dan lain
sebagainya.
Kemudian diketahui pula nilai beta untuk variabel tindakan supervisi,
motivasi dan kerjasama masing – masing sebesar 0,980; 0,042 dan 0,085. Hal ini
berarti bahwa variabel tindakan supervisi lebih besar pengaruhnya terhadap kinerja
auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk Palembang dibanding variabel bebas
lainnya.
PEMBAHASAN
12
Tindakan supervisi, motivasi dan kerjasama secara bersama – sama
berpengaruh terhadap kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk
Palembang,
dimana
variabel
tindakan supervisi,
motivasi
dan
kerjasama
mempengaruhi variabel kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk
sebesar 93,6% sedangkan sisanya sebesar 6,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar
penelitian ini seperti kepemimpinan, imbalan, kepuasan kerja, budaya organisasi dan
lain sebagainya. Selanjutnya diketahui bahwa variabel tindakan supervisi lebih besar
pengaruhnya terhadap kinerja auditor internal PT Bank Negara Indonesia Tbk
Palembang dibanding variabel bebas lainnya yaitu sebesar 0,980.
Comstock (1994) dalam Aris (2001) mengatakan supervisi merupakan
tindakan mengawasi atau mengarahkan penyelesaian pekerjaan. Seiring dengan
perjalanan waktu,supervisi dikatakan sebagai proses yang dinamis. Pada awalnya
supervisi bersifat kaku atau otoriter. Bilamana seorang tidak bekerja sebagaimana
yang diperintahkan, maka ia akan dihukum. Pada saat ini, supervisi diwarnai dengan
gaya manajemen partisipatif. Parker et al (1989) mengatakan bahwa kebutuhan yang
paling penting bagi akuntan yang berkaitan dengan kerja adalah evaluasi secara fair
(adil) terhadap dirinya. Kemudian kebutuhan lainnya yang penting adalah supervisi
yang kompeten dan adil.
Selain tindakan supervisi hal lain yang pernting adalah motivasi kerja.
Motivasi kerja adalah sesuatu yang memulai gerakan, sesuatu yang membuat orang
bertindak atau berprilaku dalam cara-cara tertentu. Memotivasi orang adalah
menunjukkan arah tertentu kepada mereka dan mengambil langkah-langkah yang
perlu untuk memastikan bahwa mereka sampai ke suatu tujuan. Bermotivasi adalah
keinginan pergi ke suatu tempat berdasarkan keinginan sendiri atau terdorong oleh
apa saja yang ada agar dapat pergi dengan sengaja dan untuk mencapai keberhasilan
setelah tiba disana (Michael Armstrong, 1994 dalam Sri, 2001).
Para ahli berpendapat keberadaan dari kerjasama tidak kalah pentingnya
dengan tindakan supervisi dan motivasi, dimana kerjasama tidak ditentukan oleh
keberadaan atas sebuah aktivitas secara bersama-sama, tetapi oleh interaksi yang
dinamis di dalam sebuah organisasi. Kerjasama timbul bukan hanya tujuan yang
sama dari para anggota,tetapi juga
dikarenakan mereka bekerja bersama-sama
karena dikoordinasikan untuk mencapai berbagai tujuan.
13
Kerjasama merupakan sebuah konstruk sosial yang digunakan secara luas
tetapi memiliki berbagai definisi. Beberapa ahli mendefinisikan kerjasama sebagai
proses interaksi yang dilakukan oleh individu, kelompok dan organisasi untuk
mendapatkan manfaat.
Perilaku kinerja individu dapat ditelusuri hingga ke faktor-faktor spesifik
seperti kemampuan, upaya dan kesulitan tugas (Timpe, 1988 dalam Sumardi, 2001).
Kemampuan dan upaya merupakan penyebab yang bersifat internal, sementara
faktor-faktor lainnya lebih bersifat eksternal. Kinerja seringkali identik dengan
kemampuan (ability) seorang auditor bahkan berhubungan dengan komitmen
terhadap profesi. Kinerja adalah sebagai fungsi dari interaksi antara kemampuan atau
ability (A), motivasi atau mot5ation (M) dan kesempatan atau opportunity (O); yaitu
kinerja = f(AxMxO); (Robbins, 1999 dalam Dewi, 2004). Artinya kinerja merupakan
fungsi dari kemampuan, motivasi dan kesempatan. Dengan kata lain, kinerja
ditentukan oleh factor-faktor kemampuan, motivasi dan kesempatan.
Kesempatan kinerja adalah tingkat-tingkat kinerja yang tinggi sebagian
merupakan fungsi dari tiadanya rintangan-rintangan pengendali karyawan itu.
Menurut Johnson dan Lewin (2005), pengukuran kinerja dapat dipahami dari dua
model normatif, yaitu political performance dan services del5ery. Political
performance merujuk pada pilihan kolektif dan keadilan yang dapat digunakan untuk
membuat desain pilihan institusi politik. Sedangkan model kedua merujuk pada
upaya untuk memperbaiki tingkat efekt5itas dan efisiensi. Bagi auditor internal,
maka model kedua sangat relevan sebagai struktur mediasi untuk mengukur
kinerjanya.
Pengukuran kinerja dalam suatu jabatan fungsional sama pentingnya dengan
pengukuran
kinerja
organisasi
Kemampuan
Motivasi
Kesempatan
secara
keseluruhan. Sedangkan menurut Nasir (2005), pengukuran kinerja aktifitas
difokuskan pada tiga dimensi yang utama yaitu efisensi, kualitas dan waktu. Dalam
hubungannya dengan kinerja, para profesional umumnya mempunyai tingkat
kompetensi yang tinggi terhadap pekerjaan mereka. Adapun profesionalisme itu
sendiri menjadi elemen motivasi dalam memberikan kontribusi terhadap kinerja
KESIMPULAN DAN SARAN
14
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis
penelitian ini
menunjukkan bahwa tindakan
supervisi, motivasi dan kerjasama memacu kinerja auditor internal dalam melakukan
tugas dan fungsinya sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dijelaskan
bahwa tindakan supervisi akan lebih bermanfaat guna meningkatkan kinerja auditor
internal jika dilakukan dengan melakukan motivasi dan kerjasama yang baik.
Saran-saran
Penelitian yang akan datang diharapkan dapat mengembangkan model yang sudah
ada dengan menambahkan variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja kerja
internal auditor, misalnya kepuasan kerja dan budaya organisasi serta loyalitas.
Penelitian mendatang juga diharapkan dapat mencari strategi untuk meningkatkan
jumlah besaran sampel yang ada. Selain itu diharapkan dapat memperluas populasi
penelitian. Populasi penelitian tidak hanya diambil dari kondisi pada bank
pemerintah namun bisa dikembangkan dengan membandingkan dengan beberapa
bank yang berstatus swasta nasional maupun swasta asing.
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, 2004, Intermediate Accounting, Edisi kedelapan, BPFE Yogyakarta,
Yogyakarta.
Hery, 2008, Pengantar Akuntansi 1, Fakultas Ekonomi Un5ersitas Indonesia,
Jakarta.
Mulyadi, 2001, Sistem Akuntansi, Salemba Empat, Jakarta.
PDAM, 2011, Petunjuk Teknis Penerapan SAK ETAP pada PDAM, Tim Penyusun
PDAM, Palembang.
Sawyer,Edisi 5, 2005, Audit Internal I, Salemba Empat, Jakarta
Soemarso S.R, 2005, Akuntansi Suatu Pengantar, buku 2, (Edisi 5 Revisi), Salemba
Empat, Jakarta.
Sony Warsono, 2011, Adopsi Standar Akuntansi IFRS Fakta, Dilema, dan
Matematika, AB PUBLISHER, Yogyakarta.
15
Tim IAI Sumsel, 2012, Pengantar Akuntansi (Berbasis SAK-ETAP), buku 2, IAI
Sumsel, Palembang.
Tantan, 2011, IAS Nomor 16 Tentang Akt5a Tetap, http://asil4dworld.wordpress.
com/2009/06/07/psak-16-revisi-2007-tentang-aset-tetap/.
Warren Reeve Fess, 2006, Accounting, Salemba Empat, Jakarta.
16
Fly UP