...

kondisi optimal untuk penentuan radioaktivitas serangga

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

kondisi optimal untuk penentuan radioaktivitas serangga
Risalah Pel1emuanIlmiah Penelitian dan Pengembangan ,'ItJlikasiIsotop dan Radias~2001
KONDISI OPTIMAL UNTUK PENENTUAN RADIOAKTIVITAS
SERANGGA HAMA BERTANDA P-32 DENGAN MENGGUNAKAN
PENCACAH SINTILASI CAIR
Yarianto So*),Budi Susilo*) daDSinggih Sutrisno**)
*) Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta
**) Puslitbang Teknologi lsotop dan Radiasi, BATAN, Jakarta
ABSTRAK
KONDISI
OPTIMAL
BERTANDA
P-32 DENGAN
UNTUK
PENENTUAN
RADIOAKTIVITAS
MENGGUNAKAN
PENCACAH
SINTILASI
CAIR.
SERANGGA
HAMA
Teknik perunut sangat
diperlukml dalmnprogrmnpengendalimlhamatanalnanterutamauntuk menentukanarabdan penyebarannya.
Isotopradioaktif P-32 dapatdipakai sebagaipenandaserangga.Pencacdhsintilasi cair dapatdigunakanuntuk
mengukur aktivitas serallgga harnabertandaP-32 secaraefektif. Penentuanoptimasi larutan pengelip atau
sintilator dilakukan dengan sermlgkaianpercobaanberbagaikomposisi pelarut, pengelip primer PPO dan
pengelipsekunderPOPOP.Berdasarkanbasil penelitimltelah diperolehkomposisipellgelipyang mempunyai
efisiensipencacahan
paling tinggi, yaitu pelarutP-XylenedenganpengelipprimerPPO 5 gram/1sertapengelip
sekunderPOPOP0,5gram/1.
ABSTRACT
THE OPTIMUM CONDmON FOR DETERMINATION OF RADIOACTMTY
OF PEST
INSECTS LABELLED WITH P-32 BY USING LIQUID SCINTILLATION COUNTER. Tracer
technique is neededin the control programeof pest insectsespeciallyfor determining of its direction and
dispersal.Radioisotopesof P-32 is frequently used for labeling of pest insects.Liquid Scintillation Counter
can be used effectively for measuringradioactivity of pest insectslabelled by P-32. Optilnization of liquid
compositions that consist of solvents,prilnary scintillation PPO and secondaryscintillation POPOP were
determinedby examilJationof their compositions. Based on the researchresult obtained,composition of
scintillator which had the highest efficiency, consistsofF-Xylene solvent,primary scintillation PPO (5 g/l)
and secondaryscultillationPOPOP(D,Sg/l).
konvensional,antara lain ialah sistem deteksi untuk
sampeldenganjurnlah yang besar lebih cepat, tidak
mudahhilang terbawaoleh buill sisik yang mudahlepas
Penandaan(labeling)seranggallama denganzat
dari tubuh serangga, daD prosedur kerja lebih
radioaktif dapat digunakan untuk mempelajari pola
sederllana.
penyebaran serangga hama dengan teknik perunut
Isotop 32pyang merupakanpemancarf3"mumi
dalam rangka pencegahan dan pemberantasannya.
mempunyai
beberapakelebihan,antara lain tenaganya
Untuk mempelajari gerakaIl serang~ di la~g
lebih
besar
(Emax=
1.71 MeV) sehingga akan
sejumlah radioisotop tertentu seperti 2p, 35S, 4Na,
60CO,dan 1311dapatdicampur denganmedia makanan memudahkanpencacahan.Isotop 32pmempunyaiumur
paro yang relatif pendek,yaitu 14,22 hari yang sangat
atau melalui kontak dengan tubuh (pengolesan),dan
menguntungkandari segi proteksi lingkungan yang
penyuntikan. Teknik perunut radioisotop tentu saja
digunakan dalam skala lapangan. Elirninasi 32p dari
menuntutsistemdeteksiyang dapatdiandalkan,praktis
tubuh harna seranggatidak hanya disebabkan oleh
penggunaalUlyadan berefisiensitinggi. Disamping itu
peluruhan
itu sendiri tetapi juga disebabkan oleh
masalah keselamatankerja serta penanganandampak
eliminasi
secara
fisiologis. Bagian-bagianpokok dari
lingkungan yang ditimbulkan juga menjadi prioritas
utama. Dalam skala lapangan yang menggunakan tubuhhamaseranggadapatberkurangsecarafisiologis
seperti terlepasnya sisik, kutikula, dan lain lain
jumlah seranggayang relatif banyak dituntut sistem
sehingga
actasejumlah32pyang turut hilang.
kerja yang cepatdengaIlakurasitinggi, sehingga sistem
Teknik
penandaan serangga hama dengan
deteksiyang tepat sangatdiperlukan.
radioisotop disamping untuk mempelajari gerakan
Sistem pencacahsintilasi cair dengan medimn
serangga halna di lapang sering digunakan untuk
sintilator yang terdiri dari pelarut, pengelipprimer dan
mempelajari kepadatan populasi, pola pemencaran,
pengelip sekunder dengan komposisi yang tepat
migrasi,danhubunganparasitdaDpredator.
diharapkaIl dapat menjawab pennasalallantersebutdi
Teknik pencacallansintilasi, sebagaimana
semua
atas. Dalam percobaan ini akan dioptimasikan
metode
yang
digunakan
untuk
mengukur
komposisi pengelip untuk mendapatkanpencacahan
keradioaktivitasan, berdasar pacta interaksi radiasi
yang berefisiensitinggi serta basil pencacahanyang
nuklir denganmateri. Dalam pencacahini digunakan
stabil.
bahan
sintilator yaitu ballaDyang akan memancarkan
Penggunaanisotop radioaktif sebagai perunut
kelipan (foton)jika berinteraksidenganpartikel radiasi.
mempunyai
keunggulan
dibandingkan cara
PENDAHULUAN
361
Risalah Pertemuan Ilmiah Penelilian dan Pengembangan Aplikasi Isolop dan Radiasi,2001
Foton-foton ini kemudian oleh fotokatoda diubah
menjadi elektron-elektron.PenggandaaIl
elektrondalam
multiplier akan manghasilkan pulsa listrik (1,2).
BROSERdan KALLMAN dalam SCHRAM (7) pacta
tahun 1947 memperkenaikan penggunaaIl pengelip
organik untuk mendeteksielektron cepat. Pelarut ini
bukan llaIlya berfungsi sebagaipelarutpengelip,naInun
juga berfungsi sebagai medium perpindahantenaga
yang baik.
Sintilator cair terdiri dari pelarut, pengelip
primer dan pengelipsekunder.Ketiga bal13l1campuran
tersebutharus memenuhi syarat tertentu, yaitu dapat
menangkap tenaga zarah f3", dapat secara efisien
merubah tenaga tersebutmenjadi foton (kelipan), dan
foton yang dihasilkan dapat dideteksi mengggunakan
tabungpelipatgandafoton.
Zarnh f3" yang dipancarkanakan menumbuk
molekul pelarutdan menyerahkansebagaiantenaganya
pacta molekul tersebut. Tenaga ini kemudian
dipertukarkan diantara sesarna molekul pelarut.
Penyerapan tenaga oleh suatu molekul akan
menyebabkanmolekul tersebut tereksitasi. Molekul
tereksitasi ini akan kembali ke keadaandasardengan
memancarkan foton (kelipan). Pengelip merupakan
molekul organik kompleks yang dapat menangkap
tenaga yang dilepaskanoleh molekul-molekulpelarut.
Pengelip yang tereksitasi mempunyaikecenderungan
yang sangat besar untuk kembali ke keadaandasar
sambil memancarkan foton (kelipan). Beberapa
pengelip memancarkan cahaya dengan panjang
gelombangyang terlalu pendekuntuk dapat dideteksi
dengan tabung pelipatgaIlda foton. Oleh karena itu
perlu ditambahkaIl pengelip sekunder sebagai
penggeserpanjang gelombang sel1inggafoton yang
dihasilkan sesuai dengan kemaInpuan tabung
pelipatgaIldafoton.
Efisiensi pencacahandapat berkurang karena
adanyagejala pemadaman(quenching).Pemadaman
ini
dapatterjadi karenaadanyaoksigenataukotorandalam
botol kering (dry via/) sebagaiwadall pelarut sintilasi.
Efek pernadaIllanpactaspektrum f3"adalah pergeseran
spektrurni1uorisensike arabtenagayang lebih rendah.
Semakin besar pernadamanyang terjadi spektrum
i1uorisensiakan semakin bergeserke kiri atauke ara1l
tenagayang lebih rendall.
Adanya oksigen yang terlarut dapat juga
memadaInkaIlmolekul tereksitasipactaberbagaitingkat
proses sintilasi. Oksigen dapat memadamkanpelarut
tereksitasi (selanjuulya dinotasikaIl X*). Pernadarnan
ini dapat dikurangi dengan menambah konsentrasi
pengelip primer atau dengan mengurangikonsentrasi
O2 yangterlarut.
Dr. Donald Horrocks pacta tallun 1970 telall
menemukanteknik H# Number (selaIljutllya disebut
Bilangan H#) untuk mengukur besar pemadarnan.
Jumlah pemadamandalam sampel dapat ditentukan
denganmenganaiisisposisi ComptonEdge(CE). Harga
bilangan H# adalall perbedaanantara titik spektrurn
Compton dari standar yang tidak mengandung
pernadam(titik kalibrasi dan tersimpandalarnmemori)
dengantitik spektrumComptondaTisarnpelyang tidak
diketahuijurnlah zat pernadamnya.
Jurnlahpernadaman
362
yang terjadi ditentukandenganmenganalisispergeseran
spektrumyang diakibatkan oleh pemadaman.Dalam
bentukpersamaan,
besarbilanganH# dapatdituliskan:
H# = CEuq-CEq
dengan
c~
CEq
Comptonedge-unquenched
Comptonedge-quenched
Efisiensi pencacahanadalah fungsi dati bilangan H#,
dan secaramatematisdapatdituliskan:
In(E) = AI + A2(H#) + A3(H#f + ~(H#)3 + AS(H#)4 +
A.,(H#)S+ A7(H#)6 +Ag(H#)7
Konstanta-kontantaAI, A2, A3, ~, As, ~ A7,dan As
hams dicari terlebih dahulu menggunakan metode
Curve Smoothing by Polynomial Least ,S'quare.
Misalnya dari percobaanada n pasangandata bilangall
H# dan efisiensipencacahan(1::),maka secaramatriks
hubungantersebutdapatdituliskan sebagaiberikut:
.IHm I
I H;"+1
A1
A2
L 1-\2m Am+1
~LEi
= ~\LEil-\
L LEiif'
dengaIl
n
Hi
LEi
m
jumlah pasangandata
BilanganH# dataike i
Ln (efisiensipencacahan
datake-i)
derajatpolinomial
Penyelesaianmatriks di alas dapat dilakukan den~
metodeeliminasiGauss.
Pencacahsintilasi cair (LSC) tidak dipergunakan
untukmencacahsampelbernpabiota hidup. Agar hama
seranggadapatdicacah dalam keadaan hidup dengan
pertimban~ untuk menghemattenaga atau efisiensi
kerja perlu modifikasi tempat cacall botol kering (dry
via/). MenurutLAMBREMONT dalam NASROH dan
SUTRISNO (6) telah memodifikasi botol pencacah
sehinggasampeltidak kontak langsungdenganlarutan
medium. Hama seranggadiletakkan di dalam insert
tube (tabung dalam) terisolasi yang berisi udara,
ruan~ antara insert tube dan vial luar diisi den~
larutan medium. Hama seranggadiletakkan di dalam
insert tube yang berisi udara. agar vial pencacahini
dapat dipakai secara terns menerns tanpa
terkontaminasioleh sampelbertanda,lnakahams dibuat
sampletubeyang berfungsi sebagaiwadah (container)
smnpelharnaseranggabertanda.Untuk lebih jelasnya,
bagan botol kering tersebut dapat dilihat pada
Gambar1.
Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan
kondisi pencacahanllama seranggabertandaP-32 yang
praktis atau relatif mudah dilaksanakan,berefisiensi
tinggi sertaakurasipencacahanyangtinggi.
Risalah Pertemuan
Sample Tube
(with
sample)
Ilmiah Peneli/ian
dan Pengembangan
,1IJlikaS/' Is%p
dan Radias~
2(X) 1
Untuk kalibrasi pencacah Beckman LS 180,
dipergunakansumberstandar unquenched3Zp.Bahan
yang digunakan dalaIn penelitian ini adalah larntan
KHz3ZPO4,
benzene(C~) daTiMerck, toluene (C7Hs)
dari Merck, P-Xylene (CgH1o)dari Merck, PPO
(C1sH11NO)
dari Merck, POPOP (Cz4HI6NzOz)
dari
Merck, air suling dan kertas saTing.Sebelummemulai
pengukuran atau pencacahan,terlebih dahulu hams
dibuat prograIn instruksi sesuai dengan spesifikasi
pencacahan.
Percobaan optimasi komposisi sintilator cair..
Dry vial berisi pelarut (rnasing-rnasing adalah benzene,
toluene dan P-Xylene) dan pengelip primer dengan
konsentrasi 0, 1, 2, 3, ...14 gram/liter. Pada awal
percobaan dilakukan pengukuran cacall latarnya (=B).
Setiap dry vial yaitu di dalmD insert tube atau tabung
pelnisah ditarnbahkan dengan larutan KH232pO4,
kemudian dicacall (=G).
Masing-lnasing dihitung efisiensi pencacahaiU1ya,
,\;:
YaItu
S
6"= -xlOO%
A
Botol.kering {dry via/)Y'ang telah dimodifikasi
G-B
A
xIOO%
dengan
s
S
BAHAN DAN METODE
A
G
Pelaksanaan penelitian
ini dilakukan
di
Laboratoriwn Pengendalian Hama, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, BAT AN,
Pasar Jum'at Jakarta. Dalam penelitian ini digunakan
tiga dosis radioaktivitas KH232PO4yaitu 155; 1110; dan
2220 dpm. sebagai model pengganti serangga hama
bertanda KH232PO4 diIetakkan di dalam sampe tube
YaIlg kemudian dimasukkan di dalam insert .tube
(tabung dalam) terisolasi yang berisi udarn, ruangan
antara insert tube dan vial luar diisi dengan larutan
medium. Larutan P-32 sebagai model serangga llama
YaIlg diletakkan di dalaIU insert tube yang berisi udara.
Agar vial pencacall ini dapat dipakai secara terns
menerns tanpa terkontaminasi oleh sampel bertanda,
maka harus dibuat sample tube yang berfungsi sebagai
wadah (container) sarnpel hama serangga bertanda
(lihat Gambar 1).
Instruluen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pencacall sintilasi cair Backman LS 1801.
Pencacah sintilasi cair Beckman LS 1801 mencatat
besaran bilangan H# secara otomatis setiap kali
pencacahan. Untuk
mengetahui aktivitas
yang
sesunggulmya dati suatu cuplikan maka terlebih dahulu
harus dibuat kalibrasi efisiensi pencacahan terhadap
bilangan H# menggunakan larutan standar yang
jenisnya sanm dengan isotop radioaktif dalam cuplikan
yang akan diukur. Selain itu dry vial yang dipakai harus
mempunyai kesamaan jenis dan komposisi sintilator,
jenis dan SUSunaIloptik dari d,y vial.
B
I!~:
=
Efisiensipencacahan,
%
Laju cacahneto,cpm
Aktivitas sumberstandar,dpm
Laju cacahgross,cpm
Laju cacahlatar,cpm
Komposisisintilatoryang baik dari percobaandi
atas kemudian ditambah pengelip sekunder POPOP
dengan konsentrasi 0,1; 0,2; ...0,6
grani/liter.
Selanjutnya ditentukan efisiensi pencacahan seperti
prosedur di atas. Kalibrasi alat pencacah dilakukan
denganstandarunquenched32p.
Percobaan kalibrasi
efisiensi pencacahan
terhadap pemadaman. Dibuat sejumlah dry vial
dengan komposisi sintilator sesuai dengan basil yang
paling optimum dari percobaan sebelumnya. Sebagian
besar dari dry vial tersebut ditambahkan zat pemadam
ke dalam sampel tube-nya. Zat pemadam ini dapat
berupa hama serangga yang tidak ditandai isotop
radioaktif untuk memberikan efek pemadaman. Laju
cacah latarnya diukur, kemudian masing-masing
ditambahkan larutan standar KH232PO4dengan aktivitas
6.10-3 ~Ci (13.320 dpm) dan dicacall iagi, kemudian
dihitung efisiensinya. Dalam pencacahan dicatat pula
nilai-nilai Bilangan H# setiap kali pengukuran.
Percobaan kestabilan pencacahan. Dilakukan
pencacahan seperti prosedur percobaan kalibrasi
efisiensi pencacahan terhadap pemadaman tersebut
diatas, yang memakai komposisi sintilator optimum,
dengan penambahan isotop radioaktif standar KH232PO4
dengan aktivitas 155; 1110; dan 2220 dpm.
363
u...~' --kesalaltan.
Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Isalop dan Radiasi. 2{XJl
Kestabilan pencacahan dihitung berdasarkan
simpangandari beberapakali pengukuran.
dengan,
8 : Simpanganpengukuran
A : Aktivitas larutanstandar,dpm
Ai : Aktivitas pengukuranke-i
n : Jumlahpen~
Ralatnisbi = 8/A (%)
Uji statistik dilakukan dengan Analisis Varian
(ANOV A) dan Uji Beda Nyata/BNT (Honesly
SignificantDifferent).
BASIL DAN PEMBAHASAN
Mula-mula dilakukan percobaan optimasi
konsentrasi pengelip primer PPO dan jenis pelarut,
denganbasil sepertipactaTabel 1.
Efisiensi Pencacahan(%) BerdasarkanJenis
Pelamt dan Konsentrasi Pengelip Primer
Tabel
(PPO)
dan P-Xylene temyata P-Xylene menghasilkan efisiensi
pencacahan yang tidak berbeda nyata (P > 5%).
Pengaruh terbadap efisiensi pencacahan ini nampak
jelas setelah ditambah dengan pengelip primer PPO.
Pelamt memegang peranan penting sebagai media
perpindahan tenaga (trasfer energi) dari tenaga kinetik
partikel ~- ke tenaga eksitasi pengelip Y*. Probabilitas
pembentukan excimer (dinotasikan ID*), yaitu basil
tumbukan molekul tereksitasi CX*) dengan molekul tak
tereksitasi CX), untuk pelamt P-Xylene (d=O,14) lebih
kecil daripada Toluene (d=O,37) dan Benzene (d=O,57).
.Jumlah excimer ini akan mempengaruhi efisiensi
pencacallan karena akan mengurangi Colon pendaran
yang dibasilkan. Penambahan pengelip sekunder
POPOP dengan konsentrasi tertentu pacta pelamt PXylene dan pengelip primer PPO 5 gr/l akan
meningkatkan efisiensi. Efisiensi pencacahan sebagai
fungsi konsentrasi POPOP dapat dilihat pactaTabel 2.
Kalibrasi
Efisiensi
Pencacahan
terhadap
Bilangan H#. Adanya pemadaman (quenching) ,yang
jumlahnya berbeda untuk setiap dry vial, maka wltuk
menentukan efisiensi pencacahan llams dibuat kalibrnsi
efisiensi pencacahansellingga data yang diberikan lebih
akurat. Dari deret standar yang dibuat, diukur efisiensi
pencacahandan Bilangan H#-nya dan kemudian dibuat
kalibrasi efisiensi pencacahan.
Tabel2. Pengaruh Penambahan POPOP
efisiensiPencacahan
terhadap
(%)un~p~l~t
Konsentrasi E:fisiensip~~c.~~ahan
PPO (g/l)
Benzene Toluene P-Xylene
5
646,
75,1
76,5
781,
80,3
81,1
6
7
81,1
811
83,3
83,3
84,3
84,3
8
9
81,0
80,9
80,4
83,2
82,8
82,5
82,3
82,0
81,9
81,5
84,2
84,0
83,8
0
2
3
4
10
11
12
13
14
.
80,1
80.0
79,3
78,8
5%
BNT
Pelarut 16,3
lnteraksi tidak nyata
KK
"
"
65,6
76,6
791,
81,4
83,0
83,3
66,2
76,8
80,0
82,8
83,9
84,4
83,7
83,6
833
,
83,0
1%
tidak nyata
tidak nyata
In(&)= 4,46021+ 2,121201.10-3
.~#) -3,612768.10.5.
(H#Y +2,720158.10.7.
(H#)
-7,95557.10-1°.(H#)4-7,01331.10.13.
(H#)s+
8,370557.10-15.
(H#)6
-1,220865.10.17.(H#)7
12,43%
Efisiensi yang terbesardaTi basil percobaanini
ialah kombmasi pelarut P xylene dan konsentrasi
pengelip primer PPO sebesar5 gram/liter. Efisiensi
yang dihasilkan adalah (84,42 :t 0,541) % (Tabel 1).
Diantaraketiga macampelarut,yaitu Benzene,Toluene
364
Data penelitian kalibrasi efisiensi pencacahan
terhadap Bilangan H# dapat dilihat pacta Tabel 3.
Berdasarkandata tesebut dicari hubungan efisiensi
pencacahandan Bilangan H# dengan menggunakan
metode curve smoothing by polynomial least square
denganbasilsebagaiberikut:
dengan:
E
H#
efisiensipencacahan
BilanganH#
RisalahPeltemuan Ilmiah Penelitian dan Pengembangan )oJlikasi Isotop dan Radias~ 200 t
Tabel3. Efisiensi pencacahansebagaifungsi Bilangan
KESIMPULAN
H#
Bilangan
H#
51
78
90
109
126
170
201
258
271
292
301
Efisiensi Pencacahan
(%)
90,48
90,44
90,41
90,35
90,26
90,06
89,81
88,98
88,6
88,07
87,66
Percobaan Stabilitas Pencacahan. Stabilitas
pengukuran (setelah dikalibrasi) untuk pencacah
sintilasi call dapat dilihat pada Tabel 4. Aktivitas
larutanstandaryang dipakaiadalah:
a. 155 dpm
b. 1110dpm
c. 2220 dpm
Tabel4. Stabilitaspengukuranpencacallsintilasi cair
Berdasarkanbasil penelitian. dapat disimpulkan
bahwa efisiensipencacahansintilasi yang paling tinggi
diperoleh pacta komposisi pelarut P-Xylene dengan
pengelipprimer PPO5 gram/I sertapengelip sekunder
POPOP0,5 gram/l. Tidak actaperbedaanyang nyata
pengaruhjells pelarut benzene,toluene dan p. xylene
terlmdapefisiensipencacallan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Birks, J.B., "Scintillation Counter", PergamonPress
Lill, London,1954.,25-30p.
2. Kallman, FM, "The Basic ProcessingOccuring in
the Liquid Scintillation", North Western
University, 1973,56-80p.
3. Schram, E., Lombaert, R., Organic Scintillation
Detectors Elsevier Publishing Co., New York,
120-126p.
4. Thing, P. "Principles and Perfonnance of the
Beckman Nuclear Education System for Alfa,
Beta and GammaSystem",Beckman Instmmen
Inc., California1971,250-300p.
5.
, "LS 1801, 3801, 5801 Series Liquid
Scintillation
System", Beckman Operating
Manual, California, 1985,556-60 p.
6. Nasroh, A., and Sutrisno S., "Some Aspects of
Brown Platltllopper-Rice Plant Relationships
Development of Isotop Techniques", PAIRBAT AN, Jakarta,1985.
7. SchramE, 1963,"Organic Scintillation Detectors",
ElsevierPublishingCo.
8. Steel, R.G.D, Tome, I.H., "Principles and
Procedures of statistics a Biometrical
Approach",Mc GrawHill InternationalEditions,
1981(336-372).
Stabilitas pencacahan yang diidentifikasikan
dengansimpangandati beberapakali pengukuranrelatif
stabil. Karenasering dituntut untuk pengukurandengan
aktivitas SaIlgatkecil, lnaka dituntut sistempengukuran
dengan stabilitas yang tinggi untuk menghindari
kesaialIan.
365
Risalah Perlemuan
Ilmiah Penelilian
dan Pengembangan
AplikaSio IsolOp dan RadiaSl; ZOO I
DISKUSI
RIJANTI
S.
1. Apakah dengall iradiasi SeraIlggabeberapalnacam
dosis tersebut tidak mempengaru11imorfologis/
phsychologisdari SeraIlggatersebut?
2. Radiasidilakukanpadaraseapa?
SINGGIH SUTRISNO
1. Dosis radiasi mempengaruhimorfologis (fisiologi)
bila dosis yang diberikan relatif tinggi, untuk dosis
mandulkemsakanitu/relatif rendahkurangdari 5%.
2. Radiasidilakukanpactastadiumpupaumur 9 hari.
A. NASROH K.
Dry vial lebih mudah dapat dibuat tanpa larutan
sintilator yang lnallal, karena sebagai pengganti
digtnlakan air yang diukur adalall kerlipan sebagai
akibat proses chenentor bila kita buat mengenai
H2O. PertanyaanSc'lya
adalah bagaimanahila botol
kering disimpan, apakah larutan sintilation tidak
msak ? Berapalamaketahanancar tersebut?
366
2. Karena sebelummengenaicar sintilator beta 11aruS
melalui "tunner tube" bahan inner tube apa yang
paling baik ? Imler tube akan mengurangi
banyaknya(intensitas)betayang terukur?
3. Disimpulkan ballwa dianjurkan penggunaandosis
90 Grey,akan tetapipadaFl kemandulannyahanya
91%. Mengapatidak dianjurkan penggunaandosis
lebih tinggi (110 Gray) yang menghasilkan
kemandulansarnpai100%padaF I-nya.
SINGGIHSUTRISNO
1. Belum actapenelitian apakaJl sintilator dapat rusak
dalam penyimpanan, namun bila disimpan pacta
temperauif
refrigator
akan
memperlambat
kerusakan.
2. Bahan inner tube yang baik belum karni teliti namun
dalam penelitian ini dignakan Flint glass.
3. Dosis 90 Gray dianjllfkan untuk pernandulan
serangga sebab pertimbangan utama tingkat
kemandulan pactaP & F 1 sekitar 90% dan nilai daya
saing yang relatiftinggi 0,57 PactaP untuk dosis 110
Gray nilai daya sang kawin lebih rendah 0,53 dan
0,4 rnasing-masing pactaP dan Fl.
Fly UP