...

akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan jantung meningkat

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan jantung meningkat
6-07-2016
1/2
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Artikel ini diambil dari : www.depkes.go.id
MENKES: AKSES MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN JANTUNG MENINGKAT
DIPUBLIKASIKAN PADA : RABU, 30 MARET 2011 03:11:45, DIBACA : 50.006 KALI
Masyarakat miskin dan hampir miskin dapat mengakses pelayanan kesehatan yang bermutu - termasuk pelayanan penyakit jantung. Bagi masyarakat lainnya
yang tidak miskin, sebagian telah dijamin oleh berbagai asuransi atau jaminan kesehatan, seperti Askes, Jamsostek atau Asuransi Kesehatan Swasta. Akan
tetapi, masih ada sebagian masyarakat yang belum tercakup dalam jaminan kesehatan. Oleh karena itu, Pemerintah melakukan langkah-langkah agar pada tahun
2010 2014 dapat diwujudkan Jaminan Kesehatan Semesta atau Universal Coverage, ujar dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH ketika membuka The
20th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Heart Association (ASMIHA) tanggal 25 Maret di Jakarta.
Selain upaya meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang bermutu melalui Program Jamkesmas, dewasa ini Kementerian Kesehatan juga
melakukan langkah-langkah untuk menyediakan sarana dan prasarana kesehatan termasuk sumber daya manusia kesehatan dan obat serta alat kesehatan yang
memadai di seluruh Tanah Air - termasuk di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan atau DTPK dan di daerah bermasalah kesehatan atau DBK, tambah
Menkes.
Menurut Menkes, kualitas dan peningkatan akses pelayanan jantung dan pembuluh darah juga sangat bergantung pada ketersediaan dan distribusi dokter
spesialis. Saat ini, Indonesia hanya memiliki sekitar 500 dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah. Jumlah ini masih sangat kurang dibandingkan
dengan kebutuhan penduduk di Indonesia. Rasio dokter spesialis penyakit jantung yang diharapkan adalah 1: 250.000 penduduk.
Dalam meningkatkan sumber daya manusia, Kementerian Kesehatan telah mengembangkan Program Pendidikan Dokter Spesialis Berbasis Kompetensi,
termasuk Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah.
Langkah ini dimaksudkan untuk memenuhi ketersediaan dan distribusi dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah di semua fasilitas pelayanan
kesehatan di Indonesia, terutama di daerah terpencil, ujar Menkes di hadapan 2000 peserta ASMIHA.
Menurut Menkes, penyakit jantung dan pembuluh darah telah menjadi salah satu masalah penting kesehatan masyarakat dan merupakan penyebab kematian
yang utama. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), pada tahun 2030 sekitar 23,6 juta orang akan meninggal karena penyakit
kardiovaskular. Sedangkan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2007, menunjukkan bahwa prevalensi penyakit jantung secara nasional adalah
7,2%.
Penyakit jantung iskemik mempunyai proporsi sebesar 5,1% dari seluruh penyakit penyebab kematian di Indonesia, dan penyakit jantung mempunyai angka
proporsi 4,6% dari seluruh kematian.
1
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
2/2
6-07-2016
Hasil penelitian kohort di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dan 5 rumah sakit di Indonesia di tahun 2006 menunjukkan bahwa angka kematian karena
penyakit jantung dan pembuluh darah di rumah sakit adalah sekitar 6-12 % dan angka re-hospitalisasi yaitu 29%. Selain itu, juga terdapat peningkatan prevalensi
penyakit jantung kongenital yang membutuhkan perhatian lebih.
Data - data tersebut menunjukkan perlunya memberikan perhatian yang serius pada upaya pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah. Bukan hanya
pada aspek kuratif dan rehabilitatifnya saja, tetapi justru pada aspek promotif dan preventif-nya - agar jumlah kasus tidak terus meningkat - tapi makin dapat
dikurangi.
Oleh karena itu, penyebarluasan dan penerapan perilaku hidup yang bersih dan sehat atau PHBS perlu ditingkatkan. Gaya hidup sehat seperti : makan dengan
menu seimbang, melakukan kegiatan fisik secara tepat, teratur dan terukur, tidak merokok, tidak minum alkohol dan mampu mengatasi stres dengan tepat, harus
disosialisasikan kepada masyarakat luas. Semua pihak terkait hendaknya saling menyamakan persepsi untuk merubah paradigma lama yang lebih
menitikberatkan pada aspek kuratif, menjadi paradigma baru yang menempatkan aspek promotif dan preventif sebagai suatu hal yang sangat penting, ujar
Menkes.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor
telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, 5223002 Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail [email protected], [email protected],
kontak[at]depkes[dot]go[dot]id.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
- 2 -
Printed @ 6-07-2016 02:07
Fly UP