...

Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup - e

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup - e
Feminisme sebagai Diskursus
Pandangan Hidup
Abdullah Muslich Rizal Maulana*
[email protected]
Abstract
In perspective of Postmodern West, thought discourses always colored by relativism,
equality, nihilism, and reconstruction. This discourses of thought, cannot be separated
from the profane Western worldview, which formed during the several hundred years of
experience theological, sociological, and historical of West. Nowadays –Postmodernworldview became the foundation for providing responses to the phenomenon that exist
in the West, including feminism and gender. Islam, such as din and ideology is conceptually
also obligated to set up the concept of worldview projected by texts in the form of the
Quran and al-Hadith. Both this primary source of Islam derived concepts about God,
Nature, Science, Mind, Soul, and so forth as a spectrum set of Muslims viewpoints in
doing things. Related here, Islamic worldview is necessary to observe, analyze, to the
stage critiquing feminism and gender discourse that is a product of western Worldview.
Islamic Worldview demanded to review and response proportionally to discourses of
western Worldview which has difference with Islam conceptually.
Keywords: Feminism, discourse, worldview, Postmodern
Abstrak
Dalam perspektif Barat Postmodern, wacana-wacana yang menjadi produk
pemikiran senantiasa bernuansakan relativism, equality, nihilism, dan reconstruction.
Produk-produk pemikiran ini, tidak bisa dilepaskan dari pandangan hidup Barat yang
profan, terbentuk selama sekian ratus tahun pengalaman teologis, sosiologis, dan historis
Barat. Pandangan hidup inilah yang hari ini –era Barat Postmodern- menjadi pijakan
Barat untuk memberikan tanggapan-tanggapan atas fenomena yang ada di Barat,
termasuk feminisme dan gender. Islam, sebagai sebuah Agama dan Ideologi secara
konseptual tentunya juga telah membentuk konsep pandangan hidup yang diproyeksikan
oleh nash berupa al-Qur’an dan al-Hadis. Kedua sumber primer dalam Islam inilah yang
*
Mahasiswa Semester VII Institut Studi Islam Darussalam, Fakultas Ushuluddin
Jurusan Ilmu Akidah.
Vol. 11, No. 2, September 2013
272 Abdullah Muslich Rizal Maulana
diderivasi daripadanya konsep-konsep tentang Tuhan, Alam, Ilmu, Akal, Jiwa, dan lain
sebagainya sebagai spektrum yang mengatur sudut pandang Umat Islam dalam
melakukan segala hal. Kaitannya di sini, Pandangan hidup Islam diperlukan guna
mengamati, menganalisa, hingga tahap mengkritisi wacana feminisme dan gender yang
merupakan produk pandangan hidup Barat. Pandangan hidup Islam dituntut untuk
memberikan pandangan-pandangan dan tanggapan yang proporsional terhadap produk
Pandangan Hidup Barat yang memiliki perbedaan secara konseptual dengan pandangan
hidup Islam.
Kata Kunci: Feminisme, Diskursus, Pandangan Hidup, Postmodern.
Pendahuluan
ecara diskursus, feminisme tentunya teramat menarik
dibicarakan. Feminisme tidak terlepas dari gelombang
westernized-globalization, yang di dalamnya terdapat era
postmodernism.1 Masa ini menghasilkan produk-produk pemikiran
Barat yang bernafaskan relativism, 2 equality, nihilism, 4 serta
deconstruction. 5 Dengan “posmo”, feminisme mampu menjadi
ideologi dengan visi dan misi yang tersebar luas.6
Seiring berjalannya waktu, feminisme menjadi wacana yang
perlahan tersebar ke luar wilayah Barat. Walhasil, masyarakat
Indonesia merasakan dampaknya. RUU KKG (Keadilan &
Kesetaraan Gender) yang sempat dirumuskan pada tanggal 24
Agustus 2011 silam merupakan contoh bagaimana kalangan
S
1
Pamela Sue Anderson, Feminisme dan Filsafat, dalam Pengantar Memahami
Feminisme dan Postfeminisme, Ed. Siti Jamilah, dkk. (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), 187-199.
2
Richard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativisim: Science, Hermeneutics,
And Praxis, (Philadelphia: University of Pennsylvania, 1988), 8-16.
4
Eric Steinhart, On Nieztsche (USA: Wadsworth/Thomson Learning, 2000), 19.
5
Bambang Sugiharto, Postmodernisme; Tantangan Bagi Filsafat, (Yogyakarta:
Kanisius, 2008), 43-57. Lihat juga Jennifer M. Lehmann, Deconstructing Durkheim, (London:
Routledge Press, 1993), 1-11, dan Reading Derrida’s of Grammatology, Ed. Seas Gaston,
Dkk. (London: Lan Maclachlan and Contributors, 2011), 22.
6
Postmodern, sesungguhnya adalah sebuah etimologi yang tidak pernah lepas dari
perdebatan kontroversial. Sulit ditemukan hakikat makna aslinya dalam sebuah penjelasan.
Ia diduga hanyalah sebuah kalimat kosong, dan cenderung diidentifikasi dengan Poststrukturalis yang kental dengan ke-Nietzsche-an. Sehingga maknanya tidak pernah jauh
dikenali dari ciri-ciri ‘dekonstruktif’ yang dikemukakan di atas. Menurut Bambang
Sugiharto, Istilah Postmodern lebih sering ‘mengecoh’, namun aplikasi pemakaiannya di
masyarakat hanyalah karena istilah ini sudah telanjur beredar dan populer. Ibid, 15-17.
Jurnal KALIMAH
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup
273
feminis hendak menancapkan ideologinya di Negara ini.7 Di tahun
berikutnya, tepatnya di sekitar Mei 2012, Irshad Manji, salah satu
tokoh feminis liberal asal Kanada berencana datang ke Indonesia.8
Ini adalah sekian dari fakta fenomenologis yang terjadi secara real
di sekitar kita, bahwa feminisme di tahun-tahun terakhir – bisa
dibilang – sedikit demi sedikit diterima di Indonesia.
Padahal, Indonesia adalah negara yang mayoritas Muslim.
Dan secara fakta normatif maupun historis, baik lelaki dan
perempuan dalam Islam tidak ada perbedaan, kecuali takwa
kepada Allah SWT.9 Lelaki dan perempuan, berbeda secara fitrahnya, namun tetap mulia dengan masing-masing tugasnya.
Namun ternyata dewasa ini muncul ketidakpahaman atas
diskursus feminisme di kalangan masyarakat umum, termasuk
Muslim. Secara tidak sadar, faham yang lahir di Barat ini terkesan
‘kompatibel’ dan ‘perlu diterapkan’ di dalam Islam. Hal ini tentunya
memprihatinkan, karena secara konseptual, Islam sebagai agama
dituntut bersifat akomodatif untuk senantiasa dapat beradaptasi,
mengklasifikasi, hingga tingkat mengkritisi paham-paham yang
memang sejatinya tidak lahir dari Islam. Hal tersebut karena setiap
konsep, produk pemikiran, serta teori saintifk merupakan hasil
dari pandangan hidup (worldview). Dengan demikian, diskursus
feminisme dan Islam, perlu diulas sehingga menemukan jawaban
yang tepat apakah feminisme layak dijadikan pandangan hidup
yang ‘diridai’ oleh Islam.
7
Lebih lanjut soal RUU KKG lihat http://thisisgender.com/analisis-ruu-kkg-dariperspektif-hukum-indonesia/ http://www.hidayatullah.com/read/22033/03/04/2012/
ketentuan-umum-ruu-gender-problematik.html
8
Irshad Manji (bahasa Arab:
‘Irshâd Mânjî, Gujarat:
Irshâd
Mânji; lahir 1968) adalah seorang penulis Kanada, wartawan dan advokat dari interpretasi
“reformasi dan progresif” Islam. Manji adalah direktur Proyek Keberanian Moral di Sekolah
Robert F. Wagner Pascasarjana Pelayanan Publik di Universitas New York, Manji adalah
seorang Feminis Lesbian. Salah satu karyanya yang kontroversial adalah Allah, Liberty
and Love dirilis pada bulan Juni 2011 di AS, Kanada dan negara lainnya. Sumber http://
id.wikipedia.org/wiki/Irshad_Manji diakses 30 Mei 2013 Pkl. 14.20 WIB
9
Lihat QS. al-Hujurat: 13. Lihat juga Syaikh Imad Zaki Al-Barudi, Tafsir Wanita,
Terj. Samson Rahman, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2003), 3-14.
Vol. 11, No. 2, September 2013
274 Abdullah Muslich Rizal Maulana
Tipologi Historis Feminisme
Sebelum dikorelasi hubungan antara feminisme dengan
pandangan hidup Barat, agaknya penting untuk diketahui pembagian tipologi feminisme yang ada di Barat. Pertama, adalah
Liberal Feminism. Feminisme Liberal adalah paham feminis yang
pertama sekaligus masih eksis hingga hari ini. Gerakan feminis
liberal merupakan paham masih sangat dekat dengan fenomena
penindasan atas wanita. Dalam analisis feminis liberal, dominasi
patriarki di Barat berimplikasi pada intimidasi hak partisipasi wanita
di ruang publik (blocks women’s entrance to and success in the socalled public world). Mereka menuntut persamaan hak aspirasi
berkeadilan gender (gender justice) yang menyetarakan antara lelaki
dan wanita.10
Gerakan Feminis Liberal, secara teroganisir dipelopori oleh
Mary Wollstonecraft (1759-1799) yang di tahun 1972 menulis artikel
berjudul “A Vindication of the Rights of Women”. Wollstonecraft
mendeskripsikan bahwa kerusakan psikologis dan ekonomi yang
dialami wanita disebabkan oleh ketergantungan perempuan secara
ekonomi dan peminggiran perempuan dari ruang publik. 11 Tulisan
Wollstonecraft ini sukses ‘membuka’ kebebasan ekonomi, seksual
dan publik wanita di Barat.12
Kedua, Radical Feminism. Secara definitif, Feminisme Radikal
adalah paham yang ingin merekonstruksi sistem gender yang
partiarkal, untuk kemudian membentuk masyarakat baru, di mana
laki-laki dan perempuan setara di setiap level elemennya.13 Berbeda
dengan Feminis Liberal yang bergerak ‘di bawah’, sistem yang
masih berjalan ketika itu, Feminis Radikal menginginkan sebuah
sistem baru dengan komposisi sebagaimana telah tersebut, “Sexual
oppression, and social systems that perpetuate sexual oppression, are
morally evil because they limit or deny women’s capacity to reflect on
10
Rosemarie Tong, Feminist Thought; A More Comprehensive Introduction. (Colorado:
Westview Press, 2009), 1.
11
Ibid, lihat juga John Stuart Mill, “The Subjection of Women,” in John Stuart Mill
and Harriet Taylor Mill, Essays on Sex Equality, ed. Alice S. Rossi (Chicago: University
ofChicago Press, 1970), 184–185.
12
Rosemarie Tong, Feminist Thought, Ibid, 23.
13
Ibid, 54. Teks lengkapnya adalah, “etermined effort to destroy the sex/gender system—
the basic source of women’s oppression—and to create a new society in which Man and women
are equals at every level of existence
Jurnal KALIMAH
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup
275
anddetermine their own lives.”14 Maka dari itu, dia harus diubah.15
Namun lepas dari tuduhan mereka terhadap sistem, serta
solusi yang mereka kemukakan, Feminis Radikal melakukan pendekatan-pendekatan berkaitan dengan visi-misinya itu. Feminis
Radikal-Libertarian condong pada aplikasi dekonstruksi konsep
feminisme dengan pengawasan terhadap proses reproduksi,
kegiatan mengasuh anak, serta seksualitas.
Hal ini didasarkan pada paradigma setara yang sudah
disinggung di atas tadi. Feminis Radikal–Liberatarian sebagai sebuah
standar kualitas, serta berupaya untuk merangkul kaum
perempuan yang ‘tertindas’ untuk kembali bangkit. Lebih lanjut,
Perempuan ditekankan untuk mengetahui lebih jauh budayabudaya berkaitan dengan wanita ‘saja’, yang berarti sebaliknya,
menolak budaya-budaya yang dianggap bersikap ‘maskulin’
sebagai bagian dari upaya dekonstruksi sistem.
Dua pendekatan inilah yang kemudian pada ranah seksualitas
menghasilkan paradigma bahwa, seksualitas haruslah berupa
‘kenikmatan’ yang patut dirasakan oleh ‘kedua belah pihak’.
Heteroseksual, dianggap juga menjadi bagian yang mendominasi
atas nama maskulinitas, maka itu pun ditolak. Feminis RadikalLibertarian condong berpendapat bahwa lesbianisme adalah
sebuah wacana seksual yang paling mampu dipertahankan sebagai
sebuah konsekuensi seks.16
Ketiga, Marxist & Socialist Feminism. Untuk memahami tipologi Feminis Sosialis-Marxis, tentunya tidak lepas dari bagaimana
14
Jean Bethke Elshtain, Public Man, Private Woman, (Princeton, N.J.: Princeton
University Press, 1981), 226.
15
Alison M. Jaggar and Paula S. Rothenberg, eds., Feminist Frameworks (New
York: McGraw-Hill, 1984), 186. Kurang lebih ada lima kerangka kerja Feminis Liberal
dalam membentuk sebuah sistem masyarakat yang tidak bias Gender, yakni: 1) membentuk
kelompok/organisasi restruktur (oppressed Group) sebagai awal mula gerakan, 2)
menyebarluaskan bahwa kasus-kasus penindasan wanita ada di setiap lapisan masyarakat
yang diketahui (women’s oppression is the most widespread, existing in virtually every known
society), 3) memahamkan bahwa penindasan wanita adalah penindasan yang paling sulit
untuk diberantas (is the hardest form of oppression to eradicate) dan tidak bisa disamakan
sebagaimana kasus kelas masyarakat (such as the abolition of class society-Marxis), 4) bahwa
penindasan wanita paling banyak membuat korban menderita (most suffering to its victims),
baik dari sudut pandang kualitatif maupun kuantitatif, dan 5) penindasan wanita memberikan
model konseptual untuk memahami jenis-jenis penindasan yang lain (provides a conceptual
model for understanding all other forms of oppression).
16
Kate Millett, Sexual Politics, (Chicago: University of Illinois Press, 2000), 62.
Vol. 11, No. 2, September 2013
276 Abdullah Muslich Rizal Maulana
kritik Marx terhadap struktur industri masyarakat modern. Marx
mengklasifikasikan perbenturan dua kelas masyarakat –yang biasa
dikenal dengan Borjuis dan Proletar- , yakni antara pemilik modal
(Capitalist) yang senantiasa dituntut untuk menguasai buruh
(Labour).17 Dalam kaitannya dengan seksualitas dan kesetaraan
Gender, ‘menguasai’ atau ‘eksploitasi’ ini juga menjangkau ranah
wanita. Feminis Sosialis-Marxis merasa gelisah tatkala melihat
ketimpangan jumlah buruh pria dan wanita. Antara keduanya pun,
memiliki waktu bekerja yang relatif berbeda. Hal ini tentunya
menghasilkan sudut pandang yang lagi-lagi uniequal. Wanita mendapat upah yang lebih rendah, atau bahkan tidak sama sekali
dibandingkan dengan upah pria. Berkaitan dengan ini, Allison M.
Jaggar menulis,
“...The protective labor legislation that limited the hours that women
could work, prohib- ited night work and barred them from certain dangerous
occupations such as mining may have promoted their health and safety
and guaranteed them more time with their families. But it also precluded
them from certain occupations requiring overtime, barred them krom others
where the entry point was the night shift, and may have contributed to
the downward pressure on women’s wages by creating a surplus of women
in the jobs they are permitted to Ahold.”18
Berangkat dari ketimpangan ekonomi inilah, maka Feminis
Sosialis–Marxis berupaya untuk melakukan sebuah resolving
problem dengan menunjukkan bahwa kualitas kerja wanita tidak
kalah dengan pria di khalayak publik, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan derajat Wanita. 19 Jaggar, secara luas mengkritik
metode Feminis Sosialis-Marxis karena dianggap tidak mengungkapkan secara jelas di mana posisi penindasan pria atas wanita
secara spesifik, namun justru memperlihatkan kepada masyarakat
kenyataan bahwa baik kedua belah pihak (pria dan wanita) samasama tertindas oleh sistem Kapitalis.20
17
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), 574.
Secara definitif, Marx menafsirkan kapitalisme dengan teorinya mengenai nilai-lebih kerja
sebagai satu sistem eksploitasi kelas buruh oleh Kaum Kapitalis.
18
Alison M. Jaggar, Sexual Difference and Sexual Equality, dalam Alison M. Jaggar
ed., Living with Contradictions: Controversies in Feminist Social Ethics, (Oxford: Westview
Press, 1994), 23.
19
Ibid.
20
Ibid. Lihat juga Rosemarie Tong, Feminist Thought…, 109-110; Mariarosa Dalla
Costa dan Selma James, Women and the Subversion of the Community, (Bristol: Falling Wall
Press, 1972), 34.
Jurnal KALIMAH
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup
277
Keempat, Psychoanalytic And Existential Feminism.21 Dimensi
psikologi yang ada pada penindasan wanita lantas berkembang
menjadi Feminisme Psikoanalitis-Eksistensial. Mereka berpendapat, berlandaskan teori psikoanalisis Sigmund Freud, bahwa
cara berpikir wanita bersumber dari alam bawah sadar mereka.
Cara berpikir ini, ternyata juga telah dibentuk oleh masyarakat.
Sehingga ketika seorang anak lahir, mau tidak mau akan mengikuti
diferensiasi atas gender yang sudah menjadi sudut pandang
masyarakat itu.22 Maka sesungguhnya, masa anak-anak juga sangat
berperan penting dalam konstruk psikologisnya.23
Eksistensialisme, di Barat tentunya tidak lepas dari bagaimana
Hegel dan Heidegger memandang dimensi perspektif yang berbeda
soal gender dan identitas. Eksistensialisme menjadikan hubungan
antara alam bawah sadar seorang manusia dengan lingkungannya
terkait dengan bagaimana manusia berkembang dari makhluk
yang ‘tidak sadar’ menjadi makhluk ‘sadar’ yang mandiri. 24 Di
sinilah kemudian ditemukan kaitannya secara konstruk dengan
psikoanalitis. Seorang bayi perempuan yang jika lahir dalam
lingkungan yang bias gender akan berkembang menjadi
perempuan yang tentunya, menjadi penindasan atas bias gender
tersebut. Maka di sini, boleh jadi eksistensi seorang wanita adalah
menjadi ‘makhluk lain’, –mengutip kalimat Jill Steans- ,”Women
was not only ‘Other’ do Men, but to Themself’.25
Kelima, Postmodern Feminism-Postfeminism. Feminis Postmodern, sesuai dengan namanya sangatlah identik dengan fase
keempat filsafat Barat; Postmodern. 26 Di dalam Postfeminisme,
Sarah Gamble menggambarkan ciri keduanya tidak hanya identik
di nama namun juga terhadap nilai-nilai yang bersifat ‘post’.
21
Feminisme Psikoanalitis dan Eksistensialis terkadang juga menjadi dua macam
tipologi yang berbeda, namun di sini Penulis coba gabungkan berkenaan dengan
keterkaitan yang sangat antara keduanya.
22
JIll Steans, Gender And International Relations, (Cambridge: Polity Press: 1998),
22.
23
Rosemarie Tong, Feminist Thought…,131 Sebagaimana contoh yang diambil
Tong, –sedikit keluar dari mainstream memang-, tatkala mayoritas masyarakat memandang
anak-anak adalah makhluk yang “sexless” Freud berpendapat bahwa anak-anak justru
kenyataanya sangat ‘seksual’ dan memiliki tiga tahap seksualitas; Oral, Anal, Phallic
24
Ibid, 23.
25
Jill Steans, Gender And International Relations, 23.
26
Sarah Gamble, Postfeminisme, 54.
Vol. 11, No. 2, September 2013
278 Abdullah Muslich Rizal Maulana
Postfeminisme lahir dari ketidakpastian semantis yang disebabkan
imbuhan (Post) di depannya.27
Konon, istilah Postfeminisme lahir di tahun 1980-an, dengan
menunjukkan sebuah gerakan berkontekskan kebebasan atas
belenggu ideologis gerakan feminis sebelumnya. Maka dapat
disimpulkan bahwa Postfeminisme sejatinya telah mendekonstruksi secara keseluruhan paham feminisme yang ada sebelumnya.28 Dalam The Concise Oxford Dictionary –sebagaimana dilansir
oleh Gamble-, Postfeminisme didefinisikan sebagai ‘sesuatu yang
berhubungan dengan gagasan-gagasan, perilaku-perilaku, dan
seterusnya, yang mengabaikan atau menolak gagasan feminis tahun
1960-an dan dekade-dekade berikutnya’ 29 . Namun demikian,
Postfeminisme secara substansial ia problematis, baik secara istilah
maupun ideologis.
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup Barat
Lantas bagaimana kemudian Feminisme menjadi sebuah
diskursus pandangan hidup (worldview)? Menurut Hamid Fahmy
Zarkasyi, pandangan hidup adalah cara manusia memandang dan
menyikapi apa yang terdapat dalam alam semesta bersumber dari
beberapa faktor yang dominan dalam kehidupannya. Faktor itu
boleh jadi berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan,
tata nilai masyarakat atau lainnya. Luasnya spektrum pandangan
manusia tergantung pada faktor dominan yang mempengaruhinya.
Cara pandang yang berasal dari agama dan kepercayaan akan
mencakup bidang-bidang yang menjadi konsep kepercayaan
agama itu. Ada yang hanya terbatas pada ke sini-kinian, ada yang
terbatas pada dunia fisik, ada pula yang menjangkau dunia
metafisik. Tema yang dipakai secara umum untuk cara pandang
ini dalam bahasa Inggris adalah “worldview” (pandangan hidup),
atau dalam bahasa Jerman adalah “welstanchauung” (filsafat hidup)
atau “weltansicht” (pandangan dunia).30
27
Ibid.
Ibid.
29
Ibid.
30
Hamid Fahmy Zarkasyi, Pandangan Hidup Islam, Makalah kdisampaikan dalam
Kuliah Peradaban Islam sesi ke III, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) dan
Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Semarang, 3 Juni
2007. Lihat juga, Hamid Fahmy Zarkasyi, Membangun Peradaban Islam yang Bermartabat,
28
Jurnal KALIMAH
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup
279
Dari sinilah kita mulai melacak jejak Feminisme. Di Barat,
sejarah sosio-kultur yang terekam menyangkut tentang wanita
memang sangat memprihatinkan. Hingga Masa Rennaissance (abad
16-17), wanita dianggap sebagai ‘maniak sihir’. Hal ini dikarenakan
mayoritas penyihir (withcraft) kebanyakan adalah wanita.
Bilamanapun ada penyihir yang berjenis kelamin lelaki, tetap saja
penyihir perempuan lebih mampui berbuat jahat.31 Hal ini dinyatakan sebagaimana fakta yang direkam oleh Philip J. Adler dalam
The World Civillizations. Fitrah wanita di Barat adalah makhluk
yang lemah kepercayaan (imannya) terhadap Tuhan. Dia menulis,
“It is fact that women has only a weaker faith.” 32 Lanjutnya,
“Therefore, the female si evil by Nature.”33
Maka dari itu, menurut masyarakat Barat sifat ‘Feminin’
sesuai dengan konsep etimologis yang memang dimiliki wanita.
Femininity merupakan derivasi dari bahasa Yunani “Femina”. Femina
itu sendiri berasal dari kata ‘fe’ dan ‘minus’. Fe artinya fides, faith,
yang berarti kepercayaan atau iman. Sedangkan mina yang berasal
dari kata minus berarti kurang.34 Jadi, dalam perspektif Barat, wanita
adalah makhluk yang secara fitrah besifat ‘kurang iman’. Masih
dalam perspektif teologis, wanita di Barat tidaklah bernilai selain
‘objek seksual’. Menurut St. Augustine, lelaki tidaklah mampu
menahan nafsu seksualitasnya. Sebagaimana dikutip oleh Helen
Ellerbe berikut:
“But even those who delight in this pleasure are not moved to it at their
own will, whether they confine themselves to lawful or transgress to
unlawful pleasures; but sometimes this lust importunes them in spite of
themselves, and sometimes fails them when they desire to feel it, so that
though lust rages in the mind, it stirs not in the body. Thus, strangely
enough, this emotion not only fails to obey the legitimate desire to beget
offspring, but also refuses to serve lascivious lust; and though it often
opposes its whole combined energy to the soul that resists it, sometimes
also it is divided against itself, and while it moves the soul, leaves the
body unmoved.”35
(Ponorogo: Centre for Islamic and Occidental Studies, 2009), 10-15; AM Saefuddin,
Islamisasi Sains dan Kampus, (Jakarta: PPA Consultans, 2010), 58
31
Phillip J. Adler & Randall L. Pouwels, World CIvilizations, (Canada: Thomson
Wadsworth: 2006), 318.
32
Ibid.
33
Ibid.
34
Ibid.
35
Helen Ellerbe, The Dark Side of Christian History, February 1996, 32-33.
Vol. 11, No. 2, September 2013
280 Abdullah Muslich Rizal Maulana
Ellerbe juga mencatat, bahwa menurut St. Augstine wanita
adalah sosok jelmaan iblis yang paling bertanggungjawab atas dosa
turunan Adam. Karena dosa tersebut berbentuk hubungan seks,
maka dari itu, hubungan seksual di Barat abad pertengahan
menjadi sesuatu yang kotor.36 Jadi secara historis wanita di Barat
senantiasa mendapatkan tempat yang rendah, dicaci, bahkan
dipojokkan dengan berbagai macam kekejaman. Irene Handono
mencatat sejak era awal-awal kekristenan hingga sekitar tahun 1750
telah ribuan wanita yang dieksekusi sebagai salah satu wacana
kekejaman inkuisisi Gereja.37 Hal ini searah dengan pendapat Karen
Amstrong di dalam Holy War: The Crusades and Their Impact on
Today’s World, yang menggambarkan situasi kekejaman inkusisi
gereja pada saat itu, “....That one the most evil of all Christian
institutions was the Inquisition, which was an instrument of terror in
the Catholic Curch until the end of 17th century.”38
Maka kemudian, terbitlah ‘gerakan-gerakan’ sebagai hasil
dari trauma yang teramat mendalam tersebut. Gerakan inilah yang
hari ini dikenal dengan Feminisme, dengan segenap tipologi dan
macam yang sudah tersebut sebelumya. Mari kita simak
pernyataan Penny Long Marler; “...that religious change in the West
– particularly the rise and decline of Christian denominations and
congregations – is strongly influenced by long-term and largely
unexamined changes in women’s live.”39 Korelasi yang teramat jelas
ditemukan antara posisi agama di Barat sebagai pandangan hidup
serta feminisme yang menjadi produknya.
Namun apakah kemudian feminisme menjadi solusi? Alihalih menyejahterakan, paham gender justru menjadi mantra voodo
yang berbalik mengutuk si empunya. Impian kesetaraan yang
diusung benar-benar menjadi mimpi. Beberapa dekade terakhir
ini justru para ahli dari Barat yang menggugat paham ini.
Syamsuddin Arif berhasil merekam itu. Sebut saja Pat Robertson
36
Ibid. Lihat juga, Nawal Sa’dawi, Women and Islam, (Oxford: Pergamon Press,
1982). 193.
37
“Ratusan ribu dibakar dan digantung.” Begitu tulisnya. Lihat Irene Handono,
Menyingkap Fitnah dan Teror, (Bekasi: Gerbang Publishing, 2007), 45.
38
Karen Amstrong, Holy War; The Crusades and Their Impact on Today’s World,
(New York: Anchor Books, 2001), 456.
39
Penny Long Marler, Religious Change in the West: Watch the Women, dalam Women
And Religion in The West, Ed. Kristin Aune, dkk. (Great Britain: Ashgate Publishing Limited,
2008), 23.
Jurnal KALIMAH
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup
281
(l.1932), mantan calon presiden Amerika. “Feminists encourage
women to leave theirs husbands, kill their children, practise witchcraft,
become lesbians and destroy capitalism”. 40 Susan Jane Gilman (l.
1960), penulis masyhur asal New York itu pun sependapat dengan
Robertson, “For women today, feminism is often perceived as dreary.
As elitist, academic, Victorian, whiny and passe”. 41 Ternyata,
Feminisme adalah penghancur peradaban.
Feminisme Bukan Pandangan Hidup Islam
Maka kemudian bagaimana posisi Islam memandang
feminisme? Setelah kita sepakati bahwa feminisme adalah wacana
yang lahir dari pandang hidup Barat, maka tentunya berbeda secara
konseptual dengan pandangan hidup Islam. Di dalam Bangunan
Wacana Gender, Mohammad Muslih menegaskan bahwa dalam
membaca wacana gender haruslah dilakukan secara analisis-kritis,
dengan menempatkannya sebagai wacana (discourse). Pembacaan
analisis-kritis, artinya melakukan sebuah metode analisis yang
selalu terlibat dalam upaya menemukan adanya hubungan atau
ke-saling terpengaruh-an antara pemikiran; menemukan
perbedaan atau melakukan perbandingan dan akhirnya memposisikan.42 Hal ini patut dilakukan sebagai upaya untuk menghindari pembacaan diskursus –dalam ini pandangan hidup- yang
hanya sama pada permukaan, sebaliknya dapat mengantarkan kita
pada sumber dan akar wacana.43
Hal inilah yang patut dipahami dan laksanakan oleh segenap
intelektual Muslim khususnya, dan umat Islam umumnya.
Diskursus feminisme lahir dari sebuah pandangan hidup Barat,
yang tentunya secara konseptual berbeda dengan pandangan hidup
Islam. Islam di sini diposisiskan sebagai sebuah perspektif yang
bisa secara secara kritis membaca, menganalisa, kemudian
mengkritisi paham-paham yang memang sebetulnya tidak ada
dalam konsep Islam. Namun ketika ditemukan kemudian
40
Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Depok: Gema Insani
Press, 2008), 108.
41
Ibid. Lihat juga Susan Jane Gilman, Kiss My Tiara: How do Rule The World As a
SmartMouth Goddess, (New York: Warner Books, 2001).
42
Mohammad Muslih, Bangunan Wacana Gender, (Ponorogo: CIOS, 2007), 29.
43
Ibid.
Vol. 11, No. 2, September 2013
282 Abdullah Muslich Rizal Maulana
beberapa yang condong beranggapan bahwa di dalam Islam ada
diskriminasi gender, itu tentunya yang harus ditindak. Selain
wacana yang sudah tersebut di pendahuluan, tentunya kita sangat
akrab dengan nama-nama seperti Amina Wadud 44 dan Fatima
Mernissi.45 Yang meyakini adanya nash yang bersifat mesogyny alias
mendeskritkan wanita. Sebuah kerancuan cara pandang yang
sangat membuat miris. Padahal tidak ada satu pun ayat di dalam
al-Qur’an yang bias gender. Ada sebuah wacana menarik, di mana
ayat penciptaan di surat al-Nisa’: 1 dianggap bias gender. Hal ini
berkenaan dengan teks yang berbunyi, “wa khalaqa minhâ
zawjahâ” yang basa ditafsirkan oleh khalayak masyarakat sebagai:
“diciptakan dari tulang rusuk adam”. Ini apakah benar?
Padahal sesungguhnya, dalam konsep penciptaan Adam dan
Hawa adalah dari tanah. Tidak ada perbedaan. Allah berfirman,
“min nafsin wâhidatin”. Tidaklah berarti hawa diciptakan dari tulang
rusuk Adam, melainkan karena pria dan wanita adalah dua bagian
dari satu jiwa yang tidak bisa dipisahkan. Ayat ini menurut tafsir
Sayyid Qutb –sebagaimana dikutip oleh Khalif Muammar- adalah
‘shatray al-nafs al-wâhidah’. 46 Lelaki dan wanita ditentukan
derajatnya bukan dari jenis kelamin, namun amal perbuatan. 47
Dalam berpasangan pun pria dan wanita sama-sama diibaratkan
sebagai pakaian,48 namun dalam kehidupan rumah tangga masingmasing memiliki tanggungjawab yang berbeda. 49 Secara global,
pria maupun wanita pun dituntut untuk senantiasa berlombalomba dalam kebaikan.50 Penafsiran ala ‘tulang rusuk’ itu justru
merupakan adaptasi dari Bible. 51 Beberapa golongan feminis
44
Lihat Amina Wadud, Qur’an and Woman; Rereading The Sacred Text from a Woman’s
Perspective, (New York: Oxford Universirty Press, 1999).
45
Lihat Fatima Mernissi, Wanita di Dalam Islam, Terj. Yaziar Radianti, (Bandung:
Pustaka, 1994).
46
Khalif Muammar, “Wacana Kesetaraan Gender: Islamis Versus Feminis Muslim”,
Jurnal Islamia, Vol. III No. 5 2010, 43.
47
QS. Alu Imran: 195
48
QS. al-Baqarah: 187
49
QS. al-Baqarah: 228
50
QS. al-Ahzab: 35
51
Khalif Muammar, Loc. Cit. Menurut analisa Dr. Khalif Muammar, anggapan yang
menunjukkan penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam adalah berasal dari BIble. Lihat
Kitab Kejadian 2:20-25. “.... tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang
sepadan dengan dia. Lalu Tuhan membuat manusia itu tidur nyenyak, ketika ia tidur, Tuhan
mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari
rusuk yang diambil Tuhan dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu
Jurnal KALIMAH
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup
283
memang mengambil kisah kejadian hawa berdasarkan kisah-kisah
Isrâ’iliyyât, dan juga dari hadis yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah RA. 52 Namun pemahaman pada hadis itu sendiri
dipertanyakan secara literal. Apakah pemahamannya secara
demikian sudah tepat? Atau malah justru yang dimaksud dalam
hadis itu adalah makna metaforis? Walau bagaimanapun tidak ada
satu hadis pun yang memerinci tentang jelas kejadian wanita dari
tulang rusuk Adam. Ini mungkin karena apa yang ingin disampaikan oleh Rasulullah SAW melelaui hadis ini sebenarnya adalah
bukan tentang penciptaan Hawa, namun justru pesan agar pria
berlemah lembut dengan wanita karena kekerasan tidak akan
memberi pengaruh yang baik terhadap mereka. 53 Dengan
memahami hakikat wanita sedemikian rupa, lelaki hendaklah
bersikap lebih bijaksana. Atas dasar inilah Rasulullah SAW
menasehati agar para wanita dijaga dengan baik, dan inilah
sebenarnya mafhum hadis tersebut.54 Hal ini yang kemudian patut
dikembangkan dalam ranah syariah, karena sesungguhnya baik
wanita maupun pria tidak memiliki perbedaan dalam taklîf.
Menurut Syaikh Imad Zaki al-Barudi, secara prinsip Islam
menyamakan antara lelaki dan perempuan di hadapan syariah
tanpa diskriminasi apapun.55
Itu baru dari sisi otoritas hadis. Dalam sejarah Islam pun,
penindasan terhadap wanita tidak ditemukan. Justru ketika Islam
datang kebiasaan jahiliyyah menyangkut nikâh al-dayshân
(pernikahan antara anak sulung lelaki dengan istri mendiang
ayahnya), nikâh al-syighâr (pernikahan dengan bertukar anak
perempuan), serta zawâj al-istibdâ’ (menyuruh istri untuk tidur
dengan lelaki lain yang dipandang terhormat untuk mendapatkan
bibit unggul), termasuk di antaranya penguburan bayi perempuan
dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia, tulangku dari
tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamakan perempuan, sebab ia diambil dari
laki-laki.’ Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya akan bersatu
dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia
dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”
52
Hadis riwayat Bukhari bab “al-Nikah”, no. 4786; al-Tirmidzi, bab “al-Talaq wa al‘Ilm”, no. 1109, Musnad Ahmad, bab baaqii Musnad al-Ansar, no. 25810.
53
Khalif Muammar, Loc. Cit., 44
54
Ibid,
55
Syaikh Imad Zaki Al-Barudi, Tafsir Wanita.
Vol. 11, No. 2, September 2013
284 Abdullah Muslich Rizal Maulana
dihapus. Kedatangan Islam justru menanamkan nilai-nilai
kehormatan universal terhadap wanita.56
Penutup
Feminisme secara singkat dapat dimaknai sebagai wacana
yang patut dikritisi. Bukan dalam artian Islam narrow-minded
namun karena secara konseptual tidak diperlukan. Diskursus
gender berangkat dari masa lalu kelam wanita di Barat hingga
akhirnya menuntut kesetaraan. Dimulai dari aspek teologis, lantas
menjalar ke ranah sosial.
Berbeda dengan Islam. Fakta sejarah membuktikan,
bahwasanya wanita di dalam Islam memiliki kedudukan yang
terhormat. Ia dilindungi dan dimuliakan. Abu Hurairah pun jeli
memperhatikan, bahwa ketika Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah
manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?”
Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” Rasulullah
SAW menjawab, “Kemudian ibumu.” “Kemudian siapa?” Rasulullah
SAW Menjawab, “Kemudian ibumu.””Kemudian siapa?” Rasulullah
SAW menjawab lagi, “Kemudian ayahmu”. Perbedaan dimensional
yang terjadi antara pria dan wanita bukanlah intimidasi, namun
justru aplikasi keadilan Tuhan. Ketika tiap perangkat mampu
ditempatkan sesuai porsinya, maka itulah keadilan. Maka tepatlah
Ratna Megawangi mengangkat isu gender ini dengan judul
‘Membiarkan Berbeda’. Karena pada kenyataannya baik pria
maupun wanita tetap mulia dengan ciri khas yang dimilikinya.
Daftar Pustaka
Adler, Phillip J. et.al. 2006. World Civilizations. Canada, Thomson
Wadsworth.
Amstrong, Karen. 2001. Holy War; The Crusades and Their Impact
on Today’s World. New York: Anchor Books.
Anderson, Pamela Sue. 2010. Feminisme dan Filsafat, Pengantar
Memahami Feminisme dan Postfeminisme, Terj. Siti Jamilah,
dkk. Yogyakarta: Jalasutra.
56
Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme…, 111.
Jurnal KALIMAH
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup
285
Arif, Syamsuddin. 2008. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran.
Depok: Gema Insani Press.
Aune, Kristin, dkk. 2008. Women And Religion in The West, Ed.
Great Britain: Ashgate Publishing Limited.
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, (Jakarta, PT. Gramedia Pustaka
Utama: 2005)
Al-Barudi, Syaikh Imad Zaki. 2003. Tafsir Wanita, Terj. Samson
Rahman. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Bernstein, Richard J. 1988. Beyond Objectivism and Relativisim:
Science, Hermeneutics, And Praxis. Philadelphia: University of
Pennsylvania.
Costa, Mariarosa Dalla, dkk. 1972. Women and the Subversion of the
Community. Bristol: Falling Wall Press.
Ellerbe, Helen. 1996. The Dark Side of Christian History, February.
Elshtain, Jean Bethke. 1981. Public Man, Private Woman. Princeton,
N.J.: Princeton University Press.
Gaston, Seas. Dkk. 2011. Reading Derrida’s of Grammatology
(London, Lan Maclachlan and Contributors.
Gilman, Susan Jane. 2001. Kiss My Tiara: How do Rule The World
As a SmartMouth Goddess. New York: Warner Books.
Handono, Irene. 2007. Menyingkap Fitnah dan Teror. Bekasi Gerbang
Publishing.
Jaggar, Alison M. dkk. 1984. Feminist Frameworks. New York:
McGraw-Hill.
_____. 1994. Living with Contradictions: Controversies in Feminist
Social Ethics. Oxford, Westview Press.
Lehmann, Jennifer M. 1993. Deconstructing Durkheim. London,
Routledge Press.
Mernissi, Fatima. 1994. Wanita di Dalam Islam, Terj. Yaziar Radianti.
Bandung: Pustaka.
Mill, John Stuart, dkk. 1970. Essays on Sex Equality, ed. Alice S.
Rossi. Chicago: University of Chicago Press.
Millett, Kate. 2000. Sexual Politics. Chicago: University of Illinois
Press.
Vol. 11, No. 2, September 2013
286 Abdullah Muslich Rizal Maulana
Muammar, Khalif. 2010. “Wacana Kesetaraan Gender: Islamis
Versus Feminis Muslim”. Jurnal Islamia. Vol. III No. 5.
Muslih, Mohammad. 2007. Bangunan Wacana Gender. Ponorogo,
CIOS.
Sa’dawi, Nawal. 1982. Women and Islam. Oxford: Pergamon Press.
Saefuddin, AM. 2010. Islamisasi Sains dan Kampus. Jakarta: PPA
Consultans.
Steans, Jill. 1998. Gender And International Relations. Cambridge:
Polity Press.
Steinhart, Eric. 2000. On Nieztsche. USA: Wadsworth/Thomson
Learning.
Sugiharto, Bambang. 2008. Postmodernisme; Tantangan Bagi Filsafat.
Yogyakarta, Kanisius.
Tong, Rosemarie. 2009. Feminist Thought; A More Comprehensive
Introduction. Colorado: Westview Press.
Wadud, Amina. 1999. Qur’an and Woman; Rereading The Sacred
Text from a Woman’s Perspective. New York: Oxford Universirty
Press.
Zarkasyi, Hamid Fahmy. 2007. “Pandangan Hidup Islam”, Makalah
disampaikan dalam Kuliah Peradaban Islam sesi ke III,
Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) dan Institute
for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),
Semarang, 3 Juni 2007
_____. 2009. Membangun Peradaban Islam yang Bermartabat.
Ponorogo: Centre for Islamic and Occidental Studies.
Jurnal KALIMAH
Fly UP