...

View/Open

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

View/Open
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Auditing merupakan suatu proses sistematis untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang
kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat
kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah
ditetapkan serta penyampaian hasil-hasilnya (Mulyadi, 2002). Proses auditing
sendiri dilakukan oleh akuntan publik atau auditor. Profesi akuntan publik
merupakan profesi yang memberikan jaminan atau keyakinan yang memadai
tentang penyajian laporan keuangan yang disajikan oleh klien. Biasanya
perusahaan yang di audit dengan auditor independen akan lebih dipercaya oleh
publik tentang pelaporan keuangannya.
Akuntan publik juga harus memastikan bahwa laporan keuangan yang
disajikan oleh klien tidak terdapat salah saji material yang disebabkan oleh
kecurangan atau kekeliruan. Salah saji itu terdiri dari dua macam yaitu kekeliruan
(error) dan kecurangan (fraud). Fraud diterjemahkan dengan kecurangan sesuai
Pernyataan Standar Auditing (PSA) No. 70, demikian pula error dan
irregularities
masing-masing
diterjemahkan
sebagai
kekeliruan
dan
ketidakberesan sesuai PSA sebelumnya yaitu PSA No. 32 (Koroy, 2008).
Kecurangan dilakukan dengan sengaja sedangkan kekeliruan dilakukan dengan
tidak sengaja. Kecurangan dalam arti luas merupakan tindakan yang dilakukan
1
repository.unisba.ac.id
2
oleh seseorang secara sengaja untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan
merugikan orang lain.
Kecurangan dapat menimbulkan kerugian bagi perusahahan atau lembaga
yang menjadi objek kecurangan dan memberikan keuntungan bagi para
pelakunya. Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), pada
tahun 2002 kerugian yang diakibatkan oleh kecurangan di Amerika Serikat adalah
sekitar 6% dari pendapatan atau $600 milyar dan secara persentase tingkat
kerugian ini tidak banyak berubah dari tahun 1996. Dari kasus-kasus kecurangan
tersebut,
jenis
kecurangan
yang
paling
banyak
terjadi
adalah
asset
misappropriations (85%), kemudian disusul dengan korupsi (13%), dan jumlah
paling sedikit (5%) adalah kecurangan laporan keuangan (fraudulent statements).
Walaupun demikian kecurangan laporan keuangan membawa kerugian paling
besar yaitu median kerugian sekitar $4,25 juta (ACFE, 2002) dalam (Koroy,
2008).
Kecurangan merupakan masalah klasik yang sudah banyak terjadi baik di
dunia usaha maupun di pemerintahan serta dapat dilakukan oleh siapapun.
Menurut SAS 99, kecurangan terjadi disebabkan oleh 3 faktor yang disebut
sebagai fraud triangle diantaranya Pressure, Opportunity, dan Rasionalization.
Pressure atau tekanan dirasakan sendiri oleh pelaku kecurangan yang biasanya
disebabkan oleh masalah keuangan atau sebagainya. Opportunity atau kesempatan
adalah situasi yang menyebabkan terjadinya peluang untuk melakukan fraud.
Sedangkan Rasionalization atau sikap merupakan pembenaran dari dalam diri
seseorang untuk melakukan fraud.
repository.unisba.ac.id
3
Belakangan ini, profesi akuntan publik menjadi sorotan publik yang
disebabkan oleh kegagalan dalam mendeteksi kecurangan yang ada dalam laporan
keuangan klien. Kegagalan auditor dalam mendeteksi kecurangan terbukti dengan
adanya beberapa skandal keuangan yang melibatkan akuntan publik seperti yang
terjadi pada perusahaan Enron, Tyco, Xerox, Owest, Global Crossing, dan
WorldCom (Aulia, 2013). Kasus Enron mungkin sudah banyak orang ketahui,
kasus ini melakukan manipulasi data laporan keuangan dengan mencatat
keuntungan US$ 600 juta.
Worldcom salah satu perusahaan telekomunikasi
terbesar di Amerika Serikat yang melakukan manipulasi keuangan dengan
menutupi pengeluaran US$3.8 milyar untuk mengelabui pihaknya agar menuai
keuntungan, padahal kenyataannya rugi.
Di Indoensia sendiri ada kasus kecurangan yang di alami PT Kimia Farma,
pemeriksaan yang dilakukan oleh Bapepam (Bapepam, 2002) ditemukan adanya
salah saji dalam laporan keuangan yang mengakibatkan lebih saji (overstatement)
laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 sebesar Rp 32,7 miliar
yang merupakan 2,3 % dari penjualan dan 24,7% dari laba bersih. Selain itu
manajemen PT KF melakukan pencatatan ganda atas penjualan pada 2 unit usaha.
Pencatatan ganda itu dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh auditor
eksternal. Bapepam menyimpulkan auditor eksternal telah melakukan prosedur
audit sampling yang telah diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik, dan
tidak ditemukan adanya unsur kesengajaan membantu manajemen PT KF
menggelembungkan keuntungan. Bapepam mengemukakan proses audit tersebut
repository.unisba.ac.id
4
tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan PT KF
(Koroy, 2008).
Dari kasus diatas dapat kita simpulkan bahwa auditor eksternal masih ada
yang gagal dalam mendeteksi kecurangan padahal dalam SA seksi 316 auditor
mempunyai tanggungjawab dalam mendeteksi kecurangan. Berdasarkan SA Seksi
316 tersebut, auditor harus secara khusus menaksir risiko salah saji material dalam
laporan keuangan sebagai akibat dari kecurangan dan harus memperhatikan
taksiran risiko ini dalam mendesain prosedur audit yang akan dilaksanakan.
Prosedur audit mungkin akan berubah apabila terjadi kecurangan (Fitrawansyah,
2014).
Pada dasarnya auditor berkerja atau melakukan proses audit di dasarkan
pada Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Standar Profesional Akuntan
Publik meliputi standar auditing, standar atestasi, standar jasa akuntan dan review,
standar jasa konsultasi, dan standar pengendalian mutu. Standar auditing terdiri
dari sepuluh Pernyataan Standar Auditing (PSA) yang dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu: standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar
pelaporan. Dalam standar umum dinyatakan bahwa audit harus dilaksanakan oleh
seorang atau lebih yang memiliki keahlian dalam pelatihan dan teknis cukup
sebagai auditor.
Menurut Mui (2009) dalam Wardhani (2014) terdapat 10 komponen
keahlian auditor yang dikategorikan menjadi 4, diantaranya knowledge, problemsolving ability, interpersonal skills dan external factor. Knowledge atau
Pengetahuan seorang auditor dapat diperoleh ketika mereka mendapatkan
repository.unisba.ac.id
5
pelatihan, pengalaman ketika memperoleh suatu masalah perusahaan yang harus
diselesaikan, dan auditor juga dapat menambah pengetahuannya dari kegiatan
mentoring kepada para senior yang lebih ahli dan yang memiliki pengalaman
yang lebih banyak. Pengalaman juga merupakan hal yang penting bagi auditor
dalam mendeteksi kecurangan.
Pengalaman dapat dibedakan menjadi 2: pengalaman langsung dan
pengalaman tidak langsung. Pengalaman langsung ditentukan dari pengalaman
ketika bekerja dan mentoring. Sedangkan pengalaman tidak langsung ditentukan
dari sertifikasi auditor dan continuous learning (Wardhani, 2014). Seorang auditor
yang berpengalaman akan lebih mudah mengetahui indikasi adanya kecurangan
dan dapat memberikan solusi yang tepat pula dalam menangani kecurangan.
Pernyataan ini di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Anggriawan (2014)
yang menyatakan bahwa semakin banyak pengalaman seorang auditor maka
semakin tinggi kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan.
Seseorang auditor dengan jam terbang yang tinggi serta biasa menemukan
fraud dimungkinkan lebih teliti dalam mendeteksi fraud dibanding auditor dengan
jam terbang yang rendah (Anggriawan, 2014). Nasution (2012) juga menyatakan
bahwa auditor yang mempunyai pengalaman yang tinggi maka tingkat
pendeteksian kecurangan juga akan tinggi. Libby dan Frederick (1990) dalam
Nasution (2012) menemukan bahwa semakin banyak pengalaman auditor semakin
dapat menghasilkan berbagai dugaan dalam menjelaskan temuan audit.
Interpersonal skills atau kemampuan interpersonal juga mempengaruhi
kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Kemampuan interpersonal
repository.unisba.ac.id
6
adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki seseorang dimana ia mampu
manjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain dari dirinya, entah itu dari
sikap, tingkah laku atau perasaannya (Subliyanto, 2011). Kemampuan
interpersonal
merupakan
ciri-ciri
kepribadian
seseorangan.
Kemampuan
interpersonal yang tinggi akan dapat membantu auditor dalam mendeteksi
kecurangan (Wardhani, 2014). Berdasarkan komponen keahlian ini, bagaimana
seorang auditor dalam menghadapi permasalahan seperti kecurangan dapat dilihat
dari empat faktor, yaitu kemampuan berkomunikasi, kreativitas, bekerjasama
dengan orang lain, dan percaya diri. Wardhani (2014) menyatakan bahwa
kemampuan interpersonal atau interpersonal skill berpengaruh positif terhadap
pendeteksian kecurangan, yang berarti semakin tinggi kemampuan interpersonal
seorang auditor maka semakin tinggat tinggi pendeteksian kecurangan. Namun,
hasil tersebut berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi (2010)
menyatakan bahwa ciri-ciri psikologis atau kemampuan interpersonal tidak
mempunyai pengaruh yang nyata terhadap pendeteksian kecurangan.
Faktor lainnya yang mempengaruhi pendeteksian kecurangan adalah
gender. Dewasa ini profesi auditor tidak hanya dijalankan oleh laki-laki, namun
sudah banyak kaum wanita yang menggeluti profesi sebagai auditor. Menurut
Webster’s New World Dictionary menyatakan bahwa Gender diartikan sebagai
perbedaan yang tampak antara pria dan wanita dilihat dari segi nilai dan tingkah
laku. Sedangkan dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender
adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction)
dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki
repository.unisba.ac.id
7
dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat (Yendrawati, 2015).
Nasution (2012) menggunakan variabel gender sebagai variabel kontrol yang
menyatakan bahwa laki-laki terbukti akan semakin meningkatkan kemampuan
mendeteksinya bila dihadapkan dengan gejala-gejala kecurangan dibandingkan
auditor wanita, ini berarti gender mempunyai pengaruh terhadap pendeteksian
kecurangan. Namun, hasil tersebut berbeda dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Agustina (2014) menyatakan bahwa gender tidak berpengaruh
terhadap pendeteksian kecurangan.
Uraian diatas menjelaskan bahwa pengalaman auditor, kemampuan
interpesonal, dan gender dapat mempengaruhi auditor dalam mendeteksi
kecurangan. Selain itu, sikap skeptisme dianggap penting dalam melakukan
pendeteksian kecurangan, karena sikap skeptisme profesional merupakan sikap
yang selalu berpikiran kritis. SAS 1 menyatakan bahwa, dalam melaksanakan
skeptisme profesional auditor tidak mengasumsikan bahwa manajemen tidak jujur
tetapi juga tidak mengasumsikan kejujuran absolut. Seorang auditor yang skeptis,
tidak akan menerima begitu saja penjelasan dari klien, tetapi akan mengajukan
pertanyaan untuk memperoleh alasan, bukti dan konfirmasi menganai objek yang
dipermasalahkan. Tanpa menerapkan skeptisme profesional, auditor hanya akan
menemukan salah saji yang disebabkan oleh kekeliruan saja dan sulit untuk
menemukan salah saji yang disebabkan oleh kecurangan, karena kecurangan
biasanya akan disembunyikan oleh pelakunya (Noviyanti, 2008).
Skeptisme profesional sangat penting untuk dimiliki oleh auditor guna
mendapatkan informasi yang kuat, yang akan dijadikan dasar bukti audit yang
repository.unisba.ac.id
8
relevan yang dapat mendukung pemberian opini atas kewajaran laporan keuangan
(Adnyani dan Atmaja, 2014). Noviyanti (2008) menyatakan bahwa auditor
dengan tingkat kepercayaan berbasis identifikasi jika diberi penaksiran risiko
kecurangan yang tinggi akan menunjukkan skeptisme profesional yang lebih
tinggi dalam mendeteksi kecurangan. Ini berarti bahwa seorang auditor yang
mempunyai atau menggunakan sikap skeptisme profesional yang tinggi, maka
tingkat pendeteksian kecuranganya pun akan tingggi. Anggriawan (2014) juga
menyatakan
bahwa
skeptisme
profesional
berpengaruh
positif
terhadap
kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan.
Penelitian ini menjadikan skeptisme profesional sebagai variabel
pemoderasi, yaitu variabel yang akan memperlemah atau memperkuat pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat. Selain itu, penulis juga akan melakukan
penelitian untuk mengetahui pengaruh pengalaman auditor, kemampuan
interpersonal, dan gender terhadap pedeteksian kecurangan dengan demikian
judul dalam penelitian ini adalah “PENGARUH PENGALAMAN AUDITOR,
KEMAMPUAN
PENDETEKSIAN
INTERPERSONAL,
KECURANGAN
DAN
GENDER
DENGAN
TERHADAP
SKEPTISME
PROFESIONAL SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI”.
repository.unisba.ac.id
9
1.2
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis merumuskan
masalah sebagai berikut :
1.
Apakah
terdapat
pengaruh
antara pengalaman
auditor,
kemampuan
interpersonal, gender terhadap pendeteksian kecurangan secara parsial di
Kantor Akuntan Publik?
2.
Apakah skeptisme profesional memoderasi pengaruh pengalaman auditor
terhadap pendeteksian kecurangan di Kantor Akuntan Publik?
3.
Apakah
skeptisme
profesional
memoderasi
pengaruh
kemampuan
interpersonal terhadap pendeteksian kecurangan di Kantor Akuntan Publik?
4.
Apakah skeptisme profesional memoderasi pengaruh gender terhadap
pendeteksian kecurangan di Kator Akuntansi Publik?
1.3
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1.
Pengaruh antara pengalaman auditor, kemampuan interpersonal, gender
terhadap pendeteksian kecurangan secara parsial di Kantor Akuntan Publik.
2.
Skeptisme profesional memoderasi pengaruh pengalaman auditor terhadap
pendeteksian kecurangan di Kantor Akuntan Publik.
3.
Skeptisme profesional memoderasi pengaruh kemampuan interpersonal
terhadap pendeteksian kecurangan di Kantor Akuntan Publik.
4.
Skeptisme profesional memoderasi pengaruh gender terhadap pendeteksian
kecurangan di Kator Akuntansi Publik.
repository.unisba.ac.id
10
1.4
Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
14.1
Aspek Teoritis
a. Memberikan sumbangsih
pemikiran bagi fakultas ekonomi dan bisnis
program studi akuntansi khususnya tentang pengaruh antara pengalaman
auditor, kemampuan interpersonal, dan gender terhadap pendeteksian
kecurangan dengan skeptisme profesional sebangai variabel pemoderasi.
b. Menjadi salah satu referensi bagi peneliti yang sama dalam hal kajian
pengaruh antara pengalaman auditor, kemampuan interpersonal, dan
gender terhadap pendeteksian kecurangan dengan skeptisme profesional
sebangai variabel pemoderasi.
1.4.2
Aspek Praktis
a. Bagi Lembaga Terkait
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan
bagi pimpinan Kantor Akuntan Publik dalam rangka mendeteksi
kecurangan. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan
masukan bagi para auditor dalam melaksanakan pekerjaannya.
b. Untuk Penulis
Dapat membandingkan antara teori yang diperoleh selama kuliah dan
pelaksanaannya di dunia kerja (perusahaan) serta bermanfaat terhadap
peningkatan pengetahuan dibidang akuntansi khususnya tentang pengaruh
antara pengalaman auditor, kemampuan interpersonal, dan gender terhadap
repository.unisba.ac.id
11
pendeteksian kecurangan dengan skeptisme profesional sebangai variabel
pemoderasi.
1.5
Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian yang
dilakukan, maka disusunlah suatu sistematika penulisan yang berisi informasi
mengenai materi yang dibahas dalam tiap-tiap bab.
BAB I
Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang latar belakang, identifikasi masalah, tujuan dan
kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II
Tinjauan Pustaka, Kerangka Pemikiran Hipotesis.
Bab ini menjelaskan tentang landasan teori yang berhubungan dengan penelitian,
penelitian terdahulu, kerangka pemikiran dan pengembangan hipotesis.
BAB III Metode Penelitian
Bab ini menguraikan tentang objek dan metode penelitian yang digunakan,
definisi dan pengukuran variabel penelitian, sumber dan teknik pengumpulan
data, populasi dan sampel, pengujian instrumen penelitian dan pengujian
hipotesis.
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini akan menjelaskan tentang gambaran unit analisis, analisis hasil penelitian,
analisis pengujian hipotesis dan pembahasan.
BAB V
Kesimpulan dan Saran
repository.unisba.ac.id
12
Bab ini adalah bab terakhir dan menjadi penutup dari skripsi ini. Bab ini berisi
kesimpulan dari hasil dan pembahasan penelitian serta saran-saran terhadap
pengembangan teori dan aplikasi.
repository.unisba.ac.id
Fly UP