...

7_pendekar_super_sakti_tamat

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

7_pendekar_super_sakti_tamat
_________________________________________________________________
Anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun itu mengintai dari kaca jendela dengan
muka marah, mata merah dan gigi berkerot saking marah dan sedihnya menyaksikan
keadaan di ruangan dalam rumah gedung ayahnya. Ruangan itu luas dan terang-benderang,
suara tetabuhan musik terdengar riuh di samping gelak tawa tujuh orang pembesar Mancu
yang sedang dijamu oleh ayahnya. Dari luar jendela ia tidak dapat menangkap suara
percakapan yang diselingi tawa itu karena amat bising bercampur suara musik, akan tetapi
menyaksikan sikap ayahnya terhadap para tamu pembesar itu, anak ini menjadi marah dan
sedih. Ayahnya bicara sambil membungkuk-bungkuk, muka ayahnya yang biasanya bengis
terhadap para pelayan dan angkuh terhadap orang lain, kini menjadi manis berlebih-lebihan,
ter-senyum-senyum dan mengangguk-angguk, bahkan dengan kedua tangan sendiri
me-layani seorang pembesar yang brewok tinggi besar, menuangkan arak sambil
membungkuk-bungkuk.
Ayahnya yang dipanggil ke kanan kiri oleh para pembesar, menjadi gugup dan kakinya
tersandung kaki meja, guci arak yang dipegangnya miring, isinya tertumpah dan sedikit arak
menyiram celana dan sepatu seorang pembesar lain yang bermuka kuning. Anak itu dari luar
jen-dela melihat betapa pembesar ini melototkan mata, mulutnya membentak-bentak dan
tangannya menuding-nuding ke arah sepatu dan celananya. Ayahnya cepat berlutut dan
menggunakan ujung bajunya menyusuti sepatu dan celana itu sambil mengangguk-angguk
dan bersoja seperti seekor ayam makan padi! Tak terasa lagi air mata mengalir keluar dari
sepasang mata anak laki-laki itu, mem-basahi kedua pipinya dan ia mengepalkan kedua
tangannya.
Ia marah dan sedih, dan terutama sekali, ia malu! Ia malu sekali menyak-sikan sikap
ayahnya. Mengapa ayahnya sampai begitu merendahkan diri? Bukan-kah ayahnya terkenal
sebagai Sie-wangwe (Hartawan Sie) yang amat kaya raya dan disegani semua orang, bukan
hanya ka-rena kaya rayanya, melainkan juga ka-rena ia terkenal pula dengan nama Siesiucai (Orang Terpelajar Sie). Ayahnya hafal akan isi kitab-kitab, bahkan dia sendiri telah
dididik oleh ayahnya itu menghafal dan menelaah isi kitab-kitab kebudayaan, dan kitab-kitab
filsafat. Semenjak berusia lima tahun, dia telah belajar membaca, kemudian membaca kitabkitab kuno dan oleh ayahnya diharuskan mempelajari isi kitab-kitab itu yang menuntun orang
mempelajari hidup dan kebudayaan sehingga dapat menjadi seorang manusia yang berguna
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
1
dan baik. Akan tetapi, mengapa setelah kini menghadapi pembesar-pembesar Mancu,
ayahnya men-jadi seorang penjilat yang begitu ren-dah?
Anak itu bernama Han, lengkapnya Sie Han dan panggilannya sehari-hari adalah Han Han.
Dia putera bungsu Ke-luarga Sie, karena Sie Bun An yang di-sebut Hartawan Sie atau
Sastrawan Sie hanya mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah seorang anak
perempuan, kini telah berusia tujuh belas tahun, bernama Sie Leng. Han Han adalah anak
ke dua.
Pada saat itu, Han Han yang meng-intai dari balik kaca jendela, melihat ayahnya sudah
bangkit kembali, agaknya mendapat ampun dari pembesar muka kuning, dan kini
menghampiri pembesar brewok yang sudah setengah mabuk dan memanggilnya. Pembesar
brewok itu berkata-kata kepada ayahnya dan ia melihat betapa ayahnya menjadi pucat
sekali dan menggeleng-gelengkan kepala. Akan tetapi pembesar brewokan itu
menggerakkan tangan kiri dan.... ayahnya terpelanting roboh. Han Han hampir menjerit.
Ayahnya telah ditampar oleh pem-besar brewok itu! Dan semua pelayan yang membantu
melayani tujuh orang pembesar itu berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Tujuh
orang pem-besar Mancu kini tertawa-tawa dan riuh-rendahlah mereka bicara, agaknya
memaki-maki ayahnya dan mendesak ayahnya melakukan sesuatu.
Si Pembesar Muka Kuning sekarang menggerakkan tangan sambil berdiri dan ia telah
mencabut pedangnya. Dengan gerakan penuh ancaman pembesar muka kuning itu
menusukkan pedangnya se-hingga ujung pedang menancap di atas meja, berdiri dengan
gagang bergoyang-goyang mengerikan.
Han Han membelalakkan matanya dan ia menyelinap turun dari tempat pengintaiannya, kini
ia menjenguk dari pintu belakang, terus masuk dan akhirnya ia berhasil masuk tanpa
diketahui, berada di ruangan dalam itu, bersem-bunyi di balik tirai kayu, di mana ia dapat
mengintai dan juga dapat men-dengarkan percakapan mereka.
“Sie Bun An!” terdengar pembesar brewok membentak sambil menunding-kan telunjuknya
kepada sastrawan itu yang sudah berlutut dengan tubuh menggigil dan muka pucat, “Apakah
engkau masih berani membantah dan tidak memenuhi perintah kami?” Suaranya ter-dengar
lucu karena kaku dan pelo ketika bicara dalam bahasa Han.
“Kaukira kami ini orang-orang macam apa? Kami bukan serdadu-serdadu biasa, tahu? Apa
artinya penyanyi-penyanyi dan pelacur-pelacur ini?” Si Muka Kuning menunjuk ke arah para
wanita sewaan yang memang disediakan di situ untuk melayani dan menghibur mereka.
“Kami adalah pembesar-pembesar militer dan sudah baik kalau kami tidak menghancur-kan
rumahmu. Hayo keluarkan isteri dan puterimu!”
“Ha-ha-ha! Aku mendengar Nyonya Sie dan puterinya amat cantik manis!” berkata seorang
pembesar lain yang pe-rutnya gendut tapi kepalanya kecil.
“Suruh mereka melayani kami, baru kami percaya bahwa engkau benar-benar tunduk dan
taat kepada pemerintah baru, bangsa Manco yang jaya!” kata pula seorang pembesar lain
yang kurus kering.
“Tapi.... tapi....!” Suara ayahnya sukar terdengar karena menggigil dan perlahan, kepalanya
digeleng-geleng, ke-dua tangannya diangkat ke atas. “Hal itu ti.... tidak mungkin....
ampunkan kami, Taijin....” Melihat ayahnya meratap seperti itu, air mata Han Han makin
deras keluar membasahi pipinya. Bukan hanya sedih karena kasihan, melainkan terutama
sekali karena malu dan kecewa. Ia tahu banyak keluarga di kota itu yang pergi mengungsi
sebelum kota itu terjatuh ke tangan bangsa Mancu, mengungsi dan meninggalkan rumah
serta hartanya. Akan tetapi ayahnya tidak mau meninggalkan kota, rupanya sayang ke-pada
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
hartanya dan percaya bahwa kalau ia bersikap baik dan suka menyuap ke-pada bangsa
Mancu, ia akan dapat hidup aman di situ.
“Kau membantah? Kalau begitu kau memberontak terhadap kami, ya? Hukum-annya
penggal kepala!” Si Perwira Muka Kuning bangkit dari kursinya, mencabut pedang yang
menancap di atas meja dan mengangkat pedang itu, siap memenggal kepala Sie Bun An
yang masih berlutut. Semua pelayan yang hadir, termasuk penabuh musik dan wanitawanita sewa-an, menjadi pucat dan mendekap mulut sendiri agar tidak menjerit. Han Han
dari balik tirai memandang dengan mata melotot.
“Tahan....!” Terdengar jerit dari dalam dan muncullah Sie-hujin (Nyonya Sie) berlari dari
dalam. “Mohon para Tai-jin yang mulia sudi mengampuni suami hamba....! Biarlah hamba
melayani Taijin....”
Tujuh orang perwira Mancu itu me-noleh dan berserilah wajah mereka. Per-wira muka
kuning menyeringai dan me-nyarungkan kembali pedangnya, kemudian sekali tangan kirinya
bergerak, ia telah menyambar pinggang Nyonya Sie dan dipeluk, terus dipangkunya sambil
tertawa-tawa.
“Benar cantik....! Masih cantik, montok dan harum....! Hemmm....!” Perwira muka kuning itu
tidak segan-segan lalu mencium pipi dan bibir nyonya itu yang saking kaget, takut dan
malunya hanya terbelalak pucat. Memang Nyonya Sie adalah seorang wanita cantik. Biarpun
usianya sudah tiga puluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang terawat baik itu masih
padat, wajahnya yang memang jelita tampak lebih matang menggairah-kan. Para perwira
lainnya tertawa ber-gelak menyaksikan betapa perwira muka kuning itu mendekap dan
mencium sesuka hatinya, seolah-olah di situ tidak ada orang lain lagi, sedangkan para
pelayan yang melihat betapa nyonya majikan mereka yang terhormat diperlakukan seperti
itu, menggigil dan menundukkan muka tidak berani memandang. Sie Bun An sendiri yang
masih berlutut, memandang dengan muka pucat seperti kertas dan ia tidak dapat bergerak,
se-olah-olah telah berubah menjadi arca batu.
“Taijin.... ampun....” Nyonya Sie megap-megap karena sukar ia bicara dengan bibir diciumi
secara kasar seperti itu. “.... lepaskan.... ohhh, ampun, saya.... adalah wanita baik-baik....”
Sebagai jawaban, perwira muka ku-ning itu tertawa dan mencubit dagunya yang halus.
“Karena wanita baik-baik, aku suka padamu, manis. Hayo kau mi-num arak ini untuk
menyambut aku, ha-ha-ha!” Perwira itu menyambar cawan araknya yang masih penuh, lalu
memaksa nyonya itu minum. Nyonya Sie hendak menolak, akan tetapi dipaksa sehingga
sebagian arak memasuki mulut, sebagian tumpah mengenai pakaiannya. Arak me-rah itu
membuat pakaiannya yang putih seperti terkena darah.
Han Han menggigil seluruh tubuhnya, jantungnya berdebar dan ia mengepal tinju dengan
air mata bercucuran. Ia hendak melompat maju menolong ibunya, akan tetapi pada saat itu,
ia tertarik oleh tingkah perwira brewok yang meloncat berdiri. Gerakannya amat gesit
sehingga amat janggal bagi tubuhnya yang tinggi besar dan perutnya yang seperti gentong
gandum.
“Ha-ha-ha, kalau ibunya matang dan denok seperti ini, tentti puterinya ranum dan segar.
Cocok untukku! Biar kujemput dia!” Sambil berkata demikian, perwira brewok itu sambil
tertawa-tiwa melangkah masuk melalui pintu dalam.
“Ha-ha-ha, baik sekali! Jemput dia, jemput dia....!” sorak perwira lain.
“Ohhh, uuuhhhhh....!” Nyonya Sie meronta, akan tetapi perwira muka ku-ning mempererat
pelukannya dan mem-bungkam mulutnya dengan ciuman kasar.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
3
Han Han menggigil di tempatnya. Kakinya seperti terpaku dan dengan pe-nuh perasaan jijik
ia melihat betapa ayahnya kini bertutut sambil menangis! Alangkah lemahnya ayahnya itu!
Mengapa ayahnya diam saja? Mengapa tidak lari mengejar perwira brewok atau menyerang
perwira muka kuning? Mati bukan apa-apa untuk membela kebenaran. Bukankah demikian
pelajaran dalam kitab? Dalam kitab tentang kegagahan seorang eng-hiong disebut bahwa
seribu kali lebih berharga mati sebagai seorang terhormat daripada hidup sebagai seekor
anjing penjilat. Dan ayahnya ternyata memilih hidup seperti anjing penjilat! Bukankah
peribahasa mengatakan bahwa harimau mati meninggalkan kulit, manusia mati
meninggalkan nama? Kulit harimau berharga, nama pun harus berharga. Akan tetapi
ayahnya memilih hidup sebagai tikus yang tidak ada harganya sama se-kali.
Terdengar jerit mengerikan dan tak lama kemudian perwira brewok itu telah muncul kembali
sambil memondong se-orang gadis yang meronta-ronta dan merintih-rintih. Gadis yang
cantik sekali, tubuhnya seperti batang pohon yangliu, rambutnya panjang hitam dan kulitnya
putih seperti susu baru diperas. Perwira brewok itu melangkah lebar, kemudian duduk
kembali di tempatnya sambil me-mangku Sie Leng dan menciumi muka yang halus putih
kemerahan itu dengan mukanya sendiri yang kasar dan penuh cambang bauk sehingga
seakan-akan mu-ka yang halus itu disikat oleh sikat yang kasar dan kaku. Sie Leng yang
hendak menjerit tak dapat mengeluarkan suara karena mulutnya tertutup oleh Si Perwira
Brewok yang lebar.
Tiba-tiba terdengar teriakan serak dan melompatlah Sie Bun An yang tadi-nya berlutut.
Bangga hati Han Han melihat betapa ayahnya kini menjadi seekor harimau, meloncat
bangun dan sambil berteriak menerjang maju hendak me-mukul Si Perwira Brewok. Akan
tetapi kebanggaan hati Han Han berubah men-jadi kecemasan ketika Si Brewok itu
menyambut tubuh ayahnya dengan sebuah hantaman tangan kiri yang tepat me-ngenai
dada ayahnya.
“Dukkk....!” Tubuh Sie Bun An terlempar ke belakang dan mulutnya mun-tahkan darah
segar. Hartawan ini sejak kecilnya hanya tekun mempelajari sastra, sama sekali tidak pandai
ilmu silat, ma-ka tentu saja sekali terkena pukulan berat perwira brewok itu, ia terluka dalam
dan muntah darah. Namun, Sie Bun An benar-benar telah menjadi seekor harimau marah.
Kemarahan dan sakit hati membuat ia seperti tidak merasakan nyeri akibat pukulan itu dan
sambil ber-teriak, ia maju lagi. Karena ketika dia terlempar, ia jatuh ke dekat tempat duduk
perwira muka kuning yang masih menciumi isterinya dan meremas-remas serta meraba-taba
tubuh wanita yang ketakutan itu, kini Sie Bun An menye-rang perwira muka kuning. Akan
tetapi, perwira muka kuning itu sudah mencabut pedangnya, menusuk ke depan dan....
“Blesssss....!” pedang itu menembus perut Sie Bun An sampai ke punggung. Tubuh Sie Bun
An menegang kaku, mata-nya terbelalak, dan ketika pedang di-cabut, ia mendekap perutnya
lalu ter-pelanting roboh, berkelojotan dan tak bergerak lagi. Lantai di bawahnya merah oleh
genangan darahnya yang masih me-ngucur keluar dari perut dan punggung.
Han Han hampir pingsan menyaksikan semua ini. Ia melihat betapa ibunya dan cicinya
menjerit dan meronta-ronta, na-mun perwira brewok dan perwira muka kuning sambil
tertawa-tawa telah me-mondong tubuh mereka, bangun berdiri dan Si Brewok berkata
dengan suara memerintah kepada lima orang perwira lain yang masih duduk.
“Rumah ini boleh dibersihkan, suruh anak buah masuk membantu!”
Setelah berkata demikian, Si Brewok memondong tubuh Sie Leng masuk ke dalam ruangan
belakang, diikuti oleh Si Muka Kuning yang memondong Nyonya Sie. Dua orang wanita ini
menjerit-jerit akan tetapi segera dibungkam oleh cium-an-ciuman. Adapun lima orang
perwira itu bersorak dan berpestalah mereka. Pesta yang amat liar karena sambil ber-teriak
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
4
memanggil pasukan yang menjaga di luar, mereka ini meraih para wanita sewaan dan
berpesta mabuk-mabukan. Mayat Sie Bun An masih menggeletak di situ tidak ada yang
berani merawatnya.
Dengan tubuh menggigil saking marah dan dukanya, Han Han menyelinap ke belakang dan
memasuki rumah melalui pintu belakang. Ia sudah mengambil ke-putusan nekat untuk mati
bersama ayah dan ibunya. Ia harus menolong ibunya, menolong cicinya! Tanpa mengenal
takut lagi anak ini berlari-lari menuju ke ka-mar ibunya. Akan tetapi sebefum ia me-masuki
kamar ibunya yang sunyi saja, tiba-tiba ia mendengar jerit cicinya di kamar sebelah, yaitu
kamar cicinya. Cepat ia mendorong pintu kamar itu dan apa yang disaksikannya membuat
darahnya mendidih. Cicinya menjerit-jerit dan berusaha melawan perwira Mancu bre-wok
yang hendak memperkosanya, akan tetapi kembali jeritnya lenyap ke dalam mulut Si
Perwira. Pakaian gadis yang bernasib malang itu robek semua dan ia sama sekali tidak
berdaya menandingi kekuatan Si Perwira Brewok yang ter-engah-engah dan terkekehkekeh, agaknya makin hebat nona itu meronta dan me-lawan, makin senanglah hatinya.
Dalam pandangan Han Han, ia seolah-olah melihat seekor kucing besar yang
memper-mainkan seekor tikus kecil sebelum ditelannya. Ia sudah melangkah maju de-ngan
tangan terkepal, hendak nekat me-nubruk dan memukul punggung Si Brewok ketika tiba-tiba
terdengar suara ibunya.
“Leng-ji (Anak Leng).... anakku....!”
Suara ini terdengarnya demikian me-milukan sehingga Han Han mengurungkan niatnya
menolong cicinya, atau terlupa karena seluruh perhatiannya kini tertuju kepada ibunya.
Agaknya Nyonya Sie yang sudah hampir pingsan karena teringat kepada suaminya dan kini
pun tidak berdaya menghadapi rangsangan Si Perwira Muka Kuning, ketika mendengar jerit
Sie Leng, timbul kekuatannya dan meronta sambil memanggil anaknya. Ia berhasil
melepaskan diri daripada cengkeraman kedua tangan perwira muka kuning dan dengan
pakaian hampir telanjang ia lari ke pintu. Namun sekali melompat, per-wira muka kuning
telah menangkapnya kembali dan melemparkannya ke atas pembaringan sambil tertawa.
“Heh-heh, biarkanlah puterimu sedang bersenang-senang dengan kawanku. Mari kini
bersenang-senang di sini, Manis. Heh-heh-heh!” Kembali ia menubruk nyo-nya itu dan pada
saat itulah Han Han mendorong pintu kamar ibunya dan me-loncat masuk. Melihat keadaan
ibunya, ia berteriak nyaring dan menerjang maju, memukuli punggung perwira muka kuning,
menjambak rambutnya, membetot-betotnya agar melepaskan ibunya.
“Ehhh! Bocah setan....! Mau apa kau....?” Perwira itu menoleh, tanpa menghentikan
usahanya menggelut Nyonya Sie.
“Han Han....! Pergilah....! Pergilah jauh-jauh dari sini....!” Nyonya Sie bergerak dan
membelalakkan mata melihat puteranya.
“Ibu....!”
“Hemmm, anakmu, ya? Mengganggu saja!” Si Perwira Muka Kuning meloncat, menjambak
rambut Han Han sehingga tubuh anak itu tergantung. Akan tetapi Han Han tidak takut,
melotot dan kedua tangannya berusaha memukul. Perwira itu lalu menampari mukanya.
“Plak-plak-plak-plak!” Berkali-kali sampai muka itu menjadi matang biru dan membengkak,
mulutnya mengeluarkan darah.
Namun anak itu masih memandang dengan mata melotot, penuh kebencian kepada perwira
muka kuning.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
5
“Han Han....!” Nyonya Sie menjerit.
Perwira itu membanting tubuh Han Han ke atas lantai, suaranya berdebuk dan tubuh anak
itu rebah miring. Akan tetapi Han Han masih bergerak hendak bangun. Sebuah tendangan
mengenai tengkuknya, membuat kepalanya nanar dan berkunang. Kemudian kembali kaki
perwira itu menendang, keras sekali me-ngenai dadanya. Tubuh anak itu terlem-par
membentur dinding. Kepalanya ter-banting pada dinding, napasnya sesak dan anak itu
roboh tak sadarkan diri, muka-nya membengkak dan matang biru se-hingga matanya tidak
tampak, mulutnya mengeluarkan darah, demikian pula hi-dungnya.
“Han Han....!” Namun jerit Nyonya Sie ini lenyap dalam suara gaduh di seluruh rumah itu, di
mana para serdadu Mancu mulai me-rampoki barang-barang berharga, dan la-pat-lapat
terdengar jerit tertahan Sie Leng diselingi suara ketawa yang parau dari perwira brewok dan
suara kekeh menji-jikkan dari perwira muka kuning.
Malam yang amat mengerikan. Malam terkutuk bagi keluarga Sie. Malam jaha-nam di mana
terjadi perbuatan-perbuatan terkutuk yang sudah terlampau sering terjadi di dalam jaman
perang. Pem-bunuh-pembunuhan, perkosaan, peram-pokan! Perbuatan-perbuatan yang
tidak sepatutnya dilakukan manusia-manusia beradab. Malam penuh noda, darah
mem-banjir dan iblis tertawa gembira karena malam-malam jahanam seperti itu adalah
malam-malam kemenangan baginya.
Han Han tersadar di tengah-tengah suara hiruk-pikuk. Ia segera teringat dan cepat bangkit.
Akan tetapi ia mengeluh, kepalanya nyeri bukan main, berdenyut-denyut keras, kiut-miut
rasanya seperti akan pecah, dadanya pun nyeri dan na-pasnya sesak. Ia tentu akan roboh
kembali kalau saja tidak melihat ibunya. Ibu-nya menggeletak di lantai tidak berpakai-an lagi.
Tubuhnya yang berkulit putih itu berlepotan darah dan darah tergenang di bawahnya,
mengalir ke bagian yang ren-dah dari lantai kamar itu. Leher ibunya terluka besar sekali,
hampir putus sehingga kepala itu letaknya terlalu miring sehingga aneh.
“Ibu....!” Han Han belum sadar betul akan keadaan ibunya, terhuyung-huyung menghampiri
dan hendak mengangkat tubuh ibunya. Akan tetapi matanya ter-belalak memandang leher
yang hampir putus, mata yang terbuka, mata yang tidak bersinar lagi.
“Ohhh.... ohhh.... Ibuuuuu....!” Han Han menjerit dan tergelimpang roboh di dekat mayat
ibunya, pingsan kembali.
Rumah gedung Keluarga Sie yang telah dirampok habis-habisan itu kini di-makan api. Ini
adalah siasat para per-wira tadi yang lebih baik membuat ru-mah itu menjadi lautan api
untuk me-nutupi perbuatan-perbuatan biadab me-reka. Kalau rumah sudah hancur menjadi
abu, siapa bisa membuktikan bahwa ru-mah itu habis dirampok? Kalau mayat itu sudah
menjadu abu, siapa dapat mengatakan bahwa mereka itu diperkosa atau dibunuh?
Tidak ada seorang pun tetangga yang berani muncul. Mereka sendiri masih merasa untung
terlewat oleh bencana yang ditimbulkan oleh serdadu-serdadu Mancu itu. Dalam keadaan
seperti itu seperti yang terjadi pada setiap negara yang dilanda perang, terbuktilah bahwa
segala sesuatu yang tadinya dianggap menguntungkan dan menyenangkan bah-kan
menjadi sebab-sebab malapetaka! Aneh akan tetapi nyata bahwa dalam ke-adaan seperti
itu, mereka yang kaya raya dan mereka yang mempunyai anak-anak perempuan cantik
malah menjadi korban, sebaliknya mereka yang miskin tidak mempunyai apa-apa dan yang
tidak mem-punyai anak gadis cantik, malah aman dan tidak terganggu! Kalau sudah begini,
tak seorang pun berani mengatakan bah-wa harta benda dan kekayaan duniawi ini
merupakan syarat hidup bahagia!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
6
Di antara sinar api yang membakar ru-mah gedung Keluarga Sie, yang menerangi
kegelapan malam sunyi, tampak bayangan seorang laki-laki tua dengan nekat menyelinap
memasuki rumah bagian yang belum dimakan api. Asap tebal me-nyambutnya, membuatnya
terbatuk-batuk dan membuat matanya seperti buta, akan tetapi orang ini terus masuk dan
me-raba-raba. Biarpun api itu amat terang, namun cahayanya membuat mata buta karena
setiap mata dibuka, hawa panas menusuk-nusuk. Akan tetapi orang itu agaknya sudah hafal
akan keadaan di dalam gedung ini. Buktinya ia dapat terus menyelinap masuk, menuju ke
ka-mar-kamar di sebelah belakang, dekat ruangan dalam yang tadi dipakai pesta-pora, di
mana kini menggeletak mayat Sie Bun An dan tiga orang pelayan pria yang juga dibunuh
oleh serdadu-serdadu Mancu itu. Laki-laki itu tidak mempe-dulikan mayat-mayat ini, terus
terhuyung-huyung masuk dan akhirnya ia memasuki kamar Nyonya Sie mendorong pintu
yang sudah mulai termakan api.
“Sie-hujin....! Kongcu (Tuan Muda)....!” Ia berseru dan cepat berlutut dekat dua sosok tubuh
itu. Tubuh Nyonya Sie yang telanjang bulat dan mandi darah itu ha-nya ia lirik sebentar saja,
akan tetapi ketika ia meraba tubuh Sie Han yang belum mati, cepat ia mendukung tubuh
anak itu dan hendak dibawanya keluar kamar. Akan tetapi pintu kamar itu kini sudah
terbakar semua, bahkan mulai run-tuh dan atap pun sudah terjilat api!
Laki-laki itu kebingungan lalu menuju ke jendela kamar. Didorongnya jendela itu dengan
bahunya, dan asap bercampur api menjilat masuk. Ia tidak peduli akan hawa panas yang
menyesak dada, terus saja ia menerobos keluar melalui jendela dan setibanya di luar
jendela, sebagian atap yang terbakar menimpanya! Orang itu mendekap tubuh Han Han dan
kayu yang membara menimpa kepala dan pun-daknya. Rasa nyeri dan panas menyengat
tubuhnya, membuatnya hampir roboh. Akan tetapi ia hanya jatuh berlutut saja, cepat bangkit
kembali dan terhuyung-huyung mencari jalan keluar. Beberapa kali ia menerjang lautan api,
rambutnya sudah terbakar habis, juga kumis, jenggot dan alisnya, mukanya, sudah hangus
dan melepuh, pakaiannya setengah telanjang dan hangus, tubuhnya melepub semua dan
napasnya terengah-engah. Akan tetapi akhirnya ia berhasil keluar dari lautan api dan
terhuyung-huyung memasuki ta-man yang gelap. Sinar api hanya me-nyinar melalui celahcelah pohon kem-bang dan di tempat inilah laki-laki itu terguling roboh. Tubuh Han Han
terlepas dari dukungannya dan terbanting pula ke atas tanah yang bertilam rumput hijau
basah dan segar.
“Ibu....!” Han Han siuman kembali dan pertama-tama yang teringat olehnya adalah ibunya.
Akan tetapi sinar merah dan suara berkerotokan rumah terbakar itu menyadarkannya dan ia
cepat bangkit duduk menoleh ke arah rumah keluarganya yang terbakar. “Ibu....!”
“Aagghhh.... Kongcu.... Ibumu.... sudah tewas....”
Han Han bangkit dan terhuyung-huyung menghampiri orang yang rebah tak jauh dari situ. Ia
berlutut dan hampir tak dapat mengenal wajah yang sudah me-lepuh, kepala yang gundul
dan tubuh yang hangus itu. Akan tetapi sinar api kadang-kadang menjilat sampai ke situ dan
ia dapat mengenal bentuk muka ini.
“A Sam....!” Ia memeluk. Anak ini amat cerdik dan kuat ingatan. Tadi ia berada di kamar
ibunya, sekarang berada di taman dan A Sam luka-luka terbakar. Segera ia dapat menarik
kesimpulan bah-wa pelayannya yang setia inilah yang menolongnya keluar dari rumahnya
yang terbakar. Ia teringat ayahnya yang sudah tewas pula, dan teringat cicinya di kamar
sebelah.
“Cici Leng....?”
“.... dibawa pergi.... anjing-anjing Mancu.... kau pergilah, Kongcu.... pergilah jauh-jauh....
menyamar sebagai pengemis.... jangan berada di kota ini.... aku.... aku.... auugghhh....” A
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
7
Sam, pelayan tua yang amat setia dari Keluarga Sie, yang selalu menjadi teman bermain
Han Han semenjak ia dapat berjalan, menjadi lemas.
“A Sam....! A Sam....!” Namun orang itu tidak menyahut, dan tidak akan dapat menjawab
lagi karena ia telah mati. Mati sebagai seorang yang setia dan karenanya mati sebagai
seekor harimau!
Han Han duduk melamun. Ia tidak menangis. Tidak dapat menangis lagi. Dan ia merasa
seolah-olah ada sesuatu yang mendorongnya untuk berpikir, untuk berbuat dan
menggkinakan akalnya. Matanya melirik ke kanan kiri seperti mata seekor anjing yang
dikurung dan mencari kesempatan untuk keluar. Mata yang cerdik sekali. Terjadi pada diri
Han Han yang tidak ia sadari sendiri. Ketika tadi ia dibanting lalu ditendang, kepalanya
terbanting menumbuk dinding- dan getaran bantingan inilah yang agak-nya mengubah
keadaan pikirannya. Mendatangkan ketabahan luar biasa, kecer-dikan yang aneh, dan
membuat ia tidak dapat susah lagi! Biarpun kini menghadapi kematian ayah bundanya, dan
kehilangan cicinya, yang berarti bahwa seluruh ke-luarganya hancur, ia sama sekali tidak
merasa susah! Yang ada hanya bayangan tujuh orang perwira, terutama sekali wajah dan
bentuk tubuh perwira brewok dan perwira muka kuning, seperti terukir di benaknya, takkan
terlupakan lagi olehnya!
Dari peristiwa terkutuk dan malam jahanam itu, terciptalah seorang yang aneh, dan orang
yang melihatnya tentu akan mengira bahwa Han Han telah menjadi gila oleh peristiwa
mengerikan itu. Ketika anak itu akhirnya membungkuk, mencium dahi gosong bekas
pelayannya, kemudian bangkit berdiri dan terhuyung-huyung meninggalkan taman,
memasuki bagian-bagian yang gelap, orang yang melihatnya tentu akan merasa kasihan
sekali. Akan tetapi orang itu akan ter-cengang kalau saja dapat melihat betapa mata itu
berkilat-kilat, betapa mulut yang masih bengkak itu tersenyum aneh. Bocah ini hanya
berhenti sebentar untuk merobek sebagian dari pakaiannya, me-ngotori tubuhnya dengan
abu, membuang sepatunya kemudian menyelinap sampai keluar dari kota.
Peristiwa terkutuk itu terjadi di kota Kam-chi ketika pasukan-pasukan Mancu memperluas
wilayahnya dan menyerbu ke jurusan selatan, yaitu pada tahun 1645 dan merampas kota
Nan-king. Dan tidak hanya terjadi di Kam-chi saja, melainkan di setiap kota dan dusun selalu
terjadilah pembunuhan-pembunuhan, perkosaan-perkosaan, penculikan dan perampokan
yang keji. Memang demikianlah sifat kekejian yang ditimbulkan oleh perang, di bagian mana
saja di dunia ini, semenjak masa dahulu sampai sekarang.
Gelombang bangsa Mancu ini dimulai ketika di antara bangsa dari utara ini muncul seorang
tokoh besar yang menjadi raja mereka, yaitu Raja Nurhacu (tahun 1616) yang menamakan
diri sendiri kaisar dan mendirikan wangsa atau Kerajaan Ceng. Di bawah bimbingan Kaisar
Nur-hacu yang kebesarannya menyamai Raja Mongol Jengis Khan yang tersohor itu,
mulailah bangsa Mancu membuka dan mengembangkan sayapnya, menaklukkan
gerombolan-gerombolan dan suku-suku bangsa yang dipimpin raja-raja kecil sehingga
dalam beberapa tahun saja ber-hasil menguasai seluruh Mancuria.
Melihat kekuasaan dan kekutan bang-sa Mancu, bangsa Mongol yang sudah lama
kehilangan kekuasaannya setelah Pemerintahan Goan hancur, menjadi ter-tarik dan
menggabungkan diri dengan bangsa Mancu. Persekutuan ini amat kuat dan barisan
gabungan ini menyerbu dan menundukkan Korea dalam tahun 1637. Kemudian pasukan
Mancu yang di-perkuat dengan pasukan Mongol dan pasukan taklukan dari Korea, di bawah
pimpinan Kaisar Abahai yang mengganti-kan Kaisar Nurhacu (1626-1646), menyer-bu terus
ke Shan-tung, berhasil menun-dukkan propinsi ini dan menghancurkan bala tentara Beng,
lalu terus menyerbu ke arah ibu kotanya, yaitu Peking. Na-mun penyerbuan ini tertunda
karena Kai-sar Abahai meninggal. Karena putera mahkota masih sangat muda, maka
ke-kuasaan dipegang oleh Pangeran Dorgan, saudara mendiang Kaisar Abahai.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
8
Pangeran Dorgan adalah seorang ahli perang yang ulung. Ia mengerti bahwa di dalam
pemerintah Beng sendiri terjadi pemberontakan-pemberontakan, dan Pe-king telah terjatuh
ke tangan pemberon-tak Lie Cu Seng yang menyerbu dari selatan. Dengan cerdik Pangeran
Dorgan menghubungi Bu Sam Kwi, panglima yang menjaga tapal batas utara, dan bersama
Panglima Beng yang berkhianat ini me-nyerbulah bala tentara Mancu ke Peking dan berhasil
mengalahkan barisan pem-berontak Lie Cu Seng. Lie Cu Seng sen-diri melarikan dari
Peking setelah merampok kota indah itu habis-habisan.
Akhirnya Bu Sam Kwi sadar bahwa ia telah memasukkan srigala ke tanah airnya, maka ia
merasa menyesal dan mem-bawa bala tentaranya mengungsi ke barat daya yaitu ke Secwan di mana ia mem-perkuat kedudukannya dan menjadi raja yang berdaulat di situ, jauh
dari ke-kuasaan dan pengaruh pemerintah Mancu yaitu Kerajaan Ceng-tiauw.
Pangeran Dorgan melanjutkan penyer-buannya ke selatan dan di bawah pinnpin-an
pangeran inilah bala tentara Mancu berhasil terus menduduki Nan-king dan wilayah bagian
selatan. Pangeran Dorgan yang amat cerdik itu pandai mengambil hati para pembesar dan
hartawan di selatan, mengumumkan tidak akan meng-ganggu mereka asal mereka suka
bekerja sama. Tentu saja ada terjadi kekecualian, yaitu mereka yang tidak mau bekerja
sama tentu dirampok habis dan dibasmi keluarganya. Ada pula terjadi hal-hal seperti yang
menimpa Keluarga Sie di Kam-chi itu, dan pelaporan ke atas tentu berbunyi sama, yaitu
bahwa keluarga itu tidak mau bekerja sama sehingga terpaksa dibasmi!
Demikianlah, cerita ini dimulai pada tahun 1645, dimulai dengan lembaran hitam dan
sebagai contoh dari sekian banyaknya peristiwa keji dan terkutuk, diceritakan kemalangan
yang menimpa Keluarga Sie.
Beberapa bulan kemudian setelah terjadinya peristiwa terkutuk di Kam-chi itu, tampak
seorang anak laki-laki berpakaian penuh tambalan berjalan se-orang diri memasuki kota
Tiong-kwan di lembah Sungai Huang-ho. Kota ini telah lebih dulu ditaklukkan oleh tentara
Man-cu sehingga kini keadaan di situ sudah tampak aman dan tenteram. Rakyat su-dah
mulai bekerja lagi seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi perang, seolah-olah rakyat
tidak peduli siapa yang berkuasa, siapa yang menjadi raja dan bangsa apa yang menjajah
me-reka! Anak kecil itu berusia sepuluh tahun lebih, berjalan melenggang seenak-nya dan di
pundaknya tergantung sebuah keranjang yang terisi beberapa buah roti kering dari gandum.
Dia bukan lain adalah Sie Han, atau Han Han. Kalau ada orang Kam-chi yang bertemu
dengannya, tentu tidak akan dapat mengenalnya sebagai bekas putera sastrawan Sie Bun
An. Bukan hanya pa-kaiannya yang penuh tambalan dan kaki-nya yang telanjang serta kulit
kaki ta-ngannya yang kotor itu yang membuat orang pangling, namun memang terjadi
perubahan besar pada diri anak ini. Pandang matanya jauh berbeda, pandang mata yang
amat tajam dan manik mata itu seolah-olah mengeluarkan sinar yang menembus dada
orang. Bola mata yang bening itu bergerak-gerak lincah sebagai pencerminan otaknya yang
dapat bekerja cepat. Rambutnya digelung ke atas dan dibungkus dengan saputangan yang
kotor. Ketika berjalan melalui jalan yang sunyi menuju ke kota Tiong-kwan ini, Han Han
bernyanyi dengan suara nyaring. Orang tentu akan tercengang keheranan kalau mendengar
kata-kata nyanyiannya. Orang yang tidak pernah membaca kitab tentu menganggapnya
bernyanyi ngawur saja atau sedikitnya mengira dia tidak waras.
Akan tetapi kaum terpelajar akan lebih tercengang keheranan karena tentu akan mengenal
nyanyian dari sajak ciptaan sastrawan besar Go Pek di jaman Kera-jaan Sui, ratusan tahun
yang lalu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
9
“Bekerja seenaknya
tak tertekan tak diperintah,
mengemis ke mana saja
mengetuk hati nurani manusia.
Amboi.... betapa bebas dan senangnya!
Mereka yang tidak tahu
akan kebahagiaan para pengemis,
tidak tahu pula
senangnya kehidupan burung di udara!”
Setelah selesai menyanyikan sajak yang ia hafal dari kitab-kitab yang pernah di-bacanya,
Han Han lalu mencela sendiri, dengan ucapan bisik-bisik seperti berkata kepada diri sendiri,
mencela nyanyian tadi.
“Wah, Go Pek memang pelamun ko-song! Kalau ditakdirkan menjadi manusia, mengapa
menginginkan kehidupan burung? Manusia dan burung tidak sama. Orang yang malas dan
hanya suka mengemis adalah orang yang tiada gunanya. Dan apakah artinya hidup di dunia
kalau tidak ada gunanya?” Ia menggeleng-geleng kepalanya lalu bernyanyi lagi akan tetapi
sekali ini nyanyiannya jauh berbeda de-ngan tadi, karena nyanyiannya seperti lagu kanakkanak :
“Duk-ceng, duk-ceng!
warna hitam tampak putih,
bau busuk disangka wangi,
suara brengsek terdengar merdu,
rasa pahit katanya manis!
Duk-ceng, duk-ceng!
Jangan percaya mata dan telinga mulut,
semua itu palsu belaka.
Duk-ceng, duk-ceng, duk-ceng-ceng!”
Terdengamya saja nyanyian ini seperti nyanyian kanak-kanak. Suara duk-ceng itu adalah
suaranya tambur dan gembreng. Akan tetapi sesungguhnya, nyanyian ini adalah nyanyian
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
10
kaum Agama To dan mempunyai arti yang amat dalam. Nyanyian yang menyindirkan betapa
manusia dikuasai oleh panca indranya, betapa manusia selalu menurutkan perasaannya.
Betapa tepatnya nyanyian kanak-kanak ini karena setiap hari pun sampai seka-rang dapat
kita lihat “dagelan” (lawak) macam itu. Betapa banyaknya orang melihat hal hitam sebagai
putih sehingga yang benar disalahkan, yang salah di-benarkan. Betapa yang busuk-busuk
dapat ditutup dengan harta sehingga tercium wangi, suara-suara yang menyesatkan
dianggap merdu kalau suara itu meng-untungkannya, dan masih banyak kenyata-ankenyataan lain.
Semua itu dikenal Han Han dari kitab-kitabnya. Dia meninggalkan rumah dan keluarganya
yang terbasmi habis itu tan-pa membawa uang sepeser pun. Akan tetapi Han Han seorang
anak yang cerdik dan semenjak peristiwa itu terjadi, ia menemukan ketabahan dan keuletan
yang luar biasa sekali. Di sepanjang jalan dalam perantauannya yang tiada bertuju-an ini, ia
selalu mencari pekerjaan, membantu petani kalau lewat di dusun, mem-bantu mencuci piring
di restoran, meng-gosok kuda dan kereta, mengangkut ba-rang-barang yang dibongkar dari
perahu dan lain-lain. Dengan keuletannya ini, ia tidak pernah kekurangan makan dan pada
saat itu, ia malah masih mempunyai bekal roti kering yang akan cukup menghindarkannya
dari kelaparan selama be-berapa hari.
Ketika ia memasuki pintu gerbang kota Tiong-kwan dan memasuki tempat yang mulai
ramai, Han Han tidak bernyanyi lagi, bahkan sikapnya pun tidak acuh seperti sikap seorang
pengemis biasa. Ia melihat-lihat keadaan kota yang cukup ramai itu karena letaknya yang
dekat dengan Sungai Huang-ho membuat kota ini mudah melakukan hubungan de-ngan
kota-kota lain. Akan tetapi ada hal yang membuat Han Han diam-diam ter-menung dan
prihatin, yaitu banyaknya pengemis di kota ini. Bukan pengemis-pengemis biasa yang terdiri
dari orang-orang tua yang sudah tidak kuat bekerja dan tidak mempunyai keluarga yang
menyokongnya, melainkan pengemis-pengemis cilik yang terdiri dari anak-anak sebaya
dengan dia sendiri.
Akibat perang, keluhnya diam-diam dengan perasaan tidak senang. Anak-anak yang sudah
kehilangan orang tua dan keluarga, atau anak-anak yang orang tua-nya demikian miskin
sehingga mereka ini terlantar dan mencari makan dengan jalan mengemis. Anak-anak usia
belasan tahun yang pakaiannya compang-camping, ada yang penuh tambalan, ada pula
yang hanya memakai celana butut tanpa baju, dengan tubuh kurus akan tetapi perut gendut
tanda perut yang jarang diisi atau diisi secara tidak teratur. Muka yang kurus pucat, sinar
mata yang sayu tidak bercahaya, pencerminan hati yang ke-hilangan harapan dan
pegangan. Akan tetapi ada pula di antara mereka yang nakal-nakal, dengan sinar mata
mence-moohkan dunia, tidak peduli akan segala perbuatannya, tidak tahu membedakan
pula antara baik dan buruk. Pengaruh keadaan!
Tiba-tiba sebatang kayu bercabang meodongnya. Han Han mengangkat mu-ka, sadar dari
lamunan dan melihat bah-wa yang menodongnya adalah seorang anak laki-laki sebaya
dengan dia, akan tetapi tubuhnya amat kurus sehingga tulang-tulang iga yang tidak tertutup
baju itu tampak nyata. Muka yang ce-kung kurus itu membayangkan ketampan-an,
sedangkan matanya bersinar cerdik menimbulkan rasa suka di hati Han Han.
“Berlutut kamu! Berlutut dan tunduk kepada perwira tinggi atau kupenggal kepalamu!
Engkau tentu pencuri, he? Atau pencopet?” Mata anak itu melirik ke arah keranjang yang
terisi roti kering.
Melihat lagak anak ini seperti seorang perwira menodongkan pedang dengan angkuhnya,
Han Han tertawa terbahak dengan hati geli. “Ha-ha-ha-ha! Perwira macam apa ini? Bajunya
dari kulit hidup, bukan terhias bintang melainkan terhias tulang-tulang iga. Dan celananya,
bukan terhias baju besi melainkan terhias tam-bal-tambalan! Apakah kamu ini perwira dari
neraka?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
11
Melihat Han Han tidak marah sehingga tidak ada alasan untuk diajak berkelahi, malah
tertawa dan mengeluar-kan kata-kata lucu, anak itu pun me-nyeringai tertawa. Giginya putih
dan rata, menambah ketampanan wajahnya dan menambah rasa suka di hati Han Han.
“Kau orang baru di sini? Bagaimana kau datang? Dan dari mana kau men-dapatkan roti
kering begitu banyak?” tanya anak itu, menyelinapkan rantingnya di pinggang seperti
seorang perwira me-nyimpan pedangnya.
“Kau mau? Lapar? Nih sebuah untukmu,” kata Han Han sambil menyerahkan sehuah roti
kering.
Anak itu memandang terbelalak, menelan ludah dan bertanya ragu, “Benar-benar
kauberikan sebuah untukku? Tidak main-main?” Ia merasa heran karena belum pernah
melihat seorang pengemis lain memberinya sepotong roti dengan sikap begitu royal dan
ramah.
“Mengapa tidak? Kalau kau lapar! Mari kita makan di pinggir jalan,” kata Han Han sambil
berjalan ke tepi jalan lalu duduk di atas tanah. Anak itu telah menerima roti pemberian Han
Han, me-mandang roti seperti belum percaya, lalu mengikuti Han Han duduk di tepi jalan.
Seketika sikap bocah itu berubah ramah dan akrab dan memang itulah sifat aselinya. Kalau
tadi ia seperti anak yang memancing perkelahian adalah watak yang dibentuk oleh keadaan
sekelilingnya.
“Wah....! Keras....!” Anak itu mengeluh ketika mencoba menggigit rotinya.
Han Han tersenyum. “Memang keras sekali, sengaja dibuat untuk dapat ber-tahan sampai
berbulan-bulan. Makannya harus dicelup air teh, baru nikmat.”
“Wah, dari mana bisa mendapatkan air teh?”
“Beli, kalau kamu mau pergi membeli sebentar.”
“Hah? Beli? Memang kaukira aku ini kongcu (tuan muda) hartawan?”
Han Han tertawa geli dan merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong uang kecil, sisa hasil
ia membantu pedagang membangkar barangnya kemarin dulu.
“Nih, kaubelilah air teh, kutunggu di sini. Untuk dapat membeli air teh saja masa
memerlukan seorang kongcu hartawan?”
Kembali anak itu memandang heran, akan tetapi ia lalu menyambar uang itu dan lari pergi
dari situ, membawa roti keringnya. Han Han menghela napas. Kalau dia tidak kembali ke
sini, aku tidak akan heran, pikirnya. Bocah-bocah seperti itu patut dikasihani! Benar-benar
sebuah pemikiran yang amat janggal. Dia sendiri yang tadinya seorang “kongcu” hartawan
dan terpelajar, tinggal di ru-mah gedung dilayani banyak pelayan, sekarang keadaannya
tiada bedanya de-ngan anak-anak pengemis, namun ia ma-sih menaruh kasihan kepada
mereka!
Dugaan Han Han keliru dan ia menjadi makin suka kepada bocah itu ketika melihatnya
datang berlari sambil mem-bawa sebuah kulit waluh kering yang ternyata terisi air teh.
Terengah-engah ia duduk di dekat Han Han. Han Han melirik dan mendapat kenyataan
bahwa roti kering di tangan anak itu masih utuh, ia makin suka. Ini menandakan bahwa anak
ini memiliki watak jujur dan setia, tidak mau mendahului makan roti dengan air teh sebelum
tiba di tempat Han Han!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
12
“Nah, mulailah!” ajak Han Han yang mengambil sepotong roti, mencelupkannya di air teh
sampai lama, kemudian mulai makan roti itu. Anak itu menirunya, dan setelah ia berhasil
menggigit sepotong roti, ia mengunyahnya dengan lahap sam-bil mulutnya mengomel.
“Wah, enak! Harum dan gurih....!”
Tidak ada balas jasa yang lebih nik-mat lagi bagi seorang pemberi kecuali kalau
pemberiannya itu dipuji dan me-nyenangkan hati orang yang diberinya. Wajah Han Han
berseri dan teringatlah ia akan ujar-ujar kuno yang berbunyi : “Bahagiakanlah hati orang
yang memberimu dengan menghargai pemberiannya!” Bocah ini telah melakukan hal itu.
Tak mungkin dia tahu akan ujar-ujar ini, tentu hanya kebetulan saja!
“Siapa namamu?” tanya Han Han.
“Wan Sin Kiat! Ayahku dahulu pera-jurit, tewas di medan perang melawan anjing.... eh,
tentara Mancu.” Bocah itu memandang ke kanan kiri, takut kalau-kalau makiannya terdengar
orang. “Ibuku lari bersama seorang perwira Mancu. Aku tidak sudi ikut ibu, maka merantau
dan.... beginilah. Engkau siapa?”
“Aku Han Han....”
“Tentu seorang kongcu yang menya-mar menjadi pengemis!”
“Eh! Sembarangan saja menuduh. Aku bukan kongcu, juga bukan pengemis!”
“Lagak dan sikapmu seperti kongcu. Kau patut menjadi kongcu. Mungkin juga bukan, akan
tetapi bukan pengemis? Heh, jangan berolok, kawan. Pakaianmu itu!”
Han Han penasaran. “Biarpun pakaian-ku butut, aku tidak pernah mengemis! Aku makan
dari hasil keringatku. Roti itu pun pemberian pedagang roti yang kubantu membongkar
muatan terigu!”
“Ahhh, begitukah?” Sin Kiat meng-hela napas dan menunduk. “Kalau aku.... aku pengemis
tulen.”
Han Han merasa menyesal telah me-nyinggung perasaan orang tanpa disengaja. Ia
memegang lengan anak itu dan ber-kata, “Engkau sampai menjadi begini akibat perang....,
bukan kehendakmu, Sin Kiat.”
Tiba-tiba Sin Kiat berkata penuh se-mangat. “Kalau sudah besar aku akan menjadi seorang
perajurit seperti men-diang Ayahku! Bahkan aku akan menan-jak menjadi Perwira. Kau lihat
saja!”
Han Han tersenyum. Melihat sema-ngat bocah ini, kelak dia tidak akan merasa heran kalau
benar-benar Wan Sin Kiat menjadi seorang perwira. “Nih, kau ambil lagi rotinya,” ia
menawarkan ke-tika melihat roti pertama sudah habis memasuki perut kawan baru itu.
Sin Kiat mengambil sepotong lagi, kemudian tiba-tiba seperti orang teringat akan sesuatu, ia
memegang lengan Han Han dan berkata, “Han Han, apakah eng-kau suka membagi rotimu
kepada anak-anak lain, bukan hanya kepadaku?”
“Hah? Kalau perlu tentu saja bo-leh.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
13
“Bagus! Engkau benar-henar anak jempol! Mari ikut aku!” Sin Kiat bangkit berdiri, menarik
tangan Han Han dan mengajak teman baru yang mempunyai banyak roti itu berlari
memasuki kota. Mereka lewat di pasar, lalu membelok ke sebuah gedung bobrok yang
tadinya ter-bakar, kini tinggal sisa dinding-dinding gosong dan kotor dan sebagian atapnya.
Ketika tiba di situ, ternyata di situ ter-dapat dua orang anak sebaya dengannya yang juga
berpakaian seperti pengemis, bahkan ada pula seorang kakek berpakaian seperti pengemis,
kakek yang kurus kering dan rambutnya riap-riapan.
“Mana teman-teman yang lain? Ada rejeki datang!” Sin Kiat berseru dengan wajah berseriseri.
“Pergi mengemis ke pasar,” jawab seorang anak pengemis yang kepalanya gundul.
“Katanya ada pembesar meninjau pasar.”
“Huh, bodoh! Belum tentu mendapat sedekah, yang sudah pasti mererima cambukan para
pengawal yang galak,” kata Sin Kiat mengomel.
“Itulah sebabnya mengapa kami berdua tidak ikut pergi,” kata pengemis ke dua. “Aku benci
melihat pembesar....”
Terdengar batuk-batuk dari kakek pengemis yang melenggut di sudut. “Hmmm...., anakanak, hati-hatilah sedikit kalau bicara. Apakah anak-anak sekecil kalian sudah bosan hidup?”
Tiga orang anak pengemis itu menjadi pucat dan celingukan memandang ke kanan kiri. Han
Han berpendapat bahwa anak-anak itu seperti anak-anak burung yang ketakutan selalu,
maka ia makin kasihan kepada mereka. Tanpa diminta ia lalu mengambil roti-roti kering dari
ke-ranjangnya, pertama-tama ia memberi kepada kakek itu.
“Lopek, silakan makan roti kering seadanya.”
Kakek itu memandang dengan tajam. Han Han terkejut, tidak menyangka bah-wa kakek itu
mempunyai pandang mata yang demikian tajamnya. Lalu kakek itu setelah meneliti Han Han
dari kepala sampai ke kaki, mengangguk-angguk dan menerima roti terus melenggut lagi
sam-bil makan roti kering. Kembali Han Han tercengang. Kakek itu sudah tua dan kempot,
tanda bahwa giginya sudah tidak lengkap lagi, namun roti kering yang keras itu digigitnya
seperti seorang meng-gigit kerupuk saja! Ia lalu membagi-bagi roti kering kepada dua orang
anak lain yang menerimanya dengan gembira.
Han Han lalu menurunkan keranjang rotinya dan mempersilakan siapa saja yang masih
lapar untuk mengambil lagi, dan ia pun ikut duduk mendeprok di atas lantai rumah gedung
yang terbakar itu. Heran sekali, ia merasa betah di situ, merasa seperti berada di rumah
sendiri. Seolah-olah gedung yang bekas terbakar ini adalah gedung keluarganya.
Sin Kiat mendekati kakek pengemis dan berkata dengan suara mendesak, “Kek, kauajarlah
aku silat agar kelak aku menjadi orang kuat. Aku ingin menjadi seorang perwira!”
Kakek itu membuka matanya, menjawab malas. “Aku tidak bisa silat....”
“Bohong....! Kakek bohong....!” Sin Kiat dan dua orang temannya berteriak-teriak.
Akan tetapi kakek itu hanya melenggut, mulutnya tersenyum aneh. Han Han memandang
penuh perhatian. Banyak sudah ia membaca tentang pengemis-pengemis yang sakti,
bahkan membaca tentang sastrawan-sastrawan yang hidup-nya seperti pengemis.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
14
“Kemarin dulu kau membubarkan selosin serdadu dengan tongkat bututmu itu. Dengan
apakah kalau tidak dengan ilmu silat? Hayo, Kek, jangan pelit, ah. Ajar kami ilmu silat. Han
Han tadi su-dah begitu ramah dan murah hati, mem-bagi-bagikan roti keringnya, apakah kau
begini pelit untuk membagi ilmu silat kepada kami? Ingat, Kek, roti yang di-bagi-bagikan
menjadi habis, sebaliknya ilmu silatmu kalau dibagi sampai seribu orang sekalipun takkan
menjadi habis!”
Han Han kagum mendengar alasan Sin Kiat ini. Anak cerdik, pikirnya. Akan tetapi ia merasa
kasihan dan tidak enak hati melihat kakek tua itu didesak-desak, maka ia segera berkata.
“Aku tidak suka belajar silat!”
“Hehhh??” Tiga orang anak itu berseru heran dan memandang Han Han dengan kecewa.
Sin Kiat memegang lengannya dan bertanya, “Mengapa, Han Han? Semua orang yang
tertindas dan terhina ingin belajar silat, mengapa kau tidak?”
“Kalau pandai silat, kan kita selalu menang kalau berkelahi dan menjadi jagoan!” kata Si
Gundul sambil mem-busungkan dadanya yang tipis kerempeng.
“Kalau pandai silat, orang-orang akan takut kepada kita dan memberi apa saja yang kita
minta!” kata bocah pengemis yang lain.
“Dan aku akan menjadi orang kuat sehingga kelak dapat menjadi perwira,” kata pula Sin
Kiat.
Han Han menghela napas. Dari pernyataan-pernyataan ini sudah dapat di-nilai watak dan
cita-cita ketiga orang anak ini. “Aku tetap tidak suka belajar silat. Pandai silat membikin
orang men-jadi kuat, dan hanya si kuat saja yang suka menindas si lemah! Orang yang
merasa kuat akan selalu mencari per-musuhan, suka berkelahi, suka pukul orang, bahkan
suka membunuh orang. Ti-dak! Pandai silat amat tidak baik, orang menjadi jahat karenanya.”
Kakek yang tadinya melenggut dan agaknya lega karena terbebas dari desak-an anak-anak
itu, kini membuka matanya dan tertawa. “Ho-ho-ho! Omongan te-kebur dan menyeleweng
jauh, bocah! Omongan sombong! Siapa bilang ilmu silat menimbulkan kejahatan dan
keke-jaman? Uh-uh, sombongnya! Ilmu silat telap ilmu silat, tidak baik dan tidak jahat. Baik
atau jahatnya tergantung si orang yang memilikinya. Kalau digunakan untuk kejahatan
menjadi ilmu jahat, kalau dipergunakan untuk kebaikan menjadi ilmu baik. Betapa banyaknya
kejahatan dilakukan oleh orang-orang yang tidak pandai silat dan yang lemah tubuhnya. Hoho-ho-ho, apa kaukira pedang lebih tajam daripada pena? Pedang hanya dapat membunuh
satu orang sekali sabet, akan tetapi pena sekali gores dapat menghancurkan keluarga
bahkan dapat menggulingkan kerajaan. Ha-ha-ha!”
Han Han tercengang dan berpikir. Alangkah benarnya ucapan kakek jembel itu. Teringat ia
akan sejarah betapa fitnah-fitnah yang amat keji terjadi ka-rena coretan pena. Dan betapa
tepatnya pula filsafat tentang baik buruknya ilmu yang tergantung daripada si pemilik ilmu.
Tak disangkanya ia akan mendengar ucapan demikian dalam isinya dari mulut seorang
kakek jembel. Melihat betapa bantahan kakek itu membuat Han Han bungkam, Sin Kiat
menjadi gembira dan mendapat kesempatan untuk mendesak lagi.
“Hayolah, Kek, ajar kami ilmu silat.”
“Aku tidak bisa ilmu silat.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
15
“Waaah, Kakek selalu mengelak. Ha-bis, tongkat bututmu kemarin dulu itu dapat
mematahkan tombak, membikin pedang dan golok serdadu-serdadu itu terpelanting, dan
membuat mereka ro-boh,” bantah Sin Kiat.
“Ahhh, itu hanya Ilmu Tongkat Te-ratai Putih (Pek-lian Tung-hoat).”
“Kalau begitu, ajarkan kami Pek-lian Tung-hoat!” kata Sin Kiat, dibantu oleh dua orang
kawannya.
Kakek itu menggeleng kepala. “Tidak mudah, tidak mudah. Kalian tidak berjodoh dengan
kami. Yang berjodoh adalah bocah ini. Siapakah namamu tadi? Han Han? Kau berjodoh
dengan kami. Marilah ikut bersamaku.” Kakek yang kelihatan lesu dan lemas itu, tiba-tiba
sudah bang-kit berdiri dan ternyata ia jangkung se-kali. Han Han begitu kaget dan herannya
sehingga ia tidak dapat menjawab per-tanyaan tadi. Kini kakek itu sudah menyentuhkan
ujung tongkat bututnya ke pundak kanan Han Han, kemudian mem-balikkan tubuh dan
melangkah pergi dari situ. Anehnya, tubuh Han Han tertarik oleh ujung tongkat yang melekat
pundak-nya sehingga anak ini pun terhuyung maju dan terpaksa melangkah mengikuti kakek
itu!
“Heiiiii....! Ehhh....?” Han Han menggunakan kedua tangannya untuk melepas-kan tongkat
dari pundaknya, namun tidak herhasil. Tongkat itu melekat seolah-olah berakar di
pundaknya dan ada te-naga membetot yang amat hebat tak terlawan olehnya, membuat ia
terseret terus!
Han Han adalah seorang anak yang memiliki kecerdikan luar biasa. Biarpun ia seorang
anak yang asing sama sekali akan ilmu silat, namun dari kitab bacaan ia sudah banyak
mengetahui bahwa di dunia ini selain terdapat sastrawan-sastra-wan luar biasa, orang-orang
yang pandai berfilsafat dan pandai membuat sajak-sajak indah, juga terdapat orang-orang
dari golongan “bu” (persilatan) yang di-sebut pendekar-pendekar sakti. Maka tahulah ia
bahwa kakek jembel ini pun tentulah seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi. Maka
timbul keinginan hatinya untuk mengenalnya lebih dekat dan untuk mengetahui ke mana ia
akan dibawa. Ia tidak merasa takut, maka ia lalu berkata, “Locianpwe, kalau memang
locianpwe ingin mengajak aku pergi, harap lepaskan tongkat. Tidak enak sekali diseret-seret
seperti seekor anjing.”
Akan tetapi kakek itu tidak mempe-dulikannya, bahkan kini langkahnya lebar-lebar dan
cepat sehingga Han Han ter-paksa harus melangkah cepat pula kalau tidak mau terseret.
Sebentar saja mereka telah pergi jauh dan teriakan-teriakan Sin Kiat yang mengingatkan
bahwa keranjang rotinya masih tertinggal, kini tidak terdengar lagi. Tak lama kemudian
mereka sudah keluar dari kota dan terus menuju ke tepi Sungai Huang-ho. Setibanya di tepi
sungai, kakek itu melanjutkan perjalanan ke kanan, jadi ke arah utara.
Mereka berjalan sudah lebih tiga jam, akan tetapi kakek itu tidak mengeluarkan sepatah
kata pun. Han Han yang juga memiliki kekerasan hati dan pada saat itu di samping
keinginan tahunya juga merasa penasaran dan mengkal, merasa dirinya dipaksa pergi
setengah diculik, tidak pernah bertanya apa-apa pula. Ia berjalan terus di belakang kakek itu.
Tentu saja kakek itu yang melangkah lebar dan cepat membuat ia sering kali harus setengah
berlari dan tubuhnya su-dah lelah sekali. Jalannya tidak rata, menyusup-nyusup hutan dan
naik turun. Akan tetapi dengan kekerasan hatinya, Han Han mengikuti terus kakek itu yang
akhirnya membawanya masuk ke sebuah hutan di pinggir Sungai Huang-ho.
Di tepi sungai dalam hutan ini, tampaklah oleh Han Han bagian yang sudah dibersihkan,
pohon-pohonnya ditebangi dan terdapat tempat terbuka yang amat luas, bahkan dipagari
dengan bambu. Dari jauh sudah tampak bentuk yang aneh dari tempat ini, agak bundar,
akan tetapi Han Han tidak tahu apa maknanya. Baru se-telah mereka memasuki pintu
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
16
gerbang dan membaca papan yang tergantung di depan pintu, tahulah Han Han bahwa
bentuk bundar dari tempat itu dengan lingkaran-lingkaran aneh adalah bentuk bunga teratai,
sesuai dengan nama tem-pat itu yang menjadi pusat dari perkum-pulan Pek-lian Kai-pang
(Persatuan Pe-ngemis Teratai Putih). Han Han berdebar jantungnya. Sudah banyak ia
membaca tentang kai-pang dan ketuanya yang sak-ti, dan baru sekali ini memasuki sarang
kai-pang. Siapakah pangcunya?
Kakek itu memasuki pintu gerbang dan tampaklah banyak orang-orang ber-pakaian
pengemis berkeliaran di sekitar tempat itu. Di tengah-tengah terdapat bangunan pondok
berbentuk kelenteng dan dari situ mengepul asap hio yang wangi.
Para jembel itu melihat masuknya kakek bersama Han Hang namun mereka hanya melirik
saja dan tak seorang pun ambil peduli. Kakek itu menghampiri pondok kelenteng, lalu masuk
ke ruangan depan di mana terdapat meja sembahyang. Han Han mengikuti dari belakang
dan berdiri memandang heran ketika melihat kakek itu tiba-tiba duduk bersila dengan kedua
kaki saling bertumpangan paha di depan meja sembahyang yang berbentuk teratai,
kemudian kakek ini melakukan upacara sembahyang yang aneh. Kedua lengannya digerakgerakkan, dilonjorkan ke depan, diangkat ke atas, ditekuk ke belakang sambil mulutnya
berkemak-kemik mem-baca mantera yang tidak dimengerti Han Han. Kemudian kakek itu
berdiri menya-lakan hio dan bersembahyag seperti biasa. Setelah menancapkan hio di
tem-pat dupa, ia melangkah keluar lagi, mem-beri isyarat dengan lambaian tangan kepada
Han Han untuk mengikutinya.
Han Han ikut terus dan ternyata mereka menuju ke sungai di mana ter-dapat sebuah kolam
besar yang mendapatkan airnya dari sungai, dialirkan ke tempat itu. Karena kolam di pinggir
sungai itu cukup lebar dan permukaannya sama dengan permukaan air sungai, maka air di
situ tenang. Di atas permukaan air kolam terdapat beberapa belas benda berbentuk bungabunga teratai warna putih, terbuat daripada kayu, mengam-bang dan bergerak-gerak
perlahan di permukaan kolam. Yang membuat Han Han tercengang adalah ketika ia melihat
beberapa orang sedang berlatih, berlon-catan dari satu ke lain teratai kayu di permukaan air.
Ada tiga orang yang berlatih, sementara itu masih ada tiga puluh orang lebih menonton di
pinggir kolam. Mereka semua itu adalah orang-orang berpakaian tambal-tambalan terdiri dari
laki-laki dan wanita. Akan tetapi lebih banyak lelaki daripada wanitanya yang hanya ada
beberapa orang.
Han Han tidak mengerti ilmu silat, namun menyaksikan tiga orang itu ber-loncatan ke atas
teratai-teratai kayu yang mengambang di air, melihat gerak-an mereka yang begitu ringan
dan gesit, ia kagum. Ternyata mereka itu sedang berlatih, karena setelah tiga orang itu
meloncat ke darat, mereka digantikan oleh tiga orang lain. Ada pula yang be-lum mahir
meloncat sehingga terpeleset dan teratai yang diinjaknya miring mem-buat ia terjungkal ke
air. Yang menonton mentertawakannya, ada yang mengejek, ada yang memberi petunjuk,
membicara-kan kesalahannya sehingga ia terjatuh. Ketika kakek yang membawa Han Han
muncul, suara tertawa-tawa itu berhenti, akan tetapi tak seorang pun menegurnya. Yang
berlatih masih tetap berlatih, na-mun kini lebih tekun dan serius. Kemu-dian terdengar kakek
itu berkata.
“Latihan gin-kang ini bukan untuk main-main. Tanpa ketekunan kalian tak-kan mendapat
kemajuan. Panggil Sin Lian!”
Han Han melihat betapa semua pe-ngemis yang berada di situ amat meng-hormat dan taat
kepada kakek ini. Agak-nya kakek inilah ketua mereka! Akan tetapi mengapa mereka itu
seperti acuh tak acuh atas kedatangan kakek itu? Mengapa tidak ada yang memberi
hor-mat? Sungguh mengherankan.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
17
Sementara itu, seorang pengemis tua yang tadi berlari-lari untuk memenuhi perintah kakek
ini, datang bersama se-orang anak perempuan yang juga berlari-an dan dari jauh sudah
memanggil.
“Ayah....!” Anak itu menghampiri ayahnya dan memeluk pinggang kakek itu. Si kakek
mengelus-elus rambut anak-nya dengan penuh kasih sayang.
Kembali Han Han tercengang. Kakek ini sudah amat tua, sedikitnya tentu enam puluh tujuh
tahun usianya, akan tetapi anaknya baru berusia paling banyak sembilan tahun! Juga
keadaan anak itu amat mencolok, cantik mungil dan pakaiannya indah bersih, wajahnya
berseri-seri matanya kocak gembira. Kehadirannya di antara para jembel itu benar-benar
merupakan seekor burung murai di antara sekumpulan gagak!
“Lian-ji (Anak Lian), mengapa kau tidak ikut latihan gin-kang (ilmu me-ringankan tubuh)
dengan para Pamanmu?” Suara dalam pertanyaan ini halus dan penuh kasih sayang,
namun mengandung teguran.
“Aku pergi ke hutan, Ayah. Bunga mawar sedang bersemi, indah sekali.”
“Hemmm, ada waktunya berlatih, ada pula waktunya bersenang. Jangan cam-pur aduk.
Coba kauperlihatkan latihanmu!”
Anak perempuan itu tertawa dengan sikap manja, lalu melepaskan ayahnya dan
menghampiri tepi kolam. Yang berlatih telah mendarat. Mereka semua kelihatan gembira,
memandang ke arah gadis cilik itu, dan jelas tampak betapa mereka semua menyayang
anak yang bernama Sin Lian ini. Bahkan kini tidak ada lagi yang berlatih, memberi
kesempatan kepada anak itu untuk berlatih seorang diri sehingga tidak mengganggu.
“Heiiittttt....!” Anak itu mengeluarkan seruan keras dan nyaring. Tubuhnya lalu meloncat ke
tengah kolam, melambung agak tinggi kemudian di udara ia berjungkir-balik sampai dua kali,
baru tubuhnya turun dan kakinya hinggap di atas sebuah teratai kayu. Indah bukan main
loncatan tadi dan terdengar seruan-seruan, “Bagus....!”
Han Han melongo. Apa yang disaksikannya itu terlalu aneh dan indah. Ka-gum ia melihat
betapa anak perempuan itu kini berdiri di atas teratai kayu yang bergerak-gerak timbul
tenggelam dan bergoyang-goyang. Namun tubuh anak itu sedikit pun tidak bergoyang,
bahkan ter-dengar lagi seruannya, “Heeiiittitt!” dan tubuhnya sudah mencelat ke atas lagi,
lalu hinggap di atas teratai kayu yang lainnya. Demikianlah, bagaikan seekor katak, anak itu
berloncatan dari satu teratai ke lain teratai, makin lama ma-kin cepat sehingga seakan-akan
ia ter-bang di permukaan air. Hanya benda-benda berbentuk teratai itu saja yang bergerakgerak timbul tenggelam dan bergoyang-goyang. Seruan-seruan menjerit nyaring itu
terdengar susul-menyusul dan akhirnya tubuh anak itu mumbul ke atas dan berjungkir-balik
membuat pok-sai (salto) sampai tiga kali dan ketika turun ia melayang ke dekat kakek tadi.
Tepuk tangan memuji dari para pe-nonton membuat wajah anak perempuan itu makin
berseri. Wajahnya menjadi merah karena tadi dia telah mengerahkan banyak tenaga, dan
napasnya terengah-engah. Kakek yang menjadi ayahnya mengangkat muka dan terhentilah
semua tepuk tangan.
“Masih jauh daripada sempurna, Lian-ji. Teratai-teratai itu masih bergoyang terlalu keras.
Lihat baik-baik, juga kalian semua!” Tiba-tiba tubuh kakek itu melayang seperti sehelai daun
kering ke tengah kolam, hinggap di atas teratai, lalu meloncat ke lain teratai, terus-menerus
dan cepat sekali. Tidak lebih indah daripada permainan Sin Lian tadi, akan tetapi hebatnya,
teratai-teratai yang diinjaknya itu sanna sekali tidak bergoyang, seolah-olah hanya kejatuhan
sehelai daun kering saja! Kemudian kakek itu mendarat kembali dan berkata.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
18
“Untuk dapat menginjak teratai kayu tanpa menggerakkannya, membutuhkan latihan
sedikitnya lima tahun dengan tekun. Apalagi dapat meloncat dan hing-gap di atas bunga
teratai aseli, membutuhkan bakat dan latihan yang amat mendalam.” Setelah berkata
demikian, kakek itu menggandeng tangan Sin Lian, menggapai ke arah Han Han dan
meng-ajak mereka memasuki sebuah pondok bambu sederhana di sebelah kiri pondok
kelenteng. Juga pondok sederhana ini dihias dengan lukisan-lukisan dan ukir-ukiran teratai
putih.
“Bocah ini siapakah, Ayah?” Sin Lian bertanya ketika kakek itu mengajak me-reka duduk di
atas bangku.
“Namanya Han Han. Siapakah she-mu (nama keturunan), Han Han?”
“Aku she Sie bernama Han, biasa disebut Han Han,” jawab anak itu. “Lo-cianpwe ini
siapakah? Apakah ketua dari Pek-lian Kai-pang?”
Kakek itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak. “Engkau tahu bahwa di sini
sarang Pek-lian Kai-pang? Dari mana kau mengenal nama Pek-lian Kai-pang?”
Han Han teringat bahwa ucapannya tadi membuka rahasianya bahwa ia pan-dai membaca.
Memang tidak patut bagi seorang yang keadaannya seperti penge-mis macam dia ini pandai
membaca.
Maka cepat-cepat ia berkata, “Aku ha-nya mengira-ngira saja, locianpwe. Kulihat di sini
semua berpakaian rombeng, tentu merupakan sebuah kai-pang. Ada-pun tentang namanya,
di sini kulihat banyak sekali hiasan-hiasan berupa tera-tai putih, maka tentu saja aku
menduga bahwa nama kai-pang di sini tentulah Pek-lian Kai-pang.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Nah, kau dengar sendiri, Sin Lian. Betapa cer-diknya anak
ini. Dia ini adalah calon muridku, dan agaknya dialah yang boleh diharapkan kelak untuk....”
“Aku tidak ingin menjadi murid lo-cianpwe!” Han Han memotong cepat-cepat dengan suara
nyaring.
“Wah, bocah sombong engkau!” Sin Lian mendamprat. “Kau tidak mau menjadi murid Ayah,
sedangkan seluruh bocah di dunia ini mengilar untuk menjadi muridnya. Kau tidak tahu siapa
Ayah? Ayah adalah Lauw-pangcu (Ketua Lauw) yang tersohor di seluruh wilayah Sungai
Huang-ho! Apakah engkau lebih suka menjadi jembel busuk yang tiada artinya,
mengandalkan hidup dari sisa makanan?”
Merah wajah Han Han. Matanya melotot memandang anak perempuan itu. Ia merasa
terhina sekali. “Aku bukan pe-ngemis! Dan aku tidak suka menjadi murid pengemis! Aku
tidak mau menjadi anggauta kai-pang!”
“Lagaknya! Engkau pengemis!”
“Bukan!”
“Pengemis!”
“Bukan!”
“Pengemis! Pakaianmu tambal-tambal-an, kalau bukan pengemis, apakah kau ini
Pangeran?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
19
“Bukan! Aku bukan pengemis, biar pakaianku tambal-tambalan aku tidak pernah mengemis!
Tidak seperti engkau, biar pakaianmu baik tapi....”
“Kau kurang ajar! Beranikah kau ke-padaku?”
“Mengapa tidak berani? Kalau aku benar, biar terhadap kaisar sekalipun aku berani!”
“Phuhhh! Kalau berani hayo kita ber-kelahi!”
“Aku bukan tukang berkelahi, bukan tukang pukul, tapi aku tidak takut ke-padamu.”
“Hayo pukul aku kalau berani!”
“Aku bukan tukang pukul!”
“Kalau kupukul, kau berani membalas?”
“Tentu saja!”
“Plakkk....!” Pipi Han Han sudah kena ditampar Sin Lian sampai Han Han terpelanting dari
bangkunya. Ia bangkit dan timbul kemarahannya, akan tetapi Han Han sudah membaca
kitab tentang sifat seorang gagah, tentu saja ia malu kalau harus bergelut dengan seorang
anak perempuan.
“Tidak sakit!” katanya sambil meraba pipinya yang menjadi merah.
“Balaslah!”
“Membalas anak perempuan? Untuk apa, memalukan saja. Pukulanmu seperti tahu, tidak
terasa sama sekali.”
“Sombong kau!” Sin Lian marah sekali, menerjang maju dan gerakannya cepat bukan main.
“Dukkk.... plenggggg....!”
Han Han terjengkang roboh. Perutnya menjadi mulas kena ditendang tadi dan kepalanya
pening oleh tempilingan yang cukup keras. Gerakan kaki tangan bocah itu luar biasa
cepatnya sehingga Han Han tidak tahu bagaimana caranya bocah itu menendang dan
memukul. Rasa nyeri membuat lantai seperti berputar. Ia ma-rah dan kini ia melompat
bangun.
“Kau.... perempuan keji!” katanya lalu ia menerjang maju, hendak menam-par. Namun
tamparannya mengenai angin belaka dan sebelum ia sempat melihat, kembali tangan kiri
gadis cilik itu mam-pir di pipinya, menimbulkan suara nya-ring dan terasa amat panas dan
pedas. Tonjokan kepalan kanan yang kecil na-mun terlatih menyusul, mengenai lehernya,
membuat Han Han terhuyung-huyung ke belakang. Tiba-tiba sebuah kaki yang kecil
menyapu kedua kakinya. Tanpa ampun lagi tubuh Han Han kembali ter-pelanting, terbanting
pada lantai di mana ia hanya duduk sambil memegangi ke-palanya yang puyeng seketika.
“Cukup, Lian-ji.” Terdengar kakek itu berkata, suaranya tenang dan halus. Ka-kek ini tadi
diam saja melihat puterinya menghajar Han Han, karena memang hal ini ia sengaja, untuk
“membakar” hati Han Han dan menimbulkan semangat jantannya. Dia menduga bahwa
setelah mengalami hajaran tentu bocah itu akan merasa terhina dan sadar betapa perlunya
mempelajari ilmu untuk memperkuat diri sehingga kelak tidak akan terhina orang lagi. Ia
maju dan mengangkat ba-ngun Han Han, disuruhnya duduk lagi di bangku. Han Han masih
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
20
pening, ketika ia memandang bocah perempuan itu, wajah yang manis namun
menggemaskan hatinya saat itu kelihatan menjadi dua. Meman-dang benda lain juga
kelihatan dua! Maka ia meramkan mata sejenak sampai pe-ningnya hilang, baru ia membuka
mata-nya memandang kakek itu dengan mata penasaran.
“Nah, bagaimana pendapatmu seka-rang? Kalau kau menjadi muridku, tidak mungkin kau
akan mudah dihajar orang lain begitu saja.”
Akan tetapi jawaban Han Han sung-guh di luar dugaan Lauw-pangcu. Anak ini mengangkat
muka dan dadanya, lalu berkata, “Aku tetap tidak mau belajar berkelahi! Apa sih gagahnya
me-ngalahkan lain orang? Mengalahkan diri sendiri baru patut disebut gagah per-kasa!”
Dalam kemarahannya, tanpa di-sadarinya lagi Han Han mengucapkan ujar-ujar dari kitab.
Kembali kakek itu tercengang. “Aihhh! Dari mana kamu mengetahui filsafat itu?”
“Filsafat apa? Itu pendapatku sendiri. Mengalahkan dan memukul orang paling-paling bisa
disebut sewenang-wenang, mengandalkan kepandaian dan menjadi tukang pukul!”
“Dan mengalahkan diri sendiri? Apa yang kaumaksudkan?” Kakek itu meman-cing.
Han Han cerdik, ia pandai menutupi rahasianya, maka setelah otaknya bekerja, ia berkata,
“Tidak tunduk kepada kemarahan sehingga tidak memukul orang, tidak merugikan orang lain
karena kepingin, tidak melakukan pekerjaan hina biarpun perut lapar, mengalahkan diri
sendiri.” Dengan ucapan ini ia telah menyindir orang yang telah memukulnya, dan menyindir
pekerjaan mengemis yang dianggapnya hina.
“Bocah bermulut lancang! Ayah, biar kuhajar lagi dia sampai setengah mam-pus!”
Lauw-pangcu menggeleng kepala. “Bi-arkan dia pergi.”
Han Han memang telah berdiri dan melangkah pergi dari tempat itu. Ia ke-luar dari pintu
gerbang tanpa ada yang mengganggunya, kemudian dia berlari cepat untuk segera
meninggalkan tempat itu. Ia teringat bahwa tadi ia dibawa ke timur, akan tetapi ia tidak ingin
kembali ke barat. Tidak ingin kembali ke kota Tiong-kwan karena takut kalau-kalau bertemu
dengan kakek itu lagi kelak dan menimbulkan hal-hal yang amat tidak enak. Sekarang saja
ia sudah babak-belur, perutnya masih mulas, kepalanya masih berdenyut-denyut. Sambil
berlari ia ter-ingat akan Sin Lian dan diam-diam ia mengomel.
“Bocah perempuan yang keji dan ga-lak!”
Han Han berjalan terus ke timur menyusuri Sungai Huang-ho. Setelah ma-lam tiba, ia
mengaso di pinggir sebuah hutan dan mengisi perutnya yang lapar dengan telur-telur burung
yang ia temu-kan di jalan. Juga ada beberapa macam buah-buah yang dapat dimakan
sehingga malam itu ia dapat tertidur nyenyak di pinggir hutan.
Pada keesokan harinya, ia melanjut-kan perjalanan. Dari jauh tampak sebuah dusun. Uang
bekal dan makanan sudah habis, ia harus mencari pekerjaan di dusun itu sekedar dapat
makan. Di mana pun juga pasti ada pekerjaan. Biarpun di dusun, para petani membutuhkan
tenaga bantuan dan tentu ada orang-orang kaya yang membutuhkan tenaga pula. Asal rajin,
tak mungkin orang sampai kelapar-an, asal mau bekerja. Tidak seperti pengemis-pengemis
itu, hanya bermalas-malasan, ingin makan enak tanpa be-kerja, biarpun hanya makanan
sisa. Men-jijikkan! Alangkah hinanya! Tentu saja ia tidak sudi menjadi pengemis, biarpun
diberi pelajaran ilmu memukul orang!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
21
Apalagi selalu berdekatan dengan bocah perempuan yang ganas itu. Ia bergidik kalau
teringat akan Sin Lian, sungguhpun harus ia akui bahwa wajah bocah itu manis sekali.
Ketika Han Han berjalan sambil ter-menung sampai di pintu gerbang dusun itu, tiba-tiba
terdengar derap kaki kuda dari depan. Han Han mengangkat muka dan memandang.
Seorang anak laki-laki sebaya dengan dia, berpakaian indah dan berwajah tampan,
menunggang seekor kuda yang besar dan membalapkan kuda itu keluar dari dusun. Han
Han cepat minggir, akan tetapi sambil tertawa-tawa anak laki-laki itu sengaja
menyerempet-kan kudanya sehingga Han Han yang sudah berusaha melompat masih
terlang-gar dan jatuh terguling. Beberapa orang dusun melihat hal ini berseru tertahan,
agaknya mereka takut untuk mengeluar-kan seruan keras.
“Bocah sombong, apakah kau sudah gila?” Han Han berteriak marah sambil merangkak
bangun.
Kuda itu dihentikan dan diputar. Anak laki-laki yang duduk di atasnya kini tidak tertawa lagi,
melainkan memandang Han Han dengan wajah bengis. Setelah kuda-nya tiba di depan Han
Han, ia lalu me-lompat turun, gerakannya tangkas sekali, lalu menghadapi Han Han sambil
me-nudingkan telunjuknya.
“Jembel busuk! Berani engkau memaki aku?”
“Setan kepala angin! Mengapa tidak berani? Yang kumaki bukan orangnya, melainkan
perbuatannya. Biar kau kaisar sekatipun, kalau perbuatannya tidak be-nar, tentu akan dimaki
orang!” Han Han membantah berani.
Anak itu usianya antara sebelas tahun, kini mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut
seorang anak jembel, menjadi terheran-heran sehingga lupa kemarahannya. “Engkau
siapakah berani berkata seperti itu?”
“Aku Han Han dan siapa takut mengeluarkan kata-kata benar?”
“Wah-wah, agaknya sudah miring otakmu. Tidak tahukah engkau bahwa aku adalah
Ouwyang-kongcu (Tuan Muda Ouwyang)? Orang sekitar daerah ini tidak ada yang berani
kepadaku. Apalagi jem-bel macam kamu! Hayo bertutut dan mohon ampun!” Bentakan ini
mengandung suara marah.
Seorang di antara para penduduk dusun yang mulai datang berkerumun, se-gera mendekati
Han Han dan berkata, “Kau agaknya bukan anak sini. Lebih baik lekas bertutut mohon
ampun kepada Kongcu.”
Mendengar ini, Han Han makin marah. Ia berdiri dengan kedua kaki ter-pentang, kedua
tangan bertolak pinggang, lalu berkata, “Apa perlunya minta am-pun? Orang bersalah
sekalipun tidak per-lu minta ampun dan harus berani me-nerima hukumannya! Apalagi orang
tidak bersalah!”
Ucapan ini rupa-rupanya merupakan pendapat yang baru sama sekali dan mengherankan
semua orang. Bahkan pe-muda tampan itu sendiri terheran dan berkurang kemarahannya,
lalu mengomel.
“Tidak salah katamu? Kau berdiri di jalan, menghalang kudaku!”
“Bukan aku yang menghalang, tapi kau yang menabrak! Berani berbuat tidak berani
mengaku, laki-laki macam apa kau?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
22
“Berani kau? Apa sudah bosan hidup?” bentak anak yang disebut tuan muda Ouwyang itu.
Setelah berkata demikian, ia menerjang maju. Han Han berusaha melawan, namun ternyata
Ouwyang-kongcu ini tangkas dan kuat sekali. Begitu me-nerjang, Han Han telah kena
digampar kepalanya dan ditonjok dadanya. Han Han terjengkang, napasnya sesak. Sebuah
ten-dangan mengenai lehernya dan dunia menjadi hitam bagi Han Han.
“Jembel busuk bosan hidup! Kau be-lum mengenal kelihaian Kongcumu, ya?” Suara
Ouwyang-kongcu ini terdengar sayup-sayup oleh Han Han dan pemuda tampan itu
mengeluarkan sehelai tam-bang dari saku sela kudanya. Diikatnya kaki kiri Han Han,
kemudian ia memegangi ujung tali itu dan melompat naik ke atas kudanya. Ketika kudanya
dilarikan, tubuh Han Han tentu saja terseret di atas tanah!
Orang-orang yang berada di situ ha-nya memandang dengan mata terbelalak, tidak ada
seorang pun berani membela Han Han. Mereka hanya saling pandang dan menggelenggeleng kepala dengan hati kasihan kepada anak jembel yang amat pemberani itu.
Han Ham memiliki kenekatan dan nyali yang luar biasa sekali. Juga tubuhnya memiliki daya
tahan mengagumkan. Hal ini telah dilihat oleh mata yang awas dari Lauw-pangcu ketua Peklian Kai-pang sehingga kakek itu merasa ter-tarik dan ingin mengambilnya sebagai murid.
Biarpun ia tadi telah dipukul he-bat dan kini tubuhnya diseret seperti itu, ia masih tidak
merasa takut. Bahkan ia marah sekali. Tidak dipedulikan punggung dan pinggulnya lecetlecet, pakaiannya yang sudah penuh tambalan itu makin buruk karena compang-camping. Ia
tidak mengeluh, tidak pula minta ampun, bah-kan ia yang terseret itu berusaha meng-angkat
tubuh atasnya dan menudingkan telunjuknya ke depan, ke arah Ouwyang-kongcu sambil
memaki-maki.
“Bocah kejam melebihi iblis! Kelaku-anmu ini akan menyeretmu ke lembah kecelakaan!”
Pada saat itu, dari arah kanan berkelebat sinar putih. Ternyata itu adalah sebatang piauw
(pisau sambit) yang di-sambitkan oleh seorang gadis cilik. Piauw itu tepat sekali mengenal
tambang yang menyeret Han Han sehingga putus se-ketika dan Han Han terbebas, tidak
ter-seret lagi. Sambil duduk dan berusaha membuka ikatan kakinya, Han Han me-mandang
dengan mata terbelalak ketika mengenal bahwa anak perempuan itu bukan lain adalah....
Sin Lian! Han Han mengeluh. Dia ditolong dari tangan se-orang anak laki-laki kejam oleh
seorang anak wanita ganas! Kedua orang anak itu setali tiga uang, sama-sama ganas dan
kejam, tiada yang dipilih!
Sin Lian sudah meloncat turun dari atas batu di mana ia tadi berdiri dan menyambitkan
piauwnya. Sikapnya garang sekali ketika ia memandang Ouwyang-kongcu dan telunjuknya
yang kecil run-cing itu menuding ke arah Ouwyang-kongcu sambil memaki.
“Setan alas kau! Monyet pengecut kau! Beraninya hanya menyiksa bocah jembel yang tidak
bisa silat! Hayo lawan aku kalau berani, kalau minta remuk tulang-tulangmu!” Sin Lian
memasang kuda-kuda menantang.
Ouwyang-kongcu ini adalah putera seorang bangsawan tinggi, yaitu Pangeran Ouwyang
Cin Kok. Dia putera pangeran, tentu saja selain kaya raya juga angkuh dan sudah biasa
menerima penghormatan di mana-mana. Namanya adalah Ouwyang Seng dan pada waktu
itu ia sedang menerima pendidikan ilmu silat dari guru-nya, seorang tokoh yang memiliki
kepan-daian tinggi dan sakti. Sebagai putera pangeran, tentu saja dalam perguruannya
tersedia segala perlengkapan untuk ke-butuhannya setiap hari, sampai-sampai tersedia
seekor kuda untuknya. Dan ia pun belajar sambil main-main, kadang-kadang menunggang
kuda pergi ke dusun-dusun dan ke manapun juga ia pergi, anak nakal ini tentu disambut
penduduk dusun dengan ramah dan hormat, sungguhpun di dalam hati mereka ini
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
23
mem-bencinya karena kenakalannya suka menggoda orang. Kini, dimaki-maki seperti itu,
Ouwyang Seng marah sekali lalu meloncat turun dari atas kudanya.
“Eh, kau bocah dusun! Berani kau memaki Kongcumu? Kau pun sudah bosan hidup
agaknya!” Sambil berkata demikian, Ouwyang Seng lalu menggunakan sisa tambang yang
berada di tangannya, yang panjangnya ada dua meter lebih untuk menyerang. Serangannya
hebat, cepat dan keras sekali sehingga mengejutkan Sin Lian yang cepat melompat dan
mengelak. Dari gerakan serangan itu Sin Lian da-pat menduga bahwa anak nakal ini pan-dai
silat. Memang dugaannya tidak keliru. Ouwyang Seng diasuh oleh seorang guru yang amat
pandai sehingga biarpun cara ia belajar kurang tekun, namun jarang ada anak sebaya
dengannya yang mampu melawannya, biarpun anak itu pandai silat sekalipun.
Sebaliknya, melihat betapa anak pe-rempuan yang tadinya hendak ia rangket karena telah
berani memakinya itu dapat mengelak demikian cepat, Ouwyang Seng menjadi penasaran
dan menerjang lebih gencar lagi. Sin Lian tidak diberi kesem-patan membalas seranganserangannya, karena tambang itu menyerang terus-menerus, membuat ia harus
menggunakan gin-kang dan berloncatan ke sana ke mari.
“Monyet cilik! Monyet curang! Jangan pakai tambang kalau berani!” Sin Lian memaki
kalang-kabut karena ia benar-benar terdesak dan tidak sempat mem-balas sama sekali,
bahkan pahanya telah kena dipecut satu kali sehingga terasa pedas dan panas.
Ouwyang Seng tertawa bergelak. Ia kini tahu bahwa biarpun memiliki ke-gesitan luar biasa,
anak perempuan ini masih bukan merupakan lawan berat bagi-nya. Maka ia lalu membuang
tambang itu dan berkata, “Majulah kalau ingin merasa-kan kaki dan tangan yang sakti!”
Melihat pemuda cilik itu sudah mem-buang tambangnya, Sin Lian menjadi girang dan cepat
ia menerjang maju de-ngan kaki tangannya yang gesit. Namun dengan mudah Ouwyang
Seng menangkis sambil mengerahkan tenaga, membuat Sin Lian meringis kesakitan.
Ouwyang Seng tertawa lagi, lalu mendesak dengan pu-kulan aneh. Sin Lian berseru kaget,
ter-huyung mundur dan tiba-tiba lututnya kena ditendang Ouwyang Seng sehingga ia roboh
terguling.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Han Han telah melompat dan menubruk
Ouwyang Seng dari bela-kang. Mulutnya mencela, “Laki-laki apa, menerjang perempuan!”
Kedua lengannya merangkul leher dengan sekuat tenaga, kedua kakinya mengait pinggang!
Ouwyang Seng terkejut, meronta-ronta. Akan tetapi biarpun tidak pandai silat, Han Han
pada dasarnya memang me-miliki tenaga besar. Apalagi ia mem-punyai kelebihan, yaitu
nyali dan ke-nekatan. Biarpun Ouwyang Seng meng-obat-abitkannya, ia tetap tidak mau
me-lepaskan rangkulan lengan dan kempitan kakinya, seperti seekor lintah yang ke-laparan
menempel pada daging gemuk.
“Lepaskan....! Lepaskan, kau jembel busuk.... lepaskan....!” Akan tetapi Han Han tidak mau
melepaskannya, bahkan menggunakan tangannya untuk mencekik leher!
Penduduk dusun yang menghampiri dan menonton perkelahian ini, tidak be-rani
mencampuri, hanya memandang ter-heran-heran. Orang-orang tidak ada yang berani
melawan Ouwyang-kongcu, kini seorang anak perempuan dan seorang pengemis cilik
berani menghinanya, me-makinya, dan melawannya.
Ouwyang Seng yang meronta-ronta akhirnya roboh, membawa tubuh Han Han bersamasama. Mereka bergulingan di atas tanah, bergelut, namun tetap Han Han tidak mau
melepaskan kaki tangannya. Ouwyang Seng mendapat akal, ia lalu menangkap tangan Han
Han dan menekuk jari telunjuknya.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
24
Bukan main nyerinya rasa telunjuk itu, sampai terasa menusuk di ulu hatinya. Han Han
marah lalu.... menggigit pundak Ouwyang Seng sekuat tenaga.
“Ouwwuw.... aduh.... aduh.... mati aku, aduhhh....!” Ouwyang Seng menjerit-jerit, pundaknya
berdarah dan akhirnya ia menangis berkaok-kaok, melolong-lolong sambil meronta-ronta.
Penduduk dusun yang melihat ini men-jadi khawatir. Takut kalau terbawa-bawa, maka
mereka lalu memburu dan cepat melerai, menarik Han Han melepaskan rangkulannya,
kempitannya dan gigitan-nya.
“Hi-hi-hik! Pengecut besar! Bisanya hanya menangis! Hi-hi-hik, kau hebat, Han Han....!” Sin
Lian bertepuk-tepuk tangan. Ia masih duduk karena lututnya yang tertendang itu
membuatnya tak dapat berdiri, agaknya terlepas sambung-annya. Juga Han Han merasa
betapa telunjuk tangan kirinya sakit sekali, se-perti patah sambungannya pula.
Ouwyang Seng tadi menangis bukan hanya karena sakit, melainkan terutama sekali karena
ketakutan setelah usahanya melepaskan rangkulan gagal. Kini setelah bebas, ia menjadi
marah sekali dan me-nerjang Han Han dengan pukulan keras. Han Han terjengkang dan
terpaksa me-nerima hantaman dan tendangan. Sin Lian memaki-maki, dan untuk ini,
Ouwyang Seng segera melompat ke dekatnya dan menendang kepalanya. Biarpun tak
dapat bangun, namun Sin Lian yang me-ngerti ilmu silat mencoba untuk menang-kis dengan
lengan, dan akibatnya ia pun roboh terguling-guling.
Ouwyang Seng menjadi mata gelap saking marahnya. Disambarnya sebuah batu sebesar
kepalanya dengan kedua tangan dan ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi, kemudian
dihantamkan ke arah kepala Han Han. Kalau hantaman ini kena, tentu kepala Han Han akan
remuk.
Akan tetapi tiba-tiba batu itu ter-tahan dan di situ telah berdiri Lauw-pangcu. Sekali renggut
batu itu terampas dan dibuang ke pinggir. “Anak keji, per-gilah!” Lauw-pangcu berkata dan ia
me-nangkap tengkuk Ouwyang Seng terus dilempar ke depan. Tubuh anak itu melayang
dan.... jatuh tepat di atas punggung kudanya.
Ouwyang Seng maklum bahwa kakek itu amat lihai, akan tetapi dasar seorang anak yang
manja, ia malah memaki, “Tua bangka jembel busuk! Kalau berani, katakan siapa namamu!”
Lauw-pangcu hanya mengira bahwa anak itu adalah seorang anak bangsawan manja saja,
maka sambil tersenyum ia berkatap “Bocah, aku adalah orang she Lauw.”
Ouwyang Seng menarik kendali kuda-nya, menendang perut kuda itu yang segera meloncat
maju dan membalap ke depan, meninggalkan debu mengebul ting-gi. Han Han bukan tidak
mengerti bahwa nyawanya tertolong oleh kakek itu, dan ia sudah terlalu banyak belajar
tentang kebudayaan dan tentang budi, maka ia segera menjatuhkan diri berlutut di de-pan
kakek itu sambil berkata,
“Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan locianpwe.”
Lauw-pangcu tersenyum. “Bangunlah dan mari ikut bersamaku, Han Han.” Ia lalu
memondong tubuh puterinya dan Han Han terpaksa mengikutinya karena tidak mau
dianggap tak mengenal budi.
Setelah tiba di sarang Pek-lian Kai-pang, Lauw-pangcu mengobati Sin Lian dan telunjuk
tangan Han Han. Hebat sekali cara kakek ini membenarkan sam-bungan tulang karena
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
25
setelah diurut se-bentar dan ditempeli koyok, dalam waktu setengah hari saja telah sembuh
kembali.
“Pengalamanmu hari ini tentu telah meyakinkan hatimu, Han Han, betapa pentingnya
mempelajari ilmu menjaga diri. Berkali-kali engkau dapat dipukuli orang, dan hampir saja
tewas. Aku tidak berniat buruk denganmu, bukan hendak mengajarmu menjadi tukang pukul.
Aku melihat bakat yang amat luar biasa pada dirimu yang tak akan dapat ditemukan di
antara sepuluh laksa orang anak, maka engkau berjodoh untuk mewarisi semua ilmuku, Han
Han.”
“Akan tetapi, locianpwe, aku tidak ingin belajar silat.”
“Coba sajalah. Dan pepatah mengata-kan bahwa tak kenal maka tak sayang. Kalau kau
sudah mengenal seluk-beluk ilmu itu, kau tentu akan suka sekali. Sementara ini, biarlah
engkau akan me-nerima menjadi muridku dan coba bela-jar, hitung-hitung untuk membalas
budi kepadaku. Bagaimana?”
Kakek itu memang cerdik. Ia telah mengenal bahwa bocah ini memiliki wa-tak yang aneh
dan keras luar biasa, memiliki kemauan yang tak terpatahkan, tidak dapat dipaksa dan
mengenal budi. Karena itu, ia sengaja mengemukakan ten-tang balas budi untuk mengikat
dan memaksa. Dan memang usahanya berhasil, Han Han terjebak. Anak ini sudah
mem-pelajari kitab tentang budi pekerti sampai mendarah daging, di mana diajarkan bah-wa
setiap budi yang dilepas orang harus dibalas berlipat ganda, sebaiknya budi sendiri yang
dicurahkan kepada orang lain harus dianggap sebagai kewajiban dan segera dilupakan.
“Baik, locianpwe.”
“Bagus, Han Han. Sekarang engkau telah menjadi muridku. Aku adalah guru-mu dan Sin
Lian ini adalah sucimu (Ka-kak Seperguruan), biarpun dia lebih muda darimu.”
“Baik, suhu, teecu (murid) mengerti.”
Makin kagum hati kakek itu dan tim-bul persangkaannya bahwa anak ini tentu bukan
keturunan orang biasa ketika mendengar Han Han menyebut dia suhu dan diri sendiri teecu,
kemudian betapa anak itu berlutut di depannya dan paikwi (me-nyembah) sampai delapan
kali.
Ia mengangkat bangun muridnya itu dan berkata, “Han Han, muridku yang baik. Sebagai
seorang murid, pertama-tama engkau harus mengerti apa yang menjadi kewajiban utama
seorang murid?”
“Teecu mengerti. Harus taat dan berdisiplin. Taat terhadap segala perintah suhu, dan
berdisiplin dalam memegang tugas, kemudian harus setia dan ber-bakti terhadap guru.”
Kalau tadi Lauw-pangcu hanya kagum saja, kini ia terheran-heran dan terce-ngang.
“Sin Lian, dengar baik-baik omongan sutemu (Adik Seperguruan) ini! Engkau dapat belajar
banyak dari dia! Han Han, pendapatmu tadi tepat sekali. Nah, se-karang sebagai perintah
pertama dari suhumu, kauceritakanlah pengalamanmu, siapa orang tuamu dan bagaimana
engkau sampai menjadi seorang anak terlunta-lunta dan hidup seorang diri.”
Han Han terkejut mendengar per-tanyaan ini. Ia sudah mengambil keputusan ketika ia
meninggalkan rumah orang tuanya yang terbakar, di mana terdapat mayat ayah bundanya,
untuk menyimpan rahasia tentang dirinya, untuk melupa-kan penglihatan itu dan hanya
mengingat wajah tujuh orang perwira Mancu, ter-utama wajah Si Brewok dan Si Muka
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
26
Kuning. Kini orang yang menjadi gurunya secara terpaksa ini pertama kali meng-haruskan
dia menceritakan pengalaman dan riwayatnya! Ia menundukkan muka-nya, dan begitu rasa
penasaran dan sakit hati timbul karena pertanyaan itu meng-ingatkan ia akan semua
malapetaka yang menimpa keluarganya, mendadak ada rasa aneh sekali di kepalanya.
Kepalanya se-belah belakang kanan yang dahulu ter-banting pada dinding ketika ia
dilempar-kan panglima muka kuning, kini berde-nyutan keras, seolah-olah kepala bagian itu
bergerak-gerak dan kepalanya menjadi pening. Ia hanya berkata perlahan sambil menunduk.
“Teecu tidak dapat menceritakan itu....”
Tiba-tiba Sin Lian mencela dengan suara keras dan nyaring, “Sute (Adik Seperguruan)!
Engkau ini murid macam apa? Sudah tahu akan kewajiban murid, akan tetapi pada
kesempatan pertama kau telah tidak mentaati perintah guru!”
Han Han makin marah. Bocah ini benar-benar cerewet sekali, dan ia me-rasa terdesak. Ia
mengangkat mukanya memandang Sin Lian, melihat betapa anak perempuan yang lebih
muda dari-padanya akan tetapi telah menjadi kakak seperguruannya itu juga memandang
ke-padanya dengan sinar mata aneh, seperti orang terpesona, terbelalak keheranan.
Dengan hati marah Han Han memandang dan di dalam hatinya ia memaki.
“Kau bocah cerewet! Kau seperti seekor monyet yang menari-nari!”
Mendadak terjadi hal yang amat aneh. Sin Lian tiba-tiba meloncat mundur dan
menggerakkan kaki tangannya menari-nari, mulutnya berbisik-bisik, “Aku seekor monyet....
menari-nari....! Aku seekor monyet yang menari-nari....!” Dan ia menari-nari dengan gerakan
lucu, se-olah-olah ia meniru gerakan monyet!
Lauw-pangcu tadinya mengira bahwa Sin Lian yang memang biasanya nakal itu sengaja
hendak memperolok-olok dan mempermainkan Han Han, maka dengan bengis ia
membentak puterinya yang manja itu, “Sin Lian! Hentikan itu!”
Akan tetapi, puterinya yang biarpun manja namun selalu mentaati perintahnya itu, masih
saja berjoget, secara aneh dan lucu sambil terus berbisik, “Aku seekor monyet menari-nari....
seekor monyet menari-nari....”
Terkejutlah Lauw-pangcu! Ia menoleh dan memandang kepada Han Han dan mukanya
berubah pucat, matanya terbelalak. Ia melihat betapa sepasang mata anak ini menyinarkan
cahaya yang amat aneh, manik mata yang hitam itu seperti mengeluarkan api, demikian
tajamnya seperti menembus otak, membuat ia tidak mampu menggerakkan bola mata,
membuat ia terpaksa memandang se-pasang mata itu, seperti melekat, seperti tertarik besi
sembrani! Ia mengerahkan sin-kang, berusaha melawan, namun ter-dengarlah suara Han
Han, padahal anak itu tidak menggerakkan bibir, terdengar suaranya penuh wibawa, penuh
pengaruh luar biasa.
“Suhu sudah tua, tidak perlu merisau-kan suci yang nakal. Lebih baik suhu mengaso dan
tidur daripada menjengkelkan kelakuan suci....”
Terjadi keanehan ke dua. Kakek itu menguap dan mulutnya berkata lirih, “Auhhh, aku sudah
tua.... ingin mengaso dan tidur....” Lalu kakek itu pun merebahkan kepala di atas meja,
berbantal lengan dan tidur!
Han Han melongo saking herannya. Ia menoleh kepada Sin Lian yang masih terus menarinari sambil berbisik-bisik, “Aku seekor monyet yang menari-nari.... seekor monyet....” Ketika
ia menoleh pula memandang gurunya, kakek itu ma-sih tidur nyenyak! Melihat ini, Han Han
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
27
makin bingung. Tadi ia mengira bahwa Sin Lian hanya mempermainkannya dan menari-nari
untuk mengejeknya, maka ketika memandang gurunya, ia merasa kasihan dan hatinya
menghibur gurunya agar supaya jangan jengkel dan supaya guru yang tua itu mengaso dan
tidur daripada mempedulikan Sin Lian. Akan tetapi sekarang, gurunya benar-benar tidur dan
Sin Lian masih terus menari-nari seperti telah menjadi gila! Dari bingung, Han Han menjadi
ketakutan dan diguncang-guncangnya pundak Lauw-pangcu sambil berteriak-teriak.
“Suhu....!Suhu.... Bangunlah, suhu....!” Lauw-pangcu serentak bangun dan matanya
terbelalak ketika meloncat dari bangkunya. “Apa.... apa yang terjadi....?” tanyanya seperti
orang habis bangun dari mimpi, padahal ia tertidur belum ada dua menit! Ketika ia menoleh
ke arah puterinya, wajahnya kembali menjadi pucat. Kakek ini sudah mempunyai
pe-ngalaman yang banyak sekali, akan tetapi apa yang ia alami sekarang ini benar-benar
membuat ia tidak mengerti dan terheran-heran. Namun, ia sudah dapat menguasai
perasaannya, cepat ia me-lompat mendekati Sin Lian yang masih menari-nari berloncatloncatan seperti seekor monyet nakal itu, menangkap pundak puterinya dan menotok
punggungnya. Sin Lian mengeluarkan suara me-rintih perlahan lalu roboh pingsan dalam
pelukan ayahnya.
“Dia.... dia kenapakah, Suhu? Suci mengapa tadi....?” tanya Han Han, khawatir juga
menyaksikan semua itu karena kini ia dapat menduga bahwa keadaan Sin Lian tadi tidak
wajar, bukan menari-nari untuk mengejeknya.
Kakek itu hanya menghela napas pan-jang, lalu merebahkan tubuh puterinya di atas dipan,
memeriksanya sebentar lalu berkata lirih, “Tidak apa-apa, sebentar lagi pun sembuh, ia
tertidur.” Kemudian ia mengajak Han Han keluar.
“Han Han, mari kita bicara di luar.”
Dengan hati tidak enak Han Han mengikuti gurunya keluar kamar dan duduk di ruang depan
pondok kecil itu. Mereka duduk berhadapan dan Lauw-pangcu kini memandang wajah
muridnya dengan pandang mata tajam penuh selidik. Makin tidak enak hati Han Han dan ia
menunduk.
“Han Han, pandanglah mataku!” perin-tah kakek itu.
Han Han mengangkat mukanya me-mandang. Sejenak pandang mata mereka bertemu dan
jantung kakek itu berdebar. Mata yang hebat! Ia merasa betapa sinar mata itu mendesak
pandang matanya, menusuk masuk dan membuat jantungnya tergetar. Seperti mata iblis!
Akan tetapi saat itu kosong sehingga yang terasa hanya ketajamannya yang menggetarkan
dan betapapun kakek ini mengerahkan sin-kangnya, akhirnya ia tidak kuat me-nahan dan
terpaksa mengalihkan pandang matanya, tidak kuat lebih lama beradu pandang. Padahal ia
telah memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat! Tertipukah ia? Adakah bocah ini murid
seorang sakti yang telah memiliki tenaga mujijat? Harus kucoba lagi.
Berpikir demikian, Lauw-pangcu meng-gerakkan tangan kanan cepat sekali, tahu-tahu telah
menotok jalan darah kian-keng-hiat di pundak anak itu. Se-ketika tubuh Han Han menjadi
kaku tak dapat digerakkan, akan tetapi hanya sebentar saja karena kakek itu telah
menotoknya kembali, membebaskannya. Lauw-pangcu menunduk dan makin heran. Jelas
bahwa anak ini tidak mengerti silat, dan tidak pernah belajar silat. Orang yang mengerti ilmu
silat tentu memiliki gerak otomatis sebagai reaksi atas penyerangan terhadap dirinya. Anak
ini sama sekali tidak mempunyai gerak itu, tidak berusaha mengelak atau me-nangkis,
bahkan urat syaraf di pundaknya tidak menentang, tanda bahwa urat sya-rafnya juga belum
terlatih, tidak biasa akan serangan cepat lawan. Akan tetapi pandang mata itu, pengaruhnya
yang hebat!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
28
Adapun Han Han ketika tadi merasa pundaknya disentuh gurunya membuat tubuhnya kaku
menegang, kemudian pulih kembali, menjadi heran dan penasaran. Ia tidak tahu apa yang
dilakukan suhunya. Akan tetapi ia menganggap suhunya itu penuh rahasia, tidak berterus
terang dan seolah-olah tidak mempercayainya. Tiba-tiba suhunya itu memegang kedua
pun-daknya dengan cekalan erat, mata kakek itu menatapnya penuh selidik dan
terdengarlah pertanyaannya dengan suara keras mendesak dan bengis.
“Han Han! Dari mana kau mempela-jari ilmu I-hun-to-hoat (semacam hypno-tism)?”
“Apa? I-hun-to-hoat, suhu? Mendengar pun baru sekarang. Sudah teecu katakan bahwa
teccu tidak pernah mempelajari ilmu apa-apa....”
“Hemmm, jangan mencoba untuk me-nyangkal. Habis, apa yang kaulakukan terhadap
sucimu dan aku tadi kalau bu-kan Ilmu I-hun-to-hoat?” Ilmu I-hun-to-hoat adalah semacam
ilmu hypnotism, membetot semangat dan menguasai ke-mauan orang dengan penggunaan
sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Han Han makin tak senang hatinya. Ia sudah menentang perasaan hati dan pendapatnya
sendiri dan sudah suka men-jadi murid Lauw-pangcu. Akan tetapi mengapa suhunya ini
sekarang menuduh-nya yang bukan-bukan?
“Suhu, mengapa suhu menuduh yang bukan-bukan? Suhu mengambil murid teecu ini
hendak diajar ilmu ataukah untuk dituduh-tuduh saja? Sudah teecu katakan bahwa teecu
tidak pernah belajar silat.”
“Tapi.... tapi pandang matamu.... dan peristiwa tadi! Lian-ji menari-nari di luar kehendaknya,
aku pun tertidur di luar kemauanku. Hal ini hanya mungkin terjadi kalau orang menggunakan
Ilmu I-hun-to-hoat yang amat kuat. Han Han, aku tidak mempunyai niat buruk terhadap
dirimu. Kalau kau benar-benar pernah menjadi murid orang sakti, aku pun ma-lah makin
suka kepadamu. Perlu apa kau membohong? Sudah ada buktinya peris-tiwa tadi, aku sendiri
mengalami, dan pandang matamu juga penuh dengan te-naga mujijat yang hanya timbul dari
sin-kang yang tinggi.”
Han Han menjadi tidak sabar. “Teecu tidak mengerti apa yang suhu katakan itu, tidak
pernah mendengar apa itu I-hun-to-hoat, dan apa itu sin-kang! Pen-deknya, teecu belum
pernah belajar ilmu silat, bahkan sebelum menjadi murid suhu, teecu membenci ilmu silat.
Malah sekarang, karena suhu tuduh yang bukan-bukan, timbul pula rasa tidak senang itu....”
“Han Han, jangan salah mengerti. Memang ada sesuatu yang amat aneh terjadi, dan
kurasa, ada sesuatu yang ajaib sekali terdapat dalam dirimu. Aku tidak menuduh sedikitpun
juga dan kau pun harap suka berterus terang. Mungkinkah kau pernah membaca kitab kuno
tentang ilmu menguasai semangat dan kemauan orang lain, dan telah mempelajarinya?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Engkau anak aneh. Datang-datang kaubagi-bagikan roti kering kepada lain jembel. Hal ini
saja sudah membuktikan keanehanmu. Dan cara kau bicara, sung-guh tidak seperti seorang
anak jembel.”
“Teecu bukan pengemis!”
“Kalau begitu engkau seorang anak keluarga bangsawan yang terlunta-lunta. Bukankah
begitu?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
29
“Tidak, tidak! Teecu sudah katakan bahwa teecu tidak dapat menceritakan asal-usul dan
riwayat teecu. Teecu sen-diri hampir lupa. Mengapa suhu memancing-mancing? Apa artinya
riwayat teecu? Pendeknya, teecu seorang yang tiada ayah bunda lagi, tiada saudara,
sebatangkara. Suhu, teecu biarpun hidup melarat dan seorang bodoh, namun teecu
berpegang kepa-da peribahasa It-gan-ki-jut-su-ma-lam-twi (Sepatah kata dikeluarkan, empat
ekor kuda pun tidak kuat menariknya kembali)!”
Lauw-pangcu tercengang. Ucapan mu-ridnya ini jelas membuktikan bahwa bocah itu bukan
bocah sembarangan, dan bukan hanya memiliki watak yang keras, memiliki pribadi yang
aneh, tenaga sakti simpanan yang penuh rahasia, akan tetapi juga memiliki asal-usul yang
menarik dan tentu bukan dari keluarga sembarangan. Ia menjadi girang sekali, akan tetapi
juga khawatir. Anak ini selain memiliki kekuatan mujijat, juga memiliki watak yang sukar
diukur dalamnya, sukar di-jenguk isinya sehingga bagi dia yang menjadi gurunya, akan
sukarlah untuk membentuk watak bocah ini kelak. Diam-diam ia heran dan berpikir keras
untuk menduga, ilmu apakah yang telah dimiliki atau yang masuk secara aneh dalam diri
bocah ini.
Tentu saja Lauw-pangcu tidak dapat menduganya, tidak mengerti akan keadaan Han Han.
Jangankan orang luar, se-dangkan Han Han sendiri pun tidak me-ngerti, tidak sadar bahwa
ada perubahan hebat pada dirinya, bahwa ada sesuatu yang secara ajaib terjadi di dalam
diri-nya. Ketika ia dihajar oleh perwira muka kuning dahulu di dalam kamar karena ia telah
“mengganggu” perwira muka kuning itu yang sedang memperkosa ibunya, ia dilempar dan
kepalanya terbanting pada dinding kamar dengan keras sekali se-hingga ia menjadi pingsan.
Entah bagai-mana hanya Tuhan yang mengatur dan mengetahuinya, bantingan kepala yang
terjadi pada saat hatinya merasa ter-tusuk-tusuk oleh perasaan duka, marah, sakit hati dan
gelisah itu, bantingan keras yang menggetarkan otaknya, telah merubah dan
mengguncangkan otaknya, merubah susunan syaraf dalam kepala. Tanpa ia sadari,
timbullah semacam kekuatan mujijat di dalam kepalanya yang menyinar keluar dari matanya.
Kekuatan mujijat ini terutama sekali timbul apabila hatinya terganggu dan membuatnya
menjadi marah dan sakit hati. Kekuatan mujijat yang membuat pandang matanya kuat
melebihi pandang mata seorang ahli sihir yang bagaimana pandai sekalipun, yang membuat
daya ciptanya sedemikian kuatnya sehingga dalam keadaan seperti itu, mudah saja ia
“merampas” dan me-nguasai semangat kemauan orang! Kalau ahli-ahli sihir memperoleh
kekuatan me-reka karena latihan dan ketekunan, ada-lah Han Han memperolehnya karena
ke-kuasaan Thian yang tiada batasnya. Su-sunan otak dan syarafnya, seperti manu-siamanusia lain, adalah sempurna sekali sehingga segala sesuatu dapat diperguna-kan secara
normal. Akan tetapi, hantam-an kepalanya pada dinding itu meng-goyahkan kesempurnaan
itu sehingga cara kerja otak dan syarafnya menjadi terganggu. Justeru gangguan ini yang
me-nimbulkan kekuatan hebat itu!
Namun Han Han sendiri tidak sadar akan hal ini. Karenanya ia tidak dapat menguasai
kekuatan mujijat ini dan ke-kuatan ini hanya timbul kalau ia sedang marah seperti yang tadi
timbul dan tanpa ia sadari sendiri telah membuat Sin Lian menari-nari seperti monyet dan
Lauw-pangcu tertidur pulas di luar ke-hendaknya!
Lauw-pangcu menghela napas panjang. Sebagai seorang yang sudah berpenga-laman
luas, ia telah dapat mengenal sifat-sifat Han Han. Ia tahu bahwa kalau ia mendesak terus,
hasilnya malah me-rugikan karena anak ini tentu akan ke-hilangan gairah belajar ilmu silat.
Pada saat itu, Sin Lian berlari-lari keluar dari kamarnya dan berkata.
“Ayah.... Ayah.... aku mimpi aneh....”
Lauw-pangcu memandang puterinya lalu mengerling kepada Han Han yang menundukkan
muka. “Mimpi apa?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
30
“Aku mimpi menjadi monyet dan menari-nari.... eh, sute masih di sini. Bagaimana, Ayah,
apakah dia masih ber-kepala batu tidak mau menceritakan riwayatnya?”
Lauw-pangcu kembali melirik kepada Han Han mendengar ucapan puterinya itu, dan Han
Han masih menunduk, hanya mukanya menjadi merah karena anak ini pun terkejut dan
heran di dalam hati-nya. Tadi dia telah memaki di dalam hatinya, memaki Sin Lian seperti
monyet menari-nari dan gadis cilik ini pun lalu menari-nari tanpa sadar. Kemudian sekarang
bocah ini mengatakan mimpi menjadi monyet dan menari. Apa yang telah terjadi? Dia sendiri
tidak mengerti dan bingung. Akan tetapi hatinya lega ketika mendengar gurunya berkata.
“Sutemu sama sekali tidak kepala batu, Lian-ji. Jangan kau kurang ajar dan terlalu
mendesaknya. Han Han adalah seorang keturunan keluarga Sie, dan ka-rena dia sudah
tiada ayah bunda lagi, memang tidak ada sesuatu yang perlu diceritakan.”
“Aihhhhh...., dia ini jaka lola (yatim piatu)....?” Suara Sin Lian mengandung penuh iba
sehingga lunturlah semua ke-bencian di hati Han Han. Apalagi ketika ia memandang kepada
“suci-nya” itu dan melihat pandang mata Sin Lian terhadap-nya begitu lembut dan penuh
kasihan, ia lalu tersenyum kepada Sin Lian. Dara cilik itu membalas senyumnya dan mulai
detik itu terjalinlah rasa persahabatan antara mereka.
Mulailah Lauw-pangcu mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada Han Han. Hatinya girang
bukan main karena duga-annya sama sekali tidak meleset. Bocah ini memiliki ingatan yang
amat luar biasa, seperti kertas putih bersih saja, sekali ditulis tidak akan luntur lagi. Mudah
saja bocah ini menerima pelajaran kouw-koat (teori silat) dan mendengar terus mengerti dan
ingat. Sebentar saja ia sudah dapat menghafal semua nama dan kedudukan bhesi (kudakuda). Juga ketika melatih kuda-kuda, sebentar saja ia sudah dapat menguasainya
sungguhpun kuda-kudanya itu tentu saja hanya me-rupakan kulit yang belum ada isinya.
Ketika Sin Lian disuruh mengujinya, se-kali serampang dengan kaki, kuda-kuda yang
dilakukan Han Han itu rontok dan ia pun terguling! Maka Lauw-pangcu makin yakin bahwa
anak ini memang belum pernah belajar silat. Mulai hari itu, Han Han disuruh berlatih
memasang kuda-kuda dengan tekun dan Sin Lian yang menjadi sucinya selalu
menemaninya dan mengawasinya dengan rajin pula. Dalam keadaan apapun juga, Han Han
diharuskan memasang kuda-kuda dan de-ngan demikian, ia mulai memaksa otot-otot
kakinya, dan melatih otot-otot ka-kinya itu agar menjadi seperti kaki ahli silat karena
sepasang kaki merupakan pilar terpenting bagi seorang ahli silat. Makin kuat kuda-kudanya,
makin sempurnalah ilmu silatnya, demikian pendapat para ahli silat.
Han Han merupakan seorang anak yang rajin dan tekun. Akan tetapi ke-rajinannya ini
hanya ditujukan untuk membaca kitab karena memang sejak kecil ia sudah “berkecimpung”
dalam lautan kitab-kitab dan huruf-huruf sastra. Kalau disuruh menghafal, sekali baca ia
dapat mengingat seribu huruf di luar kepala. Kini, disuruh melatih bhesi, ia merasa tersiksa
sekali. Menimba air pun harus dengan sepasang kaki memasang bhesi, di waktu berdiri, di
waktu jong-kok, bahkan di waktu ia berdiri memasak air dan membantu pekerjaan Sin Lian
mengurus rumah, ia diharuskan oleh gu-runya untuk memasang kuda-kuda. Dan semua ini
selalu diawasi dan dikontrol secara keras oleh Sin Lian!
“Sute, memang membosankan belajar bhesi seperti ini. Akan tetapi karena bhesi amat
penting, sute harus tekun. Aku sendiri semenjak pandai berjalan sudah disuruh belajar bhesi
oleh Ayah!”
Han Han menarik napas panjang. Su-dah hampir sebulan ia berlatih bhesi seperti ini.
Bayangkan saja. Dalam se-bulan itu ia selalu memasang bhesi! Ha-nya di waktu tidur
nyenyak saja kakinya tidak dikakukan karena dalam tidur ia terlupa. Kedua kakinya terasa
kaku sekali, bahkan kalau dilonjorkan menimbul-kan rasa sakit-sakit lagi.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
31
“Suci, apakah belajar silat begini tidak menjemukan? Jangan-jangan kalau sudah lulus,
sekali berdiri memasang bhesi kedua kakiku lalu berakar di tanah dan tidak dapat dicabut
lagi. Berapa lama aku harus melatih bhesi seperti ini?”
“Tergantung orangnya, sute. Akan tetapi menurut kata Ayah, engkau me-miliki daya tahan
dan bakat yang luar biasa sehingga dalam beberapa hari lagi tentu Ayah akan mengajar
lebih lanjut.”
“Mengajar apa?”
“Ilmu silat tentunya. Ilmu pukulan.”
“Wah, aku tidak suka.”
“Mengapa?”
“Ilmu saja kok ilmu memukul orang! Untuk memukul, menyiksa dan membunuh orang
digunakan ilmu yang dipelajari. Alangkah kejinya!”
“Sute, kau ini bocah aneh sekali. Ilmu silat bukan semata-mata memukul orang. Memukul
hanya merupakan sebuah di antara gerakan silat, di samping gerakan mengelak,
menangkis, menendang, menyiku dan lain-lain. Ilmu silat, menurut penjelasan Ayah, adalah
ilmu tata gerak menjaga dari pada serangan lawan, juga ilmu kesehatan karena dengan
latihan ilmu silat, jalan darah kita beredar de-ngan lancar dan betul mendatangkan
kesehatan, selain itu, juga merupakan seni tari yang indah, dan terakhir merupakan latihan
batin, meningkatkan har-ga diri dan memupuk sifat rendah hati.”
Han Han mendengarkan dengan melongo. Mereka duduk mengaso setelah berlatih kudakuda itu di dalam taman liar yang dipelihara oleh Sin Lian, duduk di atas rumput yang tebal.
Tak disangkanya bahwa puteri ketua pengemis ini dapat bicara seperti itu! Disangkanya
bahwa Sin Lian hanya pandai bersilat dan pandai memaki, galak, ganas, akan tetapi juga
ramah sekali.
“Keteranganmu amat menarik,” katanya tersenyum, “dan engkau pandai membela kebaikan
ilmu silat. Tentang yang pertama, aku percaya karena engkau pandai menjaga serangan
lawan bahkan pandai menyerang. Juga bahwa ilmu silat adalah ilmu menyehatkan tubuh,
boleh dipercaya melihat betapa engkau sehat dan kuat serta lincah sekali. Akan tetapi
bahwa ilmu silat adalah ilmu yang mengandung seni tari indah, masih kusangsikan.”
“Masih sangsi? Kau lihat dan katakan apakah ini tidak indah,” kata Sin Lian yang sudah
melompat bangun dan dara cilik ini mulai bersilat tangan kosong. Gerakannya cepat, namun
terutama se-kali amat indah. Gerakan tangan kaki teratur rapi dan benar-benar membuat
Han Han menahan napas. Ia melihat betapa gerakan-gerakan itu, biarpun agak terlalu cepat,
namun tiada ubahnya se-perti seorang dewi yang menari dengan indahnya, sama sekali
tidak kelihatan sebagai ilmu untuk berkelahi. Betapa lemasnya kedua lengan dan tubuh itu!
“Bagus! Memang indah sekali, suci!” katanya memuji dengan sejujurnya.
Sin Lian berhenti bersilat, lalu duduk pula di dekat Han Han.
“Harus kuakui bahwa ilmu silat tadi seperti orang menari saja. Kini aku per-caya bahwa
dalam ilmu silat terkandung seni tari yang indah, sungguhpun aku masih sangsi apakah aku
dapat belajar bersilat seindah yang kaumainkan itu. Tentang meningkatkan harga diri dan
memupuk sifat rendah hati, kurasa hal ini tidak karena ilmu silat, melainkan tergantung
daripada sifat orangnya.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
32
“Ah, tidak bisa! Seorang guru yang baik seperti Ayah, di samping mengajar-kan ilmu silat,
juga menekankan aturan-aturan keras untuk membuat muridnya memiliki harga diri, menjadi
pembela kebenaran dan keadilan, serta tidak som-bong.”
“Kalau begitu aku suka belajar ilmu silat. Biar kuminta suhu mengajarku gerakan kaki
tangan.”
Sin Lian menggeleng-geleng kepalanya yang bagus bentuknya. “Tidak begitu mudah, sute.
Kuda-kudamu belum sem-purna benar. Lebih baik kita berlatih lagi agar kuda-kudamu cepat
sempurna. Se-telah kuda-kudamu kuat benar, baru kau akan diberi pelajaran gerakan kaki
tangan.”
“Berapa lama lagi kiranya? Sebulan, dua bulan, tiga bulan?”
“Tergantung dari kemajuanmu, sute. Mungkin setahun baru diberi pelajaran pukulan.”
Jawaban ini membuat semangat Han Han menjadi lesu kembali. Disuruh bela-jar bhesi
sampai setahun? Wah, berat sekali! Membosankan. Memang pada da-sarnya ia kurang
dapat melihat manfaat-nya ilmu silat dan tadinya sama sekali tidak suka, kini setelah mulai
tertarik ia terbentur pada kesukaran belajar kuda-kuda yang membosankan itu sampai
se-tahun!
Sin Lian baru berusia sembilan tahun lebih, akan tetapi ternyata dia seorang bocah yang
cerdik. Melihat wajah sute-nya menjadi muram, ia cepat berkata.
“Sute, jangan memandang rendah kuda-kuda. Karena sesungguhnya pokok kekuat-an ilmu
silat terletak pada kekokohan bhesi inilah. Bagaikan rumah, demikian kata Ayah, bhesi
adalah tiang-tiangnya, pukulan tendangan dan gerakan lain hanya bagian atasnya atau
cabang-cabangnya be-rupa daun-daun jendela dan penghias-penghias lain. Apa artinya
rumah itu tampak indah dan kuat kalau hanya tampaknya saja dan tiang-tiangnya tidak kuat?
Tertiup angin keras sedikit saja akan roboh! Demikian pula orang pandai silat. Kalau ha-nya
kelihatannya saja bagus dan kuat, na-mun tidak memiliki sepasang kaki yang dapat berkudakuda kuat, sekali bertemu lawan berat akan mudah dirobohkan. Me-mang terlalu banyak
orang yang hanya ingin pandai memukul, menendang, se-hingga kelihatannya pandai. Akan
tetapi kalau demikian halnya, engkau hanya akan menguasai seni tarinya saja tidak akan
dapat menguasai inti sari ilmu silat.”
Kembali Han Han tertegun. Bocah perempuan ini pandai sekali berdebat, dan jalan
pikirannya seperti orang de-wasa saja. Agaknya memang Lauw-pangcu sudah
menggemblengnya sejak kecil, bu-kan hanya digembleng ilmu silat, melain-kan juga
nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan.
“Baiklah, suci, aku akan tekun ber-latih bhesi,” kata Han Han sambil meng-hela napas.
Mulailah ia berlatih lagi, mengulangi berbagai kuda-kuda yang sukar-sukar, diawasi dan
diberi petunjuk oleh sucinya yang lebih muda darinya itu. Sampai hari menjadi gelap barulah
keduanya meninggalkan taman.
Tiga bulan kemudian Han Han masih belum dilatih gerak pukulan, akan tetapi di samping
latihan bhesi, ia mulai dilatih mengatur napas dan bersamadhi oleh gurunya. Pelajaran ini
pun membosankan baginya, namun setidaknya ia cukup me-ngerti akan manfaat siulian
(samadhi) dan mengatur pernapasan, karena dalam kitab-kitab kuno hal ini pun selalu
di-sebut-sebut sebagai kewajiban setiap orang yang hendak menguasai diri pribadi dan
menguasai nafsu-nafsunya. Ka-rena itu, latihan siulian dan mengatur napas ini lebih mudah
ia pelajari. Hanya bedanya, kalau siulian untuk menguasai diri pribadi dan mengendalikan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
33
nafsu di-lakukan dengan duduk diam dan belajar mengendalikan pikiran dan
menenteram-kan hati serta menutup semua perasaan, adalah siulian yang diajarkan oleh
Lauw-pangcu ini ditujukan untuk melancarkan jalan darah, untuk menguasai pernapasan dan
terutama sekali untuk menggunakan hawa dalam tubuh sebagai kekuatan!
Lauw-pangcu kembali tertegun dan terheran-heran ketika pada hari-hari pertama ia
mengajar murid barunya ini bersamadhi, dalam waktu singkat saja Han Han sudah dapat
mematikan semua rasa dan berada dalam keadaan hening yang hanya akan dapat dicapai
oleh orang yang sudah berbulan-bulan belajar sama-dhi! Ia hanya mengira bahwa Han Han
memang memiliki bakat luar biasa dan kemauan yang amat keras seperti baja, tidak tahu
bahwa hal ini timbul dari keadaan yang “tidak wajar” dalam diri Han Han akibat terbantingnya
kepalanya pada dinding dahulu.
Lebih-lebih lagi keheranannya ketika ia melatih Han Han untuk mengumpul-kan hawa ke
pusar dan bertanya apakah ada terasa hawa di situ, anak itu meng-angguk! Ia lalu menyuruh
muridnya meng-gunakan kemauan untuk mendorong hawa panas itu naik ke dada dan
kembali Han Han mengangguk, sebagai tanda bahwa ia telah melakukan perintah suhunya.
Lauw-pangcu tidak percaya, lalu meraba dada muridnya. Ia terbelalak. Dada itu
mengeluarkan getaran yang amat kuat sehingga tubuh bocah itu menggigil, mukanya me-rah
seperti terbakar. Cepat-cepat ia menurunkan lagi hawa panas itu turun ke pusar sehingga
keadaan anak itu normal kembali.
Setelah Han Han dan gurunya duduk mengaso tidak berlatih, gurunya berkata. “Dalam
latihan siulian, kau cepat maju, Han Han. Hati-hatilah, jangan kau sembrono dengan hawa
panas di pusar itu. Itu merupakan kekuatan hebat dan kalau kau sudah dapat
mengendalikannya, hawa itu dapat kaudorong ke bagian tubuh yang manapun juga,
merupakan kekuatan sin-kang yang luar biasa. Akan tetapi kalau kau sembrono dan keliru
menggunakannya, dapat merusak bagian dalam tubuhmu sendiri. Sebaiknya secara
perlahan kaulatih dan kuasai hawa itu, mendorongnya perlahan-lahan dan sedikit demi
sedikit maju, sampai dapat kau-perintah dia maju ke pundak, kemudian turun ke lengan dan
sebagainya. Hawa itu dapat diperkuat dengan latihan sama-dhi dan pernapasan yang benar
seperti yang kuajarkan kepadamu. Kau sudah hafal akan teorinya, tinggal melaksana-kan
dalam latihan-latihan yang tekun.”
Demikianlah, hanya dengan setengah hati Han Han melanjutkan latihannya, yakni
memperkuat kuda-kuda dan latihan samadhi. Sebetulnya ia sudah tidak ke-rasan sama
sekali tinggal di sarang Pek-lian Kai-pang ini. Ia merasa tidak bebas lagi, tidak seperti ketika
ia berkeliaran tanpa tujuan. Sekarang ia terikat oleh kewajiban-kewajiban berlatih dan
mem-bantu pekerjaan rumah tangga yang di-lakukan Sin Lian. Ia tidak lagi dapat berlaku
sekehendak hatinya, mau tidur tinggal tidur, mau jalan tidak ada yang melarang, bisa tertawa
sesukanya atau menangis semaunya kalau ia kehendaki. Di situ, ia terpaksa berlaku tidak
wajar dan palsu. Ia tidak suka berlatih silat, namun terpaksa ia lakukan. Kalau hatinya
sedang mengkal, ia seharusnya cem-berut, menurutkan hatinya, akan tetapi di depan
gurunya, Sin Lian dan para ang-gauta kai-pang, ia memaksa diri tersenyum! Benar-benar
hidup tersiksa baginya. Lebih-lebih kalau ia mengingat akan sikap para suheng-suheng
(kakak seper-guruan) atau susiok-susiok (paman seperguruan) terhadap dirinya, membuat ia
makin tidak kerasan lagi. Mereka itu, anggauta-anggauta kai-pang yang taat, memandang
rendah dan hina kepadanya karena ia bukan termasuk golongan pe-ngemis! Kalau tidak
mau menjadi pe-ngemis, mengapa belajar ilmu silat di situ dan memakai pakaian rombeng,
demi-kian mereka sering kali menegurnya. Han Han sering kali dihina, dipukul dan diejek.
Akan tetapi dasar dia memiliki watak keras dan berani, sedikit pun tidak mempunyai watak
pengecut, ia tidak pernah mengeluh di depan gurunya. Bah-kan di depan Sin Lian ia tidak
pernah menceritakan perlakuan mereka itu ter-hadap dirinya. Sikap ini menolongnya karena
para anggauta kai-pang yang ga-gah itu merasa kagum menyaksikan sikap Han Han dan
gangguan-gangguan mereka makin berkurang.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
34
Sudah lima bulan Han Han berada di sarang Pek-lian Kai-pang itu. Pada suatu pagi,
datanglah serombongan pengemis ke tempat itu. Mereka ini terdiri dari belasan orang
pengemis, tampak kuat-kuat seperti para anggauta Pek-lian Kai-pang. Hanya bedanya,
kalau pakaian para ang-gauta Pek-lian Kai-pang, biarpun ber-totol-totol berkembang atau
tambal-tambalan, dasarnya selalu warna putih, adalah rombongan pengemis yang datang ini
pakaiannya serba hitam! Wajah me-reka juga bengis-bengis, dan mereka di-pimpin seorang
pengemis tua bongkok berpakaian hitam yang matanya hanya satu, yaitu yang kanan karena
mata kiri-nya buta.
Han Han yang sedang berlatih bersama Sin Lian, segera berlari-lari meng-hampiri bersama
gadis cilik itu yang menjadi tegang dan berbisik, “Ah, mere-ka adalah orang Hek-i Kai-pang
(Per-kumpulan Pengemis Baju Hitam). Tentu mencari keributan!”
Han Han menjadi berdebar tegang hatinya. Benar-benarkah akan terjadi bentrokan antara
para pengemis? Alang-kah aneh dan lucunya. Sama-sama pe-ngemis, masih bertengkar! Ia
dan Sin Lian menonton dari pinggir karena saat itu, Lauw-pangcu sendiri telah menyam-but
datangnya rombongan pengemis baju hitam ini bersama anak buahnya yang sudah berbaris
rapi. Rata-rata para ang-gauta Pek-lian Kai-pang bersikap keren.
Lauw-pangcu telah mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata, “Biarpun
belum pernah jumpa, namun tidak akan keliru dugaan saya kalau yang datang berkunjung ini
adalah Song-pangcu (Ketua Pengemis Song) dari lembah uta-ra!”
Kakek bongkok itu mengeluarkan suara mendengus seolah-olah sikap sopan dan ramah ini
malah tidak menyenangkan hatinya. “Benar, Lauw-pangcu. Aku orang she Song ketua Hek-i
Kai-pang dari seberang sungai. Tak perlu kiranya kita berpanjang debat, Lauw-pangcu,
karena kita sama tahu bahwa di antara anak buah kita sudah sering kali timbul bentrok,
dan....”
“Bentrokan yang sengaja dilakukan oleh anggauta-anggautamu, Song-pangcu!” bantah
Lauw-pangcu dengan suara keren. “Sudah jelas daerah kita dibatasi sungai, namun para
anggautamu sengaja menyeberang sungai dan mendesak daerah kami di selatan!”
“Tidak perlu dibicarakan lagi urusan itu!” Song-pangcu memotong marah. “Kami tidak perlu
lagi banyak cakap dengan segala pemberontak....”
“Song-pangcu! Mengapa kau menuduh yang bukan-bukan?”
“Ha-ha-ha! Menuduh, katamu? Siapa tidak tahu bahwa Pek-lian Kai-pang adalah cabang
dan pecahan dari Pek-lian--kauw yang memberontak dan jahat? Si-apa tidak tahu akan
kontak antara kalian dengan pemberontak di barat?”
Lauw-pangcu menjadi pucat mukanya lalu berubah merah sekali. “Song-pangcu, memang
tidak perlu banyak cakap. An-tara kita terdapat jurang pemisah dan bibit permusuhan.
Sekarang, kalian datang mau apa?”
“Ha-ha, mau apa lagi? Membereskan urusan antara kita dengan senjata!” kata It-gan Hekhouw sambil terkekeh dan menggerak-gerakkan tongkatnya yang juga berwarna hitam
seperti pakaiannya.
Lauw-pangcu memberi isyarat dengan tangan dan melompatlah lima belas orang anggauta
Pek-lian Kai-pang tingkat ting-gi. Mereka inilah yang oleh Sin Lian dan Han Han disebut
susiok (paman guru) dan mereka ini yang mewakili Lauw-pangcu melatih ilmu silat kepada
para murid. Hanya Sin Lian dan Han Han berdua saja yang menerima pendidikan langsung
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
35
dari ketua Pek-lian Kai-pang ini. Lima belas orang itu bergerak secara teratur, berputaran
dan terbentuklah sebuah barisan lingkaran tiga lapis. Yang luar terdiri dari delapan orang,
sebelah dalamnya lima orang dan yang paling dalam dua orang. Bentuknya seperti teratai.
“Song-pangcu, bicara tentang mengadu senjata berarti mengadu kepandaian. Seorang
pangcu yang mempunyai banyak anak buah, tidak patut kalau turun tangan sendiri sebelum
mengajukan anak buahnya. Cobalah kaupecahkan barisan kami yang bernama Pek-lian-tin
(Barisan Teratai Putih) ini!” kata Lauw-pangcu.
Barisan itu hanya bentuknya saja seperti teratai, akan tetapi sebenarnya merupakan
gabungan daripada pat-kwa-tin (barisan segi delapan) yang diwakili oleh lingkaran pertama
di luar, ngo-heng-tin (barisan lima unsur) yang diwakili oleh lingkaran ke dua dan im-yang-tin
(barisan im-yang) diwakili oleh dua orang, yaitu sesungguhnya bukan barisan hanya kerja
sama antara dua orang yang meng-gunakan dua jenis tenaga yang berlawan-an dalam
gerakan mereka. Dapat diduga betapa hebat dan kuatnya barisan Pek-lian-tin yang terdiri
dari gabungan tiga barisan kuat.
Akan tetapi It-gan Hek-houw yang sudah mendengar akan Pek-lian-tin ini memandang
rendah dan tertawa meng-ejek. Ia sudah siap dengan anak buahnya yang dipilih atas tokohtokoh ter-pandai dari Hek-i Kai-pang. Ia pun mem-beri tanda dengan tongkatnya diangkat ke
atas maka majulah lima belas orang pengikutnya yang rata-rata bertubuh ku-at, tidak seperti
ketua mereka yang bongkok. Seperti Pek-lian-tin itu, mereka pun masing-masing memegang
sebatang tongkat hitam, yang hanya warnanya saja berbeda dengan tongkat lawan yang
putih.
Lima belas orang pengemis pakaian hitam ini lalu bergerak pula membentuk lingkaran
besar, mengelifingi Pek-lian-tin. Mereka ini harus terus berlari-larian mengelilingi barisan
pengemis Pek-lian Kai-pang yang tetap pada kedudukan mereka, tidak bergerak, hanya
pandang mata mereka saja tetap memperhatikan lawan yang berada di depan mereka
ma-sing-masing. Dengan lingkaran terdiri dari lima belas orang itu, maka barisan luar patkwa-tin yang terdiri dari dela-pan orang itu menghadapi jumlah lawan yang hampir dua kali
lebih banyak. Na-mun mereka tetap tenang, siap dengan tongkat di tangan, demikian pula
ngo-heng-tin yang berada di dalam, dan dua orang yang membentuk im-yang-tin.
Han Han menonton dengan jantung berdebar. Baru sekali ini ia akan me-nyaksikan
pertempuran hebat antara orang-orang yang pandai ilmu silat dan mulailah rasa tidak
senang menggerogoti hatinya. Jadi mereka itu mati-matian berlatih ilmu silat hanya untuk
ini? Un-tuk berkelahi, saling serang dan mungkin saling bunuh? Apakah kelak kalau dia
sudah pandai ilmu silat juga seperti me-reka ini? Ia pun memikirkan tuduhan kakek mata
satu itu yang dilontarkan terhadap Pek-lian Kai-pang. Benarkah Pek-lian Kai-pang itu sebuah
perkumpulan pemberontak? Benarkah Pek-lian Kai-pang adalah cabang dari Pek-lian-kauw?
Dia sudah pernah membaca tentang Pek-lian-kauw ini, yang merupakan perkumpul-an
Agama Teratai Putih, akan tetapi sesungguhnya adalah perkumpulan kaum pemberontak
yang gigih terhadap Kerajaan Beng-tiauw yang telah jatuh di tangan bangsa Mancu. Menurut
patut, pemberon-tak terhadap Kerajaan Beng tentunya bekerja sama dengan bangsa Mancu!
Akan tetapi mengapa sekarang masih disebut pemberontak dan malah tadi dituduh
mengadakan kontak dengan pemberontak di barat? Han Han tidak mengerti dan menjadi
bingung, akan tetapi hal itu ia lupakan karena perhatiannya lebih ter-tarik kepada
pertempuran hebat yang akan berlangsung.
“Anjing-anjing hitam itu tidak mung-kin dapat menangkan Pek-lian-tin!” kata Sin Lian dengan
suara berbisik.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
36
“Akan tetapi jumlah mereka lebih banyak. Mana bisa lingkaran luar yang terdiri dari delapan
orang dapat bertahan?” bantah Han Han yang mau tidak mau tentu saja berfihak kepada
Pek-lian Kai-pang.
“Kau lihat saja, nanti tahu kelihaian Pek-lian-tin, sute.”
Han Han tidak keburu bertanya lagi karena kini pertandingan sudah dimulai, perhatiannya
tertarik dan ia menonton dengan hati tegang. Batu pertama kali ini selama hidupnya Han
Han menonton pertempuran seperti ini dan karena ia tahu bahwa dalam pertempuran ini
akan banyak orang terluka dan tewas, maka hatinya tegang sekali.
Pertempuran itu dimulai dengan ben-takan-bentakan dan sorakan-sorakan nya-ring dari
kedua fihak. Mula-mula lima belas orang pengemis baju hitam itu se-telah tadi berlari-larian
memutari Pek-lian-tin, bersorak dan menyerbu secara tiba-tiba. Lima belas orang itu
bergerak dengan cepat dan dalam detik yang sa-ma, karena memang mereka itu bergerak
menurut aturan barisan yang telah mere-ka susun dan latih sebelumnya. Tongkat mereka
maju menerjang dan setiap dua orang pengemis baju hitam telah memilih seorang pengemis
Teratai Putih sebagai lawan sehingga penyerangan mereka tidak kacau, mempunyai
sasaran yang tertentu.
Kalau diukur tingkat kepandaian per-orangan antara anggauta kedua “tin” ini, agaknya
berimbang dan tidak banyak selisihnya. Maka jika seorang di antara mereka dikeroyok dua
orang lawan, tentu akan kalah. Kalau lingkaran luar Pek-lian-tin itu menerima serangan
lawan begitu saja, tentu mereka akan hancur mengingat bahwa jumlah mereka hanya
delapan orang menghadapi serangan lima belas orang. Akan tetapi, setelah bertan-ding,
barisan ini memperlihatkan ke-hebatannya. Tiba-tiba mereka itulah yang sekarang bergerak
memutar sambil menangkis sebuah serangan. Dan karena mereka bergerak memutar ini
maka se-tiap orang pengemis Pek-lian Kai-pang hanya cukup menangkis serangan seorang
lawan saja lalu bergerak ke kiri meneri-ma pula serangan tongkat hitam yang lain. Adapun
orang ke dua fihak lawan yang menyerangnya otomatis telah “diterima” oleh teman yang
datang meng-geser dari kanan. Memang gerakan ini membuat mereka menerima serangan
secara bertubi-tubi, namun tetap saja mereka itu masing-masing hanya menghadapi seorang
lawan saja.
Kemudian secara tiba-tiba sekali, barisan sebelah dalam yang terdiri dari lima orang, cepat
dan tidak terduga-duga oleh barisan lawan yang sedang gembira mendesak lingkaran luar
yang berputaran itu, menerjang dari celah-celah antara dua orang kawan yang membentuk
Pak-kwa-tin. Mereka ini menerjang dengan tongkat mereka menuju ke sebuah sasaran saja,
yaitu ke arah seorang lawan yang mereka lihat dari dalam tadi berada dalam posisi lemah.
Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan robohlah tiga orang pengemis baju hitam. Lima
orang anggauta Ngo-heng-tin itu telah berhasil merobohkan tiga orang lawan dan karena
serangan mereka tadi amat tiba-tiba, maka fihak lawan hanya ada dua orang saja yang
mampu menangkis, sedangkan yang tiga orang kena dihantam kepalanya dan roboh
ber-kelojotan dengan kepala retak!
“Nah, kau lihat kelihaian Pek-lian-tin!” seru Sin Lian dengan suara nyaring, sebetulnya
ucapan ini ditujukan kepada Han Han akan tetapi terdengar oleh semua orang karena
keadaan di situ sunyi dan tegang, kecuali suara beradunya tongkat dan terengahnya napas
mereka yang sedang bertempur.
Han Han merasa kagum, akan tetapi juga ketidaksenangannya terhadap ilmu silat
bertambah. Ia terbelalak meman-dang ke arah tiga orang pengemis baju hitam yang
berkelojotan kaki tangannya, mulutnya mengeluarkan rintihan perlahan, darah mengalir dari
mata, telinga, hidung dan mulut. Kemudian mereka berhenti berkelojotan dan tidak bergerak
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
37
lagi. Han Han bergidik. Untuk inikah ilmu silat dilatih? Untuk inikah perkumpulan kai-pang
dibentuk? Ia menyapu wajah mereka yang sedang bertempur seru. Wajah pe-nuh keringat,
berkilat-kilat, akan tetapi masih kalah oleh kilatan mata mereka yang penuh nafsu
membunuh, mulut yang menyeringai, seolah-olah mereka amat gembira menghadapi
perjuangan antara mati dan hidup ini! Seolah-olah mereka itu sekumpulan kanak-kanak
tengah ber-main-main, tidak ada ketakutan terbayang di wajah mereka, yang ada hanya
nafsu untuk menang, untuk menghancurkan lawan, untuk membunuh!
Setelah kehilangan tiga orang kawan, barisan pengemis baju hitam menjadi hati-hati sekali.
Mereka maklum bahwa kalau dilanjutkan, selain penyerangan mereka akan gagal, juga
mereka akan sukar melindungi diri dari serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh lima orang di
sebelah dalam barisan lawan itu. Ter-dengar It-gan Hek-houw ketua mereka bersuit nyaring
dan kini barisan pengemis baju hitam mengubah gerakan. Mereka pun berjalan mengitari
barisan lawan, mengimbangi gerakan Pat-kwa-tin, ke-mudian mereka menyerang lagi, bukan
menyerang sambil berhenti di tempat seperti tadi, dan kini mereka menyerang tidak
berbareng, melainkan berganti-ganti sehingga yang tidak menyerang dapat menjaga kawan
yang menyerang dari bahaya. Keadan makin seru dan kacau karena fihak pengemis Peklian-tin dibikin bingung oleh penyerangan seperti itu. Mereka melawan sekuat tenaga,
kadang-kadang dibantu oleh Ngo-heng-tin dari dalam yang kini bertugas mem-bela kawankawan yang di luar. Perang campuh terjadi dan berjatuhanlah korban kedua fihak. Akan
tetapi sekali ini, fihak Pek-lian-tin roboh empat orang sedang-kan di fihak Hek-i Kai-pang
roboh tiga orang lagi.
Pat-kwa-tin yang kehilangan empat orang itu menjadi ompong dan kehilangan daya
keampuhannya. Hal ini tidak disia-siakan oleh fihak pengemis baju hitam yang langsung
menyerang dan menghim-pit. Akan tetapi kini bergeraklah barisan Ngo-heng-tin, menutup
bagian-bagian yang lowong dan balas menyerang. Ter-jadi perang tanding yang amat seru
dan mati-matian antara sembilan orang pe-ngemis Pek-lian-tin melawan delapan orang
pengemis Hek-i Kai-pang. Akan tetapi terdengar bentakan-bentakan nyaring dan roboh pula
empat orang penge-mis baju hitam. Kiranya sekarang im-yang-tin yang terdiri dari dua orang
itu telah bergerak. Gerakan mereka sungguh mengagetkan. Kiranya mereka ini merupakan
“inti” dari Pek-lian-tin, dan ting-kat kepandaian mereka lebih tinggi dari-pada tiga belas orang
teman yang lain. Selain tingkat kepandaian mereka lebih tinggi, juga gerakan mereka sukar
di-duga lawan karena mereka itu menyusup di antara dua barisan depan yang senga-ja
menyembunyikan mereka dan hanya bergerak memberi jalan setelah mendapat isyarat dari
dalam. Maka sekali mener-jang keluar dalam keadaan tak terduga-duga, tongkat mereka
berkelebat dan masing-masing dapat merobohkan dua orang lawan!
Bersoraklah fihak Pek-lian Kai-pang melihat hasil ini. Kini fihak pengemis baju hitam sudah
tewas atau luka berat sepuluh orang, sisanya hanya lima orang lagi saja! Sedangkan fihak
Pek-lian Kai-pang hanya roboh empat orang, jadi ma-sih sebelas orang. Kini keadaan
terbalik, lima orang pengemis baju hitam melawan sebelas orang pengemis Pek-lian!
Namun, harus dipuji semangat bertempur penge-mis-pengemis baju hitam itu. Agaknya
mereka ini merasa sakit hati sekali me-nyaksikan robohnya teman-teman mereka dan kini
mereka bertanding seperti orang-orang kemasukan setan, dengan nekat dan tidak peduli
akan diri sendiri. Ka-rena amukan yang hebat ini, keadaan makin kacau. Fihak Pek-lian Kaipang baru dapat merobohkan sisa lima orang lawan ini setelah merobohkan fihak sen-diri
dengan empat orang lagi!
Lima belas orang pengemis baju hi-tam dan delapan orang anggauta Pek-lian Kai-pang
menggeletak mandi darah, sebagian besar mati dan sebagian lagi luka-luka berat! Tujuh
orang anggauta Pek-lian Kai-pang masih berdiri dalam bentuk barisan biarpun lawannya
sudah roboh semua, wajah mereka membayang-kan kebanggaan karena dalam
pertempur-an ini merekalah yang berada di fihak menang! Tapi pada saat itu, terdengar
bentakan nyaring dan tubuh It-gan Hek-houw yang bongkok itu telah bergerak maju, tongkat
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
38
hitamnya diputar-putar cepat sekali. Ia maju menerjang tujuh orang sisa barisan Pek-lian-tin
itu yang tentu saja sudah cepat bergerak me-nyambut terjangan ketua Hek-i Kai-pang.
Namun gerakan Si Bongkok bermata satu itu memang hebat. Tongkatnya yang hitam itu
biarpun kecil, mengandung tenaga luar biasa sehingga terdengarlah suara pletak-pletok
ketika tongkat-tongkat ketujuh orang lawannya itu patah-patah setelah bertemu dengan
tongkatnya dan dalam waktu singkat saja, tongkatnya telah merobohkan tujuh orang Peklian-tin itu!
Lauw-pangcu memekik marah melihat ini, dan tiba-tiba tubuh kakek ini men-celat ke depan,
tongkatnya menyambar ganas.
“Desssss....!” Dua tongkat itu bertemu dengan hebat dan akibatnya, ke-duanya terhuyung
mundur. Akan tetapi, kalau Lauw-pangcu hanya terhuyung dua langkah ke belakang, adalah
Si Bongkok itu terhuyung enam tujuh langkah dan hampir terjengkang roboh.
“It-gan Hek-houw! Engkau tua bangka tak tahu malu! Jangan hanya memperli-hatkan
kegarangan terhadap anak buahku, hayo lawanlah aku. Kita tua sama tua, mari kita lihat
siapakah di antara kita yang lebih unggul!” bentak Lauw-pangcu yang menjadi marah sekali
menyaksikan musuh ini merobohkan anak buahnya.
“Orang she Lauw, manusia sombong, pemberontak rendah!” It-gan Hek-houw balas memaki
sambil lari maju dan me-lakukan serangan dengan dahsyat. Lauw-pangcu yang memang
sudah siap sedia, menyambutnya dan bertandinglah kedua orang ketua kai-pang ini dengan
seru.
Ilmu tongkat Lauw-pangcu yang dicipta-kannya sendiri dari gabungan banyak ilmu silat
tongkat yang dikenalnya, diambil intinya dan bagian-bagian yang paling lihai, yaitu Ilmu
Tongkat Pek-lian-kun-hoat, memang lihai luar biasa.
Memang sesungguhnyalah bahwa Lauw-pangcu ini, yang tadinya bernama Lauw Tai Kim,
adalah seorang tokoh dari Pek-lian-kauw yang telah dihancurkan oleh Kerajaan Beng-tiauw.
Pek-lian-kauw sudah hancur dan tokoh-tokohnya banyak yang tewas, akan tetapi Lauw Tai
Kim berhasil menyelamatkan diri. Diam-diam ia lalu mengumpulkan kawan-kawan, dan
menerima kawan-kawan baru lalu mem-bentuk perkumpulan pengemis Pek-lian Kai-pang.
Memang benar bahwa Pek--lian-pai atau Pek-lian-kauw dahulu ter-kenal sebagai
perkumpulan pemberontak yang merasa tidak puas dengan Kerajaan Beng. Akan tetapi hal
ini bukan berarti bahwa jiwa Lauw-pangcu adalah jiwa pemberontak yang suka bersekutu
dengan penjajah asing. Sama sekali tidak. Bah-kan ketika Kerajaan Beng musnah lalu
muncul Kerajaan Ceng yang didirikan oleh bangsa Mancu yang menjajah Tiong-goan, Lauwpangcu ini diam-diam menen-tang penjajah ini dan mengadakan hu-bungan dengan Bu Sam
Kwi yang mem-bangun kerajaan kecil di barat dan me-nentang pemerintah Mancu. Bahkan
perkumpulan Pek-lian Kai-pang ini sekarang dijadikan mata-mata untuk Bu Sam Kwi, dan
diam-diam selain mengawasi gerak-gerik pemerintah Mancu, juga melakukan pengacauanpengacauan, sabotase-sabotase terhadap pemerintah penjajah. Inilah sebabnya mengapa
Lauw-pangcu sering kali bentrok dengan serdadu-serdadu Mancu.
Akan tetapi fihak pemerintah Mancu juga tidak bodoh dan buta. Pemerintah ini, dengan
menggunakan kekuasaan, pe-ngaruh dan sogokan harta benda, berhasil pula memikat hati
golongan-golongan di Tiong-goan sehingga suka bekerja sama dan membantu pemerintah
mereka. Juga perkumpulan Hek-i Kai-pang telah menjadi kaki tangan pemerintah baru.
Tentu saja lama-kelamaan gerak-gerik Pek-lian Kai-pang ketahuan dan karena ini pula maka
Hek-i Kai-pang memusuhinya dan sampai hari ini terjadi bentrok hebat antara ketua sama
ketua!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
39
It-gan Hek-houw juga bukan seorang lemah. Ilmu tongkatnya adalah gubahan dari ilmu toya
Siauw-lim-pai, maka me-miliki gaya yang kokoh kuat dan sukar ditundukkan. Namun. dalam
hal ilmu kepandaian, ia masih kalah banyak oleh Lauw-pangcu sehingga setelah lewat lima
puluh jurus, Lauw-pangcu berhasil me-mukul pundak kirinya.
“Krakkk....!” It-gan Hek-houw mencelat ke belakang, lalu terjatuh berlutut, akan tetapi cepat
berdiri lagi. Lengan kirinya tergantung lumpuh, tulang pun-dak kirinya remuk. Mukanya pucat
dan matanya yang tinggal sebelah itu menge-luarkan sinar penuh kemarahan dan
ke-bencian. Tidak sedikit pun terdengar keluhan atau rintihan dari mulutnya dan hal ini saja
membuktikan bahwa ketua Hek-i Kai-pang memang gagah.
“Orang she Lauw, hari ini aku mengaku kalah. Akan tetapi kau tunggulah pembalasanku!”
Setelah berkata demikian, It-gan Hek-houw lalu membalikkan tubuh dan pergi dari situ,
diikuti sisa orang-orangnya yang memondong teman-teman yang terluka.
Beberapa orang tokoh Pek-lian Kai-pang bergerak maju dan hendak mengejar, akan tetapi
Lauw-pangcu membentak dan melarang mereka.
“Pangcu, anjing macam dia kalau tidak dibunuh sekarang, besok tentu akan menimbulkan
keributan saja,” bantah seorang di antara mereka.
“Jangan gosok-gosok luka yang sudah parah. Kita harus bersiap-siap dan segera pergi dari
sini. Tak lama lagi tentu ba-risan Mancu datang menyerbu. Kalian sudah mendengar sendiri
tadi ucapan-ucapan It-gan Hek-houw. Rahasia kita telah diketahui dan lebih baik kita kembali
ke barat, bergabung dan menyam-paikan laporan kepada Ong-ya (Raja). Sehari ini kita
harus dapat membereskan segalanya dan berkemas, paling lambat besok pagi kita harus
sudah berangkat meninggalkan tempat ini.”
Wajah para pengemis itu berubah, sebagian besar merasa tidak suka untuk pergi dari
daerah Tiong-goan yang sudah menjadi tempat mereka mencari rejeki. Akan tetapi tidak
seorang pun berani membantah perintah ketua mereka dan diam-diam mereka itu hanya
saling pandang, kemudian mulai mengurus mayat teman-teman mereka yang roboh dalam
pertandingan tadi, serta merawat yang luka.
“Han Han, engkau di mana....?” teriakan nyaring dari Sin Lian ini me-nyadarkan Lauwpangcu yang sedang melamun sambil menonton ahak buahnya menolong para korban. Ia
cepat membalikkan tubuhnya, dan menghampiri pu-terinya.
“Ada apakah, Lian-ji? Ke mana Han Han?”
Sin Lian mengerutkan alisnya yang kecil hitam. “Entahlah, Ayah. Tadi dia berada di sini
bersamaku menonton per-tandingan. Akan tetapi tiba-tiba ia le-nyap entah ke mana.
Kupanggil-panggil tidak menyahut.”
Lauw-pangcu membantu puterinya memanggil-manggil dan mencari Han Han, akan tetapi
tidak tampak bayangan anak itu. Bahkan ia lalu memerintahkan beberapa orang anak buah
Pek-lian Kai-pang untuk bantu mencari. Namun sia-sia, Han Han telah lenyap tak
mening-galkan bekas.
Ke manakah perginya anak itu? Tadinya Han Han menonton pertandingan, dan ia menjadi
kagum sekali menyaksikan ilmu tongkat gurunya yang amat hebat dan aneh. Akan tetapi, di
sudut hatinya ia makin tidak senang. Ia benci melihat bunuh-membunuh itu, melihat sesama
pengemis saling bunuh seperti itu. Andai-kata mereka itu merupakan jembel-jembel biasa
yang tidak tahu ilmu silat, tidak mungkin mereka itu akan bertengkar dan bercekcok lalu
berkelahi saling bunuh seperti itu. Apalagi setelah ia mendengar ucapan gurunya,
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
40
mengertilah ia bahwa memang betul perkumpulan pengemis yang dipimpin gurunya itu
adalah per-kumpulan pemberontak yang bergabung dengan kekuasaan yang dipimpin “ongya” di barat. Ia menjadi makin tidak senang. Bukan ia tidak senang melihat perlawanan
terhadap pemerintah Mancu, hanya ia tidak ingin melibatkan diri ke dalam pertentangan
politik yang ia tidak mengerti. Semua ini membuat hatinya makin terasa hambar terhadap
pelajaran ilmu silat, maka ketika melihat bahwa Sin Lian sedang tertarik dan tidak
memperhatikannya, diam-diam anak ini lalu pergi dari situ dan terus berlari cepat keluar dari
dalam hutan. Ia takut kalau-kalau gurunya akan mengejar, maka ia berlari terus tak kunjung
henti sehingga ketika Lauw-pangcu dan anak buahnya mencari-cari di sekitar hutan, ia telah
berada amat jauh di luar hutan.
Han Han kembali ke kota Tiong-kwan. Sudah hampir setengah tahun ia belajar di bawah
asuhan Lauw-pangcu. Ketika ia memasuki pintu gerbang kota Tiong-kwan ia merasa betapa
cepatnya sang waktu berlalu. Seolah-olah baru kemarin saja ia tiba di Tiong-kwan dan
bertemu Lauw-pangcu di bekas rumah terbakar. Masih terbayang jelas betapa ia bertemu
de-ngan jembel cilik dan membagi-bagi roti. Oh ya, siapa pula nama jembel cilik yang
bercita-cita menjadi seorang per-wira itu? Wan Sin Kiat! Berseri wajah Han Han ketika
teringat akan bocah yang telah menjadi sahabatnya itu. Ia harus pergi mencarinya. Akan
senang juga berkawan dan mengobrol dengan Sin Kiat. Pula, ia harus mencari pekerjaan,
mencari hasil untuk mengisi perutnya. Maka pergilah Han Han ke tempat yang dahulu, di
dekat pasar, bekas gedung yang terbakar.
Dari jauh sudah terdengar suara ribut-ribut seperti suara anak-anak berkelahi. Han Han lari
menghampiri dan ketika ia tiba di tempat itu, ia melihat seorang anak laki-laki berpakaian
mewah me-mukul dan menendang roboh dua orang jembel cilik. Gerakan anak berpakaian
mewah itu gesit sekali, dan pukulan ser-ta tendangannya juga antep buktinya dua orang
anak jembel itu roboh dan meng-aduh-aduh. Ketika Han Han meneliti, kiranya seorang di
antara dua anak jem-bel itu bukan lain adalah Wan Sin Kiat. Dan ketika ia memperhatikan
anak ber-pakaian mewah itu, kemudian melihat pula seekor kuda tinggi besar berdiri di
belakang anak itu, ia segera teringat dan merahlah mukanya. Bocah berpakaian mewah itu
bukan lain adalah pemuda sombong yang pernah menyiksanya dan menyeretnya dengan
kuda lima bulan yang lalu itu! Pemuda yang disebut Ouw-yang-kongcu (Tuan Muda
Ouwyang) dan yang ditakuti penduduk kampung! Melihat betapa kini Ouwyang-kongcu itu
memukuli dua orang anak jembel itu, Han Han segera melompat maju dan berdiri
meng-hadapinya sambil membentak marah.
“Kau bocah sombong dan jahat! Di mana-mana kau suka memukul orang!”
Melihat datangnya seorang bocah jembel lain, Sin Kiat yang sudah lupa lagi kepada Han
Han, mengeluh dan memegangi pantatnya. “Aduhhh.... kau main curang, awas kau kalau
aku sudah dapat berdiri lagi....!” Adapun bocah pengemis ke dua, yang usianya sudah jauh
lebih tua, sedikitnya ada empat belas tahun, agaknya tidak memiliki nyali sebesar Sin Kiat.
Buktinya dia yang sudah dapat bangkit kembali itu hanya berdiri mengaduh-aduh sambil
memegangi pundak yang terpukul.
Bocah berpakaian mewah membawa kuda itu memang Ouwyang Seng adanya. Berbeda
dengan Sin Kiat yang sudah pangling dan tidak mengenal Han Han, Ouwyang Seng ternyata
memiliki ingatan yang lebih kuat. Apalagi karena dia pernah digigit pundaknya oleh Han Han
yang sampai sekarang pun masih ada bekas lukanya. Ia berdiri bertolak pinggang,
memandang dengan sikap mengejek, kemudian berkata.
“Hemmmmm, kau ini bocah edan yang dulu pernah kuhajar setengah mampus! Dahulu pun
setengah tahun yang lalu, kau bukan lawanku. Apalagi sekarang setelah aku memperoleh
kemajuan pesat dengan ilmu silatku. Kau petentang-petenteng, apa kau berani melawan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
41
kong-cumu? Ingat, sekali ini kalau aku turun tangan, kau akan roboh dan tidak akan dapat
bangun kembali.”
“Sombong! Mentang-mentang kau ini anak bangsawan dan kaya, pandai silat, apa kaukira
aku takut padamu? Apa artinya kebangsawananmu kalau itu tidak ditrapkan dalam tata
susila dan kesopan-an? Apa artinya kaya kalau kau tidak suka membantu orang-orang
miskin? Apa artinya pandai silat kalau kau tidak mau membela yang lemah? Semua itu
malah akan menyeretmu ke dalam jurang kehinaan, bocah setan!”
Ucapan Han Han ini sungguh tidak patut keluar dari mulut seorang bocah berusia sepuluh
tahun seperti dia, akan tetapi Han Han pun hanya menyebut semua itu dari dalam kitab yang
pernah dibacanya!
“Wah-wah, yang sombong ini sebenarnya siapa? Engkau ini seorang bocah jembel tidak
mengerti ilmu silat, bisanya hanya ngawur dan asal nekat saja. Aku adalah seorang gagah,
mana mungkin turun tangan menghajar orang kalau ti-dak ada sebabnya?”
“Huh, macam engkau bicara tentang kegagahan. Kalau kau memukuli dua orang miskin dan
tak berdosa ini, apakah itu juga gagah?”
“Kau tidak tahu! Aku dengan baik-baik menanyakan mereka di mana ting-galnya jembel tua
yang suka berada di sini. Aku menanyakan di mana tinggalnya Lauw-pangcu. Akan tetapi
mereka pura-pura tidak kenal. Aku sudah bersedia untuk memberi hadiah kalau mereka mau
menunjukkan tempat Lauw-pangcu, akan tetapi mereka ini selain menyangkal malah
memaki. Apakah itu tidak patut dihajar?”
Han Han tertarik, jantungnva berdebar. “Mau apa kau tanya-tanya tentang tempat tinggal
Lauw-pangcu?”
“Eh, engkau tahu tempatnya?”
“Tentu saja! Aku muridnya!”
Ouwyang Seng terbelalak memandang. “Kau....? Muridnya....? Ha-ha-ha! Kebetulan sekali.
Kautunjukkan padaku di mana dia!”
“Mau apa sih?”
Han Han menjadi geli hatinya. Bocah ini amat sombong dan kurang ajar. Me-mang
sebaiknya diberi hajaran. Akan tetapi dia belum belajar ilmu silat. Apakah segala macam
kuda-kuda Vang pernah ditatihnya itu akan ada gunanya untuk bertanding? Tak mungykin.
Kalau ia hanya memasang kuda-kuda, betapa kuat pun kakinya, kalau terus dipukuli dan
ditendangi lawan, tentu akan celaka. Akan tetapi, kalau bertemu dengan Sin Lian dan Lauwpangcu, tentu bocah som-bong ini akan dihajar sampai kapok. Juga gurunya tentu bukan
orang baik, biarlah dihajar sekalian oleh Lauw-pangcu yang sudah ia saksikan kelihaiannya.
“Siapa gurumu? Mana dia? Hayo suruh keluar, biar kutunjukkan kalian ke tem-pat guruku
kalau memang kalian sudah gatal-gatal tubuh kalian minta diberi hajaran!”
“Ha-ha-ha-ha! Aku sudah berada di sini, apakah kau buta tak dapat melihat? Ha-ha-ha!”
Han Han memandang dengan hati terkejut dan terheran-heran. Tadi ia melihat bahwa kuda
besar di belakang Ouwyang Seng itu kosong. Kenapa kini tiba-tiba saia ada orang duduk
nongkrong di atas punggung kuda? Dari mana da-tangnya? Ia memandang penuh perhatian
dan ternyata yang bicara dan tertawa tadi, yang tahu-tahu telah duduk di punggung kuda,
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
42
adalah seorang kakek yang lucu sekali mukanya. Kepalanya botak kelimis. Kulit kepala
bagian atas itu sama sekali tidak ada rambutnya, kulit-nya halus licin dan terkena sinar
mata-hari, kepala itu berkilauan seperti batu digosok. Sedikit rambut yang tumbuh di
sekeliling kepala bagian bawah, kasar dan besar-besar, berwarna putih dan terurai di sekitar
pundaknya. Kumisnya panjang, juga putih, melintang di bawah hidung, bergerak-gerak
seperti dua ekor ular kecil. Alisnya tebal sekali, dan matanya mengeluarkan sinar aneh,
seperti mata orang juling, padahal mata kakek ini tidak juling. Pakaiannya terbuat dari sutera
kuning yang halus mahal, sepatu-nya juga terbuat dari kulit mengkilap. Sukar sekali
menaksir usia orang tua ini. Dagunya halus tak berjenggot sama se-kali, seperti orang-orang
muda, sikapnya lincah seperti orang muda pula, tubuhnya kurus tinggi. Ia menggendong
sebuah buntalan besar dari kain tebal. Entah apa isinya.
“Suhu, bocah jembel ini adalah murid Lauw-pangcu! Sungguh kebetulan sekali. Kita paksa
dia mengantarkan kita kepada kakek jembel itu.”
Si Botak tertawa lagi. “Memang sebaiknya begitu, ha-ha-ha! Sungguhpun tidaklah sukar
untuk mencari sendiri. Nah, Kongcu, kaubawakan buntalan ini!”
Memang aneh kalau seorang guru menyebut “kongcu” atau tuan muda ke-pada muridnya.
Memang demikianlah. Guru Ouwyang Seng menyebut kongcu karena bocah ini bukan anak
biasa, me-lainkan putera dari Pangeran Ouwyang Cin Kok yang berpangkat tinggi dalam
Kerajaan Mancu. Namun, hanya dalam sebutan saja guru itu menghormat, kare-na buktinya
ia berani memerintah muridnya itu membawakan buntalannya yang besar. Ouwyang Seng
menerima buntalan besar yang dilemparkan gurunya kepada-nya. Cara menerimanya
cekatan dan jelas membayangkan tenaga besar pada diri anak yang usianya paling banyak
tiga belas atau empat belas tahun ini.
Sambil tertawa Ouwyang Seng lalu mengambil sebuah cambuk dari sela kuda yang kini
ditunggangi gurunya, lalu menggerakkan cambuknya ke atas. “Tar-tar-tar! Hei, bocah murid
Lauw-pangcu! Siapa namamu?”
Ujung cambuk itu melecut-lecut dan meledak-ledak di atas kepala Han Han, namun Han
Han sedikit pun tidak merasa gentar, bahkan berkedip mata pun tidak.
“Namaku Han Han, dan biarpun aku orang miskin, hal ini belum menjadi alas-an bagimu
untuk bersikap sombong ke-padaku!”
“Ha-ha-ha-ha! Kongcu, bocah ini hebat! Lihat matanya.... aiiihhhhh, sebaiknya jangan
lepaskan dia! Boleh dijadikan pelayan.”
Kiranya kakek botak itu bermata tajam, dapat melihat keadaan Han Han yang aneh dan luar
biasa. Dan memang kakek botak ini bukan manusia sem-barangan! Kakek inilah yang oleh
dunia kang-ouw diberi nama poyokan Si Setan Botak. Namanya Gak Liat, julukannya Kangthouw-kwi (Setan Kepala Baja). Setiap orang di dunia persilatan kalau mendengar nama ini
menjadi bergidik dan mengkirik, bahkan jarang ada yang bera-ni mengeluarkan kata-kata
keras me-nyebut nama ini yang lebih ditakuti dari-pada setan sendiri! Kang-thouw-kwi Gak
Liat ini adalah seorang sakti yang me-miliki tingkat kepandaian tinggi sukar diukur, seorang
datuk hitam, pentolan kaum sesat yang hanya ada beberapa orang saja pada masa itu. Dan
dialah seorang di antara datuk-datuk yang di-takuti. Karena pandainya pemerintah Mancu,
datuk hitam ini sampai terpikat, tidak saja menjadi “pelindung” Pangeran Ouwyang Cin Kok
yang mendapat tugas dari pemerintahnya untuk mempertahankan bagian selatan yang
sudah ditakluk-kan, juga Kang-thouw-kwi Gak Liat ber-kenan mengambil putera pangeran itu
sebagai muridnya! Namun sesungguhnya, Kang-thouw-kwi Si Setan Botak tidaklah begitu
menaruh harapan besar terhadap muridnya, bocah bangsawan ini. Ilmu-ilmunya terlampau
tinggi sedangkan ba-kat yang dimiliki Ouwyang Seng terlalu rendah.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
43
Inilah sebabnya maka mata Si Setan Botak yang amat awas itu sekali melihat Han Han
menjadi tertarik. Dia bertugas untuk mencari dan menyelidiki Lauw-pangcu dan perkumpulan
pengemis yang disebut Pek-lian Kai-pang. Hal ini ada sangkut-pautnya dengan serdaduserdadu yang pernah dihajar oleh Lauw-pangcu sehingga Pangeran Ouwyang Cin Kok yang
mendengar akan hal ini, cepat memerintahkan jagoannya untuk turun ta-ngan karena
“gengsi” pasukan Mancu terancam kecemaran. Bagi seorang sakti seperti Setan Botak ini,
tidak akan sukar mencari Lauw-pangcu. Akan tetapi ka-rena muridnya rewel dan hendak ikut
menyaksikan gurunya menghancurkan Pek-lian Kai-pang, maka usaha mencari
perkumpulan itu menjadi lebih sukar dan lama. Akhirnya, secara kebetulan Ouwyang Seng
bertemu dengan Han Han dan anak ini yang ingin memberi “hajaran” kepada Ouwyang Seng
dan gurunya yang dipandangnya rendah, bahkan dengan senang hati mengantar mereka ke
sarang Pek-lian Kai-pang!
Di tengah jalan, Ouwyang Seng mem-bentak, “Heh! Han Han! Enak saja kau berjalan tanpa
membawa apa-apa. Mari kita mengadu tenaga. Siapa yang kalah harus membawakan
buntalan suhuku ini sampai di tempat yang kautunjukkan! Berani tidak kau mengadu tenaga
me-lawan aku?”
Kalau hanya ditantang berkelahi, ten-tu Han Han tidak sudi melayani. Dibujuk pun ia tidak
akan sudi. Akan tetapi di-tanya “berani atau tidak”, segera bang-kit semangatnya. Kata-kata
tidak berani merupakan pantangan besar baginya, karena di dalam hati bocah ini, semen-jak
kepalanya terbanting pada dinding setengah tahun yang lalu, tidak ada lagi rasa takut atau
susah.
“Tentu saia berani. Mengapa tidak? Mengadu tenaga bagaimana? Kalau ber-kelahi seperti
dulu aku tidak sudi. Aku bukan tukang pukul, bukan tukang ber-kelahi macam engkau!”
“Tidak usah berkelahi, kau takkan menang dan kalau kau mati, kami rugi. Kita saling dorong
saja, siapa yang ter-dorong mundur keluar dari lingkaran yang dibuat di atas tanah, dia akan
kalah dan harus memanggul buntalan suhu.”
“Boleh!” Han Han menjawab.
Si Setan Botak hanya tertawa-tawa dan menghentikan kudanya untuk menon-ton
permainan kedua orang anak itu. Ouwyang Seng menurunkan buntalannya, lalu membuat
guratan melingkar di atas tanah. Keduanya lalu memasuki lingkar-an, saling berhadapan.
“Siap?” tanya Ouwyang Seng.
“Siap!” jawab Han Han.
“Mulai!” Ouwyang Seng mengeluarkan kedua lengannya ke depan, diturut oleh Han Han.
Mereka mengadu kedua telapak tangan dan mulailah mereka saling do-rong. Han Han yang
merasa betapa ke-dua lengan lawan itu amat kuatnya, ce-pat ia mengerahkan tenaganya
pada ke-dua kaki, memasang bhesi seperti yang pernah ia latih sampai berbulan-bulan di
bawah asuhan Lauw-pangcu dan peng-awasan Sin Lian. Kedua kakinya seperti telah
berakar di tanah dan ia memper-tahankan diri dari dorongan Ouwyang Seng. Untuk balas
mendorong, Han Han tidak kuat karena ia segera dapat me-rasakan betapa tenaga yang
tersalur pada kedua lengan Ouwyang Seng hebat bukan main. Maka ia sendiri harus
menggunakan seluruh tenaganya untuk mempertahankan diri, disalurkan pada kedua
kakinya. Ke-dua lengannya sudah terdorong, siku-siku lengannya sudah tertekuk dan kedua
ta-ngannya terdorong sampai menempel dadanya.“Heh-heh, Han Han, kau masih belum
menerima kalah?” Ouwyang Seng tertawa mengejek. Masih dapat bicara dan ter-tawa dalam
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
44
adu tenaga ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga Ouwyang Seng memang amat besar
dan lebih me-nang daripada Han Han.
Namun Han Han menggeleng kepala. Ia tidak mampu bicara karena menahan napas, akan
tetapi ia belum merasa ka-lah, karena dia belum keluar dari garis lingkaran! Ia sudah
tertekuk sikunya, sudah mendoyong ke belakang tubuh atas-nya, namun kedua kakinya
masih kokoh berakar di tanah, belum terdorong mun-dur dan sama sekali belum keluar dari
lingkaran.
“Kau kepala batu!” Ouwyang Seng menegur marah dan mulai mengerahkan seluruh
tenaganya untuk menangkan per-tandingan lebih cepat. Akan tetapi, daya tahan Han Han
memang hebat. Tubuhnya sudah mendoyong, hampir terjengkang, namun ia enggan
mengangkat kakinya dan bertekad untuk bertahan sampai roboh. Bukankah kalau sudah
roboh se-kalipun, ia masih belum kalah karena belum keluar dari garis lingkaran?
“Huah-ha-ha-ha, anak luar biasa....!” Terdengar tawa Si Setan Botak dari atas kudanya dan
tiba-tiba tubuh Han Han terdorong, terseret berikut kakinya sampai keluar dari garis
lingkaran! Han Han terkejut dan terheran-heran, mau tidak mau kagum karena mengira
bahwa ia terdorong karena tenaga Ouwyang Seng yang hebat. Dia tidak tahu bahwa ia
terdorong keluar karena ilmu kesaktian Si Setan Botak yang mengerahkan sedikit tenagat
mendorongnya dengan hawa pu-kulan jarak jauh yang amat ampuh!
Dengan bangga Ouwyang Seng lalu menghampiri Han Han yang masih ter-engah-engah
namun sudah bangkit berdiri memandang heran, setelah putera pange-ran ini menyambar
bungkusan milik suhu-nya. “Nah, terang kau kalah jauh olehku, Han Han. Sekarang
berlututlah engkau, agar mudah aku menaruh bungkusan ini di pundakmu!”
Han Han amat cerdik. Biarpun ia tidak tahu apa sebabnya dan bagaimana caranya, namun
ia dapat menduga bahwa kekalahannya tadi tidaklah wajar. Hal ini membuatnya penasaran
dan marah sekali. Apalagi sekarang mendengar penghinaan Ouwyang Seng yang menyuruh
dia berlutut, padahal tadi tidak ada janji apa-apa tentang yang kalah harus berlutut.
Kemarahan membuat jantungnya ber-debar, darahnya panas naik ke kepala dan pandang
matanya berkilat-kilat aneh sekali.
“Aku? Berlutut padamu? Tidak sudi!” Bentaknya dan suaranya makin tegas dan nyaring
ketika ia menyambung, “Ouwyang Seng! Engkaulah yang sepatutnya berlutut di depanku,
menyerahkan bungkusan itu dengan hormat!”
Tiba-tiba saja Ouwyang Seng lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han dan
mengangkat bungkusan itu, di-sodorkan kepada Han Han, sikapnya pe-nuh penghormatan
seperti sikap seorang bujang yang takut kepada majikannya!
Han Han mengira bahwa Ouwyang Seng benar-benar memenuhi permintaan-nya karena
menyesal atas penghinaan tadi, seketika lenyap kemarahannya. Ia menerima bungkusan itu,
mengangkatnya ke pundak sambil berkata, “Wah, engkau baik sekali. Tidak perlu berlutut
sungguh-sungguh. Aku hanya main-main!”
Ouwyang Seng kini tersentak kaget seperti orang bangun tidur. Melihat be-tapa ia berlutut di
depan Han Han, ia lalu melompat berdiri dan mulutnya mengomel.
“Kenapa....? Kenapa aku berlutut....?”
“Ajaib.... ajaib....!” Kang-thouw-kwi Si Setan Botak berulang-ulang meng-omel dan tiba-tiba
Han Han merasa be-tapa tubuhnya melayang ke atas. Tahu-tahu ia telah tergantung di atas
kuda, dengan kakek botak itu yang memegangi tengkuk bajunya dan mendekatkan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
45
muka-nya sehingga berhadapan dengan muka Si Botak. Ia melihat betapa sepasang mata Si
Botak itu bersinar kekuningan, aneh sekali dan maniknya tidak mau berhenti, bergerak-gerak
terus menjelajahi wajah-nya sendiri. Ia sudah tidak marah lagi, hanya merasa terheran-heran
dan juga kaget.
“Ajaib.... bocah ajaib.... matamu ini.... ah, luar biasa!” Si Setan Botak melontarkan tubuh Han
Han yang me-layang turun, akan tetapi ia turun de-ngan kedua kaki lebih dulu dan dapat
berdiri dengan ringan dan seolah-olah lontaran itu sudah diatur tenaganya, membuat Han
Han terhuyung pun tidak! Han Han makin terheran, akan tetapi ia sama sekali tidak tahu
bahwa itulah penggunaan sin-kang yang amat luar biasa dari Si Kakek Botak.
Adapun Ouwyang Seng yang tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya tadi, tidak tahu
betapa ia menurut dan taat saja “diperintah” oleh Han Han sehingga ia berlutut, kini menjadi
uring-uringan.
“Tar-tar-tar!” Cambuk panjang di tangannya dilecutkan ke atas kepala Han Han dan ia
membentak, “Han Han, hayo cepat berjalan, bawa kami ke tempat gurumu Si Jembel Tua!”
Han Han sudah berjalan sambil me-manggul bungkusan besar itu. Mendengar ucapan
Ouwyang Seng yang tadinya ia sangka berhati baik dan suka main-main, buktinya suka
berlutut kepadanya, Han Han menjadi gemas. “Ouwyang Seng....!”
“Keparat! Menyebut aku harus Kongcu, mengerti? Jembel macam engkau berani menyebut
namaku sesukanya?”
“Namamu memang Ouwyang Seng, bukan? Kalau tidak mau dipanggil, sudah-lah, aku pun
tidak butuh memanggil na-mamu.”
“Setan pengemis! Apa kau minta di-pukul dan diseret-seret lagi?” Ouwyang Seng kembali
membentak dan cambuknya kini menyambar, mengenai punggung dan kaki Han Han.
“Tar-tar....!” Han Han yang merasa betapa punggungnya dan kakinya sakit-sakit terkena
ujung cambuk, melepaskan bungkusan itu yang jatuh ke atas tanah, berdebuk.
Biarpun hatinya panas dan marah, namun Han Han maklum bahwa meng-hadapi Ouwyang
Seng dengan kekerasan ia tidak akan menang, apalagi di situ masih ada guru bocah nakal
itu, Si Bo-tak yang aneh dan lihai. Maka ia lalu mengambil bungkusan itu lagi dan
me-manggulnya di atas pundak. Hidungnya mencium bau yang busuk dari dalam
bungkusan, membuat ia mau muntah seperti bau bangkai tikus. Akan tetapi ia tidak mau
menerima cambukan-cambukan lagi, ia diam saja dan mempercepat lang-kahnya menuju ke
hutan yang menjadi sarang Pek-lian Kai-pang. Rasakan kali-an nanti, bocah setan dan Si
Botak yang sombong. Kalau berada di depan Lauw-pangcu yang banyak anak buahnya,
kalian akan menerima hajaran yang setimpal! Demikian ia berpikir.
Senja hari itu mereka tiba di dalam hutan dan langsung Han Han membawa dua orang guru
dan murid itu ke sarang Pek-lian Kai-pang. Pada saat itu Lauw-pangcu dan para anak
buahnya sedang berkemas karena besok pagi-pagi mereka harus sudah meninggalkan
sarang mereka itu. Banyak barang-barang sudah dimuat dalam beberapa buah kereta dan
kuda, dan mereka semua sibuk mengangkati barang-barang. Juga Sin Lian tampak
membantu ayahnya.
“Han Han....!” Tiba-tiba Sin Lian berseru girang ketika melihat sutenya itu datang
memanggul sebuah bungkusan besar, akan tetapi ia tidak jadi lari menyambut karena
melihat bahwa Han Han datang bersama Ouwyang Seng dan se-orang kakek botak yang
menunggang kuda, dengan sikap tenang sekali.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
46
Semua anggauta kai-pang yang sedang sibuk bekerja berhenti, siap-siap men-jaga segala
kemungkinan dan semua mata ditujukan kepada penunggang kuda ini dengan kening
berkerut. Sungguhpun Si Botak ini sama sekali tidak mendatang-kan kesan yang
mengkhawatirkan, namun semenjak peristiwa penyerbuan Hek-i Kai-pang, para anggauta
Pek-lian Kai-pang selalu berhati-hati.
Lauw-pangcu sendiri pada saat itu sedang berkemas di dalam pondok. Ke-tika mendengar
seruan puterinya, ia ter-kejut dan girang. Ketua Pek-lian Kai-pang ini menaruh harapan
besar kepada muridnya, karena ia tahu bahwa ada sesuatu yang hebat dalam diri Han Han,
ada semacam kekuatan yang amat mujijat dan yang ia sendiri tidak tahu dari mana
datangnya. Tadinya ia kecewa ketika mereka tidak berhasil mencari Han Han yang lenyap
dalam pertempuran, maka ia kini girang sekali mendengar Sin Lian memanggil muridnya itu
dan bergegas ia lari keluar pondok.
Akan tetapi begitu ia berada di luar pondok dan melihat penunggang kuda yang datang
bersama Han Han, seketika wajahnya menjadi pucat sekali dan kedua kaki Lauw-pangcu
menggigil. Ia menge-luarkan suara mendengus dari hidungnya, untuk menekan perasaannya
yang gentar dan berguncang, kemudian memaksa kaki-nya melangkah maju menghampiri
kakek botak yang masih duduk di atas punggung kuda. Dapat dibayangkan betapa herannya
para anggauta Pek-lian Kai-pang ketika melihat ketua mereka yang terhormat dan yang
terkenal lihai itu kini menjura dengan penuh hormat kepada kakek bo-tak penunggang kuda
yang tidak mengesankan itu sambil berkata dengan suara mengandung rasa cemas.
“Sungguh tidak tersangka-sangka dan merupakan penghormatan besar sekali bahwa Gaklocianpwe sudi mengunjungi tempat kami yang butut dan mohon maaf sebesarnya karena
tidak tahu lebih da-hulu, kami tidak dapat menyambut de-ngan sepatutnya.”
Mendengar ucapan itu, para anggauta Pek-lian Kai-pang menjadi makin heran dan di dalam
hati mereka bertanya-tanya, siapa gerangan kakek botak yang disebut Gak-locianpwe
(Orang Tua Sakti she Gak) oleh ketua mereka itu. Akan tetapi sikap Lauw-pangcu yang
sangat merendahkan diri ini seolah-olah tidak dihiraukan oleh Si Setan Bongkok, malah
sebaliknya ka-kek ini menoleh kepada Han Han dan bertanya.
“Bocah, apakah dia ini ketua Pek-lian Kai-pang dan gurumu?”
“Benar,” jawab Han Han.
Si Setan Botak tertawa. “Bagus, kalau begitu, bungkusan itu boleh kau-hadiahkan isinya
kepada gurumu, ha-ha--ha!”
Han Han menjadi girang. Memang dia tidak suka perkelahian, apalagi kalau ia ingat betapa
perkumpulan suhunya sudah berkelahi sehingga jatuh banyak korban. Tadinya ia ingin
supaya gurunya meng-hajar Ouwyang Seng dan gurunya, akan tetapi siapa kira, Si Botak itu
bermaksud baik. Jadi buntalan yang selama ini ia panggul itu adalah hadiah yang akan
di-berikan suhunya! Tanpa berkata apa-apa lagi karena girang ia lalu menurunkan buntalan
yang cukup berat itu, menurun-kannya di depan kaki suhutiya dan mem-buka tali
pengikatnya. Begitu bungkusan terbuka, tercium bau busuk yang membuat Han Han
terpaksa menutup hidung, matanya terbelalak memandang isi bung-kusan. Lauw-pangcu
sendiri pucat wajah-nya dan para anggauta Pek-lian Kai-pang yang tadi ikut melongok untuk
melihat apa isi hadiah itu, berseru marah dan kaget. Kiranya bungkusan itu berisi lima buah
kepala orang yang sudah kering darahnya. Lima kepala orang anggauta Pek-lian-pai yang
merupakan tokoh di bawah Lauw-pangcu! Pantas saja tadi baunya menyengat hidung,
seperti bau bangkai tikus!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
47
“Aihhh....!” Banyak mulut mengeluarkan teriakan ini dan terdengar suara ketawa Kangthouw-kwi Gak Liat Si Se-tan Botak.
Lauw-pangcu memandang kepada Han Han dengan mata terbelalak melotot marah sekali.
Telunjuk kirinya menuding ke arah anak itu. “Murid jahanam! Eng-kau kembali membawa
malapetaka! Baik-lah sebelum semua mati, engicau akan mampus di tanganku lebih dulu!”
Setelah berkata demikian, Lauw-pangcu sudah menggerakkan tongkatnya dan tubuhnya
melayang maju ke arah Han Han. Hebat bukan main serangan ini, gerakan tubuh-nya seperti
seekor naga menyambar, tongkatnya seperti cengkeraman maut menusuk ke arah dada Han
Han. Jangan lagi Han Han yang belum mengerti ilmu silat, andaikata ia sudah belajar
selama sepuluh tahun di bawah asuhan Lauw-pangcu sekalipun, ia tidak akan mungkin
dapat menyelamatkan diri daripada serangan maut ini. Gerakan Lauw-pangcu ketika
menyerang ini adalah jurus yang disebut Hui-hong-phu-lian (Angin Meniup Bunga Teratai),
sebuah jurus yang paling ampuh dari Ilmu Tongkat Pek-lian-tung-hoat. Lawan yang
bagaimana tangguh pun akan sukar menjaga diri dari tikaman dengan tubuh melayang dan
meluncur di udara secepat dan sekuat itu.
Mengapa Lauw-pangcu menjadi begitu marah dan membenci Han Han, dan mengapa pula
menghadapi seorang bocah yang ia tahu belum pandai ilmu silat itu ia langsung
mengeluarkan jurus terampuh untuk menyerangnya? Padahal diserang dengan jurus
sembarangan sekalipun Han Han tak mungkin dapat menyelamatkan diri! Sesungguhnya
adalah karena salah duga. Lauw-pangcu yang melihat Han Han pulang bersama Kangthouw-kwi Gak Liat yang sudah ia dengar namanya yang besar, segera dapat menduga
bahwa ten-tu bocah itu yang menjadi penunjuk jalan dan ia tahu pula bahwa ia dan temantemannya menghadapi bencana hebat. Apalagi melihat Han Han tadi membawakan
bungkusan terisi kepala dari lima orang pembantunya, tentu saja ia menganggap bahwa Han
Han sudah mengkhia-nati Pek-lian Kai-pang dan menjadi pembantu musuh! Adapun
mengapa ia menge-luarkan jurus mematikan yang paling ampuh, karena di situ terdapat
Kang-thouw-kwi Gak Liat yang ia tahu mem-punyai kesaktian luar biasa, maka ia ingin agar
sekali turun tangan terhadap Han Han tidak akan gagal lagi.
Han Han bukan tidak tahu bahwa gurunya marah-marah tanpa sebab dan hendak
memukulnya dengan tongkat, akan tetapi karena dia memang berhati keras dan tidak kenal
takut, ia hanya meman-dang tanpa berkedip.
“Ayahhhhh....!” Sin Lian menjerit. Anak ini lebih maklum bahwa Han Han berada di bawah
ancaman maut mengeri-kan. Dia suka dan sayang kepada sute-nya, maka tanpa ia sadari ia
menjerit.
Tiba-tiba tubuh Lauw-pangcu yang melayang dan yang sudah menggerakkan tongkatnya
dekat dengan Han Han, hanya terpisah satu meter lagi, terpental ke samping dan roboh
terguling! Kakek ke-tua Pek-lian Kai-pang ini cepat meng-gulingkan diri dan meloncat
bangun, tong-kat di tangannya dan wajahnya pucat sekali. Ia menoleh ke arah Si Setan
Bo-tak yang masih duduk di atas kuda, kemudian berkata, suaranya masih hormat namun
nyaring dan ketus.
“Gak-locianpwe, saya hendak turun tangan membunuh murid sendiri, mengapa locianpwe
mencampurinya? Apakah per-buatan ini sesuai dengan nama besar locianpwe sebagai
seorang di antara Lima Datuk Besar?”
Baru sekarang semua yang hadir, ter-masuk Han Han sendiri, tahu bahwa tadi Lauwpangcu yang hendak membunuh Han Han telah dihalangi oleh Si Setan Botak. Semua orang
terkejut dan terheran. Ka-kek di atas kuda itu tidak kelihatan bergerak, bagaimana tahu-tahu
Lauw-pangcu yang lihai luar biasa itu terlem-par dan terbanting ke samping? Lebih-lebih Han
Han memandang dengan penuh perhatian. Kakek botak itu manusia atau-kah setan? Dia
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
48
tadi sudah menyaksikan keanehannya, yaitu tahu-tahu si kakek itu berada di atas punggung
kuda, seperti pandai menghilang saja. Kini tanpa ber-gerak atau turun dari kuda sudah
me-robohkan Lauw-pangcu dan menolong dia! Terutama sekali ia tertarik ketika mendengar
disebutnya kakek botak ini se-bagai seorang di antara Lima Datuk Besar! Apakah artinya
Lima Datuk Besar? Dan siapakah mereka ini?
Kang-thouw-kwi Gak Liat tampak melayang turun dari atas punggung kuda-nya. Kembali
semua anggauta Pek-lian Kai-pang tertegun. Kakek ini turun dari kuda bukan meloncat
karena kedua kaki-nya tidak bergerak sama sekali. Seolah-olah tubuhnya itu “terangkat” oleh
tenaga yang tak tampak dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang turun dan berdiri tegak di
tengah-tengah kepungan para anggauta Pek-lian Kai-pang, ber-hadapan dengan Lauwpangcu! Mulutnya menyeringai dan kumisnya yahS panjang bergerak-gerak seperti dua ekor
ular kecil hidup.
“Orang she Lauw! Bagus engkau mengenal aku. Engkau berani menegurku mencampuri
urusanmu? Huh, lancang sekali engkau. Mendiang Pek-lian-kauwcu (Ketua Agama Teratai
Putih) dahulu pun belum pernah berani menegurku. Bocah ini mungkin muridmu, akan tetapi
sekarang telah menjadi pelayanku. Mana bisa kaubunuh dia begitu saja? Pula,
ke-datanganku ini memang hendak membas-mi Pek-lian Kai-pang perkumpulan
pem-berontak rendah! Nah, kauserahkanlah kepalamu dan kepala semua anggautaanggautamu seperti yang terjadi pada lima orang pembantu-pembantumu ini.”
Ucapan ini terdengar seperti halilintar di siang hari dan menimbulkan ke-marahan semua
anggauta pengemis Pek-lian Kai-pang yang berkumpul di situ. Mereka tetdiri dari lima puluh
orang lebih, tentu saja tidak takut terhadap kakek itu yang hanya datang seorang diri saja.
Demikian pula pikiran Lauw-pangcu. Biarpun ia sudah mendengar akan kesak-tian Kangthouw-kwi Gak Liat sebagai seorang di antara Lima Datuk Besar, namun teman-temannya
amat banyak dan pula, mereka adalah pejuang-pejuang yang tidak takut mati. Lauw-pangcu
mengangkat tongkatnya ke atas, memberi isyarat kepada anak buahnya dan seren-tak para
anak buahnya itu menerjang maju dengan tongkat mereka. Bagaikan air bah mereka ini
menyerbu dan mener-jang kakek botak itu dari segala jurusan.
Melihat ini, hati Han Han sudah ber-debar tegang. Tentu Si Botak akan di-hajar oleh Peklian Kai-pang, pikirnya. Maka ia berseru kepada Sin Lian.
“Suci, mari hajar bocah setan ini!” katanya sambil menuding ke arah Ouw-yang Seng. Akan
tetapi alangkah kaget-nya ketika Sin Lian tiba-tiba malah me-nerjangnya sambil memaki.
“Engkau murid murtad!”
Han Han yang amat kaget itu tidak dapat menghindar dan sebuah tendangan mengenai
dadanya, tepat di ulu hati, membuat ia terjengkang dengan napas sesak dan jatuh terduduk.
Setelah me-robohkan Han Han, Sin Lian lalu mener-jang Ouwyang Seng yang
menyambutnya sambil tertawa-tawa mengejek. Bertandinglah dua orang anak itu dengan
seru. Akan tetapi, ternyata Ouwyang Seng jauh lebih pandai dan Sin Lian segera ter-desak.
Hanya karena keberaniannya yang luar biasa ditambah kemarahannya saja yang membuat
anak perempuan itu ber-gerak dengan ganas dan dahsyat sehingga untuk sementara dapat
membuat Ouw-yang Seng repot juga.
Han Han lebih tertarik menonton ke arah Si Setan Botak yang diserbu oleh Lauw-pangcu
dan anak buahnya, karena ia menduga bahwa tentu akan terjadi pertandingan hebat sekali.
Jauh lebih hebat daripada perkelahian antara dua orang anak itu yang tidak menarik hatinya.
Apalagi karena Sin Lian telah me-nendangnya, ia menjadi marah dan tidak sudi membantu
anak perempuan itu menghadapi Ouwyang Seng. Dianggapnya bahwa dua orang anak itu
sama saja jahatnya sehingga siapa pun juga yang kalah di antara mereka, ia tidak peduli.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
49
Dengan pikiran ini, Han Han lalu bang-kit, dadanya masih sesak akan tetapi ia memaksa diri
berjalan lalu memanjat pohon agar dapat menonton lebih jelas lagi.
Apa yang dilihat Han Han membuat ia begitu kaget dan ngeri sehingga ham-pir saja ia
terjungkal dari atas pohon kalau ia tidak cepat-cepat memeluk ca-bang pohon. Mula-mula
yang maju adalah tujuh Orang pengemis Pek-lian Kai-pang yang mengurung kakek botak itu
sambil menerjang dengan tongkat mereka. Akan tetapi Si Setan Botak hanya berdiri te-gak.
Sambil tersenyum ia menangkap tongkat pertama, mencengkeram ujung tongkat menjadi
berkeping-keping dan sekali tangannya bergerak memutar, ke-pingan kayu itu menyambar
sekelilingnya dan.... tujuh orang pengemis Pek-lian Kai-pang itu roboh dan berkelojotan
te-rus mati! Itulah semacam kejadian yang seperti main sulap saja, sukar untuk dipercaya.
Akan tetapi bagi para ahli silat di situ merupakan kepandaian yang -amat hebat. Kepingankepingan ujung tongkat kayu itu hanya benda kecil yang ringan dan tidak terlalu keras,
namun di tangan kakek botak ini, dapat menjadi senjata rahasia yang tepat sekali
menan-cap dan memasuki dahi tujuh orang la-wan sehingga menembus otak dan mem-buat
mereka roboh binasa seketika! Kepandaian yang hebat dan juga kekejaman yang amat
menyeramkan.
“Heh-heh-heh....!” Si Setan Botak terkekeh, kelihatannya girang sekali dan matanya
memandang para anggauta Pek-lian Kai-pang yang menjadi marah dan mengepungnya
ketat itu seperti mata seorang guru memandang murid-murid kecil yang nakal!
Kembali belasan orang pengemis maju menerjang dengan tongkat, kini secara berbareng
sambil berteriak keras. Harus diketahui bahwa para anggauta Pek-lian Kai-pang rata-rata
memiliki ilmu silat tinggi sehingga serangan mereka ini bu-kanlah serangan ngawur,
melainkan de-ngan jurus-jurus Pek-lian-kun-hoat yang ampuh. Namun, kakek botak itu sama
sekali tidak mengelak. Belasan batang tongkat itu dengan tepat mengenai sa-saran, ada
yang mengemplang kepala botaknya, ada yang menghantam leher, menusuk dada, menotok
lambung. Pen-deknya, seluruh bagian tubuhnya yang berbahaya pada saat yang hampir
sama secara bertubi-tubi menerima hantaman atau tusukan ujung tongkat. Riuh-rendah
teriakan para pengemis, dan ramai pula suara bak-bik-buk tongkat-tongkat itu mengenai
tubuh Si Kakek Botak. Namun sama sekali kakek itu tidak bergeming, senyumnya masih
melebar dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar kaki seorang pengemis dan mulailah ia
mengamuk. Tubuh pengemis yang menjadi senjata di tangannya itu diputar sedemikian rupa
dan terdengarlah suara “prak-prak-prak!” berulang kali ketika kepala orang itu bertemu
dengan kepala-kepala para lawannya. Para pengeroyok itu roboh ma-lang-melintang dengan
kepala pecah, se-dikitnya ada sepuluh orang jumlahnya. Mereka itu binasa karena sedikitnya
ke-pala mereka retak-retak bertemu dengan kepala orang yang dijadikan senjata. Adapun
kepala orang itu sendiri setelah dilempar ke samping, telah hancur dan tidak menyerupai
kepala!
Lauw-pangcu marah bukan main sampai hampir pingsan. Melihat betapa anak buahnya
tewas, dalam keadaan mengerikan seperti itu, ia bukannya menjadi takut, sebaliknya ia
malah menjadi nekat untuk mengadu nyawa. Sambil berseru nyaring, Lauw-pangcu
menyerbu ke depan, diikuti oleh teman-temannya yang masih ada kurang lebih tiga puluh
orang.
“Heh-heh-heh, bagus! Biar kubasmi habis kalian hari ini!” kata Si Setan Botak dan tiba-tiba
tubuhnya berputar satu kali, kedua lengannya didorongkan ke depan. Han Hen yang melihat
kakek itu, terbelalak heran karena melihat betapa telapak kedua tangan kakek itu kemerahan
dan mengepulkan asap, seolah-olah tangan itu telah menjadi besi panas! Dan akibatnya
hebat sekali. Dua puluh orang lebih menjerit ngeri den roboh bergelimpangan, tak dapat
bangun kembali! Hanya Lauw-pangcu, dan dua orang pembantunya yang paling tinggi
ilmunya, terhuyung ke belakang akan tetapi tidak roboh. Muka mereka pucat dan napas
mereka terengah-engah, mata mereka terbelalak memandang teman-teman yang roboh.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
50
Hampir lima puluh orang anggauta Pek-lian Kai-pang dalam sekejap mata saja, dalam tiga
gebrakan, telah tewas menjadi korban Si Setan Botak yang ter-nyata lihai bukan main itu!
Han Han kini menjadi ngeri, akan tetapi di dalam hatinya juga timbul rasa kagum terhadap
Si Setan Botak. Bagaimana ada orang sampai bisa begitu sakti? Dan ia mulai khawatir
melihat gurunya. Ke-tika ia mengerling ke arah Sin Lian, ternyata gadis cilik ini pun sudah
terdesak hebat, bahkan beberapa kali telah kena ditampar oleh Ouwyang Seng. Ia melihat
betapa Sin Lian menjadi nekat, mener-jang maju tanpa perhitungan lagi den sebuah sabetan
kaki Ouwyang Seng mem-buat gadis itu terguling roboh. Ouwyang Seng menubruknya den
menangkap kedua lengannya terus dipuntir ke belakang, ditelikung sehingga Sin Lian tidak
mampu bergerak lagi!
“Kau bocah galak seperti kucing! Kucing tidak berpakaian! Maka akan kutelanjangi kau, biar
kapok dan hendak kulihat apakah kau masih berani banyak lagak!” kata Ouwyang Seng
tertawa-tawa dan tangannya mulai merenggut pakaian gadis cilik itu.
Wajah Han Han menjadi merah. Ter-ingat ia akan peristiwa di dalam rumahnya, teringat
akan keadaan kakak perem-puannya dan keadaan ibunya, dan dengan hati panas ia
memaki.
“Ouwyang Seng, kau bangsat kecil tak tahu malu! Apa yang akan kaulakukan itu? Tidak
tahu sopan, tidak bersusila kau!"
Ouwyang Seng hanya terkekeh dan tangannya sudah mencengkeram leher baju Sin Lian
yang meronta-ronta tanpa hasil. Pada saat itu, tubuh Ouwyang Seng terlempar dan seorang
wanita cantik sudah berdiri di situ, membangunkan Sin Lian dan berkata halus.
“Anak, kau minggirlah.”
Han Han terbelalak. Gerakan wanita itu amat cepat seperti seekor burung walet
menyambar, tiba-tiba sudah di situ, melemparkan tubuh Ouwyang Seng. Dia itu seorang
wanita yang usianya antara tiga puluh tahun, cantik dan gagah sekali, pakaiannya serba
hitam sehingga membuat kulit leher dan tangannya tampak amat putih kemerahan.
Ram-butnya disanggul tinggi dan di punggung-nya tergantung sebatang pedang dalam
sarung pedang indah terukir. Dan kiranya yang datang secara cepat dan aneh bu-kan hanya
wanita cantik itu, karena entah dari mana Han Han sendiri tidak tahu, di situ telah berdiri pula
dua orang. Yang seorang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, bertubuh pendek
kecil dan tangannya memegang sebatang cam-buk besi. Laki-laki ini biarpun pendek kecil,
namun memiliki pandang mata yang keren berwibawa. Adapun laki-laki ke dua adalah
seorang berusia empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar ber-wajah gagah, di tangannya
memegang sebatang toya kuningan yang kelihatannya berat sekali.
Laki-laki pendek yang memegang cambuk besi itu menjura ke arah Lauw-pangcu yang
masih pucat dan berkata, “Lauw-pangcu harap jangan khawatir, sekuat tenaga kami akan
membantumu menghadapi iblis ini!”
Lauw-pangcu kelihatan lega ketika menyaksikan munculnya tiga orang ini, akan tetapi ia
pun merasa tidak enak dan cepat berkata, “Kang-lam Sam-eng harap tidak mencampuri
urusan ini, biarlah kami semua mati sebagai orang gagah di tangan Kang-thouw-kwi Gak
Liat!”
Mendengar disebutnya nama ini, tiga orang gagah yang disebut Kang-lam Sam-eng (Tiga
Pendekar Kang-lam) ini men-jadi terkejut sekali. Otomatis mereka itu saling mendekati dan
siap dengan sen-jata masing-masing, bahkan wanita cantik itu pun telah mencabut
pedangnya.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
51
“Hemmm, sudah lama mendengar Kang-thouw-kwi Gak Liat sebagai se-orang datuk
persilatan tingkat tinggi, baru sekarang menyaksikan kekejaman-nya. Lauw-pangcu, kami
akan siap mem-bantu mati-matian!” kata pula laki-laki pendek penuh semangat.
Si Setan Botak memandang penuh perhatian lalu tertawa. “Ha-ha-ha, kalian bocah-bocah
kemarin sore! Aku pernah mendengar bahwa Kang-lam Sam-eng adalah jago-jago cilik
murid-murid Siauw-lim-pai. Benarkah?”
“Kami memang anak murid Siauw-lim-pai. Dan sudah menjadi tugas setiap orang murid
Siauw-lim-pai untuk mem-basmi orang jahat dan pengkhianat bang-sa!” kata wanita cantik
itu, suaranya nyaring dan merdu.
“Heh-heh, kau cantik dan bersemangat! Apakah kalian bertiga ini murid Ceng San Hwesio?”
tanya pula Si Setan Botak memandang rendah.
“Ceng San Hwesio adalah Sukong (Kakek Guru) kami!” kini Si Tinggi Besar menjawab,
suaranya sesuai dengan tubuh-nya, menggeledek.
Tiga orang itu bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan murid-murid Siauw-lim-pai
yang terkenal gagah per-kasa. Karena mereka tinggal di Kang-lam dan selalu melakukan
perjuangan bersama, maka mereka terkenal sebagai Kang-lam Sam-eng atau Tiga
Pendekar Kang-lam yang amat disegani kawan di-takuti lawan. Yang tertua dan bertubuh
pendek kecil itu adalah Khu Cen Tiam berjuluk Thi-pian-sian (Dewa Cambuk Besi). Orang ke
dua yang tinggi besar bernama Liem Sian berjuluk Sin-pang (Si Toya Sakti) dan orang ke
tiga, wanita cantik itu adalah seorang wanita yang masih gadis tidak mau menikah karena
belum juga menjumpai pria yang men-cocoki hatinya, bernama Bhok Khim dan berjuluk Bikiam (Si Pedang Cantik). Sebagai murid-murid Siauw-lim-pai, tentu saja mereka berjiwa
patriot dan selalu mendukung perjuangan kaum pemberontak yang menentang masuknya
penjajah bang-sa Mancu.
Akan tetapi ketika Kang-thouw-kwi Gak Liat mendengar jawaban Liem Sian, ia tertawa
bergelak, “Ha-ha-ha-ha! Kira-nya hanya cucu si tua Ceng San Hwesio? Ahhh, bocah-bocah
tak tahu diri. Lebih baik kalian lekas pergi karena aku tidak mau melihat Ceng San Hwesio
kehilangan tiga orang cucunya. Kalau Ceng San Hwesio sendiri yang datang, barulah pa-tut
melayani aku beberapa jurus.”
Ucapan ini amat tekebur dan memang sesungguhnya bukan semata-mata karena sombong,
akan tetapi karena memang tingkat kepandaian Si Setan Botak ini hanya akan dapat dilayani
oleh ketua Siauw-lim-pai yang tua itu. Bagi Kang-lam Sam-eng yang belum pernah
mengenal kelihaian Si Setan Botak, ucapan itu dianggap sombong dan amat menghina,
maka mereka lalu membentak nyaring dan maju menerjang, diikuti pula oleh Lauw-pangcu
dan dua orang pembantunya sehingga kini Si Setan Botak dikeroyok oleh enam orang yang
berkepandaian tinggi.
Han Han yang menonton dari atas pohon dan dapat melihat setiap pertempuran itu dengan
jelas, merasa tak senang hatinya. Ia tidak tahu siapa salah siapa benar, siapa jahat siapa
baik di antara kedua fihak itu, akan tetapi terhadap Si Setan Botak ia tidak senang karena
menganggapnya amat kejam, membunuhi banyak orang seperti orang membunuh semut
saja. Terhadap Lauw-pangcu dan Kang-lam Sam-eng, ia merasa tidak senang karena
menganggap mereka ini curang, mengeroyok seorang lawan dengan begitu banyak kawan.
Sebagai murid-murid perguruan tinggi Siauw-lim-pai, tentu saja Kang-lam Sam-eng tidak
bersikap seperti para anak buah Pek-lian-pai yang suka “main keroyok” secara kacau-balau.
Pertempuran sekacau itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang masih rendah tingkatnya.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
52
Memang, mereka mengurung dan mengeroyok, namun mereka melakukan penyerangan
secara teratur dan boleh dibilang satu demi satu, hanya saling susul dan berganti-ganti.
Mula-mula terdengar bentakan nyaring dan tubuh Bhok Khim si wanita cantik sudah
melayang ke atas, pedangnya berubah menjadi sinar terang ketika ia menyerang kakek
botak itu. Sebuah serangan yang amat dahsyat, karena selain tubuh itu meluncur ke depan
dengan cepat dan kuat, pedangnya digerak-gerakkan ujungnya, sukar diduga lawan bagian
mana dari tubuhnya yang akan menjadi sasaran. Namun kakek botak itu hanya tertawa dan
masih tetap berdiri tegak seperti tadi, sama sekali tidak mengelak. Ketika sinar pedang
sudah menyentuhnya, ia hanya menggerakkan kedua tangan ke atas.
“Krakkk! Brettttt....! Ha-ha-ha-ha!”
Tubuh Bhok Khim mencelat ke sam-ping dan jatuh bergulingan, lalu gadis itu meloncat
bangun, tangan kiri sibuk ber-usaha menutupkan baju bagian dadanya yang sudah robek
lebar memperlihatkan sebagian buah dadanya, sedangkan pedang-nya sudah pindah ke
tangan kakek botak dalam keadaan patah menjadi dua! Pu-catlah wajah semua orang.
Kakek itu tadi menerima sambaran pedang dengan tangan kosong! Menangkap pedang dan
mematahkannya sambil tangannya yang satu lagi secara nakal merobek baju Bhok Khim.
Sungguh merupakan perbuatan yang amat luar biasa.
“Iblis tua bangka!” Liem Sian mener-jang dengan toya kuningannya. Siauw-lim-pai amat
terkenal dengan ilmu toya-nya, terkenal kokoh kuat dan sukar di-cari bandingnya. Dan kini
Liem Sian membuktikan keunggulannya. Buktinya kakek botak itu tidak berani lagi berdiri
diam, melainkan menggeser kakinya dan begitu ujung toya menyodok perutnya, ia
memapaki ujung toya itu dengan ten-dangan kaki dari samping.
“Ayaaa....!” Liem Sian terhuyung. Bukan main kuatnya tendangan itu, mem-buat ia hampir
saja roboh dan toyanya hampir terlempar.
Saat itu dipergunakan oleh Khu Cen Tiam, orang tertua dari Kang-lam Sam-eng untuk
menerjang dengan cambuk besinya. “Tar-tar....!” Cambuk besi ini meledak dan menyambar
kepala kakek botak. Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa dan mengangkat pedang rampasan
yang tinggal sepotong tadi, membabat ujung cambuk.
“Cringgg....!” Bunga api berpijar dan ujung cambuk itu patah!
Lauw-pangcu dan dua orang kawan-nya sudah maju pula menubruk dan mu-lailah Si Kakek
Botak dikeroyok. Bahkan Bhok Khim yang sudah membetulkan bajunya yang robek kini telah
menyam-bar sebatang pedang lain yang ia temukan di antara mayat-mayat anggauta Peklian Kai-pang, lalu maju mengeroyok.
Kakek botak itu gerakannya tidak cepat, bahkan kelihatan amat lambat. Namun setiap
gerakan mengandung tenaga sakti yang dahsyat sehingga senjata lawan tidak ada yang
dapat menyentuh ku-litnya. Sambil tertawa-tawa ia menghalau semua serangan dengan
dorongan-dorongan hawa pukulan dahsyat ini, kemudian me-lanjutkan dengan pukulan.
Setlap pukulan atau dorongan yang disertai pengerahan sin-kang yang aneh dari tangannya
yang berubah merah dan mengeluarkan asap, tentu merobohkan lawannya! Akibatnya,
dalam waktu singkat saja, dua orang pembantu Lauw-pangcu roboh tewas, Lauw-pangcu
sendiri roboh terluka. Khu Cen Tiam kehilangan cambuk dan lengannya patah tulangnya.
Liem Sian patah-patah toya-nya dan sambungan pundaknya patah pula, adapun Bhok Kim
sudah tertotok dan kini pinggang gadis itu dikempit oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat!
Kakek ini terbahak-bahak tertawa sedangkan muridnya, Ouwyang Seng, kini sudah datang
mendekat sambil menuntun kuda, wajahnya berseri dan pandang matanya penuh
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
53
kebanggaan. Sin Lian lari menubruk ayahnya yang terluka dada-nya sambil memanggil
nama ayahnya yang pingsan.
“Ayah...., Ayahhh....!”
Biarpun lengannya sudah patah tulang-nya, Khu Cen Tiam masih berdiri gagah. Demikian
pula Liem Sian yang terlepas sambungan pundak kirinya. Mereka ber-diri dengan muka
pucat dan memandang kakek botak penuh kemarahan dan ke-bencian.
“Locianpwe adalah seorang datuk terkemuka. Kami sudah kalah, hal ini sudah lazim dalam
pertandingan, kalau tidak menang tentu kalah. Akan tetapi mengapa locianpwe menawan
sumoi kami? Harap locianpwe membebaskan-nya,” kata Khu Cen Tiam yang menye-but
locianpwe, karena memang dalam hatinya ia takluk dan kagum akan ke-hebatan ilmu
kepandaian kakek yang merupakan seorang di antara Lima Datuk Hitam itu. Lima Datuk
Besar atau Lima Datuk Hitam sama saja karena Lima Datuk itu adalah lima orang berilmu
tinggi yang merupakan orang-orang ting-kat pertama di dunia persilatan, akan tetapi karena
kelimanya merupakan tokoh-tokoh yang kejam, maka diam-diam orang menyebut mereka
Lima Datuk Hitam!
“Heh-heh-heh, kalau tidak memandang muka Ceng San Hwesio, apakah kalian bertiga
masih dapat bernapas saat ini? Sumoimu ini manis, biar dia menemaniku untuk beberapa
hari, sebagai penebus nyawa kalian!”
Khu Cen Tiam dan Liem Sian membentak marah. Biarpun sudah terluka, kemarahan
mereka membuat mereka menerjang maju, namun dengan hanya dorongan tangan kiri saja,
keduanya su-dah terbanting dan terjengkang ke bela-kang!
“Baik, kalau kamu iblis tua bangka memang ada keberanian, datanglah ke kota Tiong-kwan
tiga hari lagi. Kami para anggauta Ho-han-hwe (Perkumpulan Para Patriot) menantangmu
membuat perhitungan!”
“Sute....!” Khu Cen Tiam menegur, akan tetapi ucapan sudah dikeluarkan dan kakek botak
itu tertawa bergelak.
“Bagus.... bagus.... kiranya akan diadakan pertemuan di Tiong-kwan? Tentu saja aku
datang, sekalian mengembalikan sumoimu yang kupinjam. Ha-ha-ha!”
Setelah berkata demikian, sekali tu-buhnya melayang, kakek itu sambil me-ngempit tubuh
Bhok Khim yang tak da-pat bergerak itu sudah berada di atas kuda, kemudian menoleh
kepada Ouwyang Seng dan berkata, “Mari, Kongcu. Jangan lupa ajak pelayan itu!” Dengan
tangannya kakek itu mendorong ke arah pohon dan “kraaakkkkk!” batang pohon itu patah
dan pohonnya tumbang, membawa tubuh Han Han runtuh ke bawah bersama-sama!
Han Han bergulingan, kulitnya lecet-lecet dan cambuk di tangan Ouwyang Seng sudah
meledak di atas kepalanya. “Hayo tuntun kuda suhu, kau pemalas!” bentak putera pangeran
itu. Han Han menoleh ke arah Sin Lian, melihat Sin Lian melotot kepadanya. Ia menghela
napas, mengangkat pundak, lalu berjalan menghampiri kuda dan menuntun kendali kuda itu,
berjalan di depan kuda. Terdengar olehnya tangis Sin Lian, akan tetapi karena kuda itu
jalannya cepat sehingga punggungnya beherapa kali ter-dorong moncong kuda, Han Han
memper-cepat langkahnya dan sebentar saja sudah keluar dari dalam hutan itu.
***
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
54
Dapat dibayangkan betapa hancur dan sakit hati Lauw-pangcu melihat anak buahnya
terbasmi habis oleh Si Setan Botak yang lihai itu. Kematian kurang lebih lima puluh orang
anggauta Pek-lian Kai-pang ini hampir menghabiskan semua anggautanya sehingga mereka
yang kebetulan tidak berada di situ dan bebas dari kematian hanya tinggal beberapa orang
saja. Dengan dendam sedalam laut-an, Lauw-pangcu mengurus jenazah se-mua anak
buahnya, dibantu oleh Kang-lam Sam-eng yang kini tinggal dua orang, Khu Cen Tiam dan
Liem Sian saja karena sumoi mereka, Bhok Khim, terculik oleh Si Kakek Sakti. Dua orang
anak murid Siauw-lim-pai ini pun di samping amat menyesal, juga amat marah dan sakit hati.
“Sudah kucegah tadi ji-wi enghiong bersama Bhok-lihiap untuk tidak men-campuri urusan
kami,” demikian Lauw-pangcu berkata penuh penyesalan. “Se-karang terbukti, selain ji-wi
terluka, juga Bhok-lihiap terculik. Ahh, semua ini gara-gara Pek-lian Kai-pang. Lebih celaka
lagi, malapetaka ini dibawa da-tang oleh muridku sendiri, si jahanam Sie Han!”
Khu Cen Tiam dan Liem Sian meng-hibur ketua kai-pang yang berduka itu. “Pangcu jangan
berkata demikian. Kita sama-sama anggauta Ho-han-hwe, sudah bersumpah sehidup semati
menghadapi penjajah dan para pengkhianat bangsa. Lebih baik kita lekas bereskan
pekerjaan di sini dan cepat mengumpulkan saudara-saudara di Ho-han-hwe untuk
merunding-kan hal ini dan agar dapat menolong Sumoi dari tangan iblis itu.”
“Ahhhhh, iblis itu terlampau sakti. Di dunia ini hanya ada lima orang datuk besar yang ilmu
kepandaiannya amat luar biasa. Kita di Ho-han-hwe, siapakah kira-nya yang akan mampu
melawannya?” demikian keluh Lauw-pangcu dengan hati gentar kalau ia teringat akan sepak
ter-jang Si Setan Botak tadi.
“Di antara saudara kita banyak yang lihai, kalau perlu aku akan memberi tahu para susiok
dan juga tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw. Sute tadi telah menantangnya tiga hari lagi.
Dalam waktu tiga hari kita harus dapat mendatangkan bala bantuan untuk membunuh iblis
itu dan menolong sumoi.”
Demikianlah, setelah penguburan sekian banyaknya jenazah itu selesai, tiga orang gagah
ini bersama Sin Lian yang dalam usia sekecil itu sudah mengalami hal-hal yang
menegangkan dan pembunuh-an-pembunuhan massal yang mengerikan, pergi
meninggalkan tempat itu menuju ke kota Tiong-kwan lalu menghubungi para pejuang yang
bergabung dalam perkum-pulan Ho-han-hwe. Sibuklah mereka se-mua itu mengundang
orang-orang pandai dalam persiapan mereka menghadapi Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Adapun Kang-thouw-kwi Gak Liat yang menunggang kuda sambil memangku tubuh Bhok
Khim yang tertotok lemas, diiringkan oleh Ouwyang Seng dan Han Han, pergi menuju ke
timur menyusuri pantai Sungai Huang-ho. Setelah melaku-kan perjalanan setengah hari,
mereka tiba di pantai yang berbatu-batu dan kakek itu berkata.
“Berhenti di sini!” Ia meloncat turun, masih memondong tubuh Bhok Khim.
“Di sinikah tempatnya batu-batu bintang yang dicari suhu?” tanya Ouwyang Seng.
Si Setan Botak mengangguk. “Kau ajak Han Han mencari di pantai, sebanyak mungkin. Kau
sudah tahu macamnya, seperti yang pernah kuperlihatkan dulu, Kongcu. Batu-batu itu
penting sekali untuk latihanmu. Nah, aku mau mengaso bersama Si Manis ini!”
Ouwyang Seng melihat betapa gurunya membungkuk dan mencium leher Bhok Khim yang
menggeliat dan meronta lemah, tertawa bergelak, kemudian me-nangkap tangan Han Han
dan ditarik sambil membentak. “Bujang malas, hayo bantu aku mencari batu bintang!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
55
Akan tetapi sekali merenggutkan ta-ngannya, Han Han melepaskan diri. Ma-tanya terbelalak
marah memandang ke arah Gak Liat Si Setan Botak yang sudah duduk di atas batu-batu
kecil yang halus sambil memangku tubuh Bhok Khim dan mempermainkan rambut gadis itu
yang hitam panjang. Han Han dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh kakek botak itu
terhadap Bhok Khim dan terbayanglah semua peristiwa jahanam yang me-nimpa diri kakak
perempuannya dan ibu-nya. Melihat Bhok Khim ia merasa se-perti melihat cicinya sendiri
yang telah lenyap, sungguhpun pandang mata Bhok Khim padanya bukanlah seperti
pandang mata cicinya yang penuh kasih sayang. Dengan langkah lebar ia menghampiri Gak
Liat dan setelah tiba di depannya, Han Han menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya
nyaring.
“Locianpwe adalah seorang yang sakti, dapat mengalahkan pengeroyokan puluhan orang.
Akan tetapi mengapa kini melakukan perbuatan yang amat hina dan ren-dah?”
“Han Han, tutup mulutmu yang bu-suk!” Ouwyang Seng membentak marah, akan tetapi Si
Setan Botak tertawa dan memberi isyarat dengan tangannya ke-pada muridnya untuk
mundur. Kemudian ia memandang wajah Han Han. Sejenak pandang mata mereka bertemu
dan kakek botak itu berseru perlahan.
“Demi iblis....! Matamu mata iblis....! Eh, bocah, perbuatan hina dan rendah apa yang telah
kulakukan?”
Han Han menuding ke arah Bhok Khim yang menggeliat-geliat di pangkuan kakek botak itu.
“Lepaskan cici itu dan aku baru dapat menganggap locianpwe seorang gagah dan sakti yang
tidak me-lakukan perbuatan hina!”
Si Setan Botak memandang terbelalak, lalu menunduk dan memandang wajah Bhok Khim
yang cantik manis, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Ini kauanggap perbuatan hina dan
rendah? Ha-ha-ha-ha!” Dengan sengaja kakek ini lalu meng-elus-elus pipi Bhok Khim yang
halus, kemudian jari-jari tangannya menjalar ke bawah, meraba-raba leher dan dada. Gadis
itu menggeliat dan meronta lemah, akan tetapi karena ia berada dalam ke-adaan tertotok, ia
tidak dapat melepas-kan diri, kemudian meramkan mata dan merintih perlahan.
Kemarahan Han Han memuncak. De-pgan mata berapi ia memandang kakek botak itu dan
membentak, “Locianpwe! Kau tidak akan menghina wanita!”
Kakek itu mengangkat mukanya me-mandang sambil tertawa, akan tetapi begitu pandang
matanya bertemu dengan sinar mata Han Han, seketika tawanya terhenti, ia terbelalak,
mulutnya ternganga dan terdengarlah ia berkata perlahan, “Aku.... aku....”
Tentu saja Ouwyang Seng menjadi bengong menyaksikan keadaan suhunya ini, maka ia
berseru keras dan heran, “Suhu....! Apa artinya ini....?”
Sesungguhnya, pandang mata dan sua-ra Han Han yang sedang marah itu me-ngandung
tenaga mujijat yang tidak se-wajarnya. Demikian kuat dan mujijat tenaga sakti ini sehingga
seorang seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri, se-orang di antara Lima Datuk Besar,
sampai terpengaruh! Sayangnya, Han Han sendiri tidak sadar dan tidak tahu akan kekuatan
dahsyat yang tersembunyi da-lam pandang mata dan kekuatan pikiran-nya sehingga tentu
saja ia tidak dapat memanfaatkannya. Selain itu, Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang
kakek yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali dalam ilmu-ilmunya, maka ia cepat
ter-sadar begitu mendengar seruan muridnya. Ia sadar dengan kaget sekali dan melempar
tubuh Bhok Khim ke samping. Gadis itu terguling dan rebah miring, tanpa dapat bangun. Di
lain saat Gak Liat telah menyambar lengan Han Han dan ditariknya anak itu duduk di atas
batu-batu kali, di depannya. Sejenak kakek itu memandang dengan penuh perhatian
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
56
se-pasang mata Han Han yang masih ber-sinar-sinar sungguhpun kini kemarahan anak itu
mereda karena melihat Bhok Khim sudah dilepaskan.
“Eh, Han Han, coba katakan, siapakah nama Ayahmu?”
Kalau Han Han ditanya riwayatnya, tentu ia tidak akan sudi menceritakan-nya, karena hal itu
akan mengharuskan ia bercerita tentang malapetaka ngeri yang menimpa ayah bundanya.
Akan te-tapi kalau hanya ditanya nama ayahnya saja, ia tidak keberatan untuk menjawab,
apalagi ia memang hendak menyenangkan hati kakek ini agar selanjutnya tidak akan
mengganggu Bhok Khim.
“Ayahku bernama Sie Bun An.”
“Ayahmu ahli silat tinggi dan tokoh kang-ouw?”
“Ah, tidak sama sekali, locianpwe. Ayah seorang sastrawan, dan semenjak kecil Ayah
melarang aku belajar silat, hanya memberi pelajaran tulis dan baca.” Ia berterus terang
dengan suara keras. Kalau dahulu di depan Lauw-pangcu ia tidak mengaku pandai
membaca, kini di depan Si Setan Botak ia malah sengaja mengatakan ayahnya sastrawan.
Hal ini pun ada sebabnya, yaitu karena di situ hadir Ouwyang Seng. Han Han yang se-ring
kali mengalami penghinaan dari Ouwyang Seng putera pangeran, kini mendapat
kesempatan untuk menyatakan bahwa dia adalah putera sastrawan dan pandai membaca
kitab, dan dalam hal ini ia tidak mau kalah oleh Ouwyang Seng!
Mendengar ini, kakek botak itu tam-pak kecewa dan pandang matanya penuh selidik
terheran-heran. “Matamu itu.... hemmm.... Han Han, kaukatakan, siapa nama Kong-kongmu
(Kakekmu)? Barang-kali aku mengenalnya.”
“Aku tidak pernah melihat Kong-kong,” jawab Han Han sejujurnya. “Dan Ayanku tidak
banyak bercerita tentang Kong-kong. Hanya mengatakan bahwa Kong-kong adalah seorang
perantau dan namanya Sie Hoat....”
Kakek botak itu meloncat bangun dan tertawa terbahak-bahak. “Sie Hoat....? Sie Hoat Si
Dewa Pencabut Bunga? Ha-ha-ha-ha-ha, engkau cucu Jai-hwa-sian (Dewa Pencabut
Bunga)? Pantas.... pantas....”
Han Han bengong, mengira bahwa Si Botak ini selain lihai juga miring otak-nya! Ayahnya
adalah seorang sastrawan yang kaya raya, biarpun ayahnya belum pernah bercerita tentang
kakeknya, na-mun ia dapat menduga bahwa kakeknya pun tentu seorang sastrawan.
Mengapa kakek botak ini menyebutnya Jai-hwa-sian (Dewa Pencabut Bunga)? Dengan
pandang mata penasaran Han Han me-natap wajah kakek botak itu dan ber-tanya.
“Kenapa locianpwe tertawa? Apakah locianpwe mengenal Kakekku?”
“Ha-ha-ha! Mengenal Jai-hwa-sian Sie Hoat? Ha-ha, dia sainganku terbesar dahulu! Dia
masih hutang beberapa pukulan dariku. Dan kau.... ha-ha-ha, engkau cucunya mencela aku
karena aku membelai seorang gadis cantik? Sungguh lucu, dan ingin aku melihat muka Sie
Hoat kalau mendengar dan melihat ini semua ha-ha-ha-ha!”
“Locianpwe, apa yang locianpwe maksudkan....?” Han Han bertanya dengan suara keras,
hatinya penuh rasa pena-saran.
Akan tetapi Kang-thouw-kwi Gak Liat hanya tertawa bergelak, lalu seperti orang gila ia
memandang ke atas, ke arah awan yang berarak di langit. “Dan kini cucumu menjadi
pelayanku, Sie Hoat! Kalau engkau masih hidup, hayo datang-lah dan jemputlah cucumu,
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
57
ha-ha-ha!” Kemudian matanya memandang ke arah tubuh Bhok Khim yang masih rebah
mi-ring di atas tanah dan dengan langkah lebar menghampiri, lalu menyambar tu-buh itu
yang diangkatnya.
“Locianpwe tidak boleh....!”
Akan tetapi ucapan Han Han ini ter-henti karena lengannya telah ditangkap oleh Ouwyang
Seng dan tubuhnya diseret pergi dari tempat itu. “Engkau bocah tak tahu diri, berani sekali
mengganggu suhu! Apakah engkau sudah bosan hidup? Anak kecil mencampuri urusan
orang tua, sung-guh lancang. Lebih baik kaubantu aku mencari batu-batu bintang. Kau
pem-berani, aku suka kepada anak pemberani dan aku tidak senang melihat kau di-bunuh
suhu kalau dia sudah marah. Ka-lau kau baik kepadanya, siapa tahu eng-kau akan diambil
murid seperti aku!”
Han Han yang terus diajak pergi sampai di tepi sungai yang banyak batu-batu karangnya,
mengerti juga betapa tak mungkin ia dapat mencegah perbuatan kakek botak yang demikian
sakti itu. Sedangkan dalam pegangan Ouwyang Seng saja ia sudah tidak mampu berkutik. Ia
tertarik mendengar tentang bintang dan tentang kemungkinan ia diambil mu-rid.
“Untuk apakah batu bintang? Dan batu bintang macam apa yang dimak-sud?” tanyanya
sambil memperhatikan ketika Ouwyang Seng mulai memilih-milih batu di antara batu karang
yang banyak terdapat di situ.
“Kau lihat baik-baik batu ini dan bantu mencari sebanyaknya, nanti kuceritakan,” jawab
Ouwyang Seng. Han Han melihat batu yang dipilih bocah itu dan melihat bahwa batu itu
kecil-kecil, paling besar sebesar tangannya dan bentuknya seperti pecahan batu karang,
runcing-runcing dan tajam, akan tetapi warnanya kemerahan. Ia lalu membantu dan mencari
batu-batu seperti itu yang tidak banyak terdapat di situ, harus dicari dan dipilih dengan teliti
baru dapat menemukan beberapa potong. Sambil mencari Ouwyang Seng lalu memberi
keterangan.
Seperti yang pernah didengar bocah ini dari gurunya, ratusan tahun yang lalu banyak orang
menyaksikan benda besar seperti bola api melayang turun di dae-rah lembah Sungai Huangho ini. Benda itu menurut dugaan banyak orang pandai adalah sepotong batu besar pecahan
dari bintang, karena itu, melihat bahwa di daerah itu kemudian tampak banyak se-kali
pecahan-pecahan batu berwarna ke-merahan, batu-batu ini disebut batu bin-tang. Akan
tetapi ketika orang berusaha mempergunakannya, batu-batu yang kecil ini tidak ada
gunanya, bahkan untuk bahan bangunan pun tidak sebaik batu kali biasa, maka sampai
ratusan tahun kemudian batu-batu ini tidak diperhatikan orang.
“Akan tetapi suhu yang sakti luar biasa melihat sifat yang mujijat dari batu-batu ini,”
demikian Ouwyang Seng melanjutkan ceritanya. “Sifat yang cocok sekali untuk
memperhebat ilmu kepandaian suhu yang berdasarkan pada tenaga Yang-kang.”
Sambil memandangi batu-batu ke-merahan itu penuh perhatian dengan hati tertarik sekali,
Han Han lalu bertanya.
“Sifat mujijat apakah? Dan apa itu Yang-kang?”
“Ah, dasar kau hijau bodoh tidak tahu apa-apa!” Ouwyang Seng mengomel. “Ma-sa tidak
tahu Yang-kang? Ketahuilah, guruku adalah seorang di antara Lima Datuk Besar, dan ilmu
kesaktiannya men-julang setinggi bintang di langit. Di du-nia ini tidak ada seorang pun
manusia sanggup menandingi ilmunya yang disebut Hwi-yang-sin-ciang (Tangan Sakti Inti
Api). Dengan hawa dari tangannya, guru-ku dapat membuat kayu terbakar. Nah, batu-batu
bintang ini mengandung tenaga mujijat dari Yang-kang, dan menurut suhu, ada inti
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
58
panasnya matahari ter-sembunyi di dalamnya. Agaknya bintang yang pecah ini tadinya
berada di dekat matahari, aku tidak tahu jelas. Batu-batu ini dipergunakan oleh suhu untuk
melatih kedua lengan.”
“Bagaimana caranya?”
“Kau akan melihat sendiri! Tahukah engkau bahwa kedua lenganku ini dapat bertahan
direndam air yang mendidih?”
“Ah, masa....?” Tentu saja Han Han tidak percaya.
Ouwyang Seng tersenyum bangga dan menyingsingkan kedua lengan bajunya se-hingga
tampak kedua lengannya yang berkulit putih dan halus. “Kedua lenganku ini kelak kalau
sudah jadi benar seperti kedua lengan suhu, akan membuat aku dapat menjagoi seluruh
jagat! Kalau su-dah selesai latihanku, sekali sampok saja aku dapat membuat hangus tubuh
lawan yang bagaimana kuat sekalipun!”
Han Han memandang dengan melongo, setengah tidak percaya, akan tetapi juga ngeri dan
kagum. Benarkah di dunia ada ilmu seperti itu? Ia akan melihat dan membuktikan sendiri.
Berkali-kali ia di-hina orang karena ia tidak bisa silat dan tidak memiliki kekuatan yang
mujijat. Kalau dia sampai dapat menjadi seorang pandai, bukankah dengan mudah ia dapat
menentang semua orang yang jahat-jahat itu? Memang ia dapat membayangkan betapa
senangnya memiliki sepasang le-ngan tangan yang lihai seperti itu, dapat mengeluarkan
hawa panas seperti api!
“Benarkah semua yang kaukatakan itu, Ouwyang Seng?”
Tiba-tiba bocah itu melotot dan membentak marah, “Han Han! Di mana ke-sopananmu?
Katamu sendiri kau keturun-an sastrawan, mengapa tidak tahu sopan santun? Kau sekarang
menjadi pelayan suhuku, berarti kau pelayanku juga. Dan ketahuilah bahwa Ayahku adalah
Pange-ran Ouwyang Cin Kok yang berpengaruh besar sekali di kota raja. Sudah
seharus-nya kalau kau juga menghormat padaku kalau kau tahu akan sopan santun!”
Wajah Han Han menjadi merah. Tentu saja ia tahu akan semua peraturan ini, peraturan
“sopan santun” yang diciptakan oleh kerajaan, yang mengharuskan si kecil mencium ujung
sepatu si bangsawan, si miskin menyembah-nyembah si kaya! Ia mengerti bahwa dia
memang bersalah, maka ia menghela napas dan mengulangi pertanyaannya.
“Maaf, benarkah semua yang kauceritakan tadi, Ouwyang-kongcu?”
Berseri wajah Ouwyang Seng. “Bagus! Memang benar dugaanku, kau bukan sem-barangan
pengemis dan kini aku percaya bahwa engkau tentu keturunan seorang terpelajar. Guruku
sendiri menyebutku Kongcu, tentu saja engkau pun harus menghormatku. Tentu benar apa
yang kuceritakan tadi dan engkau ini memang bernasib baik sekali, Han Han. Menjadi
pelayan guruku berarti menemukan harta yang tak ternilai harganya, karena sedikit banyak
engkau tentu akan dapat memetik ilmunya. Akan tetapi sudah tentu saja jangan harap
mendapatkan sebanyak aku, karena aku muridnya. Mengerti? Hayo cepat kumpulkan batu
bintang yang ba-nyak.”
Han Han mengangguk dan mereka berdua asyik mencari-cari batu bintang sampai
terkumpul cukup banyak. Ouw-yang Seng membungkus batu-batu itu dengan kantung kain
yang memang sudah dibawanya, lalu menyuruh Han Han me-manggulnya. Mereka berdua
lalu kembali ke tempat di mana tadi mereka mening-galkan Kang-thouw-kwi Gak Liat. Ketika
kedua orang anak itu tiba di situ, Han Han melihat bahwa kakek botak itu du-duk di atas batu
dengan mata dipejam-kan dan mulut menyeringai, sedangkan tak jauh dari situ ia melihat
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
59
Bhok Khim sedang melangkah pergi. Wajah wanita itu pucat dan ia melangkah pergi sambil
terisak menangis.
“Ho-ho, Manis, kenapa menangis? Laporkan saja kepada Ceng San Hwesio bahwa akulah
yang mengganggumu, dan dia tentu tidak akan bisa berbuat sesuatu ho-ho-ha-ha!”
Wanita muda itu tiba-tiba membalik-kan tubuhnya dan Han Han melihat be-tapa mata yang
merah itu memandang penuh kebencian, wajah yang pucat itu basah air mata dan ia
bergidik. Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan wajah yang membayangkan
kemarahan, kebencian dan dendam sehebat itu! Bhok Khim lalu membalikkan tubuhnya lagi
dan berlari, meninggalkan isak tangis yang bercampur dengan suara ketawa bergelak Si
Kakek Botak.
“Sudah mendapatkan banyak batu bintang? Bagus, mari kita melanjutkan perjalanan pulang
agar dapat cepat-cepat engkau berlatih, Kongcu.”
Tubuh kakek botak yang tadinya du-duk, tiba-tiba melambung ke atas dan pandang mata
Han Han sampai menjadi berkunang ketika ia berusaha mengikuti gerakan kakek itu. Tahutahu Si Kakek Botak sudah duduk di atas punggung kuda-nya! Ouwyang Seng agaknya tidak
heran menyaksikan demonstrasi kepandaian yang bagi Han Han seperti orang bermain
sulap ini, bahkan lalu menepuk pundak-nya. “Hayo kita berangkat, Han Han. Hari sudah
hampir gelap!”
Kembali mereka melakukan perjalanan tanpa banyak cakap. Kuda yang ditung-gangi oleh
kakek botak yang duduk me-lenggut seperti orang mengantuk itu berjalan di depan, diikuti
oleh Han Han yang memanggul kantung berisi batu-batu bintang, dan paling belakang
adalah Ouwyang Seng yang berjalan sambil ka-dang-kadang mendorong pundak Han Han
disuruh cepat agar jangan tertinggal langkah kuda.
Menjelang malam, tibalah mereka di tempat yang dijadikan tempat tinggal Kang-thouw-kwi
Gak Liat. Han Han tertegun dan memandang kagum. Rumah itu adalah sebuah gedung
yang indah sekali, yang letaknya berada di sebelah timur kota Tiong-kwan, di dekat Sungai
Suang-ho dan mempunyai tanah yang luas, yang dipagari dengan pagar tembok tinggi.
Inilah bukan sembarang rumah, pikirnya. Seperti istana saja!
“Rumah siapa ini....?” tanyanya ketika mereka memasuki rumah itu setelah dua orang
pelayan menyambut kuda tung-gangan Si Kakek Botak dan Ouwyang Seng mengajak Han
Han untuk terus menuju ke belakang melalui pintu sam-ping, berbeda dengan kakek botak
yang langsung memasuki gedung dari pintu tengah.
“Heh-heh, rumah siapa lagi? Ini rumahku!”
“Rumahmu....?” Han Han makin kagum.
“Bodoh, bukankah sudah kukatakan bahwa Ayahku adalah Pangeran Ouwyang Cin Kok?
Apa artinya rumah ini bagi Ayah? Ini hanyalah sebuah rumah pe-sanggrahan yang biasanya
ditinggali ke-luargaku di waktu musim panas. Kini dipergunakan oleh suhu untuk mengajar
ilmu silat kepadaku. Hayolah! Kau makan dulu, kemudian tidur. Besok kita beker-ja!”
Ouwyang Seng lalu memanggil pelayan, menyuruh pelayan memberi makan kepada Han
Han dan memberi sebuah kamar untuk tidur. Kemudian kongcu itu pun melenyapkan diri ke
dalam rumah gedung dan malampun tiba.
Pada keesokan harinya, Han Han ter-bangun pagi-pagi sekali. Keadaan di da-lam gedung
masih sunyi, tanda bahwa semua penghuninya masih tidur. Ia ber-indap-indap keluar dari
kamarnya, yaitu sebuah kamar kecil di antara kamar-kamar untuk bujang di bagian belakang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
60
gedung, dan dengan hati-hati Han Han mencari jalan untuk lari minggat dari situ. Betapapun
tertarik hatinya untuk menyaksikan Ouwyang Seng berlatih dan kalau mungkin dia sendiri
menerima pe-lajaran dari Setan Botak itu, namun ia masih memilih bebas daripada tekanan
mereka dan dipaksa menjadi pelayan.
Karena kedua kaki Han Han telanjang, ia dapat melangkah secara hati-hati sekali tanpa
mengeluarkan suara dan berhasil melewati kamar-kamar bujang tanpa membangunkan
mereka. Akan tetapi alangkah kecewa hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa rumah
gedung itu terkurung tembok tinggi sekali dan tidak ada jalan keluar sama sekali ke-cuali
memanjat pintu gerbang atau tem-bok! Akan tetapi pintu gerbang pun ter-lalu tinggi
untuknya. Selagi ia termangu bingung, terdengar suara tertawa.
“Ho-ho-ha-ha, kau hendak lari ke mana?”
Han Han terkejut dan cepat menengok, akan tetapi keadaan di sekeliling-nya tetap sunyi
dan gelap. Tidak tam-pak bayangan seorang manusia pun, juga tidak tampak di mana
adanya Setan Bo-tak tua yang tadi ia dengar suaranya. Ia bergidik. Hebat bukan ilmu
kesaktian kakek itu. Mungkinkah dapat melihat-nya dari dalam gedung dan dapat mengi-rim
suaranya seperti itu? Karena maklum bahwa usahanya untuk lari sia-sia belaka dan tak
mungkin dapat ia lakukan, Han Han lalu kembali ke dalam kamarnya dan ia duduk bersila
dan bersamadhi seperti yang pernah dilatihnya di bawah bimbing-an Lauw-pangcu.
Setelah Ouwyang Seng bangun, Han Han diajak pergi ke tempat latihan. Tem-pat ini
dahulunya dijadikan sebuah gu-dang besar, akan tetapi sejak Gak Liat tinggal di situ, oleh
kakek ini dijadikan semacam lian-bu-thia (ruangan bermain silat) lengkap dengan dapurnya
di mana ia melatih diri dan muridnya untuk mem-perkuat Yang-kang dengan bantuan batubatu bintang. Masih ada lagi sebuah tem-pat yang letaknya di belakang gedung dan tempat
ini penuh rahasia. Kalau para pelayan di gedung itu masih diperboleh-kan memasuki lian-buthia, maka tidak seorang pun kecuali kakek botak itu sendiri yang boleh memasuki tempat
terlarang di belakang gedung ini. Tempat itu dahulunya menjadi kebun dari gedung itu, akan
tetapi kabarnya sebelum Pa-ngeran Ouwyang membangun gedung di situ, kebun itu
dahulunya sebuah tanah kuburan kuno. Di tempat inilah Gak Liat secara rahasia
menggembleng diri mem-perdalam kesaktian karena sebagai se-orang di antara Lima Datuk
Besar ia harus selalu memperdalam ilmu agar jangan sampai kalah oleh datuk lain.
Han Han mendengar semua ini dari Ouwyang Seng. “Engkau harus taat akan perintah suhu
kalau kau ingin hidup,” antara lain putera pangeran itu berkata. “Kalau suhu sudah marah
dan menghen-daki nyawamu, biar ada seribu orang dewa sekalipun tidak akan dapat
menolongmu. Kau ingat baik-baik, sekali-kali jangan memasuki daerah terlarang di belakang
gedung ini karena siapa saja, termasuk aku sendiri, kalau berani melanggar larangan ini,
akan mati!”
Diam-diam Han Han tidak puas hati-nya. Terlalu sekali Setan Botak itu, de-mikian pikirnya.
Karena ketidaksenangan hatinya ia memberi nama Setan Botak kepada kakek itu. Mudah
saja memutus-kan mati hidupnya orang lain! Akan te-tapi ia tidak mau banyak cakap. Ia
mak-lum bahwa keadaannya seperti seorang tahanan, tidak dapat lari dan terpaksa ia harus
bekerja di situ. Ia tidak bodoh, tidak mau nekat memperlihatkan ketidaksenangannya karena
berada dalam keada-an tidak berdaya. Aku harus dapat me-metik keuntungan sebanyaknya
dalam keadaan seperti ini, pikirnya. Maka ia lalu membantu pekerjaan di dalam lian-bu-thia
seperti yang diperintahkan Ouw-yang Seng. Ia harus mengisi air yang di-ambilnya dari
sumur, memenuhi sebuah kwali baja yang amat besar dan yang ditaruh di atas perapian.
Juga ia harus memukuli batu-batu bintang sampai men-jadi kecil-kecil, mempergunakan
sebuah palu besi. Pekerjaan ini sukar dan me-letihkan karena batu-batu bintang itu cukup
keras. Tiap kali beradu dengan palu besi, mengeluarkan titik-titik api dan kalau mengenai
kulit lengan, terasa panas sekali!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
61
Pecahan batu-batu bintang ini lalu dituangkan ke dalam kwali besar yang airnya mulai
mendidih. Pada saat itu, muncullah Gak Liat dan seperti biasanya, kemunculannya secara
tiba-tiba seperti ia pandai menghilang saja. Padahal ia dapat muncul seperti itu karena
menggunakan gin-kang yang amat tinggi tingkatnya sehingga gerakannya selain ringan tak
terdengar, juga amat cepat.
“Suhu, apakah teecu (murid) sudah boleh berlatih dengan batu bintang?” Ouwyang Seng
bertanya.
“Hemmm...., masih jauh! Kedua lenganmu belum cukup kuat, Kongcu. Le-bih baik kau tekun
melatih kedua lenganmu dengan air panas beracun itu. Itu pun amat berguna, dan kelak
kalau ting-katmu sudah cukup kuat, baru akan ku-latih dengan air panas batu bintang.
Mulailah, Kongcu. Dan kau, Han Han, air di kwali besar itu kurang penuh, hayo ambil lagi
dan isi sampai penuh, kemu-dian besarkan apinya. Batu-batu kecil merah itu harus digodok
sampai hancur!”
Dengan muka keruh karena kecewa Ouwyang Seng menghampiri kwali yang lebih kecil,
yang tadi ia tumpangkan di atas perapian kecil di sudut. Air dalam kwali itu kelihatan
menghitam, dan airnya sudah mulai panas akan tetapi masih belum mendidih. Setelah
menggulung kedua lengan bajunya, Ouwyang Seng memasukkan kedua tangannya ke
dalam kwali air hitam, akan tetapi ia menyeri-ngai kesakitan dan menarik kembali kedua
tangannya keluar.
“Aduh, terlalu panas....!” serunya.
“Hemmmmm, Kongcu kurang tekun berlatih!” Setan Botak menegur dan sua-ranya jelas
membayangkan bahwa hatinya tidak puas. “Yang begini saja tidak kuat, apalagi berlatih
dengan batu bintang. Masukkan lagi tangan Kongcu ke dalam kwali itu, jangan ragu-ragu,
masukkan!”
Ouwyang Seng memandang ke arah suhunya dengan muka pucat, kemudian ia menggigit
bibirnya dan dengan nekat memasukkan kedua lengannya ke dalam kwali di depannya.
Tubuhnya menggigil dan hampir ia tidak kuat menahan, akan tetapi tiba-tiba kakek itu
mengulur ta-ngan kiri, menyentuh pundaknya dan tubuh Ouwyang Seng tidak menggigil lagi,
bahkan wajahnya kelihatan tenang.
“Bantulah dengan hawa dalam tubuh! Kongcu harus dalam keadaan siulian (sa-madhi) jika
tidak kuat,” suara kakek itu mengomel. Ouwyang Seng lalu meramkan kedua mata dan mulai
mengatur napas mengumpulkan perasaan, mengerahkan hawa dari dalam pusar dan ketika
kakek itu menarik kembali tangannya, Ouwyang Seng tidak menggigil lagi, wajahnya
te-nang.
“Berlatih terus sampai dua hari dua malam, jangan hentikan kecuali makan, dari ulangi lagi
sampai aku kembali dari pertemuan Ho-han-hwe,” pesan Si Kakek sambil berdiri dan
bertolak pinggang.
Han Han yang sejak tadi berdiri me-mandang dan mendengarkan, menjadi terheran. Air
hitam itu terang amat panas, bahkan sudah mulai menguap, akan tetapi kini Ouwyang Seng
dalam keadaan samadhi mampu menahan dengan kedua lengannya direndam air panas!
“Hei, mana airnya? Cepat tambah sampai penuh dan godok atu bintang sampai hancur.
Kalau airnya menguap habis dan batunya masih belum hancur betul, tambah terus dan
godok terus sampai hancur. Mengerti?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
62
Han Han terkejut dan sadar dari ke-adaan bengong tadi, cepat-cepat ia me-nyambar ember
kosong dan lari ke sumur, mengambil air dan menuangkannya ke dalam kwali besar berisi
batu bintang. Kakek itu masih berdiri di situ, kemudi-an berkata.
“Kerjakan penggodokan batu ini sam-pai hancur, terus besarkan api sampai aku datang
kembali. Awas, kalau aku datang batu-batu ini belum hancur, kau yang akan kumasukkan ke
dalam air ini!”
Setelah mengeluarkan kata-kata ini, tubuh Setan Botak yang tinggi kurus itu berkelebat dan
lenyap dari situ. Han Han sejenak memandang dan mencari-cari dengan matanya, kemudian
melirik ke arah Ouwyang Seng yang masih duduk bersamadhi dengan kedua lengan
diren-dam air hitam yang panas. Han Han mengangkat pundak dan melanjutkan
pekerjaannya, maklum bahwa ia tidak berdaya melarikan diri dan terpaksa harus melakukan
perintah Setan Botak. Akan tetapi betapa mendongkol hatinya ketika mendapat kenyataan
bahwa batu-batu bintang itu benar-benar amat sukar dicairkan. Sampai berkali-kali ia harus
menambah air lagi dalam kwali dan me-nambah kayu perapian sehingga hawa panas
memenuhi ruangan “dapur” dari lian-bu-thia ini.
Baiknya ia bekerja kepada Ouwyang Seng, putera pangeran yang amat di-hormat, dan
diperhatikan keadaannya oleh para pelayan sehingga pada waktu-waktu tertentu tidak
pernah pelayan lupa untuk mengantar minuman dan makanan. Ouwyang Seng kelihatan
gembira bahwa ia telah memperoleh kemajuan. Kini tanpa bantuan gurunya, ia sudah dapat
bertahan merendam kedua lengannya di air racun yang panas. Karena kegembiraannya, ia
sering bercerita di waktu me-ngaso sehingga Han Han banyak tahu akan keadaan yang
aneh di tempat itu dan akan keadaan Setan Botak yang amat luar biasa itu. Diam-diam di
dalam hatinya Han Han bergidik. Kalau saja ia tahu sebelumnya, tentu ia tidak akan
membawa Setan Botak itu kepada sarang Pek-lian Kai-pang! Bergidik ia teringat betapa
banyaknya manusia menjadi kor-ban kekejaman Si Setan Botak ini.
Menurut penuturan Ouwyang Seng yang sesungguhnya tidak banyak pengeta-huannya
tentang keadaan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sebagaimana yang ia ceri-takan penuh
kebanggaan kepada Han Han, kakek itu adalah tokoh terbesar di antara Lima Datuk Besar
yang pada saat itu menguasai dunia kang-ouw golongan hitam. Merupakan tokoh yang amat
ter-kenal karena ilmunya yang mengerikan, yaitu Hwi-yang-sin-ciang, dan sudah ba-nyak
jasanya terhadap Pemerintah Man-cu karena ketika barisan Mancu menyer-bu ke selatan,
kakek inilah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang melancar-kan jalan dengan
merobohkan pejuang-pejuang yang memiliki kesaktian.
“Menurut kata Ayahku, Pangeran Ouw-yang Cin Kok, ilmu kepandaian suhu tidak ada
lawannya di kolong langit ini, maka aku disuruh menjadi muridnya. Kaulihat sendiri, betapa
hebat ilmunya. Dan aku.... aku sudah mulai dapat meng-gembleng kedua lenganku agar
kelak menjadi jago nomor satu di dunia, setelah suhu.”
Han Han amat tertarik. Belum pernah ia mendengar tentang ilmu kesaktian yang anehaneh, sungguhpun sudah banyak ia membaca cerita tentang orang-orang sakti di jaman
dahulu. Kini ia tidak saja mendengar, bahkan ia menyaksikan de-ngan mata sendiri.
“Kongcu, tadi gurumu mengatakan telah mengenal Kakekku dan menyebut Kakekku Jaihwa-sian, apakah kau pernah mendengar tentang Kakekku itu?”
Ouwyang Seng menggeleng kepala. “Aku belum pernah mendengar nama itu. Mungkin para
suheng (Kakak Seperguruan Laki-laki) atau suci (Kakak Seperguruan Perempuan) pernah
mendengar dan me-ngetahuinya. Kelak akan kutanyakan mereka.”
“Ah, jadi Kongcu masih mempunyai suheng dan suci?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
63
Ouwyang Seng mengacungkan jempol-nya. “Tentu saja, dan mereka pun hebat! Aku
mempunyai dua orang suheng dan seorang suci, dan kepandaian mereka saja sudah cukup
menggegerkan dunia dan tidak ada lawannya. Akan tetapi menurut suhu, kalau aku tekun
belajar, aku akan lebih lihai daripada mereka!”
Han Han dapat menduga bahwa pu-tera pangeran ini sedang bersombong, maka ia tidak
begitu mengacuhkannya. Pikirannya sendiri bekerja dan ia amat tertarik untuk mempelajari
ilmu yang aneh-aneh itu, bukan sekali-kaii karena ia ingin menggunakannya untuk berkelahi
memukul apalagi membunuh orang, me-lainkan keanehan ilmu-ilmu itulah yang menarik
hatinya. Ingin ia mengetahui rahasianya. Ketika ia menuangkan air tadi, ada air dari kwali, air
yang men-didih dan berwarna agak merah, memer-cik ke atas dan setetes air mengenai
lengannya. Kulit lengannya terasa panas sekali dan melepuh. Hal ini adalah wajar, akan
tetapi mengapa Ouwyang Seng dapat merendam kedua lengannya di air panas tanpa
terluka?
“Kaulanjutkan pekerjaanmu menggodok batu bintang sampai hancur mencair, Han Han.
Jangan sampai gagal dan jangan menggangguku. Ingat lagi, tak boleh se-kali-kali kau keluar
dari lian-bu-thia ini, apalagi berkeliaran di daerah terlarang di belakang gedung. Kalau
melanggar, eng-kau akan mati dalam keadaan mengeri-kan!”
Sudah menjadi watak Han Han, juga mungkin watak sebagian besar anak-anak, makin
terlarang makin ingin tahu.
“Ada apanya sih di daerah terlarang itu, Kongcu?”
“Hush! Mana aku tahu? Di situ tem-pat suhu bersamadhi dan melatih ilmu, tidak ada yang
boleh masuk. Aku pun baru tiga kali diperkenankan masuk dan keadaannya mengerikan dan
menyeram-kan! Ada tengkorak-tengkorak hidup.... hihhh.... ada setan-setannya di situ. Akan
tetapi, suhu menguasai setan-setan itu semua yang membantunya memper-dalam ilmuilmunya.”
Han Han merasa seram juga, akan tetapi diam-diam ia makin tertarik dan ingin sekali
menjenguk daerah terlarang. Namun tentu saja hai ini hanya ia simpan dalam hati dan
karena melihat Ouwyang Seng sudah tekun bersamadhi dan berlatih, ia pun lalu duduk
bersila di depan perapian menjaga godokan batu bintang.
***
Ho-han-hwe (Perkumpulan Kaum Patriot) adalah sebuah perkumpulan orang-orang gagah
yang menentang pemerintah penjajah Mancu, terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang
kemudian di dunia kang-ouw sendiri dikenal dengan golongan putih atau kaum bersih
sebagai tandingan dari mereka yang mendukung pemerintah penjajah yang mereka namai
golongan hitam atau kaum sesat! Di mana-mana ada Ho-han-hwe ini, namun tidak pernah
ada tempat atau markasny tertentu karena tentu saja perkumpulan ini me-rupakan
perkumpulan rahasia yang oleh pemerintah Mancu dicap sebagai pem-berontak. Setiap saat
dapat saja diadakan pertemuan rahasia antara tokoh-tokoh patriot ini yang secara diam-diam
selalu mengadakan hubungan satu dengan yang lain.
Kang-lam Sam-eng Si Tiga Pendekar Kang-lam merupakan tokoh-tokoh ber-semangat dari
Ho-han-hwe. Tiga orang murid Siauw-lim-pai inilah yang meme-lopori pertemuan antara
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
64
orang gagah di Tiong-kwan yang menjadi pusat dari Pek-lian Kai-pang. Tentu saja Pek-lian
Kai-pang merupakan sepaham atau sahabat karena perkumpulan pengemis di bawah
pimpinan Lauw-pangcu ini menjadi anak buah musuh Mancu di barat, yaitu Raja Muda Bu
Sam Kwi.
Akan tetapi, tiga hari sebelum per-temuan penting ini diadakan, terjadilah malapetaka
menimpa Pek-lian Kai-pang sehingga hampir seluruh anggauta per-kumpulan pengemis
pejuang ini terbasmi habis oleh datuk hitam Gak Liat, bahkan Lauw-pangcu sendiri terluka,
juga Kang-lam Sam-eng yang tadinya datang mengunjungi sahabat mereka ikut pula
mengalami nasib malang. Khu Cen Tiam dan Liem Sian terluka dan Bhok Khim Si Pedang
Cantik malah tertawan oleh Se-tan Botak yang lihai luar biasa itu. Se-mua ini masih
ditambah lagi dengan terpecahnya rahasia pertemuan Ho-han-hwe sehingga kini pertemuan
itu terancam oleh hadirnya Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Peristiwa ini yang segera terdengar oleh kaum bersih, membuat mereka sibuk sekali
membuat persiapan. Nama besar Gak Liat sudah dikenal mereka semua, sungguhpun
belum pernah ada yang ber-temu, apalagi bertanding melawan datuk hitam itu. Mereka sibuk
mengundang tokoh-tokoh besar dari golongan putih, namun tak seorang pun yang merasa
akan sanggup menandingi kesaktian Setan Botak. Akhirnya, hati mereka lega, ketika Khu
Cen Tiam dan Liem Sian berhasil mengundang Siauw-lim Chit-kiam (Tujuh Pendekar
Pedang Siauw-lim-pai) yang masih terhitung paman-paman guru Kang-lam Sam-eng, atau
murid-murid dari Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai. Agaknya hanya Siauw-lim Chit-kiam
ini sajalah yang akan sanggup menandingi musuh itu.
Selain Siauw-lim Chit-kiam yang di-undang datang oleh Khu Cen Tiam dan Liem Sian, juga
ada beberapa orang to-koh undangan lain sehingga kedudukan Ho-han-hwe yang diadakan
di Tiong-kwan itu cukup kuat. Namun mereka itu telah mengatur siasat dan rencana, karena
khawatir kalau-kalau yang muncul bukan hanya Setan Bgtak sendiri dan siapa tahu kalaukalau di belakang Setan Botak ini terdapat pasukan pemerintah penjajah yang akan
membasmi mereka.
Demikianlah, pada hari yang ditetap-kan, semua orang gagah berkumpul de-ngan hati
berdebar, dalam suasana penuh ketegangan. Mereka memilih tempat di sebuah kuil tua,
yaitu sebuah kuil di luar kota Tiong-kwan sebelah barat. Kuil ini selain sudah tua tidak
terpakai lagi, juga memiliki pekarangan yang luas dan jauh dari tetangga, letaknya sunyi dan
dari tempat itu akan mudah diketahui kalau ada fihak musuh datang menyerang.
Semenjak pagi, sudah banyak ang-gauta-anggauta Ho-han-hwe yang ber-datangan.
Sambungan pundak Liem Sian yang terlepas telah dapat disambung kembali, dan lengan
Khu Cen Tiam juga sudah diobati dan masih terbalut. Semua ini dapat dilakukan berkat ilmu
peng-obatan yang tinggi dari seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Namun tentu saja
kedua orang ini masih harus beristirahat dan tidak mungkin dapat menghadapi dan ikut
dalam pertandingan melawan musuh pandai. Ada tiga puluh orang lebih yang berkumpul,
kesemuanya merupakan tokoh-tokoh yang tinggi ilmu silatnya. Akan tetapi yang menjadi
pusat perhatian, juga menjadi pusat harapan mereka, adalah Siauw-lim Chit-kiam yang ratarata berusia lima puluhan tahun dan bersikap tenang sekali, ditambah lagi dua orang tokoh
undangan lain yang namanya tidak kalah tenarnya dari Siauw-lim Chit-kiam. Mereka ini
adalah seorang laki-laki ting-gi besar berkulit hitam dan seorang lagi kakek kurus kering
bermuka pucat. Laki-laki tinggi besar itu bernama Giam Ki, akan tetapi lebih terkenal dengan
julukan Ban-kin Hek-gu (Kerbau Hitam Selaksa Kati). Dari julukannya ini saja mudah diduga
bahwa laki-laki tinggi besar ber-usia empat puluhan tahun ini selain me-miliki ilmu silat Butong-pai yang lihai, juga memiliki tenaga yang dahsyat. Ada-pun laki-laki berusia enam
puluhan tahun yang kecil tubuhnya dan bermuka pucat itu amat terkenal dengan julukannya
It-ci Sin-mo (Iblis Berjari Sakti) dan bernama Tan Sun. Kalau Giam Ki terkenal dengan
tenaga luar yang dahsyat, adalah Tan Sun ini terkenal sebagai ahli lwee-keh (tenaga dalam)
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
65
yang amat pandai mempergunakan jari tangan untuk me-lakukan ilmu tiam-hiat-hoat
(menotok jalan darah).
Akan tetapi berbeda dengan sikap Siauw-lim Chit-kiam yang tenang dan diam, kedua orang
ini agak sombong dan berlagak memandang rendah ancaman Kang-thouw-kwi Gak Liat!
Sikap ini ha-nya mendatangkan perasaan lega dan percaya di antara golongan muda yang
hadir di Ho-han-hwe itu, akan tetapi bagi mereka yang lebih tua, bahkan me-nimbulkan
kekhawatiran dan keraguan.
“Mengapa khawatir menghadapi Si Setan Botak?” Demikian antara lain Ban-kin Hek-gu
berkata sambil meng-angkat dadanya yang lebar dan kuat. “Kita sekalian hanya baru
mendengar namanya sebagai seorang di antara Lima Datuk Hitam! Tak perlu gelisah!
Macam datuk-datuk hitam yang berkecimpung di dunia kemaksiatan, mana mungkin bisa
memiliki kesaktian tulen? Kalau dia datang, biarlah aku yang maju menghadapi-nya!”
Karena semua orang maklum bahwa Si Kulit Hitam tinggi besar ini memang berkepandaian
tinggi dan lihai sekali, mereka tidak mau membantah, apalagi mereka semua sedang dalam
suasana berkabung. Sebuah meja sembahyang besar dipasang di tengah ruangan dan
mereka tadi satu demi satu telah melakukan sembahyang untuk mengenang dan
menghormat kematian teman-teman mereka, yaitu anggauta-anggauta Pek-lian Kai-pang
yang telah dibasmi oleh Setan Bo-tak secara mengerikan.
“Kami percaya akan kemampuan Giam-taihiap dan amat mengharapkan bantuan taihiap
yang berharga,” kata pula Khu Cen Tiam tenang. “Akan tetapi kami harap sukalah Giamtaihiap dan semua saudara-saudara yang lain berhati-hati sekali. Setan Botak itu benarbenar amat lihai dan kesaktiannya dahsyat sekali. Kita telah mengatur rencana dan siasat,
apabila dia datang dan tak dapat dilawan, kita harus mengandalkan tenaga bantuan ke tujuh
orang susiok (Paman Guru) kami untuk menghadapinya.” Sambil berkata demikian, Khu Cen
Tiam memandang ke arah tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang duduk diam dan sejak tadi
tidak berkata-kata, hanya mendengarkan de-ngan sikap tenang.
Seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam yang tertua, kakek berjenggot putih panjang
berpemandangan tajam dan bernama Song Kai Sin, berkata dengan suara halus dan
tenang.
“Kami bukanlah anggauta-anggauta Ho-han-hwe dan kami datang memenuhi undangan
murid-murid keponakan kami hanya karena seorang keponakan perempuan kami ditawan
oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat. Meman, Gak Liat amat keji dan jahat, sudah menjadi
kewajiban kami untuk menentangnya, apalagi kalau Bhok Khim dia ganggu. Akan tetapi, dia
amat sakti, sungguhpun kami sendiri belum pernah melawannya, namun menurut
perhitungan kami, hanya kalau kami bertujuh maju bersama, mungkin baru dapat
menahannya. Kalau sudah terjadi demikian, hendaknya rencana diteruskan dan jangan
pedulikan kami. Kami Siauw-lim Chit-kiam sekali turun tangan memenuhi kewajiban, sudah
rela dan siap untuk mengorbankan nyawa untuk membersihkan dunia dari tangan kotor
seorang di antara Lima Datuk Hitam.”
Setelah bicara demikian, Song Kai Sin kembali menundukkan mukanya dan bersamadhi
seperti enam orang saudara seperguruannya. Ketika orang memperhatikan, kiranya tujuh
orang tokoh Siauw-lim-pai ini sejak tadi bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga dan diamdiam mereka sedang meyakinkan latihan untuk menyatukan semangat dan sin-kang mereka.
Untuk menghadapi seorang tokoh besar seperti Setan Botak, tujuh orang tokoh Siauw-limpai ini yang sudah mak-lum akan kelihaian lawan, tanpa banyak cakap telah berlatih dan
bersiap-siap.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
66
Lauw-pangcu, ketua Pek-lian Kai-pang yang hadir pula dalam pertemuan ini, telah
mendapat pengobatan pula dari lukanya di sebelah dalam tubuh akibat pukulan jarak jauh
Setan Botak. Wajah ketua Pek-lian Kai-pang ini pucat sekali dan tubuhnya masih lemah,
namun semangatnya sama sekali tidaklah lemah, bahkan berkobar-kobar karena ia merasa
sakit hati terhadap Setan Botak atas kematian hampir seluruh anggauta Pek-lian Kai-pang.
Setelah membawa puteri-nya, Sin Lian, ke rumah seorang sahabat-nya di Tiong-kwan,
menitipkan anak itu dan memesan kepada Sin Lian agar ja-ngan keluar dari rumah, ia
sebagai seorang terpenting dalam Ho-han-hwe itu lalu mengatur persiapan bersama Khu
Cen Tiam dan Liem Sian. Mereka semua telah bersepakat menjalankan siasat, yaitu dengan
cara apa pun harus dapat mereka tewaskan Si Setan Botak, kalau mungkin dalam
pertandingan, kalau tidak mungkin, telah disediakan cara untuk membakar Setan Botak
hidup-hidup di dalam kuil tua!
Setelah semua hadir, pertemuan itu dibuka oleh Lauw-pangcu yang membica-rakan tentang
usaha perlawanan Raja Muda Bu Sam Kwi di wilayah barat un-tuk menentang pemerintah
penjajah bang-sa Mancu. Kemudian ia menceritakan pula malapetaka yang menimpa Peklian Kai-pang dan dengan suara pilu bercam-pur sesal hebat ia menambahkan.
“Kalau saya merenungkan betapa malapetaka ini didatangkan oleh.... murid saya sendiri....
sungguh perih sekali perasaan hatiku....” Tak tertahankan lagi, Lauw-pangcu yang sudah tua
ini menitikkan air mata. Ia merasa menyesal bukan main telah bertemu Sie Han dan
mengambil anak itu sebagai murid. Lebih-lebih perih rasa hatinya betapa muridnya itu
membawa datang Si Setan Botak, bahkan membawakan buntalan yang isi-nya lima buah
kepala pembantu-pembantu-nya! Kenangan ini mendatangkan ke-marahan luar biasa dan
biarpun lukanya masih belum sembuh benar, ia menggerak-kan tangan menghantam remuk
sisa arca batu di sampingnya sambil berkata, “Se-lama hidup aku takkan melupakan murid
murtad yang bernama Sie Han itu! Sekali waktu tentu akan kubalas dendam ini!” Napasnya
terengah dan ia menyambung, “Mohon bantuan para saudara untuk kelak menangkap murid
ini dan menyerahkan-nya kepada saya.” Setelah berkata demi-kian, Lauw-pangcu
muntahkan darah se-gar. Song Kai Sin, orang pertama dari Siauw-lim Chit-kiam, berkata
tenang.
“Lauw-pangcu, seorang gagah dapat menerima segala keadaan, betapapun buruknya,
dengan penuh kesabaran dan ketenangan. Keluh-kesah dan kesedihan tiada gunanya,
hanya akan melemahkan semangat dan badan.” Kemudian ia bangkit berdiri, menghampiri
Lauw-pangcu dan menggunakan dua jari tangan kirinya menotok jalan darah di punggung
ketua Pek-lian Kai-pang yang akhirnya menjadi tenang kembali.
Akan tetapi ucapan kakek ini telah membangkitkan amarah di hati para orang gagah yang
hadir dan diam-diam mereka ini pun membenci Sie Han, apa-lagi Khu Cen Tiam dan Liem
Sian dua orang murid Siauw-lim-pai itu yang menganggap bahwa hilangnya sumoi mereka
adalah gara-gara murid murtad itu pula. Kalau murid murtad Lauw-pangcu tidak berkhianat,
tentu Setan Botak tidak akan datang dan sumoi mereka tidak akan terculik.
Para anggauta Ho-han-hwe itu lalu saling menceritakan hasil perjuangan mereka
menentang penjajah dan mengatur siasat untuk melakukan gerakan-gerakan selanjutnya.
Ada yang mengusulkan agar mereka itu menculik anak-anak para pembesar Mancu
sehingga selain hal ini merupakan pukulan batin bagi para pembesar penjajah, juga dapat
mereka pergunakan untuk membebaskan teman-teman seperjuangan yang ditawan. Usul ini
diterima, bahkan It-ci Sin-mo Tan Sun dan Ban-kin Hek-gu Giam Ki masing-masing berjanji
untuk menculik anak pernbesar yang paling tinggi kekuasaannya, kalau mungkin malah akan
menculik putera Raja Mancu! Kesanggupan kedua orang sakti ini tentu saja disambut
gembira. Di antara mereka yang hadir dan membicarakan semua rencana perlawanan
dengan bermacam cara terhadap penjajah ini, hanya Siauw-lim Chit-kiam saja yang tidak
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
67
mencampuri dan mereka tetap bersamadhi sambil melatih diri untuk menghadapi Setan
Botak yang mereka tahu amatlah lihainya.
Akan tetapi, sehari itu mereka me-nanti-nanti, Setan Botak belum juga tam-pak muncul.
Menjelang senja, tiba-tiba dari luar menyambar sebatang piauw beronce merah ke arah Khu
Cen Tiam. Pendekar Siauw-lim-pai ini cepat meng-ulurkan tangan dan menyambar piauw itu
sambil berseru heran karena ia mengenal piauw ini sebagai senjata rahasia sumoi-nya. Juga
Liem Sian mengenalnya, maka pendekar ke dua dari Kang-lam Sam-eng ini sudah melesat
tubuhnya keluar dari kuil tua dan terdengar suaranya di luar kuil.
“Sumoi....!”
Akan tetapi, tak lama kemudian Liem Sian kembali ke dalam kuil dengan wajah muram dan
pandang mata heran. “Dia benar sumoi, akan tetapi sudah pergi jauh.” Ucapan ini ia tujukan
kepada suhengnya.
Khu Cen Tiam menarik napas pan-jang. “Biarlah, memang dia tidak ingin datang ke sini,
buktinya ini dia mengirim surat dengan piauwnya. Betapapun juga, dia selamat, sute, dan
kita boleh ber-syukur karenanya.”
Akan tetapi setelah Khu Cen Tiam membuka surat yang terikat pada piauw tadi, keningnya
berkerut dan ia menoleh ke arah Siauw-lim Chit-kiam yang masih bersamadhi. “Susiok,
teecu persilakan membaca surat sumoi,” bisik Khu Cen Tiam kepada Song Kai Sin.
Kakek ini membuka mata memandang, lalu dengan tenang mengulur tangan me-nerima
surat dan dibacanya. Wajahnya masih tenang, namun pandang matanya mengandung sinar
kilat, lalu menyerahkan surat itu kepada hwesio gendut di se-belahnya, orang ke dua dari
Siauw-lim Chit-kiam. Hwesio ini menerima surat, membaca dan bibirnya bergerak,
“Omitohud....!” lalu menyerahkan surat itu kepada orang ke tiga. Sebentar saja su-rat itu
beralih tangan dan Siauw-lim Chit-kiam sudah membaca semua. Yang terakhir dari ketujuh
orang tokoh Siaiw-lim-pai ini adalah seorang kakek kurus bermuka merah. Setelah membaca
surat itu, bibirnya mengeluarkan suara men-desis seperti ular dan surat yang dikepalnya itu
hancur menjadi bubuk ketika ia membuka kembali tangannya! Kemarahannya membuat
kakek ini lupa diri dan kekuatan yang ia perlihatkan sungguh dahsyat. Mengepal hancur
benda keras bukanlah hal yang amat mengagumkan, akan tetapi mengepal benda lemas
seper-ti kertas sampai hancur membubuk, benar-benar tidaklah mudah dilakukan oleh
sembarang ahli!
“Chit-te (Adik ke Tujuh), simpan te-nagamu untuk menghadapi lawan tangguh, bukan
diumbar dan habis dihisap ke-marahan,” kata pula Song Kai Sin dengan nada menegur.
Orang ke tujuh yang bernama Liong Ki Tek ini menghela napas panjang dan segera
meramkan mata kembali.
Apakah bunyi surat yang dikirim se-cara aneh oleh Bhok Khim itu? Bunyinya pendek saja
namun isinya difahami oleh dua orang suhengnya dan tujuh orang susioknya.
Kedua Suheng,
Perbuatan keji biadab Kang-thouw-kwi memaksa aku tidak ada muka untuk bertemu dengan
orang lain, memaksa aku pergi mengurung diri ke dalam “kamar siksa diri” di kuil. Ka-lau
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
68
suheng berdua dapat menewaskan-nya, syukurlah. Kalau tidak, aku akan memperdalam
ilmu dan kelak aku sendiri yang akan menghancurkan kepalanya.
Bhok Khim.
Tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu diam-diam mengeluh dan menangis dalam hati. Mereka
tahu bahwa murid wanita Siauw-lim-pai itu telah diperhina oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat dan
mereka tahu bahwa mengurung diri ke dalam “kamar siksa diri” merupakan perbuatan nekat
seperti orang membunuh diri.
“Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa dengan Kang-thouw-kwi....!” Tiba-tiba Song Kai
Sin berseru keras ke arah luar kuil. Semua orang terkejut dan ketika mereka memandang
keluar, ternyata Kang-thouw-kwi Gak Liat sudah tampak berdiri di luar kuil bersama dua
orang lain yang kelihatan amat menarik karena perbedaan muka mereka. Yang seorang
bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti pantat kwali, adapun yang se-orang lagi
bertubuh pendek kurus bermuka putih seperti kapur! Akan tetapi mereka yang mengenal dua
orang ini maklum bahwa dua orang yang menemani Si Setan Botak ini bukanlah sembarang
orang, melainkan tokoh-tokoh hitam yang amat terkenal, yaitu kakak beradik yang terkenal
dengan julukan Hek-pek Giam-ong (Raja Maut Hitam Putih)! Mereka ini adalah murid-murid
Si Setan Botak. Ma-sih ada seorang lagi murid Si Setan Bo-tak, yaitu seorang murid wanita
yang bernama Ma Su Nio, berjuluk Hiat-ciang Sian-li (Dewi Bertangan Darah) yang kabarnya
malah lebih lihai daripada Hek-pek Giam-ong dan lebih kejam daripada gurunya. Akan tetapi
iblis wanita itu tidak nampak hadir.
“Hah-ha-ha-ha-ha!” Terdengar Si Setan Botak tertawa, akan tetapi tidak mengeluarkan katakata, hanya tertawa dengan nada mengejek. Yang membuka mulut bicara adalah Hek-giamong, muridnya yang bermuka hitam. Hek-giam-ong me-langkah maju dan berkata, suaranya
nya-ring sekali.
“Bukankah Siauw-lim Chit-kiam murid-murid Ceng San Hwesio? Sejak kapankah muridmurid Ceng San Hwesio bersekutu dengan para pemberontak?”
“Sejak iblis-iblis macam kalian mem-bantu penjajah Mancu!” bentak Ban-kin Hek-gu Giam Ki
yang suaranya lebih menggeledek dari suara Si Muka Hitam. “Kalau kalian berani, masuklah
ke dalam kuil, di sini lega dan memang sudah disediakan untuk kita bertanding meng-adu
ilmu!” Tantangan Ban-kin Hek-gu Giam Ki ini bukan sekedar karena wa-taknya yang keras
dan kasar, melainkan menurut rencana Ho-han-hwe untuk me-mancing musuh yang tangguh
ke dalam kuil.
“Hah-ha-ha-ha-ha!” Si Setan Botak makin keras tertawa dan ia melangkah memasuki kuil,
diikuti oleh dua orang muridnya yang kelihatan agak ragu-ragu. Hek-pek Giam-ong maklum
betapa ber-bahaya memasuki “sarang” musuh, akan tetapi karena di situ ada guru mereka,
dan melihat guru mereka sudah memasuki kuil, tentu saja mereka berbesar hati dan
melangkah masuk sambil mengangkat dada.
Suara ketawa Si Setan Botak makin nyaring dan biarpun mereka bertiga su-dah tiba di
ruangan kuil yang luas, kakek botak ini masih tertawa terus, makin lama makin keras dan
terkejutlah mereka semua yang hadir karena tubuh mereka tergetar hebat oleh suara ketawa
yang mengandung tenaga khi-kang amat luar biasa ini. Hanya mereka yang sudah tinggi
tingkat sin-kangnya saja yang tidak terpengaruh, hanya tergetar dan masih mampu
mengatasi getaran hebat ini. Siauw-lim Chit-kiam, kedua Kang-lam Sam-eng, Lauw-pangcu,
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
69
Ban-kin Hek-gu dan It-ci Sin-mo yang masih dapat bertahan, sungguhpun mereka ini diamdiam harus mengerahkan sin-kang untuk melawan suara ketawa itu. Beberapa orang
anggauta Ho-han-hwe juga masih mampu melawan sambil cepat duduk bersila, akan tetapi
belasan orang lain yang tingkat tenaga sin-kang mereka ma-sih kurang kuat, sudah
terjungkal dan cepat-cepat merangkak lalu berlari men-jauhi ruangan itu ke sebelah
belakang kuil sambil menutupi telinga mereka! Kalau mereka tidak cepat pergi dan
me-nutupi telinga, mereka akan mati oleh suara ketawa itu yang mengguncangkan jantung!
Melihat ini, Ban-kin Hek-gu Giam Ki yang berwatak keras berangasan menjadi marah sekali.
Ia seorang ahli silat tinggi dan tentu saja maklum bahwa Setan Botak itu memiliki ilmu
kepandaian yang luar biasa, mengerti bahwa orang yang telah pandai mempergunakan khikang dalam suaranya untuk menyerang lawan dengan Ilmu Ho-kang seperti auman sua-ra
harimau, adalah seorang sakti yang sukar dikalahkan. Akan tetapi, selain kasar dan keras,
Ban-kin Hek-gu ini juga terkenal tidak pernah takut menghadapi siapapun juga. Dengan
kemarahan memuncak, keberaniannya bertambah dan ia menerjang maju menyerang Si
Setan Botak sambil berseru.
“Setan Botak! Jangan menjual lagak di depan Ban-kin Hek-gu!”
Ban-kin Hek-gu bertenaga besar dan kini menyerang dengan penuh kemarahan, maka
pukulan tangan kanannya yang dikepal mengarah kepala Kang-thouw-kwi Gak Liat amatlah
dahsyatnya. Pukulan belum tiba anginnya sudah menyambar hebat. Akan tetapi kakek botak
itu tenang-tenang saja, masih tertawa lebar sungguhpun sudah tidak mengeluarkan suara
lagi. Setelah kepalan tangan yang besar itu menyambar dekat, hanya tinggal sepuluh
sentimeter lagi dari dahinya, kakek ini mengangkat tangan kirinya dan menerima kepalan
tangan Ban-kin Hek-gu dengan telapak tangan.
“Plakkk!”
Si Kerbau Hitam itu terkejut bukan main karena merasa betapa telapak ta-ngan Setan Botak
itu lunak dan panas seperti air mendidih, di mana tenaganya sendiri seperti tenggelam.
Cepat ia me-narik tangannya, akan tetapi kepalan itu melekat pada telapak tangan Setan
Bo-tak yang tertawa-tawa. Ban-kin Hek-gu Giam Ki meronta-ronta dan rasa panas dari
telapak tangan itu menerobos lengannya, membuat tubuhnya mandi keringat dan mukanya
yang hitam ber-ubah makin hitam.
“Ha-ha-ha, siapa yang berlagak?” Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa. “Per-gilah, kau tidak
berharga untuk bertan-ding melawan aku!” Sekali kakek botak itu mendorongkan lengannya,
Ban-kin Hek-gu Giam Ki terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan. Akan tetapi dia
memang bandel dan berani. Cepat ia me-loncat bangun lagi dan memaki.
“Siluman botak! Hayo bertanding menggunakan ilmu silat, jangan meng-gunakan ilmu
siluman! Aku masih dapat berdiri, sebelum mati aku Giam Ki tidak sudi mengaku kalah
terhadapmu!”
“Phuahhh, sombongnya!” Hek-giam-ong yang juga bermuka hitam dan sama tinggi
besarnya dengan Giam Ki sudah melompat maju dan bertolak pinggang. “Engkau ini berjuluk
Kerbau Hitam, me-mang otakmu seperti otak kerbau! Suhu-ku telah berlaku lunak
terhadapmu, akan tetapi kau masih banyak lagak. Kerbau macam engkau ini tidak perlu
suhu me-layaninya, cukup dengan aku yang akan mencabut nyawa kerbaumu!”
“Bagus! Memang hendak kubasmi sampai ke akar-akarnya, baik guru maupun murid harus
dibasmi agar jangan mengo-tori dunia!” Ban-kin Hek-gu Giam Ki sudah menerjang maju
dengan kepalan-nya yang besar. Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding, sama tinggi besar
dan karenanya suka mempergunakan tenaga kasar. Dengan ilmu Toat-beng Hwi-ciang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
70
(Tangan Api Pencabut Nyawa) ditambah tenaganya yang besar, dia benar amat lihai.
Melihat datangnya pukulan Giam Ki, ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan
lengannya.
“Dukkk!” Dua buah lengan yang besar dan kuat bertumbuk dan keduanya ter-pental ke
belakang. Tenaga mereka se-imbang, akan tetapi Hek-giam-ong me-nang dalam hal “isi”
lengannya yang mengandung hawa panas. Giam Ki me-rasa betapa lengannya panas akan
tetapi ia maju terus dan ternyata bahwa gerak-an tubuhnya lebih cepat daripada gerak-an
Hek-giam-ong. Dengan kemenangan ini ia bisa menutup kekalahannya dalam hal ilmu
pukulan Hwi-ciang.
Segera terdengar suara bak-bik-buk dan dak-duk-dak-duk ketika dua orang raksasa ini
saling gebuk. Mereka ini se-lain bertenaga besar, juga memiliki kekebalan sehingga pukulan
yang tidak tepat kenanya, tidak cukup merobohkan mereka. Akan tetapi terjadi perubahan
aneh pada diri Ban-kin Hek-gu Ciam Ki sehingga membuat teman-temannya yang tentu saja
menjagoinya menjadi heran dan juga gelisah. Kini raksasa tinggi besar hitam ini sering
mempergunakan kedua tangannya bukan untuk menyerang lawan, melainkan untuk
menggaruk-garuk seluruh bagian tubuhnya!
Karena diseling dengan garuk sana garuk sini, pertandingan menjadi kacau karena ternyata
gerakan-gerakan meng-garuk ini malah membingungkan Hek-giam-ong. Raja Maut Hitam ini
sudah mengirim pukulan Toat-beng Hwi-ciang ke arah dada lawan. Ketika melihat ta-ngan
kiri Giam Ki bergerak menuju ke dada, Hek-giam-ong menarik kembali pukulannya karena
takut lengannya dicengkeram. Akan tetapi ternyata bahwa Giam Ki menggerakkan tangan itu
bukan untuk mencengkeram tangan lawan, me-lainkan untuk menggaruk-garuk keras
dadanya. Kemudian Giam Ki berseru aneh dan membawa tangan kanannya ke atas seperti
hendak menyerang dari bagi-an atas. Melihat ini, Hek-giam-ong cepat mengelak, akan tetapi
kembali ia kecelik karena tangan kanan yang bergerak ke atas itu kini menggaruk-garuk
kepala! Kejadian-kejadian ini aneh dan lucu sekali, juga menegangkan dan mendatang-kan
kekecewaan bagi para teman kedua fihak. Hek-giam-ong menjadi marah, merasa seolaholah ia dipermainkan, ma-ka ia menerjang lagi dengan gerakan dahsyat.
Giam Ki yang diam-diam mengeluh di hatinya karena secara tiba-tiba tubuhnya diserang
penyakit gatal yang tak tertahankan, cepat menangkis dan kembali pertemuan dua lengan
yang kuat itu membuat mereka terpental mundur. Giam Ki meloncat maju lagi, kini
menggerakkan tangan kiri ke atas. Hek-giam-ong meragu. Hendak memukul ataukah
hendak garuk-garuk tangan itu? Akan tetapi ia tidak mau menanggung resiko dan cepat
menggerakkan kedua tangan ke atas, maksudnya kalau lawan memukul benar-benar, ia
akan menangkap lengan itu dan akan mematahkannya, kalau hanya garuk-garuk, ia akan
mencengkeram kepala lawan.
Dan ternyata tangan kiri Giam Ki itu kembali hanya menggaruk kepala, akan tetapi kepalan
kanannya sudah menonjok ke depan. Gerakan ini sama sekali tidak tersangka oleh Hekgiam-ong sehingga dadanya tertonjok.
“Bukkk!” Tubuh Hek-giam-ong terjengkang dan bergulingan di atas tanah. Dadanya ampek,
napasnya sesak dan setelah terbatuk-batuk, barulah ia me-loncat bangun dan menghadapi
lawannya dengan mata merah. Akan tetapi Giam Ki tidak peduli dan masih terus garukgaruk.
“Kau masih belum mampus?” bentaknya dan kembali ia menerjang. Memang gerakan Giam
Ki lebih cekatan daripada Hek-giam-ong. Kembali tangan Giam Ki diangkat ke atas.
Hek-giam-ong mengejek dengan dengusan marah, ia tidak mau ditipu lagi dan tahu bahwa
lawannya yang agaknya mempunyai penyakit kudis ini tentu meng-angkat tangan untuk
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
71
menggaruk kepala yang gatal. Maka ia pun tidak mau meng-elak, bahkan cepat melangkah
maju dan menonjok dada Giam Ki.
“Bukkk! Desssss....!” Dua tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan Ban-kin Hek-gu Giam
Ki roboh kelenger (pingsan) karena terton-jok dadanya sehingga napasnya menjadi sesak,
akan tetapi di lain fihak, Hek--giam-ong tadi pun kecelik karena sekali ini Giam Ki
mengangkat tangan bukan untuk garuk-garuk lagi melainkan untuk memukul sehingga
dalam saat yang bersamaan, Giam Ki berhasil menghantam pangkal leher Hek-giam-ong
dengan ta-ngan miring. Robohlah Hek-giam-ong dan tidak bergerak-gerak karena ia pun
telah semaput (pingsan)!
Pek-giam-ong sudah menyambar tubuh kakaknya dan ia merasa lega bahwa ka-kaknya
tidak terluka parah, hanya ter-guncang oleh kerasnya pukulan. Di lain fihak, para anggauta
Ho-han-hwe telah mengangkat tubuh Ban-kin Hek-gu, di-pimpin oleh Lauw-pangcu. Atas
isyarat Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiang tubuh Giam Ki yang pingsan itu
dibawa mendekat. Song Kai Sin cepat memeriksa dan ia menghela napas panjang.
“Untung....” kata tokoh Siauw-lim-pai ini. “Tadinya ia keracunan maka ke-tika bertanding
terus diganggu rasa ga-tal-gatal di tubuhnya. Tentu ia terkena racun ketika beradu tangan
dengan iblis tua itu. Baiknya, pukulan Hek-giam-ong tadi pun mengandung hawa panas dan
pukulan ini malah membuyarkan pengaruh racun di tubuhnya sehingga nyawanya tertolong.”
Pek-giam-ong yang marah menyaksi-kan saudaranya terluka, kini melangkah maju dengan
sikap menantang. Akan tetapi ia dibentak gurunya, “Mundurlah!” bagaikan seekor anjing
dipecut, Pek-giam-ong mundur dan kembali ia merawat kakaknya. Kini Kang-thouw-kwi Gak
Liat melangkah maju, menyapu semua ang-gauta Ho-han-hwe dengan pandang mata yang
membuat mereka itu merasa seram, kemudian sambil tersenyum lebar Si Se-tan Botak ini
berkata.
“Aku sudah datang, siapa di antara anggauta Ho-han-hwe yang ternyata ha-nyalah
segerombolan pemberontak ingin menyusul para anggauta Pek-lian Kai-pang?” Suaranya
penuh ejekan, akan te-tapi matanya menatap ke arah Siauw-lim Chit-kiam karena hanya
tokoh-tokoh Siauw-lim-pai ini sajalah yang dipandang cukup berharga untuk menjadi
lawannya.
It-ci Sin-mo Tan Sun biarpun tubuh-nya kecil namun hatinya besar. Ia mak-lum akan
kelihaian kakek botak ini, na-mun ia merasa tidak puas kalau ia tidak turun tangan. Kalah
atau mati sekalipun bukan apa-apa bagi seorang patriot, akan tetapi sungguh hina dan
rendah kalau dianggap takut bertemu dengan lawan tangguh.
“Kang-thouw-kwi! Engkau bukan saja seorang datuk hitam yang jahat, juga sekarang malah
menjadi pengkhianat bangsa! Aku It-ci Sin-mo Tan Sun tidak takut kepadamu, jagalah
seranganku ini!”
Gerakan It-ci Sin-mo Tan Sun cepat sekali, jauh lebih cepat daripada gerakan Ban-kin Hekgu Giam Ki. Tubuhnya me-lesat ke depan dan kedua tangannya digerakkan untuk
menyerang dengan totok-an-totokan maut. Si Setan Botak ter-tawa-tawa dan hanya tampak
ia menggoyang-goyangkan tubuhnya akan tetapi aneh, semua totokan It-ci Sin-mo tidak ada
satu pun yang menyentuh kulitnya.
“Sut-sut-sut-cet-cet....!” Cepat sekali It-ci Sin-mo Tan Sun melanjutkan totok-an-totokannya
secara bertubi-tubi, tubuh-nya berloncatan mencari posisi yang baik. Namun, tak pernah ia
mampu me-ngenai tubuh lawan biarpun kecepatan gerakannya membuat ia berada di
belakang tubuh Si Setan Botak. Padahal Kang-thouw-kwi Gak Liat tak pernah meng-ubah
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
72
kedudukan kedua kakinya, hanya tubuhnya saja yang bergoyang-goyang akan tetapi entah
bagaimana semua se-rangan lawan tidak ada yang berhasil.
Belasan orang anggauta Ho-han-hwe yang melihat betapa It-ci Sin-mo seperti
dipermainkan, sudah bergerak mengurung hendak mengeroyok Si Setan Botak. Melihat ini,
Pek-giam-ong berteriak keras dan tubuhnya menyambar ke depan, lang-sung ia menyerbu
dan gegerlah tempat itu dengan jerit-jerit kesakitan dan ro-bohnya beberapa orang anggauta
Ho-han-hwe karena amukan Pek-giam-ong.
“Krek-krekkk....!” Setan Botak menggerakkan kedua tangan menampar lengan lawan dan
tubuh It-ci Sin-mo Tan Sun terlempar, kedua tengannya tergantung lumpuh karena tulangtulang lengan-nya telah patah-patah!
“Huah-ha-ha-ha! Pek-giam-ong, pergi-lah dan bawa kakakmu pergi!”
Pek-giam-ong yang terkenal berwatak kejam seperti iblis itu kini merupakan seorang murid
yang amat taat. Tanpa berani berlambat sedikit pun ia lalu meninggalkan para lawan yang
tadi menge-royoknya, menyambar tubuh kakaknya yang masih pingsan lalu sekali melompat
ia lenyap dari tempat itu. Lauw-pangcu dan kedua orang saudara Kang-lam Sam-eng
membiarkannya saja lewat, karena yang menjadi sasaran untuk dibinasakan adalah Si Setan
Botak yang kini hanya seorang diri saja di dalam kuil.
“Ha-ha-ha, Siauw-lim Chit-kiam, ha-nya kalianlah yang patut main-main de-nganku.
Majulah!”
Lima orang anggauta Ho-han-hwe yang masih penasaran karena banyaknya kawan mereka
yang roboh, masih men-coba untuk menyerang Si Setan Botak dengan senjata mereka,
akan tetapi kini kakek botak itu berseru keras, kedua tangannya mendorong ke depan dan....
lima orang itu roboh dengan tubuh ha-ngus dan mati seketika! Itulah kehebatan ilmu pukulan
Hwi-yang-sin-ciang yang sengaja diperlihatkan oleh Kang-thouw-kwi untuk membikin gentar
hati lawan. Memang semua anggauta Ho-han-hwe menjadi pucat wajahnya melihat
kedahsyatan ilmu kepandaian kakek botak ini, akan tetapi melihat itu, Siauw-lim Chit-kiam
bukannya menjadi gentar, se-baliknya malah menjadi marah sekali.
“Kang-thouw-kwi, engkau telah berani menghina seorang murid Siauw-lim-pai. Hari ini kami
Siauw-lim Chit-kiam akan mengadu nyawa denganmu! Beranikah engkau menghadapi
gabungan Siauw-lim Chit-kiam?” kata Song Kai Sin dengan suara tenang namun sinar
matanya membayangkan kemarahan.
“Huah-ha-ha-ha! Siauw-lim Chit-kiam masih terlalu ringan, boleh ditambah guru kalian.
Mana Ceng San Hwesio ke-tua Siauw-lim-pai? Boleh datang mem-bantu kalian, aku masih
akan kurang puas. Ha-ha!”
“Omitohud.... engkau benar-benar tokoh sesat yang sengsara, Gak-locian-pwe,” kata Lui
Kong Hwesio orang ke dua dari Siauw-lim Chit-kiam sambil menggeser duduknya, bersila di
sebelah kiri Song Kai Sin.
Kemudian secara berjajar, ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini duduk ber-sila, menurutkan
urutan tingkat mereka. Dari kanan ke kiri mereka ini adalah Song Kai Sin, Lui Kong Hwesio,
Ui Swan dan adiknya Ui Kiong, Lui Pek Hwesio, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek. Sebetul-nya,
tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai ini merupakan orang-orang berilmu tinggi yang mempunyai
keistimewaan masing-masing. Jika dinilai secara perseorangan, tingkat masing-masing
masih lebih tinggi daripada tingkat Ban-kin Hek-gu Giam Ki atau bahkan It-ci Sin-mo Tan
Sun. Akan tetapi, sekali ini, menghadapi se-orang di antara Lima Datuk Besar, ya-itu Kangthouw-kwi Gak Liat yang amat terkenal di antara golongan sesat sebagai seorang yang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
73
memiliki kesaktian luar biasa, ketujuh orang takoh Siauw-lim-pai ini tidak berani berlaku
sembrono, tidak berani memandang rendah dan ka-renanya mereka lalu bergabung untuk
mengeluarkan ilmu gabungan mereka yang paling ampuh, yaitu Ilmu Pedang Chit-seng-sinkiam yang secara khusus digubah oleh Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai untuk
diajarkan kepada tujuh orang muridnya. Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bintang) ini
dapat dimainkan secara perorangan dan sudah merupakan sebuah ilmu pedang yang
am-puh, akan tetapi permainannya tidak akan menjadi lengkap dan utuh kalau tidak
dimainkan secara bergabung oleh tujuh orang itu. Kalau dimainkan secara bergabung, maka
Chit-seng-sin-kiam me-rupakan sebuah kiam-tin (barisan pedang) yang sukar dilawan
karena amat kuat.
Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang dengan wajah berseri. Sudah lama ia mendengar
akan ciptaan ilmu pedang ketua Siauw-lim-pai ini yang disarikan dari inti ilmu kepandaian
Ceng San Hwe-sio. Kini ia berhadapan dengan kiam-tin ini, berarti bahwa ia berhadapan
dengan Ceng San Hwesio, yang sejak dahulu merupakan lawan seimbang dari-nya. Kalau ia
bisa menangkan kiam-tin ini, berarti ia akan dapat menangkan Ceng San Hwesio pula! Ia
melihat betapa tujuh orang murid Siauw-lim-pai itu su-dah duduk bersila dengan pedang di
ta-ngan kanan, pandang mata lurus ke de-pan menatapnya. Bahkan tujuh pasang mata itu
seolah-olah bersatu ketika memandangnya, menimbulkan wibawa yang kuat sekali.
“Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang aku sudah lama ingin melihat sampai di mana lihainya
Chit-seng-sin-kiam dari Ceng San Hwesio!” Sambil tertawa, kakek bo-tak ini lalu duduk
bersila pula di depan ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai. Jarak di antara Setan Botak dan
tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu ada tiga meter jauhnya, dan kalau tujuh orang tokoh
Siauw-lim-pai itu semua bersenjatakan pedang pusaka, adalah Setan Botak ini sambil
tersenyum menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong! Memang datuk hitam ini
sombong, akan tetapi kesombongannya tidaklah kosong belaka. Ia memang amat sakti dan
biarpun kakek botak ini menyimpan sebatang pedang lemas yang ia belitkan di pinggang
sebelah dalam bajunya, namun tidak pernah orang melihat ia mempergunakan senjata
dalam pertempuran. Hal ini berarti bah-wa ia masih memandang rendah Siauw-lim Chitkiam!
Song Kai Sin dapat menduga sikap lawan, maka ia pun tidak mau banyak sungkan lagi.
Kakek botak ini selain merupakan tokoh sesat yang amat jahat dan sudah sepatutnya
dibasmi, juga telah menghina murid keponakan mereka, telah mencemarkannya dan berarti
mencemar-kan kehormatan Siauw-lim-pai pula. Oleh karena itu, Song Kai Sin dan adik-adik
seperguruannya maklum bahwa sekali ini mereka akan bertanding mati-matian, bukan saja
untuk melenyapkan seorang tokoh sesat yang jahat, juga untuk mem-pertabankan nama dan
kehormatan Siauw-lim-pai.
“Sudah siapkah engkau, Kang-thouw-kwi?”
“Ha-ha, sudah, sudah! Lekas keluarkan Chit-seng-sin-kiam itu!” jawab Si Botak sambil
menggerak-gerakkan kedua lengan-nya yang segera menjadi kemerahan.“Lihat pedang!”
Song Kai Sin berseru dan pedang di tangannya itu ia tusukan ke depan. Menurut pendapat
dan pan-dangan umum, biarpun lengan dilonjorkan ditambah panjangnya pedang, masih
be-lum dapat melewati jarak tiga meter itu. Akan tetapi tanpa dapat dilihat mata, dari ujung
pedang itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat sehingga selain tampak sinar pedang
yang keemasan juga terdengar suara mencicit yang aneh. Kang-thouw-kwi mengangkat
lengan kiri-nya dan menggetarkan jari tangannya. Tentu saja tangannya tidak menyentuh
pedang yang dipegang Song Kai Sin, akan tetapi jelas tampak betapa pedang itu terpental
dan lengan tangan orang per-tama dari Siauw-lim Chit-kiam itu ter-getar!
Melihat kehebatan tenaga sin-kang yang amat panas dari tangan Setan Bo-tak, tokoh
Siauw-lim-pai yang lainnya maklum bahwa mereka harus maju ber-sama. Maka serentak
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
74
pedang-pedang me-reka bergerak, ada yang membacok, ada yang menusuk, ada pula yang
membabat. Tampak sinar pedang berkelebatan me-nyilaukan mata, pantulan cahayanya
ge-merlapan di dinding ruangan yang luas itu. Apalagi setelah beberapa orang ang-gauta
Ho-han-hwe tadi menyalakan belas-an batang lilin dan menaruh lilin-lilin itu di atas lantai di
kanan kiri ruangan, maka sinar-sinar pedang itu menjadi amat indahnya. Tanpa terasa, senja
telah berganti malam dan kini para anggauta Ho-han-hwe menonton pertandingan yang
amat aneh dan yang belum pernah me-reka saksikan selama hidupnya.
Betapa mereka tidak akan terheran-heran dan bengong menyaksikan pertan-dingan itu?
Baik ketujuh orang tokoh Siauw-lim-pai itu maupun Setan Botak, hanya duduk berhadapan,
bersila di atas lantai dan jarak antara mereka terlampau jauh sehingga mereka itu tidak
dapat saling menyentuh. Akan tetapi, kini mereka “bertanding” dan tujuh orang itu
mengeroyok Si Setan Botak dengan se-rangan-serangan pedang yang berubah menjadi
sinar-sinar gemerlapan. Sebalik-nya, Setan Botak menggerak-gerakkan kedua lengannya,
kadang-kadang menang-kis, ada kalanya mencengkeram dan men-dorong, bahkan balas
memukul tanpa menyentuh pedang dan tubuh para penge-royoknya. Kedua tangannya kini
selain berwarna merah seperti api membara, juga mengepulkan uap putih seperti asap
panas!
Kalau dilihat begitu saja, seolah-olah Si Setan Botak dan ketujuh Siauw-lim Chit-kiam
sedang bermain-main. Mereka tidak saling sentuh, namun mereka ber-gerak dengan
sungguh-sungguh dan ruang-an itu kini seperti dihujani sinar-sinar gemerlapan dan udara
menjadi sebentar panas sebentar dingin. Hanya beberapa orang saja di antara mereka, yaitu
Lauw-pangcu, kedua Kang-lam Sam-eng, Ban-kin Hek-gu yang sudah sadar dari
pingsannya, dan It-ci Sin-mo yang maklum apa yang sedang terjadi dan mereka
memandang dengan hati penuh ketegangan. Mereka ini mengerti bahwa Siauw-lim Chitkiam sedang bertanding me-lawan Si Setan Botak mengadu ilmu pe-dang yang digerakkan
oleh tenaga sin-kang tingkat tertinggi! Mengerti pula betapa selain sinar-sinar gemerlapan itu
me-ngandung hawa maut, juga gerakan ta-ngan Setan Botak itu mengandung hawa pukulan
jarak jauh yang amat dahsyat.
Akan tetapi mereka yang tidak me-ngerti cara pertandingan seperti ini, men-jadi amat
penasaran. Si Setan Botak dan kedua muridnya telah menyebar maut, kini Setan Botak itu
hanya duduk bersila dan menggerak-gerakkan kedua tangan. Bu-kankah ini membuka
kesempatan baik untuk membinasakannya? Mereka yang merasa amat benci kepada Setan
Botak ini yang sudah membasmi Pek-lian Kai-pang dan menewaskan lima puluh orang lebih
anggauta perkumpulan itu yang merupakan kawan-kawan seperjuangan mereka, kini ingin
membalas dendam. Tujuh orang anggauta Ho-han-hwe setelah saling memberi isyarat
dengan kedipan mata dan diam-diam mengambil jalan memutar, serentak maju menerjang
tubuh kakek botak yang bersila itu dari bela-kang. Mereka bertujuh menggunakan sen-jata
dan menyerang secara berbareng.
“Celaka....!” It-ci Sin-mo Tan Sun berseru. Juga teman-temannya yang tahu akan bahaya
mengancam, berseru kaget namun sudah tidak keburu mencegah. Segera terdengar jeritjerit mengerikan disusul robohnya tujuh orang anggauta Ho-han-hwe itu yang roboh tewas
dengan tubuh tersayat-sayat dan ada pula yang roboh dengan tubuh hangus! Mereka tadi
seperti sekumpulan nyamuk yang mener-jang api, tidak tahu bahwa udara di se-kitar arena
pertandingan aneh itu penuh dengan berkelebatnya sinar pedang yang tajam dan hawa
pukulan yang mengandung panasnya api. Sebelum mereka da-pat menyentuh tubuh Si
Setan Botak, tubuh mereka lebih dulu sudah dihujani sinar pedang yang menyambarnyambar dan hawa pukulan yang membakar!
Melihat ini, Song Kai Sin orang pertama Siauw-lim Chit-kiam berseru keras. Mereka bertujuh
tadi terdesak hebat oleh Setan Botak yang benar-benar amat tangguh dan lihai sekali.
Karena mereka melakukan pengeroyokan secara bertubi, maka setiap orang dari mereka
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
75
mengadu tenaga dengan Kang-thouw-kwi dan ternyata bahwa mereka kalah kuat jauh
sekali. Karena itu, gerakan pedang mereka makin lama makin lemah dan terdesak sehingga
ketika tujuh orang anggauta Ho-han-hwe tadi maju, biarpun mereka tahu akan bahayanya,
mereka tidak keburu menarik sinar pedang dan sinar pedang mereka itu ada yang
me-ngenai tubuh para penyerbu. Maka begitu Song Kai Sin berseru keras, tujuh orang
Siauw-lim Chit-kiam lalu menggunakan siasat terakhir. Dengan tangan kiri me-reka
menyentuh punggung kawan yang bersila di sebelah kiri, tangan kanan memegang pedang
dan kini mereka te-lah menyatukan tenaga. Getaran sin-kang mereka bersatu dan
karenanya gerakan pedang mereka pun sama, hanya merupakan satu serangan saja, akan
tetapi yang mengandung tenaga tujuh kali lipat kuat daripada tenaga perorangan.
Ketika Si Setan Botak menangkis dengan dorongan Hwi-yang-sin-ciang, menghalau sinar
pedang yang amat besar dan kuat yang menyambarnya, ia menge-luarkan seruan marah
dan kaget. Ia ber-hasil menghalau sinar pedang itu, akan tetapi telapak tangan kirinya robek
se-dikit dan mengeluarkan darah!
“Keparat! Kalian sudah bosan hidup!” bentaknya dan kini Si Setan Botak meng-gunakan
kedua tangannya menahan.
Hebat bukan main adu tenaga sakti ini. Tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam yang menyentuh
punggung dan menyalur-kan tenaga disatukan dengan teman-teman seperguruan, sehingga
tenaga me-reka menjadi satu, kini menghadapi do-rongan kedua tangan Setan Botak dan
terjadilah adu tenaga, keras lawan keras! Mereka tidak bergerak-gerak lagi, pedang mereka
menuding ke satu jurusan, yaitu ke arah Kang-thouw-kwi yang sebaliknya mengulur kedua
lengan ke depan, dengan kedua telapak tangan mendorong ke arah tujuh orang
pengeroyoknya. Wajah Siauw-lim Chit-kiam pucat dan penuh keringat, di lain fihak, wajah
Kang-thouw-kwi menjadi merah sekali dan kepalanya me-ngepulkan uap panas! Dorongmendorong terjadi, akan tetapi sedikit demi sedikit keadaan Siauw-lim Chit-kiam terdesak!
Lauw-pangcu yang melihat keadaan tidak menguntungkan ini lalu mendekati Khu Cen Tiam
dan Liem Sian. Mereka bertiga ini sudah terluka, tentu saja tidak berani membantu.
Andaikata mereka tidak terluka sekalipun, tingkat kepandaian mereka masih terlalu rendah
untuk mencampuri pertandingan tingkat tinggi itu. Mereka berbisik-bisik dan akhirnya
mengambil keputusan untuk menjalankan siasat yang telah mereka atur sebelumnya, yaitu
hendak membakar kuil itu selagi Si Setan Botak terikat dalam pertandingan mati-matian
melawan Siauw-lim Chit-kiam! Memang siasat ini kalau dijalankan berarti akan
membahayakan keselamatan Siauw-lim Chit-kiam sendiri, namun memang telah mereka
sepakati sebelumnya bahwa untuk membasmi Si Setan Botak, Siauw-lim Chit-kiam bersedia
untuk mergorbankan nyawa.
Dengan isyarat Lauw-pangcu, mereka semua mengundurkan diri dan mulailah mereka
membakar kuil itu dari luar. Khu Cen Tiam dan Liem Sian yang membantu pekerjaan ini
mengucurkan air mata, karena maklum bahwa nyawa ketujuh orang susiok (paman guru)
mereka ter-ancam maut bersama nyawa Setan Botak. Para anggauta Ho-han-hwe demikian
sibuknya dengan pekerjaan menuangkan minyak dan membakar kuil sehingga me-reka tidak
tahu betapa di antara ke-gelapan malam itu, sesosok tubuh kecil menyelinap memasuki kuil
melalui bagian yang belum terbakar. Tubuh cilik ini bukan lain adalah Lauw Sin Lian, gadis
cilik puteri Lauw-pangcu!
Sin Lian tadinya dititipkan kepada seorang sahabatnya oleh Lauw-pangcu. Akan tetapi,
anak perempuan ini diam-diam merasa tidak senang. Ia tahu bahwa ayahnya dan temanteman ayahnya se-dang berusaha membalas dendam atas kematian semua anggauta Peklian Kai-pang. Dia ingin sekali menonton, bahkan kalau mungkin ingin sekali membantu!
Selain itu, juga anak ini amat meng-khawatirkan keselamatan ayahnya, maka diam-diam ia
minggat keluar dari rumah sahabat ayahnya itu dan berlari menyu-sul ayahnya. Bocah ini
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
76
amat cerdik dan ia menduga bahwa Ho-han-hwe pasti diadakan di kuil tua yang sudah tak
ter-pakai di luar kota. Tanpa ragu-ragu ia langsung lari menuju ke kuil itu dan malam telah
tiba ketika ia akhirnya sampai di tempat tujuan. Karena melihat banyak orang sibuk
membakar kuil, hatinya makin gelisah. Ia tidak melihat ayah-nya, dan untuk bertanya ia tidak
berani, takut mendapat marah. Maka ia lalu me-nyelinap dan berhasil memasuki kuil dari
bagian yang gelap dan yang belum di-cium api.
Ruangan dalam kuil kosong itu mulai berasap. Di antara asap tipis, Sin Lian melihat musuh
besar ayahnya, Setan Botak, duduk bersila membelakanginya, tak bergerak seperti sebuah
arca batu yang menyeramkan, dengan kedua lengan dilonjorkan ke depan dan telapak
tangan dibuka ke arah tujuh orang laki-laki yang bersikap keren dan yang kesemuanya
memegang pedang. Juga tujuh orang itu diam tak bergerak seperti arca, akan tetapi muka
mereka pucat dan penuh peluh, bahkan tubuh mereka, terutama tangan yang memegang
pedang, mulai gemetar.
Melihat musuh besar itu, Sin Lian menjadi marah. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan
tujuh orang berpedang itu dengan musuhnya, akan tetapi me-lihat musuhnya duduk
membelakanginya, diam seperti arca, ia melihat kesempatan baik untuk menyerang!
Berindap-indap Sin Lian menghampiri kakek itu, setelah dekat ia lalu menerjang maju,
memukul tengkuk.
“Dukkk....!” Sin Lian terjengkang dan terbanting keras. Kepalanya menjadi pening,
tangannya sakit, akan tetapi ia bandel, terus melompat bangun dan siap menyerang lagi. Ia
tadi merasa betapa tengkuk kakek botak itu keras seperti baja, dan amat panas seperti baja
di-bakar. Ia tidak tahu betapa tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam memandang kepadanya
dengan heran dan juga khawatir. Memang bocah ini masih baik nasibnya, tidak seperti tujuh
orang anggauta Ho-han-hwe tadi yang tewas secara konyol. Kalau Siauw-lim Chit-kiam dan
Setan Botak sedang bertanding seperti tadi, serang-menyerang antar sinar pedang yang
digerakkan sin-kang dan pukulan jarak jauh Hwi-yang-sin-ciang yang amat dahsyat, tentu
sebelum menyentuh tubuh Setan Botak, Sin Lian telah roboh tewas, kalau tidak hangus
karena Hwi-yang-sin-ciang, tentu tersayat-sayat oleh sinar pedang Chit-seng-sin-kiam! Akan
tetapi kebetulan sekali pada saat itu, kedua fihak sedang mengadu tenaga sehingga kedua
fihak seolah-olah saling menempel, saling mendorong dan tidak bergerak ke mana-mana.
Inilah sebabnya mengapa ketika Sin Lian memukul, ia tidak ter-kena pengaruh Hwi-yang-sinciang, me-lainkan terbanting roboh karena kekebal-an tubuh kakek botak itu.
Betapapun juga, karena berani me-mukul Kang-thouw-kwi, tentu saja nyawa anak ini berada
dalam cengkeraman ma-ut. Sekali saja Kang-thouw-kwi bergerak, tentu bocah itu takkan
dapat tertolong lagi nyawanya. Hal inilah yang membuat Siauw-lim Chit-kiam menjadi
gelisah. Keadaan mereka sendiri terancam maut dan sedang terdesak hebat, bagaimana
mereka akan dapat menolong bocah ini? Mereka tadinya tidak mengharapkan da-pat keluar
sebagai pemenang karena makin lama, tenaga Setan Botak itu makin hebat, hawa di situ
makin panas sebagai bukti bahwa Hwi-yang-sin-ciang makin unggul. Akan tetapi mereka
me-rasa lega bahwa para anggauta Ho-han-hwe sudah mulai bergerak membakar kuil.
Mereka akan mati dengan lega ka-rena merasa yakin bahwa Si Setan Botak juga akan mati
terbakar hidup-hidup!
Kang-thouw-kwi Gak Liat maklum akan gangguan seorang anak perempuan di
belakangnya. Akan tetapi ia tidak peduli, karena kalau ia membagi perhati-an, apalagi
membagi tenaga, ia akan celaka. Menghadapi persatuan Siauw-lim Chit-kiam ini ia merasa
bahwa amat sukar mencapai kemenangan dan hanya dengan pengerahan tenaga
sepenuhnya saja ia akan dapat menang. Akan tetapi kini kuil mulai terbakar dan tahulah ia
bahwa keadaannya berada dalam bahaya pula. Kalau saja tidak ada gangguan ini, tentu ia
akan dapat segera merobohkan Siauw-lim Chit-kiam dan masih ada ke-sempatan untuk
menyelamatkan diri.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
77
Dalam usahanya untuk segera dapat merobohkan tujuh orang pengeroyok yang berilmu
tinggi itu, Kang-thouw-kwi Gak Liat tidak mempedulikan Sin Lian sama sekali, karena anak
itu sama sekali tidak ada arti baginya. Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga, kedua lengannya
menggigil dan lengan yang diluruskan ke de-pan itu menjadi makin panas. Kekuatan mujijat
yang amat dahsyat kini mener-jang maju bagaikan hembusan angin badai yang panas ke
arah Siauw-lim Chit-kiam! Getaran gelombang tenaga sakti ini segera terasa oleh Siauw-lim
Chit-kiam dan betapa pun mereka ini menggerakkan tenaga mempertahankan diri, tetap saja
tangan mereka yang menudingkan pedang gemetar keras.
“Werrrrr.... cringgg.... krak-krak....!”
Pertahanan Siauw-lim Chit-kiam menjadi berantakan ketika dua batang pedang di tangan Ui
Swan dan Ui Kiong, dua orang di antara mereka, pa-tah dan terlepas dari tangan mereka,
yang menjadi pucat wajahnya. Melihat betapa orang ke tiga dan ke empat dari Siauw-lim
Chit-kiam ini kehilangan pe-dang yang tadi bergetar keras lalu patah-patah, lima orang tokoh
Siauw-lim itu mengerahkan seluruh tenaga untuk me-nahan gelombang tenaga hebat yang
me-nekannya, namun kini mereka jauh kalah kuat setelah tenaga mereka berkurang dua
orang. Pedang mereka mulai tergetar hebat, muka mereka pucat dan napas terengah. Ui
Swan dan Ui Kiong yang sudah bertangan kosong, tentu saja tidak dapat berdiam diri begitu
saja menyak-sikan keadaan saudara-saudaranya terdesak, mereka ini lalu menggunakan
ta-ngan kanan yang kosong untuk mendorong ke depan dengan pukulan jarak jauh,
sedangkan tangan kiri masih menempel punggung saudara yang berada di sebelah-nya
seperti tadi. Akan tetapi dengan pedang di tangan saja mereka tadi tidak dapat bertahan,
apalagi bertangan kosong. Begitu mereka mendorong dengan tangan, telapak tangan
mereka bertemu dengan hawa panas yang menyusup kuat, terus menyerang isi dada.
Kedua kakak beradik Ui ini mengeluh perlahan dan tubuh mereka rebah miring!
Melihat ini, lima orang Siauw-lim Chit-kiam menjadi terkejut. Tahulah mereka bahwa mereka
akan roboh semua, namun mereka berkeras untuk memper-tahankan diri sampai api
menjilat tempat itu agar musuh mereka yang amat tang-guh itu mati pula terbakar. Pada seat
mereka terhimpit den terancam hebat itu, tiba-tiba Kang-thouw-kwi Gak Liat berteriak marah
den bajunya sudah ter-makan api! Bagaimanakah baju Setan Botak ini dapat terbakar
padahal api kebakaran kuil itu belum menjilat ke situ? Bukan lain adalah hasil perbuatan Sin
Lian! Karena tubuhnya terjengkang dan terbanting sendiri ketika memukul tubuh Setan
Botak, Sin Lian menjadi penasaran den marah sekali. Sebagai puteri Lauw-pangcu yang
tidak asing akan kehebatan ilmu silat, anak ini maklum bahwa tubuh Setan Botak itu kebal
dan percuma saja kalau ia memukul. Maka ia lalu mencari akal den barulah ia sadar bahwa
tempat itu telah terkurung api yang mulai mem-bakar ruangan! Dalam kaget dan panik-nya,
timbul akalnya. Ia lalu lari ke tem-pat kebakaran, mengambil sepotong kayu yang terbakar
dan tanpa ragu-ragu lagi ia menghampiri Setan Botak den mem-bakar pakaian musuh ini
dengan api itu! Bahkan ia lalu berusaha membakar ram-but di kepala botak itu pula!
Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah se-orang ahli Yang-kang, bahkan kedua le-ngannya sudah
memiliki Ilmu Hwi-yang-sin-ciang yang bersumber pada panasnya api. Boleh jadi kedua
lengannya itu sudah kebal terhadap api, namun tubuhnya ti-dak, apalagi rambut di
kepalanya. Begitu melihat bahwa bajunya terbakar, bahkan sebagian rambutnya dimakan
api, ia terkejut dan marah sekali. Sambil berteriak dan menggereng seperti harimau, ia
menggulingkan tubuhnya ke kiri, pertama untuk memadamkan api yang berkobar pada
bajunya, ke dua untuk menyingkir-kan diri daripada gelombang sinar pedang Siauw-lim Chitkiam. Kemudian, setelah bergulingan dan keluar dari sasaran la-wan, ia membalikkan
tubuhnya dan me-mukul ke arah Sin Lian dari jarak jauh. Saking marahnya, kini ia
menumpahkan semua kemarahan dan kebencian kepada anak perempuan itu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
78
Kelima orang Siauw-lim Chit-kiam maklum bahwa nyawa bocah itu berada di cengkeraman
maut. Mereka juga mak-lum bahwa bocah perempuan itulah yang telah menyelamatkan
nyawa mereka yang tadi sudah tertekan hebat. Tentu saja sebagai pendekar-pendekar
gagah perkasa, kini mereka tidak mungkin dapat ber-peluk tangan saja menyaksikan
penolong mereka terancam. Tanpa komando, lima orang Siauw-lim Chit-kiam itu kini
menodongkan pedang mereka dan mengerah-kan tenaga, menghadang pukulan jarak jauh
Setan Botak yang ditujukan kepada Sin Lian. Tenaga serangan itu tertangkis oleh sinar
pedang, akan tetapi biarpun Sin Lian dapat diselamatkan, sebagian hawa pukulan
menerobos dan sedikit saja sudah cukup membuat Sin Lian terguling roboh dan pingsan
dengan muka gosong!
Karena ruangan itu mulai terbakar, Gak Liat yang tahu akan bahaya lalu tertawa dan
tubuhnya sudah melesat keluar menerjang api lalu lenyap di da-lam kegelapan malam di luar
kuil. Lima orang Siauw-lim Chit-kiam tidak menge-jar, karena selain mereka harus
menye-lamatkan dua orang saudara yang terluka dan gadis cilik yang pingsan, juga
me-ngejar keluar kuil apa gunanya? Mereka takkan mampu mengalahkan Setan Botak yang
lihai itu. Diangkutlah Ui Swan dan Ui Kiong, juga tubuh Sin Lian dan me-reka pun cepatcepat menerjang api me-nerobos keluar sebelum ruangan itu am-bruk.
Para anggauta Ho-han-hwe menjadi kecewa dan berduka. Tidak saja usaha mereka
menewaskan Setan Botak itu gagal sama sekali, juga mereka harus -cepat-cepat angkat
kaki dari Tiong-kwan karena kini tentu kaki tangan pemerintah Mancu akan mencari untuk
membasmi mereka. Terutama sekali Lauw-pangcu yang kehilangan lima puluh lebih
ang-gauta Pek-lian Kai-pang, menjadi berduka sekali. Akan tetapi di samping kedukaan ini,
ada sinar terang yang membahagia-kan hati ketua kai-pang ini, yaitu bahwa Siauw-lim Chitkiam berkenan mengambil Sin Lian sebagai murid mereka! Setelah Ui Swan dan Ui Kiong
diobati, dan juga Sin Lian sembuh, anak ini lalu dibawa pergi Siauw-lim Chit-kiam untuk
men-dapat gemblengan ilmu di kuil Siauw-lim-si.
Adapun Lauw-pangcu sendiri lalu per-gi ke barat untuk menyampaikan laporan kepada Raja
Muda Bu Sam Kwi dan mem-bantu perjuangan raja muda itu dalam usahanya mengusir
penjajah Mancu dari tanah air. Juga semua anggauta Ho-han-hwe yang mengunjungi
pertemuan itu, cepat-cepat meninggalkan Tiong-kwan, akan tetapi tak seorang pun di antara
mereka menghentikan atau mengurangi semangat perjuangan mereka yang anti penjajah.
***
Kurang lebih setengah tahun lamanya Han Han berada di dalam gedung besar di pinggir
kota Tiong-kwan, menjadi pe-layan dari Setan Botak bersama murid-nya Ouwyang Seng.
Mengapa Han Han dapat bertahan sampai demikian lamanya menjadi pelayan di situ?
Sesungguhnya hatinya amat tidak senang menjadi pela-yan Ouwyang Seng, akan tetapi
karena anak ini menemukan hal-hal yang amat menarik hatinya maka ia memaksa diri tidak
mau meninggalkan tempat itu. Ia tertarik melihat cara-cara latihan yang diajarkan Setan
Botak kepada Ouwyang Seng. Bahkan diam-diam kalau tidak dilihat guru dan murid itu, ia
pun mulai melatih kedua lengannya dan merendamnya di dalam air panas bercampur racun!
Mula-mula ia tidak berani, akan tetapi karena tekadnya memang luar biasa, ketika ia diberi
tugas menggodok air beracun, ia mencelup kedua tangannya. Dengan kemauan yang amat
luar biasa, terdorong oleh sifat aneh yang menguasai-nya, akhirnya dalam sebulan saja ia
su-dah mampu menahan kedua lengannya direndam air panas beracun sampai se-malam
suntuk! Apa yang dicapai oleh Ouwyang Seng dalam latihan dua tiga tahun, dapat ia peroleh
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
79
hanya dengan latihan sebulan saja! Dan pada bulan-bulan berikutnya, ia bahkan telah jauh
melampaui Ouwyang Seng karena ia su-dah dapat bertahan untuk merendam kedua
lengannya ke dalam air panas batu bintang! Padahal latihan merendam le-ngan di air batu
bintang ini hanya di-lakukan oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, sedangkan Ouwyang Seng
hanya baru mulai dengan latihan yang berat ini!
Guru dan murid yang wataknya aneh dan keras itu ternyata merasa suka ke-pada Han Han
yang juga tidak kalah aneh wataknya. Han Han dapat menjadi seorang anak yang pendiam
dan penurut sekali kalau ia kehendaki, dan ia pandai menyimpan rahasia, sehingga guru dan
murid itu merasa suka, bahkan akan me-rasa kehilangan kalau tidak ada Han Han yang
mengerjakan segala keperluan mereka berdua itu dengan alat-alat dan keperluan berlatih.
Apalagi Ouwyang Seng, sama sekali tentu saja tidak pernah menduga bahwa kacung itu
telah ikut berlatih, bahkan telah melampauinya. Sedangkan gurunya, Kang-thouw-kwi Gak
Liat sendiri tidak pernah mimpi bahwa bocah jembel itu ternyata selain melatih diri dengan
da-sar-dasar ilmu Hwi-yang-sin-ciang, juga sudah berani memasuki daerah terlarang, tempat
ia berlatih dan yang merupakan tempat terlarang bagi semua orang! Dan tidak pernah
menduga bahwa semua ajar-an teori yang ia berikan kepada Ouwyang Seng, diam-diam
telah didengar jelas oleh Han Han, bahkan bocah ini segera mempraktekkan ajaran-ajaran
itu.
Apabila Kang-thouw-kwi Gak Liat sedang bepergian, dan hal ini sering kali ia lakukan tanpa
ada yang mengetahui ke mana perginya, Ouwyang Seng yang pada dasarnya malas berlatih
dan lebih suka berkuda atau berjalan-jalan keluar kota mengumbar kenakalannya,
kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Han Han. Setelah ia dapat bertahan
merendam kedua lengannya dalam air cairan batu bintang, mulailah ia diam-diam memasuki
daerah tertarang! Mula-mula jantungnya berdebar dan ia merasa ngeri. Di kebun yang liar itu
terdapat banyak lubang-lubang dan ketika ia memperhatikan, ia terbelalak memandang ke
arah kerangka-kerangka manusia yang berada di dalam lubang-lubang itu. Tahulah ia bahwa
ku-buran-kuburan yang berada di situ seperti yang pernah diceritakan Ouwyang Seng
kepadanya, kini telah dibongkar dan tu-lang-tulang manusia serta tengkorak-tengkorak
berserakan di tempat itu! Be-nar-benar bukan merupakan tempat latih-an seorang manusia.
Lebih tepat dinama-kan tempat seekor siluman atau iblis. Teringat pula ia akan cerita Setan
Botak kepada Ouwyang Seng bahwa kalau latihan merendam lengan dalam cairan batu
bintang sudah mencapai puncaknya, maka latihan dilanjutkan dengan membakar kedua
lengan di atas api bernyala!
“Bukan api sembarang api,” demikian ia menangkap pelajaran yang diberikan Setan Botak
kepada Ouwyang Seng. “Me-lainkan api yang menyala dari tulang-tulang manusia yang
dibakar. Api dari tulang-tulang itu mengandung sari hawa Yang-kang, sudah merupakan
racun Hwi-yang. Dengan latihan itu, sari Hwi-yang akan meresap ke dalam kedua lengan
memperkuat tulang lengan. Akan tetapi untuk mencapai tingkat ini, kau harus berlatih
dengan tekun sampai sedikitnya sepuluh tahun, Kongcu.” Demikian antara lain penjelasan
Setan Botak.
Entah mengapa ia suka mempelajari semua ini, Han Han sendiri tidak akan dapat
menjawab. Ia tidak bermaksud mendapatkan kekuatan pada kedua le-ngannya karena ia
tidak suka, bahkan benci berkelahi. Akan tetapi mungkin sifat aneh pada pelajaran inilah
yang menarik hatinya dan yang membuatnya ingin mencoba dan melatih diri! Maka setelah
ia mendapat kesempatan memasuki daerah terlarang, ia segera mulai dengan latihan-latihan
yang menegangkan hatinya. Mula-mula ia memanaskan kwali tua yang terisi cairan tulangtulang teng-korak manusia, merendam kedua lengan-nya dalam cairan yang menjijikkan itu
sebagaimana ia dengar dari penjelasan Setan Botak kepada Ouwyang Seng. Ke-mudian
mulailah ia melatih kedua le-ngannya di atas api bernyala yang ia buat dengan bahan bakar
kayu-kayu dan tulang-tulang kering manusia yang ber-serakan di tempat itu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
80
Sampai setengah tahun lebih Han Han melatih diri di daerah terlarang itu. Tentu saja hal ini
dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, karena ia pun tahu bahwa kalau sampai hal ini
diketahui Setan Botak, nyawanya takkan tertolong lagi! Kini sudah lebih dari setahun ia
menjadi pelayan Ouwyang Seng dan guru-nya, dan mulailah ia merasa bosan. Me-mang ia
melatih diri selama ini tanpa pamrih apa-apa, hanya karena tertarik dan kini setelah ia dapat
bertahan menaruh tangannya di dalam api berkobar sampai api itu mati sendiri kehabisan
bahan bakar, ia menjadi bosan dan menganggap bahwa apa yang dicarinya sudah dapat. Ia
mulai bosan setelah mengingat betapa ia telah mem-buang waktu dengan sia-sia. Kalau ia
re-nungkan dan bertanya sendiri, apakah yang ia dapatkan selama setahun lebih ini? Ia
ti-dak dapat menjawab karena harus ia akui bahwa kedua lengannya yang dapat me-nahan
panasnya api itu sesungguhnya tidak ada guna atau manfaatnya sama sekali! Sungguh ia
tidak tahu bahwa sebetulnya ia telah dapat menguasai dasar-dasar Ilmu Hwi-yang-sin-ciang
yang amat hebat! Tidak tahu bahwa bakatnya jauh melampaui Setan Botak sendiri sehingga
kalau ia latih terus dan melatih pula ilmu pukulannya, ia akan menjadi seorang ahli Hwiyang-sin-ciang yang tidak ada tandingannya di dunia ini.
Sayang bahwa Han Han sama sekali tidak tertarik kalau ia melihat Ouwyang Seng berlatih
silat, juga tidak mau men-dengarkan kalau Setan Botak memberi penjelasan tentang kouwkoat (teori silat) kepada Ouwyang Seng. Sampai saat itu pun Han Han masih belum suka
akan ilmu silat, bukan hanya tidak suka, ma-lah membencinya. Apalagi kalau ia ter-kenang
akan pertandingan antara Setan Botak dengan orang-orang Pek-lian Kai-pang, ia menjadi
muak dan makin mem-benci ilmu silat yang dianggapnya hanya merupakan ilmu membunuh
manusia lain!
Kalau dipikirkan memang lucu sekali. Anak ini membenci ilmu silat yang di-anggapnya ilmu
yang keji. Akan tetapi tanpa ia ketahui sama sekali, ia kini telah memiliki dasar Ilmu Hwiyang-sin-ciang, padahal ilmu ini adalah ilmu go-longan hitam atau ilmu sesat yang amat keji!
Ilmu meracuni kedua lengan seperti ini, yang sebagian menggunakan tulang-tulang dan
tengkorak-tengkorak manusia, tidak akan dipelajari oleh orang gagah di manapun juga
kecuali oleh kaum sesat. Untuk memperkuat kedua lengan tangan, kaum gagah di rimba
persilatan biasanya menggembleng lengan dengan pasir panas, pasir besi panas, dan lainlain yang pada dasarnya hanya untuk memperkuat kedua lengan. Akan tetapi kaum sesat
mencam-purkan racun dalam latihan ini sehingga tangan mereka menjadi tangan beracun
yang sesuai dengan watak mereka. Han Hen sama sekali tidak tahu akan hal ini, maka
amatlah lucu kalau dipikirkan bah-wa dia membenci ilmu silat namun diam-diam meniadi
calon ahli Hwi-yang-sin-ciang!
Akan tetapi, kebosanannya melatih diri ini menolongnya. Kalau ia lanjutkan, tentu akhirnya
ia akan ketahuan dan hal ini berarti mati baginya. Dan kebetulan sekali sebelum
kebosanannya membuat ia berlaku nekat dan minggat dari situ, pada pagi hari itu Setan
Botak pulang dan siang harinya ia dipanggil Ouwyang Seng.
“Han Han, lekas berkemas, bungkus pakaian-pakaianku yang terbaik. Kita akan pergi dari
sini ke kota raja!”
“Kota raja?” Han Han bengong. Se-butan kota raja hanya ia dapat dalam kitab-kitabnya saja
karena selama hidup-nya belum pernah ia melihat kota raja.
“Ya, kota raja di utara! Ha-ha-ha! Engkau akan bengong keheranan kalau melihat kota raja,
dan aku sudah rindu kepada orang tuaku, kepada teman-teman-ku. Lekas berkemas, kalau
terlambat, suhu akan marah.”
“Aku.... aku diajak, Kongcu?” Han Han menyembunyikan debar jantungnya. Kalau ia
minggat, ia sendiri tidak tahu akan pergi ke mana. Akan tetapi ia akan bebas dan merasa
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
81
berbahagia. Dia tidak suka untuk menjadi pelayan selamanya. Betapapun juga, kalau diajak
ke kota raja, ia akan mengesampingkan dulu ketidaksukaannya menjadi pelayan. Kota raja!
Ia harus melihatnya!
“Tentu saja kau kuajak. Bukankah kau pelayanku? Habis, kalau tidak diajak, siapa yang
akan mengurus keperluan kami?” bentak Ouwyang Seng marah.
“Siapa saja yang pergi, Kongcu?”
“Siapa lagi kalau bukan suhu, aku dan engkau? Sudahlah, cerewet amat sih! Lekas
berkemas dan suruh tukang kuda menyediakan dua ekor kuda untuk suhu dan aku!”
“Dan aku sendiri jalan kaki? Apakah hal itu tidak akan memperlambat per-jalanan, Kongcu?”
Han Han membantah, penasaran.
“Huh, mana ada pelayan menunggang kuda? Akan tetapi kalau suhu menghen-daki
perjalanan cepat, boleh mem-bonceng di belakangku. Cuma, jangan lupa. Sebelum
berangkat kau mandi yang bersih pula. Nah cukup, lekas berkemas!”
Han Han berkemas dan diam-diam mengomel. Biarpun ia menjadi pelayan, namun tidak
pernah ia menerima upah, tidak pernah menerima pakaian, hanya mendapat makan setiap
hari. Pakaiannya masih pakaian setahun yang lalu, penuh tambalan. Namun ia mempunyai
satu stel pakaian cadangan, pemberian seorang pe-layan di situ yang menaruh kasihan
ke-padanya. Pakaian ini pun sudah ia tambal-tambal. Dengan adanya cadangan pakaian ini,
ia selalu berpakaian bersih, yang satu dipakai, yang satu dicuci. Biarpun penuh tambalan,
pakaiannya selalu ber-sih!
Setelah selesai berkemas, berangkatlah Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ouwyang Seng dan Han
Han meninggalkan gedung di kota Tiong-kwan. Perjalanan itu amat melelahkan bagi Han
Han karena, ber-beda dengan Kang-thouw-kwi dan murid-nya yang masing-masing
menunggang kuda, Han Han berjalan kaki. Akan te-tapi biarpun amat melelahkan,
perjalanan ini pun mendatangkan kegembiraan di dalam hatinya. Terlalu lama ia terkurung di
dalam gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di Tiong-kwan dan kini ia selalu berada di alam
terbuka, menyaksikan keindahan alam dan melalui bermacam kota dan dusun. Kadangkadang kalau Kang-thouw-kwi menghendaki perjalanan dipercepat, baru Han Han
diperbolehkan membonceng Ouwyang Seng, duduk di punggung kuda di belakang pemuda
bang-sawan itu. Dan di sepanjang perjalanan ini dia pulalah yang melayani segala keperluan
mereka.
Hanya dehgan kemauan keras yang dikendalikan kecerdikannya saja mem-buat Han Han
dapat menekan perasaaan-nya yang panas penuh dendam dan kebencian setiap kali ia
memasuki kota-kota besar dan melihat tentara-tentara dan perwira-perwira Mancu
berkeliaran dengan lagak sombong. Melihat tentara penjajah ini, teringatlah ia akan
keluar-ganya yang terbasmi dan terbayang ma-kin jelaslah wajah tujuh orang pembesar
Mancu yang dilayani ayahnya ketika me-reka berpesta-pora di dalam rumahnya.
Terbayanglah wajah dua orang di antara ketujuh perwira itu, wajah yang sudah terukir di
hatinya dan yang selamanya takkan pernah dapat ia lupakan, yaitu wajah perwira muka
kuning dan perwira muka brewok.
Pada suatu pagi mereka tiba di kaki Pegunungan Tai-hang-san dan Kang-thouw-kwi Gak
Liat menyuruh muridnya berhenti. “Kita berhenti dan mengaso di sini!” kata Setan Botak itu
sambil me-loncat turun dari kudanya. Han Han ce-pat-cepat meloncat turun dari belakang
Ouwyang Seng dan menuntun kuda Setan Botak untuk diikat kepada sebatang po-hon.
Kemudian ia merawat kuda tunggangan Ouwyang Seng Pula. Sejak pagi-pagi sekali mereka
melarikan kuda dan kini kedua ekor kuda itu berpeluh dan terengah-engah. Han Han cepat
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
82
mengeluarkan kain kuning dari buntalannya yang tergantung di sela kuda, dan me-nyusuti
tubuh kuda yang berpeluh. Dua ekor kuda yang sedang makan rumput itu menggosokgosokkan telinga dan muka pada Han Han, seolah-olah mereka me-nyatakan terima kasih.
“Kongcu, lihatlah, puncak di sana itu menjadi tempat tinggal seorang kenalan baik yang
daerahnya sama sekali tidak boleh diganggu.”
Ouwyang Seng memandang suhunya dengan heran. Baru sekali ini suhunya
memperlihatkan dan memperdengarkan suara yang sifatnya segan kepada se-seorang.
“Suhu, siapakah kenalan suhu itu? Dia orang macam apa?”
Kang-thouw-kwi Gak Liat memandang ke arah puncak gunung yang tertutup awan putih itu
dengan kening berkerut, termenung sejenak lalu berkata, “Nama-nya Siangkoan Lee,
julukannya Ma-bin Lo-mo (Iblis Tua Bermuka Kuda)! Semenjak muda dia menjadi sainganku,
menjadi lawanku yang paling ulet. Hemmm.... lebih lima tahun aku tidak pernah ber-temu
dengannya. Entah bagaimana se-karang tingkat ilmunya yang paling diandalkan.”
“Ah, jadi di sanakah tempat tinggal Ma-bin Lo-mo yang amat terkenal itu? Suhu, bukankah
dia seorang diantara tokoh-tokoh yang disebut datuk-datuk besar di samping suhu?”
“Benar dialah orangnya....” Kembali Kang-thouw-kwi tampak melamun, teringat ia akan
masa dahulu di mana ia bersama Ma-bin Lo-mo malang-melintang di dunia kang-ouw dan
hanya Si Muka Kuda itu sajalah yang merupakan lawan yang paling tangguh. “Dia bekas
seorang menteri di Kerajaan Beng lima puluhan tahun yang lalu, kemudian mengundurkan
diri. Entah bagaimana kedudukannya di jalan kerajaan baru ini....”
“Ilmu apakah yang paling ia andalkan, suhu?”
Setan Botak itu menghela napas panjang. “Dia sengaja memperdalam ilmu untuk
menandingi Hwi-yang-sin-ciang! Ilmunya itu disebut Swat-im-sin-ciang (Tangan Sakti Inti
Sari Salju). Ah, betapa inginku mengetahui sampai di mana se-karang tingkat ilmunya itu....”
“Suhu, kenapa kita tidak naik ke sana saja kalau suhu ingin mencobanya? Teecu yakin suhu
tidak akan kalah!”
“Hemmm, Kongcu. Lupakah engkau akan pelajaranku bahwa kalau kita ingin dapat lama
bertahan di dunia kang-ouw, kita harus selalu pandai menilai keadaan lawan? Turun tangan
kalau sudah yakin akan menang, dan berhati-hati apabila menghadapi keadaan yang akan
dapat merugikan. Itulah syarat utama dan syarat itulah yang kupakai selama puluhan tahun
ini sehingga namaku masih men-julang tinggi tak pernah runtuh.”
Ouwyang Seng mengangguk-angguk dan diam-diam ia merasa kagum dan penasaran
kepada tokoh yang julukannya Ma-bin Lo-mo itu. Ia tidak mau percaya dan tidak mau
mengerti bahwa ada orang yang akan dapat menandingi gurunya. Adapun Han Han yang
menyusuti keringat kuda, ikut mendengarkan semua itu. Tentu saja ia sama sekali tidak
setuju dengan pendapat Setan Botak yang dianggapnya pengecut dan sama sekali tidak
tepat menjadi watak orang gagah. Orang gagah mendasarkan wataknya kepada yang baik
dan jahat. Betapapun kuatnya lawan, kalau jahat harus ditentang, sebaliknya, biarpun lawan
lemah, kalau benar tidak semestinya ditentang, bahkan harus dibantu. Akan tetapi dia tidak
peduli akan watak guru dan murid itu, hanya merasa kagum dan ingin sekali melihat tokoh
yang dijuluki Iblis Tua Muka Kuda itu.
“Han Han, lekas pergi ke dalam hutan di depan itu mencarikan buah-buahan untuk suhu!
Jangan kembali kalau belum mendapatkan buah-buahan yang cukup banyak!” Ouwyang
Seng yang melihat bahwa Han Han mendengarkan percakapan mereka tadi memerintah
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
83
karena betapapun juga ia merasa tidak senang melihat kacungnya itu mendengar betapa
suhunya seolah-olah jerih terhadap tokoh yang berjuluk Iblis Tua Muka Kuda itu.
Han Han yang juga merasa lapar, mengangguk lalu meninggalkan tempat itu, memasuki
hutan yang berada di se-buah lereng dekat kaki gunung itu. Tim-bul lagi kegembiraan
hatinya. Memasuki hutan liar itu seorang diri saja amat menyenangkan hatinya. Ia merasa
seolah-olah menjadi satu dengan hutan itu, be-bas lepas seperti burung yang beterbang-an
di antara pohon-pohon raksasa, seperti seekor di antara kera-kera yang ber-loncatan,
kelinci-kelinci yang berlarian. Ah, betapa ingin hatinya untuk meng-gunakan kesempatan itu
melarikan diri. Akan tetapi, ia ingin menyaksikan kota raja, dan juga ia tahu bahwa kalau ia
melarikan diri, tentu akan mudah dikejar Setan Botak yang amat sakti itu, dan dia tentu akan
mengalami hukuman di tangan Ouwyang Seng yang kejam dan suka me-nyiksa orang.
Biarlah kucarikan buah untuk mereka, pikirnya. Belum tiba saat-nya bagi dia melarikan diri.
Untung baginya bahwa hutan itu mempunyai banyak pohon berbuah yang sudah matang
dan tinggal pilih saja. Akan tetapi selagi ia menengadah mencari buah-buah apa yang akan
dipilihnya, tiba-tiba ia mendengar suara bentakan-bentakan halus dan nyaring, “.... heiiiiit....
siaaat.... heiiiiittt!”
Han Han tertarik dan cepat ia menyelinap di antara pohon-pohon itu ke arah datangnya
suara. Ternyata bahwa yang membentak-bentak itu adalah se-orang anak perempuan,
usianya takkan jauh selisihnya dari usianya sendiri. BO-cah itu sedang berlatih ilmu silat,
me-mukul, menangkis menendang, berloncatan dan sekali-kali mengeluarkan jerit
mem-bentak untuk memperkuat pukulan atau tendangan. Anak perempuan berusia se-puluh
atau sebelas tahun itu amat cantik dan mungil, gerakannya gesit bukan ma-in, mengingatkan
Han Han akan Sin Lian, puteri Lauw-pangcu. Akan tetapi gadis cilik ini lebih cantik, dan
mukanya manis sekali, tidak membayangkan kegalakan dan keliaran seperti yang terbayang
pada wajah Sin Lian. Adapun gerakan-gerakan-nya jauh lebih cepat daripada gerakan Sin
Lian, hal ini saja menjadi tanda bahwa tingkat kepandaian ilmu silat anak perempuan ini
lebih tinggi daripada puteri Lauw-pangcu.
Selain cepat, juga ilmu silat yang di-mainkan gadis cilik itu bagi Han Han kelihatan amat
indahnya, seperti me-nari-nari. Tubuh yang semampai itu ber-kelebatan, berloncatan dan
kadang-kadang membuat gerakan kaki tangan demikian halus dan indah sehingga ia
memandang dengan bengong penuh kekaguman. Ada sepuluh menit anak perempuan itu
ber-latih, kemudian mengakhiri latihannya dengan tendangan berantai dan tubuhnya
mencelat ke atas, ketika kakinya seperti kitiran membuat gerakan menendang secara
bertubi-tubi dengan kedua kaki bergantian sampai lima kali, baru tubuh-nya berjungkir balik
melompat ke bela-kang. Indah sekali gerakannya.
“Bagus sekali....!” Tak terasa lagi pujian ini keluar dari mulut Han Han.
Anak perempuan itu menengok dan memandang. Han Han terkejut dan tahu bahwa dia
telah berlaku lancang. Ia me-ngira bahwa anak perempuan itu, seperti halnya Sin Lian, tentu
akan marah dan memakinya. Setelah ia bergaul dengan Sin Lian, kesannya terhadap anak
perempuan adalah mudah marah, mudah me-maki, akan tetapi mudah pula tertawa.
Akan tetapi ia kecelik! Anak perem-puan itu tidak marah melainkan meman-dang kepadanya
dengan sinar mata penuh selidik, memperhatikannya dari atas sam-pai ke bawah, kemudian
tersenyum dan melangkah maju menghampirinya. Setelah mereka berdiri saling
berhadapan, gadis cilik itu memperhatikan pakaian di tubuh Han Hang membuat Han Han
menjadi merah mukanya karena ia merasa betapa pakaiannya sungguh tidak boleh
dibangga-kan. Penuh tambalan dan tidak begitu bersih lagi karena dia belum sempat
berganti pakaian.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
84
Gadis cilik itu tiba-tiba merogoh saku bajunya den mengeluarkan dua potong uang tembaga,
tanpa berkata-keta menj-ulurkan tangan, memberikan dua potong uang tembaga itu kepada
Han Han. Ten-tu saja Han Han melongo dan tidak me-ngerti, terpaksa bertanya.
“Untuk apa ini....?”
“Sedekah seadanya untukmu. Engkau tersasar jalan, di daerah ini tidak akan kautemui
dusun, akan percuma mencari sumbangan....”
“Aku bukan pengemis!” Han Han mem-bentak dan mundur dua langkah, mata-nya
memandang penasaran.
Gadis cilik itu menatap wajahnya dan agaknya kaget sekali ketika bertemu pandang dengan
Han Han, lalu cepat-cepat menyimpan kembali uangnya dan mengalihkan pandangnya,
meneliti pakaian tambal-tambalan dan kaki telanjang itu. Han Han merasa menyesal
mengapa ia membentak karena kini ia tahu bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan
ber-maksud menghinanya, melainkan keadaan pakaiannyalah yang membuat anak itu
menduga bahwa dia seorang pengemis. Begitu berjumpa, tanpa diminta telah memberi
sumbangan, benar-benar hati bocah ini tidak buruk, pikirnya. Cepat-cepat ia berkata dengan
suara halus.
“Aku memang miskin, pakaianku tam-bal-tambalan, akan tetapi aku belum pernah
mengemis. Maafkan penolakanku.”
Kembali anak itu mengangkat alis dan memandang dengan heran. Ucapan Han Han begitu
halus dan susunan kata-kata-nya teratur rapi, bukan seperti seorang anak dusun, apalagi
pengemis!
“Kau.... siapakah? Dan apakah kehendakmu datang ke tempat ini?”
“Aku bernama Han, she Sie. Aku hanya seorang kacung yang kebetulan mengikuti
perjalanan majikanku. Mereka berhenti di kaki gunung dan menyuruh aku mencari buahbuah di hutan ini. Engkau siapakah? Kalau tadi kaukatakan di sini tidak ada dusun,
bagaimana engkau bisa berada di sini?”
“Namaku Cu, she Kim. Aku memang penghuni daerah ini, di puncak sana itu. Lebih baik
engkau lekas pergi, dan kata-kan kepada majikanmu agar cepat pergi meninggalkan daerah
ini. Daerah ini mi-lik suhuku dan siapapun juga tidak boleh berada di sini. Lekas pergilah
bersama majikanmu sebelum terjadi hal-hal yang hebat menimpa kalian.”
“Nona Kim Cu, engkau baik sekali.”
“Eh, baik bagaimana?”
“Aku lancang memuji ilmu silatmu, kau tidak marah. Kini engkau menasehati aku agar tidak
sampai tertimpa mala-petaka. Benar-benar engkau seorang anak yang amat baik.”
Anak perempuan itu menggeleng ke-pala. “Apa sih artinya baik? Engkau ini yang amat
aneh. Pakaianmu seperti pe-ngemis akan tetapi engkau tak pernah mengemis. Pekerjaanmu
sebagai kacung akan tetapi sikap dan bicaramu seperti seorang anak terpelajar. Dan kau....
agaknya kau pandai ilmu silat, ya?”
Han Han cepat menggeleng kepala. “Ah, mana aku bisa? Aku tidak bisa ilmu silat....”
“Kalau tidak bisa, bagaimana tadi dapat memuji ilmu silatku?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
85
“Karena memang bagus dan indah, seperti tarian. Nona Kim Cu, apakah gurumu itu pandai
sekali ilmu silatnya? Aku tadi mendengar percakapan majikan-ku dan muridnya, menyebutnyebut nama Ma-bin Lo-mo yang tinggal di In-kok--san. Kenalkah engkau dengan dia?”
Tiba-tiba wajah gadis cilik itu ber-ubah agak pucat dan seperti lupa diri, dia memegang
lengan Han Han. “Wahy celaka....! Siapa majikanmu itu, begitu berani mati menyebut-nyebut
nama su-hu....?”
Melihat gadis cilik yang menimbulkan rasa suka di hatinya ini kelihatan gelisah, Han Han
juga memegang tangannya dan berkata menghibur, “Nona, tidak perlu khawatir. Majikanku
juga bukan orang biasa, julukannya Kang-thouw-kwi....”
“Ihhhh....?”
Pada saat itu, terdengar bentakan.
“Han Han! Kau kacung malas! Disuruh mencari buah-buahan malah bermain gila dengan
seorang gadis gunung!”
Han Han cepat melepaskan pegangan-nya pada tangan Kim Cu, menoleh dan memandang
kepada Ouwyang Seng dengan penuh kemarahan. Ucapan yang menghina dirinya tidaklah
mendatangkan kemarah-an, akan tetapi teguran itu sekaligus menghina Kim Cu yang begitu
baik. Ma-sa Kim Cu dikatakan gadis gunung dan dituduh bermain gila dengan dia?
“Ouwyang-kongcu, jangan bicara sembarangan....!”
Kim Cu yang sudah melepaskan ta-ngannya dan dengan langkah lebar gadis cilik ini telah
menghadapi Ouwyang Seng. Sepasang mata yang tadinya berseri dan bening itu kini
kelihatan memancarkan cahaya kilat.
“Sie Han, mengapa manusia macam ini kau sebut Kongcu? Pantasnya engkau-lah yang
harus dia sebut Kongcu, karena menurut pendapatku, dia ini menjadi kacungmu saja masih
belum patut!”
“Budak hina, jangan membuka mulut besar kalau tidak ingin kuhajar mulut-mu!” bentak
Ouwyang Seng yang menjadi marah sekali. Selama hidupnya baru se-kali ini ada orang
berani menghinanya seperti itu.
“Kau yang membutuhkan hajaran!” Kim Cu berseru dan tubuhnya sudah melesat ke depan
dengan serangan kilat. Kedua kepalan tangan yang kecil itu dengan gerakan cepat sekali
sudah meng-hantam ke arah kepala dan dada Ouw-yang Seng! Akan tetapi, murid Kangthouw-kwi ini tertawa mengejek, menggerakkan kedua tangannya untuk menang-kap kedua
kepalan itu. Anehnya, gadis cilik itu tidak peduli, bahkan membiarkan kedua kepalan
tangannya tertangkap, padahal ini merupakan bahaya besar baginya. Ouwyang Seng
memperkeras ke-tawanya karena ia yakin bahwa sekali cengkeram, kepalan kedua tangan
gadis itu akan remuk-remuk tulangnya. Namun, segera dia berseru kaget, cepat
melepas-kan cengkeramannya dan berusaha meloncat mundur. Terlambat! Perutnya ma-sih
kena serempet ujung sepatu Kim Cu sehingga ia terjengkang ke belakang sam-bil
memegangi perutnya dan meringis. Biarpun tidak mengalami luka, namun setidaknya
perutnya menjadi mulas se-ketika. Dengan kemarahan meluap-luap, Ouwyang Seng kini
membalas dengan serangan yang dahsyat.
Bertempurlah kedua orang anak itu, ditonton oleh Han Han yang menjadi makin kagum.
Jelas tampak betapa gadis cilik itu telah memiliki dasar yang ma-tang, gerakan-gerakannya
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
86
jauh lebih cepat daripada Ouwyang Seng sehingga dialah yang lebih banyak menghujankan
serangan daripada murid Setan Botak itu.
“Rebahlah, manusia sombong!” Kim Cu berseru keras dengan serangan desak-an yang
sukar sekali dijaga karena kedua tangan itu seolah-olah telah berubah menjadi banyak
saking cepat gerakahnya, dan tubuhnya pun berkelebatan di kanan kiri lawan.
“Bukkk....! Aduuuhhhhh....! Kembali Ouwyang Seng terjengkang karena pukul-an tangan kiri
Kim Cu bersarang di da-danya. Kini agak tepat kenanya sehingga napasnya menjadi sesak.
Namun Ouwyang Seng yang terlath sejak kecil telah me-miliki kekebalan, dan biarpun ilmu
silatnya lebih unggul dan gin-kangnya lebih tinggi daripada Ouwyang Seng, namun agaknya
gadis cilik itu belum memiliki tenaga yang cukup kuat untuk merobohkan lawan dengan
beberapa kali pukulan saja.
“Budak hina, engkau sudah bosan hi-dup!” Ouwyang Seng marah sekali. Kedua matanya
merah, mulutnya menyeringai- seperti mulut harimau haus darah. Ia meloncat bangun,
menggerak-gerakkan kedua lengannya kemudian ia menerjang maju, mengirim pukulan
dengan men-dorongkan kedua lengannya itu dengan jari-jari terbuka ke arah Kim Cu,
tubuh-nya agak merendah. Melihat ini, Han Han terkejut sekali. Itulah pukulan be-racun yang
dilatih Ouwyang Seng, dengan tenaga inti api sebagai hasil latihan me-rendam kedua lengan
ke dalam air be-racun mendidih.
“Kongcu....!” Ia berseru, akan tetapi Ouwyang Seng yang sudah amat marah itu lupa pula
akan pesan suhunya bahwa tidak boleh ia semberangan memperguna-kan dasar pukulan
Ilmu Hwi-yang-sin-ciang itu.
Kim Cu yang tadinya sudah beberapa kali berhasil memukul lawannya, tentu saja
memandang rendah dan melihat datangnya pukulan, ia menangkis sambil miringkan tubuh.
“Plakkk....! aughhh....!” Tubuh Kim Cu terlempar dan masih untung bahwa ketika menangkis
tadi ia miringkan tubuh sehingga pukulan api beracun itu tidak mengenainya dengan tepat.
Namun hawa pukulan yang hebat itu cukup membuat gadis cilik itu terlempar dan terbanting
keras. Dan selagi Kim Cu masih pening, berusaha bangkit, Ouwyang Seng yang masih
belum puas telah meloncat dekat dan mengirim pukulan api beracun untuk kedua kelinya.
Kalau mengenai tepat dan tidak ditangkis, pukulan ini akan mem-bahayakan nyawa Kim Cu!
“Jangan....!” Han Han cepat meloncat dekat dan mendorongkan kedua tangannya
menyambut pukulan maut yang dilakukan Ouwyang Seng itu.
“Desssss....!”
“Aiiihhhhh....!” Kini tubuh Ouwyang Seng yang terlempar ke belakang sampai tiga meter
lebih dan jatuh bergulingan lalu meloncat bangun dengan muka pucat sekali. Kedua
lengannya seperti terbakar rasanya dan tenaganya tadi begitu bertemu dengan dorongan
Han Han telah membalik dan membuat ia terlempar. Saking nyeri, marah dan heran ia
sampai bengong terlongong. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan Setan Botak
dan Han Han mengeluh karena ia sudah roboh tertotok oleh Setan Botak yang tahu-tahu
telah berada di situ.
“Anak setan, dari mana kau mencuri pukulan itu?” bentak Setan Botak yang kemudian
menoleh kepada Ouwyang Seng dan bertanya, “Ouwyang-kongcu, engkau tidak apa-apa?”
Ouwyang Seng menggeleng kepala, kini kemarahannya ditimpakan semua kepada Han
Han. Cepat ia menyambar sebatang kayu yang terletak di bawah pohon, kemudian meloncat
ke depan dan menggunakan ranting itu memukuli tubuh Han Han yang tertotok dan tidak
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
87
mampu bergerak itu. Terdengar suara “bak-buk-bak-buk” ketika ranting itu jatuh seperti
hujan di seluruh tubuh Han Han!
“Pengecut....!” Bentakan ini dikeluarkan oleh Kim Cu yang telah menerjang maju dan
sebuah tendangannya tepat mengenai lengan Ouwyang Seng yang memegang ranting
sehingga ranting itu terlepas di atas tanah. Ouwyang Seng sendiri meloncat ke belakang
karena khawatir kalau mendapat serangan susulan dari gadis cilik yang amat cepat
gerakannya itu. Di depan gurunya, tentu saja ia tidak berani lagi menggunakan pukulan api
beracun.
Kim Cu menolong Han Han dan membangunkannya, akan tetapi Han Han sudah dapat
bergerak kembali dan kini ia bangkit duduk. Biarpun totokan Setan Botak itu amat lihai, akan
tetapi karena tubuh Han Han memang memiliki sifat luar biasa, hanya sebentar saja anak ini
terpengaruh. Dengan kemauannya yang hebat, timbullah hawa tan-tian dari pusarnya,
mendorong jalan darahnya sehingga pengaruh totokan itu buyar.
“Budak hina, kacung busuk! Tunggu saja, kalian tentu akan kuhajar sampai mampus!”
Ouwyang Seng menudingkan telunjuknya dan mengancam.
“Engkau bangsawan berwatak rendah melebihi anjing!” Kim Cu balas memaki dan diamdiam Han Han kecewa sekali mendengar betapa gadis cilik ini pun pandai memaki seperti
Sin Lian. Dia sendiri amat marah kepada Ouwyang Seng dan diam-diam ia meraih ranting
yang terletak di depannya, yang tadi dipergunakan kongcu itu untuk mencam-buki tubuhnya.
Akan tetapi perhatian Ouwyang Seng segera terpecah dan tertarik ketika ia mendengar
suara ketawa terkekeh-kekeh yang amat aneh, persis suara ringkik kuda. Ketika ia
memandang, kiranya suhunya telah bertanding melawan se-orang kakek berpakaian hitam
yang aneh sekali. Kakek itu mukanya persis muka kuda, lonjong dan meruncing ke depan.
Rambutnya riap-riapan, namun pakaian-nya yang serba hitam itu amat indah dan mewah,
dihias pinggiran benang yang kuning emas! Caranya bertanding me-lawan gurunya juga
aneh. Mereka itu tidak bergerak-gerak dari tempat masing-masing. Si Muka Kuda itu berdiri
dengan kedua kaki terpentang, tangan kiri ber-tolak pinggang dan hanya dengan tangan
kanan yang dibuka jari-jarinya saja ia menandingi Setan Botak!
Ouwyang Seng belum pernah melihat suhunya berwajah serius seperti ketika berhadapan
dengan Si Muka Kuda itu. Suhunya berdiri tegak pula dengan kedua kaki teguh memasang
kuda-kuda, yang kiri di belakang yang kanan di depan, kemudian tangan kanannya
menampar dengan jari terbuka ke arah dada Si Muka Kuda. Andaikata didiamkan saja
pukulan itu pun tidak akan menyentuh baju Si Muka Kuda. Akan tetapi pukulan itu bukanlah
sembarang pukulan, melain-kan pukulan dahsyat yang amat ampuh dengan Ilmu Hwi-yangsin-ciang!
“Hi-yeh-heh-heh-heh-heh!” Si Muka Kuda itu meringkik lalu menggerakkan tangan kanannya
seperti menangkis. Bu-kan tangan Setan Botak yang ditangkis-nya, melainkan hawa pukulan
itu yang bagaikan angin panas menyambar-nyambar dah-syat. Dari kibasan atau tangkisan
tangan kanan Iblis Tua Muka Kuda ini bertiup hawa yang dingin luar biasa karena untuk
menghadapi pukulan sakti lawan, ia pun mengeluarkan ilmunya Swat-im Sin-ciang yang
berhawa dingin melebihi salju!
“Darrr....!”
Pertemuan dua hawa yang bertentangan itu menimbulkan suara nyaring di-barengi sinar
berapi, seperti pertemuan dua hawa Im dan Yang di angkasa yang menimbulkan kilat
halilintar! Dan tubuh kedua orang tokoh besar itu tergetar dan masing-masing mundur dua
langkah.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
88
“Hi-yeh-heh-heh....! Hwi-yang Sin-ciang tidaklah begitu buruk....!” Si Muka Kuda tertawa
mengejek.
Kang-thouw-kwi Gak Liat diam-diam terkejut sekali. Dari pertemuan tenaga sakti itu tadi saja
ia sudah dapat meng-ukur kehebatan Swan-im Sin-ciang yang ternyata dapat menandingi
ilmunya. Pa-dahal di dalam hatinya ia sudah meng-anggap bahwa Hwi-yang Sin-ciang yang
dilatihnya itu paling hebat di dunia. Ia menjadi penasaran dan mukanya merah oleh ejekan
lawan.
“Siangkoan Lee, kausambutlah ini....!”
Kini dari tempat ia berdiri, Setan Botak itu mengerahkan seluruh tenaga Hwi-yang Sin-ciang
disalurkan ke dalam se-pasang lengannya. Mengepullah uap putih dari sepasang lengan itu
yang kulitnya berubah makin merah seperti besi dibakar. Melihat ini, kembali Si Muka Kuda
terkekeh meringkik-ringkik, namun sambil meringkik itu dia pun telah mengerahkan
tenaganya sehingga kedua tangannya tampak menge-bulkan uap pula, uap putih yang
bergerak naik, keluar dari dalam lengan bajunya. Biarpun sepasang lengan mereka itu
masing-masing mengeluarkan uap putih, akan tetapi sesungguhnya amatlah jauh beda-nya.
Uap yang keluar dari sepasang lengan Setan Botak adalah panas, sebalik-nya yang
mengebul keluar dari lengan Si Muka Kuda adalah uap dingin.
Bentakan Kang-thouw-kwi itu disusul dengan mencelatnya tubuhnya ke udara dan ia telah
menerjang Si Muka Kuda dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang se-kuatnya. Namun Si Muka
Kuda yang tahu pula akan kelihaian serangan ini, sudah melesat pula ke atas untuk
menyambut pukulan lawan dengan pukulan Swat-im Sin-ciang pula. Kalau gebrakan yang
pertama tadi dilakukan di atas tanah dan masing-masing hanya ingin mengukur ke-hebatan
ilmu pukulan lawan, kini mereka bertumbukan di udara dengan pengerahan tenaga
sepenuhnya. Karena kini mereka mengerahkan seluruh tenaga dan meng-gunakan kedua
telapak tangan, maka benturan tenaga yang berlawanan sifat-nya ini terjadi dengan
dahsyatnya. Ledakan keras disusul sinar terang menyi-laukan mata dan tubuh keduanya
men-celat ke belakang seperti dilontarkan! Hanya bedanya, kalau Kang-thouw-kwi roboh
setengah terbanting sehingga ia terhuyung-huyung di atas tanah, adalah Si Muka Kuda
dapat berjungkir-balik dengan indahnya dan kemudian turun ke atas tanah dalam keadaan
tenang. Hal ini membuktikan dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) Si Muka Kuda
masih berada di atas Setan Botak tingkatnya.
“Suhu.... suhu.... tolong....!”
Mendengar seruan muridnya ini, Kang-thouw-kwi meloncat ke kiri di mana Ouwyang Seng
sedang dihajar oleh Han Han dengan ranting, dicambuki dan se-tiap kali Ouwyang Seng
hendak melawan, Han Han dibantu oleh Kim Cu. Dikeroyok dua, Ouwyang Seng menjadi
repot sekali, dan tubuhnya sudah babak-belur dihajar sabetan ranting di tangan Han Han.
Sam-bil meloncat, Kang-thouw-kwi mengulur tangannya dan tiba-tiba saja Han Han dan Kim
Cu kehilangan lawan karena Ouwyang Seng telah lenyap dari depan mereka. Ketika mereka
memandang ke depan, ternyata pemuda tanggung itu telah dikempit oleh lengan Kangthouw-kwi yang sudah mengangguk ke arah Si Muka Kuda sambil berkata.
“Siangkoan Lee, Swat-im Sin-ciang yang tersohor itu tidak buruk! Karena aku ada keperluan
di kota raja, tidak ada waktu untuk lebih lama melayanimu. Kauperdalam ilmumu itu agar
kelak ka-lau ada kesempatan dapat kita bertan-ding tiga hari tiga malam lamanya!”
Si Muka Kuda meringkik keras sekali, kemudian menjawab, “Gak Liat, engkau memang licik.
Akan tetapi karena tidak sengaja kau datang melanggar wilayahku, biarlah kali ini kuampuni
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
89
nyawamu! Lain kali boleh kita bertanding sampai mam-pus untuk menentukan siapa yang
lebih unggul di antara kita.”
Mendengar ucapan mereka itu, Han Han mendapat kesan bahwa keduanya adalah orangorang yang tinggi hati dan sombong, menganggap diri sendiri ter-pandai. Akan tetapi pada
saat itu, Kang-thouw-kwi sudah menoleh kepadanya dan membentak, “Han Han, hayo kita
kem-bali!”
Pada saat itu, Han Han merasa be-tapa tangan kirinya dipegang orang, di-pegang oleh
sebuah tangan yang ber-kulit lunak halus. Tanpa melirik ia me-ngerti bahwa yang
memegang tangannya tentulah anak perempuan yang bernama Kim Cu tadi. Ia merasa suka
kepada anak ini, merasa seolah-olah mereka telah menjadi sahabat lama. Dan ia pun
maklum bahwa ikut kembali bersama Kang-thouw-kwi dan Ouwyang Seng ber-arti
mengalami siksaan karena Ouwyang Seng tentu akan membalas dendam. Maka ia lalu
berkata dengan suara lantang.
“Saya tidak mau kembali! Saya tidak sudi lagi dipaksa menjadi pelayan Ouw-yang-kongcu
yang jahat dan kejam!”
Sepasang mata Setan Botak mengeluarkan sinar kemarahan. Sejenak ia me-mandang
tajam, lalu terdengar kata-kata-nya, “Engkau telah mencuri ilmu pukul-anku, dan sekarang
engkau tidak mau ikut, sepatutnya engkau mampus!” Se-telah berkata demikian, dengan
lengan kiri masih mengempit tubuh muridnya, Kang-thouw-kwi mendorongkan tangan
kanannya ke arah Han Han. Ia memukul anak itu dengan Hwi-yang Sin-ciang dari jarak jauh
dengan penuh keyakinan bahwa sekali pukul tubuh bocah itu tentu akan menjadi hangus!
Han Han maklum akan datangnya bahaya, maka ia menjadi ne-kat. Cepat ia pun
mengerahkan seluruh kemauannya dan memaksa hawa di pusarnya bergerak ke arah kedua
lengannya yang ia dorongkan menyambut pukulan kakek botak itu.
“Desssss....!” Han Han tertumbuk hawa yang amat panas. Kedua lengannya yang ia
dorongkan seolah-olah remuk seperti ditusuk-tusuk jarum nyerinya. Tubuhnya terlempar ke
belakang, ber-gulingan dan ia roboh dengan mata men-delik. Ia telah pingsan! Kim Cu lari
menubruknya dan melindungi tubuhnya sam-bil berteriak ke arah kakek botak yang
memandang terheran-heran, “Jangan bunuh dia....!”
Kang-thouw-kwi Gak Liat benar-benar terheran-heran dan penasaran bercampur marah
bukan main menyaksikan betapa kacungnya itu mampu menangkis dorong-annya sehingga
tidak roboh hangus dan mati, melainkan hanya pingsan saja! Dan ia juga dapat merasakan
betapa dorongan anak itu mengandung hawa yang jauh lebih panas daripada tingkat yang
dimiliki Ouwyang Seng. Tingkat seperti itu tidak mungkin dapat dimiliki anak ini kalau hanya
meniru-niru Ouwyang Seng dalam berlatih, maka timbullah kecurigaannya bahwa kacung itu
tentu telah menggera-tak ke dalam daerah terlarang di gedung di Tiong-kwan itu yang
menjadi tempat ia berlatih dengan rahasia!
“Bocah setan, pencuri busuk! Mam-puslah!” Ia mengirim pukulan lagi, tidak peduli bahwa
pukulannya kali ini mem-bahayakan pula Kim Cu yang berlutut di dekat tubuh Han Han.
“Desssss....!” Hawa yang amat dingin menangkis pukulannya dari samping. Ki-ranya Ma-bin
Lo-mo Siangkoan Lee, Si Muka Kuda itu telah menangkisnya dan kini berdiri bertolak
pinggang sambil berkata.
“Gak Liat, apakah engkau sudah tidak memandang aku sebagai orang setingkat, bahkan
lebih tinggi daripadamu? Di dae-rahku ini tidak boleh engkau membunuh orang
sembarangan saja tanpa seijinku!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
90
“Siangkoan Lee, aturan apa ini? Bocah ini adalah kacungku sendiri, mau kubunuh atau
tidak, apa sangkut-pautnya denganmu?” Setan Botak itu membentak marah.
Ma-bin Lo-mo tertawa meringkik. “Engkau boleh membunuh bocah itu, akan tetapi aku pun
akan membunuh muridmu itu.”
Gak Liat makin marah. “Mengapa?”
“Hemmm, engkau ini tua bangka yang pura-pura bodoh. Kalau tidak ada bocah itu yang
menolong muridku dari pukulan muridmu, apakah kaukira aku tinggal diam saja? Kalau
bocah ini tadi tidak menangkis pukulan muridmu, tentu aku yang turun tangan dan apa
kaukira mu-ridmu masih dapat hidup sekarang? Aku sudah memandang mukamu yang
buruk, apa engkau berani memandang rendah kepadaku? Aku telah mengampuni murid-mu,
apakah engkau masih berkeras hen-dak membunuh anak ini?”
“Tapi, dia bukan muridmu, dia kacungku!”
“Kau keliru. Setelah dia menolong muridku, berarti dia pun menjadi orang In-kok-san!”
“Ahhh! Engkau tidak tahu siapa dia! Hemmm, dia telah mencuri ilmuku....”
“Itu bukan alasan. Salahmu sendiri. Pendeknya, aku melarang engkau mem-bunuhnya dan
kalau engkau hendak melanjutkan pertandingan, silakan.”
Setan Botak itu meragu. Ia tidak sayang kepada Han Han dan ia tidak peduli anak itu
menjadi murid In-kok-san. Apalagi mengingat kakek anak itu! Hanya ia membenci anak itu
yang sudah mencuri Hwi-yang Sin-ciang, sungguhpun ia tidak mengerti mengapa hal itu bisa
terjadi. Ia mendengus marah. “Baiklah, lain kali masih banyak waktu untuk mem-bunuhnya
dan lain kali aku akan mem-balas kebaikanmu ini!” Setelah berkata demikian, sekali
berkelebat lenyaplah Setan Botak itu bersama muridnya.
“Panggil saudara-saudaramu, bawa dia ke atas!” Ma-bin Lo-mo berkata kepada Kim Cu dan
ia pun berkelebat lenyap dari tempat itu. Kim Cu lalu memasuk-kan dua buah jari tangannya
ke dalam mulut, menekuk lidah dan bersuit keras dam nyaring sekali. Suara suitan itu
bergema ke empat penjuru dam dari sana-sini terdengar suitan-suitan balasan. Tak lama
kemudian muncullah dua orang anak laki-laki dan dua anak perempuan yang usianya antara
sepuluh sampai tiga belas tahun, berlari-larian dengan gerakan ri-ngan. Mereka itu adalah
anak-anak yang tampan dan cantik, dan segera mereka merubung Kim Cu dengan hujan
pertanya-an sambil memandang tubuh Han Han yang masih menggeletak pingsan di atas
tanah.
“Nanti saja kuceritakan. Namanya Sie Han, dia murid baru suhu. Mari bantu aku
menggotongnya ke puncak.”
Beramai-ramai lima orang anak ini menggotong tubuh Han Han. Sambil ber-cakap-cakap
mereka menggotong Han Han mendaki puncak dan asyik sekali Kim Cu menceritakan
peristiwa yang telah terjadi, tentang Kang-thouw-kwi Gak Liat yang sudah lama mereka
de-ngar namanya itu.
Siapakah sebenarnya kakek yang mukanya berbentuk muka kuda ini? Seperti telah
diceritakan Setan Botak kepada mu-ridnya, dia bernama Siangkoan Lee dan julukannya
adalah Ma-hin Lo-mo. Kakek ini di waktu mudanya adalah seorang pembesar tinggi
Kerajaan Beng-tiauw, akan tetapi karena menyalahgunakan kedudukannya dan bersikap
sewenang-wenang mengandalkan kedudukan, harta dan terutama sekali ilmu silatnya yang
tinggi, ia dimusuhi orang-orang gagah di dunia kang-ouw sehingga akhirnya ia dipecat.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
91
Siangkoan Lee lalu melarikan diri dan memperdalam ilmunya sehingga kemudian ia muncul
sebagai seorang tokoh atau datuk golongan sesat, melakukan segala macam perbuatan
kejam dan tidak peduli akan prikemanusiaan. Nama-nya makin meningkat dan ditakuti
semua orang setelah belasan tahun yang lalu ia berhasil mendapatkan sebuah di antara
ilmu-ilmu yang mujijat dan tinggi yang seolah-olah disebarkan oleh penghuni Pulau Es yang
hanya dikenal dengan sebutan Koai-lojin (Kakek Aneh). Ber-sama-sama dengan puluhan
orang tokoh kang-ouw dia mengejar dan memperebut-kann ilmu-ilmu ini dan akhirnya ia
ke-bagian ilmu yang diciptakannya menjadi Swat-im Sin-ciang, di samping Setan Botak yang
mendapatkan ilmu inti sari tenaga Yang sehingga ia dapat mencipta-kan Ilmu Hwi-yang Sinciang.
Biarpun puluhan tahun Ma-bin Lo-mo hidup sebagai seorang manusia iblis, namun di dasar
hatinya dia adalah se-orang yang berjiwa patriot. Dia tidak secara langsung menentang
pemerintah penjajah Mancu, akan tetapi di lubuk hatinya ia membenci bangsa Mancu ini.
Maka ia lalu memilih In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san, di mana ia me-ngumpulkan
anak-anak berusia belasan tahun, anak-anak yang dia pilih bertulang dan berbakat baik,
juga yang memiliki wajah yang elok-elok. Ia sudah mengum-pulkan belasan orang anak yang
ia gem-bleng sebagai murid-muridnya dengan cita-cita untuk kelak membentuk barisan
murid-murid yang pandai untuk menentang dan menggulingkan pemerintah pen-jajah
memimpin rakyat yang berniat memberontak terhadap Kerajaan Mancu. Ma-bin Lo-mo boleh
jadi kejam dan tak berprikemanusiaan terhadap lawan-lawan-nya, akan tetapi ia memimpin
murid-muridnya penuh ketekunan dan kasih sayang, bersikap seperti seorang kakek
terhadap cucu-cucunya. Namun, di sam-ping kasih sayang ini, ia pun menekankan disiplin
yang amat keras sehingga kalau perlu ia tidak segan-segan untuk mem-beri hukuman yang
mengerikan kepada murid yang bersalah.
In-kok-san (Puncak Lembah Berawan) merupakan puncak indah yang mempu-nyai banyak
lapangan datar. Di situ Ma-bin Lo-mo membangun beberapa buah pondok untuk dia dan
murid-muridnya. Han Han digotong naik ke puncak In-kok-san dan dibawa masuk ke sebuah
pondok. Ma-bin Lo-mo sendiri mengobati anak ini dari pengaruh dorongan hawa Hwi-yang
Sin-ciang yang amat hebat. Dalam beberapa hari saja Han Han sudah sembuh kembali.
Ketika ia siuman dari pingsannya, ia melihat Ma-bin Lo-mo, Kim Cu dan dua orang anak lakilaki berada di pondok menjaganya. Ia cepat bangkit dan memandang ke sekeliling. Sinar
matanya penuh pertanyaan dituju-kan kepada Kim Cu. Anak perempuan ini tertawa lalu
berkata.
“Han Han, engkau berada di In-kok-san dan engkau telah menjadi seorang di antara kami,
menjadi murid suhu.”
Mendengar ini, Han Han cepat me-loncat turun dan berdiri memandang kakek muka kuda.
“Aku.... aku tidak mau menjadi murid di sini! Aku tidak mau belajar silat!”
“Eh, kenapa, Han Han?” Kim Cu ber-tanya heran. “Engkau sudah memiliki pukulan sakti!
Kalau engkau pandai silat, tentu tidak akan mudah dipukul orang, seperti yang dilakukan
Kongcu keparat itu kepadamu.”
Dengan keras kepala Han Han meng-geleng. “Belajar silat menjemukan, mem-buang waktu
sia-sia belaka. Kalau sudah pandai hanya dipakai untuk memukul orang! Aku benci ilmu
silat! Kalau aku tidak bisa silat, aku tidak akan berdekat-an dengan orang pandai silat dan
tidak akan mengalami pukulan.”
“Wah, seorang jantan harus berani menghadapi pukulan, malah membalas lebih hebat lagi.
Harus tabah dan tegas agar tidak sampai kalah oleh orang lain. Apakah senangnya menjadi
orang lemah dipukul orang kanan kiri dan menjadi pengecut?” Ucapan ini keluar dari
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
92
se-orang anak laki-laki usianya paling ba-nyak sepuluh tahun, bahkan lebih muda dari Kim
Cu yang kurang lebih berusia sebelas tahun.
Han Han yang merasa dimaki penge-cut menjadi marah sekali. Ia menghadapi anak itu dan
membentak, “Kau bilang aku pengecut? Siapa yang pengecut? Bukan aku, melainkan
engkaulah! Engkau....!”
Di luar kesadarannya, Han Han kembali dalam kemarahannya telah memandang anak itu
dengan sinar matanya yang aneh, membentaknya dengan suara yang mengandung getaran
hebat. Anak laki-laki itu menjadi pucat, tubuhnya meng-gigil, kemudian jatuh berlutut dan
mulutnya berbisik-bisik, “Ya.... aku...., akulah yang pengecut....”
“Heiii, sute! Mengapa kau ini....?” Kim Cu meloncat dan menarik bangun anak itu. Han Han
menjadi sadar dan teringat akan peristiwa aneh yang sama ketika ia marah-marah kepada
Sin Lian dan Lauw-pangcu. Ia terkejut dan cepat menahan kemarahannya, menggunakan
kekuatan kemauannya untuk tidak me-lanjutkan pengaruh aneh yang menguasai dirinya dan
yang kalau ia pergunakan mudah saja mempengaruhi orang lain itu. Ia menundukkan
mukanya, tidak peduli terhadap anak itu yang telah bangkit berdiri dan terheran-heran
berkata, “Apa yang terjadi....? Ahhh.... apakah aku mimpi....?”
“Ehhh.... tak mungkin....!”
Seruan ini keluar dari mulut Ma-bin Lo-mo dan ia sudah meloncat maju dan memegang
kedua pundak Han Hang me-maksa anak itu memandang wajahnya. Han Han sudah pernah
diperiksa seperti ini oleh Lauw-pangcu dan juga oleh Kang-thouw-kwi, maka sekali ini ia
berlaku cerdik. Cepat ia menindas segala perasa-annya sehingga batinnya berada dalam
keadaan “kosong”, maka ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Ma-bin
Lo-mo, kakek itu tidak mendapat-kan sesuatu yang aneh kecuali sinar ma-ta bocah itu
benar-benar amat terang dan tajam, seolah-olah dapat menjenguk ke dalam hatinya melalui
sinar matanya.
“Hemmm, aneh sekali. Bocah aneh, engkau akan hidup senang menjadi murid di sini, akan
tetapi di samping itu pun engkau harus belajar taat. Aku menjamin kepada semua muridku
kelak akan men-jadi jago yang sukar dicari bandingnya, akan tetapi kalau tidak taat dan
me-langgar peraturan, akan kuhukum berat. Kalau berhati keras dan berkepala batu seperti
engkau, sekali dijatuhi hukuman, lehermu akan putus! Hayo lekas cerita-kan kepadaku
tentang dirimu dan siapa saja yang pernah memberi pelajaran ilmu silat kepadamu!”
Di lubuk hati Han Han menentang, akan tetapi ketika ia mengerling kepada Kim Cu, ia
melihat gadis cilik itu ber-kedip-kedip dan mengangguk kepadanya, pandang mata anak
perempuan itu penuh kekhawatiran dan penuh pembelaan. Sa-darlah Han Han. Ia tidak
boleh main-main. Kakek ini tidak kurang kejamnya daripada Setan Botak. Kalau ia
menen-tang dan dibunuh, apa untungnya? Pula belajar di sini agaknya lebih
menyenang-kan, terutama karena di situ ada Kim Cu yang manis budi.
Ia duduk kembali di pembaringan menghadapi Ma-bin Lo-mo. Teringat ia akan tata susila,
dan karena ia tidak melihat jalan keluar lagi, terpaksa ia lalu menekuk lututnya, berlutut di
depan kakek muka kuda itu sambil berkata.
“Teecu Sie Han menerima kebaikan suhu untuk memberi bimbingan.”
“Heh-heh-hiyeeehhhhh....! Anak baik, lekas ceritakan riwayatmu. Tunggu dulu, mari kita
keluar dan kau Kim Cu, kum-pulkan semua saudaramu agar mengenal muridku yang baru,
Sie Han!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
93
Han Han mengikuti mereka keluar dari pondok dan ternyata di luar pondok itu adalah tanah
datar berumput yang luas sekali. Dari jauh tampak awan putih berkelompok seperti
sekelompok domba berbulu putih. Hawanya dingin sekali dan di sekeliling tempat itu tampak
halimun tipis seperti sutera putih yang jarang. Seperti juga tadi, Kim Cu memasukkan dua
buah jari tangan ke mulut lalu ber-suit nyaring beberapa kali. Terdengar suitan-suitan
balasan dari empat penjuru dan tak lama kemudian datanglah ber-lari-larian lima belas orang
anak-anak yang sebaya dengan Kim Cu, sekitar sepuluh sampai tiga belas tahun usianya.
Jumlah semua murid, termasuk Han Han, ada lima orang anak perempuan dan empat belas
orang anak laki-laki, ke-semuanya sembilan belas orang. Dengan mata terbelalak Han Han
melihat bahwa tiga orang laki-laki di antara mereka cacad, yang seorang buntung kaki
kiri-nya, seorang buntung lengan kirinya dan seorang lagi buntung kedua daun telinga-nya!
Namun gerakan mereka sama cepat-nya dengan yang lain. Bahkan Si Buntung kaki itu pun
dapat berlari cepat dibantu sebatang tongkat.
Ma-bin Lo-mo duduk di atas sebuah batu hitam yang halus permukaannya, kemudian
menarik tangan Han Han dan menyuruh anak itu duduk di dekatnya sambil mengelus-elus
kepala anak itu. Diam-diam Han Han merasa agak ter-haru. Benarkah guru barunya ini
adalah seorang yang kejam? Sentuhan tangan pada kepalanya mendatangkan perasaan
haru karena semenjak ia tidak berayah ibu lagi, belum pernah ada orang men-curahkan
kasih sayang seperti kakek ini. Namun hanya sebentar saja ia sudah dapat menguasai
keharuan hatinya.
“Nah, berceritalah, muridku.”
“Jangan sungkan-sungkan dan banyak aturan, Han Han sute (Adik Seperguruan)!” kata Kim
Cu gembira. “Di sini kita berada di antara keluarga sendiri!”
“Benar! Benar sekali!” teriak anak-anak itu dan mereka pun duduk mem-bentuk lingkaran
kipas menghadapi Han Han dan guru mereka.
Timbul kegembiraan di hati Han Han. Agaknya, guru dan murid-muridnya ini merupakan
orang-orang yang amat baik. Maka lenyaplah keraguan dan kesungkan-an hatinya dan ia
pun mulai bercerita.
“Namaku Sie Han dan kedua orang tuaku, seluruh keluarga terbunuh oleh orang-orang
Mancu yang kejam....”
“Aaahhh, aku juga, begitu....!”
“Orang tuaku juga!”
“Keluargaku juga terbunuh orang Mancu....!”
Han Han tercengang. Semua anak itu, delapan belas orang banyaknya, termasuk Kim Cu,
berteriak-teriak mengatakan bahwa orang tua dan keluarga mereka pun terbasmi oleh
orang-orang Mancu! Mengapa begini kebetulan? Ataukah ka-kek muka kuda itu memang
sengaja me-ngumpulkan murid-murid dari keluarga yang terbasmi orang Mancu? Betapapun
juga, ia menjadi terharu dan baru kini terbuka matanya bahwa bukan dia se-orang saja yang
bernasib buruk, kehilang-an orang tua dan keluarga yang menjadi korban keganasan orang
Mancu. Baru sekarang yang berkumpul di In-kok-san saja sudah ada begini banyak, belum
yang tidak ia ketahui.
“Seorang diri aku mengembara me-rantau tak tentu arah tujuan. Kemudian aku bertemu
dengan Lauw-pangcu dan menjadi muridnya hampir setengah ta-hun.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
94
“Kaumaksudkan Lauw-pangcu ketua Pek-lian Kai-pang?” Ma-bin Lo-mo tiba-tiba bertanya.
“Benar, suhu.”
“Hemmm, apa saja yang ia ajarkan kepadamu?”
“Dalam waktu lima bulan lebih teecu hanya belajar memasang kuda-kuda dan langkahlangkah kaki saja, di samping belajar bersamadhi dan mengatur pernapasan.”
“Bagus, coba kau berlatih langkah-langkah kaki menurut ajaran Lauw-pangcu.”
Han Han mulai tertarik kepada kakek ini. Berbeda dengan Lauw-pangcu, agak-nya guru
baru ini penuh perhatian ter-hadap dirinya, maka sekaligus timbul kegairahan hatinya untuk
belajar. Ia lalu melangkah ke depan, kemudian memain-kan gerak-gerak langkah yang
pernah ia pelajari dari Lauw-pangcu, atau lebih tepat dari Sin Lian karena anak perempuan
itulah yang lebih banyak memberi pe-tunjuk-petunjuk kepadanya. Ia sudah siap untuk
bersikap sabar apabila murid-murid yang lain akan mentertawakannya karena ia tahu bahwa
mereka itu rata-rata, seperti Kim Cu, tentu telah memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi.
Akan tetapi ternyata mereka itu tidak ada yang tertawa, hanya memandang penuh perhatian.
Setelah selesai mainkan langkah-langkah itu, Han Han kembali duduk di dekat gurunya yang
mengangguk-ang-guk.
“Baik sekali. Dasar-dasar langkah yang diajarkan Lauw-pangcu tepat dan memudahkan
engkau mempelajari ilmu selanjutnya. Sekarang lanjutkan ceritamu.”
“Kemudian muncul Kang-thouw-kwi yang membasmi Pek-lian Kai-pang dan dia memaksa
aku ikut pergi bersamanya dan menjadi kacung di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok di
Tiong-kwan. Aku dipaksanya melayani semua keperluan dia dan Ouwyang Seng yang
berlatih ilmu silat di sana. Sampai setahun lamanya aku menjadi kacung mereka, lalu
mereka mengajak aku melakukan perjalanan me-nuju ke kota raja dan akhirnya bertemu
dengan suhu di sini....”
“Nanti dulu, Han Han. Selama setahun engkau bekerja kepada Gak Liat. Apakah dia
mengajar silat kepadamu?”
“Sama sekali tidak, suhu.”
“Hemmm, kalau tidak sama sekali, bagaimana engkau bisa melakukan pukul-an Hwi-yang
Sin-ciang?”
“Pukulan Hwi-yang Sin-ciang?” Han Han memandang gurunya yang baru ini penuh
keheranan. “Teecu sama sekali tidak mengerti dan tidak bisa....”
“Perlihatkan lenganmu!”
Han Han mengangsurkan kedua le-ngannya. Ma-bin Lo-mo memegang ta-ngan muridnya
ini dan menekan. Rasa dingin menjalar ke dalam tangan Han Han, membuat kedua
lengannya meng-gigil. Makin lama makin dingin dan kare-na ia merasa tidak tahan, terpaksa
ia mengerahkan hawa dari pusarnya untuk melawan hawa dingin ini. Hawa panas yang
timbul karena latihan-latihan secara diam-diam di tempat latihan Setan Botak merayap
keluar melalui kedua lengannya dan kedua lengan itu menjadi hangat kembali. Ma-bin Lo-mo
melepaskan kedua lengan anak itu dan berkata, alisnya berkerut.
“Han Han, awas jangan engkau membohong. Apakah engkau minta dihukum?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
95
Ketika kebetulan Han Han mengerling ke arah Kim Cu, ia melihat wajah anak perempuan itu
menjadi pucat dan anak itu memberi tanda dengan kedipan mata.
“Teecu sama sekali tidak membohong. Memang Setan Botak itu tidak memberi pelajaran
apa-apa kepada teecu.”
“Dari mana engkau bisa mendapatkan hawa panas yang keluar dari tan-tian di pusarmu?”
Wajah yang tadinya ramah dari kakek itu kini menjadi bengis, se-perti muka seekor kuda
marah.
Wajah Han Han menjadi merah karena malu. “Teecu mencurinya dari mendengarkan
ajarannya kepada Ouwyang Seng dan secara diam-diam teecu ber-latih seorang diri tanpa
mereka ketahui.”
Anak-anak itu kini tertawa, akan tetapi sama sekali bukan mentertawakan-nya karena
terdengar mereka memuji. Bahkan Kim Cu bersorak, “Bagus sekali! Engkau cerdik sekali,
Han Han!”
Han Han memandang anak-anak itu, hampir tidak percaya dia. Juga gurunya kelihatan
girang dan mengangguk-angguk. Bagaimana mereka ini? Mendengar dia mencuri malah
dipuji, dan dikatakan cerdik!
Agaknya Ma-bin Lo-mo mengerti akan kebingungan muridnya, maka ia berkata, “Kemajuan
hanya dapat diperoleh dengan kecerdikan. Untuk memperoleh kemajuan, segala jalan dapat
ditempuh, bahkan mencuripun baik saja. Demi tercapainya cita-cita, segala cara boleh
digunakan dan tidak ada yang buruk! Anak-anak semua, contohlah perbuatan Han Han yang
cerdik!”
Di dalam hatinya Han Han sama sekali tidak menyetujui pendapat ini, akan tetapi mulutnya
tidak membantah. Bah-kan ia mulai meragukan pendapatnya sendiri berdasarkan kitab-kitab
filsafat yang menyatakan bahwa kalau jalan yang ditempuh buruk, maka hasilnya pun tidak
baik. Kalau dia yang benar, mengapa semua murid Ma-bin Lo-mo ini menerima dan
menyetujui nasehat guru ini? Beta-papun juga, kebenaran pendapat Ma-bin Lo-mo sudah
terbukti. Kalau dia tidak mencuri, mana mungkin dia bisa memiliki kekuatan yang timbul dari
latihan me-rendam kedua lengan datam air panas, bahkan membakarnya dalam nyala api
tulang-tulang manusia? Han Han masih terlampau kecil untuk dapat yakin akan kebenaran,
dan tentu saja anak seusia dia itu mudah terpengaruh keadaan sekeliling-nya. Tanpa ia
sadari, mulailah pengaruh-pengaruh buruk kaum sesat memasuki hatinya.
“Coba ceritakan bagaimana caramu melatih kedua lenganmu di sana,” kata pula Ma-bin Lomo dengan suara me-merintah. Anak-anak yang lain tidak ada yang bergerak atau
mengeluarkan suara, semua mendengarkan dengan penuh per-hatian.
“Pertama-tama teecu merendam ke-dua lengan ke dalam air mendidih, yaitu air yang
dicampuri obat-obatan dan ra-cun oleh Kang-thouw-kwi, entah racun apa. Mula-mula
memang terasa panas, akan tetapi dengan mempertebal tekad dan memperkuat kemauan
sambil me-ngerahkan hawa dari pusar ke arah kedua lengan, akhirnya teecu kuat bertahan
sampai semalam suntuk. Kemudian kare-na teecu disuruh menggodok batu bintang....” Han
Han berhenti dan teringat dengan hati menyesal mengapa ia ceri-takan ini semua! Ilmu yang
dipelajari itu adalah rahasia. Mengapa ia begitu bodoh untuk menceritakan kepada orang
lain? Kalau barang rahasia dibuka, tentu saja akan hilang keampuhannya.
“Batu bintang? Benar-benarkah Si Botak mempergunakannya? Di mana dia mengumpulkan
batu bintang itu?” Ma-bin Lo-mo bertanya penuh perhatian.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
96
Han Han tidak dapat mundur lagi. Biarlah kuceritakan sampai pada batu bintang itu saja,
pikirnya. “Batu-batu bintang itu didapatkan di sepanjang Su-ngai Huang-ho di sebelah timur
kota Tiong-kwan.”
“Lalu bagaimana? Teruskan....!” Desakan ini keluar dari mulut para murid Ma-bin Lo-mo
yang agaknya ingin sekali tahu bagaimana cara melatih diri untuk mendapatkan Ilmu
Pukulan Sakti Inti Api itu.
“Diam-diam teecu lalu merendam kedua tangan teecu ke dalam air larutan batu bintang
yang mencair setelah di-godok berhari-hari lamanya. Panasnya hampir tak tertahan, akan
tetapi berkat ketekadan teecu, akhirnya teecu kuat juga. Nah, hanya itulah yang secara
diam-diam teecu lakukan, akan tetapi sesungguhnya, teecu tidak pernah mem-pelajari ilmu
pukulan apa-apa dari Kang-thouw-kwi.”
“Inilah yang dinamakan bakat dan jodoh! Han Han, engkau berbakat secara ajaib sekali
sehingga tanpa bimbingan engkau dapat berhasil melatih Hwi-yang Sin-ciang. Dan engkau
berjodoh dengan kami, berjodoh untuk menjadi muridku dan ini merupakan nasib baikmu.
Aku akan menyelidiki Hwi-yang Sin-ciang, dan kelak engkau akan membikin Gak Liat kecelik
karena kau akan melawannya dengan ilmunya sendiri. Ha-ha-ha, jangan khawatir, aku akan
menyempurnakan latihanmu di samping kau mempelajari ilmu ciptaanku. Akan tetapi, untuk
itu membutuhkan waktu yang lama dan ke-tekunan yang luar biasa. Sekarang, eng-kau
harus melakukan kewajiban bersem-bahyang dan bersumpah, muridku.”
“Bersumpah....?” Han Han tertegun dan terheran ketika melihat murid-murid itu tanpa
diperintah telah berlari-lari dan mempersiapkan meja sembahyang di ruangan depan
pondok.
“Semua murid harus menjalankan sumpah,” ia mendengar Kim Cu berkata.
Gadis cilik ini membawa sesetel pakaian dan menyerahkannya kepada Han Han. “Untuk
sementara kaupakailah dulu pa-kaian seorang suheng (Kakak Seperguru-an) ini sebelum
dapat kubuatkan yang baru untukmu. Yang ada hanya warna putih ini. Warna apa yang
paling kausukai?”
“Putih....” jawab Han Han sekedarnya. Ia tidak ingin memakai pakaian orang lain, akan
tetapi karena pakaian-nya penuh tambalan dan kotor, dan dia tidak tega untuk menolak
kebaikan Kim Cu, ia menerimanya juga. Pula, bukankah ia kini sudah menjadi murid di situ,
ber-arti menjadi seorang di antara anak-anak itu? Masa ia memakai pakaian seperti
pengemis?
“Lekas kaupakai pakaian itu dan mem-bersihkan diri. Suhu telah menanti untuk upacara
pengambilan sumpah. Hayo kuantar, di sana ada air....” Tanpa menanti jawaban, Kim Cu
memegang tangan Han han, ditariknya dan diajak berlarian ke belakang puncak. Ternyata di
situ ter-dapat sumber air yang amat sejuk dan jernih sehingga segala batu-batuan di
dasarnya tampak jelas dan air itu sendiri agak kehijauan saking jernihnya.
“Lekas kau mandi dan tukar pakaian, sute.”
Mendengar sebutan sute ini, sejenak Han Han tertegun kemudian ia teringat akan Sin Lian
yang juga menyebutnya sute (adik seperguruan). Ia tersenyum dan diam-diam merasa geli
hatinya. Ada dua orang gadis cilik yang keduanya lebih muda dari padanya, akan tetapi
keduanya adalah sucinya (kakak perem-puan seperguruan)!
“Eh, kenapa kau tersenyum-senyum dan tidak lekas mandi?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
97
Han Han tertawa. “Engkau.... engkau baik sekali, suci.”
“Tentu saja! Bagaimana seorang suci tidak baik kepada sutenya? Kaupun harus baik dan
taat kepada sucimu. Nah, hayo lekas mandi dan tukar pakaian bersih.”
Han Han mendekati air dan hendak membuka bajunya. Akan tetapi ia melihat betapa Kim
Cu masih berdiri di situ menghadapinya dan memandangnya, maka ia melepaskan lagi baju
yang sudah ia pegang untuk ditanggalkan. “Eh, suci. Harap jangan memandang ke sini....”
“Mengapa sih?”
“Malu ah....”
Kim Cu mengangkat alisnya, mem-belalakkan kedua mata kemudian tertawa terkekehkekeh, menutup mulut dengan tangan sambil membalikkan tubuh mem-belakangi Han Han.
“Hi-hi-hik, engkau benar-benar orang aneh! Apakah tubuhmu mempunyai cacad maka kau
malu untuk ditonton? Lekaslah mandi dan tukar pa-kaian, aku menanti di sana. Jangan
lama-lama karena suhu sudah menunggu!”
Gadis cilik itu berlarian pergi dan Han Han cepat menanggalkan pakaian lalu membersihkan
tubuh dengan pikiran melayang-layang. Benar aneh. Apakah bagi anak-anak di situ,
bertelanjang di depan orang lain bukan merupakan hal yang membuat malu? Ia tidak mau
mempedulikan hal itu lebih lanjut, melainkan cepat ia mandi. Air itu dingin sekali,
membuatnya menggigil, akan tetapi se-perti biasa, berkat kekuatan kemauannya yang luar
biasa, secara otomatis timbul hawa dari pusarnya melawan rasa dingin sehingga tubuhnya
tidak menggigil lagi, bahkan terasa sejuk dan segar. Setelah cepat-cepat berpakaian dengan
warna putih yang bersih dan masih baru, me-makai pula sepatu yang disediakan oleh Kim
Cu, Han Han merasa seolah-olah menjadi orang baru. Di dalam saku baju itu ia menemukan
sebuah pita rambut, maka setelah memeras rambutnya sampai kering, ia lalu mengikat
rambutnya di atas kepala dan ketika pemuda tanggung ini kembali ke pondok, semua murid
Ma-bin Lo-mo memandangnya dengan mata berseri dan kagum. Apalagi Kim Cu. Nona cilik
ini menyambutnya dengan kata-kata memuji.
“Sute, engkau benar-benar tampan dan gagah!”
Dipuji secara begitu terbuka di depan banyak anak-anak, wajah Han Han men-jadi merah.
Ma-bin Lo-mo tertawa dan memanggilnya dari belakang meja sem-bahyang.
“Han Han, muridku yang baik. Lekas engkau menyalakan sembilan batang hio dan
bersembahyang, kemudian berlutut di depan meja sembahyang untuk bersumpah menirukan
semua kata-kataku.”
“Baik, suhu.”
Han Han menghampiri meja sembahyang, ditonton semua murid di situ. Sam-bil
menyalakan sembilan batang hio, ia mengangkat muka memandang. Di atas meja
sembahyang itu terdapat arca se-tengah badan, arca seorang kakek tua yang wajahnya
keren, hidungnya agak bengkok seperti hidung burung. Wajah yang tampan dan gagah akan
tetapi membayangkan kekejaman.
“Arca siapakah itu....?” Ia berbisik, akan tetapi gurunya tidak menjawab, dan sebaliknya ia
mendengar suara Kim Cu di sebelah kanan.
“Jangan banyak bertanya. Itu arca Suma-couwsu (Kakek Guru she Suma)....”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
98
Hemmm, arca itu tentulah arca guru Ma-bin Lo-mo atau kakek guru yang di-puja-puja di
tempat itu. Ia tidak peduli lalu mulai bersembayang, mengacung-acungkan dupa bernyala itu
dengan sikap hormat, kemudian menancapkan hio (dupa) itu di atas tempat dupa dan
menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan terkepal di depan dada. Pada saat itu,
ter-dengar suara Ma-bin Lo-mo yang dituju-kan kepadanya.
“Murid baru Sie Han, sekarang ber-sumpahlah dan meniru semua kata-kata-ku.”
“Baiklah, suhu. Teecu siap,” jawab Han Han, bulu tengkuknya meremang juga karena
suasana hening itu menyeramkan, dengan asap hio mengepul dan berbau harum, ditambah
suara Ma-bin Lo-mo yang terdengar parau mengandung getar-an penuh kesungguhan.
Maka bersumpah-lah Han Han, tidak sepenuh hatinya ka-rena ia hanya menirukan ucapan
Ma-bin Lo-mo, dia bukan bersumpah secara suka rela, hanya untuk syarat paksaan.
“Teecu Sie Han bersumpah di hadapan Couwsu yang mulia bahwa mulai saat ini teecu
menjadi murid Suhu Siangkoan Lee dan berjanji akan belajar dengan tekun dan rajin,
mematuhi segala perin-tah dan larangan suhu, siap untuk menerima hukuman apa pun juga
jika teecu melakukan pelanggaran. Mulai saat ini, teecu menyerahkan jiwa raga ke tangan
Suhu Siangkoan Lee yang akan menurun-kan ilmu-ilmu warisan dari Couwsu yang mulia.
Ilmu-ilmu itu kelak akan teecu pergunakan untuk mengangkat tinggi nama besar Couwsu
dan nama besar suhu, untuk mengusir penjajah dari tanah air dan untuk melaksanakan
segala perin-tah suhu.”
Di dalam hatinya, Han Han amat tidak setuju dengan isi sumpahnya itu. Tentang ketaatan
dan hukuman ia dapat menerimanya, akan tetapi mengapa se-telah tamat belajar, citacitanya hanya mengusir penjajah dan mengangkat tinggi nama guru? Mengapa tidak
disebut-sebut tentang kewajiban para pendekar yang membela dan mempertahankan
keadilan dan kebenaran, membela orang-orang ter-tindas dan menentang fihak yang
sewenang-wenang? Akan tetapi agaknya Ma-bin Lo-mo memiliki ilmu untuk men-jenguk isi
hati orang, demikian pikir Han Han, karena kakek itu lalu mengajak mereka duduk di
lapangan di luar pondok kemudian berkata.
“Han Han, dan semua muridku. Ja-ngan kalian mudah disesatkan oleh pendapat orangorang yang menyebut diri pendekar-pendekar kang-ouw bahwa se-orang yang
berkepandaian berkewajiban untuk membasmi orang jahat dan mem-bela orang benar.
Karena, jahat dan baik atau benar itu merupakan pendapat pri-hadi yang sering kali
menyesatkan! Yang penting bagi kita adalah kita sendiri! Tunjukkanlah setiap tindakan kalian
un-tuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Manusia adalah mahluk yang paling tidak
mengenal budi, sehingga akan percuma belaka kalau kalian meng-gunakan kepandaian
demi orang lain. Keliru sama sekali! Yang penting adalah diri kita sendiri dan demi
tercapainya cita-cita kita, yaitu mengusir penjajah dan membentuk pemerintah bangsa
sen-diri dengan kita sebagai tokoh-tokoh pimpinan!”
Kembali timbul keraguan di dalam hati Han Han akan segala yang pernah dibacanya
tentang syarat-syarat menjadi seorang budiman dan gagah, karena ia melihat semua murid
mengangguk-angguk dengan wajah berseri, dan ia pun merasa bahwa yang terpenting di
atas segalanya memang diri sendiri lebih dahulu. Bukti-nya, dia sudah banyak mengalami
peng-hinaan dan kesengsaraan, tidak ada orang yang membelanya. Kalau dia tidak
mem-bela diri sendiri, tentu selamanya ia akan hidup terhina dan sengsara seperti itu. Pula,
kalau dia tidak berkepandaian tinggi bagaimana ia akan dapat mengusir penjajah dan
terutama sekali, menghan-curkan tujuh perwira terutama perwira muka brewok dan muka
kuning bangsa Mancu yang telah membasmi semua keluarganya?
“Han Han, sebagai murid baru kini engkau mendapat kesempatan untuk bertanya.
Tanyakantah apa yang perlu kauketahui, dan jangan sembunyi-sem-bunyikan perasaan.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
99
Segala pertanyaanmu akan kujawab,” kata Ma-bin Lo-mo. Sam-pai lama Han Han
memandang gurunya yang baru ini. Sukar baginya untuk menilai kakek yang bermuka kuda
ini, kare-na muka itu tidak membayangkan sesuatu kecuali keanehan. Ia tidak tahu apakah
gurunya ini jahat dan keji seperti Setan Botak, ataukah baik dan gagah seperti Lauw-pangcu.
Betapapun juga, ia tahu bahwa gurunya ini amat lihai, dan pri-badi suhunya diliputi banyak
keanehan. Ingin ia mengetahui riwayat gurunya. Karena itu tanpa ragu-ragu lagi ia lalu
bertanya.
“Hanya ada sebuah pertanyaan teecu. Yaitu, siapakah suhu ini, bagaimana ri-wayat suhu
dan siapa pula Couwsu yang kita puja-puja itu?”
Terdengar seruan-seruan heran di antara murid-murid yang berada di situ. Semua murid
ketika diterima selalu di-beri kesempatan bertanya, akan tetapi mereka semua menanyakan
tentang ilmu silat. Baru sekali ini ada murid baru yang datang-datang bertanya tentang
riwayat gurunya dan riwayat Couwsu yang amat dihormati itu! Kim Cu memandang gurunya
dengan wajah khawatir, karena ia takut kalau-kalau gurunya akan marah dan semua murid
maklum betapa- akan hebat akibatnya kalau guru itu marah. Akan tetapi aneh. Ma-bin Lo-mo
malah tertawa dan suara ketawanya persis kuda yang meringkik-ringkik. Para murid lainnya
tidak ada yang merasa heran, akan tetapi Han Han kembali memandang suhunya dengan
mata ter-belalak. Memang gurunya ini seorang aneh, lebih aneh daripada Setan Botak.
“Pertanyaan yang aneh, akan tetapi sudah semestinya kalau murid-muridku mengenal siapa
sesungguhnya guru mereka, terutama sekali Couwsu mereka. Dengarlah baik-baik, muridmuridku, karena sesungguhnya kalian adalah murid-murid dari orang yang bukan
sembarangan! Couwsu kalian yang kita puja-puja itu adalah keturunan pangeran, nama
lengkapnya adalah Suma Kiat. Ilmu silatnya tinggi bukan main, seperti dewa! Muridmuridnya hanya dua orang, yaitu aku sendiri dan suhengku yang bernama Suma Hoat,
puteranya sendiri, putera tunggalnya. Betapapun tekun dan rajin aku belajar, namun
dibandingkan dengan supekmu (Uwa Gurumu) Suma Hoat itu, aku masih kalah jauh!” Kakek
itu menarik napas panjang seolah-olah ceritanya mengingatkan dia akan masa lalu dan
membuatnya ter-menung sejenak.
“Di manakah supek itu sekarang, suhu?” tanya Kim Cu dengan suara pe-nuh kagum.
“Entahlah, sudah dua puluh tahun lebih aku tidak pernah bertemu dengannya, bahkan tidak
pula mendengar namanya. Dia seorang yang suka sekali merantau, seorang petualang tulen
yang ingin menikmati hidup ini sebanyak mungkin. Yang terakhir aku bersama supek kalian
itu pergi mencari kakek sakti Koai-lojin untuk mohon bagian ilmu-ilmu yang beliau bagibagikan. Aku mendapat dasar-dasar Im-kang sehingga dapat kuciptakan Swat-im Sin-ciang,
dan pada saat yang sama Kang-thouw-kwi Gak Liat mendapatkan dasar Yang-kang
sehingga ia menciptakan pukulan Hwi-yang Sin-ciang. Adapun supek kalian itu
mendapatkan lebih banyak lagi. Entah mengapa, agaknya Koai-lojin kakek sakti itu menaruh
kasih sayang kepada supek kalian. Ilmunya menjadi amat tinggi dan sampai lama dia
menjagoi di antara semua tokoh kang-ouw. Dia banyak me-lakukan hal-hal menggemparkan
sehingga dimusuhi tokoh-tokoh kang-ouw, akan tetapi memang itulah sebuah di antara
kesukaannya, yaitu berkelahi!”
Semua murid, termasuk, Han Han, mendengarkan dengan kagum.
“Dan suhu sendiri?” tanya Han Han.
“Aku membantu sukong kalian, kemudian memperoleh kedudukan. Akan tetapi, mungkin
karena petualangan supek kalian, atau juga karena kedudukan tinggi dan kepandaian
sukong kalian me-narik banyak orang gagah menjadi iri dan memusuhinya, sukong kalian
banyak dimusuhi orang kang-ouw. Termasuk aku sebagai muridnya yang setia. Namun
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
100
sukong kalian dan aku selalu mempertahankan diri dan selalu berhasil meng-halau mereka
yang datang memusuhi kami. Akhirnya, setelah sukong kalian meninggal dunia, aku tidak
mau menghadapi sekian banyakriya musuh seorang diri, apalagi karena supek kalian yang
dapat diandalkan telah pergi merantau entah ke mana. Aku lalu meninggalkan kedudukanku
sebagas pembesar tinggi, merantau pula dan akhirnya aku tinggal di sini, apalagi setelah
Kerajaan Beng-tiauw digulingkan oleh bangsa Mancu. Aku ingin menentang Mancu, akan
tetapi sendirian saja mana mungkin berhasil? Banyak tokoh-tokoh besar, seperti Gak Liat itu,
rela dijadikan penjilat penjajah. Aku tidak sudi dan aku lalu mengumpulkan kalian muridmuridku yang keluarganya telah dibasmi orang Mancu untuk kuwarisi kepandaianku agar
kelak dapat menjadi patriot-patriot yang perkasa!”
Cerita itu jelas merupakan singkatan saja. Masih banyak hal-hal yang tersem-bunyi dan
tidak diceritakan oleh Ma-bin Lo-mo. Namun yang ia ceritakan adalah bagian-bagian yang
baik sehingga para murid menjadi kagum dan bangkit semangat mereka untuk belajar lebih
tekun agar kelak dapat berjuang meng-usir penjajah yang tidak saja sudah men-jajah negara
dan bangsa, juga telah mem-basmi keluarga mereka.
Mulai hari itu Han Han menjadi mu-rid di In-kok-san dan belajar ilmu silat. Mula-mula, ketika
menerima pelajaran-pelajaran pokok, ia berlatih dengan te-kun. Akan tetapi setahun
kemudian, ia merasa bosan karena pelajaran yang diberikan hanya itu-itu saja dan diulangulang kembali. Memang benar bahwa kini ia selalu memakai pakaian baik, makan pun tidak
pernah kekurangan, banyak teman dan setiap hari berlatih ilmu silat. Akan tetapi diam-diam
Han Han menjadi bosan dan ingin sekali ia bebas seperti dahulu. Hidup menjadi murid Mabin Lo-mo merupakan hidup yang telah diatur dan seolah-olah ia telah dapat melihat
bagaimana kelak jadinya dengan dirinya kalau ia berada di situ terus. Ia melihat dirinya
seolah-olah logam yang digembleng dan dibentuk oleh Ma-bin Lo-mo! Dan dia tidak suka
dirinya dibentuk seperti baja. Tidak suka dia hidupnya diatur oleh orang lain, menjadi dewasa
menurut kehendak dan bentuka Ma-bin Lo-mo. Ia ingin bebas!
Di antara murid-murid di situ, dia merupakan murid termuda, bukan muda usia melainkan
muda karena dialah orang terbaru. Maka lima orang murid perempuan di situ adalah sucisucinya, dan murid-murid laki-laki adalah suheng-suhengnya. Di antara mereka, hanya ada
tiga orang murid yang paling ia sukai, dan yang merupakan sahabat-sihabatnya. Pertama
tentu saja adalah Kim Cu yang selalu bersikap manis kepadanya. Ke dua adalah seorang
suci lain yang usianya sebaya dengan Kim Cu, namanya Phoa Ciok Lin, juga seorang anak
yatim-piatu yang orang tuanya dibunuh orang-orang Mancu. Ke tiga adalah seorang suheng,
usianya baru sebelas tahun, setahun lebih muda daripada Han Han, namanya Gu Lai Kwan,
seorang anak yang selalu gem-bira, penuh keberanian dan pandai bicara. Dengan tiga orang
anak-anak inilah Han Han sering kali bermain-main dan berlatih. Akan tetapi sering kali,
kalau Kim Cu yang lebih pandai daripada mereka, berlatih dengan Ciok Lin atau dengan Lai
Kwan, Han Han termenung seorang diri, disiksa rasa rindunya akan kebebasan. Ia ingin
merantau, ingin melihat kota raja. Cerita tentang supek mereka amat menarik hatinya. Ia
ingin seperti supek-nya itu, tukang merantau, petualang dan menikmati hidup sebanyak
mungkin. Ter-ingat ia akan bunyi sajak yang meng-anggap bahwa hidup ini laksana anggur,
dan selagi hidup sebaiknya meneguk ang-gur sebanyaknya, sekenyangnya dan se-puasnya!
Sering kali ia termenung dan kalau sudah demikian, Kim Cu yang selalu mendekatinya dan
menegur serta menghiburnya. Kim Cu merupakan satu-satu-nya kawan yang agaknya
mengenal ke-adaannya.
“Kenapa kau murung selalu, sute?” pada suatu petang setelah mengaso dari berlatih, Kim
Cu bertanya. Mereka duduk di bawah pohon dan Kim Cu menyusuti peluh yang membasahi
leher dan dahinya.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
101
“Tidak apa-apa, suci. Hanya.... ah, aku kepingin sekali berjalan-jalan keluar, turun gunung
agar melihat pemandang lain. Bosan rasanya terus-menerus begini, sudah setahun
lamanya....”
“Tunggulah sebulan lagi, sute. Pada hari raya Sin-cia (Musim Semi atau lebih terkenal
dengan istilah Tahun Baru Im-lek), biasanya Suhu memperkenankan kita untuk turun gunung
selama beberapa hari.”
“Syukurlah kalau begitu. Kim-suci, senangkah engkau di sini?”
Gadis cilik yang kini berusia dua belas tahun itu memandang wajah sute-nya yang lebih tua
setahun dari padanya, lalu tersenyum manis.
“Mengapa tidak senang, sute? Habis ke mana lagi kalau tidak di sini? Aku.... sudah tidak
mempunyai keluarga searang pun.”
“Suci, engkau telah mendengar riwa-yatku, akan tetapi aku belum pernah mendengar
riwayatmu. Maukah kau menceritakan riwayatmu kepadaku?”
“Apakah yang dapat kuceritakan? Ayah bundaku tinggal di utara, di sebuah dusun dekat
kota raja. Kami diserbu orang-orang mancu, ayah bundaku dan tiga orang kakakku dibunuh
semua. Aku ditolong suhu dan dibawa ke sini semenjak aku berusia delapan tahun, empat
tahun yang lalu. Nah, hanya itulah yang kuingat.”
“Dan semua suci dan suheng itu, apakah mereka itu juga yatim-piatu?”
“Benar.”
“Dan semua ditolong suhu?”
“Begitulah, hanya engkau seorang yang tidak. Karena itu engkau murid istimewa. Menurut
suhu, kelak engkau yang paling hebat di antara kita.”
“Wah, jangan memuji, suci.”
“Sesungguhnyalah, sute.” Dengan sikap ramah Kim Cu memegang tangan Han han. “Ada
sesuatu yang aneh pada diri-mu. Engkau belum pandai silat namun engkau memiliki tenaga
sakti Hwi-yang Sin-ciang. Engkau amat kuat dan pandai akan tetapi engkau selalu
menyangkal dan selalu merendahkan diri. Engkau hebat, sute.”
Muka Han Han menjadi merah dan ia menarik tangannya. Jantungnya berdebar dan ia
membenci diri sendiri mengapa ia menjadi begitu girang mendengar pujian Kim Cu. Untuk
mengalihkan percakapan, ia cepat bertanya.
“Tiga orang suheng yang cacad itu, apakah mereka menjadi korban orang-orang Mancu?”
“Ah, belum tahukah engkau? Tidak, mereka itu adalah murid-murid yang mengalami
hukuman.”
“Hukuman? Siapa yang menghukum mereka?”
“Siapa lagi kalau bukan suhu? Kumaksudkan, suhu yang menjatuhkan hu-kuman, tentu saja
murid-murid lain yang melaksanakannya. Siauw-sute itu, yang kedua telinganya buntung,
dijatuhi hu-kuman potong kedua daun telinga karena dia berani melanggar larangan dan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
102
mendengarkan suhu ketika suhu bercakap-cakap di dalam pondoknya dengan se-orang
tamu, sababat suhu.”
“Wah....!” Han Han juga tahu akan larangan mendengarkan atau mengintai suhu mereka
kalau sedang berada di pondok. “Siapa yang melaksanakan?”
“Aku.”
“Hah....?” Han Han memandang sucinya dengan mata terbelalak.
Kim Cu tersenyum geli. “Mengapa?”
“Kau.... kau tega melakukan itu....? Kau.... mengapa begitu kejam....?”
Kim Cu menggeleng kepala. “Sama sekali tidak, sute. Aku hanya mentaati perintah suhu
dan syarat utama seorang murid harus taat kepada gurunya. Pula, aku melakukan hal itu
sama sekali bukan karena kejam atau tidak tega, melainkan sebagai pelaksanaan hukuman
yang harus diterima oleh Siauw-sute. Setelah mem-buntungi kedua daun telinganya, aku
pula yang merawatnya sampai sembuh.”
“Dia.... tidak mendendam kepadamu?”
“Ah, tidak sama sekali. Dia mengerti bahwa dia harus menjalani hukuman itu.”
“Dan.... yang lengannya buntung?”
“Kwi-suheng? Dia telah mencuri baca kitab milik suhu tanpa ijin. Hal itu dianggap mencuri
dan karena lengannya yang mencuri kitab, maka lengannya dibuntungkan.”
“Yang buntung kakinya?”
“Lai-suheng? Dia hendak minggat, tertangkap dan karena kakinya yang me-larikan diri,
maka sebelah kakinya dibuntungkan.”
Han Han bergidik. Kim Cu berkata lagi, “Akan tetapi cacad mereka tidak menjadi halangan
karena suhu tidak membenci mereka, malah mengajarkan ilmu yang khusus untuk mereka.
Kami semua diajar ilmu-ilmu yang khusus di-sesuaikan dengan keadaan dan bakat kita. Ilmu
silat dasar memang sama, akan tetapi perkembangannya berlainan. Suhu memiliki ilmu-ilmu
yang amat banyak.”
“Hemmm...., sungguh ganjil. Tamu tadi, yang bicara dengan suhu di pondok, siapakah dia?
Sudah setahun aku tidak pernah melihat ada tamu datang.”
Kini Kim Cu memandang ke kanan kiri, kelihatannya jerih dan takut. “Tamu itu seorang
manusia yang hebat, dan ilmunya kata suhu melampaui tingkat suhu. Dia itu adalah Ibu
Guru dari suhu....”
“Apa....? Suhu masih mempunyai Ibu Guru? Kalau begitu, dia isteri Suma-sukong itu....?”
Kim Cu mengangguk. “Tidak ada yang tahu jelas. Pernah dalam keadaan mabuk suhu
bercerita bahwa sukong mempunyai banyak sekali isteri dan agaknya Ibu Guru yang ini
adalah isteri yang paling muda. Lihainya bukan main, bahkan suhu amat takut kepadanya.
Suhu masih mencinta kita dan melakukan hukuman ber-dasarkan pelanggaran. Kalau Siankouw itu....”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
103
“Kau menyebutnya Sian-kouw (Ibu Dewi)?”
Kim Cu mengangguk dan menelan ludah, agaknya hatinya tegang membi-carakan wanita
itu. “Kita para murid suhu diharuskan taat kepadanya dan me-nyebutnya Sian-kouw.
Namanya tak pernah disebut suhu, akan tetapi julukannya adalah Toat-beng Ciu-sian-li
(Dewi Arak Pencabut Nyawa).”
Han Han bergidik. “Mengapa Ciu-sian-li (Dewi Arak)?”
“Ke mana-mana dia membawa guci arak dan hampir selalu mabuk. Akan tetapi makin
mabuk makin lihai dia. Sudahlah, sute, tidak baik kita bicara tentang Sian-kouw....”
“Kalau begitu kita bicara tentang tokoh-tokoh lain, suci. Ceritakanlah kepadaku tentang
tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw. Aku ingin sekali mendengar dan aku suka mendengar
akan petualangan mereka, terutama sekali supek yang disebut-sebut oleh suhu, putera dari
su-kong itu.”
“Banyak sekali tokoh-tokoh besar yang pernah diceritakan suhu kepada kami. Mengenai
tokoh-tokoh yang dikenal suhu, kiraku Sian-kouw itulah yang paling lihai ilmunya. Menurut
suhu, Sian-kouw banyak mewarisi ilmu silat sukong. Akan tetapi, tokoh-tokoh besar yang
penuh rahasia dan amat aneh, yang tidak pernah dikenal suhu namun sudah terkenal
namanya di jaman dahulu, banyak sekali.”
“Seperti Koai-lojin (Kakek Aneh) yang pernah disebut suhu dahulu? Yang suka membagibagi ilmu?”
Kim Cu mengangguk. “Benar, dialah merupakan orang pertama yang agaknya menduduki
tempat paling atas dari segala golongan. Baik golongan yang menyebut dirinya golongan
bersih maupun golongan yang disebut golongan sesat.”
“Kita ini masuk golongan mana?”
Kim Cu tersenyum. Manis sekali ka-lau gadis itu tersenyum, pikir Han Han dan tiba-tiba
kedua pipinya menjadi me-rah ketika ia sadar bahwa perasaannya ini benar-benar tidak
sopan dan tidak patut!
“Kita ini golongan sesat, begitulah menurut pendapat dunia kang-ouw seperti yang
diceritakan suhu. Akan tetapi, apa artinya sebutan-sebutan itu? Tentu mere-ka yang tidak
suka kepada golongan kita yang menyebutnya sesat. Apakah artinya sesat? Dan siapa yang
tidak sesat?”
Han Han menjadi bingung. “Ceritakan-lah tentang Koai-lojin itu, suci.”
“Dia itu, menurut suhu, merupakan manusia dewa yang tak diketahui tempat tinggalnya oleh
siapa pun. Juga usianya tidak ada yang tahu, mungkin dua ratus tahun, mungkin lebih atau
kurang. Ting-kat kepandaiannya pun tidak ada yang dapat mengukurnya, akan tetapi seluruh
tokoh tingkat tinggi masih mem-butuhkan ilmu darinya. Juga tidak ada yang tahu dia itu
sekarang sudah mati ataukah masih hidup. Sejak dahulu, semua tokoh besar selalu
mencari-carinya, termasuk suhu sendiri. Namun tak pernah ada yang berhasil.”
“Seperti dongeng saja....” kata Han Han kagum.
“Memang seperti dongeng, dan bukan hanya nama Koai-lojin itu saja pernah didongengkan
suhu. Menurut suhu, dunia kang-ouw pada jaman sukong masih muda, lebih seratus tahun
yang lalu, atau bahkan dua ratus tahun yang lalu, memang seperti dongeng karena, menurut
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
104
suhu pada waktu itu hidup tokoh-tokoh yang memiliki ilmu kepandaian silat seperti dewa
saja! Suma-sukong sudah hebat kepandaiannya, akan tetapi Ayah Sukong kabarnya lebih
luar biasa lagi dan tokoh-tokoh di jaman itu malah banyak yang memiliki ilmu silat anehaneh. Yang amat terkenal kabarnya adalah pendekar sakti Suling Emas yang kabarnya
me-nerima ilmu-ilmunya dari manusia dewa Bu Kek Siansu!”
“Manusia Dewa? Namanya Bu Kek Siansu? Mengapa disebut manusia dewa?”
“Entahlah. Siapa tahu? Menurut dongeng suhu, ada yang mengabarkan bah-wa Koai-lojin
kakek aneh itu pun me-nerima ilmu-ilmu dari manusia dewa itu. Masih ada lagi nama-nama
tokoh besar dalam dongeng, seperti pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang
sesungguhnya adalah Puteri Ratu Khitan. Antara Mu-tiara Hitam dan Suling Emas ini masih
ada pertalian hubungan keluarga yang dekat, entah bagaimana. Akan tetapi menurut suhu,
keluarga Suling Emas ini amat hebat dan menurunkan orang-orang yang sukar dilawan.
Suma-sukong yang berkepandaian seperti dewa itu pun ma-sih ada hubungan keluarga,
entah bagai-mana dengan Pendekar sakti Suling Emas.”
Han Han mendengarkan penuh ke-kaguman dan melamun. Di dunia ini ba-nyak terdapat
orang-orang pandai seperti itu. Kalau dia hanya bersembunyi di In-kok-san saja, mana
mungkin ia bertemu dengan orang-orang pandai yang kepandai-annya melebihi tingkat
Setan Botak atau Setan Muka Kuda yang kini menjadi gu-runya?
“Heiiii, sute dan sumoi, kenapa kali-an enak mengobrol saja? Hayo kita ber-latih!” Terdengar
seruan Lai Kwan yang datang berlari-lari sambil bergandengan tangan dengan Ciok Lin,
menghampiri Kim Cu dan Han Han. Dua orang anak ini lalu menjatuhkan diri duduk di atas
rumput dengan muka berseri.
“Sie Han sute bertanya tentang Suma-sukong dan tokoh-tokoh aneh dalam do-ngeng yang
diceritakan suhu,” kata Kim Cu.
Gu Lai Kwan yang berwatak gembira itu tertawa bergelak dan menepuk-nepuk pundak Han
Han. “Eh, sute, apakah engkau ingin menjadi seorang yang sakti seperti Suma-sukong?
Mana mungkin? Ilmu kepandaian suhu tentu saja kurang cukup mengajarmu menjadi
seorang sakti seperti Suma-sukong!”
“Agaknya baru mungkin kalau engkau mendapat hadiah ilmu-ilmu dari Koai-lojin, sute,” Kim
Cu ikut pula menggoda. “Atau ketemu dengan manusia dewa Bu Kek Siansu!”
“Ha-ha-ha!” Lai Kwan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut-nya. “Untuk
bertemu dengan dewa-dewa dalam dongeng itu, agaknya sute harus berangkat ke nirwana,
karena mereka kini tentu telah berada di sana.”
Han Han diam saja dan akhirnya Kim Cu yang menaruh kasihan, menarik ta-ngannya dan
berkata menghibur, “Sudah-lah, sute. Kalau kita belajar dengan tekun di bawah bimbingan
suhu, kelak pun kita akan dapat menjadi orang-orang gagah. Siapa orangnya yang tidak
ingin menjadi sakti seperti Suma-sukong? Akan tetapi pada jaman ini kiranya tidak akan ada
orangnya yang dapat mengajar kita....”
Tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh yang sekaligus membuat ucapan Kim Cu
terputus.
“Hih-hih-hih-he-he-he! Dua pasang anak-anak yang elok dan bersemangat! Kalian ingin
menjadi seperti Suma Kiat? Akulah orangnya yang akan dapat mem-bimbing kalian menjadi
selihai dia, dan mulai saat ini kalian berempat menjadi muridku!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
105
Empat orang anak itu cepat mem-balikkan tubuh dan kiranya di depan mereka telah berdiri
seorang nenek yang amat aneh. Begitu melihat nenek ini, Kim Cu, Ciok Lin dan Lai Kwan
cepat-cepat menjatuhkan diri, berlutut dan mengangguk-angguk penuh hormat sambil
menyebut, “Sian-kouw....!”
Kim Cu menarik kaki Han Han dan anak ini pun cepat menjatuhkan diri berlutut di samping
Kim Cu. Han Han tadi terkejut mendengar sebutan tiga orang temannya, dan dari bawah ia
mengerling ke atas penuh perhatian. Nenek itu benar-benar amat aneh dan menye-ramkan.
Melihat wajahnya yang kurus penuh keriput, masih dapat diduga bahwa dahulunya dia tentu
seorang wanita can-tik sekali. Kini muka itu penuh keriput, rambutnya sudah putih semua
terurai ke belakang dan disisir rapi, mukanya ber-sih dan diselimuti bedak putih, mulut yang
tak bergigi lagi itu kelihatan ter-senyum selalu, senyum mengejek dan memikat. Yang hebat
adalah kedua telinganya. Kedua telinga ini dihias dengan rantai besar dari perak, yang
kanan agak pendek terdiri dari sembilan lingkaran mata rantai, yang kiri dua kali lebih
panjang. Mata rantainya besar-besar seperti gelang tangan dan setiap kali kepalanya
bergoyang, terdengarlah suara gemerincing yang amat nyaring. Tubuh-nya yang kecil
langsing itu masih seperti tubuh wanita muda, memakai pakaian dari sutera yang mahal dan
mewah sung-guhpun potongannya ketinggalan jaman. Di tangan kanannya tampak sebuah
guci arak yang mengeluarkan bau harum dan amat keras. Muka yang putih keriputan itu
agak merah di kedua pipi dan di pinggir mata, tanda bahwa nenek itu da-lam keadaan
terpengaruh hawa arak!
“Hi-hi-hik, aku suka mendengar se-mangat kalian! Aku akan mengajar kali-an menjadi
seperti Suma Kiat! Hi-hik, yang dua laki-laki akan menjadi seperti Suma Kiat, dan yang dua
perempuan akan menjadi seperti aku di waktu mu-da. Hebat!” Tiba-tiba nenek itu lalu
berpaling ke arah pondok dan suaranya me-lengking nyaring, “Heiiiii, Siangkoan Lee....! Ke
sinilah kamu....!” Ketika berseru memanggil ini, sikap Si Nenek Tua seperti seorang puteri
memanggil hambanya, kemudian ia menenggak arak-nya dari guci arak, caranya minum
arak dengan menggelogok begitu saja dan kasar sehingga ada dua tiga tetes arak tumpah
dari ujung bibirnya.
“Teecu datang menghadap....!” Suara ini bergema dan datangnya dari arah pondok disusul
berkelebatnya bayangan dan tahu-tahu Ma-bin Lo-mo sudah berada di situ, berdiri
membungkuk penuh hormat kepada nenek tua itu.
“Harap Sian-kouw sudi maafkan, karena tidak tahu akan kedatangan Sian-kouw, maka
teecu terlambat menyambut.” Sikap dan kata-kata Si Muka Kuda benar- benar amat
menghormat, seperti seorang murid terhadap ibu gurunya. Hal ini saja sudah menjadi bukti
bagi Han Han yang amat memperhatikan sejak tadi bahwa nenek aneh ini tentu memiliki
ilmu kepandaian yang hebat, jauh lebih hebat daripada kepandaian Si Muka Kuda. Ter-ingat
ia akan cerita Kim Cu bahwa nenek ini berjuluk Toat-beng Ciu-sian-li (Dewa Arak Pencabut
Nyawa)!
“Siangkoan Lee, aku datang untuk memberitahukan hal penting kepadamu. Akan tetapi
lebih dulu aku beritahukan bahwa empat orang anak ini, dua pasang yang elok, mulai saat
ini menjadi murid-muridku dan aku sendiri yang akan men-didik mereka menjadi Suma Kiat
kecil dan Bu Ci Goat kecil!”
Ma-bin Lo-mo mengangguk. “Terserah kepada Sian-kouw dan hal itu hanya ber-arti bahwa
nasib mereka ini amatlah baik.”
“Karena mereka telah menjadi murid-muridku yang akan kudidik dan latih di tempatmu ini,
maka mereka bukan orang lain dan biar mereka ikut mendengarkan. Siangkoan Lee, engkau
harus cepat-cepat bersiap karena kini pemerintah Boan (Mancu) sudah mulai berusaha
mencari Pulau Es. Celakalah kalau sampai kita kedahuluan mereka! Semua orang gagah
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
106
juga sudah sibuk dan sudah dimulai lagi perlombaan mencari Pulau Es yang sudah puluhan
tahun dianggap lenyap dari permukaan laut itu.”
Ma-bin Lo-mo mengerutkan keningnya dan wajahnya berubah keruh. “Ah, apa saja yang
tidak dilakukan anjing-anjing penjajah itu! Dan sudah tentu Gak Liat Si Setan Botak itu
menjadi pelopor, men-jadi anjing penjilat penjajah.”
“Soal Gak Liat mudah saja. Kalau aku turun tangan, apakah dia masih berani banyak cakap
lagi? Yang penting seka-rang engkau harus dapat meneliti gerak mereka. Pemerintah baru
ini telah mem-bangun sebuah kapal besar. Maka engkau cepat pergilah melakukan
persiapan, men-cari anak buah dan mengusahakan sebuah perahu besar. Kalau mungkin
supaya dapat mulai bekerja sehabis musim semi, jadi paling lama dua bulan lagi.”
Ma-bin Lo-mo mengangguk-angguk.
“Sudahlah, kau boleh membuat persiapan dan aku akan mulai mengajar kouw-koat (teori
silat) kepada empat muridku yang tampan-tampan dan manis-manis. Pondok terbesar untuk
aku dan murid-muridku!” kata pula Si Nenek.
Ma-bin Lo-mo kembali mengangguk-angguk lalu berkelebat pergi. Nenek itu lalu melangkah
ke arah pondok besar sambil memberi isyarat dengan lirikan mata dan senyum yang
dahulunya, puluh-an tahun yang lalu, tentu akan amat manis tampaknya, akan tetapi
sekarang kelihatan menyeramkan seperti kalau orang melihat seorang gila tersenyumsenyum. Empat orang anak itu saling pandag, kemudian Kim Cu yang agaknya paling tabah,
juga di antara mereka ber-empat dialah murid yang tertua dalam kedudukan, memberi tanda
dengan ang-gukan kepala. Tiga orang adik seperguru-annya lalu bangkit dan bersama dia
meng-kuti nenek itu memasuki pondok.
“Kalian semua sudah pernah disumpah, bukan?” tanya nenek ini setelah dia duduk di atas
pembaringan di dalam pondok, sedangkan empat orang muridnya itu berlutut di atas lantai.
Empat orang anak itu mengangguk.
“Syarat-syarat dan hukum-hukumnya tidak berubah, hanya kini akulah guru kalian dan aku
pula yang akan menjalan-kan keputusan hukum terhadap setiap pelanggaran. Biarpun kalian
menjadi muridku, namun kalian harus tetap me-nyebut Sian-kouw dan kelak tidak ada yang
boleh menyebut namaku sebagai guru. Pelanggaran ini akan dihukum de-ngan
pemenggalan kepala. Tahu?”
Empat orang anak itu mengangguk-angguk kembali akan tetapi di hatinya Han Han
mengomel. Guru macam apa ini? Tidak mau diaku sebagai guru. Mana pertanggungan
jawabnya? Timbullah rasa tidak suka di hatinya, akan tetapi karena ia tahu bahwa nenek itu
lihai sekali dan dia mulai suka mempelaiari ilmu-ilmu yang aneh-aneh seperti tokoh-tokoh
da-lam dongeng yang ia dengar dari Kim Cu, maka ia pun menyimpan saja pe-rasaan tak
senang itu dalam hatinya.
“Gerak silat boleh kalian latih terus seperti yang telah kalian pelajari dari Siangkoan Lee.
Yang penting, aku akan mengajarkan kalian menghimpun sin-kang, karena dengan kuatnya
sin-kang di tubuh, maka kalian akan dapat melatih segala macam ilmu silat dengan mudah.
Lihatlah aku! Aku sudah berusia seratus delapan puluh tahun paling sedikit! Akan tetapi lihat
wajahku. Masih muda dan cantik, bukan?” Nenek itu menggoyang-goyang muka ke kanan
kiri agar murid-muridnya dapat melihat mukanya dari berbagai ju-rusan. Kemudian ia bangkit
berdiri di atas pembaringan sambil bertolak pinggang dan menggoyang-goyang pinggangnya
ke kanan kiri sambil berkata, “Lihat pula tubuhku. Masih seperti seorang dara remaja,
bukan? Nah, inilah berkat kekuatan sin-kang yang hebat!” Ia duduk kembali. Han Han
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
107
tertawa geli di dalam hatinya. Celaka, pikirnya, biarpun lihai, kiranya guru yang baru ini
seorang yang miring otaknya!
“Golongan kami mengutamakan Im-kang, karena itulah maka Siangkoan Lee menciptakan
ilmu pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung tenaga Im-kang. Jangan kalian
memandang rendah sin-kang dingin ini, karena kalau sudah dapat menguasai dengan
sempurna, kalian akan dapat membunuh setiap orang lawan hanya dengan sebuah pukulan.
Sekaii pukul, biarpun targan tidak mengenai tubuh lawan, cukup membuat darah di tubuh
lawan membeku, jantungnya berhenti berdenyut dan tentu dia mampus seketika. Lihat baikbaik ini!”
Nenek itu mengangkat cawannya dan menuangkan arak ke mulut, terus ditelan. Kemudian
mulutnya menyemburkan ke atas dan.... berdetakanlah butir-butir es keluar perutnya melalui
mulut, bertebar-an di atas lantai!
“Im-kang yang sudah amat kuat dapat membuat air panas seketika menjadi butiran es,
dapat membuat air membeku, juga darah di tubuh lawan dapat dibikin beku dengan pukulan
yang mengandung Im-kang kuat. Nah, sekarang kalian harus mulai belajar samadhi untuk
menghimpun Im-kang.”
Setelah memberi pelajaran teori ten-tang ilmu silat dan samadhi, nenek itu lalu
meninggalkan empat orang muridnya di dalam pondok dengan perintah bahwa mereka
harus berlatih samadhi dan tidak boleh berhenti sebelum diperintah! Dan ternyata kemudian
bahwa nenek itu tidak memerintahkan empat orang muridnya menghentikan latihan siulian
sebelum dua hari dua malam! Dapat dibayangkan be-tapa hebatnya penderitaan mereka.
Bagi Hen Hang hal seperti itu biasa saja ka-rena memang dalam tubuh anak ini ter-dapat
suatu kelebihan yang tidak wajar, dan dia memiliki kemauan yang luar biasa pula. Akan
tetapi tiga orang te-mannya amat sengsara. Biarpun begitu, Kim Cu dan teman-temannya
tidak ada yang berani melanggar karena mereka maklum betapa kejamnya hukuman bagi
pelanggar.
“Bagus, kalian memang patut menjadi muridku!” Demikian nenek itu memuji dengan suara
gembira. Dan sesungguhnya nenek itu sama sekali bukan ingin me-nyiksa empat orang
murid barunya, me-lainkan hendak menguji mereka. Setelah memberi kesempatan mereka
makan dan mengaso, nenek itu mulai memberi pen-jelasan tentang latihan samadhi yang
akan dapat menghimpun sin-kang mereka, bahkan ia sendiri turun tangan “mengisi” mereka
dengan sin-kangnya untuk mem-buka jalan darah mereka seorang demi seorang.
Akan tetapi ketika tiba giliran Han Hang nenek itu terkejut setengah mati. Seperti tiga orang
murid lain, Han Han disuruhnya duduk bersila dan dia lalu menempelkan tangannya pada
punggung anak itu, lalu mengerahkan Im-kang untuk disalurkan ke dalam tubuh anak itu,
membantu anak itu agar dapat mem-bangkitkan tan-tian yang berada di dalam pusar. Harus
diketahui bahwa setiap ma-nusia mempunyai tan-tian ini, yang merupakan pusat bagi tenaga
dalam di tu-buh manusia ini. Hanya bedanya, tanpa latihan maka tan-tian ini akan menjadi
lemah dan tidak dapat dipergunakan, hanya melakukan tugas menjaga tubuh manusia dari
dalam, bekerja, diam-diam menciptakan segala macam obat yang diperlukan oleh tubuh
manusia. Namun dengan latihan samadhi dan peraturan napas dengan cara tertentu, tantian menjadi kuat dan hawa sakti akan tim-bul dan dapat dikuasai. Nenek itu me-ngerahkan
Im-kang dan dapat dibayang-kan betapa kagetnya ketika ia merasa betapa Im-kang yang ia
salurkan itu tiba-tiba “macet” dan berhenti penyalurannya.
“Aihhhhh....! Di mana kau belajar mengerahkan sin-kang untuk melawanku?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
108
Han Han juga kaget. Cepat ia me-nyimpan kembali hawa yang timbul se-cara otomatis dan
di luar kesadarannya itu sambil berkata, “Maaf, Sian-kouw. Teecu hanya pernah belajar dari
Lauw-pangcu dan dari Suhu Siangkoan Lee.”
“Hemmm, kau jauh lebih kuat dari saudara-saudaramu. Sekarang kosongkan tubuhmu dan
jangan melawan.”
Han Han merasa tersiksa sekali. Ber-beda dengan Kim Cu dan teman-teman lain yang pada
dasarnya belum memiliki sin-kang dan yang dapat menerima Im-kang yang tersalur dari
nenek itu secara wajar, dia merasa betapa tubuhnya di-jalari hawa dingin yang seolah-olah
hen-dak meremukkan tulang-tulangnya. Ia memaksa diri tidak melawan akan tetapi ketika
Im-kang itu menyusup sampai ke pusarnya, otomatis hawa sakti di pusarnya bergerak dan
menolak.
“Nah, latihlah dengan tekun. Engkau masih belum dapat menguasai tenagamu sendiri.”
Akhirnya nenek itu berkata setelah memberi penjelasan kepada empat orang muridnya. Cara
nenek ini melatih sungguh amat jauh bedanya dengan cara Ma-bin Lo-mo melatih muridmuridnya. Nenek ini melatih secara langsung dan kemajuan yang diperoleh empat orang
murid ini memang cepat dan hebat. Akan tetapi bagi Han Han, latihan yang diperolehnya ini
amat menyiksa dan ia tidak pernah berhasil karena selalu terjadi pertentang-an dan
perlawanan dalam tubuhnya an-tara hawa Im dan hawa Yang. Hawa Yang dia peroleh dari
latihan diam-diam ketika ikut Kang-thouw-kwi. Dan cara nenek ini memberi contoh melatih
siulian juga amat jauh bedanya dengan yang diberikan Lauw-pangcu dan yang ia baca dari
kitab-kitab. Misalnya tentang pe-musatan pikiran. Lauw-pangcu mengajarnya untuk
bersamadhi dengan memusat-kan pikiran pada pernapasannya sendiri, yang oleh Lauwpangcu disebut bersama-dhi sambil menunggang naga sakti. Yang diumpamakan naga sakti
adalah pernapas-an sendiri yang keluar masuk melalui hidung, dengan napas panjangpanjang sesuai dengan aturan bernapas dalam samadhi. Latihan ini dapat membuat
pikirannya terpusat sehingga akhirnya dapat membuat ia mudah menguasai pri-badinya
sehingga terbukalah jalan untuk menghimpun tenaga sakti di dalam tu-buhnya. Sungguhpun
cara yang diperguna-kan Lauw-pangcu ini berbeda dengan cara-cara yang ia kenal dari kitab
kuno, namun tidaklah menyimpang.
Banyak cara yang terdapat dalam kitab-kitab tentang pelajaran samadhi, sesuai dengan
kebiasaan dan agama yang mengajarkan soal samadhi. Kaum ber-agama To menganjurkan
agar dalam sa-madhi, orang selalu menujukan pikirannya kepada Thai-siang-lo-kun dengan
mantera yang disebut berulang kali : Gwan-si-thian-cun. Thong-thian-kauw-cu, Thai-siang-lokun. Bagi yang beragama Buddha menujukan pikirannya kepada Sang Bud-dha dan
membaca mantera : Lam-bu-hut, Lam-bu-kwat, Lam-bu-ceng. Dan bagi para pemuja Khongcu menujukan pikiran kepada Thian dengan mantera : Hwi-le-but-si, Hwi-le-but-thing, Hwi-lebut-gan, Hwi-le-but-thong. Kesemuanya itu untuk mencegah agar panca inderanya jangan
melantur, agar pikiran jangan menyeleweng sehingga dapat dipusatkan.
Akan tetapi yang diajarkan Toat-beng Ciu-sian-li lain lagi. Nenek ini menase-hatkan agar
murid-muridnya dalam ber-samadhi mengikuti saja ke mana jalan pikirannya melayang,
kemudian kalau sudah mendapat sesuatu yang disenangi, terus-menerus memikirkan hal ini,
tidak peduli hal ini dianggap baik atau pun buruk.
“Kalau engkau suka membayangkan tubuh seorang wanita telanjang dan kau menikmati
bayangan itu, tujukan pikiran-mu ke situ! Kalau engkau menaruh den-dam kepada
seseorang dan bayangan orang itu selalu tampak, tujukan pikiran-mu mengingat dendammu!
Yang penting tujukanlah pikiran kepada hal yang men-jadi perhatian pikiranmu dan demi
ke-senangan hatimu. Dengan demikian engkau akan dapat menguasai pikiranmu.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
109
Memang cara yang aneh, akan tetapi sesungguhnya jauh lebih mudah dilaksana-kan
daripada ajaran-ajaran yang lain karena memang pikiran itu amat sukar dikendalikan.
Justeru pelajaran nenek itu tidak mengharuskan si murid mengendali-kan pikiran, bahkan
disuruh membebas-kan pikiran ke mana ia melayang!
Tanpa disadarinya, mulailah Han Han tenggelam makin dalam ke cara-cara kaum sesat
mengejar ilmu silat dan ke-saktian. Dan memang cara yang dipergu-nakan kaum sesat ini
lebih menarik dan lebih mudah dilaksanakan. Makin sering Han Han melatih diri secara ini,
makin sukarlah baginya kalau ia hendak me-musatkan pikiran melalui atau menggunakan
cara-cara kaum bersih seperti yang ia baca dalam kitab atau seperti yang pernah ia latih
dibawah bimbingan Lauw-pangcu.
Sebulan lewat dengan cepat. Sin-cia atau perayaan menyambut musim semi tiba. Muridmurid In-kok-san diberi ke-bebasan selama tiga hari untuk pergi ke mana mereka suka.
Mereka malah diberi pakaian-pakaian baru dan diberi bekal uang untuk berfoya-foya ke
bawah gunung. Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri se-dang sibuk mempersiapkan perahu besar
untuk melaksanakan tujuan yang dipe-rebutkan kaum kang-ouw, yaitu mencari Pulau Es
yang terahasia. Juga Toat-beng Ciu-sian-li tidak tampak di puncak In-kok-san, entah ke
mana perginya tidak ada orang mengetahui.
Han Han tadinya diajak oleh Kim Cu untuk berpesiar ke kaki gunung sebelah selatan. Akan
tetapi Han Han menolak-nya dan seorang diri ia turun dari pun-cak menuju ke utara.
Keadaannya kini jauh bedanya dengan hampir setahun yang lalu. Setahun yang lalu ia
berpakai-an compang-camping penuh tambalan seperti pakaian seorang pengemis. Akan
tetapi kali ini pakaiannya indah dan ber-sih, rambutnya tersisir rapi dan diikat di atas kepala.
Usianya sudah tiga belas tahun dan ia kelihatan tampan dan gagah. Tubuhnya tegap dan
berisi, membayangkan kekuatan. Han Han kelihatan seperti seorang kongcu muda yang
berpesiar seorang diri, wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum-senyum. Berjalan seorang
diri, timbul pula kegembiraan hatinya karena ia merasa bebas lepas seperti burung di udara.
Ia melakukan perjalanan menuruni bukit dan menjelang senja ia sudah berada jauh di
sebelah utara kaki bukit. Dengan hati gembira Han Han memasuki sebuah dusun yang
cukup besar dan ra-mai. Seperti juga kota-kota dan dusun lain pada hari itu, penduduk
dusun itu merayakan hari raya Sin-cia dengan me-riah. Apalagi dusun itu merupakan dusun
kaum petani. Musim semi merupakan musim yang dinanti-nanti dan dicinta, karena musim
ini menjadi harapan para petani agar mendatangkan kemakmuran bagi mereka. Musim semi
adalah musim bercocok tanam, maka disambutlah mu-sim semi sebagai menyambut
seorang dewa yang membagi-bagikan rejeki kepada mereka.
Menyaksikan kegembiraan dan kemeriahan dusun itu, Han Han menjadi gembira sekali.
Wajah semua orang nampak berseri, terutama sekali anak-anak ber-pakaian serba baru
kelihatan riang gembira, berlari-larian dan bermain-main setelah perut mereka terisi kenyang
de-ngan hidangan-hidangan istimewa, tangan mereka membawa main-mainan yang
di-hadiahkan oleh orang tua mereka.
Akan tetapi betapa heran hati Han Han ketika ia melalui sebuah rumah ge-dung yang
berpekarangan lebar, ia men-dengar suara anak perempuan menangis! Suara tangis
ketakutan disusul bentakan-bentakan suara laki-laki kasar dan parau. Saking herannya,
apalagi karena hatinya tergerak penuh rasa iba kepada anak yang menangis, Han Han lupa
diri dan memasuki pintu gerbang pekarangan itu. Padahal kalau dalam keadaan biasa, ia
tidak akan berani melakukan hal yang tidak sopan ini, memasuki tempat ke-diaman orang
tanpa ijin!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
110
Begitu memasuki pintu gerbang, alis Han Han berkerut. Ia melihat seorang gadis cilik, paling
banyak sepuluh tahun usianya, berpakaian compang-camping penuh tambalan, sedang
berdiri dan menangis, menyusuti air mata yang membasahi kedua pipi yang pucat dengan
jari-jari tangannya yang kotor. Seorang laki-laki yang bermuka kejam, berpakaian sebagai
seorang jago silat atau seorang tukang pukul, berdiri dengan muka merah di atas anak
tangga, tangan kanan ber-tolak pinggang di atas sebatang golok besar yang tergantung di
pinggang, tangan kiri menuding-nuding dengan marahnya sambil membentak-bentak.
“Maling cilik! Bocah hina! Kalau ti-dak lekas minggat, kuhancurkan kepala-mu!”
Anak itu menggigil seluruh tubuhnya. “Aku.... tidak mencuri apa-apa....”
“Tidak mencuri, ya? Kau hendak ma-ling buah dan bunga, masih berani bilang tidak
mencuri? Mau apa kau memanjat pohon ang-co (korma) tadi?”
“Aku.... aku ingin makan buahnya.... dan ingin memetik sedikit bunga, masa tidak boleh?”
“Setan alas! Masih banyak memban-tah?” Laki-laki itu lalu melangkah maju dan
mencengkeram baju anak perempuan itu. Sekali ia menggerakkan tangan kiri yang
mencengkeram, tubuh anak itu ter-angkat ke atas. Anak itu terbelalak ke-takutan
memandang wajah yang begitu bengis menakutkan, yang amat dekat dengan mukanya.
Mata anak perempuan itu amat lebar, dan karena muka dan tubuhnya kurus, mata itu
kelihatan makin lebar.
Tiba-tiba laki-laki itu menyeringai. “Eh, engkau cantik juga, ya? Mukamu manis, kulitmu
halus putih....! Hemmm, sayang engkau masih begini kecil, dan kurus....” Kini tangan kanan
laki-laki itu meraba-raba ke dada anak yang tergan-tung itu secara kurang ajar. “Ah, masih
terlalu kecil.... kalau kau lebih besar dua tahun lagi, hemmm.... hebat juga....!”
“Lepaskan aku....! Lepaskan....!” Anak itu meronta-ronta.
“Ha-ha, tentu saja kulepaskan kau. Minggat!” Laki-laki itu lalu melontarkan tubuh itu ke arah
pintu gerbang.
Han Han cepat menggerakkan tubuh dan menangkap tubuh anak perempuan itu. Ia lalu
menurunkan tubuh anak pe-rempuan yang menggigil ketakutan dan menangis itu, kemudian
melangkah maju sambil memandang laki-laki yang kejam tadi dengan sinar mata penuh
kebencian.
“Kau manusia berhati keji, pengecut rendah yang hanya berani menghina anak perempuan
kecil!” Han Han memaki.
Laki-laki itu terbelalak heran dan kaget ketika melihat tubuh anak perempuan itu tahu-tahu
disambar oleh seorang pe-muda tanggung. Melihat pakaian pemuda itu, laki-laki yang
bekerja sebagai pe-ngawal dan tukang pukul di gedung itu mengira bahwa Han Han adalah
putera seorang berpangkat atau hartawan, maka ia berkata.
“Kongcu siapakah dan hendak mencari siapa? Harap jangan pedulikan jembel busuk ini!”
“Keparat! Hayo lekas berlutut dan mohon ampun kepadanya!” Han Han menuding ke arah
anak itu.
Merah muka si tukang pukul. “Apa? Engkau siapakah?”
“Aku seorang pelancong yang kebetul-an lewat dan menjadi saksi kekejamanmu.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
111
“Wah-wah, lagaknya. Habis, kau mau apa kalau aku tidak mau minta ampun?” Tukang
pukul itu mengejek dan berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Tentu saja ia memandang
rendah pemuda tang-gung yang kelihatan lemah ini.
“Kalau tidak mau, aku akan memak-samu!”
“Ha-ha-ha! Engkau bosan hidup? Baik, mampuslah!”
Tukang pukul yang mengandalkan kekuatan dan ilmu silatnya ini sudah menerjang maju
dengan sebuah tendangan kilat ke arah dada Han Han. Melihat gerakan orang itu masih
amat lambat, Han Han tidak menjadi gugup. Ia meng-atur langkah, menggerakkan tubuhnya
miring mengelak dan tangan kirinya de-ngan jari-jari terbuka ia hantamkan ke arah kaki yang
menendang.
“Krakkk....! Aauggghhh....!” Tubuh laki-laki itu terpelanting dan ia meringis kesakitan karena
tulang betisnya telah patah!
“Tidak lekas minta amppn?” Han Han membentak dan di dalam hatinya anak ini merasa
puas. Wajah laki-laki itu bagi-nya seolah-olah berubah menjadi wajah perwira muka kuning
dan muka brewok, dan anak perempuan itu mengingatkan ia akan cicinya dan juga ibunya
yang sudah diperhina dan diperkosa perwira-perwira tadi.
“Setan kecil!” Tukang pukul itu tentu saja tidak mau terima dan biarpun kaki-nya terasa
nyeri, ia sudah meloncat ba-ngun, golok besar terpegang di tangan-nya. Sambil menggereng
seperti harimau terluka ia meloncat terpincang-pincang, menggunakan goloknya membacok.
Biar-pun dia pandai ilmu silat, akan tetapi ilmu silatnya hanyalah ilmu silat tukang pukul
rendahan, sedangkan Han Han bi-arpun tidak pandai silat namun dia telah dibimbing oleh
orang-orang sakti yang berilmu tinggi. Dengan mudah Han Han mengelak dan kini karena
dorongan hawa marah, tangan kanannya memukul ke arah kepala orang itu.
“Prokkk....!” Tubuh orang itu terbanting, goloknya terlempar dan kepala-nya pecah! Di luar
kesadarannya, Han Han yang amat marah itu telah meng-gunakan tenaga yang timbul
karena la-tihan Hwi-yang Sin-ciang! Dia terbelalak dengan muka pucat, sejenak seperti arca
memandang ke arah mayat orang itu yang menggeletak dengan kepala pecah, muka penuh
darah, amat mengerikan. Tiba-tiba ia mendengar tangis terisak-isak. Cepat ia menoleh dan
melihat be-tapa anak perempuan jembel itu me-nangis, menggosok-gosok kedua matanya
seolah-olah hendak menyembunyikan penglihatan yang menimbulkan takut di hati-nya. Han
Han tersadar bahwa dia telah membunuh orang, dan tentu akan ber-akibat hebat. Maka ia
cepat meloncat, mendekati anak perempuan itu, me-nyambar tangannya dan diajaknya anak
itu berlari. “Hayo kita cepat pergi dari sini!” bisiknya
Berlari-larianlah kedua orang ansk itu keluar dari dalam dusun. Penduduk dusun yang
sedang berpesta-ria merayakan hari Sin-ciag tidak ada yang mempedulikan mereka karena
memang dalam suasana pesta seperti itu, tidak mengherankan melihat dua orang anak itu
berlari-larian yang mereka anggap sebagai dua orang anak yang sedang bergembira dan
ber-main-main. Keganjilan melihat seorang anak laki-laki berpakaian utuh dan baik belari-lari
menggandeng tangan seorang anak perempuan yang pakaiannya seperti anak jembel, tidak
terasa pada saat itu.
“Aduhhh.... aduhhh.... kakiku.... aahhh, berhenti dulu.... napasku mau putus....!” Anak
perempuan jembel itu menangis dan merintih-rintih, kakinya terpincang-pincang dan ia
tersaruk-saruk ketika diseret oleh gandengan tangan Han Han yang lupa diri dan
mempergunakan ilmu lari cepat.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
112
Mereka telah tiba jauh di luar dusun, di tempat sunyi. Han Han berhenti dan melepaskan
tangan anak itu. Anak perempuan itu lalu menjatuhkan diri sa-king lelahnya, duduk dan
memijit-mijit kedua kakinya sambil menangis. Han Han berdiri memandangnya.
“Engkau bocah cengeng benar!” ka-tanya dengan suara gemas, akan tetapi sebenarnya,
hatinya penuh rasa iba ter-hadap anak ini. Teringat ia akan keada-annya sendiri dahulu,
yang menjadi se-orang jembel berkeliaran tanpa teman.
Anak perempuan itu mengangkat mu-ka memandang. Sepasang matanya lebar sekali, lebar
dan jeli, memandang dengan sinar mata polos ke wajah Han Han, air matanya menetes
turun ke atas pipi, kemudian terdengar ia berkata, “Apakah engkau juga akan
membunuhku?”
Melihat sepasang mata itu, seketika timbul rasa suka di hati Han Han, rasa suka dan
kasihan. Wajah dan sikap serta kata-kata anak ini jelas menunjukkan bahwa dia bukan
seorang bocah dusun biasa. Hanya pakaiannya yang jembel, tapi anaknya sendiri tidak patut
menjadi jembel. Han Han segera ikut pula duduk di atas rumput dekat anak itu.
“Tentu saja tidak! Engkau siapakah? Di mana rumahmu? Siapa orang tuamu dan mengapa
engkau berkeliaran di dusun itu dalam keadaan seperti anak jembel?”
Mendengar pertanyaan ini, anak itu menutupi mukanya dan menangis lagi, kini menangis
sesenggukan. Han Han menghela napas dan menggeleng-geleng kepala. Ia sebenarnya
jengkel melihat anak ini perengek benar, akan tetapi karena dia pernah mengalami hal-hal
yang amat pahit dalam hidupnya, ia da-pat memaklumi keadaan anak ini dan bersikap sabar.
Ia membiarkan anak itu menangis, kemudian setelah tangis itu agak reda, ia berkata.
“Sudahlah, jangan bersedih. Engkau hidup sebatangkara, bukan? Kehilangan keluargamu?”
Anak itu mengangguk, pundaknya bergoyang-goyang karena isaknya.
“Nah, aku pun sebatangkara, aku pun kehilangan keluarga. Biarlah mulai se-karang engkau
menjadi adikku, dan aku menjadi kakakmu. Dengan begitu, kita masing-masing
mendapatkan seorang saudara, bukan?”
Anak perempuan itu menghentikan tangisnya dan memandang kepada Han Han dengan
mata merah dan muka basah. Sejenak mereka berpandangan, anak itu seolah-olah hendak
menyelidiki ke-sungguhan hati Han Han dengan sinar matanya yang bening. Han Han
terse-nyum.
“Maukah engkau menjadi Adikku?”
Anak itu mengangguk perlahan, ke-mudian tersenyum pula, senyum di antara isak tangis.
Dan hati Han Han makin suka kepada anak ini. Tidak hanya se-pasang matanya yang indah
bening dan lebar, juga senyumnya membuat sinar matahari menjadi makin cerah!
“Engkau menjadi Adikku dan kusebut engkau Moi-moi, sedangkan kau menye-but aku
Koko, namaku Han Han, she Sie. Nah, Moi-moi, sekarang ceritakan, siapa-kah namamu dan
bagaimana kau sampai sebatangkara dan tiba di tempat ini?”
Sejenak anak itu memandang Han Han dengan mata terbuka lebar, kemudian tiba-tiba ia
menubruk dan merangkul Han Han, menangis di atas dada Han Han. Kali ini ia menangis
keras, sampai ter-sedu-sedu. Dan mulut yang kecil itu ber-bisik, setengah mengerang atau
merintih.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
113
“Koko.... Han-ko (Kakak Han).... Koko....!”
Han Han menjadi terharu. Ia mengerti bahwa anak perempuan ini sekarang me-nangis
karena mendapat hiburan yang amat mendalam, menyentuh hatinya se-olah-olah anak yang
tadinya terombang-ambing dipermainkan ombak sehingga dalam keadaan ketakutan dan
kengerian selalu, tiba-tiba mendapatkan pegangan yang dapat dijadikan penyelamat. Maka
tak terasa lagi Han Han mengedip-ngedip-kan kedua matanya agar matanya yang mulai
menjadi panas tidak sampai men-jatuhkan air mata. Setelah tangis anak itu mereda, ia lalu
memegang kedua pundaknya, mendorong muka dari dadanya, memandangnya dan berkata.
“Moi-moi yang baik, sekarang katakan, siapa namamu?”
“Lulu....”
Han Han tercengang. “Eh, namamu lucu sekali! Lulu? Ayahmu she apa?”
“Ayahku seorang pembesar Mancu di kota raja....”
“Haaahhh....?” Han Han benar-benar merasa kaget sekali dan ia memandang wajah Lulu
dengan mata terbelalak. Dia ini anak Mancu? Anak pembesar Mancu?
“Ayahmu seorang perwira Mancu?” tanyanya seperti dalam mimpi dan ter-bayanglah wajah
perwira muka kuning. Suaranya mengandung kebencian dan terdengar ketus dan dingin.
Kedua ta-ngannya yang masih memegang pundak Lulu mencengkeram.
Lulu terkejut dan meringis kesakitan. Cengkeraman itu tidak terlalu erat, na-mun cukup
menyakitkan. “Ada apakah, Han-ko....?”
Akan tetapi Han Han sudah men-dorong tubuh anak itu sehingga terjeng-kang dan
bergulingan. Anehnya, sekali ini Lulu malah tidak menangis, melainkan merangkak bangun
dan berdiri menghadapi Han Han dengan matanya yang lebar itu terbelalak.
“Ko-ko, engkau kenapakah?”
“Aku benci orang Mancu!” bentak Han Han sambil membalikkan tubuhnya membelakangi
anak itu karena sesungguh-nya hatinya penuh penyesalan mengapa ia telah
memperlakukan Lulu seperti itu. Melihat sepasang mata itu, ia tidak da-pat menahan dan
membalikkan tubuh. Lulu lari menghampiri dan memegang lengan Han Han, sinar matanya
yang tajam dan polos itu menjelajahi wajah Han Han penuh pertanyaan.
“Kenapa, Han-ko? Apakah kau membenci aku juga? Engkau begitu baik....”
“Benci, ya, benci! Aku benci semua orang Mancu!”
“Tapi, kenapa....? Tentu ada alasannya. Apakah engkau.... pemberontak?”
Kalau bukan Lulu yang ia hadapi, tentu ia sudah meninggalkan anak itu, pergi dan tidak sudi
bicara lebih banyak lagi. Akan tetapi pandang mata itu se-perti mengikutinya, membuat ia
tidak dapat pergi, bahkan kini ia menjawab sebagai penjelasan sikapnya.
“Orang tuaku dibunuh, keluargaku dibasmi oleh orang-orang Mancu! Maka aku benci orang
Mancu.”
“Membenci aku juga?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
114
“Kalau kau orang Mancu, ya!”
“Tapi aku Adikmu!”
“Aku tidak sudi mempunyai Adik seorang Mancu.”
Tiba-tiba Lulu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han, lalu memeluk kedua kakinya. Ia
tidak menangis, tapi muka pucat sekali dan Lulu berkata dengan suara gemetar.
“Han-ko, jangan.... jangan membenci aku. Aku Adikmu.... jangan membenci aku. Aku
Adikmu...., dan aku akupun sebatangkara. Ayah bundaku, biarpun orang-orang Mancu,
mengalami nasib yang sama dengan orang tuamu. Ayah bundaku dibunuh orang,
keluargaku di-basmi, dan aku dilepas oleh orang-orang itu hanya dengan maksud agar aku
men-derita, agar aku menjadi seorang jembel. Malah pakaianku ditanggalkan lalu aku
dipaksa memakai pakaian jembel....! Yang melakukan pembasmian keluargaku adalah
pemberontak-pemberontak, para pengemis pemberontak, dan dan.... mereka adalah
sebangsamu. Akan tetapi.... aku tidak membenci semua orang pri-bumi, tidak membenci
engkau, Koko!”
Han Man tertegun mendengar ini. Ia menunduk dan memandang wajah yang tengadah itu
dan ia percaya. Kenyataan bahwa gadis cilik yang dibasmi keluarga-nya ini tidak membenci
semua orang yang sebangsa dengan mereka yang mem-basmi keluarganya, menusuk
perasaannya. Memang sungguh tidak adil kalau dia membenci semua orang Mancu, apalagi
gadis cilik ini yang tidak tahu apa-apa. Mereka berdua hanyalah menjadi korban perang yang
kejam dan jahat.
“Maafkan aku, Moi-moi....” Ia berkata dan menarik bangun Lulu yang tiba-tiba terisak lagi
sambil memeluk Han Han. Mereka berpelukan dengan perasaan dua orang kakak beradik
yang saling menemukan setelah lama berpisah dan hilang. Kemudian Han Han
mengajaknya melanjutkan perjalanan memasuki hutan, karena ia khawatir kalau-kalau ada
yang mengejar mereka dari dusun. Padahal tidak mungkin akan terjadi demikian karena
andaikata orang telah mendapat-kan mayat si tukang pukul, siapa yang akan menyangka
seorang anak kecil se-perti dia yang telah membunuhnya?
“Lulu-moi, kau bilang tadi bahwa pembasmi keluargamu adalah kaum pe-ngemis?”
Lulu mengangguk sambil berjalan di sisi Han Han. Mereka bergandengan ta-ngan, atau
lebih tepat Lulu yang selalu memegang tangan Han Han, agaknya anak ini khawatir sekali
kalau-kalau dia ditinggalkan kakak angkatnya ini.
“Ayah sedang berangkat ke selatan untuk menempati tugas baru di selatan, sekalian
memboyong keluarganya, yaitu ibu, dua orang Kakakku, aku sendiri dan para pelayan. Di
tengah jalan kami di-hadang oleh sekelompok pengemis, ter-jadi perang dan rombongan
Ayah terbasmi semua. Hanya aku seorang yang tidak dibunuh, melainkan ditukar pakaianku
dengan pakaian ini dan disuruh pergi. Para pemberentak itu lihai sekali, semua pengawal
Ayah dibunuh. Terutama sekali kepalanya, seorang jembel tua yang membawa tongkat
butut, tinggi kurus dan rambutnya riap-riapan. Dialah yang mem-basmi Ayah Ibuku dan
kedua Kakakku, akan tetapi dia pulalah yang melarang anak buahnya membunuhku
kemudian membebaskan aku. Dia pembunuh Ayah bunda dan Kakakku, aku tidak akan lupa
kepadanya, dan sekali waktu aku pasti akan membalas semua ini. Aku tidak akan
melupakan kakek jembel yang di-sebut Lauw-pangcu itu!”
Tiba-tiba kaki Han Han tersandung batu sehingga ia membawa Lulu terseret ke depan,
terhuyung hampir jatuh.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
115
“Hemmm...., dia....?” kata Han Han dengan jantung berdebar. Pembunuh orang tua dan
saudara Lulu ini adalah gurunya, guru pertama, Lauw-pangcu!
“Mengapa? Kau kenal dia Koko?”
“Ya, begitulah.”
“Kau hebat, kau lihai, dapat membunuh tukang pukul tadi. Engkau tentu bukan orang
sembarangan, Koko. Maukah kau membalaskan sakit hatiku ini ter-hadap Lauw-pangcu?
Aku kan Adikmu. Mau, bukan?”
“Ah, mudah saja kau bicara, Moi-moi. Untuk dapat membalas musuhmu, juga musuhku, kita
membutuhkan kepandaian yang amat tinggi. Marilah engkau ikut bersamaku dan kita belajar
sampai menjadi orang-orang pandai, baru kita bicara tentang membalas dendam. Mulai
sekarang engkau ikut dengan aku, ke manapun aku pergi.”
Lulu mempererat pegangannya, hati-nya terhibur dan ia sudah tersenyum-senyum lagi,
wajahnya yang manis ber-seri dan matanya yang lebar itu ber-sinar-sinar. “Baiklah, Koko.
Sampai mati aku tidak mau berpisah darimu.”
Ucapan terakhir ini mengharukan hati Han Han. Mereka melanjutkan perjalanan dan Han
Han memutar otaknya. Tidak ada lain jalan lagi. Dia harus membawa Lulu kepada Ma-bin
Lo-mo, minta kepada gurunya itu untuk menerima Lulu men-jadi murid. Hanya dengan jalan
inilah adik angkatnya tidak akan berpisah dari-nya, dan Lulu akan dapat mempelajari ilmu
yang tinggi.
“Sute....!”
Han Han dan Lulu berhenti dan mem-balikkan tubuh. Kiranya Kim Cu yang memanggil Han
Han dan anak perempuan ini datang berlari-lari cepat sekali se-hingga Lulu memandang
penuh kekagum-an. Kim Cu memakai pakaian yanS in-dah, dan sebuah bungkusan
menempel di punggungnya. Wajah yang ayu itu ke-merahan karena ia telah berlarian cepat
mengerahkan tenaga ketika dari jauh melihat bayangan Han Han.
“Wah, sute! Setengah mati aku mencarimu!”
“Ada apakah, suci? Bukankah waktu libur masih sehari lagi sampai besok?”
“Ada perubahan, sute. Suhu sendiri yang memerintah aku agar menyusulmu. Kita semua
harus kembali sekarang juga karena suhu hendak pergi jauh, juga Sian-kouw akan pergi,
karena itu kita harus berada di sana. Dan.... eh, siapakah dia ini?” Agaknya karena
ketegangan hatinya dan kegembiraannya dapat menemukan orang yang dicari, baru
sekarang Kim Cu mendapat kenyataan bahwa di situ ada orang ke tiga, seorang anak
perempuan bermata lebar yang berdiri memandang-nya penuh kagum dan heran.
“Aku hendak membawa dia menghadap suhu, agar dapat diterima menjadi murid di In-koksan.”
“Wah, agaknya tidak akan mudah, sute. Siapa sih anak ini?”
“Namanya Lulu, seorang becah Mancu.... heee, tahan, suci....!”
“Dukkk!” Tubuh Kim Cu terhuyung-huyung ke belakang ketika pukulannya ke arah Lulu
ditangkis oleh Han Han. Muka Kim Cu menjadi merah, matanya melotot marah.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
116
“Sute! Apa-apaan ini? Kenapa kau malah melindungi seorang setan cilik Mancu? Melindungi
musuh? Biarkan aku membunuh dia!” Kim Cu melangkah maju mendekati Lulu yang berdiri
dengan mata terbelalak ketakutan itu.
“Tidak, suci. Jangan! Dia ini bukan musuh kita.”
“Siapa bilang bukan kalau dia seorang setan cilik Mancu? Orang-orang Mancu yang telah
membasmi keluargaku, dan keluargamu juga!”
“Benar, akan tetapi bukan dia ini yang membasmi keluarga kita, suci. Se-baliknya, keluarga
Lulu ini pun terbasmi habis oleh bangsa kita, dan Lulu toh tidak menganggap kita sebagai
musuhnya. Kita harus berpikir luas dan adil, suci. Kalau seseorang melakukan kesalahan
lalu seluruh bangsa orang itu dianggap ikut bersalah, alangkah picik dan tidak adilnya ini!
Bangsa apa pun juga di dunia ini pasti mempunyai orang-orang yang jahat, termasuk bangsa
kita, suci. Kalau karena kejahatan beberapa gelintir orang-orang itu lalu bangsanya dianggap
jahat juga, wah, agaknya dunia ini tidak akan ada bangsa yang baik dan perang akan terusmenerus terjadi. Tidak, suci. Lulu ini bagi kita bukanlah orang jahat, bukan musuh kita
biarpun dia anak seorang perwira Mancu.”
Kim Cu termenung. Memang semen-jak berdekatan dengan Han Han, dia tahu betapa
sutenya ini amat pandai, betapa pikiran sutenya amat luas dan sutenya mengerti akan
segala macam urusan dunia. Hanya ilmu silat sajalah yang agaknya tidak begitu
diperhatikan sutenya dan tingkat sutenya masih lebih rendah daripada tingkat murid lainnya.
Ucapan Han Han itu berkesan di dalam hatinya dan sekaligus membuat Kim Cu timbul rasa
kasihan kepada Lulu yang berdiri dengan mata terbelalak. Alangkah indahnya mata itu,
pikirnya, dan melihat pakaian Lulu begitu buruk, ia makin kasihan dan lenyaplah semua
kemarahan-nya. Memang Kim Cu seorang anak yang jujur dan wataknya bersahaja, mudah
pula menguasai perasaan hatinya.
“Agaknya engkau benar dalam hal ini, sute. Akan tetapi engkau salah besar kalau engkau
hendak membawa Lulu kepada suhu untuk dijadikan muridnya. Begitu dia bertemu suhu, dia
tentu akan langsung dibunuh tanpa banyak cakap lagi. Engkau harus pulang bersamaku dan
kau tidak boleh membawanya ke In-kok-san, sute.”
“Tidak bisa, suci. Kalau dia ini tidak bisa ikut dan akan dibunuh suhu, lebih baik aku tidak
kembali ke In-kok-san.”
“Eh, mengapa begitu? Apamukah bocah ini, sute? Jangan bodoh....”
“Dia ini Adikku!”
“Apa? Adikmu? Anak Mancu ini.... mana mungkin Adikmu....?”
“Dia betul Adikku, dan aku Kakaknya. Baru saja kami telah bersaudara. Aku sudah berjanji
akan melindunginya, tidak akan berpisah lagi. Dia tidak punya siapa-siapa, hanya aku yang
telah menjadi kakaknya, suci,” kata Han Han, suaranya tetap.
Wajah Kim Cu menjadi berduka. “Sute, kalau kau tidak kembali.... bagaimana dengan aku?
Aku akan kehilangan....”
“Suci, engkau adalah murid In-kok-san, dan engkau mempunyai banyak saudara-saudara
seperguruan. Sedangkan Lulu tidak mempunyai siapa-siapa. Dia harus ikut bersamaku, dan
pula, sudah berkali-kali aku katakan bahwa aku tidak betah tinggal lebih lama lagi di In-koksan. Aku akan pergi bersama Adikku ini, suci. Harap suci suka mengingat hubungan baik
kita dan membiarkan aku pergi.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
117
Kim Cu termenung dengan muka se-dih. “Kalau engkau tidak kembali, suhu akan marah
sekali. Terutama sekali Sian-kouw. Lupakah kau bahwa kau telah menjadi murid Sian-kouw?
Engkau pasti akan dicari suhu, dan kalau sampai engkau tertangkap.... ah, hukumannya
mengerikan, sute.”
“Kalau melarikan diri dan tertawan, hukumannya potong kaki, bukan?”
Lulu mengeluarkan jerit tertahan. “Keji....!”
Kim Cu memandang bocah itu dengan mata marah. “Tidak keji. Ini peraturan dan orang
yang berdisiplin saja yang akan mendapatkan kemajuan! Sute, eng-kau sudah tahu akan
hukumannya. Maka harap kau jangan pergi.”
“Biarlah, aku sudah mengambil ke-putusan. Aku akan melarikan diri ber-sama Adikku, akan
bersembunyi. Kalau sampai tertangkap, terserah. Akan tetapi aku percaya engkau tidak
akan mengata-kan di mana kau bertemu denganku, suci.”
Kim Cu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. “Aku tidak akan memberi
tahu, sute. Tapi.... ah....”
“Sudahlah, suci. Harap suci suka kem-bali. Aku mau pergi sekarang juga. Mari-lah, Lulu.”
Kim Cu berdiri dengan muka sedih memandang bayangan dua orang itu yang makin
menjauh.
“Sute....! Tunggu dulu....!” Ia meloncat dan berlari mengejar.
Han Han membalikkan tubuh, alisnya berkerut. “Suci, benarkah engkau akan melupakan
persahabatan dan hendak menghalangi aku?”
Kim Cu maju dan memegang tangan Han Han. Air matanya menitik turun.
“Tidak sama sekali, sute. Aku.... aku hanya mengkhawatirkan engkau. Dan dia ini.... ah,
setelah dia menjadi Adikmu, mana bisa berpakaian seperti itu? Tunggu dulu....” Gadis cilik ini
lalu menurunkan buntalan pakaiannya, mengeluarkan se-pasang sepatu cadangan dan satu
stel pakaian, diserahkannya kepada Lulu.
“Lulu, kaupakailah ini agar engkau pantas menjadi adik Sie Han sute.”
Lulu menerima pakaian dan sepatu, memandang terharu, lalu berkata, “Enci, kau baik
sekali, dan alangkah mendalam cinta kasihmu terhadap Han-koko....”
“Cihhhhh....! Kanak-kanak bicara tentang cinta! Cinta apa?”
“Engkau mencinta Han-ko, Enci....”
“Hush! Sudahlah....!” Suara Kim Cu mengandung isak dan gadis cilik ini lalu membalikkan
tubuh dan lari dari situ dengan gerakan yang amat cepat.
Han Han berdiri melongo, memandang bayangan Kim Cu sampai gadis itu le-nyap dari
pandang matanya, kemudian ia menoleh kepada Lulu dan berkata, “Apa kau bilang tadi?
Cinta? Cinta bagai-mana?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
118
Lulu tersenyum. “Dia sungguh cinta kepadamu, Koko. Dan dia seorang gadis yang baik
sekali. Kelak aku akan senang sekali mempunyai seorang soso (kakak ipar) seperti dia.”
“Eh-eh, gilakah engkau?” Entah bagai-mana, sungphpun ia hanya menduga-duga dan
hanya mengerti setengah-setengah saja apa yang dimaksudkan Lulu, mukanya menjadi
panas dan jantungnya ber-debar-debar. “Lebih baik lekas pakai pakaian itu dan kita
melanjutkan per-jalanan.”
Lulu segera bersembunyi di balik semak-semak untuk bertukar pakaian. Ketika ia muncul
kembali, Han Han memandang kagum. Benar saja. Lulu ternyata adalah seorang gadis cilik
yang cantik jelita. Setelah kini pakaiannya bersih dan baik, dia menjadi seorang anak yang
manis sekali.
“Kita ke mana, Koko?”
“Hayo ikut sajalah. Aku ingin ke kota raja, akan tetapi belum tahu jalannya!”
“Aku datang dari sana, akan tetapi juga tidak tahu jalannya. Di jalan kita nanti tanya-tanya
orang, tentu akan sam-pai juga.”
Maka pergilah kedua anak ini, tergesa-gesa karena Han Han ingin cepat-cepat menjauhkan
diri dari In-kok-san. Ia tahu bahwa gurunya, Ma-bin Lo-mo tentu marah sekali dan akan
mencarinya, dan kalau yang mengejar dan mencarinya seorang sakti seperti itu, benar-benar
tak boleh dibuat main-main. Juga ia tidak berani sembarangan bertanya-tanya pada orang,
bahkan menghindari perjumpaan dengan orang-orang agar tidak meninggal-kan jejak. Ia
selalu mengambil jalan yang sunyi, keluar masuk hutan, naik turun gunung. Karena
perjalanan mengambil jalan yang liar dan sukar ini maka biarpun pakaian yang dipakai Lulu
pemberian Kim Cu itu masih bersih dan baik, se-telah lewat sebulan mulai robek di pun-dak
dan oleh Lulu ditambal sedapatnya mempergunakan robekan ujung baju yang baginya agak
kepanjangan.
Han Han menjadi makin suka kepada Lulu, setelah mendapat kenyataan bahwa gadis cilik
itu benar-benar memiliki wa-tak yang menyenangkan. Biarpun usianya baru sembilan atau
sepuluh tahun, Lulu adalah seorang anak yang tahu diri, tidak rewel, tidak banyak kehendak,
penurut dan juga tahan uji. Ia mentaati segala kehendak Han Han sebagai seorang adik
yang baik, bersikap penuh kasih sayang kepada kakaknya ini, dan juga tidak pernah mau
ketinggalan kalau Han Han mencari makanan untuk mereka. Betapa-pun lelahnya jika Han
Han memaksanya melanjutkan perjalanan yang sukar, gadis cilik ini tak pernah mengeluh,
maklum bahwa kakaknya kini menjadi seorang buronan. Ia pun berkali-kaii menyatakan
kegelisahannya kalau-kalau kakaknya akan tertangkap oleh guru kakaknya yang
dianggapnya seorang manusia keji dan me-ngerikan. Banyak ia bertanya tentang Ma-bin Lomo dan Han Han juga men-ceritakan apa yang ia ketahui tentang Ma-bin Lo-mo, Toat-beng
Ciu-sian-li dan lain-lain tokoh kang-ouw yang terkenal. Lulu amat tertarik mendengar cerita
itu dan berkali-kali menyatakan bahwa ia pun ingin belajar silat agar kelak men-jadi seorang
yang pandai, sehingga ia akan dapat membalas dendam kepada musuh yang telah
membasmi keluarganya.
Harus diakui bahwa Han Han yang semenjak kecil banyak membaca kitab-kitab, pengertian
umumnya sudah amat dalam, bahkan ia tahu akan filsafat-filsafat hidup. Namun karena ia
hanyalah seorang bocah, tentu saja wawasannya pun amat terbatas dan banyak hal-hal
yang tidak ia ketahui benar intinya. Se-dapat mungkin ia berusaha untuk me-nerangkan Lulu
tentang dendam pribadi dan tentang bencana akibat perang.
“Lulu adikku yang baik, kurasa engkau keliru kalau menaruh dendam kepada Lauw-pangcu,
karena sesungguhnya dia seorang yang baik, seorang patriot sejati yang gagah perkasa,”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
119
katanya hati-hati ketika pada suatu hari mereka mengaso di bawah pohon besar dalam
sebuah hutan.Lulu memandang kakaknya dengan mata lebar dan penuh penasaran. “Koko,
keluargamu terbasmi oleh perwira-perwira Mancu seperti yang pernah kauceritakan
kepadaku. Apakah engkau tidak menden-dam kepada perwira-perwira itu?”
“Tentu saja.”
“Kalau engkau menaruh dendam kepada pembasmi keluargamu, mengapa aku tidak boleh
mendendam kepada pembas-mi keluargaku?”
“Ah, jauh sekali bedanya, Moi-moi. Keluargaku terbasmi oleh orang-orang yang melakukan
hal itu menurutkan nafsu mereka pribadi, tidak ada sangkut-paut-nya dengan perang
sungguhpun hal ini terjadi dalam perang. Pembasmi-pembasmi keluargaku melakukannya
dengan rasa benci dan nafsu pribadi, terdorong oleh watak mereka yang jahat dan kejam.
Keluargaku bukanlah musuh mereka dalam perang, dan mereka melakukan pembasmian itu
karena dua hal, yaitu ingin memperkosa wanita-wanita dan ingin merampok harta benda!
Berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh Lauw-pangcu kepada keluargamu. Lauwpangcu dengan kawan-kawannya adalah pejuang-pejuang yang berusaha menentang
bangsa Mancu yang menjajah, dan Ayahmu ada-lah seorang pembesar Mancu. Tentu saja
Lauw-pangcu menganggap keluargamu musuh, bukan musuh pribadi, melainkan musuh
negara dan bangsa. Lauw-pangcu melakukan pembasmian bukan berdasar-kan kebencian
pribadi, melainkan sebagai pelaksanaan tugas perjuangan. Tahukah engkau bahwa dalam
sekejap mata saja anak buah Lauw-pangcu yang jumlahnya lima puluh orang lebih dibasmi
habis oleh seorang kaki tangan Mancu?”
Lulu merengut dan menggeleng-geleng-kan kepalanya. “Apapun yang menjadi alasan,
akibatnya sama saja, Koko. Apa pun yang menjadi dasar daripada per-buatan para
pembasmi yang kejam itu, akibatnya tiada bedanya, buktinya engkau menjadi yatim-piatu
dan aku pun sama juga. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa aku tidak lebih
sengsara dari padamu? Apakah karena sebab-sebab itu aku lalu diharuskan memaafkan
mereka?”
Ditegur oleh bocah yang matang dalam penderitaan ini, Han Han membung-kam, ia tidak
dapat menjawab, hanya berkali-kali menghela napas kemudian berkata, “Ah, entahlah, Moimoi. Memang kalau dipikir-pikir, semua perbuatan yang sifatnya membunuh di dalam perang
adalah keji! Perang menimbulkan mala-petaka yang mengerikan. Perang mem-buktikan
betapa kejamnya mahluk yang disebut manusia. Perang dan bunuh-mem-bunuh antar
manusia dilakukan dengan penuh semangat, demi perjuangan dan cita-cita alasannya.
Perjuangan dan cita-cita yang hanya diciptakan oleh beberapa gelintir manusia belaka! Aku
tidak tahu, hanya yang kuketahui sekarang, kalau kita sudah memiliki kepandaian, kita harus
membasmi orang-orang yang men-jadi musuh kita, orang-orang yang kita anggap jahat!”
“Koko, bagaimanakah orang yang ja-hat itu? Lauw-pangcu dalam anggapanku adalah
seorang yang sejahat-jahatnya karena dia telah membuat keluargaku lenyap, telah membuat
hidupku merana. Akan tetapi engkau tidak menganggapnya sebagai orang jahat, malah
gagah perkasa. Bagaimana ini?”
“Tidak tahulah.... tidak tahulah.... mungkin kelak kita akan lebih mengerti.”
Mereka melanjutkan perjalanan dan setelah mereka keluar dari hutan itu, tampaklah sebuah
bukit di sebelah de-pan. Senja telah mendatang dan di dalam cuaca yang sudah suram itu
samar-samar tampak dinding di puncak bukit.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
120
“Di puncak bukit itu tentu tempat tinggal para pendeta, kalau tidak kuli tentu sebuah dusun.
Sebaiknya kita pergi ke sana. Aku akan bekerja untuk men-carikan beberapa stel pakaian
untukmu, Moi-moi.”
“Bukan hanya untukku, Koko, engkau pun perlu akan pakaian cadangan. Lihat, pakaianmu
sudah mulai rusak pula. Aku pun dapat bekerja, apa saja, kalau perlu membantu di sawah,
atau mencuci, mem-bersihkan rumah, apa saja.”
“Engkau puteri seorang pembesar, mana bisa bekerja kasar?”
“Jangan begitu, Koko. Dahulu puteri pembesar, sekarang hanya seorang bocah jemb....”
“Hanya Adikku yang baik dan manis!” Han Han memotong dan mereka tertawa,
bergandengan tangan dan mulai mendaki bukit yang tidak berapa tingginya itu. Namun,
ketika mereka telah tiba di le-reng, tak jauh lagi dari puncak di mana tampak dinding putih
yang ternyata ada-lah pagar tembok yang tinggi, Lulu menuding dan berseru.
“Lihat! Kebakaran!”
Benar saja. Api yang berkobar-kobar tampak di balik dinding itu, makin lama makin
membesar dan sinar api merah itu memperlihatkan dengan jelas bahwa di balik pagar
tembok itu terdapat sekelom-pok rumah-rumah yang kini terbakar.
“Celaka....! Hayo kita naik terus, sedapat mungkin kita bantu mereka me-madamkan api,
Moi-moi.”
“Aku.... takut...., Koko.”
“Ada aku di sampingmu, takut apa? Hayolah!” Han Han menggandeng tangan adiknya dan
dengan bantuan sinar api mereka mendaki terus menuju ke pagar tembok. Akhirnya mereka
tiba di luar pagar tembok dan tiba-tiba Han Han menarik tangan adiknya untuk mendekam
dan berlindung di tempat gelap. Dari pintu gerbang yang terbuka mereka dapat melihat ke
sebelah dalam perkampungan itu dan keadaan di dalam perkampungan itulah yang
membuat Han Han menarik tangan adiknya diajak bersembunyi. Kira-nya di dalam
perkampungan itu terjadi perang tanding yang hebat. Tampak bayangan-bayangan manusia
berkelebatan, kilatan-kilatan senjata tajam dan ter-dengar nyaring suara senjata beradu. Di
sana-sini, jelas tampak karena disinari api yang membakar rumah, menggeletak mayatmayat orang, malang-melintang dalam keadaan mandi darah. Mengerikan! Tubuh Lulu
menggigil ketika ia merapat-kan diri kepada kakaknya, napasnya ter-engah-engah. Han Han
juga merasa tegang, akan tetapi ia mengelus-elus kepala adiknya untuk menenangkannya.
Perang tanding yang lebih banyak terdengar daripada terlihat itu berlang-sung semalam
suntuk! Demikian pula kebakaran yang agaknya tidak ada yang berusaha memadamkannya
itu. Dapat di-bayangkan betapa gelisah dan sengsara dua orang bocah yang bersembunyi di
luar tembok. Jerit-jerit ketakutan dan pekik-pekik kematian terdengar oleh mereka,
bercampur dengan suara pletak-pletok terbakarnya rumah-rumah yang makin menghebat.
Kiranya rumah-rumah dalam perkampungan itu amat berdekatan sehingga setelah api
membakar dan tidak ada usaha memadamkannya, semua di-makan api dan kebakaran itu
berlangsung sampai pagi!
Han Han yang memberanikan hatinya merangkak dan mengintai dari balik pintu gerbang,
menjadi silau matanya menyak-sikan berkelebatnya dua sinar putih. Sebagai seorang yang
pernah menjadi murid seorang pandai, ia dapat menduga bahwa dua sinar putih itu tentulah
sinar senjata yang dimainkan oleh dua orang yang amat tinggi ilmu kepandaiannya. Dua
sinar itu berkelebatan di antara puluhan orang yang mengepungnya dan ia dapat menduga
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
121
babwa tentu ada dua orang lihai yang dikeroyok oleh banyak sekali orang. Yang mengerikan
hatinya adalah ketika di antara tumpukan mayat ia melihat pula mayat-mayat wanita dan
anak-anak kecil.
Semalam suntuk tidak tidur sekejap mata pun, semalam suntuk terus men-dekam
bersembunyi, namun bagi kedua orang anak itu, agaknya semalam itu lewat dengan amat
cepatnya. Tahu-tahu sudah pagi! Dan menjelang pagi, api mulai padam dan ketika mereka
men-dengarkan, ternyata tidak ada suara apa-apa lagi. Sunyi di dalam perkampungan itu,
hanya tampak asap hitam mengepul dan masih ada suara pletak-pletok lirih. Akan tetapi
tidak ada suara manusia, tidak ada suara pertempuran.
Han Han bangkit berdiri, akan tetapi terduduk kembali karena ujung bajunya sebelah
belakang dipegang erat-erat oleh Lulu yang ketakutan. Han Han menoleh dan melihat
betapa tubuh Lulu gemetar, adiknya yang biasanya cerah itu kini pucat dan matanya
terbelalak seper-ti seekor kelinci dikejar harimau. Ia memberi isyarat agar adiknya itu
bang-kit berdiri, kemudian ia memasuki pintu gerbang itu perlahan-lahan. Lulu yang masih
menggigil ketakutan, berjalan di belakangnya, tidak pernah melepaskan ujung bajunya yang
belakang. Dua orang anak itu seperti sedang main naga-naga-an, berjalan perlahan dan
muka bergerak memandang ke kanan kiri, wajah pucat dan mata terbelalak. Hati siapa tidak
akan ngeri menyaksikan keadaan dalam perkampungan itu. Semua pondok habis terbakar,
kini menjadi arang dan hanya tinggal asapnya karena sudah tidak ada lagi yang dapat
dibakar. Yang amat me-ngerikan adalah banyaknya mayat orang berserakan di mana-mana.
Ada puluhan orang banyaknya, bahkan mungkin seratus orang lebih. Sebagian besar lakilaki tinggi besar akan tetapi banyak pula wanita-wanita, tua dan muda, ada pula anak-anak.
Mereka semua telah mati dengan tubuh terluka besar, seperti ter-babat senjata tajam, ada
yang perutnya pecah, dadanya berlubang, leher hampir putus. Mayat ini mandi darahnya
sendiri.
“Han-koko.... aku.... aku takut hiiii....!” Hampir Lulu tidak dapat melangkahkan kakinya yang
menggigil, wa-jahnya pucat sekali dan sepasang mata yang lebar itu terbelalak.
“Tenanglah, Adikku.... aku pun takut, akan tetapi mari kita lihat ke sana..... eh, dengar.... ada
orang merintih....! Hayo ke sana, suaranya datang dari belakang puing rumah itu....”
“Aku.... aku takut.... nge.... ngeri....!”
Akan tetapi Han Han sudah menarik tangan adik angkatnya. Melihat sekian banyaknya
manusia menjadi mayat, tidak seorang pun yang masih hidup, tidak ada yang merintih atau
bergerak, membuat hatinya menjadi tertarik sekali ketika ia mendengar suara merintih itu.
Dari jauh ia sudah melihat dua orang yang tidak mati, namun terluka hebat karena dua orang
itu masing-masing tertusuk pedang di bagian perut, tertusuk sampai tembus ke punggung!
Mengerikan sekali, akan tetapi juga aneh, karena justeru dua orang ini di antara puluhan
mayat yang hidup.
Han Han memiliki ketabahan yang luar biasa, tidak lumrah manusia biasa. Biarpun Lulu
sudah hampir pingsan sa-king ngerinya, namun Han Han tidak apa-apa, bahkan ia lalu
melepaskan ta-ngan Lulu dan mempercepat langkahnya menghampiri dua orang itu sambil
ber-kata.
“Moi-moi, ada orang terluka. Mari kita tolong mereka....!”
Kasihan sekali Lulu. Sudah takutnya setengah mati, kakaknya melepaskan ta-ngannya dan
lari meninggalkannya. Seper-ti seekor kelinci ketakutan ia lalu memaksa kakinya yang lemas
itu untuk lari pula mengejar. “Koko.... Han-ko, tunggu aku....!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
122
Han Han sudah berlutut di dekat dua orang yang terluka itu. Ia memandang dengan kagum
dan terheran-heran. Dua orang itu adalah seorang kakek dan se-orang nenek. Usia mereka
tentu tidak akan kurang dari tujuh puluhan tahun, akan tetapi jelas tampak betapa mereka
berdua itu dahulunya tentulah orang-orang yang elok dan gagah. Kakek itu masih tampak
gagah dan tampan, pakaiannya bersih dan dari rambutnya sampai sepatu-nya terawat rapi,
pakaiannya seperti seorang sastrawan. Jenggot dan kumisnya terpelihara baik-baik. Adapun
nenek itu biarpun sudah tua masih nampak cantik, tentu di waktu mudanya merupakan
se-orang wanita yang jelita. Juga pakaiannya rapi dan bersih. Kakek itu bersandar pada
meja batu yang terdapat di taman, sebatang pedang menancap di perutnya sampai tembus
punggung. Adapun nenek itu setengah rebah menyandarkan kepala di pundak kanan itu,
juga sebatang pe-dang menancap di dadanya, menembus ke punggung. Yang
mengherankan Han Han, pedang itu sama benar bentuknya, juga serupa gagangnya,
pedang yang amat indah, yang putih berkilau seperti perak. Si nenek menyandarkan
kepalanya sambil merintih dan rintihan nenek inilah yang tadi terdengar oleh Han Han.
Tangan nenek itu meraba-raba perut kakek yang tertancap pedang. Kakek itu sendiri sama
sekali tidak mengeluh, seolah-olah perut ditembusi pedang tidak terasa nyeri oleh-nya, dan
lengannya merangkul si nenek penuh kasih sayang.
“Tenanglah, Yan Hwa.... tenanglah menghadapi
Seperguruan) tenanglah, Adikku, ke-kasihku....”
maut
bersamaku,
sumoi
(Adik
“Oughhh.... suheng (Kakak Seperguruan) aduhhh, Koko (Kanda), mengapa baru sekarang
menyebut kekasih....? “Aku.... aku.... selamanya cinta kepadamu, suheng....”
“Hushhh.... ada orang datang, diam-lah....”
“Aughhh.... ahhh, panas rasa kerongkonganku...., aduh, Kanda, minum.... minum....”
Hati Han Han sebenarya sudah tidak mudah lagi terharu. Perasaan hatinya sudah setengah
membeku oleh peristiwa hebat yang dialaminya dahulu. Namun kini menyaksikan keadaan
kakek dan nenek itu, ia terheran-heran dan juga timbul rasa iba di hatinya.
“Locianpwe, biarlah saya yang men-carikan air minum....!” Tanpa menanti jawaban dua
orang yang sedang dalam sekarat itu, ia bangkit den cepat pergi mencari air.
“Han-ko.... tunggu....!” Lulu berteriak dan meloncat pula mengejar kakaknya. Anak kecil ini
merasa terlalu ngeri ka-lau ditinggal sendirian di dekat kakek dan nenek yang sekarat itu.
“Mari kita mencari air minum untuk mereka. Kasihan mereka....” kata Han Han yang menanti
adiknya lalu meng-gandeng tangan adiknya. Sebentar saja mereka mendapatkan sebuah
tempat air dan mengisinya dengan air lalu kembali ke dalam taman. Wajah kedua orang tua
itu sudah pucat karena darah mereka terus mengucur keluar dari luka di perut dan dada.
“Ini airnya, locianpwe,” kata Han Han. Ia menyebut locianpwe karena ia dapat menduga
bahwa mereka berdua itu tentulah bukan sembarang orang, bahkan ia menduga bahwa
kematian puluhan orang itu tentu ada hubungannya dengan mereka. Adapun Lulu berdiri di
belakang Han Han, terbelalak memandang dua orang yang terluka berat dan sedang saling
berpelukan mesra itu.
“Oohhh, mana air....?” Nenek itu mengeluh. Kakek itu membuka matanya dan sejenak
pandang matanya bertemu dengan pandang mata Han Han. Kakek itu membelalakkan mata,
seperti terpesona memandang wajah Han Han, akan tetapi segera menerima tempat air dan
memberi minum nenek yang kehausan dan sedang sekarat itu. Air diminum dengan lahap
sampai terdengar meng-gelogok dan sebagian besar tumpah. Nenek itu terengah kepuasan,
wajahnya menjadi tenang, dengan sikap manja merebahkan pipi kirinya di atas pundak
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
123
kakek itu, tangannya memeluk pinggang, matanya merenung seperti orang ngantuk, akan
tetapi tidak merintih lagi. Kakek itu tidak minum, bahkan tiba-tiba ia menggerakkan tangan
yang memegang tempat air. Han Han terkejut sekali melihat tempat air itu melayang jauh
sekali dan jatuh ke atas tanah, tidak pecah, bahkan air di dalamnya yang masih setengah itu
tidak tumpah, muncrat setetes pun tidak, seolah-olah tempat air itu dibawa melayang tangan
yang tidak tampak dan diletakkan di tempat itu! Wajah kakek itu kelihatan dingin ketika
memandang kepadanya dan bertanya.
“Engkau siapa?”
Han Han adalah seorang anak yang amat kukoai (aneh), babkan tidak kalah kukoai oleh
datuk-datuk persilatan yang bagaimana aneh wataknya sekalipun. Kalau tadi ia merasa iba,
kini menyaksi-kan sikap kakek itu, timbul keberanian-nya dan ia pun hanya berdiri sambil
memandang. Sinar kemarahan terpancar keluar dari pandang matanya dan ia men-jawab,
sama kakunya dengan suara kakek itu.
“Namaku Sie Han!” Hanya sekian ia berkata karena tidak ada hasrat hatinya lagi untuk
mengetahui siapa adanya kakek dan nenek itu dan apa yang terjadi sehingga mereka terluka
seperti itu.
Kembali dua pasang mata beradu pandang dan kakek itu makin terbelalak.
“Eh....! Matamu....!”
“Mataku kenapa?” balas tanya Han Han, makin penasaran.
“Seperti....”
“Mata setan!” Han Han melanjutkan, makin mendongkol dan teringat akan pengalamannya
dengan Lauw-pangcu dan juga dengan Kang-thouw-kwi dan Ma-bin Lo-mo. Mereka itu
semua menyata-kan keheranan akan matanya. Lama-lama ia menjadi bosan juga kalau
tokoh besar selalu menyebut-nyebut matanya.
Kakek itu menggeleng-geleng kepala, dan aneh.... dia tersenyum geli. “Wah, tidak hanya
matanya, juga wajahmu dan sikapmu yang kepala batu.... akan tetapi pada dasarnya berhati
penuh welas asih.... eh, engkau benar-benar bocah aneh, mengingatkan aku akan seorang
sahabatku yang amat baik.”
“Hemmm, locianpwe yang aneh. Bi-cara tentang sahabat, akan tetapi keadaan locianpwe
berdua ini tidak membayangkan bahwa locianpwo baru saja bertemu dengan seorang
sahabat,” Han Han menuding ke arah dua batang pedang yang masih menancap di tubuh
mereka.
Nenek itu mengangkat muka memandang kakek yang masih dipeluknya. “Koko.... siapa
bocah setan ini? Perlu apa bicara dengan dia? Mana.... mana dia.... Jai-hwa-sian?”
“Sabar, Moi-moi.... Jai-hwa-sian belum juga datang.... ahhh, sayang sekali.... kalau sampai
kita keburu mampus sebelum dia muncul....”
Han Han terkejut sekali. Tadinya ia merasa geli dan juga iba mendengar betapa dua orang
tua renta ini demikian kemesra-mesraan dan menyebut koko dan moi-moi. Akan tetapi
mendengar nama Jai-hwa-sian disebut-sebut, ia terkejut.
“Locianpwe mencari Kong-kongku?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
124
Kakek itu mengangkat muka meman-dang, cemberut. “Siapa mencari Kong-kongmu? Siapa
itu Kong-kongmu?”
“Jai-hwa-sian....!”
“Hehhh....?”
“Ihhhhh....?”
Kakek dan nenek itu berseru kaget dan kini memandang Han Han yang masih berdiri
dengan muka merah. Dia tadi telah kelepasan bicara, mungkin ia mengaku Jai-hwa-sian
sebagai kakeknya hanya karena merasa penasaran tidak dipandang mata oleh kakek itu,
juga karena ia terkejut dan teringat akan sangkaan Kang-thouw-kwi bahwa dia adalah cucu
Jai-hwa-sian.
“Heh, anak setan, siapa nama Kong-kongmu?”
“Namanya Sie Hoat.”
Kakek itu mengerutkan alisnya, sedangkan nenek itu yang masih lemah telah
menyandarkan kembali pipinya ke pundak Si Kakek dengan sikap manja.
“Bagaimana kau tahu kakekmu itu berjuluk Jai-hwa-sian?”
“Yang memberi tahu adalah Setan Botak.”
“Setan Botak? Kaumaksudkan Setan Botak si....?”
“Siapa lagi kalau bukan Setan Botak Kang-thouw-kwi? Apakah ada Setan Botak ke dua di
dunia ini?” kata Han Han, masih panas hatinya, apalagi karena ka-kek itu menganggapnya
main-main.
Kini mata kakek itu makin terbelalak. Baru sekarang, setelah menghadapi ke-matian, ia
menemukan seorang anak yang begini kukoai, berani memaki Kang-thouw-kwi dengan
julukan Setan Botak. Padahal, ratusan orang gagah di dunia kang-ouw akan berpikir-pikir
seratus kali lebih dulu untuk berani memaki seperti itu!
“Di mana Kakekmu yang berjuluk Jai-hwa-sian itu sekarang?” Kakek itu mulai mendugaduga barangkali Jai-hwa-sian benar-benar datang bersama cucunya dan sengaja menyuruh
cucunya itu datang lebih dulu. Kalau anak ini benar-benar cucu Jai-hwa-sian, tidaklah begitu
aneh kalau berani memaki Kang-thouw-kwi.
Akan tetapi anak itu menggeleng-geleng kepala. “Aku sendiri tidak tahu. Mungkin sudah
mati, seperti yang diduga Ayah. Aku sendiri tidak pernah melihatnya, sudah puluhan tahun
pergi merantau, menurut dongen Ayah....”
“Siapa nama Ayahmu dan di mana tinggalnya?”
“Ayah bemama Sie Bun An, dahulu tinggal di Kam-chi....”
“Sie Bun An? Suma Bun An? Di Kam-chi katamu? Ha-ha-ha-ha-ha, betul juga!” Kakek itu
tertawa bergelak sehingga Han Han menjadi heran dan mengira bahwa tentu kakek yang
sudah sekarat ini men-jadi berubah ingatannya alias menjadi gila.
“Sekarang di mana adanya Ayahmu itu? Di mana Suma Bun An?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
125
“Locianpwe! Ayahku adalah Sie Bun An, apa ini Suma-suma segala?”
“Ha-ha-ha! Dasar pengecut, mengingkari she apakah berarti dapat mem-bersihkan diri dari
noda? Ya-ya, biarlah, Sie Bun An. Di mana dia kalau engkau tidak tahu di mana adanya
Kakekmu?”
“Ayah dan sekeluargaku telah dibunuh perwira-perwira Mancu....”
“Ha-ha-ha-ha-ha, hukum karma....! Ha-ha-ha, tak dapat dihindarkan lagi....”
“Locianpwe!” Han Han membentak, marahnya bukan main. Belum pernah dia menceritakan
riwayatnya kepada siapapun juga dan kalau dia mau menceritakan tentang ayahnya dam
keluarganya kepada kakek ini hanyalah karena ia tahu betul bahwa orang yang perutnya
sudah tertembus pedang itu takkan dapat hidup lebih lama lagi. Akan tetapi, dia yang sudah
berterus terang menceritakan, malah ditertewakan! Inilah yang benar-benar dapat disebut
bocengli (tak tahu aturan)!
Akan tetapi kakek itu tidak peduli, malah tertawa terus dan berkata-kata seorang diri, “Haha-ha, hukum karma! Jai-hwa-sian, engkau tak dapat lari dari kenyataan! Engkau orang
sesat, datuk sesat, hukum karma pasti mengejarmu, betapapun engkau baik terhadap kami.
Hukum karma akan mengejar setiap manusia, semua perbuatan jahat akan menimbulkan
akibat, buah daripada pohon perbuatan sendiri akan dipetik sendiri.... seperti juga kami
berdua...., kami berdua mungkin lebih sesat daripada engkau, maka buahnya pun lebih
pahit.... aahhh!” Kakek itu kini menangis terisak-isak!
“Kakek.... kenapa menggali hal-hal lampau....? Tidak, buah yang kita petik tidak begitu
pahit.... engkau mati di tanganku, aku mati di tanganmu, kita menemukan kembali cinta
kasih, di ambang maut.... kita mati dalam cinta.... alangkah bahagianya....” Dengan napas
terengah-engah nenek itu memeluk leher kakek itu dan mencium bibirnya! Mereka
berciuman seperti dua orang muda yang sedang diamuk asmara, berciuman mulut dengan
mesra, sedangkan darah menetes-netes dari mulut mereka!
Kini Han Han berdiri melongo. Ke-marahan dan penasaran di hatinya lenyap tak berbekas
seperti awan ditiup angin. Ia terheran-heran dan memandang terbelalak, menyaingi
sepasang mata Lulu yang sejak tadi terbelalak penuh kengerian. Akan tetapi nenek itu sudah
hampir putus napasnya, tidak kuat berciuman lama, dan ia terengah-engah, meletakkan
kembali pipi kirinya di atas pundak Si Kakek, bibirnya merah sekali, merah terkena darah,
darahnya sendiri dan da-rah kakek itu. Bibirnya tersenyum, penuh kebahagiaan, penuh
pasrah, seperti seorang bayi akan tidur di pangkuan ibunya.
“Moi-moi.... anak ini cucunya.... kita berikan saja kepadanya, ya?”
“Terserah, Koko.... terserah kepadamu. Lekas berikan.... aku sudah ingin sekali me-layang
pergi bersamamu, Koko....”
Kakek itu kini dengan tangan menggigil merogoh sakunya di sebelah dalam jubahnya, dan
tangan kirinya mengeluarkan sebuah kitab dari saku bajunya, sedangkan tangan kanannya
meraba-raba dan merogoh saku di balik baju Si Nenek, mengeluarkan sebuah kitab pula
yang sama bentuk dan warnanya, kekuning-kuningan. Ia menumpuk dua buah kitab itu di
tangan kirinya lalu berkata, suaranya sungguh-sungguh, namun lemah sekali.
“Dengar, anak yang bernama Sie Han.... dengarlah baik-baik, berlututlah....”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
126
Suara yang lemah menggetar itu mem-punyai wibawa yang luar biasa dan Han Han tak
dapat membangkangnya. Ia tahu bahwa saat kematian kakek dan nenek itu sudah dekat
sekali, maka demi meng-hormat dua orang yang hendak mati, ia pun berlututlah. Lulu yang
tidak disuruh berlutut, namun juga dapat merasakan suasana penuh kengerian dan
ketegangan ini, merangkap kedua tangan di depan dada, penuh hormat dan takut-takut.
Dengan tangan gemetar, kakek itu mengangsurkan tangan kirinya yang me-megangi dua
buah kitab kuning. “Kauterimalah ini.... kausimpan baik-baik dalam bajumu! Lekas.... jangan
bertanya, simpan dulu, nanti kuberi pen-jelasan....”
Han Han tidak diberi kesempatan membantah dan seperti ada sesuatu yamg menggerakkan
hatinya anak ini menerima sepasang kitab yang kecil itu, langsung ia masukkan ke balik
bajunya.
“Dekatkan telingamu....”
Han Han menggeser lututnya, men-dekat dan mendengar mulut kakek itu berbisik lirih di
dekat telinganya, “Tam-bah satu titik di kiri, tambah dua coret-an melintang, buang dua titik
di bawah, buang satu coretan menurun....”
“Sudah mengertikah engkau?”
Han Hen mengangguk dan mencatat pesan itu di dalam hatinya, sungguhpun ia sama sekali
tidak mengerti apa mak-sudnya.
“Simpan kitab-kitab itu dan kalau kelak kau dapat bertemu dengan Jai-hwa-sian, berikan
kepadanya berikut pe-san yang kubisikkan tadi. Berjanjilah sebagai seorang jantan untuk
memenuhi pesan kami berdua, pesan dua orang yang mau mati.”
Kembali Han Han penasaran. Tidak percayakah kakek ini kepadanya? “Aku berjanji,
locianpwe.”
Kakek itu menarik napas panjang, agaknya hatinya menjadi lega. Keadaan-nya sudah
makin lemah terutama nenek itu yang kini benar-benar sudah seperti orang tertidur pulas.
Kakek itu menge-rahkah tenaga, mengembangkan dada, lalu berkata, suaranya tidak
selemah tadi, penuh semangat.
“Sie Han, dengarkan baik-baik, tiada banyak waktuku. Ketahuilah, kami berdua yang dikenal
sebagai Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis). Tidak ada datuk persilatan yang tidak
mengenal kami berdua. Kami datang dari utara, men-jagoi di empat penjuru. Aku Can Ji Kun
bukan sombong, mungkin aku sendiri atau sumoiku Ok Yan Hwa ini masih dapat ditandingi
orang, akan tetapi kalau kami berdua bergabung menjadi satu, aku Si Iblis Jantan dan dia ini
Si Iblis Betina, tidak akan ada orang yang mampu mengalahkan kami....”
“Juga Koai-lojin tidak mampu....?”
Untuk terakhir kalinya kakek yang bernama Can Ji Kun itu terbelalak heran.
“Engkau tahu pula akan Koai-lojin?”
“Hanya mendengar penuturan orang lain. Akan tetapi aku memang bermaksud hendak
mencari Koai-lojin,” jawab Han Han sederhana dan sejujurnya.“Anak, engkau memang anak
yang aneh, dan aku makin percaya bahwa kakekmulah Jai-hwa-sian itu. Kulanjutkan
penuturanku selagi aku masih kuat bicara. Kami suheng dan sumoi, seperti engkau saksikan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
127
sendiri, saling mencinta dan kelihatannya rukun dan saling membela, saling membantu,
saling melindungi. Sayang sekali, kenyataannya selama puluhan tahun tidaklah demikian.
Kami tidak bisa menjadi suami isteri, tidak bisa menikah karena sumpah kami di depan guru
kami....”
“Sumpah apakah, locianpwe?” Han Han bertanya, tertarik hatinya. Juga Lulu yang masih
berdiri di belakang Han Han, mendengarkannya dengan hati ter-tarik dan berkurang rasa
ngerinya. Ke-adaan yang bagaimana mengerikan sekali-pun akan kalah oleh biasa, lamakelamaan hati akan terbiasa juga.
“Guru kami menyumpah bahwa murid-muridnya tidak boleh menikah, kalau dilanggar harus
ditebus nyawa....”
“Iihhh...., kejam....!” seru Lulu.
“Karena itu, biarpun saling mencinta, kami berdua tidak dapat mengikat tali perjodohan. Hal
ini membangkitkan semacam kedukaan, kekecewaan dan akhirnya berubah menjadi
kebencian. Kami lalu mulai mengumbar nafsu kebencian ini, kami saling berlomba berebut
untuk membunuh-bunuhi orang yang dianggap jahat. Kami tidak pandang bulu, dan karena
itulah kami dikenal sebagai Se-pasang Pedang Iblis yang telengas. Dusun ini adalah sarang
berandal, dahulu, pu-luhan tahun yang lalu kami berdua ham-pir celaka oleh kecurangan
perampok-perampok ini, untung ada Jai-hwa-sian yang menolong kami. Karena itu, hari ini
kami yang kebetulan mendapatkan sarang mereka, datang membasmi mereka. Akan tetapi,
kembali kami saling berlomba dan akhirnya kami tidak hanya bersaing, me-lainkan saling
serang sehingga akhirnya.... engkau lihat sendiri akibatnya....” Kakek itu mulai lemah
suaranya.
Nenek itu membuka mata dan ber-kata, suaranya seperti orang berbisik, “Memang, jodoh
antara kira harus ditebus dengan nyawa, Koko.... dan aku.... aku girang sekali.... aku
bahagia....”
Kakek itu mencium kening nenek itu. “Sie Han.... Thian (Tuhan) telah mengi-rim engkau
sebagai ahli waris kami.... kalau engkau tidak dapat menemukan Jai-hwa-sian, sepasang
kitab itu kuberi-kan kepadamu.... engkau.... engkau mulai saat ini menjadi murid kami, dan
aku girang mempunyai murid seperti eng-kau....”
Han Han yang tahu bahwa dua orang itu takkan bebas dari kematian, tidak mau
mengecewakan mereka. Gurunya sudah banyak. Lauw-pangcu, Ma-bin Lo-mo dan yang
terakhir Toat-beng Ciu-sian-li. Sekarang ditambah lagi dengan Sepasang Pedang Iblis ini,
tidak meng-apalah. Ia lalu menelungkup sebagai peng-hormatan dan menganggukanggukkan kepalanya.
“Teecu (murid) menghaturkan terima kasih kepada suhu dan subo (Ibu Guru).”
Akan tetapi kakek itu sudah tidak mempedulikannya karena kini ia meng-alihkan
perhatiannya kepada nenek itu. Mereka kembali saling rangkul, saling mencium dan....
mereka menghembuskan napas terakhir dalam keadaan seperti bersandar pada meja batu
dan kalau saja tidak ada sepasang pedang yang menan-cap dan menembus tubuh mereka,
tentu mereka itu disangka sebagai dua orang yang sedang tenggelam dalam permainan
cinta.
“Suhu....! Subo....!” Han Han mengguncang-guncangkan tubuh mereka, seperti orang
hendak membangunkan dua orang dari tidur nyenyak. Namun mereka ber-dua itu tidak akan
bangun lagi dan gun-cangan tubuh mereka itu membuat rang-kulan terlepas dan tubuh
mereka terguling, satu ke kanan satu ke kiri.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
128
“Me.... mereka.... sudah mati.... oohhh....!” Lulu menahan isaknya, merasa ngeri kembali
karena baru sekarang selama hidupnya ia melihat orang meng-hembuskan napas terakhir.
“Aku harus mengubur mereka....”
“Hayo kita pergi. Han-ko...., aku takut sekali....”
“Nanti dulu, Lulu. Aku harus mengu-bur jenazah mereka. Mereka ini adalah suhu dan subo.
Aku tidak mau menjadi seorang murid yang tidak mengenal budi. Tunggulan sebentar.”
“Kalau begitu, mari kubantu engkau, Han-ko.”
Dua orang anak itu lalu bekerja keras mengggali sebuah lubang di bawah pohon dalam
taman itu. Untung bahwa Han Han -memiliki tenaga besar yang tidak disadarinya, sehingga
dalam waktu be-berapa jam, setelah matahari naik tinggi, tergalilah sebuah lubang cukup
besar. Lulu juga membantunya, mempergunakan dua buah cangkul yang mereka temu-kan
di dusun yang sudah terbakar itu.
“Pedang-pedang itu bagus sekali!” bisik Lulu.
Han Han menggeleng kepala. “Untuk apa pedang bagi kita, Moi-moi? Pedang itu adalah
pedang mereka dan agaknya mereka itu senang sekali terbunuh de-ngan pedang masingmasing. Biarlah kita mengubur mereka berikut pedang-pedang-nya.”
Lulu tidak berani membantu ketika Han Han mengangkat tubuh dua orang tua itu, satu demi
satu, ke dalam lubang. Akan tetapi ia membantu dengan rajin ketika Han Han menguruk
lubang itu dengan tanah galian. Selesailah penguburan sederhana itu, dan Han Han lalu
berlutut memberi hormat untuk ter-akhir kalinya di depan makam suami isteri yang menjadi
gurunya. Lulu juga ikut-ikutan berlutut memberi hormat.
“Sekarang kita harus cepat pergi dari sini....” kata Han Han. Sebetulnya Lulu telah lelah
sekali bekerja setengah hari dan tidak makan, hanya minum air yang bisa mereka dapatkan
di bekas dusun itu. Akan tetapi karena ia merasa ngeri un-tuk berdiam lebih lama lagi di
dusun yang penuh mayat bergelimpangan, ia merasa girang diajak pergi dan setengah
berlari mereka keluar dari dusun yang terbasmi habis oleh keganasan sepasang manusia
aneh itu.
Setelah agak jauh dari dusun itu, Han Han teringat bahwa keadaannya tadi amatlah
berbahaya. Puluhan mayat ber-ada di dalam dusun yang terbakar habis, dan yang hidup
hanyalah dia dan Lulu!
Bagaimana kalau sampai ada orang lain datang ke dusun itu? Tentu dia dan Lulu akan
disangka menjadi penyebab kejadian mengerikan itu. Berpikir demikian, ia lalu memegang
tangan Lulu dan diajaklah anak itu berlari.
“Aduh.... aduh.... perlahan-lahan, Koko.... kakiku sakit....!”
Akan tetapi Han Han yang kini sadar akan bahaya yang mengancam mereka kalau sampai
ada orang tahu, segera berjongkok dan berkata, “Lekas, mari kugendong....”
Lulu sudah merasa lelah sekali, lelah karena semalam tidak tidur, ditambah tadi bekerja
keras menggali kuburan, terutama sekali karena mengalami ketegangan hebat. Maka
giranglah hatinya ketika kakak angkatnya hendak meng-gendongnya. Tanpa banyak cakap
ia lalu merangkul leher Han Han dari belakang dan mengempit pinggang kakaknya de-ngan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
129
kedua kaki. Han Han bangkit ber-diri lalu lari secepatnya. Tubuh Lulu yang hangat
menempel tubuhnya mem-buat hatinya merasa girang sekali, merasa bahwa kini ada orang
yang menya-yangi, yang juga amat disayangnya dan yang harus ia lindungi. Keluarganya
sudah habis, dan kini semua rasa sayang terhadap keluarganya itu ia tumpahkan kepada diri
Lulu. Sambil merangkul kedua kaki adik angkatnya, ia berlari terus tanpa mengenal lelah. Ia
harus pergi sejauh mungkin dari bukit di mana ter-dapat dusun perampok yang terbasmi
habis itu.
Sambil berlari, Han Han teringat akan semua peristiwa tadi. Ia bingung dan terheran-heran.
Benarkah kakeknya adalah orang yang berjuluk Jai-hwa-sian itu? Kalau benar, mengapa
ayahnya atau ibu-nya tidak pernah bercerita tentang ka-keknya? Pernah ia bertanya tentang
ka-keknya, namun ayahnya hanya mengata-kan bahwa kakeknya sudah pergi jauh tak
diketahui tempatnya semenjak ayahnya masih kecil. Yang ia ketahui hanya bahwa kakeknya
itu bernama Sie Hoat. Agaknya tidak mungkin kalau kakeknya itu adalah seorang sakti dan
aneh seperti mendiang Can Ji Kun si Iblis Jantan, atau seperti Kang-thouw-kwi dan datukdatuk lain. Kalau kakeknya seorang sakti, sedikitnya tentu ayahnya seorang yang
berkepandaian pula. Akan tetapi ayahnya.... ah, hatinya kecewa sekali kalau ia teringat akan
ayahnya. Teringat akan segala pe-ristiwa yang menimpa ayahnya. Ayahnya memang tewas
sebagai seorang gagah yang membela keluarga, akan tetapi seorang gagah yang lemah dan
sama sekali tidak memiliki kepandaian silat. Ayahnya seorang lemah. Mungkinkah ayahnya
putera seorang sakti?
Jai-hwa-sian! Dewa Pemetik Bunga! Sudah banyak ia baca, dan ia tahu apa artinya seorang
jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga), yaitu seorang penjahat cabul yang suka memperkosa
wanita! Biarpun sakti dan berilmu tinggi, akan tetapi jahat. Dan dia menjadi cucu se-orang
penjahat cabul? Ah, tak mungkin! Dan ia tidak sudi. Tentu hanya kesalahan tafsir belaka.
Bukan! Dia bukan cucu Jai-hwa-sian. Akan tetapi, dia harus me-menuhi permintaan
Sepasang Pedang Iblis tadi yang telah menjadi gurunya, dia harus mencari Jai-hwa-sian dan
menye-rahkan sepasang kitab ilmu pedang itu. Apa pula rahasianya? Han Han memiliki
daya ingatan yang amat kuat. Ketika ia mengenangnya kembali, terngiang di telinganya
bisikan Can Ji Kun si Iblis Jan-tan, “Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang,
buang dua titik di bawah, buang satu coretan menurun.”
Dia tidak tahu apa artinya ucapan itu, akan tetapi dia harus menghafalnya dan tak boleh
melupakannya, karena ucapan rahasia itu harus disampaikan pula kepada Jai-hwa-sian
bersama se-pasang kitab ilmu pedang. Akan tetapi ke mana ia harus mencari Jai-hwa-sian?
Dan ke mana ia harus pergi? Suhunya yang ke dua, Ma-bin Lo-mo tentu akan mencarinya
dan kalau ia sampai ditang-kap, celakalah! Dia harus pergi jauh, bersama Lulu. Ke mana?
Ke kota raja! Dengan keputusan hati ini, Han Han melanjutkan larinya. Tanpa ia sadari
kedua kakinya sudah lelah sekali. Hanya berkat kemauannya yang keras luar biasa maka ia
dapat berlari terus sampai menjelang senja di mana ia tiba di pinggir sebuah sungai yang
airnya jernih. Melihat air gemilang inilah yang membuat lemas seluruh persendian tulangnya.
Sekali ia melihat air dan merasa haus, terasalah seluruh kebutuhan jasmaninya. Haus, lapar,
lelah! Kakinya tersandung batu dan ia jatuh terguling! Akan tetapi karena teringat kepada
Lulu, ia cepat memutar tubuh dan menyambar tubuh adik angkat-nya, membiarkan dirinya
yang jatuh terbanting di bawah, sedangkan tubuh Lulu tidak sampai terbanting. Bahu dan
pun-daknya terasa nyeri, akan tetapi ketika ia memandang Lulu yang dipeluknya, ia tertawa.
“Bocah malas! Enak saja kau, ya?” Ia mengomel, akan tetapi yang diomelinya tidak
menjawab sama sekali karena sejak tadi Lulu memang sudah tertidur pulas di atas
punggung Han Han. Demikian pulas tidurnya sampai dia tidak merasa bahwa dia hampir
terbanting jatuh.
Melihat keadaan adiknya, hati Han Han diliputi penuh rasa sayang dan ka-sihan. Ia lalu
merebahkan tubuh anak perempuan itu perlahan-lahan di atas rumput hijau tebal di pinggir
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
130
sungai, kemudian ia turun ke sungai, mandi dan minum sampai kenyang. Setelah itu, ia
kembali ke bawah pohon di mana Lulu masih tertidur nyenyak. Ia lalu menang-galkan
bajunya dan diselimutkan pada tubuh Lulu karena ia melihat betapa anak itu dalam tidurnya
agak menggigil, menarik kedua kakinya sampai lutut menempel ke dada tanda kedinginan.
“Kasihan....” bisiknya penuh kasih sayang. Aku harus mencarikan makanan untuknya. Akan
tetapi pada saat Han Han berdiri dan membalikkan tubuh hen-dak mencari makan, hampir ia
menjerit saking kaget dan cemasnya. Ternyata, tanpa dapat didengarnya sama sekali, di situ
telah berdiri Ma-bin Lo-mo! Bukan hanya kakek muka kuda itu sendiri yang datang,
melainkan berempat, yaitu ada tiga orang lain lagi yang berdiri seperti arca dengan
pandangan mata tak acuh kepada Han Han. Seorang adalah laki-laki gundul seperti hwesio,
ke dua se-orang laki-laki bermuka tengkorak saking kurusnya, dan yang ke tiga seorang lakilaki bermuka bopeng, penuh totol-totol hitam. Usia mereka itu rata-rata lima puluhan tahun,
dengan sikap dingin yang menyeramkan. Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri memandang kepada
Han Han de-ngan muka bengis!
Han Han bukan seorang penakut. Sa-ma sekali tidak. Rasa takut seakan-akan telah
terhapus dari hatinya bersama de-ngan terbasminya keluarganya. Dan ia memiliki rasa
tanggung jawab yang ter-cipta daripada pengetahuannya tentang filsafat. Ia cerdik pula,
kecerdikan yang timbul dari keadaan tidak wajar setelah ia hampir mati disiksa para perwira
di rumahnya yang terbasmi dahulu. Kini ia pun cepat menggunakan pikirannya, tahu bahwa
ia tak mungkin dapat meloloskan diri dari tangan gurunya yang amat lihai ini. Tahu pula
bahwa tiada gunanya me-lawan atau mencoba untuk melarikan diri. Nasibnya sudah pasti.
Akan tetapi dia tidak mau kalau sampai Lulu ter-bawa-bawa mengalami bencana. Oleh
karena itu, cepat pikirannya bekerja dan ia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Mabin Lo-mo.
“Suhu.”
“Hemmm, murid durhaka! Engkau sadar akan dosamu?”
“Teecu sadar dan teecu tidak me-nyangkal. Teecu telah melarikan diri dari In-kok-san
karena teecu ingin bebas.” Dia tidak mau menyebut terus terang bahwa kepergiannya itu
terutama sekali karena ia tidak mau berpisah dari Lulu. “Karena itu, harap suhu suka
menjalan-kan hukuman. Teecu menyerahkah se-belah kaki teecu, aken tetapi setelah
hukuman terlaksana, harap Adik angkat teecu ini tidak diganggu dan biarkan teecu bersama
dia.” Setelah berkata demikian, Han Han mengubah duduknya, tidak berlutut melainkan
duduk dan me-lonjorkan kedua kakinya untuk dipilih suhunya, mana yang akan dibikin
buntung!
Diam-diam Ma-bin Lo-mo kagum bu-kan main. Belum pernah selama hidupnya ia
menyaksikan seorang bocah yang me-miliki ketabahan dan kekerasan hati se-perti ini!
Menyerahkan kaki begitu saja untuk dihukum potong tanpa sedikit pun memperlihatkan hati
takut atau gentar, bahkan penyesalan pun tidak, minta ma-af pun tidak, melainkan berani
bertang-gung jawab sepenuhnya!
“Enak saja kau bicara! Karena Sian-kouw yang langsung mengajarmu, dia pula yang berhak
menghukummu. Dan bocah ini yang menjadi gara-gara, akan kuhukum sendiri, hukum
penggal kepala di depanmu!”
Kaget bukan main hati Han Han. Hal ini sama sekali tak pernah ia sangka-sangka, maka ia
lalu menoleh kepada Lulu. Anak perempuan itu agaknya terjaga karena mendengar suara
ribut-ribut, membuka matanya, mengucek-ucek mata kemudian memandang dengan
sepasang mata lebar kepada Ma-bin Lo-mo dan tiga orang temannya. Melihat Han Han
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
131
duduk ber-simpuh, ia seperti merasa bahwa ada hal-hal tidak beres. Cepat ia menubruk
kakaknya dan berkata.
“Koko...., ada apakah....? Siapakah orang-orang buruk ini?”
“Ssttt, diamlah Moi-moi. Beliau ini adalah guruku dan karena aku sudah bersalah
meninggalkan perguruan, kakiku yang harus dihukum potong. Akan tetapi tidak mengapa
asal kita tidak saling berpisah....”
“Kakimu dipotong....? Tidak....! Tidak boleh! Wah, kau manusia jahat! Tidak boleh
mengganggu Kakakku! Pergi.... pergi....!” Lulu yang biasanya penakut itu, mendadak saja
menjadi beringes dan galak seperti seekor anak harimau, ber-diri menentang Ma-bin Lo-mo
dengan mata terbelalak marah.
“Moi-moi, ke sini....! Jangan begitu, aku melarangmu!” Han Han berkata, maklum betapa
berbahayanya sikap Lulu itu.
“Tidak, sekali ini aku tidak mau me-nurutmu, Koko! Aku harus menentang niat keji manusiamanusia jahat ini! Enak saja, masa kaki mau dipotong? Tidak boleh, hayo kalian pergi,
kakek-kakek jahat!” Lulu masih berdiri dengen sikap menantang dan matanya yang lebar itu
seolah-olah mengeluarkan api yang hen-dak membakar Ma-bin Lo-mo dan tiga orang
temannya.
Ma-bin Lo-mo memandang Lulu dengan alis berkerut. “Eh, bocah, kau si-apakah? Mengapa
kau membela muridku yang durhaka ini?”
“Namaku Lulu dan aku telah menjadi adiknya, kakakku Han Han. Tentu saja aku
membelanya!”
“Lulu namamu?” Ma-bin Lo-mo menggerakkan lengannya dan tahu-tahu ia sudah
menyambar baju di punggung anak itu dan mengangkatnya. Lulu meronta-ronta dengan
mata terbelalak, bergidik ketakutan melihat muka yang seperti kuda itu begitu dekat, mata
yang ber-sinar aneh itu menelitinya. “Hemmm, namamu Lulu dan mukamu seperti ini,
matamu.... hemmm, kau anak Mancu, ya?”
Biarpun mulai ketakutan, namun Lulu masih marah.
“Bukan, suhu.... bukan....!” Han Han berteriak, mukanya pucat dan ia meng-khawatirkan
keselamatan adik angkatnya itu.
Akan tetapi alangkah kaget dan gelisahnya ketika ia mendengar Lulu men-jawab nyaring,
“Benar! Ayahku perwira Mancu dan keluargaku dibasmi orang-orang jahat seperti engkau ini!
Lepaskan aku! Lepaskan!”
“Ngekkk!” Lulu dibanting dan anak itu pingsan seketika.
“Suhu! Jangan bunuh dia! Buntungkan kakiku, bunuhlah aku, akan tetapi jangan bunuh dia!”
Han Han berteriak-teriak sambil meloncat maju hendak menolong Lulu yang disangkanya
mati.
Sebuah tendangan membuat tubuh Han Han terguling. Ma-bin Lo-mo memandang-nya
dengan mata melotot marah.
“Bocah setan! Murid durhaka! Engkau bersahabat malah mengangkat saudara dengan anak
seorang perwira Mancu? Keparat! Tak tahu malu! Seharusnya kuhancurkan kepalamu
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
132
sekarang juga kalau engkau bukan sudah menjadi murid Sian-kouw! Biar Sian-kouw yang
akan meng-hukum dan menyiksamu! Dan bocah Mancu ini....” Ma-bin Lo-mo mengangkat
tangan ke atas hendak memukul tubuh Lulu yang sudah pingsan tak bergerak itu.
“Suhu, jangan....!”
Tiba-tiba terdapat perubahan pada wajah Ma-bin Lo-mo. Ia menyeringai dan menganggukangguk.
“Hemmm...., bagus sekali. Dia anak seorang perwira Mancu, ya? Bagus! Bisa dipakai untuk
mengundurkan orang-orang Mancu yang menjadi saingan mencari pulau....” Ia tidak
melanjutkan kata-katanya, melainkan cepat sekali tangan-nya bergerak dan ia sudah
menotok Han Han. Kemudian ia memberi isyarat ke-pada tiga orang kawannya. Laki-laki
muka tengkorak lalu menyambar tubuh Lulu yang sudah lemas dan dikempitnya. Adapun
laki-laki yang mukanya bopeng dan bertotol-totol hitam itu lalu me-nyambar tubuh Han Han
yang tak mampu bergerak, juga dikempitnya. Kemudian mereka berempat lalu lari cepat
sekali meninggalkan tempat itu.
Kiranya tak jauh dari situ terdapat sebuah perahu yang diikat di pinggir sungai. Mereka
melompat ke dalam pe-rahu dan setelah mendayung perahu ke tengah dan layar dipasang,
meluncurlah perahu itu, menuju ke laut. Han Han dan Lulu diikat kaki tangannya lalu
dilempar-kan ke dek perahu, kemudian totokannya dibebaskan. Lulu juga sudah siuman dan
mengeluh. Ketika melihat, bahwa dia terbelenggu dan terlentang di atas dek perahu, Lulu
cepat memandang ke arah kaki Han Han yang juga terbelenggu di sampinnya. Anak ini
menarik napas lega dan berbisik.
“Han-ko.... syukur kakimu masih utuh....” Anak ini terisak.
“Diamlah Lulu. Jangan menangis...”
“Aku.... aku.... takut, Koko.”
“Jangan putus harapan. Selama nyawa kita masih ada, tidak perlu kita putus harapan.”
“Tapi.... mereka jahat sekali....”
“Hushhh, diamlah....”
Mereka itu seperti dua ekor kelinci muda yang akan disembelih. Hanya mata mereka saja
yang dapat bergerak me-mandangi empat orang itu yang duduk di tengah perahu. Si Muka
Bopeng menge-mudikan perahu dan yang tiga lainnya duduk diam tak bergerak. Kemudian
Ma-bin Lo-mo yang duduknya paling dekat dengan kedua orang anak itu, memandang Han
Han dan menghela napas panjang seperti orang menyesal sekali. Mulutnya mengomel.
“Murid murtad....! Murid durhaka....!”
Han Han tidak putus harapan. Kalau gurunya itu hendak membunuh Lulu,
dilakukannya sejak tadi. Dengan me-nawan mereka berdua, hal itu menyata-kan
untuk sementara ini mereka berdua selamat, tidak akan terbunuh, dan tentu
dibutuhkan. Dia tidak takut menghadapi hukuman potong kaki, yang dikhawatirkan
keselamatan Lulu yang kini telah dikenal sebagai puteri seorang perwira Mancu.
ten-tu
bahwa
masih
adalah
“Suhu, murid sudah mengaku berdosa dan siap menerima hukuman. Akan tetapi Lulu ini
sama sekali tidak berdosa, harap suhu mengampuni anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
133
“Cerewet! Engkau akan menerima hukuman dari Sian-kouw sendiri, adapun bocah Mancu
itu, setelah aku tidak membutuhkannya lagi, akan kupenggal di de-pan matamu!”
“Suhu....!”
“Diam! Kau murid murtad, pengkhi-ahat yang berkawan dengan musuh! Mem-buka mulut
lagi, akan kutampar mulutmu sampai rusak!”
Han Han tidak bodoh, dan tidak mau lagi membuka mulut. Ma-bin Lo-mo se-gera bercakapcakap sambil berbisik-bisik dengan tiga orang kawannya, tidak mempedulikan lagi kepada
Han Han dan Lulu.
“Han-ko,” Lulu berbisik. “Dia itu ke-jam dan jahat, mengapa engkau berguru kepada seorang
seperti dia?”
“Hushhh, diamlah, Lulu. Dia sakti sekali, maka aku berguru kepadanya.”
Perahu kecil itu meluncur cepat se-kali dan menjelang malam perahu masuk ke lautan dan
mulailah pelayaran itu amat sengsara bagi Han Han dan Lulu. Perahu diombang-ambingkan
ombak laut dan kedua orang anak yang tidak biasa naik perahu di laut itu menjadi mabuk
laut. Han Han yang telah memiliki sin-kang yang amat kuat, dapat menahan rasa mabuk itu
dan tidak terlalu pening, akan tetapi sungguh kasihan sekali keadaan Lulu. Bocah ini menjadi
pening, mukanya pucat sekali dan ia muntah-muntah. Karena tangan kedua orang anak itu
dibelunggu ke belakang, maka Han Han tidak dapat menolongnya dan Lulu sendiri terpaksa
hanya dapat memutar tubuhnya, rebah miring sehingga muntah-annya tidak mengotorkan
pakaian.
“Suhu....! Harap tolong membebaskan belenggu tangan Adikku lebih dulu....! Dia....! Dia
sakit!”
Ma-bin Lo-mo hanya menengok, lalu memberi isyarat kepada Si Kepala Gun-dul yang
bangkit berdiri menghampiri Lulu. Tangannya bergerak cepat menotok pundak Lulu yang
segera menjadi lemas dan.... tertidur. Karena tertidur ini maka anak itu tertolong, tidak begitu
men-derita lagi dan tidak lagi mabuk-mabuk. Han Han bersyukur akan tetapi juga kagum.
Kiranya tiga orang kawan gurunya itu pun bukan orang-orang sembarangan dan tentu
memiliki kepandaian yang amat lihai.
Malam itu mereka berdua diberi ma-kan dan minum dan untuk keperluan ini mereka
dibebaskan sebentar. Setelah makan dan minum, mereka disuruh tidur di dekat dek perahu
dengan kedua ta-ngan masih dibelenggu ke belakang de-ngan tubuh mereka, akan tetapi
kaki mereka bebas. Tentu saja dalam keadaan seperti itu, Han Han dan Lulu sama sekali
tidak dapat tidur pulas. Lulu mulai menangis, akan tetapi dihibur oleh Han Han yang tetap
bersemangat tinggi dan berhati besar.
“Lihat, alangkah indahnya pemandang-annya, Adikku. Lihat itu di langit, bintang-bintang
bertaburan seperti intan berlian. Dan laut amat tenangnya, se-olah-olah kita tidak bergerak,
ya? Pada-hal lihat layarnya berkembang dan pe-rahu ini sebetulnya maju cepat sekali.”
Lulu terhibur dan setelah melihat ke kanan kiri yang adanya hanya air yang tertimpa sinar
bintang-bintang yang su-ram, ia bertanya.
“Kita ini.... dibawa ke mana, Koko?”
“Entahlah, akan tetapi kalau tidak salah, suhu dan teman-temannya itu sedang mencari
sebuah pulau. Pernah aku mendengar para suheng dan suci bercerita tentang Pulau Es.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
134
“Pulau Es? Di mana itu? Mau apa ke sana?” Lulu bertanya, suaranya penuh kekhawatiran.
“Aku sendiri pun tidak tahu. Aku selalu berada di sampingmu, bukan? Selama aku di
sampingmu, tidak usah kau takut. Aku akan melindungimu dengan sekuat tenagaku.”
“Koko....!” Lulu menangis.
“Eh, malah menangis. Ada apa?”
“Koko, mengapa kau begini baik kepadaku?” Suara Lulu terisak-isak.
“Aihhh, aneh benar pertanyaanmu. Kau kan Adikku, tentu saja aku baik kepadamu. Di dunia
ini aku hanya mem-punyai kau, dan kau hanya mempunyai aku.”
“Han-ko....!” Lulu kembali menangis dan anak ini lalu menggeser tubuhnya, me-rebahkan
kepalanya di dada kakak ang-katnya itu. Dalam keadaan seperti ini, akhirnya kedua orang
anak itu tertidur.
Perahu kecil itu melakukan pelayaran selama tiga hari tiga malam. cepat se-kali karena di
waktu angin berkurang, mereka berempat menggunakan dayung dan karena mereka
berempat merupakan orang-orang sakti yang memiliki sin-kang kuat sekali, biarpun hanya
didayung, pe-rahu itu meluncur amat cepatnya. Tuju-an perahu itu adalah ke arah utara.
Kalau air laut sedang tenang, Han Han dan Lulu tidak amat menderita, akan tetapi apabila
perahu dipermainkan ge-lombang besar, mereka menderita sekali, terutama Lulu.
Pada hari ke empat, pagi-pagi sekali matahari mulai muncul di permukaan air sebelah timur,
Si Muka Bopeng tiba-tiba berseru kaget.
"Perahu di sebelah depan!"
Mereka semua memandang, termasuk Han Han dan Lulu. Benar saja, di sebelah depan
tampak sebuah perahu yang mengembangkan layarnya, perahu yang bercat hitam, juga
layarnya berwarna hitam.
Ma-bin Lo-mo memandang ke utara, ke arah perahu itu dan melinduhgi matanya dari sinar
matahari dari kanan. Pandang matanya tajam sekali, lebih tajam daripada kawan-kawannya
dan setelah memandang dengan pengerahan tenaga sakti pada kedua matanya, ia berkata.
"Perahu itu bukan perahu pemerintah Mancu. Selain tidak begitu besar, juga kulihat tidak
ada tentara di atas perahu, hanya ada belasan orang. Juga bukan perahu nelayan, agaknya
perahu orang-orang kang-ouw yang akan menjadi saingan kita. Kejar! Kita harus basmi
mereka, lebih sedikit saingan lebih baik!"
Layar tambahan dipasang, Si Muka Bopeng memegang kemudi dan tiga orang sakti itu
masih menambah kelajuan perahu dengan gerakan dayung mereka. Perahu kecil ini
meluncur cepat sekali melakukan pengejaran terhadap perahu yang berada di depan. Tak
lama kemudian perahu itu dapat disusul dan agaknya perahu yang berada di depan juga
melihat adanya perahu kecil yang menyusul mereka, dan para penumpangnya agaknya tidak
merasa takut, buktinya perahu itu tidak melarikan diri, bahkan seolah-olah menanti
datangnya perahu kecil yang mengejar. Akhirnya perahu itu berdekatan, dengan jarak hanya
beberapa meter. Kini tampak jelas kebenaran ucapan Ma-bin Lo-mo tadi. Perahu itu bukan
perahu pemerintah, juga bukan perahu nelayan. Yang berada di atas perahu itu adalah tiga
belas orang, yang sebelas pria yang dua wanita. Kedua orang wanita itu berusia kurang
lebih dua puluh lima tahun, cantik dan gagah. Sebelas orang pria itu berusia antara tiga
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
135
puluh sampai empat puluh tahun. Yang amat mencolok adalah pakaian mereka yang
dasarnya berwarna hitam dan mereka semua membawa golok yang tergantung di pinggang
dan tampaknya sikap mereka gagah.
Han Han memandang dengan hati tegang. Ia maklum bahwa akan terjadi hal yang
mengerikan. Ketika ia menoleh ke arah Ma-bin Lo-mo, ia melihat Iblis Muka Kuda itu duduk
bersila dan memandang ke arah perahu itu dengan pandang mata dingin dan sikap tak acuh.
Si Hwesio dan Si Muka Bopeng juga memandang penuh perhatian, sedangkan orang yang
bermuka tengkorak segera berkata lirih kepada Ma-bin Lo-mo.
"Mereka adalah orang-orang dari Hek-liong-pang (PerkumpuJan Naga Hitam)!"
"Sikap saja, habiskah mereka!" kata Ma-bin Lo-mo dengan suara dingin sehingga Han Han
yang maklum maksudnya menjadi ngeri. Lulu hanya memandang dengan mata terbelalak,
tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Akan tetapi, Siangkoan-locianpwe mereka itu adalah orang segolongan…." Si Muka
Tengkorak berkata dengan muka berubah, ragu-ragu dan khawatir.
Ma-bin Lo-mo memandang kawannya ini dengan sinar marah. "Orang she Swi, kau ini
pembantu macam apakah? Kita sudah berjanji, kalian bertiga yang sudah biasa dengan
pelayaran dan tahu jalan, menjadi pembantu-pembantuku dan jika berhasil perjalanan ini,
kalian akan kuberi masing-masing sejilid kitab ciptaanku mengenai ilmu silat tinggi.
Syaratnya kalian harus menurut dan melaksanakan semua perintahku. Sian-kouw yang
memilih kalian. Apakah kini engkau hendak membantah? Apakah kau takut menghadapi
tikus-tikus itu?"
“Tidak…. tidak takut… hanya…”
"Cukup! Hadapi mereka, dan sampaikan pesanku agar mereka tiga belas orang itu cepat
meloncat ke laut karena perahu mereka akan kutenggelamkan. Dengan demikian, kita tidak
membunuh mereka, hanya merusak perahunya.”
Han Han bergidik. Gurunya ini benar-benar kejam sekali. Kalau tiga belas orang itu dipaksa
meninggalkan perahu dan meloncat ke laut, apa bedanya dengan membunuh mereka?
Mereka berada di laut bebas, tidak tampak daratan, mana mungkin mereka dapat berenang
menyelamatkan diri? Kalau tidak mati tenggeJam tentu akan mati di perut ikan!
Sementara itu, tiga beJas orang di atas perahu hitam itu agaknya sudah mengenal Si Muka
Tengkorak. Seorang di antara mereka, yang tertua, berusia empat puJuh tahun dan
berjenggot panjang, segera mengangkat tangan menjura ke arah Si Muka Tengkorak sambil
berkata nyaring.
"Ah, kiranya Swi Coan Lo-enghiong yang membalapkan perahu mengejar kami? Harap Loenghiong menerima salam hormat kami yang melakukan perintah ketua kami melakukan
pelayaran ini."
"Cu-wi (Tuan Sekalian) melaksanakan perintah apakah maka berlayar sampai disini?" Suara
Si Muka Tengkorak terdengar dingin.
Pimpinan orang-orang Hek-liong-pang itu mengerutkan alisnya yang tebal. "Kami menerima
tugas rahasia dari Pangcu (Ketua) kami dan bukanlah hak kami untuk menceritakannya
kepada siapa juga. Kalau Lo-enghiong ingin mengetahui, hendaknya Lo-enghiong bertanya
kepada Pangcu kami sendiri."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
136
"Bukankah kalian disuruh mencari Pulau Es dan menyaingi kami?" Si Muka Tengkorak
bertanya, suaranya marah karena biarpun di hatinya ia tidak setuju akan perintah Ma-bin Lomo, namun untuk melaksanakan perintah ini ia harus mencari alasan.
Pimpinan rombongan Hek-liong-pang yang berjenggot panjang itu tersenyum dan berkata.
"Mana mungkin kami dapat menang bersaing dengan Lo-enghiong? Kami hanya
mengandalkan nasib baik Pangcu kami."
"Hemmm, kalian sudah berani mati menyaingi kami mencari Pulau Es, maka jangan
sesalkan aku kalau harus mengambil kekerasaan terhadap kalian."
Tiga belas orang Hek-liong-pang itu mengeluarkan seruan marah. Mereka semua mengenal
Si Muka Tengkorak dan tahu akan kelihaiannya, akan tetapi karena selama ini Si Muka
Tengkorak bersahabat dengan Pangcu mereka, sungguh mereka tidak menyangka bahwa
orang tua itu akan memusuhi mereka.
"Swi Coan Lo-enghiong! Pulau Es adalah sebuah pulau yang bebas, bahkan pemerintah
sendiri belum pernah menguasainya. Siapapun berhak untuk mencarinya. Kami
melaksanakan perintah Pangcu kami, dan Lo-enghiong adalah seorang yang sudah
mengenal baik Pangcu kami. Dalam usaha yang bebas ini, bagaimana Lo-enghiong
mengatakan kami menyaingi dan Lo-enghiong hendak melarang kami? Harap Lo-enghiong
suka ingat akan persahabatan Lo-enghiong dengan Pangcu kami."
"He-hemmm…." Si Muka Tengkorak terbatuk-batuk dan menjadi agak kikuk juga. Dia tidak
takut kepada orang-orangHek-liong-pang ini, dan terhadap Pangcu mereka, dia hanya
merupakan seorang kenalan saja. Tentu saja ia merasa sungkan, akan tetapi dia pun sudah
mengenal siapa Ma-bin Lo-mo dan melanggar janji terhadap kakek sakti ini berarti bunuh
diri. Maka ia lalu berkata.
"Kalian mentaati perintah, aku pun demikian. Tidak ada jalan lain, kalian harus
meninggalkan perahu kalian, sekarang juga karena perahu kalian harus ditenggelamkan di
sini!"
Kembali seruan marah dan penasaran keluar dari tiga belas buah mulut dan wajah para
rombongan Hek-liong-pang menjadi merah. Si Jenggot Panjang yang tahu bahwa perintah
itu merupakan perintah yang mengajak berkelahi, menyangka bahwa tentu diantara orangorang yang berada di samping Swi Coan itu yang merupakan biang keladinya. Akan tetapi
dia tidak mengenal yang lain-lain dan melihat bahwa di situ terdapat dua orang anak dalam
keadaan terbelenggu, dia mengerutkan keningnya dan bertanya.
"Kalau kami boleh bertanya, siapakah yang mengeluarkan perintah gila itu? Apakah Losuhu
(sebutan untuk hwesio) itu?"
Si Muka Tengkorak Swi Coan tersenyum dan mukanya makin mengerikan karena seperti
tengkorak yang dapat tertawa. "Losuhu ini adalah sahabatku yang terkenal di dunia kangouw, yaitu Kek Bu Hwesio seorang tokoh dari Kong-thong-pai."
Tiga belas orang anak buahHek-liong-pang terkejut. Nama Kek Bu Hwesio memang amat
terkenal sebagai seorang tokoh yang menyeleweng dari Kong-thong-pai sehingga terusir
dari perkumpulan silat yang besar itu. Mereka semua maklum bahwa hwesio itu memiliki
kepandaian yang tinggi sekali.
"Adapun dia itu adalah Ouw Kian yang terkehal dengan julukan Ouw-bin-taihiap (Pendekar
Besar Bermuka Hitam)."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
137
Kembali tiga belas orang itu terkejut. Dalam dunia kang-ouw nama Si Muka Bopeng ini
sungguh tidak kalah oleh nama besar Kek Bu Hwesio atau bahkan Si Muka Tengkorak
sendiri. Ouw-bin-tai-hiap hanya julukannya saja taihiap (pendekar besar), akan tetapi
sebetulnya memiliki cacad yang amat menyolok, yaitu merupakan seorang pendekar yang
biarpun suka memusuhi orang-orang golongan liok-lim (perampok dan bajak) namun
terkenal pula sebagai seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga alias tukang
memperkosa wanita). Tak mereka sangka bahwa Si Muka Tengkorak itu kini berkawan
dengan orang-orang pandai itu.
"Hemmm, nama besar kedua orang Lo-enghiong ini pun sudah kami dengar sejak lama,
namun sepanjang ingatan kami, belum pernah kami dari Hek-liong-pang bentrok dengan
mereka. Mengapa mereka sekarang memusuhi kami?"
"Sama sekali tidak memusuhi!" kata Si Muka Tengkorak Swi Coan. "Seperti juga aku, kedua
orang sahabatku ini pun hanya pembantu-pembantu yang mentaati perintah beliau ini." Dia
menuding ke arah Ma-bin Lo-mo yang masih duduk bersila sambil tidak menghiraukan
mereka sama sekali, seperti orang mengantuk.
Kini tiga belas pasang mata memandang ke arah Ma-bin lo-mo dengan heran dan penuh
rasa penasaran. Kakek berpakaian hitam itu kelihatannya saja aneh, mukanya amat buruk
dan lucu, seperti muka kuda. Akan tetapi mereka belum pernah melihatnya sama sekali.
Tiga orang itu biarpun sakti, namun para anak buah Hek-liong-pang yang mengandalkan
jumlah banyak masih tidak merasa gentar, apalagi terhadap kakek asing yang mukanya
seperti kuda itu.
"Siapakah locianpwe ini?" tanya Si Jenggot Panjang menyebut locianpwe karena dapat
menduga bahwa biarpun mereka belum mengenalnya, namun kakek yang memiliki tiga
orang pembantu seperti tiga orang tokoh itu pastilah seorang yang amat tinggi
kepandaiannya dan pastilah terkenal.
Swi Coan tersenyum lebar. "Kalian ini orang-orang muda seperti tidak bermata dan tidak
bertelinga, masa tidak mengenal Siangkoan-locianpwe dari In-kok-san?"
Si Jenggot Panjang dan para adik seperguruannya memandang dengan mata terbelalak
penuh perhatian, namun mereka tidak juga dapat mengingat siapa adanya seorang sakti she
Siangkoan yang berdiam di In-kok-san. Akan tetapi seorang di antara dua wanita itu berkata
lirih.
"Mukanya…. jangan-jangan dia…. Ma-bin Lo-mo….”
Tiga belas orang itu terkejut dan memandang makin terbelalak. Ma-bin Lo-mo menengok
dan memandang tiga belas orang itu. "Lihat baik-baik, bukankah mukaku seperti muka
kuda? Aku benarlah Si Iblis Ma-bin Lo-mo. Hayo kalian lekas-lekas meloncat ke air dan hal
ini hanya kulakukan mengingat kalian telah mengenal Swi Coan."
Tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang itu benar-benar kaget. Mereka tidak pernah
mengira akan berjumpa dengan seorang di antara datuk-datuk persilatan yang kabarnya
sudah menyembunyikan diri itu, di antaranya adalah Si Muka Kuda ini. Akan tetapi karena
perintah gila itu sama artinya dengan membunuh diri, tentu saja mereka sedapat mungkin
hendak membela diri.
"Maaf, Locianpwe. Terpaksa kami tidak dapat meninggalkan perahu, karena kami harus
tunduk terhadap perintah Pangcu kami."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
138
"Swi Coan, tidak lekas turun tangan menunggu apa lagi?" Ma-bin Lo-mo membentak
kepada tiga orang pembantunya.
"Kalian tidak lekas meloncat meninggalkan perahu?" teriak Si Muka Tengkorak sambil
berjalan ke pinggir perahu, diikuti oleh dua orang temannya.
"Suhu! Kalau mereka disuruh meloncat ke air, bukankah hal itu sama saja dengan
membunuh mereka? Mereka tidak bersalah, mengapa akan dibunuh?" Han Han tidak dapat
menahan kemarahannya lagi, berteriak nyaring.
"Tutup mulutmu, murid murtad!" bentak Ma-bin Lo-mo marah.
Tentu saja tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang menjadi terheran-heran mendengar
betapa anak laki-laki yang dibelenggu itu menyebut suhu kepada Ma-bin Lo-mo. Murid
sendiri dibelenggu seperti itu, apalagi terhadap orang lain. Alangkah kejamnya Si Muka Kuda
itu. Akan tetapi karena mereka semua maklum bahwa kalau meloncat ke air tentu mati, Si
Jenggot Panjang berkata.
"Sungguh mentakjubkan! Si murid lebih bijaksana daripada gurunya! Sam-wi Lo-enghiong
(Tiga Orang Tua Gagah), karena kami adalah orang-orang yang menjunjung kegagahan dan
sebagai anak buah Hek-liong-pang yang mentaati perintah Pangcu, juga sebagai orangorang gagah yang tentu saja hendak mempertahankan nyawa, kami terpaksa akan membela
diri dan tidak mau menurut perintah gila itu!"
"Orang-orang muda yang keras kepala!" teriak Ouw Kian si muka Bopeng dan mereka
bertiga sudah melonca t dengan gerakan ringan sekali ke atas perahu Hek-liong-pang itu.
Sebagai orang-orang yang lebih tinggi tingkatnya, tiga orang itu tidak mengeluarkan senjata
mereka dan hendak memaksa tiga belas orang lawan mereka itu untuk dilempar ke laut.
Akan tetapi mereka kecelik. Tiga belas orang itu adalah tokoh-tokoh pilihan dari Hek-liongpang dan kini ketua mereka mengutus mereka melakukan pekerjaan yang amat penting,
yaitu mencari Pulau Es. Tentu saja ketua Hek-liong-pang tidak mau mengutus anak buah
yang kepandaiannya rendah. Begitu melihat tiga orang kakek yang lihai itu meloncat ke
perahu mereka, tiga belas orang itu sudah siap mencabut golok masing-masing dan
membentuk sebuah barisan melingkar, merupakan lingkaran yang kokoh kuat, barisan golok
yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Begitu tiga orang kakek itu mendarat di
perahu mereka, tiga belas orang yang membentuk lingkaran ini sudah bergerak, setengah
berlari berputaran sehingga lingkaran itu bergerak-gerak dan tiga orang kakek berada di luar
lingkaran.
Ketika tiga orang kakek itu sambil berteriak maju menyerang dengan kedua tangan mereka,
hendak mencengkeram seorang lawan dan dilempar ke laut, mereka masing-masing
bertemu, dengan tiga empat buah golok yang sekaligus menangkis dan membacok secara
lihaissekali. Mereka terkejut dan cepat mengelak dan hendak membalas dengan hantaman
kilat. Namun lingkaran itu bergerak dan mereka berhadapan dengan lain lawan sehingga
mereka kembali harus mengubah posisi dan gerakan. Ternyata barisan tiga belas golok ini
lihai sekali dan dapat bekerja sama dengan baik, saling membantu dan saling melindungi.
Tiga orang kakek itu mulai berputaran mengelilingi lingkaran itu, melakukan segala usaha
untuk menyerang, namun selalu tidak berhasil. Andaikata tiga belas orang anggauta Hekliong-pang itu mau menyerang, tentu mereka bertiga akan dapat "memasuki" pertahanan
mereka dan merobohkan seorang di antara mereka. Akan tetapi, tiga belas orang itu tahu
bahwa tingkat kepandaian lawan mereka jauh lebih tinggi maka mereka memusatkan
perhatian dan tenaga mereka semata-mata untuk pertahanan sehingga kedudukan mereka
kuat sekali. Betapapun tiga orang kakek itu berusaha, selalu serangan mereka gagal, karena
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
139
setiap serangan seorang diantara mereka berhadapan dengan tiga empat orang yang
menangkisnya.
Setelah lewat dua puluh jurus belum juga tiga orang pembantunya merobohkan seorang
pun di antara tiga belas orang anggauta Hek-liong-pang Ma-bin Lo-mo menjadi hilang sabar.
"Sialan! Kalian menjadi pembantu-pembantuku namun tiada gunanya. Mundur semua!"
Seruan ini segera diturut oleh tiga orang pembantunya yang meloncat kembali ke perahu
kecil. Sesungguhnya, kalau mereka itu mau mencabut, senjata masing-masing dan
mengeluarkan seluruh kepandaian, agaknya mereka akan berhasil. Namun mereka memang
setengah hati dalam pertandingan itu, masih agak segan mengingat bahwa Hek-liong-pang
bukanlah musuh dan bahkan masih terhitung segolongan. Ketua Hek-liong-pang yang
bernama Ciok Ceng, berjuluk Hek-hai-liong (Naga Laut Hitam) adalah seorang bajak laut
dan juga bajak sungai yang terkenal sekali, dan terkenal sebagai bajak yang hanya mau
membajak perahu-perahu saudagar dan pembesar, tidak pernah mengganggu rakyat atau
nelayan, dan juga tidak pernah memusuhi orang-orang kang-ouw.
Kini terdengarlah lengking tinggi yang menyeramkan dan tubuh Ma-bin Lo-mo yang tadinya
masih duduk bersila, tahu-tahu mencelat ke arah perahu Hek-liong-pang itu dengan gerakan
yang cepat sekali. Tiga beJas orang itu terkejut melihat tubuh kakek muka kuda itu tahu-tahu
sudah menyambar ke arah mereka dan barisan itu cepat bersiap-siap dengan golok
melintang di dada. Akan tetapi mereka menjadi makin terkejut karena kakek itu begitu
menotolkan kedua kaki di perahu mereka, perahu itu terguncang keras sehingga kuda-kuda
kaki mereka pun menjadi kacau. Dan pada saat itu Ma-bin Lo-mo melakukan gerakan
meloncat seperti terbang mengelilingi mereka dengan kedua lengannya bergerakgerakseperti mendorong. Terdengar pekik-pekik mengerikan dan dalam sekejap mat a saja
terdengar golok terlepas dari tangan, berjatuhan di lantai perahu berkerontangan disusul
robohnya tubuh mereka. Tiga belas orang itu roboh malang-melintang dan menggeliat-liat
dengan wajah berubah, mula-mula pucat, kemudian makin lama menjadi biru dan tubuh
mereka yang menggeliat-geliat itu menggigil kedinginan. Mereka itu telah menjadi korban
pukulan Swat-im Sin-ciang dan akibatnya benar-benar mengerikan sekali. Mereka itu mati
tidak hidup pun tidak, melainkan tersiksa oleh rasa nyeri yang diakibatkan oleh hawa dingin
yang seolah-olah membuat isi dada mereka membeku!
"Hemmm, kalian memang sudah bosan hidup!" kata Ma-bin Lo-mo, kemudian kakek sakti ini
menyambar sebatang golok musuh yang berserakan di lantai perahu, dan dengan senjata ini
ia meloncat ke kepala perahu, membacok beberapa kali ke lantai dan pecahlah dasar
perahu sehingga air mulai menyemprot masuk! Setelah melempar golok itu ke air, ia lalu
melompat dengan enaknya ke perahu sendiri. Empat orang kakek itu berdiri di perahu
mereka, memandang perahu hitam yang mulai tenggelam, membawa tiga belas orang yang
menggeliat-geliat dalam sekarat.
"Ohhh…. kejam sekali…. aahhh, Koko, aku takut…." Lulu berkata lirih dan mulai menangis.
Han Han hanya menggigit bibir dan diam-diam membuat perbandingan antara kakek yang
menjadi gurunya ini dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sukar ia menentukan siapa di antara
kedua orang itu yang lebih kejam hatinya. Memang mereka memiliki "pegangan" yang
berbeda, yaitu kalau Kang-thouw-kwi Gak Liat merupakan seorang yang mau tunduk kepada
kerajaanMancu, sedangkan Si Muka Kuda ini menjadi seorang penentang bangsa Mancu,
namun baginya, kedua orang itu merupakan orang-orang yang memiliki pribadi yang amat
mengerikan, memiliki watak kejam yang mudah saja membunuhi orang lain seperti orang
membunuh semut saja. Ketika perahu Hek-liong-pang itu tenggelam, Han Han membuang
muka, bukan merasa ngeri, melainkan merasa muak dan diam-diam ia mempertebal
keinginannya untuk mempelajari ilmu silat sehingga menjadi orang pandai yang kelak akan
dapat menentang manusia-manusia iblis seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo
Siangkoan Lee yang dianggap sebagai datuk-datuk golongan hitam ini.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
140
Kembali tiga hari tiga malam telah lewat. Kini mereka benar-benar berada di tengah lautan
yang bebas dan kedua orang anak itu kini tidak dibelenggu lagi, karena mereka diharuskan
membantu memasak air dan nasi. Han Han dan Lulu bekerja tanpa banyak cakap, hanya di
waktu malam, kalau Lulu kedinginan karena mereka diharuskan tidur di dek yang terbuka,
Han Han memeluk adiknya ini untuk menghangatkan tubuh adiknya, menghibur jika adiknya
menangis dan ketakutan. Dan pada hari ke empatnya, jadi telah tujuh hari mereka memasuki
lautan, perahu tiba di daerah yang banyak pulau-pulaunya. Pulau-pulau kecil yang mulai
tampak dari jauh.
"Sudah belasan kali aku berkeliaran di antara pulau-pulau itu, selama puluhan tahun yang
lalu, namun tak pernah berhasil menemukan Pulau Es," kata Ma-bin Lo-mo kepada tiga
orang pembantunya sambil berdiri di kepala perahu dan menghela napas. "Akan tetapi,
sekarang kabarnya banyak yang mulai mencari-cari, tentu pulau itu telah muncul pula di
permukaan air."
"Apakah dahulu pulau itu tenggelam?" tanya Kek Bu Hwesio, tertarik.
"Begitulah, agaknya. Ada kalanya tenggelam dan ada kalanya timbul. Kalau tidak begitu,
masa dahulu dicari oleh banyak orang tidak pernah dapat ditemukan?"
"Siangkoan Locianpwe, benarkah kabarnya bahwa di atas Pulau Es itu dahulu tinggal
seorang yang maha sakti?" Tanya Si Muka Tengkorak.
"Saya mendengar, manusia dewa Koai-lojin tinggal di sana….?" tanya Ouw Kian si Muka
Bopeng.
"Kalian bantu saja aku mendapatkan Pulau Es itu, tak usah banyak tanya-tanya. Kalau
berhasil, kitab-kitab ciptaanku akan membuat kalian menjadi orang-orang yang benar-benar
lihai, tidak seperti sekarang ini, mengalahkan tiga belas ekor tikus Hek-liong-pang saja masih
sulit."
"Ada perahu lagi….!" Terlambat Han Han menutup mulut Lulu dengan tanganya. Empat
orang itu sudah menengok ke belakang dan benar saja, tampak sebuah perahu besar sekali
datang dengan cepatnya dari arah belakang. Kalau Han Han yang melihatnya, dia tentu
tidak akan mau memberi tahu karena ia khawatir kalau-kalau penumpang-penumpang
perahu itu akan menjadi korban kekejaman Ma-bin Lo-mo lagi. Akan tetapi mereka sudah
mendengar dan sudah melihat datangnya perahu itu, maka ia pun hanya ikut memandang
dengan kening berkerut.
Seperti juga tiga hari yang lalu ketika perahu Hek-liong-pang itu muncul, kini Ma-bin Lo-mo
menggunakan kekuatan pandang matanya untuk meneliti perahu besar itu dan suaranya
terdengar tegang ketika ia berkata.
"Wah, sekali ini perahu Mancu! Kalian bertiga harus hersiap-siap dan jangan seperti anak
kecil seperti ketika menghadapi Hek-liong-pang. Kurasa Setan Botak berada di pulau itu dan
kita harus bersiap untuk bertempur mati-matian. Lawan yang sekarang ini tidak boleh
dipandang rendah."
"Setan Botak ? Kang-thouw-kwi...?" Si Muka Tengkorak Swi Coan berkata dengan suara
gentar. Menggelikan sekali bagi Han Han melihat orang yang mukanya buas mengerikan
seperti itu kini kelihatan ketakutan!
"Tak usah khawatir! Gak Liat adalah lawanku dan kalian hanya menghadapi orang-orang
Mancu. Gak Liat tidak akan begitu bodoh untuk membawa orang-orang kang-ouw
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
141
membantunya. Dia sendiri mengilar untuk mendapatkan pulau itu, dan hanya membonceng
kepada orang-orang Mancu. Ha-ha-ha!"
Sekali ini pun dugaan Ma-bin Lo-mo amat tepat. Perahu besar itu perahu Kerajaan Mancu
dan karena besar dan layarnya banyak, amat laju dan sebentar saja perahu Ma-bin Lo-mo
tersusul. Setelah makin dekat, tiga orang kakek itu pun dapat melihat seorang botak berdiri
di kepala perahu, sedangkan anak buah perahu besar itu terdiri dari kurang lebih tiga puluh
orang tinggi besar berpakaian perwira-perwira Mancu!
"Bagus! Hanya tiga puluh orang perwira Mancu! Tiga belas orang Hek-liong-pang tadi masih
lebih berat kalau dibandingkan dengan tiga puluh ekor anjing Mancu. Kalian bertiga sikat
habis mereka, dan mengenai Setan Botak, akulah lawannya!" kata Ma-bin Lo-mo penuh
semangat. "Mereka berada di sekitar daerah ini, kalau begitu tujuan kita tidak keliru. Pasti
Pulau Es berada di sekitar tempat ini. Perwira-perwira Mancu itu tidak akan membuang
waktu sia-sia kalau belum tahu dengan pasti."
Pada saat itu, biarpun jarak di antara kedua perahu itu masih jauh, terdengar suara yang
terbawa angin, jelas dan mengandung getaran amat kuatnya!
"Ha-ha-ha-ha! Iblis Muka Kuda, engkau di sana itu? Ha-ha-ha, bagus sekali! Aku akan
setengah mati kegirangan menyaksikan engkau mampus di tengah lautan!”
Swi Coan, Kek Bu Hwesio, dan Ouw Kian terkejut sekali. Seorang yang memiliki khikang
begitu kuat, yang dapat mengirim suara menerobos angin laut sehingga dalam jarak sejauh
itu dapat terdengar begitu jelas, adalah seorang lawan yang amat berat! Akan tetapi
kegelisahan mereka lenyap dan terganti kagum ketika mereka melihat Ma-bin Lo-mo berdiri
di kepala perahu sambil mengeluarkan suaranya yang didorong oleh khikang yang amat
kuat. Suara itu terdengar perlahan saja oleh tiga orang itu, akan tetapi menggetar dan penuh
tenaga mujijat.
"Gak Liat Si Setan Botak! Engkau menggiring anjing-anjing Mancu ke sini? Bagus, dekatkan
perahumu dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menjadi santapan ikan!
Adapun anjing-anjing Mancu itu, suruh mereka mengeroyok!"
"Ha-ha-ha, Ma-bin Lo-mo, apakah kaukira aku begitu bodoh? Kulihat kau membawa
pembantu-pembantu. Si MukaTengkorak, Si Hwesio Palsu, dan Si Muka Bopeng! Para
Ciangkun yang datang bersamaku tentu tidak mau merendahkan diri bertanding melawan
pembantu-pembantumu. Ha-ha! Kau sendiri tentu akan mampus kalau melawanku, akan
tetapi ada pekerjaan penting yang lebih berharga bagiku. Maka, menyesal sekali aku tidak
ada waktu untuk melayanimu, Iblis Muka Kuda! Sekarang mampuslah bersama para
pembantumu!"
Setelah terdengar suara Kang-thouw-kwi ini, dari perahu para perwira Mancu itu meluncur
banyak anak panah yang tertuju kepada Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya.
Namun, dengan kibasan tangan mereka, empat orang kakek sakti itu dapat meruntuhkan
semua anak panah yang menyambar mereka. Adapun Han Han cepat menarik tangan Lulu
diajak bertiarap di atas dek perahu, kemudian sambil merangkak Han Han menggandeng
Lulu, hendak diajak mengungsi dan bersembunyi di dalam kamar perahu. Melihat ini, Si
Muka Tengkorak lalu menendang kedua orang anak itu roboh.
"Belenggu mereka, agar jangan mengganggu!" kata Ma-bin Lo-mo yang teringat bahwa Han
Han pernah menjadi kacung Setan Botak dan khawatir kalau-kalau murid murtad itu akan
berkhianat. Si Muka Tengkorak cepat melaksanakan perintah ini, mengikat tubuh kedua
orang anak dengan tangan mereka ditelikung ke belakang, kemudian melemparkan mereka
di sudut lantai perahu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
142
"Ha-ha-ha, Setan Botak! Anak panah-anak panah macam ini kaukirim kepada kami? Boleh
habiskan anak panah-anak panah semua anjing Mancu!" Ma-bin Lo-mo tertawa mengejek
untuk memanaskan hati lawan agar perahunya makin mendekat sehingga ia bersama tiga
orang pembantunya dapat meloncat dan menyerbu. Ia percaya bahwa tiga orang
pembantunya pasti akan dapat mengalahkan para perwira Mancu dan agaknya hal itu
diketahui pula oleh Kang-thouw-kwi. Akan tetapi, ternyata Kang-thouw-kwi amat cerdik dan
biarpun para perwira Mancu membujuk dengan hati panas untuk mendekatkan perahu, Si
Setan Botak menolaknya, bahkan lalu memberi saran untuk melepas anak panah berapi!
Serangan ini dilakukan dan terkejutlah Ma-bin Lo-mo. Tak disangkanya musuh akan
menggunakan akal ke ji ini. Setelah puluhan batang anak panah yang membawa kain
berminyak dan berkobar itu datang meluncur berhamburan, dia dan tiga orang pembantunya
menjadi repot sekali. Selain harus menangkis dan menghindarkan diri, mereka harus pula
berusaha memadamkan api yang dibawa anak panah menancap pada bilik perahu dan pada
layar.
"Celaka, perahu terbakar!" seru Kek Bu Hwesio dan benar saja. Tiga orang itu kekurangan
tenaga untuk memadamkan api yang mulai membakar perahu. Mereka masih terus
berusaha, namun akhirnya bilik perahu itu dimakan api. Api berkobar besar dan mengancam
untuk membakar semua yang berada di perahu. "Kita harus meninggalkan perahu!" seru Mabin Lo-mo. "Putuskan pengapung perahu dari bambu di kanan kiri dan pergunakan untuk
penyelamat diri!"
Tiga orang pembantunya yang sudah panik itu cepat melompat dari atas perahu yang
terbakar. Mula-mula Si Muka Tengkorak yang lebih dahulu meloncat ke air, disusul oleh Si
Muka Bopeng yang tadinya berusaha memadamkan api di atas atap bilik. Dari atas atap bilik
ia melayang turun ke air dengan gerakan seperti hendak terbang. Adapun Kek Bu Hwesio
yang tangannya gosong terjilat api, cepat meloncat pula ke air. Tiga orang ini mematahkan
bambu pengapung perahu di kanan kiri dan mempergunakan bambu-bambu itu untuk
menyelamatkan diri dari bahaya tenggelam. Adapun Ma-bin Lo-mo sendiri sudah masuk ke
dalam bilik yang berkobar, dan keluar kembali membawa sebuah ember. Ember yang
disangkanya berisi minyak yang disediakan untuk memasang lampu itu ia siramkan ke atas
tubuh Han Han dan Lulu sambil tertawa, "Aku tidak berhak menghukummu, biarlah sekarang
kalian ikut berkobar bersama perahu!" Setelah menyiramkan isi ember yang disangkanya
minyak itu, Ma-bin Lo-mo melompat ke air menyusul kawan-kawannya.
Han Han segera mengerti bahwa dalam keadaan marah dan panik itu Ma-bin Lo-mo telah
keliru ambil. Di dalam bilik hanya terdapat sebuah ember yang terisi minyak, dan belasan
ember terisi air, yaitu air persediaan untuk minum. Begitu disiram, Han Han tahu bahwa yang
membasahi dia dan Lulu bukanlah minyak, melainkan air. Diam-diam ia menjadi geli dan
girang, akan tetapi hanya sebentar. Bagaimana dia bisa girang kalau bahaya api itu
sedemikian hebatnya? Melompat ke air berarti mati tenggelam karena kedua tangan mereka
terbelenggu. Tidak melompat akan mati terbakar.
"Koko…. aku takut….. api itu akan membakar kita….”
Tiba-tiba saja air laut bergelombang hebat dan sinar matahari tertutup mendung tebal yang
tanpa mereka sadari sejak tadi telah mengumpul. Di udara yang gelap oleh mendung itu
tampak kilat menyambar-nyambar. Agaknya langit menjadi marah menyaksikan ulah
nanusia-manusia yang berwatak bejat itu. Atau kebetulan sajakah pada saat itu badai mulai
mengamuk? Tak ada manusia yang dapat menjawab, namun kenyataannya, ombak makin
membesar dan langit makin gelap.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
143
"Lulu, lekas berdiri contohlah aku. Kita bakar belenggu kita pada api!" kata Han Han sambi
angkit berdiri dan mendekati api yang membakar bilik perahu. Dia mendekatkan belenggu
tangannya pada api dan hal ini dapat ia lakukan dengan mudah karena begitu terjilat api,
otomatis tenaga inti Hwi-yang Sin-kang yang sudah berada di tubuhnya bekerja sehingga
kedua tangannya tidak terasa panas sama sekali, bahkan hangat-hangat nyaman! Akan
tetapi ketika Lulu mencoba untuk mencontoh kakaknya, ia menjerit dan cepat-cepat menarik
kembali tangannya yang untung belum terlanjur terbakar.
Han Han dapat membebaskan belenggu tangan yang sudah terbakar. Cepat ia lalu
melepaskan ikatan adiknya.
"Hayo kita meloncat ke air!" teriak Han Han.
"Tidak….! Aku takut….!" kat a Lulu sambil menangis dan menutupi mukanya agar jangan
terlihat olehnya gelombang hebat yang seolah-olah hendak menelannya itu.
Angin menderu keras dan Han Han berteriak melawan suara angin, "Apakah kau ingin
terbakar api?"
Sebagai jawaban, tiba-tiba terdengar kilat menyambar di atas kepala, keras sekali dan kedua
orang anak itu dengan gerakan reflex yang tak disengaja sudah bertiarap di atas lantai
perahu sambil menutup kedua telinga dengan tangan. Ketika mereka merangkak dan
hendak bangkit kembali, tiba-tiba Lulu berteriak.
"Hujan…!”
Bukan air hujan, melainkan percikan air gelombang yang mengamuk. Perahu menjadi
miring dan banyak air menyiram perahu sehingga bilik yang terbakar itu segera padam.
Makin keras perahu terayun, makin hebat gelombang mengamuk dan makin gelaplah langit.
Hart Han yang dilempar ke dek oleh guncangan perahu, cepat menyeret tangan adiknya,
dibawa memasuki bilik perahu yang sudah tidak terbakar lagi. Ia berhasil menyeret tubuh
Lulu yang menggigil itu ke dalam bilik dan biarpun perahu masih terayun-ayun sehingga
tubuh mereka menabrak kanan kiri dinding, namun tidak ada bahaya mereka terlempar
keluar perahu. Babak-bundas tubuh mereka, terutama Lulu dan benturan terakhir membuat
kepala Lulu terbanting pada dinding sehingga anak itu roboh pingsan di pelukan Han Han.
Han Han sendiri sudah payah mempertahankan diri. Ketika dia bersama tubuh Lulu
terbanting ke kanan, ia melihat dua buah kitab di dekatnya. Ia mengira bahwa itu tentulah
kitab yang ditinggalkan oleh Sepasang Pedang Iblis, maka ia cepat mengambilnya dan
memasukkannya kembali ke balik bajunya. Pada saat itu ia terbanting lagi ke kanan dan
kepeningan membuat Han Han meramkan mata. Namun dalam keadaan yang setengah
pingsan itu ia masih selalu teringat kepada Lulu yang dipeluknya erat-erat di dadanya.
Entah berapa lamanya badai mengamuk, Han Han tak dapat mengira-ngira. Cuaca selalu
gelap sehingga tidak ada bedanya antara siang dan malam, hanya ia tahu bahwa badai
mengamuk lama sekali, terlalu lama. Untung bahwa di luar kesadarannya, Han Han memiliki
daya tahan yang tidak lumrah manusia biasa. Badai itu mengamuk sampai dua hari dua
malam, dan selama itu Lulu menggeletak dalam keadaan setengah pingsan, hanya
sebentar-sebentar mengerang lalu "tertidur" lagi. Namun Han Han tetap sadar!
Ketika perahu berhenti terayun dan cuaca menjadi terang kembali, keadaan amat
tenangnya, Han Han baru merasa betapa tubuhnya nyeri semua. Tulang-tulang tubuhnya
seperti remuk-remuk dan Lulu merintih perlahan.
"Bangunlah, Adikku, bangunlah. Badai sudah berhenti," bisiknya dan Lulu membuka
matanya perlahan.
"Han-ko…, apakah kita sudah…. sudah mati….? Tubuhku lemas sekali dan semua terasa
sakit…."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
144
Han Han merasa kasihan sekali. "Kita masih hidup, Lulu." Ia mencari-cari dalam bilik yang
sudah rusak keadaannya. Alangkah girang hatinya ketika ia menemukan guci arak milik Mabin Lo-mo. Guci ini terbuat daripada perak dan tertutup rapat-rapat sehingga biarpun
terguncang dan terlempar-lempar, tidak rusak dan isinya tidak terbuang. Ia cepat membuka
tutup guci dan menuangkan sedikit arak ke mulut adiknya. Lulu meneguk arak dan tersedak,
terbatuk-batuk. Akan tetapi hawa yang hangat memasuki tubuhnya dan anak itu biarpun
masih amat lemah sudah dapat bangkit dan duduk, malah kemudian berkata, "Perutku
lapar….”
Han Han tertawa dan pada saat itu ja pun baru sadar betapa perutnya amat perih dan lapar.
Ia lalu membongkar-bongkar semua barang yang terjungkir balik di dalam bilik itu, mencaricari perbekalan makanan Ma-bin Lo-mo dan akhirnya dengan girang ia menemukan
beberapa potong roti kering. Biarpun roti ini sudah basah oleh air laut dan terasa asin,
namun cukup lumayan untuk pengisi perut yang kosong, mencegah kematian karena
kelaparan.
Setelah terisi roti dan arak, tenaga mereka agak pulih kembali. Han Han lalu menggandeng
tangan adiknya diajak keluar dari bilik itu. Mereka mengintai keluar dan melihat bahwa
mereka berada di taut bebas, tidak tampak lagi pulau-pulau kecil, tidak tampak sarna sekali
perahu besar milik Kang-thouw-kwi. Han Han berusana mencari-cari Ma-bin Lo-mo dan tiga
orang kawannya, akan tetapi tak tampak pula bayangan mereka. Tentu mereka sudah
tenggelam, pikirnya. Dan perahu besar milik perwira-perwira Mancu itu tentu telah hanyut
jauh oleh badai yang mengamuk. Hatinya agak lega karena kini dia dan adiknya terbebas
daripada ancaman manusia-manusia iblis itu. Akan tetapi ancaman maut yang lebih
mengerikan berada di depan mata. Mereka tidak mempunyai persediaan makanan cukup,
terutama sekali air minum, dan selain perahu sudah rusak sehingga tidak dapat
dikemudikan, layarnya pun sudahtinggal sedikit di bagian atasnya saja, juga tidak tampak
ada daratan yang dekat. Betapa mungkin mereka dapat hidup di atas perahu rusak ini?
Mereka akan mati kelaparan dan Han Han tidak tahu apa yang dapat ia lakukan untuk
menyelamatkan diri daripada ancaman maut ini.
Memang, kalau menurut perhitungan akal budi manusia, agaknya nasib dua orang anak itu
sudah dapat dipastikan tewas di atas perahu itu. Tidak ada jaIan keluar lagi dan akal
manusia tidak akan dapat menyelamatkan mereka. Akan tetapi, nyawa manusia berada
sepenuhnya di tangan Tuhan. Apabila Tuhan menghendaki seseorang mati, biarpun orang
itu memiliki nyawa seribu rangkap, memiliki kesaktian, memiliki segala-galanya dia akan mati
juga karena tiada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat membebaskannya daripada
kehendak Tuhan. Kalau Tuhan sudah menentukan dia mati, biar dia bersembunyi di lubang
semut, maut tetap akan datang menjemput. Sebaliknya, jika Tuhan belum menghendaki
seseorang mati, biarpun tampaknya sudah tidak ada harapan baginya, namun ia tetap akan
lolos dari ancaman maut. Demikianlah pula dengan halnya Han Han dan Lulu. Kedua orang
anak ini sama sekali tidak mempunyai daya untuk lolos dari keadaan itu. Namun, pada
malam harinya, tiba-tiba saja turun hujan sehingga mereka dapat membasahi tenggorokan
yang sudah mengering dan membengkak! Dan hujan ini disusul dengan tiupan angin yang
mengguncang air sehingga ombak datang bergulung-gulung. Han Han dan Lulu kembali
bersembunyi di dalam bilik perahu yang sudah rusak, saling berpelukan dan menghadapi
kematian yang agaknya sekali ini takkan dapat mereka hindarkan lagi. Mereka merasa
betapa perahu itu bergerak, dilontarkan oleh gelombang air laut. Lulu tidak dapat menangis
lagi, hanya memeluk pinggang Han Han, menyembunyikan mukanya di dada kakaknya
sambil berbisik dengan suara gemetar.
"Kita mati, Koko…. kita mati…. akan tetapi jangan tinggalkan aku…. kita bersama…”
Suara dan ucapan Lulu itu mendatangkan rasa puas dan lega di hati Han Han. Apapun
yang akan terjadi, dia tidak sendirian, dia mempunyai seorang adik yang mencintanya dan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
145
yang dicinta. Dia tidak akan merasa penasaran biarpun dia akan mati, asal dia dapat mati
bersama Lulu agar di mana pun juga, ia akan dapat mengawani dan melindungi adiknya ini.
Karena tubuh mereka sudah amat lemah, kepala pening dan pikiran mereka menjadi lemah
pula, mereka tidak tahu lagi berapa lama mereka berdekapan di dalam bilik. Perahu itu
diombang-ambingkan terus dan cuaca menjadi gelap, kemudian berubah terang, gelap lagi
sampai lama sekali dan tiba-tiba mereka terlempar dan menumbuk dinding. Perahu itu
membentur sesuatu!
Han Han membuka matanya dan melihat bahwa cuaca sudah menjadi terang. Ada sinar
menerobos masuk ke dalam bilik dan hawa udara amatlah dinginnya. Perahu itu tidak
bergerak lagi.
"Lulu, badai sudah berhenti lagi… mari… mari kita keluar…." kata Han Han dengan suara
lemah.
Lulu membuka matanya. Ia merasa nyaman dan senang dalam pelukan Han Han, seperti
dininabobokkan dan ia merasa malas untuk bangun, malas untuk membuka mata. Ingin
rasanya ia memejamkan mata dan tidur selamanya dalam keadaan seperti itu. Ia takut akan
melihat dan menemukan hal-hal yang mengerikan kalau membuka matanya.
"Lulu…. mari kita keluar….. kita harus berusaha, untuk mendarat…."
"Oohhh…. lebih senang begini, Koko….." Lulu mempererat rangkulannya pada pinggang
Han Han dan sama sekali tidak mau membuka matanya.
Han Han menunduk dan ketika ia melihat wajah adiknya yang kurus dan amat pucat seperti
mayat itu, hatinya seperti ditusuk rasanya. Entah mengapa ia seperti mendapat firasat
bahwa kalau didiamkannya saja keadaan adiknya ini, tak lama lagi ia akan kehilangan Lulu!
Maka ia menguncang pundak Lulu dan berkata keras. "Tidak! Selama nyawa masih di
badan kita, kita harus berusaha! Bangunlah, Adikku sayang. Jangan takut, Kakakmu akan
selalu berada di sampingmu!"
Lulu membuka matanya dan seperti seorang yang baru bangun dari mimpi buruk ia
mengejap-ngejapkan matanya, seolah-olah silau melihat cahaya terang yang memasuki bilik
perahu. Kemudian dengan tubuh lemas ia bangkit dan menggandeng tangan kakaknya.
Ketika Han Han menariknya berdiri, Lulu menuding ke lantai dan berkata.
"Koko, kitab-kitabmu tercecer…."
Han Han menunduk dan ia terheran. Ia meraba-raba pinggangnya dan mendapat kenyataan
bahwa kitab-kitabnya memang tidak berada di saku bajunya sebelah dalam lagi. Akan tetapi,
mengapa ada tiga buah kitab? Bukankah Sepasang Pedang Iblis memberinya dua buah
kitab yang sudah disatukan? Ia berjongkok dan mengambil kitab-kitab itu. Yang sebuah
adalah kitab tebal dan ternyata adalah dua buah kitab yang disatukan, kitab peninggalan
SepasangPedang Iblis. Akan tetapi yang dua buah lagi adalah kitab-kitab yang baru
dilihatnya saat itu. Kini mengertilah ia bahwa dua buah kitab yang dia simpan di balik
bajunya ketika perahu terbakar, adalah dua buah kitab yang baru inilah. Sekilas pandang ia
membaca judul dua buah kitab itu. Yang sebuah berjudul “Menghim pun Tenaga Im-kang”
dan yang ke du berjudul "Berlatih Samadhi dan Lwee-kang", keduanya ditulis oleh Ma-bin
Lo-mo. Mengertilah ia kini bahwa dua buah kitab itulah yang agaknya oleh Ma-bin Lo-mo
dijanjikan kepada tiga orang pembantunya. Tentu ada sebuah kitab lagi yang entah lenyap di
mana, akan tetapi ia tidak peduli. Ia mengambil tiga buah kitab itu dan menggandeng tangan
Lulu diajak keluar dari bilik. Ketika mereka muncul di luar bilik perahu, mereka mengeluarkan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
146
seruan kaget, kagum dan juga girang. Kiranya perahu rusak itu telah terdampar di antara
kepulauan yang kelihatannya aneh sekali, serba putih! Bahkan pohon-pohon yang tampak di
situ diliputi salju. Pulau Es! Pikiran ini memasuki ingatan Han Han dan ia diserang rasa
girang yang amat luar biasa sehingga terhuyung ke depan.
"Pulau Es….! Lulu, kita berada di Pulau Es !" Han Han berteriak-teriak dan menarik tangan
Lulu untuk keluar dari perahu itu. Lupa akan kelemahan tubuhnya dan lupa bahwa Lulu tidak
berkepandaian. Han Han yang menarik tangan adiknya itu membawanya melompat turun
dari perahu ke atas daratan yang tertutup salju. Untung bahwa salju itu merupakan tilam
yang lunak sehingga ketika mereka bergulingan jatuh, mereka tidak terluka. Mereka bahkan
tertawa-tawa karena merasa bahwa kini mereka akan tertolong.
“Kita selamat…! Kita mendarat….!” seru Han Han sambil tertawa-tawa dan napasnya
terengah-engah. Anak ini dengan keadaan tubuhnya yang tidak lumrah, telah berhari-hari
dapat bertahan terhadap segala kesengsaraan dan semua itu terdorong oleh semangatnya
untuk menyelamatkan Lulu. Kini, setelah kekuatan yang luar biasa dan yang tadinya ia
pergunakan untuk mempertahankan dirinya itu mendapat jalan keluar karena kelegaan dan
kegembiraannya, ia tiba-tiba menjadi lemah sekali dan bernapas pun menjadi sukar. Ia
berjalan maju, tersandung-sandung sambil tertawa-tawa, diikuti dari belakang oleh Lulu yang
terus memegangi tangan kirinya. Tiba-tiba Han Han yang tertawa-tawa itu terguling roboh
menelungkup di at as salju. Tiga buah kitab yang tadi dipegang di tangan kanannya,
terlepas.
"Koko….! Han-ko…..! Ah, Han-ko, bangunlah…." Lulu mengguncang-guncang tubuh
kakaknya, akan tetapi Han Han tidak bergerak. Melihat kakaknya seperti itu, Lulu menjeritjerit dan menangis tanpa mengeluarkan air mata karena sudah terlalu banyak menangis dan
matanya sudah terlalu kering sehingga agaknya tidak mempunyai air mata lagi.
"Han-ko….! Jangan mati, Han-ko…., jangan tinggalkan aku….!" Lulu menjerit-jerit dan
memeluki tubuh Han Han.
“Gerrrrr……!”
Suara gerengan yang menggetarkan pulau itu membuat Lulu terkejut sekali dan anak ini
mengangkat mukanya yang tadi ia letakkan di atas punggung Han Han. Ketika ia bangkit
dan mengangkat muka, matanya terbelalak lebar sekali, mulutnya ternganga dan wajahnya
yang sudah pucat itu menjadi seperti kertas. Tidak ada suara keluar dari mulutnya. Lulu
menjadi begitu kaget dan ngeri sehingga ia sudah kehilangan suaranya, hanya melongo
seperti orang mimpi atau kehilangan akal. Di depannya, dekat sekali, berdiri seekor binatang
yang amat besar, seekor biruang yang berbulu putih. Biruang itu berdiri di atas kedua kaki
belakangnya, besar dan tinggi sekali, mengeluarkan suara menggereng-gereng dan
matanya yang merah itu sejenak memandang ke arah perahu yang terdampar, kemudian
menunduk dan memandang kepada Han Han dan Lulu. Mulutnya yang terbuka itu
memperlihatkan rongga mulut dan lidah yang merah dan gigi bertaring yang putih, kuat dan
meruncing.
Setelah menggereng beberapa kali, binatang besar itu lalu menurunkan kedua kaki
depannya, merangkak menghampiri Han Han.
"Ohhhhh, tidak…. jangan…" Lulu menggeleng kepalanya. " jangan mengganggu Han-ko…."
Memang luar biasa sekali cinta kasih bocah ini terhadap kakak angkatnya. Andaikata tidak
ada kekhawatirannya terhadap Han Han, tentu ia sudah roboh pingsan seketika itu juga
saking ngerinya. Kini, melihat biruang itu mendekati Han Han, Lulu melupakan rasa takutnya
dan berusaha mengusir biruang itu dengan suara dan gerakan tangan!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
147
Namun, biruang itu agaknya tidak mempedulikan Lulu, menggunakan kedua kaki depan
seperti sepasang lengan manusia, memondong tubuh Han Han dengan amat ringannya,
kemudian bangkit berdiri lagi dan berjalan terseok-seok sambil memondong tubuh Han Han
yang masih pingsan!
Lulu terbelalak, seperti terpesona. Biruang itu tidak menggigit Han Han, tidak
menganggunya, malah memondong dan seperti hendak menolongnya! Ia pun lalu bangkit
perlahan, mengambil tiga buah kitab yang tertinggal di situ, kemudian berjalan perlahanlahan mengikuti biruang itu. Dia merasa terlalu takut kalau biruang itu menjadi marah dan
mengganggu Han Han, maka Lulu melangkah maju tanpa mengeluarkan suara, bahkan
setengah menahan napas karena mengkhawatirkan keselamatan kakaknya. Betapa
indahnya dunia ini kalau perasaan kasih sayang yang begitu murni dan berada dalam hati
setiap orang manusia itu diperkembangkan! Betapa sucinya cinta kasih sehingga dalam
detik-detik yang mengancam diri sendiri, orang masih lupa akan bahaya yang mengancam
diri pribadi, bahkan mengkhawatirkan keselamatan orang yang dikasihinya. Cinta kasih
murni ini sajalah yang mampu mengalahkan dan mengusir kelemahan utama manusia, yaitu
mementingkan diri pribadi (egoism). Cinta kasih adalah suatu sifat yang suci, sebuah di
antara sifat Tuhan Yang Maha Kasih.
Biruang putih atau biruang es itu berjalan terus membawa Han Han ke tengah pulau. Dalam
kekhawatirannya akan keselamatan kakaknya, Lulu yang sebetulnya sudah amat lemah itu,
kini dapat berjalan terus mengikuti biruang itu sampai ke tengah pulau. Padahal tadi,
melangkah setidak pun sudah terasa amat berat, bagi tubuhnya yang kurang makan sampai
berhari-hari dan telah mengalami kesengsaraan hebat itu.
Alangkah heran hati Lulu ketika ia melihat sebuah bangunan yang cukup besar di tengah
pulau dan ke arah bangunan itulah biruang besar tadi membawa Han Han. Jantungnya
berdebar tegang. Kalau ada rumahnya, tentu ada orangnya! Orang macam apakah yang
tinggal di pulau kosong ini? Lulu terus mengikuti biruang itu yang membawa Han Han
memasuki bangunan, terus masuk ke dalam. Lulu melongo. Bangunan itu amat indahnya,
dibuat dengan gaya seni yang luar biasa. Akan tetapi ia tidak sempat untuk mengagumi
semua itu karena matanya mencari-cari penghuni rumah itu. Kosong dan sunyi saja. Dan
biruang itu membawa Han Han masuk kesebuah kamar yang besar, kemudian
membaringkan tubuh Han Han di atas sebuah pembaringan yang bertilam kain berbulu
tebal. Kamar itu pun bersih dan dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan tangan yang indahindah. Di sudut kamar itu terdapat sebuah tempat perapian. Lulu yang tidak tahu harus
berbuat apa, duduk di tepi pembaringan, memegang tangan Han Han dan mengguncangguncangnya. Namun Han Han seperti orang tertidur pulas, tidak juga terbangun. Dengan
ketakutan yang makin meningkat, Lulu mengikuti gerakan-gerakan biruang itu dengan
pandang matanya dan ia makin terbelalak keheranan. Biruang itu benar-benar luar biasa
sekali, seperti manusia saja. Kini binatang yang berdiri seperti manusia itu menghampiri
perapian, kaki depannya yang tergantung di depan dengan kaku itu lalu mengambil kayu
kering, dilemparkannya ke perapian dan dituangkannya minyak di atas perapian. Semua ini
dilakukan dengan jepitan kedua tangan atau kedua kaki depannya yang besar. Kemudian,
binatang itu mengambil dua batang pedang pendek yang tadinya tergantung di dinding, di
atas perapian.
Lulu menahan pekiknya dengan tangan. Kiranya biruang itu hendak menyembelih dia dan
Han Han, pikirnya dengan hati ngeri. Ia melihat betapa biruang itu, mencengkeram sepasang
pedang dengan kedua kaki depannya, kemudian membuat gerakan seperti orang bersilat
pedang. Dua batang pedang itu berkelebat menjadi sinar putih dan saling bertemu,
menerbitkan suara yang nyaring sekali.
“Cringgggg….!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
148
Bunga api muncrat di dekat perapian, menyambar kayu yang sudah basah oleh minyak dan
bernyalalah kayu itu di dalam tungku dan biruang itu dengan mulut menyeringai lalu
mengembalikan sepasang pedang tadi, digantungkan di atas dinding. Kemudian binatang itu
menambahkan kayu kering sehingga api dalam tungku membesar dan terusirlah hawa dingin
setelah hawa panas api di tungku itu mulai terasa oleh Lulu.
Biruang itu lalu memandang Lulu, mengeluarkan suara gerengan pendek kemudian keluar
dari kamar. Lulu seperti baru sadar dari mimpi, mengguncang-guncang pundak Han Han.
"Koko….! Koko…! Bangunlah…. Ada… ada binatang aneh….!" Akan tetapi Han Han belum
juga sadar sehingga akhirnya Lulu menangis di atas dada kakaknya.
Akan tetapi ia segera menghentikan tangisnya karena biruang itu sudah kembali memasuki
kamar, mulutnya menggigit daun-daunan yang membeku dan kedua kaki depannya
membawa benda putih membeku sebesar kepala orang. Ia menurunkan semua itu di atas
meja dekat perapian, kemudian ia menoleh ke arah Lulu dan kembali mengeluarkan suara
gerengan-gerengan, kedua kaki depannya bergerak-gerak seperti seorang gagu kalau
hendak menyatakan sesuatu. Lulu adalah seorang gadis cilik yang cerdik juga. Kini ia mulai
dapat mengerti bahwa binatang itu sama sekali tidaklah jahat.
"Apakah kehendakmu?" katanya perlahan sambil turun dari pembaringan dan menghampiri
biruang itu. Binatang itu kelihatan girang, lalu menuding ke arah dinding di mana terdapat
perabot-perabot dapur yang cukup, terbuat daripada petak. Ia menuding ke arah panci dan
Lulu mengerti bahwa agaknya dia disuruh masak. Mungkin daun itu adalah obat untuk
menyembuhkan kakaknya! Teringat akan hal ini, cepat dia mengambil panci itu dan
membawanya ke depan biruang yang kini mengambil sebongkah es yang ia masukkan ke
dalam panci, kemudian dengan suara "arrhh-arrhh-urrhh-urrhhh" ia menunjuk ke perapian.
Lulu tidak mengerti mengapa dia disuruh masak es, akan tetapi ia melakukannya juga,
mendekati tungku dan menaruh panci itu di atas perapian. Ketika es di dalam panci mencair
menjadi air, barulah anak ini mengerti dan menjadi girang sekali. Cepat ia mengambil air
dalam panci itu dan menghampiri Han Han untuk memberi minum kakaknya yang ia tahu,
seperti juga dia, amat kehausan. Akan tetapi ia kaget sekali ketika tiba-tiba biruang yang
besar itu melompat dengan ringannya, menghadang dan melarang dia menghampiri Han
Han, lalu menunjuk-nunjuk dengan kaki depannya ke arah tungku.
"Paman biruang, aku mau memberi minum Han-ko, mengapa tidak boleh?"Biruang itu
hanya menggereng-gereng dan menunjuk ke arah tungku perapian. Kini rasa takut Lulu
terhadap binatang itu sudah lenyap karena dia makin merasa yakin bahwa binatang ini
tidaklah jahat dan tentu ada tersembunyi maksud-maksud baik dalam semua perbuatannya
ini. Ia lalu menghampiri tungku dan menduga bahwa binatang itu menghendaki dia masak
terus air dari es itu, maka ia meletakkan panci di atas api dan biruang itu menganggukangguk! Lulu kini mengerti. Agaknya air itu harus dimasak sampai mendidih lebih dulu
sebelum diminumkannya kepada kakaknya. Akan tetapi dugaannya keliru karena kini
binatang itu mengambil daun-daun beku dari atas atas meja dan memasukkan daun-daun itu
ke dalam panci air.
"Ah, kiranya disuruh masak obat untuk Han-ko? Begitukah, Paman Biruang?"
Biruang itu mengangguk-angguk dan Lulu menjadi girang sehingga anak ini lalu memeluk
perut biruang yang gendut dan mendekapkan mukanya pada dada yang bidang dan kuat itu.
Biruang itu mengeluarkan suara ngak-ngak-nguk-nguk dan kaki depannya yang kiri dengan
gerakan halus mengusap rambut kepala Lulu! Bccah ini menjadi girang sekali dan cepatcepat ia menambah kayu pada perapian sehingga tak lama kemudian daun-daun beku itu
termasak dan air berubah menjadi kemerahan. Setelah air masakan daun ini tinggal sedikit,
biruang itu memberi tanda supaya Lulu memberi minum Han Han dengan air obat itu. Air
yang tadinya mendidih, sebentar saja menjadi dingin dan Lulu cepat memberi minum obat itu
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
149
dengan hati-hati, menuangkannya ke dalam mulut Han Han setelah ia membuka dengan
paksa mulut itu dengan tangan kirinya.
Hatinya girang sekali karena biarpun keadaannya amat lemas, ternyata Han Han dapat
menelan obat itu. Kemudian atas isyarat-isyarat binatang yang luar biasa itu, Lulu memasak
benda putih biasa itu, Lulu memasak benda putih yang ternyata adalah segumpal gandum
yang bubur encer dan mulailah anak yang amat mencinta kakaknya itu menyuapkan bubur
ke mulut Han Han yang sudah dapat bergerak namun agaknya masih belum sadar betul itu.
Setelah Han Han tertidur dengan wajah agak merah, barulah Lulu teringat untuk makan dan
minum. Kemudian ia pun menggeletak tertidur di atas pembaringan di dekat kaki Han Han.
***
Atas perawatan yang tekun dari Lulu yang selalu diberi petunjuk oleh biruang es yang luar
biasa itu, dalam waktu sepekan saja Han Han telah sembuh daripada sakitnya. Dengan
terheran-heran setelah sadar benar, Han Han mendengarkan cerita Lulu tentang biruang es
itu dan Han Han tanpa ragu-ragu lalu bangkit memeluk binatang itu yang mengeluarkan
suara seperti orang kegirangan! Setelah Han Han pulih kembali kesehatannya, barulah ia
bersama Lulu mengadakan pemeriksaan, diantar oleh biruang putih.
Bangunan itu cukup besar dan mewah sekali. Mempunyai banyak kamar yang serba
lengkap. Kamar dimana Han Han dibaringkan adalah kamar dapur, lengkap dengan perabot
dapurnya. Ada tiga buah kamar tidur yang indah dan lengkap, adapula ruangan yang amat
luas untuk belajar ilmu silat, ada pula sebuah “taman” yang aneh karena disitu bunga-bunga
tidak dapat tumbuh subur dan hanya beberapa macam tetumbuhan saja yang dapat hidup
karena disitu selali diliputi es dan salju. Taman ini terhias dengan batu-batu yang bentuknya
indah, dengan jembatan-jembatan kayu yang mungil dan pondok kecil yang di buat dengan
gaya seni indah.
Ternyata pula bahwa satu-satunya makhluk hidup yang tinggal di pulau itu hanyalah biruang
es itulah. Pantas saja kalau binatang itu menjadi kegirangan karena sekaligus ia
memperoleh dua orang teman! Dan tentu saja hal ini dapat dirasakan oleh biruang itu yang
agaknya dahulu telah dipelihara orang.
Yang amat menarik perhatian Han Han adalah sebuah kamar perpustakaan di mana
terdapat banyak sekali kitab-kitab yang aneh-aneh dan hebat-hebat. Kitab-kitab pelajaran
ilmu silat, pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi-tinggi tersusun rapi di lemari buku yang besar. Kini
dia mulai mengerti mengapa orang-orang kang-ouw berlomba untuk menemukan Pulau Es
ini. Kiranya untuk kitab-kitab inilah!
Han Han dapat menduga bahwa yang pernah tinggal di tempat aneh ini tentulah seorang
manusia sakti. Hal ini bukan hanya dapat dilihat dari adanya kitab-kitab itu, melainkan
dengan mudah dapat menduga dengan melihat keadaan biruang putih itu. Hanya seorang
sakti saja yang mampu menundukkan dan melatih binatang itu menjadi seekor binatang
yang luar biasa, selain cerdik seperti manusia, juga memiliki tenaga yang hebat dan gerakgeriknya tangkas seperti seorang ahli silat yang pandai.
Mula-mula Han Han dan Lulu merasa seolah-olah mereka menjadi pencuri-pencuri yang
memasuki rumah orang. Akan tetapi karena pulau itu benar-benar kosong, maka mereka
menjadi biasa dan menganggap bahwa rumah yang mewah seperti istana itu sebagai rumah
sendiri. Kamar pertama adalah kamar yang paling besar, perlengkapannya tidaklah sangat
mewah, namun menyenangkan. Dinding kamar ini penuh dengan tulisan-tulisan yang
berbentuk sajak dan Han Han amat kagum membaca sajak-sajak ini yang selain
mengandung filsafat yang da!am-dalam dan pandangan yang amat luas dan bijaksana, juga
ditulis amat indah. Di bagian lain dari dinding tertulis di rumah itu, ia mendapatkan tulisan-
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
150
tulisan yang sifatnya mengandung keluh-kesah, sajak-sajak duka yang membayangkan
kepatahan hati. Kemudian di dalam laci sebuah meja di kamar pertama itu ia mendapatkan
pula beberapa sampul surat dari kain yang dibungkus rapat dalam sebuah kantung karet. Di
luar bungkusan karet ada tulisannya : "Diharap yang menemukan ini menyampaikannya
kepada yang berkepentingan." Sajak terbesar yang berada di dalam kamar pertama ditulis
dengan cara yang lain daripada sajak-sajak dan tulisan-tulisan lain. Kalau tulisan lain
dilakukan dengan alat tulis biasa, adalah sajak terbesar ini entah ditulis dengan apa, akan
tetapi kenyataannya huruf itu seperti diukir dalam dinding. Amat indah goresannya, amat
kuat dan bunyi sajaknya sukar dimengerti atau diselami oleh Han Han yang usianya baru
dua belas atau tiga belas tahun itu.
Betapa ingin mata memandang mesra
Betapa ingin jari tangan membelai sayang
Betapa ingin hati menjeritkan cinta
Namun Siansu berkata:
Bebaskan dirimu daripada ikatan nafsu!
Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?
Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang, dunia takkan pernah tercipta!
Betapapun juga, cinta segi tiga membahagiakan!
Menyenangkan yang satu menyusahkan yang lain
Akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan
Ikatan persaudaraan dilupakan
Akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.
Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah daripada nafsu!
Membaca sajak-sajak dan tulisan-tulisan yang memenuhi dinding rumah indah itu, Han Han
hanya dapat menduga bahwa penghuni rumah ini tentulah seorang sakti yang ahli pula
dalam kesusastraan, namun seorang yang banyak mengalami penderitaan dalam hidupnya
sehingga tulisan-tulisannya membayangkan hati yang merana dan berduka.
Adapun kamar yang ke dua dan ke tiga menunjukkan dengan jelas bahwa kamar-kamar itu
adalah kamar wanita. Selain bersih dan mewah, juga berbau harum dan di situ masih
lengkap dengan segala benda keperluan wanita, dari pakaian-pakaian sutera yang indahindah, perhiasan emas permata sampai alat-alat kecantikan dan alat-alat menjahit dan
menyulam! Tentu saja Lulu menjadi girang sekali dan menempati sebuah di antara kedua
kamar ini. Juga di kamar pertama terdapat pakaian-pakaian pria sehingga kedua orang anak
itu tidak perlu khawatir lagi tentang kebutuhan pakaian.
Mengenai keperluan makan, kedua orang anak itu pun sama sekali tidak khawatir. Atas
"petunjuk" biruang es, di dalam gudang di bawah tanah terdapat banyak sekali gandum yang
dibekukan dan tidak pernah menjadi rusak. Selain ini, juga lengkap terdapat bumbu-bumbu
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
151
masak. Adapun untuk keperluan daging, amat mudah didapat berkat bantuan biruang es.
Binatang ini adalah seekor mahJuk yang amat ahli menangkap ikan laut. Dengan demikian,
segala keperluan hidup kedua orang anak itu sudah tersedia lengkap dan mulai hari itu, Han
Han dan Lulu memasuki hidup baru yang amat aneh, terasing daripada dunia ramai.
Mulailah Han Han menggembleng diri sendiri dan adiknya dengan pelajaran ilmu dari kitabkitab yang banyak terdapat di situ. Kitab pelajaran melatih lweekang, bersamadhi dan dasardasar ilmu silat tinggi. Akan tetapi bagi Han Han sendiri terdapat kesulitan. Begitu membuka
dan mempelajari kitab-kitab yang di tinggalkan oleh manusia sakti penghuni Pulau Es,
kepalanya menjadi pening dan hatinya mendingin, sama sekali ia tidak tertarik. Sebaliknya,
ketika ia membaca dua buah kitab yang ia temukan di dalam perahu, kitab tulisan Ma-bin Lomo, ia dapat melatihnya dengan mudah! Selain itu, ketika ia mulai membuka kitab-kitab
peninggalan Sepasang Pedang Iblis, ia menjadi bingung dan terheran-heran karena kitab itu
ditulis dengan huruf-huruf yang sama sekali tidak dikenalnya! Huruf-hurufnya amat aneh,
dengan coretan-coretan yang tak dapat dibaca sama sekali!
Akan tetapi Han Han memiliki kecerdikan yang tidak wajar. Ia mengingat pesan kakek
Pedang Iblis Jantan, mengingat kembali kata-kata yang dibisikkan di dekat telinganya.
"Tambah satu titik di kiri, tambah dua coretan melintang, buang dua titik di bawah, buang
satu coretan menurun." Ia membuka dua kitab yang disatukan itu, memeriksa huruf-hurufnya
dan mengingat bisikan itu. Sebentar saja Han Han sudah tersenyum kegirangan. Kiranya
huruf-huruf itu sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga tanpa memiliki kuncinya, takkan
dapat dibaca orang. Dengan mengingat kuncinya, maka setiap huruf dapat ditambah atau
dibuang titik maupun coretannya dan akhirnya ia dapat mengenal huruf-huruf itu! Dengan
tekun Han Han lalu mulai membaca kitab-kitab itu, kitab-kitab peninggalan Sepasang
Pedang Iblis dan kitab-kitab Ma-bin Lo-mo, bahkan lalu mulai melatih diri dengan cara-cara
yang tersebut dalam kitab-kitab peninggalan para datuk golongan sesat ini. Karena pada
desarnya Han Han melatih diri dengan ilmu-ilmu sesat, maka tentu saja ia lebih mudah
menggembleng diri dengan ilmu sesat dan tanpa disadarinya, dia telah mengisi dirinya
dengan ilmu dari manusia-manusia sesat dan yang ternyata amat cocok dengan dirinya yang
sebenarnya telah menjadi tidak normal sebagai akibat ketika ia disiksa para perwira Mancu
dan kepalanya dibenturkan dinding sedangkan perasaan hati dan pikirannya menghadapi
peristiwa malapetaka hebat yang menimpa keluarganya.
Adapun Lulu yang juga mulai belajar ilmu karena bercita-cita untuk membalas kematian
keluarganya, dibimbing oleh Han Han, namun anak yang masis "bersih" ini lebih dapat
menyesuaikan diri dengan ilmu yang didapat dari kitab-kitab peninggalan manusia sakti
penghuni Pulau Es. Hanya sukar sekali baginya karena kitab-kitab itu mengandung ilmu-ilmu
yang amat tinggi, sedangkan sebelum belajar ia sama sekali tidak memiliki dasar apa-apa.
Baiknya Han Han pernah dipimpin oleh Lauw-pangcu maka biarpun amat terbatas dan
secara meraba-raba dan ngawur, sedikit banyak dapat juga Lulu memperoleh kemajuan.
Mula-mula, Han Han mencari di antara kitab-kitab dalam perpustakaan dan menemukan
kitab pelajaran siulian dan berlatih napas yang sesuai dengan ajaran Lauw-pangcu. Ia lalu
menyuruh Lulu melatih diri melalui kitab ini. Untung bahwa Lulu sebagai puteri seorang
perwira, sejak kecil sudah diajar membaca sehingga lebih mudah bagi Han Han untuk
membimbingnya. Dan didasari hati mendendam karena kematian orang tuanya, ditambah
pula dengan meniru watak Han Han yang keras hati dan tak mengenal jerih payah, Lulu
berlatih dengan tekun sekali sehingga biarpun bakatnya dalam ilmu ini tidak sehebat bakat
Han Han yang memang luar biasa, dapat juga ia merasakan hasilnya. Biasanya, semenjak
berdiam di pulau yang amat dingin itu, Lulu melindungi tubuhnya dengan pakaian-pakaian
dari bulu yang terdapat dalam kamar yang ditempatinya. Akan tetapi berkat latihanlatihannya, setelah dua tahun, anak itu dapat mengerahkan sinkang yang mulai terkumpul di
tubuhnya untuk melawan hawa dingin. Hanya kalau hawa luar biasa dinginnya, ia terpaksa
masih mengenakan baju bulu yang hangat. Setelah tubuhnya menjadi kuat dan gerakannya
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
152
menjadi lincah, Han Han mulai memberi petunjuk kepadanya tentang pelajaran memasang
kuda-kuda dan gerakan langkah kaki. Mulailah Lulu belajar silat dari sebuah kitab yang
mengajarkan ilmu silat tangan kosong. Ilmu silat ini amat tinggi tingkatnya seperti juga
semua kitab yang berada di situ. Tentu saja karena dasar yang dimiliki Lulu terlampau
rendah, maka dia hanya dapat menguasai gerakan-gerakannya saja, sedangkan intinya
hanya dapat ia petik sebagian kecil.
Kemajuan Lulu menggirangkan hati anak itu sendiri yang mengira bahwa kini dia telah
menjadi seorang "ahli silat" dan yang kelak, kalau mereka berhasil keluar dari tempat
terasing ini, dapat ia pergunakan untuk membalas dendam. Adapun Han Han yang melatih
diri dengan penggabungan ilmu dalam kitab-kitab Ma-bin Lo-mo, Sepasang Pedang Iblis,
dicampur dengan latihan-latihannya ketika ia "mencuri" ilmu dari Kang-thouw-kwi, menjadi
tersesat tidak karuan dan secara ngawur ia telah dapat melatih dirinya sehingga
memperoleh kemajuan yang aneh dan mengerikan. Kalau seorang ahli lain melatih diri
dengan sinkang berdasarkan pengerahan tenaga sakti di tubuh yang dapat dipergunakan
untuk membangkitkan tenaga Yan-kang atau Im-kang, Han Han sebaliknya malah
membenamkan diri dalam cengkeraman hawa sakti Im-kang karena ia melatih diri dengan
menggunakan hawa dingin sebagai ujian.
Sebetulnya, dengan inti dari Ilmu Hwi-yang Sin-kang yang ia curi dari Kang-thouw-kwi, Han
Han dapat membuat tubuhnya terasa panas untuk mengatasi hawa dingin di pulau itu,
sung,guhpun hal ini akan merupakan sebuah cara yang berbahaya karena ia seolah-olah
melawan dingin dengan kekuatan sinkangnya. Kalau dia menang, dia tidak akan kedinginan,
akan tetapi kalau sampai kalah, dia yang menggunakan Yang-kang secara ngawur akan
terancam bahaya maut. Untung bahwa dia tidak sampai terancam bahaya ini karena dia
memulai latihannya dengan menggunakan kitab peninggalan Ma-bin Lo-mo dan Sepasang
Pedang Iblis. Kitab Ma-bin Lo-mo mengajarkan tentang menghimpun tenaga Im-kang dan
karena di dalam diri Han Han telah terkandung tenaga mujijat, begitu ia bersamadhi dan
mulai melatih diri, sebntar saja ia dapat menghimpun tenaga "dingin" ini. Berlatih
menghimpun tenaga dingin, di dalam hawa yang dinginnya seperti Pulau Es itu, pada harihari pertama merupakan siksaan hebat pada tubuhnya. Darahnya seolah-olah menjadi beku
dan hampir saja Han Han beberapa kali terancam maut kalau saja Lulu tidak selalu
menjaganya. Kalau sudah melihat kakaknya menggigil kedinginan, mukanya membiru
seperti itu, Lulu cepat turun tangan, menyelimuti tubuh kakaknya dengan baju bulu, atau
membuat api unggun di dekat kakaknya, atau mengguncang-guncang tubuh Han Han
sehingga terpaksa Han Han menyudahi latihannya menghimpun tenaga dingin.
Akan tetapi Han Han memiliki kekerasaan hati yang tidak lumrah manusia biasa. Dia tidak
pernah merasa kapok dan selalu berlatih Im-kang di waktu hawa sedang dinginnya sehingga
akhirnya ia dapat membuat keadaan tubuhnya lebih dingin daripada hawa dingin di luar
tubuhnya. Dengan begini, karena dia membuat suhu tubuhnya lebih dingin daripada suhu di
luar tubuh, setelah latihannya matang, ia malah merasa bahwa hawa yang amat dingin, yang
bagi orang lain akan tak tertahankan itu masih kurang dingin! Setelah berlatih tiga tahun
lamanya, di waktu hawa di Pulau Es itu amat dingin, Han Han mulai berlatih sambil
membuka sepatunya dan pakaiannya!
Demikianlah, dengan ditemani biruang es yang merupakan teman bermain bahkan teman
berlatih silat amat tangguh dari Lulu, kedua orang anak itu hidup terasing dan
menggembleng diri dengan ilmu-ilmu aneh tanpa bimbingan sehingga kepandaian yang
mereka peroleh amatlah aneh bagi umum!
Setelah tinggal di Pulau Es selama tiga tahun, Han Han dan Lulu menganggap pulau itu
seperti milik mereka sendiri dan makin banyak mereka mengenal istana itu, makin tebal
keyakinan mereka bahwa dahulu tempat ini merupaan tempat tinggal orang-orang sakti dan
bahwa kemudian terjadi hal-hal yang amat hebat di situ sehingga kemudian ditinggalkan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
153
para penghuninya. Akan tetapi selama tiga tahun itu, Han Han dan Lulu tidak pernah
menemukan sesuatu yang menceritakan tentang para penghuni itu. Tulisan-tulisan di dinding
hanya merupakan sajak-sajak yang selain mengandung filsafat-filsafat hidup, juga
membayangkan kepahitan dan penderitaan batin si penulisnya namun tidak pernah
menyinggung soal nama maupun riwayat mereka yang dahulu tinggal di istana Pulau Es itu.
"Ah, Paman Biruang! Kalau saja engkau mampu bicara, tentu ceritamu tentang para
penghuni istana Pulau Es ini amat menarik hati," kata Han Han sambil mengelus bulu putih
lengan binatang itu.
"Mungkin dia sudah berkali-kali bercerita kepada kami dengan gerakan-gerakannya. Sayang
kita yang tidak mengerti," kata Lulu sambil tertawa.
"Boleh jadi!" kata pula Han Han, juga tertawa setelah memandang wajah adik angkatnya
penuh kagum. Kini Lulu telah menjadi seorang gadis cilik dan jelas tampak betapa manis
dan cantik anak ini, matanya yang lebar itu bersinar-sinar, mulutnya kelihatan manis dengan
lesung pipit di pipi kiri.
“Benarkah, Paman Biruang? Apa sih yang hendak kauceritakan kepada kami tentang
manusia-manusia sakti yang telah melimpahkan kebaikan kepada kami sehingga kami
ditinggali segala kemewahan ini?”
"Nguk-nguk ger-gerrrrr….!” Lulu meniru suara biruang itu dan menggerak-gerakkan kedua
lengannya. dengan lagak seperti biruang itu sehingga Han Han menjadi tertawa geli.
Mendadak biruang itu menggereng, kemudian menyergap hendak mencengkeram pundak
Lulu. Akan tetapi dengan sigap sekali Lulu miringkan tubuhnya sehingga cengkeraman itu
luput.
"Ihhh, salah sangka selalu kau, Paman Biruang! Aku tidak ingin mengajak kau berkelahi!"
kata Lulu dan melihat gadis cilik itu tidak balas menyerangnya, biruang itu pun hilang
semangatnya dan tidak menyerang terus.
Mendadak terdengar desir angin yang amat keras sampai salju-salju beterbangan dan dari
tempat yang agak tinggi itu tampak air laut dari jauh bergelombang besar. Lulu dan Han Han
memandang ke arah laut sambil melindungi muka dari hantaman salju tipis yang terbawa
angin. Keduanya teringat akan peristiwa tiga tahun yang lalu ketika mereka diombangambingkan perahu yang menjadi permainan badai. Angin cepat sekali berubah makin
membesar dan suaranya berdesir menakutkan.
"Agaknya badai akan mengamuk lagi…!" kata Han Han dan biarpun mereka tidak perlu
mengkhawatirkan badai karena sekarang berada di tengan Pulau Es, namun teringat akan
pengalamannya tiga tahun yang lalu, Lulu merasa ngeri juga.
Mendadak biruang es itu mengeluarkan bunyi pekik yang belum pernah mereka dengar
selama ini. Pekik ini seperti suara yang mengandung kecemasan dan tiba-tiba Han Han dan
Lulu terkejut karena binatang besar itu telah menyambar tangan mereka dan menarik
mereka memasuki istana.
"Paman biruang, bukan waktunya untuk main-main!" Lulu berusaha untuk merenggutkan
tangannya.
"Dia tidak main-main, Lulu. Dia ketakutan dan mengajak kita masuk. Tentu ada sebabnya.
Hayo kita ikut dia masuk!" kata Han Han dan berlari-larianlah mereka memasuki istana. Akan
tetapi biruang itu sambil mengeluarkan suara mengeluh panjang mendorong-dorong untuk
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
154
terus masuk dan menuruni anak tangga yang membawa mereka ke dalam gudang di bawah
tanah, yaitu gudang tempat penyimpanan bahan makanan. Setelah mereka tiba di gudang
bawah tanah ini, biruang es itu lalu berjingkrak-jingkrak seperti mabuk atau ketakutan, dan
menuding-nuding ke arah dinding sebelah belakang sambil membuat gerakan seperti
mendorong dengan kedua lengannya ke arah dinding.
"Apa maksudnya?" tanya Han Han.
"Aneh sekali, dia seperti minta kita mendorong dinding. Padahal kalau memang begitu,
tenaganya yang amat besar tentu lebih berhasil daripada kita," jawab Lulu dan anak ini lalu
menghampiri dinding, mengerahkan tenaga dan berusaha mendorong seperti yang
diperlihatkan dengan gerakan oleh binatang itu. Akan tetapi dinding itu tetap tidak bergerak.
"Eh, Paman Biruang. Kalau memang harus didorong, kaubantulah aku!" kata Lulu
rnendongkol karena tidak mengerti maksud binatang itu. Han Han menghampiri dinding itu
mencoba untuk mendorongnya, membantu Lulu. Akan tetapi tiba-tiba biruang itu memegang
pundaknya dan menariknya ke belakang, lalu menggereng-gereng dan menggeleng-celeng
kepala, kemudian membuat gerakan mendorong lagi dari jauh sambi! menuding-nuding ke
arah Han Han.
Mereka telah tiga tahun bergaul dengan binatang itu dan sedikit banyak sudah dapat
mengerti bahasa gerakan ini.
"Han-ko, agaknya Paman Biruang minta engkau yang mendorong dinding!" kata Lulu.
Han Han mengerutkan kening. “Tidak, aku tadi mendorong dia tarik ke belakang. Ah,
jangan-jangan dinding ini ada rahasianya dan harus didorong dengan hawa sinkang dari
jarak jauh. Mundurlah, Lulu."
Ketika mendengar ini dan melihat Lulu mundur, biruang itu mengangguk-angguk dan
mengeluarkan suara seperti kalau dia sedang bersenang hati. Makin yakin hati Han Han dan
ia lalu mundur. Dalam jarak satu meter ia lalu menekuk kedua lututnya, memusatkan
perhatian, menahan napas, mengerahkan hawa sin-kang di dasar perut dan disalurkan ke
arah kedua lengannya lalu mendorong ke arah dinding. Karena setiap hari selama tiga tahun
ini ia melatih hawa sakti Im-kang, tentu saja ketika mempergunakan dorongan ini ia pun
otomatis mempergunakan Im-kang. Kemajuan yang diperoleh Han Han selama berlatih tiga
tahun ini amatlah hebatnya. Hawa dingin yang amat dahsyat menyambar dari kedua
tangannya yang mendorong itu dan dinding yang terbuat dari baja itu tergetar hebat, akan
tetapi tidak ada perubahan apa-apa. Yang sebelah kirinya tergetar keras, akan tetapi yang
sebelah kanan tidak tergoyang sedikit pun.
"Bagus! Sudah tergetar, Koko! Coba lagi, lebih kuat!" kata Lulu setengah berteriak,
mengharapkan untuk membuka rahasia tempat ini dan ingin sekali mengetahui apa yang
akan terjadi. Sementara itu, suara badai mengamuk di luar istana terdengar amat santer dan
angin malah masuk sampai ke tempat itu. Dapat dibayangkan betapa hebatnya badai
mengamuk kalau anginnya dan suaranya sampai memasuki ruangan di bawah tanah itu!
Han Han sudah siap untuk mencoba lagi, akan tetapi biruang itu menggereng-gereng marah
dan menggerak-gerakkan kedua kaki depan tanda tidak setuju, akan tetapi masih tetap
membuat gerakan mendorong-derong dinding. Han Han tidak jadi mendorong lagi, lalu
mempergunakan pikirannya. Memang dia harus mendorong, akan tetapi agaknya keliru cara
menggunakan sinkang. Kalau dorongan ini hanya membutuhkan tenaga kasar, tentu
binatang itu sendiri akan sanggup melakukannya, karena dalam hal tenaga kasar, biruang itu
jauh lebih menang dibandingkan dia. Tentu harus menggunakan sinking, akan tetapi
mengapa salah? Tiba-tiba ia teringat. Ah, dia melatih sin-kangnya berdasarkan ilmu-ilmu dari
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
155
Ma-bin Lo-mo yang ia gabungkan dengan ilmu dari kitab Sepasang Pedang Iblis, yaitu
mempergunakan Im-kang. Inilah agaknya yang menjadi kesalahannya. Tentu saja ilmu dari
penghuni istana di Pulau Es ini berbeda sinkangnya dengan Ma-bin Lo-mo.
Akan tetapi, tenaga sinkang ada dua macam, kalau tidak hawa sakti dingin tentu hawa sakti
panas, yaitu Yang-kang. Dia sudah mencuri ilmu ini dari Kang-thouw-kwi, akan tetapi sudah
tiga tahun ia tidak pernah melatih Yang-kang. Betapapun juga, Han Han masih belum
melupakan untuk mempergunakan tenaga yang keluar dari hawa sakti itu. Latihan-latihannya
dengan batu bintang dan dengan nyala api tulang manusia sudah cukup mantang.
“Apakah dengan tenaga Yang-kang?" Ia bertanya kepada diri sendiri, sedangkan Lulu
hanya memandang, tidak berani mengganggu karena maklum bahwa kakaknya sedang berusaha keras untuk membuka rahasia dinding ini. Han Han kembali
menekuk kedua lututnya, kemudian ia berdiam sampai lama, berusaha mengobarkan hawa
Yang-kang di tubuhnya. Memang amat sukar dan sebentar saja peluh membasahi muka dan
lehernya, akan tetapi ternyata ia berhasil karena kedua tangannya mulai menjadi panas,
bahkan mengepulkan asap! Lulu terbelalak kagum dan biruang itu meloncat ke belakang
ketakutan. Memang luar bfasa sekali anak ini. Keadaan jasmaninya yang tidak wajar lagi
menimbulkan kekuatan mujijat dan kekuatan kemauannya bukan main besarnya sehingga
hawa sakti di tubuhnya itu lebih dikuasai kemauannya daripada kematangan latihannya.
Setelah merasa kedua lengannya menggetar-getar dengan hawa panas seperti dahulu
kalau ia berlatih secara diam-diam di daerah terlarang belakang istana Pangeran Ouwyang
Cin Kok, Han Han lalu melakukan gerakan mendorong untuk kedua kalinya ke arah dinding
itu.
Kembali dinding itu tergetar hebat seperti tadi. Akan tetapi, sekali ini yang tergetar hebat
adalah bagian dinding di sebelah kanannya, sedangkan di sebelah kiri sama sekali tidak
bergerak, menjadi sebaliknya daripada tadi. Biruang itu mulai "mengomel" lagi dan
membanting-banting kaki belakang seperti orang marah, lalu menuding-nuding Han Han lagi
sambil menggunakan gerakan mendorong-dorong. Han Han menjadi bingung. Kalau dengan
Im-kang dan Yang-kang keduanya gagal, habis cara bagaimana ia harus mendorong dinding
itu? Sementara itu, kini angin yang masuk dengan santer membawa pula butiran-butiran es
yang keras sehingga mengejutkan mereka.
"Han-ko, apa bedanya doronganmu yang pertama dengan yang ke dua?" Tiba-tiba Lulu
yang sejak tadi memperhatikan itu bertanya.
“Yang pertama menggunakan hawa sakti dingin, yang kedua menggunakan hawa sakti
panas."
Lulu bertepuk tangan dan wajahnya berseri. "Ah, sekarang aku mengerti! Ketika engkau
menggunakan Im-kang yang pertama tadi, dinding sebelah kiri yang terguncang hebat
sedangkan yang kanan tidak bergerak. Sebaliknya, ketika kau menggunakan Yang-kang,
dinding di kanan yang tergetar sedangkan yang kiri tidak. Sekarang, kau doronglah dengan
kedua hawa sakti Im dan Yang. Kalau lengan kirimu mendorong dengan Im-kang ke sebelah
kiri dinding dan lengan kananmu mendorong dengan Yang-kang ke sebelah kanan, tentu
akan terbuka rahasia ini, Koko!"
"Agaknya engkau benar, akan tetapi betapa mungkin menggunakan dua hawa sakti yang
berlawanan secara berbareng?"
“Mengapa tidak mungkin Koko? Kita pernah membaca kitab tentang ilmu silat Im-yang-kun
yang berada diperpustakaan. Bukankah ilmu itu pun mempergunakan dua macam sinkang?"
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
156
"Benar, dan sepasang kitab Suhu dan Subo yang diberikan kepadaku pun mengandung
tenaga yang berlawanan. Akan tetapi hal itu dimainkan oleh dua orang, tentu saja dapat.
Kalau aku seorang diri harus mengerahkan tenaga yang berlawanan, betapa mungkin? Aku
belum pernah belajar tentang itu!"
"Koko, engkau seorang yang paling cerdik dan pandai di seluruh dunia ini! Apa yang tidak
mungkin bagimu? Cobalah, engkau tentu bisa! Lihat, badai makin hebat mengamuk! Butiranbutiran es seperti peluru dan aku harus selalu menangkis, akan tetapi butiran-butiran itu
hancur kalau mengenai tubuhmu dan kau seperti tidak merasakan! Koko, aku dapat
menduga bahwa tentu ada tempat persembunyian rahasia dan Paman Biruang agaknya
hendak mengajak kita bersembunyi di tempat itu!"
Han Han meooieh dan melihat betapa biruang itu repot menutupi mukanya agar jangan
terkena hantaman butiran-butiran es yang kalau mengenai matanya atau hidungnya tentu
akan mengakibatkan luka. Binatang ini ketakutan dan mengeluarkan bunyi seperti anak
kucing.
Harus kucoba, pikirnya dan mulailah ia menekuk kedua lututnya, menghadapi dinding dan
mulailah ia mengatur hawa sinkang yang disalurkan dari pusarnya, naik ke atas dan dia
mencoba untuk membaginya menjadi dua hawa sakti Im dan Yang. Sesungguhnya, hanya
orang yang sinkangnya sudah amat tinggi saja yang akan dapat mengerahkan Im-kang dan
Yang-kang secara berbareng. Di luar kesadarannya, Han Han telah memiliki tenaga sinkang
yang amat kuat. Akan tetapi karena dia belum pernah berlatih di bawah bimbingan ahli,
maka ia repot sekali membagi sinking ini. Kedua tangan sakti itu menarik-narik, kadangkadang menjadi Im-kang semua yang amat hebat sehingga tubuhnya menggigil kedinginan,
kadang-kadang Yang-kang menang kuat dan semua tenaga menjadi hawa sakti yang panas
membuat kepalanya mengepulkan asap! Ia merasa tersiksa sekali, dadanya sampai terasa
nyeri dan napasnya terengah-engah.
Akan tetapi ketika ia hendak membatalkan usahanya yang sia-sia ini dan melirik ke arah
Lulu, ia melihat adiknya itu memandang kepadanya penuh kekaguman dan penuh
kepercayaan. Hal ini memberi kekuatan luar biasa kepadanya dan cukup memberi dia
kenekatan untuk berusaha sampai berhasil biarpun dia akan menderita sampai mati
sekalipun. Memang hebat sekali tenaga kemauan hati Han Han. Tenaga mujijat inilah yang
membuat ia memiliki kekuatanpada matanya sehingga tanpa belajar ia telah mempunyai
kepandaian menundukkan kemauan dan semangat orang lain! Kini tenaga kemauannya ini
ia tujukan ke dalam dan biarpun ia belum pernah melatih untuk mengendalikan sinkang, kini
ia berusaha lagi untuk "mencegah" sinkangnya menjadi dua macam, sekali ini dia berhasil!
Akan tetapi keadaannya seperti seorang yang mengendalikan dua ekor kuda yang
berlawanan larinya, sehingga ia harus mengerahkan seluruh tenaga yang ada melawan
sinkang sendiri agar jangan sampai menyeleweng ke kanan atau ke kiri! Kembali ia
mendorong dengan kedua lengan yang berlawanan hawa saktinya.
Dinding itu tergetar hebat, terdengar keras sampai mengeluarkan suara dan disusul suara
berderit aneh kemudian.… dinding itu terpecah menjadi dua bagian dan terbuka seperti ada
tenaga rahasia mendorongnya ke kanan kiri!
"Kau berhasil, Han-ko….!!" Lulu bersorak akan tetapi kegirangannya segera berubah
menjadi kaget ketika melihat .tubuh Han Han roboh terguling. Lulu cepat melompat dan
berhasil memeluk tubuh kakaknya sehingga Han Han tidak sampai terbanting.
Biruang itu pun berseru girang, akan tetapi ia lalu menyambar tubuh Han Han,
dipondongnya dan ia menunjuk-nunjuk ke bawah di mana terdapat anak tangga dari batu,
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
157
memberi isyarat kepada Lulu untuk menuruni anak tangga sedangkan dia sendiri sambil
memondong tubuh Han Han, mengikuti dari belakang dengan wajah takut-takut.
Lulu yang menjadi cemas melihat kakaknya pingsan, segera menuruni anak tangga tanpa
ragu-ragu, karena ingin segera dapat menolong kakaknya yang dipondong biruangnya.
Melihat kakaknya dipondong biruang itu, teringatlah ia beberapa tahun yang lalu ketika mulamula mereka datang, hanya bedanya, kalau dahulu dia yang mengikuti binatang itu,
sekarang dialah yang berjalan di depan. Anak tangga itu amat dalam, dua kali lebih dalam
daripada anak tangga yang menuju ke gudang bawah tanah. Dan ketika ia sampai di dasar
anak tangga, Lulu menjadi bengong. Tentu ia sudah bersorak gembira kalau saja tidak ingat
akan keadaan kakaknya. Ruangan yang berada di dasar tangga itu benar-benar
mempesonakan sekali, jauh lebih indah daripada semua ruangan di atas! Benda-benda yang
berada di situ berkilauan, terbuat daripada emas dan perak. Biruang itu sudah menurunkan
tubuh Han Han ke atas lantai yang terbuat daripada batu putih bersih dan mengkilap,
kemudian biruang itu berlari ke tengah ruangan dan menjatuhkan diri berlutut di depan tiga
buah patung yang terbuat daripada batu pualam. Berlutut sambil mengeluarkan suara seperti
menangis.
Biarpun merasa heran sekali, akan tetapi Lulu tidak lagi memperhatikan binatang itu, tidak
pula memperhatikan ruangan yang indah karena semua perhatiannya telah ia curahkan
kepada Han Han yang menggeletak terlentang di atas tanah. Ia berlutut di dekat kakaknya
dan memeriksa. Alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa kulit muka kakaknya itu
berwarna dua macam! Yang kanan berwarna hitam seperti terbakar gosong, adapun yang
kiri berwarna putih kebiruan seperti muka mayat. Han Han rebah tak bergerak, dan
napasnya tinggal satu-satu.
"Koko…, Han-ko….. ahhh, Koko….!" Lulu memeluk tubuh kakaknya dan menjadi
kebingungan. Akan tetapi ia lalu teringat bahwa kakaknya tentu menderita luka di sebelah
dalam, akibat dari pengerahan sinkang yang dibagi menjadi dua hawa sakti tadi. Ia sudah
banyak membaca kitab tentang latihan sinkang, bahkan dia sendiri sudah melatih diri di
bawah bimbingan kakaknya. Yang ia latih adalah sebuah kitab dari perpustakaan di istana
Pulau Es itu yang sesuai dengan latihan yang pernah dipelajari Han Han dari Lauw-pangcu.
Tanpa mereka sadari, kalau Han Han menggembleng diri dengan ilmu kaum sesat, adalah
Lulu malah melatih diri dengan ilmu kaum bersih! Melihat keadaan kakanya sekarang ini,
Lulu teringat akan ilmu memindahkan sinking ke tubuh orang lain untuk membantu orang itu.
Maka, biarpun latihannya belum matang benar, Lulu tanpa ragu-ragu lagi duduk bersila dan
menempelkan kedua telapak tangannya ke dada dan perut Han Han, kemudian ia
mengheningkan cipta, bersamadhi mengumpulkan semua tenaga dalam di tubuhnya yang ia
paksa keluar melalui kedua tangannya memasuki tubuh Han Han!
Han Han siuman dan merasa betapa ada hawa hangat yang halus lembut memasuki
dadanya. Ketika ia membuka mata dan melihat betapa Lulu bersila meramkan mata dan
menempelkan kedua telapak tangan ke badannya, ia menjadi terharu sekali den rasa
sayangnya terhadap adiknya ini makin mendalam.
"Cukuplah, Lulu. Jangan menyia-nyiakan sinkangmu yang masih belum kuat..." katanya
halus sambil mendorong kedua tangan Lulu perlahan-lahan. Lulu membuka matanya akan
tetapi menutup mulutnya yang sudah akan bertanya ketika ia melihat betapa kakaknya
bangkit dan bersila sambil meramkan mata. Ia tahu bahwa kakaknya sedang mengerahkan
tenaga untuk mengobati diri sendiri dan perlahan-lahan muka kakaknya yang tadinya
berwarna dua kini menjadi pulih kembali. Hatinya menjadi lega dan mulailah dia menyapu
keadaan sekeliling ruangan indah itu dengan pandang matanya.
Ruangan itu benar-benar amat indah. Di tengah ruangan terdapat tiga buah patung, yang
tengah merupakan seorang laki-laki yang tampan sekali, akan tetapi bagian kepalanya, di
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
158
dahi, terdapat dua buah lubang seolah-olah bagian kepala patung ini ada yang menusuknya
dengan senjata dua kali. Di sebelah kiri patung pria ini adalah sebuah patung wanita, cantik
jelita dengan tubuh ramping dan dengan wajah lemah lembut, akan tetapi sebelah kakinya
buntung! Adapun yang berada paling kanan adalah patung seorang wanita yang juga cantik
jelita, lebih tinggi daripada wanita buntung, akan tetapi kecantikan wanita di kanan ini
bercampur dengan kekerasan hati dan kekejaman yang membayangkan pada wajah cantik
itu. Hanya patung inilah yang tidak ada cacadnya.
Tiba-tiba Lulu tertawa. Memang lucu melihat tingkah laku biruang es ketika itu. Binatang ini
seperti kesurupan atau telah menjadi gila. Kadang-kadang ia lari dan menjatuhkan diri
didepan patung pria, memeluk kaki patung itu, mengeluarkan suara seperti menangis,
kemudian berlutut di depan patung wanita buntung, berdongak ke atas memandang wajah
patung itu dengan wajah membayangkan rasa saying, akan tetapi selalu ia kembali ke
patung sebelah kanan dan ia berlutut di depan wanita cantik tanpa cacad itu sambil
mengangguk-angguk dan membentur-benturkan kepala ke lantai dan mengeluarkan suara
seperti sedang ketakutan. Melihat biruang itu berlutut di depan tiga patung dengan tiga
macam tingkah laku, kelihatan lucu bukan main sehingga Lulu tertawa.
Han Han membuka matanya. Ia pun terpesona akan keindahan ruangan itu dan kini tahulah
ia mengapa biruang itu mengajak mereka ke situ. Dari tempat ini, suara badai mengamuk
tidak terdengar lagi dan mereka memang aman daripada gangguan suara den ancaman
hujan butiran ea keras yang beterbangan seperti peluru. Akan tetapi, melihat biruang itu
seperti gila berlutut di depan tiga buah patung itu, ia memandang terbelalak dan hatinya
berdebar keras. Tidak salah lagi, tentu patung-patung itu adalah patung dari para penghuni
istana Pulau Es yang telah meninggalkan kesemuanya untuk dia dan Lulu! Sudah meninggal
duniakah mereka bertiga itu? Ia bangkit lalu menggandeng tangan Lulu, dan berbisik.
"Lulu, jangan sembrono. Kurasa mereka itu adalah patung daripada Locianpwe yang dahulu
menjadi penghuni Istana Pulau Es. Mari kita memberi hormat….”
Lulu menurut dan sambil bergandengan tangan mereka menghampiri tengah ruangan itu.
Melihat betapa tiga buah patung itu menggambarkan Seorang laki-Jaki muda dan tampan
dan dua orang wanita yang cantik jelita seperti puteri-puteri istana, Han Han terbelalak dan
meragu. Inikah manusia-manusia sakti yang menjadi penghuni Istana Pulau Es? Akan tetapi,
menyaksikan sikap biruang itu, ia tidak ragu-ragu lagi dan ia membimbing tangan Lulu dan
diajaknya adiknya itu berlutut di depan ketiga patung itu sambil berkata.
"Teecu Sie Han dan Sie Lulu mohon ampun kepada Sam-wi Locianpwe bahwa teecu
berdua berani mendiami Istana Pulau Es tanpa ijin Sam-wi, dan teecu berdua menghaturkan
banyak terima kasih atas segala kebaikan yang ditinggalkan Sam-wi Locianpwe untuk
keperluan teecu berdua."
Biruang itu kelihatann girang sekali melihat Han Han dan Lulu berlutut. Ia pun berlutut di
depan patung pria itu dan mengeluarkan suara menguik-nguik seolah-olah ia pun
menceritakan bahwa dua orang anak-anak itu adalah orang baik-baik dan selama ini menjadi
sahabat-sahabatnya!
"Koko, mengapa aku bernama Sie Lulu?" Lulu berbisik setelah mereka bangkit dan melihatlihat keadaan ruangan yang indah itu.
"Habis, engkau Adikku. Kalau tidak ber-she Sie seperti aku, mau pakai she apa lagi?"
"Koko, para Locianpwe yang katanya orang-orang sakti, kenapa masih begitu muda-muda
dan kelihatan seperti orang-orang lemah?"
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
159
"Hussshhh, jangan berkata demikian, Lulu. Kau lihat biruang itu mengenal majikanmajikannya, kiranya tidak salah lagi. Mereka adalah penghuni istana ini dahulu, entah
berapa puluh tahun yang lalu. Menurut percakapan tokoh-tokoh yang kudengar, Pulau Es ini
dicari sejak puluhan tahun yang lalu dan Kim Cu suci pernah mendongeng bahwa di sini
dahulu dikabarkan tinggal seorang manusia yang maha sakti seperti dewa…."
“Ah…. Cici Kim Cu yang baik itu sekarang tentu sudah menjadi seorang gadis jelita. Dia
mencintamu, Koko….!"
"Husssh, yang bukan-bukan s.aja kau ini! Kau tahu apa tentang cinta! Di tempat sesuci ini
jangan bicara begitu…"
Kembali mereka berdua memperhatikan tiga buah patung batu pualam itu dan melihat
betapa kini biruang itu duduk mendeprok di dekat kaki patung pria dengan sikap anteng dan
tenang, juga sikap binatang itu jelas menunjukkan ketaatan dan penghormatan yang
mendalam. Patung-patung itu amat indah buatannya, halus dan seolah-olah hidup. Dan Han
Han yang mempelajari wajah patung-patung itu melihat betapa mata patung pria itu
mengandung kebijaksanaan yang luar biasa, mendatangkan rasa kagum dan tunduk. Patung
wanita kaki buntung cantik sekali, membayangkan kehalusan budi dan sepasang matanya
seolah-olah memancarkan kasih sayang yang amat besar. Akan tetapi yang paling menarik
hatinya adalah patung wanita cantik di sebelah kanan. Harus ia akui bahwa selama hidupnya
belum pernah ia menyaksikan wanita secantik ini, cantik dan menggairahkan sehingga Han
Han yang mulai dewasa itu berdeber jantungnya, seakan-akan ia terangsang oleh wajah
cantik dan bentuk tubuh yang elok itu. Ia kagum dan sekiranya patung wanita itu benarbenar hidup, tentu ia akan suka mengabdi kepada wanita ini asal dapat selalu berdekatan.
Sifat keras hati dan ganas yang terbayang pada bibir yang penuh dan mata yang lebar indah
itu baginya malah menambah daya tarik.
Menjelang senja, badai di luar Istsna Pulau Es itu mereda dan mereka pun keluar dari
tempat rahasia itu. Han Han mengajak Lulu memberi hormat lagi kepada tiga patung itu
sambil berlutut. Kemudian, didahului oleh biruang yang agaknya telah tahu bahwa badai
telah berhenti, mereka keluar, mendaki anak tangga rahasia. Setibanya di luar, seperti
digerakkan tenaga gaib, dinding yang tadinya terbuka itu dapat menutup sendiri! Tentu saja
Han Han dan Lulu menjadi terkejut dan merasa seram. Adakah mahluk tersembunyi di
tempat itu yang menutupkan dinding baja ini? Mereka diam-diam mengambil keputusan
untuk tidak memasuki tempat rahasia itu lagi kalau tidak amat perlu, karena kehadiran
mereka seolah-olah mengganggu ketentereman dan kesunyian tiga patung yang indah itu.
***
Ke manakah perginya perahu Mancu yang dipimpin oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat pada tiga
tahun yang laJu ketika perahu itu bertemu dengan perahu Ma-bin Lo-mo? Seperti telah
diceritakan di bagian depan, dengan licik sekali Kang-thouw-kwi dapat mengalahkan Ma-bin
Lo-mo dengan anak panah-anak panah berapi sehingga perahu Ma-bin Lo-mo terbakar dan
memaksa Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya meloncat ke laut meninggalkan
perahu yang terbakar.
Si Setan Botak tertawa bergelak, suara ketawanya yang mengandung tenaga khikang amat
kuatnya itu terbawa angin laut dan terdengar sampai jauh, seperti suara ketawa iblis taut
sendiri. Adapun Ma-bin Lo-mo dan tiga orang kawannya, dapat menghindari maut dengan
jalan mengapungkan diri berpegangan kepada bambu-bambu yang mereka renggut putus
dari perahu, yaitu bamboo-bambu pengapung yang dipasang di kanan kiri perahu yang
terbakar itu. Pada ssat itu, badai mulai mengamuk dan Gak Lia bersama anak buahnya
terlalu repot dan sibuk menyelamatkan perahu mereka melawan ombak membadai sehingga
mereka tidak melihat betapa Ma-bin Lo-mo dan tiga orang pembantunya mempergunakan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
160
kekuatan tangan mereka untuk mendayung bambu-bambu pengapung itu mendekati perahu
Mancu itu. Tidak melihat betapa empat orang sakti itu akhirnya berhasil menempel di tubuh
perahu dan berpegang kuat-kuat sehingga betapapun badai mengamuk dan perahu itu
diayun dan diguncangkan, mereka tetap menempel pada tubuh perahu seperti empat ekor
lintah menempel di perut kerbau.
Setelah badai mereda, perahu itu dibawa jauh dari sekumpulan pulau-pulau itu dan
terdampar di sebuah pulau kecil yang kosong. Gak Liat dan anak buahnya lalu mendarat dan
para perwira Mancu itu lalu mempergunakan sebuah alat teropong untuk menyelidiki
keadaan sekitar pulau itu. Tiba-tiba seorang di antara para perwira itu berseru keras dalam
bahasa Mancu dan menunjukkan teropongnya ke arah utara.
Sekali meloncat, Gak Liat sudah tiba di dekat perwira ini dan menyambar teropongnya.
Biarpun dia memiliki ilmu tinggi dan pandang matanya jauh lebih awas daripada mata orang
biasa, namun dibandingkan dengan kekuatan teropong itu ia masih kalah jauh. Ia lalu
memakai teropong itu dan menujukan pandangannya ke utara, kemudian ia berkata girang.
“Tidak salah lagi! Itulah Pulau Es! Kita berhasil….!” Teriaknya
Tentu saja hatinya girang ketika ia melihat sebuah puJau yang putih diliputi salju dan
melihat samar-samar sebuah bangunan indah di tengah pulau, dibagian yang agak tingi.
Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan ngeri dan empat orang perwira Mancu roboh
terjungkal dan tewas seketika. Seperti iblis-iblis penghuni pulau, muncullah empat orang
kakek yang pakaiannya basah kuyup, dan biarpun keadaan empat orang kakek ini cukup
payah karena terendam di air laut terlalu lama, namun mereka itu dapat dikenal sebagai Mabin Lo-mo, Si Muka Tengkorak Swi Coan, Kek Bu Hwesio, dan Si Muka Bopeng Ouw Kian!
Mereka herhasil mendarat pula dan begitu muncul, mereka berempat menyerang empat
orang perwira yang roboh dan tewas seketika!
“Iblis Muka Kuda! Engkau masih belum mampus?" teriak Setan Sotak dengan nyaring dan
terheran-heran.
"Si Botak yang buruk! Bukan aku, melainkan engkaulah yang akan mampus!" balas Ma-bin
Lo-mo yang segera maju menerjang Si Setan Botak. Adapun tiga orang pembantunya sudah
dikurung oleh dua puluh enam orang perwira Mancu. Pertandingan hebat din mati-matian
terjadilah di pulau kosong itu. Terjangan Ma-bin Lo-mo sudah disambut dengan tangkisan
Kang-thouw-kwi. Dua buah lengan yang amat kuat bertemu dan keduanya terpental ke
belakang. Biarpun hawa sakti yang tersalur di tangan mereka berlawanan dan amat
berbeda, yang seorang adalah ahli Yang-kang dan yang ke dua adalah ahli Im-kang, namun
karena tingkat mereka sudah amat tinggi dan seimbang, keduanya terpental keras dan
masing-masing harus mengakui bahwa lawan tldak boleh dipandang ringan. Maka mereka
segera saling menggempur dengan hati-hati sekali, karena mereka maklum bahwa satu kali
saja terkena pukuJan lawan, berarti bahaya maut mengancam nyawa mereka.
Pertandingan antara tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo yang dikeroyok dua puluh enam
orang perwira Mancu juga berjalan dengan sengit dan mati-matian. Para perwira itu
bukanlah perajurit-perajurit sembarangan, melainkan perwira-perwira pilihan yang sengaja
diutus oleh kaisar untuk mencari Pulau Es di bawah pimpinan Setan Botak. Mereka
mengeroyok dengan senjata golok mereka secara teratur dan tidak serampangan karena
mereka pun tahu bahwa tiga orang itu adalah orang-orang sakti yang berilmu tinggi. Kalau
saja tiga orang sakti itu berada dalam keadaan segar seperti biasa, biarpun dikeroyok dua
puluh enam orang, tipis harapan bagi para perwira itu untuk dapat menang. Akan tetapi tiga
orang pembantu Ma-bin Lo-mo itu telah mengalami penderitaan hebat ketika mereka
menempel pada tubuh perahu yang diombang-ambingkan gelombang lautan. Gempurangempuran air laut membuat mereka lelah sekali, kehabisan tenaga, ditambah ketegangan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
161
yang mengerikan, sehingga kini ketika mereka menghadapi pertempuran, tenaga mereka
tinggal setengahnya. Hal inilah yang membuat mereka terdesak hebat dan terancam.
Sampai puluhan jurus, mereka bertiga belum juga mampu merobohkan seorang di antara
para perwira yang bekerja sama secara rapi dan membalas dengan serangan-serangan
berganda yang ganas.
Antara Gak Liat Si Setan Botak dan Siangkoan Lee Si Iblis Muka Kuda terjadilah
pertandingan yang seru dan hebat. Keduanya sekali ini dapat melanjutkan pertandingan
beberapa tahun yang lalu dan sungguhpun mereka itu merupakan dua di antara para datuk
yang enggan untuk saling bermusuhan, apalagi saling membunuh, namun pertandingan
sekali ini lain lagi sifatnya. Pulau Es sudah tampak di depan mata, dan satu sama lain
merupakan penghalang terbesar untuk dapat memiliki semua pusaka di pulau itu yang
diidam-idamkan oleh golongan kang-ouw seluruhnya, baik dari kaum bersih maupun kaum
sesat. Mereka ini para tokoh kang-ouw, sudah tahu bahwa Pulau Es itu merupakan tempat
bertapa Kaoi-lojin, seorang manusia dewa yang memiliki kesaktian luar biasa dan yang telah
meninggalkan benda-benda pusaka termasuk kitab-kitab pelajaran segala macam ilmu di
pulau itu. Karena ingin mendapatkan benda pusaka, kini Gak Liat dan Siangkoan Lee
bertanding mati-matian, maklum bahwa sebelum berhasil menewaskan lawan berat ini, tak
mungkin mereka itu akan dapat mencapai idam-idaman hati masing-masing.
Setelah lewat kurang lebih satu jam, pertandingan antara Gak Liat dan Siangkoan Lee
masih berlangsung seru dan sukar untuk diduga siapa diantara mereka yang lebih unggul
dan akan mencapai kemenangan. Memang sudah tentu sekali seorang di antara mereka
akan kalah, akan tetapi hal ini tentu akan terjadi lama sekali, mungkin sehari penuh, atau
dua bahkan tiga hari. Dan dapat diduga pula bahwa kalau sampai terjadi seorang di antara
mereka kalah dan tewas, dia yang menang tentu takkan keluar sebagai pemenang yang
utuh, sedikitnya tentu akan mengalami luka-luka parah.
Namun dalam pertempuran kurang lebih satu jam itu, telah terjadi perubahan pada
pertandingan antara dua orang pembantu Ma-bin Lo-mo dengan para perwira. Tiga orang
sakti itu mengamuk hebat sekali, melupakan kelelahan tubuh nereka karena mereka maklum
bahwa kalau mereka tidak dapat keluar sebagai pemenang, mereka akan tewas di pulau
kosong itu. Swi Coan si muka tengkorak sudah menggunakan senjatanya yang ampuh,
sebuah thi-pian, yaitu sebatang pecut besi yang biasanya ia libatkan di pinggang sebagai
sabuk. Pecut besi itu kini menyambar-nyambar dan mengeluarkan suara meledak-ledak
seperti halilintar yang menyambar-nyambar di atas kepala para pengeroyoknya yang amat
banyak jumlahnya itu. Adapun Kek Bu hwesio tokoh Kong-thong-pai yang meyeleweng itu
menggunakan senjatanya yang kelihatan sederhana namun sesungguhnya tidak kalah
ampuhnya, yaitu jubahnya sendiri yang kini ia lolos dan dipergunakan sebagai senjata.
Jangan dipandang ringan senjata ini, karena di tangan pendeta kosen ini, jubah itu dapat
menjadi lemas dan dipakai melibat senjata lawan, juga dapat menjadi kaku seperti sebatang
tongkat baja. Ouw Kian si muka bopeng telah mempergunakan senjata pedang, sebatang
pedang yang lemas sekali, tipis namun amat keras dan tajam sehingga ketika di mainkan,
berubah menjadi segulung sinar putih yang membentuk lingkaran-lingkaran dan melindungi
tubuhnya dari atas ke bawah dari hujan golok yang dilancarkan oleh para pengeroyoknya.
Betapapun lihainya tiga orang tokoh ini dengan senjata-senjata mereka yang ampuh, namun
jumlah pengeroyok terlalu banyak sehingga setiap kali senjata-senjata mereka itu
menyambar, tentu akan bertemu dengan tangkisan delapan sampai sembilan batang golok
di tangan para perwira Mancu yang rata-rata memiliki tenaga besar. Setelah pertandingan ini
berjalan kurang lebih satu jam, mereka itu masing-masing telah menewaskan dua
pengeroyok sehingga ada enam orang perwira yang roboh tewas, akan tetapi mereka
bertiga pun tidak luput daripada luka-luka bacokan golok. Biarpun luka-luka itu tidak parah,
hanya merobek kulit dan melukai sedikit daging, namun darah yang keluar membuat mereka
menjadi makin lemas dan mulailah mereka merasa khawatir karena kalau dilanjutkan,
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
162
agaknya mereka itu sendiri akan roboh biarpun mungkin mereka akan dapat menewaskan
lebih banyak lawan lagi. Dengan demikian, keadaan tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo ini
terancam bahaya, sedangkan keadaan Ma-bin Lo-mo sendiri pun belum pasti,
kesempatannya untuk menang masih setengah-tengah atau paling banyak dia hanya
menang seusap saja.
Pertandingan yang berlangsung amat serunya ini membuat mereka semua tidak sempat
memperhatikan soal-soal lain yang terjadi di sekitar pulau kosong itu. Tidak tahu betapa dari
sebelah belakang pulau mendarat pula sebuah perahu layar yang keadaannya pun tidak
lebih baik daripada perahu Mancu, dan jelas tampak bekas-bekas amukan badai sehingga
layar perahu ini sebagian kecil robek-robek, tiangnya ada sebuah yang patah. Tidak melihat
betapa dari perahu ini meloncat turun ke darat tujuh orang yang gerakannya ringan dan
gesit, tanda bahwa mereka itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Mereka itu terdiri dari
tujuh orang kakek yang usianya paling sedikit lima puluh tahun, dan di punggung masingmasing tampak menggemblok sebatang pedang yang gagangnya terukir indah dan dihias
ronce-ronce beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning dan biru.
Siapakah mereka ini? Para pembaca sudah mengenal mereka, karena tujuh orang kakek
gagah perkasa ini bukan lain adalah Siauw-lim Chit-kiam (Tujuh Pedang Siauw-lim-pai),
jago-jago pedang dari Siauw-lim-pai yang telah terkenal keampuhan ilmu pedang mereka.
Seperti juga para tokoh kang-ouw yang lain, mereka ini tertarik akan Pulau Es, bahkan sekali
ini atas perintah ketua Siauw-lim-pai, mereka menggunakan perahu untuk mencari pulau
rahasia itu setelah mendengar bahwa pemerintah Mancu juga menaruh minat atas pulau
yang mengandung benda-benda pusaka yang amat penting bagi dunia persilatan itu. Dan
seperti juga halnya perahu-perahu Mancu dan Ma-bin Lo-mo, Siauw-lim Chit-kiam ini pun
diserang badai sehingga perahu mereka dipermainkan gelombang tanpa mereka dapat
berbuat sesuatu yang berarti. Tenaga manusia, betapapun kuat dan pandainya mereka,
akan tampak kecil tak berarti setelah berhadapan dengan kekuasaan alam yang maha
hebat. Akhirnya, tanpa mereka kehendaki, perahu mereka juga terdampar pada pulau
kosong itu seperti juga perahu Mancu, hanya bedanya, mereka terdampar di pantai yang
berlawanan dengan pantai di mana perahu Mancu mendarat.
Siauw-lim Chit-kiam tidak membawa teropong seperti yang dimiliki para perwira Mancu,
maka pandangan mata mereka tidak dapat mencapai Pulau Es yang tampak samar-samar di
jauh. Karena ini, mereka tidak tahu bahwa Pulau Es yang diidam-idamkan berada tak jauh
lagi dari pulau kosong ini. Mereka lalu mendarat dan tiba-tiba mereka melihat pertandingan
hebat yang sedang berlangsung di pantai yang berlawanan itu. Sebagai orang-orang gagah
tentu saja mereka tertarik sekali menyaksikan pertandingan mati-matian itu, maka tanpa
dikomando mereka lalu berloncatan mendekati tempat pertandingan.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa yang
sedang bertanding itu adalah Setan Botak Gak Liat melawan Iblis Muka Kuda Siangkoan
Lee, dan banyak sekali perwira Mancu mengeroyok tiga orang kakek yang keadaannya telah
payah dan terancam hebat. Siauw-lim Chit-kiam mengenal siapa adanya dua orang kakek
sakti yang bertanding mati-matian itu, tahu bahwa mereka itu keduanya adalah datuk-datuk
sesat yang berwatak aneh dan kejam luar biasa. Bahkan mereka pun hampir saja tewas di
tangan Setan Botak Gak Liat ketika Setan Botak itu membasmi anak buah Lauw-pangcu.
Mereka pun tahu bahwa Ma-bin Lo-mo adalah seorang datuk kaum sesat yang amat kejam
dan jahat, yang tidak patut dijadikan sahabat maupun sekutu sungguhpun mereka tahu pula
betapa kakek sakti ini membenci penjajah Mancu.
Akan tetapi kini menyaksikan pertandingan itu, tidaklah sukar bagi mereka untuk memihak.
Bukan sekali-kali karena mereka menaruh simpati kepada Ma-bin Lo-mo sama sekali tidak.
Mereka sebagai tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang bernama bersih dan terkenal sebagai
pendekar-pendekar pedang yang gagah, tentu saja tidak sudi bersekutu dengan manusia
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
163
iblis seperti Ma-bin Lo-mo. Akan tetapi mereka memiliki permusuhan pribadi dengan Kangthouw-kwi Gak Liat. Permusuhan itu timbul ketika keponakan wanita mereka, yaitu Bi-kiam
Khok Khim, anak murid Siauw-lim-pai yang cantik, telah menjadi korban kekejian Gak Liat,
telah diperkosa oleh Setan Botak ini. Di samping permusuhan pribadi ini, juga mereka
teringat akan pembasmian anak buah Lauw-pangcu oleh Set an Botak. Semua ini ditambah
lagi dengan kenyataan sekarang betapa Gak Liat bersekutu dengan para perwira Mancu,
yaitu perwira-perwira penjajah. Tentu saja kenyataan-kenyataan ini memudahkan Siauw-lim
Chit-kiam untuk memihak dan serta-merta mereka mencabut pedang sambil menghampiri
Gak Liat yang masih bertanding seru melawan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee.
"Kang-thouw-kwi, bersiaplah untuk menerima hukuman atas dosa-dosamu!" bentak Song
Kai Sin yang menjadi wakil dari para sutenya. Bentakan ini pun merupakan isyarat komando
karena serentak mereka bertujuh sudah menggerakkan pedang mereka sehingga tampak
sinar pedang mereka bergulung-gulung dan terdengar suara bercuitan nyaring sekali. Gak
Liat terkejut bukan main melihat munclnnya tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang menjadi
musuhnya ini. Kalau saja dia tidak sedang menghadapi Ma-bin Lo-mo yang lihai, tentu dia
tidak gentar menghadapi Siauw-lim Chit-kiam. Akan tetapi di situ ada Ma-bin Lo-mo, dan dia
sudah pernah bertanding melawan Siauw-lim Chit-kiam yang kalau bergabung merupakan
lawan yang amat tangguh pula. Kini melihat gulungan sinar pedang itu, ia mengeluarkan
seruan keras dan cepat melempar tubuhnya ke belakang, menggunakan tenaga dorongan
Ma-bin Lo-mo sehingga tubuhnya terjengkang lalu bergulingan cepat sekali, tahu-tahu ia
sudah meloncat ke depan Song Kai Sin yang berada paling dekat lalu mengirim pukulan
Hwi-yang Sin-ciang!
Maklum akan lihainya pukulan ini Song Kai Sin meloncat jauh namun hawa pukulan itu
masih menyerempet pundaknya sehingga ia terhuyung. Pada saat itu, enam orang sutenya
sudah menyerang secara berbareng kepada Gak Liat, sedangkan Ma-bin Lo-mo sendiri
yang tidak menyia-nyiakan kesempatan sudah mengirim pukulan Swat-im Sin-ciang kepada
Setan Botak itu.
Gak Liat terkejut setengah mati. Ia tahu bahwa pukulan Ma-bin Lo-mo yang paling
berbahaya maka ia cepat menangkis dengan lengan kirinya. “Dukkk!” Sekali lagi tubuh
kedua orang ini terpental dan Gak Liat cepat mengelak sambil mendorong dengan
tangannya ke arah enam sinar pedang, akan tetapi biarpun ia berhasil meloloskan diri dari
cengkeraman maut, pundaknya masih tergurat pedang sehingga bajunya robek dan pundak
berdarah! Pada saat itu, sebuah dorongan datang lagi dari Ma-bin Lo-mo. Gak Liat mencoba
menangkis, namun gerakannya kurang cepat sehingga ia terdorong ke belakang dan
kembali sebuah tusukan pedang mengenai pangkal lengan kirinya. Kakek ini mengeluarkan
gerengan keras dan menggulingkan tubuhnya menjauhi para pengeroyoknya.
"Ha-ha-ha." Ma-bin Lo-mo tertawa dan mendadak kakek ini membalik dan mengirim pukulan
Swat-im Sin-ciang kepada tujuh orang Siauw-lim-pai itu. Serangan ini benar-benar amat
tidak terduga sehingga kedua kakak beradik Oei Swan dan Oei Kiong roboh terguling
dengan muka menjadi pucat sekali. Untung bahwa pukulan itu ditangkis oleh saudarasaudara mereka sehingga tenaganya banyak berkurang. Mereka hanya terluka di sebelah
dalam yang tidak terlalu parah, hanya membuat tubuh mereka menggigil kedinhinan, namun
setelah bersila sebentar mengerahkan sinkang, rasa dingin itu lenyap!
Siauw-lim Chit-kiam kini bersatu dan mereka kini terpecah menjadi tiga kelompok, tidak
bergerak-gerak dan saling memandang, menanti fihak lawan bergerak lebih dulu. Mereka
menjadi bingung sendiri karena maklum bahwa mereka tidak boleh saling bantu. Bagi Siauwlim Chit-kiam, keadaan mereka paling sulit. Kalau dibuat ukuran, di antara mereka tiga
kelompok, kedudukan Siauw-lim Chit-kiam yang paling lemah. Kalau, mereka mengeroyok
Gak Liat dengan bantuan Ma-bin Lo-mo, tentu mereka akan berhasil membalas dendam dan
membunuh Setan Botak, akan tetapi mereka tahu bahwa watak Ma-bin Lo-mo amat aneh
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
164
sehingga mereka itu akhirnya pasti akan berhadapan dengan Iblis Muka Kuda yang berhati
palsu ini! Kalau mereka kini menghadapi Ma-bin Lo-mo dan Setan Botak membantu mereka,
tentu Ma-bin Lo-mo akan dirobohkan, akan tetapi mereka pun akan diserang oleh Gak Liat
yang mempunyai banyak kawan perwira-perwira Mancu.
Si Setan Botak Gak Liat yang tadinya merasa khawatir sekali melihat munculnya Siauw-lim
Chit-kiam, kini tertawa bergelak melihat Ma-bin Lo-mo menyerang mereka. Ia maklum bahwa
bukan sekali-kali hal itu dijakukan oleh Si Muka Kuda karena memiliki rasa setia kawan
terhadap dirinya. Sama sekali bukan. Ia tahu bahwa Ma-bin Lo-mo menganggap bahwa
orang-orang Siauw-lim-pai itu sebagai pesaing juga dalam memperebutkan pusaka-pusaka
Pulau Es! Maka ia tertawa bergelak dan berkata.
"Ha-ha-ha, Iblis Muka Kuda! Kiranya engkau cerdik juga. Pulau Es sudah tampak di depan
mata, kalau kita mati-matian saling gempur, akhirnya kita berdua roboh den enak sekali bagi
tikus-tikus Siauw-lim ini. Kita menjadi seperti dua ekor anjing tua memperebutkan tulang dan
akhirnya tikus-tikus ini yang akan mendapat tulangnya. Ha-ha-ha!"
Mendengar ini, Siauw-lim Chit-kiam tercengang dan jantung mereka berdebar. Pulau Es
sudah di de pan mata? Benarkah Pulau Es sudah dekat dengan pulau kosong ini? Adapun
Ma-bin Lo-mo juga bersiap-siap. Kalau tadi ia menyerang Siauw-lim Chit-kiam, bukan sekalikali ia hendak menolong Gak Liat. Ia melihat Gak Liat sudah terluka sehingga kini pasti ia
akan dapat mengalahkan Setan Botak itu. Ia tahu bahwa setelah ia mengalahkan Setan
Botak, tentu tenaganya tinggal sedikit karena lelah dan Siauw-lim Chit-kiam ini bukanlah
lawan yang empuk. Dan ia pun tahu bahwa mereka bertujuh ini tentu akan mendahuluinya
mengambil pusaka-pusaka Pulau Es kalau tidak dapat ia binasakan bersama dengan Setan
Botak. Kini ia meragu dan bersikap hati-hati karena kalau sampai Setan Botak dapat
membujuk mereka ini menghadapinya, ia akan celaka!
Pada saat itu, tujuh orang Siauw-lim Chit-kiam yang setelah mendengar disebutnya Pulau
Es lalu mencari-cari dengan pandang mata mereka, tiba-tiba mereka itu melihat ke kiri dan
menjadi bengong. Melihat keadaan mereka ini, Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi ikut pula
menengok dan mereka pun terkejut dan melongo. Apakah yang mereka lihat? Kiranya para
perwira yang jumlahnya tinggal dua puluh orang mengeroyok tiga orang pembantu Ma-bin
Lo-mo yang sudah terluka dan mulai kehabisan tenaga itu pun sekarang telah menghentikan
pertempuran mereka. Akan tetapi mereka itu bukan berhenti bertempur dalam keadaan
sewajarnya. Mereka itu masih dalam sikap bertanding, bahkan berhenti di tengah-tengah
gerakan silat akan tetapi sudah menjadi kaku seperti berubah menjadi arca-arca batu!
Tahulah orang-orang sakti yang memandang heran bahwa dua puluh orang Mancu dan tiga
orang pembantu Ma-bin Lo-mo itu dalam keadaan kaku karena tertotok jalan darah mereka!
Kalau dua puluh orang perwira Mancu itu sampai menjadi kaku tertotok, hal ini tidaklah amat
mengherankan benar. Akan tetapi tiga orang pembantu Ma-bin Lo-mo adalah orang-orang
berilmu tinggi, tidak mudah tertotok begitu saja. Dan hebatnya, mereka itu, dua puluh tiga
orang banyaknya, tertotok dalam waktu yang serentak, padahal mereka itu sedang bergerakgerak cepat dalam pertandingan mati-matian. Manusia mana yang sanggup melakukan
totokan seperti itu?
Kenyataan inilah yang membuat mereka makin terbelalak memandang ketika tampak
seorang kakek yang bertubuh tegap tinggi muncul di pantai. Sebuah perahu nelayan kecil
tampak di belakangnya dan kini kakek ini melangkah perlahan-l.ahan menuju ke tempat
mereka. Kakek itu tidak dapat dilihat mukanya karena tertutup oleh sebuah caping nelayan
yang amat lebar. Hanya dapat dilihat betapa pakaiannya amat sederhana, pakaian seorang
nelayan miskin. Biarpun kini dia sudah melangkah makin dekat, sembilan orang sakti itu
tetap tidak dapat melihat mukanya yang terus terlindungi caping lebar. Langkahnya perlahan
dan sikapnya amat tenang, namun kehadirannya ini membuat seorang sakti dan ganas
macam Kang-thouw-kwi dan Ma-bin Lo-mo sekalipun menjadi bergidik.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
165
Siauw-lim Chit-kiam juga tidak mengenal kakek nelayan ini. Akan tetapi gerak-gerik kakek
ini yang penuh dengan ketenangan, wibawa yang seolah-olah tergetar keluar dari sikap
kakek ini mengingatkan mereka akan guru mereka, Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai.
Oleh karena itu, mereka segera tunduk dan maklum bahwa mereka bertemu dengan
seorang sakti yang menyembunyikan diri. Dipelopori oleh Song Kai Sin, tujuh orang gagah
ini menekuk lutut kanan memberi hormat dan berkatalah Song Kai Sin.
"Teecu bertujuh Siauw-lim Chit-kiam menghaturkan hormat kepada Locianpwe dan mohon
maaf apabila teecu sekalian mengganggu tempat kediaman Locianpwe tanpa disengaja.
Mohon Locianpwe memperkenalkan diri."
Kakek nelayan itu tetap menyembunyikan mukanya di balik caping lebar dan terdengarlah
suaranya yang halus dan penuh getaran kesabaran dan welas asih, "Chit-wi-sicu datang di
pulau kosong milik alam, aku nelayan tua mana bias mempunyai pulau ini? Jauh-jauh
menempuh bahaya mencari apa? Lebih baik pulang melakukan hal-hal yang lebih
bermanfaat bagi dunia dan manusia."
Sementara itu, Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi yang menyaksikan keadaan kakek ini,
menjadi khawatir hati mereka. Sikap kakek ini jelas membayangkan bahwa kakek ini pasti
akan berfihak kepada Siauw-lim Chit-kiam, karena itu mereka pikir lebih baik turun tangan
lebih dulu selagi kakek ini tidak memperhatikan. Seperti telah bermufakat terlebih dahulu,
kedua orang sakti ini tiba-tiba saja menyerang dari kanan kiri. Setan Botak melancarkan
pukulan Hwi-yang Sin-ciang dari arah kanan kakek itu sedangkan dalam detik yang sama,
Ma-bin Lo-mo menyerang dengan pukulan Swat-im Sin-ciang dari kiri. Siauw-lim Chit-kiam
terkejut sekali akan tetapi mereka tidak sempat lagi berbuat apa-apa, selain itu, menghadapi
dua pukulan dahsyat ini, mereka dapat berbuat apakah? Akan tetapi kakek itu dengan sikap
tenang sekali mengembangkan kedua lengannya ke kanan kiri.
“Dessss…..! Desssss….!”
Dorongan kedua orang kakek sakti dari kanan kiri itu bertemu dengan lengan kakek nelayan
yang dikembangkan. Tenaga mujijat yang tak tampak bertumbuk di udara dan akibatnya
hebat sekali. Kakek nelayan masih berdiri tenang dan kini sudah menurunkan kembali kedua
lengannya yang dikembangkan, bahkan lalu bersedakap, tetapi Setan Botak dan Iblis Muka
Kuda jatuh terduduk. Muka Setan Botak menjadi merah sekali dan kepalanya mengepulkan
asap, sedangkan Iblis Muka Kuda menjadi pucat kebiruan mukanya den tubuhnya menggigil,
keduanya cepat bersila mengerahkan sinkang masing-masing untuk memulihkan getaran
yang membuat mereka hampir tidak dapat bertahan itu karena tenaga sakti mereka tadi
membalik dan menyerang diri mereka sendiri.
Kakek nelayan itu bersenandung, suaranya lirih namun jelas terdengar, "Tenaga Im dan
Yang adalah hebat sekali dan Ji-Wi telah dapat menguasainya. Sayang, tenaga murni
sehebat itu bukan dipergunakan untuk menyebar kebaikan, melainkan untuk memupuk
keburukan, sungguh sayang karena akibatnya akan menimpa diri sendiri...”
Setan Botak dan Iblis Muka Kuda itu terbelalak dan mulut mereka berseru kaget, “Koailojin.....!”
Pada saat itu, Siauw-lim Chit-kiam yanng melihat betapa dua orang kakek iblis itu
menyerang Si kakek nelayan, sudah siap dengan pedang mereka dan kini melihat
kesempatan baik, tujuh sinar pedang menyambar ke arah Setan Botak yang jatuhnya lebih
dekat dengan mereka. Kejadiah ini amat cepatnya sehingga Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri
hanya terbelalak, tak kuasa menghindarkan diri karena dia sendiri masih lemah oleh getaran
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
166
yang diakibatkan tangkisan kakek nelayan. Ia maklum bahwa nyawanya berada di ujung
rambut, maka ia hanya mengeluh dan memandang terbelalak.
Mendadak kakek nelayan itu mengibaskan lengan kanannya ke depan, telapak tangannya
mendorong ke arah sinar pedang dan..... “Trangggg....!!” Tujuh batang pedang itu runtuh
semua di atas tanah dan tujuh orang pendekar Siauw-lim-pai itu meloncat ke belakang
dengan muka pucat. Kembali kakek itu bersenandung, suaranya tetap halus dan tenang
seolah-olah tidak terjadi apa-apa yang penting.
"Tujuh pedang lihai takkan ada gunanya kalau titik sasarannya terpencar, jika titik sasaran
dipusatkan, alangkah akan kuatnya..."
Tujuh orang pendekar pedang itu terkejut dan menjadi girang sekali karena mereka
mendapat petunjuk yang menjadi rahasia kekuatan ilmu pedang mereka dan yang tak
pernah mereka pikirkan, maka mereka cepat mengambil pedang masing-masing dan
menjatuhkan diri berlutut di depan kakek nelayan ini yang mereka ketahui adalah Koai-lojin,
manusia dewa yang pernah mereka dengar disebut-sebut suhu mereka namun yang tak
pernah mereka jumpai itu.
"Hendaknya Cu-wi sekalian kembali ke tempat asal masing-masing. Tiada gunanya
memperebutkan pusaka karena pusaka yang diperebutkan melalui cucuran darah orang lain
hanya akan mendatangkan kutuk. Mencari sesuatu harus dengan cucuran keringat sendiri,
bukan dengan cucuran darah orang lain. Dan kalau tidak berjodoh, takkan mendapat.
“Hendaknya segera Cu-wi meninggalkan tempat berbahaya ini dan kiranya kepandaian Cuwi sudah lebih dari cukup untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan
manusia.” Dia berpaling ke arah Ma-bin Lo-mo dan berkata.
“Siangkoan-sicu kehilangan perahu, boleh menggunakan perahu nelayanku yang berada di
sana itu. Nah, selamat berlayar."
Kakek nelayan itu sudah duduk bersila di atas tanah. Kiranya di bawah capingnya yang
lebar itu terdapat tirai sutera hitam yang menyembunyikan mukanya, akan tetapi dari balik
tirai sutera hitam itu tampak sepasang mata yang mengeluarkan cahaya lembut namun
penuh wibawa sehingga mereka yang berada di situ, terrnasuk Gak Liat dan Siangkoan Lee
yang biasanya ganas seperti iblis, tidak berani membantah lagi.
Gak Liat bersungut-sungut dan mengumpulkan sisa para perwira Mancu yang kini tiba-tiba
dapat bergerak kembali yang menandakan bahwa totokan itu memang dilakukan dengan
sengaja menghentikan gerakan mereka untuk beberapa menit saja. Akan tetapi buyarlah
harapan Gak Liat yang diam-diam masih hendak mencari Pulau Es ketika secara aneh sekali
semua teropong yang berada di situ telah lenyap. Mereka berbondong-bondong kembali ke
perahu sambil membawa mayat teman-teman mereka, dan betapa heran dan mendongkol
hati Gak Liat ketika mendapat kenyataan bahwa teropong-teropong yang disimpan di perahu
juga lenyap semua. Terpaksa mereka melayarkan perahu dan mencari-cari secara ngawur
saja, namun akhirnya tidak berhasil juga dan karena daerah itu banyak diserang badai,
mereka akhirnya pergi ke selatan. Demikian pula dengan Ma-bin Lo-mo dan tiga orang
pembantunya. Dengan perahu nelayan kecil mereka tidak berani mengambil resiko diserang
badai, maka mereka juga berlayar kembali ke selatan. Siauw-lim Chit-kiam meninggalkan
pulau itu dan mereka langsung berlayar kembali ke selatan. Di waktu semua orang
meninggalkan pulau, terdengar lapat-lapat suara nyanyian kakek neJayan:
"Yang tidak ingin itu cukup dan puas
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
167
Yang ingin itu kurang dan kecewa!
Yang tidak mencari akan mendapat
Yang mencari akan sia-sia....!
Yang ada tidak dimanfaatkan
Yang tidak ada dicari-cari!"
Tak lama kemudian, setelah tiga buah perahu itu mulai mengecil dan hanya tampak sebagai
titik hitam di kaki langit, tampak kakek nelayan ini meninggalkan pulau. Dilihat dari jauh, dia
seolah-olah melayang di atas air dengan jubah berkibar-kibar tertiup angin. Akan tetapi
andaikata ada yang dapat melihat dari dekat, akan tampaklah betapa kakek nelayan yang
aneh ini sesungguhnya berdiri di atas dua batang bambu dan bambu itu meluncur cepat ke
depan karena jubah kakek itu tertiup angin dan sengaja dikembangkan sehingga menjadi
pengganti layar!
***
"Han-ko....! Sadarlah! Engkau sudah tiga hari tiga malam di situ!" Lulu berteriak sambil
berdiri bertolak pinggang di pondok taman, memandang kepada Han Han yang duduk
bersila tanpa sepatu di atas batu es. Sebagian tubuh dan di atas kepala Han Han penuh
dengan salju membeku. Di belakangnya, biruang es sedang menggaruk-garuk salju yang
menutup air, agaknya dia menciumm ikan di bawah situ.
Lulu kini bukanlah Lulu enam tahun yang lalu. Ketika datang ke pulau itu terbawa perahu
bersama Han Han, usianya baru sembilan tahun. Kini dia telah menjadi seorang gadis
remaja berusia lima belas tahun, berwajah cantik dengan sepasang mata lebar dan indah,
tubuhnya ramping kecil namun singset dan padat membayangkan tenaga sakti yang amat
kuat. Adapun Han Han yang duduk bersila itu pun bukan kanak-kanak lagi sekarang. Dia kini
telah berusia delapan belas tahun, telah menjadi seorang jejaka remaja yang tampan dan
gagah, tubuhnya tinggi tegap, dadanya bidang pinggangnya kecil, tubuhnya kelihatan kuat
sekali dan bibirnya selalu tersenyum, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar yang aneh
dan jarang ada orang akan dapat bertahan bertemu pandang dengan pemuda luar biasa itu.
Dia sedang melatih diri dan kini Han Han yang tekun berlatih menghimpun Im-kang selama
enam tahun itu telah memperoleh kemajuan yang amat mentakjubkan. Tenaga sinkang yang
ia kerahkan menjadi Im-kang amat dahsyat sehingga sekali dorong dengan kekuatan Imkang, ia dapat membuat air membeku seketika menjadi gumpalan es yang besar! Dan kalau
dia sedang melatih diri, dia sengaja duduk di luar, membiarkan dirinya diserang hujan salju
dan ia bertelanjang kaki. Namun hawa dingin tidak lagi mengganggunya karena dengan
tenaga sinkang ia telah membuat tubuhnya lebih dingin daripada yang di luar dirinya,
sehingga tubuhnya seolah-olah berubah menjadi es dan salju yang melekat pada tubuhnya
sampai membeku!
"Koko! Terlalu sekali kau! Masa aku kaudiamkan sampai tiga hari tiga malam? Benar-benar
kakak yang tidak menyayang adik!" Lulu membanting-banting kaki kanannya dengan jengkel!
Akan tetapi Han Han sama sekali tidak mendengar ucapan adiknya ini karena dia masih
tenggelam ke dalam samadhi. Alisnya berkerut, wajahnya berseri dan bibirnya yang
tersenyum itu membayangkan senyum yang mengejek. Dalam keadaan terlelap itu timbul
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
168
bayangan-bayangan yang menyenangkan hatinya, yaitu betapa dengan amat mudahnya ia
menangkap para perwira yang dahulu membasmi keluarga orang tuanya, dan membawa
mereka itu ke pulau ini, kemudian melaksanakan pembalasannya dengan memuaskan
sekali. Ia memikirkan dan mencari-cari cara yang paling mengerikan, paling kejam dan
paling menyakitkan untuk membunuh musuh-musuhnya itu sedikit demikian sedikit, untuk
menyiksa mereka dengan siksaan-siksaan yang mengalahkan siksaan di dalam neraka
seperti yang pernah ia baca dalam kitab-kitab. Dan ia telah mencurahkan segala
perhatiannya kepada cara-cara penyiksaan ini ketika ia mulai siulian, tepat seperti cara
mencurahkan perhatian dalam samadhi seperti yang pernah diajarkan Toat-beng Ciu-sian-li
kepadanya. Tidaklah mengherankan apabila wajahnya kini mengandung sinar yang kejam
karena pemuda ini tanpa disadari telah melatih diri dengan ilmu yang amat sesat.
"Han-ko... Han-ko.... tolong..... Paman Beruang diserang ular....!”
Kalau lulu hanya mengomel dan marah-marah, kiranya Han Han takkan dapat sadar dari
keadaan samadhinya. Akan tetapi mendengar adiknya yang dicintanya itu menjerit minta
tolong, seketika ia sadar dan membuka matanya. Setelah pikirannya yang tadi sedang
membayangkan siksaan yang paling kejam terhadap musuh-musubnya sudah mulai terang,
ia menoleh. Dilihatnya Lulu, sedang menarik seekor ular dari leher biruang yang terkapar di
atas salju sambil berkelojotan. Dia merasa heran sekali mengapa biruang es yang selain
bertenaga besar, juga kebal kulitnya dan dapat bergerak sigap itu kini terkapar hanya oleh
gigitan seekor ular merah darah yang entah bagaimana tadi menggigit leher biruang dan
membelit leher itu.
Pada waktu itu, Lulu telah menjadi seorang gadis remaja yang memiliki kepandaian tinggi.
Dengan pengerahan sin-kang, ia dapat merenggut tubuh ular itu terlepas dari tubuh biruang
dan ular merah itu tiba-tiba melejit sehingga terlepaslah pegangan tangan Lulu karena ular
itu licin dan tenaganya ketika melejit besar sekali. Ular merah yang panjangnya ada semeter
dan besarnya hanya seibu jari kaki itu kini meluncur dari bawah dan menyerang ke arah
leher Lulu! Namun gadis ini sudah menyambar dengan tangannya dan dengan gerakan
manis dan tepat sekali jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya sudah menangkap dan
menjepit leher ular itu. Ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya, dua buah jarinya yang kecil itu
seperti sepasang sumpit menjepit, dan ular itu .tidak dapat melepaskan dirinya lagi, hanya
dapat meronta-ronta dan mulai melibat tangan Lulu yang menjadi jijik dan geli.
Ketika merasa betapa tubuh ular yang licin dan panas itu menggeliat-geliat dan membelitbelit tangannya, bulu tengkuk Lulu berdiri dan ia sudah siap mencengkeram kepala ular dan
diremas hancur dengan tangan kiri.
"Tunggu, Moi-moi. Jangan bunuh dulu!" tiba-tiba Han Han meloncat dan sekali tubuhnya
bergerak, ia telah berada di depan lulu. Gerakan Han Han benar-benar luar biasa cepatnya
dan ginkang yang tidak lumrah manusia biasa ini pun ia dapatkan dari hasil latihanlatihannya yang menyeleweng.
"Mau apa kau? Enak-enak saja siulian dan setelah ular jahat ini kutangkap, tidak boleh
kubunuh!" Lulu mengomel.
"Jangan dibunuh begitu saja. Terlalu enak bagi ular keparat itu kalau dibunuh begitu saja.
Lihat apa yang telah ia lakukan. Lihat Paman Biruang itu!" Han Han menunjuk ke bawah,
Lulu menengok ke arah biruang dan gadis ini mengeluarkan jerit. Han Han cepat
menyambar ular itu dan ia pegang pada lehernya. Dengan mudah ia melepaskan belitan
tubuh ular dari tangan lulu dan gadis ini pun tidak mempedulikan lagi kepada ular itu,
melainkan cepat menubruk tubuh biruang sambil memekik-mekik memanggil.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
169
"Paman Biruang.... Paman.....! Akan tetapi biruang es itu telah mati dalam keadaan yang
mengerikan karena mukanya yarig putih menjadi biru sedangkan kulit pada telapak keempat
kakinya ada totol-totol merah.
Sampai lama Lulu menangisi biruang yang mati itu. Kemudian baru Lulu teringat mengapa
Han Han tidak ikut menangisi biruang yang mati. Ketika ia menengok, ia melihat Han Han
berdiri di bawah pohon yang tidak berdaun, entah sedang melakukan apa, hanya tampak
olehnya asap mengebul seolah-olah kakaknya itu sedang membakar sesuatu.
"Apa yang kaulakukan itu, Koko?" Lulu bangkit berdiri dan berlari menghampiri kakaknya.
Ketika melihat apa yang dilakukan Han Han, gadis ini memandang dengan mata terbelalak.
Ternyata Han Han telah mengikat leher dan ekor ular itu dengan akar halus dan
menggantung binatang itu di pohon, kemudian menggunakan sebatang ranting kering yang
bernyala untuk membakar ular itu sedikit demi sedikit! Ular itu menggeliat-geliat kepanasan
akan tetapi Han Han tidak membakarnya terus melainkan menyentuh-nyentuh tubuh ular
dengan api, menyiksanya dengan kejam sekali, seolah-olah merasa puas dan gembira
menyaksikan betapa ular itu menggeliat-geliat dan berkelojotan. Andaikata ular itu dapat
bersuara, tentu sudah melolong karena kesakitan.
"Han-ko, kenapa tidak kaubunuh saja dia?”
"Ha-ha, terlalu enak kalau dibunuh begitu saja, Lulu. Biar dia rasakan hukumannya dan
dalam penderitaan sakit ini biar dia sadar akan dosanya telah membunuh Paman Biruang.
Lihat dia menggeliat-geliat berkelojotan! Setelah dia cukup tersiksa, akan kuambil darahnya
untuk kita minum!"
"Ihhh, jijik! Aku tidak mau!"
"Mengapa, Lulu? Ingat, ular ini kulitnya berwarna merah, dan gigitannya amat berbisa. Aku
pernah membaca kitab yang menyatakan bahwa makin berbisa seekor ular, makin lezat dan
makin banyak khasiat darah dan dagingnya. Selain untuk menikmati darahnya dan
dagingnya, juga kalau kita makan dia, berarti kita membalaskan sakit hati Paman Biruang!
Apakah kau tidak ingin membalas dendam kematian raman, Biruang?"
"Tentu saja! Biar kuhancurkan kepalanya!"
"Eiiiiit, jangan! Dia harus dihukum dan kalau dibunuh sekarang, darahnya akan membeku.
Darahnya akan kuambil dan kita minum, kemudian dagingnya kita bakar dan kita makan.
Biar arwah Paman Biruang melihatnya dan menjadi puas. Kepalanya kita kubur bersama
mayat Paman Biruang." Berkata demikian, sinar mata Han Han bercahaya penuh kepuasan.
"Koko, kau tidak menengok... dia....?" Lulu menuding ke arah tubuh biruang
yang sudah menjadi mayat.
"Perlu apa? Dia sudah mati. Dia bukan Paman Biruang lagi, dia adalah bangkai yang akan
kita kubur nanti. Nah, kau lihat, aku akan mengambil darah ular keparat ini." Setelah berkata
demikian, Han Han mengambil sebuah cawan dari dalam rumah, kemudian dengan
kekuatan tangannya ia merobek kulit dan daging di bagian ekor ular itu. Binatang ini
berkelojotan dan darah yang merah sekali mulai menetes-netes keluar yang segera ditadahi
Han Han ke dalam cawan. Makin deras darah menetes, makin keras tubuh ular menggeliat
dan makin berseri wajah Han Han. Lebih setengah jam darah itu bertetesan sampai
setengah cawan, kemudian tubuh ular itu makin lemah menggeliat dan akhirnya hanya
bergerak-gerak lemas, darahnya tidak menetes lagi. Han Han membawa cawan darah itu ke
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
170
dekat mayat biruang di mana Lulu berlutut sambil membelai bulu biruang dengan penuh
kesedihan.
"Lulu, mari kita minum darah ini di depan mayat Paman Biruang sebagai tanda pembalasan
terhadap ular." Setelah berkata demikian, Han Han minum sebagian besar darah ular itu dari
cawan, kemudian menyerahkan cawan dengan sisa darahnya kepada Lulu.
Lulu menerima cawan itu, mukanya berkerut dan menyeringai. "Ihhh, aku... jijik...., Koko!”
"Lulu," kata Han Han sambil menjilat sedikit darah ular di bibirnya dengan lidahnya.
"Rasanya manis dan enak pula .apakah kau tidak mau menyenangkan
arwah Paman Biruang? Dia saat ini mungkin sedang menggereng marah meliha
ketidaksetiaanmu."
Lulu bergidik dan memandang ke kanan kiri seolah-olah mencari arwah itu, kemudian ia
menengok ke arah bangkai biruang itu. Kebetulan sekali muka biruang itu menghadapnya
dan biruang itu mati dengan mata terbuka. Dalam pandangan Lulu, seolah-olah mata
biruang yang sudah mati itu mendelik marah
kepadanya! Kembali ia bergidik, kemudian sambil meramkan matanya ia minum darah ular
itu sampai habis. Memang benar ada rasa manis, akan tetapi baunya amis dan ia harus
menahan diri dengan meraba leher agar jangan muntah.
"Koko.... badanku.... menjadi panas....!"
"Bagus! Itu tandanya bahwa darah ular ini benar-benar besar khasiatnya, Lulu. Nah,
sekarang kaubantu aku memanggang daging ular, kita makan didepan mayat Paman
Biruang sebagai upacara sembahyang, kemudian kita kubur mayat Paman Biruang bersama
kepala ular yang tadi menggigitnya, agar di akherat Paman Biruang dapat mengejek dan
menyiksa ular yang hanya tinggal
kepalanya saja."
Ular itu sudah mati dan karenanya Lulu tidak jijik lagi. Han Han menguliti ular itu setelah
memenggal kepalanya yang ia putar dan patahkan begitu saja dengan jari-jari tangannya
yang kuat. Kepala ular itu ia taruh ke dalam telapak kaki depan biruang, kemudian Lulu
memanggang daging ular yang putih kemerahan itu.
“Upacara" makan daging panggang ular itu lebih menyenangkan bagi Lulu, karena ternyata
bahwa daging itu benar-benar gurih dan sedap lezat sehingga sebentar saja habislah daging
ular sepanjang satu meter itu! Setelah itu, mereka lalu menggali lubang sampai tampak
tanah dan terus menggali sedalam satu meter lebih, kemudian mengubur mayat biruang
bersama kepala ular. Lulu menangis terisak-isak ketika mereka menguruk lubang itu.
Teringat kepada biruang yang selama enam tahun menjadi kawan bermain dan kawan
berlatih silat, Lulu menjadi berduka sekali den terus menangis di atas gundukan salju yang
menjadi kuburan biruang. Han Han membiarkan adiknya menangis. Dia lalu pergi mencari
batu untuk dijadikan batu nisan kuburan biruang es. Ia mendapatkan sebuah batu lonjong
yang terpendam setengahnya dalam salju. Dengan tenaganya yang besar ia mencabut batu
ini dan heranlah ia melihat betapa di bagian tengah dan bawah batu itu terdapat ukirukiran
huruf. Cepat ia membersihkan batu itu dari tanah dan salju, kemudian membaca huruf-huruf
terukir itu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
171
"Betapa menjemukan ular salju merahitu! Aku datang ke sini untuk menjauhi wanita, dan
daging ular itu membuat aku menderita hebat! Dan hari ini, tiga hari kemudian, pulau diserbu
ribuan ekor ular salju merah, memaksa aku harus pergi. Keparat! Pulau Es ini pulau terkutuk,
agaknya tanah di bawahnya menjadi istana ular-ular salju merah! Ataukah nenek moyangku
yang terkutuk sehingga Suma Hoat tidak berjodoh dengan Pulau Es?"
Demikianlah bunyi tulisan itu dan jantung Han Han berdebar. Penulis itu bernama Suma
Hoat? Teringatlah ia akan patung yang dipuja di In-kok-san, yang menurut cerita Ma-bin Lomo dan Kim Cu adalah sucouw mereka bernama Suma Kiat! Dan menurut cerita itu
selanjutnya, Ma-bin Lo-mo mempunyai seorang suheng yang menjadi perantau, yang ilmu
kepandaiannya tinggi sekali, yaitu putera tunggal sucouw itu dan bernama Suma Hoat! Kalau
begitu, suheng dari Ma-bjn Lo-mo itukah penghuni Pulau Es? Patung pria yang tampan itu
adakah itu Suma Hoat? Akan tetapi coretan, huruf terukir di batu ini amat jauh bedanya
dengan tulisan-tulisan di dinding istana yang amat indah. Coretan ini huruf-hurufnya buruk
dan kasar. Disebut pula tentang ular salju merah. Apakah ular yang telah membunuh
biruang?
Akan tetapi Han Han tidak mempedulikan lagi. Semua yang ada hubungannya dengan Inkok-san tidak menarik hatinya, apalagi kalau ia teringat betapa ia terancam hukuman potong
kaki oleh perguruan itu. Membaca tulisan Suma Hoat itu mengingatkan dia bahwa sampai
kini pun tetap ia terancam bahaya hukuman itu. Cepat ia mengangkat batu itu dan
meletakkannya di depan kuburan biruang, dengan ukiran huruf-huruf itu ia taruh di bawah
agar tidak tampak!
Ditaruhnya batu nisan di depan kuburan ini membuat Lulu menangis makin keras, sampai
gadis ini tersedu-sedu. Han Han memeluknya, kemudian setengah
memaksanya bangkit berdiri dan menuntunnya ke dalam pondok di taman.
"Sudahlah, Adikku. Untuk apa ditangisi lagi? Biar engkau menangis air mata darah
sekalipun, Paman Biruang tidak akan dapat hidup kembali. Ketahuilah bahwa kini mungkin
dia sedang enak-enak mengganyang kepala ular yang membunuhnya.!"
Akan tetapi hiburan ini tidak menghentikan tangis Lulu yang karena kematian biruang jadi
teringat akan kematian orang tuanya. Gadis itu terisak-isak menangis sambil bersandar di
dada Han Han. Akhirnya pemuda itu mendiamkannya saja dan tiupan angin laut membuat
gadis yang berduka itu akhirnya tertidur di dalam pelukannya. Han Han merasa tubuhnya
panas dan aneh sekali ada ribuan ekor semut di balik kulit tubuhnya merayap-rayap. Angin
bersilir sejuk dan akhirnya ia pun tertidur sambil duduk di lantai pondok yang terbuat
daripada marmer, dengan Lulu masih bersandar di dadanya.
Mereka berdua tertidur seperti orang mabuk, tidur nyenyak sehingga tidak tahu betapa
malam telah tiba. Malam bulan purnama clan cahaya bulan menerobos masuk ke dalam
pondok yang tidak berdinding itu. Hawa udara pun amat dinginnya. Namun aneh sekali,
kedua orang muda itu berpeluh!
"Han-ko..... ah, Han-ko....."
Han Han membuka matanya, jantungnya berdenyut-denyut tidak karuan, tubuhnya panas
dan telinganya mendengar suara terngiang-ngiang. Suara panggilan Lulu seperti
mengambang di atas lautan suara mengiang itu. Ia melihat wajah Lulu dekat sekali di atas
dadanya, wajah yang cantik jelita, bersinar-sinar keemasan tertimpa sinar bulan. Sepasang
mata yang lebar dan indah itu kini seperti berlinang air, memandang kepadanya dengan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
172
aneh. Cuping hidung yang kecil itu kembang-kempis, seolah-olah sukar bernapas dan mulut
yang kecil itu pun terbuka, membantu pernapasan hidung. Ada apakah dengan Lulu? Dan
apa yang terjadi pada dirinya? Ia merasa panas sekali!
“Lulu...!”
"Han-koko....!" Suara gadis itu seperti mengerang lirih, muka mereka berdekatan, pandang
mata mereka melekat dan ada dorongan aneh yang membuat Han Han menundukkan
mukanya, menyentuh dahi adiknya dengan hidung. Belaian seperti ini tidaklah aneh bagi
mereka. Sudah sering kali kalau menghibur adiknya, ia mencium dahi atau pipi Lulu. Akan
tetapi begitu hidungnya menyentuh dahi adiknya, jantungnya berdebar keras sekali,
napasnya sesak. Ia seperti mencium bau harum yang tak pernah selamanya ia alami, dan ia
terus mencium, bahkan kini dengan bibirnya, dengan mulutnya! Gilakah dia? Han Han masih
sadar akan hal yang tidak semestinya ini, dan dia menjadi makin kaget ketika merasa betapa
Lulu juga membalas menciumnya, tidak seperti biasa, melainkan ciuman yang penuh nafsu
panas sehingga akhirnya mulut mereka bertemu dalam ciuman, mesra. Akan tetapi
keduanya seperti terkejut dan keduanya merenggut muka masing-masing, saling pandang
dengan mata terbelalak dan malu, kemudian Han Han melepaskan pelukannya, pura-pura
tidak sadar akan apa yang baru saja terjadi.
“Aku... aku.... panas sekali....” dengan suara terputus-putus Han Han berkata lirih untuk
menutupi hal yang baru saja terjadi.
"Aku pun.... begitu..... Koko...." Lulu juga bicara dengan bingung sambil berusaha
mengelakkan pandang mata mereka agar jangan bertemu.
Han Han yang merasa betapa tubuhnya menjadi panas dan tidak karuan rasanya, menekan
ketegangan yang ditimbulkan oleh ciuman tidak semestinya tadi dengan tertawa aneh. "Heh
mungkin racun ular hemmm, tidak tertahankan panasnya, lebih baik kubuka bajuku!"
Karena dia sudah biasa dalam latihannya membuka baju atasnya di depan Lulu, maka ia
sekarang membuka bajunya dengan maksud agar keadaan perasaannya biasa kembali.
Akan tetapi kini pandang mata Lulu menatap setiap gerakannya, dan mata yang lebar itu
memandangnya penuh kemesraan, memandang tubuh atasnya yang telanjang itu dengan
pandang mata luar biasa.
"Lulu! Kau kenapa?" Han Han membentak karena pandang mata itu seperti menembus
dadanya dan mendatangkan rangsang yang lebih hebat lagi. Ia seingaja membentak marah
untuk menutupi perasaannya.
Lulu terkejut dan menggeleng-geleng kepala. Pipi gadis itu menjadi merah seperti dibakar
dan pandang matanya seperti orang mabuk. "Entahlah...... aku...... pun merasa panas sekali,
tak tertahankan, Koko....." Gadis itu seperti dalam keadaan tidak sadar membuka kancing
bajunya bagian atas sehingga tampaklah pakaian dalamnya yang tipis. Han Han meramkan
matanya dan meloncat bangun. Ia mengerahkan seluruh sinkangnya untuk melawan
perasaan panas ini, akan tetapi hasilnya malah membuat tubuhnya makin panas, lalu
berubah dingin, dan seluruh tubuh seperti dimasuki gelembung-gelembung tenaga mujijat
yang membuat ia merasa seperti sebuah bola karena penuh angin. Ia mengeluh
danterhuyung-huyung.
"Han-ko....., kau kenapa..... hati-hati, kau bisa jatuh!" Lulu meloncat bangun dan memeluk
kakaknya untuk mencegah kakaknya terguling. Akan tetapi sentuhan tubuh mereka yang
tadinya sebagai sentuhan seperti biasa itu mendatangkan getaran yang mujijat dan mereka
akhirnya berpelukan dan kembali mereka berciuman dengan penuh nafsu, penuh gairah dan
dalam keadaan tidak atau setengah sadar! Seluruh hati dan pikiran mereka sepenuhnya
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
173
dikuasai oleh nafsu yang bergolak tak tertahankan, membuat darah mereka mendidih dan
pikiran mereka gelap. Mereka lupa segala, saling membelai mesra, berdekapan dengan
mata dipejamkan. Ketika Han Han membuka mata dan melihat betapa tanpa disadari ia
hampir menelanjangi Lulu yang tidak melawan bahkan membantunya penuh gairah nafsu
berahi, ia terkejut seperti disambar halilintar. Kekuatan batin dan sinkang Han Han jauh lebih
besar daripada Lulu, maka ia masih dapat sadar dan cepat ia mendorong tubuh adiknya itu
sehingga Lulu terhuyung dan roboh terlentang dengan napas terengah-engah dan mata
terpejam, tubuh menggeliat-geliat.
"Lulu! Itti tidak benar! Engkau Adikku!!" Han Han berkata, berteriak dengan suara nyaring.
"Han-ko..... ahhh, Han-ko..... jangan tinggalkan aku.... aku bukan Adikmu,
Han-ko.....!"
"Gila!" Han Han membentak lagi, menahan diri sekuatnya agar tidak menubruk dan
memeluk gadis itu, melanjutkan hasrat berahi yang memenuhi benak dan hatinya. "Kita
keracunan! Ular merah itu! Keparat....!" Terlintas dalam benaknya bunyi tulisan pada batu
dan kini mengertilah ia mengapa Suma Hoat mengutuk ular salju merah. Agaknya Suma
Hoat juga makan daging dan darah ular itu dan merasa pula rangsangan nafsu berahi
seperti ini. Teringat akan ini, Han Han lalu mengeluarkan pekik menyeramkan dan tubuhnya
meloncat keluar dari dalam pondok itu. Ia berlari-lari seperti orang gila menjauhi pondok dan
ketika ia tiba di pantai yang berbatu-batu, ia lalu mengamuk. Dipergunakan kaki tangannya
untuk memukul, menendang, dengan pengerahan tenaga sinkang, kadang-kadang
menggunakan tenaga inti Hwi-yang Sin-ciang di luar kesadarannya, akan tetapi lebih banyak
ia menggunakan tenaga Im-kang. Terdengar bunyi ledakan-ledakan keras ketika batu-batu
besar itu pecah berantakan oleh amukan Han Han yang seperti telah menjadi gila. Han Han
terus mengamuk sepanjang malam sampai pagi, sampai habis tenaga sinkangnya dan ia
menggunakan tenaga biasa sehingga kaki dan tangannya luka-luka dan akhirnya ia roboh
pingsan di antara batu-batu yang sudah hancur berantakan itu.
Matahari telah naik tinggi ketika Lulu mengguncang-guncang tubuh Han Han yang
menggeletak di pantai, tubuh atas telanjang, tangan kaki luka-luka. Gadis itu menangis dan
memanggil-manggil.
"Han-koko…. Han-ko….. jangan tinggalkan aku…..! Han-ko…..!!"
Han Han membuka matanya, mengejap-ngejapkan matanya karena silau oleh sinar
matahari.
"Han-ko, kau kenapakah ?" Lulu bertanya penuh kekhawatiran, air mata masih membasahi
kedua pipinya.
Han Han menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa kepeningannya. Juga mengusir
pemandangan yang aneh. Kini, melihat wajah Lulu yang cantik, sepasang pipi yang merah
itu, ia merasa berbeda dari biasanya. Tidak seperti biasanya ia memandang gadis ini seperti
adiknya. Kecantikan Lulu kini menyentuh hatinya dan membingungkannya, sungguhpun
gairah gila seperti yang mendorongnya malam tadi sudah lenyap.
"Tidak apa…. Aku….. aku hanya mimpi buruk….. tanpa sadar, kuhantami batu-batu ini…." ia
melihat kaki dan tangannya yang lecet-lecet.
"Aku pun mimpi, Koko. Mimpi aneh akan tetapi indah sekali….."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
174
"Mimpi apa?" Han Han memandang tajam, diam-diam memaki diri sendiri nengapa kini Lulu
tampak lain dalam pandangannya.
"Aku tadi pagi terbangun di pondok taman dan….. dan pakaianku tidak karuan, aku
mimpi….. engkau seperti bukan Kakakku, melainkan…. ah, sungguh aneh akan tetapi aku
aku senang sekali, Koko…." Dan gadis itu menundukkan mukanya. Kedua pipinya menjadi
makin kemerahan sampai ke telinganya.
"Hushhh! Kau gila! Kita keracunan ular keparat itu!"
Lulu memandang muka Han Han penuh selidik. Gadis ini masih terlalu murni dan polos dan
dia bertanya, "Betulkah, Koko? Keracunan ular itu? Akan tetapi…., setelah mimpi itu, aku….
heran sekali, kau seperti bukan Kakakku dan aku khawatir kalau-kalau kau akan
meninggalkan aku…”
"Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Lulu, kita harus meninggalkan pulau ini."
Ucapan ini dikeluarkan dengan suara tetap karena di dalam hatinya Han Han maklum bahwa
makin lama mereka berada di pulau itu, makin besar bahayanya dan ia khawatir bahwa
akhirnya ia tidak akan kuat bertahan. Ia mengeraskan hatinya, memusatkan tenaga batinnya
dan kemauannya untuk mengambil keputusan bahwa gadis ini adalah adiknya, adiknya! Ia
merasa kuat kini dan mulai berani memandang wajah Lulu lagi, diperkuat oleh kemauannya
yang memaksa hati dan pikirannya bahwa Lulu adalah adiknya, bukan orang lain dan bahwa
tidak boleh ia mencinta Lulu seperti perasaannya malam tadi. Lulu adiknya! Lulu adiknya!
Kekuatan kemauan Han Han memang luar biasa dan ia sudah tenang kembali. Sambil
tertawa ia menangkap tangan Lulu, diajak bangkit berdiri dan sambil berkelakar ia berkata.
"Kita harus membuat perahu, kita akan meninggalkan tempat ini secepat mungkin! Kau
bocah malas, harus membantu!"
Kekuatan kemauan yang tetpancar keluar dari mat a Han Han mempengaruhi Lulu pula.
Gadis itu pun menjadi biasa dan bertanya keras.
"Pergi ke mana, Koko?"
"Eh, anak bodoh dan pelupa. Apakah kau selamanya akan tinggal di pulau ini sampai
menjadi nenek-nenek? Apakah kau tidak ingin rnencari musuh besarmu?"
Lulu menjadi bersemangat. "Betul! Kita harus pergi mencari musuh besar kita!"
Demikianlah, kedua orang muda itu lalu mulai membuat perahu. Han Han bukan seorang
ahli maka tentu saja membuat perahu amatlah sukar baginya. Namun, berkat tenaga dan
kemauannya yang kuat, tiga hari kemudian selesailah dia membuat sebuah rakit dari kain
dan bambu seadanya, menggandeng-gandengnya dengan ikatan akar yang cukup kuat. Ia
menyediakan dua buah cabang pohon untuk mendayung. Baru saja selesai ia mengikat
sambungan terakhir, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis keras sekali dan terdengar
Lulu berlari-lari sambil menjerit-jerit.
"Ular….! Ular…..! Banyak sekali ular…..!"
Han Han terkejut dan menengok. Dilihatnya Lulu beriari-lari menghampirinya dengan wajah
pucat penuh jijik dan dari jauh tampaklah ratusan, mungkin ribuan ekor ular merah
mendatangi sambil mengeluarkan suara mendesis mengerikan sekali.
"Cepat! Naikkan bekal makanan dan air itu ke atas perahu!" teriak Han Han dan sibuklah
mereka mengangkuti bekal makanan dan minuman ke atas perahu. Beberapa ekor ular
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
175
merah sudah datang dekat dan Han Han membunuhnya dengan injakan-injakan kakinya
pada kepala ular-ular itu. Setelah semua bekal diangkut ke perahu, Han Han lalu mendorong
perahu rakit itu ke air dan bersama Lulu ia mendayung perahunya ke tengah laut.
Ular-ular itu agaknya tidak takut air, buktinya mereka itu terus mengejar dan berenang
sambil terus mendesis-desis. Lulu yang merasa geli itu memukuli ular-ular terdekat dengan
dayungnya. Tenaga pukulan gadis ini sudah kuat sekali sehingga dalam waktu singkat
puluhan ekor ular mati dengan kepala remuk. Han Han mengerahkan tenaga mendayung
perahu yang meluncur cepat sehingga mereka dapat meninggalkan ular-ular yang mengejar.
Dari jauh, kedua orang anak muda itu memandang ke arah pulau dengan pandang mata
sayu. Betapapun juga, selama enam tahun mereka hidup di pulau itu, Pulau Es yang tadinya
amat indah, namun yang kini menjadi pulau ular yang menyeramkan. Dari jauh tampak
warna merah ular-ular itu seolah-olah pulau itu penuh dengan bunga-bunga merah yang
mulai mekar.
"Arah mana yang kita tuju ini, Han-ko?" tanya Lulu sambil membantu kakaknya mendayung.
"Arah selatan. Pulau Es adanya hanya di utara, maka kita harus kembali ke selatan."
"Bagaimana kau tahu bahwa arah yang kita tempuh ini menuju ke selatan?"
"Ha-ha, kau bodoh sekali! Kau tahu dari mana munculnya matahari?"
"Dari timur."
"Nah, kau lihat. Matahari yang baru muncul itu berada di sebelah kiri kita, berarti kita kini
maju ke arah selatan."
Mulailah Han Han dan Lulu menuju kepada pengalaman-pengalaman baru dengan hati
penuh ketegangan, juga kegembiraan karena mereka kini akan memasuki dunia ramai yang
sudah enam tahun mereka tinggalkan. Bekal yang mereka bawa cukup banyak, juga mereka
membawa bekal pakaian. Han Han tidak lupa untuk membawa kantung karet berisikan suratsurat peninggalan manusia sakti penghuni Pulau Es, karena sesuai dengan pesan di luar
sampul, ia hendak menyampaikan surat-surat peninggalan itu kepada yang berhak sebagai
tanda terima kasih dan tanda bakti kepada penghuni Pulau Es. Tentu saja ia tidak tahu
kepada siapa surat itu akan diberikan, akan tetapi hal ini akan dia selidiki kelak.
Sungguhpun kedua orang muda itu, terutama sekali Han Han, kini telah merupakan seorang
yang memiliki tenaga luar biasa dan jauh sekali bedanya dengan ketika dahulu menjadi
tawanan Ma-bin Lo-mo, namun perjalanan pulang ini bukanlah merupakan perjalanan yang
mudah. Apa.lagi kalau diingat bahwu perahu mereka bukanlah perahu biasa, melainkan
hanya batang-batang kayu dan bambu disambung-sambung sehingga biarpun mereka dapat
mendayung dengan kuat dan cepat, namun perahu yang melaju di laut bebas itu sering kali
mundur lagi karena terbawa ombak. Juga dalam perjalanan selama belasan hari ini tiga kali
mereka diserang badai yang ganas sehingga kalau saja mereka tidak kuat-kuat berpegang
kepada rakit itu, tentu mereka sudah terlempar ke laut dan binasa. Perbekalan mereka
hanya sedikit saja yang dapat diselamatkan selama mereka diserang badai dan akhirnya
mereka harus berjuang melawan ombak selama tiga hari tiga malam, tanpa makan dan
minum! Untung bahwa mereka berdua telah memiliki daya tahan yang luar biasa sehingga
mereka hanya merasa lelah sekali ketika akhirnya mereka berhasil mendarat di pantai yang
sunyi dan penuh dengan hutan liar.
Dapat dibayangkan betapa gembira hati mereka setelah dapat mendarat, melihat tanah dan
pohon-pohon berdaun hijau. Selama enam tahun mereka tidak pernah melihat tanah karena
daratan di Pulau Es itu seluruhnya tertutup salju dan es membatu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
176
Juga di Pulau Es, hanya ada beberapa macam tanaman saja yang dapat hidup dan
berdaun, dan sekarang mereka melihat pohon-pohon raksasa yang hidup subur dengan
daun-daun hijau.
Sambil tertawa-tawa kedua orang muda itu lalu mencari buah-buah yang dapat mereka
makan dan ketika mereka menemukan buah-buah apel yang dapat dimakan dan sudah
masak, mereka makan buah-buahan seperti seorang kelaparan! Han Han juga menangkap
seekor rusa yang mereka panggang dagingnya dan sehari itu mereka berdua berpesta-pora
dan makan dengan lahap sampai perut mereka penuh kekenyangan.
"Kita mendarat di mana, Koko?"
"Siapa tahu? Dan aku tidak peduli, pokoknya mendarat di tanah! Ah, Lulu, aku merasa
seolah-olah hidup kembali! Mari kita melanjutkan perjalanan terus ke selatan. Akhirnya tentu
kita bertemu manusia menuju ke kota raja!"
"Keluarga Ayahku dahulu tinggal di kota raja!" kata Lulu dengan suara terharu, teringat akan
keluarganya yang sudah terbasmi habis.
"Dan musuh-musuhku tentu berada di kota raja pula!" kata Han Han penuh semangat dan
terbayanglah wajah-wajah para perwira Mancu yang menjadi musuh besarnya. Dengan
penuh semangat. clan kegembiraan, kedua orang muda itu melanjutkan perjalanan menuju
ke barat, menjauhi pantai taut. Mereka melakukan perjalanan sampai belasan hari, naik
turun gunung, masuk keluar hutan dan belum juga mereka bertemu dengan dusun yang ada
manusianya. Namun mereka tidak menjadi putus asa dan terus melakukan perjalanan
seenaknya. Mereka tidak tergesa-gesa karena tidak ada sesuatu yang memaksa mereka
tergesa-gesa.
***
Kurang lebih dua bulan kemudian, setelah Han Han dan Lulu bertemu dengan dusun dan
mendapat keterangan bahwa kota raja tidak jauh lagi berada di sebelah selatan, pada suatu
pagi mereka memasuki sebuah hutan besar. Mereka mengikuti jalan yang masuk ke hutan
itu, sebuah jalan umum yang biasa dipergunakan oleh orang yang melakukanperjalanan
jauh. Ada tapak-tapak kereta menjalur panjang di jalan itu dan dengan hati gembira Han Han
dan Lulu berjalan sambil melihat-lihat burung yang beterbangan di antara dahan-dahan
pohon menyambut datangnya pagi dengan kicau dan tarian mereka dari dahan ke dahan.
Keadaan Han Han mengherankan orang-orang yang melihatnya. Pemuda ini bertubuh
tegap dan jangkung, pakaiannya cukup bersih dan terbuat dari kain mahal, akan tetapi
bentuknya sederhana. Yang amat menarik adalah rambutnya
yang dibiarkan terurai ke punggungnya, rambut yang hitam dan kaku mengkilap, tak pernah
disisir karena Han Han memang sarna sekali tidak mempunyai keinginan untuk bersolek.
Lebih hebat lagi adalah sepasang matanya. Mata itu kini merupakan dua buah benda yang
mengeluarkan sinar aneh. Kadang-kadang tenang seperti air telaga, seperti orang
termenung kehilangan semangat, kadang-kadang secara tiba-tiba menjadi amat tajam dan
panas seperti mengandung bara api. Tidak pernah ada orang yang berani menentang
pandang mata Han Han dan setlap orang yang beradu pandang menjadi ngeri mengkirik
karena pandang mata itu seolah-olah menelanjangi mereka dan dapat menembus terus ke
lubuk hati.
Lulu juga amat menarik perhatian orang, akan tetapi bukan karena anehnya, melainkan
karena cantik jelitanya dan karena sikapnya yang polos dan tidak pernah malu-malu seperti
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
177
gadis-gadis biasa. Sepasang mata gadis remaja inilah yang menjadi daya penarik luar biasa,
sepasang mata yang lebar dan jeli, yang pandang matanya dapat membuat segala sesuatu
di dunia ini tampak lebih cemerlang, lebih indah. Pakaian Lulu termasuk mewah dan indah
karena gadis ini memang mengenakan pakaian-pakaian indah yang ia dapatkan di dalam
kamarnya. Bahkan ia memakai pula sebuah anting-anting bermata mutiara yang amat besar
dan mahal. Namun hanya sepasang anting-anting dan pita rambut sutera merah saja, yang
menghias tubuhnya, dengan jikat pinggang kuning emas, baju berwarna merah muda dan
sepatu putih. Gadis remaja ini benar cantik jelita mengagumkan semua pria yang
memandangnya. Akan tetapi setiap orang pria yang memandang kagum, begitu bertemu
pandang dengan kakak gadis itu, seketika mengkeret dan mundur teratur karena merasa
ngeri.
"Koko, apakah kau mengetahui nama musuh-musuhmu, para perwira yang membunuh
orang tuamu?"
Sebetulnya Han Han tidak pernah merasa suka membicarakan tentang musuh-musuhnya
dengan adik angkatnya ini. Bukankah Lulu seorang anak perwira Mancu pula? Bicara
tentang perwira-perwira Mancu yang menjadi musuh besarnya tentu mendatangkan rasa
tidak enak dalam hati Lulu.
"Tidak, Lulu. Aku tidak tahu," jawabnya singkat.
"Tapi kau mengenal wajah mereka? Aku ingin sekali melihat mereka yang begitu kejam
terhadap keluargamu, Koko. Engkau seorang yang begini baik. Kalau Ayahku masih ada,
tentu perwira-perwira yang kejam itu akan dilaporkan dan dijatuhi hukuman! Aku masih ingat
be tapa Ayah dahulu mencela keras perajurit-prajurit yang melakukan perampokan.
Han Han diam saja. Hemm, benarkah ayah Lulu perwira yang baik? Adakah perwira Mancu
yang baik? Ma-bin Lo-mo dan semua murid In-kok-san mengutuk semua orang Mancu.
Demikian banyaknya anak-anak yang menjadi murid Ma-bin Lo-mo adalah korban-korban
kebiadaban orang-orang Mancu, termasuk Kim Cu. Bahkan Kang-thouw-kwi Gak Liat Si
Setan Botak itu, baru menjadi kaki tangan Mancu saja sudah begitu kejamnya!
Orang-orang Mancu dan kaki tangannya adalah orang-orang yang seperti iblis! Akan tetapi,
Han Han membantah sendiri pendapat ini, Ma-bin Lo-mo adalah seorang yang anti Mancu,
akan tetapi mengapa kekejamannya tidak kalah oleh Gak Liat? Apakah semua orang yang
berkepandaian tinggi di dunia ini adalah orang-orang berwatak iblis? Han Han menjadi
bingung dan ia mengambil keputusan untuk menentang semua orang-orang yang berilmu
tinggi!
"Bagaimana, Koko?"
“Ha….? Apa…..?”
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau mengenal wajah mereka?"
Han Han mengangguk dan terbayanglah wajah tujuh orang perwira Mancu itu, terutama Si
Muka Kuning dan Si Brewok. Yang lima lainnya juga akan dikenalinya setiap saat dan tujuh
orang ini harus ia bunuh, lebih-lebih dua orang perwira yang telah memperkosa ibunya dan
kakaknya! "Aku mengenal mereka, akan tetapi sukar dikatakan….. sudahlah, Lulu. Aku tidak
suka membicarakan mereka."
"Baiklah, Han-ko. Memang sebuah kenang-kenangan yang tidak enak. Akan tetapi aku akan
mencari Lauw-Pangcu….”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
178
“Sukar, Lulu….”
"Mengapa sukar?" tanya Lulu dan memandang penuh selidik.
“Dia seorang pejuang….”
"Pemberontak, maksudmu?"
"Ya, pemberontak bagi fihak Mancu, pejuang bagi rakyat. Sama saja. Kalau tidak dia sudah
mati, tentu dia selalu bersembunyi, sukar ditemukan….."
"Aku tidak khawatir. Ada engkau di sampingku, masa tidak dapat mencarinya? Kau tentu
akan membantuku, Koko."
"Tentu saja, Moi-moi. Hanya, kurasa sukar melawan dia. Kau takkan menang,
dia lihai sekali."
"Kalau kau membantuku, tentu akan menang!" kata pula Lulu dengan suara mengandung
penuh kepercayaan.
"Belum tentu. Kawan-kawannya banyak sekali dan amat lihai…."
Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda dan bunyi roda kereta. Terpaksa Lulu
menghentikan percakapan itu dan hati Han Han menjadi lega. Bagaimana ia dapat bicara
dengan enak hati kalau pembicaraan itu mengenai permusuhan dengan Lauw-pangcu,
gurunya yang pertama? Bagaimana nanti sikap Lauw Sin Lian puteri Lauw-pangcu kalau dia
membantu Lulu memusuhi Lauw-pangcu?
Kereta yang lewat tak lama kemudian menyusul mereka itu adalah sebuah kereta besar
ditarik oleh empat ekor kuda dan di dalamnya tidak ada penumpangnya, melainkan dua
buah peti yang panjangnya ada dua meter, tinggi dan lebarnya satu meter. Dua buah peti itu
ditaruh berjajar di dalam kereta dan di atas kereta hanya ada seorang kusir dan seorang lakilaki bersenjata golok. Di kanan kiri dan belakang kereta ada belasan orang berpakaian
piauwsu (pengawal) yang dikepalai oleh seorang laki-laki berjenggot panjang. Mereka ini
semua menunggang kuda, sikap mereka keren dan gerak-gerik mereka membayangkan
bahwa para piauwsu ini memiliki kepandaian si!at yang tidak lemah. Ketika para piauwsu ini
lewat, semua mata mereka ditujukan kepada Lulu dan mereka tertawa-tawa, pandang mata
mereka kagum sekali. Han Han tidak mempedulikan hat ini, dan Lulu malah tersenyum,
sama sekali dia tidak tahu bahwa mereka itu bersikap kurang ajar. Han Han hanya
memperhatikan sebuah bendera di atas kereta, bendera yang bersulam gambar seekor
burung garuda putih di atas dasar biru, dan empat huruf besar yang berbunyi HOA SAN PEK
ENG (Garuda Putihdari Hoa-san) sedangkan di bawahnya terdapat dua huruf kecil yang
berbunyi Piauwkiok (Perusahaan Pengawal Barang).
"Mereka itu ramah!" kata Lulu setelah rombongan piauwsu ini lewat. Han Han tidak
menjawab. Dia juga tidak tahu bahwa seperti kebanyakan kaum pria kalau melihat wanita
cantik, para piauwsu tadi tertawa-tawa dengan sikap kurang ajar, hanya ia harus mengakui
bahwa mereka itu ramah sungguhpun keramahan mereka tidak menyenangkan hatinya.
"Hoa-san Pek-eng Piauwkiok! Apa artinya itu, Koko?"
"Mereka itu adalah rombongan piauwsu, yaitu pengawal-pengawal barang kiriman dan
nama itu adalah merknya. Mungkin piauwkiok itu dipimpin oleh orang dari Hoa-san atau….
ah, benar juga. Agaknya pemimpinnya adalah seorang anak murid Hoa-san-pai."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
179
"Kalau begitu, mereka itu adalah orang-orang kang-ouw, Koko! Kenapa tidak kaukatakan
dari tadi?”
"Kalau mereka orang-orang kang-ouw, habis mau apa?"
"Ah, kita harus berkenalan dengan mereka. Tentu mereka dapat bercerita banyak tentang
dunia kang-ouw. Bukankah engkau menjadi buronan In-kok-san? Dan engkau pun mencari
tahu tentang penghuni Pulau Es, bukankah kau ingin menyampaikan surat-surat
peninggalan manusia sakti itu? Mungkin sekali para piauwsu yang tentu banyak
pengetahuannya tentang dunia kang-ouw, akan dapat memberi keterangan kepada kita."
"Wah, kau benar juga, Moi-moi. Mari kita kejar mereka!" Han Han lalu menggunakan
kepandaiannya untuk berlari cepat dan Lulu juga cepat mengejarnya. Biarpun Lulu tidak
dapat bergerak secepat Han Han, namun dibandingkan dengan orang biasa, gadis ini dapat
berlari amat cepat karena ia memiliki keringanan tubuh, tenaga sinkang, dan napasnya tidak
kalah panjang oleh napas kuda.
Lebih dari seperempat jam mereka berlari cepat dan hutan itu makin lebat. Ketika mereka
tiba di bagian yang berbatu-batu, mereka mendengar suara ribut-ribut dan sayup-sayup
terdengar pula suara beradunya senjata berdencing-dencing.
"Koko, ada orang bertempur….!"
"Hemmm, agaknya para piauwsu itu menghadapi musuh. Mari kita percepat lari kita!" Han
Han mengerahkan tenaganya meloncat dan tentu saja Lulu tertinggal jauh. Akan tetapi Lulu
sekarang bukan seperti Lulu enam tahun yang lalu. Dahulu ia penakut, akan tetapi sekarang
Lulu menjadi seorang yang tabah dan pemberani, biarpun tertinggal di belakang ia tidak
takut dan mempercepat juga larinya agar dapat sampai ke tempat pertempuran itu.
Dugaan Han Han ketika dia bicara dengan Lulu tadi memanglah tepat. Pek-eng-piauwkiok
adalah sebuah piauwkiok yang kenamaan di kota Kwan-teng. Terkenal sebagai piauwkiok
yang boleh dipercaya dan yang dapat menjamin keamanan semua barang kiriman sehingga
tidak hanya para saudagar besar menjadi langganannya, bahkan para bangsawan yang
mengirimkan barang-barang berharga selalu minta diantar dan dikawal oleh perusahaan
pengawalan barang Garuda Putih ini. Hal ini bukan hanya karena Pek-eng-piauwkiok
mempunyai banyak sekali piauwsu yang cakap dan kosen, melainkan terutama sekali
karena piauwkiok itu dipimpin oleh seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ketua atau
pemimpin piauwkiok ini adalah seorang tokoh Hoa-san-pai, seorang bekas pendekar
perantauan yang gagah perkasa bernama Tan Bu Kong yang berjuluk Hoa-san Pek-eng
(Garuda Putih dari Hoa-san). Setelah ia bosan merantau dan sudah berusia lima puluh
tahun, juga mengingat bahwa sebagai seorang kepala keluarga tidak baik kalau dia menjadi
perantau terus, ia membuka piauwkiok itu yang ia beri nama mengambil dari julukannya
yang sudah terkenal. Dalam masa sepuluh tahun saja, nama piauwkiok itu menjadi terkenal
sekali dan setiap pengiriman barang yang diberi tanda bendera piauwkiok ini tentu akan
lewat dengan aman sampai ke tempat tujuan karena para perampok dan penjahat merasa
segan untuk memusuhi Pek-eng-piauwkiok.
Setelah perusahaannya menjadi besar, Tan-piauwsu lalu mendatangkan adik-adik
seperguruannya, yaitu anak-anak murid Hoa-san-opai yang masih menganggur untuk
membantunya bekerja, mewakilinya mengantar barang-barang yang penting. Kiriman barang
yang tidak begitu penting cukup dikawal oleh orang-orangnya yang kesemuanya adalah
orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi. Dengan demikian, selain ia dapat
menjamin nafkah hidup para sutenya, juga mereka dapat berkumpul dan dapat melanjutkan
cita-cita yangdipesansankan oleh guru besar Hoa-san-pai, yaitu diam-diam membantu
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
180
perjuangan para patriot yang menentang kekuasaan pemerintah Mancu. Akan tetapi,
perjuangan ini selalu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena pada waktu itu,
kekuasaan pemerintah Mancu sudah terlalu
meluas dan hampir seluruh pedalaman telah diduduki sehingga perlawanan berupa perang
terbuka takkan ada gunanya dan pasti akan mengalami kekalahan dan kegagalan. Dengan
demikian, di samping tugasnya menjadi piauwkiok, Pek-eng-piauwkiok juga menjadi tempat
rahasia dari para patriot untuk mengadakan pertemuan, perundingan, pengiriman barangbarang rahasia, dan juga pembantu dalam bidang pembiayaan.
Beberapa hari yang lalu, kantor pusat Pek-eng-piauwkiok di Kwan-teng kedatangan seorang
wanita yang cantik jelita dan berpakaian mewah. Wanita ini datang berkuda dan melihat
pakaiannya, mudah diketahui bahwa dia adalah seorang gadis Mancu yang berpengaruh
dan berkuasa. Kedatangannya saja dikawal oleh selosin perajurit Mancu yang bersenjata
lengkap. Adapun gadis cantik ini sendiri menunjukkan bahwa dia bukan gadis biasa,
melainkan seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian. Hal ini dapat dilihat dari cara
melompat turun dari kuda, dari gerak-geriknya yang gesit, dan dari cara bicaranya. Gadis
bangsawan Mancu ini dengan suara keras menyatakan kepada para penjaga piauwkiok
bahwa dia ingin berjumpa dengan ketua Pek-eng-piauwkiok!
Hati Tan-piauwsu merasa tidak enak, akan tetapi sebagai seorang tokoh kang-ouw yang
berpengalaman, ia keluar dengan sikap tenang dan dengan sikap hormat ia menyambut
gadis Mancu yang usianya kurang lebih delapan belas tahun itu. Ia memberi hormat,
mempersilakannya duduk, menghidangkan air teh kemudian menanyakan maksud
kedatangannya.
Biarpun gadis itu masih berpegang kepada kebiasaan lama, yaitu berpakaian sebagai
seorang wanita bangsawan Mancu, namun setelah membuka mulut bicara, ternyata ia dapat
berbicara bahasa Han dengan fasih sekali.
"Apakah saya berhadapan dengan Tan Bu Kong piauwsu sendiri yang berjuluk Hoa-san
Pek-eng?"
Tan-piauwsu tidak menjadi heran menyaksikan lagak gadis muda ini. Dalam
pengalamannya ia sudah banyak menyaksikan wanita-wanita yang berkepandaian, dan
sudah mendengar bahwa di antara para tokoh Mancu banyak terdapat wa:a-wanita yang
berilmu tinggi. Apalagi wanita-wanita yang berasal dari bangsa Khitan dan yang kini banyak
masuk dalam pasukan Mancu sehingga pasukan itu merupakan pasukan gabungan yang
amat kuat. Maka ia selu menjura dan menwab.
"Tidak salah dugaan Nona. Saya adalah Tan Bu Kong yang memimpin piauwkiok ini.
Apakah yang dapat saya lakukan untukmu, Nona?"
"Pek-eng-piauwkiok adalah sebuah piauwkiok kenamaan yang katanya dapat menjamin
keamanan setiap barang kiriman. Sampai di manakah kebenaran
berita itu?"
"Saya tidak perlu bersombong, Nona. Namun kenyataannya, selama sepuluh tahun ini, tidak
ada barang kiriman yang tidak sampai di tempat tujuannya. Sungguhpun ada terjadi
gangguan-gangguan di tengah jalan, namun semua gangguan dapat diatasi dan kami belum
pernah merugikan para langganan kami."
Gadis itu tersenyum mengejek. Senyumnya manis sekali dan pasti akan mudah
merobohkan hati setiap orang pria, akan tetapi di balik senyum ini membayang kekerasan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
181
hati yang dingin membeku sehingga diam-diam Tan-piauw-su bergidik. Wanita muda ini
amat berbahaya, pikirnya.
"Hemmm, bagus kalau begitu. Saya memiliki dua buah peti kiriman yang harus dibawa ke
Nam-keng. Apakah engkau berani menjamin bahwa barang-barang itu akan sampai ke
tempat tujuan dengan seJamat, Tan-piauwsu?"
"Menjamin sampainya barang kiriman ke tempat tujuan dengan selamat adalah kewajiban
mutlak setiap piauwkiok, Nona, karena itu, saya berani menjamin!"
Kembali senyum mengejek itu sehingga Tan-piauwsu menjadi mendongkol, akan tetapi
segera ditutupnya dengan sikap hati-hati dan waspada.
"Bagaimana andaikata kiriman itu dirampok di tengah jalan?"
"Akan kami bela mati-matian!”
"Bagaimana andaikata….. hemmm, maaf, piauwsu. Bagaimana andaikata kalian gagal
mempertaruhkan keselamatan barang-barang itu dan kemudian sampai terampas orang?"
"Hah! Tak mungkin! Dan kalau terjadi demikian…. hal ini….. tak ada lain jalan kecuali
mengganti harga barang-barang kiriman itu."
Gadis itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang putih seperti mutiara. "Barangbarangku dalam dua peti itu biarpun diganti dengan seluruh benda milikmu ditambah milik
penduduk kota ini masih takkan cukup, Tan-piauwsu! Dengar baik-baik. Aku menghendaki
dua buah peti mati itu dikirimkan sekarang juga dan berapapun kau minta untuk biayanya
akan kubayar! Akan te:api, kalau sampai hilang di jalan, tanggungannya adalah nyawamu!
Engkau akan ditangkap dan dihukum mati sebagai pemberontak!"
Berubah wajah Tan-piauwsu dan ia nemandang gadis muda itu dengan alis :erangkat.
"Mengapa begitu?"
"Tentu saja! Selama sepuluh tahun engkau mengawasi barang, kesemuanya selamat, akan
tetapi sekarang mengawal benda penting dari seorang Puteri Mancu, kalau sampai hilang
maka ini berarti bahwa kau sengaja membikin hilang dan berarti kau memusuhi pemerintah
Mancu! Nah, sekarang kutanya engkau, Tan-piauwsu. Beranikah engkau mengawal barangbarangku ini ke Nam-keng?"
Ditanya begitu, Tan-piauwsu merasa tersinggung kehormatannya. Juga piauwsu yang
berpengalaman luas ini berpikir bahwa kalau ia menolak, akan menimbulkan kesan bahwa
dia anti kepada pemerintah Mancu. Ia percaya bahwa para tokoh kang-ouw tidak ada yang
akan mengganggunya, apalagi di daerah selatan ia memiliki banyak sahabat dan namanya
sudah terkenal. Siapa yang akan berani dan mau mengganggu barang kiriman yang
dikawalnya?
"Baiklah! Akan tetapi karena jaminannya adalah nyawa, maka biaya pengirimannya tentu
harus lipat sepuluh kali dari biasa!"
"Hi-hik! Jangankan sepuluh kali lipat, biar dua puluh kali pun kubayar sekarang juga. Nih,
cukupkah?" Gadis itu mengeluarkan sebuah pundi-pundi uang dan melemparkannya di atas
meja. Tan-piauwsu mengambilnya dan membuka. Matanya terbelalak melihat bahwa pundipundi itu isinya potongan-potongan emas belaka yang menurut taksirannya berharga tiga
empat puluh kali daripada tarip biasa!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
182
"Terlalu banyak! Saya tidak setamak itu dan nyawa saya yang tua pun tidak semahal ini,"
katanya tersenyum.
"Engkau benar-benar jujur dan gagah, Tan-piauwsu. Saya boleh berlapang dada kalau dua
buah petiku itu dilindungi oleh Pek-eng-piauw-kiok. Biarlah semua emas itu kuserahkan
kepada Pek-eng-piauwkiok, akan tetapi kuminta hari ini juga barang-barangku dikirim."
"Di manakah dua peti itu?"
Gadis itu kembali tersenyum. "Sudah tersedia di luar pintu piauwkiok ini!" Ia bertepuk tangan
tiga kali dan selosin pengawalnya memberi hormat di depan pintu. "Bawa masuk dua peti ke
sini."
Para pengawal mundur dan tak lama kemudian mereka masuk lagi menggotong dua buah
peti yang panjangnya dua meter, lebar dan tingginya satu meter. Peti-peti itu terbuat dari
kayu besi yang kuat dan keras, dicat keemasan dan selain kokoh kuat, juga rapi dan halus.
Batas antara peti dan tutupnya tidak tampak sehingga agaknya untuk membuka peti itu jalan
satu-satunya hanya merusaknya, yaitu membukanya secara paksa. Agaknya hal ini sengaja
dilakukan untuk mencegah orang luar yang ingin tahu membuka peti-peti itu.
"Agaknya Nona tidak akan memberi tahu apa isi buah peti ini?" Tan-piauwsu memancing.
"Perlukah itu? Tugasmu hanya mengawal dan mengantar sampai ke tempat tujuan. Tentang
isinya adalah rahasiaku, Tan-piauwsu."
"Baiklah, dalam waktu paling lama sebulan dua buah peti ini tentu akan tiba di tempat
tujuannya di Nam-keng. Harap Nona suka memberi alamat penerimanya.”
Gadis Mancu itu lalu menuliskan alamat penerimanya dengan gerakan tangan cepat dan
ternyata huruf-huruf tulisannya amat indah dan halus. Alamat di Nam-keng itu adalah alamat
sebuah rumah penginapan!
"Eh, mengapa tidak ada nama penerimanya? Hanya nama penginapan."
"Tidak perlu karena penerimanya adalah aku sendiri yang tentu akan berada di rumah
penginapan itu pada saat barang-barang itu tiba."
Tan-piauwsu tidak mau banyak bertanya lagi, padahal merupakan hal yang aneh kalau
gadis ini menyatakan dapat berada di sana lebih dulu daripada rombongan piauwsu yang
melakukan perjalanan cepat! Dia mulai menaruh curiga, akan tetapi untuk menjaga
keselamatan diri dan piauwkioknya, dia tidak dapat menolak kiriman itu.
"Nah, sampai bertemu kembali, Tan-piauwsu! Hati-hati, kalau sampai gagal, aku sendiri
yang akan memimpin pasukan untuk menangkapmu!" Setelah berkata demikian, gadis itu
tertawa dan meninggalkan piauwkiok, dikawal oleh selosin orang perajurit. Suara derap kaki
kuda mereka meninggalkan kesan yang menyeramkan bagi para piauwsu yang berada di
situ, seolah-olah derap kaki kuda itu mendendangkan peringatan yang mengerikan.
Setelah gadis Mancu yang tidak memperkenalkan namanya bersama para perajurit Mancu
Itu pergi, Tan-piauwsu cepat berkata kepada seorang di antara sutenya yang bertubuh kurus
tinggi.
"Teng-sute, lekas kauselidiki ke mana mereka itu pergi!”.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
183
Orang she Teng yang kurus itu mengangguk dan sekali berkelebat ia sudah lari keluar dari
tempat itu. Dia memang ahli ginkang yang dapat berlari cepat sekali, maka dialah yang
disuruh oleh Tan-piauwsu untuk mengejar rombongan gadis itu dan mengetahui dj mana
tempat tinggal dan siapa gerangan gadis aneh itu. Kemudian Tan-piauwsu mengumpulkan
lima orang sutenya yang lain dan diajaknya masuk ke ruangan dalam untuk berunding.
"Sute sekalian, gadis Mancu tadi amat mencurigakan. Aku dapat merasa yakin bahwa tentu
ada sesuatu yang tidak beres. Tentu dia mengandung maksud tertentu di balik pengiriman
ini."
"Aku pun berpikir demikian, Suheng. Mengapa Suheng tidak menolak saja tadi?" berkata
sutenya yang tertua, seorang berusia lima puluh tahun lebih, berjenggot panjang dan
bertubuh kecil pendek, namun bermata tajam. Dia ini adalah seorang Hoa-san-pai yang
bernama Lie Cit San dan dialah merupakan orang ke dua di Pek-eng-piauwkiok karena
tingkat kepandaiannya pun paling tinggi di antara para sute dari Tan-piauwsu.
"Tidak bisa menolak, Sute. Dia sudah sengaja memilih kita dan kalau aku menolak, dia
memiliki alasan untuk mengecap kita sebagai pemberontak-pemberontak yang tidak mau
mengawal barang milik seorang Puteri Mancu. Aku khawatir kalau-kalau rahasia perjuangan
kita tercium oleh mereka dan sekarang ini mereka menggunakan ujian di balik pengiriman
barang."
"Dugaanmu bagaimana, Suheng?"
"Ada dua kemungkinan. Kalau dia mau mengganggu kita, mungkin dia sendiri yang akan
mempersiapkan orang-orangnya untuk merampas peti-peti itu di tengah jalan sehingga
dengan mudah akan menghancurkan kita."
"Keji sekali! Akan tetapi kita akan lawan dia, Suheng!" kata Ok Sun, sutenya yang
berangasan, seorang berusia tiga puluh lebih yang bertubuh kekar dan di pinggangnya
tergantung sebuah golok besar.
"Tentu saja akan kita lawan, akan tetapi ada kemungkinan lain yang lebih melegakan hati.
Yaitu mungkin ini hanya merupakan ujian bagi kesetiaan kita terhadap Pemerintah Mancu.
Kalau benar demikian, kita akan selamat."
"Jangan-jangan dua peti itu terisi peralatan untuk menghancurkan kawan-kawan
seperjuangan kita!" kata seorang sute lain.
"Hal itu tidak penting dan kurasa tidak demikian. Untuk menjaga kemungkinan pertama,
yaitu gadis aneh itu mengerahkan orang-orang untuk mengganggu kita di jalan, aku sendiri
akan mengawalnya!" kata Tan-piauwsu sambil mengepal tinju. Dia harus unjuk gigi, dan
untuk menjaga nama baik Pek-eng-piauwkiok, akan dia lawan mati-matian setiap usaha
untuk merampas dua buah peti itu.
Tiba-tiba Kwee Twan Giap, sutenya yang paling muda akan tetapi terkenal paling cerdik,
berkata.
"Suheng, justeru inilah yang ku khawatirkan. Agaknya justeru pemikiran dan keputusan
Twa-suheng ini yang sudah diperhitungkan mereka!"
“Apa maksudmu, Kwee-sute?"
"Bukan lain, tipu muslihat memancing harimau keluar dari sarang!"
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
184
Tan-piauwsu dan empat orang sutenya yang lain terkejut dan membelalakkan mata. Tanpiauwsu meninju meja di depannya. "Ah, tepat sekali, Sute! Mengapa hal yang mungkin
sekali ini kulupakan? Memancing harimau keluar dari sarang! Ah, bisa jadi itulah inti dari
rahasia pengiriman aneh ini. Kita harus bersiap-siap untuk kemungkinan itu!”
"Sebaiknya begini saja, Twa-suheng," kata pula sute termuda yang cerdik itu. "Pengawalan
barang ini diserahkan saja kepada seorang di antara kami, karena untuk menghadapi
gangguan di jalan, kurasa tidaklah amat berat. Apalagi kalau diingat bahwa perjalanan itu
menuju ke Nam-keng. Daerah sepanjang perjalanan ke selatan penuh dengan sahabatsahabat kita, sehingga kalau terjadi sesuatu, banyak sahabat yang dapat membantu.
Adapun Suheng sendiri bersama para Suheng lainnya menjaga di sini untuk menghalau
setiap gangguan dan juga untuk dapat melihat perkembangan, kalau perlu merundingkan
dengan kawan-kawan seperjuangan yang datang dan lewat di kota ini."
Usul ini dapat diterima dan akhirnya Tan Bu Kong menetapkan Lie Cit San dan Ok Sun
sebagai wakilnya mengawal dua buah peti itu, membawa pasukan piauwsu pilihan sebanyak
lima belas orang. Berangkatlah hari itu juga dua orang piauwsu dan lima belas orang anak
buahnya, mengawal dua buah peti yang dimasukkan ke dalam kereta yang ditarik empat
ekor kuda besar.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, di dalam hutan, rombongan piauwsu ini bertemu
dengan Han Han dan Lulu. Ketika dari jauh mereka melihat seorang pemuda dan seorang
pemudi berjalan di hutan yang liar dan sunyi itu, Lie Cit San sudah menjadi curiga dan
berbisik.
"Awas, semua siap sedia! Dua orang di depan itu mencurigakan!"
Demikianlah, rombongan piauwsu itu lewat dan ketika mereka melihat bahwa yang mereka
curigai itu hanyalah seorarg pemuda sederhana dan seorang gadis remaja yang cantik,
mereka tertawa-tawa dan memandang ke arah Lulu dengan kagum dan tentu saja timbul
sifat-sifat kurang ajar mereka, sungguhpun di depan Lie Cit San dan Ok Sun para anak buah
itu tidak berani mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan.
Ketika rombongan ini tiba di tengah hutan, di bagian yang berbatu, mendadak muncul
sembilan orang laki-laki yang gagah sikapnya dan mereka ini sengaja menghadang di
tengah jalan. Usia sembilan orang ini dari dua puluh sampai empat puluh tahun dan melihat
pakaian mereka yang rapi dan seperti biasa dipakai orang-orang yang pandai ilmu silat,
mereka itu seperti bukan golongan perampok. Seorang di antara mereka, yang paling tua,
sudah mengangkat tangan ke atas dan berseru.
"Pek-eng-piauwsu yang mengawal kereta, berhenti dulu!"
Lie Cit San yang menunggang kuda, segera mengajukan kudanya, mengerutkan kening dan
matanya yang tajam memandang penuh selidik, kemudian bertanya.
"Sahabat-sahabat yang berada di depan siapakah dan apa maksudnya menghentikan
kami? Hendaknya diketahui bahwa kami mewakili Suheng kami Hoa-san Pek-eng untuk
mengawal barang-barang dalam kereta menuju ke Nam-keng. Harap sahabat-sahabat suka
minggir dan membiarkan kami lewat!"
Sembilan orang laki-laki itu mengeluarkan suara marah dan yang tertua di antara mereka
segera mengangkat tangan memberi isyarat agar teman-temannya bersikap tenang.
Kemudian ia berkata kepada Lie Cit San.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
185
"Orang-orang Hoa-san-pai amat sombongnya sehingga seperti buta, tidak membedakan
orang! Kami bukanlah golongan perampok rendah yang menjadi sahabat para piauwsu!
Kami adalah anak-anak murid Siauw-lim-pai yang sengaja mencegat kalian di sini untuk
membalas dendam!"
Lie Cit San terkejut sekali dan mengerutkan alisnya. Dia memang tahu bahwa beberapa
bulan yang lalu terjadi bentrokan antara beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai dengan
anak murid Hoa-san-pai, akan tetapi bentrokan itu terjadi antara orang-orang muda yang
masih kurang pengalaman dan hal itu telah dibereskan oleh golongan tua. Urusannya hanya
kecil karena terjadi hubungan cinta antara seorang murid wanita Hoa-san-pai dengan
seorang murid pria Siauw-lim-pai. Hubungan cinta ini menimbulkan rasa iri pada saudarasaudara seperguruan lain sehingga terjadilah bentrokan itu. Dalam bentrokan itu pun hanya
mengakibatkan luka-luka tak berarti di kedua fihak. Mengapa hal yang sudah padam itu kini
hendak digali dan dipanaskan kembali oleh sembilan orang anak murid Siauw-lim-pai yang
tidak dapat dikatakan orang-orang muda ini?
Lie Cit San bukan seorang anak muda yang berdarah panas, maka ia menyabarkan hatinya
dan mengangkat kedua tangan setelah meloncat turun dari atas kuda. Sutenya, Ok Sun
yang tadinya berada di atas kereta, juga meloncat turun dengan gerakan gesit, berdiri di
dekat suhengnya dalam keadaan siap-siap. Tokoh Hoa-san-pai yang berangasan ini sudah
meraba-raba gagang senjata.
"Maafkan kalau kami salah menyangka," kata Lie Cit San. "Kiranya Gu-wi adalah para
Enghiong dari Siauw-lim-pai! Lebih baik lagi kalau begitu. Hendaknya Cu-wi suka memberi
tahu apakah sebabnya Cu-wi sekalian menahan kami?"
Ok Sun yang marah menyambung, "Biarpun anak-anak murid Siauw-lim-pai namun
lagaknya seperti perampok, menghadang perjalanan orang. Suheng, kurasa mereka ini telah
menjadi antek-antek Mancu dan sekarang mereka diperalat oleh gadis Mancu itu!"
"Tutup mulutmu!" bentak seorang pemuda diantara sembilan orang murid Siauw-lim-pai itu.
Lie Cit San dan pemimpin rombongan Siauw-lim-pai segera menghardik saudara masingmasing agar suka diam. Kemudian orang Siauw-lim-pai itu berkata, "Aku Liong Tik adalah
seorang anak murid Siauw-lim-pai yang menjunjung kebenaran dan keadiIan! Maksud kami
sembilan orang murid Siauw-lim-pai menahan kalian tidak lain hanya untuk bertanya apa
isinya kereta yang kalian kawal!"
"Ada sangkut-paut apakah hal itu dengan kamu orang-orang Siauw-lim-pai yang sombong?"
bentak Ok Sun yang memang berangasan dan sebagai seorang murid Hoa-san-pai tentu
saja masih panas hatinya oleh bentrokan antara murid-murid keponakannya dengan muridmurid Siauw-lim-pai beberapa bulan lalu. Akan tetapi kembali Lie Cit San yang masih sabar
itu menyambung.
"Mengapakah para sahabat gagah dari Siauw-lim-pai ingin mengetahui hal itu? Hendaknya
Cu-wi sekalian tahu bahwa kami sendiri hanya bertugas untuk mengawal barang dan sama
sekali tidak tahu apa isinya dua buah peti yang kami kawal, bahkan kami pun tidak ingin
mengetahui barang milik orang lain."
“Dua buah peti….?” Sembilan orang Siauw-lim-pai itu saling pandang penuh arti, kemudian
memandang marah ke arah kereta.
Liong Tik yang tertua di antara saudara-saudaranya mengimbangi kesabaran Lie Cit San
dan kini ia berkata, suaranya masih halus namun nadanya memaksa, "Kami percaya bahwa
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
186
dua orang saudara Hoa-san-pai yang gagah tidak mengetahui isinya, akan tetapi kami minta
agar kedua buah peti itu dibuka agar kita bersama dapat melihat isinya!"
"Perampok-perampok berkedok Siauw-Jim-pai! Kalau ternyata isinya emas permata tentu
kalian akan merampoknya!" bentak Ok Sun sambil mencabut golok besarnya. Para anak
murid Siauw-lim-pai juga sudah mencabut senjata masing-masing dengan sikap marah.
Lie Cit San menggeleng kepala. "Tidak mungkin hal itu dilakukan,” katanya. “Kami harus
menjaga nama baik kami sebagai piauwsu, tidak akan membuka peti kiriman barang orang
lain, juga tidak memperbolehkan siapa juga membukanya."
"Twa-suheng, sudah jelas bahwa mereka hendak menyembunyikan. Kalau tidak lekas turun
tangan, mau menanti apa lagi?" bentak seorang di antara anak murid Siauw-lim-pai yang
paling berangasan sambil meloncat maju dengan pedang di tangan. Ok Sun menggereng
dan kedua orang itu sudah bertanding dengan sengit. Melihat ini, Lie Cit San dan Liong Tik
maklum bahwa bentrokan tak dapat dielakkan lagi, terpaksa mereka pun maju. Lie Cit San
mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang cambuk besi yang kecil panjang,
sedangkan Liong Tik mengeluarkan senjata sepasang tombak bercagak dan kedua orang ini
pun sudah bertanding hebat. Tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai yang lain sudah
menyerbu ke arah kereta dan mereka disambut oleh lima belas orang anak buah piauwsu
sehingga sebentar saja di situ terjadi pertandingan yang seru, terdengar bunyi senjatasenjata bertemu diseling teriakan marah mereka. Pertandingan antara dua orang murid Hoasan-pai melawan dua orang murid Siauw-lim-pai terjadi seru dan berimbang, akan tetapi lima
belas orang anak buah rombongan piauwkiok itu segera terdesak hebat oleh tujuh orang
anak murid Siauw-lim-pai dan setelah lewat belasan jurus, mulailan fihak piauwkiok terdesak
dan empat orang sudah roboh terjungkal mandi darah.
Tiba-tiba terdengar bentakan yang amat keras, "Semua berhenti!!"
Aneh sekali. Bentakan itu selain keras dan penuh wibawa, juga mengandung tenaga mujijat
yang membuat mereka yang sedang bertempur itu serentak meloncat mundur dengan kaget
dan gentar, menahan senjata masing-masing dan memandang terbelalak kepada seorang
pemuda rambut riap-riapan yang tahu-tahu sudah berada di tengah antara mereka. Pemuda
ini bukan lain adalah Han Han yang segera dapat memilih fihak karena melihat betapa tadi
rombongan piauwsu itu terdesak, bahkan ada empat orang di antara mereka yang roboh dan
tewas. Kini ia memutar tubuh, membelakangi para piauwsu, menghadapi para murid Siauwlim-pai dan membentak marah.
"Perampok-perampok laknat, berani kalian mengganggu orang lewat? Orang-orang jahat
macam kalian ini patut dibasmi!"
Para piauwsu yang mengenal Han Han sebagai pemuda yang tadi mereka lewati,
memandang heran namun juga geli. Pemuda hijau macam ini mana mungkin dapat menakuti
hati para anak murid Siauw-lim-pai yang lihai itu. Dan betul saja dugaan mereka, muridmurid Siauw-lim-pai marah sekali karena mengira bahwa pemuda liar yang bermata setan ini
pasti seorang anak murid Hoa-san-pai pula. Maka seorang di antara mereka yang termuda,
yang tidak memandang mata kepada Han Han, sudah menerjang sambil membentak.
"Bocah setan, mampuslah!" Pemuda Siauw-lim-pai itu bersenjata sebuah toya dan senjata
toya ini memang merupakan sebuah di antara senjata kaum Siauw-lim-pai yang ampuh.
Begitu tara digerakkan terdengar bunyi mengaung dan ujung toya itu tergetar menimbulkan
bayangan belasan batang banyaknya. Kini toya itu rneluncur ke arah tubuh Han Han,
menyodok ke dadanya. Han Han sama sekali tidak bergerak.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
187
"Krakkk!!" Toya itu dengan tepat menyodok ulu hati Han Han, akan tetapi pemuda ini sama
sekali tidak bergeming, sebaliknya toya itu patah-patah rnenjadi tiga potong! Anak murid
Siauw-lim-pai itu terdorong tenaganya sendiri sehingga menubruk tubuh Han Han. Pemuda
ini mengangkat tangan kiri yang terbuka, memukul ke arah tengkuk lawannya.
"Krekkk!" Murid Siuw-lim-pai roboh dengan batang leher patah dan tewas seketika!
Peristiwa ini menirnbulkan geger. Delapan orang anak murid Siauw-lim-pai menjadi marah
sekali dan mereka maju dengan senjata mereka menerjang Han Han. Saking marahnya
menyaksikan seorang saudara mereka tewas, mereka itu lupa akan sifat kegagahan dan
delapan orang jagoan Siauw-lim-pai dengan senjata di tangan kini menerjang dan
mengeroyok seorang pemuda tanggung yang tak terkenal dan bertangan kosong!
Pada saat itu, Lulu juga sudah tiba di situ dan gadis ini dengan mata berkilat dan muka
berseri berteriak-teriak, "Han-ko, sikat saja perampok-perampok itu!"
Akibat pengeroyokan itu sungguh hebat! Han Han kaku sekali gerakannya dan ia tidak
mempunyai ilmu silat tertentu untuk dimainkan menghadapi pengeroyokan itu. Biarpun ia
sudah mempelajari gerak kaki, namun gerak tangannya hanya ia pelajari sepintas lalu saja
karena selama enam tahun ini ia hanya memusatkan ketekunannya untuk memupuk tenaga
sinkang. Ia memasang bhesi dengan kuda-kuda Chi-ma-se, kedua kakinya terpentang dan
lutut ditekuk, akan tetapi kedua lengannya dikembangkan dan diputar-putar menghadapi
setiap serangan para pengeroyok. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya kedua
fihak yang bermusuhan melihat akibat pertandingan ini. Setiap kali ada senjata datang
menyerang, Han Han memapakinya dengan dorongan atau kibasan tangannya dan…. si
penyerang terguling, senjatanya patah-patah dan orangnya roboh tewas, ada kalanya tewas
dengan muka kebiruan seperti membeku, ada kalanya pula tewas dengan tubuh hitam
seperti hangus terbakar! Dalam keadaan tidak sadar akan kekuatan sendiri, Han Han telah
"mengisi" lengan kiri dengan tenaga inti Im-kang, sedangkan tangan kanannya mengandung
tenaga inti Yang-kang. Kekuatan dan kedahsyatan setiap gerak tangannya tidak kalah oleh
ilmu pukulan Swat-im Sin-kang maupun Hwi-yang Sin-kang! Karena dia tidak menyerang
hanya memapaki mereka yang menyerang saja, maka dalam gebrakan-gebrakan itu
robohlah tujuh orang murid Siauw-lim-pai dalam keadaan tak bernyawa lagi, sedangkan
Liong Tik dan seorang sutenya yang lebih tinggi ilmunya dapat meloncat ke belakang
sehingga terhindar dari bahaya maut, akan tetapi juga senjata mereka itu remuk oleh
hantaman hawa pukulan yang keluar dari tangan Han Han.
Pada saat itu keadaan Han Han benar-benar mengerikan sekali. Ia masih berdiri seperti tadi
karena ia telah merobohkan tujuh orang murid Siauw-lim-pai dalam keadaan tak mengubah
kedudukan kaki sama sekali. Ia berdiri menghadapi Liong Tik dan sutenya, siap menerima
serangan, matanya mengeluarkan cahaya yang tajam sekali, mulutnya tersenyum
mengerikan seperti senyum setan mengejek sehingga wajahnya yang tampan itu kelihatan
menyeramkan, kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri. Karena fihak lawan yang
tinggal dua orang itu terbelalak dan tidak menyerangnya, maka ia pun diam tak bergerak dan
sesaat keadaan di situ menjadi sunyi karena Lie Cit San, Ok Sun dan semua anggauta
piauw-su juga terbelalak dengan hati ngeri.
Derap kaki kuda terdengar jelas di saat yang sunyi itu dan Lulu menengok ke kanan. Seekor
kuda hitam datangseperti terbang cepatnya dan di atas kuda itu duduk seorang gadis cantik.
Bukan duduk, lebih tepat berdiri karena gadis itu memang berdiri dengan kaki di kanan kiri
perut kuda, di atas tempat kaki. Dapat berdiri seperti itu selagi kuda membalap dengan
miring membuktikan betapa pandainya gadis cantik ini menunggang kuda. Akan tetapi wajah
gadis itu diliputi kedukaan dan kegelisahan. Melihat betapa anak murid Siauw-lim-pai banyak
yang tewas dan kereta yang membawa dua buah peti berada di situ dalam keadaan
ditinggalkan karena para piauwsu tadi menyambut penyerbuan para murid Siauw-lim-pai,
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
188
gadis itu mengeluarkan teriakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya meluncur cepat sekali
mendahului kuda dan tahu-tahu ia telah berada di belakang kereta. Para piauwsu terkejut,
akan tetapi sebelum ada yang sempat bergerak, gadis itu sudah menggerakkan tangan dua
kali.
"Brakkkkk! Brakkkkk!!"
Dua buah peti itu terpukul bagian atasnya oleh dua tangan yang kecil halus, akan tetapi
seketika bagian tutupnya remuk dan terbukalah kedua peti itu. Si gadis cantik menjenguk ke
dalam peti-peti itu dan terdengar teriakannya menyayat hati.
"Liok-suhu…..! Chit-suhu….!!" Dan gadis itu menangis tersedu-sedu.
Para piauwsu tercengang keheranan, apalagi setelah Liong Tik dan seorang sutenya berlari
menghampiri kereta, menjenguk isi peti dan menjatuhkan diri berlutut pula sambil menangis.
Lie Cit San dan Ok Sun, diikuti para piauwsu lari pula mendekat dan ketika mereka melihat
isi peti, mereka terbelalak.
"Aihhhhh….!!" Lie Cit San dan Ok Sun terhuyung ke belakang dengan muka pucat sekali.
Kiranya di dalam dua buah peti itu terisi dua sosok mayat orang yang bukan lain adaiah Liok
Si Bhok dan Liong Ki Tek, orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam!
Gadis cantik itu sudah menghentikan tangisnya lalu bangkit berdiri. Sikapnya dingin sekali,
penuh hawa amarah meluap-luap, penuh dendam sakit hati yang harus dilampiaskan. Ia
bertanya kepada Liong Tik dan sutenya.
"Siapa yang membunuh saudara-saudaramu itu?"
"Sukouw (Bibi Guru)….. mohon bantuan…. para Sute dibunuh oleh bocah iblis itu….!" Liong
Tik menuding ke arah Han Han yang masih berdiri seperti arca. Tadi ia seperti kemasukan
pengaruh yang aneh, terdapat rasa gembira sekali ketika kedua tangannya merobohkan
para pengeroyoknya. Akan tetapi kini Han Han memandang mayat-mayat yang
bergelimpangan itu dengan bengong. Ia baru sadar ketika ada suara wanita membentak di
depannya.
"Siapa engkau yang begini kejam telah membunuh tujuh orang murid keponakanku?"
Tiba-tiba Lulu yang berdiri di belakang Han Han tertawa geli sehingga suasana tegang itu
menjadi terpecah.
"Hi-hi-hi, aneh sekali! Melihat muka dan tubuhmu, usiamu tidak akan banyak selisihnya
dengan usiaku, akan tetapi engkau mempunyai keponakan-keponakan yang sudah tua-tua.
Aneh dan lucu, hi-hi-hik!"
Akan tetapi gadis itu tidak mempedulikannya, bahkan seperti tidak mendengarnya karena
gadis itu kini sedang memandang Han Han penuh perhatian, bahkan wajahnya yang cantik
kini menjadi agak pucat, sinar matanya penuh keheranan dan tidak percaya.
Han Han yang sadar akan teguran suara wanita, mengangkat muka dan begitu ia
memandang wajah gadis cantik di depannya itu, ia terbelalak dan sampai lama tidak dapat
menge1uarkan suara. Kedua orang ini saling pandang, kadang-kadang meragu, kemudian
merasa yakin dan Han Han berkata lirih.
“…. Suci….!!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
189
"Engkau….? Engkau….. Han Han….? Dan engkau membantu Hoa-san-pai, menjadi anjing
penjajah Mancu….?”
“Suci…., sama sekali tidak….”
"Kau bukan Suteku 1agi! Kau musuh yang harus mati di tangankuI" Gadis itu menyerang
dengan dahsyat sekali. Biarpun dia menyerang dengan pukulan tangan ke arah dada Han
Han, namun tangan kosong gadis cantik ini jauh lebih berbahaya daripada serangan senjata
para murid Siauw-lim-pai tadi. Datangnya antep, cepat dan mengandung tenaga sinkang
yang kuat.
"Dukkkkk…!” Han Han yang tidak menangkis itu terpukul dadanya, terhuyung mundur dua
langkah. Akan tetapi gadis itu sendiri terbanting roboh! Gadis itu yang sesungguhnya adalah
Lauw Sin Lian, terkejut dan meloncat bangun. Tangan kanannya yang memukul itu menjadi
kebiruan dan tubuhnya menggigil kedinginan! Cepat-cepat ia menahan napas dan
mengerahkan hawa dari pusarnya sehingga rasa dingin itu dapat diusir. Ia memandang
kepada Han Han dengan mata terbelalak, kemudian ia menoleh kepada dua orang murid
keponakannya sambil berkata, suaranya mengandung isak tertahan.
"Naikkan jenazah para Sute itu ke at as kereta." Dua orang murid Siauw-lim-pai itu segera
melaksanakan perintah ini dengan air mata bercucuran. Lauw Sin Lian meloncat ke atas
kereta, diikuti dua orang murid keponakannya, kemudian setelah sekali lagi menoleh ke arah
Han Han dengan pandang mata penuh kebencian, ia lalu memekik nyaring dan menarik
kendali kuda. Empat ekor kuda itu meringkik dan meloncat ke depan, lalu membalap. Para
piauwsu tidak ada yang berani berkutik. Mereka masih terkejut dan bingung menyaksikan
kenyataan yang amat mengerikan tadi.
"Suci…..!" Han Han mengeluh perlahan, kemudian ia membalikkan tubuhnya perlahanlahan, menghadapi anak murid Hoa-san-pai yang masih berdiri pucat. Pandang mata Han
Han mengandung sesuatu yang membuat dua orang ini bergidik.
“Kalian…. Kalian…… manusia-manusia iblis! Kiranya kalianlah yang jahat, dan kalian
membuat aku membunuh mereka yang tak berdosa….!" Suara Han Han
perlahan seperti mendesis, namun hal ini bahkan menambah keseramannya. Dua orang
murid Hoa-san-pai itu menggeleng kepala. "Tidak…. tidak…..!"
Akan tetapi kedua tangan Han Han sudah menyambar, melakukan gerakan menampar ke
deparn. Jarak antara mereka masih jauh, ada dua meter, namun tamparan ini mengandung
hawa sinkang yang hebat, mengandung hawa pukulan yang biasa ia latih di Pulau Es,
pukulan-pukulan yang dapat membuat air membeku menjadi bongkah-bongkah es sebesar
anak lembu!
Dua orang murid Hoa-san-pai itu roboh tanpa dapat bersambat lagi, roboh dengan tubuh
kaku membeku dan tewas seketika! Para anak buah piauwsu menjadi putat sekali, akan
tetapi Han Han sudah menghadapi mereka dan berkata.
"Kalian hanya anak buah, tidak tahu apa-apa…. !" Tanpa berkata apa-apa lagi Han Han lalu
menyambar tangan adiknya dan ditariknya lalu diajak pergi cepat-cepat dari tempat itu.
Sebentar saja kedua orang muda ini lenyap dari tempat itu dan barulah para anggauta
piauwkiok itu sibuk mengurus jenazah kedua orang pimpinan mereka dan empat orang
jenazah itu, dengan penuh duka dan masih menggigil kalau teringat kepada pemuda yang
mereka anggap iblis itu, mereka kembali ke Kwan-teng untuk melaporkan peristiwa itu
kepada ketua mereka.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
190
“Eh-eh, berhenti dulu, Han-ko….!" Lulu merenggut tangannya dan terpaksa Han Han
berhenti. Wajah pemuda ini keruh tanda bahwa pikirannya kalut dan hatinya terganggu oleh
peristiwa dalam hutan tadi.
"Han-ko, semua peristiwa tadi amatlah mengherankan hatiku. Siapakah gadis cantik yang
kau sebut Suci tadi? Benarkah dia itu Kakak Seperguruanmu?"
Han Han yang masih kalut pikirannya itu mengangguk. "Dia Suciku, dia P uteri guruku yang
pertama. Dia puteri Lauw-pangcu…" Baru Han Han teringat dan kalau bisa ia hendak
menelan kembali semua kata-kata yang sudah dikeluarkan. Namun terlambat karena Lulu
sudah mendengar semua dan gadis itu tiba-tiba menjerit, lalu membalikkan tubuh dan lari
secepatnya.
“Eh, Moi-moi…., tunggu dulu….!!” Han Han meloncat dan cepat mengejar. Sebentar saja ia
dapat menyusul dan memegang tangan Lulu. Akan tetapi Lulu merenggutkan tangannya dan
dengan cemberut memandang Han Han dengan muka merah dan air mata memmbasahi
pipinya.
"Jangan dekat-dekat! Jangan pegang-pegang! Kau kiranya murid musuh besarku! Apakah
kau hendak membelanya? Mulai sekarang aku tidak sudi berdekatan denganmu!"
"Eh, Lulu jangan begitu. Aku tetap Kakakmu, dan aku tidak akan membela siapapun juga
kecuali engkau Adikku…."
"Bohong! Mana mungkin membelaku kalau musuh besarku adalah Gurumu sendiri? Kakek
jahat she Lauw itu adalah Gurumu, baru puterinya saja sudah kau bela tadi! Sudahlah,
karena kau murid musuh besarku, berarti engkau musuhku juga. Nah, kau lekas serang dan
bunuh aku……, lekas bunuh aku….. tak mungkin aku dapat membalas kematian keluargaku
karena engkau murid musuhku. Bunuh aku, engkau murid musuh besarku!" Saking berduka
dan marah, omongan Lulu menjadi kacau-balau tidak karuan dan bercampur dengan isak
yang ditahan-tahannya. Sepasang matanya yang lebar dan yang biasanya bersinar seperti
sepasang matahari kembar itu kini menyuram, dan dua butir air mata jernih seperti mutiara
menggantung di bulu matanya yang lentik.
Han Han melangkah maju dan memegang kedua pundak Lulu, tersenyum duka dan
berkata, "Baiklah, lulu. Engkau menganggap aku musuhmu, nah, ini dadaku sudah terbuka
di depanmu. Kauhantamlah aku sampai mati, kalau kau menganggap aku musuhmu."
Sepasang mata yang lebar indah itu memandang ke arah dada Han Han, dada kakaknya
yang selama ini menjadi tempat ia bersandar, dan ia bergidik, akan tetapi mulutnya masih
mencela.
"Kau mengejek! Kau tahu bahwa betapapun keras aku memukul, takkan melukai dadamu,
engkau kuat dan kebal….."
"Adikku yang manis. Sekali ini aku tidak akan melawan, dan aku akan senang mati di
tanganmu, kalau hal itu memang kaukehendaki dan akan menyenangkan hatimu. Apakah
kau akan senang hatimu kalau kau dapat memukul mati Kakakmu ini, Moi-moi?"
Lulu menengadahkan mukanya, mereka berpandangan dan Lulu terisak menangis sambil
menubruk kakaknya, menyembunyikan mukanya di dada yang ditawarkan untuk ia pukul itu.
Air matanya membasahi baju dan dada Han Han yang mengelus-elus kepala adiknya penuh
kasih sayang.
"Lulu, sudahlah jangan menangis. Aku bukan musuhmu melainkan Kakakmu."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
191
"Akan tetapi kau murid Lauw-pangcu musuh besarku."
"Sekarang tidak lagi, Lulu. Itu dahulu ketika aku masih kecil. Engkau mendengar sendiri
betapa puterinya tadi mengatakan demikian pula, bahwa dia bukan Suciku dan aku bukan
Sutenya. Puterinya itu pun kini telah menjadi seorang tokoh Siauw-lim-pai yang hebat….."
Lulu mengangkat mukanya memandang. Mukanya masih agak basah, kulit muka yang
halus itu kemerahan dan kemarahan sudah menghilang dari pandang matanya yang kini
menatap wajah kakaknya penuh selidik dan juga penuh kekhawatiran. "Koko, engkau…..
mencinta dia…?"
"Siapa?"
“Dia, puteri musuh besarku itu….”
"Aha! Kaumaksudkan Lauw Sin Lian tadi? Dia bekas Suciku, ahhh….. tidak, aku tidak tahu
tentang cinta, jangan bertanya yang bukan-bukan!"
"Syukurlah, aku akan bingung sekali kalau sampai engkau mencinta puteri musuh besarku.
Akan bagaimanakah sikapku? Dia puteri musuh besarku akan tetapi juga….. eh calon So-so
(Kakak Ipar), kan merepotkan hati namanya!"
"Hussh, kau memang nakaI, Moi-moi. Apakah lupa baru saja kau mengamuk dan
menangis? Sekarang sudah menggoda orang!"
Lulu tersenyum, giginya yang rapi dan putih berkilat di balik kemerahan bibirnya. "Tapi aku
girang, tak mungkin kau menikah dengan Lauw Sin Lian. Dia sudah marah dan benci
kepadamu karena kau telah membunuh murid-murid keponakannya!"
Han Han menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya. "Lulu, jangan
menganggap hal itu seperti main-main! Aku tadi telah salah membunuh orang. Kusangka
tadinya orang-orang Siauw-lim-pai itu yang jahat dan menjadi perampok, kiranya piauwsupiauwsu anak murid Hoa-san-pai itu yang jahat, menyembunyikan dua orang tokoh Siauwlim-pai yang mereka bunuh di dalam peti-peti itu."
Seketika wajah Lulu menjadi serius dan membayangkan kekhawatiran. "Wah, kalau begitu
engkau akan dimusuhi oleh Siauw-lim-pai, Koko?"
Han Han tersenyum dan pandang matanya membayangkan ejekan. "Aku tidak takut!
Mengapa mesti takut karena memang aku membunuh mereka karena salah sangka? Juga
sikap mereka itu sendiri yang mendorongku membunuh mereka. Bahkan aku akan pergi ke
Siauw-lim-pai, mencari Sin Lian untuk menjelaskan peristiwa itu."
"Bagus sekali! Mari kita ke sana, Koko. Engkau ingin memberi penjelasan kepada Sin Lian
dan aku akan bertanya di mana adanya Ayahnya agaraku dapat membalas dendam! Engkau
tentu akan membantuku membunuh Lauw-pangcu, bukan?"
Han Han merasa serba salah, akan tetapi dengan sungguh-sungguh ia berkata, "Kurasa
sekarang engkau telah cukup lihai untuk mengalahkan Lauw-pangcu, Lulu. Bagaimana
mungkin aku dapat turun tangan terhadap dia yang dahulu amat baik kepadaku? Aku hanya
berjanji akan melindungimu jika kau sekiranya kalah, akan tetapi untuk membantumu
membunuhnya….., wah, berat juga."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
192
"Tidak apalah tidak kaubantu juga! Kalau aku kalah, aku dapat belajar lagi darimu dan lain
kali kucari lagi dia dia. Mari kita ke Siauw-lim-pai mencari Sin Lian, Koko!"
Akan tetapi Han Han menggeleng kepala. "Tidak sekarang, Moi-moi. Aku akan pergi dulu
mencari pusat Pek-eng-piauwkiok itu! Aku telah kesalahan tangan membunuh murid Siauwlim-pai dan semua itu hanya karena kejahatan dan kepalsuan orang-orang Pek-engpiauwkiok. Mungkin dua orang piauwsu yang mengawal dua peti terisi mayat dua orang di
antara Siauw-lim Chit-kiam itu pun hanya petugas saja. Tentu ketua piauwkiok itu yang
menjadi biang keladi dan yang bertanggung jawab. Dia yang harus menebus semua
kesalahan ini. Setelah aku menghukum orang yang menjadi biang keladi peristiwa di hutan
itu, yang menjadi pembunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, barulah aku akan
mengajakmu pergi ke Slauw-lim-pai."
'Tapi, ke mana kau akan mencari Pek-eng-piauwkiok, Koko? Kita tidak mengenal
mereka….."
"Wah, kau bodoh sekali, Lulu! Kita pergi saja ke jurusan dari mana mereka datang,
kemudian kita bertanya-tanya orang, apa sukarnya?" Tanpa memberi kesempatan kepada
adiknya yang cerewet itu membantah lagi, Han Han menyambar tangan Lulu dan
digandengnya, kemudian mengajak dara itu pergi meninggalkan tempat itu. Biarpun lama
berada di Putau Es, namun Han Han masih belum kehilangan kecerdikannya kalau tak dapat
dikatakan dia makin cerdik karena ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, yang membuat
otaknya dapat bekerja, lebih cepat. Tepat seperti yang diduganya, dengan mudah mereka
dapat mencari keterangan tentang Pek-eng-piauwkiok. Piauwkiok yang besar dan terkenal
ini berada di kota Kwan-teng, dan dua orang muda itu segera pergi ke kota Kwan-teng, tidak
peduli akan tatapan pandang mata keheranan dan kagum dari orang-orang yang berjumpa
dengan mereka. Heran melihat Han Han yang aneh dan rambutnya riap-riapan, kagum
menyaksikan Lulu yang cantik jelita. Pandang mata heran dan kagum ini lama-lama terbiasa
bagi mereka. Di dalam hatinya, Han Han mengambil keputusan untuk menebus semua
pembunuhan. yang ia lakukan di hutan tadi, pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan
seakan-akan di luar kesadarannya. Entah bagaimana, sekali bertemu tanding, ia mendapat
perasaan gembira dan senang sekali merobohkan para lawannya tanpa dasar apa-apa! Dan
begitu keluar pulau, dia telah melakukan pembunuhan terhadap orang-rang Siauw-lim-pai
dan Hoa-san-pai, dua partai persilatan yang besar! Karena itu, dia harus membereskan
urusan ini, mencari siapa yang bersalah dan siapa yang menjadi biang keladinya.
***
Memang tidak salah pendapat Han Han bahwa Hoa-san-pai adalah sebuah partai persilatan
yang besar dan terkenal, sungguhpun tidaklah sebesar partai Siauw-lim-pai yang seolaholah menjadi sumber partai persilatan di Tiongkok. Hoa-san-pai yang berpusat di puncak
Gunung Hoa-san itu mempunyai banyak sekali anak murid yang pandai-pandai dan dapat
dikatakan bahwa hampir seluruh anak murid Hoa-san-pai adalah tokoh-tokoh persilatan yang
gagah perkasa dan terkenal sebagai pendekar-pendekar pembela keadilan.
Pek-eng-piauwkiok dipimpin oleh Hoa-san Pek-eng Tan Bu Kong, seorang tokoh Hoa-sanpai yang tinggi ilmu silatnya. Di dalam anak tangga tingkat Hoa-san-pai, Tan Bu Kong
menduduki tingkat lima. Di samping para sutenya yang tentu saja lebih rendah tingkatnya,
dia telah berhasil membuat nama besar, tidak hanya mengakibatkan kemajuan dan
keuntungan piauwkiok yang ia pegang, akan tetapi juga sekaligus mengangkat nama besar
Hoa-san-pai. Apalagi karena di samping perusahaannya ini diam-diam Pek-eng-piauwkiok
menjadi tempat pertemuan tersembunyi di antara para patriot yang melakukan gerakan
menentang pemerintah penjajah Mancu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
193
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pek-eng-piauwkiok didatangi seorang gadis
Mancu yang cantik jelita dan juga aneh, yang mengirimkan dua buah peti panjang dengan
biaya amat mahal itu. Setelah dua buah peti itu diberangkatkan, hati Tan Bu Kong yang
menjaga di rumah menjadi amat tidak enak dan selalu gelisah. Dia memerintahkan anak
buahnya untuk melakukan penjagaan ketat dan hatinya makin tidak enak ketika sampai sore
sutenya yang ia suruh mengikuti dan menyelidiki gadis Mancu itu belum juga kembali.
Sutenya itu, Teng Lok, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan dan terutama sekali
ginkangnya amat tinggi, tidak kalah oleh dia sendiri. Mengapa sampai sore belum juga
sutenya itu kembali?
Menjelang malam, Tan-piauwsu mendengar suara ribut-ribut di luar. Cepat ia, meloncat dan
berlari keluar dengan jantung berdebar, siap menghadapi segala kemungkinan karena
agaknya para anak buahnya ribut-ribut oleh sesuatu yang tentunya tidak beres. Ketika ia tiba
di luar dan memandang, wajahnya menjadi pucat dan cepat ia menyongsong ke depan dan
berseru.
"Teng-sute…..!"
Adik seperguruannya itu sedang digotong oleh anak buahnya dan agaknya begitu tiba di
depan gedung piauwkiok, adik seperguruannya itu roboh pingsan. Tidak aneh kalau melihat
keadaannya yang demikian mengerikan. Lengan kanannya buntung sebatas siku dan
lehernya terluka mengeluarkan darah. Cepat orang she Teng ini digotong masuk direbahkan
di atas dipan dalam kamar. Setelah menerima perawatan, akhirnya dia mengerang dan
siuman. Luka di lehernya tidak membahayakan, hanya lengannya yang bunltung itu benarbenar mengerikan. Ketika ia menengok dan memandang suhengnya duduk di situ
menjaganya, ia mengeluh.
"Ahhh, Suheng….. untung siauwte masih hidup….. dan dapat bercerita kepada
Suheng……"
Tan Bu Kong menekan pundak sutenya dan dengan terharu berkata, "Tenanglah, Sute dan
ceritakan perlahan-lahan dan seenaknya, engkau masih amat menderita….”
"Tidak, harus sekarang juga Suheng dengar. Gadis Mancu itu bukan manusia! Dia seperti
iblis! Ketika aku mengikuti keretanya, kusangka tidak ada yang tahu dan aku terus
membayanginya sampai kereta itu berhenti di luar kota raja di mana terdapat sebuah gedung
peristirahatan yang mewah, entah punya siapa, yang jelas tentu milik seorang pembesar
Mancu. Diam-diam aku lalu menyelidik dan akhirnya aku dapat membekuk seorang pelayan,
kuseret keluar dan di bawah ancaman, dia mengaku bahwa gedung itu tempat peristirahatan
Puteri Nirahai yang katanya adalah puteri Kaisar Mancu dari selir. Akan tetapi pada saat itu
juga, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dan gadis Mancu itu telah berada di situ tanpa
kuketahui sama sekali. Dia menyindir bahwa aku sejak tadi membayangi keretanya dan
untuk kelancangan itu aku harus dihukum. Aku menyatakan bahwa sebagai pimpinan
piauwkiok, aku wajib mengetahui alamat pengirim barang. Dia tidak peduli dan minta supaya
aku membuntungi lengan kananku dengan pedang sendiri!"
“Ah….., terang dia bersikap tidak baik terhadap kita!" kat a Tan Bu Kong marah.
"Bukan hanya tidak baik, bahkan telah direncanakannya, Suheng! Aku tentu saja tidak mau
dan hendak pergi, akan tetapi aku selalu terguling roboh setiap kali tangannya bergerak
mendorongku. Agaknya dia memiliki sinkang yang luar biasa dan dengan pukulan jarak jauh
selalu merobohkan aku setiap aku hendak pergi. Aku menjadi marah, mencabut pedang dan
menyerang gadis penjajah laknat itu!" Muka Teng Lok menjadi merah karena ia masih
penasaran dan marah terhadap gadis bangsa Mancu itu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
194
"Lalu bagaimana, Sute?"
"Dia lihai sekali. Entah bagaimana aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba pedangku telah
dirampasnya dan di lain saat, lenganku telah terbabat buntung dan leherku terluka. Hanya
dengan mengandalkan ginkang saja aku dapat melarikan diri untuk melapor kepadamu,
Suheng."
Pucat wajah Tan Bu Kong, pucat karena kaget dan marah. Dia maklum akan gawatnya
persoalan. Andaikata gadis itu bukan puteri Mancu, apalagi puteri kaisar sendiri, tentu dia
akan mengerahkan tenaga untuk mendatangi dan membalas semua ini. Akan tetapi gadis itu
adalah puteri Mancu, kalau diganggu, tentu berarti merupakan perang terbuka menentang
Pemerintah Mancu dan hal ini akan menyeret pula Hoa-san-pai!
“Itu belum semua, Suheng," kata pula Teng Lok sambil memandang wajah suhengnya yang
berkerut. "Ketika aku lari, aku tahu bahwa jika dia menghendaki, tentu dia akan dapat
mengejar dan membunuhku. Akan tetapi dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa kita
harus bersiap-siap menanti serbuan orang-orang Siauw-lim-pai. Entah apa maksudnya, akan
tetapi aku khawatir sekali, Suheng. Gadis itu seperti iblis betina yang entah pekerjaan
terkutuk apa yang sedang dia lakukan….."
"Hemmm….., tentu ada hubungannya dengan peti-peti itu. Baik kitat unggu saja dan engkau
beristirahatlah, Sute sambil merawat diri. Kelak, karena lengan buntung, tentu Suhu akan
dapat memberi ilmu yang khusus untukmu. Sementara ini, aku akan memperkuat penjagaan,
bersiap menanti datangnya bahaya yang terasa benar olehku sedang mengancam kita."
Semenjak sore hari itu, sampai tiga hari tiga malam lamanya, Tan Bu Kong makin gelisah,
duduk salah berdiri pun tak enak, makan tak sedap tidur tak nyenyak, dan selalu menantinanti kembalinya rombongan sutenya yang pergi mengawal dua buah peti itu ke selatan.
Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika pada suatu sore, sepekan kemudian,
rombongan anak buahnya berlari-lari datang dengan wajah kusut, tanpa membawa kereta
piauwkiok dan tanpa dipimpin oleh dua orang sutenya yang bertugas mengantar dua buah
peti itu. Tan-piauwsu membentak para anak buahnya yang bercerita simpang-siur dan amat
gaduh, lalu memerintahkan seorang di antara mereka, yang tertua, menceritakan semua
pengalamannya.
Piauwsu tua itu bercerita sambil mencucurkan air mata, menceritakan semua peristiwa yang
terjadi, betapa kereta mereka dihadang oleh serombongan anak murid Siauw-lim-pai yang
hendak memaksa membuka dua buah peti itu, kemudian betapa mereka bertanding
meJawan anak-anak murid Siauw-lim-pai dan munculnya seorang pemuda aneh yang
rambutnya riap-riapan bersama seorang dara remaja jelita yang secara mengerikan telah
merobohkan dan menewaskan tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai, kemudian betapa
muncul seorang gadis anak murid Siauw-lim-pai yang lihai dan yang membuka dua buah peti
dengan secara paksa.
"Dibuka? Apa isinya…..?" Tan-piauwsu bertanya dengan suara keras saking tegang hatinya.
"Isinya adalah dua mayat manusia, mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam….”
"Hayaaa…..!!!" Tan Bu Kong mencelat bangun dari kursinya dengan muka pucat sekali.
“Celaka….!"
Piauwsu itu lalu melanjutkan ceritanya. Betapa gadis murid Siauw-lim-pai itu menyerang Si
Pemuda aneh namun dapat dikalahkan dan kemudian gadis itu membawa pergi jenazahjenazah dalam peti dan jenazah para anak murid Siauw-lim-pai. Kemudian, dengan suara
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
195
terengah-engah dia menceritakan betapa pemuda aneh itu menjadi marah kepada para
piauwsu, dan dengan sekali gerakan telah membunuh Lie Cit San dan Ok Sun!
"Ahhh! Siapakah pemuda yang ganas dan kejam itu?" Tan-piauwsu berseru dengan alis
berdiri.
"Entahlah, hanya kami mendengar gadis murid Siauw-lim-pai yang lihai itu mengenalnya
dan pemuda itu malah menyebut Suci kepada murid Siauw-lim-pai itu, dan gadis itu
menyebut namanya Han Han….."
Akan tetapi, biarpun kedua orang sutenya tewas, hal ini tidak mengurangi kekhawatiran hati
Tan-piauwsu dan kemarahannya terhadap Si Puteri Mancu. Sebagai seorang yang
berpengalaman, tahulah dia bahwa fihaknya, yaitu Pek-eng-piauwkiok yang tentu saja dapat
juga dianggap mewakili Hoa-san-pai, telah diadu domba secara licin dan keji sekali oleh
Puteri Mancu yang lihai itu! Pantas saja puteri itu menyindir kepada sutenya, Teng Lok
bahwa Hoa-san-pai harus bersiap-siap untuk menghadapi penyerbuan Siauw-Hm-pai! Kini
jelaslah sudah bahwa dua orang tokoh Siauw-Hm-pai itu, kedua orang dari Siauw-lim Chitkiam, telah dibunuh oleh puteri Mancu yang kemudian memasukkan dua jenazah itu ke
dalam peti dan sengaja menyuruh Pek-eng-piauwkiok mengawalnya ke selatan. Dan ia
dapat menduga pula bahwa tentu fihak Siauw-lim-pai secara diam-diam diberi tahu oleh
puteri iblis itu sehingga mereka menghadang kereta dan minta lihat isi peti! Hal ini kalau
dipikirkan amat sederhana, sebuah tipu muslihat yang mudah, akan tetapi betapa kejinya!
Tentu saja fihak Siauw-lim-pai berkeyakinan bahwa dua orang tokoh mereka itu terbunuh
oleh Hoa-san-pai dan tentu akan timbul dendam dan bentrokan hebat antara kedua partai
besar ini.
Tan-piauwsu termenung. Si pembuat urusan ini adalah puteri Mancu itu, tak salah lagi,
sungguhpun ia bergidik kalau mengingat betapa dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam
sampai dapat terbunuh! Padahal dia tahu bahwa Siauw-lim Chit-kiam adalah tujuh orang
tokoh Siauw-lim-pai yang sakti, yang memiliki tingkat ilmu kepandaian amat hebatnya,
masing-masing merupakan tokoh Siauw-lim-pai tingkat tiga! Kalau biang keladinya adalah
puteri Mancu, dan yang menjadi korban adalah Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai, dua buah
partai yang menentang Mancu, maka mudah saja diduga sebabnya! Tentu fihak Pemerintah
Mancu sengaja mengadu domba Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai agar dua partai yang me
musuhi Mancu ini menjadi lemah dan saling gempur sendiri. Dan hal ini amatlah berbahaya!
Malam hari itu juga Tan Bu Kong menyuruh seorang sutenya untuk pergi keHoa-san,
miengabarkan peristiwa hebat ini kepada pimpinan Hoa-san-pai agar dapat mengambil
langkah-langkah seperlunya untuk-mencegah terjadinya pertentangan hebat antara Siauwlim-pai dan Hoa-san-pai yang akan timbul sebagai akibat taktik adu domba yang amat keji
itu. Juga mengundang tokoh-tokoh sakti Hoa-san-pai untuk diajak mengambil tindakan
terhadap puteri Mancu yang amat sakti dan aneh itu, karena dia maklum bahwa dia sendiri
takkan mungkin dapat mengalahkan puteri Mancu yang telah berhasil membunuh dua orang
sakti seperti dua di antara Siauw-lim Chit-kiam. Atau, andaikata bukan puteri itu yang
membunuh, karena dia masih tidak percaya seorang puteri remaja seperti itu akan sanggup
membunuh dua di antara Siauw-lim Chit-kiam, tentu ada orang sakti di belakang puteri itu
yang tentu akan melindungi Sang Puteri.
Pada keesokan harinya, tanpa. disangka-sangka muncullah seorang pemuda tinggi besar
yang gagah dan tampan bersama seorang gadis baju kuning yang cantik manis. Kedatangan
dua orang in sedikit menghibur hati Tan Bu Kong karena mereka itu, biarpun terhitung sute
dan sumoinya, namun murid-murid dari supeknya ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh
melampauinya! Sutenya itu adalah seorang pemuda yang tampan dan tinggi besar, usianya
dua puluh tahun lebih, gerak-geriknya halus, wajahnya periang dan peramah, namun
sesungguhnya dia inilah pendekar muda Hoa-san-pai yang berjuluk Hoo-san Gi-hiap
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
196
(Pendekar Budiman dari Hoa-san)! Adapun gadis cantik manis berusia antara delapan belas
tahun itu pun bukan sembarang orang karena dialah tokoh kang-ouw yang amat terkenal
yang berjuluk Hoa-san Kiam-li (Dewi Pedang Hoa-san)! Biarpun masih muda, dua orang
pendekar Hoa-san ini telah membuat nama besar dengan perbuatan-perbuatan mereka
yang menggemparkan dalam membela kebenaran dan keadilan.
Ketika melihat wajah suheng mereka yang keruh, pemuda dan dara ini cepat bertanya apa
yang terjadi sehingga menyusahkan hati Tan-piauwsu.
"Kami berdua menerima pesan Suhu untuk datang membantu usaha Suheng menghimpun
orang-orang gagah yang bergerak menentang kekuasaan penjajah Mancu," kata pemuda
tampan itu. "Mengapa Suheng kelihatan tidak bersemangat dan berduka?”
Dapat dibayangkan betapa kaget hati dua orang muda perkasa itu ketika tiba-tiba Tanpiauwsu mengeluh, menarik napas panjang dan matanya menjadi basah dengan air mata!
Suheng mereka, yang gagah perkasa dan banyak penga.laman di dunia kang-ouw itu,
menangis! Tentu terjadi sesuatu yang amat hebat!
"Sute dan Sumoi, kedatangan kalian ini merupakan cahaya penerang bagi hatiku yang
sedang gelap, akan tetapi aku membutuhkan bantuan para Lo-cian-pwe, para Susiok dan
Suhu kita di Hoa-san-pai karena tanpa mereka, kiranya sukar untuk membikin terang
perkara yang amat gelap in!" Tan Bu Kong lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi
semenjak puteri Mancu itu menitipkan dua buah peti untuk dikirim ke selatan.
Mendengar semua itu, Hoa-san Gihiap mengepalkan tinjunya. "Ah, jelas. Puteri Mancu
itulah yang mengatur semua rencana terkutuk itu! Biarlah aku akan pergi menangkapnya,
kemudian menyeretnya ke Siauw-lim-pai, memaksanya mengaku akan semua
perbuatannya. Hanya dengan jalan itu, semua perkara dapat dlbereskan, Suheng."
"Betul pendapat Wan-suheng!" kata Hoa-san Kiam-li penuh semangat. "Biar aku membantu
Wan-suheng menangkap iblis betina yang palsu itu!"
Tan Bu Kong mengangkat tangan dan menggeleng kepala. "Bukan aku kurang percaya
akan kesanggupan Sute dan Sumoi, akan tetapi sungguh sembrono sekali kalau hal itu
dilakukan. Pertama, ada kemungkinan puteri itu memiliki kelihaian yang amat luar biasa
kalau benar dia yang membunuh dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam. Kelihaiannya telah
dirasakan oleh Suheng kalian Teng Lok, akan tetapi akan lebih hebat lagi kalau dia dapat
membunuh dua orang Locian-pwe dari Siauw-lim-pai itu. Selain itu, mungkin dia mempunyai
kawan-kawan yang berilmu tinggi dan hal ini tidak mengherankan kalau diingat betapa
datuk-datuk besar golongan hitam banyak yang menghambakan diri kepada penjajah
Mancu. Hal itu saja sudah menjadi sebab yang harus kita perhatikan dan sama sekali tidak
boleh dianggap ringan. Ada lagi hal yang harus dipikirkan masak-masak sebelum kalian
mengambil keputusan untuk menangkap puteri itu. Dia adalah puteri dari Kaisar Mancu
sendiri, sungguhpun puteri selir namun kedudukannya amat tinggi sehingga kalau sampai
dia kita tawan, tentu akan timbul geger dan Hoa-san-pai tentu akan diserang secara terangterangan oleh bala tentara Mancu. Dalam hal ilmu kepandaian, tentu Sute dan Sumoi jauh
melampaui aku, namun dalam hal pengalaman, aku jauh lebih tua dan lebih banyak
mengalami hal-hal yang sulit. Sehaiknya, Sute dan Sumoi secara diam-diam melakukan
penyelidikan terhadap Puteri itu. Tentu saja kalian harus berhati-hati, jangan sampai terjadi
hal yang menimpa diri Sute Teng Lok. Cukup kalau Sute dan Sumoi mengetahui latar
belakang puteri itu, apakah ada orang-orang sakti di sana, dan siapa sesungguhnya puteri
yang aneh dan lihai itu."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
197
Mau tidak mau kedua orang muda perkasa itu harus tunduk dan merasa kagum akan
pandangan yang luas dari suheng mereka itu. Mereka menyanggupi dan pertemuan antara
murid-murid seperguruan itu dilanjutkan dengan makan minum dalam suasana prihatin.
"Sebaiknya Sute dan Sumoi melakukan penyelidlkan di waktu siang saja agar tidak
berbahaya. Kita menanti kembalinya utusanku ke Hoa-san, dan setelah para Locianpwe dari
Hoa-san tiba, barulah kita mengambil keputusan berdasarkan pendapat beliau-beliau itu,
agar sepak terjang kita tidak simpang-siur." Demikian pesan Tan Bu Kong yang dipatuhi oleh
dua orang adik seperguruannya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dua orang muda perkasa itu sudah meninngalkan
piauwkiok dan melakukan penyelidikan ke tempat yang ditunjuk oleh teng Lok, yaitu di luar
kota raja yang tidak begitu jauh dari situ, hanya dalam jarak perjalanan seperempat hari saja.
Pada sore harinya menjelang senja, selagi Tan-piauwsu dan para anak buahnya duduk
menanti kedua orang sutenya itu, juga menanti berita dari Hoa-san, tiba-tiba muncul dua
orang muda di depan pintu gerbang piauwkiok. Melihat mereka ini, para pengawal yang
tempo hari ikut mengawal dua peti jenazah, menjadi pucat dan gugup. Ada yang berbisibisik.
“Dia datang…! Dia datang….!!”
Ketika Tan Bu Kong menengok dan melihat seorang pemuda yang berambut panjang riapriapan, berwajah tampan dan aneh, sinar matanya tajam sekali dengan sikap tenang muncul
di depan pintu menggandeng tangan seorang dara remaja yang cantik jelita, kemudian
mendengar suara orang-orangnya, hatinya berdebar dan ia dapat menduga bahwa tentu
inilah pemuda aneh yang telah membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai dan membunuh
pula dua orang sutenya, yaitu Lie Cit San dan Ok Sun. Sejenak Tan-piauwsu terbelalak
keheranan, sama sekali tidak mengira bahwa orang yang dikabarkan amat aneh dan amat
lihai itu hanyalah seorang pemuda remaja yang kelihatannya terlalu tenang dan terlalu
lemah, bahkan terlalu sederhana mendekati tidak normal! Yang membiarkan rambutnya
terurai seperti itu biasanya hanyalah kaum pertapa yang tidak peduli lagi akan keadaan
dirinya!
"Apakah di sini Pek-eng-piauwkiok?" Han Han, pemuda itu, bertanya sambil memandang ke
arah Tan-piauwsu yang baru muncul dari dalam dengan langkah lebar.
Tan Bu Kong mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan sambil
menjawab, "Benar, di sini adalah kantor Peng-eng-piauwkiok. Kalau Siauw-enghiong
(Pemuda Gagah) ada keperluan, silakan masuk, kita bicara di dalam!"
Betapapun juga, Han Han yang sudah hafal akan sopan santun dan belajar tentang
kebudayaan dan kesusastraan semenjak kecil, menjadi kikuk juga dan terpaksa ia pun
membalas dengan mengangkat kedua tangan depan dada sambil melangkah masuk, diantar
oleh tuan rumah memasuki ruangan dalam yang luas. Di belakang Tan-piauwsu, para
pengawal mengikuti dengan wajah tegang. Teng Lok masih beristirahat di dalam kamarnya
dan di situ hanya terdapat empat orang sute Tan-piauwsu yang tingkat kepandaiannya
belum dapat diandalkan, sungguhpun tentu saja sebagai murid-murid Hoa-san-pai jauh lebih
lihai daripada semua pengawal yang bekerja di Pek-eng-piauwkiok.
"Siauw-enghiong dan Lihiap, silakan duduk," kata Tan-piauwsu.
Akan tetapi Han Han tetap berdiri dan Lulu juga berdiri karena melihat kokonya tidak duduk.
Gadis ini hanya memandang ke kanan kiri, mengagumi perabot rumah yang biarpun tidak
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
198
seindah perabot di Istana Pulau Es, namun jauh berbeda. Han Han berkata dengan kening
dikerutkan.
"Harap tidak usah repot-repot karena saya datang untuk mencari pemimpin Pek-engpiauwkiok."
Tan-piauwsu memandang tajam, lalu menjawab, “Saya Tan Bu Kong adalah pemimpin Pekeng-piauwkiok. Enghiong siapakah dan ada keperluan apa mencari saya?" Sebagai seorang
yang berpengalaman, piauwsu ini tidak langsung menyatakan mengenai pemuda ini,
melainkan pura-pura bertanya akan maksud kedatangan pemuda itu yang, memang belum
dapat ia menduganya.
"Bagus sekali! Jadi engkau pemimpin piauwkiok ini? Tan-piauwsu, tidak perlu main
sandiwara lagi! Tentu orang-orangmu telah menceritakan betapa aku telah membunuh
kedua orang pembantumu. Engkau tentu yang bertanggung jawab tentang pengiriman dan
pembunuhan dua orang tokoh Siauw-lim-pai, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam.
Karena itu, aku datang untuk membunuhmu sebagai tebusan kejahatanmu. Bersiaplah!" Han
Han sudah bergerak hendak memukul.
"Nanti dulu, Siauw-enghiong! Yang kaubunuh itu adalah dua orang Suteku, justeru aku ingin
bertanya mengapa engkau membunuh mereka? Dan mengapa pula engkau hendak
membunuhku?”
"Sudah jelas, kalian telah membunuh dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam dan memasukkan
jenazah mereka dalam peti. Karena salah sangka, aku membantu orang-orangmu dan
kesalahan tangan membunuh orang-orang Siauw-lim-pai. Engkaulah yang bertanggung
jawab. Aku bukan algojo, tukang bunuh orang tanpa sebab, maka engkau yang menjadi
biang keladinya harus menebus dosa!" Setelah berkata demikian, Han Han menggerakkan
tangan kirinya melakukan pukulan dengan jari tangan terbuka.
"Wesssss….!" Angin pukulan yang amat dingin menyambar. Tan-piauwsu mengenal tenaga
sakti yang menyambar ganas. Ia berseru kaget dan cepat ia meloncat ke kanan untuk
mengelak. Sebuah meja yang berdiri dua meter dibelakangnya menggantikannya kena
sambaran tenaga pukulan itu dan pecah berantakan, terlempar sapai jauh!
Tan Bu Kong merasa ngeri, dan cepat ia melompat mundur sambil berseru, "Nanti dulu,
Siauw-enghioog! Aku sama sekali tidak mengerti tentang jenazah-jenazah itu. Bukan kami
yang bertanggung jawab, kami pun terperosok dalam perangkap musuh…."
“Sudah ada bukti hendak menyangkal lagi? Koko, orang ini pintar mainkan lidah, jangan
kena dibohongi. Sikat saja!” kata Lulu yang ingin agar urusan ini cepat selesai sehingga ia
dapat mengajak kakaknya mencari lauw Sin Lian agar dapat ia bertanya tentang musuh
besarnya, ayah dari gadis itu.
Han Han juga berpendapat seperti Lulu. Sudah jelas buktinya bahwa peti-peti yang berisi
jenazah itu diangkut oleh Pek-eng-piauwkiok, dan jelas pula bahwa ketika orang-orang
Siauw-lim-pai minta supaya peti-peti itu dibuka, para pengawal Pek-eng-piauwkiok
rnencegahnya mati-matian. Andaikata bukan orang Siauw-lim Chit-kiam, setidaknya Pekeng-piauwkiok tentu bersekutu untuk rahasiakannya.
"Tidak perlu banyak cakap lagi!" katanya karena hatinya amat kesal kalau ia teringat betapa
ia telah membunuh tujuh orang Siauw-lim-pai yang tidak berdosa dan karenanya Sin Lian,
gadis yang dahulu amat baik terhadap dirinya, yang telah berkali-kali menolongnya, dan
yang dengan rajin sekali memberi petunjuk-petunjuk kepadanya ketika ia mula-mula berlatih
silat, menjadi marah-marah dan membenci kepadanya. Ia memukul lagi dengan tangan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
199
kirinya. Akan tetapi Tan-piauwsu yang sudah siap sedia dan yang melihat gerakan pemuda
aneh itu maklum betapa pemuda itu gerakannya kaku namun memiliki hawa sakti yang
menggiriskan, telah berkelebat cepat, mempergunakan ginkangnya meloncat tinggi dan
melewati tubuh Han Han sambil mengayun tangan menotok pundak pemuda itu. Tan Bu
Kong berjuluk Hoa-san Pek-eng (Garuda Putih dari Hoa-san), dan julukan ini saja
menunjukkan bahwa dia dapat bergerak tangkas dan cepat seperti seekor burung garuda
putih. Kecepatannya yang luar biasa ini membuat Han Han tak dapat menghindarkan
totokan sehingga dua jari tangan piauwsu itu dengan keras menotok pundaknya.
"Dukkk!"
"Aduhhhhh….!" Bukan Han Han yang mengaduh, melainkan Tan-piauwsu sendiri karena
tulang kedua jari tangannya hampir patah ketika ia menotok pundak yang keras dan panas
seperti besi membara! Han Han menjadi marah, lalu memutar tubuhnya sehingga kedua
kakinya bersilang, tangan kanan diayun ke depan mendorong ke arah tubuh Tan-piauwsu
yang baru saja turun ke atas lantai.
"Aihhh….!!" Tan Bu Kong cepat meloncat lagi ke atas.
"Byarrr….!!" Pukulan tangan kanan Han Han mengandung tenaga sakti Yang-kang dan
karena pukulannya dielakkan, maka hawa pukulannya terdorong terus menghantam tiang
balok besar. Separuh dari tiang kayu itu rontok dan mengepulkan asap, sebagian besar
gosong seperti terbakar api!
Tan-piauwsu dan para sutenya yang menyaksikan kehebatan pukulan ini, menahan napas
dan mereka telah bersiap-siap untuk mengeroyok. Namun Han Han tidak mempedulikan
mereka, terus mengejar Tan-piauwsu yang mempergunakan gerakan-gerakan ginkang untuk
menghindarkan diri dari setiap pukulan jarak jauh.
Betapapun cepat gerakan Tan-piauwsu, ternyata gerakan Han Han yang memiliki tingkat
sinkang jauh lebih kuat masih menang cepat! Pemuda ini mulai meloncat-loncat pula
sehingga dalam belasan kali serangan saja, Tan-piauwsu telah kehilangan lubang untuk
mengelak, sehingga ketika ia untuk ke sekian kalinya meloncat ke atas untuk
menghindarkan diri, ia kurang cepat dan pundak kirinya masih terkena sambaran hawa sakti
dari dorongan tangan kiri Han Han. Biarpun tidak tepat kenanya, hanya diserempet saja,
namun tubuh Tan-piauwsu terguling dan dia menggigil karena kedinginan. Namun, piauwsu
yang sudah banyak pengalaman ini masih sempat mencegah sute-sutenya dengan teriakan,
"Sute, mundur semua!" Dan ia sendiri lalu meloncat ke atas karena dorongan tangan kanan
Han Han telah menyusulnya.
"Desssss!"
lantai menjadi berlubang dan mengepulkan asap ketika terkena sambaran hawa yang keluar
dari tangon kanan pemuda sakti itu. Ia mulai merasa penasaran dan ketika ia hendak
menerjang tubuh Tan-piauwsu yang masih melambung itu tiba-tiba berkelebat bayangan
orang yang cepat sekali gerakannya, kemudian tahu-tahu tubuh Tan-piauwsu telah disambar
orang itu sehingga kembali pukulan Han Han luput!
Ternyata yang datang dan sempat menolong Tan-piauwsu dari bahaya maut itu adalah
seorang pemuda tampan sekali, bertubuh tinggi besar dan di belakangnya berdiri seorang
gadis cantik yang sudah mencabut pedang dan sikap keren berdiri memandang Han Han.
Pemuda itu adalah Hoa-san Gi-hiap dan gadis itu bukan lain adalah sumoinya, Hoa-san
Kiam-li. Mereka berdua baru saja pulang dari penyelidikan mereka ke gedung tempat tinggal
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
200
puteri Mancu. Ketika mereka memasuki piauw-kiok, mereka melihat pertandingan itu dan
terkejut sekali mereka menyaksikan suheng mereka terancam bahaya. Hoa-san Gi-hiap
yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada Tan-piauwsu, sekali pandang saja maklum
bahwa pemuda rambut panjang itu memiliki sinking yang luar biasa sekali dan bahwa untuk
menolong suhengnya, jalan satu-satunya hanya menyambar tubuhnya dan membawanya
pergi. Maka ia cepat meloncat, menggunakan ginkangnya dan un tung ia tidak terlambat
sehingga Tan-piauwsu terhindar dari bencana maut.
"Siapakah engkau yang datang membikin kacau di sini?" Hoa-san Gi-hiap menegur setelah
ia menurunkan tubuh Tan Bu Kong yang segera bersila di lantai sambil mengatur napas
untuk melawan hawa dingin yang menerobos masuk melalui pundaknya.
"Hemmm, dan kau sendiri siapa berani berlancang tangan mencampuri urusan orang lain?"
Han Han juga menegur.
Dua orang muda itu berhadapan, saling memandang dengan sinar mata tajam. Mereka
sama tinggi, hanya Han Han kalah gemuk karena dia memang agak kurus, sama tampan
dan usia mereka pun agaknya sebaya. Para murid Hoa-san-pai dan para pengawal
memandang dengan hati tegang. Pemuda rambut riap-riapan itu lihai sekali, akan tetapi
mereka pun maklum bahwa pemuda tokoh Hoa-san-pai itu memiliki ilmu kepandaian yang
jauh melampaui tingkat Tan-piawsu sendiri. Juga Hoa-san Kiam-li amat lihai sehingga
dengan adanya dua orang muda itu, hati mereka menjadi lega.
Han Han dan jago muda Hoa-san-pai itu masih saling berpandangan, tidak menjawab
pertanyaan masing-masing yang sama maksudnya. Akan tetapi pandang mata mereka kini
berubah, tidak lagi penuh penasaran dan kemarahan seperti tadi, melainkan penuh
keheranan, keraguan dan menduga-duga.
"Ya Tuhan….! Bukankah kau….. kau Sie Han? Yang dahulu disebut Han Han, jembel
baik budi yang membagi-bagi roti?" Hoa-san Gi-hiap berseru penuh keheranan.
"Dan kau….., jembel cilik nakal, kau Wan Sin Kiat yang dahulu kepingin menjadi perwira!
Benarkah?" teriak Han Han.
Dua orang muda itu saling pandang, kemudian tertawa bergelak lalu saling tubruk, saling
rangkul sambil tertawa-tawa! Semua orang yang berada di situ memandang dengan mata
terbelalak, mereka tertegun dan hanya dapat mernandang dua orang muda yang tadinya
diharapkan akan bertanding dengan hebat kini malah berpelukan dan tertawa-tawa itu.
"Koko, siapakah dia ini? Jembel cilik nakal? Kawan jembelmu di waktu kecil? Wah, ketika
aku dahulu menjadi jembel cilik, aku tidak punya sahabat baik!" kata Lulu yang menghampiri
mereka.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
201
Han Han masih tertawa-tawa ketika ia melepaskan rangkulannya dari pundak Sin Kiat atau
Hoa-san Gi-hiap itu. Ia lalu menoleh kepada adiknya.
"Lulu, dia ini bernama Wan Sin Kiat, sahabat baikku, seorang jantan tulen! Sin Kiat, ini
Adikku, namanya Lulu. Manis, ya?"
Sin Kiat yang tentu saja tidak biasa dengan sikap tulus wajar seperti itu, menjura kepada
Lulu dengan muka merah. Jantungnya terasa seperti copot tersendal keluar oleh sinar mata
yang menyorot dari sepasang mata yang seperti in tang kembar itu. Ia menahan napas
karena harus ia akui bahwa selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan seorang
dara sejelita ini. Dan dara ini adik Han Han!
Setelah menjura dengan hormat tanpa dibalas oleh Lulu yang hanya memandang kagum
melihat wajah tampan dan sikap halus ramah itu, Sin Kiat menoleh kepada sumoinya yang
juga sudah menghampiri mereka. "Han Han, dia adalah Sumoiku, namanya Lu Soan Li.
Sumoi, inilah Sie Han, sahabat baikku di waktu kecil!"
Han Han masih ingat untuk melakukan penghormatan dengan merangkap kedua tangan di
depan dada, akan tetapi mulutnya langsung menyatakan isi hatinya tanpa disadarinya,
"Nona cantik sekali!"
Lu Soan Li menjadi merah mukanya, semerah udang direbus dan semua orang
mendengarkan sambil menahan napas. Akan tetapi Soan Li tidak marah, hanya tersenyum
dan membalas penghormatan Han Han.
"Sute! Apa artinya ini? Dia…. dia sahabatmu?" Tiba-tiba Tan Bu Kong menegur dan
piauwsu ini sudah dapat berdiri, memandang dengan mata terbelalak penuh rasa heran dan
penasaran.
Sin Kiat teringat akan suhengnya. "Suheng, dia ini Sie Han, sahabatku. Han Han, dia ini
Tan-suheng. Eh, mengapa kau tadi bertempur melawan Suheng? Kau hebat bukan main,
untung aku keburu datang. Kenapakah kau memusuhi Suhengku yang baik hati ini?"
Alis Han Han berkerut. "Ah, dia Suhengmu, Sin Kiat? Hemmm sungguh tidak
menyenangkan sekali. Harap kauingat akan persahabatan kita dan jangan mencampuri
urusan ini. Aku datang hendak membunuh orang jahat ini!"
"Eh, apa artinya ini? Han Han, mengapa begitu?"
"Sute, mengapa engkau begini lemah? Biarpun di waktu kecil sahabat, akan tetapi sekarang
dia musuh besar kita! Dia seorang kejam yang telah membunuh kedua Suhengmu Lie Cit
San dan Ok Sun!"
Sin Kiat dan Soan Li melangkah mundur sampai tiga tindak dengan muka pucat. Apalagi Sin
Kiat, dia terheran-heran dan sejenak menjadi bingung mendengar keterangan yang baginya
seperti halilintar menyambar ini. "Han Han! Benarkah itu? Engkau yang membunuh dua
orang Suhengku yang mengawal kereta?"
Han Han mengangguk. "Benar, Sin Kiat. Dan aku akan membunuh Tan-piauwsu ini pula,
harap engkau jangan mencampurinya!"
Dengan wajah pucat Sin Kiat memandang sahabatnya di waktu kecil itu. "Han Han,
benarkah engkau menjadi begini kejam sekarang? Ceritakan mengapa engkau membunuh
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
202
dua orang Suhengku yang mengawal kereta dan mengapa pula kau hendak membunuh
Tan-suheng. Aku sudah mendengar penuturan para pengawal Pek-eng-piauwkiok, akan
tetapi sepak terjangmu sungguh membuat aku tidak mengerti."
"Sin Kiat, bukan urusanmu. Minggirlah!"
"Tidak! Kalau kau tidak mau memberi penjelasan, lebih baik kau membunuh aku pula, dan
tentu akan kucoba melawanmu sekuatku."
Mereka berpandangan pula. Han Han menghela napas. "Engkau keras kepala seperti dulu!
Aku membunuh dua orang piauwsu itu karena mereka jahat, mereka menyembunyikan
jenazah dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam dalam kereta, melarang orang-orang Siauw-limpai melihat jenazah, sehingga aku menjadi tertipu pula, membantu mereka dan kesalahan
tangan membunuh tujuh murid Siauw-lim-pai yang tidak berdosa. Karena itu aku membunuh
dua orang piauwsu itu dan kini aku akan membunuh pula Tan-piauwsu yang sebagai
pemimpin menjadi biang keladi utama!"
Sin Kiat mengangkat tangannya."Wah, semua adalah kesalahfahaman yang amat besar!
Semua adalah sahabat-sahabat, baik antara Siauw-lim-pai dengan Hoa-san-pai, maupun
antara engkau pribadi dengan kami. Kita semua telah menjadi korban perbuatan terkutuk,
korban tipu muslihat yang dipasang oleh puteri Mancu yang lihai itu.. Tan-suneng, Han Han
tidak dapat dipersalahkan telah membunuh Lie-suheng dan Ok-suheng setelah dia
membantu mereka menghadapi orang-orang Siauw-lim-pai. Han Han, akulah yang
menanggung bahwa kami semua, terutama Tan-suheng, sama sekali tidak bersalah dalam
urusan dua jenazah dalam peti. Mari kita bicara dan dengarlah penuturanku." Sin Kiat
menggandeng tangan Han Han, menariknya duduk menghadapi meja besar di ruangan itu.
Lulu mengikuti kakaknya, dan Soan Li juga mengikuti suhengnya, kedua orang gadis ini tidak
ikut bicara karena maklum betapa tegangnya urusan antara mereka itu.
Setelah mereka mengambil tempat duduk, Wan Sin Kiat menceritakan semua peristiwa
yang terjadi dari semula ketika gadis Mancu, yang ternyata adalah Puteri, Nirahai seperti ia
ketahui dari hasil penyelidikannya hari itu, mendatangi Pek-eng-piauwkiok mengirimkan dua
buah peti dengan biaya mahal namun dengan janji takkan dibuka dan apabila tidak sampai
di tempatnya, Pek-eng-piauwkiok akan dibasmi dan dianggap pemberontak.
"Kami tidak mungkin dapat menolak permintaannya yang luar biasa itu, Sie-enghiong," Tanpiauwsu memotong cerita sutenya, "karena mengingat bahwa dia itu adalah seorang puteri
Kaisar sehingga apabila kami menolak, tentu kami akan dicap menentang pemerintah. Dan
sebagai orang-orang gagah yang memegang teguh janji, tentu saja para pembantuku tidak
mau membuka peti-peti .itu, biarpun dengan taruhan nyawa karena hal itu telah menjadi
tugas mereka. Kalau saja kami tahu bahwa isi dua buah peti adalah jenazah manusia,
apalagi jenazah kedua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam yang terkenal, biar dihukum mati
sekalipun tentu saja kami tidak sudi menerima permintaan puteri iblis itu."
Wan Sin Kiat lalu melanjutkan ceritanya, selain tentang pengawal kereta yang dihadang
oleh anak-anak murid Siauw-lim-pai, juga tentang suhengnya, Teng Lok yang membayangi
Puteri Nirahai dan kemudian terbuntung lengannya. Ia menutup penuturannya dengan katakata, "Nah, kau kini mengerti Han Han, bahwa peristiwa ini sama sekali bukanlah kesalahan
fihak kami, juga terutama sekali bukan kesalahan Tan-piauwsu. Semua ini tentu telah diatur
oleh puteri iblis itu yang sengaja hendak mengadu domba antara fihak Hoa-san-pai dan fihak
Siauw-lim-pai. Siasat kejinya itu pasti akan berhasil baik dan kedua fihak tentu melakukan
pertandingan saling membunuh dalam hutan itu kalau saja tidak muncul engkau yang
mengacaukan semua rencana keji itu, akan tetapi biarpun mengacau, tetap saja merugikan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
203
kedua fihak karena engkau yang masuk pula dalam perangkap telah membunuh tujuh anak
murid Siauw-lim-pai dan dua orang murid Hoa-san-pai. Keadaan ini gawat sekali, Han Han.
Betapapun juga, fihak Siauw-lim-pai tentu tidak mau menerima kematian tujuh orang murid
mereka sebagai tambahan kematian dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Bagi mereka
hal itu merupakan malapetaka hebat dan tentu saja semua kesalahan ditimpakan kepada
Hoa-san-pai karena engkau sendiri pun tentu dianggap seorang dari Hoa-san-pai, atau
setidaknya menjadi pembantu Hoa-san-pai."
Han Han bukan seorang bodoh. Ia segera dapat melihat, mengerti setelah mendengar
penuturan itu. Mudah saja diperkirakan bagaimana jalannya tipu muslihat yang licin itu.
Hatinya merasa menyesal dan kecewa sekali. Nasibnya benar-benar amat buruk. Dia telah
membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang tidak berdosa karena salah sangka.
Kemudian, dalam marahnya oleh kesalahan tangan itu ia membunuh pula dua orang murid
Hoa-san-pai yang ternyata kemudian tidak berdosa pula! Han Han mengerutkan keningnya,
menggeleng kepala dan berkata.
“Aahhh…. kalau begitu semua kesalahan tertimpa di pundakku! Baik Siauw-lim-pai maupun
Hoa-san-pai tentu menyalahkan aku karena aku telah membunuh anak murid mereka. Tanpiauwsu, harap kaumaafkan kekasaranku tadi." Ia bangkit menjura kepada Tan-piauwsu
yang cepat membalas. Piauwsu ini memandang kagum dan menghela napas karena selama
hidupnya baru sekali ini ia bertemu seorang pemuda yang demikian anehnya dan demikian
kuat sinkangnya.
"Engkau juga tidak boleh terlalu disalahkan, Sie-enghiong. Andaikata engkau tidak turun
tangan dan terlibat dalam urusan ini, kurasa antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai tetap saja
akan terjadi pertentangan yang mungkin membawa akibat lebih parah dan lebih berlarut-larut
lagi."
Sejenak keadaan menjadi sunyi, semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing
menghadapi urusan yang amat tidak menyenangkan hati itu. Tiba-tiba terdengar suara Lulu.
"Wah, sialan benar, Koko! Kau membantu rombongan piauwsu ternyata salah tangan
membunuh murid-murid Siauw-lim-pai yang tak berdosa! Kemudian kau membunuh dua
orang piauwsu untuk membela kematian murid-murid Siauw-lim-pai dan ternyata yang
kaubunuh itu juga tidak bersalah! Itulah kalau kau terlalu bernafsu untuk menolong orang,
Koko! Sekarang semua kesalahan ditimpakan kepadamu!"
Semua orang tertegun. Dara remaja yang cantik jelita ini bicaranya amat kasar, jujur dan
tanpa sungkan-sungkan lagi. Akan tetapi Sin Kiat memandang dengan mata kagum.
Semenjak tadi, tiap kali ia memandang Lulu, jantungnya berdebar tidak karuan dan
setiapgerak-gerik Lulu selalu menarik hatinya, bahkan ketika Lulu mencela Han Han, ia
tersenyum dan di dalam hati membenarkan dara ini seribu prosen! Memang demikianlah
kalau cinta kasih telah mencengkeram hati seorang pemuda. Apa pun yang dilakukan,
diucapkan dan dipikir dara yang dicintanya, selalu benar dan menarik hati! Tanpa
disadarinya sendiri, sekali bertemu dengan Lulu, Wan Sin Kiat pendekar muda Hoa-san-pai
ini telah bertekuk lutut, hatinya jungkir-balik dalam cengkeraman asmara.
"Menurut pendapat saya, Saudara Sie tidaklah salah. Dia melakukan pembunuhanpembunuhan itu dalam pertempuran dan dengan dasar hendak berbuat baik. Pembunuhan
atas diri tujuh orang murid Siauw-lim-pai terjadi karena Saudara Sie mengira mereka itu
perampok yang hendak mengganggu rombongan pengawal Pek-eng-piauwkiok. Kemudian,
pembunuhan yang dia lakukan atas diri kedua orang Suheng kami pun didasari pendapat
bahwa mereka berdua itu amat jahat terhadap orang-orang Siauw-lim-pai. Hanya sayang
sekali bahwa Saudara Sie terlalu terburu nafsu, seandainya tidak terburu nafsu dan agak
sabar sambil meneliti keadaan, belum tentu terjadi hal yang amat menyedihkan ini." Ucapan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
204
yang keluar dari mulut Lu Soan Li terdengar sungguh-sungguh, dan pandang matanya yang
ditujukan kepada Han Han penuh simpati dan pembelaan. Hal ini terasa pula oleh Han Han
sehingga ia bangkit menjura kepada nona itu sambil berkata.
"Nona Lu benar-benar amat adil dan aku mengucapkan terima kasih, juga aku harus
mengakui semua kelancanganku yang telah mengakibatkan bencana ini. Biarlah akan
kuhadapi semua akibatnya, bahkan aku akan menghadap Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai
untuk menerima hukuman kalau perlu!"
Jawaban ini memancing keluar sinar mata yang penuh kekaguman dari pandang mata Lu
Soan Li. Seperti halnya suhengnya yang sekaligus tergila-gila kepada Lulu, gadis pendekar
Hoa-san-pai ini pun amat tertarik akan pribadi Han Han yang aneh dan penuh dengan sifatsifat liar ganas namun gagah perkasa.
"Ah, engkau tidak boleh dipersalahkan, Han Han!" Tiba-tiba Wan Sin Kiat berkata. "Yang
bersalah adalah Puteri Nirahai yang seperti iblis betina itu! Aku bersama Sumoi sehari tadi
pergi menyelidik dan mendapat kabar bahwa dia itu adalah puteri selir Kaisar Mancu
bernama Nirahai dan bahwa kini dia sedang pergi ke kota raja; agaknya untuk melaporkan
hasil muslihatnya kepada Kaisar. Terkutuk benar puteri Mancu itu. Dan orang-orang Mancu
memang amat jahat, penjajah laknat yang sepatutnya dibasmi dari muka Bumi ini!" Dalam
kemarahan terhadap penjajah Mancu, Sin Kiat bangkit dari kursinya. Memang semua anak
murid Hoa-san-pai adalah patriot-patriot yang merasa marah melihat tanah air dijajah
bangsa Mancu, sehingga menimbulkan rasa benci kepada bangsa Mancu.
Tiba-tiba semua orang, terutama sekali Sin Kiat sendiri, dikejutkan oleh bentakan Lulu yang
sudah bangkit berdiri pula lalu bertolak pinggang, matanya yang lebar memancarkan
kemarahan, sepasang pipinya menjadi merah sekali, mulutnya yang kecil cemberut,
kepalanya bergerak-gerak sehingga rambut yang dikepang dua itu bergoyang, satu di depan
dada, yang lain di belakang punggung. Manis bukan main dalam pandangan Sin Kiat, akan
tetapi pada saat itu pemuda ini memandang terbelalak dengan kaget mendengar bentakan
Lulu.
"Eihhh…… eihhhhh….., seenaknya saja membuka mulut, ya?!" Telunjuk tangan kirinya
diangkat menuding ke arah hidung Sin Kiat, sedangkan tangan kanannya masih bertolak
pinggang. "Wan Sin Kiat, apakah engkau hendak menyamakan satu bangsa manusia
dengan seladang gandum saja?"
Sin Kiat terbelalak heran. "Apa….. apa….. maksudmu, Nona….?" Baru sekali ini selama
hidupnya, pendekar muda yang biasanya lincah, ramah, tabah dan pandai bicara itu
kehilangan akal dan menjadi gugup.
Lulu memandang tajam dengan sepasang matanya yang lebar dan indah sehingga Sin Kiat
menjadi makin bingung dan gugup, seolah-olah menjadi seorang pesakitan yang
menghadapi jaksa penuntut. "Kalau ada beberapa batang gandum yang busuk, orang
menganggap seladang gandum itu busuk. Akan tetapi kalau ada beberapa orang Mancu
jahat, apakah patut kalau seluruh bangsa Mancu dianggap jahat semua? Kalau begitu,
karena aku mendengar bahwa banyak bangsa Han yang menjadi pengkhianat bangsa,
semua bangsa Han adalah pengkhianat, termasuk engkau! Dan aku tahu bahwa banyak
sekali perampok bangsa Han, maka semua bangsa Han adalah perampok, termasuk
engkau! Ada pula bangsa Han yang jahat sekali maka semua bangsa Han adalah jahat,
terutama engkau! Begitukah pendapatmu??"
Muka Sin Kiat menjadi merah, kemudian pucat, dan dengan gugup ia berkata.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
205
"Tentu saja tidak, dan…. eh, itu lain lagi…. akan tetapi…. ahhh, mengapa kau marah-marah
karena aku mencela bangsa Mancu yang menjadi musuh kita, Nona?"
"Tentu saja marah! Kau mengatakan aku jahat dan patut dibasmi dari muka bumi, dan kau
masih bertanya mengapa aku marah? Hayo, kau basmilah aku! Kaukira aku takut
kepadamu!!"
Han Han hanya memandang sambil tersenyum. Rasakan kau, Sin Kiat, pikirnya dengan hati
geli. Rasakan kau menghadapi adikku yang liar ini. Ketemu tanding kau!
"Eh, kapan aku mengatakan demikian, Nona? Bagaimana ini, Han Han?"
"Tak usah mencari pelindung! Dan seorang laki-laki tidak patut plin-plan, bicara menclamencle! Bukankah kau tadi mengatakan bahwa semua bangsa Mancu jahat dan patut
dibasmi dari muka bumi ini?"
"Benar demikian, akan tetapi tidak menyangkut dirimu, Nona….”
"Kau bilang semua bangsa Mancu dan kini mengatakan tidak menyangkut diriku? Aku
seorang gadis Mancu, tahukah engkau??"
“Aihhh….." Sin Kiat terkejut sekali dan semua orang yang berada di situ pun terkejut, cepat
bangkit berdiri dalam keadaan siap siaga. Kalau gadis ini seorang Mancu, berarti bahwa
rahasia Pek-eng-piauwkiok sebagai anggauta pejuang menjadi bocor!
"Hayo, siapa yang menganggap aku jahat dan patut dibasmi? Maju! Aku tidak takut!!"
bentak Lulu dengan mata dilebarkan dan sikap mengancam. Lu Soan Li yang sejak tadi
memperhatikan Han Han secara diam-diam dan melihat betapa pemuda rambut terurai itu
tersenyum-senyum geli, dapat lebih dulu menguasai hatinya. Ia melangkah maju dan
memegang pundak Lulu sambil berkata, "Aihhh, Adik Lulu yang baik, siapa sih yang mau
memusuhimu? Suheng telah salah bicara, apakah kau begini kejam untuk menekannya?
Lihat, dia sudah amat menyesal dan kebingungan!"
Dengan muka merah Wan Sin Kiat lalu menjura. "Harap Nona Sie suka memaafkan mulutku
yang lancang."
Lulu cemberut dan mengerling ke arah pemuda tinggi besar itu. "Habis, kau terlalu
menghina sih….!”
Han Han tertawa lalu berkata nyaring setelah menyaksikan ketegangan membayang di
wajah semua orang yang hadir, "Tak perlu disembunyikan, memang Adikku ini adalah
seorang gadis Mancu, akan tetapi sekarang telah menjadi Adikku, she Sie dan namanya
tetap Lulu. Hendaknya dikethui bahwa semenjak kecil, Adikku ini hidup sebatangkara dan
menderita karena Ayah Bundanya dan seluruh keluarganya dibasmi habis oleh para
pejuang."
"Ahhhhh…..!" seruan ini keluar dari mulut Sin Kiat.
"Apa ah-ah-uh-uh-uh sejak tadi? Biar keluargaku dibunuh habis oleh orang Han, aku tidak
begitu tolol untuk menganggap semua orang Han musuh-musuhku yang harus kubasmi
habis dari muka bumi!"
Wajah Sin Kiat makin merah dan ia benar-benar terpukul. Seolah-olah dibuka matanya
betapa kelirunya mendendam kepada bangsa lain hanya karena terjadi perang, karena
sesungguhnya tidak semua orang dari sesuatu bangsa itu jahat semua atau baik semua.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
206
"Aku telah mengaku salah, harap Nona maafkan dan mau hukum apa pun juga aku siap
menerimanya."
Han Han tersenyum lebar. "Lulu, dia sudah mengaku salah dan minta dihukum. Hayo, kau
hukumlah dia kalau kau mau!"
Aneh sekali, digoda kakaknya begini, Lulu yang biasanya lincah dan nakal, kini hanya
cemberut, kemudian melengos dengan kedua pipinya merah. Semua orang merasa lega
bahwa tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akan tetapi tetap saja masih ada rasa
tegang di antara mereka setelah mendengar bahwa dara jelita itu adalah seorang gadis
Mancu. Mereka semua telah menjadi korban kekejian seorang puteri Mancu, kini di situ
terdapat seorang gadis Mancu, bagaimana mereka tidak akan menjadi gelisah dan tidak
enak hati?
"Keadaan menyedihkan seperti yang kini timbul dalam hati Sin Kiat dan Lulu adalah akibat
perang yang terkutuk!" demikian Han Han berkata setelah semua orang duduk kembali.
"Perang yang hanya dicetuskan oleh beberapa gelintir orang yang berambisi, yang
memperebutkan kekuasaan dan kedudukan, membakar hati semua rakyat, menimbutkan
kekejaman-kekejaman, menimbulkan dendam, menimbulkan kebencian antara bangsa yang
sesungguhnya adalah sesama manusia. Perang menjadikan keluargaku terbasmi orangorang Mancu dan sebaliknya menjadikan keluarga Adikku Lulu terbasmi oleh orang-orang
Han. Yang suka akan perang hanyalah mereka yang rnenginginkan kedudukan tinggi dan
kemuliaan di kerajaan. Dengan dalih membela nusa bangsa, mereka ini mempergunakan
kekuatan rakyat yang sebetulnya membenci perang karena perang hanya mendatangkan
malapetaka bagi rakyat jelata, sebaliknya mendatangkan kemuliaan duniawi bagi para
penggerak perang yang mendapat kemenangan! Rakyat Mancu ditipu oleh para pimpinan
mereka, dijadikan bala tentara yang setiap saat kehilangan nyawanya. Sebaliknya, rakyat
pribumi ditipu oleh pimpinan
mereka, dijadikan pula tentara yang mengorbankan nyawa. Dalihnya berlainan, namun
selalu yang muluk-muluk memabukkan dan membodohi rakyat, padahal semua itu hanya
ditujukan kepada pamrih yang satu, yaitu kemuliaan dan kemenangan bagi para pimpinan!"
Mendengar ucapan penuh nafsu dari pemuda aneh yang rambutnya terurai kacau itu, Tanpiauwsu sendiri melongo. Ucapan itu mengandung penuh kepahitan, namun memang pada
kenyataannya demikianlah. Dan pendirian seperti yang diucapkan pemuda ini bahkan
menjadi pendirian pula dari banyak partai persilatan termasuk Hoa-san-pai sendiri ketika
terjadi perang saudara. Akan tetapi hanya dalam perang saudara saja para tokoh kang-ouw
tidak suka mencampurkan diri, diperalat oleh mereka yang memperebutkan kedudukan
dengan saling bunuh antara sebangsa sendiri! Akan tetapi sekarang, yang menjajah negara
adalah bangsa Mancu sehingga pendapat Han Han itu lebih luas lagi, tidak lagi mengenal
bangsa melainkan berlaku untuk seluruh manusia sedunia! Ia maklum bahwa tentu bocah itu
terpengaruh oleh kasih sayangnya terhadap adik angkatnya, gadis Mancu itu sehingga
pertalian persaudaraan antara mereka melenyapkan rasa benci kepada bangsa Mancu,
sungguhpun keluarganya sendiri terbasmi oleh orang-orang Manchu.
"Tepat sekali, Koko!" Lulu bersorak girang. "Aku akan senang sekali melihat para kaisar
yang gendut karena banyak makan dan terlalu senang hidupnya, berikut semua pembesarpembesar tinggi, mengadakan perang sendiri, tidak membawa-bawa rakyat jelata! Biarkan
mereka itu berperang, kaisar lawan kaisar, menteri lawan menteri, dan pembesar lawan
pembesar. Tentu badut-badut itu akan terkencing-kencing ketakutan menghadapi
ancaman maut!"
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
207
.Kembali semua orang terheran. Tidak ada yang mau membantah pendapat dua orang
muda yang aneh itu karena mereka tidak ingin timbulnya satu kesalahfahaman lagi. Bahkan
Tan-piauwsu lalu membelokkan percakapan.
"Yang terpenting sekarang kita harus menghadapi kenyataan. Tak dapat disangkal lagi
bahwa fihak Siauw-lim-pai tentu akan memusuhi Sie-enghiong, juga fihak pimpinan. Hoasan-pai akan salah faham terhadap Sie-enghiong. Oleh karena itu, sara harap Ji-wi suka
sementara tinggal di sini menanti datangnya mereka itu. Saya yakin bahwa orang-orang
Siauw-lim-pai tentu akan datang ke sini, mengingat bahwa peristiwa ini timbul dari Pek-engpiauwkiok yang membawa dua peti jenazah. Kalau Sie-enghiong berada di sini, ada kami
yang akan menjadi saksi dan yang akan menerangkan duduknya perkara sebenarnya
sehingga semua fihak mengerti bahwa yang menjadi biang keladinya adalah puteri Mancu
itu."
Han Han mengerutkan keningnya. "Akan tetapi, kami tidak suka mengganggu Cu-wi
sekalian. Lebih baik aku dan Adikku pergi, karena aku pun ingin sekali-kali bertemu dengan
puteri Mancu yang demikian lihainya, dan tentang kemarahan fihak Siauw-lim-pai maupun
pimpinan Hoa-san-pai, biarlah kami sendiri yang menanggungnya."
Wan Sin Kiat memegang tangan sahabatnya itu. "Aih, Han Han. Mengapa kau banyak
sungkan? Kita berada di antara sahabat sendiri. Aku ingin sekali bercakap-cakap denganmu.
Tinggallah di sini barang sepekan. Apakah engkau sudah melupakan sahabatmu ini?
Sahabat senasib sependeritaan di waktu kecil? Aku ingin mendengar semua
pengalamanmu, juga ingin menceritakan pengalaman-pengalamanku. Demi persahabatan
kita, kuharap kau dan Nona Sie sudi untuk tinggal beberapa hari lamanya di sini."
Berat juga rasanya hati Han Han untuk menolak. Apalagi ketika Lu Soan Li merangkul Lulu
dan berkata, "Adik yang manis, kuharap kau tidak menolak undangan kami. Aku ingin sekali
belajar satu dua pukulan darimu yang lihai agar bertambah pengertianku!"
"Aih, Cici. Engkau merendahkan diri. Sebagai tokoh Hoa-san-pai, agaknya aku yang harus
berguru kepadamu!" Dua orang gadis itu bersendau-gurau, keduanya sama muda remaja,
sama cantik jelita. Han Han merasa kasihan kepada adiknya dan tidak tega untuk
memaksanya pergi sekarang juga. Sudah terlalu lama Lulu tinggal menyendiri di pulau,
terlalu lama jauh dari pergaulan mesra. Kini bertemu dengan gadis Hoa-san-pai itu, timbul
kegembiraan hati Lulu dan sebaiknya kalau mereka tinggal di situ beberapa lamanya. Juga,
ia tidak dapat membantah bahwa ia merasa am at suka kepada sahabat lamanya yang kini
telah menjadi seorang pemuda tampan yang gagah perkasa itu, di samping merasa suka
kepada Lu Soan Li yang cantik manis, pendiam dan memiliki sifat-sifat gagah dalam gerakgeriknya.
Demikianlah, Han Han dan Lulu tinggal di Pek-eng-piauwkiok, dijamu dan diperlakukan
dengan manis dan hormat oleh Tan-piauwsu dan para anah buahnya. Mereka telah
melupakan rasa dendam bahwa pemuda ini telah membunuh Lie Cit San dan Ok Sun. Kini
mereka maklum bahwa pemuda ini melakukan hal itu tanpa dasar membenci Hoa-san-pai.
Bahkan tadinya pemuda itu membantu Lie Cit San dan Ok Sun menghadapi orang-orang
Siauw-lim-pai sehingga membunuh tujuh orang murid Siauw-lim-pai. Kemudian pemuda itu
membunuh dua orang tokoh Hoa-san-pai itu hanya karena menganggap mereka ini jahat.
Semua terjadi karena kesalahfahaman, terjadi sebagai akibat daripada tipu muslihat keji
yang diatur oleh Puteri Nirahai yang selain lihai juga amat cerdik itu.
Lulu benar-benar mendapatkan kegembiraan di tempat ini. Dia merupakan sahabat yang
amat cocok dengan Lu Soan Li, bahkan ia bersikap manis terhadap Wan Sin Kiat. Juga Han
Han merasa suka kepada Lu Soan Li yang manis budi dan pendiam. Empat orang muda ini
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
208
setiap hari berkumpul, bercakap-cakap dan Han Han mendengarkan penuturan Wan Sin Kiat
dengan hati tertarik.
Ternyata dari penuturan tokoh muda Hoa-san-pai itu bahwa tidak lama setelah berpisah dari
Han Han, Wan Sin Kiat bertemu dengan seorang tosu aneh. Tosu ini sesungguhnya adalah
seorang tokoh Hoa-san-pai, akan tetapi berbeda dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang lain,
tokoh ini adalah seorang tosu perantau yang selain wataknya aneh, juga memiliki ilmu
kepandaian yang amat tinggi karena ilmu-ilmunya dari Hoa-san-pai mendapat kemajuan
pesat setelah ia banyak merantau dan menyempurnakan ilmu-ilmunya dengan
membandirigkannya dengan ilmu dari lain golongan. Tosu ini berjuluk Im-yang Seng-cu dan
selain Sin Kiat, dia juga mengambil seorang murid wanita, yaitu Lu Soan Li yang hidupnya
juga sudah sebatangkara, ditinggal mati keluarganya dalam sebuah bencana banjir Sungai
Huang-ho.
Berkat gemblengan suhu mereka yang memiliki kesaktian melebihi tokoh-tokoh Hoa-san-pai
lainnya, Sin Kiat dan Soan Li menjadi jago muda yang lihai sekali, sehingga biarpun menurut
tingkat mereka itu terhiturtg masih sute dan sumoi dari Tan-piauwsu, akan tetapi dalam ilmu
silat, mereka jauh melampaui tingkat kepandaian sang suheng ini. Sudah banyak mereka
melakukan perbuatan-perbuatan menggemparkan dunia kang-ouw dengan separk terjang
mereka sebagai pendekar-pendekar muda yang perkasa, bahkan semenjak ada gerakan
perjuangan melawan pemerintah penjajah Mancu, kedua orang muda ini sudah banyak
berjasa. Tentu saja ketika menceritakan pengalamannya Sin Kiat tidak menceritakan tentang
perjuangan ini, khawatir kalau-kalau akan membikin hati Lulu menjadi tidak enak. Apalagi
karena ia mengenal pendirian Han Han yang agaknya tidak ingin melibatkan dirinya dalam
urusan perang. Ia hanya menceritakan tentang pertemuannya dengan Im-yang Seng-cu,
kemudian betapa bersama sumoinya dia digembleng oleh gurunya sambil merantau sampai
jauh ke selatan dan ke barat. Diceritakannya pula pertandingan-pertandingan melawan kaum
penjahat dalam usaha mereka membasmi kejahatan sehingga Sin Kiat mendapat julukan
Hoa-san Gi-hiap dan sumoinya dijuluki Hoa-san Kiam-li. Nama mereka terkenal di dunia
kang-ouw sebagai tokoh-tokoh muda Hoa-san-pai yang mengagumkan.
Han Han dan Lulu mendengarkan dengan amat tertarik. Apalagi Lulu. Dia mendengarkan
penuturan pemuda tampan tinggi besar itu seperti mendengar dongeng yang amat menarik
hati. Ia seolah-olah berubah menjadi arca, pandang matanya melekat dan bergantung
kepada bibir Sin Kiat yang bergerak-gerak ketika bercerita. Baru setelah selesai cerita itu,
Lulu menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak lalu berkata.
"Wahhh kalian hebat sekali…! Kalian ini pendekar-pendekar muda yang amat
mengagumkan….!" Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sin Kiat, Lulu
melihat betapa pandang mata pemuda itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri seolah-olah
ucapan Lulu tadi mendatangkan rasa bahagia yang luar biasa. Tentu saja Lulu tidak
mengerti atau dapat menduga akan isi hati Sin Kiat, hanya dia pada saat itu merasa betapa
wajah pemuda ini sungguh tampan dan gagah. Entah mengapa, jantungnya berdebar dan
pipinya tiba-tiba terasa panas. Untuk menghindarkan perasaan yang tidak dikenalnya ini,
Lulu berpaling kepada Soan Li dan berkata, "Enci Soan Li, engkau hebat sekali, lain waktu
kau harus memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku!"
Soan Li merangkulnya dan mengerling kepada Han Han. "Adik Lulu, engkau seperti mutiara
terpendam, tidak dikenal akan tetapi dalam hal kepandaian, agaknya aku boleh berguru
kepadamu!"
"Wah, Adikku dan aku ini sama sekali tidak memiliki kepandaian, mana dapat dibandingkan
dengan Sin Kiat dan kau, Nona Lu?" Han Han berkata sambil tersenyum. Gadis itu
memandangnya dan sejenak pandang mata mereka bertemu, bertaut dan seolah-olah ada
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
209
sesuatu yang membuat mereka sukar sekali untuk melepaskan pandang mata mereka dari
pertemuan yang melekat itu.
Lulu bertepuk tangan. "Hi-hik, dari tadi tiada hentinya kalian saling memandang saja. Ada
apakah dengan Enci Soan Li, Koko? Dan mengapa kau mengerling saja kepada Kakakku,
Enci Soan Li?"
"Ihhh, genit kau, Adik Lulu!" Soan Li menjadi merah sekali mukanya dan ia mencubit paha
Lulu sehingga gadis ini menjerit.
Han Han juga merasa betapa mukanya menjadi panas, maka ia tertawa dan memandang,
"Lulu, kita mempunyai mata untuk memandang! Apa salahnya dipakai memandang sesuatu
yang indah dan menarik?"
Ucapan Han Han yang terus terang ini membuat Soan Li menjadi makin malu dan jengah
lagi. Dia sendiri diam-diam menjadi amat heran akan diri sendiri. Sudah banyak kali terjadi,
ia menjadi marah-marah kalau mendengar ada laki-laki mengeluarkan ucapan-ucapan
tentang dirinya, memuji-muji kecantikannya dan sebagainya. Bahkan ada laki-laki kurang
ajar yang dibunuhnya hanya karena mengeluarkan ucapan-ucapan yang bermaksud kotor
dan kurang ajar. Kini, mendengar ucapan-ucapan Han Han yang memuji kecantikannya
dengan blak-blakan di depan banyak orang ketika mereka diperkenalkan, kini secara terangterangan pula dalam menjawab godaan Lulu, mengapa dia tidak marah malah menjadi…..
berdebar jantungnya, berdebar karena girang? Akan tetapi pemuda ini lain daripada laki-laki
lain, dia membela perasaannya sendiri yang tidak wajar. Pemuda ini secara terang-terangan
menyatakan isi hatinya, tanpa tedeng aling-aling, akan tetapi juga bersih daripada niat-niat
kurang ajar, hal ini dapat dilihat dari pancaran pandang matanya yang wajar dan biasa, sinar
mata kagum yang tidak ditutup-tutupi, seperti kewajaran sinar mata orang mengagumi
bintang di langit atau mawar di taman.
Sin Kiat hanya tersenyum saja melihat sumoinya digoda Lulu, kemudian ia berkata kepada
Han Han, "Han Han, sekarang tiba giliranmu untuk bercerita kepada kami. Tentu
pengalamanmu amat menarik hati, terutama tentang pertemuan dengan Adikmu, dan
tentang Gurumu yang tentu amat sakti, melihat akan kelihaianmu."
"Nanti dulu, Sin Kiat. Aku teringat akan ketekadan hatimu dahulu. Bukankah kau dahulu
pernah menyatakan kepadaku bahwa engkau ingin menjadi seorang perwira Mancu?
Kenapa sekarang engkau sebaliknya malah menjadi orang yang emusuhi perwira-perwira
Mancu?"
Sin Kiat menarik napas panjang. "Ada sebabnya memang. Ingatkah engkau dahulu betapa
kau telah membelaku ketika aku dipukuli oleh bangsawan muda Ouw-yang Seng murid
datuk hitam Kang-thouw-kwi itu? Nah, semenjak itu, aku berbalik haluan, apalagi setelah
bertemu dengan Suhu, menerima pelajaran dan juga mendengarkan wejanganwejangannya. Han Han, sekarang ceritakanlah kepadaku, bagaimana engkau bertemu
dengan Nona Lulu?"
"Wah, aku menjadi kikuk sekali kausebut Nona! Usiamu tentu tidak banyak selisihnya
dengan Han-koko, maka aku akan menyebutmu Wan-koko dan kau pun menyebut aku Adik
seperti biasa Koko menyebutku. Kalau tidak mau, aku selamanya tidak akan mau bicara
dengan.mu!" Tiba-tiba Lulu berkata kepada Sin Kiat. Pemuda ini menjadi merah mukanya
dan hatinya menjadi girang bukan main.
"Baiklah, Lulu-moi, dan terima kasih atas kebaikanmu," Sin Kiat berdiri dan menjura.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
210
"Wan, kebetulan sekali usul Lulu ini. Aku pun hendak mencontohnya dan kuminta Nona Lu
Soan Li juga jangan bersungkan-sungkan lagi, mulai sekarang mau tak mau kusebut Moimoi dan harap suka menyebut Kakak kepadaku!”
Jantung di dalam dada Soan Li berdebar. Dia merasa makin suka kepada kakak beradik
yang baru dikenalnya ini. Mereka berdua itu begitu jujur, begitu polos, dan juga ia dapat
menduga bahwa mereka itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. "Terima kasih
atas kebaikanmu, Han-twako."
"Sebetulnya tisak ada yang banyak dapat diceritakan tentang kami berdua," kata Han Han.
"Engkau sudah tahu bahwa aku dahulu di waktu kecilku adalah seorang bocah jembel
seperti engkau, Sin Kiat. Dan aku bertemu dengan adikku Lulu ini yang juga seorang bocah
jembel setelah hidup terlunta-lunta karena keuarganya terbasmi semua. Nah, kami saling
bertemu dan mengangkat saudara sampai sekarang kami menjadi kakak beradik yang tak
pernah berpisahan."
"Han-twako, belehkah aku mengetahui, siapakah Suhumu yang mulia?" tiba-tiba Soan Li
bertanya, mendahului suhengnya, karena ia ingin sekali mendengar siapa adanya guru dari
pemuda yang amat mengagumkan hatinya ini. Han Han dan Lulu saling berpandangan
sejenak. Mereka berdua selama ini berlatih di Pulau Es, berlatih tanpa guru, hanya
mempelajari ilmu dari kitab-kitab dan berlatih secara ngawur. Ataukah biruang itu dapat
dianggap menjadi guru mereka? Ah, tidak biruang itu hanya teman berlatih. Guru mereka
adalah penghuni-penghuni Pulau Es, pemilik-pemilik istana yang meninggalkan kitab-kitab
pelajaran, akan tetapi siapakah dia itu? Han Han memiliki pikiran yang tidak lumrah, dapat
berpikir cepat melebihi manusia biasa, dapat mengambil keputusan yang amat tepat dalam
sedetik dua detik pemikiran saja. Ia tahu bahwa Sin Kiat dan Soan Li adalah murid-murid
Hoa-san-pai yang menentang Mancu, dan dia tidak boleh sekali-kali memperlihatkan sikap
bermusuh atau mengaku sebagai fihak yang bermusuhan. Dia telah belajar ilmu dari Lauwpangcu, kemudian mencuri ilmu dari Kang-thouw-kwi Gak Liat. Akan tetapi dua orang ini
tidak boleh dia sebut-sebut, karena menyebut nama Lauw-pangcu berarti menyinggung hati
Lulu, menyebut Kang-thouw-wi Gak Liat sebagai guru lebih tidak mungkin lagi karena Setan
Botak itu adalah kaki tangan Mancu. Dan dia tidak suka berbohong maka ia mendapat jalan
tengah yang baik.
"Guruku adalah Suhu Siangkoan Lee..."
"Ahhh….!" Sin Kiat dan Soan Li benar-benar terkejut mendengar ini. "Ma-bin Lo-mo…?”
Han Han memandang wajah Sin Kiat. "Benar, mengapa? Apakah kau mengenal Suhu? Dia
juga seorang yang amat setia kepada Kerajaan Beng-tiauw, bahkan kalau tidak salah dia
bekas menteri….."
"Tentu saja kami telah mendengar namanya. Ah, Ma-bm Lo-mo, seorang di antara datukdatuk hitam yang amat sakti. Pantas saja kau begini lihai, Han Han. Kiranya engkau murid
tokoh besar itu!"
Lulu yang mendengarkan ucapan Han Han itu pun diam saja, hanya memandang dengan
sinar mata nakal. Ia menganggap bahwa kakaknya ini tidak terlalu berbohong, karena
memang kakaknya menjadi murid banyak orang sakti, di antaranya Ma-bn Lo-mo Siangkoan
Lee yang hampir membunuhnya, bahkan yang telah berusaha membakar mereka berdua di
perahu. Ia tidak mengerti mengapa kakaknya seolah-olah tidak mau bercerita terus terang
bahwa mereka berdua telah belajar ilmu di Pulau Es.
Biarpun Lulu dan Han Han baru tinggal di Pek-eng-piauwkiok selama beberapa hari, namun
hubungan empat orang muda ini menjadi amat akrab. Apalagi karena di situ ada Lulu yang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
211
wataknya lincah jenaka, yang nakal dan tak pernah malu-malu, jujur dan tidak mengenal
palsu, sebentar saja rasa jengah yang membatasi pergaulan mereka menjadi lenyap. Berkat
kelincahan Lulu, Lu Soan Li menjadi tidak malu-malu lagi terhadap Han Han, juga Sin Kiat
makin tertarik kepada gadis Mancu yang benar-benar telah menjatuhkan hatinya itu.
Sepekan kemudian, ketika Lulu sedang mengumpulkan bunga-bunga yang dipetiknya
dalam taman bunga tak jauh dari gedung Pek-eng-piauwkiok, ia dikejutkan oleh suara Sin
Kiat, "Wah, Lulu-moi, setiap pagi kau tentu berada di sini memetik bunga!"
Dara jelita itu menoleh dan tersenyum. Bagi Sin Kiat, senyumnya amat manis dan hangat,
sehangat matahari di pagi hari itu. Taman bunga itu menjadi makin cerah dan makin jernih
bagi Sin Kiat.
"Tentu saja, Twako. Bertahun-tahun aku tidak berkesempatan melihat bunga, sekarang ada
begini banyak bunga indiah di sini. Dahulu aku hanya melihat bunga-bunga es melulu…."
Tiba-tiba gadis itu teringat akan larangan kakaknya untuk bercerita kepada siapa juga
tentang Putau Es, maka ia terikejut dan menghentikan kata-katanya.
Akan tetapi Sin Kiat telah mendengar kalimat terakhir itu dan dia mendekat.
"Bunga es? Apa maksudmu, Moi-moi?"
"Eh….. oh….. tidak apa-apa….." Lulu yang biasanya. amat jujur polos dan tidak biasa
membohong itu menjadi gagap. Ia tidak senang sekali untuk menyembunyikan atau
merahasiakan sesuatu, karena untuk ini, terpaksa ia harus pula membohong, padahal
ketidakwajaran ini terasa amat asing dan amat sukar baginya.
Sin Kiat memandang tajam, hatinya merasa tidak enak, bahkan sakit karena ia mengerti
bahwa dara yang dikaguminya ini menyembunyikan sesuatu dari padanya dan hal ini
menimbulkan kesan bahwa Lulu tidak menaruh kepercayaan penuh kepadanya! Dengan
nada sedih ia lalu berkata, tanpa disadarinya ia memegang kedua tangan Lulu yang penuh
bunga.
"Moi-moi, mengapa engkau tidak percay a kepadaku? Ahhh, sungguh mati, aku tidak ingin
memaksamu untuk membuka sesuatu yang kau rahasiakan, akan tetapi….. ah,
ketidakpercayaanmu ini menyakitkan hatiku, Moi-moi. Tidak tahukah engkau, tidak
merasakah engkau betapa aku…… aku cinta kepadamu, Lulu?"
Lulu tersenyum dan dengan gerakan halus menarik tangannya sehingga terlepas dari
genggaman jari tangan pemuda itu, yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
"Aku merasakan itu dan aku tahu, Twako. Akan tetapi, tidak kelirukah cintamu itu
kaujatuhkan atas diriku? Ingat, aku seorang gadis Mancu, musuhmu!"
Sin Kiat memandang penuh keharuan. "Moi-moi, tak dapatkah kau memaafkan kesalahan
ucapanku ketika pertama kali kita bertemu? Tidak, aku tidak memusuhi seluruh bangsa
Mancu, dan aku hanya akan menentang yang jahat, siapapun dia dan bangsa apa pun dia.
Engkau bagiku bukan bangsa apa-apa, engkau adalah Lulu, satu-satunya gadis yang pernah
dan akan menjadi pujaan hatiku, menjadi satu-satunya wanita yang kucinta!"
Tiba-tiba Lulu tertawa. Hati Sin Kiat makin sakit, mengira bahwa dara yang dicintanya ini
mentertawakan pernyataan cinta kasihnya! Tidak ada hal yang lebih menyakitkan hati bagi
seorang pria daripada cinta kasihnya ditertawai oleh wanita yang dicintanya.
"Hi-hi-hik, alangkah lucunya!"
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
212
"Apa yang lucu, Moi-moi? Mengapa engkau tertawa?" Sin Kiat bertanya, mukanya menjadi
agak pucat.
"Habis, lucu sekali sih! Engkau dan Sumoimu keduanya telah jatuh cinta kepada aku dan
Kakakku, bukankah ini lucu sekali namanya?"
Sin Kiat memandang wajah jelita itu dengan kaget. "Apa? Sumoi mencinta Kakakmu? Ah,
bagaimana engkau bisa tahu?"
"Apa sih sukarnya mengetahui itu? Aku tahu bahwa Sumoimu mencinta Han-koko dan
bahwa engkau mencintaku. Mau bukti? Mari, kau ikut denganku!" Lulu menancapkan bungabunga yang dipetiknya di atas tanah, kemudian ia memegang tangan Sin Kiat dan menarik
pemuda itu, diajak pergi ke sebelah selatan taman bunga, di mana terdapat pondok yang
bercat kuning dan disebut pondok Cahaya Matahari karena pondok ini menghadap ke timur
dan setiap pagi menerima sinar matahari sepenuhnya. Memang pondok ini dipergunakan
untuk mandi cahaya matahari oleh keluarga Tan-piauwsu.
Sin Kiat menjadi tegang dan juga girang. Ia merasa betapa kulit telapak tangan yang halus
dan hangat menggandengnya. Akan tetapi ia pun gelisah kalau mengingat bahwa perbuatan
dara ini menggandengnya terdorong oleh sifatnya yang polos dan kekanak-kanakan, bukan
sekali-kali terdorong oleh cinta kasih seperti yang ia harapkan.
Setelah mereka tiba di pondok, Lulu menaruh telunjuknya di depan mulut sebagai isyarat
agar pemuda itu tidak mengeluarkan suara berisik, kemudian berendap-indap ia mengajak
Sin Kiat measuki pondok dari pintu belakang, terus menembus sampai ke ruangan depan
pondok. Lulu berhenti dan memandang Sin Kiat dengan sinar mata penuh kebanggaan dan
kemenangan. Tangan kanannya bertolak pinggang, sedangkan tangan kiri menuding ke
sebelah luar di mana tampak Han Han duduk di atas anak tangga pondok itu sambil
bercakap-cakap dengan Soan Li dalam suasana mesra dan ramah.
"Nah, betul tidak keteranganku? Itu mereka mengobrol dengan asyiknya! Sumoimu
mencinta Kakakku dan setiap pagi mereka berdua tentu duduk dan mengobrbl mesra di situ.
Semenjak semula sudah kuduga, dalam pertemuan pertama mereka sudah saling lirak-lirik,
hi-hik!"
"Wah, ini sama sekali tidak boleh….!" kata Sin Kiat dengan alis dikerutkan.
"Apa kau bilang? Apanya dan mengapa tidak boleh? Jangan main-main kau, ya? Apa kau
hendak menghina Kakakku? Menganggap Kakakku kurang berharga untuk Sumoimu?" Kini
Lulu menghadapi Sin Kiat dengan mata terbelalak marah, kedua tangan di pinggang,
sikapnya menantang.
"Bukan…., bukan begitu, akan tetapi Sumoi….. dia…. dia telah ditunangkan oleh Suhu….
dia sudah mempunyai calon suami….."
Kini Lulu yang terbelalak kaget. "Apa kau bilang? Dan engkau calon suaminya?"
"Bukan, bukan! Calon suaminya adalah seorang sastrawan…."
"Taihiap….! Para pimpinan Hoa-san-pai telah tiba, Taihiap diminta untuk menyambut….!"
Seruan ini keluar dari mulut seorang anak buah Pek-eng-piauwkiok yang datang berlari-lari.
Ia berteriak-teriak sehingga tidak saja Sin Kiat dan Lulu yang menengok kaget dan
percakapan mereka terputus, juga Han Han dan Soan Li menjadi kaget danmenengok, lalu
menghampiri mereka.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
213
Sepintas lalu Sin Kiat melihat betapa wajah sumoinya berseri-seri, agak kemerahan
sehingga hatinya makin tidak enak. Dia akan merasa bahagia sekali kalau sumoinya dapat
menjadi calon isteri Han Han, andaikata dia belum bertunangan. Akan tetapi sumoinya telah
ditunangkan kepada orang lain! Berbeda dengan wajah Soan Li, Lulu maupun Sin Kiat
melihat betapa wajah Han Han biasa saja.
Semua urusan mengenai sumoinya itu segera terhapus dari ingatan Sin Kiat karena pada
saat itu ada urusan yang lebih gawat, yaitu dengan datangnya para pimpinan Hoa-san-pai
yang tentu akan timbul persoalan yang amat gawat dengan Han Han.
"Han Han, tokoh-tokoh Hoa-san-pai telah tiba, sebaiknya engkau bersamaku pergi
menyambut mereka agar persoalan ini lekas beres."
Han Han mengangguk, sikapnya tenang sekali, berbeda dengan Sin Kiat dan sumoinya
yang mengerutkan kening dan kelihatan gelisah. Han Han sudah membunuh dua orang
murid Hoa-san-pai, apa pun alasannya, tentu akan membikin hati para pimpinan Hoa-sanpai menjadi tidak puas. Sungguhpun Sin Kiat dan Soan Li merupakan dua orang tokoh Hoasan-pai, namun mereka tidak banyak mengenal para pimpinan Hoa-san-pai karena mereka
itu digembleng oleh guru mereka, Im-yang Seng-cu, dalam perantauan dan hanya satu kali
mereka disuruh guru mereka pergi menghadap ketua Hoa-san-pai di Puncak Hoa-san.
Maka, hanya ketua Hoa-san-pai saja yang mereka kenal, sedangkan para susiok (paman
guru) lainnya, mereka tidak kenal.
Ketika empat orang muda itu tiba di ruangan dalam yang lebar, di situ Tan-piauwsu dan
para sutenya telah menghadap tiga orang tosu tua dengan sikap hormat. Sin Kiat dan Soan
Li sebagai murid-murid Hoa-san-pai, cepat melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di
depan tiga orang tosu itu yang duduk berjajar di atas bangku-bangku kehormatan.
"Suhu dan Ji-wi Supek (Dua Uwa Guru), ini adalah Sute Wan Sin Kiat dan Sumoi Lu Soan
Li." Tan-piauwsu memperkenalkan dua orang muda itu.
“Hemmm….!” Tosu yang berjenggot pende, guru Tan Bu Kong, mengangguk-angguk dan
berkata, "Agaknya kalian inikah murid-murid Sute Im-yang Seng-cu?"
"Tidak salah dugaan Sam-wi Supek. Teecu berdua adalah murid-murid Suhu Im-yang Sengcu. Teecu berdua menghaturkan hormat kepada Sam-wi Supek," kata Sin Kiat sambil
memberi hormat, yang dicontoh oleh Soan Li.
"Bagus! Kalian tidak mengecewakan menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Pinto telah
mendengar akan sepak-terjang kalian di dunia kang-ouw," kata tosu ke dua yang lebih tua
dan yang didahinya terdapat cacad bekas luka memanjang. "Duduklah baik-baik di bangku di
pinggir sana." Tosu ini menunjuk bangku-bangku dengan sikap tidak begitu mengacuhkan.
Betapapun juga, dua orang muda ini hanyalah murid-murid keponakan mereka, dan mereka
bertiga datang untuk membereskan urusan yang amat gawat.
Dengan sikap hormat, Sin Kiat dan Soan Li duduk di atas bangku-bangku yang ditunjuk oleh
tosu codet (luka di dahi) itu, dan diam-diam Han Han, terutama sekali Lulu, merasa tidak
puas menyaksikan sikap angkuh Si Tosu terhadap sahabat-sahabat baik mereka. Akan
tetapi mereka tidak peduli dan hanya berdiri di pinggiran, tidak jauh dari tempat duduk dua
orang sahabat mereka itu. Tiga orang tosu tua yang melihat Han Han dan Lulu, tidak
mengacuhkannya pula karena mereka ini mengira bahwa Han Han dan Lulu tentulah orangorang muda tak berarti, anggauta keluarga atau pembantu-pembantu di Pek-eng-piauwkiok
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
214
Tiga orang tosu Hoa-san-pai ini adalah tosu-tosu tingkat tiga, karena mereka ini adalah
murid-murid langsung dari ketua Hoa-san-pai, yaitu yang bernama Thian Cu Cinjin, seorang
tosu yang amat sakti dan sudah berusia tinggi. Mereka bertiga ini adalah kakak beradik
seperguruan. Yang paling tua adalah tosu tinggi kurus yang berjenggot panjang bernama
atau lebih tepat berjuluk Bhok Seng-cu, yang ke dua adalah tosu codet yang luka dahinya,
berjuluk Kong Seng-cu. Adapun tosu ke tiga adalah guru dari Tan-piauwsu yang berjuluk Lok
Seng-cu. Mereka ini rata-rata sudah berusia enam puluh tahun lebih, namun masih nampak
sehat dan berwibawa, penuh semangat karena sesungguhnya, tiga orang tosu inilah yang
bertugas untuk melaksanakan segala peraturan di Hoa-san-pai. Mungkin karena
terpengaruh tugas mereka yang harus dilaksanakan secara baik-baik dan penuh disiplin,
maka tiga orang tosu ini sudah biasa berwatak keras asal benar! Mereka bertiga tidak begitu
ramah ketika diperkenalkan kepada Sin Kiat dan Soan Li, karena sesungguhnya mereka
bertiga tidak suka kepada Im-yang Seng-cu, tokoh Hoa-san-pai yang dianggap
menyeleweng, yaitu menyeleweng daripada aturan Hoa-san-pai, tidak suka menjadi tosu di
Hoa-san-pai melainkan lebih suka mengembara dan berkeluyuran! Juga perasaan tidak suka
ini timbul pula karena Im-yang Seng-cu diinggap tidak setia kepada Hoa-san-pai,
mempelajari ilmu silat-ilmu silat lain golongan, bahkan berani "mengawinkan" IImu silat Hoasan-pai yang aseli dengan ilmu silat golongan lain. Apalagi kalau diingat bahwa mereka itu
tidaklah seguru dengan Im-yag Seng-cu karena Im-yang Seng-cu bukanlah murid Thian Cu
Cinjin, melainkan murid dari Tee Cu Cinjin yang sudah meninggal dunia, yaitu sute dari
Thian Cu Cinjin.
"Tan Bu Kong, kami mendengar akan pelaporanmu dari mulut utusan Pek-eng-piauwkiok,
karena mengingat akan gawatnya persoalan, maka kami bertiga dating sendiri untuk
memberi hukuman kepada dia yang berdosa. Benarkah bahwa kedua orang Sutemu Lie Cit
San dan Ok Sun dibunuh orang?"
Mendengar pertanyaan ini, berkerut alis Wan Sin Kiat. Para supeknya ini ternyata adalah
orang-orang yang berhati keras dan yang dipentingkan adalah urusan kematian anak murid
Hoa-san-pai, padahal di batik urusan ini tersembunyi hal yang lebih gawat lagi, yaitu
ancaman permusuhan dengan fihak Siauw-lim-pai. Ataukah mungkin laporan utusan Tanpiauwsu yang tidak jelas menyampaikan laporan? Namun, ia tidak berani mengganggu,
hanya mendengarkan saja.
"Benar, Suhu. Sute Lie Cit San dan Sute Ok Sun tewas, bahkan Sute Teng Lok juga terluka
hebat, buntung lengannya. Semua ini terjadi karena tipu muslihat keji seorang gadis Mancu,
seorang puteri Kaisar sendiri yang bernama Puteri Nirahai….”
"Siapakah yang membunuh dan melukai Sute-sutemu? Apakah dia murid Siauw-lim-pai?”
"Bukan, Suhu. Memang terjadi bentrokan dengan fihak Siauw-lim-pai, akan tetapi semua itu
adalah akibat tipu muslihat keji Puteri Mancu Nirahai. Sebaiknya teecu menceritakan asalu
mula terjadinya peekara yang hebat ini." Melihat betapa tiga orang tosu tua itu diam saja dan
semua memandang kepadanya, Tan Bu Kong segera menceritakan asal mula terjadinya
peristiwa itu. Betapa puteri itu datang mengirim dua buah peti ke selatan dan betapa dia
tidak berani menolak karena tidak ingin dicurigai oleh pemerintah Mancu akan perjuangan
Hoa-.an-pai menentang penjajah. Kemudian betapa Teng Lok sampai buntung lengannya
ketika menyelidiki keadaan puteri aneh itu. Diceritakannya pula betapa rombongan piauwsu
yang mengantar dua buah peti ke selatan, di tengah jalan dihadang oleh anak-anak murid
Siauw-im-pai yang memaksa mereka membuka peti sehingga terjadi pertempuran.
"Pinto telah mendengar penuturan itu dari utusanmu, tak perlu diulangi lagi," Lok Seng-cu
memotong tak sabar sambil menggerakkan tangan kirinya ke atas sehingga ujung lengan
bajunya bergetar dan bergoyang. "Pinto hanya tertarik mendengar akan kematian muridmurid Lie Cit San dan Ok Sun. Siapakah yang membunuh mereka?"
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
215
Berkerut kening Han Han. Ingin ia melangkah maju dan menjawab pertanyaan itu, mengaku
bahwa dialah yang membunuh dua orang murid Hoa-san-pai itu. Akan tetapi ketika bertemu
pandang dengan Wan Sin Kiat, ia melihat pemuda itu menggeleng-geleng kepala perlahan
sehingga ia membatalkan niatnya.
Tan-piauwsu juga bingung sekali atas pertanyaan gurunya yang mendesak-desak itu,
seolah-olah tidak hendak memberi kesempatan kepadanya untuk menjelaskan semua agar
kesalahan tangan Han Han itu dapat diperingan dengan alasan kuat.
Akan tetapi, piauwsu ini yang sudah. merasa yakin akan kebersihan hati Han Han dalam
pembunuhan terhadap dua orang sutenya itu, memberanikan hatinya dan melanjutkan
ceritanya.
"Pertempuran berat sebelah itu tentu akan berakibat terbasminya semua anak buah
piauwsu yang mengawal kalau saja tidak secara kebetulan muncul seorang pendekar muda
yang membantu fihak Hoa-san-pai dan pemuda itu memukul tewas tujuh orang anak murid
Siauw-lim-pai. Kemudian fihak Siauw-lim-pai memaksa membuka dua buah peti kiriman
puteri Mancu dan isinya ternyata adalah…."
"Mayat-mayat Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam! Pinto
sudah tahu semua akan hal itu. Bu Kong, katakan, siapa yang membunuh dua orang
Sutemu?"
"Pendekar muda yang tadinya membantu Hoa-san-pai dan membunuh tujuh orang Siauwlim-pai ketika melihat bahwa dua peti itu berisi mayat tokoh-tokoh Siauw-lim, menjadi
menyesal dan marah sekali, mengira bahwa fihak Hoa-san-pai yang bersalah, maka dalam
kemarahannya ia turun tangan membunuh kedua orang Sute, tidak tahu bahwa baik fihak
Siauw-lim-pai maupun fihak Hoa-san-pai tidak bersalah karena mereka semua telah
termasuk dalam perangkap dan siasat adu domba puteri Mancu itu…."
"Tan Bu Kong! Engkau berfihak kepad a siapakah? Katakan, di mana adanya orang yang
membunuh dua orang murid Hoa-san-pai itu!" bentak Lok Seng-cu dengan nada marah
sehingga Tan-piauwsu menjadi jerih dan menundukkan mukanya.
"Totiang, akulah orangnya yang membunuh dua orang muridmu itu!" Tiba-tiba terdengar
suara Han Han memecah kesunyian sehingga suasana menjadi tambah sunyi lagi karena
kini kesunyian itu dicekam ketegangan yang memuncak ketika tiga orang tosu tua itu
menoleh dan memandang kepada Han Han penuh perhatian. Han Han sudah melangkah
maju dengan sikap tenang, kemudian 'berdiri menghadapi tiga orang Hoa-san-pai itu sambil
melanjutkan kata-katanya.
"Memang aku yang telah membunuh mereka, hat ini tidak kupungkiri dan aku mohon maaf
kepada Totiang bertiga sebagai guru-guru mereka. Aku merasa menyesal sekali telah
membunuh mereka berdua seperti rasa penyesalanku telah membunuh tujuh orang murid
Siauw-lim-pai yang tak bersalah. Akan tetapi aku tidak merasa bersalah karena aku
membunuh dua orang murid Hoa-san-pai dengan persangkaan bahwa Hoa-san-pailah yang
membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai dan kusangka bersikap palsu sehingga
menyebabkan aku kesalahan tangan membunuh murid-murid Siauw-lim-pai. Hal itu telah
terjadi di luar kesalahanku, dan aku pasti akan mencari biang keladinya, Puteri Mancu itu.
Nah, kurasa cukup lama aku tinggal di sini bersama Adikku. Tan-piauwsu, dan juga kalian
berdua, Sin Kiat dan Adik Lu Soan Li, aku harus pergi dari sini setelah bertemu dengan
tokoh-tokoh Hoa-san-pai dan minta maaf. Aku hendak pergi menemui pimpinan Siauw-limpai untuk menjelaskan persoalan. Sampai jumpa kembali….."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
216
"Berhenti!" Tiba-tiba Bhok Seng-cu yang tinggi kurus dan berjenggot panjang membentak.
Suaranya mengejutkan semua orang karena mengandung getaran yang menusuk rongga
dada, tanda bahwa kakek ini telah mempergunakan khikang yang amat kuat.
Han Han yang tadinya, sudah melangkah hendak keluar diikuti oleh Lulu, berhenti dan
membalikkan tubuhnya. Sikapnya tenang saja, demikian pula dengan Lulu sehingga Bhok
Seng-cu sendiri menjadi terheran-heran. Hapir semua yang hadir di situ, kecuali Wan Sin
Kiat dan Lu Soan Li yang rnemiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi, menjadi pucat sekali
wajah mereka karena pengaruh bentakan tadi, akan tetapi dua orang muda ini saa sekali
tidak terpengaruh, kaget sedikit pun tidak!
“Orang muda, apakah sedemikian murahnya kau menghargai nyawa dua orang anak murid
kami? Cukup dengan pernyataan menyesal dan minta maaf? Sungguh engkau memandang
rendah ke-pada Hoa-san-pai!" kata Bhok Seng-cu dengan alis terangkat.
"Habis apa yang harus kulakukan,Totiang? Aku telah lama menanti kedatangan Totiang di
sini, hal itu karena aku memandang Hoa -san-pai," jawab Han Han dengan sikap yang masih
tenang.Pandang mata pemuda ini bertemu dengan pandang mata Bhok Seng-cu dan kakek
Hoa-san-pai ini bergidik dan mengalihkan pandang matanya.
"Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa!" bentak Lok Seng-cu, guru Tan-piauwsu yang
menjadi marah sekali kalau teringat betapa murid-muridnya terbunuh hanya oleh seorang
pemuda yang tak di kenaI sama sekali, bukan pula murid Siauw-lim-pai, bahkan seorang
pemuda yang kelihatannya liar. Andaikata kedua orang muridnya tewas di tangan seorang
tokoh besar, atau setidaknya oleh anak murid Siauw-lim-pai yang pandai, dia tidak akan
begitu malu. "Suheng," katanya kepada Bhok Seng-cu, “bukan hal yang mustahil kalau
pemuda ini menjadi kaki tangan Mancu yang sengaja membunuh murid-murid Siauw-lim-pai
dan Hoa-san-pai agar taktik adu domba berhasil baik. Bocah setan ini tak boleh diberi
ampun!"
"Suhu dan Ji-wi Supek, Han Han bukanlah kaki tangan Mancu….!" Tiba-tiba Wan Sin Kiat
berseru dari tempat duduknya karena tidak tahan lagi mendengar ucapan-ucapan suhunya
dan supeknya yang nadanya menekan Han Han. "Teecu mengenal dia baik-baik semenjak
dia masih kanak-kanak karena dia adalah sahabat baik teecu di waktu kecil."
"Wan Sin Kiat! Tak patut engkau sebagai anak murid Hoa-san-pai bicara seperti itu
terhadap seorang yang telah membunuh dua orang Suhengmu! Di mana kesetiaanmu
terhadap Hoa-san-pai? Apakah kalau dia ini menjadi sahabat baikmu di waktu kecil, lalu tak
mungkin lagi menjadi kaki tangan Mancu? Pandangan picik sekali!" bentak Bh'ok Seng-cu
sambil menatap wajah pemuda itu dengan mata melotot.
Sin Kiat menunduk, akan tetapi ia menjawab dengan suara tenang, "Maaf,
Supek. Bukan karena itu, melainkan karena dia adaJah murid Ma-bin Lo-mo Siang-koan
Lee……. "
"Ahhhhh !" Seruan ini keluar dari mulut ketiga orang tosu tua itu karena
mereka benar-benar merasa kaget sekali mendengar bahwa pemuda ini adalah
murid seorang di antara tokoh-tokoh datuk hitam yang amat terkenal itu. Dan
mereka pun maklum bahwa biarpun seorang tokoh datuk hitam, namun Siang-
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
217
koan Lee bukanlah seorang yang tunduk kepada pemerintah penjajah Mancu. Kini mereka
kembali memandang kepada Han Han penuh perhatian dan dengan pandang mata agak
meragu. Akan tetapi hanya sebentar saja mereka meragu karena segera terdengar suara
Bhok Seng-cu yang kaku dan tegas.
"Kalau dia murid Ma-bin Lo-mo, memang bukan kaki tangan Mancu. Akan tetapi biarpun
demikian, dia telah membunuh dua orang murid Hoa-san..pai, dan dia harus bertanggung
jawab atas perbuatannya. Biarpun murid Ma-bin Lo-mo tidak boleh menghina kami orang
orang Hoa-san-pai!"
"Suheng, nanti dulu, Suheng!" Tiba-tiba Kong Seng-cu berkata dan tiba-tiba tubuh tosu ini
sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya dan dengan langkah lebar menghampiri Lulu. Ia
menghampiri dan memandang gadis itu penuh perhatian, mulutnya menggerutu,
"Adiknya……..? ini Adikmu………?"
Han Han yang merasa sebal menyaksikan sikap congkak dari tiga orang Hoa-san-pai ini
berkata, "Benar, Totiang. Dia Adik angkatku."
Lulu yang dipandang penuh perhatian,bahkan kini tosu yang dahinya terhias bekas luka itu
berjalan mengelilinginya sambil memandang seperti orang memeriksa kuda yang hendak
dibelinya, tersenyum-senyum dan melirak-lirik dengan sikap lucu dan mentertawakan.
Akhirnya tosu itu kembali ke bangkunya,
duduk dan berkata, "Gadis ini adalah seorang wanita Mancu!"
Semua orang yang mendengar ini menjadi terheran, bagaimana tosu codet ini dapat
merlduga sedemikian tepatnya.
"Wanita Mancu?" Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu berseru kaget. Lok Seng-cu memandang
kepada Tan-piauwsu dengan pandang mata bengis lalu membentak, "Tan Bu Kong!
Betulkah bahwa gadis ini seorang wanita Mancu dan sudah kau biarkan dia menjadi
tamumu?"
Sebelum Tan-piauwsu sempat menjawab, Lulu sudah melangkah maju dan menjawab
dengan suara Ian tang sambil menmandang kepada Kong Seng-cu, "Benar sekali! Aku
adalah seorang gadis Mancu dan namaku Lulu, she Sie karena Kakakku ini pun she Sie.
Tosu codet, matamu benar-benar tajam sekali!"
“Siancai……. ! Apa kata pinto? Dalam jarak sepuluh Ii, pinto sudah dapat mengenal wanita
Mancu! Suheng dan Sute biarpun orang she Sie ini murid Ma-birlLo-mo, akan tetapi dia
mempunyai Adik angkat wanita Mancu! Terang bahwa dia telah berkhianat, dan mungkin
sekali dia sekarang menjadi kaki .tangan Puteri Mancu itu! Wah, berbahaya kalau
begini,sama sekali tidak boleh membebaskan dia."
"Tosu codet, selain matamu awas sekali, juga hatimu busuk sekali. Tentu karena kebusukan
hatimu maka dahimu menjadi codet, bekas terluka senjata tajam. Sayang di dahi, sebaiknya
di mulut agar mulutmu tidak dapat mengham-burkan ucapan-ucapan busuk lagi.” Lulu yang
diam-diam m:arah kini mulai mem-permainkan tosu itu. Semua orang ter-kejut sekali, bahkan
Sin Kiat menjadi pucat wajahnya.. Gadis yang dicintanya itu benar-benar berani mati,
mengeluar-kan omongan yang seperti itu terhadap Kong seng-cu, seorang di antara ketiga
murid ketua Hoa-san-pai yang berilmu tinggi! Pemuda perkasa ini maklum bah-wa ucapan
itu akan rnempunyai akibat yang berbahaya sekali bagi Han Han dan Lulu, maka ia
memandang dengan jantung berdebar dan muka pucat.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
218
Juga para anak buah Pek-eng-piauw-kiok terutama sekali Tan Bu Kong, menjadi khawatir
sekali, apalagi karena Tan-piauwsu maklum bahwa perbuatannya menerima seorang gadis
Mancu sebagai tamu benar-benar akan menimbulkan salah faham dari para supeknya.
"Suhu, harap maafkan teecu. Biarpun dia seorang gadis Mancu, akan tetapi dia lain lagi,
sama sekali tidak menganggap kita sebagai musuh dan dan dia adalah Adik angkat Sietaihiap ………"
Ucapan ini malah merupakan angin yang membesarkan api kemarahan di
dada tiga orang tosu itu, terutama sekali Kong Seng-cu yang dihina dan dimaki oleh
seorang gadis Mancu.
"Bocah Mancu, mampuslah!" bentak Kong Seng-cu dan tanpa bangkit dari tempat
duduknya, kakek berdahi codet ini mengirim pukulan jarak jauh dengan. dorongan tangan
kanannya ke arah dada Lulu. Jarak antara mereka ada empat
meter dan kakek ini yang mermandang rendah gadis Mancu itu yang disangkanya gadis
biasa saja, menaksir bahwa pukulan-nya ini cukup kuat untuk merusak isi dada gadis yang
dianggapnya jahat dan musuh rakyat itu
Angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lulu dan jelas tampak betapa baju gadis
itu di bagian dadanya berkibar disambar angin pukulan, akan tetapi gadis itu sendiri berdiri
sambil tersenyum-senyum manis, sama sekali tidak bergerak, seolah-olah ia tidak
merasakan datangnya angin pukulan jarak jauh ini seperti sebongkah batu gunung ditiup
angin semilir! Dan memang se-sungguhnyalah bahwa Lulu sama sekali tidak tahu bahwa dia
dipukul orang! Akan tetapi mengapa pukulan jarak jauh yangmengandung tenaga sakti arnat
kuat dari tokoh Hoa-san-pai itu sarna sekali tidak terasa olehnya? Apakah Lulu sudah
memiliki kesaktian yang luar biasa seperti Han Han?
Sebetulnya tidaklah demikian. Seperti kita ketahui, ketika berdiam di Pulau Es,Lulu juga
tekun belajar di bawah bimbingan Han Han. Akan tetapi berbeda dengan Han Han yang
memiliki dasar tidak karuan, bahkan secara paksa menggembleng diri dengan ilmu dari
aliran hitam. Lulu sebaliknya mempelajari kitab-kitab peninggalan manusia sakti pemilik
Istana Pulau Es. Gadis ini berlatih samadhi dan pengumpulan hawa murni untuk membentuk
tenaga sakti menurut petunjuk kitab yang dibacanya di pulau itu, dan ternyata ia dapat
memiliki sinkang yang murni dan bersih yang amat kuat dan yang kini telah menjadi satu
dengan darah daging dan pernapasannya sehingga tenaga sakti ini akan bergerak dengan
sendirinya setiap kali ada bahaya mengancam tubuhnya. Juga gadis ini melatih ilmu silat
tangan kosong dan ilmu pedang dari dua buah kitab lain yang sudah amat tua dan tidak
berjudul lagi, ilmu silat tangan kosong yang lebih mirip ilmu tari karena gerakan-gerakan-nya
indah sekali sehingga sering kali jika Sedang berlatih, lulu ditertawai dan digoda Han Han,
dikatakan bahwa tarian adiknya amat indah dan 'bahwa' adiknya bukan mempelajari ilmu
silat melainkan ilmu tari. Namun, dengan "ilmu tari" ini,.Lulu sudah dapat membuat biruang
es mengaku kalah! Adapun ilmu pedangnya juga amat indah, akan tetapi karena dipulau itu
mereka tidak mempunyai pedang, Lulu selalu berlatih mempergunakan sebatang ranting.
Dengan adanya sinkang yang sudah mendarah daging itulah maka tadi ketika Kong Seng-cu
melancarkan pukulan jarak jauh yang mengandalkan tenaga sinkang, begitu angin pukulan
menyentuh kulit, otomatis sinkang di tubuh Lulu bergerak dan me-nolak serangan dari luar
itu maka gadis ini tidak merasakan apa-apa sungguhpun bajunya sampai berkibar dilanda
angin pukulan jarak jauh tokoh Hoa-san-pai itu!
Wan Sin Kiat menjadi pucat mukanya,dan pandang matanya menjadi kagum dan heran
bukan main. Sebagat murid tersayang dari im-yang Seng-cu seorang tokoh yang biarpun
tingkatnya hanya saudara seperguruan tiga orang tosu ini namun memiliki ilmu kepandaian
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
219
jauh lebih tinggi, dan sebagai seorang yang ahli dalam ilmu silat Hoa-san-pai, Sin Kiat tadi
dapat rnelihat jelas gerakan Kong Seng-cu dan maklum bahwa supeknya itu dengan secara
keji sekali telah melakukan pukulan jarak jauh yang di-sebut jurus Sian-jin-hian-ko (Dewa
Mem-beri Buah) dan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat. Akan tetapi dapat
dibayangkan betapa heran dan kagum nya ketika melihat bahwa gadis yang telah membuat
jantungnya jungkir balik dan bertekuk lutut itu sama sekali tidak rnerasakan pukulan itu,
bahkan berkedip pun tidak, malah senyumnya makin lebar dan makin manis, mata yang
lebar itu makin bersinar-sinar!
"Eh, Tosu Codet. Engkau mengeluarkan ilrnu hitam apakah?" Setelah bajunya berkibar dan
dadanya agak berdenyut kulitnya, barulah Lulu sadar bahwa tosu itu tadi telah memukulnya
dengan pengerahan sinkang, maka ia sengaja mengejek dan diarn-diam gadis ini bersikap
waspada dan hati-hati karena maklum bahwa para tosu Hoa-san-pai itu benar-benar hendak
memusuhi dia dan Han Han.
Sementara itu, ketika melihat betapa pukulan jarak jauh yang dilontarkan Kong Seng-cu
kepada gadis Mancu itu sama. sekalj tjdak berhasil, tiga orang tokoh Hoa.-san-pai inj diamdiam terkejut dan berhati-hati. Mereka maklum bahwa. gadis Mancu yang masih remaja itu
telah memiliki tenaga sinkang yang hebat dan tidak lumrah dimiliki seorang gadis yang
demikian muda. Tiga orang tosu itu menjadi serba salah. Mau merintahkan anak murid turun
tangan terhadap Han Han dan Lulu, mereka maklum bahwa murid-murid yang berada di situ
agak-nya bukanlah lawan pemuda berambut riap-riapan dan adiknya yang bertenaga
sinkang hebat itu. Mau turun tangan sendiri, mereka masih merasa tidak enak dan malu
karena amatlah menurunkan derajat bagi mereka untuk turun tangan terhadap dua orang
yang masih amat muda, boleh disebut setengah dewasa itu!
Tiba-tiba pandang meta Bhok Seng cu yang memandangi para anak murid Hoa-san-pai dan
anak buah Pek-eng-piauwkiok itu menatap ke Satu arah. Ketika Lok Seng-cu dan Kong
Seng-cu yang ragu-ragu menoleh ke arah suheng mereka yang tentu saja sebagai,
orangtertua di antara mereka merupakan pe-nentu terakhir, mereka berdua pun mengikuti
arah pandang mata suheng mereka itu dan wajah mereka berseri. Mengertilah kedua orang
tosu ini akan jalan pikiran suheng mereka dan merekapun setuju sekali. Tanpa
mengeluarkan suara,tiga orang tosu Hoa-san-pai ini telah bersepakat untuk memerintahkan
Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menghadapi Han Han dan Lulu! Mereka itu sarna mudanya
sehingga tidak akan menurunkan nama Hoa-san-pai, mereka berdua itu pun mu-rid-murid
Hoa-san-pai yang lihai ilmunya sehingga di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Hoasan Gi-hiap dan Hoa-san Kiam-li. Dan yang menggirangkan hati ketiga orang ,tosu ini, dua
orangmuda itu adalah murid-murid Im-yang Seng-cu, seorang tokoh Hoa-san-pai yang
mereka anggap menyeleweng dan murtad sehingga kalau dua orang murid itu sampai kalah,
Hoa-san-pai tidaklah terlalu merasa malu dan memang tiga orang tosu ini dalam
kebenciannya terhadap Im-yang Seng-cu, menjadi tidak suka pula kepada Sin Kiat dan Soan
Li.
Rasa benci terhadap Im-yang Seng-cu bukan semata karena tokoh Hoa-san-pai ini
meninggalkan Hoa-san-pai, melainkan lebih banyak terdorong rasa iri hati. Im-yang Seng-cu
membuat nama besar bukan bersandar kepada Hoa-san-pai karena ilmu silatnya telah
bercampur dengan ilmu-ilmu silat lain, dan di sam-ping ini, Im-yang Seng-cu tidak lagi hidup
terikat dan terkurung di Hoa-san, melainkan hidup sebagai seorang pendekar dan petualang
yang bebas dan bebas pula menikmati kesenangan dunia-wi!
"Murid-murid Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li! Pinto memerintahkan kalian untuk menangkap
musuh Hoa-san-pai dan adiknya, gadis Mancu itu. Kerjakan perintah pinto sebagai muridmurid Hoa-san-pai yang baik!" Bhok Seng-cu berkata dengan nada suara halus dan muka
berseri. Dua orang sutenya mengangguk-angguk dan tersenyum sambil meraba-raba
jenggot mereka.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
220
Sin Kiat dan Soan Li menjadi terkejut bukan main mendengar perintah ini. Wajah mereka
berubah dan jantung mereka berdebar karena mereka tersudut kedalam keadaan yang
serba salah. Untuk membantah, perintah itu keluar. Dari mulut supek mereka dan
dikeluarkan atas nama Hoa-san-pai. Untuk mentaati perintah, bagaimana mereka dapat
memusuhi dua orang muda yang menjadi sahabat baik mereka, bahkan dua orang muda
yang masing-masing telah menjatuhkan hati mereka? Mereka tak tahu harus berbuat apa,
merasa mundur salah maju tidak sesuai dengan suara hati mereka. Apalagi ketika mereka
melihat betapa Han Han dan Lulu kini menoleh dan memandang mereka dengan sikap
tenang dan bahkan Lulu tersenyum-senyum me-mandang Sin Kiat karena gadis nakal ini
agaknya merasa geli, sama sekali tidak kasihan melihat pemuda itu yang ia tahu menjadi
bingung. Baru saja menyatakan cinta, kini disuruh menyerang !
Teringatlah dua orang murid Hoa-san-pai ini akan pesan suhu mereka, yaitu Im-yang Sengcu, "Kalian memang dapat disebut murid-murid Hoa-san-pai, akan tetapi ilmu yang kuberikan
kepada kalian sesungguhnya bukanlah ilmu aseli dari Hoa-san-pai. Karena itu, kalian harus
berhati-hati terhadap Hoa-san-pai. Para tosu Hoa-san-pai, yaitu Suheng-suheng dan Sutesuteku, adalah tosu-tosu yang kukuh dan terlalu kaku memegangperaturan sehingga
kadang-kadang mereka itu keras sekali. Memang demikian watak orang-orang yang terikat
oleh keadaan pada lahirnya namun sesungguhnya batinnya belum dapat mereka sesuaikan
dengan keadaan lahir. Mereka banyak yang merasa iri hati melihat kehidupan orang-orang di
luar lingkungan tosu yang hidup serba bebas dan dapat mengecap enikmatan hidup tanpa
pantangan-pantangan. lebih baik kalau kalian menjauhkan diri dari urusan Hoa-san-pai.
Demikianlah pesan suhu mereka dan kini, di luar kehendak mereka, mereka dihadapkan
dengan urusan yang amat sulit yang menyangkut Hoa-san-pai.
"Mengapa kalian tidak lekas turun tangan? Apakah kalian hendak menen-tang perintah pinto
dan hendak menjadi murid murtad Hoa-san-pai pula?" kini suara Bhok Seng-cu terdengar
keras dan tidak senang, mengandung tekanan menyindir bahwa guru kedua orang muda itu
adalah seorang murid murtad Hoa-san-pai
Soan Li hanya dapat memandang kepada suhengnya dengan pandang mata penuh
permohonan agar suheng ini dapat mengambil keputusan. Sin Kiat menghela napas panjang
lalu berkata.
"Supek, mohon maaf, bukan sekali-kali teecu membantah. Hanya teecu teringat akan pesan
Suhu bahwa segala perbuatan teecu berdua harus didasarkan kebenaran. Teecu
menganggap bahwa Saudara Sie Han dan Lulu tidak bersalah dalam urusan ini, bagaimana
mungkin teecu berdua harus memusuhi mereka?"
"Wan Sin Kiat! Bocah ini telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai yang terhitung
Suheng-suhengmu sendiri dan kau masih hendak membelanya? Dan gadis ini, sudah terang
dia itu gadis Mancu, seorang musuh bangsa kita, dan engkau pun hendak membelanya?
Pelajaran macam apakah ini yang diberikan Gurumu kepada kalian?" bentak Kong Seng-cu.
Ucapan keras yang menambah ketegangan itu disusul suara Lulu yang perlahan akan tetapi
karena keadaan yang amat sunyi, terdengar oleh semua telinga, "Koko, Tosu Codet itu galak
sekali! Kalau terjadi pertempuran, kau bikin mukanya bertambah satu codet lagi, baru puas
hatiku!"
"Sssttttt, Lulu, jangan lancang mulut…..!" Han Han menjawab lirih, akan tetapi tentu saja
terdengar pula oleh semua orang. Kong Seng-cu hampir tak dapat menahan kemarahannya
dan ia memandang kepada Lulu dengan mata melotot. Untuk turun tangan sendiri, ia merasa
malu hati, tidak turun tangan,
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
221
jantungnya serasa ditusuk-tusuk oleh sindiran dan ejekan gadis Mancu itu.
"Supek," jawab Sin Kiat dengan suara tenang, "Suhu mengajarkan agar teecu tidak
sembrono dalam sepak terjang teucu, tidak menurutkan panasnya nafsu hati melainkan
menggunakan pertimbangan pikiran dan liangsim (hati nurani). Biarpun Han Han membunuh
kedua orang Suheng teecu, akan tetapi dia membunuh bukan karena kejahatan, melainkan
karena tertipu muslihat Puteri Mancu. Adapun Adik Lulu ini……..dia bukanlah musuh.dia
tidak memusuhi kita.
"Kreeekkkkk!" Lengan kursi yang di.duduki Bhok Seng-cu hancur berkeping-keping karena
dicengkeram tangan tosu lihai ini yang sudah tak dapat mengendalikan lagi kemarahannya.
"Murid murtad!" Ia menudingkan telunjuknya kepada Sin Kiat, kemudian menoleh ke arah
Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap, dan murid-murid Hoa-san-pai pembantu Tan-piauwsu yang
lain sambil berseru, "Tangkap dua orang murid murtad ini, dan kami akan turun tangan
sendiri menangkap bocah dan gadis Mancu itu!"
"Serrr….serrrrr……!" Bhok Seng-cu menggerakkan tangan kanannya, dua sinar hitam
menyambar ke arah Han Han dan Lulu. Itulah hancuran kayu lengan kursi yang
dicengkeramnya tadi, kini ditimpukkan dengan pengerahan sinkang sehingga merupakan
senjata rahasia yang amat berbahaya, menyambar ke arah dada Han Han dan Lulu yang
sejak tadi hanya berdiri dengan sikap tenang di tengah ruangan itu.
Han Han mengibaskan tangannya sehingga hancuran kayu itu runtuh ke bawah, sedangkan
, Lulu dengan sikap lincah meloncat ke samping, mengelak sambil tertawa mengejek, "Wah,
sayang luput Tosu galak!"
Tan-piauwsu dan para sutenya, juga anak buah Pek-eng-piauwkiok yang sudah
menganggap diri mereka sebagai anak buah Hoa-san-pai, tidak berani membantah perintah
itu dan mereka telah mencabut senjata masing-masing, kini telah mengurung ruangan itu! Di
luar tahunya semua orang, Kwee Twan Giap sute termuda dari Tan-piauwsu yang amat
cerdik, telah memberi tanda dengan jari tangan agar Sin Kiat dan SoanLi cepat melarikan diri
saja sehingga terhindar pertandingan antara murid Hoa-san-pai sendiri. Melihat ini, Sin Kiat
dan Soan Li mencatat dalam hati mereka akan ikhtikad baik Kwee Twan Giap.
Akan tetapi, sebelum dua orang murid Im-yang Seng-cu ini sempat melakukan sesuatu,
tiba-tiba terdengar pekik .melengking keras sekali yang membuat semua orang tertegun,
bahkan banyak diantara mereka meremang bulu tengkuk-nya mendengar suara ini. Suara ini
keluar dari mulut Han Han yang sudah meloncat ke depan sambil melengking keras,
kemudian berkata.
"Majulah semua! Tosu-tosu picik, hayo majulah kalian. Kalau kekerasan yang kalian
kehendaki, kekerasan yang kalian dapat!"
Lulu juga meloncat ke dekat kakaknya sambil membusungkan dadanya yang sudah
membusung, "Jangan mengeroyok Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li, keroyoklah kami kalau
kalian sudah bosan hidup!"
Akan tetapi tiba-tiba Han Han sudah menggerakkan kedua tangannya, mendorong ke kanan
kiri dan terdengarlah suara hiruk-pikuk jatuhnya beberapa buah senjata pedang dan golok
karena pemiliknya rebah terguling disambar hawa pukulan hebat luar biasa, yaitu yang
menyambar keluar dari kedua telapak tangan Han Han. Amat mengerikan akibatnya karena
empat orang itu roboh de-ngan lengan kanan sebatas siku gosong seperti dibakar. Masih
untung bahwa Han Han menyerang mereka mengarah lengan, kalau tubuh mereka yang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
222
terkena sambaran hawa pukulan yang merupakan inti dari Hwi-yang Sin-ciang ini, pasti
nyawa mereka telah melayang!
Lulu menjadi gembira, tubuhnya berkelebat ke kiri dan sebuah tendangan
membuat seorang anak buah piauwkiok menjerit kesakitan, lengan tangannya
patah tulangnya dan pedangnya mencelat ke atas. Tubuh Lulu meloncat dengan
gerakan indah dan cepat, seperti seekor burung walet terbang dan tahu-tahu pedang itu telah berada di tangannya, dan la melayang turun, berdiri tersenyum-senyum
menimang-nimang dan memandang pedang, sikapnya seperti seorang anak kecil
mendapatkan sebuah boneka.
"Pedang yang bagus sekali!'" Ia memainkan ronnce-ronce pedang yang berwarna kuning itu
dan mengelus-elus mata pedang yang tajam.
Melihat ini, Tan-piauwsu dan para sute serta anak buah mereka mau tak mau lalu maju
menyerbu, bukan menyerbu Sin Kiat dan Soan Li, melainkan me-nyerbu Han Han dan Lulu
yang telah bergerak terlebih dulu. Biarpun sampai mati dalam pertandingan, mereka ini
memilih mati di tangan Han Han dan Lulu yang merupakan orang-orang lain, bahkan boleh
juga dianggap musuh karena Han -Han telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai
sedangkan Lulu adalah seorang gadis Mancu. Kalau mereka me-nyerbu Sin Kiat dan Soan
Li, berarti mereka bermusuhan dengan murid-murid Hoa-san-pai sendiri dan kalau tewas
berarti mati konyol!
“Han Han…..Lulu-moi…., kasihanilah mereka yang tak berdosa, jangan bunuh mereka….!"
Sin Kiat berteriak dengan hati sedih dan amat terkejut menyaksikan sepak terjang Han Han.
Lulu mendengar getaran suara Sin Kiat ini dan ketika ia mengerling kepada kakaknya, ia
melihat bahwa kakaknya telah diserang nafsunya yang aneh, yang kadang-kadang datang
seperti ketika kakaknya ini menyiksa ular merah di Pulau Es. Ia cepat berbisik.
"Koko, jangan bunuh orang……."
Pada saat itu, Han Han memang telah kemasukan nafsu iblis yang selalu menyerangnya
apabila ia mengerahkan sinkang di tubuhnya. latihan-latihan yang ia tempuh selama
bertahun-tahun adalah latihan-latihan ilmu golongan hitam yang selalu menimbulkan nafsu
ingin menyiksa dan membunuh. Begitu menyaksikan sikap tiga orang tosu Hoa-san-pai,
kemarahan-nya bangkit dan sekali ia mengerahkan sinkang, nafsu membunuh ini telah
bangkit di dadanya, sepasang matanya yang amat tajam itu menjadi agak kemerahan,
napasnya agak terengah dan ia merasa seolah-olah ia bukan bernapas hawa melainkan api.
Akan tetapi aneh sekali, bisikan suara Lulu itu merupakan embun dingin sejuk yang seketika
dapat menekan gairahnya untuk membunuh musuh
sebanyaknya, dan ia mengangguk sambilberkata lirih.
"Lulu, kautahan mereka itu, biar aku menghadapi tiga orang tosu sombong!" ,.
Lulu tersenyum, menggerakkan tubuh ke kanan menghindarkan bacokan seorang anak
buah piauwkiok, tangan kirinya menyambar tengkuk dan orang itu mengeluh dan roboh
dengan mata mendelik, pingsan! Jurus-jurus pukulan Lulu amat aneh, selain karena
memang ilmu silat tangan kosong yang dilatihnya dari kitab kuno di Pulau Es memang aneh,
juga di-tambah dengan gerakan-gerakan yang ia ciptakan di luar kesengajaannya ketika ia
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
223
berlatih dengan biruang es yang lihai sekali. Biasanya, kalau ia memukul tengkuk biruang es
dengan tangan miring, biruang itu kadang-kadang dapat mengelak atau menangkis, dan
kalau terkena juga, biruang es itu hanya akan terhuyung. Siapakira orang ini sekali kena
disambar tengkuknya terus roboh pingsan!
Hebat bukan main sepak terjang Lulu. Dia kini telah meloncat dekat kakak nya
menyerahkan pedang dengan sikap seperti anak kecil dan berkata, "Aku titip dulu,Koko,
jangan sampai hilang pedangkul" Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat,
berputaran seperti orang menari,namun cepat bukan main sehingga para anak buah Pengeng-piauwkiok hanya melihat bayangan berkelebatan di sekeliling mereka dan mencium
keharuman yang keluar dari rambut dan pakaian Lulu dan pada detik-detik berikutnya,
senjata-senjata di tangan mereka beterbangan dan orangnya pun mengaduh-aduh, ada
yang patah tulang lenganya, ada yang terkilir kakinya kena tendangan, ada yang pening
kepalanya dengan mata berkunang ,karena ditempiling, dan ada pula yang mulas perutnya
kena dicium ujung sepatu gadis itu. Mereka seolah-olah melawan bayangan setan,
membacok ,dan menusuk secara ngawur karena tidak dapat melihat jelas lawannya, dan
tahu-tahu dua puluh orang lebih telah kehilangan senjata dan tubuh mereka malangmelintang di ruangan itu!
"Bukan main !" Sin Kiat berseru sambil menahan napas saking kagumnya. Dia sendiri
adalah seorang ahli silat kelas tinggi, memiliki ginkang yang hebat, akan tetapi menyaksikan
gerakan Lulu, ia menjadi bengong karena gerakan gadis itu seolah-olah terbang saja!
Betapa mungkin dara remaja itu memiliki ginkang setinggi itu? Siapakah gerangan gurunya?
Melihat gerakannya yang jelas membayangkan ilmu dari golongan bersih,kaum putih, ia
tidak percaya kalau Lulu juga murid Ma-bin Lo-mo. Kalau Han Han memang amat boleh jadi,
karena gerakan dan pukulan pemuda mengerikan sekall, Jelas termasuk Ilmu dari kaum
sesat.
Kini hanya tinggal Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap dan dua orang sutenya yang lain saja di
antara para piauwsu yang belum roboh. Mereka berempat ketika nnenyaksikan betapa
semua anak buah piauwkiok roboh oleh gadis Mancu itu menjadi kaget akan tetapi juga
marah. Tanpa dikomando lagi mereka sudah mencabut senjata dan menerjang maju.Tentu
saja sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang sudah bertingkat empat atau lima ilmu silat
mereka sudah hebat dan gerakan mereka ketika menyerang Lulu tak boleh disamakan
dengan gerakan para anak buah Pek-eng-piauwkiok tadi.
"Pergilah……!" Terdengar bentakan Han Han yang tidak membiarkan adiknya .dikeroyok
murid-murid Hoa-san-pai ini.Dia membentak dan kedua tangannya mendorong ke kanan
kiri……dan empat orang murid Hoa-san-pai itu terpental sampai empat meter ke belakang,
roboh tak dapat bangkit kembali karena tulang pundak mereka remuk disambar hawa yang
keluar dari kedua telapak tangan Han Han. Untung bagi mereka bahwa Han Han masih ingat
akan cegahan adik nya sehingga ia membatasi dorongannya dan hanya membuat mereka
roboh pingsan dengan tulang remuk saja.
"Siancai…… pemuda iblis…….!”
Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu dengan gerakan tenang namun sesunggunnya cepat dan
mengandung tenaga sinkang yang amat kuat, meloncat turun dari kursi mereka diikuti oleh
Kong Seng-cu.
Melihat tiga orang kakek tokoh Hoa-san-pai itu hendak turun tangan, diam-diam Sin Kiat
dan Soan Li menjadi khawatir sekali. Mereka maklum akan kelihaian tiga orang supek
mereka ini dan karena sekali ini yang turun tangan adalah tokoh tinggi yang berkepandaiqn
hebat, maka akibatnya pun tentu mengerikan. Mereka masih bingung dan serbasalah, tidak
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
224
tahu harus berbuat apa. Membantu sana salah membantu sini tak benar. Maka mereka
hanya memandang bengong dan jantung mereka serasa ber-henti berdetik.
"Koko, mana pedangku! Biar kauserahan Si Codet galak itu kepadaku!" kata Lulu yang
agaknya tidak mengenal bahaya. Pedang itu tadi oleh Han Han ditancapkan di atas tanah
ketika ia membantu Lulu dan merobohkan empat orang murid Hoa-san-pai. Kini Lulu
menyambarpedang itu dan terus dimainkan sambil mengejek ke arah Kong Seng-cu.
"Hayo, Tosu Codet, beranikah engkau melawan pedang wasiat jimat keramat-ku?
"Kong Seng-cu yang sudah sejak tadi diejek dan dipermainkan Lulu, memuncak
kemarahannya. Ia lupa diri, lupa bahwa adalah pantangan pertama dan terutama bagi
seorang ahli tapa seperti dia untuk mudah dirangsang nafsu amarah. Dengan seruan keras
ia telah mencabut pedang-nya dan menerjang Lulu. Sinar pedangnya yang gemilang
kehijauan itu bagaikan kilat menyambar ke arah leher Lulu!
"Cring……iiihhhhh…..! Pedangmu bagus sekali, Tosu Codet! Wah, kauberikan saja
pedangmu itu padaku dan aku serta kokoku akan mengampunimu. Hayo, serah-kan
pedangmu sebagai pengganti nyawa-mu!”
Lulu berteriak kaget dan mandang pedangnya yang tinggal sepotong. Ketika menangkis
tadi, pedang rampasannya bertemu dengan pedang Kong Seng-cu yang bersinar kehijauan,
dan sekali beradu pedang rampasannya buntung. Maka ia menjadi tertarik sekali dan wajah
serta matanya berseri memandang pedang kehijauan yang dipegang Kong Seng-cu.
Dapat dibayangkan betapa marah dan mendongkol hati Kong Seng-cu mendengar ucapan
gadis itu. Sudah terang bahwa sekali serang saja, biarpun gadis itu berhasil menangkisnya,
namun pedang gadis itu menjadi buntung sehingga hal ini dapat dipakai ukuran bahwa dia
sudah menang dalam satu gebrakan. Namun gadis itu masih mengeluarkan ucapan untuk
menukar pedangnya dengan nyawa. Seolah-olah gadis itu baru mau mengampuninya kalau
dia sudah memberi "thiap" (sogokan) kepada gadis Mancu itu berupa pedangnya! Padahal
pedangnya itu bukanlah sembarang pedang! ltulah pedang Cheng-kong-kiam (Pedang Sinar
Hijau), sebuah pusaka Hoa-san-pai! Cheng-kong-kiam ini dahulu amat terkenal didunia
kang-ouw sebagai senjata ampuh dari para pimpinan Hoa-san-pai dan kini berada di tangan
Kong Seng-cu karena dia merupakan seorang diantara pemimpin Hoa-san-pai dan di antara
ketiga orang tosu itu, dialah yang paling pandai dalam kiam-sut (ilmu pedang) Hoa-san-pai.
Dan sekarang, pedang itu diminta oleh Lulu sebagai barang "sogokan". Sung-guh
keterlaluan sekali!
"Perempuan Mancu keparat, engkau tak patut dibiarkan hidup!" Kong Seng-cu yang sudah
memuncak kemarahannya itu kini menerjang maju dengan ganas, mengeluarkan jurus-jurus
maut dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut.
"Ayaaaaa……, Tosu Codet selain galak juga ganas sekali !" Mulut Lulu berkata demikian,
akan tetapi sesungguhnya dia tidak berpura-pura dan menjadi kaget sekali. Kasihan dara
remaja ini. Biarpun dia telah mewarisi ilmu silat yang amat tinggi dan aneh dari Pulau Es,
akan tetapi dia kurang pengalaman dan selamanya dia hanya berlatih dalam pertandingan
pura-pura melawan biruang es. Kini dia diserang oleh seorang tosu Hoa-san-pai tingkat
empat yang memegang sebatang pedang pusaka Hoa-san-pai pula, yang sudah menjadi
ahli pedang sebelum dia terlahir. Tentu saja dia terkejut dan kewalahan. Baiknya, selama di
Pulau Es, gadis ini telah berlatih secara aneh dan hebat sehingga dia memiliki sinkang dan
ginkang yang tidak lumrah manusia biasa sehingga biarpun terdesak ia, selalu dapat
bergerak cepat, menghindar diri dengan meloncat ke sana kemari, mengelak terus karena
tidak berani menangkis dengan pedangnya yang tinggi sepotong.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
225
"Sing-sing-sing……siuuuuutttt……aihhh...…" Untuk ke sekian kalinya,. hampir saja ujung
pedang bersinar hijau itu mencium kulit leher Lulu yang putih halus sehingga gadis itu
membelalakkan matanya dan untung ia masih dapat cepat sekali menarik tubuh ke belakang
lalu meloncat keatas dan berjungkir-balik empat meter disebelah belakangnya. Namun Kong
Seng-cu yang sudah marah dan penasaran itu menerjang terus tanpa mengenal kasihan.
Kong Seng-cu tidak malu menyerang dengan pedangnya karena tadi Lulu juga memegang
pedang, bahkan biarpun sekarang pedang gadis itu tinggal sepotong, namun masih terus
dipegangnya sehingga gadis itu dapat dikatakan "bersenjata" dan dia tidak akan disebut
menyerang seorang yang bertangan kosong dengan senjatanya. Berbeda dengan Bhok
Seng-cu dan Lok Seng-cu. Mereka berdua setelah menyaksikan betapa Kong Seng-cu
sudah turun tangan terhadap gadis Mancu yang telah merobohkan para anak buah Pek-engpiauwkiok, lalu melangkah maju menghampiri Han Han pula. Mereka berdua maklum bahwa
pemuda ini memiliki kepandaian yang hebat juga, maka mereka pun tidak malu-malu untuk
turun tangan berdua, sungguhpun mereka masih merasa sungkan menggunakan senjata.
Mereka percaya bahwa andaikata seorang diri masih diragukan untuk dapat menundukkan
pemuda liar itu, berdua tentu akan dapat menawannya untuk diseret kedepan ketua Hoasan-pai. Dengan demi-kian, barulah nama besar dan wibawa Hoa-san-pai tidak akan
tercemar karena tewas dan robohnya beberapa orang anak murid Hoa-san-pai di tangan
bocah ini.
"Pemuda iblis, menyerahlah!" Lok Seng-cu menggerakkan tangan mencengkeram ke arah
pundak Han Han .
Pemuda ini sudah menjadi marah,apalagi melihat betapa Lulu diserang dengan pedang oleh
Kong Seng-cu. Kini menghadapi cengkeraman tangan Lok Seng-cu, ia sama sekali tidak
mengelak, bahkan menggerakkan tangan pula me-angkis sambil mengerahkan tenaga
dengan lengan kiri.
“Plakkkkk ……..!"
"Ayaaaaa……...!" Tubuh Lok Seng-cu terpelanting dan hampir saja tosu ini roboh kalau saja
dia tidak cepat meloncat ke atas dan berjungkir-balik, wajahnya pucat dan lengan kirinya
agak membiru. Hawa dingin seperti es menusuk nusuk lengannya itu. Dia sudah mendengar
akan kelihaian Ma-bin Lo-mo yang kabarnya memiliki ilmu pukulan Swat-im Sin-ciang
(Tangan Sakti Inti Es) yang mengandung Im-kang yang amat kuat. Akan tetapi sungguh
sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa murid datuk hitarn itu rnemiliki sinkang sekuat
ini! Cepat Lok Seng-cu menghimpun tenaga dalarnnya dan segera rasa dingin rne-nusuknusuk itu lenyap kernbali.
Melihat sutenya hampir roboh dalam segebrakan, Bhok Seng-cu terkejut bukan main dan
cepat ia pun menubruk maju dari sebelah kanan pemuda itu dan mengirim dorongan dengan
telapak tangan-nya ke arah dada Han Han. Dorongan ini .bukan sembarang dorongan,
melainkan pukulan sakti yang dilakukan dengan pengerahan sinkang yang kuat sekali.
HanHan dapat merasai sambaran angin dahsyat yang panas, maka ia pun segera membuka
tangan kanan dan memapaki telapak tangan kakek itu yang mendorong-nya.
"Plak……!" Dua telapak tangan yang mengandung hawa Yang-kang bertemudan melekat!
Bhok Seng-cu kembali tertegun dan cepat-cepat mengerahkan sinkangnya untuk
memperkuat Yang-kang yang mendorong keluar dari telapak tangannya. Pemuda ini
menggunakan Yang-.kang yang amat panas! Hal ini benar-benar mengagetkan Bhok Sengcu karena hawa panas yang menyambut telapak tangannya itu hampir tak tertahankan
olehnya!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
226
Melihat betapa suhengnya telah turun tangan akan tetapi belum mampu merobohkan
pemuda itu, Lok Seng-cu menjadi penasaran dan ia pun menerjang maju dan kini ia
memukul dengan mengerahkan hawa Im-kang. Sebagai seorang tokoh tingkat tinggi Hoasan-pai, tiga orang tosu ini tentu saja telah kuat sekali sinkangnya sehingga mereka pun
menguasai tenaga Yang-kang maupun Im-kang. Lok Seng-cu yang sudah merasai betapa
pemuda itu tadi menerima ceng-keramannya dengan tangkisan yang mengandung hawa
sakti dingin, kini me-nyerang pula dengan Im-kang karena ia maklum pula melihat jurus yang
dipergunakan suhengnya bahwa Bhok Seng-cu menyerang pemuda itu dengan Yang-kang
dan bahwa pemuda itu menyambut dorongan suhengnya dengan hawa sakti panas pula.
Kesempatan bagus pikirnya.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangan kiri pemuda itu menerima
telapak tangannya dengan sinkang yang berhawa dingin pula! Betapa mungkin ini? Dengan
tangan kanannya pemuda itu melawan hawa panas Bhok Seng-cu dengan hawa panas pula,
dan dengan tangan kirinya menghadapi Lok Seng-cu dengan sinkang yang berlawanan,
yaitu dengan hawa dingin! Lok Seng-cu juga merasa betapa hawa dingin yang keluar dari
telapak. tangan pemuda itu amat luar biasa dan hampir ia tidak kuat menahannya. Terpaksa
ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan. Adapun Bhok Seng-cu yang sudah
berkeringat dahinya karena hawa panas menjalari seluruh tubuhnya, juga mengerahkan
tenaga dengan mata setengah dipejamkan untuk melawan sinkang pemuda itu yang benarbenar amat luarbiasa. Tiga orang ini, dengan telapak tangan beradu, hanya berdiri tak
bergerak, telapak tangan mereka saling melekat.
Melihat ini, Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menjadi bengong saking heran dan kagumnya.
Han Han seorang diri mampu menahan pukulan-pukulan sakti kedua orang supek mereka!
Mereka sudah menduga bahwa Han Han adalah seorang pemuda yang memiliki kesaktian
luar biasa, akan tetapi sungguh jauh melampaui batas dugaan mereka bahwa pemuda itu
mampu menahan serangan hawasakti kedua orang kakek itu, dan bahkan Han Han masih
dapat menengok dan memperhatikan keadaan Lulu yang terdesak hebat oleh pedang Kong
Seng cu yang lihai. Dua orang muda ini menjadi makin gelisah dan bingung. Melihat anak
buah Pek-eng-piauwkiok terluka semua termasuk Tan-piauwsu dan tiga orang sutenya
sehingga ruangan itu penuh dengan mereka yang rebah dan merintih-rintih, kini melihat
betapa Lulu terancam maut di ujung pedang Kong Seng-cu, dan melihat Han han juga
bergulat dengan maut, mereka menjadi bingung tak tahu harus berbuat apa. Betapapun
juga, Han Han dan Lulu jelas merupakan musuh atau lawan fihak Ho-san-pai, sehingga
menurut patut, sebagai murid-murid Hoa-san-pai pula, mereka semestinya membantu para
supek mereka. Kalau mereka yang memiliki ilmu silat tinggi, tidak banyak selisihnya dengan
tiga orang tosu itu, bahkan dalam hal ilmu silat mungkin mereka lebih lihai, pada saat itu
turun tangan membantu, tentu Han Han dan lulu takkan dapat bertahan lebih lama lagi.
Namun hati mereka tidak mengijin kan mereka turun tangan dan karena itu,mereka hanya
memandang dengan muka pucat. Apalagi Sin Kiat yang jatuh cinta kepada lulu, menjadi
bingung sekali hatinya ingin sekali membantu lulu membebaskan gadis itu dari desakan
berbahaya pedang Kong Seng-cu, namun bagaimana mungkin ia melawan supeknya
sendiri? Sementara itu, Han Han memandang ke arah adiknya dengan hati penuh
kekhawatiran. Ia maklum bahwa menghadapi ilmu pedang tosu itu, adiknya takkan.mampu
mempertahankan diri lebih lama lagi. Jangankan lulu, dia sendiri pun kalau harus bertanding
mempergunakan atau mengandalkan ilmu silat, bukanlah tandingan tosu-tosu Hoa-san-pai
ini. Han Han maklum bahwa menghadapi mereka,ia hanya dapat mengandalkan kekuatan
sinkangnya, karena dalam hal ilmu silat, dia tidak lebih pandai daripada Lulu kalau tidak mau
dikatakan bahkan lebih rendah lagi karena Lulu telah mempelajari ilmu silat dari kitab
peninggalan pemilik Pulau Es. Untuk menolong adiknya, ia harus cepat menundukkan dua
orang kakek ini.
"Aiiiggghhhhh…….!!" Seruan dahsyat ini keluar dari dada Han Han dan kedua orang tosu
yang mempertahankan desakan sinkangnya menjadi kaget seperti disambar petir ketika tiba-
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
227
tiba mereka merasakan perubahan pada kedua lengan pemuda itu. Bhok Seng-cu yang
tadinya menghadapi hawa Yang-kang panas dari tangan Han Han, tiba-tiba merasa betapa
telapak tangan pemuda itu berubah menjadi dingin sekali, terlalu dingin sehingga seluruh
lengannya seperti ditusuk-tusuk jarum! Di lain fihak, Lok Seng-cu yang tadinya menghadapi
Im-kang dingin, tiba-tiba merasa betapa tangan pemuda itu berubah menjadi panas luar
biasa. Cepat kedua orang tosu itu pun mengubah sin-kang mereka untuk menyesuaikan
diri,akan tetapi kembali Han Han menukar sinkangnya secara tiba-tiba. Dua orangtosu itu
hampir tidak dapat percaya ke pada perasaan tangannya sendiri. Selama hidup mereka,
belum pernah mereka menyaksikan hal seperti ini. Betapa mungkin mengubah-ubah sinkang
secara mendadak seperti itu? Karena perubahan-perubahan ini, mereka menjadi kacau dan
tak kuat bertahan lagi, sehingga ketika Han Han mengerahkan tenaga mendorong tubuh
mereka mencelat ke belakang dan mereka roboh terbanting dengan napas megap-megap
hampir putus karena dada mereka terluka oleh sinkang mereka yang.membalik secara tibatiba. Cepat mereka bersila dan memejamkan mata untuk menolong nyawa mereka yang
terancam maut.
Han Han sudah meloncat ke dekat adiknya dan sekali kedua tangannya mendorong ke
depan, Kong Seng-cu tak dapat bertahan. Tosu ini merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi
dingin, seolah-olah darah di tubuhnya membeku. Ia menggigil dan tanpa dapat ia cegah
lagi,pedang pusaka Cheng-kong-kiam terlepas dari tangannya yang menjadi kaku. Lulu
cepat menyambar pedang itu dan ter-tawa tawa girang sekali, tidak mempedulikan lagi Kong
Seng-cu yang sudah cepat duduk bersila, seperti kedua orang saudara seperguruannya,
mengerahkan tenaga sakti untuk menolong nyawanya yang terancam maut.
Suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanya rintihan beberapa orang anak buah Pekeng-piauwkiok yang tak dapat menahan nyeri. Namun, tak seorang pun tewas dalam
pertempuran aneh yang hanya memakan waktu sebentar saja itu. Wan Sin Kiat dan Lu Soan
Li terlampau terheran-heran sehingga mereka itu masih bengong. Han Han menggandeng
tangan Lulu yang masih mengagumi pedang rampasannya, kemudian Han Han menoleh
kepada dua orang murid Im-yang Seng-cu sambiJ berkata.
"Sin Kiat dan Adik Soan Li, selamat tinggal. Kami berdua harus pergi sekarang juga."
Lulu juga menoleh kepada dua orang muda itu, tersenyum manis dan mengedipkan
matanya yang lebar kepada Sin Kiat sambil berkata, "Selamat berpisahdan sampai jumpa
pula, ya?"
Hati Sin Kiat terasa sakit dan ia bersedih harus berpisah dari gadis yang telah merampas
hatinya itu, akan tetapi pada saat seperti itu dia tidak dapat berkata apa-apa, apalagi
menahannya, bahkan ia maklum. bahwa paling baik kedua orang itu cepat pergi dari tempat
itu. Juga Soan Li hanya dapat memandang punggung Han Han yang bidang sampai
bayangan kedua orang itu lenyap dari situ, keluar dari piauwkiok melalui pintu gerbang yang
sudah tidak terjaga lagi.
Sin Kiat memandang ke arah tiga orang supeknya yang masih duduk bersila dengan wajah
pucat akan tetapi napas mereka tidak begitu sesak lagi, kemudian memandang kepada para
suhengnya yang terluka. Hatinya berduka sekali. la segera menghampiri Bhok Seng-cu dan
berkata dengan suara terharu.
“Supek, sungguh teecu merasa menyesal sekali telah terjadi malapetaka ini.”
" Teecu mohon maaf tidak dapat membantu Supek," kata pula Soan Li:
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
228
" Dia terlalu hebat, seperti dewa……..andaikata teecu berdua melawan pun tidak akan ada
gunanya….." kata pula Sin Kiat, masih kagum bukan main menyaksikan sepak terjang Han
Han tadi.
Bhok Seng-cu membuka matanya memandang kepada Sin Kiat dan Soan Li .Dua orang
muda ini terkejut dan otomatis melangkah mundur melihat betapa sinar mata Bhok Seng-cu
penuh dengan api kemarahan.
"Manusia-manusia khianat! Murid-murid murtad! Pergilah! Mulai detik ini kalian bukanlah
murid, melainkan musuh Hoa-san-pai" .
"Supek……"
"Pinto bukan Supek kalian, keparat!, pergi !!" bentak pula Bhok Seng-cu.
Sin Kiat dan Soan Li saling pandang Di mata gadis itu tampak dua butir air
mata yang ditahannya agar tidak runtuh Sin Kiat menghela napas panjang, bangkit berdiri
karena tadi mereka berlutut, lalu berkata lirih kepada Soan lie
"Marilah kita pergi, Sumoi. Kelak Suhu tentu akan dapat mengerti keadaan kita……." Soan li
juga bangkit berdiri dan pergilah kedua orang muda itu meninggalkan rumah piauw.kiok itu
pergi dengan hati perih karena sebagai tokoh-tokohmuda Hoa-san-pai yang sudah membuat
nama besar dan mengharumkan nama Hoa-san-pai, kini mereka diusir pergi dan tidak diaku
sebagai murid. Padahal julukan mereka pun memakai nama Hoa-san
*
**
Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan atau partai silat yang bukan saja paling tua. Banyak
orang mengatakan bahwa Siauw-lim-pai merupakan sumber dari semua partai persilatan
yang kemudian timbul, dan sudah tentu saja ilmu silat yang keluar itu bercampur baur
dengan gerakan-gerakan dari lain golongan dan suku bangsa sehingga ratusan tahun
kemudian, ilmu silat dari partai lain sudah tak dapat dibedakan lagi dengan sumbernya.
Tentu saja amat berbeda dalam lagak ragam dan kembangannya saja karena kalau dilihat
lebih mendalam pada dasarnya memang tiada perbedaan dalam ilmu silat yang hanya terdiri
dari dua pokok, yaitu menjaga diri serapat mungkin dan menyerang lawan setepat
mungkin.Semenjak pertama kali didirikan olehtokoh besar dalam dunia persilatan maupun
Agama Buddha, yaitu Tat Mo Couw-su, Siauw-lim-pai selalu berada di bawah bimbingan
para hwesio sehingga di mana-mana didirikan kuil Siauw-lim atau Siauw-lim-si. Sesuai
dengan alam fikiran manusia yang selalu berubah ubah, di dalam Siauw-lim-pai sering kali
terjadi perubahan yang tentu saja ditentukan oleh pimpinan setempat dan terdorong oleh
keadaan pula. Perubahan peraturan yang kadang-kadang amat menyolok. Pernah terdapat
peraturan dalam kuil Siauw-lim-si yang mengeJuarkan pantangan bagi seluruh murid untuk
berdekatan dengan wanita! Bahkan ada larangan keras bagi tamu-tamu wanita yang datang
bersembahyang ke kuil untuk melangkah melewati pintu tengah yang sudah dijadikan garis
demarkasi! Mungkin peraturan ini dikeiuarkan untuk memperkuat batin para murid yang
sedang digembleng agar jangan sampai ternoda oleh nafsu berahi karena sesungguhnya,
terutama bagi mereka yang sedang melatih sinkang, hubungan dengan wanita merupakan
pantangan dan penghalang besar sekali bagi penghimpunan tenaga murni.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
229
Akan tetapi, peraturan yang kelihatan seolah-olah "anti wanita" ini pun tidak dapat
dipertahankan dan kembali terjadi perubahan di mana para tokoh Siauw-lim-pai ada yang
mulai menerima murid-murid wanita. Hal ini terutama sekali terjadi atas kesadaran para
tokoh Siauw-lim-pai bahwa dalam keadaan negara kacau, fihak wanitaiah yang sering kali
mengalami penghinaan dan kekejian-kekejian karena fihak wanita termasuk golongan
lemah. Maka,dalam keadaan negara kacau dan kejahatan merajalela, perlu sekali wanita
diharuskan menjadi nikouw (pendeta),sekarang murid murid itu, baik pria maupun wanita
tidak diharuskan mencukur rambut menjadi pendeta, akan tetapi tentu saja mereka ini
sekaligus menjadi pula murid murid agama Budha. Hal ini adalah penyebarluasan agama
mereka melalui perguruan silat.
Demikianlah, peraturan bebas kewajiban menjadi pendeta ini sudah berjalan seratus tahun
lebih, jauh sebelum bangsa Mancu menyerbu pedalaman dan menjajah dengan mendirikan
Kerajaan Ceng sehingga di dalam Siaw-lim-pai terdapat tokoh-tokoh bukan pendeta seperti
Kang-lam Sang-eng, dan bahkan tujuh orang
tokoh Siauw-lim-pai sendiri, murid-murid langsung dari ketua Siauw-lim-pai, yaitu
Siauw-lim Chit-kiam, terdiri dari hanya dua orang hwesio dan lima orang bukan
hwesio. Pada masa itu, anak murid Si-auw-lim-pai tersebar luas di kalangan
rakyat jelata, ada yang menjadi petani,nelayan, piauwsu, kauwsu (guru silat)
dan banyak pula yang menjadi pendekar-pendekar perantau.
Pada waktu itu, yang menjadi ketua Siauw-lim-pai adalah guru Siauw-limChit-kiam berjuJuk
Ceng San Hwesio. Hwesio ini usianya kurang lebih delapan puluh tahun, bertubuh tegap
agak kurus,berwajah keren dan penuh wibawa. Seperi halnya Hoa-san-pai dan banyak
perkumpulan silat lainnya, diam-diam Siauw-lim-pai juga menentang bangsa Mancu yang
datang menjajah. Sunguhpun tidak secara terang-terangan, namun banyak para pendekar
Siauw-lim-pai membantu perjuangan para patriot yang berusaha menentang dan mengusir
penjajah yang.makin lama makin kuat itu. Apalagi karena Ceng San Hwesio sendiri adalah
seorang yang anti penjajahan, sehingga sejak penjajahan Mancu, lenyaplah sebagian besar
kesabarannya sebagai seorang hwesio dan semangat patriotnya timbul, mengeraskan
hatinya dan mengeraskan wajahnya. Di dalam setiap per-temuan dengan murid-muridnya,
dia selalu memberi wejangan agar para anak murid Siauw-lim-pai melakukan segala usaha
untuk menentang bangsa Mancu kalau perlu dengan taruhan nyawa.
Sebagai ketua Siauw-lim-pai, tentu saja Ceng San Hwesio memiliki ilmu
kepandaian yang hebat sekali. Dia seorang ahli lweekeh yang sudah matang
sehingga benda apa pun juga yang beradadi tangannya dapat menjadi senjata yang ampuh.
Akan tetapi Ceng San Hwesio tidak pernah mempergunakan senjata, tidak mau
mempergunakan tongkat hwesio sebagai senjata seperti kebiasaan para ketua lainnya,
melainkan lebih suka mengandalkan tasbih putih yang terbuat dari pada biji jagung jali yang
besar-besar.
Seperti telah dlsinggung; di bagian de beberapa kali telah terjadi bentrokan-bentrokan
antara anak murid Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Akan tetapibentrokan-bentrokan ini hanya
terjadi karena urusan pribadi dan berkat kebijaksanaan para pimpinan kedua fihak,
bentrokan antara kedua partai yang sama-sama menjadi pembantu-pembantu para pejuang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
230
itu dapat diredakan, bahkan diantara para pimpinan telah menghukum murid masing-masing
dan saling minta maaf sehingga urusan dianggap telah selesai.
Ceng San Hwesio yang memegang keras peraturan, berdisiplin terhadapmurid-muridnya,
selain memberi hukuman kepada murid-murid yang menimbulkan.bentrokan juga
mengeluarkan ancaman bahwa siapa yang membuat gara-gara keributan dan menimbulkan
bentrokan baru dengan fihak Hoa-san-pai, akan dihukum berat.
Akan tetapi, beberapa hari kemudian ketika hwesio penjaga pintu membuka pintu gerbang
Siauw-lim-si dan siap untuk menyapu pekarangan, dia melihat tubuh tiga orang menggeletak
di depan pintu. Ketika diperiksa, hwesio ini kaget sekali mendapat kenyataan bahwa mereka
adalah murid-rraurid Siauw-lim-pai yang membuka toko obat di kota Seng-kwan. Segera ia
berseru minta tolong dan beberapa orang hwesio mengangkat tiga batang tubuh itu ke
dalam. Dua di antaranya sudah tewas, sedangkan seorang diantara mereka masih hidup
akan tetapi sudah empis-empis napasnya dan keadaannya payah sekali.
Kebetulan sekali pada waktu itu, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam
berada di kuil itu. Mereka ini adalah Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek orang ke enam dan ke
tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam. Ketika mendengar ribut-ribut, dua
orang pendekar pedang Siauw-jim yang sedang menghadap suhu mereka, segera keluar
untuk melihat mewakili Ceng San Hwesio. Mereka berdua kaget seka!i dan cepat
memeriksa. Tiga orang anak muridSiauw-lim-pai itu terluka oleh pedang yang menggorok
leher mereka. Yang dua orang hampir putus lehernya dan telah mati, sedangkan yang masih
hidup terluka parah, tak dapat diharapkan lagi dapat tertolong.
Liong Ki Tek yang bersikap tenang, cepat menotok beberapa jalan darah dipundak clan
punggung orang yang terluka hebat itu sehingga rasa nyeri tidaklah terlalu hebat lagi. Begitu
rasa nyeri mereda, orang yang sekarat itu mengeluarkan suara yang tidak jelas, berbisik dan
seperti mengorok tertahan di kerongkongannya. Akan tetapi Liong Ki Tekclan Liok Si Bhok
sudah dapat mendenga rapa yang dimaksudkan anak murid yangsekarat itu.
"……..Hoa-san-pai…….Tee-kong-bio…..” Setelah mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas
itu, anak murid Siauw-lim-pai itu pun menghembuskan napas terakhir menyusul kedua orang
saudaranya yang tewas lebih dulu.
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek lalu menghadap guru mereka untuk merundingkan peristiwa
menyedihkan itu. Ceng San Hwesio yang biasanya bersikap tenang saat itu menjadi merah
mukanya dan jelas sekali bahwa hwesio tua ini diserang nafsu kemarahan yang besar.
"Kalian pergilah, carilah mereka di Tee-kong-bio, akan tetapi jangan bunuh tangkap mereka
dan seret ke sini. Pinceng menghendaki agar dia menjadi tawanan kita sehingga ada
pimpinan Hoa-san-pai yang datang untuk mendengarkan kekejaman-kekejaman anak murid
mereka. Sungguh keji sekali !"
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek segera berangkat meninggalkan kuil Siauw lim-si untuk
mencari Tee-kong-bio (Kuil Dewa Bumi) yang terletak di luar dusun Ciu-si-bun. Kuil ini
sebenarnya hanyalah bekas kuil, karena sudah tidak dipakai lagi tidak dipergunakan sebagai
kuil. Letaknya pun di luar kota, di pinggir jalan sebuah hutan dan karena tidak ada yang
merawatnya, maka menjadi kotor dan rusak. Akan tetapi, perlengkapan kuil itu masih ada,
seperti meja-meja sembahyang yang reyot, arca-arca dan ukiran-ukiran di dinding yang
sudah berlumut.Tidak ada yang berani mengambil benda-benda di situ atau
mengganggunya karena menurut desas-desus di dusun-dusun sekeliling tempat itu, Tee-
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
231
kong-bio sekarang dihuni oleh mahluk-mahluk halus atau iblis-iblis sehingga tempat itu
menjadi angker.
Karena keadaan kuil yang dianggap angker inilah maka ketika Liok Si Bhok dan Liong Ki
Tek keluar dari dusun Ciu-si-bun menuju ke kuil itu, keadaan disekeliling tempat itu sunyi
seperti kuburan. Waktu itu sudah menjelang senja, dan sungguhpun cuaca belum gelap,
namun tidak ada penduduk dusun yang berani berada di daerah angker ini. Kesunyian itu
amat terasa oleh dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini dan mereka berjalan terus dengan
tenang dan penuh kewaspadaan.
“.Liong-sute, aku masih ragu-ragu akan kebenaran ucapan murid yang sudah dalam sekarat
itu. Mereka adalah pedagang pedagang obat di kota, bagaimanama mereka bisa menyebut
nama Hoa-san-pai di Tee-kong-bio?"
"Entahlah, Liok-suheng. Aku sendiripun ragu-ragu. Akan tetapi, agaknya tidak sembarangan
dia mengatakan itu tentu ada hubungannya. Aku yakin ter-dapat rahasia dalam peristiwa itu
dan rahasianya terletak di kuil depan itu."
Liok Si Bhok yang sudah berusia enampuluh tahun lebih itu mengangguk-angguk. Dia
merupakan tokoh ke enam dari Siauw-lim Chit-kiam, seorang yang bertubuh pendek gemuk
namun tubuhnya itu dapat bergerak dengan gesit sekali, wajahnya bundar dan selalu
kelihatan serius, namun mulutnya hampir tersenyum selalu menandakan bahwa dalam
keseriusannya itu sebetulnya dia adalah seorang yang peramah. Adapun Liong Ki Tek,
orang ketujuh atau yang termuda dari Siauw-lim Chit-kiam, usianya kurang lebih limapuluh
lima tahun, berbeda dengan suheng ke enam itu, tubuhnya tinggi kurus sehingga tinggi
suhengnya hanya sampai dipundaknya. Sikap orang termuda. Dari Tujuh Pedang Siauw-limpai ini amat tenang sehingga kelihatan lamban, akan tetapi biji matanya yang bergerak-gerak
terus itu menandakan bahwa biarpun tenang ia sarna sekali tidak lamban melainkan terus
waspada dan setiap urat syaraf di tubuhnya sudah siap.
Ketika kedua orang tokoh Siauw-lim-paj ini memasuki pekarangan kuil Tee-kong-bjo yang
sunyi, tiba-tiba mereka mendengar kepak sayap burung. Dengan kaget mereka mengangkat
muka memandang. Kiranya ada tiga ekor burung gagak terbang dari atas genteng kuil itu,
agaknya terkejut oleh kedatangan mereka. Melihat ini, kedua orang itu saling pandang dan
menjadi agak kecewa. Terbangnya tiga ekor burung itu dapat diartikan bahwa di kuil itu tidak
ada orangnya tentu burung yang ketakutan melihat mereka datang itu tidak akan berani
tinggal di situ.
Akan tetapi mereka melangkah maju terus, melewati pekarangan yang lebardan yang
tertutup rumput agak tinggi itu, sampai di anak tangga yang cukup tinggi, ada dua puluh
anak tangga banyaknya sehingga ruangan depan kuil itu tingginya hampir dua meter dari
tanah dipekarangan. Biarpun mulut kedua orang kakek ini tidak mengeluarkan suara, namun
keduanya seperti te!ah bersepakat dan melangkahlah mereka menaiki anak tangga dengan
langkah ringan dan sikap tenang. Begitu mereka melangkahi anak tangga terakhir dan tiba di
ruangan depan, terdengar suara bercicit keras daan keduanya siap untuk menghadapi
serangan senjata rahasia ketika pandang mata mereka yang tajam dapat menangkap
meluncurnya dua buah Benda hitam dari sebelah dalam kuil. Akan tetapi sebelum benda itu
menyerang mereka, benda benda itu menyambar ke atas dan mengeluarkan bunyi bercicit,
dan ternyata dua buah benda hitam itu adalah dua ekor kelelawar .besar!
Li-ok Si Bhok dan Liong Ki Tek saling pandang, tersenyum dan menghela napas panjang.
Mereka tadi sudah merasa agak tegang, dan kini ternyata mereka kecelik. Bahkan keluarnya
dua ekor kelelawar dari sebelah dalam kuil ini lebih meyakinkan dugaan mereka bahwa kuil
itu kosong karena kalau memang ada orang-nya, tentu dua ekor kelelawar itu sudah sejak
tadi terbang pergi, tidak menanti kedatangan mereka yang mengejutkan binatang itu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
232
"Aht Chit-te (Adik ke Tujuh), tempatini tidak ada orangnya…….." kata Liok Si Bhok, kecewa.
"Sebaiknya kita menyelidiki keadaan di dalam Liok-heng (Kakak ke Enam)," jawab Liong Ki
Tek. Karena hubungan diantara Siauw-lim Chit-kiam amat erat sehingga mereka itu bukan
hanya merupakan kakak beradik seperguruan melainkan merasa seperti kakak beradik
sekandung kadan-kadang mereka menyebut kakak dan adik.
Mereka
yakin
maju
terus
akan
tetapi
karena
hati
mereka
merasa
makin
bahwa
kuil
itu
kosong,mereka tidaklah menjadi tegang lagi, bahkan ada sebagian atapnya yang runtuh.
Arca-arca yang tidak terawat di situ bahkan kelihatan makin menyeramkan. Mereka
melangkah maju terus, meneliti setiap ruangan yang mereka lalui. Tiba-tiba keduanya
menghentikan langkah karena pada saat yang sama kedua orang gagah perkasa ini
mencium bau yang amat harum. Bau minyak harum yang biasa dipakai wanita! Mereka
mengerutkan kening. Seperti para suheng mereka, baik yang menjadi hwesio seperti Lui
Kong Hwesio dan Lui Pek Hwesio orang ke dua dan ke lima dari Siauw-lim Chit-kiam, kedua
orang ini. Pun merupakan murid-murid angkatan lama sehingga mereka pemah mengalami
pelajaran pantangan mendekati wanita. Bahkan mereka itu, seperti suheng-suheng mereka,
tidak pernah kawin. Maka, begitu mencium bau harum minyak wangi yang menandakan
bahwa di situ ada wanitanya, mereka mengerutkan kening. Bukan hanya karena mereka
segan berurusan dengan wanita, melainkan juga mereka terkejut menghadapi kenyataan ini.
Kalau di situ ada orangnya, apalagi wanita, hal ini berarti bahwa wanita atau siapa adanya
orang yang memaka iwangi-wangian itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat!
Sedemikian halus dan ringan tentu gerakan-gerakannya sehingga kelelawar dan burung
gagak yang berada di kuil itu sampai tidak tahu dan tidak menjadi kaget.
" Sahabat-sahabat Hoa-san-pai, silakan keluar. Kami dua orang utusan Siauw-lim-pai ingin
bertemu dan bicara!” Liok Si Bhok berseru sambil mengerahkan khikangnya sehingga
suaranya bergema diseluruh kuil, bahkan menggetarkan sarang laba-laba yang banyak
terdapat di sudut-sudut ruangan itu. Mereka berdiri ditengah-tengah sebuah ruangan lebar
dimana terdapat empat buah pintu, menjurus ke empat penjuru. Daun-daun pintunya
tertutup, hanya sebuah yang menuju keluar terbuka karena mereka yang membukanya tadi
ketika masuk dari luar. Hati mereka makin yakin bahwa kuil ini ada penghuninya ketika
melihat bahwa berbeda dengan ruangan-ruangan lain dibagian depan, ruangan yang paling
lebar dan berada di bagian belakang kuil ini lantainya bersih seolaholah sering disapu
Gema suara Liok Si Bhok mengaung menyeramkan, kemudian sunyi kembali. Selagi dua
orang tokoh Siauw-lim-pai jtu meragu apakah benar-benar adapenghunjnya kuil itu,
terdengar suara tertawa merdu, suara ketawa wanita yang halus dan bernada genit, seperti
suara ketawa kuntilanak yang menyeramkan. Biarpun dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu
merupakan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan tidak pernah mengenal takut,
namun suasana di kuil itu dan suara ketawa ini membuat bulu tengkuk mereka meremang.
Namun mereka dapa segera menindas perasaan ngeri ini dan
Liong Ki Tek lalu membentak.
"Manusia atau siluman, kami orang keenam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tidak
merasa takut!"
"Hi-hi-hi-hik, Liok Sj Bhok dan Ljong Ki Tek mengantar kematiannya, masih bermulut besar!"
Perlahan-lahan tiga buah daun pintu terbuka dari luar dan masuklah tiga orang dari tiga
buah pintu itu. Dari pintu belakang masuk seorang wanita yang usianya tentu sudah empat
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
233
puluh tahun lebih, akan tetapi masih kelihatan cantik sekali, berpakaian mewah dan bersikap
genit, terutama sekali matanya yang penuh dengan sinar rafsu berahi. Akan tetapi yang.
amat mengerikan adalah kedua buah tangannya. Tangan yang kecil berjari runcing halus
bagus sekali, hanya warnanya merah seolah-olah kedua tangan itu berlumur darah!
Dari pintu kiri muncul seorang kakek yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti
dipulas arang, usianya mendekati enam puluh tahun namun masih jelas tampak bahwa dia
kuat sekali dan bertenaga besar. Kesombongan bersinar dari sepasang matanya yang bulat
dan lebar. Adapun dari pintu kanan muncul seorang kakek yang usianya sebaya akan tetapi
dalam segala hal merupakan lawan merupakan lawan kakek muka hitam karena kakek ini
tubuhnya pendek kecil mukanya putih seperti dibedaki, keliahatannya lemah tak bertenaga
dan pandang matanya seperti orang mengatuk, matanya sipit.
Liok Si Bhok dan Liok Ki Tek adalah orang-orang yang sudah banyak pengalaman di dunia
kang-ouw, bahkan sudah mengenal tokoh-tokoh besar. Maka begitu melihat tiga, orang ini,
jantung mereka berdebar keras karena mereka mengenal mereka itu sebagai tokoh-tokoh
sakti dari golongan sesat! Wanita cantik genit itu bukan lain adalah Ma Su Nio yang terkenal
dengan julukan Hiat-ciang Sian-Ii (Dewi Bertangan Darah), seorang tokoh sakti yang cabul
genit dan kejamnya seperti iblis betina! Adapun kakek bermuka hitam yang tinggi besar itu
adalah Hek-giam-ong (Raja Maut Hitam), se-dangkan kakek bermuka putih adalah Pekgiam-ong (Raja Maut Putih). Mereka berdua adalah kakak beradik.dan terkenaldengan
sebutan Hek-pek Giam-ong yang selalu muncul berdua dan setiap kali turun tangan tentu
berdua sehingga merupakan lawan yang amat tangguh. Tiga orang ini adalah murid-murid
dan juga pembantu-pembantu Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak, seorang di antara
datuk-datuk golongan hitam atau kaum sesat!
Akan tetapi, dari tiga orang yang muncul ini tidak ada tercium bau harum tadi. Memang Hiatciang Sian-li Ma Su Nio ada juga membawa bau wangi, akan tetapi berbeda dengan
keharuman tadi, bahkan di antara bau wangi, yang datang dari tubuh Dewi Tangan Darah ini
tercium bau amis darah! Adapun Hek-pek Giam-ong sama sekali tidak membawa bau
harum, kalau ada membawa bau, paling-paling juga bau apek karena pakaian berkeringat
yang tak pernah dicuci.
Setelah kini semua pintu yang menembus ruangan itu terbuka, bau harum itu makin keras
dan ternyata datangnya dari atas. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek cepat memandang ke atas
dan……jauh di atas balok melintang tampak duduk dua orang muda, seorang gadis cantik
dan yang seorang lagi pemuda yang tampan. Gadis itu cantik sekali, tubuhnya ramping
padat hidungnya mancung dagunya runcing dan sepasang mataya seperti mata burung
hong jantan. Rambutnya yang hitam panjang itu hanya diikat dengan sutera di belakang
tengkuk, dibiarkan melambai ke punggung. Kepalanya ditutup atau lebih pantas dihias
sebuah topi buIu putih yang kecil, dengan sebatang buIu burung menjadi penghias.Kedua
telinganya digantungi sepasang anting-anting emas dan kedua lengannya bergelang emas
pula. Gadis yang usianya sukar ditaksir, kurang lebih dua puluhtahun ini, tersenyum-senyum
dan agaknya bau wangi yang sedap harum itu keluar dari tubuh dan pakaiannya. Di sebelah
kirinya duduk pula di atas balok itu,seperti si gadis, dengan kedua kaki ongkang-ongkang,
seorang pemuda tampan dan gagah, Usianya sebaya dengan gadis itu. Pemuda ini
tubuhnya tinggi tegap wajahnya ganteng dan pakaiannya amat indah, dari sutera disulam
menyaingi keindahan pakaian gadis itu. Wajahnya yang ganteng itu terawat baik, berklulit
putih halus dan rambut nya pun tersisir rapi dan halus kelimis. Sayang bahwa wajah yang
tampan itu memiliki hidung yang agak besar terlalu besar dan melengkung, dengan
sepasang mata yang mengandung sinar tajam, bengis dan kejam.
Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terkejut bukan main. Mereka tidak mengenal dua orang
muda itu, akan tetapi kenyataan bahwa mereka itu dapat ber-ada di situ sejak tadi tanpa
mereka ketahui bahkan tanpa diketahui kelelawar dan burung yang hanya terbang setelah
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
234
mereka berdua datang, membuktikan bahwa dua orang muda itu bukanlah orang
sembarangan. Akan tetapi karena tidak tahu siapa adanya kedua orang muda itu, dan tidak
tahu pula apa hubungannya mereka dengan tiga orang murid Kang-thouw-kwi ini, dua orang
tokoh Siauw-lim-pai itu hanya menggunakan seluruh perhatian untuk menghadapi Hek-pek
Giam-ong dan Hiat-ciang Sian-Ii.
” Hemmm, kirananya Hiat-cian Sian-Ii dan Hek-pek Giam-ong yang berada didalam kuil ini.
Sungguh tidak kami sangka. Akan tetapi karena ternyata Sam wi (Tuan Bertiga) yang berada
di sini,kiranya Sam-wi dapat memberi keterangan kepada kami tentang tiga orang anak
murid Siauw-lim-pai yang terluka parah ……”
Tiga orang murid Setan Botak itu kelihatan terkejut clan mereka memandang ke atas
dengan sikap tenang.
" Kongcu (Tuan Muda), bagaimana mereka ini bisa tahu...?" kata Hiat-ciang Sian-lie
"Hemmm, agaknya Suheng bekerja kurang sempurna sehingga di antara mereka ada yang
belum mampus dan membuka rahasia……" pemuda tampan itu mencela.
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah tokoh-tokoh yang sudah banyak pengalaman. Begitu
mendengar percakapan ini, mengertilah mereka akan duduk perkara. Kiranya murid-murid
Setan Botak yangmemang menjadi kaki tangan pemerintah penjajah Mancu yang telah
membunuh tiga orang murid Siauw-lim-pai dan agaknya mereka itu menyamar sebagai
orang-orang Hoa-san-pai untuk menjalankan siasat adu domba antara Siauw-lim-pai dan
Hoa-san-pai! Hanya mereka merasa heran mendengar betapa pemuda itu menyebut suheng
kepada murid-murid Setan Botak yang menjadi tanda bahwa pemuda itu murid Setan Botak
pula, akan tetapi mengapa Hek-pek Giam-ong dan juga Hiat-ciang Sian-Ii menyebutnya
kongcu? Siapakah pemuda itu yang melihat sikapnya dan mendengar ucapannya seolaholah yang menjadi pemimpin di antara mereka?
"Bagus sekali!" Liong Ki Tek sudah membentak marah, "Kiranya kalian ini orang-orang
sesat yang membunuh anak murid kami kemudian menyamar sebagai orang Hoa-san-pai
untuk mengadu domba!" Sambil membentak demikian, Liong Ki Tek sudah mencabut
pedangnya, berbareng dengan suhengnya.
.Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, akan tetapi lidahnya asing sehing ga bahasa
yang diucapkannya terdengar lucu, "Lebih baik lagi begini! Sudah kukatan bahwa
memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar pula! Tiga orang itu hanya
merupakan ikan teri,kurang besar untuk dijadikan umpan. Kalau kita menggunakan yang
besar ini sebagai umpan, pasti berhasil. Siauw-lim-pai sukar dipancing, hendak kulihat nanti
kalau mereka melihat mayat dua orang ini. Ouwyang-twako, jangan khawatir,rencana kita
sekali ini pasti berhasil. Eh,kalian bertiga tidak lekas turun tangan, hendak menunggu apa
lagi?"
Berbareng dengan teriakan-teriakan mereka, tiga orang murid Setan Botak itu maju
menyerbu. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek memutar pedang melindungi diri, dan di dalam hati
mereka timbul pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka menjadi heran terhadap gadis
itu.Jelas bagi mereka bahwa gadis itu adalah seorang gadis Mancu yang agaknya malah
lebih berpengaruh dari pada si pemuda she Ouwyang itu, terbukti dari ucapannya yang
nadanya seperti orang bicara kepada bawahannya!
Akan tetapi, dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak dapat memecah perhatian mereka
karena tiga orang lawan mereka sudah mengirim pukulan-pukulan maut yang amat
berbahaya. Mereka itu adalah murid-murid pilihan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat. yang
terkenal sebagai seorang ahli Yang..kang. Tidak mengherankan apabila kedua orang kakek
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
235
Hek-pek Giam-ong itu amat lihai, karena keduanya mempunyai ilmu pukulan berdasarkan
Yang-kang disebut Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) dan setiap kali
mereka mengirim pukulan, tangan mereka didahului menyambarnya hawa yang amat panas
melebihi panasnya api! Mereka berdua inilah yang telah membunuh tiga orang anak murid
Siauw-lim-pai dan karena mereka itu hendak menimbulkan kesan seolah-olah orang-orang
Hoa-san-pai yang biasa menggunakan pedang, mereka tidak menggunakan pukuIan Toatbeng Hwi-ciang mereka ketika membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai itu,
melainkan dengan sebatang pedang. Akan tetapi, andaikata mereka itu memegang pedang
sebagai. manapun juga.
Akan tetapi, lebih hebat lagi daripada dua orang Raja Maut itu adalah serangan yang keluar
dari sepasang tangan merahMa Su Nio. Hawa pukulan wanita. Ini juga mengandung panas
yang hebat, namun di samping hawa panas ini juga membawa bau amis dan mengeluarkan
suara bercicitan sangat tinggi menggetarkan jantung. Sesuai dengan julukannya, kedua
tangan wanita ini memiliki pukulan-pukulan beracun yang amat hebat karena yang teracun
oleh pukulan ini adalah darah lawan yang langsung akan membunuh lawan dari dalam!
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek maklum akan kelihaian tiga orang lawan mereka. Biarpun
lawan mereka itu bertangan kosong, namun sesungguhnya gerak pukulan mereka lebih
berbahaya dari pada datangnya luncuran anak panah beracun. Mereka memutar pedang
melindungi tubuh, namun karena terus menerus diserang secara bertubi tubi, pedang
mereka itu hanya dapat dipergunakan untuk pertahanan, sama sekali mereka tidak
mendapat kesempatan untuk menggerakkan pedang membalas. Karena ini, mereka segera
mengeluarkan suara keras dan itulah suara sebagai tanda bagi Siauw-lim Chit-kiam untuk
mengeluarkan ilmu yang mereka andalkan, ilmu pedang yang amat ampuh yang khusus
diajarkan oleh ketua Siauw-lim-pai kepada tujuh orang tokoh Siauw-lim itu, yaitu Chit-sengsin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bihtang). Begitu kedua orang ini mainkan Chit-seng-sin-kiam
dengan pedang .mereka, tiga orang lawan mereka berseru kaget dan meloncat mundur.
Ilmu pedang Chit-seng-sin-kiam ini memang hebat luar biasa, diciptakan oleh ketua Siauwlim-pai dengan bantuan suhunya yang masih hidup dan sudah berusia tua sekali. Bukan
sembarangan ilmu pedang, melainkan ilmu pedang yang digerakkan dengan sinkang yang
kuat sehingga sinar pedangnya menjadi bergulung-gulung panjang dan dapat melukai lawan
dari jarak jauh. Apalagi kalau dimainkan oleh ketujuh orang Siauw-lim Chit-kiam,
keampuhannya menggila sehingga pernah Siauw-lim Chit-kiam ini dapat menandingi Setan
Botak yang terkenaI sebagai seorang di antara datuk-datuk hitam yang sakti. Sungguhpun
akhirnya Siauw-lim Chit-kiam terdesak, namun tidaklah mudah bagi datuk hitam itu untuk
mencapai kemenangan. Kini,dimainkan oleh orang ke enam dan ketujuh dari tujuh pendekar
pedang Siauw-lim itu, sudah cukup hebat sehingga membuat ketiga orang murid Setan
Botak terdesak mundur, gentar menghadapi sinar pedang yang berkilauan dan mengandung
hawa yang dingin namun berbahaya itu.
Dua gulungan sinar pedang itu kini bersatu, merupakan sinar kilat yang membentuk
lingkaran-lingkaran aneh mengurung dan menindih tiga orang tokoh hitam yang terpaksa
harus meloncat kesana kemari untuk menghindarkan diri dari sinar pedang yang berbahaya
itu.
“Rebahlah!!” Bentakan ini keluar secara berbareng dari mulut Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek
dan sinar pedang mereka tiba-tiba berpisah, terpecah dua dan secepat kilat membabat
tangan Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong yang melakukan pukulan mendorong. Kedua orang
kakek ini terkejut sekali, cepat menarik kembaJi tangan mereka, akan tetapi sinar pedang itu
dari kanan kiri meluncur kearah dada mereka!
"Aihhhhh………!"
Hek-giam-ong
terpaksa
mengerahkan
tenaga
di
tangan
kanannya,menangkis sinar itu sambi! Mengerahkan Toat-beng Hwi-ciang. la berhasil
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
236
menangkis pedang itu, akan tetapi lengannya-tergores ujung pedang dan terluka sehingga
mengeluarkan darah.
Pek-giam-ong yang tenaganya tidaksehebat Hek-giam-ong, tidak berani menangkis
melainkan cepat membuang diri ke belakang, akan tetapi pundaknya tetap saja kena
dlserempet pedang sehingga terluka.
"Hiaaaaattt……..!!" Ma Su Nio menggunakan kesempatan itu memukul dengan kedua
tangannya yang merah ke arah lambung kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu, akan tetapi
dengan gerakan otomatis kedua orang pendekar pedang itu menyabetkan pedang mereka
ke belakan sambil memutar tubuh.
"Ayaaaaa.…...!" Hiat-ciang Sian-Ii Ma Su Nio menjerit dan cepat ia menarik kembali kedua
lengannya yang berbalik menjadi terancam. la dapat menyelamat kan kedua lengannya,
akan tetapi tubuhnya terhuyung ke belakang dan saat itu dipergunakan oleh Liok Si Bhok
dan Liong Ki Tek untuk menerjang maju, mengirim tusukan maut ke arah tubuh wanita iblis
yang amat lihai itu.
"Tranggg…….! Tranggggg……..!!”
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek terkejut, sekali karena pedang mereka ter-pental dan hampir
terlepas dari tangan mereka. Terutama sekali Liok Si Bhok yang merasa betapa pedangnya
tergetar sehingga setelah tertangkis masih tergetar mengeluarkan suara mengaung, tanda
betapa penangkisnya memiliki sinkang yang hebat sekali. Lebih kaget dan heran dia ketika
melihat bahwa yang menangkis pedangnya itu hanyalah sebatang payung di tangan gadis
Mancu yang tadi duduk di atas tiang balok melintang. Adapun yang menangkis pedang Liong
Ki Tek adalah sebatang pedang bersinar kuning di tangan pemuda tampan tadi. .Kedua
orang tokoh Siauw-lim-pai itu maklum bahwa mereka terancam bahaya. Dua orang muda itu
ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sedangkan tiga orang murid Kang-thouw-kwi
Gak Liat hanya terluka kecil saja. Bahkan Hiat-ciang Sian-Ii Ma Su Nio hanya mengalami
kekagetan saja, belum terluka. Kalau mereka itu mau pula membantu tentu mereka berdua
akan terancam bahaya maut. Akan tetapi, sebagai pendekar-pendekar besar, mereka tidak
menjadi gentar, bahkan saling berdekatan,berdampingan sambil menyilangkan pedang
mereka di depan dada. Liok Si Bhok dengan sikap dan suara tenang bertanya.
"Siapakah kalian orang-orang muda?"
Gadis Mancu yang cantik itu tersenyum, pandang matanya melebihi tajamnya pedang
diangan pemuda itu dan lebih runcing daripada ujung payung ditangannya, namun
senyumnya amat manis, membuka sepasang bibir yang indah bentuknya, memperlihatkan
kemerahan rongga mulut di. balik deretan gigi seperti mutiara.
"Memang amat tidak enak mati dalam penasaran. Kalian berdua orang Siauw-lim-pai yang
keras hati dan keras kepala sudah menghadapi kematian, agar tidak mati dalam penasaran
baiklah kalian mengenal kami. Aku adalah Puteri Nirahai, puteri ke tujuh belas dari
Kaisarl Adapun dia ini adalah Ouwyang Seng, putera Pangeran Ouwyang Cin Kok, murid
bungsu namun paling lihai dari Kang-thouw-kwi Gak Liat.”
"Kedua orang pendekar pedang itu terkejut. Biarpun mereka belum pernah mendengar
nama kedua orang muda ini,namun melihat gerakan mereka dan tenaga sinkang mereka,
tentu mereka ini merupakan lawan berat Apalagi kalo gadis ini benar benar seorang puteri
kaisar, tentu di situ terdapat banyak pe-ngawal-pengawal istana yang setiap saat dapat
datang mengeroyok mereka. Mereka tidak takut, akan tetapi ingin sekali mengetahui apa
yang menyebabkan puteri ini melakukan semua perbuatan ini.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
237
"Mengapa kalian membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai, melemparmayat mereka
di depan kuil dan meng-gunakan nama Hoa-san-pai?" tanya pula Liok Si Bhok.
"Adik Nirahai, kita bunuh saja mereka!" Ouwyang Seng, pemuda tampan itu berkata sambil
mengerutkan alisnya yang hitam tebal.
Akan tetapi gadis Mancu itu sambil tersenyum menggoyang tangan kirinya yang kecil dan
berkulit halus. "Jangan membikin mereka mati penasaran, Ouw-yang-twako. Mereka toh
pasti akan mati di tangan kita, mengapa tergesa-gesa? Biar mereka tahu lebih dulu akan
duduknya persoalan, toh kita tidak usah khawatir kelak roh mereka. akan membuka rahasia
kepada para pimpinan Siaw-lim-pai dan Hoa-san-pai."
Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu bergidik. Gadis ini bicara dengan sikap dingin, tidak
sombong akan tetapi mengandung wibawa yang mengerikan.
"Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dengarlah baik-baik. Tiga orang muridmu itu memang kami
yang membunuhnya dan sengaja kami pergunakan untuk mengadu domba antara Siauwlim-pai dan .Hoa-san-pai. Akan tetapi siapa nyana, kalian keras kepala dan tidak mau masuk
perangkap, bahkan seorang muridmu yang belum mati membuka rahasia sehingga kalian
dapat menemukan tempat ini. Sekarang kami hendak membunuhmu, dan akan kami atur
agar para pimpinan Siauw-lim-pai menganggap bahwa kematianmu berada di tangan orangorang Hoa-san-pai. Takkan dapat dicegah lagi, Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai akan
bermusuhan, bertanding dan berbunuh bunuh-an sampai keadaan mereka menjadi lemah.
Bukankah ini merupakan siasat yang baik sekali!"
"Keji! Iblis betina yang keji!" Liong. Ki Tek memaki. “Kalau benar kalian ini puteri Kaisar,
tentu mengerti akan peradaban, kebudayaan dan setidaknya mengenal prikemanusiaan!
Akan tetapi engkau palsu dan keji, lebih patut menjadi puteri siluman!"
"Manusia biadab lancang mulut !” Ouw-yang Seng membentak dan hendak menyerang,
akan tetapi kembali ia ditahan oleh Puteri Nirahai yang masih tetap tersenyum-senyum dan
sedikit pun tidak kelihatan marah. Hal ini saja sudah mengagetkan hati kedua orang tokoh
Siauw-lim-pai itu. Gadis masih begitu muda remaja sudah pandai menguasai perasaan
tanda bahwa dia betul-betul memiliki..ilmu yang tinggi lahir batin!
"Orang-orang Siauw-lim-pai, pandanganmu amat picik. Aku melakukan semua itu sematamata untuk kepentingan kerajaan Ayahku yang menjadi Kaisar, untuk kejayaan bangsaku,
untuk kemenangan negaraku. Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai diam-diam menentang
Kerajaan Ceng merupakan musuh-musuh dan karena kedua partai ini amat kuat dan
berbahaya maka perlu sekali dibikin lemah. Siasat ini merupakan siasat perang, dan
kulakukan dengan dasar berbakti kepada Ayah dan negara, kepada bangsa yang tercinta.
Apakah bedanya dengan perbuatanmu menentang kerajaan kami? Kalian melakukan hal itu
dengan dalih mengabdi bangsa, aku pun melakukan hal ini dengan dasar mengabdi bangsa,
apa bedanya? Perbuatan kalian mungkin dianggap patriotik dan gagah perkasa oleh
bangsa-mu dan kalian dianggap sebagai pahlawan oleh bangsamu. Akan tetapi aku pun
dianggap seorang pahlawan wanita .oleh bangsaku! Antara kalian dan aku hanya ada satu
perbedaan, yaitu perbedaan dalam penilaian. Kalian berjuang untuk kebaikan, aku pun
demikian. Yang menjadi pertanyaan besar, apakah itu yang dikatakan kebaikan?"
“Akan tetapi, kami penjunjung kegagahan, kebenaran dan keadilan pantang untuk
melakukan siasat-siasat busuk yang hina seperti yang kaulakukan!" kata pula liok Si Bhok
setelah tercengang sejenak mendengar ucapan yang tidak pantas keluar dari mulut seorang
gadis remaja berusia dua puluh tahun itu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
238
"Hi-hik , ucapanmu itu menandakan bahwa engkau bukanlah seorang ahli
perang! Mengandalkan kejujuran dan welas asih dalam perang, mana mungkin dapat
menang? Perang ialah mengadu siasat, makin keji makin baik, mengadu kekerasan dan
kekejaman. Sudahlah, kini bersiaplah kalian untuk mati!
"Baru saja ucapan ini habis dikeluar kana tiba-tiba Liok Si Bhok melihat sinar .hitam yang
lebar sekali mengembang didepannya dan gadis itu tiba-tiba lenyap, kemudian tahu-tahu
ujung payung yang runcing telah meluncur secepat kilat menusuk dadanya! Kaget sekali
pendekar ini, namun tidak percuma ia menjadi orang ke enam dari Siauw-lim Chit-kiam
karena pedangnya sudah bergerak dengan pemutaran pergelangan tangannya, langsung
menangkis ujung payung dar samping.
"Cringgggg !" Liok Si Bhok terpaksa meloncat ke belakang sambil memutar pedang
melindungi tubuhnya. Lengan kanannya seperti kesemutan, pedangnya masih tergetar dan
diam-diam ia kaget dan kagum bukan main. Kiranya gadis itu telah menggerakkan
payungnya secara luar biasa dahsyatnya. la memandang dengan penuh perhatian. Senjata
itu adalah sebuah payung biasa yang batangnya tentu terbuat dari baja pilihan yang amat
kuat .Gagangnya melengkung seperti payung biasa, ruji-rujinya dari baja keras pula dan
payungnya dari kain tebal berwarna hijau, ujung batangnya runcing seperti pedang. Tadi
ketika gadis itu menyerangnya, payung itu berkembang sehingga menyembunyikan tangan
dan tubuh gadis itu dan disinilah letak kehebatan senjata ini. Kalau payung berkembang,
lengan dan tangan yang memegang payung tersembunyi dan tidak tampak oleh lawan.
Padahal, dalam bertanding, yang penting adalah memperhatikan gerak lawan yang dapat
dilihat sebelum senjata digerakkan dari gerakan tangan, lengan dan pundak. Kalau semua
bagian tubuh ini tersembunyi, maka gerakan-gerakan selanjutnya dari lawan takkan tampak
dan perkembangan serangannya takkan dapat diduga terlebih dulu.
Sementara itu, Ouwyang seng juga sudah enerjang Liong Ki Tek dengan pedangnya. Liong
Ki Tek cepat menangkis, akan tetapi pada saat pedang bertemu, tangan kiri Ouwyang Seng
yang terbuka itu mendorong ke depan dan serangkum hawa panas yang lebih hebat
daripada ilmu Toat-beng Hwi-ciang dari Hek-pek Giam-ong menyambar ke depan.
"Aihhh…….!" Liong Ki Tek cepat meloncat ke belakang dan agak terhuyung saking
kagetnya.
Ouwyang seng tertawa mengejek dan menerjang terus ke depan dengan pedangnya
diseling pukulan-pukulan yang lebih berbahaya daripada pedang itu sendiri karena pemuda
ini menggunakan pukulan sakti Hwi-yang sin-ciang!
Di dalam jilid-jilid yang lalu banyak diceritakan tentang Ouwyang seng ini sebagai murid Gak
Liat yang lihai dan sejak kecil sudah memiliki watak yang
keras dan kejam. Namun di samping watak ini, dia merupakan seorang murid
yang amat tekun dan disayang oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, maka setelah kini
berusia dua puluh tahun, ia telah menjadi seorang murid yang paling pandai di
antara semua murid Si Setan Botak! Bah-kan Hwi-yang Sin-ciang yang tidak dapat dimiliki
murid-murid lain, telah dikuasai oleh Ouwyang Seng yang ikut berlatih bersama suhunya
dengan masakan batu batu bintang. Toat-beng Hwi-ciang boleh jadi amat lihai, dan Hiatciang lebih dahsyat lagi, akan tetapi dibandingkan dengan Hwi-yang Sin-ciang, kedua ilmu
pukulan yang berdasarkan Yang-kang itu masih kalah jauh!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
239
Setelah dewasa, tentu saja Ouwyang Seng yang terkenal dengan sebutan Ouw-yangkongcu menjadi seorang yang penting kedudukannya dalam tokoh-tokoh pembela Kerajaan
Ceng. Ayahnya seorang pangeran yang terkenal juga, Pangeran Ouwyang Cin Kok yang
menjadi seorang di antata para penjilat yang terlihai di dekat Kaisar Mancu. Dan mengingat
akan kepandaiannya yang tinggi, Ouwyang-kongcu ini bergerak dalam bidang pengamanan
kerajaan terhadap ancaman para pejuang yang bergerak secara rahasia menentang
pemerintah Mancu.
Siapakah wanita cantik yang amat hebat itu? Dia memang seorang puteri,bernama Puteri
Nirahai, puteri dari Kaisar Mancu yang lahir dari seorang selir berbangsa Khitan. Puteri
Nirahai ini rnemiliki kepandaian yang dahsyat, bahkan lebih tinggi daripada tingkat
kepandaian Ouwyang-kongcu sendiri! Dibandingkan dengan tingkat para tokoh datuk hitam,
dia hanya kalah sedikit! Memang sukar untuk dipercaya bagaimana seorang gadi berusia
dua puluh tahun telah mem:iliki ilmu kepandaian sedahsyat itu, akan tetapi hal ini tidak akan
mengherankan orang lagi kalau diingat bahwa dia adalah ahli waris dari kitab pelajaran ilmuilmu silat tinggi dari mendiang puteri Ratu Khitan yang dahulu terkenal diseluruh dunia kangouw dengan ulukan Mutiara Hitam! Mutiara Hitam adalah seorang pendekar wanita sakti
yang amat hebat ilmu kepandaiannya dan memiliki banyak kitab kitab pusaka ilmu silat yang
aneh-aneh dan amat tinggi. Kitab-kitab itu adalah peninggalan seorang tokoh wanita sakti
yang berjuluk Tok-siauw-kwi (Setan Cilik! Beracun) Liu Lu Sian yang bukan lain adalah ibu
kandung Suling Emas yangt amat terkenal(baca cerita Suling Emas, Cinta Bernoda Darah
dan Mutiara Hitam). Selama puluhan tahun, tidak ada kabar ceritanya tentang kitab-kitab itu
dan secara kebetulan beberapa buah diantara kitab-kitab itu terjatuh ke tangan Puteri
Nirahai inilah.
Di antara ilmu-ilmu silatnya yang hebat, Nirahai dapat mewarisi tiga buah ilmu kepandaian
Mutiara Hitam, yaitu pertama adalah Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti), ke dua
Ilmu, Pedang Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang De-lapan Iblis), dan yang ke tiga adalah ilmu
senjata rahasia Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi). Yang amat hebat adalah ilmu
pedangnya Pat-mo-kiam-hoat yang sukar dicari bandingnya karena memang dahsyat dan
ganas sekali. Apalagi gadis ini mainkan ilmu itu dengan senjatanya yang istimewa yang
disebut Tiat-mo-kiam (Pedang Payung Besi), maka kehebatannnya bertambah. Dapat
dibayangkan betapa lihainya permainan pedang yang tersembunyi di batik payung sehingga
lawan tak dapat' melihat gerakan-gerakannya. Sebetulnya ilmu ini tadinya merupakan ilrnu
pedang, akan tetapi dengan senjata seperti itu, sama dengan permainan pedang dibantu
perisai, namun disatukan sehingga merupakan senjata yang ampuh dan jika tidak dipakai
bertanding, dapat dipergunakan sebagai payung biasa untuk berlindung dari serangan hujan
dan panas, juga menambah gaya bagi seorang gadis jelita seperti Nirahai.
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang sudah tinggi
tingkat ilmu kepandaiannya.Mereka adalah dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, Tujuh
Pedang Siauw-lim yang amat disegani orang. Mereka adalah murid-murid langsung dari
ketua Siauw-lim-pai yang selain ahli dalam bermain pedang, juga memiliki tenaga sinkang
yang amat kuat, di samping pengalaman bertanding yang sudah luas.
Akan tetapi sekali ini, bertemu dengan Nirahai dan Ouwyang Seng, sebentar saja dua orang
tokoh Siauw-lim-pai ttu terdesak hebat. Ilmu pedang yang dimainkan Nirahai dengan senjata
payung luar biasa sekali dan tidak sampai lima puluh jurus, Liok Si Bhok yang bertubuh
gemuk pendek itu tak mampu balas menyerang lagi karena dari balik payung hitam itu
menyambar-nyambar sinar pedang bagaikan sinar kilat dari balik awan hitam yang tebal.
Tiba-tiba Nirahai mengeluarkan suara melengking tinggi dari balik payung menyambar sinar
berkeredepan yang berbau harum ke arah leherl Liok Si Bhok. Tokoh ini terkejut, maklum
bahwa itulah senjata rahasia yang amat berbahaya. Dan memang dugaannya benar karena
yang menyambar ltu adalah Siang-tok-ciam, segenggam jarum beracun yang berbau harum.
Liok Si Bhok cepat mengelak dengan miringkan diri ke kiri, akan tetapi ternyata bahwa
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
240
serangan jarum itu hanya merupakan pancingan karena kini tahu-tahu ujung paying itu telah
menusuk perutnya.
"Cringgggg!" Pedang di tangan Liok Si Bhok tergetar, bertemu dengan ujung payung dan
melekat! Pada detik berikut nya, dari batik payung itu menyambar kaki Nirahai yang kecil
bersepatu indah, menendang dengan gerakan cepat sekali dan tahu-tahu telah mengenai
lambung liok Si Bhok. Tokoh Siauw-ljm-pai yang bertubuh gendut pendek ini mengeluh dan
tubuhnya terbanting ke belakang. Dua kali ia masih berhasil menangkis sinar pedang
Nirahai, akan tetapi yang ketiga kalinya, tangkisamya meleset dan ujung payung itu
menancap memasuki lehernya menembus dari kanan ke kiri. Tanpa sempat berteriak lagi
Liok Si Bhok tewas dengan leher hampir putus!
"Ouwyang-twako, jangan robohkan dia dengan sin-ciang! Pukulan itu akan dikenaI orang
dan menggagalkan rencana-ku!" Niraha~ berseru ketika melihat betapa Ouwyang Seng
mendesak Liong Ki Tek dengan pedang dan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang.
Ouwyang Seng yang melihat betapa puteri itu telah berhasil merobohkan lawannya, menjadi
penasaran dan malu.Tanpa mengandalkan Hwi-yang Sin-ciang, bagaimana ia akan mampu
merobohkan lawan yang tangguh ini? Akan tetapi pada saat itu, Nirahai telah menerjang
maju dan menyerang Liong Ki Tek dengan .payungnya yang hebat itu. Seperti juga Liok Si
Bhok tadi, kini menghadapi serangan payung, Liong Ki Tek terkejut dan bingung. Tahulah
pendekar ini mengapa suhengnya tewas di tangan puteri ini, ternyata bahwa senjata payung
pedang itu benar-benar sukar dilawan. Ia mengerahkan tenaganya menangkis dan terdengar
suara keras diikuti muncratnya bunga api. Dibandingkan dengan suheng-nya, Liong Ki Tek
yang tinggi kurus ini memiliki tenaga yang lebih kuat sungguhpun ilmu pedangnya tidak
sehebat Liok Si Bhok. Akan tetapi tangkisannya yang mengandung tenaga kuat itu pun tidak
mampu membikin payung terpental,bahkan kini pedangnya melekat pula pada ujung payung
itu, tak dapat ia lepaskan. Dan saat ini dipergunakan dengan baik oleh Ouwyang Seng yang
sudah menusukkan pedangnya ke perut Liong KI Tek sampai tembus ke punggung.
"Ihhh…….., kau kasar sekali, Twako!" Nirahai menarik payungnya dan cepat meloncat ke
belakang agar jangan terkena semburan darah dari perut Liong Ki Tek.
Ouwyang Seng menjadi merah mukanya. Memang, tadi ia menyerang dengan kasar saking
gemas dan penasaran bahwa ia harus dibantu oleh gadis ini untuk merobohkan tokoh
Siauw-lim-pai ini sehingga kekasaran serangannya itu nyaris mendatangkan noda darah
yang menyembur keluar dari perut Liong Ki Tek pada baju nona itu. ,
"Sesudah dua orang tokoh Siauw-lim- pai ini tewas, apa yang akan kita lakukan selanjutnya,
Adik Nirahai? Kurasa permainanmu terlalu berbahaya sekarang." Untuk menutupi
kenyataannya bahwa dia tidak secepat Nirahai merobohkan lawan.bahkan mendapat
bantuan gadis perkasa itu, Ouwyang Seng menekan gadis itu dengan kata-kata yang
sifatnya menegur ini. "Mereka adalah dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, dan kekuatan
Siauw-lim-pai sama sekali tidak boleh dipandang ringan."
Nirahai tersenyum manis. "Tenanglah, Ouwyang-twako dan serahkan saja padaku karena
aku telah membuat rencana yang baik sekali, jauh lebih baik dari pada rencana semula.
Engkau tahu,Twako. Untuk memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar dan
dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam ini merupakan umpan besar sekali yang kematiannya
akan membikin geger Siauw-lim-pai dan sekali lni kutanggung bahwa Siauw-lim-pai akan
memusuhi Hoa-san-pai sehingga kita tidaklah harus bersusah payah lagi menggempur
keduanya.” Dengan wajah manis dan sikap tenang gadls itu lalu menceritakan rencananya
kepada Ouwyang Seng. Pemuda ini mendengarkan penuh perhatian, makin lama makin
tertarik dan setelah gadis itu menyelesaikan penuturan tentang rencana dan siasatnya, ia
bangkit berdiri dan men jura kepada Nirahai sambi! berkata.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
241
"Wah, engkau hebat sekali, Adik Nirahai! Sungguh mengagumkan! Makin besar dan
berbahagialh hatiku kalau aku teringat bahwa engkau yang begini cantik jelita, begini lihai
ilmu silatnya, begini cerdik pandai adalah tunanganku…."
"Hemmm, jangan tergesa-gesa, Twa-ko….." Nirahai memotong, sepasang alisnya yang
kecil panjang dan hitam itu berkerut, akan tetapi bibirnya yang merah tersenyum tenang.
"Adikku sayang…… Nirahai….. aku tidak tergesa-gesa, akan tetapi……. bukankah sudah
setengah resmi perjodohan kita……?" Ouwyang Seng berlutut dan suaranya gemetar penuh
perasaan. "Diantara Ayahmu dan Ayahku……
"Nirahai menundukkan muka memandang wajah pemuda yang tampan itu. Ia suka kepada
pemuda yang se!alu pandai mengambi! hatinya ini akan tetapi…….Ouwyang Seng bukanlah
pria yang memenuhi idaman hatinya. "Ouwyang-twako yang akan berjodoh adalah kita,
bukan Ayab!'. Kita……"
"Nirahai…...!" Ouwyang Seng memandang dengan sinar mata penuh cinta kasih dan
permohonan sehingga Nirahai menjadi kasihan, mengulurkan tangannya. Ouwyang Seng
menangkap jari-jari tangan yang halus meruncing itu dengan kedua tangannya, lalu
menciumi jari-jari tangan.itu penuh nafsu birahi dan cinta kasih. "Ohhh, Nirahai puteri jelita,
pujaan hati-ku. Aku cinta padamu….”
Sejenak puteri itu membiarkan jari tangannya dibelai dan dicium,akan tetapi mulutnya
berkata halus, "Aku tahu bahwa engkau mencintaku, Twako. Akan, tetapi aku tidak……ah,
belum lagi aku dapat menjatuhkan cinta kasihku kepada seseorang…….”
"Aku dapat menanti, sayang. Aku dapat bersabar, akan kunanti penuh harapan berseminya
cinta kasih di hatimu terhadap diriku. Nirahai……."
Puteri itu menarik tangannya terlepas dan berkata, biarpun mulutnya masih tersenyum
namun suaranya agak dingin, “Cukuplah, Twako. Kita sedang bertugas,dan aku tidak
senang bicara tentang hal itu. Harap kau suka mempersiapkan pasukan pengawal dan
sediakan dua buah peti mati akan tetapi jangan kelihatan seperti peti mati, melainkan peti
untuk mengirim barang berharga. Aku hendak menyampaikan berita kematian ini kepada
anak murid Siauw-Jim Chit-kiam yang kebetulan berada di kota Kok-lee-bun tak jauh dari
sini, kemudian aku akan ke Kwan-teng menemui Tan-piauwsu kepaIa Pek-eng-piauwkiok.
Siasatku ini harus berjalan lancar dan harus berhasil,Twako."
Ouwyang Seng adalah seorang pemuda yang cerdik, maka ia dapat menangkap nada suara
dingin itu dan tidak berani melanjutkan rayuannya tentang cinta. Ia bangkit berdiri, menghela
napas dan berkata, "Baiklah, Adik Nirahai. Aku sudah maklum akan rencanamu tadi."
Nirahai lalu berkelebat cepat ke arah belakang kuil tua itu, meloncat ke punggung kuda
yang disembunyikan jauh dari situ kemudian membalap untuk melaksanakan siasatnya.
Apakah siasat puteri yang cerdik ini? Seperti telah diceritakan di bagian depan, siasatnya
mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai ternyata hampir berhasil atau hanya
setengah berhasil karena secara tak tersangka-sangka muncul tokoh aneh yang
mengacaukan urusan, yaitu Han Han dan Lulu!
Keadaan dalam kuil Siauw-lim-si yang menjadi pusat Siauw-lim-pal dan diketuai oleh Ceng
San Hwesio kini diliputi awan kedukaan dan penasaran. Beberapa hari yang lalu, datanglah
Lauw Sin Lian murid terkaslh Siauw-Iim Chit-kiam bersama beberapa orang anak murid
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
242
Siauw-lim-pai mengawal sebuah kereta yang terisi dua peti yang terisi mayat-mayat Liok Si
Bhok dan Liong Ki Tek! Juga mayat tujuh Qrang anak murid Siauw-lim-pai tingkat rendah.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan berduka hati Ceng San Hwesio dan para tokoh Suwlim-pai ketika melihat dua mayat tokoh Siauw-lim-pai yang telah rusak itu. Mayat-mayat itu
cepat diperabukan dan setelah mereka semua berkabung, Ceng San Hwesio lalu
mengumpulkan anak murid dan adik-adik seperguruan untuk berunding. Biarpun Lauw Sin
Lian terhitung hanya cucu murid ketua Siauw-lim-pai ini, akan tetapi karena tingkat
kepandaian Sin Lian sebagai murid terkasih Siauw-lim Chit-kiam sudah amat tinggi dan pula
karena gadis inilah menjadi saksi utama mengenai bentrokan dengan Hoa-san-pai, maka Sin
Lian juga hadir dalam pertemuan besar itu.
"Sungguh tidak nyana sekali Hoa-san-pai menjadi perkumpulan yang rendah dan dapat
diperalat oleh kaum penjajah !” Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim pa imengerutkan alisnya
dan mengepal tasbih di tangannya erat-erat, wajahnya yang kurus itu menjadi merah sekali
warnanya. "Amatlah keji perbuatan mereka terhadap dua orang muridku itu dan agaknya
mereka itu sudah menyatakan permusuhan secara terbuka. Sute, mulai saat ini, harap Sute
suka mengatur seluruh anak murid kita untuk melakukan penjagaan ketat siang malam
menjaga keamanan kuil Semua anak murid yang berada di dalam
kuil tidak diperbolehkan keluar dan segala bentrokan dengan golongan apa pun juga harus
ditiadakan. Selain itu, Sute harap mengutus anak murid untuk mengundang semua saudara
dan murid untuk berkumpul di sini, selambatnya sebulan. Sebelum tenaga kita berkumpul
semua dan kedudukan kita cukup kuat, jangan ada yang lancang turun tangan terhadap
anak murid Hoa-san-pai. Nanti kalau semua tenaga sudah terkumpul, pinceng sendiri yang
akan memimpin pasukan Siauw-lim-pai menuju ke Hoa-san-pai dan menuntut balas atas
kekejaman Hoa-san pai terhadap kita!"
Kalau seorang ketua perkumpulan besar seperti Siaw-Lim-pai sudah rnenyatakan hendak
rnemimpin sendiri penyerbuan, hal in.i menandakan bahwa ketua itu sudah tidak dapat
menahan kemarahannya lagi. Dan memang demikianlah keadaan Ceng San Hwesio yang
sudah marah sekali. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah dua di antara murid-murid yang
paling ia sayang, kini melihat murid-muridnya itu tewas dalam keadaan mengenaskan,
hwesio tua ini tak mampu lagi mengendalikan kemarahannya. Sutenya, Ceng To Hwesio
yang bertugas menjaga kuil dan membantu pekerjaan suhengnya yang menjadi ketua, juga
merupakan guru dan pelatih dari sebagian besar murid-murid Siauw-lim-pai, menariknapas
panjang dan berkata.
"Baiklah, Suheng. Penjagaan akan diperkuat, dan pinceng akan mengutus murid-murid
mengumpulkan tenaga. Akan tetapi, maaf, Suheng. Mengenai hal yang menyangkut
permusuhan dengan fihak Hoa-san-pai ini, apakah tidak sebaiknya kalau kita bertanya
nasihat kepada Su-pek?""Bagaimana kita dapat mengganggu Supek dengan urusan ini?
Supek sudah bertahun-tahun bertapa dalam sebuah diantara kamar-kamar penyiksaan diri,
tidak mau diganggu. Biarpun bagi kita urusan ini adalah urusan besar yang tidak hanya
menyangkut nyawa murid-murid kita, juga menyangkut nama dan kehormatan Siauw-lim-pai,
akan tetapi bagi Supek yang sudah mengasingkan diri dari dunia ramai, tidak melibatkan diri
dengan urusan dunia, tentu merupakan hal yang tidak ada artinya sama sekali.
Tidak, Sute, tidak semestinya kalau kita
mengganggu Supek untuk urusan ini.Urusan mengenai Siauw-lim-pai menjadi
tugas pinceng sebagai ketua dan tugas semua anak murid Siauw-lim'-pai."
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
243
"Terserah keputusan Suheng, pinceng hanya mentaati perintah," jawab Ceng To Hwesio
yang menjadi tegang hatinya karena maklum bahwa kalau suhengnya itu mengumumkan
perang terhadap Hoa-san-pai, akan terjadi geger dan tentu akan mengambil korban yang
banyak sekali di kedua fihak.
"Bagus, Sute. Dan engkau Sin Lian,engkau mengatakan bahwa menurut dugaanmu, kedua
orang Gurumu itu terbunuh oleh seorang pemuda bernama Sie Han. Mungkinkah itu?
Seorang pemuda dapat membunuh dua di antara tujuh orang Gurumu?"
"Teecu tidak ragu-ragu lagi, Sukong (Kakek Guru). Han Han…eh, Sie Han itu kini ternyata
telah menjadi seorang pemuda yang pandai ilmu iblis!"
"Coba ceritakan keadaannya dan bagaimana engkau dapat mengenai dia?"
"Ketika masih kecil, Sie Han ini adalah seorang gelandangan. seorang pengemis yang
terlantar. Kemudian Ayah yang menaruh kasihan, membawanya dan mengambilnya sebagai
murid. akan tetapi hanya sebentar karena dia itu berkhianat,malah kemudian menjadi murid
atat pelayan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat....."
" Omitohud….!" Ceng San Hwesio berseru kaget. Nama tokoh datuk hitam ini selalu
mengejutkan hati semua orang pandai. "Dia menjadi murid setan itu Akan
tetapi…….andaikata benar menjadi muridnya. pinceng tetap masih meragukan apakah
bocah itu mampu mengalahkan Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek "
"Teecu tidak ragu-ragu lagi, Sukong. Ketika berusaha menghajar orang-orang Hoa-san-pai
dan bergebrak dengan Han Han itu, dalam bentrokan tenaga teecu mendapat kenyataan
bahwa tenaga sinkang bocah itu melampaui sinkang semua suhu."
" 0mitohud………, mana mungkin…….?” Ceng San Hwesio kembali berseru.
"Teecu tidak membohong, Sukong. Ketika itu, teecu menyerangnya dan mengirim pukulan
engan pengerahan lweekang sekuatnya. Pukulan teeucu itu adalah jurus Cam-liong-jiu
(Pukulan Mem-bunuh Naga) dan dia sama sekali tidak menangkis! Teecu yakin bahwa tujuh
orang Suhu tidak akan dapat menerima pukulan itu dengan dada, akan tetapi Han Han
menerima dengan dadanya dan akibatnya teecu sendiri yang terbanting roboh dan tangan
teecu membengkak!"
"Hemmm……!" Ceng San Hwesio mengulur lengannya ke depan dan membuka tangan
dengan telapak di atas. "Coba engkau menggunakan Cam-liong-jiu dengan kekuatan seperti
yang kaugunakan memukul bocah itu, dengan mengukur kekuatan pukulanmu dapat kiranya
sedikit banyak menilai kepandaiannya."
Lauw Sin Lian maklum akan maksud kakek gurunya Itu, maka ia lalu mengerahkan tenaga
dan mengayun kepalan tangannya, memukul ke arah telapak tangan kakek tua itu.
"Plakkk!!" 'Sin Lian merasa betapa kulit tangannya panas dan tergetar, maka ia cepat
menarik kembali tangannya.
"Omitohud , sukar dipercaya kalau bocah itu mampu menerima pukulanmu tadi dengan
dadanya!" ketua Siauw-lim-pai berseru kaget.
"Memang dia luar biasa, Sukong."
“Kalau murid Hoa-san-pai semuda itu takkan mungkin memiliki sinkang yang cukup kuat
untuk menerima pukulanmu tadi. Akan tetapi kalau dia murid Gak Liat yang menjadi kaki
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
244
tangan penjajah,bagaimana dia dapat membantu Hoa--san-pai yang selama ini anti
penjajah?"
"Siapa tahu Hoa-san-pai menyeleweng atau mungkin hanya Pek-eng-piauwkiok atau
sebagian murid Hoa-san-pai saja yang bersekutu dengan kaki tangan penjajah. Urusan ini
amat berbahaya, kalau Sukong mengijinkan, biarlah teecu pergi menyusul lima orang Suhu
untuk diundangke sini."
Ceng San Hwesio mengangguk. "Memang, semua murid Siauw-lim-pai harus berkumpul.
Terutama sekali para Gurumu yang tinggal lima orang itu….." Kakek gundul ini menarik
napas duka teringat akan dua orang muridnya yang tewas. "Apakah engkau tahu di mana
mereka itu kini merantau?"
“Teecu mendengar bahwa para Suhu merantau ke Telaga Barat, tentu masih berada di
sana. Teecu akan menyusul mereka dan menyampaikan berita duka tentang kematian Lioksuhu clan Jit-suhu (Guru ke Enam dan ke Tujuh)."
"Baiklah, Lian-ji (Anak Lian), berangkatlah sekarang juga. Pinceng amat membutuhkan
bantuan guru-gurumu."
Pada hari itu juga, berangkatlah Lauw Sin Lian pergi menyusul guru-guru nya untuk
menyampaikan berita kematian dua orang gurunya dan undangan ketua Siauw-lim-pai, dan
selain Sin Lian, berangkat pula murid-murid Siauw-lim-pai yang diutus oleh Ceng San
Hwesio untuk mengundang tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang kebetulan melakukan
perjalanan, atau yang memang tidak lagi bertempat ting-gal di pusat ini
*
***
Beberapa hari kemudian semenjak para murid Siauw-lim-pai pergi melakukan tugas
masing-masing menghimpun tenaga yang diundang ke pusat, para hwesio penjaga pintu
gerbang Siauw-lim-pai menyambut datangnya dua- orang tamu dengan pandangan mata
penuh kecurigaan. Tamu ini bukan lain adalah Han Han dan Lulu. Seperti biasa, pemuda ini
tenang-tenang saja menghampiri pintu gerbang, diikuti dari belakang oleh Lulu yang juga
bersikap tenang. Dara ini makin cantik jelita saja, apalagi kini di punggungnya tampak
sebatang pedang yang amat indah gagangnya, yaitu pedang pusaka Cheng-kong-kiam yang
dirampasnya dari tangan Kong Seng-cu tokoh Hoa-san-pai. Biarpun di luarnya kelihatan
tenang, namun di sebelah dalam dada gadis ini terjadi ketegangan karena ia ingin sekali
segera bertemu dengan Sin Lian untuk bertanya di mana adanya Lauw-pangcu, musuh
besarnya.
SembiIan orang hwesio penjaga yang segera datang ke pintu gerbang itu mengangkat
tangan sebagai tanda penghormatan dan seorang di antara mereka ber-tanya.
"Ji-wi (Tuan Berdua) hendak mencari siapakah?"
Dengan sikap tenang akan tetapi membalas penghormatan itu, berbeda dengan Lulu yang
memandang ke kanan kiri penuh perhatian, Han Han lalu menjawab.
"Saya ingin bertemu dengan Nona Lauw Sin Lian, dan dengan ketua dari Siauw-lim-pai.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
245
Para hwesio penjaga itu saling pandang. Keadaa:n pemuda yang aneh Ini mencurigakan.
Pakaian pemuda ini sederhana dan bersih, akan tetapi rambutnya dibiarkan riap-riapan
begitu saja, sungguh mencurigakan, dan lebih-lebih sepasang-mata itu yang amat tajam
mengerikan.
“Nona Lauw Sin Lian tidak berada disini, sedangkan keinginan Kongcu (TuanMuda) untuk
berjumpa dengan Ketua, agaknya hal ini tidaklah mudah dilaksanakan. Hendaknya Kongcu
berdua suka memberitahukan nama dan keperluan barulah kami akan menyampaikan
keatasan apakah permohonan Kongcu, menghadap dapat dikabulkan." ,
Han Han mengerutkan alisnya yang tebal, masih dapat menahan kesabarannya, akan tetapi
Lulu yang mendengar bahwa Sin Lian yang dicarinya itu tidak -berada di kuil itu, sudah
kehilangan kesabarannya dan ia membentak.
"Wah-wah, seorang pendeta biarpun sudah menjadi ketua, masa lagaknya melebihi seorang
raja saja? Orang mau berjumpa saja sukarnya setengah mati!"
Para hwesio penjaga itu memandang dengan muka tidak senang dan wakil pembicara
mereka segera menjawab, "Nona, kalau yang kau maksudkan raja penjajah, memang ketua
kami jauh lebih tinggi dan terhormat! Ada perkumpulan ada pula peraturan, dan Siauw-limpai adalah perkumpulan besar yang memegang teguh peraturannya, siapa pun tidak berhak
melanggarnya!"
"Waduh-waduh, galaknya! Eh, hwesio-gundul, apakah engkau ini ber-liamkeng (membaca
doa) dan bersembahyang, memantang makanan berjiwa yang enak-enak, bertapa susah
payah, hanya untuk belajar galak kepada orang lain? Kalau sikapmu masih galak dan tidak
ramah-tamah terhadap orang, tidak baik budi,percuma saja dong rambutmu dibuang!
Ternyata kepalamu menjadi bertambah panas!" .,
Sikap dan omongan Lulu yang ugal-ugalan ini membuat para hwesio menjadi merah
mukanya, akan tetapi karena kata-kata itu tepat menusuk hati dan merupakan sindiran bagi
mereka, sejenak mereka tak mampu membantah. Kalau mereka menuruti nafsu kemarahan,
hal ini hanya membuktikan betapa tepatnya ucapan gadis nakal itu, kalau tidak marah, hati
yang tidak kuat!
"Heiii, dia inilah bocah setan itu! Dia yang membunuh saudara-saudara kita, dia yang
membela orang-orang Hoa-san-pai!" Tiba-tiba terdengar suara dua orang anggauta Siauwlim-pai yang bukan lain adalah LiongTik dan seorang sutenya, dua orang di antara sembilan
murid Sauw-lim-pai yang tidak tewas ketika mengeroyok Han Han.
"Kepung, jangan sampat dia lari!" Liong Tik yang marah sekali melihat musuh besarnya ini
telah mengeluarkan senjatanya, sepasang tombak cagak dan para hwesio lainnya telah pula
siap dengan senjata masing-masing. Dua oranghwesio sudah berlari masuk memberi
laporan.
Han Han masih bersikap tenang, dan Lulu sudah berkata lagi, " Wah, tidak hanya galak,
malah agaknya para pendeta Siauw-lim-pai terkenal sebagai tukang mengeroyok orang.
Apakah kalian masih belum kapok, hendak mengeroyok Kokoku?"
Han Han berdiri dengan kedua kaki terpentang, tegak dan matanya melirik ke kanan kiri
ketika kini berdatangan belasan orang hwesio yang sudah me-ngurungnya. Ia tidak ingin
berkelahi karena kedatangannya lni hendak men-jelaskan persoalan yang timbul antara Hoasan-pai dan Siauw-lim-pai.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
246
"Bocah iblis, apakah engkau datang hendak mengacau Siauw-lim-pai?" Liong Tik
membentak, masih ragu-ragu untuk menyerang karena ia maklum akan kepandaian pemuda
itu yang amat menggiriskan hati.
"Cu-wi sekalian harap sabar. Aku datang sama sekali bukan hendak mengacau, bukan pula
hendak menimbulkan perkelahian. Aku datang untuk bicara dengan Nona Lauw Sin Lian,
dan dengan ketua Siauw-lim-pai untuk menjelaskan persoalan yang baru-baru ini terjadi."
"Engkau sudah membunuh saudara-saudara kami, masih datang hendak bicara dengan
ketua kami?" Pertanyaan ini timbul dari hati yang terheran-heran.
Alangkah beraninya pemuda ini! Ataukah karena sombongnya maka sengaja datang
hendak menantang ketua Siauw-lim-pai?”
Han Han tersenyum dingin. " Kalau aku tidak datang memberi penjelasan, bagaimana
urusan dapat dibereskan? Semua terjadi karena salah faham….."
"Jahanam! Sudah membunuh banyak orang, enak saja mengatakan bahwa semua terjadi
karena salah faham! Saudara-saudara, mari kita basmi iblis ini!” Liong Tik berkata marah,
akan tetapi sebelum mereka turun tangan, terdengar bentakan halus.
"Para murid Siauw-Lim-pai, minggir-lah!"
Mendengar suara ini, para murid yang tadinya mengurung Han Han serentak minggir dan
membentuk lingkaran kipas yang lebar. Han Han memandang mereka yang datang dan
ternyata dari dalam kuil keluarlah lima orang hwesio yang usianya .rata-rata sudah lima
puluh tahun lebih. Sikap mereka agung dan keren, dan seorang di antara mereka pincang
kakinya sehingga jalannya dibantu sebatang tongkat. Pakaian mereka sederhana, namun
menyaksikan gerak-gerik mereka yang tenang dan keren, dapat diduga bahwa mereka ini
merupakan tokoh-tokoh penting dari Siauw-lim-pai. Dan dugaan Han-Han ini memang benar
karena lima orang hwesio itu adalah murid-murid kepala dari Ceng To Hwesio, sute dari
ketua Siauw-lim-pai itu. Tingkat kepandaian lima orang hwesio ini sudan tinggi, bahkan tugas
mengajar semua murid yang menjadi tugas Ceng To Hwesio, diwakili oleh lima orang ini.
Biarpun tingkat mereka masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan tingkat Siauw-lim
Chit-kiam, namun karena mereka terhitung adik-adik seperguruan Siauw-lim Chit-kiam,
maka mereka merupakan tokoh-tokoh tingkat tiga di Slauw-tim-pai.
Han Han yang dapat mengenal orang-orang pandai segera rnengangkat kedua tangan
depan dada dan berkata, " Saya Sie Han dan adik saya Lulu mohon perkenan Losuhu
sekalian agar dapat bertemu dan bicara dengan ketua Siauw-tim-pal dan dengan Nona Lauw
Sin Lian."
Lima orang hwesio itu tadi sudah mendapat laporan bahwa yang datang ini adalah pemuda
lihai yang membantu Hoa-san-pai dan yang telah membunuh tujuh orang anak murid Siauwlim-pai, bahkan yang mungkin juga menjadi pembunuh dua orang suheng mereka, Liok Si
Bhok dan Liong Ki Tek. Kini, melihat betapa pemuda itu masih amat muda, mereka sudah
terheran-heran sekali, apa lagi menyaksikan sikap pemuda ini yang sopan santun, mereka
menjadi ragu-ragu dan hampir tidak percaya bahwa seorang pemuda seperti ini dapat
memiliki kepandaian yang tinggi.
Mereka segera membalas penghormatan Han Han karena biarpun tamu itu masih muda,
adalah menjadi kewajiban para hwesio untuk bersikap hormat dan lemah lembut kepada
siapa saja.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
247
"Sicu hendak bertemu dengan murid kami Lauw Sin Lian?" berkata seorang diantara
mereka yang mukanya kurus. "Sayang sekali, Nona Lauw sedang melaku-kan tugas keluar
kota, tidak berada disini. Akan tetapi Supek kami, ketua Siauw-lim-pai, berada di dalam.
Kalau Sicu berdua hendak menghadap Supek, silakan masuk."
Han Han mengangguk dan hatinya lega. Kiranya tokoh-tokoh Siauw-lim-pal adalah orangorang gagah yang mudah diajak urusan, tidak seperti anak buahnya tadi yang bersikap
kasar, sungguhpun ia dapat memaafkan kekasaran mereka kalau ia ingat bahwa dia telah
membunuh tujuh orang saudara mereka. Dengan langkah lebar dan tenang ia memasuki
pintu gerbang didahui oleh lima orang hwesio itu. lulu menyentuh tangan Hanl Han dari
belakang sehingga pemuda itu menengok dan memandang-nya. Gadis itu berbisik,
"Koko, aku merasa khawatir sekali. Jangan-jangan kita masuk perangkap mereka.”
“Nona, kami menjunjung tinggi kegagahan dan kebenaran, anti akan segala kejahatan dan
kecurangan. Tidak perluk hawatir!" terdengar jawaban dari hwesio pincang bertongkat yang
masih berjalan di depan, tanpa menengok. Dapat mendengar bisikan Lulu yang begitu
perlahan cukup membuktikan betapa tajam pendengaran para hwesio ini.
Rombongan lima orang hwesio yang mengantar Han Han dan Lulu itu kini
memasuki ruangan depan kuil besar yang menjadi pusat perkumpulan Siauw-lim-pai itu.
Bersih dan luas sekali ruangan itu dan dari situ tampak meja sembahyang di sebelah
dalam yaitu di dalam ruangan sembahyang yang kelihatan tenang dan sunyi, yang
mengebulkan asap tipis berbau harum dari mana terdengar lirih suara hwesio bemyanyi dan
berdoa. Adapun para hwesio lain yang menjadi anak buah dan bertugas menjaga hanya
berkumpul di pekarangan depan tidak diperkenankan masuk karena kini dua orang tamu itu
telah berada di dalam tangan lima orang hwesio kepala ini
Dengan slkap tenang akan tetapi alis berkerut karena dapat menduga bahwa para
hwesio Siauw-lim-pai ini menyambut nya dengan penuh kecurigaaan dan sikap bermusuhan,
Han Han memasuki ruangan depan yang bersih ltu, diikuti oleh Lulu yang sikapnya biasa
saja bahkan gadis itu seperti biasa tidak dapat menahan rasa ingin tahunya dan menonton
ke kanan kiri memandangi keadaan di situ.
"Sicu dan Nona, silahkan masuk ruangan disebelah, para pimpinan Siauw-tim-pal telah
menanti di sana. Pinceng berlima hanya bertugas mengantar Ji-wi (Anda Berdua) sampai di
luar pintu sidang pengadilan," berkata hwesio pengantar, sedangkan ernpat orang hwesio
lainnya hanya berdiri dan rnengangkat tangan memberi hormat. Han Han mengerutkan
alisnya yang hitam dan hatinya merasa tidak enak mendengar bahwa ia dipersilakan rnasuk
"ruangan sidang pengadilan" ini.
"Koko, jangan percaya kepada mereka ini!" kata Lulu. "Biar kita menanti disini saja dan
suruh mereka panggil keluar Lauw Sin Lian dan ketua mereka!"
"Mengapa mesti takut? Kita adalah tamu dan tamu harus tunduk akan peraturan tuan
rumah. Kalau mereka menghendaki dengan peyambutan besar besar-an, biarlah, Adikku.
Mari kau ikut aku,tak usah taku
“Siapa takut?" Lulu menjebikan bibir-nya. "Aku hanya berhati-hati, bukannya takut!"
.Dengan langkah lebar dan dada terangkat, Han Han dan lulu memasuki
pintu yang menembus ke ruangan samping yang sesungguhnya adalah ruangan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
248
terbesar karena ini adalah ruangan lian-bu-thia (belajar silat) yang luas sekali.
Begitu Han Man dan Lulu memasuki ruangan ini, tampak oleh mereka sepasukan hwesio
muda berdiri berbaris di tengah ruangan. Mereka terdiri dari tiga belas orang, berdiri dengan
sikap berbaris,bertangan kosong .dan nampaknya kuat-kuat. Lengan baju mereka digulung
sampai ke siku dan, mereka berdiri dengan bhesi (kuda-kuda) yang amat kuat, yaitu kudakuda Ji-ma-she dengan kedua kaki terpentang dan lutut ditekuk, kedua kepalan tangan di
kanan kiri lambung.
Tiga belas orang hwesio muda itu hanya berdiri dalam keadaan siap sarnbil memandang ke
arah Han Han, tanpa mengeluarkan kata-kata, tanpa bergerak. Han Han tidak tahu harus
berbuat apa karena barisan ini menghalang di jalan. Akan tetapi terdengarlah suara keren
dari mulut seorang hwesio tua yang berdiri di sudut, hwesio tua yang bermata tajam dan
suaranya nyaring
."Khong-jiu-tin (Barisan Tangan Kosong) Siauw-lim-pai merupakan ujian pertama bagi orang
yang berani minta berjumpa dengan ketua Siauw-lim~pai!"
Mendengar ini, Lulu meloncat maju dan menudingkan telunjuknya yang kecil runcing
kepada hwesio tua ini sambil memaki, "Hwesio busuk Orang mau berjumpa dengan ketua
Siauw-lim pai pakai diuji segala macam! Peraturan apakah ini? Hayo suruh minggat barisan
yang tiada gunanya ini, dan panggil ketuamu ke sini untuk bicara dengan Kokoku!"
Hwesio tua itu yang sesungguhnyaadalah Ceng To Hwesio, mengerutkan keningnya dan
matanya memandang marah. "Nona, pernah ada jaman di mana wanita dilarang masuk ke
ku.il Siauw-lim-si dengan ancaman hukum mati. Pinceng akan senang sekali kalau peraturan
itu kini masih berlaku. Sayang kini peraturan diperlunak dan kalau kalian tidak berani
menghadapi ujian kami, lebih baik pergi saja dari sini.”
"Eh, hwesio sombong, siapa yang tidak berani? Biar ditambah lima kali ini, aku tidak takut!"
Lulu sudah bergerak maju hendak menerjang barisan itu. Tiba-tiba tiga betas hwesio itu
menggerakkan kaki dan menggeser kaki, kiri ke belakang mengubah kuda-kuda. Gerakan
mereka itu mantap dan kuat juga amat rapi sehingga Han Han yang melihat ini cepat
berkata.
"Lulu, mundurlah. Kalau memang begini peraturan Siauw-lim-pai, biar ku
coba menghadapi tin (barisan) ini."
Lulu melangkah mundur dan mengomel, "Hemmm. hwesio-hwesio sial Sekali ini agak baik
nasib kalian sehingga tidak jadi mati ditanganku. Kakakku terlalu baik hati untuk membunuh
kalian sehingga kalian hanya akan luka-luka ringan saja. Katau aku yang maju
sendiri……hemmm, jangan tanya-tanya lagi tentang dosa!"
Biarpun sikapnya masih kekanak-kanakan namun Lulu sebetulnya adalah seorang yang
cerdik dan dapat menyembunyikan kecerdikannya di balik sikap kekanak-kanakannya. Ia
sudah mengenal watak kakaknya yang setiap kali berhadapan dengan lawan-lawan tangguh
dalam sebuahah pertandingan lalu timbul watak beringas dan kejam seolah-olah haus darah
dan ia tahu pula bahwa fihak lawan tentu akan toboh tewas kalau bertemu dengan kakaknya
yang luar biasa. Dia tidak menghendaki kakaknya menjadi seorang kejam yang membunuhi
manusia seperti membunuh semut saja, maka tadi ia sengaja berkata demikian untuk
mengingatkan Han Han agar tidak membunuh lawan. Han Han mengerti akan sindiran
Lulu maka ia berkata.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
249
"Lulu, tewas atau luka dalam pertandingan adalah hal biasa. Yang penting, kalau sampai
terjadi pertandingan, hal itu bukanlah kehendak kita, melainkan dikehendaki oleh para
hwesio ini.Minggirlah !".
Lulu minggir dan Han Han lalu melangkah lebar menghampiri barisan yang sudah siap
menyambutnya. Dengan sinar matanya, Han Han menyapu barisan itu dan diam-diam ia
merasa amat kagum karena sikap dan kedudukan pasangan kuda-kuda tiga belas orang
hwesio yang rata-rata berusia tiga puluh tahun itu amatlah kuat dan kokoh seperti batu
karang. Dari pasangan kuda-kudanya saja dapat diketahui bahwa Siauw-lim-pai memiliki
murid-murid yang baik-baik dan ilmu silat Siauw-lim-pai bukanlah omong kosong belaka.
" Majulah!" Han Han berseru dan menerjang maju, kedua tangannya dengan jari-jari terbuka
dilambaikan ke depan dari kanan kiri. Ia tidak ingin menyerang lebih dulu dan ingin sekali
menyaksikan bagaimana kehebatan Khong-jiu-tin ini.Setelah belajar ilmu di Pulau Es, Han
Han amat suka melihat ilmu silat dan ingin sekali meluaskan pengalamannya dengan
menyaksikan ilmu-ilmu silat didunia kang-ouw.
"Sambut serangan!" Tiba-tiba bentakan ini keluar dari tiga belas buah mulut secara serentak
dan bergeraklah tiga belas orang hwesio itu menyerang Han Han. Gerakan mereka amat
cepat dan langkah-langkah mereka teratur, pukulan-pukulan yang dilancarkan mantap dan
kuat.
Han Han menggunakan ginkangnya,tubuhnya bagaikan tubuh seekor wallet saja ringannya
dan dengan kecepatan yang mengagumkan ia telah mengelak dari setiap pukulan yang
menyerangnya. Akan tetapi betapapun cepat gerakannya, ia tidak dapat mengatasi
kecepatan gerakan tiga belas orang sekaligus. Apalagi ketika tiga belas orang itu ternyata
bukan sembarangan bergerak mengandalkan kepandaian perorangan, melainkan bergerak
menurut ilmu barisan yang aneh dan hebat. Ke manapun Han Han mengelak, di situ telah
menanti pukulan tangan kosong lain hwesio yang disusul dengan pukulan-pukulan lain dari
segala jurusan sehingga bagi Han Han seolah-olah tidak ada jalan keluar lagi. Terpaksa
pemuda ini menggunakan lengannya menangkis. Beberapa kali saja menangkis, terdengar
seruan-seruan kesakitan daripara hwesio yang tertangkis lengannya,dan segera gerakan
para hwesio itu berubah, kini tidak pernah mereka membiarkan lengan mereka tertangkis
lagi! Tiap kali lengan meereka ditangkis, mereka sudah menarik kembali tangan mereka
untuk disusul dengan lain pukulan dari lain jurusan oleh hwesio lain.
Han Han makin kagum. Sudah beberapa kali terdengar suara bak-bik-buk ketika beberapa
buah pukulan para pengeroyoknya tak dapat ia elakkan dan terpaksa ia terima dengan
tubuhnya yang sudah kebal. Ia maklum bahwa andaikata ia tidak memiliki sinkang yang jauh
lebih tinggi sehingga ia dapat mengandalkan kekebalan tubuhnya yang dilindungi sinkang
dan mengandalkan pula kecepatan gerakannya mengandalkan ginkang, kira-nya ia akan
celaka di tangan tiga belas orang ini. Kalau hanya mengandalkan ilmu silat, agaknya akan
sukarlah menandingi barisan yang hebat ini. Ia mulai memperhatikan gerakan mereka dan
mengertilah ia bahwa sesungguhnya Khong- jiu-tin yang terdiri dari pada tiga belas orang itu
adalah dua macam barisan yang digabung menjadi satu. Pertama barisan Pat-kwa-tin yang
terdiri dari delapan orang, ke dua barisan Ngo-heng-tin yang terdiri dari lima orang. Kedua
barisan itu kadang-kadang melakukan gerakan terpisah saling membantu, kadang-kadang
membentuk lingkaran dengan Pat-kwa-tin di sebelah luar dan Ngo-heng-tin di sebelah
dalam.
Karena dalam hal ilmu silat Han Han memang belum dapat dikatakan mahir, menghadapi
kedua barisan yang digabung merupakan Khong-jiu-tin yang mengandung jurus-jurus Ilmu
Silat Lo-han-kun yang amat hebat dari Siauw-lim-pai ini, tentu saja Han Han tidak mampu
melawannya dan terpaksa ia harus mengandalkan sinkangnya yang membuat tubuhnya
kebal dan menerima belasan kali pukulan-pukulan keras sebelum ia sempat melihat jalannya
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
250
barisan yang amat mengagumkan itu. Karena khawatir kalau-kalau pukulan-pukulan yang
makin berbahaya melanda tubuhnya, Han Han mengerahkan khikangnya, mengeluarkan
suara melengking nyaring dan kedua lengannya mendorong ke arah lawan yang
mengeroyok dengan pengerahan tenaga sakti Im-kang. Dapat dibayangkan betapa hebatnya
dorongan-dorongan tenaga Im-kang ini kalau diingat bahwa bertahun-tahun pemuda ini
melatih diri di Pulau Es yang amat dingin, sehingga ia telah dapat menyedot inti sari hawa
dingin, membuat Im-kangnya yang dipelajari menurut kitab-kitab Ma-bin Lo-mo menjadi
hebat, lebih hebat dari Swat-im Sin-ciang milik Ma-bin Lo-mo sendiri!
Terdengar keluhan-keluhan ketika tiga belas orang itu terhuyung-huyung dan roboh semua
dengan muka pucat dan tubuh menggigil kedinginan! Untung bahwa Han Han teringat akan
sindiran Lulu tadi sehingga ia tidak menurunkan tangan maut, membatasi tenaga
dorongannya sehingga darah tiga belas orang itu tidak membeku.
"Omitohud….., luar biasa……!" terdengar Ceng To Hwesio berseru. Tiga belas orang
hwesio anggauta barisan Khong-jiu-tin itu saling bantu can mundur. Tempat mereka kini
diganti oleh sebuah barisan lain yang terdiri dari sembilan orang hwesio-hwesio tua berusia
antara lima puluh tahun, rata-rata bertubuh kurus kering dan kelihatannya lemah sekali.
"Eh, hwesio curang! Sudah jelas barisan tadi tidak mampu menahan Kakakku, sekarang
hwesio-hwesio tua kurus kering ini mau coba lagi?" bentak Lulu yang menghampiri kakaknya
dan mengusap-usap leher kanan Han Han yang agak merah karena tadi terpukul, bahkan
sebelah kanan bibirnya pecah dan berdarah sedilkit, bajunya robek-robek. "Koko tidak
sakitkah?"
Han Han menggeleng kepala dan dengan halus mendorong tubuh adiknya kepinggir sambil
berkata, "Lulu ,tenanglah barisan yang datang ini lebih berat."
"Apa? hwesio-hwesio kurus kering ini? Jumlahnya pun hanya sembilan orang, Sekali dorong
saja roboh Tak usah di dorong kautiup saja mereka akan roboh semua Koko! Mereka ini
hanyalah penderita-penderita penyakit encok dan batuk!"
Ceng To Hwesio tldak rnempedulikan ulah dan kata-kata kakak beradik itu lalu berkata
dengan suara nyaring. "Ujian pertamaa dapat di lalui, ujian ke dua menyusul. Lo-han-tin
(Barisan Orang Tua) dari Siaw-lim-pai, hadapilah, orang muda !"
Barisan ini jauh sekali bedanya dengan barisan Khong-jiu-tin tadi. Kalau barisan pertama
tadi terdiri dari hwesio hwesio yang bertubuh tegap dan gerakan mereka mantap
mengandung tenaga kuat barisan ke dua ini terdiri dari hwesio-hwesio tua yang lemah
sedangkan gerakan mereka pun kelihatan tak bertenaga. Namun Han Han yang biarpun
belum berpengalaman namun sebagai seorang ahli sinkang dan karena sudah banyak
membaca kitab-kitab ilmu silat tinggi, dapat menduga bahwa barisan ini terdiri dari ahli-ahli
sinkang yang tak boleh dipandang ringan. Dugaannya memang benar. Sembilan orang ini
adalah murid-murid kepala dari Ceng To Hwesio dan tingkat mereka hanya sedikit lebih
rendah daripada tingkat lima orang hwesio murid utama Ceng To Hwesio yang tadi menjadi
pengantar kedua orang muda itu dan yang kini tidak tampak lagi.
"Hemmm, beginikah peraturan Siauw-lim-pai? Kurasa hanya ditujukan kepada tamu-tamu
yang tak dikehendaki saja," kata Han Han sambil tersenyum mengejek. "Para Losuhu, kalau
tidak malu mengeroyok seorang muda, majulah!"
Sembilan orang hwesio itu adalah sebuah barisan yang hanya mentaati perintah, maka
tentu saja tidak mengandung perasaan pribadi dan ucapan Han Han itu tidak membuat
mereka menjadi rikuh, bahkan kini mereka bergerak maju dan mulai mengurung lalu
mengirim serangan-serangan yang kelihatannya lambat, namun sesungguhnya cepat dan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
251
dahsyat sekali, jauh lebih berbahaya dari pada penyerangan Khong-jiu-tin karena kini setiap
pukulan mengandung tenaga lweekang yang hebat
Melihat pukulan-pukulan yang berbahaya ini Han Han cepat meloncat ke atas dan ia pun
mengerahkan sinkang ditubuhnya, berjungkir balik di udara dan kini tubuhnya menukik ke
bawah dengan kedua tangan didorongkan, lalu ditarik kekanan kiri untuk menangkis
sambutan para pengeroyoknya yang sudah mengirim pukulan-pukulan pula. Begitu hawa
pukulan itu bertemu dengan hawa sinkang yang keluar dari kedua lengan Han Han sembilan
orang kakek itu terhuyung dan mereka berseru heran. Akan tetapi mereka sudah menerjang
lagi maju dan kini gerakan tangan mereka mengeluarkan angin sebagai tanda bahwa
mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sakti yang ada pada diri mereka.
Seperti juga tadi ketika menghadapi pengeroyokan Khong-jiu tin, Han Han tidak dapat
melawan IImu silat Lo-han-kun yang dimainkan sembilan orang Ahli itu. Biarpun ia sudah
mempergunakan ginkangnya sehingga kadang-kadang tubuhnya lenyap dari pengurungan
sembilan orang hwesio Itu, dan sudah mempergunakan kecepatannya untuk mengelak atau
menangkis, namun tetap saja masih ada bebera buah pukulan yang "mampir" dl tubuhnya.
Dan kali Ini pukulan-pukulan yang mengenal tubuhnya sama sekali tidak boleh disamakan
dengan pukulan-pukulan barisan pertama tadi karena pukulan-pukulan kali ini adalah
pukulan yang mengandung tenaga lweekang. Biarpun tubuh Han Han amat kebal karena
kuatnya sinkangnya, dan memang ternyata bahwa tenaga dalamnya jauh lebih kuat dari
pada para pengeroyoknya, namun pukulan-pukulan itu masih menggetarkan isi dada dan isi
perutnya sehingga sebuah pukulan yang cukup keras pada dadanya membuat darah keluar
mengucur dari mulutnya! Dia tidak terluka, akan tetapi getaran dan goncangan itu ditambah
pukulan yang mampir dl lehernya membuat mulut dan hidungnya berdarah. Marahlah Han
Han, kemarahan yang tidak dibuat-dibuat, yang timbul dengan sendirinya, yang meembuat ,
mukanya tampak bengis, sepasang mata nya menyorotkan pandang mata seperti kilat,
penuh kebencian penuh nafsu membunuh. Seolah olah semua wajah para pengeroyoknya
berubah menjadi wajah wajah tujuh orang perwira Mancu yang membasmi keluarganya
sehingga menimbulkan kebencian yang meluap luap di dalam hatinya, mendatangkan nafsu
membunuh. Ia mengeluarkan suara teriakan melengking yang terdengar mengerikan, lalu
tubuhnya digoyang seperti seekor harimau menggoyang tubuh untuk mengeringkan bulu,
kemudian ia menerjang maju dengan kedua tangan menyambar-nyambar kedepan.
"Koko…… jangan……!!” Lulu berteriak ngeri menyaksikan keadan kakaknya itu. Han han
dapat mendengar jerit ini dan untunglah demikian, karena kedua tangannya yang menyebar
maut dengan pukulan-pukulan Swat-im Si-ciang dan Hwi-yang Sin-cian secara berganti-ganti
itu dapat ia tahan kekuatannya sehingga sembilan orang hwesio itu hanya terjenkang dan
muntah-muntah darah terluka arah akan tetapi tidak ada yang tewas
“Omitohud…..!” Ceng To Hwesio berseru marah. “ Kejam sekali engkau…..!”
Pada saat itu dari luar menyambar sinar-sinar berkeredapan dan ternyata lima orang hwesio
murid utama Ceng To Hwesio sudah muncul sambil menyambitkan senjata rahasia mereka
ke arah Han han. Hal ini mereka lakukan bukan sekali-kali untuk bermain curang, melainkan
terdorong oleh kekhatiran dan karena mereka ingin menolong para sute mereka agar jangan
sampai dipukul lagi oleh Han han. Mereka mengira bahwa pemuda itu tentu akan membunuh
semua sute mereka yang sembilan orang itu
"Hwesio-hwesio curang!" Lulu sudah mencabut pedangnya. Sinar' hijau menyilaukan mata
berkelebat dan semua senjata rahasia yang disambar sinar ini menjadi patah-patah seperti
buah-buah mentimun bertemu pisau yang amat ta-jam. .
"Cheng-kong-kiam !" teriak hwesio pincang bertongkat ketika melihat pedangitu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
252
"Omitohud kiranya benar-benar murid Hoa-san-pai yang mengacau!- Tang-kap!" bentak
Ceng To Hwesio ketika mengenal Cheng-kong-kiam sebagai pedang pusaka Hoa-san-pai.
Memang pedang ditangan Lulu itu adalah Cheng-kong-kim yang dirampasnya dari tangan
Kong Seng-cu dan pedang ini sudah amat terkenal di dunia kang-ouw sehingga para
hwesioSiauw-lim-pai juga mengenalnya.
Lima orang hwesio itu menyerang dengan hebat, mengurung Han Han dan mereka
mempergunakan senjata mereka. Si Pincang mempergunakan tongkatnya, dua orang
hwesio mempergunakann. Toya yang sudah mereka pegang ketika mereka,muncul,
sedangkan yang tertua dan yang nomor dua memegang pedang. Serangan.mereka Itu
birarpun tidak sehebat ilmu pedang Siauw-lim Chit-kiam. namun karena mereka adalah
tokoh tokoh Siauw-Lim-pai tingkat tinggi, tentu saja serangan mereka ini hebat bukan main.
Boleh jadi dalam hal kekuatan singkang, Han Han yang telah memiliki tenaga mujijat itu
sukar ditandingi para hwesio yang mendapat sinking secara latihan wajar, tidak seperti Han
Han yang berlatih dengan cara-cara golongan sesat akan tetapi dalam hal IImu silat, Han
Han sunguh ketingalan jauh kalau dibandingkan dengan lima orang hwesio murid Ceng To
Hwesio itu. Adapun Lulu yang juga memiliki tenaga sinkang yang tidak lumrah kalau
dibandingkan dengan gadis
seusia yang sejak kecil belajar silat, dan telah mempelajari ilmu silat yang tinggi sekali,
namun dia kurang mendapat bimbingan yang benar sehingga ilmu pedangnya yang amat
indah dan tinggi mutunya itu kekurangan isi. Tentu saja diapun bukan lawan tokoh-tokoh
Siaw-lim—pai itu.
Si hwesio tua yang pincang kakinya menghadapi Lulu dengan tongkatnya. Ternyata hwesio
ini bukan main ketika bergerak menerjang Lulu dengan tongkat di tangan. Gerakanya gesit
dan biarpun kakiknya melebihi kecepatan orang yang tidak cacad. Ketika Lulu menangkis
dengan pedangnya terdengar suara keras, ujung tongkat kayu Itu terbacok putus sedikit
saking tajmnya pedang pusaka Hoa-san-pai Itu, akan tetapi telapak tangan Lulu tergetar
hebat saking kuatnya tongkat di tangan hwesio pincang.
"Nona muda, lebih baik engkau menyerah saja. Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar
yang adil dan tentu akan mengadakan sidang pengadilan yang tidak sewenang-wenang.
Melawanpun tiada gunanya,” hwesio pincang ltu berkata dengan suara halus. Dia seorang
tokoh Siuw-lim-pai yang berilmu tinggi, sudah puluhan tahun malang-melintanl di dunia,
kang-ouw sehingga kini merasa sungkan untuk bertanding melawan seorang gadis remaja
yang menjadi cucu muridnya!
"Hwesio sombong, apa kaukira akan dapat mengalahkan, aku? Lihat pedang!" Lulu
berteriak marah dan pedangnya sudah berkelebat menyambar lagi, merupakan segulungan
sinar hijau yang tebar dan panjang.
"Omitohud, orang muda yang bersemangat baja!" Hwesio pincang itu berseru, tidak marah
karena sebagai seorang hwesio tentu saja ia telah memiliki kesabaran besar, bahkan ia
merasa kagum menyaksikan sepak-terjang gadis cantik ini. Cepat ia menggerakkan
tongkatnya dan sekejap kemudian bertandinglah mereka dengan hebat. Biarpun tingkat
kepandaiannya jauh lebih tinggi, namun hwesio pincang itu harus bersilat dengan amat hatihati karena ginkang gadis itu sudah mencapai tinkat yang tinggi pula,membuat tubuhnya
berkelebatan seperti seekor burung walet. dan tenaga sinkang yang tersembunyi di tangan
halus. Yang memegang pedang pun tak boleh dipandang ringan.
Sementara itu, Han Han juga mengamuk, dikeroyok oleh empat orang hwesio lain. Agaknya
para hwesio itu tidak ingin gagal untuk memenuhi perintah suhu mereka, yaitu menangkap
Han Han, maka mereka berempat maju serentak dengan tangan kosong, membiarkan
hwesio pincang seorang diri menghadapi. Lulu yang mereka pandang rendah. Mereka:sudah
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
253
mendengar akan kelihaian Han Han ini dan karena Han Han telah membunuh orang-orang
Siauw-lim-pai secara mengerikan, bahkan disangka membunuh dua orang di antara Siauwlim Chit-kiam, tentu saja mereka maklum bahwa pemuda ini amat lihai, maka mereka maju
mengeroyok dan berlaku hati-hati sekali.
Pening rasa pandang mata Han Han ketika ia melihat geakan para pengeroyoknya yang
selain cepat juga amat mantap itu. Ke manapun ia menggerakkan kedua tangannya sambil
mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-ciang atau Swat-im Sin-ciang, selalu serangannya dapat
dihindarkan keempat orang hwesio itu yang cepat mengelak dan sama sekali tidak berani
menangkis. Memang dahsyat mengerikan sekali sambaran kedua tangan Han Han ini,
kadang-kadang mengandung hawa yang panas seperti api membara kadang-kadang dingin
seperti es
Ilmu silat yang dimainkan oleh, empat orang hwesio itu adalah ilmu silat tinggi Siauw-lim-pai
yang amat terkenal dengan ilmu silat tangan kosongnya. Dibandingkan dengan Ilmu Silat Lohan-kun yang dimainkan oleh barisan Khong-jiu-tin yang tadi mengeroyoknya, memang tidak
ada bedanya, akan tetapi kini dimainkan dengan tenaga yang jauh lebih kuat dan gerakan
yang lebih mantap. Seperti juga tadi, Han Han tidak dapat mempertahankan dirinya, tidak
dapat menghindarkan diri dari gebukan-gebukan dan tendangan-tendangan yang tentu akan
membuatnya roboh pingsan sekiranya dia tidak memiliki tubuh yang penuh dengan hawa
sinkang amat kuatnya. Beberapa kali ia kena dijotos dadanya sampai tubuhnya terjengkang
dan roboh bergulingan, namun setiap kali ia bangkit lagi dan mengamuk leblh hebat lagi.
Setelah berkelahi, hawa yang aneh memenuhi tubuh Han Han dan matanya berubah
beringas, wajahnya merah menyeramkan, mulutnya yang berdarah Itu membayangkan
kekejaman dan nafsu membunuh, hidungnya yang jga berdarah itu berkembang-kempis,
matanya seperti meta harimau gila, kerongkongannya mengeluarkan suara rnengerenggereng dan kadang-kadang melengking-lengking.
Ernpat orang hwesio murid Ceng To Hwesio kagum bukan main dan berkali-kali mereka
mengeluarkan seruan terkejut saking herannya melihat betapa pemuda itu dapat menerima
hantaman mereka tanpa mengalami cedera atau terluka sedikit pun, hanya sedikit darah
mengalir dari mulut atau hidungnya setiap kali menerima pukulan. Hampir mereka tak dapat
percaya bahwa ada seorang pemuda remaja memiliki kekebalan seperti itu!
Sungguhpun tubuh Han Han tidak sampai terluka di sebelah dalam, namun sesungguhnya
Han Han menderita bukan main. Seluruh tubuhnya terasa nyeri dan tidak karuan, kepalanya
pening, pandang matanya berkunang dan telinganya mendengar suara mengiang-ngiang
tiada hentinya. Kemarahannya memuncak. Ketika empat orang hwesio itu untuk ke sekian
kalinya menerjang. maju dari empat jurusan, ia sengaja tidak mau mengelak lagi, juga tidak
menangkis hanya menanti sampai pukulan mereka tiba. Mendadak Han Han mengeluarkan
suara melengking tinggi, tangan kirinya menghantam ke kiri dengan pengerahn tenaga sakti
Swat-im Sin-ciang sedangkan tangan kanan menghantam ke kanan dengan tenaga sakti
Hwi-yang Sin-ciang. Karena pemuda ini sengaja mengorbankan tubuhnya menjadi sasaran
dan berbareng pada detik itu mengirim pukulan-pukulan, maka terdengar jerit mengerikan
ketika pukulan-pukulannya mengenai sasaran. Hwesio di sebelah kirinya roboh dengan
muka biru dan darah membeku sedangkan yang berada di sebelah kanannya roboh pula
dengan muka menjadi hitam gosong seperti terbakar! Akan tetapi dia sendiri pun menerima
pukulan-pukulan yang membuat tubuhnya bergoyang-goyang dan tiba-tiba ia muntahkan
darah segaryang banyak juga!
"Koko…..!" Tiba-tiba Lulu menjerit dan Han Han cepat menengok. Ternyata bahwa pedang
adiknya itu telah terpukul tongkat dan terlepas dari pegangan tangan adiknya itu. Ia melihat
Ceng To Hwesio menggerakkan tangan seperti melambai dan……pedang adiknya itu
terbang ke arah tangan Si Hwesio yang membentak marah.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
254
"Bocah setan, engkau kembali membunuh dua orang murid pinceng! Kau tidak boleh
dibiarkan hidup lagi!”
Kini mereka semua menyerbu mengeroyok Han Han. Ceng To Hwesio dan muridnya yang
tinggal tiga orang karena hwesio pincang itu setelah melihat dua orang sutenya tewas lalu
meninggalkan Lulu dan ikut mengeroyok Han Han.
Tidak seperti tadi ketika dilkeroyok empat orang hwesio bertangan kosong, kini Han Han
dikeroyok empat orang hwesio yang semuanya bersenjata. Hwesio pincang memegang
tongkat, dua orang hwesio lain memegang toya dan Ceng To Hwesio memegang pedang
Ceng-kong-kiam dari Hoa-san-pai,
Dalam kemarahanya, Han Han tldak takut menghadapi bahaya apapun juga. Ia menjadi
nekat dan memutar kedua lengannya mengirim pukulan-pukulan dengan hawa sakti Hwiyang Sin-ciang yang dahsat sehingga empat orang hwesioa itu tidak berani terlalu
mendekatinya.
"Omltohud…..keji sekali….!" Ceng To Hweslo berseru dan pedangnya berubah menjadi
sinar hijau menuju pusar Han Han, Pemuda itu terkejut, cepat ia melompat ke atas seperti
terbang saja dan pada saat itu, tongkat hwesio pincang menyambar kakinya. Namun Han
Han menggerakkan kaki menendang sehingga tongkat itu hampir terlepas dari tangan
pemeganya. Pada saat itu, sinar hijau berkelebat ke lehernya. Han Han membuang tubuh ke
belakang, namun masih saja pedang itu menyerempet pundaknya sehingga bajunya berikut
kulit dan sedikit daging pundak robek den berdarah.
"Koko……!" Lulu menjerit dan menubruk Han Han, matanya melotot memandang empat
orang hwesio itu dan mulutnya memaki-maki
"Hwesio....hwesio jahat! Beginikah hwesio-hwesio Siauw-lim-pai Tukang keroyok dan
tukang bunuh?
Melihat gadis itu yang melindungi tubuh Han Han, empat orang hwesio itu menjadi sungkan
untuk menyerang. Han Han tldak, lngin melihat adiknya terancam bahaya, maka ia lalu
meraih pingang adiknya dibawa meloncat sambil membentak.
"Minggir kalian!!”
Bentakan Han Han Ini mengandung suara aneh yang memiliki pengaruh mujijat. Tanpa
mereka ketahui mengapa, empat orang hwesio itu segera mundur ke pinggir dan
membiarkan Han Han lewat bersama Lulu. Setelah pemuda itu berlari ke depan, memasuki
kuil, barulah Ceng To Hwesio berseru.
"Omitohud….., mengapa kita diam saja…..?" Ia amat terkejut, demikian pula tiga orang
muridnya dan serentak mereka mengejar ke dalam kuil.
Han Han berkelebat cepat memasuki kuil sampai ke ruangan belakang. Ternyata kuil itu
luas sekali dan mempunyai banyak ruangan. Melihat betapa para hwesio kosen itu
mengejar, Han Han berlari terus sambil menarik tangan Lulu Karena para pengejarnya yakin
bahwa pemuda itu tidak dapat meloloskan diri, apalagi kalau dilihat kenyataannya bahwa
Han Han malah lari memasuki kuil, maka mereka ini agaknya tidak mau ribut-ribut, dan
mengejar seenaknya saja.
Han Han yang menggandeng Lulu terus lari sampai di ruangan belakang yang amat luas.
Tampak banyak daun-daun pintu tertutup dan ketika Han Han tiba di ruangan itu, tiba-tiba
terdengar suara halus namun penuh wibawa.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
255
"Orang muda yang diperalat iblis berlututlah dan menyerah!"
Han Han dan Lulu mengangkat muka ke atas karena suara jtu seperti datang dari atas,
akan tetapi diatas tidak tampak apa-apa kecuali langit-langit rumah. Ketika mereka menoleh
ke kiri, ternyata di situ telah berdiri seorang hwesio tua bermuka kurus bertubuh kecil
jangkung yang berwajah angker penuh wibawa. Hwesio kurus ini kepalanya gundul kelimis,
alisnya tebal dan kumis jenggotnya jarang, tangan kirinya memegang seuntai tasbih dan
pakaiannya sungguhpun sederhana namun masih jelas berbeda dengan pakaian para
hwesio lain, juga kepalanya diikat tali dengan “hiasan” benda kecil runcing seperti jimat di
atas kepala. Hwesio ini adalah Ceng San Hwesio, ketua Siauw-lim-pai yang memandang
Han Han dengan sinar mata penuh teguran.
Han Han menarik tangan Lulu hendak lari keluar lagi. Melihat hwesio tua itu, Han Han
maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, akan tetapi begitu ia membalikkan
tubuhnya, Ceng To Hwe-sio dan tiga orang muridnya sudah tiba di situ dan berdiri memenuhi
ambang pintu yang menuju keluar. Mereka berempat ini memandang dengan sinar mata
penuh kemarahan.
"Suheng, dia inilah bocah yang telah membunuh murld-murid Siauw-lim-pai, bahkan di luar
tadi telah membunuh dua orang muridku. Mohon keputusan ketua !" berkata Ceng To
Hwesio sambil menahan kemarahannya. Kalau menurutkan kemarahan hatinya, ingin ia
turun tangan terus membunuh bocah itu, akan tetapi karena yang berkuasa memutuskan
sesuatu adalah Ceng San Hwesio sebagai ketua Siauw-lim-pai, ia menahan kemarahannya
dan menyerahkan keputusannya kepada Ceng San Hwesio.
"Omitohud, malapetaka menimpa Siauw-lim-pai tiada henti-hentinya…….semoga Tuhan
mengampuni kita sekalian……!” Ceng San Hwesio menekan kemarahannya dan berdoa,
kemudian memandang kepada Han Han sambil berkata, "Orang muda, engkaukah yang
bernama Sie Han, pemuda yang telah membunuh murid-murid pinceng Liok Si Bhok dan
Liong Ki Tek, kemudian membunuh pula beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai dan kini
bahkan membunuh dua orang murid keponakanku? Heh, orang muda yang berhati kejam,
apakah sebabnya engkau melakukan pembunuhan-pembunuhan itu? Apakah enskau murid
Hoa-san-pai?”
Han Han menjura penuh hormat setelah kini la tahu bahwa hwesio itu adalah ketua Siauwlim-pai. "Harap Locianpwe sudi mempertimbangkan dan tidak tergesa-gesa sepertl yang lain
menjatuhkan tuduhan yang bukan-bukan. Saya bukanlah murid Hoa-san-pai, juga tidak
mempunyal hubungan apa-apa dengan Hoa-san-pai. Adapun tentang pembunuhan yang
saya lakukan terhadap anak murid Siauw-lim-pai ketika mereka bentrok dihutan dengan
murid-murid Hoa-san-pai tidak perlu saya sangkal, dan memang saya melakukan
pembunuhan itu sunggupun hal itu bukan menjadi kehendak saya. Juga tewasnya dua orang
hwesio yang mengeroyok saya di luar itu terjadi bukan atas kehendak saya. Akan tetapi
tentang kematian dua orang murid Locianpwe, dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam,
saya tidak tahu-menahu dan justeru kedatangan saya ini hendak menjelaskan semua
duduknya perkara sehingga timbul bentrokan antara Hoa-san-pai, dan Siauw-lim-pai,
kemudian yang me-, nyeret diri saya sebagai orang luar karena kebetulan saja dan karena
salah pengertian sebagai korban dari tipu muslihat keji seorang Puteri Mancu."
"Orang muda, setelah membunuh sekian banyaknya murid-murid Siauw-lim-pai, engkau
datang ke sini dengan alasan hendak memberi penjelasan, akan tetapi sambil membunuh
pula dua orang murid Siauw-lim-pai lainnya. Begitukah caramu hendak memberi penjelasan?
Apakah engkau hendak menghilangkan dosa dengan pembunuhan lain lagi?"
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
256
"Maaf, Locianpwe. Sudah kukatakan tadi bahwa tewasnya Losuhu di luar itu bukanlah
kehendak saya. Saya dikeroyok dan mereka berkeras menolak keinginan saya bertemu
dengan Nona Lauw Sin Lian dan dengan Locianpwe sebagai ketua untuk memberi
penjelasan, akan tetapi mereka menggunakan kekerasan. Terpaksa saya melawan untuk
membela diri dan akhirnya dua di antara para losuhu tewas….."
"Suheng! Setan cilik ini telah menginjak-injak kehormatan .Siauw-lim-pai telah membunuh
dengan cara keji tujuh orang murid-murid Siauw-lim-pai kemudian sekarang membunuh pula
dua orang murid tingkat pertama, bahkan kematian Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek tentu
akibat perbuatannya pula karena memang dia memiliki ilmu setan. Harap Suheng sekarang
memberi keputusan agar saya dapat turun tangan menangkap atau membunuhnya," kata
Ceng To Hwesio yang merasa marah sekali atas kematian dua orang muridnya yang
tersayang.
Tidak hanya Ceng To Hwesio yang merasa sakit hatinya oleh kematian para murid Siauwlim-pai. Biarpun ketua Siauw-lim-pai sendiri, Ceng San Hwesio, juga merasa sakit hati. Akan
tetapi sebagai seorang ketua yang berpikiran luas dan berpemandangan jauh ia tidak mau
bertindak sembrono. Urusan Siauw-lim-pai dengan Hoa-san-pai jauh lebih penting dan lebih
besar dari pada urusan dendam terhadap orang muda ini, pikirnya. Maka ia menindas
perasannya dan berrtanya.
"Orang muda she Sie, engkau hendak menyampaikan penjelasan tentang sebab-sebab
bentrokan antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. penjelasan yang kauawali dengan
pembunuhan baru lagi. Penjelasan apakah gerangan? Coba kausampaikan kepada pinceng
untuk dlpertimbangkan."
Han Han maklum bahwa keadaannya terhimpit dan terancam. la malah merasa pening dan
seluruh tubuhnya sakit-sakit, sedangkan Lulu yang memegang lengannya dari belakang
kelihatan pucat dan tangan gadis itu agak gemetar tanda bahwa hatinya tegang dan takut.
Kenyataan bahwa kedatangannya ini menimbulkan pembunuhan-pembunuhan baru
membuat perkara menjadi makin ruwet. Akan tetapi karena memang hatinya tidak
mengandung pamrih apa-apa, tidak pula mempunyai niat untuk menonjolkan atau
menguntungkan diri sendiri, melainkan hanya bertindak untuk membela diri dari seranganserangan maut, dengan suara tenang ia lalu berkata.
"Locianpwe, semua peristiwa yang terjadi sehingga mengakibatkan korban-korban yang
tewas di antara murid-murid Siauw-lim-pai dan juga Hoa-san-pai, adalah disebabkan oleh
siasat adu domba yang amat licin dari seorang puteri Mancu yang bernama Puteri Nirahai.
Mula-mula terjadi pembunuhan atas diri dua orang Locianpwe dari Siauw-lim Chit-kiam yang
merupakan rahasia, akan tetapi yang pertama kali membawa datang kedua jenazah itu
adalah Puteri Nirahai itulah." Kemudian dengan tenang Han Han menceritakan semua
peristiwa yang didengarnya dari fihak Hoa-san-pai tentang pengiriman peti oleh puteri
Mancu, dan betapa peti-peti itu dikawal oleh murid Hoa-san-pai kemudian di tengah jalan
dihadang oleh murid-murid Siauw-lim-pai sehingga terjadi pertempuran.
"Saya dan adik saya kebetulan lewat di tempat pertempuran dan karena saya mengira
bahwa murid-murid Siauw-lim-pai adalah perampok-perarnpok yang hendak merampas
kereta yang dikawal Pek-eng-piauwkiok, saya lalu membantu Pek-eng-piauwkiok dan dalam
pertandingan itu saya dikeroyok dan akibatnya tujuh orang murid Siauw-lim-pai yang saya
kira perampok ltu tewas. Setelah muncul Nona Lauw Sin Lian yang saya kenaI diwaktu kecil,
yang membuka dua peti terisi jenazah, barulah saya menjadi kaget dan kembali saya salah
sangka, mengira bahwa fihak Hoa-san-pai yang jahat dan turun tangan membunuh dua
orang pimpinan Pek-eng-piauwkiok yang menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Saya sudah
menjelaskan persoalan ini kepada pimpinan Hoa-san-pai, dan biarpun hasilnya, tidak begitu
memuaskan, saya tetap mendatangi Siauw-lim-si untuk memberi penjelasan pula kepada
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
257
ketua Siauw-lim-pai dan kepada Nona Lauw Sin Lian. Sungguh menyedihkan bahwa
kedatangan saya dikeroyok dan akibatnya dua orang murid Siauw-lim-pai tewas. Sekarang
terserah kepada keputusan Locianpwe."
Ceng San Hwesio diam-diam terkejut sekali dan mempertimbangkan kemungkinankemungkinan bohong tidaknya cerita yang ia dengar dari mulut pemuda aneh ini. Kalau tidak
bohong, benar-benar Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai terancam kehancuran kalau
melanjutkan permusuhan yang dijadikan umpan perpecahan oleh fihak penjajah. Akan tetapi
siapa tahu kalau cerita itu hisapan jempol belaka? Pemuda ini amat aneh dan lihai, siapa
dapat menjenguk isi hatinya?
"Suheng, harap jangan percaya dia! Masih ingat pinceng akan cerita Sin Lian bahwa bocah
ini adaJah murid Kang-thouw-kwi Gak Liat dan tadi pun dia mengeluarkan pukulan Hwi-yang
Sin-ciang! Tentu kedua orang murid Suheng dia pula yang membunuhnya!" Ceng To Hwesio
berkata. bukan untuk memanaskan hati suhengnya, melainkan karena ia menduga keras
bahwa Han Han adalah seorang musuh besar.
Sinar mata Ceng San Hwesio berkilat. “Hemmm, Gak Liat manusia yang keji dan jahat.
Sekarang muridnya lebih kejam lagi……, omitohud! Sie Han, kau lebih baik menyerahkan
diri, jangan melawan. Kau harus menjadi tawanan kami untuk kemudian diperiksa lebih
lanjut.”
" Locianpwe, sebagai seorang ketua perkumpulan besar, apakah Locianpwe tidak dapat
menggunakan kebijaksanaan? Kakakku tidak bersalah, memaksa diri datang kesini untuk
memberi penjelasan agar jangan terjadi permusuhan berlarut-larut antara Siauw-lim-pai dan
Hoa-san-pai. Akan tetapi sampai disini malah hendak ditawan. Hayo kembalikan pedangku
dan biarkan kami berdua pergi dari sini kalau Locianpwe tidak suka mendengarkan
penjelasan Kakakku!" Lulu yang tadinya kelihatan takut-takut itu kini melangkah maju dan
bicara dengan suara membentak-bentak kepada ketua Siauw-lim-pai .
Jari-jar itangan kiri Ceng San Hwesio menggerak-gerakkan tasbihnya ketika ia memandang
Lulu ,alisnya berkerut dan ia bertanya halus, "Nona muda, siapakah namamu?"
"Namaku Lulu dan aku adalah adik Kakakku Han Han ini."
"Nona bukan murid Hoa-san-pai?"
"Bukan, juga Kakakku bukan murid Hoa-san-pai, bukan pula murid Gak Liat.”
Bibir hwesio tua itu tersenyum. "Hem, Nona bicara tidak karuan. Kalau bukan murid Hoasan-pai, bagaimana pedang Cheng-kong-kiam bisa berada di tangan-mu? Pedang itu adalah
pedang pusaka Hoa-san-pai dan biasanya hanya dipergunakan oleh fihak pimpinan Hoasan-pai."
"Ohhh, itu? Pedangku yang dirampas oleh hwesio jahat ini? Sama saja dengan hwesio itu,
Locianpwe, aku merampas dari tosu Hoa-san-pai?”
"Hemmm, merampas dari tosu Hoa-san-pai?"
"Apa bedanya dengan hwesio ini? Dia pun merampas pedangku! Aku diserang tosu Hoasan-pai dan aku merampas pedangnya."
Tiba-tiba Ceng To Hwesio maju dan berkata, "Nona muda yang lancang mulut. Benarkah
engkau Adik pemuda ini? Pinceng tidak percaya!"
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
258
Lulu membelalakkan matanya kepada hwesio yang dibencinya itu, yang telah memegang
pedangnya. "Kau percaya atau tidak bukan urusanku! Aku adalah adik angkat Kakakku ini
dan aku tidak membutuhkan kepercayaanmu!"
"Suheng, gadis ini adalah keturunan Mancu!" tiba-tiba Ceng To Hwesio berkata. "Lihatlah
matanya, lihat hidungnya dagunya Dia berdarah Mancu!”
" Memang aku gadis mancu, habis engkau mau apa?" .
" Omitohud……kalau begitu benar. Mereka ini adalah mata-mata penjajah yang
dipergunakan untuk mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Bocah kejam,
terpaksa pinceng. Turun tangan kepadamu!" Ceng San Hwesio berseru dan tiba-tiba dia
menggerakkan kaki maju dua langkah dan tangan kanan-nya mendorong ke depan,
mencengkeram ke arah pundak Han Han.
Pemuda yang sudah sakit-sakit rasa tubuhnya ini ketika mendengar suara mencicit keluar
dari tangan ketua Siauw-lim-pai, terkejut bukan main. Cepat ia miringkan tubuh, agak
merendah dan dengan nekat ia mengangkat tangan menangkis ke arah tangan hwesio yang
terulur itu.
" Plakkk!”
" Omitohud…..,mentakjubkan!" CengSan Hwesio berseru dan meloncat ke
belakang untuk mematahkan daya dorong yang dapat. merusak kuda-kuda kakinya. Akan
tetapi Han Han terpental ke belakang dan roboh terguling-guling. Ternyata bahwa dalam hal
tenaga, bahkan kakek ketua Siauw-lim-pai ini sendiri tak mampu mengatasi Han Han, akan
tetapi karena kakek ini amat lihai, ketika tangan mereka bertemu tadi Ceng San Hwesio telah
menggerakkan pergelangan tangan sehingga Han Han terdorong dari samping dan kena
dilontarkan ke belakang!.
"Kalian benar-benar menghendaki nyawaku? Hemmm…….majulah, aku Sie Han bukannya
orang yang takut mati!" bentak Han Han, kemarahannya membuat wajahnya menjadi merah
sekali dan kelihatannya beringas menyeramkan, sinar maut terpancar dari sepasang
matanya. Ceng San Hwesio maklum bahwa anak muda ini benar-benar merupakan bahaya
dan bahwa kalau dia sendiri tidak turun tangan, tentu akan sukar bagi murid-muridnya
menundukkan Han Han tanpa mengorbankan nyawa banyak anak murid Siauw-lim-pai lagi.
Sebagai ketua Siauw-lim-pai, tentu saja dia berpantang membunuh, akan tetapi karena
maklum bahwa pemuda ini sukar dikalahkah dan memiliki sinkang yang amat luar biasa, ia
lalu melangkah maju, siap menurunkan tangan menyerang. Juga Ceng To Hwesio bersama
tiga orang muridnya sudah maju mengurung Han Han yang beringas dan marah sedangkan
Lulu masih berdiri terbelalak penuh kekhawatiran memandang kakaknya.
Keadaan itu amat menegangkan, terutama sekali bagi Lulu yang seolah-olah melihat betapa
kakaknya yang tercinta itu hendak disembelih, hendak dibunuh di depan matanya. Ia amat
bangga dan yakin akan kelihaian kakaknya, akan tetapi kini ia mengerti bahwa kakaknya
bukanlah lawan hwesio-hwesio yang saktii ini. Ia pun bersiap-siap untuk menyerbu untuk
membela kakaknya, karena kalau sampai kakaknya tewas, ia pun tidak mau hidup lebih
lama lagi ingin mati disamping kakaknya. Dalam detik seperti itu terasa benar di hati Lulu
betapa ia mencinta kakaknya, betapa di dunia ini dia tidak punya siapa-siapa lagi, betapa
hidupnya akan kosong dan hampa kalau Han Han mati. Perasaan ini seperti duri-duri
menusuk jantungnya, membuat Lulu tanpa disadarinya memekik nyaring.
"Koko……! Aku ingin mati bersamamu……!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
259
Jeritan melengking yang keluar dari mulut Lulu ini langsung keluar dari hatinya, maka
mengandung getaran hebat. Ceng San Hwesio bersama sutenya dan tiga orang muridnya
itu, sudah siap menerjang maju membinasakan Han Han tergetar oleh jeritan ini. Mereka
adalah hwesio-hwesio y.ang berilmu, hwesio-hwesio yang mengutamakan kebajikan yang
penuh dengan welas asih dan cinta kasih terhadap sesama hidup. Mereka sama sekali
bukanlah orang-orang kejam, bahkan mereka telah berhasil mengusir jauh-jauh nafsu
kebencian. Kalau mereka hendak turun tangan membunuh Han Han, hal ini dilakukan
dengan perasaan demi menjaga keutuhan den kelangsungan Siauw-lim-pai yang terancam
kedudukannya. Kini mendengar lengking itu, hati mereka tertusuk dan sejenak mereka
berdiri melongo memandang Han Han yang berdiri dengan muka beringas dan darah
mengalir dari pundak, hidung dan ujung bibirnya.
Pada detik-detik yang sunyi itu terdengarlah suara halus yang seolah-olah terbawa asap
dupa yang mengepul keluar dari balik daun pintu tertutup sebelah kiri, suara yang penuh
getaran pula.
"Siancai…..,hidupnya belum terisi, mengapa ingin mati? Aduhai, sebentar lagi tubuh itu
terbujur di dalam tanah, busuk menjijikkan, tanpa kesadaran, tidak ada, gunanya seperti
kayu habis dimakan api….! Omitohud….,Ceng San…., apa yang hendak kaulakukan di luar?
Kesinilah segera!"
Mendengar suara ini, lima orang hwesio yang mengurung Han Han itu tiba-tiba menjatuhkan
diri berlutut dengan muka menghadap daun pintu tertutup dari mana mengepul keluar asap
dupa harum itu. Kemudian Ceng San Hwesio lalu melompat sambil berlutut dan tubuhnya
yang masih berlutut itu melayang ke arah daun pintu, tangan kanan mendorong daun pintu
terbuka dan tubuhnya terus meluncur masuk ketika daun pintu itu tertutup kembali. Han Han
memandang penuh kagum. Mengertilah ia bahwa kepandaiannya masih amat jauh
ketinggalan kalau dibandingkan dengan hwesio-hwesio tokoh Siauw-lim-pai ini. la maklum
bahwa biarpun Ceng San Hwesio sudah pergi, namun tetap saja ia tidak akan dapat
menghindarkan diri dari maut kalau ia melawan Ceng To Hwesio, apalagi jika hwesio sakti ini
dibantu oleh tiga orang muridnya. Maka ia lalu menggandeng tangan Lulu dan berlarilah Han
Han menuju ke pintu yang tadi dimasuki Ceng San Hwesio.
"Hei, berhenti kau….!” Ceng To Hwesio membentak dan ketika Han Han tidak
mempedulikannya, Ceng To Hwesio mengirim pukulan jarak jauh dari belakang. Kembali
Han Han mendengar suara bercuit dari belakang dan ia maklum bahwa ia dipukul dengan
hawa sakti yang amat kuat. Maka ia cepat menarik tubuh Lulu agar berlindung di belakang,
kemudian. ia membalik sambil menggerakkan tangan menangkis. Namun tetap saja
tubuhnya terlempar bersama tubuh Lulu, menabrak dinding akan tetapi malah dekat dengan
pintu itu yang cepat ia buka sambiI melompat masuk dan menarik tangan adiknya.
Kepalanya pening sekali, napasnya sesak dan kemarahannya makin memuncak.
"Koko, kita ke mana ?" tanya Lulu terengah-engah.
"Biarlah…..akan kucari Ceng San Hwesio….kalau perlu aku mati bersama dia! Aku akan
mengadu nyawa dengan ketua Siauw-lim-pai….,mati di tangannya tidak penasaran.”
"Koko…..!" Lulu menjadi pucat akan tetapi ketika ia menengok dan melihat betapa Ceng To
Hwesio dan tiga orang muridnya tidak berani mengejar, bahkan sudah berlutut lagi
menghadapi pintu, hatinya menjadi lega. Memang tidak seorang pun hwesio Siauw-lim-pai,
termasuk ketuanya, berani memasuki kamar-kamar yang daun pintunya berjajar diruangan
luas sebelah belakang kuil ini. Itulah kamar-kamar yang disebut "ruangan penyiksaan diri"
dan merupakan tempat terlarang bagi para hwesio lainnya. Kalau tadi tidak medengar suara
supek-nya memanggil, Ceng San Hwesio sendiri tidak akan berani memasuki kamar melalui
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
260
daun pintu itu. lnilah sebabnya mengapa Ceng To Hwesio dan tiga orang muridnya tidak
berani mengejar Han Han dan Lulu yang memasuki kamar terlarang ini.
Dengan alis berkerut dan wajah masih beringas darah masih menetes-netes dari hidung
dan mulut sebagai akibat gempuran pukulan terakhir Ceng To Hwesio tadi, mata masih
berkunang dan kepala berdenyut-denyut, Han Han memasuki lorong yang menembus pintu
tadi, dipegang lengannya oleh Lulu yang memandangnya penuh kekhawatiran. Han Han
seperti terbetot asap dupa harum karena kakinya bergerak melangkah maju menempuh
asap dupa dan menghampiri kamar dari mana dupa itu mengepul keluar. Ia melangkah ke
ambang pintu kamar itu dan berdiri tertegun sambil memegangi pundaknya yang terasa
perih karena darahnya keluar lagi ketika terbanting tadi. Seperti terpesona. Han Han
memandang ke dalam kamar sedangkan Lulu yang juga memandang ke dalam kamar dan
melihat tiga orang hwesio di .kamar itu, memandang kakaknya dengan hati gelisah. Dengan
sinar matanya ia seolah-olah hendak melarang kakaknya turun tangan, karena betapa
mungkin kakaknya melawan tiga orang hwesio tua itu?
Ternyata Han Han tidak turun tangan, bahkan berdiri seperti arca, terpesona oleh
pemandangan den pendengaran di dalam itu. Di atas sebuah dipan bamboo sederhana
duduk seorang hwesio yang amat tua, begitu tua dan kurusnya seperti rangka terbungkus
kulit. Kepalanya gundul halus mengeluarkan sinar, alis, kumis dan jenggotnya Seperti
menjadi satu berjuntai ke bawah berwarna putih, mukanya tunduk dan matanya terpejam,
tubuhnya terbungkus kain kuning yang kasar dan tangan kanannya memegang sebuah kipas
daun. Hwesio ini duduk bersi!a dan di sebelah kirinya, di dekat kaki dipan, duduk bersila
sambil menundukkan muka pula seorang hwesio lain yang keningnya selalu berkerut,
mulutnya cemberut dan matanya terpejam. Hwesio ini pun sudah tua sekali, dan agaknya
dialah yang melayani segala keperluan hwesio tua di atas dipan. Sebuah pedupaan berada
di dekat hwesio pelayan ini dan agaknya dia pula yang membakar dupa bubuk di pedupaan
itu. Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai tampak duduk berlutut di depan hwesio tua renta
itu dengan sikap penuh hormat. Kamar itu sendiri kosong dan buruk tua, tidak ada hiasan
apa-apa kecuali dipan itu dan sebuah meja kayu di mana terdapat sebuah guci air.
Terdengar oleh Han Han suara yang halus seperti suara tadi yang keluar dari daun pintu
bersama asap dupa dan sungguhpun bibir kakek tua itu tidak bergerak, namun ia dapat
menduga bahwa itulah suara hwesio tua yang bersila diatas dipan.
"Jangan menilai perbuatan orang lain yang tidak patut maupun dosa-dosa dan kejahatan
orang lain, melainkan perbuatan dan penyelewengan diri sendirilah yang harus selalu
diperhatikan. Harum semerbaknya bunga-bunga tagara, malika dan kayu cendana tak dapat
tersebar melawan arahnya angin, akan tetapi harum semerbaknya nama baik seseorang
bahkan sampai tersebar melawan arahnya angin. Sama seperti dionggokan sampah kotor
tumbuh bunga teratai yang bersih dan indah, demikian pula seorang murid Buddha tetap
bijaksana seperti teratai diantara orang-orang sesat. Wahai, Ceng San, apakah engkau
sudah melupakan semua pelajaran itu?"
Han Han terpesona, tak berani bergerak dan tak berani berkedip, memandang kakek tua itu
dan mendengarkan kata-katanya. Ia pernah membaca kata-kata yang keluar dari dalam
mulut kakek itu, mengenal kata-kata itu dari kitab-kitab Agama Buddha yang pernah
dibacanya. Akan tetapi entah bagaimana dia sendiri tidak mengerti, mendengar kata-kata
bersajak itu keluar dengan suara getaran aneh dari tubuh hwesio ini, terasa dingin sejuk dan
sekaligus membuka mata batinnya, membuatnya terpesona dan ingin mendengarkan terus.
"Teecu selalu ingat akan semua pelajaran dan tidak pernah melupakannya. Akari tetapi,
Supek, urusan yang melanda Siauw-lim-pai ini adalah urusan besar sekali. Teecu bukan
bertindak berdasarkan dendam kebencian melainkan karena ingin menjaga nama besar
Siauw-lim-pai. Siauw-lim-pai yang didirikan ratusan tahun yang lalu oleh Couwsu kita, kalau
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
261
tidak dijaga dan dipertahankan, bukankah hal itu merupakan dosa besar terhadap Couwsu?
Siauw-lim-pai diadu domba dengan Hoa-san-pai, murid-murid Siauw-lim-pai pilihan telah
dibunuh orang, kini pembunuhnya muncul pula di kuil kita dan membunuh pula murid-murid
Siauw-lim-pai, bahkan mengajak datang seorang gadis Mancu mengotori kuil kita. Mohon
petunjuk, Supek. Apakah teecu bersikap dungu kalau teecu hendak membasmi manusia
sesat dan keji itu dari permukaan bumi agar perbuatan-perbuatannya tidak menimbulkan
mala petaka yang lebih hebat lagi? Tidak benarkah perbuatan teecu seperti itu?"
Terdengar suara halus itu keluar dari balik jenggot tanpa pergerakan bibir dan kini suara itu
mengeluarkan nyanyian halus yang ternyata adalah ayat-ayat kitab suci dari Agama Buddha
yang pernah pula dibaca Han Han:
"Si dungu dengan perbuatannya
mencipta diri sendiri
menjadi musuh banyak manusia
di mana pun dia melakukan kejahatan
yang menimbulkan banyak penderitaan.
Tidak benarlah perbuatan
yang menimbulkan duka nestapa
penyesalan, ratap tangis dan air mata.
Benarlah perbuatan
yang mendatangkan manfaat
kegembiraan dan kebahagiaan.”
Biarpun ucapan itu ditujukan kepada Ceng San Hwesio, namun secara aneh sekali meresap
ke dalam sanubari Han Han dan pemuda ini merasa seolah-olah ucapan itu ditujukan
kepada dirinya sehingga menimbulkan pertanyaan di hatinya apakah selama ini
perbuatannya itu benar? Ia mengangapnya benar, akan tetapi melihat akibat-akibat yang
ditimbulkan oleh perbuatannya, setelah mendengar ucapan kakek itu, ia menjadi ragu-ragu.
Betapa banyaknya kekacauan dan keributan timbul sebagai akibat perbuatan-perbuatannya
itu! Siapakah yang untung, gembira dan bahagia oleh perbuatannya? Tidak ada? Siapa yang
rugi! Yang jelas saja, Hoa-san-pai memusuhi nya karena dia telah membunuh beberapa
orang anak muridnya, kini Siauw-lim-pai juga memusuhinya, belum lagi diingat Sin Lian yang
begitu baik kepadanya kini menjadi sakit hati dan membencinya!
Dengan hati perih seperti ditusuk pedang dan perasaan penuh keharuan, Han Han lalu
menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah kakek di atas dipan itu sambil berkata.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
262
"Aduh, Locianpwe yang mulia……., boanpwe Sie Han merasa menyesal sekali atas segala
kejahatan yang boanpwe lakukan……mohon Locianpwe segera turun tangan
menghukum……"
Lulu juga berlutut, bukan berlutut untuk menghormat kakek itu melainkan untuk merangkul
pundak kakaknya dengan penuh kekhawatiran. "Koko, mengapa begini? Kita tidak bersalah
apa-apa, engkau tidak melakukan kejahatan. Mari kita pergi saja, Koko….., kalau mereka
tidak sudi mendengarkan penjelasanmu, mari kita pergi saja !" Suara Lulu terdengar begitu
menyedihkan dan sepasang mata yang lebar itu mengucurkan air mata.
"Diamlah, Lulu, diamlah……biarkan Kakakmu mendengarkan wejangan Locianpwe yang
mulia ini, dan kau juga…..perlu mendengarkan, Lulu….." kata Han Han tanpa mengalihkan
pandang matanya dari wajah kakek tua renta yang masih menunduk.
Sementara itu, tanpa mempedulikan kehadiran Han Han dan Lulu, Ceng San Hwesio
berkata pula dengan suara penasaran, "Mohon maaf, Supek. Kalau Supek menganggap
bahwa keputusan teecu untuk membunuh pemuda jahat itu tidak benar, habis
bagaimanakah teecu harus berbuat menurut pendapat Supek? Teecu mengambil keputuan
berdasarkan pertimbangan yang masak dan adil. Pertama, bocah ini adalah murid Gak Liat
dan mengingat betapa Gak Liat telah merusak hidup cucu murid teecu sendiri, Bi-kiam Bhok
Khim maka berarti bahwa muridnya ini pun bukan manusia baik-baik……”
Tiba-tiba terdengar suara keras dan dinding tebal di sebleah kanan jebol dan berlubang
besar, kemudian muncullah seorang wanita dari dalam lubang itu, seorang wanita yang
memondong seorang anak laki-laki berusia kurang lebih enam tahun, dan keadaan wanita itu
sungguh mengerikan. Pakaiannya hitam compang-camping, rambutnya panjang riap-riapan
sampai ke pinggul, wajahnya yang masih jelas membayangkan kecantikan itu kotor dan
menyeramkan sekali karena pandang matanya berkilat dan mulutnya tersenyum mengejek.
Anak laki-laki itu tampan dan mukanya putih, juga memakai pakaian hitam yang tidak karuan
bentuknya, kaki nya telanjang dan rambutnya pun panjang.
"Hi-hi-hik! Biar gurunya jahat, murid-nya mungkin baik. Biar gurunya baik, banyak sekali
muridnya yang jahat. Kang-thouw-kwi adalah setan neraka jahanam, akan tetapi bocah ini
tidak jahat. Sama sekali tidak……dia berani menentang setan itu dahulu untuk menolongku."
Sementara itu, Ceng San Hwesio memandang wanita itu dengan mata terbelalak, dan
setelah wanita itu mengeluarkan kata-kata tadi, barulah ketua Siauw-lim-pai ini agaknya
dapat menekan kekagetannya dan berkata, "Bhok Khim...!Kau…. kau…. dan anak itu…."
Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadapi ketua Siauw-lim-pai yang masih berlutut,
wajahnya berseri aneh ketika ia berkata, "Hi-hi-hik, Sukong, engkau heran melihat anak ini?
Dia ini anakku! Hi-hik, engkau ketua Siauw-lim-pai pun tidak tahu bahwa di dalam kamar
penyiksa diri aku melahirkan anakku ini. Hi-hik! Selama ini Siauw-lim-pai tidak mampu
membasmi Kang-thouw-kwi, biarlah aku sendiri yang akan membunuhnya." Sambil berkata
demikian,tubuhnya membalik dan berkelebat cepat sekali pergi dari ruangan itu.
"Supek, apakah artinya itu? Mengapa Bhok Khim menjadi seperti itu….?” Ceng San Hwesio
bertanya kepada supeknya.
Hwesio tua itu menarik napas panjang lalu terdengar suaranya, "Kehendak Thian tak dapat
diubah oleh siapapun juga. Dia telah mencuri belajar ilmu yang pinceng berikan kepada
Siauw Lam, dan keadaan jiwanya yang tertekan membuat ia keliru mempelajari ilmu-ilmu itu.
Dunia akan bertambah seorang tokoh yang akan membikin geger. Ceng San muridku, orang
muda ini seorang yang menderita, sama halnya dengan Bhok Khim tadi. Betapun juga,
pinceng tidak melihat dasar-dasar jahat. Menurut pinceng, sebaiknya membebaskan orang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
263
muda ini, akan tetapi karena engkau yang menjadi ketua Siauw-lim-pai, keputusannya
terserah kepadamu. Nah, cukuplah pinceng bicara."
Ceng San Hwesio memberi hormat lalu bangkit berdiri, mukanya agak keruh ketika ia
berkata, "Mendengar perintah Supek, bagaimana teecu berani membantahnya? Biarlah
sesuai dengan perintah supek, teecu akan membebaskan. Dia dan gadis Mancu itu untuk
sekali ini. Akan tetapi, mengingat akan kematian para murid-murid, teecu tidak mungkin
dapat membebaskan dia untuk seterusnya dan lain kali dalam lain kesempatan, tentu teecu
akan memerintahkan untuk menangkap dan kalau perlu membunuh dia." Setelah berkata
demikian, kembali Ceng San Hwesio memberi hormat kepada supeknya, lalu membalikkan
tubuh keluar dari kamar itu dengan wajah muram.
"Siancai……, siancai……, lahir dan batin memang selalu bertentangan, betapa mungkin
disatukan? Siauw Lam, tahukah engkau, apa yang harus dilakukan manusia yang hidup di
tengah antara dua kekuatan raksasa lahir dan batin?" Kakek itu bertanya tanpa menoleh
Hwesio pelayan yang bernama Siauw Lam Hwesio, masih duduk bersila. Dan kini terdengar
suaranya yang pertama kali, suara yang kasar dan serak seperti kaleng diseret.
"Karena sifatnya bertentangan, menyatukannya berarti menghentikan hidup karena justeru
keadaan hidup yang membuat keduanya bertentangan. Yang seyogianya dilakukan manusia
adalah menyesuaikan dan menyelaraskan keduanya sehingga berimbang."
"Baik sekali pendapatmu, Siauw Lam. Eh, orang orang muda, engkau masih di sini? Apakah
yang kaukehendaki?"
Han Han yang sejak tadi masih berlutut, lalu menjawab, "Boanpwe yang banyak melakukan
hal-hal yang menimbulkan malapetaka bagi orang lain, boanpwe merasa bingung sekali dan
mohon peunjuk Locianpwe apa yang harus boanpwe lakukan selanjutnya dalam hidup yang
penuh pertentangan ini."
Kini tubuh hwesio tua itu bergerak sedikit, mukanya diangkat menghadapi Han Han dan
mata yang terpejam itu bergerak-gerak, terbuka sedikit, menyipit, akan tetapi kagetlah Han
Han ketika dari balik garis mata itu menyambar keluar sinar mata yang lembut dan tenang
sekali, setenang lautan yang luas.Sejenak mereka saling pandang dan kalau sinar mata Han
Han yang pada saat itu masih dikuasai kemarahan itu dapat di umpamakan api bernyalanyala, maka.sinar mata kakek itu seperti air yang tenang dan dingin. Di dalam sinar mata
Han Han terdapat pengaruh mujijat yang membawa isi pikirannya dengan tenaga batin yang
luar biasa kuatnya sehingga kakek itu merasa betapa dia dipaksa oleh tenaga gaib untuk
memberi petunjuk kepada orang muda itu. Kakek yang puluhan tahun lamanya
mengasingkan diri dan bertapa ini, mengeluarkan suara halus penuh kekaguman.
"Siancai……patut dikasihai orang muda yang malang. Pinceng hanya dapat memberi dua
nasihat kepadamu. Pertama ambillah pedang dan potonglah kaki kiri mu. Dan ke dua,
belajarlah mengalah terhadap siapapun juga. Nah, pergilah orang muda."
Han Han masih berlutut, mukanya pucat dan matanya terbelalak, hampir ia tidak percaya
akan ucapan kakek itu.Tadinya ia amat terpesona dan terpengaruh oleh semua ucapan
kakek itu, akan tetapi bagaimana kini kakek itu memberi nasihat seperti ini kepadanya?
Disuruh membuntungi kakinya sendiri! Kalau disuruh belajar mengalah ia masih dapat
menerimanya, akan tetapi disuruh membuntungi kaki sendiri?
"Eh, hwesio tua, kiranya engkau pun sarna saja, sama jahatnya dengan yang lain-lain!
Apakah semua orang di sini sudah begitu palsu sehingga perlu menyembunyikan sifat jahat
dan dengkinya di balik kepala gundul dan pakaian pendeta? Hanya orang gila yang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
264
menasihati orang disuruh membuntungi kakinya, dan hanya orang gila pula yang akan
menuruti nasihat gila itu!" Lulu membentak dan kini bangkit berdiri, menarik tangan kakaknya
sehingga Han Han pun bangkit berdiri pula. Akan tetapi kakek. Yang dimakinya itu telah
bersamadhi pula dan sama sekali tidak terpengaruh, wajah yang seperti tengkorak
terbungkus kulit itu seperti telah mati. Hanya hwesio pelayan itu yang kini mengangkat
mukadan tiba-tiba matanya terbuka sambil berkata.
"Nona, memang dunia ini seperti panggung orang-orang gila bermain komidi, gila oleh nafsu
mereka sendiri. Harap kalian pergi dan jangan mengganggu kami.
"Lulu menjadi makin marah. Ia kaget melihat sinar mata hwesio pelayan itu seperti dua bola
api menyerangnya, akan tetapi gadis itu memiliki keberanian luar biasa kalau dia merasa
benar. " Memang penuh orang-orang gila dan kalian lebih gila daripada orang-orang gilla!”
teriaknya. "Apa artinya hidup kalian ini? Apakah gunanya bertapa mengasingkan diri di sini?
Apa untungnya bagi dunia? Apa manfaatnya bagi manusia lain? Paling-paling berguna dan
bermanfaat bagi diri kalian sendiri. Phuhhh, berlagak suci dan……”
“Lulu, diam…..!" Han Han terkejut sekali mendengar keberanian adiknya yang memaki-maki
seorang hwesio tua yang dijadikan junjungan oleh para murid Siauw-lim-pai. Ia sudah
menarik tangan adiknya diajak berlari keluar dari kamar itu. Mereka berdua terus berlari
keluar melalui ruangan belakang, ke ruangan tengah kemudian terus ke ruangan luar.
Mereka melihat para hwesio Siauw-lim-pai, akan tetapi mereka semua seolah-olah tidak
melihat dua orang muda yang berlari keluar itu. Yang membersihkan kuil tetap bekerja, yang
membaca doa tidak menghentikan tugas mereka, Dan yang menjaga di luar pun seolah-olah
tidak melihat mereka.
Han Han menggandeng tangan Lulu, berlari terus sampai jauh meninggalkan kuil dan
setelah mereka memasuki sebuah hutan, barulah Han Han melepaskan tangan Lulu,
kemudian ia duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaganya dan
menenangkan batinnya yang terguncang. Akan tetapi, biarpun ia tidak menderita luka parah,
tubuhnya terasa sakit-sakit, sungguhpun rasa nyeri di tubuhnya tidak seperti rasa perih
dihatinya kalau ia terkenang akan ucapan-ucapan hwesio tua di datam kamar penyiksa diri
yang seolah-olah membuka mata batinnya betapa sepak terjangnya selama ini mendekati
perbuatan sesat, betapa mudahnya ia membunuhi orang-orang yang tidak berdosa,
membunuhi orang-orang gagah murid-murid Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Hatinya merasa
menyesal sekali dan pikirannya menjadi bingung.
*
***
Sebuah negara betapa kecil pun, tak kan mungkin dapat ditundukkan dan di jajah negara
lain yang lebih besar apa bila rakyatnya bersatu-padu dan berjiwa patriotik, memiliki rasa
cinta kasih dan setia bakti kepada tanah airnya. Sebaliknya, betapapun besarnya negara itu,
kalau rakyatnya tidak bersatu, dan banyak pula yang berjiwa pengkhianat, negara besar ini
mudah saja dijajah oleh negara.yang jauh lebih kecil. Sebagaimana tercatat dalam
sejarah,Tiongkok merupakan negara amat besar yang rakyatnya selalu bertentangan sendiri
satu kepada yang lain. Perang saudara tak pernah berhenti karena oknum-oknum yangi
memperebutkan kedudukan. Apabila ada negara asing yang datang menyerbu dan menjajah
barulah bersatu, melupakan permusuhan antara saudara sendiri den bersama-sama
menghadapi musuh asing. Sayang sekali, begitu musuh asing dapat diusir keluar dari tanah
air pertentangan satu sama lain timbul kembali, memecah-mecahah kekuatan mereka
sehingga memungkinkan masuknya kekuatan asing lain lagi ke dalam negeri.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
265
Ketika bangsa Mongol menyerbu Tiongkok, negara ini pun sedang dalam keadaan kacau
dan rusak oleh perang saudara sehingga menjadi lemah dan mudah saja ditaklukkan dan
dijajah bangsa Mongol.
Setelah seluruh negeri dijajah bangsa Mongol, barulah rakyat bersatu-padu dan tentu saja
rakyat yang luar biasa besar jumlahnya itu tidak sukar merobohkan kekuasaan Mongol dan
mengusir penjajah ini. Akan tetapi, begitu penjajah Mongol terusir, timbul kembali perang
saudara yang tak kunjung henti, susul-menyusul yang melemahkan negara itu sendiri.
Karena perang saudara inilah maka kekuasaan Mancu mulai menyelundup memasuki
Tiongkok. Dengan dukungan para oknum penjilat yang tidak segan-segan menjual negara
dan bangsa demi sekelumit kesenangan duniawi bagi diri pribadi, cepat sekali bangsa
Mancu menguasai Tiongkok. Cerita ini dimulai pada tahun 1645 di mana tentara Mancu
menyerbu ke selatan dan sekarang, delapan tahun kemudian, hampir seluruh Tiongkok
dikuasai bala tentara Mancu yang mempunyai kaisar baru, yaitu Kaisar Kang Hsi, kaisar ke
empat dari Kerajaaan Ceng-tiauw atau kerajaan bangsa itu.
Di bawah pimpinan Kaisar Kang His inilah diadakan pembersihan secara besar-besaran
terhadap para pejuang yang mempertahankan tanah air menentang penjajah Mancu. Para
pejuang melakukan perlawanan mati-matian dan sebagai pusat perjuangan, atau sebagai
pucuk pimpinan gerakan para pejuang ini bersumber di Se-cwan di mana Bu Sam Ki menjadi
raja muda yang tak pernah mau tunduk terhadap penjajah Mancu.
Seperti lajim dalan jaman perang seperti itu, golongan-golongan terpecah dua, juga
golongan kaum kang-ouw. Banyak di antara mereka yang terjun ke dalam perjuangan
menentang kekuasaan Mancu, akan tetapi tidak sedikit pula yang mempergunakan
kesempatan itu untuk mencari kedudukan, kemuliaan dan kemewahan secara mudah, yaitu
menjadi pembantu pemerintah Mancu dan menen-tang bangsa sendiri yang oleh fihak
me-reka disebut pengacau dan pemberontak.
Tanpa disadari oleh manusia sendiri, kehidupan manusia semenjak masih kanak-kanak dan
mulai memiliki pengertian tentang perbedaan, tentang baik buruk, senang susah, rugi
untung, enak tidak enak, sepenuhnya dicengkeram dan dikuasai oleh nafsu-nafsu
mementingkan diri pribadi, nafsu mencari kesenangan duniawi bagi diri pribadi. Namun,
karena pada dasarnya manusia memiliki sifat kebajikan, maka terjadilah perang di dalam hati
nurani manusia sendiri. Satu fihak merupakan dorongan nafsu yang mendorong manusia
memperebutkan kesenangan bagi diri pribadi, di lain fihak merupakan kesadaran manusiawi
yang mencegah manusia melakukan perbuatan--perbuatan yang tidak benar. Maka lahirlah
perbuatan-perbuatan yang sesungguhnya merupakan hamba nafsu namun yang berkedok
kebenaran! Perbuatan yang dilakukan demi dorongan nafsu mementing-an diri pribadi
terhibur oleh anggapan bahwa perbuatan itu demi kebenaran. Otak dan akal manusia tidak
kekurangan bahan untuk mencari “kebenaran” yang menopengi perbuatan menghamba
nafsu ini. Ada saja alasan, yang diperaya pula oleh diri sendiri, bahwa perbuatan ini adalah
benar dan demi kebenaran! De-ngan demikian, setiap perbuatan di dunia ini selalu dianggap
benar oleh si pembuat sendiri, dan terciptalah pertempuran-pertempuran dalam
memperebutkan ke-benaran! Benarnya sendiri-sendiri! Benarnya masing-masing! Benar bagi
diri sen-diri yang belum tentu benar bagi fihak lain. Dan terciptalah KEBENARAN NAF-SU,
yaitu bahwa apa saja yang menda-tangkan enak, senang dan untung bagi AKU, maka itu
adalah BENAR!
Negara adalah wadah sekumpulan manusia yang dipimpin deh manusia pula, oleh karena
itu, kebenaran nafsu itu pun dianutnya. Bangsa Mancu yang men-jajah itu pun menganggap
mereka benar! Mudah saja! Negara Tiongkok kacau-balau, perang saudara tiada hentinya,
rakyat hidup sengsara, ditindas oleh raja-raja muda dan oleh mereka yang berkuasa, terjadi
hukum rimba! Kami, bangsa Man-cu, datang untuk membebaskan rakyat daripada jurang
kesengsaraan, kami da-tang untuk berusaha mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
266
Karena itu, serbuan bangsa Mancu ke selatan adalah benar pula! Sungguhpun harus diakui
bah-wa akal budi membuat mereka mencari alasan yang cukup kuat dan memang
kenyataannya demikian, namun pada ha-kekatnya yang bersembunyi di balik se-mua itu
adalah keuntungan! Keuntungan yang didapat dalam penjajahan ini, yang sekaligus
membuat bangsa Mancu me-miliki negara yang amat besar dengan penghasilan yang
melimpah-limpah serta harta benda yang amat banyak.
Perasaan benar ini bukan dibuat-buat dan memang setulusnya mereka itu me-rasa dirinya
benar. Nafsu-nafsu telah menyelubungi kesadaran batin manusia, seperti mendungmendung hitam tebal menyelubungi sinar matahari. Kegelapan menyelimuti kesadaran
sehingga mereka itu tidak sadar lagi bahwa mereka men-jadi permainan dan hamba-hamba
nafsu. Banyak sekali orang yang menjadi korban seperti ini, menganggap bahwa apa yang
diperjuangkan itu benar dan suci sehingga rela dibela mati-matian.
Demikian pula, di dalam Kerajaan Ceng, banyak terdapat orang-orang gagah yang
membela gerakan Mancu ini mati-matian karena merasa bahwa apa yang diperjuangkannya
itu adalah demi ke-benaran. Terutama sekali bagi mereka yang menjadi anggauta bangsa
Mancu, tentu saja menganggap bahwa berjuang membasmi para “pemberontak” adalah
pekerjaan yang semulia-mulianya, peker-jaan orang-orang gagah yang patut dipuji. Banyak
sekali tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama membantu Kerajaan Ceng-tiauw ini karena
mereka itu menganggap bahwa bangsa Mancu yang gagah perkasa telah berhasil
mendatangkan kemakmuran di Tiongkok, meredakan perang saudara dan mereka ini
mempunyai harapan besar bahwa pemerintah baru ini benar-benar akan dapat mengangkat
nasib rakyat jelata. Tentu saja ini hanya alasan mereka, karena banyak sekali di antara
mereka melihat “nasib baik” mereka sendiri yang terutama sebagai landasan ban-tuan
mereka. Banyak pula datuk-datuk golongan hitam yang memiliki tingkat kepandaian amat
tinggi membantu dan hal ini adalah hasil kecerdikan Pangeran Dorgan yang memegang
tampuk pimpinan sebagai pengganti Kaisar Abahai karena putera kaisar itu masih sangat
muda. Pangeran Dorgan memang cerdik sekali. Pandai mengambil hati para orang pan-dai
dan tidak regu-ragu untuk mengeluar-kan biaya besar dalam usaha ini. Di antara tokoh
pandai yang terus merupa-kan pengawal-pengawal pilihan dan yang masih terus membantu
setelah Kaisar Kang Hsi naik tahta, adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat yang merupakan jago
yang diajukan oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok, seorang di antara para pangeran bangsa
Han yang telah menghambakan diri kepada Kerajaan Mancu.
Pada suatu hari, para tokoh yang menjadi pengawal-pengawal istana dan penasihatpenasihat mengenai usaha Ke-rajaan Mancu membasmi para pemberon-tak, mengadakan
pertemuan atas undang-an Pangeran Ouwyang Cin Kok. Pangeran ini telah banyak jasanya
terhadap Kerajaan Mancu, telah terbukti kesetiaannya ketika berkali-kali pangeran ini
dengan pengaruh-nya yang besar dan para pembantunya yang pandai menghancurkan
golongan pemberon-tak. Karena kepercayaan yang amat besar ini, Pangeran Dorgan pada
beberapa tahun yang lalu menghadiahkan seorang puteri Mancu kepada Pangeran
Ouwyang Cin Kok, bahkan setelah Kaisar Kang Hsi menduduki tahta kerajaan, Pangeran
Ouwyang Cin Kok yang kini telah dianggap “keluarga kaisar” telah diangkat menjadi
panglima bagian ke-amanan yang bertugas melakukan operasi pembasmian terhadap para
pemberontak. Dan untuk merundingkan tugas inilah maka pada pagi hari ini Ouwyang Cin
Kok meng-undang semua pembantunya dan pembantu para pembesar lain, termasuk
pengawal-pengawal kaisar sendiri ke dalam istananya. Dengan pakaian kebesaran sebagai
seorang pangeran Kerajaan Ceng-tiauw, Pa-ngeran Ouwyang Cin Kok duduk di atas
se-buah kursi yang terukir indah sekali. Pange-ran ini usianya sudah enam puluh tahun,
akan tetapi masih tampak tampan dan gan-teng, tubuhnya tinggi besar mukanya me-rah,
pakaiannya indah rapi dan rambut ser-ta jenggot kumisnya juga terpelihara baik-baik. Di
sebelah kirinya duduk seorang wa-nita Mancu yang cantik, bermata tajam lin-cah, usianya
tiga puluh tahun lebih, tubuh-nya montok dan menggairahkan. Itulah pu-teri Kerajaan Mancu,
puteri selir Pangeran Dorgan yang diberikan sebagai hadiah kepada Ouwyang Cin Kok dan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
267
kini menjadi selir terkasih pangeran ini. Selir ini paling dikasihi, bukan hanya karena cantik
mon-tok dan mudanya, melainkan juga terutama sekali karena selir ini menjadi “lambang”
kekuasaannya, sebagai pangeran mantu Kerajaan Mancu! Dan untuk mem-perlihatkan
kedudukannya yang tinggi ini pulalah maka ketika menyambut datang-nya tokoh-tokoh
berilmu yang membantu kerajaan baru, Ouwyang Cin Kok di-temani oleh sang selir.
Dengan dikipasi kebutan terbuat dari bulu-bulu indah burung dewata, dilayani oleh para
pelayan wanita muda-muda dan cantik-cantik, Ouwyang Cin Kok dan selirnya itu duduk
menanti kunjungan para tokoh berilmu. Berturut-turut mereka datang menghadap dan
dipersilakan duduk di ruangan itu yang telah diatur untuk menerima kunjungan mereka.
Yang pertama kali muncul adalah putera Sang Pangeran sendiri, Ouwyang Seng murid
terkasih dari Kang-thouw-kwi Gak Liat, se-orang pemuda tinggi tegap yang berwajah tampan
berpakaian indah, pesolek dan amat tinggi ilmu kepandaiannya karena dia telah mewarisi
Hwi-yang Sin-ciang gurunya. Ber-sama pemuda ini datang pula Nirahai yang segera
disambut oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok dengan ramah, karena Nirahai adalah puteri
kaisar sendiri dari selir. Tentu saja sebagai puteri kaisar, Nirahai amat dihormat. Puteri
Nirahai segera berangkulan dengan selir Ouwyang Cin Kok karena selir Mancu itu masih
ter-hitung bibinya, sungguhpun bibi yang sudah jauh. Kemudian mereka berdua ini
bercakap-cakap dengan asyiknya yang sama sekali tidak ada hubungannya de-ngan tugas
membasmi kaum pemberontak, melainkan percakapan antara wanita yang sudah lama tidak
bertemu.
Pangeran Ouwyang Cin Kok dan pute-ranya lalu sibuk menyambut para tokoh berilmu yang
berdatangan. Kang-thouw-kwi Gak Liat datang bersama tiga orang muridnya yang lain, yaitu
Hiat-ciang Ma Su Nio yang cantik dan genit, dan kedua kakak beradik Hek-giam-ong dan
Pek-giam-ong. Ketiga orang murid Setan Botak ini merupakan tenaga-tenaga yang penting
dan berjasa pula karena ilmu kepandaian mereka sudah amat tinggi. Selain empat orang ini,
muncul pula beberapa panglima-panglima yang berpangkat tinggi, di an-taranya adalah dua
orang perwira Mancu yang terkenal berjasa dan berpengaruh. Mereka ini adalah orangorang Mancu aseli, akan tetapi seperti juga kaisar dan para panglima dan menteri yang
ber-pangkat tinggi, mereka ini pun meng-gunakan nama Han, dan berpakaian se-perti
pembesar-pembesar Han. Seorang di antara mereka adalah seorang panglima tinggi besar
gagah menyeramkan, jeng-gotnya yang rapi memenuhi mukanya dari rambut terus melalui
pipi bersam-bung ke dagu. Panglima ini bernama Giam Cu, nama baru. Adapun panglima ke
dua juga memakai she Giam, namanya Kok Ma. Giam Cu adalah panglima golok besar,
sedangkan Giam Kok Ma adalah panglima berkuda bertombak panjang, keduanya memiliki
kepandaian tinggi dalam mengatur barisan, juga memiliki ilmu silat yang lihai. Kemudian
muncul pula dua orang tokoh kang-ouw yang namanya menggemparkan, yaitu kakak
beradik she Bhong. Mereka ini terkenal dengan julukan Tikus Kuburan, karena dahulu
pekerjaan mereka adalah mem-bongkar-bongkar kuburan baru untuk men-curi perhiasanperhiasan yang dipakai mayat-mayat yang dikubur dan dalam hal membongkar kuburan,
juga membongkar rumah, mereka adalah ahli-ahli yang sukar dicari keduanya. Yang tua
bernama Bhong Lek, mukanya kaya tikus, ram-butnya panjang riap-riapan, kumisnya jarang
seperti kumis tikus, adapun Bhong Poa Sik, adiknya, mempunyai ciri yang aneh pa-da
kepalanya, yaitu bagian ubun-ubun ke-palanya menonjol seperti telur besar.
Semua tamu dipersilakan duduk, ke-cuali seorang yang datang paling akhir. Orang itu
biarpun dipersilakan duduk, namun tetap berdiri, bahkan berdirinya aneh sekali, yaitu hanya
dengan kaki kiri, sedangkan kaki kanannya diangkat menempel pada lutut kiri, persis seperti
seekor burung bangau berdiri di tengah sawah! Hebatnya, orang ini pun mem-punyai kepala
yang bentuknya seperti kepala burung, bukan kepala burung yang indah, melainkan kepala
burung yang diberunduli bulunya sehingga kelihatan buruk, lucu dan juga mengerikan.
Lehernya panjang kecil, kepalanya kecil lonjong, kedua telinganya memakai anting-anting
emas, matanya agak juling, mulutnya selalu menyeringai, tampak giginya yang panjang-
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
268
panjang karena bibirnya cupet, kumisnya meruncing ke depan menyerupai paruh burung,
kepalanya botak dan hanya ada beberapa helai rambut saja menambah keburukannya.
Tubuhnya kecil kurus, akan tetapi perutnya gendut seperti perut anak menderita cacingan.
Akan tetapi tangan kirinya memegang sebuah senjata yang menakutkan orang, bergagang
panjang yang melengkung se-perti gendewa dan ujungnya dipasangi sabit yang amat tajam.
Ia berdiri di sudut seperti seekor burung mengintai katak, matanya yang juling tak berkedipkedip, mulutnya yang menyeringai tidak bergerak-gerak, seolah-olah dia telah berubah
menjadi arca yang mati!
Hanya seorang yang aneh inilah yang agaknya tidak dikenal oleh sebagian be-sar mereka
yang hadir. Yang mengenal-nya hanyalah Puteri Nirahai, Pangeran Ouwyang Cin Kok, dan
selir pangeran itu. Bahkan Ouwyang-kongcu sendiri ti-dak mengenalnya dan pemuda ini
meman-dang tokoh itu dengan penuh keheranan.
Melihat betapa para tamunya, termasuk puteranya, memandang ke arah manusia aneh itu
dengan pandang mata penuh keheranan dan pertanyaan, Pange-ran Ouwyang Cin Kok
tertawa dan memberi isyarat dengan tangan agar para pelayan yang cantik-cantik dan
sedang mengeluarkan hidangan dan arak itu mun-dur. Mereka ini menyelesaikan tugas
menghidangkan makanan dan minuman, kemudian mengundurkan diri dari ruangan yang
lebar itu.
“Cu-wi sekalian agaknya belum me-ngenal tokoh ini,” kata pangeran itu sambil memandang
kepada manusia berkepala seperti burung itu, “Padahal se-menjak bangsa Mancu yang jaya
bergerak ke selatan, hasil yang baik dari gerakan itu sebagian mengandalkan kelihaian
tokoh ini.”
Kang-thouw-kwi Gak Liat mengerutkan alisnya sambil memandang tokoh itu dengan
pandang mata merendahkan. Hatinya tidak senang mendengar betapa majikannya
menyanjung-nyanjung nama orang lain. Siapakah adanya tokoh yang jasanya lebih besar
daripada dia? Maka ia segera berkata sambil tertawa.
“Bangsa Mancu yang jaya adalah bangsa yang besar dan yang sudah ditakdirkan untuk
menguasai seluruh dunia, semua itu berkat jasanya rakyat seluruhnya, bukan jasa
perorangan. Harap Paduka sudi mem-perkenalkan hamba kepada orang gagah ini.”
“Ha-ha-ha, Gak-lo-sicu, apa yang Lo-sicu ucapkan sungguh tepat. Bukan mak-sud kami
untuk menonjolkan jasa sese-orang dan mengurangi jasa lain orang, karena masing-masing
memiliki jasanya sendiri-sendiri. Losuhu ini adalah tokoh berasal dari Khitan yaag amat
terkenal akan tetapi karena selalu menyembunyikan diri, tidak mengheranken apabila
orangnya tidak dikenal, hanya namanya saja. Nirahai, keponakanku yang manis, tolonglah
engkau yang memperkenalkan Ciam-losuhu kepada para Lo-sicu yang hadir.” Ucapan
terakhir ini ia tujukan kepada Nirahai dengan suara yang halus dan ramah, sehingga dalam
kesempatan itu, Pangeran Ouwyang Cin Kok sekalian memperlihatkan kepada yang hadir
bahwa dia adalah sanak dekat kaisar dan berhak menyuruh seorang puteri kaisar begitu saja
karena, bukankah puteri kaisar itu terhitung keponakan selirnya.
Nirahai adalah seorang gadis yang selain memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah, juga
memiliki kecerdikan melebihi kebanyakan orang. Melihat sikap tuan rumah, ia tersenyum
manis dengan hati penuh maklum. Ia lalu bangkit ber-diri, senyum menghias wajahnya
menam-bah gemilang, gerakan tubuhnya ketika bangkit begitu lemah gemulai seperti
seorang penari, sama sekali tidak mem-bayangkan kesaktian seorang ahli silat.
“Tidaklah terlalu mengherankan apa-bila Gak-cianpwe dan saudara-saudara lainnya belum
mengenal Si Burung Hantu karena memang dia jarang sekali keluar di dunia ramai.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
269
“Apa? Sin-tiauw-kwi Ciam Tek?” Se-tan Botak Gak Liat berseru kaget, juga para panglima
dan tokoh-tokoh pengawal yang berada di situ terkejut sambil me-mandang kakek yang
memegang senjata mengerikan itu. Nama ini, terutama se-kali julukan Sin-tiauw-kwi (Burung
Raja-wali Hantu) atau lebih terkenal lagi Si Burung Hantu, terkenal sebagai tokoh dalam
dongeng di Khitan! Maka begitu kini mereka diperkenalkan dengan tokoh-nya, biar Gak Liat
sendiri memandang dengan sinar mata tidak percaya.
Nirahai mengerti akan pandang mata mereka itu, maka ia tersenyum dan ber-kata, “Tentu
cu-wi menghubungkan nama julukan itu dengan burung hantu yang kabarnya dipelihara
Kaisar Khitan di jaman dahulu, bukan? Hendaknya dike-tahui bahwa memang Ciamlocianpwe ini adalah seorang tokoh Khitan. Cu-wi ten-tu maklum bahwa Khitan menjadi
sum-bernya orang-orang pandai. Pendekar besar tanpa tanding. Suling Emas sendiri adalah
suami seorang Ratu Khitan, dan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam adalah puteri mereka!
Di samping keluarga kaisar yang memiliki kesaktian luar biasa itu, banyak pula ponggawa
dan Panglima Khitan yang memiliki ilmu kepandaian hebat-hebat. Sin-tiauw-kwi Ciam Tek ini
adalah satu-satunya orang yang beruntung mewarisi ilmu kepandaian peninggalan Hekgiam-lo (Raja Maut Hitam) yang amat terkenal di jamannya Pendekar Suling Emas enam
tujuh abad yang lalu. Karena Khitan dan Mancu bersekutu dan berkeluarga, tentu saja
semua tokoh Khitan membantu gerakan Mancu sekarang ini.”
Kang-thouw-kwi Gak Liat dan yang lain-lain mengangguk-angguk. Tentu saja mereka
pernah mendengar nama-nama besar yang disebutkan gadis itu. Gak Liat lalu bangkit berdiri
dan menjura ke arah Sin-tiauw-kwi Ciam Tek sambil berkata dalam bahasa Khitan dengan
lancar karena Si Botak ini paham hampir semua bahasa daerah.
“Selamat berjumpa, Saudara Ciam Tek. Mudah-mudahan di antara kita akan terdapat kerja
sama yang erat.”
Si Burung Hantu itu memandang Gak Liat dengan mata julingnya, kemudian mengeluarkan
suara seperti burung men-cicit akan tetapi hanya dapat dimengerti oleh Gak Liat karena
hanya suaranya saja yang mencicit namun sesungguhnya merupakan kata-kata dalam
bahasa sela-tan yang pelo dan menggelikan hati para pendengarnya.
“Sudah lama aku mendengar nama Setan Botak, kiranya begini saja orangnya!” Setelah
berkata demikian, Si Burung Hantu berdiri diam lagi dengan satu kaki, acuh tak acuh! Gak
Liat tidak menjadi marah, sudah biasa ia meng-hadapi sikap dan watak aneh-aneh dari
tokoh-tokoh besar, maka ia malah ter-tawa bergelak dan berkata.
“Ha-ha-ha, lain kali aku ingin sekali merasai lihainya patukanmu dan cakaran-mu, Burung
Hantu!”
Pangeran Ouwyang Cin Kok tertawa pula. Biarpun dia sendiri bukan termasuk golongan
kang-ouw, akan tetapi sudah terlalu banyak pembesar ini mengenal tokoh-tokoh aneh di
dunia kang-ouw se-hingga ucapan Gak Liat yang seolah-olah menantang itu dianggapnya
biasa saja dan tidak mengkhawatirkan. “Cu-wi sekalian kami kumpulkan saat ini karena kami
hendak membicarakan hal-hal yang amat penting. Berkat bantuan-bantuan cu-wi sekalian,
pemerintah kita dapat memperoleh kemajuan-kemajuan di selatan dan kini, sungguhpun tak
dapat dikatakan bahwa fihak pemberontak telah terbasmi semua, namun mereka itu sudah
kehilangan kekuatan dan hanya bergerak secara sembunyi-sembunyi dan dalam ke-lompok
kecil atau malah secara perorang-an. Yang penting kita harus mencurahkan perhatian ke
Se-cuan, karena Bu Sam Kwi merupakan kekuatan terakhir yang merongrong kita. Bala
tentara kita sudah menghimpit dan mengurung, lambat-laun tentu pertahanannya dapat
dijebolkan pula. Tugas kita yang terpenting seka-rang adalah mencegah agar sisa
pemberontak di sini tidak mengadakan hubung-an dengan Se-cuan agar kekuatan mereka
tetap terpecah-pecah. Usaha yang ditaku-kan Puteri Nirahai dan puteraku Ouwyang Seng
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
270
untuk memecah belah persatu-an antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, menemui
kegagalan. Akan tetapi ada pula untungnya, yaitu timbulnya ganjalan hati antara mereka
sehingga tidak me-mungkinkan mereka itu akan bekerja sama. Pula, kedua partai besar itu
pun tidak melakuan perlawanan dan pembe-rontakan secara terang-terangan.”
“Akan tetapi, mengapa tidak kita gempur saja Se-cuan sampai hancur? Setelah kita dapat
menguasai seluruh da-ratan, mengapa wilayah sebesar Se-cuan saja tidak dapat segera
dikalahkan? Beri-lah hamba lima laksa perajurit berkuda, akan hamba hancur lumatkan Bu
Sam Kwi dan seluruh anak buahnya!” Panglima brewok tinggi besar berkata dengan sikap
gagah.
“Betul apa yang dikatakan oleh Giam-ciangkun,” kata Bhok Lek orang pertama dari kakak
beradik Tikus Kuburan. “Kabarnya benteng Se-cuan amat kuat, akan tetapi kalau benteng itu
dikurung dan hamba berdua dibantu tenaga-tenaga ahli melakukan penyusupan ke dalam
dengan menggali terowongan, akan mudah menghancurkan pertahanan mereka!”
“Tidak begitu mudah,” bantah Puteri Nirahai. “Saya mendengar bahwa di sana banyak
terdapat orang-orang yang me-miliki kepandaian tinggi.”
“Hemmm, kalau ada jago di fihak musuh, serahkan saja kepada hamba. Hamba sanggup
menghadapi lawan yang bagaimana lihai pun!” Setan Botak Gak Liat menyombong sambil
tersenyum.
Ouwyang Cin Kok mengangkat kedua tangan ke atas sebagai isyarat agar se-mua orang
yang sedang ribut-ribut me-ngemukakan pendapat bulat untuk me-nyerang Se-cuan itu
tenang, kemudian sambil tersenyum ia berkata.
“Tidak dapat kita membawa kehendak sendiri dan bertindak sesuka hati. Setiap gerakan kita
harus disesuaikan dengan taktik dari Hongsiang (Kaisar). Dengarlah baik-baik, cu-wi
sekalian, agar tahu apa yang menjadi siasat negara pada saat ini, menghadapi Bu Sam Kwi
di Secuan.”
Semua orang mendengarkan penuh perhatian, termasuk Nirahai karena biar-pun dia ini
puteri selir kaisar sendiri, namun tentang urusan politik ia tidak sepaham pangeran yang
menjadi pena-sehat kaisar ini.
“Kalau kita ingin berhasil menangkap semua ikan di kolam, kita harus mengacaukan air dan
mengejar ikan-ikan itu dengan membiarkan sebagian tempat itu tetap tenang sehingga
semua ikan akan melarikan diri sembunyi di bagian air yang tak terganggu itu. Baru setelah
semua ikan berkumpul di tempat kecil itu, kita tutup jalan keluar dan kita sergap di tempat
kecil itu sehingga tak ada ikan yang dapat lolos. Demikian pula dengan para pemberontak
yang tersebar di empat penjuru. Kita harus kejar-kejar mereka, melakukan operasi-operasi
pem-bersihan dengan teliti sehingga para pemberontak itu kehilangan tempat bersem-bunyi
dan terpaksa mereka akan ber-sembunyi semua ke Se-cuan. Hal ini lebih mudah bagi kita
daripada kalau kita hancurkan Se-cuan sehingga para pem-berentak itu melarikan diri
tersebar di mana-mana sehingga sukar untuk ditumpas karena daerah Tiongkok luas sekali.
Inilah sebab pertama mengapa kita tidak boleh memukul Se-cuan pada sekarang ini.”
Semua orang yang mendengarkan mengangguk-angguk, kagum akan siasat ini, siasat
menggiring ikan-ikan supaya berkumpul di suatu tempat.
“Adapun sebab ke dua adalah karena Kaisar dengan secara bijaksana memutuskan bahwa
rakyat sudah terlalu lama menderita akibat perang, karena itu se-mentara ini tidak perlu lagi
mengadakan perang karena Se-cuan tidak begitu pen-ting artinya bagi kita. Sekarang rakyat
perlu ditenangkan hatinya dengan pem-bangunan-pembangunan, bukan dengan perang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
271
baru yang akan membikin rakyat mendapat kesan buruk terhadap pemerin-tah baru. Tidak
perlu dengan kekerasan, cukup dengan dikepung dan dimatikan jalan hubungan mereka ke
timur, mereka di Se-cuan akan hidup serba kekurangan dan sengsara, akhirnya akan
menjadi lemah dan kalah tanpa diserang.”
Kembali Gak Liat menjadi kagum. Dalam soal taktik perang dan siasat pemerintahan tentu
saja dia tidak mengerti apa-apa.
“Sekarang sebab ke tiga yang timbul dari kebijaksanaan Kaisar,” terdengar pula suara
Ouwyang Cin Kok. “Pemerin-tah baru menghadapi tugas membangun negara dan
menciptakan suasana adil makmur bagi rakyat jelata, mendatang-kan kehidupan damai dan
tenteram sehingga dengan demikian tidak sia-sialah bangsa Mancu yang jaya telah
mengor-bankan banyak nyawa untuk mengusir raja-raja lailm dari bumi Tiongkok. Un-tuk
pekerjaan pembangunan yang amat besar itu, kita amat membutuhkan bantu-an tenagatenaga orang pandai. Harus diakui bahwa di antara para pemberontak banyak terdapat
orang-orang pandai. Sungguh amat sayang kalau mereka itu dibunuh demikian saja. Karena
ini pula, bentrokan perang dengan Se-cuan harus diundurkan agar kita mendapat banyak
waktu untuk menarik orang-orang pandai itu agar membantu kita. Untuk keperluan itulah
Kaisar menyediakan biaya yang amat besar, kemungkinan-kemungkinan pangkat dari
mereka, dan di samping itu tentu saja mengandalkan kepandaian cu-wi untuk menundukkan
mereka. Makin banyak orang pandai membantu Kerajaan Ceng, makin baik. Mengertikah cuwi sekarang mengapa kita tidak diperbolehkan menyerbu Se-cuan secara kasar?”
Semua orang mengangguk, bahkan dari mulut Sin-tiauw-kwi Ciam Tek terdengar suaranya
yang pelo memuji, “Hebat sia-sat ini! Hidup Kaisar!”
Biarpun pelo, namun ucapannya itu membangkitkan semangat semua orang dan
terdengarlah seruan mereka, “Hidup Kaisar!”
Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah se-orang datuk hitam yang tidak bercita-cita untuk negara
maupun untuk kaisar, melainkan untuk diri sendiri. Karena itu, di dalam hatinya mana ada
kesetiaan terhadap pemerintah Mancu? Namun, dia seorang cerdik dan tidak mau
ketinggalan pula ia ikut mengucapkan kata-kata itu.
“Biarpun kita tidak menyerbu Se-cuan, akan tetapi untuk keperluan menarik orang-orang
pandai ke fihak kita dan mencegah mereka berhubungan dengan Se-cuan, maka pekerjaan
kita bukanlah ringan. Kita harus dapat menguasai seluruh dunia kang-ouw, dapat
mengetahui keadaannya dan hal ini kami serahkan ke dalam pimpinan keponakanku Puteri
Ni-rahai yang sudah cu-wi ketahui akan kecerdikannya dan juga akan kepandaian-nya yang
tinggi.”Kembali Si Burung Hantu mengangguk, berkata polos, “Puteri Nirahai mewarisi
kepandaian Puteri Mutiara Hitam, dia hebat....”
Juga Gak Liat mengangguk berkata, “Aku sudah mengetahui kelihaian Puteri Nirahai.”
Gadis cantik itu mengelilingkan pandang matanya dan girang bahwa tidak ada yang
menentang pengangkatannya sebagai pimpinan. Siapakah yang berani menen-tang? Selain
dia memiliki ilmu kepandai-an tinggi, juga amat pandai bersiasat, cerdik dan banyak akal,
juga dia adalah puteri kaisar sendiri!
“Terima kasih atas kepercayaan cu-wi kepadaku yang muda. Tentu saja aku tidak dapat
bekerja sendiri dan mengan-dalkan bantuan dari cu-wi sekalian, baru tugas kita akan dapat
berhasil baik. Di dunia kang-ouw ini banyak terdapat to-koh-tokoh besar yang belum
membantu kita. Di antara mereka itu adalah Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee.”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
272
“Hemmm, Si Muka Kuda itu sejak dahulu menentang Kerajaan Ceng-tiauw!” kata Gak Liat
sambil mengeluarkan suara menghina.
“Itulah sebabnya mengapa kita harus berdaya upaya agar dia tertarik kepada kita dan suka
membantu, Gak-locianpwe. Karena kalau dia sudah mau membantu, tentu para muridnya
yang kudenger ada banyak sekali yang pandai, akan suka menjadi sekutu kita pula. Kita
harus menyelidiki ke In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san yang dijadikan pusat
perguruannya. Bahkan aku mendengar bahwa Si Nenek sakti Toat-beng Ciu-sian-li juga
berada di sana.”
“Iblis betina itu berbahaya sekali, akan tetapi agaknya akan lebih mudah dibujuk untuk
bekerja sama. Dia tidak sesukar dan sekokoh Ma-bin Lo-mo pendiriannya. Biarlah persoalan
mereka itu serahkan saja kepadaku, aku akan ber-usaha mendekati mereka.”
Puteri Nirahai berseri wajahnya dan ia menjura ke arah Gak Liat. “Terima kasih banyak.
Bantuan Gak-locianpwe dalam hal ini benar-benar amat kami harapkan.” Gadis itu lalu
mengerutkan keningnya dan berkata, “Ada sebuah hal yang amat memusingkan, dan
membutuhkan perhatian. Menurut hasil penyelidikan para mata-mataku yang kusebar di
mana-mana, sekarang aku telah mendapatkan keterangan jelas tentang sebab-sebab
kegagalan siasatku mengadu domba an-tara Siauw-lim-pai dan keterangan itu amat
mengejutkan dengan munculnya seorang tokoh muda yang luar biasa se-kali.”
“Hemmm, siapakah dia dan apa yang telah dia lakukan?” Ouwyang Seng ber-tanya dengan
hati tak senang mendengar betapa gadis yang dicinta dan dipujanya ini agaknya merasa
kagum terhadap se-orang “tokoh muda”.
“Siasatku gagal karena pemuda aneh itu,” kata Nirahai. “Ketika dua peti ber-isi jenazah dua
orang tokoh Siauw-lim-pai yang dikawal Pek-eng-piauwkiok itu dihadang oleh murid-murid
Siauw-lim-pai yang sudah kuberi kabar secara diam-diam dan bentrokan hebat antara muridmurid kedua partai sudah hampir terjadi, tiba-tiba muncul orang muda itu bersama adiknya
perempuan, menggagalkan ben-trokan itu dengan mengalihkan permusuh-an kepada dirinya
sendiri!”
“Eh, apakah maksudmu, Adik Nirahai?” Ouwyang-kongcu bertanya heran.
“Pemuda itu yang mengira bahwa murid Siauw-lim-pai hendak merampok, sekali turun
tangan membunuh tujuh murid Siauw-lim-pai. Kemudian, ketika mengetahui kekeliruannya,
ia turun ta-ngan pula membunuh murid-murid Hoa-san-pai!”
“Ihhh, hebat sekali!” Gak Liat ber-seru. Bagi datuk hitam ini, setiap per-buatan kejam amat
mengagumkan hati-nya, makin kejam makin tinggi dalam penilaiannya.
“Kemudian pemuda itu bahkan men-datangi Pek-eng-piauwkiok, dan di sana dia
mengamuk, mengalahkan tokoh-tokoh Hoa-san-pai.”
“Luar biasa....!” Bhong Poa Sik, si Tikus Kuburan Kecil, berseru kaget.
“Kemudian, tahukah cu-wi apa yang ia lakukan? Ia pun mendatangi Siauw-lim-si dah di
sana mengamuk, membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai pula, me-robohkan banyak
yang lain dan dapat keluar lagi dari Siauw-lim-si dengan se-lamat.”
“Sukar dipercaya!” kini Gak Liat berseru. Kakek ini maklum akan keadaan kuil Siauw-lim-si,
maklum pula akan lihainya tokoh-tokoh di situ. Sedangkan dia sendiri tentu akan berpikir
sepuluh kali sebelum berani menyerbu seorang diri ke Siauw-lim-si!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
273
“Memang sukar dipercaya, akan tetapi para penyelidikku adalah orang-orang yang
berpengalaman puluhan tahun dan keterangan mereka selalu boleh dipercaya. Keadaan
pemuda itu amat meng-herankan. Selain ilmunya yang tinggi luar biasa dan keadaannya
yang seperti tidak normal, juga dia mempunyai adik seorang gadis Mancu.”
“Ah, kalau begitu dia Sie Han....!” Gak Liat berseru. “Kalau dia sudah berkepandaian begitu
aneh dan tinggi se-hingga berani mengacau Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai, tentu dia telah
berhasil menemukan Pulau Es!”
Mendengar ucapan ini, semua tokoh yang berada di situ menjadi terkejut dan tertarik sekali.
Disebutnya Pulau Es ten-tu saja menarik perhatian semua orang karena semenjak bala
tentara Mancu menguasai daratan Tiongkok, pemerintah baru ini pun selalu berusaha untuk
me-nemukan pulau itu dan mendapatkan pusaka yang berada di sana. Bahkan usa-ha
pencarian ini dipimpin Gak Liat sen-diri.
“Aiiih, kalau benar-benar dia menjadi pewaris pusaka di Pulau Es, tentu dia memiliki ilmu
yang hebat dan orang seperti itu patut kita tarik untuk mem-bantu kita,” kata Puteri Nirahai.
“Atau kalau tidak mungkin dia membantu kita, dia akan merupakan lawan yang berbahaya
dan perlu dibinasakan. Terutama sekali gadis Mancu itu harus diselamatkan dan diselidiki
puteri siapakah dia dan mengapa sampai bisa menjadi adik pemuda yang bernama Sie Han
itu.”
“Jangan khawatir, hamba akan dapat membujuknya. Setidaknya dia pernah ikut dengan
hamba dan dengan bantuan Ouwyang-kongcu, hamba tentu akan dapat menyelamatkan
pula puteri Mancu itu,” kata Gak Liat. Dia menawarkan diri ini sebetulnya adalah dengan
mengandung niat yang lain. Begitu mendengar bahwa Han Han telah muncul, ia ingin sekali
menemui pemuda itu dan kalau perlu hendak memaksa pemuda itu menyerahkan pusakapusaka Pulau Es, atau kalau mungkin mengantarkannya ke Pulau Es!
Puteri Nirahai mengangguk-angguk. “Mendengar pelaporan yang kuterima, memang
pemuda itu mencurigakan dan lihai sekali, kiranya hanya Gak-locianpwe saja yang cukup
kuat untuk menghadapi-nya. Baiklah, urusan membujuk tokoh-tokoh di In-kok-san dan
mencari pemuda itu kuserahkan kepada Gak-locianpwe dan Ouwyang-twako. Aku sendiri
mempunyai rencana lain yang boleh cu-wi ketahui. Aku akan pergi ke utara, mendatangi
tanah kuburan Kduarga Suling Emas....”
“Eh, Nirahai, bukankah itu berbahaya sekali?” Pangeran Ouwyang Cin Kok berseru kaget.
Tanah kuburan keluarga Suling Emas merupakan tempat keramat dari bangsa Khitan dan
kabarnya tak seorang asing pun boleh memasukinya. Biarpun Puteri Nirahai termasuk
keturun-an Khitan, namun belum tentu dia diper-bolehkan masuk oleh penjaganya yang
kabarnya amat galak dan memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.
“Memang berbahaya, akan tetapi ka-lau tidak saya sendiri yang mendatangi, siapakah
orang lain akan mampu melaku-kannya? Saya ingin membujuk penjaga kuburan, untuk
meminjam suling emas yeing disimpan di situ sebagai pusaka. Dengan suling emas
peninggalan pendekar sakti Suling Emas, kiranya akan lebih mudah mempengaruhi para
tokoh-tokoh kang-ouw untuk membantu Kerajaan Man-cu. Senjata suling emas itu amat
dihormati di seluruh dunia kang-ouw, dan dengan senjata itu tentu akan dapat dicapai hasil
yang lebih besar dalam membujuk tokoh-tokoh kang-ouw.”
Pangeran Ouwyang Cin Kok dan yang lain-lain mengangguk-angguk menyatakan setuju
sungguhpun hati mereka merasa ngeri mendengar bahwa puteri jelita itu hendak
mengunjungi tempat keramat yang sukar dikunjungi sembarangan orang itu. Setelah
membagi-bagi tugas, pertemuan itu dibubarkan. Ouwyang Seng lalu pergi bersama gurunya
untuk me-lakukan tugas mereka yang tidak ringan. Demikianpun yang lain-lain bubaran dan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
274
melakukan tugas masing-masing. Pange-ran Ouwyang Cin Kok sendiri lalu ber-siap untuk
pergi menghadap kaisar menyampaikan pelaporan mengenai pelak-sanaan tugas-tugasnya.
****
Han Han dan Lulu duduk mengaso di dalam hutan. Melihat kakaknya iiu duduk bersamdhi,
Lulu juga tidak berani meng-ganggu, bahkan ia pun lalu duduk bersila dan siulian untuk
memulihkan tenaga dan menekan kekecewaan hatinya karena kehilangan pedang yang
terampas di Siauw-lim-pai.
Han Han tidak dapat menyatukan panca inderanya. Dia sudah dapat menyalurkan hawa
sakti di tubuhnya, dan mengobati akibat-akibat guncangan pukul-an-pukulan yang ia terima
di Siauw-lim-pai, akan tetapi pikirannya bekerja keras. Hatinya terkesan oleh wejanganwejangan yang didengarnya dari mulut Kian Ti Hosiang, supek dari ketua Siauw-lim-pai tadi.
Mengenangkan semua wejangan itu, terjadi perang tanding yang hebat dalam pikirannya
sendiri. Perasaan me-nyesal menggumuli perasaannya, menye-sal kalau ia kenangkan
betapa sepak terjangnya selama ini hanya mendatang-kan malapetaka dan keributan
belaka. Ia sendiri tidak mengerti mengapa kalau datang perasaan marah akan sesuatu yang
dianggapnya jahat dan tidak adil, lalu timbul kemarahan yang tak terta-hankan dan seolaholah ia baru akan merasa puas, terhindar dari himpitan nafsu amarah kalau sudah ia
lampiaskan dengan pukulan-pukulan sakti dari kedua tangannya, kalau sudah ia hajar
banyak orang dan membunuhi lawannya! Pemuda ini tidak tahu bahwa sesungguhnya terjadi
konflik atau pertentangan hebat dalam dirinya.
Mula-mula pertentangan ini terjadi karena ia mempelajari dua macam sin-kang yang
berlawanan yaitu inti sari Hwi-yang Sin-ciang dan inti sari Swat-im Sin-ciang. Pertentangan
ini mempe-ngaruhi jiwanya, ditambah lagi ketika ia membaca kitab-kitab peninggalan
peng-huni Pulau Es yang sifatnya bersih dan berbareng ia mempelajari kitab-kitab Ma-bin
Lo-mo dan Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis) yang bersifat kotor. Ter-jadilah
pertentangan hebat sekali dari aliran bersih ditambah kesadaran watak aselinya yang baik
berlawanan dengan pelajaran aliran kotor yang ditambah oleh nafsunya, membuat ia
kadang-kabang merasa tersiksa sekali. Kini ia mendapat nasihat yang amat aneh dari kakek
sak-ti di Siauw-lim-pai itu. Dia disuruh membuntungi kaki kirinya! Nasihat apa-kah ini? Betulbetulkah kaki kirinya yang mendatangkan perasaan tersiksa seperti itu?
Makin dipikirkan makin bingunglah hatinya. Kebingungan ini makin memuncak kalau ia
pikirkan bahwa semua ma-lapetaka yang timbul akibat sepak ter-jangnya itu sama sekali
terjadi bukan karena kesalahannya! Dia memang telah membunuh murid-murid Siauw-limpai dan murid-murid Hoa-san-pai di hutan dahulu itu, akan tetapi bukankah hal itu terjadi
karena salah faham? Bukankah hal itu terjadi bukan karena memang dia bermaksud jahat
dan membunuhi mereka? Kemudian kekacauan yang timbul karena perlawanannya
menghadapi tokoh-tokoh Hoa-san-pai di gedung Pek-eng-piauwkiok. Dia telah diserang,
dituduh yang bukan-bukan, dituduh mata-mata Mancu! Ter-jadi pertempuran, akan tetapi
salahkah dia dalam hal itu? Dan akhirnya peris-tiwa keributan di Siauw-lim-si. Dia da-tang
dengan iktikad baik, dengan maksud memberi penjelasan kepada para pimpin-an Siauw-limpai untuk melenyapkan kesalahfahaman. Akan tetapi dia disam-but dengan kekerasan,
bahkan seolah-olah dipaksa untuk bertanding. Dia hanya membela diri, karena bukankah itu
hak-nya? Ataukah dia harus membiarkan saja dia ditawan, dipukul, atau dibunuh, juga -Lulu
ditangkap? Karena membela diri, kembali dia melakukan pukulan-pukulan dan pembunuhanpembunuhan.
Teringat akan ini semua, timbul kemarahannya. Tidak! Dia tidak bersalah! Akan tetapi kalau
ia ingat akan nasihat kakek di Siauw-lim-pai itu dia menyesal karena kenyataannya, apa pun
alasannya, sepak terjangnya menimbulkan keributan dah malapetaka, bahkan pembunuhan.
Salah kaki kirinyakah?
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
275
Tiba-tiba Han Han meloncat bangun, tidak kuasa lagi menahan tubuhnya yang digetarkan
dua hawa yang bertentangan, sebagai akibat perang dalam hatinya. Ia mengeluarkan suara
ah-ah-uh-uh seperti orang gagu, tubuhnya bergoyang-goyang, kaki tangannya bergerakgerak seolah--olah ia bertanding melawan dirinya sendiri! Kedua tangannya seperti hendak
saling pukul, atau lebih tepat, kalau tangan kiri hendak memukul tubuhnya sendiri penuh
penyesalan dan hendak menghukum, tangan kanannya bergerak menangkis dengan
keyakinan membela karena dia tidak bersalah. Demikian pula kedua kakinya bergerak
menurutkan sua-ra hati yang berlawan!
Entah berapa lamanya Han Han ber-hal seperti itu, tubuhnya bergerak-gerak aneh dan
kelihatan lucu sekali, padahal ia merasa amat tersiksa baik tubuh mau-pun batinnya. Tibatiba Lulu datang men-dekatinya, dan melihat keadaan kakaknya ini Lulu segera menyentuh
lengan Han Han. Akan tetapi gadis ini menjerit ka-rena lengan yang disentuhnya itu
menge-luarkan getaran yang membuat tangan yang menyentuhnya seperti lumpuh. Ia
meloncat ke belakang dan menjerit.
“Han-koko.... sadarlah....! Celaka, ada orang merampas kantung surat-surat itu....!”
Sebelum gadis itu menjerit, Han Han sudah sadar. Sentuhan tangan yang halus dari
adiknya itu sudah menyadarkannya dan seolah-olah menariknya kembali ke dunia dari alam
khayal yang menakutkan. Ada sesuatu dalam sentuhan dan dalam suara Lulu yang amat
mempengaruhi jiwa Han Han sehingga kini dia sadar, menghentikan gerakan-gerakan
tubuhnya dan memandang adiknya itu.
“Apa? Apa yang dirampas orang?”
“Karena kau bersamadhi tidak sadar-sadar, aku lalu pergi mencari air untuk mandi.
Kemudian aku pergi ke sebuah kuil tua tak jauh dari sini, duduk di depan kuil dan
mengeluarkan kantung surat-surat dari Pulau Es untuk kubersih-kan. Akan tetapi tiba-tiba
kantung itu terbang dari tanganku dan ketika aku meloncat dan membalik, ternyata kan-tung
itu telah dipegang oleh seorang kakek yang menyeramkan. Aku minta kembali, bahkan
memukulnya, akan te-tapi ia tidak menjawab, dan ketika ku-pukul, ia tidak mengelak atau
menangkis, bahkan bergoyang pun tidak ketika menerima pukulanku. Aku takut....!”
Merah wajah Han Han mendengar bahwa kantung surat-surat itu dirampas orang. Kantung
itu ia anggap sebagai barang yang amat berharga berisi surat-surat penghuni Pulau Es yang
ia bawa dan akan ia sampaikan kepada siapa yang berhak menerimanya. Dan kini dirampas
orang!
“Hemmm, kenapa aku selalu diganggu orang? Siapakah dia yang merampas kan-tung kita
itu? Mari kita temui dia.”
Lulu memegang tangan kakaknya dan menarik kakaknya itu, diajak lari menuju ke kuil tua
yang hanya setengah li jauh-nya dari situ, di pinggir sebuah sungai kecil. “Tuh dia masih
berdiri depan kuil, Koko. Untung dia belum lari!” kata Lulu menuding ke arah tubuh seorang
laki-laki tinggi kurus berambut panjang yang berdiri membelakangi mereka.
“Hemmm, kurang ajar, biar kuminta kembali kantung itu!” Han Han meloncat ke depan
kakek itu, memandang dan alis matanya bergerak karena kaget.
“Ma-bin Lo-mo....!” teriaknya ketika mengenal kakek penghuni In-kok-san itu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
276
Kakek itu memang Ma-bin Lo-mo si Iblis Muka Kuda! Dengan wajah bengis ia memandang
Han Han dan tidak meng-ucapkan sepatah pun kata, hanya meman-dang dengan penuh
perhatian, manik ma-tanya bergerak-gerak meneliti Han Han dari kepala sampai ke kaki.
“Siangkoan-locianpwe, harap suka mengembalikan kantung itu kepadaku. Kantung itu
hanya terisi surat-surat pri-badi yang tidak ada gunanya bagi orang lain,” kata Han Han
penuh ketenangan setelah ia berhasil menekan hatinya yang kaget.
“Hemmm, murid apakah engkau ini? Tidak menyebut suhu lagi kepadaku?”
Han Han tersenyum pahit. “Lupakah locianpwe bahwa Locianpwe hendak membunuh saya
di perahu itu dahulu? Sikap locianpwe bukan seperti guru yang menyayang murid,
bagaimana saya bisa menjadi murid yang menghormat guru?”
Bekas guru dan murid ini saling memandang dan delam pertemuan sinar mata itu diamdiam Ma-bin Lo-mo menjadi kecut hatinya dan cepat ia mengalihkan pandang matanya. Ia
menghendaki sesuatu dari pemuda itu, maka ia lalu berganti siasat, bersikap lunak dan
manis.
“Han Han, kaukembalikan dulu kitab-kitabku.”
Han Han teringat akan kitab-kitab Ma-bin Lo-mo yang ia bawa ke Pulau Es. Tanpa ia
sengaja, bahkan ia telah mem-pelajari ilmu dari kitab-kitab itu yang ia gabung dengan ilmu
dari kitab-kitab pe-ninggalkan Siang-mo-kiam. Ia tidak me-rasa mencuri kitab-kitab itu, maka
ia memperingatkan.
“Saya tidak mencuri kitab-kitab locianpwe.”
Kini Lulu teringat akan Ma-bin Lo-mo, maka ia berkata, “Koko, bukankah dia ini orang jahat
yang menangkap kita di perahu dan meninggalkan kita dalam keadaan terikat? Koko, dia
jahat, jangan percaya dia!”
Ma-bin Lo-mo tidak memperhatikan gadis Mancu yang dibencinya itu, dan berkata lagi
kepada Han Han, “Han Han, kitab-kitabku itu tertinggal di perahu, dan melihat betapa
engkau berhasil me-nyelamatkan diri, tentu kitab-kitab itu berada padamu. Akan tetapi tidak
apalah, bukankah engkau juga muridku yang berhak mempelajari ilmu dari kitab-kitab-ku?
Sesungguhnya sudah terlalu banyak kesalahan yang kaulakukan terhadapku, Han Han.
Pertama, engkau bersaudara dengan seorang gadis Mancu. Ke dua, engkau mengambil
kitab-kitabku. Akan tetapi aku mengampunimu akan semua kesalahan itu, bahkan kantung
ini yang hanya berisi surat-surat cinta, kukembalikan kepadamu.” Sambil berkata demikian
Ma-bin Lo-mo melemparkan kantung ke arah Han Han. Pemuda itu menggerakkan tangan
menyambut kantung itu dan menyimpannya dalam baju setelah melihat bahwa isinya tidak
lenyap. Ia melakukan hal ini seenaknya dan sewajarnya saja, dan Ma-bin Lo-mo terkejut.
Ketika melemparkan kantung tadi, ia sengaja me-ngerahkan tenaga untuk menguji. Kalau
hanya memiliki ilmu kepandaian tinggi biasa saja, tentu pemuda itu akan roboh menerima
lontaran kantung itu, atau se-tidaknya terhuyung. Akan tetapi pemuda itu menerima
seenaknya seolah-olah pelemparan kantung itu tidak disertai pe-ngerahan sin-kang yang
amat kuat. Tadi-nya, kalau melihat pemuda itu roboh atau terhuyung saja tentu Ma-bin Lomo sudah menerjang maju untuk menangkapnya, akan tetapi melihat sikap Han Han
menerima kantung seenaknya itu amat mengejutkan hatinya, maka kakek ini berlaku cerdik
sekali dan tidak menyerang.
“Han Han, mengingat akan hubungan lama antara kita, aku tidak akan meng-ganggumu,
hanya akan bertanya kepada-mu tentang Pulau Es. Engkau tentu telah mendarat di Pulau
Es, bukan?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
277
“Jangan katakan sesuatu kepadanya, Koko!” Lulu yang di dalam hatinya masih menaruh
dendam kepada kakek yang pernah hendak membunuh mereka itu, cepat berkata
mencegah. Akan tetapi, tanpa dicegah pun Han Han tidak akan bercerita kepada siapa juga
tentang pu-lau rahasia itu.
“Saya tidak dapat bicara apa-apa tentang pulau itu, locianpwe.”
“Jadi engkau telah menemukan pulau itu?”
Han Han tidak menjawab, hanya meng-geleng kepala tanda bahwa ia tidak mau bicara
tentang itu.
“Han Han, ingatlah. Aku hanya ingin engkau menceritakan tentang Pulau Es. Kalau aku
menggunakan kekerasan, engkau tentu takkan kuat melawanku. Ingat, dosamu sudah terlalu
besar terhadap perguruan kami dan kalau aku menyerah-kan ergkau kepada Toat-beng Ciusian-li, nyawamu tentu tidak akan diampuni lagi. Akan tetapi kalau kau suka bicara denganku
tentang Pulau Es, aku yang menanggung agar engkau diampuni.”
“Maaf, sia-sia saja engkau membujuk atau mengancam, locianpwe. Saya tidak bisa bicara
tentang pulau itu. Hendaknya locianpwe membiarkan saya dan Adik saya pergi. Saya tidak
hendak memusuhi locianpwe sungguhpun locianpwe pernah menyiksa dan hendak
membunuh kami berdua. Marilah kita mengambil jalan kita masing-masing dan tidak saling
mengganggu, locianpwe.”
Muka Ma-bin Lo-mo menjadi merah saking marahnya. Ucapan Han Han itu cukup sopan,
akan tetapi nadanya seperti ucapan seorang yang setingkat saja! Pa-dahal dia adalah
seorang di antara datuk-datuk yang ditakuti orang, sedangkan Han Han adalah seorang
muda yang ma-lah menjadi bekas muridnya!
“Han Han, sungguh engkau keras ke-pala! Akan tetapi betapapun kerasnya kepalamu,
apakah cukup keras untuk menerima pukulanku?” Ia membentak dan melangkah maju
dengan sikap mengancam sekali.
Namun Han Han tetap bersikap tenang. “Terserah kepada locianpwe, tapi.... tapi.... harap
locianpwe ingat bahwa kalau sampai terjadi bentrokan, hal itu bukanlah kehendak saya,
melain-kan locianpwe yang memaksaku.”
“Uwaaahhhhh, sembongnya bocah ini. Tidak bisa dibujuk dengan omongan halus, agaknya
perlu dihajar dulu!” Setelah ber-kata demikian, Ma-bin Lo-mo menerjang maju mengirim
pukulan. Karena dia tidak ingin membunuh mati anak itu yang dia butuhkan untuk memberi
petunjuk ten-tang Pulau Es, maka ia tidak mengirim pukulan Swat-im Sin-jiu, melainkan
me-nampar dengan tangan kanan ke arah pundak disusul cengkeraman tangan kiri ke arah
dada. Biarpun tidak menggunakan tenaga Swat-im Sin-ciang, namun daya pukulan kakek ini
bukan main.
Han Han mengelak ke kiri dan biar-pun angin pukulan kakek itu mengenai pundaknya,
sedikit pun ia tidak merasai-nya dan ia berkata penuh rasa menyesal, “Engkau sungguh
jahat, Ma-bin Lo-mo, tidak patut menerima penghormatan orang muda.”
“Heh, Han Han. Apakah kau benar tidak mau bicara tentang Pulau Es? Ingat, tebusannya
adalah nyawamu dan nyawa bocah Mancu ini. Aku bahkan mau mengampuni bocah ini asal
engkau suka memberi penjelasan tentang Pulau Es.”
“Tidak! Dan kalau engkau memaksa, terpaksa aku melawanmu, Ma-bin Lo-mo!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
278
“Bedebah! Baru memiliki sedikit ke-pandaian saja engkau sudah berani me-lawan aku?” Mabin Lo-mo mencelat maju dengan gerakan cepat sekali sambil mencengkeram pundak Han
Han, namun gerakan Han Han tidak kalah cepatnya, tahu-tahu ia sudah mengelak ke kanan
dan cengkeraman itu kembali luput. Ma-bin Lo-mo menjadi penasaran sekali, begitu
tubrukannya luput dan kakinya menginjak tanah, tubuhnya sudah melesat lagi ke kanan dan
kedua lengannya me-nyambar dari kanan kiri, membuat gerak-an menyilang mengarah
kepala Han Han. Bukan main cepat dan lihainya serangan ini sehingga Han Han terkejut dan
cepat merendahkan diri untuk menghindarkan kedua tangan yang menghimpit kepalanya
dari kanan kiri itu. Akan tetapi dengan gerakan susulan, tahu-tahu kaki Ma-bin Lo-mo
menendang ke perut pemuda itu.
Selama melatih diri di Pulau Es, se-sungguhnya Han Han hanya memperoleh inti sari
tenaga sin-kang yang amat hebat saja, yang tidak diperoleh ahli lain da-lam latihan biasa
selama puluhan tahun. Akan tetapi dalam hal ilmu silat, diban-dingkan dengan Ma-bin Lo-mo
Siangkoan Lee, tentu saja ia masih kalah jauh. Kini menghadapi gerakan serangan tokoh
hi-tam yang hebat ini, tentu saja ia tidak menyangka sama sekali dan tendangan itu tahutahu telah mengenai perutnya! Akan tetapi gerakan hawa sin-kang secara otomatis telah
melindungi perutnya, dan ia menangkap kaki itu sambil mendorong ke depan seperti
membuang sesuatu yang menjijikkan.
“Dukkk! Aihhhhh....!” Tendangan mengenai perut, akan tetapi tubuh Ma-bin Lo-mo terlempar
sampai jauh sekali. Kalau bukan kakek sakti ini tentu tubuh-nya akan terbanting ke bawah,
akan tetapi kakek ini malah melompat ke atas sehingga tenaga dorongan itu terpatahkan
dan ia turun lagi ke atas tanah de-ngan mata terbelalak merah karena he-ran, kagum dan
penasaran.
“Huh, kiranya engkau sudah mem-pelajari sedikit ilmu, ya?” Hati Ma-bin Lo-mo makin
tertarik untuk memaksa Han Han bicara tentang Pulau Es, karena tentu saja ia ingin sekali
mengetahui rahasia itu dan memiliki pusaka dari Pulau Es. Melihat betapa Han Han
sang-gup menerima tendangannya, dan melihat tenaga hebat ketika pemuda itu men-dorong
kakinya, hatinya makin yakin bahwa pemuda ini tentu telah mewarisi kepandaian dari tempat
rahasia itu, maka ia makin tidak ingin membunuhnya dan hanya ingin menangkap dan
memaksanya.
Kepalanya yang penuh dengan akal dan muslihat itu bekerja dan tiba-tiba sambil tertawa
tubuhnya melesat, bukan me-nyerang Han Han, melainkan meloncat ke arah Lulu yang
berdiri menonton. Dia mendapat akal untuk menangkap Lulu dan menggunakan gadis itu
untuk me-maksa Han Han!
“Ihhh, mau apa engkau?”
Kembali Ma-bin Lo-mo kecelik karena gadis yang ditubruk dan hendak ditang-kapnya itu,
biarpun tergesa-gesa, dapat melesat pergi dengan gerakan yang amat ringan dan tak
tersangka-sangka, sehing-ga ia menubruk angin! Ketika ia mem-balik dan hendak mengejar
sambil me-ngirim pukulan jarak jauh untuk meroboh-kan gadis itu, tiba-tiba dari samping
terdengar bentakan Han Han, “Jangan ganggu Adikku!” Bentakan ini disusul dengan
bertiupnya angin yang hawanya dingin memukul ke arah lambungnya!
Ma-bin Lo-mo cepat menggerakkan tangan menangkis, sekali ini karena pe-nasaran ia
menggunakan tenaga Im-kang untuk membuat pemuda itu roboh.
“Desss!” Dua tenaga raksasa bertemu dan akibatnya kedua orang itu terjeng-kang ke
belakang!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
279
“Eh, eh.... tenaga Im-kang....” Ma-bin Lo-mo yang sudah meloncat bangun lagi berkata
penuh keheranan.
“Ma-bin Lo-mo, perlukah pertempuran ini dilanjutkan? Aku tidak ingin bermusuh denganmu!”
Han Han berkata lagi.
“Sambutlah ini....!” Ma-bin Lo-mo membentak dan sekali ini ia tidak ragu-ragu lagi untuk
menggunakan Swat-im Sin-ciang, menyerang lagi dengan gerakan lambat namun malah
amat berbahaya karena setiap gerakannya mengandung hawa dingin yang dahsyat.
Han Han mengenal gerakan itu. Dia telah mempelajari kitab-kitab yang di-tinggalkan di
dalam perahu oleh Iblis Muka Kuda ini, maklum bahwa lawannya telah menggunakan Swatim Sin-ciang. Ia mulai menjadi marah, bukan saja karena kakek itu mendesaknya terus,
terutama sekali karena ia melihat kelicikan kakek ini yang hendak memaksanya dengan
berusaha menawan Lulu. Maka ia pun lalu menggerakkan kedua tangannya, dengan
gerakan yang sama dan ketika Ma-bin Lo-mo mendorong, ia pun men-dorong dengan
pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang pula!
“Wuuutttt.... desssss!”
Tubuh kedua orang itu bergoyang-goyang, kemudian keduanya mundur ter-huyung. Han
Han dapat mengerahkan tenaga Yang-kang sehingga seketika hawa dingin yang luar biasa
itu lenyap, akan tetapi Ma-bin Lo-mo membutuhkan lon-catan ke atas dan menggoyanggoyang tubuhnya baru ia pulih kembali. Ia me-mandang dengan mata terbelalak kemudi-an
ia berseru marah.
“Bocah celaka! Engkau telah mencuri Swat-im Sin-ciang!” Akan tetapi sesungguhnya ia
merasa heran dan kaget se-tengah mati mendapat kenyataan bahwa tenaga Swat-im Sinciang dari pemuda itu tidak berselisih jauh dengan tenaga-nya sendiri! Ia sama sekali tidak
mimpi bahwa sesungguhnya tenaga Han Han jauh lebih kuat dan hebat daripada tenaga
sendiri. Sebaliknya, Han Han maklum betapa lihai dan kejamnya kakek ini dan bahwa sekali
lagi, setelah terlepas dari-pada ancaman maut di Siauw-lim-si, kini ia terancam oleh kakek
yang amat sakti ini. Maka timbullah kemarahannya lagi dan ia mengambil keputusan untuk
me-lindungi Lulu dan dirinya sendiri, kalau perlu dengan taruhan nyawa.
Kembali Ma-bin Lo-mo sudah menyerang, kini serangannya hebat sekali kare-na kakek ini
tidak lagi menganggap Han Han seorang lawan ringan. Tubuhnya seperti berpusing dan
kedua tangannya seperti berubah banyak ketika ia me-lancarkan serangan ke arah dada dan
pusar pemuda itu. Han Han tetap tenang, namun juga bergerak cepat. Ia memutar kedua
lengannya dari kanan kiri menjaga tubuh depan dan kembali ia berhasil menangkis pukulanpukulan maut Ma-bin Lo-mo. Akan tetapi kakek itu me-nerjang terus dengan gerakangerakan aneh dan cepat dengan perubahan yang tak tersangka-sangka sehingga dalam
gebrakan-gebrakan selanjutnya tanpa dapat dielakkannya lagi terpaksa Han Han menerima
hantaman-hantaman yang mengenai pundak dan lambungnya. Akan tetapi tubuhnya hanya
terpental saja dan sama sekali tidak terluka sehingga diam-diam Ma-bin Lo-mo makin
penasaran dan terkejut. Ketika melihat kakek itu me-ngejarnya, Han Han yang sudah bangkit
kembali sehabis terbanting, cepat me-ngerahkan tenaganya dan menyambut kedatangan
lawan dengan pukulan de-ngan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang. Ia sudah marah
sekali maka ke-kuatan sin-kangnya dapat dibayangkan hebatnya. Angin menderu keras dan
hawa dingin melebihi saiju menyambar ke de-pan. Ma-bin Lo-mo tentu saja tidak ta-kut
menghadapi pukulan yang menjadi keahliannya sendiri itu. Ia menangkis dengan tenaga
Swat-im Sin-ciang juga dan sekali ini dua tenaga sakti bertemu. Hanya bedanya dengan tadi,
kini Han Han yang menyerang dan Ma-bin Lo-mo yang menangkis.
“Wesssss....!”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
280
Tubuh Ma-bin Lo-mo tergetar hebat, seolah-olah tubuhnya kemasukan aliran kilat dan
sejenak tubuhnya kaku mem-beku! Kakek ini mengeluarkan seruan aneh, kemudian
melempar tubuh ke bela-kang dan bergulingan sampai lama baru dapat melompat bangun
kembali, wajahnya pucat dan matanya terbelalak merah.
“Luar biasa....!” Ia menggumam karena kini ia mendapatkan kenyataan pahit yang amat
hebat, yaitu bahwa tenaga Swat-im Sin-ciang pemuda itu jauh lebih kuat daripada tenaganya
sendiri!
Didorong oleh kemarahannya yang timbul dari rasa penasaran, kini tubuh Ma-bin Lo-mo
menerjang maju seperti badai mengamuk saking hebatnya. Tentu saja Han Han menjadi
sibuk sekali dan sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Bahkan
dia yang kalah jauh ilmu silatnya tak mungkin dapat menghindarkan diri dari serangan yang
bertubi-tubi itu dan hanya dapat mengelak dan menangkis, melindungi diri-nya di bagianbagian yang berbahaya dan membiarkan bagian-bagian yang dapat menahan pukulan untuk
menerima han-taman-hantaman dahsyat dari lawannya!
Ia menjadi bulan-bulanan dan biarpun tubuh yang tidak berbabaya itu mengandung sin-kang
kuat sehingga tidak terluka, namun kerasnya pukulan-pukulan itu membuat tubuhnya berkalikali terlempar dan bergulingan. Melihat betapa pemuda itu dapat menahan pukulanpukulannya yang cukup kuat untuk merobohkan lawan tangguh, Ma-bin Lo-mo menjadi
makin marah dan penasaran, serangannya makin diperhebat.
Lulu berdiri dengan wajah tegang dan penuh kegelisahan. Seperti ketika ia me-nyaksikan
kakaknya menghadapi tokoh-tokoh Hoa-san-pai di gedung Pek-eng-piauwkiok, dan
kemudian menyaksikan kakaknya menghadapi tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang lihai, kini pun
ia hanya dapat menonton saja karena ia maklum bahwa untuk membantu kakaknya tingkat
kepandaiannya masih jauh daripada cukup sehingga ia bukan membantu malah
membahayakan diri sendiri dan mengacaukan pertahanan kakaknya. Kedua orang itu
memang bertanding dengan amat seru dan hebat. Keduanya mempergunakan hawa sakti
Im-kang sehingga dari tubuh mereka keluar hawa yang amat dingin yang seolah-olah
membikin beku keadaan sekeliling mereka, bahkan Lulu yang sudah biasa tinggal di tempat
dingin seperti Pulau Es sekalipun kini merasa betapa hawa dingin menyerangnya dan
otomatis sin-kang di tubuhnya bekerja sehingga hawa yang hangat timbul me-lenyapkan
rasa dingin.
Han Han tidak berani mencoba untuk menggunakan Yang-kang atau hawa sakti panas. Ia
maklum bahwa tingkat kakek ini sudah tinggi sekali, sehingga kalau ia mengeluarkan Yangkang, berarti ia meng-hadapi lawan dengan keras lawan keras yang tentu saja resikonya
amat besar karena kalah sedikit saja kekuatannya dapat merenggut nyawa. Ia pun maklum
bahwa biarpun dalam ilmu silat ia kalah jauh namun dengan pengerahan inti sari dari Imkang ia masih dapat bertahan karena kekuatan sin-kangnya tidak kalah oleh lawan.
Selagi Han Han terdesak hebat, tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak disambung katakata nyaring penuh ejekan, “Ma-bin Lo-mo si Setan Kuda benar-benar sekarang tak tahu
malu, mendesak orang muda dan tidak malu-malu mengeluarkan Swat-im Sin-ciang!”
Han Han melirik sebentar dan hatinya kecut ketika mengenal orang yang muncul dan
mengeluarkan kata-kata itu ka-rena orang itu bukan lain adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat si
Setan Botak ber-sama seorang pemuda tampan pesolek yang ia kenal sebagai Ouwyang
Seng! Celaka, pikirnya. Ma-bin Lo-mo jahat, akan tetapi dua orang yang muncul ini tidak
kalah jahat dan sama sekali tidak boleh diharapkan bantuannya!
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
281
Akan tetapi, selagi ia menangkis pukulan Ma-bin Lo-mo yang masih mendesaknya tiba-tiba
Gak Liat meloncat maju dan memukul Iblis Muka Kuda dengan dorongan kedua lengan yang
menimbulkan hawa panas. Itulah Hwi-yang Sin-ciang!
“Eh, Setan Botak, mau apa engkau?” Ma-bin Lo-mo membentak dan cepat ia meloncat jauh
ke belakang untuk menghindarkan pukulan itu. Karena loncatannya yang jauh itu kini Han
Han berada di tengah, di antara dua orang tokoh hitam itu. Pemuda itu menghadapi Gak Liat
dan memandang dengan mata berapi. Kemarahannya sudah membakar hatinya dan kini
melihat kakek yang juga amat jahat ini, ia memandang penuh kecurigaan.
“Han Han, lupakah engkau kepadaku? Aku Owyang-kongcu, sahabat lamamu. Kami datang
untuk membantumu!” Ouw-yang Seng sudah cepat berteriak untuk mengambil hati pemuda
itu. Tadi ia melihat betapa Han Han dapat menghadapi Ma-bin Lo-mo, biarpun terdesak
namun juga tidak dapat dirobohkan. Hal ini saja sudah menyatakan bahwa Han Han
se-karang benar-benar telah memiliki kepandaian tinggi. Biarpun di dalam hatinya ia sama
sekali tidak suka kepada Han Han, namun demi tugasnya ia harus men-taati perintah Puteri
Nirahai untuk “menarik” Han Han menjadi kawan, bukan lawan.
“Ouwyang-kongcu, saya tidak mem-butuhkan bantuan apa-apa darimu atau dari Gaklocianpwe.”
Ouwyang Seng menghela napas pan-jang dengan muka menyatakan penyesal-annya, lalu
menghampiri Lulu dan men-jura sambil berkata, “Nona, bukankah Kakakmu itu keliru sekali?
Dia diserang dan didesak orang, masa tidak mau di-bantu?”
Lulu sejenak memandang Ouwyang Seng, kemudian berkata kepada kakaknya, “Koko,
kalau mereka memang benar-benar hendak membantu, mengapa kau menolak?”
“Lulu, jangan mencampuri. Mereka itu pun bukan orang-orang yang dapat dipercaya!”
Akan tetapi Lulu memandang wajah Ouwyang Seng yang tampan dan ter-senyum-senyum
itu dan ia merasa heran akan ucapan kakaknya karena dalam pandangannya, pemuda
tampan ini sama sekali tidak jahat.
“Han Han, betapapun juga, engkau bukanlah lawan Iblis Muka Kuda. Biarlah aku
membantumu mengusir iblis itu, kemudian kita bicara sebagai kenalan-kenalan lama.
Bagaimana?”
“Gak-locianpwe, apakah locianpwe juga seperti Ma-bin Lo-mo ini, hendak bertanya tentang
Pulau Es kepadaku setelah locianpwe membantuku meng-enyahkan Ma-bin Lo-mo?”
Pertanyaan yang tiba-tiba dari Han Han ini tepat menusuk hati Gak Liat yang memang ingin
sekali mendengar tentang Pulau Es itulah, sehingga ia lupa akan tugasnya dan penuh gairah
berteriak, “Ah, jadi engkau sudah berhasil sampai ke sana? Anak baik, mari kubantu eng-kau
membinasakan Iblis Muka Kuda, baru kita bicara tentang Pulau Es!”
Kemarahan hati Han Han meluap. “Kang-thouw-kwi, engkau setali tiga uang (sama saja)
dengan Ma-bin Lo-mo. Aku tidak sudi akan bantuanmu!”
Mendengar jawaban ini dan karena mereka yakin bahwa Han Han tak dapat dibujuk,
Ouwyang Seng sudah cepat turun tangan untuk melakukan siasat yang ke dua. Yaitu,
merampas Lulu terlebih da-hulu untuk menyelamatkan gadis Mancu itu dan juga untuk
dijadikan umpan me-mancing Han Han ke kota raja, bahkan kelak akan dapat dipergunakan
untuk memaksa Han Han tunduk akan perintah Puteri Nirahai. Ia maklum bahwa sekali ini ia
tidak boleh menurutkan nafsu be-rahinya yang berkobar begitu ia melihat gadis Mancu yang
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
282
cantik molek tidak kalah oleh Puteri Nirahai sendiri itu, karena Lulu adalah seorang gadis
Mancu dan keadaan gadis ini sudah menjadi perhatian Puteri Nirahai dan sudah
di-umumkan kepada para pembantunya. Cepat ia menubruk untuk menangkap Lulu, akan
tetapi alangkah kaget dan herannya kelika tubuh gadis itu seperti seekor kupu-kupu yang
hendak ditangkap saja, telah melesat dan mengelak dari kedua tangannya! Itulah gerak
otomatis yang sudah ada pada diri Lulu sebagai hasil latihan-latihannya selama berada di
Pulau Es bersama Han Han.
Melihat Ouwyang-kongcu tidak ber-hasil dan gadis itu berkelebat dekat de-ngannya, Gak
Liat lalu menggerakkan tangan kanannya mendorong perlahan. Lulu mengeluh dan roboh
dalam pelukan Ouwyang Seng yang sudah cepat me-nyambar, menotoknya dan
memondong tubuhnya.
“Koko....!”
Han Han marah bukan main. “Keparat! Lepaskan Adikku!” Ia mengejar maju akan tetapi
dihadang oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat. Melihat ini, dengan muka merah dan pandang mata
beringas Han Han menerjang Gak Liat dan memukul dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang!
Gak Liat terkejut bukan main melihat ini dan cepat menangkis.
“Bressss!” Tubuh Kang-thouw-kwi Gak Liat seperti yang dialami oleh Ma-bin Lo-mo tadi
tergetar oleh pukulan Hwi-yang Sin-ciang, keahliannya sendiri. Ia tergetar dan terhuyung ke
belakang sedangkan Han Han hanya tergetar saja.
“Ha-ha, Setan Botak! Bocah ini se-karang tak boleh dibuat main-main, dia telah mewarisi
pusaka Pulau Es!” Ma-bin Lo-mo mentertawakan Gak Liat.
“Kita berdua harus menundukkannya!” Gak Liat yang amat cerdik berkata. Dari pada
memperebutkan bocah itu dan kedua-duanya tidak berhasil, lebih baik menangkapnya
bersama dan kelak mem-bagi-bagi hasilnya. Melihat betapa dalam waktu lima enam tahun
saja bocah ini sudah dapat menggunakan Hwi-yang Sin-ciang sedemikian hebatnya, dapat
di-bayangkan betapa luar biasa dan amat berharga pusaka Pulau Es.
Ma-bin Lo-mo bukan seorang bodoh. Ia maklum akan isi hati Gak Liat, maka- ia berkata,
“Baiklah. Dia harus dapat ditangkap hidup-hidup!”
Gak Liat berteriak ke belakangnya, “Kongcu, lekas bawa pergi Nona itu!”
Ouwyang-kongcu sudah mengempit tubuh Lulu dan menotoknya sehingga kini Lulu menjadi
lemas tak dapat bergerak atau berterlak lagi, kemudian ia melari-kan diri secepatnya
meninggalkan tempat itu sambil mengempit tubuh Lulu dengan lengan kirinya.
“Heiiiii, Ouwyang Seng keparat kurang ajar! Lepaskan adikku.... anjing keparat, kulumatkan
tubuhmu, kuhancurkan ke-palamu!” Han Han menerjang ke depan hendak mengejar
Ouwyang Seng, akan tetapi ia disambut oleh pukulan Kang-thouw-kwi Gak Liat, bahkan dari
belakang ia diserang pula oleh Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee. Han Han mengeluar-kan suara
menggereng seperti biruang es, wajahnya merah dan matanya mengeluarkan sinar
beringas. Kemarahan hebat membuat ia menjadi mata gelap dan kebuasannya timbul
kembali. Dua pukulan dari depan dan belakang hampir berba-reng mengenai tubuhnya, akan
tetapi seolah-olah tidak dirasakannya dan ia mengamuk, menggunakan Swat-im Sin-ciang
dan Hwi-yang Sin-ciang berganti-ganti tanpa aturan lagi sehingga dua orang kakek itu
berkali-kali mengeluar-kan seruan heran dan kaget.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
283
Andaikata lawan-lawannya hanyalah orang-orang yang memiliki kepandaian tidak terlalu
tinggi, tentu amukan Han Han ini akan melumatkan tubuh mereka dan tentu kebuasannya
sudah mengorban-kan banyak nyawa-nyawa lagi. Akan te-tapi sekali ini yang
mengeroyoknya ada-lah dua orang di antara datuk-datuk hitam yang ilmu kepandaiannya
luar bia-sa sekali dan pada jaman itu sukar di-cari tandingnya, maka betapapun ia
meng-amuk, tetap saja ia tidak dapat memukul lawannya, bahkan tubuhnya berkali-kali
harus menerima hantaman-hantaman yang amat berat.
Hantaman-hantaman itu amat kuat dan membuat dada Han Han terasa se-sak, kepalanya
pening dan hal ini menambah kemarahannya melihat adiknya diculik Ouwyang Seng. Ia
menjadi nekat dan ketika dua orang kakek itu kembali menyerangnya dari kanan kiri, ia
menge-luarkan pekik melengking dan mengerah-kan seluruh sin-kangnya menyalurkan Hwiyang Sin-ciang di tangan kiri menghantam Ma-bin Lo-mo sedangkan tangan kanannya
dengan hawa Swat-im Sin-ciang menghantam Gak Liat. Ia balas memukul tanpa
mempedulikan datangnya pukulan kedua lawan itu. Karena ia menyalurkan sin-kang secara
terbalik dan dengan de-mikian sekaligus menghadapi kedua lawan itu dengan dua macam
tenaga yang ber-lawanan sehingga keras bertemu keras, terjadilah tabrakan tenaga sakti
yang luar biasa sekali.
“Desssss....!”
Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo seketika muntahkan darah segar dari mulut mere-ka akan tetapi
Han Han sendiri yang terhimpit oleh dua tenaga raksasa itu roboh pingsan!
Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee cepat duduk bersila untuk
mencegah terluka di da-lam dada mereka. Sepuluh menit kemudi-an mereka sudah bergerak
kembali dan keduanya memandang Han Han sambil menggeleng-geleng kepala.
“Dia luar biasa sekali, Setan Botak,” Ma-bin Lo-mo berkata perlahan.
“Hemmm, kalau tidak mengalami sendiri mana aku bisa percaya?” jawab Gak Liat dan
keduanya cepat mengham-piri Han Han yang masih rebah pingsan.
Mereka berdua lalu turun tangan me-notok jalan darah Han Han. Ditotok oleh dua orang ahli
dengan dua cara menotok yang berlainan dan amat lihai, seketika tubuh Han Han menjadi
lemas dan tak lama kemudian ia siuman kembali. Be-tapa kaget dua orang kakek itu ketika
mendapat kenyataan bahwa pemuda itu tidak mengalami luka sama sekali, padahal mereka
berdua nyaris terluka parah di sebelah dalam dada!
Biarpun tidak terluka parah, akan tetapi setelah siuman kembali Han Han merasa betapa
seluruh tubuhnya lemas sekali saking lelahnya. Dia tahu bahwa dia telah tertotok dan dia
tidak ingin mencoba untuk membebaskan diri, mak-lum bahwa di tangan kedua orang kakek
itu percuma saja baginya untuk melawan. Namun, menyerahkan pun tidak ada se-dikit juga
di dalam hatinya. Ia memandang kakek-kakek yang duduk di dekat-nya lalu berkata.
“Kalian telah mengalahkan aku, tidak lekas bunuh mau apa lagi?” Suaranya terdengar
dingin sekali dan sedikit pun tidak kelihatan gentar sehingga kedua orang kakek datuk
golongan hitam itu menjadi kagum.
“Han Han, mengapa engkau amat keras kepala? Kami tidak ingin mem-bunuhmu.”
“Benar, Han Han. Engkau masih amat muda, tidak sayangkah kalau membuang nyawa
secara sia-sia?”
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
284
Mendengarkan ucapan kedua orang kakek ini yang halus dan seolah-olah menyayangnya,
rasa dada Han Han men-jadi makin sesak karena marah. Ia me-ngerti betul bahwa dua
orang kakek itu adalah datuk-datuk golongan hitam yang amat kejam, yang kini bersikap
halus kepadanya karena ada pamrihnya, sikap yang palsu seperti desis dua ekor ular.
“Sudahlah, bosan aku mendengarnya. Kalian sama-sama menghendaki aku bi-cara tentang
Pulau Es, bukan? Sudahlah, percuma saja bicara. Aku tidak mau bicara dan kalau kalian
mau bunuh, ker-jakan saja. Aku tidak takut mati!”
Gak Liat dan Siangkoan Lee saling memandang. Dalam bertemu pandang itu keduanya
bersepakat cara apa yang harus mereka pergunakan. Membujuk bocah yang berhati baja ini
akan sia-sia, jalan satu-satunya adalah paksaan dengan jalan penyiksaan.
“Baiklah, hendak kulihat apakah eng-kau akan kuat mempertahankan kekeras-an hatimu!”
bentak Ma-bin Lo-mo dan jari telunjuknya menotok punggung Han Han di tiga tempat. Han
Han tidak tahu ilmu apa yang dipergunakan Iblis Muka Kuda ini ketika menotoknya, akan
tetapi seketika ia merasa betapa seluruh tu-lang-tulang di tubuhnya nyeri, seperti ditusuktusuk jarum! Ia mempertahankan diri agar tidak mengeluh, rasa nyeri makin menghebat,
sampai berdenyut-denyut di ubun-ubunnya, akan tetapi ia tetap mengeraskan hatinya
sehingga mu-kanya penuh keringat dan mukanya men-jadi pucat.
“Engkau tidak mau bicara tentang pulau itu?” Ma-bin Lo-mo membentak marah, akan tetapi
Han Han diam saja, hanya memandang dengan mata mendelik, sedikit pun tidak mau
menjawab.
“Ha-ha, agaknya dia tetap berkeras. Biar kutambah sedikit!” Gak Liat lalu menggunakan
tangannya mengurut tengkuk Han Han dan seketika Han Han merasa betapa seluruh
tubuhnya gatal-gatal. Bukan main hebatnya penderitaan ini. Rasa tulang tertusuk-tusuk
menimbulkan nyeri yang sampai terasa di ubun-ubun, akan tetapi rasa gatal yang tidak nyeri
sekali malah ternyata lebih hebat lagi karena merangsang syaraf-syaraf, terasa di bawah
kulitnya. Ingin sekali kedua tangannya menggaruk, akan tetapi dia masih tertotok lumpuh
kedua kaki tangannya! Hampir ia tak dapat menahan lagi dan ingin menjerit-jerit sekerasnya,
namun kekerasan hatinya yang tidak ingin mengeluarkan keluhan membuat ia tidak suara
sedikit pun, bahkan ia memejamkan kedua matanya. Begitu kedua matanya dipejamkan,
terbayanglah wajah Lulu dan teringatlah ia betapa adiknya itu terancam bahaya yang lebih
mengerikan daripada yang dihadapinya sendiri. Kekhawatiran dan kemarahan yang
bergelombang hebat dalam dirinya mendatangkan kekuatan kemauan yang tidak lumrah dan
seketika ia mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya bergerak den seketika itu juga ia telah
melompat bangun! Hebat sekali memang keadaan tubuh Han Han, kehebatan yang tidak
wajar lagi. Semenjak kepalanya dibenturkan oleh perwira yang memperkosa ibunya, terjedi
ketidakwajar-an dalam tubuhnya, menimbulkan kekuat-an kemauan yang depat
mengalahkan kekuatan jasmani dan dengan sendirinya juga dapat memaksa jasmaninya
melakukan hal-hal yang tidak semestinya dapat dilakukan manusia biasa. Dalam keadaan
tertotok tadi, dia sama sekali tidak mampu bergerak, bahkan tidak mampu mengerahkan sinkang. Akan tetapi ke-kuatan kemauannya yang luar biasa, ter-dorong oleh kemarahannya
dan kekhawa-tirannya memikirkan Lulu, membuat ia mampu mengerahkan sin-kangnya
sehingga ia dapat membebaskan totokan pada tubuhnya dan sekaligus juga membebas-kan
totokan dan pencetan yang menimbulkan rasa nyeri-nyeri dan gatal-gatal tadi. Begitu dapat
bergerak lagi, Han Han lalu meloncat hendak pergi dari situ mengejar Ouwyang Seng yang
membawa lari adiknya. Melihat ini, Setan Botak dan Iblis Muka Kuda yang tadinya bengong
dan kesima saking kagetnya me-lihat pemuda itu tiba-tiba dapat bebas, cepat meloncat dan
melakukan pengejaran. Han Han tidak terluka parah di dalam tubuhnya, namun seluruh
tubuhnya sakit-sakit akibat pertandingan tadi, maka larinya tidaklah secepat biasanya.
Andaikata tidak demikian sekalipun, tentu sukar baginya untuk dapat melarikan diri dari dua
orang datuk hitam itu.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
285
“Kau hendak lari ke mana?” Gak Liat mengejek.
“Hemmm, jangan harap dapat melari-kan diri!” Ma-bin Lo-mo juga mengejek.
Mendengar suara mereka amat dekat di belakangnya, Han Han maklum bahwa lari pun
memang tiada gunanya. Ia ter-ingat akan sesuatu, teringat akan pengalamanpengalamannya ketika kecil, betapa suaranya kadang-kadang dapat mem-pengaruhi orang.
Hal itu dahulu ia anggap tak masuk akal dan hanya kebetulan saja, akan tetapi dalam
keadaan tersudut seperti ini, tiada salahnya mencoba-coba. Ia mengumpulkan seluruh
kekuatan ke-mauannya, kemudian tiba-tiba membalik dan membentak.
“Berhenti kalian!”
Dua orang kakek yang sama sekali tidak menyangka akan dibentak seperti itu, kaget sekali
dan mereka berhenti seperti arca, memandang sepasang mata Han Han yang mengeluarkan
sinar kilat ketika pemuda itu membalikkan tubuh. Melihat keadaan mereka, Han Han
“mendapat hati” dan ia berkata lagi dengan suara penuh wibawa karene didasari kemauan
yang amat kuat.
“Gak Liat dan Siangkoan Lee, bukankah kalian saling bermusuhan? Siapa tidak menyerang
dulu akan celaka!”
Gak Liat den Siangkoan Lee seperti kemasukan kilat, mereka membalik, sa-ling pandang
dengan mata penuh kema-rahan.
“Setan Botak. Engkau musuhku!”
“Iblis Muka Kuda, aku harus membunuhmu!”
Kedua orang tokoh besar dalam golongan kaum sesat itu segera saling han-tam sendiri!
Karena Gak Liat memper-gunakan Hwi-yang Sin-ciang sedangkan Siangkoan Lee
mempergunakan Swat-im Sin-ciang tentu saja baku hantam an-tara dua orang datuk hitam
itu amatlah hebatnya dan dua kali gebrakan saja mereka berdua terjengkang ke belakang.
Karena mereka berdua memang telah memiliki kekuatan sin-kang dan kekuatan batin yang
tinggi, maka pengaruh luar biasa dari pandang mata dan bentakan Han Han itupun hanya
sebentar saja menguasai mereka. Setelah terjengkang barulah mereka terheran-heran
mengapa mereka saling serang sendiri, dan ketika mereka memandang ternyata pemuda itu
telah lari agak jauh! Tentu saja tergopoh-gopoh dua orang kakek itu mengejar sambil
menyumpah-nyumpah. Mereka menjadi penasaran den marah, dan tanpa bicara keduanya
mengambil keputusan untuk menangkap den menyiksia bocah itu sampai mati kalau tidak
mau bicara tentang Pulau Es.
Han Han maklum bahwa kembali dua orang kakek itu sudah mengejar dekar. Ia tidak berani
lagi mencoba kekuatan mu-jijat bentakannya, karena terbukti bahwa mereka itu kini sudah
tidak terpengaruh lagi. Ia berlari terus dan tiba di sebuah lereng gunung yang banyak jurangjurang dalam di kanan-kirinya. Celaka, pikirnya, ke mana lagi harus melarikan diri? Ah,
melarikan diri pun tidak ada gunanya dan ia tidak tahu ke mana Lulu dibawa pergi Ouwyang
Seng. Daripada berlari yang akhirnya tentu tersusul pula, lebih baik melawan mati-matian.
Pikiran ini mem-buat ia nekat lalu membalikkan tubuhnya dan begitu dua orang lawannya
datang dekat, dialah yang mendahului mener-jang maju dan mengirim pukulan dengan
kedua tangannya. Pukulannya ampuh se-kali dan terpaksa dua orang kakek itu meloncat ke
samping sambil mengibaskan lengan menangkis. Kembali Han Han dikeroyok dua dan
betapapun ia melawan mati-matian, sebentar saja ia sudah ter-desak lagi.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
286
Kedua orang kakek itu selain berke-pandaian tinggi, juga merupakan orang-orang cerdik
dan banyak pengalaman. Mereka segera mengerti bahwa dalam hal ilmu silat, Han Han
masih belum mahir, dan pemuda ini hanya memiliki sin-kang yang benar-benar amat hebat
di samping kekuatan mujijat yang menimbulkan wi-bawa dan dapat mempengaruhi orang
lain. Karena itu, mereka segera memper-gunakan ilmu silat untuk mendesak dan kini tubuh
Han Han montang-manting karena harus menerima hantaman-hantam-an yang tak dapat ia
elakkan atau tangkis lagi. Ia terhuyung ke sana ke mari, dijadikan seperti sebuah bola
dipermain-kan dua orang anak-anak atau seekor tikus dipermainkan dua ekor kucing yang
tidak segera membunuhnya, melainkan hendak menyiksanya. Memang orang-orang seperti
Setan Botak dan Iblis Muka Kuda ini memiliki watak sadis yang luar biasa. Mereka itu tak
pernah memiliki hati jujur, tidak pernah memiliki rasa kasihan, bahkan melihat orang lain
menderita dan tersiksa, timbul semacam rasa puas dan gembira, sebaliknya menyaksikan
orang lain senang dan bahagia, hati mereka tidak senang, iri hati dan dengki. Karena inilah
maka mereka itu menjadi datuk-datuk golongan hitam, orang-orang yang sudah tidak
mengenal lagi baik atau buruk, atau tidak mempedulikannya, yang berbuat semata-mata
demi kesenangan dan keuntungan diri sendiri saja.
Han Han yang merasa betapa tubuh-nya seperti akan pecah, rasa nyeri membuat
kepalanya pening berdenyut-denyut tetap membungkam dan tidak mau bicara sama sekali,
apalagi bicara tentang Pulau Es. Dia malah menggigit bibir sampai berdarah menahan rasa
nyeri, dan masih terus melakukan perlawanan sejadinya yang tentu saja tidak ada artinya
bagi kedua orang kakek itu.
Sebuah pukulah Kang-thouw-kwi Gak Liat yang mengenai leher Hen Han mem-buat
pemuda ini terpelanting dan sesaat tak dapat bangun karena pandang mata-nya berkunangkunang dan segala sesuatu seperti berpusingan. Terpaksa Han Han memejamkan mata dan
menanti pukulan maut.
“Masihkah engkau berkeras tidak mau memberi tahu tentang Pulau Es?” Ma-bin Lo-mo
membentak dan tubuhnya sudah mendoyong ke depan untuk memberi pukulan maut yang
akan menghancurkan kepala Han Han yang kini sudah tak mampu melindungi dirinya lagi
itu.
Han Han tidak mau menjawab, bahkan kini ia membuka kedua matanya, terbelalak
memandang kepada dua orang kakek itu karena ia hendak menghadapi kematiannya
dengan mata terbuka agar depat melihat bagaimana caranya dia mati! Dua orang kakek
yang sudah hilang harapan dan kesabaran untuk mem-bujuk Han Han itu menggerakkan
tangan, seolah-olah hendak berlumba pula me-nikmati kesenangan membunuh pemuda
keras kepala itu. Kedua tangan mereka bergerak memukul ke arah kepala Han Han dan....
tubuh mereka terpental ke belakang dan terbanting cukup keras ke atas tanah.
Han Han terbelalak penuh keheranan dan kekaguman ketika ia melihat searang kakek tua
renta yang berambut panjang terurai tidak diurus, pakaian sederhana bukan seperti pakaian
lagi, berkaki telan-jang, berdiri tak jauh dari tempat itu. Kakek tua renta itu patutnya seorang
yang hidupnya terlantar, seorang jembel tua, dan yang membuat Han Han kagum adalah
wajah kakek itu yang masih ke-lihatan tampan dan mencerminkan ke-tenangan dan
kedamalan hati yang mujijat. Kakek itu berdiri dan tersenyum memandang dua orang datuk
golongan hitam itu.
Kang-thouw-kwi dan Ma-bin Lo-mo yang juga terkejut sekali meloncat bangun dan ketika
mereka melihat kakek tua renta yang bertubuh tinggi besar itu, mereka mengeluarkan
seruan tertahan, sejenak tubuh mereka menegang seolah-olah hendak menerjang kakek tua
renta itu, akan tetapi ternyata tidak demikian karena mereka membalikkan tubuh dan.... lari
cepat meninggalkan tempat itu. Han Han menjadi heran sekali, akan tetapi tidak sempat
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
287
bertanya karena kakek tua renta itu pun sudah melangkah pergi perlahan-lahan dari tempat
itu tanpa mengeluarkan sepatah pun kata-kata.
Han Han baru mengeluarkan rintihan perlahan setelah dua orang iblis itu pergi dan tidak
ada orang lain di tempat itu. Seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, tu-lang-tulangnya seperti
remuk rasanya. Akan tetapi lebih sakit lagi karena me-mikirkan Lulu. Ia bangun dan bersila,
mengerahkan sin-kangnya sehingga hawa yang hangat menjalar di seluruh tubub-nya
mengurangi rasa sakit. Akan tetapi karena teringat akan adiknya, tidak lama kemudian ia
bangkit berdiri, agak ter-huyung dan pening. Mulutnya berbisik.
“Ouwyang Seng, awas engkau kalau mengganggu Lulu....” Ia tahu bahwa Ouwyang Seng
tinggal di kota raja. Ten-tu adiknya itu dibawa ke kota raja. Ia harus mengejar secepatnya ke
kota raja. Pikiran ini membuat ia melompat ke depan, agaknya ingin ia dengan sekali
lompatan dapat menyusul Ouwyang Seng. Akan tetapi ia mengeluh dan terguling,
menggeletak pingsan di pinggir jurang, nyaris tubuhnya terguling ke jurang ka-lau saja tidak
ada sebuah batu meng-halang tubuhnya yang menelungkup.
***
Setelah Kaisar Kang Hsi naik tahta Kerajaan Mancu pada tahun 1663, me-mang terjadilah
perubahan besar-besaran menuju ke arah perbaikan. Kaisar ini menggunakan tangan besi
untuk menyapu para pemberontak, juga melakukan usaha keras untuk membasmi korupsi
dan pe-nyuapan. Dengan cara radikal mengganti para pembesar tua yang korup dengan
tenaga-tenaga muda, bukan hanya diambil dari bangsa-bangsa di utara, yaitu bangsa
Mancu, Mongol atau Khitan, akan tetapi juga tidak pantang mempergunakan te-naga bangsa
Han sendiri yang sudah jelas mendukung pemerintah baru itu. Bahkan dengan sikap yang
manis dan jujur, kai-sar ini membuka kesempatan bagi kaum muda terpelajar untuk
menduduki jabatan-jabatan penting di kota raja melalui ujian yang jujur, bebas daripada
pengaruh suapan. Hal ini disambut dengan gem-bira oleh kaum terpelajar yang semenjak
dahulu bernasib sengsara kareng dahulu, betapapun pandainya seseorang, kalau tidak
dapat memberi suapan kepada pem-besar yang bertugas, tak pernah dapat lulus ujian.
Sikap kaisar ini memang tepat sekali sehingga pemerintahnya mendapatkan simpati
daripada kaum terpelajar.
Namun, di samping sikap lunak dan baik untuk menarik sebanyak mungkin kaum cerdik
pandai membantu roda pe-merintahannya, Kaisar Kang Hsi juga bersikap bengis dan keras
terhadap rak-yat yang tidak tunduk kepada pemerintah Mancu. Pembersihan dilakukan di
mana-mana, dan terutama sekali kaum kang-ouw mendapat pengamatan keras. Tepat
seperti yang diceritakan oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok kepada para pembantu-nya,
bagaikan ikan-ikan para tokoh kang-ouw yang menentang pemerintah penjajah ini dikejarkejar sehingga terpaksa mere-ka yang dapat menyelamatkan diri lari ke Se-cuan untuk
menggabung pada Bu Sam Kwi, raja muda yang merupakan kekuatan terakhir yang
menentang pe-merintah Mancu.
Sudahlah lazim di dunia ini bahwa perubahan-perubahan selalu mendatangkan korban dan
selalu menimbulkan ekses-ekses yang kadang-kadang merupakan malapetaka besar.
Sudah biasa pula bah-wa perintah yang dikeluarkan dengan kebijaksanaan dan mempunyai
dasar yang baik, sering kali berbeda dengan pelak-sanaannya, atau disalahgunakan oleh si
pelaksana demi kesenangan dirinya sen-diri. Demikian pula dengan perintah kai-sar. Kaisar
memberi perintah untuk mem-bersihkan kaum pemberontak, dengan maksud agar
pertentangan segera ber-akhir dan dapat segera menujukan se-luruh kekuatan dan
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
288
perhatian kepada pembangunan agar kehidupan rakyat men-jadi tenteram dan jauh daripada
perbuat-an yang mengandung kekerasan.
Akan tetapi bagaimanakah pelaksana-an daripada perintah ini? Ketika perintah turun
sampai ke tangan Ouwyang Cin Kok dan yang menyerahkannya kepada Puteri Nirahai dan
para pembantunya, perintah itu masih murni dan dilaksana-kan dengan baik pula. Akan
tetapi se-telah perintah itu tersebar kepada pasu-kan-pasukan yang ditugaskan melakukan
pengejaran dan pembersihan terhadap orang-orang kang-ouw yang masih me-nentang,
terjadilah penyelewengan-penye-lewengan dan penyalahgunaan. Pasukan-pasukan Mancu
yang beroperasi jauh dari kota raja, jauh dari pengawasan para pembesar, hanya dipimpin
oleh perwira-perwira rendahan yang dalam keadaan demikian seolah-olah menjadi raja-raja
kecil yang berkuasa penuh, segera me-lakukan hal-hal yang sama sekali tidak
menenteramkan rakyat, bahkan sebalik-nya! Apalagi kalau ada di antara mereka yang tewas
oleh sergapan kaum pem-berontak kang-ouw yang berkepandaian. Kemarahan dan dendam
mereka yang tak dapat mereka lampiaskan kepada para pemberontak lalu mereka timpakan
ke-pada rakyat dusun-dusun yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Terjadilah pe-rampokan,
perkosaan, pembunuhan dan perampasan tanah untuk diberikan kepada mereka yang dapat
mengeluarkan perak dan emas sebagai sogokan!
Bermacam-macamlah peristiwa yang terjadi di jaman sengsara bagi rakyat jelata itu.
Kedatangan pasukan-pasukan Mancu yang berdalih melakukan pem-bersihan terhadap
kaum pemberontak itu jauh-jauh sudah didengar oleh penduduk dusun-dusun sebagai
kedatangan segerombolan serigala-serigala kelaparan yang haus darah. Ada yang bergegas
lari mengungsi, akan tetapi sebagian besar hanya menerima nasib dan menyandarkan nasib
keluarga mereka kepada Tuhan. Mau lari mengungsi lari ke mana? Di rumah pun setiap
harinya sudah sukar mendapatkan makan, kalau mengungsi tanpa tujuan, tanpa bekal,
sama dengan mencari mati kelaparan di perjalanan!
Dan setelah pasukan Mancu memasuki sebuah dusun, benar-benar nasib mereka yang
menjadi penghuni dusun itu berada di tangan Tuhan. Tidak ada seorang pun dapat membela
mereka. Tuhan yang me-nentukan siapa di antara penghuni dusun itu yang akan ditimpa
malapetaka, siapa yang dibakar rumahnya, dibunuh, diram-pok, atau diperkosa anak
isterinya, siapa pula yang secara aneh terhindar dari malapetaka seolah-olah para pasukan
yang berubah ganas melebihi perampok-perampok itu melewati atau tidak melihat rumah itu.
Manusia adalah mahluk yang berakal budi, yang katanya merupakan mahluk-mahluk yang
tertinggi tingkat dan de-rajatnya di antara segala mahluk hidup yang bergerak. Akan tetapi
justeru ka-rena akal budi itulah maka tidak ada mahluk yang lebih kejam dan buas daripada
seorang manusia yang menyombong-kan akal budinya. Sebagian besar manusia
menyalahgunakan akal yang dianuge-rahkan khusus kepada manusia oleh Tuhan. Akal
bukan dipergunakan untuk kebaikan, untuk kemanfaatan bagi manu-sia umumnya dan
dunia, melainkan se-mata-mata akal dipergunakan sebagai alat untuk mencapai kepuasan
nafsu-nafsunya yang tak kunjung habis. Akal dipergunakan untuk mengakali (menipu) orang
lain, budi dipergunakan sebagai bahan utang-piutang!
Kalau manusia sudah diperhamba nafsunya sendiri, benar-benar mengerikan sekali akibat
daripada perbuatan-perbuat-annya. Mata sudah menjadi gelap oleh nafsu, yang ada
hanyalah mengejar ke-nikmatan dan kepuasan nafsu, tanpa mempedulikan lagi apa yang
disebut baik dan buruk, tidak lagi sadar bahwa perbuatannya menyengsarakan orang lain
bahwa perbuatannya adalah amat jahat.
Dengan dalih pembersihan dan me-numpas kaum pemberontak, rakyat yang tidak berdosa
disembelih, hanya untuk dapat menyita barang-barangnya atau memperkosa isteri dan
gadisnya. Di da-lam sebuah dusun, seorang ibu muda melihat suaminya disembelih di depan
matanya, kemudian karena diancam anak-nya akan disembelih, ibu muda ini ter-paksa
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
289
menyerahkan kehormatannya di-nodai secara bergantian oleh tiga orang tentara Mancu
yang menyebut diri me-reka pahlawan-pahlawan Kerajaan Mancu yang jaya! Setelah ibu
muda itu tergolek pingsan, tiga orang manusia itu mem-bunuhnya, juga membunuh bayinya!
Ada pula gerombolan pasukan yang memper-kosa isteri dan gadisnya di depan tuan rumah
yang diikat pada tiang rumah dan dipaksa menyaksikan betapa isteri dan anaknya menjeritjerit diperkosa seperti dua ekor domba diterkam harimau-harimau buas! Banyak lagi
kekejian-kekejian yang kalau diceritakan seakan-akan tidak ma-suk akal, akan tetapi hal-hal
semacam itu banyak terjadi di masa itu, dan terjadi pula di mana-mana di bagian dunia ini,
terutama sekali di waktu perang mengamuk. Perang mengubah manusia-manusia beradab
menjadi buas melebihi binatang yang paling buas, menjadi jahat melebihi iblis yang paling
jahat. Dan semua perbuatan ini mereka lakukan dengan memaksakan pendirian di dalam
hati sendiri bahwa yang mereka lakukan itu adalah benar, karena mereka menjatuhkan
hukuman bagi musuh-musuh mereka. Mungkin ada, di antara mereka yang setelah tenang
kembali menyadari betapa kejinya perbuatan mereka, namun mereka akan menghibur hati
sendiri bah-wa banyak orang menemani mereka da-lam perbuatan itu, bukan mereka
sendiri, maka berkuranglah penyesalan hati mere-ka, sungguhpun kadang-kadang hati
nurani mereka membuat mereka itu tersiksa batin mereka selama hidup mereka.
Di sebuah dusun, sebelah selatan kota raja, hanya sejauh tiga ratus mil saja dari kota raja,
terjadilah geger ketika pasukan-pasukan Mancu melanda dusun-dusun di sekitarnya dalam
“operasi” mereka.
Memang ada juga hasilnya operasi yang dilakukan pasukan itu demi tugas mereka yang
semestinya, yang membasmi peram-pok-perampok dan mereka yang masih menentang
kekuasaan pemerintah Mancu. Di dalam hutan di luar dusun itu sebuah pasukan yang terdiri
dari tiga puluh orang telah berhasil membasmi segerombolan perampok yang selain sering
meng-ganggu penduduk dan orang lewat, juga terkenal memusuhi pemerintah Mancu dan
sering kali menghadang dan meram-pok kereta-kereta pembesar Mancu yang lewat dan
yang tidak begitu kuat pengawalannya. Sarang perampok dibasmi, banyak yang dibunuh
dan ada pula yang melarikan diri. Kepala perampok dibunuh, akan tetapi seorang di antara
isteri-isteri perampok itu, yang muda cantik dan genit, tidak dibunuh oleh perwira yang
mengepalai pasukan, karena perempuan ini amat pandai mengambil hati dan pandai pula
merayu. Perempuan ini men-ceritakan bahwa dia bukanlah perampok, bahwa dia adalah
puteri seorang guru silat yang diculik perampok dan diperkosa. Akhirnya ia dapat jatuh ke
tangan kepala rampok itu dan dijadikan selirnya. Karena perwira itu dan pembantupembantunya puas dengan rayuan wanita ini, maka dia dibawa sebagai teman penghibur
dalam tugas pembersihan yang mereka lakukan. Apalagi ketika wanita itu membuktikan
bahwa dia pun pandai silat dan ikut pula melakukan gerakan pembersihan, mem-bantu para
pasukan, dia makin disayang. Hebatnya, perempuan ini mempunyal kesenangan yang amat
aneh, yaitu ia paling suka menyaksikan wanita-wanita diperkosa oleh para anak buah
pasukan! Bahkan dialah yang sering kali menang-kapi gadis-gadis dan wanita-wanita muda
yang cantik untuk diberikan kepada para anak buah pasukan kemudian dengan ter-senyum
puas ia menyaksikan betapa me-reka itu diperkosa seperti domba disem-belih! Hal ini timbul
dalam hatinya, me-rupakan semacam penyakit sebagai akibat daripada pengalamannya
sendiri. Ketika masih gadis remaja, dia sebagai gadis terhormat seorang guru silat, diculik
perampok dan diperkosa oleh banyak orang. Semenjak itu, nasibnya selalu seperti itu,
diperkosa ganti-berganti ta-ngan sampai akhirnya ia jatuh ke tangan kepala rampok dan
dijadikan selirnya. Karena penderitaan batin yang amat hebat itulah maka dia akhirnya ingin
melihat setiap orang wanita diperkosa seperti yang pernah ia alami sendiri! Ketika pasukan
memasuki dusun di selatan kota raja itu dan si wanita cabul dan genit ini mendengar bahwa
di situ tinggal seorang guru silat dengan seorang isteri dan seorang gadisnya, timbul
kegai-rahan hatinya untuk menimpakan mala-petaka kepada guru silat dan keluarganya ini
seperti yang pernah dialami keluarga ayahnya sendiri. Maka ia lalu berbisik-bisik kepada
komandan pasukan yang tertawa terbahak, kemudian menjelang senja wanita itu bersama
perwira dan tiga orang pembantunya keluar dari ge-dung yang dijadikan markas sementara
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
290
pasukan. Empat orang perwira itu mengenakan pakaian biasa, tidak seperti pakaian yang
mereka pakai kalau men-jalankan dinas, sehingga mereka itu kelihatan seperti tokoh-tokoh
persilatan atau pembesar-pembesar sipil karena pakaian yang dipakai secara tiru-tiru oleh
orang-orang Mancu ini memang lucu. Namun gerakan mereka ketika ber-jalan Jelas
menunjukkan bahwa mereka adalah tentara-tentara Mancu.
Guru silat pemilik rumah yang agak terpencil itu menyambut kedatangan empat orang lakilaki tinggi besar dan seorang wanita cantik itu dengan hati gelisah. Dari sikap mereka itu ia
sudah mengenal bahwa empat orang itu tentulah orang-orang Mancu, maka cepat ia
menyambut mere-ka dengan hormat dan bertanya.
“Cu-wi mencari siapakah?”
Empat orang perwira Mancu itu belum pandai benar berbahasa Han, maka Si Wani-ta yang
menjawabnya. “Mereka ini adalah perwira-perwira Mancu yang memimpin pasukan
mengadakan pembersihan.”
Wajah guru silat itu menjadi berubah dan ia bertanya hati-hati, “Ada keperluan apakah cu-wi
datang mengunjungi saya?”
Wanita cabul itu tertawa dan berkata, “Hanya ada sedikit keperluan yaitu mereka ini hendak
meminjam sebentar iste-rimu yang kabarnya cantik dan anak gadismu!” Empat orang
perwira itu ter-tawa bergelak dan mengangguk-anggukkan kepala.
“Keparat!” Guru silat itu marah sekali dan cepat menyambar goloknya dari atas meja sambil
berteriak ke dalam, “A-bwee, ajaklah anakmu lari!”
Empat orang perwira itu tertawa bergelak, dan pemimpinnya lalu berkata. “Bunuh anjing
pemberontak ini!” Kemudi-an ia bersama wanita cabul itu melom-pat ke dalam den mengejar
ibu dan anak yang melarikan diri melalui pintu bela-kang.
Kauwsu (Guru Silat) itu mengamuk, dikeroyok tiga oleh tiga orang pembantu perwira. Akan
tetapi dia adalah guru silat yang kepandaiannya biasa saja sedangkan tiga orang lawannya
adalah per-wira-perwira muda yang kasar dan ber-tenaga besar, juga hampir setiap hari
bertempur, maka begitu dikeroyok dengan serangan-serangan dahsyat, ia hanya da-pat
bertahan belasan jurus saja. Tiga batang golok di tangan lawannya menyambar-nyambar
dan guru silat itu ro-boh mandi darah dan tewas seketika. Sambil tertawa-tawa tiga orang
perwira itu menancapkan golok mereka di atas meja lalu berlari menyusul pemimpin mereka
ke belakang. Mereka sudah mendengar jeritan-jeritan wanita dan hal ini menambah gairah
hati mereka.
Kasihan sekali nasib isteri dan anak guru silat itu. Belum jauh mereka me-larikan diri sudah
disusul oleh perwira dan si perempuan cabul dan cepat mere-ka itu ditawan. Melihat bahwa
isteri guru silat yang berusia kurang lebih tiga puluh itu benar-benar amat cantik, jauh lebih
menarik dan lebih matang daripada gadisnya yang berusia lima enam belas tahun, perwira
itu langsung menubruk isteri guru silat itu, memeluknya dan menciuminya sambil tertawatawa. Akan tetapi isteri guru silat itu meronta, me-lawan dan mencakar. Adapun gadis itu
dengan mudahnya dirobohkan si wanita cabul yang menyambar sabuknya. Gadis itu bangkit
berdiri dan lari, akan tetapi sabuknya terlepas dan sabuk yang panjang itu membuat
tubuhnya berputaran dan ia roboh kembali, sabuknya yang panjang berada di tangan wanita
cabul yang tertawa-tawa. Wanita itu membuat laso di ujung sabuk dan mengalungkannya di
leher gadis itu. sehingga setiap kali gadis itu meronta, sabuk itu mengikat dan menjerat
lehernya dan dia roboh kembali.
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
291
Pada saat itu, tiga orang pembantu perwira yang berhasil membunuh si guru silat muncul
dan melihat gadis yang meronta-ronta itu, mereka tertawa ber-gelak. Si wanita cabul
memotong sabuk menjadi empat dan berkata, “Nih, ikat kaki tangannya, kita permainkan dia,
hi-hik!”
Laki-laki yang buas sebanyak tiga orang itu tertawa-tawa dan dua orang mengikatkan sabuk
potongan itu pada kedua tangan Si Gadis, dan seorang lagi mengikatkan sabuknya pada
kaki kanan gadis itu. Ketika mereka menarik sabuk, dan si wanita cabul menarik pula
sabuk-nya yang menjerat leher, gadis itu terpentang kaki tangannya dan berdiri de-ngan kaki
kiri, berloncatan dan berteriak-teriak, “Jangan bunuh aku...., jangan bunuh aku....!”
Sementara itu, perwira yang sudah bangkit nafsunya setelah menggumuli isteri guru silat
dan mendapat perlawan-an, bahkan pipinya kena dicakar, men-jadi marah. Ia menampar
muka wanita itu sehingga terpelanting, kemudian ber-kata marah, “Hemmm, apakah engkau
masih menolak? Lihat, anakmu akan kusuruh robek menjadi empat kalau kau menolak.
Manis, mengapa kau menolak? Bukankah aku lebih gagah daripada sua-mimu yang kurus
kering itu?”
“Ibu.... Ibu.... tolonggggg....!” Gadis itu menjerit-jerit.
“Akhiuuu.... anakku....!” Si ibu menjerit, kemudian sambil terisak-isak ia berkata, “Baiklah....
baikiah.... lakukanlah sesuka hatimu terhadap aku.... akan tetapi bebaskan anakku....
lepaskan anakku....!”
Sambil menangis terisak-isak isteri guru silat itu tidak meronta lagi, membiarkan saja apa
yang dilakukan oleh perwira yang menjadi buas itu dengan pakaian dan tubuhnya.
Sementara itu, Si Gadis yang melihat keadaan ibunya, ce-pat berkata kepada tiga orang dan
wa-nita cabul yang mengikatnya dengan sabuk. “Lepaskan aku...., ah, lepaskan aku. Lihat,
Ibuku sudah mau.... lepaskan aku....!” Anak gadis itu yang hanya memikirkan keselamatan
dirinya sendiri, agaknya lupa akan keadaan ibunya, lupa betapa ibunya diperkosa orang
secara buas, dan lupa betapa ibunya terpaksa mau menerima penghinaan ini hanya demi
keselamatannya.
“Lepaskan aku! Ibu sudah tidak menolak lagi....!” Kembali ia menjerit.
Wanita cabul itu tertawa terkekeh-kekeh. “Aduh.... puas hatiku, persis seperti aku dahulu.
Hi-hi-hik, alangkah lucunya, hi-hik!” Ia menuding-nuding ke arah isteri guru silat yang
menggeliat-geliat dan merintih dalam tangisnya, kemudian me-ngedipkan matanya kepada
tiga orang perwira. “Kita main kucing dan tikus. Lepaskan dia!”
Tiga orang perwira itu maklum dan sambil tertawa-tawa, mereka melepaskan sabuk. Gadis
itu jatuh, kemudian bangkit berdiri dan tanpa mempedulikan ibunya ia lalu melarikan diri.
Akan tetapi ia menjerit lagi karena tiba-tiba tubuhnya terpelanting dan kiranya sabuk yang
mengikat kakinya telah ditarik dari belakang! Ia bangkit lagi, akan tetapi ketika lari ke depan,
di situ telah menghadang seorang perwira dan sekali renggut bajunya robek sebagian! Si
gadis menjerit dan lari ke kiri, hanya untuk bertubrukan dengan seorang perwira lain yang
juga merobek bajunya sambil tertawa-tawa. Gadis itu menjadi panik, lari ke sana ke mari,
akan tetapi selalu bertemu perwira yang sengaja menghadangnya dan merobeki bajunya
sedikit demi sedikit sehingga hampir telanjang. Wanita cabul yang menonton pertunjukan ini
tertawa-tawa penuh kepuasan.
Setelah pakalan gadis itu habis koyak-koyak, seorang perwira menubruk maju dan
memeluknya. Gadis itu menjerit, dan pada saat itu, jeritnya diikuti jerit Si Perwira yang
menciumnya. Mereka, perwira dan gadis itu, roboh terguling dan masih berpelukan karena
sebatang ran-ting telah menembus tubuh mereka berdua, membuat tubuh mereka seperti
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
292
dua ekor ikan disate! Dari atas pohon me-layanglah turun seorang pemuda berpa-kaian putih
sederhana yang bukan lain adalah Han Han! Ketika pemuda ini yang kebetulan tiba di dusun
itu dalam pengejarannya kepada Ouwyang Seng, melihat peristiwa yang terjadi di belakang
rumah guru silat, kemarahannya tak dapat ia tahan lagi. Dia tidak tahu, bahwa empat orang
laki-laki itu adalah perwira-perwira Mancu, akan tetapi melihat perbuatan mereka, dalam
pandang matanya wajah mereka berubah seperti wajah perwira-perwira yang telah
memperkosa ibunya dan cicinya. Maka ia menjadi mata ge-lap. Lebih-lebih ketika
menyaksikan sikap gadis itu sama sekali tidak patut, se-orang anak yang puthauw (tak
berbakti), yang membiarkan ibunya menjadi korban asal dia sendiri selamat. Dalam
kema-rahannya dan kemuakannya, ia melontarkan ranting pohon dari atas pohon, se-kaligus
membunuh perwira dan gadis itu! Kemudian ia melayang turun dan sekali tangannya
menampar, perwira yang se-dang memperkosa isteri guru sliat itu terguling dengan kepala
remuk! Dua orang pembantu perwira dan wanita cabul menjadi kaget sekali. Cepat mereka
menerjang maju, akan tetapi sekali saja menggerakkan kedua tangemnya, Han Han
membuat mereka bertiga roboh puia dengan kepala remuk dan dada pecah! Isteri guru silat
sudah bangkit dan lari menghampiri mayat puterinya sambil me-nangis, kemudian lari
memasuki rumah dan terdengar jeritnya. Han Han menyu-sul masuk dan melihat isteri guru
silat itu menggeletak mandi darah di samping mayat suaminya. Kiranya wanita yang
kehilangan suami dan anak ini mengambil keputusan nekat, membunuh diri! Han Han
meninggalkan tempat itu cepat-cepat dan menghela napas. Ia me-mikirkan perbuatan wanita
tadi. Salahkah kalau dia membunuh diri? Salah pulakah kalau dia menyerahkan
kehormatannya kepada perwira untuk menyelamatkan puterinya? Ah, betapa malang
nasibnya. Suaminya dibunuh. Puterinya juga tewas, dan dia sendiri sudah diperkosa.
Harapan apalagi dalam hidup? Memang, a