...

KINERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

KINERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
eJournal Ilmu Adminidtrasi Negara, 2015, 3 (4) : 950 - 963
ISSN 0000-0000, ejournal.an.fisip-unmul.org
© Copyright 2015
KINERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
(BPBD) DALAM MENANGGULANGI KORBAN BENCANA
BANJIR DI KAMPUNG LAMBING KECAMATAN
MUARA LAWA KABUPATEN KUTAI BARAT
Fendi Irawan Sirapati1
Abstrak
Fendi Irawan Sirapati, Kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) dalam menanggulangi korban bencana banjir di Kampung Lambing
Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat dibawah bimbingan Bapak
Prof. Dr. H. Adam Idris, M.Si dan Bapak Dr. Anthonius Margono, M.Si
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran Kinerja
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam menanggulangi
korban bencana banjir di Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa
Kabupaten Kutai Barat dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi
penghambat kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam
menanggulangi korban bencana banjir di Kampung Lambing Kecamatan
Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat. Jenis penelitian yang dilakukan termasuk
deskriptif kualitatif. Key informannya yaitu Kepala BPBD Kabupaten Kutai
Barat dan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsigaan BPBD Kabupaten
Kutai Barat. Informannya yaitu Tokoh masyarakat Kampung Lambing yang
tugasnya berhubungan dengan masalah yang diteliti serta informan lainnya
yaitu Staf seksi Logistik dan Kedarutan BPBD. Sedangkan teknik pengumpulan
data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis
data yang digunakan adalah model interaktif yang dikembangkan oleh Miles
dan Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pegawai BPBD memiliki
kreativitas saat menanggulangi korban bencana banjir di kampung yang
terkena bencana banjir. Kerjasama BPBD dilakukan dimana saja, di lokasi
bencana. Pegawai BPBD memiliki kemampuan dan kesanggupan dalam
penanggulangi korban banjir, yang dilakukan di tempat bencana
penanggulangan korban masyarakat. kemampuan, kesanggupan, kepandaian
atau kemahiran dalam mengerjakan penanggulangi korban bencana banjir
anggota BPBD yang dilakukan tidak menimbulkan korban bencana banjir
meninggal dunia. BPBD bertanggung jawab dalam menanggulangi korban
bencana banjir, untuk lebih dekat dengan masyarakat maka BPBD telah
membentuk posko penanggulangan bencana ditiap kecamatan dan telah
berjalan setelah dua tahun terbentuknya BPBD. Posko di bentuk agar
masyarakat yang terkena bencana dapat segera tertolong.
Kata Kunci : Kinerja, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, bencana
banjir
1
Mahasiswa Program S1 Administrai Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Mulawarman. Email: [email protected]
Kinerja BPBD dalam Menanggulangi Banjir di Kampung Lambing (Fendi IrawanS.)
Pendahuluan
Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis
bencana, termasuk bencana alam. Bencana alam merupakan fenomena alam
yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan
yang pada pembangunan yang telah dibangun selama ini. Bencana alam yang
terjadi akibat eksploitasi sumber daya alam seperti tanah, hutan, dan air secara
berlebihan serta akibat perubahan cuaca atau iklim global telah mengakibatkan
bertambahnya lahan kritis, selain itu dampaknya akan mengubah tata guna air,
sehingga dapat mengakibatkan banjir, kekeringan, tanah longsor, kebakaran
hutan dan lahan serta meningkatnya laju erosi dan sedimentasi.
Salah satu fenomena alam yang menimbulkan kerugian besar yang selalu
mengancam beberapa wilayah di Indonesia adalah bencana banjir. Banjir
merupakan suatu fenomena alam biasa, namun akan menjadi suatu yang sangat
merugikan jika mengancam keberadaan hidup manusia. Dari data Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berbagai peristiwa banjir pada
tahun 2013 sampai awal 2015 jumlah bencana banjir telah terjadi 3.708 kali, ini
menunjukan bahwa Indonesia rawan akan bencana banjir.
Banjir merupakan genangan air dalam jumlah besar yang biasanya
disebabkan oleh meluapnya air sungai karena debit air yang melebihi daya
tampungnya. Fenomena alam ini cukup sering terjadi di Indonesia, banjir
melanda hampir di setiap musim penghujan. Tidak hanya di kota-kota besar
dengan sedikit area resapan air yang terkena banjir, di daerah pedesaan pun
demikian. Banyak faktor yang menyebabkan suatu daerah terkena banjir, antara
lain bentuk Daerah Aliran Sungai (DAS), gradien sungai, kerapatan drainase,
lereng rata-rata DAS dan penggunaan lahan. Parameter tersebut bisa digunakan
sebagai tolak ukur dalam menentukan kerentanan potensi banjir di suatu
daerah.
Sadar akan posisi sebagai “negara bencana”, maka pemerintah
membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai
perpanjangan tangan pemerintah dalam hal menanggulangi bencana, BNPB
pun dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2008.
Pembentukan BNPB merupakan realisasi Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Pasal 10 ayat (2) dari Undang - Undang yang sama menyatakan bahwa lembaga
ini merupakan lembaga pemerintah nondepartemen setingkat menteri.
Pasal 18 di dalam Undang–Undang Nomor 24 tahun 2007
mengamanatkan dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
di tingkat provinsi maupun kabupaten/ kotamadya. Berdasarkan atas hal diatas
maka pemerintah kabupaten Kutai Barat mengeluarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Kutai Barat No. 06 Tahun 2012 tentang organisasi dan tata kerja
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kutai Barat.
Empat tahun setelah dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) kabupaten Kutai Barat, Kutai Barat harus menghadapi banjir
pada awal 2015. Hal ini disebabkan sungai – sungai tersebut merupakan sungai
951
eJournal Administrasi Negara, Volume 3, Nomor 4, 2015: 950-963
musiman, pada musim penghujan sering terjadi banjir dan pada musim
kemarau terjadi kekeringan. Bentuk sungai Kutai Barat yang berkelok – kelok
Kondisi ini sangat berpengaruh pada jenis dan karakteristik alirannya.
Kabupaten Kutai barat Secara Geografis terletak antara 113'048'49"
sampai dengan 116'032'43"Bujur Timur serta di antara 103'1'05" Lintang Utara
dan 100'9'33" Lintang Selatan. Adapun wilayah yang menjadi batas Kabupaten
Kutai Barat adalah Kabupaten Mahakam Ulu, Kabupaten Malinau dan Negara
Sarawak (Malaysia Timur) di sebelah Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di
sebelah Timur, Kabupaten Penajam Paser Utara di sebelah Selatan dan untuk
sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Murung
Raya Provinsi Kalimantan Tengah serta Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi
Kalimantan Barat. Kutai Barat diwilayah yang sangat strategis ditengah –
tengah antara kabupaten dan provinsi. Namun karena banjir ini menyebabkan
kerugian dari berbagai pihak baik bagi warga yang menempati wilayah wilayah banjir sampai persawahan, peternakan, serta pertambakan.
Di kecamatan Muara lawa tepatnya dikampung Lambing kondisi banjir
yang meluap menyebabkan peternakan ayam dan pertambakan ikan mati.
Imbas dari kejadian banjir menyebabkan perekonomian warga terancam gagal
total. Tak cukup sampai disitu jalan poros menghubungkan Kabupaten Kutai
Barat dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Tengah ikut
tergenang banjir dan derasnya aliran air sungai bisa saja menghanyutkan warga
/ kendaraan yang melintas.
Sudah sepatutnya seluruh stakeholder khususnya Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) mengambil langkah meminimalisir dampak dari
terjadinya banjir. Dari tahun ketahun Kutai Barat di wilayah Kampung
Lambing Kecamatan Muara lawa bisa dikatakan langganan banjir apabila
terjadi musim hujan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kutai barat
mempunyai kontijensi bencana dianggap harus tanggap dalam menghadapi
bencana. Tanggap dalam arti mampu membaca situasi misalnya dengan
mendirikan posko siaga bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Dapat Melibatkan seluruh instansi serta menaungi instansi-instansi
yang turut andil dalam penanggulangan bencana seperti PMI, SAR, TNI,
POLRI, PRAMUKA, dan lain lain, sehingga manejemen penanggulangan
bencana dapat berjalan dengan lancar karena adanya kinerja Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang baik.
Peristiwa banjir yang terjadi pada awal tahun 2015 memperlihatkan
kurangnya kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam
pelaksanaan penanggulangan bencana. Peraturan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 63 tahun 2011 Tentang Pedoman
Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri. Dalam hal ini kinerja
pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sangat besar
tanggung jawabnya, oleh karena itu penanggulangan bencana sangat tergantung
kinerja Badan Penanggualngan Bencana Daerah (BPBD).
952
Kinerja BPBD dalam Menanggulangi Banjir di Kampung Lambing (Fendi IrawanS.)
Dari pengamatan awal yang penulis lakukan bahwa pegawai Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Barat belum
menjalankan sesaui pedoman tupoksi, menyebabkan tanggap bencana banjir di
wilayah Kampung Lambing Kecamtaan Muara Lawa terhambat bisa dikatakan
tidak efisien, ini mengindifikasikan bahwa kurangnya kinerja pegawai Badan
penanggulangan Bencan Daerah (BPBD) Kutai Barat dalam menanggulangi
korban bencana banjir di Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa.
Berangkat dari pemikiran di atas dan betapa pentingnya kinerja pegawai
dalam keberhasilan suatu organisasi. Maka dengan itu penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian yang berjudul “Kinerja Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Dalam Menanggulangi Korban Bencana Banjir Di
Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka rumusan
masalah pada penelitian ini adalah :
Bagaiamanakah kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
dalam menanggulangi korban bencana banjir di Kampung Lambing Kecamatan
Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, adapun tujuan yang ingin di capai
dari penelitian ini adalah: Untuk memberikan gambaran Kinerja Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam menanggulangi korban
bencana banjir di Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten
Kutai Barat.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian merupakan proses hasil dari tercapainya tujuan, maka
dari itu tujuan tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut :
1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini kiranya dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan serta
menambah kepustakaan dalam pengembangan ilmu pemerintahan khususnya
yang berkaitan dengan kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) sebuah lembaga.
2. Kegunaan Praktis
Bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian dalam
rangka ikut serta mengawasi instansi pemerintah dan sumbang saran kepada
pemerintah khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Di
Kabupaten Kutai Barat.
953
eJournal Administrasi Negara, Volume 3, Nomor 4, 2015: 950-963
Kerangka Dasar Teori
Pengertian Kinerja
Menurut Prawirosentono (dalam pasolong 2008:176) bahwa kinerja
adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh pegawai atau sekelompok pegawai
dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing –
masing, dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal
tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.
Pengertian Bencana
Sedangkan menurut Ligal, (2008:35) Bencana banjir merupakan
fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak dialiri oleh
aliran sungai. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya
air disuatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut.
Pengertian Banjir
Banjir dalam pengertian umum ( Peraturan Direkur jendral Rehabilitasi
Lahan dan Perhutanan Sosial No.04 thn 2009 ). Adalah debit aliran air sungai
dalam jumlah yang tinggi, atau debit aliran air di sungai secara relatif lebih
besar dari kondisi normal akibat hujan yang turun di hulu atau di suatu tempat
tertentu terjadi secara terus menerus, sehingga air tersebut tidak dapat
ditampung oleh alur sungai yang ada, maka air melimpah keluar dan
menggenangi daerah sekitarnya.
Tugas dan Fungsi BPBD
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai
Barat di pimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Barat
sebagai Kepala Badan seperti yang di amanatkan Pasal 18 Undang-Undang 24
Tahun 2007 dalam pelaksanannya Badan ini dipimpin seorang Kepala
Pelaksana. Badan Penangulangan Bencana Daerah mempunyai tugas dan
fungsinya sebagai berikut
Tugas Pokok :
1. Menetapkan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggualangan
bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan darurat,
rehabilitasi, serta rekontruksi secara adil dan setara.
2. Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan
bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan.
3. Menyusun, menetapkan, mengimpormasikan peta rawan bencana.
4. Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana.
5. Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya.
6. Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala
daerahsetiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam
kondisi darurat bencana.
7. Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang.
954
Kinerja BPBD dalam Menanggulangi Banjir di Kampung Lambing (Fendi IrawanS.)
8. Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari
anggaran pendapatan dan belanja daerah.
9. Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Fungsi :
1. Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan
penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat, efektif dan efisien.
2. Pengkordinasian pelaksanaan kegiatan penangulangan bencana secara
terencana, terpadu dan menyeluruh.
Definisi Konsepsional
Konsep adalah suatu makna yang berada di alam pikiran atau di dunia
kepahaman manusia yang di nyatakan kembali dengan sarana lambang
perkataan atau kata-kata. Berdasarkan konsep-konsep itu peneliti memang
dapat menata hasil pengamatannya kedalam suatu tata kepahaman yang
menggambarkan dunia realitas sebagaimana yang dirasa, dialami dan diamati.
Maka berkenaan dengan penelitian ini penulis mendefinisikan
konsepsional mengenai kinerja Badan Penanggulangan Bencana daerah
(BPBD) yaitu “hasil kerja secara kualitas dan kuantitas, berdasrkan tugas
tanggung jawab Badan Penanggulangan Bencana daerah dalam menanggulangi
korban bencana banjir di Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa
kabupaten Kutai Barat dengan wewenang memberikan perlindungan kepada
masyarakat sesuai fungsi dan tugas pokok Badan Penanggulangan Bencana
Daerah dimana semua untuk meningkatkan kualitas dan kuatitas penilaian
kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Dan pengarahan terhadap
usaha penanggulangan bencana, serta pengkordinasian pelaksanaan kegiatan
penanggulangan bencana secara terpadu, terencana, menyeluruh.
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian deskriptif
kualitatif, yaitu metode dengan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki
dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian
seseorang, pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
sebagaimana adanya.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam, maka penelitian
tersebut akan dianalisis secara kualitatif. Menurut Moleong (2005:90)
penelitian kualitatif yaitu : ”Suatu penelitian yang bersifat alamiah, yang
bergantung pada suatu pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri
berhubungan dengan orang-orang, latar dan perilaku secara menyeluruh. dalam
hal ini mengenai Kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
dalam menanggulangi korban bencana banjir di Kampung Lambing Kecamatan
Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat.
955
eJournal Administrasi Negara, Volume 3, Nomor 4, 2015: 950-963
Fokus Penelitian
Dari penjelasan di atas dan berdasarkan masalah yang diteliti serta
tujuan penelitian, maka yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam
menanggulangi korban bencana banjir Di Kampung Lambing Kecamatan
Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat adalah sebagai berikut :
a. Kreativitas BPBD dalam menanggulangi korban bencana banjir.
b. Kerjasama pegawai BPBD dalam menanggulangi korban bencana banjir.
c. Kecakapan pegawai BPBD dalam menanggulangi korban bencana banjir.
d. Tanggung jawab BPBD dalam menanggulangi korban bencana banjir.
2. Faktor faktor pendukung dan penghambat kinerja Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) dalam menanggulangi korban bencana banjir Di
Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat.
Sumber dan Jenis Data
Sumber Data dapat diperoleh dari Kepala Pelaksana BPBD, Sekretaris
BPBD, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Kepala Seksi
Kedaruratan Staf Logistik dan Sekretaris Desa sebagai Tokoh Masyarakat, di
mana peneliti dapat mengamati, bertanya atau membaca tentang hal-hal yang
berkaitan dengan variabel yang diteliti. Sumber Data ada dua jenis yaitu :
1. Sumber Data Primer
Sumber Data Primer yaitu Sumber data Penelitian yang di peroleh secara
langsung dari sumber asli, sebagai berikut :
a. Key informan (Informasi Kunci) nya yaitu Kepala Pelaksana BPBD.
b. Informannya yaitu Sekretaris BPBD, Kepala Bidang Pencegahan dan
Kesiapsiagaan, Kepala Seksi Kedaruratan dan Staf Logistik yang diteliti
dilakukan secara Purposive sampling. Menurut Sugiyono, (2004:60).
Purposive sampling yaitu menentukan sampel dengan pertimbangan
tertentu yang memberikan data secara maksimal.
c. Informan Lainnya yaitu Sekretaris Desa sebagai Tokoh Masyarakat, yang
dilakukan secara Purposive sampling, dimana menentukan sampel
dengan pertimbangan tertentu yang memberikan data secara maksimal.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber Data Sekunder adalah Data Penelitian yang diperoleh peneliti secara
tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder umumnya berupa
bukti,catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip. Seperti
data-data yang mendukung dari buku-buku yang sudah dipublikasikan
maupun yang belum dipublikasikan. Untuk menunjang penelitian ini
diambil dari dokumen-dokumen yang ada di Badan Penanggulangan
Bencana Daerah di Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten
Kutai Barat.
956
Kinerja BPBD dalam Menanggulangi Banjir di Kampung Lambing (Fendi IrawanS.)
Teknik Pengumpulan Data
Untuk melengkapi hasil penelitian ini, penulis memerlukan data sebagai
pendukung keseluruhan terhadap penulisan proposal ini dalam mencari dan
mengumpulkan data-data tersebut penulis mengunakan teknik-teknik sebagai
berikut :
1. Library Research, yaitu penulis mengunakan fasilitas perpustakaan untuk
mendapatkan teori-teori yang mendukung penulisan proposal ini dengan
membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penulisan
proposal ini. Termasuk dalam teknik ini adalah: Teknik Dokumentasi,
Teknik Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekunder, yakni
dengan cara menelaah dokumen dan kepustakaan yang dikumpulkan dari
berbagai dokumen seperti; peraturan perundang-undangan, arsip, laporan
dan dokumen pendukung lainnya yang memuat pendapat para ahli kebijakan
sehubungan dengan penelitian.
2. Field Work Research, yaitu penulis mengadakan penelitian langsung di
lapangan terhadap objek penelitian dimana dalam tahap ini dipergunakan
teknik-teknik sebagai berikut :
a) Observasi, dengan teknik ini penulis mengadakan pengamatan dan
berusaha mengetahui serta mengumpulkan data yang ada hubungannya
dengan penulisan ini. Observasi juga merupakan upaya memperoleh data
primer, yaitu merupakan teknik pengumpulan informasi melalui
pengamatan pada saat proses penelitian sedang berjalan. Observasi dalam
penelitian ini meliputi tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Di Kabupaten Kutai Barat;
b) Wawancara, teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data
primer, melalui teknik wawancara secara mendalam dan wawancara
terstruktur penulis dapat memperoleh penjelasan yang rinci dan
mendalam tentang kinerja badan Penanggulangan Bencana Daaerah
(BPBD) dalam menanggulangi korban bencana banjir di Kampung
Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat.
c) Dokumen, yakni dengan cara menelaah dokumen dan kepustakaan yang
dikumpulkan dari berbagai dokumen seperti; peraturan perundangundangan, arsip, laporan dan dokumen pendukunglainnya yang memuat
pendapat para ahli kebijakan sehubungan dengan penelitian.
Teknik Analisis Data
Dari gambar analisis data model interaktif yang dikembangkan oleh Miles
dan Huberman ( dalam Sugiyono, 2013:337), dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data(Data Collection)
Merupakan kegiatan awal yang berupa mengumpulkan data mentah dari
suatu penelitian. Dalam mengumpulkan data ini peneliti harus turun sendiri ke
lapangan secara aktif. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu melalui, observasi partisipasi, dokumentasi, interview
(wawancara), perekaman.
957
eJournal Administrasi Negara, Volume 3, Nomor 4, 2015: 950-963
2. Reduksi Data(Data Reduction)
Diartikan sebagai pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan,
pengabstrakan, dan transformasi data. Tahap ini merupakan tahap analisis data
yang mempertajam atau memusatkan, membuktikan dan sekaligus dapat
membuktikan.
3. Penyajian Data(Data Display)
Merupakan tahapan berupa menguraikan data yang telah tersusun dengan
cara tertentu agar bisa dapat lebih mudah memahami data. Penyajian data
merupakan alur penting dalam tahap kegiatan analisis data guna penyajian data
yang lebih valid..
4. Menarik Kesimpulan(Concluction Drawing)
Menarik kesimpulan atau verifikasi merupakan suatu proses kegiatan
yang terakhir dilakukan dalam kegiatan analisis data.
Hasil Penelitian dan Analisis Data
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Keadaan Geografis
Kampung Lambing salah satu dari Kecamatan Muara Lawa luas
wilayah lambing 51,91, jarak dari kampung Lambing ke Kabupaten Kutai Barat
sejauh 58,00. Lambing letak Di luar kawasan hutan letak geografis Hamparan,
jumlah laki-laki sebanyak 935 orang dan jumlah perempuan sebanyak 928
orang, suku lambing rata-rata suku dayak benuaq, Taman Kanak Kanak di
lambing sebanyak 1 TK negeri, 2 TK swasta, 3 SD Negeri, 1 SD swasta, 1
SLTP negeri, 1 SMA negeri, 2 orang dokter, 1 orang bidan, masyarakat yang
memakai PLN sebanayak 485 rumah, warung/kedai minuman sebanyak 10
warung, 25 toko warung kelontongan, 2 penginapan, 2 lapangan bola, 1 lapang
voli, 1 lapangan bulutangkis dan 1 koperasi yang ada di lambing.
Batas-Batas Wilayah Kampung Lambing
Adapun batas-batas wilayah Kampung Lambing Kecamatan Muara
Lawa sebagai berikut :
1. Utara : Keay dan Jengan Danum
2. Selatan : Jerang Dayaq
3. Barat
: Banggeris
4. Timur : Muara Lawa
Hasil Penelitian
Kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam
Menanggulangi Korban Bencana Banjir di Kampung Lambing Kecamatan
Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat.
Dalam menanggulangi korban bencana banjir di Kampung Lambing
Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat, Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) terdiri dari kreativitas BPBD dalam menanggulangi
958
Kinerja BPBD dalam Menanggulangi Banjir di Kampung Lambing (Fendi IrawanS.)
korban bencana banjir, kerjasama pegawai BPBD dalam menanggulangi
korban bencana banjir, kecakapan pegawai BPBD dalam menanggulangi
korban bencana banjir, Tanggung jawab BPBD dalam menanggulangi korban
bencana banjir dan faktor faktor pendukung dan penghambat kinerja Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam menanggulangi korban
bencana banjir Di Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten
Kutai Barat. Hasil penelitian tentang program-program yang dilaksanakan
sebagai berikut:
Kreativitas BPBD Dalam Menanggulangi Korban Bencana Banjir.
Dari hasil wawancara penulis dengan kepala BPBD, sekretaris BPBD,
kepala bidang pecegahan dan kesiapsiagaan, kepala seksi kedaruratan, staf
logistic dan sekretaris desa kampung lambing sebagai tokoh dapat disimpulkan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, pegawai BPBD belum efektip
kreativitas saat menanggulangi korban bencana, keberadaan BPBD dirasakan
belum maksimal. Walaupun rumah warga banjir tinggi, yang membantu warga
untuk evakuasi hanyalah BPBD, masyarakat dan perusahaan sekitar.
Seharusnya BPBD memberikan peringatan dini kepada masyarakat khususnya
masyarakat Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa agar kerugian dapat
dikurangi/dicegah dengan cepat.
Kerjasama pegawai BPBD dalam menanggulangi Korban Bencana Banjir.
Dari hasil wawancara penulis dengan kepala BPBD, sekretaris BPBD,
kepala bidang pecegahan dan kesiapsiagaan, kepala seksi kedaruratan, staf
logistic dan sekretaris desa kampung lambing sebagai tokoh dapat disimpulkan
bahwa. dalam penanggulangan banjir BPBD melakukan kerja sama. Warga
Kampung Lambing belum merasakan manfaat kegiatan BPBD. Tetapi
perusahaan disekitar Kampung Lambing lebih cepat tanggap bencana banjir
dengan memberi bantuan dan dilengkapi dengan peralatan maka ketika sudah
terjadi bencana maka ketika warga turun pada waktu itu sudah ada yang lebih
dulu ada di lokasi bencana, tetapi BPBD tidak ada.
Kecakapan pegawai BPBD dalam menanggulangi Korban Bencana Banjir.
Dari hasil wawancara penulis dengan kepala BPBD, sekretaris BPBD,
kepala bidang pecegahan dan kesiapsiagaan, kepala seksi kedaruratan, staf
logistic dan sekretaris desa kampung lambing sebagai tokoh dapat disimpulkan
warga merasakan keberadaan dari fungsi BPBD. tetapi pernah banjir selama 3
hari, warga tidak pernah menemukan ataupun bertemu dengan anggota BPBD.
Yang memberikan perhatian adalah Perusahaan yang berada di sekitar
Kampung Lambing yang sigap terhadap kondisi masyarakat Kampung
Lambing.
959
eJournal Administrasi Negara, Volume 3, Nomor 4, 2015: 950-963
Tanggung jawab BPBD dalam menanggulangi Korban Bencana Banjir.
Dari hasil wawancara penulis dengan kepala BPBD, sekretaris BPBD,
kepala bidang pecegahan dan kesiapsiagaan, kepala seksi kedaruratan, staf
logistic dan sekretaris desa kampung lambing sebagai tokoh dapat disimpulkan
warga melihat fungsi BPBD baru turun ketika dana sudah ada. Seharusnya
pemerintah daerah, memperhatikan dana BPBD, agar BPBD berfungsi dalam
penanggulangan bencana yang terkena bencana. Kerja yang bisa dilakukan
terlebih dahulu sambil menunggu keluarnya dana dari pemerintah Kabupaten
seperti yang dilakukan oleh para relawan.
Faktor pendukung dan faktor penghambat kinerja Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) dalam menanggulangi korban bencana banjir Di
Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat.
Dari hasil wawancara penulis dengan kepala BPBD, sekretaris BPBD,
kepala bidang pecegahan dan kesiapsiagaan, kepala seksi kedaruratan, staf
logistic dan sekretaris desa kampung lambing sebagai tokoh dapat disimpulkan
bahwa, faktor pendukungnya BPBD yaitu keaktifan BPBD, cara pencegahan
dan kesiapan BPBD apabila ada bencana banjir, tidak kekurangan dari sarana
dan prasarana mereka atas perannya yang bertugas menolong warga, alat
kelengkapan pertolongan yang ada, layak pakai apabila digunakan.
Pembahasan
Kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dalam
Menanggulangi Korban Bencana Banjir di Kampung Lambing Kecamatan
Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat.
Dari hasil penelitian kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) dalam menanggulangi korban bencana banjir menilai pegawai dari
kreativitas, kerjasama, kecakapan, Tanggung jawab, faktor pendukung dan
faktor penghambat kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah dalam
menanggulangi korban bencana banjir Di Kampung Lambing Kecamatan
Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat yaitu :
Kreativitas BPBD dalam menanggulangi korban bencana banjir.
Pegawai BPBD harus memiliki kreativitas saat menanggulangi korban
bencana banjir. Di kampung yang terkena bencana banjir, pegawai harus
memiliki kreativitas dan cepat tanggap, yang terbagi disetiap kampung
berjumlah 5 orang staf. Persiapan sebelum banjir, bentuk-bentuk kreativitas staf
mempersiapkan tenda, pemasangan tenda dan penyaluran bantuan. Tingkat
kreativitas staf BPBD sangat baik dalam bentuk membuat Kampung Siaga
Bencana KSB, staf terbagi-bagi dari bidang Informasi dan komunikasi, sarana
operasional, menyediakan segala bentuk kebutuhan alat maupun perlengkapan
secara khusus maupun umum, mengevaluasi korban banjir, pencarian korban,
penanganan pengungsi, korban luka dan korban meninggal. Dengan keahlian
960
Kinerja BPBD dalam Menanggulangi Banjir di Kampung Lambing (Fendi IrawanS.)
bidang rescue atau penyelamatan untuk penanggulangan bencana bantuan
sosial, perlengkapan P3K, bidang logistik, satuan logistik dan bidang dapur
umum, anggota BPBD sudah mengikuti pelatihan dalam penanggulanagan
bencana.
Kerjasama pegawai BPBD dalam menanggulangi Korban Bencana Banjir.
Kerjasama pegawai BPBD sangat baik, dimana pegawai saling
memotivasi dan pegawai BPBD kerjasama dengan perusahaan-perusahaan
yang ada di sekitar kampung Lambing, seperti PT. BANPU, PT. TSA dan PT.
PAMA. Meskipun bencana terjadi di Kabupaten Kutai barat, namun tidak
banyak SDM yang memiliki kemampuan di bidang kebencanaan. Keterbatasan
SDM, ini tentu saja menimbulkan masalah tersendiri terutama jika dikaitkan
dengan upaya pembentukan BPBD di seluruh wilayah Kubar.
Kecakapan pegawai BPBD dalam menanggulangi Korban Bencana
Banjir.
Pegawai BPBD harus memiliki kemampuan dan kesanggupan dalam
penanggulangi korban banjir, yang dilakukan di tempat bencana
penanggulangan korban masyarakat. kemampuan, kesanggupan, kepandaian
atau kemahiran dalam mengerjakan penanggulangi korban bencana banjir
anggota BPBD yang dilakukan tidak menimbulkan korban bencana banjir
meninggal dunia. Namun kekurangannya karena pegawai/anggota BPBD
belum sempat menyampaikan langsung peringatan dini kepada masyarakat.
Kami hanya menyampaikan kepada aparatur dimasing-masing kecamatan
dengan harapan mereka dapat menyalurkan informasi tersebut tapi sepertinya
belum tersampaikan ke masyarakat.
Tanggung jawab BPBD dalam menanggulangi Korban Bencana Banjir.
Anggota BPBD bertangguung jawab keadaan pada saat banjir yang
sifatnya siap menyelamatkan korban banjir baik itu kondisi di lapangan hingga
berakhirnya kondisi banjir. Pegawai bertanggung jawab dalam menanggulangi
korban bencana banjir, untuk lebih dekat dengan masyarakat maka BPBD telah
membentuk posko penanggulangan bencana ditiap kecamatan dan telah
berjalan selama kurang lebih satu tahun. Posko ini saya bentuk agar masyarakat
yang terkena bencana dapat segera tertolong. Posko dilengkapi dengan
beberapa peralatan dan logistik.
Penutup
Kesimpulan
Dari hasil penelitian, penyajian data dan pembahasan, maka dapat
dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Kreativitas pegawai BPBD saat menanggulangi korban bencana banjir
cukup baik. Hanya saja kreativitas staf BPBD lebih ditingkatkan lagi,
sehingga kreativitas dalam menanggulangi korban bencana banjir di daerah
961
eJournal Administrasi Negara, Volume 3, Nomor 4, 2015: 950-963
rawan banjir dan memberikan pertolongan dalam penanggulangan korban
banjir sesuai rencana.
2. Kerjasama pegawai BPBD dalam menanggulangi korban bencana banjir
cukup baik, dimana team regu penyelamat BPBD tetap berkoordinir,
bekerjasama dengan instansi pemerintah lainnya serta perusahaanperusahaan yang ada di sekitar kampung Lambing, seperti PT. BANPU, PT.
TSA dan PT. PAMA. BPBD juga tetap melakukan kerjasama dengan semua
masyarakat sekitar korban bencana banjir atas bencana banjir yang dihadapi,
sebagai salah satu tujuannya untuk meningkatkan kerjasama antara pihak
instansi pemerintah dan perusahaan serta masyarakat sekitar bencana banjir,
agar tercapainya sinergi dibutuhkan kerjasama.
Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian diatas maka penulis memberikan saran
sebagai berikut :
1. Untuk kinerja BPBD dalam menanggulangi korban bencana banjir di
Kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten kutai Barat
diharapkan mampu lebih optimal dalam pelaksanaan menanggulangi korban
bencana banjir agar fungsi kinerja BPBD dapat dirasakan masyarakat.
2. Untuk menunjang kinerja pegawai BPBD dalam menanggulangi korban
bencana banjir hendaknya dapat memperhatikan lagi dalam perekrutan
sumber daya manusia yang lebih selektif dari orang yang berkompoten dan
handal agar kinerja pegawai BPBD sesuai harapan masyarakat.
Daftar Pustaka
Anwar Prabu Mangkunegara 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia,
Remaja Rosdakarya : Bandung.
Asian Resources and Response Network (ADDRN). 2010. Terminologi
Pengurangan Risiko Bencana.
Azhar Arsyad. 2002.Pokok-Pokok Manajemen, Pengetahuan Praktis Bagi
Pimpinan dan Eksekutif. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Gibson, et. al,. terj. Djarkasih. 1994.Organisasi. Erlangga : Jakarta.
Gomes, Faustino Cardoso. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia, Andi
Offset : Yogyakarta.
Hadi Purnomo dan Ronny Sugiantoro.2010. Manajemen Bencana. Media
Pressindo : Yogyakarta.
Hasibuan, S. P. Malayu. 2005. Manajemen Dasar Pengertian Dan Masalah.
BumiAksara : Jakarta.
M. Fuad, et. Al. 2006. Pengantar Bisnis. Erlangga : Jakarta.
Prawirosentono, Suyadi. 1992. Majemen Sumber Daya Manusia, Kebijakan
Kinerja Karyawan, Kiat Menuju Organisasi Kompetitif Dalam
Perdagangan Bebas Dunia. Bpfe : Yogyakarta.
Robert J. Kodoatie dan Sugiyanto. 2002. Banjir, Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
962
Kinerja BPBD dalam Menanggulangi Banjir di Kampung Lambing (Fendi IrawanS.)
Samsudin, Sadili. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Pustaka Setia :
Bandung.
Sedarmayanti. 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Mandar
Maju : Bandung.
Siagan, Sondang P. 2001.Kerang Kadasar Ilmu Administrasi, Rineka Cipta :
Jakarta.
_______________.2003. Filsapat Administrasi, edisirevisi, penerbit bumi
aksara : Jakarta.
Simamora, Henry. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Ketiga.
STIE YKPN : Yogyakarta.
Syafiie, Inu Kencana. 2003.Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia
(SANRI). Bumi Aksara : Jakarta.
Wahyudi, Bambang. 2002, “Manajemen Sumber Daya Manusia”, Sulita :
Bandung.
Widodo, J. 2006. Membangun Birokrasi Berbasis Kinerja. Bayumedia
Publishing : Jawa Timur.
Zauhar, Soesilo. 2002. Reformasi Administrasi : Konsep, Dimensi dan Strategi.
Bumi Aksara : Jakarta.
Dokumen-Dokumen :
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerinta Daerah.
Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Barat nomor 06 Tahun 2012 tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Badan Penggulangan Bencana Daerah
Kabupatern Kutai Barat.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 131 Tahun 2003 Tentang
Penanggulangan Bencana Dan Penanganan Pengungsi Di Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana.
Peraturan Menpan RB Nomor 63 Tahun 2011 Tentang Pedoman Penataan
Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri.
Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Memahami
Bencana (Jakarta: Departemen Komunikasi dan Informatika RI, 2008)
963
Fly UP