...

5-Tinjauan Kritis Perspektif Reformed terhadap Gerakan Pria Sejati

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

5-Tinjauan Kritis Perspektif Reformed terhadap Gerakan Pria Sejati
VERITAS 12/2 (Oktober 2011) 209-229
TINJAUAN KRITIS TERHADAP
GERAKAN PRIA SEJATI
DARI PERSPEKTIF REFORMED
JOHANNES AURELIUS
PENDAHULUAN
Gerakan Pria Sejati dipelopori oleh Edwin Louis Cole melalui the
Christian Men’s Movement yang diawali saat retret kaum pria di Oregon
pada Februari 1980,1 di mana Cole mendengarkan perkataan tentang lima
dosa Israel yang masih ada pada kaum pria yang membuatnya tidak
mengalami tanah perjanjian. Lalu Cole diteguhkan melalui nubuat dari
Campbell McAlpine pada Juli 1980 yang menyatakan bahwa ia akan
melayani kaum pria sebagai papan pengirik menurut Yesaya 41:15, dan
diingatkan untuk tidak menunda lagi pelayanan kepada kaum pria melalui
perkataan George Otis pada suatu pertemuan di California 24 April 1981.
Maka pada keesokan harinya Cole memutuskan untuk mengundurkan diri
dari semua pelayanannya selama ini, termasuk dari penggembalaan di
gereja, dan mengkhususkan diri melayani kaum pria.2
Cole dijuluki sebagai “the Father of the Christian Men’s Movement ”
dengan kepercayaan penuh untuk melayani kaum pria, dan menyatakan:
I have been called to speak with a prophetic voice to the men of this
generation and commissioned with a ministry majoring in men to
declare a standard for manhood, and that standard is that Manhood
and Christlikeness are synonymous.3
1
E. L. Cole, On Becoming A Real Man (Nashville: Thomas Nelson, 1992) 76.
“It Began With A Word http://www.edcole.org/index.php?fuseaction=edcole.
itbegan (diakses 6 Mei 2011).
3
“The Man,” http://www.edcole.org/index.php?fuseaction=edcole.main (diakses 6
Mei 2011).
2
210
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Diperkirakan bahwa gerakan pelayanan Cole terhadap kaum pria yang
dikenal sebagai CMN ini dimulai tahun 1977 dan telah menyebar ke 220
negara. Gerakan ini masuk ke Indonesia pada tahun 1997 dan diresmikan
secara internasional pada tahun 1999 di Texas. Gerakan ini memasuki
Indonesia melalui gerakan yang diterima oleh Budi Jonatan untuk
menjangkau kaum pria, dan Cole mempercayakan kepada Eddy Leo untuk
mengajarkan buku “Kesempurnaan seorang pria” dalam gerakan ini. 4
Gerakan Pria Sejati di Indonesia mengklaim bahwa mereka pada tahun
2008 telah menjangkau banyak kaum pria dari kalangan gereja, baik dari
Injili, Protestan, Katolik, Pantekosta dan Kharismatik. 5
Melihat
penyebaran gerakan ini yang banyak disambut dengan antusias oleh
kalangan gereja, dan tidak ketinggalan pula dari kalangan gereja Injili,
maka penulis melihat perlunya penyelidikan yang bertanggungjawab dan
kritis terhadap ajaran dalam gerakan ini, khususnya berkaitan dengan
doktrin yang dianut oleh Cole dan praktik yang dilaksanakan dalam retret
atau camp pria sejati.6 Dalam tulisan ini secara berurutan akan ditelusuri
pemahaman doktrin, metode penafsiran dan penerapan praktis yang
dikemukakan oleh Cole, dan semuanya itu akan dinilai dari standar
perspektif teologi Reformed.
TEOLOGI SISTEMATIKA EDWIN LOUIS COLE
Kebanyakan karya tulis Cole memang bersifat praktis yang
membicarakan masalah-masalah kaum pria, sehingga untuk menemukan
sistematika berpikirnya secara teologis merupakan perjuangan yang tidak
mudah. Ada sebagian orang Kristen awam dan bahkan hamba Tuhan
berpendapat bahwa buku praktis tidak perlu dinilai secara teologis.
Pernyataan ini sama sekali tidak mendidik, sebab itu terkandung
pemahaman yang mau memisahkan antara ajaran dan tindakan, padahal
Alkitab menyatakan pentingnya keseimbangan antara ajaran dan
perbuatan praktis (lih. Mat. 28:19-20; 2Tim. 3:16-17; Tit. 2:7-8; 2Ptr. 1:5-7).
Karena itu dalam perspektif Reformed dipahami bahwa teologi
mempengaruhi cara berpikir dan tindakan manusia, seperti pernyataan
4
“Our Profile,” http://www.cmnindonesia.org/our-profile/blog (diakses 6 Mei 2011).
Ibid.
6
Seorang awam dengan inisial J. R. di New York mempertanyakan kebenaran
ajaran Cole dari perspektif Reformed, “Edwin Louis Cole?” http://www.puritan
board.com/f15/edwin-louis-cole-236/ (diakses 6 Mei 2011).
5
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
211
“what theology has to say, therefore, affects all that man thinks and does,”7
dan juga “theology is the ministry of the Word to the world: the application
of the Bible to all areas of life.”8 Cole sendiri berulangkali menuliskan
susunan pikiran yang coba disistematiskan, seperti hal cara Tuhan
berbicara kepada manusia,9 tentang pola pewahyuan dan proses kristalisasi
yang coba diterapkan dalam masalah perkawinan, 10 bahkan ia mencoba
mengutarakan pola Tritunggal bahwa Anak sebagai visioner, Roh Kudus
sebagai administrator, dan Bapa sebagai penguasa, 11 dan ia mengakui
bahwa Alkitab disebut pula sebagai buku doktrin selain sejarah, puisi,
amsal, silsilah, hukum, nubuat dan biografi.12 Dari beberapa contoh dan
melalui buku-buku yang ada menyatakan bahwa ia sama sekali tidak mau
belajar teologi sistematika yang sebenarnya akan membantu dan
mengarahkannya untuk memiliki konsep berpikir kristiani yang patut dan
bertanggung jawab. Karena itulah penulis menemukan banyak sekali
ungkapan-ungkapan Cole yang bertentangan dengan teologi sistematika
Reformed.
Doktrin Dosa
Dosa adalah ciri khas ajaran pria sejati sesuai dengan panggilan yang
dipercayai Cole untuk menegur dan mengungkapkan banyaknya dosa
percabulan di antara kaum pria,13 dan diyakininya bahwa dosa-dosa seksual
akan menjadi masalah dalam gereja pada tahun 1980-an.14 Keberanian
Cole untuk menegur dosa dalam setiap pelayanannya memang dapat dinilai
positif, namun pemahaman doktrinalnya tentang dosa perlu diwaspadai
sebab tidak sesuai dengan doktrin Kristen, yaitu: pertama, Cole
menyatakan bahwa dosa tidak memiliki sifat turun-menurun.15 Konsep dan
7
Henry Stob, Theological Reflections: Essays on Related Themes (Grand Rapids:
Eerdmans, 1981) 83.
8
Pernyataan dari John Frame dan dituliskan oleh Vanhoozer, “What is Everyday
Theology?” dalam Everyday Theology; (aed. Kevin J. Vanhoozer, Charles A. Anderson
dan Michael J. Sleasman; (Grand Rapids: Baker, 2007) 15.
9
Cole, Real Man 76-77.
10
Ibid. 79-81.
11
Ibid. 73.
12
Edwin Louis Cole, Maximized Manhood (New Kensington: Whitaker, 1982) 176.
13
Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria (Jakarta: Metanoia, 1993) 23.
14
Edwin Louis Cole, Tetap Tegar di Tengah Masa Sukar (Yogyakarta: Andi,
1994)195.
15
Cole, Kesempurnaan 62; Cole, Maximized 61.
212
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
pemikiran ini sangat bertentangan dengan doktrin Kristen yang diajarkan
Alkitab bahwa dosa telah merusak manusia sebab dosa memiliki karakter
yang absolut, sehingga moralitas manusia telah rusak total dan
kecenderungan hatinya membuahkan kejahatan/dosa 16 (bdk. Kej 6:5).
Calvin sendiri menegaskan “bahwa setiap bagian pada diri manusia, mulai
dari pengertian hingga kehendak, dari jiwa hingga tubuh, semuanya
tercemar dan seluruhnya dikuasai oleh nafsu dosa.”17
Kedua, Cole mempercayai bahwa dosa akan terhilang hanya dengan
pengakuan mulut.18 Pikiran seperti ini adalah naif, sebab ia menganggap
dosa itu terlalu ringan. Sekalipun benar bahwa pengakuan dosa terhadap
Allah akan mendapatkan pengampunan (1Yoh. 1:9), 19 namun ia telah
mencampuradukkan antara pengakuan dosa kepada Allah dengan kepada
manusia, sehingga ia menganggap pengakuan dosa harus diampuni oleh
siapapun yang menghadapinya agar tidak terpengaruh oleh dosa yang
sama.20 Padahal Alkitab memandang serius bagi siapapun yang berbuat
dosa, dan itu memerlukan penanganan yang memadai dan sungguhsungguh (Mat. 18:15-20).
Ketiga, Cole mengajarkan kutuk-kutuk dosa bagi keturunan dalam
keluarga yang dapat diturunkan jika tidak dihentikan,21 sehingga ajarannya
sangat bertentangan dengan poin pertama mengenai dosa yang tidak
memiliki sifat turun menurun. Sekalipun ia menyatakan bahwa kutukan
dosa itu dapat dihapuskan melalui pengampunan dengan pengakuan
mulutnya 22 sesuai dengan poin kedua yang diajarkannya, namun di sini
Cole terlihat sangat tidak konsisten dalam mengajarkan arti dosa sesuai
dengan ajaran Alkitab, sebaliknya ia mengikuti pola pemahaman kalangan
Pantekosta dan Karismatik mengenai kutuk dosa turunan. Ajaran kutuk
dosa turunan biasanya didasarkan pada Keluaran 20:5, 6; 34:6, 7; Bilangan
14:18; dan Ulangan 5:9, 10. Mereka memakai ayat-ayat Alkitab hanya
sebagai kutipan untuk mendirikan pandangan dan ajarannya tanpa
memperhatikan konteksnya dengan baik.
Ayat-ayat itu semuanya
16
John F. MacArthur, Jr., Hamartologi (Malang: Gandum Mas, 2000)97-101; Louis
Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 1986) 231-233, 240.
17
Franҫois Wendel, Calvin: Asal Usul dan Perkembangan Pemikiran Religiusnya
(terj. Ichwei G. Indra, Kalvin Surya, Merry Debora; Surabaya: Momentum, 2010) 207.
18
Cole, Kesempurnaan 45; Cole, Maximized 47.
19
Ibid. 45-46.
20
Ibid. 57-61; Maximized 58.
21
Edwin Louis Cole, Suami Idaman Dambaan Wanita (terj. Yan Iskandar; Jakarta:
Metanoia, 2005) 82-83.
22
Ibid. 83.
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
213
dituliskan oleh Musa untuk bangsa Israel dalam rangka melengkapi umatNya yang akan hidup di tengah-tengah bangsa kafir. Karena itu Musa ingin
mengajarkan bahwa (i) Tuhan sangat berbeda dengan para ilah kafir, sebab
Ia menuntut loyalitas atau kesetiaan ibadah dan persembahan korban yang
tidak dapat dikompromikan. Dalam hal ini monoteisme yang diajarkan
Tuhan melalui Musa sangat berbeda dengan paganisme kekafiran; (ii)
karena itu generasi penerus umat Israel harus belajar bagaimana mengasihi
dan menaati Tuhan dengan pemahaman yang benar dan moralitas yang
bersih, sesuai dengan konteks dan maksudnya dengan pemberian kesepuluh hukum Taurat itu; sebaliknya (iii) dari semua ayat-ayat itu
dituliskan dengan lugas tentang “kutuk turunan” yang ditujukan kepada
“mereka yang membenci Aku,” sehingga itu dimaksudkan buat mereka
yang bukan umat-Nya; (iv) lagi pula harus diingat bahwa dalam kehidupan
umat Israel tidak pernah dipraktikkan pengutukan terhadap keturunan,
sebab mereka tidak pernah memahami ajaran Musa dalam ayat-ayat itu
sebagai “kutuk turunan” secara harafiah (lih. 2Raj. 14:6; 2Taw. 25:4; Yeh.
18:1-4, 14-20; Yer. 31:29-30; Dan. 9:4, 5, 7-9; bdk. Yoh. 8:11; 9:3; Rm. 2:5, 6;
14:10-12); dan yang paling krusial adalah (v) melalui pengorbanan Yesus
Kristus, setiap orang percaya telah dibebaskan dan ditebus secara
sempurna dari kutuk dosa (Yoh. 8:36; Kol. 2:13-15).23 Jadi ajaran tentang
kutuk dosa turunan merupakan ajaran manusia yang telah menyimpang
dari maksud firman Tuhan, dan ajaran ini telah mengurangi kesempurnaan
karya penyelamatan Kristus dan menambahkan pandangan kafir ke dalam
ajaran Alkitab.
Keempat, Cole menganggap bahwa Adam diusir dari taman Eden
karena menolak bertanggung jawab atas dosanya. 24 Ia berpendapat
demikian dengan menyatakan banyak sarjana Alkitab yang menafsirkan
demikian, namun ia tidak menginformasikan nama sarjana yang ada.
Terlepas dari perdebatan sarjana yang mana, pemahaman ini sangatlah
menyimpang. Teologi Reformed memahami diusirnya Adam dari taman
Eden adalah karena dosa pemberontakannya melawan dan melanggar
perintah Allah, sebaliknya tidak bertanggung-jawabnya Adam adalah
akibat dari dosa yang menghasilkan kesesatan.25
23
W. E. Nunnally, “Generational Curses: The Sins of Generational Curse,”
http://storage.cloversites.com/foresthillscommunitychurch/documents/GenerationalCurs
e.pdf (di akses 23 Mei 2011)
24
Cole, Real Man 127; Maxmized 163; Suami Idaman 107.
25
Lih. MacArthur, Jr., Hamartiologi 120-123.
214
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Kelima, berkaitan dengan ajaran Cole tentang doktrin dosa dan
manusia, ia telah masuk ke dalam ajaran yang sangat berbahaya dan
menyesatkan karena ia menyatakan bahwa
manusia diciptakan dan dibentuk sesuai dengan gambar Allah di dalam
kegelapan dan air, dilahirkan untuk hidup di udara dan di dalam terang,
yang merupakan suatu perubahan yang alami. Kita diciptakan di dalam
kegelapan dan dosa, dilahirkan untuk hidup di dalam kebenaran dan
terang, yang merupakan suatu perubahan yang adikodrati.26
Kalimat Cole ini mungkin oleh sebagian orang dianggap sebagai gambaran
keadaan manusia pada umumnya yang dilahirkan dalam dosa, sehingga
setiap insan diharuskan untuk dilahirkan kembali di dalam Kristus. Namun
sebagai orang yang mengklaim dirinya diurapi oleh Tuhan untuk menjadi
nabi bagi zamannya seharusnya ia berhati-hati mengucapkan kalimat yang
rancu dan ambigu. Pernyataannya ini memiliki kandungan ajaran gnostik
yang berkembang pada permulaan gereja yang menganut dualisme antara
yang rohani dan yang materi bahwa “Allah Demiurge” yang lebih rendah
telah memenjarakan jiwa manusia ke dalam tubuh materi dalam
penciptaan.27
Doktrin Kristus dan Doktrin Allah
Yesus yang dijadikan panutan dalam Gerakan Pria Sejati mendapatkan
penekanan yang sangat dalam setiap tulisan Cole. Dalam aspek doktrin
tentang Kristus, ia mengakui segi keilahian dan kemanusiaan Yesus yang
berulang kali diungkapkannya.28 Berkaitan dengan pemahaman tentang
keilahian Yesus, ia mengakui Yesus sebagai Anak Allah, dan implikasinya
pada ajaran Tritunggal terlihat cukup memadai, 29 walaupun ada satu
pernyataannya yang perlu dipertanyakan berkaitan dengan imajinasinya
menyebutkan Bapa sebagai the Ruler, Anak sebagai the Visionary, dan
Roh Kudus sebagai the Administrator.30 Ditelusuri dari ajaran Kekristenan
sepanjang abad, pernyataan Tritunggal dari Cole ini tidak pernah diajarkan
26
Cole, Suami Idaman 235.
Harold O. J. Brown, Heresies: The Image of Christ in the Mirror of Heresy and
Orthodoxy from the Apostles to the Present (Grand Rapids: Baker, 1988) 40.
28
Cole, Real Man 4, 36, 205; Maximized 65.
29
Cole, Maximized 21, 158; Real Man 40.
30
Cole, Real Man 73.
27
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
215
oleh para teolog dan Bapa-bapa Gereja dalam arus utama Kristen.
Ditinjau dari segi latar belakangnya yang Pentakostal terlihat bahwa
pikirannya tentang Tritunggal memiliki kemiripan dengan ajaran United
Pentecostal Church yang menganggap Tritunggal bukan sebagai tiga
pribadi yang berbeda tetapi sebagai “God’s multiple roles and works,” yaitu
berkenaan dengan fungsi dan peranan bahwa Bapa sebagai Penguasa,
Anak sebagai Pelihat, dan Roh Kudus sebagai Pengelola. Pikiran dan
ajaran dari United Pentecostal Church dikategorikan sebagai ajaran yang
tidak bisa dipertanggungjawabkan.31
Doktrin Kristus dari segi kemanusiaan yang diajarkan Cole terlihat
tidak konsisten. Di satu pihak ada beberapa pernyataan kalimatnya bahwa
“Jesus Christ is the Son of God, that He came from heaven to earth, was
born of a virgin, and lived a sinless life;” 32 “Jesus came as the ‘Word,’
assumed a flesh-and-blood body . . . ”33; dan the sinless Son of God was
facing the most reprehensible moment of His life, being made sin for us,”34
sehingga ia mengajarkan Yesus adalah Anak Allah yang menjadi manusia
dengan ketidakberdosaan, dan pemikiran ini tidak keliru melainkan tepat
sesuai dengan doktrin Injili/Reformed. Selanjutnya Cole mengungkapkan
beberapa kali segi kemanusiaan Yesus dengan pernyataan yang lebih jelas
bahwa kemanusiaan-Nya itu diciptakan sebagai perwujudan “gambar
Allah,” seperti:
suddenly realized that true manhood really meant being like Jesus, the
only Man who ever lived exactly as God had created Him to live.35
Jesus came to earth as the express image of God. He knew in whose
image He was created, and who He represented. As such, He was
secure in His identity. 36
He is not the Christ of religionists, nor the “great man” of philosophers,
but the Christ of God, the embodiment of everything originally created
in man, the ‘image’ of God.37
31
H. Wayne House, Charts of Cults, Sects, and Religious Movements (Grand
Rapids: Zondervan, 2000) 243.
32
Cole, Maximized 204.
33
Cole, Real Man 78.
34
Edwin Louis Cole, Strong Men in Tough Times (Southlake: Watercolor) 165.
35
Cole, Real Man 5.
36
Ibid. 27.
37
Cole, Strong Men 13.
216
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Di sini pemikiran Cole mengenai kemanusiaan Yesus yang diciptakan
masih berada dalam jalur berpikir yang sepantasnya, sebab inkarnasi yang
dilakukan-Nya dalam wujud manusia adalah tindakan riil bahwa Kristus
merendahkan-diri sebagai makluk ciptaan. 38 Sekalipun tidak boleh
dilupakan bahwa berulangkali Alkitab mengajarkan dan teologi Reformed
menegaskan bahwa kemanusiaan Yesus terjadi karena inkarnasi yang
dilakukan-Nya secara aktif dengan menjadi manusia, dilahirkan sebagai
manusia melalui Maria, dan dikandung melalui Roh Kudus, 39 sehingga
istilah kemanusiaan Yesus yang diciptakan mengacu pada seluruh
karakteristik kemanusiaan yang seutuhnya yang dikenakan oleh Kristus
dalam inkarnasi-Nya.
Di pihak lainnya, pemikiran Cole yang memiliki kecenderungan
penyimpangan terjadi melalui beberapa pernyataan, seperti:
and through His Sonship enabled men to become sons of God by being
born of God’s Spirit as Christ was. 40
That inward Presence re-creates the spirit of the man and renews his
mind.41
The attributes of Christ are the characteristics of true manhood. They
are evidences of Sonship to the Father. In their manifestation they
reveal the divine flow of the Spirit of Christ, which occurred first in
Him, and now in those born of His Spirit.42
Semua kalimat ini menyatakan kekeliruan yang serius dari ajaran Cole
yang menganggap bahwa kemanusiaan Yesus membutuhkan pembaruan
pikiran melalui kelahiran kembali. Dalam iman ortodoksi tidak pernah
diajarkan bahwa pikiran Yesus perlu diperbarui, sekalipun hikmat
kemanusiaan Yesus bertambah-tambah (Luk. 2:40, 52), apalagi keberanian
Cole yang menyatakan bahwa Yesus perlu dilahirkan kembali merupakan
suatu penyangkalan dan penghujatan terhadap “ketidakberdosaan” Yesus,
walaupun teologi Injili mengakui kemanusiaan Yesus yang dibatasi oleh
waktu dan kejasmaniahan-Nya.
38
Herman Bavinck, Our Reasonable Faith (terj. Henry Zylstra; Grand Rapids:
Baker, 1980) 323.
39
Lih. G. I. Williamson, The Shorter Catechism (Vol. 1; Phillipsburg: P&R, 1984)
80-84; Charles Hodge, Systematic Theology (Abridged Edition; Grand Rapids: Baker,
1988) 354; Bavinck, Our Reasonable Faith 323-327.
40
Cole, Real Man 128.
41
Cole, Strong Men 13.
42
Cole, Real Man 40.
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
217
Pikiran dan ajaran yang kontradiktif dari Cole ini harus ditanggapi
dengan serius, sebab sekalipun seolah ia mengakui Yesus sebagai Anak
Allah yang menjadi manusia, namun mengapa ia menyebutkan berulangkali kemanusiaan Yesus yang perlu diperbarui. (i) Yang menjadi
pertanyaan adalah dapatkah dari mulut yang sama mengeluarkan kalimat
yang saling bertentangan; ini merupakan disintegrasi dalam diri Cole yang
seharusnya tidak terjadi seperti yang dinasihatkan oleh Yakobus 3:9-10. (ii)
Mungkin sekali dalam pikiran Cole ketika membahas kemanusiaan Yesus,
ia mencoba untuk menyejajarkan dan mengeneralisasi dengan
kemanusiaan manusia.
Perkiraan ini terbaca dari pembahasannya
mengenai perbandingan antara Adam dan Kristus,43 dan ia terjebak untuk
menyamaratakan kesejajaran kemanusiaan Yesus dengan Adam dan
keturunannya, sehingga ia terjerumus dalam keteledoran dan
kesembronoan yang tidak bisa ditoleransi.
(iii) Yang paling
membahayakan dari ketidaksadaran Cole dari pernyataan-pernyataannya
yang salah itu adalah ketidakmauan dirinya untuk (a) mengoreksi kembali
hasil karyanya yang telah diterbitkan, dijual dan diterjemahkan ke berbagai
bahasa, serta disebarluaskan di kalangan gereja, dan (b) mengakui
kekeliruan yang fatal, sebab pernyataannya itu mengandung penyimpangan
yang mirip dengan ajaran Christadelphians, yang mengajarkan
kemanusiaan Yesus dilahirkan dari perawan Maria oleh kuasa Roh Kudus,
ketidakberdosaan Yesus disebabkan karena konsepsi ilahi-Nya, sehingga
natur kemanusiaan Yesus memiliki keinginan dosa namun karena natur
dan karakter ilahi Roh Allah yang memampukan-Nya tidak berdosa dan
menjadi teladan bagi manusia.44
Ketidakberesan pikiran dan ajaran Cole dalam kaitannya dengan
doktrin Allah semakin menjadi-jadi dengan pernyataannya sewaktu ia
mengotbahkan tentang “keperawanan” (virginitas) bahwa “God in Himself
has both the masculine and feminine characteristics. God has the ability to
be tender; He has the ability to be tough. God has the ability to be gentle;
he has the ability to be strong.”45 Dari sini terlihat begitu mudahnya Cole
melakukan penyamaan antara keadaan ilahi dengan manusiawi, padahal
keadaan ilahi tidak bisa dipersamakan dengan keadaan manusiawi, sebab
di antara keduanya memiliki perbedaan hakiki. Sekalipun di satu pihak
43
Cole, Maximized 126; Real Man 128.
House, Charts 39-40.
45
Cole, “The Glory of Virginity,” http://goodground.wsg.net/sites/default/files/
Dr.%20Edwin%20L.%20Cole%20The%20Glory%20of%20Virginity.pdf (diakses 24
April 2011).
44
218
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
ada beberapa sifat-sifat Allah yang dapat dikomunikasikan dengan manusia
karena
maksud
pewahyuan
untuk
memperkenalkan
diri-Nya
(communicable attributes), namun di pihak lainnya ada beberapa sifat-sifat
Allah yang tidak dapat dikomunikasikan dan diperbandingkan
(incommunicable attributes) karena perbedaan mendasar antara Allah dan
manusia.46 Jelas sekali Cole tidak memiliki pemikiran yang sehat dalam
memberikan pengajaran yang konsisten dan setia kepada Alkitab dan
doktrin yang benar.
Doktrin Pewahyuan
Cole memiliki pemahaman tersendiri mengenai doktrin pewahyuan
dan inspirasi dengan menjelaskan bahwa pewahyuan adalah penyataan diri
Allah kepada manusia yang mengakibatkan hidup di dalam hati dan
membawa terang dan pemahaman akan firman-Nya, dan inspirasi adalah
akibat langsung dari pewahyuan yang akan membangkitkan diri manusia
yang mendorongnya meninggalkan kehidupan lama dan memasuki
kehidupan baru.47 Menurutnya, Allah terus berbicara dalam berbagai cara
di setiap zaman untuk memberikan pewahyuan melalui firman Alkitab,
suara yang dapat didengar, malaikat, mimpi, penglihatan, Roh kepada roh,
nabi-nabi, nasihat ilahi, karunia Roh, keadaan, dan keinginan hati yang
kuat.48 Karena itu Cole menganggap bahwa gerakan yang dipelopori dalam
Gerakan Pria Sejati dengan slogan Manhood and Christlikeness are
synonymous-nya mau disejajarkan dengan gerakan Reformasi dari Luther
yang berslogan “pembenaran oleh iman,” gerakan John Wesley dengan
slogan “pengudusan,” gerakan Pentakosta dengan slogan “kuasa,” dan
Karismatik dengan slogan “pembaruan.”49
Ajaran Cole tentang pewahyuan dan inspirasi ini sangatlah berbeda
dengan teologi Reformed. Dalam teologi Reformed dipahami bahwa
pewahyuan dan inspirasi adalah dua aspek yang saling terkait erat dalam
penyataan kebenaran ilahi kepada umat manusia. Pewahyuan berkenaan
dengan penyingkapan kebenaran Allah yang bersifat supranatural, dan
inspirasi berhubungan dengan pencatatan pewahyuan ilahi ke dalam
46
Lih. Berkhof, Systematic Theology 57-63, 64-81.
Cole, Real Man 79.
48
Ibid. 76-77.
49
Ibid. 78.
47
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
219
bahasa dan perkataan manusia.50 J. I. Packer memberikan definisi bahwa
“revelation was the process whereby God disclosed to chosen men things
otherwise unknowable” (lih. Dan. 2:22, 28-29, 47; 10:1; 1Kor. 2:9-10; Ef.
3:4-5; Why. 1:1-2), “and inspiration was the correlative process whereby He
kept them from error when communicating, viva voce or in writing, that
which He had shown them,” lalu dengan mengutip Charles Hodge ia
menyatakan bahwa
revelation is the act of communicating divine knowledge by the Spirit to
the mind, and inspiration is the act of the same Spirit, controlling those
who make the truth known to others. The thoughts, the truths made
known, and the words in which they are recorded, are declared to be
equally from the Spirit.51
Dalam teologi Reformed dikenal pula dua macam pewahyuan, yaitu wahyu
umum yang diberikan kepada semua orang melalui alam semesta dan
tertanam dalam hati nuraninya, dan wahyu khusus yang diberikan secara
spesifik untuk menyingkapkan secara progresif maksud penebusan dan
keselamatan bagi manusia yang diselesaikan di dalam Yesus Kristus (bdk.
Ibr. 1:1-3), dan inspirasi mencatatkan semuanya itu dalam Alkitab yang
adalah firman Allah. 52 Dari sini terlihat bahwa Cole tidak mengerti
perbedaan definisi antara pewahyuan, inspirasi dan iluminasi
(penerangan/pencerahan).
Konsep pewahyuan dan inspirasi yang saling terkait dalam pemikiran
Cole merupakan bagian utama dari arus teologi Karismatik. Dalam
bukunya Cole sering menyatakan kesamaan antara perkataan manusia
dengan firman Allah dengan arti perkataan yang diucapkan oleh seorang
manusia bisa menjadi atau merupakan perkataan Tuhan atas seseorang,
seperti catatan yang dituliskannya bahwa “pengajaran Campbell, kata-kata
hikmat Joan [adalah] firman Allah.”53 Pernyataan ini dikaitkan dengan
pengajaran Campbell mengenai lima dosa Israel yang menyebabkan
mereka gagal memasuki tanah perjanjian, dan perkataan Joan yang
50
Bdk. John Goldingay, Models for Scripture (Grand Rapids: Eerdmans, 1994) 287-
292.
51
J. I. Packer, God has Spoken (London: Hodder and Stoughton, 1985) 25.
W. Gary Crampton, Verbum Dei (terj. Steve Hendra; Surabaya: Momentum,
2000) 31-52.
53
Cole, Kesempurnaan 12; Cole menganggap bahwa ciri/tanda utama kepriaan ada
di dalam perkataannya (Strong Men 82).
52
220
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
menyatakan bahwa dosa seks sudah menjadi problema gereja di tahun 80an.
Karena itulah Cole merasakan bahwa Roh Allah sedang
menginspirasikan dirinya dan menggerakkan pena dalam buku catatan
untuk persiapan khotbahnya. Inilah momentum krusial yang dirasakannya
karena otoritas dan perintah ilahi bagi dirinya sebagai seorang prophetpreacher,54 yang diteguhkan melalui pernyataan George Otis yang memiliki
sebuah “firman” bagi pelayanan kaum pria yang menembus relung hati
Cole,55 dan Cole sangat meyakini bahwa “manhood and Christlikeness are
synonymous” adalah pewahyuan dari Tuhan untuk disampaikan kepada
kaum pria seluruh bangsa sebagai firman Allah.56 Keyakinan Cole akan
pewahyuan ilahi atas dirinya sangatlah erat dengan latar belakangnya yang
“dilahirkan 8 tahun setelah peristiwa penting pencurahan Roh Kudus di
Azusa Street, Los Angeles, dan bertumbuh dalam api gerakan kekudusan,
yang mengajarkan keselamatan, pengudusan, dan baptisan Roh Kudus,”
dan ia merasa terpanggil karena “mata Tuhan sedang mencari seseorang
yang hatinya cocok dengan-Nya untuk menjadi orang yang dapat
dipergunakan-Nya sebagai katalisator untuk membawa perubahan pada
dunia yang membutuhkan.”
Karena itu wahyu-wahyu baru sangat
diperlukan oleh setiap generasi yang membutuhkannya,57 dan dialah orang
yang telah menerima wahyu Allah itu bahwa
tidak ada yang lebih memuaskan daripada memiliki Kebenaran yang
berkembang di dalam diri saya, masuk dalam ingatan saya, memenuhi
pikiran saya, hati saya – kedalaman diri saya yang paling dalam! –
memberikan wahyu. Menggetarkan hati!58
Prinsip dasar pemikiran Cole ini diambil dari prinsip bahwa “Words
are the expression of a man’s nature, just as God’s word is the expression of
His nature,”59 sehingga manusia, apalagi sebagai laki-laki, memiliki lima
karakteristik yang berkuasa di mana salah satunya adalah “creative power
in our words,”60 seperti yang dilakukan oleh Yesus sebagai panutan kaum
54
Cole, Maximized 15-19; Kesempurnaan 7-13; bdk. Maximized 189-190;
Kesempurnaan 165-166.
55
Ibid. 197, 173; bdk. Cole, Real Man 76-77.
56
Cole, Real Man 181.
57
Cole, Suami Idaman 51-53.
58
Ibid. 180.
59
Ibid. 27.
60
Ibid. 51.
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
221
pria dengan “giving prophetic word.”61 Bahkan Cole berpendapat bahwa
kaum pria yang diciptakan-Nya bukan hanya memiliki lima indra, tetapi
diberikan indra keenam dalam mentalitas jiwanya dan indra ketujuh dalam
kerohaniannya untuk menerima Roh Allah dan mengembangkan ciri-ciri
karakteristik ilahi dalam komunikasi dengan Allah.62 Keyakinan diri Cole
akan pewahyuan dan inspirasi ilahi atas dirinya sebagai firman Allah
semakin absolut melalui pengalaman adikodrati selama berpuasa 40 hari di
hari ke 21 dan 38 di mana Roh Allah membawanya dari kitab Kejadian
sampai kitab Wahyu tentang pola-pola pewahyuan.63 Karena itu ia tidak
segan-segan menyatakan bahwa perkataan pria dalam pelayanannya
identik dengan firman Allah, 64 sebagaimana ia mempercayai perkataan
“Allah mempunyai iman kepada para pria,” 65 sebab “para pria akan
diselamatkan,”66 melalui penglihatan seorang pemuda yang dibawa berdiri
di Bukit Zaitun saat menjalani puasanya di hari ke-10.67 Seluruh pemikiran
yang diajarkan ini terlihat semakin tidak terkendali dengan dalih
kebebasan berekspresi dari spiritualitas manusia.
Dengan demikian terlihat bahwa Cole memiliki spirit atau roh yang
berbeda dengan ajaran teologi Reformed yang bersumber pada Alkitab
yang adalah wahyu Allah. Kaum Injili yang masih setia pada teologi
Reformed sangat menyadari dan memegang teguh bahwa pewahyuan Allah
sudah genap yang berpuncak pada Yesus Kristus 68 dan sudah selesai
dengan dituliskannya Alkitab melalui penginspirasian Roh Kudus, 69
sedangkan umat Tuhan mendapatkan bimbingan iluminasi dari Roh-Nya
untuk memahami kebenaran firman-Nya. 70 Selanjutnya, apa yang
dikembangkan oleh Cole berkaitan dengan “perkataan pria menjadi sejajar
dengan firman Tuhan” merupakan bagian dari “word of faith movement”
yang dipelopori oleh E. W. Kenyon pada abad 19 dan disebarluaskan oleh
61
Ibid. 37.
Cole, Strong Men 57-59; Cole, Tetap Tegar 60-62.
63
Ibid. 61, 64.
64
Ibid. 82-86, 87-92, 91-95, 95-101.
65
Cole, Strong Men 45; Cole, Tetap Tegar 44.
66
Ibid. 46.
67
Ibid. 46-47/45-46.
68
Packer, God has Spoken 65-76.
69
Ibid. 98-118; bdk. John MacArthur, “Does God Still Give Revelation?,” The
Master Seminary Journal 14/2 (Fall 2003) 230, http://www.tms.edu/tmsj/tmsj14h.pdf
(diakses 11 Mei 2011).
70
Packer, God has Spoken 132-133.
62
222
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Kenneth Hagin pada abad 20.71 Kalangan Injili menilai bahwa gerakan
word of faith banyak beredar di kalangan Pentakosta dan Kharismatik,
sekalipun beberapa ajarannya perlu diwaspadai sebab mengandung unsur
bidat, sebaliknya beberapa ajarannya menyerupai doktrin ortodoks, maka
aliansi Injili menganggapnya sebagai “subortodoksi,” tetapi sebagian
menganggapnya sebagai “heterodoksi.” 72 Menurut analisa dari teologi
Reformed dinyatakan bahwa Kenneth Hagin dikategorikan sebagai bidat
dan sesat, 73 sebab yang diajarkan dalam gerakan ini merupakan bentuk
okultisme dari gerakan metafisika New Thought atau Christian Science.74
Dengan mengikuti pemahaman gerakan word of faith, Cole menuliskan
sebagaimana keberadaan firman Allah terhadap Allah, begitu juga
perkataan anda terhadap diri anda. . . . Perkataan mempunyai kuasa
untuk menciptakan. . . . Tiba-tiba muncul iman di dalam diri Dino, dan
kepada anaknya itu ia berkata, Saya menyatakan hidup. Hiduplah! . . .
Demikian perkataan anda sangat berkuasa.75
Karena itu Gerakan Pria Sejati yang dipelopori dan diajarkan oleh Cole
harus diwaspadai oleh setiap gereja Injili yang masih mau setia pada teologi
Reformed.
71
Derek E. Vreelan, “Reconstructing Word of Faith Theology: A Defense, Analysis
and Refinement of theology of the Word of Faith Movement,” Presented at the 30th
Annual Meeting of the Society for Pentecostal Studies (diakses 11 Mei 2011)
http://www.brothermel.net/DV_RWOFT.pdf; bdk. David Hilborn, “A Chronicle of the
Toronto Blessing and Other Related Event,” Evangelical Alliance (diakses 11 Mei 2011)
http://www.eauk.org/theology/key_papers/loader.cfm?csModule=security/getfile&pagei
d=9137.
72
Andrew Perriman, ed., “Conclusions: Word of Faith and Evangelical Unity”
Evangelical Alliance (diakses 11 Mei 2011); http://www.eauk.org/theology/acute/upload/
PROSPERITY%20CONCLUSIONS.pdf. Subortodoksi dipahami sebagai ajaran yang
berada dibawah level ortodoksi. Heterodoksi dipahami sebagai ajaran lain yang berbeda
dengan ortodoksi. Istilah heterodoksi sebenarnya sinonim dengan tidak ortodoksi
maupun bidat atau heresy.
73
http://www.apuritansmind.com/Links.htm (diakses 11 Mei 2011).
74
Alex Tang, “Examining the Theology of the Word-Faith Movement,” 20,
http://www.kairos2.com/Theology%20of%20the%20Word%20Faith%20Movement.pdf
(diakses 11 Mei 2011). Dalam ajaran Christian Science dinyatakan bahwa manusia
memiliki kuasa untuk membuang dosa (House, Charts of Sects 171), sedangkan Cole
menganggap bahwa dosa terhilang melalui pengakuan mulut (lih. poin 2 pembahasan di
atas tentang doktrin dosa), sehingga ajaran Cole memiliki kemiripan.
75
Cole, Suami Idaman 85-87.
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
223
METODOLOGI PENAFSIRAN YANG DIGUNAKAN GERAKAN
PRIA SEJATI
Metodologi penafsiran yang dilakukan oleh Cole dalam Gerakan Pria
Sejatinya didasarkan pada penyataan atau pewahyuan yang dialaminya
sewaktu berpuasa di hari ke 21 dan 38 di mana Allah menyingkapkan
seluruh Alkitab dari kitab Kejadian sampai Wahyu.76 Dari sinilah ia sangat
mempercayai dirinya telah mengetahui seluruh seluk beluk Kitab Suci
dengan semua pola penafsirannya. Karena itu dengan penuh keberanian ia
melakukan penafsiran yang tidak biasa terhadap nats-nats Alkitab, seperti
tentang
adanya dua pohon yang merupakan pusat dari semua penciptaan
manusia, yaitu pohon pertama berada di taman Eden yang
menghasilkan dosa dan kematian ketika manusia melakukan kesalahan
kekal, dan pohon kedua yaitu ketika Juru Selamat kita disalibkan,
menghasilkan kebenaran dan kehidupan karena Kristus membayar
kesalahan kita.77
Sekalipun model penafsirannya ini “tidak terlalu menyalahi”
pengertian yang ada pada umumnya secara ortodoksi, namun ia perlu
berhati-hati dalam mengartikan makna penciptaan dan keberadaan mulamula manusia. Peringatan kepada Cole dapat dibuktikan ketika ia
mengartikan bahwa “Adam memiliki kekuatan untuk bekerja dan uang,
Hawa memiliki kekuatan dalam hal seksual,”78 sehingga ia terjerumus ke
dalam model berpikir “Barat” yang mengeksploitasi seksualitas wanita.
Model penafsiran yang dilakukan oleh Cole adalah semangat zaman
pascamodern yang merupakan perwujudan era baru penafsiran neoortodoks yang dipelopori oleh Karl Barth. Penafsiran neo-ortodoks
menolak semua bentuk pengajaran ortodoksi tentang pewahyuan, inspirasi,
ketidakbersalahan (inerrancy) dan ketidak-gagalan (infallibility) Alkitab,
sebaliknya esensi utama pengertian neo-ortodoks adalah bahwa “only God
can speak for God, dan revelation is when, and only when, God speaks.”79
Karena itu pemahaman Cole tentang pewahyuan sama dengan dan
merupakan perwujudan dari neo-ortodoks, di mana ia mengatakan bahwa
76
Cole, Strong Men 61; Tetap Tegar 64.
Cole, Suami Idaman 232.
78
Ibid. 154.
79
Ibid. 69-71.
77
224
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
“by hearing His voice through those ways in which only God can
communicate, our lives changed slowly into what we are today,”80 sehingga
“understanding God’s Word always comes by way of revelation. . . .
Revelation becomes alive in the heart and brings light and understanding.
Revelation about God Himself brings a fresh flow of spiritual
expression. . . .”81 Dari sini dapat disimpulkan bahwa apa yang diajarkan
dari Gerakan Pria Sejati harus diwaspadai dengan secermat-cermatnya,
sebab ia memerankan spirit neo-ortodoks dari zaman pascamodern yang
tidak setia kepada ajaran Alkitab.
PENERAPAN PRAKTIS AJARAN GERAKAN PRIA SEJATI
Cole menyatakan bahwa “teologi hanya berguna jika dapat diterapkan.
Jika teologi anda tidak dapat diaplikasikan, itu bukanlah suatu teologi yang
baik.” 82 Melalui konsep ini ia melaksanakan semua penerapan atau
aplikasi praktis pemahaman teologisnya dalam Gerakan Pria Sejati. Ia
melalui Gerakan Pria Sejati memiliki tujuan dan konsep tentang
“keutamaan pria” dengan pernyataannya bahwa “Christlikness and
manhood are synonymous,” sehingga ia selalu mengagungkan dan
membesar-besarkan peranan pria dalam kehidupan ini. Ia beranggapan
bahwa tujuan penciptaan manusia adalah menghasilkan buah di mana
kepriaan (manhood) menjadi pokok utamanya. Walaupun ia tidak
melupakan kewanitaan,83 namun itu hanya merupakan “ketidak-mampuannya” menghindari kenyataan bahwa Tuhan telah menciptakan laki-laki dan
perempuan.84 Keobsesiannya akan keutamaan pria terbukti dari konsepnya
80
Cole, Real Man 77-78.
Ibid. 79.
82
Cole, Suami Idaman 128.
83
Cole, Maximized 66-67.
84
Namun Cole sangat diskriminatif terhadap kaum wanita, seperti anggapannya
bahwa wanita hanya memiliki kekuatan dalam hal seksual (Suami Idaman 154);
pendidikan terhadap anak-anak tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada istri sebab
anak-anak tidak akan melihat cerminan gambaran tentang Allah yang terwakili pada
kaum pria atau suami (Suami Idaman 120), padahal Alkitab menyatakan bahwa Tuhan
memperhatikan para janda dan yatim piatu (lih. Kel. 22:22; Ul. 10:18; Mzm. 68:6; Yes.
1:17; Za. 7:10; Yak. 1:27); dan yang paling nyata penekanannya pada pria adalah
anggapannya bahwa Yesus juga menjadi seorang pria (Real Man 4), sekalipun memang
benar Yesus dilahirkan sebagai laki-laki (Mat. 1:21, 23; Luk. 1:31; 2:21, 23), namun
keberadaan-Nya sebagai laki-laki tidak dieksploitasi sedemikian, sebaliknya peranan81
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
225
bahwa “para pria dalam rumah tangganya harus menjalankan dan berfungsi
sebagai imam,” 85 sehingga ia menganjurkan kepada setiap pria untuk
berani melaksanakan tugas keimamatannya dengan “melaksanakan
perjamuan kudus” dalam setiap kesempatan, apalagi dalam keadaan untuk
mengatasi berbagai gangguan yang sedang dialami oleh pria.86 Aplikasi
praktis yang dilakukannya telah berkembang menjadi liar sesuai dengan
spirit atau semangat karismatik yang tidak mau mentaati ortodoksi
pengajaran gereja. Dari sini ia telah melakukan kesalahan yang fatal dalam
dua aspek, yaitu:
Pertama, dalam hal peranan imam yang diterapkan bagi para pria
dalam rumah tangganya merupakan kesalahkaprahan dan dilebih-lebihkan,
sebab dalam PB hanya diakui adanya seorang pengantara antara Allah dan
manusia yaitu Yesus Kristus (1Tim. 2:5) yang berperan sebagai Imam
Besar bagi seluruh umat-Nya (Ibr. 4:14-5:10; 7:11-28; 8:1-13; 9:11-28),
seperti penegasan Calvin bahwa keimamatan hanya menjadi milik Kristus,
“the priesthood belongs to Christ alone.” 87 Dalam pemahaman teologi
Reformed disebutkan bahwa Kristus memiliki tiga jabatan, yaitu Nabi,
Imam dan Raja. Keimamatan Kristus didasarkan pada pengorbanan diriNya sendiri untuk pendamaian kepada Allah bagi umat-Nya, dan Kristus
menerima orang-orang percaya sebagai imamat dalam keimamatan-Nya
sebagai gereja. 88 Dengan demikian keimamatan orang percaya tidak
diperuntukkan hanya kepada para pria, melainkan juga untuk para wanita,
yaitu setiap mereka yang percaya yang dipersatukan sebagai gereja yang am,
seperti penegasan berikut “the words for priests and priesthood are applied
to Christians only in 1 Peter and Revelation. In every case, the usage is
collective; the community of Christians, not the individual Christian, is
priestly.”89 Sebaliknya PB menyatakan peranan para suami sebagai kepala
keluarga dalam hubungan timbal balik dengan istri dan anak-anaknya (Ef.
5:22-6:4; Kol. 3:18-21; 1Ptr. 3:1-7);
Nya sebagai manusia dalam inkarnasi menjadi penekanan (Mat. 2:5-6; Luk. 1:23; 2:1112, 34-35; Yoh. 1:18; Kis. 2:36; Flp. 2:5-11).
85
Cole dalam bukunya (Maximized 77-86) menguraikan secara khusus tentang
peranan imam.
86
Cole, Suami Idaman 38-40.
87
Charles Partee, The Theology of John Calvin (Louisville: Westminster John Knox,
2008) 164.
88
T. H. L. Parker, Calvin: An Introduction to His Thought (Louisville:
Westminster/John Knox, 1995) 68-70.
89
Everett Ferguson, The Church of Christ: A Biblical Ecclesiology for Today
(Grand Rapids: Eerdmans, 1996) 221.
226
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Kedua, kemudian hal pelaksanaan Perjamuan Kudus dalam setiap
kesempatan merupakan bentuk “penghinaan” terhadap sakramen Tuhan
yang seharusnya dihormati dan dihargai kesakralannya (bdk. 1 Kor. 11:1734).
Dengan mengabaikan warisan ajaran teologi Protestan yang
diteguhkan melalui pemikiran Calvin yang menegaskan bahwa “there are
two opposite faults to be avoided. The one is to minimize the signs and
thus lose what they signify. The other is to overpraise the signs so that they
obscure what they signify.”90 Anjuran pelaksanaan perjamuan kudus dalam
ajaran Cole sangat bertentangan dengan maksud semula yang diajarkan
oleh Tuhan Yesus. Bahkan ajaran pelaksanaan Perjamuan Kudus ini telah
memasuki area mistik dan magis, sebab perjamuan dipakai untuk melawan
dan mengalahkan godaan ataupun cobaan yang dihadapi kaum pria.
Sekalipun dalam teologi Reformed diajarkan keimamatan orang
percaya (1Ptr. 2:9), namun dalam rangka menjaga dan mengatur ketertiban
gereja maka diperlukan penatalayanan dengan penetapan ordonansi
berdasarkan panggilan yang teruji (bdk. Kis. 2:42), seperti dinyatakan “we
must now speak of the order by which the Lord wishes his Church to be
directed,”91 dan “from this we learn how the Lord wishes his Church to be
governed. The Apostles and their successors the Pastors are commanded
to preach the Gospel, to baptize and to administer the Lord’s Supper.”92
Penerapan praktis lainnya yang ada dalam Gerakan Pria Sejati adalah
pengajaran untuk mengakui setiap dosa yang dilakukan dengan pengakuan
mulutnya untuk mendapatkan pengampunan agar dosa itu terhilang dan
tidak memiliki kekuatannya. Dari bukunya terlihat beberapa hal yang
kurang seimbang. Cole mengajak para pria untuk mengampuni ayah-ayah
mereka yang telah memberikan dampak yang buruk bagi pembentukan
karakter mereka, 93 tetapi ia tidak pernah menceriterakan bagaimana
tindakan pengampunan terhadap ayahnya yang diakuinya telah
meneladankan keburukan karakternya, kecuali disebutkan tindakannya
yang mendekatkan diri kepada Kristus.94 Kemudian Cole dengan penuh
keyakinan menyatakan “pikiran untuk berkencan merupakan barang
haram bagi saya. Bagaimanapun, pikiran seperti ini sangat tidak sopan.
Keinginan untuk mencari dan mencintai wanita lain sangat bertentangan
90
Parker, Calvin 155.
Ibid. 135.
92
Ibid. 137.
93
Cole, Suami Idaman 76-78.
94
Ibid. 46.
91
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
227
dengan sifat dasar saya. Tidak!” 95 Namun pernyataan di atas tidak
didukung oleh pengalaman lainnya, di mana ia mengisahkan
saya sering harus melayani di kota yang jauh. Saya tinggal di kamar
hotel, sendirian dan merasa tergoda. Jika demikian, saya akan
menelpon istri saya dan meminta dia mendoakan saya. Kadang-kadang
ia meminta saya menaruh gagang telepon di dada saya dan ia
mendoakan hati saya, hidup saya, berdoa syafaat khususnya bagi roh
saya.96
Kemudian ia menceritakan
saya pernah ke Hawaii hanya untuk berkhotbah, dan setelah itu berada
selama dua hari di hotel sendirian sebelum pulang ke rumah. . . . Saya
merasa terdorong untuk bergabung dengan orang-orang itu dan
bergabung dengan kelompok wanita muda. Setelah 30 tahun menikah,
godaan masih bisa datang. Ketika saya duduk di kamar hotel, dengan
pergumulan hati nurani antara yang benar dan yang salah, saya menjadi
bimbang, roh saya bertarung mempertahankan moralitas.97
Dari sini terlihat bahwa ajaran Cole dan penerapan praktisnya tidak
integral, dan menyatakan ketidak-konsistenan antara ucapan mulut Cole
dari kenyataan hidup yang dijalaninya. Karena itu ajaran teologis Cole
tidak baik untuk dianut dan diterapkan dalam Kekristenan.
KESIMPULAN
Melalui studi dan analisis di atas terlihat bahwa Gerakan Pria Sejati
merupakan ajaran yang memiliki banyak penyimpangan doktrin.
Penyimpangan doktrin yang diajarkannya sangatlah fatal dan serius,
bahkan dapat menjurus pada arah sektarian karena penekanan para
kepriaan yang dibangga-banggakannya, sekalipun ia masih mengajarkan
untuk beriman kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juru Selamat.
Rasul Yohanes dalam suratnya mengatakan “janganlah percaya akan setiap
roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab
95
Ibid. 225.
Ibid. 111.
97
Ibid. 112.
96
228
VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa
Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,” (1Yoh.
4:1-2), kemudian “setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus,
tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa
tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. Jikalau
seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah
kamu menerima dia . . . ” (2Yoh. 9-10).
Kemudian rasul Paulus menyatakan “tidak ada seorangpun yang
berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak
ada seorangpun, yang dapat mengaku ‘Yesus adalah Tuhan,’ selain oleh
Roh Kudus” (1Kor. 12:3), sebaliknya diingatkan pula bahwa “tidak usah
mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat terang” (2Kor.
11:14). Karena itu sebagai gereja yang beraliran Injili dan memegang
teologi Reformed seharusnya ajaran Gerakan Pria Sejati ditolak, selain
gerakan ini bersemangatkan karismatik, ia juga menaburkan benih-benih
ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab yang mengandung
penyimpangan karena pikiran yang tidak konsisten. Ingatlah akan
perumpamaan tentang lalang di antara gandum, di mana benih lalang
ditaburkan oleh “musuh-musuh” Allah di antara benih gandum yang
ditaburkan oleh Anak Manusia bagi gereja-Nya (Mat. 13:24-30, 36-43).
Apakah orang Kristen di era pascamodern ini telah dilanda gejala
amnesia sejarah gereja dan tidak menghargai apa yang sudah dikerjakan
dengan susah payah oleh Bapa-bapa gereja pada abad permulaan dalam
meletakkan landasan atau dasar bergereja dari tantangan pencemaran oleh
para sekte yang dicap sebagai bidat, seperti “pencerahan superior” dari
gnostik, penyimpangan Kristologi dari doketisme, dan arogansi spiritual
dari montanisme?98 Tuhan memang mengajarkan kepada orang Kristen
untuk tidak cepat menghakimi (Mat. 7:1-5) termasuk terhadap sesama yang
berbuat dosa (Mat. 18:15-20), namun tidak boleh lengah terhadap ajaran
sesat (Mat. 7:15-23; 24:24) dan harus dicermati dengan serius tanpa
melupakan kasih terhadap manusianya agar dapat diselamatkan dari
bahaya ajaran yang ada (Why. 2:2-4; 1Kor. 13:1-3). Paulus mengingatkan
gereja-Nya untuk “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (1Tim.
4:16).
Namun demikian, sebagian orang Kristen terjebak pada euforia dan
utopia Gerakan Pria Sejati dengan dalih mendapatkan banyak berkat dan
98
23.
David Watson, I Believe in the Church (London: Hodder and Stoughton, 1978)
TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF REFORMED
229
diubahkan kehidupan keluarganya. Klaim dan pengakuan ini telah
dijadikan standar pembenaran terhadap ajaran gerakan ini, sehingga
beberapa kalangan gereja Injili terbawa arus dan dengan gigih membela
serta giat menyebarluaskan Gerakan Pria Sejati sebagai gerakan yang
benar dan bermanfaat bagi kaum pria gereja. Di satu pihak, kalangan
gereja Injili memang harus menginstropeksi diri dalam hal apakah gereja
selama ini sudah melaksanakan pelayanan yang baik kepada kaum pria.
Namun di pihak lainnya, kalangan gereja Injili tidak bisa melakukan
tindakan asal comot dan ikut saja suatu gerakan yang belum diketahui
dengan baik identitasnya, apalagi berkaitan dengan ajarannya. Gereja Injili
tidak perlu ikut-ikutan tren yang digembar-gemborkan oleh gerakan ini,
sebaliknya perlu membenahi sistem pelayanan kepada semua lapisan
masyarakatnya dan disesuaikan dengan konteks kebutuhannya masingmasing. Ingatlah bahwa banyak sekali buku-buku Kristen yang amat baik
pengajaran dan pembahasannya, baik yang berhubungan dengan kaum pria,
wanita, remaja, anak-anak, bahkan tentang keluarga dan bimbingan
konseling, yang dituliskan oleh hamba-hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan
yang kompeten di bidangnya dan dapat dipertanggungjawabkan ajarannya.
Seharusnya gereja mau menyisihkan waktu untuk mencari, mempelajari
dan menemukan buku-buku rohani yang bermutu untuk menumbuhkan
kerohanian setiap orang percaya, yang akan memperlengkapinya dengan
kepekaan terhadap Tuhan dan firman-Nya, serta kewaspadaan terhadap
ajaran yang salah.
Fly UP