...

efektivitas brain gym dalam meningkatkan konsentrasi belajar pada

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

efektivitas brain gym dalam meningkatkan konsentrasi belajar pada
EFEKTIVITAS BRAIN GYM DALAM MENINGKATKAN
KONSENTRASI BELAJAR PADA ANAK
Aryati Nuryana1
Setiyo Purwanto2
1.2.
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Email: 2 [email protected]
Abstract. The aim of this study id to determine the effectiveness of Brain Gym in increasing the concentration of learning in children. Children often have to wrestle with learning agenda not only while
in the school environment but also at home. By forcing the brain to work very hard there will be an
imbalance in the brain between the right brain and left brain, also can cause fatigue in the brain so
that the concentration in children’s learning to be declining. Subjects in this study were fourth grade
students of public elementary school Serengan I, No.70 Surakarta, who was 10 years old. To take
the sample in this research Cluster Random Sampling is used with as many as 76 people (37 people
for the try out and 39 people for research). The measurement of this study is using a concentration
test of children. The data were analyzed by using a statistical non parametric Mann Whitney U Test.
Obtained a value of U = 80.000 p = 0.002 (p <0.05). The average value of concentration gain score
study subjects in the experimental group amounted to 25.50 while the average value gain score subjects in the control group at 14:21. The average value can be interpreted that there are differences
or the average difference in the value of the experimental group with the control group. It means
giving Brain Gym is very effective in increasing the concentration of learning in children.
Keywords: Brain Gym, the concentration of study
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Brain Gym dalam meningkatkan
konsentrasi belajar pada anak. Anak seringkali harus bergelut dengan agenda pembelajaran tidak
hanya ketika di lingkungan sekolah tetapi juga di rumah. Dengan memaksakan otak untuk bekerja
sangat keras maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam otak antara otak kanan dan otak kiri,
juga dapat menyebabkan kelelahan pada otak sehingga konsentrasi dalam belajar anak menjadi
menurun. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Serengan I,
No.70 Surakarta yang berumur 10 tahun. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
Cluster Random Sampling dengan subjek sebanyak 76 orang dengan perincian subjek untuk try out
37 orang dan untuk penelitian 39 orang. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan tes konsentrasi
anak. Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini menggunakan statistik non parametrik
uji Mann Whitney U-Test. Diperoleh nilai sebesar U= 80,000 p= 0.002 (p< 0.05). Nilai rata-rata
gainscore konsentrasi belajar subjek pada kelompok eksperimen sebesar 25.50 sedangkan nilai
rata-rata gainscore subjek pada kelompok kontrol sebesar 14.21. Nilai rata-rata ini dapat diinterpretasi bahwa ada perbedaan atau selisih rata-rata pada hasil nilai kelompok eksperimen dengan
kelompok kontrol. Artinya pemberian Brain Gym sangat efektif dalam meningkatkan konsentrasi
belajar pada anak.
Kata Kunci: Brain Gym, konsentrasi belajar
88
Efektivitas Brain Gym dalam
Meningkatkan Konsentrasi Belajar pada Anak
S
elain di lingkungan sekolah, di
rumah pun anak harus bergelut
dengan berbagai tujuan dan
agenda pembelajaran. Dengan memaksakan
otak untuk bekerja sangat keras maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam otak antara otak
kanan dan otak kiri, juga dapat menyebabkan
kelelahan pada otak sehingga konsentrasi dalam
belajar anak menjadi menurun.
89
dan kemampuan fungsi otak untuk melakukan
perencaaan, respon dan membuat keputusan.
Brain Gym juga dapat meningkatkan kemampuan belajar tanpa batasan umur (Ayinosa,
2009).
Dalam memaksimalkan konsentrasi peneliti menggunakan dimensi pemfokusan dalam
gerakan Brain Gym. Fokus adalah kemampuan
menyeberangi “garis tengah partisipasi” yang
Konsentrasi merupakan keadaan pikiran
memisahkan bagian belakang dan depan tubuh,
atau asosiasi terkondisi yang diaktifkan oleh
dan juga bagian belakang (occipital) dan depan
sensasi di dalam tubuh. Untuk mengaktifkan
otak (frontal lobe). Jika semua terhubung den-
sensasi dalam tubuh perlu keadaan yang rileks
gan baik maka perhatian atau konsentrasi anak
dan suasana yang menyenangkan, karena dalam
menjadi meningkat dalam belajar. Namun jika
keadaan tegang seseorang tidak akan dapat
sambungan tersebut tidak terhubung dengan
menggunakan otaknya dengan maksimal karena
baik maka anak akan mengalami penurunan
pikiran menjadi kosong (Denisson, 2008). Sep-
konsentrasi. Dalam sebuah penelitian disebutkan
erti yang dikatakan Prihastuti (2009) bahwa sua-
bahwa 78% anak laki-laki dan 63% perempuan
sana menyenangkan dalam hal ini berarti anak
menghabiskan waktu istirahat mereka dalam
berada dalam keadaan yang sangat rileks, tidak
aktivitas fisik (Beighle, 2008). Brain Gym bisa
ada sama sekali ketegangan yang mengancam
dilakukan untuk menyegarkan fisik dan pikiran
dirinya baik fisik maupun non fisik. Oleh karena
siswa setelah menjalani proses pembelajaran
itu diperlukan suatu metode yang menyenangkan
yang membutuhkan konsentrasi tinggi yang
yang membuat anak rileks dalam belajar.
mengakibatkan kelelahan pada otak.
Brain Gym merupakan program komersial
yang populer yang dipasarkan di lebih 80 negara
dan dipercaya dapat memberikan stimulasi yang
sangat dibutuhkan untuk pembelajaran efektif
karena diyakini dapat membuka bagian-bagian
otak yang sebelumnya tertutup atau terhambat
sehingga kegiatan belajar/ bekerja berlangsung
menggunakan seluruh otak atau whole brain
(Ayinosa, 2009).
Konsentrasi. Salah satu faktor yang dipercaya
dapat membawa keberhasilan anak didik dalam
mencapai tujuan pembelajaarannya adalah
konsentrasi yang baik. Dengan berkonsentrasi,
maka segala hal dapat terekam sebaik-baiknya
di dalam memori otak dan selanjutnya dengan
mudah dapat dikeluarkan pada saat-saat dibutuhkan. Menurut Sugiyanto (Helmi, 1995),
konsentrasi adalah kemampuan memusatkan
Menurut riset yang dilakukan oleh Ayi-
pemikiran atau kemampuan mental dalam peny-
nosa (2009), olahraga dan latihan pada Brain
ortiran informasi yang tidak diperlukan dan me-
Gym dapat memberikan pengaruh positif pada
musatkan perhatian hanya pada informasi yang
peningkatan konsentrasi, atensi, kewaspadaan
dibutuhkan. Hal yang senada juga diungkapkan
Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi
Vol. 12, No. 1, Mei 2010 : 88-99
90
oleh Matlin (dalam Sari D.P, 2006) berpendapat
dalam Nihayah (2002) mengungkapkan bahwa
bahwa konsentrasi adalah bagian dari perhatian
anak yang lebih tua usiannya dapat lebih fleksi-
karena perhatian memiliki pengertian yang lebih
bel untuk memodifikasi perhatiannya sesuai
luas dari konsentrasi. Perhatian mempersiapkan
dengan kebutuhan. c) Berencana (planfulness).
individu untuk menerima informasi lebih jauh
Strategi mengarahkan perhatian dengan suatu
atau menerima berbagai pesan. Perhatian dapat
perencanaan yang sistematis dan terorganisir
digunakan untuk menjelaskan konsentrasi yang
dapat meningkatkan efisiensi penyaringan in-
membutuhkan kemampuan untuk memisahkan
formasi yang tidak relevan. Anak yang masih
stimuli yang tidak dikehendaki di antara sekian
muda usianya lebih tidak sistematis dan tidak
banyak stimuli yang tersedia. Matlin (1998),
terarah dibandingkan anak yang berusia lebih
mendefinisikan konsentrasi sebagai suatu akti-
tua. Sedang mereka lebih sering membuat per-
vitas mental yang merupakan bagian dari perha-
timbangan (judgement) berdasarkan informasi
tian. Pendapat yang tidak jauh berbeda dengan
yang kurang lengkap dan kurang akurat. d)
Matlin diungkapkan oleh Moray (dalam Sari.
Adaptasi perhatian dengan bertambahnya usia.
D.P, 2006) bahwa konsentrasi identik dengan
Dengan pertambahan usia, anak lebih dapat
perhatian yaitu kemampuan memilih salah satu
menggunakan sistem pengolahan informasi yang
stimuli yang ada untuk diproses lebih lanjut.
lebih kompleks dan lebih mampu menyelesaikan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
fokus perhatiannya dengan informasi yang ada.
konsentrasi adalah perhatian terpusat atau usaha
Anak menjadi lebih fleksibel dan lebih mampu
untuk memusatkan perhatian terhadap informasi
mengadaptasikan strategi perhatiannya.
yang dibutuhkan dengan mengabaikan informasi
Berbeda dengan Flanagan (2005) yang
yang tidak diperlukan.
mengungkapkan bahwa ada beberapa cara untuk
Aspek-aspek Pemusatan Perhatian atau
meningkatkan konsentrasi, yaitu:
Konsentrasi.
a) memberikan kerangka waktu yang jelas agar
Odom dan Guzman (Nihayah, 2002) ber-
anak mengetahui dengan pasti berapa lama
pendapat bahwa dalam proses perhatian terdapat
harus menyelesaikan. b) Mencegah anak agar
beberapa aspek yang harus diperhatikan, yaitu :
tidak terlalu cepat berganti dari satu tugas ke
a) pemusatan atau kontrol perhatian. Perhatian
tugas lain dengan cara membatasi pilihan. c)
semakin dapat dipertahankan (persistence)
Mengurangi jumlah gangguan dalam ruangan.
dengan bertambahnya usia. Minat anak juga
d) Memberikan umpan balik dengan segera
mempengaruhi perhatiannya, misalnya ses-
untuk memotivasi anak tetap bekerja atau
uatu yang sederhana lebih menarik perhatian
mengarahkan kembali perhatiannya pada tugas
daripada yang kompleks. b) Penyesuaian diri
yang sedang dikerjakan. e) Merencanakan tu-
(adaptability). Diperlukan adanya penyaringan
gas yang lebih kecil daripada memberikan satu
informasi yang relevan, meski informasi yang
sesi yang panjang. f) Menetapkan tujuan dan
tidak relevan pun sering memberikan suatu ke-
menawarkan hadiah untuk memotivasinya agar
adaan “incidental learning”. Beberapa peneliti
terus bekerja.
Efektivitas Brain Gym dalam
Meningkatkan Konsentrasi Belajar pada Anak
91
Konsentrasi Belajar.
ruhi konsentrasi belajar antara lain suara, penca-
Konsentrasi belajar adalah suatu aktivitas untuk
hayaan, temperatur, dan desain belajar (Nurul,
membatasi ruang lingkup perhatian seseorang
dalam Sari, 2006).
pada satu objek atau satu materi pelajaran
(Benjamin, dalam Hartanto, 1995 ). Hal serupa
diungkapkan oleh Harahap (dalam Sari D.P.
2006) mendefinisikan konsentrasi belajar sebagai suatu pemusatan, penyatuan, pernyataan
adanya hubungan antara bagian-bagian dalam
pelajaran atau lebih. Sama halnya dengan Liang
Gie (dalam Hartanto. 1995) yang menyimpulkan
bahwa konsentrasi belajar adalah pemusatan
perhatian atau pikiran dengan mengesampingkan
hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan
apa yang sedang dipelajari. Alim (2008) menyebutkan bahwa konsentrasi belajar anak adalah
bagaimana anak fokus dalam mengerjakan atau
melakukan sesuatu, hingga pekerjaan itu dikerjakan dalam waktu tertentu. Veenstra (dalam
Sari, 2006) mengatakan bahwa faktor-faktor
Kerja Otak.
Otak tersusun dari kumpulan neuron, dimana
neuron merupakan sel saraf panjang seperti
kawat yang mengantarkan pesan-pesan listrik
lewat sistem saraf dan otak. Sel-sel pada suatu
daerah otak menghubungi bagian-bagian tubuh
yang lain secara kontinyu dan otomatis. Neuron
ini mengirimkan sinyal dengan menyebar secara
terencana, semburan listrik terhentak-hentak
yang membentuk bunyi yang jelas (kertak-kertuk) yang timbul dari gelombang kegiatan neuron yang terkoordinasi, dimana gelombang itu
sebenarnya sedang mengubah bentuk otak dan
membentuk sirkuit otak menjadi pola-pola yang
lama kelamaan akan menyebabkan bayi yang
lahir nanti mampu menangkap suara, sentuhan,
dan gerakan (Rizki, 2008).
yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar
antara lain: a) Faktor Usia. Kemampuan untuk
konsentrasi ini ikut tumbuh dan berkembang
sesuai dengan usia individu. b) Fisik. Kondisi
sistem saraf (neurogical system) mempengaruhi
kemampuan individu dalam menyeleksi sejumlah informasi dalam kegiatan perhatian. Individu
memiliki kemampuan saraf otak yang berbeda
dalam menyeleksi sejumlah informasi yang
ada sehingga turut mempengaruhi kemampuan
individu dalam memusatkan perhatian. c) Faktor pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan
Mekanisme Brain Gym.
Setiap gerakan Brain Gym memiliki sistem kerja
sendiri-sendiri dan memiliki dimensi-dimensi
yang berbeda. Seperti yang ada dalam penelitian
Paul dan Gail E .Dennison yang telah membagi
otak ke dalam 3 dimensi, yakni dimensi lateralis
(otak kiri-kanan), dimensi pemfokusan (otak
depan-belakang), dimensi pemusatan (otak atasbawah). Masing-masing dimensi mempunyai
tugas tertentu sehingga garakan senam yang
dilakukan dapat bervariasi.
dan pengalaman turut berperan dalam usaha
Sebelum siswa mulai belajar apa pun,
memusatkan perhatian pada objek yang belum
mereka harus menjalani PACE. PACE adalah
bisa dikenali polanya sehingga pengetahuan dan
empat gerakan yang diperlukan untuk dapat
pengalamn individu dapat memudahkan untuk
belajar menggabungkan seluruh otak. PACE
berkonsentrasi. Selain faktor-faktor di atas ada
merupakan singkatan dari positive, active,
juga faktor lingkungan yang dapat mempenga-
clear, energetic. Untuk melakukan PACE ini,
Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi
Vol. 12, No. 1, Mei 2010 : 88-99
92
anak harus memulainya dari Energetic (minum
dan sebaliknya, meningkatkan penerimaan
air), Clear (melakukan pijatan saklar otak), Ac-
oksigen, stimulasi arteri karotis untuk mening-
tive (melakukan gerakan silang), serta Positive
katkan aliran darah ke otak, dan meningkatkan
(melakukan Hook Ups atau kait-silang).
aliran energi elektromagnetik. Manfaat secara
Dalam penelitian ini, gerakan yang di-
adademik dari gerakan ini adalah dapat me-
gunakan adalah gerakan yang berada di dalam
ningkatkan kemampuan membaca, koordinasi
dimensi lateralitas, dimensi pemfokusan dan di-
tubuh, koreksi terbaliknya huruf dan angka,
mensi pemusatan. Gerakan yang diambil hanya
memadukan konsonan, dan tetap dibaris saat
beberapa gerakan antara lain gerakan Hooks-up,
membaca.
gerakan silang, saklar otak, titik positif, Lazy 8,
Titik Positif.
penguapan berenergi dan pasang telinga.
Gerakan memijat titik positif (dua tonjolan di
Kait Relaks. Bertujuan untuk pemusatan
emosional, pasang kuda-kuda, meningkatkan
perhatian (mengaktifkan formatio reticularis),
dan gerakan tulang-tulang kepala. Manfaat
Secara akademik, gerakan ini dapat meningkatkan kemampuan mendengar dan berbicara,
menghadapi tes atau bekerja dengan tombol/
keyboard.
tengah dahi) bermanfaat menghilangkan refleks
(tindakan tanpa proses berpikir), mengatasi lupa
karena gugup, menunjang ungkapan kata, menenangkan pada saat menghadapi tes di sekolah
dan dalam penyesuaian sehari-hari. Hubungan
perilaku dan sikap tubuh, yaitu kemampuan mengatur, keterampilan belajar, kinerja tes. Manfaat
dalam hal akademiknya adalah gerakan ini dapat
membantu mengingat, berguna ketika mengeja,
Gerakan Silang.
mempelajari matematika dan bidang sosial, atau
Bertujuan untuk menyeberangi garis tengah
ketika ingatan jangka panjang dibutuhkan.
penglihatan/pendengaran/kinestetik/perabaan/
sentuhan, gerakan mata dari kiri ke kanan,
meningkatkan kebersamaan penglihatan kedua
mata (binocular). Manfaat akademik adalah
meningkatkan kemampuan mengeja, menulis,
mendengarkan, membaca dan memahami.
8 Tidur (Lazy 8s).
Gerakan ini dapat mengaktifkan otak untuk
menyeberangi garis tengah penglihatan untuk
meningkatkan integrasi kedua sisi, memperbaiki penglihatan dengan dua mata bersamaan
(binocular) dan melihat lebih jauh ke samping
Sakelar Otak (Brain Buttons).
(perifer), meningkatkan koordinasi otot mata
Memijat sakelar otak (jaringan lunak di bawah
(terutama untuk menyusuri). Manfaat dalam hal
tulang selangka di kiri dan kanan tulang dada)
akademiknnya adalah dapat meningkatkan ke-
yang terletak persis di atas pembuluh darah ca-
mampuan mekanisme membaca (gerakan mata
rotid dapat memperbaiki sirkulasi oksigen. Di
ke kiri dan kanan), pengenalan simbol untuk
samping itu, menaruh tangan di pusar memban-
memahami arti tulisan (sandi) dan memecahkan-
gun kembali pusat gravitasional tubuh. Gerakan
nya, dan pengertian membaca (ingatan asosiatif
ini dapat mengaktifkan otak untuk mengirim
jangka panjang).
pesan dari bagian otak kanan ke sisi kiri tubuh
Efektivitas Brain Gym dalam
Meningkatkan Konsentrasi Belajar pada Anak
93
Menguap Berenergi.
gerakan-gerakan tersebut kita juga harus banyak
Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan per-
mengkonsumsi banyak air karena air sangat di-
sepsi sensoris dan fungsi motorik dari mata dan
perlukan sebagai pengantar energi listrik.
otot untuk bersuara dan mengunyah, mening-
Efektivitas Brain Gym dalam Meningkatkan
katkan oksigen agar berfungsi secara efisien dan
Konsentrasi Belajar Anak.
Brain Gym dapat membantu anak belajar mengkordinasikan gerakan mata, tangan dan tubuh
karena gerakan Brain Gym adalah suatu usaha
alternatif alami yang sehat untuk menghadapi
ketegangan dan tantangan pada diri sendiri dan
orang lain (Dennison & Dennison, 2006). Latihan
meregangkan atau meringankan otot (gabungan
dari ketiga dimensi), menyangkut konsentrasi,
pengertian, dan pemahaman akan mengaktifkan
dimensi muka-belakang yang bermanfaat, membantu kesiapan dan konsentrasi untuk menerima
hal baru, serta mengekspresikan apa yang sudah
diketahui. Gerakan dalam dimensi ini membantu
berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan
dan juga menolong mengingat apa yang telah
dipelajari. (Sari D P, 2006).
rileks, meningkatkan perhatian dan daya tangkap
penglihatan, gerakan otot wajah lebih rileks,
memperbaiki komunikasi lisan dan ekspresi,
meningkatkan kemampuan memilah informasi
penting dari yang tidak penting. Manfaat dalam
hal akademiknya, gerakan ini dapat meningkatkan kemampuan membaca dengan suara, menulis kreatif, berbicara di depan umum.
Pasang Telinga.
Gerakan ini bertujuan untuk menyeberangi
garis tengah pendengar (termasuk pengenalan,
perhatian, pembedaan, bunyi, persepsi, dan ingatan melalui pendengaran), mendengar suara
sendiri, ingatan jangka pendek, keterampilan
bicara dalam hati dan berpikir, kebugaran fisik
dan mental meningkat, mendengar dengan
kedua telinga bersama, mengaktifkan formatio
reticularis (menyaring suara yang mengganggu
dari yang perlu didengar). Manfaat dalam hal
akademik dari gerakan ini adalah meningkatkan pemahaman ketika mendengar, berbicara
di depan umum, menyanyi, memainkan alat
musik, berbicara dalam hati dan penyampaian
lisan, mengeja (memecahkan dan menciptakan
sandi).
Pada intinya, gerakan-gerakan tersebut
berfungsi untuk mengurangi kepekaan yang
berlebihan, agar otak lebih rileks selain itu juga
untuk menjaga keseimbangan dan koordinasi
tubuh serta yang paling penting adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam memperhatikan
sesuatu atau meningkatkan konsentrasi. Selain
Brain Gym dilakukan dengan cara menstimulasi gelombang otak melalui gerakangerakan ringan dengan permainan melalui
olah tangan dan kaki seperti gerakan Hooks-up
(kait rileks), gerakan silang, saklar otak, titik
positif, Lazy 8, menguap berenergi, pengisi
energi, luncuran gravitasi, tombol angkasa dan
pasang telinga dapat memberikan rangsangan
atau stimulus pada otak. Hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan belajar dan pemusatan
perhatian atau konsentrasi anak karena seluruh
bagian otak digunakan dalam proses belajar dan
berkonsentrasi. Berdasarkan teori-teori yang
telah dipaparkan diatas maka diasumsikan Brain
Gym efektif dalam meningkatkan konsentrasi
belajar pada anak. Uraian di atas dapat dijelaskan
melalui bagan berikut ini:
Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi
Vol. 12, No. 1, Mei 2010 : 88-99
94
Gambar 1. Bagan Pengaruh Brain Gym Dalam Meningkatan Konsentrasi Belajar
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode eksperimen yang mengukur
efektivitas intervensi Brain Gym dalam meningkatkan konsentrasi belajar pada anak. Pengambilan sampel menggunakan cluster sampel
dengan partisipan penelitian yang terdiri dari
siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri 1 No. 70
Serengan Surakarta kelas 4 yang berusia 10-11
tahun dan berjumlah 39 partisipan (20 sebagai
kelompok eksperimen dan 19 Subjek sebagai
kelompok kontrol). Teknik pengambilan sampel
dalam penelitian ini adalah random sampling.
Partisipan yang mendapatkan nomor undian
ganjil masuk dalam kelompok eksperimen, se-
dangkan partisipan yang mendapatkan nomor
undian genap masuk dalam kelompok kontrol.
Konsentrasi belajar diukur dengan menggunakan tes konsentrasi belajar yang disusun untuk penelitian ini mengacu pada teori dan melalui
profesional judgement dan diuji cobakan terlebih
dahulu. Alat ukur konsentrasi ini digunakan
sebagai pre-test dan post-test dalam penelitian
ini. Skor konsentrasi seorang anak adalah total
skor yang diperolehnya dari tes konsentrasi.
Alat pengumpul data yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan tes konsentrasi
belajar yang disusun dengan memodifikasi dari
penelitian yang sebelumnya pernah dilakukan
oleh Sari (2006).
Efektivitas Brain Gym dalam
Meningkatkan Konsentrasi Belajar pada Anak
Analisis data yang digunakan adalah
metode statistik non parametrik uji Mann-Whitney U-Tes, dengan alasan karena subjek yang
diambil untuk penelitian ini terbatas sehingga
tidak akan memenuhi uji normalitas jika digeneralisasikan dalam jumlah populasi yang
lebih besar. Data skoring yang akan dimasukkan
dalam perhitungan Mann-Whitney U-tes adalah
dengan menggunakan gainscore antara pre-test
dengan post-test masing-masing kelompok.
95
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebelum dilakukan analisis data penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji kesetaraan skor pre test pada kedua kelompok untuk
meyakinkan bahwa perubahan yang terjadi
benar-benar karena pemberian perlakuan, bukan
karena perbedaan skor subjek sejak awal. Skor
rerata yang telah disetarakan dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 1. Uji Homogenitas dengan Levene’s Test
Dari uji homogenitas levene’s test yang
menunjukkan bahwa kedua kelompok merupakan kelompok yang homogen dengan nilai
p=0.064 skor tersebut memiliki makna bahwa
kedua kelompok memiliki kondisi yang setara sebelum menerima perlakuan. Selanjutnya
adalah menguji hipotesis yang diajukan dengan
menggunakan analisis mann withney u test untuk
melihat tingkat perbedaan dari gainscore yang
didapat antara kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen sebelum dan sesudah perlakuan.
Hasil analisis menggunakan Mann-Whitney U-Tes diperoleh nilai U sebesar 80.000 , p =
0.002 (p < 0.05). Hasil tersebut menunjukkan ada
pengaruh yang sangat signifikan antara pelatihan
Brain Gym dalam meningkatkan konsentrasi belajar pada anak. Nilai rata-rata gainscore konsentrasi belajar subjek pada kelompok eksperimen
= 25.50 Nilai rata-rata gainscore konsentrasi
belajar subjek pada kelompok kontrol = 14.21
Nilai rata-rata ini dapat dinterpretasi bahwa
ada penurunan atau selisih rata-rata konsentrasi
belajar anak antara kedua kelompok. Perbedaan
tersebut signifikan karena mempunyai nilai taraf
signifikansi p = 0.002 (p < 0.05). Dapat diambil
kesimpulan bahwa Brain Gym efektif dalam
meningkatkan konsentrasi belajar, dan hipotesis
yang diajukan telah terbukti.
Efektivitas Brain Gym dalam meningkatkan konsentrasi belajar pada anak dapat dilihat
dari nilai U sebesar 80,000 ; p = 0.002 (p < 0.05).
Nilai rata-rata gainscore konsentrasi belajar pada
anak pada subjek kelompok eksperimen = 25,50
Nilai rata-rata gainscore konsentrasi belajar anak
pada subjek kelompok kontrol = 14.21. Untuk
mendukung analisis data di atas disusun tabel
distribusi frekuensi sebagai berikut:
Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi
Vol. 12, No. 1, Mei 2010 : 88-99
96
Tabel 2.
Tabel Distribusi Frekuensi Relatif Konsentrasi Belajar Kelompok
Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Berdasarkan pada tabel di atas diketahui pada kelompok eksperimen sebelum diberi perlakuan
rata-rata subjek memiliki konsentrasi belajar yang berada dalam kategori sedang yaitu sebesar 85%,
sedangkan setelah diberi perlakuan rata-rata subjek memiliki konsentrasi belajar yang berada dalam
kategori cukup tinggi yaitu sebesar 60%. Pada kelompok kontrol sebelumnya subjek memiliki rata-rata
konsentrasi belajar yang berada dalam kategori cukup tinggi yaitu sebesar 57.9%, karena kelompok
kontrol ini tidak diberi perlakuan maka terlihat terjadi penurunan konsentrasi belajar yaitu rata-rata
termasuk dalam kategori cukup tinggi sebesar 52.6%. Sedangkan untuk perbedaan mean empiric
pre-test dan post-test pada kelompok eksperimen dan control, sebagai berikut
Tabel 3. Tabel perbedaan Mean Empirik pre-test dan post-test
Dari tabel tersebut diketahui bahwa kelompok eksperimen sebelum diberi perlakuan memiliki
mean empirik sebesar 57.00 dan setelah diberi perlakuan mean empirik meningkat menjadi 73.25,
berarti rerata konsentrasi belajar pada kelompok eksperimen naik sebesar 16.25. Sedangkan pada
kelompok kontrol, tanpa diberi perlakuan sebelumnya, memiliki mean empirik sebesar 73.68 dan
ketika diukur kembali mean empirik naik menjadi sebesar 76.84. Ini berarti rerata konsentrasi belajar pada kelompok kontrol naik sebesar 3.59. Meskipun di antara kedua kelompok sama-sama naik
namun kenaikan kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol.
Efektivitas Brain Gym dalam
Meningkatkan Konsentrasi Belajar pada Anak
97
SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan
Brain Gym sangat efektif dalam meningkatkan
konsentrasi belajar pada anak. Dengan nilai U
sebesar 80.000 dengan p = 0.002 (p < 0.05).
Tingkat konsentrasi belajar subjek sebelum
diberi perlakuan pada kelompok eksperimen memiliki rerata yang termasuk dalam kategori sedang (ME = 57.00)), sedangkan pada kelompok
kontrol memiliki rerata yang termasuk dalam
kategori sedang (ME = 73.68) dan tingkat konsentrasi belajar subjek setelah diberi perlakuan
pada kelompok eksperimen menunjukkan kenaikan rerata (ME = 73.25) yang termasuk dalam
kategori sedang, sedangkan pada kelompok
kontrol yang tanpa diberi perlakuan menunjukkan penurunan rerata (ME = 76.84) tetapi masih
termasuk dalam kategori cukup tinggi.
Hasil penelitian ini mempunyai kelebihan
dan kelemahan, kelebihan dari penelitian ini
adalah hasil dari penelitian mampu membuktikan hipotesis yaitu Brain Gym efektif dalam
meningkatkan konsentrasi belajar pada anak. Sedangkan kelemahan dari penelitian ini adalah :
a) adanya gerakan dan waktu pemberian Brain
Gym yang belum distandarisasikan sehingga
kurang maksimal dalam pemberian perlakuan.
b) Konsentrasi didukung oleh kondisi fisik atau
kondisi biologis seseorang yang masih sangat
berpengaruh pada kondisi psikologis orang
tersebut, sehingga kita tidak dapat menentukan
kondisi yang baik saat pelatihan pada masingmasing subjek. c) Dalam pelaksanaan pelatihan
Brain Gym yang dilakukan di halaman sekolah
mendapat gangguan siswa kelas lain seperti
siswa kelas 6 yang memang sudah berada dalam
masa bebas di sekolah sehingga subjek kurang
dapat berkonsentrasi dan maksimal melakukan
pelatihan. d) Penyampaian dan pelatihan kurang
dapat dilakukan secara maksimal, karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki peneliti dan
trainer. e) Belum ada letter of concern (surat
persetujuan dari pihak partisipan karena dikhawatirkan akan adanya dampak negatif dari perlakuan). f) Perandoman subjek dalam penelitian
ini dengan undian. Seharusnya penempatan subjek dalam kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol secara berpasangan (matched pair) sehingga hasil skor akhir benar-benar dapat dilihat
perbedaaannya atau dampak dari perlakuan.
DAFTAR RUJUKAN
Ayinosa. (2009). Brain Gym (Senam Otak). Diperoleh dari http://book.store.co.id/2009. Diakses
tanggal 15 Januari 2010.
Beighle, A, dkk. (2008). Children’s Physical Activity During Recess and Outside of School. The
Journal of School Health; Dec 2008; 76, 10; Academic Research Library pg. 516.
Dennison, Paul E. (2002). Buku Panduan Lengkap Brain Gym. Jakarta : Gramedia.
Fanny, R. (2009). Brain Gym Tingkatkan Potensi Seseorang. Diperoleh dari http://kiatsehat.com/2009.
Diakses tanggal 15 Januari 2010.
Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi
Vol. 12, No. 1, Mei 2010 : 88-99
98
Hartanto. (1995). Hubungan antara kekhusyu”an zikir dengan konsentrasi Belajar”. Skripsi (Tidak
diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Helmi, A.F. (1995). Strategi Adaptasi yang Efektif dalam Situasi Kepadatan sosial. Tesis (Tidak
diterbitkan). Yogyakarta : Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
Matlin, M.W. (1998). Cognition (4 th edition). Orlando : Harcourt Brace & Company.
Muhammad. (2008). Melatih Konsentrasi Anak. Diperoleh dari http://www.psikologizone.com/. Di
akses tanggal 10 Mei 2010.
Nihayah, Z. (2002). Perkembangan Kognitif Anak. Buletin Tazkiyah, volume 2, nomor 1.
Prihastuti. (2009). Pengaruh Brain Gym terhadap Peningkatan kecakapan Berhitung siswa Sekolah
Dasar. Diperoleh dari http:/Ipm.uny.ac.id/downloadcenter/CP_FEBRUARI_2009.pdf.
Diakses tanggal 11 Maret 2010.
Rizki, D. (2008). Usaha Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Dengan Brain Gym Siswa
Tingkat SMP Konsep Operasi Hitung Bentuk Aljabar. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Surakarta:
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sari, D.P. (2006). Efektivitas Pelatihan (Focus your Attention) untuk Meningkatkan Konsentrasi
pada Anak dengan Simtom-simtom gangguan Pemusatan Perhatian atau Hiperaktivitas
(GPP/H). Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Skripsi Fakultas Psikologi Universitas
Gadjah Mada.
Fly UP