...

7#56. Diah Ayu W - eJournal Ilmu Hubungan Internasional

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

7#56. Diah Ayu W - eJournal Ilmu Hubungan Internasional
eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 2015, 3 (4):7431-756
ISSN 0000-0000, ejournal.hi.fisip-unmul.org
© Copyright 2015
REAKSI CINA TERHADAP KEBERADAAN PANGKALAN MILITER
AMERIKA SERIKAT DI DARWIN AUSTRALIA
(2011-2012)
Diah Ayu Wulandari
NIM. 1002045133
Abstract:
Chinese reaction the existence of the United States military base in Darwin, Australia
in 2011-2012 is a reciprocal action or actions are used China through its military
strategy. The aim of this study was to describe the form of the Key Chinese reaction
in response to the existence of United States military bases in Darwin, Australia in
2011 until 2012, applying realism theory and security dilemma concept to analyze the
reaction of China. Chinese made several attempts of military strategy to increase
military spending in 2012 amounted to 670.3 billion yuan, up 11.2% from 2011.
China also increased human sources in quality by conducting training programs and
evaluation of military education, aside from this China also improved defence and
security cooperation with its allies through joint military exercises. China also
improved weapon technology to build and buy more powerful and sophisticated
weaponry
Key Words : China, United States, Military Base, Security Dilemma
Pendahuluan
Berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet telah
membuat Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara superpower di dunia.
Tentunya hal tersebut juga didukung dengan kemapanan yang dimiliki Amerika
Serikat dalam berbagai sektor baik itu sumber daya manusia, sumber daya alam,
industri, teknologi, militer, dan pemerintahan. Untuk menjaga stabilitas keamanan
negaranya Amerika Serikat membuat suatu kebijakan strategi militer dalam bentuk
kerjasama pertahanan keamanan. Strategi ini dimulai dengan mencari kawasankawasan yang dinilai strategis, salah satu kawasan yang dipilih Amerika Serikat
adalah kawasan Asia Pasifik.
Kawasan Asia Pasifik mulai mengalami kemajuan yang signifikan terutama di bidang
ekonomi dan militer. Dalam bidang ekonomi kemajuan ini dapat terlihat dengan
terbentuknya kerjasama ekonomi antar negara-negara di Asia Pasifik yaitu APEC
(Asia Pasific Economic Cooperation) yang didirikan tahun 1989 dan di bidang militer
eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 3, Nomor 4, 2015: 743-756
ditandai dengan adanya kerjasama militer antar negara-negara di Asia Pasifik. Di
samping itu kemajuan ini berdampak pada stabilitas politik dan keamanan di kawasan
Asia Pasifik. Salah satunya adalah klaim kedaulatan atas wilayah perairan di Laut
Cina Timur dan Laut Cina Selatan hingga menjadi potensi konflik yang cukup
mengkhawatirkan bagi negara kawasan.
Berdasarkan kondisi ketidakstabilan di kawasan tersebut menguatkan kebijakan
Amerika Serikat untuk melakukan kerjasama pertahanan dengan beberapa negara –
negara di Asia Pasifik dalam bentuk pembangunan pangkalan militer dan penempatan
pasukan militernya. Adapun beberapa negara-negara yang melakukan kerjasama
pertahanan dengan Amerika Serikat adalah Jepang, Korea Selatan, Filipina,
Singapura, dan Australia. Hal ini membuktikan bahwa Amerika Serikat berusaha
menjaga kepentingannya di kawasan Asia Pasifik melalui kerjasama pertahanan.
Salah satu bentuk kerjasama pertahanan keamanan Amerika Serikat di Asia Pasifik
adalah dengan terbentuknya pakta pertahanan ANZUS (Australia, New Zealand,
United States of America) pada tanggal 1 September 1951 di San Fransisco, dan
sempat tidak aktif. Seiring dengan berjalannya waktu hubungan ini mengalami
peningkatan kembali pada tanggal 16 November 2011. Perdana Menteri Australia
Julia Gillard bersama Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengumumkan
peningkatan kerjasama pertahanan antara Amerika Serikat dan Australia dengan
menempatkan 2.500 personel Marinir Amerika Serikat di Barak Robertson, Darwin,
Australia (http://www.fkpmaritim.org). Namun kebijakan Amerika Serikat tersebut
justru menuai reaksi negatif dan positif dari beberapa negara di kawasan Asia Pasifik,
terutama Cina.
Reaksi Cina terlihat dari pernyataan panglima militer Cina Letnan Jendral Cai
Yingting yang menegaskan dia sangat keberatan dengan semakin banyaknya
kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik. Menurut Cai hal itu
merupakan
upaya
Amerika
Serikat
untuk
mengepung
Cina
(http://international.sindonews.com). Dikhawatirkan kehadiran pangkalan militer
Amerika Serikat di Darwin Australia ini untuk memberikan bantuan perlindungan
terhadap negara aliansinya yaitu Filipina dalam menghadapi sengketa Laut Cina
Selatan, yang kemudian akan memperburuk konflik tersebut dan mengganggu
stabilitas keamanan di Kawasan Asia Pasifik.
Dengan adanya kerjasama pertahanan militer Amerika Serikat dan Australia berupa
penempatan pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin, Australia tersebut ini yang
kemudian menimbulkan reaksi dari Cina. Hal ini yang mendasari peneliti mengambil
judul penelitian Reaksi Cina Terhadap Keberadaan Pangkalan Militer Ameriksa
Serikat di Darwin Australia (2011-2012).
Kerangka Dasar Teori dan Konsep
Realisme
Dalam paradigma Realis, negara dipandang berperan penting bagi kelangsungan
hidup warga negaranya. Tanpa adanya jaminan terciptanya keamanan serta
kesejahteraan bagi warga negaranya, maka kehidupan di dalamnya akan terasa
terpencil, miskin, sangat tidak menyenangkan, tidak berprikemanusian, dan singkat.
744
Reaksi Cina Terhadap Keberadaan Pangkalan Militer AS di Darwin (Diah Ayu W)
Oleh karena itu negara sebagai aktor politik haruslah memiliki dan meningkatkan
kekuatan militernya.


Konsep power ini dianggap sebagai unsur utama dalam pemikiran realisme
dan merupakan konsep yang telah ada sejak zaman Yunani kuno. Menurut
Hans J. Morgenthau definisi power adalah sebagai perjuangan memperoleh
kekuasaan dan merupakan tindakan politik (Mochtar Mas’oed.1990.Hal 116).
Rangkaian pola hubungan aksi-reaksi ini meliputi proses sebagai berikut (1)
Rangsangan atau kebijakan aktual dari negara memprakarsai; (2) persepsi dari
rangsangan tersebut oleh pembuat keputusan di negara penerima; (3) respon
atau aksi balik dari negara penerima; (4) persepsi atau respon oleh pembuat
keputusan dari negara pemrakarsa (Anak Agung B.P.2005.41-42).
Konsep Dilema Keamanan (Security Dilemma)
Konsep Security Dilemma adalah upayanya untuk memelihara keamanannya sendiri
sebuah negara dapat mengambil langkah- langkah yang berdampak mengurangi
kemanan negara lainnya dan pada gilirannya negara-negaa ini akan mengambil
langkah-langkah tertentu yang telah diambil oleh negara pertama. Negara pertama
kemudian merasa terancam dan terpaksa mengambil tindakan lanjut yang dapat
memprovokasi tindakan balasan negara lain dan demikian seterusnya, hal ini
merupakan security dilemma yang di hadapi suatu negara (T.May
Rudy.2002.Hal.164).
Dalam prosesnya, security dilemma dapat menimbulkan terjadinya perlombaan
senjata. Yang pada akhirnya justru mengurangi keamanan masing-masing negara itu
sendiri. Seperti menurut Barry Buzan, perlombaan senjata ialah self-stimulating
persaingan militer antar negara di mana usaha kemampuan pertahanan salah satu
pihak menimbulkan ancaman baru bagi pihak lain (http://digilib.unpas.ac.id.pdf).
Metode Penelitian
Dalam metode penelitian penulis menggunakan tipe penelitian eksplanatif dimana
penulis memaparkan dan menganalisa bentuk reaksi Cina terhadap keberadaan
pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin Australia. Jenis data yang penulis
gunakan adalah data sekunder, teknik data menggunakan library research, dan teknik
analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif, karena penelitian
ini hanya memaparkan situasi dan peristiwa dengan menjelaskan bagaimana reaksi
Cina terhadap keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin Australia.
Hasil Penelitian
Nilai-nilai Strategis Kawasan Asia Pasifik
Kawasan Asia pasifik secara geografis mencakup sekitar 2.8 milyar hektar daratan
atau sekitar 22 persen dari luas keseluruhan dunia. Luas daratan ini membentang dari
perbatasan Cina-Mongolia sampai dengan ke selatan Australia dan Selandia baru.
Tidak hanya daratan, Asia Pasifik juga memliki hampir 50 persen dari 70 persen luas
laut di dunia (http://www.fao.org). Keunggulan letak geostrategis kawasan Asia
Pasifik secara ekonomi dinilai memiliki pengaruh yang cukup besar dalam
perkembangan ekonomi dunia. Hal ini terlihat dari banyaknya populasi penduduk
yang hampir menempati sepertiga penduduk dunia, menghasilkan kurang lebih
745
eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 3, Nomor 4, 2015: 743-756
seperempat produksi dunia dan memproduksi hampir seperempat ekspor global
(http://www.fkpmaritim.org/31/).
Perkembangan ekonomi di kawasan Asia Pasifik ini telah memunculkan regionalisme
ekonomi seperti Asia Pasific Economic Cooperatin (APEC) yang dibentuk pada
tahun 1989 di Canbera, Australia. Selain itu juga ada ASEAN+3 yang dibentuk tahun
1997 dan ASEAN free trade area (AFTA) terbentuk pada tahun 1992. Serta Trans
Pasific Partnership (TPP) yang dibentuk tahun 2006. Dari beberapa forum kerjasama
tersebut secara umum bertujuan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi di kawasan
Asia Pasifik. Sehingga membawa kawasan ini menjadi kawasan yang memiliki
potensi startegis dalam pasar dunia. Selain regionalisme ekonomi kawasan Asia
Pasifik juga memiliki wilayah laut yang sangat luas. Beberapa laut yang termasuk
dalam wilayah Samudera Pasifik merupakan Sea Line of Communcation (SLOCs)
atau Jalur Komunikasi Laut (http;//www.apcss.org). Jalur ini merupakan jalur yang
menghubungkan negera-negara di dunia satu sama lain khususnya negara-negara
yang berada di kawasan Asia Pasifik.
Politik Luar Negeri Amerika Serikat di Kawasan Asia Pasifik
Kehadiran Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik mulai terlihat sejak Perang Dunia
II khususnya saat Perang Pasifik berlangsung hingga berakhirnya Perang Dingin.
berakhirnya perang dingin ini meninggalkan beban ekonomi yang cukup besar bagi
Amerika Serikat. Terhitung pengeluaran Amerika Serikat selama Perang Dingin
berlangsung di perkirakan sekitar US$ 8 triliun dan hampir 100.000 warga Amerika
Serikat kehilangan nyawa dalam Perang Korea dan Perang Vietnam
(http://faculty.ucc.edu/egh-damerow/cold_war1.htm). berdasarkan hal tersebut
Amerika Serikat mengubah fokus perhatiannya ke kawasan Timur Tengah yang
merupakan kawasan penghasil minyak terbesar di dunia. Terlebih lagi sejak Amerika
Serikat di bawah pimpinan Presiden George W. Bush.
Politik luar negeri Amerika Serikat pada masa pemerintaha Presiden George W. Bush
cenderung menggunakan hardpower sebagai instrumen diplomasinya, terutama
setelah peristiwa 11 september 2001. Pada saat itu presiden George W. Bush
menetapkan War Againts terrorism sebagai salah satu bagian dari Strategi Kemanan
Nasional Amerika Serikat tahun 2002. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan
menurunnya kehadiran Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik membuka peluang
bagi negara-negara lain untuk memperluas kekuatannya di kawasan tersebut, dan
salah satunya Cina. Cina saat ini dipandang sebagai salah satu negara yang memiliki
kekuatan ekonomi dan militer terbesar dikawasan Asia Pasifik bahkan di dunia. Oleh
sebab itu, Amerika Serikat yang memiliki kepentingan pada kawasan Asia Pasifik
mulai mengembalikan fokus perhatiannya dari kawasan Timur Tengah ke Kawasan
Asia Pasifik, terutama sejak berakhirnya masa pemerintahan George W. Bush yang
kemudian digantikan oleh Presiden Barrack Obama
Politik luar negeri Amerika Serikat dibawah pemerintahan Barrack Obama mulai
meningkatkan peran Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik, terutama kepada isuisu yang lebih bersifat multilateral dalam menjalin hubungan luar negeri Amerika
Serikat dengan negara-negara lainnya di dunia melalui kunjungan-kunjungan luar
negeri terutama dengan negara-negara aliansi Amerika Serikat di kawasan Asia
746
Reaksi Cina Terhadap Keberadaan Pangkalan Militer AS di Darwin (Diah Ayu W)
Pasifik. Hal ini terbukti pada tanggal 11 Nopember 2011 Presiden Barrack Obama
mengumumkan akan menghadirkan kembali kekuatan militernya di kawasan Asia
Pasifik dan lebih tepatnya di Darwin Australia serta menjadikan kawasan Asia Pasifik
sebagai salah satu fokus utama Amerika Serikat.
Keberadaan Pangkalan Militer Amerika Serikat di Asia Pasifik
Amerika Serikat menjalin kerjasama pertahanan dan keamanan dengan beberapa
negara aliansinya di Asia Pasifik. Kerjasama pertahanan keamanan ini berupa
pembangunan pangkalan militer maupun penempatan pasukan militer Amerika
Serikat di negara-negara aliansinya. Berikut beberapa keberadaan pangkalan Amerika
Serikat di kawasan Asia Pasifik
1. Pangkalan Militer Amerika Serikat di Jepang
Pangkalan militer Amerika Serikat di Jepang salah satunya berada di Pulau Okinawa
yang posisinya berada di wilayah peraiaran Laut Cina Selatan juga menguntungkan
bagi Amerika Serikat yang secara tidak langsung dapat mengawasi perkembangan
konflik yang terjadi pada wilayah tersebut.
2. Pangkalan Militer Amerika Serikat di Korea Selatan
Pangkalan militer Amerika Serikat berada dibeberapa daerah di Korea Selatan yaitu
Pangkalan Angkatan Udara terletak di Kunsan dan Osan. Pangkalan Angkatan Darat
terletak di Daegu, Dongducheon, Seoul, Anjung-Ri, Bupyeong, Uijeongbu,
Seongnam, dan Yongsan, sedangkan Pangkalan Angkatan Laut berada di Gyeongsang
tepatnya dikota Chinhae (http://militarybases.com).
3. Pangkalan Militer Amerika Serikat di Filipina
Pangkalan militer Amerika Serikat di Filipina telah ada sejak disetujuinya perjanjian
“The Military Bases Agreement” pada tanggal 14 Maret 1947. Perjanjian ini
berisikan bahwa, Filipina menyewakan lahan untuk pembangunan 16 pangkalan atau
barak militer Amerika Serikat disejumlah wilayah di Filipina, termasuk di Teluk
Subic dan kota Olongapo. Namun berakhir pada tahun 1992 dan kerjasama ini aktif
kembali pada 28 April 2014.
4. Pangkalan Militer Amerika Serikat di Singapura
Pangkalan militer Amerika Serikat di Singapura ada sejak di resmikannya Nota
kesepahaman MoU Amerika Serikat dan Singapura pada tahun 1990. Perjanjian ini
memungkinkan kapal angkatan laut Amerika Serikat termasuk kapal induk dan kapal
selam serta pesawat angkatan udara untuk masuk ke pangkalan Udara Paya Lebar
dan dermaga Sembawang.
5. Pangkalan Militer Amerika Serikat di Kepulauan Guam
Guam memiliki dua pangakalan militer penting Amerika Serikat yaitu Pangkalan
Angakatan Laut Apra yang terletak di Pelabuhan Apra dan Pangkalan Angkatan
Udara Andersen yang terletak di Kota Yigo. Kepulauan ini merupakan rumah bagi
sekitar 160.000 orang yng 6000 nya adalah personil militer Amerika Serikat
(http://fas.org).
747
eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 3, Nomor 4, 2015: 743-756
6. Pangkalan Militer Amerika Serikat di Australia
Pangkalan militer Amerika Serikat di Australia telah ada sejak terbentuknya ANZUS
dan sempat tidak aktif. Namun pada Nopember 2011 kerjasama ini mengalami
peningkatan yang memberikan kesempatan bagi Amerika Serikat untuk mempunyai
akses yang lebih luas dalam menggunakan fasilitas militer Australia. Salah satunya
adalah Fasilitas pertahanan bersama di Pine Gap, yang didirikan di Australia tengah
dekat kota Alice Springs pada tahun 1970. Pine Gap adalah salah satu dari tiga
stasiun utama satelit pelacak yang dioperasikan oleh badan-badan intelijen Amerika
Serikat (http://www.wsws.org). Selain itu pangkalan angkatan udara Australia Point
Cook yang juga tempat dari Angkatan udara milik Australia atau RAAF (Royal
Australian Air Force) yang terletak di kota Darwin.
Politik Luar Negeri Republik Rakyat Cina (RRC) di Asia Pasifik
Pesatnya pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Cina telah menuntut negara
tersebut untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara lain baik itu kerjasama
ekonomi maupun keamanan, hal ini bertujuan untuk mengejar dan menjaga
kepentingan Cina dalam suatu kawasan tertentu khususnya kawasan Asia Pasifik.
Politik luar negeri Cina di kawasan Asia Pasifik ini dijelaskan oleh Kementrian Luar
Negeri Cina yang di wakili oleh Zhang Jianmin selaku Juru Bicara delegasi Cina
dalam Rapat Menteri Luar Negeri ASEAN di Kamboja pada tahun 2012 dalam
wawancaranya di kantor berita Xinhua. Beliau mengatakan bahwa Cina berkomitmen
dalam tujuan pembangunannya Cina berpegang teguh pada perdamaian dan win-win
solution terutama dikawasan Asia Pasifik yang mana merupakan rumah bagi Cina.
Cina menjunjung tinggi kebijakan dalam membina dan mengembangkan
persahabatan serta kerjasama dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Pasifik
atas dasar Five Principles of Peaceful Coexistenc. (http://www.chinadaily.com)
Kebijakan luar negeri Cina di kawasan Asia pasifik juga tidak dapat terlepas dari
pengaruh para pemimpin Cina yang pernah menjabat maupun yang masih menjabat
hingga saat ini. Seperti pada masa pemerintahan Hu Jintao pada tahun 2003,
peperintahan Cina mengumunkan bahwa Cina akan meningkatkan hubungan
diplomatik dengan negara-negara PIF (Pacific Islands Forum) dan akan segera
meperbesar bantuan ekonomi kepada mereka. Tidak jauh berbeda pada masa
pemerintahan Xi Jinping, Cina masih menjunjung tinggi pembangunan perdamaian
dan masih menjaga baik hubungan kerjasama Cina dengan negara-negara di Asia
Pasifik. pada pemerintahan ini juga aktif dalam melakukan diplomasi melalui
kunjungan kebeberapa negara di Asia Pasifik, Eropa, bahkan Amerika Serikat. Hal ini
bertujuan untuk mempromosikan pembangunan perdamaian serta meningkatkan
hubungan kerjasama dengan negara-negara di dunia, khususnya pada kawasan Asia
Pasifik. dibawah kepemimpinan XI Jinping ini Cina juga terus memodernisasi
militernya, menegaskan klaim teritorial di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan,
serta meningkatkan investasi perdagangan dengan negara-negara tetangganya.
Sistem Pertahanan Kemanan dan Modernisasi Militer Cina
Perkembangan militer Cina tidak dapat terlepas dari sitem pertahanan Cina yang saat
itu menerapkan strategi pertahanan aktif (jiji fangyu). Doktrin pertahanan aktif
dimaksudkan untuk menghadapi tiga jenis perang, yakni perang dunia, perang skala
748
Reaksi Cina Terhadap Keberadaan Pangkalan Militer AS di Darwin (Diah Ayu W)
luas dalam menghadapi agresi negara asing terhadap Cina, dan konflik perbatasan
atau perang terbatas. Namun seiring dengan perkembangan dalam lingkungan
internasional yang kemudian memunculkan isu-isu keamanan baru, menuntut Cina
untuk memperhitungkan kembali fokus strategi pertahanan militernya. Strategi
pertahanan aktif Cina ini dimulai dengan memperkuat pertahanan maritim dan udara.
Dimana strategi pertahanan ini melakukan restrukturisasi prioritas pengembangan
angkatan bersenjata dari ketiga elemen, yaitu angkatan darat, angkatan laut, dan
angkatan udara. Hal ini bertujuan agar tentara Cina mampu menghadapi perangperang regional dan terbatas atau konflik intensitas rendah di sekitar wilayah Cina
(http://repository.usu.ac.id).
Berdasarkan penjelasan doktrin pertahanan Cina di atas, dalam penerapanya Cina
akan melakukan pengurangan sejumlah PLA Cina sebanyak 1 juta, 500 ribu, dan 200
ribu orang pada masing-masing elemen angkatan bersenjata Cina. Sehingga pada
akhir tahun 2005, Cina telah menyelesaikan pengurangan tersebut dan PLA Cina
memiliki 2,3 Juta tentara. Pengurangan ini ditujukan agar PLA Cina dalam struktur
dapat bekerja secara optimal, tepat dalam ukuran, efisien dalam organisasi, cepat dan
fleksibel dalam menjalankan perintah, serta kuat dalam kapasitas pertempuran (Roni
Santoni.2015.Hal 13-71).
Dengan demikian upaya Cina dalam menjaga kepentinganya di kawasan Asia Pasifik
baik kepentingan ekonomi melalui perdagangan dan investasi, maupun kepentingan
Cina terhadap konflik klaim kedaulatan atas wilayah perairan Laut Cina Selatan
dengan beberapa negara Asia Pasifik lainnya. Hal ini yang kemudian menyebabkan
Cina bereaksi terhadap kebijakan Amerika Serikat yang mengirimkan personil
militernya ke Darwin Australia. Cina khawatir dengan kehadiran pangkalan militer
Amerika Serikat di Darwin Australia ini untuk memberikan bantuan perlindungan
terhadap aliansinya yaitu Filipina, yang juga merupakan salah satu negara yang
terlibat dalam konflik Laut Cina Selatan.
Reaksi Cina terhadap Keberadaan Pangkalan Militer Amerika Serikat di Darwin,
Australia
Republik Rakyat Cina (RRC) merupakan salah satu negara yang yang patut
diperhitungkan kekuatannnya dikawasan Asia Pasifik. Seiring dengan meningkatnya
perekonomian Cina yang semakin hari semakin menunjukan perkembangan yang
positif mendorong Cina untuk memodernisasi militernya sebagai salah satu langkah
Cina dalam menjaga kedaulatan dan kepentinganya di kawasan, termasuk kawasan
Asia Pasifik
Keterlibatan Cina di kawasan Asia Pasifik cukup besar, salah satunya terlihat dalam
upaya Cina dalam menjaga keamanan jalur Laut Cina Selatan karena jalur ini
merupakan salah satu prioritas kepentingan nasional Cina. Selain itu Cina juga
sebagai negara yang memilki power berperan penting dalam menjamin terciptanya
keamanan serta kesejahteraan bagi warga negaranya. Untuk menciptakan hal tersebut
dibutuhkan upaya dan strategi dalam bentuk kebijakan dalam negeri maupun luar
negeri Cina. Adapun startegi tersebut dari cara Cina yang memodernisasi kekuatan
militernya seperti People Liberations Army (PLA), teknologi persenjataan dan
749
eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 3, Nomor 4, 2015: 743-756
anggaran militer. Peningkatan ini yang kemudian cukup membuat negara-negara
dikawasan Asia Pasifik merasa khawatir dengan militer Cina termasuk Amerika
Serikat yang selama ini menjadi satu-satunya negara yang memiliki kekuatan
ekonomi dan militer terbesar didunia.
Kemunculan Cina sebagai negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer baru
di kawasan Asia Pasifik ini menuai respon dari Amerika Serikat. Sehingga terbentuk
suatu pola aksi dan reaksi dari kedua negara tersebut. Kebijakan pemerintahan Cina
untuk memodernisasi kekuatan militernya dianggap Amerika Serikat sebagai aksi
yang dapat mengancam stabilitas kawasan, mengingat adanya konfilk klaim teritorial
yang dialami beberapa beberapa negara sekutu dari Amerika Serikat di Asia Pasifik
dengan Cina. Berdasarkan hal tersebut Amerika Serikat mengambil kebijakan untuk
menjadikan kawasan Asia Pasifik sebagai salah satu fokus utama. Hal ini sesuai
dengan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat yaitu menjaga hubungan
baik dengan negara sekutu-sekutunya serta menjaga kepentingan ekonominya di
kawasan tersebut. Adapun bentuk kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Asia
Pasifik yang dinilai sebagai bentuk reaksi dari meningkatnya kekuatan militer Cina
adalah menghadirkan kembali kekuatan militernya, salah satunya dengan
menempatkan 2.500 personil militer Amerika Serikat di Darwin Australia.
Keberadaan militer Amerika Serikat di Australia ini yang kemudian memicu reaksi
negatif dari Cina.
Terjadinya pola aksi dan reaksi antara Amerika Serikat dan Cina disebabkan kedua
negara tersebut berada dalam suatu situasi ketakutan bersama. Dimana ketika Cina
mulai mengalami perkembangan dalam bidang ekonomi yang membawanya menjadi
salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Untuk itu Cina merasa
perlu memodernisasi kekuatan militernya sebagai bentuk upaya dalam menjaga
kepentingan ekonomi dan stabilitas kemanan negaranya. Dalam hal ini peningkatan
militer Cina menimbulkan kekhawatiran dari beberapa negara-negara di kawasan
Asia Pasifik, termasuk Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya karena dianggap dapat
mengancam stabilitas keamanan di kawasan tersebut. Sehingga membuat Amerika
Serikat merespon peningkatan militer Cina dengan kembali meningkatkan kekuatan
militernya di kawasan Asia Pasifik.
Respon Amerika Serikat ini berupa peningkatan kerjasama pertahanan dan kemanan
Amerika Serikat dan Australia yaitu penempatan sekitar 2.500 personil militer
Amerika Serikat pada tahun 2011 sampai 2017 di Darwin Australia. Yang kemudian
juga dipandang Cina sebagai ancaman terhadap keamanan negaranya dan sebagai
tindakan untuk mengimbangi kekuatan Cina di Kawasan Asia Pasifik. Meskipun jika
dilihat secara geografis letak Cina dan Australia tidak berdekatan langsung namun
pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin ini kemungkinan besar akan dilengkapi
senjata berteknologi tinggi seperti yang dikutip dari komentar kepala USAF
Operasional di Pasifik, Jendral Harbert ‘Hawk’ Carlisle, beliau berkata bahwa
Amerika Serikat akan mengirimkan pesawat tempur, tanker dan pada tahun-tahun
mendatang mungkin saja bomber dengan menggunakan sistem rotasi. Berdasarkan
hal tersebut Cina mengambil reaksi timbal balik dengan meningkatkan kekuatan
militernya. Adapun beberapa rekasi Cina dengan meningkatakan kekuatan militernya
sebagai berikut:
750
Reaksi Cina Terhadap Keberadaan Pangkalan Militer AS di Darwin (Diah Ayu W)
a. Peningkatan anggaran militer
Dalam buku putih pertahanan Cina yang berisikan bahwa, dalam tiga dekade terakhir
Cina telah mengalami reformasi dan membuka diri, pemerintahan Cina telah
menegaskan bahwa pembangunan ekonomi dan pertahanan harus dibangun secara
beriringan, dengan tujuan untuk membantu pertumbuhan perekonomian negara secara
keseluruhan, dan pembangunan pertahanan sebelumnya harus dikoordinaskan dengan
yang saat ini akan digunakan. Sehingga, pembelanjaan pertahanan selalu dapat dijaga
pada tingkat yang wajar dan sesuai. Dengan demikian, secara presentasi peningkatan
anggaran militer Cina berbanding lurus dengan presentasi peningkatan pembangunan
ekonomi Cina (http://fpif.org).
Anggaran militer Cina dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan beberapa
persen. Pada tahun 2010 anggaran militer Cina tercatat sebesar 532,1 miliyar yuan
atau meningkat sebesar 7,5% dari anggaran sebelumnya. Pada tahun 2011 kembali
meningkat menjadi 601,1 miliar yuan atau meningkat sebesar 12,7%. Tidak jauh
berbeda pada tahun 2012 juga meningkat sebesar 670,3 miliar yuan yang berarti
meningkat sebesar 11,2% (http://www.chinadaily.com). Departemen Keuangan Cina,
pada tahun 2013 mengumumkan bahwa peningkatan anggaran militer Cina sebanyak
11,2% di tahun 2012 telah digunakan untuk lebih memperbaiki kondisi kehidupan
para personil militer Cina, selain itu digunakan dalam pelatihan pasukan Cina, serta
mendukung militer dalam mempromosikan Aplikasi TI, memperkuat pengembangan
baru senjata dan peralatan yang berteknologi tinggi, dan juga meningkatkan
modernisasi kemampuan militer Cina (http://csis.org). Pada dasarnya peningkatan
anggaran Cina ini terjadi setiap tahun secara signifikan, namun beberapa sumber
meyakini bahwa peningkatan ini sebagai bentuk reaksi Cina terhadap keberadaan
pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin Australia.
b. Peningkatan Sumber daya manusia
Meningkatkan sumber daya manusia baik secara kuantitas dan kualitas terutama
pasukan militer suatu negara merupakan salah satu strategi yang dapat berpotensi
dalam mendukung peningkatan kekuatan militer negara tersebut, khususnya Cina.
Dalam hal ini peningkatan sumber daya personil militer Cina menjadi erat
hubunganya sebagai salah satu bentuk kekuatan nasional Cina, dimana kemampuan
personil mliter Cina dipergunakan sebagai pertahanan dan didalam medan
pertempuran. Cina memiliki beberapa angkatan bersenjata yang dikenal dengan
People’s Liberation Army (PLA) terdiri dari 3 elemen, yaitu Angkatan Darat (PLA
Ground Force), Angkatan Laut (PLA Navy), dan Angkatan udara (PLA Air Force)
serta Second Artilery Force (http://eng.mod.gov.cn).
Dilihat secara kuantitas, Cina memiliki personil militer aktif berjumlah 2.285.000
orang, sedangkan tentara cadangannya mencapai 510.000 orang dan paramiliter aktif
sebanyak 660.000 orang (http://csis.org). Dari jumlah tersebut terbagi dalam
Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Angkatan Darat Cina (PLA
Ground Force) memiliki personil dengan jumlah 1.600.000 orang yang didukung
dengan perlengkapan canggih seperti Tank yang berjumlah 9.150, Artileri 1.200
satuan, Helikopter 453 unit, meriam 10.000, peluncur roket sebanyak 4.000, senjata
anti pesawat 1.531 dan senjata anti tank 8.000 unit. Sedangkan pada Angkatan udara (
PLA Air Force) Cina memiliki personil sebanyak 330.000 orang, pesawat tempur
751
eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 3, Nomor 4, 2015: 743-756
1.170 unit, pesawat penyerang 885 unit, pesawat pengangkut dan latihan 1142 unit,
serta helikopter 856 . Begitu pula dengan Angkatan Laut Cina ( PLA Navy ) yang
terdiri dari 255.000 personil, di dukung pula dengan 1 kapal induk, kapal selam 69
unit, kapal perusak 29 unit, Fregat 49, 39 kapal penyapu ranjau, dan 368 kepal
pertahanan pantai. Tidak hanya sampai di situ Cina masih memiliki angkatan
Cadangan ( Second Artillery Force ) yang berjumlah 100.000 personil dan didukung
dengan 66 rudal balistik, 118 rudal balistik jarak menengah, 204 rudal balistik jarak
pendek, dan 54 rudal jelajah (http://www.chinatoday.com).
Pada dasarnya secara kuantitas jumlah personil militer Cina terus mengalami
pengurangan dari tahuan ketahun. Hal ini sesuai dengan Doktrin Pertahanan Cina
yang berupaya merestrukturisasi personil militernya dengan tujuan agar mendapatkan
jumlah personil militer yang tepat untuk memudahkan dalam pencapaian yang
optimal dalam melaksanakan perintah dari berbagai elemen angkatan bersenjata Cina.
Sehingga dapat terlihat bahwa Cina lebih mengutamakan kualitas personil maupun
persenjataanya yang lebih modern dari pada jumlah dan peralatan yang banyak
namun sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Sedangkan dilihat secara
kualitas personil militer Cina juga mengalami peningkatan. Peningkatan kualitas
personil militer Cina sudah berlangsung sejak era pemerintahan Deng Xiaoping
melalui pendidikan militer, yang kemudian masih diterapkan dan mengalami
perkembangan oleh pemerintah Cina saat ini dengan memberlakukan The Military
Training and Evolution Program (MTEP) yang mengatur standar pelatihan dan
evaluasi bagi seluruh tipe unit dan elemen PLA, baik bagi personil aktif dan
cadangan. Di dalam setiap pendidikan yang diberikan, latihan gelaran pasukan dan
mobilisasi secara cepat menjadi fokus utama, disamping latihan lainya seperti
pertahanan dan serangan misil udara (http://defstrat.com).
c. Peningkatan kerjasama pertahanan keamanan
Dalam meningkatkan kekuatan militer Cina tidak hanya dengan meningkatkan
anggaran militer dan sumber daya manusia Cina, namun juga dibutuhkan bantuan
atau dukungan dari faktor luar, salah satunya dengan melakukan kerjasama keamanan
bilateral dan multilateral dengan negara lain. Dalam kerjasaama bilateral Cina
memiliki kerjasama keamanan dengan beberapa negara terutama negara-negara yang
berdekatan secara geografis dengan Cina yaitu Myanmar, Kamboja, dan Rusia.
Sedangkan dalam kerjasama multilateral Cina turut serta dalam Oraganisasi
Internasional seperti Asia regional Forum (ARF) yang membahas keamanan di
kawasan Asia. Selain itu ada Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang
merupakan salah satu organisasi keamanan yang antara Cina dan Rusia pada tahun
2005. Pada penerapannya kerjasama ini berupa pelatihan militer gabungan antara
Cina dan Rusia yang kadang juga melibatkan beberapa negara Asia Tengah bekas Uni
Soviet (http://www.sipri.org).
Terlibatnya Cina dalam berbagai kerjasama keamanan baik bilateral maupun
multilateral tentu secara tidak langsung berdampak terhadap meningkatnya kekuatan
militer Cina. Hal ini terlihat saat Cina melakukan latihan militer gabungan dengan
Rusia di laut kuning pada April 2012 di Laut Kuning. Pelatihan ini juga diduga
sabagai salah satu reaksi Cina terhadap keberadaan pangkalan militer Amerika
Serikat Di Darwin, Australia karena pelatihan ini dilakukan tidak lama setelah
752
Reaksi Cina Terhadap Keberadaan Pangkalan Militer AS di Darwin (Diah Ayu W)
Amerika Serikat mengirim pasukan militernya ke Australia pada bulan dan tahun
yang sama (http://dunia.news.viva.co.id/).
d. Peningkatan teknologi persenjataan
Salah satu indikator yang dinilai dalam melihat kekuatan militer suatu negara adalah
dari teknologi persenjataan, semakin kuat atau canggih persenjataan suatu negara
maka semakin meningkat kekuatan militernya. Dalam hal ini Cina memiliki teknologi
persenjataan yang cukup canggih seperti Kapal Induk Liaoning Cina yang merupakan
kapal induk refitted dari kapal induk Rusia yang belum selsai dan dikirim ke
Angkatan Laut Cina pada 25 September 2012. Kapal ini memiliki berat hampir
67.500 ton dan mampu membawa sekitar 30 pesawat yang bersayap tetap. Kapal ini
telah berhasil melepas-landas dan mendaratkan pesawat tempur buatan dalam negeri
Cina J-15 yang merupakan cikal bakal kekuatan tempur utama untuk kapal induk
Cina. Dan setelah Liaoning Cina berencana membangun kapal Induk keduanya
(http://log.viva.co.id).
Setelah kapal induk Liaoning, Cina masih memiliki persenjataan lain yaitu Pesawat
Tempur Siluman Cina J-20 yang memiliki teknologi yang membuat pesawat ini tidak
dapat dipantau radar musuh dan mampu menghindari sinar laser. Selain itu Cina juga
memiliki Jet Tempur Shark Cina atau J-15 Shenyang yang dilengkapi dengan radar
dan senjata buatan dalam negeri Cina serta memiliki radius tempur darat dari 1.200
km. Ada pula pesawat angkut militer yang besar atau Airlifter Xian Y-20, Xian H-6,
dan Xian H-6G. Pesawat-pesawat tersebut terus mengalami perkembangan seiring
dengan meningkatnya kekuatan militer Cina (http://news.usni.org).
Selain beberapa senjata di atas, Cina masih memiliki kapal Selam rudal balistik
bertenaga nuklir atau kelas Jin (Tipe 094), kelas Tang (Tipe 096) dan saat ini terus
dikembangkan jenis baru dengan boomer kelas Xia yang dipersenjatai dengan Jl-1
submarine-launched ballistic missile (SLBM). Generasi kedua dari JL-1 yaitu JL-2
dipasangkan dengan kelas Jin yang baru. Rudal-rudal ini diperkitakan mampu
mencapai Alaska dan Pantai Barat Amerika Serikat menurut perkiraan dari laporan
Office of Naval Intelligenci (ONI). Perkembangan teknologi persenjataan ini juga
tidak dapat terlepas dari peran pemerintahan Cina dan badan atau lembaga terkait.
Tindakan Cina untuk meningkatakan kekuatan militernya baik dari Anggaran militer,
sumber daya manusia, kerjasama pertahanan keamanan, dan teknologi persenjata ini
berdampak pula teradap negara-negara yang berdekatan dengan Cina. Ketika Cina
berusaha meningkatkan kekuatan militernya, secara tidak langsung menimbulkan
ancaman baru bagi negara lain, serta memicu negara-negara tersebut utuk turun
meningatkan kemampuan militernya. Hal ini terlihat pada saat Cina yang menaikkan
anggaran militernya. Yang kemudian di ikuti oleh Taiwan, Korea Selatan, Filipina,
Indonesia sampai Vietnam dan Singapura. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi,
naik pula anggaran militer mereka dengan ratusan juta dolar per tahun. Para pengamat
sampai menyebut ada semacam lomba senjata di Asia (http://www.theglobalreview.com).
Berdasarkan semua peningkatan-peningkatan diatas tentu dapat terlihat bahwa
kekuatan militer Cina terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini ditujukan untuk
753
eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 3, Nomor 4, 2015: 743-756
menjaga kepentingan nasional Cina dalam mencapai kemakmuran bagi negara nya.
oleh karena itu ketika Amerika Serikat menghadirkan kembali kekuatan nya di Asia
Pasifik khususnya di Australia membuat Cina merasa cukup terancam akan kehadiran
tersebut. Untuk itu peningkatan ini juga ditunjukan untuk merespon atas keberadan
pangkalan Amerika Serikat di Darwin Australia.
Kesimpulan
Kebijakan Amerika Serikat untuk menghadirkan kembali pasukan militernya
sebanyak 2.500 personil di Darwin, Austrlia pada Nopember 2011. Memicu reaksi
dari Cina yang memandang kebijakan tersebut dapat mengancam kepentingan Cina.
Sehingga membuat Cina untuk menangggapi aksi tersebut dengan juga meningkatkan
kembali kekuatan militernya terutama peningkatan pada Anggaran militer Cina,
meningkatkan kapasitas dan kemapuaan sumber daya manusia militer Cina, selain itu
juga meningkatkan kerjasama keamanan atau militer dengan negara-negara
sekutunya, serta memodernisasi teknologi persenjataan militer Cina agar mampu
bertahan dan bersaing dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Daftar Pustaka
Buku dan Majalah :
Mas’oed,Mochtar. 1990. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi.
Jakarta. Pustaka LP3ES.
Prawita, Anak Agung B. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung.
PT. Remaja Rosdakarya.
Rudy, T.May. 2002. Studi Strategis dalam transformasi sisitem internasional pasca
perang dingin. Bandung. PT.Reflika Aditama.
Santoni, Roni. 2015. Kebangkitan Militer China. Angkasa: terbang dan menjelajah.
Edisi koleksi. Jakarta. Kompas Gramedia.
Internet :
A.
Kan, Shirley, Guam: U.S Defense Deployments, lihat pada
http://fas.org/sgp/crs/row/RS22570.pdf
B.
Anonim, Cold War, lihat pada http://faculty.ucc.edu/egh-damerow/cold_war1.htm
Anonim,
US
Military
Bases
in
South
http://militarybases.com/overseas/south-korea/
Korea,
lihat
Anonim, Structure & Oragnization of the armed Forces, lihat
http://eng.mod.gov.cn/ArmedForces/index.htm
Anonim,
Over
view
of
the
Asia-Pacific
Region,
lihat
http://www.fao.org/docrep/w4388e/w4388e03.htm#TopOfPage
pada
pada
pada
Aww, “Beijing khawatir gerakan militer AS di Asia Pasifik” lihat pada
http://international.sindonews.com
754
Reaksi Cina Terhadap Keberadaan Pangkalan Militer AS di Darwin (Diah Ayu W)
Cogan, James. US military bases in Australia: The role of Pine Gap, lihat pada
http://www.wsws.org/en/articles/2013/05/29/pine-m29.html
Dwivedi¸Gg, Modernisation of PLA Ground Forces: Emerging Trends, lihat pada
http://defstrat.com/exec/frmArticleDetails.aspx?DID=294
Feffer, John & Chen,Sean, China Military Spending : Soft Rise or Hard Threat. Lihat
pada http://fpif.org
Gill,Bates, China’s new security multilateralism and its implication for the AsiaPasific region, lihat pada http://www.sipri.org/yearbook/2004/06
Guoxing,
Ji,
SLOC
Security
in
the
Asia
Pacific,
lihat
http://www.apcss.org/Publications/Ocasional%20Papers/OPSloc.htm
pada
Helvas Ali, Alman, “Penempatan Marinir Amerika Serikat Di Australia: Suatu
Tinjauan”, lihat pada http://www.fkpmaritim.org/?p=1227
Hendrijat, “Cermati tiga kekuatan baru di Asia Pasifik: Cina ,Jepang, dan India” lihat
pada http://www.theglobal-review.com
Heryaman, Oman.
“Kebijakan Keamanan, Postur Militer dan Dinamika
Persenjataan” Dalam Jurnal Ilmu Hubungan Internasional vol. 1 No. 3
2002hal. 86. Lihat pada http://digilib.unpas.ac.id
Kawilarang, Renne R.A “ China dan Rusia Perkuat Kerjasama Militer” lihat pada
http://dunia.news.viva.co.id
Lisbet,”Peningkatan kekuatan militer China” lihat pada http://berkas.dpr.go.id.pdf
Majumdar, Dave & LaGrone, Sam. Chinese Weapons that worry the Pentagon”
lihat pada http://news.usni.org
Prasetya, E “Kebangkitan Republik Rakyat Cina dan Sengketa Perbatasan di Asia
Pasifik”lihat pada http://repository.usu.ac.id
Sumakul, Willy F. “ China dan Amerika Serikat di pasifik: Not a Zero sum game”,
lihat pada http://www.fkpmaritim.org/31/
Syah, Erfan “ Kapal Induk china
http://log.viva.co.id
Liaoning kembali uji coba laut” lihat pada
Xinhua,Official talks about China’s Asia-pacific Policy. lihat pada
http://www.chinadaily.com.cn/china/2012-07/11/content_15569603.htm
755
Fly UP