...

tidak menyadari ada najis pada pakaian saat shalat

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

tidak menyadari ada najis pada pakaian saat shalat
TIDAK MENYADARI ADA NAJIS
PADA PAKAIAN SAAT SHALAT
TIDAK MENYADARI ADA NAJIS PADA PAKAIAN SAAT SHALAT
Ada seseorang shalat lima waktu dari shalat Subuh sampai
shalat Isya dalam keadaan pada pakaiannya ada najis sementara
dia tidak menyadarinya. Apakah dia harus mengulang shalatnya?
Atau apa yang harus dilakukannya?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi al-Madkhali
hafizhahullah menjawab sebagai berikut.
“Orang yang telah mengerjakan shalat lima waktu dalam keadaan
pada pakaiannya ada najis tanpa diketahuinya, maka shalatnya
sah, tidak perlu diulangi. Argumennya di antaranya adalah saat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat
beliau dalam keadaan memakai sendal, tiba-tiba Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas sendal beliau. Para
sahabat pun mengikuti beliau, melepas sendal mereka.
Setelah salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menanyai mereka, “Mengapa kalian melepas sendal kalian?”
Mereka menjawab, “Kami melihat Anda melepas sendal anda, maka
kami pun melepas sendal-sendal kami.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
َ
َ
َ
‫إِنَّ ﺟ ِﺒْﺮ َاﺋ ِﻴ ْﻞ َ أ ﺗَﺎﻧِﻲ ﻓ َﺄ ﺧ ْﺒَﺮ َﻧِﻲ أ نَّ ﻓ ِﻴ ْﻬ ِﻤَﺎ‬
‫ﻗ َﺬ َر ًا‬
Sesungguhnya Jibril datang kepadaku lalu mengabariku bahwa“
[pada kedua sendalku ada kotoran/najis.”[1
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikabarkan oleh
Jibril tentang adanya kotoran pada kedua sendal beliau. Beliau
kemudian melepaskan keduanya di tengah shalat tanpa mengulang
shalat yang telah dikerjakan saat masih memakai dua sendal
yang terdapat najis tersebut.
Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini
menunjukkan bahwa ketika seorang muslim shalat dalam keadaan
tidak menyadari pada pakaiannya ada najis dan baru
mengetahuinya setelah selesai shalat, tidak diharuskan baginya
mengulang shalat. Sebab, dia dalam posisi beruzur, dan
shalatnya saat itu sah.
Dari sini ulama membedakan antara najis dan janabah atau
hadats kecil atau hadats besar. Jika seseorang shalat dalam
keadaan junub (berhadats besar, –pen.), ia wajib mengulangi
shalatnya (setelah mandi janabah, –pen.).
Demikian pula seseorang yang shalat dalam keadaan berhadats
kecil (seperti buang angin, buang air kecil, atau besar,
–pen.), kemudian ingat bahwa dia telah mengerjakan satu shalat
fardhu atau lebih dalam keadaan berhadats kecil atau besar, ia
wajib mengulang shalatnya.
Pernah terjadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
siap memimpin shalat setelah diserukannya iqamah. Tatkala shaf
telah lurus, beliau berkata, “Tetaplah kalian di tempat
kalian!” Kemudian beliau pergi, lalu mandi (karena janabah)
dan kembali lagi. Setelah itu, beliau mengimami mereka.
Ulama memandang bahwa hadats besar dan kecil membatalkan
shalat. Apabila seseorang shalat lalu ingat bahwa dia sedang
berhadats besar atau kecil, shalatnya dia batalkan[2]. Setelah
(bersuci), dia mengulangi shalatnya dari awal.
Adapun najis, hukumnya sebagaimana yang telah kami sebutkan.”
————–
[1] HR. Abu Dawud no. 650 dari hadits Abu Said al-Khudri
radhiallahu ‘anhu; dinyatakan sahih oleh al-Hakim dalam alMustadrak dan disepakati oleh adz-Dzahabi; dinyatakan sahih
sanadnya oleh Ibnu Katsir dalam Tuhfah ath-Thalib hlm. 135 dan
penulis Fathul Bari (1/348) menukilkan pensahihan Ibnu
Khuzaimah terhadap hadits ini. tersebut.
[2] Untuk menghilangkan hadatsnya dengan mandi kalau berhadats
besar atau wudhu apabila berhadats kecil.
(Pertanyaan dalam kitab ‘Aun al-Bari bi Bayan Ma Tadhammanahu
Syarhus Sunnah lil Imam al-Barbahari, 2/650—651)
http://asysyariah.com/fatwa-seputar-shalatnya-wanita-2/
Fly UP