...

persepsi, sikap dan perilaku penyebab kecelakaan kerja

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

persepsi, sikap dan perilaku penyebab kecelakaan kerja
PERSEPSI, SIKAP DAN PERILAKU
PENYEBAB KECELAKAAN KERJA PADA TAMBANG
Oleh : Handoko setiadji, S.T.
Abstrak
Di dalam istilah psikologi dikenal adanya persepsi, sikap dan
perilaku untuk menggambarkan tingkatan bagaimana seseorang
mengungkapkan pendapat secara nyata. Pada kegiatan tambang istilah
ini penting dipelajari untuk mengamati perilaku pekerja tambang yang
kondisi lapangan kerjanya relatif rawan kecelakaan. Secara umum
kecelakaan dapat diakibatkan oleh tindakan pekerja yang secara sadar
atau tidak sadar tidak aman bagi dirinya sendiri atau mungkin juga
disebabkan karena kondisi lapangan kerjanya yang tidak aman. Tentu
saja hal ini akan semakin kompleks jika penyebab kecelakaan kerja
adalah kedua unsur tersebut. Secara umum kondisi lapangan kerja lebih
mudah untuk dianalisa dan diperbaiki dibandingkan dengan perilaku tidak
aman dari para pekerja tambang. Kajian terhadap persepsi, sikap dan
tingkah laku para pekerja tambang akan dapat menemukan suatu
kesimpulan di mana para pekerja secara psikologis mempunyai alasan
mengapa melakukan perbuatan berbahaya. Hal ini akan sangat
bermanfaat untuk meminimalisir penyebab kecelakaan kerja pada
tambang.
Kata kunci : psikologi; persepsi; sikap; perilaku;
kecelakaan tambang; pertambangan
kecelakaan
kerja;
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pertambangan memiliki peran yang sangat penting dalam
pembangunan nasional. Pertambangan memberikan peran yang sangat
signifikan dalam perekonomian nasional, baik dalam sektor fiscal,
moneter,
maupun
sektor
riil.
Salah
satu
karakteristik
industri
pertambangan adalah padat modal, padat teknologi dan memiliki risiko
yang besar. Oleh karena itu, dalam rangka menjamin kelancaran
1
operasi, menghindari terjadinya kecelakaan kerja, kejadian berbahaya
dan penyakit akibat kerja maka diperlukan implementasi Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) pada kegiatan pertambangan.
Terjadinya kecelakaan kerja tentu saja menjadikan masalah
yang besar bagi kelangsungan suatu usaha. Kerugian yang diderita
tidak hanya berupa kerugian materi yang cukup besar namun lebih dari
itu adalah timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya.
Kehilangan sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat
besar karena manusia adalah satu-satunya sumber daya yang tidak
dapat digantikan oleh teknologi apapun.
Menurut H.W. Heinrich pada tahun 1931, 88% kecelakaan
disebabkan oleh perbuatan/tindakan tidak aman dari manusia (unsafe
act), sedangkan sisanya disebabkan oleh hal-hal yang tidak berkaitan
dengan kesalahan manusia, yaitu 10 % disebabkan kondisi yang tidak
aman (unsafe condition) dan 2% disebabkan takdir Tuhan. Heinrich
menekankan bahwa kecelakaan lebih banyak disebabkan oleh
kekeliruan, kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Menurutnya,
tindakan dan kondisi yang tidak aman akan terjadi bila manusia berbuat
suatu kekeliruan. Hal ini lebih jauh menurutnya disebabkan karena
faktor karakteristik manusia itu sendiri yang dipengaruhi oleh keturunan
(ancestry) dan lingkungannya (environment).
Upaya mengurangi angka kecelakaan dan kesakitan ini mesti
melibatkan
semua
pihak,
baik
manajemen
maupun
karyawan.
Manajemen harus mempunyai komitmen dalam menjamin keselamatan
dan kesehatan karyawannya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka
dapat dibuat rumusan masalah/pertanyaan, yaitu : Apakah persepsi,
sikap dan perilaku terkait dengan kecelakaan kerja di tambang?
2
C. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah
studi literatur, yaitu penulis mengumpulkan berbagai literatur yang ada
di internet, karya tulis, serta bahan ajar diklat atau perkuliahan yang
relevan. Bahan-bahan tersebut kemudian dipelajari dan dianalisa untuk
mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menjadi
permasalah dalam tulisan ini. Beberapa bahan tulisan sengaja dikutip
langsung dari sumbernya dan yang lain menjadi dasar pemikiran dalam
penyusunan tulisan ini.
II Kajian Teori
Persepsi merupakan istilah bahasa Indonesia yang berasal dari
kata dalam bahasa Inggris perceive, dimana dalam Kamus Lengkap
Bahasa Inggris, karangan Prof. Wojowarsito (1982:102), persepsi berarti
melihat atau mengamati. Pengertian persepsi menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia diartikan sebagai tanggapan (penerimaan) langsung
dari suatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca
inderanya. Sedangkan menurut Kamus Tata Ruang (Edisi I:82), persepsi
merupakan tanggapan atau pengertian yang terbentuk langsung dari
suatu peristiwa atau pembicaraan yang terbentuk dari suatu proses yang
diperoleh dari panca indera. Selain pengertian di atas, persepsi juga
dapat berarti suatu proses kognitif dari seseorang terhadap lingkungannya
yang
digunakan
untuk
menafsirkan
lingkungan
sekitarnya
tersebut (Gibson dalam Ade Basyarat, 2002:33). Proses kognitif tersebut
sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti situasi, kebutuhan,
keinginan dan juga kesediaan setiap orang akan memiliki cara pandang
yang berbeda terhadap obyek yang dirasakan. Berdasarkan beberapa
pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa melalui penilaian
seseorang
terhadap
lingkungannya,
maka
kondisi
ia
suatu
akan
obyek
dapat
memberikan
penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.
3
yang
bermasalah
suatu
di
bentuk
Menurut para ahli psikologi; Louis Thurstone, Rensis Likert dan
Charles Osgood dalam Ade Basyarat, (1995: 4-5), sikap didefinisikan
sebagai suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang
terhadap suatu
obyek
adalah perasaan
mendukung
atau
memihak
(favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak
(unfavorable) pada obyek tersebut (Berkowitz,1972 dalam Ade Basyarat,
1995:51). Menurut Petty & Cacioppo, 1986 dalam Ade Basyarat, (1995: 6),
definisi sikap lebih ditekankan pada aspek evaluasi umum yang
dibuat manusia terhadap dirinyasendiri, orang lain, obyek dan isu-isu.
Kerangka pemikiran suatu sikap merupakan konstelasi komponenkomponen kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi dalam
memahami, merasakan dan berprilaku terhadap suatu obyek. Sehingga
definisi sikap yang dihasilkan dari pandangan tersebut adalahketentraman
tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi) dan predisposisi
tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek lingkungan sekitarnya.
Respon perilaku ditentukan tidak saja oleh sikap individu, akan tetapi
merupakan fungsi dari faktor kepribadian individual dan lingkungannya.
Pada dasarnya sikap memang lebih bersifat pribadi, sedangkan tindakan
atau kelakuan lebih bersifat umum atau sosial, karena itu tindakan lebih
peka terhadap tekanan-tekanan sosial.
III. Pembahasan
A. Analisis Persepsi, Sikap, dan Perilaku
Untuk
mengetahui
persepsi,
sikap,
dan
perilaku
yang
mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja pekerja tambang
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel I. Persepsi, Sikap dan Perilaku
No.
Persepsi
1. Alat Pelindung Diri
(APD) menyebabkan
ketidaknyamanan
dalam bekerja.
Sikap
Tidak setuju
penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD)
saat bekerja.
4
Perilaku
Alat Pelindung Diri
(APD) tidak
digunakan saat
bekerja.
Tabel I : Lanjutan
No. Persepsi
2. Standar Operasional
Prosedur (SOP)
menyebabkan
pekerjaan lambat
3. Dalam bekerja
pengalaman kerja
lebih penting dari
teori
4. Kasus tambang
bawah tanah :
“mengantuk adalah
karena kelelahan”
5. Bekerja pada shift
malam memberi
kesempatan untuk
bekerja sampingan
pada siang hari.
Sikap
Tidak setuju
penggunaan Standar
Operasional
Prosedur (SOP)
Tidak setuju selalu
mengacu pada teori
dalam bekerja
Perilaku
Standar Operasional
Prosedur (SOP) tidak
digunakan
Kasus tambang
bawah tanah :
“setuju jika tidur
sebentar akan
mengembalikan
kebugaran”
Setuju bahwa siang
hari digunakan untuk
kerja sampingan
Kasus tambang
bawah tanah :
“tidur di dalam
tambang bawah
tanah”
Bekerja tidak sesuai
teori
Siang hari tidak
digunakan untuk
istirahat yang cukup
tetapi untuk kerja
sampingan
B. Solusi Pencegahan Kecelakaan Kerja
Melihat prioritas utama dalam menangani kecelakaan kerja
adalah manusia, maka usaha yang paling tepat dilakukan adalah
bagaimana membuat manusia berdisiplin dan sadar akan bahaya
kecelakaan. Untuk mengetahui perilaku manusia dalam bekerja maka
perlu dilakukan analisa psikologi. Analisa yang dilakukan dengan
melihat pekerja dalam bekerja dari segi pikiran, perasaan dan tidakan
yang merupakan pembentuk perilaku.
1. Pembangkitan Sisi Pikiran Pekerja (Persepsi)
Faktor pikiran berisi tentang keyakinan seseoarang mengenai
apa yang berlaku. Sekali kepercayaan telah terbentuk, maka keyakinan
tersebut akan menjadi dasar pertimbangan seseorang mengenai
perbuatan yang akan dilakukan. Keyakinan sendiri terbentuk dari
informasi yang didapat seseorang. Bisa saja pekerja berperilaku tidak
aman karena tidak mengerti bagaimana cara berperilaku aman. Oleh
5
karena
itu
dalam
komponen
ini
direncanakan
program
untuk
meningkatkan pengetahuan pekerja tentang keselamatan kerja, yaitu
dengan pelatihan singkat, simulasi, dan workshop sesuai analisa
kebutuhan pelatihan.
2. Pembangkitan Sisi Perasaan Pekerja (Sikap)
Usaha
selanjutnya
dalam
pendekatan
persuasi
dalam
peningkatan keselamatan kerja adalah berusaha mengubah reaksi
emosional pekerja. Faktor yang paling berperan disini adalah
pembangkitan sisi perasaan dari pekerja untuk berperilaku disiplin
dalam bekerja.
Pada dasarnya pekerja tahu cara berperilaku yang aman,
namun karena berbagai hal seperti menghemat waktu, menghemat
usaha, merasa lebih nyaman, dan menarik perhatian membuat pekerja
menomorduakan keselamatan. Untuk mengubah pemahaman pekerja
ini diperlukan program-program antara lain :
 Kampanye dan Sosialisasi Keselamatan Kerja
 Publikasi Data Kecelakaan Kerja
3. Pembangkitan Sisi Tindakan (Perilaku)
Yaitu perilaku atau kebiasaan yang ada dalam diri seseorang
berkaitan dengan objek lain yang ada disekitar lingkungannya. Ketika
lingkungan sekitarnya tidak nyaman atau mendorong kearah negatif
(negatif
reonforcement)
maka
kecenderungan
perilaku
manusia
tersebut juga ke arah negatif. Jadi untuk mempengaruhi perilaku
seseorang juga harus merubah lingkungan fisiknya.
Perilaku tidak aman juga sering dipicu oleh adanya pengawas
atau manajemen yang tidak peduli dengan keselamatan kerja. Pihak
manajemen ini secara tidak langsung memotivasi para pekerja untuk
mengambil jalan pintas, mengabaikan bahwa perilakunya berbahaya
demi kepentingan tercapainya target produksi.
Perilaku tidak aman juga bisa dipicu oleh tidak tersedianya Alat
Pelindung Diri di lokasi kerja. Karena tuntutan deadline pekerjaan,
6
sehingga tanpa alat pelindung diri pekerja terpaksa melakukan
pekerjaan yang berpotensi bahaya. Jika hal ini dibiarkan maka akan
menjadi kebiasaan dalam bekerja.
Memberikan Reward terhadap pekerja yang selalu berperilaku
aman dan sebaliknya Punishment di berikan kepada pekerja yang
berperilaku tidak aman.
IV. Simpulan
1. Penyebab utama dari kecelakaan tambang adalah perilaku yang
tidak aman dari pekerja tambang.
2. Upaya untuk pencegahan kecelakaan tambang adalah dengan
membentuk perilaku aman yaitu memberikan pembangkitan dari
sisi pikiran (persepsi), perasaan (sikap) dan tindakan (perilaku).
V. Daftar Pustaka
1. Ade Basyarat. “Kajian Terhadap Penetapan Lokasi TPA Sampah
Leuwinanggung – Kota Depok”. Program Pasca Sarjana
Magister Teknik Pembangunan Wilayah Dan Kota universitas
Diponegoro Semarang.2006.
2. Andika Putra Utami. “Manajemen Risiko K3 di Perusahaan
Pertambangan”.
http://ariagusti.wordpress.com/2011/01/21/
manajemen-risiko-k3-di-perusahaan-pertambangan/. 2011.
3. Anonim. “Perilaku Kerja Aman Melalui Pendekatan Psikologi.”
http://arialat.multiply.com/journal/item/9/Perilaku_Kerja_Aman_M
elalui_Pendekatan_Psikologi?&show_interstitial=1&u=%2Fjourna
l%2Fitem. 2011.
4. Kamus Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Tata Ruang.
5. Rijal Abdullah. “Pengantar K3 Tambang Bawah Tanah”. Balai Diklat
Tambang Bawah Tanah. 2004
7
LAMPIRAN A
Tabel II. Acceptable Risk
No.
Persepsi
1. Alat Pelindung Diri
(APD) menyebabkan
ketidaknyamanan
dalam bekerja.
2. Standar Operasional
Prosedur (SOP)
menyebabkan
pekerjaan lambat
3. Dalam bekerja
pengalaman kerja
lebih penting dari
teori
Sikap
Tidak setuju
penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD)
saat bekerja.
Tidak setuju
penggunaan Standar
Operasional Prosedur
(SOP)
Tidak setuju selalu
mengacu pada teori
dalam bekerja
Perilaku
Alat Pelindung Diri
(APD) tidak
digunakan saat
bekerja.
Standar Operasional
Prosedur (SOP) tidak
digunakan
Acceptable Risk
Resiko terkena
penyakit pernapasan
ringan karena tidak
mengenakan masker
Resikonya hanya
akan mengakibatkan
kecelakaan pada alat
Bekerja tidak sesuai
teori
4. Kasus tambang
bawah tanah :
“mengantuk adalah
karena kelelahan”
Kasus tambang
bawah tanah :
“setuju jika tidur
sebentar akan
mengembalikan
kebugaran”
Kasus tambang
bawah tanah :
“tidur di dalam
tambang bawah
tanah”
Resikonya hanya
akan berdebat
dengan staf
perencana dan
pengawas
Resiko tertidur dalam
tambang bawah
tanah hanya akan
diperingatkan oleh
pengawas.
5. Bekerja pada shift
malam memberi
kesempatan untuk
bekerja sampingan
pada siang hari.
Setuju bahwa siang
hari digunakan untuk
kerja sampingan
Siang hari tidak
digunakan untuk
istirahat yang cukup
tetapi untuk kerja
sampingan
8
Mengantuk pada
saat bekerja shfit
malam resikonya
hanya akan
diperingatkan oleh
pengawas.
Risk Taking
Resiko sebenarnya
adalah terkena penyakit
paru-paru kotor yang
sulit disembuhkan.
Resiko sebenarnya
adalah kecelakaan kerja
yang dapat
menyebabkan kematian.
Resiko sebenarnya
adalah kecelakaan kerja
yang dapat
menyebabkan kematian.
Resiko sebenarnya dari
mengantuk dan tertidur
di dalam tambang tanah
adalah pertanda
kekurangan oksigen
yang bisa menyebabkan
kematian.
Resiko sebenarnya dari
mengantuk saat bekerja
adalah kecelakaan kerja
yang dapat
menyebabkan kematian.
Fly UP