...

I Nyoman Dodik Prasetia, S.Si., M.Si - undiksha

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

I Nyoman Dodik Prasetia, S.Si., M.Si - undiksha
LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
IbM KELOMPOK PENYAMAKAN KULIT IKAN
Oleh:
I Nyoman Dodik Prasetia, S.Si., M.Si
NIDN 0009067702
Ketua Tim Pengusul
I Gede Agus Pertama Yudantara, SE
NIDN 0026088201
Anggota Tim Pengusul
Ratna Artha Windari, SH.,M.H
NIDN 0015128302
Anggota Tim Pengusul
Dibiayai oleh:
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penugasan
Program Pengabdian kepada Masyarakat nomor:
044/SP2H/KPM/DIT.LITABMAS/V/2013 tanggal 13 Mei 2013
JURUSAN BUDIDAYA KELAUTAN
LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
TAHUN 2013
RINGKASAN
Indonesia sebagai negara tropis dengan perairan yang cukup luas memiliki potensi
pengembangan produksi kulit hewan perairan khususnya ikan yang sangat besar.
Keuntungan kedua adalah pandangan tentang kulit ikan yang masih dianggap sebagai limbah,
sehingga kurang mendapatkan perhatian di dalam penanganan dan pengawetan untuk
mempertahankan kesegarannya.
Kelompok penyamakan kulit ikan Yeh Pasih berdiri Tahun 2010 dengan lokasi di Jalan
Gajah Mada Gang X No 3F Banjar Jawa Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
(8011) Kelompok Yeh Pasih terdiri dari 25 anggota dengan kondisi ekonomi menengah ke
bawah. Terbentuknya kelompok Yeh Pasih tidak terlepas dari upaya masyarakat untuk
meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik dan berusaha memanfaatkan limbah kulit
ikan menjadi produk yang bernilai jual tinggi.
Kegiatan IbM Kelompok Penyamakan Kulit Ikan menyasar pilar-pilar pokok sebuah industri
penyamakan kulit ikan sehingga dapat memiliki pondasi yang kuat meskipun dijalankan
dengan skala rumah tangga. Adapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditrasfer adalah:
1) proses produksi penyamakan kulit ikan sehingga menghasilkan produk yang berkualitas
dan berkuantitas tinggi secara ekonomis; 2) tata kelola manajemen produksi penyamakan
kulit ikan, sehingga menjadi sebuah produksi yang berkelanjutan; dan 3) tata cara dan
pengurusan hak paten terhadap proses, peralatan, dan produk penyamakan kulit ikan,
sehingga kelompok dapat terlindungi secara hukum.
Keseluruhan proses transfer iptek yang telah dilaksanakan dengan pola pendidikan dan
pelatihan serta pendampingan yang meliputi: produksi penyamakan kulit ikan, manajemen
produksi, pengurusan hak paten terhadap proses dan produk penyamakan kulit ikan.
PRAKATA
Puji syukur dan segala hormat dihatur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Kasih
Setia-Nya yang tidak pernah berkesudahan memberkati hidup kami, sehingga pada saat ini
laporan akhir program pengabdian kepada masyarakat dengan judul “IbM Kelompok
Penyamakan Kulit Ikan” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Pada kesempatan yang berbahagian ini ijinkan kami mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya terhadap Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah
mempercayai program ini untuk dibiayai dan Kelompok Yeh Pasih yang telah menjadi mitra
yang sangat baik bagi terlaksananya program ini. Dan semua pihak yang telah membatu
pelaksanaan program ini.
Adapun laporan ini sangatlah kurang sempurna secara tata penulisan yang
kemungkinan besar belum dapat mewakili apa yang telah kami lakukan dalam pelaksanaan
program pengabdian kepada masyarakat di Kelompok Yeh Pasih, besar harapan kami adanya
saran dan masukan membangun bagi kesempurnaan laporan ini.
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ...............................................................................................
i
Halaman Lembaran Pengesahan..................................................................
ii
Ringkasan .......................................................................................................
iii
Prakata ............................................................................................................
v
Daftar Isi .........................................................................................................
vi
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................
1
1.1. Analisis Situasi......................................................................................
1
1.2. Permasalahan Mitra ..............................................................................
2
BAB II TARGET DAN LUARAN................................................................
4
2.1. Target ....................................................................................................
4
2.2. Luaran ...................................................................................................
4
BAB III METODE PELAKSANAAN .........................................................
5
3.1. Waktu dan Tempat ................................................................................
5
3.2. Metode Pelaksanaan .............................................................................
6
BAB IV KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI ......................................
8
4.1. Kualifikasi Tim Pelaksana Kegiatan .....................................................
8
4.2. Pembagian Tugas Tim Pelaksana Kegiatan ..........................................
9
BAB IV HASIL YANG DICAPAI................................................................
10
5.1. Pendidikan dan Pelatihan Produksi Penyamakan Kulit Ikan ................
11
5.2. Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Produksi ...................................
11
5.3. Pendidikan dan Pelatihan Hak Paten Produk ........................................
12
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................
13
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
14
LAMPIRAN....................................................................................................
17
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
DOKUMENTASI KEGIATAN ....................................................................
16
MATERI PELATIHAN ................................................................................
19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Analisis Situasi
Industri perkulitan dalam beberapa waktu ini memiliki peningkatan nilai ekspor, dimana
dalam periode tahun 2003 – 2005 saja terjadi peningkatan yaitu dari US$ 71,857,324 menjadi
US$ 103,400,194 pada tahun 2005 (BPS, 2007). Industri perkulitan merupakan sumber
devisa dan menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup luas. Untuk saat ini di Indonesia
usaha penyamakan masih terbatas usaha penyamakan kulit hewan darat, sedangkan kulit
hewan perairan masih sangat sulit ditemukan.
Indonesia sebagai negara tropis dengan perairan yang cukup luas memiliki potensi
pengembangan produksi kulit hewan perairan khususnya ikan yang sangat besar.
Keuntungan kedua adalah pandangan tentang kulit ikan yang masih dianggap sebagai limbah,
sehingga kurang mendapatkan perhatian di dalam penanganan dan pengawetan untuk
mempertahankan kesegarannya.
Bahan baku kulit ikan mentah di Daerah Bali pada saat ini berasal dari 23 industri fillet
ikan di Kawasan Benoa, Bali. Setiap industri rata-rata menghasilkan sekitar 15 – 20 kg
limbah kulit ikan setiap harinya, sehingga setiap hari akan terdapat 345 kg atau setara dengan
690 – 920 lembar limbah kulit ikan yang dapat diolah dalam produksi penyamakan (Prasetia,
2012). Sebuah potensi sumberdaya alam yang sangat potensial untuk dikembangkan dengan
produksi penyamakan kulit ikan.
Peningkatan nilai tambah dari hasil pengelolaan kulit ikan tersamak dapat mencapai 30 –
60%, sebagai contoh harga kulit ikan kakap dan kerapu berukuran lebar 12 – 15 cm yang
sudah disamak mencapai Rp. 25.000,-. Sedangkan harga tas dan sepatu kulit ikan yang
diproduksi oleh pengerajin Tanggulangin, Sidoarjo dan Semarang adalah Rp. 150.000,sampai Rp. 300.000,- (Irianto, dkk, 2007)
Kelompok penyamakan kulit ikan Yeh Pasih berdiri Tahun 2010 dengan lokasi di Jalan
Gajah Mada Gang X No 3F Banjar Jawa Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
(8011) Kelompok Yeh Pasih terdiri dari 25 anggota dengan kondisi ekonomi menengah ke
bawah. Terbentuknya kelompok Yeh Pasih tidak terlepas dari upaya masyarakat untuk
meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik dan berusaha memanfaatkan limbah kulit
ikan menjadi produk yang bernilai jual tinggi.
Kelompok Yeh Pasih didirikan oleh Bapak Nyoman Adi Aryana yang beralamat di Jl.
Gajah Mada Gang X No 3B, Singaraja yang merupakan mitra yang akan diajak bekerjasama
dalam program IbM Kelompok Penyamakan Kulit Ikan.
Bapak Nyoman Adi Arnyana
merupakan sosok yang kreatif dan inovatif serta jeli melihat besarnya peluang usaha di
penyamakan kulit ikan ini. Kemampuan beliau dalam penyamakan kulit ikan diperoleh
secara otodidak dan mempelajari sumber-sumber belajar secara online. Namun pada saat ini
Kelompok Yeh Pasih hanya mampu memproduksi penyamakan kulit ikan berskala kecil.
Produksi dilakukan dengan standar minim pengetahuan yang dimiliki sehingga produk yang
dihasilkan masih sangat terbatas dari segi kuantitas.
Sasaran mitra yang kedua adalah Putu Ary Dharmayanti, merupakan sosok anak muda
yang kreatif yang mampu menuangkan ide-idenya dalam sebuah produk bernilai ekonomis
tinggi. Semangat muda Putu Ary Dharmayanti diharapkan mampu menjadi motivasi dan
semangat baru bagi kelompok dalam mengembangkan usaha penyamakan kulit ikan,
khususnya dalam bidang manajemen produksi. Karena secara manajemen usaha Kelompok
Yeh Pasih menerapkan sistem kerja yang dilakukan secara sederhana. Tidak ada pembukuan
yang jelas tentang berapa alat dan bahan yang sudah dihabiskan untuk produksi, serta berapa
keuntungan yang sudah didapatkan. Manajemen kelompok ini hanya berdasarkan perkiraan
belaka tanpa memperhitungkan aspek – aspek pembiayaan produksi yang berkelanjutan.
1.2. Permasalahan Mitra
Permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok Yeh Pasih adalah masalah produksi dan
manajemen usaha dalam penyamakan kulit ikan, meliputi:
1. Dalam proses produksi Kelompok Yeh Pasih masih menggunakan teknologi dan alat
produksi secara manual sehingga kuantitas produksi sangatlah minimal. Produksi
secara manual juga berakibat pada waktu proses pengerjaan yang lama, banyaknya
kerusakan bahan, kualitas produk yang tidak seragam, dan biaya produksi yang tinggi.
2. Secara manajemen Kelompok Yeh Pasih mengalami beberapa kendala seperti:
pembukuan produksi yang tidak tertata dengan baik, sehingga kelompok terkadang
tidak mengetahui keuntungan atau kerugian dari produk yang dibuatnya. Sistem
produksi made to order (produksi berdasarkan pesanan) yang diterapkan kelompok
memberikan kelemahan kurangnya kuantitas hasil produksi yang dihasilkan dan
konsumen tidak dapat melihat langsung produk-produk yang diinginkan.
3. Secara perlindungan terhadap kekayaan akan hak intelektual Kelompok Yeh Pasih
masih sangat awam, sehingga kelompok tidak mengetahui apa yang menjadi hak-hak
mereka terhadap paten: proses produksi, alat-alat produksi, sampai kepada hasil
produksi yang dihasilkan.
BAB II
TARGET DAN LUARAN
2.1. Target
Target pengabdian pada masyarakat adalah Kelompok Yeh Pasih didirikan oleh
Bapak Nyoman Adi Aryana yang beralamat di Jl. Gajah Mada Gang X No 3B, Singaraja
yang merupakan mitra yang akan diajak bekerjasama dalam program IbM Kelompok
Penyamakan Kulit Ikan. Adapun mitra pengabdian adalah Bapak Nyoman Adi Arnyana
merupakan sosok yang kreatif dan inovatif serta jeli melihat besarnya peluang usaha di
penyamakan kulit ikan ini.
Sasaran mitra yang kedua adalah Putu Ary Dharmayanti, merupakan sosok anak muda
yang kreatif yang mampu menuangkan ide-idenya dalam sebuah produk bernilai ekonomis
tinggi. Semangat muda Putu Ary Dharmayanti diharapkan mampu menjadi motivasi dan
semangat baru bagi kelompok dalam mengembangkan usaha penyamakan kulit ikan,
khususnya dalam bidang manajemen produksi.
2.2. Luaran
Luaran dari pelaksanaan program pengabdian pada masyarakat kelompok penyamakan
kulit ikan Yeh Pasih adalah:
1. Peningkatan kualitas dan kuantitas hasil produk penyamakan kulit ikan dengan
menggunakan teknologi dan alat penyamakan kulit yang lebih baik.
2. Peningkatan pengetahuan dan daya kelola sebuah usaha produksi penyamakan kulit
ikan dengan tatanan manajemen yang baik dan benar.
3. Adanya pengakuan intelektual terhadap proses dan hasil karya seni produk – produk
penyamakan kulit ikan berupa hak paten merk dan produk.
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan selama 6 (enam) bulan,
dimulai dari 20 Mei sampai dengan 30 Nopember 2013. Tempat pelaksanaan kegiatan di
Kelompok Yeh Pasih yang beralamat di Jl. Gajah Mada Gang X No 3B, Kelurahan Banjar
Jawa, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.
PETA DESA PANTAI
KECAMATAN BULELENG
KABUPATEN BULELENG
DE SA PENARUK AN
Lokasi P2M
Banjar Jawa
DE SA KAMP UNG BARU
DE SA KAMP UNG BUG IS
DE SA KAMP UNG ANYAR
DE SA KALIUNTU
DESA
BANYUNING
DE SA BANYUA SRI
KECAMATAN BULELENG
DE SA BAK TISERAG A
DE SA PEMA RON
DE SA TUK AD MUNG G A
DE SA ANT URA N
DE SA KALIBUBUK
N
1
0
1 Kilometer s
Gambar 1. Lokasi Pengabdian Masyarakat
3.2. Metode Pelaksanaan
Solusi yang ditawarkan dalam pelaksanaan pengabdian pada masyarakat ini adalah
pendekatan secara produksi dan manajemen. Kegiatan ini akan terbagi menjadi:
1. Secara produksi hal yang akan ditransfer berupa peningkatan pengetahuan tentang
proses produksi penyamakan kulit ikan sehingga terdapat peningkatan proses
produksi menjadi lebih baik. Transfer pengetahuan ini akan dilaksanakan dengan
pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tentang penyamakan kulit ikan dan
penyempurnaan alat produksi.
2. Secara manajemen produksi akan dilaksanakan pelatihan dan pendampingan dalam
pengelolaan manajemen produksi sehingga terwujud sebuah tatanan pengelolaan
produksi penyamakan ikan yang baik.
3. Dalam rangka peningkatan daya saing produk penyamakan kulit ikan dan melindungi
kelompok dari unsur – unsur plagiatisme, kelompok akan dibekali dengan pelatihan
dan pendampingan dalam hak paten produk. Dengan ini diharapkan ada penghargaan
terhadap produk – produk yang diciptakan.
Untuk dapat memenuhi target solusi yang ditawarkan maka dalam program IbM
Kelompok Penyamakan Kulit Ikan disasar pilar-pilar pokok sebuah industri penyamakan
kulit ikan sehingga nantinya dapat memiliki pondasi yang kuat meskipun dijalankan dengan
skala rumah tangga. Adapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditrasfer adalah: 1) proses
produksi penyamakan kulit ikan sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan
berkuantitas tinggi secara ekonomis; 2) tata kelola manajemen produksi penyamakan kulit
ikan, sehingga menjadi sebuah produksi yang berkelanjutan; dan 3) tata cara dan pengurusan
hak paten terhadap proses, peralatan, dan produk penyamakan kulit ikan, sehingga kelompok
dapat terlindungi secara hukum.
Diklat dan Pendampingan
Teknologi Penyamakan
Kulit Ikan kepada Bapak
Nyoman Arnaya
Persiapan Produksi
Penyamakan Kulit
Ikan Kelompok
Yeh Pasih
Diklat dan Pendampingan
Hak Paten terhadap
Proses, Peralatan dan
Hasil Produk
Proses Produksi
Penyamakan Kulit Ikan
Teknologi dan
Manajemen Tepat
Hasil Produk dengan
Kualitas dan Kuantitas
Tinggi serta Berkekuatan
Hukum
Diklat dan Pendampingan
Manajemen Penyamakan
Kulit Ikan kepada Putu
Ary Dharmayanti
Bagan 1. Transfer IbM Kelompok Penyamakan Kulit Ikan
Keseluruhan proses transfer iptek ini dilaksanakan dengan pola pendidikan dan pelatihan
yang meliputi: produksi penyamakan kulit ikan, manajemen produksi, pengurusan hak paten
terhadap proses dan produk penyamakan kulit ikan.
Pendidikan dan pelatihan ini juga
disertai dengan pendampingan terhadap proses produksi dan manajemen produk, sehingga
diharapkan kegiatan kelompok penyamakan kulit ikan Yeh Pasih ini dapat berjalan secara
berkesinambungan dan meningkatkan perekonomian anggotanya.
BAB IV
KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI
4.1. Kualifikasi Tim Pelaksana Kegiatan
Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)
memiliki motivasi kuat dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat melalui
berbagai pusat layanan yang dimilikinya, antara lain Pusat Layanan Pendidikan Sekolah dan
Masyarakat, Pusat Layanan Penerapan IPTEK dan Dampak Lingkungan, Pusat Layanan
KKN dan KKL, dan Pusat Layanan Kewirausahaan dan Konsultasi Bisnis. Jumlah kegiatan
P2M dosen UNDIKSHA dalam kurun waktu 3 tahun terakhir meliputi 230 judul yang
didanai oleh PT sendiri, 15 dari Kemendiknas/Kementrian terkait, dan 8 judul dibiayai
institusi dalam negeri di luar Kemendiknas. Jumlah dosen yang terlibat PKM dalam kurun
waktu 3 tahun terakhir 700 orang dari PT sendiri, 49 dari Kemendiknas, dan 24 dari institusi
dalam negeri di luar Kemendiknas.
Selama kurun waktu 1 (satu) tahun terakhir, LPM telah berhasil melaksanakan
berbagai kegiatan pengabdian dengan memberdayakan potensi stakeholder dan masyarakat
sekitar. Berdasarkan data base LPM tahun 2011, terdapat 57 kegiatan pengabdian pada
masyarakat yang telah berhasil dilaksanakan baik dengan pendanaan dari DIPA lembaga
maupun dari DP2M Dikti dengan besaran dana Rp.5.000.000,- sampai dengan Rp.
100.000.000,-. Berdasarkan capaian yang diperoleh LPM Undiksha dapat dikategorikan
sebagai bentuk kinerja yang sangat membanggakan dan akan semakin termotivasi untuk
meningkatkan kinerja LPM kedepannya.
Tim pelaksana program pengabdian pada masyarakat kelompok penyamakan kulit ikan
Yeh Pasih merupakan staf dosen di Universitas Pendidikan Ganesha yang benar-benar sudah
memahami secara teoritis dan maupun praktis tentang proses pasca panen produk
penyamakan kulit ikan, manajemen produksi, dan pendampingan hukum terhadap hak paten
suatu produk kekayaan intelektual. Hal ini dapat dilihat dari pendidikan formal dan bidang
tugas yang diemban saat ini secara langsung menyentuh persoalan-persoalan yang akan
diatasi dalam pendampingan kelompok Yeh Pasih.
Tim pengabdian pada masyarakat kelompok penyamakan kulit ikan Yeh Pasih terdiri dari:
a. Ketua Tim Pelaksana
Nama
: I Nyoman Dodik Prasetia, S.Si.,M.Si
Ijazah S-1
: Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Udayana
Ijazah S-2
: Konsentrasi Biologi Laut dan Perikanan, Magister Ilmu
Lingkungan, Universitas Udayana
b. Anggota Tim Pelaksana
Nama
: Agus Pertama, SE
Ijazah S-1
: Jurusan Ekonomi, FE, Universitas Brawijaya Malang
c. Anggota Tim Pelaksana
Nama
: Ratna Artha Windari, SH, MH
Ijazah S-1
: Jurusan Hukum, FH, Universitas Brawijaya Malang
Ijazah S-2
: Ilmu Hukum, Magister Hukum, Universitas Udayana
4.2. Pembagian Tugas Tim Pelaksana Kegiatan
Dalam rangka kelancaran dan kesuksesan kegiatan pengabdian pada masyarakat
kelompok Yeh Pasih, maka dilaksanakanlah pembagian tugas sebagai berikut:
1. Ketua Tim Pelaksana secara umum akan bertanggung jawab memimpin dan
mengkoordinasikan seluruh tahapan kegiatan mulai dari tahap persiapan, tahap
pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap pelaporan hasil pengabdian pada masyarakat.
Dalam pelaksanaan diklat proses produksi penyamakan kulit sebagai ahli dalam
bidang pasca panen I Nyoman Dodik Prasetia, S.Si.,M.Si, akan memberikan materi
dan pendampingan dalam proses produksi.
2. Anggota tim pelaksana Agus Pertama, SE sebagai ahli manajemen akan bertanggung
jawab memberikan materi dan pendampingan terhadap kelompok Yeh Pasih dalam
pengelolaan manajemen produksi yang baik dan benar.
3. Ratna Artha Windari, SH.,MH sebagai anggota tim pelaksana bertanggung jawab
memberikan materi dan pendampingan terhadap kelompok Yeh Pasih berkaitan
dengan hak paten produk
BAB V
HASIL YANG DICAPAI
Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat “IbM Kelompok Penyamakan
Kulit Ikan” pada Kelompok Yeh Pasih yang telah dilaksanakan program yaitu: pendidikan
dan pelatihan produksi penyamakan kulit ikan, manajemen produksi, dan pengurusan hak
paten produk kerajinan kulit ikan. Hal yang masih berlangsung sampai saat ini adalah
pendampingan kelompok dalam hal manajemen produksi dan pengurusan hak paten produk.
Pada tahap awal pelaksanaan program dilaksanakan kegiatan berupa perancangan
disain dan kegiatan diklat, persiapan tutor, persiapan alat dan bahan, dan sosialisasi dan
koordinasi dengan peserta. Perancangan disain dan kegiatan diklat dilaksanakan bersama tim
pengusul didasari oleh analisi situasi yang dibuat berdasarkan permasalahan yang dihadapi
oleh kelompok yeh pasih. Perancangan ini dilaksanakan pada akhir bulan Mei dan awal Juni
2013 yang juga melibatkan peran serta aktif peserta program pengabdian kepada masyarakat
untuk membuat skala prioritas program yang dilaksanakan. Perencanaan ini berjalan dengan
sangat baik berkat peranan aktif tim pelaksana dan peserta yang menjadi mitra program.
Persiapan tutor dan instruktur dilaksanakan pada awal kegiatan untuk mematangkan
kembali program – program yang akan dilaksanakan kepada mitra, sehingga terjadi sinergi
yang baik dalam kegiatan ini. Persiapan tutor dan instruktur ini meliputi: mencetak materi
pelatihan untuk diklat penyamakan kulit ikan, manajemen produksi, dan pengurusan hak
paten produk. Persiapan yang dilaksanakan berikutnya berupa persiapan alat dan bahan yang
dilaksanakan dengan pembelian: peralatan pelatihan penyamakan kulit ikan, bahan pelatihan
penyamakan kulit ikan, bahan pelatihan manajemen produksi, dan bahan pelatihan hak paten
produk penyamakan kulit ikan.
Dalam rangka penyamaan persepsi dan waktu pelaksanaan kegiatan pengabdian
kepada masyarakat di kelompok penyamakan kulit ikan Yeh Pasih, maka dilaksanakan
kegiatan sosialisasi dan koordinasi dengan peserta. Hal ini dilaksanakan untuk mendapatkan
kesepakatan waktu dalam pelaksanaan program, sangat disyukuri peserta kegiatan sangat
antusias dalam menerima sosialisasi program sehingga tidak ada halangan yang berarti dalam
pelaksanaan kegiatan ini.
5.1. Pendidikan dan Pelatihan Produksi Penyamakan Kulit Ikan
Pada dasarnya pendidikan dan pelatihan produksi penyamakan kulit ikan yang
diberikan kepada Bapak Ir. Nyoman Adi Arnaya dari Kelompok Yeh Pasih bersifat sharing
informasi dan teknologi karena apa yang sudah dilaksanakan beliau selama ini sudah sangat
bagus tetapi terkadang masih menggunakan peralatan manual. Semangat dan kreatifitas dari
Bapak Nyoman membuahkan banyak ide-ide inovatif baru dalam pelatihan ini, sehingga
diharapkan di masa mendatang usaha penyamakan kulit ikan yang dikelola beliau semakin
berkembang.
Pendidikan dan pelatihan produksi penyamakan kulit ikan yag dilaksanakan pada saat
ini masih menitik beratkan pada produksi bahan setengah jadi, dalam artian kulit ikan diolah
dengan teknik penyamakan sampai siap dipakai sebagai bahan baku industri kreatif
selanjutnya.
Meskipun dalam perjalanan program dicoba dilakukan pengolahan bahan
setegah jadi ini menjadi produk – produk kreatif seperti sepatu, dompet, ikat pinggang, dan
produk kreatif lainnya.
Pendidikan dan pelatihan penyamakan kulit ikan ini dilaksanakan pada tanggal 14, 15,
dan 16 Juni 2013, bertempat di sekretariat Kelompok Penyamakan Kulit Ikan Yeh Pasih,
Kelurahan Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Pendidikan dan
pelatihan dilaksanakan melalui metode praktek langsung pengolahan bahan baku kulit ikan
sehingga siap menjadi bahan dasar produk kreatif selanjutnya.
Dalam pelaksanaan diklat ini tidak ditemukan kendala yang berarti karena respon
yang sangat bagus dari Bapak Nyoman Adi Arnaya dalam mengikuti pelaksanaan kegiatan
ini.
5.2. Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Produksi
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 21 dan 22 Juni 2013, dengan peserta Putu Ary
Dharmayanti dari Kelompok Yeh Pasih yang diberikan oleh Bapak
I Gede Agus Pertama
Yudantara, SE. Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar karena respon yang bagu dari
peserta terhadap materi yang diberikan. Hal positif yang lain adalah ada beberapa anggota
dari Kelompok Yeh Pasih yang ikut dalam diklat ini, sehingga diharapkan dengan materi
yang di dapatkan ini mampu memperbaiki sisi manajemen produksi khususnya administrasi
bagi kelompok.
5.3. Pendidikan dan Pelatihan Hak Paten Produk
Pendidikan dan Pelatihan Hak Paten Produk dilaksanakan pada tanggal 19 Juli 2013
bertempat di sekretariat kelompok Yeh Pasir yang diikuti oleh anggota kelompok dengan
pemateri Ibu Ratna Artha Windari, SH.,MH. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran anggota kelompok tentang pentingnya melindungi karya – karya yang dihasilkan,
sehingga terhindar dari klaim pihak lain akan karya yang dibuat. Pelaksanaan diklat berjalan
dengan lancar dan baik terlihat dari besarnya perhatian dari anggota kelompok dalam
menyimak serta memperhatikan materi-materi yang disampaikan.
Sesuai hasil kesepakatan dengan anggota kelompok pendampingan selanjutnya yang
akan dilaksanakan adalah pengurusan hak paten produk yang dalam hal ini akan dipatenkan
berupa merk dagang YEH PASIH, supaya dapat berkekuatan hukum dan menjadi hak
kekayaan intelektual bagi kelompok. Hal ini dilakukan untuk melindungi produk-produk
kreatif yang akan dihasilkan oleh kelompok dikemudian hari.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pelaksanaan program pengabdian kepada
masyarakat “IbM Kelompok Penyamakan Kulit Ikan” di Kelompok Yeh Pasih, Kelurahan
Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, adalah:
1. Tingkat partisipasi yang tinggi dari mitra program pengabdian kepada masyarakat
memberikan dampak positif bagi pelaksanaan program, terlihat dari diklat produksi
penyamakan kulit ikan, manajemen produksi, dan hak paten produk dapat berjalan
dengan baik
2. Pelaksanaan program mampu menghasilakan luaran-luaran yang diharapkan oleh
program pengabdian kepada masyarakat ini, kecuali pengurusan hak paten merk
dagang “Yeh Pasih” masih harus melalui proses pendaftaran.
6.2. Saran
Tingginya kreatifitas kelompok penyamak kulit ikan dalam memproduksi produkproduk kreatif diharapkan mendapatkan perhatian khusus, sehingga menjadi keberlanjutan
program dari kegiatan “IbM Kelompok Penyamakan Kulit Ikan” yang saat ini hanya sampai
pada produksi bahan setengah jadi produk olahan dari bahan dasar kulit ikan
DAFTAR PUSTAKA
Irianto,Hari Eko., Nur Retnowati, Nurul Hak. 2007. Prospek Pengembangan Penyamakan
Kulit Ikan. Squalen Vol. 2 No 1 Juni 2007. Jakarta
Tambunan, P. R. 2002. Penyamakan Kulit Ikan Kakap dan Ikan –Ikan Sejenis. Pusat Riset
Pengolahan Produk an Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Jakarta
Lampiran 1
Gambar 1. Kelompok Penyamakan Kulit Ikan “Yeh Pasih”
Gambar 2. Pembangunan Loka Penyamakan Kulit Ikan
Gambar 3. Mesin Penyamakan Kulit Ikan
Gambar 4. Produk Penyamakan Kulit Ikan
Gambar 5. Produk Kreatif Berbahan Kulit Ikan
Gambar 6. Produk Kreatif Berbahan Kulit Ikan
Lampiran 2. Materi Proses Penyamakan Kulit Ikan
Proses Penyamakan Kulit Ikan dibagi dalam beberapa tahapan proses yaitu :
1. Tahap Persiapan
Tahapan persiapan meliputi beberapa kegiatan berikut
1.1. Pengawetan dengan penggaraman
Bahan baku yang digunakan adalah kulit ikan mentah limbah industri fillet yang
terdapat di sentra industri fillet ikan pelabuhan Tanjung Benoa Bali. Tanjung Benoa
Bali berlokasi kurang lebih 120 km dari lokasi produksi yaitu Banjar Jawa Singaraja
Buleleng Bali. Karena lokasi produksi yang berjauhan dengan sumber bahan baku,
maka diperlukan pengawetan bahan baku selama perjalanan agar tidak terjadi
kerusakan bahan baku yang dapat mempengaruhi kualitas produk. Pengawetan
dilakukan dengan cara penggaraman, teknik pengawetan ini dipilih karena
merupakan teknik yang paling murah, mudah, sederhana, dan efektif. Penggunaan
garam sangat efektif untuk mengurangi aktifitas mikrobia pembusuk sehingga dapat
menjaga kualitas kulit bahkan tanpa penyimpanan dalam pendingin. Penggaraman
dilakukan langsung di lokasi pengambilan bahan baku, diikuti dengan pengemasan
bahan baku menggunakan box stereo foam.
1.2. Transportasi
Transportasi bahan baku dilakukan dari pelabuhan Tanjung Benoa Bali ke lokasi
produksi dengan menggunakan mobil bak. Sarana yang dimanfaatkan adalah agen
jasa pengiriman barang dari Denpasar ke Singaraja. Waktu perjalanan untuk 120 km
adalah sekitar 3 jam perjalanan. Bahan baku diambil pada pagi hari (pembuangan
limbah pertama) untuk langsung diproses setelah sampai ke lokasi produksi.
1.3. Sortasi
Sortasi dilakukan setelah bahan sampai di lokasi produksi. Kulit ikan yang
digunakan bersumber dari berbagai macam ikan yang memiliki karakter yang sangat
spesifik dan bervariasi dikarenakan perbedaan jenis ikan. Proses penyamakan
berlangsung dalam larutan yang homogen, bila kualitas bahan baku memiliki tingkat
keragaman yang tinggi, kualitas produk yang dihasilkan akan beragam. Untuk
memperoleh kualitas produk yang seragam, sangat diperlukan seleksi bahan baku.
Bahan baku yang masuk dalam satu batch proses penyamakan diusahakan memiliki
kualitas seseragam mungkin untuk memperoleh output dengan kualitas yang
seragam. Pemisahan atau seleksi dilakukan terutama berdasarkan jenis ikan (kulit
kakap, kulit tuna, kulit ikan mahi-mahi), ukuran kulit, dan tingkat kecacatan kulit
(adanya pengapalan, busuk, robek, rajah yang rusak, berlubang, dan sebagainya).
Sortasi selain untuk memisahkan bahan berdasarkan karakteristiknya, juga
dilakukan untuk memisahkan bahan yang akan diproses dan bahan yang akan
disimpan.
1.4. Fleshing (Pemisahan daging)
Fleshing adalah proses penghilangan daging. Daging disini yang dimaksud adalah
potongan daging berukuran besar yang menempel pada kulit. Daging yang
berukuran besar ini dapat mengurangi efektivitas dan efisiensi proses produksi
karena menambah massa bahan baku sehingga kebutuhan bahan pembantu (bahan
kimia) menjadi lebih besar dan menghambat masuknya bahan-bahan penyamak
kedalam serat kulit. Proses penghilangan daging dalam hal ini dilakukan secara hatihati dengan menggunakan pisau tumpul dan alas karet agar tidak terjadi kerusakan
kulit. Potongan daging yang masih melekat dalam ukuran kecil yang sulit
dihilangkan akan dihilangkan setelah proses liming atau pengapuran. Daging yang
berukuran besar juga dapat diolah menjadi produk samping misalnya untuk bahan
baku abon ikan atau kecap ikan, karena kondisi bahan yang masih segar dan kualitas
ikan yang baik (kualitas ikan fillet ekspor) maka daging ini layak dikonsumsi.
1.5. Pengawetan dan Penyimpanan
Pengawetan bahan baku perlu dilakukan sebelum penyimpanan. Pengawetan bahan
dilakukan dengan menggunakan garam sebagai bahan pengawet. Kulit ikan dengan
penggaraman yang cukup dapat bertahan sampai 3 bulan tanpa penyimpanan dalam
ruang pendingin. Pengawetan ini dipilih karena sangat efektif, ramah lingkungan,
murah, dan tidak merusak bahan.
1.6. Penimbangan
Penimbangan dilakukan setelah semua bahan diseleksi dan dikelompokkan. Satu
kelompok akan diproses bersamaan dalam satu batch proses. Penimbangan bahan
baku yang dikelompokkan dalam 1 batch proses sangat penting dilakukan untuk
menentukan komposisi bahan kimia (bahan pembantu) yang dilakukan dalam proses
penyamakan yang didefinisikan dalam persen dari berat bahan baku. Berat bahan
baku awal ini akan digunakan untuk menentukan formula bahan kimia yang
digunakan dari awal sampai akhir produksi.
2. Proses Pengerjaan Basah (Beam House)
Proses produksi penyamakan kulit dilakukan dengan bahan baku kulit ikan mentah dan
bahan kumia penyamakan sebagai bahan pembantu. Prinsip penyamakan kulit adalah
menghilangkan bagian kulit mentah yang bukan kolagen, lalu mereaksikan kolagen yang
tersisa dengan bahan penyamak, kemudian untuk meningkatkan kenyamanan pakai
ditambahkan bahan pembantu lain seperti minyak, pewarna dan pengisi. Setiap tahapan
dalam proses berkaitan satu sama lainnya. Kualitas output dari suatu tahapan proses
sangat ditentukan oleh output dari tahapan proses yang sebelumnya sehingga untuk
memperoleh hasil dengan kualitas yang tinggi, kualitas proses produksi di setiap tahapan
proses harus diperhatikan. Tahap pretaning intinya adalah untuk menyiapkan kulit
menuju proses selanjutnya yaitu proses penyamakan. Tahapan-tahapan pada Pretanning
adalah :
2. 1. Proses Perendaman (Soaking)
Proses perendaman ditujukan untuk mengembalikan air kulit yang hilang
selama proses pengawetan, sehingga kadar air kulit mendekati atau sama dengan
kadar air kulit segar (green state). Disamping itu juga dimaksudkan untuk
menghilangkan kotoran-kotoran lain yang melekat, misalnya darah, kotoran hewan,
tanah dan lain-lain. Maksud dari proses perendaman adalah untuk menyiapkan
kulit untuk menerima pelaksanaan proses berikutnya. Formula yang digunakan
adalah sebagai berikut :
Air 300-500%
Garam 8-10% untuk menghasilkan larutan garam 70-100Be
Larutan diputar dalam drum selama 3 menit kemudian ditambahkan
5gr Soda Ash per liter air
0,3% Surfactant
0,5% Kaporit
Diputar 1 menit setiap 1 jam selama 3 kali kemudian didiamkan semalam
(overnight), dan dibilas
2. 2. Proses Pengapuran (Liming)
Proses pengapuran ditujukan untuk menghilangkan zat-zat kulit yang tidak
diperlukan, menghilangkan atau mempermudah melepasnya lapisan subkutis dari
kutisnya. Pada proses pengapuran pada umumnya menggunakan kapur, Na2S,
NaSH beberapa garam amine seperti dimetil amin, enzyme dan lain-lain serta
bahan pembantu mempercepat pembekakan kulit seperti NaOH, Na2CO3 ataupun
ammonia.
Teknik pengapuran yang dilakukan adalah teknik pengapuran dengan
menggunakan drum. Formulanya adalah sebagai berikut :
400 – 500%
air
0,3gr
caustic soda/liter air
Putar 1 menit setiap ½ jam, setelah 4 jam tambah
0,3 gr
caustic soda /liter larutan
Putar 1 menit setiap ½
jam, selama 4 jam. Biarkan kulit terendam dalam larutan
semalaman (overnight), besok pagi, tambahkan
0,6
gr caustis soda /liter larutan
Putar beberapa saat, setelah 1 – 2 jam bilas dan bersihkan sisik-sisik kulit ikan
2. 3. Proses Pelunturan (Bleaching)
Proses Bleaching hanya dilakukan jika pada kulit terdapat bintik-bintik atau
pigmen yang ingin dihilangkan, atau bila kulit akan diwarnai dengan bahan
pewarna sehingga menghasilkan warna yang berbeda. Jika diinginkan warna alami
(natural/tanpa pewarnaan), tahapan ini dapat dihilangkan.
2. 4. Proses Buang Lemak (Degreasing)
Proses buang lemak ditujukan untuk menghilangkan lemak alami kulit
karena lemak tersebut dapat menghalangi membukanya kolagen dan masuknya
bahan kimia kedalam kulit. Selain itu lemak juga dapat mengurangi daya adhesi
larutan finishing sehingga sulit menempel ataupun tidak rata cat tutupnya.
Metode degreasing dilakukan secara saponifikasi. Saponifikasi pada
umumnya menggunakan alkali, sehingga lemak akan terhidrolisa menjadi gliserin
dan asam lemak, lalu asam lemak akan tersabunkan.
Bahan dan proses degreasing:
Air
: 100-200 %
Eusaphon OD, (surfaktan)
: 0,5-1 %
Common salt, NaCl
: 30%
Kulit ikan dimasukkan dalam larutan diatas dan didiamkan selama 60 menit.
2. 5. Proses Pengasaman (Pickling)
Proses pengasaman bertujuan untuk mempersiapkan kulit agar siap
menerima proses selanjutnya, yaitu dengan menyesuaikan pH kulit dengan pH
bahan penyamak yang akan digunakan, disamping itu untuk menghentikan kerja
enzim dari proses bating, mencegah timbulnya bakteri pembusuk dan
menghilangkan flek-flek pada kulit.
Bahan dan proses plicing :
Air
: 100 %
Common salt, NaCl
: 10 %
Putar 10 menit
Pickle OIL
: 0,5 %
Putar 30 menit
Acetic Acid (asam asetat), CH3COOH : 1 %
Ditambahkan secara bertahap 3x dengan selang waktu 15 menit, diputar
terus sampai pH 3-3,5 penampang melintang (Ø) berwarna kuning dengan BCG.
3. Tahap Tanning (Vegetable-SynTan)
Inti dari proses tanning adalah memasukkan bahan penyamak ke dalam serat kulit
Penyamakan adalah suatu proses merubah kulit mentah yang tidak stabil terhadap
pengaruh luar menjadi kulit tersamak yang stabil atau tahan terhadap pengaruh luar
seperti adanya bakteri, aksi zat kimia dan perlakuan fisis seperti tarikan, gesekan,
tekukan, panas dan lain-lain. Bahan kimia yang biasa digunakan adalah bahan penyamak
mineral, nabati, sintetik, aldehid, resin dan minyak. Dari keenam jenis bahan penyamak
ini yang akan kami gunakan dalam proses penyamakan adalah kombinasi antara bahan
penyamak nabati dan sintetis. Adapun formulanya adalah sebagai berikut :
Sebelum penyamakan kulit direndam selama 30 menit dalam drum yang berisikan:
Air 100%, Basintan DLX (sintetic Tanning agent) 4%, setelah 30 menit kemudian
dilakukan penyamakan ulang (retanning) dengan komposisis bahan penyamak sebagai
berikut : Air 50%, Vegetable tanning agent 20% , Basintan DLX (sintetic Tanning agent)
20%.
Kemudian dicuci bersih dan di lakukan penyamakan lagi menggunakan 3 porsi
bahan penyamak diatas dengan waktu jeda 1 jam. Dibiarkan semalaman kemudian dibilas
pagi harinnya, dan seterusnya sampai 2 hari.
Dalam penyamakan nabati (vegetable), bahan penyamak (tanning agent) yang
digunakan dalam tahapan proses tanning (penyamakan) berbeda-beda tergantung warna
produk yang diinginkan karena masing-masing bahan penyamak nabati membawa zat
warna alami tersendiri.
Berikut ini adalah table bahan penyamak nabati dan warna yang dihasilkan :
Warna yang dihasilkan dari Penyamakan Nabati
Bahan Penyamak
Warna yang dihasilkan
Mimosa (Akasia)
Kuning s/d Merah
Valonia (Oak)
Pale Brown
Quebraco
Merah s/d Coklat
Sumach (Cecilia)
Pale Greenis s/d Yellow
Chesnut
Medium Brown
Selain bahan-bahan tersebut, warna alami juga dapat diperoleh dari bahan teh
(coklat muda sampai tua), gambir (burgundy), sabut kelapa, buah pinang, dan manggis.
4. Tahap Post tanning
Proses ini meliputi netralisasi, pengecatan dasar, peminyakan dan pemeraman, adapun
urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
4. 1.
Netralisasi
Proses ini ditujukan untuk mengontrol afinitas kulit dengan bahan anionik,
terutama dyestuff dan emulsi minyak, anionik dengan mengatur muatan
elektrostatiknya. Disamping itu juga bertujuan untuk menetralkan asam bebas baik
yang berasal dari proses pengasaman maupun dari hidrolisis bahan penyamak.
Bahan dan proses netralisasi :
Air
: 200 %
Na-Formiat
: 1 % diputar 30 menit
Soda
: 1,5 %
diputar 60 menit pH 5-6,5 dicek penampang melintangnya (Ø) berwarna biru
dengan BCG Indikator.
4. 2.
Pewarnanan (dyeing)
Pengecatan dasar betujuan unutk memberikan warna pada kulit agar
menjadi lebih menarik. Cat yang digunakan adalah cat alam (berasal dari tumbuhtumbuhan).
Bahan dan proses dyeing :
Air hangat (45 0C) :100 %
Auxiliary dyestuff : 2 % putar 15 menit
Cat asam
: 2 % diputar 60 menit cek penampang melintangnya (Ø) warna
tembus
HCOOH (1:10)
: 0,5 % diputar 30 menit
4. 3.
Top dyes
: 1 % diputar 30 menit
HCOOHs
: 0,5-1 % diputar 30 menit
Perminyakan (fatliquoring)
Perminyakan bertujuan untuk memberikan pelican pada jaringan kulit
sehingga kulit menjadi tahan terhadap tarikan dan elastic, menambah daya tahan
kulit tehadap air, dan menjaga agar serat-serat kulit tidak lengket satu dengan
lainya, sehingga kulit menjadi lunak dan mudah ditekuk.
Bahan dan proses fatliquoring:
Air ( 40 °C )
: 100 %
Lipoderm Liquor PN
: 2-4%
Kulit dimasukkan dalam drum yang berisikan campuran bahan diatas dan
didiamkan selama 45 menit.
4. 4.
Pemeraman (aging)
Pemeraman dimaksudkan untuk menyempurnakan reaksi-reaksi yang
terjadi dalam kulit setelah beberapa perlakuan proses kimiawi, pada umumnya
kulit hanya ditumpuk selama satu malam.
4. 5.
Pengeringan (drying)
Pengeringan bertujuan unutk mengurangi kadar air bebas dalam kulit, cara
pengeringan dapat dilakukan seperti dengan penjemuran sinar matahari,
pengeringan dengan oven maupun dikering anginkan saja.
4. 6.
Pelemasan ( staking ) dan pementangan ( toggling )
Akibat dari proses pengeringan, kulit akan menjadi kaku, maka perlu
dilakukan pelemasan dengan menggosokan dan menarik ujung-ujung kulit pada
bagian pipih berkali-kali hingga kulit menjadi lemas. Penggosokan dilakukan pada
bagian daging kulit agar bagian rajah kulit tidak rusak oleh gosokan. Pelemasan
menggunkan mesin pelemas, kemudian kulit dipentang menggunakan papan
pentang selama minimal 2 jam, dan kulit siap di finish.
5. Tahap Finishing
Proses penyelesaian kulit merupakan tahapan akhir dari seluruh proses
pengolahan kulit, oleh karenanya proses ini sangat penting dan menentukan mutu kulit
jadinya. Unsur utama larutan finishing dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu :
5. 1.
Film forming material, bisa disebut binder berfungsi sebagai perekat dan
pembentuk lapisan film pada kulit. Dalam penggunaan pada umumnya campuran
dari casein binder, resin akrilik, poliuretan dan nitrosellulosa.
5. 2.
Pewarna, digunakan pada larutan penyelesaian dengan maksud meningkatkan
ketajaman warna, meningkatkan kerataan warna sehingga penampilan lenbih
menarik
5. 3.
Pelarut, digunakan unutk melarutkan semua bahan finishing yang digunakan.
Digunakan dua macam pelarut yaitu pelarut air dan pelarut organic.
5. 4.
Additive atau bahan pembantu, ditambahkan dalam proses penyelesaian karena
menginginkan sifat khusus dari lapisan finishing tersebut, misalnya filler unutk
meningkatkan pengisian atau menyamarkan loose grain, wax untuk keenakan
pegangan, penetrator unutk meningkatkan daya tembus lapisan finishing, slip
agent untuk menambah kelicinan kulit dan lain-lain.
Proses finishing kulit pada umumnya melalui tiga tahapan lapisan (coating), yaitu:
1. Base Coat, berfungsi sebagai pengikat larutan finishing dengan kulit
2. Intermediate Coat, dilakukan sampai pewarnaan rata dan ketajaman warnanya sesuai
yang diinginkan.
3. Top coat, lapisan top coat akan memberikan efek mengkilap atau tidak mengkilap
sesuai yang diinginkan, fungsi utama lapisan top coat adalah memberikan tingkat
kekerasan pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tahan gores, tahan gosok basah
maupun kering dan tahan terhadap bahan kimia.
Bahan dan proses :
Binder soft
200%
Binder medium
100%
Pigmen
100%
Wax
50%
Filler
100%
Penetrator
50%
Air
400%
Semua bahan dicampur diaduk rata kemudian dilapiskan ke kulit sampai warna rata
Top coat : 1 bagian lack 3 bagian pelarut, bahan dicampur, diaduk rata kemudian
diaplikasikan ke kulit sampai rata.
Fly UP