...

bab 8 kondisi sistem pembuangan limbah / sanitasi yang sudah ada

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

bab 8 kondisi sistem pembuangan limbah / sanitasi yang sudah ada
BAB 8
KONDISI SISTEM PEMBUANGAN
LIMBAH / SANITASI YANG SUDAH ADA
BAB 8
8.1
KONDISI SISTEM PEMBUANGAN LIMBAH /
SANITASI YANG SUDAH ADA
Umum
Sistem pembuangan limbah dikembangkan di sebagian area perkotaan dan instalasi milik
masyarakat didirikan di bantaran sungai di Kota Yogyakarta. Banyak rumah tangga yang berada
di luar jangkauan jaringan pembuangan limbah menggunakan septic tank.
Di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul, limbah cair diolah dengan septic tank yang
dipasang di banyak rumah karena sistem pembuangan limbah dan sistem instalasi masyarakat
belum diperkenalkan di wilayah tersebut. Namun, pada saat ini jumlah instalasinya tidak begitu
tinggi.
Limbah cair dari rumah-rumah tanpa septic tank merembes kedalam tanah secara langsung atau
dibuang langsung ke sungai terdekat. Ini adalah salah satu penyebab pencemaran sungai.
8.2
8.2.1
Pembuangan Limbah
Garis Besar Sistem Pembuangan Limbah yang Ada
Sistem pembuangan limbah di kota Yogyakarta yang berupa pembuangan limbah serta satu
instalasi pengolah limbah skala kecil dibangun oleh Belanda pada tahun 1930an. Instalasi
pengolah limbah itu tidak berfungsi lagi saat ini.
Pada saat ini, sistem pembuangan limbah dikembangkan di sebagian wilayah Kota Yogyakarta
dengan trunk sewer dan instalasi pengolahan limbah Sewon yang dibangun pada tahun 1996
oleh bantuan dari pemerintah Jepang dan fasilitas-fasilitas lain seperti trunk sewer, jaringan
pembuangan limbah, dan pipa pembilas dibangun oleh Belanda dan sekitar 60.000 limbah cair
manusia, sama dengan 15% dari populasi kotamadya telah diolah.
Pengoperasian & pemeliharaan dan konstruksi jaringan pembuangan limbah dilakukan oleh
Departemen Lingkungan Hidup Yogyakarta, dan instalasi pengolahan limbah Sewaon yang
dijalankan oleh Kotamadya Yogyakarta. Rangkuman tentang instalasi pengolahan limbah
ditunjukkan berikut ini.
•
Target Wilayah :
1.250 ha (Yogyakarta 1.220 ha, Sleman 30 ha, Bantul 0 ha)
8-1
•
Target Tahun:
•
Jumlah Penduduk:
•
Sambungan yang dilayani:
2002
110,000
18.420 unit
(Sambungan rumah 17.330 unit, Lain-lain 1.090 unit)
15.500 m3/hari
•
Tingkat Aliran :
•
Lokasi Instalasi Pengolahan Limbah:
Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul
Pada saat ini, target tahun diperpanjang menjadi tahun 2012. Wilayah pembuangan limbah
saat ini maupun yang direncanakan di masa yang akan datang ditunjukkan di Gambar 8.2.1.
Walau pembuangan limbah dibangun di sekitar Universitas Gajah Mada di Kabupaten Sleman,
tidak ada sambungan dari tiap rumah dan kantor, dan pembuangan limbah tidak diolah secara
substansial di Kabupaten Sleman.
8-2
Sewon Sewage Tratment Plant
Ring Road
Asphalt Road Road
Railway
River
Bandary
Gambar 8.2.1
Flushing Pipe (Future)
Trunk Sewer (Existing)
Trunk Sewer (Future)
Flushing Pipe (Existing)
Sewerage Area (Present)
Sewerage Area (Future)
Community Plant Area
Area Pembuangan Limbah di Kota Yogyakarta
8-3
8.2.2
Saluran Pembuangan Kotoran
Pipa oval 20/30cm dengan panjang sekitar 120 km untuk cabang saluran pembuangan dipasang
di tengah Kota Yogyakarta dan di sekitar Universitas Gajah Mada di Kabupaten Sleman untuk
Trunk Sewer dengan diameter pipa 600 mm, panjang sekitar 34 km dipasang di tengah kota
Yogyakarta dan pipa diameter 1.000mm/1.300mm sepanjang 10 km dipasang dari Kota
Yogyakarta ke instalasi pengolahan limbah Sewon. Untuk tujuan pencucian saluran
pembuangan kotoran dengan menggunakan air sungai, pipa pembilas berdiameter 600 mm
sepanjang 20 km dipasang di Kota Yogyakarta dan sebagian kabupaten Sleman.
Tabel 8.2.1
Panjang Saluran Limbah berdasar Jenis dan Diameter
Panjang (m)
Jenis Saluran
Diameter
Saluran
Cabang
Saluran
Utama
Pipa oval
Bahan
20/30cm
RC
φ600mm
φ 1000mm,
1300mm
Pipa Pencuci
φ600mm
Beton
φ
Sleman
Bantul
113.695
5.887
650
33.129
967
RC
RC
Total
8.2.3
Yogyakarta
Total
Keterangan
120.232
34.096
Yogyakarta
10.092
10.092
Yogyakarta
Sewon
18.886
557
-
19.443
165.710
7.411
10.742
183.863
ke
Instalasi Pengolahan Limbah
(1) Umum
Salah satu instalasi pengolah limbah yang berada di Sewon Kabupatan Bantul dibangun oleh
Bantuan Pemerintah Jepang pada tahun 1996 telah mengolah air limbah dari kotamadya
Yogyakarta. Metode pengolahan dalam instalasi pengolahan limbah ini adalah sistem ‘aerated
lagoon’ yang memiliki alur diagram sebagai berikut, dan air yang diolah dibuang di Sungai
Bedog.
8-4
STP
Aliran
Masuk
Pompa Pengangkat
Ruang Pasir/Kerikil
b
Saringan Kasar
Kolam Fakultatif
P d
Pengering Endapan
Kolam Maturasi
P d
Pemakaian Ulang
(Pemupukang)
Sungai Bedog
Instalasi pengolahan limbah bekerja dengan baik pada saat ini. Peralatan mekanik seperti pompa
penghisap, aerator, pompa pasir, dan generator yang semuanya buatan Jepang, semuanya
beroperasi.
Peralatan-peralatan ini tidak pernah rusak sejak mulai dioperasikan sepuluh tahun
yang lalu, sampai saat ini masih dalam kondisi baik.
Garis besar serta foto untuk tiap fasilitas
di instalasi pengolahan limbah ditunjukkan dibawah ini.
Tabel 8.2.2
Garis Besar Instalasi Pengolahan Limbah Sewon
Item
Spesifikasi
3
Kapasitas
15500m / hari
Lokasi
Dusun Jepit Desa Pendowoharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul
Area STP
6,7 ha
Metode Pengolahan
Aerated Lagoon
Inlet BOD
332mg/L
Outlet BOD
30~40mg/L
Rasio Pembuangan BOD
90 %
Sungai tempat Pembuangan
Sungai Bedog
Tahun Target
2002
<Fasilitas/peralatan >
Pompa
Penghisap
Ruang
Kerikil/Pasir
Saringan kasar
Kolam
Fakultatif
Kapasitas
10,7m3/menit
Pump Head
3,5m
Listrik
15kW
Jumlah Pompa
3set (termasuk 1 untuk jaga-jaga)
Spesifikasi
Lx
Beban
650 m3/m2/hari
2m x P 9m x T 1,2m x 2 kolam
Spesifikasi
T 2.0m x Interval Jeruji
Jenis
Jenis Manual
Bahan
Baja
Spesifikasi
L 77m x P 70m x T 4m x 4 kolam
Waktu
Pengendapan
5,5 hari
8-5
40mm x 2set
Kolam Maturasi
Bed Pengering
Endapan
Generator
Listrik
Gedung
Administrasi
Aerator
30kW x 4 set
Spesifikasi
L 78m x P 70m x T 4m x 2 kolam
Waktu
Pengendapan
1,3 hari
Spesifikasi
L 34m x P 232m x T 0.5m
Kapasitas
4,000m3
Volune Endapan
3,300m3/tahun
Spesifikasi
300KVA x 1set
Isi Area
390m2
untuk Ruang Generator, Ruang Listrik, Ruang Operasi, Ruang
Laboratorium, Ruang Mesin, Penyimpanan
Pipa Pembuangan
Pipa Beton, φ800mm x Panjang 649m
Kanal Terbuka, Lebar 1,4m x Kedalaman 1,0m, Panjang 528m
Foto 8.2.1
Instalasi Pengolahan Limbah Sewon
(2) Kualitas Air Olahan
BOD air olahan rata-rata 18 mg/L (rasio pembersihan 87%), dan kurang dari 30 mg/L dari nilai
yang direncanakan.
Nilai peraturan sungai pembuangan (BOD kurang dari 50 mg/L) untuk
Sungai Bedog juga telah terpenuhi. Data kualitas air di instalasi pengolahan limbah selama satu
tahun terakhir ditunjukkan dibawah ini.
8-6
Tabel 8.2.3
Data Kualiats Air di Instalasi Pengolahan Limbah Sewon
BOD (mg/L)
Tahun
Bulan
2005
Nopember
Desember
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
2006
Rata-Rata
SS (mg/L)
Arus
masuk
171
162
160
149
153
137
163
128
146
118
132
145
Arus
keluar
19
18
19
18
19
17
19
18
19
20
17
16
Rasio
pembersihan
89%
89%
88%
88%
88%
88%
88%
86%
87%
83%
87%
89%
Arus
Masuk
340
315
364
417
330
239
291
-
Arus
Keluar
39
36
26
22
30
27
28
-
Rasio
Pembersihan
89%
89%
93%
95%
91%
89%
90%
-
147
18
87%
328
30
91%
(3) Tingkat Arus Masuk
Walau target awal yang direncanakan di tahun 2002 telah dicapai, aliran masuk air limbah ke
instalasi pengolahan limbah adalah 9.000 m3/hari, jauh lebih rendah daripada yang
direncanakan yaitu 15.500 m3 / hari.
Hal ini mungkin karena rasio sambungan untuk tiap
rumah dan kantor di wilayah pengolahan limbah masih rendah meskipun saluran limbah cabang
sudah dipasang.
Pada saat ini, target tahun yang direncanakan direvisi menjadi tahun 2012.
Ada kecenderungan bahwa di musim hujan, aliran masuk ke instalasi pengolahan limbah
meningkat, dan di musim kemarau menurun. Ini mungkin disebabkan oleh sambungan yang
tidak benar pada saluran air hujan, drainase atap dan / atau perembesan air tanah ke pipa yang
rusak ketika permukaan air tanah menjadi tinggi.
Ada kecenderungan pada waktu musim hujan, aliran masuk ke instalasi pengolahan limbah
meningkat dan pada musim kemarau menurun.
Hal ini diperkirakan karena kerusakan pada
sambungan saluran semburan (storm drain), roof drainage dan/atau perembesan air tanah dari
pipa yang rusak pada waktu tingkat air tanah meninggi.
Oleh karena gempa bumi yang lalu, kuantitas aliran masuk pada bulan Mei 2006 menurun ke
rasio 50% sampai 70% bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2004.
Aliran masuk
ke instalasi pengolahan limbah di tahun 2004 ditunjukkan di Tabel 8.2.4. dan Gambar 8.2.2.
8-7
Tabel 8.2.4
Data Aliran Masuk Instalasi Pengolahan Air Limbah Sewon (2004-2006)
Aliran Masuk (m3/hari)
Bulan
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
2004
2005
2006
10,381
11,709
11,518
10,227
9,913
9,068
8,766
8,043
7,739
7,721
8,009
9,127
9,899
11,324
11,353
11,856
8,162
6,642
7,686
7,290
9,787
6,399
5,290
7,575
8,640
9,351
9,096
11,788
10,708
7,686
6,608
5,177
4,028
4,758
-
Rasio
Rasio
Rasio
(2005/2004)
(2006/2005)
(2006/2004)
95.4%
96.7%
98.6%
115.9%
82.3%
73.3%
87.7%
90.6%
126.5%
82.9%
66.1%
83.0%
87.3%
82.6%
80.1%
99.4%
131.2%
115.7%
86.0%
71.0%
41.2%
74.4%
-
Keterangan
83.2%
79.9%
79.0%
115.3%
108.0% Pengukuran tidak dilakukan dalam 4 hari
84.8% Pengukuran tidak dilakukan dalam 10 hari
75.4%
64.4%
52.0%
61.6%
-
*) Gempa bumi terjadi pada bulan Mei 2006
14,000
12,000
Inflow
(m3/day)
10,000
8,000
6,000
4,000
2,000
2004
Gambar 8.2.2
8.2.4
2005
2006
Data Aliran Masuk Instalasi Pengolahan Limbah Sewon (2004-2006)
Operasional dan Pemeliharaan Fasilitas Pembuangan Limbah
(1) Saluran Limbah
Inspeksi, pembersihan, dan pembangunan saluran limbah di Kota Yogyakarta dilakukan oleh 49
orang dari Seksi Pemulihan Lingkungan dan Pengelolaan Limbah Cair di Departemen
Lingkungan Hidup (DLH). Bagian ini juga melakukan kontrol pemeliharaan untuk instalasi
masyarakat dan fasilitas sanitasi di Kota Yogyakarta. Bagan Organisasi DLH ditunjukkan di
bawah ini.
8-8
Oct
Sep
Jul
Aug
Jun
Apr
May
Mar
Jan
Feb
Dec
Oct
Nov
Sep
Jul
Aug
Jun
Apr
May
Mar
Jan
Feb
Dec
Oct
Nov
Sep
Jul
Aug
Jun
Apr
May
Mar
Jan
Feb
0
KEPALA
HEAD
KELOMPOK JABATAN
GROUP OF FUNCTIONAL
OCCUPATION
BAGIAN TATA USAHA
DPT. OF ADMINISTRATION
SUB BAGIAN UMUM
SUB GENERAL PART
BAGIAN TATA USAHA
DPT. OF ADMINISTRATION
BIDANG PENGELOLAAN
LINGKUNGAN
ENVIRONMENTAL
MANAGEMENT SECTION
BIDANG ALAT PER BEKALAN,
DAN RETR
EQUIPMENT, SUPPLY,
REHABILITATION SECTION
BIDANG PERTAMANAN DAN
PERINDANG JALAN
ROAD GARDENING &
LEAFINESS SECTION
BIDANG KEBERSIHAN
CLEANING SECTION
SEKSI PENGAWASAN DAN
PENGENGENDALIAN
LINGKUNGAN
ENVIRONMENTAL
SUPERVISION & CONTROL
SECTION
SEKSI ALAT DAN
PERBEKALAN
EQUIPMENT & SUPPLY
SECTION
SEKSI PERTAMANAN
GARDENING SECTION
SEKSI PEMBERSIHAN
CLEANING SECTION
SEKSI PEMULIHAN
RETOVERY SECTION
SEKSI PERINDANG JALAN
ROAD LEAFINESS SECTION
SEKSI PENGANGKUTAN
TRANSPORTATION SECTION
SEKSI PEMULIHAN
LINGKUNGAN DAN PENGFLL
AIR LIMBAH
ENVIRONMENTAL
RECOVERY & WASTEWATER
MANAGEMENT SECTION
UNIT PELAKSANA TEKNIS
: Bertanggungjawab atas O&P Saluran Limbah, Instalasi Masyarakat & Fasilitas S
Gambar 8.2.3
Bagan Organisasi DLH
(2) Instalasi Pengolahan Limbah
Manajemen dan pemeliharaan instalasi pengolahan limbah Sewon dilakukan oleh Unit
Pengelola Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Dinas Kimpraswil Propinsi DI Yogyakarta,
yang merupakan organisasi yang secara langsung berada di bawah kendali Pemerintah Daerah
Istimewa Yogyakarta.
Jumlah Staf pada Instalasi Pengolahan Limbah
•
Siang Hari
•
Malam Hari : 2 orang
: 29 orang
Bagan Organisasi di Instalasi Pengolahan Limbah di Sewon ditunjukkan berikut ini.
8-9
KEPALA DINAS KIMPRASWIL
PROPINSI DIY
HEAD OF SERVICE DEPARTMENT
OF KIMPRASWIL DIY PROVINCE
KAPALA BIDANG CIPTA KARYA
DINAS KIMPRASWIL PROPINSI DIY
HEAD OF CIPTA KARYA
KIMPRASWIL DIY PROVINCE
PENGAWAS ADMINISTRASI KEUANGAN
FINANCIAL & ADMINISTRATION
CONTROL
PELAKSANA KEGIATAN
IMPLEMENTATION SECTION
PEMEGANG KAS UNIT IPAL
CASH MANAGEMENT OF SEWAGE
TREATMENT PLANT
KEPALA UNIT IPAL
CHIEF OF SEWAGE
TREATMENT PLANT
< IPAL >
<SEWAGE TREATMENT PLANT>
(1 person)
Unit Pengelola Instalasi Pengolah Air
Limbah (IPAL) Dinas Kimpraswil
Propinsi DIY
KEPALA ADMINISTRASI UMUM
CHIEF OF GENERAL
(7 persons)
ADMINISTRATION
Total Staff: 29
URUSAN
RUMAH TANGGA
HOUSEHOLD SECTION
URUSAN KEUANGAN
FINANCIAL SECTION
(4 persons)
(2 persons)
KOORDINATOR PENGAWAS
O&P
O&M CONTROL SECTION
PENGAWAS O&P
JARINGAN PIPA INDUK
CONTROL OF TRUNK SEWER O&M
PEMELIHARAAN KOLAM,
GEDUNG & TAMAN
TREATMENT OF POND,
BUILDING & GARDEN
(2 persons)
(3 persons)
8.2.5
PENGAWAS LABORATORIUM
LABOR CONTROL
(1 person)
PEMELIHARAAN JARINGAN PIPA
INDUK & PENGGELONTOR
TREATMENT OF TRUNK SEWER &
WASHING PIPE
Gambar 8.2.4
(1 person)
PEMELIHARAAN PERALATAN
& MEKANIK
TREATMENT OF
MECHANICAL & ELECTRICAL
EQUIPMENT
(3 persons)
(1 persons)
TEKNISI LABORATORIUM
LABOR STAFF
(4 persons)
Bagan Organisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah Sewon
Situasi Keuangan
Manajemen dan pemeliharaan dilaksanakan dengan subsidi dari Kotamadya Yogyakarta,
Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan DIY karena saluran limbah dan instalasi pengolahan
limbah tidak dapat dikelola hanya dengan pendapatan dari tarif sambungan saluran limbah
seperti yang ditunjukkan di tabel berikut.
Oleh karena di tahun 2003 dan 2004 berada di posisi
merah, maka biaya beban DIY meningkat terhitung dari tahun 2005.
8 - 10
Tabel 8.2.5
Neraca Sistem Pembuangan Limbah
Juta Rp/tahun
Item
Pengelua
ran
1
2
2002
2003
2004
2005
2006
Jaringan Pembuangan
Limbah
167,3
217,2
179,6
150.4
diketahu
Instalasi Pengolahan
Limbah
462,5
572,5
703,8
705.0
710.7
629.8
789,7
883,4
855,4
710.7
83,5
85,0
93,2
90.9
Total Pengeluaran O&P
Pemasu
kan
Reference
Tidak
i
Tahun 2006 adalah tahun
perkiraan
Tidak
1
Pendapatan
diketah Penetapan
Tarip
ui
2
Sumber:
8.2.6
Subsidi
Kota Yogyakarta
125,0
125,0
125,0
125,0
125,0
Sleman
10,0
10,0
10,0
10,0
10,0
Bantul
10,0
10,0
10,0
10,0
10,0
Kota Yogyakarta
462,5
462,5
558,8
650,0
710,0
Total Pemasukan
691,0
692,5
797,0
885,9
855.0
Saldo
61,2
-97,2
-86,4
30,5
-
- DLH
- Laporan Akhir, Garis Besar Strategi Manajemen Limbah Cair di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, Juli
2006, USAID
- Dokumen Mini Workshop "Kerjasama Pengembangan Jaringan Peppipaan Air Limbah Perkotaan
Yogyakarta"
Tarif Saluran Limbah
Tarif saluran limbah yang ditetapkan oleh DLH ditunjukkan pada Tabel 8.2.6., dan
pengumpulan tarif dilakukan oleh DLH dengan pembuangan limbah dihitung terpisah dari tarif
air. Ada rencana dimasa mendatang untuk menaikkan tarif pembuangan limbah dan menagih
tarif pembuangan limbah bersama dengan tarif air.
8 - 11
Tabel 8.2.6
No.
Jenis
Daftar Tarif
Biaya
Pemeliharaan
(Rp)
Klasifikasi
Biaya Perijinan pada
Biaya
saat pendaftaran saja
Pengelolaan (Rp)
(Rp)
<Rumah Tangga>
1
K1
1-5 orang
500
500
2.000
2
K2
6-10 orang
1.000
500
2.500
3
K3
11-20 orang
2.000
500
3.000
4
K4
21-50 orang
4.000
500
3.500
5
K5
8.000
500
4.000
3.000
500
2.500
6.000
500
5.000
12.000
500
7.500
Lebih dari 50 orang
<Non-Rumah Tangga>
1
P1
Modal 25,000,000
kurang
2
P2
Modal kurang dari 50,000,000
Rp
3
P3
Modal 50,000,000 Rp atau lebih
8.3
8.3.1
Rp
atau
Instalasi Masyarakat
Garis Besar Instalasi Masyarakat yang Sudah Ada
Saat ini, fasilitas instalasi masyarakat telah dioperasikan di 39 tempat di Yogyakarta. Di
Kabupaten Sleman, walau saat ini sedang dibangun dua fasilitas, tidak ada instalasi yang sudah
beroperasi. Tidak ada instalasi masyarakat yang sudah beroperasi maupu yang direncanakan
akan beroperasi di Kabupaten Bantul.
8.3.2
Instalasi Masyarakat di Kotamadya Yogyakarta
39 instalasi masyarakat di Kota Yogyakarta yang berada di luar area pembuangan limbah di
bantaran sungai mengoperasikan pengolahan limbah cair di tiap masyarakat untuk 1.994
rumahtangga dan untuk sekitar 6.000 orang. Instalasi-instalasi masyarakat ini terdiri dari 35
sampai 70 rumah tangga yang investasinya dan pembangunannya dilakukan oleh Kotamadya
Yogyakarta dan masyarakat setempat sejak tahun 2000.
Pembagiannya adalah 75% oleh
Kotamadya, dan 25% untuk tiap masyarakat.
Lokasi dan Garis Besar instalasi masyarakat ditunjukkan di bawah ini.
8 - 12
Winingo River
Code River
Gajah Wong River
1. RT41 RW09
2. RT10 RW03
2. RT25 RW06
1. RT20 RW08
3. RT37 RW08
9. RT 19 RW03
12. RT06 RW02
14. RT07 RW03
3. RT09 RW03
4. Kel. Suryatmajan
4. RT78 RW22
1. RT53 RW06
5. Kel. Suryatmajan
6. RT12 RW02
2. RT52 RW05
3. RT45 RW06
7. RT12 RW06
5. RT 12 RW03
6. RT46 RW10
4. RT45 RW06
18. RT1-6 RW01
15. Terminal
Notoprajan
8. RT47 RW10
8. RT1 RW04
7. RT13 RW02
5. RT34 RW08
16. RT45 RW10
9. RT15 RW08
13. RT06 RW02
7. RT17 RW06
17. RT09 RW08
10. RT42 RW09
6. RT45 RW08
11. RT13 RW02
8. RT14 RW06
9. RT57 RW13
10. RT28 RW18
10. RT17 RW06
11. RT32 RW11
Gambar 8.3.1
Lokasi Fasilitas Instalasi Masyarakat di Kotamadya Yogyakarta
8 - 13
Tabel 8.3.1
No.
Item No.
Kecamatan
Garis Besar Fasilitas Instalasi Masyarakat
Kelurahan
Rumah
Unit
Tangga
Populasi
(2.95
per/rumah )
Sungai
Metode
Pembuang
Pengolahan
an
Tahun
Pembuatan
<Area SUNGAI WINONGO >
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
RT 41
RT 10
RT 09
RT 78
RT 12
RT 46
RT 13
RT 47
RT19
RT 42
RT 13
RT 06
RT 06
RT 07
Terminal
RW 09
RW 03
RW 03
RW 22
RW 03
RW 10
RW 02
RW 10
RW 03
RW 09
RW 02
RW 02
RW 02
RW03
Tegalrejo
Tegalrejo
Tegalrejo
Gedongtengen
Wirobrajan
Wirobrajan
Ngampilan
Wirobrajan
Jetis
Wirobrajan
Mantrijeron
Tegalrejo
Ngampilan
Jetis
Ngampilan
Kricak
Bener
Tegalrejo
Pringgokusumo
Pakuncen
Pakuncen
Notoprajan
Patangpuluhan
Bumijo
Wirobrajan
Gedongkiwo
Tegalrejo
Ngampilan
Bumijo
Notoprajan
45
50
50
65
45
45
50
65
50
60
65
45
45
50
35
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
133
148
148
192
133
133
148
192
148
177
192
133
133
148
103
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
Winongo
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2004
2002
16
RT 45
RW 10
Wirobrajan
Patangpuluhan
55
1
162
Tipe-1
Winongo
2004
17 RT 09
18 RT 1-6
RW 08
RW 01
Wirobrajan
Ngampilan
Patangpuluhan
Notoprajan
54
116
1
1
159
342
Tipe-1
Tipe-1
Winongo
Winongo
2003
2000
990
18
2,921
45
65
71
35
35
40
54
35
50
40
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
133
192
209
103
103
118
159
103
148
118
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-2
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Code
Code
Code
Code
Code
Code
Code
Code
Code
Code
2005
2005
2005
2004
2004
2005
2005
2005
2005
2005
470
10
1,387
50
50
50
45
50
50
54
35
45
50
55
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
148
148
148
133
148
148
159
103
133
148
162
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-2
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Tipe-1
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
Gajah Wong
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2003
2005
2005
534
11
1,575
39
5,882
Sub-Total
<Aire Sungai CODE >
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
RT 20
RW 08
RT 25
RW 06
RT 37
RW 08
Kel. Suryatmajan
Kel. Suryatmajan
RT 12
RW 02
RT 12
RW 06
RT 14
RW 04
RT 15
RW 08
RT 28
RW 18
Gondokusuman
Jetis
Jetis
Danurejan
Danurejan
Danurejan
Pakualaman
Mergangsan
Gondomanan
Mergangsan
Terban
Cokrodiningratan
Cokrodiningratan
Suryatmajan
Suryatmajan
Suryatmajan
Purwokinanti
Wirogunan
Prawirodirjan
Brontokusuman
Sub-Total
<Area Sungai GAJAH WONG >
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
RT 53
RT 52
RT 45
RT 45
RT 34
RT 45
RT 17
RT 14
RT 57
RT 17
RT 32
RW 06
RW 05
RW 06
RW 06
RW 08
RW 08
RW 06
RW 06
RW 13
RW 06
RW 11
Sub-Total
Total
Umbulharjo
Umbulharjo
Umbulharjo
Umbulharjo
Umbulharjo
Umbulharjo
Kotagede
Kotagede
Kotagede
Umbulharjo
Umbulharjo
Muja Muju
Muja Muju
Muja muju
Muja Muju
Waruingboto
Pandeyan
Prenggan
Prenggan
Prenggan
Giwangan
Giwangan
1,994
Catatan;
(1) Populasi dikalkulasi denagn asumsi
2.95 orang / rumah
(2) Metode Pengolahan
Tipe-1: Baffle Reactor + Anaerobic Filter
Tipe-2: Digester + Baffle Reactor + Anaerobic Filter
8 - 14
Ada dua tipe instalasi pengolahan di masyarakat. Yang pertama adalah sistem yang mengolah
limbah cair dari septic tank dan air keruh (cucian, dapur, mandi, dsb.) dengan Baffle Reactor
dan Anaerobic Filter (TIPE-1).
Satunya lagi adalah sistem yang mencampur limbah cair dan
air keruh yang diolah dengan Baffle Reactor dan Anaerobic Filter setelah mengolah air toilet
dengan Digester (TIPE-2).
Metode pengolahan dipilih berdasarkan pada biaya konstruksi
fasilitas dan wilayah pada tiap-tiap masyarakat. Diagram aliran pengolahan, gambar standar
konstruksi dan foto lokasi instalasi ditunjukkan di bawah ini.
TYPE -1: Septic Tank Water flows inlet to Baffle Reactor
House
Landry
Kitchen
Shower
Toilet
Septic Tank
Discharge
Pit
Anaerobic
Filter
Baffle Reactor
To River
TYPE -2: Toilet Wastewater flows into Digester
House
Toilet
Landry
Kitchen
Shower
Reuse
(Methane Gas)
Discharge
Digester
Gambar 8.3.2
PVC 4”
Anaerobic
Filter
Baffle Reactor
To River
Tipe Aliran Pengolahan Instalasi Masyarakat
Plat penyaring 5 cm
A
B
A-A’
15
40
15
Inlet
25
85
40
15
Outlet
200
40
Dinding bata 1:4
95
20
10
65
5
20
10 5
1853
200
200
80
24
24
24
200
24
80
80
15
15
80
80
15
15
A’
80
15
160
80
24
15
160
24
100
24
15
B’
B-B’
15
40
Outlet
200
24
E
D
C
B
A
250
Inlet
24
10
1853
200
200
24
24
200
24
Gambar 8.3.3
80
24
80
80
15
15
80
15
80
15
80
15
160
15
80
24
160
24
100
24
15
Struktur Standar Instalasi Masayrakat (Tipe-1)
8 - 15
20
10 5
2 - 2’
3 - 3’
24
24
1853
24
200
15
15
200
80
80
15
15
15
80
80
C
C
80
24
15
80
160
24
24
80
15
160
175
24
15
D
B
80
15
50
1 - 1’
A
250
24
OutLet
DENAH IPAL SISTEM DEWANTS
Filter Material AF
Shaft Penguras O 40 cm
Plat Penyaring 5 cm
Balok 15:25
D
Man Hole
Lubang Gas O 2”
Pipa PVC O 4”
118
70
Ring Balok 15/25
Pas. Ba ta 1:4
10
A
In D2
40
280
10
88 98
15
40
C
C
95
B
52 89
10
7
10
45
200
Dg
5
25
35
20
R200
15
5
10
40
40
200
24
200
24
80
24
80
80
15
15
80
15
80
15
80
15
160
80
24
15
160
175
24
24
15
POTONGAN 1-1”
1853
Shaft Penguras O 40cm
Filter Material AF
Plat Penyaring 5 cm
Balok 15/25
Ring Balk
Man Hole
Pipa PVC O 4”
10
40
10
40
40
280
Dinding Bata 1:4
Plat Lantai 15 cm
Lantai Kerja 5 cm
Pasir Urug 10 cm
200
280
95
Dinding Bata 1:4
Plat Lantai 15 cm
Lantai Kerja 5 cm
Pasir Urug 10 cm
5
35
35
20
10 5
15
10 5
250
24
24
POTONGAN 2 - 2
290
250
24
24
POTONGAN 3 - 3
290
Gambar 8.3.4
Struktur Standar Instalasi Masyarakat (Tipe-2)
TIPE-2
TIPE-1
Foto 8.3.1
8.3.3
Instalasi Masyarakat di Yogyakarta
Operasi dan Pemeliharaan Instalasi Masyarakat
Perwakilan masing-masing masyarakat memiliki tanggungjawab untuk mengoperasikan dan
memelihara serta mengumpulkan pembayaran. Seksi Pemulihan Lingkungan & Manajemen
Pengelolaan Limbah Cair di DLH yang merupakan departemen yang sama dengan Operasi dan
Pemeliharaan melakukan seluruh pengelolaan masing-masing instalasi masyarakat.
8 - 16
8.3.4
Pengumpulan Tarif
Perwakilan tiap masyarakat mengumpulkan pembayaran tarif, mulai Rp.1.000 sampai Rp.1.500/
rumah/bulan secara seragam setiap bulan tanpa memperhitungkan aliran pembuangan limbah
untuk membiayai biaya operasi dan pemeliharaan fasilitas itu serta membayar biaya operasional
representatif.
8.3.5
Instalasi Masyarakat di Sleman dan Kabupaten Bantul
Terdapat dua instalasi masyarakat di kabupaten Sleman, satu untuk skema perumahan dan
satunya lagi untuk lingkungan industri, dan saat ini sedang dibangun:.
•
Skema instalasi masyarakat untuk perumahan
Instalasi masyarakat untuk 90 rumahtangga di kecamatan Ngaglik saat ini sedang
dibangun, sudah mencapai 70% sampai 80% pembangunannya dan diharapkan mulai
beroperasi di tahun 2007.
•
Instalasi Masyarakat untuk lingkungan industri
Instalasi masyarakat untuk lingkungan industri saat ini sedang dibangun di kecamatan
Seyegan.
8.4
8.4.1
Fasilitas Sanitasi
Garis Besar Fasilitas-Fasilitas Sanitasi yang Sudah Ada
Sebagai pengolahan ‘di-tempat’,
septic tank + leaching pit atau pit latrine, dibangun di
Kotamadya Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul . Tingkat pemasangan septic
tank + leaching pit untuk pengolahan individu adalah tinggi di kotamadya Yogyakarta dan
kabupaten Sleman. Namun, di Kabupaten Bantul, bahwa kotoran manusia yang tersimpan di pit
latrine kemudian dibuang ke sungai atau meresap ke bawah tanah tanpa pengolahan.
8.4.2
Tipe Fasilitas Sanitasi
(1) Klasifikasi Sistem Sanitasi
Air toilet dibuang dari rumah ke saluran pembuangan limbah dan area instalasi masyarakat
diklasifikasikan menjadi dua kasus. Yang pertama, pengolahan ditempat, dilakukan seperti yang
8 - 17
ditunjukkan di bawah ini, dan satunya lagi langsung dibuang ke sungai atau peresapan kedalam
tanah tanpa pengolahan.
Kasus 1
Pengolahan Di-Tempat
Perembesan bawah tanah dari Leaching Pit setelah diolah di Septic Tank
Kasus 1: Toilet→Septic Tank →Leakage Pit →
Perembesan
Sludge
Removal
Toilet
Leckage Pit
Septic Tank
Perembesan ke bawah tanah
Kasus 2
Pembuangan tanpa Pengolahan
KASUS 2-1: Air toilet diresapkan ke dalam tanah tanpa pengolahan setelah sebelumnya
tersimpan di Pit Latrine.
KASUS 2-2: Air toilet langsung dibuang ke sungai. Tipe ini diterapkan hampir di semua rumah
dekat sungai
KASUS 2-3: Air toilet dikirim ke pipa pembuangan limbah. Tapi air itu tidak diolah dan
kemudian dibuang ke sungai dan lain-lain, karena pipa pembuangan limbah tidak
tersambung ke instalasi pengolahan limbah.
KASUS 2-1: Pit Latrine →
Perembesan
Toilet
KASUS 2-2: Toilet → Pembuangan ke
Sungai/Kanal
Pembuangan
Endapan
Toilet
Sungai
Kanal
Pit
Latrine
Pembuangan ke
Sungai/kanal
Perembesan ke dalam tanah
8 - 18
KASUS 2-3: Toilet→Saluran Limbah →Pembuangan ke
Sungai/Kanal
Toilet
Pembuangan ke
Sungai/kanal
sungai
kanal
SaluranLimbah
Karena lapisan dangkal tanah terdiri dari pasir dan kerikil dan permukaan air tanah juga rendah
di Kotamadya Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul, maka limbah cair olahan
dari sebagian besar Septic Tank merembes ke dalam tanah. Namun, limbah cair olahan dari
Septic Tank yang dipasang di rumah di sepanjang bantaran sungai, banyak terjadi langsung
dibuang ke sungai sehingga menyebabkan pencemaran sungai.
(2) Tipe Septic Tank
Septic tank yang biasa digunakan di Indonesia ditunjukkan dibawah ini.
<Plan>
Gambar 8.4.1
8.4.3
<Section>
Gambar Standar Septic Tank
Pembuangan Endapan Kotoran
Endapan kotoran dari toilet dan septic tank dikumpulkan dan dibuang oleh perusahaan swasta,
yang mengirimkan ke pabrik pupuk, lokasi pembuangan dan instalasi pengolahan limbah Sewon.
Endapan kotoran dari instalasi masyarakat juga dikumpulkan serta dibuang oleh perusahaan
swasta yang mengirimkannya ke pabrik pupuk.
pengolahan limbah Sewon.
8 - 19
Kelebihan kotoran dikirim juga ke instalasi
8.4.4.
Fasilitas Operasional dan Pemeliharaan Sanitasi
(1) Kotamadya Yogyakarta
Seksi Pemulihan Lingkungan dan Pengelolaan Limbah Departemen Lingkungan Hidup (DLH)
yang berada di departemen yang sama dengan Operasi dan Pemeliharaan Limbah, menangani
fasilitas pengelolaan sanitasi.
Pembuangan endapan kotoran septic tank dan pit latrine dari tiap rumah dilakukan sekitar sekali
dalam 5 sampai 6 tahun. DLH memiliki dua mobil sedot berkapasitas 5m3, bertanggung jawab
atas penyedotan endapan kotoran tersebut. Perusahaan-perusahaan swasta di Kotamadya
Yogyakarta juga mengambil endapan kotoran dengan menggunakan sekitar 20 mobil penyedot
yang mereka miliki. Biaya penyedotan endapan kotoran septic tank oleh perusahaan swasta
kira-kira Rp.75.000/m3.
(2) Kabupaten Sleman
Kepala Dinas Kimpraswilhub Kabupatan Sleman menangani pengelolaan fasilitas sanitasi
Kabupaten Sleman. Namun, pembuangan endapan kotoran septic tank dipercayakan kepada
perusahaan swasta dari tiap rumah atau kantor secara langsung.
dibawah ini.
8 - 20
Bagan organisasi ditunjukkan
KEPALA Dinas
HEAD of SERVICE
DEPARTMENT
KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL
FUNCTIONAL OCCUPATION
GROUP
BAGIAN TUTA USAHA
ADMINISTRATION SECTION
SUB-BAGIAN UMUM
SUB-SECTION OF
PUBLIC
BIDANG PERTAMANAN DAN
PEMAKAMAN
SECTION OF GARDENING
CEMETERY
SUB-BAGIAN
KEPEGAWAIAN
SUB-SECTION OF
EMPLOYMENT
BIDANG PRASARANA
WILAYAH
INFRASTRUCTURE SECTION
SEKSI PERTAMANAN
GARDENING SECTION
SEKSI JALAN
ROAD SECTION
SEKSI KEBERSIHAN
CLEANING SECTION
SEKSI JENBATAN
BRIDGE SECTION
SEKSI PEMAKAMAN
CEMETERY SECTION
SEKSI DRAINASE
DRAINAGE SECTION
SUB-BAGIAN
KEUANGAN
SUB-SECTION OF
FINANCIAL
BIDANG PERMUKIMAN
DEVELOPMENT SECTION
SEKSI BANGUNAN
BUILDING SECTION
SEKSI PERUMAHAN
HOUSING SECTION
SEKSI PERIZINAN
LEGAL SECTION
SEKSI PERENCANAAN TATA
BANGUNAN DAN
LINGKUGAN
SECTION OF BUILDING
PLANNING & ENVIRONMENT
UPTD
*) UPTD: Unit Pelaksana Teknis Dinas (Service
Department of Technical Implementation Unit
Gambar 8.4.2
SUB-BAGIAN
PERANCANAAN
SUB-SECTION OF
PLANNING
BIDANG PERHUBUNGNA DAN
SARANA WILAYAH
SECTION OF TRANSPORTATION
& FACILITY
SEKSI LALU LINTAS
TRAFFIC SECTION
SEKSI ANGKUTAN DAN
TERMINAL
SECTION OF TRANSPORT &
TERMINAL
SEKSI TENKIK SARANA DAN
PRASARANA
SECTION OF TECHNICAL
INFRASTRUCTURE &
FACILITY
SEKSI PENERANGAN JALAN
ROAD CONSTRUCTION
SECTION
:Bertanggungjawab atas O&P Fasilitas Sanitasi
Bagan Organisasi Fasilitas Sanitasi di Sleman
Pembuangan endapan kotoran septic tank dan pit latrine dari tiap rumah dilakukan sekali dalam
enam bulan sampai satu tahun di wilayah perkotaan dan 2 sampai 5 tahun di wilayah pedesaan.
KDKK tidak memiliki mobil penyedot. Terdapat sekitar 15 perusahaan swasta di Kabupaten
Sleman, dan mereka bertugas mengambil endapan kotoran tersebut. Biaya pembuangan endapan
kotoran septic tank berbeda pada tiap perusahaan swasta dengan biaya berkisar Rp.75.000/m3.
(3) Kabupaten Bantul
Operasi dan pemeliharaan fasilitas sanitasi di Kabupaten Bantul
Lingkungan Perumahan (SLP) Kabupaten Bantul .
dibawah ini.
8 - 21
dilakukan oleh Seksi
Bagan organisasi SLP ditunjukkan
KEPALA Dinas
HEAD of Service
DEPARTMENT
KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL
FUNCTIONAL OCCUPATION
GROUP
BAGIAN TUTA USAHA
ADMINISTRATION SECTION
SUB-BAGIAN UMUM
SUB-SECTION OF
PUBLIC
SUB-DINAS BINA PROGRAM
SUB-SERVICE DEPARTMENT
OF BINA PROGRAM
SEKSI PROGRAM DAN
ANGGARAN CIPTA KARYA
SECTION OF PROGRAM &
BUDGET OF CIPTA KARYA
SUB-BAGIAN
KEPEGAWAIAN
SUB-SECTION OF
EMPLOYMENT
SUB-BAGIAN
KEUANGAN
SUB-SECTION OF
FINANCIAL
SUB-DINAS CIPTA KARYA
SUB-SERVICE DEPARTMENT
OF CIPTA KARYA
SUB-DINAS BINA MARGA
SUB-SERVICE DEPARTMENT
OF BINA MARGA
SEKSI PERENCANAAN TEKNIS
SECTION OF TECHNICAL
PLANNING
SEKSI PERENCANAAN
TEKNIK
SECTION OF TECHNICAL
PLANNING
SEKSI PROGRAM DAN
ANGGARAN BINA MARGA
SECTION OF PROGRAM &
BUDGET OF BINA MARGA
SEKSI PEMANTAUAN DAN
EVALUASI
SECTION OF CONTROL &
EVALUATION
SEKSI BANGUNAN DAN
GEDUNG
SECTION OF BUILDING
CONSTRUCTION
SEKSI PERUMAHAN DAN
PERMUKIMAN
SECTION OF HOUSING &
DEVELOPMENT
SEKSI PENYEHATAN
LINGKUNGAN
SECTION OF SANITATION &
ENVIRONMENT
UPTD
*) UPTD: Unit Pelaksana Teknis Dinas (Service
Department of Technical Implementation Unit
SEKSI PEMBANGUNAN DAN
PENINGKATAN JALAN
SECTION OF ROAD
DEVELOPMENT &
REINFORCEMENT
SEKSI PEMBANGUNAN DAN
PENGGANTIAN JEMBATAN
SECTION OF BRIDGE
DEPARTMENT & TRANSITION
SEKSI PEMELIHARAAN JALAN
DAN JEMBATAN
SECTION OF BRIDGES &
ROAD MANAGEMENT
SUB-BAGIAN PERALATAN
DEN PERIENGKAPAN
SUB-SECTION OF EQUIPMENT
& TOOLS
SUB-DINAS TATA KOTA DAN
TATA DAERAH
SUB-SERVICE DEPARTMENT
OF CITY & REGIONAL
SEKSI TATA RUANG
SECTION OF GENERAL
SEKSI IZIN MENDERIKAN
BANGUNAN
SECTION OF BUILDING
CONSTRUCTION
SEKSI PENGAWASAN DAN
PENGENDALIAN BANGUNAN
SECTION OF GENERAL
BUILDING O&M
SEKSI PEMANTAUAN DAN
EVALUASI TATA RUANG
SECTION OF GENERAL
CONTROL & EVALUATION
: Bertanggungjawab atas Fasilitas Sanitasi
Gambar 8.4.3
Bagan Organisasi Fasilitas Sanitasi di Bantul
Pembuangan endapan kotoran septic tank dan pit latrine dari tiap rumah dilakukan oleh SLP
kira-kira sekali dalam 5 tahun.
SLP memiliki tiga mobil penyedot dengan kapasitas 2,2m3,
namun, dua dari tiga mobil penyedot itu saat ini rusak dan sedang dalam perbaikan.
Terdapat 3
atau 4 perusahaan swasta di Kabupaten Bantul yang banyak membantu SLP dalam membuang
endapan kotoran tersebut.
Masing-masing perusahaan memungut biaya yang berbeda untuk
pekerjaan pembuangan endapan kotoran septic tank, sekitar Rp.75.000/m3.
8.4.5
Proyek Bantuan Pemulihan Akibat Gempa Bumi
JICA memberikan proyek bantuan pemulihan kesehatan dan air di wilayah yang terkena gempa
bumi, dengan melaksanakan sumur bersama, fasilitas sanitasi dan pembuatan serta pengiriman
8 - 22
air minum untuk kecamatan Pundong, Pleret, Imogiri, Dlingo, Sewon, Prambanan di Kabupaten
Bantul. Dalam proyek ini, 750 jamban umum (Septic Tank dan Leaching Pit menjadi satu)
untuk 15.000 orang dibangun sampai dengan akhir tahun 2006.
UNICEF melakukan pembangunan/perbaikan/instalasi toilet tiap rumah, jamban umum, tempat
mandi umum dan fasilitas sanitasi sekolah, sebagai proyek pemulihan. Rencana tiap fasilitas
dan jumlah instalasi yang ada saat ini ditunjukkan dibawah ini.
Tabel 8.4.1
Kemajuan Pembangunan/Perbaikan Fasilitas Sanitasi oleh UNICEF
Jumlah
Jumlah dudukan toilet
Jumlah kamar
1.855
1.794
1.349
Total yang
Direncanakan
2.827
3.823
1.781
Jumlah
7.178
10.522
Jumlah
Jumlah dudukan toilet
165
531
2.374
729
Fasilitas
Toilet (MCK)
Toilet Umum
Kamar Mandi/Cuci untuk Umum
Jamban
Rumah
Tangga
yang
Dibangun/diperbaiki
Sekolah yang terjangkau oleh Fasilitas sanitasi
Toilet sekolah yang dibangun/diperbaiki
8.5
Total
Unit
Analisa Kualitas Air
8.5.1
Parameter dan Lokasi Survei Kualitas Air
Survei kualitas air untuk sungai-sungai, air tanah termasung mata air dan air keruh pada selokan
dilakukan untuk memahami keadaan sesungguhnya dari kerusakan lingkungan air pada Daerah
Studi.
Analisa tersebut termasuk suhu air, pH, EC, oksigen terlarut, BOD, kandungan bakteri
coliform, dan SS.
Pengambilan contoh pada 20 titik pada Daerah Studi dipilih berdasarkan
diskusi dengan staf counterpart.
Garis besar titik-titik contoh dan tujuan-tujuannya sebagai
berikut :
•
Bagian atas (sebelum aliran masuk ke kotamadya), bagian tengah (pusat kotamadya) dan
bagian bawah (setelah mengalir ke pinggiran kotamadya) untuk tiga sungai yaitu Sungai
Winongo, Sungai Code, Sungai Gajah Wong, yang mengalir melalui Kotamadya
Yogyakarta.
−
<Tujuan>:
Penyelidikan polusi sungai yang terkena pengaruh air toilet, air
olahan septic tank dan air keruh dari dapur/pencucian/kamar mandi dan lain-lain.
di daerah Kotamadya Yogyakarta.
•
Air yang masuk / air olahan di instalasi pengolahan limbah Sewon (kecamatan Sewon,
Kabupaten Bantul)
8 - 23
−
<Tujuan>:
Untuk mengetahui kualitas air yang mengalir kedalam instalasi
pengolahan limbah, dan kualitas air setelah pengolahan, dan untuk mengevaluasi
kinerja instalasi.
•
Dua titik, sebelum dan sesudah pembuangan limbah cair olahan ke Sungai
−
Bedog.
<Tujuan>: Penyelidikan pengaruh pembuangan limbah cair olahan terhadap
sungai Bedog.
•
Limbah cair olahan septic tank dan sumur dangkal. (Ini terletak di area yang sama dan
berdekatan satu sama lain (5 sampai 10m))
−
<Tujuan>:
Penyelidikan pengaruh limbah cair olahan septic tank setelah
perembesan ke tanah terhadap sumur dangkal yang dekat dengan sumber air.
•
Air keruh di Kota Yogyakarta (Sample diambil dari kanal yang terhubung ke sungai in
Kota Yogyakarta)
−
<Tujuan>: Untuk mengetahui kualitas air yang disebabkan oleh dapur /mandi
/pencucian di tiap rumah.
8.5.2
Peraturan Kualitas Air di Sungai
Standar kualitas air dari 3 sungai utama yang mengalir melalui Kotamadya Yogyakarta, yaitu
Sungai Winongo, Sungai Code dan Sungai Gajah Wong termasuk dalam kelompok C dari
Standar Kualitas Air di Badan Air Umum untuk Standar Kualitas Lingkungan (Perikanan dan
peternakan), yang ditunjukkan di Tabel berikut ini. Tidak ada standar untuk BOD di Group C.
Tabel 8.5.1
Standar Kualitas Air pada Badan Air Umum (Kelompok -C, sebagian)
Parameter
8.5.3
unit
Standard Nilai
Suhu
℃
Normal
pH
DO
BOD
mg/L
mg/L
5–9
>3
Tidak disebutkan
Hasil Survei Kualitas Air
Gambar 8.5.1 menunjukkan 22 titik sampling untuk analisa kualitas air dan Tabel 8.5.2
menunjukkan hasil analisa.
8 - 24
Gambar 8.5.1
Lokasi Titik-Titik Sampling untuk Analisa Kualitas Air
Rangkuman hasil-hasilnya sebagai berikut:
•
Bakteri Coliform ditemukan di semua titik kecuali hanya satu sumur dangkal (No.20).
•
Escherichia Coli ditemukan pada semua titik kecuali dua sumur dangkal (No.20, 21).
•
Nilai oksigen terlarut (DO) pada 3 septic tank (No.14, 15, 16) dan juga di sebuah selokan
(No.19) sebesar 1,5mg/L, yang merupakan terendah dari semuanya.
•
Nilai tertinggi Padatan Terapung (SS) adalah 90 mg/L dan ditemukan pada sebuah septic
tank (No.14)
•
Untuk BOD, Nilai di 3 septic tanks (No.14, 15, 16) lebih dari 100mg/L. Tertinggi (162
mg/L) adalah aliran masuk / Inflow di IPAL Sewon (No.10)
•
Nilai pH berkisar dari 7,8 sampai 9,5 (semua titik dalam keadaan alkaline)
8 - 25
Hasil analisa menyatakan sebagai berikut :
•
Konsentrasi BOD dari ketiga sungai menunjukkan kandungan tinggi (5 sampai 33,8 mg/l)
yang berarti bahwa sungai-sungai tersebut telah tercemar, khusunya utuk sungai Code
(BOD standar ditetapkan sebesar 5 mg/l untuk Standar Kualitas Lingkungan Jepang,
Kelas C).
Sebagai tambahan, tingginya kandungan total coliform (43x103 sampai
24x105 MPN/100ml) pada ketiga sungai juga menunjukkan bahwa sunga-sungai itu telah
tercemar.
•
Konsentrasi BOD pada air limbah di instalasi pengolahan limbah Sewon adalah 18 mg/l
(89% dari tingkat pembersihan) merupakan lebih kecil dari tingkat pembersihan
seharusnya (50 mg/l) yang mewakili kinerja operasional yang baik.
•
Konsentrasi BOD pembuangan dari 3 septik tank menunjukkan kandungan yang tinggi
(108,5 sampai 122,7 mg/l).
mg/l.
Konsentrasi BOD dari 3 sumur dalam adalah lebih dari 4
Selanjutnya, total coliform dan E-coli yang terdeteksi pada beberapa sumur dalam
menunjukkan bahwa beberapa sumur dalam tersebut kemungkinan telah tercemar oleh
pembuangan dari septik tank.
8 - 26
Tabel 8.5.2
No.
Type of Sample
01
02
03
04
05
06
07
08
09
Code River
Code River
Code River
Winongo River
Winongo River
Winongo River
Gajah Wang River
Gajah Wang River
Gajah Wang River
Inflow of
IPAL Sewon
Discharge from
IPAL Sewon
10
11
12
Bedog River
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
Bedog River
Septic Tank
Septic Tank
Septic Tank
Ditch
Ditch
Ditch
Shallow Well
Shallow Well
Shallow Well
Address/
Location
Hasil Analisa Kualitas Air
Coordinates
Coliform
Escherichia
Coli
E-coli
Temp.
pH Dissolved Suspended BOD
Electrical
Conductivity
Oxigen
Solid
EC
DO
SS
ms/m
mg/L
mg/L
mg/L
38.0 8.7
6.0
6.0
33.8
39.0 9.0
6.4
13.0
32.5
43.0 8.5
4.7
16.0
30.0
34.0 8.9
5.9
8.0
8.8
39.0 8.6
5.6
11.0
12.5
41.0 8.3
5.9
11.0
25.0
41.0 8.2
6.2
4.0
12.5
40.0 8.8
6.0
10.0
5.0
43.0 8.5
4.8
14.0
11.3
In YY City
After YY City
Before YY City
In YY City
After YY City
Before YY City
In YY City
After YY City
Latitude
(dd'mm'ss's)
S07'45'07'2
S07'48'05'8
S07'50'10'6
S07'44'51'9
S07'48'05'1
S07'50'25'4
S07'45'31'5
S07'48'08'3
S07'50'12'2
MH before STP
S07'51'39'5 E110'20'09'0
>2400000
>2400000
29.0
56.0
8.3
3.8
70.0
162.5
Discharge from STP
S07'51'36'2 E110'19'42'3
460000
150000
31.0
52.0
9.1
6.0
14.0
18.0
S07'51'30'7 E110'19'41'6
>2400000
460000
28.0
35.0
8.9
5.5
22.0
23.8
S07'51'32'8
S07'48'11'2
S07'47'50'9
S07'47'25'2
S07'48'05'8
S07'48'14'7
S07'47'26'4
S07'48'11'2
S07'47'50'9
S07'47'25'2
>2400000
>2400000
>2400000
>2400
>2400000
>2400000
>2400000
0
9000
43
210000
>2400000
>2400000
460
>2400000
>2400000
>2400000
0
0
43
29.0
33.0
29.0
28.0
30.0
31.0
30.0
30.0
29.0
29.0
41.0
80.0
84.0
82.0
54.0
44.0
79.0
58.0
56.0
53.2
8.9
9.4
9.2
9.5
8.7
9.0
8.7
8.7
7.8
8.4
5.0
1.5
1.5
1.5
2.3
4.0
1.5
4.8
4.0
4.3
20.0
90.0
59.0
55.0
51.0
34.0
19.0
8.0
3.0
4.0
26.3
122.7
108.5
116.3
53.8
30.0
71.3
4.8
4.0
4.4
Before YY City
Bedog Riv. before STP
discharge
Bedog Riv. after STP discharge
In YY City
In YY City
In YY City
In YY City
In YY City
In YY City
In YY City
In YY City
In YY City
Longitude
CT
(ddd'mm'ss's MPN/100mL MPN/100mL
E110'22'29'3
93000
43000
E110'22'16'6
>2400000
>2400000
E110'22'31'1
>2400000
>2400000
E110'21'29'1
460000
460000
E110'21'17'0
1100000
1100000
E110'20'55'6
1100000
1100000
E110'24'07'3
2400000
240000
E110'23'52-0
>2400000
460000
E110'23'42'5
240000
240000
E110'19'40'4
E110'22'07'1
E110'22'09'4
E110'21'47'2
E110'22'16'6
E110'22'19'0
E110'22'07'6
E110'22'07'1
E110'22'09'4
E110'21'47'2
8 - 27
T
℃
29.0
32.0
30.0
30.0
32.0
30.0
28.0
30.0
31.0
8.6
8.6.1
Permasalahan Yang Teridentifikasi Dalam Sistem Pembuangan Limbah / Sanitasi
Pembuangan Limbah
(1) Rendahnya Rasio Sambungan Rumah di Kabupaten Sleman
Walau pipa pembuangan limbah terpasang di sebagian Kabupaten Sleman, limbah cair di
wilayah ini tidak diolah di instalasi pengolahan limbah Sewon, karena pipa sambungan rumah
tidak terpasang.
(2) Perluasan Saluran Limbah dan Sambungan Rumah
Walau instalasi pengolahan limbah telah beroperasi selama sepuluh tahun, banyaknya aliran
masuk hanya sekitar 60% dari nilai yang direncanakan. Perlu dipasang tambahan saluran
pembuangan dan pipa sambungan rumah di wilayah pembuangan limbah.
(3) Organisasi Pengoperasian dan Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Limbah
Manajemen operasional instalasi pengolahan limbah telah dilakukan dengan baik. Saat ini, IPAL
telah melaksanakan pengoperasian dan pemeliharaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun,
ini hanya bersifat sementara, sedangkan organisasi tetap, belum diputuskan. Pada saat
pembahasan antara Pemerintah Propinsi Yogyakarta, Kotamadya Yogyakarta, Kabupaten
Sleman dan Kabupaten Bantun, perlu menentukan organisasi pengoperasian dan pemeliharaan
instalasi pengolahan limbah.
8.6.2
Instalasi Masyarakat
Terdapat 39 instalasi masyarakat di Kotamadya Yogyakarta yang saat ini dalam kondisi
beroperasi baik.
Sebagian besar dari instalasi masyarakat telah beroperasi selama kurang dari
3 atau 4 tahun, dan permasalahan belum muncul karena fasilitas / perlengkapannya yang masih
baru
8.6.3
Fasilitas Sanitasi
(1) Rendahnya Tingkat Instalasi Septic Tank di Kabupaten Bantul
Walaupun pit latrine terpasang di hampir semua rumah di Kabupaten Bantul
sebagai fasilitas
sanitasi, tingkat instalasi septic tank sebagai Pengolahan Di-tempat sangat rendah dibandingkan
dengan Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.
8 - 28
(2) Pengaruh bagi Sumur Dangkal
Pengaruh bagi sumur dangkal sangat mengkawatirkan, karena sebagian besar air keluar dari pit
latrine dan air olahan dari septic tank meresap ke dalam tanah.
(3) Permasalahan Organisasi Pengoperasian dan Pemeliharaan
Walau terdapat organisasi yang mengoperasikan dan memelihara fasilitas sanitasi di Kotamadya
Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul , sebagian besar pengerukan endapan
kotoran tidak dilakukan oleh organisasi-organisasi tersebut, karena mereka tidak memiliki
peralatan yang cukup. Karena perusahaan-perusahaan swasta mendapat kepercayaan dari
tiap-tiap rumah untuk mengambil endapan kotoran, organisasi-organisasi itu tidak mengetahui
semua situasi masing-masing fasilitas rumah. Organisasi itu harus mengetahui situasi di wilayah
mereka.
8 - 29
BAB 9
STATUS BULK PROYEK PENYEDIAAN
AIR MINUM YANG SEDANG BERLANGSUNG
BAB 9
9.1
STATUS BULK PROYEK PENYEDIAAN
MINUM YANG SEDANG BERLANGSUNG
AIR
Informasi Umum dan Riwayat Dbot Bulk Proyek Penyediaan Air Minum Dbot
Kebutuhan penyediaan air minum untuk Kartamantul semakin meningkat dari tahun ke tahun,
namun sumberdaya air yang berkesinambungan di wilayah Kartamantul sangat terbatas.
Tiga
PDAM di wilayah Kartamantul mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan air yang
semakin meningkat.
Dalam situasi ini, Pemerintah Propinsi DIY mulai mempertimbangkan kemungkinan transmisi
air dari sumber mata air di kabupaten Magelang sebagai salah satu rencana tindak Program
Penyediaan Air Perkotaan di Yogyakarta.
Pada saat yang sama, Pemerintah Propinsi DIY
menjalin kesepakatan kerja dengan pihak swasta untuk mendesain dan melaksanakan proyek
yang disebut sebagai “DBOT Bulk Proyek Penyediaan Air Minum” (DBOT BWSP).
Riwayat
korespondensi
serta
perjanjian-perjanjian
mengenai
Proyek
DBOT
BWSP
ditunjukkan pada Tabel 9.1.1. Sedangkan pada Figure 9.1.1. ditunjukkan kejadian-kejadian
penting yang berhubungan dengan Proyek DBOT BWSP tersebut.
Thn Bln
Kab. Mangelang
DIY
Investor Swasta (Boustead/CTM)
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
2004
MOU Peny. Air Baku Perkotaan DBOT
Utk Yogyakarta/Sleman/Bantul (2004 / 6/26)
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nov
Permintaan Penggunaan Mata Air di
Kab. Mangelang dari DIY
(2004/11/8)
Des
Perjanjian DBOT ttg. Peny. Air Baku Perkotaan
Utk Yogyakarta/Sleman/Bantul (2005/1/15)
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
2005
Jun
Jul
Agt
Sep
Keputusan utk. Menggunakan air Sungai Progo
(2005/7/23)
Balasan dari Kab. Mangelang,
Prinsipnya tdk. Keberatan utk gunakan
Mata air di Magelang (2005/8/23)
Okt
Nov
Des
Gambar 9.1.1 Kejadian-Kejadian Penting Bulk Proyek Penyediaan Air Minum DBOT
9-1
Tabel 9.1.1
Tanggal
Jenis
Ref. No.
Riwayat Bulk Proyek Penyediaan Air Minum DBOT (1/2)
Dari / Antara
Kepada / Antara
Perihal
Penandatanganan kerjasama antara pemerintah Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, dan Kota
Yogyakarta Nomor : 09/PERJ/BT/2001 Nomor: 07/PK.KDH/2001 Nomor:04/PK/2001 mengenai
Hal-hal Penting Bersama dalam Kesepakatan Pengolahan Air.
2001/1/24
Kesepakatan
Yogya/Sleman/Bantul
2002/10/14
Surat
690/3356
Gubernur DIY
2004/3/24
Surat
690/1076
Gubernur DIY
2004/6/23
Surat
539/08282
Gubernur Jawa Tengah
Gubernur Jawa
Tengah
Gubernur Jawa
Tengah
Gubernur DIY
2004/6/26
Kesepakatan
610/2517
Gubernur DIY
Boustead Singapura
2004/9/24
Rekomendasi
660.1/23/29/RK
KANPEDALDA
Rekomendasi Kelayakan Lingkungan dari Kantor Pengelola Dampak Lingkungan Daerah
(KANPEDALDA), tentang penelitian dan peninjauan lima mata air di Kabupaten Magelang yang
diprakarsai oleh PT CTM sebagai investor
2004/10/8
Keputusan
41/TIM/2004
Gubernur DIY
Formasi dari Tim Peneliti dan Pengembangan untuk penyediaan air bersih di Propinsi DIY
2004/11/8
Surat
690/4559
Gubernur DIY
Kabupaten Magelang
Rekomendasi penggunaan sumberdaya air di Kabupaten Magelang
2004/12/31
Surat
143/706/01/2004
Kabupaten Magelang
Gubernur DIY
Permohonan rekomendasi penggunaan sumberdaya air di Kabupaten Magelang (belum bisa
diterbitkan karena menunggu analisa tentang kecukupan volume air, AMDAL & kelestarian)
2005/1/15
Kesepakatan
-
Gubernur DIY
PT CTM
Kesepakatan tentang penyediaan air DBOT untuk kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul
di Propinsi DIY, Kesepakatan DBOT
2005/4/14
Surat
112/ctm-pdam/
IV/05
PT CTM
Gubernur DIY
Usulan pembangunan tempat pengolahan air di Progo untuk pekerjaan-pekerjaan proyek sektor
penyediaan air untuk Yogyakarta, sebagai alternatif sumberdaya air baku dalam penyediaan air
bersih perkotaan di Yogyakarta
2005/5/16
Surat
610/1479
Gubernur DIY
PT CTM
Penelitian tentang sumberdaya air yang diambil dari sungai Progo (persetujuan
melakukan penelitian)
2005/5/30
Surat
116/ctm-pdam/
V/05
PT CTM
Gubernur DIY
Penelitian sumberdaya air baku sungai Progo (antara lain mengenai pemberitahuan untuk
melakukan penelitian skala air sungai Progo serta permintaan Sungai Progo sebagai sumber air
baku)
9-2
Permohonan pelaksanaan kerjasama penyediaan air bersih.
Ijin penggunaan sumberdaya air di Kabupaten Magelang
Ijin penggunaan sumberdaya air di Kabupaten Magelang
Nota Kesepahaman (MOU), DBOT penyediaan air bersih perkotaan untuk Kota Yogyakarta city,
Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul di Propinsi DIY
untuk
Tabel 9.1.1
Tanggal
Jenis
Ref. No.
Riwayat Bulk Proyek Penyediaan Air Minum Project (2/2)
Dari / Antara
Kepada / Antara
2005/7/1
Surat
005/2147
Gubernur DIY
Boustead Singapura
2005/7/23
Surat
690/2341
Gubernur DIY
PT CTM
2005/8/23
2005/8/26
2005/8/30
Surat
Surat
Surat
539/528/05/VII/2005
690/2848
118/ctm-pdam/VIII/05
Kabupaten Magelang
Gubernur DIY
PT CTM
Perihal
Penugasan Staff Sekretariat Gabungan DBOT untuk penyediaan air bersih perkotaan di
Yogyakarta
Penetapan sungai Progo sebagai sumberdaya air baku.
Gubernur DIY
Rekomendasi pengambilan sumberdaya air di Kabupaten Magelang (antara lain
mengenai: hasil perolehan pengamatan volume air, pemerintah daerah Kabupaten
Magelang secara prinsip tidak berkeberatan tentang rencana pengambilan air sebanyak
1.000 liters/detik asalkan pemerintah daerah Magelang Cq. PDAM Kabupaten Magelang
yang mengorganisir pendistribusian air ke wilayah-wilayah perbatasan Kabupaten
Magelang dan DIY)
Yogya/Sleman/Bantul
Tindak lanjut rencana penyediaan air bersih perkotaan di Yogyakarta (antara lain
mengenai proses penyerahan perijinan mata air di Kabupaten Magelang, penetapan
sungai Progo sebagai sumberdaya air baku bagi rencana penyediaan air bersih untuk
Yogyakarta beserta rencana tindaknya)
Gubernur DIY
Sumberdaya air baku dari sungai Progo (antara lain mengenai: penyerahan hasil studi
tentang skala air sungai dan pemberitahuan bahwa investor tidak mampu memenuhi
persyaratan dari pemerintah daerah Kabupaten Magelang untuk membuat Nota
Kesepahaman terpisah untuk proyek yang sama)
9-3
Sebagaimana ditunjukkan di Figure 9.1.1., hal pertama yang dicapai adalah kesepakatan
mengenai Penyediaan Air Bersih Perkotaan untuk kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman serta
kabupaten Bantul pada Juni 2004. Setelah kesepakatan itu, pada November 2004 Pemerintah
DIY meminta penggunaan mata air di Kabupaten Magelang sebagai sumber air untuk proyek
DBOT BWSP.
Oleh karena dibutuhkan waktu sekitar 10 bulan untuk mendapatkan jawaban
dan persetujuan dari kabupaten Magelang pada Agustus 2005,
maka pada bulan Juli 2005
Pemerintah DIY telah memutuskan untuk merubah sumber air tersebut ke Sungai Progo.
Setelah keputusan tentang perubahan sumber air tersebut, maka di tahun 2005 pihak swasta
melakukan studi kelayakan dengan mengganggap sumber air adalah dari sungai Progo.
9.2
Lingkup Bulk Proyek Penyediaan Air Minum
Menurut penjelasan dari DIY, proyek ini akan dilaksanakan sebagai sistem DBOT.
swasta akan melaksanakan pembuatan
pemeliharaan.
Pihak
desain rinci, konstruksi, pengoperasian dan
Setelah periode kesepakatan DBOT tersebut (25 tahun), seluruh fasilitas (aset)
yang dibangun oleh pihak swasta akan dialihkan kepada Pemerintah DIY.
Pihak swasta harus melaksanakan penelitian dan berbagai penilaian lain yang diperlukan untuk
menyelesaikan studi kelayakan sebelum dimulainya proyek konstruksi.
Perjanjian untuk Tahap I dari DBOT BWSP dan definisi tahapan dijelaskan dalam dokumen
kontrak, sebagai berikut :
[Rangkuman Dokumen Kontrak]
Yang dimaksud Tahap I adalah tahap pertama Perjanjian DBOT ini untuk awalnya selama
25 tahun terhitung sejak dimulainya periode DBOT dengan kapasitas minimum
penyediaan
air yang disetujui sebanyak 1.000 liter/detik dan minimum pengambilan
1.000 liter/detik.
Apabila suatau saat ada permintaan
tambahan untuk memenuhi
kebutuhan Air Bersih di area-area proyek selama periode Tahap I, maka penyediaan air
bersih itu harus disediakan oleh Pihak Kedua (Pihak Swasta) pada Tahap 2 untuk periode
25 tahun dengan persyaratan dan ketentuan yang sama berlaku pada Tahap I.
.
Bila suatu saat dikemudian hari ada tambahan permintaan untuk memenuhi kebutuhan Air
Bersih dalam Area Proyek setelah dimulainya periode Tahap 2, maka peyediaan Air Bersih
tersebut harus disediakan oleh Pihak Kedua di Tahap 3 untuk periode 25 tahun dengan
ketentuan dan persyaratan yang sama berlaku pada Periode Tahap 1
.
9-4
Pekerjaan konstruksi utama yang termasuk dalam proyek DBOT BWSP adalah sebagai berikut :
• Konstruksi Pengolahan Air Minum (WTP) dengan kapasitas 1.000/detik pada lokasi 3 km
dari pintu irigasi Karang Talum, dan memerlukan luas lahan sekitar 10 ha.
• Pemasangan pipa transmisi air baku, yang akan disalurkan ke WTP dengan gravitasi dari
kanal Mataram.
• Pemasangan pipa transmisi air yang telah diolah ke tempat penampung air (reservoir)
masing-masing PDAM, air yang diolah dari WTP (GL sekitar 165m) akan disalurkan ke
PDAM Bantul dan Yogyakarta (GL sekitar 145-165m) dengan gravitasi. Untuk PDAM
Sleman, air akan dipompa ke reservoir.
• Pembangunan / perluasan tempat penampungan air (reservoir) untuk masing-masing
PDAM
9.3
Status Proyek Dan Isu-Isu Yang Dihadapi Saat Ini
Menurut Pemerintah Propinsi DIY,
Agustus 2006,
teknik rinci.
EIA tentang BWSP harus telah diselesaikan pada bulan
dan setelah EIA disetujui, maka pihak swasta sudah harus memulai desain
Namun, seperti yang telah dikemukakan di bagian sebelumnya, tidak tampak
adanya kemajuan signifikan dari proyek BWSP ini.
Tersedianya informasi yang rinci dan lengkap adalah prasyarat pembuatan Rencana Induk oleh
Tim Peneliti JICA yang dijadwalkan mulai bekerja di bulan Mei 2007.
Pada Januari 2007, Tim
Peneliti JICA membuat dan menyerahkan kepada pemerintah DIY “Informasi Utama yang
Diperlukan sehubungan dengan DBOT Bulk Proyek Penyediaan Air Minum”, dimana daftar
informasi utama yang diperlukan adalah sebagai berikut :
・Kuantitas Air (l/detik)
yang akan disediakan untuk Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta,
Kabupaten Bantul
Tim Studi JICA akan menghitung kebutuhan air di masa mendatang dan permintaan itu akan
dibandingkan dengan kapasitas yang ada pada saat ini.
Selisih atau kekurangan pasokan harus
dipenuhi dengan DBOT Bulk Proyek Penyediaan Air Minum.
Berdasarkan pada perhitungan jumlah permintaan air di masa yang akan dating, Penelititan akan
menetapkan/mengidentifikasi wilayah pelayanan yang harus dipasok oleh Bulk Proyek
Penyediaan Air Minum.
・Lokasi tepat dimana penampungan air (reservoir) yang akan dibangun di Kabupaten Sleman,
Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul, dan juga informasi mengenai kapasitas
masing-masing, ketinggian tanah, serta Tinggi/Rendah tingkat air.
DBOT Bulk Proyek Penyediaan Air Minum akan mengirimkan air ke masing-masing
9-5
penampung air dan Tim Peneliti JICA akan menyiapkan rencana pengembangan saluran pipa
bagian hilir (downstream) dari masing-masing penampungan air.
Untuk menyiapkan rencana
perpipaan, maka lokasi tepat serta ketinggian tanah, tinggi/rendah tingkat air dari
masing-masing penampungan air sangat diperlukan dalam analisa jaringan saluran pipa
hidrolik.
Kapasitas masing-masing penampung air akan menjadi informasi dasar untuk menilai apakah
penampungan air dapat menyerap lonjakan pemakaian air tiap jam.
・Kualitas air yang akan disediakan
Kualitas air olahan di tempat pengolahan yang akan dibangun oleh Bulk Proyek Penyediaan Air
Minum akan memerlukan dan memperkirakan sisa konsentrasi klorin pada penampungan air
yang juga memerlukan penelitian akan tambahan injeksi klorin pada penampungan air.
・Jadwal pelaksanaan / pembangunan, waktu dimulainya penyediaan air bulk.
Penetapan dimulainya proyek bulk penyediaan air minum akan sangat mempengaruhi
pembuatan rencana induk.
Tanpa kepastian tersebut,
rencana induk penyediaan air akan
sangat sulit dilaksanakan mengingat meningkatnya permintaan air masa mendatang.
・Struktur pelaksanaan proyek bulk penyediaan air minum dan status hukum / kontrak
Dalam Rencana Induk, struktur organisasi dan sistem koordinasi antar ketiga PDAM yang ada
akan dibahas.
Untuk tujuan ini, struktur atau karakteristik badan penyediaan bulk air minum
akan diperlukan bersama dengan status hukum / kontraknya.
・Harga bulk air minum dan persyaratannya
Rencana Induk akan mencakup ramalan serta analisa keuangan.
Harga dan persyaratan bulk
air minum akan mempengaruhi penelitian dan analisa ini.
Perlu diingat bahwa informasi yang disebutkan diatas hanya bagian-bagian utama saja, dan pada
waktu penyusunan Rencana Induk, tambahan informasi yang lebih terperinci akan diperlukan.
Sayangnya semua informasi yang diperlukan seperti disebutkan di atas tidak dapat diberikan /
disediakan oleh pemerintah DIY oleh karena kegagalan dari DBOT Bulk Proyek Penyediaan Air
Minum, seperti yang telah dipaparkan pada Bab 1.
9-6
BAB 10
HASIL SURVEI SOSIAL EKONOMI
BAB 10
10.1
HASIL SURVEI SOSIAL EKONOMI
Metholodogi Survei
Tim Peneliti melakukan angket survei untuk mengetahui kondisi kehidupan penduduk di
wilayah sasaran.
Fokus utamanya adalah masalah penggunaan air dan harapan mereka
terhadap air. Metodologi survei tersebut dijelaskan dibawah ini.
(1) Wilayah-wilayah Sasaran
Wilayah-wilayah sasaran dari survei angket ini adalah kabupaten Bantul, kabupaten Sleman dan
kota Yogyakarta dengan jumlah 60 kelurahan/desa yang dipilih dari 10 kecamatan dari
masing-masing kabupaten/kota sesuai dengan penggolongan perkotaan/pedesaan.
bawah ini menunjukkan kecamatan
Tabel di
dan kelurahan/desa yang dipilih.
Tabel 10.1.1 Daftar Kecamatan dan Kelurahan/Desa Sasaran
01
Kecamatan
Kasihan
BANTUL
Kelurahan/Desa*
02
Sewon
03
Banguntapan
04
Piyungan
05
Pleret
06
Bantul
07
Pundong
08
Bambanglipuro
09
Jetis
10
Sedayu
(2)
Tirtonirmolo
Tamantirto
Pendowoharjo
Bangunharjo
Baturetno
Potorono
Srimartani
Srimulyo
Wonokromo
Bawuran
Bantul
Palbapang
Srihardono
Panjangrejo
Mulyodadi
Sidomulyo
Canden
Sumberagung
Argomulyo
Argodadi
SLEMAN
Kecamatan Kelurahan/Desa*
Mlati
Tirtoadi
Gamping
Sleman
Depok
Ngaglik
Ngemplak
Pakem
Tempel
Kalasan
Turi
Sendangadi
Banyuraden
Balecatur
Trimulyo
Caturharjo
Condong catur
Maguwoharjo
Sinduharjo
Sardonoharjo
Wedomartani
Umbulmartani
Pakembinangun
Hargobinangun
Lumbungrejo
Pondokrejo
Tirtomartani
Purwomartani
Girikerto
Donokerto
YOGYAKARTA
Kecamatan
Kotagede
Gondokusuman
Danurejan
Pakualaman
Wirobrajan
Gedongtengen
Jetis
Tegalrejo
Kraton
Mantrijeron
Kelurahan/Desa*
Prenggan
Rejowinangun
Baciro
Klitren
Suryatmajan
Tegalpanggung
Purwokinanti
Gunungketur
Wirobrajan
Patangpuluhan
Pringgokusuman
Sosromenduran
Bumijo
Cokrodiningratan
Bener
Karangwaru
Patehan
Panembahan
Mantrijeron
Suryodiningratan
Jumlah Sampel
Survei social-ekonomi terdiri dari (i) survei wawancara dengan 60 perwakilan kepala desa dan
/atau orang yang bertanggungjawab dalam pembangunan dan (ii)
survei angket yang
mentargetkan 1200 keluarga individual untuk menganalisa kondisi kehidupan, terutama
penggunaan air.
• Profil Desa
: 60 sampel
10 - 1
•
Informasi Keluarga : 1200 sampel
(3) Metode
Analisa
Hasil dari 60 kasus wawancara digunakan untuk memahami latarbelakang social-ekonomi
penduduk, sedangkan 1200 kasus yang terkumpul diproses dengan analisa statistik sebagai data
kualitatif
10.2
Isi Dari Survei Sosial-Ekonomi
(1) Profil Desa
Format dan profil desa yang dikumpulkan terlampir sebagai
Appendix 10.1.
Isi utama
profil desa disajikan di bawah ini.
• Penduduk dan ukuran lahan
• Aktivitas industi dan pertanian
• Fasilitas umum dan infrastruktur desa seperti sekolah dan pos-pos kesehatan
• Peristiwa dan kejadian khusus di desa, seperti kerusakan akibat gempa bumi.
• Kondisi penyediaan air
(2) Survei Keluarga
Format survei keluarga terlampir pada Appendix 10.2.
Isi survei keluarga disajikan sebagai
berikut.
• Anggota keluarga
• Kondisi ekonomi keluarga
• Pemanfaatan air termasuk volume dan biaya penggunaan
• Reputasi saat ini dan/atau pengakuan sistem penyediaan air oleh sektor umum
• Harapan atas sistem penyediaan air
• Sanitasi dan Kesehatan
10.3
Hasil Survei Sosial-Ekonomi (Profil Desa Dan Survei Keluarga)
Pada bab ini, hasil survey angket atas profil desa dan keluarga dianalisa secara menyeluruh.
Data kuantitatif yang dianalisa menunjukkan keadaan sosial-ekonomi dan pemanfaatan air oleh
penduduk, sedangkan informasi kualitatif menjelaskan informasi pendukung latar belakang.
10.3.1
Profil Desa Sasaran
Lokasi kelurahan/desa yang terpilih ditunjukkan dalam peta di bawah ini.
Seperti yang
diuraikan pada Bab 3, “Kondisi Alam dan Sosial Ekonomi Wilayah Penelitian,” sasaran tiga(3)
kabupaten/kotamadya memiliki karakteristik tersendiri karena struktur topografi dan struktur
10 - 2
industri.
Kotagede
Gondokusuman
Danurejan
Pakualaman
Wirobrajan
Gedongtengen
Jetis
Tegalrejo
Kraton
Mantrijeron
Yogyakarta Municipality
Gambar 10.3.1
Peta Lokasi Kelurahan/Desa Sasaran
10 - 3
Tabel 10.3.1 Rangkuman Profil Kelurahan/Desa Sasaran
Nama
Kecamatan
BANTUL
Kasihan
Sewon
Banguntapan
Piyungan
Pleret
Bantul
Pundong
Bambanglipuro
Jetis
Sedayu
SLEMAN
Mlati
Gamping
Sleman
Depok
Ngaglik
Ngemplak
Pakem
Tempel
Kalasan
Turi
Kelurahan /Desa
Luas
Tanah
(Ha)
Jumlah
Populasi
Keluarga
PDAM
Persentase Penyebaran
Sunga
Sumur
LainPU
i/Kola
Pribadi
Lain
m
Tirtonirmolo
Tamantirto
Pendowoharjo
Bangunharjo
Baturetno
Potorono
Srimartani
Srimulyo
Wonokromo
Bawuran
Bantul
Palbapang
Srihardono
Panjangrejo
Mulyodadi
Sidomulyo
Canden
Sumberagung
Argomulyo
Argodadi
557
578
594
604
1,073
613
767
1,096
2,896
5,469
5,667
1,178
544
1,686
644
691
534
974
291
1,473
18,542
14,887
17,588
18,388
11,142
9,331
11,599
13,850
10,305
5,636
15,074
14,195
12,175
10,254
11,799
14,372
10,316
12,451
13,783
11,165
3,368
3,209
4,509
7,119
2,988
2,157
3,153
4,510
3,900
1,494
4,037
3,790
3,146
3,170
4350
3,567
3,334
3,170
3,137
2,270
0%
5%
10%
10%
10%
0%
15%
10%
0%
0%
40%
10%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
25%
0%
0%
0%
0%
0%
5%
0%
20%
15%
0%
39%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
85%
80%
85%
85%
75%
99%
60%
70%
98%
60%
50%
80%
95%
99%
95%
100%
95%
97%
65%
97%
0%
0%
5%
5%
10%
1%
5%
5%
2%
1%
10%
10%
5%
1%
5%
0%
5%
3%
0%
0%
15%
15%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
10%
3%
Tirtoadi
Sendangadi
Banyuraden
Balecatur
Trimulyo
Caturharjo
Condong Catur
Maguwoharjo
Sinduharjo
849
721
400
931
637
898
1,089
1,419
1,480
8,252
10,769
12,219
15,363
8,234
13,549
33,897
25,930
12,875
2,833
4,126
3,342
3,766
1,938
3,996
8,740
7,877
3,990
10%
25%
10%
0%
1%
4%
90%
74%
86%
Sardonoharjo
9,649
15,351
3,027
10%
0%
0%
30%
10%
30%
1%
5%
15%
0%
0%
2%
0%
0%
85%
85%
100%
70%
88%
70%
89%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
Wedomartani
Umbulmartani
Pakembinangun
Hargobinangun
Lumbungrejo
Pondokrejo
Tirtomartani
Purwomartani
845
216
360
1,658
3,309
363
726
1,117
19,745
7,062
6,082
7,221
6,097
5,318
12,736
30,553
4,882
2,044
1,577
2,414
578
1,432
3,906
7,396
20%
0%
80%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
10
%
0%
10%
20%
15%
0%
0%
0%
5%
10%
20%
85%
70%
65%
10%
90%
0%
100%
0%
100%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
50%
0%
50%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
Girikerto
1,311
8,685
1,366
0%
20%
70%
Donokerto
742
8,984
2,489
2%
12.5%
85.5%
10 - 4
0%
10
%
0%
0%
0%
0%
YOGYA
Kotagede
Gondokusuman
Danurejan
Pakualaman
Wirobrajan
Gedongtengen
Jetis
Tegalrejo
Kraton
Mantrijeron
10.3.2
Prenggan
Rejowinangun
Baciro
Klitren
Suryatmajan
Tegalpanggung
Purwokinanti
Gunung Ketur
Wirobrajan
Patangpuluhan
Prinngokusuman
Sosromenduran
Bumijo
Cokrodiningratan
Bener
Karangwaru
Patehan
Panembahan
Mantrijeron
Suryodiningratan
99
125
106
68
18
35
33
30
67
44
46
50
57
66
58
70
40
66
86
85
11,185
11,820
21,471
17,609
6,783
11,736
8,973
6,022
10,465
5,892
14,582
10,689
13,755
13,130
5,178
11,386
8,251
13,487
12,721
12,490
2,620
2,547
4,402
2,613
1,127
2,936
1,880
949
2,200
1,774
3,424
3,000
2,339
2,522
1,285
2,271
1,796
3,234
2,442
2,380
30%
35%
70%
75%
55%
60%
55%
30%
90%
40%
20%
90%
82%
80%
60%
50%
30%
60%
35%
30%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
20%
0%
0%
0%
0%
70%
65%
30%
25%
45%
40%
45%
70%
10%
60%
80%
10%
18%
20%
35%
30%
70%
40%
65%
70%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
5%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
Profil Sampel Keluarga
Tabel berikut ini menunjukkan jumlah sampel yang diklasifikasikan berdasar klasifikasi
perkotaan/pedesaan.
Tabel 10.3.2 Jumlah Sampel yang Terkumpul Berdasarkan Klasifikasi Kota/Desa
Kota Besar
Bantul
Sleman
Yogyakarta
80
80
Total
Perkotaan
Kota Sedang
40
20
60
120
Kota Kecil
280
280
260
820
Pedesaan
80
100
180
Jumlah anggota keluarga rata-rata adalah 4,5 dan tidak ada perbedaan besar
Total
400
400
400
1,200
antara 2
kabupaten dan 1 kotamadya (selanjutnya disebut 3 wilayah). Gambar 10.3.2 adalah histogram
yang menunjukkan frekuensi distribusi yang diklasifikasikan berdasar ketiga wilayah tersebut.
Ketika standar hidup membaik, ukuran keluarga di wilayah pedesaan pada umumnya cenderung
menurun, dan kecenderungan pindah/migrasi ke Kotamadya Yogyakarta juga cenderung
menurun: 1pada tahun 2005 angka pertumbuhan penduduk kabupaten Bantul adalah terendah,
yaitu sebesar 0,91%,
sedangkan untuk kabupaten Sleman adalah 1,18%, dan kota Yogyakarta
adalah sebesar 5,50%. (lihat Bab 3.2.2)
1
BPS Propinsi
D.I. Yogyakarta, 2005
10 - 5
Frequency
Family
Numof Sample
Bantul
135
n =400
Xbar=4.3
s =1.55
108
81
54
27
0
Sleman
135
n =400
Xbar=4.6
s =1.69
108
81
54
27
0
Yogya
135
n =400
Xbar=4.6
s =1.92
108
81
54
27
0
1.0
2.0
3.0
4.0
5.0
6.0
7.0
8.0
9.0
10.0
11.0
12.0
13.0
14.0
Jumlah Anggota Keluarga
Gambar 10.3.2
Keseluruhan 6.2%
20.4%
Jumlah Anggota Keluarga
17.1%
5.8% 9.3%
41.2%
Putus Sekolah
Yogyakarta 6.0%
16.8%
Sleman 3.8% 14.8%
8.8%
Bantul
0%
21.3%
14.5%
29.8%
20%
Gambar 10.3.3
5.3% 9.0%
41.8%
44.0%
15.5%
40%
7.0%
37.8%
60%
80%
16.0%
SD
SMP
SMA
Diploma I-III
Lebih dari Univ.
5.3%
3.0%
100%
Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga
Gambar 10.3.3 menggambarkan tingkat pendidikan kepala rumah tangga. 41.2% dari
lulusan SMA,
5,8% berpendidikan Diploma I-III dan 9,3% bergelar sarjana.
mereka
Kabupaten
Sleman menunjukkan tingkat pendidikan tertinggi.
Di kabupaten Sleman yang berbatasan dengan kotamadya Yogyakarta, terdapat daerah-daerah
pemukiman kaya, pada Tabel 10.3.3 dan Gambar 10.3.4 ditunjukan tingkat pendidikan serta
pendapatan mereka yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya.
10 - 6
Pendapatan
bulanan rata-rata per-keluarga di kabupaten Sleman adalah Rp.1.706.875.- yang merupakan
tertinggi diantara ketiga wilayah tersebut.
industri skala kecil,
Industri utama
di Bantul adalah pertanian dan
hal ini menjelaskan lebih rendahnya pendapatan rata-rata per-keluarga di
kabupaten ini sebesar Rp.774.999.
Jelas bahwa keluarga yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki pendapatan yang lebih
tinggi.
Namun selain itu,
lokasi keluarga juga mempunyai hubungan dengan tingkat
pendapatan. Dengan memfokuskan pada keragaman tingkat pendapatan, pendapatan di
kabupaten Sleman dapat dikatakan sangat acak, dengan kata lain keluarga yang kaya sangat
mempengaruhi pendapatan rata-rata.
ditunjukkan pada Gambar 10.3.4.
Data
rinci
mengenai
pengeluaran dan pendapatan
Histogram ini menunjukkan struktur standar hidup di tiap
wilayah.
Tabel 10.3.3 Pendapatan Keluarga Berdasar Tingkat Pendidikan (Rp./bulan)
Bantul
Sleman
Yogyakarta
Rata-rata
SD Putus Sekolah
482.374
758.333
682.340
606.521
SD
686.675
998.164
783.761
789.496
SMP
637.500
1.299.080
1.005.800
980.737
SMA
822.546
1.758.210
1.268.714
1.311.857
Diploma I-III
1.373.111
2.372.321
1.700.198
1.870.921
Universitas
1.495.833
2.519.792
1.810.824
2.182.199
774.999
1.706.875
1.167.369
1.220.963
Rata-Rata
Frequency
Frequency
Bantul
125
100
75
100
75
50
50
25
25
0
75
100
75
50
25
25
0
n =400
Xbar=1706875.0
s =1683104.72
0
Yogya
125
75
Sleman
125
n =400
Xbar=1066273.0
s =806158.26
50
100
n =389
Xbar=773006.8
s =534578.85
0
Sleman
125
100
Bantul
125
n =399
Xbar=662485.0
s =395254.18
n =400
Xbar=967438.0
s =569967.23
100
75
50
50
25
25
0
0.0 600000.0 1400000.0 2200000.0 3000000.0 3800000.0
Pengeluaran (Rp/month)
Gambar 10.3.4
Yogya
125
n =399
Xbar=1164443.2
s =870760.55
0
0.0 600000.0 1400000.0 2200000.0 3000000.0 3800000.0
Pendapatan(Rp/month)
Pengeluaran dan Pendapatan Keluarga (Rp./bulan)
10 - 7
BPS Statistik Propinsi D.I. Yogyakarta tidak pernah melakukan penelitian mengenai pendapatan
perkeluarga karena penduduk setempat tidak ingin mengungkapkan pendapatan mereka
sebenarnya.
Oleh karena itu, untuk memastikan hal tersebut meskipun metodologi survei
berbeda dan data terakhir yang didapatkan adalah data tahun 2005, maka Tim Peneliti JICA
membandingkan pengeluaran rata-rata per-kapita dengan apa yang diteliti oleh BPS, dan
ditunjukkan pada Gambar 3.2.6 di Bab 3.
Sesuai dengan Survei Sosial-Ekonomi di tahun 2006 yang dilakukan oleh Tim Peneliti JICA,
pengeluaran rata-rata perbulan per-kapita adalah Rp.216.847 terbagi atas Rp.124.143 (57%)
untuk makanan dan sebesar Rp.92.704 (43%) untuk bukan-makanan, sedangkan hasil survei
BPS mengenai rata-rata propinsi di tahun 2005 adalah Rp.337.747 yang terbagi atas Rp.145.352
(43%) untuk makanan dan Rp.192.365 (57%) untuk bukan-makanan.
Terdapat penurunan atas
pengeluaran sebesar 35,8% dan perbandingan antara makanan dan bukan-makanan adalah
terbalik.
Pengeluaran rata-rata di tahun 2006 menurun ke tingkat sama seperti yang terlihat
diantara tahun 2001 dan 2002.
Oleh karena metode survei berbeda untuk tahun 2005 dan 2006,
maka sulit untuk menganalisa kecenderungan konstan, namun bencana alam di tahun 2006
mempunyai dampak terhadap kegiatan kehidupan ekonomi sehari-hari dan salah satu penyebab
menurunnya pengeluaran secara drastis.
Dalam hal pengeluran dan pendapatan atas kabupaten dan kota, tidak ada informasi akurat untuk
dibandingkan.
Pendekatan yang dilakukan oleh BPS dirancang untuk menentukan
pengeluaran propinsi dan tidak merupakan pengeluaran kabupaten,
(sample) hanya cocok untuk maksud tersebut. Selain itu,
jadi jumlah contoh
data pengeluaran regional yang
disurvei oleh Tim Peneliti JICA tidak dikumpulkan dengan sample acak ketat.
jelas yang dapat dikumpulkan adalah a)
terendah;
Kesimpulan
pengeluaran di kabupaten Bantul adalah yang
b) pengeluaran di kabupaten Sleman dan kota Yogyakarta hampir sama, pada tahun
sebelumnya kota Yogyakarta sedikit lebih tinggi;
yang tertera di atas tidak diperoleh secara sensus.
dan
c) pendapatan rata-rata kabupaten
Penurunan pengeluaran di kota Yogyakarta
pada tahun 2006 kemungkinan disebabkan oleh gempa bumi.
Gambar 10.3.5 mengilustrasikan tingkat penyebaran aset-aset utama.
televisi dan 84% memiliki radio.
responden memiliki sepeda motor.
Pada saat ini,
95% keluarga memiliki
87% keluarga mempunyai seterika dan 79%
81% responden mejawab bahwa mereka memiliki sumur
sendiri di rumah mereka.
10 - 8
Radio
Televisi
Kipas Angin
Seterika
Mesin Cuci
Lemari Es
Kompuer
Telepon
Telepon Genggam
Sepeda Motor
Mobil (Sedan/Pickup)
Truk / Traktor
Sumur ( keperluan sehari-hari)
Sumur(utk irigasi)
Water pump for well
Pompa Air untuk air pipa
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
Gambar 10.3.5 Tingkat Penyebaran Aset-Aset Utama
Tabel 10.3.4 menunjukkan jumlah responden yang diklasifikasikan berdasarkan keanggotaan
dalam Sistem Penyediaan Air, yang terdiri dari PDAM,
Sistem penyediaan air masyarakat dari
PU dan lain-lain. Sebanyak 267 responden dari 1.200 (22,3%) adalah pelanggan of PDAM dan
sebagian besar diantara mereka adalah penduduk kotamadya Yogyakarta.
Dan 54 responden
dari 1.200v (4,5%) adalah pengguna Sistem penyediaan air masyarakat dari PU. Sedangkan
sebanyak 850 responden (70,8%) menggunakan sistem-sistem lainnya, seperti sumur pribadi,
mata air dan/atau pasokan air dengan gravitasi pribadi.
Tabel 10.3.4 Sistem Penyediaan Air dari Responden
Wilayah
PDAM
Bantul
Sleman
Yogyakarta
Persentase
PU
346
Tidak
Valid
14
3
312
4
400
-
192
8
400
Keduanya
Lain-Lain
21
19
-
46
35
200
-
400
Total
267
54
3
850
26
1,200
(%)
22,3%
4,5%
0,3%
70,8%
2,2%
100,0%
Mengenai kebutuhan dasar seperti penerangan dan bahan bakar,
responden sudah menggunakan lampu listrik.
di wilayah ini.
Total
sebanyak 99,0% rumah
Rumah yang tidak memiliki listrik sangat kecil
Juga bahan bakar memasak yang paling popular adalah kompor gas,
sebanyak 46,7% rumah, selanjutnya adalah arang atau batubara sebesar 33,5%.
Dibandingkan
dengan keadaan 20 tahun yang lalu, kondisi kehidupan sudah membaik.
Tim peneliti menanyakan tentang kerusakan fasilitas air yang disebabkan oleh gempa bumi dan
10 - 9
jawabannya ditunjukkan di Tabel 10.3.5 dibawah ini.
diperbaiki sampai dengan Desember 2006,
Sebagian besar kerusakan telah
tapi ada sejumlah responden yang belum
memperbaiki sistem penyediaan air mereka.
Menurut survei, sebagian korban tidak mampu
memperbaiki fasilitas penyediaan air masyarakat tersebut karena mereka lebih mementingkan
perbaikan rumah pribadi mereka.
Sampai saat ini, mereka mengusahakan mendapatkan air
dari sumber mata air dan/atau sumur tetangga.
Tabel 10.3.5 Jumlah Responden Berdasar Kerusakan Fasilitas Air akibat Gempa Bumi
Kabupaten/Kota
Tak ada
kerusakan
Bantul
Sleman
Yogyakarta
Total
10.3.3
Diperbaiki setelah
satu minggu
Diperbaiki setelah
satu bulan
Belum diperbaiki
29
16
16
61
41
4
7
52
6
4
4
14
324
376
373
1,073
Total
400
400
400
1,200
Penggunaan Air Untuk Rumah Tangga
(1) Jenis-Jenis Penggunaan Air
Penduduk di Propinsi Yogyakarta menggunakan berbagai sistem penyediaan air termasuk air
sumur dan air kemasan
mandi.
botol
sebagai
sarana
untuk
minum,
Pada Tabel 10.3.6 dan Tabel 10.3.7 menunjukkan gejala umum
mencuci,
dan
penggunaan air
masing-masing untuk air minum dan mencuci.
Sebagian besar responden menggunakan sumur pribadi rumah mereka untuk air minum.
Dibandingkan penggunaan air untuk mencuci dan mandi,
minum dari sumur daripada air PDAM.
masyarakat
lebih menyukai air
Bau dan rasa klorin sebagai disinfektan tidak disukai
pelanggan.
Tabel 10.3.6 Air Untuk Air Minum
Jumlah Sample
Air minum
Air keran PDAM
Sistem penyediaan air
masyarakat
Sumur tuan tanah
Sumur pribadi rumah
Tadah hujan
Sungai atau kolam
Air kemasan botol
Tidak
pakai
Sebagian
Proporsi Sample
Utama
Total
Tidak
pakai
Sebagian
utama
Total
993
52
155
1,200
82.8%
4.3%
12.9%
100%
1,165
10
25
1,200
97.1%
0.8%
2.1%
100%
1,114
252
1,195
1,182
994
5
21
1
16
181
81
927
3
1
25
1,200
1,200
1,199
1,199
1,200
92.8%
21.0%
99.7%
98.6%
82.8%
0.4%
1.8%
0.1%
1.3%
15.1%
6.8%
77.3%
0.3%
0.1%
2.1%
100%
100%
100%
100%
100%
10 - 10
Tabel 10.3.7 Air Untuk Mencuci dan Mandi
Jumlah Sample
Mandi dan Mencuci
Air keran PDAM
Sistem
penyediaan
masyarakat
Sumur tuan tanah
air
Tak
pakai
946
Sebagian
Utama
22
222
1,159
11
1,138
5
Proporsi Sample
Sebagian
Utama
Total
1,190
Tak
pakai
79.5%
1.8%
18.7%
100.0%
22
1,192
97.2%
0.9%
1.8%
100.0%
47
1,190
95.6%
0.4%
3.9%
100.0%
Total
Sumur pribadi rumah
270
30
893
1,193
22.6%
2.5%
74.9%
100.0%
Tadah hujan
1,170
12
9
1,191
98.2%
1.0%
0.8%
100.0%
Sungai atau kolam
1,141
43
7
1,191
95.8%
3.6%
0.6%
100.0%
Air kemasan botol
1,172
18
0
1,190
98.5%
1.5%
0.0%
100.0%
Gambar 10.3.6 mengilustrasikan pilihan dan tindakan pelanggan berkenaan dengan air minum.
Sebanyak 102 pelanggan PDAM dari 267 (38,2%) memiliki sumur pribadi di rumah tetapi 51%
diantaranya tidak minum air PDAM. Dan sebanyak 13 responden dari 165 (7,9%) menjawab
bahwa mereka tidak minum air PDAM meskipun mereka tidak memiliki
sumur sendiri.
Mereka memilih membeli air kemasan botol atau memiliki persediaan air di tangki untuk
menampung air dari perusahaan swasta penyedia air.
Pelanggan PDAM mungkin kurang
yakin dengan kualitas air yang disediakan oleh PDAM.
Pelanggan PDAM yang tidak mempunyai Sumur
Pelanggan PDAM yang mempunyai sumur
No drink
7.9%
Mainly
24.5%
Subsidiary
24.5%
Gambar 10.3.6
Subsidiary
15.8%
Mainly
76.4%
No drink
51.0%
Preferensi Air Minum Pelanggan PDAM Berdasarkan Status Sumur
(2) Kuantitas Penggunaan Air
Menurut survei mengenai kuantitas penggunaan air,
orang per hari adalah 100 – 199 liter,
frekuensi tertinggi penggunaan air per
dari jawaban 27% responden,
seperti
yang
ditunjukkan di Gambar 10.3.7 dibawah ini.
Rata-rata penggunaan air tercatat sebesar 325,5 liter per orang per hari karena sebagian orang
menggunakan banyak air termasuk penggunaan non-rumah tangga seperti untuk restoran, pabrik,
dan lain-lain. Sebagian besar sebanyak 57% menggunakan kurang dari 299 liter per hari.
10 - 11
Frequency Ratio
30%
27%
25%
19%
20%
16%
15%
11%
10%
6%
7%
4% 3%
5%
1% 1%
2%
0% 1% 0% 0% 1% 0%
0~
10 99
0~
1
20 99
0~
2
30 99
0~
3
40 99
0~
4
50 99
0~
5
60 99
0~
6
70 99
0~
7
80 99
0~
8
90 99
0~
10
9
00 99
~1
11
9
00 99
~1
1
12
00 99
~1
13
2
00 99
~1
14
3
00 99
~1
4
15
00 99
~1
59
9
16
00
~
0%
liter/person/day
Gambar 10.3.7
Kuantitas Penggunaan Air Per Orang Per Hari
Frequency Ratio
40%
Gambar 10.3.8 mengilustrasikan
PDAM Customers
rasio frekuensi penggunaan air,
30%
n=259
Average=378.4
20%
seperti
yang
ditunjukkan
Gambar 10.3.7,
di
yang terbagi
menjadi tiga tipe penduduk, yaitu
10%
pelanggan
0%
PDAM,
Pengguna
sistem penyediaan air masyarakat
10
0~
99
0~
1
20 99
0~
2
30 99
0~
3
40 99
0~
49
50 9
0~
5
60 99
0~
6
70 99
0~
7
80 99
0~
8
90 99
0~
10 999
00
~1
99
9
40%
oleh PU, dan lainnya.
PU Community Water Supply System
30%
n=54
Average=222.9
20%
Menurut
PDAM
analisa,
pelanggan
menggunakan
lebih
banyak air, rata-rata 378,4 liter per
orang per hari. Salah satu alasan
10%
mereka menggunakan air lebih
0%
banyak adalah karena kenyamanan
0~
9
10 9
0~
19
20 9
0~
29
30 9
0~
39
40 9
0~
49
50 9
0~
59
60 9
0~
69
70 9
0~
79
80 9
0~
89
90 9
0~
1 0 999
00
~1
99
9
40%
The Others
30%
20%
n=835
Average=315.5
sambungan pipa. Juga tercatat
bahwa 102 keluarga dari 267
keluarga (38,2%) memiliki sumur
pribadi
disamping
sistem
penyediaan air dari PDAM. Ketika
10%
memfokuskan pada penggunaan
air PDAM, rata-ratanya adalah
0~
9
10 9
0~
19
20 9
0~
29
30 9
0~
39
40 9
0~
49
50 9
0~
59
60 9
0~
69
70 9
0~
79
80 9
0~
89
90 9
0~
10 9 99
00
~1
99
9
0%
Liter/person/day
Gambar 10.3.8
Penggunaan Air Oleh
Figure 10.3.8 Penggunaan
KonsumenAir Oleh Konsumen
10 - 12
261,5 liter per orang per hari, yaitu
116,9 liter lebih rendah daripada
total rata-rata penggunaan air.
Penggunaan air dari sistem penyediaan air PDAM diilustrasikan di
Gambar 10.3.9.
Penggunaan air dengan sistem penyediaan air masyarakat oleh PU lebih lebih kecil daripada
pelanggan PDAM dan lainnya.
sistem
PU
Sebanyak.35,2%
responden
yang
menggunakan
mengkonsumsi 100– 199 liter per orang per hari.
Responden lainnya
yang tidak menggunakan sistem penyediaan air umum menggunakan air
sebanyak 315,5 liter per orang per hari,
sedangkan mayoritas
sebanyak 28,5%
menggunakan antara 100 -199
Frequency Ratio
liter per orang per hari.
40%
PDAM supply only
Penggunaan air 100 liter sampai
30%
n=238
Average=261.5
20%
dengan 199 liter perorang per hari,
merupakan jumlah yang besar
bila
10%
dibandingkan
negara-negara
0%
0~
10 99
0~
1
20 99
0~
2
30 99
0~
3
40 99
0~
49
50 9
0~
5
60 99
0~
6
70 99
0~
7
80 99
0~
8
90 99
0~
10 999
00
~1
99
9
lainnya.
dengan
berkembang
Hal
ini
mungkin
dipengaruhi oleh kebiasaan dan
gaya hidup.
Liter/orang/hari
Gambar 10.3.9
Sosial-ekonom di
Air dari PDAM
Yogyakarta mengemukakan sejumlah latar belakang penggunaan air sebagai
berikut :
• Mandi dua kali sehari
• Menggunakan gayung untuk menyiram toilet
• Menggunakan air dan bukan tisue toilet untuk pembersihan
• Mencuci pakaian setiap hari
• Menggunakan air untuk berwudhu lima kali sehari
• Menyiram kebun atau tanaman dalam pot
(3) Biaya Konsumsi Air
Mengenai
biaya
penggunaan
air,
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
sebanyak
920
responden
dari
1,200
Sebagian responden menjawab “Nol”
menjawab
untuk biaya,
namun untuk mempermudah analisa maka responden yang tidak membayar air dihapuskan dari
perhitungan hasil survei sampel invalid.
10 - 13
Frequency Ratio
30%
Average
Cost
(Rp.)
22,387
36,171
41,158
34,364
Valid
sample
20%
Bantul
Sleman
Yogya
Overall
n=920
Av erage=Rp.34,364
10%
236
365
319
920
Standard
Deviation
19319.79
37884.71
33096.74
33122.82
0~
9
10
~1
9
20
~2
9
30
~3
9
40
~4
9
50
~5
9
60
~6
9
70
~7
9
80
~8
9
90
~9
9
10
0~
0%
Rp.1000/month
Gambar 10.3.10
Biaya Penggunaan Air Per Keluarga Per Bulan
Biaya penggunaan air per orang per bulan secara keseluruhan rata-rata adalah Rp.8.431 yang
merupakan 4,00% dari
pengeluaran dan 3,53% dari
pendapatan.
Frequency Ratio
Dengan membatasi hanya pada
40%
pembayaran ke PDAM, rata-rata
tarif bulanan untuk air PDAM
30%
n=247
Average=Rp.40,840
20%
adalah
Rp.40.840 per keluarga.
Dengan kata lain, biaya rata-rata per
orang adalah Rp2,093. Namun,
10%
perbedaan data ini sama dengan
perbedaan
0%
0~
9
10
~1
9
20
~2
9
30
~3
9
40
~4
9
50
~5
9
60
~6
9
70
~7
9
80
~8
9
90
~9
9
10
0~
kuantitas,
Rp.1000/month
Gambar 10.3.11 Pembayaran Tagihan
Figure 10.3.11 Pembayaran tagihan bulanan PDAM
Bularan PDAM
pada
yaitu
data
tentang
sejumlah
kecil
keluarga yang membayar biaya
dalam
jumlah
mempengaruhi
Sebagaimana
hasil
banyak
rata-rata.
ditunjukkan
pada
Gambar 10.3.11, mayoritas keluarga
membayar sekitar Rp.25.000 per bulan.
Terdapat 28 sampel yang valid yang digunakan untuk mengetahui pendapat mereka tentang
pembayaran pada Sistem masyarakat PU. Tarif rata-rata adalah Rp21.964 per bulan,tetapi
perbedaannya lebih tinggi daripada sistem-sistem lainnya, yaitu sistem pembayaran atau
pembagian-pembiayaan yang berbeda di tiap-tiap masyarakat. Tarif ini diputuskan menurut
kondisi topografi dan kebijakan masyarakat.
Penjelasan mengenai Sistem Penyediaan Air
Masyarakat oleh PU dipaparkan di BAB 6.
10 - 14
10.3.4
Sistem Penyediaan Air Publik
(1) Pendaftaran
Sebagian
besar
Sistem Penyediaan Air Publik
responden
yang
More than 10
years
15%
terdaftar sebagai pelanggan PDAM
selama
lebih
dari
10
tahun,
digambarkan pada Gambar 10.3.12.
Ada
sejumlah
responden
yang
Withdrew
2%
5-10 years
4%
3-5 years
1%
1-3 years
4%
membatalkan sebagai pelanggan PDAM
Not signed up
74%
karena pelayanan PDAM tidak sebaik
Gambar 10.3.12 Pendaftaran Sistem
Figure 10.3.12 Pendaftaran Sistem PDAM & PU
PDAM & PU
yang mereka harapkan.
(2) Biaya Awal Sistem Penyediaan Air PDAM dan PU
Pelanggan PDAM membayar biaya sambungan dan biaya meter pada waktu pendaftaran,
sebesar rata-rata Rp.242.586.Untuk tarif serta biaya keanggotaan
dari Sistem Penyediaan Air PU adalah beragam.
Penjelasan mengenai sistem manajemen dibahas pada BAB 7.
Menurut survei angket,
biaya rata-rata sekitar Rp.50,000.(3) Pengaruh dari Sistem Penyediaan Air PDAM dan PU
Mengenai pengaruh dari sistem PDAM, responden tidak merasakan manfaat positif karena
sebagian besar pipa-pipa PDAM telah terpasang lebih dari 10 tahun yang lalu, sehingga mereka
mengganggap sistem air PDAM itu hanya sebagaimana adanya dan tidak lagi merasakan
sebagai suatu kontribusi besar.
Hal ini berbeda dengan pelanggan sistem penyediaan air PU
yang merasakan manfaat dan menghargai keadaan yang lebih baik dari penyediaan air tersebut.
Gambar 10.3.13
bagian kiri menunjukkan tingkat pengaruh dari sistem yang terpasang
sesuai dengan apa yang dirasakan oleh pelanggan.
Anggota dari Sistem Penyediaan Air PU
merasakan banyak hal yang lebih baik daripada sebelumnya dalam hal membersihkan rumah,
membersihkan diri, dan lain-lain.
Mereka tidak banyak mengeluh mengenai tarif air.
Tingkat kepuasan pelanggan juga ditunjukkan dalam Gambar 10.3.13.
Pelanngan Sistem
Penyediaan Air PU lebih menghargai daripada pelanggan PDAM yang mengeluh mengenai
kualitas air PDAM karena terkontaminasi dengan besi (iron) dan klorin (chlorine).
Selain itu,
pelanggan PDAM juga mengeluhkan tidak stabilnya tekanan air PDAM dan terputusnya aliran
air.
10 - 15
Worse
Better
1
2
3
4
Unsatisfied
5
Satisfied
1
2
3
4
5
Unit Price
Billing procedure
Burden
Clean house
Meter reading
Clean body cloth
Transparency in bill
Frequency suspension
Shick / Illness
Recovery suspension
Time management
Quality of water
Mainteinance
Staff attitude
Quantity of water
Quality of water
Water pressure
Tariff of water
PDAM
Quantity
PU communi
PDAM
Gambar 10.3.13
10.3.5
PU communi
Tingkat Pengaruh dan Tingkat Kepuasan
Sistem Penyediaan Air Swasta dan Pelanggan Potensial
Seperti telah disebutkan sebelumnya,
sebanyak 850 responden dari 1.200 (70.8%) tidak
menggunakan sistem penyediaan air publik.
Paling tidak mereka sudah dapat memenuhi
kebutuhan air dan mengelola sistem penyediaan air oleh mereka sendiri.
Pada sub-bab ini,
Tim Peneliti memfokuskan pada pilihan serta keinginan dari pelanggan potensial yang belum
menjadi anggota PDAM dan komunitas PU.
(1) Alasan untuk Tidak Menjadi Anggota pada Sistem Penyediaan Air Publik
Gambar 10.3.14
Enough alternative water sources
menunjukkan
alasan
untuk
89%
Initial cost for the water system is expensive
tidak
56%
Unit cost of water is not affordable (ex pensive)
53%
mendaftarkan
pada
Insufficient income to pay for water
sistem
49%
penyediaan air
No water infrastructure near house
public, dimana
Water supply is unreliable
40%
Lack of information about water supply program (we are neglected)
39%
sebanyak 89%
dari
It is difficult to achiev e consensus among neighbours for the
application (nobody takes initiative)
responden
menunjuk alas
an
32%
Application procedure is complicated/difficult
“cukup
25%
0%
tersedianya alternatif
sumber
44%
air”.
10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
100
%
Gambar 10.3.14 Alasan-alasan untuk tidak menjadi anggota
di Sistem Penyediaan Air Publik
Mereka tidak merasakan kebutuhan mendesak dalam penyediaan air public.
yang kedua sebanyak 56% adalah “tingginya biaya awal pemasangan pipa”.
Alasan umum
Selain biaya awal
pemasangan, tarif per-unit juga dirasakan mahal untuk orang-orang yang tidak membayar
penggunaan air setiap harinya.
Tercatat sebanyak 44% dari responden memilih alas an “tidak
10 - 16
adanya infrastruktur air yang dekat dengan rumah”, dan sebanyak 39% menjelaskan bahwa
mereka telah diabaikan oleh sistem penyediaan air public.
(2) Pendapat atau Pandangan dari Penduduk yang tidak menjadi anggota
Menurut jawaban atas pertanyaan
Frequency rate
responden
50%
sangat terbeban oleh tarif dari
40%
tersebut,
beberapa
penyediaan air public tersebut dan
PDAM Customers
n=266
Average=Rp.1,279,168
30%
menyatakan tidak sanggup untuk
20%
membayarnya.
10%
Untuk membuktikan teori alasan
0%
ekonomi dan non-registrasi, maka
0~
49
9
0~
10 9 99
00
~
1 5 14 9
00 9
~
20 1 99
00 9
~2
2 5 49 9
00
~
30 2 99
00 9
~
35 349
00 9
~
40 399
00 9
~
4 5 4 49
00 9
~4
99
9
50
00
~
50%
pendapatan dan sistem penyediaan
40%
air, seperti yang ditunjukkan pada
30%
Gambar 10.3.15.
Perbedaan
50
Tim Peneliti memeriksa tingkat
PU Community Water Supply System
n=53
Average=Rp.1,288,522
20%
ekonomi antara pelanggan PDAM
dan yang lainnya tidak diamati.
10%
0%
apabila mengatakan bahwa yang
50%
yang
tidak
menjadi
anggota pelanggan berpendapatan
lebih rendah dari yang lain atau
mereka
tidak
dikarenakan
tarif
mendaftar
yang
tinggi.
Kondisi ekonomi tidak menjadi
alasan utama untuk tidak menjadi
anggota.
Dapat dikatakan bahwa
The Others
40%
n=840
Av erage=Rp.1,202,236
30%
20%
10%
0%
0~
49
50 9
0~
1 0 999
00
~1
1 5 499
00
~1
20 9 99
00
~2
2 5 499
00
~2
30 999
00
~3
35 4 99
00
~3
4 0 999
00
~4
45 499
00
~4
99
9
50
00
~
keluarga
0~
49
50 9
0~
1 0 999
00
~1
1 5 499
00
~1
20 9 99
00
~2
2 5 499
00
~2
30 999
00
~3
35 4 99
00
~3
4 0 999
00
~4
45 499
00
~4
99
9
50
00
~
Namun demikian, tidaklah tepat
Rp.1000/month
pada umumnya penyediaan air
masih terjangkau.
Figure
10.3.15
Runah
Tangga
per Bulan
Gambar
10.3.15Pendapatan
Pendapatan
Rumah
Tangga
per
dengan
Status
Penyediaan
Air Air
Bulan
dengan
Status
Penyediann
Tabel 10.3.8 menunjukkan harapan
dari responden yang tidak menjadi anggota terhadap sistem peyediaan air publik yang modern.
10 - 17
Tabel 10.3.8 Harapan terhadap Sistem Penyediaan Air Publik
Tidak Berharap
Mengurangi beban rumah tangga
….Berharap
Berharap
Total
22,9%
53,7%
23,4%
100.0%
Menjaga kebersihan rumah
18,7%
53,4%
27,9%
100.0%
Menjaga kebersihan badan dan pakaian
17,9%
51,8%
30,2%
100.0%
Berkurangnya penyakit dan sakit
32,9%
38,4%
28,7%
100.0%
Manajemen yang lebih baik
19,0%
55,7%
25,3%
100.0%
Kualitas air yang lebih baik
14,4%
42,5%
43,1%
100.0%
Kuantitas air yang lebih besar
14,4%
49,4%
36,2%
100.0%
Biaya air lebih murah
28,3%
45,9%
25,8%
100.0%
Rasio harapan terbesar adalah mengenai kualitas air yang lebih baik.
Urutan kedua adalah
harapan untuk kualitas air yang lebih besar yang mencapai 36,2%, kemudian harapan untuk
menjaga kebersihan badan dan pakaian
berada di urutan ketiga sebanyak 30,2%.
Dalam hal harapan dalam perbaikan, “manajemen yang lebih baik” menempati urutan pertama
sebesar 55,5% kemudian sebagai urutan kedua adalah mengurangi beban rumah tangga sebesar
53,7 dan di urutan ketiga adalah menjaga kebersihan rumah sebesar 53,4%.
Sebanyak 32,9% responden yang menyatakan “berkurangnya penyakit dan sakit” tidak berharap,
sedangkan 28% dari responden tidak berharap “biaya air lebih murah”.
Tingkat harapan
terhadap penyediaan air public tidak pada tarif melainkan pada pelayanan yang baik.
Berikut ini adalah hasil pengamatan atas pandangan dan keadaan dari pelanggan potensial :
• Berorientasi pada kualitas
• Pentingnya keberlangsungan penyediaan air
• Mengharapkan kenyamanan penyediaan air untuk keperluan sehari-hari
• Tidak mengharapkan pengurangan atas sakit dan penyakit
• Tidak terlalu mengharapkan biaya air yang murah bila dibandingkan dengan faktor
lainnya.
Tabel 10.3.9 menunjukkan pendapat atas penyambungan pipa modern, dimana sebanyak 497
responden dari 765 sampel yang masuk (65,0%)
apabila persyaratannya memadai.
10 - 18
mengatakan bahwa mereka akan mendaftar
Tabel 10.3.9 Tingkat Ketertarikan Mendaftar untuk Penyambungan Pipa Air
Jumlah sampel
Tidak
Ya
Total
Ya
Persentase Jawaban
Tidak
Total
Bantul
105
97
202
52,0%
48,0%
100,0%
Sleman
245
92
337
72,7%
27,3%
100,0%
147
79
226
65,0%
35,0%
100,0%
497
268
765
65,0%
35,0%
100,0%
Yogyakarta
Total
Dengan demikian, sejauh tarif tidak terjangkau dan/atau tidak tepat maka mereka tidak
mempunyai keinginan untuk mendaftar.
(3) Kebersediaan Membayar
Pada waktu Tim Peneliti menanyakan kebersediaan untuk membayar biaya awal pemasangan
dan biaya bulanan terhadap penyediaan air public,
Tabel 10.3.10
dan Gambar 10.3.16.
hasil jawaban responden ditunjukkan pada
Seperti yang telah dijelaskan diatas mengenai data
analisa, hasil rata-rata tidak selalu menunjukkan sebagai mayoritas dan tidak selalu mewakili
tipe penduduk, khususnya untuk analisa sosial-ekonomi.
Kadang-kadang angka tengah
(median) lebih dapat mewakili daripada angka rata-rata.
Tabel 10.3.10 Perbandingan Kebersediaan Membayar dan Pembayaran Yang
Dilakukan
Kebersediaan Membayar
Biaya Awal
Tarif Bulanan
Rata-rata of Pembayaran Yang Dilakukan
Biaya Bulanan
Biaya Awal
(seluruh
PDAM
PU
sumber)*
178,722
15,979
22,387
Bantul
111,875
15,060
Sleman
296,375
23,645
361,129
Yogyakarta
427,500
27,948
231,391
Total Rata-rata
278,583
22,218
Median
200,000
20,000
*Histogram ditunjukkan di Gambar 10.3.10
10 - 19
166,528
36,171
245,427
80,500
3,4364
150,000
50,000
25,000
41,158
Will Initial Cost
Will Monthly Tariff
Bantul
250
200
150
n =400
Xbar=111875.0
s =83259.77
200
150
100
100
50
50
0
150
200
150
100
50
50
0
n =400
Xbar=23645.0
s =15789.11
0
Yogya
250
150
Sleman
250
n =400
Xbar=296375.0
s =217764.01
100
200
n =400
Xbar=15060.0
s =9331.28
0
Sleman
250
200
Bantul
250
n =400
Xbar=427500.0
s =218726.95
200
150
100
100
50
50
0
0.0100000.0
300000.0
500000.0
Gambar 10.3.16
Yogya
250
700000.0
900000.0
n =400
Xbar=27947.5
s =21940.56
0
0.0 10000.0
30000.0
50000.0
70000.0
90000.0
Kebersediaan Membayar Biaya Awal dan Biaya Bulanan
Untuk biaya awal penyambungan serta pendaftaran, jawaban dari rata-rata seluruh responden
menjawab sebesar Rp.278.583.
Dibandingkan dengan biaya awal yang berlaku saat ini sebesar
Rp.242.586 maka hasil survey dari kebersediaan membayar relatif lebih tinggi dibandingkan
biaya yang berlaku saat ini.
Selain daripada ini, kecenderungan-kecenderungan lainnya tidak
didapatkan.
Sejumlah responden yang tinggal di Sleman menjawab bahwa mereka mampu membayar
walaupun sampai dengan Rp.750.000 apabila rencana penyambungan disetujui.
Responden
dari kotamadya Yogyakarta juga berkeinginan untuk mendapatkan suatu sistem yang baik
walaupun biaya itu harus dibayar oleh pelanggan. Dengan kata lain, para responden bersedia
membayar biaya lebih tinggi untuk biaya awal pemasangan
demi kenyamanan atas sistem
penyediaan air yang aman.
Untuk daerah Bantul, kebersedian membayar adalah yang terendah dibandingkan dengan
wilayah lainnya.
Alasannya antara lain adalah i) mereka mendapatkan air kebutuhan
sehari-hari secara cuma-cuma sehingga mereka tidak mempunyai gambaran mengenai tarif air,
ii) target mereka bukan sistem perkotaan melainkan sistem masyarakat yang biaya awalnya
rata-rata sebesar Rp.80.500,
dan iii) standard hidup yang lebih rendah daripada penduduk di
daerah perkotaan.
Pendapat mengenai manfaat air,
khususnya di bidang infrastuktur, sangat beragam..
Hubungan yang jelas antara “Pendapatan” dan “kesediaan membayar biaya awal”, tidak
10 - 20
ditemukan. Hal ini mungkin ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti kondisi
topografi,
keadaan sumberdaya air saat ini, dan bahkan pola pandang terhadap peran
pemerintah dalam manfaat air sebagai infrastruktur.
Mengenai tarif air bulanan, lebih banyak pendapat orang setuju daripada keharusan membayar
biaya awal, seperti yang ditunjukkan in Gambar 10.3.16.
membayar biaya bulanan adalah Rp.22.218.
antar wilayah,
10.3.6
Kesediaan rata-rata
untuk
Walau ada sejumlah kecenderungan yang berbeda
tapi secara umum bisa menerima tarif yang berlaku saat ini.
Kesehatan dan Sanitasi
(1) Kesadaran dan Sikap Tentang
Air yang Aman
Survei kesadaran atas sanitasi dan kesehatan yang berhubungan dengan air
bagian dari survei social-ekonomi.
Tujuan sub-bagian ini adalah untuk mengklarifikasi sikap
dan pola pandang penduduk mengenai air,
dan/atau apa yang mereka
bagaimana mereka memandang kualitas air
lakukan untuk mendapatkan kebersihan air.
Gambar 10.3.17 mengilustrasikan tingkat kesadaran.
64% dari
dilakukan sebagai
Menurut hasil analisa,
sebaganyak
responden beranggapan bahwa ada hubungan antara air dan kesehatan.
Dengan
meningkatnya tingkat pendidikan, maka proporsi kesadaran kesehatan atas air juga meningkat,;
yaitu 87,5% dari
responden yang memiliki pendidikan
universitas atau lebih tinggi percaya
bahwa ada hubungan erat antara air dan kesehatan.
100%
I don't know
6%
I don't think so
1%
50%
Yes, more or less
29%
0%
Primary
drop out
Yes, very much
64%
Gambar 10.3.17
Primaty
Jr. High
Sr. High
Diploma
I-III
Univ
Yes, v ery much
41
135
109
318
59
98
Yes, more or less
22
74
78
153
9
12
I don't think so
2
7
2
4
I don't know
9
27
13
15
1
2
Kesadaran Mengenai Air dan Kesehatan
Meskipun sebagian besar responden memiliki kesadaran pentingnya air untuk kesehatan, 40%
dari
responden belum pernah memeriksa kualitas air yang mereka gunakan.
Sebanyak
16,1% beranggapan bahwa air yang mereka gunakan kualitasnya tidak begitu baik.
tampak ada kesenjangan antara kesadaran mereka dan sikap/tindakan mereka.
10 - 21
Disini
Tim Peneliti mendengarkan keluhan tentang bau khlorin
khlorin diperlukan untuk disinfektan.
Meski rasa kurang begitu enak,
yang mempengaruhi rasa walaupun
Kualitas air memiliki dua arti, “aman” dan “rasa”.
bau khlorin pada air menunjukkan bahwa bakteri yang
merugikan telah hilang, sehingga air lebih aman.
Pelanggan air PDAM mungkin belum
mendapatkan informasi yang benar tentang metode tehnik disinfektan.
Gambar 10.3.18 mengilustrasikan pertanyaan-pertanyaan lain mengenai kesadaran dan sikap
terhadap kebersiahan air, yang menanyakan “Seberapa peduli anda tentang kualitas air yang
baik?”
Tercatat bahwa 97% responden mengatakan “saya menggunakan air yang sama tapi
merebusnya terlebih dahulu untuk air minum.”.
Yes
I change water source by
intended purpose.
No
20%
I installed a water filter for
drinking.
80%
22%
78%
I use same water but boil for
drinking.
I use poor quality water due to
lack of water system.
97%
7%
3%
93%
I don't care. I use same water
source for every purpose.
57%
0%
10%
Gambar 10.3.18
20%
30%
43%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
Kesadaran dan Sikap Tentang Air yang Aman
Sebanyak 22% responden sudah menggunakan filter untuk penyaringan, dan 7% responden
menjawab mereka mendapatkan kualitas air yang buruk karena kendala dalam sisetm air mereka.
Masyarakat cukup sadar tentang kualitas air,
tapi sikap
mereka mungkin tidak berdasarkan
pada informasi teknis yang benar.
(2) Air untuk Toilet
Mengenai toilet di wilayah sasaran, sebagian besar orang (90,1%
atau sebanyak 1076 sampel
dari 1194 sampel yang masuk) memiliki toilet di dalam rumah,
seperti yang ditunjukkan di
Tabel 10.3.11. dimana sebanyak 44,8% responden menggunakan toilet sederhana,
menggunakan toilet guyur dan 8,6% menjawab “lain-lain”.
Tabel 10.3.12,
dan desain struktur toilet dibahas di BAB 8.
10 - 22
dan 46,6%
Jenis-jenis toilet ditunjukkan di
Tabel 10.3.11 Lokasi Toilet
Bantul
Didalam
rumah
86,6%
Toilet
Umum
1,3%
Toilet
Tetangga
4,5%
0,8%
Toilet diluar
rumah
6,8%
Sleman
97,5%
1,3%
0,0%
100.0%
1,3%
0,0%
100.0%
Yogyakarta
Total
Rata-rata
86,2%
7,5%
0,3%
0,3%
5,8%
100.0%
90,1%
3,4%
1,6%
0,8%
4,2%
100.0%
Tidak Tetap
Total
Tabel 10.3.12 Jenis-Jenis Toilet
Jenis Toilet
1
2
3
4
5
6
7
8
Bantul
Septic Tank (air olahan
dirembeskan ke tanah
menggunakan bak peresapan)
Septic Tank (air olahan di
resapkan ke tanah dari septic
tank)
Septic Tank (air olahan di
buang ke pipa pembuangan
limbah)
Septic Tank (air olahan
dibuang ke sungai /
selokan/kanal)
Pit Latrine (air olahan is
resapkan ke tanah)
Pit Latrine (air olahan
dibuang ke pipa pembuangan
limbah)
Pit Latrine (air olahan
dibuang ke sungai /
selokan/kanal)
Lain-lain
Jumlah Sampel
YogyaSleman
karta
Total
Bantul
Proporsi (%)
Slema
Yogya
n
karta
Total
155
132
84
371
39,6
33,2
21,1
31,.2
131
156
77
364
33,5
39,2
19,3
30,6
22
56
100
178
5,6
14,1
25,1
15,0
24
12
82
118
6,1
3,0
20,6
9,9
16
11
8
35
4,1
2,8
2,0
2,9
6
7
5
18
1,5
1,8
1,3
1,5
8
2
4
14
2,0
0,5
1,0
1,2
29
17
39
85
7,4
4,3
9,8
7,2
Jenis 1 & 5
2
2
0,0
0,5
0,0
0,2
Jenis 2 & 3
1
1
0,0
0,3
0,0
0,1
Jenis 3 & 6
2
2
0,0
0,5
0,0
0,2
1.188
100,0
100,0
100,0
100,0
Total
391
398
399
Rata-rata konsumsi air untuk toilet guyur berdasar ember tercatat sebanyak 8,8 ember untuk
buang air besar dan 4,2 ember untuk buang air kecil.
Kapasitas satu ember adalah sekitar 1
liter, sehingga masing-masing memerlukan sekitar 8 liter dan 4 liter air.
Ada cukup banyak
penduduk yang menggunakan air dan tidak menggunakan tisue toilet untuk pembersihan, dan
kebiasaan ini mungkin merupakan salah satu penyebab besarnya konsumsi air.
Tabel 10.3.13 dan
Tabel 10.3.14 menunjukkan perlakuan khusus terhadap endapan toilet atau
kotoran manusia.
10 - 23
Tabel 10.3.13 Frekuensi Pembuangan Endapan Kotoran
3 bulan
sekali
6 bulan
sekali
Setahun
sekali
3 tahun
sekali
6 tahun
sekali
atau lebih
5 tahun
sekali
Tidak
pernah
Total
Jumlah Sampel
Bantul
5
2
36
21
24
127
157
372
Sleman
1
2
11
11
21
169
167
382
Yogyakarta
7
8
6
8
5
91
273
398
Keseluruhan
13
12
53
40
50
387
597
1152
1,3%
0,5%
9,7%
5,6%
6,5%
34,1%
42,2%
100,0%
Proporsi Sampel
Bantul
Sleman
0,3%
0,5%
2,9%
2,9%
5,5%
44,2%
43,7%
100,0%
Yogyakarta
1,8%
2,0%
1,5%
2,0%
1,3%
22,9%
68,6%
100,0%
Keseluruhan
1,1%
1,0%
4,6%
3,5%
4,3%
33,6%
51,8%
100,0%
Tabel 10.3.14 Orang/Organisasi yang Bertanggungjawab atas Pembuangan Endapan
Pemerintah
daerah
Organisasi
publik lain
Petani
tetangga
Perusahaan
swasta
Sendiri
Tidak
ada
Tidak
tahu
Total
Jumlah Sampel
Bantul
5
39
3
119
24
68
107
365
Sleman
-
16
15
60
47
151
93
382
Yogyakarta
9
21
4
12
37
1
315
399
Keseluruhan
14
76
22
191
108
220
515
1146
1,4%
10,7%
0,8%
32,6%
6,6%
18,6%
29,3%
100,0%
Proporsi Sampel
Bantul
Sleman
0,0%
4,2%
3,9%
15,7%
12,3%
39,5%
24,3%
100,0%
Yogyakarta
2,3%
5,3%
1,0%
3,0%
9,3%
0,3%
78,9%
100,0%
Keseluruhan
1,2%
6,6%
1,9%
16,7%
9,4%
19,2%
44,9%
100,0%
Gambar 10.3.19 menunjukkan jarak antara sumur dan toilet yang dijawab oleh 956 responden
yang memiliki sumur pribadi. 6,9% diantaranya menyatakan bahwa jaraknya kurang dari 4,9m,
yang adalah jauh lebih dekat daripada jarak yang dianjurkan oleh pemerintah.
Namun,
keamanan air sumur adalah bukan hanya ditentukan dari jarak dari toilet tetapi juga oleh desain
toilet dan kedalaman sumur.
Jarak ke toilet rumah sebelah kadang-kadang lebih dekat daripada
jarak ke toilet sendiri. Artinya, data yang dikumpulkan hanyalah salah satu rujukan untuk
mempertimbangkan hubungan antara toilet dan sumur.
15-19.5m
20 & more
Directly to River
3.1%
0.5%
12.3%
Less than 4.9m
6.9%
5-9.9m
30.4%
10-14.9m
46.7%
Gambar 10.3.19
Jarak antara Sumur dan Toilet
10 - 24
10.4
10.4.1
Temuan
Hal-hal yang Harus Diatasi
Sejumlah karakteristik tentang kondisi social-ekonomi yang disoroti dalam penelitian dan
analisis data disajikan dibawah ini.
(1) Standar Hidup
a) Dari data dan pengamatan lapangan, didapati tanda yang jelas adanya
pembangunan ekonomi menengah, yang ditandai dengan emigrasi ke kota, tingkat
pendidikan, kekayaan rumah-tangga, dsb.
Standar hidup telah meningkat
melebihi keadaaan di negara-negara miskin.
b) Infrastruktur publik seperti listrik dan jalan berkonblok telah berkembang selama
20 tahun terakhir. Penduduk telah menikmati gaya hidup yang nyaman.
c) Konsumsi air cukup tinggi. Penduduk di wilayah ini menghargai kebersihan air
melalui pelestarian air.
(2) Kesenjangan antara Yang Kaya dan Yang Miskin
a) Kondisi ekonomi kabupaten Bantul agak buruk diantara wilayah-wilayah sasaran.
b) Standar hidup dinyatakan berdasar latar belakang individu. Karena adanya
keragaman gaya hidup, kesenjangan antara yang kaya dan miskin makin membesar.
c) Kemiskinan di kota meningkat. Angka pertumbuhan penduduk kota Yogyakarta
adalah 5,5% pada tahun 2005, dan keluarga miskin di wilayah pedesaan cenderung
bermigrasi ke kota.
(3) Konsumsi air berdasar Kondisi Ekonomi dan Topografi
a) Jumlah penggunaan air lebih dipengaruhi oleh topografi daripada kondisi ekonomi.
b) Sumur dangkal popular di wilayah-wilayah target. Biaya untuk menggali sumur
adalah sekitar Rp.2.000.000 dan kebutuhan air harian gratis..
c) Masyarakat di Kabupaten Bantul khususnya memiliki kelemahan kondisi topografi.
d) Sumberdaya air yang optimal telah dipertimbangkan berdasarkan pada kondisi
ekonomi dan topografi, namun masyarakat ingin memiliki cara yang lebih nyaman
untuk mendapatkan air dan menikmati air yang berkualitas baik.
(4) Air untuk Tujuan Minum, Mandi, dan Pertanian
a) Pada umumnya orang menggunakan air untuk mandi dan minum.
b) Masyarakat sadar akan kualitas air dan sebagian besar diantara mereka merebus air
untuk membunuh bakteri sebelum diminum. Mereka merebus air meskipun air itu
mengandung chlorine sebagai disinfektan.
c) Air untuk pertanian sangat terbatas. Air irigasi sangat diperlukan di wilayah
pedesaan di Sleman dan Bantul. Sebagian diantara mereka membeli air untuk
ternak. Pembagian sumberdaya aair untuk keperluan rumah tangga dan irigasi
perlu diperhatikan.
10 - 25
(5) Informasi Tepat Mengenai Kualitas air
a) Kesadaran masyarakat tentang kebersihan air sangat tinggi tapi informasi teknis
yang tepat dan/atau informasi ilmiah tepat belum cukup tersedia.
b) Sistem penyediaan air masyarakat lebih dapat diterima di wilayah pedesaan,
informasi tentang praktik-praktik yang baik belum diinformasikan secara benar.
10.4.2
Pertimbangan-Pertimbangan Strategis dari Sudut Pandang Sosial-Ekonomi
Sebagai kesimpulan bab ini, pertimbangan-pertimbangan strategis
untuk merumuskan
Rencana Induk disajikan sebagai berikut.
• Sistem distribusi air yang ‘berorientasi-pelanggan’ adalah penting, artinya sistem air
bagi yang kaya dan yang miskin harus menggunakan tarif yang berbeda.
• Informasi yang mendidik mengenai kualitas air seperti rasa dan keamanan harus
disebarkan melalui hubungan masyarakat.
10 - 26
BAB 11
PROYEK PERCONTOHAN DARURAT UNTUK
PEMULIHAN KERUSAKAN
AKIBAT GEMPA BUMI
BAB 11
11.1
PROYEK PERCONTOHAN DARURAT UNTUK
PEMULIHAN KERUSAKAN AKIBAT GEMPA
BUMI
Latar Belakang Dan Tujuan Proyek Percontohan Darurat
Sekitar 140.000 rumah roboh dan kehidupan hancur oleh gempa bumi dahsyat di Jawa Tengah
pada bulan Mei 2006. Untuk memulihkan fasilitas dan sistem penyediaan air yang rusak
khusunya di daerah Bantul, Proyek Percontohan Darurat (Emergency Pilot Project: EPP)
dilaksanakan sebagai bagian dari Tahap1 Penelitian ini.
Tujuan utama Proyek Percontohan Darurat (EPP) adalah sebagai berikut :
• Memulihkan beberapa sistem penyediaan air di wilayah penelitian.
• Mengajarkan tentang bagaimana membuat fasilitas penyediaan air yang tahan terhadap
bencana seperti gempa bumi.
• Menganalisa pengaruh pemulihan fasilitas dan perbaikan operasi serta pemeliharaan.
Output proyek akan menjadi umpan balik bagi proses perencanaan Rencana Induk (Master
Plan)
11.2
Pemilihan Lokasi Proyek
Laporan penelitian persiapan JICA mencalonkan beberapa tempat sebagai lokasi EPP, yaitu 2
unit PDAM dari Trimluyo dan Dlingo
serta dua sistem penyediaan air masyarakat
Nawangan dan Terong I di kabupaten Bantul.
Setelah penelitian persiapan ini dilakukan,
banyak tempat-tempat rusak lainnya ditemukan dan calon-calon terpilih ini ditinjau lagi atas
permintaan pemerintah Indonesia.
Proses dan hasil pemilihan tempat dirangkum dibawah ini.
(1) Survei Lapangan dan Pembahasan dengan Pemerintah Indonesia
Tim Peneliti melakukan studi lapangan dan membahas dengan Pemerintah Indonesia sebelum
Pertemuan Pembuka pada Oktober 2006.
Tempat-tempat dan fasilitas-fasilitas yang diusulkan
untuk EPP dari tiap PDAM dan PU di kotamadya Yogyakarta, kabupaten Sleman, dan
kabupaten Bantul dipelajari dengan memperhatikan kriteria berikut :
• Prioritas Sisi Indonesia
• Urgesi
• Efektivitas
• Batas yang jelas dengan aktivitas LSM atau Donatur
• Umpan balik dalam proses perencanaan Rencana Induk.
11 - 1
(2) Tempat dan Lingkup Proyek yang Disetujui
Setelah diskusi pendahuluan antara Pemerintah Indonesia (GOI) bersama Tim Peneliti JICA,
calon tempat-tempat tersebut disurvei.
Hasil-hasil pembahasan dan survei tempat dirangkum
di Appendix 11.1 dan Appendix 11.2.
Tempat dan lingkup proyek akhirnya disetujui oleh Pemerintah Indonesia dan JICA dalam
diskusi untuk Laporan Pendahuluan.
Tempat-tempat terpilih untuk Proyek Percontohan Darurat adalah sebagai berikut:
• PDAM Bantul : Unit Trimulyo, Unit Sewon, Unit Dlingo, Unit Imogiri, Unit Banguntapan
dan Unit Bantul
• Sistem penyediaan air masyarakat di kabupaten Bantul : Desa Mangunan (6 unit), dan
desa Terong (1 units)
Lingkup kerja yang disetujui sebagai berikut :
1)
•
•
•
•
•
•
2)
•
•
PDAM Bantul
Unit Trimulyo : pembangunan sumur dangkal, perbaikan gedung kimia serta perbaikan
dinding penyangga
Unit Sewon : perbaikan jembatan pipa
Unit Dlingo : pembangunan tempat pengolahan air kapasitas 5 liter/detik dengan
fasilitas pengambilan air sungai, pembangunan mata air 5 liter/detik, pemasangan pipa
transmisi menuju ke reservoir yang ada dengan pompa transmisi, serta perbaikan gedung
pengoperasian.
Unit Imogiri : pembangunan jembatan pipa
Unit Banguntapan : Penggantian pipa, rekonstruksi bangunan pengoperasian
Unit Bantul : Perbaikan bangunan pengoperasian dan gudang
Sistem Penyediaan Air Masyarakat
Desa Mangunan (6 unit)
− Dusun Mangunan II (Desa Mangunan) : pemasangan pipa transmisi
− Dusun Mangunan I (Desa Mangunan) : pembangunan sumur dangkal,
pemasangan pompa/booster intake, penggantian pipa transmisi
− Dusun Cempluk II (Desa Mangunan) : konstruksi sumur dangkal, pemasangan
pompa intake, penggantian pipa transmisi
− Dusun Mangunan (Desa Mangunan) : penggantian pompa intake dan pipa
transmisi
− Dusun Kanigoro (Desa Mangunan): penggantian pompa / booster intake,
pemulihan reservoir, penggantian pipa distribusi, perbaikan hidran umum
Pompa intake/pompa booster, waduk penampung, pipa distribusi, hydrant umum
− Dusun Lumahabang (Desa Mangunan): penggantian pompa intake, penggantian
pipa transmisi, pemulihan waduk penampung (reservoir)
Desa Terong (1 unit)
11 - 2
−
Dusun Terong (Desa Terong) : pembangunan sumur dangkal, pemasangan
pompa intake, penggantian pipa transmisi, pemulihan reservoir, pembangunan
dinding penyangga untuk hidran umum, penggantian pipa distribusi.
Tempat yang terpilih untuk Proyek Percontohan Darurat (EPP) ditunjukkan di Gambar 11.2.1.
Gambar 11.2.1
11.3
Lokasi Proyek Percontohan Darurat
Desain Rinci
Konsultan lokal telah terpilih dan kontrak ditandatangani pada tanggal 30 Oktober 2006 untuk
pembuatan desain rinci dan pengawasan Proyek Percontohan Darurat.
Pekerjaan desain
terbagi dalam tiga paket, yaitu :
• Lingkup Paket 1 : Membangun sistem pengolahan air untuk unit Dlingo di PDAM Bantul.
11 - 3
•
•
Lingkup Paket 2 : Membangun sumur dangkal dan jembatan pipa bersama dengan
peletakan pipa untuk unit Imogiri, Sewon, Banguntapan dan Trimulyo di PDAM Bantul.
Lingkup Paket 3 : Memperbaiki sistem penyediaan air masyarakat di Dlingo dan
memperbaiki bangunan-bangunan pada unit Banguntapan, Bantul, Trimulyo dan Dlingo di
PDAM Bantul.
Lingkup kerja secara detail dari masing-masing paket dirangkum pada Tabel 11.3.1, Tabel
11.3.2
dan Tabel 11.3.3.
Tabel 11.3.1 Lingkup Proyek Percontohan Darurat - Paket 1
Lokasi Proyek
Lingkup Pekerjaan
PDAM Bantul
- Paket Instalasi Pengolahan
Unit Dlingo
termasuk fasilitas intake air
Kapasitas 5 liter/detik
sungai.
- Pompa transmisi dan Panel
Q10 l/dtk x H65m x 11kW x 2 unit
Pipa transmisi
Φ150mm x L 760m
- Kabel listrik
L 1,000m
- Penangkapan Mata Air
Kapasitas 5 liter/detik
- Bangunan Pengoperasian
1 L.S.
- Jalan Akses
1 L.S.
Tabel 11.3.2 Lingkup Proyek Percontohan Darurat - Paket 2
Lokasi Proyek
PDAM Bantul
Unit Trimulyo
Unit Sewon
Unit Imogiri
Unit Banguntapan
Lingkup Pekerjaan
Sumur Dangkal
Jembatan Pipa
Jembatan Pipa
Pipa Distribusi
Pipa Distribusi
1.5m x 1.5m x d 5m
GIP φ100mm x L 10m
GIPφ150mm x L 84m
GIPφ150mm x L 90m
PVCφ150mm x L1200m
Tabel 11.3.3 Lingkup Proyek Percontohan Darurat - Paket 3
Lokasi Proyek
1) Sistem penyediaan air masyarakat di Kabupaten Bantul
DESA MANGUNAN
Dusun Mangunan II
Pipa Transmisi
Dusun Mangunan I
Sumur Dangkal
Pompa Intake
Pompa Booster
Sump Well
Pipa Transmisi
Dusun Cempluk II
Sumur Dangkal
Pompa Intake
Pipa Transmisi
Dusun Mangunan
Pompa Intake
Pipa Transmisi
11 - 4
Lingkup Pekerjaan
φ25mm x L66m
φ1,0m x H 3m
Q0,75 l/dtk x H46m x 450W x 1unit
Q0,75 l/dtk x H46m x 450W x 1unit
1m3
φ25mm x L50m
φ1,0 m x H 10m
Q 0,27 l/dtk x H 45m x 320 W x 1unit
φ25 mm x L 1230m
Q0,52 l/dtk x H 60m x 450W x 1unit
φ25mm x L50m
Dusun Kanigoro
Pompa Intake
Pompa Booster
Konstruksi Sump Well
Pipa Transmisi
Reservoir
Pipa Distribusi
Hidran umum
Pompa Intake
Pompa Booster
Konstruksi Sump Well
Pipa Transmisi
Reservoir
Dusun Lemahabang
DESA TERONG
Dusun Terong I
Konstruksi Sumur Dangkal
Pompa Intake
Pompa Booster
Konstruksi Sump Well
Pipa Transmisi
Rservoir
Konstruksi tembok penyangga
untuk hidran umum
Pipa Distribusi
2)Ssistem penyediaan air PDAM Bantul
Unit Dlingo
Perbaikan Rumah pompa
Unit Trimulyo
Perbaikan Bangunan Kimia
Unit Banguntapan
Perbaikan Tembok Penyangga
Rekonstruksi Bangunan Operasi.
Perbaikan Bangunan Operasi.
Unit Bantul
Perbaikan Gudang di Kantor
Perbaikan Gudang di Instalasi
11.4
Q0,35 l/dtk x H60m x 450W x 1unit
Q0,35 l/dtk x H60m x 450W x 1unit
1m3
GIP, φ25mm xL120m
8m3
PVC, φ25mm x L70m
Platform 4 buah
Q0,37 l/dtk x H60m x 450W x 1unit
Q0,37 l/dtk x H60m x 450W x 1unit
1m3
GIP, φ25mm x L240 m
8m3
φ1,0m x d3.5m
Q0,75 l/dtk x H 21m x 250W x 1unit
Q0,75 l/dtk x H 60m x 450W x 1unit
1m3
GIP, φ25mm xL380m
8m3
h 1,5m x L 5m
PVCφ25mm x L70m
1 L.S.
1 L.S.
1 L.S.
Struktur Batu Bata, 48m2
1 L.S.
1 L.S.
1 L.S.
Pelaksanaan Proyek
Tiga(3) kontraktor lokal di wilayah tersebut terpilih pelaksanaan 3 paket dari Proyek
Percontohan Darurat.
Sebelum tender dilakukan untuk memilih kontraktor, daftar pendek
(short-list) dari kontraktor-kontraktor direkomendasikan oleh dinas Pekerjaan Umum wilayah
Bantul atas permintaan Tim Peneliti.
Tiga kontraktor dicalonkan untuk tiap paket kontrak
dengan mempertimbangkan kemampuan teknis dan pengalaman serta kelayakan keuangan.
Calon-calon kontraktor diundang untuk mengikuti tender dan tender atas seluruh paket dibuka
pada bulan Desember 2006.
Setelah evaluasi tender dan dilanjutkan dengan negosiasi maka
kontrak untuk paket-paket pekerjaan tersebut ditandatangani. Pelaksanaan pekerjaan segera
dimulai setelah ditandatanganinya kontrak Paket-1, Paket-2 dan Paket-3 yang dilaksanakan
masing-masing pada tanggal 10 Januari 2007, 23 Desember 2006 dan 23 Desember 2006.
11 - 5
Informasi masing-masing paket kontrak seperti nama kontraktor, jadwal kontrak serta nilai
kontrak dirangkum dalam Appendix 11-3.
Sedangkan Jadwal Pelaksanaan Kerja ditunjukkan
pada Gambar 11.4.1
11 - 6
2006
Sistem / Fasilitas
10/08-14 10/15-21 10/22-28
10/2911/04
11/05-11 11/12-18 11/19-25
2007
11/2612/02
12/03-09 12/10-16 12/17-23 12/24-30
12/3101/06
01/07-13 01/14-20 01/21-27
Pemilihan Sistem / Fasilitas
Pemilihan Lokal Konsultan
Design
Tender dan Penganugerahan Kontrak
Konstruksi
A. PDAM Bantul
A.1 Package 1 - Unit Dlingo
1) Water Treatment Plant, 5
Transmission
2) l/s
φ 150x760m
pipeline, 2 - Unit Imogiri, Banguntapan, Sewon, Trimulyo
A.2 Package
1) Pipe Bridge, φ 150x84m
2) Distribution Main, φ 150x1200m
3) Other Works
Package 3
A3. Reconstruction/Repair of Bldgs. -Package 3a
B. Community Water Supply System
B.1 Group (Mangunan I&II, Cempluk I&II) -Package 3b
1) Construction of Dug Well,
2nos.
2) Intake/Booster
Pumps
3) Transmission/Distribution Pipe, 690m
B.2 Group (Terong I, Kanigoro, Lamahabang) -Package 3c
1) Construction of Dug Well, 1no.
2) Intake/Booster Pumps
3) Transmission/Distribution Pipe
of
4) Reconstruction
Reservoir
legend
:
Gambar 11.4.1
supply of materials/equipment
construction/installation works
Jadwal Pelaksanaan Proyek Percontohan Darurat
11 - 7
01/2802/03
02/04-10 02/11-17 02/18-24
02/2503/03
02/0403/10
03/1103/17
03/1803/24
03/25-31
11.5
Penyelesaian Dan Penyerahan Proyek
Setelah pekerjaan pembangunan tersebut selesai, maka kontraktor-kontraktor seluruh paket
kontrak memberikan latihan kepada staff pengoperasian PDAM Bantul dan penyedian air
masyarakat.
Dengan diserahkannya petunjuk perawatan serta gambar as-built maka pada
Maret 2007, sertifikat penyelesaian pekerjaan diberikan kepada kontraktor.
Kemudian, seluruh
fasilitas tersebut diserah-terimakan kepada pemerintah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
(melalui Dinas Kimpraswil) pada tanggal 30 Maret 2007, dan kemudian secara resmi diserahkan
kepada pemerintah daerah pada tanggal 28 Juni 2007.
Dokumen serah terima dan penyerahan fasilitas-fasilitas yang diperbaiki terangkum pada
Appendix 11.4.
Selama proses penyerahan resmi kepada pemerintah Indonesia, PDAM beserta organisasi
peyedia air masyarakat di Bantul telah menggunakan fasilitas-fasilitas yang telah direstorasi
sebagai percobaan.
Seluruh kekurangan pekerjaan yang ditemukan selama periode percobaan
dan juga periode perawatan telah diperbaiki oleh masing-masing kontraktor pada bulan
September 2007.
11.6. Indeks Dan Hasil Evaluasi Proyek
Dengan tujuan untuk mengevaluasi pengaruh dari Proyek Percontohan Darurat maka empat(4)
indeks telah ditetapkan.
Pertimbangan penentuan indeks didasarkan atas tingkat kerusakan
pada tiap-tiap lokasi dan fasilitas.
Garis batas survey dilakukan sebelum pelaksanaan
pekerjaan dan akan dicermati setelah pelakasanaan pekerjaan untuk mengevaluasi dan
menganalisa dampak atas proyek ini.
Ke-empat indeks yang terpilih adalah sebagai berikut :
(1) Indeks 1 :
1)
Volume Intake
Akibat dari Gempa Bumi
Setelah gempa bumi, volume intake air menurun. Alasan utama adalah menurunnya kapasitas
air sumur dan mata air, menurunnya skema air, kerusakan pompa, dan kerusakan pipa transmisi
dari sumber-sumber air.
2)
•
•
Hal-Hal Yang Diperbaiki
Pendalaman sumur-sumur yang sudah ada, pengeboran sumur-sumur baru, dan pembuatan
intake baru dari mata air dan sungai.
Pemasangan pompa intake baru
11 - 8
•
3)
Perbaikan atau pemasangan baru saluran transmisi
Metode Pengukuran dan Evaluasi
Volume intake diukur dengan menggunakan meter aliran air ultrasonic pada pipa transmisi.
Pengaruh dari Proyek Percontohan Darurat akan dievaluasi dengan membandingkan volume
intake sebelum dan setelah pelaksanaan proyek tersebut.
Ketika volume air tidak bisa diukur
karena permasalahan struktural intake dan yang lainnya, maka data dari PDAM atau masyarakat
akan digunakan untuk memperkirakan volume air.
(2) Indeks 2 :
1)
Tekanan Air Pada Sistem Distribusi
Akibat dari Gempa Bumi
Sejumlah pipa terpendam rusak dan muncul keatas permukaan tanah setelah gempa bumi di unit
Bantuntapan.
Untuk mengamankan pasokan air ke wilayah hilir,
PDAM memasang
pipa-pipa sementara yang berdiameter 50 mm, yang jauh lebih kecil daripada diameter semula
150 mm.
Pelanggan di bagian hilir sangat terpengaruh oleh rendahnya tekanan air karena
kapasitas dari pipa sementara tidak memadai.
2)
Hal-Hal yang Diperbaiki
Pemasangan pipa distribusi sebagai pengganti dari pipa sementara yang terpasang.
3)
Metode Pengukuran dan Evaluasi
Tekanan air diukur dengan menggunakan meteran tekanan air yag dipasang di hilir pipa yang
rusak sebelum dan setelah pelaksanaan proyek.
Hasil dari kedua pengukuran akan
dibandingkan untuk mengevaluasi dampak dari Proyek Percontohan Darurat ini.
(3) Indeks 3 :
1)
Jumlah Sambungan Rumah Yang Disediakan
Akibat dari Gempa Bumi
Menurunnya jumlah sambungan rumah yang dapat disediakan setelah gempa bumi karena
menurunnya volume intake air dan rusaknya fasilitas penyediaan air seperti pipa transmisi,
reservoir, pipa-pipa distribusi dan tempat-tempat air umum.
Tempat-tempat tersebut dimana
jembatan pipa rusak atau pipa-pipa sementara digunakan sebagai pengganti pipa utama yang
rusak memungkinkan timbulnya gangguan pasokan, disamping itu rendahnya kestabilan
pasokan air juga turut mempengaruhi.
2)
•
•
•
•
Hal-Hal yang Diperbaiki
Pemasangan pipa transmisi air
Pemasangan fasilitas pompa booster
Pembangunan reservoir
Pemasangan pipa distribusi
11 - 9
•
•
3)
Perbaikan bak untuk keran air umum
Perbaikan jembatan pipa
Metode Pengukuran dan Evaluasi
Dari hasil dengar pendapat dengan staff PDAM serta para kepala sistem penyediaan air
masyarakat, maka jumlah sambungan yang disediakan akan dihitung. Perkiraan jumlah
sambungan sebelum dan setelah Proyek Percontohan Darurat akan dibandingkan untuk
dievaluasi mengenai dampak proyek ini.
(4) Indeks 4: Pengoperasian Dan Pemeliharaan Fasilitas Penyediaan Air
1)
Akibat dari Gempa Bumi
Rusaknya bangunan operasi, rumah pompa, bangunan kimia serta gudang penyimpanan sangat
berpengaruh pada kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan.
Para staff menghadapi kesulitan
pada pengoperasian dan pemeliharaan, khususnya untuk kegiatan-kegiatan berikut ini.
• Dosis Klorin
• Pengoperasian pompa
• Menanggapi keluhan dari pengguna air
• Pencatatan penggunaan air pelanggan
• Penyimpanan di gudang
2)
•
•
•
•
Hal-Hal yang Diperbaiki
Perbaikan bangunan kimia
Perbaikan rumah pompa
Perbaikan atau rekonstruksi bangunan operasi
Perbaikan gudang penyimpanan
3)
Metode Pengukuran dan Evaluasi
Tim Peneliti akan melakukan dengar pendapat dengan staf PDAM tentang kesulitan / status
operasi serta pemeliharaan.
Hasil-hasilnya akan dievaluasi dan dikategorikan menjadi lima
tingkat seperti berikut :
• Tingkat 1 : Sangat Bermasalah
• Tingkat 2 : Bermasalah
• Tingkat 3 : Cukup (tidak baik tapi tidak buruk)
• Tingkat 4 : Baik
• Tingkat 5 : Sangat Baik
Keempat indeks tersebut diatas dicermati untuk tiap fasilitas dan dampak dari proyek akan
dievaluasi.
Pada Tabel 11.6.1 terangkum 4 indeks tersebut bersama dengan hasil evaluasi dari
masing-masing fasilitas.
Sedangkan perincian evaluasi untuk tiap fasilitas dijelaskan pada
Appendix 11-5.
11 - 10
Tabel 11.6.1
Sistem
Penyediaan Air
PDAM Bantul
(Unit Trimulyo)
Bagian yang
Diperbaiki
Pembangunan
Sumur Dangkal,
Perbaikan
Gedung Kimia,
dan Tembok
Penyangga
Rangkuman Indeks dan Hasil Evaluasi Proyek
Volume Intake Air
Tekanan Air pada
Sistem Distribusi
Jumlah
Sambungan yang
disediakan
Sebelu
m EPP
M3/hari
Setelah
EPP
M3/hari
Sebelu
m EPP
(MPa)
Setelah
EPP
(MPa)
Sebelu
m EPP
(jumlah)
Setelah
EPP
(jumlah)
Sebelu
m EPP
(tingkat)
Setelah
EPP
(tingkat)
295
278
-
-
-
-
2
5
Stabilitas dari
Intake meningkat.
Pekerjaan Kantor
kembali normal
-
-
-
-
0
75
-
-
Penyediaan air ke
hilir sebesar
2,2m3/hari
menjadi stabil.
476
971
-
-
-
-
1
5
Setelah
menambah
kapasitas menjadi
10lt/dtk maka air
dapat disediakan
pada musim
kemarau (5lt/dtk
dari mata air dan
5lt/dtk dari
permukaan air)
*Evaluasi O/M
dari Fasilitas
Penyediaan Air
Penjelasan
(Unit Sewon)
Perbaikan
Jembatan Pipa
(Unit Dlingo)
sub-unit Ngreboh/
Grajekan
Pembangunan
IPA (Intake,
instalasi,
reservoir),
penangkapan
mata air, pipa dan
pompa transmisi
serta perbaikan
gedung kantor
(Unit Imogiri)
Pembangunan
Jembatan Pipa
-
-
-
-
0
260
-
-
Penyediaan air
373m3/hari ke
arah hilir
menjadi stabil.
(Unit Banguntapan)
Pemasangan
pipa,
pembangunan
kembali gedung
kantor
-
-
0,025
0,220
0
247
2
5
Penyediaan air
179m3/hari ke
arah hilir
menjadi stabil.
(Unit Bantul)
Perbaikan
Gedung Kantor
dan 2 unit gudang
penyimpanan
-
-
-
-
-
-
2
5
Setelah perbaikan
gudang,
permintaan
peralatan dan
material dapat
disimpan, PDAM
akan
memberbaiki atap
gedung yang
tidak termasuk
dalam lingkup
proyek.
Penggantian Pipa
Transmisi
7,1
10,0
-
-
25
40
-
-
Setelah
perbaikan,
penyediaan air
menjadi stabil.
Sistem Penyediaan
Air Masyarakat di
kabupaten Bantul
(Desa Mangunan II)
11 - 11
Pembangunan
Sumur Dangkal
dengan Pompa
Intake, Sump
Well dan
transmisi
0
5,2
-
-
0
70
-
-
Setelah
perbaikan,
penyediaan air
dapat dilakukan
kembali
Pembangunan
Sumur Dangkal
dengan pompa
intake dan pipa
transmisi
3,2
0
-
-
2
28
-
-
Setelah
perbaikan,
penyediaan air
dimusim kemarau
dapat dilakukan
kembali.
(Desa Mangunan)
Pemasangan
Pompa Intake
dan Pipa
Transmisi
5,2
5,2
-
-
20
100
-
-
Setelah
perbaikan,
penyediaan air
menjadi stabil.
(Desa Kanigoro)
Pemasangan
Pompa / Booster
Intake dan pipa
transmisi,
perbaikan dari
kran.
0
0
-
-
0
85
-
-
Setelah
perbaikan,
penyediaan air
dapat dilakukan
kembali.
Pemasangan
Pompa Intake/
Booster, Pipa
transmisi dan
reservoir
0
-
-
0
120
-
-
Setelah
perbaikan,
peyediaan air di
musim kemarau
dapat dilakukan
kembali.
Pembangunan
Sumur Dangkal
dengan Pompa
Intake/ Booster,
Pipa transmisi
dan distribusi,
reservoir dan
perbaikan kran
0
-
-
30
55
-
-
Setelah
perbaikan,
penydiaan air
dapat dilakukan
kembali.
(Desa Cempluk II)
(Desa
Lemahabang)
(Desa Terong)
(8,4)
(7,3)
0
(18,9)
10,4
Note 1) *Evaluasi Pengoperasian dan Pemeliharaan Fasilitas Penyediaan Air
Lima Tingkatan (1: sangat bermasalah, 2: bermasalah, 3: cukup, 4; baik, 5: sangat baik)
Note 2) ( ) pada kolom “Volume Air Intake” menunjukkan perkiraan penggunaan volume air di musim
kemaaru (Yield capacity x operation hour)
EPP menawarkan pebaikan atas kerusakan-kerusakan akibat gempa bumi seperti yang
disebutkan di atas.
Sumur dangkal dibangun di Unit Trimulyo, Desa Mangunan I, Cempluk II
dan Terong I, sedangkan pompa intake dipasang di Desa Mangunan, Desa Kanigoro dan Desa
Lemahabang, kapasitas intake meningkat dan/atau tersedianya air pada musim kemarau.
EPP
juga memungkinkan penggunaan mata air dan air sungai sebagai penyediaan air untuk unit
Dlingo pada musim kemarau.
Penggantian pipa transmisi dan pipa distribusi dan/atau perbaikan jembatan pipa di Unit Sewon,
Unit Imogiri, Unit Banguntapan dan tujuh(7) sistem penyediaan air masyarakat turut
menyumbang perbaikan dari stabilitas air, tekanan air serta sambungan air.
Gedung-gedung
untuk kantor, rumah pompa serta gedung kimia di Unit Trimulyo, Unit Banguntapan dan Unit
11 - 12
Bantul telah diperbaiki sehingga pekerjaan kantor dapat berjalan seperti semula dan mengurangi
keluhan pelanggan, serta dapat menyimpan bahan-bahan kimia, peralatan dan perlengkapan
sebagaimana mestinya.
Photo-photo dari Proyek Percontohan Darurat (EPP) terlampir sebagai Appendix 11.6.
11.7
Output Proyek
Sebagai tambahan dari perbaikan atas kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi,
pelaksanaan dan pengevaluasian EPP memberikan informasi yang diperlukan untuk
perbaikan-perbaikan yang sangat berguna untuk membuat suatu sistem penyediaan air yang
tahan terhadap bencana.
Informasi penting yang akan digunakan dalam pembuatan Rencana
Induk dan Rencana Tindak, dirangkum sebagai berikut :
MENGENAI PDAM
• Stabilitas sistem penyediaan air pada umumnya rendah karena kepemilikan sumber air
tunggal. Untuk meningkatkan kestabilan penyediaan air pada waktu kecelakaan,
kekeringan serta bencana lainnya, maka disarankan untuk menggunakan sistem sumber air
jamak (banyak).
• Gedung-gedung dengan fondasi dan kolom yang cukup tidak roboh karena gempa bumi,
oleh karena itu diperlukan desain yang tepat serta pengawasan pekerjaan konstruksi
sebagaimana mestinya.
• Lokal kontraktor dapat dipekerjakan dalam hal pengadaan barang serta konstruksi
pekerjaan ukuran kecil setelah bencana. Namun demikian, pengawasan yang tepat
dalam pekerjaan konstruksi sangat diperlukan mengingat kemampuan kontraktor dalam
hal pengawasan kualitas dan perencanaan konstruksi tidak begitu baik.
• Pengawasan material-material, peralatan serta perlengkapan untuk pemeliharaan fasilitas
tidak memadai. Untuk itu diperlukan penguatan di bidang pengawasan kemampuan
untuk pengadaan barang pada waktu keadaan darurat.
• Informasi atas fasilitas-fasilitas tidak dikumpulkan secara akurat. Hal ini memerlukan
penguatan aset manajemen untuk persiapan pembuatan Rencana Induk.
• Diamati bahwa tidak diperlukan pembagian informasi di PDAM. Diperlukan penguatan
sistem pengiriman informasi untuk membuat keputusan berdasarkan informasi yang tepat
dan untuk mengawasi kegiatan di lokasi.
• Staff tidak bersungguh-sungguh dalam penyediaan air minum. Diperlukan peningkatan
kemampuan dalam pengawasan kualitas air.
Beberapa kekurangan ditemukan selama pelaksanaan EPP khususnya dalam hal administrasi
dan kemampuan dari staff PDAM.
Untuk persiapan Rencana Induk, maka diharapkan untuk
mempertimbangkan aset manajemen dan pengembangan kemampuan PDAM.
MENGENAI PENYEDIAAN AIR MASYARAKAT
• usaknya pipa karena konstruksi yang buruk, salah satu yang dicermati adalah tidak
11 - 13
•
•
•
•
•
memadainya perlindungan pipa.
Diperlukan perbaikan desain serta pengawasan
konstruksi untuk membuat suatu sistem yang tahan terhadap bencana.
Pompa Intake Air ruak karena pengoperasian pompa terus menerus tanpa henti bahkan
pada waktu tidak tersedianya air setelah bencana gempa bumi. Pertimbangan untuk
perlindungan pipa seperti tombol batas air, sangat diperlukan.
Kadang-kadang tidak memadainya kemampuan pengoperasian serta pemeliharaan sistem
oleh organisasi masyarakat. Dianjurkan bagi PU dan PDAM untuk memberikan
pelatihan serta instruksi kepada masyarakat dalam hal pengoperasian dan pemeliharaan
yang meliputi pengawasan kualitas air dan aset manajemen.
Sistem penyediaan air masyarakat dibentuk oleh PU tetapi tidak memadai dikarenakan
penerapan standard desain yang menseragamkan pemakaian pipa ukuran diameter 25mm.
Untuk menyesuaikan kondisi lokasi yang sebenarnya maka perbaikan dari beberap sistem
penyedian air sangat diperlukan.
Dalam beberapa komunitas, air yang memadai tidak dapat diandalkan dari sumur dangkal.
Diperlukan untuk mempertimbangkan pembangunan sumur dalam di beberapa wilayah.
Informasi yang diperlukan seperti kekurangan air dan kerusakan fasilitas-fasilitas
penyediaan air harus berasal dari masyarakat itu sendiri. Tanpa informasi tersebut,
sangatlah sulit untuk menyiapkan program perbaikan kerusakan. Diperlukan suatu
sistem dimana masyarakat memberitahukan PU mengenai kesulitan dan kebutuhan
penyediaan air untuk mencari suatu metode untuk menyelesaikan masalah.
Sistem penyediaan air dioperasikan oleh organisasi air masyarakat, dimana mereka tidak
memiliki keahlian tinggi karena tidak memadainya pelatihan atau bantuan dari organisasi
lainnya.
Rencana Induk diharapkan untuk meliputi peningkatan kemampuan masyarakat dan
hubungan diantara masyarakat, PDAM, PU serta pihak-pihak terkait lainnya.
11 - 14
BAB 12
VISI RENCANA INDUK
BAB 12
12.1
VISI RENCANA INDUK
Visi / Kebijakan Rencana Induk
Di akhir tahap I Studi “Perumusan Visi / Kebijakan dan Strategi”, Visi / Kebijakan dan Strategi
dirumuskan sebagai landasan Rencana Induk yang akan dibuat di tahap 2 Studi “Perumusan
Rencana Induk”.
Visi, kebijakan, dan strategi ini dibuat dengan memperhatikan kebijakan dan rencana
pembangunan nasional serta
rencana
pembangunan dan kebijakan daerah.
Pada tanggal
13 Februari 2007, lokakarya diselenggarakan dengan mengundang para pejabat yang terkait
dalam sektor penyediaan air dan perencanaan pembangunan dari berbagai lembaga seperti
Direktorat Pengembangan Penyediaan Air Jakarta, Pemerintah Propinsi DI Yogyakarta,
kotamadya Yogyakarta, kabupaten Sleman dan Bantul. Selama lokakarya, bagaimana sistem
penyediaan air di masa mendatang, visi dan kebijakan, serta strategi untuk mencapai visi dan
kebijakan tersebut dibahas dan akhirnya visi, kebijakan Rencana Induk disimpulkan seperti
yang dijabarkan dibawah ini.
12.2
Rencana Induk/Kebijakan Nasional Dan Visi/Kebijakan Rencana Induk
Kebijakan nasional yang mentargetkan tercapainya Sasaran Pembangunan Jangka Menengah
dan Rencana Tindak Nasional bagi pengembangan Sistem Penyediaan Air (Kebijakan Dan
Strategi Nasional, Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, KSNP-SPAM) dideskripsikan
di Bab 4.
Visi, dan kebijakan
rencana tindak.
Rencana induk harus sesuai dengan
kebijakan regional dan nasional. dan
Hubungan antara visi, kebijakan dari Rencana Induk, national dan regional
rencana tindak ditunjukkan di Gambar 12.2.1.
Pencapaian
MDGs
Action Plan Nasional
Action Plan Daerah
R i
l A ti Pl
Visi/Misi/KebijakanMaster Plan
Gambar 12.2.1
Hubungan Rencana Tindak Nasional/Daerah dan Visi Rencana Induk
12 - 1
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar diatas, Visi/Kebijakan Rencana induk (Master Plan)
akan mendukung Rencana Tindak Daerah yang sesuai dengan rencana nasional untuk mencapai
Sasaran Pembangunan Jangka Menengah (MDG).
12.3
Sistem Penyediaan Air Dimasa Mendatang
Untuk mengembangkan visi, kebijakan dan strategi Rencana induk, aspek-aspek penyediaan air
yang harus
dilengkapi dipertimbangkan. Aspek-aspek penting diperoleh dari misi penyediaan
air, yaitu:
• Keberlanjutan,
• Reliabilitas/Stabilitas (Keandalan/Keajegan), dan
• Keadilan.
Untuk meningkatkan penyediaan air di DIY, ketiga aspek ini dipertimbangkan untuk
mengembangkan misi, kebijakan, dan strategi.
12.4
Pendekatan Perbaikan Sistem Penyediaan Air
Untuk mewujudkan sistem penyediaan air yang berkelanjutan, andal, ajeg, dan adil, sejumlah
pendekatan dipertimbangkan seperti :
• Pendekatan pengembangan kapasitas,
• Pendekatan perbaikan legislatif,
• Pendekatan perbaikan teknis, dan
• Pendekatan konservasi sumberdaya air.
Untuk tiap pendekatan, visi dan kebijakan diidentifikasi sebagai berikut.
•
Pendekatan Pengembangan Kapasitas
− Visi 1:
Pembentukan hubungan pelanggan yang baik
− Visi 2:
Peralihan ke penyedia otonom
− Visi 3:
Koordinasi antar PDAM
− Visi 4:
Pengembangan kapasitas PDAM dan Asosiasi Pemakai Air AMD
•
Pendekatan perbaikan legislatif
− Visi 5:
Perbaikan Legislatif
− Visi 6:
Kewajiban Pelayanan Publik
•
Pendekatan perbaikan teknis
− Visi 7:
Perbaikan tingkat pelayanan
•
Pendekatan Konservasi Sumberdaya Air
− Visi 8:
Mengamankan sumberdaya air berkelanjutan
12 - 2
12.5
Visi / Kebijakan Dan Strategi
12.5.1
Pendekatan Pengembangan Kapasitas
(1) Visi 1:
Pembentukan Hubungan Baik Pelanggan
Untuk membentuk hubungan baik pelanggan perlu memupuk kepercayaan pelanggan. Tanpa
kepercayaan dua arah, pelanggan tidak akan pernah setuju dengan peningkatan tarif, dan ini
akan menyebabkan kondisi keuangan yang tidak sehat bagi penyedia layanan dan kemudian
akan mempengaruhi pengoperasian dan pemeliharaan rutin. Ketidak cukupan dalam
pengoperasian dan pemeliharaan akan mengakibatkan pada keluhan pelanggan dan hal ini
menjadi mata rantai lingkaran setan.
Untuk membina kepercayaan pelanggan, strategi berikut ini diperlukan :
•
Mempertahankan Transparansi dan Pertanggungjawaban
− Penyedia pelayanan harus transparan dalam menangani operasional terhadap
pelanggan
dan
ini
berarti
bahwa
penyedia
layanan
harus
mempertanggungjawabkan kepada pelanggan. Khususnya, dalam hal keuangan
harus terbuka terhadap pelanggan dalam menjelaskan bagaimana tarif air
dibelanjakan.
•
Pemahaman yang Baik atas Kebutuhan Pelanggan
− Kualitas pelayanan harus terus menerus ditingkatkan untuk memupuk
kepercayaan pelanggan. Untuk tujuan ini, kebutuhan pelanggan perlu selalu
dipantau dan kualitas layanan harus selalu ditingkatkan untuk memenuhi
kebutuhan mereka.
(2) Visi 2:
Peralihan ke Penyedia Otonom
Ke tiga PDAM adalah penyedia air yang 100% dimiliki oleh pemerintah kabupaten/kota dan
pemerintah pemilik seringkali tidak mengijinkan PDAM melaksanakan otonomi mereka,
terutama dalam hal pengangkatan staff, penentuan tarif, dan penanaman modal.
Untuk mewujudkan perusahaan air yang efisien, andal, dan baik, PDAM harus diberikan
otonomi yang lebih besar dalam hal keuangan dan operasional. Ada sejumlah strategi penting
untuk mencapai visi ini, yaitu:
•
Menjadi perusahaan yang mandiri secara keuangan dengan mengupayakan kondisi
keuangan yang sehat. Penentuan tarif yang dapat menutup biaya serta perbaikan cara
penagihan tarif adalah langkah-langkah utama untuk mencapai tujuan tersebut.
•
Meningkatkan kinerja operasional dengan mengurangi NRW. PDAM harus aktif dalam
menangani masalah kehilangan air dengan memeriksa dan memperbaiki kebocoran adalah
langkah yang efektif untuk memupuk kepercayaan dan dukungan dari pelanggan yang
12 - 3
akan mendorong tercapainya saling pengertian dalam revisi tarif demi otonomi keuangan.
•
Meningkatkan kinerja staff berdasarkan pada insentif, dan berusaha menghentikan
penggunaan aturan-aturan dan gaji pegawai negeri adalah pilihan bijak untuk menjadi
perusahaan penyedia air independen dengan kendaraan manajemen sektor-swasta.
(3) Visi 3:
Koordinasi antar PDAM
Visi ini ingin mencapai tujuan berupa kerjasama antar ketiga PDAM atas prakarsa Kartamantul
yang digagas oleh Pemerintah Propinsi DI Yogyakarta.
Ada sejumlah rintangan yang menghambat kerjasama antar PDAM, termasuk:
• Perbedaan antara Yogyakarta dan Sleman/Bantul mengenai ukuran dan distribusi
pelanggan, struktur biaya, kebijakan tarif, penyusutan asset, dan konfigurasi jaringan.
• perbedaan antara Sleman dan Yogyakarta/Bantul mengenai sumber-sumber air eksternal
(perbedaan swa-sembada air).
• Adanya saluran pipa ganda dan tumpang tindih di Sleman dan Bantul oleh PDAM yang
berbeda.
Solusi yang saling menguntungkan untuk semua PDAM harus terus diupayakan dengan
semangat Kartamantul dengan menghilangkan konflik kepentingan dan memajukan kepentingan
bersama bagi PDAM. Untuk itu, strategi berikut ini relevan dan efektif:
• Pembangunan bersama sumber air baru melalui pendekatan PPP/PSP
• Pembangunan bersama transmisi interkoneksi dan jalur distribusi baru
• Kerjasama dalam bentuk pekerjaan operasional (dalam bentuk pemeliharaan fasilitas,
pengurangan kebocoran, penentuan tarip, dsb.)
• Berbagi informasi dan praktik terbaik antar PDAM
(4) Visi 4:
Pengembangan Kapasitas PDAM dan Organisasi Pemakai Air (WUO) dari
AMD
Pengembangan kapasitas setiap PDAM dan juga WUO dari AMD sangat penting bagi
pemberdayaan manajemen dan keberlangsungan operasional
dalam mencapai sasaran
pembangunan jangka menengah (MDG).
Untuk menyelesaikan pengembangan kapasitas, strategi berikut ini diperlukan :
•
Perbaikan tingkat pelayanan
− Pelatihan berkala dengan alokasi anggaran akan diperlukan bagi staff PDAM
untuk mendapatkan pengetahuan professional dalam bidang pekerjaan terkait
dan keterampilan dalam bidang kehilangan air, dan membentuk hubungan
pelanggan yang baik yang dapat memupuk kepercayaan pelanggan.
•
Dukungan yang memadai pada WUO (Organisasi Pemakai Air)
− Manajemen organisasi dilaksanakan dengan prinsip Gotong-Royong.
Pemberdayaan harus terus menerus dilakukan melalui bantuan teknis dan
12 - 4
keuangan dari pemerintah dan donatur. Pada waktu pembentukan WUO, kepala
desa dapat meminta PDAM untuk mengirim staffnya untuk memberikan
pelatihan O&M kepada WUO. Hal ini dipahami bahwa PDAM menerima hal
ini dengan sukarela karena WUO dikelola secara sukarela. Namun, PU
kabupaten harus memantau keberlangsungan O&M tersebut setelah pengalihan
sistem penyediaan air tersebut kepada WUO. Pemberian informasi berkala harus
diusahakan.
12.5.2
Pendekatan perbaikan legislatif
(1) Visi 5:
Perbaikan Legislative
Pemeirntah Daerah harus meningkatkan lingkungan legislatif sesuai dengan Undang-Undang
Sumberdaya Air ( (UU7/2004) dan Peraturan Pemerintah tentang Penyediaan Air (PP16/2005)
untuk meningkatkan kinerja penyediaan air bagi Wilaya Penelitian JICA. Strategi untuk
mencapai visi ini diantaranya:
•
•
•
•
•
•
Menerapkan kebijakan air regional yang transparan termasuk kerangka peraturan yang
independen.
Reformasi tarip yang menempatkan pelanggan dan bukan pemerintah sebagai pengendali.
Keterlibatan masyarakat sipil dengan mengkonsultasikan berbagai permasalahan dengan
para pemangku kepentingan dan pelanggan.
Mendorong Kemitraan Publik-Swasta atau Public Private Partnership (PPP) atau
Partisipasi Sektor Swasta atau Private Sector Participation (PSP) untuk meningkatnakn
kualitas dan efisiensi penyediaan layanan.
Menentukan dengan jelas pembagian peran lembaga dengan memisahkan tiga fungsi
utama yaitu pengambilan kebijakan, peraturan, dan penyediaan layanan.
Membantu orang miskin dengan menetapkan tarip yang berpihak pada orang miskin dan
mendukung organisasi berbasis-masyarkat untuk area non -PDAM
(2) Visi 6:
Tarif
Kewajiban Pelayanan Publik
perlu dikendalikan karena
hal ini adalah bisnis utilitas monopoli bagi publik. Tarif
ditentukan dalam kerangka sosial ekonomi dan mempertimbangkan kemiskinan. Pemulihan
biaya secara penuh adalah tantangan berat bagi manajemen, terutama di wilayah
yang
penduduknya menyebar. Pemerintah pusat perlu mempertimbangkan subsidi yang transparan
pada pelayanan publik.
Untuk bisa memenuhi kewajiban ini, strategi berikut perlu dilakukan :
•
Tingkat tarif yang memadai
− Operasional dan pemeliharaan yang memadai, transparansi yang meningkat dan
maksimalisasi kepercayaan pelanggan dengan penyediaan air yang adil bersama
dengan perbaikan tingkat layanan akan mendukung revisi tarif periodik.
•
Operasi AMD yang berkelanjutan
12 - 5
−
•
Penyediaan air secara adil pada orang miskin serta operasional dan pemeliharaan
yang memadai dengan tingkat tarif yang memadai dengan mempertimbangkan
penentuan tarif yang berpihak pada orang miskin adalah perlu.
Sistem subsisi pemerintah yang transparan
− Tergantung pada strategi diatas, perlu memperhatikan pengembangan kebijakan
pemerintah
12.5.3
Pendekatan Perbaikan Teknis
(1) Visi 7: Peningkatan Tingkat Layanan
tingkat layanan dalam aspek kuantitas dan kualitas perlu diperbaiki untuk dapat mencapai
sasaran pembangunan jangka menengah (MDG). Untuk memperbaiki tingkat layanan, strategi
berikut ini dapat diterapkan.
•
Sistem Penyediaan Air yang Memadai / Efektif
− Sistem penyediaan air yang memadai dan efektif akan dicapai bukan hanya
dengan pendekatan perbaikan teknis tapi juga dengan peningkatan kapasitas
penyedia layanan seperti yang dijabarkan diatas. Untuk pembuatan rencana
induk, kondisi topografi area dan lokasi layanan sumberdaya air harus
benar-benar diperhatikan. Untuk menghemat biaya operasional, sistem gravitasi
harus diperkenalkan sebanyak mungkin dalam transmisi dan distribusi air.
•
Mengamankan kualitas air yang bisa diminum
− Walau ada kebiasaan merebus air keran sebelum diminum, penyedia air harus
menyediakan air yang siap minum dan aman bagi manusia. Kadang-kadang,
pelanggan mengeluhkan bau air yang mengandung khlorin, tapi pentingnya
pemberian khlorin atau disinfektan perlu diinformasikan kepada pelanggan..
•
Operasi dan Pemeliharaan yang Memadai / Efektif
− Demi sistem penyediaan air yang berkelanjutan, operasi dan pemeliharaan yang
memadai serta efektif diperlukan.
12.5.4
Pendekatan Konservasi Sumberdaya Air
(1) Visi 8:
Mengamankan Sumberdaya Air Berkelanjutan
Mengamankan sumberdaya air adalah isu yang paling penting dalam mebuat rencana induk.
Menurut Pemerintah Propinsi DIY, sumberdaya air potensial untuk sistem penyediaan air DIY
adalah Sungai Progo dan mata air di Mangiran selain sumber-sumber yang sudah ada seperti air
tanah dan mata air di Kabupaten Sleman.
Untuk mengamankan sumberdaya air berkelanjutan, strategi berikut diperlukan
•
Penggunaan sumberdaya air secara efektif
12 - 6
−
•
Strategi ini meliputi monitoring dan evaluasi sumberaya air dan untuk
mencapainya, studi yang komprehensif tetang sumberdaya air diperlukan. Untuk
mengidentifikasi sumberdaya air potensial melalui studi, alokasi sumberdaya air
harus ditinjau ulang sesuai dengan perubahan permintaan air untuk keperluan
rumah tangga, irigasi, komersial, dan industri.
Konservasi sumberdaya air
− Sumberdaya air harus dilindungi dari aktivitas-aktivitas pembangunan untuk
mengamankan kualias dan kuantitas sumberdaya air. Keuntungan dari sistem
penyediaan air harus dialokasikan untuk konservasi sumberdaya air seperti
reboisasi..
− Banyak orang tergantung pada sumur dangkal di wilayah DIY, dan kualitas air
sumur dangkal dipengaruhi oleh limbah rumah tangga. Untuk menghindari
kerusakan kualitas air sumur dangkal, perbaikan sistem sanitasi perlu dilakukan.
12 - 7
Fly UP