...

Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul
Artikel Asli
Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul
Koloid yang Lazim Digunakan dalam Resusitasi
Sindrom Syok Dengue
Kiki M.K. Samsi1,2, Evelyn Phangkawira1, Steve J. Yang3,4
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanagara ,Jakarta
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta
3
Institute of Human Virology and Cancer Biology, Universitas Indonesia, Jakarta,
4
Center for Biomedical Engineering, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, Massachusetts.
1
2
Latar belakang. Resusitasi cairan merupakan langkah penting dalam tata laksana sindrom syok dengue,
namun sampai saat ini belum ada keseragaman jenis cairan yang digunakan. Pada umumnya klinisi di
Indonesia memilih koloid dengan berat molekul (BM) lebih dari 100kDa untuk mendapatkan "efek
sumbatan" (sealing effect) dengan asumsi bahwa semakin berat suatu molekul maka semakin besar ukuran
molekul. Dalam uji klinis, perbedaan berat molekul koloid tidak menimbulkan perbedaan outcome sehingga
menimbulkan pertanyaan apakah BM mencerminkan ukuran molekul.
Tujuan. Menilai apakah ukuran suatu molekul dapat ditentukan hanya dengan BM
Metode. Membandingkan bentuk dan ukuran antara empat jenis koloid dengan BM berbeda, dengan
menggunakan alat dynamic light scattering.
Hasil: Urutan koloid dari BM terberat berturut-turut yaitu HES 200 kDa, HES 40 kDa, dextran 40kDa,
dan gelatin 30 kDa. Berdasarkan koefisien difusi, didapatkan ukuran terbesar molekul koloid adalah gelatin
30 kDa (lebih besar 100 x HES 200 kDa)
Kesimpulan. Berat molekul tidak berhubungan langsung dengan ukuran molekul. Untuk mendapatkan
"efek sumbatan" (sealing effect) perlu memperhitungkan bentuk dan ukuran molekul. (Sari Pediatri
2009;10(6):385-91).
Kata kunci: koloid, berat molekul, ukuran molekul
Alamat Korespondensi:
Dr. Kiki M.K Samsi., Sp A. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit
Sumber Waras, Jakarta. Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanagara,
Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 10, No. 6, April 2009
I
nfeksi virus dengue menyebabkan penyakit
endemis di sebagian negara Asia dan Amerika
Selatan, serta berdampak besar terhadap jumlah
korban maupun penurunan kesejahteraan di
negara-negara tersebut. Salah satu manifestasi klinis
berat akibat infeksi virus dengue adalah sindrom syok
dengue atau dengue shock syndrome (DSS). Mortalitas
385
Kiki M.K. Samsi dkk: Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul Koloid pada DSS
kasus DSS antara 1%-5%, namun jika tidak dilakukan
penanganan secara tepat, mortalitas dapat meningkat
hingga lebih dari 40%.1
Pada pasien DSS terjadi peningkatan permeabilitas
vaskular. Meskipun masih banyak perdebatan tentang
patogenesis terjadinya kebocoran plasma, namun
secara klinis dapat diterima bahwa penggantian cairan
merupakan tindakan penting untuk menyelamatkan
pasien DSS. Protokol yang dikeluarkan oleh World
Health Organization (WHO) menganjurkan peng­
gunaan cairan kristaloid pada awal penanganan yang
kemudian dilanjutkan dengan pemberian koloid untuk
pasien dengan syok rekuren atau refrakter.2,3 Meskipun
angka kematian dapat diturunkan, namun penanganan
antar negara, daerah, bahkan rumah sakit dalam satu
daerah berlainan satu sama lain, terutama dalam
pemilihan jenis cairan koloid. Di RS Sumber Waras
Jakarta, untuk penanganan kasus DSS digunakan
koloid yang berisi HES 6% 40 kDa dalam larutan
ringer laktat.4 Sedangkan pusat pelayanan kesehatan
lain umumnya menggunakan HES 200 kDa. Beberapa
klinisi menggunakan gelatin dan dextran sebagai cairan
koloid yang digunakan untuk resusitasi DSS.
Di Indonesia (Departemen Kesehatan), umumnya
kriteria yang dipakai oleh klinisi untuk menentukan
jenis cairan resusitasi koloid adalah berat molekul (BM)
koloid. Hal ini didasari asumsi bahwa berat molekul
yang lebih besar akan memberikan “efek sumbatan”
(sealing effect) pada kapiler yang sedang mengalami
kebocoran. Walaupun bukti nyata tentang dasar
pemilihan ambang batas minimal ukuran molekul
yang mampu memberi “sealing effect” masih sangat
kurang, namun umumnya lebih banyak dipakai cairan
koloid dengan BM rata-rata di atas 100kDa. Kami
berpendapat bahwa jika efek sumbatan yang terjadi
lebih disebabkan efek mekanik, maka bentuk molekul
penyumbat ini juga harus diperhatikan. Diketahui
bahwa bentuk molekul koloid sangat bervariasi.
Contohnya, koloid dengan berat molekul lebih kecil
dan berbentuk cakram, mungkin saja mempunyai
perpotongan dengan dinding pembuluh darah yang
lebih besar dibandingkan dengan koloid yang lebih
berat, namun berbentuk bulat. Dengan kata lain
molekul dengan BM ringan namun berbentuk cakram
(pipih) bisa jadi memiliki ukuran yang lebih besar
(lebar) bila dibandingkan dengan molekul dengan
BM besar namun berbentuk membulat. Jadi, pendapat
bahwa koloid yang lebih berat dan lebih efisien dalam
menyumbat kebocoran kapiler secara mekanik masih
386
dipertanyakan. Tujuan penelitian untuk mengetahui
dan membandingkan konstanta difusi (D) molekul
dari berbagai macam koloid dengan BM berbeda untuk
dapat menilai apakah ukuran molekul suatu koloid
dapat ditentukan hanya dengan menilai BM.
Metode
Cairan koloid. Dipilih lima jenis cairan koloid dengan
empat jenis BM yang berbeda dan sudah digunakan
untuk resusitasi cairan dalam penanganan kasus DSS
di berbagai rumah sakit di Indonesia, yaitu koloid 1
yaitu 3,5% cross-linked polypeptides dari gelatin bovine
yang didegradasi dengan BM rata-rata 30 kDa; koloid 2
yaitu 10% dextran dengan BM rata-rata 40kDa; koloid
3 yaitu 6% hydroxyl ethyl starch dengan BM rata-rata 40
kDa (HES 40) dalam ringer laktat koloid 4 yaitu 6%
HES 200 dengan BM rata-rata 200kDa dalam NaCl;
dan koloid 5: 6% HES 200 dalam ringer laktat.
Konstanta difusi. Konstanta difusi merupakan suatu
ukuran bagaimana partikel bergerak dalam cairan dan
bergantung baik pada berat molekul maupun bentuk
molekul. Semakin besar molekul dari cairan koloid
dengan berat yang sama atau semakin berat molekul
dari cairan koloid dengan bentuk yang sama cenderung
bergerak lebih lambat akibat tarikan yang diberikan
pada cairan, dan juga mempunyai konstanta difusi
yang lebih kecil. Untuk molekul dengan bentuk dan
berat yang sama, seperti protein globular, konstanta
difusi sebanding dengan berat molekul. Oleh sebab
itu, protein globular yang lebih berat akan berbentuk
lebih besar dibandingkan dengan yang lebih ringan.
Meskipun demikian, untuk polimer dan koloid dari
bahan kimia dan fisika yang berbeda mungkin tidak
memberikan hasil yang sama seperti di atas.
Dynamic light scattering (DLS). Pemeriksaan
cairan koloid dilakukan di Center for Biomedical
Engineering, Massachusetts Institute of Technology,
Cambridge, Massachusetts. Dalam penelitian ini, kami
menggunakan dynamic light scattering (DLS) untuk
menilai konstanta difusi (D) dari berbagai molekul
koloid yang digunakan dalam penanganan Dengue
Shock Syndrome (DSS) dan menghubungkan hasilnya
dengan berat molekul rata-rata koloid tersebut.
Pembacaan DLS dilakukan pada precision detector
PDDLS/batch dengan laser 680 nm yang dioperasikan
Sari Pediatri, Vol. 10, No. 6, April 2009
Kiki M.K. Samsi dkk: Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul Koloid pada DSS
pada 30 mW. Scattered light (pendaran cahaya)
dikumpulkan pada sudut 90º dan fluktuasi intensitasnya
diproses dengan menggunakan unit autocorrelator dalam
instrumen tersebut. Data didapatkan dan kemudian
ditampilkan menggunakan program precision deconcolve
yang sesuai. Teori tentang DLS sudah dipelajari secara
ekstensif dan dijelaskan secara singkat. Partikel-partikel
dalam cairan akan memendarkan cahaya laser dengan
intensitas tertentu yang bergantung pada posisi relatif
partikel. Nilai intensitas akan berubah seiring pergerakan
partikel-partikel yang saling mendekati atau menjauhi
satu sama lain akibat pergerakan Brownian, beberapa
waktu setelahnya, intensitas pendaran cahaya akan
bervariasi. Variasi ini tergambar dalam fungsi korelasi
intensitas, yang menunjukkan penurunan eksponensial
untuk cairan yang homogen. Penurunan kurva dapat
dihitung dengan rumus,
gE = e-q Dt (rumus 1)
2
q adalah vektor pendaran dan merupakan
konstanta instrumen. D merupakan koefisien
difusi, dan t adalah waktu. Untuk cairan
heterogen, penurunan kurva lebih kompleks
dan mungkin akan dijelaskan oleh dua
eksponensial atau lebih.
Untuk pembacaan DLS tertentu, cairan koloid
200 µl dipindahkan melalui pipet dengan lambat ke
dalam quartz micro-cuvette yang bersih. Waktu yang
digunakan untuk autokorelasi sampel diatur sampai
fungsi korelasinya mencapai nol kira-kira pada titik
pertengahan aksis X. Untuk sampel yang menunjukkan
populasi multipel, konstanta difusi untuk masingmasing populasi didapatkan secara manual dalam
program.
Hasil
Dalam suatu cairan koloid, terdapat berbagai macam
molekul dengan ukuran dan berat molekul berbeda.
Kami menilai gambaran variasi molekul koloid dengan
menggunakan kooefisien difusi seperti tertera pada
Gambar 1, yaitu distribusi molekul pada koloid 5
(HES 6% 200 kDa). Gambar 1 menunjukkan dua
populasi, satu (populasi dominan, mayor) dengan
konstanta difusi yang lebih besar kira-kira 6 x 10-7
cm2/detik dan yang kedua (populasi minor) berpusat
Sari Pediatri, Vol. 10, No. 6, April 2009
Gambar 1. Distribusi konstanta difusi berbagai molekul
dalam suatu cairan koloid, (koloid 5). Kebanyakan molekul
(populasi mayor) mempunyai konstanta difusi sebesar 6 x
10-7‑ cm2/detik. Populasi kedua (populasi minor) mempunyai
konstanta difusi 1.4x10-7cm2/detik.
pada 1,4 x 10-7cm2/detik. Distribusi didapatkan dengan
mencocokkan fungsi korelasi dengan satu eksponensial
atau lebih yang memiliki konstanta difusi.
Konstanta difusi menggambarkan kecepatan
sebuah partikel di dalam cairan bergerak karena
adanya pergerakan Brownian, konstanta difusi yang
lebih besar mengindikasikan bahwa molekul yang
lebih kecil akan bergerak lebih cepat dalam cairan.
Sebaliknya konstanta difusi yang kecil menandakan
bahwa molekul yang lebih besar akan bergerak
lebih lambat. Dalam partikel cairan yang murni,
pengamatan terhadap bermacam-macam populasi
dengan konstanta difusi yang berbeda-beda pada
umumnya mengindikasikan adanya multimer atau
agregrat yang lebih banyak.
Gambar 2 menunjukkan hubungan antara
konstanta difusi dan berat molekul rata-rata. Dalam
grafik ini juga di plot nilai untuk protein globular,
yang mempunyai bentuk yang sama, yaitu sferis
(membulat dengan simbol solid circle [ ]). Nilai
dari protein globular berada dalam satu garis lurus,
yang mengindikasikan adanya hubungan langsung
antara berat molekul dan konstanta difusi, sesuai
dengan hasil untuk molekul yang berbentuk sama.
Namun tampak molekul dalam cairan koloid tidak
menunjukkan korelasi antara konstanta difusi dan
berat molekul. Bahkan untuk koloid dengan berat
387
Kiki M.K. Samsi dkk: Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul Koloid pada DSS
Tabel 1. Kontansta difusi berbagai macam cairan koloid
termasuk dalam populasi major dan populasi minor
Seluruh polulasi BM
molekul
(kDa)
Koloid 1
30
Koloid 2
40
Koloid 3
40
Koloid 4
200
Koloid 5
200
Rata-rata D
(cm2/sec)
3.38 x 10-9
6.40 x 10-7
4.75 x 10-7
3.79 x 10-7
3.74 x 10-7
Stdev D
(cm2/sec)
1.11 x 10-9
4.06 x 10-8
2.39 x 10-8
1.48 x 10-8
1.33 x 10-8
Populasi Mayor BM
(dominan)
(kDa)
Koloid 1
30
Koloid 2
40
Koloid 3
40
Koloid 4
200
Koloid 5
200
Rata-rata D
(cm2/sec)
9.85 x 10-10
7.22 x 10-7
7.50 x 10-7
5.91 x 10-7
5.79 x 10-7
Stdev D
(cm2/sec)
2.85 x 10-10
3.74 x 10-8
7.22 x 10-8
4.94 x 10-8
6.52 x 10-8
Rata-rata D
(cm2/sec)
6.97 x 10-9
4.52 x 10-8
1.88 x 10-7
1.45 x 10-7
1.45 x 10-7
Std Dev D
(cm2/sec)
2.81 x 10-9
2.25 x 10-8
5.19 x 10-8
5.32 x 10-8
5.35 x 10-8
Populasi Minor
Koloid 1
Koloid 2
Koloid 3
Koloid 4
Koloid 5
BM
(kDa)
30
40
40
200
200
Tabel 1a. menggambarkan nilai konstanta difusi rata-rata berbagai
cairan koloid yang berbeda; b) Nilai konstanta difusi rata-rata untuk
populasi mayor dalam cairan koloid. c) Nilai konstanta difusi ratarata untuk populasi minor dalam cairan koloid. Dilakukan sepuluh
kali pembacaan DLS untuk masing-masing koloid, dan kemudian
hasilnya dirata-ratakan.
molekul rata-rata yang sama (koloid 2 dan koloid 3),
konstanta difusi rata-rata dari keseluruhan partikel
(populasi) memberikan hasil yang berbeda sampai
lebih dari 35%.
Pada Gambar 2, tertera bahwa koloid 1 mempunyai
konstanta difusi yang rendah, jadi mempunyai bentuk
yang jauh lebih besar dibandingkan dengan koloid lain.
Hal ini berlawanan dengan berat molekul rata-ratanya
yang paling rendah jika dibandingkan dengan semua
koloid yang diteliti. Selain itu titik konstanta difusi
koloid 1 berada paling jauh dari garis diagonal yang
menghubungkan berbagai macam molekul speris dan ini
berarti bahwa koloid 1 berbentuk paling pipih (seperti
cakram) dibandingkan dengan molekul koloid lain.
Karena masing-masing cairan koloid terdiri
dari minimal dua kelompok partikel (molecular
388
Gambar 2. Perbandingan berat molekul (dalam kDa) dengan
koefisien difusi pada berbagai cairan koloid yang berbedabeda. Simbol solid circle [ ] merupakan nilai untuk protein
globular. Sedangkan simbol open circle [ ] merupakan
nilai rata-rata untuk koloid yang dipakai dalam penelitian
ini. Angka-angka yang mewakili jenis cairan koloid sudah
disebutkan di bagian materi dan metode.
population) seperti yang dilihat ada Gambar 1, kami
kemudian menentukan rata-rata koefisien difusi
untuk semua kelompok partikel pada masing-masing
cairan. Pada hampir semua koloid, kelompok partikel
yang dominan (major population) terdiri dari molekul
dengan rata-rata konstanta difusi yang tertinggi,
jadi merupakan kelompok partikel dengan ukuran
terkecil. Sementara populasi minor (minor population)
dengan konstanta difusi yang lebih rendah sepertinya
terdiri dari agregrat-agregrat molekul. Satu-satunya
koloid yang tidak mengikuti pola seperti ini adalah
koloid 1.
Dengan memisahkan konstanta difusi berdasarkan
populasi molekul yang berbeda kita dapat melihat
bahwa pada populasi mayor, dua jenis cairan koloid
yang diteliti, yaitu koloid 2 dan koloid 3 memiliki
konstanta difusi yang mendekati (hampir sama dengan)
protein globular dengan berat molekul yang sama
(Gambar 3). Jadi kemungkinan struktur molekul
koloid ini adalah globular (bulat)
Perbandingan konstanta difusi dan berat molekul
populasi minor tertera pada Gambar 4. Populasi
minor (minor population) koloid 1 mempunyai
konstanta difusi yang lebih besar daripada populasi
mayor, yang berarti ukurannya lebih kecil dan
bergerak lebih cepat. Walaupun demikian, nilai ini
Sari Pediatri, Vol. 10, No. 6, April 2009
Kiki M.K. Samsi dkk: Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul Koloid pada DSS
Tabel 2. Perbandingan ukuran molekul pada seluruh
populasi (rata-rata) berdasarkan konstanta difusi
Perbandingan berat
molekul
HES 200 : HES 40
Dextran 40 : HES 40
Gelatin 30 : HES 200
Perbandingan ukuran
berdasarkan perbedaan
konstanta difusi
1,27 : 1
1 : 1,35
100 : 1
Tabel 3. Perbandingan ukuran molekul pada populasi mayor
berdasarkan konstanta difusi
Perbandingan berat
molekul
Gambar 3. Perbandingan berat molekul (dalam kDa) dengan
koefisien difusi dari populasi mayor pada berbagai cairan
koloid. Simbol solid circle [ ] menandakan nilai untuk
beberapa protein globular. Simbol open boxes [ ] menandakan
nilai untuk koloid yang dipakai dalam penelitian ini, yang
merupakan hasil rata-rata dari 10 kali penilaian. Angka-angka
yang mewakili jenis cairan koloid sudah disebutkan di bagian
materi dan metode.
HES 200
Dextran 40
Dextran 40
Gelatin 30
Gelatin 30
Sari Pediatri, Vol. 10, No. 6, April 2009
HES 40
HES 200
HES 40
HES 40
HES 200
Tabel 4. Perbandingan ukuran molekul pada populasi minor
berdasarkan konstanta difusi
Perbandingan berat
molekul
HES 200
Dextran 40
Dextran 40
Gelatin 30
Gelatin 30
Gambar 4. Perbandingan berat molekul (dalam kDa) dengan
koefisien difusi dari populasi minor pada berbagai cairan
koloid. Simbol solid circle [ ] menandakan nilai untuk
beberapa protein globular yang sama dengan dengan Gambar
2, hanya digunakan skala yang berbeda. Simbol open triangle
[ ] menandakan nilai untuk koloid yang dipakai dalam
penelitian ini, yang merupakan hasil rata-rata dari 10 kali
penilaian. Angka-angka yang mewakili jenis cairan koloid
sudah disebutkan di bagian materi dan metode.
:
:
:
:
:
Perbandingan ukuran
berdasarkan perbedaan
konstanta difusi
1,3 : 1
1 : 1,2
1.04 : 1
733 : 1
600 : 1
:
:
:
:
:
HES 40
HES 200
HES 40
HES 40
HES 200
Perbandingan ukuran
berdasarkan perbedaan
konstanta difusi
1,3 : 1
3 : 1
4,2 : 1
26 : 1
22 : 1
masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan koloid
lain yang mempunyai berat molekul 30 kDa, jika sifat
lainnya dianggap konsisten. Nilai konstanta difusi
rata-rata untuk koloid lain adalah 8-10 x 10-7cm2/
detik, atau kira-kira 100 kali lebih besar daripada
nilai dari populasi minor koloid 1. Dengan kata lain
ukuran molekul Koloid 1 lebih besar dari pada ukuran
molekul koloid lainnya. Populasi minor koloid lain,
seperti yang sudah disebutkan di atas, mempunyai
konstanta difusi yang lebih kecil dibandingkan pada
kelompok populasi mayor.
Perbedaan ukuran koloid dapat lebih mudah
dengan membandingkan BM dengan difusi konstanta.
Bila dibandingkan antara HES 6% 200 kDa dengan
HES 6% 40 kDa, walaupun HES 6% 200 kDa lima
kali lebih berat dari HES 6% 40 kDa berdasarkan
perbedaan konstanta difusi namun ukuran HES 6%
389
Kiki M.K. Samsi dkk: Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul Koloid pada DSS
200 kDa hanya 1,27 kali lebih besar (30% lebih besar)
(Tabel 2). Perbandingan dua koloid dengan BM yang
sama menunjukkan adanya perbedaan perbandingan
ukuran berdasarkan konstanta difusinya. Molekul HES
6% 40 kDa yang memiliki BM sama dengan Dextran
40 kDa, ternyata memiliki ukuran 1,35 kali lebih besar
dari molekul Dextran. Perbedaan perbandingan ukuran
molekul berdasarkan konstanta difusi tampak sangat
bermakna bila dibandingkan antara HES 6% 200
kDa dengan gelatin 30 kDa. Secara umum, walaupun
HES 6% 200 kDa hampir tujuh kali lebih berat dari
gelatin 30 kDa namun gelatin 30 kDa dengan bentuk
molekul yang pipih (seperti cakram) memiliki ukuran
100x lebih besar (diameter lebih lebar) dari HES 6%
200 kDa. Keadaan ini juga tampak pada Tabel 3 dan 4
apabila kita menilai pada kelompok populasi dominan
(mayor) ataupun populasi minor.
Pembahasan
Para ahli sudah membuktikan bahwa protein plasma
yang lebih kecil seperti albumin akan lebih mudah
keluar dari celah vaskular dibandingkan dengan
protein yang lebih besar seperti imunoglobulin G. Hal
ini karena adanya “sieving effect” (efek saringan) yang
tergantung dari berat molekul protein tersebut.7 Baik
albumin maupun imunoglobulin G secara alamiah
berbentuk globular (bulat), oleh karena itu semakin
kecil berat molekul protein (albumin), konsanta
difusinya akan lebih besar dan memiliki radius
hidrodinamik yang lebih kecil jika dibandingkan
dengan imunoglobulin G.
Kami meneliti konstanta difusi dari berbagai
koloid menggunakan dynamic light scattering. Pada
partikel dengan bentuk yang sama, seperti protein
globular, memang terdapat korelasi antara konstanta
difusi dan berat molekul, namun korelasi pada koloid
tidak demikian sesederhana. Koloid yang paling besar
dalam penelitian ini adalah koloid 4 dan 5, ternyata
konstanta difusi kelompok tesebut tidak lebih kecil
secara signifikan dibandingkan koloid lain, meskipun
berat molekulnya jauh lebih besar. Selain itu, koloid
1 yang hanya memiliki berat molekul rata-rata 30
kDa, ternyata memiliki bentuk yang besar. Hal ini
mungkin disebabkan oleh perluasan/perpanjangan
dan atau bentuk datar polimer. Satu hal yang harus
diperhatikan adalah bahwa penelitian ini dilakukan
pada suhu ruangan, sementara koloid akan bekerja
390
pada suhu tubuh. Meskipun demikian, diharapkan
dampak reaksi koloid dalam tubuh tidak akan jauh
berbeda dengan hasil penelitian in-vitro.
Kesimpulan dari penelitian kami adalah berat
molekul bukan merupakan petanda (marker) yang
baik untuk memprediksi berapa besar ukuran molekul
tersebut jika bentuknya tidak diketahui. Para klinisi yang
meng­gunakan koloid untuk “menyumbat” kebocoran
kapiler sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan
berat molekul dalam menilai efektivitas koloid. Jika
efek sumbatan yang terjadi secara alamiah merupakan
efek mekanik (atau dengan kata lain, molekul yang
lebih besar dapat menyumbat lubang yang lebih
besar) maka molekul koloid dengan bentuk yang lebih
besar akan bekerja sama baiknya atau bahkan lebih
baik dibandingkan dengan molekul yang lebih berat,
namun bentuknya dipadatkan.
Untuk menentukan kriteria yang paling baik dalam
memilih koloid yang tepat untuk resusitasi cairan
pasien DSS, diperlukan penelitian yang komprehensif
yang menilai faktor-faktor lain seperti karakteristik
koloid in vivo (contohnya efek volume intra vaskular
dan persistensi koloid dalam jaringan), mudahnya
pemberian koloid, harga, dan juga efek samping. Sampai
sejauh ini, belum ada penelitian yang menentukan jenis
koloid mana yang lebih unggul untuk resusitasi pasien
syok dengue. Penelitian yang ada selama ini hanya
menampilkan data bahwa beberapa koloid mempunyai
efek samping yang lebih besar.8
Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Gubler DJ. Dengue and dengue hemorrhagic fever. Clin
microbiol rev 1998; 11:480-96.
World Health Organization. Technical guides for
diagnosis, treatment, surveillance, prevention and control
of dengue haemorrhagic fever. Geneva, 1975.
World Health Organization. Dengue haemorrhagic fever:
diagnosis, treatment, prevention, and control. Geneva,
1997.
Samsi TK. Management of dengue shock syndrome:
observations from one department. Journal of pediatrics,
obstetrics & gynecology, 2004; 31:184-92.
Vauthey S, Santoso S, Gong H, Watson N, Zhang S.
Molecular self-assembly of surfactant-like peptides to
form nanotubes and nanovesicles. Proc Natl Acad Sci
U S A 2002; 99:5355-60.
Selivanova OM, Shiryaev VM, Tiktopulo EI, Potekhin
Sari Pediatri, Vol. 10, No. 6, April 2009
Kiki M.K. Samsi dkk: Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul Koloid pada DSS
7.
SA, Spirin AS. Compact globular structure of thermus
thermophilus ribosomal protein s1 in solution:
sedimentation and calorimetric study. J Biol Chem
2003;278:36311-4.
Wills BA, Oragui EE, Dung NM, Loan HT, Chau NV,
Farrar JJ, dkk. Size and charge characteristics of the
Sari Pediatri, Vol. 10, No. 6, April 2009
8.
protein leak in dengue shock syndrome. J Infect Dis
2004;190:810-8.
Wills BA, Nguyen MD, Ha TL, Dong TH, Tran TN,
Le TT, dkk. Comparison of three fluid solutions for
resuscitation in dengue shock syndrome. N Engl J Med
2005;353:877-89.
391
Fly UP