...

Pengaruh Penggunaan Limbah Udang Hasil Fermentasi dengan

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

Pengaruh Penggunaan Limbah Udang Hasil Fermentasi dengan
JITV Vol. 14 No. 2 Th. 2009: 104-109
Pengaruh Penggunaan Limbah Udang Hasil Fermentasi dengan Aspergillus
niger terhadap Performan dan Bobot Organ Pencernaan Broiler
IRFAN H. DJUNAIDI1, TRI YUWANTA2, SUPADMO2 dan M. NURCAHYANTO3
2
1
Fakultas Peternakan Univ. Brawijaya. Jl. Veteran Malang
Fakultas Peternakan Univ. Gadjah Mada. Jl. Agrokarangmalang, Yogyakarta
3
Fakultas Tekonologi Pertanian Univ. Gadjah Mada,Yogyakarta.
(Diterima dewan redaksi 17 Maret 2009)
ABSTRACT
DJUNAIDI, I.H., T. YUWANTA, SUPADMO and M. NURCAHYANTO. 2009. Effects of inclusion Aspergillus niger fermented shrimp
waste meal in broiler diets on live performance and digestive organ weight. JITV 14(2): 104-109.
An experiment was conducted to evaluate the effect of the inclusion of different levels of shrimp waste meal fermented with
Aspergillus niger (LUF) in diets on growth performance and digestive organ weight of broilers. A total of 75 d-old chicks were
randomly allocated to 5 (five) treatments in 3 replication pens of 5 birds each. Treatments consisted of LUF inclusion of 0
(control), and 5, 7.5, 10 and 12,5% (P0, P1, P2, P3 and P4) in the diets. Birds were raised under standard condition and provided
with feed and water ad-libitum. Feed and birds were weighed weekly up to 35 days to determine body weight, feed intake and
feed conversion. At the end of experimental period, the birds were slaughatered and dressed up to determine carcass percentage
and digestive organ weight. There was a significant negative linear response in body weight, feed consumption and feed
conversion with increase of LUF more than 7.5% in the diets until 35 days of age, but % carcass was almost the same for all
treatment. There was no significant response in digestive organ weight with increasing levels of LUF. The present result
indicated that LUF could be considered as a potential feed ingredient as protein source of broiler but its inclusion should be
limited until 7.5% of the diet to maintain growth performance and digestive organ weight.
Key words: Shrimp Waste Meal, Broiler, Growth Performance, Digestive Organ Weight
ABSTRAK
DJUNAIDI, I.H., T. YUWANTA, SUPADMO dan M. NURCAHYANTO. 2009. Pengaruh penggunaan limbah udang hasil fermentasi
dengan Aspergillus niger terhadap performan dan bobot organ pencernaan broiler. JITV 14(2): 104-109.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan Limbah udang hasil fermentasi dengan Aspergillus niger
(LUF) pada pakan broiler terhadap performan pertumbuhan dan bobot organ pencernaan. Sebanyak 75 DOC broiler MB-202
ditempatkan secara acak pada 5 (lima) perlakuan level penambahan LUFb yaitu 0 (kontrol), dan 5, 7.5, 10 dan 12,5% LUF pada
pakan dengan 3 ulangan pada petak kandang yang masing-masing terdiri dari 5 ekor,dengan menggunakan rancangan acak
lengkap. Broiler dipelihara dengan prosedur standar dengan pakan dan air minum diberikan ad-libitum. Konsumsi pakan dan
broiler ditimbang setiap minggu sampai umur 5 minggu untuk menetukan bobot badan, konsumsi dan konversi pakan. Pada
minggu ke-5, broiler disembelih dan ditentukan % karkas dan bobot organ pencernaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terjadi respon negative penambahan LUF terhadap bobot hidup, konsumsi dan konversi pakan pada pemberian lebih dari 7,5%,
tetapi % karkas tidak berbeda untuk semua perlakuan kecuali pada pemberian 5% lebih tinggi. Tidak ada perbedaan bobot organ
pencernaan dengan meningkatnya pemberian LUF. Hasil ini menunjukkan LUF dapat digunakan sebagai pakan sumber protein
untuk broiler sampai sebanyak 7,5%.
Kata kunci: Limbah Udang, Performan Broiler, Organ Pencernaan
PENDAHULUAN
Tepung limbah udang (LU) terbuat dari limbah
udang sisa hasil pengolahan udang setelah diambil
bagian dagingnya, sehingga yang tersisa adalah bagian
kepala, cangkang dan udang kecil utuh dalam jumlah
sedikit (ROSENFELD et al., 1997). Limbah udang
berpotensi sebagai bahan pakan sumber protein, karena
proteinnya yang tinggi, potensial sebagai pengganti
tepung ikan pada pakan broiler. Beberapa peneliti
104
melaporkan bahwa kandungan protein limbah udang
bervariasi dari 24, 39, 45, 52, dan 70% (MAHATA,
2007; MIRZAH, 1990; GERNAT, 2001; FANIMO et al.,
2004; OKOYE et al., 2005).
Kualitas dan kandungan nutrien LU sangat
tergantung pada proporsi bagian kepala dan cangkang
udang. Bagian kepala lebih banyak mengandung protein
dan lebih sedikit kitin dan bagian cangkang sebaliknya.
Kitin merupakan polimer linier polisakarida N-asetil
glukosamin dengan ikatan glikosidik β (1,4) pada
IRFAN, H.D. et al. Pengaruh penggunaan limbah udang hasil fermentasi dengan Aspergillus niger terhadap performan
komplek protein (MINORU et al., 2002). CASTRO et al.
(1989) menyatakan bahwa secara fisik, kitin membatasi
enzim pencernaan terhadap protein dan lemak sehingga
menyebabkan kecernaan rendah saat dikonsumsi ternak.
Penggunaan limbah udang pada pakan broiler masih
kontroversi. ROMZIAH et al. (1981), ISLAM et al. (1994)
dan ARELLANO et al. (1997) menyatakan limbah udang
dapat digunakan masing-masing sebanyak 15; 14; 25
dan 9%. Hasil-hasil penelitian yang telah dilaporkan
menunjukkan bahwa broiler yang diberi pakan yang
menggunakan LU tidak selalu menghasilkan hasil yang
sama, yaitu: (1) konsumsi pakan dan pertumbuhan
menurun (ODUGUWA et al., 2004), (2) konsumsi pakan
cenderung meningkat dan pertumbuhan menurun
(FANIMO et al., 2004), dan (3) tidak ada pengaruh
negatif (ISLAM et al., 1994; ROSENFELD et al., 1997).
Peningkatan kualitas protein LU dapat dilakukan
dengan aplikasi pengolahan LU dengan metode berbeda
(FOX et al., 1994). Metode pemanasan akan merusak
lemak, vitamin dan pigmen, sedangkan pengeringan
dengan sinar matahari meningkatkan jumlah mikroba
pembusuk, sebagai akibat proses pengeringan yang
lambat. Penambahan asam format dalam silase dapat
meningkatkan kualitas LU tetapi mahal dan mineral
dari silase asam harus dinetralisir sebelum diberikan
pada ternak.
Hidrolisasi kitin LU dengan enzim kasar kitinase
dari Serratia marcescens (LU hidrolisat) dapat
menurunkan kandungan kitin sebanyak 61% dan
meningkatkan kandungan protein 26% (MAHATA,
2007). RODRIGUEZ et al. (2005) meneliti penggunaan
produk fermentasi dengan Aspergillus oryzae
(Fermacto) melaporkan terjadi peningkatan efisiensi
pencernaan dan pertumbuhan Lactobacillus sp. dalam
usus. Informasi tentang pengolahan LU untuk
meningkatkan kualitas nutrisi pakan broiler dengan cara
fermentasi masih terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
penggunaan LU hasil fermentasi A. niger pada pakan
terhadap performan dan bobot organ pencernaan ayam
broiler.
MATERI DAN METODE
yaitu Glukosa 40 g, (NH4)2SO4 2,0 g, KH2PO4 1,5 g,
MgSO4 1,0 g, Yeast extract 1,5 g, limbah udang 3,5 g
dan aquadest 1000 ml pada pH 7, selama 72 jam. Proses
tersebut dilakukan pada alat shaker bath. Kemudian
setelah selesai proses pertumbuhannya (72 jam),
medium mikroba tersebut diinokulasi pada limbah
udang dengan perbandingan 1 : 5 bobot kering bahan
(v/w). Campuran LU dan media mikroba tersebut
kemudian diinkubasikan di inkubator pada suhu 30oC,
selama 72 jam. Setelah inkubasi selesai, LU hasil
fermentasi tersebut di keringkan pada oven 70oC selama
48 jam.
Komposisi pakan percobaan
Lima macam pakan percobaan dengan komposisi
iso-energi dan iso-protein disusun berdasarkan
kebutuhan broiler (NRC,1994). Perbedaan penggunaan
limbah udang hasil fermentasi sebanyak 0; 5; 7,5; 10
dan 12,5% dalam pakan yang untuk selanjutnya
dinotasikan sebagai P0, P1, P2, P3, dan P4 (Tabel 1)
merupakan perlakuan.
Ayam percobaan dan pemeliharaannya
Tujuh puluh lima ekor DOC broiler tanpa
membedakan jenis kelamin dari distributor lokal di
Malang. Semua DOC ditimbang per ekor sebelum
dimasukkan kedalam kandang penelitian secara acak
untuk 5 pakan percobaan (1 pakan kontrol, dan 4 pakan
perlakuan) dan masing-masing perlakuan pakan
menggunakan 15 ekor DOC dalam suatu rancangan
acak lengkap. Kandang pemeliharaan dialasi dengan
sekam padi yang diganti secara berkala dan dipelihara
pada suhu ruang. Pakan yang diberikan dalam bentuk
tepung (mash) dan air minum diberikan ad-libitum.
Ayam diberi vaksin ND 2 kali, yaitu pada umur 4 hari
(vaksin medivac ND Hitctner B1) dan umur 18 hari
(vaksin Medivac ND La Sota). Pemanas DOC
menggunakan bahan bakar minyak gas dan dibantu
dengan lampu dop 25 watt pada masing-masing petak
yang sekaligus berfungsi sebagai penerangan.
Pemeliharaan dan sanitasi kandang dilakukan rutin
sesuai prosedur pemeliharaan yang baik.
Penyiapan limbah udang fermentasi
Limbah udang (LU) varitas Vanamei diambil dari
industri pengolah udang di kecamatan Dampit,
Kabupaten Malang, Jawa-Timur. LU tersebut
dikeringkan pada oven 55oC selama 2 hari dan digiling
dengan saringan ukuran 1,5 mm. LU kemudian
disterilkan dengan autoclave selama 4 jam dan
didinginkan. Pengembangan produksi biomasa sel
(enzim protease) dilakukan dengan menggunakan
media pertumbuhan untuk kapang Aspergillus niger
Pengumpulan data
Data performan broiler meliputi konsumsi pakan,
bobot hidup, dan konversi pakan dilakukan selama 5
minggu periode penelitian, sedangkan presentase karkas
dan bobot organ pencernaan dilakukan pada akhir
periode pemeliharaan.
Konsumsi pakan (g/ekor) diukur dengan
mengurangi pakan yang diberikan dengan sisa pakan,
bobot hidup umur 3 minggu dan bobot hidup akhir
105
JITV Vol. 14 No. 2 Th. 2009: 104-109
Tabel 1. Komposisi pakan perlakuan (%)
Bahan
PR0
PR1
PR2
PR3
PR4
Jagung kuning
55,0
55,0
55,0
55,0
55,0
8,5
9,5
9,5
9,5
9,5
24,5
19,5
17,0
14,5
12,5
Tp. Ikan
8,0
8,0
8,0
8,0
8,0
M. kelapa
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
0
5
7,5
10
12,5
CaCO3
1,0
-
-
-
-
lys-met
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
Na Cl
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
DCP
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
premix
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
Jumlah
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
21,630
21,700
21,670
21,640
21,610
Serat kasar (SK)
3,830
4,250
4,460
4,660
5,090
Lemak kasar (LK)
5,430
6,180
6,550
6,920
7,290
Ca
0,904
1,104
1,405
1,705
2,010
P
0,422
0,444
0,448
0,452
0,456
EM (kcal/kg)
3006,000
3057,000
3065,000
3074,000
3082,000
Lisin (% PK)
1,510
1,136
1,129
1,121
1,106
Metionin (% PK)
0,388
0,394
0.397
0.399
0.402
Bekatul
Bkl. kedelai
L. udang
Kandungan nutrien (% BK) berdasarkan perhitungan:
Protein kasar (PK)
(g/ekor) dilakukan dengan menimbang ternak
menggunakan timbangan digital (kapasitas 3 kg) dan
konversi pakan dihitung dengan cara membagi
konsumsi pakan (g) dengan pertambahan bobot hidup
(g). Presentase karkas dihitung dengan membagi bobot
karkas dengan bobot hidup. Bobot organ pencernaan
ditimbang dengan timbangan digital dan dikonversikan
pada per 100 g bobot hidup.
Data dianalisa dengan Analisis sidik ragam (Anova)
menggunakan prosedur model linear umum (SAS
Institute, 1996). Perbedaan yang signifikan antar
perlakuan diuji dengan uji perbedaan terkecil.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil-hasil penelitian terdahulu tentang limbah
udang menunjukkan keragaman kadar protein kasar
berkisar yaitu 40% (ODUGUWA et al., 2004) sampai
62% (ROSENFELD et al., 1997), abu antara 12% (ISLAM
106
et al., 1994) sampai 23% (GERNAT, 2001), serat kasar
berkisar dari 11% (ROSENFELD et al., 1997) sampai
13% (GERNAT, 2001) dan lemak kasar berkisar dari
4,8% (ODUGUWA et al., 2004) sampai 7,7%
(ROSENFELD et al., 1997). Perbedaan tersebut
disebabkan karena perbedaan spesies udang, sumber
dan cara proses limbah udang yang dapat
mempengaruhi nilai nutrisi dari limbah udang. Limbah
udang yang digunakan dalam penelitian ini merupakan
campuran antara bagian kepala dan cangkang udang
mengandung SK dan abu tinggi (14 dan 21,3%), serta
lemak kasar dan protein kasar yang cukup tinggi (13
dan 43,05%) dengan kandungan kitin sebanyak 13,6%.
Kandungan protein limbah udang tersebut sama dengan
yang digunakan oleh ODUGUWA et al. (2004), lebih
rendah dengan yang digunakan oleh ROSENFELD et al.
(1997) yaitu 50,9% dan lebih tinggi dibandingkan
dengan limbah udang yang digunakan KHEMPAKA et al.
(2006) yaitu 39,32%.
IRFAN, H.D. et al. Pengaruh penggunaan limbah udang hasil fermentasi dengan Aspergillus niger terhadap performan
Performan broiler
Tabel 2 menampilkan data pengaruh penggunaan
limbah udang hasil fermentasi (LUF) terhadap
performan ayam broiler. Bobot hidup DOC yang
digunakan relative seragam dengan kisaran 46,70 –
48,31 g. Perlakuan penggunaan LUF pada ayam broiler
menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap bobot
hidup 3 minggu, bobot hidup akhir, konsumsi dan
konversi pakan.
Perlakuan fermentasi limbah udang terhadap bobot
hidup broiler umur 3 minggu menunjukkan pengaruh
yang signifikan. Bobot hidup pada P1 (5% LUF) lebih
tinggi sedangkan P2 (7,5% LUF) tidak menunjukkan
perbedaan dibandingkan dengan pakan kontrol (P0),
dan pada perlakuan P3 dan P4 (pemberian 10 dan
12,5% LUF), bobot hidup broiler umur 3 minggu lebih
rendah dibandingkan dengan P0. Bobot hidup ayam 3
minggu P1 dan P2 lebih berat dibandingkan dengan P0
dan kemudian menurun pada perlakuan P3 dan P4.
Pengaruh perlakuan terhadap bobot hidup akhir juga
menunjukkan pola yang sama dengan bobot hidup 3
minggu. Bobot hidup perlakuan P1 lebih berat
dibandingkan dengan P0, sedangkan P2 sedikit lebih
rendah dibandingkan P0 dan terus mengalami
penurunan dengan semakin meningkatnya pemberian
LUF (P3 dan P4).
Konsumsi pakan tidak menunjukkan perbedaan
yang signifikan antar perlakuan (P>0,05) yang diduga
tidak adanya perbaikan palatabilitas akibat fermentasi.
Hal ini berbeda dengan hasil yang dilaporkan oleh
ODUGUWA et al. (2004) bahwa pemberian limbah
udang diatas 5% menyebabkan konsumsi pakan dan
pertumbuhan bobot hidup menurun dan FANIMO et al.
(2004) menyatakan konsumsi pakan cenderung
meningkat dan pertumbuhan ternak menurun.
Hasil-hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa
broiler yang diberi pakan menggunakan LU tidak selalu
menghasilkan hasil yang sama. Penggunaan limbah
udang pada pakan broiler masih kontroversi. ROMZIAH
et al. (1981), ISLAM et al. (1994) dan ARELLANO et al.
(1997) menyatakan limbah udang dapat digunakan
masing-masing sebanyak 15, 14, 25 dan 9%. Hal ini
kemungkinan disebabkan perbedaan jenis udang,
proporsi bagian kepala dan cangkang udang, cara proses
pengeringan dan pengolahan sebelum diberikan ternak
yang mempengaruhi nilai nutrisi dari limbah udang
terutama kandungan protein dan kitin. Pada penelitian
ini LU yang digunakan mengandung protein kasar
43,05%, lebih rendah dibandingkan dengan kandungan
limbah udang pada literatur berkisar 50,9 – 62%.
Penelitian KHEMPAKA et al. (2006) melaporkan
penggunaan LU sampai 8% akan menurunkan laju
pertumbuhan bobot hidup, konsumsi pakan, efisiensi
pakan, kecernaan bahan kering dan retensi N, sehingga
disarankan penggunaan LU sebagai pakan sumber
protein broiler hanya sebanyak 4%.
Perbedaan pengaruh pemberian LUF terhadap bobot
hidup dan konsumsi pakan tersebut diatas berakumulasi
terhadap konversi pakan. Perlakuan P1 menunjukkan
konversi pakan yang terbaik dibandingkan dengan P0,
sedangkan P2 sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan
P0 dan terus mengalami peningkatan dengan semakin
meningkatnya pemberian LUF (P3 dan P4).
Penggunaan limbah udang sampai level 7,5% masih
memberikan hasil yang terbaik, seperti yang dilaporkan
KHEMPAKA et al. (2006) bahwa penggunaan LU
dibawah 8% tidak menunjukkan perbedaan laju
pertumbuhan bobot hidup, konsumsi pakan, dan
efisiensi pakan.
Presentase karkas hasil perlakuan P1, menunjukkan
hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan P0, dan
perlakuan P2, P3 dan P4 tidak berbeda dibandingkan
dengan kontrol. ROSENFELD et al. (1997) melaporkan
penelitian substitusi protein bungkil kedelai dengan
tepung udang sampai 40% atau setara dengan
penggunaan
limbah
udang
sebanyak
8,3%,
menunjukkan tidak ada perbedaan bobot hidup,
konsumsi pakan, konversi pakan, mortalitas, dan bobot
karkas.
Bobot organ pencernaan
Bobot organ pencernaan hasil perlakuan LUF secara
umum tidak banyak berbeda dengan kontrol. Bobot
proventrikulus, pankreas, duodenum, jejenum dan caeca
Tabel 2. Performan ayam broiler perlakuan limbah udang dengan A. niger (LUF)
Parameter
P0
P1
P2
P3
P4
Bobot hidup 3 mgg (g)
634,00 ± 4,20b
683,00 ± 27,10c
640,00 ± 1,00b
595,00 ± 28,80a
577,00 ± 20,10a
Bobot hidup akhir (g)
1658,00 ± 107,10b
1733,00 ± 39,20c
1600,00 ± 28,10b
1483,00 ± 64,10a
1471,00 ± 86,70a
Konsumsi pakan (g)
3330,00 ± 64,40
3296,00 ± 63,40
3284,00 ± 20,27
3283,00 ± 57,70
3303,00 ± 143,50
0,13a
1,90 ± 0,07a
2,05 ± 0,05a
2,22 ± 0,06b
2,25 ± 0,05b
Konversi pakan
% Karkas
2,01 ±
66,02 ± 2,20
68,88 ± 1,60
66,42 ± 6,10
66,13 ± 4,70
66,68 ± 1,20
Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
107
JITV Vol. 14 No. 2 Th. 2009: 104-109
Tabel 3. Bobot organ pencernaan broiler (per 100 g bobot hidup)
Parameter
Proventrikulus
P0
P1
0,45 ± 0,04
P2
0,47 ± 0,14
b
P3
0,50 ± 0,08
a
2,44 ± 0,05
a
P4
0,53 ± 0,02
0,63 ± 0,09
a
3,00 ± 0,42b
Gizzard
3,11 ± 0,27
Pankreas
0,25 ± 0,00
0,22 ± 0,06
0,28 ± 0,03
0,29 ± 0,05
0,27 ± 0,07
Duodenum
0,81 ± 0,14
0,97 ± 0,07
0,90 ± 0,05
0,88 ± 0,08
0,93 ± 0,14
Jejenum
1,80 ± 0,15
1,73 ± 0,79
2,16 ± 0,57
1,72 ± 0,33
2,23 ± 0,10
1,50 ± 0,43a
1,60 ± 0,43a
1,66 ± 0,29a
1,77 ± 0,23b
0,69 ± 0,01
0,54 ± 0,08
0,56 ± 0,08
0,52 ± 0,12
b
Ileum
1,91 ± 0,46
Caeca
0,51 ± 0,05
2,03 ± 0,25
2,45 ± 0,22
Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
tidak dipengaruhi oleh perlakuan penambahan LUF.
Meskipun demikian, dibandingkan dengan kontrol
bobot organ pencernaan broiler yang diberi perlakuan
lebih berat. Pada perlakuan LUF, bobot gizzard dan
ileum nyata lebih ringan dibandingkan dengan kontrol.
(Tabel 3). Hasil pengamatan menunjukkan tidak ada
perubahan dan anomali bentuk pada semua organ
pencernaan broiler tersebut.
Perbedaan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh
kandungan serat kasar dan kitin limbah udang yang
tinggi dan sulit dicerna sehingga menyebabkan ukuran
proventrikulus agak membesar dan dindingnya
menebal. Demikian juga pada pankreas yang sedikit
lebih berat dibandingkan kontrol karena stimulasi
pankreas untuk menghasilkan enzim pencerna serat dan
kitin limbah udang. Keterbatasan pencernaan serat
kasar dan kitin pada usus kemungkinan menyebabkan
aktivitas kecernaan serat kasar dan kitin tersebut masih
berlangsung sampai pada bagian caeca, sehingga
menyebabkan bobot caeca perlakuan lebih berat
dibandingkan dengan kontrol.
KESIMPULAN
Limbah udang hasil fermentasi dengan. A. niger
pada pakan broiler dapat digunakan sampai 7,5% dari
total pakan tanpa berpengaruh terhadap performan
ayam broiler. Jika digunakan lebih dari 7,5% akan
menurunkan bobot hidup 3 minggu, bobot hidup akhir
dan konsumsi pakan, dan meningkatkan koversi pakan.
Sementara itu, % karkas dan bobot organ pencernaan
relative tidak berbeda dibandingkan dengan tanpa
penambahan limbah udang hasil fermentasi.
DAFTAR PUSTAKA
ARELLANO, L., F.P.G. CARILLO, E. AVILLA and F. RAMOS.
1997. Shrimp head meal utilization in broiler feeding.
Poult. Sci. (Abstr.) 76 (Supp.1): 85.
108
CASTRO, G., N. STOYAN and J.P. NYERS. 1989. Assimilation
efficiency in birds, a function of taxon and food type?
Comp. Biochem. Physiol. 92: 271-278.
FANIMO, A.O., E. MUDAMA, T.O. UMUKORO and O.O.
ODUGUWA. 2004. Substitution of shrimp waste for fish
meal in broiler chicken. Trop. Agric. 73: 201-205.
FOX, C.J., P. BLAW, J.H. BROWN and I. WATSON, 1994. The
effects of various processing methods on the physical
and biochemical properties of shrimp head meals and
their utilization by juvenile Penaeus monodon Fab.
Aquaculture. 122: 209 – 226.
GERNAT, A.G. 2001. The effect of using different levels of
shrimp meal in laying hen diets. Poult. Sci. 80: 633-636.
ISLAM, M.A., M.D. HOSSIAN, S.M. BAIBUL and M.A.
HOWLIDER, 1994. Unconventional feed for broilers.
Indian Vet. J. 74: 775-780.
KHEMPAKA, S., K. KOH and Y. KARASAWA. 2006. Effect of
shrimp meal on growth performance and digestibility in
growing broilers. J. Poult. Sci., 43: 250-254.
MAHATA, M.E. 2007. Repairing Shrimpwaste Nutrient Quality
as Poultry Feed Through Chitinases and Chitinase
Hydrolysis from Serratia marescense Bacterium.
Disertasi. Univ. Andalas Padang.
MINORU, M., S. HIROYUKI and S. YOSHIHIRO. 2002. Control of
function chitine and chitosan by chemical modification.
Mini review, in Trends. Glycosci. Glycotech. 14: 205222.
MIRZAH, 1990. Influence of Shrimp Waste Meal Processing
and Non-Processing Levels in Ration for Broiler
Performance. Tesis. Universitas Padjadjaran, Bandung.
NRC. 1994. Nutrient Requirements of Poultry. Ninth Revised
Edition. National Academy Press. Washington, D.C.
ODUGUWA, O.O., .O. FANIMO, V.O. OLAYEMI and N. OTERI.
2004. The feeding value of sun-dried shrimp wastebased
diets for starter and finisher broilers. Arch. Zootec. 53:
87-90.
IRFAN, H.D. et al. Pengaruh penggunaan limbah udang hasil fermentasi dengan Aspergillus niger terhadap performan
OKOYE, F.C., G.S. OJELOWA and K. NJOKU-ONU. 2005.
Evaluation of shrimp waste meal as probable animal
protein source for broiler chicken. Int. J. Poult. Sci.:
458-461.
RODRIGUEZ, A.T., C. SARTOR, S.E. HIGGINS, A.D.
WOLFENDEN, L.R. BIELKE, C.M. PIXLEY, L. SUTTON, G.
TELLEZ and B.M. HARGIS, 2005. Effect of Aspergillus
meal prebiotic (Fermacto) on performance of broiler
chicken in the starter phase and fed low protein diets. J.
Appl. Poult. Res. 14: 665 – 669.
ROMZIAH, S., H. SETIONO, M. HAYATI, Y.M. INDRAWANI dan
K. ROCHIMAN. 1981. Pengaruh berbagai tingkat
penggunaan tepung limbah udang di dalam ransum
ayam broiler terhadap pertumbuhan dan konsumsi
ransum. Direktorat P3M. FKH. Unair, Surabaya.
ROSENFELD, D.J., A.G. GERNAT, J.D. MARCANO and J.A.
FLORES. 1997. The Effect of using different levels of
shrimp meal in broiler diets. Poult. Sci. 76: 581-587.
SAS INSTITUTE INC. 1996. SAS User’s Guide: Statistics. SAS
Institute, Cary. NC.
109
Fly UP