...

this PDF file - Universitas Syiah Kuala

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - Universitas Syiah Kuala
PENGARUH TINGKAT KEMASAKAN BUAH DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR
SUPER ACI TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma Cacao L.)
The Effect of Fruit Maturity Level and Concentration of Liquid Organic Fertilizer Super
ACI to Cacao (Theobroma cacao L.) Seedling Growth
1)
Erida Nurahmi1), Trisda Kurniawan1), dan T. Mahyu Danil2)
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Alumni Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
2)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah menentukan tingkat kemasakan buah kakao dan konsentrasi pupuk
organik cair Super ACI yang tepat, serta interaksi antara keduanya, untuk menghasilkan bibit kakao yang
terbaik. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala sejak
Agustus hingga Desember 2011. Unit-unit penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok
faktorial 3 kali 4 dengan 3 ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam, dan
terhadap data yang menunjukkan beda nyata, analisis dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur pada taraf
5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara tingkat kemasakan
buah kakao dan konsentrasi pupuk organik cair super ACI pada semua peubah yang diamati. Konsentrasi
pupuk organik cair super ACI juga tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kakao. Tingkat
kemasakan buah kakao yang tepat untuk menghasilkan benih masak fisiologis dengan tingkat vigor
tertinggi adalah yang berwarna hijau kekuningan.
Kata Kunci: Theobroma cacao, tingkat kemasakan buah, konsentrasi pupuk super ACI.
ABSTRACT
The purposes of this research are to determine the best cacao fruit maturity level and liquid organic
fertilizer Super ACI concentration and also their interaction to achieve the best cacao seedlings. The
research conducted at Experimental Station of Agriculture Faculty of Syiah Kuala University, from August
to December 2011. Units of treatments arranged according to completely randomized block design, 3 by
4 with 3 replications. Data from observation analyzed with analysis of variance and to them showing
significant influenced, continued with honestly significant different test at the level of 5%. The result
showed that no significant interaction between treatments to all parameters observed. The
concentration of liquid organic fertilizer super ACI also don’t has significant influence to cacao seedlings
growth. The appropriate cacao fruit maturity level to produce physiologically matured seed with the
highest vigor is those with yellowish green in color.
Key words: Theobroma cacao, fruit maturity level, super ACI fertilizer concentration.
PENDAHULUAN
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan
salah satu komoditas perkebunan yang
sesuai untuk perkebunan rakyat, karena
tanaman ini dapat berbunga dan berbuah
sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi
sumber pendapatan harian atau mingguan
bagi pekebun. Tanaman kakao berasal dari
daerah hutan hujan tropis di Amerika
Selatan. Daerah utama pertanaman kakao
adalah hutan hujan tropis di Amerika
Jurnal Agrista Vol. 17 No. 2, 2013
Tengah, tepatnya pada wilayah 180 LU
sampai 150 LS. Di daerah asalnya, kakao
merupakan tanaman kecil di bagian bawah
hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung
pohon-pohon yang besar (Siregar et al.
2005).
Tanaman kakao memegang peranan
penting sebagai komoditi non migas
dengan prospek cukup cerah, sebab
permintaan pasar di dalam negeri semakin
besar dengan semakin berkembangnya
sektor agroindustri (Susanto 1994).
67
Konsumsi produk berbahan kakao menunjukkan
kecenderungan
yang
terus
meningkat. Dengan adanya kemunduran
yang dialami oleh negara-negara penghasil
kakao lainnya, maka peluang untuk
memasarkan kakao Indonesia di pasaran
internasional masih cukup besar (Siregar et
al. 2005).
Salah satu usaha yang perlu dilakukan
terkait peningkatan produksi kakao adalah
peremajaan kebun dan mengganti
tanaman dengan klon unggul, sehingga
ketersediaan bibit yang baik dalam jumlah
banyak mutlak diperlukan. Bibit yang baik
sangat dipengaruhi oleh benih yang baik
pula.
Benih yang dipanen sebelum tingkat
kemasakan fisiologisnya tercapai tidak
mempunyai viabilitas yang tinggi karena
belum memiliki cadangan makanan yang
cukup serta pembentukan embrio belum
sempurna (Sutopo 2002). Benih yang telah
masak fisiologis telah mencapai berat
kering
maksimum,
daya
tumbuh
maksimum (vigor) dan daya kecambah
maksimum (viabilitas) atau dengan kata
lain benih mempunyai mutu tertinggi
(Kamil 1986). Hal senada telah lebih dahulu
diungkapkan oleh Delouche (1983) yang
menyatakan bahwa berat kering dan
viabilitas benih akan mencapai titik
maksimum ketika benih memasuki masak
fisiologis, dan pada keadaan masak
fisiologis ini benih memiliki vigor yang
maksimum. Benih yang dipanen terlalu tua
(telah lewat masak fisiologis) akan
mengalami kebocoran metabolik yang
lebih besar karena kerusakan membran
yang terjadi juga lebih besar sehingga
menghasilkan viabilitas benih yang rendah,
yang pada akhirnya menghasilkan bibit
yang kurang baik. Penentuan saat panen
buah biasanya ditentukan berdasarkan atas
perubahan warna kulit buah (Delouche
1983), sehingga menentukan saat panen
buah untuk menghasilkan benih berdasarkan warna buah menjadi penting.
Selain sumber benih yang baik, media
tanam yang ideal juga dibutuhkan untuk
Jurnal Agrista Vol. 17 No. 2, 2013
menghasilkan bibit kakao yang baik. Media
tanam yang baik banyak ditentukan oleh
sifat fisik dan kimianya. Sifat fisik yang
dimaksud adalah cukup gembur sehingga
mudah dijelajahi akar dan memiliki kapasitas menahan air yang tidak berlebihan.
Sifat kimia yang harus dimiliki oleh
media tanam terkait dengan kemampuannya menyediakan unsur hara yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan bibit
kakao. Di awal pertumbuhannya (perkecambahan) bibit kakao belum membutuhkan unsur hara dari lingkungannya,
karena masih cukup tersedia di dalam
benih (cadangan makanan), namun pertumbuhan bibit selanjutnya akan sangat
tergantung pada lingkungannya. Kemampuan media tanam menyediakan unsur
hara dalam jumlah cukup dan seimbang
akan besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan bibit kakao.
Oleh karenanya, selain menentukan
tingkat kemasakan buah yang tepat untuk
mendapatkan benih kakao yang masak
fisiologis, penelitian ini juga bertujuan
untuk menentukan konsentrasi pupuk yang
tepat, serta interaksi antara keduanya
untuk menghasilkan bibit kakao yang baik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun
Percobaan Fakultas Pertanian Universitas
Syiah Kuala sejak Agustus hingga Desember
2011.
Unit-unit
penelitian
disusun
berdasarkan Rancangan Acak Kelompok
faktorial. Faktor pertama adalah tingkat
kemasakan buah yang terdiri atas 3 taraf,
yaitu hijau kekuningan (70% hijau dan 30%
kuning), kuning kehijauan (30% kuning dan
70% hijau), dan kuning (100% kuning).
Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk
organik cair super ACI yang terdiri atas 4
taraf, yaitu kontrol (tanpa pupuk), 1 cc L-1
air, 2 cc L-1 air, dan 3 cc L-1 air. Setiap
kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Data
hasil pengamatan dianalisis dengan analisis
ragam, dan terhadap data yang
menunjukkan beda nyata, analisis dilanjut68
kan dengan uji beda nyata jujur pada taraf
5%.
Pelaksanaan penelitian melingkupi
pembuatan naungan, ekstraksi dan perkecambahan benih, persiapan media
tanam, penanaman, perlakuan pupuk
organik cair super ACI, pemeliharaan
umum, dan pengamatan. Naungan yang
dibuat berukuran panjang 4 m, lebar 4 m,
dan tinggi 2,5 m, dengan rangka kayu, atap
dan dinding dari paranet intensitas 50%.
Ekstraksi benih dengan cara menggosok
menggunakan abu dapur hingga terasa
kesat dan dicuci dengan air mengalir
hingga bersih. Media persemaian yang
digunakan terdiri atas campuran tanah,
kompos dan sekam padi, dengan
perbandingan 1:1:1, benih disemai selama
15 hari. Media pembibitan yang digunakan
juga terdiri atas campuran tanah, kompos
dan sekam padi, dengan perbandingan
1:1:1, yang dimasukkan kedalam polibeg
berkapasitas 5 kg. Pupuk organik cair super
ACI disemprotkan ke daun sesuai
konsentrasi yang diteliti pada 20, 35, 50,
65, dan 80 hari setelah tanam, di pagi hari.
Pemeliharaan umum yang dilakukan yaitu
penyiraman harian untuk mencukupkan
kebutuhan air tanaman, dan penyiangan
gulma. Pengamatan dilakukan terhadap
tinggi bibit, diameter pangkal batang, luas
daun (dengan rumus Asomaning dan
Locard), berat basah berangkasan dan
berat kering berangkasan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis ragam menunjukkan
bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata
antara tingkat kemasakan buah dan
konsentrasi pupuk organik cair super ACI
terhadap semua peubah yang diamati.
Demikian pula, konsentrasi pupuk organik
cair super ACI tidak berpengaruh nyata
terhadap semua peubah yang diamati.
Diduga media tanam yang digunakan telah
mengandung cukup unsur hara untuk
pertumbuhan bibit kakao, dan rentang
konsentrasi pupuk organik cair super ACI
Jurnal Agrista Vol. 17 No. 2, 2013
yang dicobakan tidak cukup lebar, sehingga
tidak menunjukkan pengaruhnya.
Namun, perbedaan tingkat kemasakan
buah berpengaruh nyata terhadap
sebagian besar peubah yang diamati. Hasil
uji lanjut pengaruh perbedaan tingkat
kemasakan buah terhadap semua peubah
yang diamati disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 menunjukkan bahwa hampir
pada semua peubah hasil terbaik dijumpai
pada tingkat kemasakan buah kakao hijau
kekuningan (T1), yang lebih baik secara
nyata daripada tingkat kemasakan buah
lainnya, kecuali pada tinggi bibit umur 60
HST dimana T1 lebih baik daripada T2
(buah kakao kuning kehijauan) namun
tidak berbeda nyata.
Justice & Bass (2002) menyatakan
bahwa salah satu yang menentukan tinggi
rendahnya mutu benih adalah tingkat
kemasakannya. Benih yang dipanen sebelum mencapai masak fisiologis atau setelah
melewati masak fisiologis biasanya memiliki vigor rendah, dan ini akan mempengaruhi pertumbuhan benih tersebut
selanjutnya.
Seperti yang terlihat dari Tabel 1,
tingkat kemasakan
buah yang dalam
penelitian ini dideskripsikan sebagai buah
berwarna hijau kekuningan, benih di
dalamnya diduga telah mencapai masak
fisiologis yang menghasilkan semaian dan
bibit yang terbaik. Bibit yang lebih tinggi
dan diameter batang yang lebih besar pada
akhirnya akan menghasilkan berat kering
yang lebih tinggi, karena lebih banyaknya
tempat untuk menyimpan hasil fotosintesis. Demikian pula, semakin banyak
asimilat yang tersimpan akan menghasilkan
berat basah yang lebih tinggi karena
semakin besarnya kapasitas penyimpanan
air. Jumlah cadangan makanan menjadi
berkurang sehingga viabilitas benih
menjadi menurun. Menurunnya viabilitas
benih pada akhirnya juga akan berdampak
buruk pada pertumbuhan benih tersebut
selanjutnya.
Seperti yang juga terlihat pada Tabel 1,
lebih rendahnya tinggi bibit dan diameter
69
Tabel 1. Pengaruh perbedaan tingkat kemasakan buah terhadap semua peubah yang diamati
Peubah
HST
Tingkat Kemasakan Buah
BNJ 5%
T1
T2
T3
30
25,778
25,356
23,389
Tinggi Bibit (cm)
60
30,074 b
29,196 b
27,7 a
1,254
90
32,341
31,681
31,4
30
0,506
0,495
0,473
Diameter Pangkal Batang (cm) 60
0,604 c
0,548 b
0,507 a
0,030
90
0,683 c
0,640 b
0,590 a
0,023
2
Luas Daun (cm )
90
30,289
30,93
29,23
Berat basah Akar (g)
90
1,185 b
0,995 a
0,849 a
0,151
Berat Basah Batang (g)
90
5,979 b
4,698 a
4,289 a
0,584
Berat Basah Total (g)
90
7,549 c
6,062 b
5,391 a
0,541
Berat Kering Akar (g)
90
0,429 c
0,350 b
0,307 a
0,029
Berat Kering Batang (g)
90
2,077 c
1,643 b
1,438 a
0,173
Berat Kering Total (g)
90
2,516 c
2,051 b
1,744 a
0,164
-
-
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama berbeda tidak nyata pada BNJ 0,05
HST : Hari Setelah Tanam
T1 : Tingkat Kemasakan Buah Hijau Kekuningan
T2 : Tingkat Kemasakan Buah Kuning Kehijauan
T3 : Tingkat Kemasakan Buah Kuning
pangkal batang pada bibit yang sumber
benihnya diambil dari buah dengan warna
kuning kehijauan dan terutama kuning,
diduga karena benih telah lewat masak
fisiologis. Benih yang telah melewati masak
fisiologis dan tetap tersimpan di dalam
buah akan terus melakukan aktivitas
respirasi yang cepat, karena tingginya
ketersediaan air dan suhu yang memadai,
sehingga cadangan makanannya menjadi
banyak berkurang. Lebih rendahnya tinggi
bibit dan diameter pangkal batang
selanjutnya berdampak pada semakin
terbatasnya tempat penyimpanan asimilat
(berat kering yang lebih rendah) dan
kapasitas mengikat air (berat basah yang
lebih rendah).
SIMPULAN DAN SARAN
Tidak terjadi interaksi yang nyata antara
tingkat kemasakan buah kakao dan
konsentrasi pupuk organik cair super ACI
terhadap pertumbuhan bibit kakao.
Konsentrasi pupuk organik cair super ACI
juga tidak berpengaruh nyata terhadap
pertumbuhan
bibit
kakao.
Tingkat
kemasakan buah kakao yang tepat untuk
menghasilkan benih masak fisiologis
Jurnal Agrista Vol. 17 No. 2, 2013
dengan tingkat vigor tertinggi adalah yang
berwarna hijau kekuningan.
DAFTAR PUSTAKA
Delouche, J. C. 1983. Seed Maturation.
Reference on Seed Operation for Workshop and Secondary Food Crop Seed.
Missisippi.
Justice, O. L. & L. N. Bass. 2002. Principles
and Seed Storage Practices, penerjemah: R. Roesli). Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Kamil, J. 1986. Teknologi Benih I. Angkasa
Raya, Padang.
Mugnisjah, W. Q., A. Setiawan, Suwarto, &
C. Santiwa. 1994. Panduan Praktikum
dan Penelitian Bidang Ilmu dan
Teknologi Benih. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Siregar, T. H. S., S. Riyadi, & L. Nuraeni.
2005. Budidaya dan Pemasaran Cokelat.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Susanto, F. X. 1994. Tanaman Kakao,
Budidaya dan Pengolahan Hasil. Kanisius, Yogyakarta.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Rajawali,
Jakarta.
70
Fly UP