...

BAB I PENDAHULUAN

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

BAB I PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Nominal perbandingan antara mata uang asing dengan mata uang dalam
negeri biasa sering dikenal sebagai kurs atau nilai tukar. Menurut Bergen, nilai
tukar mata uang sering digunakan sebagai pengukur level perekonomian suatu
negara karena nilai tukar mata uang memegang peranan penting dalam perdagangan
antar negara, di mana hampir sebagian besar negara-negara di dunia saat ini terlibat
dalam aktivitas ekonomi pasar bebas dengan menggunakan mata uang asing
sebagai alat pembayarannya. Setiap mata uang dari masing-masing negara memiliki
kemungkinan akan apresiasi ataupun depresiasi terhadap mata uang negara lainnya.
Hal tersebut dapat terjadi karena nilai tukar dari suatu negara terhadap nilai tukar
negara lainnya selalu bersifat tidak konstan atau fluktuatif akibat pengaruh dari
berbagai faktor. Oleh karena itu, setiap negara pasti akan berupaya untuk menjaga
posisi kurs mata uang negaranya tetap dalam posisi yang relatif stabil agar kondisi
perekonomian negara terjaga.
Studi menemukan bahwa nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat masih
memegang peranan yang sangat penting di perekonomian di dunia. Oleh karena itu,
apapun yang terjadi pada perekonomian Amerika Serikat dapat memengaruhi
perekonomian negara-negara lainnya di dunia. Hingga saat ini dolar Amerika
Serikat sebagai alat perekonomiannya dan juga sebagai mata uang dunia memiliki
pengaruh yang besar terhadap nilai tukar mata uang negara-negara lainnya di dunia.
1
Hal tersebut didukung oleh data statistik IMF yang menunjukkan jumlah bobot
persentase mata uang asing yang disimpan sebagai cadangan dana asing di dunia.
Berikut merupakan data statistik yang diperoleh dari IMF pada kuartal kedua tahun
2015:
Grafik 1.1 Cadangan Dana Asing Dunia Kuartal 2 Tahun 2015
Sumber: http://data.imf.org/?sk=E6A5F467-C14B-4AA8-9F6D-5A09EC4E62A4
Dapat dilihat pada grafik 1.1 di atas yang menunjukkan bahwa sekitar 63,75
persen cadangan dana asing negara-negara di dunia disimpan dalam bentuk dolar
Amerika Serikat dan sisanya disimpan dalam bentuk berbagai mata uang asing
lainnya seperti euro, yen, pound sterling, dolar Australia, dolar Kanada, dan mata
uang lainnya. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa mata uang dolar
Amerika Serikat sebagai mata uang dunia memiliki peranan penting kepada
perekonomian negara lainnya dikarenakan jumlah cadangan dana asing negara2
negara tersebut dapat berubah sewaktu-waktu akibat dari apresiasi ataupun
depresiasi mata uang dolar Amerika Serikat tersebut.
Sejak awal tahun 2014 hingga awal tahun 2015, dolar AS terus menguat
didukung oleh data positif perekonomian Amerika Serikat yang juga mengalami
peningkatan. Berikut grafik indeks dolar AS selama lima tahun terakhir:
Grafik 1.2 Indeks Dolar Amerika Serikat 2010-2015
Sumber: http://www.tradingeconomics.com/united-states/currency
Berdasarkan grafik 1.2 di atas, dapat dilihat bahwa indeks dolar Amerika
mengalami apresiasi pada mata uang negaranya sejak satu tahun terakhir. Indeks
tersebut merupakan suatu pengukuran akan kekuatan dolar Amerika Serikat
terhadap enam mata uang utama dunia lainnya meliputi euro, yen, pound sterling,
dolar Kanada, krona Swedia, dan Swiss franc. Masing-masing mata uang tersebut
memiliki pembobotan yang berbeda satu sama lain dan pembobotan tersebut
3
ditentukan oleh The Fed Amerika Serikat berdasarkan pengaruh mata uang tersebut
terhadap perdagangan Amerika Serikat (United States Dollar, 2015).
Perekonomian AS yang terus mengalami perbaikan juga berbanding lurus
dengan tingkat kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) secara perlahan sejak
Amerika mengalami krisis di tahun 2008. Berikut merupakan data historis suku
bunga The Fed selama satu tahun terakhir:
Tabel 1.1 Suku Bunga The Fed
Time Period
Effective Federal Funds Rate
2014-01
2014-02
2014-03
2014-04
2014-05
2014-06
2014-07
2014-08
2014-09
2014-10
2014-11
2014-12
2015-01
2015-02
2015-03
2015-04
2015-05
2015-06
2015-07
0.07
0.07
0.08
0.09
0.09
0.1
0.09
0.09
0.09
0.09
0.09
0.12
0.11
0.11
0.11
0.12
0.12
0.13
0.13
2015-08
2015-09
0.14
0.14
Sumber: http://www.federalreserve.gov/releases/h15/data.htm
4
Adanya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga The Fed dikemukakan
pada bulan Juni 2015. Spekulasi tersebut kemudian membawa pengaruh terhadap
perekonomian negara-negara lainnya di dunia. Hal itu dapat terjadi dikarenakan
oleh kecenderungan pengaruh suku bunga The Fed yang biasa diikuti dengan
kenaikan oleh suku bunga di negara-negara lainnya. Negara lainnya cenderung
mengikuti suku bunga The Fed untuk mencegah dana investasi global yang dapat
ditarik keluar dari aset-aset negara berkembang dikarenakan spekulasi akan
naiknya suku bunga The Fed. Apabila suku bunga The Fed meningkat dan para
investor mengalihkan investasinya ke Amerika Serikat maka pasokan mata uang
dolar Amerika Serikat di negara-negara berkembang akan berkurang. Pengurangan
pasokan dolar AS yang tidak diikuti dengan jumlah permintaan yang terus
meningkat mengakibatkan nilai dari dolar AS tersebut dapat meningkat. Hal itu
yang diungkapkan dalam teori hukum permintaan dan penawaran oleh Mankiw
(2007) apabila titik keseimbangan pasar tidak tercapai.
Dampak dari penguatan dolar Amerika Serikat tersebut juga dirasakan oleh
mata uang negara lain termasuk mata uang negara Indonesia yakni rupiah. Selain
disebabkan oleh efek penguatan dolar Amerika Serikat, terdapat berbagai spekulasi
lain yang mengatakan bahwa pelemahan rupiah juga terjadi karena perekonomian
Indonesia yang memang melemah. Hal tersebut yang mengakibatkan nominal
perbandingan nilai tukar mata uang AS dengan rupiah semakin besar (Detik
Finance, 2015). Berikut merupakan data grafik posisi dolar Amerika terhadap
rupiah dari tahun 1998 hingga awal 2015:
5
Grafik 1.3 Posisi IDR Terhadap USD Antara 1998 hingga 2015
Sumber: http://www.tradingeconomics.com/indonesia/currency
Berdasarkan grafik 1.3 diatas, dapat terlihat bahwa posisi rupiah atas dolar
Amerika Serikat sejak awal tahun 2014 hingga 2015 terus meningkat hampir
mencapai titik tertingginya di mana terjadinya krisis moneter di tahun 1998. Posisi
tersebut juga sudah melewati titik krisis di tahun 2008 yang merupakan posisi nilai
tukar tertinggi selama 10 tahun terakhir. Nilai tukar rupiah bergerak melemah
hingga hampir menyentuh level terendah dalam 17 tahun terakhir setelah
meningkatnya volatilitas di pasar keuangan di seluruh dunia. Sesuai dengan yang
diungkapkan oleh BBC Indonesia (2014), nilai tukar rupiah mengalami depresiasi
sebesar 1,8% terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Pada Desember 2014,
Bank Indonesia mengumumkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai
angka Rp12.559, nilai tersebut merupakan angka terendah sejak krisis keuangan
yang melanda Indonesia dan kawasan Asia 1998 lalu. Tingkat depresiasi rupiah
6
tersebut terus meningkat hingga pertengahan tahun 2015 yang menyebabkan nilai
tukar rupiah mencapai nominal Rp14.000,- terhadap dolar Amerika Serikat.
Untuk mengatasi pelemahan rupiah yang terus terjadi di Indonesia maka
pemerintah membuat kebijakan baru sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia
No. 17/11/DKSP Tahun 2015 Tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia (“SE No. 17/11/DKSP/2015”) yang
menyatakan bahwa setiap transaksi yang dilakukan di Wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, baik yang dilakukan oleh penduduk maupun bukan penduduk;
dan/atau transaksi tunai ataupun non-tunai; wajib menggunakan rupiah. Hal
tersebut dilakukan agar menarik permintaan dari rupiah itu sendiri sebagai alat
pembayaran dalam negeri.
Dalam melakukan pembayaran utang luar negeri terdapat dua macam
pembayaran yang harus dilunasi yaitu pinjaman pokok dan bunga pinjaman itu
sendiri. Dengan meningkatnya dolar AS, maka secara tidak langsung dapat
mengakibatkan utang luar negeri Indonesia dalam bentuk dolar AS dapat bertambah
dengan sendirinya tanpa adanya penambahan utang baru. Berikut merupakan data
kuartal pinjaman luar negeri Indonesia tahun 2014 hingga 2015:
Tabel 1.2 Utang Luar Negeri Indonesia 2014-2015 (dalam juta USD)
2014
2015
Kuartal I
Kuartal II
Kuartal III
Kuartal IV
Kuartal I
Kuartal II
277,502
286,557
294,358
293,673
299,032
304,041
Sumber: Bank Indonesia
7
Dapat dilihat pada tabel 1.2 di atas bahwa pinjaman luar negeri Indonesia
hingga kuartal pertama tahun 2015 meningkat sebesar 7,76% apabila dibandingkan
dengan jumlah di kuartal pertama tahun sebelumnya. Jumlah pinjaman luar negeri
tersebut terus meningkat setiap kuartalnya dari tahun 2014 hingga 2015.
Peningkatan utang luar negeri tidak selalu membawa dampak positif pada sebuah
negara terutama apabila utang tersebut tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu,
pemerintah Indonesia harus mulai mengatur pengelolaan utang luar negeri dengan
baik agar tetap terkontrol dan tidak merugikan perekonomian Indonesia seperti
halnya terjadi inflasi.
Menurut Bank Indonesia, inflasi diartikan sebagai kenaikan harga barang
secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga barang tersebut harus terjadi
secara meluas pada seluruh barang-barang yang ada di pasar. Indikator yang sering
digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK).
Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga indeks dari
barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Mata uang dari suatu negara yang
mengalami inflasi tinggi cenderung mengalami depresiasi. Sebaliknya mata uang
dari suatu negara yang memiliki tingkat inflasi rendah cenderung mengalami
apresiasi. Hal itu yang menyebabkan tingkat inflasi di suatu negara merupakan
faktor yang penting dalam mengamati pergerakan nilai tukar negara tersebut.
Pada umumnya dengan melemahnya rupiah maka harga barang domestik
akan menurun di mata negara lain sehingga dapat menyebabkan meningkatnya
ekspor ke luar negeri dan melemahnya impor. Namun untuk beberapa kasus harga
barang impor Indonesia yang meningkat dapat berdampak pada inflasi di Indonesia
8
seperti contoh pada harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah dunia yang
meningkat dapat berdampak kepada berbagai harga barang domestik di Indonesia
sendiri yang berujung pada kenaikan tingkat inflasi. Berikut grafik tingkat inflasi
di Indonesia selama 5 tahun terakhir:
Grafik 1.4 Tingkat Inflasi di Indonesia 2010-2015
Sumber: Bank Indonesia
Dapat dilihat dari grafik 1.4 bahwa adanya tren kenaikan tingkat inflasi di
Indonesia hingga pada tahun 2015. Inflasi dianggap merupakan salah satu faktor
penentu tingkat perekonomian Indonesia. Kenaikan tingkat inflasi menunjukkan
pertumbuhan perekonomian, namun dalam jangka panjang tingkat inflasi yang
tinggi dapat memberikan dampak yang buruk. Oleh karena itu, BI harus dapat
mengintervensi dengan mengatur kebijakan mengenai inflasi di Indonesia agar
tidak terjadi inflasi yang melebihi batas wajarnya.
Selain inflasi, terdapat berbagai spekulasi akan faktor lain yang
diperkirakan secara tidak langsung juga dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah.
Nilai tukar rupiah akan selalu menjadi salah satu indikator terpenting bagi negara
dan masyarakat Indonesia dikarenakan fungsi rupiah sebagai alat pembayaran
ataupun transaksi di Indonesia. Berdasarkan oleh adanya fenomena-fenomena
9
mengenai pergerakan nilai tukar rupiah yang telah dikemukakan di atas, khususnya
nilai tukar rupiah yang semakin melemah terhadap dolar Amerika hingga
mendekati titik di mana terjadinya krisis moneter tahun 1998 menarik bagi penulis
yang menjadikannya sebagai motivasi dalam mengangkat topik mengenai nilai
tukar rupiah.
Sebelumnya Puspitaningrum, Suhadak, dan Zahroh Z.A. (2014) telah
melakukan penelitian mengenai pengaruh tingkat inflasi, tingkat suku bunga SBI,
dan pertumbuhan ekonomi terhadap nilai tukar rupiah. Penelitian ini menggunakan
metode analisis regresi linear berganda dan dengan hasil uji simultan (uji F)
menunjukkan bahwa tingkat inflasi, tingkat suku bunga SBI, dan pertumbuhan
ekonomi di Indonesia secara simultan berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar
rupiah. Sedangkan hasil uji parsial (uji t), menunjukkan bahwa variabel tingkat
inflasi dan tingkat suku bunga SBI berpengaruh secara signifikan terhadap nilai
tukar rupiah. Sebaliknya, variabel pertumbuhan ekonomi secara parsial
menunjukkan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai tukar rupiah.
Penelitian ini dibuat untuk mengetahui pengaruh dari variabel-variabel lain
yang secara signifikan dapat memengaruhi pergerakan rupiah atas mata uang dolar
Amerika Serikat. Seperti yang diketahui bahwa dolar Amerika Serikat merupakan
mata uang dunia yang memegang peranan penting sebagai acuan mata uang negara
lainnya termasuk negara Indonesia.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan analisis yang dikemukakan pada latar belakang di atas, dapat
diketahui bahwa saat ini terdapat fenomena terhadap pergerakan nilai tukar rupiah
10
yang semakin fluktuatif dan sudah melewati titik krisis di tahun 2008. Titik tersebut
merupakan titik tertinggi dari nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
selama 10 tahun terakhir.
Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar
rupiah, baik dari faktor eksternal maupun faktor internal. Oleh karena itu, pada
penelitian ini akan dilihat apakah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika dapat dipengaruhi oleh indeks harga konsumen (IHK), pinjaman luar
negeri, dan harga minyak dunia. Berikut adalah rumusan masalah yang akan diteliti
lebih lanjut pada penelitian ini:
1. Apakah terdapat pengaruh dari indeks harga konsumen (IHK) terhadap
pergerakan nilai tukar rupiah (IDR) atas dolar Amerika (USD)?
2. Apakah terdapat pengaruh dari pinjaman luar negeri terhadap
pergerakan nilai tukar rupiah (IDR) atas dolar Amerika (USD)?
3. Apakah terdapat pengaruh dari harga minyak dunia terhadap pergerakan
nilai tukar rupiah (IDR) atas dolar Amerika (USD)?
1.3
Batasan Masalah
Adapun batasan-batasan masalah yang tedapat di dalam penelitian ini.
Batasan-batasan masalah tersebut meliputi:
1. Pergerakan nilai tukar mata uang yang menjadi objek penelitian ini adalah
nilai tukar mata uang rupiah (Indonesia) terhadap mata uang dolar Amerika
Serikat.
11
2. Periode waktu penelitian ini dimulai dari kuartal pertama tahun 2008 hingga
kuartal ketiga tahun 2015.
3. Pembahasan dalam penelitian ini dibatasi dengan tiga variabel independen
yaitu tingkat indeks harga konsumen (IHK), pinjaman luar negeri, dan harga
minyak dunia.
1.4
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan dan batasan masalah yang telah dikemukakan di atas,
maka berikut merupakan tujuan penelitian ini:
1. Mengetahui apakah terdapat pengaruh dari indeks harga konsumen (IHK)
pada pergerakan nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika (USD).
2. Mengetahui apakah terdapat pengaruh dari pinjaman luar negeri pada
pergerakan nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika (USD).
3. Mengetahui apakah terdapat pengaruh dari harga minyak dunia pada
pergerakan nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika (USD).
1.5
Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
1. Manfaat Praktis
Diharapkan bahwa penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis dimana
seluruh tahapan penelitian serta hasil penelitian yang diperoleh dapat
memberikan informasi dan memperluas wawasan mengenai perekonomian
12
Indonesia dan pengaruh-pengaruh yang ada di dalamnya khususnya
terhadap nilai tukar rupiah. Bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam
memberikan perannya pada hasil penelitian, diharapkan hasil penelitian ini
dapat diterima sebagai kontribusi di dunia perekonomian Indonesia.
2. Manfaat Akademik
Diharapkan bahwa penelitian ini dapat menjadi rujukan sebagai tambahan
informasi ataupun untuk penelitian yang lebih lanjut bagi upaya
pengembangan ilmu pendidikan di Indonesia khususnya di bidang ekonomi
mengenai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
1.6
Metode dan Sistematika Penulisan
Skripsi ini disusun atas lima bab yang dimulai dari pendahuluan hingga
diakhiri dengan kesimpulan dan saran. Berikut merupakan penjabaran dari
sistematika penulisan dalam penelitian ini:
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai gambaran umum penelitian yang di dalamnya
terdapat latar belakang penelitian, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan
penelitian, batasan penelitian, dan manfaat penelitian.
BAB II. TELAAH LITERATUR
Pada bab ini diuraikan mengenai konsep teori-teori yang relevan pada
penelitian yang dilakukan. Teori-teori tersebut dapat berupa definisi-definisi, model
matematis, ataupun penjelasan lainnya yang berkaitan dengan variabel dependen
13
dan variabel independen. Di dalam bab ini juga dijabarkan mengenai penelitianpenelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian ini.
BAB III. METODE PENELITIAN
Bab ini memaparkan gambaran umum objek penelitian, metode penelitian
yang digunakan, operionalisasi variabel penelitian, kerangka pemikiran serta
hipotesis, dan metode-metode yang digunakan baik dalam pengambilan data,
sampel, hingga metode analisis data.
BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi atas pembahasan hasil penelitian mengenai deskripsi objek
penelitian dan analisis data pembahasan yang telah diolah.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini menguraikan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah diperoleh
dan juga saran untuk penelitian selanjutnya yang dapat digunakan oleh pihak
lainnya.
14
Fly UP