...

HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERSEPSI, SOSIAL BUDAYA

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERSEPSI, SOSIAL BUDAYA
UJPH4 (1) (2015)
Unnes Journal of Public Health
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph
HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERSEPSI, SOSIAL BUDAYA DENGAN
PERAN AKTIF PRIA DALAM VASEKTOMI DI KECAMATAN
PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES TAHUN 2011-2012
Afnita Ayu Rizkitama,Fitri Indrawati
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang,
Indonesia
Info Artikel
Abstrak
________________
___________________________________________________________________
SejarahArtikel:
DiterimaDesember 2014
DisetujuiDesember 2014
DipublikasikanJanuari
2015
Angka partisipasi pria dalam penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia masih sangat rendah, yaitu
hanya 2,1% peserta Keluarga Berencana pria dan mereka umumnya memakai kondom. Belum
membudayanya penggunaan vasektomi sebagai program kontrasepsi disebabkan antara lain
karena kondisi lingkungan sosial, budaya, masyarakat dan keluarga yang masih menganggap
partisipasi pria belum atau tidak penting dilakukan, pengetahuan dan kesadaran pria dan
keluarganya dalam ber-KB masih rendah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan
antara pengetahuan, persepsi dan sosial budaya dengan peran aktif pria dalam program vasektomi.
Jenis penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan studi Cross Sectional. Penelitian ini
menggunakan teknik simple random sampling. Dari hasil penelitian, ada hubungan yang bermakna
antara persepsi dengan partisipasi aktif pria dalam program vasektomi (p value = 0.047), ada
hubungan yang bermakna antara sosial budaya dengan partisipasi aktif pria dalam program
vasektomi (p value = 0.002), tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan partisipasi aktif pria
dalam program vasektomi (p value = 0.054).Akseptor vasektomi diharapkan dapat menjadi teladan
dengan melakukan pendekatan persuasif melalui perbincangan yang bersifat kekeluargaan
sehingga pria-pria lain dapat turut serta dalam program vasektomi.
________________
Keywords:
Active
Participation;Knowledge;
Perception; Social Culture;
Vasectomy
____________________
Abstract
___________________________________________________________________
Participation rate of men in the use of contraceptives in Indonesia is still very low, at only 2.1 % men and they
generally using a condom. Yet unsupported use of vasectomy as a contraceptive program is because of the social
environment, culture, society and family are still considered male participation has not been or is not
important, knowledge and awareness of men and their families in family planning still low. The purpose of this
research was to know the correlation between knowledge, perseption and social culture in men’s active
participation on vasectomy program. This research was observational with Cross Sectional study. This research
was using simple random sampling technic. Based on the result of this research, there was significant
correlation between perception and men's participation on vasectomy program (p value=0.047), there was
significant correlation between social culture and men's participation on vasectomy program (p value=0.002),
there was no correlation between knowledgeand men's participation on vasectomy program (p value=0.054).
Vasectomy acceptors were suggested to become models by doing a persuasive approach through a familial
conversation, so the other men have desire to contribute on vasectomy program.
© 2015UniversitasNegeri Semarang
Alamatkorespondensi:
GedungF1Lantai2 FIKUnnes
KampusSekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail: [email protected]
ISSN 2252-6528

48
Afnita Ayu Rizkitama / Unnes Journal of Public Health4 (1) (2015)
sekitar 97% adalah perempuan. Oleh sebab itu,
sosialisasi program KB di kalangan pria harus
ditingkatkan (Mardiya, 2010).
Berdasarkan data SDKI tahun 2012,
diketahui bahwa presentase keikutsertaan pria
dalam vasektomi berdasarkan pengetahuan
tentang alat/cara KB yaitu sebanyak 37,7%. Hal
ini berbeda dengan presentase keikutsertaan
wanita dalam tubektomi yaitu sebanyak 67,0%
(BKKBN, 2013). Selain itu, dalam profil data
kesehatan Indonesia tahun 2011 persentase
peserta KB dalam program MOP/Vasektomi
adalah yang paling sedikit diberbagai provinsi di
Indonesia termasuk di Jawa tengah, yaitu
sebanyak 3.207 jiwa atau sekitar 0,30% peserta
KB baru dan 58.318 atau sekitar 1,10% peserta
KB aktif. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di
Jawa Tengah sebanyak 6.663.396 jiwa, jumlah
peserta KB baru sejumlah 1.087.108 jiwa atau
sekitar 16,31% dan peserta KB aktif sebanyak
5.285.530
jiwa
atau
sekitar
79,32%
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2011).
Berdasarkan data dari Kementerian
Kesehatan
Republik
Indonesia
(2011),
Kabupaten Brebes merupakan daerah dengan
jumlah penduduk terbanyak di antara 35 daerah
kabupaten/kota di Jawa Tengah, yakni
1.733.869 jiwa atau 5,3% dari total penduduk
Jawa Tengah. Berdasarkan data dari BKBPP
Kabupaten Brebes (2011), jumlah Pasangan
Usia Subur (PUS) di Kabupaten Brebes
sebanyak 377.986 jiwa, jumlah peserta KB baru
sebanyak 70.783 akseptor atau sekitar 18,7%dari
jumlah PUS yang ada di Kabupaten
Brebes,dengan proporsi menurut jenis kontra
sepsi yaitu 7,6% IUD, 0,3% MOP, 1,8% MOW,
10,2% implan, 47,2% suntik, 28,5% pildan
4,3%kondom. Sedangkan jumlah peserta KB
aktif sebanyak 310.034 akseptor atau sekitar
82,0%dari jumlah PUS, dengan proporsi
menurut jenis kontrasepsi yaitu4,5% IUD, 3,9%
MOP, 1,1% MOW, 8,1% implan, 53,6% suntik,
27,7%pildan 1,2%kondom.
Berdasarkan data dari BPS Kabupaten
Brebes
(2011),
penduduk
Kecamatan
Paguyangan sekitar 96.949 jiwa. Sedangkan,
pasangan Usia Subur (PUS) pada tahun 2011 di
PENDAHULUAN
Berdasarkan proyeksi penduduk yang
dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)
pada tahun 2025, perkiraan penduduk Indonesia
sekitar 273,65 juta jiwa. Laju pertumbuhan
penduduk
Indonesia cenderung menurun,
dimana pada tahun 1971-1980 adalah 2,30%,
tahun 1980-1990 adalah 1,97%, tahun 19902000 sebanyak 1,49% dan tahun 2000-2005
turun lagi menjadi 1,3%. Namun bila dilihat
menurut provinsi, laju pertumbuhan penduduk
tersebut tidak merata, berfluktuasi dan malah
ada yang meningkat. Sementara itu, angka Total
Fertility Rate (TFR) pada pasangan usia subur di
Indonesia menurut hasil Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007
dibanding dengan tahun 2002 dari survei yang
sama tidak mengalami perubahan (Asih dan
Hadriah Oesman, 2009).
Keluarga Berencana merupakan suatu
usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah
dan jarak kehamilan dengan menggunakan
konrasepsi (Ari Sulistyawati, 2011). Dalam
program Keluarga Berencana, terdapat berbagai
jenis Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
(MKJP) diantaranya Alat Kontrasepsi Dalam
Lahir (AKDR), Alat Kontrasepsi Bawah Kulit
(AKBK) dan Kontrasepsi Mantap seperti
Vasektomi (MOP) dan Tubektomi (MOW).
Vasektomi adalah metode kontrasepsi untuk
lelaki yang tidak ingin memiliki anak lagi.Perlu
prosedur bedah untuk melakukan vasektomi
sehingga diperlukan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan
tambahan
lainnya
untuk
memastikan apakah seorang klien sesuai untuk
menggunakan metode ini (Affandi, dkk, 2011).
Angka partisipasi pria dalam penggunaan
alat kontrasepsi di Indonesia masih sangat
rendah, yaitu hanya 2,1% peserta KB pria dan
mereka
umumnya
memakai
kondom.
Persentase
tersebut
lebih
rendah
jika
dibandingkan dengan negara lain, seperti Iran
(12%), Tunisia (16%), Malaysia (9-11%),
bahkan di Amerika Serikat mencapai 32%.
Sangat sedikit pria yang mau menggunakan alat
kontrasepsi, baik kondom maupun vasektomi.
Dari total jumlah aseptor KB di Indonesia,
49
Afnita Ayu Rizkitama / Unnes Journal of Public Health4 (1) (2015)
Kecamatan Paguyangan sebanyak 26.274 jiwa
dan yang aktif menggunakan alat kontrasepsi
sebanyak 14.180 akseptor atau 53,97% dari PUS
yang ada. Dengan persentase peserta baru MOP
sebesar 0,7% dan persentase peserta aktif MOP
sebesar 1,2% (BKBPP Kabupaten Brebes, 2011).
Menurut Laporan Perkembangan Akseptor
Baru di Kecamatan Paguyangan, perolehan
peserta KB di kecamatan Paguyangan sampai
dengan bulan Desember 2011 sebanyak 30
akseptor atau sekitar 0,92% dari 3271 akseptor
yang ada, sedangkan sampai bulan Desember
2012 sebanyak 59 akseptor baru atau sekitar
1,6% dari jumlah akseptor baru sebanyak 3473
akseptor
(UPT
BKBPP
Kecamatan
Paguyangan, 2012).
Berdasarkan data yang diperoleh, peserta
baru maupun peserta KB aktif pria lebih sedikit
bila dibandingkan dengan peserta baru maupun
peserta aktif wanita. Keikusertaan peserta yang
paling sedikit terutama adalah pada program
vasektomi dalam program kontrasepsi pria.
Belum membudayanya penggunaan vasektomi
sebagai program kontrasepsi disebabkan antara
lain karena kondisi lingkungan sosial, budaya,
masyarakat dan keluarga yang masih
menganggap partisipasi pria belum atau tidak
penting dilakukan, pengetahuan dan kesadaran
pria dan keluarganya dalam ber-KB masih
rendah dan keterbatasan penerimaan dan
aksesbilitas pelayanan kontrasepsi pria masih
terbatas (BKKBN, 2005).
ada sampel yang drop out. Instumen yang
digunakan dalam penelitianini adalah kuesioner
dan lembar dokumentasi.
METODE
Karakteristik Responden
Umur reponden pada saat program
vasektomi dilakukan yang paling banyak
berumur 41-50 tahun sebanyak 60%, sedang
responden yang paling sedikit dari kelompok
umur < 30 tahun yaitu sebanyak 4%.Pendidikan
responden yang paling banyak SD sebanyak
90%, diikuti lulus SMP sebanyak 10%.
Pekerjaan responden paling banyak yaitu petani
sebanyak 82%, diikuti wiraswasta 10% dan
pegawai swasta 8%. Jumlah anak responden
paling banyak yaitu >3 sebanyak 76%, diikuti
jumlah anak 2 dan 3 sebanyak 12%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Geografis
Kecamatan Paguyangan merupakan salah
satu kecamatan yang terletak disebelah selatan
ibukota Kabupaten Brebes dengan jarak lebih
kurang 84 Km. KecamatanPaguyangan terdiri
dari 12 desa yaitu:Desa Kedungoleng,
Winduaji, Wanatirta, Paguyangan, Pakujati,
Taraban, Pagojengan, Kretek, Ragatunjung,
Cilibur, Cipetung, dan Pandansari yang terdiri
dari 75 RW dan 579 RT.
Kondisi Monografis
Berdasarkan data dari BPS Kabupaten
Brebes (2013), jumlah penduduk Kecamatan
Paguyangan yaitu sebanyak 97691 jiwa yang
terdiri dari 49456 penduduk laki-laki dan 51000
penduduk
perempuan.Berdasarkan
jenis
kelamin jumlah penduduk laki-laki hampir sama
atau tidak berbeda banyak dengan jumlah
penduduk wanita, sedangkan jumlah usia
produktif (15 sampai 59 tahun) lebih besar bila
dibandingkan dengan usia non produktif yaitu
(0 sampai 14 tahun). Sebanyak 80,48% dari
pasangan usia subur (PUS) sebesar 19291
menggunakan kontrasepsi dengan berbagai
jenis/cara untuk ikut KB.
Jenis penelitian ini adalah penelitian
observasional dengan rancangan studi potong
lintang (Cross Sectional). Teknik pengambilan
sampel pada penelitian ini adalah simple random
sampling
yang
didasarkan
pada
suatu
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti
sendiri, berdasarkan sifat atau ciri-ciri yang
sudah diketahui sebelumnya sehingga diperoleh
47 orang akseptor vasektomi dan besarsampel
yang ikut dalam penelitian ini sebanyak 50
orang akseptor vasektomi. Sampel yang ikut
lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
sampel minimal dikarenakan untuk menjaga
50
Afnita Ayu Rizkitama / Unnes Journal of Public Health4 (1) (2015)
Analisis Univariat
Pengetahuan
Jumlah responden menurut pengetahuan
dapat dilihat pada tabel berikut:
Berdasarkan tabel,dapat diketahui bahwa
sosial budaya responden terhadap program
vasektomi paling banyak mendukung adanya
program vasektomi, sebanyak 86%. Sedangkan
jumlah responden yang tidak mendukung
sebanyak 14%.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
RespondenTerhadap Program Vasektomi
No Pengetahuan
f
Persentase
Pengetahuan
2
4
rendah
Pengetahuan
48
96
tinggi
Jumlah
50
100
Partisipasi Aktif Pria dalam Program
Vasektomi
Jumlah responden menurut partisipasi
aktif pria dalam program vasektomi dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Distribusi Frekuensi PartisipasiAktif
Priadalam Program Vasektomi
No
PartisipasiAktifPria
f
Persentase
1
Tinggi
45
90
2
Rendah
5
10
Jumlah
50
100
Berdasarkan tabel,dapat diketahui bahwa
pengetahuan responden terhadap program
vasektomi paling banyak tinggi, sebanyak 96%.
Sedangkan
responden
yang
memiliki
pengetahuan rendah sebanyak 4%.
Persepsi
Jumlah responden menurut
dapat dilihat pada tabel berikut:
Berdasarkan tabel, dapat diketahui bahwa
partisipasi aktif pria dalam program vasektomi
paling banyak tinggi sebanyak 90%. Sedangkan
jumlah responden yang partisipasi aktifnya
dalam program vasektomi rendah sebanyak
10%. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya
pendidikan responden, sehingga pengetahuan
yang tinggi tidak disertai dengan tingginya
partisipasi aktif pria dalam program vasektomi.
reward
Selain
itu,
adanya
pemberian
(penghargaan) juga merupakan salah satu faktor
yang menarik minat pria untuk berpartisipasi
dalam program vasektomi.
persepsi
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Persepsi
Responden Terhadap Program Vasektomi
No Persepsi
f
Persentase
Positif
38
76
Negatif
12
24
Jumlah
50
100
Berdasarkan tabel,dapat diketahui bahwa
persepsi responden terhadap program vasektomi
paling banyak memiliki persepsi yang positif,
sebanyak 76%. Sedangkan responden dengan
persepsi negatif sebanyak 24%.
Analisis Bivariat
Untuk mengetahui besarnya pengaruh
dari variabel pengetahuan terhadap partisipasi
aktif pria dalam program vasektomi, digunakan
analisis tabel (2x2) dilakukan pada semua
variabel bebas yang diteliti terhadap partisipasi
aktif pria dalam program vasektomi dengan
menggunakan p value dengan tingkat kesalahan
(α) yang digunakan yaitu 0,05. Hasil analisis
terlihat pada tabel berikut :
Sosial Budaya
Jumlah responden menurut sosial budaya
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Sosial Budaya
RespondenTerhadap Program Vasektomi
No SosialBudaya
f
Persentase
Mendukung
43
86
Tidakmendukung
7
14
Jumlah
50
100
51
Afnita Ayu Rizkitama / Unnes Journal of Public Health4 (1) (2015)
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Hubungan
Pengetahuan dengan Partisipasi Aktif Pria
dalam Program Vasektomi
Pengetahuan Partisipasi Aktif Pria Total
dalam
Program
Vasektomi
Rendah
Tinggi
Rendah
1
1
2
%
50
50
100%
Tinggi
4
44
48
%
8,3
91,7
100%
negatif yaitu 75%. Pada responden dengan
partisipasi aktif pria rendah proporsi terbesar
pada responden dengan persepsi tentang
program vasektomi negatif yaitu 25% dan
proporsi terrendah pada responden dengan
persepsi positif yaitu 5,3%.
Berdasarkan hasil ujiChi Square diperoleh
hasil bahwaterdapat hubungan yang signifikan
antara persepsi dengan partisipasi aktif pria
dalam program vasektomi. Dengan uji Chi
Square (α=0,05) didapatkan p value 0,047.
Pada
tabel,
menunjukkan
bahwa
partisipasi aktif pria dalam program vasektomi
dengan kriteria tinggi, proporsi terbesar pada
responden
dengan
pengetahuan
tentang
program vasektomi tinggi yaitu 91,7% dan
proporsi terrendah pada responden dengan
pengetahuan rendah yaitu sebesar 50%. Pada
responden dengan partisipasi aktif pria rendah
proporsi terbesar pada responden dengan
pengetahuan tentang program vasektomi rendah
yaitu 50% dan proporsi terrendah pada
responden dengan pengetahuan tinggi yaitu
8,3%.
Chi Square
Berdasarkan hasil uji
diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan
antara pengetahuan dengan partisipasi aktif pria
dalam program vasektomi. Dengan uji Chi
Square (α=0,05) didapatkan p value 0,054.
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Hubungan Sosial
Budaya dengan Partisipasi Aktif Pria dalam
Program Vasektomi
Sosial
Partisipasi Aktif Pria Total
Budaya
dalam
Program
Vasektomi
Rendah
Tinggi
Tidak
3
4
7
mendukung
%
42,9
57,1
100%
Mendukung 2
41
43
%
4,7
95,3
100%
Pada
tabel,
menunjukkan
bahwa
partisipasi aktif pria dalam program vasektomi
dengan kriteria tinggi, proporsi terbesar pada
responden dengan sosial budaya dalam program
vasektomi mendukung 95,3% dan proporsi
terrendah pada responden dengan sosial budaya
tidak mendukung yaitu sebesar 57,1%. Pada
responden dengan partisipasi aktif pria rendah
proporsi terbesar pada responden dengan sosial
budaya dalam program vasektomi tidak
mendukung yaitu 42,9% dan proporsi terrendah
pada responden dengan sosial budaya
mendukung yaitu 4,7%. Berdasarkan hasil
ujiChi Square diperoleh hasil bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara sosial budaya
dengan partisipasi aktif pria dalam program
vasektomi. Dengan uji Chi Square (α=0,05)
didapatkan p value 0,002.
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Hubungan
Persepsi dengan Partisipasi Aktif Pria dalam
Program Vasektomi
Persepsi Partisipasi Aktif Priadalam Total
Program Vasektomi
Rendah
Tinggi
Negatif
3
9
12
%
25
75
100%
Positif
2
36
38
%
5,3
94,7
100%
Pada
tabel,
menunjukkan
bahwa
partisipasi aktif pria dalam program vasektomi
dengan kriteria tinggi, proporsi terbesar pada
responden dengan persepsi tentang program
vasektomi positif yaitu 94,7% dan proporsi
terrendah pada responden dengan persepsi
52
Afnita Ayu Rizkitama / Unnes Journal of Public Health4 (1) (2015)
persepsi positif terhadap program vasektomi, hal
ini ditandai dengan banyaknya responden yang
menjawab benar pada pertanyaan tentang
persepsi yang terdapat pada kuesioner.
Menurut Wuryaningsih (2008), faktor
yang
mempengaruhi
tindakan
adalah
pengetahuan, persepsi, emosi, motivasi dan
lainnya. Persepsi dapat diartikan sebagai proses
yang menyangkut masuknya informasi ke dalam
otak manusia melalui pancaindra yang
kemudian memberikan tanggapan dan informasi
terhadap suatu
obyek
sehingga dapat
mempengaruhi perilaku.
Hubungan antara Pengetahuan dengan
Partisipasi Aktif Pria dalam Program
Vasektomi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
responden
yang
pengetahuannya
tinggi
sebanyak 96% berpartisipasi aktif dalam
program vasektomi. Sedangkan pada responden
dengan pengetahuan rendah, sebanyak 4%.
Sebanyak 90% responden yang berpendidikan
SD memiliki pengetahuan rendah dan
partisipasi aktif dalam program vasektominya
tinggi yaitu sebanyak 50%, sebanyak 50%
responden lainnya memiliki pengetahuan
rendah dan partisipasi aktif dalam program
vasektomi rendah. Sejalan dengan pendapat
Budisantoso (2008) yang menyatakan bahwa
peningkatan
pengetahuan
tidak
selalu
menyebabkan perubahan perilaku.
Hubungan antaraSosial Budaya dengan
Partisipasi Aktif Pria dalam Program
Vasektomi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
responden yang sosial budayanya positif
sebanyak 86% berpartisipasi aktif dalam
program vasektomi. Sedangkan pada responden
dengan pengetahuan rendah, sebanyak 4%.
Didukung oleh penelitian Ekarini (2008) yang
menyatakan ada hubungan yang bermakna
antara sosial budaya terhadap KB dengan
Partisipasi pria dalam Keluarga Berencana ( p
value = 0,024).
Hubungan antara Persepsi dengan Partisipasi
Aktif Pria dalam Program Vasektomi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
responden yang persepsinya positif sebanyak
76% berpartisipasi aktif dalam program
vasektomi. Sedangkan pada responden dengan
persepsi negatif, sebanyak 24%. Responden
dalam penelitian ini paling banyak memiliki
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka
dapat diperoleh simpulan yaitu ada hubungan
yang bermakna antara persepsi dengan
partisipasi aktif pria dalam program vasektomi
yaitu semakin positif persepsi, maka semakin
tinggi partisipasi aktif pria dalam program
vasektomi ( p value = 0.047). Ada hubungan
yang bermakna antara sosial budaya dengan
partisipasi aktif pria dalam program vasektomi
yaitu semakin mendukung sosial budaya pria,
maka semakin tinggi partisipasi aktif pria dalam
program vasektomi ( p value = 0.002).Tidak ada
hubungan antara pengetahuan tentang program
vasektomi dengan partisipasi aktif pria dalam
program vasektomi, tingginya pengetahuan
tidak mempengaruhi tingginya partisipasi aktif
pria dalam program vasektomi ( p value =
0.054).
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, B, dkk. 2011.Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kontrasepsi. Bina Pustaka Sarwono
Prawiro hardjo. Jakarta.
Asih, L danHadriah, O. 2009.Analisis Lanjut SDKI
2007:Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.
Jakarta.
Laporan
BKBPP
Kabupaten
Brebes.
2011.
Kependudukan BKBPP Kabupaten Brebestahun
2011.Tidak Dipublikasikan.
BKKBN.2005.Peningkatan Partisipasi Priadalam KB
dan KR. BKKBN.Jakarta.
-----------. 2013. Survei Demografi dan Kependudukan
Indonesia Tahun 2012. BKKBN. Jakarta.
BPS Kabupaten Brebes.2011 .Kabupaten Brebes
dalamAngka.BPS KabupatenBrebes.Brebes.
53
Afnita Ayu Rizkitama / Unnes Journal of Public Health4 (1) (2015)
.2013.Kabupaten Brebes dalam Angka.BPS Kabupaten
Brebes.Brebes.
Faktor-Faktor Yang
Budisantoso,
SI.
2009.
Berhubungan Dengan Partisipasi Pria Dalam
Keluarga Berencana di Kecamatan Jetis
Kabupaten Bantul Tahun 2008. Tesis.
Universitas Diponegoro. Semarang.
yang
Ekarini,
SMB.2008.AnalisisFakor-Fakor
Berpengaruh teradap Parisipasi Priadalam KB
di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Tesis.
Universitas Diponegoro Semarang.
Mardiya.Mitos Seputar Vasektomi. 9 Desember 2010.
diakses
18
Maret
2014.
(http://mardiya.wordpress.com/2010/12/09
/mitos-seputar-vasektomi/).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2011.
Data/Informasi Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah.Pusat
Data
dan
Informasi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta.
Sulistyawati, A. 2013. Pelayanan Keluarga Berencan.
Salemba Medika. Jakarta.
UPT BKBPP Kecamatan Paguyangan. 2012.Laporan
KependudukanUPT
BKBPP
Kecamatan
Paguyangan tahun 2012.Tidak Dipublikasikan.
Wuryaningsih, T. 2008.Hubungan Antara Pengetahuan
dan Persepsi dengan Perilaku Masyarakat dalam
Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam
Berdarah Dengue (PSN DBD) Di Kota
Kediri.Tesis.UniversitasSebelasMaret.
Surakarta.
54
Fly UP