...

persepsi remaja terhadap pelayanan kesehatan peduli remaja di

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

persepsi remaja terhadap pelayanan kesehatan peduli remaja di
TESIS
PERSEPSI REMAJA TERHADAP PELAYANAN
KESEHATAN PEDULI REMAJA DI WILAYAH
PUSKESMAS KUTA SELATAN
RINI WINANGSIH
NIM 1392161003
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
PERSEPSI REMAJA TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN PEDULI
REMAJA DI WILAYAH PUSKESMAS KUTA SELATAN
Tesis Untuk Memperoleh Gelar Magister
Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Program Pasca Sarjana Universitas Udayana
RINI WINANGSIH
NIM 1392161003
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
Lembar Pengesahan
TESIS INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL 27 April 2015
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Dr. dr Dyah Pradnyaparamita Duarsa, Msi
dr. Desak Putu Yuli Kurniati, MKM
NIP 195807041987032001
NIP 198307232008012007
Mengetahui
Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Mayarakat
Direktur
Program Pascasarjana
Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Universitas Udayana
Prof.dr. D.N Wirawan, MPH
Prof. Dr. dr. A.A.Raka Sudewi,Sp.S (K)
NIP 194810101977021001
NIP 195902151985102001
Tesis Ini Telah Di Uji Pada
Tanggal 27 April 2015
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana
No 1230/ UN14.4/ HK/2015 Tanggal 27 April 2015
Ketua
: Dr. Dyah Pradnyaparamita Duarsa, Msi.
Anggota
:
1. dr. Desak Putu Yuli Kurniati, M.KM.
2. Prof. DR. dr. Mangku Karmaya, M.Repro, PA (K)
3. Dr. Luh Seriani, SKM, M.Kes.
4. dr. Ni Wayan Arya Utami, M. App. Bsc, PhD.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puja dan puji syukur
kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan
anugerah-Nya tesis ini dapat diselesaikan.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada Dr.dr Dyah Pradnyaparamita Duarsa, Msi,
pembimbing I yang dengan penuh perhatian telah memberikan semangat,
bimbingan dan saran selama penulis menempuh pendidikan magister khususnya
dalam penyelesaian tesis ini. Terima kasih sebesar-besarnya kepada dr. Desak
Putu Yuli Kurniati, MKM, Pembimbing II yang selalu sabar dan penuh perhatian
memberikan semangat, bimbingan dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan
tesis ini.
Ucapan yang sama ditujukan juga kepada Prof.dr. Dewa Nyoman
Wirawan, MPH, ketua program studi magister ilmu kesehatan masyarakat dan
pembimbing akademik penulis yang dengan penuh perhatian memberikan
semangat, bimbingan serta saran selama penulis menempuh pendidikan magister
ini. Ucapan terima kasih ini juga ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana,
Prof.Dr.dr. I ketut Suastika, SP.PD-KEMD atas kesempatan dan fasilitas yang
diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan program
magister di Universitas Udayana. Ucapan terima kasih ini juga ditujukan kepada
Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana yang dijabat oleh
Prof.Dr.dr.A.A.Raka Sudewi, SPS(K) atas kesempatan yang diberikan kepada
penulis untuk menjadi mahasiswa Program Magister Universitas Udayana. Tidak
lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof.DR.dr. I Putu Astawa,
SPOT(K)M.Kes, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana atas ijin yang
diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan program magister. Pada
Kesempatan ini, penulis juga mengucapkan rasa terima kasih kepada para penguji
tesis yaitu Prof.DR.dr.Mangku karmaya, M. Repro, PA(K). DR. Luh Seriani,
SKM .M.Kes dan DR. dr Arya Utami , yang telah memberikan saran, masukan,
sanggahan dan koreksi sehingga tesis ini dapat terselesaikan.
Ucapan terima kasih juga peneliti ucapkan kepada kepala Puskesmas Kuta
Selatan, Kepala Sekolah SMPN 3 Kuta Selatan dan Kepala Sekolah SMP
Dwijendara yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melaksanakan
penelitian ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada wakil kepala sekolah
SMP Dwijendra, Guru BK SMPN 3 Kuta Selatan, siswa OSIS SMPN 3 Kuta
Selatan dan siswa OSIS SMP Dwijendra yang telah bersedia menjadi informan
dan membantu penulis dalam menyelesaikan teris ini.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
tulus kepada para guru dan dosen yang telah membimbing penulis dari sekolah
dasar hingga perguruan tinggi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
Ayah dan Bunda yang selalu memberikan motivasi, Do’a dan memberikan kasih
sayangnya hingga saat ini. Ahkirnya penulis sampaikan ucapan terima kasih
kepada Suami tercinta H.Nur Sodiq, SH, yang selalu memberikan dukungan
moral dan materiil untuk menyelesaikan studi ini, serta anak-anakku tersayang
Rafael A.A.I dan Abiel A.S yang selalu menjadi penyemangat dalam setiap
langkahhidup penulis.
Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat
serta hidayah-Nya kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan dan
penyelesaian tesis ini, serta kepada penulis sekeluarga.
Peneliti
ABSTRAK
PERSEPSI REMAJA TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN PEDULI
REMAJA DI WILAYAH PUSKESMAS KUTA SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi remaja tentang
keberadaan, faktor pendukung dan penghamba, bentuk kegiatan, materi dan
penyampaian PKPR, serta harapan remaja terhadap program PKPR.
Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi. Pengumpulan data dengan focus group discussion (FGD) dan
wawancara mendalam. FGD dilakukan sebanyak empat kali, pada 27 siswa yang
tergabung dalam organisasi siswa intra sekolah (OSIS) . Wawancara mendalam
dilaksanakan pada empat informan yaitu guru bimbingan konseling (BK), wakil
kepala sekolah, konselor sebaya dan pemegang program PKPR.
Penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi dan harapan remaja terhadap
program PKPR ini positif, akan tetapi ada beberapa faktor pendukung dan
penghambat yang mempengaruhi kunjungan ke puskesmas rendah dan kurang
maksimalnya pemanfaatan PKPR. Menurut persepsi remaja, yang menjadi faktor
pendukung diantaranya dukungan sekolah, materi dan penyampaian dalam
penyuluhan serta peran konselor sebaya. Untuk faktor penghambatnya yaitu tidak
adanya ruang konseling, minimnya pengetahuan dan sosisialisasi tentang PKPR
dan kurang lengkapnya sarana dan prasarana kegiatan PKPR, minimnya tenaga
kesehatan, kurangnya dana serta sikap petugas kesehatan yang kurang ramah.
Siswa beranggapan keberadaan PKPR bermanfaat bagi siswa dan berharap
tetap berlanjut serta lebih sering lagi diadakan sosialisasi. Bentuk kegiatannya
menarik akan tetapi perlu di adakan inovasi. Materi dan penyampaiannya menarik
akan tetapi bahassanya perlu diperjelas. Faktor pendukung diantaranya dukungan
sekolah, materi, peran konselor sebaya, sedangkan faktor penghambatnya adalah
sarana dan prasarana, minimnya tenaga kesehatan, dana serta sikap petugas.
Kata Kunci : Persepsi, Remaja, PKPR, Kuta Selatan.
Abstract
PERCEPTION OF ADOLESCENT ABOUT ADOLESENCE HEALTH CARE
SERVICES IN THE SOUTH KUTA COMMUNITY
HEALTH CENTRE
This study aimed to determine the adolescent’s perception about the
existence, supporting and inhibiting factors, forms of activities, materials, and
delivery PKPR, as well as expectation of adolescents about the PKPR program.
This study used qualitative design with phenomenology approach. The
number of samples in this study was twenty seven students council where data
was collected by focus group discussion and indepth interviews on four informans
namely counseling teachers, deputy principal, peer counselors and holder of the
PKPR program.
The results showed that the perceptions and expectations of adolescents to
adolescent care health service program was positive, but the were some factors
supporting and influencing the lack of visits the clinic and maximal utilization of
PKPR program. According to the perseption of adolescent, supporting factors
include school support, material and delivery in education and the role of peer
counselors, while the inhibiting factor was the lack of counseling space, minimum
number of health personnel, lack of funds and the attitude of health workers who
were less friendly.
Based on the research promotion is needed and dissemination of the PKPR
program, these activities need equalization at each school, peer counselors need
cadre formation, complete infastructure, improve coordination, promotion through
the media, as well as the provision of spesialized personnel of PKPR, and
additional allocation of funds for PKPR activities.
Key world : Perception, adolescent, Adolescent Care Health Service
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM.........................................................................................
i
PRASYARAT GELAR..................................................................................
ii
LEMBAR PERSETUJUAN...........................................................................
iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI..............................................................
iv
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT..............................................
v
UCAPAN TERIMA KASIH...........................................................................
vi
ABSTRAK………………………………………………………………
ix
ABSTRACT…………………………………………………………………
x
DAFTAR ISI………………………………………………………………
xi
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................
xv
DAFTAR TABEL..........................................................................................
xvi
DAFTAR SINGKATAN……………………................................................
xvii
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................
xix
BAB I PENDAHULUAN............................................................................
1
1.1 Latar Belakang..................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................
6
1.3 Tujuan Penelitian..............................................................................
7
1.3.1
Tujuan Umum....................................................................
7
1.3.2
Tujuan Khusus....................................................................
7
1.4 Manfaat Penelitian............................................................................
7
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, TEORI DAN MODEL
PENELITIAN..............................................................................
9
2.1 Kajian Pustaka.................................................................................
9
2.1.1 RemajadanPermasalahannya.................................................
9
2.1.2 Kesehatan Reproduksi Remaja................................................
14
2.1.3 Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja.......................................
16
2.2 Konsep Penelitian................................................................................
23
2.2.1 Remaja.....................................................................................
23
2.2.2 PKPR........................................................................................
23
2.2.3 Persepsi tentang PKPR ...........................................................
24
2.2.4 Pengetahuan.............................................................................
25
2.2.5 Sarana danPrasarana.................................................................
26
2.2.6 SumberInformasi…………………………………………….
27
2.2.7 KebijakandanDukungan…………………………………….
27
2.2.8 KonselorSebaya………………………………………………
28
2.3 Landasan Teori.................................................................................
28
2.3.1 Teori Lawrence Green..............................................................
28
2.3.2 Teori Kurt Lewin......................................................................
30
BAB III METODE PENELITIAN................................................................
33
3.1 Pendekatan Penelitian.......................................................................
33
3.1.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...................................................
33
3.1.2 Subjek Penelitian.....................................................................
34
3.1.3 Jenis dan Sumber Data.............................................................
35
3.1.4 Instrumen Penelitian.................................................................
36
3.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data............................................
36
3.3 Metode dan Teknik Analisa Data....................................................
39
3.3.1 Penyajian Hasil Analisa Data...................................................
39
3.3.2 Keabsahan Data.......................................................................
40
3.4 Etika Penelitian................................................................................
40
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………
43
4.1 GambaranUmumLokasiPenelitian………………………………..
43
4.1.1 GambaranUmumKecamatanKuta Selatan…………………..
43
4.1.2 GambaranUmumPuskesmasKuta Selatan…………………..
44
4.1.3 GambaranUmum SMPN 3 Kuta Selatan ……........................
46
4.1.4 GambaranUmum SMP Dwijendra…………………………..
47
4.2 KarakteristikInforman……………………………………………..
48
4.3 HasilPenelitian……………………………………………………
52
4.3.1Persepsi Remaja terhadap Keberadaan, Faktor Pendukung dan
Faktor Penghambat PKPR……………………………………
52
4.3.2 PersepsiRemajatentangBentukKegiatan PKPR……………...
68
4.3.3 PersepsiRemajatentangMateridanPenyampaian PKPR……
74
4.3.4 PersepsiRemajatentangPeranKonselorSebaya…………….
80
4.3.5 HarapanRemajaTerhadap PKPR……………………………
86
4.4 Temuan Lain Penelitian……………………………………………
89
4.5 KeterbatasanPenelitian……………………………………………
92
4.6 Refleksi…………………………………………………………….
BAB V SIMPULAN DAN SARAN………………………………………
93
95
5.1 Simpulan……………………………………………………………
95
5.2 Saran………………………………………………………………..
100
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................
102
LAMPIRAN-LAMPIRAN.............................................................................
105
106
DAFTAR GAMBAR
Halaman
2.1 Model Teori Lawrence Green...................................................................
29
2.2 Model Teori Kurt Lewin............................................................................
30
DAFTAR TABEL
Halaman
3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data.....................................................
38
4.1 KarakterisktikInforman FGD OSIS Perempuan…………………….…
49
4.2 KarakterisktikInforman FGD OSIS Laki-laki………………………….
49
4.3KarakteristikInformanWawancaraMendalam…………………………
50
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
SINGKATAN
AKI
: Angka Kematian Ibu
AIDS
:Acquired Immune Deficiency Syndrome
BB
: BeratBadan
BNN
: Badan Narkotika Nasional
BK
: Bimbingan Konseling
FGD
: Focus Group Discussion
HIV
:Human Immunodeficiency Virus
IPA
: IlmuPengetahuanAlam
IPTEK
: IlmuPengetahuandanTekhnologi
IMS
: InfeksiMenularSeksual
KEK
: KekuranganEnergiKronis
KESPRO
: KesehatanReproduksi
KIE
: Konseling Informasi Edukasi
KKR
: KelompokKerjaRemaja
KMS
: KartuMenujuSehat
KTD
: KehamilanTidakDiinginkan.
KRR
: Kelas Reproduksi Remaja
LAB
: Laboratorium
LCD
:Liquid Crystal Display
LILA
: LingkarLenganAtas
MOS
: MasaOrientasiSiswa
NARKOBA
: NarkotikdanObat-obatTerlarang
OSIS
: OrganisasiSiswa Intra Sekolah
P3K
: PertolonganPertamaPadaKecelakaan
PKPR
: Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
PMR
: PalangMerahRemaja
PKHS
: PelatihanKetrampilanHidupSehat
PSK
: PekerjaSeksKomersil
PUSKESMAS
: Pusat Kesehatan Msyarakat
RISKESDAS
: Riset Kesehatan Dasar
SD
: SekolahDasar
SDKI
: Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
SMP
: Sekolah Menengah Pertama
SMPN
: Sekolah Menengah Pertama Negeri
SOP
: Standar Operasional Prosedur
TB
: TinggiBadan
UGD
: Unit GawatDarurat
UKS
: Usaha KesehatanSekolah
UNICEF
: United Nations International Children’s Emergency Fund
VCT
: Voluntary Counseling Testing
WHO
: World Health Organization
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
: Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penelitian
Lampiran 2
: Panduan Focus Group Discussion
Lampiran 3
: Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 4
: Lembar Observasi Sarana dan Prasarana PKPR
Lampiran 5
: Pedoman Pertanyaan Wawancara untuk Petugas Puskesmas
Lampiran6
: Pedoman Pertanyaan Wawancara untuk Kepala Sekolah /
GuruBK
Lampiran 7
: Pedoman Pertanyaan Wawancara untuk Konselor Sebaya
Lampiran 8
: Matrix AnalisisTesis
Lampiran9
: Dokumentasi
Lampiran10
: SuratIjinPenelitiandan Ethical Clearance
`BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Remaja merupakan investasi masa depan bangsa karena mereka
merupakan generasi penerus yang produktif dan sangat berharga bagi
kelangsungan pembangunan di masa mendatang, akan tetapi teknologi informasi
serta ilmu pengetahuan dan tekhnologi (Iptek) yang mengalami perkembangan
pesat, membawa dampak timbulnya permasalahan remaja yang semakin
meningkat. Fenomena ini berpengaruh terhadap status kesehatan reproduksi
remaja dan kualitas remaja di masa mendatang. United Nations International
Children’s Emergency Fund (UNICEF) menyatakan terjadi trend yang
menghawatirkan karena terjadi peningkatan jumlah kematian remaja yang berusia
10-19 tahun akibat Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immune
Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di seluruh dunia yaitu 71.000 remaja pada
tahun 2005 meningkat menjadi 110.000 jiwa pada tahun 2012 ( Herman, 2013).
Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan
prevalensi umur perkawinan yang terjadi pada umur kurang dari 15 tahun yaitu
sebesar 2,6 % dan usia 15-19 tahun sebanyak 23,9 %. Fenomena inilah yang
menyebabkan terjadinya ibu yang melahirkan pada usia terlalu muda (<20 tahun),
bahkan ada yang melahirkan pada usia kurang dari 15 tahun. Data lainnya dari
badan kesehatan keluarga berencana nasional (BKKBN) pada tahun 2013,
menyebutkan bahwa sebanyak 4,38 % remaja usia 10-14 tahun telah melakukan
aktivitas seks bebas, sedang remaja usia 14-19 tahun sebanyak 41,8 %. Kejadian
aborsi menurut catatan komisi nasional perlindungan anak terjadi peningkatan,
yaitu dari 86 kasus pada tahun 2011 menjadi 121 kasus pada tahun 2012. Kasus
tersebut mengakibatkan delapan orang meninggal. Berdasarkan data tersebut,
kejadian ini cukup memprihatinkan karena kehamilan dan persalinan remaja di
bawah umur 20 tahun sangat berisiko apalagi ditunjang dengan perilaku seks yang
berisiko pula sehingga menambah deret permasalahan remaja khususnya yang
berhubungan dengan kesehatan reproduksi. Permasalahan lain yang erat kaitannya
dengan remaja dan berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah masalah
gizi, merokok serta narkotik dan zat adiktif (napza). Data Riskesdas 2013,
menyebutkan bahwa remaja pendek (stunting) menurut prevalensi nasional
sebanyak 30,7 %, remaja kurus sebanyak 11,2 %, remaja yang merokok pada usia
10-19 tahun sebanyak 19,7 %, dan menurut badan narkotika nasional (BNN)
terjadi peningkatan pengguna narkoba yaitu pada tahun 2012 dari 3,6 juta orang
menjadi 3,8 juta orang pada tahun 2013 dan 22 % diantaranya adalah remaja (
Rohan & Siyoto, 2013)
Di Bali permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi
remaja juga menunjukkan angka yang memprihatinkan, Berdasarkan penelitian,
menyebutkan bahwa dari tiga ratus dua puluh tujuh remaja di Badung, 5 % (enam
belas orang) diantaranya pernah berhubungan sex pada usia 14-19 tahun, dari
enam belas orang tersebut, satu pernah terkena penyakit kelamin dan dua pernah
hamil hingga berakhir dengan aborsi. Pada tahun 2013, penelitian lain
menyebutkan bahwa dari enam ratus tiga puluh tiga pelajar, 10-31 % remaja yang
belum menikah pernah punya pengalaman berhubungan sex. Untuk pengguna
narkoba Bali menyumbangkan angka 1,8 % atau lima ribu lima ratus lima puluh
tiga orang . Berdasarkan data diatas, menunjukkan bahwa di Bali terjadi
peningkatan yang signifikan terkait dengan masalah kesehatan reproduksi dan
masalah lain yang terkait dengan remaja ( Faturrohman, 2009).
Di
Indonesia,
menyelesaikan
Pemerintah
permasalahan
mengadakan
terkait
kesehatan
beberapa
reproduksi
strategi
remaja
untuk
dan
permasalahan remaja lainnya. Salah satu strateginya adalah program pelayanan
kesehatan peduli remaja (PKPR). PKPR adalah suatu program
yang
dikembangakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai upaya
untuk meningkatkan status kesehatan remaja yang menekankan kepada
Puskesmas. Pengertian PKPR sendiri adalah suatu pelayanan yang ditujukan dan
dapat di jangkau oleh remaja, peka akan kebutuhan terkait kesehatannya, dapat
menjaga rahasia, efektif dan efisien dalam memnuhi kebutuhan tersebut.
Singkatnya, PKPR adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk remaja,
dimana pelayanannya dapat diakses oleh semua golongan remaja. Secara khusus,
tujuan dari PKPR adalah meningkatkan pemanfaatan puskesmas oleh remaja
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, meningkatan penyediaan pelayanan
kesehatan remja yang berkualitas, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
remaja dalam pencegahan masalah kesehatan, meningkatkan keterlibatan remaja
dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan remaja.
Sasaran program ini adalah laki-laki dan perempuan usia 10-19 tahun dan belum
menikah, baik yang sekolah maupun tidak sekolah. Program ini dibentuk sejak
tahun 2003 dan kegiatan yang rutin dilakukan salah satunya adalah penjaringan ke
sekolah- sekolah SMP, SMA maupun perkumpulan remaja seperti karang taruna
dan remaja masjid untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi remaja
(Kemenkes RI, 2011).
Menurut wawancara dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, PKPR
merupakan salah satu program remaja yang masih aktif sampai saat ini.
Program ini dijalankan melalui Puskesmas untuk memfasilitasi kasus-kasus
kesehatan reproduksi dan permasalahan remaja lainnya di wilayah
Puskesmas. Di Puskesmas Kuta Selatan program PKPR ini sudah berjalan
sejak tahun 2007, Puskesmas sebagai home based telah melaksanakan
kegiatan rutin dan sosialisasi ke sekolah- sekolah akan tetapi selama ini
pemanfaatannya di Puskesmas sangat sedikit. Permasalahan remaja di
wilayah Puskesmas masih kompleks, berbagai kasus ditemukan oleh darbin
dan informasi dari berbagai sumber, akan tetapi kasus-kasus remaja tersebut
tidak tercatat sehingga tidak ada data tentang besaran masalahnya. Data di
Puskesmas Kuta Selatan untuk bulan Agustus 2014 ada satu remaja dengan
merokok, satu remaja putri anemia dan satu remaja hamil di usia enam belas
tahun. Karena cakupan di Puskesmas sangat sedikit maka Puskesmas
melakukan penjaringan ke sekolah-sekolah untuk memberikan materi terkait
kesehatan reproduksi dan masalah remaja lainnya. Peneliti memilih wilayah
Puskesmas Kuta Selatan karena Puskesmas Kuta Selatan merupakan salah
satu Puskesmas yang cakupan remaja dan sekolahnya paling banyak diantara
Puskesmas lain di Provinsi Bali, yaitu 9161 remaja dan dua puluh sekolah.
Hal lain yang mendasari pemilihan Kuta Selatan karena wilayah Kuta Selatan
merupakan kawasan wisata. Menurut penelitian Ida Ayu Alit Laksmini
(2003), menyebutkan bahwa pembangunan daerah wisata membawa dampak
negatif terhadap perkembangan perilaku reproduksi/ perilaku sex remaja,
selain itu juga berdampak terhadap meluasnya masalah remaja lainnya seperti
peredaran narkoba. Di Bali, pelaksanaan PKPR lebih ditujukan ke sekolah
menengah pertama (SMP), karena mengingat upaya pencegahan sebaiknya
dimulai sejak dini. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemegang program
di Puskesmas, didapatkan informasi bahwa diantara dua puluh sekolah
tersebut, yang pelasksanaan PKPRnya belum berjalan dengan baik yaitu SMP
Dwijendra dan SMP yang program PKPRnya sudah berjalan dengan baik
yaitu sekolah menengah pertama negeri (SMPN) 3 Kuta Selatan, dimana di
SMP tersebut sudah mempunyai konselor sebaya di sekolah.
Beranjak dari data dan permasalahan di atas , Peneliti bermaksud
melakukan penelitian tentang “Persepsi Remaja Terhadap Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Wilayah Puskesmas Kuta Selatan”.
Penelitian ini penting untuk dilakukan, agar dapat memberi masukan kepada
instansi terkait mengenai bagaimana persepsi remaja saat ini. Diharapkan
pendidikan pendidikan kespro remaja dapat memiliki kurikulum tersendiri di
sekolah dan pada akhirnya penelitian ini dapat bermanfaat dalam melengkapi
fasilitas pelayanan kesehatan peduli remaja baik di Puskesmas maupun di
sekolah, meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dan tenaga pendukung
untuk program ini, mengembangkan informasi sehingga remaja tahu dan mau
memanfaatkan program ini dan diharapkan lingkungan sosial tidak menstigma
remaja yang mengalami permasalahan.
1.2 Rumusan Masalah
Program PKPR yang merupakan salah satu strategi dalam mencegah
masalah remaja sudah dilaksanakan di Puskesmas Kuta Selatan sejak tahun
2007, program tersebut sudah rutin dilaksanakan baik di Puskesmas maupun
sosialisasi dan kunjungan ke sekolah, bahkan disekolah juga sudah dibetuk
konselor sebaya, akan tetapi
rata-rata kunjungan remaja ke puskesmas
dengan permasalahan kespro dan permasalahan remaja lainnya di Puskesmas
Kuta Selatan < 5 remaja perbulan. Kunjungan remaja pada konselor sebaya di
sekolah
juga sangat minim, padahal sebenarnya permasalahan remaja di
wilayah Puskesmas Kuta Selatan sangat kompleks. Berdasarkan data tersebut,
peneliti ingin mengetahui apa saja yang menjadi faktor penghambat dan
pendukung program PKPR ini di wilayah puskesmas Kuta Selatan.
Berdasarkan fakta tersebut, maka pertanyaan penelitian diuraikan seperti di
bawah ini.
1.
Bagaimana persepsi remaja terhadap keberadaan, faktor pendukung dan
faktor penghambat PKPR?
2.
Bagaimana persepsi remaja tentang bentuk kegiatan PKPR?
3.
Bagaimana persepsi remaja tentang materi dan cara penyampaiannya
PKPR?
4.
Bagaimana persepsi remaja tentang peran konselor sebaya ?
5.
Bagaimana harapan remaja terhadap PKPR?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui persepsi remaja di wilayah Puskesmas Selatan terhadap
pelayanan kesehatan peduli remaja.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui persepsi remaja
seperti yang diuraikan berikut ini.
1. Persepsi remaja tentang keberadaan, faktor pendukung dan faktor
penghambat PKPR.
2. Persepsi remaja tentang bentuk kegiatan PKPR.
3. Persepsi remaja tentang materi dan cara penyampaian PKPR
4. Persepsi siswa tentang peran konselor sebaya
5. Harapan remaja terhadap PKPR
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1
Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran ilmiah
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dijadikan sebagai masukan serta
tambahan informasi serta pengembangan untuk penelitian selanjutnya, mungkin
untuk mencari proporsi dari faktor-faktor yang berkaitan dengan program PKPR.
1.4.2
Manfaat Praktis
1. Bagi tenaga kesehatan dan penyelenggaran PKPR yaitu Puskesmas
Kuta Selatan diharapkan dengan penelitian ini mampu memberikan
masukan untuk mengembangkan program PKPR.
2. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai
tambahan informasi kepada masyarakat pada umumnya, orang tua dan
guru pada khususnya bahwa pendidikan kespro remaja penting bagi
anak. Dengan tambahan informasi tersebut diharapkan masyarakat
dapat turut serta menyukseskan program PKPR ini sehingga dapat
mengurangi deret permasalahan remaja di masyarakat dan menjadikan
lingkungan masyrakat yang aman dan kondusif.
3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat memberi masukan kepada
pihak sekolah untuk menentukan kebijakan terkait pendidikan
kesehatan reproduksi remaja
dan permasalahan remaja lainnya di
sekolah. Sekolah memiliki kurikulum tersendiri tentang peningkatan
status kesehatan remaja dan pada akhirnya penelitian ini dapat
bermanfaat dalam melengkapi fasilitas pelayanan kesehatan peduli
remaja di sekolah.
4.
Bagi
remaja,
diharapkan
pengembangan
dan
perbaikan
program
PKPR
menjadikan remaja lebih antusias mengikuti kegiatan
terkait pelayanan kesehatan peduli remaja dan bisa mencegah
permasalahan terkait kesehatan reproduksi dan masalah remaja lainnya
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI DAN MODEL
PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Remaja dan Permasalahannya
UNICEF menyatakan terjadi trend yang menghawatirkan karena terjadi
peningkatan jumlah kematian remaja yang berusia 10-19 tahun akibat HIV/AIDS
di seluruh dunia yaitu 71.000 remaja pada tahun 2005 meningkat menjadi 110.000
jiwa pada tahun 2012 (Herman, 2013). Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan
prevalensi umur perkawinan yang terjadi pada umur kurang dari 15 tahun yaitu
sebesar 2,6 % dan usia 15-19 tahun sebanyak 23,9 %. Fenomena inilah yang
menyebabkan terjadinya ibu yang melahirkan pada usia terlalu muda (<20 tahun),
bahkan ada yang melahirkan pada usia kurang dari 15 tahun. Data lainnya dari
BKKBN pada tahun 2013, menyebutkan bahwa sebanyak 4,38 % remaja usia 1014 tahun telah melakukan aktivitas seks bebas, sedangkan remaja pada usia 14-19
tahun sebanyak 41,8 %. Kejadian aborsi menurut catatan Komisi Nasional
Perlindungan Anak terjadi peningkatan, yaitu dari 86 pada tahun 2011 menjadi
121 kasus pada tahun 2012, dan dari kasus tersebut mengakibatkan delapan orang
meninggal. Berdasarkan data tersebut, hal ini cukup memprihatinkan karena
kehamilan dan persalinan remaja di bawah umur 20 tahun sangat beresiko apalagi
ditunjang dengan perilaku seks yang beresiko pula sehingga menambah
permasalahan remaja khususnya yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Permasalahan lain yang erat kaitannya dengan remaja dan berhubungan
dengan kesehatan reproduksi adalah masalah gizi, merokok dan napza. Data
Riskesdas 2013 menyebutkan bahwa remaja pendek menurut prevalensi nasional
sebanyak 30,7 %, remaja kurus 11,2 %, remaja yang merokok pada usia 10-19
tahun sebanyak 19,7 %. Menurut BNN terjadi peningkatan pengguna narkoba
pada tahun 2012, dari 3,6 juta orang menjadi 3,8 juta orang pada tahun 2013 dan
22 % diantaranya adalah remaja ( Rohan & Siyoto, 2013).
Di Bali permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi
remaja juga menunjukkan angka yang memprihatinkan, Faturohman tahun 2009
dalam penelitiannya menyebutkan bahwa dari tiga ratus dua puluh tujuh remaja di
Kabupaten Badung, 5 % (enam belas orang) diantaranya pernah berhubungan sex
pada usia 14-19 tahun, dari enam belas orang tersebut, satu pernah terkena
penyakit kelamin dan dua pernah hamil hingga berakhir dengan aborsi. Pada
tahun 2013, penelitian lain menyebutkan bahwa dari enam ratus tiga puluh tiga
pelajar, 10-31 % remaja yang belum menikah pernah punya pengalaman
berhubungan sex. Kasus narkoba di Bali menyumbangkan angka 1,8 % atau
55.553 orang dengan permasalahan narkoba. Berdasarkan data diatas,
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan terkait dengan masalah
kesehatan reproduksi dan permasalahan remaja lainnya di Bali ( Faturrahman,
2009).
Berdasarkan data diatas, permasalahan kesehatan reproduksi remaja yang
menjadi prioritas dapat dikelompokkan seperti di bawah ini.
a. Aborsi tidak aman yang diakibatkan sebagian besar dari kehamilan tidak
diinginkan.
b. Kehamilan dan persalinan dini (terjadi pada usia terlalu muda).
c. Penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS.
d. Kekerasan seksual termasuk pemerkosaan, pelecehan dan perdagangan
perempuan (Rohan dan Siyoto, 2013).
2.1.1.2 Batasan Usia Remaja
Masa remaja adalah masa terjadinya peralihan terhadap perubahan secara
fisik dan psikologis dari masa anak-anak ke masa dewasa (Hurlock, 2003).
Perubahan psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual, kehidupan
emosi, dan kehidupan sosial. Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alatalat reproduksi sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik
(Sarwono, 2005).
Remaja adalah fase peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa,
dimana mulai timbul ciri-ciri seks skunder, terjadi pacu tumbuh, tercapainya
fertilitas dan terjadinya perubahan-perubahan kognitif dan psikologik. Remaja
sebenarnya berada diantara masa anak-anak dan masa dewasa sehingga berada
dalam tempat yang tidak jelas, oleh karena itu masa remaja sering disebut masa
pencarian jati diri (Rohan & Siyoto, 2013).
Remaja dapat diartikan sebagai masa peralihan dari perkembangan antara
masa anak dan masa dewasa yang mencakup perkembangan biologis, kognitif,
sosial dan mental-emosional (Santrock, 2003).
WHO ( 2009 ) menyebutkan, yang dimaksud dengan usia remaja yaitu
antara usia 12 sampai usia 24 tahun. Menurut Menteri Kesehatan RI (2010),
batasan usia remaja adalah antara usia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.
Remaja dibagi menjadi tiga tahap yaitu masa remaja awal (usia 10-13
tahun), masa remaja tengah yaitu (usia 14-16 tahun) dan remaja akhir (usia 17-19
tahun) (Rohan & Sayito, 2013). Masa remaja menurut Santrock (2003), yaitu usia
10-13 tahun dan berakhir saat menginjak usia 18-22 tahun.
2.1.1.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
Saat memasuki masa remaja akan diawali dengan perubahan fisik dulu
kemudian diikuti perubahan psikis pada remaja. Perubahan yang mencolok pada
remaja laki-laki dan perempuan umumnya terjadi saat usia 9-19 tahun. Perubahan
yang terjadi bukan hanya bertambah tinggi dan besar saja, tetapi juga terjadi
perubahan organ reproduksi sehingga mereka bisa menghasilkan keturunan.
Perubahan tersebut dikenal dengan istilah pubertas yaitu perubahan dari masa
kanak-kanak menuju masa dewasa. Remaja perempuan ditandai dengan
datangnya menstruasi, sedangkan pada remaja laki-laki ditandai dengan mimpi
basah. Remaja laki-laki juga mengalami ejakulasi yaitu keluarnya sperma melalui
penis, dan kejadian ini dapat disengaja maupun tidak disengaja yaitu melalui
mimpi basah.
Proses menstruasi terjadi kerena luruhnya lapisan pada dinding rahim yang
mengandung pembulu darah tempat sel telur yang tidak dibuahi menempel,
biasanya terjadi antara tiga sampai tujuh hari. Siklus haid masing-masing remaja
berbeda, yaitu dua puluh tujuh hari atau tiga puluh lima hari. Perubahan Alat
reproduksi pada perempuan terjadi pada labia minora atau bibir luar, clitoris atau
kelentit, rambut kemaluan, lubang vagina, uterus, servik, sel telur, indung telur.
Perubahan alat reproduksi laki-laki terjadi pada zakar, buah zakar, saluran kencing
(uretra), saluran sperma, skrotum, kelenjar prostat, kandung kencing (Rohan
&Siyoto, 2013).
Perkembangan secara psikis juga melewati beberapa tahap yang mungkin
dipengaruhi oleh kontak dengan lingkungan sekitarnya. Fase remaja di bagi dalam
beberapa tahap perkembangan remaja diantaranya :
a.
Fase remaja awal (usia 10-13 tahun)
Pada fase ini remaja merasa dan tampak lebih dekat dengan teman sebaya,
menginginkan kebebasan, mulai tampak berfikir khayal terhadap bentuk
tubuh.
b.
Fase remaja tengah (usia 14-16 tahun)
Pada masa ini remaja mulai mencari jati diri, ada ketertarikan terhadap
lawan jenis, ingin berkencan, mulai merasakan cinta yang mendalam
kemampuan berfikir abstraknya semakin berkembang, dan berimajinasi
tentang seksual.
c.
Fase remaja akhir (usia 17-19 tahun)
Remaja pada fase ini mulai menampakkan kebebasan dirinya, lebih selektif
dalam mencari teman, mulai memiliki citra diri ( gambaran, keadaan dan
peran ) terhadap dirinya, mampu untuk mengungkapkan perasaan cintanya,
mempunyai kemampuan yang baik untuk berfikir abstrak atau khayal.
Remaja seharusnya mengetahui informasi yang benar tentang kesehatan
reproduksi dan hal-hal lain yang menyebabkan permaslahan remaja, supaya
remaja mempunyai sikap dan perilaku yang baik terhadap hal-hal yang
berhubungan dengan kesehatan reproduksi mereka sehingga bisa terhindar dari
permasalahan remaja (Rohan & Siyoto, 2013).
2.1.2 Kesehatan Reproduksi Remaja
2.1.2.1 Pengertian Kesehatan Reproduksi
WHO mengartikan kesehatan reproduksi
bukan karena tidak adanya
penyakit dan kecacatan tentang sistem, fungsi dan proses reproduksi tetapi juga
adanya kesejahteraan secara fisik, mental dan sosial (Saparinah Sadli, dkk. 2006).
Menurut BKKBN (2009), Kesehatan reproduksi selain mengedepankan
kesejahteraan sosial secara menyeluruh terhadap hal yang
berkaitan dengan
sistem dan fungsi reproduksi, juga mengedepankan kesehatan secara fisik, jadi
tidak hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan.
2.1.2.3 Upaya Pencegahan Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja
Pencegahan
permasalahan
remaja
bisa
dilakukan
melalui
upaya
memberikan pengetahuan dasar pada remaja tentang kesehatan reproduksi remaja,
pengetahuan dasar tersebut dapat diuraikan seperti dibawah ini.
1.
Pengetahuan mengenai sistem reproduksi, proses reproduksi dan fungsi alat
reproduksi beserta hak-hak reproduksi.
2.
Informasi mengenai usia kawin dan perencanaan dalam membentuk keluarga
berencana.
3.
Permasalahan pre menstruasi syndrome (PMS), HIV/AIDS dan berbagai
dampaknya.
4.
Pengaruh napza dan minuman keras terhadap kesehatan reproduksi.
5.
Pengaruh sosial media dan interaksi sosial terhadap sikap dan perilaku
seksual.
6.
Bentuk-bentuk kekerasan seksual dan berbagai upaya menghindarinya.
7.
Komunikasi yang baik dan harus percaya diri agar mampu menghindari
berbagai hal negatif.
Peran bidan dalam penanggulangan masalah remaja yaitu
sebagai
fasilitator dan konselor. Sebagai media konseling bagi remaja untuk memecahkan
masalahnya, bidan harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang baik dan benar
tentang kesehatan reproduksi remaja dan berbagai permasalahannya. Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi
berbagai permasalahan remaja melalui berbagai prorgam remaja, salah program
tersebut yaitu program PKPR dimana program ini menjadi tanggung jawab Dinas
Kesehatan yang pelaksanaanya dilakukan oleh Puskesmas.
2.1.3 Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
PKPR adalah suatu program yang dikembangakan oleh Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, sebagai upaya untuk meningkatkan status
kesehatan remaja yang menekankan kepada Puskesmas. Pengertian PKPR sendiri
adalah suatu pelayanan yang ditujukan dan dapat di jangkau oleh remaja, peka
akan kebutuhan terkait kesehatannya, dapat menjaga rahasia, efektif dan efisien
dalam memnuhi kebutuhan tersebut. Singkatnya, PKPR adalah pelayanan
kesehatan yang ditujukan untuk remaja, dimana pelayanannya dapat diakses oleh
semua golongan remaja, dapat diterima, sesuai, komprehensif, efektif dan efisien.
Program ini dalam pelaksanaannya, diharapkan petugas Puskesmas mempunyai
kepedulian yang tinggi, mau menerima remaja dengan permasalahnnya dan dapat
menciptakan suasana konseling yang menyenangkan tanpa adanya stigma dan
diskriminasi terhadap remaja tersebut. Lokasi pelayanan PKPR harus mudah
dijangkau, nyaman, aman, kerahasiaan remaja dijaga tanpa ada diskriminasi dan
stigma (Kemenkes RI, 2011).
Dasar hukum
yang menunjang prorgam PKPR diantaranya adalah
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan
yang tercantum dalam beberapa pasal dibawah ini.
a. Pasal 131
Pasal 131 Ayat (1) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus
ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat, cerdas
dan berkualitas serta menurunkan angka kematian bayi dan anak. (2) Upaya
pemeliharaan kesehatan anak dimulai sejak anak masih dalam kandungan,
dilahirkan, setelah dilahirkan dan sampai berusia 19 tahun. (3) Upaya
pemeliharaan kesehatan bayi dan anak sebagai mana dimaksud pada ayat (1)
dan (2) menjadi tanggung jawab dan kewajiban bersama bagi orang tua,
keluarga, masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
b. Pasal 136
Pasal 136 Ayat (1) Upaya pemeliharaan kesehatan remaja harus
ditujukan untuk mempersiapkan menjadi orang dewasa yang sehat dan
produktif baik sosial maupun ekonomi, (2) Upaya pemeliharaan kesehatan
remaja sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) termasuk untuk reproduksi
remaja dilakukan agar terbebas dari berbagai gangguan kesehatan yang dapat
menghambat kemampuan menjalani kehidupan reproduksi secara sehat, (3)
Upaya pemeliharaan kesehatan remaja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat.
c. Pasal 137
Pasal 137 Ayat (1) Pemerintah berkewajiban menjamin agar remaja
dapat memperoleh edukasi, informasi dan layanan mengenai kesehaatan remaja
agar mampu hidup sehat dan bertanggung jawab, (2) Ketentuan mengenai
kewajiban Pemerintah dalam menjamin agar remaja memperoleh edukasi,
informasi dan layanan mengenai kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan sesuai pertimbangan moral nilai agama dan berdasarkan
ketentuan dan peraturan perundang - undangan.
Puskesmas yang mampu melaksanakan program PKPR mempunyai
kriteria diantaranya mempunyai petugas yang dilatih oleh Dinas Kesehatan untuk
program PKPR, melatih kader atau konselor sebaya minimal 10 % dari jumlah
murid di sekolah binaan, melakukan konseling informasi dan edukasi (KIE) di
sekolah binaan 2x setahun, melayani konseling pada semua remaja yang
membutuhkan. Menurut Fadhlina (2012), beberapa manfaat dari PKPR dapat
diuraikan seperti di bawah ini.
1. Meningkatkan dan menambah wawasan dari petugas kesehatan maupun
konselor sebaya melalui kegiatan - kegiatan penyuluhan, dialog interaktif,
jambore, Focus Group Discussion (FGD), seminar, dan lain sebagainya.
2. Menjamin kerahasiaan remaja dengan permasalahannya dan memberikan
solusi atas masalahnya
3. Meningkatkan peran remaja dalam membantu mengatasi masalah temannya
dan menyebarkan informasi dengan menjadi konselor sebaya.
Program PKPR mempunyai sasaran yaitu semua remaja usia 10 - 19 tahun
dan belum menikah, remaja yang dimaksud disini adalah remaja baik sekolah
maupun tidak, sehingga bisa melalui karang taruna, remaja masjid, dan lain-lain.
Bentuk kegiatan PKPR diantaranya adalah memberikan edukasi dan informasi,
layanan medis dan klinik seperti pemeriksaan penunjang jika dibutuhkan,
pendidikan keterampilan hidup sehat (PKHS), pelatihan konselor sebaya,
konseling, penyuluhan kesehatan, dan pelayanan rujukan baik medis maupun
sosial. Kegiatan PKPR di sekolah meliputi penyuluhan, konseling, pelatihan
konselor sebaya, pemeriksaan kesehatan, penemuan kasus-kasus dini serta rujukan
jika diperlukan. Upaya untuk keberhasilan mengembangkan pemanfaatan PKPR
digunakan berbagai strategi yang dapat diuraikan seperti dibawah ini.
1.
Pemenuhan sarana dan prasarana yang dilaksanakan secara bertahap
2.
Penyertaan remaja secara aktif.
3.
Penentuan biaya pelayanan serendah mungkin, bahkan kalau memungkinkan
gratis.
4.
Dilaksanakannya kegiatan minimal yaitu memberikan konseling, pelayanana
klinis medis dan melaksanakan rujukan.
5.
Ketepatan penentuan prioritas sasaran.
6.
Ketepatan pengembangan jenis kegiatan, missal memperluas kegiatan
konseling sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang terjadi di
wilayah setempat serta disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas.
7.
Melaksanakan
monitoring
dan
evaluasi.
Monitoring dan
evaluasi
dilaksanakan berkala oleh dinas kesehatan dan tim Puskesmas (Kemenkes
RI, 2011).
Berdasarkan penelitian Arsani, dkk, pada tahun 2013 di Kecamatan
Buleleng menunjukkan bahwa ; 1) Peranan Puskesmas dalam program PKPR
adalah sebagai ujung tombak pemberi pelayanan kesehatan di masyarakat
termasuk remaja; 2) Program PKPR yang dicanangkan Puskesmas Buleleng 1
sebagian besar sudah terlaksana dengan baik, namun masih terdapat 1 sasaran
yang belum tercapai yaitu pembentukan konselor sebaya serta belum
maksimalnya sosialisasi kepada remaja secara luas; 3) PKPR dirasakan memiliki
peranan yang sangat penting bagi remaja.
Hadiningsih
(2010),
dalam
penelitiannya
menyebutkan
bahwa
pelaksanaan program PKPR di Puskesmas Kabupaten Tegal belum memenuhi
kriteria pelayanan remaja
beberapa
faktor
seperti
penghambat
yang
diantaranya
ditetapkan
Semua
Depkes
RI. Ada
Puskesmas
belum
melaksanakan semua kegiatan puskesmas PKPR diantaranya
pelatihan
pendidik sebaya dan konselor sebaya, alur dan pelaksanaan pelayanan PKPR
kurang
sesuai, kurangnya cakupan layanan kepada remaja, dan
kurangnya
dukungan dari instansi – instansi lain yang terkait dengan program PKPR.
Faktor
penyebabnya
adalah
kurangnya
sosialisasi program PKPR kepada
remaja, pelaksana program PKPR dan kurang konsistennya Kabupaten Tegal
dalam pelaksanaan program PKPR, petugas yang terlibat dalam pelaksanaan
PKPR belum semuanya terlatih, serta kurangnya dukungan dana dan sarana
prasarana.
Beberapa faktor pendukung diantaranya adalah sikap
pelaksana
program, remaja dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal terhadap program
sangat
positif, namun tidak tersedia dana guna memotivasi pelaksana program
dalam melaksanakan program PKPR di Puskesmas. Dalam pelaksanaan program
PKPR kurang adanya kerjasama yang baik antara berbagai pihak yang terkait
program PKPR, disamping itu belum ada stadart operasional prosedur (SOP)
pelaksanaan program PKPR
di Puskesmas dan
di
Dinas Kesehatan
Kabupaten Tegal.
Lola & Erwinda
(2009), dalam penelitiannya menunjukkan bahwa
pengetahuan mempengaruhi sikap responden terhadap pemanfaatan PKPR di
SMPN 01 Sitiung Kabupaten Dharmasraya.
Cutia (2012), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa banyak sekali
faktor penghambat dalam pelaksanaan PKPR diantaranya kegiatan PKPR masih
terbatas pada penyuluhan di sekolah dengan materi Kesehatan Reproduksi
Remaja. Remaja yang datang ke Puskesmas belum mendapatkan pelayanan
seperti alur model pelayanan PKPR Dinas
Kesehatan. Akses remaja ke
Puskesmas terbentur dengan jam sekolah. Puskesmas belum melakukan pelatihan
konselor sebaya. Belum ada alokasi dana yang cukup untuk kegiatan PKPR.
Bahan-bahan penyuluhan masih kurang, belum ada form pelayanan, panduan
konseling dan pedoman pelaksanaan, alat bantu pembelajaran edukatif dan
transportasi serta ruangan pelayanan. Pemahaman petugas tentang program masih
kurang, tidak semua petugas bersikap youth friendly dan memiliki sikap yang
positif terhadap pencapaian tujuan, beban kerja petugas tinggi, pengawasan hanya
berupa pemeriksaan laporan, kualitas laporan masih rendah, forum kerjasama
lintas
sektoral
belum
digunakan
untuk
menggalang
dukungan
bagi
terselenggaranya PKPR dan standar operasional prosedur dan standar pelayanan
minimal belum tersedia.
2.2
Konsep Penelitian
Konsep penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep
remaja, konsep PKPR, konsep sarana dan prasarana, konsep kebijakan dan
dukungan, konsep persepsi, konsep pengetahuan serta konsep konselor sebaya.
Berbagai uraian mengenai konsep penelitian dapat dilihat seperti di bawah ini.
2.2.1 Konsep Remaja
Remaja adalah fase peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa,
dimana mulai timbul ciri-ciri seks skunder, terjadi pacu tumbuh, tercapainya
fertilitas dan terjadinya perubahan-perubahan kognitif dan psikologik. Remaja
sebenarnya berada diantara masa anak-anak dan masa dewasa sehingga berada
dalam tempat yang tidak jelas, oleh karena itu remaja sering disebut masa
pencarian jati diri.
Pengertian remaja dalam penelitian ini adalah siswa SMP di wilayah
puskesmas Kuta Selatan yang berusia antara 10-19 tahun dan belum menikah.
2.2.2 Konsep PKPR
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dalam penelitian ini adalah
suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan remaja SMP
di wilayah Puskesmas Kuta Selatan. Kegiatan PKPR mencakup pelayanan klinik
dan konseling di Puskesmas dan kegiatan di luar Puskesmas yaitu di sekolah yang
meliputi penyuluhan, pembinaan, penjaringan dan pembentukan konselor sebaya.
2.2.3 Konsep Persepsi
Mangkunegara mengatakan bahwa persepsi merupakan proses memberi
arti dan makna terhadap lingkungan. Proses dalam persepsi dimulai dengan
menafsirkan obyek lalu menerima stimulus (Input), mengorganisasikan stimulus,
dan menafsirkan stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara membentuk
sikap sehingga mempengaruhi perilaku dan menciptakan keseluruhan gambaran
yang berarti.
Persepsi dalam penelitian ini adalah pendapat atau suatu proses pemberian
arti oleh siswa SMP terhadap program pelayanan kesehatan reproduksi remaja
(PKPR) di sekolah dan di Puskesmas, yang dipengaruhi oleh faktor internal
diantaranya pengetahuan, informasi baru, harapan, motivasi, sedangkan faktor
eksternal yang mempengaruhi diantaranya dukungan sekolah, sosial budaya,
kebijakan, sarana dan prasarana serta kelompok sebaya.
2.2.4 Konsep Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil setelah orang melakukan penginderaan terhadap
suatu objek menggunakan panca indara yaitu indra pendengaran, penglihatan,
indra perasa, peraba, penciuman sehingga menghasilkan tahu. Penginderaan yang
sangat berpengaruh yaitu indra penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan sangat
mempengaruhi sikap seseorang yang nantinya berpengaruh juga terhadap perilaku
seseorang. Berbagai penelitian menyatakan bahwa perilaku yang didasari dengan
pengetahuan lebih konsisten dibandingkan dengan tanpa adanya pengetahuan.
Pengetahuan dalam penelitian ini adalah segala sesuatu yang diketahui
remaja tentang program pelayanan kesehatan reproduksi remaja dan informasi
tentang kesehatan reproduksi remaja itu sendiri, meliputi pengetahuan tentang
HIV/AIDS, infeksi melular seksual (IMS), narkotik dan zat adiktif (NAPZA),
anemia dan lain sebagiainya. Pengetahuan siswa tersebut dipengaruhi oleh
informasi, daya ingat, salah penafsiran, kognitif, minat, dan sumber informasi.
2.2.5 Konsep Sarana dan Prasarana
Sarana adalah perangkat atau peralatan yang digunakan untuk mencapai
tujuan yang diinginkan dan prasarana adalah faktor penunjang yang digunakan
untuk mencapai tujuan tersebut atau terselenggaranya suatu kegiatan.
Sarana dalam penelitian ini adalah leaflet, buku panduan dan kelengkapan
alat-alat yang digunakan dalam pelayanan kesehatan perduli remaja, sedangkan
prasarananya adalah ruangan khusus di sekolah dan puskesmas untuk pelayanan
remaja.
2.2.6 Konsep Sumber Informasi
Sumber informasi adalah segala hal yang dapat digunakan oleh seseorang
sehingga mengetahui tentang hal yang baru, dan mempunyai cirri-ciri yaitu, 1)
dapat dilihat, dibaca dan dipelajari; 2) diteliti, dikaji dan dianalisis; 3)
dimanfaatkan
dan
dikembangkan
didalam
kegiatan-kegiatan
pendidikan,
penelitian, laboratorium; 4) ditransformasikan kepada orang lain.
Sumber Informasi dalam penelitian ini adalah segala hal yang dapat
digunakan siswa untuk mendapatkan informasi tentang PKPR, dapat berupa
leaflet, media elektronik, penyuluhan oleh petugas puskesmas, guru, orang tua dan
lain sebagainya.
2.2.7 Konsep Kebijakan dan Dukungan
Kebijakan adalah keputusan suatu organisasi yang dimaksudkan untuk
mengatasi permasalahan tertentu sebagai keputusan atau untuk mencapai tujuan
tertentu, berisikan ketentuan-ketentuan yang dapat dijadikan pedoman perilaku
dalam 1) pengambilan keputusan lebih lanjut, yang harus dilakukan baik
kelompok sasaran ataupun (unit) organisasi pelaksana kebijakan; 2) penerapan
atau pelaksanaan dari suatu kebijakan yang telah ditetapkan baik dalam hubungan
dengan (unit) organisasi pelaksana maupun dengan kelompok sasaran yang
dimaksud.
Kebijakan dan dukungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
kebijakan dan dukungan dari sekolah serta Puskesmas terkait penyelenggaraan
program PKPR.
2.2.8 Konsep Konselor Sebaya
Konselor sebaya adalah pendidik sebaya yang punya komitmen dan
motivasi yang tinggi untuk memberikan konseling dalam program PKPR bagi
kelompok siswa di sekolahnya. Konselor sebaya dalam penelitian ini adalah siswa
SMP yang terpilih menjadi konselor sebaya dalam program PKPR di sekolah.
2.3
Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan modifikasi antara teori Lawrence Green dan
Kurt Lewin. Uraian tentang kedua teori tersebut dapat diuraiakan sebagai berikut.
2.3.1 Teori Lawrence Green
Lawrence Green melakukan analisis perilaku manusia terkait kesehtaan.
Kesehatan individu atau masyarakat dipengaruhi oleh faktor diluar perilaku dan
faktor perilaku, sedangkan perilaku itu sendiri dibentuk melalui beberapa faktor,
diantaranya seperti dibawah ini.
a. Faktor-faktor predesposisi (predisposing faktor) yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nila-nilai sosial budaya, dan
sebagainya.
b. Faktor- faktor pendukung (enabling factors), berkaitan dengan keadaan fisik,
seperti sarana dan prasarana, fasilitas puskesmas, keberadaan jamban, dan lain
sebagainya.
c. Faktor-faktor pendorong ( reinforcing faktor), yaitu berhubungan dengan
kebijakan, petugas kesehatan, atau petugas lain yang berhubungan dengan
kesehatan masyarakat.
Model teori Lawrence Green dapat digambarkan sebagai seperti gambar di bawah
ini.
Kerangka Teori
Faktor Predisposisi :
-Pengetahuan
-Sikap
-Kepercayaan
Faktor Pendukung :
Perilaku Kesehatan
-Lingkungan
-Sarana dan Prasarana
Faktor Pendorong : Sikap
dan perilaku petugas
kesehatan
Gambar 2.1 Skema Teori Lawrence Green
Sumber : Teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo, 2003
Berdasarkan teori diatas disimpulkan bahwa perilaku kesehatan individu
atau masyarakat dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, kepercayaan, sikap dan
nilai-nilai dalam masyarakat, disamping itu fasilitas yang tersedia, kelengkapan
alat, kenyamanan tempat, sikap petugas kesehatan serta kebijakan pemerintah
dapat memperkuat prilaku dalam kesehatan (Notoatmodjo, 2012).
2.3.2 Teori Kurt Lewin
Kurt Lewin (1970) mengemukakan bahwa suatu keseimbangan antara
berbagai kekuatan pendorong ( driving forces) dan berbagai kekuatan penahan
(restraining force) membentuk perilaku seseorang. Model teori Kurt Lewin dapat
digambarkan seperti gambar dibawah ini.
Gambar 2.2 Skema Teori Kurt Lewin
Sumber : Teori Kurt Lewin dalam Notoatmodjo, 2003.
Adanya ketidakseimbangan antara kekuatan pendorong dan kekuatan
penahan tersebutdi dalam diri seseorang menyebabkan perubahan perilaku,
sehingga kemungkinan tiga perubahan perilaku pada diri seseorang adalah sebagai
berikut.
a.
Meningkatnya kekuatan-kekuatan pendorong.
Keadaan ini dapat terjadi
karena adanya rangsangan-rangsangan yang mendorong untuk terjadinya
perubahan perilaku. rangsangan ini berupa konseling, penyuluhan, pemberian
informasi tentang hal yang berkaitan dengan perilaku tersebut.
b.
Menurunnya kekuatan penahan. Keadaan ini disebabkan oleh melemahnya
stimulus yang menyebabkan menurunnya kekuatan penahan.
c.
Meningkatnya kekuatan pendorong dan menurunnya kekuatan penahan
sehingga menyebabkan perubahan perilaku (Notoatmodjo, 2012).
2.4 Model Penelitian
Berdasarkan
teori
Lawrence
Green
dan
Kurt
Lewin,
maka
peneliti
menggambarkan model penelitian dalam kerangka di bawah ini.
Predisposing Factor :
Penghambat
Persepsi :
- Pengetahuan
-Harapan
-Motivasi
Pemanfaatan PKPR (Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja)
Enabling factors :
Sarana & Prasarana
Reinforcing Factors :
Pendorong
Kebijakan
Sumber Informasi
Dukungan Sekolah
Gambar 2.3 Kerangka Berfikir dan Konsep Penelitian
Sumber : Teori Kurt Lewin dan Lawrence Green
Dalam penelitian ini menggunakan modifiaksi antara teori Kurt Lewin dan
Lawrence Green, dimana untuk teori Lawrence Green bahwa perilaku remaja
(pemanfaatan PKPR) dibentuk oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi, faktor
pendorong dan faktor pendukun.
faktor predisposisi yaitu berupa persepsi.
Persepsi itu sendiri dibentuk oleh faktor internal dan juga faktor eksternal. Faktor
internal antara lain adalah pengetahuan, harapan dan motivasi, sedangkan untuk
faktor eksternalnya adalah sosial budaya dan lingkungan. Selain faktor
predesposisi, perilaku juga dibentuk oleh faktor pendukung yaitu adanya sarana
prasarana dan sumber informasi program PKPR. Faktor pendorongnya yaitu
kebijakan/dukungan sekolah, peran konselor sebaya dan juga peran petugas
Puskesmas. Dari ketiga faktor tersebut bisa menjadi faktor pendorong dan juga
faktor penghambat dalam pemanfaatan program PKPR ini. Oleh karena itu
peneliti menggabungkan kedua teori ini yaitu Lawrence Green dan Kurt Lewin
sehingga dapat menjawab tujuan penelitian.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini mengenai persepsi remaja tentang PKPR. Penelitian ini
menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan
ini dipilih agar
persepsi remaja dapat dieksplorasi lebih dalam sehingga
gambaran persepsi remaja tentang PKPR dapat tergambar secara nyata.
Fenomenologi adalah suatu ilmu yang bertujuan untuk menjelaskan suatu
fenomena, gambaran
dari sesuatu yang khusus, misalnya pengalaman hidup.
Fokus utama pendekatan fenomenologi yaitu pengalaman nyata yang digunakan
untuk membantu peneliti memasuki persepsi orang lain dan berupaya memahami
kehidupan sebagaimana dilihat oleh orang-orang tersebut. Fenomenologi
memungkinkan peneliti untuk melihat fenomena pengalaman remaja yang
bercerita tentang PKPR dengan sebebas mungkin dari intuisi yang tidak bisa
diukur secara langsung (Saryono & Dwi , 2013).
3.1.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di SMP yang menjadi binaan wilayah
Puskesmas Kuta Selatan, adapun sekolah menengah pertama (SMP) tersebut
adalah sekolah menengah pertama negeri (SMPN) 3 Kuta Selatan dan SMP
Dwijendra serta Puskesmas Kuta Selatan. Lokasi penelian ini dipilih karena
program PKPR di Kuta Selatan lebih menitikberatkan pada SMP untuk mencegah
permasalahan remaja sejak dini.
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2014 sampai dengan
Maret 2015. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan Januari- Maret
2015
3.1.2 Subjek Penelitian
Menurut Faisal (1990), pemilihan sampel dalam penelitian kualitatif harus
sesuai konsep pemilihan sampel yaitu memilih informan atau situasi sosial
tertentu yang dapat memberikan informasi adekuat dan terpercaya mengenai halhal yang ingin digali dalam penelitian. Pengambilan sampel dalam penelitian
kualitatif
biasanya
menggunakan
purposive
sampling
dengan
berbagai
pendekatan yang representatif untuk penelitian kualitatif. Pada penelitian
fenomenologi sampel yang diambil adalah sampel yang pernah mengalami
substansi yang akan diteliti (Cresswell, 1998).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan purposive sampling, cara
pemilihan partisipan dalam penelitian ini tidak diarahkan pada jumlah tetapi
berdasarkan pada asas kesesuaian dan kecukupan sampai mencapai saturasi data.
Oleh karena itu, pemilihan partisipan pada penelitian ini berdasarkan kriteria yang
telah ditentukan sesuai dengan tujuan penelitian. Hal ini dilakukan agar partisipan
benar-benar menggambarkan
2005).
terhadap fenomena yang diteliti (Poerwandari,
Informan dalam penelitian ini mengacu pada prinsip kesesuaian dan tidak
ada informsi lain yang dapat digali. Informan dalam penelitian ini dipilih untuk
melihat persepsi remaja di sekolah SMP. Masing-masing sekolah diadakan dua
focus group discussion (FGD). Dari dua FGD tersebut dibagi lagi menjadi satu
FGD untuk siswa yang tergabung dalam organisasi siswa intra sekolah (OSIS )
laki-laki dan satu FGD untuk siswa OSIS perempuan. Kriteria inklusi partisipan
dalam penelitian ini adalah siswa yang duduk di kelas VIII, siswa yang bersedia
menjadi responden dan disetujui oleh orang tua, siswa yang tergabung di OSIS,
siswa pernah mengikuti kegiatan PKPR di sekolah.
Jumlah Informan dalam
penelitian ini adalah 27 informan FGD dan 4 informan wawancara mendalam.
3.1.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini diperoleh dari sumber data primer dan
sumber data sekunder. Data primer di dapatkan dari FGD dengan informan yaitu
remaja SMP, selain itu data primer juga didapatkan dari wawancara mendalam
dengan pemegang program PKPR Puskesmas , konselor sebaya, wakil kepala
sekolah dan guru bimbingan konseling (BK) serta dari hasil observasi oleh
peneliti . Jenis informasi yang diinginkan dari data primer yaitu persepsi,
pengetahuan, harapan, bentuk kegiatan, dukungan , masalah remaja, pelaksanaan
PKPR, kelengkapan sarana dan prasarana. Data sekunder diperoleh dari data
kunjungan remaja ke Puskesmas dan data hasil kunjungan konseling ke konselor
sebaya di sekolah. Data sekunder dalam penelitian ini digunakan untuk membantu
dalam melakukan analisis data.
3.1.4 Instrumen Penelitian
Dalam proses pengumpulan data penelitian kualitatif, peneliti berfungsi
sebagai instrumen utama penelitian. Pada pelaksanaanya peneliti dibantu oleh
pedoman pengumpulan data ( misalnya pedoman wawancara, pedoman FGD dan
pedoman observasi terbuka. Pedoman ini membantu peneliti melakukan
pengumpulan data secara efisien (Bungin, 2003).
Penelitian ini menggunakan peneliti sendiri sebagai instrumen dan dibantu
asisten dilengkapi dengan pedoman wawancara, pedoman FGD dan lembar
observasi.
3.2 Metode dan Teknik Pengumpulan data
Penelitian kualitatif memiliki banyak cara yang dapat dipakai untuk
mengumpulkan data, namum yang paling sering digunakan adalah wawancara
mendalam, diskusi kelompok terarah dan observasi. Wawancara mendalam adalah
proses tanya jawab secara bertatap muka antara informan dan pewawancara untuk
memperoleh keterangan untuk tujuan, dapat menggunakan pedoman wawancara
atau tidak. FGD mempunyai tujuan untuk memperoleh makna dari tema penelitian
menurut pemahaman kelompok (Saryono & Dwi , 2013).
Persiapan yang dilakukan adalah menyiapkan pedoman wawancara, sarana
dan prasarana yang digunakan untuk FGD diantaranya adalah ruangan, alat
perekam, alat tulis. Saat FGD peneliti dibantu oleh asisten sebagai notulen. Dalam
pelaksanaannya, pertama melaksanakan FGD di SMP pertama, selain itu juga
melakukan observasi sarana dan prasarana dan laporan terkait prorgam PKPR di
SMP tersebut , lalu dilanjutkan dengan wawancara mendalam kepada kepala
sekolah, guru BK, dan konselor sebaya. Selanjutnya FGD di laksanakan di SMP
kedua, dilanjutkan wawancara mendalam kepada kepala sekolah, Guru BK dan
konselor sebaya. Selain kedua tekhnik terebut, peneliti juga melakukan observasi
sarana dan prasarana serta laporan terkait prorgam PKPR. Langkah selanjutnya
adalah melakukan wawancara mendalam kepada pemegang program PKPR di
Puskesmas, mengobservasi sarana dan prasarana dan laporan terkait program
PKPR. Metode dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
dapat
digambarkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 3.1
Metode dan tekhnik pengumpulan data
Jenis data
Primer
Sumber data
Siswa yang sesuai
dengan kriteria
inklusi.
-
Konselor Sebaya
Tekhnik
- FGD
- Wawancara
mendalam
Jumlah
- Dua FGD (enamdua belas) orang /
sekolah
- Satu orang/sekolah
- Satu orang/sekolah
-
Sekunder
Kepala sekolah
- Wawancara
mendalam
-
Petugas Puskesmas
(Petugas PKPR)
- Wawancara
mendalam
-
Sarana &
Prasarana
- Observasi
-
Data laporan
puskesmas
Data konselor
sebaya di sekolah
Data kegiatan
PKPR di sekolah
- Satu orang
3.3 Metode dan Teknik Analisis Data
Proses analisis data dilakukan secara simultan dengan proses pengumpulan
data. Proses analisis data menggunakan analisa data tematik, analisis tematik
adalah cara mengidentifikasi tema-tema yang terpola dalam suatu fenomena.
Tema-tema ini dapat diidentifikasi, dikodekan secara induktif (data driven) dari
data kualitatif mentah (transkrip wawancara, rekaman video, biografi, dan
sebagainya) maupun secara deduktif (theory driven) berdasarkan hasil penelitian
terdahulu maupun teori (1978, dalam Steubert & Carpenter, 1999). langkahlangkah dalam analisis tematik dapat di uraikan seperti di bawah ini.
a. Membaca transkrip secara berulang-ulang
b. Mengelompokkan kata-kata kunci
c. Menbuat kategori-kategori
d. Mengelompokkan kategori dalam subtema
e. Merumuskan tema
f. Mengintegrasikan hasil analisis kedalam bentuk deskriptif
3.3.1 Penyajian Hasil Analisis Data
Metode dan tekhik penyajian hasil analisa data dalam penelitian ini dengan
narasi dan uraian kata-kata dan juga penyajian menggunakan tabel-tabel.
3.3.2 Keabsahan Data
Kehandalan dan kredibilitas data penelitian ini didapatkan dengan
triangulasi data. Sutopo (2006), mengatakan bahwa untuk meningkatkan validitas
data dalam penelitian kualitatif dapat menggunakan triangulasi. Terdapat empat
macam triangulasi yaitu (1) triangulasi sumber/ data, (2) triangulasi peneliti, (3)
triangulasi metodologis dan (4) triangulasi teoritis. Dalam menarik kesimpulan
yang mantap, diperlukan tidak hanya dari satu sudut pandang saja, oleh karena itu
triangulasi merupakan tekhnik yang didasari oleh pola pikir fenomenologi yang
bersifat multiperspektif.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi data/sumber yaitu
dengan menggunakan informan yaitu remaja SMP dari dua sekolah yang berbeda
dan jenis kelamin yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan serta kriteria yang
berbeda yaitu yang ikut OSIS serta di konfirmasi dengan melakukan wawancara
mendalam kepada informan kunci yaitu pemegang program PKPR dan guru BK/
kepala sekolah dan konselor sebaya. Selain itu peneliti juga menggunakan
triangulasi metode yaitu dengan metode melakukan dua kali FGD/ sekolah dan
wawancara mendalam.
3.4 Etika Penelitian
Peneliti telah mendapatkan ijin penelitian dari Kesbangpolinmas,
Puskesmas Kuta Selatan dan kedua SMP. Karena responden yang digunakan
adalah masyarakat, maka peneliti juga mendapatkan persetujuan dari Ethical
Clearence pada komisi etik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Peneliti
juga menggunakan informed consent untuk informan yang disetujui oleh orang
tua. Menurut Moleong (2007), agar studi alamiah benar-benar dapat terjadi dan
peneliti tidak mendapat persoalan masalah etik, maka ada beberapa yang harus
dipersiapkan diantaranya dapat di uraikan pada halaman selanjutnya.
a. Meminta ijin pada penguasa setempat dimana penelitian akan
dilaksanakan sekaligus memberikan penjelasan tentang maksud dan
tujuan penelitian.
b. Menempatkan orang-orang yang diteliti sama dengan peneliti bukan
sebagai “objek”.
c. Menghargai, menghormati, dan patuh semua norma, peraturan, nilai
masyarakat, adat-istiadat, kepercayaan dan kebudayaan yang hidup di
dalam masyarakat tempat penelitian dilakukan.
d. Memegang segala rahasia yang berkaitan dengan informasi yang
diberikan.
e. Informasi tentang subjek tidak dipublikasikan bila subjek tidak
menghendaki, termasuk nama subjek tidak akan dicantumkan dalam
laporan penelitian.
f. Peneliti dalam merekrut informan terlebih dahulu, memberikan informed
consent, yaitu memberi tahu secara jujur maksud dan tujuan penelitian
pada sampel dengan sejelas-jelasnya.
g. Selama dan sesudah penelitian privasi tetap dijaga, semua informan
diperlakukan sama, nama partisipan di ganti dengan nomor (anonimity),
peneliti akan menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan dn hanya
digunakan untuk kegiatan penelitian serta tidak akan di publikasikan
tanpa izin paartisipan.
h. Selama pengambilan data peneliti memberi kenyamanan pada partisipan
dengan mengambil tempat wawancara sesuai dengan keinginan
partisipan. Sehingga partisipan dapat leluasa tanpa ada pengaruh
lingkungan untuk mengunkapkan masalah yang dialami.
(Poerwandari, 1998; Moleong, 2007)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini pada tiga tempat, yaitu Puskesmas Kuta Selatan,
SMPN 3 Kuta Selatan dan SMP Dwijendra. Gambaran umum lokasi penelitian
mencakup letak geografis, program kerja, jumlah siswa dan jumlah pegawai.
Adapun gambaran umum ketiga lokasi penelitian dapat dilihat dalam uraian
dibawah ini.
4.1.1
Gambaran Umum Kecamatan Kuta Selatan
Kecamatan Kuta Selatan merupakan salah satu kecamatan di wilayah
Kabupaten Badung. Kecamatan Kuta Selatan merupakan kecamatan yang
memiliki \wisata di enam Desanya. Desa Kutuh mempunyai objek wisata pantai
pandawa,
Desa Pecatu mempunyai objek wisata pantai nyang-nyang, pantai
dreamland, pantai bingin,
pantai suluban dan Pura uluwatu. Desa Ungasan
mempunyai objek wisata pantai melasti ungasan, pantai bali cliff ungasan dan
garuda wisnu kencana. Kelurahan Benoa mempunyai objek wisata pantai nusa
dua dan pantai geger sawangan. Kelurahan jimbaran mempunyai objek wisata
pantai balangan dan pantai jimbaran. Kelurahan Tanjung Benoa mempunyai objek
wisata tirta tanjung benoa.
Sarana dan prasarana kesehatan yang berada di Puskesmas Kuta Selatan
antara lain satu Puskesmas, enam pustu, enam puluh lima posyandu, tujuh
klinik, lima puluh dua praktek dokter, tiga belas praktek dokter spesialis, dua
puluh satu bidan praktek. Tujuh bidan praktek swasta bekerja sama dengan
jampersal. Capaian target di bidang kesehatan pada tahun 2014 adalah promosi
kesehatan 98 %, kesehatan lingkungan 78 %, kesehatan ibu dan anak termasuk
keluarga berencana 99 %, upaya perbaikan gizi masyarakat 99 %, upaya
pemberantasan penyakit menular 95 % dan upaya pengobatan 80 %. Pencapaian
untuk program remaja tidak ada laporan ke Kecamatan, karena pemegang progam
PKPR mengatakan bahwa untuk PKPR tidak ada target tertentu.
Pelaksanaan Rencana Strategis Kantor Kecamatan Kuta Selatan tahun
2010 - 2015 berisi indikasi rencana program prioritas berikut kegiatan-kegiatan
yang mendesak untuk dilakukan. Indaikasi rencana program prioritas meliputi a)
Melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat; b) Melaksanakan upaya
penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; c)
penyelenggaraan
d)
kegiatan
pemerintahan
di
Mengoptimalkan
tingkat
kecamatan;
Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Di dalam renstra tersebut
program prioritas Kecamatan Kuta Selatan lebih menitikberatkan pada
pembangunan dan kegiatan masyarakat, sedangkan untuk kesehatan dan remaja
tidak masuk dalam program prioritas.
4.1.2 Gambaran Umum Puskesmas Kuta Selatan
Unit pelaksana tekhnis (UPT) Puskesmas Kuta Selatan merupakan salah
satu Puskesmas dengan pelayanan UGD 24 jam dan klinik Voluntary Counseling
Testing (VCT) – Infeksi menular seksual (IMS) yang terletak di Kecamatan Kuta
Selatan Kabupaten Badung. Cakupan wilayah Puskesmas Kuta Selatan meliputi
tiga Desa dan tiga Kelurahan, yaitu Desa Pecatu, Desa Ungasan, Desa Kutuh,
Kelurahan Jimbaran, Kelurahan Benoa dan Kelurahan Tanjung Benoa. Sumber
daya UPT Puskesmas kuta selatan berdiri pada tahun 1982 dengan menggunakan
tanah milik Dinas Pariwisata dan sumbangan bangunan dari BTDC yang berlokasi
di lingkungan Banjar Penyarikan, Jl. Srikandi no 40 A Nusa Dua, dengan nama
Puskesmas Benoa. Kemudian pada tahun 2001 berubah nama menjadi UPT.
Puskesmas Kuta Selatan. Puskesmas terletak di area pemukiman penduduk yang
padat, mudah dijangkau karena dekat dengan jalan utama dan fasilitas umum
lainnya. Memiliki 6 buah puskesmas pembantu (PP) meliputi : PP Tanjung Benoa,
PP Ungasan, PP Pecatu, PP Kutuh, PP Jimbaran I, PP Jimbaran II. Jumlah
pegawai di Puskesmas Kuta Selatan berjumlah empat puluh dua orang yang
terdiri dari dokter tujuh orang, dokter gigi dua orang, perawat sepuluh orang,
bidan sepuluh orang, SKM satu orang, perawat gigi tiga orang, asisten apoteker
satu orang, analis satu orang, gizi satu orang, administrasi satu orang, supir satu
orang, kesling satu orang, pekarya satu orang dan cleaning servise tiga orang.
Program pokok puskesmas meliputi upaya kesehatan wajib dan upaya
kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan wajib yang dimiliki Puskesmas
diantaranya adalah 1) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA); 2) Keluarga Berencana
(KB); 3) Gizi; 4) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P3M); 5)
Kesehatan Lingkungan; 6) Promosi Kesehatan; 7) Pengobatan. Untuk upaya
kesehatan pengembangan terdiri dari sebelas program, salah satu diantaranya
adalah kesehatan remaja atau program PKPR. Program ini dijalankan di
puskesmas kuta selatan sejak tahun 2007,
program ini perlu dikembangkan
karena Puskesmas Kuta Selatan memiliki cakupan remaja paling banyak diantara
Puskesmas lainnya yaitu 9161 remaja dan 21 sekolah. Dalam hal pelaksanaan
program PKPR ini, sampai saat ini hanya menjangkau pelayanan di sekolah saja,
sedangkan untuk akses ke teruna-teruni belum berjalan dikarenakan berbagai
kendala diantaranya adalah luasnya wilayah dan minimnya tenaga kesehatan.
Pelayanan klinik PKPR di Puskesmas sendiri hanya sebatas pengobatan dan untuk
tempat layanan masih gabung dengan poli umum. Puskesmas juga belum
mempunyai ruangan khusus untuk konseling remaja (Dinkes Kabupaten Badung,
2014).
4.1.3 Gambaran Umum SMPN 3 Kuta Selatan
SMPN 3 Kuta selatan adalah salah satu dari empat SMP Negeri yang ada
di Kecamatan Kuta Selatan. SMPN 3 Kuta Selatan berdiri sejak tahun 1997 diatas
tanah seluas 4.300 m2 dengan alamat JL.Pratama Tanjung Benoa Kelurahan
Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung Provinsi Bali.
Sekolah ini terletak di kawasan pengembangan pariwisata Nusa Dua, Kecamatan
Kuta Selatan Kabupaten Badung. Adapun jumlah siswa pada tahun 2015 ini
terdiri dari kelas VII sebanyak dua ratus siswa, Kelas VIII sebanyak dua ratus tiga
puluh delapan siswa dan kelas IX sebanyak dua ratus lima puluh siswa, sehingga
total siswanya saat ini adalah enam ratus delapan puluh delapan siswa. Data guru
dan pegawai di SMPN 3 Kuta Selatan, terdiri dari guru tetap (PNS) sebanyak dua
puluh enam orang, guru honor sekolah sebanyak tiga belas orang dan staf tata
usaha sebanyak sembilan orang. Berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan
oleh SMPN 3 Kuta Selatan, Sekolah menetapkan dua puluh tujuh tujuan
pendidikan di SMPN 3 Kuta selatan. Tujuan tersebut secara bertahap akan
dimonitor, dievaluasi dan dikendalikan setiap kurun waktu satu tahun. Salah satu
tujuan sekolah adalah terbentuknya pemahaman peserta didik terhadap bahaya
narkoba dan HIV/AIDS, Oleh karena itu untuk mewujudkan tujuan tersebut,
sekolah bekerjasama dengan Puskesmas dalam pelaksanaan kegiatan PKPR di
Sekolah. Program PKPR ini sudah berjalan sejak tahun 2007 di SMPN 3 Kuta
Selatan, setiap tahun puskesmas juga rutin mengadakan penyuluhan dan
penjaringan ke sekolah. Pembentukan konselor sebaya dilaksanakan saat sekolah
akan mengadakan lomba Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Jumlah konselor
sebaya di SMPN 3 Kuta Selatan sebanyak tiga puluh siswa. Fasilitas konseling
yang disediakan oleh SMPN 3 Kuta Selatan yaitu ruang UKS yang sudah dibagi
menjadi dua ruangan yaitu untuk laki-laki dan perempuan.
4.1.4 Gambaran Umum SMP Dwijendra
SMP Dwijendra terletak di Jln. I gusti Ngurah Rai, Bualu, kecamatan
Kuta Selatan. Jumlah total siswa SMP Dwijendra adalah enam ratus dua siswa.
Banyaknya siswa dan keterbatasan ruangan menyebabkan pembelajaran siswa di
bagi menjadi pagi dan siang. Program PKPR di SMP Dwijendra sudah
berlangsung sejak tahun 2007. Kerjasama untuk pelayanan klinik PKPR antara
sekolah dan SMP Dwijendra sudah berlangsung sejak lama yaitu dengan adanya
pengobatan gratis bagi siswa yang sakit. Untuk kegiatan PKPR disekolah yaitu
berupa penyuluhan saat masa orientasi siswa (MOS) dan penjaringan tiap tahun
ke sekolah. Di SMP Dwijendra belum ada konselor sebaya. Kondisi ini
dikarenakan pembentukan konselor sebaya di fokuskan pada sekolah yang akan
mengikuti lomba UKS.
Lokasi Penelitian ditentukan berdasarkan kesepakatan antara peneliti dan
informan. Lokasi penelitian bagi informan FDG adalah dimasing-masing sekolah
yaitu di SMPN 3 Kuta selatan dan SMP Dwijendra, untuk wawancara mendalam
dengan guru bimbingan konseling (BK), wakil kepala sekolah dan konselor
sebaya di masing-masing sekolah, sedangkan untuk pemegang program PKPR
wawancara mendalam dilaksanakan di Puskesmas Kuta Selatan.
4.2 Karakteristik Informan
Pengambilan informan dalam penelitian ini yaitu siswa di dua SMP
perwakilan dengan menggunakan metode FGD Jumlah Informan sebanyak 27
siswa. FGD sendiri di bagi menjadi 2 kategori di masing-masing sekolah, yaitu
OSIS
laki-laki dan OSIS perempuan. Untuk informan kunci menggunakan
wawancara mendalam dengan jumlah empat orang, yaitu dari guru BK, wakil
kepala sekolah, konselor sebaya dan petugas Puskesmas. Karakteristik informan
FGD dapat dilihat dari Umur, pendidikan dan alamat yang akan ditampilkan
dalam tabel pada halaman berikutnya
Tabel 4.1
Karakteristik Informan FGD OSIS Perempuan
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Kode
Informan
1A
2A
3A
4A
5A
6A
1D
2D
3D
4D
5D
6D
7D
Umur
(th)
14
14
13
14
14
14
14
13
14
13
14
14
14
Pendidikan
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Alamat
Benoa
Jimbaran
Jimbaran
Jimbaran
Nusa Dua
Nusa Dua
Benoa
Benoa
Kampial
Benoa
Benoa
Benoa
Benoa
Berdasarkan hasil FGD pada siswa OSIS Perempuan di dua SMP,
didapatkan data bahwa sebagian besar informan berusia 14 tahun, sebagian kecil
lainnya berusia 13 tahun. Semua menjabat sebagai anggota OSIS di SMP masingmasing dan semua tinggal di wilayah Kecamatan Kuta Selatan.
Tabel 4.2
Karakteristik Informan FGD OSIS Laki-laki
No
Kode
Informan
1B
2B
3B
4B
5B
6B
1C
2C
3C
4C
5C
6C
7C
8C
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Umur
(th)
15
13
13
13
14
14
14
14
13
16
15
12
15
13
Pendidikan
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Kelas VIII
Alamat
Jimbaran
Benoa
Benoa
Nusa Dua
Nusa Dua
Benoa
Kampial
Benoa
Benoa
Kampial
Benoa
Benoa
Benoa
Jimbaran
Berdasarkan hasil FGD pada siswa OSIS laki-laki di dua SMP, didapatkan
data bahwa sebagian besar informan berusia 13 tahun, sebagian lainnya berusia 14
tahun, 15 tahun dan ada yang berusia 16 tahun. Semua menjabat sebagai anggota
OSIS di SMP masing-masing dan semua tinggal di wilayah Kecamatan Kuta
Selatan.
Karakteristik Informan untuk wawancara mendalam dapat dilihat dari usia,
tingkat pendidikan, status informan dan alamat informan. Adapun informan untuk
wawancara mendalam dalam penelitian ini berjumlah empat Orang yang akan
disajikan dalam tabel pada halaman berikutnya.
Tabel 4.5
Karakteristik Informan Wawancara Mendalam
No
Pendidikan
Status Informan
Alamat
1.
Kode
Umur
Informan (th)
PKM
55
D3 Kebidanan
Pemegang Program
PKPR
Kedonganan
2.
WM KS
15
SMP Kelas IX
Konselor Sebaya
Benoa
3.
WK SDJ
54
S2
Wakil Kepala
Sekolah
Jimbaran
4.
BK
S3KS
50
SI
Guru BK
Nusa Dua
Berdasarkan hasil wawancara mendalam didapatkan hasil bahwa sebagian
besar informan berusia antara 50-55 tahun, sedangkan untuk konselor sebaya
berusia 15 tahun. Semua informan mempunyai latar belakang studi D3 sampai
dengan S2. Tempat tinggal informan bervariasi tapi masih di dalam wilayah
Jimbaran dan Nusa Dua.
4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.3.1 Persepsi
Remaja Terhadap Keberadaan, Faktor Pendukung dan
Faktor Penghambat PKPR.
Hasil penelitian terkait persepsi remaja terhadap keberadaan, faktor
pendukung dan faktor penghambat PKPR di uraikan dalam uraian dibawah ini.
4.3.1.1 Persepsi Remaja Terhadap Keberadaan PKPR
Hasil FGD mengenai persepsi remaja terhadap keberadaan PKPR,
menyebutkan bahwa, menurut siswa keberadaan PKPR sangat penting dan
bermanfaat untuk mencegah dan mengatasi permasalahan remaja. Sebagian besar
siswa menganggap keberadaan PKPR hanya ada di sekolah saja, namun ada
beberapa siswa yang menganggap bahwa keberadaan PKPR juga ada di
Puskesmas dan di Desa-Desa. Untuk Keberadaan pelayanan Klinik PKPR, siswa
OSIS sebagian besar menganggap bahwa pelayanan klinik dalam PKPR berada di
Puskesmas, RS, Posyandu dan tempat kesehatan lainnya, hanya sebagian kecil
yang tidak tahu tempat pelayanan klinik dalam PKPR. Beberapa pernyataan
informan terkait keberadaan PKPR dapat dilihat pada uraian dibawah ini.
“ Menurut saya keberadaan PKPR itu bermanfaat, mungkin karena
kurang memahami, supaya masyarakat lebih tahu dan lebih paham maka
harus diperbanyak juga”
(FGD 3A S3KS)
“Menurut saya, PKPR itu jangan di sekolah saja tetapi juga penting di
masyarakat, supaya masyarakat tahu keberadaan PKPR dan dapat
memanfaatkannya”
(FGD 5A S3KS)
“ Seharusnya PKPR ada di sekolah, desa di balai banjar, dan RS.
Kegiatannya selain penyuluhan ada konseling juga. Tapi saya gak tau
kalau ada di puskesmas”
(FGD 3C SDJ)
Menurut wakil kepala sekolah, keberadaan PKPR ada di sekolah dan
puskesmas. Sekolah sudah ada kerjasama untuk pengobatan gratis ke puskesmas.
Bagi siswa yang mengalami permasalahan diselesaikan oleh sekolah dulu dengan
bimbingan konseling, jika tidak dapat menangani baru di rujuk ke puskesmas. Hal
senada juga diungkapkan oleh guru BK yang selama ini mengetahui keberadaan
PKPR di sekolah maupun di Puskesmas. Menurut pemegang program puskesmas,
pelayanan klinik PKPR seharusnya ada di desa, sekolah, puskesmas maupun di
RS. Sedangkan kegiatan PKPR seharusnya bukan hanya disekolah tetapi juga di
masyarakat seperti pada teruna-teruni atau pondok pesantren. Selama ini
Puskesmas belum menjangkau kesana karena aksesnya sulit dan terbentur pada
jam kerja remaja tersebut, akan tetapi untuk rencana kedepan akan ada kerjasama
dengan promkes untuk ke teruna-teruni. Beberapa pernyataan informan mengenai
keberadaan PKPR dapat dilihat dalam uraian di bawah ini .
“ Kalau ke teruna-teruni jelas aksesnya susah atau mereka kan kerja,
kerjanya kan gak sama, kalau kerja sore gak mungkin kita ndatangkan
sore, jadi gak mungkin kan kita pembinaan kalau sedikit. Jadi rencananya
kerjasama dengan promkes, maunya sich rencana kesitu tapi selama ini
belum berjalan”
(WM PKM)
Biasanya setiap tahun itu puskesmas mendata berapa kita dapat murid,
jumlah siswa berapa, terus dikaitkan dengan MOS, maka ada sejenis
kerjasama bahwa setiap tahun puskesmas pasti kesini memberikan
penyuluhan”. “ Dulu sebelum pengobatan gratis, sekolah kita memang
diberitahu bahwa bisa dibawa ke puskesmas dan biayanya gratis. Semua
jenis kasus sakit. Bahkan pernah diberi sejenis softnes untuk pembalut
wanita”.
(WM WKSDJ)
Siswa dan pihak sekolah mengetahui keberadaan PKPR dari sosialisasi.
Sosialisasi dilaksanakan oleh petugas Puskesmas, saat masa orientasi siswa
(MOS) dan lomba UKS. Sosialisasi dilaksanakan dalam bentuk ceramah dan
tanya jawab di Aula atau di kelas-kelas. Hal ini sesuai dengan pernyataan wakil
kepala sekolah SMP bahwa, walaupun secara khusus beliau tidak pernah
mendengar PKPR secara langsung, akan tetapi beliau mengatakan bahwa hampir
setiap tahun Puskesmas mengadakan ceramah kepada anak-anak dan ada sejenis
imunisasi. Setiap tahun, Puskesmas juga mengadakan penjaringan ke sekolah.
Menurut guru bimbingan konseling (BK), Puskesmas mensosialisaikan ke SMP
waktu akan mengikuti lomba UKS, Puskesmas datang bersama dengan team.
Puskesmas juga mensosialisasikan ke guru BK bahwa jika ada masalah remaja
yang tidak bisa ditangani sekolah, maka puskesmas menyarankan merujuk ke
puskesmas. Beberapa pernyataan dan informan terkait sosialisai dapat diuraiakan
sebagai berikut.
“Pernah, pada waktu itu diadakan di sekolah, pada waktu bulan Oktober,
mau lomba UKS, yang mensosialisasikan adalah puskesmas”
(WM KS S3KS)
“Iya waktu MOS itu membentuk tim untuk penyuluhan, jadi sama
promkes, sama petugas UKS dan petugas terkait seperti penyuluhan
tentang HIV/AIDS ya dengan petugas VCT, IMS dengan VCT juga dn GIzi
dengan Ahlinya”
(WM PKM)
“ Selama ini memang belum ada target khusus ya tapi katanya sich ambil
saja 20 % dari penduduk, berarti 20 % nya itu remaja dianggap. Jadi kita
ngambilnya dari sekolah saja. kalau untuk skrening dan pembinaanpembinaan itu 2 kali setahun),
(WM PKM)
“Iya saya tahu bu, karena kita kan selalu bekerjasama dengan puskesmas
bu, biasanya mereka ke sekolah untuk memberi informasi tentang
kesehatan remaja”. “ Mereka diberi sosialisai berupa penyuluhan saja,
materi mereka kasih dan kemudian mereka disuruh mencoba, seperti
mengukur TB,BB dan LILA”
(WM BK S3KS)
PKPR adalah suatu program yang dikembangkan oleh Kementerian
Kesehatan RI sebagai upaya untuk meningkatkan status kesehatan remaja yang
menekankan pada puskesmas. Singkatnya, PKPR adalah pelayanan kesehatan
yang ditujukan untuk remaja, dimana pelayanannya dapat diakses oleh semua
golongan remaja, dapat diterima, sesuai, komprehensif, efektif dan efisien.
Program PKPR mempunyai sasaran yaitu semua remaja usia 10 - 19 tahun dan
belum menikah, remaja yang dimaksud disini adalah remaja baik sekolah maupun
tidak, sehingga bisa melalui karang taruna, remaja masjid, dll, (Kemenkes RI,
2011). Menurut pemegang program PKPR Puskesmas Kuta Selatan, selama ini
pelaksanaan kegiatan PKPR hanya menjangkau remaja melalui sekolah saja,
untuk akses ke teruna-teruni selama ini belum bisa menjangkau kesana karena
aksesnya sulit dan terbentur pada jam kerja remaja tersebut. Berdasarkan hasil
FGD menyebutkan bahwa hanya sebagian kecil siswa yang mengetahui
pengertian dari program PKPR, sehingga menimbulkan persepsi yang berbedabeda tentang keberadaan program PKPR tersebut. Dari kedua sekolah tersebut
hanya sebagian kecil saja yang menganggap bahwa selain disekolah, keberadaan
PKPR juga di desa-desa dan puskesmas. Hal berbeda ini memang sesuai dengan
pernyataan dari pemegang program puskesmas kuta selatan bahwa pembentukan
konselor sebaya selama ini tidak merata, sehingga pembentukannya hanya
dilakukan pada sekolah yang akan mengikuti lomba UKS saja. Berdasarkan hasil
wawancara mendalam dengan Pemegang program PKPR Puskesmas Kuta
Selatan, bahwa ketidakmerataan pembentukan konselor sebaya di tiap sekolah
dikarenakan waktu yang dibutuhkan untuk pelatihan yaitu selama satu minggu
sehingga dapat mengganggu proses belajar mengajar, selain itu adanya
keterbatasan dana dan juga tenaga dalam kegiatan tersebut. Begitu juga dengan
dengan perbedaan persepsi antar siswa tentang keberadaan PKPR, hal ini
dikarenakan kurang maksimalnya sosialisasi tentang PKPR itu sendiri, sehingga
tidak semua mengetahui keberadaan PKPR ini. Hal serupa juga sejalan dengan
penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Arsani (2013) di Kecamatan Buleleng
yang menyebutkan bahwa Program PKPR yang dicanangkan Puskesmas Buleleng
1 sebagian besar sudah terlaksana dengan baik, namun masih ada satu sasaran
yang belum tercapai yaitu pembentukan konselor sebaya serta belum
maksimalnya sosialisasi kepada remaja secara luas.
4.3.1.1 Persepsi Remaja Tentang Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat
PKPR
Menurut persepsi siswa, faktor pendukung PKPR disekolah diantaranya
adalah dukungan dari sekolah berupa waktu dan fasilitas yang disediakan, peran
konselor sebaya untuk menolong teman yang sakit dan untuk konseling, sarana
dan prasarana UKS yang menunjang dan dianggap sudah lengkap serta materi
penyuluhan yang menarik. Faktor penghambatnya sendiri yaitu minimnya
informasi tentang keberadaan konseling disekolah maupun dipuskesmas, peran
petugas puskesmas yang kurang ramah, kapasitas ruangan yang kurang, waktu
yang sangat terbatas, dan beralih fungsinya UKS menjadi gudang. Hal tersebut
sama dengan pernyataan dari wakil kepala sekolah, bahwa waktu yang disediakan
untuk penyuluhan hanya satu jam dan satu sesi saja, hal ini di karenakan
keterbatasan waktu untuk kegiatan MOS. Waktu pelatihan yang dibutuhkan untuk
pelatihan konselor sebaya yaitu selama satu minggu. Hal senada juga di
ungkapkan oleh guru BK dan juga konselor sebaya bahwa dukungan dari sekolah
berupa waktu, pendanaan juga kelengkapan sarana dan prasarana yang digunakan.
Wakil kepala sekolah SMP juga mengatakan bahwa sekolah sangat mendukung
akan semua hal yang positif, termasuk menyediakan dana sesuai anggaran, jika
tidak memungkinkan maka dibuatlah skala prioritas. Hal ini terbukti dengan
pembangunan kran cuci tangan seperti yang disarankan oleh puskesmas tahun
lalu. Pemegang program PKPR mengatakan bahwa selama ini sekolah sangat
mendukung kegiatan PKPR di sekolah, sekolah juga menanyakan apa saja alatalat yang dibutuhkan untuk kegiatan ini. Dukungan dari dinas yaitu pengadaan
poster, leaflet, kartu menuju sehat (KMS), serta UKS kit yang diberikan ke
sekolah, akan tetapi jumlahnya tidak merata. Puskesmas sendiri mendukung
kegiatan ini, akan tetapi tidak ada anggaran dana khusus sehingga mengambil dari
BOK. Puskesmas juga tidak menyediakan tenaga khusus, sehingga kekurangan
tenaga. Pernyataan informan mengenai dukungan dapat diuraikan dalam
pernyataan berikut ini.
“ Sekolah meminta tim PKPR untuk datang kesini dan melatih siswa agar
lebih berpengetahuan, dan sekolah juga menyediakan waktu”
(FGD 1B S3KS)
“Diberikan waktu untuk penyuluhan dn diijinkan mengikuti”
(FGD 3A S3KS)
“ Seharusnya menyediakan waktu yang lebih lama dan sarananya
harusnya lebih lengkap dan seharusnya semua pihak sekolah ikut
mendengarkan dan muridnya lebih terti. Selain itu alat-alat peraga juga
tidak ada”.
(FGD 7D SDJ)
“Karena yang dibentuk konselor kan yang maju ke lomba jadi mereka
sangat mendukung, kan kita juga pembinaan-pembinaan di sekolah, yang
perlu disiapkan di UKS apa saja, ada penyuluhan dan lain sebagianya”.
(WM PKM)
“Dari kepala sekolah memberikan waktu juga, kemudian pendanaan
juga, apa saja yang dibutuhkan PKPR di UKS kepala sekolah mendukung,
kita tinggal mengajukan saja apa2 yang dibutuhkan”
(WM BK S3KS)
“Kalau program positif pasti mendukung, misalnya untuk perbaikan UKS
pati kita sediakan sesuai alokasi dana. Misalnya tahun kemarin harus ada
kran untuk cuci tangan, sekarang sudah kita buat. Kita selalu open
dengan masukan dari mana saja. Kalau tidak ada dana pasti kita buat
skala prioritas”.
(WM WK SDJ)
“ Iya ada semacam UKS kit dari dinas, kita ngasihkan yang antusias mau
ke lomba baru dikasih dari sini, Jadi gak semua kebagian”.
(WM PKM)
Guru BK dan konselor sebaya mengatkan bahwa sarana dan prasarana
yang disediakan untuk kegiatan ini cukup lengkap, alat-alat yang ada di UKS
yaitu ada pengukur tinggi badan (TB), pengukur berat badan (BB), alat tes
ketajaman mata, pengukur LILA (lingkar lengan atas), kartu menuju sehat (KMS)
remaja, Tensimeter, alat pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan juga
daftar obat-obatannya. Sarana dan prasarana yang digunakan untuk penyuluhan
ada LCD dan proyektor, brosur, leaflet dan poster juga disediakan oleh
puskesmas, kms remaja juga ada tapi jumlahnya terbatas. Ruangan konseling yang
disediakan yaitu UKS. Menurut konselor sebaya, faktor penghambat pemanfaatan
PKPR di sekolah yaitu tidak ada ruangan khusus untuk konseling. Selama ini
ruang konseling yang digunakan yaitu UKS, akan tetapi kerahasiaan siswa kurang
terjaga. Pemegang Program PKPR mengatakan bahwa selama ini sarana dan
prasarana dimasing-masing sekolah berbeda-beda tergantung sekolahnya, untuk
dinas sendiri menyediakan bantuan leaflet, materi dan UKS kit akan tetapi
jumlahnya terbatas. Di Puskesmas ruangan khusus konseling tidak ada, untuk
pelayanan klinik digabung menjadi satu dengan poli umum, selain itu program
remaja ini bukan program prioritas. Saat peneliti melakukan observasi didapatkan
hasil bahwa masing-masing sekolah mempunyai LCD dan proyektor untuk
penyuluhan. Semua sekolah tidak mempunyai alat-alat peraga permaianan seperti
di buku panduan PKPR. Di SMP yang PKPR Nya berjalan dengan baik, UKS nya
di bagi menjadi dua ruangan yaitu untuk laki-laki sendiri dan perempuan sendiri,
ada jadwal piket dan peralatannya juga lengkap akan tetapi kebersihannya kurang.
Sedangkan untuk sekolah SMP satunya, hanya mempunyai satu ruang untuk
UKS, dan saat renovasi ini sudah beralih fungsi menjadi gudang. Alat-alat di UKS
juga terlihat tidak terawat dan jarang digunakan. Di Puskesmas tidak ada ruangan
khusus untuk konseling, untuk pelayanana klinik dijadikan satu dengan
poliumum. Berbagai pernyataan informan terkait sarana dan prasarana dapat
dilihat dalam uraian berikut ini.
“Ada, di ruang UKS, tetapi kurang terjaga karena banyak yang ingin
tahu. Kalau misalnya ada yang sakit sedikit, semua pada ngerubungin
gitu”
(WM KS S3KS)
“ Iya ada semacam UKS kit dari dinas, kita ngasihkan yang antusias mau
ke lomba baru dikasih dari sini, Jadi gak semua kebagian”
(WM PKM)
Sebagian besar OSIS laki-laki mengatakan bahwa peran petugas
puskesmas cukup bagus, akan tetapi ada sebagian kecil yang mengatakan kurang
bagus sedangkan untuk OSIS perempuan sebagian besar mengatakan peran
petugas puskesmas biasa saja, hanya sebagian kecil yang mengatakan bagus.
Menurut wakil kepala sekolah SMP, yang menjadi faktor penghambat
pemanfaatan pelayanan PKPR di sekolah adalah kurangnya pembinaan dari
puskesmas. Selama ini sekolah sudah terbuka akan program-program yang positif,
dan sudah maksimal mendukung akan kegiatan tersebut. Sekolah juga selalu
bekerjasama jika ada siswanya yang sakit maka di rujuk ke puskesmas. Lain
halnya dengan kondisi di SMP satunya, menurut guru BK, dukungan dari
puskesmas yaitu tenaga untuk penyuluhan dan pembinaan juga UKS kit untuk
sekolah. Siswa juga sangat senang dan antusias menyambut kegiatan ini, akan
tetapi karena ada keterbatasan tempat jadi tidak semua siswa bisa di ikutkan
dalam kegiatan ini sehingga diutamakan yang konselor dulu. Faktor penghambat
pemanfaatan PKPR di puskesmas menurut guru BK adalah banyaknya orang tua
yang mempunyai tanggungan di perusahaan sehingga enggan merujuk anaknya ke
puskesmas. Menurut siswa sendiri, peran petugas puskesmas dinilai cukup bagus
akan tetapi ada sebagian kecil yang mengatakan bahwa penyampaiannya susah di
pahami siswa. Menurut pemegang program PKPR, hambatan selama ini adalah
tidak adanya laporan dari sekolah terkait masalah siswanya dan belum ada akses
ke teruna-teruni. Puskesmas juga menganggap remaja kurang terbuka sehingga
kasus tersebut terdeteksi jika sudah terjadi kegawatan, misalnya saja masuk UGD
dengan perdarahan.
“Ibunya yang membawa ke UGD, perdarahan dikira jatuh, akhirnya
setelah diperiksa kok ada janin, akhirnya setelah melahirkan remaja
tersebut meningga” “Ya itu hambatannya laporan gak ada masuk, itu
mestinya ada timbal balik, meskinya kan tidak hanya sekolah saja tetapi
juga truna truni juga masuk”
(WM PKM)
“Petugasnya kurang baik dan kurang ramah”
(FGD 7D SDJ)
“ Karena gini ya bu, anak-anak kan banyak yang tanggungan dengan
perusahaan, jadi ada orang tua ada yang mengerti ada yang tidak
sehingga kami menghubungi dulu orang tua kalau mengijinkan baru
dirujuk ke puskesmas. Disini untuk masalahnya juga sangat minim sekali”
(WM BK S3KS)
“Menurut saya belum maksimal, mungkin jenis layanannya banyak ,
mungkin dianggap nomer sekianlah, mungkin dianggap daerah maju
sehingga info mudah didapatkan lewat internet atau televisi, mungkin
seperti itu”
(WM WK SDJ)
OSIS SMP baik laki-laki maupun perempuan mengatakan bahwa ada
brosur saat penyuluhan akan tetapi tidak semua mendapatkan brosur tersebut. Hal
tersebut juga diungkapkan oleh guru BK dan juga pihak Puskesmas, bahwa ada
bantuan brosur-brosur dari dinas akan tetapi jumlahnya sedikit sehingga
pembagiannya tidak merata. Pernyataan terkait pengadaan brosur, dapat dilihat
dari uraian berikut ini.
“Brosur-brosur tentang bahaya narkoba, sek bebas dan kenakalankenakalan remaja masa kini”
(FGD 4B S3KS)
“ Harapan saya alat-alat UKS dilengkapi, brosur diperbanyak dan lebih
sering lagi diadakan penyuluhan”
(FGD 8C SDJ)
Menurut
teori Lawrence Green bahwa perilaku remaja (pemanfaatan
PKPR) dibentuk oleh 3 faktor yaitu predisposisi yaitu berupa persepsi, dimana
persepsi itu sendiri dibentuk oleh faktor internal dan juga faktor eksternal. Faktor
internal antara lain adalah pengetahuan, harapan dan motivasi, sedangkan untuk
faktor eksternalnya adalah sosial budaya dan lingkungan. Selain faktor
predesposisi, perilaku juga dibentuk oleh faktor pendukung yaitu adanya sarana
prasarana dan sumber informasi program PKPR, sedangkan untuk faktor
pendorongnya
yaitu
kebijakan/dukungan
sekolah
dan
konselor
sebaya
(Notoatmodjo, 2012). Menurut Kurt Lewin dalam Notoatmojdo (20102), bahwa
adanya ketidakseimbangan antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan
tersebut di dalam diri seseorang menyebabkan perubahan perilaku, sehingga
kemungkinan tiga perubahan perilaku pada diri seseorang adalah meningkatnya
kekuatan-kekuatan pendorong, menurunnya kekuatan penahan dan meningkatnya
kekutan pendorong dan menurunnya kekuatan penahan. Menurut siswa faktor
pendorong PKPR disekolah yaitu dari reinforcing faktor meliputi dukungan dari
sekolah dan peran konselor sebaya. Untuk enabling faktor, sarana dan prasarana
UKS yang menunjang dianggap sudah lengkap dan sumber informasi juga
dianggap professional sehingga merupakan faktor pendorong juga. Minimnya
informasi tentang keberadaan konseling disekolah maupun dipuskesmas dianggap
menjadi faktor penghambat PKPR. Untuk faktor predisposisi, persepsi yang
positif tentang PKPR menjadi faktor pendukung dalam PKPR ini. Siswa SMP
satunya menganggap bahwa sarana dan prasarana dianggap sebagai faktor
penghambat karena kurang lengkapnya alat-alat UKS, kekurangan brosur dan
tempat penyuluhan yang tidak dapat menampung siswa sehingga menimbulkan
suasana tidak kondusif. Sumber informasi menjadi faktor penghambat karena
sebagian dari mereka menganggap penjelasan dari pihak puskesmas berbelit-belit
dan sikapnya kurang ramah. Untuk faktor pendorong, kebijakan/ dukungan
sekolah dianggap sebagai faktor pendorong karena menurut mereka sekolah sudah
sangat mendukung kegiatan tersebut dengan mengadakan penyuluhan setiap
MOS. Konselor sebaya dianggap sebagai faktor penghambat karena disekolah
mereka tidak ada konselor sebaya. Untuk faktor predisposisi, persepsi dianggap
sebagai faktor pendukung PKPR karena persepsi siswa terhadap program PKPR
ini sangat bagus.
Dalam pelayanan PKPR, sarana dan prasarana yang seharusnya ada di
Puskesmas yaitu adanya ruang untuk konsultasi dan sesuai alur model pelayanan
PKPR. Di Sekolah seharusnya ruang UKS dibagi menjadi 2 yaitu laki-laki dan
perempuan, penyuluhan diadakan di kelas-kelas menggunakan liquid crystal
display (LCD) dan proyektor, terdapat konselor sebaya di masing-masing sekolah
dan ada alat-alat permainan (Kemenkes RI, 2011). Berdasarkan hasil Observasi di
SMP,
pelaksanaan
penyuluhan
sudah
diadakan
dikelas-kelas,
dengan
menggunakan LCD Proyektor, sudah dibentuk konselor sebaya, dan UKS juga
sudah dibagi menjadi dua ruangan yaitu laki-laki dan perempuan, akan tetapi
disana belum ada alat-alat permainan. Di SMP satunya, UKS beralih fungsi
menjadi gudang dan alat-alatnya tidak terawat, belum ada konselor sebaya dan
ruangan penyuluhan tidak memenuhi kapasitas. Kondisi ini sesuai dengan hasil
wawancara mendalam dengan pemegang program PKPR Puskesmas Kuta
Selatan, yang menyebutkan bahwa pelaksanaan PKPR tergantung kondisi di
masing-masing sekolah, karena puskesmas sendiri
tidak ada anggaran dana
tertentu untuk program PKPR ini.
4.3.2 Persepsi Remaja Tentang Bentuk Kegiatan PKPR
Siswa OSIS SMP pertama menganggap bahwa bentuk kegiatan dalam
PKPR ini menarik dan menyenangkan. Menurut siswa bentuk kegiatan PKPR
adalah penyuluhan waktu MOS dan lomba UKS, sosialisasi, penjaringan,
pembinaan, kegiatan pembentukan konselor sebaya dan sebagian menganggap ada
kegiatan konseling juga. Hasil FGD mengenai persepsi remaja tentang bentuk
pelayanan klinik dalam PKPR, menyebutkan bahwa sebagaian besar siswa
mengetahui bahwa bentuk pelayanan klinik di puskesmas hanya sebatas untuk
berobat saja sedangkan untuk konseling mereka tidak mengetahuinya. Penyataan
informan terkait bentuk kegiatannya dapat dilihat dalam uraian berikut ini.
“Kegiatannya menarik dan tentu sangat menyenangkan karena kegiatan
PKPR seru, saya suka kegiatan social. Kegiatannya berupa penyuluhan,
pelatihan konselor dan banyak lagi yang lainnya”
(WM KS S3KS)
“ Menurut saya, PKPR harusnya lebih sering dilaksanakan biar semua
tahu”
(FGD 4A S3KS)
“Menurut saya, materi yang diberikan saat PKPR cukup menarik, seperti
HIV/AIDS dn Narkoba, tapi sayang gak ada brosur”
(FGD 3C SDJ)
“ Seharusnya lebih sering mengadakan penyuluhan tentang remaja dan
bahasanya harus lebih jelas lagi”
(FGD 4C SDJ)
Pernyataan siswa di atas juga di dukung oleh pernyataan dari beberapa
informan kunci saat wawancara mendalam. Beberapa penyataan informan dapat
dilihat dari uraian berikut.
“Ya mereka senang, antusias dan inging mengikuti semua kegiatan”
(WM BK S3KS)
“Respon anak-anak sangat antusias, tapi untuk penyadaran anak-anak
butuh waktu”
(WM WK SDJ)
Biasanya setiap tahun itu puskesmas mendata berapa kita dapat murid,
jumlah siswa berapa, terus dikaitkan dengan MOS, maka ada sejenis
kerjasama bahwa setiap tahun puskesmas pasti kesini memberikan
penyuluhan. Dulu sebelum pengobatan gratis, sekolah kita memang
diberitahu bahwa bisa dibawa ke puskesmas dan biayanya gratis. Semua
jenis kasus sakit. Bahkan pernah diberi sejenis softnes untuk pembalut
wanita”.
(WM WKSDJ)
Sebagian besar siswa pernah memanfaatkan pelayanan klinik di Puskesmas
dengan alasan yang berbeda-beda, akan tetapi ada siswa yang tidak pernah
memanfaatkan pelayanan klinik di Puskesmas, hal ini dikarenakan jika mereka
sakit maka sekolah merujuk ke RS swasta. Bagi siswa yang pernah memanfaatkan
pelayanan klinik, mereka memanfaatkan pelayanan klinik tersebut hanya untuk
berobat saja. Mereka tidak pernah konseling masalah remaja karena mereka tidak
pernah mengalami masalah remaja. Seandainya mereka mengalami permasalahan
remaja dan mereka bahwa di Puskesmas selain pelayanan klinik juga ada
pelayanan konseling, maka mereka semua mau memanfaatkan pelayanan tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam, wakil kepala sekolah mengatakan
bahwa SMP sering merujuk siswanya ke puskesmas, karena sudah ada kerjasama
dengan puskesmas untuk pelayanan klinik. Pihak sekolah juga mensosialisasikan
ke siswa supaya melapor ke sekolah jika sakit, sehingga bisa ditangani. Selama ini
sekolah hanya merujuk siswanya yang sakit saja, sedangkan untuk konseling tidak
pernah karena biasanya ditangani sendiri oleh sekolah. Bagi SMP yang jarang
memanfaatkan pelayanan klinik PKPR hal ini dikarenakan, menurut pernyataan
konselor sebaya dan guru BK selama ini mereka jarang merujuk siswanya ke
Puskesmas, hal ini dikarenakan banyak orang tua yang memiliki tanggungan
dengan perusahaan, sehingga harus meminta ijin ke orang tua dulu untuk merujuk
anaknya ke puskesmas. Menurut Puskesmas, sekolah tidak pernah merujuk siswa
dengan permasalahan remaja, bahkan puskesmas sudah memberi blanko, akan
tetapi tidak pernah ada laporan. Sekolah hanya merujuk siswa jika ada yang sakit
misalnya kecelakaan, anemia, disminorhea atau sakit seperti panas, batuk, demam
dan lain sebagainya. Program PKPR dibantu oleh daerah binaan (darbin). Selama
ini laporan tentang masalah remaja didapatkan dari darbin, kasus yang kebetulan
ditemukan di puskesmas, konsultasi siswa lewat telepon atau dari sunber lain
seperti pekerja seks komersil (PSK) yang tes (Voluntary Counseling Testing)
VCT di Puskesmas. Semua petugas puskesmas (perawat, bidan dan paramedic)
mempunyai darbin dan mereka wajib melapor dan mengadakan kunjungan jika
menemukan masalah remaja di wilayahnya. Menurut pemegang program PKPR,
bentuk pelayanan klinik PKPR di Puskesmas, selain untuk berobat juga
seharusnya untuk konseling, akan tetapi Puskesmas belum mempunyai ruangan
khusus untuk konseling.
Berbagai pernyataan informan terkait dengan pemanfaatan pelayanan
klinik PKPR dapat dilihat dalam uraian berikut ini.
“Mangkannya karena tidak ada ruangan khusus, maka jadi satu dengan
poliklinik, kalau misalnya ada yang datang konseling bisa meminjam di
ruang ini, ruang GIZI atau VCT dan selama ini belum pernah ada orang
tua yang melapor, biasanya darbinnya yang mendengar kemudian
kunjungan ke rumah”
(WM PKM)
“Karena gini ya bu, anak-anak kan banyak yang tanggungan dengan
perusahaan, jadi kami menghubungi orang tua dulu, kalau diijinkan baru
kami rujuk ke puskesmas, disini untuk masalah remaja juga sangat minim
sekali”
(WM BK S3KS)
“ Ya mau lah datang ke puskesmas, saya yakin puskesmas bisa
menyelesaikan masalah saya”
(FGD 1B S3KS)
“ Saya datang ke puskesmas untuk cek golongan darah”
Berdasarkan hasil FGD untuk pemberi layanan klinik dalam PKPR,
Sebagian besar siswa menganggap bahwa pemberi layanan adalah
perawat,
dokter, bidan dan petugas kesehatan lainnya, sedangkan sebagian lainnya tidak
tahu. Menurut Pemegang Program PKPR bahwa selama ini puskesmas
membentuk team dalam memberikan pelayanan PKPR, hal tersebut juga senada
dengan pernyataan wakil kepala sekolah, Guru BK dan konselor sebaya yang
mengatakan bahwa puskesmas datang ke sekolah dengan team. Berbagai
pernyataan informan terkait pemberi layanan klinik dapat dilihat dalam uraian
berikut.
“Menurut saya perawat dan dokter karena mereka lebih profesional dan
terpercaya”
(FGD 6B SDJ)
“Yang memberi pelayanan klinik yaitu bidan, dokter perawat karena
mereka adalah petugas kesehatan”
(FGD 6D SDJ)
Menurut Kemenkes RI (2011), Berbagai kegiatan PKPR diantaranya
adalah memberikan edukasi dan informasi, layanan medis dan klinik seperti
pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan, Pendidikan ketrampilan hidup sehat
(PKHS), pelatihan konselor sebaya, pemeriksaan kesehatan, penemuan kasuskasus dini serta rujukan jika diperlukan. Menurut hasil wawancara mendalam
dengan pemegang program PKPR, menyebutkan bahwa selama ini bentuk dan
pelayanan klinik di puskesmas hanya sebatas pengobatan saja, sedangkan untuk
konseling belum pernah ada siswa yang datang ke puskesmas khusus untuk
konseling. Lawrence Green melakukan analisis perilaku manusia terkait
kesehatan, kesehatan individu atau masyarakat dipengaruhi oleh faktor diluar
perilaku dan faktor perilaku, sedangkan perilaku itu sendiri dibentuk melalui
beberapa faktor, diantaranya adalah faktor predisposisi, dalam penelitian ini
sebagian besar siswa tidak mengetahui bentuk pelayanan klinik dalam PKPR
secara benar, sehingga mempengaruhi perilaku kesehatan mereka, mereka tidak
memanfaatkan pelayanan klinik tersebut dengan maksimal. Begitu juga dengan
kebijakan dari sekolah dan juga petugas kesehatan terkait pelayanan klinik dalam
PKPR, juga menjadi faktor pendorong untuk tidak memanfaatkan pelayanan
klinik. Hal tersebut sesuai dengan hasil FGD. Bagi siswa SMP yang tidak pernah
memanfaatkan pelayanan klinik dalam PKPR, kondisi ini di akibatkan oleh
kebijakan sekolah dimana menurut pernyataan guru BK, jika ada siswanya yang
sakit tidak langsung di rujuk ke puskesmas. Kondisi tersebut karena banyak siswa
yang mempunyai tanggungan dengan perusahaan. Kondisi berbeda terjadi di SMP
satunya. Kebijakan sekolah terkait rujukan menjadi faktor pendorong untuk
memanfaatkan pelayanan klinik dalam PKPR. Hal ini sesuai dengan Hasil FGD
dengan OSIS, sebagian besar siswa memanfaatkan Puskesmas untuk berobat, hal
ini di dukung oleh pernyataan wakil kepala sekolah, yang menyatakan bahwa
sekolah sejak lama sudah ada kerjasama dengan puskesmas kuta selatan untuk
pengobatan gratis siswanya yang sakit.
Selama ini sekolah sudah ada kerjasama dalam pelayanan klinik, tetapi
sekolah tidak pernah merujuk atau menyosialisasikan siswanya untuk konseling
ke Puskesmas. Jika ada siswa yang mengalami permasalahan remaja dan
membutuhkan konseling, sekolah lebih mengarahkan ke guru BK. Sikap sekolah
tersebut diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan tentang pelayanan klinik dalam
PKPR ini. Fasilitas di Puskesmas juga masih kurang lengkap. Berdasarkan hasil
observasi, di Puskesmas belum ada ruangan khusus untuk konseling dan
pemeriksaan remaja sakit masih gabung dengan poli umum. Kondisi ini sesuai
dengan penelitian Lola W & Erwinda (2009), dimana dalam penelitiannya
menunjukkan bahwa pengetahuan mempengaruhi sikap informan terhadap
pemanfaatan PKPR di SMPN 01 Sitiung Kabupaten Dharmasraya.
4.3.3
Persepsi Siswa Tentang Materi dan Cara Penyampaian PKPR
Menurut siswa materi yang disampaikan dalam kegiatan PKPR sangat
menarik karena menambah pengetahuan baru bagi siswa. Materi yang
disampaikan yaitu tentang kespro, Narkoba dan HIV/AIDS. Cara penyampaian
materinya juga menarik akan tetapi di masing-masing sekolah ada kendala.
Kendala tersebut diantaranya kapasitas ruangan tidak mencukupi, tidak semua
siswa dapat mengikuti kegiatan karena keterbatasan ruangan waktu yang
disediakan sangat terbatas dan sikap petugas puskesmas yang kurang ramah.
Siswa mengatakan bahwa, cara penyampaian materi tersebut dalam bentuk
ceramah tanya jawab dengan menggunakan Liquid Crystal Display (LCD) dan
proyektor disertai gambar-gambar serta poster-poster.. Hal senada juga
diungkapkan Oleh guru BK dan juga konselor sebaya, bahwa saat penyuluhannya
dibagi menjadi 6 kelas dan juga di laboratorium (Lab) ilmu pengetahuan alam
(IPA). Menurut pemegang program PKPR, penyuluhan dilakukan di dalam kelas
dan juga dilapangan. Untuk LCD dan proyektor biasanya disediakan oleh sekolah,
sedangkan brosur, leaflet, kartu menuju sehat (KMS) remaja, poster dan alat-alat
peraga lainnya dari puskesmas akan tetapi jumlahnya terbatas. Berdasarkan hasil
observasi, fasilitas yang disediakan sekolah untuk ruangan belum lengkap.
Fasilitas untuk penyuluhan masih kurang dalam hal kapasitas ruangan, brosur dan
leaflet, sedangkan untuk alat-alat permainan dan peraga juga tidak ada. Fasilitas
untuk konseling juga tidak merata, di satu sekolah sudah lengkap karena sudah
dibagi menjadi dua ruangan akan tetapi di sekolah lainnya beralih fungsi menjadi
gudang. Pernyataan terkait pelaksanaan penyuluhan dapat di lihat dalam uraian
berikut ini.
“ Sebetulnya menarik, tapi ada yang kurang, petugas Puskesmasnya
ngomongnya banyak berbelit-belit”
(FGD 4B S3KS)
“Di bagi menjadi 6 kelas, saya di Lab IPA. Di kelas lebih menjelaskan di
papan, kalau di lab memakai alat proyektor, bagi saya penyampaiannya
menarik sich, gak ada kurangnya”
(WM KS S3KS)
“Menurut saya materi yang disampaikan cukup menarik”
(FDG 2B S3KS)
Semua OSIS laki-laki menjawab cara yang menarik dalam memberikan
materi PKPR yaitu dengan disertai permainan dan bernyanyi serta bahasanya
harus jelas. Sedangkan untuk OSIS Perempuan, sebagian besar menjawab cara
yang menarik dalam memberikan penyuluhan yaitu dengan layar LCD, disertai
gambar-gambar, dengan permainan, praktek dan siswanya tidak ribut. Pernyataan
informan mengenai cara yang menarik dapat diuraiakan sebagai berikut.
“Menurut saya, cara yang menarik dalam memberikan kespro ada layar
LCD’y dan tidak ribut”
(FGD 3D SDJ)
“ Sama dengan pendapat 2B yaitu disertai gambar-gambar tapi
bahasanya jangan berbelit-belit”
(FGD 3B S3KS)
“mungkin lebih menarik jika diaplikasikan dengan game”
(FGD 5A S3KS)
“ Cara yang menarik menurut saya yaitu dengan permainan dan
bernyanyi”
(FGD 4C SDJ)
Jika mengalami permasalahan remaja semua OSIS laki-laki SMP lebih
terbuka pada orang tua, sebagian kecil ke teman sebaya dan ada juga yang lagi
lebih memilih konsultasi ke dorker online di internet. untuk OSIS Perempuan,
Semua menjawab jika mendapat masalah kespro atau remaja ceritanya selain ke
orang tua, nenek juga ke teman sebaya. Masalah yang biasa di ceritakan adalah
masalah pribadi dan menstruasi. Dari semua siswa, jika mereka mengetahui
bahwa konselor dan puskesmas bisa untuk konsultasi masalah mereka, sebagian
besar lebih memilih cerita ke orang tua dulu baru ke puskesmas, hanya sebagian
kecil saja yang memilih ke puskesmas dulu. Pernyataan informan dapat diuraikan
sebagai berikut.
“ Saya lebih memilih konsultasi online dengan dokter karena dokter lebih
professional disbanding orang tua dan teman-teman sebaya”
(FGD 4B S3KS)
“ saya ke puskesmas dulu karena pukesmas lebih tau”
(FGD 2B S3KS)
“ saya ke orang tua dulu kalau gak bisa nangani baru ke puskesmas”.
(FGD 1B S3KS)
“ Takutnya kalau disembunyi-sembunyiin bisa sakit, kepikiran”.
(FGD 2A S3KS)
Keterbatasan pengetahuan mereka terkait materi PKPR, diakibatkan oleh
informasi yang tidak dapat terserap secara maksimal. Hal ini sesuai dengan Teori
Kurt Lewin (1970) dalam Notoatmodjo (2003), yang menyebutkan bahwa suatu
keseimbangan antara berbagai kekuatan pendorong, dan berbagai kekuatan
penahan membentuk perilaku seseorang. Kondisi berbeda yang dialami oleh siswa
di sekolah satunya dikarenaka Puskesmas kurang maksimal dalam melaksanakan
progran PKPR ini. Kondisi ini terjadi karena minimnya informasi yang diberikan
oleh puskesmas terkait program ini, sehingga sekolah kurang mengetahui apa-apa
saja yang harus dilakukan untuk perbaikan kesehatan remaja disekolah. Sumber
informasi baru yang diberikan terkait kespro juga hanya dilaksanakan satu tahun
sekali dan itupun dalam kondisi diruangan dengan banyak orang, sehingga
suasananya tidak kondusif dan informasinya tidak terserap dengan maksimal. Hal
ini juga sesuai dengan konsep pengetahuan dimana menurut Nanda (2005),
mengatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan adalah
informasi, daya ingat, salah penafsiran, kognitif, minat dan sumber informasi.
Jika dikaitkan dengan konsep tersebut jelas terlihat bahwa dalam penyuluhan,
informasi yang mereka dapatkan kurang maksimal, kemudian mereka pernah
mendapat materi saat SD akan
tetapi, mereka sudah lupa. Untuk sumber
informasi sebagaian besar dari siswa merasa bahwa penyampaiannya sebetulnya
menarik akan tetapi ada beberapa hal yang kurang yaitu sikap petugas yang
kurang ramah dan bahasa yang susah mereka mengerti.
4.3.4
Persepsi Siswa Tentang Peran Konselor Sebaya
Sebagian besar siswa menganggap bahwa peran konselor sebaya selama
ini sangat baik dan bermanfaat. Peran konselor sebaya selama ini yaitu membantu
teman-teman
yang sakit, berjaga di UKS dan konseling. Sebagian siswa
mengatakan bahwa selama ini mereka kurang mengetahui peran konselor sebaya
untuk konseling, akan tetapi sebagian dari teman-teman mereka yang lain pernah
konseling. Hal itu sesuai dengan pernyataan konselor dan berdasarkan hasil
observasi di buku laporan konselor bahwa terdapat sembilan siswa yang konseling
selama tahun 2014. Ada siswa yang tidak pernah mendengar konselor sebaya,
begitu juga dengan wakil kepala sekolahnya,
kondisi ini dikarenakan di
sekolahnya tidak ada konselor sebaya. Pemegang program PKPR mengungkapkan
bahwa, tidak semua sekolah mempunyai konselor sebaya. Kendala pembentukan
konselor sebaya yaitu terkait masalah dana dan waktu pelatihan selama satu
minggu. Pembentukan konselor sebaya di khawatirkan mengganggu proses studi,
sehingga diutamakan sekolah yang akan mengikuti lomba UKS. Menurut guru
BK, jumlah konselor sebaya di sekolahnya sebanyak
tiga puluh siswa yang
diambil dari KKR atau anak-anak palang merah remaja (PMR). Konselor sebaya
mengatakan bahwa sudah satu tahun menjadi konselor sebaya. Berbagai
pernyataan terkait dengan keberadaan Konselor dapat dilihat dari uraian berikut
ini.
“Kalau itu kita pilih anaknya yang agak mampu supaya dia dapat
menularkan ke temannya, kemudian kreatif di sekolah”
(WM BK S3KS)
“Kalau kendala sich dana juga, terus kalau terus-terusan kan disekolah
mengganggu studi proses belajar mengajar, dan tenaga kita kan gak
cukup sehari dua hari karena pelatihannya 1 mgg”
(WM PKM)
“ Kayaknya mereka anak-anak PMR yang dibentuk menjad konselor
sebaya”
(FGD 2B S3KS)
Menurut wakil kepala sekolah, jika ada remaja yang mau konseling atau
terkena masalah remaja maka untuk konseling disediakan guru BK atau
bimbingan konseling karena di sekolah belum ada konselor sebaya. Tidak semua
siswa mengetahui bahwa salah satu fungsi konselor yaitu untuk konseling. Jika
ada masalah, siswa lebih diarahkan untuk konseling ke BK. Seandainya mereka
mengetahui bahwa fungsi konselor untuk konseling, sebagian besar mau
konseling ke konselor dan sebagian kecil tidak mau karena takut dibocorkan
rahasianya. Ruang yang disediakan sekolah untuk konseling yaitu di UKS.
Menurut guru BK , pembentukan konselor sebaya penting sekali karena mereka
diharapkan lebih terbuka jika bercerita dengan temannya dibandingkan dengan
guru. Selama ini jarang ada siswa yang konseling dikarenakan masalah yang
terjadi minim dan tidak semua mengetahui fungsi konselor untuk konseling, hal
ini diakibatkan karena konselor sebaya tidak melakukan sosialisasi ke kelas-kelas
karena tidak ada perintah dari guru. Pihak sekolah mengatakan bahwa sudah
dilakukan sosialisasi tentang peran konselor sebaya untuk konseling akan tetapi
tidak merata pada semua siswa, selain itu juga jika ada permasalahan terkait
remaja, biasanya ditangani oleh guru BK. Menurut hasil observasi didapatkan data
bahwa jumlah kunjungan siswa yang konseling kekonselor sebaya sebanyak
sembilan orang pada tahun 2014. Permasalahannya itu seputar masalah dengan
teman, orang tua dan masalah dengan pacar. Untuk pelatihan konselor sebaya
yang diberikan oleh puskesmas yaitu berupa penyuluhan dan juga praktek.
Pemegang program PKPR menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan dalam
satu minggu itu adalah penyuluhan, pembinaan-pembinaan, praktek dengan alatalat juga untuk pertolongan pertama. Pembentukan konselor sebaya ini sebetulnya
diharapkan dapat membantu siswa lain memecahkan masalahnya. Pemilihan
konselor sebaya selama ini biasanya dari siswa yang dianggap berprestasi atau
mampu menjalankan tugas sebagai konselor sebaya.
“Menurut saya penting sekali, karena mungkin kalau dengan gurunya
mereka malu-malu tapi kalau dengan temannya mereka diharapkan lebih
terbuka misalnya masalah dengan pacar atau dengan alat reproduksinya.
Maka dari itu, konselor sebaya saya anggap penting sekali di sekolah”
(WM BK S3KS)
“Ya kayak sederhana aja sech, untuk pertolongan pertama, merujuk
teman yang sakit dan konseling juga, kemudian ngajarin temennya juga”
(WM KS)
“ jadi fungsinya dibentuk konselor sebaya, untuk membantu siswa lain
memecahkan masalahnya, jadi dari teman yang kita bina mau
menyebarkan lagi ke temannya, jadi teman sama teman”
(WM PKM)
“ Saya setuju dengan pernyataan teman saya, saya lihat dulu prilakunya
karena siapa tahu dia mulutnya emberrrrr….”
(FGD 5A S3KS)
“ Nggak tau, guru bilang kalau ada masalah, bisa cerita ke guru BK, ada
disini.”).
(FGD 1B S3KS)
“ saya mau tapi rahasia saya jangan sampai di bongkar”
(FGD 6B S3KS)
“Saya gak mau, karena takutnya kalau kita beri dia rahasia akan
membocorkan ke teman-teman sebaya”
(FGD 4B S3KS)
Sebagian besar siswa ingin menjadi konselor sebaya. Alasan siswa yang
ingin menjadi konselor sebaya karena mereka sebagian besar ingin menolong
teman yang sakit dan mengalami permasalahan, sedangkan untuk yang tidak mau
menajdi konselor sebaya, karena mereka merasa tidak mempunyai kemampuan
dibidang tersebut. Berdasarkan wawancara mendalam dengan konselor sebaya,
dia mau menjadi konselor sebaya dengan alasan dia suka kegiatan social dan ingin
menjadi dokter. Berbagai uraian pernyataan informan terkait alasan menjadi
konselor sebaya, dapat dilihat dalam uraian berikut ini.
“ Sebetulnya saya berminat tapi saya tidak punya pengalaman. Kalau
dilatih saya mau karena suatu tindakan yang baik menolong teman
sebaya”
(FGD 4B S3KS)
“ saya gak berminat, karena gak sesuai dengan bidang saya”
(FGD 3B S3KS)
“ Kan kalau teman ada permasalahan, misalnya saya menyarankan harus
gini-gini tapi gak sesuai, maka hati saya malah gak enak”
(FGD 3A S3KS)
“Sama,supaya bisa mengajak remaja-remaja waspada dan cara
mencegah masalah”
(FGD 2A S3KS)
Menurut Kemenkes RI (2011), Pelaksanaan program PKPR disekolah
seharusnya ada pelatihan konselor sebaya, dimana konselor sebaya sendiri adalah
pendidik sebaya yang punya komitmen dan motivasi yang tinggi untuk
memberikan konseling dalam program PKPR bagi kelompok siswa disekolahnya
dan melaksanakan kegiatan terkait UKS. Berdasarkan hasil FGD mengenai
persepsi siswa tentang peran konselor sebaya sebagian besar siswa OSIS
menganggap bahwa selama ini konselor sebaya sangat berperan dalam membantu
teman-teman yang sakit dan berjaga di UKS, sedangkan peran konselor sebaya
untuk konseling, mereka kurang mengetahui dan tidak pernah konseling, akan
tetapi sebagian dari teman-teman mereka yang lain pernah konseling, hal itu
sesuai dengan pernyataan konselor dan juga berdasarkan hasil observasi di
laporan konselor terdapat sembilan siswa yang konseling selama tahun 2014. Hal
ini sesuai dengan teori Lawrence Green (1980), yang menyebutkan bahwa
perilkau seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh berbagai
faktor diantaranya adalah faktor predisisi faktor, dimana faktor predisposisi terdiri
dari faktor internal yang didalamnya terdapat persepsi. Dari teori dan hasil
penelitian dapat dikaitkan bahwa walaupun persepsi siswa mengenai konselor
sebaya sangat positif, akan tetapi minimnya pengetahuan tentang peran konselor
sebaya menyebabkan siswa tidak memanfaatkan peran konselor sebaya dengan
maksimal.
Untuk SMP satunya tidak ada konselor sebaya. Kondisi tersebut
diakibatkan minimnya waktu, dana dan tenaga dari puskesmas untuk
pembentukan konselor sebaya di semua sekolah, sehingga di utamakan yang akan
mengikuti lomba UKS saja. Kondisi ini sama dengan hasil penelitian Cutia (2012)
yang menyebutkan bahwa Puskesmas belum melaksanakan pelatihan konselor
sebaya karena belum ada dana yang cukup untuk kegiatan PKPR tersebut.
Meskipun siswa di SMP tersebut belum memiliki konselor sebaya, akan tetapi
persepsi mereka positif tentang konselor sebaya, hal ini tercermin dari antusiasme
dan motivasi mereka yang tinggi untuk menjadi konselor sebaya. Hal ini sesuai
dengan teori persepsi yang di ungkapkan oleh Notoatmodjo (2010), yang
menyebutkan bahwa salah satu faktor internal yang mempengaruhi persepsi yaitu
adanya motivasi dan harapan.
4.3.5
Harapan Remaja Terhadap PKPR
Sebagian besar siswaberharap supaya program PKPR tetap berlanjut dan
puskesmas lebih sering ke sekolah untuk mensosialisasikan lagi program PKPR,
sehingga siswa mengerti dan mau memanfaatkan layanan dalam PKPR ini.
Sebagian siswa juga berharap bahwa selain di sekolah dan puskesmas, seharusnya
PKPR ada di masyarakat. Ada juga yang berharap agar siswanya tidak terlalu
banyak, sarana dan prasarana dilengkapi, waktu yang disediakan lebih banyak
lagi, cara penyampain materi diharapkan lebih menarik lagi, sikap petugas lebih
ramah dan bahasa yang digunakan dapat dimengerti. Begitu juga harapan sekolah
terhadap program PKPR ini supaya puskesmas lebih agresif lagi supaya sekolah
di bina dan sekolah menginginkan bahwa program ini tetap berlanjut. Ada hal
berbeda yang diungkapkan oleh guru BK, bahwa diharapkan PKPR lebih sering
diadakan ke sekolah dan saat penjaringan diharapkan puskesmas datang dan
mendampingi sekolah untuk pemeriksaan siswa. Puskesmas juga mengharapkan
program PKPR ini tetap exsis dan berlanjut. Pemegang program PKPR
mengatakan bahwa harapan Puskesmas untuk PKPR ini supaya pelayanan
kesehatan bisa terjangkau oleh semua remaja termasuk truna-truni dan remaja
masjid. Seharusnya juga ada petugas khusus dan untuk sekolah diharapkan
melengkapi sarana dan prasarana di UKS. Di Puskesmas juga diharapkan ada
ruang khusus remaja dan dinas diharapkan juga memberi bantuan untuk
kelengkapan sarana dan prasarana. Puskesmas berharap bahwa program PKPR ini
tetap berlanjut. Dalam pengisian blanko skrening, puskesmas berharap sekolah
mau mengisi blanko tersebut. Berbagai uraian harapan informan terkait program
PKPR ini dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut.
“Harapan saya, pelayanan kesehatan bisa terjangkau oleh semua remaja,
termasuk truna-truni, remaja masjid, sedikit demi sedikit kita rencanakan
kesitu dan program ini Harus ada, tetap harus ada karena remaja adalah
generasi penerus kita, gedungnya juga harus dilengkapi, harus ada tenaga
khusus dan darbinnya juga tetap”
(WM PKM)
“Kalau harapan saya supaya ini sering dilakukan, jangan pas ada lomba
baru dilakukan puskesmas kesini. Paling tidak setiap tahun lah, kalau setiap
tahun dilakukan penjaringan, seharusnya mereka datang ke sekolah. Selama
ini mereka datang Cuma minta data siswanya. Sepertinya bukan wewenang
kita. Untuk mengukur tinggi badan (TB), berat badan (BB) mungkin bisa tapi
kalau ketajaman mata mungkin harus mereka sendiri. Kalau dulu lingkar
lengan atas (LILA) dari dia juga tapi sekarang tidak. Ya itu yang tyang
harapkan, mungkin setiap tahun harusnya mereka kesini”.
(WM BK S3KS)
“Harapan saya ya semakin sering saja dan penyampaiannya lebih baik
agar gak sia-sia melakukan kegiatan tersebut”
(FGD 1B S3KS)
“Harus lebih sering disosialisasikan agar lebih tau apa itu PKPR”
(FGD 4B S3KS)
“ Menurut saya, selain di sekolah juga di masyarakat agar dapat
meningkatkan pengetahuan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan”
(FGD 6A S3KS)
“ Saya berharap puskesmas lebih agresif lagi supaya kita dibina, saya akan
tanyakan ke puskesmas apa yang mesti kita siapkan untuk kesehatan
sekolah”.
(WM WKSDJ)
“Seharusnya menyediakan waktu yang lebih lama dan sarananya harus
lebih lengkap serta semua pihak sekolah ikut mendengarkan dan muridnya
lebih tertib, saat itu alat-alat peraga juga tidak ada”
(FGD 7D SDJ)
“ Lebih sering mengadakan penyuluhan tentang remaja dan bahasanya
harus lebih jelas lagi”
(FGD 4C SDJ)
Uraian diatas sesuai dengan teori persepsi yang di ungkapkan oleh
Notoatmodjo (2010),
bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kita menerima
stimulus yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal melekat pada
obyeknya, dimana salah satu faktor eksternal adalah informasi baru dan sebagian
faktor internal adalah pengetahuan dan harapan. Meskipun pengetahuan dan
informasi baru siswa minim tentang program PKPR akan tetapi harapan mereka
sangat besar terhadap perbaikan dan keberlangsungan PKPR, hal ini juga di
dukung oleh pernyataan informan kunci melalui wawancara mendalam. Mereka
mempunyai harapan yang sangat besar terhadap perbaikan dan keberlangsungan
program PKPR, sehingga dengan harapan yang besar tersebut menyebabkan
persepsi yang positif terhadap program PKPR tersebut.
4.4 Temuan Lain Penelitian
Hasil temuan lain di luar tujuan penelitian ini yaitu tentang fenomena
permasalahan remaja di kalangan siswa SMP. OSIS laki-laki mengatakan bahwa
masalah remaja yang ada di lingkungan mereka adalah merokok, minumminuman keras, pacaran dan narkoba. OSIS perempuan mengatakan bahwa
masalah remaja yang sering terjadi di lingkungan mereka adalah masalah
merokok dan minum-minuman keras pada siswa perempuan, pacaran bahkan ada
yang hamil di luar nikah, kemudian pelecehan dari teman-teman cowok seperti
memegang pantat dan payudara, dan tren pacaran di kalangan mereka adalah
hampir rata-rata pernah ciuman. Wakil kepala sekolah mengatakan bahwa kasus
yang ditemui di sekolah antara lain merokok, pacaran, minum-minuman keras
serta permasalahan siswa lain terkait orang tua dan akademik. Kasus – kasus yang
ditemukan oleh pemegang program PKPR Puskesmas Kuta Selatan selama ini
adalah merokok, kehamilan tidak diinginkan (KTD), aborsi, kekurangan energi
kronis (KEK) dan anemia. Puskesmas juga menemukan dari laporan pekerja seks
komersil (PSK) yang melakukan VCT ke puskesmas, bahwa ada siswa SMP yang
ke lokalisasi, kemudian dari unit gawat darurat (UGD) juga pernah ditemukan
remaja yang ingin menggugurkan kandungannya dengan daun sirih lalu
perdarahan dan aborsi. Pernyataan terkait jenis permasalahan remaja yang terjadi
disekitar siswa di dua SMP tersebut dan yang ditemukan oleh puskesmas dapat
diuraiakan pada halaman berikutnya.
“Ada Banyak teman merokok tapi diluar sekolah. Kalau disekolah
takut ketahuan guru”
(FGD 4B S3KS)
“Temen-temen cowok parah banget, suka pegang-pegang payudara
dan pantat”
(FGD 7D SDJ)
“ Saudara saya terkena narkoba, jenis shabu-shabu”
(FGD 3C SDJ)
“ Terus ada lagi, remaja yang menggugurkan waktu diperiksa dokter
ternyata ada daun sirih yang tertinggal”
(WM PKM)
Dari hasil penelitian diatas terlihat bahwa permasalahan dikalangan remaja
masih kompleks, kondisi ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan mereka terkait
permasalahan remaja. Meskipun di SMP tersebut terdapat kegiatan PKPR, akan
tetapi kegiatan yang dilaksanakan tidak lengkap dan informasi atau materi yang
diberikan saat penyuluhan tidak dapat terserap secara maksimal. Hal tersebut
dikarenakan Puskesmas hanya melaksanakan pembinaan menyeluruh dan
pembentukan konselor sebaya di SMP yang akan mengikuti lomba UKS, bukan
di berdasarkan atas permasalahan dan kebutuhan. Hal ini jelas tidak sesuai dengan
kegiatan yang seharusnya dilakukan dalam PKPR. Berbagai kegiatan PKPR
diantaranya adalah memberikan edukasi dan informasi, layanan medis dan
layanan klinik seperti pemeriksaan penunjang jika dibutuhkan, pendidikan
ketrampilan hidup sehat (PKHS), pelatihan konselor sebaya, konseling,
penyuluhan kesehatan, dan pelayanan rujukan baik medis maupun social.
Pelayanan kesehatan disekolah meliputi penyuluhan, konseling, pelatihan
konselor sebaya serta penemuan-penemuan kasus dini serta rujukan jika
diperlukan (Kemenkes RI, 2011). Sekolah juga merasa Puskesmas kurang
maksimal dalam melaksanakan progran PKPR ini. Kondisi ini terjadi karena
minimnya informasi yang diberikan oleh puskesmas terkait program ini, sehingga
sekolah kurang mengetahui apa-apa saja yang harus dilakukan untuk perbaikan
kesehatan remaja disekolah. Sumber informasi baru yang diberikan terkait kespro
dan permasalahan remaja lainnya juga hanya dilaksanakan satu tahun sekali dan
dalam kondisi ruangan yang tidak mencukupi, sehingga suasananya tidak
kondusif dan informasinya tidak terserap dengan maksimal. Hal ini juga sesuai
dengan konsep pengetahuan dimana menurut Nanda (2005), mengatakan bahwa
faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan adalah informasi, daya ingat, salah
penafsiran, kognitif, minat dan sumber informasi. Jika dikaitkan dengan konsep
tersebut jelas terlihat bahwa dalam penyuluhan, informasi yang mereka dapatkan
kurang maksimal, kemudian mereka pernah mendapat materi saat SD akan tetapi,
mereka sudah lupa. Untuk sumber informasi sebagaian besar dari siswa merasa
bahwa penyampaiannya sebetulnya menarik akan tetapi ada beberapa hal yang
kurang yaitu sikap petugas yang kurang ramah dan bahasa yang susah mereka
mengerti. Kondisi tersebut juga didukung oleh pernyataan wakil kepala sekolah
mengungkapkan bahwa lingkungan tempat tinggal dan latar belakang keluarga
juga menjadi faktor yang sangat menentukan terhadap kenakalan remaja. Kondisi
berbeda di SMP satunya yang minim dengan permasalahan, menurut peneliti di
karenakan pembinaan PKPR di SMP tersebut telah berjalan lebih baik dari SMP
satunya. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan guru BK, yang menyebutkan SMP
tersebut bahwa di sekolahnya sangat minim permasalahan remaja, karena selaian
guru, disekolah juga ada konselor sebaya yang membantu menangani segala
permasalahan remaja, selain itu sekolah juga mempunyai peraturan yang ketat
terkait kenakalan remaja.
4.5 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu setting tempat wawancara
mendalam kurang mendukung sehingga informasi yang didapatkan kemungkinan
kurang mendalam. Kondisi tersebut dikarenakan keterbatasan tempat penelitian.
4.6 Refleksi
Program PKPR yang merupakan salah satu strategi dalam mencegah
masalah remaja sudah dilaksanakan di Puskesmas Kuta Selatan sejak tahun 2007.
Program tersebut sudah rutin dilaksanakan baik di puskesmas maupun sosialisasi
dan kunjungan ke sekolah, bahkan disekolah juga sudah dibetuk konselor sebaya,
akan tetapi
rata-rata kunjungan remaja ke puskesmas dengan permasalahan
kespro dan remaja di Puskesmas Kuta Selatan < 5 remaja perbulan. Kunjungan
remaja pada konselor sebaya di sekolah juga sangat minim. Berdasarkan temuan
pada penelitian,
permasalahan remaja di sekolah sangat kompleks. Dalam
penelitian ini didapatkan hasil bahwa persepsi remaja terhadap PKPR sangat
berpengaruh terhadap pemanfaatan dan keefektifan dari program PKPR tersebut.
Berbagai faktor pendorong dan juga juga faktor penghambat dimasing-masing
sekolah berbeda, hal ini dikarenakan perbedaan perlakuan atau ketidakmerataan
kegiatan dalam PKPR ini, sehingga hal ini menimbulkan temuan baru yaitu
perbedaan fenomena permasalahan remaja di kedua SMP tersebut. Seharusnya
PKPR dilaksanakan berdasarkan kebutuhan bukan karena tebang pilih, misalnya
yang mau mengikuti lomba UKS. Kondisi tersebut di sadari peneliti karena
adanya berbagai faktor penghambat sendiri yaitu diantaranya kurangan dukungan
dana, kurang lengkapnya sarana dan prasarana serta kekurangan tenaga khusus di
bidang remaja, meskipun masih ada kekurangan dalam pelaksanaan PKPR ini
akan tetapi remaja di kedua SMP tersebut memiliki harapan yang besar akan
keberlangsungan program PKPR ini, hal ini dikarenakan mereka menyadari
bahwa remaja membutuhkan filter untuk mencegah permasalahan remaja, salah
satu diantaranya adalah program PKPR ini, selain itu mereka juga menganggap
bahwa bentuk kegiatan serta materi yang diberikan menarik bagi mereka karena
merupakan hal baru dan dianggap bermanfaat bagi remaja.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
5.1.1. Persepsi remaja terhadap keberadaan, faktor pendukung dan faktor
penghambat PKPR.
1. Persepsi remaja terhadap keberadaan PKPR tergolong baik, karena semua
OSIS menganggap keberadaan PKPR sangat bermanfaat dan penting
untuk meningkatkan kesehatan remaja serta mencegah permasalahan
terkait remaja.
2. Faktor pendukung PKPR menurut persepsi siswa OSIS adalah dukungan
sekolah berupa dana dan waktu yang disediakan, peran guru BK sebagai
koordinator PKPR juga dianggap sangat mendukung kegiatan PKPR di
sekolah, peran konselor sebaya selama ini sangat baik yaitu untuk
menolong teman yang sakit dan untuk konseling, materi yang disampaikan
cukup menarik serta keberadaan UKS sebagai ruangan untuk konseling di
sekolah.
3. Faktor penghambat PKPR menurut persepsi siswa OSIS adalah minimnya
informasi tentang keberadaan konseling disekolah maupun dipuskesmas,
keterbatasan ruangan, minimnya waktu, kurangnya brosur, beralih
fungsinya UKS sebagai gudang, bahasa yang digunakan dalam
penyampaian materi kurang dimengerti, serta sikap petugas yang dinilai
siswa kurang ramah. Belum adanya konselor sebaya dikarenakan
pembentukan konselor sebaya tidak dilaksanakan secara rutin sedangkan
mobilitas siswa sangat cepat selain itu ada keterbatasan waktu, tenaga dan
dana.
5.1.2. Persepsi remaja terhadap bentuk kegiatan PKPR.
1. Menurut siswa, bentuk kegiatan PKPR disekolah selama ini cukup
menarik, akan tetapi di masing-masing sekolah kegiatannya tidak merata
dan dianggap waktunya kurang banyak serta kurang sering dilaksanakan.
Hal ini dikarenakan ketidakmerataan kegiatan di masing-masing sekolah
dan keterbatasan tenaga sehingga kegiatan PKPR ini tidak dapat merata
pelaksanaanya.
2. Siswa OSIS menganggap bahwa bentuk kegiatan dalam PKPR
yaitu
kegiatan penyuluhan, pembinaan, kegiatan pembentukan konselor sebaya
dan sebagian
konselor sebaya.
siswa juga menganggap ada kegiatan konseling pada
3. Persepsi siswa OSIS tentang bentuk pelayanan klinik dalam PKPR,
menyebutkan bahwa sebagaian besar siswa mengetahui bahwa bentuk
pelayanan klinik di puskesmas hanya sebatas untuk berobat saja
sedangkan untuk konseling mereka tidak mengetahuinya.
5.1.3. Persepsi remaja tentang materi dan penyampaian PKPR.
1. Persepsi remaja tentang materi menyebutkan bahwa, Menurut mereka
penyampaian materinya menarik akan tetapi di masing-masing sekolah ada
kendala. Saat penyuluhan PKPR materi yang disampaikan yaitu tentang
kespro, HIV/AIDS dan Narkoba..
2. Menurut siswa, cara penyampaian materinya cukup menarik akan tetapi
sikap petugas dianggap kurang ramah dan ada beberapa bahasa yang
kurang dimengerti. Metode yang digunakan dalam penyampaian materi
yaitu ceramah, tanya jawab, praktek, dengan menggunakan LCD,
proyektor disertai gambar-gambar dan alat peraga serta brosur.
5.1.4 Persepsi remaja tentang peran konselor sebaya
1. Siswa menganggap peran konselor sebaya selama ini sangat baik. Peran
konselor sebaya diantaranya adalah berjaga di UKS, membantu teman
yang sakit, mengajarkan teman lain tentang perawatan luka, dan untuk
konseling permasalahan remaja.
5.1.5 Harapan remaja terhadap PKPR
1. Siswa berharap supaya program PKPR ini tetap berlanjut dan lebih baik
lagi kedepannya. Siswa juga berharap puskesmas lebih sering memberi
penyuluhan ke sekolah, lebih mensosialisasikan lagi program PKPR,
melengkapi sarana dan prasarana, menggunakan bahasa yang mudah
dimengerti, menyediakan waktu yang lebih lama untuk penyuluhan,
petugas puskesmas bersikap lebih ramah dan mengadakan kegiatan PKPR
di masyarakat.
2. Harapan sekolah terhadap program PKPR ini supaya puskesmas lebih aktif
lagi dalam melakukan pembinaan ke sekolah, selain itu sekolah juga
menginginkan bahwa program ini tetap berlanjut.
5.1.5
Temuan Lain Penelitian
1. Fenomena permasalahan remaja di kalangan siswa laki-laki adalah
merokok, minum-minuman keras, pacaran dan narkoba. Fenomena
permasalahan remaja yang ada di sekitar siswa
perempuan
adalah
masalah merokok dan minum-minuman keras pada siswa perempuan,
pacaran bahkan ada yang hamil di luar nikah, kemudian pelecehan dari
teman-teman cowok seperti memegang pantat dan payudara, dan tren
pacaran dikalangan mereka adalah hampir rata-rata pernah ciuman.
2. Fenomena permasalahan remaja yang pernah ditemukan oleh pemegang
program PKPR Puskesmas Kuta Selatan adalah merokok, kehamilan tidak
diinginkan (KTD), aborsi, KEK dan anemia. Puskesmas juga menemukan
dari laporan PSK yang melakukan VCT ke puskesmas, bahwa ada siswa
SMP yang ke lokalisasi.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti memberikan saran kepada
berbagai pihak sebagai berikut ini.
5.2.5 Bagi Sekolah
Sekolah perlu meningkatkan dan melengkapi sarana dan prasarana terkait
kegiatan PKPR. Selain itu sekolah perlu melakukan sosialisasi kepada seluruh
siswa terkait peran konselor sebaya untuk konseling dan keberadaan pelayanan
klinik di puskesmas. Sekolah juga perlu menyosialisasikan keberadaan PKPR ini
kepada orang tua siswa. Guru BK selaku koordinator PKPR disekolah seharusnya
bekerjasama dengan puskesmas untuk melakukan kaderisasi konselor sebaya
sehingga keberadaan konselor sebaya terus menerus ada di sekolah. Perlunya
meningkatkan kerjasama terkait pelaporan kasus/ masalah remaja di sekolah
masing-masing sehingga Puskesmas dapat menangani dan mengevaluasi
permasalahan tersebut.
5.2.6 Bagi Remaja
Remaja perlu membuka diri dan tenggap terhadap pengetahuan baru
tentang upaya peningkatan status kesehatan remaja, selaian itu keberadaan
puskesmas, konselor sebaya dan kegiatan PKPR di sekolah seharusnya
dimanfaatkan sebaik mingkin agar siswa dapat melakukan upaya pencegaham
terhadap permasalahan remaja dan jika remaja mengalami permasalaha remaja,
maka dapat menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut.
5.2.7 Bagi Masyarakat
Keluarga perlu membuka diri terhadap program pemerintah terkait remaja,
diantaranya adalah PKPR ini. Diharapkan orang tua mendukung program ini
dengan memanfaatkan pelayanan yang disediakan oleh PKPR, diantaranya adalah
pelayanan klinik dan konseling di Puskesmas. Lingkungan masyarakat seharusnya
juga mendukung keberadaan PKPR di desa-desa sehingga seluruh remaja yang
tidak sekolah juga terjangkau oleh program PKPR ini. Media juga hendaknya
berperan dalam mensukseskan program remaja ini dengan cara meliput kegaiatan
dan mempromosikan melalui media sehingga seluruh remaja dan masyarakat tahu
akan keberadaan program PKPR dan mau memanfaatkan layanan dalam PKPR
ini.
5.2.8 Bagi Puskesmas
Perlu pemerataan serta memperbanyak sosialisasi tentang PKPR baik di
sekolah maupun di luar sekolah seperti teruna-teruni dengan cara penyuluhan,
pemerataan pembinaan dan pembentukan konselor sebaya di masing-masing
sekolah secara berkesinambungan. Melengkapi sarana dan prasarana seperti ruang
konseling di Puskesmas, leaflet dan brosur. Perlu mengadakan pelatihan konseling
bagi konselor sebaya, petugas harus meningkatkan sikap youth friendly dan
melakukan inovasi metode penyampaian serta materinya, misalnya dengan
pemainan, sehingga remaja lebih menerima program PKPR dengan antusias.
Puskesmas juga perlu melalukan evaluasi terkait kasus remaja baik di sekolah
maupun di luar sekolah.
5.2.9 Bagi Dinas Kesehatan
Dinas kesehatan seharusnya menyediakan tenaga khusus di puskesmas
khusus menangani program PKPR ini dan diadakan pula pelatihan bagi tenaga
khusus tersebut. Perlu memberikan anggaran dana tersendiri untuk program PKPR
ini sehingga pelaksanaan kegiatan tidak terkendala. Perlu juga melengkapi sarana
dan prasarana di puskesmas dan disekolah yang berkaitan untuk kegiatan ini,
misalnya brosur, ruang konseling dan sebagainya. Dinas kesehatan perlu
melaksanakan kerjasama lintas sektor sehingga bisa menjangkau ke teruna-teruni.
Selain itu juga melakukan sosialisasi ke puskesmas terkait standar operasional
prosedur PKPR. Dinas juga diharapkan bisa bekerjasama dengan media setempat
untuk promosi program PKPR sehingga lebih diketahui oleh seluruh remaja dan
seluruh lapisan masyarakat. Perlu juga menggunakan media online untuk
mengembangkan program PKPR ini.
5.2.10 Bagi Peneliti Selanjutnya
Dalam penelitian ini belum ada catatan besaran masalah terkait remaja
khususnya di wilayah puskesmas Kuta Selatan, akan tetapi permasalahan
sesungguhnya sangat kompleks seperti yang ditemukan dalam penelitian ini. Bagi
penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti tentang besaran masalah yang
ada di wilayah Puskesmas Kuta Selatan, sehingga bisa dijadikan acuan untuk
perbaikan program remaja khusunya PKPR.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, H. Dendi, S. Adiwirmata, Suseki, S. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta : Depertemen Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka
Arsani, A. Agustini, M. Purnomo, I. 2013. Peranan Program Pkpr (Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja) Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja Di
Kecamatan Buleleng. Ilmu olahraga dan kesehatan. Bali : Universitas Pendidikan
Ganesha.
Andi C, 2011. Informasi dan Komunikasi. Yogyakarta : Nuha Medika
Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT Rajagrafindo
Persada
BKKBN, 2009. Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta : BKKBN
Cresswell, J.W. 1998. Qualitative : Inquiry and Research Design Choosing
among Five Tradition. USA : Sage Publication, Inc.
Cutia, L. 2012. Implementasi Program Pelayanan Program Kesehatan Perduli
Remaja. Departemen Promkes. Semarang :Universitas Diponegoro.
Hadiningsih, T.A. 2010. Analisis Implementasi Program Pelayanan Kesehatan
Perduli Remaja. Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang : Universitas
Diponegoro.
Herman.
2013.
Remaja
dan
masalah
kesehatan
reproduksi.
http://www.rimanews.com . ( Diakses, tanggal 2 Desember 2014).
Kemenkes, RI. 2011. Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan Perduli Remaja
(PKPR) bagi Konselor Sebaya. Jakarta : Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan
Anak.
Kemenkes, RI. 2011. Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan Perduli Remaja
(PKPR) bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta : Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu
dan Anak.
Lola., Erwinda . 2009. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Siswa Terhadap
Pemanfaatan PKPR di SMPN 01 Sitiung Wilayah Kerja Puskesmas Sitiung I
Kabupaten Dhamasraya. Fakultas Kedokteran. Padang : Universitas Andalas.
Moleong, L.J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Nanda,
2005. Nursing diagnoses: definitions and classification 2005-2006.
Philadelpia : Nanda International.
Notoatmodjo, S. 2010. Promosi kesehatan, Teori dan Apliaksi. Jakarta : Rineka
Cipta
Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-prinsip Dasar.
Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehata. Jakarta :
Rineka Cipta.
Poerwandari, E.K. 2005. Pendekatan Kualitatif
untuk Penelitian Prilaku
Manusia. (ed-3). Jakarta:Perfecta LPSP3. Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia
Rohan & Siyoto. 2013. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Nuha Medika.
Saryono & Dwi, A. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Dalam
Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika
Sadli.
Saparinah. Rahman, A. Habsjah, A. 2006.
Implementasi Pasal 12
Undang-undang Nomor 7 tahun 1984, Pelayanan Kehamilan, Persalinan dan
Pasca Persalinan. Yogyakarta : Kelompok KerjaConvention Watch Univer-sitas
Indonesia, Surviva Paski.
Sarwono. Wirawan, S. 2005. Psikologi Remaja, Ed. Revisi 9,
Jakarta : Raja
Grafindo Persada,
Santrock. John, W. 2003. Adolescence, Perkem-bangan Remaja. Jakarta : Penerbit
Erlangga Ed.ke-6. Terj. oleh Shinto B. Adelar & Sherly Saragih
Streubert, H.J. & Carpenter, D.R. 2003. Qualitative research in nursing:
Advancing the humanistic imperative. 3rd ed. Philadelphia : Lippincot William
Wilkins
Sutopo, H.B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta : Penerbit
Universitas Sebelas Maret.
Lampiran 2
PANDUAN FOCUS GROUP DISCUSSION
“ PERSEPSI REMAJA TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN
PEDULI REMAJA DI WILAYAH PUSKESMAS KUTA SELATAN “
TAHUN 2014
RINI WINANGSIH
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
PENJELASAN KEPADA INFORMAN SEBELUM DILAKUKAN FOCUS GROUP DISCUSSION
TENTANG “PERSEPSI REMAJA TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA
(PKPR DI WILAYAH PUSKESMAS KUTA SELATAN”
TAHUN 2015
==============================================
PKPR adalah suatu program yang dikembangakan oleh Kementerian Kesehatan
RI sebagai upaya untuk meningkatkan status kesehatan remaja yang menekankan
kepada Puskesmas. Program ini dalam pelaksanaannya diharapkan petugas Puskesmas
mempunyai kepedulian yang tinggi, mau menerima remaja dengan permasalahnnya dan
dapat menciptakan suasana konseling yang menyenangkan tanpa adanya stigma dan
diskriminasi terhadap remaja tersebut. Lokasi pelayanan PKPR harus mudah dijangkau,
nyaman, aman, kerahasiaan remaja dijaga tanpa ada diskriminasi dan stigma. Tujuan
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) adalah memberikan layanan konseling pada
remaja terkait dengan kesehatan reproduksi, sehingga remaja mendapatkan informasi
tentang kesehatan reproduksi dengan benar dan hal-hal yang ingin mereka ketahui.
Remaja dengan leluasa menceritakan permasalahan yang mereka alami tanpa rasa
khawatir
Dibawah ini ada sejumlah pertanyaan dan pernyataan, mengenai persepsi
remaja yang menyangkut masalah pelayanan kesehatan peduli remaja. Besar harapan
kami kepada saudara untuk menjawab yang sejujur-jujurnya, karena hal ini penting
sekali sebagai evaluasi, sekaligus untuk masukan penyempurnaan program pelayanan
kesehatan peduli remaja yang sedang di selenggarakan.
Kita mempunyai waktu selama kurang lebih 60 – 90 menit untuk membahas beberapa
topik diskusi yang berkaitan dengan persepsi saudara terhadap pelayanan kesehatan
peduli remaja. Secara rinci topik akan kita diskusikan satu persatu sesuai dengan waktu
yang tersedia.
Yang kami banggakan adik-adik sekalian, terima kasih kami ucapkan atas
kehadirannya untuk diskusi di pagi ini. Saya Rini Winangsih beserta rekan – rekan saya
yang membantu proses jalannya diskusi dari Universitas Udayana Denpasar ditugaskan
untuk memandu jalannya diskusi dipagi ini. Diskusi Terarah (FGD) pada pagi ini
bertujuan untuk mendapatkan kesan-pesan atau masukan-masukan dari adik-adik
mengenai pelayanan kesehatan peduli remaja. Ada 5 topik yang akan kita bahas, yaitu:
1. Bagaimana Persepsi remaja tentang keberadaan, faktor pendukung dan faktor
penghambat PKPR
2. Bagaimana Persepsi remaja mengenai bentuk kegiatan PKPR
3. Bagaimana Persepsi remaja tentang materi dan cara penyampaian PKPR
4. Bagaimana Persepsi remaja tentang peran konselor sebaya
5. Bagaimana harapan remaja terhadap PKPR
Demikan kiranya secara sepintas dapat kami sampaikan gambaran jadwal acara
diskusi di pagi ini. Apakah ada hal-hal yang kurang jelas, atau ada hal lain yang ingin
ditambahkan ? ,Baik, jika tidak ada usulan tambahan apakah dapat kita mulai sekarang
?.
Jadwal dan Arahan Fasilitator
Dalam Memandu FGD
Topik Pertama
Bagaimana persepsi remaja tentang keberadaan, faktor pendukung dan faktor
penghambat PKPR
Pertanyaan
1. Pernahkah adik – adik mendengar tentang PKPR ?
2. Pernahkah dilakukan sosialisasi ? bisakah adek ceritakan tentang sosialisasi yang
adek dapatkan ? (Kapan, oleh siapa, bentuk sosialisasi)
3. Apakah PKPR itu ? (pengertian, bentuk kegiatan, dimana saja)
4. Menurut adik-adik bagaimana dukungan/ kebijakan yang diberikan sekolah
?(Probing : Peraturan sekolah )
5. Bagaimanakah sarana dan prasarana yang disediakan sekolah untuk kegiatan
PKPR ini ? (ruangan khusus, alat-alat peraga dn permainan)
6. Bagaimakah peran konselor sebaya dalam
kegiatan PKPR ini ? (Probing :
kenyamanan konseling)
7. Bagaimakah peran petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan/
konseling ?
8. Apakah ada brosur terkait kegiatan PKPR ini ? atau ada sumber informasi lain?
Topik Kedua
Bagaimana persepsi remaja mengenai bentuk kegiatan PKPR
Pertanyaan
1. Apakah adik pernah mendengar tentang pelayanan klinik dalam PKPR?
2. Pernahkah memanfaatkan pelayanan klinik tersebut ? (kapan, dimana,
masalah apa)
3. Apa saja bentuk kegiatan PKPR?
4. Dimanakah pelaksanaan pelayanan klinik dalam PKPR?
5. Siapakah yang memberikan pelayanan klinik dalam PKPR ?
Topik Ketiga
Bagaimana persepsi remaja tentang kesehatan materi maupun
cara
penyampaian PKPR
Probing
1. Pernahkan adik mendengar tentang kesehatan reproduksi remaja? (sumber
informasi)
2. Apakah kesehatan reproduksi remaja itu ? (pengertian)
3. Pernahkan adek mendapat penyuluhan tentang kespro remaja ? (kapan,
dimana, siapa yang memberikan)
4. Apa sajakah materi yang diberikan dalam penyuluhan tersebut ?
5. Bagaimanakah
cara
penyampaian
materi
dalam
PKPR?
(metode
penyampaian)
6. Menurut adek-adek bagaimanakah cara yang menarik dalam memberikan
materi PKPR? (harapan)
7. Jika adik-adik mengalami masalah kespro atau masalah remaja lainnya,
ceritanya ke siapa?
Topik Keempat
Bagaimana persepsi remaja tentang peran konselor sebaya
Probing
1. Pernahkah adik- adik mendengar tentang konselor sebaya ?
2. Bagaimanakah peran konselor sebaya selama ini ?
3. Apa sajakah kegiatan yang dilakukan oleh konselor sebaya ?
4. Apakah adik ingin menjadi konselor sebaya ? (Probing : Alasan)
Topik Kelima
Bagaimana harapan remaja terhadap PKPR
Probing
1. Bagaimanakah harapan adik –adik tentang PKPR? ( bentuk kegiatan, kelanjutan
program)
Penutup
Urusan administrasi
Istirahat - makan siang pulang
Lampiran 3
Formulir Persetujuan
Penyataan oleh Responden
Kode Responden:_____________________
Persetujuan untuk berpartisipasi pada penelitian mengenai persepsi remaja terhadap
pelayanan kesehatan peduli remaja di Puskemas Kuta Selatan.
Bahwa saya telah membaca lembaran informasi yang diberikan kepada saya (atau telah
diba-cakan untuk saya), dan saya telah memahami tujuan penelitian ini dan sifat
pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada saya.
Saya menyadari bahwa:
1. Saya akan berpartisipasi dalam penelitian ini.
2. Saya akan diwawancarai oleh petugas lapangan selama 60-90 menit
3. Identitas saya akan dilindungi dengan cara menggunakan kode. Kode ini akan
muncul pada kuesioner yang menyimpan semua informasi yang saya berikan, tetapi
nama saya tidak akan disebutkan di sana.
4. Jawaban-jawaban saya akan dijaga kerahasiaannya dengan upaya maksimal
sepanjang waktu.
5. Keikutsertaan dalam studi ini bersifat sukarela dan saya bisa mengundurkan diri
kapanpun saya mau.
6. Saya boleh tidak menjawab suatu pertanyaan, oleh karena alasan apapun.
7. Saya memahami para peneliti adalah orang yang berpengalaman dalam bidang ini,
dan akan melakukan setiap langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi
kerahasiaan saya.
Tanda tangan
Orang Tua/Wali
Tanda Tangan
Siswa
(………………………………)
(……………………………….)
Lampiran 4
Lembar Observasi Sarana dan Prasarana PKPR
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Keterangan
Ruangan khusus untuk konseling
remaja
Slide proyektor/ LCD
Pengukur tinggi badan
Timbangan Berat badan
Papan
Tabel/ grafik standart IMT
terhadap umur
Alat-alat peraga (kertas plano,
kartu gambar,puzzle)
Leaflet
Kuesioner
Skenario bermain peran
Alat permainan 1 (Kapur, korek
api, alat ukur, amplop)
Alat permainan 2 (Bola tenis)
Alat permainan 3 (Pensil, tali
rapia, botol, penutup mata)
Alat permainan 4 (karton manila,
selotip)
Peralatan medis
Ada
Tidak
Lampiran 5
Pedoman Pertanyaan Wawancara untuk Petugas Puskesmas
Nama Informan :
Tanggal Wawancara
:
Perkenalan
Perkenalkan nama saya ........................... dari...................... Saya sedang
melakukan studi tentang persepsi remaja terhadap program pelayanan kesehatan
peduli remaja (PKPR) di wilayah Puskesmas Kuta Selatan.
Tujuan dari Penelitian ini adalah:
6. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang keberadaan, faktor
pendukung dan faktor penghambat PKPR
7. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang bentuk kegiatan PKPR.
8. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja materi maupun cara
penyampaian PKPR.
9. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang peran konselor sebaya.
10. Penelitian ini untuk mengetahui harapan remaja terhadap PKPR.
Kami meminta kesediaan ibu secara sukarela untuk menjadi informan dalam studi
ini. Hasil studi ini sangat tergantung pada informasi yang didapat dari ibu sebagai
informan. Diharapkan ibu dapat berpertisipasi dengan mengemukakan pendapat,
pikiran dan perasaannya dengan sejujurnya dan apa adanya. Jawaban yang ibu
berikan sangat penting untuk penelitian ini. Tidak ada penilaian benar atau salah
terhadap jawaban yang diberikan. Jawaban yang ibu berikan juga tidak akan
mempengaruhi penilaian dalam kehidupan ibu sehari-hari. Ibu berhak untuk
menolak menjawab pertanyaan atau tidak bersedia sebagai informan, apabila tidak
menginginkannya. Wawancara akan berlangsung kurang lebih selama 60menit.
Wawancara akan direkam sebagai backup data agar tidak ada informasi yang
terlewatkan. Informasi ibu hanya akan digunkan dalam penelitian ini saja. Ibu
tidak akan mendapatkan keuntungan langsung dari penelitian ini, namun
informasi ibu akan sangat berguna untuk perbaikan program kesehatan terkait
dalam pemberdayaan perempuan. Kami akan memberikan sedikit kompensasi
untuk waktu yang sudah ibu berikan serta sebagai bentuk ucapan terima kasih atas
partisipasi dalam penelitian ini.
Mohon ibu menandatangani form di bagian bawah ini bila ibu setuju sebagai informan
atau sumber informasi.
Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan wawancara. Peneliti
menjalin hubungan baik dengan informan. Peneliti meminta ijin kepada informan
selama wawancara akan direkam dan diambil fotonya. Sebelum wawancara dimulai
peneliti menanyakan kembali kepada informan apakah wawancara sudah bisa dimulai.
Denpasar,………………………..2014
Tertanda,
Informan
Peneliti
Rini Winangsih
(.………………………….)
Hp. 087761776961
Fak. Kesehatan Masyarakat,
Pewawancara
Universitas Udayana Bali
(…………………………. )
Pertanyaan :
1. Berapa lama saudara bertugas sebagai pemegang program PKPR?
2. Bisakah saudara ceritakan pengalaman bapak selama memegang program PKPR
ini? (suka, duka)
3. Apa saja hambatan yang saudara hadapi selama menjabat sebagai pemegang
program PKPR ini?
4. Apa yang dimaksud dengan PKPR ? (Probe : pengertian, tujuan, sasaran,
sosialisasi)
5. Bagaimanakah bentuk kegiatan pelayanan klinik PKPR ?(Probe : di Puskesmas
dan di Sekolah )
6. Bagaimanakah pelaksanaan pelayanan klinik PKPR ? (Probe : Kegiatannya )
7. Apa sajakah materi yang diberikan dalam PKPR ?
8. Bagaimanakah Cara penyampaian materi dalam pelaksanaan PKPR?
9. Apa sajakah sarana dan prasarana yang digunakah dalam program PKPR ini?
(Probe : Kelengkapan sarana dan prasarana seperti slide proyektor, pengukur
tinggi badan, timbangan, papan, table/grafik standart IMT, alat-alat peraga, alat
permainan 1-4, leaflet, kuesioner, skenario bermain peran dan peralatan medis )
10. Bagaimankah dukungan Dinas Kesehatan dan Puskesmas dalam memfasilitasi
program ini ? (Probe : Dukungan, Dana, tenaga ,peraturan )
11. Menurut saudara apa sajakah yang menjadi faktor pendukung dalam
pemanfaatan layanan PKPR? (dipuskesmas dan disekolah )
12. Menurut saudara apa sajakah yang menjadi faktor penghambat dalam
pemanfaatan layanan PKPR ? (dipuskesmas dan disekolah )
13. Apakah yang dimaksud dengan konselor sebaya ?( Pengertian, tujuan, fungsi,
cara pembentukan )
14. Bagaimanakah respon remaja terhadap PKPR ini ?
15. Bagaimanakah harapan saudara tentang program PKPR ini ? (Probe :
Pelaksanaannya dan keberlanjutan Program ?
Lampiran 6
Pedoman Pertanyaan Wawancara untuk Kepala Sekolah / Guru BK
Nama Informan :
Tanggal Wawancara
:
Perkenalan
Perkenalkan nama saya ........................... dari...................... Saya sedang
melakukan studi tentang persepsi remaja terhadap program pelayanan kesehatan
peduli remaja (PKPR) di wilayah Puskesmas Kuta Selatan.
Tujuan dari studi ini adalah:
1. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang keberadaan, faktor
pendukung dan faktor penghambat PKPR
2. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang bentuk kegiatan PKPR.
3. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja materi maupun cara
penyampaian PKPR.
4. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang peran konselor sebaya.
5. Penelitian ini untuk mengetahui harapan remaja terhadap PKPR.
Kami meminta kesediaan ibu secara sukarela untuk menjadi informan dalam studi
ini. Hasil studi ini sangat tergantung pada informasi yang didapat dari ibu sebagai
informan. Diharapkan ibu dapat berpertisipasi dengan mengemukakan pendapat,
pikiran dan perasaannya dengan sejujurnya dan apa adanya. Jawaban yang ibu
berikan sangat penting untuk penelitian ini. Tidak ada penilaian benar atau salah
terhadap jawaban yang diberikan. Jawaban yang ibu berikan juga tidak akan
mempengaruhi penilaian dalam kehidupan ibu sehari-hari. Ibu berhak untuk
menolak menjawab pertanyaan atau tidak bersedia sebagai informan, apabila tidak
menginginkannya. Wawancara akan berlangsung kurang lebih selama 60 menit.
Wawancara akan direkam sebagai backup data agar tidak ada informasi yang
terlewatkan. Informasi ibu hanya akan digunkan dalam penelitian ini saja. Ibu
tidak akan mendapatkan keuntungan langsung dari penelitian ini, namun
informasi ibu akan sangat berguna untuk perbaikan program kesehatan terkait
dalam pemberdayaan perempuan. Kami akan memberikan sedikit kompensasi
untuk waktu yang sudah ibu berikan serta sebagai bentuk ucapan terima kasih atas
partisipasi dalam penelitian ini.
Mohon ibu menandatangani form di bagian bawah ini bila ibu setuju sebagai informan
atau sumber informasi.
Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan wawancara. Peneliti
menjalin hubungan baik dengan informan. Peneliti meminta ijin kepada informan
selama wawancara akan direkam dan diambil fotonya. Sebelum wawancara dimulai
peneliti menanyakan kembali kepada informan apakah wawancara sudah bisa dimulai.
Denpasar,………………………..2014
Tertanda,
Informan
Peneliti
Rini Winangsih
(.………………………….)
Hp. 087761776961
Fak. Kesehatan Masyarakat,
Pewawancara
Universitas Udayana Bali
(…………………………. )
Pertanyaan :
1. Apakah saudara mengetahui keberadaan PKPR ? (di Puskesmas dan di Sekolah)
2. Apakah puskesmas pernah sosialisasi tentang program PKPR? (Probe : Kapan,
Siapa yang mensosialisasikan)
3. Apakah yang saudara ketahui tentang PKPR ? (Probe : pengertian, tujuan,
sasaran)
4. Bagaimanakah bentuk kegiatan pelayanan klinik PKPR ?(Probe : di di Sekolah )
5. Bagaimanakah pelaksanaan pelayanan klinik PKPR ? (Probe : Kegiatannya )
6. Apakah sekolah pernah merujuk remaja ke Puskesmas ? (Probe : Kasus)
7. Apa sajakah materi yang diberikan dalam PKPR ?
8. Bagaimanakah Cara penyampaian materi dalam pelaksanaan PKPR?
9. Apa sajakah sarana dan prasarana yang digunakah dalam program PKPR ini?
(Probe : Kelengkapan sarana dan prasarana seperti slide proyektor, pengukur
tinggi badan, timbangan, papan, table/grafik standart IMT, alat-alat peraga, alat
permainan 1-4, leaflet, kuesioner, scenario bermain peran dan peralatan medis )
10. Menurut saudara apa sajakah yang menjadi faktor pendukung dalam
pemanfaatan layanan PKPR? (dipuskesmas dan disekolah )
11. Menurut saudara apa sajakah yang menjadi faktor penghambat dalam
pemanfaatan layanan PKPR ? (dipuskesmas dan disekolah )
12. Apakah yang saudara ketahui tentang konselor sebaya ?( Pengertian, tujuan,
fungsi )
13. Bagaimanakah tata cara membentuk konselor sebaya ?
14. Apakah ada kasus remaja yang di rujuk ke puskesmas ?
15. Apakah ada umpan balik setelah merujuk ?(Umpan balik dari puskesmas/
kunjungan ulang)
16. Bagaimanakah sekolah memilih konselor sebaya dan apa sajakah kegiatannya?
17. Bagaimanakah dukungan sekolah terhadap PKPR ini ?
18. Bagaimanakah respon siswa terhadap PKPR ini ?
19. Bagaimanakah harapan saudara tentang program PKPR ini ? (Probe :
Pelaksanaannya dan keberlanjutan Program ?
Lampiran 7
Pedoman Pertanyaan Wawancara untuk Konselor Sebaya
Nama Informan :
Tanggal Wawancara
:
Perkenalan
Perkenalkan nama saya ........................... dari...................... Saya sedang
melakukan studi tentang persepsi remaja terhadap program pelayanan kesehatan
peduli remaja (PKPR) di wilayah Puskesmas Kuta Selatan.
Tujuan dari studi ini adalah:
1. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang keberadaan, faktor
pendukung dan faktor penghambat PKPR
2. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang bentuk kegiatan PKPR.
3. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja materi maupun cara
penyampaian PKPR.
4. Penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang peran konselor sebaya.
5. Penelitian ini untuk mengetahui harapan remaja terhadap PKPR.
Kami meminta kesediaan ibu secara sukarela untuk menjadi informan dalam studi
ini. Hasil studi ini sangat tergantung pada informasi yang didapat dari ibu sebagai
informan. Diharapkan ibu dapat berpertisipasi dengan mengemukakan pendapat,
pikiran dan perasaannya dengan sejujurnya dan apa adanya. Jawaban yang ibu
berikan sangat penting untuk penelitian ini. Tidak ada penilaian benar atau salah
terhadap jawaban yang diberikan. Jawaban yang ibu berikan juga tidak akan
mempengaruhi penilaian dalam kehidupan ibu sehari-hari. Ibu berhak untuk
menolak menjawab pertanyaan atau tidak bersedia sebagai informan, apabila tidak
menginginkannya. Wawancara akan berlangsung kurang lebih selama 60 menit.
Wawancara akan direkam sebagai backup data agar tidak ada informasi yang
terlewatkan. Informasi ibu hanya akan digunkan dalam penelitian ini saja. Ibu
tidak akan mendapatkan keuntungan langsung dari penelitian ini, namun
informasi ibu akan sangat berguna untuk perbaikan program kesehatan terkait
dalam pemberdayaan perempuan. Kami akan memberikan sedikit kompensasi
untuk waktu yang sudah ibu berikan serta sebagai bentuk ucapan terima kasih atas
partisipasi dalam penelitian ini.
Mohon ibu menandatangani form di bagian bawah ini bila ibu setuju sebagai informan
atau sumber informasi.
Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan wawancara. Peneliti
menjalin hubungan baik dengan informan. Peneliti meminta ijin kepada informan
selama wawancara akan direkam dan diambil fotonya. Sebelum wawancara dimulai
peneliti menanyakan kembali kepada informan apakah wawancara sudah bisa dimulai.
Denpasar,………………………..2014
Tertanda,
Informan
Peneliti
Rini Winangsih
(.………………………….)
Hp. 087761776961
Pewawancara
Fak. Kesehatan Masyarakat,
Universitas Udayana Bali
(…………………………. )
Pertanyaan :
1. Sudah berapa lama adek menjadi konselor sebaya?
2. Apa saja pengalaman adek selama menjadi konselor sebaya ? (menarik/ tidak)
3. Apakah adek mengetahui keberadaan PKPR ? (di Puskesmas dan di Sekolah)
4. Pernahkan dilakukan sosialisai tentang keberadaan PKPR? (Di puskesmas dan
disekolah )
5. Apakah yang adek ketahui tentang PKPR ? (Probe : pengertian, tujuan, sasaran)
6. Bagaimanakah bentuk kegiatan pelayanan klinik PKPR ?(Probe : di di Sekolah )
7. Bagaimanakah pelaksanaan pelayanan klinik PKPR ? (Probe : Kegiatannya )
8. Apa sajakah materi yang diberikan dalam PKPR ?
9. Bagaimanakah Cara penyampaian materi dalam pelaksanaan PKPR?
10. Menurut adek apa sajakah yang menjadi faktor pendukung dalam pemanfaatan
layanan PKPR? (dipuskesmas dan disekolah )
11. Menurut adek apa sajakah yang menjadi faktor penghambat dalam
pemanfaatan layanan PKPR ? (dipuskesmas dan disekolah )
12. Apakah yang dimaksud dengan konselor sebaya ?( Pengertian, tujuan, fungsi,
cara pemilihan )
13. Apa sajakah kegiatan yang dilakukan oleh konselor sebaya ?
14. Bagaimanaka bentuk pelayanan yang diberikan oleh konselor sebaya?
15. Bagaimanakah dukungan sekolah terhadap konselor sebaya ?
16. Apakah ada ruangan khusus untuk konseling?
17. Bagaimanakah antusiasme remaja terhadap PKPR ini ?
18. Apa sajakah sarana dan prasarana yang disediakan untuk menunjang kegiatan
konselor sebaya ? (Probe : Kelengkapan sarana dan prasarana seperti slide
proyektor, pengukur tinggi badan, timbangan, papan, table/grafik standart IMT,
alat-alat peraga, alat permainan 1-4, leaflet, kuesioner, skenario bermain peran
dan peralatan medis )
19. Bagaimanakah harapan adek tentang program PKPR ini ? (Probe :
Pelaksanaannya dan keberlanjutan Program ?
20. Kenapa adik mau menjadi konselor ? (Probe : Alasan)
Fly UP