...

TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
TANFIDZ KEPUTUSAN
MUKTAMAR MUHAMMADIYAH
KE-47
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
2015
BERITA RESMI MUHAMMADIYAH
Nomor 01/2015-2020/Dzulhijjah 1436 H/September 2015 M
Diterbitkan oleh
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
untuk kalangan sendiri
sebagai sarana komunikasi organisasi
Penanggungjawab
Ketua Redaksi
Dewan Redaksi
Redaksi Pelaksana
Tata Usaha
Data dan Dokumentasi
Keuangan dan Iklan
Distribusi
Desain Cover
: Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed.
: Dr. H. Agung Danarto, M.Ag.
: 1. Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si.
2. Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum.
3. Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.
4. Drs. H. Marpuji Ali, M.SI.
: H. Sofriyanto Solih Mu’tasim, S.Pd.
: 1. Haryadi Widodo, S.H.
2. Joko Susilo
: 1.Nurhadiantoro
2. A. Halim Hendra Kurniawan
: Widada
: M. Suparno
: Amin Mubarok
Alamat Redaksi
Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Jl. Cik Ditiro No. 23 Yogyakarta
Telp. (0274) 553132, Faks. (0274) 553137
E-mail : [email protected]
Infaq BRM sebesar Rp. 30.000,- dapat dikirimkan melalui
rekening atas nama PP Muhammadiyah
Bank Syariah Mandiri Cabang Yogyakarta No. Rekening 1550003000
BRI Cabang Yogyakarta No. Rekening 024.501000.261.309
Dicetak oleh gramasurya
Jl. Pendidikan No. 88 Sonosewu Yogyakarta
Telp.: 0274 - 377102, Faks.: 0274 - 413 364
Email: [email protected]
PENGANTAR
BERITA RESMI MUHAMMADIYAH
Nomor 01/2015-2020/Dzulhijjah 1436 H/September 2015 M
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
........
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
iii
iv
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Daftar Isi
BRM 01/2015-2020/September 2015
Pengantar ............................................................................................... iii
Daftar Isi ................................................................................................. v
SK PP Muhammadiyah tentang Tanfidz Keputusan
Muktamar Muhammadiyah ke-47 ............................................... 1
Instruksi .................................................................................................. 6
Lampiran 1 Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-47
PROGRAM MUHAMMADIYAH 2015-2020
(VISI MUHAMMADIYAH 2020)........................................................ 8
Bab I: GAMBARAN UMUM PROGRAM........................................ 8
A.Pendahuluan........................................................................ 8
B.Tujuan..................................................................................... 13
C. Prioritas Pengembangan................................................. 13
D. Ciri Pengembangan.......................................................... 14
E. Program Umum 2015-2020......................................... 16
F. Program Perbidang 2015-2020.................................... 27
Bab II: PENGORGANISASIAN DAN PELAKSANAAN
PROGRAM............................................................................................... 49
A. Prinsip Pengorganisasian dan Pelaksanaan............. 49
B. Pengorganisasian dan Penjabaran Program
di Tingkat Wilayah............................................................. 50
C. Pengorganisasian dan Penjabaran Program
di Tingkat Daerah.............................................................. 51
D. Pengorganisasian dan Penjabaran Program
di Tingkat Cabang............................................................. 51
E. Pengorganisasian dan Penjabaran Program
di Tingkat Ranting............................................................. 52
F. Pengorganisasian dan Penjabaran Program Oleh
Ortom Persyarikatan......................................................... 53
G. Pelaksanaan Program Oleh Majelis dan Lembaga 53
H. Pelaksanaan Program Oleh Amal Usaha.................. 54
Bab III: KHATIMAH............................................................................... 56
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
v
Lampiran 2 Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-47
NEGARA PANCASILA SEBAGAI DÂR AL-AHDI WA
AL-SYAHÂDAH...................................................................................... 58
A.Muqaddimah....................................................................... 58
B. Pembentukan Negara Indonesia................................. 59
C. Peran Strategis Muhammadiyah.................................. 63
D. Kedudukan Negara Pancasila....................................... 67
E. Proyeksi ke Depan............................................................. 71
Lampiran 3 Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-47
MODEL DAKWAH PENCERAHAN BERBASIS KOMUNITAS .. 74
A. Pendahuluan........................................................................ 74
B. Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas................. 78
C. Dakwah Bagi Komunitas Kelas Atas........................... 85
D. Dakwah Bagi Komunitas Kelas Menengah.............. 91
E. Dakwah Bagi Komunitas Kelas Bawah....................... 94
F. Dakwah Bagi Kalangan Kelompok Marjinal............ 97
G. Dakwah Bagi Komunitas Virtual................................... 101
H. Dakwah Bagi Komunitas Khusus................................. 105
I. Khatimah............................................................................... 110
Lampiran 4 Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-47
MUHAMMADIYAH DAN ISU-ISU STRATEGIS KEUMATAN,
KEBANGSAAN, DAN KEMANUSIAAN UNIVERSAL.................. 112
A. Isu-Isu Keumatan............................................................... 112
B. Isu-Isu Kebangsaan........................................................... 117
C. Isu-Isu Kemanusiaan Universal..................................... 126
SUPLEMEN:
Transkrip Pidato Muktamar Muhammadiyah ke-47............... 131
vi
BRM 01/SEPTEMBER 2015
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
SURAT KEPUTUSAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
NOMOR 123/KEP/I.0/B/2015
TENTANG:
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH:
Membaca : Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang
diselenggarakan pada tanggal 18-22 Syawal 1436
H bertepatan dengan 3-7 Agustus 2015 M di Kota
Makassar;
Menimbang: a. bahwa Keputusan Muktamar Muhammadiyah
ke-47 telah diambil secara sah sesuai ketentuan
yang diatur dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah;
b. bahwa agar Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 dapat segera dilaksanakan perlu segera ditanfidzkan dengan surat keputusan;
Mengingat : 1. Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 11, 22,
34, dan 41;
2. Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah
Pasal 10, 15, 21, dan 30;
Berdasar
: Pembahasan dan keputusan Rapat Pleno Pimpinan
Pusat Muhammadiyah tanggal 18 Agustus 2015 di
Yogyakarta;
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
1
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: KEPUTUSAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
TENTANG TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR
MUHAMMADIYAH KE-47
Pertama : Mentanfidzkan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang diselenggarakan pada tanggal 1822 Syawal 1436 H bertepatan dengan 3-7 Agustus
2015 M di Kota Makassar sebagaimana tersebut
dalam lampiran surat keputusan ini.
Kedua
:
Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47
menjadi ketetapan yang harus dilaksanakan
sebagaimana mestinya serta menjadi pedoman
dan rujukan dalam pengambilan kebijakan dan
pelaksanaan kegiatan di tingkat Pusat, Wilayah,
Daerah, Cabang, dan Ranting, kecuali keputusan
yang memerlukan tindak lanjut akan disusun dalam
aturan tersendiri.
Ketiga
:
Keputusan ini
ditetapkan.
mulai
berlaku
pada
tanggal
Ditetapkan di : Yogyakarta
Pada tanggal : 03 Zulqa’dah 1436 H
18 Agustus 2015 M
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
Ketua Umum,
Sekretaris Umum,
Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed.
NBM. 545549NBM. 750178
2
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Lampiran Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Nomor :123/KEP/I.0/B/2015, tanggal 03 Zulqa’dah 1436 H/18
Agustus 2015 M
Tentang : Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47
KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang diselenggarakan pada
tanggal 18-22 Syawal 1436 H bertepatan dengan 3-7 Agustus 2015
M bertempat di Kota Makassar, setelah menyimak dan mencermati
dengan seksama:
1. Sambutan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo
pada upacara Pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke-47
di Stadion Karebosi Makassar;
2. Sambutan Wakil Presiden Republik Indonesia Dr. (HC). H. M.
Jusuf Kalla pada Penutupan Muktamar Muhammadiyah ke-47.
3. Sambutan Gubernur Sulawesi Selatan Dr. H. Syahrul Yasin
Limpo, S.H., M.Si., M.H;
4. Pidato Iftitah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, M.A.;
5. Laporan Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2010-2015
yang disampaikan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat
Muhammadiyah, Dr. H. Agung Danarto, M.Ag.;
6. Rancangan Program Muhammadiyah Periode 2015-2020 yang
disampaikan oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.;
7. Prasaran tentang tentang Negara Pancasila sebagai Dâr Al-Ahdi
Wa Al-Syahâdah yang disampaikan oleh Dr. H. Haedar Nashir,
M.Si. dan Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.;
8. Prasaran tentang Model Dakwah Pencerahan Berbasis
Komunitas yang disampaikan oleh Prof. Dr. Syafiq A. Mughni
dan Dra. Hj. Siti Noorjannah Djohantini, M.Si., M.M.;
9. Prasaran tentang Muhammadiyah dan Isu-isu Strategis
Keumatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Universal yang
disampaikan oleh Dr. H. Abdul Mu`ti, M.Ed.;
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
3
10. Prasaran Dialog Kebangsaan tentang Gerakan Pencerahan
Menuju Indonesia Berkemajuan yang disampaikan oleh Prof.
Dr. H. M. Amien Rais, M.A., Prof. Dr. H. A. Syafii Maarif, dan Prof.
Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc.;
11.Hasil pemilihan Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah
periode 2015 – 2020 yang disampaikan oleh ketua Panitia
Pemilihan Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum;
12. Tanggapan, pendapat, pembahasan, saran dan usul-usul peserta
Muktamar yang disampaikan dalam Sidang Pleno dan Sidang
Komisi;
MEMUTUSKAN:
I.
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH PERIODE 2015 - 2020
A. Mengesahkan hasil pemilihan Anggota Pimpinan Pusat
Muhammadiyah periode 2015 - 2020 sebanyak 13 orang
dari hasil pemilihan 39 calon yang diajukan oleh Tanwir,
sesuai urutan perolehan suara, sebagai berikut:
1. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si
1947
2. Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.
1928
3. Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum.
1827
4. Dr. H. M. Busyro Muqoddas, SH., M.Hum. 1811
5. Dr. H. Abdul Mu`ti, M.Ed.
1802
6. Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag. 1436
7. Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P.
1279
8. Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni
1198
9. Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si.
1146
10. Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd.
1051
11. Dr. H. Agung Danarto, M.Ag.
1049
12. Drs. H. M. Goodwill Zubir
1085
13. Drs. H. Hajriyanto Y. Thohari, M.A. 968
B. Menetapkan Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. sebagai Ketua Umum
Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015 – 2020.
C.Mengumumkan Dr. H. Abdul Mu`ti, M.Ed. sebagai Sekretaris
Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015 –
2020.
4
BRM 01/SEPTEMBER 2015
II. LAPORAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH PERIODE
2010-2015
Menerima Laporan Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode
2010-2015 dengan beberapa catatan.
III. PROGRAM MUHAMMADIYAH PERIODE 2015-2020
Mengesahkan Rancangan Program Muhammadiyah Periode
2015-2020 menjadi Program Muhammadiyah Periode 20152020 sebagaimana tersebut pada lampiran 1.
IV. NEGARA PANCASILA SEBAGAI DÂR AL-AHDI WA ALSYAHÂDAH
Menerima Prasaran tentang Negara Pancasila sebagai Dâr AlAhdi Wa Al-Syahâdah sebagaimana tersebut pada lampiran 2.
V. MODEL DAKWAH PENCERAHAN BERBASIS KOMUNITAS
Menerima Prasaran tentang Model Dakwah Pencerahan
Berbasis Komunitas sebagaimana tersebut pada lampiran 3.
VI. MUHAMMADIYAH DAN ISU-ISU STRATEGIS
Menerima Prasaran tentang Muhammadiyah dan Isu-isu
Strategis Keumatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Universal
sebagaimana tersebut pada lampiran 4.
Makassar , 22 Syawal 1436 H
07 Agustus 2015 M
Pimpinan Sidang,
Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
5
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADYAH
INTRUKSI PIMPINAN PUSAT MUHAMMADYAH
NOMOR: 06/INS/I.0/B/2015
TENTANG:
PELAKSANAAN KEPUTUSAN PIMPINAN PUSAT
MUHAMMADIYAH
NOMOR 123/KEP/I.0/B/2015
TENTANG TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH
KE-47
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH:
Menimbang
:Bahwa dalam rangka pelaksanaan Keputusan
Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 123/KEP/
I.0/B/2015 tentang Tanfidz Keputusan Muktamar
Muhammadiyah ke-47 maka perlu mengeluarkan
instruksi pelaksanaannya;
Mengingat : 1. Anggaran Dasar Pasal 11 ayat (1);
2. Anggaran Rumah Tangga Pasal 10 ayat (1);
MENGINSTRUKSIKAN:
Kepada
: 1. Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan
Cabang, dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah
seluruh Indonesia;
2. Pimpinan Majelis, Lembaga, Badan, dan Biro
tingkat Pusat;
3. Pimpinan Organisasi Otonom Muhammadiyah
tingkat Pusat;
6
BRM 01/SEPTEMBER 2015
UNTUK:
Pertama
: Melaksanakan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang sudah ditanfidzkan oleh Pimpinan
Pusat Muhammadiyah dengan Surat Keputusan
nomor 123/KEP/I.0/B/2015 tanggal 03 Zulqa’dah
1436 H/18 Agustus 2015 M sesuai dengan tugas
dan fungsinya masing-masing.
Kedua
: Memberikan bimbingan, petunjuk, melakukan
koordinasi dan monitoring terhadap pelaksanaan
instruksi ini serta melaporkan hasilnya, sesuai
dengan jalur hierarchis masing-masing yang telah
ditentukan.
Ketiga
: Melaksanakan instruksi ini dengan sebaik-baiknya
dan penuh tanggung jawab mulai tanggal
ditetapkan.
Ditetapkan di : Yogyakarta
Pada tanggal : 19 Zulhijjah 1436 H
02 Oktober 2015 M
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
Ketua Umum,
Sekretaris Umum,
Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed.
NBM. 545549NBM. 750178
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
7
Lampiran 1
Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47
PROGRAM MUHAMMADIYAH 2015-2020
(VISI MUHAMMADIYAH 2020)
BAB I
GAMBARAN UMUM PROGRAM
A.PENDAHULUAN
Program Muhammadiyah 2015-2020 merupakan penjabaran
dan pemfokusan program jangka panjang untuk lima tahun ketiga
masa berlakunya program jangka panjang ke dalam program jangka
menengah dalam periode dimaksud. Dengan demikian, Program
Muhammadiyah 2015-2020 disesuaikan dengan penahapan
program sebagaimana dicantumkan dalam program jangka panjang
sesuai dengan masalah, konteks, dan visi pengembangan yang akan
dicapai pada periode tersebut.
Pada program lima tahunan sebagaimana program jangka
panjang ditetapkan dua aspek yaitu visi pengembangan dan
program pengembangan. Visi pengembangan adalah kondisi
atau keadaan yang ingin diwujudkan sebagai tujuan khusus dari
setiap program Muhammadiyah. Adapun program pengembangan
yakni rencana kegiatan yang akan dilaksanakan melalui jenis-jenis
kegiatan dari program Muhammadiyah tersebut. Melalui program
pengembangan terjadi proses kesinambungan dan penekanan atau
pemfokusan sesuai dengan target yang ingin diwujudkan.
Program Muhammadiyah dikategorisasikan ke dalam dua
aspek yaitu program umum dan program perbidang. Program
umum merupakan rangkaian kegiatan yang bersifat lintas aspek
dan lintas majelis/lembaga yang koordinasinya langsung oleh
Persyarikatan atau Majelis/Lembaga tertentu atau badan lain yang
dimandati Pimpinan Persyarikatan untuk menjadi koordinator
dalam pelaksanaan program tersebut. Adapun program perbidang
merupakan rencana kegiatan yang bersifat aspek tertentu yang
pelaksanaannya di bawah Majelis/Lembaga tertentu.
8
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Dalam kerangka kebijakan program jangka panjang disebutkan
bahwa kebijakan program Muhammadiyah pada lima tahun
ketiga (2015-2020) difokuskan pada tahap pengembangan
dengan visi atau tujuan jangka menengah sebagai berikut: (1)
Terciptanya transformasi (perubahan cepat ke arah kemajuan) sistem
organisasi dan jaringan yang maju, profesional, dan modern; (2)
Berkembangnya sistem gerakan dan amal usaha yang berkualitas
utama dan mandiri bagi terciptanya kondisi dan faktor-faktor
pendukung terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya;
serta (3) Berkembangnya peran strategis Muhammadiyah dalam
kehidupan umat, bangsa, dan dinamika global.
Dalam penentuan program lima tahun ke depan dipertimbangkan
konteks komdisi dan permasalahan yang berkembang dan dihadapi
Muhammadiyah sebagai salah satu yang menjadi pijakan. Dalam
lima tahun terakhir diakui adanya masalah di lingkungan internal
maupun eksternal yang mendorong Muhammadiyah melakukan
sejumlah kebijakan yang di antaranya memerlukan kelanjutan
seperti gerakan jihad konstitusi,
pengembangan unit-unit
bisnis, perluasan amal usaha, dan langkah-langkah terobosan
lainnya. Perkembangan sosial politik, sosial ekonomi, dan sosial
budaya dalam kehidupan nasional maupun global yang semakin
kompleks dan dinamis meniscayakan Muhammadiyah melakukan
konsolidasi dan reaktualisasi peran gerakannya. Demikian halnya
dengan perkembangan oriantasi hidup masyarakat yang semakin
terbuka, bebas, dan menunjukkan banyak kecenderungan perilaku
sosial heterogen mendorong Muhammadiyah untuk merumuskan
pandangan dan langkah antisipatif, responsif, dan solutif. Lebih jauh
dengan semakin dinamisnya perkembangan kehidupan di ranah
lokal, nasional, dan global dalam berbagai aspeknya yang bersifat
kontemporer dan sangat kompleks menuntut Muhammadiyah
untuk menyusun program-program yang mampu mengantisipasi
dan memberikan jawaban aktual sejalan misi utama dakwah dan
tajdid dalam gerakannya.
Dalam lima tahun terakhir terdapat perkembangan positif dalam
usaha-usaha memajukan gerakan Muhammadiyah yang ditandai
oleh sejumlah terobosan amal usaha, program, dan kegiatan
yang disebut „model praksis gerakan“. Model praksis gerakan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
9
merupakann ikhtiar mempertajam dan mengembangkan berbagai
usaha (amal usaha, program, dan kegiatan) ke arah yang lebih baik,
berkualitas, dan berkeunggulan sehingga menjadi model yang dapat
diresplikasi di seluruh lingkungan Muhammadiyah sesuai dengan
kapasitas dan kreasi setempat. Model praksis gerakan dalam bentuk
program unggulan atau program yang direvitalisasikan diharapkan
mempunyai dampak strategis bagi kemajuan Muhammadiyah pada
setiap bidang dan tingkatan pimpinan Persyarikatan sesuai dengan
kapasitas dan kreasi masing-masing dalam satu kesatuan gerakan.
Pengembangan “Model Praksis Gerakan” depan sangat penting
atas beberapa alasan dan tujuan: (1) Pengalaman lapangan dan fakta
menunjukkan sejumlah kreasi gerakan atau program yang befsifat
unggul atau lebih maju di sejumlah bidang di pusat maupun wilayah,
daerah, cabang, dan ranting yang dapat dikembangkan dan menjadi
contoh praksis gerakan; (2) Pada setiap Muktamar diamanatkan
adanya prioritas program dengan sasaran, ciri pengembanganu,
dan visi strategis yang memerlukan fokus dan penngkatan kualitas
sehingga dihasilkan sejumlah kemajuan yang lebih optimal; (3)
Perkembangan Muhammadiyah yang maju, modern, profesional;
sistem gerakan dan organisasi yang ungggul; serta peran strategis
dalam kehidupan umat, bangsa, dan perkembangan global yang
menjadi visi Muhammadiyah lima tahu terakhir maupun ke depan
dapat dicapai antara lain jika terdapat titik-titik kemajuan yang
menonjol di bebagai bidang program yang signifikan.
Dalam kaitan dengan gerakan pencerahan yang menjadi
komitmen Muhammadiyah sebagaimana terkandung dalam
Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua, pengembangan
“Model Praksis Gerakan” secara umum dapat memperkuat proses
pengembangan strategi dari revitalisasi menuju transformasi,
yakni berkembangnya program dan langkah-langkah strategis
Muhammadiyah yang bersifat membebaskan, memberdayakan, dan
memajukan. Ketiga proses strategis tersebut merupakan perwujudan
dari gerakan pencerahan Muhammadiyah untuk kemajuan umat,
bangsa, dan dunia kemanusiaan universal.
Dalam menghadapi gerakan-gerakan lain pengembangan
“Model Praksis Gerakan” dapat meningkatkan keunggulan
komparasi dan kompetisi Muhammadiyah secara objektif dan
10
BRM 01/SEPTEMBER 2015
elegan. Kini makin berkembang berbagai usaha dan kegiatan di
berbagai bidang seperti lembaga pendidikan, kesehatan, pelayanan
sosial, pemberdayaan ekonomi, dan model-model dakwah atau misi
gerakan lain yang lebih maju dan diminati masyarakat luas. Banyak hal
yang dulu dipelopori Muhammadiyah kini dikembangkan pihak lain
yang boleh jadi jauh lebih baik dan kompetitif. Jika kecenderungan
tersebut tidak diantisipasi dan dihadapi Muhammadiyah dengan
usaha-usaha kreatif, inovatif, dan alternatif yang lebih unggul atau
kompetitif maka pelan tapi pasti Muhammadiyah akan ketinggalan
dan tidak tertutup kemungkinan ditinggalkan masyarakat.
Karenanya menjadi semakin penting dan strategis adanya
pengembangan “Model Praksis Gerakan” Muhammadiyah di
berbagai bidang yang harus disebarluaskan dan diwujudkan untuk
dijadikan pilihan utama pasca Muktamar Satu Abad itu. Semua pihak
dan potensi harus dikerahkan agar gerakan kreatif, inovatif, dan
alternatif itu mencapai keberhasilan khususnya dalam tiga tahun
ke depan. Keberhasilan pelaksanaan “Model Praksis Gerakan”
Muhammadiyah tersebut memerlukan mobilisasi faktor-faktor
berikut ini: (b) pendayagunaan seluruh potensi yang dimiliki oleh
persyarikatan, termasuk dukungan dari amal usaha Muhammadiyah;
(b) dukungan kepemimpinan yang benar-benar kolektif, proaktif,
terorganisasi, dinamis, dan dapat memimpin serta mengontrol
seluruh proses pelaksanaan; (c) mobilisasi dana dari dalam dan
luar secara lebih terprogram dan optimal; dan (d) komitmen dan
kesungguhan dari seluruh anggota Muhammadiyah, termasuk dari
para anggota pimpinannya.
Semangat kemandirian yang kini digelorakan dapat dijadikan
momentum untuk menyukseskan model-model praksis gerakan di
seuruh tingkatan pimpinan. Kemandirian harus ditunjukkan pada
penguatan pilar-pilar sistem gerakan, organisasi dan kepemimpinan,
jaringan, sumberdaya, serta aksi dan pelayanan yang benar-benar
nyata, optimal, unggul, dan berdampak langsung atau dapat
dibuktikan keberhasilannya bagi kemajuan Muhammadiyah.
Kemandirian harus ditunjukkan dengan mengerahkan segala
kemampuan dalam melakukan kerja-kerja konkret dan strategis
yang membangkitkan
kekuatan “indigeneous” (kekuatan dari
dalam) atau “inner dynamics” (dinamika inti) yang selama ini
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
11
dimiliki Muhammadiyah untuk melahirkan gelombang besar bagi
perubahan dan kemajuan Muhammadiyah. Kemandirian juga dapat
dioptimalkan dengan menggalang jaringan, sinergi, dan kerjasama
dengan semua pihak baik di dalam maupun ke luar lingkungan
Persyarikatan termasuk pemerintah di setiap tingkatan dengan sikap
cerdas, arif, dan bermartabat sesuai Kepribadian Muhammladiyah.
Dalam memobilisasi potensi dan menyukseskan “Model Praksis
Gerakan” peran pimpinan sangat menentukan. Segenap anggota
pimpinan di seluruh tingkatan harus mengerahkan segenap
kemampuan disertai komitmen, kebersamaan, konsistensi, dan
pengkhidmatan yang tinggi dalam menyukseskannya. Ukuran aktif
dan berhasilanya kepemimpinan justru terletak pada pencapaian
optimal amanah Muktamar, termasuk dalam melaksanakan program
dan mengembangkan “Model Praksis Gerakan”. Seluruh ikhtiar,
kemampuan, dan daya dukung dikerahkan secara optimal untuk
melaksanakan program dan menjalankan amanat Muktamar.
Dengan demikian fungsi kepemimpinan di setiap tingkatan benarbenar bekerja-nyata dan bergerak-nyata secara sejalan dengan
komitmen dalam menunaikan amanah sebagai wujud keikhlasan
dan pengkhidmatan yang selama ini menjadi spirit dan etos kerja
dalam memimpin Muammadiyah.
Dalam lima tahun terakhir secara umum terdapat sejumlah
“Model Praksis Gerakan” dari berbagai bidang yang dilakukan
Majeslis dan Lembaga maupun Pimpinan Persyarikatan di Pusat,
Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting yang selama ini telah
dilakukan perintisan dan pengembangan di seluruh Tanah Air.
Model “Praksis Gerakan” yang dikembangkan dalam sejumlah
bidang di berbagai lingkungan institusi Muhammadiyah tersebut
menunjukkan fakta atau bukti tentang beberapa “kisah sukses” atau
“model pengembangan” atau “model altematif” dalam gerakan
Muhammadiyah. Hal yang paling penting ialah terjadi dinamika yang
lebih bergairah dalam meningkatkan usaha di berbagai bidang yang
menjadi garapan Muhammadiyah sebagai model pengembangan
menuju praksis gerakan yang semakin maju dan berkeunggulan
dalam melakukan transformasi gerakan Muhammadiyah.
Berdasar pada dasar kebijakan, pemikiran, dan pengalaman
gerakan tersebut maka Muhammadiyah menyusun kerangka
12
BRM 01/SEPTEMBER 2015
program periode 2015-2020. Dalam periode lima tahun ke depan
sebagaimana pada periode 2010-2015 program perbidang
mengalami perubahan atau pengembangan, sehingga jenis program
perbidang tidak persis sama dengan bidang-bidang program jangka
panjang. Adapun kerangka kebijakan program periode 2015-2020
adalah sebagai berikut:
B.TUJUAN
a. Terciptanya transformasi (perubahan cepat ke arah
kemajuan) sistem organisasi dan jaringan yang maju,
profesional, dan modern.
b. Berkembangnya sistem gerakan dan amal usaha yang
berkualitas utama dan mandiri bagi terciptanya kondisi
dan faktor-faktor pendukung terwujudnya masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya.
c. Berkembangnya peran strategis Muhammadiyah dalam
kehidupan umat, bangsa, dan dinamika global.
C. PRIORITAS PENGEMBANGAN
Pada periode lima tahun ke depan (2015-2020) beberapa
program dijadikan prioritas sebagai program pengembangan
sebagai bagian dari strategi pengembangan untuk mencapai visi
Muhammadiyah 2020, yakni sebagai berikut:
1. Pengembangan kuantitas dan kualitas Cabang-Ranting sebagai
basis penguatan, pemberdayaan, dan perluasan gerakan
Muhammadiyah di akar-rumput sebagai bagian penting
dan strategis dalam mengembangkan kekuatan civil Islam
(masyarakat madani, civil society) di masyarakat.
2. Pengembangan sistem gerakan yang ditekankan pada
pengayaan dan penyebarluasan ideologi dan pemikiran yang
menjadi basis bagi pengembangan nilai-nilai keagamaan,
intelektualitas, dan praksis gerakan yang bersifat pembaruan
sebagai bagian penting dan strategis bagi pengembangan
tajdid Muhammadiyah untuk pencerahan masyarakat.
3. Pengembangan kualitas sumberdaya anggota dan kader
sebagai pelaku gerakan yang mampu mendinamisasi dan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
13
memperluas peran strategis Muhammadiyah dalam dinamika
kehidupan umat, bangsa, dan percaturan global.
4. Pengembangan amal usaha dan praksis sosial Muhammadiyah
yang unggul dengan mengintensifkan dan memperluas
program ekonomi, pemberdayaan masyararakat, dan gerakan
jama’ah sebagai basis kemandirian dan kekuatan strategis
Muhammadiyah.
5. Pengembangan model gerakan pencerahan Muhammadiyah ke
dalam program berbasis komunitas yang bersifat membebaskan,
memberdayakan, dan memajukan bagi kehidupan umat,
bangsa, dan kemanusiaan universal.
6. Pengembangan peran strategis Muhammadiyah dalam
kehidupan bangsa dan negara serta percaturan global yang
berbasis pada prinsip, kepribadian, kemandirian, keseimbangan,
dan kemaslahatan sesuai misi utama Muhammasiyah.
D. CIRI PENGEMBANGAN
Dalam penyusunan program periode 2015-2020 ditetepkan
ciri pengembangan yang mengandung aspek-aspek tertentu yang
penting, strategis, dan memiliki pengaruh yang menentukan serta
harus diwujudkan secara terukur dalam gerakan Muhammadiyah.
Ciri pengembangan tersebut harus tercermin dalam setiap program,
baik program umum maupun perbidang, yang penjabarannya
disusun dalam kerangka kebijakan program dalam bentuk kegiatankegiatan yang dapat diukur keberhasilannya. Adapun ciri-ciri
pengembangan program Muhammadiyah tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Sistem Gerakan
Hal yang berkaitan dengan aspek-aspek nilai, konsep, dan
pemikiran yang berkaitan dengan hal-hal mendasar dalam
gerakan Muhammadiyah.
a. Berkembangnya sistem gerakan Muhammadiyah yang
maju, profesional, modern, dan mencerahkan.
b. Berkembangnya sistem gerakan Muhammadiyah yang
dilandasi keikhlasan, komitmen, militansi, dan kebersamaan
dari seluruh anggotanya.
c. Berkembangnya pemahaman dan aktualisasi ideologi
14
BRM 01/SEPTEMBER 2015
serta visi gerakan Muhammadiyah dalam seluruh struktur
Persyarikatan.
2. Organisasi dan Kepemimpinan
Hal yang berkaitan dengan kelembagaan dan kekuatan
penggerak dalam Muhammadiyah.
a.
Berkembangnya
sistem
manajemen
organisasi
Muhammadiyah yang dinamis dan produktif.
b. Berkembangnya sistem kepemimpinan kolektif-kolegial
yang transformatif yang mampu memberikan keteladanan,
memobilisasi potensi, memproyeksikan masa depan,
mengagendakan perubahan, dan menggerakkan kegiatan
di seluruh lini Persyarikatan.
c. Berkembangnya dinamika organisasi dan kepemimpinan
Daerah, Cabang, dan Ranting sebagai basis gerakan di
tingkat bawah.
d.Berkembangnya fungsi organisasi yang bercorak
gerakan antara lain yang beraasas potensial, responsif,
dan desentralisasi sejalan dengan prinsip gerakan
Muhammadiyah yang bersifat kesatuan (Persyarikatan).
3.Jaringan
Hal yang berkaitan dengan hubungan internal dan eksternal
Muhammadiyah.
a. Berkembangnya peran dan jaringan keumatan, kebangsaan,
dan kemanusiaan universal sejalan dengan prinsip, misi,
kapasitas, dan kepentingam Persyarikatan.
b. Berkembangnua dan meluasnya jaringan amal usaha,
kegiatan, dan perangkat Persyarikatan yang bersifat
sinergitas dan dinamis.
c. Menguatnya hubungan dan kerjasama internasional
sesuai dengan prinsip, misi, kapasitas, dan kepentingan
Persyarikatan.
4.Sumberdaya
Hal yang berkaitan dengan aspek pendukung dan pelaku
gerakan Muhammadiyah.
a.Berkembangnya pembinaan, pengembangan, dan
pemberdayaan anggota Muhammadiyah sebagai subjek
gerakan secara konsisten, dinamis, dan berkelanjutan.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
15
b.Berkembangnya sistem kaderisasi dan regenerasi
dalam Muhammadiyah secara konsisten, dinamis, dan
berkelanjutan.
c. Berkembangnya jumlah simpatisan sebagai basis rekrutmen
anggota Muhammadiyah.
d. Berkembangnya sistem pengelolaan sumber-sumber dana,
harta kekayaan, dan aset Persyarikatan secara transparan,
akuntabel, dan bertatakelola baik sesuai peinsip dan
ketentuan Persyarikatan.
5. Aksi dan Pelayanan
Hal yang berkaitan dengan aktivitas secara langsung dan
dapat dinikmati hasilnya oleh anggota Muhammadiyah dan
masyarakat luas.
a. Berkembangnya kualitas, sinergitas, dan perluasan amal
usaha, program, dan kegiatan Muhammadiyah yang
berkeunggulan dan mampu memperkuat kemandirian
Pesyarikatan.
b. Berkembangnya pelayanan publik melalui amal usaha,
program, dan kegiatan Muhammadiyah yang berkualitas
unggul.
c. Berkembangnya praksis dan fungsi advokasi yang
bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan
kehidupan masyarakat dalam gerakan Muhammadiyah.
d. Berkembangnya peran strategis keumatan, kebangsaan,
dan kemanusiaan unuversal yang bersifat pencerahan
menuju kehidupan berkemajuan di segala bidang
kehidupan dalam kedudukan Persyarikatan sebagai Islamic
Civil Society atau kekuatan Masyarakat Madani yang
sejalan dengan Kepribadian dan Khittah Muhammadiyah.
E. PROGRAM UMUM 2015-2020
1. Konsolidasi Ideologis
1.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya prinsip-prinsip, idealisme, dan konsepkonsep dasar gerakan yang menunjukkan keunggulan
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan
serta berperan aktif dalam dinamika kehidupan komunitas16
BRM 01/SEPTEMBER 2015
komunitas keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan
global.
1.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan.
1. Menyusun dan memproduksi konsep-konsep/
pemikiran-pemikiran strategis dalam menghadapi isu-isu, masalah, dan tantangan umat, bangsa, dan kemanusiaan global sebagai bingkai
dan acuan konseptual bagi seluruh institusi dan
anggota Muhammadiyah dalam menghadapi
perkembangan zaman.
2. Meningkatkan dan mengembangkan model-model pembinaan jama’ah di komunitas-komunitas
dan kelompok dhuafa-mustad’afin, serta peran
Muhammadiyah di akar-rumput.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Mengembangkan Ideopolitor (ideologi, politik,
dan organisasi), up-grading, refreshing,
dan
pengajian-pengajian atau kajian-kajian pimpinan
yang diselenggarakan di semua lini organisasi untuk
meningkatkan komitmen, wawasan, dan aksi gerakan
Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai
tantangan yang kompleks.
c.Jaringan
Meningkatkan upaya-upaya pengorganisasian dan
penyebaran kader Muhammadiyah dalam lembagalembaga strategis nasional dan internasional untuk
memerankan fungsi pencerahan, pembebasan,
pemberdayaan, dan pengembangan tatanan
kehidupan yang utama.
d. Sumber Daya
Memprioritaskan pembinaan dan pengembangan
sekolah-sekolah kader (Madrasah Mu’allimin,
Mu’allimat, Pondok Pesantren), organisasi otonom,
dan lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah
sebagai pusat pembibitan kader Muhammadiyah
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
17
bekerjasama dengan Majelis/Lembaga/Badan terkait
di seluruh lingkungan Persyarikatan.
e. Aksi Pelayanan
1. Mengintensifkan pembinaan ideologi di seluruh lingkungan organisasi termasuk di amal
usaha, majelis/lembaga, dan organisasi otonom Muhammadiyah melalui berbagai usaha
yang terintegrasi sehingga prinsip, visi, dan misi
Muhammadiyah teraktualisasi dalam aktivitas
gerakan.
2. Mengintensifkan dan memasyarakatkan Manhaj
Gerakan Muhammadiyah (Muqaddimah, Kepribadian, Khittah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita
Hidup, Pedoman Hidup Islami, dan lain-lain) sebagai sumber inspirasi, acuan, dan tuntunan dalam seluruh lingkungan organisasi dan anggota
Persyarikatan.
3. Menyebarkan pandangan Muhammadiyah tentang Negara Pancasila, Wawasan Keumatan,
Kebangsaan, dan Kemanusiaan Universal.
2. Konsolidasi Kelembagaan
2.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya kualitas kelembagaan dan tata kelola
organisasi yang menunjukkan keunggulan Muhammadiyah
sebagai gerakan Islam yang berkemajuan serta berperan
aktif dalam dinamika kehidupan komunitas-komunitas
keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan global.
2.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
1.Mengembangkan model-model Dakwah Komunitas yang dipadukan dengan program Keluarga
Sakinah dan Qoryah Thayyibah yang diselenggarakan ‘Aisyiyah.
2.Membangun basis data (data base) persyarikatan
yang komprehensif dan terupdate, guna mengembangkan peta dakwah yang lengkap dan akurat.
18
BRM 01/SEPTEMBER 2015
3.Menyempurnakan model, pedoman, dan tuntunan sistem tatakelola organisasi dan keuangan
yang terpadu di seluruh lingkungan organisasi
Muhammadiyah.
4. Mengembangkan sistem perencanaan dan penganggaran yang yang terkoordinasi dan terkonsolidasi antara persyarikatan, Ortom, dan AUM.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
1. Meningkatkan kapasitas organisasi dan kepemimpinan yang lebih efektif, yang menyeimbangkan antara peran figur pemimpin dan kinerja
sistem.
2. Membangun tata kelola dan kinerja organisasi
yang efektif, efisien dan akuntabel, dengan menitikberatkan perhatian pada upaya fungsionalisasi seluruh jajaran organisasi, sehingga Muhammadiyah menjadi organisasi yang unggul
dan berdaya saing.
3. Meningkatkan kordinasi dan komunikasi pimpinan Persyarikatan dengan organisasi otonom dan
AUM di berbagai tingkatan yang bersifat reguler.
4. Mengintensifkan penerapkan sistem tatakelola
organisasi dan tatakelola keuangan di seluruh
tingkatan pimpinan dan amal usaha yang berdasarkan pada prinsip amanah, kejujuran, keterbukaan, dan tersistem.
5. Mengintensifkan penerapkan sistem pengawasan
dan pembinaan keuangan termasuk pelaporan
yang terstandar dan reguler di seluruh tingkatan
pimpinan persyarikatan, amal usaha, dan institusi-institusi Muhammadiyah.
6. Adanya lembaga/Majelis yang secara khusus
menangani pembinaan dan pengembangan Pesantren Muhammadiyah.
7. Memberikan kesempatan kepada mantan Pimpinan dan Sesepuh, untuk berperan dalam akti-
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
19
vitas persyarikatan seperti Korps Mubaligh, Korps
Instruktur, Lajnah Tarjih, dan sejenisnya.
c.Jaringan
1. Mengintensifkan pembinaan Cabang dan Ranting
berbasis pemetaan yang akurat, sebagai prioritas
penting sehingga dalam masa kerja 2015-2020
dengan target tercapai 40% Desa/Kelurahan telah
berdiri Ranting Muhammadiyah dan 70% Kecamatan telah berdiri Cabang Muhammadiyah.
2. Meningkatkan pembentukan Cabang Istimewa
Muhammadiyah yang berbasis perhimpunan,
guna membuka peluang bagi Muhammadiyah
untuk menyebarluaskan pandangan dan praksis
Islam berkemajuan di negara-negara lain.
3. Meningkatkan koordinasi, komunikasi, dan kunjungan ke bawah (wilayah/daerah/cabang/-ranting) sebagai prioritas program pimpinan di berbagai tingkatan.
d. Sumber Daya
Mengefektifkan pendataan, kepemilikan dan tata
kelola masjid, mushalla, dan aset-aset lain milik
Muhammadiyah sebagai basis gerakan di komunitas
dan akar-rumput.
e. Aksi Pelayanan
Memperkuat organisasi Muhammadiyah sebagai
basis gerakan kultural yang menjangkau segenap
komunitas dan lapisan masyarakat dengan komitmen
keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan yang kuat
dan konsisten.
3. Peningkatan Kualitas Pimpinan
3.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya kualitas, kapasitas, kinerja, dan
akuntabilitas pimpinan persyarikatan di berbagai
tingkatan dalam meningkatkan kinerja dan kontribusi
yang menunjukkan keunggulan Muhammadiyah sebagai
gerakan Islam berkemajuan serta berperan aktif dalam
20
BRM 01/SEPTEMBER 2015
dinamika kehidupan komunitas-komunitas keummatan,
kebangsaan, dan kemanusiaan global yang sejalan prinsip,
Kepribadian, Khittah, dan kapasitas Persyarikatan.
3.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
1. Mengembangkan model-model rekrutmen kepemimpinan Persyarikatan, Ortom, dan AUM
yang proaktif guna menjaring potensi SDM di
lingkungan persyarikatan.
2. Mengembangkan model-model penempatan/
pembidangan/penugasan pimpinan di lingkungan Persyarikatan, Ortom, dan AUM, berbasis kapasitas dan komitmen ideologis.
3. Mengembangkan model-model pembinaan/pengembangan karakter yang mendorong peningkatan kreativitas, kinerja, dan komitmen pimpinan
di jajaran Persyarikatan, Ortom, dan AUM.
4. Mengembangkan model-model pengawasan dan
evaluasi kinerja kepemimpinan di jajaran Persyarikatan, Ortom, dan AUM yang transparan, adil,
dan akutable.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
1. Mengembangkan sistem dan mekanisme kerjasama, koordinasi dan komunikasi organisasi yang
mendorong sinergi kinerja antar pimpinan pada
unit organisasi di lingkungan persyarikatan.
2. Mengembangkan sistem dan mekanisme kerjasama, koordinasi, dan komunikasi antar pimpinan
di jajaran Persyarikatan, Ortom, dan AUM, dalam
mengembangkan dan menjalankan programprogram lintas-sektor.
c.Jaringan
1. Mengembangkan forum-forum silaturrahmi pimpinan di jajaran Persyarikatan, Ortom, dan AUM
guna membangun ukhuwah dan semangat gerakan.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
21
2. Mendorong dan memfasilitas partisipasi aktif
pimpinan di lingkungan Persyarikatan, Ortom,
dan AUM dalam organisasi dan asosiasi profesional yang bermanfaat bagi perkembangan
Muhammadiyah.
d. Sumber Daya
Mendorong dan menataa regenerasi kepemimpinan
yang berbasis profesionalitas dan komitmen ideologis
guna menyegarkan kinerja organisasi di jajaran
Persyarikatan, Ortom, dan AUM.
e. Aksi Pelayanan
1. Mendorong dan memfasilitasi tampilnya para
pimpinan Persyarikatan, Ortom, dan AUM pada
forum-forum dan media-media nasional dan internasional sebagai perwujudan partisipasi dan
kontribusi Muhammadiyah dalam upaya membangun peradaban utama.
2. Mendorong fungsi kepemimpinan transformatif
yang menggerakkan Persyarikatan.
4. Pemberdayaan Keluarga dan Komunitas
4.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya kualitas kehidupan keluarga berdasarkan
prinsip keluarga sakinah untuk menopang kehidupan
komunitas-komunitas dan kehidupan bermasyarakat,
sebagai wujud keberhasilan dakwah Muhammadiyah
sebagai gerakan Islam berkemajuan dalam dinamika
kehidupan komunitas-komunitas keummatan, kebangsaan,
dan kemanusiaan global.
4.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
1. Meningkatkan usaha-usaha pembinaan keluarga sakinah disertai penyebarluasan tuntunantuntunan praktis di linkungan keluarga-keluarga
Muhammadiyah maupun masyarakat sebagaimana dituntunkan oleh Tarjih dan pengembangan
model keluarga sakinah yang disusun Aisyiyah
22
BRM 01/SEPTEMBER 2015
sebagai bentuk keteladanan yang baik (uswah
hasanah) dari model kehidupan keluarga dalam
masyarakat.
2. Meningkatkan model-model bimbingan-konseling, advokasi, dan crisis-center dalam memecahkan masalah-masalah keluarga, baik di lingkungan Muhammadiyah, di komunitas-komunitas, maupun masyarakat, yang menggunakan
pendekatan dakwah.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
1. Mendorong partisipasi proaktif PRM/PRA dalam
mensosialisasikan dan mengkoordinasikan program Keluarga Sakinah dan Qaryah Thayibah.
2. Mendorong pembentukan relawan dari lingkungan PRM dan PRA untuk program advokasi dan
konseling keluarga sakinah di komunitas-komunitas dan lingkungan masyarakat.
c.Jaringan
Membangun kerjasama, koalisi, dan sharing
pengalaman antara komunitas dan relawan program
Keluarga Sakinah Muhammadiyah dengan organisasi
dan kelompok pemberdayaan keluarga di tempat lain
melalui pendekatan dakwah.
d. Sumber Daya
1. Meningkatkan pembinaan kualitas kesehatan
dan kesejahteraan keluarga termasuk kesehatan
reproduksi terutama di lingkungan masyarakat
yang dhu’afa melalui berbagai kegiatan sebagai
bagian terpadu dari pengembangan kehidupan
Keluarga Sakinah, Qoryah Thayyibah, serta Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah.
2. Meningkatkan gerakan budaya membaca di lingkungan keluarga sebagai basis dari masyarakat
pembelajaran menuju kehidupan keluarga yang
cerdas menuju pencerdasan kehidupan bangsa.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
23
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan gerakan Keluarga Sakinah sebagai
basis pengembangan komunitas sebagaimana
dikembangkan oleh Aisyiyah.
5. Partisipasi Kebangsaan dan Kemanusiaan Universal
5.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya peran-peran strategis Muhammadiyah
sebagai gerakan dakwah Islam berkemajuan dalam
mewarnai kebijakan negara dan pemerintah dalam isuisu kebangsaan dan kemanusiaan universal sebagai
perwujudan dakwah ammar ma’ruf dan nahi munkar
sesuai prinsip, Kepribadian, Khittah, dan kapasitas
Muhammadiyah.
5.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
1. Meningkatkan perhatian, kepedulian, dan penyikapan terhadap persoalan-persoalan aktual
dan krusial yang menyangkut hajat hidup publik, termasuk kepentingan umat Islam, sebagai
bentuk keterlibatan aktif Muhammadiyah dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
2. Mengembangkan model-model bagi partisipasi
komponen persyarikatan dan mewarnai kebijakan
publik, baik melalui jalur konstitusi, media massa,
maupun aksi-aksi lain yang efektif, berakhlaq, dan
bermartabat sesuai ciri dan Kepribadian Muhammadiyah.
b. Organisasi Dan Kepemimpinan
Memperkuat posisi dan peran Muhammadiyah
sebagai organisasi Islam modern terbesar dalam
dinamika nasional dan global melalui berbegai
keterlibatan yang strategis, selektif, dan produktif
dengan tetap mengindahkan prinsip kemandirian dan
sejalan Khittah serta Kepribadian Muhammadiyah.
c.Jaringan
1. Meningkatkan komunikasi, hubungan, dan ker24
BRM 01/SEPTEMBER 2015
jasama secara proaktif dengan berbagai lembaga negara/pemerintahan baik dengan eksekutif, legislatif, yudikatif maupun institusi-institusi
negara/pemerintahan lainnya dalam usaha mengembangkan misi Muhammadiyah.
2. Meningkatkan prakarsa dan forum lintas dengan
komponen bangsa yang lain dalam usaha memperkuat posisi kekuatan masyarakat madani (civil
society) untuk memperjuangkan aspirasi rakyat
terhadap pemerintah atau lembaga-lembaga
negara lainnya sesuai dengan prinsip dakwah
amar ma’ruf dan nahi munkar yang dilaksanakan
Muhammadiyah.
3. Meningkatkan prakarsa dan komunikasi khusus
dengan organisasi-organisasi Islam dalam usaha
memperkuat ukhuwah dan kepemimpinan umat
Islam, menyelesaikan masalah-masalah krusial
dan strategis, serta untuk memperjuangkan aspirasi umat Islam sebagai penduduk mayoritas
dalam peran kehidupan berbangsa dan negara.
d. Sumber Daya
Mendorong dan memfasilitasi partisipasi PCM dan
PRM dalam pembangunan dan pemberdayaan
komunitas dan kelompok dhuafa-mustadhafin dengan
pendekatan dakwah Islam berkemajuan, bersinergi
dengan jajaran Ortom dan AUM.
e. Aksi Pelayanan
Mengintensifkan dan mengkosolidasikan peranperan persyarikatan dalam kerja-kerja kemanusiaan
internasional, baik di kawasan ASEAN, di kawasan dunia
Islam maupun kawasan internasional secara umum
dengan pendekatan dakwah Islam berkemajuan.
6. Pengembangan Kemitraan
6.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya kualitas dan intensitas hubungan
kelembagaan yang menunjukkan peran strategis dan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
25
keterlibatan proaktif Muhammadiyah sebagai gerakan
Islam dalam dinamika kehidupan komunitas-komunitas
keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan global sesuai
prinsip, Kepribadian, Khittah, dan kapasitas Persyarikatan.
6.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan dan mengkonsolidasikan konsep
dan model kerjasama ideologis, programmatis,
maupun strategis dengan berbagai komponen
keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan global guna
mendorong peran proaktif Muhammadiyah dalam
menggerakkan dakwah Islam berkemajuan.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Meningkatkan partisipasi aktif Muhammadiyah dalam
berbagai forum regional maupun internasional,
termasuk dengan Cabang Istimewa Muhammadiyah
dan mengembangkan jaringan dengan organisasi
sepaham/serumpun di luar negeri sebagai media
mengembangkan Islam yang berkemajuan.
c.Jaringan
1. Meningkatkan komunikasi, jaringan, dan kerjasama dengan organsasi-organisasi Islam, organisasi
kemasyarakatan, dan kekuatan-kekuatan strategis baik nasional maupun dunia internasional
dalam ikhtiar membangun tatanan kehidupan
yang damai, maju, adil, makmur, bermartabat,
dan berperadaban utama.
2. Mengembangkan kerjasama yang proaktif dan
harmonis yang saling menguntungkan dengan
berbagai instansi, baik pemerintah, maupun
swasta, serta dalam maupun luar negeri, untuk
mendukung gerak Persyarikatan.
3. Mengembangkan kerjasama dengan berbagai
pihak, baik dalam maupun luar negeri sesuai
dengan prinsip-prinsip gerakan Muhammadiyah,
dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan
umat Islam guna mengejar ketertinggalan dalam
26
BRM 01/SEPTEMBER 2015
berbagai bidang serta untuk meningkatkan peran
Muhammadiyah dan umat Islam secara lebih luas.
d. Sumber Daya
Mengembangkan pusat-pusat pendidikan dan
pelatihan guna mempersiapkan SDM dan organisasi
di lingkup Muhammadiyah untuk secara proaktif
mampu menghadapi peran-peran dakwah berdimensi
global di berbagai bidang profesi dan kehidupan.
e. Aksi Pelayanan
Mengembangkan peran dan kemitraan lembagalembaga Muhammadiyah dengan ASEAN di berbagai
bidang strategis seperti pengembangan pemikiran
Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan,
ekonomi, kesehatan, dan lain-lain dalam menghadapi
pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (Asean
Economic Community), pergeseran pusat geopolitik, geo-ekonomi, dan geo-sosial-budaya ke Asia
khususnya China, serta perkembangan politik di Timur
Tengah pasca Arab Spring 2010.
F. PROGRAM PERBIDANG 2015-2020
1. Bidang Tarjih dan Tajdid
1.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi tarjih, tajdid, dan pemikiran
Islam yang mendorong peran Muhammadiyah sebagai
gerakan pembaruan yang kritis, dinamis dan proaktif
dalam menjawab problem dan tantangan aktual sehingga
Islam menjadi sumber pemikiran, moral, dan praksis
sosial kehidupan umat, bangsa dalam menghadapi
perkembangan zaman yang kompleks.
1.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Menyusun dan mengembangkan pedoman keislaman
yang bersifat epistemologis, metodologis maupun
praktis sebagai panduan bagi warga Muhammadiyah
dalam memahami dan mengimplementasikan ajaran
Islam dalam era masyarakat terbuka, meliputi Risalah
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
27
Islamiyah, Tafsir al-Quran dan pemikiran keislaman
lainnya.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Mengoptimalkan peran kelembagaan dan pusatpusat kajian bidang tarjih, tajdid, dan pemikiran Islam
dan melakukan restrukturasi kepemimpinan melalui
keberadaan Lajnah Tarjih serta meningkatkan peranperan strategis bidang keagamaan di tengah dinamika
kehidupan kontemporer.
c.Jaringan
Mengintensifkan kerjasama internal, khususnya
dengan PTM dan kerjasama eksternal, dan
meningkatkan sosialisasi produk tarjih, baik ke internal
Muhammadiyah sampai pada tingkat Cabang dan
Ranting, maupun ke eksternal Muhammadiyah, melalui
pelbagai media termasuk penerjemahan ke bahasa
Inggris dan Arab, sehingga pemikiran keislaman
Muhammadiyah dikenal dan dapat mempengaruhi
dinamika pemikiran dunia.
d. Sumber Daya
Mengembangkan kompetensi kelembagaan dan kader
ulama bidang tarjih, tajdid dan pemikiran Islam, secara
khusus di bidang ulumul Quran, ulumul hadis dan
ushul fikih, termasuk di bidang falak dan pemikiran
Islam, untuk memperkokoh dan mengembangkan
Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan dan
kepentingan menghadapi perkembangan yang
kompleks dalam dinamika kehidupan umat, bangsa
dan tantangan global.
e. Aksi Pelayanan
Mengintensifkan forum, produk, dan sosialisasi hasil
kajian ketarjihan dan pemikiran Islam serta merespon
isu-isu aktual dan masalah-masalah keislaman di
pelbagai bidang yang berkembang dalam kehidupan
umat dan masyarakat luas.
28
BRM 01/SEPTEMBER 2015
2. Bidang Tabligh
2.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi tabligh dalam pembinaan
keagamaan yang bersifat purifikasi dan dinamisasi pada
berbagai kelompok sasaran dakwah yang mencerminkan
Islam berkemajuan berdasar Al Quran dan As Sunnah Al
Maqbulah.
2.1. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Meningkatkan model pembinaan aqidah, ibadah,
dan akhlak berdasarkan faham agama dalam
Muhammadiyah yang berlandaskan Al Quran dan As
Sunnah Al Maqbulah.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Menyusun standarisasi tata kelola masjid, mushola
dan lembaga korps Mubaligh Muhammadiyah untuk
peningkatan pembinaan jamaah.
c.Jaringan
Meningkatkan sinergi dan kerjasama secara tersistem
untuk mengintensifkan dan memperluas kinerja
tabligh.
d. Sumber Daya
Meningkatkan kuantitas dan kualitas mubaligh untuk
memenuhi kebutuhan tabligh di berbagai segmen dan
lingkungan sosial.
e. Aksi Pelayanan
Menghasilkan materi-materi dan layanan tabligh yang
bersifat panduan, bimbingan, dan pencerahan baik
langsung maupun melalui berbagai media.
3. Bidang Pendidikan Tinggi
3.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi pendidikan tinggi Muhammadiyah
yang berbasis Al Islam-Kemuhammadiyahan, holistik
intergratif, bertata kelola baik, serta berdaya saing dan
berkeunggulan.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
29
3.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan sistem dan strategi implementasi
pendidikan tinggi Muhammadiyah yang holistik integralistik (menyeluruh dan terpadu), dan bertatakelola baik menuju Perguruan Tinggi Muhammadiyah
yang unggul dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang berwawasan islam berkemajuan.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Mengembangkan sistem manajemen dan kepemimpinan yang berkeadilan, dinamis, produktif dan berdaya saing dalam meningkatkan kualitas Catur Dharma
(Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian
Masyarakat, dan Al Islam Kemuhammadiyahan) di
Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
c.Jaringan
1. Meningkatkan sinergi antara PTM dengan: PTM,
Pimpinan Persyarikatan disegala tingkat (PW, PD,
PC, PR), pemerintah, Perguruan Tinggi Dalam
Negeri, dan memperluas jejaring PTM dengan
Pergururuan Tinggi di Luar Negeri.
2.Membentuk centre of excellence dalam bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi di PTM unggulan.
d. Sumber Daya
Meningkatkan pembinaan, pengembangan, dan
pemberdayaan SDM, aset, dan infrastruktur PTM
sebagai investasi utama dalam dakwah dan kaderisasi
secara konsisten dan berkelanjutan.
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan mutu dan jumlah PTM yang memenuhi
kualifikasi akreditasi institusi, akreditasi prodi dan akreditasi internasional, dengan meningkatkan sistem
penjaminan mutu perguruan tinggi Muhammadiyah,
serta menampilkan identitas pendidikan Muhammadiyah.
30
BRM 01/SEPTEMBER 2015
4. Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah
4.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi pendidikan dasar dan menengah
Muhammadiyah mencakup sekolah, madrasah, dan pondok
pesantren yang berbasis Al Islam-Kemuhammadiyahan,
holistik intergratif, bertata kelola baik, serta berdaya saing
dan berkeunggulan.
4.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Menguatkan identitas pendidikan Muhammadiyah
melalui instensifikasi pembinaan akhlak Islami dan
ideologi Muhammadiyah.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Menyusun road map dan data base pendidikan
Muhammadiyah untuk memetakan potensi, peran
dan fungsi pendidikan Muhammadiyah sebagai pusat
kaderisasi.
c.Jaringan
Meningkatkan kualitas, jaringan, kemitraan dan
kerjasama pendidikan Muhammadiyah dalam dan
luar negeri.
d. Sumber Daya
Meningkatkan kualitas kepemimpinan pembelajaran
bagi guru dan kepala sekolah, tata kelola, peraturan
dan penjaminan mutu pendidikan Muhammadiyah
baik Sekolah, Madrasah dan Pondok Pesantren.
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan jumlah dan mutu sekolah, madrasah,
dan pondok pesantren yang memenuhi kualifikasi
akreditasi dengan meningkatkan sistem penjaminan
mutu, serta menampilkan identitas pendidikan
Muhammadiyah.
5. Bidang Pendidikan Kader
5.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi dan kualitas perkaderan yang
sistemik dengan memperteguh militansi, kompetensi, dan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
31
peran kader Muhammadiyah sebagai pelaku gerakan di
tengah dinamika Persyarikatan, umat, dan bangsa serta
perkembangan global.
5.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Melaksanakan Perkaderan Utama Muhammadiyah
(Darul Arqam maupun Baitul Arqam) secara intensif
untuk menjadikan perkaderan sebagai budaya
organisasi di seluruh tingkatan pimpinan, amal usaha,
dan institusi-institusi yang berada dalam struktur
Persyarikatan.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Menyelenggarakan Ideopolitor (Ideologi, Politik, dan
Organisasi) bagi pimpinan di lingkungan pimpinan
Persyarikatan dan Amal Usaha untuk meneguhkan
komitmen ideologis, memperluas visi dan pemikiran,
dan mengembangkan organisasi sebagai instrumen
gerakan Islam.
c.Jaringan
Meningkatkan koordinasi dan kerjasama secara
tersistem antar pimpinan Persyarikatan, Ortom
dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam hal
pelaksanaan perkaderan di lingkungan masingmasing.
d. Sumber Daya
Membentuk dan meningkatkan kualitas korp Instruktur
dan membina instruktur yang mampu mendesain
dan mengembangkan perkaderan fungsional
Muhammadiyah berbasis pada keragaman potensi
dan keahlian instruktur di semua lini Persyarikatan.
e. Aksi Pelayanan
Melaksanakan model-model dan menyediakan materimateri perkaderan dan ideologi Muhammadiyah
yang menjadi rujukan dalam setiap perkaderan
Muhammadiyah.
32
BRM 01/SEPTEMBER 2015
6. Bidang Pembinaan Kesehatan Umum
6.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi pembinaan kesehatan yang
unggul dan bertatakelola baik yang berbasis “Penolong
Kesengsaraan Umum” (PKU)/Al-Ma’un sehingga mampu
meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
6.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Meningkatkan sistem penyelenggaraan/pengelolaan
amal usaha bidang kesehatan yang unggul dan
berbasis “Penolong Kesengsaraan Umum” (PKU) /
Al-Ma’un melalui manajemen terpadu, bertatakelola
yang baik, pengawasan terhadap standar dan mutu
pelayanan, dan pengelolaan IPO (Input-ProsesOutput) yang berkualitas utama sehingga mampu
bersaing dan menjangkau masyarakat luas.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Mengembangkan jenis-jenis/model-model pelayanan
kesehatan baru yang langsung menyentuh kehidupan
masyarakat di akar-rumput yang bersinergi dengan
Rumah Sakit dan AUMKES Muhammadiyah lainnya
sebagai wujud gerakan Al-Ma’un/PKU.
c.Jaringan
Membangun jaringan pelayanan kesehatan Muhammadiyah yang mendorong bagi terciptanya daya dukung kekuatan pelayanan yang kuat, strategis dan
cepat kepada masyarakat akar rumput.
d. Sumber Daya
Meningkatkan kualitas sumberdaya amal usaha
bidang kesehatan melalui peningkatan kapasitas
tenaga AUMKES, pendidikan, promosi, daya dukung
fasilitas, dan berbagai skill yang mengembangkan
keunggulan.
e. Aksi Pelayanan
Mengoptimalkan standar pelayanan kesehatan melalui standarisasi pelayanan AUMKES, pengembangan rumah sakit dengan layanan unggulan di setiap
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
33
daerah, optimalisasi pelayanan AUMKES terhadap
permasalahan kesahatan masyarakat dan penanggulangan bencana, dan peningkatan jumlah AUMKES
sebagai Satelit Klinik Rumah Sakit Muhammadiyah
dan Aisyiyah di daerah pedalaman/terpencil.
7. Bidang Pelayanan Sosial
7.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi pelayanan sosial Muhammadiyah
dalam mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas
hidup masyarakat, dan mewujudkan masyaakat inklusif
melalui sistem yang terencana dan terpadu dilandasi
semangat menegakkan keadilan.
7.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan
sistem
pelayanan
sosial
Muhammadiyah yang berfungsi sebagai community
centre dan family centre dengan berorientasi pada
pemberdayaan dan pemenuhan hak-hak sosialekonomi berbasis praksis al-Maun.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Mengembangkan dan mereformasi tata kelola
pelayanan sosial untuk meningkatkan kinerja;
membentuk lembaga-lembaga sosial alternatif; serta
penguatan Amal Usaha Muhammadiyah di bidang
sosial seperti panti asuhan yatim piatu, panti anak
jalanan dan panti wreda untuk lansia terlantar.
c.Jaringan
Membangun dan meningkatkan sinergi dan
jaringan kerjasama dengan pihak internal di tubuh
persyarikatan Muhammadiyah (AUM di bidang sosial,
kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan), maupun
eksternal (LSM-LSM, lembaga donor, dan pemerintah).
d. Sumber Daya
Meningkatkann pembinaan pimpinan, kader, dan
relawan bidang pelayanan sosial Muhammadiyah
yang terlatih, visioner dan berdedikasi tinggi melalui
34
BRM 01/SEPTEMBER 2015
pendidikan dan pelatihan-pelatihan yang bersinergi
dengan kader-kader muda Muhammadiyah yang aktif
di Amal Usaha Muhammadiyah maupun di Pimpinan
Daerah, Cabang dan Ranting.
e. Aksi Pelayanan
Mengoptimalkan model-model baru tata kelola amal
usaha pelayanan sosial, serta pendampingan dan
advokasi pelayanan sosial bagi kelompok-kelompok
dhuafa-mustadhafin di perkotaan, pedesaan, dan
daerah terpencil.
8. Bidang Ekonomi
8.1. Visi Pengembangan
Bangkitnya etos dan kreativitas ekonomi dalam
menguatkan kemandirian Muhammadiyah sebagai wujud
kontribusi Persyarikatan bagi kebangkitan ekonomi Umat
dan Bangsa.
8.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan cetak biru dan model ekonomi
Muhammadiyah yang berorientasi pada mobilisasi
potensi unit-unit amal usaha ekonomi, usaha ekonomi
kreatif, kewirausahaan, dan pemberdayaan ekonomi
kelompok.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Mengembangkan sistem manajemen bisnis dan tata
kelola bidang ekonomi; penguatan kelembagaan
amal usaha dan kegiatan-kegiatan ekonomi; serta
pemanfatan aset-aset untuk mendorong produktivitas
ekonomi persyarikatan.
c.Jaringan
Mengintensifkan kerjasama potensi dan pelaku
ekonomi di seluruh tingkatan Persyarikatan, serta
mobilisasi sumber-sumber permodalan dan pemasaran
baik internal maupun eksternal Persyarikatan.
d. Sumber Daya
Melahirkan kader-kader professional di bidang bisnis,
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
35
amal usaha ekonomi, dan kewirausahaan yang unggul
dan berdaya saing dalam mengembangkan kekuatan
ekonomi Persyarikatan.
e. Aksi Pelayanan
Membentuk unit-unit bisnis, koperasi, BTM, Purchasing
Centre, bisnis on line, kedai/mini market “Surya Mart”,
Badan Usaha Distribusi; dan melakukan advokasi
penerapan dan sosialisasi usaha dan produk Lembaga
Keuangan dan Bisnis Syariah, serta pemberdayaan
ekonomi mikro, kecil dan menengah.
9. Bidang Wakaf dan Kehartabendaan
9.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi pengelolaan asset Muhammadiyah
dalam bentuk wakaf dan harta benda organisasi secara
professional, transparan, akuntable, dan produktif untuk
digunakan sebesar-besarnya bagi kemaslahatan umat.
9.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengimplementasikan sistem admistrasi dan
pengelolaan asset Muhammadiyah berupa wakaf
(bergerak dan tidak-bergerak) dan harta benda
lainnya secara transparan, akuntable dan produktif.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Membangun dan meningkatkan keterampilan
dan budaya organisasi dan tatakelola asset
Muhammadiyah melalui pembentukan sistem
informasi dan manajemen (SIM) asset dan Bank Data
Asset yang terintegrasi guna mendukung dakwah
persyarikatan dan kebutuhan masyarakat.
c.Jaringan
Meningkatkan kordinasi dan kerjasama kelembagaan
di seluruh tingkatan kepemimpinan (PWM, PDM,
PCM dan PRM), AUM, dan pemerintah dalam
menginventarisasi, mengelola serta memanfaatkan
dan menyelamatkan asset Muhammadiyah guna
memenuhi kebutuhan organisasi dan masyarakat.
36
BRM 01/SEPTEMBER 2015
d. Sumber Daya
Melahirkan dan meningkatkan mutu, komitmen dan
professionalisme pengelola asset Muhammadiyah
melalui pelatihan-pelatihan guna meningkatkan sistem
adminitrasi dan tata kelola asset Muhammadiyah.
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan produktivitas dan pendayagunaan
asset dan masifikasi pengurusan sertifikasi wakaf/asset
Muhammadiyah di berbagai tingkat kepemimpinan
untuk gerakan dakwah, peningkatan sumberdaya
manusia dan kesejahteraan masyarakat.
10. Bidang Pemberdayaan Masyarakat
10.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi pemberdayaan masyarakat dalam
pengembangan buruh, tani, nelayan, dan kelompok
dhu’afa-mustadh’afin sebagai pilar strategis gerakan
Muhammadiyah.
10.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengimplementasikan
model
pemberdayaan
masyarakat berbasis al-Ma’un secara lebih masif
dalam bentuk praksis gerakan pemberdayaan yang
menyentuh akar permasalahan dan kebutuhan
kelompok-kelompok
masyarakat
dhua’afamustadhafin.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Membangun sistem organisasi dalam pemberdayaan
masyarakat yang kuat dari Pusat sampai Cabang.
c.Jaringan
Membangun dan meningkatkan kerja berjejaring dalam
pemberdayaan masyarakat yang tersistematisasi baik
dengan internal persyarikatan (Amal Usaha-Ortom)
dan eksternal persyarikatan (NGO, lembaga donor dan
Pemerintah).
d. Sumber Daya
Melahirkan kader pemberdayaan masyarakat yang
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
37
mempunyai kapasitas mengorganisir masyarakat
dan berdirinya pusat-pusat diklat pemberdayaan
masyarakat serta rintisan modelnya.
e. Aksi Pelayanan
Masifikasi dan pengembangan model pemberdayaan
dan advokasi kelompok dhu’afa-mustad’afin di sektor
pertanian, peternakan, perikanan, buruh, masyarakat
urban, masyarakat pulau terluar, suku terasingpedalaman, serta penyandang disabiliitas.
11. Bidang Hukum, Ham, dan Konstitusi
11.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya kesadaran dan advokasi di lingkungan
Persyarikatan serta peran Muhammadiyah dalam
memperjuangkan kepentingan publik dan tegaknya
hukum, hak asasi manusia dan konstitusi sebagai wujud
dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar.
11.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Membangun model dan strategi dakwah konstitusional
melalui pengembangan pemikiran hukum, HAM dan
konstitusi yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, serta
selaras dengan jiwa, pikiran dan cita-cita nasional.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Menguatkan kapasitas dan kinerja kelembagaan
pelayanan hukum, HAM, dan pelayanan hak-hak
konstitusional di lingkungan Persyarikatan.
c.Jaringan
Memperluas jaringan dan usaha peningkatan
kesadaran di lembaga Muhammadiyah dalam
melakukan advokasi dan pemberdayaan atas
persoalan-persoalan hukum, HAM, dan hak-hak
konstitusional yang di-hadapi masyarakat.
d. Sumber Daya
Menyiapkan kader-kader professional di bidang
hukum, HAM, dan konstitusi yang memiliki konsen
dan keberpihakan pada kepentingan publik.
38
BRM 01/SEPTEMBER 2015
e. Aksi Pelayanan
Melakukan gerakan penyadaran dan advokasi
kepada masyarakat tentang kesadaran hukum, HAM,
dan hak hak konstitusional melalui jihad konstitusi
dan pemanfaatan lembaga-lembaga pendidikan di
lingkungan persyarikatan.
12. Bidang Lingkungan Hidup
12.1. Visi Pengembangan
Terwujudnya kondisi, budaya, dan struktur lingkungan
hidup yang ramah, aman, produktif, dan berkelanjutan
bagi kelangsungan masa depan kehidupan.
12.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan konsep dan model gerakan
lingkungan hidup berpraksis dakwah.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Mengembangkan kapasitas dan fungsi kelembagaan
di lingkungan Persyarikatan dalam mengembangkan
kesadaran, kepedulian, dan advokasi lingkungan
hidup
c.Jaringan
Menjalin kerjasama yang setara, bersinergi dan saling
menguntungkan dengan lembaga pemerintah dan
swasta di dalam maupun luar negeri dalam rangka
pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan.
d. Sumber Daya
Menghasilkan kader dan warga sadar lingkungan yang
memiliki concern dan keberpihakan pada usaha-usaha
pelestarian dan penyelamatan lingkungan.
e. Aksi Pelayanan
Menyusun model-model praksis, pendidikan dan
pelatihan, buku-buku panduan, dan advokasi yang
berkaitan dengan isu-isu dan usaha penyelamatan
lingkungan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
39
13. Bidang Pustaka dan Informasi
13.1. Visi Pengembangan
Terwujudnya sistem informasi yang mencakup ragam media,
sumber daya manusia, dan daya dukung pengembangan
pustaka dan informasi yang unggul, terintegrasi, dan masif.
13.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan sinergitas sumber daya teknologi
informasi, pustaka dan media sebagai sistem gerakan
maupun amal usaha di lingkungan Persyarikatan.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Menguatkan kapasitas kelembagaan internal
Persyarikatan melalui pemanfaatan teknologi informasi
dan media komunikasi yang maju, interkonektif, dan
modern.
c.Jaringan
Mengembangkan jaringan dengan berbagai pihak
dalam bidang teknologi informasi, pustaka dan media
dalam rangka perluasan dakwah Persyarikatan.
d. Sumber Daya
Mengoptimalkan sumberdaya kader bidang pustaka,
teknologi informasi, dan media yang berkomitmen
dan profesional dalam penguatan dan perluasan syiar
Persyarikatan.
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan fungsi penyediaan dan layanan data;
serta mengembangkan kualitas dan kuantitas layanan
pustaka, media, dan sistem informasi organisasi yang
unggul dan berdaya saing dalam menjalankan fungsi
syiar dan dakwah Persyarikatan.
14. Bidang Pengembangan Cabang dan Ranting
14.1. Visi Pengembangan
Terwujudnya Cabang Ranting Muhammadiyah yang
aktif dalam menggerakkan dakwah dan pembangunan
masyarakat sesuai dengan konteks kebutuhan lokal.
40
BRM 01/SEPTEMBER 2015
14.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Menyusun format Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah
berbasis potensi Cabang dan Ranting.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Membentuk Peta Kondisi Cabang-Ranting yang
representatif dan update berbasis GIS (berbasis
kualitatif-kuantitatif dan software).
c.Jaringan
Memperkuat keberadaan dan peran Pimpinan Cabang
dan Ranting Istimewa Muhammadiyah.
d. Sumber Daya
Mencetak kader penggerak Persyarikatan di setiap
Cabang dan Ranting.
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan partisipasi dan kontribusi Pimpinan
Ranting dalam pembangunan desa dan kelurahan.
15. Bidang Pembinaan dan Pengawasan Keuangan
15.1. Visi Pengembangan
Terwujudnya sistem pembinaan dan pengawasan
keuangan Persyarikatan yang berprinsip pada amanah
dan bertatakelola baik sesuai dengan budaya organisasi
Muhammadiyah.
15.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan sistem tata kerja, pembinaan,
pemeriksaan, dan kode etik pengelolaan keuangan
di lingkungan Muhammadiyah.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Memperkuat kapasitas kelembagaan di lingkungan
Muhammadiyah terkait tata kelola kekayaan,
penyusunan laporan pengelolaan kekayaan, software
keuangan, pembinaan dan pengawasan keuangan,
serta pemberdayaan dan pendayagunaan auditorauditor internal secara sinergis di Persyarikatan dan
Amal Usaha Muhammadiyah.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
41
c.Jaringan
Mengembangkan hubungan baik dan kerjasama
dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun
non-pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu
kinerja, dan menyelesaikan segala kemungkinan
persoalan pengelolaan keuangan di Muhammadiyah.
d. Sumber Daya
Menyiapkan tenaga terdidik dan terlatih dari kalangan
kader-kader Muhammadiyah untuk menjadi Auditor
yang amanah, bersifat membina, profesional,
menjunjung tinggi kode etik sesuai budaya organisasi
Muhammadiyah.
e. Aksi Pelayanan
Melaksanakan pelatihan SIAPM (Sistem Informasi
Akuntansi Persyarikatan Muhammadiyah) dan
perencanaan pajak; pembinaan, dan pendampingan
perpajakan; serta pembinaan dalam pemenuhan
persyaratan untuk mendapat pinjaman dari Perbankan
di lingkungan Persyarikatan dan Amal Usaha
Muhammadiyah.
16. Bidang Penelitian dan Pengembangan
16.1. Visi Pengembangan
Meningkatnya budaya serta kinerja penelitian dan
pengembangan di lingkungan Muhammadiyah sebagai
basis pengambilan kebijakan dan pengembangan
organisasi di lingkungan Persyarikatandan AUM.
16.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan model dan standar mutu penelitian
dan pengembangan di lingkungan Persyarikatan
yang memadukan standar research and development
modern dengan kebutuhan dan kapasitas SDM
peneliti di lingkungan Persyarikatan.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Membangun pusat-pusat riset dan pengembangan
(think tank) di PTM unggulan, guna menyediakan
42
BRM 01/SEPTEMBER 2015
pengetahuan dan analisis terkait isu-isu kontemporer
yang dibutuhkan Persyarikatan.
c.Jaringan
Membangun jejaring dengan pusat-pusat penelitian
dan pengembangan di dalam dan di luar negeri,
terutama dari kawasan dunia Islam, dengan pendekatan
dakwah dan semangat Islam berkemajuan.
d. Sumber Daya
Meningkatkan mutu SDM peneliti di lingkungan
Persyarikatan melalui workshop dan pelatihan
penelitian bekerjasama dengan PTM, pemerintah,
serta pihak-pihak lain yang bersifat setara dan tidak
mengikat.
e. Aksi Pelayanan
Menyediakan informasi hasil penelitian bagi
kepentingan organisasi, serta memfasilitasi SDM
peneliti dari lingkungan Persyarikatan untuk mengakses
peluang-peluang penelitian, pengembangan, dan
beasiswa studi lanjut yang relevan dengan kebutuhan
Persyarikatan.
17. Bidang Penanggulangan Bencana
17.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya fungsi penanggulangan dan mitigasi
bencana yang dilandasi semangat kemanusiaan dan
keislaman yang responsif, profesional, serta sesuai dengan
posisi dan kapasitas Muhammadiyah sebagai organisasi
kemasyarakatan.
17.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Meningkatkan sistem, pemahaman dan kesadaran
warga Persyarikatan Muhammadiyah dan masyarakat
secara umum dalam penanggulangan dan mitigasi
bencana yang berwawasan pengurangan resiko
bencana dengan berlandasakan nilai- nilai
kemanusiaan dan keislaman sebagai bagian dari
perwujudan gerakan Islam Berkemajuan.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
43
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Meningkatkan kapasitas personil pimpinan dan
kelembagaan Persyarikatan di seluruh tingkatan yang
efektif sebagai penggerak ketangguhan menghadapi
bencana.
c.Jaringan
Menguatkan dan menjaga simpul jaringan penanggulangan bencana antar pimpinan Persyarikatan
(majelis, lembaga, organisasi otonom, amal usaha
Muhammadiyah) dan dengan lembaga penanggulangan bencana di tingkat daerah, nasional, regional
dan global.
d. Sumber Daya
Meningkatkan kapasitas pimpinan, kader, anggota,
dan relawan dalam mengoptimalkan program
Muhammadiyah bidang penanggulangan dan mitigasi
bencana.
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan peran penanggulangan dan mitigasi
bencana; meningkatkan fungsi advokasi pelayanan dan
kebijakan publik berkaitan dengan penanggulangan
bencana; serta mengimplentasikan konsep sekolah,
perguruan tinggi, rumah sakit, dan fasilitas layanan
kesehatan siaga bencana dan jamaah/komunitas
siaga bencana di Muhammadiyah.
18. Bidang Zakat, Infak dan Sedekah
18.1. Visi Pengmbangan
Berkembangnya fungsi pengelolaan zakat, infak dan
sedekah Muhammadiyah yang professional, transparan,
akuntabel, dan produktif sesuai dengan prinsip-prinsip
Islam dan kemanusiaan dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan dan kemaslahatan umat.
18.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengimplementasikan
sistem
kebijakan
Muhammadiyah dalam meningkatkan kesadaran
44
BRM 01/SEPTEMBER 2015
berzakat dan berderma serta sistem meningkatkan
sistem admistrasi dan pengelolaan ZIS secara
transparan, akuntable dan produktif sesuai dengan
prinsip-prinsip dasar hukum Islam seagai koitmen
untuk memberantas kemiskinan, keterbelakangan,
dan kebodohan pada masyarakat
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Membangun dan meningkatkan budaya organisasi dan
tatakelola zakat, infak dan sedekah Muhammadiyah
melalui pembentukan sistem informasi dan
manajemen (SIM) ZIS yang terintegrasi di semua
tingkat kepemimpinan.
c.Jaringan
Merumuskan model jejaring dan meningkatkan kordinasi kelembagaan LAZISMU secara regional dan
nasional, serta bentuk meningkatkan kerjasama LAZISMU dengan AUM dalam memobilisasi, mengelola
serta memanfaatkan dana ZIS.
d. Sumber Daya
Meningkatkan mutu dan profesionalisme sumber daya
pengelola ZIS di Muhammadiyah melalui pelatihanpelatihan di bidang fundraising, pendistribusian dan
pemanfaatan dana ZIS yang memberdayakan.
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan produktivitas pemanfaatan dana ZIS
Muhammadiyah dalam program pendidikan, ekonomi,
dakwah sosial dan peningkatan sumberdaya manusia
untuk kalangan dhuafa-mustadh’afin.
19. Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik
19.1. Visi Pengembangan
Meningkatnya kinerja kajian dan analisis politik dan
kebijakan publik yang komprehensif, multi disiplin
dan lintas sektor sebagai basis pengambilan kebijakan
Persyarikatan.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
45
19.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan model kajian politik dan kebijakan
publik yang kontekstual dalam rangka menguatkan
peran Muhammadiyah sebagai komponen strategis
bangsa dan kekuatan civil society.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Menguatkan kapasitas kepemimpinan dan kelembagaan di lingkungan Muhammadiyah yang responsif
terhadap isu-isu politik dan kebijakan publik bagi
kepentingan umat dan bangsa.
c.Jaringan
Menguatkan sinergi antar kader politik dan unsur pejabat publik dari kalangan Persyarikatan dalam rangka
mendorong kepentingan dakwah Muhammadiyah.
d. Sumber Daya
Memfasilitasi pengembangan kualitas kader politik
dan jabatan publik dari kalangan Persyarikatan yang
amanah, profesional dan mengemban misi Muhammadiyah.
e. Aksi Pelayanan
Melakukan pendidikan kader politik dan pejabat
publik serta menghasilkan policy papers secara
berkala bagi kepentingan pengambilan kebijakan
Pimpinan Persyarikatan dalam menyikapi persoalan
keumatan dan kebangsaan serta penguatan peran
strategis Muhammadiyah.
20. Bidang Seni Budaya dan Olahraga
20.1. Visi Pengembangan
Terwujudnya seni budaya dan olahraga yang bernafaskan
Islam serta mencerahkan akal budi manusia sebagai
makhluk yang berperadaban mulia.
20.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Meningkatkan pola pengembangan seni budaya
Islam di lingkungan warga Muhammadiyah yang
46
BRM 01/SEPTEMBER 2015
berdasarkan tuntunan Tarjih dan Pedoman Hidup
Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Menguatkan kapasitas kelembagaan seni budaya dan
olahraga di semua tingkatan pimpinan Muhammadiyah.
c.Jaringan
Membangun sinergi antar Majelis, Lembaga, Ortom,
dan amal usaha di lingkungan Muhammadiyah dalam
pengembangan seni budaya dan olahraga.
d. Sumber Daya
Menguatkan peran seniman, pendidik, dan penggiat
seni dalam pendidikan, apresiasi, dan penciptaan
seni budaya berdasarkan Islam, serta meningkatkan
pembinaan olahraga
e. Aksi Pelayanan
Terselenggaranya kegiatan pendidikan, apresiasi, dan
penciptaan seni budaya Islami serta terbentuknya
wadah-wadah dan aktivitas olahraga di semua
tingkatan Pimpinan dan Amal Usaha Persyarikatan.
21. Bidang Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri
21.1. Visi Pengembangan
Berkembangnya hubungan dan kerjasama Muhammadiyah
dengan lembaga-lembaga di luar negeri baik pemerintah
maupun non-pemerintah untuk mewujudkan dakwah yang
membawa misi Islam berkemajuan di dunia internasional.
21.2. Program Pengembangan
a. Sistem Gerakan
Mengembangkan peta dinamika dan perkembangan
politik internasional bagi kepentingan Muhammadiyah
dalam menjalin relasi dan mengembangkan peran
internasional.
b. Organisasi dan Kepemimpinan
Menguatkan kapasitas kepemimpinan dan kelembagaan di lingkungan Muhammadiyah yang responsif
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
47
terhadap isu-isu internasional bagi kepentingan umat
dan bangsa.
c.Jaringan
Meningkatkan networking dengan lembaga-lembaga
regional, internasional maupun dunia Islam untuk
memperkuat jaringan keumatan, kebangsaan, dan
kemanusiaan universal yang diperankan Muhammadiyah.
d. Sumber Daya
Memfasilitasi pengembangan kualitas kader-kader
yang memiliki kapasitas dan jaringan internasional
guna mengemban misi Muhammadiyah di dunia
internasional.
e. Aksi Pelayanan
Meningkatkan sosialisasi pemikiran dan praksis
Islam Muhammadiyah di dunia internasional,serta
membangun solidaritas dunia Islam di dunia
internasional melalui berbagai kegiatan yang
mendukung peran
Muhammadiyah di tengah
perkembangan global.
48
BRM 01/SEPTEMBER 2015
BAB II
PENGORGANISASIAN DAN PELAKSANAAN PROGRAM
A. PRINSIP PENGORGANISASIAN DAN PELAKSANAAN
Program Muhammadiyah jangka panjang dua puluh tahun
(2005-2025) dan program lima tahun ke depan (2015-2020)
dikembangkan berdasarkan beberapa prinsip pengorganisasian
dan pelaksanaan sebagai berikut:
1. Program Muhammadiyah hasil Muktamar ke-47 merupakan
program nasional/pusat (keseluruhan) yang menjadi acuan
umum bagi perumusan dan pelaksanaan program di tingkat
wilayah, daerah, cabang, ranting, organisasi otonom, dan amal
usaha Persyarikatan sesuai dengan kewenangan, kepentingan,
dan kondisi masing-masing.
2. Program Muhammadiyah 2015-2020 secara umum dan
keseluruhan berada dalam tanggung jawab Pimpinan Pusat
Muhammadiyah, sedangkan pelaksanaan serta penjabaran
program berada di tingkat daerah sebagai pusat adminstrasi
pelaksanaan program. Artinya bahwa Pimpinan Muhammadiyah
Daerah menjadi tempat konsentrasi administrasi dan
pelaksanaan program dengan pertimbangan lebih dekat ke
arus bawah yakni cabang dan ranting serta lebih realistis
dalam melakukan pengorganisasian dan pelaksanaan program
Muhammadiyah sesuai dengan orientasi otonomi dan
opersional program dari bawah (bottom-up).
3. Kebijakan pengorganisasian dan pelaksanaan program di
tingkat wilayah meliputi tiga aspek/fungsi, pertama sebagai
pelaksana kebijakan Pimpinan Pusat dalam melaksanakan
program umum menyeluruh/nasional, kedua bertanggung
jawab dalam pengorganisasian secara umum terhadap
pelaksanaan program di bawahnya, dan ketiga melaksanakan
kebijakan-kebijakan khusus sesuai dengan kewenangan dan
kepentingan wilayah masing-masing.
4. Khusus bagi Organisasi Otonom Muhammadiyah program
Muhammadiyah hasil Muktamar ke-47 menjadi acuan umum
sesuai dengan prinsip-prinsip otonomi dan kekhususan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
49
organisasi otonom masing-masing.
Bagi amal usaha Persyarikatan, program Muhammadiyah hasil
Muktamar ke-46 merupakan kewajiban untuk menjadi sumber
materi dan dilaksanakan sesuai dengan jenis dan kegiatan amal
usaha masing-masing.
6.Pengorganisasian
dan
pelaksanaan
program
tetap
mempertimbangkan sistem satu atap dan lintas sektoral di
bawah tanggungjawab Pimpinan Persyarikatan.
7. Program Muhammadiyah secara umum dijabarkan oleh
Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke dalam Kebijakan
Pelaksanaan Program Muhammadiyah sehingga menjadi
sistem kegiatan yang operasional, baik program umum maupun
bidang.
8. Program Muhammadiyah lima tahun ke depan diaktualisasikan
salah satunya ke dalam “Model Dakwah Pencerahan Berbasis
Komunitas” sebagai “Program Khusus” yang berisfat “Praksis
Gerakan” dan memerlukan prioritas atau fokus gerakan.
5.
B. PENGORGANISASIAN DAN PENJABARAN PROGRAM DI
TINGKAT WILAYAH
1.
Rumusan program Muhammadiyah tingkat wilayah diputuskan
dalam Musyawarah Wilayah, yaitu berupa “Program Wilayah
Muhammadiyah” periode lima-tahunan, yang materinya
bersifat kebijakan umum sebagai pelaksana kebijakan program
nasional di masing-masing wilayah yang disesuaikan dengan
kewenangan, kreativitas, kepentingan, dan kondisi setempat.
2. Pimpinan Wilayah bertanggung jawab dalam memonitor
pengorganisasian dan pelaksanaan program di wilayah sesuai
dengan mekanisme organisasi dalam Persyarikatan.
3. Program tingkat wilayah disusun dengan mengacu program
nasional/pusat Muhammadiyah dan diarahkan pada hal-hal
berikut:
a. Relevansi program dengan potensi dan permasalahan
(masyarakat dan Persyarikatan) di wilayah yang
bersangkutan.
b. Mencantumkan target yang akan dicapai selama lima
tahun dan target tahunan.
50
BRM 01/SEPTEMBER 2015
c.
Kandungan program meliputi dua hal, yaitu: (1) kegiatan
terprogram yang lebih strategis yang akan dilaksanakan
oleh Pimpinan Wilayah, dan (2) acuan program yang akan
dijabarkan dalam Program Muhammadiyah di tingkat
Daerah, Cabang dan Ranting, serta Program Ortom dan
Amal Usaha di tingkat wilayah.
C. PENGORGANISASIAN DAN PENJABARAN PROGRAM DI
TINGKAT DAERAH
1.
Rumusan program Muhammadiyah tingkat daerah diputuskan
dalam Musyawarah Daerah, yaitu berupa “Program Daerah
Muhammadiyah” periode lima-tahunan.
2. Pimpinan Daerah Muhammadiyah merupakan tempat konsentrasi administrasi pengorganisasian dan pelaksanaan program
nasional/keseluruhan dan program wilayah Muhammadiyah
agar tercapai kesuksesan program di tingkat bawah.
3. Program tingkat daerah disusun dengan mengacu program
nasional/pusat dan wilayah yang mekanisme, arah, dan
pengorganisasiannya sebagai berikut:
a. Relevansi program dengan potensi dan permasalahan
(masyarakat dan Persyarikatan) di daerah
yang
bersangkutan.
b. Mencantumkan target yang akan dicapai selama lima
tahun dan target tahunan.
c. Kandungan program meliputi dua hal, yaitu: (1) kegiatan
terprogram yang akan dilaksanakan oleh Pimpinan Daerah,
dan (2) acuan program yang akan dijabarkan dalam
Program Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting,
serta Program Ortom dan Amal Usaha di tingkat daerah.
D. PENGORGANISASIAN DAN PENJABARAN PROGRAM DI
TINGKAT CABANG
1.
Rumusan program Muhammadiyah tingkat Cabang diputuskan
dalam Musyawarah Cabang, yaitu berupa “Program Cabang
Muhammadiyah” periode lima-tahunan.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
51
2. Program tingkat Cabang disusun dengan mengacu program
nasional/pusat, wilayah, dan daerah yang mekanisme, arah,
dan pengorganisasiannya sebagai berikut:
a. Relevansi program dengan potensi dan permasalahan
(masyarakat dan Persyarikatan) di Cabang
yang
bersangkutan.
b. Mencantumkan target yang akan dicapai selama lima
tahun dan target tahunan.
c. Kandungan program meliputi dua hal, yaitu: (1) kegiatan
terprogram yang akan dilaksanakan oleh Pimpinan
Cabang, dan (2) acuan program yang akan dijabarkan
dalam Program Muhammadiyah di tingkat ranting, serta
Program Ortom dan Amal Usaha di tingkat cabang.
E. PENGORGANISASIAN DAN PENJABARAN PROGRAM DI
TINGKAT RANTING
1.
Rumusan program Muhammadiyah tingkat ranting diputuskan
dalam Musyawarah Ranting, yaitu berupa “Program Ranting
Muhammadiyah” periode lima-tahunan.
2. Program tingkat Ranting disusun dengan mengacu program
nasional/pusat, wilayah, daerah, dan cabang yang mekanisme,
arah, dan pengorganisasiannya sbb:
a. Relevansi program dengan potensi dan permasalahan
(masyarakat dan Persyarikatan) di Ranting
yang
bersangkutan.
b. Mencantumkan target yang akan dicapai selama lima
tahun dan target tahunan.
c. Kandungan program meliputi dua hal, yaitu: (1) kegiatan
terprogram yang akan dilaksanakan oleh Pimpinan
Ranting, dan (2) acuan program yang akan dijabarkan
dalam Program Muhammadiyah di tingkat Ranting, serta
Program Ortom dan Amal Usaha di tingkat Ranting, dan (3)
Mengorganisasikan dan mengoperasionalkan pelaksanaan
kegiatan di lingkungan anggota/jama’ah.
52
BRM 01/SEPTEMBER 2015
F. PENGORGANISASIAN DAN PENJABARAN PROGRAM
OLEH ORTOM PERSYARIKATAN
1. Perumusan Program organisasi otonom khususnya di
tingkat pusat secara umum mengacu pada program nasional
Muhammadiyah dan mengembangkan program sesuai dengan
jenis dan lahan garapan masing-masing.
2. Setiap organisasi otonom memiliki kewenangan, mekanisme,
dan kekhususan masing-masing dalam merumuskan program
dan kebijakan sesuai dengan otonomi masing-masing; tetapi
tidak boleh bertentangan dengan program Muhammadiyah.
3. Seluruh organisasi otonom dapat mengembangkan jaringan
kerjasama dan program yang terpadu sesuai dengan
kepentingan dan asas efektivitas-efisiensi, baik yang
menyangkut sumberdaya insani, dana, potensi, dan peluang
yang tersedia dengan tetap berpijak pada prinsip-prinsip yang
ditetapkan Pimpinan Persyarikatan.
4.Mengembangkan
kemandirian
dengan
menggalang
keterpaduan dan jaringan kelembagaan dalam melaksanakan
program masing-masing organisasi otonom.
G. PELAKSANAAN PROGRAM OLEH MAJELIS DAN LEMBAGA
1. Majelis dan lembaga sebagai unsur pembantu pimpinan
Persyarikatan berfungsi sebagai pelaksana program
Muhammadiyah sesuai dengan jenis dan bidang yang
ditanganinya, serta tidak dibenarkan menentukan kebijakan
yang melampaui kewenangan Pimpinan Persyarikatan dan
melampaui fungsi-tugasnya masing-masing selaku Unsur
Pembantu Pimpinan.
2. Kebijakan-kebijakan majelis dan lembaga dalam melaksanakan
program dan kegiatan bersifat operasional dan penjabaran,
sedangkan kebijakan-kebijakan strategis selain menjadi kewenangan pimpinan Persyarikatan juga dalam bidangnya masingmasing harus memperoleh persetujuan pimpinan Persyarikatan
sesuai dengan mekanisme organisasi yang berlaku.
3. Pelaksanaan dan penjabaran program Muhammadiyah oleh
majelis dan lembaga harus bersumber dari program nasional
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
53
4.
5.
6.
7.
untuk tingkat pusat serta program di tingkat masing-masing
untuk majelis dan lembaga yang setingkat.
Dalam penjabaran dan pelaksanaan program oleh majelis dan
lembaga harus diterapkan prinsip operasional yang bersifat
efektif-efisien, terfokus pada jenis program yang sesuai dengan
majelis/lembaga/badan yang bersangkutan, menghindari
tumpang-tindih, realistis, dan berorientasi pada bidang masingmasing, serta dapat mencapai target yang digariskan.
Penjabaran dan pelaksanaan program Muhammadiyah oleh
masing-masing majelis dan lembaga cukup dilakukan melalui
rapat kerja di tingkat masing-masing dan melalui pengesahan
oleh pimpinan Persyarikatan di tingkat masing-masing.
Sedangkan fungsi-fungsi koordinasi, pengendalian, evaluasi,
dan tahap-tahap pengorganisasian lainnya dilakukan sesuai
dengan mekanisme organisasi yang berlaku.
Majelis dan lembaga dapat menyelenggarakan Rapat Kerja
Nasional untuk koordinasi organisasi yang dipandang penting
sesuai keperluan dengan tetap memperhatikan efisiensi
dan efektivitas. Rapat Kerja Nasional tidak mengagendakan
perumusan program baru yang membawa kemungkinan pada
menambah dan memperluas program melebihi keputusan
Muktamar atau permusyawaratan di setiap tingkatan pimpinan
Persyarikatan lainnya.
Rapat Kerja Nasional yang diselenggarakan oleh Majelis/
Lembaga dan unit kelembagaan lainnya dalam Persyarikatan
tidak diperbolehkan menyusun dan menetapkan hal-hal yang
bersifat umum dan strategis yang melampaui kewenangan
Pimpinan Persyarikatan serta melampaui fungsi tugas/
kewenangannya masing-masing selaku Unsur Pembantu
Pimpinan.
H. PELAKSANAAN PROGRAM OLEH AMAL USAHA
1. Rumusan program Amal Usaha Muhammadiyah dilakukan
dengan mengacu secara umum pada (1) Program Nasional
Muhammadiyah, Program Wilayah Muhammadiyah, dan
Program Persyarikatan di lingkungan masing-masing, dan (2)
54
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Program Majelis terkait, sesuai dengan jenis/bidang amal usaha
yang bersangkutan.
2. Rumusan program amal usaha disusun secara fleksibel,
sesuai dengan Statuta, Qaidah atau Pedoman Amal Usaha
yang bersangkutan, dengan mengindahkan prinsip-prinsip
penyusunan program sebagaimana tercantum pada Program
Muhammadiyah dan tetap terikat pada nilai-nilai dan peraturan
Persyarikatan.
3. Perumusan program amal usaha hendaknya disusun secara
dinamis dengan memperhatikan kebutuhan dan permasalahan
serta potensi jenis/bidang garap di tempat amal usaha berada.
4. Perumusan dan penjabaran Program Amal Usaha secara rinci
ditetapkan oleh majelis yang terkait yang kemudian dibakukan
dalam kegiatan amal usaha yang bersangkutan.
5.Pelaksanaan program di lingkungan Amal Usaha
Muhammadiyah selain mengacu pada landasan dan prinsip
Program Muhammadiyah, juga dikembangkan kebijakankebijakan dan kegiatan-kegiatan yang semakin mengarah pada
kualitas sesuai dengan jenis/bidang dan tujuan amal usaha
yang bersangkutan.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
55
BAB III
KHATIMAH
Program Muhammadiyah sebagai rangkaian kegiatan
merupakan perwujudan operasional dari pelaksanaan usaha
Persyarikatan menuju pencapaian terwujudnya masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya. Program Muhammadiyah sekaligus sebagai
bagian terpadu dan tidak terpisahkan dari misi dakwah dan tajdid
yang dilaksanakan Muhammadiyah selaku gerakan Islam. Dengan
demikian melalui program yang dilaksanakannya Muhammadiyah
harus mampu membawa perubahan konstruktif yang bersifat
pencerahan dalam bentuk membebeskan, memberdayaan, dan
memajukan kehidupan anggota Persyarikatan maupun umat Islam,
masyarakat/bangsa, serta umat manusia keseluruhan.
Program Muhammadiyah sebagai bagian dari ikhtiar yang
terorganisasi dalam melaksanakan usaha-usaha dan mencapai
visi Persyarikatan dituntut untuk dilaksanakan seoptimal mungkin
dalam mendekatkan atau bahkan mencapai tujuan Muhammadiyah,
yaitu terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Karena itu segenap potensi, kemampuan, dana, daya dukung, dan
infrastruktur organisasi harus dikerahkan dalam melaksanakan dan
menyukseskan program Muhammadiyah tersebut. Berkaitan dengan
itu, keberhasilan kepemimpinan Muhammadiyah di setiap tingkatan
dan lini Persyarikatan pun salah satu tolok ukurnya terletak dalam
membawa keberhasilan pelaksanaan program Muhammadiyah.
Pelaksanaan program Muhammadiyah juga memerlukan
komitmen (niat dan pengkhidmatan) yang tinggi, kerja keras, dan
kerjasama yang kuat di seluruh lingkungan Persyarikatan sesuai
dengan etos tajdid, jihad, dan ibadah dalam melaksanakan misi
Muhammadiyah menuju terwujudnya masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya. Penentu kesuksesan pelaksanaan program
adalah para pimpinan Persyarikatan di seluruh tingkatan yang
menuntut peran kepimpinan yang mengarahkan, membimbing,
menggerakkan, dan memberikan contoh dalam tindakan yang
mampu membawa kemajuan yang signifikan bagi Muhammadiyah
ke depan. Adapun hal-hal yang bersifat teknis operasional bilama
56
BRM 01/SEPTEMBER 2015
perlu akan ditindak-lanjuti dengan petunjuk pelaksanaan program
terutama yang berkaitan dengan pengorganisasian di tingkat
Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting sehingga memudahkan
pelaksanaannya.
Akhirnya, keberhasilan pelaksanaan program Muhammadiyah
sebagai bagian dari usaha dakwah amar makruf nahi munkar
tergantung pada kesungguhan ikhtiar dan do’a dari seluruh warga,
kader, dan pimpinan Persyarikatan dalam ikhtiar mewujudkan
kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat, serta dalam meraih
karunia dan ridha Allah Subhanahu Wata’ala.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
57
Lampiran 2
Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47
NEGARA PANCASILA
SEBAGAI DÂR AL-AHDI WA AL-SYAHÂDAH
A.Muqaddimah
Allah SWT mengutus Nabi Muhammad s.a.w. untuk
mendakwahkan Islam sebagai risalah yang membawa rahmat bagi
semesta alam (QS Al-Anbiya: 107). Umat Islam sebagai kesatuan
insan Muslim di manapun berada berkewajiban menjalankan dan
mendakwahkan ajaran Islam yang diperintahkan Allah dan rasulNya sebagai wujud ibadah dan kekhalifahan untuk meraih kebaikan
hidup di dunia dan akhirat (QS Al-Dzariyat: 56; Al-Baqarah: 30, Hud:
61; dan Al-Baqarah: 201). Kewajiban mengemban misi Islam itu
tidak pernah selesai dan harus terus dilakukan sebagai perwujudan
kesaksian sepanjang hayat dalam kehidupan pribadi, keluarga,
masyarakat, bangsa, dan ranah kemanusiaan universal.
Muhammadiyah sebagai komponen strategis umat dan bangsa
di Negara Republik Indonesia memiliki kewajiban kolektif untuk
mendakwahkan Islam mengajak pada kebaikan, menyuruh pada
yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Sebagaimana misi
awal kelahirannya yang terkandung dalam Al-Quran QS Ali Imran
104, Muhammadiyah berkomitmen untuk menjadikan umat Islam
sebagai khayra ummah atau umat terbaik (QS Ali Imran: 110)
yang tampil sebagai golongan tengahan (ummatan wasatha) dan
berperan sebagai saksi bagi kehidupan umat manusia (syuhadâ ‘alâ
al-nas)(QS Al-Baqarah: 143), sehingga kehadirannya menjadi rahmat
bagi semesta alam (rahmatan li al-‘âlamîn) (QS Al-Anbiya: 107).
Dalam kehidupan kebangsaan, Muhammadiyah dan umat Islam
sebagai golongan mayoritas memiliki tanggungjawab besar dan
utama untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang
baik dan berada dalam ampunan Allah (QS Saba: 15). Di dalam
negara tersebut para penduduknya beriman dan bertaqwa sehingga
diberkahi Allah (QS Al-’Araf: 96); mereka membangun negeri dengan
58
BRM 01/SEPTEMBER 2015
sabaik-baiknya dan tidak membuat kerusakan (QS Al-Baqarah: 11,
60; Al-Rum: 41; Al-Qashash: 77). Dengan demikian, Muhammadiyah
berkomitmen untuk terus berjuang memproyeksikan Indonesia
menjadi Negara Pancasila yang maju, adil, makmur, bermartabat,
dan berdaulat dalam lindungan Allah SWT.
B. Pembentukan Negara Indonesia
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan
pada 17 Agustus 1945 merupakan anugerah Allah atas perjuangan
seluruh rakyat yang mengandung jiwa, pikiran, dan cita-cita luhur
kemerdekaan. Spirit keruhanian yang menjiwai lahirnya Negara
Indonesia itu tertuang dalam tiga alinea awal Pembukaan UUD 1945,
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala
bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus
dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan
dan peri-keadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan
Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan
selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan
pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Atas berkat rakhmat Allah
Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan
luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka
rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia ialah untuk
“melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.” Konstitusi dasar yang menjadi landasan bernegara
itu dirumuskan dalam “suatu Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
59
mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Adapun dasar dan ideologi negara yang fundamental ialah Pancasila
yang disebut oleh Soekarno dalam Pidato 1 Juni 1945 sebagai
Philosofische Grondslag yaitu “fundamen, filsafat, pikiran yang
sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di
atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.”
Diktum-diktum mendasar dalam Pembukaan UUD 1945
itu sungguh penting dan mendasar karena mengandung jiwa,
filosofi, pemikiran, dan cita-cita bernegara untuk dihayati dan
diwujudkan dalam kehidupan kebangsaan oleh seluruh warga dan
penyelenggara negara dengan penuh makna dan kesungguhan.
Di dalamnya terkandung suasana kebatinan dan spiritualitas yang
didasari jiwa keagamaan dari para pendiri bangsa. Jika dirujuk pada
Sila Pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, maka negara
Indonesia itu tidak dapat dipisahkan dari jiwa, pikiran, dan nilai-nilai
Ketuhanan dan Keagamaan yang bebasis Tauhid. Spirit ruhaniah
itu makin menguat manakala dikaitkan dengan pasal 29 UUD 1945
yang mengakui keberadaan dan kemerdekaan umat beragama
untuk menjalankan keyakinan dan kepercayaan agamanya. Dalam
Pembukaan UUD 1945 itu terkandung esensi nilai-nilai ketuhanan
yang kuat. Oleh karena itu, Indonesia dapat dikatakan sebagai
Negara Pancasila yang relijius dan bukan suatu negara sekuler yang
memisahkan atau menjauhkan nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan
dari denyut nadi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.
Kelahiran dan kehadiran Negara Indonesia yang berjiwa
ketuhanan dan keagamaan itu memiliki matarantai sejarah yang
panjang khususnya dengan keberadaan umat Islam dan kerajaankerajaan Islam di masa lampau. Di negeri kepulauan ini telah lahir
kerajaan-kerajaan besar yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara
seperti Tarumanegara, Kutai, Sriwijaya, Kediri, Singosari, Majapahit,
Samudra Pasai, Aceh Darussalam, Siak, Demak, Pajang, Mataram,
Banten, Cirebon, Pajajaran, Ternate, Tidore, Gowa, Buton, Bone,
Luwu, Sumbawa, Bima, Pagaruyung, Banjar, Karangasem, Madura,
Larantuka, Papua, dan kerajaan-kerajaan lainnya sebagai tonggak
sejarah bangsa. Dalam perjalanan sejarah itu peranan umat Islam
dan kerajaan-kerajaan Islam sangatlah penting dan strategis dalam
perjuangan kemerdekaan dan pembentukan Indonesia sebagai
60
BRM 01/SEPTEMBER 2015
negara-bangsa.
Peranan umat Islam yang bersejarah itu menemukan bentuknya
yang moderen dan terorganisir pada awal abad ke-20 yang ditandai
oleh lahirnya gerakan kebangkitan nasional dari organisasiorganisasi Islam seperti Jami’atul Khair (1905), Sarikat Dagang
Islam (1905), Sarekat Islam (1911), Muhammadiyah (1912), AlIrsyad (1914), Persatuan Islam (1923), Nahdlatul Ulama (1926), dan
lain-lain. Selain itu, Kongres Wanita pertama tahun 1928, di mana
‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah menjadi
salah satu pemrakarsa dan penyelenggara, merupakan tonggak
kebangkitan perempuan Indonesia dan menjadi bagian integral
dari pergerakan nasional. Arus pergerakan nasional dari umat Islam
tersebut bersatu dengan komponen kebangkitan nasional lainnya
menjadi sumber kekuatan dan modal perjuangan bangsa yang
melahirkan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada
tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah merdeka, Indonesia mengalami dinamika kehidupan
yang kompleks sebagaimana tercermin dalam beberapa periode
pemerintahan di era Revolusi (1945-1949), Demokrasi Parlementer
(1950-1959), Orde Lama (1959-1966), Orde Baru (1966-1998), dan
Reformasi sejak tahun 1998. Dalam perjalanan Indonesia pasca
kemerdekaan itu, umat Islam melalui organisasi-organisasi Islam dan
para tokohnya maupun melalui gerakan massa, telah mengambil
peranan yang signifikan. Dalam perja­lanan bangsa yang sarat
dinamika itu, selain muncul berbagai krisis dan per­masalahan, juga
terdapat kemajuan-kemajuan yang cukup berarti sebagai hasil dari
pembangunan nasional yang dilakukan pada setiap periode dan
menjadi tonggak bagi perkem­bangan Indonesia ke depan.
Namun, patut diakui bahwa pasca kemerdekaan itu Indonesia
banyak menghadapi permasalahan dan tantangan yang berat
dan kompleks. Kehidupan bangsa dan negara Indonesia setelah
puluhan tahun merdeka sampai saat ini masih ditandai kejumudan
(stagnasi), peluruhan (distorsi), dan penyimpangan (deviasi) dalam
berbagai bidang kehidupan kebangsaan. Meskipun terdapat banyak
kemajuan, seperti dalam kehidupan demokrasi dan hak asasi
manusia, tingkat pertumbuhan ekonomi, dan suasana kemajemukan
bangsa yang terpelihara dengan baik, tak dapat dipungkiri bahwa
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
61
masih banyak persoalan rumit dan mendesak yang harus segera
diselesaikan. Di antara masalah yang cukup serius adalah korupsi
yang masif, penegakan hukum yang lemah, kesenjangan sosial
yang melebar, sumberdaya alam yang dieksploitasi dan dikuasai
pihak asing, dan hal-hal lain yang berdampak luas pada kehidupan
kebangsaan yang jauh dari cita-cita nasional.
Kehidupan kebangsaan juga masih diwarnai oleh krisis moral
dan etika, disertai berbagai paradoks dan pengingkaran atas nilainilai keutamaan yang selama ini diakui sebagai nilai-nilai luhur
budaya bangsa. Kenyataan ini ditunjukkan oleh perilaku elite dan
warga masyarakat yang korup, konsumtif, hedonis, materialistik, suka
menerabas, dan beragam tindakan menyimpang lainnya. Sementara
itu, proses pembodohan, kebohongan publik, kecurangan,
pengaburan nilai, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya (tadzlîm)
semakin merajalela di tengah usaha-usaha untuk mencerahkan
(tanwîr) kehidupan bangsa. Situasi paradoks dan konflik nilai tersebut
menyebabkan masyarakat Indonesia kehilangan makna dalam
banyak aspek kehidupan dan melemahkan sendi-sendi kehidupan
bangsa dan negara. Akibat lebih jauh dari masalah-masalah krusial
dan kondisi yang bertentangan itu, Indonesia semakin tertinggal
dalam banyak hal dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.
Indonesia telah banyak kehilangan peluang untuk berkembang
menjadi bangsa atau negara yang berkemajuan. Jika berbagai
permasalahan bangsa seperti korupsi, kemiskinan, ketenagakerjaan,
kerusakan lingkungan, serta sejumlah masalah politik, ekonomi, dan
sosial budaya lainnya yang krusial tidak memperoleh pemecahan
yang sungguh-sungguh, maka Indonesia berpotensi menjadi
“negara gagal” dan salah arah dalam menempuh perjalanan ke
depan. Situasi demikian jelas bertentangan dengan makna dan citacita kemerdekaan. Karenanya, Muhammadiyah memandang penting
langkah rekonstruksi kehidupan kebangsaan yang bermakna dalam
seluruh aspek kehidupan khususnya politik, ekonomi, dan budaya
menuju Indonesia Berkemajuan. Indonesia Berkemajuan merupakan
kondisi bangsa dan negara yang maju, adil, makmur, bermartabat,
dan berdaulat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai dasar yang
terkandung dalam lima sila Pancasila dan cita-cita kemerdekaan
yang diletakkan fondasinya oleh para pendiri bangsa tahun 1945.
62
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki nilai-nilai keutamaan
untuk menjadi unggul dan berperadaban tinggi. Di antara nilai-nilai
itu adalah daya juang, tahan menderita, mengutamakan harmoni,
dan gotong royong. Nilai-nilai keutamaan tersebut masih relevan,
namun memerlukan penyesuaian dan pengembangan sejalan
dengan dinamika dan tantangan zaman. Tantangan globalisasi
yang meniscayakan orientasi kepada kualitas, persaingan dan daya
saing menuntut bangsa Indonesia memiliki karakter yang bersifat
kompetitif, dinamis, dan berkeunggulan disertai ketangguhan dalam
menunjukkan jatidiri bangsa.
Seluruh komponen nasional dan generasi penerus bangsa,
termasuk umat Islam sebagai kekuatan mayoritas, wajib memahami
keberadaan Negara Indonesia untuk dibangun menjadi negarabangsa yang berkemajuan seusai dengan tuntutan zaman.
Mereka yang menduduki jabatan-jabatan publik berkewajiban
menjalankan fungsi utama pemerintahan sesuai dengan jiwa,
falsafah, pemikiran, dan cita-cita nasional. Pengingkaran terhadap
nilai-nilai luhur kebangsaan itu merupakan bentuk penyelewengan
dan penghianatan atas idealisme kemerdekaan. Sebaliknya, setiap
usaha untuk mewujudkan nilai dan cita-cita nasional itu merupakan
bukti kesungguhan untuk membawa Indonesia sebagai bangsa dan
negara yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat di
tengah dinamika perkembangan zaman. Segenap kekuatan nasional
harus memiliki tekad yang kuat dan bersatu untuk menjadikan
Indonesia sebagai Negara Pancasila yang berdiri tegak di atas jiwa,
pikiran, dan cita-cita nasional 1945 yang penting dan luhur itu.
C. Peran Strategis Muhammadiyah
Muhammadiyah sebagai kekuatan nasional sejak awal
berdirinya pada tahun 1912 telah berjuang dalam pergerakan
kemerdekaan. Melalui para tokohnya, Muhammadiyah juga terlibat
aktif mendirikan Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan
pada 17 Agustus 1945. Muhammadiyah memiliki komitmen dan
tanggungjawab tinggi untuk memajukan kehidupan bangsa dan
negara. Para tokoh Muhammadiyah sejak era K. H. Ahmad Dahlan
dan Nyai Walidah Dahlan hingga sesudahnya mengambil peran
aktif dalam usaha-usaha kebangkitan nasional dan perjuangan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
63
kemerdekaan. Kiprah Muhammadiyah tersebut melekat dengan nilai
dan pandangan Islam berkemajuan yang menjadikan komitmen
cinta pada tanah air sebagai salah satu wujud keislaman.
Pendiri Muhammadiyah sejak awal pergerakannya memelopori
gerakan Islam berkemajuan. Dalam perspektif Muhammadiyah,
Islam adalah “agama peradaban” (dîn al-hadlârah) yang diturunkan
untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan dan
terbangunnya peradaban semesta yang berkemajuan. Kemajuan
dalam pandangan Islam adalah kebaikan yang melahirkan
keunggulan hidup lahiriah dan ruhaniah. Adapun dakwah dan
tajdid bagi Muhammadiyah merupakan jalan perubahan untuk
mewujudkan Islam sebagai agama bagi kemajuan hidup umat
manusia sepanjang zaman. Islam berkemajuan yang melahirkan
pencerahan itu merupakan refleksi dari nilai-nilai transendensi,
liberasi, emansipasi, dan humanisasi sebagaimana terkandung
dalam pesan Al-Quran (QS. ‘Ali Imran: 104 dan 110) yang menjadi
inspirasi kelahiran Muhammadiyah. Secara ideologis, Islam yang
berkemajuan merupakan bentuk transformasi Al-Ma’un untuk
menghadirkan dakwah dan tajdid secara aktual dalam pergulatan
hidup keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.
Transformasi Islam berkemajuan merupakan perwujudan dari
pandangan keagamaan yang bersumber pada Al-Quran dan AsSunnah dengan mengembangkan ijtihad di tengah tantangan
kehidupan modern abad ke-21 yang sangat kompleks.
Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan maupun
kemanusiaan universal mendasarkan diri pada pandangan Islam
berkemajuan. Muhammadiyah menegaskan komitmen untuk
terus berkiprah menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan,
kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan
hidup secara dinamis menuju peradaban yang utama. Islam
ditegakkan untuk menjunjungtinggi kemuliaan manusia baik lakilaki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam Berkemajuan
adalah Islam yang menggelorakan misi antiperang, antiterorisme,
antikekerasan, antipenindasan, antiketerbelakangan. Islam
Berkemajuan juga anti terhadap segala bentuk pengrusakan di
muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan
kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemunkaran yang
64
BRM 01/SEPTEMBER 2015
menghancurkan kehidupan. Islam Berkemajuan secara positif
memayungi kemajemukan suku bangsa, ras, golongan, dan
kebudayaan; menyebarkan pesan damai, toleran, dan sikap tengahan
di segala bidang kehidupan. Dengan kata lain, Islam Berkemajuan
adalah Islam yang mengemban risalah rahmatan li al-’âlamîn yang
menyatu dan memberi warna keindonesiaan serta kemanusiaan
universal.
Peran Muhammadiyah dalam mengemban misi Islam
berkemajuan berlanjut dalam kiprah kebangsaan lahirnya Negara
Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945. Para pemimpin
Muhammadiyah terlibat aktif dalam usaha-usaha kemerdekaan.
Kyai Haji Mas Mansur menjadi anggota Empat Serangkai bersama
Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara yang
merintis prakarsa persiapan kemerdekaan Indonesia terutama
dengan pemerintahan balatentara Jepang. Tiga tokoh penting
Muhammadiyah, seperti Ki Bagus Hadikusumo, Prof. Kahar
Mudzakir, dan Mr. Kasman Singodimedjo bersama para tokoh
bangsa lainnya juga telah berperan aktif dalam Badan Persiapan
Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk merumuskan prinsip dan
bangunan dasar negara Indonesia. Ketiga tokoh tersebut bersama
tokoh-tokoh Islam lainnya menjadi perumus dan penandatangan
lahirnya Piagam Jakarta yang menjiwai Pembukaan UUD 1945.
Dalam momentum kritis satu hari setelah Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) diproklamasikan, Ki Bagus Hadikusumo
dan Mr. Kasman Singodimedjo dengan jiwa keagamaan dan
kenegarawanan yang tinggi demi menyelamatkan keutuhan dan
persatuan Indonesia, dapat mengikhlaskan dihapuskannya tujuh
kata dalam Piagam Jakarta. Tujuh kata yang dimaksud adalah anak
kalimat “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemelukpemeluknya” dan menggantinya menjadi “Ketuhanan Yang Maha
Esa” sebagaimana menjadi sila pertama dari Pancasila. Pencoretan
tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut bukan hal mudah bagi
para tokoh Muhammadiyah dan wakil umat Islam kala itu. Sikap
tersebut diambil semata-mata sebagai wujud tanggungjawab dan
komitmen kebangsaan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Pengorbanan para tokoh Islam tersebut menurut Menteri
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
65
Agama Repulik Indonesa, Letjen (TNI) Alamsjah Ratu Perwiranegara,
merupakan hadiah terbesar umat Islam untuk bangsa dan negara
Indonesia.
Panglima Besar Jenderal Soedirman selaku kader dan pimpinan
Muhammadiyah membuktikan peran strategisnya dalam perjuangan
kemerdekaan dan mempertahankan keabsahan Indonesia Merdeka.
Soedirman menjadi tokoh utama perang gerilya dan kemudian
menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia. Nama lain yang patut
disebut adalah Insinyur Juanda, seorang tokoh Muhammadiyah
yang menjadi pencetus Deklarasi Juanda tahun 1957. Deklarasi
Juanda merupakan tonggak eksistensi Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang menyatukan laut ke dalam kepulauan Indonesia,
sehingga Indonesia menjadi negara-bangsa yang utuh.
Muhammadiyah dengan pandangan Islam berkemajuan
senantiasa berusaha untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman
dan keindonesiaan. Muhammadiyah telah dan akan terus
memberikan sumbangan besar di dalam upaya-upaya mencerdaskan
dan memajukan kehidupan bangsa serta mengembangkan moral
politik Islam yang berwawasan kebangsaaan di tengah pertarungan
berbagai ideologi dunia. Apa yang selama ini dikerjakan
Muhammadiyah telah diakui oleh masyarakat luas dan Pemerintah
Republik Indonesia. Pemerintah sendiri menetapkan K. H. Ahmad
Dahlan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden
Nomor 657 tanggal 27 Desember 1961, dengan pertimbangan
sebagai berikut: (1) kepeloporan dalam kebangunan umat Islam
Indonesia untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang
harus belajar dan berbuat; (2) memberikan ajaran Islam yang murni
kepada bangsanya, ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan
dan beramal bagi masyarakat dan umat; (3) memelopori amalusaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangunan
dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan (4) melalui
organisasi ‘Aisyiyah telah memelopori kebangunan wanita bangsa
Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial,
setingkat dengan kaum pria. Nyai Walidah Dahlan karena kiprah
kebangsaan yang diperankannya melalui ‘Aisyiyah juga ditetapkan
sebagai Pahlawan Nasional, yang memperkuat bukti kepercayaan
dan pengakuan negara terhadap perjuangan Muhammadiyah dan
66
BRM 01/SEPTEMBER 2015
organisasi perempuannya itu.
Setelah Indonesia merdeka, pengabdian Muhammadiyah
terhadap bangsa dan negera terus berlanjut. Khidmat kebangsaan
ini lahir dari pesan ajaran Islam yang berkemajuan dan didorong
oleh keinginan yang kuat agar Indonesia mampu melangkah ke
depan menjadi negara dan bangsa yang unggul sejalan dengan
cita-cita kemerdekaan. Kiprah dan pengkhidmatan Muhammadiyah
sepanjang lebih satu abad itu merupakan bukti bahwa
Muhammadiyah ikut “berkeringat”, berkorban, dan memiliki saham
yang besar dalam usaha-usaha kemerdekaan dan membangun
Negara Indonesia. Karenanya Muhammadiyah berkomitmen untuk
terus berkiprah membangun dan meluruskan arah kiblat Indonesia
sebagai Negara Pancasila.
D. Kedudukan Negara Pancasila
Muhammadiyah memandang bahwa Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 adalah
Negara Pancasila yang ditegakkan di atas falsafah kebangsaan yang
luhur dan sejalan dengan ajaran Islam. Sila Ketuhanan Yang Maha
Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia,
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia; secara esensi selaras dengan nilai-nilai ajaran
Islam. Negara Pancasila yang mengandung jiwa, pikiran, dan citacita luhur sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 itu
dapat diaktualisasikan sebagai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun
Ghafur yang berperikehidupan maju, adil, makmur, bermartabat,
dan berdaulat dalam naungan ridla Allah SWT.
Bahwa Negara Pancasila merupakan hasil konsensus nasional
(dâr al-ahdi) dan tempat pembuktian atau kesaksian (dâr alsyahâdah) untuk menjadi negeri yang aman dan damai (dâr alsalâm). Negara ideal yang dicita-citakan Islam adalah negara yang
diberkahi Allah karena penduduknya beriman dan bertaqwa (QS AlA’raf: 96), beribadah dan memakmurkannya (QS Al-Dzariyat: 56; Hud:
61), menjalankan fungsi kekhalifahan dan tidak membuat kerusakan
di dalamnya (QS Al-Baqarah: 11, 30), memiliki relasi hubungan
dengan Allah (hablun min Allâh) dan dengan sesama (hablun
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
67
min al-nâs) yang harmonis (QS Ali Imran: 112), mengembangkan
pergaulan antarkomponen bangsa dan kemanusiaan yang setara
dan berkualitas taqwa (QS Al-Hujarat: 13), serta menjadi bangsa
unggulan bermartabat (khairu ummah) (QS Ali Imran: 110).
Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia adalah
ideologi negara yang mengikat seluruh rakyat dan komponen
bangsa. Pancasila bukan agama, tetapi substansinya mengandung
dan sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dengan demikian,
dapat dinyatakan bahwa Pancasila itu Islami karena substansi
pada setiap silanya selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dalam
Pancasila terkandung ciri keislaman dan keindonesiaan yang
memadukan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan (humanisme
religius), hubungan individu dan masyarakat, kerakyatan dan
permusyawaratan, serta keadilan dan kemakmuran. Melalui proses
integrasi keislaman dan keindonesiaan yang positif itu, umat Islam
Indonesia sebagai kekuatan mayoritas dapat menjadi teladan yang
baik (uswah hasanah) dalam mewujudkan cita-cita nasional yang
sejalan dengan idealisasi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafûr.
Segenap umat Islam harus berkomitmen menjadikan Negara
Pancasila sebagai Dâr al-Syahâdah atau negara tempat bersaksi
dan membuktikan diri dalam mengisi dan membangun kehidupan
kebangsaan. Dalam Negara Pancasila sebagai Dâr al-Syahâdah,
umat Islam harus siap bersaing untuk mengisi dan memajukan
kehidupan bangsa dengan segenap kreasi dan inovasi yang terbaik.
Dalam hal ini, Muhammadiyah sebagai komponen strategis umat
dan bangsa mempunyai peluang besar untuk mengamalkan etos
fastabiq al-khairât itu dan tampil sebagai kekuatan yang berada
di garis depan (a leading force) untuk mengisi dan memimpin
kehidupan kebangsaan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan
berdaulat sejajar dengan negara-negara lain yang telah maju dan
berperadaban tinggi.
Dalam kenyataan hidup berbangsa dan bernegara, nilainilai Pancasila belum sepenuhnya diimplementasikan sehingga
penyelenggaraan pemerintahan masih diwarnai penyimpangan.
Saat ini, masih banyak praktik-praktik korupsi, kekerasan, skandal
moral, eksploitasi sumberdaya alam secara tak bertanggungjawab,
kemiskinan, dan belum terwujudnya pemerataan atas hasil
68
BRM 01/SEPTEMBER 2015
pembangunan nasional. Sebagian elite dan warga menunjukkan
perilaku “ajimumpung” dan lebih mengedepankan kepentingan
diri dan kroni. Sementara kehidupan sosial politik, ekonomi, dan
budaya cenderung serbaliberal. Oleh karena itu, Pancasila dengan
lima silanya yang luhur itu harus ditransformasikan ke dalam seluruh
sistem kehidupan nasional. Pancasila harus diberi pemaknaan
nilai dan aktualisasi secara terbuka dan dinamis sehingga dapat
menjadi rujukan dan panduan yang mencerdaskan, memajukan,
dan mencerahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam Negara Pancasila terkandung paham nasionalisme
yang menjunjung-tinggi nilai-nilai dan orientasi kebangsaan yang
menjadi bingkai pandangan negara-bangsa. Paham nasionalisme
serta segala bentuk pemikiran dan usaha yang dikembangkan dalam
membangun Indonesia haruslah berada dalam kerangka dasar
Negara Pancasila dan diproyeksikan untuk terwujudnya cita-cita
nasional tahun 1945. Nasionalisme harus dimaknai dan difungsikan
sebagai spirit, pemikiran, dan tindakan untuk membangun Indonesia
secara amanah dan bertanggungjawab.
Nasionalisme yang bertumpu pada jiwa dan cita-cita
kemerdekaan itu harus mampu menghilangkan benih-benih
separatisme dan penyimpangan dalam bernegara. Segala
bentuk separatisme yang ingin memisahkan diri dari Indonesia
dan mencita-citakan bentuk negara yang lain sesungguhnya
bertentangan dengan komitmen nasional dan cita-cita Proklamasi
Kemerdekaan. Demikian pula setiap bentuk penyelewengan dalam
mengurus negara seperti korupsi, kolusi, nepotisme, penjualan
aset-aset negara, pengrusakan sumberdaya alam dan lingkungan,
penindasan terhadap rakyat, otoritanisme, pelanggaran hak asasi
manusia, tunduk pada kekuasaan asing, serta berbagai tindakan
yang merugikan hajat hidup bangsa dan negara merupakan
penghianatan terhadap nasionalisme dan cita-cita kemerdekaan.
Muhammadiyah sebagai kekuatan strategis umat dan bangsa
berkomitmen untuk membangun Negara Pancasila dengan
pandangan Islam yang berkemajuan. Islam yang berkemajuan
menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian,
keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara
dinamis bagi seluruh umat manusia. Islam yang menjunjungtinggi
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
69
kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa
diskriminasi. Islam yang secara positif melahirkan keutamaan
yang memayungi kemajemukan suku bangsa, ras, golongan,
dan kebudayaan umat manusia di muka bumi. Dalam konteks ini
pula umat Islam dapat melihat keselarasan semangat Pancasila
di Indonesia dengan semangat Piagam Madinah yang menjadi
landasan konstitusi pada awal pemerintahan Islam di bawah Nabi
Muhammad Saw. Piagam Madinah adalah hasil dari sebuah bentuk
kompromi politik yang memayungi berbagai bangsa, golongan, dan
agama pada masa Nabi Muhammad Saw.
Dengan pandangan Islam yang berkemajuan, Muhammadiyah
bertekad berjuang di Negara Pancasila menuju Indonesia
Berkemajuan sesuai dengan Kepribadiannya yaitu: (1) Beramal dan
berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan; (2) Memperbanyak
kawan dan meningkatkan persaudaraan (ukhuwah Islâmiyah); (3)
Memiliki pandangan luas dengan memegang teguh ajaran Islam; (4)
Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan; (5) Mengindahkan segala
hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara
yang sah; (6) Melakukan Amar ma’ruf nahi munkar dan menjadi
teladan yang baik; (7) Aktif dalam perkembangan masyarakat
dengan maksud islah dan pembangunan sesuai dengan ajaran
Islam; (8) Kerjasama dengan golongan Islam mana pun juga dalam
usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam, serta membela
kepentingannya; (9) Membantu pemerintah serta bekerjasama
dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara;
dan (10) Bersifat adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan
bijaksana.
Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam menyadari sepenuhnya
bahwa Negara Indonesia merupakan tempat menjalankan misi
dakwah dan tajdid untuk terwujudnya masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya. Karenanya sebagaimana terkandung dalam
butir kelima Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah
(MKCH) tahun 1969, “Muhammadiyah mengajak segenap lapisan
bangsa Indonesia untuk bersama-sama membangun suatu negara
yang adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata`ala.”
70
BRM 01/SEPTEMBER 2015
E. Proyeksi ke Depan
Di masa yang akan datang, Indonesia akan menghadapi banyak
masalah dan tantangan yang berat serta multidimensi. Untuk itu,
Muhammadiyah mengajak segenap komponen bangsa untuk
menjadikan Indonesia sebagai Negara Pancasila yang memiliki
idealisme dan ciri utama “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbuh Ghafur”.
Muhammadiyah percaya sepenuhnya bahwa bangsa Indonesia
dapat menyelesaikan masalah-masalah besar yang dihadapinya
dan mampu menjadi negara-bangsa yang berkemajuan di segala
bidang kehidupan. Optimisme ini tumbuh karena bangsa Indonesia
sesungguhnya memiliki modal sejarah yang penting dan berharga
untuk menjadi negara berkemajuan sejajar dengan negara-negara
lain yang telah maju dalam kancah peradaban dunia. Pencapaian
Indonesia yang berkemajuan tersebut mensyaratkan perjuangan
yang sungguh-sungguh dari semua pihak yakni pemerintah, warga
negara, dan seluruh komponen bangsa, disertai tekad, kebersamaan,
dan pengerahan potensi nasional secara optimal.
Dalam kehidupan kebangsaan Muhammadiyah sejak awal
berjuang untuk pengintegrasian keislaman dan keindonesiaan.
Bahwa Muhammadiyah dan umat Islam merupakan bagian integral
dari bangsa dan telah berkiprah dalam membangun Indonesia
sejak pergerakan kebangkitan nasional hingga era kemerdekaan.
Muhammadiyah terlibat aktif dalam peletakan dan penentuan
fondasi negara-bangsa yang berdasar Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Muhammadiyah berkonstribusi dalam usaha
mencerdaskan kehidupan bangsa serta memelihara politik Islam
yang berwawasan kebangsaan di tengah pertarungan berbagai
ideologi dunia. Muhammadiyah memiliki wawasan kebangsaan
yang jelas bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 merupakan konsensus
nasional yang mengikat seluruh komponen bangsa. Dengan
demikian, bagi warga Muhammadiyah maupun umat Islam Negara
Pancasila yang di dalamnya terkandung persenyawaan nilai-nilai
keislaman dan keindonesiaan yang luhur merupakan wahana
pembuktian (al-syahâdah) menuju Indonesia Berkemajuan.
Umat Islam hendaknya menjalankan peran-peran strategis
dalam membawa Indonesia menjadi negara dan bangsa
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
71
berkemajuan. Umat Islam harus tampil sebagai perekat integrasi
nasional yang menampilkan Islam Indonesia berwatak tengahan
(wasathiyyah) yang damai, santun, dan toleran. Islam Indonesia
berkemajuan merupakan alternatif masa depan Negara Pancasila
di tengah pusaran dunia yang dinamis dan progresif pada era
abad ke-21. Islam Indonesia yang berkemajuan memiliki wawasan
kosmopolitanisme. Tanpa Islam yang berkemajuan maka Indonesia
akan tetap menjadi negara sedang berkembang, berbudaya
tradisional yang tertinggal, serta tidak akan menjadi negara-bangsa
yang unggul di kancah dunia.
Dalam menghadapi masalah dan tantangan Indonesia saat
ini dan ke depan, Muhammadiyah harus senantiasa proaktif
dalam memajukan kehidupan bangsa serta menjaga kerukunan,
kedamaian, ketertiban, dan kebaikan bersama dalam masyarakat
sebagai wujud dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan menyebarkan
nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan
universal. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam pelopor
pembaruan senantiasa istiqamah melaksanakan misi dakwah dan
tajdid untuk pencerahan, bersikap proaktif dalam menunaikan peranperan keumatan dan kebangsaan secara konstruktif, cerdas, dan
bijaksana; serta tidak bergerak dalam perjuangan politik kekuasaan
(politik praktis). Warga dan pimpinan Muhammadiyah di seluruh
tingkatan memiliki kewajiban moral-keagamaan untuk memberikan
keteladanan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara dalam seluruh aspek kehidupan yang didasari nilainilai Islami.
Dalam memasuki fase abad kedua, Muhammadiyah senantiasa
aktif menjalankan jihad kebangsaan sebagai aktualisasi dakwah
dan tajdid pencerahan dengan melakukan peran-peran konstruktif
dalam meluruskan kiblat bangsa. Jihad konstitusi yang selama ini
dilakukan Muhammadiyah merupakan bagian dari jihad kebangsaan
agar segala kebijakan negara dengan seluruh instrumennya benarbenar sejalan dengan jiwa, pemikiran, filosofi, dan cita-cita nasional
sebagaimana diletakkan oleh para pendiri bangsa. Muhammadiyah
senantiasa mengutamakan kepentingan dan kemajuan bangsa di
atas segalanya serta membawa misi kebangsaan agar Indonesia
dibangun secara bertanggungjawab dan tidak boleh ada
72
BRM 01/SEPTEMBER 2015
kebijakan-kebijakan maupun tindakan-tindakan yang membawa
kerusakan di dalamnya. Muhammadiyah sejalan dengan Khittah
dan Kepribadiannya menegaskan sikap untuk konsisten dalam
beramar ma’ruf dan nahi munkar, berkiprah nyata melalui berbagai
amal usaha, serta bekerjasama dengan pemerintah dan seluruh
komponen bangsa menuju Indonesia Berkemajuan.
Dalam membawa Negara Pancasila ke depan, Muhammadiyah
mengajak seluruh elite bangsa untuk konsisten antara kata dan
tindakan, menjunjungtinggi moral yang utama, menunaikan
amanat rakyat, serta memperjuangkan kepentingan rakyat di
atas kepentingan diri, kelompok, dan golongan. Muhammadiyah
mengajak pemerintah di seluruh tingkatan untuk berkomitmen
dalam memajukan bangsa dan negara disertai sikap yang
mengedepankan keadilan dan kejujuran, berdiri di atas semua
golongan, tidak partisan dan menyalahgunakan kekuasaan, serta
mampu menunjukkan jiwa kenegarawanan. Bersamaaan dengan
itu, dalam kehidupan kebangsaan Muhammadiyah memandang
bahwa Indonesia ke depan meniscayakan rekonstruksi sosialpolitik, ekonomi, dan budaya yang bermakna yang mensyaratkan
kehadiran agama sebagai sumber nilai kemajuan, pendidikan yang
mencerahkan, kepemimpinan profetik, institusi yang progresif, dan
keadaban publik.
Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âla memberikan perlindungan,
petunjuk, dan ridla-Nya untuk bangsa Indonesia menuju tercapainya
kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat
sejalan dengan cita-cita Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.[]
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
73
Lampiran 3
Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47
MODEL DAKWAH PENCERAHAN
BERBASIS KOMUNITAS
A. Pendahuluan
Muhammadiyah dalam memasuki abad kedua berkomitmen
kuat untuk melakukan gerakan pencerahan sebagai persambungan
dari gerakan pembaruan yang dilakukan pada abad pertama.
Gerakan pencerahan merupakan aktualisasi misi dakwah dan
tajdid yang bersifat transformatif, yaitu strategi perubahan dinamis
yang menekankan pada proses gerakan yang membebaskan,
memberdayakan, dan memajukan kehidupan masyarakat. Gerakan
pencerahan tersebut harus diwujudkan dalam seluruh bidang dan
lapangan usaha Muhammadiyah, sehingga tidak berhenti dalam
pemikiran semata tetapi membumi menjadi gerakan praksis
yang mencerahkan kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan
universal. Dalam pengembangan dakwah, gerakan pencerahan
diaktualisasikan melalui model dakwah pencerahan berbasis
komunitas untuk menggarap berbagai kelompok sosial yang
heterogen dan berkembang pesat dalam kehidupan masyarakat
Indonesia saat ini.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang mengemban misi
dakwah dan tajdid mampu bertahan dan berkiprah satu abad lebih
antara lain karena bergerak aktif dalam membangun masyarakat
di basis jamaah atau komunitas. Keberadaan Muhammadiyah di
ranah komunitas ( jamaah) menjadi kuat karena membawa misi
dakwah dan tajdid yang menyebarluaskan usaha-usaha kemajuan
yang dirasakan langsung masyarakat. Pada awal kehadirannya
Muhammasiyah ditentang oleh sebagian kalangan umat
karena dianggap membawa paham baru, tetapi lama kelamaan
dapat diterima luas sehingga menyebar ke seluruh Indonesia.
Muhammadiyah akhirnya berkembang menjadi gerakan Islam
pembaruan yang terbesar bukan hanya di lingkup nasional tetapi
74
BRM 01/SEPTEMBER 2015
juga di ranah global.
Muhammadiyah menyadari pentingnya membangun masyarakat
sebagai inti dan fokus gerakannya. Dalam Muqaddimah Anggaran
Dasar Muhammadiyah poin kedua secara tegas dinyatakan, bahwa
“Hidup manusia bermasyarakat”, yang menunjukkan kesadaran akan
posisi dan fungsi masyarakat, termasuk di dalamnya komunitas
atau jamaah. Muhammadiyah bahkan menetapkan tujuannya pada
pembentukan masyarakat, yaitu “Masyarakat Islam yang sebenarbenarnya”. Dengan demikian orientasi ke basis masyarakat, di
dalamnya terdapat komunitas atau jamaah umat, menjadi bagian
penting dari ideologi gerakan Muhammadiyah sejak awal gerakan
ini lahir hingga perjalanannya melampaui satu abad.
Dalam konteks sejarah, Muhammadiyah generasi awal di bawah
kepeloporan Kyai Ahmad Dahlan selaku pendiri dan perintis banyak
memelopori usaha-usaha pembinaan komunitas atau jamaah di
masyarakat. Pendiri Muhammadiyah tersebut membentuk dan
membina kelompok pengajian seperti Wal Ashri, Fathul Asrar
Miftahu Sa’adah, Nurul Iman, dan lain-lain. Didirikan Qismul Arqa
kelompok putra-putri yang dibina di rumah atau asramanya, yang
menjadi embrio lahirnya Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat
Yogyakarya. Kyai dan sahabat-sahabat terdekatnya juga membina
kepanduan, yang melahirkan Hizbul Wathan tahun 1918. Pembinaan
Siswa Praja sebagai embrio ‘Aisyiyah tahun 1917.
Kyai Dahlan melalui gerakan Al-Ma’un mengumpulkan anakanak yatim yang kemudian dilembagakan menjadi Weeshuis (Rumah
Yatim), Armeinhuis (Rumah Miskin), dan Poliklinik sebagai benih
lahirnya Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) atau kini dikenal
sebagai Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Pendiri Muhammadiyah
tersebut juga bergaul dengan kelompok elit di Boedi Oetomo,
mengajar di Sekolah Praja, dan berinteraksi dengan siapa saja yang
ditemuinya untuk berdialog dan mendakwahkan Islam. Di kediaman
HOS Tjokroaminoto Kyai Dahlan juga memberikan pengajian
Islam yang mencerahkan di hadapan Soekano, Semaun, dan ekite
muda pergerakan yang haus ilmu dan keislaman. Perintisan awal
Muhammaiyah tersebut menunjukkan usaha-usaha langsung
membina kelompok-kelompok khusus dalam masyarakat, yang
saat ini dikenal sebagai komunitas atau jamaah.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
75
Secara sistematik dan terprogram Muhammadiyah pada
Muktamar ke-37 tahun 1968 melangkah lebih jauh dengan
menggagas dan merumuskan program Gerakan Jamaah dan
Dakwah Jamaah (GJDJ). Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah
tersebut dirumuskan untuk mengembalikan Muhammadiyah (ReTajdid Muhammadiyah) ke jalur dakwah di basis akar-rumput.
Kelahiran Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) atau disebut
Gerakan Jamaah (GJ) tersebut menunjukkan kesadaran, komitmen,
dan usaha Muhammadiyah untuk berdakwah secara langsung
menggarap kelompok masyarakat di akar-rumput (grass-root) yang
disebut jamaah atau dalam istilah mutakhir dikenal dengan sebutan
komunitas (community).
Kebijakan dan langkah dakwah Muhammadiyah tersebut
merupakan terobosan atau pembaruan karena Muhammadiyah
masuk ke ranah yang strategis dengan melakukan dakwah secara
bil-hal (dakwah dengan tindakan) selain bi-lisan (tabligh, lisan dan
tulisan) yang meletakkan kesejahteraan sebagai fokus atau sasaran
pembinaan dalam masyarakat yang dipadukan dengan aspek-aspek
keagamaan. Gerakan Jamaah tersebut juga merupakan pembaruan
karena masyarakat yang dibina bukan hanya yang beragama
Islam (ekslusif) tetapi juga yang beragama lain (inklusif) sehingga
Muhammadiyah mempraktikkan paham dakwah rahmatan lil’alamin dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Selain itu,
melalui GJDJ Muhammadiyah memperkenalkan pendekatan atau
strategi pengembangan masyarakat (Community Development)
dalam berdakwah di jamaah atau komunitas, yang belum pernah
dilakukan di lingkungan organisasi dakwah lainnya kala itu.
Namun Gerakan Jamaah atau GJDJ yang cemerlang secara
konsep dan pemikiran tersebut tidak dapat terlaksana secara masif
atau meluas, kecuali di sejumlah daerah secara terbatas. Kini seiring
dengan perkembangan masyarakat yang ditandai oleh perubahan
sosial yang kompleks akibat modernisasi, globalisasi, dan reformasi
yang mempengaruhi kondisi dan dinamika kehidupan masyarakat
maka Muhammadiyah semakin dihadapkan pada masalah dan
tantangan baru dalam gerakan dakwahnya. Muhammadiyah yang
relatif telah menapaki kemajuan dalam sistem organisasi dan amal
usahanya dituntut untuk mulai kembali mengarahkan orientasi dan
76
BRM 01/SEPTEMBER 2015
langkah dakwahnya ke masyarakat di basis jamaah atau komunitas.
Pada saat ini pertumbuhan atau perkembangan komunitas di
masyarakat semakin pesat dan heterogen, yang melahirkan beragam
kelompok-kelompok minat, kegiatan, dan afiliasi sosial baru baik di
pedesaan lebih-lebih di perkotaan. Kelompok-kelompok komunitas
yang memiliki struktur dan relasi sosial yang kohesif (lekat) makin
bertumbuhan seiring dengan mekarnya kecenderungan liberalisasi
dan individualisasi kehidupan, sehingga kelompok-kelompok khusus
dalam masyarakat tersebut seakan ingin kembali pada kehidupan
yang lebih spiritual, damai, dan berada dalam akar budaya mereka.
Beragam komunitas berkembang di masyarakat yang dapat
dikategorisasikan ke dalam komunitas kelompok atas, menengah,
bawah, marjinal, dan komunitas-komunitas khusus yang diikat oleh
kesamaan minat, hobi, dan kepentingan lainnya. Kurun terakhir
bahkan lahir komunitas virtual, yang sering disebut kelompok sosialmedia (sosmed) sebagai realitas baru dalam hubungan antarsesama
melalui media virtual yang sangat masif.
Muhammadiyah dalam memasuki abad kedua berkomitmen
untuk melakukan dakwah pencerahan yang bersifat membebaskan,
memberdayakan, dan memajukan. Dakwah pencerahan kepada
kelompok-kelompok komunitas lama maupun baru sangat penting
bagi Muhammadiyah untuk menyebarluaskan dan mewujudkan nilainilai pencerahan berdasarkan pandangan Islam yang berkemajuan
bagi masyarakat luas yang heterogen. Hal itu didasarkan atas
beberapa pertimbangan, yaitu:
1) Mempertahankan, melangsungkan, dan mentransformasikan
gerakan pencerahan di abad kedua dengan menjadikan
komunitas atau jamaah sebagai basis gerakan;
2) Perubahan sosial akibat globalisasi dan dinamika sosial baru
yang terjadi dalam masyarakat Indonesia di abad ke-21 yang
memerlukan kekuatan penyangga nilai yang meneguhkan
sekaligus mencerahkan;
3) Dinamika ekonomi, politik, dan budaya pasca reformasi yang
cenderung serba liberal serta memerlukan bimbingan dan
arahan nilai-nilai ajaran Islam yang membentuk karakter akhlak
mulia dan menjadi rahmat bagi semesta;
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
77
4) Penetrasi ideologi-ideologi dan misi agama lain yang semakin
meluas dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di
berbagai lingkungan komunitas yang memerlukan dakwah
“fastabiq al-khairat” yang menampilkan keunggulan alternatif;
dan
5) Dalam konteks situasi yang dihadapi, seiring dengan perkembangan masyarakat yang makin berubah cepat, heterogen, dan
kompeks maka diperlukan pemikiran, pendekatan, strategi, dan
aktivitas baru yang lebih aktual dalam model gerakan komunitas dalam sistem Gerakan Jamaah yang meluas dan mengakar
di masyarakat.
Melalui Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas sebagai wujud
aktualisasi Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) maka
keberadaan Muhammadiyah di basis masyarakat akan semakin kuat
dalam memposisikan dan memerankan fungsinya secara strategis
sebagai gerakan dakwah kemasyarakatan sekaligus mengokohkan
kekuatan Masyarakat Madani (Islamic Civil Society). Di tengah
proses reformasi dan demokratisasi yang membawa banyak
perubahan, yang menggeser peran negara tidak lagi hegemoni
sebagaimana masa sebelumnya dan memberi ruang terbuka bagi
masyarakat untuk menjadi kekuatan civil society, maka kehadiran
Muhammadiyah di basis jamaah akan membawa kemanfaatan besar
bagi Muhammadiyah sendiri, serta bagi penguatan posisi umat dan
masyarakat di hadapan negara.
Karenanya dalam Muktamar ke-47 diagendakan dan
diprogramkan secara khusus tentang “Model Dakwah Pencerahan
Berbasis Komunitas” sebagai wujud aktualisasi Gerakan Jamaah
untuk dilaksanakan dan menjadi gerakan masif dalam pergerakan
Muhammadiyah ke depan.
B. Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas
Dakwah Pencerahan yang dilaksanakan Muhammadiyah
sebagai perwujudan dari gerakan pencerahan memasuki abad kedua
sejatinya merupakan dakwah Islam itu sendiri. Dalam “Pernyataan
Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua” dinyatakan, bahwa:
78
BRM 01/SEPTEMBER 2015
“Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang
berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan
memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk
memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan
berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalanpersoalan lainnya yang bercorak struktural dan kultural.
Gerakan pencerahan menampilkan Islam untuk menjawab
masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme,
konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk-bentuk
kejahatan kemanusiaan. Gerakan pencerahan berkomitmen
untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa
diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-laki dan
perempuan, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan,
dan membangun pranata sosial yang utama.”.
Dinyatakan, bahwa:
“Muhammadiyah dalam melakukan gerakan pencerahan
berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan
kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan
amal usaha dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak
kaum dhu’afa dan mustadh’afin serta memperkuat civil society
(masyarakat madani) bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Dalam pengembangan pemikiran Muhammadiyah berpijak
pada koridor tajdid yang bersifat purifikasi dan dinamisaai,
serta mengembangkan orientasi praksis untuk pemecahan
masalah kehidupan. Muhammadiyah mengembangkan
pendidikan sebagai strategi dan ruang kebudayaan bagi
pengembangan potensi dan akal-budi manusia secara utuh.
Sementara pembinaan keagamaan semakin dikembangkan
pada pengayaan nilai-nilai aqidah, ibadah, akhlak, dan
mu’amalat-dunyawiyah yang membangun keshalehan individu
dan sosial yang melahirkan tatanan sosial baru yang lebih
relijius dan humanistik.”
Karenanya dakwah pencerahan sesungguhnya merupakan
dakwah Islam dengan pendekatan transformasi yang membawa
proses membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
79
berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Dalam buku “Islam dan Dakwah”
(1988) dinyatakan bahwa dakwah adalah “panggilan atau seruan
bagi umat manusia menuju jalan Allah (QS Yusuf: 108) yaitu jalan
menuju Islam (QS Ali Imran: 19)”. Dakwah juga sebagai “upaya
tiap muslim untuk merealisasikan (aktualisasi) fungsi kerisalahan
dan fungsi kerahmatan”. Fungsi kerisalahan dari dakwah ialah
“meneruskan tugas Rasulullah (QS Al-Maidah: 67) menyampaikan
dinul-Islam kepada seluruh umat manusia (QSAli Imran: 104, 110,
114)”. Sedangkan fungsi kerahmatan berarti “upaya menjadikan
(mengejewantahkan, mengaktualkan, mengoperasionalkan) Islam
sebagai rahmat (penyejahtera, pembahagia, pemecah persoalan)
bagi seluruh manusia (QS Al-Anbiya: 107)”.
Dakwah Islam dilaksanakan dengan cara-cara dakwah
sebagaimana perintah Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah.
Allah SWT memberikan pesan agar dalam berdakwah disampaikan
dengan bi-hikmah wa al-mauidhat al-hasanah wa jadil-hum bilati hiya ahsan (QS An-Nahl: 125). Hikmah adalah hal yang utama
dari segala sesuatu baik lisan maupun perbuatan, yang lahir dari
perpaduan ilmu dan kearifan. Al-mauidhat al-hasanah yakni uraian
yang menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan. Wa
jadilhum bi-lati hiya ahsan yakni berdialog dengan argumentasi
paling baik (Shihab, 2009). Rasulullah berdakwah selama sekitar 23
tahun dengan cara-cara yang bertahap dalam pembinaan aqidah,
ibadah, akhlaq, dan mu’amalah sehingga tercapai kehidupan alMadinah al-Munawwarah, yakni suatu peradaban yang tercerahkan.
Dakwah yang dilakukan Muhammadiyah secara esensi,
fungsi, dan aktualisasinya merujuk pada prinsip dakwah Islam
pada umumnya. Dalam pelaksanaannya dakwah yang dilakukan
Muhammadiyah mempertimbangkan faktor-faktor kondisi sasaran
dakwah sehingga dilakukan bertahap sebagaimana contoh dakwah
Nabi. Dalam buku Dakwah Kultural (2004) dinyatakan bahwa
dakwah:
“merupakan upaya menanamkan nilai-nilai Islam dalam seluruh
dimensi kehidupan dengan memperhatikan potensi dan
kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas,
dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar80
BRM 01/SEPTEMBER 2015
benarnya. Dakwah kultural mencoba memahami potensi dan
kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya, berarti
memahami ide-ide, adat-istiadat, kebiasaan, nilai-nilai, norma,
sistem aktivitas, simbol, dan hal-hal yang memiliki makna
tertentu dan hidup subur dalam masyarakat. Pemahaman
tersebut dibingkai oleh pandangan dan sistem nilai ajaran Islam
yang membawa pesan rahmatan lil’alamin. Dengan demikian
dakwah kultural menekankan pada dinamisasi dakwah, selain
pada purifikasi.”.
Bagi Muhammadiyah, “Model Dakwah Pencerahan berbasis
Komunitas” merupakan bentuk aktualisasi dakwah Islam yang
diperankan gerakan Islam ini dengan perhatian atau fokus pada
kelompok-kelompok sosial khusus yang disebut “komununitas”.
Namun dalam dakwah pencerahan tersebut dikembangkan
pendekatan dan strategi yang lebih relevan untuk menghadapi
berbagai komunitas yang berkembang di masyarakat sesuai dengan
karakternya masing-masing ke dalam suatu model dakwah yang
aktual. Pendekatan dan strategi dakwah tersebut difokuskan pada
kelompok-kelompok masyarakat yang tergolong dalam komunitas.
Adapun yang dimaksud dengam “Komunitas” (Community)
ialah kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang memiliki sifat
atau karakter tertentu yang spesifik. Komunitas berasal dari bahasa
Latin “communitas” dan dalam bahasa Inggris “community”, yang
berarti “kesamaan”. Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari
beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki
ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam suatu komunitas para
individu yang hidup di dalamnya memiliki maksud, kepercayaan,
sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran, dan
sejumlah kondisi lain yang serupa. Relasi dan pola hidup komunitas
pada ummnya homogen, yang terdiri atas berbagai kelompok,
sehingga dapat dijumpai heterogenitas komunitas yang tmbuh
dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Secara sosiologis komunitas menunjukkan sekumpulan orang
dengan struktur sosial tertentu, rasa kepemilikan atau semangat
komunitas, dan berada atau memiliki lokasi geografis tertentu.
Secara antropologis kehidupan komunitas memiliki kekhasan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
81
dan idenitas yang kuat, sehingga memiliki sifat komunal seperti
dijumpai pada komunitas-komunitas etnik, keagamaan, dan lainlain. Dalam perkembangan mutakhir, konsep komunitas digunakan
untuk menandai rasa identitas tertentu yang mungkin terikat atau
tidak terikat pada lokasi geografis. Seiring dengan perkembangan
kehidupan modern dan posmodern yang menciptakan realitas
baru seperti halnya dunia sosial media, maka konsep komunitas
makin menunjukkan relasi kehidupan antar manusia yang bersifat
komunitas terbayang (immagined community) atau komunitas maya
(cyber community) yang memiliki relasi sosial tertentu yang spesifik.
Komunitas terakhir itu disebut juga sebagai virtual community atau
komunitas virtual.
Baik komunitas yang bersifat konvensional (terikat lokasi)
maupun nonkonvensional (tak terikat lokasi) merupakan arena
atau ranah dakwah yang memerlukan pencerahan. Komunitas
atau jamaah itu baik dalam makna ekslusif menyangkut komunitas
umat Islam maupun dalam makna insklusif mencakup kelompok
masyarakat luas. Kedua komunitas ( jamaah) tersebut merupakan
sasaran dakwah yang memiliki tatanan sendiri yang memerlukan
proses yang spesifik dalam menghadapinya. Karenanya, konsep
komunitas dalam Muhammadiyah memiliki kesamaan dengan
jamaah, baik jamaah dalam makna khusus sekelompok orang Islam
yang memiliki identitas yang sama maupun jamaah dalam makna
kelompok masyarakat umum yang keduanya merupakan sasaran
dakwah.
Dalam istilah khusus keagamaan komunitas dapat dipandang
sama dengan istilah jamaah. Jamaah adalah sekelompok orang
atau keluarga dalam satu lingkungan tempat tinggal atau kawasan
sosial tertentu yang merupakan satu ikatan yang pembentukannya
diusahakan oleh seorang atau beberapa orang anggota
Muhammadiyah dalam lingkungan itu. Jamaah sebagai kesatuan
komunitas sangatlah penting kedudukannya karena keberadaan
suatu umat atau masyarakat terletak pada jamaah. Dalam sebuah
hadis Nabi bersabda, “Yadu Allah ma’a al-jama’ah”, bahwa “Tangan
(Kekuasaan) Allah itu bersama jama’ah” (HR At-Tirmidzi dari Ibn
Abbas).
82
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Dalam “Pedoman Pokok Pembentukan Jamaah” (1977) yang
diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1977) dijelaskan
tentang makna “Jama’ah” dengan segala kaitannya sebagai berikut:
1) Jama`ah adalah sekelompok orang atau keluarga dalam satu
lingkungan tempat tinggal yang merupakan satu ikatan yang
pembentukannya diusahakan oleh seorang atau beberapa
orang anggota Muhammdiyah dalam lingkungan itu;
2) Jama`ah merupakan Da’wah dengan menggunakan sistem
pembinaan masyarakat dengan menggiatkan anggota
Muhammadiyah dalam tugasnya sebagai muballigh;
3) Jama`ah dibentuk dengan wewenang Persyarikatan;
4)Kegiatan Jama`ah meliputi segi-segi kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang ditujukan kepada pembinaan
dan peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat serta
menjadi warga negara yang baik;
5)Secara operasional terbentuknya Jama`ah menjadi
tanggungjawab Pimpinan Persyarikatan, yaitu Pimpinan
Ranting Muhammadiyah; dan
6) Jama`ah dipimpin oleh Pamong Jama`ah, terdiri dari seorang
ketua, yang disebut Bapak/Ibu Jama`ah, yang dipilih oleh
Jama`ah, dan beberapa orang pembantunya yang ditunjuk
oleh Bapak/Ibu Jama`ah.
Karena “Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas”
memiliki sasaran khusus kepada komunitas, maka dapat pula
dikembangkan atau disebut secara khusus sebagai “Dakwah
Komunitas”. “Dakwah Komunitas” secara esesensi dan fungsinya
sebenarnya “Dakwah Jamaah”, sebagai wujud aktualisasi atau
pengembangan dari Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ).
GJDJ sendiri sering disebut dengan satu istilah yaitu “Gerakan
Jamaah” (Pedoman GJDJ PP Muhammadiyah tahun 1977). Dengan
demikian “Dakwah Komunitas” atau “Dakwah Jamaah” dapat
dinyatakan sebagai “Model Pengembangan Gerakan Jamaah” yang
diformulasikan kembali dalam era kekinian ketika Muhammadiyah
memasuki abad kedua. Kandungan maknanya sama, yaitu sebagai
wujud kegiatan dakwah dengan model Gerakan Jamaah untuk
berbagai kelompok komunitas yang bertujuan menyebarluaskan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
83
dan mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat
sehingga terbentuk “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”
sebagaimana cita-cita ideal Muhammadiyah. “Dakwah
Komunitas” menggunakan prinsip-prinsip GJDJ dengan pengayaan
konsep, pemikiran, pendekatan, strategi, metode, dan pelaksanaan
yang lebih bervariasi sesuai dengan ragam komunitas yang menjadi
sasaran dakwah.
“Dakwah Komunitas” memiliki karakter khusus sesuai dengan
karakter komunitas itu sendiri. Komunitas sebagai satuan kelompok
kecil dari masyarakat memiliki karakteristik dan kebutuhan spesifik.
Antara satu komunitas dan komunitas lain memiliki karakteristik
dan kebutuhan yang berbeda dan karena itu membutuhkan
pendekatan dakwah yang berbeda pula. Kebutuhan-kebutuhan yang
dimaksud antara lain kebutuhan akan identitas, akses ekonomi, visi
keberdayaan, dan kemampuan mengorganisasi atau memobilisasi.
Sebagai gerakan dakwah Islam dan organisasi yang multifungsi,
Muhammadiyah telah melakukan aktivitas dakwah di pelbagai
komunitas, mulai dari kalangan kelas menengah-atas sampai pada
kelompok menengah-bawah dan bahkan kelompok marjinal.
“Dakwah komunitas” adalah sebuah konsep dan strategi dakwah
yang disusun sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan komunitas
yang menjadi objek dakwahnya. Misalnya, untuk di kalangan
masyarakat kelas menengah-atas yang secara ekonomi mapan dan
memiliki latar pendidikan yang relatif tinggi, kebutuhan mereka
akan identitas sosial-keagamaan berbeda dengan kelompok kelas
menengah-bawah. Pemahaman dan intepretasi kelas-menegah
terhadap konsep-konsep dasar keagamaan Islam yang menjadi
pegangan mereka juga berbeda. Boleh jadi kelas menengah lebih
kosmopolit, dan melihat fungsi agama sebagai pendorong untuk
melakukan amal kebajikan dalam ranah sosial, ekonomi dan politik
yang lebih luas. Sementara itu, di kalangan kelompok masyarakat
kelas menengah-bawah, keberislaman menjadi bagian dari upaya
meningkatkan spirit dan ethos kerja guna memperbaiki taraf hidup.
Bagi kelompok marjinal, Islam menjadi sarana perjuangan untuk
mendapatkan kembali hak-hak mereka sebagai warga negara yang
telah diabaikan oleh negara.
84
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Karena itu, konsep “Model Dakwah Pencerahan Berbasis
Komunitas” atau “Dakwah Komunitas” yang dikembangkan
Muhammadiyah harus dimaknai sebagai bentuk dakwah yang
fleksibel dan dinamis, yang tidak hanya menyampaikan pesanpesan keagamaan melainkan juga disertai aktivisme yang bersifat
praksis. Terdapat beberapa hal pokok yang menjadi prinsip Dakwah
Pencerahan Berbasis Komunitas, antara lain:
1) Kemampuan menerjemahkan pesan dan misi dakwah secara
relevan yang membawa pencerahan dalam kehidupan
komunitas yang menjadi sasaran dakwah;
2) Kemampuan memahami dan memetakan komunitas secara
lengkap;
3) Kemampuan untuk mengorganisasi/memobilisasi;
4) Kemampuan beinteraksi dan berkomuniasi sesuai dengan
karakteristik komunitas;
5) Kemampuan memetakan dan mengidentifikasi kebutuhan
komunitas;
6) Kemampuan untuk membangkitkan solidaritas; dan
7) Kemampuan mengembangkan proses pecerahan yang
membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan
yang bermakna sesuai dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam yang
membawa kemajuan.
C. Dakwah Bagi Komunitas Kelas Atas
Dalam kehidupan masyarakat tidak terhindarkan adanya
kelompok atas atau sering disebut “kelas atas”, yang berbeda
kondisi dan pola kehidupannya dengan komunitas bawah atau
kaum marjinal. Fungsi dakwah Muhammadiyah semestinya
memperpendek jarak antarkelompok sosial dalam masyarakat
tersebut. Karenanya dakwah bagi komunitas atas menjadi penting
selain untuk memecahkan kesenjangan sosial antarkelompok,
pada saat yang sama meniscayakan pencerahan bagi kehidupan
di kalangan komunitas atas sehingga menjalani kehidupan dengan
penuh makna dan manfaat selaku hamba dan khalifah Allah yang
menjadi rahmatan lil-’alamin di muka bumi.
Secara umum kelas atas dan elit memiliki beberapa ciri.
Pertama, kemapanan ekonomi dan profesi yang tinggi. Kedua,
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
85
pendidikan dan tingkat intelektual yang tinggi. Ketiga, kedudukan
dan status sosial yang tinggi. Keempat, kemampuan menguasai
akses ekonomi, politik, dan budaya. Dengan keempat karakteristik
tersebut, kelompok atas ini sangat berpengaruh sebagai ruling class
dan terhormat di masyarakat.
Dari sudut perilaku sosial dan keagamaan kelas menengah
memiliki tiga karakteristik. Pertama, tingkat kemandirian yang
tinggi. Dengan kemandirian ini mereka cenderung tidak terikat
atau tidak mau terikat dengan organisasi-organisasi. Kesibukan
dan keterbatasan waktu membuat mereka memilih belajar agama
secara privat, atau melalui media modern seperti televisi, buku,
internet, dan lain-lain. Kedua, pemikiran dan perilaku keagamaan
yang kritis. Kelompok ini melek informasi dan berwawasan luas.
Mereka cenderung inklusif dan tidak terikat dengan faham atau
organisasi keagamaan tertentu, termasuk kecenderungan ini adalah
ketertarikan kepada faham-faham baru yang mampu memberikan
solusi teologis, ritual dan spiritual yang tidak mampu diberikan
oleh faham atau organisasi keagamaan yang mapan. Sebagian
dari komunitas atas tergolong kelompok spiritualis dan skripturalis
yang menjadikan agama sebagai jalan ruhani untuk memberikan
ketenangan jiwa di tengah berbagai tekanan pekerjaan dan
kehidupan. Di antara mereka cenderung beragama secara tekstualis
yaitu memahami dan mengamalkan Al-Quran dan Sunnah secara
sempit dan kaku.
Ketiga, kebutuhan akan pengakuan status yang diekspresikan
melalui berbagai perilaku sosial-keagamaan seperti kedermawanan,
jabatan publik dan apresiasi non-material. Karena faktor strategi,
profesionalisme, perilaku keagamaan, dan pencitraan media atau
opini publik, kelompok kelas menengah tampaknya lebih banyak
berafiliasi dengan organisasi atau faham keagamaan di luar
Muhammadiyah. Keempat, kebutuhan akan spiritualitas baru. Di
antara komunitas atas mengalami “lost of soul” (kekeringan ruhani)
akibat dari kemakmuran yang berlebih dan gaya hidup yang serba
materi dan mekanik. Kelompok ini sebagian mengalami “spiritual
laundering”, yakni melakukan hidup “zuhud” atau “dermawan”
untuk menebus atau melakukan kamuflase atas “dosa” yang mereka
lakukan, yang tidak jarang sikap keagamaannya cenderung ekstrim.
86
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Istilah “Komunitas Kelas Atas” merujuk kepada kelompok elit di
masyarakat yang secara struktur sosial berada pada lapisan paling
atas, meskipun memiliki profesi yang beragam. Mereka ini disebut
kelas atas karena mereka berada di puncak dari masing-masing
profesi: birokrasi, politik, ekonomi, sosial, budaya: para birokrat (sipil
maupun militer), anggota dewan dan petinggi partai, pengusaha
kakap, publik figur, dan para artis-selebritis.
Meskipun berada pada segmen sosial yang beragam, kelompok
atas atau “elite” ini memiliki beberapa kesamaan: Pertama, secara
ekonomi mereka ini mapan dan cenderung berlebih. Aset ekonomi
yang mereka miliki telah memungkinkan mereka untuk secara
konstan memperoleh penghasilan yang sangat besar tanpa harus
bekerja. Kedua, secara politik mereka cenderung pro status-quo,
atau cenderung membenarkan kondisi yang ada, karena mereka
adalah kelompok yang diuntungkan oleh sistem yang ada. Ketiga,
secara sosial mereka adalah “elite” atau kelompok yang menjadi
acuan dan contoh bagi kelompok yang dibawahnya, sehingga
seringkali mereka membentengi diri dengan simbol-simbol sosial
yang secara ekonomi bernilai mahal untuk meneguhkan status
mereka (rumah dan mobil mewah, pakaian dan perhiasan bermerek
mahal). Bagi mereka segala sesuatu cenderung bernilai “gengsi”
ketimbang “fungsi”. Keempat, secara budaya mereka adalah para
selebritas yang banyak hidup dalam berbagai even yang bersifat
publik, dan menjadi perhatian khalayak, baik yang on air melalui
media maupun dalam acara-acara pertemuan off air. Kelima,
secara agama, kehidupan para elit ini juga cenderung rituslistiksimbolik karena mereka terjebak dalam lingakaran sosial elitis dan
budaya selebritis: misalnya, umroh, majelis taklim yang meriah di
tempat mewah dengan pemateri terkenal, acara menyantuni anak
yatim yang diliput media atau terbuka disaksikan masyarakat, dan
sebagainya.
Dakwah bagi komunitas atas harus memadukan antara
peneguhan dan pencerahan yang dikemas secara lebih baru atau
tidak konvensional. Dakwah kepada komunitas ini harus lebih kreatif
dan inovatif dengan kemasan dan gaya bahasa yang sesuai dengan
gaya hidup mereka. Pengajian-pengajian harus dikemas lebih
menarik dengan diberi cover dan nama yang berkesan elitis dan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
87
diadakan di tempat-tempat yang sesuai dengan status sosial mereka.
Hal ini tidak bemaksud Muhammadiyah mengajarkan untuk hidup
mewah dan elitis, tetapi hanya sebagai sebuah pendekatan. Inovasi
dan kreativitas dalam membuat kemasan sangat diperlukan dalam
hal ini, sekalipun dari segi materi, pesan, dan substansi dakwah tentu
tidak akan mengalami perobahan apa-apa, tetap mengacu kepada
Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan paham Muhammadiyah.
Dalam mengembangkan dakwah komunitas bagi kelompok
atas, Muhammadiyah perlu mengembangkan beberapa pendekatan:
1. Pemanfaatan Dunia Maya. Memanfaatkan dunia maya sangat
penting karena memiliki jangkauan yang sangat luas dan
hampir tanpa batas. Perkembangan teknologi informasi telah
menyebabkan perubahan media pembelajaran dari guru
personal kepada guru impersonal, dari sifat komunal kepada
individual. Pesan-pesan dakwah melalui dunia maya sangat
penting untuk menjawab tantangan informasi yang berlawanan
arah dengan dakwah Muhammadiyah.
2. Dalam pengembangan dakwah yang lebih bersifat personal,
Muhammadiyah perlu memperbanyak “guru ngaji” yang
mampu memberikan pelajaran, bimbingan dan pelayanan
keagamaan tokoh-tokoh berpengaruh. Muhammadiyah perlu
membangun dan memperkuat jejaring sosial dan kedekatan
personal dengan kelompok kelas menengah sebagai proses
dakwah top-down.
3. Memperbanyak publikasi keagamaan melalui penerbitan
buku, majalah, brosur, dan lain-lain. Muhammadiyah perlu
memfasilitasi para ulama, intelektual, dan muballighnya agar
mampu melakukan penetrasi dan kompetisi “pasar ideologi”
melalui karya tulis yang berkualitas, populer, dan murah.
4. Mengembangkan metode-metode dakwah yang lebih bervariasi
termasuk di dalamnya pelayanan spiritual yang sesuai dengan
Sunnah Nabi dengan kemasan yang modern dan berkelas.
5. Meningkatkan profesionalitas, akuntabilitas, dan branding
lembaga filantrofi Muhammadiyah seperti Lazis, wakaf, dan
keuangan mikro. Kinerja yang cepat, pelayanan yang penuh
penghormatan, akuntabilitas penerimaan dan pemanfaatan
serta komunikasi yang intens kepada dermawan melalui
88
BRM 01/SEPTEMBER 2015
berbagai media modern sangat diperlukan.
6. Mengembangkan pesan-pesan dakwah yang bersifat spiritual
untuk menjawab tantangan krisis batiniyah akibat kehidupan
modern yang serba rasional dan mekanistik. Tanpa harus
terjebak pada praktek sufisme klasik dan tarekat konvensional
yang bernuansa bid’ah dan takhayul, apa yang disebut dengan
urban spiritualism perlu dipertimbangkan sebagai isi dari
dakwah Muhammadiyah.
7. Muhammadiyah perlu melatih dan mendidik para da’i termasuk
mubaligh yang mampu berdakwah di kalangan menengah ke
atas dengan mentalitas dan kemampuan yang cocok atau
relevan dengan dunia kehidupan kelompok sosial ini, sehingga
menjadi da’i dan mubaligh pencerah.
Karena itu, model dakwah untuk komunitas elit memerlukan
pendekatan khusus dengan mempertimbangkan faktor-faktor di
atas.
1. Pendekatan Fungsionaris Partisipatoris. Golongan kelas atas
adalah kelompok sosial yang diuntungkan oleh status-quo,
oleh karena itu pendekatan dakwah yang dilakukan harus
bersifat fungsionalis, yaitu dengan mendorong perbaikan
perilaku baik secara individual, dalam kehidupan keluarga,
dalam kehidupan kelompok, maupun kehidupan sosial
kemasyarakatan. Berhadapan dengan kelompok ini jangan
sekali-sekali menggunakan pendekatan strukturalis, yaitu
mengkritik dan mendorong perubahan sistem sosial yang ada
karena mereka akan cenderung menolak. Kelompok atas ini
juga memiliki gengsi kolektif yang sangat tinggi dan cenderung
berkumpul sesama elit dan menghindari kelas yang lebih
rendah, oleh karena itu da’i atau mubaligh yang akan dikirm
juga harus memiliki karakter elite (penampilan, pendidikan,
bahasa asing, dll) sehingga dapat diterima kelompok ini.
2. Program Kegiatan. Untuk program kegiatan dakwah dan tabligh
yang dapat dilakukan untuk menjangkau kelompok elit juga
harus mempertimbangkan gaya hidup dan sistem sosial budaya
mereka. Selanjutnya, program kegaitan yang dirancang juga
perlu beragam dengan mempertimbangkan aspek gender dan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
89
usia (laki – perempuan, tua-muda-remaja-anak).
a. Mimbar Artikulasi Diri: Para elit mempunyai kecenderungan
untuk tampil dan menunjukkan keberadaan dirinya, oleh
karena itu salah satu cara untuk mendekati mereka adalah
dengan memberi kesempatan untuk tampil di forum-forum
Muhammadiyah, baik ceramah, sambutan, peresmian,
dan acara seremonial yang lain. Semua dilakukan secara
wajar, tidak berlebihan, dan dengan pendekatan dakwah
sesuai Kepribadian Muhammadiyah. Kelompok ini secara
kontinyu diajak masuk ke dalam kegiatan Muhammadiyah
diharapkan para elit tersebut akan merasa memiliki
kedekatan dan identifikasi diri sebagai bagian dari warga
Muhammadiyah.
b. Menampung ZIS: Kelompok elit memiliki kelebihan materi
yang dapat dimanfaatkan untuk mobilisasi ZIS. Namun
yang perlu dicermati adalah kecendrungan simbolis
dari para elit untuk tampil dan memperoleh pengakuan
publik. Karena itu perlu dipertimbangkan untuk menyusun
strategi membuatkan media di mana nama-nama para elit
ini dicantumkan sebagai “muzakki kehormatan” LazisMu,
misalnya. Pendekatan ini pun tetap harus berjalan normal
sesuai Kepribadian Muhammadiyah.
c. Lobi kerjasama: Ketika sudah memiliki akses dengan
kelompok elit ini, dapat dikembangkan membangun relasi
yang lebih baik dengan mendorong kerjasama program
antara Persyarikatan dengan instansi atau perusahaan yang
dimpimpin oleh mereka melalui pendekatan personal baik
melalui yang bersangkutan atau keluarga dekat sebagai
bagian dari cara dakwah. Hubungan kerjasama yang lebih
manusiawi semacam ini dan tidak semata “menggali
sumbangan” akan memberikan dua hal positif. Pertama,
memberikan kesempatan untuk membangun kerjasama
program yang bernilai “dakwah”; kedua, mereka akan
lebih respek kepada Muhammadiyah karena memiliki
kemandirian.
d. Paket Program AMM: Para elit muda termasuk sasaran
dakwah yang potensial. Kelompok ini biasanya menyukai
90
BRM 01/SEPTEMBER 2015
hal-hal yang sifatnya “trendi” sebagai ekspresi dari status
sosial mereka. Karenanya perlu dirancang dakwah yang
dapat mengisi ruang ini, misalnya kajian-kajian sejarah
yang mengeksplorasi pemikiran ilmuwan dari zaman
kejayaan Islam, dialog-dialog keislaman yang menarik,
dan berbagai praksis dakwah yang lebih aktual bagi kaum
muda kelas atas, dengan tetap tanpa kehilangan esensi
Islam yang mencerahkan.
e. Privat Mengaji: Kegiatan ini terutama ditujukan kepada
anak-anak dan remaja dari kalangan elit, yaitu dengan
menyediakan kajian agama privat ke rumah-rumah/
perumahan elit. Karenanya perlu dipersiapkan paket dan
materi yang sesuai denan karakter sosial dan budaya
mereka.
f. Supply buku/bahan ajar: Sejalan dengan poin
sebelumnya, perlu disusum materi-materi kajian keislaman
Muhammadiyah yang khusus ditujukan untuk kelompok
elit, yang sesuai dengan selera dan daya beli mereka.
g. Paket komunitas/wisata religi: Menyiasati kebiasaan para
elit untuk melakukan acara dan pertemuan ritualistiksimbolik, Muhammadiyah perlu juga merancang forumforum khusus untuk kelompok ini, baik berupa pertemuan
maupun paket-paket wisaha religi yang dilengkapi dengan
pelajaran Islam yang dapat dipahami.
h. Silaturrahmi nasab: Program ini sangat strategsi untuk
mendekatkan kelompok elit di Indonesia dengan
Muhammadiyah, yaitu dengan melakukan silaturrahmi
nasab dengan menunjukkan bahwa banyak diantara
para elit adalah keturunan pimpinan atau aktivis
Muhammadiyah, atau alumni lembaga pendidikan di
lingkungan Muhammadiyah. Tentu perlu dikembangkan
informasi nasab dari para elite itu, sehingga tepat sasaran.
D. Dakwah Bagi Komunitas Kelas Menengah
Istilah “Kelas menengah” merujuk kepada kelompok yang sudah
mapan dalam profesi dan kehidupan, biasanya ditandai dengan
tingkat pendidikan dan pengahasilan yang lebih baik dari orangtua
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
91
mereka, namun belum masuk kelompok elit. Dalam kehidupan di
masyarakat, kelompok ini biasanya diwakili oleh: Dosen, Guru, PNS,
Wirausahawan, Profesional, dan Aktivis.
Kelompok kelas menengah ini juga memiliki profesi yang
beragam, namun sekaligus juga memiliki karakter kolektif
yang serupa. Pertama, secara ekonomi mereka ini mapan dan
berkecukupan untuk memenuhi kebuthan hidup secara layak—namun masih harus dengan bekerja. Kedua, secara politik kelompok
kelas menengah cenderung akomodatif terhadap sistem yang ada,
karena mereka berada ditengah antara kelompok elit dan kelompok
bawah. Kelas menengah biasanya akan lebih mudah berkompromi
dengan perubahan realitas politk, sebagai upaya untuk bertahan.
Ketiga, secara sosial kelas menengah bersifat dinamis, dalam arti
mereka memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi bagian
kelompok elit atau terperosok jatuh menjadi bagian dari kelompok
bawah. Keempat, secara budaya mereka bersifat populer yaitu
mencoba meniru perilaku kelompok elit, namun menyesuaikan
dengan kemampuan ekonomi mereka. Kelima, secara agama
kelempok kelas menengah cenderung reformis dalam arti mereka
akan sangat mendukung perubahan perbaikan-perbaikan baik pada
level perilaku individu maupun sosial, dan jug terhadap sistem politik
ekonomi yang ada, karena reformisme sebenarnya mencerminkan
karakter dinamis kelas sosial menengah.
Muhammadiyah dalam melaksanakan dakwah bagi komunitas
menengah perlu mengembangkan model sebagai berikut:
1. Pendekatan Interaksionis. Golongan kelas menengah memiliki
karakter dinamis, oleh karena itu sifat ini harus ditonjolkan
dalam pendekatan dakwah kepada kelompok ini. Dalam
orientasi dakwahnya, perlu dibuat porsi yang seimbang
antara upaya memperbaiki perilaku dengan upaya mengkritik
memperbaiki sistem kehidupan yang ada. 2. Program Kegiatan. Untuk program kegiatan dakwah dan tabligh
yang dapat dilakukan untuk menjangkau kelompok menengah
harus mempertimbangkan gaya hidup dan sistem sosial budaya
mereka. Selanjutnya, program kegiatan yang dirancang juga
perlu beragam dengan mempertimbangkan aspek gender dan
usia (laki – perempuan, tua-muda-remaja-anak).
92
BRM 01/SEPTEMBER 2015
a. Memberi Ruang Aktualisasi Diri: Kelompok menengah
adalah kelompok yang hidupnya diwarnai oleh perjuangan
dan pertarungan. Dan mereka biasanya sangat menikmati
dan cukup bangga dengan prestasi personal mereka—
bukan membanggakan leluhur. Karena itu kelompok
ini perlu didekati untuk dijak berjuang dan bertarung
bersama dakwah Muhammadiyah, untuk kebaikan
diri dan masyarakat. Dengan secara kontinyu diberi
kesempatan terlibat dalam kepemimpinan dan kegiatan
Muhammadiyah maka kelompok kelas menengah akan
merasa punya kedekatan dan identifikasi diri sebagai
bagian dari warga Muhammadiyah.
b. Menampung ZIS: Meskipun tidak sebesar kelompok elit,
kelas menengah juga memiliki kelebihan materi yang
potensial dapat dimanfaatkan bagi dakwah. Namun
yang perlu dicermati adalah bagaimana memberikan
pemahaman atau sosialisasi yang dapat membuat mereka
merasa ikut terlibat dan berkontribusui dalam berjuang
dan bertarung (dilakukan dramatisasi) mencapai tujuan
Muhammadiyah. Perlu menyusun strategi dakwah khusus
kelas menengah.
c. Paket Program AMM: Kelompok kelas menengah menyukai
tantangan dan menikmati prestasi, karena itu perlu
dirancang paket-paket dakwah yang bersifat eksploratif
menantang, seperti paket tabligh ke wilayah terpencil,
atau pemberdayaan kelompok marginal. Paket program
ini harus berdurasi pendek, harus dihentikan sebelum
mereka mulai jenuh, untuk nantinya disambung lagi ketika
semangat mereka sudah pulih kembali.
d. Privat Mengaji: Kegiatan ini terutama ditujukan kepada
anak-anak dan remaja dari kalangan kelompok menengah,
yaitu dengan menyediakan kajian agama privat ke rumahrumah/perumahan. Tentu saja perlu dipersiapkan paket
dan materi yang sesuai denan karakter sosial dan budaya
merek sebagaimana dijelaskan di atas.
e. Supply buku/bahan ajar: Sejalan dengan poin sebelumnya,
perlu juga disusun materi-materi kajian keislaman
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
93
Muhammadiyah yang khusus ditujukan untuk kelompok
menengah, yang sesuai dengan selera dan daya beli
mereka.
f. Paket komunitas/wisata religi: Kelas menengah punya
kecendrungan meniru kelas elit namun disesuaikan
dengan isi kantong mereka. Muhammadiyah perlu juga
merancang forum-forum “ala elit” untuk kelompok ini, baik
berupa pertemuan maupun paket-paket wisaha religi yang
dilengkapi dengan pelajaran Islam yang dapat dipahami.
g. Silaturrahmi nasab: Program ini sangat strategsi untuk
mendekatkan kelompok kelas menengah di Indonesia
dengan Muhammadiyah, yaitu dengan melakukan
silaturrahmi nasab dengan menunjukkan bahwa banyak
diantara mereka adalah keturunan pimpinan atau aktivis
Muhammadiyah, atau alumni lembaga pendidikan di
lingkungan Muhammadiyah. Tentu perlu dikembangkan
riset nasab yang tidak harus ilmiah akademik namun tetap
dapat dipertanggungjawabkan, sebagaimana yang banyak
dilakukan di situs-situs luar di negeri, untuk melacak
hubungan kita yang hidup di masa sekarang dengan
tokoh-tokoh di masa lalu.
E. Dakwah Bagi Komunitas Kelas Bawah
Kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah (lower
middle-class) sebagai subjek dakwah memiliki krakteristik yang
berbeda dibanding dengan kelompok kelas menengah (middleclass) maupun menengah ke atas (upper-middle class atau elites).
Kelompok kelas bawah dapat diartikan sebagai kelompok yang
masih memiliki pekerjaan atau sumber penghasilan yang rutin
namun karena minimnya penghasilan yang mereka dapatkan
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, maka mereka secara
ekonomi rentan. Artinya, setiap saat kelompok ini bisa jatuh dalam
kemiskinan. Masyarakat yang termasuk dalam kategori kelompok
bawah ini antara lain buruh, buruh tani, nelayan, pedagang kecil,
pengrajin dan juga pegawai rendahan. Di dalam Islam, kelompok
inilah yang juga bisa dikategorikan sebagai kelompok miskin, yaitu
mereka yang penghasilan dari pekerjaannya hanya terbatas untuk
94
BRM 01/SEPTEMBER 2015
memenuhi kebutuhan dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhankebutuhan sekunder dan apalagi tersier. Oleh karena itu, akses
mereka terhadap pendidikan terbatas dan karena itu kesempatan
untuk mengembangkan diri juga menjadi lebih sempit secara
sosiologis maupun politis.
Meskipun tidak bisa digeneralisasi, terdapat beberapa
karakteristik umum dari kelompok bawah ini, baik dilihat dari sikap
keagamaan maupun perilaku sosial-budaya, serta kecenderungan
politik. Sikap keberagamaan yang bersifat mistikal dan dalam konteks
tertentu cenderung sinkretik. Meski demikian sikap komunalitas dan
ikatan sosial sesama anggota kelompok dalam masyarakat bawah
cukup kuat dibanding kalangan kelas menengah. Namun demikian,
kemampuan melakukan penggalangan solidaritas di kalangan
mereka tidak mudah dilakukan oleh sesama anggota karena ada
keterbatasan kemampuan dalam mengorganisasikan diri. Selain
itu, secara politik perilaku kelompok kelas bawah lebih bersifat
pragmatis daripada ideologis ataupun idealis. Kencenderungan
pragmatis ini dapat dimafhumi karena mereka termausk orangorang yang merasa tidak merasa diuntungkan secara langsung oleh
pelbagai perubahan cuaca politik di sekitarnya. Muhammadiyah dalam melaksanakan dakwah bagi komunitas
bawah dapat mengembangkan dengan model dakwah sebagai
berikut:
1. Strategi populis dan praktis. Pendekatan populis yang
dimaksudkan adalah dakwah Islam yang merakyat dengan
materi-materi yang mudah dipahami dan bersifat memotivasi.
Sedangkan pendekatan praktis adalah dakwah Islam yang sifat
materi dakwahnya sesuai dengan kebutuhan dan problematika
kehidupan sehari-hari yang mereka hadapi. Konsep dakwah
yang populis-praktis untuk masyarakat kalangan bawah dapat
diterapkan dalam pelbagai bentuk kegiatan.
2. Program kegiatan. Mengembangkan kegiatan Tabligh bi lisan
atau kegiatan ceramah, suatu kegiatan yang paling umum
dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami kalangan
awam. Materi-materi dakwah untuk kalangan masyarakat bawah
disusun sesuai dengan kapasitas pengetahuan dan tingkat
pendidikan mereka yang sangat mungkin lebih menyukai halTANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
95
hal yang sederhana dan mudah dicerna atau dipahami. Dakwah sosial adalah kegiatan dakwah dalam bentuk kegiatankegiatan sosial keagamaan yang tidak hanya berupaya
memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat terkait
dengan hal-hal ibadah mahdlah, melainkan juga kegiatan
yang memberikan ruang bagi mereka untuk memperkuat
kohesi sosialnya, mengembangkan diri dan kepercayaan diri,
meningkatkan optimisme, serta kegiatan keagamaan yang
dirasakan dampak sosial dan ekonominya secara lebih nyata. 4. Salah satu bentuk kegiatan sosial untuk masyarakat bawah
adalah pendistribusian dana-dana ZIS secara tepat sasaran,
Islam tidak hanya dilihat secara idealis, melainkan juga
praksis-fungsional. Untuk itu, lembaga ZIS (Lazismu), AUM
di bidang sosial dan kesehatan serta majelis yang ada dalam
Muhammadiyah memiliki peran penting dalam mendukung
dakwah sosial ini, antara lain melalui kegiatan pemberian
santunan, beasiswa, pendampingan dan advokasi.
5. Dakwah pendidikan adalah dakwah yang bersifat edukatif
untuk mengembangkan pengetahuan atau tingkat literasi
masyarakat. Di kalangan masyarakat bawah, diperlukan bentuk
dakwah edukatif yang memberikan kesempatan kepada
meningkatkan wawasan, misalnya dengan membuka taman
bacaan atau taman pustaka yang dapat memfasilitasi anakanak, remaja dan bahkan orang-orang dewasa untuk belajar
dan meningkatkan pengetahuan mereka, baik di bidang
keagamaan, sosial, kesehatan dan sebagainya. Kerjasama antara
Majelis Dikdasmen, Majelis Dikti dan Majelis Pustaka menjadi
penting untuk mendukung dakwah pendidikan ini.
6.Dakwah ekonomi adalah dakwah yang berorientasi
melakukan pendampingan di bidang ekonomi dengan tujuan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin atau kelompok
bawah. Dakwah ekonomi ini dapat mewujud dalam bentuk
pelatihan-pelatihan, pendampingan kegiatan ekonomi, dan
pengembangan teknologi tepat guna. Kegiatan dakwah
ekonomi ini dapat menjadi bagian utama dari Majelis Ekonomi,
Wakaf, dan Lazismu.
3.
96
BRM 01/SEPTEMBER 2015
F. Dakwah Bagi Kalangan Kelompok Marjinal
Masyarakat marjinal adalah istilah yang sering digunakan untuk
mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang secara sosial,
ekonomi dan politik “terpinggirkan”. Artinya, kelompok-kelompok
tersebut dianggap tidak mendapatkan tempat yang selayaknya
dalam kehidupan bermasyrakat. Pada hakekatnya, kaum marjinal
adalah masyarakat yang terpinggirkan dari kebijakan-kebijakan
pembangunan. Kelompok masyarakat ini seringkali menjadi korban
kebijakan negara yang tidak berpihak pada mereka baik secara
kultural maupun struktural, yang tersebar di pedesaan maupun
perkotaan. Ketidak-berpihakan negara dan pembangunan tersebut
semakin memperlemah posisi kelompok ini sehingga berdampak
pada ketertinggalan pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik secara
luas. Kelompok ini tidak mendapatkan hak-haknya sebagaimana
warga negara yang lain dalam mengakses, mendapatkan manfaat,
dan terlibat dalam pembangunan yang menguntungkan mereka.
Masyarakat marjinal sering disebut sebagai masyarakat periferal
(periferal society), yaitu kelompok masyarakat yang terpinggirkan
dalam proses akumulasi modal, akses, dan segala fasilitas kemajuan
peradaban hidup manusia modern. Selain itu, kelompok marjinal
mengalami diskriminasi, eksploitasi, dan pengasingan dalam
berbagai aspek kehidupan baik secara sosial, ekonomi, politik, dan
aspek lainnya. Dengan demikian, kelompok marjinal tidak identik
dengan kelompok miskin, karena sebagian yang terpinggirkan
ada yang tidak miskin atau tidak mau disebut miskin utamanya
miskin secara ekonomi. Namun masyarakat miskin adalah kelompok
yang termarjinalkan akibat dari berbagai kebijakan yang tidak
memihaknya maupun karena sebab-sebab yang lain.
Masyarakat marjinal sebetulnya mengalami deprivation
trap, yaitu perangkap kemiskinan yang terdiri dari lima unsur
yaitu kemiskinan itu sendiri, kelemahan fisik, keterasingan atau
isolasi, kerentanan, dan ketidakberdayaan. Kelima unsur ini sering
saling berkaitan sehingga merupakan perangkap kemiskinan
yang benar-benar mematikan peluang hidup orang, dan akhirakhirnya menimbulkan proses marjinalisasi. Mereka termasuk
kelompok masyarakat miskin dalam berbagai aspeknya, sehingga
masuk dalam kategori dhu’afa’ dan mustadh’afin, yakni lemah
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
97
dan dilemahkan atau tertindas oleh sistem yang memarjinalkan
dirinya. Ketika kesenjangan sosial-ekomomi makin melebar akibat
kesalahan kebijakan pembangunan maupun faktor lainnya, maka
kaum marjinal makin meluas. Penduduk terbesar memperoleh hasil
pembangunan yang sedikit, sementara sebagian kecil penduduk
yang menguasai akses sosial ekonomi dan politik yang tinggi
menguasai bagian terbesar hasil pembangunan.
Masyarakat marjinal secara ekonomi tergolong masyarakat
miskin atau tingkat kesejahteraannya rendah. Masyarakat yang
terpinggirkan dari proses pembangunan, seperti kelompok migran
yang datang ke kota untuk mengais kehidupan, pada umumnya
tidak memiliki ketrampilan (unskilled labour). Sebagian besar
mereka bekerja pada sektor informal atau berprofesi sebagai buruh,
seperti pedagang kaki lima, pedagang asongan, pemulung, anak
jalanan, buruh termasuk buruh perempuan, kelompok masyarakat
yang tergusur oleh pembangunan, PSK (Pekerja Seks Komersial),
pengemis, gelandangan, dan lain sebagainya. Selain itu, kelompok
marjinal yang hidup di pedesaan dan pesisir, mereka adalah para
petani kecil dan buruh tani, nelayan, dan bahkan masyarakat yang
tidak punya alternatif untuk bekerja atau pengangguran. Kelompok
marjinal lainnya adalah buruh migran, mereka yang mengadu nasib
ke luar negeri sebagai TKI dan TKW yang jumlahnya sangat besar
dengan permasalah yang kompleks.
Kelompok marjinal ini telah keluar atau dikeluarkan dari
sistem kehidupan bermasyarakat yang normal. Di bidang ekonomi,
kelompok marjinal tidak mendapatkan pekerjaan seperti halnya
masyarakat biasa mencari nafkah. Bila kelompok “masyarakat
bawah” masih dapat bekerja di sektor-sektor informal, maka
kelompok marjinal banyak yang hidup berdasarkan “belas kasihan”
orang, seperti pengemis, gelandangan dan anak-anak jalanan.
Mereka termasuk dalam kategori masyrakat yang “terlantar” dan
“terpinggirkan” dari lingkungan sosial masyarakat umum. Jenis
kelompok lainnya yang bisa dimasukan dalam kelompok marjinal
antara lain pemulung dan Pekerja Seks Komersial. Para pemulung
menggantungkan hidup mereka dari sampah atau barang-barang
yang telah dibuang oleh masyarakat. Oleh karena itu, mereka sering
dilihat sebagai orang yang mengambil nafkah dari tempat-tempat
98
BRM 01/SEPTEMBER 2015
“kotor” atau sisa-sisa buangan masyarakat. Sementara itu, PSK
menggantungkan hidupnya dari melayani lelaki hidung belang dan
di masyarakat PSK sebagai sebuah entitas juga sering dianggap
sebagai penyakit masyarakat.
Kelompok marjinal mengalami kemiskinan, tidak memiliki
alternatif pekerjaan, dan hidup penuh dengan ketidakpastian.
Masyarakat marjinal tersebut teralienasi dari pembangunan,
sehingga mereka mengalami akumulasi kemiskinan baik miskin
secara ekonomi maupun miskin secara sosial, bahkan dikhawatirkan
dapat mengalami kondisi miskin iman. Kondisi kemiskinan dan
permasalahan yang melingkupi masyarakat marjinal dapat menjadi
pintu bagi masuknya kelompok-kelompok misi agama lain yang
mengarah pada pemurtadan, yang menggunakan pendekatan
kultural dan ekonomi yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat
miskin.
Kelompok perempuan sering juga disebut sebagai kelompok
marjinal, karena sebagian besar perempuan berada pada kondisi
yang terpinggirkan karena tidak dapat mengakses dan mendapatkan
manfaat dari kebijakan-kebijakan pembangunan, mereka juga sering
dilemahkan secara kultural dan struktural. Akibat dari kondisi dan
konstruksi pelemahan, maka perempuan sering menjadi korban
berbagi bentuk kekerasan dan diskriminasi, sehingga membuat
kelompok atau komunitas perempuan menjadi komumitas marjinal
atau termarjinalisai dalam masyarakat. Komunitas ini menyebar di
kelompok atas, menengah, dan bawah tetapi semuanya mengalami
marjinalisasi atau peminggiran sehingga disebut komunitas marjinal.
Kelompok pinggiran harus dilihat sebagai korban dari sistem
sosial dan ekonomi yang timpang, sehingga mereka mengalami
kehidupan yang dipandang tidak normal menurut pandangan umum.
Oleh karena itu, untuk memanusiakan dan “memasyarakatkan”
kembali kelompok marjinal, mereka harus dipahami dari berbagai
sudut pandang, baik dari sisi ekonomi, sosial-budaya, maupun
agama. Pada umumnya secara ekonomi kelompok marjinal adalah
kelompok yang miskin dan sebagian dari mereka dapat bahkan di
bawah garis kemiskinan, meskipun untuk komunitas marjinal tertentu
tergolong menengah ke atas. Secara politik biasanya bersikap
apatis, dan secara sosial-budaya, mereka memliki kecenderungan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
99
anti-sistem dan biasanya kelompok ini tidak mempercayai sistem
sosial yang menjadi bagian dari kelompok masyarakat lainnya,
khususnya kelompok menengah dan atas. Dalam konteks tertentu,
mereka menjadi rentan dan rawan akan kejahatan atau perlakuan
tidak adil, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Perilaku
keagamaannya sangat mungkin lebih menekankan pada prinsip
humanistik, dan tidak lekat dengan konsep ritual.
Berdasarkan pada karakteristik dari kelompok marjinal tersebut,
maka diperlukan pengembangan model dakwah bagi komunitas
marjinal sebagai berikut:
1. Bagi komunitas marjinal diperlukan pendekatan dakwah yang
lebih bersifat humanistik dan menekankan pada keterlibatan
organisasi dakwah dalam memperbaiki pola kehidupan sosial
dan ekonomi mereka.
2. Tabligh bil-hal atau kegiatan keagamaan yang praktis dan
menekankan keterlibatan mereka dalam aktivias sosial ekonomi
adalah pendekatan yang paling mungkin untuk dilakukan.
Sikap anti sosial dan apatis yang mungkin menjadi karakter
mereka dapat didekati dengan ruang yang bisa memberikan
kesempatan bagi mereka untuk mengubah persepsi tentang
kehidupan dan membangun harapan. Penyediaan “rumahrumah singgah” dan “sanggar bermain dan belajar” untuk
anak-anak jalanan adalah bentuk dakwah bil hal yang relevan
dengan kelompok marjinal, khususnya anak-anak dan remaja.
3. Dakwah sosial untuk kelompok marjinal dapat dilakukan dengan
menjadikan mereka sebagai bagian dari program-program
sosial lembaga keagamaan, seperti dalam pendistribusian ZIS,
santunan untuk keluarga dari kelompok marjinal dan beasiswa
khusus anak-anak jalanan atau anggota keluarga dari kelompok
marjinal.
4. Dakwah sosial ekonomi untuk kelompok marjinal bisa
diwujudkan dalam bentuk kegiatan pendidikan keterampilan
untuk remaja dan orang-orang dewasa. Untuk itu, gerakan
dakwah Muhammadiyah perlu melibatkan lembaga-lembaga
yang secara spesifik menggeluti program peningkatan
keterampilan kerja. Sebab, tidak mudah mengubah cara
pandang kelompok yang sudah anti sosial untuk memasuki
100
BRM 01/SEPTEMBER 2015
kembali kepada sistem sosial kehidupan masyarakat yang lebih
kondusif bagi kelompok marjinal untuk mengembangkan diri.
5. Dakwah dalam bentuk advokasi adalah bentuk yang paling
penting untuk dilakukan bagi kelompok marjinal. Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya, kelompok marjinal adalah kelompok
yang dipinggirkan oleh sistem. Oleh karena itu, dakwah advokasi
dilakukan untuk memperbaiki sistem yang ada, khususnya
dalam menggugah perhatian pemerintah dan membangun
kesadaran di kalangan kelompok marjinal akan hak-hak yang
seharusnya mereka dapatkan. G. Dakwah Bagi Komunitas Virtual
Perkembangan teknologi telah memungkinkan masyarakat
untuk melaksanakan berbagai aktivitas kegiatan hidup secara
lebih mudah, cepat dan produktif. Salah satu jenis komunikasi yang
memiliki perkembangan sangat pesat adalah teknologi komunikasi
dan informasi. Keberadaan sistem internet dengan berbagai
perangkat (gadget) yang terus berkembang untuk mengaksesnya
tidak lagi hanya sekedar sebagai alat untuk komunikasi, melainkan
telah menciptakan moda interaksi baru, dan lebih jauh lagi
menciptakan realitas sosial baru.
Perkembangan relasi sosial melalui teknologi komunikasi dan
informasi yang demikian pesat itu dikenal sebagai realitas dunia maya
(virtual reality) di mana orang tidak hanya sekadar menggunakan
perangkat komunikasi dan sistem internet untuk berkomunikasi,
melainkan dapat menciptakan identitas diri yang baru yang agak
berbeda atau sangat berbeda dengan identias dunia sosial nyata
yang selama ini hidup dalam masyarakat. Dengan identitas-identitas
inilah para pengguna dunia maya saling berinteraksi, sehingga
sebenarnya dalam media sosial seperti blog, facebook, twitter,
WhatsApp, dan sejenisnya yang berinteraksi bukanlah realitas
nyata dari seseorang melainkan realitas virtual yang diciptakan
sesuai dengan format media yang ada. Kelompok yang berinteraksi
melalui media sosial baru tersebut disebut sebagai komunitas virtual
(virtual community), yang kini hadir menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat modern.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
101
Dalam perkembangannya, media sosial yang pada awalnya
merupakan bagian pelengkap dari kehidupan nyata masyarakat,
semakin hari menempati porsi yang semakin besar sehingga
semakin banyak anggota masyarakat terutama generasi muda
yang aktivitas dan komunitas hidupnya lebih banyak berada di
dunia maya daripada di dunia nyata. Menurut data yang dirilis oleh
Asosiasi Penyedia Jasa Internet di Indonesia, diperkirakan pengguna
intenet di Indonesia mencapai jumlah 77 juta pada tahun 2013,
meningkat lagi menjadi 107 juta di tahun 2014, dan diperkirakan
pada akhir 2015 sudah akan mencapai 139 juta orang, atau sekitar
separoh dari seluruh jumlah warga negara Indonesia.
Dari perspektif dakwah, kehidupan dunia maya secara umum
dan media sosial secara khusus merupakan realitas baru yang belum
banyak digarap oleh Muhammadiyah. Padahal segmen ini merupakan
wilayah yang bukan hanya sangat potensial karena telah memiliki
komunitas yang banyak anggotanya, melainkan juga strategis karena
ke depan kehidupan masyarakat akan semakin tergantung kepada
teknologi informasi dan komunitas dunia maya. Muhammadiyah
memang sudah banyak menggunakan teknologi modern, termasuk
media sosial (situs web, facebook, WhatsApp group, dan lainlain), untuk melakukan komunikasi dan menyampaikan informasi
dakwah, namun intensitas dan kapasitasnya masih terbilang rendah
dibandingkan dengan komunitas yang harus dijangkau. Dalam
hal ini Muhammadiyah masih tertinggal beberapa langkah dari
sejumlah organisasi dakwah lain yang sangat aktif berkomunikasi
dan berinteraksi dengan publik yang menggunakan media sosial.
Muhammadiyah perlu semakin terlibat proaktif dan sistematis
dalam melakukan dakwah pada komunitas media sosial dengan
dua tujuan pokok. Pertama, sebagai media komunikasi, yaitu
untuk mempertahankan hubungan dan penyampaian pesan
dakwah kepada umat dan warga persyarikatan yang semakin hari
semakin banyak memanfaatkan media sosial. Kedua, sebagai upaya
memberikan warna dakwah ke dalam interaksi media sosial yang
cenderung lebih banyak berisi aktivitas untuk mengisi waktu luang
(trivial activites) dan beresiko membawa dampak sosial seperti
pertengkaran, penipuan, perselingkuhan, hingga perkelahian dan
pembunuhan. Ketiga, terlibat dalam eksperimentasi penemuan
102
BRM 01/SEPTEMBER 2015
dan penciptaan komunitas dunia maya alternatif yang lebih
bertanggungajwab, bermoral dan Islami sesuai dengan cita-cita
Muhammadiyah menuju tewujudnya masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya.
Komunitas virtual itu heterogen, mereka bergabung dalam
“jamaah” Facebookers, Tweeters, Bloggers, Monitor (Pendengar
Radio), Online News, Sineas, dan lain-lain. Kondisi ekonomi kelompok
ini sangat variatif dari yang berpenghasilan rendah, sedang, sampai
tinggi. Orientasi politiknya dinamis; bahkan menjadi kekuatan baru
dalam dunia perpolitikan seperti dalam Pemilihan Presiden dan
berbagai kepentingan politik lainnya. Komunitas ini secara budaya
segmental; artinya terpolarisasasi dalam beragam orientasi kolektif,
pola relasi, dan sistem pengetahuan yang majemuk serta gampang
sekali berubah. Orientasi sosial mereka eksklusif, yang cenderung
berada dalam “dunia” sendiri, tidak jarang memiliki sikap fanatik
sosial tertentu. Sedangkan dalam hal orientasi keagamaannya
heterogen, baik yang berafiliasi pada agama tertentu, lebih cair
lagi di antara mereka tidak sedikit yang mengedapankan orientasi
spiritual yang bersifat “lintas” yang jika dibiarkan lepas akan
cenderung “anti-agama” atau “spiritualitas tanpa agama”.
Dalam rangka melaksanakan dakwah komunitas virtual
diperlukan pendekatan yang menggunakan model sebagai berikut:
1. Metode Partisipatoris untuk mendorong perubahan perilaku,
artinya kelompok ini karena berada dalam ruang sosial yang
cair maka diperlukan model dakwah yang menekankan
pada perubahan orientasi pengetahuan, sikap, dan tindakan
sesuai dengan pesan dakwah Islam yang tentu saja
bermuatan pencerahan. Mereka dapat disasar sesuai dengan
pengelompokan jenis kelamin, usia, minat, kepentingan,
identitas kelompok, dan lain-lain.
2. Media kegiatan dakwah bagi konuitas virtual ialah melalui
Tabligh bil-Qalam yaitu dengan mengembangkan media
Literasi dan pemanfaatan media sosial yang bersifat tertulis
dengan berbagai pesan yang mencerahkan.
3. Menampung dan distribusi ZIS, banyak contoh yang
dikembangkan bahwa media virtual dapat dijadikan sarana
cukup efektif untuk memobilisasi dana ZIS maupun lainnya
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
103
4.
yang dikenal sebagai “ZIS Online”, sekaligus menjadi media
pendistribusinanya. Kini kegiatan “bisnis online” bahkan
berkembang dan menjadi tren baru di dunia sosial media.
Model kegiatan lainnya ialah pembentukan kelompok (relawan
online) sebagai model pembentukan “jamaah” melalui sosial
media. Selain itu dikembangkan “Sharing informasi” dengan
komunitas virtual dengan materi dan isu-isu keislaman yang
menarik dan sesuai kebutuhan serta alam pikiran mereka. Di
samping itu dapat dikembangkan model Tutorial yang berisi
berbagai paket pelajaran Islam dan Kemuhammadiyahan
yang lebih “inklusif”, termasuk paket tutorial “Islam untuk
pemula”. Program lainnya ialah “Produksi media/program” dan
“Muhammadiyah Online store” yang juga dikemas dengan apik
dan menarik sebagaimana tren dunia vertual untuk berbagai
segmen sasaran dakwah.
Muhammadiyah dalam rangka mengembangkan model
dakwah bagi komunitas virtual sebagamana dikemukakan di atas
perlu melakukan pengorganisasian sebagai berikut:
1. Sosialisasi kepada semua jajaran pimpinan dan aktivis tentang
dakwah di dunia maya dan media sosial. Muhammadiyah perlu
mendorong warganya, dari semua kalangan usia tua dan muda
maupun laki-laki dan perempuan, sebagai kelompok yang
faham (literate) dengan dunia maya dan bagaimana melakukan
dakwah di media sosial.
2. Mendorong seluruh jajaran pimpinan dan amal usaha
Muhammadiyah untuk memiliki akun media sosial dan terlibat
aktif dalam berkomunikasi dalam komunitas dunia maya
sebagai bentuk baru dunia dakwah.
3. Melakukan duplikasi materi-materi dan forum-forum dakwah
di lingkungan Muhammadiyah yang selama ini hanya ada
pada tataran nyata (buku bacaan, majalah, ceramah, diskusi) ke
dalam dunia maya melalui media-media sosial untuk meluaskan
jangkauan audiensnya.
4. Membentuk dan melatih kelompok-kelompok aktivis dan
relawan persyarikatan yang aktif berdakwah di dunia maya
dan media sosial, baik secara kognitif dalam menyampaikan
104
BRM 01/SEPTEMBER 2015
informasi dan argumen dakwah, maupun secara interaktif
dengan membuat model komunikasi dan interaksi di media
sosial dan di dunia maya secara umum yang sesuai dengan
norma ajaran Islam dalam Muhammadiyah.
H. Dakwah Bagi Komunitas Khusus
Komunitas dalam makna khusus merujuk pada kelompokkelompok sosial tertentu yang memiliki kesamaan minat,
kepentingan, dan identitas yang unik. Kelompok sosial tersebut
terdapat di berbagai lingkungan masyarakat dari kelas bawah
sampai menengah ke atas, baik dalam identitas yang mengandung
pandangan positif maupun yang memperoleh stigma atau
anggapan negatif tertentu dalam masyarakat. Sejumlah komunitas
khusus yang memiliki ciri dan minat keagaamaan seperti kelompokkelompok pengajian (beragam majelis taklim), komunitas muallaf,
komunitas tasawuf, mujahadah, istighasah, dan berbagai jamaah
sejenis dalam beragam kecenderungan paham dan aliran yang
memerlukan dakwah Muhammadiyah.
Komunitas sosial lain yang elitis seperti Sosialita (kelompok
kelas atas yang memiliki gaya hidup ekslusif), penggemar Moge
(Motor Gede), dan berbagai komunitas yang berkembang di
lingkungan kelas menengah ke atas. Kelompok ini secara sosial
ekonomi mapan, bahkan sebagian berlebih, namun memerlukan
aktualisasi diri dan penyaluran waktu senggang untuk mencari atau
menemukan “dunia lain” yang dapat memberi mereka rasa nyaman,
puas, dan gembira. Kelompok ini memerlukan dakwah spiritualitas
dan pencerahan pikiran yang memberikan “kanopi suci” atau
semacam oase bagi atas “kegersangan ruhani”. Sebagian komunitas
ini mungkin mengalami “the lost of soul” atau kekeringan jiwa
sehingga membutuhkan siraman keagamaan yang menyejukkan,
mendamaikan, menenteramkan, dan menyelamatkan.
Komunitas lainnya yang kehadirannya agak meresahkan antara
lain “gang motor” yang pelakunya dari berbagai lapisan, yang juga
memerlukan dakwah bagi komunitas ini agar mereka mengisi waktu
luang dengan hal-hal positif. Demikian pula komunitas sejenis tetapi
dengan konotasi positif seperti “Penggemar Sepeda” dan berbagai
komunitas minat sejenis yang banyak melibatkan anak-anak remaja
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
105
di kota-kota besar. Kelompok ini juga memerlukan pendampingan
dakwah agar bekreasi dan berekreasi secara positif.
Komunitas khusus dalam masyarakat tersebut memiliki
karakteristik yang beragam dan khas. Secara ekonomi terbilang
variatif. Bagi kelompok yang memiliki kesamaan minat atau
hobi umumnya mereka berangkat dari kelompok yang mapan
secara ekonomi hingga memerlukan ruang aktualisasi lebih yang
dituangkan dalam wujud kecenderungan menggeluti sesuatu yang
unik dan khas seperti para otomotif club, hijabers, geng moge,
dan sejenisnya. Meski di antara komunitas tersebut pada awalnya
memiliki kondisi ekonomi pas-pasan namun setelah menggeluti
hobi tertentu justeru menjadi ahli atau memiliki kecakapan hingga
bisa membuatnya tercukupi secara ekonomi seperti para traveler,
bookers, dan novelis. Secara politik kelompok ini cenderung
bersikap dinamis dalam pengertian tidak terlalu mengasosiasikan
diri dalam kelompok politik tertentu namun memiliki sikap kritis
terhadap kebijakan politik khususnya menyangkut kepentingan
mereka. Karena kelompok ini tergolong variatif maka secara
budaya mereka tersegmentasi sesuai dengan kecenderungan,
selera, minat dan kepentingan masing-masing. Hal ini pula yang
membuat kelompok ini secara sosial bersifat eksklusif karena relasi
sosialnya cenderung terbatas pada orang-orang yang memiliki
kesamaan minat, kepentingan dan identitas. Sedangkan dalam
sikap keberagamaan juga bervariasi, tetapi memiliki kecenderungan
umum beragama secara “minimalis” dan non-ritual yang berbeda
dengan kelompok santri.
Apapun karakteristik komunitas khusus ini, dalam kenyataannya
merupakan kelompok sosial yang faktual atau manifes tumbuh dan
berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, yang
diperkirakan akan semakin luas. Komunitas dalam makna khusus
merujuk pada kelompok-kelompok sosial tertentu yang memiliki
kesamaan kepentingan, minat, dan identitas yang unik. Kondisi ini
sebenarnya membuka peluang bagi Muhammadiyah untuk masuk
pada ruang sosial komunitas ini yang jika mampu melakukannya
akan lebih efektif untuk kepentingan dakwah. Berikut ini beberapa
model komunitas khusus yang berkembang di masyarakat yang
106
BRM 01/SEPTEMBER 2015
secara minimal dapat diberi warna (shibghah) oleh dakwah
Muhammadiyah yang bersifat pencerahan.
1. Model Dakwah Khusus pada Komunitas Hobi
Komunitas hobi merupakan kelompok sosial khusus yang
berkumpul secara intensif dan disatukan dalam ikatan kesamaan
minat tertentu yang spesifik. Komunitas hobi yang kini berkembang
antara lain: hijabers, bikers (geng motor, sepeda), klub otomotif,
bookers, pecinta alam, travelers, seniman dan lain sebagainya.
Angota komunitas hobi ini memiliki relasi sosial yang lekat satu
sama lain, yang disatukan oleh kegemaran sosial tertentu sesuai
minat dan kesenangannya. Hobi bagi kelompok ini berkembang
menjadi identitas diri dan kelompok, yang tidak jarang tampil
ekslusif di mata kelompok sosial lain dalam masyarakat.
Program dakwah yang dapat dilakukan terhadap komunitas
ini di antaranya: Tabligh bil lisan yakni memberikan ceramah yang
aktual-kontekstual, tabligh online, khusus bagi komunitas hobi yang
tergolong mapan bisa dijaring untuk menjadi muzaki Zis (zakat, infak
dan sedekah) untuk kemudian didistribusikan oleh Muhammadiyah
bersama komunitas bersangkutan kepada yang berhak. Karena
umumnya orang-orang yang berada dalam komunitas ini berangkat
dari sebuah kesadaran bersama, maka pendekatan dakwah yang
bisa dilakukan oleh Muhammadiyah adalah model partisipatoris
yakni mendorong komunitas untuk melakukan perubahan perilaku
yang sesuai dengan ajaran agama atau Pedoman Hidup Islami
Warga Muhammadiyah.
2. Model Dakwah Khusus pada Komunitas Kesamaan
Kepentingan
Kecenderungan
bersosialisasi
masyarakat
acapkali
dilatarbelakangi oleh adanya kesamaan kepentingan dengan orang
lain. Akibat kesamaan tersebut pembentukan komunitas menjadi
lebih mudah dan menjadi nyaman bagi anggotanya. Hal ini pun
dijumpai dalam masyarakat saat ini yang membentuk komunitas
berdasarkan adanya kepentingan bahkan misi dari latarbelakang
berkomunitas tersebut. Dapat dijumpai komunitas Majelis Taklim
yang banyak berkembang di kota-kota besar lintas profesi dan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
107
strata sosial. Berkat dakwah Islam yang intensif, lahir pula Komunitas
Muallaf yang umumnya mengalami nasib yang sama pada awal
masa keislamannya, yaitu memiliki semangat belajar yang tinggi
untuk mengenal Islam, namun mengalami peminggiran atau
pengasingan dari keluarga dan komunitas asalnya. Komunitas
lainnya ialah jamaah atau kelompok-kelompok tasawuf yang
menyeruak di tengah-tengah gemerlap kehidupan kota dan haus
akan spiritualitas baru yang non-verbal. Terdapat pula Komunitas
Blood for Life, komunitas yang terbentuk untuk menjaring donor
darah untuk didistribusikan kepada yang membutuhkan, kepada
korban terdampak bencana alam yang membutuhkan uluran
bantuan, dan kepada yang memerlukan sebagai bentuk kepeduliaan
dan sikap kemanusiaan terhaap sesama. Selain itu saat ini perlahan
tapi pasti muncul komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan
Transjender) yang hadir menuntut kebebasan dan apa yang mereka
sebut sebagai hak untuk menentukan orientasi seksual yang diakui
oleh publik dan negara.
Muhammadiyah memiliki otoritas dan kapabilitas untuk
mendampingi komunitas yang memiliki kepentingan khusus
ini. Program yang dapat dilakukan adalah Tabligh bi-lisan, yakni
memberikan ceramah yang aktual-kontekstual hingga bisa
menyentuh kesadaran komunitas pada jalan Ilahi yang haq, yang
modelnya harus dikemas secara cerdas sesuai pendekatan “ala
qadri ‘uqulihim” melalui paket-paket taligh yang mencerahkan
dan mengubah perilaku mereka. Penampungan dan distribusi ZIS,
beasiswa pendidikan, paket kesehatan dan santunan sosial bagi
anggota komunitas yang tidak mampu, atau melalui pendampingan
dan advokasi, pemberdayaan ekonomi serta pendidikan
keterampilan kerja bagi yang memerlukannya. Dengan programprogram tersebut, diharapkan komunitas “kepentingan” ini atas
dapat mengalami perubahan perilaku sesuai dengan nilai-nilai
Islam yang luhur.
3. Model Dakwah Khusus karena Kesamaan Identitas
Kelompok lain adalah komunitas yang terbentuk karena adanya
kesamaan identitas maupun keunikan. Kelompok ini kadangkala
menjadi kelompok yang rentan karena untuk memenuhi kebutuhan
108
BRM 01/SEPTEMBER 2015
hidupnya memerlukan pendampingan hingga bantuan orang lain.
Masuk dalam kriteria ini adalah komunitas orang tua berusia lanjut
(lansia) dan para difabel. Muhammadiyah dengan beberapa unsur
pembantu pimpinan serta ortomnya bisa melakukan programprogram: Tabligh bil lisan yakni ceramah motivatif yang aktualkontekstual, mendistribusikan ZIS, pembentukan kelompok,
pemberian beasiswa pendidikan, paket kesehatan dan santunan
sosial, atau melalui pendampingan dan advokasi hak-hak warga
negara, pemberdayaan ekonomi serta pendidikan keterampilan
kerja.
Dakwah kepada komunitas ini selain untuk pendampingan,
pada saat yang sama perlu diperjuangkan dan dipenuhi kepentingan
kelompok khusus ini dalam hal mendapatkan akses yang layak dari
negara maupun masyarakat, sehingga hak-hak sosialnya terjamin.
Selain itu dipelukan dakwah untuk memberdayakan mereka hingga
mampu bersosialisasi dan hidup bersama masyarakat secara egaliter,
respek, dan terbentuk proses integrasi sosial sejalan nilai-nilai Islam
yang utama.
Komunitas lain yang lebih longgar yang berada di lingkungan
amal usaha Persyarikatan. Para orang tua siswa maupun mahasiswa
di lingkungan pendidikan Muhammadiyah, termasuk ‘Aisyiyah,
bersama keluarga besarnya. Demikian pula para keluarga dari
pasien-pasien Rumah Sakit dan Poliklinik Muhammadiyah maupun
lembaga amal usaha lainnya yang melibatkan konsumen atau pihak
masyarakat. Kelompok-kelompok khusus ini selama ini mungkin
luput dari perhatian dakwah dan jangkauan gerakan Muhammadiyah.
Padahal mereka selain jumlahnya banyak juga memiliki kekuatan
sosial tertentu yang jika mampu dimanfaatkan oleh Muhammadiyah
sebagai sasaran selaligus mitra dakwah, maka akan berdampak luas
bagi kepentingan misi gerakan Islam ini. Komunitas khusus ini tidak
diundang untuk menjadi bagian dari amal usaha Muhammadiyah
tetapi daya jangkau dan orientasi kehidupannya dapat dijadikan
jalan membangun keluarga atau anggota Muhammadiyah yang
besar dan meluas di seluruh lingkungan dan warga Muhammadiyah.
Komnitas khusus apapun jenis dan kecenderungan kolektifnya
memerlukan sapaan dakwah sesuai dengan keadaan dan karakter
mereka, sehingga Muhammadiyah hadir di tengah-tengah
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
109
kehidupan mereka dengan membawa perubahan ke arah yang lebih
mencerahkan. Berbagai model dakwah dengan materi, pendekatan,
strategi, dan cara yang bervariasi sesuai dengan corak komunitas
kelompok ini dapat dikembangkan oleh Muhammadiyah. Dalam
hal ini Muhammadiyah penting melakukan langkah-langkah
sebagai berikut. Pertama, identifikasi kelompok dakwah pada
komunitas khusus untuk memahami peta kondisi, masalah, dan
katakter masing-masing. Kedua, perumusan dan penentuan modelmodel dakwah bagi komunitas khusus. Ketiga, pengorganisasian
sumberdaya da’i untuk kepentingan dakwah komnitas pada
kelompok ini. Dakwah komunitas untuk kelompok ini memerlukan
perhatian khusus Muhammadiyah karena kehadiran komunitas
( jamaah) dalam beragam kelompok dan kecenderungan hidupnya
merupakan realitas sosial yang nyata untuk diberi jawaban dakwah
oleh Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai
Gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid
untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya
niscaya hadir pada setiap kelompok atau komunitas apapun dan
di manapun untuk menjadi obor pencerahan yang membebaskan,
memberdayakan, dan memajukan kehidupan umat manusia yang
berperadaban utama.
I. Khatimah
Perkembangan Muhammadiyah saat ini maupun ke depan
makin dihadapkan pada model kehidupan komunitas atau jamaah
yang heterogen dalam berbagai aspeknya, yang memerlukan
model dakwah komunitas atau dakwah jamaah yang mengandung
pemikiran, pendekatan, strategi, dan pola aktivitas baru yang lebih
relevan dan aktual. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang
membawa misi dakwah dan tajdid harus tampil sebagai kekuatan
pencerahan dalam memberi shibghah atau corak kehidupan
masyarakat yang berubah dan berkembang dinamis itu sebagaimana
menjadi komitmen gerakannya di abad kedua.
Komunitas atau jamaah dalam kehidupan masyarakat Indonesia
baik di perkotaan dan pedesaan maupun kawasan lain berkembang
pesat dan dinamis seiring dengan perkembangan zaman yang
menjadi hukum kehidupan. Komunitas ( jamaah) sebagai kelompok110
BRM 01/SEPTEMBER 2015
kelompok sosial umum yang memiliki identitas heterogen maupun
kelompok-kelompok sosial khusus yang memiliki identitas yang
homogen dalam masyarakat di berbagai struktur dan lingkungan
kehidupan merupakan sasaran dakwah yang harus menjadi perhatian
Muhammadiyah dalam sistem gerakannya, terutama ketika gerakan
Islam ini memasuki abad kedua.
Dalam lima tahun ke depan (periode 2015-2020) Muhammadiyah
dituntut untuk mewujudkan gerakan pencerahan yang mengandung
misi dakwah yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan
kehidupan masyarakat di segala bidang ke dalam berbagai model
dakwah pencerahan yang benar-benar aktual. Di antaranya ialah
dakwah pencerahan dalam model dakwah komunitas yang dapat
membawa perubahan yang bersifat membebaskan, memberdayakan,
dan memajukan kehidupan kelompok-kelompok sosial di berbagai
segmen sosial yang tumbuh pesat di Indonesia kurun mutakhir.
Keragaman komunitas mensyaratkan tersedianya kaderkader dakwah dengan kemampuan dan keterampilan khusus dan
tidak konvensional dalam berdakwah. Dengan kata lain, dakwah
komunitas perlu didukung oleh kader-kader dakwah yang dinamis,
memiliki visi pembaruan, serta kemampuan analisa dan mobilisasi
sosial yang baik serta mampu merumuskan kepentingan komunitas
dan memperjuangkannya. Dalam konteks inilah, konsep dakwah
komunitas Muhammadiyah memliki ruang yang lebih luas untuk
diimplementasikan di abad kedua ini.
Dengan demikian Muhammadiyah diharapkan semakin dapat
diterima secara meluas dalam berbagai struktur dan lingkungan
masyarakat Indonesia yang memberi identitas pencerahan.
Melalui Dakwah Komnitas sebagai Pengembangan Model Dakwah
Pencerahan yang Berbasis Gerakan Jamaah maka seluruh usaha,
program, dan aktivitas Muhammadiyah dalam bebagai aspeknya
dapat membawa perubahan yang bersifat membebaskan,
memberdayakan, dan memajukan kehidupan umat manusia
keseluruhan sebagai wujud aktualisasi misi dakwah dan tajdid yang
menyebarkan risalah rahmatan lil-’alamin.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
111
Lampiran 4
Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47
MUHAMMADIYAH DAN ISU-ISU STRATEGIS KEUMATAN,
KEBANGSAAN, DAN KEMANUSIAAN UNIVERSAL
Bismillahirrahmanirrahim
Muhammadiyah senantiasa bergerak dalam lingkungan
umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan universal yang sarat
dinamika, masalah, dan tantangan aktual yang kompleks dengan
keniscayaan melakukan ikhtiar mencermati, mengantisipasi, dan
memberikan solusi strategis dalam bingkai Islam berkemajuan
menuju pencerahan peradaban.
Melalui Muktamar ke-47 tanggal 18-22 Syawwal 1436 H
bertepatan 3-7 Agustus 2015 M di Makassar, setelah mencermati
perkembangan aktual dalam berbagai ranah kehidupan maka
Muhammadiyah menyampaikan isu-isu strategis keumatan,
kebangsaan, dan kemanusiaan universal sebagai berikut:
A. ISU-ISU KEUMATAN
1. Keberagamaan Yang Moderat
Perkembangan mutakhir menunjukkan gejala meningkatnya perilaku keberagamaan yang ekstrim antara lain kecenderungan mengkafirkan pihak lain (takfiri). Di kalangan umat
Islam terdapat kelompok yang suka menghakimi, menanamkan kebencian, dan melakukan tindakan kekerasan terhadap
kelompok lain dengan tuduhan sesat, kafir, dan liberal. Kecenderungan takfiri bertentangan dengan watak Islam yang
menekankan kasih sayang, kesantunan, tawasuth, dan toleransi.
Sikap mudah mengkafirkan pihak lain disebabkan oleh banyak
faktor antara lain cara pandang keagamaan yang sempit, miskin
wawasan, kurangnya interaksi keagamaan, pendidikan agama
yang eksklusif, politisasi agama, serta pengaruh konflik politik
dan keagamaan dari luar negeri, terutama yang terjadi di Timur
Tengah.
112
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Mencermati potensi destruktif yang ditimbulkan oleh
kelompok takfiri, Muhammadiyah mengajak umat Islam,
khususnya warga Persyarikatan, untuk bersikap kritis
dengan berusaha membendung perkembangan kelompok
takfiri melalui pendekatan dialog, dakwah yang terbuka,
mencerahkan, mencerdaskan, serta interkasi sosial yang
santun. Muhammadiyah memandang berbagai perbedaan
dan keragaman sebagai sunnatullah, rahmat, dan khazanah
intelektual yang dapat memperkaya pemikiran dan memperluas
wawasan yang mendorong kemajuan. Persatuan bukanlah
kesatuan dan penyeragaman tetapi sinergi, saling menghormati
dan bekerjasama dengan ikatan iman, semangat ukhuwah,
tasamuh, dan fastabiqu al-khairat. Dalam kehidupan masyarakat
dan kebangsaan yang terbuka, Muhammadiyah mengajak umat
Islam untuk mengembangkan sikap beragama yang tengahan
(wasithiyah, moderat), saling mendukung dan memperkuat,
serta tidak saling memperlemah dan meniadakan kelompok
lain yang berbeda.
2. Membangun Dialog Sunni-Syiah
Akhir-akhir ini energi umat tersedot dalam persoalan
pertentangan antara pengikut kelompok Sunni dengan Syiah.
Walaupun masih dalam skala yang relatif kecil dan lokal,
kekerasan Sunni-Syiah berpotensi meluas dan mengancam
sendi-sendi persatuan umat dan bangsa Indonesia. Akar
konflik Sunni-Syiah sangat kompleks antara lain karena masalah
kesenjangan ekonomi, imbas konflik politik di Irak, Syiria, dan
Yaman, serta persaingan pengaruh politik-keagamaan antara
Iran dengan Arab Saudi di negara-negara Muslim, termasuk di
Indonesia. Pertentangan semakin tajam ketika ditarik ke ranah
teologis dan sejarah pertumpahan darah di antara pengikut
Sunni-Syiah di masa silam.
Untuk mencegah semakin meluasnya konflik antara
kelompok Sunni-Syiah di Indonesia, Muhammadiyah mengajak
umat Islam untuk mengadakan dialog intra umat Islam.
Dialog dimaksudkan untuk meningkatkan saling memahami
persamaan dan perbedaan, komitmen untuk memperkuat
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
113
persamaan dan menghormati perbedaan, serta membangun
kesadaran historis bahwa selain konflik, kaum Sunni dan Syiah
memiliki sejarah kohabitasi dan kerjasama yang konstruktif
dalam membangun peradaban Islam.
Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk bersikap arif,
menghormati semua sahabat dan keluarga Nabi Muhammad
dengan tetap memegang teguh kemurnian akidah sehingga
tidak terjebak pada pengkultusan individu. Sebagai kekuatan
Muslim terbesar di dunia, umat Islam Indonesia harus tampil
sebagai penengah dan inisiator dialog. Membawa konflik
negara lain ke Indonesia atas dasar sentimen golongan
berpotensi merusak persatuan umat dan bangsa serta lebih
jauh dapat melemahkan diri di tengah percaturan politik global.
Muhammadiyah menghimbau kepada Pemerintah Indonesia
untuk mengambil prakarsa dialog di atas prinsip politik bebas
aktif dan perjuangan menciptakan perdamaian dunia.
3. Substansialisasi Agama
Perkembangan teknologi telekomunikasi dan transportasi
menciptakan perubahan besar terhadap tradisi, gaya hidup, dan
pola keberagamaan dalam masyarakat. Di antara dampaknya
adalah mudahnya pengaruh dari tempat lain, baik positif
maupun negatif, masuk ke negeri ini hingga ke berbagai daerah
terpencil. Tradisi baca, orientasi seksual, model berpakaian,
pola komunikasi antara manusia, hubungan kekeluargaan
(kawin-cerai), hedonism, serta interaksi lawan jenis dan tuamuda adalah beberapa contoh dari perubahan sikap yang
kadang dipengaruhi oleh arus globalisasi. Keberagamaan
pada sebagian kalangan cenderung menjadi bagian lifestyle
dan performance daripada kesadaran spiritual.
Muhammadiyah memandang Islam sebagai jalan hidup
(way of life) dan filosofi hidup, bukan sekadar gaya hidup. Esensi
dari Islam lebih penting daripada performative-nya. Esensi dari
agama yang substantif antara lain terwujud dalam kesalihan diri
dan kesalihan sosial, melakukan pengentasan kemiskinan dan
keterbelakangan, pemberantasan korupsi, hidup bersahabat
dengan umat lain, dan sikap saling tolong-menolong. Karena
114
BRM 01/SEPTEMBER 2015
itu, Muhammadiyah menganjurkan kepada warganya untuk
menekankan pentingnya esesnsi dan substansi Islam, bukan
pada unsur lifestyle dan performative.
4. Meningkatkan Daya Saing Umat Islam
Di dunia Islam, Indonesia sering dibanggakan sebagai
negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.
Namun dalam kancah internasional, peran umat Islam Indonesia
masih belum sebanding dengan jumlahnya yang besar. Dalam
batas tertentu umat Muslim Indonesia kadang merasa rendah
diri di hadapan umat Islam lain, merasa kalah dalam otoritas
keagamaan dibandingkan umat dari daratan Arabia, Pakistan,
bahkan Malaysia. Dalam organisasi-organisasi Islam tingkat
dunia tidak tampil tokoh Muslim Indonesia yang menonjol dan
menentukan. Muslim Indonesia seolah majority with minority
mentality atau inferiority complex, sehingga sering mudah
menerima pengaruh dari luar dan tidak menjadi subjek yang
mempengaruhi.
Sesuai ajaran Islam, Muhammadiyah memandang
bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan orang
‘ajam (luar Arab) dalam hal keimanan, otoritas keagamaan,
serta kedudukan dan peran kemanusiaan. Muhamadiyah
menganjurkan agar umat Islam Indonesia berperan lebih aktif
di tingkat internasional dan berkompetisi dengan umat Islam
lain. Di antara kunci peningkatan peran penting tersebut adalah
penguasaan bahasa asing terutama Arab dan Inggris, serta
penyebaran khazanah Islam Indonesia ke dunia luar. Upaya
tersebut dapat dilakukan apabila institusi-institusi pendidikan di
lingkungan Muhammadiyah meningkatkan kemampuan Bahasa
asing bagi warga Muhammadiyah dan menerjemahkan karyakarya keislaman utama dari tokoh-tokoh umat Islam Indonesia
ke bahasa asing untuk kemudian mendistribusikannya secara
luas.
5. Membangun Budaya Hidup Bersih dan Sehat
Islam adalah agama fitrah yaitu agama yang bersih dan
mementingkan kebersihan. Dengan ajaran thaharah, Islam
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
115
mendidik pemeluknya untuk senantiasa hidup bersih dan
menjaga kebersihan, baik fisik maupun lingkungan. Di antara
syarat sahnya shalat adalah suci dari hadats serta badan, pakaian,
dan tempat dari najis. Islam melarang manusia melakukan fasad
dan fakhsya yaitu berbuat kerusakan di muka bumi antara lain
mencemari air, tanah, dan udara. Pencemaran lingkungan dapat
menimbulkan kerusakan ekosistem dan menyebarkan berbagai
macam penyakit.
Islam sebagai agama fitrah dan ajaran Islam tentang
thaharah belum tercermin dalam kepribadian muslim dan
kehidupan masyarakat. Kesan kumuh, kotor dan lusuh masih
melekat dengan perilaku umat, rumah tinggal, dan tempat
ibadah. Karena itu diperlukan usaha-usaha untuk mengubah
budaya masyarakat melalui pendidikan, pengembangan
teknologi, dan hukum. Perlu penanaman kesadaran dan budaya
hidup bersih sedini mungkin melalui pendidikan keluarga,
kelompok bermain, sekolah/madrasah, dan media massa.
Dakwah Islam perlu lebih menekankan makna Islam sebagai
agama fitrah dan aktualisasi ajaran thaharah dalam kehidupan
sehari-hari.
Secara konseptual, Muhammadiyah telah menerbitkan
buku Teologi Lingkungan dan Fikih Air sebagai panduan Islam
dalam membangun budaya hidup bersih. Kini yang diperlukan
adalah memulai gerakan baru berbasis keluarga dan komunitas
untuk membangun perlikau hidup dan peradaban bersih.
Selain pengetahuan dan kesadaran tentang hidup bersih
diperlukan juga teknologi pengolahan limbah dan sampah yang
memungkinkan umat melakukan daur ulang air dan sampah
serta memanfaatkannya secara produktif untuk pertanian,
energi terbarukan, dan industri kreatif berbasis rumah tangga
dan komunitas. Usaha membangun budaya hidup bersih dapat
diperkuat dengan pemberlakuan penghargaan dan sanksi
hukum baik berupa Undang-undang, Peraturan Daerah, dan
peraturan lainnya.
116
BRM 01/SEPTEMBER 2015
6. Penyatuan Kalender Islam Internasional
Berdasarkan Al-Quran umat Islam adalah ummah wahidah
(umat yang satu). Pengalaman sejarah dan pembentukan negara
bangsalah yang menyebabkan umat Islam terbagi kedalam
beberapa negara. Selain terbagi dalam berbagai negara, dalam
satu negara pun umat Islam masih terbagi ke dalam kelompok
baik karena perbedaan faham keagamaan, organisasi dan
budaya. Pembagian negara dan perbedaan golongan itu di
satu sisi merupakan rahmat, namun di sisi lain juga merupakan
tantangan untuk mewujudkan kesatuan umat. Perbedaan
negara dan golongan seringkali menyebabkan perbedaan
dalam penentuan kalender terutama dalam penentuan awal
Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Berdasarkan kenyataan
itulah maka Muhammadiyah memandang perlu untuk adanya
upaya penyatuan kalender hijriyah yang berlaku secara
internasional, sehingga dapat memberikan kepastian dan dapat
dijadikan sebagai kalender transaksi. Penyatuan kalender Islam
tersebut meniscayakan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
B. ISU-ISU KEBANGSAAN
1. Keberagamaan yang Toleran
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius dengan
ketaatan beribadah dan toleransi yang tinggi. Tradisi toleransi
mengakar kuat dalam sikap dan perilaku saling menghormati
dan bekerjasama di antara pemeluk agama yang berbeda.
Namun akhir-akhir ini terdapat gejala melemahnya budaya
toleransi di Indonesia yang ditandai oleh menguatnya
ekstrimisme di hampir semua kelompok seperti tindakan
penyerangan tempat ibadah dan kekerasan atanama agama
yang seringkali terjadi di sejumlah tempat. Selain karena faktor
penegakan hukum yang lemah dan kondisi sosial yang rawan,
tumbuhnya ekstrimisme keagamaan juga disebabkan oleh
memudarnya budaya toleransi.
Oleh karena itu diperlakukan usaha komprehensif
dari Pemerintah dan kekuatan masyarakat madani untuk
memperkuat budaya toleransi sebagai bagian dari karakter
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
117
masyarakat Indonesia. Usaha memperkuat toleransi tidak
cukup dengan memperbanyak aturan formal yang kaku, tetapi
menyemai dan menumbuhkan kembali nilai-nilai toleransi,
Bhinneka Tunggal Ika, dan agama berbasis keluarga, organisasi
kemasyarakatan, dan lembaga pendidikan formal disertai
keteladanan para tokoh agama dan elite bangsa.
2. Melayani dan Memberdayakan Kelompok Difabel dan
Kelompok Rentan Lainnya
Keberadaan kaum difabel (difable, different-ability)
merupakan realitas sosial yang serius dengan jumlah sangat
besar di Indonesia. Komunitas difabel merupakan kelompok
yang memiliki kemampuan berbeda, sebagian karena bawaan
sejak lahir dan sebagian lainnya karena masalah kesehatan,
usia, kecelakaan, dan sebab-sebab lainnya. Fakta menunjukkan
bahwa kaum difabel belum mendapatkan perhatian dan
pelayanan yang baik oleh masyarakat dan Pemerintah. Sebagian
masyarakat memandang difabilitas sebagai kutukan Tuhan,
hukum karma, aib sosial, beban ekonomi, dan pandangan
negatif lainnya. Kaum difabel masih mengalami marginalisasi,
alienasi, ekslusi, serta tindak kekerasan baik fisik, verbal, sosial,
maupun spiritual. Fasilitas pelayanan publik seringkali kurang
memperhatikan keadaan dan kebutuhan kaum difabel.
Karena itu diperlukan komitmen dan kepedulian masyarakat
dan Pemerintah untuk memperhatikan, memihak, melayani,
dan melidungi kaum difabel sehingga mereka mendapatkan
hak azasinya sebagai insan Tuhan dan warga negara Indonesia
yang mulia. Jaminan konstitusional dan pemenuhannya
secara bersunguh-sungguh sangat bermakna bagi kaum
difabel terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, politik,
ekonomi, hukum, dan sosial. Ketersediaan fasilitas publik yang
mengakomodir kebutuhan kaum difabel dan perilaku sosial
yang ramah merupakan keniscayaan agar mereka dapat
lebih mandiri, bertanggung jawab, dan tidak menjadi beban
sosial. Visi pelayanan terhadap kaum difabel dibangun di atas
pandangan positif bahwa Allah Yang Maha Kuasa menciptakan
semua manusia dengan sempurna, mereka memiliki potensi,
118
BRM 01/SEPTEMBER 2015
keunggulan, dan sifat-sifat utama. Pelayanan kaum difabel
dikembangkan di atas visi dan sistem pemberdayaan yang
memungkinkan mereka mengembangkan dan mengaktualkan
kemampuan dirinya serta berkesempatan untuk berbakti dan
berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan kebangsaan
secara wajar dan tanpa diskriminasi sebagaimana warga negara
lainnya. Untuk itu, Muhammadiyah perlu menyusun sebuah
Fikih Difabilitas.
3. Tanggap dan Tangguh Menghadapi Bencana
Indonesia merupakan negara yang rawan bencana.
Secara alamiah, Indonesia memiliki gugusan gunung berapi,
sungai-sungai besar, tanah dan laut yang luas beserta
kandungan kekayaan yang ada di dalamnya. Keindahan dan
kekayaan alam Indonesia merupakan rizki Allah dan modal
ekonomi yang potensial jika dikelola dengan cerdas, beradab,
dan bertanggung jawab sehingga dapat mendatangkan
kemakmuran bangsa. Bersamaaan dengan itu, keadaan dan
potensi alam Indonesia dapat pula mendatangkan musibah
alam yang merobohkan bangunan fisik dan merenggut ribuan
jiwa sebagaimana dalam peristiwa musibah gunung berapi,
tanah longsor, banjir, gempa bumi, dan bencana alam lainnya
yang terjadi berkali-kali di negeri ini. Sebagian musibah itu
terjadi karena kehendak Allah yang tidak mungkin dicegah
oleh manusia, tetapi sebagian besarnya justeru terjadi karena
ulah manusia (man-made disaster).
Walaupun seringkali terjadi, bangsa Indonesia terlihat
gugup dan gagap menghadapi bencana. Selain karena perilaku
biadab terhadap alam, bencana alam juga terjadi karena
pandangan yang keliru terhadap alam, teologi bencana yang
fatalistis, minimnya pemahaman terhadap tabiat dan perilaku
alam, serta rendahnya kesadaran dan ketahanan bencana. Sesuai
kondisi alamnya, Indonesia seharusnya tanggap, tangguh, dan
tangkas menghadapi bencana. Sebagai negara yang akrab
dengan bencana, Indonesia seharusnya tampil memimpin
dan unggul dalam mitigasi, penanggulangan, rekonstruksi,
dan rehabilitasi bencana. Karena itu, diperlukan perubahan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
119
paradigma kebencanaan ke arah yang lebih positif dan
pengembangan sumberdaya manusia yang tangguh didukung
teknologi tinggi. Kurikulum pendidikan dikembangkan secara
kontekstual sehingga mendekatkan peserta didik dengan
lingkungan alam, mental yang kuat, dan keterampilan dasar
menghadapi bencana. Muhammadiyah telah menerbitkan buku
Fikih Kebencanaan serta memiliki Lembaga Penanggulangan
Bencana (LPB) atau disebut Muhammadiyah Disaster
Management Center (MDMC) dan relawan kemanusiaan
yang piawai. Muhammadiyah perlu mensosialisasikan Fikih
Kebencanaan kepada masyarakat luas serta mengembangkan
struktur dan jaringan LPB (MDMC) ke kancah nasional dan
internasional sejalan dengan posisinya sebagai kekuatan Civil
Society dan Organisasi Dakwah Kemasyarakatan.
4. Membangun Budaya Egalitarian dan Sistem Meritokrasi
Demokratisasi yang berkembang pesat sejak Reformasi
1998 berdampak terhadap keterbukaan dan kebebasan dalam
hampir semua bidang kehidupan. Selain melahirkan budaya
egalitarian, demokratisasi dalam politik Indonesia saat ini
membangkitkan feodalisme baru (neo-feodalisme) dalam
bentuk politik dinasti di partai politik dan pemerintahan, elite
politik yang berperilaku kebangsawanan, kekuasaan “rajaraja lokal” di daerah, dan dominasi kekuatan ekonomi kapital.
Neo-feodalisme juga tumbuh dalam lembaga dan organisasi
agama yang melahirkan kultus individu dan relasi parokhial
yang ditopag pemahaman dan budaya keberagamaan
tradisional-konservatif. Proses demokrasi yang serbaprosedural
telah mereduksi esensi berdemokrasi, bersamaan itu tumbuh
egoisme elite, kelompok, dam golongan yang menjadikan
penyelenggaraan pemerintahan sering kehilangan objektivitas
dan prinsip meritokrasi.
Neo-feodalisme dan budaya parokhial merupakan salah
satu penghambat kemajuan. Rakyat dan umat di bawah
seringkali dirugikan dan dibuat tidak berdaya dalam budaya
neofeodal dan parokhial tersebut. Karena itu diperlukan
perubahan regulasi politik yang memungkinkan masyarakat
120
BRM 01/SEPTEMBER 2015
melakukan mobilitas sosial berdasarkan sistem meritokrasi
dan budaya egalitarian dalam bidang politik, ekonomi, dan
kebudayaan. Perlu pembatasan kewenangan politik kepala
daerah, kepemilikan aset oleh perseorangan, penguatan
tata kelola pemerintahan yang baik (good governance),
dan peningkatan partisipasi publik dalam berbagai bidang
kehidupan. Publik dan institusi-institusi Civil Society perlu
mengawasi penyelenggaraaan pemerintahan dari pusat hingga
daerah agar tercegah dari praktik politik dinasti, ajimumpung
kelompok, korupsi, dan penyalahgunaan jabatan untuk
kepentingan diri dan golongan.
5. Mengatasi Krisis Air dan Energi
Dunia mengalami krisis air dan energi. Diperkirakan lebih
dari dua milyar penduduk dunia kekurangan air. Di Indonesia,
krisis air menjadi masalah serius setiap memasuki musim
kemarau. Masyarakat mengalami kesulitan air bersih untuk
konsumsi air minum dan kebutuhan primer sehari-hari. Krisis
air terjadi karena sistem dan pengelolaan teknologi yang
buruk, kerusakan alam, rendahnya kesadaran akan krisis air,
dan penguasaan akses dan sumberdaya air oleh swasta. Krisis
energi terjadi karena menipisnya persediaan minyak bumi,
konsumsi transportasi dan industri yang tinggi, serta masalah
sistem tata kelola dan tataniaga.
Dalam usaha mengatasi masalah krisis air dan energi
serta penyediaannya untuk kepentingan bangsa dan negara
Muhammadiyah telah melakukan judicial review Undangundang Migas dan Undang-undang Sumberdaya Air serta
menerbitkan buku Fikih Air sebagai panduan teologis
pemanfaatan dan konservasi sumberdaya air. Bangsa Indonesia
perlu membangun budaya hemat air dengan mengurangi
konsumsi air, mengembangkan teknologi daur ulang air, dan
menghentikan komersialisasi air. Guna mengatasi krisis energi,
Pemerintah harus segera menerbitkan undang-undang Migas
yang pro rakyat, mengembangkan sumber energi alternatif
seperti nuklir, panas bumi, matahari, dan sumber energi yang
terbarukan. Penguasaan air oleh swasta dan pihak-pihak yang
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
121
hanya mengutamakan kepentingan sendiri harus dicegah
karena bertentangan dengan konstitusi bahwa “bumi, air,
dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya hajat
hidup orang banyak”. Bersamaan dengan itu diperlukan edukasi
publik untuk membangun budaya hemat energi dan air serta
kesadaran dan kepedulian dalam mengatasi krisis energi dan
air.
6. Memaksimalkan Bonus Demografi
Dalam dua dasa warsa ke depan (2035) Indonesia
mendapatkan anugerah kependudukan atau bonus demografi
dimana mayoritas penduduk terdiri atas kelompok usia
produktif. Bonus demografi memungkinkan Indonesia tumbuh
menjadi negara besar dengan produktivitas kerja yang tinggi
dan kekuatan ekonomi yang memungkinkan Indonesia
memperkuat pengaruhnya di tingkat regional dan internasional.
Akan tetapi, jumlah penduduk yang besar dapat
menjelma menjadi tekanan kependudukan (demographic
pressure) seiring dengan masih tingginya angka kelahiran
bayi, kematian ibu melahirkan dan kematian anak usia dini, penyalahgunaan narkoba, kebiasaan hidup yang tidak sehat,
kerusakan lingkungan sosial dan akhlak, serta meningkatnya
pengangguran, dan tindak kriminalitas.
Jika masalah-masalah tersebut tidak ditangani dan
diselesaikan dengan baik dan menyeluruh, Indonesia
dapat jatuh menjadi negara gagal (fail state). Pemerintah
dan seluruh kekuatan bangsa harus lebih bersungguhsungguh meningkatkan kualitas dan akhlak bangsa,
terutama generasi muda, melalui pendidikan, pelatihan,
memberantas penyalahgunaan narkoba, menindak tegas
pelaku kriminal, membangun sarana sosial, dan lingkungan
yang sehat. Pemerintah, kekuatan-kekuatan politik, organisasi
kemasyarakatan, dan penyelenggara lembaga-lembaga
pendidikan harus menjadikan momentum bonus demografi
untuk melakukan usaha-usaha pencerdasan generasi bangsa
dan menjauhkan segala hal yang dapat menimbulkan
122
BRM 01/SEPTEMBER 2015
pembodohan dan pelemahan mentalitas anak bangsa. Dalam
hal ini diiperlukan penguatan keluarga dan pendidikan agama
berbasis keluarga, masjid, dan media massa untuk membangun
karakter yang kuat dan kepribadian yang utama.
7. Membangun Masyarakat Ilmu
Salah satu masalah bangsa yang sangat serius adalah
rendahnya budaya keilmuan. Hal ini ditandai oleh rendahnya
budaya baca, gemar mencari ilmu, produktivitas karya
ilmiah, dan kreativitas teknologi. Karena lemahnya budaya
ilmiah, bangsa Indonesia tidak mampu mengeksplorasi kekayaan
alam semaksimal mungkin, membangun keadaban publik,
melahirkan produk budaya yang unggul, dan menggunakan
teknologi secara produktif. Kelemahan dalam budaya keilmuan
juga menyebabkan sebagian warga bangsa sering bertindak
tidak rasional, primordian yang sempit, dan beragam perilaku
klenik atau mistis yang mematikan akal sehat. Padahal sebuah
bangsa tidak akan maju dan mampu bersaing dengan bangsabangsa lain jika tidak menguasai ilmu pengetahuan dan budaya
keilmuan yang tinggi.
Bangsa Indonesia perlu membangun keunggulan dengan
mengembangkan masyarakat ilmiah melalui budaya baca,
menulis, berpikir rasional, bertindak strategis, bekerja efisien,
dan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang positif dan
produktif. Keluarga dapat dijadikan institusi dini yang sangat
efektif untuk mengembangkan budaya keilmuan. Pemerintah
dan masyarakat hendaknya menghapuskan praktik hidup mistis
dan irrasional yang menghambat kemajuan dengan mendorong
pengembangan ekonomi berbasis ilmu (knowledge-based
economy), dan masyarakat ilmiah berbasis pendidikan holistic
yang mencerahkan. Pemerintah juga harus memperbanyak
fasilitas yang dapat memudahkan masyarakat mengakses
pendidikan dan memperluas budaya keilmuan antara lain
berupa perpustakaan publik di seluruh pelosok tanah air,
dengan memanfaatkan anggaran pendidikan nasional yang
cukup besar. Muhammadiyah dan segenap komponen umat
Islam harus berada di garis depan dalam mengembangkan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
123
budaya keilmuan agar menjadi kekuatan strategis dalam
dinamika kehidupan kebangsaan.
8. Menyelamatkan Negara Dengan Jihad Konstitusi
Sebagai pelaksanaan amanat Muktamar Muhammadiyah
ke-46, Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama dengan
organisasi masyarakat madani dan para tokoh bangsa telah
melakukan judicial review sejumlah undang-undang yang
menimbulkan kerugian konstitusional bagi rakyat Indonesia
dan mengancam kedaulatan negara. Judicial review dilakukan
oleh Muhammadiyah sebagai tanggungjawab kebangsaan
untuk menegakkan kedaulatan negara, dan tercapainya citacita nasional kemerdekaan. Banyaknya produk undang-undang
yang bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945 terjadi
karena kualitas legislator yang rendah, jual beli hukum (law
buying) dengan pengusaha dan penguasa asing oleh para
komprador, dan lobi-lobi kelompok kepentingan. Langkah
strategis tersebut bagi Muhammadiyah merupakan wujud
Jihad Konstitusi untuk penyelamatan Indonesia dan masa
depan generasi bangsa, sebagai bagian tidak terpisahkan dari
dakwah pencerahan menuju Indonesia berkemajuan.
Karena itu, Muhammadiyah bersama-sama dengan
kekuatan masyarakat madani perlu lebih menekankan
peran konstitusional dan judicial. Peran ini dapat dilakukan
dengan mendukung dan mempromosikan kader-kader
terbaik bangsa untuk berperan dalam bidang hukum dan
lembaga-lembaga penegakan hukum seperti Kepolisian,
Kejaksaan, Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, Mahkamah
Konstitusi, Komisi Pemberantasan Korupsi, Ombudsmen, dan
sebaginya. Muhammadiyah perlu lebih aktif memberikan
masukan dan mengambil prakarsa dalam proses legal
drafting yang mendukung kemampuan Dewan Perwakilan
Rakyat dan Pemerintah menyusun undang-undang yang
berkualitas, berpihak pada kepentingan rakyat, dan memajukan
kesejahteraan umum, bangsa dan negara.
124
BRM 01/SEPTEMBER 2015
9. Gerakan Berjamaah Melawan Korupsi
Korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary
crime) yang bisa menghancurkan kepentingan publik. Korupsi
membuat perencanaan ekonomi yang dibuat tidak bisa berjalan
dengan baik, membuat politik dipenuhi dengan praktik tidak
beradab dan abai kepentingan publik. Virus korupsi, sudah
menjadi epidemik, yang merusak semua sendi-sendi peradaban
kita. Maka adalah fardhu ain bagi seluruh anak negeri ini untuk
melawan korupsi. Pemberantasan korupsi dapat dilakukan
dengan beberapa cara diantaranya memberikan sanksi sosial
bagi para koruptor, memulai hidup “bersih” tanpa korupsi
dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsik) dan rumah kita,
membenahi transparansi dan akuntabilitas serta mendorong
gerakan “Berjamaah Lawan Korupsi”. Gerakan melawan korupsi
harus terus di duplikasi secara massif dengan melibatkan semua
elemen masyarakat sipil. Di tingkat internal Muhammadiyah
bisa mendorong seluruh amal usaha Muhammadiyah untuk
menerapkan good corporate governance dan melahirkan fatwa
tarjih baru tentang haram memilih pemimpin yang korupsi.
Muhammadiyah menetapkan dan mendorong “Gerakan
Berjamaah Lawan Korupsi” sebagai salah satu instrumen utama
Muhammadiyah dalam rangka mencerahkan dan memajukan
Indonesia.
10. Pengendalian Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
Narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya sudah
terbukti menghancurkan kesehatan, harkat, martabat bahkan
membunuh generasi masa depan. Indonesia saat ini sering
dijadikan pasar bagi perdagangan, produksi dan penyebaran
berbagai narkotika, prikotopika dan zat adiktif (rokok dan
alkohol). Hal ini terjadi karena selama ini Indonesia lemah dalam
mekanisme pencegahan (preventive) dan penegakan hukum
(law enforcement). Sehubungan dengan hal itu, Muhammadiyah
menyerukan kepada pemerintah dan segenap elemen
masyarakat untuk melakukan tindakan tegas dan menyatakan
perang terhadap narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
Aspek lainnya adalah upaya pendidikan dan rehabilitasi
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
125
yang diupayakan oleh negara dan pemangku kepentingan
terkait. Muhammadaiyah perlu menggalang kerjasama dan
sinergi dengan seluruh potensi masyarakat sipil, organisasi
kepemudaan, keagamaan maupun organisasi profesi untuk
memberi perhatian dan berperan aktif dalam menanggulangi
darurat zat adiktif (rokok, alkohol dan narkotika) di negara ini.
C. ISU-ISU KEMANUSIAAN UNIVERSAL
1. Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim
Perubahan iklim (climate change) sebagai dampak
dari pemanasan global (global warming). Tingginya polusi,
banyaknya rumah kaca, dan kerusakan hutan telah menimbulkan
kerusakan lapisan ozone yang berkontribusi besar dalam
proses kerusakan dan pengrusakan alam. Perubahan iklim
dapat mengakibatkan gagal panen, bencana kekeringan
yang mengancam ketahanan pangan dunia. Perubahan iklim
dapat menimbulkan krisis ekonomi, krisis lingkungan, krisis
kemanusiaan dan krisis politik. Pemanasan global dapat
menyebabkan naiknya permukaan air laut yang menimbulkan
banjir abadi yang merusak struktur air tanah, kepunahan
ekosistem dan makhluk hidup, serta menenggelamkan pulaupulau kecil. Beberapa negara kepulauan terancam tenggelam
dan kehilangan pulau-pulau di perbatasan. Berubahnya peta
dunia dan hilangnya sebagian wilayah territorial negara dapat
menimbulkan kriris politik dunia, terutama ang terkait langsung
dengan kedaulatan wilayah negara.
Karena itu diperlukan aksi nyata secara bersama-sama
dan berkelanjutan untuk mengurangi dampak pemanasan
global melalui usaha-usaha penghijauan hutan, merubah gaya
hidup yang boros energi, membersihkan polusi, membangun
infrastruktur fisik yang ramah lingkungan, mengurangi
penggunaan kertas dengan penghematan, daur ulang, dan
meminimalkan penggunaan kertas melalui budaya paperless
dengan pemanfaaatan kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi seperti penggunan email dan media sosial untuk
komunikasi antar manusia, pengembangan e-book, e-news
126
BRM 01/SEPTEMBER 2015
papers, e-magazine dan website untuk referensi ilmiah dan
pengetahuan mutakhir.
2. Perlindungan Kelompok Minoritas
Berbagai peristiwa diskriminasi terhadap minoritas terjadi
di berbagai belahan dunia. Kelompok minoritas etnis, agama,
ras dan budaya seringkali mendapat tekanan, intimidasi,
diskriminasi, dan kekerasan oleh kelompok mayoritas dari
kelompok mayoritas. Minoritas tidak hanya dalam bidang
agama, tapi juga kelompok yang termarjinalkan atau menjadi
sub-ordinasi secara sosial seperti para buruh, gelandangan,
kelompok difable, dan sebagainya. Berbagai perilaku negatif
seperti rasisme, bahkan pembersihan etnis masih terus terjadi
di beberapa negara.
Jika diskriminasi dari mayoritas terhadap minoritas ini tidak
dihentikan, maka dunia akan terus dipenuhi dengan kekerasan.
Ketika yang minoritas menjadi kelompok besar, maka mereka
akan bergantian menindas yang kecil. Maka mata rantai
diskriminasi ini harus diputus. Muhammadiyah memandang
bahwa ukhuwah insaniyah sebagaimana terkandung dalam AlQuran Surat Al-Hujarat ayat 13 menjunjung tinggi kemanusiaan
universal tanpa memandang latar belakang etnis, agama,
dan unsur primordial lain sebagai bagian penting dari ajaran
Islam. Kehadiran Islam merupakan rahmat bagi semesta alam.
Berpijak pada Sunnah Nabi, Muhamadiyah juga memandang
bahwa golongan yang besar atau mayoritas harus selalu
melindungi dan menyayangi yang kecil dan minoritas.
Demikian pula sebaliknya, kelompok yang kecil atau minoritas
harus menghormati yang besar dan mayoritas. Karena itu,
Muhammadiyah menganjurkan kepada seluruh institusi yang
ada dibawahnya untuk selalu menjadi pelindung terhadap
kelompok minoritas yang tertindas.
3. Eksistensi Manusia di Bumi
Dunia saat ini menghadapi persoalan yang berkaitan
dengan eksistensi manusia dalam kehidupannya. Hal ini terkait
dengan ledakan penduduk, keterbatasan sumber daya alam,
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
127
serta ancaman musnahnya manusia akibat penggunaan senjata
nuklir, konflik dan pemusnahan etnik, maupun perubahan iklim
yang ekstrem. Mengingat kembali pada kasus Perang Dunia
Kedua, kadang tidak ada paralelisme antara modernitas dengan
kemanusiaan, antara kemajuan teknologi dengan sifat luhur
kemanusiaan. Holocoust sebagai peristiwa sangat mengerikan
pada abad ke-20 justru terjadi pada negara Jerman yang saat
itu menjadi salah satu pusat dari perkembangan teknologi.
Jerman sebagai salah satu negara paling maju di dunia terbawa
dalam rasisme dan melakukan pembunuhan masal. Inilah yang
menimbulkan kekhawatiran bahwa kemajuan teknologi, seperti
produksi robotik maupun persenjataan nuklir dapat menjadi
penyebab kehancuran manusia itu sendiri.
Oleh karena itu diperlukan etika kemanusiaan global
berbasis agama yang menunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan
yang utama seperti orientasi hidup saling kasih sayang, damai,
toleran, tengahan, serta keshalehan dan akhlaq mulia agar
manusia modern dan berteknologi tinggi tidak menjadi insan
modular yang buas dan matirasa fitrah kemanusiaannya.
Pendidikan dan relasi antarbangsa harus menjadi media untuk
mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan yang autentik itu
sehingga dapat mencegah alienasi dan pemusnahan manusia
selaku insan Tuhan yang mulia.
4. Pemanfaatan Teknologi Komunikasi
Dunia sudah memasuki era digital sebagai akibat dari
kemajuan teknologi komunikasi yang sangat pesat. Manusia
yang secara fisik terpisahkan oleh jarak geografis senantiasa
terkoneksi satu dengan yang lain secara cepat. Informasi di
suatu tempat tersebar ke seluruh pelosok penjuru dunia.
Meskipun demikian, interaksi fisik antara sesama manusia
menjadi sangat terbatas. Berbagai komunitas media sosial
mampu mendekatkan manusia dalam dunia maya, tetapi
mereka jauh antara satu dengan lainnya dalam dunia nyata.
Teknologi informasi sebagaimana teknologi lainnya
memiliki manfaat dan madlarat bagi pemakainya. Umat Islam
mutlak menguasai teknologi informasi, tidak sekedar menjadi
128
BRM 01/SEPTEMBER 2015
pengguna yang pasif. Kemampuan menguasai teknologi
akan bermanfaat untuk sarana dakwah dan penyebarluasan
faham dan gagasan yang utama. Jejaring antar manusia
dapat dikembangkan menjadi jejaring ideologi, advokasi dan
kerjasama yang membuana. Perlu dikembangkan etika virtual
yang menjujungtinggi kesopanan, penghargaan terhadap
sesama, dan akhlaq mulia sehingga relasi media sosial tidak
liar dan tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan
yang luhur.
5. Mengatasi Masalah Pengungsi
Peperangan yang terjadi di beberapa kawasan telah
menimbulkan penderitaan bagi rakyat yang tidak berdosa.
Ribuan manusia meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya
terlunta-lunta sebagai pengungsi, terusir dari kampung
halamannya. Banyak di antara mereka adalah umat Islam
yang berasal dari Irak, Syiria, Yaman, Myanmar, Somalia, Eritria
dan sebagainya. Persoalan pengungsi ini semakin kompleks
di tengah krisis ekonomi. Banyak negara yang menolak dan
mengusir para pengungsi dari tanah air mereka.
Karena itu, terkait dengan penanganan masalah pengungsi
ini Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan lembaga-lembaga
kemanusiaan tingkat dunia perlu mengambil langkah cepat
untuk menekan negara-negara anggota PBB memberikan
pelayanan dan perlindungan bagi para pengungsi. PBB dan
negara-negara adidaya tidak boleh terjebak pada sikap politik
standar ganda dalam menghadapi negara-negara pelanggar hak
asasi manusia. Harus ada peraturan yang menjamin pemenuhan
hak-hak dan perlindungan para pengungsi sehingga mereka
terbebas dari eksploitas dan perbudakan manusia. Perlu ada
sanksi tegas bagi Pemerintah yang melanggar Hak Azasi
Manusia dan perdagangan manusia.
6. Perdagangan Manusia dan Perlindungan Buruh Migran
Peperangan yang terjadi di beberapa kawasan telah
menimbulkan penderitaan bagi rakyat yang tidak berdosa.
Ribuan manusia meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
129
terlunta-lunta sebagai pengungsi, terusir dari kampung
halamannya.. Persoalan pengungsi ini semakin kompleks di
tengah krisis ekonomi. Banyak negara yang menolak dan
mengusir para pengungsi dari tanah air mereka. mKarena itu,
terkait dengan penanganan masalah pengungsi ini Perserikatan
Bangsa-bangsa (PBB) dan lembaga-lembaga kemanusiaan
tingkat dunia perlu mengambil langkah cepat untuk menekan
negara-negara anggota PBB memberikan pelayanan dan
perlindungan bagi para pengungsiSehubungan dengan hal
tersebut, Muhammadiyah perlu melakukan advokasi secara
serius terhadap para pekerja Indonesia di luar negeri dan
memberikan wacana yang benar mengenai kesamaan derajat
manusia. Muhammadiyah mengecam praktek perbudakan
apapun bentuknya seperti yang terjadi pada korban human
trafficking dan eksploitasi terhadap tenaga kerja serta
menuntut pemerintah menindak tegas pelaku perdagangan
dan eksplotasi manusia tersebut.
130
BRM 01/SEPTEMBER 2015
SUPLEMEN
PIDATO GUBERNUR SULAWESI SELATAN
Dr. H. SYAHRUL YASIN LIMPO, S.H., M.Si., M.H.
DALAM PEMBUKAAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
DAN MUKTAMAR SATU ABAD ‘AISYIYAH
Di Makassar, 3 Agustus 2015
Rasa syukur seluruh masyarakat Sulawesi Selatan yang
jumlahnya hampir sepuluh juta merasakan bahwa pembukaan
Muktamar Muhammadiyah ke-47 dan Muktamar Satu abad ‘Aisyiyah
merupakan suatu rahmat, inayah, dan karunia Allah bagi daerah ini.
Selamat kepada semua peserta muktamar, baik peserta maupun
penggembira yang hadir di Sulawesi Selatan.
Terimakasih yang tak terhingga atas ditunjuknya Sulawesi
Selatan khususnya kota Makassar sebagai tempat penyelenggaraan
Muktamar Muhammadiyah ke-47 dan Muktamar Satu abad ‘Aisyiyah.
Dalam Muktamar ini sungguh suatu kebahagiaan bagi masyarakat
Sulawesi Selatan dan pemerintah, TNI dan kepolisian di daerah ini,
karena hadirnya Presiden Republik Indonesia bersama Ibu Negara
menjadi sesuatu pertanda bahwa daerah ini mendapatkan perhatian
dan menjadi kekuatan bagi negara, bangsa Indonesia hari ini dan
masa yang akan datang.
Muktamar Muhammdiyah kali ini adalah Muktamar ke-3
dilaksanakan di Makassar. 44 tahun yang lalu tepatnya pada tahun
1971, Muktamar di tempat inilah mengembalikan khittah perjuangan
Muhammadiyah, artinya Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi
Islam yang kembali netral, tidak terkontaminasi politk. Itu semangat
yang ada di Makassar ini. Untuk bangsa, untuk negara dan untuk
rakyat. Kami berharap tentu Muktamar Muhammadiyah ke-47 dan
Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah mengakomodasi nilai-nilai kearifan
budaya leluhur Sulawesi Selatan dan senantiasa Sulawesi Selatan
akan menjadi pilar dan kekuatan bangsa ini.
Tiga ratus ribu peserta dan penggembira Muktamar yang ada
sudah hadir di Sulawesi Selatan, menggetarkan seluruh ekonomi
Sulawesi Selatan. Tidak ada hotel yang tersisa. Tiga belas ribu kamar
terpakai semua. Ini menambah ekonomi Sulawesi Selatan mejadi
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
133
semakin baik. Terima kasih kepada seluruh peserta. Jangan lupa
membeli oleh-oleh yang banyak sebelum pulang ke tempat masingmasing.
Kami laporkan kepada Presiden, setiap bulan di Sulawesi Selatan
ada uang baru yang dinikmati rakyat ini jumlahnya tidak kurang dari
Rp. 3,3 triliun dalam satu bulan. Setiap seratus hari, karena panen
kami jadi semua, ada uang baru sudah dua tahun jumlahnya tidak
kurang dari 12 Triliun. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi dan
income rakyat pada 2004 hanya 5,18 juta. Tahun 2014 ini tercatat
jumlah income rakyat naik menjadi 35,59 juta. Ini berarti negeri ini
sangat baik, terima kasih atas bimbingan dari Presiden.
Menghadapi el-nino, Sulawesi Selatan sudah mengantisipasinya.
Yang pertama membuat lubang, lubangi bumi, simpan air,
jumlahnya satu juta buah. Oleh karena itu, el-nino akan lewat.
Sulawesi Selatan tetap akan menjadi lumbung pangan nasional.
Kami mempersiapkan makan untuk Indonesia sejumlah 3 juta ton,
dan kami siap. Terimakasih atas segala bantuan Presiden, bibit telah
kami sebar sesuai dengan perintah Presiden.
Menyampaikan terimakasih sekali lagi kepada seluruh pihak,
lebih khusus TNI dan Kepolisian. Pemerintah Sulawesi Selatan
senantiasa siap menjaga Muktamirin 24 jam sampai kembali ke
tempat, insya Allah. Jika penggembira dan peserta pulang nanti,
jangan cerita yang jelek dibawa pulang, ceritakan yang baik-baik
saja.
134
BRM 01/SEPTEMBER 2015
PIDATO SATU ABAD ‘AISYIYAH
OLEH KETUA UMUM PIMPINAN PUSAT ‘AISYIYAH
Dra. Hj. SITI NOORDJANNAH DJOHANTINI, M.M., M.Si.
DALAM PEMBUKAAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
DAN MUKTAMAR SATU ABAD ‘AISYIYAH
Di Makassar, 3 Agustus 2015
’Aisyiyah telah hadir berkiprah membangun bangsa melalui
dakwah keumatan dan kebangsaan yang mencerdaskan dan
mencerahkan. Dakwah tersebut diimplementasikan dalam usahausaha di bidang pendidikan, kesehatan, layanan sosial, memperkokoh
keluarga melalui keluarga sakinah, serta berbagai kegiatan praktis
kemasyarakatan yang berkontribusi positif bagi kepentingan umat
dan bangsa. Kini, ‘Aisyiyah telah memiliki lebih 20.000 lembaga
pendidikan di seluruh Indonesia dari tingkat Taman Kanak-Kanak
sampai Perguruan Tinggi yang dikelola secara otonom oleh ‘‘Aisyiyah.
Keseluruhan lembaga usaha ‘Aisyiyah tersebut merupakan investasi
‘Aisyiyah di dalam membangun Indonesia yang kita cintai ini.
‘Aisyiyah lahir dari inspirasi tajdid yang dipelopori oleh K.H.
Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan dalam menerjemahkan
nilai-nilai ajaran Islam bagi kemajuan perempuan di tengah
struktur sosial yang dipengaruhi oleh paham agama dan budaya
yang membelenggu. Melalui ‘Aisyiyah, perempuan muslim dan
perempuan Indonesia tidak hanya dibebaskan dari segala bentuk
keterbelakangan dan diskriminasi, tetapi para perempuan didorong
untuk menjadi pelaku perubahan yang mencerahkan kehidupan.
Inilah spirit Islam yang berkemajuan; untuk memajukan kaum
perempuan sebagai pilar peradaban bangsa.
Dalam pergerakan nasional, ‘Aisyiyah telah menorehkan
jejak kepeloporannya yang monumental, ketika bersama dengan
organisasi yang lain mempelopori penyelenggaraan Kongres
Perempuan I di Indonesia pada tahun 1928 di Yogyakarta. Kongres
perempuan tersebut merupakan tonggak sejarah kebangkitan
nasional Indonesia yang memberi inspirasi bagi kemajuan
perempuan untuk hidup bermartabat selaku insan fii ahsani takwiim.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
135
Peristiwa sejarah tersebut menjadi bukti otentik betapa ‘Aisyiyah
telah mengambil peran menentukan dalam kehidupan berbangsa
di republik ini.
Kiprah ‘Aisyiyah memajukan perempuan Indonesia yang
bersejarah itu telah ditandai dengan SK Presiden Republik Indonesia
pada tahun 1961; Presiden Soekarno, dengan mengangkat K.H.
Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional dengan pertimbangan
yang penting, yakni; dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian
wanita atau ‘Aisyiyah telah mempelopori kebangunan wanita
bangsa Indonesia untuk mengenyam pendidikan dan berfungsi
sosial setingkat dengan kaum pria. Nyai Walidah Dahlan begitu
juga, telah mendapatkan penghargaan nasional selaku pahlawan
nasional pada Bulan November 1971.
Pada kurun terakhir, ‘Aisyiyah mendapatkan beberapa penghargaan antara lain: Dalam bidang kesehatan, ‘Aisyiyah memperoleh
penghargaan MDG’s award yang diserahkan oleh wakil presiden
pada tahun 2012. Penghargaan juga diperoleh dari bidang pendidikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun
2010. Serta penghargaan dalam bidang lingkungan hidup, diperoleh
dari Kementrian Kehutanan pada tahun 2011. Hal itu menunjukkan
apa yang dilakukan ‘Aisyiyah memberikan kontribusi penting bagi
kemajuan bangsa dan dunia kemanusiaan universal.
Pada fase baru abad ke-2, ‘Aisyiyah akan terus bergerak untuk
memajukan perempuan Indonesia untuk menjadikan Indonesia
yang berkemajuan. Untuk itu, pada Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah
ini, kami mohonkan doa pada Bapak Presiden dan seluruh rakyat
Indonesia, agar ‘Aisyiyah dapat melanjutkan dakwah ‘Amar makruf
nahi munkar untuk memajukan perempuan Indonesia, untuk
kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Terakhir, kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada
semua pihak, dukungan dari Bapak Presiden, Bapak Gubernur dan
seluruh masyarakat Makassar atas suksesnya Muktamar Satu Abad
‘Aisyiyah dan Muktamar Muhammadiyah ke-47. Kepada segenap
aktivis, penggerak, pejuang ‘Aisyiyah di seluruh tanah air, kami
mengajak untuk bergandengan tangan, hadapi tantangan, merajut
harapan perempuan berkemajuan, sebagaimana pesan dalam lagu
Satu Abad ‘Aisyiyah.
136
BRM 01/SEPTEMBER 2015
PIDATO KETUA UMUM
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
PERIODE 2010-2015
Prof. Dr. H. M. DIN SYAMSUDDIN, M.A.
DALAM PEMBUKAAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
DAN MUKTAMAR SATU ABAD ‘AISYIYAH
Di Makassar, 3 Agustus 2015
Kepada seluruh keluarga besar Muhammadiyah dimana
saja berada baik yang hadir di lapangan Karebosi Makassar
Sulawesi Selatan ini, yang berada di bagian depan dan juga para
penggembira yang berada dibelakang sana dan juga keluarga besar
Muhammadiyah diseluruh pelosok tanah air yang menyaksikan
acara ini secara langsung melalui TVRI, Metro TV, TV Mu, maupun
yang menyaksikan menggunakan program streaming lewat internet
di manca negara, kami mengajak semua untuk terus menerus tiada
hentinya mengungkapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT, bahwa
Muktamar ke 47 Muhammadiyah dapat kita mulai di Kota Angin
Mamiri, Makassar, Sulalwesi Selatan.
Muktamar adalah ajang silaturrahim diantara kita untuk menjalin
kembali temali hati dari seluruh keluarga besar Muhammadiyah
dan simpatisannya, yang datang dari berbagai latar belakang baik
suku, profesi, dan lain sebagainya. Kita memilih untuk barjuang
melalui Muhammadiyah tiada lain semata-mata untuk mencari
Ridho Allah SWT. Saya berpesan agar Muktamar Muhammadiyah
ke-47 di Makassar ini dan juga Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah kita
jadikan sebagai Muktamar yang lancar, berkualitas, elegan, dan
bermartabat. Marilah kita bermusyawarah dengan penuh tasamuh,
penuh tenggang rasa, saling menukar pikiran, pandangan, dan
pengalaman berdasarkan ukhuwah Islamiyah dan al-Ukhuwah alMuhammadiyah sehingga Muktamar Muhammadiyah di Makassar
ini juga Muktamar ‘Aisiyah bisa menjadi Muktamar teladan, tidak
hanya bagi umat Islam tapi bagi bangsa dan dunia.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
137
Tema Muktamar kali ini dipilih “Dakwah Pencerahan Menuju
Indonesia Berkemajuan”. Dengan tema ini Muhammadiyah ingin
mengukuhkan sikap pandangan dan komitmen terhadap Indonesia
tercinta, negara yang ikut didirikan oleh Muhammadiyah, dan
Muhammadiyah terlibat bahkan jauh dari sebelum negara ini hadir
dan telah melahirkan tokoh-tokoh nasional termasuk antara lain
Pendiri Tentara Nasional Indonesia Jendral Sudirman, Proklamator
dan Presiden pertama Indonesia Bung Karno, dan ada masih banyak
lagi terutama Prof. Dr. Kahar Muzakir, Ki Bagus Hadikusumo, dan Mr.
Kasman Sigodimejo yang peran kesejarahan dan kebangsaannya
sangat-sangat nyata baik sebagai anggota PPKI dan BPUPKI. Bahkan
Mr. Kasman Singodimejo adalah Ketua Komite Nasional Indonesia
Pusat yang pertama, cikal bakal dari MPR RI yang walaupun mereka
kami yakin tidak memerlukan penghargaan negara tetapi sudah
sewajarnyalah bagi negara untuk memberikan penghargaan gelar
pahlawan nasional kepada mereka dan segala persyaratan untuk
itu telah kami siapkan. Inilah komitmen Muhammadiyah kepada
negara bangsa, negara pancasila yang kita cintai ini. Yang dalam
muktamar ini ingin kita kukuhkan lagi, Negara Pancasila sebagai
Dâr Al-Ahdi Wa Al-Syahâdah, negara kesepakatan dan negara
kesaksian. Dalam arti bahwa Muhammadiyah memiliki komitmen
tinggi dengan negara pancasila dan siap bersama keluarga bangsa
yang lain untuk mengisi negara pancasila untuk mencapai citacita nasional yang telah diletakkan oleh pendiri bangsa ini, yang
di dalam Pembukaan UUD 45 berbunyi Negara Indonesia yang
merdeka bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Dan Muhammadiyah
memberikan tafsir kontekstual terhadap cita-cita nasional ini,
untuk menjadi Indonesia yang maju, adil, makmur, berdaulat dan
bermartabat. Itulah Indonesia berkemajuan. Karena Indonesia
berkemajuan akan bisa eksis dan tampil dalam perlombaan global
terutama dengan dinamika kawasan, dinamika kontinental dimana
kita berada. Dengan akan segera berlakunya Asean Economic
Community dan juga kebangkitan Asia Timur maka kita dorong
Indonesia sebagai negara besar dari jumlah penduduk dan kaya
dengan sumber daya alam dan memiliki modal sosial budaya yang
kuat untuk tampil menjadi pemain kunci di dunia ini.
138
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Indonesia berkemajuan seperti itulah yang menjadi visi
kebangsaan Muhammadiyah dan Muhammadiyah mengajak seluruh
elemen bangsa untuk bersatu padu, berjuang bahu membahu dalam
rangka mewujudkan Indonesia berkemajuan tersebut. Dan oleh
karena itulah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam mengajukan
satu visi keislaman yang bukan baru tetapi sudah digagas oleh
pendiri Muhammadiyah sejak kelahirannya yaitu Islam Berkemajuan.
Muhammadiyah yakin Islam yang luas yang sebenarnya tidak
bisa direduksi dengan predikat-predikat tertentu tetapi melihat
kenyataan, realitas kehidupan umat Islam dan realitas kehidupan
bangsa. Maka Muhammadiyah berpandangan dengan Islam
berkemajuanlah kita bisa membangkitkan umat Islam untuk juga
menjadi umat yang berkemajuan. Untuk menjadi khaira ummah,
umat yang terbaik, umat yang tidak besar hanya dalam bilangan
tapi juga besar dalam mutu dan kualitas.
Islam berkemajuan adalah visi keislaman Muhammadiyah
yang tidak terikat dimensi ruang, tidak terkait dimensi waktu
karena Itu akan menjadi terbatas, tetapi lebih kepada dimensi
ketiga yaitu dimensi gerak, menggerakkan kehidupan umat dan
bangsa, “hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari akan datang
harus lebih baik dari hari ini” itulah Islam berkemajuan yang
ingin kita mantapkan. Maka pada Muktamar ini, dengan tema
tadi “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” akan
menunjukan sikap batin Muhammadiyah kepada negara yang tidak
perlu diragukan lagi karena Muhammadiyah ikut terlibat bersama
elemen-elemen bangsa lain didalam menengakkan negara. Tema
ini juga menunjukkan sikap komitmen Muhammmadiyah kepada
pemerintah yang sah bahwa pemerintah adalah mitra strategis
Muhammadiyah. Pemerintah adalah mitra sejati Muhammadiyah
yang Muhammadiyah sangat kosisten untuk membantu pemerintah
dan negara lewat dakwah-dakwah pencerahan dengan pelayanan
pendidikan, pelayanan kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan
ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan aspek-aspek lain dari
dakwah pencerahan. Inilah kontribusi Muhammadiyah kepada
bangsa dan negara tercinta ini.
Muhammadiyah adalah gerakan amar ma’ruf dan nahi munkar,
maka oleh karena itu Muhammadiyah secara konsisten melakukan
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
139
amar ma’ruf dan nahi munkar. Bahwa hubungan Muhamadiyah
dengan pemerintah bersifat proporsional berdasarkan kepercayaan
dan kemitraan strategis secara sejati dengan amar ma’ruf dan
nahi munkar. Muhammadiyah akan berada di garda terdepan
mendukung dan membela program-program pemerintah yang pro
rakyat yang mendatangkan kemaslahatan dan kemakmuran bagi
rakyat Indonesia. Namun, Muhammadiyah juga tidak segan-segan
jika ada kebijakan pemerintah, kebijakan negara yang menyimpang
dari konstitusi bahkan menyimpang dari nilai-nilai agama, maka
Muhammadiyah tidak akan segan-segan untuk menjadi kekuatan
pengkritik, itulah amar ma’ruf dan nahi munkar.
Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan segenap
keluarga besar Muhammadiyah dan khususnya peserta Muktamar
yang telah hadir di Makassar sekitar 6.000 peserta dan tadi bapak
gubernur menyampaikan ada 300.000 penggembira, mengucapkan
terima kasih dan penghargaan tinggi kepada Bapak Presiden dan Ibu
Negara atas kehadirannya bersama muktamirun dan muktamirat,
juga kepada pemerintah tingkat pusat, kementrian-kementrian dan
lembaga-lembaga negara lainnya atas segala perhatian, bantuan
dan dukungan kepada penyelenggaraan muktamar ini. Secara
khusus kami juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur
Sulawesi Selatan dengan segenap jajarannya yang dari jauh hari
ketika kami menyiapkan muktamar ini beliau sangat antusias untuk
menyukseskan muktamar ini.
140
BRM 01/SEPTEMBER 2015
PIDATO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
IR. H. JOKO WIDODO
DALAM PEMBUKAAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
DAN MUKTAMAR SATU ABAD ‘AISYIYAH
Di Makassar, 3 Agustus 2015
Sejak didirikan di Yogyakarta pada tahun 1912 oleh K.H. Ahmad
Dahlan, Muhammadiyah telah berperan aktif dalam mencedaskan
umat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui usaha
persyarikatan. Persyarikatan Muhammadiyah telah membawa
semangat pembaharuan yang membara agar Islam selalu relevan
dengan zaman, agar Islam menjawab dan menjadi jawaban terhadap
masalah umat dan bangsa. Komitmen Muhammadiyah pembawa
misi Islam berkemajuan dan menjawab tantangan zaman telah
menjadi kekuatan transformatif menuju terbangunnya tatanan
kehidupan umat yang baik.
Muhammadiyah sudah cukup lama dikenal sebagai organisasi
Islam yang kaya akan gagasan, kaya kreativitas, dan amal usaha
Muhammadiyah menyebar di seluruh pelosok nusantara, tidak
hanya di kota-kota tetapi juga di desa. Kontribusi Muhammadiyah
terhadap negara benar-benar sangat besar, bayangkan, berapa
ratus ribu bahkan jutaan bayi anak bangsa ini yang telah lahir di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah atau Klinik Bersalin ‘Aisyiyah di
seluruh pelosok negeri ini. Berapa juta orang yang menyelesaikan
pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah, belum lagi panti
asuhan, koperasi, baitul maal, dan amal usaha lainnya. Sekali lagi,
kita semua menaruh hormat dan berterimakasih atas kontribusi
Muhammadiyah pada bangsa dan negara ini.
Dalam upaya melanjutkan peran sejarah itu, saya menyambut
baik tema muktamar ini: “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia
Berkemajuan”. Suatu tema yang sangat relevan untuk Indonesia saat
ini. Tema ini mencerminkan kredo Muhammadiyah untuk menjadi
umat terbaik yang menjadi kekuatan transformatif menuju kemajuan
bangsa. InsyaAllah dengan pandangan Islam yang berkemajuan,
sumber daya manusia yang berkualitas, kepercayaan masyarakat
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
141
yang tinggi, pengalaman sosial yang panjang, dan modal sosial yang
luar biasa, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mampu mengokohkan
peran utamanya sebagai motor kemajuan bangsa dan negara.
Perjalanan kita sebagai bangsa masih panjang, bangsa kita akan
terus menghadapi tantangan-tantangan baru. Itu artinya, peran
penting Muhammadiyah untuk menjawab tantangan perubahan
zaman perlu dilanjutkan dan terus dikembangkan. Kita masih
menghadapi tantangan kemiskinan, tantangan keterbelakangan,
tantangan ketimpangan, tantangan ketidakadilan, kita juga harus
berhadapan dengan berbagai tindak kejahatan luar biasa yang
menggerogoti bangsa ini, korupsi dan ancaman narkoba. Demikian
pula kita harus bersaing dengan kekuatan-kekuatan raksasa ekonomi
di peta geo-politik dunia yang menuntut kita semua untuk terus
berkembang dan berubah. Kita harus berani menyambut tantangantantangan baru tersebut, mari kita ciptakan sistem ekonomi dan
tatanan hidup bersama yang berkeadilan, yang berpihak pada kaum
mustadz’afiin, mereka yang lemah, sebagai dasar untuk mewujudkan
tatanan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.
Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia,
kita juga harus berani menyuarakan kemerdekaan negara Palestina
dan mengambil posisi sebagai kekuatan moderat, toleran, dan
konstruktif diantara bangsa-bangsa dan peradaban dunia demi
terwujudnya tantangan global yang lebih damai. Kita juga harus
menjadi contoh untuk membangun masyarakat yang hidup damai
dan rukun dalam keragaman. Saya berharap Muhammadiyah juga
menyuarakan hal yang sama dan memiliki tanggung jawab untuk
membangun ke-Indonesia-an yang berkeadilan sosial, menghargai
kebhinekaan, serta menciptakan ketertiban dunia berdasarkan
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Kami mengajak Muhammadiyah untuk mewujudkan Islam
yang rahmatan lil ‘alamin, yang memberikan kedamaian, yang
memberikan manfaat bagi alam semesta. Dan mengajak warga
Muhammadiyah dan umat Islam untuk melihat kebhinekaan sebagai
rahmat yang harus dikelola dengan baik sehingga bisa menjawab
tantangan bangsa dalam kebersamaan. Sebagai organisasi Islam
yang berwawasan kemajuan, saya berharap Muhammadiyah tetap
melanjutkan peran sejarahnya menjadi pembawa misi pencerahan
142
BRM 01/SEPTEMBER 2015
dalam menjawab tantangan zaman. Jadikan dakwah Islam yang
berkemajuan sebagai motor pembaharuan pemahaman keagamaan
yang rasional, yang terbuka pada kemajuan ilmu pengetahuan
namun berkarakter moderat yang sejuk, yang teduh, dan yang
berkeadaban. Jadikan peryarikatan Muhammadiyah menjadi
gerakan yang membawa Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
143
PIDATO KETUA MUMUM PIMPINAN PUSAT
MUHAMMADIYAH 2010-2015
Prof. Dr. H. M. DIN SYAMSUDDIN, M.A.
DALAM SERAH TRIMA JABATAN
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH PERIODE 2010-2015
KEPADA PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
PERIODE 2015-2020
Di Makassar, 7 Agustus 2015
Muktamar ke-47 Muhammadiyah dan Muktamar Satu Abad
‘Aisyiyah di kota Angin Mamiri Makassar ini telah berlangsung sesuai
dengan predikat yang dihimbau dalam Pembukaan agar muktamar
berjalan dengan lancar, berkualitas, elegan, dan bermartabat.
Alhamdulillaah, masyarakat luas yang tidak datang ke Makassar
ini, yang hanya menyaksikan lewat media massa, baik koran, TV,
maupun media online tentang proses perjalanan dari waktu ke
waktu, dari hari ke hari, dalam liputan muktamar ini, alhamdulillaah
mereka memberikan pujian dan penghargaan, bahwa muktamar
Muhammadiyah dan Muktamar Aisyiah dapat menjadi muktamar
teladan.
Rasa syukur ke hadirat Allah SWT dapat mengakhiri amanat dan
mandat muktamar yang lalu dengan baik. Doa selama ini, bahkan
sejak mendapat amanat ini: agar dapat mengemban amanat dengan
husnul khotimah. Oleh karena itulah, melalui kesempatan ini ingin
pertama: mengucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinan dan
keluarga besar Muhammadiyah di seantero Indonesia dan bahkan
di manca negara atas amanat dan mandat sebagai Ketua Umum,
dan kawan-kawan lain sebagai anggota PP Muhammadiyah selama
satu periode terakhir ini. Jazakumullah ‘hairul jaza.
Teriring dengan kesyukuran itu, merasakan dan mengalami
sepuluh tahun sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan satu
periode lima tahun sebelumnya sebagai Wakil Ketua mendampingi
Ketua Umum waktu itu Buya Syafii Maarif dapat memberikan
kesaksian lewat ungkapan ”saya bersyukur dan bangga dapat
144
BRM 01/SEPTEMBER 2015
memimpin organisasi yang besar dan mulia ini”. Tentu dalam
perjalanan selama sepuluh tahun sebagai Ketua Umum banyak
hal-hal yang positif, insya Allah kalau ada waktu senggang akan
menulis memoar, catatan pengalaman.
Yang paling jelas sangat menikmati memimpin organisasi
yang terdiri dari kaum terdidik bangsa ini. Tentu memimpin orangorang cerdas tetapi penuh dengan kearifan dan kebijaksanaan,
ini sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga sekali.
Termasuk memimpin rapat-rapat pleno PP Muhammadiyah,
menurut catatan tidak sekalipun rapat pleno PP Muhammadiyah
yang tidak dipimpin Ketua Umum. Dan begitu pula berkesempatan
untuk berkunjung ke daerah-daerah, baik acara untuk tingkat
Wilayah, Daerah, Cabang, bahkan Ranting, baik di kota-kota besar,
bahkan juga sampai ke pelosok-pelosok. Ada beberapa ranting yang
sempat dikunjungi yang berada di lereng gunung, yang berada di
lorong (bahasa minangnya dusun), dan lain-lain sebagainya. Dan
hampir semua, atau mayoritas dari kunjungan-kunjungan itu adalah
untuk meresmikan amal-amal usaha Muhammadiyah. Memang
sebagai Ketua Umum pernah berseloroh yang kelihatannya agak
bertuah, Ketua Umum tidak mau datang ke suatu Daerah, Cabang,
Ranting untuk ke-dua ke-tiga kalinya kalau hanya diundang untuk
berceramah, menyampaikan tabligh akbar saja. Ketua Umum hanya
mau datang kalau diundang untuk peletakan genteng terakhir.
Alhamdulillah, tiga bulan terakhir ini begitu banyak undangan untuk
peresmian gedung-gedung, amal-amal usaha Muhammadiyah,
namun belum dan tidak sepenuhnya/seluruhnya dapat terpenuhi,
karena kesibukan-kesibukan menjelang Muktamar kita ini. Paling
akhir, Ketua Umum diundang tiga-empat hari sebelum muktamar,
sebelum berangkat ke Makassar ini, untuk meresmikan sebuah
gedung amal usaha di Wonosari, Gunung Kidul. Besoknya, PDM
Kota Bandung, meresmikan gedung PDM dan gedung sekolah
Muhammadiyah di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Antapani
di Bandung, yang rencananya berlantai 7, alhamdulillah bisa datang
kesana.
Ketua PWM Kalimantan Selatan, Prof. Dr. Khaerudin, juga mohon
masjid yang dulu diletakkan batu pertama sudah selesai, dan mohon
dapat diresmikan oleh Ketua Umum, dan waktunya enggak ada itu,
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
145
sudah penuh dengan acara-acara lain. Namun sempat terbang
ke Banjarmasin dengan pesawat garuda pagi sekali, dari airport
langsung ke acara, dan tersisa waktu hanya 15 menit. Maka acara
hanya berlangsung 15 menit dan saya kembali lagi ke airport untuk
pulang ke Jakarta karena ada acara-acara lain. Ternyata belum selesai,
sehari sebelum berangkat ke Makassar ini, ada undangan PDM Kota
Surabaya untuk meresmikan­­­­--tidak tanggung-tanggung-- 35 amal
usaha sekaligus, terdiri dari 3 sekolah baru --ada satu SMA, satu MI,
dan satu TK ABA-- dan juga meresmikan 3 masjid baru, selebihnya
belasan/20an lebih adalah gedung-gedung baru di lingkungan amal
usaha pendidikan dan amal usaha sosial, khususnya panti asuhan.
Ini sungguh menggembirakan lagi, Ketua Umum mengira
sudah terakhir karena sudah berangkat ke Makassar, namun PDM
Kota Makassar tidak mau kalah, pada hari ketibaan di Makassar
tanggal 31 Juli 2015 sebagai Ketua Umum langsung menuju PDM
Kota Makassar untuk meresmikan apa yang mereka sebut sebagai
Pusat Dakwah Islamiyah Muhammadiyah disingkat PUSDIM, ada
beritanya di koran-koran lokal. Ketua PDM K.H. Jamaludin Sanusi
menjelaskan mengapa istilahnya PUSDIM, karena mereka merasa
tingkat kota, kalau di TNI namanya KODIM. Maka Muhammdiyah
bagus kalau pakai nama PUSDIM singkatan dari Pusat Dakwah
Islamiyah Muhammadiyah. Karena biarlah nanti gedung dakwah
tingkat PWM namanya PUSDAM, Pusat Dakwah Muhammadiyah.
Kami langsung berfikir itu pusat dakwah di Jakarta juga bisa kita
gunakan PUSDAM. Sudah mulai terkenal itu PUSDAM Menteng Raya
62, Pusat Dakwah Muhammadiyah, mungkin perlu diganti menjadi
PUSDABES Pusat Dakwah Besar Muhammadiyah di Jakarta. Supaya
Mabes, Kodam, dan Kodim gitu. Cuma nggak tau di tingkat ranting
pusat dakwahnya jadi apa? Sebut saja PUSDACIL.
Inilah Muhammadiyah yang saya bangga dapat menjadi dan
diakui oleh dunia sekalipun sebagai the largest modernis islamic
organization, organisasi Islam modern terbesar, ini bukan dari
kita, tapi dari orang luar. Dan kalau saya diundang, sekarang di
biodata, tentu sebagai President of Muhammadiyah; the largest
modernis islamic organization. Mungkin besok sudah berubah,
former President of Muhammadiyah.
146
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Sayang sering media massa menyebut Muhammadiyah di
koran bahasa inggris the second largest Islamic organization,
termasuk televisi menyebut Muktamar Muhammadiyah, organisasi
Islam terbesar kedua. Ini gara-gara (sering disampaikan dalam
ceramah di daerah-daerah, soal jumlah anggota ini) ternyata antara
Muhammadiyah dan NU ini saling bersaing. Muhammadiyah dahulu
tahun 1970an anggotanya berjumlah 20 juta, NU tidak mau kalah
30 juta. Tahun 1980an kira-kira 30 juta, NU 40 juta. Kemarin ada
oret-oretan kira-kira Muhammdiyah sebanyak 35 juta, NU harus naik
juga; 50 juta. Bahkan tadi malam, ketua PBNU yang baru terpilih
kembali dalam keterangan persnya menjelaskan soal demokrasi dan
dinamika di Jombang itu ”ya, kita ini organisasi besar, yang menurut
LSI katanya anggotanya 100 juta. Kalau organisasi kecil nggak terlalu
susah”, katanya untuk permusyawaratannya.
Tapi alhamdulillah, Muktamar Muhammadiyah telah
menunjukkan sebuah proses permusyawaratan yang bermarwah,
sebuah proses permusyawaratan yang bermartabat. Ada demokrasi,
tapi demokrasi menurut pemahaman Muhammadiyah bukanlah
demokrasi yang bebas dan bablas tapi demokrasi yang bertumpu
dan mengacu kepada nilai-nilai etika Islam. Namun ini sangat
tergantung kepada peserta muktamar kita. Syukur alhamdulillah
peserta muktamar Muhammadiyah ( juga ‘Aisyiyah) terdiri dari
orang-orang cerdas yang memiliki kearifan kebijaksanaan, kita
mampu bertenggang rasa untuk tukar menukar pikiran, sehingga
lahirlah tadi keputusan-keputusan muktamar yang bernas.
Pesan kepada PP Muhammadiyah yang akan datang, terhadap
putusan-putusan itu laksanakanlah dengan sebaik-baiknya dan
tentu saya berharap pimpinan pusat Muhammadiyah dari waktu
ke waktu dapat memimpin, membawa dan mendorong organisasi
tercinta ini ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih unggul lagi.
Pesan lainnya bukan hanya untuk PP Muhammadiyah, juga untuk
pimpinan-pimpinan persyarikatan di tingkat bawah, Wilayah sampai
Ranting, perlu sekali bagi pemangku amanat itu untuk memegang
amanat dengan sebaik-baiknya. Walladzina hum li aamanatihim wa
‘ahdihim raa’uun. Dan untuk itu, mutlak perlu menyediakan waktu
yang cukup bagi pengembanan amanat itu.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
147
Amanat di Muhammadiyah tidak bisa dan tidak boleh
diemban dengan sambil lalu. Anggota pimpinan persyarikatan,
dari sudut keaktifannya bukan hanya hadir pada rapat-rapat,
dan mengungkapkan pendapat pada rapat-rapat, dan kemudian
merasa sudah aktif. Tapi perlu menggerakkan yang menjadi
tugas tanggungjawabnya seperti majelis lembaga-lembaga yang
dipimpinnya dan juga untuk berkunjung ke daerah-daerah. Untuk
bisa menjadi gerakan yang sistematis, dinamis dan efektif itu
memang perlu –kita memang tidak fulltimer, tidak ada fulltimer
apalagi karena juga tidak digaji, tentu juga harus mencari rizki untuk
menghidupkan keluarga, menghidupi keluarga- tapi perlu waktu
yang cukup untuk Muhammadiyah.
Tanpa bermaksud riya’ ketika pertama kali mengemban
amanat sebagai Wakil Ketua PP Muhammadiyah tahun 2000, kami
memutuskan dan berdialog/ berdiskusi dengan keluarga untuk
berhenti dari semua pekerjaan-pekerjaan lain, kecuali menyisakan
sebagai dosen di IAIN, sekarang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
sebagai Pegawai Negeri Sipil, karena waktu itu ingin menjadi
profesor. Alhamdulillah tercapai. Dan untuk tugas di lain-lain,
termasuk dulu mengajar di banyak universitas, termasuk juga di
universitas Muhammadiyah, saya pilih untuk saya akhiri, kecuali
ada dua bank syariah karena itu tugas tanggung jawab tetapi
kegiatannya hanya rapat sekali sebulan, itupun jarang bisa hadir
dan ada kawan lain menggantikannya.
Untuk di UIN saya mengajar dalam satu semester minta
pengertian pimpinan dan mahasiswa untuk masuk cukup tiga kali
dalam satu semester. Mahasiswa pernah protes dan mau demo.
“Kok Prof. Din Syamsudin tercantum nama tapi tidak pernah masuk,
kadang kala hanya satu kali dalam semester”. Saya minta izin,
kalau saya tidak diizinkan maka izinkanlah saya untuk mengajukan
pensiun dini. Tapi alhamdulillah bertahan sajalah, kata Dekan Prof.
Dr. Bahtiar Effendi, yang juga kawan di Muhammadiyah. Awalnya
mahasiswa akan protes, tapi begitu saya beri pengertian, biasa kalau
kami datang kuliah umum, mohon pengertian, bahwa ada amanat di
Muhammadiyah dan MUI. Alhamdulillah mereka mengerti, bahkan
begitu keluar kelas langsung minta photo bersama-sama, termasuk
para mahasiswi.
148
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Dari anggota PP terpilih terus terang kalau ingin menyampaikan
secara pribadi, sangat-sangat tepat. Dan sesuai dengan apa yang
kami pikirkan dan rasakan. Tentu tidak elok kalau saya kemukakan.
Kalau mengikuti di media massa ada 4 orang calon Ketua Umum
dan kami sebutlah 4 orang itu. Dan kami memang mengajukan
secara terbuka juga di daerah-daerah, kalau bisa juga ada wajah
baru. Sebab kalau sama saja, mungkin warnanya dinamika tetap
ada, tapi warnanya tidak terlalu berubah.
Perlu wajah-wajah baru dan tahu di kerumunan warga
Muhammadiyah ini luar biasa banyak orang-orang pintar,
profesional di berbagai bidang. Alhamdulillah sudah ada banyak
yang masuk, kami lihat dari sini ada Prof. Dr. Muhajir Efendi.
Mas Muhajir, tularkan keberhasilan memimpin UMM juga untuk
menggerakkan Muhammadiyah. Dr. Busyro Muqoddas sahabat baik
juga, yang selama ini kita kenal sebagai ketua KPK, yang seperti
kader Muhammadiyah pada dasarnya bekerja dengan hati nurani,
tidak takut pada siapapun dan saya sampaikan kemarin duduk
berdampingan. “Ya lebih bagus di Muhammadiyah lah daripada di
KPK lagi nanti”, karena juga menjadi calon pimpinan KPK yang kalau
tidak salah Desember ini akan diseleksi. Tapi kami sampaikan pada
Pak Busyro, tidak apa-apa Pak saya buka disini, saya juga sudah
sounding ke beberapa fraksi agaknya mereka resisten terhadap
Pak Busyro. Terutama karena pernah mengkritik keras DPR sebagai
politisi-politisi pragmatis dan hedonis, padahal itu sehari sebelum
fit and proper test di DPR itu. Saya coba-coba bujuk, karena itu
tugas ketua umum PP Muhammadiyah juga untuk memperjuangkan
orang-orang Muhammadiyah terutama orang-orang yang sedang
fit and proper test. “Aduh, bang Din, nanti kalau Pak Busyro kita
dipanggil terus semuanya ini”. Tapi bukankah itu sebenernya
cocok untuk memimpin KPK lagi? Tapi saatnya, karena almamater
Muhammadiyah memanggil pulang Pak Busyro walaupun tidak
pernah pergi kemana-mana. Maka sangat tepat sekali untuk berada
di PP ini.
Yang baru lagi siapa Prof. Suyatno, berhasil membangun
Uhamka, entah nanti apa tugasnya. Pak Hajriyanto Tohari, mantan
penasehat Pemuda Muhammadiyah. Itu memang punya watak ciri
khasnya sendiri. Saya membujuk, karena saya mengajak beliau ke
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
149
Golkar dulu tahun 1998. Begitu Golkar berubah, reformasi, saya
keluar dari Golkar, kembali ke jalan yang benar, tahun 2000. Mas Hajri
saya ajak; udahlah mas, keluar aja, kita kembali ke Muhammadiyah.
Kata beliau saat itu, “enak aja ngajak keluar, lagi enak-enaknya”. 2009
menjelang pemilu dia datang; “Mas, saya mau pulang kampung
saja memimpin pondok pesantren”, di kampung kelahirannya
itu. Saya yang menghalangi; “jangan, tetap aja disitu!” dan sudah
mendapat dari Golkar sebagai Wakil Ketua MPR waktu itu. Nah
kemarin gonjang-ganjing Golkar, beliau sudah menyatakan mundur
dari kepemimpinan Golkar, dari kepengurusan Golkar dan kembali
kepada Muhammadiyah.
Kalau yang lama-lama ini saya tau, kualitas, kapasitas.
Alhamdulillah mereka masih mendapat kepercayaan dari muktamar.
Saya ingin komentari dua orang saja. Pertama, ketua umum terpilih,
Mas Haedar Nasir. Sebenarnya pernah dulu 2010, “silakanlah Mas
Haedar untuk melanjutkan kepimpinan ini (secara pribadi)” sebelum
Muktamar Jogja. Waktu itu saya mau jadi visiting profesor ke Amerika
saja. Dan sekarang mendapat amanat baru, sangat tepat. Beliau ini
selama ini selain sebagai kader inti, kader sejati Muhammadiyah
dari IPM, kemudian juga di majelis, lembaga, dan sudah masuk di
PP Muhammadiyah, seorang cendekiawan yang saya tahu persis
wawasan pengetahuan keislamannya sangat luas. Jadi kalau saya
bilang Ahmad Dahlan mensyaratkan ulama intelektual, inilah salah
satu personifikasinya Pak Dahlan. Seorang cendekiawan yang
mampu juga membaca ayat-ayat kauniyah, ijtima’iyah syiasah
sebagai sosiolog, dan ada buku-bukunya tentang itu dan sebagai
penulis.
Mas Haedar ini paham tentang masalah organisasi;
permasalahannya, das sein-nya dan beliau sangat paham dengan
idealitas organisasi, das solen nya. Oleh karena itu, dengan
pengalaman dan didukung oleh kawan-kawan yang lain, mungkin
akan mampu dan kita harapkan mampu untuk mengatasi masalahmasalah yang ada. Kalau ada pikiran -- kemarin saya ditanya
wartawan-- ketua umum PP ‘Aisyiah terpilih adalah Ibu Noordjanah
-- istri beliau -- mengapa tidak? Tidak ada masalahg. Kemarin
sore ada wartawan bertanya seperti itu. Mungkin juga ada pikiran
semacam itu, karena ini sudah merupakan kehendak muktamar,
150
BRM 01/SEPTEMBER 2015
sudah merupakan pilihan muktamar. Termasuk Ibu Noordjanah
sudah memimpin ‘Aisyiah satu periode sebelumnya. Oleh karena
itu, tidak ada masalah, dan bahkan saya juga baca tulisan-tulisan:
kelihatannya memasuki abad ke-2 Muhammadiyah mengulangi
apa yang terjadi di awal abad pertamanya, ketika persyarikatan ini
dipimpin oleh suami-istri: K.H. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah
Dahlan. Ini sebuah hal yang positif. Memasuki abad ke-2 dipimpin
oleh suami-istri.
Kepada Mas Abdul Mu’ti, ini sahabat baik saya juga, walaupun
di Muhammadiyah beliau lebih junior. Saya tahu beliau ini kapasitas
intelektual, cendekiawan, dosen, sebentar lagi guru besar, dan
sebagai organisator, selama ini selama memimpin Pemuda
Muhammadiyah sebelumnya di Jawa Tengah sangat mumpuni. Dan
selama ini banyak mewakili dan mungkin mengambil alih, karena
diundang langsung oleh berbagai pihak di luar negeri. Beliau pernah
kami minta menjadi direktur lembaga yang kami pimpin Center for
Dialogue and Cooporation among Civilization, tapi begitu menjadi
Sekretaris PP Muhammadiyah pasca Muktamar Yogyakarta, kami
minta beliau berhenti agar fokus di Muhammadiyah. Sejak itu dan
kemudian setelah itu ternyata sudah go internasional sendiri. Saya
sering bertanya: “anda lagi dimana?” “lagi di Italia, lagi disini, dll..”
Jadi tepat dan relasi sosial dengan elit-elit di Jakarta juga sudah
terbangun.
Kepada segenap anggota PP Muhammadiyah yang baru, pesan
kami tadi sediakan waktu, wakafkan waktu untuk mengemban
amanat ini. Berikut yang lebih substantif:
1. Pertahankan Muhammadiyah sesuai dengan watak dan citranya
selama ini dan yang telah dikembangkan oleh para pendiri dan
pendahulu kita sebagai gerakan Islam yang mengusung Islam
berkemajuan. Yang dalam pemahaman saya, berbasis tauhid,
nilai-nilai tauhid.
2. Mengembangkan ibadah yang berdampak etika atau akhlak,
karena melahirkan spiritualitas aktif-dinamis.
3. Muhammadiyah ini sesuai dengan predikat umat Islam adalah
ummatan wa sathan, maka posisi tengah, posisi tengahan
moderat itulah yang harus dikembangkan. Ummatan wa sathan
yang menjadi ciri khas umat Islam dan juga Muhammadiyah
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
151
bertumpu pada al aqidah al washithiyah itu pertama dia moderat
di dalam mengembangkan paham keagamaan sesuai dengan
posisi Muhammadiyah mengembangkan keseimbangan
antara purifikasi dan dinamisasi, at-tawazun bainat tajrd wa
tajrid. Mohon ini jangan pernah kemudian berkurang, titik
keseimbangan. At-tajrid sudah banyak kami sampaikan, fil
aqidah wal ibadatul mahdhah, at-tajrid fil mu’amalah wal
‘ubudunyawiyah.
Ada bahaya yang dihadapi Muhammadiyah sekarang ini,
terjadi arus silang. Ada orang-orang, kelompok-kelompok
di antara kita yang ingin melakukan tajridisasi mu’amalat,
ujungnya jumud, konservatif, eksklusif. Tapi juga ada pihak
seberang yang seharusnya tajdid di bidang kebudayaan tadi
melakukan tajdidisasi aqidah dan ibadah, itu ujungnya liberal.
Tapi kami ingin wanti-wanti, kalau tidak berada secara
beristiqamah pada jalan lurus yang juga jalan tengah, titik
keseimbangan Muhammadiyah akan mengalami kegoncangan.
Dan memang pimpinan Muhammadiyah harus mampu
mengatasi dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan.
Itulah salah satu ciri ummatan wa sathan, dia inklusif, tidak
mengenyahkan orang lain, tapi saya kira kepribadian
Muhammadiyah akan memperbanyak kawan. Kemudian juga
dia terbuka, menjalin hubungan dengan siapapun, sesama
manusia, Islam yang rahmatan lil ‘alamin, inilah juga yang
menjadi dasar dari Islam berkemajuan.
4. Orientasi kepada aksi, sebagaimana theologi al ma’un, kami
ingin titipkan ini, dan kita tahu kawan-kawan yang terpilih ini
khususnya Ketua Umum akan dapat mengemban itu.
Terakhir, kepada semua pihak yang telah membantu, kami
mengucapkan terima kasih. Kepada berbagai pihak yang telah
membantu, tentu secara kelembagaan, panitia pengarah yang
dipimpin oleh Dr. Haedar Nashir, panitia pelaksana dipimpin Prof.
Zamroni, panitia pemilih –ini luar biasa. Ini bisa jadi contoh bagi
KPU atau KPUD-KPUD besok. Ada SMS masuk berbunyi, “kalau
mau berdemokrasi, tirulah Muhammadiyah”. Apalagi ditayangkan
oleh televisi cara pemilihan kita modern, keren. Begitu pula ketika
152
BRM 01/SEPTEMBER 2015
penghitungan, e-voting, luar biasa canggih tapi itu kurang tersebar
luas. Sementara di tempat lain masih pakai papan tulis. Memang
pantas kalau kita mengusung Islam berkemajuan. E-voting kita tau
dari IT Universitas Ahmad Dahlan, itu tidak gampang. Kawan-kawan
Jawa Timur bilang: “wah, kalau itu sih masih kurang canggih, masih
canggih e-votingnya Jawa Timur”. “gimana?” Begitu mau memilih
13 tinggal pencet, pencet, pencet, tidak lagi memakai kertas yang
dilingkari, jadi kata kawan-kawan Jawa Timur “lebih canggih kami,
kenapa kami tidak pakai?” Cuma dari Jawa Timur juga ada yang
bilang, mengkritisi: “wah, kalau memakai alat Jawa Timur pemilihnya
bisa diketahui, siapa memilih siapa ketahuan”. Jadi sudah baguslah,
yang diterapkan oleh panitia pemilihan Muktamar itu.
Mohon Wilyah-Wilayah dalam Musywil jangan mau kalah
dengan muktamar, harus lebih canggih di wilayah-wilayah, termasuk
juga citra muktamar yang bermartabat, jangan sampai nanti ada
Musywil-Musywil yang tidak bermartabat. Yang istilah Buya Syafii:
Tidak berkeadaban tapi justru biadab.
Selanjutnya, kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi
Selatan, Daeng Alwiuddin sahabat saya pula, Doktor dari UIN
Alaudin dengan disertasi tentang “Gerakan Dakwah Muhammadiyah
di Sulawesi Selatan”. Kebetulan kami diundang sebagai penguji,
itu luar biasa UIN Alaudin; rektornya Muhammadiyah, Direktur
pasca sarjananya Muhammadiyah, dua promotor beliau itu dari
Muhammadiyah. Diundanglah kami sebagai penguji luar dari UIN
Jakarta, itu satu-satunya yang kami alami, Munaqasyah Doktor yang
ramai sekali karena promo-vendusnya membawa penggembira.
Dr. Alwiuddin, Bapak Syaiful dan kawan-kawan kami ucapkan
terimakasih yang telah bekerja keras.
Kemudia kepada berbagai pihak, Pemerintah, dari Presiden
sampai tingkat Walikota, Gubernur, sudah saya sampaikan juga pada
pembukaan. Kami sampaikan pada pers, Muktamar Muhammadiyah
ke-47 dan Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah di Makassar ini bisa
disebut muktamar mandiri. Sekitar Rp. 35 miliar bahkan lebih,
dan kemungkinan membengkak, itu di luar Unismuh Makassar
membangun Balai Sidang ini tempat arena muktamar ini, dan juga
Menara Iqra’ di sebelah sana yang baru selesai menjelang muktamar
itu bukan dari PP Muhammadiyah tapi dari Unismuh Makassar
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
153
sendiri, jika tidak salah 120 milyar atau lebih. Mudah-mudahan
tidak berhutang ke bank. Ini membangun sendiri. Jadi kalau ada
PWM yang akan datang melamar Muktamar lembaga amal usaha
setempat harus mempunyai tempat/arena muktamar yang besar
seperti Domme Unmuh Malang, Sportorium UM Yogjakarta, dan ini
baru diberi nama Balai Sidang Muktamar. Jadi kalau tidak sanggup
membangun jangan melamar Muktamar, nanti muktamarnya
ditempatkan di alun-alun.
Kami ucapkan terima kasih kepada PWM Sulawesi Selatan,
panitia penerima dengan segenap jajarannya berbagai bidang
berbagai seksi termasuk pengamanan. Cuma ini kita amati di
Makassar pengamanannya terlalu ketat. Kalau ada Ketua Umum
PP Muhammadiyah berjalan bisa dihitung 20 Kokam dan Tapak
Suci mendampingi. Dan kalau ada muktamirun muktamirat mau
ketemu dilarang, kami sampaikan “nggak apa-apa, ini internal”. Itu
luar biasa, sebagai petugas keamanan, tidak tahu sekarang ini yang
dikawal kami atau Dr. Haedar? Karena sudah serah terima maka
sekarang beralih, paspamket, paspam Ketum PP Muhammadiyah
itu sudah beralih kepada Ketua Umum yang baru. Kalau protokoler
negara: mantan presiden itu juga masih harus diamankan, masih
juga harus dikawal. Mungkin tidak sebanyak kemarin itu. Tapi insya
Allah tidak ada masalah. Kami ucapkan semua luar biasa. Melayani
7000 peserta belum penggembira, bukanlah perkara yang mudah.
Kami ucapkan terima kasih. Semua pihak, saking mandirinya,
saya tanya tadi, hampir tidak ada sumbangan dari luar, kecuali
pihak pemerintah Bapak Jusuf Kalla. Beliau datang meninjau dan
meresmikan Menara Iqra’. Ternyata sound systemnya kurang bagus,
langsung beliau memerintahkan untuk ganti sound system. Maka
ini sebagian dari beliau termasuk mungkin yang lain. Tapi selain itu
juga mungkin membantu, dan beliau sms kami langsung; Pak Din
alhamdulillah hari ini (waktu itu) sudah ditransfer satu miliar. Jauh
sebelum muktamar 500 juta dari kantor Wapres, 500 juta dari saya
pribadi, itu Bapak Jusuf Kalla.
Kemarin kami membuka Silaturahmi Saudagar Muhammadiyah
di Makassar di Wisma Kalla, pertemuan saudagar-saudagar
Muhammadiyah ramai sekali, disitu bertemu dengan Ibu Fatimah
Kalla, adik beliau. Pak Din, ada yang kurang apa enggak? Waduh....
154
BRM 01/SEPTEMBER 2015
“ada yang kurang apa engga?” Saya bilang “alhamdulillah sudah
cukup”. “Ya kalau ada yang kurang tinggal bilang saja, nanti kita
tambah”. Kalau watak saya, saya nggak mau itu. Dalam hati saya
kalau dibantu lagi pasti tidak ditolak, itu Ibu Fatimah Kalla. Tolong
PWM, panitia mengundang beliau hadir juga pada penutupan nanti.
Tentu kepada Pak Syiful, luar biasa. Memang anak
Muhammadiyah juga. Bapak Walikota juga Muhammadiyah.
Untuk semuanya kami ucapkan terimakasih. Dan kami secara
umum mengucapkan terima kasih dan memohon maaf dari segala
kesalahan kekhilafan selama mengemban amanat ini, dan insya Allah
masih di dalam Muhammadiyah juga, tidak di pusat sebagaimana
sudah saya katakan, insya Allah segera nanti sebagai Ketua Pimpinan
Ranting Muhammadiyah, dan tentu masih punya waktu-lah untuk
berkunjung ke daerah-daerah.
Atas nama pribadi, keluarga, dan juga atas nama kawankawan anggota PP Muhammadiyah periode sebelumnya, walaupun
sebagian juga terpilih kembali, kami mengucapkan selamat kepada
pimpinan pusat Muhammadiyah 2015-2020. Semoga diberi
kekuatan lahir dan bathin oleh Allah SWT memimpin organisasi
besar ini, gerakan pencerahan ini dengan sebaik-baiknya. Hari ini
harus lebih baik daripada kemarin, dan hari yang akan datang harus
lebih baik dari hari ini. Walal akhiratu khairul laka minal uula.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
155
PIDATO KETUA UMUM
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
PERIODE 2015-2020 TERPILIH
Dr. H. HAEDAR NASHIR, M.Si.
DALAM SERAH TRIMA JABATAN
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH 2010-2015 KEPADA
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH PERIODE 2015-2020
Di Makassar, 7 Agustus 2015
Yang pertama, kami 13 anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah
terpilih untuk 2015-2020, menyampaikan terimakasih tetapi juga
sekaligus dukungan atas segala amanat dari para muktamirun yang
sesungguhnya tidak ringan buat kami. Melanjutkan kepemimpinan
Prof. Din Syamsuddin dan juga Pimpinan Pusat sebelumnya itu
bukan hal yang gampang.
Capaian yang telah ditorehkan oleh Prof. Din Syamsuddin
dan kawan-kawan serta Pimpinan Pusat sebelumnya sungguh
merupakan sebuah prestasi yang kita rasakan hari ini, dan muktamar
ini adalah cermin dari perjalanan yang panjang itu. Tapi pada saat
yang sama juga harapan baru ada di pundak kami, yang tentu
harus kami tunaikan dengan sebaik-baiknya. Di belakang kami ada
bayang-bayang Prof. Din Syamsuddin, Buya Syafii Maarif, Prof. Amin
Rais bahkan sampai ke Pak A.R. Fahrudin. Mengemban bayangbayang itu tidak mudah.
Saya ingat ketika khalifah Umar bin Khatab mengambil
tampuk kepemimpinan baru yang ditinggalkan Abu Bakar dia
pernah mengatakan begini, “wahai Abu Bakar, engkau akan
membuat lelah para khalifah sesudahmu”. Tapi insya Allah kami
tidak akan lelah, karena bersama kami ada 12 anggota Pimpinan
Pusat Muhammadiyah yang semuanya adalah tokoh besar dan
pengkhidmat di persyarikatan ini. Di belakang kami juga bersama
kami ada 7 ortom Muhammadiyah, ada 34 Pimpinan Wilayah,
ada 488 Pimpinan Daerah, ada 3.655 Pimpinan Cabang, dan ada
156
BRM 01/SEPTEMBER 2015
13.540 Pimpinan Ranting yang akan bersama kami membawa
Muhammadiyah ini 5 tahun ke depan.
Terakhir, kepada Prof. Din Syamsuddin dan para tokoh
Muhammadiyah sebelum ini, kami senantiasa mengharap untuk
selalu mem-back up kami, memberi inspirasi kami, dan tidak
boleh berhenti untuk selalu mengingatkan kami. Begitu juga
kepada seluruh muktamirun yang direpresentasikan oleh pimpinan
persyarikatan dari wilayah sampai ranting.
Akhirnya, kita bisa bermuktamar dengan elegan, cerdas,
bermartabat, dan menjadi qudwah. Itu tidak lain karena hati kita
lekat, seperti iftitah yang kami bacakan yang dikutip dari Ali Imron
103. Ini modal kita, kebersamaan akan membuat kita kuat dan insya
Allah 5 tahun ke depan kita dinamisasi pergerakan ini menjadi
Muhammadiyah berkemajuan, berdasar Islam berkemajuan untuk
Indonesia dan dunia yang berkemajuan.
Terimakasih atas segalanya, termasuk untuk Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Unismuh Makassar, dan para
peserta hadirin dan seluruh warga persyarikatan.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
157
PIDATO KETUA UMUM
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
PERIODE 2015-2020 TERPILIH,
Dr. H. HAEDAR NASHIR, M.Si.
DALAM PENUTUPAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
DAN MUKTAMAR SATU ABAD ‘AISYIYAH
Di Makassar, 7 Agustus 2015
Bapak Wakil Presiden RI Bapak Muhammad Jusuf Kalla yang kami
muliakan bersama Ibu Mufida Jusuf Kalla,
Ketua MPR RI Bapak Zulkifli Hasan,
Bapak Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Dr. Yasin Limpo yang kami
hormati bersama seluruh tamu undangan,
Para pejabat dan hadirin yang kami muliakan.
Dan khusus kepada Ketua Umum PP Muhammdiyah periode 20102015 bersama segenap anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah
yang kami cintai dan kami hormati.
Alhamdulillaah, kami bersyukur kepada Allah SWT, pada siang
hari ini Muktamar Muhammadiyah ke-47 dan Muktamar Satu Abad
‘Aisyiyah telah berlangsung dengan lancar, elegan, produktif, cerdas,
dan bermartabat. Terselenggaranya Muktamar Muhammadiyah ke47 dan Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah yang seperti itu tentu secara
ruhaniyah karena berkah dan karunia Allah SWT yang selalu kami
pintakan agar Muktamar ini ada di dalam Ridha dan lindungan-Nya.
Secara Hablumminannas Muktamar ini terselenggara dengan baik
karena dukungan, bantuan dan restu dari seluruh warga bangsa,
khususnya dari Bapak Wakil Presiden RI yang sejak setahun yang
lalu sampai pada Muktamar ini ditutup selalu bersama kami. Juga
kepada Gubernur Sulawesi Selatan yang begitu rupa dengan seluruh
jajaran pejabatnya, sehingga sungguh-sungguh menjadi punggawa,
penjaga gawang yang baik dari Muktamar kita ini. Terimakasih
Bapak Wakil Presiden, Bapak Gubernur dan seluruh pihak yang telah
mengantarkan Muktamar ini menjadi Muktamar yang bersejarah,
158
BRM 01/SEPTEMBER 2015
yakni Muktamar yang insyaAllah mencerahkan, sesuai dengan tema
yang kami usung.
Karena itu kami yang memperoleh amanah dari Allah dalam
menjalankan fungsi risalah Nabi untuk dakwah amar ma’ruf nahi
munkar sekaligus juga amanat dari ummat untuk ikut mencerahkan
bangsa ini, izinkan, Bapak Wakil Presiden, kami perkenalkan Pimpinan
Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang terpilih
pada Muktamar ke-47 dan Muktamar satu abad ini:
Yang pertama, untuk Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saya
sendiri; Haedar Nashir. Saya dipilih bukan karena yang terbaik,
tetapi kata Pak Din meminjam istilah minang: hanya orang
yang dimajukan selangkah dan ditinggikan seranting. Dan
kami akan berjalan kolektif bersama 12 anggota Pimpinan Pusat
Muhammadiyah yang semuanya tangguh.
Yang ke-2, Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas Lc., M.Ag. Ke-3, Drs. H.
Ahmad Dahlan Rais M.Hum.
Ke-4, Dr. H. M. Busyro Muqoddas S.H., M.Hum, sudah dikenal
oleh semuanya. Ke-5, Dr. H. Abdul Mu’ti M.Ed. Ke-6, Dr. H. Anwar
Abbas M.M., M.Ag. Ke-7, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy M.A.P. Ke-8,
Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni. Ke-9, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad
M.Si. Ke-10, Prof. Dr. H. Suyatno M.Pd. Ke-11, Dr. H. Agung Danarto
M.Ag. Ke-12, Drs. H. M. Goodwill Zubir. Ke-13, Drs. H. Hajriyanto
Yasin Thohari M.A.
Itulah anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sekarang
kami perkenalkan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah: Yang pertama, Siti
Noordjannah Djohantini, percayalah bahwa kami tidak akan
kolusi dan nepotisme. Kami pakai prinsip wa ta’awanu ‘alalbirri
wa taqwa. Ibu Dyah Siti Nuraini, Ibu Sho’imah Kastolani, Ibu Siti
‘Aisyah, Ibu Masyitoh Chusnan, Ibu Atikah, Ibu Latifah, Ibu Tri
Hastuti, Ibu Chairunnisa, Ibu Esty Martiana, Ibu Rohimi Zam Zam,
Ibu Susilaningsih, Ibu Evi Sofia Inayati.
Yang kedua, kami, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang baru,
tentu sebagai sebuah amanat yang besar dan berat secara psikologis
tentu tidak mudah. Karena memandu umat, memandu bangsa itu
selain mulia memang banyak ragamnya. Tetapi kami percaya bahwa
di belakang kami ada 7 organisasi otonom, ada 34 Pimpinan Wilayah,
ada 488 Pimpinan Daerah, ada 3.655 Pimpinan Cabang di tingkat
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
159
kecamatan, dan ada 13.540 Pimpinan Ranting di basis akar rumput.
Dengan dukungan seluruh tokoh Muhammadiyah sebelum ini, lebih
khusus Prof. Din Syamsuddin sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat
Muhammadiyah periode yang lalu, yang telah mengukir banyak
karya-karya monumental untuk Muhammadiyah dan bangsa ini.
Prinsip kami adalah melanjutkan, dan dasar kami, ruhani kami
adalah mujahadah atau kesungguhan. Untuk peserta Muktamar
baik ‘Aisyiyah maupun Muhammadiyah, kami mengutip ayat yang
sering dibacakan Kiai Dahlan di Surat Ali Imron ayat 142:
َّ ُ
َ ْ َ َّ َ َ َ َّ َ ْ
ُ ُ ْ َ ْ َ ْ ُْ َ ْ َ
َ
َ ‫ال‬
‫ين َجاه ُدوا‬
‫اهلل‬
‫م‬
‫ل‬
‫ع‬
‫ي‬
‫ا‬
‫م‬
‫ل‬
‫و‬
‫ة‬
‫ن‬
‫ال‬
‫وا‬
‫أم ح ِسبتم أن تدخل‬
ِ
ِ
ُ ْ
َّ ‫ك ْم َو َي ْعلَ َم‬
َ ‫الصابر‬
‫ين‬
‫ِمن‬
ِِ
“Apakah engkau mengira akan masuk surga padahal engkau
belum diuji, siapa yang paling bersungguh-sungguh di antara
kalian, dan siapa yang paling sabar.”
Kata Kiai Dahlan: “banyak orang yang hanya bersungguhsungguh saja belum tentu sukses seketika, apalagi yang tidak
bersungguh-sungguh.” Banyak orang yang sukses di dalam
bersungguh-sungguh, tetapi gagal di dalam bersabar. Mudahmudahan kesungguhan dan kesabaran akan menjadi kunci ruhani
perjalanan kami lima tahun ke depan.
Terakhir, kami hanya ingin berbagi untuk bangsa dan negara ini,
dengan tema Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan,
kami ingin bersama seluruh kekuatan bangsa dan kekuatan agama
yang lain ingin ikut memandu moral bangsa ini dan ingin ikut
mencerahkan bangsa ini. Sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang
produktif, berpikir rasional, objektif, toleran, tetapi juga produktif
dan menatap ke depan. Itulah makna pencerahan. Kami insya Allah
akan bekerja sama dengan seluruh kekuatan bangsa lebih khusus
dengan pemerintah dengan prinsip ad-dakwah al amru bil makruf
wannahyu ‘anil munkar.
160
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Sedikit, Bapak Wakil Presiden, saya pernah satu tahun penelitian
di Sulawesi Selatan untuk disertasi saya. Saya menemukan sebuah
mozaic yang tolong kalau ucapan makhrajnya tidak bagus, mutiara
itu berbunyi begini: jika engkau beri aku sebutir gula maka akan aku
beri engkau seikat kelapa. Itulah Muhammadiyah, ingin memberi
yang terbaik untuk bangsa, tanpa meminta.
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
161
PIDATO WAKIL PRESIDEN RI,
DR. (HC) H. M. JUSUF KALLA
DALAM PENUTUPAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
DAN MUKTAMAR SATU ABAD ‘AISYIYAH
DI Makassar, 7 Agustus 2015
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas kesempatan kita hadir
dalam acara yang berbahagia ini. Selamat kepada Ketua Umum PP
Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir dan seluruh pimpinan lainnya atas
terpilihnya dalam muktamar yang penuh rahmat ini, yang demokratis,
yang sangat tenang, sehingga memberikan kita contoh-contoh yang
baik dalam melaksanakan demokrasi dan juga kepemimpinan Islam
yang baik.
Begitu juga kita tentu mengucapkan penghargaan yang tinggi
kepada Prof. Din Syamsuddin yang telah memimpin Muhammadiyah
selama sepuluh tahun, yang telah memberikan makna yang besar
kepada umat dan bangsa ini, baik dalam negeri juga di luar negeri
sehingga kalau kami telepon Pak Din lebih banyak di luar negeri
daripada di Jakarta. Kami sampaikan Pak Din lebih pantas mnjadi
Menteri Luar negeri daripada yang lainnya. Mudah-mudahan masih
ada waktu, banyak pendukung Pak Din.
Tentu dalam tempat ini juga kita semua memberikan
penghargaan atas segala amal usaha, amal sosial, amal ibadah
dari Muhammadiyah yang telah mengabdi lebih dari satu abad,
jauh lebih panjang dibanding republik ini sendiri. Artinya, pastilah
Muhammadiyah memberikan semangat, spirit, sehingga negeri ini
menjadi merdeka seperti ini. Tanpa ide-ide, tanpa semangat, baik
bidang kebangsaan, di bidang pendidikan, di bidang sosial, maka
bangsa tentu tidak mencapai hasil yang kita cita-citakan.
Dalam kesempatan ini juga kita tentu memang sangat
bergembira, bahwa dalam waktu yang sama, dua organisasi besar
umat kita; Muhammadiyah dan NU, atau NU dengan Muhammadiyah
semuanya melaksanakan Muktamarnya yang memberikan kita
hasil-hasil yang utama untuk kemajuan bangsa ini. Bagi kita semua,
162
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Muhammadiyah seperti tadi disampaikan sangat identik dengan
kemajuan pendidikan bangsa kita, kemajuan kecerdasan rakyat kita,
kemajuan sosial, dan tentu juga kemajuan di bidang kesehatan dan
upaya-upaya sosial lainnya.
Bagi daerah ini, banyak hubungan emosional yang baik, yang
dikenang dengan Muhammadiyah. Kami menonton film Sang
Pencerah, sedikit surprise, bahwa Kiai Ahmad Dahlan belajar bermain
biola dan diberi biola oleh seorang sahabatnya di Makassar. Sehingga
tadi kami tanya : “emangnya dulu kita pintar main biola ya?” Karena
biasanya kita cuma main kecapi, ternyata jaman dulu modern orang
Makassar sehingga mengajar Kiai Ahmad Dahlan bermain biola. Bagi
kami sendiri juga menghargai suatu uapaya yang luar biasa daripada
Muhammadiyah sejak dulu. Bagaimana Muhammadiyah mengirim
guru-guru sekolah Islam kesini termasuk Buya Hamka, luar biasa.
Kalau sekarang Dinas Pendidikanpun tidak sanggup kirim guru dari
Sumatera kesini. Khususnya kami pribadi lebih spesial lagi, karena
Muhammadiyah mengirim guru kesini, maka jadilah seorang kepala
sekolah SMP Muhammadiyah disini, kemudian kami melamar anaknya.
Jadi sekiranya tidak ada Muhammadiyah, nasibnya lain, barangkali
masih tinggal di Bone. Ini tentu memberikan kita banyak hal, memberi
inspirasi yang besar atas kegiatan-kegiatan yang istimewa, yang
luar biasa senantiasa dilaksanakan oleh Muhammadiyah. Dan juga
organisasi keislaman yang lainnya.
Tentu upaya sosial, upaya amal sosial dari tahun ke tahun, dari
masa ke masa mempunyai perkembangan-perkembangan. Kalau
dahulu mendirikan sekolah, panti asuhan, rumah sakit, ataupun
usaha tentu merupakan puncak-puncak kegiatan yang sangat
dibanggakan. Tentu pada dewasa ini hal itu berkembang lebih jauh
sesuai dengan perkembangan zaman. Disesuaikan juga dengan
kebutuhan masyarakat, sesuai dengan perkembangan teknologi,
dan juga hubungan-hubungan kebangsaan kita semuanya. Dewasa
ini tentu disamping pendidikan, dan upaya-upaya lain-lainnya tentu
sangat baik. Kami tadi mendapat pesan singkat tentang tiga pilar
Muhammadiyah yang baru. Kami tentu sangat menghargai, karena
selalu kita bicarakan hal ini. Bahwa apabila berbicara tentang kegiatankegiatan nasional kita, sebagai umat Islam kita tidak kekurangan.
Begitu ingin berbicara tentang politik, ratusan orang, ribuan orang
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
163
ingin menjadi anggota DPR, puluhan orang ingin menjadi Bupati
dan Gubernur bahkan ratusan tidak kurang, kalau ada pendaftaran
menjadi birokrat, pegawai, luar biasa banyaknya, begitu juga bidangbidang lainnya; mau jadi tentara luar biasa banyaknya. Meski begitu
diharapkan partisipasi ekonomi, pengusaha, tidaklah banyak yang
masuk di bidang itu. Sehingga terjadi ketimpangan skala ekonomi
nasional kita. Sudah tentu kami merasa bahagia karena ini menjadi
bagian tahap berikutnya daripada perjuangan Muhammadiyah untuk
memajukan bangsa ini.
Bahwa pendidikan kita tentu mengalami banyak kemajuan. Usaha
kesehatan kita juga mengalami kemajuan. Walaupun tentu usahausaha selanjutnya haruslah suatu usaha-usaha yang baru daripada
selama ini. kami sampaikan juga di ’Aisyiyah bahwa kalau dulu upaya
kesehatan bermakna mendirikan klinik, mendirikan rumah sakit dan
sebagainya, sehingga ada kesan bahwa dengan demikian siapapun
yang sakit, pemerintah menjamin itu. Kita harus membaliknya,
bahwa kita semua mendukung orang untuk sehat, mengusahakan
masyarakat kita sehat, dengan segala cara: kampanye kebersihan dan
sebagainya. Tapi siapa yang sakit juga akan kita bantu. Kita bergerak
di dalam kesehatan masyarakat sebaik-baiknya.
Begitu juga dalam bidang ekonomi. Tantangan bangsa ke depan,
hari ini adalah bagaimana memajukan bangsa ini. Semua bangsa maju
pastilah mempunyai ukuran-ukuran, ukurannya bermacam-macam.
Tapi ukuran paling dikenal di suatu bangsa adalah pertumbuhan
ekonominya, pendapatan negaranya, bagaimana jumlah
penganggurannya, jumlah orang miskin dan sebagainya. Semua itu
mempunyai ukuran-ukuran ekonomi. Karena itulah, maka disamping
pendidikan dan kesehatan, kami sangat mendukung upaya-upaya
memajukan ekonomi bangsa ini dalam hal kemakmuran.
Ukuran itu hanyalah dapat dicapai dengan semangat, upaya
dan pelatihan. Beberapa waktu yang lalu kami mengatur bagaimana
Universitas Muhammadiyah bekerjasama dengan perbankan nasional
untuk melatih masyarakat kemudian mendapatkan kredit yang murah
dari beberapa perbankan nasional. Dan itu harus diteruskan, salah
satu caranya ialah bagaimana jaringan universitas Muhammadiyah
yang besar, yang banyak itu diarahkan ke arah-arah yang produktif,
sehingga dapat bersaing dengan banyak negara dan juga secara
164
BRM 01/SEPTEMBER 2015
nasional. Karena hanya itu satu-satunya cara memajukan umat, salah
satu cara mengatur umat kita. Apabila diukur dari yang sederhana,
syariat Islam di dalam rukun Islam: rukun Islam keluarkan zakat, naik
haji, tentulah hanya dapat dilaksanakan apabila orang mampu. Oleh
karena itulah kenapa Indonesia apabila ada pengeluaran zakat selalu
orang berduyun, karena Muzakkinya kurang, hanya mustahiknya
yang kelewat banyak. Karena itulah maka kita harus berusaha
memperbanyak muzakki sehingga otomatis mustahiknya berkurang.
Sehingga kemudian dapat dicapai kemakmuran, dan pastilah dapat
dicapai upaya sosial yang lebih besar lagi.
Negeri kita mengalami tantangan-tantangan yang yang kuat
pada dewasa ini. Baik/buruknya tantangan itu, baik/buruknya
akibatnya tentu ditanggung oleh kita semua. Tentu hal itu merupakan
tanggung jawab pemerintah, tanggung jawab saya juga bersama
presiden. Hari-hari ini kita mempunyai tantangan ekonomi karena
ekonomi dunia yang menurun, menyebabkan kegiatan dalam negeri
juga menurun, menyebabkan pendapatan masyarakat menurun,
menyebabkan kegiatan-kegiatan lainnya juga menurun. Ada faktorfaktor birokrasi dan kelembagaan kita, ada juga faktor dari langit,
mudah-mudahan tidak terjadi, tapi ramalannya terjadi, yaitu elnino atau kekeringan. Sehingga tantangan-tantangan itu harus
diatasi bersama, secara bersama-sama. Tantangannya berupa ilmu
pengetahuan, upaya dan juga semangat. Banyak negara maju karena
kaya sumber daya alamnya, tapi ada juga yang miskin. Banyak negara
yang maju karena luasnya, tapi banyak juga negara yang besar tidak
maju. Tapi semua negara maju satu persamaannya: semangatnya
untuk maju, ilmunya yang baik, teknologinya dimanfaatkan.
Kami yakin Muhammadiyah dengan segala kemampuannya baik
jumlahnya, semangatnya dan juga ilmu pendidikan yang dipunyai
Muhammadiyah merupakan modal yang besar untuk bangsa. Karena
itulah, Muktamar hari ini, yang kita hadiri dan ditutup hari ini, tentu
memberikan semangat baru, semangat dari Makassar, karena itu
saya juga mengucapkan terima kasih pada Bapak Gubernur, seluruh
pemerintah daerah, masyarakat tentunya yang sangat membantu
penyelenggaraan muktamar ini. Itulah semangat kita, termasuk
semangat orang Makassar: malu untuk tidak melayani tamu sebaikbaiknya. Tamu merupakan kehormatan untuk dilayani, karena itulah
TANFIDZ KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
165
tentu kehormatan juga untuk bisa menghadiri acara ini. Sekali lagi
semoga pengurus yang baru, baik Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah
tentu akan berupaya dan kita mendukung secara bersama-sama
untuk kemajuan itu. Kami mengucapkan secara pribadi juga kepada
Dr. Haedar Nashir beserta Ibu yang juga menjadi Ketua Umum
‘Aisyiyah; sebenarnya itu adalah sunnah Rasul, karena Muhammadiyah
berasal dari kata Muhammad, tentu penghormatan kepada Nabi
Besar Muhammad SAW. Dan ‘Aisyiyah kita semua tahu yakni istrinya
yang tercinta. Jadi kalau ketua Muhammadiyah beristrikan ketua
‘Aisyiyah, itulah kira-kira sunnah Rasul. Juga sangat menghargai, saya
membaca bahwa ketua Muhammadiyah dari Jawa Barat. Memang
Muhammadiyah ini serba barat, sebelumnya Prof. Din dari Nusa
Tenggara Barat, Buya Syafii dari Sumatera Barat, mudah-mudahan
nanti ada juga ketua Muhammadiyah dari Sulawesi Barat.
Inilah suatu upaya bersama, demokrasi yang mampu jadi contoh.
Mudah-mudahan muktamar ini dengan hasil-hasil yang dibacakan
tadi akan memberikan kita semua suatu upaya yang besar. Kami
yakin Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di dunia.
Kenapa? Karena Islam di Indonesia terbesar di dunia. Sedangkan
orang mengatakan bahwa ya kalau berapa besar Muhammadiyah
tanya dulu NU berapa anggotanya, kurang lebih sama kan antara
NU dan Muhammadiyah. Kalau terbesar di dunia tentu rantingnya
puluhan ribu seperti Muhammadiyah. Sehebat-hebatnya Saudi
Arabia, paling cabang organisasinya 300an. Sehebat-hebatnya
Kuwait, pasti cabangnya cuma 20an. Jadi pastilah Muhammadiyah
merupakan organisasi Islam terbesar di dunia. Memang salah satu
kehebatan Muhammadiyah adalah holding company, struktur ke
bawahnya. Berbeda dengan NU, kebesaran NU ialah para kiai. Jadi
semua mempunyai kehebatan yang digabungkan menjadi kekuatan
besar umat. Itulah harapan kita semua. Semoga Muhammadiyah
dengan pengurus yang dipilih di Makassar ini kemudian tentu
menentukan nasib bangsa ini ke depan, menjadi bagian dalam upaya
memajukan dan memakmurkan bangsa. Sekali lagi, kita bersyukur atas
terselenggaranya acara ini. Dan dengan ucapan alhamdulillahi rabbil
‘alamin, kami menutup Muktamar ke-47 daripada Muhammadiyah ini.
166
BRM 01/SEPTEMBER 2015
Fly UP