...

tantangan bagi kaum religius

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

tantangan bagi kaum religius
FRATER CMM
3/11
| TANTANGAN BAGI KAUM RELIGIUS | BANTUAN SUKARELA
DALAM PERSAUDARAAN | SUMBER AIR KEHIDUPAN |
KEMBALI DI INDONESIA | KELUARGA VINSENSIAN |
HARI KAUM YUNIOR DI KUPANG | AKSI KENYA
1
DAFTAR ISI
KOLOM
PEMIMPIN UMUM
4
MENGENAI FRATER
ANDREAS
5
MAKLUMAT MISI
Kolofon
Belaskasih terdapat di setiap waktu dan di
setiap tempat.
Fraters CMM, ISSN 1574-9193, adalah majalah triwulan
Kongregasi Frater CMM. Langganan gratis dapat diminta
pada alamat Kontak di bawah ini.
Belaskasih merupakan inti setiap agama di dunia:
agama Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen dan Islam.
Gerakan belaskasih meninggalkan jejak dalam
sejarah.
Pelbagai bentuk penampilan gerakan belaskasih
merupakan ungkapan masyarakat dalam mana
belaskasih telah lahir, dan tentang spiritualitas
yang mendukungnya.
Kongregasi Frater Santa Perawan Maria, Bunda
yang Berbelaskasih, berakar dalam semangat
belaskasih Kristiani.
Redaksi: Rien Vissers (ketua redaksi), Frater
Edward Gresnigt, Frater Ad de Kok, Frater
Lawrence Obiko, Frater Ronald Randang, Frater
Jan Smits, Peter van Zoest (redaktur terakhir)
Rencana
tata:
Heldergroen
www.heldergroen.nl
Dicetak:
Percetakan Kanisius, Yogyakarta
Kontak:
Frater CMM
Jalan Ampel 6, Papringan
Yogyakarta 55281
[email protected]
www.cmmbrothers.org
e-mail:
webside:
Terjemahan: Frater Pieter-Jan van Lierop,
Frater Jan Koppens
Foto sampul depan: ‘Flashmob’ di Eindhoven, sebagian dari aksi para
murid Kolese Sint-Joris untuk karya CMM di Kenya (lihat hal. 18).
Anak yang hilang, Rembrandt
2
Foto sampul berlakang: Danau Eibsee’, Beieren, Jerman
(foto: Fr. Ad de Kok).
TANTANGAN BAGI
KAUM RELIGIUS
6
BANTUAN
SUKARELA
7
8
BERITA PENDEK
REDAKSI MENULIS
Pada waktu Frater CMM ini diterbitkan, pemudapemudi dari Brasil, Indonesia, Kenya, Tanzania
dan Timor Leste berada di Tilburg. Mereka, yang
berjumlah 100 orang, berasal dari negara-negara
di mana para Frater CMM bekerja. Dari tanggal
5 sampai 13 Agustus mereka menyiapkan diri di
Tilburg untuk Hari Pemuda Sedunia Katolik, yang
berlangsung di Madrid (Spanyol) dari tanggal
15 sampai 21 Agustus. Sebagai ‘duta-duta
persaudaraan seluas dunia’ mereka memberikan
kesaksian dengan cara tersendiri mengenai kharisma
kongregasi. Hari Pemuda Sedunia yang lalu di
Sydney (15 sampai 21 Juli 2008) merupakan alasan
bagi Frater CMM untuk memulai proyek duta-duta
internasional. Tujuan adalah: menggerakkan kaum
muda supaya mereka memperjuangkan ‘gerakan
belaskasih dan persaudaraan’ seluas dunia. Dalam
terbitan berikutnya akan dilaporkan secara panjang
lebar mengenai perjumpaan duta-duta yang besar
itu. Dalam Frater CMM ini dilaporkan mengenai
persiapan terakhir dari kelompok duta Brasil.
Di samping itu ada banyak berita pendek dari dunia
kongregasi, yang semakin internasional. Hal-hal yang
menonjol adalah pelbagai berita mengenai
pertemuan-pertemuan dalam mana direnungkan
identitas hidup religius. Hal ini terjadi dalam sidang
para pemimpin umum di Roma, dan dalam suatu
pertemuan para frater yunior di Indonesia, bahkan
dalam retret kaum muda. Seorang frater Indonesia
yang membimbing muda-mudi dalam sebuah retret,
menyadari bahwa motivasi panggilannya harus
dimurnikan dan diperdalam. Pendek kata: hidup
religius tetap bergerak. Ada peribahasa yang
mengatakan: “Air yang tak mengalir, pasti
membusuk”. Begitulah juga hidup religius. Karena itu
belaskasih dan persaudaraan harus tetap bergerak.
SUMBER AIR
KEHIDUPAN
11
KELUARGA
VINSENSIAN
14
KEMBALI DI
INDONESIA
12
HARI KAUM
YUNIOR DI KUPANG
15
AKSI KENYA MURID-MURID EINDHOVEN
MENGHASILKAN 40.000 EURO
18
BERITA PENDEK
IN MEMORIAM
23
19
SUMBER
3
Kolom
PEMIMPIN UMUM
Pada tanggal 1 juli 2011, Prof. Dr. Annelies van Heijst berpidato dalam rangka penerimaan jabatan sebagai
profesor di bidang Perawatan, Budaya dan Karitas di Universitas Tilburg. Ia menerangkan belaskasih dalam
perawatan di masyarakat Belanda. Tema ini menonjol, sebab seorang profesor biasanya sibuk dengan ilmu.
Orang berpikir bahwa belaskasih tidak berkaitan dengan ilmu. Apalagi kata belaskasih bukan kata harian
dan kurang diungkapkan.
Profesor berpendapat bahwa belaskasih dalam perawatan
harus lebih diperhatikan. Ia prihatin. Perawatan yang
dilakukan semakin profesional, dan karena penambahan
peraturan terdapat bahaya bahwa pertahian bagi
pribadi pasien terlalu dinomorduakan. Orang sering
mengeluh mengenai kenyataan ini. Profesor Van Heijst
menganjurkan agar perawatan dilakukan dalam semangat
‘kasih terhadap manusia’, sehingga para perawat
menolong penuh belaskasih orang-orang yang perlu
dirawati. Hal ini berarti bahwa para perawat terbuka
bagi kebutuhan-kebutuhan sesama dan merawati mereka
dengan perhatian penuh cintakasih. Anjurannya erat
hubungannya dengan salah satu kata kunci spiritualitas
kita: belaskasih. Belaskasih harus semakin mewarnai
dunia perawatan. Ini menyangkut sikap dasar, yang
melatarbelakangi cara kita bergaul dengan orang-orang
lain. Ada bahaya bagi kita semua, bahwa kita memandang
sesama sebagai obyek berguna untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan diri kita sendiri. Kalau kita bekerja
berdasarkan sikap belaskasih, kita menghindari hal itu,
dan karena itu baiklah kita diingatkan akan hal itu. Di
akhir pekan sesudah pidato Annelies van Heijst, saya
4
mempunyai giliran untuk membawa renungan waktu
Misa di generalat. Dalam renungan ini kerendahan
hati merupakan kata kunci bagi saya. Kata itu tidak
biasa digunakan. Dalam Injil dibacakan bahwa Yesus
menghadapi sesama dengan lemah-lembut dan rendah
hati. Menurut saya, sikap rendah hati itu juga penting
di dunia perawatan. Bukan orang yang membutukan
bantuan harus memperkecil diri, melainkan kita harus
memperkecil diri dan menunduk kepala kita penuh
hormat terhadap pasien itu. Dengan demikian bukan
kita yang menjadi pusat perhatian melainkan sesama
kita. Sebaiknya dalam pendidikan keperawatan
diberikan perhatian pada sikap dasar rendah hati, demi
perkembangan belaskasih di dunia perawatan. Sebenarnya
bukan hanya di dunia perawatan ...
Frater Broer Huitema
MENGENAI FRATER ANDREAS
BERMAIN DENGAN KATA
Frater Andreas adalah ahli bahasa. Setiap hari ia menggunakan empat bahasa. Sekolahnya Ruwenberg
memakai dua bahasa. Diatur dengan ketat kapan digunakan bahasa Belanda dan kapan bahasa Perancis.
Frater Andreas berhak untuk memberikan pelajaran bahasa Perancis dan Jerman. Kedua bahasa itu ia kuasai
dengan baik. Di samping itu ada doa ofisi yang waktu itu masih didoakan dalam bahasa Latin.
Para konfraternya merasa iri hati atas kelancaran Frater
Andreas dalam hal pindah dari bahasa yang satu ke
bahasa yang lain. Syukurlah bahwa di bidang dalam mana
banyak orang mempunyai kesulitan, terdapat seorang
konfrater yang bertalenta di bidang itu dan sekaligus
bersikap sabar. Hal ini menerangkan mengapa Frater
Andreas sering diingat sebagai ‘seorang bahasa’. Diketahui
bahwa kata-kata dan cerita-cerita kecil tertentu dicatat
olehnya dalam buku tulis kecil, agar tidak dilupakan. Ia
suka bermain dengan kata-kata, bahkan dengan namanya
sendiri ‘Andreas’. Ia mengubah bunyinya menjadi: ‘andrejas’. ‘And’re Jas’ (dalam bhs. Belanda berarti: ‘jas yang
lain’. Ia menerjemahkan dengan penuh semangat, dan
berhari-hari ia bisa mencari suatu terjemahan yang tepat.
Ia merasa kesal akan kesalahan dalam terjemahan dan
kesalahan berat lain yang melawan tata bahasa.
Kenyataan bahwa seorang frater di De Ruwenberg harus
menggunakan dua-tiga bahasa mengakibathan macammacam masalah. Frater-frater muda yang kurang cakap
berbicara bahasa Perancis merasa terisolir, atau mereka
kurang mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan
tepat. Ada cerita bagaimana Frater Andreas menyelesaikan
masalah-masalah komunikasi semacam itu. Seorang
frater muda, yang harus menjaga calon-calon imam
waktu rekreasi siang, menemukan bahwa salah seorang
calon bersikap nakal. Ia menghadapi Frater Andreas untuk
bertanya bagaimana ia harus menghukum anak yang
nakal itu. Menurut tradisi, pada jam rekreasi itu para
frater berbahasa Perancis. Dengan sabar Frater Andreas
mendengar apa yang disampaikan oleh frater muda yang
emosional itu. Lalu ia mengatakan: “Coba ceritakan itu
sekali lagi dalam bahasa Belanda, Saya duga bahwa kamu
merumuskannya terlalu keras dalam bahasa Perancis.”
Frater Andreas bukan saja menyampaikan bahwa ‘kata
tepat’ amat penting, tetapi juga bahwa ‘sikap tepat’ amat
penting. Beralih dari bahasa yang satu ke bahasa yang
lain bisa memberi kesempatan untuk melepaskan rasa
emosional dan tahu mengampuni: dari kemarahan ke
belaskasih, dari sikap manusiawi ke sikap yang berkenan
pada Allah.
Charles van Leeuwen
Salah satu foto tertua dari Frater Andreas
(depan, orang ketiga dari kanan) di Ruwenberg.
5
kort nieuws
INTERNASIONAL
TANTANGAN
BESAR
BAGI KAUM RELIGIUS SELUAS DUNIA
Kaum religius dihadapkan pada perubahan sosial dan budaya yang amat besar, sehingga mutlak perlu identitas
dan peranan kenabian religius ditinjau kembali. Hal ini disimpulkan oleh 180 pemimpin ordo dan kongregasi dari
seluruh dunia dalam pertemuan di Roma, yang dilangsungkan dari 25 sampai dengan 27 Mei 2011.
Pertemuan Perhimpinan Pemimpin Umum (USG) ini, yang
berlangsung setiap setengah tahun, diikutsertakan oleh
pemimpin umum Frater CMM, Frater Broer Huitema,
dan seorang anggota dewan umum Frater Ronald
Randang. Pada pertemuan tiga hari itu dibicarakan sifat
kenabian hidup religius. Tema adalah: ‘Identitas dan
makna kenabian hidup bakti’. Para pemimpin berbicara
mengenai globalisasi, sekularisasi, kecenderungan untuk
berkonsumsi dan kemajuan teologis, akan tetapi terutama
mengenai masa depan hidup religius.
‘Tanda-tanda zaman’
Dalam pertemuan itu Pater Paswcual Chávez SDB,
pemimpin umum Salesian Don Bosco dan juga ketua USG,
menekankan bahwa kesaksian kaum religius termasuk
tradisi yang lama dari hidup bakti. Ia menambah:
“Akan tetapi sekaligus para religius harus selalu peka
akan tanda-tanda zaman”. Suster asal Amerika, Mary
Lou Wirtz FCJM, pemimpin umum Puteri Hati Kudus
Yesus dan Maria dan ketua Perhimpunan Internasional
Para Pemimpin Suster (UISG), menyatakan: “Hidup
religius harus menghadapi tantangan-tantangan besar
dalam proses mencari identitas yang baru dan mencari
kesadaran yang baru dalam dunia yang sedang berubah.”
Ia menekankan bahwa para religius ditantang untuk
memberikan kesaksian yang lebih kuat, untuk bekerja
sama dengan lebih efisien dan untuk melibatkan lebih
banyak awam dalam perutusan mereka.
Peter van Zoest
Pascual Chávez SDB
Ketua Perhimpunan
Pemimpin Umum.
66
belanda
BANTUAN SUKARELA
DALAM PERSAUDARAAN
Bantuan sukarela adalah perhatian khusus terhadap orang yang sakit kronis, yang cacad dan mereka yang
membutuhkan pertolongan dari orang-orang yang mempunyai hubungan pribadi dengan mereka: anggota
keluarga, sahabat, kenalan dan tetangga. Hal ini menyangkut bantuan yang harus berlangsung lama dan tidak
dibayar. Juga di komunitas-komunitas CMM diberikan bantuan sukarela. Bapak Henk van de Wal, anggota
asosiasi CMM yang bekerja di Wisma Lansia Joannes Zwijsen di Tilburg, dimana terdapat komunitas CMM,
memberikan laporan tentang itu.
Dulu ada kebiasaan di Belanda bahwa orang-orang
lansia tinggal di rumah keluarganya, didampingi
dan dirawat oleh anak-anak mereka. Karena
perkembangan yang baru, penambahan kemakmuran
dan kebutuhan akan lebih banyak orang untuk
menunjang perkembangan ekonomi, maka dibangun
wisma-wisma perawatan bagi orang-orang jompo dan
mereka yang membutuhkan pertolongan. Di zaman ini,
pemerintah secara terpaksa harus mengambil tindakan
penghematan, dan juga uang untuk wisma-wisma ini
dikurangi, begitu pula jumlah personalia. Supaya para
pasien dirawati dan memperoleh hiburan secukupnya,
maka semakin dilibatkan anggota keluarga atau kenalan
sebagai tenaga sukarelawan.
Perhatian khusus
Juga dalam Wisma Joannes Zwijsen, dimana terdapat
komunitas frater jompo, tenaga sukarela semakin
dilibatkan. Begitulah sesama frater mengantar
konfraternya yang ada di kursi roda ke kapel, ruang
makan atau ruang rekreasi. Frater-frater membantu di
bagian perawatan intensif, di mana sekarang dua frater
diopname, dengan menyuapi mereka. Di ruang rekreasi
khusus frater-frater membantu pada waktu para
perawat sibuk dengan menyiapkan para pasien untuk
tidur. Atau terdapat frater-frater dari komunitas sendiri
atau komunitas lain yang mengunjungi konfraternya
yang membutuhkan perhatian khusus.
Gerak jalan selama tiga hari
Di komunitas Joannes Zwijsen para frater semakin tua,
maka juga semakin sulit mencari sukarelawan dari
komunitas sendiri. Pada waktu diselenggarakan gerak
jalan selama tiga hari, yang juga terbuka bagi orang
yang berkursi roda, tidak ada cukup sukarelawan untuk
membantu. Maka kami minta bantuan dari fraterfrater dari komunitas lain untuk membantu sebagai
penghantar. Karena itu enam frater yang berkursi roda
dapat berpartisipasi dalam gerak jalan itu. Mereka
Gerak jalan
selama tiga hari
di Tilburg.
dibantu oleh enam frater dari komunitas Joannes
Zwijsen, De Vuurhaard dan Generalat. Waktu gerak jalan
itu, yang berlangsung selama dua jam, para pasien dapat
keluar wisma dan dengan demikian mendobrak rutinitas
sehari-hari. Di tengah perjalanan ada saat istirahat
untuk minum kopi atau teh serta makan snack dan
eskrim. Gerak jalan selama tiga hari ini diakhiri secara
meriah dengan suatu acara yang diiringi oleh seorang
pemain akordeon dan penyerahan bunga-bunga mawar
dan vandel-vandel kecil sebagai tanda penghargaan.
Perhatian untuk saling membantu
Saling memperhatikan, mempedulikan para konfrater,
hal itu sungguh termasuk spiritualitas CMM. Dalam
Konstitusi CMM dapat dibaca: ‘Cinta kasih yang
hidup di antara kita, kita wujudkan secara khusus,
dengan memperhatikan sesama frater yang sakit, yang
lanjut usia atau cacat.’ (Konst. I, 91). Tetap kita harus
menyadari pertanyaan dari Kitab Kejadian 4,9:
‘Apakah aku penjaga adikku?’. Bila dilakukan, maka
sesama dapat mengalami perlindungan dan
kehangatan Allah.
Henk van de Wal
7
BERITA
kort PENDEK
nieuws
SEORANG FRATER MENULIS
MENGENAI PERUBAHAN ZAMAN
Berhubungan dengan pesta emasnya, tanggal 29
Agustus 2010, Frater Henrique Matos menerbitkan tiga
buku dalam bahasa Portugis yang berjudul: Seorang
religius dalam zaman yang berubah. Jilid ketiga
diterbitkan permulaan 2011. Ia menggambarkan
perobahan radikal yang berlangsung waktu hidupnya
dalam masyarakat, gereja dan hidup religius. Baru-baru
ini, seorang ahli teologi Brasil yang terkenal, João
Batista Libanio SJ, telah menulis suatu resensi mengenai
teribitan-terbitan itu di majalah sejarah gereja dan
majalah teologi. Ia menyebut karya ini “sebuah kidung
terima kasih dari pengarang”, dengan alasan: “Ia, yang
menerima begitu banyak kebaikan dan cintakasih, ingin
memberikan itu kembali kepada keluarganya, sahabat
dan mahasiswanya dan melalui itu memberikan
kesaksian tentang belaskasih Allah. Frater Henrique
menulis mengenai penghargaannya yang besar terhadap
keluarga asal, kongregasinya dan orang-orang penting
yang turut bertanggung jawab atas perkembangannya
secara intelektual dan rohani serta pengertian akan
hidup religius.”
HARI PROVINSI DI TILBURG
Pada tanggal 20 Mei 2011, di Wisma Joannes Zwijsen
di Tilburg berlangsung hari provinsi CMM bagi para
frater dan anggota asosiasi di Belanda. Dalam kata
sambutannya pemimpin provinsi Frater Jan Koppens
mengutarakan bahwa dalam serikat yang semakin tua
cukup penting untuk saling memegang dan tetap saling
memperhatikan. Contoh-contoh klasik dalam hal ini
adalah Yesus dan Maria: “Dalam pergaulan Yesus dengan
murid-murid-Nya dan cara Ia memperhatikan manusia,
terutama mereka yang tersingkir, Ia menunjukkan apa
yang penting: menjadi saudara/saudari orang konkrit
yang kita temui. Bila demikian terjadi, maka anda sendiri
tidak terlalu penting lagi, melainkan sesamalah yang
Bruder Isaac Majoor OCSO.
8
dijumpai. Perjumpaan macam iitu menjadi waktu penuh
rahmat.” Dan mengenai Maria: “Ia melayani, bersikap
sederhana, memperhatikan kebutuhan sesama, tetap
setia – juga dalam penderitaan – dan mencari inspirasi
dalam perhimpunan melalui keheningan dan doa.”
Seorang trapis, Isaac Majoor, prior biara Santa Maria
Koningshoeven di Berkel-Enschot dan serentak direktur
pabrik bir ‘De Koningshoeven’, diundang untuk berbicara
mengenai tema ‘Persaudaraan dalam serikat yang
semakin tua’. Berdasarkan pengalamannya sebagai
religius ‘muda’ – 59 tahun – yang hidup dalam
komunitas yang terdiri atas 17 anggota yang semakin
tua, ia menunjukkan suatu cermin kepada para peserta.
Lain daripada di dunia usaha, para religius yang
melewati usia 65 tahun tetap melakukan tugas mereka.
Hal ini berarti bahwa mereka saling berbagi hal-hal
yang manis dan pahit. Kongregasi CMM sudah
membangun banyak hal di Belanda dan di luar Belanda.
Sekarang frater-frater di Belanda harus menerima
kenyataan bahwa mereka semakin tua dan harus hidup
bersama dengan orang yang tidak dipilih oleh mereka.
Tantangan adalah bahwa dalam keadaan yang baru ini
kita tetap manusia otentik; bahwa, berdasarkan tradisi
religius belaskasih dan persaudaraan dalam hidup
sehari-hari komunitas, pengampunan dan perdamaian
dijunjung tinggi. Kata Bruder Isaac: “Kalau kita ingin
hidup berbelaskasih, sikap batiniah dalam hal
pengampunan dan perdamaian mutlak perlu.”
‘DUTA-DUTA’ BRASIL
BERGABUNG
Berhubungan dengan Hari Pemuda Sedunia di Sydney
(15-21 Juli 2008) kongregasi memulai ‘proyek duta-duta’
untuk mengajak kaum muda berpartisipasi dalam
gerakan belaskasih dan persaudaraan seluas dunia.
Pada tahun 2008, pertemuan persiapan berlangsung
di Tomohon - Sulawesi. Tahun ini para duta bergabung
di Tilburg sebelum mengikuti Hari Pemuda Sedunia di
Madrid (16-22 Agustus 2011). Moto program persiapan
tahun ini adalah: ‘Yesus, kompas kita, jalan kita ke
semangat belaskasih’. Persiapan di Brasil, Indonesia,
Kenya, Namibia, Belanda, Tanzania dan Timor Leste
sudah selesai sebelumnya. Di Brasil 14 orang duta
berkumpul di Janaúba, dipimpin oleh Frater Adriano
van den Berg dan Frater Albertus Geroda serta Evemar
Gomez, seorang duta yang pernah ke Sydney. Hal yang
didalami adalah perumpamaan Orang Samaria yang
berbelaskasih. Pertemuan ini mulai dengan suatu
perayaan Ekaristi pada hari Kamis Putih. Sesudahnya
direnungkan penampilan Yesus, yang membasuh kaki
para rasul-Nya dengan rendah hati. Pada hari Jumat
Agung penderitaan Yesus direnungkan. Dihantar oleh
presentasi kegiatan-kegiatan di bidang persaudaraan,
para pemuda merenungkan kerendahan hati Yesus dan
cinta-Nya tanpa syarat. Di seminari Janaúba diikuti
acara Jalan Salib dan Penghormatan Salib.
Pada hari Sabtu ada banyak kesempatan untuk
berekreasi. Di tepi danau buatan, dekat bendungan
Janaúba, ada kesempatan untuk berenang dan makan
bersama.
Duta-duta Brasil bersama dengan para pendamping. Di tengah: Frater Adriano
van den Berg dan dekat tangan kirinya duduk Frater Albertus Geroda.
9
BERITA
PENDEK
Indonesië
RETRET DARI DAN UNTUK CMM
Dari 11 sampai 13 April 2011, Lex van der Poel, anggota asosiasi CMM, memimpin retret bagi komunitas Joannes
Zwijsen di Tilburg. Renungan-renungannya bertema ‘Elia, manusia seperti kita’. Dihantar oleh cerita-cerita dari
Kitab Raja-Raja, para peserta mengikuti riwayat Elia. Suatu pertemuan dengan Allah di gunung Horeb mengubah
hidupnya secara radikal. Dari 17 sampai 20 April 2011, dalam Pekan Suci, Frater Jan Koppens, provinsial CMM
Belanda, memberikan retret di Zonhoven, Belgia. Suster-suster SCMM yang tinggal di frateran hadir pada
renungan-renungan mengenai tema utama: persaudaraan. Ia menekankan bahwa, walaupun semakin tua, para
religius di dalam komunitas dan sekitar komunitas tetap dipanggil dan diutus. Sesudah setiap renungan para
peserta menerima teksnya untuk dibaca dan direnungkan.
PENGHARGAAN BAGI
‘JOANNES ZWIJSEN’
Pada tanggal 9 Juni, waktu ‘Pertemuan perawatan
dengan ramah tingkat nasional’ di kota Ede di Belanda
diumumkan lembaga perawatan mana yang
dianugerahkan bintang penghargaan tahunan. Lebih dua
ratus lembaga, rumah sakit dan organisasi untuk orang
lansia telah bertanding untuk memperoleh bintang itu.
Wisma Lansia ‘Joannes Zwijsen’ menerima tiga bintang
penghargaan. Skor maksimal adalah empat bintang. Juri
mengamati bahwa “pater, frater, suster dan awam hidup
bersama di bawah satu atap dalam rumah yang baru
dengan gang-gang yang lebar dan terang dan suatu
kapel yang indah. Penggabungan hidup membiara dan
hidup biasa sudah memperoleh tata dengan hebat”,
demikian penilaian juri. “Restoran sering terbuka dan
makanan bervariasi dan sungguh bermutu.” Joannes
Zwijsen dibangun dua setengah tahun lalu pada lokasi di
samping Generalat CMM, di mana sebelumnya ada biara
perawatan, yang dibangun tahun 1974. Sekarang semua
jenis perawatan dapat diterima di bawah satu atap oleh
kaum religius dan kaum awam di dalam kompleks
modern itu. Komunitas CMM Joannes Zwijsen
berdomisili dalam gedung ini. Latar belakang religius
dari wisma itu menjadi nampak dalam kapel dengan
suasana yang menyenangkan, dengan kaca-timah yang
berwarna. Ruang pertemuan disebut ‘Refter’ (ruang
makan). Di sini juga diadakan kegiatan untuk banyak
orang, sekaligus ruangan ini berfungsi sebagai restoran.
Ada kemungkinan untuk memesan makanan tertentu
menurut daftar makanan. Para penghuni wisma ini
dapat dirawat pada pelbagai tingkat, mulai dengan
bantuan di kamar sampai perawatan total selama 24
jam. Maka kalau keadaan seorang penghuni merosot, ia
tidak perlu pindah ke lembaga lain.
10
Wisma orang lansia ‘Joannes Zwijsen’ di Tilburg.
INDONESIA
Pancuran di bukit Janiculum di samping gereja Sant’ Onofrio,
dengan panorama kota Roma.
SUMBER AIR KEHIDUPAN
‘Civita Youth Camp’ adalah suatu wisma samadi bagi kaum muda di ibukota Jakarta. Pada bulan Januari 2011
Frater Donatus Naikofi adalah salah satu pendamping kaum muda yang mengikuti retret di wisma itu. Pada
hari-hari renungan itu ia belajar untuk mengamati panggilannya sebagai religius dengan mata yang baru.
Nama ‘Civita’ dipilih dengan saksama. ‘Ci’ berarti air dan
‘vita’ berarti hidup. Maka Civita berarti ‘air kehidupan’.
Di halaman Civita Youth Camp terdapat mata air yang
mengisi kolam besar dengan airnya. Sumber itu adalah
sumber kehidupan bagi banyak ikan, pohon dan orang
yang ingin menikmati lingkungan yang sejuk itu.
Keterbukaan
Di Civita Youth Camp ribuan pemuda, dengan latar
belakang yang berbeda, mengikuti retret. Mereka merasa
sungguh diterima, dihargai dan dihormati sebagai
manusia yang Allah ciptakan. Program retret terarah
pada pendalaman rohani, dengan titik tolak bahwa
para peserta dan pembimbing diberikan kesempatan
untuk lebih mengenal diri. Pengalaman, baik yang
positif maupun yang negatif, dibagikan dengan orang
lain. Keterbukaan satu sama lain memungkinkan
untuk melenyapkan hal-hal yang negatif dan belajar
membawa terang kepada sesama. Saya sendiri menyadari
bahwa motivasi panggilan saya harus dimurnikan dan
diperdalam. Waktu retret saya mulai dengan itu dengan
mengatakan hal-hal yang saya sungguh hayati.
“Jangan takut”
Para pengikut retret, termasuk saya, merasa sangat
terharu atas cerita Petrus, yang diambil dari Injil Lukas
(Lk. 5:1-11). Ia diminta untuk menebarkan kembali jalajalanya sesudah pencarian ikan yang gagal.
Yesus mengundang Petrus untuk menebarkan jala-jalanya
dalam air yang dalam. ‘Air yang dalam’ melambangkan
kedalaman yang gelap di dalam diri kita sendiri. Kalau
anda dengan lebih dalam ‘menjala ikan’ di dalam diri anda
sendiri, maka anda menemukan hal-hal yang tidak diduga,
yang terkadang menakutkan atau sulit diberikan tempat
di dalam hidup anda. Namun demikian petualangan
ini dapat dimulai dengan penuh kepercayaan: Yesus
mendampingi anda di dalam perahu anda. Anda tak
perlu merasa terkejut kalau hal-hal negatif yang berada
dalam dirimu, menjadi kentara. Petrus sangat terkejut dan
merasa diri sebagai pendosa dan tidak layak, sampai ia
mau memutuskan hubungannya dengan Yesus. Perasaan
semacam itu juga dapat melanda kita, akan tetapi kalau
kita mendengar dengan baik, juga kita mendengar suaraNya yang mengatakan: “Jangan takut, mulai dari sekarang
engkau akan menjala manusia.”
Civita berarti banyak bagi saya. Di situ saya mengalami
sumber air kehidupan dan hidup saya disegarkan oleh itu.
Retret itu membuka saya bagi perkataan Maria, Bunda
yang Berbelaskasih kita: “Sesungguhnya aku ini adalah
hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”
(Lk. 1: 38). Mudah-mudahan sumber air kehidupan juga
mengalir di dalam diri saya bagi sesama dan menyegarkan
mereka.
Frater Donatus Naikofi
11
INDONESIA
KEMBALI DI
INDONESIA
Sejak akhir abad ke-19, puluhan frater asal Belanda hidup dan bekerja di wilayah-wilayah di luar negerinya.
Banyak dari antara mereka sulit melepas ‘negara misi’, sebab itu menjadi tanah air yang baru bagi mereka.
Mereka tidak mau tinggal di tempat lain lagi. Salah satu dari mereka adalah Frater Ludolf Bulkmans (19072000). Dengan setulus-tulusnya ia mencintai Indonesia. Frater Pieter-Jan van Lierop, yang bertahun-tahun
lamanya berkarya di situ, menggambarkan bagaimana Frater Ludolf dipaksakan meninggalkan Indonesia dan
bagaimana ia dapat kembali di luar dugaan.
Pada tahun 1951, tidak lama sesuda pendirian Republik
Indonesia, ditentukan bahwa setiap kepala sekolah harus
berstatus warga negara Indonesia. Langsung frater-frater
yang kepala sekolah minta kewarganegaraan Indonesia
dari pemerintah, yang dapat diperoleh dengan mudah pada
waktu itu. Frater Ludolf Bulkmans bukan kepala sekolah,
maka ia tinggal warga negara Belanda. Hal itu ia sungguh
menyesal, karena pada akhir tahun lima puluhan semua
guru harus berstatus warga negara Indonesia. Bagi Frater
Ludolf, karya sebagai guru adalah hidupnya dan ia sungguh
merasa kerasan di tempat tinggalnya, yaitu Manado.
Frater Ludolf harus meninggalkan dunia pendidikan. Ia
melamarkan diri untuk memperoleh kewarganegaraan
Indonesia dan tidak lama kemudian ia lulus ujian yang
harus ditempuh oleh calon WNI. Sekarang dokumen
kewarganegaraan harus ditandatangani oleh Presiden
Soekarno. Hal ini sungguh makan banyak waktu.
pindah ke wilayah misi Suriname. Perpisahan sangat
menyakiti hati Frater Ludolf. Selama tiga puluh tahun ia
bekerja sekuat tenaga bagi kaum muda Indonesia. Ia keluar
dengan selamat dari kamp Jepang yang kejam itu dan
tidak manusiawi. Ia tinggal disitu hampir empat tahun dan
kemudian, bersama dengan rekan-rekannya, ia membangun
kembali sekolah-sekolah frater yang sudah dirusakkan.
Perpisahan yang sangat menyakitkan
Rekan sekomunitasnya, Frater Florentiano Janssens, guru
biologi pada SMA di Manado, kena nasib yang sama.
Sebenarnya ia juga harus pulang ke Belanda, namun ia
lebih beruntung daripada konfraternya. Fakultas Kesehatan
Unsrat yang sedang didirikan membutuhkan seorang
dosen biologi yang mampu. Berdasarkan pengtahuannya
dan kemampuannya, Frater Florentiano menerima ijazah
akademis agar bisa menjadi dosen sementara. Ia sangat
dibutuhkan. Beberapa tahun ia bekerja dengan senang hati
di fakultas kesehatan itu. Ketika in menjadi warganegara
Indonesia, ia kembali ke SMA CMM, di mana ia juga
diangkat sebagai kepala sekolah.
Kebanyakan waktu Frater Ludolf tinggal di rumah, hal
mana membosankan, dan kadang-kadang ia melakukan
pekerjaan sedikit di sekolah dan paroki. Akhirnya
diputuskan agar Frater Ludolf pulang ke Belanda pada
tanggal 7 Februari 1961. Mungkin sesudahnya ia akan
12
Frater Ludolf Bulkmans.
Frater Ludolf orang kedua dari kanan barisan
depan. Enam pater en empat frater mengunjungi
pasukan Amerika di Manado, habis dibebaskan.
Frater Ludolf bersama dengan familinya, waktu cuti
tahun 1947. Pastor Etten-Leur berpidato untuk
Frater Ludolf.
Mujizat
Pertengahan bulan Agustus 1961, sesudah beberapa bulan
tinggal di Belanda, terjadi suatu mujizat. Frater Ludolf
masih diterima sebagai warga negara Indonesia. Ia harus
menghadapi seorang hakim Indonesia untuk membereskan
hal itu. Akan tetapi, justru pada waktu itu tidak ada
hubungan diplomatik antara Belanda dan Indonesia, karena
masalah Irian Barat (Papua). Frater Ludolf menghubungi
KBRI di kota Bonn, Jerman, di mana segala soal dapat
dibereskan. Pada tanggal 12 September 1961, ia bersumpah
pada undang-undang dasar Indonesia, di hadapan seorang
pejabat konsul dan dua saksi. Ia bersumpah bahwa ia akan
menaati semua undang-undang Indonesia dan mulai saat
ini tidak akan mengakui kekuasaan seuatu negara selain
Republik Indonesia. Setengah jam sesudahnya ia menerima
paspor Indonesia.
Pada tanggal 14 September ia terbang dari Jerman ke
Bangkok dan dengan pesawat lain menuju Jakarta. Di situ
ia disambut oleh keluarga-keluarga yang bersahabatan
dengan para frater dan oleh bruder-bruder di mana ia
menginap. Pada tanggal 7 Oktober Frater Luduolf tiba
kembali di Manado, tempat tinggalnya. Akhirnya ia
telah pulang!!
Frater Pieter-Jan van Lierop
Frater Ludolf Bulkmans dengan beberapa muridnya,
waktu naik sepeda di pegunungan dekat Manado.
13
Belanda
PERTEMUAN PERMULAAN TAHUN
KELUARGA VINSENSIAN
Pada tanggal 18 Mei 2011 berlangsung pertemuan pertengahan tahun ‘Keluarga Vinsensian Belanda’ di aula
Wisma Mater Misericordiae, milik Suster SCMM di Tilburg. Acara ditata oleh suatu tim pengarah, terdiri atas
Suster Renée Geurts SCMM, Bruder Wim Luiten FIC dan Frater Ad de Kok CMM.
Pater Wiel Bellemakers CM, sebagai pembicara yang
pertama, menggambarkan perkembangan Kongregasi
Puteri Kasih. Karena menggunakan undang-undang
gereja secara kreatif, Vinsensius a Paulo mendapat
kesempatan untuk memperoleh pengakuan bentuk hidup
membiara yang baru. Pater Bellemakers menantang para
peserta, yang berjumlah 50 orang, untuk menghadapi
dengan cara yang sama dan dengan kreativitas yang
sama kebutuhan sosial dan ekonomis sekarang ini,
seperti dilakukan Vinsensius a Paulo di zamannya.
Interaktif
Pada sore hari ini ada saat interaktif, ketika para
peserta berdiskusi dalam kelompok tentang presentasi
powerpoint yang berjudul: ‘Belaskasih: Kekuatan yang
Halus – Kehalusan yang Kuat’. Judul ini diambil alih
dari buku Akhirnya pulang: Buah pikiran berhubungan
dengan gambaran Rembrandt ‘anak yang hilang pulang’,
karangan Henri Nouwen.
Frater Edward Gresnigt
Setiap orang diperhitungkan
Ketiga pembicara berikut memperlihatkan bagaimana
mereka, berdasarkan spiritualitas Vinsensian, tergerak
hati oleh kemiskinan yang dialami dalam lingkungan
mereka. Bapak Harrie Kiwitz, ketua organisasi distribusi
makanan, menerangkan apa sebabnya orang menjadi
miskin dan harus minta bantuan dari lembaga-lembaga.
Orangnya hidup dengan banyak hutang, tercai atau
masalah-masalah psikologis. Organisasi distribusi
makanan itu mendampingi orang-orang itu dalam
keadaan kekurangan mereka, dan membuat rencana
untuk mengatasi masalah itu.
Ibu Betty Karhof, anggota asosiasi CMM dan tahuntahun lamanya terlibat dalam Serikat Vinsensius di
Tilburg, melihat di ‘Toko Vinsensius’ akibat-akibat
perkembangan dalam masyarakat yang semakin keras
bagi orang jompo, bagi ibu tanpa suami, pecandu,
orang cacat dan orang tunakarya. Moto toko itu adalah:
‘Setiap orang diperhitungkan’. Ibu Betty menceritakan
bahwa ada 36 sukarelawan yang mencari uang untuk
aksi-aksi seperti pasar murah, pengumpulan pakaian dan
pemain untuk anak-anak. Bapak Frans Koeman, seorang
arsitek, pengusaha dan ketua Serikat Vinsensius,
menggambarkan bagaimana ia bertobat menjadi terbuka
bagi kaum miskin, ketika ia diminta menjadi ketua
serikat itu di kota ’s-Hertogenbosch. Dalam mengikuti
jejak-jejak Vinsen Depaul, ia menantang orang kaya dan
terkenal. Upayanya berhasil baik demi kaum miskin.
14
Lilin devosi dalam salah satu rumah ibadat di mana
Vinsensius a Paulo dihormati (foto: Frater Ad de Kok).
Indonesia
Peserta-peserta hari yunior.
HARI YUNIOR
DI KUPANG
Dari tanggal 27 sampai 31 Maret berlangsung hari yunior di Kupang, ibu kota propinsi Nusa Tenggara.
Pertemuan dihadiri oleh lima belas frater berprofesi sementara (yunior), yang berasal dari komunitas
Lembata, SoE, Banjarmasin, Tarakan, Gleno dan Dili. Frater Nikodemus Tala, anggota Dewan Pimpinan
Provinsi dan pembicara waktu hari yunior, memberikan laporan.
Dalam kata pembukaan Frater Yoseph Bille, ketua
Komisi Yunior, menekankan bahwa buah iman adalah
kebenaran dan kejujuran. Ia menerangkan bahwa
seseorang yang sungguh percaya selalu akan berbicara
benar, bersikap jujur, berjuang demi kebenaran dan
berkorban untuk itu. Ia mengundang para frater untuk
sungguh bersikap jujur.
Motivasi
Frater Martinus Leni, Provinsial CMM Indonesia,
menemukakan pada pembukaan hari Yunior, bahwa
sejak lima tahun terakhir jumlah panggilan di
Indonesia sedang menurun. Juga jumlah calon
CMM berkurang. Di samping itu banyak frater
muda meninggalkan kongregasi.
15
Jendela berkaca timah
di Generalat
CMM Tilburg:
‘Salam ya Ratu,
Bunda yang
Berbelaskasih’.
Ia menambahkan bahwa frater-frater tertentu lebih
sibuk dengan diri sendiri atau gejalah mode daripada
dengan hidup religius. Frater Provinsial bertanya apakah
kenyataan ini diakibatkan oleh globalisasi yang semakin
mempengaruh. Ia mengajak para frater untuk melawan
pengaruh itu. Ia menekankan pentingnya hari yunior.
Pada hari-hari itu para frater muda dapat kesempatan
untuk merenungkan kembali motivasi panggilannya,
hidup berkomunitas dan hidup di provinsi. Pada
penutupan hari yunior itu ia mengucapkan harapannya
agar setiap peserta sudah menguatkan semangat CMM
dalam dirinya.
Globalisasi
Frater Martinus Mangundap, anggota dewan provinsi,
menjelaskan bahwa hari yunior berlangsung atas
inisiatif dewan provinsi dengan dukungan dewan
umum. Komisi Yunior telah menyusun suatu program
yang dilaksanakan di Kupang, Medan dan Manado.
Pertanyaan pokok adalah: Apa yang merupakan
pengaruh globalisasi pada hidup religius? Frater
Martinus mengucapkan harapan bahwa para peserta
mengambil kesempatan untuk merenungkan globalisasi
itu. Hasil pertemuan ini dapat mengarahkan karya dan
penghayatan panggilan mereka di masa mendatang.
16
Frater Martinus mengangkat tema ‘motivasi panggilan’.
Berhubungan dengan itu, ia menerangkan secara khusus
kaul kemurnian. Akhir-akhir ini, kaul ini menjadi masalah
bagi banyak religius. Ada sejumlah frater yang minta
izin untuk meninggalkan kongregasi, dengan alasan
itu. Menurut Frater Martinus mutlak perlu motivasi
panggilan diperkuat. “Apakah kita hidup cukup dekat
kaum miskin dan kecil serta orang-orang yang
menderita, agar karena tanggung jawab kita bagi
mereka, kita tetap setia pada panggilan kita?”, kata
Frater Martinus.
Solidaritas
Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, berbicara
dengan polos waktu hari yunior. Menurut dia, hidup
religius yang aktif sebaiknya hilang jikalau tujuannya
tidak jelas, “karena meracuni komunitas-komunitas,
bahkan umat”. Uskup Agung menggambarkan hidup
religius sebagai “suatu roda untuk mewartakan Injil,
terutama dalam dunia pendidikan, supaya para murid
berkembang menjadi manusia yang mampu menunjang
hidup sosial”. Inti hidup religius adalah solidaritas,
“praktek cinta kasih”, demikian Mgr. Petrus.
“Solidaritas itu harus meresapi hidup religius, sehingga
seorang religius dapat solider dengan sesama. Hakiki
dalam hal ini adalah hubungan mereka dengan
Allah. Dari situ berkembanglah hormat bagi talenta
dan keunikan orang-orang lain serta persaudaraan
yang benar. Hidup religius harus ditandai oleh
keramahtamahan, kerja sama dan menghargai peranan
yang dimainkan oleh orang lain. Semuanya itu
membentuk para religius menjadi orang bergembira,
sadar akan identitas mereka.”
Hubungan dengan Allah
Frater Nikodemus Tala, anggota dewan provinsi,
menyatakan bahwa pengaruh globalisasi pada kehidupan
seorang frater “dinilai oleh frater-frater dengan cara
yang berbeda-beda. Alat-alat komunikasi modern
terlah mengubah hidup berkomunitas. Dulu, kalau ingin
berkontak dengan seseorang, harus mengunjungi orang
itu. Sekarang ini hubungan itu berjalan melalui sms atau
telpon, juga kalau tinggal di kamar di samping orang
yang dihubungi. Hal ini dapat merugikan persaudaraan
di komunitas. Kita menghayati panggilan kita dalam
suatu dunia diiringi alat-alat yang menggampangkan
kehidupn, akan tetapi dapat menjadi pencobaan.”
Frater Nikodemus bertanya: “Bagaimana kita dapat
menemukan tempat kita di dunia global dan postmodern
itu?” Ia mengajak para frater untuk tetap setia pada
kharisma dan spiritualitas kongregasi “dengan melayani
kaum miskin sebagai saudara-saudara berbelaskasih,
terutama kaum muda yang tidak mempunyai harapan”.
Frater Yoseph Bille menjelaskan pengaruh globalisasi
pada hidup doa. “Berdoa selalu menyangkut hubungan
dengan Allah”, ditekankannya. “Sudah terjadi bahwa
doa menjadi suatu kegiatan rutin yang kurang menarik.
Karena itu diberikan kurang waktu pada relasi itu.
Pasti Allah merasa sedih, karena justru dalam relasi
dengan Allah kita dapat menjadi otentik. Sering Ia
harus mengalami bahwa kita lupa akan Dia dan menjadi
semakin duniawi dan dunia yang berglobalisasi semakin
kurang terbuka terhadap Allah. Begitulah manusia
berkembang semakin jauh dari asal usul dan tujuan
mereka. Menahan dan pemperkuat relasi kita dengan
Allah merupakan suatu tantangan yang besar. Akan
tetapi hal ini menjadi sumber kebahagiaan, kalau kita
mengalami bahwa kita berkembang dalam hal ini dan
dapat hidup, dihantar oleh cinta Allah.
Mengilhami
Pada akhir hari-hari pertemuan itu, seorang frater
yunior merumuskan rencananya untuk diwujudkan di
masa mendatang. Kemudian ada kesempatan untuk
mengevaluasi seluruh pertemuan. Semua peserta dan
pembicara merasa puas. Para frater merasa sangat
tertarik oleh suasana reuni selama pertemuan itu,
bahwa ada kesempatan untuk menukar perasaan dan
pengalaman. Input dari para pembicara dialami sebagai
inspratif dan memberikan motivasi.
Frater Nikodemus Tala Lamak
Kiri: Frater Yoseph Bille,
ketua komisi yunior CMM.
Kanan: Frater Martinus Leni,
pemimpin provinsi
CMM Indonesia.
17
BELANDA
AKSI KENYA
MURID-MURID EINDHOVEN
MENGHASILKAN € 40.000,Pada tanggal 7 sampai 9 Juni 2011, Pleincollege Sint-Joris di Eindhoven mengadakan aksi sponsor untuk
“Oyugis Integrated Project” (OIP), milik Frater CMM di Kenya. Sejak tahun 1991 sekolah itu setiap dua tahun
menyelenggarakan aksi pengumpulan dana untuk OIP. Lembaga ‘Wilde Ganzen’ selalu menambahkan jumlah
uang yang dikumpulkan. Melalui aktivitas ini diusahakan agar para murid dibimbing sedemikian sehingga merasa
bertanggung jawab bagi kaum miskin di dunia ketiga. Tahun ini aksi menghasilkan € 40.000,-, jadi € 10.000 lebih
daripada di tahun 2009.
Dari semua orang Kenya di daerah sekitar Oyugis, lebih
dari setengah tertular HIV, yaitu virus yang mengakibatkan
penyakit aids yang mematikan. OIP didirikan untuk
menghindari orang dari aids dan membimbing pasienpasien tertular HIV serta membantu ibu janda dan yatim
piatu karena aids. Tahun-tahun terakhir, sekolah tersebut,
melalui aksi-aksi untuk Kenya, mendukung antara lain
pembangunan tiga sekolah menengah termasuk inventaris
dan bahan pelajaran. Sudah dibangun ruang-ruang tidur
unuk satu asrama dan dengan bantuan dari Eindhoven
didirikan satu perpustakaan serta dipasang tanki-tanki
air di daerah itu. Tahun ini dikumpulkan uang, antara
lain untuk inventaris ruang tidur dari satu asrama dan
rehabilitasi rumah-rumah. Sebelum aksi dimulai, Frater
Lawrence Obiki, anggota dewan umum CMM, yang sendiri
berasal dari Kenya, mengunjungi sekolah di Eindhoven
untuk menyemangati para murid.
‘Pentatlon’
Pada hari Selasa 7 Juni 2011, jam 06.45, ‘Aksi Kenya 2011’
mulai dengan pertandingan ‘pentatlon’ oleh kelas 1C (29
murid), dipimpin oleh pembina mereka yaitu Rob van der
Laan, guru olahraga. Pertandingan pentatlon terdiri dari
bersepeda 12 kilometer, berenang satu kilometer, memanjat
diding, ‘inline skating’ 10 kilometer, sekali lagi bersepeda
12 kilometer dan sebagai penutup satu jam ‘streetdance’.
‘Flashmob’ di Eindhoven.
18
Dengan aksi ini, kelas 1C mengumpulkan jumlah uang
€ 24.932,50, yang sungguh besar. Bagi guru Rob van der
Laan aksi sponsor ini merupakan aksinya yang ketujuh,
sekaligus yang terakhir, karena ia akan meninggalkan
sekolah pada tahun ajaran depan. Pada tanggal 8 Juni
Frater Broer Huitema, pemimpin umum CMM, menghadiri
‘Malam Kenya’. Pada malam ini dicuci mobil-mobil,
digoreng kue pankuk, ada kesempatan untuk besepeda
‘indoor’, diadakan undian dan lelang. Band musik terdiri
atas murid-murid memeriahkan malam itu.
‘Flashmob’
‘Flashmob’ adalah suatu kelompok yang besar, yang
secara tiba-tiba berkumpul di suatu tempat umum
untuk melakukan sesuatu yang luar biasa dan kemudian
bubar lagi. Pada tanggal 9 Juni sekolah itu mengadakan
flashmob terbesar di Belanda. Pada jam 12.00 di ‘Lapangan
18 September’ di pusat Eindhoven, 1.300 lebih murid
mengadakan tarian yang dilatih, berjudul Waka Waka
karangan Sharika.
Pada musim panas tahun ini, dua murid dan pendamping
mereka telah pergi ke Kenya untuk melihat dengan mata
sendiri untuk hal-hal mana sekolah mereka beraksi. Pada
permulaan tahun ajaran baru mereka berbagi pengalaman
mereka dengan para murid Pleincollege Sint-Joris.
Murid-murid kelas 1C mengumpulkan
banyak uang lewat olahraga.
BERITA PENDEK
PEMBUKAAN ASRAMA DI OYUGIS
Pada tanggal 3 Maret 2011, pemimpin umum Frater Broer Huitema telah meresmikan gedung asrama yang
bernama ‘St. Vincent de Paul’ di Oyugis, Kenya. Sebagian besar dari asrama itu dapat dibangun berkat aksi sponsor
‘Pleincollege Sint-Joris’ di Eindhoven, dalam kerjasama dengan ‘Lembaga Wilde Ganzen’. Gedung itu diberkati oleh
pastor paroki, Martin Oyugi. Jatim-piatu karena aids, yang sebelumnya harus berjalan jauh untuk pergi ke sekolah,
sekarang tinggal di asrama itu. Dalam acara resmi, murid-muid asrama itu mengucapkan terima kasih atas
aksi-aksi para murid Eindhoven dan mereka berharap agar masih ditambahkan tempat tidur, kasur dan
perlengkapan air minum dan listrik. Untuk itu ‘Pleincollege Sint-Joris’ mengadakan aksi sponsor dari 7 sampai
9 Juni 2011 (lihat halaman 18).
Frater Broer Huitema meresmikan plaket pada gedung asrama ‘St. Vincent de Paul. Di ujung barisan berdiri
pastor paroki, Martin Oyugi. Frater Lawrence Obiko, anggota DPU, memegang kamera. Di sebelah kirinya:
Frater Leo van de Weijer, wakil DPP Kenya.
€ 5.000 UNTUK PENAMPUNGAN
PENGUNGSI DI CMM
Di ‘Vincentshop’, milik Serikat Vinsensius di Tilburg,
dijual barang bekas yang disumbangkan oleh masyarakat
Tilburg. Semua hasil toko itu, sesudah dikurnagi
ongkosnya, digunakan untuk proyek-proyek di seluruh
dunia, khususnya untuk melawan kemiskinan di kota
Tilburg. Pada tanggal 21 Mei 2011, Vincentshop
menyelenggarakan suatu pasar. Hasilnya dimaksudkan
bagi dua tujuan yang baik yaitu lembaga ‘Broodnodig’,
yang dijalankan oleh ‘Pater Poels’ yang terkenal di
Tilburg, yang menyumbangkan roti dan makanan kepada
banyak orang miskin, dan tujuan kedua adalah
penampungan pengungsi di frateran ‘De Vuurhaard’ di
desa Udenhout. Pasar itu menghasilkan € 5.000,- bagi
karya demi para pengungsi. Dalam surat terima kasih
kepada dewan dan sukarelawan Vincentshop, fraterfrater Udenhout menulis: “Kami dari ‘De Vuurhaard’
merasa tersentuh oleh hasil yang luar biasa dari pasar
anda. Kami menyadari bahwa anda tidak hanya melayani
dengan baik orang-orang Tilburg, melainkan anda
melihat lebih jauh daripada perbatasan kota Tilburg.
Kali ini ‘De Vuurhaard’ disoroti oleh anda. Terima
kasih banyak atas perhatian itu. Terima kasih,
sebab anda telah melihat, merasa tersentuh
dan kemudian bergerak.”
19
BERITA PENDEK
Karya seni ‘Transformatie’,
di belakangnya ‘ZIN’
(foto: Jeroen Olthof).
KARYA SENI UNTUK ‘ZIN’
Pada tanggal 25 Mei 2011 di halaman pusat pembinaan ZIN di Vught diresmikan ‘Transformatie’, hasil karya seni
yang dibuat dari sejenis baja, perunggu dan beton oleh seniman Jeroen Olthof. Ia telah bekerja di atelir tamu di ZIN
dan, pada waktu itu, ia berkenalan dengan Kongregasi Frater CMM. Sepuluh tahun lalu, Kongregasi mendirikan ZIN,
‘biara untuk makna hidup dan karya’. Sebagai tanda terima kasih karena boleh tinggal di ZIN, Jeroen menciptakan
karya seni itu, yang juga dimungkinkan oleh sumbangan Penerbit Zwijsen, yang berasal dari Kongregasi CMM.
HARI MINGGU PANGGILAN
DI OYUGIS, KENYA
Pada tanggal 15 Mei, di gereja paroki Oyugis, dalam dua
perayaan Ekaristi, diberikan perhatian pada ‘Hari Minggu
Panggilan’ yang ke-48 dalam Gereja Katolik. Bersama
dengan Romo Martin Oyugi, empat komunitas religius,
antara lain dua komunitas CMM, menyiapkan liturgi
untuk hari itu. Doa-doa umat dalam kedua perayaan
disiapkan dan dibacakan oleh Frater Vincent Odhiambo
dan seorang suster. Pada acara persiapan persembahan,
Frater Erick Nyakundi Nyamwaro dan Frater Philemon
Ratemo membawa persembahan ke meja altar. Sesudah
homili, Frater Leo van de Weijer membacakan amanat
Paus Benedictus XVI untuk Hari Minggu Panggilan, yang
bertema: ‘Menunjang panggilan di dalam gereja lokal’.
Dalam amanatnya Sri Paus menekankan pentingnya
berdoa bagi panggilan. Kemudian Frater Leo bercerita
20
mengenai pengalamannya di tahun 1954. Ketika itu ia
murid SD kelas enam. Pada tanggal 19 Maret, pesta
Santo Yosef, ia berziarah ke kampung Smakt di Belanda,
di mana Santo Yosef, pelindung panggilan, dipuja.
Sesudah itu ia merasa kekuatan untuk masuk frater.
Sesudah cerita ini, Frater Leo minta untuk hening
selama beberapa menit dan berdoa secara pribadi bagi
panggilan. Ia juga mengajak para hadirin untuk berdoa
di rumah untuk panggilan. Pada akhir kedua perayaan,
para religius memperkenalkan diri pada umat di gereja.
Sesudah acara-acara itu lahir rencana untuk
membentuk ‘Kelompok Panggilan’, terdiri dari wakilwakil keempat komunitas bersama dengan pastor paroki
untuk menimbulkan minat bagi hidup religius.
in memoriam
BUKU BARU
FRATER
HERMENEGILDUS
BERIS
Frater Hermenegildus Beris menciptakan sumbangan
tertulis yang baru tentang sejarah gereja Namibia.
Bagi Kongregasi Suster Misi Santa Maria di Kandung
Tanpa Dosa, ia menulis sejarah kongregasi di Namibia.
Pada tahun 2012, kongregasi itu selama 50 tahun
hidup dan bekerja di Namibia. Judul karya itu adalah:
Epifania in Namibia: A history of the Missionary Sister
of Mary Immaculate in Namibia. Sebelumnya, pada
tahun 1996, ia menerbitkan sejarah misi di Namibia,
dengan perhatian khusus pada Keuskupan Agung
Windhoek dan Vikariat Apostolik Rundu. Kemudian ia
menulis sejarah Keuskupan Keetmanshoop, yang
diterbitkan pada tahun 2001, 2003 dan 2007. Pada
tahun 2009 diterbitkan bukunya mengenai sejarah
Frater CMM di Namibia, berjudul: Mission between
deserts: History of the Fraters CMM in Namibia.
Frater Hermenegildus Beris
dengan buku terbaru.
Frater
Optato (J.J.P.) van Oorschot
Frater Optato lahir di Eindhoven, Belanda, pada
tanggal 11 April 1921, dan masuk Kongregasi
CMM di Tilburg pada tanggal 29 Agustus 1939. Ia
mengikrarkan profesinya seumur hidup pada tanggal
15 Agustus 1944. Ia meninggal dunia pada tanggal
6 Februari 2011 di komunitas Joannes Zwijsen di
Tilburg. Ia dikuburkan di kuburan CMM di kompleks
‘Huize Steenwijk’ di Vught.
Frater Optato hidup dan bekerja lama di SD di kota
Oss. Ia seorang guru yang menarik bagi para muridnya,
dan ia seorang rekan yang baik bagi guru-guru lain di
sekolahnya. Di samping tugas di sekolah, ia juga bekerja
sebagai pembimbing di Asrama St. Nikolas di Oss. Ia
cocok untuk hidup berkomunitas; ia melihara relasi dan
persaudaraan. Sampai minggu-minggu terakhir hidupnya
ia tetap hadir dalam perhimpunan di waktu doa,
makan besama dan rekreasi walaupun ia hampir tidak
mampu lagi. Ia seorang berhumor yang dapat bergurau
tentang dirinya sejauh menyangkut rasa kesakitan dan
beban kehidupannya. Tahun-tahun terakhir hidupnya
ia menderita banyak. Syukurlah sampai saat terakhir
pikirannya tinggal tajam. Ia melewati masa penderitaan
itu dengan kekuatan mental, humor dan optimisme yang
besar, sehingga ia mampu menggembirakan hati para
konfrater dan perawat. Frater Optato sangat mencintai
keluarganya. Ia seorang pasien yang dapat dirawati
dengan mudah. Ia selalu memperhatikan orang-orang
lain, melakukan hal-hal yang ia masih dapat berbuat,
ingin menghibur mereka dan tidak mau membebani
mereka lebih daripada sungguh dibutuhkan. Karena
semuanya itu ia adalah seorang yang dicintai oleh
familinya, para konfraternya, mantan muridnya dan
rekan guru.
21
in memoriam
Frater
Frater
Ko (J.J.M.) Janssen
Jan (J.H.W.) Spaninks
Frater Ko lahir di Zwolle, Belanda, pada tanggal
15 Desember 1923, dan masuk Kongregasi CMM
di Tilburg pada tanggal 29 Agustus 1940. Ia
mengikrarkan profesinya seumur hidup pada tanggal
15 Agustus 1945. Ia meninggal dunia pada tanggal
26 Mei 2011 di komunitas Joannes Zwijsen di Tilburg.
Ia dikuburkan di kuburan CMM, kompleks ‘Huize
Steenwijk’ di Vught.
Frater Jan lahir di Tilburg, Belanda, pada tanggal
5 Juli 1928, dan masuk Kongregasi CMM di Tilburg
pada tanggal 29 Agustus 1946. Ia mengikrarkan
profesinya seumur hidup pada tanggal 15 Agustus
1951 dan meninggal dunia pada tanggal 13 Juni
2011 di komunitas Joannes Zwijsen di Tilburg.
Ia dikuburkan di kuburan CMM, kompleks ‘Huize
Steenwijk’ di Vught.
Dari tahun 1944 sampai 1983 Frater Ko bekerja di dunia
pendidikan sebagai guru SD di Tilburg, Oisterwijk,
Leeuwarden dan Zwolle. Seumur hidupnya ia membaca
dan berstudi banyak. Sampai usia tinggi, rahasia alam
semesta dan mujizat-mujizat teknik mempesona dia.
Ia mengamat-amati kehidupan. Pengamatan itu lebih
menarik bagi Frater Ko daripada partisipasi. Ia suka
mengetahui makna dan keterkaitan satu sama lain.
Frater Ko adalah seorang religius yang bersifat teliti
dan setia pada yang wajib dilakukan. Ia menghayati
spiritualitas Kongregsi dengan hidup hemat dan
sederhana; ia ramah dan rendah hati dan tak suka minta
bantuan sesama frater. Ia mencintai kongregasinya.
Ia merasa berterima kasih atas keteraturan dan
ketenangan di Wisma Joannes Zwijsen. Sayang bahwa
ia meninggalkan kami. Kami menyerahkan dia dalam
kepercayaan bahwa Yang Belaskasih sudah
mengharapkan kedatangan Frater Ko dalam
rahasia-Nya yang besar, Cinta tanpa batas.
Frater Jan dididik sebagai tukang jahit, akan tetapi di
dalam kongregasi ia terutama aktif sebagai tukang
masak dan perawat bagi para konfrater yang sakit dan
jompo. Masa yang paling membahagiakan dia selama
hidupnya adalah di desa Vught, di mana ia mengurus
rumah tangga komunitas kecil. Frater Jan mudah
berelasi dan suka mencari kontak. Ia memperhatikan
kepentingan orang-orang lain dan suka berbicara
dengan sesama. Hubungan dengan familinya baik
sekali. Dalam hidupnya Frater Jan sering mengalami
penderitaan. Sebagai anak, hidupnya ditandai oleh
ibunya yang kerapkali sakit. Sesudahnya ia mengalami
bahwa secaca fisik ia sendiri tidak kuat. Kerapkali
ia dioperasi. Panjang-lebar ia bisa bercerita tentang
itu. Ketiga tahun terakhir adalah cukup berat bagi
Frater Jan, baik secara fisik maupun mental. Konfrater,
perawat, famili dan sahabatnya mengunjungi dia dan
mendukungnya. Namun Frater Jan harus menempuh
trayek terakhir hidupnya agak sendirian. Ia tidak merasa
takut akan maut, bahkan di bulan-bulan terakhir ia ingin
wafat. Pada hari Pentekosta Kedua ia meninggal dengan
tenang di kursinya, dibebaskan dari segala kegelapan.
Wajahnya bersinar damai; ia telah sampai pada tujuan
hidupnya.
22
SUMBER
‘SALVE REGINA,
MATER
MISERICORDIAE’
Lagu di perjalanan
Pandangan populer mengenai Mgr. Zwijsen adalah, bahwa ia seorang lugas dan praktis.
Sekarang kita dapat mencap dia sebagai seorang pengurus. Sudah barang tentu, ia bertalenta
untuk menata sesuatu dan cakap dalam hal menjalin relasi (‘networking’). Akan tetapi ada
lebih lagi. Dengan sengaja Mgr. Zwijsen menentukan kata belaskasih sebagai kata kunci kedua
kongregasinya. Sebagai seorang pendiri ia hidup dengan jiwa dan semangat lugas. Terhadap
kaum pengikutnya ia menekankan ‘kekuatan-kekuatan yang halus’, yang punyai belaskasih
sebagai nilai inti.
Arsip seminari memperlihatkan bahwa Zwijsen, sebagai
seminaris, bertugas sebagai penyani utama dalam
liturgi. Pasti ia sungguh tertarik oleh kidung Salve
Regina. Dengan sadar, ia menyumbangkan kepada para
frater dan susternya Bunda Maria, Bunda Berbelaskaih,
sebagai pelindung mereka. Dengan ini menjadi jelas
bahwa Mgr. Zwijsen juga tersentuh oleh penderitaan
dan air mata, oleh kehangatan dalam relasi dan
kemesraan.
Apakah mengheran lagi bahwa para frater dan suster
mengalami Salve Regina sebagai lagu pengenal
dan sebagai salam kesukaan mereka kepada Bunda
Berbelaskasih di jalan hidup mereka? Mereka sendiri
dan orang-orang yang mereka layani merasa
terlindung oleh Bunda yang Berbelaskasih.
Frater Harrie van Geene
23
Kita bertemu dengan Tuhan
dalam karya dan istirahat,
dalam kecemasan dan kedamaian,
dalam suka dan duka.
(dari Pedoman Hidup CMM)
Majalah Kongregasi Frater Santa Perawan Maria, Bunda yang Berbelaskasih
24
Fly UP