...

1 UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI DENGAN

by user

on
Category: Documents
10

views

Report

Comments

Transcript

1 UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI DENGAN
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI DENGAN
PENUGASAN MIND MAPPING DAN MODEL PEMBELAJARAN RRB
(ROUND ROBIN BRAINSTORMING)
Anne Aulia Rachmawaty1, Susi Sutjihati2, Nandang Hidayat3
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Tujuan utama
penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X-A di
MAN 1 Cijeruk dan untuk mengetahui efektifitas dari penugasan mind mapping
dan model pembelajaran RRB (Round Robin Brainstorming). Proses penelitian
tindakan dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahapan,
yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Nilai hasil belajar biologi
siswa sebelum diterapkan dengan penugasan mind mapping dan model
pembelajaran RRB (Round Robin Brainstorming) tes hasil belajar siswa rata-rata
adalah 64,31. Pada siklus I nilai rata-rata biologi mencapai 67,16 dan pada siklus
II mencapai 74,22. Persentase hasil pengamatan langkah-langkah model
pembelajaran pada siklus I pertemuan ke-1 50%, siklus I pertemuan ke-2 59,97%
yang terlihat memuaskan hingga meningkat mencapai 70,31% di siklus II
pertemuan ke-1, dan meningkat menjadi 81,25% pada siklus II pertemuan ke-2.
Antusias siswa dalam kegiatan pembelajaran mengalami peningkatan yang sangat
baik terhadap model pembelajaran yang digunakan, pada siklus I pertemuan ke- 1
mencapai 62,87 % dan siklus I pada pertemuan ke- 2 meningkat menjadi 65,66%.
Pada siklus II, antusias siswa lebih meningkat, yaitu pada pertemuan ke-1
mencapai 71,21%, dan pada siklus II pertemuan ke-2 mencapai 72,94%.
Penerapan dengan penugasan mind mapping dan model pembelajaran RRB dapat
meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran biologi di kelas X-A MAN 1
Cijeruk Kabupaten Bogor.
Kata kunci: RRB (Round Robin Brainstorming), Mind Mapping, Hasil belajar
1
Lulusan FKIP Prodi Biologi Universitas Pakuan
Dosen FKIP Universitas Pakuan
3
Dosen FKIP Universitas Pakuan
2
1
Pendahuluan
Perkembangan di dalam kelas
umumnya ditentukan oleh peran guru
dan siswa sebagai orang yang terlibat
langsung di dalam proses tersebut.
Pada saat ini kegiatan mengajar guru
cenderung bersifat monoton. Guru
masih
menggunakan
metode
pembelajaran yang berpusat pada
guru (teacher center), penggunaan
metode
didalam
kelas
lebih
didominasi
dengan
metode
konvensional yang sebagian besar
ceramah, dan kegiatan siswa lebih
banyak diam menyimak penjelasan
guru, mencatat, dan mengerjakan
tugas yang diberikan guru sehingga
membuat siswa tidak aktif, tidak
memiliki
keberanian
untuk
mengajukan pendapat dan kondisi
belajar menjadi membosankan, selain
itu kenyataan yang terlihat saat ini
pada proses pembelajaran di kelas
masih diberikan tugas mencatat dan
membaca tetapi tidak pernah
diberikan tugas membuat rangkuman
dalam bentuk peta konsep, bagan
atau mind mapping.
Suasana belajar dan kualitas
pengajaran pun merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi hasil
belajar
siswa.
Suasana
yang
menyenangkan dapat memberikan
hasil
belajar
yang
optimal,
dibandingkan dengan suasana belajar
yang membosankan, menegangkan,
tidak diberikan kebebasan dalam
mengeluarakan pendapat sehingga
dapat menimbulkan rasa cemas, takut
dan tidak suka terhadap guru dan
pelajaran biologi.
Situasi kelas pada proses
pengajaran seperti ini bersifat pasif,
verbalistis
dan
mengakibatkan
perhatian siswa menjadi tidak
terpusat pada kegiatan pembelajaran
di kelas, dan dikarenakan materi
pembelajaran biologi yang lebih
banyak tertuang dalam bentuk
wacana
dan
banyak
hafalan,
mengakibatkan siswa kurang begitu
berminat
dengan
pembelajaran
biologi, sehingga masih banyak
siswa yang mendapatkan nilai yang
kurang memuaskan, hanya beberapa
siswa saja yang mendapat prestasi
yang cukup memuaskan. Sikap
seperti ini berdampak buruk terhadap
rendahnya hasil belajar biologi.
Berdasarkan hasil pengamatan
yang dilakukan di kelas X-A MAN 1
Cijeruk Kabupaten Bogor adalah
masih rendahnya pencapaian hasil
belajar biologi yang hanya memiliki
nilai rata-rata 64,31 dan 11 orang
(32%) yang telah mencapai nilai
KKM (kreiteria ketuntasan minimal)
pada tahun ajaran 2011/2012,
sedangkan
nilai
KKM
yang
ditentukan sekolah yaitu 70.
Upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa
adalah dengan mencari strategi
pembelajaran yang sesuai. Salah satu
alternatif agar pembelajaran lebih
efektif, bermakna dan menyenangkan
dan diharapkan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa adalah dengan
penugasan mind mapping dan model
pembelajaran RRB (Round Robin
Brainstorming).
Pada
model
pembelajaran RRB siswa belajar
dengan materi yang sudah disiapkan
oleh guru.
Pembelajaran dengan cara
penugasan mind mapping dan model
pembelajaran RRB ini diharapkan
dapat membangun pemahaman siswa
dengan mendorong siswa lebih aktif
berpikir
cepat
dan
tersusun,
mendorong siswa untuk selalu
menyampaikan ide atau gagasan,
2
mampu
memecahkan
masalah
bersama dan berinteraksi secara
berkelompok.
Siswa
diberikan
penugasan berupa mind mapping
yang dapat membuat siswa lebih
aktif, kreatif dan dapat lebih
memahami materi yang akan
dipelajari. Pada saat pemberian topik
permasalahan, siswa diharapkan
menjawab atau mengungkapkan
pendapatnya masing-masing dengan
cepat dan jawaban akan ditampung
semua oleh pencatat masing-masing
kelompoknya. Saat menyimpulkan
semua jawaban, siswa belajar untuk
saling membantu, dan bekerja sama
untuk kemenangan kelompoknya.
Pada saat siswa aktif dalam proses
belajar dan
diskusinya, guru
membimbing siswa yang berperan
sebagai motivator serta fasilitator.
Berdasarkan uraian di atas
maka perlu diadakan penelitian
mengenai pembelajaran dengan
penugasan mind mapping dan model
pembelajaran
RRB
dalam
meningkatkan hasil belajar biologi,
sehingga dapat dirumuskan bahwa
masalah dalam penelitian ini adalah,
apakah penugasan mind mapping dan
model pembelajaran RRB (Round
Robin
Brainstroming)
dapat
meningkatkan hasil belajar biologi
siswa dan bagaimana penerapan
pembelajaran dengan penugasan
mind
mapping
dan
model
pembelajaran RRB (Round Robin
Brainstroming).
Hasil belajar dipengaruhi oleh
pengalaman subjek belajar dengan
dunia fisik dan lingkungannya. Hasil
belajar sesorang tergantung pada apa
yang telah diketahui, subjek belajar,
tujuan, motivasi yang mempengaruhi
proses interaksi dengan bahan yang
akan dipelajarinya
Menurut
Winataputra
(2004:2.6) hasil belajar merupakan
perubahan perilaku atau tingkah
laku. Seseorang akan berubah atau
bertambah perilakunya, baik yang
berupa pengetahuan, keterampilan
motorik atau penguasaan nilai-nilai
(sikap). Perubahan perilaku sebagai
hasil belajar ialah perubahan yang
dihasilkan dari pengalaman (interaksi
dengan lingkungan), dimana proses
mental dan emosional terjadi.
Perubahan perilaku sebagai hasil
belajar dikelompokan ke dalam tiga
ranah (kawasan) yaitu pengetahuan
(kognitif), keterampilan motorik
(psikomotorik) dan penguasaan nilainilai atau sikap (afektif).
Mind Mapping atau sering
dikenal dengan peta pikiran, menurut
Buzan (2010:4) peta pikiran (mind
mapping) adalah cara termudah
untuk menempatkan informasi ke
dalam otak dan mengambil informasi
ke luar otak. Mind Map adalah cara
mencatat yang kreatif, efektif dan
secara harfiah akan memetakan
pikiran pikiran kita. Mind Map juga
sangat sederhana. Berarti mind
mapping merupakan cara yang
efektif
dan
kreatif
dalam
pembelajaran. De Porter dan
Hernacki (2011:225) mengemukakan
bahwa peta pikiran (mind mapping)
merupakan teknik pemanfaatan
keseluruhan
otak
dengan
menggunakan citra visual dan
prasarana grafis untuk membuat
kesan, selain itu peta pikiran (mind
mapping)
merupakan
metode
mencatat kreatif yang memudahkan
kita dalam mengingat banyak
informasi. Jadi, mind mapping dapat
digunakan sebagai alternatif jawaban
dari sebuah soal dan memudahkan
3
kita dalam mengingat banyak
informasi.
Supomo
dalam
Nuryani
(2003:22) reciproal teaching adalah
model pembelajaran yang tujuan
utama pembelajarannya tercapai
melalui kegiatan belajar mandiri dan
menjelaskan kembali hasil belajar
tersebut kepada pihak lain, sehingga
dengan
menggunakan
model
pembelajaran ini siswa dapat lebih
aktif
dan
kreatif
dalam
menyelesaikan
masalah
yang
nantinya
dapat
meningkatkan
prestasi belajar. Menurut Brow dan
Palinscar dalam Santrock (2003:597)
reciprocal teaching adalah prosedur
pengajaran yang mengembangkan
pemantauan kognitif. Dalam proses
ini pelajaran secara bergiliran
memimpin
kelompok
dalam
menggunakan
strategi
untuk
memahami dan mengingat isi suatu
bacaan. Siswa diberi kesempatan
yang
sama
untuk
berlatih
menggunakan keempat strategi dan
menerima umpan balik dari angota
kelompok yang lain. Guru sebagai
fasilitator berperan penting dalam
membimbing dan membantu siswa
agar
lebih
pandai
dalam
menggunakan strategi pembelajaran
tersebut.
Berdasarkan penjelasan diatas
tentang mind mapping reciprocal
atau penugasan mind mapping
merupakan
pembelajaran yang
berupa penugasan terhadap siswa
sebelum proses pembelajaran dengan
berupa mind mapping sehingga dapat
memudahkan
siswa
dalam
mengembangkan
pengetahuan
melalui peta pikiran yang dapat
membuat siswa lebih aktif, kreatif
dan dengan cepat memahami materi
yang akan diajarkan serta mengingat
lebih baik.
Menurut Roestiyah (2008:73)
bahwa
sumbang
saran
atau
brainstorming
merupakan
cara
mengajar yang dilaksanakan oleh
guru di dalam kelas, yaitu dengan
melontarkan suatu masalah ke kelas
oleh guru. Selanjutnya siswa
menjawab atau menyatakan pendapat
atau komentar sehingga masalah
tersebut
berkembang
menjadi
masalah baru. Utomo (2011:79)
mengemukakan
bahwa
curah
gagasan
atau
brainstorming
dirancang
untuk
mendorong
kelompok untuk mengekspresikan
berbagai macam ide yang dicatat,
kemudian dikombinasikan dengan
berbagai macam ide yang yang lain.
Pada akhirnya kelompok tersebut
setuju dengan hasil akhirnya.
Metode Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah
upaya untuk meningkatkan hasil
belajar biologi dan untuk mengetahui
efektifitas dengan penugasan mind
mapping dan Model Pembelajaran
RRB kelas X-A di MAN 1 Cijeruk
Bogor.
Penelitian dilakukan di kelas
X-A MAN 1 Cijeruk Bogor, waktu
penelitian mengacu pada kalender
akademik dan dilakasanakan pada
semester II (dua) tahun ajaran
2011/2012, dengan melibatkan siswa
kelas X-A berjumlah 32 orang,
terdiri dari siswa perempuan
berjumlah 18 dan siswa laki-laki
berjumlah 14 serta karakteristik
siswa heterogen dengan tingkat
kecerdasan yang bervariasi. Materi
yang disampaikan pada penelitian
siklus pertama adalah ekosistem dan
siklus kedua adalah permasalahan
4
lingkungan. Penelitian dilaksanakan
dari bulan Maret - Mei 2012.
Peningkatan hasil belajar siswa
dalam pembelajaran biologi ditandai
dengan ketercapaian indikator yang
telah
ditetapkan.
Kriteria
keberhasilan individu yaitu mencapai
kriteria ketuntasan minimum (KKM)
yang telah ditetapkan dalam mata
pelajaran biologi yaitu 70 dan
peresentase kriteria pencapaian nilai
KKM yaitu 70%.
Penelitian ini termasuk ke
dalam penelitian tindakan kelas.
Dalam penelitian ini melibatkan
peneliti, pengamat (observer), guru
yang bertindak sebagai pelaksana
strategi pembelajaran dan siswa
sebagai subjek serta objek yang
diteliti. Proses kegiatan pembelajaran
dilakukan dengan menggunakan
penugasan mind mapping dan model
pembelajaran RRB.
Ada
empat
prosedur
pelaksanaan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK), yaitu : 1.Perencanaan
(Planning), 2.Pelaksanaan (Action),
3.Observasi
(Observation),
4.Refleksi (Reflection).
Selanjutnya untuk memperoleh
gambaran mengenai proses PTK
dapat dijabarkan sebagai berikut:
Perencanaan Tindakan, Observasi
dan Refleksi.
Perencanaan yang dilakukan
pada prosedur pertama adalah siswa
yang sudah diberi tugas mind
mapping
pada
pertemuan
sebelumnya mengumpulkan tugas
individunya
dan
pengaturan
kelompok siswa dibagi menjadi 4-5
orang setiap kelompoknya. Masingmasing siswa duduk berdasarkan
kelompok masing-masing dengan
menghadap ke arah tengah sehingga
setiap siswa dapat memperhatikan
penjelasan guru.
Alokasi waktu yang digunakan
disesuaikan dengan alokasi waktu
yang telah ditetapkan sekolah yaitu 2
x 45 menit, dengan pembagian
waktu: apersepsi 10 menit, kegiatan
inti 60 menit dan kegiatan penutup
20 menit. Penggunaan media yang
digunakan sesuaikan dengan materi
pembelajaran yang dipelajari serta
sarana dan prasarana yang tersedia di
sekolah.
Persiapan lain yang dilakukan
adalah
membuat
perencanaan
pembelajaran, meyiapkan alat bantu
pembelajaran
yang
diperlukan,
menyiapkan instrumen tes untuk
mengetahui
peningkatan
hasil
belajar, menetapkan waktu yang
tepat untuk melaksanakan tindakan
dan yang melaksanakan adalah guru
Biologi, membuat lembar observasi,
membuat format wawancara guru
dan siswa.
Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan
pada tahap ini adalah guru Biologi
kelas X melaksanakan rencana
pembelajaran
yang
telah
direncanakan kemudian diakhiri
dengan
kegiatan
evaluasi
pembelajaran.
Observasi dilakukan pada tahap
ini dilakasankan observasi terhadap
pelaksanaan tindakan, efek, dan hasil
tindakan
dengan
menggunakan
lembar observasi yang dibuat dalam
setiap tindakan. Hasil observasi serta
hasil belajar kemudian dievaluasi dan
dijadikan landasan untuk melakukan
refleksi.
Refleksi adalah proses berfikir
untuk melihat kembali aktivitas yang
sudah dilakukan dan mencari jalan
5
keluarnya
berdasarkan
hasil
observasi. Hasil yang didapat dalam
tahap ini akan dipergunakan sebagai
acuan untuk melaksankan siklus
berikutnya. Jumlah siklus tergantung
terselesaikan masalah yang diteliti
dan tujuan penelitian.
Temuan Penelitian
Selama
berlangsungnya
tindakan, observer dan peneliti
melakukan pengamatan terhadap
proses
pelaksnaan
tindakan.
Pengamatan dibatasi pada langkahlangkah model pembelajaran dan
aktivitas siswa.
Kegiatan pembelajaran pada
siklus 1 pertemuan pertama dan
kedua di peroleh rekapitulasi nilai
hasil belajar, langkah-langkah model
pembelajaran dan antusias siswa,
seperti tampak
pada
gambar
1.
Gambar 1. Grafik Nilai Siswa dalam
Proses Pembelajaran
Hasil belajar siswa sebelum
dilakukan penelitian (refleksi) adalah
sebesar 64,31. Pada siklus kesatu,
nilai rata-rata siswa adalah 67,16.
Pada siklus kedua hasil belajar siswa
mencapai rata-rata 74,22.
pertemuan 1
Persentase %
100
40
20
0
Peningkatan aktivitas guru di
siklus I, yang terlihat cukup
memuaskan bertambah dari 50%
menjadi 59,37% yaitu pertemuan 1
ke 2. Hingga siklus II aktivitas guru
sangat memuaskan dari sebelumnya
70,31 % meningkat menjadi 81,25%.
Gambar
3.
Grafik Persentase
Kenaikan
Aktivitas
Siswa Dalam
Setiap
Siklus
Presentase aktivitas siswa pada
siklus 1 pertemuan ke-1 on task
62,87% dan off task 37,13%,
pertemuan ke-2 on task 65,66% dan
of task 34,34%.
Presentase aktivitas siswa pada
siklus 2 pertemuan ke-1 on task
81,25
70,31
80
60
pertemuan 2
Gambar 2. Grafik Hasil Pengamatan
Langkah-langkah
Penugasan
Mind
Mapping dan Model
Pembelajaran RRB
50
59,37
6
71,21% dan off task 28,79%,
pertemuan ke-2 on task 72,94% dan
of task 27,05%.
Berdasarkan gambar 1 grafik
hasil belajar diatas terlihat jelas
bahwa hasil belajar siswa terus
mengalami peningkatan dari siklus
pertama dan kedua, bahkan pada
siklus kedua rata-rata nilai siswa
sudah melewati batas KKM yang
telah ditentukan yaitu 70.
Hasil belajar siswa sebelum
dilakukan penelitian (refleksi) adalah
sebesar 64,31. Pada siklus kesatu,
nilai rata-rata siswa adalah 67,16.
Pada siklus kedua hasil belajar siswa
mencapai rata-rata 74,22 , nilai ratarata siswa ini sudah mencapai nilai
KKM yang telah ditentukan yaitu 70.
Siswa yang mengalami kenaikan
yaitu dicapai 24 orang siswa dan 8
orang siswa mendapat nilai kurang
dari 70 .
Adanya respon siswa yang
lebih
baik
dalam
proses
pembelajaran dengan menggunakan
penugasan mind mapping dan model
pembelajaran RRB menimbulkan
peran aktif siswa dalam kegiatan
diskusi kelompok dan peningkatan
hasil belajar yang sesuai dengan
kriteria keberhasilan. Keberhasilan
ini juga tidak lepas dari peran guru
yang lebih memotivasi siswa,
membimbing
siswa,
dan
mengarahkan siswa sehingga siswa
mampu mengemukakan pendapat,
ide,
dan
gagasannya
dalam
pembelajaran. Dari hasil yang
diperoleh dapat disimpulkan bahwa
secara umum kegiatan pembelajaran
pada siklus 2 telah sesuai dengan
kriteria keberhasilan yang ditetapkan.
Hal ini sesuai dengan pendapat
yang dikemukakan oleh Winataputra
(2004:2.6) hasil belajar merupakan
perubahan perilaku atau tingkah
laku. Seseorang akan berubah atau
bertambah perilakunya, baik yang
berupa pengetahuan, keterampilan
motorik atau penguasaan nilai-nilai
(sikap). Perubahan perilaku sebagai
hasil belajar ialah perubahan yang
dihasilkan dari pengalaman (interaksi
dengan lingkungan), dimana proses
mental dan emosional terjadi.
Perubahan perilaku sebagai hasil
belajar dikelompokan ke dalam tiga
ranah (kawasan) yaitu pengetahuan
(kognitif), keterampilan motorik
(psikomotorik) dan penguasaan nilainilai atau sikap (afektif).
Keunggulan penugasaan mind
mapping dan model pembelajaran
RRB
merupakan
model
pembelajaran
yang
dapat
mengembangkan kemampuan siswa
dalam mengemukakan pendapat, ide
dan gagasannya tanpa perlu di nilai
bahwa itu benar atau salah dan
melatih siswa menjadi lebih mandiri
serta dengan bantuan penugasan
berupa mind mapping siswa dapat
pengetahuan awal sebelum materi
diberikan dengan lebih aktif, kreatif
dan mengingat lebih cepat sehingga
memberikan kemudahan dalam
pembelajaran yang akan di pelajari
dengan penuh motivasi dan tercipta
suasana belajar yang baik antar
sesama siswa ataupun antar siswa
dan guru.
Langkah-langkah
model
pembelajaran pada gambar 2 yang
pengamatannya berdasarkan lembar
observasi (pada lampiran) setiap
pertemuan di siklus I sampai siklus II
terdapat peningkatan yang cukup
memuaskan. Peningkatan aktivitas
guru di siklus I, yang terlihat cukup
memuaskan bertambah dari 50%
menjadi 59,37% yaitu pertemuan 1
7
ke 2. Hingga siklus II aktivitas guru
sangat memuaskan dari sebelumnya
70,31% meningkat menjadi 81,25%.
Dapat diketahui bahwa terjadi
peningkatan hasil belajar siswa dari
siklus 1 ke siklus 2 dengan
penugasan mind mapping dan model
pembelajaran RRB. Hal ini sesuai
dengan Sanjaya (2008:196) bahwa
pembelajaran adalah kegiatan yang
bertujuan, yaitu membelajarkan
siswa. Proses pembelajaran itu
merupakan rangkaian kegiatan yang
melibatkan berbagai komponen. Jadi,
pembelajaran adalah suatu proses
belajar yang dirancang untuk
memungkinkan terjadinya proses
belajar pada siswa sehingga siswa
dapat melakukan dengan baik
Gambar 3 grafik di atas dapat
dilihat bahwa aktivitas siswa dalam
setiap pertemuan pada setiap siklus
kegiatan di luar pembelajaran (Off
task) mengalami penurunan, dan
aktivitas siswa yang dilakukan
selama pembelajaran (On task)
mengalami peningkatan. Pada siklus
1 pertemuan ke-1 On task siswa
meningkat 62,87% dan Off task
menurun 37,13%, pada pertemuan
ke-2 On task siswa meningkat
65,66% dan Off task menurun
34,34%. Sedangkan pada siklus 2
pertemuan
ke-1
mengalami
peningkatan aktivitas On task
mencapai 71,21% dan Off task
menurun 28,79%, kemudian On task
meningkat lagi pada pertemuan ke-2
72,94% dan penurunan Off task
27,05%. Adanya peningkatan On
task dan penurunan Off task dapat
menciptkan kondisi kelas yang
memungkinkan
proses
belajar
mengajar berjalan dengan baik dan
berdampak juga pada tingkat
keberhasilan siswa dalam belajar.
Berdasarkan hal tersebut, dapat
diketahui bahwa terjadi peningkatan
aktifitas siswa dengan penugasan
mind
mapping
dan
model
pembelajaran RRB. Hal tersebut
sesuai dengan Vigotsky dalam
Winataputra
(2007:6-9),
yang
berpendapat bahwa pengetahuan
dibangun secara sosial, dalam
pengertian bahwa peserta yang
terlibat dalam suatu interaksi sosial
akan memberikan kontribusi dan
membangun bersama makna suatu
pengetahuan. Kesimpulannya, teori
belajar konstruktivisme memaknai
belajar
sebagai
proses
mengkonstruksi pengetahuan melalui
proses internal seseorang dan
interaksi dengan orang lain. Belajar
merupakan proses mengasimilasikan
dan menghubungkan pengalaman
atau bahan yang dipelajarinya.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
yang
dilakukan melalui dua siklus
terhadap penerapan penugasan mind
mapping dan model pembelajaran
RRB (Round Robin Brainstorming)
didapatkan hasil sebagai berikut:
Pertama, penugasan mind
mapping dan model pembelajaran
RRB dapat meningkatkan hasil
belajar
siswa,
dilihat
dari
meningkatnya nilai rata-rata siswa
pada setiap proses pembelajaran.
Dimulai dari nilai rata-rata awal
(refleksi)
sebelum
dilakukan
tindakan yaitu 64,31, pada siklus I
nilai rata-rata siswa mulai meningkat
yaitu 67,16, dilanjutkan dengan
siklus II semakin meningkat yaitu
74,22 dan 24 siswa (75%) telah
mencapai KKM.
Kedua, penerapan dengan
penugasan mind mapping dan
8
menggunakan model pembelajaran
RRB
secara
efektif
dapat
meningkatkan hasil belajar biologi
melalui pembelajaran awal siswa
diberikan penugasan mind mapping,
selanjutnya
dalam
proses
pembelajaran RRB, mind mapping
dijadikan sebagai media dan sumber
awal dari pembelajaran RRB
sehingga diakhir kegiatan siswa
dapat membuat mind mapping yang
lebih baik dan kreatif.
Daftar Pustaka
Deporter, Bobbi dan Hernacki, Mike.
2011. Quantum Learning.
Kaifa , PT Mizan Pustaka:
Bandung
Buzan, Tony. 2010. Buku Pintar
Mind
Mapping.
PT.
Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta
Kompetensi. Prenada Media
Group: Jakarta.
Santrock,
Jhon
W.
2003.
Adolescense Perkembangan
Remaja. Erlangga: Jakarta.
Winataputra, Udin S. 2004. Strategi
Belajar Mengajar. Pusat
Penerbitan
Universitas
Terbuka: Jakarta.
Winataputra, Udin S. 2007. Teori
Belajar dan Pembelajaran.
Penerbit
Universitas
Terbuka: Jakarta.
Penulis
Anne Aulia Rachmawaty.
Lahir di Bogor, 24 Maret 1991.
Lulusan
Pendidikan
Biologi
Universitas Pakuan Bogor Tahun
2012.
Dananjaya, Utomo. 2011. Media
Pembelajaran
Aktif.
Penerbit Nuansa: Bandung.
Nuryani,
Putri. 2008. Pengaruh
Penerapan
Model
Pembelajaran
CUPs
(Conceptual Understanding
Prosedures) Terhadap Hasil
Belajar Siswa pada Konsep
Ekosistem (Eksperimen di
MTS Pembangunan UIN.
Ciputat): Jakarta. (Skrip)
Roestiyah. 2008. Strategi Belajar
Mengajar. Penebit Rineka
Cipta: Jakarta.
Sanjaya, Wina. 2008. Pembelajaran
Dalam
Implementasi
Kurikulum
Berbasis
9
10
Fly UP