...

Survei Demografi dan Kesehatan 2012 Modul Pria

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Survei Demografi dan Kesehatan 2012 Modul Pria
Indonesia
Survei Demografi dan
Kesehatan 2012
Modul Pria
Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2012
Modul Pria
Kerjasama:
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Jakarta, Indonesia
dengan
The United Nations Population Fund, Indonesia
October, 2014
1
Pengantar
Badan Kependudukan dan KB Nasional
Sejalan dengan kesepakatan pada Konferensi Internasional mengenai
Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and
Development – ICPD) tahun 1994, BKKBN telah mengintegrasikan upaya
kesehatan reproduksi dalam program keluarga berencana nasional. Program
kesehatan reproduksi meliputi pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi
individu baik wanita maupun pria sepanjang siklus hidupnya, termasuk hak-hak
reproduksi, kesetaraan gender, serta tanggung jawab pria dalam kaitan dengan
kesehatan reproduksi keluarga. Tanggung jawab pria dalam kesehatan
reproduksi merupakan keterlibatan dan keikutsertaan ber-KB serta kesadaran
berprilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan dan keluarga.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 Modul Pria
merupakan survei ketiga yang dilaksanakan di Indonesia setelah survei pertama pada tahun 2002-2003
dan kedua pada tahun 2007. SDKI 2012 Modul Pria merupakan sub sampel dari SDKI tahun 2012 dan
dirancang untuk memperoleh angka estimasi nasional. Informasi yang dikumpulkan dalam daftar
pertanyaan pada Modul Pria, kurang lebih sama dengan daftar pertanyaan pada Modul Wanita Usia
Subur, hanya lebih pendek karena tidak mencakup riwayat kelahiran, kematian dan kesehatan anak, gizi
dan kematian ibu. Namun, kepada pria kawin juga ditanyakan tentang pengetahuan dan partisipasi mereka
dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak.
Laporan SDKI 2012 Modul Pria yang menyajikan tentang pengetahuan, persepsi, dan partisipasi pria
dalam program KB dan kesehatan reproduksi mempunyai arti penting sebagai dasar pengembangan
kebijakan serta penyusunan program dan strategi yang berbasis bukti ilmiah (evidence-based). Selain itu,
laporan ini juga dapat menjadi rujukan dalam melakukan evaluasi program kesehatan reproduksi yang
dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia selama periode 2010-2014 serta menjadi masukan dalam
penyusunan RPJMN periode 2015-2019.
Pengembangan program berbasis bukti ilmiah merupakan bagian penting dari upaya akselerasi program
Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga. Upaya ini diperlukan dalam rangka
mewujudkan visi baru BKKBN yaitu “Menjadi lembaga yang handal dan dapat dipercaya dalam
mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas”. Visi tersebut akan dicapai melalui
misi yang terdiri dari ; 1) mengarusutamakan pembangunan berwawasan kependudukan,
2) penyelenggaraan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, 3) memfasilitasi pembangunan
keluarga, 4) membangun dan menerapkan budaya kerja organisasi, serta 5) mengembangkan jejaring
kemitraan dalam pengelolaan kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga.
Saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada UNFPA Perwakilan
Indonesia dan seluruh pihak yang telah membantu penyusunan laporan SDKI 2012 Modul Pria ini.
Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, SpGK
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
BKKBN
Jakarta, September 2014
ii
Pengantar
UNFPA Representative
Di Indonesia, kaum pria memegang peran kepemimpinan serta memiliki pengaruh
besar, baik di tingkat nasional sampai ketingkat terendah dalam unit keluarga. Dengan
mempertimbangkan peran penting yang dimiliki oleh laki-laki baik dalam ranah rumah
tangga dan ruang public yang terus meningkat, maka pelibatan pria dan pengupayaan
dukungan serta komitmen pada Keluarga Berencana merupakan hal mutlak guna
meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan hal ini,
maka UNFPA pada tahun 2014, memberikan dukungan untuk publikasi laporan analisis
yang bertujuan untuk memahami perilaku laki-laki dan perempuan yang berkaitan
dengan kesehatan seksual dan reproduksi, serta relasi gender di Indonesia, yang
berjudul “Pengetahuan dan perilaku Pria terkait Kesehatan Seksual dan Reproduksi
serta Gender”. Laporan tersebut disusun oleh tim peneliti yang berafiliasi dengan Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dengan menggunakan
data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012. Melalui advokasi
dan penyediaan dukungan teknis, UNFPA memperluas cakupan focus penelitian yang awalnya hanya difokuskan
padakontrasepsi pria, tapi kemudian cakupannya diperluas dengan menganalisis faktor sosio-ekonomi dan
karakteristik demografi kedalam isu-isu kesehatan seksual dan reproduksi.
Keterlibatan pria yang lebih luas dalam keluarga berencana tidak hanya dapat meringankan tanggung jawab yang
diemban oleh kaum perempuan dalam hal kesehatan seksual dan reproduksi, tapi juga dapat mempercepat
pemahaman dan pelaksanaan keluarga berencana pada umumnya. Hal ini sebagaimana dipertegas pada Konferensi
Internasional mengenai Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and
Development - ICPD) yang diselenggarakan di Kairo pada tahun 1994, yang menyatakan bahwa berbagai upaya
khusus harus dilaksanakan untuk memperkuat tanggung jawab bersama kaum pria, dan mempromosikan peran aktif
kaum pria pada keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Misalnya, kaum pria, harus dilibatkan dalam
pengasuhan keluarga yang bertanggung jawab, pra-kelahiran anak, kesehatan ibu dan anak, pencegahan berbagai
bentuk infeksi menular seksual (IMS) serta pencegahan kehamilan yang tidakdiinginkan atau berisiko tinggi.
Publikasi ini merupakan langkah penting yang dilakukan oleh UNFPA dan BKKBN dalam melibatkan kaum pria
secara sistematis baik sebagai mitra, klien dan pendukung pada berbagai program yang dilakukan. Oleh karena itu,
laporan ini menyediakan data empiris untuk membantu pemerintah baik di tingkat regional, propinsi dan nasional
dalam pengembangan kebijakan, pembuatan program kerja dan pengambilan keputusan. Data baseline tentang lakilaki dan maskulinitas yang dihasilkan dalam laporan ini akan bermanfaat untuk memonitor dan mengevaluasi
berbagai program kesehatan seksual dan reproduksi yang dilaksan akan oleh Pemerintah Indonesia dan pemangku
kepentingan lainnya.
UNFPA dalam Program Kerja Siklus yang Kedelapan (Eight Country Program), bekerjasama dengan Pemerintah
Indonesia bermaksud untuk mempercepat agenda pelibatan laki-laki yang lebih luas untuk mencapai kesetaraan
gender. Sejak tahun 2012, UNFPA telah mendukung Pemerintah dan masyarakat sipil dalam mengembangkan
berbagai aktivitas pelibatan laki-laki, dengan menyediakan strategi praktis untuk melibatkan laki-laki dan anak lakilaki, dan memberikan perhatian pada norma gender yang mempengaruhi sikap dan perilaku yang berkaitan dengan
kesehatan seksual dan reproduksi. Publikasi istimewa ini menekankan pada upaya berkelanjutan yang hendaknya
dapat dilaksanakan oleh BKKBN dan UNFPA akan terus berupaya untuk memberikan motivasi dan informasi
kepada kaum pria mengenai berbagai manfaat dari partisipasi laki-laki dalam keluarga berencana, dan dalam
pengambilan keputusan untuk memastikan keterlibatan pria secara sistematis baik sebagai mitra, klien dan
pendukung pada program-program di masa yang akan datang yang pada akhirnya akan bermanfaat bagi
kesejahteraan keluarga dan komunitas bagi seluruh rakyat Indonesia.
Mr. Jose Ferraris
Kepala Perwakilan UNFPA Indonesia
Jakarta, September 2014
iii
Daftar Isi
ii
Pengantar BKKBN ......................................................................................................................................................
Pengantar UNFPA Representative....................................................................................................................
iii
Daftar Isi ..........................................................................................................................................................................
iv
Tabel dan Gambar.......................................................................................................................................................
vi
Bab 1. Pendahuluan
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.
1.6.
1.7.
Geografi........................................................................................................................................................
Penduduk....................................................................................................................................................
Ekonomi dan Pendidikan.....................................................................................................................
Kebijakan dan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana....................................
Kebijakan dan Program Kesehatan..................................................................................................
Tujuan Survei............................................................................................................................................
Organisasi Survei.....................................................................................................................................
1.7.1. Kuesioner........................................................................................................................................
1.7.2. Kegiatan Uji Coba.........................................................................................................................
1.7.3. Pelatihan..........................................................................................................................................
1.7.4. Lapangan.........................................................................................................................................
1.7.5. Pengolahan Data..........................................................................................................................
1.8. Hasil Kunjungan.......................................................................................................................................
1
1
2
3
4
5
5
6
6
7
7
7
7
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
Karakteristik Responden Survei.......................................................................................................
Tingkat Pendidikan.................................................................................................................................
Kemampuan Membaca..........................................................................................................................
Akses Terhadap Media Massa............................................................................................................
Ketenagakerjaan......................................................................................................................................
2.5.1. Status Pekerjaan...........................................................................................................................
2.5.2. Jenis Pekerjaan Pria....................................................................................................................
2.6. Partisipasi Pria Dalam Pengambilan Keputusan........................................................................
2.7. Pendapat Atau Sikap Pria Tentang Pemukulan Suami Terhadap Isteri...........................
2.8. Ukuran Gaya Hidup.................................................................................................................................
9
10
12
14
16
16
19
20
22
25
3.1. Pengetahuan Tentang alat/Cara Kontrasepsi ............................................................................
3.2. Pengetahuan Tentang Sumber Pelayanan Alat/Cara KB........................................................
3.3. Sumber Penerangan Tentang KB......................................................................................................
3.3.1. Peran Media Massa.....................................................................................................................
3.3.2. Diskusi Tentang KB.....................................................................................................................
3.3.3. Sikap Pria Tentang Keluarga Berencana...........................................................................
27
30
31
31
34
36
4.1. Pemakaian Alat/Cara KB Pria............................................................................................................
4.2. Hal-hal Yang Berkaitan Dengan Pemakaian Kondom..............................................................
4.2.1. Harga Kondom..............................................................................................................................
4.2.2. Pendapat PriaTentang Harga Kondom...............................................................................
41
44
44
44
Bab 2. Karakteristik Responden Pria
Bab 3. Pengetahuan Tentang Keluarga Berencana
Bab 4. Pengalaman Dan Pemakaian Alat/Cara KB
iv
4.2.3. Permasalahan Dalam Pemakaian Kondom.......................................................................
4.2.4. Persepsi Tentang Kondom.......................................................................................................
4.2.5. Hubungan Seks Dengan Imbalan Dan Penggunaan Kondom...................................
4.3. Hal-Hal Berkaitan Dengan Sterilisasi Pria....................................................................................
4.3.1. Pendapat Pria Tentang Sterilisasi........................................................................................
4.3.2. Pendapat Pria Tentang Pertimbangan Tidak Melakukan Sterilisasi....................
4.3.3. Pendapat Tentang Keuntungan Sterilisasi Pria..............................................................
46
46
49
50
50
52
54
5.1.
5.2.
5.3.
5.4.
5.5.
Keinginan Menambah Anak................................................................................................................
Kebutuhan Pelayanan Keluarga Berencana (KB) .....................................................................
Jumlah Anak Ideal....................................................................................................................................
Kelahiran Yang Tidak Direncanakan dan yang Tidak Diharapkan....................................
Keinginan Mempunyai Anak Menurut Status Wanita..............................................................
57
59
61
62
65
6.1. Keinginan Untuk Memakai Kontrasepsi Di Waktu Yang Akan Datang.............................
6.2. Alasan Tidak Ingin Memakai Alat/Cara KB..................................................................................
6.3. Alat/Cara KB yang Diinginkan...........................................................................................................
67
70
71
7.1.
7.2.
7.3.
7.4.
7.5.
7.6.
7.7.
Pengetahuan Tentang Masa Subur...................................................................................................
Pengetahuan Pria Kawin Tentang Bahaya Pada Kehamilan.................................................
Komunikasi Dengan Tenaga Kesehatan.........................................................................................
Persiapan Persalinan..............................................................................................................................
Imunisasi Balita........................................................................................................................................
Keputusan Membawa Anak Berobat Bila Sakit..........................................................................
Sikap Pria.....................................................................................................................................................
74
75
76
77
78
79
80
Pengetahuan Tentang AIDS.................................................................................................................
Pengetahuan Tentang Cara Pencegahan HIV/AIDS..................................................................
Penolakan Pada Persepsi Yang Salah Tentang HIV/AIDS......................................................
Pengetahuan Tentang HIV/AIDS –Isu Terkait............................................................................
Diskusi Tentang HIV/AIDS..................................................................................................................
Aspek Sosial HIV/AIDS..........................................................................................................................
Perilaku Seks Beresiko..........................................................................................................................
Pengetahuan Tentang Infeksi Menular Seksual Lainnya (IMS)...........................................
Pengetahuan Tentang Gejala Terkait Infeksi Menular Seksual..........................................
Prevalensi Infeksi Menular Seksual (IMS) Berdasarkan Laporan Responden..............
Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Perilaku Seks Pada Kelompok Remaja Dan
Dewasa Muda ...........................................................................................................................................
8.12. Pengetahuan Tentang Voluntary Counseling and Testing (VCT).........................................
84
88
89
91
92
93
95
95
97
99
Bab 5. Keinginan Mempunyai Anak
Bab 6. Tidak Pakai Kontrasepsi Dan Keinginan Untuk Pakai Kontrasepsi
Bab 7. Partisipasi Pria Dalam Perawatan Kesehatan
Bab 8. Pengetahuan Tentang Hiv/Aids Dan Penyakit Menular Seksual Lainnya
8.1.
8.2.
8.3.
8.4.
8.5.
8.6.
8.7.
8.8.
8.9.
8.10.
8.11.
Pustaka .............................................................................................................................................................................
v
100
102
107
Tabel dan Gambar
Bab 1. Pendahuluan
Tabel 1.1. Parameter Demografi...................................................................................................................
Tabel 1.2. Hasil Wawancara Rumah Tangga Dan Perseorangan....................................................
Bab 2. Karakteristik Responden Pria
Tabel 2.1.
Tabel 2.2.1.
Tabel 2.2.2.
Tabel 2.3.1.
Tabel 2.3.2.
Tabel 2.4.1.
Tabel 2.4.2.
Tabel 2.5.1.
Tabel 2.5.2.
Tabel 2.5.3.
Tabel 2.6.1.
Tabel 2.6.2.
Karakteristik Dan Latar Belakang Responden..................................................................
Tingkat Pendidikan Menurut Karakteristik Latar Belakang: Pria............................
Tingkat Pendidikan Menurut Karakteristik Latar Belakang: Wanita......................
Kemampuan Membaca: Pria.....................................................................................................
Kemampuan Membaca: Wanita...............................................................................................
Akses Terhadap Media Massa: Pria........................................................................................
Akses Terhadap Media Massa: Wanita.................................................................................
Status Pekerjaan Pria...................................................................................................................
Status Pekerjaan Wanita.............................................................................................................
Jenis Pekerjaan Pria......................................................................................................................
Pengambilan Keputusan Dalam Rumah Tangga Menurut Pria.................................
Partisipasi Pria Tentang Pengambilan Keputusan Tertentu Dalam
Rumah Tangga.................................................................................................................................
Tabel 2.7.1. Pendapat Atau Sikap Pria Kawin Tentang Pemukulan Suami Terhadap
Isteri.....................................................................................................................................................
Tabel 2.7.2. Sikap Pada Pemukulan Terhadap Istri: Wanita................................................................
Tabel 2.8. Konsumsi Rokok.............................................................................................................................
Gambar 2.1. Status Pekerjaan Pria Usia 15-54 Tahun (Dalam 12 Bulan Terakhir)....................
Bab 3. Pengetahuan Tentang Keluarga Berencana
Tabel 3.1. Pengetahuan Tentang Alat/Cara KB......................................................................................
Tabel 3.2. Pengetahuan Tentang Alat/Cara KB Menurut Karakteristik
Latar Belakang.................................................................................................................................
Tabel 3.3. Pengetahuan Tentang Sumber Pelayanan Alat/Cara KB (Kondom).......................
Tabel 3.4. Mendengar/Membaca KB Di Media Elektronik Dan Media Cetak............................
Tabel 3.5. Keterpajanan Terhadap Pesan KB Di Media Elektronik Dan Media Cetak:
Wanita Kawin...................................................................................................................................
Tabel 3.6. Diskusi Tentang Keluarga Berencana....................................................................................
Tabel 3.7. Sikap Pria Terhadap Beberapa Pernyataan Tentang KB...............................................
Gambar 3.1. Tren Persentase Pria Kawin Yang Mendengar Atau Membaca Pesan KB di
Media Elektronik Atau Media Cetak Dalam 6 Bulan Sebelum Survei......................
Gambar 3.2. Persentase Pernyataan “Sterilisasi Pria Sama Dengan Dikebiri” Menurut
Umur....................................................................................................................................................
Bab 4. Pengalaman dan Pemakaian Alat/Cara KB
Tabel 4.1. Pemakaian alat/cara KB pria (pengakuan pria)...............................................................
Tabel 4.2. Harga Kondom.................................................................................................................................
Tabel 4.3. Pendapat Tentang Harga Kondom..........................................................................................
vi
2
8
10
11
12
13
13
14
16
17
18
19
20
21
23
24
25
17
28
29
30
33
34
35
37
32
38
42
44
45
Tabel 4.4.
Tabel 4.5.
Tabel 4.6.
Tabel 4.7.
Tabel 4.8.
Tabel 4.9.
Masalah Dengan Penggunaan Kondom................................................................................
Beberapa Pernyataan Pria Kawin Tentang Penggunaan Kondom...........................
Melakukan Hubungan Seksual Dengan Imbalan..............................................................
Pertimbangan Sterilisasi Ketika Jumlah Anak Sudah Cukup......................................
Alasan Tidak Pernah Mempertimbangkan Untuk Sterilisasi......................................
Pendapat Tentang Sterilisasi Pria..........................................................................................
46
48
50
52
54
55
Tabel 5.1.
Tabel 5.2.
Tabel 5.3.
Tabel 5.4.
Tabel 5.5.
Tabel 5.6.
Tabel 5.7.
Tabel 5.8.
Keinginan Mempunyai AnakMenurut Jumlah Anak Masih Hidup............................
Keinginan Untuk Tidak Mempunyai Anak Lagi.................................................................
Keinginan Untuk Memperoleh Pelayanan KB Diantara Pria Kawin.........................
Jumlah Anak Diinginkan..............................................................................................................
Rata-Rata Jumlah Anak Ideal.....................................................................................................
Status Perencanaan Kelahiran (Menurut Suami).............................................................
Fertilitas Yang Diinginkan..........................................................................................................
Jumlah Anak Ideal Dan Kebutuhan BerKB Yang Tidak Terpenuhi...........................
58
59
60
61
62
63
64
65
Tabel 6.1.
Tabel 6.2.
Tabel 6.3.
Tabel 6.4.
Keinginan MenggunakanAlat/Cara KB Pada Waktu Yang Akan Datang................
Keinginan MemakaiAlat/Cara KB Pada Waktu Yang Akan Datang..........................
Alasan Tidak Ingin KB..................................................................................................................
Alat/Cara KB Yang Diinginkan.................................................................................................
68
69
70
71
Tabel 7.1.1.
Tabel 7.1.2.
Tabel 7.2.
Tabel 7.3.
Tabel 7.4.
Tabel 7.5.
Tabel 7.6.
Tabel 7.7.
Pengetahuan Tentang Masa Subur: Pria .............................................................................
Pengetahuan Tentang Masa Subur: Wanita........................................................................
Pengetahuan Pria Kawin Tentang Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan......................
Kontak Pria Dengan Petugas Kesehatan Dan Topik Pembicaraan...........................
Persiapan Persalinan....................................................................................................................
Imunisasi Balita...............................................................................................................................
Keputusan Membawa Anak Berobat Bila Sakit.................................................................
Kemarahan Pria..............................................................................................................................
74
74
75
76
78
79
79
81
Pengetahuan Tentang HIV/AIDS.............................................................................................
Sumber Informasi Tentang HIV/AIDS.................................................................................
Pengetahuan Tentang Pencegahan HIV/AIDS...................................................................
Pengetahuan Komprehensif Tentang HIV/AIDS..............................................................
Pengetahuan Tentang HIV/AIDS Dan Isu Terkait............................................................
Diskusi Tentang HIV/AIDS Dengan Isteri............................................................................
Sikap Menerima Terhadap Orang Yang Hidup Dengan HIV/AIDS...........................
Perilaku Seksual Beresiko Dalam 12 Bulan Sebelum Survei.......................................
Pengetahuan Tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) Lainnya.................................
Sumber Informasi Tentang IMS...............................................................................................
Pengetahuan Tentang Gejala IMS............................................................................................
Prevalensi Dan Gejala IMS..........................................................................................................
Pengetahuan Konprehensif Tentang AIDS Pada Kelompok Remaja dan
Dewasa Muda...................................................................................................................................
Tabel 8.14. Umur Pertama Kali Berhubungan Seksual Diantara Remaja......................................
85
87
88
90
91
92
94
95
96
97
98
100
Bab 5. Keinginan Mempunyai Anak
Bab 6. Tidak Pakai Kontrasepsi dan Keinginan untuk Pakai Kontrasepsi
Bab 7. PARTISIPASI PRIA DALAM PERAWATAN KESEHATAN
Bab 8. PENGETAHUAN TENTANG
SEKSUAL LAINNYA
HIV/AIDS
Tabel 8.1.
Tabel 8.2.
Tabel 8.3.
Tabel 8.4.
Tabel 8.5.
Tabel 8.6.
Tabel 8.7.
Tabel 8.8.
Tabel 8.9.
Tabel 8.10.
Tabel 8.11.
Tabel 8.12.
Tabel 8.13.
vii
DAN
PENYAKIT
MENULAR
101
102
Tabel 8.15. Mengetahui Seseorang Terinfeksi HIV/AIDS.....................................................................
Tabel 8.16. Pengetahuan Tentang VCT.........................................................................................................
Tabel 8.17. Mengetahui Tempat Dimana Mendapatkan Layanan VCT...........................................
Gambar 8.1. Persentase Pria Kawin Yang Pernah Mendengar Tentang AIDS...............................
Gambar 8.2. Persentase Pria Kawin Yang Pernah Mendengar Tentang AIDS Menurut
Pendidikan........................................................................................................................................
Gambar 8.3. Persentase Pengetahuan Tentang Cara Menghindari HIV/AIDS Pada Pria
Kawin...................................................................................................................................................
Gambar 8.4. Persentase Pria Kawin Yang Mendiskusikan Tentang Pencegahan AIDS
Dengan Pasangannya Menurut Pendidikan........................................................................
Gambar 8.5. Persentase Pria Kawin Yang Tidak Tahu Tentang Gejala IMS Berdasarkan
Pendidikan.........................................................................................................................................
viii
103
104
105
86
86
89
93
99
1
Pendahuluan
1.1. Geografi
Republik Indonesia, yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, terbentang diantara 6o Lintang Utara dan 11o
Lintang Selatan, serta dari 95o sampai 141o Bujur Timur. Kepulauan Indonesia terletak di antara dua
benua, yaitu Benua Asia dan Australia, dan dibatasi oleh Laut Cina Selatan di Utara, Samudera Pasifik di
Utara dan Timur, serta Samudera Hindia di sebelah Selatan dan Barat. Ada lima pulau besar, dimulai dari
ujung Barat dengan Sumatera, Jawa disebelah Selatan, Kalimantan yang dipotong garis katulistiwa,
Sulawesi, dan Papua. Dua gugusan kepulauan lain adalah Maluku dan Nusa Tenggara yang terletak di
antara pulau Sulawesi dan Papua di Utara, serta Bali dan Timor disebelah Selatan. Pulau-pulau kecil lain
dan sebagian besar tidak berpenghuni. Lebih dari 80 persen dari seluruh wilayah Indonesia merupakan
lautan, dengan luas daratan sekitar 1,9 juta Km persegi. Banyaknya pulau di Indonesia dan persebarannya
di wilayah yang luas diperkaya dengan beragam budaya dari beratus suku bangsa, masing-masing dengan
bahasanya sendiri. Kondisi inilah yang mendorong diciptakannya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”
sebagai pemersatu bangsa.
Pada tahun 1999, UU No. 22 tentang Pemerintahan Daerah diterbitkan. Undang-undang ini memberikan
otonomi penuh kepada pemerintah kabupatan/kota. Selain itu, undang-undang ini juga memberikan tugas
dekonsentrasi dari pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota, kecuali untuk sektor keuangan,
pertahanan keamanan, agama, luar negeri, dan pertanahan.
Pada saat survei dilakukan, di Indonesia terdapat 33 provinsi, 399 kabupaten, dan 98 kota. Tingkat
administrasi berikutnya adalah kecamatan dan desa atau kelurahan. Pada tahun 2011 tercatat sebanyak
6.694 kecamatan,8.216 kelurahan, dan 69.249 desa (Permendagri No. 66 Tahun 2011).
1.2. Penduduk
Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia meningkat dari 205,8 juta jiwa
pada tahun 2000 menjadi 237,6 juta jiwa pada tahun 2010. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada
urutan keempat dari negara yang berpenduduk paling besar di dunia setelah Republik Rakyat Cina, India,
dan Amerika Serikat.Lebih dari 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam.
Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia telah mengalami penurunan dalam tiga dasawarsa terakhir.
Antara tahun 1980 dan 1990, rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun adalah 1,98 persen. Antara
tahun 1990 dan 2000 turun menjadi 1,44 persen, namun antara tahun 2000 dan 2010 sedikit meningkat
menjadi 1,49 persen (Tabel 1.1). Jumlah penduduk di daerah perkotaan dan perdesaan tidak berbeda jauh,
sekitar 118 juta jiwa (49,79 persen) bertempat tinggal di perkotaan dan 119 juta jiwa (50,21 persen)
tinggal di perdesaan.
Ciri lain dari penduduk Indonesia adalah persebaran penduduk yang tidak merata antar pulau dan
provinsi. Menurut hasil Sensus Penduduk 2010, kepadatan penduduk sangat beragam antar wilayah, tidak
saja antar pulau, tetapi juga antar provinsi dalam pulau yang sama. Pulau Jawa dengan luas hanya 7
persen dari total luas wilayah Indonesia, dihuni oleh 58 persen dari seluruh penduduk di Indonesia,
membuat tingkat kepadatan di Jawa (1.055 orang per kilometer persegi) lebih tinggi dibandingkan
dengan pulau-pulau lainnya, misalnyadengan Kalimantan yang tingkat kepadatannya 25 orang per
kilometer persegi. Provinsi di Pulau Jawa memiliki kepadatan penduduk berkisar 784 orang per kilometer
persegi di Jawa Timur sampai 14.469 orang per kilometer persegi di DKI Jakarta. Kepadatan penduduk
pada tingkat nasional adalah 109 orang per kilometer persegi pada tahun 2000 menjadi sekitar 124 orang
per kilometer persegi pada tahun 2010.
1
Tabel 1.1. Parameter demografi
Beberapa parameter demografi Indonesia 1990 – 2010
Sensus
Indikator
1990
Penduduk (ribuan)
179,4
Pertumbuhan penduduk (GR)1 (persen)
Sensus
2000
206,3
Sensus
2010
237,6
1,98
1,44
1,49
Kepadatan penduduk (per km2)
93
109
124
Persentase penduduk kota
31
42
50
Periode
1986-89
1996-99
2006-09
Angka kelahiran kasar (CBR)2
28
23
23
3
9
8
9
Pria
57,9
63,5
68,7
Perempuan
61,5
67,3
72,6
Angka kematian kasar (CDR)
Angka harapan hidup (Eo)4
1
2
3
4
Dihitung dengan menggunakan rumus bunga berbunga
Kelahiran per 1.000 penduduk; diperkirakan dengan menggunakan rumus
CBR = 9,48968 + 5,55 TFR
Kematian per 1.000 penduduk; CDR = CBR – GR
Diperkirakan dengan menggunakan metode tidak langsung
Sumber: Badan Pusat Statistik 1992, 2002 dan 2012 (tidak dipublikasi)
Tabel 1.1. menunjukkan bahwa tingkat fertilitas di Indonesia telah turun dengan tajam sejak tahun
1980an. Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate atau CBR) diperkirakan sebesar 28 per 1.000 penduduk
pada periode 1986-1989, turun menjadi 23 per 1.000 penduduk pada periode 1996-1999, menghasilkan
rata-rata penurunan sebesar 2,1 persen per tahun. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi
percepatan dalam penurunan tingkat kelahiran. Tetapi pada tahun 2010, CBR kembali menjadi 23
kelahiran per 1.000 penduduk.
Angka harapan hidup saat kelahiran baik untuk pria maupun perempuan meningkat. Angka harapan hidup
pria meningkat dari 58 tahun pada 1990 menjadi 69 tahun pada 2010. Pada perempuan, angka harapan
hidup meningkat dari 62 tahun pada 1990 menjadi 73 tahun pada 2010.
1.3. Ekonomi dan Pendidikan
Dalam beberapa dasawarsa ini, Indonesia merupakan salah satu negara ASEAN dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ekonomi Indonesia tumbuh dengan cepat pada era 1980 dan 1990,
namun krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 memperlambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sejak tahun 2000, Indonesia mulai bangkit dari krisis ekonomi. Beberapa indikator ekonomi seperti GDP
per kapita menunjukkan peningkatan dan mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah ekonomi Indonesia,
yaitu sebesar 3.000 dolar AS pada tahun 2012. Peningkatan GDP ini diharapkan akan memacu
pembangunan di berbagai sektor (antara lain ritel, otomotif, dan properti) melalui peningkatan permintaan
konsumen. Pemerintah Indonesia telah menetapkan target GDP sebesar 5.000 dolar AS pada tahun 2014
(http://www.indonesia-investments.com).
Salah satu keberhasilan pemerintah adalah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui
penyediaan sandang, pangan, dan papan yang cukup, di samping penyediaan sarana pendidikan dan
kesehatan. Hasil Sensus Penduduk 1971 dan 2010 serta Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2011
menunjukkan bahwa selama 40 tahun terakhir, bidang pendidikan di Indonesia telah mengalami
perkembangan pesat. Persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis naik
2
dari 61 persen pada tahun 1971 menjadi 92 persen pada tahun 2011. Perkembangan di bidang pendidikan
lebih terlihat jelas pada penduduk perempuan. Persentase anak umur 7-12 tahun yang bersekolah pada
tahun 1971 sebesar 62 persen untuk pria dan 58 persen untuk perempuan, angka ini pada tahun 2011 naik
menjadi 97 persen untuk pria dan 98 persen untuk perempuan. Dari tahun 1971 sampai dengan 2011,
persentase penduduk yang tidak pernah sekolah turun dan persentase penduduk yang tamat sekolah pada
semua jenjang pendidikan naik. Persentase penduduk yang tamat sekolah dasar naik dari 20 persen pada
tahun 1971 meningkat menjadi 29 persen pada tahun 2011, sedangkan proporsi penduduk yang tamat
sekolah menengah tingkat pertama atau pendidikan lebih tinggi naik dari 7 persen pada tahun 1971
menjadi 50 persen pada tahun 2011. Pada semua tingkat pendidikan, kemajuan dalam pendidikan
penduduk wanita lebih cepat dibandingkan penduduk pria (BPS, 1972; 2012b).
Salah satu pengaruh makin lamanya penduduk wanita bersekolah adalah meningkatnya umur perkawinan
pertama. Hasil SDKI menunjukkan median usia kawin pertama mengalami kenaikan dari 17,7 tahun pada
tahun 1991 menjadi 20,1 tahun pada 2012. Kenaikan tersebut lebih tinggi di daerah perkotaan daripada
daerah perdesaan. Kenaikan tingkat pendidikan juga memberikan peluang yang lebih besar bagi wanita
untuk berpartisipasi dalam angkatan kerja. Partisipasi angkatan kerja wanita berumur 10 tahun ke atas
naik dari 33 persen pada tahun 1971 menjadi 51 persen pada tahun 2012. Sebagian besar wanita bekerja
di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa (BPS, 2012c).
1.4. Kebijakan dan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana
Perhatian pemerintah Indonesia terhadap masalah kependudukan telah mulai sejak ditandatanganinya
deklarasi mengenai kependudukan oleh para pemimpin dunia termasuk Presiden Suharto pada tahun
1967. Dalam deklarasi tersebut dinyatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan
masalah yang harus ditanggulangi karena mengecilkan arti pembangunan dalam bidang ekonomi. Untuk
melaksanakan kebijakan kependudukan, pemerintah telah mencanangkan berbagai program, salah satunya
adalah program keluarga berencana (KB).
Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan KB telah dimulai pada tahun 1957 oleh kelompok swadaya
bernama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang bekerja di bawah naungan
International Planned Parenthood Federation (IPPF). PKBI memberikan pelayanan dan konsultasi
mengenai pengaturan kelahiran, di samping perawatan kesehatan ibu dan anak. Pada tahun 1968,
pemerintah mendirikan Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN), yang dua tahun kemudian
diubah menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), suatu lembaga nondepartemen yang bertanggungjawab langsung kepada presiden. Setelah pembentukan BKKBN,
pemerintah mempunyai komitmen politis yang kuat dalam pelaksanaan KB, dan dengan partisipasi
pemuka agama dan masyarakat menyusun berbagai program untuk memasyarakatkan keluarga berencana
di Indonesia.
Dalam waktu kurang dari tiga dasawarsa, kebijaksanaan kependudukan yang diambil pemerintah tidak
hanya berhasil menurunkan angka fertilitas menjadi separuh dari keadaan pada waktu program dimulai,
tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga. Salah satu faktor yang memberikan kontribusi yang
besar terhadap keberhasilan program KB di Indonesia adalah keberhasilan pemerintah dalam melibatkan
masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam melaksanakan program KB. Keberhasilan Program KB
Nasional telah diakui juga oleh masyarakat internasional. Pemerintah Indonesia telah menerima
penghargaan internasional untuk program KB, antara lain “United Nation Population Awards” (1987);
“Hugh Moore Memorial Award” dari Population Crisis Committee/John Hopkins University Amerika
Serikat (1989); serta “International Management Awards” dari Japan Airlines and the Asian Institute of
Management, Filipina (1994).
Sejalan dengan kesepakatan pada International Conference on Population and Development (ICPD)
tahun 1994 terjadi perubahan paradigma padaProgram KB Nasional,yaitu tidak hanya fokus pada
3
penurunan fertilitas tetapi juga pada kesehatan reproduksi dengan memperhatikan hak-hak reproduksi dan
kesetaraan gender. Kesehatan reproduksi yang diratifikasi darihasil ICPD tahun 1994 merupakan keadaan
kesehatan reproduksi secara fisik,mentaldan sosial secara menyeluruhberkaitandengan sistem,fungsidan
prosesreproduksi. Berdasarkan konsep tersebut, upaya peningkatan kesehatan reproduksimeliputi
pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi individu baik priamaupun wanita sepanjang siklus hidupnya,
termasuk hak-hak reproduksi, kesetaraan gender, serta tanggung jawab pria dalam kaitan dengan
kesehatanreproduksi keluarga.
Sesuai dengan Undang-Undang No. 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga sebagai pengganti Undang-Undang No. 10 tahun 1992, KB didefinisikan sebagai
upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan umur ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi,
perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Berdasarkan UU No.22 Tahun 1999 mengenai Pemerintahan Daerah, sistem pemerintahan berubah dari
pemerintahan yang terpusat menjadi otonomi daerah pada tingkat kabupaten/kota. Sejalan dengan era
baru ini, sejak 2004 tanggung jawab programKB juga dilimpahkan ke pemerintahan kabupaten/kota
dengan kelembagaan yang bervariasi.
Untuk mengantisipasi perubahan pada era desentralisasi, BKKBN merumuskan ulang visi, misi dan
strategi dasar program KB nasional dalam Rencana Strategis (Renstra) BKKBN tahun 2010-2014 tentang
Pembangunan Kependudukan dan Keluaga Berencana Nasional. Visi BKKBN adalah ”Penduduk
Tumbuh Seimbang 2015”. Visi ini mentargetkan angka fertilitas (TFR) menjadi 2,1 dan Net Reproduction
Rate (NRR) = 1 pada tahun 2015.
Untuk mewujudkan visi tersebut di atas, maka dirumuskan misi pembangunan kependudukan dan
keluarga berencana yaitu ”mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan
keluarga kecil bahagia sejahtera”. Misi tersebut dilakukan melalui: (1) penyerasian kebijakan
pengendalian penduduk, (2) penetapan parameter penduduk, (3) peningkatan penyediaan dan kualitas
analisis data dan informasi, (4) pengendalian penduduk dalam pembangunan kependudukan dan keluarga
berencana, serta (5) mendorong stakeholder dan mitra kerja untuk menyelenggarakan pembangunan
keluarga berencana dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja, pemenuhan hak-hak
reproduksi, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga peserta KB (BKKBN, 2011).
1.5. Kebijakan dan Program Kesehatan
Undang-Undang Kesehatan Nomor 23/1992 merupakan landasan hukum kegiatan di bidang kesehatan.
Dalam undang-undang tersebut tercantum bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Undang-Undang tersebut
menekankan desentralisasi pertanggungjawaban operasional dan kewenangan daerah sebagai syarat untuk
keberhasilan dan kelangsungan pembangunan.
Salah satu tujuan pembangunan jangka panjang tahun 2005–2025 adalah meningkatnya kualitas sumber
daya manusia, termasuk peran perempuan dalam pembangunan. Secara umum peningkatan kualitas
sumber daya manusia Indonesia ditandai dengan meningkatnya indeks pembangunan manusia (IPM) dan
indeks pembangunan gender (IPG), serta tercapainya penduduk tumbuh seimbang.
Pada tahun 1999, Departemen Kesehatan memperkenalkan paradigma baru pembangunan kesehatan yang
memfokuskan pembangunan kesehatan dan dituangkan dalam motto “Indonesia Sehat 2010”. Indonesia
sehat 2010 adalah gambaran masyarakat indonesia di masa depan yang penduduknya hidup dalam
lingkungan dan perilaku sehat,mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu,adil,dan
merata,serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
4
Untuk dapat mewujudkan Visi Indonesia Sehat 2010, ditetapkan 4 Misi Pembangunan Kesehatan sebagai
berikut:1)menggerakan pembangunan nasional berwawasan kesehatan;2)mendorong kemandirian
masyarakat untuk hidup sehat;3)memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata dan terjangkau;4)memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
beserta lingkungannya.
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 menekankan visi “Masyarakat Sehat yang Mandiri
dan Berkeadilan”. Visi ini akan dicapai misi sebagai berikut: (1) meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani, (2) melindungi
kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu,
dan berkeadilan, (3) menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan, serta (4) menciptakan
tata kelola kepemerintahan yang baik (Kemkes, 2010).
1.6. Tujuan Survei
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 adalah survei ketujuh di Indonesia di bawah
bimbingan program DHS. Survei sebelumnya adalah: Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia 1987 (SPI
1987), SDKI 1991, SDKI 1994, SDKI 1997, SDKI 2002-03, dan SDKI 2007. Sejak SDKI 2002-03,
kegiatan diperluas dengan mencakup survei terhadap pria kawin umur 15-54 tahun dan remaja pria dan
wanita umur 15-24 tahun yang belum pernah kawin. Hasil dari kedua kegiatan ini disajikan dalam laporan
yang terpisah.Berbeda dengan SDKI sebelumnya di mana yang diwawancarai adalah wanita pernah
kawin umur 15-49 tahun, maka SDKI 2012 mencakup seluruh wanita umur subur (WUS) 15-49 tahun di
rumah tangga yang terkena sampel. Selain sampel WUS, SDKI 2012 juga mewawancarai sejumlah pria
berstatus kawin umur 15-54 tahun dan remaja pria umur 15-24 tahun yang belum pernah kawin.
SDKI 2012 dirancang khusus untuk mencapai beberapa tujuan berikut:
• Menyediakan data mengenai fertilitas, keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, kematian
dewasa (termasuk kematian ibu) dan pengetahuan tentang AIDS dan PMS untuk pengelola
program, pengambil kebijakan, dan peneliti yang dapat digunakan dalam mengevaluasi dan
meningkatkan program yang ada.
• Mengukur tren angka fertilitas dan pemakaian KB, serta mempelajari faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahannya, seperti pola dan status perkawinan, daerah tempat tinggal,
pendidikan, kebiasaan menyusui, serta pengetahuan, penggunaan, serta ketersediaan alat
kontrasepsi.
• Mengukur pencapaian sasaran yang dibuat sebelumnya oleh program kesehatan nasional, dengan
fokus pada kesehatan ibu dan anak.
• Menilai partisipasi dan penggunaan pelayanan kesehatan oleh pria, juga keluarganya.
• Menciptakan data dasar yang secara internasional dapat dibandingkan dengan negara-negara lain
yang dapat digunakan oleh para pengelola program, pengambil kebijakan, dan peneliti dalam
bidang KB, fertilitas, dan kesehatan secara umum.
1.7. Organisasi Survei
SDKI 2012 dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Kementerian Kesehatan (Kemkes). Pembiayaan survei
disediakan oleh Pemerintah Indonesia. ICFInternational memberibantuan teknis melalui MEASURE
DHS, sebuah program yang didanai oleh U.S. Agency for International Development (USAID) dan
menyediakan bantuan teknis dalam pelaksanaan survei kependudukan dan kesehatan di banyak negara.
5
Tim pengarah survei dibentuk dengan anggota wakil-wakil dari BPS, BKKBN, Kemkes dan Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Tim teknis yang
beranggotakan wakil-wakil dari instansi yang sama ditambah Lembaga Demografi Universitas Indonesia.
Kepala BPS Provinsi bertanggung jawab atas segi teknis dan administratif pelaksanaan survei di
daerahnya masing-masing. Mereka dibantu oleh koordinator lapangan, yaitu Kepala Bidang Statistik
Sosial di BPS Provinsi.
1.7.1. Kuesioner
SDKI 2012 menggunakan empat macam kuesioner:kuesioner rumah tangga, kuesioner wanitaumur
subur,kuesioner pria kawin, dan kuesioner remaja pria belum pernah kawin. Kuesioner rumah tangga
maupun kuesioner WUS SDKI 2012 sebagian besar mengacu pada versi terbaru (Maret 2011)kuesioner
standar yang digunakan program DHS VI. Model kuesioner tersebut disesuaikan dengan kebutuhan di
Indonesia. Beberapa pertanyaan di kuesioner standar DHS tidak dicakup dalam SDKI 2012 karena kurang
sesuai dengan kondisi di Indonesia. Selain itu, kategori jawaban serta tambahan pertanyaan disesuaikan
dengan muatan lokal terkait program di bidang kesehatan dan keluarga berencana di Indonesia.
Kuesioner rumah tangga digunakan untuk mencatat seluruh anggota rumah tangga dan tamu yang
menginap di rumah tangga terpilih sampel malam sebelum wawancara, dan keadaan tempat tinggal rumah
tangga terpilih. Pertanyaan dasar anggota rumah tangga yang dikumpulkan adalah umur, jenis kelamin,
status perkawinan, pendidikan, dan hubungan dengan kepala rumah tangga. Keterangan mengenai tempat
tinggal yang dikumpulkan meliputi sumber air minum, jenis kakus, jenis lantai, jenis atap, jenis dinding,
dan kepemilikan aset rumah tangga. Informasi mengenai kepemilikan aset menggambarkan status sosialekonomi rumah tangga tersebut.Kegunaan utama kuesioner rumah tangga adalah untuk menentukan
responden wanita dan pria yang memenuhi syarat untuk wawancara perseorangan.
Kuesioner pria kawin (PK) digunakan untuk mengumpulkan informasi dari pria berstatus kawin umur 1554 tahun pada sepertiga jumlah sampel rumah tangga SDKI 2012. Informasi yang dikumpulkan dalam
kuesioner PK adalah:
• Latar belakang responden (status perkawinan, pendidikan, akses terhadap media massa, pekerjaan,
dan lain-lain)
• Riwayat kelahiran
• Pengetahuan dan pemakaian kontrasepsi
• Perkawinan dan sikap terhadap perempuan
• Preferensi fertilitas
• Partisipasi dalam perawatan kesehatan ibu dan anak
• Pengetahuan tentang HIV-AIDS dan IMS lainnya
• Isu kesehatan lainnya
1.7.2. Kegiatan Uji Coba
Kuesioner survei KRR 2012 dikembangkan dari format standar Demographic and Health Survey (DHS).
Sebelumpelaksanaan lapangan, kuesioner diujicobakan di Provinsi Riau dan Provinsi Nusa Tenggara
Timur (NTT) untuk memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan sudah jelas dan dapat dimengerti oleh
responden. Uji coba sangat penting agar dapat memberikan informasi perubahan cakupan dari wanita
berumur 15-49 tahun yang pernah menikah menjadi seluruh wanita berumur 15-49 tahun, sehingga ada
pertanyaan-pertanyaan baru dan perubahan pada format pertanyaan standar kuesioner DHS.
6
Dua tim uji coba kuesioner direkrut dari setiap provinsi. Survey Pilot dilaksanakan (sebagaimana yang
disebutkan sebelumnya) pada pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus 2011 di empat kabupaten
terpilih (empat perkotaan dan empat perdesaan). Wilayah yang dipilih untuk uji coba adalah Kabupaten
Pekanbaru dan Kabupaten Kampar (Provinsi Riau) dan Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah
Selatan (Provinsi NTT). Rumah tangga perdesaan dan perkotaan dipilih untuk subyek uji coba pada
semua kabupaten. Temuan dari uji coba digunakan untuk memperbaiki kuesioner.
1.7.3. Pelatihan
Sebanyak 922 orang yang terdiri dari 376 pria dan 546 wanita berpartisipasi dalam pelatihan pencacah
SDKI 2012. Pelatihan dilaksanakanpada bulan Mei 2012 selama 12 hari untuk pencacah remaja dan 7 hari
untuk pencacah pria tidak kawindi 9 pusat pelatihan (Batam, Bukittinggi, Banten, Yogyakarta, Denpasar,
Banjarmasin, Makasar, Manokwari, dan Jayapura). Pelatihan meliputi presentasi kelas, uji coba
wawancara, dan tes. Pada tiap pusat pelatihan, peserta dikelompokkan menjadi tiga jenis kelas yang
berbeda, masing-masing untuk wanita, pria kawin, dan remaja pria. Seluruh peserta dilatih dengan
menggunakan kuesioner rumah tangga dan individu.
1.7.4. Lapangan
Data SDKI 2012 dikumpulkan oleh 119 tim petugas. Satu tim terdiri dari delapan orang: 1 orang
pengawas pria, 1 orang editor wanita untuk WUS dan PK, 4 orang wanita pewawancara WUS, 1 orang
pria pewawancara PK (merangkap sebagai editor RP), dan 1 orang pria pewawancara RP.Untuk Papua
dan Papua Barat, satu tim terdiri dari dari lima orang: 1 orang pengawas pria (merangkap sebagai editor
PK dan RP), 1 orang editor WUS (wanita), 2 orang wanita pewawancara WUS dan 1 orang pria
pewawancara PK dan RP. Kegiatan lapangan berlangsung dari 7 Mei sampai 31 Juli 2012.
1.7.5. Pengolahan Data
Seluruh kuesioner SDKI 2012 yang sudah diisi termasuk lembar pengawasan dikirim ke kantor pusat BPS
di Jakarta untuk diolah. Pengolahan terdiri dari pemeriksaan isian, pemberian kode pada jawaban
pertanyaan terbuka, perekaman data, verifikasi, dan pengecekan kesalahan di komputer. Tim pengolahan
terdiri dari 42 orang editor, 58 orangperekam data, 14 orang secondary editor, dan 14 orangpengawas
perekaman data. Perekaman dan pemeriksaan data dilakukan menggunakan program komputer Census
and Survey Processing System (CSPro), yang khusus dirancang untuk mengolah data semacam SDKI.
1.8. Hasil Kunjungan
SDKI 2012 menghasilkan dua laporan yang terpisah. Laporan diperoleh dari hasil wawancara dengan
wanita 15-49 tahun dan semua pria kawin umur 15-54 tahun. Hasil wawancara dengan wanita belum
kawin dan pria belum kawian umur 15-24 tahun adalah laporan yang disajikan khusus mengenai
kesehatan reproduksi remaja (KRR) bagian dari SDKI.
Seperti halnya SDKI tahun-tahun sebelumnya, sampel SDKI 2012 dirancang untuk memperoleh angka
estimasi tingkat nasional, perkotaan dan perdesaan, dan provinsi. Tabel 1.2 adalah ringkasan dari hasil
wawancara rumah tangga dan perorangan dalam SDKI 2012, menurut daerah perkotaan dan perdesaan.
Secara umum, hasil kunjungan untuk rumah tangga dan perseorangan relatif tinggi. Dari 46.024 rumah
tangga yang terpilih dalam survei ini 44.302 rumah tangga ditemukan, dan dari jumlah tersebut 43.852
atau 99 persen rumah tangga berhasil diwawancarai. Dari rumah tangga yang diwawancarai, terdapat
47.533 wanita yang memenuhi syarat untuk diwawancarai, dan yang berhasil diwawancarai ada 45.607
wanita, menghasilkan tingkat respon sebesar 96 persen. Dari sepertiga jumlah rumah tangga, terdapat
7
10.086 pria yang memenuhi syarat untuk diwawancarai, dan yang berhasil diwawancarai ada 9.306 pria,
menghasilkan tingkat respon sebesar 92 persen. Tingkat respon pria yang lebih rendah disebabkan oleh
sering atau lamanya pria tidak berada di rumah. Secara umum, tingkat respon untuk wawancara dengan
pria kawin di daerah perdesaan lebih tinggi daripada di daerah perkotaan.
Tabel 1.2. Hasil wawancara rumah tangga dan perseorangan
Jumlah rumah tangga, jumlah kunjungan dan hasil kunjungan, menurut tempat tinggal
(tidak tertimbang), Indonesia 2012
Daerah
Hasil
Perkotaan
Perdesaan
Wawancara rumah tangga
Rumah tangga sampel
Rumah tangga ditemui
Rumah tangga diwawancarai
22.039
21.130
20.866
23.985
23.172
22.986
46.024
44.302
43.852
98,8
99,2
99,0
23.949
22.898
23.584
22.709
47.533
45.607
95,6
96,3
95,9
4.836
4.417
5.250
4.889
10.086
9.306
91,3
93,1
92,3
Hasil kunjungan1
Wawancara perseorangan wanita
Wanita yang memenuhi syarat
Wanita yang diwawancarai
Hasil kunjungan2
Wawancara perseorangan pria
Pria yang memenuhi syarat
Pria yang diwawancarai
Hasil kunjungan2
1
2
Jumlah
Rumah tangga yang diwawancarai/rumah tangga yang ditemui
Responden yang diwawancarai/responden yang memenuhi syarat
8
Karakteristik Responden Pria
2
Temuan Utama
 Responden pria didominasi oleh mereka yang berusia antara 30 hingga 44 tahun (55,3 persen), 50,9 persen
bertempat tinggal di perkotaan, 38,4 persen pendidikannya tamat SMTA ke atas, dan 62,8 persen berada
pada indeks kekayaan kuintil menengah ke atas.
 Median lama memperoleh pendidikan, pria lebih sebentar dibandingkan wanita, yaitu 7 tahun dan 8,5 tahun.
 TV merupakan media yang paling populer di kalangan pria kawin (88,3 persen), diikuti membaca surat
kabar/majalah 23,9 persen, dan radio yang didengarkan oleh 21,6 persen pria setiap minggu. Pria yang
mengakses ketiga media massa tersebut sebesar 39,2 persen, dan 1,4 persen mengaku tidak mengakses
media massa. Pola yang sama terjadi pada wanita, yaitu TV (85,9 persen), diikuti mendengarkan radio (19,3
persen), dan membaca surat kabar/majalah (13,3 persen). Secara umum pria lebih terakses media massa
dibandingkan wanita.
 Hampir semua responden pria kawin berstatus bekerja (97,6 persen), 2,4 persen tercatat bekerja setahun
yang lalu dan mengaku tidak pernah bekerja pada kurun waktu yang sama. Sebaliknya hanya sebagian
wanita yang mengaku bekerja (55,4 persen) dan selebihnya wanita mengaku tidak bekerja.
 Isteri pada umumnya (44,6 persen) memegang peran utama dalam penggunaan pengeluaran uang seharihari. Sebesar 25,7 persen keputusan suami untuk menentukan perawatan kesehatan, dan 62,8 persen
keputusan suami dan isteri dalam hal pembelian barang tahan lama.
 Suami berpendapat bahwa dirinya berhak untuk memukul isteri bila pergi tanpa ijin suami (11,8 persen), dan
jika isteri mengabaikan anak-anaknya (11,9 persen). Persentase suami yang berpendapat berhak memukul
isteri bila isteri bertengkar dengan suami dan jika isteri menolak “kumpul” dengan suami masing-masing 3,4
dan 3,1 persen. Pria kawin yang menyetujui hak suami untuk memukul isteri karena salah satu alasan
tertentu tercatat 17,3 persen. Pria usia muda, mempunyai tiga anak atau lebih, di perdesaan, tidak
berpendidikan, dan berada pada indeks kekayaan terbawah lebih setuju bila suami memukul isteri karena
salah satu alasan tertentu.
 Sebesar 70,5 persen pria kawin memiliki kebiasaan merokok, jauh lebih tinggi dari hasil SDKI 2007 (31,1
persen). Diantara pria perokok, 69,4 persen mengkonsumsi 10 batang rokok atau lebih dalam 24 jam
terakhir. Perokok banyak terjadi pada umur muda (15-19 tahun), di perdesaan, dan indeks kekayaan kuintil
terbawah (76,9 persen).
Tujuan utama bab ini adalah menyediakan beberapa data dan informasi mengenai karakteristik
kependudukan dan sosial ekonomi responden pria kawin yang dikumpulkan dari Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI 2012-Modul Pria). Bab ini menyajikan karakteristik latar belakang responden
menurut umur, daerah tempat tinggal, tingkat pendidikan, dan indeks kekayaan kuintil. Informasi yang
lebih mendalam dibahas adalah mengenai pendidikan, tingkat melek huruf dan akses terhadap media
massa. Selain itu, disajikan data ketenagakerjaan dan pendapatan pria, pengambil keputusan dalam rumah
tangga, dan sikap pria mengenai kedudukannya dalam rumah tangga.
2.1. Karakteristik Responden Survei
Tabel 2.1 menyajikan distribusi pria kawin umur 15-54 tahun yang diwawancarai dalam SDKI 2012-pria
menurut beberapa karakteristik latar belakang yang mencakup umur, daerah tempat tinggal, tingkat
pendidikan, dan indeks kekayaan kuintil.
9
Data dalam survei memperlihatkan
bahwa responden pria didominasi oleh
mereka yang berusia antara 30 hingga
44 tahun (55,3 persen), dan kurang
dari satu persen yang berusia kurang
dari 20 tahun. Dari seluruh responden
pria kawin 50,9 persen bertempat
tinggal di wilayah perkotaan. Ditinjau
dari segi pendidikan, 2,9 persen dari
pria kawin tidak pernah mendapatkan
pendidikan formal, 22,8 persen telah
menyelesaikan pendidikan sekolah
dasar,
sedangkan
pria
yang
berpendidikan SMTA atau lebih tinggi
sekitar 38,4 persen. Dibandingkan
dengan hasil SDKI 2007, pria yang
tidak sekolah mengalami penurunan,
yaitu 4,9 persen (SDKI 2007) menjadi
2,9 persen (SDKI 2012).
Bila diperhatikan menurut kuintil
kekayaan, hampir dua pertiga pria
kawin (62,8 persen) berada pada
kuintil kekayaan menengah ke atas,
sedangkan lainnya berada pada kuintil
kekayaan terbawah (17,1 persen) dan
menengah bawah (20,0 persen).
Tabel 2.1. Karakteristik latar belakang responden
Distribusi persentase pria kawin menurut karakteristik latar belakang
responden, Indonesia 2012
Jumlah pria kawin
Karakteristik
Persen
Tidak
Tertimbang
latar belakang
tertimbang
tertimbang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
0,3
3,7
12,1
18,0
19,1
18,2
14,7
13,9
28
345
1.127
1.674
1.775
1.693
1.371
1.292
37
398
1.195
1.685
1.745
1.712
1.322
1.212
50,9
49,1
4.739
4.567
4.417
4.889
2,9
14,7
22,8
21,3
38,4
265
1.371
2.118
1.979
3.572
270
1.394
1.791
2.123
3.728
17,1
20,0
21,6
21,1
20,1
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
2.319
1.920
1.786
1.700
1.581
100,0
9.306
9.306
2.2. Tingkat Pendidikan
Tabel 2.2 menyajikan distribusi persentase responden menurut pendidikan tertinggi yang pernah diduduki
atau ditamatkan berdasarkan umur, daerah tempat tinggal dan indeks kekayaan kuintil. Secara umum
tingkat pendidikan pria kawin hasil SDKI 2012 lebih baik dibandingkan SDKI 2007. Hasil SDKI 2012
menunjukkan bahwa pria kawin terbanyak berpendidikan tamat SMTA (26,4 persen), sedangkan hasil
SDKI 2007 pria kawin terbanyak berpendidikan tamat SD (26,7 persen). Sebaliknya persentase pria yang
berpendidikan SMTA atau lebih hanya mencapai 12 persen. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan hasil
SDKI 2007, yaitu sekitar 9,1 persen. Di sisi lain pria yang mengaku tidak pernah mendapatkan
pendidikan formal tercatat sebesar 2,9 persen.
Pria muda lebih memperoleh pendidikan formal di sekolah dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pria berusia lebih tua. Distribusi responden pria yang tidak sekolah atau tidak tamat
SD ke bawah meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Pola sebaliknya terjadi di kalangan pria
yang berpendidikan tinggi. Sebagai contoh, pria kawin usia 20-24 tahun yang tidak pernah sekolah hanya
1,8 persen, dibandingkan dengan 7,1 persen pada pria berusia 50-54 tahun. Selain itu, sekitar 33,9 persen
pria usia 20-24 tahun tidak berhasil menamatkan SMTA-nya, dibandingkan dengan 12,9 persen pada pria
berusia 45-49 tahun dan 11,8 persen pada pria berusia 50-54 tahun untuk hal yang sama. Di sisi lain,
hanya 12 persen pria kawin usia 50-54 tahun yang berhasil menamatkan sekolah menengah atas,
sementara pada mereka yang berusia 20-24 tahun tercatat hampir tiga kali lipat yaitu 33,9 persen.
10
Tabel 2.2.1. Tingkat pendidikan menurut karakteristik latar belakang: Pria
Distribusi persentase pria kawin menurut tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diduduki atau diselesaikan, dan median lamanya
tahun sekolah, menurut umur, tempat tinggal dan indeks kekayaan kuintil, Indonesia 2012
Karakteristik latar
belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat Tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan
Tidak
Tidak
Tidak
Tamat
tamat
Tamat
sekolah
tamat SD
SD1)
SMTA
SMTA2)
SMTA+
Jumlah
Median
(tahun)
Jumlah
responden
*
1,8
1,5
1,2
1,8
2,0
4,8
7,1
*
8,1
6,5
8,5
10,2
11,3
24,7
31,6
*
16,5
21,0
21,5
24,1
22,6
21,8
27,1
*
33,9
28,6
25,8
20,9
23,3
12,9
11,8
*
33,9
33,3
29,3
30,6
27,5
22,2
12,0
5,7
9,1
13,7
12,5
13,3
13,5
10,3
100
100
100
100
100
100
100
100
6,5
8,2
7,9
7,4
7,3
7,0
5,8
28
345
1127
1674
1775
1693
1371
1292
1,4
4,4
9,2
20,4
16,3
29,4
20,2
22,4
34,9
17,5
18,0
5,8
100
100
7,3
6,4
4739
4567
7,8
2,6
2,3
1,7
0,7
24,9
22,3
14,5
10,4
3,3
32,2
32,0
27,5
15,8
7,7
23,0
24,9
26,5
21,3
10,5
10,4
15,8
24,1
38,8
39,8
1,7
2,4
5,1
11,9
37,9
100
100
100
100
100
5,9
6,7
7,4
8,1
7,0
1596
1866
2008
1962
1875
2,9
14,7
22,8
21,3
26,4
12,0
100
7,0
9306
*) Estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan
1) Menamatkan/menyelesaikan tingkat 6 pada Sekolah Dasar (SD)
2) Menamatkan/menyelesaikan tingkat 3 pada Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA)
Data SDKI 2012 juga menunjukkan bahwa kesempatan mendapatkan pendidikan bervariasi di antara
responden menurut daerah tempat tinggal. Pria yang tinggal di perkotaan cenderung memperoleh
pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang tinggal di perdesaan. Tercatat 1,4 persen pria
perkotaan tidak pernah sekolah dibandingkan dengan 4,4 persen yang tinggal di perdesaan. Median lama
tahun sekolah pria perkotaan juga relatif lebih lama dibandingkan dengan pria perdesaan (7,3 tahun
berbanding 6,4 tahun). Bila dikaitkan dengan kuintil kekayaan, pola yang terjadi agak beragam. Pada pria
yang berhasil menamatkan SMTA nya dan pria yang berhasil menduduki tingkat pendidikan yang lebih
tinggi terlihat mempunyai pola hubungan dengan kuintil kekayaan. Di kalangan pria yang tergolong
memiliki kuintil kekayaan terbawah tercatat hampir 1,7 persen yang berhasil menduduki jenjang
pendidikan tamat pendidikan SMTA atau lebih. Sementara pada pria yang tergolong memiliki kuintil
kekayaan teratas, untuk hal yang sama mencapai 37,9 persen. Di lain pihak, pola yang terjadi pada pria
dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah nampak menunjukkan pola sebaliknya. Semakin rendah
kuintil kekayaan, semakin tinggi proporsi pria yang hanya berhasil menamatkan sekolah dasar,
berpendidikan tidak tamat SD, dan yang tidak sekolah.
Secara umum kesempatan mendapatkan pendidikan baik pria maupun wanita sudah setara, meskipun
kesempatan tersebut lebih terlihat pada pria dan wanita di perkotaan dibandingkan dengan mereka yang di
perdesaan. Median lama tahun sekolah wanita di perkotaan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan
pria di perkotaan. Wanita di perkotaan menamatkan sekolah lebih lama dibandingkan pria di perkotaan
(10,1 tahun berbanding 7,3 tahun). Proporsi terbesar untuk tingkat pendidikan yang ditamatkan baik pria
maupun wanita di perkotaan adalah tamat SMTA (34,9 persen dan 30,7 persen). Pola hubungan antara
indeks kuintil kekayaan dengan pendidikan pada wanita sama dengan pria. Semakin rendah kuintil
kekayaan, semakin tinggi proporsi wanita yang hanya berhasil menamatkan sekolah dasar, berpendidikan
tidak tamat SD, dan yang tidak sekolah.
11
Tabel 2.2.2. Tingkat pendidikan menurut karakteristik latar belakang: Wanita
Distribusi persentase wanita umur 15-49 tahun menurut tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diduduki atau diselesaikan, dan
median lamanya tahun sekolah, menurut karakterisktik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
Tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan
Tidak
Tamat
tamat
Tamat
Tidak
Tidak tamat
SD1
SMTA
SMTA2
SMTA+3
sekolah
SD
Jumlah
Median
(tahun)
Jumlah
responden
0,7
1,4
1,6
2,0
2,6
5,5
11,0
2,6
4,5
5,8
8,9
11,5
16,9
28,4
7,6
16,0
20,9
26,6
30,8
30,7
25,9
62,8
26,5
26,8
23,7
21,4
16,8
13,1
20,3
29,7
29,6
25,2
22,6
21,1
13,5
6,0
21,9
15,2
13,6
11,1
9,0
8,2
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
9,0
11,1
8,8
8,5
8,1
5,9
5,4
6.927
6.305
6.959
6.876
6.882
6.252
5.407
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
1,6
5,2
7,1
14,6
16,2
29,4
26,9
29,2
30,7
15,4
17,6
6,2
100,0
100,0
10,1
6,2
23.805
21.802
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
9,8
4,1
2,1
1,4
0,6
21,5
15,3
10,3
6,4
2,8
31,6
29,5
25,4
19,7
9,4
25,9
30,8
32,2
29,5
21,8
9,4
16,3
22,6
30,4
34,4
2,0
4,0
7,3
12,7
31,1
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
5,6
6,4
8,4
8,9
11,4
7.767
8.784
9.243
9.743
10.071
Jumlah
3,3
10,7
22,5
28,0
23,4
12,2
100,0
8,5
45.607
1
2
3
Menamatkan/menyelesaikan kelas 6 pada Sekolah Dasar (SD).
Menamatkan/menyelesaikan kelas 3 pada Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA).
SMTA+ adalah: Diploma, S1/S2/S3
2.3. Kemampuan Membaca
Kemampuan membaca merupakan salah satu modal penting bagi seorang pria dalam meraih berbagai
kesempatan dalam hidupnya. Informasi mengenai distribusi penduduk menurut kemampuan membaca
membantu perencana dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana dalam pencapaian sasaran terhadap
pesan-pesan program. Dalam SDKI 2012, seseorang dikatakan melek huruf jika ia mampu membaca
sebagian atau seluruh kalimat pada kartu dalam suatu bahasa yang diperlihatkan pewawancara kepada
responden. Pertanyaan-pertanyaan untuk menilai melek huruf hanya ditanyakan kepada responden yang
tidak bersekolah atau yang tidak tamat Sekolah Dasar. Responden yang pernah duduk di bangku sekolah
menengah dianggap dapat membaca.
Tabel 2.3.1. memperlihatkan bahwa tingkat melek huruf di Indonesia cukup tinggi, pada pria kawin telah
mencapai 93,2 persen, dan hanya 6,2 persen yang tidak mampu membaca sama sekali. Tingkat melek
huruf hasil SDKI 2012 ada sedikit peningkatan dibandingkan SDKI 2007 (90,7 persen). Semakin muda
umur pria, semakin banyak proporsi pria yang mampu membaca. Sebagai perbandingan, tercatat 96,4
persen pria pada kelompok umur 20-24 tahun dilaporkan melek huruf, dibandingkan dengan 85,2 persen
pria pada kelompok umur 45-49 tahun. Tingkat melek huruf nampak berbeda menurut tempat tinggal dan
indeks kekayaan kuintil. Sebagaimana diduga pria perkotaan lebih banyak yang melek huruf
dibandingkan dengan pria di perdesaan (95 persen berbanding 87,4 persen). Di sisi lain, tingkat melek
huruf pada pria dengan kuintil kekayaan teratas mencapai 97,8 persen, persentase ini semakin berkurang
pada pria dengan kuintil kekayaan yang lebih rendah.
12
Tabel 2.3.1. Kemampuan membaca: Pria
Distribusi persentase pria kawin menurut tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diduduki atau diselesaikan dan tingkat melek
huruf, menurut umur, tempat tinggal, dan indeks kekayaan kuintil, Indonesia 2012
Karakteristik
Latar Belakang
SMTA+
Bisa baca
seluruh
kalimat
Tidak sekolah atau Sekolah Dasar (SD)
Bisa baca
Tidak bisa
Buta/
sebagian
baca sama
gangguan
kalimat
sekali
pengliatan
Jumlah
Jumlah
responden
Persentase
melek
huruf1
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
*
73,7
71,3
69,3
64,5
64,6
49,2
34,5
*
19,1
23,9
25,1
28,3
27,4
31,5
38,6
*
*
2,2
2,7
3,6
3,6
6,3
9,3
*
*
2,6
2,9
3,5
4,0
11,7
14,8
*
*
*
*
0,1
0,4
1,3
2,8
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
28
345
1127
1674
1775
1693
1371
1292
*
96,4
95,7
96,4
94,3
91,5
85,2
76,6
Perkotaan
Perdesaan
Kuintil kekayaan
73,3
46,4
20,1
37,4
2,6
6,4
3,6
8,8
0,3
1,0
100,0
100,0
4739
4567
95,0
87,4
36,0
43,4
56,5
72,3
88,3
40,1
40,1
33,1
21,5
10,1
8,7
6,5
4,7
2,6
0,5
14,1
9,2
5,2
3,0
0,8
1,2
0,8
0,5
0,6
0,3
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
1596
1866
2008
1962
1875
81,6
84,9
91,8
96,3
97,8
60,1
28,6
4,5
6,2
0,7
100,0
9306
93,2
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
*) Estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan
1
Merujuk pada responden yang pernah duduk di SLTP atau lebih tinggi dan responden bisa membaca sebagian atau seluruh kalimat
Tabel 2.3.2 Kemampuan membaca: Wanita
Distribusi persentase wanita umur 15-49 tahun menurut tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diduduki atau diselesaikan dan tingkat
melek huruf, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
SMTA+
1
Tidak sekolah atau Sekolah Dasar (SD)
Bisa
Bisa baca
membaca
Tidak bisa
Buta/
seluruh
sebagian
baca sama gangguan
kalimat
kalimat
sekali
penglihatan
Jumlah
Jumlah
responden
Persentase
melek
huruf 2
15-24
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
Daerah tempat tinggal
83,9
89,1
78,1
71,6
62,5
55,1
47,0
34,8
12,7
8,4
17,4
22,0
29,0
32,2
33,8
29,6
1,2
0,9
1,5
2,5
3,9
5,8
7,4
12,2
1,9
1,3
2,5
3,4
4,0
5,9
10,5
20,7
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,2
0,6
1,7
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
13.232
6.927
6.305
6.959
6.876
6.882
6.252
5.407
97,8
98,4
97,1
96,1
95,3
93,1
88,2
76,6
Perkotaan
Perdesaan
Kuintil kekayaan
75,2
50,9
18,2
31,2
2,5
6,9
3,4
9,8
0,2
0,4
100,0
100,0
23.805
21.802
95,9
89,0
37,2
51,1
62,2
72,5
87,3
35,5
32,0
27,7
20,8
9,9
9,1
6,4
4,4
3,0
1,4
17,0
9,3
4,8
2,7
1,0
0,5
0,5
0,3
0,3
0,1
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
7.767
8.784
9.243
9.743
10.071
81,8
89,5
94,3
96,3
98,6
63,5
24,4
4,6
6,5
0,3
100,0
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
1
2
45.607
92,6
SMTA+ adalah: Diploma, S1/S2/S3.
Merujuk pada responden yang pernah duduk di sekolah lanjutan pertama atau lebih tinggi dan responden yang bisa membaca
sebagian atau seluruh kalimat.
13
Tabel 2.3.1 dan 2.3.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden baik pria dan wanita mampu
membaca. Persentase wanita yang mampu membaca hampir sama dengan pria yaitu masing-masing 92,6
dan 93,2 persen. Persentase wanita yang tidak dapat membaca sama dengan pria, yaitu 6,5 persen dan 6,2
persen. Terdapat keragaman dalam kemampuan membaca menurut daerah tempat tinggal dan kuintil
kekayaan, di mana responden perkotaan dan responden dengan kuintil kekayaan teratas lebih memiliki
kemampuan membaca, bahkan hampir semua wanita dan pria dengan kuintil kekayaan teratas mampu
membaca (98,6 persen dan 97,8 persen).
2.4. Akses Terhadap Media Massa
Peran media massa sangatlah penting dalam upaya menyebarluaskan berbagai informasi. Masyarakat
yang kurang terpapar dengan media massa pada umumnya juga mempunyai keterbatasan pengetahuan
mengenai segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya. Informasi mengenai keterpaparan media ini
penting untuk perencanaan program dalam rangka untuk penyebarluasan informasi khususnya yang
berkaitan dengan keluarga berencana dan kesehatan. Di dalam SDKI 2012 juga dikumpulkan informasi
tentang akses responden pria terhadap berbagai media massa. Kepada responden ditanya frekwensi
mereka membaca surat kabar atau majalah, mendengarkan radio, atau menonton televisi dalam seminggu.
Informasi ini bermanfaat dalam menentukan jenis media untuk menyebarkan informasi mengenai
program keluarga berencana dan kesehatan bagi masyarakat yang menjadi sasaran program. Hal ini juga
penting untuk mengetahui kemungkinan cakupan keterpaparan responden dengan media massa.
Tabel 2.4.1. Akses terhadap media massa: Pria
Persentase pria berstatus kawin yang biasanya membaca surat kabar paling sedikit sekali seminggu, menonton TV paling sedikit sekali
seminggu, dan mendengarkan radio paling sedikit sekali seminggu, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Membaca surat kabar/
Menonton TV
Mendengarkan radio
Akses terhadap
Tidak ada akses
Karakteristik latar
majalah paling sedikit
paling sedikit
paling sedikit sekali
ketiga media
terhadap ketiga
Jumlah
belakang
sekali seminggu
sekali seminggu
seminggu
massa
media massa
responden
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
25,8
19,6
20,2
24,4
25,2
26,1
24,1
22,8
84,8
87,0
87,4
89,2
88,8
89,7
85,8
88,3
14,2
28,5
22,3
21,3
22,1
18,5
23,4
21,1
27,8
44,0
40,5
42,5
43,0
40,8
34,3
30,6
2,1
1,0
1,8
1,6
1,4
1,4
1,2
1,1
28
345
1.127
1.674
1.775
1.693
1.371
1.292
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
32,9
13,9
92,6
83,8
23,9
19,2
49,0
28,9
0,6
2,2
4.739
4.567
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil Kekayaan
18,6
4,4
9,3
14,5
43,0
62,2
80,0
86,1
90,6
93,4
13,1
15,7
20,6
22,6
24,5
3,9
10,4
28,2
39,0
59,4
0,8
2,4
2,4
1,4
0,5
265
1.371
2.118
1.979
3.572
8,4
10,4
18,3
26,8
50,0
68,9
87,0
92,7
94,7
94,5
15,8
16,8
21,7
24,3
28,3
21,7
26,2
34,7
46,3
64,4
4,5
1,6
0,8
0,1
0,5
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
23,9
88,3
21,6
39,2
1,4
9.306
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Tabel 2.4.1 menyajikan persentase pria kawin yang terpapar media masa menurut umur, tempat tinggal,
jenjang pendidikan dan kuintil kekayaan. Tabel memperlihatkan bahwa TV merupakan media yang paling
populer di kalangan pria kawin (88,3 persen), diikuti membaca surat kabar/majalah oleh 23,9 persen pria
14
kawin, dan oleh radio yang didengarkan oleh 21,6 persen pria setiap minggu. Informasi hasil SDKI 2012
berbeda dengan SDKI 2007, yaitu pada SDKI 2007, persentase pria yang membaca surat kabar atau
majalah paling sedikit seminggu sekali (23,8 persen) tercatat lebih rendah dibandingkan dengan
mendengarkan radio (32 persen). Secara keseluruhan, pria yang memiliki akses terhadap ketiga media
massa mencapai 39,2 persen. Persentase ini meningkat dari hasil SDKI 2007, yaitu sekitar 9,8 persen.
Menurut umur, kebiasaan menonton televisi paling sedikit sekali seminggu terlihat cukup merata di
semua kelompok umur, yaitu sekitar 84,8 hingga 89,7 persen. Bahkan pada pria berusia 50-54 tahun
mencapai 88,3 persen. Kebiasaan mendengarkan radio paling sedikit sekali seminggu juga cukup merata
disemua kalangan pria, tetapi paling banyak dilakukan oleh pria usia 20-24 tahun (28,5 persen).
Sebagaimana diduga, pria di perkotaan lebih banyak terpapar dengan surat kabar/majalah, TV, maupun
radio, dan lebih banyak terakses dengan ketiga media massa tersebut dibandingkan dengan rekanrekannya yang tinggal di perdesaan. Perbedaan yang mencolok dapat dilihat dalam hal kebiasaan
membaca surat kabar/majalah. Pria di perkotaan terbiasa membaca surat kabar/majalah paling sedikit
seminggu sekali (32,9 persen), sedang kebiasaan serupa hanya dilakukan oleh sekitar 13,9 persen pria di
perdesaan.
Kebiasaan pria menonton TV ataupun mendengarkan radio terlihat semakin meningkat sejalan dengan
makin tingginya jenjang pendidikan pria. Sebagai ilustrasi, di kalangan pria yang tidak sekolah, tercatat
hanya sekitar 62,2 persen yang mempunyai kebiasaan menonton TV, dan 13,1 persen yang mendengarkan
radio, sementara kebiasaan pria berpendidikan SMTA atau lebih tinggi untuk masing-masing media
adalah 93,4 persen untuk menonton TV, dan 24,5 persen untuk mendengarkan radio. Perbedaan yang
sangat nyata juga terlihat pada pria yang akses terhadap ketiga media massa, pria tidak sekolah yang
terpapar dengan ketiga media tercatat sangat sedikit (3,9 persen), sementara pada pria berpendidikan
SMTA keatas mencapai 59,4 persen. Berbeda dengan kebiasaan pria kawin dalam membaca surat
kabar/majalah ternyata 18,6 persen pada mereka yang tidak sekolah. Sedangkan hasil SDKI 2007
kebiasaan tersebut hanya sekitar 2,2 persen.
Semakin rendah indeks kekayaan kuintil seorang pria, semakin rendah keterpaparan mereka terhadap
surat kabar/majalah, TV maupun radio serta keterpaparan mereka terhadap ketiga media massa. Sebagai
contoh, kebiasaan membaca surat kabar/majalah mencapai puncaknya pada pria yang tergolong memiliki
indeks kekayaan teratas (50 persen), sementara di kalangan pria yang tergolong memiliki indeks
kekayaan terbawah hanya 8,4 persen yang melakukan kegiatan serupa.
Wanita dan pria lebih memiliki akses terhadap TV dibandingkan dengan kedua jenis media lainnya. Hasil
survei memperlihatkan bahwa pendidikan dan status kekayaan baik wanita maupun pria berhubungan erat
dengan akses terhadap media massa. Pria (93,4 persen) dan wanita (90,6 persen) yang berpendidikan
SMTA atau lebih tinggi memiliki akses lebih terhadap TV, dibandingkan dengan 62,2 persen dan 57,8
persen untuk masing-masing wanita dan pria dengan pendidikan tidak sekolah. Secara umum, pria
memiliki akses yang lebih besar terhadap media massa dibandingkan wanita, perbedaan ini dapat terlihat
pada semua karakteristik latar belakang.
15
Tabel 2.4.2. Akses terhadap media massa: wanita
Persentase wanita umur 15-49 tahun yang mempunyai akses terdahap media massa tertentu dalam seminggu, menurut karakteristik latar
belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Membaca surat kabar/
majalah paling sedikit
sekali seminggu
Menonton TV
paling sedikit
sekali seminggu
Mendengarkan radio Akses terhadap Tidak ada akses
ketiga media
terhadap ketiga
paling sedikit sekali
massa
media massa
seminggu
Jumlah
responden
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
Daerah tempat tinggal
16,6
14,9
12,1
13,4
13,4
11,8
10,0
86,8
86,4
86,5
87,7
85,8
84,5
82,6
26,9
22,9
18,6
17,6
17,3
16,0
15,2
6,8
6,0
4,1
4,6
4,9
3,9
3,2
9,4
10,9
11,5
10,3
12,1
13,5
15,5
6.927
6.305
6.959
6.876
6.882
6.252
5.407
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
18,7
7,3
89,8
81,6
22,0
16,5
6,9
2,6
7,6
16,2
23.805
21.802
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
Tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
0,3
1,8
4,1
10,4
17,8
41,6
57,8
78,0
83,1
88,2
90,9
90,6
8,2
11,1
15,9
20,9
23,1
25,1
0,2
0,7
1,6
4,0
7,1
13,2
41,2
20,3
14,8
9,4
6,6
5,7
1.500
4.870
10.254
12.753
10.677
5.552
3,9
6,9
9,2
15,4
27,7
64,6
85,5
89,9
92,1
93,0
13,6
17,0
19,7
20,6
24,3
1,4
2,3
3,3
5,6
10,4
31,6
12,2
7,9
6,2
4,9
7.767
8.784
9.243
9.743
10.071
13,3
85,9
19,3
4,9
11,7
45.607
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Catatan: SMTA+ adalah: Diploma, S1/S2/S3.
2.5. Ketenagakerjaan
2.5.1. Status Pekerjaan
Responden pria SDKI 2012 juga ditanya sejumlah pertanyaan guna mendapatkan data status pekerjaan
pada saat survei dan keberlangsungan pekerjaan mereka selama dua belas bulan sebelum pelaksanaan
survei. Tabel 2.5.1 dan Gambar 2.1 memperlihatkan bahwa hampir semua responden pria kawin pada saat
wawancara berstatus bekerja (97,6 persen), sedangkan pria yang bekerja dalam 12 bulan terakhir dan
yang mengaku tidak pernah bekerja sama sekali pada periode yang sama, masing-masing hanya satu
persen. Tabel 2.5.1 memperlihatkan bahwa pria yang berstatus bekerja terlihat merata di semua kelompok
umur, namun nampak sedikit lebih tinggi pada pria yang berusia 30-44 tahun (98,7 persen). Di sisi lain,
hampir tidak ada hubungan antara status pekerjaan pria dengan jumlah anak masih hidup yang dimiliki.
Menurut daerah tempat tinggal, terlihat bahwa persentase antara pria di perkotaan maupun di perdesaan
yang berstatus bekerja relatif sama yaitu 97,4 dan 97,8 persen. Sementara itu, berdasarkan tingkat
pendidikan maupun indeks kekayaan kuintil nampaknya hampir tidak ada perbedaan yang berarti antara
pria yang tidak sekolah dengan pria berpendidikan tinggi, dan antara pria yang tergolong memiliki indeks
kekayaan terbawah dengan yang memiliki indeks kekayaan teratas dalam hal status pekerjaan.
16
Gambar 2.1. Status bekerja pria umur 15-54 tahun
(dalam 12 bulan terakhir), Indonesia 2012
Tabel 2.5.1. Status pekerjaan pria
Distribusi persentase pria kawin menurut status pekerjaan dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
Tidak bekerja dalam
12 bulan terakhir
Bekerja dalam 12 bulan terakhir
Sekarang
Sekarang
sedang tidak
sedang
bekerja
bekerja
Jumlah
Jumlah
responden
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Jumlah anak masih hidup
*
1,2
0,5
0,1
0,9
0,4
0,6
2,0
*
0,6
1,8
1,2
1,5
1,7
1,9
2,3
*
98,1
97,7
98,7
97,6
97,9
97,5
95,6
100
100
100
100
100
100
100
100
28
345
1.127
1.674
1.775
1.693
1.371
1.292
0
1-2
3-4
4+
Daerah tempat tinggal
1,0
0,8
0,4
1,1
1,2
1,8
1,3
2,2
97,8
97,4
98,2
96,7
100
100
100
100
888
3.935
3.101
1.382
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
0,9
0,6
1,7
1,6
97,4
97,8
100
100
4.739
4.567
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
TamatSD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Indeks Kekayaan Kuintil
2,8
0,3
1,0
1,0
0,5
1,4
2,4
2,1
1,8
1,0
95,8
97,3
96,9
97,2
98,5
100
100
100
100
100
265
1.371
2.118
1.979
3.572
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
1,2
0,5
0,9
0,7
0,5
2,0
1,8
2,0
1,6
0,8
96,8
97,7
97,1
97,6
98,8
100
100
100
100
100
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
0,8
1,6
97,6
100
9.306
Jumlah
*) Estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan/tidak ditampilkan.
17
Tabel 2.5.2. Status pekerjaan: Wanita
Distribusi persentase wanita umur 15-49 menurut status pekerjaan dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
Bekerja dalam 12 bulan terakhir
Sekarang
Sekarang
Tidak bekerja dalam
sedang tidak
sedang
12 bulan terakhir
bekerja
bekerja1
Jumlah
Jumlah
responden
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
Status perkawinan
65,3
41,3
38,2
36,2
33,0
27,4
27,0
5,7
10,1
7,6
5,0
4,9
3,3
3,2
29,0
48,6
54,2
58,7
62,1
69,2
69,8
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
6.927
6.305
6.959
6.876
6.882
6.252
5.407
Tidak kawin
Kawin atau hidup bersama
Cerai hidup/cerai mati
Jumlah anak masih hidup
50,5
36,7
19,3
5,5
5,9
5,2
44,0
57,4
75,5
100,0
100,0
100,0
9.919
33.465
2.223
0
1-2
3-4
5+
Daerah tempat tinggal
45,8
37,4
34,3
30,8
7,4
5,6
4,4
3,2
46,8
57,0
61,3
65,9
100,0
100,0
100,0
100,0
12.896
21.465
9.053
2.193
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
40,1
37,5
5,4
6,1
54,5
56,4
100,0
100,0
23.805
21.802
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
Tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
20,6
30,3
36,2
50,1
40,1
27,9
4,4
5,8
5,7
5,9
6,2
4,9
74,9
63,9
58,0
44,0
53,7
67,2
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
1.500
4.870
10.254
12.753
10.677
5.552
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
34,6
40,3
41,5
39,8
37,5
6,2
6,7
6,7
5,5
3,9
59,1
52,9
51,8
54,7
58,6
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
7.767
8.784
9.243
9.743
10.071
38,8
5,8
55,4
100,0
45.607
Jumlah
1
"Sekarang sedang bekerja" didefinisikan sebagai mempunyai pekerjaan dalam seminggu terakhir. Termasuk mereka yang tidak bekerja
dalam seminggu terakhir tetapi biasanya bekerja dan termasuk mereka yang tidak masuk bekerja karena sedang bepergian, sakit, liburan
atau alasan lain.
SMTA+ adalah: Diploma, S1/S2/S3.
Seperti halnya pria, wanita berstatus bekerja hampir merata di semua kelompok umur. Bagi pria, bekerja
merupakan kewajiban sehingga terlihat tidak ada hubungan antara jumlah anak dengan status bekerja.
Bagi wanita, jumlah anak menentukan status bekerja mereka. Sebesar 66 persen wanita dengan jumlah
anak lebih dari 5 anak berstatus bekerja. Kebutuhan hidup akan semakin meningkat dikarena jumlah anak
yang banyak. Hal tersebut serupa dengan Ratna P. Tjaja (2000), yang menyatakan bahwa banyak wanita
yang bekerja dikarenakan desakan ekonomi dan merebaknya pengangguran. Pernyataan tersebut sejalan
dengan tingginya persentase wanita berstatus bekerja antara 44 persen hingga 74,9 persen pada
karakteristik daerah tempat tinggal, pendidikan, dan indeks kekayaan kuintil.
Terlihat bahwa wanita kelompok usia sekolah 15-19 tahun harus bekerja sebanyak 29 persen untuk
memenuhi kebutuhan ekonominya. Tiga diantara empat wanita yang cerai hidup/cerai mati juga harus
bekerja, dan memprihatinkan 75 persen wanita yang bekerja ternyata tidak berpendidikan dan 59 persen
berada pada kuintil kekayaan terbawah.
18
2.5.2. Jenis Pekerjaan Pria
Tabel 2.5.3 menyajikan distribusi persentase pria kawin yang bekerja dalam 12 bulan sebelum survei
menurut jenis pekerjaan dan karakteristik latar belakang. Gambaran umum memperlihatkan, 25 persen
pria kawin menyatakan bekerja sebagai tenaga usaha pertanian, dan 35,3 persen bekerja sebagai tenaga
produksi. Pria yang mengaku bekerja di sektor non pertanian, terbanyak bekerja di bidang tenaga jasa dan
usaha penjualan (19,8 persen), berikutnya bekerja sebagai tenaga profesional/teknisi (7,6 persen).
Selebihnya, 4,7 persen pria mengaku bekerja di bidang tata usaha.
Sebagaimana gambaran yang dihasilkan dari SDKI 2012, pria usia tua memiliki anak lebih dari satu,
bertempat tinggal di perdesaan dan berpendidikan rendah atau tidak sekolah, serta memiliki kuintil
kekayaan menengah ke bawah, cenderung lebih banyak bekerja di sektor pertanian. Sebagai salah satu
contoh, hubungan antara tingkat pendidikan dengan pekerjaan pria di bidang pertanian. Pria kawin yang
tidak sekolah bekerja di sektor pertanian (51,6 persen), persentase ini turun menjadi 42,6 persen untuk
pria yang tidak berhasil menamatkan sekolah dasar, mengalami penurunan menjadi 33,9 persen untuk pria
yang berpendidikan tamat SD, dan semakin turun hingga tingal 10,5 persen pada pria yang berpendidikan
SMTA keatas.
Tabel 2.5.3. Jenis pekerjaan pria
Distribusi persentase pria kawin yang bekerja dalam 12 bulan sebelum survei menurut jenis pekerjaan dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Profesi
onal,
teknisi
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
*
20-24
2,8
25-29
6,7
30-34
7,7
35-39
6,6
40-44
9,3
45-49
9,0
50-54
7,3
Jumlah anak masih hidup
0
7,4
1-2
7,3
3-4
8,5
4+
6,4
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
10,7
Perdesaan
4,3
Pendidikan
Tidak sekolah
0,8
Tidak tamat SD
0,4
Tamat SD
0,7
Tidak tamat SMTA
1,9
SMTA+
18,1
Kuintil kekayaan
Terbawah
1,1
Menengah bawah
2,3
Menengah
4,0
Menengah atas
8,2
Teratas
21,5
Jumlah
7,6
Kepemim
pinan,
ketatalak
sanaan
Pejabat
Perlaksana
dan Tata
Usaha
Tenaga
Usaha
Penjualan
Tenaga
Usaha
Jasa
*
0,2
2,7
1,8
1,8
2,3
2,4
2,8
*
1,3
3,8
6,3
5,6
4,6
4,5
3,7
*
15,8
13,4
12,2
13,5
12,3
11,7
11,2
*
12,5
5,2
9,4
7,4
6,4
6,6
7,1
1,9
2,0
2,6
1,7
3,2
4,9
4,8
5,0
16,6
12,2
12,8
10,4
2,8
1,5
6,8
2,5
0,0
0,1
0,7
1,1
4,6
Tenaga
Usaha
Pertanian
Tenaga
Produksi
Lainya
Tidak
Tahu
41,9
24,5
20,3
21,6
23,6
23,3
29,0
33,0
51,2
37,5
42,5
35,2
35,2
36,4
31,8
30,6
*
5,5
5,4
5,8
6,3
5,5
5,0
4,2
*
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,1
100
100
100
100
100
100
100
100
28
341
1.122
1.671
1.759
1.685
1.362
1.265
8,2
7,6
6,4
8,0
26,3
24,2
23,9
28,5
31,1
36,1
36,0
34,1
5,3
5,7
5,0
5,7
0,0
0,0
0,0
0,1
100
100
100
100
879
3.902
3.086
1.366
17,0
7,9
10,5
4,0
7,8
42,7
37,0
33,5
7,3
3,5
0,0
0,0
100
100
4.694
4.539
3,2
0,0
0,6
1,4
10,9
6,0
7,0
11,4
15,7
14,1
2,4
5,1
5,9
8,4
8,7
51,6
42,6
33,9
25,9
10,5
31,9
39,9
41,7
39,4
27,7
4,2
4,9
5,1
6,3
5,4
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
100
100
100
100
100
258
1.366
2.097
1.959
3.554
0,5
0,4
0,8
2,7
6,3
0,7
2,1
2,8
6,9
10,5
5,1
9,8
13,7
17,2
15,5
2,8
6,7
9,2
8,3
8,7
52,0
34,8
21,0
14,9
7,0
34,0
37,5
44,3
34,8
25,1
3,8
6,4
4,1
7,1
5,5
0,0
0,0
0,0
0,0
0,1
100
100
100
100
100
1.575
1.856
1.988
1.948
1.866
2,2
4,7
12,5
7,3
25,0
35,3
5,4
0,0
100
9.234
Jumlah
Di sisi lain, pola yang sebaliknya terjadi pada pria yang bekerja di sektor non pertanian khususnya pada
usaha jasa dan penjualan. Sektor ini cenderung didominasi oleh pria berusia muda, dan tinggal di wilayah
perkotaan, berpendidikan relatif tinggi, dan semakin tinggi seiring dengan meningkatnya kuintil kekayaan
19
Jumlah
Pria
yang dimiliki. Pola ini juga terlihat pada pria dengan karakteristik latar belakang serupa untuk jenis
pekerjaan yang lebih mengandalkan keahlian ataupun keterampilan. Jumlah anak yang dimiliki pria
kawin menunjukkan pola tertentu dengan jenis pekerjaan. Sebagai contoh, pria yang bekerja di bidang
pertanian ternyata persentase tertinggi pada mereka yang memiliki anak 4 atau lebih (28,5 persen).
2.6. Partisipasi Pria dalam Pengambilan Keputusan
SDKI Pria 2012 secara khusus mengumpulkan informasi pria kawin tentang siapa yang mengambil
keputusan dalam berbagai hal pada rumah tangga mereka serta jenis-jenis partisipasi yang dilakukan.
Pertanyaan tentang pengambilan keputusan tertentu dalam rumah tangga, dimaksudkan untuk
memperkirakan tingkat otonomi pengambilan keputusan oleh pria dalam rumah tangga mereka. Informasi
yang dikumpulkan tentang hal ini meliputi beberapa jenis keputusan, antara lain: pembelian rumah tangga
untuk kebutuhan sehari-hari, pemeriksaan/perawatan kesehatan, dan pembelian rumah tangga untuk
kebutuhan barang tahan lama.Pria dinilai berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di rumah tangga,
apabila mereka memutuskan sendiri atau memutuskan bersama dengan isteri atau dengan orang lain.
Tabel 2.6.1. menunjukkan distribusi persentase pria kawin menurut orang yang mengambil keputusan
tertentu dalam rumah tangga mereka menurut pria dan jenis keputusan tertentu dalam rumah tangga
mereka.
Para isteri pada umumnya memegang peran utama dalam memutuskan penggunaan/ pengeluaran
kebutuhan sehari-hari, yaitu 44,6 persen. Pengambilan keputusan dalam pembelian barang-barang tahan
lama diputuskan suami bersama dengan isteri sebesar 62,8 persen. Sebesar 45,1 persen suami dan isteri
memutuskan bersama-sama dalam perawatan kesehatan. Tabel ini juga menggambarkan bahwa pengaruh
gender nampak terlihat dalam setiap pengambilan keputusan di dalam rumah tangga. Untuk aspek
pemeriksaan kesehatan, dan pembeian barang tahan lama pada umumnya diputuskan bersama antara
suami dan isteri, sementara pada aspek lain terlihat hanya suami atau isteri lebih dominan berperan.
Sebagai contoh, keputusan untuk pembelian kebutuhan sehari-hari di dalam rumah tangga umumnya
hanya dilakukan oleh isteri (44,6 persen), sementara peran suami dalam hal ini hanya 13 persen. Satu
diantara empat pria (25,7 persen) memutuskan perawatan kesehatan keluarganya sendiri.
Tabel 2.6.1. Pengambilan keputusan dalam rumah tangga menurut pria
Distribusi persentase pria kawin menurut orang yang mengambil keputusan tertentu dan jenis keputusan,
Indonesia 2012
Hanya
Suami dan
Orang
Suami
Istri
Istri
lain
Lainnya
Jumlah
Penggunaan Pengeluaran Uang
13,0
44,6
42,3
0,1
100,0
sehari-hari
Jumlah
pria
8.521
Perawatan kesehatan
25,7
28,5
45,1
0,5
0,2
100,0
9.298
Pembelian barang tahan lama
13,4
23,3
62,8
0,4
0,0
100,0
9.304
Tabel 2.6.2 menunjukkan partisipasi pria (baik sendiri maupun bersama orang lain) dalam berbagai jenis
pengambilan keputusan tertentu dalam rumah tangga menurut karakteristik latar belakang. Secara umum
keterlibatan suami dalam pengambilan keputusan yang terbanyak adalah dalam hal pembelian
barang/benda yang tahan lama (76,2 persen), dan dalam aspek pemeriksaan kesehatan (70,8 persen).
Keterlibatan suami nampak jauh berkurang pada aspek pembelian kebutuhan sehari-hari (50,7 persen).
Pria yang berinisiatif memutuskan semua aspek tercatat 36,7 persen.
Dibandingkan dengan hasil SDKI 2007 Pria, terlihat adanya pergeseran peran gender, pria yang
berinisiatif untuk memutuskan semua jenis keputusan meningkat dari 9,7 persen menjadi 36,7 persen.
Begitu pula dalam keterlibatannya memutuskan pembelian kebutuhan sehari-hari juga meningkat, 34,7
persen menjadi 50,7 persen. Peran pria dalam pengambilan keputusan untuk pemeriksaan kesehatan,
20
pembelian barang tahan lama, dan pembelian kebutuhan sehari-hari, terlihat cukup merata di semua
kelompok umur. Hal yang sama juga terjadi dalam hal pengambilan keputusan untuk semua jenis putusan.
Dilihat dari jumlah anak masih hidup yang dimiliki, peran pria dalam pengambilan keputusan untuk
semua jenis putusan nampak sedikit lebih tinggi di kalangan mereka yang belum memiliki anak.
Peran pria dalam mengambil keputusan untuk pemeriksaan kesehatan nampak tidak berbeda menurut
daerah tempat tinggal, dan hampir tidak ada perbedaan baik dalam hal pembelian barang tahan lama,
maupun penggunaan pengeluaran sehari-hari. Di lain pihak, pria di perdesaan sedikit lebih tinggi dalam
pengambilan keputusan untuk pembelian barang tahan lama dibandingkan pria di perkotaan (76,7 persen
berbanding 75,7 persen). Hal yang sebaliknya, pria kota nampak sedikit lebih berperan dalam
memutuskan dalam menentukan penggunaan pengeluaran sehari-hari dibandingkan pria di perdesaan
(51,7 persen berbanding 49,6 persen).
Tabel 2.6.2. Partisipasi pria tentang pengambilan keputusan tertentu dalam rumah tangga
Persentase pria kawin yang mengatakan bahwa mereka sendiri atau bersama orang lain dalam mengambil keputusan tertentu dalam rumah
tangga menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Jumlah anak masih hidup
0
1-2
3-4
4+
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
TamatSD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Pekerjaan (12 bulan terakhir)
Tidak bekerja
Sekarang sedang tidak
Bekerja
Sekarang sedang bekerja
Jumlah
Penggunaan
Pengeluaran Uang
Pemeriksaan
Kesehatan
Pembelian barang
tahan lama
Semua Jenis
keputusan
Jumlah
Jumlah
responden
55,5
55,5
53,7
53,5
52,4
50,2
46,2
46,0
76,2
72,7
70,8
71,6
74,2
70,5
67,9
67,7
54,5
75,5
76,9
77,8
75,8
78,4
74,0
74,1
39,5
41,3
38,2
37,7
39,4
36,1
32,7
34,5
100.0
100.0
100.0
100.0
100.0
100.0
100.0
100.0
28
345
1.127
1.674
1.775
1.693
1.371
1.292
54,9
49,8
51,6
48,4
75,2
70,6
70,2
70,0
77,7
76,8
75,6
74,8
41,6
36,2
37,2
34,1
100.0
100.0
100.0
100.0
888
3.935
3.101
1.382
51,7
49,6
70,6
71,0
75,7
76,7
38,1
35,3
100.0
100.0
4.739
4.567
35,8
44,6
49,8
52,6
53,6
50,7
63,3
63,5
68,5
73,4
74,0
70,8
67,1
71,2
75,8
77,7
78,2
76,2
27,9
30,9
33,5
39,5
40,1
36,7
100.0
100.0
100.0
100.0
100.0
265
1.371
2.118
1.979
3.572
46,9
51,6
50,4
56,6
67,3
71,6
72,0
73,4
73,9
75,6
79,2
79,7
32,6
36,8
37,9
42,9
100.0
100.0
100.0
100.0
100.0
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
0,0
63,8
62,4
0,0
100.0
70
51,3
51,1
68,0
70,9
77,1
76,3
36,0
37,0
50,7
70,8
76,2
36,7
100.0
100.0
152
9.084
100.0
9.306
Pria kawin dalam pengambilan keputusan pemeriksaan kesehatan, pembelian barang tahan lama, dan
pembelian kebutuhan sehari-hari nampak mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya jenjang
pendidikan pria. Demikian pula keputusan pria untuk pemeriksaan kesehatan, pembelian barang tahan
lama, dan penggunaan pengeluaran sehari-hari ada kecenderungan semakin tinggi kuintil kekayaan maka
21
semakin tinggi persentase peran pria dalam pengambilan keputusan. Menurut status pekerjaan pria dalam
12 bulan terakhir, partisipasi didalam pengambilan keputusan tertentu di rumah tangga terlihat relatif
lebih tinggi dijumpai pada pria yang sedang tidak bekerja dan sedang bekerja dibandingkan dengan pria
yang tidak bekerja. Bila dicermati menurut jenis pengambilan keputusan yang dilakukan menunjukkan
pola yang hampir sama, yaitu tertinggi dalam memutuskan pembelian barang tahan lama, pemeriksaan
kesehatan, dan di dalam penggunaan pengeluaran sehari-hari.
2.7. Pendapat atau Sikap Pria tentang Pemukulan Suami terhdap Istri
Pada SDKI 2012 pertanyaan tentang pemukulan terhadap isteri ditanyakan kepada pria berstatus kawin.
Pertanyaan ini dimaksudkan untuk memperkirakan tingkat penerimaan pria terhadap sikap yang
dilakukan. Pertanyaan yang diajukan adalah “Kadang-kadang seorang suami merasa kesal atau marah
dengan tingkah laku isterinya, menurut bapak, apakah seorang suami berhak memukul isterinya dalam
beberapa alasan? Berbagai alasan yang dapat menimbulkan rasa kesal atau marah seorang suami terhadap
isteri dalam SDKI 2012 mencakup antara lain adalah: sikap pria bila isteri pergi tanpa memberi tahu
suami; isteri mengabaikan anak-anaknya; isteri bertengkar dengan suami; isteri menolak “kumpul”
dengan suami; serta bila isteri memasak makanan yang tidak bisa dimakan. Informasi tentang hal tersebut
disajikan pada Tabel 2.7 berikut. Lima kolom pertama pada tabel menggambarkan penerimaan pria
tentang pemukulan suami terhadap istri menurut beberapa alasan. Sedangkan pada kolom terakhir
menyajikan data sikap pria tentang pemukulan suami atas isteri dengan mengemukakan paling sedikit
satu alasan tersebut di atas.
Secara umum, suami lebih banyak berpendapat bahwa dirinya berhak untuk memukul isteri bila isteri
pergi tanpa memberi tahu suami, dan jika isteri mengabaikan anak-anaknya. Pendapat ini dikemukakan
oleh masing-masing 11,8 persen suami. Persentase suami yang berpendapat berhak memukul isteri bila
isteri bertengkar dengan suami dan jika isteri menolak “kumpul” dengan suami tercatat sama yaitu
masing-masing 3,1 persen. Sedang suami yang beralasan berhak memukul isteri jika isteri memasak
makanan yang tidak bisa dimakan tercatat hanya 0,8 persen. Di sisi lain, pria kawin yang menyetujui hak
suami untuk memukul isteri karena salah satu alasan tertentu tercatat 17,3 persen. Menurut karakteristik
latar belakang, pria yang menyatakan berhak memukul isteri karena alasan isteri memasak makanan yang
tidak bisa dimakan cukup merata di semua kelompok umur. Sedangkan pria yang menyatakan suami
berhak memukul isteri karena alasan lain seperti bertengkar dengan suami, pergi tanpa memberi tahu
suami, mengabaikan anak-anaknya dan menolak “kumpul” dengan suami, lebih banyak dikemukakan
oleh pria usia muda.
Di lain pihak, pria yang memiliki anak relatif banyak, bertempat tinggal di perdesaan, berpendidikan
rendah atau tidak sekolah, berasal dari kalangan dengan kuintil kekayaan terbawah, dan berstatus tidak
bekerja, cenderung pendapat bahwa suami berhak memukul isteri karena berbagai alasan tertentu. Sebagai
contoh, 15,6 persen pria yang tergolong memiliki kuintil kekayaan terbawah, menyetujui pemukulan
terhadap isteri karena isteri mengabaikan anak-anak, sementara persentase di kalangan pria yang
tergolong memiliki kuintil kekayaan teratas tercatat hanya 7,8 persen untuk hal sama.
22
Tabel 2.7.1. Pendapat atau sikap pria kawin tentang pemukulan suami terhadap istri
Persentase pria kawin yang menyetujui suami berhakmemukul istri karena alasan tertentu, menurut karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Suami berhak memukul isteri bila:
Memasak
makanan
Menolak
yang tidak Bertengkar Pergi tanpa
kumpul
Paling
Karakteristik
bisa
dengan
memberi
Mengabaikan
dengan sedikit satu
Jumlah
latar belakang
dimakan
suami
tahu suami anak-anaknya
suami
setuju
Jumlah responden
Umur
15-19
*
*
*
*
*
*
*
28
20-24
0,8
4,2
11,3
17,5
3,0
22,9
100,0
345
25-29
0,2
5,8
14,6
16,7
3,8
22,6
100,0
1127
30-34
1,3
3,3
11,2
13,9
3,2
18,4
100,0
1674
35-39
1,1
3,0
13,5
13,1
3,5
19,5
100,0
1775
40-44
0,6
2,7
12,2
10,4
3,3
16,4
100,0
1693
45-49
0,9
2,7
10,0
8,1
1,9
13,5
100,0
1371
50-54
0,8
3,3
9,0
7,5
2,9
11,3
100,0
1292
Jumlah anak masih hidup
0
0,3
2,9
9,6
10,3
1,8
14,9
100,0
888
1-2
1,1
3,2
11,8
12,5
3,4
18,0
100,0
3935
3-4
0,5
3,5
12,6
11,9
3,1
17,5
100,0
3101
4+
1,4
4,1
11,5
11,1
3,4
16,5
100,0
1382
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
0,5
2,0
10,2
9,9
1,9
14,7
100,0
4739
Perdesaan
1,3
4,8
13,5
14,0
4,4
20,0
100,0
4567
Pendidikan
Tidak sekolah
2,1
8,1
11,5
12,8
5,7
17,2
100,0
265
Tidak tamat SD
1,6
5,3
13,2
13,3
5,1
19,4
100,0
1371
TamatSD
1,1
3,2
13,4
11,6
3,4
18,0
100,0
2118
Tidak tamat SLTP
0,5
3,2
13,0
13,6
2,8
19,1
100,0
1979
SLTP+
0,5
2,5
9,6
10,5
2,2
15,1
100,0
3572
Kuintil kekayaan
Terbawah
1,9
7,4
15,4
15,6
5,4
22,8
100,0
1596
Menengah bawah
0,8
4,0
13,8
14,5
3,7
19,9
100,0
1866
Menengah
0,6
2,9
12,5
12,5
3,1
18,2
100,0
2008
Menengah atas
0,4
1,7
9,4
9,7
1,7
14,4
100,0
1962
Teratas
0,7
1,7
8,5
7,8
2,2
12,1
100,0
1875
Pekerjaan (12 bulan terakhir)
Tidak bekerja
0,0
4,6
2,3
3,8
2,6
6,3
100,0
70
Sekarang sedang
100,0
tidak bekerja
0,0
6,0
9,7
14,8
2,5
21,2
152
Sekarang sedang
100,0
Bekerja
0,9
3,3
11,9
11,9
3,2
17,3
9084
Jumlah
0,8
3,4
11,8
11,9
23
3,1
17,3
100,0
9306
Tabel 2.7.2. Sikap pada pemukulan terhadap istri : Wanita
Persentase dari semua wanita umur 15-49 yang menyetujui tindakan suami melakukan pemukulan terhadap istri untuk alasan
tertentu, berdasarkan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
Latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
Bekerja (12 bulan terakhir)
Tidak bekerja
Bekerja untuk mendapat uang
Bekerja tidak untuk mendapat uang
Tidak terjawab
Jumlah anak lahir hidup
0
1-2
3-4
5+
Status perkawinan
Tidak pernah menikah
Menikah atau hidup bersama
Cerai/berpisah/janda
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
Tamat SMTA
SMTA+1
Kuintil kekayaan
Terendah
Menengah ke bawah
Menengah
Menengah ke atas
Tertinggi
Jumlah
Suami dibenarkan melakukan pemukulan terhadap istri jika :
Memasak
Menolak
Bertengkar
makanan yang
Pergi tanpa Menelantarkumpul
dengan
tidak bisa
memberi
kan anakdengan
suami
dimakan
tahu suami
anaknya
suami
Paling
sedikit satu
setuju
Jumlah
3,2
2,9
2,0
2,2
2,1
2,7
2,9
7,3
6,5
5,4
4,8
5,2
4,8
5,7
27,5
26,3
25,3
24,3
22,0
21,9
20,1
36,8
31,6
29,5
25,8
23,4
22,4
19,7
10,6
9,9
8,8
8,7
8,3
8,3
7,7
44,9
39,3
36,1
32,8
30,3
29,4
26,6
6.927
6.305
6.959
6.876
6.882
6.252
5.407
2,4
2,2
4,0
0,5
5,7
4,8
8,4
3,4
24,7
22,2
28,2
9,8
28,9
25,2
29,5
7,2
8,7
8,5
11,0
0,5
36,3
31,9
37,8
14,1
17.715
20.855
6.984
53
2,7
2,2
2,8
4,4
6,1
4,9
6,2
8,2
23,4
24,1
24,6
25,4
30,2
26,9
24,8
24,3
9,1
8,5
9,4
10,3
37,6
33,8
31,9
33,5
12.896
21.465
9.053
2.193
2,7
2,5
3,3
6,2
5,4
7,2
23,0
24,3
23,9
31,2
26,4
23,9
9,0
8,8
11,2
38,5
33,5
30,9
9.919
33.465
2.223
1,3
4,0
3,7
7,8
19,3
29,2
23,8
31,0
6,6
11,4
29,8
39,5
23.805
21.802
3,8
4,8
3,5
2,5
1,5
0,7
9,2
8,0
6,6
6,3
3,9
2,9
19,8
25,4
27,6
27,5
21,4
14,7
19,9
25,7
28,1
32,4
25,3
21,1
8,4
10,5
11,1
9,3
7,4
5,9
26,6
33,3
36,5
40,1
32,1
25,5
1.500
4.870
10.254
12.753
10.677
5.552
5,9
3,2
2,4
1,2
0,8
11,1
7,0
5,5
3,4
2,7
32,2
28,2
24,4
19,9
17,8
33,7
30,0
28,0
24,5
21,9
12,7
11,0
9,6
6,7
5,8
42,2
38,2
35,4
31,3
27,5
7.767
8.784
9.243
9.743
10.071
2,5
5,7
24,0
27,3
8,9
34,5
45.607
Catatan: Jumlah termasuk 53 wanita yang tidak memiliki informasi tentang pekerjaan
1
SMTA+ adalah: Diploma, S1/S2/S3
Tabel 2.7.2. menunjukkan data sikap wanita mengenai pemukulan suami terhadap istri. Persentase pria
setuju dengan paling tidak satu alasan tertentu suami memukul istri tinggi pada kelompok umur 15-24
tahun, hal tersebut ternyata keadaannya sama pada wanita persentase di dominasi oleh kelompok umur
15-19 tahun, yaitu 44,9 persen untuk hal yang sama. Jensen, R. and R. Thornton (2003) menyatakan
bahwa wanita yang menikah pada usia muda lebih sering mengalami kekerasan dan cenderung setuju
suami dibenarkan untuk memukul istri. Persentase wanita setuju suami berhak memukul istri karena satu
alasan tertentu terlihat pada wanita berpendidikan tidak tamat SMTA (40,1 persen) sedangkan pada pria
terlihat pada mereka yang berpendidikan rendah. Untuk hal yang sama, persentase terlihat pada pria dan
wanita dengan indeks kuintil kekayaan terendah (22,8 persen dan 42,2 persen).
24
2.8. Ukuran Gaya Hidup
Merokok dalam rumah tangga mempunyai efek yang merugikan bagi kondisi kesehatan semua anggota
rumah tangga, termasuk orang-orang yang tidak merokok. Kepada responden pria ditanyakan apakah
mereka tergolong perokok tetap, jenis rokok yang mereka hisap dan berapa banyak batang rokok yang
mereka hisap dalam 24 jam terakhir. Tabel 2.8 memperlihatkan bahwa 70,5 persen di antara pria kawin
adalah perokok tetap. Persentase pria kawin perokok di SDKI 2012 jauh lebih tinggi dibandingkan SDKI
2007, yaitu 31,1 persen. Hal ini menggambarkan upaya pemerintah untuk larangan merokok belum
menunjukkan hal yang positif. Di antara pria perokok 69,4 persen mengaku mengkonsumsi 10 batang
rokok atau lebih dalam 24 jam terakhir, 15 persen mengkonsumsi rokok 6-9 batang dan hanya empat
persen yang merng-konsumsi rokok 1-2 batang.
Tabel 2.8. Konsumsi rokok
Persentase pria kawin yang merokok dan distribusi persentase jumlah rokok yang dikonsumsi menurut karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Konsumsi tembakau
Jumlah rokok yang dikonsumsi
Jumlah
Karakteristik
Tidak
Selain
Lain
Jumlah
pria
Latar Belakang
merokok
Rokok
rokok
Nya
pria
0
1-2
3-5
6-9
10+
Jumlah
perokok
Umur
15-19
9,6
89,7
0,6
0,0
28 1,8
0,0
6,3
38 54,0
100
25
20-24
20,6
77,5
0,5
1,4
345 0,1
3,5 13,0
18 65,2
100
272
25-29
23,1
75,1
0,9
0,9
1.127 1,2
4,3
8,3
19 67,0
100
866
30-34
26,8
71,3
0,7
1,3
1.674 0,3
2,7 11,5
16 69,5
100
1.221
35-39
27,3
71,3
0,5
0,9
1.775 0,5
3,7 10,2
15 71,1
100
1.288
40-44
31,4
67,6
0,3
0,7
1.693 1,2
6,6 11,5
11 69,3
100
1.159
45-49
30,7
66,5
0,7
2,1
1.371 1,0
5,2
8,4
17 68,3
100
948
50-54
27,6
70,3
0,8
1,3
1.292 1,1
4,6
8,7
13 72,4
100
928
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
31,2
67,7
0,3
0,9
4.739 0,6
4,6 10,0
17 67,9
100
3.261
Perdesaan
24,0
73,5
1,0
1,5
4.567 1,0
4,3 10,1
14 70,9
100
3.447
Pendidikan
Tidak sekolah
27,1
69,2
2,1
1,5
265 0,1
5,9 12,2
10 71,9
100
192
Tidak tamat SD
21,4
75,4
0,9
2,3
1.371 0,2
4,0
8,6
16 71,5
100
1.070
TamatSD
21,2
76,6
0,8
1,4
2.118 0,9
4,6
9,2
16 69,2
100
1.660
Tidak tamat SMTA
22,1
76,7
0,5
0,7
1.979 1,0
3,7 10,6
15 69,7
100
1.539
SMTA+
37,0
61,8
0,4
0,8
3.572 0,9
4,9 10,8
15 68,3
100
2.247
Kuintil Kekayaan
Terbawah
18,7
76,9
2,0
2,4
1.596 0,8
4,7 12,2
13 69,8
100
1.285
Menengah bawah
21,0
76,7
0,5
1,8
1.866 0,5
4,1 10,4
17 68,2
100
1.469
Menengah
23,3
75,2
0,4
1,2
2.008 1,3
4,6
7,7
17 69,6
100
1.535
Menengah atas
32,0
67,2
0,4
0,4
1.962 0,4
4,4
9,4
16 69,6
100
1.335
Teratas
42,1
57,4
0,1
0,3
1.875 1,0
4,3 11,4
13 70,2
100
1.084
Jumlah
27,7
70,5
0,6
1,2
9.306
0,8
4,4
10,1
15
69,4
100
6.708
Kebiasaan merokok lebih banyak dilakukan oleh pria usia muda dari pada pria usia tua, dan persentase
terbanyak dijumpai pada pria 15-19 tahun (89,7 persen). Sedangkan hasil SDKI 2007 persentase
terbanyak terdapat pada pria 20-29 tahun, yaitu 50,6 persen. Kondisi ini memprihatinkan karena terjadi
pergeseran perokok yang semula di kelompok usia 20-29 tahun menjadi usia yang paling muda (15-19
tahun). Proporsi pria perokok di perdesaan lebih besar dibandingkan di perkotaan, yaitu 73,5 berbanding
67,7 persen. Pria di perdesaan lebih banyak mengkonsumsi 10 batang rokok atau lebih dibandingkan
dengan pria di perkotaan (70,9 persen berbanding 67,9 persen). Persentase pria perokok cenderung
meningkat sejalan dengan meningkatnya tingkat pendidikan pria. Di antara pria perokok yang
mengkonsumsi 10 batang rokok atau lebih terbanyak dilakukan oleh pria yang tidak sekolah dan tidak
tamat SD, yaitu persentasenya hampir sama yaitu 71,9 persen dan 71,5 persen. Kebiasaan pria merokok
terlihat merata di semua indeks kekayaan kuintil, namun paling sedikit dijumpai pada pria yang tergolong
memiliki kuintil kekayaan teratas (57,4 persen). Sebaliknya, pria yang mengkonsumsi 10 batang rokok
atau lebih terbanyak dijumpai pada pria yang berada pada kuintil kekayaan terbawah (69,8 persen).
25
26
Pengetahuan Tentang Keluarga
Berencana
3
Temuan Utama
 Pengetahuan mengenai alat/cara KB telah meluas di kalangan pria. Sebagian besar pria kawin
mengetahuisuatu jenis alat/cara KB (97persen) dan mempunyai pengetahuan tentang suatu alat/cara KB
modern (97persen).
 Pemanfaatan media massa menurut karakteristik umur, daerah tempat tinggal, tingkat pendidikan maupun
kuintil kekayaan, menunjukkan bahwa televisi adalah media yang paling banyak memberikan informasi
tentang KB (48 persen).
 Secara umum, 46 persen wanita kawin dan 38 persen pria kawin tidak terpapar pesan KB melalui satupun
dari lima sumber media (radio, televisi, surat kabar/majalah, poster, pamflet).
 Sikap pria terhadap keluarga berencana, pernyataan yang paling banyak disetujui oleh pria adalah bahwa
“KB Urusan Wanita” (42 persen), berikutnya adalah pernyataan “Wanita Seharusnya yang Disterilisasi” (30
persen). Pernyataan setuju bahwa “Sterilisasi Pria sama dengan Dikebiri”, dikemukakan oleh pria dengan
persentase yang lebih rendah yaitu 14 persen.
 Di lingkungan masyarakat masih dijumpai persepsi yang keliru mengenai sterilisasi wanita.
3.1. Pengetahuan tentang Alat/Cara Kontrasepsi
Pengetahuan tentang pengendalian kelahiran dan keluarga berencana merupakan salah satu aspek penting
ke arah pemahaman tentang berbagai alat/cara kontrasepsi, yang selanjutnya berpengaruh terhadap
pemakaian alat/cara KB yang tepat dan efektif. Pengetahuan mengenai alat/cara KB perlu diketahui oleh
semua individu baik pria maupun wanita. Tulisan berikut membahas secara khusus tentang pengetahuan
mengenai alat/cara KB di kalangan pria kawin.
Data tentang pengetahuan mengenai alat/cara KB pada SDKI 2012 diperoleh dengan cara pertama
meminta kepada pria untuk menyebutkan alat/cara yang dapat dipakai oleh pasangan suami isteri untuk
menunda atau menghindari terjadinya kehamilan dan kelahiran. Apabila responden tidak secara spontan
menyebutkan alat/cara KB tersebut, pewawancara akan menjelaskan alat/cara KB dimaksud, dan
selanjutnya menanyakan apakah responden mengenalinya. Pada daftar pertanyaan dimuat sepuluh
alat/cara KB modern, yaitu sterilisasi wanita, sterilisasi pria, pil, IUD, suntikan, susuk KB, kondom,
intravag/diafragma, metode amenore laktasi (MAL), dan kontrasepsi darurat. Alat/cara KB lain yang
dicatat adalah 3 (tiga) cara KB tradisional, yaitu pantang berkala, sanggama terputus, dan caratradisional
lain berupa jamu ataupun pijat/urut.
27
Tabel 3.1. Pengetahuan tentang alat/cara KB
Persentase semua wanita umur 15-49, wanita kawin umur 15-49, dan pria kawin umur 15-54 yang mengetahui
paling sedikit satu alat/cara KB, menurut alat/cara KB, Indonesia 2007.
Semua Wanita
Wanita Berstatus
Menikah
Wanita Umur
Subur belum
Menikah
Pria Berstatus
Kawin
Suatu Alat/Cara KB
98,0
99,0
90,7
97,3
Suatu cara modern
98,0
98,9
89,0
97,2
Sterilisasi Wanita
Sterilisasi Pria
Pil
IUD
Suntikan
Susuk KB
Kondom
Diafragma
Metode Amenore Laktasi (MAL)
Kontrasepsi Darurat
61,4
33,7
95,6
75,8
95,9
81,8
83,1
10,7
21,6
11,0
67,0
37,7
97,3
82,3
98,0
89,0
84,4
10,5
23,8
11,3
44,4
25,4
87,7
68,2
83,0
54,1
84,9
9,5
22,8
10,6
40,3
30,6
93,0
65,1
92,5
63,1
87,0
7,8
7,7
6,9
Suatu cara tradisional
56,8
62,6
62,9
46,7
Pantang Berkala
Senggama Terputus
Lain-lain
42,8
42,1
8,4
47,2
48,1
9,5
32,1
54,3
3,7
33,6
34,6
4,1
6,6
45.607
7,1
33.465
5,8
34
5,7
9.306
Metode
Rata-rata alat/ cara yang diketahui
Jumlah wanita /pria
Tabel 3.1 menyajikan pengetahuan pria kawin mengenai alat/cara KB. Temuan menunjukkan bahwa
pengetahuan mengenai alat/cara KB telah meluas di kalangan pria. Hampir seluruh pria kawin
mengetahui satu jenis alat/cara KB (97 persen). Pengetahuan mereka tentang sedikitnya satu alat/cara KB
modern juga tinggi, mencapai 97 persen. Sementara itu pengetahuan pria tentang alat/cara KB tradisional
masih cukup rendah (47 persen). Jika dibandingkan dengan hasil SDKI tahun 2007, pengetahuan pria
kawin mengenai alat/cara KB mengalami peningkatan baik alat/cara KB modern maupun tradisional.
Pengetahuan pria tentang alat/cara KB bila dirinci menurut jenisnya maka alat/cara KB yang paling
dominan dikenal pria adalah pil dan suntikan, dengan persentase yang hampir sama yaitu 93 persen.
Pengetahuan tentang cara KB kondom cukup tinggi, yaitu 87persen, hal ini cukup beralasan mengingat
kondom merupakan cara KB pria yang sangat popular di kalangan masyarakat dan relatif mudah untuk
mendapatkannya. Pengetahuan tentang IUD dan susuk KB di kalangan pria kawin masing-masing tercatat
65 persen dan 63 persen. Sementara itu sterilisasi wanita (MOW) dan sterilisasi pria (MOP) terbukti
masih rendah, karena masing-masing hanya diketahui oleh 40 persen dan 31 persen pria. Pengetahuan
pria mengenai sterilisasi pria yang rendah ini sangat memprihatinkan, mengingat sterilisasi pria
merupakan salah satu alat/cara KB jangka panjang bagi pria. Temuan ini perlu mendapatkan penanganan
yang serius dari para pengelola program. Sementara itu berdasarkan jumlah jenis alat/cara KB yang
diketahui, secara umum tercatat 6 jenis alat/cara KB yang dikenal oleh pria.
Pada wanita kawin, ternyata juga menunjukkan adanya kesamaan bahwa sebagian besar wanita kawin
sudah mengetahui tentang alat/cara KB (99 persen). Hampir semua wanita juga sudah mengetahui suatu
alat/cara KB modern (99 persen). Sehingga dapat dikatakan bahwa pria kawin dan wanita kawin
mengetahui paling sedikit satu alat/cara KB.
28
Tabel 3.2. Pengetahuan tentang alat/cara KB menurut karakteristik latar belakang
Distribusi persentase pria kawin yang mengetahui paling sedikit satu jenis alat/cara KB dan
satu jenis alat/cara KB modern menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Pria berstatus kawin
Karakteristik
Tahu suatu
Tahu suatu alat/
latar belakang
alat/cara
cara modern1)
Jumlah pria
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
*
94,4
98,3
98,4
98,1
97,9
97,4
94,0
*
94,4
98,3
98,1
97,8
97,7
97,1
94,0
28
345
1.127
1.674
1.775
1.693
1.371
1.292
98,6
96,0
98,6
95,7
4.739
4.567
77,5
92,9
97,3
98,8
99,7
76,6
92,4
97,1
98,8
99,7
265
1.371
2.118
1.979
3.572
91,9
96,4
98,8
99,0
99,6
91,5
96,0
98,8
98,9
99,6
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
Jumlah
97,3
97,2
9.306
Catatan:
* Jumlah pria tak tertimbang kurang dari 25 dan tidak disajikan
1
Alat/cara KB modern: Metode operasi wanita, metode operasi pria, pil, IUD, suntikan,
susuk KB, kondom, diafragma, metode amenore laktasi (MAL), dan kontarsepsi darurat.
Tabel 3.2 di atas menyajikan tentang persentase pria kawin yang mengetahui paling sedikit satu jenis alat/
cara KB dan satu jenis alat/cara KB modern dirinci menurut karakteristik latar belakang. Karakteristik
latar belakang yang dimaksud adalah umur,daerah tempat tinggal, tingkat pendidikan, serta indeks
kekayaan kuintil.
Secara umum pengetahuan suatu alat/cara KB dan alat/cara KB modern cukup merata di semua
kelompok umur kalangan pria kawin. Sebagai gambaran, pengetahuan terhadap suatu alat cara KB di
kalangan pria berusia 20-24 tahun dan 45-49 tahun berkisar antara 94-97 persen, sementara pengetahuan
dikalangan pria usia 50-54 tahun hanya 94 persen. Pengetahuan pria kawin mengenai suatu alat/ cara KB
modern juga menunjukkan pola serupa. Perlu diinformasikan bahwa angka untuk pria kawin usia 15-19
tahun tidak dapat disajikan karena jumlah kasus terlalu kecil.
Pengetahuan pria kawin tentang alat/cara KB serta alat/cara KB modern terlihat lebih tinggi di wilayah
perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. Persentase yang tercatat masing-masing adalah 99 persen di
wilayah perkotaan, baik untuk pengetahuan suatu alat/cara KB maupun untuk pengetahuan suatu alat/cara
KB modern. Sebagaimana diduga, tingkat pendidikan mempunyai hubungan positif dengan pengetahuan
pria mengenai suatu alat/cara KB maupun suatu alat/cara KB modern. Semakin tinggi jenjang pendidikan
pria, semakin tinggi pula pengetahuan mereka terhadap suatu alat/cara KB maupun suatu alat/cara KB
modern. Sebagai contoh, pengetahuan pria tentang suatu alat/cara KB di kalangan pria kawin yang tidak
berpendidikan tercatat hanya 78 persen, dan 77 persen untuk suatu alat/cara KB modern, sementara
hampir semua pria berpendidikan tinggi (SMTA) ke atas mengetahui kedua hal tersebut.
29
Berdasarkan indeks kekayaan kuintil juga memperlihatkan perbedaan yang bermakna antara pria kawin
yang memiliki kuintil kekayaan terbawah dengan yang lebih tinggi. Pengetahuan pria kawin mengenai
suatu alat/cara KB maupun suatu alat/cara KB modern meningkat seiring dengan meningkatnya kuintil
kekayaan yang dimiliki. Pengetahuan mengenai suatu alat/cara KB maupun suatu alat/cara KB modern di
kalangan pria kawin dengan kuintil kekayaan terbawah memiliki persentase yang sama (92 persen),
sementara pengetahuan di kalangan pria kawin yang berada pada kuintil kekayaan teratas hampir
mencapai 100 persen.
3.2. Pengetahuan tentang Sumber Pelayanan Alat/Cara Kontrasepsi
Pengetahuan tentang sumber pelayanan KB dalam hal ini kondom, merupakan salah satu aspek yang
perlu diketahui oleh para pria. Pengetahuan pria tentang sumber pelayanan KB yang benar, akan dapat
membantu individu yang bersangkutan untuk memilih tempat pelayanan KB yang tepat dan sesuai dengan
keinginan bila mereka atau pasangan menginginkan pelayanan KB.
Tabel 3.3. Pengetahuan tentang sumber pelayanan alat/cara KB (Kondom)
Distribusi persentase pria berstatus kawin menurut pengetahuan tempat mendapatkan alat/cara
KB, Indonesia 2012
Jumlah
Persen pria
pria yang tahu
tahu sumber
Jumlah
Sumber Pelayanan KB
sumber pelayanan
pelayanan
Pria
PEMERINTAH






473
899
151
151
*
*
8,9
16,8
2,8
2,8
0,0
0,4
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
128
*
*
98
98
(45)
347
(31)
266
4.529
(38)
2,4
0,2
0,2
1,8
1,8
0,8
6,5
0,6
5,0
84,8
0,7
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
51
109
80
(45)
1.933
50
1,0
2,0
1,5
0,8
36,2
0,9
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
5.343
RS
Puskesmas
Klinik
PLKB
TKBK/TMK
Lainnya
SWASTA

RS

RS.Ibu dan Anak

Klinik Maternity

Klinik

Dokter praktek

Obgyn

Bidan

Perawat

Bidan di Desa

Apotik/toko obat

Lainnya
LAINNYA

Polindes

Posyandu

Pos KB/PPKBD

Teman/Keluarga

Toko

Lainnya
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
(....) Tanda kurung menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 49 tetapi lebih dari 25.
Dalam SDKI 2012 ini untuk pria kawin ditanyakan “Apakah Bapak tahu dimana tempat memperoleh
kondom?” yang sebelumnya ditanyakan “Alat/cara apa yang Bapak gunakan?”. Secara umum sumber
pelayanan KB yang paling banyak diketahui oleh pria kawin adalah apotik/toko obat. Delapan puluh lima
persen pria kawin mengetahui bahwa puskesmas merupakan salah satu tempat untuk mendapatkan
pelayanan KB. Sumber pelayanan KB berikutnya yang diketahui oleh para pria kawin secara berturutturut adalah Toko (36 persen) baik toko kelontong maupun mini market, puskesmas (17 persen), Rumah
30
Sakit Pemerintah (9 persen), bidan praktek swasta (7 persen) dan, bidan di desa (5 persen). Sumber
pelayanan KB lain seperti dokter praktek swasta, rumah sakit swasta maupun posyandu, nampaknya
kurang diketahui oleh para pria. Proporsi pria yang mengetahui ke tiga sumber pelayanan KB ini masingmasing hanya 2 persen.
Pengetahuan pria mengenai sumber pelayanan KB secara umum yang tersedia baik di jalur pemerintah,
swasta, maupun lainnya, nampak beragam. Sumber pelayanan KB di jalur pemerintah yang paling banyak
diketahui pria adalah puskesmas (17 persen). Bidan praktek swasta, bidan di desa dan toko, merupakan
sumber pelayanan KB di jalur swasta yang relatif banyak diketahui oleh para pria. Sedangkan sumber
pelayanan di jalur lain yang tersedia di masyarakat, jumlah yang terbanyak diketahui adalah Toko (36
persen).
Pengetahuan pria mengenai tempat memperoleh kondom secara umum yang tersedia baik di jalur
pemerintah, swasta, maupun lainnya nampak beragam. Tempat memperoleh kondom di jalur swasta yang
paling banyak diketahui pria kawin adalah apotik/toko obat (85 persen). Bidan praktek swasta, bidan di
desa, merupakan tempat memperoleh kondom di jalur swasta yang relatif banyak diketahui oleh para pria.
Sedangkan sumber pelayanan di jalur lain yang tersedia di masyarakat, jumlah paling banyak yang
diketahui adalah toko (36 persen).
3.3. Sumber Penerangan tentang KB
Kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dalam program KB Nasional di Indonesia
dilaksanakan melalui media massa, kelompok KB, dan petugas KB. Media massa yang digunakan adalah
surat kabar, radio dan TV, dengan tayangan antara lain berupa drama, spot show, laporan, diskusi dan
siaran berkala. Penerangan KB melalui radio dan TV ditayangkan oleh stasiun pusat maupun daerah, baik
yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta.
Media lain yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan informasi KB adalah melalui petugas lapangan
KB yang tersebar di seluruh tanah air. Petugas lapangan KB terdiri dari Penyuluh KB, PLKB, PPLKB,
kader-kader, PPKBD, dan Sub PPKBD. Petugas lapangan KB memusatkan upayanya dalam penyebaran
informasi KB, pemberian konseling KB, serta pencatatan data keluarga. Mereka bekerja di tingkat lini
lapangan dan bekerja sama dengan organisasi yang ada di masyarakat, seperti perkumpulan ibu-ibu
pengajian, ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), dan organisasi isteri pegawai negeri sipil
(Dharma Wanita).
Untuk mengetahui sumber informasi KB telah menjangkau kaum pria, maka kepada pria kawin
ditanyakan serangkaian pertanyaan mengenai hal tersebut. Pertanyaan yang diajukan kepada responden
adalah apakah selama 6 bulan terakhir responden pernah mendengar/ melihat acara tentang KB dari radio,
TV, dan apakah pernah membaca informasi KB di media cetak seperti koran/majalah, poster, dan pamflet.
3.3.1. Peran Media Massa
Informasi tentang peran media massa sebagai sumber informasi KB disajikan pada tabel 3.4. Secara
umum tiga sampai enam dari sepuluh pria berstatus kawin (62 persen) mengaku pernah mendengar
informasi mengenai KB dari suatu media dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir sebelum survei.
Secara rinci media yang paling banyak disebutkan pria kawin sebagai sumber informasi KB adalah TV
(48 persen). Sumber informasi KB berikutnya yang dikemukakan pria adalah melalui poster (36 persen),
surat kabar/majalah (20 persen), pamflet (18 persen), dan terendah melalui radio (13 persen). Sementara
itu 59 persen pria tercatat tidak pernah akses terhadap sumber informasi KB dari berbagai media apapun
dalam kurun waktu 6 bulan terakhir sebelum survei.
31
Gambar 3.1. Tren persentase pria kawin yang mendengar atau
membaca pesan KB di media eletronik atau media cetak
dalam 6 bulan sebelum survei, (SDKI 2002/2003- 2012)
60
50
49
50
36
40
31
23
30
18
20
20
19
14
18
21
13
13
18
11
10
0
TV
Koran/majalah
SDKI 2 002/2003
Radio
SDKI 2 007
Poster
Pamflet
SDKI 2 012
Jika dibandingkan dengan hasil SDKI 2002/2003 dan SDKI 2007, proporsi pria yang mendapatkan
informasi KB melalui TV, surat kabar/majalah, poster dan pamflet pada SDKI 2012 mengalami
peningkatan, sementara proporsi pria yang mendapatkan informasi KB melalui radio mengalami
penurunan jika dibandingkan denganhasil SDKI 2007. Peningkatan yang terjadi pada keempat media
tersebut masing-masing adalah 31persen menjadi 49 persen pada TV, 18 persen menjadi 20 persen untuk
surat kabar/majalah, 21 persen menjadi 36 persen pada poster; dan 13 persen menjadi 18 persen untuk
pamflet. Sedangkan penurunan terjadi pada sumber informasi KB melalui radio 14 persen menjadi 13
persen. Akan tetapi hasil SDKI 2012 jika dibandingkan dengan hasil SDKI2002/2003, maka terjadi
penurunanpada TV, koran/majalah dan radio masing-masing 50 persen menjadi 49 persen untuk TV, 23
persen menjadi 20 persen untuk koran/majalah dan radio dari 19 persen menjadi 13 persen. Peningkatan
sebanyak 2 kali terjadi pada sumber informasi poster yaitu dari 18 persen menjadi 36 persen dan pamflet
dari 11 persen menjadi 18 persen. Kalau dicermati sumber informasi dari radio tahun 2002-2003 sampai
dengan 2012 mengalami penurunan terus menerus, hal ini bukan berarti Radio sudah tidak efektif lagi
sebagai sumber informasi tentang KB akan tetapi kepemilikan radio cenderung berkurang.
Menurut umur, pria kawin yang pernah mendapatkan informasi KB dari suatu media mempunyai pola
seperti huruf ”U”terbalik, yaitu relatif rendah pada mereka yang berusia muda (15-19 tahun), kemudian
meningkat pada pria kawin usia 35-39 tahun, untuk selanjutnya mengalami penurunan kembali. Sebagai
gambaran pria kelompok umur 15-19 tahun yang akses terhadap informasi KB dari TV tercatat 33 persen,
angka ini meningkat menjadi 56 persen pada pria usia 30-34 tahun, selanjutnya kembali turun menjadi 50
persen atau lebih rendah di kalangan pria yang berusia lebih tua.
Secara umum akses informasi KB melalui suatu media terlihat lebih baik di wilayah perkotaan
dibandingkan dengan di wilayah perdesaan. Proporsi untuk masing-masing media adalah 54 persen
berbanding 42 persen untuk akses ke TV, 45 persen berbanding 26 persen untuk akses ke poster, 27
persen berbanding 12 persen untuk akses ke surat kabar/majalah,24 persen berbanding 13 persen untuk
akses ke pamflet dan 15 persen berbanding 10 persen untuk akses ke media radio.
32
Tabel 3.4. Mendengar/membaca KB di media elektronik dan media cetak
Distribusi persentase pria kawin yang mendengar atau membaca pesan KB di media elektronik atau media cetak
dalam 6 bulan sebelum survei menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Media cetak
Tidak
Karakteristik
Koran/
satupun
latar belakang
Radio
TV
majalah
Poster
Pamflet
media
Jumlah
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
(5,6)
17,6
11,4
14,1
12,7
12,9
11,0
11,4
(33,1)
50,2
48,1
55,7
49,6
48,0
42,8
39,2
(9,8)
15,9
21,4
19,4
22,9
21,8
18,6
12,4
(22,8)
32,2
38,1
41,9
39,0
37,2
31,4
25,5
(1,7)
14,6
20,0
20,1
21,4
19,1
15,1
12,7
43,3
33,9
36,6
30,5
35,1
36,6
44,1
48,6
28
345
1.127
1.674
1.775
1.693
1.371
1.292
14,7
10,3
53,8
41,5
26,9
11,8
44,8
26,4
23,6
12,5
28,8
47,4
4.739
4.567
6,7
6,6
8,9
11,7
17,9
22,8
27,1
39,9
49,8
61,1
3,1
3,0
7,9
15,2
36,4
10,0
13,2
22,4
36,5
53,9
6,9
3,6
8,7
15,2
31,8
69,4
63,9
49,7
34,6
20,5
265
1.371
2.118
1.979
3.572
7,6
9,1
11,5
14,1
19,7
29,1
38,0
50,2
56,1
62,1
7,1
9,2
16,3
23,9
39,1
15,3
26,5
35,7
43,5
54,6
6,0
11,8
18,6
21,4
30,8
61,4
48,8
36,1
28,0
19,4
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
12,6
47,8
19,5
35,8
18,1
37,9
9.306
(....) Tanda kurung menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 49 tetapi lebih dari 25 kasus .
Tingkat pendidikan nampaknya mempunyai hubungan yang positif dengan keterpajanan berbagai media
penyampai informasi KB. Sebagai gambaran, proporsi pria yang tidak berpendidikan hanya sekitar 23
persen yang akses dengan informasi KB melalui TV. Angka tersebut meningkat menjadi 27 persen pada
mereka yang berpendidikan tidak tamat SD, dan cenderung semakin meningkat seiring dengan semakin
meningkatnya jenjang pendidikan pria, hingga menjadi 61 persen pada pria yang berpendidikan tinggi
(SMTA ke atas). Pola ini juga terlihat pada pria kawin yang akses informasi KB melalui radio, surat
kabar/majalah, poster maupun pamflet.
Berdasarkan indeks kekayaan kuintil, terlihat bahwa semakin tinggi indeks kekayaan kuintil pria kawin,
semakin tinggi pula keterpajanan mereka terhadap semua jenis media penyampai informasi KB. Sebagai
contoh, jika pada pria kawin yang memiliki indeks kekayaan kuintil terbawah hanya sekitar 29 persen
yang akses terhadap informasi KB dari TV, maka angka tersebut meningkat dua kali lipat menjadi 62
persen di kalangan pria yang memiliki indeks kekayaan kuintil teratas.
Di sisi lain, pria kawin yang sama sekali tidak akses terhadap informasi KB dari berbagai media apapun,
lebih banyak dijumpai pada kelompok pria berusia tua (50-54 tahun), tinggal di perdesaan, tidak
berpendidikan dan tergolong memiliki indeks kekayaan kuintil terbawah. Pola umum yang terjadi pada
karakteristik latar belakang responden adalah bahwa semakin muda usia pria kawin, semakin sedikit yang
tidak terpajan dengan semua media penyampai informasi KB; semakin tinggi tingkat pendidikan semakin
sedikit yang tidak akses berbagai media, dan semakin tingggi kuintil kekayaan yang dimiliki, semakin
sedikit pula yang tidak akses berbagai media. Sebagai gambaran yang dapat ditunjukkan misalnya, pria
kawin yang tidak akses dengan salah satu media penyampai informasi KB pada mereka yang tidak
sekolah mencapai 69 persen, sementara di kalangan mereka yang berpendidikan tinggi (SMTA) ke atas
tercatat hanya sepertiganya (21 persen). Di sisi lain, berdasarkan kuintil kekayaan, delapan dari sepuluh
33
pria kawin yang tergolong memiliki kuintil kekayaan terbawah tidak akses dengan salah satu media
penyampai informasi, sementara di kalangan mereka yang memiliki kuintil kekayaan teratas tercatat
hanya empat diantara sepuluh pria.
Tabel 3.5. Keterpajanan terhadap pesan KB di media elektronik dan media cetak: wanita kawin
Persentase wanita kawin umur 15-49 yang mendengar atau membaca pesan KB di media elektronik atau media cetak dalam
beberapa bulan sebelum survei menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Surat Kabar/
Majalah
Pamflet
Jumlah
Wanita
Radio
Televisi
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
10,2
9,2
9,0
9,7
9,6
10,6
8,8
46,5
48,8
49,6
47,2
47,2
40,9
36,5
7,3
11,5
14,9
15,5
16,4
12,8
9,6
21,0
25,9
29,1
28,7
28,8
24,3
18,5
9
12
16
15
15
13
10
45,3
42,1
41,1
42,1
44,3
49,7
57,5
890
3.754
6.000
6.285
6.331
5.572
4.633
Daerah Tempat Tinggal
Perkotaan
Perdesaan
11,3
7,8
52,9
37,9
19,6
7,9
33,4
19,2
18
9
36,6
54,7
16.466
16.999
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
Tamat SMTA
Perguruan Tinggi1
2,1
4,9
7,3
9,8
12,7
15,9
13,8
26,0
38,3
48,6
57,9
62,5
0,3
1,3
5,0
10,3
23,3
42,8
2,0
8,0
16,3
25,7
39,1
55,2
1
3
6
12
22
36
84,4
69,6
55,1
43,0
30,2
19,7
1.209
4.185
9.045
7.912
7.760
3.353
Kuintil Kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
5,7
6,6
9,8
10,4
14,6
24,5
38,2
46,4
53,3
60,7
3,6
6,3
10,5
16,6
29,6
13,1
17,9
24,1
30,2
43,4
5
8
12
16
25
67,9
54,6
45,8
36,8
27,4
5.966
6.614
6.864
7.218
6.803
9,5
45,3
13,6
26,2
14
45,8
33.465
Jumlah
Poster
Tidak
satupun
media
1
Perguruan Tinggi adalah: Diploma, S1/S2/S3
Apabila dibandingkan dengan wanita kawin (berdasarkan data SDKI 2012), media televisi merupakan
sumber informasi paling dominan yang diterima wanita kawin,(45 persen). Sebagian wanita kawin juga
mendapat keterpajanan pesan/informasi tentang KB melalui poster (26 persen), pamflet dan surat
kabar/majalah masing-masing 14 persen. Sedangkanpada pria berstatus kawin, selain media televisi,
media lain yang banyak berperan sebagai sumber informasi mengenaipengetahuan KB adalah poster (36
persen) dan media koran (20 persen).Diantarasumber media yang beruparadio, televisi, surat
kabar/majalah, poster dan pamphlet,sebesar46 persen wanita kawin dan 38 persen pria kawin tidak
terpapar pesan KB melalui salah satu dari kelima sumber media tersebut.
3.3.2. Diskusi tentang KB
Pembicaraan atau diskusi antara pria dengan seseorang ataupun dengan pasangan mengenai program KB
dapat dimanfaatkan sebagai salah satu upaya penyebarluasan informasi mengenai KB. Interaksi yang
berlangsung saat diskusi akan menambah wawasan mereka terhadap keluarga berencana sehingga secara
tidak langsung juga dapat meningkatkan pengetahuan mereka terhadap program. Diharapkan dengan
semakin meningkatnya pengetahuan akan menumbuhkan persepsi yang positif terhadap program KB.
Persepsi yang positif akan lebih memudahkan mereka untuk dapat menerima program KB yang
selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan kesertaan mereka untuk menjadi peserta KB serta kesadaran
dalam kelangsungan penggunaannya.
34
Pembicaraan tentang KB ditanyakan kepada semua pria berstatus kawin, apakah mereka pernah
berdiskusi tentang KB dengan isteri, teman/tetangga, saudara, orang tua, saudara laki-laki ataupun dengan
anak selama 6 bulan terakhir sebelum wawancara. Proporsi pria yang berdiskusi mengenai KB dengan
pasangannya tercatat sebesar 26 persen.
Pembicaraan/diskusi tentang KB antara pria kawin dengan individu lainnya ternyata juga relatif rendah.
Diskusi dengan teman atau tetangga misalnya hanya 12 persen. Pria yang membicarakan KB dengan
saudara ataupun dengan orang tua tercatat hanya 1 persen, sedangkan diskusi yang dilakukan dengan
saudara laki-laki ataupun dengan anak bahkan sangat rendah yaitu kurang dari satu persen.
Tabel 3.6. Diskusi tentang keluarga berencana
Persentase pria kawin yang pernah membicarakan masalah KB dalam 6 bulan terakhir menurut karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Tidak
Pernah membicarakan KB dengan:
pernah
Karakteristik
Orang
Saudara
Teman
membicaJumlah
latar belakang
Istri
tua
Saudara
Anak
laki-laki
tetangga
rakan KB
pria
Umur
15-19
(28,0)
(3,1)
(0,0)
(0,0)
(0,0)
(1,4)
(69,3)
28
20-24
34,5
4,2
0,0
0,0
1,1
14,9
56,4
345
25-29
34,8
1,9
1,2
0,0
0,9
12,2
58,0
1.127
30-34
33,5
0,7
0,7
0,0
0,8
15,6
57,6
1.674
35-39
29,7
1,3
0,5
0,0
0,6
11,9
62,8
1.775
40-44
23,6
0,9
0,8
0,0
0,2
10,2
69,4
1.693
45-49
19,2
1,1
0,4
0,6
0,5
9,9
73,8
1.371
50-54
11,7
0,9
0,7
1,0
0,4
7,8
82,6
1.292
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
28,3
1,2
0,8
0,3
0,7
14,0
63,2
4.739
Perdesaan
23,6
1,3
0,5
0,2
0,4
9,0
70,2
4.567
Pendidikan
Tidak sekolah
11,3
2,9
0,0
0,0
0,2
7,9
83,5
265
Tidak tamat SD
14,2
0,6
0,1
0,3
0,0
5,6
82,1
1.371
Tamat SD
19,6
0,7
0,3
0,3
0,1
5,6
76,2
2.118
Tidak tamat SMTA
29,2
0,6
0,3
0,1
0,4
10,9
62,8
1.979
SMTA+
33,6
2,1
1,3
0,3
1,2
17,9
55,9
3.572
Jumlah anak masih hidup
0
17,5
2,5
1,1
0,0
0,8
8,9
74,9
888
1 -2
27,0
1,4
0,8
0,2
0,5
12,8
64,7
3.935
3–4
28,8
0,7
0,5
0,3
0,7
12,3
64,0
3.101
4+
22,4
1,1
0,3
0,3
0,2
8,0
72,7
1.382
Kuintil kekayaan
Terbawah
20,0
0,6
0,1
0,1
0,2
5,1
76,2
1.596
Menengah bawah
23,6
1,5
0,4
0,0
0,3
8,4
70,2
1.866
Menengah
24,4
0,8
0,8
0,0
0,5
9,3
69,2
2.008
Menengah atas
28,1
1,0
0,9
0,3
0,7
15,4
61,9
1.962
Teratas
33,0
2,2
1,1
0,8
1,1
18,3
57,2
1.875
Jumlah
26,0
1,2
0,7
0,2
0,6
11,5
66,6
9.306
(....) Tanda kurung menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 49 tetapi lebih dari 25 kasus .
Pola umum memperlihatkan bahwa diskusi mengenai KB dengan isteri, teman/tetangga, saudara, orang
tua, saudara laki-laki dan anak lebih banyak dilakukan oleh pria kawin usia dibawah 30 tahun; tinggal di
perkotaan; berpendidikan tinggi; mempunyai pekerjaan; memiliki anak lebih dari 2; dan berasal dari pria
yang tergolong memiliki indeks kekayaan teratas.
Bila dicermati secara lebih rinci, pola yang terjadi pada masing-masing kelompok yang diajak berdiskusi
dapat digambarkan sebagai berikut, pria yang berdiskusi tentang KB dengan pasangannya lebih banyak
dilakukan oleh mereka yang berusia 25-34 tahun, dan telah memiliki dua anak. Pengamatan berdasarkan
tingkat pendidikan maupun indeks kekayaan kuintil terlihat adanya hubungan yang positif. Di kalangan
pria kawin yang tidak sekolah contohnya, hanya sekitar 11 persen yang berdiskusi mengenai KB dengan
35
pasangan, sementara pada mereka yang berpendidikan tinggi untuk hal yang sama adalah 34 persen. Di
sisi lain, proporsi pria kawin yang tergolong memiliki kuintil kekayaan terbawah hanya 20 persen yang
melakukan diskusi dengan isteri, persentase ini meningkat terus sejalan dengan kuintil kekayaan yang
semakin tinggi hingga menjadi 33 persen di kalangan pria yang tergolong memiliki kuintil kekayaan
teratas.
Diskusi antara pria kawin dengan teman atau tetangga terbanyak dilakukan oleh pria berusia 30-34 tahun
(16 persen); dan telah memiliki dua anak (13 persen). Perbedaan menurut tempat tinggal nampak
mencolok, pria kota lebih banyak melakukan diskusi dengan teman atau tetangga dibandingkan dengan
rekan-rekannya yang tinggal di desa (14 persen berbanding 9 persen). Pembicaraan KB dengan orang tua
terbanyak dilakukan oleh pria usia 20-24 tahun (4 persen), sedang pembicaraan dengan saudara
terbanyak dilakukan oleh pria usia 35-39 tahun (kurang dari 1 persen). Berdasarkan jumlah anak yang
dimiliki, pembicaraan tentang KB dengan orang tua maupun saudara paling banyak dilakukan oleh pria
yang belum telah memiliki anak.
Jika dilihat pada pria kawin yang tidak pernah membicarakan KB, lebih banyak pada kelompok umur 5054 tahun yang tinggal di perdesaan dengan tingkat pendidikan tidak sekolah dan tidak bekerja dalam 12
bulan terakhir, tidak mempunyai anak serta pada indeks keakayaan kuintil terbawah.
Dari table diskusi tentang KB di atas dapat diketahui bahwa keterbukaan masih cukup rendah antar
pasangan suami istri khususnya untuk berkomunikasi mengenai masalah KB, kesehatan reproduksi dan
seksualitas.Sebagian besar pria tidak pernah membicarakan tentang KB/tidak berdiskusi tentang
KB.Diskusi yang dilakukan lebih banyak kepada istri dengan persentase hanya sebesar 26 persen. Tidak
adanya pembicaraan mengenai KB antar pasangan suami istri sering dikaitkan dengan masih banyaknya
masyarakat yang menganggap tabu dan masih adanya rasa enggan atau malu untuk membahas persoalan
yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas.
3.3.3. Sikap Pria Tentang Keluarga Berencana
Selain pengetahuan tentang KB yang dimiliki, sikap pria terhadap KB juga ikut berperan dalam
menentukan apakah seseorang pria bersedia menjadi peserta KB atau mengijinkan pasangannya untuk
menggunakan salah satu alat/cara KB. Pada umumnya sikap yang positif terhadap program KB akan lebih
memudahkan mereka untuk dapat menerima program KB. Penerimaan program KB dapat berdampak
pada partisipasi mereka terhadap program yang ditandai dengan kesertaan mereka menjadi peserta KB. Di
lain pihak, kurangnya pengetahuan dapat menimbulkan persepsi atau sikap yang keliru terhadap program
KB. Persepsi yang kurang benar akan menghambat penerimaan mereka terhadap program KB, sehingga
mereka cenderung menolak untuk menjadi peserta KB.
Pada SDKI 2012, data tentang sikap KB ditanyakan kepada semua responden pria berstatus kawin yang
terpilih sebagai sampel survei. Beberapa pernyataan sikap tentang KB yang diajukan kepada pria, antara
lain adalah “KB adalah Urusan Wanita”, “Wanita yang Disterilisasi dapat Berganti-ganti Pasangan”,
“Sterilisasi Pria Sama dengan Dikebiri”, dan “Wanita Seharusnya Disterilisasi”. Dalam hal ini para pria
ditanyakan apakah mereka setuju atau tidak setuju dengan beberapa pernyataan mengenai KB yang
diajukan kepada mereka. Hasil tentang informasi mengenai sikap pria tersebut disajikan pada Tabel 3.7.
36
Tabel 3.7. Sikap pria terhadap beberapa pernyataan tentang KB
Persentase sikap pria kawin terhadap beberapa pernyataan tentang KB menurut karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Wanita yang
KB
disterilisasi dapat
Wanita
Karakteristik
urusan
berganti-ganti
Sterilisasi pria
seharusnya
latar belakang
wanita
pasangan seksual
sama dg dikebiri
disterilisasi
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah (persen)
Jumlah
(47,9)
36,0
38,7
38,8
39,1
41,2
47,4
46,2
(3,2)
2,8
1,5
1,7
1,6
1,0
2,5
1,0
(21,9)
8,8
13,5
12,3
13,4
16,7
14,8
14,8
(29,6)
30,2
30,9
27,2
31,3
28,5
31,2
32,9
28
345
1.126
1.668
1.771
1.692
1.371
1.289
35,5
47,7
1,8
1,4
16,6
11,4
29,4
30,9
4.731
4.558
41,6
57,5
55,9
44,6
25,1
0,4
1,8
1,6
1,6
1,6
10,5
9,1
13,1
13,2
17,2
22,0
30,5
36,0
30,0
27,2
265
1.369
2.114
1.976
3.565
46,6
51,0
44,8
38,8
27,0
2,1
1,6
1,5
1,3
1,6
10,0
11,5
14,4
14,9
18,8
23,8
33,2
34,7
31,2
26,6
1.594
1.865
2.001
1.960
1.870
41,5
1,6
14,1
30,2
9.289
(....) Tanda kurung menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 49 tetapi lebih dari 25 kasus .
Di antara berbagai pernyataan yang mencerminkan sikap pria terhadap keluarga berencana, pernyataan
sikap yang paling banyak disampaikan oleh pria adalah bahwa “KB Urusan Wanita” (42 persen),
berikutnya adalah pernyataan “Wanita Seharusnya yang Disterilisasi” (30,2 persen). Pernyataan
“Sterilisasi Pria sama dengan Dikebiri”, dikemukakan oleh pria dengan persentase yang lebih rendah
yaitu 14 persen. Sedang pernyataan yang paling sedikit dikemukakan oleh pria kawin adalah bahwa
“Wanita yang Disterilisasi dapat Berganti-ganti Pasangan” (2 persen). Jika dibandingkan dengan hasil
SDKI 2007 maka terjadi peningkatan dari pria yang menyatakan bahwa KB adalah urusan wanita(dari 31
persen menjadi 42 persen), wanita seharusnya disterilisasi (dari 22 persen menjadi 30 persen) dan
peningkatannya cukup besar.
Temuan di atas khususnya mengenai pernyataan yang paling banyak disetujui oleh pria bahwa “KB
Urusan Wanita” mengindikasikan bahwa pada umumnya pria masih mempunyai persepsi atau anggapan
bahwa sebaiknya yang berurusan dengan KB adalah wanita. Lebih jauh dapat pula diartikan bahwa
pemakaaian alat/cara KB lebih tepat kalau ditujukan untuk wanita.
Secara umum, beberapa pernyataan yang mencerminkan sikap pria terhadap KB terlihat beragam menurut
umur, daerah tempat tinggal, tingkat pendidikan, maupun kuintil kekayaan. Berdasarkan kelompok umur
kecuali pada kelompok 15-19 tahun, terlihat adanya kecenderungan pria yang berusia lebih tua
menyatakan bahwa “KB adalah Urusan Wanita”. Sikap terhadap pernyataan bahwa “Wanita Seharusnya
Disterilisasi” menunjukkan pola yang tidak beraturan dan “Wanita yang Disterilisasi dapat Berganti-ganti
Pasangan” menunjukkan pola yang menurun terus.
37
Sementara itu persentase sikap pria pada pernyataan bahwa “Sterilisasi Pria Sama Dengan Dikebiri”
menurut kelompok umur, terbanyak diungkapkan oleh pria umur 15-19 tahun dengan persentase 22
persen dan terendah di umur 20-24 tahun (9 persen).
Gambar 3.2. Persentase pernyataan “sterilisasi pria sama dengan dikebiri”
menurut kelompok umur, Indonesia 2012
21.9
16.7
13.5
12.3
13.4
14.8
14.8
45-49
50-54
8.8
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
Pernyataan bahwa ”KB adalah urusan wanita”, dan “Wanita yang seharusnya disterilisasi” lebih banyak
dikemukakan oleh pria kawin di perdesaan dari pada di perkotaan, dengan persentase masing-masing 48
persen berbanding 36 persen untuk pernyataan “KB urusan wanita”, 31 persen berbanding 29 persen
untuk wanita yang seharusnya disterilisasi. Hal yang sebaliknya terjadi pada pria yang menyatakan bahwa
“Sterilisasi pria sama dengan dikebiri” justru lebih banyak dinyatakan oleh pria di perkotaan dari pada di
perdesaan (17 persen berbanding 11 persen).
Pria berpendidikan tidak tamat SD atau lebih rendah, banyak yang memberikan pernyataan bahwa “KB
urusan wanita” dibandingkan dengan rekan-rekannya yang berpendidikan lebih tinggi. Pernyataan bahwa
“Wanita yang disterilisasi dapat berganti-ganti pasangan” terbanyak dikemukakan oleh pria yang
tidaktamat SD (2 persen). Sementara itu, proporsi pria yang menyatakan bahwa “Sterilisasi pria sama
dengan dikebiri” cenderung lebih banyak dinyatakan oleh pria yang berpendidikan tinggi (tamat SMTA
dan lebih tinggi) dan “Wanita seharusnya yang disterilisasi” lebih banyak disampaikan oleh pria kawin
yang mempunyai tingkat pendidikan tamat SD. Persepsi yang keliru mengenai “Sterilisasi pria sama
dengan dikebiri” yang dikemukakan oleh pria yang berpendidikan tinggi, perlu mendapat perhatian
khusus dari pengelola program, karena persepsi yang salah ini kemungkinan dapat menjadi salah satu
penyebab mengapa MOP atau vasektomi kurang dapat diterima oleh sebagian besar pria.
Pernyataan bahwa “KB urusan wanita”, ternyata lebih banyak dikemukakan oleh pria yang berada pada
indeks kekayaan menengah sampai yang terbawah. Sebagai contoh, proporsi pria yang setuju bahwa ”KB
urusan wanita” di kalangan pria yang tergolong memiliki indeks kekayaan kuintil menengah kebawah
tercatat 51 persen, sementara pada mereka yang tergolong memiliki indeks kekayaan kuintil teratas
nampak jauh lebih rendah (27 persen).
Pernyataan bahwa “Sterilisasi pria sama dengan dikebiri” cenderung semakin meningkat sejalan dengan
meningkatnya indeks kekayaan kuintil. Sembilan belas persen pria yang memiliki indeks kekayaan teratas
menyatakan pernyataan ini, sementara di kalangan pria yang tergolong memiliki indeks kekayaan
terbawah tercatat hanya setengahnya (10 persen). Di lain pihak, pria yang menyatakan bahwa ”Wanita
38
seharusnya yang disterilisasi”, menunjukkan pola “U” terbalik, namun terbanyak dikemukakan oleh pria
yang memiliki indeks kekayaan kuintil menengah (35 persen).
Proporsi pria yang menyatakan bahwa ”Wanita yang disterilisasi dapat berganti-ganti pasangan
seksual” nampaknya cukup merata di semua kelompok umur, baik di perkotaan maupun di perdesaan,
sedikit lebih tinggi di kalangan pria yang tidak tamat SD, dan tidak berbeda antar kuintil kekayaan.
Temuan ini menggambarkan bahwa di lingkungan masyarakat masih dijumpai persepsi yang keliru
mengenai sterilisasi wanita. Untuk itu diperlukan KIE KB yang lebih intensif terutama yang menyangkut
sterilisasi wanita maupun pria untuk menepis persepsi yang tidak benar tersebut. Materi KIE seyogyanya
lebih rinci dikemas dalam bahasa yang sederhana mengingat masih ada kelompok yang tidak
berpendidikan, dan disampaikan secara merata baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan dan
menjangkau setiap kuintil kekayaan.
Menurut data di atas, secara umum, dapat dikatakan bahwa sikap pria tentang KB sebagian besar pria
beranggapan “KB adalah urusan wanita” (42 persen). Hal ini mengindikasikan masih rendahnya
partisipasi pria dalam ber-KB. Dapat diartikan pula bahwa masih banyak pria yang menganggap KB
hanya menjadi persoalan wanita. Ada anggapan juga bahwa program KB hanya dilakukan oleh para
wanita, terlihat dari persentase wanita yang seharusnya disterilisasi, yaitu sebesar 30 persen. Rendahnya
partisipasi pria ini menunjukkan kurangnya dukungan ataupun peran serta aktif pria dalam upaya
pengembangan program keluarga berencana.
39
40
Pengalaman dan Pemakaian
Alat/Cara KB
4
Temuan Utama
 Pemakaian suatu alat/cara KB modern di antara pria kawin menurun menjadi 2,7 persen dibandingkan
dengan 2,8 persen menurut SDKI 2007, walaupun pengetahuan mereka tentang kondom dan MOP cukup
besar yaitu masing-masing 87 persen dan 30,6 menurut SDKI 2012. Pemakaian suatu alat/cara KB
tradisional pria tercatat hampir 2 persen, sehingga pemakaian suatu alat/cara KB pria menjadi 4,7 persen
walaupun angka ini menurun dari 5,4 persen (SDKI 2007).
 Penurunan pemakaian kontrasepsi pria tersebut terjadi pada pemakaian MOP (dari 0,4 persen SDKI 2007
menjadi 0,3 persen SDKI 2012). Pemakaian kontrasepsi kondom sedikit meningkat menjadi 2,5 dari 2,4
(SDKI 2007).
 Mayoritas pria berpendapat harga kondom yang beredar dimasyarakat masih terjangkau. Pria di perdesaan
dan memiliki kuintil kekayaan menengah cenderung lebih berpendapat bahwa harga kondom terjangkau
dengan persentase masing-masing 73,5 persen dan 79,4 persen.
 Persentase pria yang mengaku tidak menjumpai masalah dalam menggunakan kondom meningkat menjadi
80 persen dibandingkan dengan hasil SDKI 2007 (69 persen). Sepuluh persen dari pria yang memiliki
masalah dengan kondom berpendapat kondom mengurangi kenyamanan.
 Diantara pria yang pernah mendengar tentang alat/cara KB kondom, sebagian besar pria berpendapat
kondom dapat melindungi diri dari penyakit.
 Pria di perkotaan lebih banyak yang setuju terhadap beberapa pernyataan mengenai kondom, seperti:
kondom dapat mengurangi kenikmatan dalam hubungan seksual; kondom tidak nyaman dipakai; kondom
dapat melindungi dari penyakit; dan wanita tidak berhak mengatakan agar pria pakai kondom, dibandingkan
pria yang tinggal di perdesaan.
 Diantara seluruh pria kawin, pria yang melaporkan pernah melakukan hubungan seksual dengan memberi
imbalan berupa uang atau barang meningkat menjadi sekitar tiga persen dibandingkan dengan hasil SDKI
2002-2003 (sekitar satu persen), dan 2 persen (SDKI 2007).
 Diantara seluruh pria kawin, sebagian besar (70 persen) tidak pernah dengar tentang sterilisasi pria, dan
angka ini menurun dibandingkan dengan hasil SDKI 2007 (71 persen).
Bab ini menyajikan tentang pengalaman dan pemakaian KB pria meliputi aspek pemakaian alat/cara KB
pria masa kini dan bahasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pemakaian dan permasalahan kondom,
serta berbagai hal tentang sterilisasi pria.
4.1. Pemakaian Alat/Cara KB Pria
Tabel 4.1. menyajikan informasi tentang pemakaian alat/cara KB pria saat ini. Tabel tersebut memberikan
gambaran bahwa kesertaan pria dalam ber-KB masih relatif rendah baik pemakaian suatu alat/cara KB
moderen maupun alat/cara KB tradisional. Hal yang kurang menggembirakan, pemakaian suatu alat/cara
KB modern di antara pria kawin menurun menjadi 2,7 persen dibandingkan dengan 2,8 persen menurut
SDKI 2007, walaupun pengetahuan mereka tentang kondom dan MOP cukup besar yaitu masing-masing
87 persen dan 30,6 persen. Penuruan pemakaian kontrasepsi pria tersebut terjadi pada pemakaian MOP
(dari 0,4 persen SDKI 2007 menjadi 0,3 persen SDKI 2012). Sedangkan pemakaian kontrasepsi kondom
sedikit meningkat menjadi 2,5 persen dari 2,4 persen (SDKI 2007).
41
Sementara itu, apabila penggunaan alat cara KB tradisional pria seperti sanggama terputus dan pantang
berkala turut diperhitungkan, maka persentase pemakaian suatu alat/cara KB pria menjadi 4,7 persen
walaupun angka ini menurun dari 5,4 persen (SDKI 2007). Pemakaian suatu alat/cara KB tradisional pria
tercatat hampir 2 persen. Prevalensi kesertaan KB pria dengan menggunakan suatu alat/cara KB modern
(sterilisasi pria dan kondom) ini relatif masih rendah, bila dibandingkan dengan target yang harus dicapai
berdasarkan RPJMN 2004-2009 sebesar 4,5 persen di antara peserta KB.
Tabel 4.1. Pemakaian alat/cara KB pria (pengakuan pria)
Distribusi persentase pria kawin menurut alat/cara KB yang dipakai dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Cara modern
Cara tradisional
Suatu
Suatu
Karakteristik latar belakang
cara
Pantang
Sanggama
cara
modern
Kondom
MOP
berkala
terputus
Lainnya
Umur
15-19
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
20-24
0,6
0,4
0,4
0,0
0,0
0,3
0,0
25-29
3,9
2,6
2,3
0,3
0,1
1,1
0,1
30-34
4,6
2,3
2,3
0,0
0,4
1,7
0,1
35-39
4,9
2,5
2,4
0,1
0,4
1,9
0,0
40-44
5,5
3,3
3,0
0,3
1,1
1,0
0,1
45-49
5,2
2,8
2,8
0,0
0,6
1,4
0,3
50-54
4,6
3,4
2,3
1,1
0,3
0,9
0,0
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
6,5
4,1
3,8
0,3
0,7
1,6
0,1
Perdesaan
2,7
1,3
1,0
0,2
0,4
1,0
0,1
Pendidikan
Tidak sekolah
1,7
1,1
0,0
1,1
0,1
0,3
0,3
Tidak tamat SD
2,3
1,5
0,6
0,9
0,3
0,3
0,2
Tamat SD
2,1
0,9
0,8
0,1
0,2
1,0
0,0
Tidak tamat SMTA
3,0
1,8
1,7
0,1
0,3
0,9
0,0
SMTA+
8,2
4,9
4,8
0,2
1,0
2,2
0,1
Status kerja
Tidak bekerja
2,2
1,8
1,6
0,2
0,0
0,4
0,0
Bekerja
4,7
2,8
2,5
0,3
0,5
1,4
0,1
Jumlah anak masih hidup
0
0,9
0,6
0,6
0,0
0,1
0,1
0,0
1-2
4,1
2,4
2,1
0,3
0,4
1,2
0,0
3-4
6,1
3,7
3,4
0,2
0,6
1,7
0,1
4+
5,3
2,7
2,4
0,3
1,0
1,6
0,1
Kuintil Kekayaan
Terbawah
2,6
0,9
0,8
0,1
0,6
0,8
0,2
Menengah bawah
2,7
1,6
1,2
0,4
0,3
0,6
0,1
Menengah
4,0
2,0
1,7
0,3
0,5
1,4
0,0
Menengah atas
5,6
3,8
3,5
0,4
0,4
1,3
0,1
Teratas
8,1
4,9
4,8
0,1
0,8
2,4
0,0
Jumlah
4,7
2,7
2,5
0,3
0,5
1,3
0,1
Tidak
pakai
Jumlah
Jumlah
pria
100,0
99,4
96,1
95,4
95,1
94,5
94,8
95,4
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
28
345
1.127
1.674
1.775
1.693
1.371
1.292
93,5
97,3
100,0
100,0
4.739
4.567
98,3
97,7
97,9
97,0
91,8
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
265
1.371
2.118
1.979
3.572
97,8
95,3
100,0
100,0
303
8.999
99,1
95,9
93,9
94,7
100,0
100,0
100,0
100,0
888
3.935
3.101
1.382
97,4
97,3
96,0
94,4
91,9
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
95,3
100,0
9.306
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
Pemakaian suatu alat/cara KB maupun suatu alat/cara KB modern di kalangan pria, terlihat beragam
berdasarkan karakteristik responden. Pemakaian KB pria menunjukkan pola tak beraturan menurut umur.
Pemakaian suatu alat/cara KB modern tinggi terdapat pada pria yang berumur lebih tua yaitu 50-54 tahun
dan 40-44 tahun (masing-masing 3 persen), sedangkan terendah pada pria umur 20-24 tahun (0,4 persen).
Apabila pemakaian kontrasepsi modern digabungkan dengan alat/cara KB tradisional, maka pemakaian
tertinggi suatu alat/cara KB terdapat pada pria umur 40-45 tahun (6 persen) dan diikuti oleh pria berumur
45-49 tahun (5 persen). Proporsi terendah untuk pemakaian suatu alat/cara KB juga dijumpai pada pria
berumur 20-24 tahun
Persentase pria yang menggunakan baik suatu alat/cara KB maupun alat/cara KB modern lebih banyak
dijumpai di wilayah perkotaan dibandingkan di perdesaan. Pemakaian suatu alat/cara KB pria di
42
perkotaan tercatat hampir 7 persen, sedangkan di perdesaan 3 persen. Sementara persentase pemakaian
suatu alat/cara KB modern berturut-turut adalah 4 persen di perkotaan dan 1 persen di daerah di
perdesaan.
Pemakaian alat/cara KB modern terlihat mulai meningkat pada pendidikan pria tidak tamat SMTA dan
Tamat SMTA dan lebih tinggi, masing-masing 2 persen dan 5 persen. Pola yang sama dijumpai pada pria
yang menggunakan suatu alat/cara KB, masing-masng 3 persen di antara pria berpendidikan tidak tamat
SD dan 8 persen pada pria yang tamat SMTA dan lebih tinggi.
Sementara itu, apabila ditinjau dari kegiatan utama yang dilakukan paling sedikit satu jam selama 7 hari
berturut-turut, nampak pria yang berkerja lebih banyak menggunakan baik suatu alat/cara KB maupun
suatu alat/cara KB modern. Pria yang bekerja dan menggunakan alat/cara KB modern lebih tinggi
dibandingkan dengan pria yang tidak bekerja yaitu masing-masing 3 persen dan 2 persen. Pola yang sama
dijumpai pada pria yang menggunakan suatu alat/cara KB, masing-masing 5 persen diantara pria bekerja
dan 2 persen untuk pria yang tidak bekerja.
Pemakaian suatu alat/cara KB modern cenderung meningkat pada pria yang belum memiliki anak sampai
dengan mereka yang mempunyai 3-4 anak, dan selanjutnya menurun setelah pria memiliki anak lebih dari
empat. Demikian pula ditemui pada pria yang menggunakan suatu alat/cara KB meningkat dengan
meningkatnya jumlah anak yang dimiliki. Proporsi pria menggunakan suatu alat/cara KB modern
tertinggi terdapat pada pria yang mempunyai 3-4 anak. Pola yang sama ditemui pada pria yang
menggunakan suatu alat/cara KB.
Tabel 4.1 juga menunjukkan bahwa semakin tinggi indeks kekayaan pria cenderung semakin
menggunakan baik suatu alat/cara KB maupun suatu alat/cara KB modern. Proporsi pemakaian tertinggi
dijumpai pada pria dengan kuintil kekayaan teratas baik untuk penggunaan suatu alat/cara KB maupuan
suatu alat/cara KB modern, masing-masing delapan persen dan lima persen.
Apabila ditinjau dari pemakaian kondom, pria yang memakai suatu alat/cara KB modern meningkat
sejalan dengan bertambahnya umur pria sampai 40-44 tahun. Proporsi ini menurun pada pria berumur 4549 tahun. Pria yang tinggal di perkotaan cenderung lebih banyak menggunakan kondom namun untuk
MOP cenderung sama antara sama antara perdesaan dan perkotaan.
Pola pemakaian kondom, tampak semakin tinggi pendidikan pria cenderung semakin banyak pada pria
yang menggunakan kondom. Tidak demikian halnya dengan pria yang menggunakan MOP, tampak lebih
bervariasi, namun pria yang menggunakan MOP tertinggi terdapat pada mereka yang tidak berpendidikan.
Proporsi pria yang mengunakan baik kondom maupun MOP lebih banyak ditemui pada pria yang
berkerja.
Pria yang menggunakan kondom cenderung meningkat pada mereka yang memiliki anak 3-4 dan
proporsi ini menurun setelah memiliki lebih dari 4 anak. Sementara itu, tidak terlihat pola pemakaian
MOP yang cukup jelas, pria yang MOP banyak dijumpai pada pria yang memiliki anak1-2 anak dan pria
yang memiliki lebih dari 4 anak.
Apabila pemakaian kondom ditinjau dari indeks kekayaan, tampak suatu pola kecenderungan, pemakaian
kondom cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya kuintil kekayaan pria. Sementara itu, pola
pemakaian MOP lebih bervariasi, namun pria yang MOP lebih banyak ditemui pada pria dalam kelompok
kuintil kekayaan menengah bawah dan menengah atas (0,4 persen).
43
4.2. Hal-hal yang Berkaitan dengan Pemakaian Kondom
4.2.1. Harga Kondom
Tabel 4.2. Harga kondom
Rata-rata harga kondom per paket, Indonesia 2012
harga kondom
(Rp)
Rata Rata
11.715
Median
11.000
Minimum
2,000
Maximum
70.000
Jumlah pria
Pada SDKI 2012, diajukan pertanyaan kepada pria
kawin yang pernah dengar dan saat ini menggunakan
kondom tentang harga rata-rata harga kondom yang
digunakannya. Tabel 4.2 menunjukan bahwa harga
rata-rata kondom mencapai Rp. 11.715 per paket.
202
4.2.2. Pendapat Pria Tentang Harga Kondom
Dalam rangka mengetahui penilaian pria akan keterjangkauan harga kondom dipasaran, pada pria kawin
diajukan pertanyaan mengenai pendapat tentang harga kondom. Hal tersebut dilakukan untuk
memberikan masukan kepada pengelola program tentang seberapa mampu masyarakat khusunya pria
menjangkau harga kondom. Serangkaian pertanyaan saringan diajukan untuk mengetahui pendapat pria
tentang harga kondom. Pertanyaan tentang pendapat pria mengenai harga kondom diajukan kepada
responden pria baik yang pernah memakai kondom maupun saat ini sedang memakai kondom, dan
mengetahui harga kondom. Pendapat pria tentang harga kondom disajikan pada Tabel 4.3.
Secara umum pria berpendapat bahwa harga kondom yang beredar di pasaran merupakan harga yang
terjangkau (72 persen), berikutnya berpendapat harga kondom tidak mahal (22 persen), dan selebihnya (6
persen) berpendapat harga kondom terlalu mahal. Hal ini menunjukan pada dasarnya sebagian besar pria
dapat menjangkau harga kondom di pasaran.
Berdasarkan karakteristik latar belakang umur, pria yang berpendapat bahwa harga kondom terjangkau,
terbanyak dikemukakan oleh mereka yang berusia 35-39 tahun (79 persen), sementara pada kelompok
umur lain tampak lebih rendah. Sedangkan pria yang berpendapat bahwa harga kondom tidak mahal
paling banyak dikemukakan oleh kelompok pria berumur 40-44 tahun (52 persen).
Jika dilihat berdasarkan karakteristik wilayah, terdapat sedikit perbedaan pendapat mengenai harga
kondom yang terjangkau antara pria yang bertempt tinggal di perkotaan dan perdesaan. Pria di perdesaan
cenderung lebih berpendapat bahwa harga kondom terjangkau (74 persen) dibandingkan pria di perkotaan
(71 persen). Sebaliknya, pria yang berpendapat bahwa harga kondom tidak mahal lebih banyak
dikemukakan oleh pria di perkotaan (23 persen) dibandingkan di perdesaan (20 persen). Hal ini
menunjukan bahwa harga kondom yang ada di masyarakat terbilang terjangkau, tidak mahal dan cukup
menyebar di semua wilayah baik perkotaan maupun perdesaan.
Apabila dilihat berdasarkan latar belakang pendidikannya, pria yang berpendapat bahwa harga kondom
terjangkau tertinggi pada pria yang berpendidikan relatif tinggi yakni tidak tamat SMTA (74 persen).
Sementara itu persentase pria yang berpendapat harga kondom tidak mahal, semakin besar seiring dengan
meningkatnya pendidikan pria. Pada pria berpendidikan tidak tamat SMTA tercatat 20 persen, sedangkan
pria berpendidikan tamat SMTA keatas sebesar 22 persen.
44
Tabel 4.3. Pendapat tentang harga kondom
Distribusi persentase pria kawin yang pernah dengar kondom dan pakai kondom menurut pendapat tentang
keterjangkauan harga kondom dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Harga kondom
Tidak
Terlalu
Jumlah
Karakteristik latar belakang
mahal
Terjangkau
mahal
Jumlah
pria
Umur
15-19
*
*
*
*
1
20-24
*
*
*
*
23
25-29
15,1
74,4
10,5
100,0
38
30-34
18,2
78,6
3,2
100,0
39
35-39
14,5
79,0
6,5
100,0
45
40-44
52,3
38,6
9,1
100,0
33
45-49
17,4
77,6
5,0
100,0
23
50-54
*
*
*
*
8
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
22,5
71,2
6,3
100,0
166
Perdesaan
19,8
73,5
6,6
100,0
36
Pendidikan
Tidak sekolah
*
*
*
*
0
Tidak tamat SD
*
*
*
*
7
Tamat SD
*
*
*
*
11
Tidak tamat SMTA
20,0
73,8
6,3
100,0
29
SMTA+
22,1
73,1
4,8
100,0
155
Status kerja
Tidak bekerja
*
*
*
*
5
Bekerja
20,8
73,0
6,2
100,0
197
Jumlah anak masih hidup
0
*
*
*
*
1
1-2
23,7
69,8
6,5
100,0
71
3-4
16,2
77,4
6,4
100,0
100
4+
37,8
56,5
5,7
100,0
30
Kuintil kekayaan
Terbawah
*
*
*
*
11
Menengah bawah
*
*
*
*
18
Menengah
18,2
79,4
2,3
100,0
33
Menengah atas
15,8
77,7
6,5
100,0
58
Teratas
25,2
71,5
3,3
100,0
82
Jumlah
22,0
71,6
6,3
100,0
202
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
Selanjutnya, berdasarkan jumlah anak masih hidup, pria yang berpendapat harga kondom terjangkau
tertinggi pada mereka yang memiliki 3-4 anak (77 persen). Pendapat bahwa harga kondom murah paling
banyak dikemukakan oleh pria yang mempunyai 4 (empat) anak atau lebih dengan persentase sebesar 38
persen. Sedangkan yang paling banyak berpendapat harga kondom terlalu mahal adalah pria yang
memiliki anak 1-2 yakni 7 persen.
Berdasarkan kuintil kekayaan, mayoritas pria yang berpendapat harga kondom terjangkau berasal dari
kalangan pria dengan kuintil kekayaan menengah yakni sebesar 80 persen. Pria yang berpendapat harga
kondom tidak mahal paling banyak berasal dari pria dengan kuintil kekayaan
teratas (25
persen).Sedangkan pria yang berpendapat harga kondom terlalu mahal mayoritas berasal dari kuintil
kekayaan menengah atas (7 persen). Secara umum dapat dikatakan bawa harga kondom dapat dijangkau
oleh semua lapisan kondisi ekonomi masyarakat.
Karakteristik latar belakang seperti umur, tempat tinggal, tingkat pendidikan, jumlah anak masih hidup
yang dimiliki, kuintil kekayaan tampaknya tidak banyak mempengaruhi pria dalam mendapatkan
kondom. Pada umumnya pria tidak ada masalah dalam menjangkau harga kondom.
45
4.2.3. Permasalahan Dalam Pemakaian Kondom
Dalam rangka meningkatkan partisipasi pria khususnya dalam kesertaan KB, perlu diketahui
permasalahan-permasalahan yang dialami pria berkaitan dengan pemakaian alat/cara KB pria. Informasi
tentang berbagai permasalahan tersebut dapat digunakan sebagai rujukan dalam meningkatkan kualitas
pelayanan KB kepada masyarakat, khususnya pada aspek pelayanan KB pria. Beberapa aspek
permasalahan yang berkaitan dengan kualitas fisik kondom digunakan sebagai masukan dalam
penyempurnaan kualitas kondom. Sementara permasalahan pemakaian kondom di luar aspek kualitas
fisik sebagai masukan bagi pengelola program dalam penyempurnaan substansi KIE mengenai kondom.
Pertanyaan tentang permasalahan dalam pemakaian kondom diajukan kepada pria yang pernah
mendengar kondom dan memakai kondom pada setiap melakukan hubungan seksual. Masalah yang
dialami oleh pria pengguna kondom disajikan pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4. Masalah dengan penggunaan kondom
Distribusi persentase pria kawin yang pernah dengar kondom dan pernah
memakai kondom menurut masalah yang dialami dalam menggunakan
kondom, Indonesia 2012
Masalah dalam pemakaian kondom
Persen
Jumlah pria
Masalah
Terlalu mahal
Malu membelinya
Sulit membuangnya
Sulit memakainya
Menurunkan gairah
Mengurangi kenyamanan
Istri tidak suka
Istri jadi hamil
Tidak Nyaman
Kondom robek
20,3
1,1
1,4
0,5
0,5
0,8
10,2
0,0
0,0
4,2
1,6
1644
90
113
40
40
65
826
0
0
340
130
Tidak ada masalah
Total
79,7
100
6452
8096
Hasil survei menunjukkan dari 8096 pria yang yang pernah mendengar kondom dan pernah memakai
kondom, 80 persen pria mengaku tidak menjumpai permasalahan berkaitan dengan kondom yang
digunakan, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil SDKI 2007 (69 persen). Sedangkan sisanya
20,3 persen mengaku menemukan masalah dalam penggunaan kondom.
Sebagian besar diantara pria yang pernah mendengar dan menggunakan kondom mengatakan bahwa
penggunaan kondom mengurangi kenyamanan (10,2 persen). Selain itu, diantara mereka ada juga yang
mengakui bahwa penggunaan kondom dirasa tidak nyaman (6,2 persen). Sedangkan sisanya antara lain
alasan terlalu mahal, malu membeli, sulit membuangnya, sulit memakainya, menurunkan gairah, istri
tidak suka, istri hamil, dan kondom robek.
4.2.4. Persepsi tentang Kondom
Selain mengetahui berbagai permasalahan yang dialami pria berkaitan dengan pemakaian alat/cara KB
pria, perlu juga diketahui persepsi pria mengenai kondom. Berbagai persepsi mengenai kondom yang
mungkin saja muncul dari para pria dapat digunakan sebagai masukan bagi pengelola program dalam
menyempurnakan KIE khususnya mengenai kondom. Hal ini mengingat berbagai persepsi yang muncul
bisa saja salah atau kurang tepat sehingga perlu untuk dibenarkan.
Pria yang pernah mendengar tentang alat/cara KB kondom ditanya pendapat mereka tentang kondom.
Pendapat pria tentang kondom disajikan pada Tabel 4.5. Secara umum, di antara pria yang pernah
46
mendengar tentang alat/cara KB kondom, sebagian besar (78 persen) berpendapat bahwa kondom dapat
melindungi dari penyakit. Pendapat berikutnya adalah bahwa kondom dapat mengurangi kenikmatan
dalam hubungan seksual (54 persen), dan kondom tidak nyaman dipakai (50 persen). Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Michael Flood dalam studinya yang berjudul “Lust, Trust
and Latex: Why Young Heterosexual men do not use condoms” yang mengatakan bahwa pria muda yang
heteroseksual tidak menggunakan kondom dengan alasan susah digunakan dan dapat mengurangi sensasi
kenikmatan saat sedang berhubungan seksual. Namun disisi lain, berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Yang C, dkk, 2010 tentang “Peer norms and consistent condom use with female sex workers among
male clients in Sichuan province, China”, menemukan bahwa diantara lelaki yang pro kondom konsisten
menggunakan kondom disaat berhubungan seks dengan para pekerja seks komersial. Selanjutnya sisanya
29 persen pria berpendapat bahwa wanita tidak berhak mengatakan kepada pria agar pakai kondom.
Persentase pria yang berpendapat bahwa kondom dapat melindungi dari penyakit meningkat dari 55
persen pada SDKI 2007. Begitu juga dengan pendapat bahwa kondom dapat mengurangi kenikmatan
dalam hubungan seksual, kondom tidak nyaman dipakai dan wanita tidak berhak mengatakan kepada pria
agar pria pakai kondom yang juga meningkat dibanding SDKI 2007 dengan persentase masing-masing 39
persen; 36 persen dan 20 persen. Sedangkan yang berpendapat bahwa kondom dapat dipakai ulang
cenderung tidak berubah dibandingkan dengan SDKI 2007 yaitu masih dikisaran tiga persen.
Berdasarkan karakteristik usianya, pria yang berpendapat kondom tidak nyaman dipakai; dapat
melindungi dari penyakit;kondom dapat dipakai ulang paling banyak dikemukakan oleh pria umur 15-19
tahun dengan persentase masing-masing 69 persen; 83 persen dan lima persen. Begitu juga dengan
pendapat bahwa wanita tidak berhak mengatakan agar pria pakai kondom, terbanyak pada pria umur 1519 tahun (43 persen). Sedangkan pria yang mengemukakan bahwa kondom mengurangi kenikmatan
dalam hubungan seksual, terbanyak dikemukakan oleh pria umur 40-44 tahun (56 persen).
Berdasarkan karakteristik wilayah, pria yang menyatakan setuju terhadap beberapa pernyataan mengenai
kondom pria lebih banyak dijumpai pada pria di perkotaan, seperti kondom dapat mengurangi kenikmatan
dalam hubungan seksual; kondom tidak nyaman dipakai; kondom dapat melindungi dari penyakit; dan
wanita tidak berhak mengatakan agar pria pakai kondom, dibandingkan dengan pria yang tinggal di
perdesaan. Proporsi pria yang berpendapat kondom mengurangi kenikmatan dalam hubungan seksual
lebih banyak ditemui pada pria yang tinggal di perkotaan (56 persen) dibandingkan pria perdesaan (50
persen). Dalam soal ketidaknyamanan, pria perkotaaan cenderung sedikit lebih banyak yang berpendapat
kondom tidak nyaman dipakai dibandingkan pria yang berdiam di perdesaan dengan persentase masingmasing 52 persen dan 48 persen. Begitu juga dengan pendapat pria bahwa kondom dapat melindungi dari
penyakit, pria di perkotaan sedikit lebih banyak yang setuju akan pendapat tersebut dibanding pria di
perdesaan yakni 82 persen dibanding 72 persen. Pria berpendapat bahwa wanita tidak berhak mengatakan
agar pria pakai kondom lebih banyak ditemui pada pria yang tinggal di pekotaan (30 persen) dari pada
pria di perdesaan (29 persen). Sedangkan mengenai pendapat bahwa kondom dapat dipakai ulang, tidak
ada perbedaan antara pria di perkotaan maupun diperdesaan.
Pria yang mengatakan bahwa kondom mengurangi kenikmatan dalam hubungan seksual dan dapat
melindungi dari penyakit banyak dijumpai pada mereka yang berpendidikan tamat SMTA dan lebih
tinggi, masing-masing 59 persen dan 85 persen. Selanjutnya di antara pria yang berpendapat kondom
tidak nyaman dipakai lebih banyak ditemui pada pria tidak tamat SMTA (52 persen). Sedangkan pria
yang berpendapat bahwa wanita tidak berhak mengatakan agar pria pakai kondom paling banyak
dikemukakan di kalangan pria dengan pendidikan tamat SD (32 persen). Disisi lain, pendapat yang
kurang tepat bahwa kondom dapat dipakai ulang lebih banyak dijumpai pada pria yang tidak sekolah (6
persen).
47
Tabel 4.5. Beberapa pernyataan pria kawin tentang penggunaan kondom
Distribusi persentase pria kawin yang setuju dengan beberapa pernyataan tentang penggunaan kondom menurut karakteristik
latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
TamatSD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Status kerja
Tidak bekerja
Bekerja
Jumlah anak masih hidup
0
1-2
3-4
4+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Mengurangi
kenikmatan dalam
hubungan seksual
Tidak
nyaman
dipakai
Dapat
dipakai
ulang
Dapat
melindungi
dari penyakit
Wanita tidak berhak
mengatakan agar
pria pakai kondom
52,6
54,8
54,3
54,3
54,7
56,2
51,0
49,3
69,4
54,1
52,4
49,9
52,1
49,2
47,5
48,3
5,2
1,8
2,7
1,9
2,9
3,0
3,3
3,0
82,6
78,9
80,0
79,8
81,3
75,4
74,3
71,8
43,4
34,6
30,8
30,4
31,4
27,6
24,7
29,4
28
303
1.014
1.507
1.603
1.476
1.135
1.006
56,5
50,2
51,8
48,3
2,7
2,8
82,4
71,6
30,0
28,7
4.431
3.641
50,4
41,1
50,7
52,5
59,0
49,2
43,6
50,7
51,8
50,8
5,8
3,2
3,0
3,1
2,2
62,4
59,3
72,8
77,4
85,0
25,7
26,2
32,4
30,3
28,4
108
891
1.750
1.814
3.509
47,4
53,9
42,9
50,5
2,6
2,7
82,3
77,4
29,2
29,4
249
7.818
49,9
53,1
56,4
51,6
46,1
50,4
52,6
46,7
2,5
2,5
2,8
3,5
80,5
78,5
78,1
71,0
28,2
31,8
27,5
27,7
766
3.484
2.698
1.124
41,4
51,8
53,4
55,9
60,8
40,9
52,6
50,8
50,8
52,7
4,5
2,4
2,1
2,7
2,6
63,4
72,3
79,7
80,5
85,4
27,3
32,4
31,3
30,6
25,3
1.121
1.509
1.769
1.838
1.834
53,7
50,2
2,7
77,5
29,4
8.072
Jumlah
pria
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
Berdasarkan jumlah anak masih hidup yang dimiliki, pendapat pria mengenai kondom tidak memiliki
pola tertentu. Pernyataan setuju bahwa kondom dapat melindungi penyakit paling banyak dijumpai pada
pria yang tidak memiliki anak (81 persen). Mayoritas pria yang berpendapat kondom mengurangi
kenikmatan dalam hubungan seksual dan tidak nyaman dipakai banyak dikatakan oleh pria yang memiliki
anak hidup 3-4 masing-masing sebesar (56 persen dan 53 persen). Sedangkan pria yang berpendapat
bahwa wanita tidak berhak mengatakan agar pria pakai kondom terbanyak pada pria yang memiliki anak
1-2 saja. Dilain hal, pria yang setuju bahwa kondom dapat dipakai ulang terlihat cenderung cukuprata di
semua pria baik yang belum memiliki anak maupun yang telah memiliki anak banyak.
Menurut kuintil kekayaan, proporsi pria yang mengatakan bahwa kondom mengurangi kenikmatan dalam
hubungan seksual, kondom tidak nyaman dipakai, dan kondom dapat melindungi dari penyakit lebih
banyak pada pria yang memiliki kuintil kekayaan teratas. Hal ini ditunjukan dengan proporsi masingmasing sebesar 61 persen; 53 persen dan 85 persen. Sedangkan penyataan bahwa wanita tidak berhak
mengatakan agar pria pakai kondom paling banyak di kemukakan oleh pria yang memiliki kuintil
kekayaan menengah bawah (32 persen). Sementara pria yang setuju bahwa kondom dapat dipakai ulang
banyak dikemukakan oleh pria dengan kuintil kekayaan terbawah dengan persentase sebesar lima persen.
48
4.2.5. Hubungan Seks dengan Imbalan dan Penggunaan Kondom
Kondom mempunyai dua fungsi dalam kaitannya dengan KB dan kesehatan reproduksi (KR), yaitu
sebagai alat KB dan untuk mencegah penularan penyakit HIV/AIDS. Pertanyaan tentang hubungan seks
dengan imbalan serta pemakaian kondom dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana perilaku seksual
pria yang berisiko serta kedisiplinan pria dalam menggunakan kondom.
Di antara seluruh pria kawin, pria yang melaporkan pernah melakukan hubungan seksual dengan memberi
imbalan berupa uang relatif rendah, walaupun menunjukkan meningkat dibandingkan dengan sekitar satu
persen (SDKI 2002-2003) dan 2 persen (SDKI 2007) menjadi sekitar tiga persen. Sementara itu, pria yang
melakukan aktifitas tersebut dalam waktu 12 bulan terakhir di antara seluruh pria juga meningkat dari 0,1
persen (SDKI 2002-2003) dan 0,3 persen (SDKI 2007) menjadi dua persen. Pemakaian kondom pada saat
melakukan hubungan seksual dengan memberikan imbalan dalam 12 bulan terakhir diantara semua pria
pun meningkat menjadi satu persen dari 0,2 persen (SDKI 2007). Hal ini memperlihatkan bahwa masih
dijumpai pria yang kurang disiplin dalam menggunakan kondom ketika melakukan hubungan berisiko
dalam waktu 12 bulan terakhir. Gambaran kondisi ini dapat dilihat pada Tabel 4.6
Apabila kondisi tersebut ditinjau menurut karakteristik latar belakang pria, tampak bahwa hubungan
seksual berisiko yang pernah dilakukan pria dengan imbalan berupa uang atau barang cenderung
meningkat mulai umur muda 20-24 tahun sampai dengan pria umur 35-39 tahun, kemudian menurun pada
pria umur 45-49 tahun, dan proporsi tertinggi ditemui pada pria berumur 50-54 tahun mencapai lima
persen. Proporsi pria yang pernah melakukan hubungan seksual berisiko lebih banyak dijumpai pada pria
di perkotaan dibandingkan dengan pria di perdesaan (empat persen berbanding tiga persen). Apabila
ditinjau dari pendidikan, pria berpendidikan tidak tamat SMTA dan tamat SMTA atau lebih tinggi juga
terlihat lebih banyak melakukan hubungan seksual berisiko dibandingkan dengan rekan-rekannya yang
berpendidikan lebih rendah atau tidak sekolah. Sementara itu, pria yang pernah melakukan hubungan
seksual berisiko tampak pada pria yang berstatus tidak bekerja tercatat lebih dari dua kali lipat dari pada
pria yang bekerja (enam persen berbanding tiga persen). Pria yang melakukan hubungan seksual berisiko
lebih banyak pada pria memiliki anak masih hidup 4 atau lebih dibandingkan dengan pria yang memiliki
anak empat dan kurang dari empat. Pria yang melakukan hubungan seksual berisiko cenderung dijumpai
hampir sama diantara pria yang memiliki indeks kuintil kekayaan menengah bawah, menengah, dan
menengah atas yang masing-masing sekitar empat persen.
49
Tabel 4.6. Melakukan hubungan seksual dengan imbalan
Persentase pria kawin yang pernah melakukan hubungan seksual dengan imbalan (uang atau barang), pernah
melakukan hubungan seksual dengan imbalan dalam 12 bulan terakhir serta pemakaian kondom menurut
karakteristik latar belakang, Indonesia, 2012
Karakteristik
latar belakang
Pernah
melakukan
Melakukan dalam
12 bulan terakhir
Menggunakan
kondom
Jumlah
pria
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
*
2,2
2,3
3,1
4,4
2,9
2,9
4,8
*
0,6
2,3
1,3
2,8
2,3
1,9
1,7
*
1,2
1,6
1,7
2,4
1,0
0,8
0,7
28
345
1.127
1.674
1.775
1.693
1.371
1.292
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
4,0
2,8
2,2
1,9
1,8
1,0
4.739
4.567
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat
SMTA
SMTA+
Status kerja
3,4
2,7
2,7
0,6
2,4
1,9
0,0
1,0
0,8
265
1.371
2.118
4,0
3,7
2,1
2,0
2,0
1,7
1.979
3.572
Tidak bekerja
Bekerja
Jumlah anak masih hidup
6,3
3,3
1,6
2,0
2,3
1,4
303
8.998
0
1-2
3-4
4+
Kuintil kekayaan
2,8
3,2
3,2
4,5
1,4
2,0
2,1
2,3
1,6
1,5
1,1
1,5
888
3.935
3.101
1.382
3,0
3,5
3,5
3,6
3,3
2,3
2,4
2,3
1,2
2,0
0,7
1,6
1,4
1,1
2,1
1.596
1.865
2.008
1.962
1.875
3,4
2,0
1,4
9.306
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
4.3. Hal-hal yang Berkaitan dengan Sterilisasi Pria
4.3.1. Pendapat Pria tentang Sterilisasi
Pertimbangan untuk melakukan sterilisasi memerlukan pemikiran yang matang bagi pria untuk dapat
memutuskannya. Hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan bahwa metode sterilisasi pria
merupakan metode yang lebih permanen sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk dapat dilakukan
penyambungan kembali (rekanalisasi). Pertimbangan lainnya adalah adanya rumor berbagai isu negatif
tentang efek samping metode ini. Di samping itu, ada syarat tertentu bila pria ingin melakukan sterilisasi,
antara lain: kumulatif umur suami, istri, dan anak minimum 100, tidak ingin anak lagi, alasan kesehatan
tidak dapat menggunakan kontrasepsi lainnya, dan tentunya persetujuan istri.
Pertanyaan tentang apakah pria pernah mempertimbangkan untuk melakukan sterilisasi diajukan kepada
pria yang pernah mendengar sterilisasi pria. Tabel 4.7 menyajikan tentang pertimbangan untuk
melakukan sterilisasi diantara pria kawin yang pernah dengar sterilisasi. Di antara seluruh pria kawin,
sebagian besar (70 persen) tidak pernah dengar tentang sterilisasi pria, dan angka ini menurun
50
dibandingkan dengan hasil SDKI 2007 (71 persen). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa 30 persen pria
mengaku pernah mendengar sterilisasi pria, dan angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan hasil
SDKI 2007, namun lebih kecil daripada hasil SDKI 2002/2003 (31 persen). Tingginya cakupan yang
belum mendengar istilah sterilisasi pria, memerlukan perhatian pengelola program untuk menggalakkan
KIE KB pria khususnya sterilisasi pria di kalangan pria.
Di antara seluruh pria, persentase yang pernah mempertimbangkan untuk melakukan sterilisasi relatif
rendah yaitu lima persen, dan angka ini lebih kecil dibandingkan dengan hasil SDKI 2007 (3
persen).Sementara itu, mereka yang tidak mempertimbangkan akan melakukan sterilisasi menurun
menjadi 23 persen dari 25 persen (SDKI 2007).Proporsi pria yang mengatakan tidak yakin akan
melakukan sterilisasi meningkat menjadi 1,2 persen dibandingkan dengan 0,8 (SDKI 2007). Pria yang
mengaku sudah disteril menurun menjadi 0,3 persen dibandingkan dengan 0,4 persen (SDKI
2007).Sedangkn pria yang mengaku istrinya sudah sterilisasi sebesar 0,6 persen dan angka ini sama
dengan hasil SDKI 2007.
Sementara itu, diantara pria yang pernah mendengar istilah sterilisasi pria terdapat 77 persen pria yang
tidak pernah mempertimbangkan untuk melakukan sterilisas dan 16 persen pria yang pernah
mempertimbangkan untuk melakukan sterilisasi pria. Selanjutnya, pria yang merasa tidak yakin sebesar
empat persen, proporsi yang isterinya sudah disteril hampir dua persen, dan proporsi pria sudah disteril
sekitar satu persen.
Tampak pola pria kawin yang tidak pernah mendengar sterilisasi pria cenderung menurun sejalan dengan
bertambahnya umur pria sampai dengan umur 45-49 tahun, kemudian naik kembali pada kelompok umur
50-54 tahun. Pria yang tidak pernah mendengar tentang sterilisasi pria lebih banyak diantara pria yang di
perdesaan dibandingkan dengan yang di perkotaan. Proporsi pria yang tidak pernah mendengar sterilisasi
pria tertinggi terdapat pada pria yang tidak sekolah, kemudian proporsi ini menurun sejalan semakin
meningkatnya pendidikan. Pria yang tidak bekerja lebih banyak yang pernah mendengar dibanding pria
yang bekerja. Sementara itu, proporsi pria tidak pernah mendengar sterilisasi lebih banyak pada pria yang
belum memiliki anak, selanjutnya proporsi ini menurun sampai pria memiliki anak 3-4 anak. Angka ini
kembali naik ketika pria mempunyai lebih dari 4 anak. Proporsi pria yang tidak pernah mendengar
sterilisasi pria tertinggi pada pria yang berada pada kelompok kuintil kekayaan terbawah (87 persen),
angka ini terus menurun sejalan meningkatnya status kekayaan.
Walapun proporsi pria yang pernah mempertimbangkan akan melakukan sterilisasi di waktu yang akan
datang relatif rendah, namun terlihat merata di semua kelompok umur, lebih banyak dijumpai pada pria
yang tinggal di perkotaan, berpendidikan SMTA atau lebih, memiliki empat anak atau lebih dan tergolong
memiliki kuintil kekayaan teratas.
Di sisi lain, di kalangan pria yang tidak pernah mempertimbangkan untuk sterilisasi, pola menunjukkan
terus meningkat ketika pria berumur 20-24 tahun sampai dengan pria umur 45-49 tahun, lalu proporsi ini
menurun pada pria berumur 50-54 tahun. Pria yang berada di perkotaan lebih banyak tidak pernah
mempertimbangkan untuk sterililasi dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perdesaan. Pola pria
yang tidak pernah mempertimbangkan untuk sterilisasi pria cenderung meningkat sejalan dengan
meningkatnya pendidikan pria. Tidak tampak perbedaan antara pria yang bekerja dengan pria yang tidak
bekerja terhadap pengakuan tidak pernah mempertimbangkan untuk sterilisasi pria. Pria yang tidak
pernah mempertimbangkan untuk sterilisasi cenderung meningkat dengan bertambahnya jumlah anak
yang dimiliki sampai jumlah anak 3-4 anak dan selanjutnya menurun begitu pria memiliki lebih dari 4
anak. Sementara itu, pria yang tidak pernah mempertimbangkan untuk sterlisasi pria meningkat terus
dengan meningkatnya status kekayaannya.
51
Tabel 4.7. Pertimbangan sterilisasi ketika jumlah anak sudah cukup
Distribusi persentase pria kawin pernah dengar sterilisasi pria tentang keinginan untuk melakukan sterilisasi ketika jumlah anak
sudah cukup menurut karaktreristik latar belakang, Indonesia 2012
Tidak
Tidak
pernah
Pernah
pernah
Istri
Pria
Karakteristik
dengar
mempertim
mempertim
Tidak
sudah
sudah
Jumlah
latar belakang
steril
bangkan
bangkan
yakin
disteril
disteril
Jumlah
pria
Umur
15-19
*
*
*
*
*
*
100,0
28
20-24
84,5
1,5
11,7
2,2
0,0
0,0
100,0
345
25-29
79,1
4,2
15,8
0,6
0,0
0,3
100,0
1.127
30-34
72,8
4,5
20,7
1,7
0,2
0,0
100,0
1.674
35-39
67,5
6,8
23,9
1,4
0,4
0,1
100,0
1.775
40-44
65,9
5,3
26,5
1,5
0,7
0,3
100,0
1.693
45-49
64,6
5,1
28,6
0,9
0,8
0,0
100,0
1.371
50-54
71,1
2,2
23,4
0,7
1,4
1,1
100,0
1.292
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
62,1
6,2
28,8
1,8
0,8
0,3
100,0
4.739
Perdesaan
79,0
3,1
16,7
0,6
0,3
0,2
100,0
4.567
Pendidikan
Tidak sekolah
90,9
0,9
6,8
0,3
0,0
1,1
100,0
265
Tidak tamat SD
88,8
0,9
8,6
0,3
0,3
0,9
100,0
1.371
Tamat SD
79,7
2,9
16,3
0,2
0,9
0,1
100,0
2.118
Tidak tamat SMTA
80,1
2,9
16,1
0,7
0,2
0,1
100,0
1.979
SMTA+
50,8
8,5
37,3
2,5
0,7
0,2
100,0
3.572
Status kerja
Tidak bekerja
73,7
1,0
22,8
0,5
1,9
0,2
100,0
303
Bekerja
70,2
4,8
22,9
1,3
0,5
0,3
100,0
8.999
Jumlah anak masih hidup
0
75,4
4,7
17,5
2,4
0,0
0,0
100,0
888
1-2
71,5
4,3
22,4
1,3
0,2
0,3
100,0
3.935
3-4
66,6
4,9
26,4
1,0
0,8
0,2
100,0
3.101
4+
72,2
5,3
19,9
1,1
1,3
0,3
100,0
1.382
Kuintil kekayaan
Terbawah
88,6
1,4
9,5
0,3
0,1
0,1
100,0
1.596
Menengah bawah
80,6
2,2
15,7
0,6
0,5
0,4
100,0
1.866
Menengah
75,9
4,8
17,4
1,3
0,4
0,3
100,0
2.008
Menengah atas
64,2
6,0
26,9
1,5
1,0
0,4
100,0
1.962
Teratas
45,2
8,3
43,3
2,3
0,8
0,1
100,0
1.875
Jumlah
Jumlah pria
Persentase diantara pria
pernah dengar steril
70,4
4,7
22,9
1,2
6.547
435
2.132
115
-
15.8
77.3
4.2
0,6
0,3
100,0
9.306
52
25
100,0
9.306
1.9
0.9
100,0
2.759
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
4.3.2. Pendapat Pria tentang Pertimbangan tidak Melakukan Sterilisasi
Informasi tentang alasan seseorang tidak mempertimbangkan untuk melakukan sterilisasi pria dapat
digunakan sebagai salah satu masukan untuk KIE tentang sterilisasi pria. Seperti telah dikemukakan
sebelumnya, bahwa terdapat 77 persen pria yang tidak pernah mempertimbangkan untuk melakukan
sterilisasi di waktu mendatang atau 23 persen di antara seluruh pria kawin. Berbagai alasan dikemukakan
pria tersebut tidak mempertimbangkan untuk melakukan sterilisasi di masa mendatang. Alasan terbesar
yang disebutkan pria adalah alasan lainya diluar jawaban yang telah disediakan (8 persen). Angka
tersebut diikuti oleh alasan: masih ada alat/cara KB lain yang tersedia dan kemungkinan ingin anak lagi
(masing-masing 5 persen). Selanjutnya diikuti oleh pria yang mengemukakan alasan bertentangan dengan
agama.
Di antara pria yang tidak akan mempertimbangkan menggunakan sterilisasi pria dengan alasan masih ada
alat/cara KB yang tersedia banyak dikemukakan oleh pria berumur 35-39 tahun, 40-45 tahun, dan 45-49
tahun (masing-masing 7 persen). Proporsi pria dengan alasan tersebut tampak dua kali lebih banyak di
antara pria yang tinggal di perkotaan dibandingkan mereka yang berada di perdesaan. Tampak ada
kecenderungan proporsi pria yang mengatakan alasan tersebut semakin tinggi dengan bertambahnya
52
pendidikan mereka. Demikian juga dengan pria dengan alasan tersebut terlihat dua kali lebih banyak bagi
pria yang bekerja dari pada yang tidak bekerja. Terlihat bahwa proporsi pria yang menyatakan alasan
tersebut meningkat dengan bertambahnya jumlah anak yang dimiliki sampai dengan jumlah anak 3-4
anak dan menurun ketika pria mempunyai lebih dari 4 anak. Proporsi pria dengan alasan tersebut tampak
semakin meningkat dengan meningkatnya indeks kekayaan mereka.
Selanjutnya di antara pria yang tidak akan mempertimbangkan menggunakan sterilisasi pria dengan
alasan kemungkinan ingin punya anak lagi bervariasi menurut karakteristuik latar belakang pria.
Persentase pria yang mengemukakan alasan tersebut terus meningkat mulai pria berumur 20-24 tahun
sampai dengan pria umur 30-34 tahun, namun setelah kelompok umur ini terlihat menurun sejalan dengan
bertambahnya umur pria. Proporsi pria yang menyatakan alasan tersebut tampak pria yang berada di
perkotaan dua kali lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang berada di perdesaan. Pria yang
mengemukakan alasan tersebut semakin banyak dengan meningkatnya pendidikan pria. Tidak begitu
berbeda antara pria yang bekerja dengan tidak bekerja yang mengemukakan alasan tersebut. Pria yang
menyatakan alasan tersebut cenderung terus menurun sejalan dengan semakin banyak anak yang dimiliki
pria. Proporsi pria yang mengemukakan alasan tersebut menurut status kekayaan, terlihat bahwa pria yang
mengemukakan alasan tersebut cenderung meningkat dengan meningkatnya indeks kekayaannya.
Alasan lain yang dikemukan pria untuk tidak akan mempertimbangkan menggunakan sterilisasi di masa
yang akan datang adalah bertentangan dengan agama. Alasan ini cukup bervariasi menurut karakteristik
latar belakang pria. Apabila ditinjau dari umur pria, tampak tidak menunjukkan suatu pola
kecenderungan, namun tampak bahwa pria yang bnyak menyatakan alasan tersebut terdpt pada pria umur
30-34 tahun, 40-44 tahun, dan 45-49 tahun yang masing-masing sekitar 4 persen. Alasan tersebut
dikemukakan dua kali lebih banyak oleh pria yang berada di perkotaan dibandingkan pria yang tinggal di
perdesaan. Proporsi pria yang mengatakan alasan tersebut tertinggi terdapat pada pria yang berpendidikan
tamat SMTA dan proporsinya dua kali lebih banyak di antara pria bekerja dibandingkan dengan pria tidak
bekerja.Pria yang menyatakan alasan tersebut banyak terdapat pada pria yang mempunyai anak 1-2 anak
dan lebih dari empat anak, yaitu masing-masing sekitar 4 persen. Apabila dilihat dari status kekayaan
pria, tampak ada kecenderungan proporsinya meningkat sejak mulai pria dengan kuintil kekayaan
menengah sampai teratas.
53
Tabel 4.8. Alasan tidak pernah mempertimbangan untuk sterilisasi
Persentase pria kawin yang tidak pernah mempertimbangkan untuk sterilisasi menurut alasan dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Status kerja
Tidak bekerja
Bekerja
Jumlah anak masih hidup
0
1-2
3-4
4+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Bertentangan
dengan
agama
Tidak
baik
untuk
kesehatan
Operasi
tidak
aman
Masih ada
alat/cara
KB lain
yang
tersedia
Kemungki
nan ingin
anak lagi
Kemungki
nan
menikah
lagi
Biaya
Kehilanga
n fungsi
seksual
Istri
tidak
seutju
Lainnya
Jumlah
pria
*
3,7
2,4
4,0
3,3
3,9
3,6
2,9
*
0,1
2,0
1,9
1,8
2,7
5,6
1,9
*
0,6
0,4
0,6
0,8
1,4
0,6
0,5
*
0,9
3,6
4,3
6,5
6,5
6,9
5,2
*
2,7
5,1
7,2
6,4
5,2
3,4
2,8
*
0,3
0,0
0,2
0,0
0,1
0,3
0,2
*
0,1
0,0
0,5
0,3
0,5
0,3
0,0
*
0,8
0,9
1,9
0,7
1,1
2,3
0,7
*
0,0
0,2
0,2
0,6
1,2
1,0
1,4
*
5,7
4,1
6,1
8,3
9,4
10,2
10,4
28
339
1.080
1.595
1.649
1.593
1.291
1.245
4,9
1,9
2,8
2,2
0,8
0,6
7,8
3,0
6,7
3,4
0,2
0,1
0,3
0,3
1,4
1,2
0,9
0,6
9,7
6,4
4.409
4.410
1,4
0,1
1,1
1,8
7,3
0,6
1,7
2,4
1,8
3,5
0,0
0,2
0,3
0,7
1,2
0,7
0,9
2,3
3,3
10,8
0,2
0,8
2,7
4,3
9,1
0,0
0,0
0,0
0,3
0,3
0,0
0,3
0,3
0,4
0,3
1,5
0,8
1,1
1,0
1,7
0,0
0,7
0,6
0,3
1,1
2,9
3,8
7,1
5,0
12,6
263
1.354
2.039
1.918
3.245
2,0
3,4
5,2
2,4
1,0
0,7
3,3
5,5
4,8
5,1
0,0
0,2
0,0
0,3
1,6
1,3
0,7
0,7
7,5
8,1
294
8.520
2,4
3,8
3,0
3,8
1,6
2,4
3,2
1,9
0,5
0,7
0,9
0,4
2,1
5,5
6,4
4,8
8,4
5,7
4,7
1,7
0,1
0,1
0,1
0,6
0,0
0,2
0,6
0,1
1,5
1,1
1,6
0,9
0,3
0,5
1,1
0,9
5,2
7,1
9,6
9,0
846
3.758
2.923
1.292
1,2
2,0
1,9
3,7
8,3
1,3
1,5
3,3
2,1
4,3
0,2
0,5
0,6
0,9
1,4
1,8
2,1
3,4
7,3
12,4
2,0
3,1
4,4
5,5
10,4
0,1
0,0
0,1
0,3
0,3
0,3
0,2
0,1
0,5
0,4
0,7
1,7
0,8
1,6
1,6
0,4
1,0
0,4
0,7
1,2
3,3
6,3
5,7
9,8
14,9
1.572
1.815
1.904
1.825
1.703
3,4
2,5
0,7
5,4
5,1
0,2
0,3
1,3
0,7
8,0
8.819
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
4.3.3. Pendapat tentang Keuntungan Sterilisasi Pria
Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pria dalam penggunaan alat/cara KB, yang
salah satunya adalah untuk menyempurnakan bahan-bahan KIE KB pria. Salah satu cara yang dilakukan
dalam rangka menyempurnakan materi KIE KB pria adalah dengan menggali pendapat pria tentang
keuntungan sterilisasi pria. Pendapat ini diajukan kepada pria yangtidak mempertimbangkan untuk
melakukan sterililisasi yang jumlahnya adalah 2.132 orang atau 77 persen dari pria yang pernah
mendengar sterilisasi pria (lihat Tabel 4.7). Selanjutnya pendapat pria tentang sterilisasi pria tesebut
disajikan dalam Tabel 4.9.
Secara umum alasan terbanyak yang dikemukakan pria yang akan mempertimbangkan untuk sterilisasi
diantara pria yang pernah mendengar sterilisasi adalah bahwa pria merasa aman dengan proporsi 54
persen yang lebih tinggi dari pada hasil SDKI 2007 (39 persen). Alasan selanjutnya diikuti oleh sterilisasi
sebagai metode yang efektif (22 persen). Ada sekitar 5 persen pria yang mempertimbangan untuk
sterilisasi dengan alasan bahwa suatu kebebasan bagi pria. Sedangkan alasan lainnya yang dikemukakan
oleh pria yang akan mempertimbangkan sterilisasi pria dengan proporsi yang hampir sama yaitu: operasi
aman, lebih aman dari MOW, tidak mahal, dan lebih sederhana (masing-masing 2 persen).
54
Tabel 4.9. Pendapat tentang sterilisasi pria
Persentase pria kawin yang akan mempertimbangkan untuk sterilisasi menurut alasan dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Pria merasa
aman
Metode
efektif
Operasi
aman
Lebih
aman
dari
MOW
Tidak
mahal
Lebih
murah
dari
pada
MOW
Lebih
sederhana
Kebebasan
bagi
pria
Lainnya
Jumlah
pria
Umur
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Status bekerja
Tidak bekerja
Bekerja
Jumlah anak masih hidup
0
1-2
3-4
4+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
*
60,7
57,7
50,8
55,8
59,2
37,4
*
19,6
14,5
19,5
27,0
16,4
48,8
*
1,7
0,0
4,3
5,9
-
*
1,2
1,4
3,3
3,6
-
*
1,6
4,3
-
-
*
1,1
3,7
5,3
0,0
*
3,2
8,3
1,1
6,9
7,7
3,0
*
34,9
35,7
33,0
34,1
31,7
39,2
5
47
75
120
89
70
29
53,1
57,0
18,8
28,1
3,4
0,2
2,9
0,3
3,3
0,5
-
2,4
0,6
4,0
7,7
36,0
29,0
292
143
*
*
54,4
47,5
56,1
*
*
15,0
40,4
20,2
*
*
0,8
6,6
1,9
*
*
0,4
2,6
*
*
6,4
1,4
1,9
-
*
*
4,6
1,7
*
*
2,3
10,8
4,9
*
*
24,9
33,7
35,4
2
13
60
57
303
*
54,4
*
21,7
*
2,3
*
2,0
*
2,4
-
*
1,8
*
5,3
*
33,6
3
432
61,6
54,0
56,2
47,4
12,3
27,6
15,9
26,8
9,8
1,0
0,4
5,2
6,4
1,5
1,9
0,8
*
0,7
1,2
10,4
-
8,0
0,5
5,1
2,7
9,0
3,4
1,8
38,9
32,8
37,4
25,0
42
169
152
73
*
33,0
60,5
60,1
54,5
*
34,0
10,1
22,9
23,3
*
10,1
0,0
0,7
3,3
*
1,1
3,0
2,5
*
4,0
1,1
3,4
-
*
2,1
0,0
2,4
2,7
*
8,5
1,0
10,0
2,9
*
37,4
37,0
32,2
32,9
22
42
97
119
156
54,4
21,9
2,3
2,0
2,4
-
1,8
5,2
33,7
435
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
Alasan pria mempertimbangkan untuk sterilisasi pria cukup bervariasi menurut umur, tempat tinggal,
pendidikan, status pekerjaan, jumlah anak yang dimiliki, dan kuintil kekayaan. Alasan bahwa sterilisasi
pria membuat pria merasa aman, sterilisasi merupakan metode yang efektif, sterilisasi aman, sterilisasi
merupakan operasi yang tidak mahal, dan sterilisasi memberikan kebebasan bagi pria, menunjukkan pola
tidak beraturan menurut umur pria. Namun demikian proporsi pria yang mengatakan bahwa sterilsasi
merupakan metode yang efektif tertinggi pada pria yang berumur lebih tua yaitu 50-54 tahun (49 persen).
Sedangkan proporsi pria yang mengatakan bahwa merasa aman terbesar ditemui pada pria yang lebih
muda yaitu pada pria berumur 30-34 tahun dan pria umur 45-49 tahun (masing-masing 58 persen dan 59
persen). Sementara itu, proporsi pria yang mengatakan bahwa sterilisasi pria lebih aman dari MOW
cenderung meningkat dengan bertambahnya umur pria.
Berbagai pendapat tentang keuntungan sterilisasi pria secara umum sedikit beragam menurut tempat
tinggal. Pria berpendapat bahwa sterilisasi membuat pria merasa lebih aman dijumpai lebih banyak pada
pria yang tinggal di perdesaan dibandingkan dengan pria yan berada di perkotaan (57 persen berbanding
53 persen). Demikian pula dengan pria yang mengatakan bahwa sterilisasi merupakan metode efektif
lebih banyak ditemui pada pria yang tinggal di perdesaan (28 persen) daripada pria yang berdiam di
perkotaan (19 persen ). Gambaran yang sama dijumpai juga diantara pria yang mengatakan bahwa
sterilisasi pria itu merupakan kebebasan bagi pria diutarakan oleh pria yang berdiam di perdesaan lebih
dari dua kali lipat dibandingkan pria yang tinggal diperkotaan.
55
Sebaliknya, alasan bahwa sterilisasi pria merupakan operasi yang aman, sterilisasi pria lebih aman dari
MOW, sterilisasi pria dirasa tidak mahal, dan sterilisasi pria lebih sederhana tampak lebih banyak
diutarakan oleh pria yang tinggal diperkotaan dibandingkan pria yang berada di perdesaan.
Pria yang berpendapat bahwa merasa lebih aman menggunakan sterilisasi, terbanyak adalah pria yang
berpendidikan tinggi yaitu Tamat SMTA dan lebih tinggi. Sementara itu pria yang menganggap bahwa
sterilisasi pria merupakan metode yang efektif, operasi aman, dan sterilisasi merupakan kebebasan bagi
pria dijumpai lebih banyak pada pria yang berpendidikan Tidak Tamat SMTA. Sedangkan, pria yang
mengatakan bahwa sterilisasi pria tidak mahal dan sterilisasi lebih sederhana tampak lebih banyak pada
pria yang berpendidikan lebih rendah yaitu Tamat SD. Sedangkan pria yang mengakui strelisasi pria lebih
aman dari MOW banyak pada pria yang berpendidikan lebih tinggi yaitu Tamat SMTA. Umumnya pria
yang berpendapat tentang sterilisasi merupakan metode efektif, operasi aman, sterilisasi pria lebih aman
dari MOW, sterilisasi tidak mahal, adalah pria yang berkerja.
Pendapat tentang keuntungan sterilisasi pria nampak beragam menurut jumlah anak masih hidup yang
dimiliki. Pria yang berpendapat bahwa pria yang menggunakan sterilisasi merasa lebih aman tampak lebih
banyak pada pria yang belum punya anak, diikuti oleh pria yang memiliki 3 sampai 4 anak. Pola yang
sama dijumpai pada pria yang menyatakan bahwa sterilisasi pria lebih aman dari MOW. Pria yang
berpendapat bahwa sterilisasi merupakan metode efektif banyak dijumpai pada pria yang memiliki
1sampai 2 anak, diikuti oleh pria yang memiliki anak lebih banyak yaitu lebih dari 4 anak. Proporsi pria
yang berpendapat bahwa operasi lebih aman tertinggi pada pria yang belum punya anak, kemudian
cenerung menurun pada pria yang memiliki anak lebih banyak. Selanjutnya angka tersebut naik pada pria
yang punya anak lebih dari 4 anak. Pola yang sama dijumpai pada pria yang berpendapat bahwa sterilisasi
pria lebih sederhana. Pria yang mengatakan bahwa sterilisasi pria merupakan kebebasan bagi pria
tertinggi pada pria yang memiliki 1sampai 2 anak, lalu cenderung turun semakin bertambah jumlah
anaknya.
Pendapat pria tentang sterilisasi pria berdasarkan indeks kekayaan kuintil memperlihatkan pola yang
beragam. Pria yang berpendapat tentang merasa aman menggunakan sterilisasi banyak dikemukakan oleh
pria yang memiliki kuintil kekayaan menengah dan menengah atas, kemudian turun ketika pria berada
pada kuintil kekayaan teratas. Sedangkan pria yang mengatakan bahwa operasi aman paling banyak
ditemui pada pria yang berada dalam kelompok kuintil kekayaan menengah bawah. Pria yang
mengemukakan bahwa sterilisasi pria lebih aman dari MOW banyak dijumpai pada pria dengan kuintil
kekayaan menengah atas. Demikian pula dijumpai pada pria yang berpendapat bahwa sterilisasi pria
merupakan kebebasan bagi pria.
56
Pengalaman dan Pemakaian
Alat/Cara KB
5
Temuan Utama
 Sebesar 41 persen pria kawin yang telah memiliki dua anak, masih ingin menambah anak.
 Sebesar 58 persen wanita status kawin yang telah memiliki dua anak, tidak berkeinginan untuk menambah
anak lagi.
 Kebutuhan ber KB bagi pria yang tidak terpenuhi adalah 6,2 persen. Sebesar 3,6 persen diantaranya
bertujuan untuk menjarangkan kelahiran dan 2,6 persen lainnya untuk membatasi kelahiran.
 Rata-rata jumlah anak ideal yang diinginkan pria kawin sebesar 2,8;sedikit lebih rendah dibandingkan hasil
SDKI tahun 2007 yaitu 3,0.
 Terdapat hubungan terbalik antara tingkat pendidikan dengan jumlahanak ideal.Semakin tinggi pendidikan
maka semakin rendah rata-rata jumlah anak idealnya.
 Rata-rata jumlah anak ideal mempunyai pola hubungan terbalik terhadap indeks kekayaan, semakin tinggi
tingkat indeks kekayaan kuintil, semakin rendah rata-rata jumlah anak ideal yang diinginkan.
Bab ini membahas partisipasi pria kawin tentang program KB yang dikaitkan dengan keinginan
menambah anak, kebutuhan pelayanan keluarga berencana pria kawin, jumlah anak ideal dan unmetneed
pria kawin. Informasi yang diperoleh dengan menyakan mengenai apakah pihak istri masih menginginkan
punya anak sesuai besaran keluarga dengan jumlah anak sesuai keinginan atau lebih dari yang diinginkan
oleh suami. Selain itu, ditanyakan komitmen dan komunikasi diantara pasangan tentang penggunaan alat
kontrasepsi.
Selama ini kontribusi KB hanya oleh perempuan, sedangkan kekuasaan dan keputusan pengendalian
kelahiran ada pada pria belum menunjukkan partisipasi nyata. Kontribusi kesertaan KB pria terutama
MOP masih rendah, perlu KIE dan kepedulian dukungan suami terkait fertilitas. Persetujuan suami terkait
dengan bagaimana komunikasi tentang keluarga berencana diantarapasangannya. Perempuan yang kurang
berpendidikan lebih tergantung pada dukungan suami mereka untuk penggunaan KB dibandingkan
denganyang berpendidikan tinggi. Program keluarga berencana yang selama ini menjadikan wanita
sebagai subjek, sehingga wanita mengalami penderitaan ganda. Selain melahirkan anak, perempuan juga
berperan dalam kontrol kelahiran melalui penggunaan alat kontrasepsi modern maupun cara tradisional.
Namun, setelah ICPD di Kairo tahun 1994 mengangkat isu kesetaraan gender dan hak-hak reproduksi
menjadi momentum titik balik bagi pria untuk terlibat aktif dalam penggendalian fertilitas. Saatnya pria
berpartisipasi untuk mengatur jumlah anak dan menumbuhkan kebutuhan terkait pelayanan KB bagi pria.
5.1. Keinginan Menambah Anak
Responden sebagian besar menginginkan kehadiran anak. Sedikit persentase pria kawin yang tidak
menginginkan anak dan terdapat pasangan/istri mengalami infertilitas. Tabel 5.1 menyajikan keinginan
mempunyai anak menurut jumlah anak masih hidup pada pria maupun wanita berstatus kawin. Sebesar 47
persen pria kawin memutuskan ingin menambahanak lagi,sebesar 16 persendiantaranya menginginkan
anak segera dansebesar 25 persen ingin menambahanak kemudian. Kurang dari separuh (44 persen)
menyatakan untuk tidak ingin menambah anak lagi.
57
Tabel 5.1. Keinginan mempunyai anak menurut jumlah anak masih hidup
Distribusi persentase pria dan wanita berstatus kawin menurut keinginan mempunyai anak dan jumlah anak masih hidup,
Indonesia, 2012.
Keinginan
mempunyai anak
0
Jumlah anak masih hidup1
2
3
4
1
5
6+
Jumlah
PRIA BERSTATUS KAWIN5
Ingin anak segera2
Ingin anak kemudian3
Ingin anak, belum menentukan
Belum memutuskan
Tidak ingin anak lagi
Disterilisasi4
Tidak dapat hamil lagi
Tidak terjawab
76,8
8,5
7,9
1,8
0,7
0,0
3,8
0,1
5,2
10,1
5,2
8,1
68,8
1,2
1,1
0,2
3,1
6,7
4,8
5,9
75,1
1,3
2,1
0,3
2,5
5,4
3,1
5,3
80,1
1,4
1,8
0,0
2,8
3,1
2,0
6,4
77,9
3,2
3,4
0,7
15,1
24,9
6,5
6,7
44,4
0,6
1,2
0,3
Jumlah
Jumlah pria
99,5
99,9
99,7
99,8
525
2.579
3.030
1.766
WANITA BERTATUS KAWIN
99,4
793
99,6
337
99,5
276
99,7
9.306
Ingin anak segera2
Ingin anak kemudian3
Ingin anak, belum menentukan
Belum memutuskan
Tidak ingin anak lagi
Disterilisasi4
Tidak dapat hamil lagi
Tidak terjawab
83,9
4,3
5,7
0,8
2,7
0,1
2,3
0,2
22,8
53,0
8,9
3,6
10,6
0,1
0,7
0,3
6,8
18,6
5,7
6,7
58,2
2,3
0,8
0,8
3,5
7,7
2,8
4,0
73,0
7,2
1,1
0,6
2,2
5,0
1,9
5,1
73,3
10,0
1,9
0,5
0,8
2,7
1,3
4,6
82,2
5,9
1,5
0,9
0,8
1,4
1,5
5,4
80,0
8,1
1,9
0,8
14,6
23,4
5,5
4,8
46,8
3,4
1,1
0,6
100,0
1.989
100,0
9.444
100,0
11.192
100,0
6.173
100,0
2.609
100,0
1.115
100,0
943
100,0
33.465
Jumlah
Jumlah wanita
24,0
54,6
8,4
3,7
8,5
0,0
0,5
0,1
8,4
20,1
6,6
9,8
53,4
0,3
0,8
0,5
na= Tidak sesuai
1
Termasuk anak yang masih dalam kandungan
2
Ingin anak lagi dalam 2 tahun
3
Ingin menunda kelahiran anak berikutnya 2 tahun atau lebih
4
Termasuk wanita dan pria yang telah disterilisasi
5
Termasuk anak yang masih dalam kandungan kalau istri responden sedang hamil.
Diantara pria kawin yang telah memiliki 2 anak, sebesar 53 persennya menyatakan tidak ingin menambah
anaklagi. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan wanita berstatus kawin yang telah memiliki 2 anak dimana
persentasenya sebesar 58 persen.
Pria yang menginginkan anak untuk jangka waktu dua tahun atau lebih, terbanyak dijumpai pada mereka yang
baru memiliki satu orang anak (52 persen), dan cenderung berkurang di kalangan mereka yang telah memiliki
anak masih hidup dua atau lebih. Di lain pihak, pria yang tidak menginginkan anak lagi cenderung semakin
meningkat seiring dengan bertambahnya anak masih hidup yang dimiliki.
Tabel 5.2 memperlihatkan persentase pria kawin yang tidak menginginkan anak lagi menurut jumlah anak
yang masih hidup dan karakteristik latar belakang. Pola yang nampak bahwa semakin banyak anak semakin
besar persentase tidak ingin anak lagi. Perubahan yang nyata ketika pria punya anak 2 persentase
ketidakinginnya sebesar 67 persen. Setelah punya anak 3 sampai 6+ pola kenaikan persentasenya tidak nyata
Melihat karakteristik pria kawin berdasarkan tempat tinggal menunjukkan perbedaan antara yang di perkotaan
dengan diperdesaan. Pria kawin diperkotaan (56 persen) persentase tidak ingin punya anaknya lebih besar
dari pada yang tinggal diperdesaan (51 persen). Persentase memiliki tiga anak atau lebih proporsi pria di
perkotaan (85 persen)yang tidak ingin anak lagi nampak lebih besar daripada yang tinggal di perdesaan (75
persen).
Pria kawin yang tidak menginginkan anak lagi menurut latar belakang pendidikan proporsi terbanyak pada
mereka yang tidak sekolah sebesar 72 persen. Pola kecenderungan menunjukkan semakin tinggi pendidikan
semakin rendah keinginan pria untuk tidak menambah anak lagi. Seharusnya semakin tinggi pendidikan
58
semakin besar peluang untuk tidak ingin punya anak lagi. Sebab keterpajanan informasi tentang KB dan
kesehatan reproduksi lebih besar daripada yang berpendidikan rendah.
Tabel 5.2. Keinginan untuk tidak mempunyai anak lagi
Distribusi persentase pria kawin yang tidak ingin anak (lagi) menurut jumlah anak masih hidup dan karakteristik latar
belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
/Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Jumlah anak masih hidup1
3
4
5
0
1
2
6+
Jumlah
*
5,7
4,6
1,6
8,5
4,6
16,7
8,1
*
8,9
9,1
11,2
18,0
25,4
53,6
77,8
*
*
47,1
53,1
61,2
71,8
78,9
86,7
*
*
*
60,8
71,9
79,1
85,7
92,2
*
*
*
72,2
73,6
74,3
90,8
89,7
*
*
*
*
79,8
90,9
88,6
89,2
*
*
*
*
72,9
81,9
89,2
89,8
8,9
15,4
30,5
50,4
67,6
79,0
88,1
5,9
4,9
19,3
16,2
69,7
62,6
84,7
75,3
86,1
80,4
92,9
83,7
91,9
85,7
55,8
51,1
12,6
4,7
6,1
5,5
5,0
35,6
36,0
19,5
16,9
12,8
75,9
69,5
68,0
61,2
66,8
86,2
77,3
79,0
78,2
82,4
82,8
83,9
84,9
79,6
83,1
85,6
85,6
95,0
83,2
85,4
87,8
88,1
85,1
89,1
88,7
71,9
67,4
56,9
47,2
48,2
8,0
1,7
10,5
1,3
5,7
21,2
18,1
15,0
16,9
19,2
55,8
64,8
68,5
69,2
68,9
71,2
77,2
81,1
83,3
85,8
72,8
88,5
82,7
86,7
86,8
82,2
87,5
87,6
88,8
97,2
83,1
86,0
90,2
97,6
94,4
50,7
52,0
53,3
53,0
57,9
5,4
17,8
66,5
80,0
83,2
87,6
87,7
53,3
* Estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan
Semakin tinggi kuintil kekayaan semakin tinggi pula ketidak inginan pria kawin untuk menambah anak lagi.
Tabel 5.2 dapat dikatakan bahwa pria kawin yang bertempat tinggal di perkotaan dengan berpendidikan rendah
dan kuintil kekayaan tinggi berpeluang besar tidak ingin menambah anak lagi.
5.2. Kebutuhan Pelayanan Keluarga Berencana
Kesertaan keluarga berencana (KB) setelah konferensi ICPD tahun1994 di Kairo tidak hanya
diperuntukkan bagi wanita kawin, Tetapi pelayanan kebutuhan pelayanan KB juga melibatkan partisipasi
pria kawin. Istilah unmet need dapat terjadi bagi pelayanan KB pria. Definisi unmetneed pria yaitu
persentase pelayanan KB bagi pria kawin yang tidak terpenuhi dimana angkanya diperoleh dari
persentase pria kawin yang sudah tidak ingin mempunyai anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran
berikutnya tetapi sedang tidak memakai alat kontrasepsi. Manfaat dari mengetahui unmetneed adalah
untuk mengukur seberapa jauh pelayanan KB telah dapat memenuhi kebutuhannya, perencanaan dalam
meningkatkan pelayanan KB khususnya kesertaan pria kawin, dan perencanaan materi KIE bagi
kelompok unmet need.
Unmet need bagi pria kawin diperoleh dari menghitung pasangan suami isteri yang kedua-duanya tidak
menggunakan kontrasepsi padahal suami tidak menginginkan anak lagi atau ingin menjarangkan
kehamilan dan suami ingin menggunakan alat kontrasepsi di waktu yang akan datang serta dari pasangan
suami isteri yang isterinya menggunakan alat kontrasepsi sedangkan suaminya tidak menggunakan
59
kontrasepsi padahal suami tidak menginginkan anak lagi atau ingin menjarangkan kehamilan dan ingin
menggunakan alat kontrasepsi di waktu yang akan datang.
Tabel 5.3. Keinginan untuk memperoleh pelayanan KB diantara pria kawin
Persentase pria berstatus kawin yang memerlukan pelayanan KB yang tidak terpenuhi menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
Latar Belakang
Kelompok umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Suami dan Isteri
tidak ber KB
Suami ingin
Suami ingin
menjarangkan
membatasi
kelahiran dan
kelahiran dan
suami mau
suami mau
ber-KB
ber-KB
Suami tidak berKB,
isteri ber KB
Suami ingin
Suami ingin
menjarangkan
membatasi
kelahiran dan
kelahiran dan
suami mau ber
suami mau
KB
ber-KB
Kebutuhan ber KB
suami yang tidak terpenuhi
Untuk
menjarangkan
kelahiran
Untuk
membatasi
kelahiran
Jumlah
Lainnya
Jumlah
pria
2,2
2,1
2,9
2,0
1,3
1,1
0,3
0,1
1,3
2,0
3,8
3,7
2,6
2,1
0,9
0,0
2,5
4,4
5,7
3,1
2,0
0,6
0,1
0,0
0,4
2,3
0,9
0,4
0,0
0,3
0,0
0,0
4,7
6,6
8,6
5,1
3,3
1,7
0,4
0,1
1,7
4,3
4,7
4,1
2,6
2,5
0,9
0,0
6,4
10,9
13,3
9,2
5,9
4,2
1,3
0,2
93,6
81,1
86,7
90,8
94,1
95,8
98,7
99,8
28
350
1.133
1.674
1.769
1.697
1.366
1.289
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
1,3
1,4
1,9
2,5
2,2
2,4
0,3
0,4
3,5
3,8
2,2
2,9
5,7
6,7
94,3
93,3
4.739
4.567
Pendidikan *)
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA +
2,3
0,4
1,5
1,2
1,4
3,0
2,4
2,3
2,0
1,5
2,4
2,2
2,0
2,6
2,3
0,2
0,7
0,4
0,2
0,2
4,8
2,6
3,5
3,8
3,7
3,2
3,1
2,7
2,2
1,7
8,0
5,7
6,2
6,0
5,4
92,0
94,3
93,8
94,0
94,6
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
Kuintil Kekayaaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
1,1
1,0
0,8
1,2
1,8
0,2
1,4
2,5
2,9
2,2
0,8
0,6
2,2
1,8
3,5
0,0
0,1
0,5
0,7
0,1
1,9
1,6
3,0
2,9
5,3
0,2
1,5
3,0
3,6
2,3
2,1
3,2
6,0
6,5
7,6
97,9
96,8
94,0
93,5
92,4
265
1.371
2.118
1.979
3.572
Total
1,3
2,2
2,3
0,3
3,6
2,6
6,2
93,8
9.306
Tabel 5.3 menunjukkan persentase pria kawin yang memerlukan pelayanan KB namun tidak terpenuhi
dengan menjawab pertanyaan tentang penggunaan alat/cara kontrasepsi baik oleh pria tersebut maupun
oleh pasangannya, disamping itu ditanyakan juga tentang keinginannya untuk menambah anak lagi serta
keinginannya untuk menggunakan kontrasepsi diwaktu yang akan datang untuk menjarangkan atau
mengakhiri kesuburan isterinya. Hasilnya bahwa sebanyak 6,2 persen suami mengatakan ingin istrinya
menunda kehamilan dan tidak menginginkan anak lagi dan ingin menggunakan alat/cara KB. Sebanyak
3,6 persen mengatakan ingin menggunakan KB di masa yang akan datang untuk menjarangkan kelahiran
dan sebanyak 2,6 persen mengatakan ingin menggunakan KB untuk tujuan mengakhiri kehamilan.
Persentase kebutuhan ber KB suami yang tidak terpenuhi lebih tinggi di kalangan pria kawin pada umur
25–29 tahun( 13,3 persen). Jika dibandingkan dengan SDKI tahun 2007 terjadi pergeseran titik puncak
unmet need pria yang sebelumnya dikelompok umur 20-24 tahun (8,4 persen). Turunnya persentase
seiring dengan makin meningkatnya umur pria.
Terjadi perubahan besaran persentase unmet need menurut tempat tinggal. SDKI 2007 menunjukkan pria
di perkotaan lebih besar jumlah unmet need sebesar 6,2 persen dibandingkan yang tinggal diperdesaan
(4,8 persen). SDKI 2012 hasilnya kebalikannya, persentase terbesar unmet neednya justru yang bertempat
tinggal di perdesaan (6,7 persen) dibandingkan di perkotaan (5,7 persen).
Menurut karakteristik pendidikan pria kawin menunjukkan persentase tertinggi yang kebutuhan ber-KB
suami yang tidak terpenuhi berada pada merfeka yang tidak sekolah (8 persen). Sedangkan yang
berpendidikan tinggi cenderung rendah persentasenya (5,4 persen).
60
Terdapat pola pada pria kawin menururt indeks kekayaan yaitu semakin tinggi kuintil kekayaan semakin
tinggi persentase suami yang memerlukan pelayanan KB di waktu mendatang. Kuintil terbawah sebesar
2,1 persen kemudian meningkat sampai kuintil teratas sebesar 7,6 persen.
5.3. Jumlah Anak Ideal
Salah satu pertanyaan di SDKI tentang pendapat suami yang sudah punya anak hidup maupun belun
berapa jumlah anak yang akan diinginkan di masa akan datang. Pertaanyaan ini bersifat persepsi
meskipun berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya. Tujuanya untuk mengetahui seberapa banyak
anak yang akan diinginkan sampai berakhirnya masa reproduksi pasangannya, kalau jumlah anak yang
dinginkan banyak tentunya berdampak pada tingkat fertilitas yang tinggi.
Tabel 5.4 menunjukkan jumlah anak ideal sebesar 2,8 menurun atau lebih rendah dari SDKI 2007 sebesar
3,0. Meskipun terjadi penurunan hasil ini menggambarkan masih tingginya permintaan terhadap anak,
masih jauh dari nilai yang diharapkan oleh pemerintah yaitu 2,1. Jumlah anak ideal masih diatas angka
TFR menunjukkan bahwa keluarga di Indonesia masih menginginkan keluarga besar. Meskipun tidak
sebesar jumlah anggota keluarga orang tua sebelumnya yang punya anak sampai dua digit. Konsep
keluarga dengan 2 anak cukup dipahami oleh suami sebesar 52 persen. Konsep ideal satu anak dalam
keluarga menurut suami merupakan konsep yang tidak ideal sehingga persentasenya kecil hanya 1,3
persen.
Tabel 5.4. Jumlah anak diinginkan
Distribusi persentase pria kawin menurut jumlah anak yang diinginkan, rata-rata jumlah anak ideal berdasarkan jumlah anak
masih hidup, Indonesia 2012
Jumlah anak
yang diinginkan
1
0
1
2
3
4
5
6+
0
0,6
2,7
59,4
22,8
11,7
0,8
1,8
1
0,1
2,0
62,8
23,6
7,2
2,9
1,5
Rata-rata jumlah anak ideal
Jumlah pria
2,5
692
2,5
2.408
Jumlah anak masih hidup1
2
3
4
0,3
0,9
0,5
1,1
0,6
0,4
58,9
37,8
24,0
21,7
35,4
16,7
12,7
17,4
34,7
3,8
4,7
15,3
1,5
3,2
8,4
2,6
2.718
3,0
1.410
3,7
620
5
0,8
0,8
23,1
12,6
20,4
26,0
16,3
6+
0,6
0,8
16,5
16,5
16,5
6,2
42,9
Jumlah
0,4
1,3
52,0
24,0
13,8
5,0
3,6
4,1
238
5,2
164
2,8
8.250
Termasuk kehamilan istri pada waktu survey
Secara umum, antara keinginan dengan jumlah anak hidup memiliki hubungan timbal-balik. Keluarga
yang punya anak sedikit cenderung menginginkan anaknya sedikit. Sebaliknya, kondisi nyata keluarga
anaknya banyak, suami dalam menjawab pertanyaan tentang berapa keinginan punya anaknya tentu
jawabannya ingin anak yang banyak. Tampak dalam tabel 5.4 suami yang sudah punya anak hidup 6+
yang menjawab ideal anak 6+ sebesar 43 persen. Antara Suami yang belum punya anak maupun satu
atau dua anak persentasenya hampir sama 60 persen menginginkan anak sedikit (2 anak).
61
Tabel 5.5. Rata-rata jumlah anak ideal
Rata-rata jumlah anak ideal untuk semua pria berstatus kawin, menurut umur dan karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Umur pria
Karakteristik
latar belakang
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Jumlah
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
2,4
2,4
2,6
2,7
2,7
2,8
2,7
3,0
2,7
Perdesaan
2,6
2,6
2,8
2,8
2,8
3,0
3,2
3,4
3,0
Pendidikan
Tidak sekolah
.
3,0
3,7
3,5
3,1
3,3
3,5
3,4
3,4
Tidak tamat SD
2,0
2,4
3,3
3,2
3,0
3,0
3,4
3,3
3,2
Tamat SD
3,3
2,9
2,6
2,8
2,7
2,8
2,8
3,0
2,8
Tidak tamat SMTA
2,5
2,5
2,6
2,6
2,7
3,0
2,8
3,4
2,8
SMTA+
2,6
2,4
2,7
2,7
2,7
2,7
2,7
3,1
2,7
Kuintil kekayaan
Terbawah
2,8
2,6
3,2
3,1
3,2
3,3
3,3
4,3
3,3
Menengah bawah
2,2
2,6
2,5
2,7
2,7
3,0
3,0
3,2
2,8
Menengah
2,2
2,4
2,5
2,7
2,7
2,8
3,0
3,1
2,8
Menengah atas
2,4
2,3
2,5
2,6
2,6
2,8
2,7
3,0
2,7
Teratas
2,0
2,7
2,7
2,8
2,7
2,6
2,7
3,0
2,7
Total
2,5
2,5
2,7
2,8
2,8
2,9
2,9
3,2
2,8
Tabel 5.5 menunjukkan rata-rata jumlah anak ideal dari pria berstatus kawin menurut umur dan
karakteristik latar belakang. Seperti survei sebelumnya, pria kawin bertempat tinggal di perdesaan ratarata jumlah anak ideal memiliki persentase lebih tinggi dari yang di perkotaan yaitu 3 berbanding 2,7
sedangkan tahun 2007 perbandingannya 3,1 berbanding 2,9. Antara di perkotaan dan perdesaan selama 2
kali survei mengalami penurunan rata-rata jumlah ideal anaknya dengan persentase kecil. Kalau
diperhatikan kelompok umur 40-44 rata-rata anak di perdesaan sebanyak 3,0 sedangkan di perkotaan
kelompok umur 50-54 yang rata-ratanya anak ideal 3 dibandingkan SDKI 2007 yang jumlah ideal 3
berada pada kelompok umur 30-34 diumur pedesaan dan perkotaan 45-49. Sehingga dapat dijelaskan
terjadi pergeseran jumlah ideal anak pada kelompok
umur tersebut. SDKI yang akan datang bisa saja ideal jumlah anak 3 di perkotaan tidak ada. Sedangkan di
perdesaan 2 kali survei kedepan jumlah anak ideal dibawah 3 juga tidak ada.
Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap jumlah ideal anak, semakin tinggi pendidikan semakin
rendah rata-rata ideal anaknya, suami yang tidak sekolah dan tidak tamat SD rata-ratanya idealnya anak
3,4 dan 3,2. Sedangkan yang pendidikannya tinggi kecil nilai rata-ratanya 2,8 bagi yang tidak tamat
SMTA dan 2,7 untuk jenjang pendidikan SMA+.
Jika dilihat menurut kuintil kekayaan, persepsi pria tentang rata-rata jumlah anak ideal mempunyai
hubungan negatif, semakin tinggi tingkat indeks kekayaan kuintil, semakin rendah rata-rata jumlah anak
yang ideal yang diinginkan.
5.4. Kelahiran yang tidak Direncanakan dan yang tidak Diharapkan
Kelahiran yang tidak direncanakan atau tidak diharapkan erat kaitannya dengan kehamilan yang tidak
diinginkan. Kehamilan yang tidak diinginkan merupakan isu penting di negara berkembang seperti
Indonesia karena terkait erat dengan masalah sosial dan kesehatan. Salah satu konsekuensi dari kehamilan
yang tidak diinginkan adalah meningkatnya risiko kejadian aborsi (Bankole et all., 2006).
Dalam SDKI 2012, responden pria diwawancarai dengan rangkaian pertanyaan tentang anak yang sedang
dikandung istri pada saat wawancara dilakukan, hal ini untuk menentukan apakah kehamilan tersebut
diinginkan pada waktu itu, pada waktu yang akan datang (setelah kurun waktu 2 tahun), atau
sesungguhnya sama sekali tidak diinginkan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan dapat
62
memberikan gambaran yang kuat dalam keberhasilan pengendalian kelahiran. Selain itu, informasi yang
diperoleh juga dapat digunakan untuk mengukur pengaruh dari pencegahan kelahiran yang tidak
diinginkan terhadap fertilitas.
Pertanyaan-pertanyaan mengenai perencanaan kelahiran dalam SDKI 2012 tidak dengan mudah dapat
dijawab, karena responden pria diminta untuk menjawab apakah ingin mempunyai anak lagi atau tidak
ingin mempunyai anak lagi. Misalnya, kehamilan yang semula tidak diharapkan ternyata menghasilkan
anak yang sangat dibanggakan. Terlepas dari masalah pemahaman, daya ingat dan kejujuran responden,
hasil-hasil dari survei yang terdahulu membuktikan bahwa jawaban responden dapat dipercaya.
Responden ternyata bersedia menyatakan kehamilan yang tidak diinginkan, meskipun pandangannya
berubah setelah anaknya lahir. Hal ini dapat mengakibatkan rendahnya fertilitas yang sebenarnya tidak
diinginkan.
Tabel 5.6 menyajikan distribusi persentase keinginan pria tentang status perencanaan kehamilan menurut
karakteristik latar belakang . Empat belas persen di antara pria yang istrinya sedang hamil sebenarnya
sudah tidak ingin lagi mempunyai anak, 86 persen masih menginginkan anak lagi, dimana sebanyak 59
persen menginginkan anak segera dan 26 persen menginginkan anak kemudian.
Tabel 5.6. Status perencanaan kelahiran (menurut suami)
Disribusi persentase pria kawin menurut perencanaan kelahiran (anak yang sedang dikandung isteri)
dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Kemudian
Tidak ingin
lagi
Jumlah
Jumlah pria
61,2
57,5
57,4
61,2
25,7
27,4
26,7
24,7
13,1
15,1
15,8
14,1
100,0
100,0
100,0
100,0
206
212
101
85
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil Kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
*
88,5
75,3
56,4
45,4
36,8
*
*
*
*
11,0
26,8
33,6
50,0
*
*
*
*
13,6
16,8
21,0
13,2
*
*
*
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
6
78
154
149
119
68
23
7
54,0
64,1
30,4
22,5
15,6
13,3
100,0
100,0
289
315
61,5
50,9
70,6
53,1
59,6
23,1
29,1
20,2
28,6
27,1
15,4
20,0
9,2
18,4
13,2
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
13
55
109
147
280
62,2
66,2
56,9
54,5
53,0
20,7
17,7
36,7
29,7
32,0
17,1
16,2
6,4
15,8
15,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
164
130
109
101
100
Jumlah
59,3
26,3
14,4
100,0
604
Urutan anak
1
2
3
4+
Umur
Segera
* Estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan
Terdapat pola hubungan antara perencanaan kelahiran dengan umur pria. Persentase pria yang
menginginkan anak segera relatif tinggi pada pria yang berusia muda, kemudian semakin berkurang
seiring dengan bertambahnya umur. Sebaliknya pola yang berbeda terlihat pada pria yang menginginkan
anak lagi kemudian (setelah kurun waktu 2 tahun), dimana persentasenya semakin tinggi pada pria yang
berusia lebih tua. Hal yang berbeda terjadi pada pria yang sudah tidak ingin punya anak lagi, persentase di
63
kalangan pria muda justru relatif sedikit kemudian cenderung meningkat seiring dengan umur yang makin
bertambah dan menurun pada pria berusia 40 tahun ke atas.
Bila dilihat menurut tempat tinggal, terdapat perbedaan antara perencanaan kelahiran di kalangan pria
yang tinggal di perkotaan dengan di perdesaan baik yang menyangkut kelahiran yang segera diinginkan
maupun kelahiran yang diinginkan kemudian. Persentasenya lebih tinggi pada mereka yang tinggal di
perkotaan dari pada yang tinggal di perdesaan. Sementara persentase pria yang tidak menginginkan anak
lagi tidak terdapat perbedaan yang berarti.
Menurut tingkat pendidikan diketahui bahwa pria yang berhasil menamatkan pendidikan tamat SD
cenderung menginginkan anak segera (71 persen) dibandingkan priadengan kategori pendidikan lainnya.
Sedangkan pria dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD memiliki kecenderungan untuk tidak
menginginkan anak lagi (20 persen) dibandingkan pria dengan kategori pendidikan lainnya.
Apabila ditinjau menurut kuintil kekayaan responden, terlihat bahwa terdapat pola yang menunjukkan
bahwa semakin tinggi status indeks kekayaan kuintil responden pria maka semakin rendah persentase
keinginannya untuk memiliki anak (lagi) dengan segera. Namun demikian responden pria yang
menginginkan anak kemudiantidak memiliki pola yang berarti menurut kuintil kekayaan. Persentase
tertinggi adalah pada pria dengan status kuintil kekayaan menengah (37 persen) dan persentase terendah
pada pria dengan kuintil kekayaan menengah bawah (18 persen). Keadaan ini berbeda dengan gambaran
pada mereka yang tidak menginginkan anak lagi dimana persentasenya tertinggi pada kelompok pria
dengan kuintil kekayaanterbawah(17 persen) dan persentase terendah pada pria dengan kuintil kekayaan
menengah (6 persen).
Tabel 5.7. Fertilitas yang diinginkan
Rata-rata jumlah anak yang diinginkan pria berstatus kawin dan
WUS, menurut karakteristik latar belakang, SDKI 2012
Rata-rata anak
Rata-rata anak
Karakteristik
ideal menurut
ideal menurut
latar belakang
pria kawin
wanita 15-49 th
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
2,7
2,5
Perdesaan
2,9
2,7
Pendidikan
Tidak sekolah
3,4
3,2
Tidak tamat SD
3,2
3,0
TamatSD
2,8
2,7
Tidak tamat SMTA
2,8
2,5
SMTA+
2,8
2,5
Kuintil kekayaan
Terbawah
3,3
2,9
Menengah bawah
2,8
2,6
Menengah
2,8
2,5
Menengah atas
2,7
2,5
Teratas
2,7
2,5
Jumlah
2,8
2,6
Tabel 5.7. menyajikan rata-rata jumlah anak ideal yang diinginkan pria, dan rata-rata anak ideal yang
diinginkan oleh wanita 15-49 tahun. Angka fertilitas yang diinginkan mencerminkan angka fertilitas yang
secara teoritis akan terjadi jika semua kelahiran yang tidak diharapkan dapat dicegah. Secara umum
terlihat bahwa terdapat perbedaan antara rata-rata jumlah anak ideal yang diinginkan oleh pria dan ratarata jumlah anak ideal yang diinginkan oleh wanita. Perbedaan rata-rata jumlah anak yang diinginkan
oleh pria dan wanita juga berbeda menurut daerah tempat tinggal. Rata-rata jumlah anak yang diinginkan
lebih tinggi pada mereka yang tingal di perdesaan dibandingkan dengan mereka yang tinggal di
perkotaan.
64
Apabila dilihat menurut tingkat pendidikan pria dan wanita, terlihat bahwa makin tinggi pendidikannya
maka rata-rata jumlah anak yang diinginkan makin rendah, walaupun pada tingkat pendidikan terakhir
(tidak tamat SMTA dan SMTA+) tidak terdapat perbedaan. Selanjutnya apabila ditinjau menurut kuintil
kekayaan terlihat bahwa rata-rata jumlah anak ideal yang diinginkan baik oleh pria maupun wanita
semakin rendah pada mereka yang memiliki indeks kekayaan lebih tinggi.
5.5. Keinginan Mempunyai Anak Menurut Status Wanita
Meningkatnya status dan pemberdayaan atau kewenangan wanita diakui sebagai salah satu faktor penting
dalam menurunkan fertilitas; semakin tinggi status wanita maka semakin kecil jumlah anaknya
diinginkan. Tabel 5.8 memberikan informasi tentang rata-rata jumlah anak yang diinginkan oleh pria dan
kebutuhan pria dalam ber-KB yang tidak terpenuhi untuk menjarangkan dan mengakhiri kehamilan
menurut tiga indikator status pasangan pria, yaitu keterlibatan istri dalam pengambilan keputusan,
pendapat pria yang menolak kekerasan terhadap istri, dan pendapat negatif suami tentang KB.
Dalam SDKI 2012 kepada pria kawin ditanyakan tentang keterlibatan istri dalam pengambilan keputusan
yang meliputi beberapa hal yaitu pemeriksaan kesehatan suami, pembelian kebutuhan barang tahan lama,
pembelian kebutuhan sehari-hari, kunjungan ke keluarga, dan jenis makanan yang akan dimasak setiap
hari.
Tabel 5.8. Jumlah anak ideal dan kebutuhan ber KB pria yang tidak terpenuhi
Rata-rata jumlah anak ideal dan kebutuhan KB pria yang tidak terpenuhi menurut status isteri, Indonesia 2012
Indikator
status isteri
Jumlah keputusan yang
diambil oleh isteri 3
0
1-2
3
Jumlah suami menolak
kekerasan terhadap isteri
0
1-2
3-4
5
Jumlah pernyataan
negatif tentang KB oleh
suami
0
1-2
3-4
Total
Kebutuhan KB pria yang tidak terpenuhi 2
Rata-rata
jumlah
anak ideal 1
Jumlah
pria
Penjarangan
Pembatasan
Jumlah
2,9
2,8
2,7
273
253
51
2,8
2,8
2,7
2,5
2,4
2,8
5,2
5,2
5,6
4.016
4.479
811
*
4,2
2,9
2,8
3
22
110
442
3,9
3,4
2,6
2,8
0.0
0,0
2,5
2,4
3,9
2,4
5,1
5,2
9
302
1.416
7.509
2,9
2,8
3,1
2,9
264
284
30
577
2,7
2,8
3,6
2,8
2,9
2.9
2,0
2,4
5,6
5,7
5,6
5,2
2.821
5.053
422
9.306
Jumlah
pria
1
Total dihitung tidak termasuk pria yang memberikan jawaban tidak dalam angka.
Lihat Tabel unmetneed untuk definisi ber KB yang tidak terpenuhi bagi pria.
Sendiri atau bersama orang lain
* Estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan
2
3
Data memperlihatkan bahwa keterlibatan isteri di dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangga,
berhubungan terbalik dengan rata-rata jumlah anak yang diinginkan pria. Isteri yang hanya terlibat dalam
1 sampai 2 pengambilan keputusan dalam rumah tangga suaminya mempunyai keinginan jumlah anak
yang lebih banyak dibandingkan dengan istri yang ikut dalam pengambilan sampai tiga keputusan dalam
rumah tangga. Kebutuhan ber KB yang tidak terpenuhi bagi pria yang istrinya tidak terlibat dalam
65
pengambilan keputusan rumah tangga lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang terlibat penuh
dalam pengambilan keputusan di rumah tangga.
Banyaknya keputusan dalam rumah tangga yang melibatkan partisipasi istri dan banyaknya pernyataan
suami menolak kekerasan terhadap isteri berhubungan terbalik dengan jumlah anak ideal yang diinginkan
suami. Kepada pria ditanyakan apakah seorang suami berhak untuk memukul isterinya jika isteri pergi
tanpa ijin, istri mengabaikan anak, istri bertengkar dengan suami, isteri menolak berhubungan seks
dengan suami dan istri masak makanan yang todak bisa dimakan. Hasil pengolahan data menunjukkan
bahwa semakin jika banyak penolakan kekerasan terhadap istri, rata-rata jumlah anak yang diinginkan
oleh suami makin rendah (2,8 anak) sedangkan makin rendah penolakan kekerasan terhadap istri maka
rata-rata jumlah anak ideal yang diinginkan suami lebih tinggi yaitu 4,2 anak.
66
Tidak Pakai Kontrasepsi dan
Keinginan Untuk Pakai Kontrasepsi
6
Temuan Utama
 Persentase pria/suami yang tidak ingin memakai alat/cara KB di waktu yang akan datang meningkat dari
73,2 persen pada tahun 2007 menjadi 82,9 persen pada tahun 2012.
 Persentase pria/suami menentang memakai alat/cara KB diwaktu datang meningkat dari 9,2 persen (SDKI
2007) menjadi 9,6 persen (SDKI 2012), dengan alasan responden menentang tercatat 6,2 persen
meningkat dari 4,7 persen.
 Pada SDKI 2012, dilihat dari kelompok umur, pria kawin usia lebih dari 40 tahun ke atas yang memiliki
jumlah anak lebih dari 4 anak (46,1 persen), cenderung berkeinginan memakai alat/cara KB di waktu
mendatang dibandingkan pria usia muda 15-29 tahun (7,3 persen)
 Pada SDKI 2012, 48,1 persen pria/suami yang berkeinginan mengggunakan metode kontrasepsi kondom di
waktu mendatang, mengalami penurunan dibandingkan dengan SDKI 2007 (53,7 persen). Dengan metode
kontrasepsi KB mantap vasektomi (MOP) tercatat meningkat 10,6 persen (SDKI 2012), dibandingkan
dengan SDKI 2007 yang hanya 3,9 persen.
 Perlu peningkatan KIE KB & Konseling pada pria/suami terutama pada kelompok ekonomi terbawah dengan
tingkat pendidikan rendah.
 Perlu pembinaan peningkatan KIE KB & Konseling bagi para pengelola program KB pria lini lapangan.
Bab ini menyajikan informasi mengenai pria kawin yang tidak memakai alat/cara KB dan keinginan
untuk pakai kontrasepsi, alasan tidak ingin memakai kontrasepsi dan alat/cara KB yang diinginkan pria
kawin di masa mendatang.
6.1. Keinginan untuk Memakai Kontrasepsi di Waktu yang Akan Datang
Keinginan untuk memakai kontrasepsi (alat/cara KB) di waktu yang akan datang memberikan suatu
gambaran mengenai kebutuhan yang potensial terhadap pelayanan KB serta merupakan indikator ringkas
mengenai sikap partisipasi pria bukan peserta KB terhadap Program KB pada saat ini. Di Indonesia,
tingkat prevalensi sudah tercatat cukup tinggi yaitu mencapai 62 persen, dan 58 persen di antaranya
menggunakan alat/cara KB modern. Meskipun tingkat prevalensi sudah tinggi, namun partisipasi pria
dalam penggunaan alat/cara KB khususnya kondom dan vasektomi terbukti masih rendah yaitu 3 persen
(Sumber : Responden wanita berstatus kawin umur 15-49 tahun SDKI 2012).
Rendahnya partisipasi pria dalam pemakaian alat/cara KB ini karena ketersediaan pilihannya yang
terbatas, yaitu baru kondom dan vasektomi, serta beberapa alasan klasik seperti; larangan dari keluarga,
kurang pengetahuan, kurang kesadaran (terhadap jumlah anak yang dianggap cukup dan keadaan dimana
istri tidak cocok terhadap jenis alat kontrasepsi apapun) dan adanya rumor yang membuat takut pria,
bahwa vasektomi atau sterilisasi pria bisa mempengaruhi libido pria. Contohnya anggapan pria akan
kehilangan kejantanan setelah vasektomi dan mengalami impotensi.(sumber: http//bkkbn.go.id/kbpria).
Alasan ini tidak benar, pria yang ikut MOP produksi hormon testosteron pria tetap berjalan seperti biasa,
MOP tidak menimbulkan impotensi semua fungsi kejantanan laki-laki masih normal setelah dilakukan
metode MOP. Di Indonesia saat ini, sedang dikembangkan alat kontrasepsi pil pada pria yang bisa
menjadi alternatif pilihan alat kontrasepsi lain disamping kondom dan vasektomi.
67
Pria/suami yang tidak memakai alat/cara KB pada saat wawancara dalam survei ditanyakan apakah
mereka bermaksud menggunakan alat/cara KB pada waktu yang akan datang. Tabel 6.1. menyajikan
distribusi persentase pria/suami berstatus kawin yang saat ini sedang tidak memakai alat/cara KB menurut
keinginan untuk memakai suatu alat/cara KB di waktu yang akan datang menurut jumlah anak masih
hidup yang dimiliki.
Tabel 6.1. Keinginan menggunakan alat/cara KB pada waktu yang akan datang
Distribusi persentase pria kawin dan wanita kawin umur 15-49 tahun yang tidak memakai alat/cara
KB menurut keinginannya memakai alat cara KB pada waktu yang akan datang dan jumlah anak
masih hidup, Indonesia 2012
PRIA KAWIN
Jumlah anak masih hidup
Ingin memakai
Tidak yakin
Tidak ingin pakai
Tidak terjawab
Jumlah pria
Jumlah
pria
824
0
1
2
3
4+
14,3
9,9
9,1
8,9
7,7
1,9
1,6
1,8
1,5
1,5
1,6
143
74,5
81,5
82,5
83,7
86,3
82,9
7.360
Total
9,3
9,4
7,0
6,6
6,0
4,5
6,2
549
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
8.876
WANITA KAWIN
Jumlah anak masih hidup1
0
1
2
3
4+
Total
Keinginan memakai
62,8
66,5
52,2
43,1
29,3
53,2
Tidak yakin
11,2
6,8
6,6
7,1
8,9
7,7
Tidak bermaksud memakai
25,6
25,7
39,1
47,7
60,7
37,7
Tak terjawab
0,5
1,1
2,1
2,2
1,1
1,4
Jumlah
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
Jumlah wanita
1.812
3. 861
3.196
1.955
1.938
12.761
Tidak termasuk pria yang mengatakan tidak KB padahal istrinya memakai alat/cara KB
1
Termasuk kehamilan saat ini
Menurut data SDKI 2012 responden pria kawin yang tidak memakai alat/cara KB, tercatat sebanyak 9,3
persen pria/suami berkeinginan untuk memakai alat/cara KB pada waktu yang akan datang. Persentase
pria/suami yang tidak memakai KB dan tidak berkeinginan untuk menjadi peserta KB di waktu
mendatang tercatat meningkat, yaitu mencapai 82,9 persen (SDKI 2012) dibandingkan SDKI 2007 (73,2
persen). Sedangkan pernyataan pria/suami yang tidak yakin atau masih ragu-ragu apakah di masa yang
datang akan menggunakan alat/cara KB turun menjadi 1,6 persen (SDKI 2012) dibandingkan SDKI 2007
yaitu 8,5 persen. Terlihat ada kecenderungan pola terbalik antara keinginan untuk menggunakan alat/cara
KB di waktu mendatang dengan jumlah anak masih hidup yang dimiliki pria/suami pada saat ini, hal ini
terlihat pada tabel 6.1. dimana semakin banyak jumlah anak yang masih hidup semakin kecil persentase
keinginan memakai alat/cara KB di waktu yang akan datang.
Pada wanita kawin umur 15-49 tahun bukan peserta KB, 53 persen berkeinginan memakai alat/cara KB
lebih waktu yang akan datang. Persentase keinginan untuk memakai alat/cara KB pada wanita kawin
besar dibandingkan dengan persentase pada pria kawin, tetapi jika dikaitkan dengan jumlah anak yang
masih hidup mempunyai pola yang sama dimana semakin banyak jumlah anak masih hidup semakin
sedikit persentase keinginan memakai alat/cara KB di masa mendatang (pada tabel. 6.1). yang perlu
menjadi perhatian ternyatan 38 % wanita menyatakan tidak ingin menggunakan alat/cara KB di waktu
mendatang, untuk itu KIE tentang pentingnya KB perlu terus dilakukan.
68
Tabel 6.2. menyajikan distribusi persentase pria kawin yang tidak memakai alat/cara KB, berkeinginan
untuk menggunakan alat/cara KB di waktu mendatang menurut jumlah anak masih hidup dan
karakteristik latar belakang. Secara umum, keinginan pria kawin yang tidak memakai alat/cara KB
sebagian besar dijumpai pada pria/suami yang memiliki jumlah anak 4 atau lebih (27 persen) dan
memiliki jumlah anak 2 sebanyak 22,5 persen. Untuk pria kawin yang berkeinginan memakai alat/cara
KB di masa yang akan datang cenderung terlihat pada kelompok umur lebih tua, tinggal di perdesaan,
pada kelompok tidak tamat SD dan pada kuintil terbawah.
Sebagai contoh, 46,1 persen pria berusia 40 tahun ke atas yang memiliki jumlah 4 anak masih hidup
berkeinginan untuk memakai alat/cara KB di waktu mendatang, sedangkan persentase pada mereka yang
berusia 30-39 tahun sebesar 25,2 persen dan untuk pria berusia 15-29 tahun sebesar 7,3persen.
Tabel 6.2. Keinginan memakai alat/cata KB pada waktu yang akan datang
Distribusi persentase pria berstatus kawin yang tidak memakai alat/cara KB, dan ingin memakai alat.cara KB pada
waktu yang akan datang, menurut jumlah anak masih hidup dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Jumlah anak masih hidup
Karakteristik
Jumlah
latar belakang
0
1
2
3
4+
Jumlah
pria
Umur
15-29
31,7
26,4
27,6
6,9
7,3
100
246
30-39
12,6
18,2
23,6
20,3
25,2
100
428
40-54
5,5
10,6
15,4
22,5
46,1
100
293
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
18,5
17,9
20,7
17,7
25,2
100
531
Perdesaan
11,5
18,1
23,9
17,4
29,1
100
436
Pendidikan
Tidak sekolah
0,0
14,3
42,9
14,3
28,6
100
7
Tidak tamat SD
3,3
11,5
18,0
21,3
45,9
100
61
Tamat SD
8,8
18,2
19,6
20,9
32,4
100
148
Tidak tamat SMTA
16,8
12,9
28,7
13,9
27,7
100
202
SMTA+
18,0
20,6
20,6
17,7
23,1
100
549
Indeks kekayaan kuintil
Terbawah
16,8
16,2
24,6
11,2
31,3
100
179
Menengah bawah
12,4
16,5
27,3
14,9
28,9
100
194
Menengah
13,2
19,2
16,5
23,1
28,0
100
182
Menengah atas
19,5
15,7
18,4
24,9
21,6
100
185
Teratas
15,0
21,6
23,3
14,5
25,6
100
227
Jumlah
15,3
18,0
22,1
17,6
27,0
100
967
Tidak termasuk pria yang mengatakan tidak KB padahal istrinya memakai alat/cara KB
Berdasarkan wilayah, baik perkotaan maupun perdesaan tidak ada perbedaan mengenai keinginan
memakai alat/cara KB di waktu yang akan datang namun persentase pria berstatus kawin yang
berkeinginan memakai alat/cara KB masih terbilang rendah yaitu 17,4 persen.
Tingkat pendidikan jika dilihat dari hubungannya dengan jumlah anak masih hidup dengan keinginan
menggunakan alat/cara KB di waktu yang akan datang, pada pria dengan jumlah anak yang dimiliki
sebanyak 2 anak, persentase tertinggi dijumpai pada pria tidak tamat SMTA (29 persen). Sedangkan pada
pria yang memiliki 3 anak, persentase tertinggi juga dijumpai pada pria yang tidak tamat SD dan tamat
SD. Pola serupa juga dijumpai pada pria yang memiliki 4 anak atau lebih.
Tingkat kekayaan jika dilihat dari hubungan terhadap jumlah anak masih hidup dengan keinginan
menggunakan alat/cara KB di waktu yang akan datang, pada pria dengan jumlah anak yang memiliki 2
anak atau lebih, persentase tertinggi dijumpai pada pria dengan indeks kekayaan menengah bawah (27,3
persen). Sedangkan pada pria yang memiliki 4 anak atau lebih, persentase tertinggi juga dijumpai mereka
dengan tingkat indeks kekayaan menengah terbawah.
69
6.2. Alasan tidak ingin Memakai Alat/Cara KB
Salah satu cara terbaik untuk mengetahui adanya hambatan terhadap pelaksanaan program KB nasional
adalah dengan cara bertanya kepada para pria/suami mengenai alasan mengapa mereka tidak memakai
alat/cara KB. Pertanyaan ini diajukan baik pada SDKI 2002-2003, SDKI 2007 maupun SDKI 2012. Tabel
6.3 menyajikan distribusi persentase pria/suami berstatus kawin dan wanita berstatus kawin yang tidak
memakai alat/cara KB dan tidak berkeinginan untuk memakai alat/cara KB di waktu mendatang menurut
alasan utama tidak ingin memakai dan umur.
Tabel 6.3. Pria status kawin dan wanita kawin yang tidak memakai alat/cara KB
Distribusi persentase pria berstatus kawin dan wanita berstatus kawin yang tidak memakai alat/cara KBmenurut
jumlah alasan tidak ingin pakai KB, Indonesia 2012
Pria
Wanita
Alasan tidak ingin KB
15-29
30-39
40-54
Fertilitas
Abstinensi
Isteri menopause
Tidak subur
Ingin banyak anak
10,2
0,2
0,0
0,1
9,9
10,7
0,4
0,2
0,3
9,8
16,0
1,4
8,0
0,9
5,6
12,9
0,9
3,6
0,5
7,9
22,1
3,4
0,1
1,6
14,7
43,3
8,1
22,2
3,2
8,3
40,2
7,4
19,1
3,0
9,2
Menentang untuk memakai
Kepercayaan
Responden menentang
Isteri menentang
Larangan orang lain
Larangan agama
9,0
1,0
6,4
0,6
0,2
0,8
10,9
2,2
6,7
0,5
0,1
1,5
8,8
1,7
5,8
0,3
0,0
1,0
9,6
1,7
6,2
0,4
0,1
1,2
10,8
0,0
2,6
4,0
0,3
4,0
2,9
0,0
0,9
1,8
0,1
0,2
4,1
0,0
1,2
2,1
0,1
0,7
Kurang pengetahuan
Tidak tahu alat/cara KB
Tidak tahu sumber
9,8
9,0
0,8
7,6
7,0
0,6
6,4
6,1
0,3
7,5
7,0
0,5
4,7
4,6
0,1
1,6
1,5
0,1
2,0
1,9
0,1
Alat/cara KB
13,6
13,2
11,4
12,4
34,5
21,5
23,4
Alasan kesehatan
Takut efek samping
Tempat jauh
Mahal
Tidak nyaman
Menjadi gemuk/kurus
Lainnya
Tidak terjawab
1,1
7,4
0,1
0,2
4,6
0,2
42,1
15,4
1,3
7,3
0,0
0,1
4,2
0,3
45,8
11,8
1,7
5,8
0,0
0,3
3,4
0,2
46,7
10,7
1,5
6,6
0,0
0,2
3,9
0,2
45,5
12,0
6,8
24,7
0,1
0,3
1,3
1,3
17,2
9,3
7,9
9,3
0,0
0,9
2,4
0,9
28,1
2,1
7,8
11,5
0,1
0,8
2,3
1,0
26,5
3,1
Jumlah
100
100
100
100
100
100
100
1.236
2.486
2.972
6.694
847
5.020
5.867
Jumlah pria
Jumlah
15-29
30-49
Jumlah
Pria/suami yang tidak ingin menggunakan alat/cara KB di waktu yang akan datang, umumnya
mengemukakan alasan yang berkaitan dengan fertilitas (kesuburan) 12,9 persen. Proporsi tersebut delapan
persen memberikan alasan menyatakan ingin banyak anak, cenderung dijumpai pada kelompok umur
lebih muda. Bila dilihat pada wanita kawin dengan alasan berkaitan dengan fertilitas pada wanita kawin
yang tidak ingin memakai KB sebesar 40,2 persen. 19,1 persen wanita kawin menyatakan karena alasan
menopause, histerektomi dan 10 persen alasan ingin anak banyak terutama pada kelompok wanita kawin
umur 15-29 tahun.
Di antara alasan pria/suami berstatus kawin tidak ingin KB karena alasan alat/cara KB sebanyak 12,4
persen. Proporsi terbesar 6,6 persen karena alasan takut efek samping dari alat/cara KB, alasan tidak
nyaman sebanyak 3,9 persen dan alasan kesehatan 1,1 persen cenderung dijumpai pada kelompok umur
lebih muda 15-29 tahun. Selanjutnya sebanyak 9,6 persen menyatakan menentang untuk memakai alat
kontrasepsi, dari jumlah tersebut 6,2 persen menyatakan alasan tidak setuju atau menolak untuk memakai
alat/cara KB dan cenderung dijumpai pada kelompok umur lebih muda (30-39 tahun).
70
Wanita kawin 23,4 persen yang tidak ingin KB, dari jumlah tersebut 11,5 persen karena alasan takut efek
samping terutama pada kelompok wanita kawin 15-29 tahun, karena alasan masalah kesehatan ada
sebanyak 7,8 persen.
Temuan ini mengindikasikan bahwa norma keluarga kecil yang menjadi slogan program KB nasional
selama ini nampaknya belum sepenuhnya dapat diterima oleh sebagian pria/suami. Adanya tanggapan,
kebiasaan serta persepsi dan pemikiran yang salah yang masih cenderung menyerahkan tanggung jawab
KB sepenuhnya kepada istri atau perempuan. Dalam pengertian, bahwa faktor budaya yang memanjakan
suami, dimana perempuan adalah pendamping setia yang sudah selayaknya bertanggung jawab seorang
diri mengenai kesehatan reproduksinya, disamping itu sebagian besar masyarakat masih menempatkan
perempuan hanya objek dalam masalah reproduksi, karena yang hamil dan melahirkan wanita maka
perempuanlah yang harus ikut KB agar tidak hamil.
Anggapan lain bahwa vasektomi atau sterilisasi pria bisa mempengaruhi libido pria, serta kekhawatiran
para istri adanya peluang lebih bagi suami untuk menyeleweng. Disamping pendapat masyarakat yang
menempatkan perempuan hanya sebagai objek dalam masalah reproduksi karena yang hamil dan
melahirkan wanita maka perempuanlah yang harus ikut KB agar tidak hamil. (sumber:
http://palingseru.com//gayahidup,seksiologi)
Perlu peningkatan KIE KB dan Konseling oleh petugas KB lini lapangan, pembinaan kembali program
KB pria, selain faktor sosial budaya masyarakat yang masih cenderung beranggapan program KB hanya
untuk wanita saja. seyogyanya informasi mengenai keluarga berkualitas yang antara lain hanya dapat
dicapai di kalangan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera tentunya dengan jumlah anak yang terbatas
nampaknya masih harus semakin digalakkan di kalangan para pria/suami. Selain itu penyampaian
mengenai berbagai alat/cara KB khususnya mengenai alat/cara KB pria beserta kelebihan dan
kekurangannya termasuk efek samping yang ditimbulkan, juga sangat perlu disampaikan di kalangan para
pria/suami, sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan lagi di kalangan mereka untuk menggunakan
alat/ cara KB yang tersedia.
6.3. Alat/Cara KB yang Diinginkan
Dalam SDKI 2012, pria berstatus kawin ditanya tentang
alat/cara KB yang diinginkan untuk dipakai di masa mendatang.
Tabel 6.4. menyajikan informasi tentang metode alat/cara KB
yang diinginkan yaitu : MOP, Kondom, pantang berkala,
sanggama terputus, lainnya dan tidak tahu.
Informasi mengenai alat/cara KB yang diinginkan oleh
pria/suami yang berkeinginan untuk menggunakan alat/cara KB
di waktu yang akan datang sangat diperlukan bagi para
pengelola program, karena hal ini menyangkut penyediaan
alat/cara KB yang dibutuhkan dan sekaligus penyediaan tenaga
pelayanan.
Tabel 6.4. Alat/cara KB yang diinginkan
Distribusi persentase pria kawin yang saat ini
tidak KB dan berkeinginan untuk memakai di
masa mendatang menurut alat/cara KB yang
diinginkan, Indonesia 2012
Metode yang diinginkan
MOP
Kondom
Pantang berkala
Sanggama terputus
Lainnya
Tidak tahu
Jumlah
Jumlah pria
Persen
10,6
48,1
8,4
5,3
12,8
14,8
100.0
966
Pada Tabel 6.4 memperlihatkan bahwa sebanyak 48,1 persen pria/suami berkeinginan menggunakan
alat/cara KB di waktu yang akan datang dengan metode kontrasepsi kondom menurun jika dibandingkan
dengan pada SDKI 2007 (53,7 persen). Metode kontrasepsi mantap vasektomi (MOP) tercatat 10,6 persen
di SDKI 2012 meningkat dibandingkan dengan SDKI 2007 (3,9 persen), untuk metode alat/cara KB
tradisional tercatat 13,7 persen berkeinginan menggunakan alat/cara KB pantang berkala dan sanggama
terputus.
71
72
Partisipasi Pria dalam Perawatan
Kesehatan
7
Temuan Utama
 Baru 42 persen pria kawin yang menggunakan metode pantang berkala mengetahui dengan benar konsep
masa subur pada seorang perempuan.
 Sebanyak 43 persen pria kawin belum mengetahui tanda tanda bahaya kehamilan, dan persentase tanda
bahaya kehamilan yang pria kawinnya tahu tanda bahaya terbanyak adalah perdarahan (26 persen).
 Lima puluh sembilan persen pria kawin sudah melakukan konsultasi dengan petugas kesehatan berkaitan
dengan kehamilan istrinya.
 Penolong persalinan dan tempat persalinan merupakan topik yang paling banyak dikonsultasikan dengan
petugas kesehatan.
 Sebagian besar ( 80 persen) pria kawin yang memiliki anak balita mengetahui anak balitanya sudah
mendapatkan imunisiasi Polio dan BCG.
 80 persen wanita mengambil keputusan untuk membawa anaknya berobat bila sakit.
 Kurang dari 10 persen pria kawin marah jika anaknya diimunisasi atau dibawa ke dokter tanpa ijin suami.
Secara turun temurun, peran pria dalam perawatan kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, dan kesehatan
anak seringkali terabaikan sehingga peran wanita dalam masalah ini menjadi dominan. Dampaknya
adalah tanggung jawab dalam memelihara kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, dan kesehatan anak
tersebut seolah-olah hanya menjadi tugas wanita saja. Hal ini terjadi disebabkan hanya wanita yang dapat
mengalami kehamilan dan melahirkan. Peran dan keterlibatan pria dalam pelayanan kesehatan reproduksi,
kesehatan ibu, dan kesehatan anak memang memiliki porsi yang kecil, namun memiliki peran yang
penting untuk keselamatan dan kesehatan ibu pada saat kehamilan dan kelahiran, serta keselamatan dan
kesehatan anak yang dilahirkan (Kululanga et al., 2011).
Peran dan tanggung jawab pria dalam perawatan kesehatan dilihat dari keterlibatan pria dalam kesehatan
istri dan anak, dapat berdampak positif maupun negatif (Dudgeon dan Inhorn, 2004). Peran pria dalam
kesehatan keluarga dilihat dari keterlibatannya dalam perawatan kehamilan istri dan berbagai keputusan
yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan perawatan anak. Seperti disebutkan dalam artikel
Dudgeon dan Inhorn (2004), usaha untuk melibatkan partisipasi pria di dalam kesehatan reproduksi,
kesehatan ibu, dan kesehatan anak adalah dengan menumbuhkan pengetahuan dan kesadaran pria
mengenai (i)persamaan hak, kewajiban, dan intervensi dalam kesehatan reproduksi; (ii) peran pria di
dalam penggunaan kontrasepsi; (iii) peran pria di dalam penyebaran infeksi menular seksual; (iv) peran
pria di dalam aborsi yang disengaja; (v) peran pria di dalam kehamilan dan persalinan; (vi) penyebab
infertilitas; (vii) risiko kesehatan janin.
Bab ini menyajikan informasi mengenai pengetahuan pria tentang masa subur, pengetahuan pria tentang
tanda bahaya kehamilan, kontak pria dengan petugas membahas mengenai kehamilan dan kelahiran
anak,topik khusus mengenai persalinan, imunisasi balita,keputuan membawa anak berobat jika sakit, dan
sikap pria terhadap istri bila pergi tanpa izin.
73
Tabel 7.1.1. Pengetahuan Tentang Masa Subur
Distribusi presentasi pria kawin menurut pengetahuan tentang masa subur
dan pemakaian metode pantang berkala, Indonesia, 2012
Masa subur
Pemakai
pantang
berkala
Selama masa haid
Setelah masa haid
Ditengah antara 2 haid
Menjelang Haid
Tak ada waktu tertentu
Lainnya
Tidak tahu
Jumlah
Bukan
pemakai
pantang
berkala
Jumlah
3,0
40,9
41,7
2,3
2,5
4,0
5,6
0,4
28,3
14,4
2,3
52,1
0,5
2,0
0,4
28,4
14,5
2,3
51,8
0,5
2,1
100,0
100,0
100,0
48
9.258
9.306
Jumlah pria
Catatan: * menunjukkan angka tidak ditampilkan karena jumlah kasus sebelum
pembobotan kurang dari 25
7.1. Alat/Cara KB yang Diinginkan
Pengetahuan pria tentang masalah kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, dan kesehatan anak menjadi
sangat penting karena berdampak terhadap kesadaran pria mengenai pentingnya masalah-masalah
kesehatan tersebut (Bloom et al., 2000). Lebih lanjut Bloom et al. (2000) berpendapat bahwa pengetahuan
mengenai sistem fisiologis reproduksi merupakan pengetahuan dasar yang memiliki dampak terhadap
kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, dan kesehatan anak.
Tabel 7.1.2. Pengetahuan Tentang Masa Subur
Distribusi persen wanita usia 15-49 dengan pengetahuan tentang masa subur
selama siklus ovulasi, menurut penggunaan saat ini metode Pantang
Berkala, Indonesia 2012
Pengetahuan
Masa subur
Tepat sebelum periode
menstruasinya dimulai
Penggua
metode
Pantang
Berkala
Bukan
pengguna
metode
Pantang
Berkala
Semua
Wanita
3.0
3.8
3.8
0.4
0.6
0.6
Menstruasinya telah berakhir
33.7
32.1
32.1
Pertengahan antara dua periode
menstruasi
50.4
18.0
18.3
Selama periode menstruasinya
tepat setelah periode
Lainnya
2.0
0.6
0.6
Dalam waktu tertentu
4.6
16.7
16.6
Tidak Tahu
5.6
27.8
27.6
Missing
0.2
0.3
0.3
100.0
439
100.0
45,168
100.0
45,607
Total
Jumlah Wanita
Pengetahuan tentang masa subur sangat penting untuk mencegah kehamilan, sehingga pengetahuan ini
juga harus dimiliki oleh pria terutama pasangan yang menggunakan metode pantang berkala. Masa subur
74
rata-rata pada wanita menurut Stanford et al. (2002) adalah berada pada hari ke-6 sampai hari ke-21 siklus
haid. Sederhananya, masa subur pada wanita adalah berada ditengah-tengah antara dua haid. Tabel 7.1
menunjukkan bahwa pengetahuan tentang masa subur wanita relatif sangat rendah. Hanya 15 persen pria
yang mengetahui dengan benar tentang masa subur wanita. Apabila dikelompokkan, 41,7 persen pria
yang menggunakan metode pantang berkala yang mengetahui dengan benar kapan masa subur wanita,
sedangkan hanya 14,4 persen yang mengetahui masa subur wanita dari kelompok pria yang tidak
menggunakan metode pasang berkala. Gambaran mengenai pengetahuan pria kawin tentang masa subur
wanita ternyata serupa dengan pengetahuan responden wanita usia subur mengenai masa subur terhadap
wanita. Dari seluruh responden wanita usia subur 15-49 tahun, lebih dari setengah dari jumlah responden
yang menggunakan metode pantang berkala mengetahui dengan benar tentang masa subur wanita,
sedangkan hanya sekitar 18 persen dari responden wanita yang tidak menggunakan metode pantang
berkala dapat menjawab dengan benar mengenai pengetahuan tentang masa subur wanita.
7.2. Pengetahuan Pria Kawin tentang Bahaya pada Kehamilan
Tabel 7.2. Pengetahuan Pria Kawin tentang tanda tanda bahaya kehamilan
Persentase pria kawin menurut pengetahuan tentang tanda tanda bahaya kehamilan dan karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Mules
berkepan
jangan
Perdara
han
(0,0)
6,0
7,6
5,7
7,1
5,5
6,0
6,8
(7,1)
30,6
31,0
31,9
27,6
26,3
21,8
17,9
(1,1)
1,7
0,9
1,5
1,7
1,9
0,5
1,8
(0,0)
1,5
0,9
1,6
0,7
0,7
1,1
1,2
7,4
5,2
31,8
20,9
1,4
1,5
5,3
3,4
4,9
6,2
8,5
9,4
12,0
15,6
25,4
40,2
3,2
5,1
6,2
7,6
9,1
6,3
Demam
Kejang
Kejang
Posisi
Bayi
salah
Kelelahan
Lainnya
(0,0)
0,5
0,6
0,5
1,2
0,4
0,3
0,2
(14,0)
14,6
12,5
15,3
13,1
16,5
11,0
10,4
(4,0)
13,9
11,5
9,4
10,5
14,6
10,3
8,9
(77,8)
49,3
52,1
52,0
56,6
54,4
62,1
65,2
28
350
1.133
1.674
1.769
1.697
1.366
1.289
2,1
1,5
0,5
0,6
16,3
10,5
12,8
9,2
49,3
64,2
4.739
4.567
0,2
0,5
0,5
1,3
0,8
1,8
0,5
1,0
1,8
2,8
0,0
0,1
0,5
0,8
0,7
5,3
7,8
11,8
11,9
18,0
4,2
6,2
7,5
10,2
16,0
81,4
76,2
68,1
57,6
39,8
265
1.371
2.118
1.979
3.572
1,5
2,0
1,1
2,6
4,2
1,0
0,4
0,9
0,9
0,6
1,8
1,2
1,1
1,6
3,3
1,0
0,6
0,5
0,4
0,4
6,9
10,5
14,0
14,1
20,5
5,4
8,0
11,4
11,6
17,9
72,4
64,9
59,1
52,0
36,9
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
2,3
0,8
1,8
0,6
13,4
11,0
56,6
9.306
Bengak
Pingsan
(0,0)
1,5
1,9
2,6
2,8
2,5
1,4
2,4
(0,0)
1,7
1,5
0,3
0,9
0,5
0,8
0,6
(1,1)
2,8
1,4
1,5
2,4
2,2
1,1
1,5
1,4
0,6
2,7
1,9
0,7
0,8
2,4
1,0
0,9
1,6
1,8
0,0
0,8
0,6
0,7
1,6
1,7
0,7
1,3
2,4
3,5
16,5
21,7
23,3
29,8
39,5
2,1
0,7
1,4
1,4
1,7
0,4
1,0
1,4
1,2
1,1
26,4
1,4
1,0
Sesak
Nafa
Tidak
Tahu
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
( ) Jumlah n dari 25 - 49
Pengetahuan pria mengenai tanda-tanda bahaya pada kehamilan sangat penting untuk menentukan
keputusan untuk mencari pertolongan medis (Bloom et al., 2000), sehingga bisa menyelamatkan hidup
ibu dan bayi di dalam kandungannya. Bahaya pada kehamilan memang sulit untuk diperkirakan, namun
dapat dihindarkan apabila seseorang mengetahui tanda-tanda dan gejala-gejala bahaya pada kehamilan
(Ramarao et al., 2001).
Tabel 7.2 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden pria kawin tidak mengetahui tanda-tanda
bahaya pada kehamilan (56,6 persen), sedangkan pada SDKI 2007 responden pria kawin yang tidak
mengetahui tanda-tanda bahaya pada kehamilan adalah sebesar 54,4 persen. Dari seluruh responden pria
kawin yang mengetahui tanda-tanda bahaya pada kehamilan, sebanyak 26,4 persen menjawab perdarahan,
13,4 persen menjawab kelelahan, dan 11,0 persen menjawab tanda-tanda lainnya. Persentase-persentase
75
Jumlah
pria
tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan SDKI 2007, yang mencatat bahwa sebanyak
31,2 persen responden yang menjawab perdarahan, 9,8 persen menjawab kelelahan, dan 6,4 persen yang
menjawab lainnya sebagai tanda-tanda bahaya kehamilan. Secara umum persentase tingkat pengetahuan
mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan pada responden dengan pendidikan lulus SMTA atau perguruan
tinggi dan berada pada kuintil kekayaan teratas memiliki proporsi paling besar dibandingkan responden
dari kelompok latar belakang lainnya.
Proporsi responden terbesar yang tidak tahu mengenai tanda-tanda bahaya pada kehamilan berada pada
kelompok responden dengan tingkat pendidikan dan kuintil kekayaan terendah. Sebaliknya, pada
kelompok responden yang tinggi tingkat kuintil kekayaan dan kuintil pendidikannya, proporsi yang tidak
mengetahui tanda-tanda bahaya pada kehamilan persentasenya terendah.Persentase responden yang tidak
tahu mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan lebih tinggi pada responden yang tinggal di perdesaan
dibandingkan dengan responden yang tinggal di perkotaan.
7.3. Komunikasi dengan Tenaga Kesehatan
Tabel 7.3. Kontak Pria dengan Petugas Kesehatan dan Topik pembicaraan
Persentase pria kawin yang melakukan kontak dengan petugas kesehatan dan topik pembicaraan pada kehamilan
dari kelahiran anak dalam 5 tahun sebelum survei, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Konsultasi
dengan tenaga
kesehaan
Jenis Makanan
selama Hamil
Topik konsultasi
Masalah Kesehatan
Istirahat
yang segera perlu
selama
mendapat perhatian
Hamil
petugas Medis
Jumlah
pria
*
54,2
61,9
62,4
63,0
51,9
43,3
(41,4)
*
51,8
56,0
57,4
58,0
47,6
40,1
(41,0)
*
49,2
55,0
54,8
57,2
45,4
39,5
(28,4)
*
47,3
54,3
52,8
53,2
44,9
35,1
(38,8)
18
176
553
669
508
300
107
39
68,6
49,2
64,3
43,9
60,6
43,7
59,6
41,3
1.227
1.143
(25,9)
34,5
42,1
57,6
73,9
(23,1)
27,8
37,0
52,0
69,9
(23,1)
27,0
37,7
48,6
67,3
(21,0)
27,1
36,5
47,4
64,8
41
208
447
630
1.044
31,7
54,1
60,9
67,0
82,6
26,9
49,7
56,9
61,4
77,3
27,0
45,4
55,8
60,3
73,8
25,3
44,0
54,0
59,5
70,9
460
506
449
495
460
59,3
54,4
52,4
50,7
2.370
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
( ) Jumlah n dari 25 - 49
Sebagaimana telah dijelaskan oleh berbagai literatur mengenai pentingnya keterlibatan pria terhadap
kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, dan kesehatan anak, maka diperlukan informasi mengenai tingkat
keterlibatan pria pada masalah ini. Salah satu caranya adalah dengan melihat apakah pria melakukan
komunikasi dengan tenaga kesehatan untuk membahas hal-hal spesifik yang terkait dengan kesehatan
reproduksi, kesehatan ibu, dan kesehatan anak.
Tabel 7.3 berisi informasi mengenai komunikasi pria dengan petugas kesehatan serta topik pembicaraan
pada kehamilan dan kelahiran anak dalam lima tahun terakhir sebelum survey. Dari seluruh responden
pria kawin hanya 2370 responden yang istrinya pernah melahirkan anak dalam 5 tahun sebelum survei.
76
Dari jumlah tersebut sebanyak 59,3 persen yang melakukan komunikasi dan berkonsultasi dengan petugas
kesehatan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan bila dibandingkan dengan SDKI 2007 yang
mencatat bahwa proporsi pria kawin yang melakukan komunikasi dengan petugas kesehatan adalah
sebesar 40,7 persen.Terkait dengan peningkatan proporsi responden yang melakukan komunikasi dan
konsultasi dengan tenaga kesehatan, hal ini membuka peluang dalam upaya untuk meningkatkan
kesertaan KB pada pria ataupun pasangannya. Dalam artikelnya, Kabagenyi dkk (2013) mengemukakan
bahwa terdapat korelasi positif mengenai penggunaan alat kontrasepsi oleh pria atau pasangannya dengan
adanya interaksi dengan tenaga kesehatan. Dalam artikel tersebut, juga dijelaskan bahwa tenaga kesehatan
dapat memiliki peran yang penting sebagai penyebar informasi mengenai KB terhadap pria di masyarakat.
Dengan demikian, pengelola program KB di Indonesia sebaiknya memberikan perhatian khusus terhadap
tenaga kesehatan terkait dengan pengetahuan mengenai program KB dan kemampuan untuk
menyebarluaskan pesan-pesan mengenai program KB.
Berdasarkan topik pembicaraan dengan petugas kesehatan, 54,4 persen responden pria membahas
mengenai jenis makanan selama hamil, 52,4 persen responden membahas mengenai istirahat selama
hamil, dan 50,7 persen responden membahas mengenai masalah kesehatan pada saat kehamilan yang
memerlukan perhatian segera dari petugas medis. Berdasarkan karakteristik latar belakang, proporsi
responden terbesar yang melakukan konsultasi mengenai kesehatan ibu hamil adalah pada kelompok
umur 35-39 tahun,tinggal di perkotaan, memiliki pendidikan tamat SMTA atau perguruan tinggi, dan
termasuk pada kuintil kekayaan teratas.
7.4. Persiapan Persalinan
Menurut Nejad (2005), persalinan yang dipersiapkan dapat mengurangi kompliksi pada saat persalinan
bagi ibu yang melahirkan dan kondisi bayi yang dilahirkan, sehingga penting bagi pria untuk dapat
mempersiapkan persalinan dengan sebaik-baiknya. Pengetahuan mengenai persalinan merupakan
prasyarat yang harus dimiliki pria supaya dapat mempersiapkan kelahiran anaknya. Premberg (2006)
berpendapat bahwa pria yang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai persiapan persalinan adalah
salah satu bentuk dukungan psikologis bagi pasangannya dalam menghadapi persalinan dan dapat
berdampak positif terhadap proses persalinan tersebut.
Dari total 9.306 responden pria kawin, hanya 1400 responden yang melakukan konsultasi mengenai
persalinan. Apabila dilihat dari karakteristik latar belakang pria (Tabel 7.4), tingkat pendidikan dan kuintil
kekayaan memiliki hubungan yang positif dengan proporsi pria yang melakukan konsultasi mengenai
persalinan. Namun hal sebaliknya terjadi pada karakteristik latar belakang berdasarkan umur, dimana
semakin tua usia pria maka semakin kecil proporsi pria yang melakukan konsultasi mengenai persalinan.
Hal ini mungkin disebabkan karena sudah mempunyai pengalaman dengan kehamilan sebelumnya.
Dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, pria yang tinggal di daerah perkotaan memiliki proporsi yang
lebih besar untuk melakukan konsultasi mengenai persalinan dibandingkan pria yang tinggal di daerah
perdesaan. Adapun topik yang sering dibicarakan berturut-turut adalah mengenai penolong persalinan,
tempat persalinan, biaya persalinan, transportasi, dan donor darah.
77
Tabel 7.4. Persiapan Persalinan
Persentase pria kawin dengan persalinan istri pada lima tahun terakhir sebelum survei dan membicarakan topik khusus
tentang persalinan menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Topik konsultasi
Karakteristik
latar belakang
Tempat
persalinan
Transportasi
Penolong
Persalinan
Biaya
Persalinan
Donor
Darah
Salah
Tatu
Topik
Tidak
satupun
Topik
Jumlah
pria
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
*
84,1
75,6
77,1
76,7
71,7
74,5
*
*
61,6
51,9
51,6
59,1
56,4
57,5
*
*
79,6
72,1
78,0
81,5
81,5
77,9
*
*
69,5
74,4
70,3
74,0
70,9
62,2
*
*
13,4
20,5
28,0
26,9
23,0
18,6
*
*
91,4
87,2
88,5
89,4
88,6
82,0
*
*
8,6
12,8
11,5
10,6
11,4
18,0
*
12
95
342
412
320
156
46
16
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
81,9
67,0
60,4
46,0
80,7
72,7
75,4
66,7
24,8
22,8
91,0
83,9
9,0
16,1
838
562
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
*
57,4
66,3
72,1
81,9
*
44,6
44,6
51,4
59,5
*
69,0
72,2
75,5
80,5
*
67,6
69,7
71,8
72,9
*
17,3
16,7
20,5
28,4
*
84,4
82,8
86,3
90,9
*
15,6
17,2
13,7
9,1
11
72
188
363
767
Kuintil Kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
67,1
70,0
72,7
78,5
83,6
40,4
46,1
55,2
57,8
62,9
68,5
71,2
78,3
77,6
84,8
64,2
67,7
73,0
74,2
75,0
16,2
14,5
19,7
32,5
29,8
83,1
86,1
85,8
89,3
92,2
16,9
13,9
14,2
10,7
7,8
146
273
274
327
380
Jumlah
75,9
54,6
77,5
71,9
24,0
88,1
11,9
1.400
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
7.5. Imunisasi Balita
Pemberian imunisasi pada balita dipengaruhi oleh berbagai faktor (McLeroy et al., 1988), yaitu, faktor
intra-personal (faktor yang tergantung kepada karakteristik balita itu sendiri), faktor inter-personal (faktor
yang dipengaruhi oleh keadaan orangtua dan rumah tangga), faktor karakteristik lingkungan tempat
tinggal, faktor institusional (faktor yang dipengaruhi oleh koordinasi pelaksanaan imunisasi), faktor
kebijakan publik (kualitas, jangkauan, dan pelaksanaan kebijakan). Rammohan et al. (2012) berpendapat
bahwa peran pria terhadap partisipasi imunisasi balita sama pentingnya dengan peran wanita.
Tabel 7.5 memberikan informasi mengenai persentase pria kawin yang memiliki anak balita dan
mendapatkan imunisasi. Sebanyak 79,5 persen dari total responden pria kawin yang memiliki anak balita
dan mendapatkan imunisasi melaporkan bahwa anak balitanya mendapatkan imunisasi BCG, sedangkan
persentase responden yang melaporkan bahwa anak balitanya mendapatkan imunisasi Polio, DPT,
Campak, dan Hepatitis B, masing-masing secara berurutan adalah 80,0 persen, 71,0 persen, 63,9 persen,
dan 65,0 persen. Berdasarkan karakteristik latar belakang responden, terdapat pola hubungan antara
tingkat pendidikan responden pria dengan pemberian imunisasi pada balita. Demikian juga ada pola
hubungan antara pemberian imunisasi pada balita dengan kuintil kekayaan responden. Hal ini sejalan
dengan pendapat Rammohan et al (2012) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan ayah dapat
mempengaruhi pemberian imunisasi pada balita yang terkait melalui proses pengambilan keputusan di
rumah tangga dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Menurut Brugha et al. (1996), tingkat pendidikan
pria juga mempengaruhi pengetahuan mereka mengenai pelayanan kesehatan anak, namun faktor
pengetahuan itu sendiri menjadi efektif dalam meningkatkan partisipasi imunisasi anak apabila pria
terlibat aktif dalam perawatan kesehatan anak. Brugha et al (1996) menambahkan, bahwa diperlukan
upaya-upaya untuk memberikan pengetahuan terhadap pria mengenai kesehatan anak dan untuk
meningkatkan keterlibatan pria secara aktif dalam menjaga kesehatan anak.
78
Tabel 7.5. Imunisasi Balita
Persentase pria kawin yang mempunyai anak balita yang masih hidup dan mendapatkan imunisasi menurut karakteristik latar
belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Imunisasi
BCG
Polio
DPT
Campak
Hepatitis B
Jumlah
pria
*
77,2
78,0
79,9
83,2
80,3
76,0
(71,5)
*
77,8
78,5
81,5
84,3
80,8
73,7
(71,5)
*
65,5
68,1
70,9
77,5
74,7
64,3
(67,2)
*
59,6
63,2
62,9
70,5
63,8
60,2
(56,2)
*
57,1
61,9
66,3
72,8
63,8
56,7
(74,6)
18
174
550
664
510
296
107
39
84,9
73,8
85,4
74,3
76,8
64,7
67,8
59,7
72,9
56,5
1.224
1.134
56,6
58,5
71,2
80,6
87,5
56,8
56,9
72,8
83,8
86,4
53,8
43,3
62,5
72,6
79,7
45,2
37,3
54,4
66,6
72,4
48,2
44,9
52,1
65,5
74,9
41
208
442
628
1.040
64,4
77,6
82,2
84,6
88,5
65,9
76,7
83,0
84,1
90,5
55,7
68,8
71,7
74,0
84,6
52,6
57,8
63,5
65,7
80,2
51,2
57,1
65,8
69,0
82,4
457
502
443
499
456
79,5
80,0
71,0
63,9
65,0
2.358
Jumlah
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
( ) Jumlah n dari 25 - 49
7.6. Keputusan Membawa Anak Berobat Bila Sakit
Tabel 7.6. Keputusan Membawa Anak Berobat Bila sakit
Persentase pria kawin menurut Pengambilan Keputusan membawa anak berobat ketika sakit dan dan karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Responden
Isteri
Istri/ibu
tiri
Saudara
Perempuan
Saudara
Laki Laki
Lainnya
Anak Tidak
Pernah
Sakit
Jumlah pria
*
72,6
75,0
68,6
72,2
69,9
78,1
(67,8)
*
84,3
77,5
81,1
80,9
76,5
74,0
(95,8)
*
0,0
0,5
0,3
0,2
0,0
0,0
(0,0)
*
2,5
0,9
0,9
1,3
0,2
1,2
(11,1)
*
0,0
0,5
0,4
0,5
0,2
0,7
(2,0)
*
8,9
6,4
5,7
3,4
5,3
7,9
(1,7)
*
0,1
0,2
0,6
0,1
2,1
0,9
(0,5)
18
176
553
669
508
300
107
39
68,1
76,1
80,0
79,3
0,2
0,3
1,8
0,5
0,3
0,5
5,2
6,0
0,4
0,7
1.227
1.143
(71,2)
72,1
72,4
70,8
72,4
(79,1)
84,1
73,3
82,4
79,9
(0,0)
0,0
0,6
0,5
0,0
(8,8)
0,7
0,2
1,8
1,1
(0,0)
1,8
0,2
0,3
0,4
(1,4)
2,4
4,0
6,1
6,7
(1,1)
0,3
1,3
0,3
0,4
41
208
447
630
1.044
76,5
74,5
71,6
74,9
61,7
74,9
78,5
81,9
80,1
83,1
0,6
0,0
0,2
0,4
0,0
0,4
0,4
0,4
1,4
3,5
0,6
0,4
0,3
0,5
0,4
6,5
4,7
3,0
4,6
9,0
1,6
0,5
0,0
0,0
0,6
460
506
449
495
460
71,9
79,7
0,2
1,2
0,4
5,5
0,6
2.370
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus kurang dari 25 dan tidak disajikan
( ) Jumlah n dari 25 - 49
79
Menurut Engle (1997), peran pria dalam kesejahteraan anak seringkali diukur melalui tingkat
pendapatannya namun hal ini terbukti tidak signifikan. Engle menambahkan bahwa tingkat pendapatan
wanita lebih signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan anak. Dalam artikelnya, Engle berpendapat
bahwa peningkatan kesejahteraan anak dapat dicapai apabila terdapat pembagian tugas yang jelas dalam
pengasuhan anak di antara pria dan wanita. Kunci dari peningkatan kesejahteraan anak, menurut Engle,
adalah dengan memperluas peran pria untuk tidak hanya bertanggung jawab mengenai ketersediaan
materi di rumah tangga, namun memberikan dukungan pengasuhan dalam bentuk apapun, termasuk
pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak.
Tugas untuk membuat keputusan membawa anak berobat bila sakit bukan merupakan tugas yang harus
selalu dimiliki wanita saja. Terkait dengan argumen yang telah dikemukakan diatas, pria pun harus dapat
mengambil keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kesejahteraan anak. Tabel 7.6 berikut ini
menyajikan informasi mengenai siapa saja yang mengambil keputusan untuk berobat apabila anak sakit.
Dari tabel tersebut dapat terlihat bila keputusan untuk membawa anak untuk berobat masih didominasi
oleh wanita, sebanyak 79,7 persen pria melaporkan bahwa istri yang mengambil keputusan untuk
membawa anak berobat bila sakit, diikuti oleh responden sendiri yang mengambil keputusan untuk
membawa anak berobat, yaitu sebesar 71,9 persen. Berdasarkan karakteristik latar belakang termasuk
kelompok umur, tingkat pendidikan, dan indeks kekayaan, pengambilan keputusan untuk membawa anak
berobat ke rumah sakit pun persentasenya lebih banyak dilakukan oleh istri. Namun terdapat pola yang
menarik untuk dikaji, bahwa terdapat pola hubungan terbalik antara kuintil kekayaan dengan keputusan
untuk mengambil keputusan untuk membawa anak ke rumah sakit yang dilakukan oleh pria. Berdasarkan
tempat tinggal responden, nampaknya persentase responden pria yang mengambil keputusan sendiri untuk
membawa anak berobat yang tinggal di perdesaan lebih tinggi dibandingkan responden yang tinggal di
perkotaan, dan sebaliknya persentase responden yang melaporkan bahwa istrinya yang mengambil
keputusan membawa anak berobat lebih tinggi pada responden yang tinggal di perkotaan dibandingkan
dengan responden yang tinggal di perdesaan.
7.7. Sikap Pria
SDKI 2012 juga berisi pertanyaan mengenai sikap pria terhadap tindakan istri yang dilakukan tanpa izin
terkait dengan tindakan istri untuk membawa anak untuk diimunisasi dan membawa anak ke dokter.
Berdasarkan karakteristik latar belakang, tidak terdapat pola yang tetap mengenai sikap pria yang marah
apabila istri melakukan tindakan tanpa izin untuk membawa anak untuk diimunisasi maupun ke dokter.
Menurut karakteristik umur, proporsi pria yang bersikap marah menunjukkan pola huruf U terbalik,
sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan dan kuintil kekayaan terdapat pola hubungan mengenai sikap
pria yang marah dengan tindakan istri membawa anak untuk diimunisasi maupun ke dokter. Apabila
dilihat dari karakteristik daerah tempat tinggal, tidak ada perbedaan yang mencolok pada proporsi sikap
pria yang marah terhadap tindakan istri membawa anak untuk diimunisasi maupun ke dokter.
Menurut Sarkadi et al. (2008), peran pria di dalam keluarga, terutama di negara-negara maju, telah
mengalami pergeseran dimana karena pria tidak hanya menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari
nafkah,namun juga ikut aktif memiliki peran dan menjadi rekan bagi sang ibu dalam pengasuhan anak,
bahkan pria pun dapat menjadi panutan mengenai gender bagi anak. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa
sikap marah pria terhadap tindakan istri yang membawa anak untuk diimunisasi maupun ke dokter tanpa
izin suami dapat disebabkan karena pria pun ingin terlibat dalam keputusan-keputusan mengenai
kesehatan dan kesejahteraan anak, meskipun hal ini harus dibuktikan lebih lanjut melalui penelitianpenelitian yang lebih mendalam.
80
Tabel 7.7. Kemarahan Pria
Persentase sikap pria kawin yang marah jika istri melakukan tindakan tanpa izin
membawa anak untuk diimunisasi dan ke dokter menurut Karakteristiklatar
belakang, Indonesia 2012
Membawa
Membawa
Karakteristik
Anak untuk di
Anak Ke
Jumlah
latar belakang
Imunisasi
dokter
pria
Umur
15-19
*
*
18
20-24
5,6
7,4
172
25-29
10,0
9,0
551
30-34
10,7
9,7
669
35-39
8,6
9,1
508
40-44
6,5
6,2
300
45-49
5,5
5,7
107
50-54
(1,5)
(1,5)
39
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
8,8
8,3
1.223
Perdesaan
9,0
8,6
1.140
Pendidikan
Tidak sekolah
(2,3)
(3,7)
41
Tidak tamat SD
6,3
2,4
208
Tamat SD
9,1
9,6
445
Tidak tamat SMTA
10,0
10,4
626
SMTA+
8,9
8,2
1.043
Kuintil kekayaan
Terbawah
6,3
6,7
459
Menengah bawah
9,2
8,2
504
Menengah
11,0
11,3
445
Menengah atas
7,1
7,4
495
Teratas
11,0
8,8
460
Jumlah
8,9
8,4
*) Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada jumlah kasus
kurang dari 25 dan tidak disajikan
( ) Jumlah n dari 25 - 49
81
2.363
82
Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan
Penyakit Menular Seksual Lainnya
8
Temuan Utama
 Persentase pria kawin di Indonesia yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS cukup tinggi (82 persen).
 Televisi merupakan sumber utama bagi pria kawin dalam mendapatkan informasi tentang HIV/AIDS (86
persen).
 Pria kawin yang mengetahui bahwa HIV/AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak sudah cukup tinggi, yaitu
selama kehamilan ( 78 persen), selama menyusui (75 persen), dan saat melahirkan ( 67 persen).
 Hampir separuh (48 persen) dari total pria kawin umur 15-54 tahun mengaku pernah mendengar tentang
IMS.
 Sumber informasi utama pria kawin dalam memperoleh informasi IMS adalah teman/keluarga (32 persen),
sementara responden yang tahu IMS dari petugas kesehatan hanya sekitar 4 persen.
 Hasil SDKI 2012 menunjukkan proporsi kelompok remaja dan dewasa muda status kawin dengan
pengetahuan yang komprehensif tentang HIV/AIDS masih relatih rendah yaitu 10 persen.
 Sebanyak 12 persen pria kawin usia 18-24 tahun sudah berhubungan seksual sejak sebelum umur 18 tahun.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang mengakibatkan Acquired Immune Deficiency
Syndrome (AIDS). Virus ini menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh seseorang, sehingga tubuh
menjadi lemah dalam melawan infeksi dan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun. Hal ini
mengakibatkan tubuh menjadi rentan terhadap berbagai penyakit dan pada akhirnya dapat menyebabkan
kematian. Penularan utama virus HIV di Indonesia terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman,
penggunaan bersama jarum suntik pada penasun (Pengguna Jarum Suntik), penularan dari ibu ke bayi
selama periode kehamilan atau persalinan dan menyusui, melalui transfusi darah, serta praktek tato,
tindik, dan cukur yg tercemar HIV.
Indonesia merupakan salah satu negara yang peningkatan epideminya tercepat di Asia. Walaupun secara
umum prevalensi HIV pada orang dewasa masih rendah, namun pada kelompok tertentu seperti pengguna
obat dan pekerja seks cukup tinggi. Perkiraan prevalensi keseluruhan adalah 0,1% di seluruh negeri,
dengan pengecualian Provinsi Papua, di mana angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4%, dan cara
penularan utamanya adalah melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung.
(http://id.wikipedia.org).
Sebagai akibat dari epidemi, penyebarluasan HIV/AIDS terakhir cepat terjadi dalam 2-3 tahun terakhir,
untuk itu sejumlah strategi dan intervensi yang tepat kemudian dipersiapkan untuk menghadapi epidemi.
Walaupun komitmen nasional secara efektif semakin berdaya menghadapi epidemi, namun kesenjangan
yang cukup besar masih ada yaitu geografis, kapasitas sistem kesehatan, kondisi dan besarnya epidemi,
dan sumber yang tersedia.
Upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang bersifat sistematis dan komprehensif, dituangkan dalam
rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada wilayah yang terfokus di daerah epidemi HIV tertinggi
dengan jumlah populasi kunci terbanyak, melalui penyelenggaraan program yang sudah teruji efektif dan
terstruktur, dengan sasaran populasi kunci, yang melibatkan seluruh pihak terkait di semua tingkat, baik
pemerintah pusat dan daerah, dalam rangka tercapainya perubahan perilaku aman, yang dapat mengurangi
risiko penularan HIV di masyarakat, sehingga individu dan masyarakat dapat hidup secara produktif dan
83
berperan aktif dalam pembangunan (Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS
2010 – 2014).
Data yang diperoleh dalam SDKI 2012 memberikan kemungkinan untuk menilai sejumlah faktor yang
berkaitan dengan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual (PMS). Bab ini menyajikan tingkat
pengetahuan tentang masalah yang berkaitan dengan AIDS, seperti pernah mendengar tentang
HIV/AIDS, sumber informasi tentang HIV/AIDS, cara pencegahan HIV/AIDS, persepsi yang salah
tentang HIV/AIDS, pengetahuan tentang hal-hal lain terkait HIV/AIDS, perbincangan tentang AIDS
dengan pasangan, aspek sosial HIV/AIDS, pengetahuan tentang kondom dan dimana dapat
memperolehnya, sikap terhadap negosiasi berhubungan seks secara aman, hubungan seks yang berisiko,
pengetahuan tentang Penyakit Menular Seksual (PMS), pelaporan tentang kejadian PMS, pengetahuan
tentang AIDS dan perilaku seks pada golongan remaja dan dewasa muda, umur pertama kali melakukan
hubungan seks. Bab ini diakhiri dengan informasi tentang pengenalan terhadap seseorang dengan
HIV/AIDS, pengetahuan tentang Voluntary Counceling Testing (VCT) dan pengetahuan tempat
memperoleh layanan VCT.
Bab ini menggambarkan tentang tingkat pengetahuan, persepsi dan perilaku terkait dengan HIV/AIDS
pada tingkat nasional dan provinsi dalam berbagai tingkat sosial ekonomi penduduk. Dengan cara ini,
dapat disusun program dan strategi penanggulangan AIDS untuk kelompok yang paling memerlukan
informasi dan pelayanan serta paling rentan terhadap risiko terkena infeksi HIV/AIDS.
8.1. Pengetahuan tentang HIV/AIDS
Pengetahuan masyarakat Indonesia tentang AIDS masih relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil
Riset Kesehatan Dasar, tahun 2007, bahwa hanya 11 persen masyarakat Indonesia yang tahu dan paham
akan HIV-AIDS. Masih rendahnya pengetahuan dan pemahaman yang benar akan HIV/AIDS membuat
pencegahan HIV-AIDS belum maksimal serta memunculkan stigma dan diskriminasi bagi Orang Dengan
HIV-AIDS (ODHA) (dr. HM. Subuh, MPPM : 2013). Tabel 8.1 memperlihatkan persentase pria kawin
yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS dan persentase yang percaya ada cara untuk menghindari
tertular AIDS.
Tabel 8.1 memperlihatkan bahwa secara keseluruhan, 82,3 persen pria mengatakan mereka pernah
mendengar tentang AIDS, sedangkan yang percaya ada cara untuk menghindari HIV/AIDS sebesar 62,8
persen.
Pria pada kelompok umur 30 – 39 tahun mempunyai persentase paling tinggi pernah mendengar tentang
HIV/AIDS (89 persen).Pria yang tinggal di perkotaan lebih banyak pernah mendengar HIV/AIDS
dibandingkan dengan pria yang tinggal di perdesaan (91,5 persen berbanding 72,8 persen). Semakin
tinggi tingkat pendidikan semakin banyak yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Sebagai
gambaran, di kalangan pria yang tidak sekolah tercatat hanya sekitar 28,9 persen yang pernah mendengar
HIV/AIDS, sementara di kalangan pria dengan pendidikan SMTA atau lebih angka tersebut mencapai
98,4 persen. Dilihat dari kuintil kekayaan terlihat ada pola hubungan dengan pengetahuan pria mengenai
HIV/AIDS. Jika di kalangan pria dari kuintil kekayaan terbawah hanya sekitar 59,4 persen yang pernah
mendengar HIV/AIDS, maka angka tersebut naik menjadi 97,2 persen untuk kelompok pria dengan
indeks kuintil tertinggi.
84
Tabel 8.1. Pengetahuan tentang HIV-AIDS
Persentase pria kawin yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS dan yang percaya ada cara
untuk menghindari tertular AIDS menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Percaya ada satu
Pernah
cara untuk
Karakteristik
mendengar
menghindari
latar belakang
HIV/AIDS
HIV/AIDS
Jumlah pria
Umur
15-19
(79,6)
(62,3)
28
20-24
84,1
63,3
345
25-29
85,4
63,8
1.127
30-39
88,9
69,6
3.449
40-49
79,6
60,1
3.065
50-54
68,2
49,8
1.292
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
91,5
72,0
4.739
Perdesaan
72,8
53,2
4.567
Status kerja
Tidak bekerja
78,1
61,1
303
Bekerja
82,5
62,8
8.999
Pendidikan
Tidak sekolah
28,9
14,5
265
Tidak tamat SD
51,8
31,8
1.371
Tamat SD
74,9
51,6
2.118
Tidak tamat SMTA
89,5
68,1
1.979
SMTA+
98,4
81,9
3.572
Kuintil kekayaan
Terbawah
59,4
40,4
1.596
Menengah bawah
74,0
52,3
1.866
Menengah
85,9
62,6
2.008
Menengah atas
90,9
72,8
1.962
Teratas
97,2
81,8
1.875
Jumlah
82.3
62.8
9,306
Indikator kedua untuk pengetahuan HIV/AIDS yang disajikan pada tabel 8.1 merujuk pada kepercayaan
bahwa ada cara menghindari tertularnya HIV/ AIDS.Secara umum, pola untuk indikator ini serupa
dengan pola yang terjadi pada priayang pernah mendengar HIV/AIDS, yaitu persentase paling tinggi ada
pada kelompok umur 30 – 39 tahun (89,6 persen). Pria yang tinggal diperkotaan lebih banyak yang
percaya ada satu cara untuk menghindari HIV/AIDS (72,0 persen berbanding 53,2 persen),semakin tinggi
tingkat pendidikan pria makapersentase kepercayaan ada cara untuk menghindari HIV/AIDS juga
semakin meningkat dan pria dengan indeks kekayaan kuintil tertinggi persentase kepercayaan bahwa ada
satu cara untuk menghindari HIV/AIDS juga paling tinggi (81,8 persen).
Tren pengetahuan pria kawin tentang HIV/AIDS dari tahun 2002/2003 – 2012 tersaji pada gambar 8.1
berikut ini.
85
Gambar 8.1. Persentase pria kawin yang
Pernah Mendengar tentang AIDS, Indonesia 2002/2003 – 2012
82,3
73
71
2002/2003
2007
2012
Gambar 8.1 memperlihatkan bahwa persentase pria kawin yang pernah mendengar tentang AIDS
mengalami penurunan dari 73 persen pada SDKI 2002-2003 menjadi 71 persen pada SDKI 2007, akan
tetapi mengalami kenaikan yang cukup signifikan menjadi 82,3 persenpada SDKI 2012.Gambar 8.2
memperlihatkan persentase pria kawin yang pernah mendengar tentang AIDS menurut pendidikan.
Gambar 8.2. Persentase pria kawin yang Pernah Mendengar tentang AIDS menurut
Pendidikan Indonesia, 2002/2003 - 2012
87
96
92
85
68
82
68
64
52
45
40
32
21
19
pria kawin 2002-2003
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
15
pria kawin 2007
Tamat SD
pria kawin 2012
Tidak tamat SLTP
SMTA +
Tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan. Hal ini seperti terlihat pada Gambar 8.2 dimana tingkat
pengetahuan pria kawin pada SDKI pada 2012, meningkat seiring dengan semakin tingginya tingkat
pendidikan pria.
Informasi tentang HIV/AIDS dapat berasal dari berbagai sumber; radio, televisi, koran/majalah, petugas
kesehatan, perkumpulan agama, sekolah/guru, perkumpulan masyarakat, teman/keluarga, tempat kerja,
internet, dan sebagainya. Tabel 8.2 menyajikan mengenai sumber informasi tentang HIV/AIDS secara
lengkap.
86
Tabel 8.2. Sumber informasi tentang HIV/AIDS
Persentase pria kawin yang pernah mendengar HIV/AIDS dan dapat menunjukkan sumber informasi tentang HIV/AIDS, menurut karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Karakteristik latar
belakang
Radio
Koran/
Televisi majalah Poster
Petugas Perkumpulan Sekolah/ Perkumpulan Teman/ Tempat
Jumlah
kesehatan
agama
guru
masyarakat keluarga kerja
Internet Lainnya Jumlah
pria
Umur
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
Daerah tempat tinggal
*
19,8
24,4
20,0
20,6
18,6
19,8
15,2
*
83,1
84,7
87,6
87,4
88,4
82,9
81,9
*
26,8
36,9
40,0
44,0
39,3
37,9
29,2
*
8,2
9,8
10,8
9,0
9,2
6,5
5,2
*
10,5
10,0
8,2
7,9
6,6
7,7
8,8
*
0,9
0,5
0,9
1,0
1,0
1,1
1,9
*
7,9
6,7
4,9
3,4
1,4
2,6
0,6
*
2,4
2,3
3,1
3,1
3,8
3,3
5,1
*
50,6
41,8
38,6
35,6
41,3
39,2
40,5
*
12,3
13,5
14,7
14,9
11,4
12,4
9,6
*
4,3
5,4
5,1
4,4
3,5
3,5
2,2
*
3,4
2,0
3,1
2,1
3,2
2,8
1,9
*
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
22
290
962
1.507
1.558
1.425
1.015
881
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
20,2
19,3
89,0
81,7
46,9
27,0
10,7
6,1
8,0
8,4
0,8
1,3
4,1
2,7
3,2
3,6
38,8
40,9
15,5
9,7
6,1
1,6
3,4
1,6
100,0
100,0
4.335
3.326
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamatSMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
10,4
12,2
16,4
16,6
24,8
65,0
64,5
80,6
87,1
92,4
15,8
7,2
16,9
31,2
58,2
11,2
2,6
2,6
6,8
13,7
10,7
3,8
5,2
6,5
11,2
11,4
1,2
0,5
0,5
1,3
4,8
0,0
0,1
1,2
6,9
8,2
2,2
1,7
2,1
4,9
46,2
53,9
44,1
41,8
33,6
3,9
8,6
12,0
9,6
16,2
0,0
0,0
0,0
0,5
8,8
0,0
2,0
1,0
1,9
3,8
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
77
710
1.587
1.772
3.515
15,6
16,1
18,4
20,6
25,5
69,0
80,9
86,6
91,5
92,0
18,8
25,0
31,0
44,2
59,5
4,4
4,3
6,7
10,4
14,6
8,8
5,7
7,0
9,1
10,1
2,7
0,5
0,4
0,8
1,3
1,9
2,4
1,9
3,5
6,7
3,5
2,4
3,3
3,2
4,2
45,3
43,9
40,4
38,9
33,6
7,4
10,8
12,7
13,3
17,6
0,9
0,5
1,8
3,5
11,4
1,5
1,7
2,0
3,4
3,6
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
949
1.381
1.724
1.785
1.823
19,8
85,9
38,2
8,7
8,2
1,0
3,5
3,4
39,7
13,0
4,1
2,6
100,0
7.661
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Total
Kepada pria yang menyatakan pernah mendengar HIV/AIDS, selanjutnya ditanya dari mana memperoleh
informasi tentang HIV/AIDS tersebut. Sebagian besar pria kawin mengaku mendapatkan informasi
mengenai HIV/AIDS dari televisi (85,9 persen). Sumber informasi berikutnya yang terbanyak diperoleh
dari teman/keluarga (39,7 persen), dari koran/majalah (38,2 persen), serta dari radio (19,8 persen).
Proporsi paling kecil untuk mendapatkan informasi HIV/AIDS didapat dari perkumpulan agama (1,0
persen).Informasi yang diperoleh dari televisi lebih banyak diterima oleh pria kelompok umur 40 – 44
tahun (88,4 persen).Sedangkan informasi yang berasal dari teman/keluarga lebih banyak diterima oleh
pria pada kelompok umur 15 – 19 tahun (55,5 persen).
Informasi tentang HIV/AIDS dari radio, televisi, koran/majalah, poster, sekolah/guru, tempat kerja, serta
internet lebih banyak diterima oleh pria di perkotaan dari pada pria di perdesaan. Perbedaan yang cukup
mencolok terlihat dari informasi yang diperoleh dari koran/majalah. Proporsi pria di perkotaan yang
mendapatkan informasi tentang HIV/AIDS dari koran/majalah tercatat 46,9 persen, sementara di
perdesaan 27,0 persen.
Sebagaimana diduga tingkat pendidikan mempunyai hubungan positif dengan penerimaan informasi
tentang HIV/AIDS dari radio, televisi maupun koran/majalah. Perbedaan yang cukup bermakna terlihat
dari pria yang mendapatkan informasi dari koran/majalah. Proporsi pria yang berpendidikan tidak tamat
SD yang mendapatkan informasi tentang HIV/AIDS dari koran/majalah tercatat hanya sekitar 7,2 persen,
sementara proporsi di kalangan pria yang berpendidikan SMTA atau lebih tinggi sebanyak 58,2 persen.
Berdasarkan kuintil kekayaan yang dimiliki, proporsi pria yang mendapatkan informasi mengenai
HIV/AIDS dari radio, televisi, koran/majalah, serta tempat kerjameningkat dengan semakin tingginya
kuintil kekayaan yang dimiliki. Sementara pola yang terjadi pada pria yang mendapatkan informasi
HIV/AIDS dari teman/keluarga nampak menurun dengan naiknya tingkat kesejahteraan.
87
8.2. Pengetahuan tentang Cara Pencegahan HIV/AIDS
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.Menurut
Lawrence Green dan Marshall Kreuter dalam Sciavo (2007) bahwa pengetahuan seseorang merupakan
salah satu faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku seseorang. Pengetahuan yang
benar tentang HIV dan AIDS diharapkan dapat menghindari perilaku berisiko HIV dan AIDS. Program
pencegahan HIV difokuskan pada penyampaian tiga pesan utama terkait perilaku untuk memutus mata
rantai penularan HIV yaitu penggunaan kondom, membatasi pasangan seks, atau setia pada satu pasangan
dan menunda keterpaparan terhadap hubungan seks atau berpantang hubungan seks (abstinen). Tabel 8.3
menyajikan mengenai pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS.
Tabel 8.3. Pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS
Persentase pria kawin yang menjawab atas “pertanyaan khusus” sebagai berikut: orang dapat
mengurangi risiko terinfeksi virus AIDS dengan cara menggunakan kondom saat berhubungan seksual,
dengan hanya mempunyai satu pasangan seksual yang tidak terinfeksi dan tidak mempunyai pasangan
lain dengan cara abstain, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Indeks kekayaan kuintil
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Total
Pakai kondom
dan batasi
pasangan
seksual
Tidak tahu
HIV/AIDS
Pakai
kondom
Hanya satu
pasangan
Jumlah
pria
(20,4)
15,9
14,6
11,1
20,4
31,8
(61,1)
52,6
60,9
65,8
56,3
43,2
(62,3)
63,3
63,8
69,6
60,1
49,4
(58,4)
43,0
50,4
55,8
47,3
35,8
28
345
1.127
3.449
3.065
1.292
8,5
27,2
68,2
48,4
72,0
53,2
57,2
40,6
4.739
4.567
71,1
48,2
25,1
10,5
1,6
15,9
25,6
49,3
62,8
78,7
14,5
31,8
51,6
68,1
82,7
10,9
20,6
38,2
52,7
67,3
265
1.371
2.118
1.979
3.572
40,6
26,0
14,1
9,1
2,8
33,8
49,2
58,0
68,6
78,6
40,4
52,3
62,6
72,8
81,8
27,7
38,9
47,3
59,2
68,7
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
17,7
58,5
62,8
49,1
9.306
Untuk melihat sejauh mana program pencegahan HIV/AIDS diketahui masyarakat, SDKI 2012
menyediakan pertanyaan-pertanyaan khusus tentang berbagai cara untuk mengurangi penularan
HIV/AIDS dengan menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks, serta membatasi hubungan seks
hanya dengan satu pasangan yang tidak terinfeksi.
88
Gambar 8.3. Persentase pengetahuan tentang cara menghindari HIV/AIDS
pada pria kawin, Indonesia 2012
58.5
5
52
49
2
49.1
1
9
Menggunakan kondom
Membatasi hubungan
seks pd satu pasangan
kondom
SDKI 2007
SDKI 2012pasangan
2007
2012
Tabel 8.3 dan Gambar 8.3 menunjukkan tingkat pengetahuan pria mengenai berbagai cara pencegahan
HIV/AIDS menurut karakteristik latar belakang. Diantara berbagai cara agar tidak tertular virus
HIV/AIDS, cara yang paling banyak diketahui oleh pria kawin adalah dengan membatasi hubungan
seksual hanya dengan satu pasangan (62,8 persen). Cara lain yang diketahui adalah dengan menggunakan
kondom saat melakukan hubungan (58,5 persen),
Ditinjau menurut daerah tempat tinggal, Pria di perkotaan lebih banyak mengetahui cara-cara pencegahan
penularan virus HIV/AIDS dibanding dengan pria di perdesaan. Sebagai contoh 68,2 persen pria di
perkotaan mengetahui bahwa penggunaan kondom merupakan salah satu cara untuk mencegah tertularnya
virus HIV/AIDS, sedangkan pria di perdesaan hanya 48,4 persen. Di sisi lain, pengetahuan pria tentang
berbagai cara mencegah penularan virus HIV/AIDS meningkat sejalan dengan tingkat pendidikan.
Semakin tinggi tingkat pendidikan maupun kuintil kekayaan yang dimiliki, semakin tinggi pula tingkat
pengetahuan mereka terhadap berbagai cara mencegah tertularnya virus HIV/AIDS.
8.3. Penolakan pada Persepsi yang Salah tentang HIV/AIDS
Stigma dan diskriminasi merupakan salah satu hambatan dalam penanggulangan HIV/AIDS. Stigma dan
diskriminasi ini biasanya timbul akibat adanya persepsi yang salah tentang HIV/AIDS, oleh karena itu
pengetahuan tentang persepsi yang salah di masyarakat sangat penting untuk pengembangan program
intervensi.
Kesalahan persepsi tentang HIV/AIDS yang sering terjadi adalah 1) terhadap penampilan seseorang yang
terinfeksi HIV yang selalu akan tampak sakit, 2) persepsi bahwa seseorang dapat tertular HIV/AIDS
karena gigitan nyamuk atau serangga lainnya 3) seseorang dapat tertular HIV/AIDS karena makan
sepiring bersama penderita, 4)seseorang dapat tertular HIV/AIDS karena diguna-guna / disantet. Data
lebih lengkap tersaji pada tabel 8.4 berikut ini.
89
Tabel 8. 4. Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS
Persentase pria kawin yang mengatakan orang yang tampak sehat dapat terinfeksi virus AIDS dan yang menolak persepsi yang salah
tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS, dan persentase pengetahuan komprehensif tentang pencegahan dan penularan
HIV/AIDS, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Responden yang menyatakan
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Total
1
2
Tampak
Nyamuk tidak Santet tidak
sehat dapat
dapat
dapat
terinfeksi
menularkan menularkan
virus AIDS
Makan
Orang tampak sehat
bersama
dapat terifeksi virus
Pengetahuan
tidak dapat AIDS dan menolak 2
komprehensif
1
menularkan persepsi paling umum tentang AIDS 2
Jumlah
pria
(70,3)
63,6
66,7
68,7
60,8
47,3
(38,4)
30,9
34,2
37,8
29,5
22,7
(40,4)
69,2
69,5
73,5
64,3
52,3
(34,4)
33,3
33,4
39,7
30,6
23,2
(16,1)
15,3
16,1
20,1
15,0
11,2
(4,0)
10,8
10,7
15,9
10,7
8,2
28
345
1.127
3.449
3.065
1.292
72,2
52,8
39,1
25,2
78,0
55,1
41,3
25,2
21,3
11,5
16,0
8,3
4.739
4.567
15,4
30,0
51,9
68,8
83,4
8,7
12,9
24,4
31,2
49,0
18,8
33,5
5,3
71,3
88,6
4,7
12,9
21,6
31,1
53,9
2,3
5,0
8,4
13,8
28,2
2,1
3,4
4,8
10,1
24,4
265
1.371
2.118
1.979
3.572
38,1
54,8
62,4
73,4
80,7
17,1
23,8
30,6
40,1
47,2
39,4
56,5
70,2
77,8
85,1
17,2
24,0
29,7
41,8
51,8
5,8
10,1
13,7
22,5
28,7
3,7
6,5
9,3
17,4
23,0
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
62,7
32,3
66,8
33,4
16,5
12,3
9.306
Dua persepsi salah yang paling umum: HIV dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk dan berbagi makan dengan ODHA
Pengetahuan komprehensif: penggunaan kondom saat hubungan seksual dan hanya mempunyai satu pasangan dapat mengurangi resiko penularan HIV,
dan mengetahui orang yang tampak sehat dapat terkena HIV dan menolak 2 persepsi salah paling umum tentang penularan HIV
Tabel 8.4 memperlihatkan tingkat pengetahuan yang komprehensif tentang pencegahan dan penularan
HIV/AIDS. Pengetahuan yang komprehensif didefinisikan sebagai mengetahui bahwa penggunaan
kondom saat hubungan seksual dan hanya mempunyai satu pasangan dapat mengurangi risiko penularan
HIV/AIDS. Pengetahuan bahwa orang yang tampak sehat dapat terkena HIV dan menolak duapersepsi
salah yang paling umum tentang penularan HIV/AIDS yaitu bahwa HIV/AIDS dapat ditularkan melalui
gigitan nyamuk dan berbagi makanan dengan ODHA.
Tabel 8.4 juga memperlihatkan bahwa 62,7 persen pria kawin mengetahui bahwa orang yang tampak
sehat dapat terinveksi HIV/AIDS. Penolakan terhadap persepsi yang salah tentang HIV/AIDS, yaitu
bahwa santet dapat menularkan HIV/AIDS cukup tinggi. Enampuluh tujuh persen pria mengetahui bahwa
santet tidak dapat menularkan HIV/AIDS. Sedangkan persepsi lain seperti “nyamuk tidak dapat
menularkan HIV/AIDS” dan “makan bersama tidak dapat menularkan HIV/AIDS, masing-masing hanya
32,3 persen dan 33,4 persen. Persentase pria yang menyatakan orang tampak sehat dapat terinfeksi virus
HIV/AIDS dan menolak dua persepsi paling umum tercatat 16,5 persen, sementara pria kawin yang
mempunyai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS terlihat masih rendah yaitu hanya 12,3 persen.
Pria yang mengetahui bahwa santet tidak dapat menularkan HIV/AIDS, dan yang mempunyai
pengetahuan komprehensif tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS, mempunyai pola seperti huruf
“U” terbalik, dengan persentase tertinggi pada pria yang berusia 30-39 tahun.
90
Pria yang tinggal di perkotaan lebih banyak yang mengetahui tentang penularan dan pencegahan
HIV/AIDS, persepsi yang salah tentang HIV/AIDS, dan memiliki pengetahuan yang komprehensif
tentang HIV/AIDS dibanding dengan pria yang tinggal di perdesaan. Sebagai contoh misalnya persentase
pria di perkotaan yang mengetahui bahwa orang yang tampak sehat dapat terinfeksi virus HIV/AIDS
tercatat 72,2 persen, sementara untuk hal yang sama pada pria di perdesaan hanya 52,8 persen.
Berdasarkan tingkat pendidikan dan kuintil kekayaan terlihat bahwa pengetahuan pria tentang pencegahan
dan penularan virus HIV/AIDS semakin tinggi dengan meningkatnya jenjang pendidikan dan status
indeks kekayaan kuintil yang dimiliki pria kawin.
8.4. Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan Isu Terkait
HIV dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya yang baru lahir. Menurut WHO, sampai 30%
bayi lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan tertular HIV kalau ibunya tidak memakai terapi antiretroviral
(ART). Antara 5-20% dapat tertular melalui air susu ibu (ASI). (http://spiritia.or.id/li/bacali?lino=611).
Meningkatnya pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi dan berkurangnya risiko
penularan karena penggunaan obat anti retroviral merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi
penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi. Walaupun janin dalam kandungan dapat terinfeksi, sebagian besar
penularan terjadi waktu melahirkan atau melalui menyusui. Bayi lebih mungkin tertular jika persalinan
berlanjut lama. Selama proses kelahiran, bayi dalam keadaan berisiko tertular oleh darah ibunya. Untuk
melihat pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak, responden ditanya apakah HIV/AIDS
dapat ditularkan dari ibu ke anak saat hamil, melahirkan, dan menyusui.
Tabel 8.5 menyajikan persentase pria kawin yang mengetahui bahwa HIV/AIDS dapat ditularkan dari ibu
ke anak saat hamil, melahirkan, dan menyusui dan persentase pria yang mengenal seseorang yang
mengidap virus HIV/AIDS atau yang telah meninggal akibat AIDS menurut karakteristik latar belakang.
Tabel 8.5. Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan Isu terkait
Persentase Pria Kawin yang Mengetahui bahwa HIV dapat ditularkan dari Ibu ke Anak pada saat kehamilan, melahirkan, dan menyusui dan
persentase yang mengenal seseorang yang mengidap virus penyebab AIDS atau meninggal karena AIDS menurut karakteristik latar
belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Persentase yang mengatakan HIV/AIDS dapat
ditularkan dari ibu ke anak:
Selama
Selama
Saat melahirkan
kehamilan
menyusui
Persentase
yang mengenal seseorang
yang mengidap HIV
(Tes darah)
Jumlah
pria
Umur
15-19
20-24
(87,0)
75,3
(83,6)
64,2
(87,9)
79,5
(4,2)
9,2
28
345
25-29
73,5
78,1
81,4
73,6
66,1
68,1
68,9
62,5
74,9
74,2
76,6
73,6
11,0
16,1
13,3
9,1
1.127
3.449
3.065
1.292
82,1
72,6
71,7
61,7
76,7
73,3
19,0
7,4
4.739
4.567
51,7
64,2
65,9
75,5
88,0
36,8
51,9
58,5
65,8
76,0
54,2
64,1
70,3
74,7
80,4
4,4
1,6
5,6
8,5
25,7
265
1.371
2.118
1.979
3.572
62,9
72,5
75,1
83,7
86,9
54,5
61,7
67,0
72,1
74,0
63,9
72,7
78,4
78,5
76,8
5,8
6,6
10,1
15,0
28,0
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
78,0
67,4
75,2
13,3
9.306
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
91
Tabel 8.5 memperlihatkan bahwa pria kawin yang mengetahui bahwa HIV/AIDS dapat ditularkan dari
ibu ke anak sudah cukup tinggi. Cara penularan yang umum diketahui adalah bahwa penularan dapat
terjadi selama kehamilan (78,0 persen), selama menyusui (75,2 persen), dan persentase yang paling
sedikit adalah bahwa penularan dapat terjadi saat melahirkan (67,4 persen). Di lain pihak, pria kawin yang
mengenal seseorang yang mengidap virus HIV/AIDS tercatat hanya 13,3 persen.
Persentase pria kawin yang tinggal di perkotaan yang mengetahui bahwa HIV/AIDS dapat ditularkan dari
ibu ke anak lebih tinggi dari pada pria kawin yang tinggal di perdesaan. Semakin tinggi tingkat
pendidikan dan kuintil kekayaaan, semakin meningkat pula persentase pria kawin yang mengetahui
bahwa HIV/AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak.
8.5. Diskusi tentang HIV/AIDS
Pada SDKI 2012, wanita pernah kawin dan pria kawin yang pernah mendengar tentang AIDS
ditanya lebih lanjut apakah mereka pernah mendiskusikan tentang pencegahan HIV/AIDS dengan
pasangan mereka. Tabel 8.6 memperlihatkan persentase pria kawin yang pernah mendiskusikan tentang
pencegahan HIV/AIDS dengan pasangan mereka menurut karakteristik latar belakang.
Tabel 8.6. Diskusi tentang HIV/AIDS dengan Isteri
Persentase distribusi pria kawin yang pernah mendiskusikan tentang pencegahan HIV/AIDS dengan isteri, menurut karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Pernah mendiskusikan
tentang pencegahan
HIV/AIDS
Tidak pernah
mendiskusikan
tentang pencegahan
HIV/AIDS
Tidak tahu/
tidak
menjawab
Belum pernah
mendengar
tentang HIV/AIDS
Total
(38,2)
21,3
20,7
26,0
22,3
15,7
(41,4)
62,9
64,1
62,8
57,3
52,5
(0,0)
0,0
0,5
0,1
0,1
0,0
(20,4)
15,9
14,6
11,1
20,4
31,8
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
28
345
1127
3449
3065
1292
27,8
17,1
63,5
55,6
0,2
0,1
8,5
27,2
100,0
100,0
4739
4567
9,8
6,7
12,4
23,1
35,3
19,2
45,0
62,4
66,4
62,8
0,0
0,1
0,1
0,0
0,2
71,1
48,2
25,1
10,5
1,6
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
265
1371
2118
1979
3572
13,2
16,8
20,2
24,6
36,7
46,2
57,1
65,6
66,0
60,5
0,1
0,1
0,1
0,3
0,1
40,6
26,0
14,1
9,1
2,8
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
1596
1866
2008
1962
1875
22,6
59,6
0,1
17,7
100,0
9.306
Jumlah
pria
Tabel 8.6 memperlihatkan bahwa bahwa pada umumnya pria kawin tidak pernah berdiskusi tentang
pencegahan HIV/AIDS dengan pasangan mereka. Pria yang mengaku tidak pernah berdiskusi mengenai
pencegahan HIV/AIDS dengan pasangan mencapai 59,6 persen, sedangkan 22,6 persen pria kawin pernah
melakukan diskusi dengan istri mengenai pencegahan HIV/AIDS. Sebanyak 17,7 persen pria kawin
mengaku belum pernah mendengar tentang HIV/AIDS..
Pria kawin yang tinggal di daerah perdesaan jauh lebih banyak yang belum pernah mendengar tentang
HIV/AIDS dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan (27,2 persen berbanding 8,5 persen). Semakin
tinggi pendidikan dan indeks kekayaan kuintil, semakin tinggi pula persentase pria kawin dalam
mendiskusikan tentang pencegahan HIV/AIDS dengan pasangan.
92
Gambar 8.4. Persentase pria kawin yang Mendiskusikan tentang pencegahan AIDS
dengan pasangannya menurut Pendidikan Indonesia, 2007 – 2012
Gambar 8.4 memperlihatkan bahwa persentase pria kawin yang tidak sekolah yang mendiskusikan
tentang pencegahan AIDS dengan pasangannya lebih tinggi dari pada pria kawin yang tidak tamat SD (10
persen berbanding 7 persen).Polanya sedikit berbeda dengan hasil SDKI 2007.
8.6. Aspek Sosial HIV/AIDS
Stigma dan diskriminasi yang terjadi di masyarakat dapat berpengaruh buruk terhadap kesediaan untuk
melakukan test HIV dan kepatuhan pengobatan dengan anti retroviral.Pengurangan stigma dan
diskriminasi pada masyarakat dengan demikian merupakan indikator yang penting untuk mengukur
keberhasilan program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Tabel 8.7 menyajikan persentase pria
kawin yang menunjukkan sikap menerima terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS secara berurutan
menurut karakteristik latar belakang.
93
Tabel 8.7. Sikap menerima terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS
Persentase pria kawin yang pernah mendengar tentang AIDS, dan yang menunjukkan sikap menerima terhadap penderita AIDS menurut karakteristik latar
belakang, Indonesia 2012
Persentase Responden yang menyatakan:
Bersedia merawat
anggota keluarga
yang terinfeksi virus
HIV di rumah mereka
Bersedia
membeli sayuran
segar dari
penjual yang
terinfeksi virus
HIV
*
77,1
77,2
76,1
72,7
71,8
*
18,3
30,2
31,7
29,5
28,4
77,7
70,9
Tidak
merahasiakan
anggota keluarga
yang terinfeksi virus
HIV
Persentase sikap
menerima
terhadap
keempat isu
terkait stigma
*
37,5
45,8
45,3
42,2
37,2
*
46,4
49,7
56,7
63,7
62,0
*
5,3
10,5
11,8
12,2
10,8
22
290
962
3.065
2.440
881
33,9
24,7
49,2
35,4
57,1
59,7
13,0
9,4
4.335
3.326
68,4
71,1
76,0
71,2
76,6
5,1
19,2
21,4
26,0
38,4
22,0
26,7
34,7
38,9
55,5
30,3
58,5
57,2
59,8
57,7
0,0
6,0
0,8
10,4
15,4
77
710
1.587
1.772
3.515
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
68,7
71,0
72,2
20,2
25,6
26,8
26,5
33,9
39,1
56,2
61,3
56,2
5,7
8,5
9,7
949
1.381
1.724
Menengah atas
80,0
77,9
32,3
38,7
50,5
55,5
59,9
57,3
14,1
15,6
1.785
1.823
74,7
29,9
43,2
58,3
11,4
7.661
Karakteristik
latar belakang
Guru wanita yang
terinfeksi virus HIV
dan tidak sakit
diperbolehkan terus
mengajar
Jumlah
responden
pernah dengar
tentang AIDS
Umur
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Teratas
Jumlah
Pada SDKI 2012, pria kawin yang pernah mendengar tentang AIDS ditanya tentang stigma yang
berkaitan dengan AIDS dan yang berkaitan dengan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Keempat pernyataan tersebut adalah: 1. Bersedia merawat anggota keluarganya yang terinfeksi virus
AIDS di rumah mereka. 2. Mau membeli sayuran segar dari penjual yang terinfeksi AIDS. 3. Guru wanita
yang terinfeksi virus HIV dan tidak sakit diperbolehkan terus mengajar. 4.Tidak akan merahasiakan
anggota keluarga yang terinfeksi virus AIDS.
Di antara keempat isu terkait stigma mengenai HIV/AIDS, stigma yang paling tinggi tingkat
penerimaannya adalah bersedia merawat anggota keluarga yang terinfeksi virus HIV/AIDS di rumah
mereka (74,7 persen). Hal ini bisa dimengerti mengingat penderita adalah bagian dari keluarga sendiri.
Persentase pria yang tidak merahasiakan anggota keluarga yang terinfeksi virus HIV/AIDS (58,3 persen).
Persentase pria yang menerima guru wanita yang terinveksi virus HIV/AIDS dan tidak sakit
diperbolehkan mengajar (43,2 persen). Sedangkan yang bersedia membeli sayuran segar dari penjual yang
terinveksi virus HIV/AIDS (29,9 persen). Penerimaan terhadap keempat isu terkait stigma dalam
kenyataannya masih sangat rendah, yaitu hanya 11,4 persen.
Penerimaan pria kawin yang tinggal di daerah perkotaan terhadap keempat isu terkait stigma lebih tinggi
dari pada pria kawin yang tinggal di perdesaan (13,0 berbanding 9,4 persen). Semakin tinggi pendidikan
dan kuintil kekayaan, semakin tinggi pula persentase penerimaan pria kawin terhadap keempat isu terkait
stigma.
94
8.7. Perilaku Seks Berisiko
Tabel 8.8. Perilaku seksual berisiko dalam 12 bulan sebelum survei
Persentase pria kawin yang berhubungan seksual dalam 12 bulan sebelum survei dengan seseorang
yang bukan istrinya atau pasangan tetapnya menurut karakteristi latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Persen
Jumlah pria
Umur
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
(2,1)
0,6
2,3
2,1
2,1
1,7
(28)
344
1.122
3.439
3.061
1.292
2,2
1,9
4.732
4.553
0,6
2,4
1,9
2,1
2,0
265
1.367
2.112
1.977
3.564
2,3
2,4
2,3
1,2
2,0
1.587
1.859
2.007
1.958
1.875
2,0
9.306
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Jumlah
Informasi tentang perilaku seks sangat penting untuk pengembangan dan memonitor program intervensi
dalam memutus mata rantai penularan HIV/AIDS. SDKI 2012 memuat pertanyaan untuk responden pria
kawin tentang pengalaman membeli seks komersial selama 12 bulan terakhir sebelum survei.
Tabel8.8 menunjukkan persentase pria kawin umur 15-54 tahun yang mempunyai perilaku seks berisiko
(berhubungan seksualdengan seseorang yang bukan istrinya atau pasangan tetapnya) menurut
karakteristik latar belakang.Dua persen dari total pria kawin yang menjadi responden SDKI mengaku
mempunyai perilaku seksual berisiko dengan pasangan diluar nikah atau pasangan tidak tetap. Pria kawin
kelompok umur 25-29 tahun merupakan kelompok dengan persentase lebih besar dibanding kelompok
umur lain yang mengaku pernah berhubungan seks dengan bukan istrinya dalam 12 bulan sebelum survei.
Pria yang tinggal di perkotaan merupakan kelompok pria yang paling banyak melakukan perilaku seks
berisiko, begitu pula dengan kelompok pria yang tidak tamat SD. Sementara menurut kuintil kekayaan,
pria yang dari kelompok ekonomi menengah ke bawah paling banyak melakukan seks tidak aman dengan
seseorang yang bukan pasangan tetapnya dalam 12 bulan terakhir sebelum survei.
8.8. Pengetahuan tentang Infeksi Menular Seksual Lainnya
Infeksi Menular Seksual lainnya merupakan salah satu faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya
infeksi HIV. Apabila kejadian Infeksi Menular Seksual ini dibiarkan tanpa dilakukan intervensi yang
tepat sasaran maka akan sulit untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS. Strategi utama dalam
pencegahan Infeksi Menular Seksual adalah dengan melalui peningkatan pengetahuan tentang gejala
penyakit, cara pencegahan dan dimana dapat memperoleh informasi yang adekuat apabila diperlukan.
Untuk itu melalui SDKI 2012 ditanyakan apakah pernah mendengar tentang Infeksi Menular Seksual
lainnya dan bagi yang pernah mendengar ditanyakan lebih lanjut sumber informasi tersebut. SDKI 2012
menanyakan apakah responden pernah mendengar tentang IMS dan dari mana sumber informasi
95
diperoleh. Tabel 8.9 memperlihatkan persentase pria kawin yang pernah mendengar tentang IMS menurut
karakteristik latar belakang. Secara umum 48,2 persen pria kawin mengatakan pernah mendengar tentang
IMS. Persentase pria kawin yang mempunyai pengetahuan IMS menurut kelompok umur menunjukkan
pola seperti huruf U terbalik, diawal persentase pria yang mengetahui IMS rendah kemudian bertambah
banyak dan kembali turun pada kelompok umur tua (40 tahun ke atas).
Pria di perkotaan lebih banyak mengetahui tentang IMS dibanding pria di perdesaan (60,6 persen
berbanding 35,3 persen). Semakin tinggi tingkat pendidikan pria, semakin tinggi persentase pria yang
mengetahui IMS dan semakin baik status ekonomi pria, semakin banyak persentase pria yang mengetahui
IMS.
Tabel 8.9. Pengetahuan tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya
Persentase pria kawin yang pernah mendengar tentang IMS selain AIDS
menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
Jumlah
latar belakang
Persen
responden
Umur
15-19
(33,3)
28
20-24
37,3
345
25-29
46,3
1.126
30-39
54,8
3.449
40-49
47,5
3.064
50-54
36,7
1.292
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
60,6
4.739
Perdesaan
35,3
4.565
Pendidikan
Tidak sekolah
14,4
265
Tidak tamat SD
19,5
1.370
Tamat SD
32,6
2.118
Tidak tamat SMTA
47,9
1.978
SMTA+
71,0
3.572
Kuintil kekayaan
Terbawah
26,7
1.595
Menengah bawah
37,5
1.866
Menengah
44,1
2.008
Menengah atas
57,6
1.961
Teratas
71,5
1.875
Jumlah
48,2
9.306
Informasi tentang IMS paling banyak diperoleh pria kawin melalui teman/keluarga (31,5 persen), sumber
berikutnya berasal dari TV (17,3 persen), dan koran/majalah (10,5 persen). Sementara pria yang
mendapatkan informasi mengenai IMS dari petugas kesehatan sangat rendah, hanya sebesar 4,2 persen
(Tabel 8.10).
96
Tabel 8.10. Sumber informasi tentang IMS
Persentase pria kawin yang mengetahui sumber informasi tentang IMS selain AIDS, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Radio Televisi
Koran/
majalah Poster
Petugas
kesehatan
Perkumpulan
agama
Sekolah/ Perkumpulan
guru
masyarakat
Teman/
keluarga
Tempat
kerja
Internet Lainnya
Jumlah
pria
Umur
15-24
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
3,3
0,0
3,6
4,5
4,3
3,1
3,3
14,0
4,3
14,8
14,4
20,7
16,8
13,2
3,8
7,4
3,5
10,0
12,1
10,7
7,6
0,3
1,7
0,2
0,7
2,0
2,0
0,9
2,4
0,0
2,6
2,9
4,6
4,5
3,9
0,2
0,0
0,2
0,0
0,2
0,1
0,1
3,6
2,2
3,7
3,5
3,2
2,4
0,5
1,2
0,0
1,3
0,9
0,9
0,8
1,3
24,7
22,5
24,9
32,1
34,1
31,3
26,3
4,3
1,9
4,5
9,7
11,5
9,2
5,6
2,2
1,2
2,3
2,6
2,3
1,2
0,1
1,9
0,0
2,1
1,0
1,7
1,8
0,9
373
28
345
1.127
3.449
3.065
1.292
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
5,0
2,5
23,6
10,8
16,2
4,5
2,3
1,0
4,9
3,4
0,2
0,0
3,7
1,5
1,3
0,6
37,7
25,0
13,5
5,2
2,8
0,5
2,2
0,8
4.739
4.567
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
0,2
0,9
1,6
2,9
6,9
4,2
3,6
9,0
12,2
31,4
2,0
1,0
1,6
5,4
22,8
0,9
0,4
0,5
0,6
3,3
2,2
0,5
1,8
3,4
7,5
0,4
0,0
0,2
0,0
0,1
0,3
0,0
0,0
0,8
6,3
1,4
0,2
0,1
0,8
1,7
9,3
15,8
23,4
34,9
42,0
1,9
3,0
6,5
8,4
14,7
0,0
0,0
0,0
0,4
4,1
0,1
0,4
0,4
1,5
2,7
265
1.371
2.118
1.979
3.572
1,2
2,5
3,8
4,0
6,8
5,8
9,9
14,0
22,2
33,1
1,8
3,6
7,0
11,9
26,9
0,5
0,3
1,0
2,0
4,1
2,0
2,3
4,2
4,4
7,6
0,1
0,0
0,0
0,3
0,1
0,9
1,1
1,6
2,9
6,3
0,4
0,7
0,5
0,9
2,1
19,9
28,4
29,6
38,4
39,1
3,7
5,9
8,4
11,6
16,6
0,1
0,6
0,5
1,5
5,5
0,7
0,9
1,0
2,3
2,7
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
3,8
17,3
10,5
1,6
4,2
0,1
2,6
0,9
31,5
9,4
1,7
1,5
9.306
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Total
Secara umum, tingkat pengetahuan pria kawin mengenai IMS dari berbagai sumber, nampak lebih tinggi
di wilayah perkotaan dibanding di perdesaan, dan cenderung semakin tinggi persentasenya seiring dengan
meningkatnya pendidikan dan kuintil kekayaan.
8.9. Pengetahuan tentang Gejala Terkait Infeksi Menular Seksual
Pengetahuan tentang gejala-gejala IMS adalah merupakan hal yang sangat penting untuk mendorong
perilaku pencarian pelayanan kesehatan. Pengetahuan mengenai hal ini akan memperkuat upaya deteksi
dini dan pengobatan yang tepat.
Dalam SDKI 2012, responden pria kawin ditanya apakah mereka mengetahui tentang gejala-gejala terkait
Infeksi Menular Seksual pada pria. Tabel berikut memperlihatkan pengetahuan tentang gejala terkait IMS
pada pria menurut karakteristik latar belakang.
97
Tabel 8.11. Pengetahuan tentang gejala IMS
Persentase pria kawin yang mengetahui gejala IMS pada pria menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-24
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Total
Tidak
mengetahui
tentang gejala
IMS
Pengetahuan tentang gejala IMS pada pria
Menyebut
Tdk dapat
Menyebut
dua atau
menyebut
satu gejala
lebih gejala
gejala IMS
IMS
IMS
Pengetahuan tentang gejala IMS pada
wanita
Menyebut
Tdk dapat
Menyebut
dua atau
menyebut
satu gejala
lebih gejala
gejala IMS
IMS
IMS
Jumlah
Pria
63,0
(66,7)
62,7
53,6
45,2
52,5
63,3
13,0
(8,6)
13,4
16,7
20,6
19,2
16,0
17,1
(6,4)
18,0
25,6
28,7
23,6
17,0
6,9
(18,3)
6,0
4,0
5,5
4,7
3,7
34,7
(33,3)
34,9
43,2
50,1
42,4
34,2
2,1
(0,0)
2,3
3,1
4,3
4,8
2,4
0,1
(0,0)
0,1
0,0
0,4
0,3
0,1
373
28
345
1.127
3.449
3.065
1.292
39,4
64,7
22,7
14,7
31,6
17,3
6,3
3,3
54,3
33,2
5,8
2,0
0,4
0,1
4.739
4.567
85,6
80,5
67,4
52,0
29,0
7,7
9,8
14,8
19,3
25,1
6,0
7,6
15,2
24,6
38,0
0,7
2,1
2,6
4,1
8,0
14,4
18,7
31,6
45,6
62,2
0,0
0,5
0,9
2,4
8,3
0,0
0,3
0,1
0,0
0,6
265
1.371
2.118
1.979
3.572
73,3
62,5
55,9
42,4
28,5
10,4
14,8
18,7
20,7
27,8
13,0
19,0
22,2
30,8
35,9
3,3
3,8
3,1
6,1
7,8
25,7
35,3
40,8
52,8
62,0
0,9
2,0
3,2
4,2
9,1
0,1
0,2
0,1
0,7
0,4
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
51,8
18,8
24,6
4,9
43,9
4,0
0,3
9.306
Tabel 8.11. menunjukkan 51,8 persen pria kawin yang tidak mengetahui gejala IMS. Di antara pria yang
mengaku mengetahui IMS, 4,9 persen diantaranya mengetahui dua atau lebih gejala IMS yang terjadi
pada pria, 24,6 persen dapat menyebutkan satu gejala, dan 18,8 persen sama sekali tidak dapat
menyebutkan gejala apapun.
Di sisi lain, pengetahuan pria tentang gejala IMS pada wanita sangat rendah, kurang dari satu persen pria
kawin dapat menyebutkan dua atau lebih gejala IMS pada wanita, sementara pria yang tidak dapat
menyebutkan gejala IMS pada wanita tercatat 43,9 persen. Artinya satu diantara empat pria tahu tentang
gejala IMS dan dapat menyebutkan gejala IMS pada wanita.
Menurut tempat tinggal, persentase pria yang tidak mengetahui tentang IMS lebih banyak tinggal di
perdesaan dibandingkan di perkotaan (64,7 persen berbanding 39,4 persen). Namun pria di perkotaan
lebih banyak yang tidak dapat menyebutkan gelaja IMS pada wanita dari pada pria di perdesaan (54,3
persen berbanding 33,2 persen).
Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin banyak pria yang dapat menyebutkan satu gejala, dan dua
atau lebih gejala IMS yang terjadi pada pria maupun gejala IMS yang terjadi pada wanita. Pengetahuan
pria tentang gejala IMS juga menunjukkan pola hubungan dengan tingkat ekonomi, semakin baik tingkat
ekonomi, semakin besar persentase pria yang mengetahui gejala IMS yang terjadi pada pria maupun
wanita.
98
Gambar 8.5. Persentase pria kawin yang tidak tahu
tentang gejala IMS berdasarkan pendidikan, Indonesia 2012
88
86
81
72
64
67
52
45
29
21
Tdk sekolah
Tdk tamat SD
Tamat SD
2007
Tdk tamat SMTA
SMTA+
2012
Berdasarkan Gambar 8.5 tampak bahwa tingkat pendidikan pria kawin membentuk pola tertentu terhadap
pengetahuan gejala IMS. Semakin baik tingkat pendidikan pria kawin semakin sedikit proporsi mereka
yang tidak mengetahui gejala IMS. Dibandingkan dengan tahun 2007 persentase yang tidak tahu gejala
IMS menurut tingkat pendidikan cenderung meningkat pada setiap kelompok pendidikan, sementara pada
kelompok tidak sekolah persentase pria yang tidak mengetahui gejala IMS justru mengalami sedikit
penurunan dibanding tahun 2007.
8.10. Prevalensi Infeksi Menular Seksual (IMS) Berdasarkan Laporan
Responden
Responden yang pernah berhubungan seksual ditanya apakah mereka pernah mengalami penyakit yang
ditularkan melalui kontak seksual dalam 12 bulan terakhir, atau mereka mengalami luka/bisul pada
kelamin/kemaluan. Tabel8.12 menunjukkan prevalensi dan gejala IMS berdasarkan laporan responden
pria kawin.
SDKI 2012 menunjukkan bahwa kurang dari satu persen pria kawin mengaku pernah mengalami IMS
dalam 12 bulan terakhir. Namun pria yang mengalami gejala IMS berupa luka/bisul pada alat kelamin
sebesar 1,4 persen. Prevalensi IMS atau gejala IMS tertinggi terdapat pada kelompok umur 20-24 tahun,
tinggal di perdesaan, tamat SD dan kelompok kuintil kekayaan menengah dan terbawah.
99
Tabel 8.12. Prevalensi dan gejala IMS
Persentase pria kawin yang pernah melakukan hubungan seksual dan mengalami IMS dan
atau gejala IMS dalam 12 bulan sebelum survei menurut karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
IMS/keluar
Pernah
Luka/ bisul
cairan dari
Karakteristik
Terkena
pada alat
kemaluan/sakit
Jumlah
latar belakang
IMS
kelamin
atau luka
pria
Umur
15-19
(0,0)
(2,1)
(2,1)
28
20-24
0,5
2,6
2,8
342
25-29
0,0
1,9
1,9
1.115
30-39
0,2
1,1
1,2
3.422
40-49
0,2
1,4
1,6
3.039
50-54
0,0
1,1
1,1
1.270
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
0,1
1,0
1,1
4.722
Perdesaan
0,1
1,7
1,8
4.495
Pendidikan
Tidak sekolah
0,0
0,7
0,7
258
Tidak tamat SD
0,0
1,6
1,6
1.349
Tamat SD
0,1
1,9
1,9
2.097
Tidak tamat SMTA
0,2
1,5
1,7
1.959
SMTA+
0,2
1,1
1,2
3.553
Kuintil kekayaan
Terbawah
0,1
2,0
2,1
1.569
Menengah bawah
0,0
1,1
1,1
1.850
Menengah
0,4
1,9
2,1
1.988
Menengah atas
0,1
0,9
0,9
1.946
Teratas
0,1
1,0
1,0
1.864
Jumlah
0,1
1,4
1,4
9.306
8.11. Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan Perilaku Seks pada Kelompok
Remaja dan Dewasa Muda
Bagian ini membahas tentang pengetahuan terkait dengan HIV/AIDS di kalangan remaja dan dewasa
muda usia 15-24 tahun. Perhatian khusus diprioritaskan pada kelompok ini karena berdasarkan kajian
yang dilakukan oleh UNICEF, Indonesia tahun 2012 menunjukkan fakta yang mengkawatirkan bahwa
orang muda (15 – 24 tahun) menempati proporsi sebesar 30 persen dari populasi beresiko dengan
prevalensi HIV lebih tinggi. Dalam kajian tersebut juga dikemukakan bahwa sepertiga populasi orang
muda sudah akan melakukan hubungan seksual minimal satu kali. Selanjutnya pengetahuan komprehensif
tentang penularan HIV dan umur pertama kali melakukan hubungan seks dilaporkan dalam tulisan
berikut.
100
Tabel 8.13. Pengetahuan Konprehensif tentang AIDS pada kelompok remaja dan dewasa muda
Persentase pria muda kawin umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang AIDS,
menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Pria kawin
Persentase dengan
Karakteristik
pengetahuan komprehensif
latar belakang
tentang AIDS1
Jumlah responden
Umur
15-19
(4,0)
28
15-17
*
2
18-19
4,3
26
20-24
10,8
350
20-22
7,4
138
23-24
13,0
212
Status perkawinan
Pernah kawin
10,9
375
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
11,5
9,4
149
228
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA +
*
(0,0)
6,9
5,6
29,9
6
37
63
132
140
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
3,2
10,0
17,6
10,6
(26,8)
101
105
65
79
28
10,3
378
Total
1
Pengetahuan komprehensif: mengetahui bahwa penggunaan kondom secara konsisten saat hubungan seks dan hanya
berpasangan dengan seorang yang tidak terinfeksi virus HIV dapat mengurangi kemungkinan tertular virus HIV,
mengetahui bahwa seorang yang nampaknya sehat dapat mengidap virus HIV dan menolak dua persepsi yang salah
tentang penularan dan pencegahan AIDS. Komponen pengetahuan komprehensif disajikan di Tabel 8.4
Pengetahuan tentang bagaimana HIV ditularkan merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan
kewaspadaan terhadap keterpajanan virus HIV. Remaja dan dewasa muda adalah kelompok yang rentan
karena secara psikologis mereka berada pada periode ingin mencoba dan lebih mudah terpajan dengan
berbagai perilaku berisiko. Indikator ini merupakan salah satu indikator Millenium Development Goals
yang harus dipantau secara berkala pencapaiannya oleh setiap negara berkembang.
Sebagaimana sudah dibahas dalam sub bab terdahulu, pengetahuan yang komprehensif didefinisikan
sebagai mengetahui secara menyeluruh tentang 5 hal berikut: 1) Seseorang akan berkurang risiko tertular
HIV dengan membatasi berhubungan seks hanya dengan satu pasangan yang tak terinfeksi, 2)
menggunakan kondom secara konsisten, 3) Orang yang tampak sehat dapat terkena HIV/ AIDS dan 4)
HIV tidak dapat ditularkan oleh gigitan nyamuk dan 5) makan bersama ODHA.
Tabel 8.13. menunjukkan indikator komposit pengetahuan yang komprehensif pada kelompok remaja dan
dewasa muda berdasarkan karakteristik latar belakang. Hasil SDKI 2012 menunjukkan proporsi
kelompok remaja dan dewasa muda status kawin dengan pengetahuan yang komprehensif tentang
HIV/AIDS masih relatih rendah yaitu 10,3 persen.
Pengetahuan yang komprehensif tentang HIV/AIDS pada pria muda di perkotaan nampak lebih tinggi
daripada di perdesaan (11,5 persen berbanding 9,4 persen). Peningkatan pengetahuan komprehensif
nampak sangat berhubungan dengan peningkatan pendidikan.
101
Tabel 8.14. Umur Pertama Kali Berhubungan Seksual diantara Remaja
Persentase pria kawin umur 15-24 yang berhubungan seksual pertama kali sebelum umur 15 tahun dan persentase pria kawin
umur 18-24 yang berhubungan seksual pertama kali sebelum umur 18 tahun, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Persentase yang
berhubungan seksual
sebelum umur 15 tahun
Pria kawin
Jumlah
responden
(15-24 tahun)
Persentase yang
berhubungan seksual
sebelum umur 18 tahun
Jumlah
responden
(18-24 tahun)
Umur
15-19
15-17
18-19
20-24
20-22
23-24
21,0
0,0
22,5
1,7
3,0
0,8
28
2
26
345
136
209
NA
NA
54,1
8,6
10,7
7,2
NA
NA
26
345
136
209
Status perkawinan
Pernah kawin
3,1
373
11,8
371
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
3,0
3,2
146
227
12,2
11,6
146
225
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA +
*
2,2
2,0
7,2
0,2
6
37
61
129
119,5
*
23,9
13,2
14,7
5,7
6
37
61
128
69,5
Total
3,1
373
11,8
371
Mengingat Indonesia adalah negara dengan status epidemi terkonsentrasi dimana penularan utamanya
adalah melalui jarum suntik tidak aman diantara pengguna narkoba suntik, dan melalui hubungan hetero
seksual antara orang yang terinfeksi dan tidak terinfeksi, umur pertama kali hubungan seksual
mempengaruhi lamanya keterpajanan terhadap virus HIV.
Tabel 8.14 memperlihatkan proporsi pria kawin usia kohort umur 15-24 tahun dan kohort 18-24 tahun
yang melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia dibawah 15 tahun dan dibawah 18 tahun. Hasil
analisis kohort menunjukkan bahwa pada kohort umur 15-24 tahun, tiga diantara 100 pria (3,1 persen)
melakukan hubungan seksual pertama kali pada umur dibawah 15 tahun, 11,8 persen pria melakukan
hubungan seksual pertama kali pada umur dibawah 18 tahun.
8.12. Pengetahuan tentang Voluntary Counseling and Testing (VCT)
Pengetahuan tentang status HIV membantu seseorang yang mempunyai status HIV negatif untuk
membuat keputusan penting dalam mengurangi risiko penularan dan meningkatkan praktek seks yang
aman, sehingga mereka tetap bisa menjaga status bebas HIV nya. Untuk yang diketahui berstatus HIV
positif, pengetahuan tentang status HIV ini memungkinkan mereka mengambil langkah melindungi
pasangan seks mereka agar tidak tertular, sekaligus mendapatkan akses perawatan dan pengobatan bagi
diri mereka dan juga untuk membuat rencana ke depan.
Pengetahuan tentang status HIV merupakan suatu komponen dalam penanggulangan HIV/AIDS. Dengan
mengetahui status HIV maka akan membuka akses terhadap berbagai layanan pencegahan serta
perawatan, dukungan dan pengobatan HIV/AIDS. Pada tahun 2013 diperkirakan sejumlah 179.764
ODHA di Indonesia (Statistik Kasus HIV/AIDS, 2013), sedangkan hasil laporan Departemen Kesehatan
menunjukkan baru sekitar 9 persen dari kasus HIV/AIDS selama tahun 2013 berhasil dijangkau melalui
VCT. Mengingat besarnya kesenjangan antara jumlah estimasi ODHA Nasional dengan cakupan
program, maka saat ini pemerintah sedang menggalakkan pengembangan layanan VCT baik dalam segi
kuantitas maupun kualitas untuk memperluas cakupan nasional.
102
Tabel 8.15. Mengetahui seseorang terinfeksi HIV/AIDS
Persentase pria kawin yang mengetahui seseorang terinfeksi HIV/AIDS menurut karakteristik latar belakang,
Indonesia 2012
Tes
Karakteristik
Penampilan
Perubahan
darah/
Tidak
Tidak
Jumlah
latar belakang
fisik
perilaku
VCT
tahu
menjawab
pria
Umur
15-19
36,1
2,8
4,2
39,4
24,6
28
20-24
26,9
4,8
9,1
46,9
25,6
350
25-29
26,5
3,0
11,0
44,3
28,3
1.133
30-39
29,0
3,2
16,2
42,9
26,9
3.443
40-49
25,7
2,5
13,3
38,4
35,0
3.063
50-54
19,3
1,6
9,1
37,7
42,6
1.289
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
32,8
3,2
19,0
39,7
26,6
4.739
Perdesaan
19,4
2,4
7,4
42,4
37,3
4.567
Pendidikan
Tidak sekolah
8,0
2,0
4,4
17
75,1
265
Tidak tamat SD
8,0
1,0
1,6
39
52,6
1.371
Tamat SD
14,0
1,1
5,6
50
35,1
2.118
Tidak tamat SMTA
25,1
3,1
8,5
51
22,6
1.979
SMTA+
42,4
4,3
25,7
33
23,9
3.572
Kuintil kekayaan
Terbawah
13,3
2,1
5,8
38
47,9
1.596
Menengah bawah
18,8
2,5
6,6
45
35,8
1.866
Menengah
24,8
2,0
10,1
48
26,1
2.008
Menengah atas
33,1
3,0
15,0
41
25,0
1.962
Teratas
39,0
4,3
28,0
32
27,6
1.875
Jumlah
26,2
2,8
13,3
41
31,8
9.306
Untuk menilai kesadaran terhadap layanan VCT, melalui SDKI 2012 responden ditanya bagaimana cara
mengenali seseorang yang terinfeksi HIV, dan apakah mereka mengetahui adanya testing HIV yang
didahului dengan prosedur konseling dan dimana layanan VCT dapat diperoleh.
Responden pria kawin ditanya bagaimana cara mengidentifikasi seseorang dengan HIV, 41 persen
diantaranya mengatakan tidak tahu. Pria yang mengaku tahu, menyebutkan dari penampilan fisik (26
persen), dan sebagian lainnya mengatakan dari pemeriksaan darah atau VCT (13 persen). Cara
identifikasi paling sedikit dikemukakan pria adalah dari perubahan tingkah laku (3 persen). Secara umum,
tingkat pengetahuan pria kawin mengenai infeksi HIV dari berbagai sumber, nampak lebih tinggi di
wilayah perkotaan daripada di perdesaan.
Menurut kelompok umur, pria yang mengetahui seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS dari tes darah atau
VCT, mempunyai pola seperti huruf “U” terbalik, dengan titik tertinggi mereka yang berusia 30-39 tahun
(16 persen). Pria perkotaan lebih banyak yang mengetahui seseorang terinveksi HIV/AIDS dibanding
dengan pria perdesaan. Menurut tingkat pendidikan, pria kawin yang telah menamatkan SMTA atau lebih
merupakan kelompok pria yang paling banyak mengetahui seseorang terinfeksi HIV/AIDS. Begitu juga
bila dilihat dari kuintil kekayaan, persentase pria yang mengetahui seseorang terinfeksi HIV/AIDS
tertinggi pada kelompok pria dengan kuintil kekayaan teratas.
103
Tabel 8.16. Pengetahuan tentang VCT
Persentase pria kawin yang pernah mendengar voluntary
conseling testing (VCT) tentang HIV menurut karakteristik latar
belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Persen
Jumlah pria
Umur
15-24
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMTA
SMTA+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
5,9
4,1
6,1
8,9
11,4
12,2
7,1
353
22
294
968
3.058
2.437
878
13,7
6,7
4.334
3.323
1,9
2,7
4,1
5,8
17,7
77
708
1.586
1.772
3.515
5,4
5,1
8,4
11,3
19,0
947
1.380
1.723
1.784
1.823
Jumlah
10,6
7.658
Sebagai tanggapan terhadap pertanyaan apakah mereka tahu tentang konseling yang mendahului testing
HIV, Tabel 8.16 memperlihatkan 11 persen pria kawin yang pernah mendengar HIV/AIDS mengetahui
juga tentang Voluntary conselling and testing (VCT). Pengetahuan tentang VCT menurut umur
menunjukkan pola tidak menentu. Proporsi terbanyak pada mereka yang berusia 40-49 tahun (12 persen).
Pria yang tinggal diperkotaan, dengan pendidikan SMTA atau lebih, dan tergolong mempunyai indeks
kekayaan kuintil teratas, persentasenya paling tinggi pernah mendengar tentang VCT dibandingkan
kelompok lainnya. Perbedaan yang nyata dapat dilihat dari tingkat pendidikan pria. Tercatat sekitar 3
persen pria tidak tamat SD yang mengaku pernah mendengar tentang VCT, angka ini menjadi 18 persen
pada kalangan pria yang berpendidikan SMTA atau lebih.
Tabel 8.17 menunjukkan bahwa pengetahuan pria tentang tempat dimana memperoleh pelayanan VCT
masih sangat rendah. Tempat pelayanan VCT yang paling banyak disebutkan oleh pria kawin adalah
rumah sakit pemerintah (4 persen). Persentase pria kawin yang tinggal di perkotaan lebih banyak
mengetahui tempat layanan VCT dibanding mereka yang tinggal di perdesaan. Pengetahuan tentang
adanya pelayanan VCT di rumah sakit pemerintah meningkat dengan semakin tingginya pendidikan pria.
Begitu pula bila dilihat dari kuintil kekayaan, persentase terendah pada kelompok pria dengan kuintil
kekayaan terbawah dan persentase tertinggi pada kelompok pria dengan kuintil kekayaan teratas.
104
Tabel 8.17. Mengetahui tempat dimana mendapatkan layanan VCT
Persentase pria kawin yang mengetahui tempat di mana mendapatkan layanan VCT, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2012
Karakteristik
latar belakang
Umur
15-24
15-19
20-24
25-29
30-39
40-49
50-54
Daerah tempat tinggal
RS
Peme
rintah
Pus
Kes
mas
Peme
rintah
Klinik
peme
rintah
VCT
Klinik
pemeri
ntah
Layanan
pemerin
tah
lainnya
RS
swasta
Klinik
swasta
VCT
klinik
swasta
Dokter
swasta
Perawat/
bidan
swasta
Swasta
lainnya
Tidak
menja
wab
Jumlah
pria
1,6
2,1
1,6
3,1
5,0
4,4
2,7
0,5
0,0
0,5
1,6
1,3
1,1
0,5
0,0
0,0
0,0
1,0
0,2
0,3
0,0
0,2
0,0
0,2
0,3
0,5
0,3
0,2
0,1
0,0
0,2
0,4
0,4
0,6
0,1
0,3
0,0
0,3
0,6
1,3
1,1
0,4
0,0
0,0
0,0
0,4
0,3
0,1
0,0
1,2
2,1
1,1
0,1
0,3
0,2
0,1
0,0
0,0
0,0
0,2
0,5
0,3
0,1
0,0
0,0
0,0
0,1
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,2
0,4
0,3
96,9
97,9
96,8
95,0
93,2
93,8
96,8
378
28
350
1.133
3.443
3.063
1.289
Perkotaan
Perdesaan
Pendidikan
6,2
2,0
1,4
0,8
0,4
0,2
0,4
0,2
0,5
0,3
1,6
0,4
0,3
0,1
0,3
0,1
0,2
0,4
0,0
0,0
0,3
0,2
92,1
96,5
4.739
4.567
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SLTP
SLTP+
Kuintil kekayaan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Total
0,2
0,3
1,1
2,0
8,8
0,0
0,2
0,4
1,1
2,1
0,0
0,0
0,0
0,1
0,6
0,0
0,0
0,0
0,1
0,8
0,2
0,1
0,0
0,3
0,8
0,2
0,0
0,4
1,1
1,8
0,0
0,0
0,0
0,0
0,4
0,0
0,0
0,0
0,1
0,6
0,0
0,0
0,6
0,1
0,5
0,0
0,0
0,0
0,1
0,0
0,0
0,0
0,1
0,0
0,6
99,5
99,5
98,0
96,8
88,2
265
1.371
2.118
1.979
3.572
1,4
1,6
3,0
5,3
8,8
4,1
0,3
0,3
1,0
1,6
2,3
1,1
0,1
0,1
0,4
0,2
0,7
0,3
0,4
0,2
0,2
0,3
0,7
0,3
0,0
0,1
0,5
0,5
1,0
0,4
0,2
0,3
1,1
1,3
2,1
1,0
0,1
0,1
0,3
0,0
0,4
0,2
0,3
0,1
0,1
0,4
0,4
0,2
0,3
0,2
0,2
0,5
0,5
0,3
0,0
0,1
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,1
0,1
0,4
0,5
0,3
97,9
97,8
95,7
92,1
88,4
94,3
1.596
1.866
2.008
1.962
1.875
9.306
105
106
Pustaka
Hollerbach,P.E.(1980)Power infamilies,communication,andfertilitydecision-making.Populationand
Environment3:146-173.
Kim,C.H.,andS.J.Lee(1973)Role of husband in family planning behavior. Psychological Studies in
Population (Family Planning1 (5). Seoul: Korean Institute for Research in the Behavioral Sciences.
“Unwanted pregnancy and Associated Factors Among Nigerian Women”, Akinrinola Bankole, Gilda
Sedgh, Boniface Oye-Adeniran, Isaac F. Adewole. International Family Planning Perspectives, 2006,
32[4]:175-184.
Bloom, SS, Tsui, AO, Plotkin, M, & Bassett, S 2000, “What husbands in northern India know about
reproductive health: correlates of knowledge about pregnancy and maternal and sexual health”, Journal of
Biosocial Science, 32(2), 237-251.
Brugha, RF, Kevany, JP, & Swan, AV 1996, ‘An investigation of the role of fathers in immunization
uptake’, International journal of epidemiology, 25(4), 840-845.
Dudgeon, MR, & Inhorn, MC 2004, ‘Men's influences on women's reproductive health: medical
anthropological perspectives’, Social science & medicine, 59(7), 1379-1395.
Engle, PL1997, ‘The role of men in families: Achieving gender equity and supporting children’, Gender
& Development, 5(2), 31-40.
Kululanga, LI, Sundby, J, & Chirwa, E 2011, ‘Striving to promote male involvement in maternal health
care in rural and urban settings in Malawi-a qualitative study’, Reproductive health, 8(1), 36.
McLeroy, KR, Bibeau, D, Steckler, A, & Glanz, K 1988, ‘An ecological perspective on health promotion
programs’, Health Education & Behavior, 15(4), 351-377.
Nejad, VM 2005, ‘Couples’ attitudes to the husband’s presence in the delivery room during child birth’,
Eastern Mediterranean Health Journal, 11(4), 829.
Premberg, A, & Lundgren, I 2006, ‘Fathers' experiences of childbirth education’ The journal of perinatal
education, 15(2), 21.
Rama Rao, S, Caleb, L, Khan, ME, & Townsend, JW 2001, ‘Safer maternal health in rural Uttar Pradesh:
do primary health services contribute’, Health policy and planning, 16(3), 256-263.
Rammohan, A, Awofeso, N, & Fernandez, RC 2012, ‘Paternal education status significantly influences
infants’ measles vaccination uptake, independent of maternal education status’, BMC public health, 12(1),
336.
Sarkadi, A, Kristiansson, R, Oberklaid, F, & Bremberg, S 2008, ‘Fathers' involvement and children's
developmental outcomes: a systematic review of longitudinal studies’, Acta Paediatrica, 97(2), 153-158.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (2000). Kebijaksanaan Tehinis Program KB
dan Kesehatan Reproduksi, BKKBN
Badan Koordinasi Keluarga Berencana, the World Bank, 2002. Bahan Pembelajaran:
Peningkatan Partisipasi Pria dalam KB dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: BKKBN
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 2002, Seri Booklet Peningkatan Partisipasi
Pria. Kontrasepsi Alamiah: Direktorat Peningkatan Partisipasi Pria. Jakarta: BKKBN
107
Badan Koordinasi Keluarga Bererencana Nasional, 2004. Peningkatan Partisipasi Pria Dalam
KB dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: BKKBN.
Badan Pusat Statistik (BPS), BKKBN, Departemen Kesehatan, ORC Macro (2007). Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007, Calverton, Maryland, USA: ORC Macro.
Kristanti Ch, Ratna Budiarso, Pengetahuan Ibu tentang AIDS, SDKI 1997. Buletin Penelitian
dan Kesehatan 26 (4) (19998/1999, hal 160-169.
Pusat Studi Biomedis dan Reproduksi Manusia (PUBIO)-BKKBN, 1999. Studi Peningkatan Peran
Pria dalam Keluarga Berencana di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, Jakarta: BKKBN.
Puslitbang KB dan Kesehatan Reproduksi – BKKBN, 2000. Studi Operasional Peningkatan Peran
Pria dalam Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: BKKBN.
Puslitbang KB dan Kesehatan Reproduksi – BKKBN. Studi peran Pria dalam Penggunaan
Kontrasepsi di Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Jakarta: BKKBN.
Ditjen PP & PL Kemenkes RI, 2014. Statistik Kasus HIV/AIDS 2013. Jakarta
Puslitbang KB dan Kesehatan Reproduksi, 2002. Studi Kualitatif: Identifikasi Sasaran
KhalayakPartisipasi Pria dalam Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi di Provinsi Jawa Tengah
dan Jawa Timur: BKKBN, Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/HIV/AIDS_di_Indonesia. Diunduh pada tanggal 17 Maret 2014 jam. 16.50
WIB.
dr. HM. Subuh, MPPM. Seminar Nasional. “Wujudkan Masyarakat Sehat Bebas HIV-AIDS, Langkah
Strategis mencapai MDG’s 2015”. Diunduh dari http://www.unej.ac.id/index.php/id/berita/akademik/146pengetahuan-masyarakat-akan-hiv- aids-masih-rendah.html. Pada tgl 17 Maret 2014 Jam 17.45 WIB.
“Bagaimana Bayi Tertular HIV? “ 15 Juni 2013. Diunduh dari http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=611
pada tgl 19 Maret 2014 jam 10.50 WIB
Schiavo, Renata. Health Communication: from theory to practice, San Fransisco: John Wiley & Sons. Inc.
2007.
Jensen, R. and R. Thornton, ‘Early female marriage in the developing world’, Gender and Development,
vol. 11, no. 2, 2003, pp. 9–19.
Tjaja, Ratna P., ‘Wanita Bekerja dan Implikasi Sosial’, Ratna P. Tjaja, Bappenas, Naskah no. 20, 2000.
C Yang dkk, Peer norms and consistent condom use with female sex workers among male clients in
Sichuan province, China. Soc Sci Med. 2010 Aug;71(4):832-9. doi: 10.1016/j.socscimed.2010.04.039.
Epub 2010 May 25.
Flood Michael, Lust, Trust and Latex: Why young heterosexual men do not use condoms, 2003. Tue, 27
Oct 2009 - 20:43
www.unicef.org/id/A4_-_B_Ringkasan _kajian_HIV.pdf. Respon terhadap HIV & AIDS. Diunduh pada
tanggal 26 Agustus 2014 jam 15.30 WIB.
108
Fly UP